Posts tagged ‘MENGASIHI MUSUH’

MENJADI ANAK-ANAK BAPA SURGAWI

MENJADI ANAK-ANAK BAPA SURGAWI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XI – Selasa, 20 Juni 2017)

 

Kamu telah mendengar yang difirmankan, Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu: Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga, yang menerbitkan matahari  bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu, haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna.” (Mat 5:43-48) 

Bacaan Pertama: 2Kor 8:1-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 146:2,5-9a 

“Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” (Mat 5:44-45)

Ketika Yesus mengajarkan kita untuk mengasihi musuh-musuh kita, paling sedikit dari sudut pemikiran intelektual kita terpikirlah bahwa Dia melakukan analisis  atas masalah manusia ini dengan psikologi yang sangat mendalam. Yesus sendiri tentunya akan “pusing” sendiri seandainya Dia tidak memaafkan dan mengampuni orang-orang Farisi, para ahli Taurat dll. yang terus-menerus mengganggu dirinya. Kaum Farisi dkk. ini adalah orang-orang yang penuh dengan kebencian dan iri-hati terhadap diri-Nya, dan sangat sulit mengubah pemikiran, sikap dan perilaku mereka terhadap Yesus dan kegiatan pewartaan-Nya.

Yesus tentunya tidak luput mempunyai dugaan bahwa kaum Farisi dkk. merencanakan sebuah komplotan untuk membunuhnya agar tidak lagi menjadi “biang kerok” di tanah Israel. Upaya-upaya mereka untuk memojokkan serta menjebak Yesus beberapa kali muncul dalam beberapa narasi Injil. Pada waktu orang-orang anti-Yesus itu pada akhirnya berhasil menyalibkan-Nya di bukit Kalvari, dari atas kayu salib itu Yesus menunjukkan bagaimana seharusnya kita mengasihi dan mengampuni. Dari atas kayu salib itu Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34).

Hati Yesus hanya berisikan cintakasih – tidak ada hal lain – walaupun ketika menanggung penderitaan yang paling buruk yang dapat menghantam seorang pribadi. Cintakasih semacam itu menyembuhkan kita dan membasuh bersih dosa-dosa kita. Penyembuhan penuh pengampunan! Inilah yang diajarkan oleh Yesus dari atas kayu salib-Nya. Cintakasih berlimpah Yesus dari atas kayu salib inilah yang sungguh menyembuhkan luka-luka dunia.

Kita mengetahui bahwa karena dosa Adam hilanglah cintakasih yang sehat, membahagiakan dan menyembuhkan itu. Ada cerita (tidak alkitabiah) begini: Konon pada suatu siang hari yang panas-terik Adam dan kedua anak laki-lakinya yang masih kecil, Kain dan Habel, sedang berjalan di padang gurun dan panasnya pasir “membakar” telapak kaki mereka. Di kejauhan kelihatanlah area yang dipenuhi pepohonan rindang. Habel bertanya kepada ayahnya: “Bapak, mengapa kita tidak boleh tinggal di sana, di oase yang indah dan sejuk itu?” Adam menjawab, “Semua ini gara-gara salah ibumu, anakku! Gara-gara dialah kita tidak boleh lagi tinggal dalam rumah nyaman  yang dahulu.” Apa pesan cerita pendek ini? Adam tidak dapat mengampuni istrinya. Dapatlah kita melihat efek buruk apa yang telah disebabkan dosa? Dosa merampas cintakasih dari diri kita, sehingga kita menyalahkan orang lain dan menolak untuk mengampuni orang lain.

Sebaliknya Allah tidak pernah menyerah karena pemberontakan manusia yang telah diciptakan-Nya menurut gambar dan rupa-Nya sendiri (lihat Kej 1:26,27). Allah mengutus Putera ilahi-Nya, Yesus, untuk memulihkan kasih yang menyembuhkan itu bagi kita. Yesus mengajarkan kita, “Kasihilah dan ampunilah.” Singkatnya, “engkau harus menjadi sempurna seperti Bapamu di surga sempurna adanya” (Mat 5:48).

Yesus datang ke dunia pertama kalinya untuk memulihkan bagi kita cintakasih asli di taman Firdaus, cintakasih Bapa surgawi “yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar”. Yesus memang adalah sang Psikolog Agung yang mempunyai visi baru berkaitan dengan pengharapan untuk dunia.

DOA: Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Oleh Roh Kudus-Mu bentuklah kami sehingga dapat menjadi pribadi-pribadi yang mau dan mampu mengampuni orang-orang yang memusuhi kami dan mendoakan mereka yang menganiaya kami. Terima kasih, ya Tuhan. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:43-48), bacalah tulisan yang berjudul “PERINTAH YESUS UNTUK MENGASIHI MUSUH” (bacaan tanggal 20-6-17) dalam dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 BACAAN HARIAN JUNI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 16-6-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 18 Juni 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

KASIH YANG SEMPURNA

KASIH YANG SEMPURNA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA VII [Tahun A] – 23 Februari 2014)

 onpage-2

Kamu telah mendengar yang difirmankan, Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang miminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari kamu.

Kamu telah mendengar yang difirmankan, Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu: Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga, yang menerbitkan matahari  bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu, haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna.” (Mat 5:38-48) 

Bacaan Pertama: Im 19:1-2,17-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-4,8,10,12-13; Bacaan Kedua: 1Kor 3:16-23 

Yesus memanggil umat-Kerajaan-Nya kepada kasih yang sempurna. Kata-Nya: “Haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna” (Mat 5:48). Yang dimaksudkan dengan “sempurna”  di sini adalah suatu kasih yang bersifat universal dan lengkap. Artinya ini adalah kasih yang tidak didasarkan pada ketertarikan alami yang membuat kita lebih mirip dengan orang-orang tertentu daripada dengan orang-orang lain, misalnya karena sama-sama anak Salemba (UI), sama-sama lulusan Kanisius, sama-sama Jawa, sama-sama Flores, sama-sama Katolik, sama-sama suka main golf, dlsb.

Ideal-nya adalah kita akan ikut ambil bagian dalam kasih Bapa surgawi yang berkelimpahan dan tanpa pandang bulu bagi semua anak segala ciptaan-Nya. Matahari yang terbit dan hujan yang dicurahkan dari atas langit adalah untuk semua, tanpa kecuali! (Mat 5:45). Namun kita tergoda untuk bertindak dalam dua cara:

  • untuk membatasi energi kasih seminimum mungkin sesuai tuntutan keadilan yang ketat;
  • memperkenankan sungai-sungai kasih kita menjadi terinfeksi dan terkonteminasi dengan racun lewat sikap-sikap jahat/buruk orang-orang lain.

Yesus mengemukakan moralitas yang diterima masyarakat pada masa itu: “Kamu telah mendengar yang difirmankan, Mata ganti dan gigi ganti gigi” (Mat 5:38). Pada kenyataannya hukum “pembalasan seimbang” seperti ini sudah merupakan kemajuan besar ketimbang nafsu primitif untuk membalas dendam secara tanpa batas serta membabi-buta. Namun demikian, menurut pemikiran Yesus bentuk pembalasan apa saja sudah merupakan suatu kontradiksi dari kasih yang sejati. Di sini Yesus berbicara mengenai visi kehidupan yang jauh lebih agung. Dan kekuatan yang dikagumi-Nya adalah kekuatan batiniah dari karakter seorang pribadi.

Yesus kemudian mengundang kita untuk membayangkan seorang “sok jago” yang menampar pipi kanan kita (dengan bagian keras dari telapak tangannya). Jika kita dapat mempertahankan martabat kita, dan dengan tenang memberikan juga pipi kiri kita, maka kita pun menunjukkan kekuatan batiniah yang jauh lebih besar dari gaya-sok si “bully” itu.

Atau, pikirkanlah seorang rentenir serakah yang akan mengklaim hak-hak tagihannya atas utang kita, sampai-sampai baju kita pun mau diambilnya, maka biarkanlah dia berjalan di jalan keserakahannya. Marilah kita serahkan jubah kita juga! Untuk diketahui saja: Menurut hukum yang berlaku, jubah seseorang yang digadaikan tidak boleh ditahan oleh si kreditur sampai malam, karena jubah tersebut digunakan sebagai selimut teristimewa oleh orang miskin: “Jika engkau sampai mengambil jubah temanmu sebagai gadai, maka haruslah engkau mengembalikannya kepadanya sebelum matahari terbenam, sebab hanya itu saja penutup tubuhnya, itulah pemalut kulitnya – pakai apakah ia pergi tidur?” (Kel 22:26-27). [Sehubungan dengan “jubah” ini, renungkanlah sejenak kisah penyembuhan Bartimeus (Mrk 10:46-52), teristimewa Mrk 10:10]. Kita harus siap untuk berdiri telanjang karena pakaian kita telah dilucuti oleh keserakahan orang lain, namun dengan begitu martabat kita sebagai pribadi dipertahankan, suatu martabat yang tidak mungkin dicapai oleh orang serakah itu. Kita ingat Fransiskus dari Assisi di awal-awal jalan pertobatannya melepaskan segala pakaian indah yang dikenakannya di hadapan Uskup Assisi. Dengan senang hati dia mengembalikan semua pakaian tersebut kepada ayahnya yang cinta-harta, sambil berkata: “Hingga sekarang di dunia ini ayah kusebut bapak, tetapi mulai sekarang aku dapat berkata dengan leluasa Bapa kami yang ada di surga; dan pada-Nya kuletakkan segala hartaku dan segala kepercayaan serta harapanku” (lihat Legenda Maior II:4; 1 Celano 15).

Nah, apakah sekarang kita ingin membiarkan para “bully-boys”, para rentenir serakah atau orang-orang yang membenarkan serta menganjurkan superioritas militer untuk memerintah masyarakat kita dengan pandangan-pandangan sempit mereka? Ataukah, kita mencoba untuk membuka pandangan mereka yang sempit itu dengan memberi tantangan-tantangan. Masyarakat yang sedang sakit di banyak tempat hanya dapat disembuhkan dengan berbagai tantangan yang ditunjukkan lewat sikap dan perilaku kita sebagai “tanda lawan”, …… suatu “counter culture” hidup Injili. Pandangan Injil adalah, bahwa Allah adalah Bapa dari kita semua, dan kita adalah satu keluarga yang terdiri dari para saudari dan saudara. Martabat kita datang dari pengetahuan ini dan upaya untuk menghayatinya/menghidupinya.

Kasih-Kerajaan (kasih yang sempurna) adalah komitmen untuk mempraktekkan kemurahan-hati sebagai alternatif dari tirani dan paksa-memaksa yang dilakukan oleh orang-orang yang mengangkat dirinya sebagai tuhan-tuhan kecil. Kasih-Kerajaan seperti inilah yang ditunjukkan oleh Bunda Teresa dari Kalkuta dan para pengikutnya. Mereka lebih memikirkan tanggung-jawab kepada orang-orang lain daripada hak-hak atas diri orang-orang lain. Ini adalah sebuah sungai dengan aliran yang begitu kuat sehingga tidak mampu dibendung atau dialihkan oleh halangan apa pun. Ini adalah aliran murni yang tidak akan dapat terkena infeksi oleh racun musuh yang mana pun.

Kasih-Kerajaan itu tak terbatas dan lengkap. Kasih-Kerajaan itu sempurna, seperti kasih Bapa surgawi adalah sempurna (Mrk 5:48).

DOA: Bapa surgawi, ingatkanlah kami senantiasa akan panggilan-Mu bagi kami untuk menjadi sempurna dalam kasih, seperti Engkau sempurna adanya. Jadikanlah hati kami seperti hati Yesus. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:38-48), bacalah tulisan yang berjudul “PERINTAH YESUS UNTUK MENGASIHI MUSUH” (bacaan tanggal 19-2-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 23-2-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 21 Februari 2014 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SIKAP DAN PERILAKU YANG BENAR DALAM MENGHADAPI MUSUH

SIKAP DAN PERILAKU YANG BENAR DALAM MENGHADAPI MUSUH

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIII – Kamis, 10 September 2015) 

stdas0730“Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; berkatilah orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang berbuat jahat terhadap kamu. Siapa saja yang menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain, dan siapa saja yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu. Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada yang mengambil kepunyaanmu. Sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka. Jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosa pun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun berbuat demikian. Jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari dia, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak. Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan tanpa mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu murah hati.”

“Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni. Berilah dan kamu akan diberi: Suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang diguncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam pangkuanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”  (Luk 6:27-38) 

Bacaan Pertama: Kol 3:12-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 150:1-6 

Ketika Yesus mengajarkan kita untuk mengasihi musuh-musuh kita, paling sedikit dari sudut pemikiran intelektual kita terpikirlah bahwa Dia melakukan analisis  atas masalah manusia ini dengan psikologi yang sangat mendalam. Yesus sendiri tentunya akan “pusing” sendiri seandainya Dia tidak memaafkan dan mengampuni orang-orang Farisi, para ahli Taurat dll. yang terus-menerus mengganggu dirinya. Kaum Farisi dkk. ini adalah orang-orang yang penuh dengan kebencian dan iri-hati terhadap diri-Nya, dan sangat sulit mengubah pemikiran, sikap dan perilaku mereka terhadap Yesus dan kegiatan pewartaan-Nya.

Yesus tentunya tidak luput mempunyai dugaan bahwa kaum Farisi dkk. merencanakan sebuah komplotan untuk membunuhnya agar tidak lagi menjadi “biang kerok” di tanah Israel. Upaya-upaya mereka untuk memojokkan serta menjebak Yesus beberapa kali muncul dalam beberapa narasi Injil. Pada waktu orang-orang anti-Yesus itu pada akhirnya berhasil menyalibkan-Nya di bukit Kalvari, dari atas kayu salib itu Yesus menunjukkan bagaimana seharusnya kita mengasihi dan mengampuni. Dari atas kayu salib itu Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34).

Hati Yesus hanya berisikan cintakasih – tidak ada hal lain – walaupun ketika menanggung penderitaan yang paling buruk yang dapat menghantam seorang pribadi. Cintakasih semacam itu menyembuhkan kita dan membasuh bersih dosa-dosa kita. Penyembuhan penuh pengampunan! Inilah yang diajarkan oleh Yesus dari atas kayu salib-Nya. Cintakasih berlimpah Yesus dari atas kayu salib inilah yang sungguh menyembuhkan luka-luka dunia.

Kita mengetahui bahwa karena dosa Adam hilanglah cintakasih yang sehat, membahagiakan dan menyembuhkan itu. Ada cerita (tidak alkitabiah) begini: Konon pada suatu siang hari yang panas-terik Adam dan kedua anak laki-lakinya yang masih kecil, Kain dan Habel, sedang berjalan di padang gurun dan panasnya pasir “membakar” telapak kaki mereka. Di kejauhan kelihatanlah area yang dipenuhi pepohonan rindang. Habel bertanya kepada ayahnya: “Bapak, mengapa kita tidak boleh tinggal di sana, di oase yang indah dan sejuk itu?” Adam menjawab, “Semua ini gara-gara salah ibumu, anakku! Gara-gara dialah kita tidak boleh lagi tinggal dalam rumah nyaman  yang dahulu.” Apa pesan cerita pendek ini? Adam tidak dapat mengampuni istrinya. Dapatlah kita melihat efek buruk apa yang telah disebabkan dosa? Dosa merampas cintakasih dari diri kita, sehingga kita menyalahkan orang lain dan menolak untuk mengampuni orang lain.

Sebaliknya, Allah tidak pernah menyerah karena pemberontakan manusia yang telah diciptakan-Nya menurut gambar dan rupa-Nya sendiri (lihat Kej 1:26,27). Allah mengutus Putera ilahi-Nya Yesus, untuk memulihkan kasih yang menyembuhkan itu bagi kita. Yesus mengajar kita: “Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan tanpa mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu murah hati” (Luk 6:35-36).

DOA: Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Oleh Roh Kudus-Mu bentuklah kami sehingga dapat menjadi pribadi-pribadi yang mau dan mampu mengampuni orang-orang yang memusuhi kami dan mendoakan mereka yang menganiaya kami. Terima kasih, ya Tuhan. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 6:27-38), bacalah tulisan yang berjudul “PERINTAH YESUS YANG PALING KERAS DAN SULIT” (bacaan tanggal 10-9-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2015. 

Cilandak, 8 September 2015 [Pesta Kelahiran SP Maria]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEMPURNA

SEMPURNA

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XI – Selasa, 16 Juni 2015)

OFMCap.: Peringatan B. Anicetus Koplin, Imam dkk.-Martir Polandia 

jm_200_NT1.pd-P13.tiff

jm_200_NT1.pd-P13.tiff

Kamu telah mendengar yang difirmankan, Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu: Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga, yang menerbitkan matahari  bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu, haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna.” (Mat 5:43-48) 

Bacaan Pertama: 2Kor 8:1-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 146:2, 5-9 

“Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena itu, haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna” (Mat 5:44,48).

Kesempurnaan – apakah maksudnya? Apakah ini berarti seseorang yang senantiasa unggul dalam segala hal dan cara? Apakah rasa bersalah dan rasa hampir putus-asa karena berbagai kekurangan yang kita miliki membebani kita? Apakah ada perasaan bahwa kita (anda dan saya) sebenarnya dapat sempurna paling sedikit di beberapa area,  hanya apabila kita sungguh-sungguh mencobanya? Kebenarannya di sini adalah bahwa kita-manusia tidak dimaksudkan untuk menjadi Allah! “Kesempurnaan” bagi kita manusia berdosa berarti bahwa kita dipanggil untuk menjadi bejana-bejana rendah hati dari Kristus yang mengakui dosa-dosa kita, menolak ide menjadi unggul-sempurna lewat kekuatan pribadi kita sendiri, dan menyerahkan diri kita secara total kepada kuat-kuasa rahmat ilahi.

Kata dalam bahasa Yunani yang digunakan oleh Matius untuk “kesempurnaan” adalah teleios, yang berarti “lengkap dan matang”, mempunyai makna bahwa yang bersangkutan telah mencapai tujuannya. Dengan memanggil kita untuk menjadi sempurna, Yesus sebenarnya mendesak kita untuk menjadi lengkap-utuh seperti diri-Nya – untuk membiarkan hidup-Nya dan hikmat-Nya meliputi diri kita sehingga kita hidup di dunia ini seperti Dia hidup. Hasrat Allah yang terdalam adalah untuk mempunyai banyak anak yang akan mengasihi diri Yesus dan yang akan mencerminkan karakter-Nya kepada orang-orang lain. Ini adalah rencana Allah untuk kita masing-masing. Ini adalah sebuah panggilan tinggi, namun bukanlah sesuatu yang tidak mungkin!

Yesus memberi sebuah contoh sempurna bagi kita selagi Dia dengan sepenuh hati menanggapi hasrat hati Bapa-Nya. Ketika kita menyediakan diri kita guna menyenangkan Bapa surgawi, menerima kasih-Nya, dan memanisfestasikan kebaikan-Nya, maka kita tidak lagi disibukkan dengan dosa. Kita tidak lagi dibuat pusing kepala tentang setiap tindakan yang kita lakukan, tetapi hanya berupaya untuk menjaga agar hati kita dengan rendah hati dipusatkan pada Yesus dan terbuka bagi sabda-Nya yang mendorong dan menyemangati kita, yang mengoreksi, dan yang memberi janji-janji yang bukan janji-janji bohong.

ROH KUDUS MELAYANG-LAYANG - 2Kita tidak dipanggil untuk mengandalkan kekuatan kita sendiri, melainkan untuk mendekat kepada Yesus dan memperkenankan Roh-Nya untuk mentranformasikan diri kita. Selagi kita menyerahkan diri kita, maka kita akan secara tahap demi tahap menjadi satu dengan hati penuh kasih dari Allah sendiri. Yesus, Imam Besar Agung kita, mampu untuk membuat kita menjadi sempurna (lihat Ibr 10:14). Karena pengorbanan-Nya, kita menjadi dapat dibuat sempurna, mampu menjadi gambaran murni dari kebaikan-Nya dan kasih-Nya kepada Bapa surgawi. Selagi kita menaruh kepercayaan kita dalam diri Yesus, Dia pun akan melengkapi karya yang telah dimulai-Nya.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Aku memuji Engkau, karena Engkau adalah pengharapanku akan kemuliaan. Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah menciptakan aku dan melengkapi diriku untuk menanggapi panggilan Bapa surgawi yang begitu tinggi. Yesus, Engkau adalah andalanku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:43-48), bacalah tulisan yang berjudul “BERDOA BAGI MUSUH-MUSUH KITA” (bacaan tanggal 16-6-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-06 PERMENUNGAN  ALKITABIAH JUNI 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 17-6-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 13 Juni 2015 [Pesta S. Antonius dr Padua, Imam-Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SABTU PEKAN PERTAMA PRAPASKA – HENRI J.M. NOUWEN

SABTU PEKAN PERTAMA PRAPASKA

(Renungan Harian Dalam Masa Prapaska dari Henri J.M. Nouwen) 

HENRI J.M. NOUWEN - 05“Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (Mat 5:44-46).

Orang-orang Kristen saling mengingat dalam doa-doa mereka (Rm 1:9; 2Kor 1:11; Ef 6:8; Kol 4:3) dan dengan demikian mereka membantu dan bahkan membawa keselamatan bagi orang-orang yang mereka doakan (Rm 15:30; Flp 1:19). Namun doa yang mengungkapkan kesetiakawanan sejati adalah doa yang tidak hanya diperuntukkan bagi sesama orang Kristen warga jemaat, kawan atau sanak-saudara. Yesus menyatakannya dengan sangat jelas, “Berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat 5:44); dan ketika menderita sengsara dan tergantung di kayu salib Yesus berdoa bagi orang-orang yang menyalibkan-Nya, “Ya Bapa ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34). Di sini buah-buah kehidupan doa tampak sangat jelas. Doa membuat kita mampu untuk membawa masuk ke dalam pusat kehidupan kita, bukan saja orang-orang yang mencintai kita tetapi juga orang-orang yang membenci kita. Ini hanya mungkin kalau kita rela menjadikan musuh-musuh kita bagian dari diri kita sendiri dan dengan demikian mengubah mereka pertama-tama dalam hati kita sendiri.

Hal pertama yang harus kita lakukan kalau kita berpikir mengenai orang lain sebagai musuh kita adalah berdoa untuk mereka. Ini pasti tidak mudah. Ini menuntut suatu disiplin yang dapat membiarkan mereka yang membenci kita atau yang tidak kita senangi, masuk ke dalam pusat batin kita. Sulit untuk memberi tempat kepada orang yang membuat sulit hidup kita atau yang membuat kita kecewa atau sakit. Namun setiap kali kita mengalahkan perasaan terhadap musuh-musuh kita ini dan rela untuk mendengarkan jeritan orang-orang yang membenci kita, kita akan mengenal mereka sebagai sesama juga. Berdoa bagi musuh-musuh kita adalah saat di mana rekonsiliasi terjadi. Tidak mungkin membawa musuh-musuh kita ke hadapan Allah sementara kita masih terus membenci mereka. Kalau dilihat dalam terang doa, seorang diktator yang bengis atau seorang penganiaya yang jahat dapat dilihat bukan lagi sebagai sumber ketakutan, kebencian atau balas dendam; karena kalau kita berdoa kita berdiri di hadirat misteri agung Kebaikan Hati Ilahi. Doa mengubah musuh menjadi kawan dan dengan demikian menciptakan hubungan yang baru. Mungkin tidak ada doa yang lebih kuat daripada doa untuk musuh. Namun doa itu juga paling sulit karena paling bertentangan dengan kecenderungan hati kita. Inilah sebabnya tdak sedikit orang suci yang melihat doa bagi musuh sebagai ukuran kesucian seseorang.

Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kami (Luk 6:27-28).

Sabda ini tidak hanya mengungkapkan makna hakiki dari tindak bukan kekerasan, tetapi juga inti pewartaan Yesus. Seandainya ada orang yang bertanya, manakah kata-kata dalam Injil yang paling radikal, jelas jawabannya adalah, “Kasihilah musuhmu”. Kata-kata inilah yang dengan paling jelas menyatakan corak kasih yang diwartakan oleh Yesus. Dalam kata-kata ini dinyatakan jati-diri kehidupan sebagai murid Yesus. Kasih kepada musuh adalah ukuran hidup sebagai seorang Kristen.

DOA: Tuhan, pandanglah umat-Mu dengan penuh belaskasihan, dan nyatakanlah cinta-Mu kepada kami bukan sebatas pikiran dan gagasan, tetapi dalam pengalaman hidup kami. Kami dapat saling mencintai karena Engkau telah mencintai kami terlebih dahulu. Biarlah kami mengalami kasih-Mu itu sehingga kami mampu melihat berbagai macam cinta manusiawi sebagai pantulan cinta yang lebih agung, cinta yang tanpa syarat dan tanpa batas. Amin. 

Diambil dari Henri J.M. Nouwen, TUHAN TUNTUNLAH AKU – Renungan Harian Dalam Masa Prapaska, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1994, hal. 38-40. 

Cilandak, 28 Februari 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENGASIHI MUSUH KITA?

MENGASIHI MUSUH KITA?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIII – Kamis, 12 September 2013) 

jesus christ super star “Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; berkatilah orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang berbuat jahat terhadap kamu. Siapa saja yang menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain, dan siapa saja yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu. Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada yang mengambil kepunyaanmu. Sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka. Jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosa pun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun berbuat demikian. Jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari dia, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak. Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan tanpa mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu murah hati.”

“Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni. Berilah dan kamu akan diberi: Suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang diguncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam pangkuanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”  (Luk 6:27-38)

Bacaan Pertama: Kol 3:12-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 150:1-6 

“Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; berkatilah orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang berbuat jahat terhadap kamu” (Luk 6:27-28).

9-11 ATTACKS - 01Kata-kata Yesus ini senantiasa menjadi pesan yang menantang untuk didengar; malah terdengar absurd, tidak masuk akal dan melawan setiap kecenderungan natural manusia. Namun perintah dari Yesus ini secara istimewa menjadi sarat dengan makna dua belas tahun lalu, justru ketika sabda ini diproklamasikan dalam misa-misa yang diselenggarakan hari itu di seluruh dunia, hampir 3.000 orang meninggal dunia sebagai korban serangan teroris di New York, Washington D.C. dan Pennsylvania bagian barat. Pada hari itu semua orang di seluruh dunia ditantang untuk memberkati dan bukan mengutuk! Melihat perkembangan selanjutnya dari peristiwa 9/11 itu, kita tergoda untuk berpikir bahwa keadaan di seluruh dunia menjadi semakin buruk. Sejak hari itu kita melihat serangan-serangan serupa terjadi di mana-mana di seluruh dunia: peristiwa bom Bali, serangan terhadap sinagoga-sinagoga di Istanbul, Turki; pecahnya peperangan  di Irak dan banyak lagi. Belum lama ini (tahun 2013), misalnya, kita mendengar/membaca berita bahwa sekitar 50 bangunan gereja, sekolah dan bangunan lain milik lembaga-lembaga gereja Kristiani di Mesir  mengalami kerusakan berat karena diserang dan ada juga yang dibakar (termasuk yang dikelola oleh Ordo Fransiskan di Sinai), karena umat Kristiani dituduh menjadi penyebab kekacauan politik yang terjadi di Mesir akhir-akhir ini.

Semua peristiwa yang menyedihkan ini dapat menyebabkan kita hidup dalam ketakutan atau membiarkan kemarahan dan dorongan hati untuk membalas dendam menguasai hati kita. Akan tetapi, Yesus tetap berbicara dengan jelas dan lemah-lembut: “Ampunilah mereka yang menganiaya engkau; kasihilah mereka yang membencimu!” Walaupun terdengar tak mungkin, … sesuatu yang mustahil, adalah sebuah kebenaran bahwa Allah tidak akan meminta kita melakukan sesuatu untuk mana Ia sendiri belum melengkapi kita dengan peralatan yang diperlukan. Ia mengundang kita – bahkan menantang kita – untuk memperkenankan kasih-Nya menerobos tembok-tembok pemisah dan kebencian dalam hati kita. Dia minta kepada kita untuk meletakkan rasa sakit kita dan/atau rasa takut kita agar Dia dapat menggantikannya dengan belas kasih-Nya dan berkat-Nya.

Marilah kita bersama mendoakan doa pengampunan bagi mereka yang memusuhi kita, mohon kepada Allah untuk mengatasi semua kebencian dan rasa permusuhan yang ada pada diri kita. Bahkan apabila kita belum sepenuhnya berbelas kasih, kita tetap dapat berdoa, mohon kepada Allah untuk mengubah hati kita juga. Semoga kita tidak memandang enteng kuat-kuasa dari doa-doa seperti ini.

DOA: Bapa surgawi, sebagai umat-Mu kami mohon kepada-Mu agar menyembuhkan segala kebencian dan perpecahan. Sebagai anak-anak-Mu, kami ingin mengikuti Yesus dengan memberkati semua orang yang menyakiti hati kami, mengampuni semua orang berbuat salah kepada kami, dan menunjukkan cintakasih kepada mereka yang membenci kami. Datanglah, ya Tuhan, dan jadikanlah kami satu!. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 6:27-38), bacalah tulisan yang berjudul “TANTANGAN YANG HARUS KITA JAWAB SEBAGAI MURID-MURID YESUS KRISTUS” (bacaan tanggal 12-9-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2013. 

Bacalah juga tulisan yang berjudul “KASIHILAH MUSUHMU” (bacaan tanggal 10-9-09) dalam situs/blog SANG SABDA. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-9-12) 

Cilandak, 8 September 2013 [HARI MINGGU BIASA XXIII] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SAMA SEPERTI BAPAMU YANG DI SURGA SEMPURNA

SAMA SEPERTI BAPAMU YANG DI SURGA SEMPURNA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XI – Selasa, 18 Juni 2013) 

YESUS SEORANG PEMIMPIN YANG TEGASKamu telah mendengar yang difirmankan, Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu: Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga, yang menerbitkan matahari  bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu, haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna.” (Mat 5:43-48)

Bacaan Pertama: 2Kor 8:1-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 146:2.5-9 

Dapatkah anda membayangkan bahwa pada suatu hari kelak anda masuk juga ke dalam surga, dan orang pertama yang anda temui di sana adalah orang yang paling anda tidak sukai ketika hidup di dunia? Bayangkanlah dengan serius! Ternyata Allah mengasihi orang itu dan memanggil dia kepada kesempurnaan juga. Atau, bagaimanakah dengan tokoh-tokoh jahat yang anda telah jumpai dalam Kitab Suci – seperti Firaun, Izebel, atau Raja Herodes? Mereka pun tidak berada di luar ruang lingkup niat-niat penuh kasih dari Allah! Apa yang diinginkan Allah bagi anda adalah juga yang diinginkan-Nya bagi orang yang menyusahkan anda, demikian pula dengan tiran-tiran yang paling buruk dalam sejarah – agar mereka “sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna” (Mat 5:48).

Ada satu lagi kejutan: Musuh anda dapat membantu anda bergerak maju untuk mencapai tujuan kesempurnaan yang terasa tidak mungkin. Begini ceritanya. Perintah bagi kita untuk menjadi sempurna mengemuka langsung setelah penjelasan Yesus tentang bagaimana seharusnya kita memperlakukan orang yang membenci kita: “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga” (Mat 5:44-45). Dengan perkataan lain, apabila anda ingin menjadi sempurna, mulailah dengan mengasihi musuh-musuh anda.

Mungkin kita berpikir dan kemudian berkata seperti si penyanyi dangdut pria itu: “Terlalu!” Dilihat dari kacamata manusia memang “terlalu”, karena “mengasihi musuh-musuh kita” sungguh melampaui kekuatan manusiawi kita. Tidak mungkin menjadi kenyataan apabila Yesus tidak menderita dan wafat bagi kita! Dengan rahmat yang diperoleh-Nya lewat kematian dan kebangkitan-Nya, kita dapat mengikuti teladan cintakasih sempurna dan pengampunan yang diberikan Yesus dan mulai melaksanakan perintah-perintah-Nya.

Marilah kita bekerja sama dengan rahmat itu pada hari ini. Daripada kita memikirkan orang-orang yang bersalah kepada kita dan mulai mengumpat mereka dan berencana membalas dendam, jauh lebih benarlah apabila kita berdoa bagi mereka yang mendzolomi kita. Kita harus mengambil waktu untuk memikirkan apakah ada orang-orang lain juga yang harus kita kasihi secara lebih lagi. Mereka mungkin saja bukan “musuh” secara harfiah, melainkan orang-orang yang kita “tidak anggap”, “pandang rendah”, “pandang sebelah mata”, “lihat sebagai tidak pantas”.

Kita (anda dan saya)  harus memulainya dengan orang-orang yang terdekat, yaitu yang tinggal dalam rumah dan teman-teman di tempat kerja kita. Kita harus memperhatikan apa saja yang muncul dalam pikiran kita segala kita membaca surat kabar,  menonton televisi atau melihat sendiri seorang tuna wisma di tengah jalan yang ramai. Kita harus mohon pengampunan Allah bilamana kita menemukan kegagalan-kegagalan pribadi kita. Marilah kita membuka hati kita agar dapat menerima rahmat untuk suatu sikap yang lebih bermurah-hati. Apabila kita memanfaatkan setiap kesempatan untuk mengasihi, maka kesempurnaan Tritunggal Mahakudus akan memancar dari dalam diri kita.

DOA: Bapa surgawi, aku berterima kasih penuh syukur karena Engkau menciptakanku karena kasih dan demi kasih. Pada hari ini aku menerima rahmat-Mu yang mentransformasikan hidup dan mengambil satu langkah lagi menuju kesempurnaan seturut rencana-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:43-48), bacalah tulisan yang berjudul “HARUSLAH KAMU SEMPURNA” (bacaan tanggal 18-6-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-06  BACAAN HARIAN JUNI 2013. Bacalah juga tulisan yang berjudul “KASIHILAH MUSUHMU DAN BERDOALAH BAGI YANG MENGANIAYA KAMU” (bacaan tanggal 19-6-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 19-6-12 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 10 Juni 2013 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS