Posts tagged ‘MARIA DIANGKAT KE SURGA’

JIWAKU MEMULIAKAN TUHAN

JIWAKU MEMULIAKAN TUHAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA SP MARIA DIANGKAT KE SURGA – Minggu, 13 Agustus 2017)

 

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan bergegas menuju sebuah kota di pegunungan Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.”

Lalu kata Maria, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan kuduslah nama-Nya. Rahmat-Nya turun-menurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.” Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya. (Luk 1:39-56) 

Bacaan Pertama: Why 11:19a;12:1,3-6a. 10ab; Mazmur Tanggapan: Mzm 45:10-12,16; Bacaan Kedua: 1Kor 15:20-26

Dalam peristiwa yang kita rayakan pada hari ini, kita dapat melihat pemenuhan daripada segala janji Allah – pertama-tama kepada Maria dan kemudian kepada segenap umat Allah. Maria ikut ambil bagian dalam kemenangan Yesus atas maut. Dialah yang pertama-tama mengecap apa yang sekarang tersedia bagi kita semua: “Sesudah yang dapat binasa ini mengenakan yang tidak dapat binasa dan yang dapat mati ini mengenakan yang tidak dapat mati, maka akan digenapi firman yang tertulis: ‘Maut telah ditelan dalam kemenangan’” (1Kor 5:54). Maria diangkat ke surga, dijaga oleh Allah dari kerusakan karena kuburan; seperti Yesus, ia mengalahkan kematian dan diangkat tubuh dan jiwanya ke surga.

Allah memberkati Maria secara luarbiasa karena dia telah “percaya bahwa apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan akan terlaksana” (Luk 1:45). Maria percaya sepenuhnya akan janji-janji Allah meskipun untuk itu dia harus hamil sebelum hari pernikahannya; walaupun dia harus melahirkan anaknya di sebuah gua/kandang hewan di Betlehem karena tidak ada tempat bagi mereka; meskipun tidak diinginkan dan ditolak oleh masyarakat; walaupun harus melarikan diri dengan suaminya dan anaknya yang masih sangat kecil ke Mesir; meskipun dia harus menyaksikan kematian Anaknya di kayu salib akibat keputusan “pengadilan” yang samasekali tidak adil. Selama mengalami pencobaan-pencobaan ini, Maria tetap setia terhadap apa yang telah dikatakan Allah kepadanya. Imannya tidak goyah sementara dia menjadi lebih mengenal secara lebih mendalam lagi kasih Allah baginya dan bagi seluruh umat.

Kita dapat bergembira sepenuh hati karena kepercayaan yang sama, ketaatan yang sama dan pengenalan yang sama akan Allah tersedia bagi kita juga. Dalam Magnificat – nya, Maria mengatakan: “Rahmat-Nya turun-menurun atas orang yang takut akan Dia” (Luk 1:50) – sampai pada hari ini. Dalam kasih-Nya, Allah menolong kita agar mau dan mampu menaruh kepercayaan dan mentaati-Nya dalam menghadapi tuntutan-tuntutan kehidupan kita sehari-hari dan dalam pencobaan-pencobaan yang datang tanpa diharapkan dalam kehidupan kita. Setiap hari Dia ingin datang kepada kita, untuk berbicara kepada kita, untuk menolong kita mengenali dan menerima rahmat-Nya.

Marilah kita berterima kasih penuh syukur kepada Allah karena kita dapat mengenal dan mengalami kasih-Nya secara lebih mendalam setiap hari; bahwa Dia akan selalu berbelas-kasihan kepada kita, selalu menolong kita untuk menaruh kepercayaan kepada-Nya. Semoga apa yang telah dilakukan Allah bagi orang-orang yand ina dan rendah di sepanjang sejarah – termasuk hari ini – membangkitan rasa terima kasih dan sukacita di dalam diri kita. Dan semoga kata-kata Elisabet dapat diterapkan bagi kita juga: “Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan akan terlaksana” (Luk 1:45).

DOA: Bapa surgawi, dalam peristiwa Maria diangkat ke surga, Engkau telah menunjukkan pemenuhan akhir dari segala janji-Mu kepada kami. Semoga kami selalu percaya akan sabda-Mu, merangkul dalam setiap situasi kehidupan baru yang dicurahkan kepada kami melalui kematian Yesus di kayu salib. Semoga kami dapat menaruh kepercayaan kepada belas kasihan-Mu dan mengenal serta mengalami kasih-Mu bagi kami secara lebih mendalam lagi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Pertama (Why 11:19a; 12:1,3-6a,10ab) hari ini, silahkan anda membaca tulisan dengan judul “HARUS DILIHAT DARI PERSPEKTIF SURGAWI (bacaan tanggal 13-8-17), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 17-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-8-16 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 11 Agustus 2017 [Peringatan S. Klara dr Assisi, Perawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        

Advertisements

MARIA DAN KEBANGKITAN KEPADA HIDUP BARU

MARIA DAN KEBANGKITAN KEPADA HIDUP BARU

(Bacaan Kedua Misa Kudus, HARI RAYA SP MARIA DIANGKAT KE SURGA – Minggu, 16 Agustus 2015)

 Fresco_of_the_Assumption_of_Mary_-_Basílica_de_La_Macarena_-_Seville_(2)

Tetapi yang benar ialah bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia. Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus. Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya. Kemudian tiba kesudahannya, yaitu bilamana Ia menyerahkan Kerajaan kepada Allah Bapa, sesudah Ia membinasakan segala pemerintahan, kekuasaan dan kekuatan. Karena Ia harus memegang pemerintahan sebagai Raja sampai Allah meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya. Musuh yang terakhir, yang dibinasakan ialah maut. (1Kor 15:20-26) 

Bacaan Pertama: Why 11:19;12:1,3-6,10; Mazmur Tanggapan: Mzm 45:10-12,16; Bacaan Injil: Luk 1:39-56

“Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus” (1Kor 15:22).

Maria memainkan peranan yang istimewa dalam dunia Kekristenan (Kristiani): Ia adalah orang pertama yang menerima buah-buah penuh dari penebusan Yesus dan  sekarang memberi pertanda akan kemuliaan yang akan datang seperti yang diharap-harapkan. Maria dibuat menjadi hidup dalam Kristus di dunia, lalu dia mengalami kebangkitan ke kehidupan baru dengan tubuh yang dimuliakan – sesuatu yang menantikan kita masing-masing sebagai anak-anak Allah.

Kenaikan Maria ke surga dapat memberikan pengharapan yang sungguh luarbiasa kepada kita. Maria menunjukkan bahwa Yesus datang ke dunia bukan hanya untuk mengampuni dosa-dosa kita melainkan juga untuk memulihkan kita, membawa kita kepada kemuliaan surgawi (Ibr 2:10). Sebagai anak-anak Allah, kita telah “ditakdirkan” untuk mengalami tidak kurang dari kemuliaan surgawi. Yesus ingin agar kita mengatasi dosa karena Dia ingin kita berada bersama-Nya untuk selamanya dalam kemuliaan (1Tes 4:17).

“Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya” (Rm 6:5). Kebangkitan kepada hidup baru adalah kepenuhan keselamatan yang sekarang kita miliki sebagian saja. Keselamatan kita tidak hanya terbatas pada dunia ini: Kita akan digabungkan dengan Yesus selama-lamanya dalam kekekalan. Dengan Maria, kita juga “ditakdirkan” untuk melihat “keselamatan dan kuasa dan pemerintahan Allah kita, dan kekuasaan Dia yang diurapi-Nya” (Why 12:10). Dan ketika melakukannya, maka kita akan mampu untuk melihat ke belakang ke seluruh hidup kita, dan merasa kagum atas segala cara tersembunyi dengan mana Allah bekerja dalam diri kita, mempersiapkan kita untuk menerima warisan surgawi kita.

Rencana-rencana Allah sungguh mengagumkan! Juga betapa mengagumkan bahwa Allah memberikan kepada kita suatu contoh seperti Maria untuk menunjukkan apa yang Dia ingin berikan kepada kita. Jadi, pesta hari ini bukanlah hanya tentang Maria, melainkan tentang kita semua dan pengharapan kita untuk ikut ambil bagian bersama Maria dalam kemuliaan dari kebangkitan.

DOA: Allah Yang Mahakuasa, betapa mengagumkan rencana penyelamatan-Mu – betapa jauh melampaui apa saja yang aku dapat minta atau bayangkan! Engkau telah membuat diriku sebagai anak-Mu sendiri, dan Engkau rindu agar diriku sepenuhnya bersatu dengan Engkau di surga. Segala pujian dan kemuliaan bagi-Mu, ya Allahku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 1:39-56), bacalah tulisan dengan judul “KIDUNG MARIA” (bacaan tanggal 16-8-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-8-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 11 Agustus 2015 [Pesta S. Klara dr Assisi, Perawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MARIA: MODEL KITA DALAM MENUJU KEKUDUSAN

MARIA: MODEL KITA DALAM MENUJU KEKUDUSAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA SP MARIA DIANGKAT KE SURGA – Minggu, 10 Agustus 2014) 

409px-Murillo_immaculate_conception

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan bergegas menuju sebuah kota di pegunungan Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.”

Lalu kata Maria, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan kuduslah nama-Nya. Rahmat-Nya turun-menurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.” Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya. (Luk 1:39-56)

Bacaan Pertama: Why 11:19;12:1,3-6,10; Mazmur Tanggapan: Mzm 45:10-12,16; Bacaan Kedua: 1Kor 15:20-26

Kadang-kadang kita melihat seakan-akan para kudus adalah suci dari “sono”-nya, sejak lahir memang begitu. Kebenarannya adalah bahwa kekudusan bertumbuh dalam diri kita semua sampai seberapa jauh kita mencari Tuhan dalam situasi yang kita hadapi setiap hari, merenungkan sabda-Nya, dan belajar mentaati perintah-perintah-Nya dan kehendak-Nya bagi hidup kita. Ini adalah jenis kekudusan untuk mana Maria adalah “model” yang paling agung.

VISITASI - MARIA MENYAPA ELISABETSelagi dia merefleksikan Kitab Suci dan sejarah karya Allah di tengah umat, Maria menjadi mengerti cara Allah berkarya di dunia. Dia melihat Allah senang memakai orang-orang lemah dan terabaikan untuk “merendahkan” orang-orang berkuasa. Maria melihat bahwa Allah senang sekali memajukan rencana-rencana-Nya dengan cara-cara tidak seperti diharap-harapkan: membelah Laut Merah, menurunkan Saul dan membangkitkan Daud si gembala, bahkan membiarkan orang-orang Yahudi digiring oleh bangsa asing ke tempat pembuangan agar mereka belajar mentaati diri-Nya. Selagi Maria merenungkan cara Allah ini, Allah sendiri sedang menyiapkan dirinya bahwa pada suatu hari dia akan diundang untuk ikut ambil bagian dalam mewujudkan rencana-Nya.

Dengan penuh rasa percaya, Maria menempatkan keseluruhan masa depannya ke dalam tangan-tangan Allah. Setiap peristiwa merupakan suatu kesempatan bagi imannya dan kasihnya kepada Allah untuk menjadi semakin dalam. Ketika Yusuf bergumul dalam batinnya apakah dia akan menceraikannya, Maria tetap yakin bahwa Allah akan menyelesaikan karya-Nya. Pada waktu dia mengunjungi Elisabet, imannya diperdalam ketika dia mendengar saudari sepupunya memuji dan memuliakan Allah. Akhirnya di kaki salib Yesus, pada saat hatinya sendiri tertembus oleh rasa duka yang sangat mendalam, Maria membuat tindakan penyerahan diri yang final dengan menyerahkan Puteranya ke dalam tangan-tangan Allah yang penuh kasih.

Setiap hari kita dipanggil untuk “memasukkan” doa kita ke dalam situasi-situasi yang kita hadapi. Yesus ingin agar kita merenungkan sabda-Nya sehingga dengan demikian Ia dapat membentuk diri kita masing-masing menjadi orang-orang saleh sungguhan, bukan yang berpura-pura saleh seperti kebanyakan orang Farisi dan para pemimpin agama Yahudi lainnya pada masa hidup-Nya. Allah-lah yang membentuk kita menjadi orang-orang kudus, namun adalah pilihan kita untuk membuka hati bagi-Nya atau tidak. Marilah kita membuka pikiran-pikiran dan hasrat-hasrat kita yang terdalam kepada-Nya agar Ia dapat menyentuh dan membimbing kita. Marilah kita bersama Maria pada hari ini merayakan hari raya gerejawi yang sangat istimewa ini dengan penuh keyakinan bahwa Allah akan menyelesaikan karya-Nya dalam diri kita semua.

DOA: Bapa surgawi, Engkau mampu melakukan segala hal. Kasih-Mu sungguh agung dan luhur; rencana-Mu sudah ada sejak kekal; cara-cara-Mu sempurna dan pantas serta layak untuk dipercaya. Aku sungguh merindukan hari di mana aku dapat berjumpa dengan Engkau, muka ketemu muka. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan  kedua hari ini (1Kor 15:20-26), bacalah tulisan dengan judul “MARIA DAN KEBANGKITAN KEPADA HIDUP BARU” (bacaan tanggal 10-8-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2014. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-8-13 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 7 Agustus 2014 

 

 Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERBAHAGIALAH IA YANG PERCAYA

BERBAHAGIALAH IA YANG PERCAYA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI RAYA SP MARIA DIANGKAT KE SURGA – Minggu, 11 Agustus 2013) 

380px-Baroque_Rubens_Assumption-of-Virgin-3

Lalu terbukalah Bait Suci Allah yang di surga, dan kelihatanlah tabut perjanjian-Nya di dalam Bait Suci itu dan terjadilah kilat dan deru guruh dan gempa bumi dan hujan es lebat.

Kemudian tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya. 

Lalu tampaklah suatu tanda yang lain di langit; dan lihatlah, seekor naga merah padam yang besar, berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, dan di atas kepalanya ada tujuh mahkota. Ekornya menyeret sepertiga dari bintang-bintang di langit dan melemparkannya ke atas bumi.

Lalu naga itu berdiri di hadapan perempuan yang hendak melahirkan itu, untuk menelan Anaknya, segera sesudah perempuan itu melahirkan-Nya. Ia melahirkan seorang Anak laki-laki, yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi; tiba-tiba Anaknya itu dirampas dan dibawa lari kepada Allah dan ke takhta-Nya. Perempuan itu lari ke padang gurun, di mana telah disediakan suatu tempat baginya oleh Allah, supaya ia dipelihara di situ selama seribu dua ratus enam puluh hari.

Lalu aku mendengar suara yang nyaring di surga berkata, “Sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa dan pemerintahan Allah kita, dan kekuasaan Dia yang diurapi-Nya, karena telah dilemparkan ke bawah pendakwa saudara-saudara seiman kita, yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita. (Why 11:19;12:1,3-6,10)

Mazmur Tanggapan: Mzm 45:10-12,16; Bacaan Kedua: 1Kor 15:20-26; Bacaan Injil: Luk 1:39-56

Diangkatnya SP Maria ke surga adalah suatu kepercayaan yang dalam-tertanam di dalam kesadaran Katolik dan dijadikan dogma Gereja oleh Paus Pius XII di tahun 1950, dalam Konstitusi Apostolik Munificentissimus Deus. Doktrin tentang “Maria diangkat ke surga” merupakan salah satu penghalang terbesar bagi saudari-saudara kita umat Kristiani non-Katolik dalam upaya persatuan dengan Gereja Kristiani yang Katolik. Terkadang, dalam menghadapi keluhan dan/atau tantangan bahwa doktrin ini tidak sesuai dengan Alkitab, orang-orang Katolik akan setuju, namun kemudian mengatakan bahwa doktrin ini berasal (atau bertumpu pada) dari tradisi, bukan dari Kitab Suci.

Tanggapan orang-orang Katolik seperti ini memang dapat dipahami, akan tetapi gagal untuk “menangkap” sesuatu yang signifikan berkaitan dengan kepercayaan ini. Keyakinan akan kebenaran kepercayaan ini berasal dari kalangan para pendoa, teristimewa para rahib dan rubiah di biara-biara monastik, yaitu mereka yang menyediakan bagian waktu terbanyak kehidupan sehari-hari mereka untuk memeditasikan sabda Allah dalam Kitab Suci. Jadi akan lebih akurat dan menolong apabila kita melakukan pendekatan terhadap doktrin “Maria diangkat ke surga” dengan memandangnya sebagai sesuatu yang didasarkan atas Kitab Suci, namun dengan cara yang berbeda dengan hal-hal lainnya untuk mana kita dapat menunjuk suatu teks khusus sebagai bukti.

Kepercayaan akan “Maria diangkat ke surga” konsisten dengan data alkitabiah dengan jangkauan  yang luas. Maria adalah perempuan yang dengannya Allah mengadakan permusuhan dengan si Ular Tua atau Iblis (Kej 3:15). Lalu, memang ada beberapa orang kudus Perjanjian Lama yang diangkat ke surga secara fisik, misalnya Henokh (Kej 5:24) dan Elia (2Raj 2:11-12). Maria sendiri dibandingkan dengan tabut perjanjian; ia adalah pribadi di dalam rahimnya Putera Allah dikandung oleh Roh Kudus dan berdiam. Maria juga adalah perwujudan Puteri Sion (Zef 3:14; Za 9:9; Mat 21:5; Yoh 12:15), yang mempersonifikasikan Israel, dia yang membalikkan kutukan atas Hawa dengan tindakan penuh kepercayaan kepada utusan surgawi (malaikat agung Gabriel; lihat Luk 1:21-38).

Diangkatnya Maria ke surga harus dilihat dari perspektif kekal sebagai bagian dari rencana Allah baginya untuk menjadi ibunda dari Putera ilahi-Nya. Fiat atau “ya”-nya Maria kepada pemberitahuan malaikat agung Gabriel diucapkan olehnya dalam pandangan akan kemuliaan akhir surga. Tujuan final ini di samping Yesus yang dimuliakan adalah buah penuh dari kata-kata Elisabet: “Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana” (Luk 1:45).

Perspektif surgawi ini harus diterapkan atas bacaan dari kitab Wahyu hari ini. Tentulah bukan suatu kebetulan bahwa visi/penglihatan perempuan yang berselubungkan matahari dan mengenakan sebuah mahkota dengan dua belas bintang menyusul terbukanya Bait Suci Allah dan suatu pemandangan tentang tabut perjanjian Allah (Why 11:19). Dalam penglihatan ini ini, baik Israel dan Maria direpresentasikan; yaitu dari Israel, khususnya dari Maria-lah bayi-Mesias dilahirkan.

Pada hari raya ini, marilah kita mengangkat hati dan pikiran kita ke surga untuk mengkontemplasikan rencana Allah yang mulia dan pemenuhannya dalam diri Maria, orang Kristiani yang pertama.

DOA: Bapa surgawi, Engkau memahkotai SP Maria pada hari dia diangkat ke surga dengan suatu kemuliaan yang tiada bandingnya. Engkau memandang kerendahan hatinya dan membuatnya ibu dari Tuhan kami Yesus Kristus, Putera-Mu yang tunggal. Bentuklah kami semua menjadi pribadi-pribadi yang rendah hati sesuai dengan teladan hidup SP Maria, agar kami pun dapat diselamatkan oleh misteri penebusan Yesus Kristus dan ikut ambil bagian bersamanya dalam kemuliaan kehidupan kekal. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 1:39-56), bacalah tulisan yang berjudul “MARIA: MODEL KITA DALAM MENUJU KEKUDUSAN” (bacaan tanggal 11-8-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2013. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul yang sama untuk bacaan tanggal 12-8-12 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 3 Agustus 2013

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS