Posts tagged ‘MASA ADVEN 2019’

YESUS KRISTUS: ANAK DAUD YANG SEJATI

YESUS KRISTUS: ANAK DAUD YANG SEJATI

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Selasa, 24 Desember 2019)

Ketika raja telah menetap di rumahnya dan TUHAN (YHWH) telah mengaruniakan keamanan kepadanya terhadap semua musuhnya di sekeliling, berkatalah raja kepada nabi Natan: “Lihatlah, aku ini diam dalam rumah dari kayu aras, padahal tabut Allah diam di bawah tenda.” Lalu berkatalah Natan kepada raja: “Baik, lakukanlah segala sesuatu yang dikandung hatimu, sebab YHWH menyertai engkau.”

Tetapi pada malam itu juga datanglah firman YHWH kepada Natan, demikian: “Pergilah, katakanlah kepada hamba-Ku Daud: Beginilah firman YHWH: Masakan engkau yang mendirikan rumah bagi-Ku untuk Kudiami?

Oleh sebab itu, beginilah kaukatakan kepada hamba-Ku Daud: Beginilah firman YHWH semesta alam: Akulah yang mengambil engkau dari padang, ketika menggiring kambing domba, untuk menjadi raja atas umat-Ku Israel. Aku telah menyertai engkau di segala tempat yang kaujalani dan telah melenyapkan segala musuhmu dari depanmu. Aku membuat besar namamu seperti nama orang-orang besar yang ada di bumi. Aku menentukan tempat bagi umat-Ku Israel dan menanamkannya, sehingga ia dapat diam di tempatnya sendiri dengan tidak lagi dikejutkan dan tidak pula ditindas oleh orang-orang lalim seperti dahulu, sejak Aku mengangkat hakim-hakim atas umat-Ku Israel. Aku mengaruniakan keamanan kepadamu dari pada semua musuhmu. Juga diberitahukan YHWH kepadamu: YHWH akan memberikan keturunan kepadamu. Apabila umurmu sudah genap dan engkau telah mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangmu, maka Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian, anak kandungmu, dan Aku akan mengokohkan kerajaannya. Keluarga dan kerajaanmu akan kokoh untuk selama-lamanya.” (2Sam 7:1-5,8-12,16)

Mazmur Tanggapan: Mzm 89:2-5,27,29; Bacaan Injil: Luk 1:67-79 

Allah menjanjikan sesuatu yang indah kepada Daud, yaitu  bahwa Dia akan membangun bagi Daud sebuah “keturunan” (2Sam 7:11).  Sejarah menceritakan kepada kita bahwa Salomo, salah seorang putera Daud, membangun Bait Suci yang pada awalnya ingin dibangun oleh Daud. Akan tetapi kita dapat melihat bahwa “keturunan” yang dibangun Allah untuk Daud – dinastinya, warisannya, tempatnya dalam sejarah penyelamatan – adalah jauh lebih besar. Di sini Allah berbicara mengenai garis keturunan Daud, yang akan mencapai klimaks dalam diri Yesus Kristus, Anak Daud yang sejati.

Sebagai umat Kristiani, kita sekarang percaya bahwa melalui Yesus, garis keturunan Daud secara spiritual berlanjut di dalam Gereja – Tubuh Kristus – yang mengumpulkan orang-orang yang ditebus. Marilah kita merenung sejenak: Secara kolektif dan individual, masing-masing kita adalah bait Roh Kudus (1Kor 3:16; 6:19), sebuah tempat suci di mana Allah berdiam di atas bumi ini.

Menjadi “rumah” Allah tidak terjadi secara ajaib begitu saja dengan diri kita pada waktu kita dibaptis. Kita tidak menjadi bait-bait yang sempurna dalam sekejab, memancarkan cahaya Kristus secara lengkap ke dunia di sekeliling kita. Dari hari ke hari Allah ingin melanjutkan proyek pembangunan-Nya dalam diri kita. Dia ingin membuang fondasi-fondasi apa saja yang salah dalam hidup kita, sehingga dengan demikian kita dapat bertumpu pada kebenaran-Nya dan kasih-Nya saja. Allah ingin menghadirkan diri-Nya pada kedalaman hati kita masing-masing, sehingga apabila kita berkumpul dalam nama-Nya – apakah untuk melakukan penyembahan kepada-Nya atau pergi ke tengah-tengah dunia – maka Dia dapat bergerak dengan lebih penuh kuat-kuasa di tengah kita dan melalui kita masing-masing.

Oleh karena itu, marilah kita memperkenankan janji Allah memenuhi diri kita. Bayangkanlah apa kiranya yang ada dalam pikiran Daud ketika dia mendengar janji Allah kepadanya, bagaimana hatinya begitu tergetar membayangkan betapa agung janji tersebut. Lalu, bayangkanlah Allah mengatakan hal yang sama kepada diri kita, bahwa Dia sangat mengasihi kita dan ingin berdiam dalam diri kita selamanya. Pada Malam Natal ini, marilah kita bersembah sujud di hadapan Yesus, batu penjuru (Kis 4:11; 1Ptr 2:7; bdk. Mzm 118:22; lihat juga Mat 21:42; Mrk 12:10; Luk 20:17) dan pembangun “rumah” kita.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, aku bersembah sujud di hadapan-Mu. Aku menyambut Engkau ke dalam hatiku, dan merasa takjub bahwa Engkau akan memperhitungkan diriku sebagai salah seorang yang dapat menjadi tempat kediaman-Mu. Datanglah, ya Tuhan Yesus, dan berdiamlah dalam diriku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:67-79), bacalah tulisan yang berjudul “UNTUK MEMPERSIAPKAN JALAN BAGI YESUS KRISTUS” (bacaan tanggal 24-12-19] dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 24-12-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 22 Desember 2019 [HARI MINGGU ADVEN IV – TAHUN A]  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ALLAH SENDIRILAH YANG MENENTUKAN NAMA ANAK ITU

ALLAH SENDIRILAH YANG MENENTUKAN NAMA ANAK ITU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Senin, 23 Desember 2019)

Kemudian tibalah waktunya bagi Elisabet untuk bersalin dan ia pun melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia. Lalu datanglah mereka pada hari yang ke delapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapaknya, tetapi ibunya berkata, “Jangan, ia harus dinamai Yohanes.” Kata mereka kepadanya, “Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian.” Lalu mereka memberi isyarat kepada bapaknya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu. Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini, “Namanya adalah Yohanes.” Mereka pun heran semuanya. Seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah.

Lalu ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah pembicaraan di seluruh pegunungan Yudea. Semua orang yang mendengarnya, merenungkannya dalam hati dan berkata, “Menjadi apakah anak ini nanti?” Sebab tangan Tuhan menyertai dia. (Luk 1:57-66)

Bacaan Pertama: Mal 3:1-4; 4:5-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 25:4-5,8-10,14 

Para orang-tua tentunya mempunyai banyak alasan mengapa mereka memilih sendiri nama anak mereka. Dalam kasus Yohanes Pembaptis, yang menentukan nama sang anak bukanlah orangtuanya, melainkan Allah sendirilah yang menentukan namanya sebagai bagian dari perwahyuan atas makna Natal. Nama “Yohanes” (bahasa Yunani: Iôannès) menunjukkan suatu kebenaran penting tentang kedatangan Tuhan ke dalam dunia.  Kata Ibrani-nya dapat diterjemahkan sebagai:  “YHWH memberikan karunia”. Ingatlah apa yang dikatakan malaikat Gabriel kepada Maria: “Salam, hai engkau yang dikaruniai” (catatan: dalam doa “Salam Maria” kita mengatakan “penuh rahmat”). Salam malaikat ini mencerminkan  perwahyuan yang ada dalam kata “Yohanes”. Salam malaikat ini mengandung makna, bahwa Maria adalah puteri Allah yang paling terberkati.

Maria dipilih menjadi ibunda Yesus bukan karena usahanya sendiri, melainkan sepenuhnya karena kehendak Allah. Demikian pula halnya dengan kita. Natal adalah pemberian dari Allah bagi kita yang bersifat “gratis” (catatan: kata bahasa Latin gratia atau grace dalam bahasa Inggris berarti rahmat), murni karunia. Tanpa upaya apapun dari pihak manusia, Allah memberikan kepada kita karunia-Nya yang terbesar, yaitu Putera-Nya sendiri.

Pada zaman nabi Maleakhi, orang-orang Yahudi baru pulang kembali ke tanah terjanji setelah hidup dalam pembuangan di Babel. Mereka berjuang melawan kemiskinan yang selama ini telah membelenggu mereka. Mereka mengeluh kepada Allah mengapa hanya orang-orang jahat saja yang hidup makmur. Kendati mereka sendiri juga tidak setia kepada Allah, mereka mau tahu bilamana Allah akan memenuhi janji-Nya untuk menurunkan berkat-berkat kepada mereka.

Pada zaman modern ini pun kita terkadang (atau seringkali?) masih bertanya mengenai kemakmuran dan kenikmatan hidup orang-orang yang kelihatan tidak peduli pada Allah maupun perintah-perintah-Nya. Dalam hal ini kita harus ingat perwahyuan bahwa tidak ada seorang pun yang dikecualikan dari cintakasih Kristus. Mereka yang kaya dan berkuasa juga termasuk, misalnya para majus. Namun orang-orang miskin, bersahaja dan berderajat sosial/ekonomi rendah sungguh menerima karunia-Nya secara istimewa. Yang pertama datang menyambut kedatangan bayi Yesus adalah para gembala. Mereka mewakili “wong cilik”, orang-orang bersahaja yang menggantungkan “nasib” mereka sepenuhnya kepada Allah, bukannya harta kekayaan atau kekuasaan yang dimiliki.

Dalam Magnificat-nya Maria memuji-muji Allah karena “Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah” (Luk 1:52). Kita akan menerima berkat-berkat Natal selama kita berendah hati di hadapan Allah, dan  bahwa kita tidak menggantungkan diri pada kekayaan dunia ini, melainkan pada kekayaan belas kasih Allah.

DOA: Bapa surgawi, nama “Yohanes” mengingatkan kami, bahwa Engkau-lah Sang Pemberi karunia kepada umat manusia. Biarlah Roh Kudus-Mu mempersiapkan hati kami agar sungguh siap menerima kedatangan karunia-Mu yang terbesar, Yesus Putera-Mu, pada hari Natal ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Mal 3:1-4; 4:5-6); bacalah tulisan yang berjudul “SUPAYA IA MEMPERSIAPKAN JALAN DI HADAPAN-KU” (bacaan tanggal 23-12-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 19-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 23-12-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 19 Desember 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KATA-KATA SANG MALAIKAT TUHAN MEYAKINKAN YUSUF

KATA-KATA SANG MALAIKAT TUHAN MEYAKINKAN YUSUF

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU ADVEN IV [Tahun A], 22 Desember 2019)

Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus sebelum mereka hidup sebagai suami istri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama istrinya di depan umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan tampak kepadanya dalam mimpi dan berkata, “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka.” Hal itu terjadi supaya digenapi yang difirmankan Tuhan melalui nabi, “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel.” (Yang berarti: Allah menyertai kita.) Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai istrinya. (Mat 1:18-24) 

Bacaan pertama: Yes 7:10-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 24:1-6; Bacaan Kedua: Rm 1:1-7 

Dalam menceritakan kisah Natal ini, Matius menekankan bahwa sejarah Israel digenapi dengan kedatangan Yesus.  Untuk menunjukkan intervensi langsung yang dilakukan oleh Alllah, Matius menunjuk pada kenyataan dikandungnya Yesus dalam rahim Maria oleh kuasa Roh Kudus. Ini adalah sebuah peristiwa ilahi, namun juga bersifat insani; sesuatu hal yang tidak lepas dari kebingungan, teristimewa bagi Yusuf.

Apa yang harus dilakukan oleh Yusuf pada waktu dia memperoleh info dari malaikat Tuhan, bahwa Maria telah mengandung dan dia jelas bukanlah laki-laki yang membuat tunangannya itu mengandung? Apakah Maria pernah memberitahukan kepadanya tentang kondisinya? Apakah Maria juga pernah bercerita kepadanya, bahwa semua ini adalah akibat suatu rahmat istimewa dari Allah? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak dijawab dalam Injil Matius. Akan tetapi ada satu kalimat dalam Injil Matius ini yang menguatkan-penuh jaminan, sepotong kalimat yang diucapkan oleh sang malaikat Tuhan: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu” (Mat 1:20). Kiranya kalimat ini sungguh menyejukkan hati Yusuf. Rasa was-was, khawatir, malah rasa takut seperti ini sebenarnya adalah awal dari kebijaksanaan: Suatu rasa takjub penuh hormat di hadapan hadirat Allah sang Mahatinggi. Rasa takut Yusuf, rasa takjubnya ini, membuat dirinya merasa tak berarti apa-apa dan tentunya tak pantas untuk menjadi bagian dari peristiwa ilahi ini. Yusuf hanyalah seorang tukang kayu di Nazaret, seorang laki-laki bersahaja tanpa embel-embel reputasi sosial yang tinggi. Akan tetapi, justru itulah sebabnya Allah memilih dia. Bayangkanlah betapa tergetar hati Yusuf, ketika mengetahui bahwa Allah menginginkan dirinya menjadi bagian dari peristiwa yang menggenapi sejarah semua nenek moyangnya.

Kita pun harus memandang serta menantikan kedatangan Hari Natal yang tinggal beberapa hari ini dengan rasa takjub penuh hormat, namun juga dengan kesadaran penuh syukur bahwa Allah memanggil kita untuk turut ambil bagian dalam misteri agung ini, walaupun kita hanyalah orang-orang biasa saja.

Dalam bacaan pertama kita dengar Nabi Yesaya berkata: “Baiklah dengarkan, hai keluarga Daud! Belum cukupkah kamu melelahkan orang, sehingga kamu melelahkan Allahku juga? Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel” (Yes 7:13-14).

Di lain pihak, nabi Yeremia berkata: “Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman YHWH, bahwa Aku akan menumbuhkan Tunas adil bagi Daud. Ia akan memerintah sebagai raja yang bijaksana dan akan melakukan keadilan dan kebenaran di negeri. Dalam zamannya Yehuda akan dibebaskan dan Israel akan hidup dengan tenteram; dan inilah namanya yang diberikan orang kepadanya: YHWH – keadilan kita” (Yer 23:5-6).  Ketika nabi Yeremia memproklamasikan pesan ini,  Yehuda berada dalam situasi kacau-balau. Bangsa kecil ini berada dalam ambang kehancurannya di hadapan kekaisaran Babel yang perkasa. Yeremia menyalahkan raja-raja Yehuda yang telah “mengkhianati” rakyatnya, tidak bedanya dengan para gembala yang membiarkan kambing domba gembalaan-Nya hilang dan terserak (lihat Yer 23:1). Meskipun dalam situasi yang suram sedemikian, Yeremia memproklamasikan janji Allah, bahwa Dia akan menghadirkan seorang raja yang adil-bijaksana, seorang keturunan Daud.

Nubuat nabi Yesaya dan Yeremia menunjukkan suatu pandangan terhadap masa depan yang bersifat optimistis, dan hal ini mencirikan liturgi Adven kita. Allah berjanji bahwa hari-hari baik akan datang. Hari-hari baik bagi kita terwujud dengan kelahiran Yesus, namun kita memandang ke depan juga untuk saat-saat yang lebih baik lewat perayaan Natal kita ini. Adven adalah keyakinan bahwa sesuatu yang lebih baik ada di depan mata. Adven adalah suatu harapan bahwa kita akan menemukan (kembali) suatu rasa cinta yang sempat hilang, dan meraih kembali sukacita hari-hari yang lebih membahagiakan.  Hal ini berarti bahwa kita memiliki alasan kuat untuk bersikap optimistis dan waspada selalu, karena meskipun Kristus sang Gembala Baik sudah hadir di dunia,kita masih menantikan kedatangan-Nya dalam kemuliaan pada akhir zaman.

DOA: Roh Kudus, aku percaya bahwa Engkau ingin sekali berbicara kepadaku tentang siapa Yesus itu dan apa arti dari penghayatan hidup Injili. Tingkatkanlah kesadaranku akan kehadiran-Mu. Tolonglah aku agar mampu mendengar suara-Mu tatkala  aku membaca Kitab Suci. Ajarlah aku jalan-jalan-Mu. Bimbinglah aku dalam penghayatan hidup Kristiani yang telah diberikan Yesus Kristus kepadaku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 1:18-24), bacalah tulisan yang berjudul “MENELADAN SANTO YOSEF, HAMBA TUHAN YANG SEJATI” (bacaan tanggal 22-12-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 19-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 18-12-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 19 Desember 2019 

Sdr. F.X,. Indrapradja, OFS

MARIA ADALAH SEORANG PERAWAN DAN SEORANG IBU DALAM ARTIAN SEBENARNYA

MARIA ADALAH SEORANG PERAWAN DAN SEORANG IBU DALAM ARTIAN SEBENARNYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Sabtu, 21 Desember 2019)

Peringatan S. Petrus Kanisius, Imam Pujangga Gereja

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan bergegas menuju sebuah kota di pegunungan Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.” (Luk 1:39-45)

Bacaan pertama: Kid 2:8-14 atau Zef 3:14-18a; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:2-3,11-12,20-21

Dalam kedalaman hati setiap perempuan yang baik terdapat suatu hasrat untuk kualitas-kualitas baik sebagai seorang perawan maupun seorang ibu. Dia ingin suatu hidup kemurnian yang bermakna, baik secara fisik maupun spiritual: suatu kemurnian pikiran, hati, dan kehendak. Ia juga memiliki hasrat menjadi seorang ibu, artinya memberikan hidup. Seorang ibu memberikan hidup secara fisik, malah secara spiritual, dengan memberikan nilai kepada kehidupan, dengan memberikan makna dan tujuan  dan dorongan kepada orang-orang lain.

Dua imaji (gambar) atau cita-cita ini, perawan maupun ibu, tidaklah bertentangan satu sama lain, melainkan bersifat komplementer – saling mengisi/melengkapi – dalam karakter perempuan. Kedua hal tersebut memanifestasikan dua kecenderungan pribadi manusia: (1) penahanan/ pengurungan diri – menahan diri kita sendiri untuk menjadi setia terhadap orang lain, dan (2) pengosongan diri (Inggris: self-abandonment) – memberikan diri sendiri kepada banyak orang. Dua kualitas ini bersama-sama membentuk perempuan yang ideal.

Allah menyadari ideal ini secara sempurna terdapat dalam diri seorang pribadi: Ibunda-Nya, Maria.  Maria ini adalah seorang perawan dan seorang ibu dalam artian yang sesungguhnya, baik secara fisik maupun spiritual.  Allah memanggil setiap perempuan untuk secara spiritual menjadi perawan dan seorang ibu, tanpa peduli status kehidupannya: apakah menikah, tidak menikah, atau sebagai religus.

Baiklah kita melihat dua keutamaan indah perempuan ini, baik dalam diri Maria maupun Elisabet selagi mereka berjumpa di tempat kediaman Elisabet dan Zakharia di Ain Karem. Lihatlah bagaimana mereka membuka diri masing-masing bagi Allah. Bagaimana dengan penuh sukacita mereka telah menerima kesempatan-kesempatan dalam hidup mereka. Bagaimana mereka melihat dengan penuh penghargaan inspirasi-inspirasi ilahi dalam keheningan batin mereka dan bagaimana mereka telah memberikan yang terbaik bagi orang-orang lain.

Betapa indahlah seorang perempuan yang mengkombinasikan dengan baik dan seimbang kedua kualitas berharga ini! Berbahagialah seorang perempuan yang menjaga baik-baik karunia hikmat dan kesehatan rohaninya, rasa percayanya, kemampuannya untuk memahami dan untuk menaruh simpati. Dengan demikian dia siap untuk menaruh hormat/respek kepada orang-orang lain, mendukung mereka, untuk berbela-rasa. Perempuan seperti itu memiliki kecerdikan untuk membawa segala sesuatu kepada tujuannya yang paling berguna, paling berbuah, paling indah dan paling berharga.

DOA: Bapa surgawi, Allah yang baik, sumber segala kebaikan, satu-satunya yang baik. Kata-kata berikut ini diucapkan oleh Elisabet kepada Maria. “Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.” Ya Tuhanku dan Allahku, jadikanlah diriku anak-Mu yang baik dengan meneladan iman-kepercayaan sejati yang telah ditunjukkan oleh Bunda Maria. Terpujilah nama-Mu yang kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:39-45), bacalah tulisan yang berjudul “DENGAN MEMBAWA KRISTUS SENDIRI” (bacaan tanggal 21-12-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-12-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 19 Desember 2019

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

LAGI-LAGI ALLAH MEMBUKTIKAN BAHWA SEGALA MUNGKIN BAGI-NYA

LAGI-LAGI ALLAH MEMBUKTIKAN BAHWA SEGALANYA MUNGKIN BAGI-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Kamis, 19 Desember 2019)

Pada zaman Herodes, raja Yudea, ada seorang imam yang bernama Zakharia dari rombongan Abia. Istrinya juga berasal dari keturunan Harun, namanya Elisabet. Keduanya hidup benar di hadapan Allah dan menuruti segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat. Tetapi mereka tidak mempunyai anak, sebab Elisabet mandul dan keduanya telah lanjut umurnya.

Pada suatu kali, waktu tiba giliran kelompoknya, Zakharia melakukan tugas keimaman di hadapan Tuhan. Sebab ketika diundi, sebagaimana lazimnya, untuk menentukan imam yang bertugas, dialah yang ditunjuk untuk masuk  ke dalam Bait Suci dan membakar dupa di situ. Pada waktu pembakaran dupa, seluruh umat berkumpul di luar dan sembahyang. Lalu tampaklah kepada Zakharia seorang malaikat Tuhan berdiri di sebelah kanan mezbah pembakaran dupa. Melihat hal itu ia terkejut dan menjadi takut. Tetapi malaikat itu berkata kepadanya, “Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan. Elisabet, istrimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes. Engkau akan bersukacita dan bergembira, bahkan banyak orang akan bersukacita atas kelahirannya itu. Sebab ia akan besar di hadapan Tuhan dan dia tidak akan minum anggur atau minuman keras dan ia akan penuh dengan Roh Kudus sejak dari rahim ibunya dan ia akan membuat banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan, Allah mereka. Ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati para bapak berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar. Dengan demikian ia menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya.” Lalu kata Zakharia kepada malaikat itu, “Bagaimanakah aku tahu bahwa hal ini akan terjadi? Sebab aku sudah tua dan istriku sudah lanjut umurnya.” Jawab malaikat itu kepadanya, “Akulah Gabriel yang melayani Allah dan aku telah diutus untuk berbicara kepadamu untuk menyampaikan kabar baik ini kepadamu. Sesungguhnya engkau akan menjadi bisu dan tidak dapat berkata-kata sampai hari ketika semuanya ini terjadi, karena engkau tidak percaya kepada perkataanku yang akan dipenuhi pada waktunya.” Sementara itu orang banyak menanti-nantikan Zakharia. Mereka menjadi heran bahwa ia begitu lama berada dalam Bait Suci. Ketika ia keluar, ia tidak dapat berkata-kata kepada mereka dan mengertilah mereka bahwa ia telah melihat suatu penglihatan di dalam Bait Suci. Lalu ia memberi isyarat kepada mereka, dan ia tetap bisu. Ketika selesai masa pelayanannya, ia pulang ke rumah.

Beberapa lama kemudian Elisabet, istrinya, mengandung dan selama lima bulan ia tidak menampakkan diri, katanya, “Inilah suatu perbuatan Tuhan bagiku, dan sekarang Ia berkenan menghapuskan aibku di depan orang.” (Luk 1:5-25)

Bacaan Pertama: Hak 13:2-7.24-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 71:5-6,16-17

Pada saat Zakharia mendengar malaikat agung Gabriel memberitahukan kepadanya tentang janji Allah baginya untuk memberinya seorang anak laki-laki, dia meminta bukti bagaimana kiranya hal itu akan menjadi kenyataan karena dia dan istrinya – Elisabet – sudah tua. Karena ketiadaan imannya, Zakharia dibuat menjadi bisu sampai janji itu dipenuhi. Sembilan bulan kemudian, Allah menganugerahi Zakharia dan Elisabet seorang anak laki-laki. Dalam hal ini Allah lagi-lagi melakukan pekerjaan ajaib seperti yang telah dilakukan-Nya atas diri para pasutri lainnya dalam Kitab Suci: Abraham dan Sara (Kej 18:9-10;21:1-2), Elkana dan Hana (1Sam 1:2,19-20), dan Manoa dan istrinya (Hak 13:2,24). Ketika bayi dalam kandungan Elisabet berumur 6 bulan, kepada seorang perawan di Nazaret malaikat agung Gabriel membuat pernyataan: “Bagi Allah tidak ada yang mustahil” (Luk 1:37).

Jadi, untuk kesekian kalinya Tuhan membuktikan bahwa segalanya mungkin bagi-Nya. Ketika Sara tertawa mendengar bahwa kepadanya dijanjikan seorang anak laki-laki, Allah berkata kepada Abraham: “Adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk TUHAN (YHWH)?” (Kej 18:14). Iman Abraham akan janji Allah tidak pernah menyusut. Ia “berkeyakinan penuh bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan” (Rm 4:21).

Pada waktu YHWH menyatakan diri-Nya kepada Ayub, ia juga diyakinkan akan kuat-kuasa Allah, sehingga dia menyatakan: “Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal” (Ayb 42:2). Dalam sebuah doanya, nabi Yeremia tercatat mengatakan: “Ah Tuhan ALLAH! Sesungguhnya, Engkaulah yang telah menjadikan langit dan bumi dengan kekuatan-Mu yang besar dan dengan lengan-Mu yang terentang. Tiada suatu apapun yang mustahil untuk-Mu!” (Yer 32:17). YHWH menanggapi doa yang cukup panjang dari Yeremia itu dan mengawali sabda-Nya sebagai berikut: “Sesungguhnya, Akulah YHWH, Allah segala makhluk; adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk-Ku?” (Yer 32:27).

“Kemustahilan” tertinggi diwujudkan oleh Allah melalui Putera-Nya. Yesus dilahirkan dari seorang perempuan, walaupun Ia adalah Allah; Ia menderita sengsara dan mati karena cintakasih-Nya kepada kita walaupun kita – manusia – menolak-Nya. Ia bangkit dari antara orang mati, menghancurkan kuasa dosa, Iblis dan dunia; dan Ia membuat kita menjadi anak-anak Allah, para pewaris kehidupan kekal bersama-Nya.

Karena Allah telah mengerjakan segala sesuatu yang “mustahil” di mata manusia melalui Yesus (misalnya membuat mukjizat penyembuhan dan tanda-tanda heran lainnya seperti menghidupkan kembali orang yang sudah mati), maka kita harus percaya bahwa pada masa Adven ini pun Yesus Kristus akan melakukan “kemustahilan” dalam kehidupan kita dan keluarga kita. Ingatlah, bahwa “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamnya” (Ibr 13:8). Barangkali kita sedang menghadapi masalah perpecahan dalam keluarga, memerlukan penyembuhan atas salah seorang anggota keluarga yang sedang menderita sakit, memerlukan solusi untuk mengatasi masalah keuangan yang menindih, mencari pekerjaan atau merestorasi perdamaian antara pihak-pihak yang bersengketa dalam keluarga dlsb. Kita sungguh membutuhkan iman bahwa Allah dapat melakukan segala hal dalam kehidupan kita yang kita pandang sebagai “kemustahilan”.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, aku percaya bahwa semua hal mungkin bagi-Mu dan Engkau dapat melakukan “kemustahilan” dalam hidupku. Tolonglah aku agar dapat sungguh percaya bahwa kehendak-Mu atas diriku dapat terjadi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:5-25), bacalah tulisan yang berjudul “PANGGILAN ALLAH KEPADA KITA MASING-MASING” (bacaan untuk tanggal 19-12-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 9-12-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 18 Desember 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TUNAS DAUD YANG ADIL ADALAH YESUS KRISTUS

TUNAS DAUD YANG ADIL ADALAH YESUS KRISTUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Rabu, 18 Desember 2019)

Image result for PICTURES OF THE PROPHET JEREMIAH"

Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN (YHWH), bahwa Aku akan menumbuhkan Tunas adil bagi Daud. Ia akan memerintah sebagai raja yang bijaksana dan akan melakukan keadilan dan kebenaran di negeri. Dalam zamannya Yehuda akan dibebaskan, dan Israel akan hidup dengan tenteram; dan inilah namanya yang diberikan orang kepadanya: YHWH – keadilan kita.

Sebab itu, demikianlah firman YHWH, sesungguhnya, waktunya akan datang, bahwa orang tidak lagi mengatakan: Demi YHWH yang hidup yang menuntun orang Israel keluar dari tanah Mesir!, melainkan; Demi YHWH yang hidup yang menuntun dan membawa pulang keturunan kaum Israel keluar dari tanah utara dan dari segala negeri ke mana Ia telah menceraiberaikan mereka!, maka mereka akan tinggal di tanahnya sendiri. (Yer 23:5-8)

Mazmur Tanggapan: Mzm 72:2,12-13,18-19; Bacaan Injil: Mat 1:18-24

Injil Lukas mengungkapkan kepada kita, bahwa ketika Yesus dilahirkan, para malaikat bersukacita dan bernyanyi memuji-muji Allah: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya” (Luk 2:14). Apa sebabnya? Karena bala tentara surga yang banyak itu melihat bahwa rencana penyelamatan Allah berbuah menjadi sebuah kenyataan. Dalam misteri inkarnasi Yesus (Sabda menjadi daging atau Firman telah menjadi manusia [Yoh 1:14]), Kerajaan Allah turun ke bumi membawa bagi kita pengampunan dan menarik kita ke dalam persatuan dengan Bapa surgawi.

Dengan cara yang serupa, bacaan pertama hari ini yang diambil dari Kitab Yeremia mengarahkan perhatian kita pada hal-hal indah yang dicapai Yesus dengan kedatangan-Nya ke tengah-tengah dunia. Melalui mulut nabi Yeremia, Allah menjanjikan kedatangan satu hari di mana umat-Nya akan mendeklarasikan, “TUHAN (YHWH) – keadilan kita” (Yer 23:6). Yesus rela tidak hanya untuk dilahirkan di sebuah gua atau kandang hewan yang hina bagi kita manusia, melainkan juga untuk menyerahkan hidup-Nya di atas kayu salib bagi kita. Dengan  mengambil kodrat insani, Dia mengalami kematian seorang manusia demi kita agar dengan demikian mematahkan cengkeraman kejahatan (tepatnya: si Jahat) yang selama ini menguasai kita. Dia yang adalah “keadilan kita”, menderita kematian sebagai seorang pendosa, agar dapat membuat kita – para pendosa – menjadi orang-orang benar. Ia telah menjadi kebenaran dan keadilan kita. Jalan-Nya adalah jalan perendahan atau jalan kedinaan!

Kita seringkali berpikir, bahwa tergantung pada diri kita sendirilah untuk membuat diri kita benar dan dapat diterima oleh Allah. Namun Allah telah menempatkan diri kita dekat pada-Nya. Dia telah memberikan kepada kita kebenaran-Nya melalui kematian Putera-Nya yang tunggal, Yesus Kristus. Oleh karena salib Kristus, kita tidak lagi terikat kepada kodrat kita yang cenderung untuk jatuh ke dalam dosa. Yesus, sang Adam baru telah membuat suatu kodrat yang baru bagi kita. Kematian-Nya dan kebangkitan-Nya mentransformasikan kita. Yesus adalah sang “TUNAS ADIL”  (Yer 23:5), “Yang Mahakudus, Allah Israel” (Yes 48:17). Dia adalah kepenuhan dari setiap janji Allah yang telah dibuat-Nya dengan umat-Nya.

Allah tidak ingin kita memperoleh keselamatan kita sekali lagi lewat upaya kita sendiri. Dia ingin agar kita menerima keselamatan baru yang telah diberikan-Nya kepada kita. Dia mengundang kita agar menjadikan-Nya kebenaran serta keadilan kita, untuk memperkenankan rahmat mengatur hidup kita. Selagi kita menyerahkan diri kepada-Nya, maka berbagai upaya kita untuk melakukan hal-hal yang baik – misalnya, menjaga lidah kita, mengasihi sesama kita – akan menjadi suatu bagian yang alami dari diri kita, karena Yesus bertindak di dalam diri kita. Dan, setiap kali kita jatuh, kita dapat bertobat dan berdiri tegak lagi, karena Juruselamat kita sungguh mengasihi kita dan telah menebus kita.

DOA: Terima kasih Tuhan Yesus karena Engkau sudi hidup di tengah-tengah kami – manusia. Engkau bahkan rela mati bagi kami. Kami terima pengampunan-Mu dan kebenaran serta keadilan-Mu, ya Tuhan Yesus. Tolonglah kami agar dapat hidup bagi-Mu dan bersama-Mu pada hari ini. Engkau adalah sukacita dan hidupku, ya Tuhan. Terpujilah nama-Mu yang terkudus! Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 1:18-24), bacalah tulisan yang berjudul “ROH KUDUS INGIN BERBICARA KEPADA KITA TENTANG SIAPA YESUS ITU SEBENARNYA” (bacaan tanggal 18-12-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 18-12-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 16 Desember 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SILSILAH YESUS KRISTUS, ANAK DAUD, ANAK ABRAHAM

SILSILAH YESUS KRISTUS, ANAK DAUD, ANAK ABRAHAM

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Selasa, 17 Desember 2019)

matthew-1-1-17

Inilah daftar nenek moyang Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham. Abraham mempunyai anak, Ishak; Ishak memunyai anak, Yakub; Yakub mempunyai anak, Yehuda dan saudara-saudaranya, Yehuda mempunyai anak, Peres dan Zerah dari Tamar, Peres mempunyai anak, Hezron; Hezron mempunyai anak, Ram; Ram mempunyai anak, Aminadab; Aminadab mempunyai anak, Nahason; Nahason mempunyai anak, Salmon; Salmon mempunyai anak, Boas dari Rahab, Boas mempunyai anak, Obed dari Rut, Obed mempunyai anak, Isai; Isai mempunyai anak, Raja Daud. Daud mempunyai anak, Salomo dari istri Uria, Salomo mempunyai anak Rehabeam; Rehabeam mempunyai anak, Abia; Abia mempunyai anak, Asa; Asa mempunyai anak, Yosafat; Yosafat mempunyai anak, Yoram; Yoram mempunyai anak, Uzia; Uzia mempunyai anak, Yotam; Yotam mempunyai anak, Ahas; Ahas mempunyai anak, Hizkia; Hiskia mempunyai anak, Manasye; Manasye mempunyai anak, Amon; Amon mempunyai anak, Yosia; Yosia mempunyai anak, Yekhonya dan saudara-saudaranya pada waktu pembungan ke Babel. Sesudah pembuangan ke Babel, Yekhonya mempunyai anak, Sealtiel; Sealtiel mempunyai anak Zerubabel; Zerubabel mempunyai anak, Abihud; Abihud mempunyai anak, Elyakim; Elyakim mempunyai anak, Azor; Azor mempunyai anak, Zadok; Zadok mempunyai anak, Akhim; Akhim mempunyai anak, Eliud; Eliud mempunyai anak, Eleazar; Eleazar mempunyai anak, Matan; Matan mempunyai anak, Yakub; Yakub mempunyai anak, Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus.

Jadi, seluruhnya ada empat belas keturunan dari Abraham sampai Daud, empat belas keturunan dari Daud sampai pembuangan ke Babel, dan empat belas keturunan dari pembuangan ke Babel sampai Kristus. (Mat 1:1-17) 

Bacaan Pertama: Kej 49:2,8-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 72:3-4,7-8,17 

Mulai tanggal 17 Desember pada masa Adven bacaan-bacaan liturgis dipusatkan pada kedatangan Putera Allah sebagai anak manusia di tengah dunia, …… Natal. Hari ini kita merenungkan silsilah Yesus Kristus.

Karena bacaan Injil hari ini adalah sebuah silsilah, maka kemungkinan besar dilewatkan begitu saja atau dibaca secara sepintas lalu karena dipandang tidak relevan. Namun kita haruslah menyadari, bahwa di sini Matius bukanlah sekadar mencatat lagi garis keturunan Yesus di dunia. Matius di sini menantang berbagai asumsi kita.

Dengan menelusuri garis keturunan Yesus sampai kepada Abraham, Matius memberi akar asal-mula Yesus dalam warisan sejarah orang Yahudi dan menyoroti kelangsungan garis keturunan-Nya yang berhubungan dengan semua tokoh besar Israel. Namun demikian, Matius juga tidak selalu mengikuti tradisi garis-ayah saja dan menyebutkan dalam silsilah itu empat nama perempuan Perjanjian Lama dalam pohon keluarga Yesus: Tamar, Rahab, Rut dan Batsyeba (istri Uria). Dua dari mereka adalah pelacur, tiga dari mereka adalah orang asing, dan satu dari mereka adalah seorang korban nafsu laki-laki atau consenting partner (mitra yang sama-sama mau) dalam suatu perselingkuhan dan konspirasi. Kemudian disebut perempuan yang kelima: “Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus” (Mat 1:16).

Walaupun adalah “tipikal” untuk menyajikan suatu silsilah dari tokoh-tokoh besar Yahudi, munculnya nama-nama perempuan seperti diuraikan di atas dalam silsilah Yesus sungguh di luar ekspektasi kita. Hal ini memberi sinyal suatu “penyimpangan” yang radikal. Yesus memang tidak datang untuk menjaga status quo, namun untuk membawa perubahan radikal.

Dalam masa persiapan Adven, biarlah silsilah Yesus ini mengundang kita masing-masing untuk merenungkan cara-cara Allah yang “menyimpang” dari ekspektasi-ekspektasi kita berkaitan dnegan kehidupan Kristiani. Apakah Yesus telah menggoncang diri kita? Apakah ada orang-orang atau situasi-situasi yang sungguh menantang kita? Dalam hal ini kita tidak perlu terlalu terkejut atau merasa surprise. Marilah kita memperkenankan Allah mengubah diri kita. Percayalah kita dapat dimampukan untuk mengasihi orang-orang yang selama ini kita nilai sebagai pribadi-pribadi yang “sulit”. Marilah kita lihat, bahwa lewat doa-doa kita Allah dapat membuat mukjizat-mukjizat penyembuhan, baik fisik maupun spiritual. Kita masing-masing dapat menjadi instrumen damai-sejahtera Allah di mana ada perselisihan, perseteruan, kekacauan, dlsb.

Dengan demikian, marilah kita mempersiapkan Natal dengan memikirkan situasi-situasi yang paling sulit, dan membawa semua itu ke hadapan hadirat Allah dalam masa Adven ini. Perkenankanlah Dia untuk memberikan kepada kita pemikiran-pemikiran dan sikap-sikap baru. Kita sepantasnya mempunyai ekspektasi bahwa Allah akan memanifestasikan diri-Nya tidak hanya pada saat kita berdoa dan menghadiri Misa Kudus, tetapi sepanjang kehidupan sehari-hari kita. Percayalah, bahwa dengan begitu Dia akan membuat kita sungguh mengalami surprise. 

DOA: Aku menyembah Engkau, Tuhan Yesus Kristus, dan memuji-muji-Mu. Aku mengasihi-Mu, ya Yesus, karena Engkau adalah andalanku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 1:1-17), bacalah tulisan yang berjudul “SILSILAH SANG MESIAS” (bacaan tanggal 17-12-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 17-12-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 16 Desember 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS