Posts tagged ‘MASA PASKAH’

ITU BUKAN URUSANMU !!! [2]

ITU BUKAN URUSANMU !!! [2]

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah – Sabtu, 3 Juni 2017) 

Ketika Petrus berpaling, ia melihat bahwa murid yang dikasihi Yesus sedang mengikuti mereka, yaitu murid yang pada waktu mereka sedang makan bersama duduk dekat Yesus dan yang berkata, “Tuhan, siapakah dia yang akan menyerahkan Engkau?” Ketika Petrus melihat murid itu, ia berkata kepada Yesus, “Tuhan, bagaimana dengan dia ini?” Jawab Yesus, “Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: Ikutlah Aku.” Lalu tersebarlah kabar di antara saudara-saudara itu bahwa murid itu tidak akan mati. Tetapi Yesus tidak mengatakan kepada Petrus bahwa murid itu tidak akan mati, melainkan, “Jikalau Aku menghendaki supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu.”

Dialah murid yang bersaksi tentang semuanya ini dan yang telah menuliskannya dan kita tahu bahwa kesaksiannya itu benar.

Masih banyak lagi hal-hal lain yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, kupikir dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu. (Yoh 21:20-25) 

Bacaan Pertama: Kis 28:16-20,30-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 11:4-5,7 

Selagi kita mendekati penghujung Masa Paskah, kita membaca enam ayat terakhir dari Injil Yohanes yang berisikan sebuah pelajaran yang indah bagi kita.

Dalam penampilan-Nya sebagai Tuhan yang bangkit, Yesus baru saja mengatakan kepada Petrus bagaimana rasul-Nya itu akan menderita penganiayaan dan mengalami kematiannya sebagai martir Kristus. Karena Yesus tidak mengatakan apa-apa tentang kematian Yohanes, Petrus menjadi ingin tahu dan bertanya kepada Yesus, “Tuhan, bagaimana dengan dia ini?” (Yoh 21:21).

Yesus tidak pernah memberi jawaban langsung terhadap pertanyaan-pertanyaan “kosong” yang diajukan demi memenuhi rasa ingin tahu seseorang. Dalam Injil Lukas, misalnya, ada seseorang yang tertanya kepada Yesus, “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” Jawab Yesus kepada orang-orang di situ, “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sempit itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat ……” (Luk 13:23 dsj.). Jadi, dalam kasus kita kali ini, Yesus juga memberikan jawaban yang seakan mengandung “teka-teki”, “Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: Ikutlah Aku” (Yoh 21:22). Yesus tidak memberi kepuasan terhadap rasa ingin tahu Petrus. Yesus hanya mengatakan kepada Petrus agar dia benar-benar mengikuti jejak-Nya, sampai kepada penyalibannya. Itulah yang penting!

Mengapa kita begitu ingin tahu tentang perkara-perkara orang-orang lain? Mengapa kita bertanya mengenai cara-cara Allah dalam mengasihi masing-masing kita sebagai individu. Yesus seakan berkata kepada Petrus: “Engkau adalah Petrus dan Yohanes adalah Yohanes. Aku tidak dapat memperlakukan kamu berdua secara sama. Aku harus menghargai individualitasmu masing-masing, karunia-karuniamu yang istimewa.” Patut dicatat bahwa kebenaran ini tidak hanya berlaku di kalangan kaum awam dalam Gereja, melainkan juga berlaku di kalangan para anggota pimpinan Gereja.

Seringkali kita merasa iri hati dan kesal karena Allah kelihatannya memperlakukan orang-orang lain dengan kasih yang melebihi kasih-Nya kepada kita sendiri. Bagaimana hal ini sampai terjadi? Allah adalah kasih. Kasih Allah itu tanpa batas kepada setiap orang tanpa kecuali. Kita harus belajar untuk menerima kasih-Nya bagi kita dan cara Dia mengasihi kita, walaupun kadang-kadang kita tidak memahaminya. Mulai saat ini, janganlah sampai kita merasa kurang dikasihi ketimbang orang-orang lain.

Allah kita adalah “Allah yang cemburu” (lihat Kel 34:14). Ia menginginkan setiap relasi-Nya dengan anak-anak-Nya merupakan relasi yang sepenuhnya personal dan unik.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau mengasihiku secara sangat mempribadi. Aku sungguh berbahagia karena di mata-Mu aku adalah seorang pribadi yang istimewa. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 21:20-25), bacalah tulisan dengan judul “MENGASIHI YESUS DAN TETAP SETIA PADA SABDA-NYA” (bacaan tanggal 3-6-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 BACAAN HARIAN JUNI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 23-5-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 1 Juni 2017 [Peringatan S. Yustinus, Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

PETRUS TIDAK DIUBAH MENJADI SEORANG “MAN OF GOD” DALAM SATU MALAM

PETRUS TIDAK DIUBAH MENJADI SEORANG “MAN OF GOD” DALAM SATU MALAM

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah – Jumat, 2 Juni 2017)

Keluarga Kapusin (OFMCap.): S. Feliks dr Nikosia, Bruder (Saudara Awam)

Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus, “Simon, anak Yohanes (Bar Yona), apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini? Jawab Petrus kepada-Nya, “Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Peliharalah anak-anak domba-Ku.”  Kata Yesus lagi kepadanya untuk kedua kalinya, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Jawab Petrus kepada-Nya, “Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya, “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya, “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Peliharalah domba-domba-Ku. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi kalau engkau sudah tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat tidak kaukehendaki.” Hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus, “Ikutlah Aku.” (Yoh 21: 15-19) 

Bacaan Pertama: Kis 25:13-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-2,11-12,19-20

Semalam-malaman Petrus dan para murid yang lain mencoba menangkap ikan di Danau Tiberias, tanpa hasil sedikit pun. Menjelang pagi, seseorang yang berdiri di pantai yang belum mereka kenali memberi nasihat di mana seharusnya Petrus dan kawan-kawannya menebarkan jala mereka. Sebuah mukjizat lagi terjadi … jala mereka sarat dengan banyaknya ikan, tetapi jalan tidak koyak. Murid yang dikasihi Yesus mengenali bahwa yang berdiri di pantai itu adalah Yesus, lalu berkata kepada Petrus, “Itu Tuhan” (Yoh 21:7). Setelah mengenakan pakaiannya, Petrus pun terjun ke danau dan berenang ke pantai disusul oleh perahu, karena jaraknya ke pantai tidak jauh, cuma sekitar 100 meter saja.

Sesudah sarapan Yesus bertanya kepada Petrus, Apakah engkau mengasihi Aku?” (Yoh 21:15). Kata dalam bahasa Yunani untuk “mengasihi” di sini adalah agapao, yang mengandung arti “cukup untuk menyerahkan nyawamu bagi-Ku?” Petrus menjawab: Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa Aku mengasihi Engkau.”  Di sini Petrus menggunakan kata philio untuk “mengasihi”, artinya afeksi yang menyentuh hati. Yesus bertanya kepada Petrus dengan pertanyaan yang sama. Mengapa? Apakah Yesus mencoba untuk menunjukkan kepada Petrus bahwa kasih Petrus kepada-Nya tidak berada dalam tingkat yang sama dengan kasih-Nya bagi Petrus? Petrus percaya kepada Yesus dan bahkan mengasihi-Nya, namun karena dia juga manusia seperti kita maka kasihnya kepada Yesus juga tumbuh secara bertahap.

Petrus tidak diubah menjadi seorang man of God dalam satu malam. Injil Yohanes menunjukkan bahwa pada hari Jumat Agung pun Petrus masih belajar bagaimana menjadi rendah-hati seperti sang Guru. Meskipun dia mampu untuk mengasihi Yesus secara manusiawi, Petrus masih bisa-bisanya menyangkal Tuhan sebanyak tiga kali. Akan tetapi, setelah kebangkitan Yesus dan pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakosta, Petrus menjadi seorang manusia baru, seseorang yang tidak pernah mau menyangkal Tuhan, meski di bawah ancaman langsung penganiayaan (lihat Kis 5:27-32).

Sekarang marilah kita lebih mendekat lagi kepada Tuhan Yesus dan menanggapi sapaan kasih-Nya agar Ia dapat lebih dalam lagi memenuhi kita dengan kasih-Nya. Ini adalah titik penting dalam kehidupan kita. Yesus bertanya kepada kita apakah kita mengasihi-Nya. Dia tidak bertanya dengan maksud menghukum kita, akan tetapi untuk menunjukkan kepada kita bahwa kasih manusia dapat salah. Dia mengundang kita untuk memperkenankan kasih-Nya mengubah kita sehingga kita dapat lebih mengasihi Dia lagi. Karena Dia mengasihi kita terlebih dahulu maka kita dapat menerima kasih-Nya dan digerakkan untuk membalas mengasihi-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau sudah melihat jauh sebelumnya, bahwa Petrus akan menyerahkan nyawanya demi kawanan domba yang dipimpinnya. Berikanlah kepada kami kasih-Mu agar kami pun mampu menjaga dan memelihara orang-orang lain dan diri kami sendiri, dengan pengharapan akan karya Roh Kudus yang menguduskan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 21:15-19), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS BERSABDA: GEMBALAKANLAH DOMBA-DOMBA-KU”  (bacaan tanggal 2-6-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 BACAAN HARIAN JUNI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-5-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 31 Mei 2017 [Pesta SP Maria Mengunjungi Elisabet] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PENTAKOSTA YANG SEJATI

PENTAKOSTA YANG SEJATI

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Peringatan S. Yustinus, Martir – Kamis, 1 Juni 2017

 

Bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku melalui pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka menjadi satu dengan sempurna, agar dunia tahu bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.

Ya Bapa, Aku mau supaya, di mana pun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan. Ya Bapa yang adil, memang dunia tidak mengenal Engkau, tetapi Aku mengenal Engkau, dan mereka ini tahu bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku; dan Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka.” (Yoh 17:20-26)

Bacaan Pertama: Kis 22:30;23:6-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 16:1-2,5,7-11  

“Bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku melalui pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” (Yoh 17:20-21)

Selama Novena Pentakosta ini kita berdoa guna menerima Roh Kudus secara lebih mendalam, yaitu Roh Kesatuan (lihat Ef 4:3), supaya kita dapat bersatu sebagaimana Bapa surgawi dan Yesus satu adanya (Yoh 17:21). Akan tetapi kesatuan yang kita upayakan bukanlah untuk menutupi adanya perpecahan; melainkan justru kita mau mengambil sikap berani untuk mengamati dan menghadapi perpecahan tersebut. Misalnya saja, Paulus mengamati adanya perpecahan yang ada antara orang-orang Farisi dan kaum Saduki (Kis 23:6-7; dalam bacaan pertama hari ini). Oleh karena itu hampir saja Paulus dihajar habis-habisan (dikoyak-koyak) oleh kedua kelompok yang saling bertentangan itu (Kis 23:10). Dengan demikian, dapat kita katakan bahwa jika kita menerima Roh Kudus – Roh persatuan – maka kita akan menghadapi ketidaksatuan itu secara frontal dan tentu saja wajar saja apabila kita menderita karenanya.

Hal ini menimbulkan masalah. Walaupun kita sangat menginginkan persatuan dengan Allah, dalam Gereja, bahkan juga persatuan antar-kelompok yang saling bermusuhan, mungkin saja kita berkeberatan untuk mengorbankan hidup kita “untuk mengumpulkan dan mempersatukan umat Allah yang tercerai berai” (Yoh 11:52). Akan tetapi, apabila kita enggan untuk berkorban – apalagi bersedia mati – bagi persatuan, maka hal ini berarti bahwa kita tidak sudi menerima Roh Kudus (Roh persatuan) tersebut. Maka perlu kita menyadari bahwa Pentakosta, kesatuan, sedia mati berkorban demi persatuan, semuanya menjadi satu dan sejalan.

Kita akan memiliki Pentakosta yang sejati atau Pentakosta yang sebenarnya, apabila cinta kasih kepada Allah dan sesama kita jauh lebih kuat daripada cinta-diri kita dan rasa takut kita terhadap kematian/maut (lihat Kid 8:6). Cinta kasih adalah suatu katalisator yang membimbing kita kita menuju mati terhadap diri sendiri, membangun persatuan dan menerima Pentakosta baru. Cinta kasih yang mendalam akan menuntun kita untuk masuk ke dalam kemartiran, suatu gerak-maju Pentakosta dan Trinitas-kesatuan. Dengan bekal cinta kasih yang memadai, maka kita pun berani untuk berdoa: “Datanglah, ya Roh Kudus!” 

DOA: Bapa surgawi, Yesus Kristus, Roh Kudus, Engkau adalah Allah yang satu dalam cinta kasih. Buatlah kami semua satu dalam iman dan cinta kasih. Jadikanlah diri kami biji-biji gandum yang jatuh ketanah dan mati, lalu akan menghasilkan banyak buah (Yoh 12:24). Terpujilah Allah Tritunggal Mahakudus, sekarang dan selama-lama-Nya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 17:20-26), bacalah tulisan yang berjudul “AGAR SUPAYA MEREKA SEMUA MENJADI SATU” (bacaan tanggal 1-6-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-05 BACAAN HARIAN MEI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-5-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 31 Mei 2016 [Pesta SP Maria Mengunjungi Elisabet] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SEPENUHNYA DIPIMPIN ROH KUDUS

SEPENUHNYA DIPIMPIN ROH KUDUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah – Selasa, 30 Mei 2017)

Ordo Santa Clara: B. Baptista Varani, Perawan Ordo II 

Karena itu ia menyuruh seorang dari Miletus ke Efesus dengan pesan supaya para penatua jemaat datang ke Miletus. Sesudah mereka datang, berkatalah ia kepada mereka, “Kamu tahu, bagaimana aku hidup senantiasa di antara kamu sejak hari pertama aku tiba di Asia ini: Dengan segala kerendahan hati aku melayani Tuhan. Dalam pelayanan itu aku banyak mencucurkan air mata dan banyak mengalami pencobaan dari pihak orang Yahudi yang mau membunuh aku. Sungguh pun demikian aku tidak pernal lalai melakukan apa yang berguna bagi kamu. Semua kuberitakan dan kuajarkan kepada kamu, baik di depan umum maupun dalam perkumpulan di rumah-rumah; aku senantiasa bersaksi kepada orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani, supaya mereka bertobat kepada Allah dan percaya kepada Tuhan kita, Yesus. Tetapi sekarang sebagai tawanan Roh aku pergi ke Yerusalem dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku di situ selain yang dinyatakan Roh Kudus dari kota ke kota kepadaku bahwa penjara dan sengsara menunggu aku. Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikit pun, asalkan aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk bersaksi tentang Injil anugerah Allah. Sekarang aku tahu bahwa kamu tidak akan melihat mukaku lagi, kamu sekalian yang telah kukunjungi untuk memberitakan Kerajaan Allah. Sebab itu pada hari ini aku bersaksi kepadamu bahwa aku bersih dari darah siapa pun juga. Sebab aku tidak lalai memberitakan seluruh maksud Allah kepadamu. (Kis 20:17-27) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 68:10-11,20-21; Bacaan Injil: Yoh 17:1-11a

“Tetapi sekarang sebagai tawanan Roh aku pergi ke Yerusalem dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku di situ selain yang dinyatakan Roh Kudus dari kota ke kota kepadaku bahwa penjara dan sengsara menunggu aku.” (Kis 20:22-23)

Dalam bacaan di atas kita melihat bahwa Paulus adalah seseorang yang tidak hanya dipenuhi Roh Kudus (Spirit filled), melainkan juga dibimbing/dipimpin oleh Roh Kudus (Spirit led). Sepenuhnya berada di bawah bimbingan Roh Kudus, Paulus maju terus dalam melaksanakan misi pewartaan Injil yang dipercayakan Yesus kepadanya, bahaya apa pun yang menantinya.

Roh Kudus akan menjamah, memberkati dan mencerahkan kita. Roh Kudus dapat saja seperti angin sepoi-sepoi basa yang menghembus lembut, seperti api yang menghangatkan atau seperti air yang sejuk segar. Namun Roh Kudus juga dapat memaksa memperingatkan (Kis 20:22-23) dan menginsyafkan kita akan dosa-dosa kita (Yoh 16:8).

Roh Kudus dapat seperti angin yang kuat dan menerbangkan (Kis 2:2), atau seperti api yang  memurikan dan membakar (Ibr 12:29), dan seperti sungai yang mengalirkan air hidup (Yoh 7:38). Roh Kudus itu bisa saja berlaku lembut, tetapi juga bisa menggoncang kita dengan kuat kuasa-Nya. Roh Kudus akan memberikan apa yang selalu kita inginkan dan juga memberi apa yang kita hindari.

Kita membutuhkan sekali Roh Kudus karena Dia adalah Roh yang memberdayakan, tetapi juga kita menolak Roh Kudus itu. Memang menerima Roh Kudus itu merupakan sesuatu yang membawa damai dan sekaligus menakutkan.

Seringkali kita merasa mau menerima separuh saja dari Roh Kudus itu. Akan tetapi Roh Kudus tidak pernah berlaku demikian. Telah lima hari kita kita menjalani Novena Roh Kudus. Kita berdoa untuk memecahkan dilema tersebut: menerima atau menolak Roh Kudus? Dosa-dosa kita, cinta-diri dan rasa takut kita begitu besar, namun kasih karunia Allah jauh lebih besar.

Saudari dan Saudaraku, marilah – dalam dan dengan iman – kita melakukan pertobatan dan berseru: “Datanglah, ya Roh Kudus!”

DOA: Tuhan Yesus, penuhilah diriku dengan Roh Kudus seperti yang telah Kautanamkan ke dalam diri Santo Paulus. Biarlah Roh Kudus membuat tenang rasa takutku dan memenuhi diriku dengan keberanian sejati, membuat diriku agar tetap fokus atas kebutuhan-kebutuhan spiritual orang-orang di sekitar diriku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 17:1-11a), bacalah tulisan yang berjudul “YANG ALLAH INGINKAN KITA LAKUKAN HANYALAH SEBAGIAN DARI SESUATU YANG JAUH LEBIH BESAR” (bacaan tanggal 30-5-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-05 BACAAN HARIAN MEI 2017 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-5-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 28 Mei 2017 [HARI MINGGU PASKAH VII – TAHUN A] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SUDAHKAH KAMU MENERIMA ROH KUDUS?

SUDAHKAH KAMU MENERIMA ROH KUDUS?

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah – Senin, 29 Mei 2017)

OFS: Peringatan S. Maria Ana dr Paredes, Perawan Ordo III Sekular 

Ketika Apolos masih di Korintus, Paulus sudah menjelajahi daerah-daerah pedalaman dan tiba di Efesus. Di situ didapatinya beberapa orang murid. Katanya kepada mereka, “Sudahkah kamu menerima Roh Kudus, ketika kamu percaya?” Akan tetapi, mereka menjawab dia, “Belum, bahkan kami belum pernah mendengar bahwa ada Roh Kudus.” Lalu kata Paulus kepada mereka, “Kalau begitu, dengan baptisan mana kamu telah dibaptis?” Jawab mereka, “Dengan baptisan Yohanes.” Kata Paulus, “Baptisan Yohanes adalah baptisan tobat dan ia berkata kepada orang banyak bahwa mereka harus percaya kepada Dia yang datang kemudian daripadanya, yaitu Yesus.” Ketika mereka mendengar hal itu mereka dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. Ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa lidah dan bernubuat. Mereka semua berjumlah kira-kira dua belas orang.

Selama tiga bulan Paulus mengunjungi rumah ibadat di situ dan berbicara dengan berani serta berdebat dengan mereka untuk meyakinkan mereka tentang Kerajaan Allah. (Kis 19:1-8)

Mazmur Tanggapan: Mzm 68:2-7; Bacaan Injil: Yoh 16:29-33 

“Sudahkah kamu menerima Roh Kudus, ketika kamu percaya?”  (Kis 19:2)

Beberapa orang murid dari Efesus menyatakan diri sebagai sudah beriman (Kis 19:2). Paulus mempertanyakan ini karena mereka nampaknya belum pernah menerima Roh Kudus. Ketika diketahui apa yang sesungguhnya terjadi, ternyata mereka bukanlah murid-murid Yesus melainkan murid-murid Yohanes Pembaptis. Memang mereka telah dibaptis, tetapi dengan baptisan Yohanes yang adalah baptisan tobat. Oleh karena itu Paulus menjelaskan kepada mereka tentang perbedaan antara baptisan Yohanes dan baptisan dalam nama Tuhan Yesus. Kemudian Paulus membaptis mereka dalam nama Tuhan Yesus dan meletakkan tangannya atas mereka (Kis 19:5-6).

“Kisah para Rasul” mencatat bahwa ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa lidah dan bernubuat (Kis 19:6). Tak diragukan lagi, sejak saat itu mereka benar-benar dapat dinamakan murid-murid Yesus.

Dari Bacaan Injil hari ini, para murid Yesus percaya bahwa Ia datang dari Allah (Yoh 16:30). Namun demikian Yesus mempertanyakan ini karena Dia tahu bahwa para murid-Nya tersebut akan tercerai-berai dan akan meninggalkan Dia seorang diri (Yoh 16:31-32). Kita – orang-orang yang menamakan diri Kristiani – juga tercerai-berai dan tersebar menjadi begitu banyak golongan, denominasi dan sekte.

Bukankah seharusnya kita bersekutu dalam doa, menyambut tubuh-Nya dalam Komuni Kudus, membaca Kitab Suci, atau bersatu dengan saudari dan saudara kita di dalam Kristus? Benar, namun pada kenyataannya kita meninggalkan Tuhan Yesus seorang diri. Inilah yang menyebabkan iman kita patut dipertanyakan.

Melalui Pentakosta ini marilah kita menerima Roh kesatuan (lihat Ef 4:3) dan Roh Kuasa. Dengan demikian, Yesus tidak perlu lagi meragukan iman-kepercayaan kita dan Dia dapat berkata kepada kita: “Besar imanmu!” (lihat Mat 15:28).

DOA: Datanglah Roh Kudus dan penuhilah diriku dengan kehadiran-Mu. Tolonglah aku agar mau dan mampu membuang berbagai penghalang terhadap karya-Mu dalam hidupku. Aku berketetapan hati untuk mengandalkan kuat-kuasa-Mu dan menggunakan berbagai karunia yang telah Kauberikan kepadaku untuk melakukan kebaikan bagi sesamaku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 16:29-33), bacalah tulisan yang berjudul “AKU TELAH MENGALAHKAN DUNIA” (bacaan tanggal 29-5-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-05 BACAAN HARIAN MEI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 9-5-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 26 Mei 2017 [Peringatan S. Filipus Neri, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS  

DOA YESUS BAGI PARA MURID-NYA

DOA YESUS BAGI PARA MURID-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH VII [Tahun A], 28 Mei 2017)

HARI MINGGU KOMUNIKASI SEDUNIA

 

Lalu Ia menengadah ke langit dan berkata, “Bapa, telah tiba saatnya; muliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu memuliakan Engkau. Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah
Engkau berikan kepada-Nya. Inilah hidup yang kekal, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. Aku telah memuliakan Engkau di bumi dengan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk Kulakukan. Dan sekarang, ya Bapa, muliakanlah Aku di hadirat-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.

Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia. Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku dan mereka telah menuruti firman-Mu. Sekarang mereka tahu bahwa semua yang Engkau berikan kepada-Ku itu berasal dari Engkau. Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar bahwa Aku datang dari Engkau dan mereka percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu dan segala milik-Ku adalah milik-Mu dan milik-Mu adalah milik-Ku, dan Aku telah dimuliakan di dalam mereka. Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. (Yoh 17:1-11a) 

Bacaan Pertama: Kis 1:12-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,7-8; Bacaan Kedua: 1Ptr 4:13-16

Doa Yesus bagi para murid-Nya pada perjamuan terakhir dikenal sebagai doa-Nya sebagai imam (Imam Besar Agung), atau doa pengudusan-Nya, atau sebagai “prakata” dari pengorbanan-Nya di kayu salib. Nada doa yang bernuansa kesucian ini dan juga berisikan tema kontemplatif pasti akan menyarankan judul liturgis tertentu. Namun begitu, doa ini dapat juga dinilai sebagai versi yang lebih menekankan kekudusan dari doa “Bapa Kami”.

Seorang pemimpin religius pantas diharapkan untuk mengajarkan kepada para murid-Nya sebuah doa yang menjadi ikhtisar dari ajaran-Nya bagi mereka. Jadi tidak mengherankanlah jika salah seorang murid-Nya berkata kepada Yesus, “Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya” (Luk 11:1).

Doa “Bapa Kami” sebenarnya mengungkapkan dengan kata-kata sederhana hakihat dari ajaran Yesus mengenai Allah dan tujuan sentral dari misi-Nya. Relasi-Nya dengan Allah diungkapkan dalam nama “Bapa” yang berdiam di tempat sejauh surga, namun sedekat jarak antara  Bapa dan Anak, yang nama-Nya harus dihormati dan penyelenggaraan-Nya harus dipercaya.

Pekerjaan sentral dari Yesus adalah membangun Kerajaan Allah di dalam dunia. Kerajaan itu berarti sebuah masyarakat di mana kehendak Allah adalah aturan hidup yang berlaku. Artinya ada roti setiap hari bagi semua orang: tidak ada lagi ketidakadilan, diskriminasi atau ketamakan, melainkan ikut ambil bagian secara fair dalam segala sumber daya yang ada di bumi. Di dalam Kerajaan Allah ada pengampunan penuh dan rekonsiliasi sempurna: tidak ada lagi saling cakar atau hantam-menghantam antara para warganya.

Para warga Kerajaan Allah dengan setia bertekun selagi godaan ditolak dan kejahatan dikalahkan secara total. Doa Yesus dalam ruang atas ini mengulangi tema-tema besar dari doa “Bapa Kami”, walaupun dalam siklus-siklus pemikiran Yohanes yang kesana-kemari atau berputar-putar daripada ungkapan yang sederhana dan jelas dalam Injil Lukas dan Injil Matius. Nama yang mendominasi doa ini lagi-lagi adalah “Bapa”. Allah yang Mahalain diungkapkan oleh Yohanes dalam tema-tema pemuliaan yang diulang-ulangi olehnya.

Jika doa “Bapa Kami” menjadi sebuah doa untuk Kerajaan Allah di atas bumi, maka doa Yesus di ruang atas dimaksudkan sebagai syafaat untuk para murid-Nya di seluruh dunia. Yesus telah memuliakan Bapa di atas bumi dengan melakukan kehendak-Nya dan membuat nama-Nya dikenal. Sekarang, pada saat-saat terakhir-Nya di atas bumi telah selesai, Dia menyerahkan misi-Nya kepada para murid-Nya. Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia” (Yoh 17:11).

Sekarang instrumen Kerajaan Allah adalah Gereja di atas bumi. Kemuliaan Yesus sendiri sekarang dicerminkan dalam karya Gereja … “Aku telah dimuliakan di dalam mereka” (Yoh 17:10). Dalam banyak bentuk dan cara kerjanya, karya-karya pelayanan karitatif Gereja memberikan “roti” bagi orang yang lapar, mendirikan berbagai klinik dan rumah sakit bagi orang-orang sakit, menjalankan rumah singgah dll.

Gereja mengalami pengampunan Allah secara begitu mendalam, sehingga terdapat satu “sakramen rekonsiliasi” untuk merayakan pengampunan Allah itu. Dengan penuh hasrat untuk mensyeringkan sukacita rekonsiliasi, Gereja mewartakan damai-sejahtera dan mendorong terciptanya suatu pemahaman yang lebih besar daripada rasa sakit, suatu kondisi terberkati yang mengatasi sikap dan tindakan mengutuk. Melalui berbagai praktek asketisme Gereja menolong orang-orang untuk melawan godaan dan dilepaskan/dibebaskan dari cengkeraman si Jahat.

Doa Yesus di ruang atas adalah spiral besar dari pemikiran kontemplatif Yohanes, yang mengembang dari kata-kata sederhana dalam doa “Bapa Kami”.

Tulisan ini adalah saduran bebas dari bacaan yang terdapat dalam P. Silvester O’Flynn, THE GOOD NEWS OF MATTHEW’S YEAR, Dublin, Ireland: Cathedral Books,  1989 (1992 reprinting), hal. 114-115.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu, karena Engkau telah mendoakan kami – bukan dunia – kehadapan hadirat Bapa. Dalam doa-Mu, Engkau mengatakan bahwa bukan untuk dunia Engkau berdoa, tetapi untuk kami semua, yang telah diberikan Bapa kepada-Mu, sebab kami adalah milik Bapa dan segala milik-Mu adalah milik Bapa dan milik Bapa adalah milik-Mu, dan Engkau telah dimuliakan di dalam kami semua. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Yesus, Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 17:1-11a), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MENDOAKAN PARA MURID-NYA DI HADAPAN BAPA-NYA” dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-05 BACAAN HARIAN MEI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 1-6-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 25 Mei 2017 [HARI RAYA KENAIKAN TUHAN]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

BAPA SENDIRI MENGASIHI KAMU

BAPA SENDIRI MENGASIHI KAMU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI Paskah – Sabtu, 27 Mei 2017)

Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku. Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatu pun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.

Semuanya ini Kukatakan kepadamu dengan kiasan. Akan tiba saatnya Aku tidak lagi berkata-kata kepadamu dengan kiasan, tetapi terus terang memberitakan Bapa kepadamu. Pada hari itu kamu akan berdoa dalam nama-Ku. Tidak Aku katakan kepadamu bahwa Aku meminta bagimu kepada Bapa, sebab Bapa sendiri mengasihi kamu, karena kamu telah mengasihi Aku dan percaya bahwa Aku datang dari Allah. Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa.” (Yoh 16:23b-28) 

Bacaan Pertama: Kis 18:23-28; Mazmur Tanggapan: Mzm 47:2-3,8-10 

“Bapa sendiri mengasihi kamu.” (Yoh 16:27)

Oh betapa beruntungnya kita semua sebagai anak-anak dari “seorang” Allah yang begitu mengasihi kita! Yesus bersabda kepada para murid-Nya – dan tentunya kepada kita semua – bahwa segala sesuatu yang kita minta kepada Bapa dalam nama-Nya, akan diberikan oleh Bapa kepada kita. Mengapa? Karena Bapa mengasihi kita semua. Sebagai “seorang” pemasok segala kebutuhan kita, Bapa surgawi sungguh  berhasrat untuk memberikan kepada kita pemberian-pemberian yang baik. Ia ingin menyembuhkan hati kita yang meradang kesakitan, memegang kita dengan tangan-Nya sendiri dan menuntun kita di jalan yang lurus, juga memberikan segala berkat-Nya kepada kita. Bagi Allah, mengasihi adalah suatu prioritas. Pater Henri Nouwen pernah menulis: “Allah mengasihi kita sebelum manusia mana pun dapat menunjukkan cintakasih kepada kita. Dia mengasihi kita dengan ‘cinta pertama’, suatu cintakasih yang tanpa batas dan tanpa syarat.”

Membangun dan mengembangkan suatu relasi cintakasih dengan Allah adalah hal terpenting yang kita dapat lakukan dalam hidup kita. Namun demikian, berapa banyak dari kita ini yang masih berpikir bahwa kita harus melakukan sesuatu dulu agar pantas menerima kasih Allah? Berapa banyak dari kita menyamakan tindakan “melayani Allah” dengan “mengasihi Allah”? Dunia kita sangat berorientasi pada tujuan. Dalam dunia manajemen, misalnya kita diajar dan mengajar tentang management by objectives, goals program dst., hal mana juga biasanya diintegrasikan ke dalam proses penilaian prestasi kerja (performance appraisal) orang-orang yang bekerja untuk kita. Semua itu baik! Namun salah satu pengaruhnya adalah, bahwa dengan demikian mudah sekali kita berpikir bahwa Allah juga (seperti para atasan dalam perusahaan) menghendaki kita menunjukkan prestasi yang memuaskan sebelum memberikan imbalan (reward), seakan Dia berkata, “Performance dulu, baru dapat reward; menangkan pertandingan dulu, baru dapat piala.”

Ingatlah bahwa tidak demikianlah halnya dengan Allah kita. Ingatlah apa yang disabdakan oleh Yesus sendiri: “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat …” (Yoh 15:15). Ia ingin agar Gereja-Nya dipenuhi dengan orang-orang yang mengasihi-Nya dengan penuh gairah, sama seperti Dia mengasihi mereka. Seperti seorang mempelai perempuan yang menyenangkan hati mempelai laki-laki, kita dipanggil untuk melakukan hal-hal bagi Yesus karena kita mengasihi Dia, bukan karena kita ingin membuktikan diri kita  kepada-Nya atau membuat diri kita “pantas” menerima cintakasih-Nya.

Bagaimana kiranya kasih Allah ini? Kelihatannya seperti apa? Bagaimana rasanya? Pada waktu-waktu tertentu kasih Allah itu mungkin saja mengambil bentuk rasa sukacita yang berlimpah, meski di tengah keadaan yang sulit. Pada waktu-waktu yang lain, mungkin mengambil bentuk suatu rasa damai yang mendalam dalam hati kita. Dapat juga mengambil bentuk keyakinan yang datang dari pengetahuan bahwa kita tidak pernah ditinggal sendirian.

Kalau kita ingin mengalami kasih Allah ini, maka kita harus mulai dengan menjadi riil dengan Dia. Akuilah kepada Allah dan kepada diri kita sendiri bahwa sebenarnya kita sangat, dan sangat membutuhkan Dia. Kita mohon kepada-Nya agar memenuhi diri kita dengan Roh-Nya dan untuk menyatakan kasih-Nya kepada kita. Allah Bapa memiliki kerinduan yang lebih besar untuk bertemu dengan kita daripada keinginan kita untuk bertemu dengan Dia.

DOA: Bapa di surga, Allah yang Mahapengasih dan Maharahim. Terima kasih penuh syukur kupanjatkan ke hadirat-Mu karena Engkau mengasihiku dengan suatu kegairahan tanpa batas. Aku sendiri malah tidak dapat memperkirakan sampai berapa dalam kasih-Mu bagi diriku. Terima kasih, ya Bapa, Engkau telah menyerahkan Putera-Mu yang tunggal sampai wafat di kayu salib, demi keselamatan kami, anak-anak-Mu. Kasih-Mu seperti sungai yang mengalir tanpa henti. Terpujilah Engkau selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Yoh 16:23b-28), bacalah tulisan yang berjudul  “MINTA KEPADA BAPA DALAM NAMA YESUS” (bacaan tanggal 27-5-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-05 BACAAN HARIAN MEI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 7-5-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 24 Mei 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS