Posts tagged ‘MAHKAMAH AGAMA’

TAAT KEPADA ALLAH ATAU TAAT KEPADA MANUSIA?

TAAT KEPADA ALLAH ATAU TAAT KEPADA MANUSIA?

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Paskah – Kamis, 12 April 2018)

Mereka membawa rasul-rasul itu dan menghadapkan mereka kepada Mahkamah Agama. Lalu Imam Besar mulai menanyai mereka, katanya, “Dengan keras kami melarang kamu mengajar dalam Nama itu. Ternyata, kamu telah memenuhi Yerusalem dengan ajaranmu dan kamu hendak menanggungkan darah Orang itu kepada kami.” Tetapi Petrus dan rasul-rasul itu menjawab, “Kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia. Allah nenek moyang kita telah membangkitkan Yesus yang kamu bunuh dengan menggantung-Nya pada kayu salib. Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah dengan tangan kanan-Nya menjadi Perintis dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa. Kamilah saksi dari peristiwa-peristiwa itu, kami dan Roh Kudus yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang menaati Dia.” Mendengar perkataan itu sangatlah tertusuk hati mereka dan mereka bermaksud membunuh rasul-rasul itu. (Kis 5:27-33)

Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2,9,17-20; Bacaan Injil: Yoh 3:31-36

Melalui kematian dan kebangkitan Yesus, belas kasih Allah dibuat tersedia bagi kita dengan berlimpah … tanpa batas. Belas kasih Allah – perlakuan Yesus yang baik dan penuh bela rasa terhadap para pendosa – terus mengalir kepada kita secara berlimpah-limpah, selalu dapat dicapai oleh kita. Belas kasih atau kerahiman ilahi ini membebaskan kita dari belenggu penjara dan mengembalikan kita kepada diri kita sendiri, dari kebohongan-kebohongan Iblis dan dari berbagai filsafat dunia yang berlawanan dengan rencana Allah. Belas kasih-Nya membawa kita kepada kebebasan dari ketakutan, penolakan, kemarahan dan sikap mementingkan diri sendiri – pokoknya apa saja yang menghadang jalan kita untuk menjalin relasi dengan Allah.

Para rasul telah disentuh oleh belas kasih Allah, dengan demikian sudah dibuat menjadi suatu ciptaan baru. Karena para murid begitu diubah oleh kehadiran Roh Kudus “yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang menaati dia” (Kis 5:32), maka mereka mampu untuk memberi kesaksian tentang kebangkitan Yesus dan tentang segala janji Allah yang sekarang dipenuhi dalam Putera-Nya (lihat Kis 5:28). Bagi para rasul, Yesus bukanlah sekadar Allah yang jauh tinggal di surga sana. Dia hidup dan aktif dalam hati mereka, dan kehadiran-Nya dalam diri mereka masing-masing mendesak, katakanlah “memaksa” mereka untuk syering Kabar Baik Yesus Kristus dengan semua orang yang memiliki rasa haus akan firman yang hidup.

Sebagai orang Kristiani yang percaya dan telah dibaptis, kita juga mempunyai akses terhadap kuasa dan kasih Allah melalui Roh Kudus-Nya. Belas kasih yang sama tersedia bagi kita sementara kita mengarahkan hati kita kepada Yesus. Allah minta kepada kita agar menyatukan diri kita dengan Kristus dalam kematian dan kebangkitan-Nya, untuk melakukan pertobatan karena dosa-dosa kita, dan untuk mempersilahkan Dia bekerja dalam diri kita dengan cara-Nya sendiri. Dengan percaya kepada Yesus, menyerahkan hidup kita kepada-Nya dan dipenuhi dengan Roh Kudus, maka kita pun menjadi ciptaan baru.

Yesus taat kepada kehendak Bapa sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib (lihat Flp 2:8). Maka kita pun harus taat kepada Yesus sampai mati, dengan demikian Ia dapat hidup dalam diri kita melalui kuasa Roh Kudus. Bersama Yesus, kita dipanggil untuk berdoa kepada Bapa surgawi, “jangan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu yang jadi” (lihat Luk 22:42).

Apabila Roh Kudus hidup dalam diri kita, maka kita tidak akan mampu menampung dan menahan sendiri sukacita kita. Seperti para rasul di depan orang banyak dan Sanhedrin, kita pun tidak akan mampu berhenti berbicara tentang apa yang telah dikerjakan atas diri kita.

DOA: Bapa surgawi, oleh kuasa Roh Kudus-Mu sentuhlah hatiku dengan kasih-Mu, agar aku dapat “dipaksa” untuk hidup sehari-harinya sebagai saksi-Mu yang penuh keyakinan mewartakan Kabar Baik Yesus Kristus kepada semua orang yang kutemui. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 3:31-36), bacalah tulisan yang berjudul “SIAPA YANG AKAN BEROLEH HIDUP YANG KEKAL?” (bacaan tanggal 12-4-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-04 BACAAN HARIAN APRIL 2018.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 27-4-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 8 April 2018 [HARI MINGGU PASKAH II – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

WALAUPUN KITA TIDAK PANTAS UNTUK DITEBUS ……

WALAUPUN KITA TIDAK PANTAS UNTUK DITEBUS ……

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Prapaskah – Sabtu, 8 April 2017) 

Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percaya kepada-Nya. Tetapi beberapa di antara mereka pergi kepada orang-orang Farisi dan menceritakan kepada mereka, apa yang telah dibuat Yesus itu. Lalu imam-imam kepala dan orang-orang Farisi memanggil Mahkamah Agama untuk berkumpul dan mereka berkata, “Apa yang harus kita lakukan? Sebab Orang itu membuat banyak mukjizat. Apabila kita biarkan Dia, maka semua orang akan percaya kepada-Nya dan orang-orang Roma akan datang dan akan merampas tempat suci kita serta bangsa kita. Tetapi salah seorang di antara mereka, yaitu Kayafas, Imam Besar pada tahun itu, berkata kepada mereka, “Kamu tidak tahu apa-apa, dan kamu tidak insaf bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita daripada seluruh bangsa kita ini binasa.” Hal itu dikatakannya bukan dari dirinya sendiri, tetapi sebagai Imam Besar pada tahun itu ia  bernubuat bahwa Yesus akan mati untuk bangsa itu, dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai. Mulai hari itu mereka sepakat untuk membunuh Dia.

Karena itu Yesus tidak tampil lagi di depan umum di antara orang-orang Yahudi, tetapi Ia berangkat dari situ ke daerah dekat padang gurun, ke sebuah kota yang bernama Efraim, dan di situ Ia tinggal bersama-sama murid-murid-Nya.

Pada  waktu itu hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat dan banyak orang dari negeri itu berangkat ke Yerusalem untuk menyucikan diri sebelum Paskah itu. Mereka mencari Yesus dan sambil berdiri di dalam Bait Allah, mereka berkata seorang kepada yang lain, “Bagaimana pendapatmu? Akan datang jugakah Ia ke pesta?” (Yoh 11:45-56) 

Bacaan Pertama: Yeh 37:21-28; Mazmur Tanggapan: Yer 31:10-13

Kitab Yesaya menggambarkan seorang hamba TUHAN (YHWH) yang “dihina dan dihindari orang” (Yes 53:3) – sebuah nubuatan yang secara sempurna dipenuhi dalam diri Yesus. Dalam Injilnya, Yohanes mengidentifikasikan penolakan ini sebagai berasal dari “orang-orang Yahudi”. Salah-pengertian dari hal ini telah berkontribusi kepada sikap anti-Yahudi dan penganiayaan terhadap orang-orang Yahudi untuk berabad-abad lamanya. Bagi Yohanes, “orang-orang Yahudi” bukan berarti semua orang Yahudi, melainkan kelompok orang yang terdiri dari kaum Farisi, imam-imam kepala, dan para anggota Sanhedrin yang menolak Yesus dan mencoba untuk merekayasa kematian Yesus (lihat Yoh 7:32,45,47-48). Di antara mereka ada beberapa yang bahkan menerima Yesus (Yoh 7:50-51). Sebagaimana dapat kita baca dalam bacaan Injil hari ini, banyak orang Yahudi yang menyaksikan mukjizat-mukjizat Yesus menjadi percaya kepada-Nya (Yoh 11:45).

Betapa mudahnya kita menunjuk-nunjuk dengan jari-jari kita kepada “orang-orang jelek” yang hidup di abad pertama dan kemudian menyalahkan mereka! Memang sulit untuk menerimanya, namun bukankah suatu kenyataan bahwa kita pun pernah menolak Yesus dalam hidup kita? Bukankah ini adalah keseluruhan pesan dari salib Kristus? Bukankah kita semua adalah “musuh-musuh” Allah? (lihat Rm 5:8) ketika Yesus datang dan mencurahkan darah-Nya. Tidak ada orang-orang baik maupun orang-orang jahat; yang ada adalah umat manusia         yang terdiri dari para pendosa yang sangat dikasihi oleh Bapa mereka yang ada di surga, yang walaupun tidak pantas untuk ditebus, mereka tetap ditebus oleh Putera-Nya yang tunggal yang  sangat dikasihi-Nya.

Bukankah ini kabar baik? Tidakkah hal ini menghibur hati ketika kita mengetahui bahwa bagaimana pun hebatnya kita masih memendam sikap perlawanan terhadap Yesus dalam hati kita, Dia tetap mengasihi kita dan tidak pernah menyesali pengorbanan yang dibuat-Nya untuk kita? Bukankah hal ini sangat menyemangati kita, apalagi ketika kita menyadari bahwa Yesus Kristus terus saja melakukan pengantaraan bagi kita di hadapan Bapa surgawi (bacalah keseluruhan Ibr 9), dan juga mencurahkan rahmat demi rahmat guna memerdekakan kita dari setiap bentuk kejahatan?

Saudari dan Saudaraku yang terkasih, besok kita akan mengawali Pekan Suci. Marilah kita memeriksa lagi batin/hati kita masing-masing. Masihkah kita menuduh individu-individu tertentu, bahkan kelompok-kelompok tertentu sebagai antek-antek si Jahat, tanpa harapan, musuh-musuh Allah yang mutlak tidak dapat diampuni? Marilah kita memohon kepada Yesus untuk menunjukkan kasih dan belaskasih-Nya. Dia mati untuk setiap orang. Dia juga memberikan pengharapan untuk setiap orang sampai menit terakhir. Yesus juga mendorong kita untuk bersikap dan melakukan hal yang sama. Oleh karena itu, marilah kita melakukan doa syafaat bagi orang-orang lain, bukan menuduh-nuduh. Kita semua adalah satu keluarga dalam Kristus. Semakin kita saling mengasihi, semakin nyata pula Injil akan berkemenangan dalam setiap hati orang.

DOA: Bapa surgawi, Engkau mengutus Putera-Mu agar supaya segenap umat manusia dapat diperdamaikan dengan Bapa. Sekarang Engkau telah memberikan tugas kepada Gereja – dan  kami masing-masing – untuk syering pelayanan-Mu dalam hal rekonsiliasi ini. Berdayakanlah kami agar mau dan mampu menarik orang-orang lain kepada-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 11:45-56), bacalah tulisan yang berjudul “KONSPIRASI UNTUK MEMBUNUH YESUS” (bacaan tanggal 8-4-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-04 BACAAN HARIAN APRIL 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 28-3-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 6 April 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

ALLAH SANGAT BERKEINGINAN UNTUK MENGAMPUNI KITA

ALLAH SANGAT BERKEINGINAN UNTUK MENGAMPUNI KITA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Paskah – Kamis, 16 April 2015) 

peter-sanhedrinMereka membawa rasul-rasul itu dan menghadapkan mereka kepada Mahkamah Agama. Lalu Imam Besar mulai menanyai mereka, katanya, “Dengan keras kami melarang kamu mengajar dalam Nama itu. Ternyata, kamu telah memenuhi Yerusalem dengan ajaranmu dan kamu hendak menanggungkan darah Orang itu kepada kami.” Tetapi Petrus dan rasul-rasul itu menjawab, “Kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia. Allah nenek moyang kita telah membangkitkan Yesus yang kamu bunuh dengan menggantung-Nya pada kayu salib. Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah dengan tangan kanan-Nya menjadi Perintis dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa. Kamilah saksi dari peristiwa-peristiwa itu, kami dan Roh Kudus yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang menaati Dia.” Mendengar perkataan itu sangatlah tertusuk hati mereka dan mereka bermaksud membunuh rasul-rasul itu. (Kis 5:27-33) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2,9,17-20; Bacaan Injil: Yoh 3:31-36

“Allah nenek moyang kita telah membangkitkan Yesus yang kamu bunuh dengan menggantungkan-Nya pada kayu salib” (Kis 5:30).

Kita dapat membayangkan bahwa setelah kematian Yesus di kayu salib kiranya Petrus seringkali merenungkan peranannya dalam peristiwa-peristiwa yang berujung pada kematian Yesus tersebut. Dalam perjamuan terakhir Petrus telah mengatakan kepada Yesus bahwa dirinya bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan Yesus, namun beberapa jam kemudian ternyata dia menyangkal Yesus, …… tidak tanggung-tanggung: sebanyak tiga kali seperti dinubuatkan oleh Yesus pada perjamuan itu (lihat Luk 22:31-34,54-61), Menyadari kesalahan besar yang telah dilakukannya, Petrus lalu pergi ke luar dan menangis dengan sedih (Luk 22:62). Pada titik ini, Petrus dapat saja melarikan diri atau larut dan terbenam dalam dalam rasa bersalahnya, namun dia tidak melakukan hal tersebut. Sebaliknya, tidak seperti Yudas Iskariot (Mat 27:3-5; bdk. Kis 1:18-19), Petrus memilih untuk melakukan pertobatan. Ia mengakui dosa-dosanya, bertanggung-jawab untuk itu semua, dan dengan rendah hati memperkenankan Allah untuk membersihkan dirinya. Petrus tidak membela dirinya atau mencoba untuk menghindari pandangan Yesus yang dapat menembus dirinya. Sebagai akibatnya, Petrus pun mengenal dan mengalami kebebasan dan konsolasi yang sejati dari surga.

Dengan latar belakang ini, kita dapat memahami mengapa Petrus begitu bersemangat untuk berkhotbah tentang Yesus kepada orang-orang di Bait Allah (Kis 5:17-21). Karena mengalami sendiri sukacita yang disebabkan oleh pengampunan Allah, Petrus juga menginginkan agar orang-orang lain mengalami hal yang sama – bahkan mereka yang menjadi anggota-anggota Mahkamah Agama (Sanhedrin). Petrus menyadari bahwa jika orang-orang tersebut akan mengalami kebebasan seperti yang pengalamannya sendiri, maka orang-orang itu pun harus mengakui dosa-dosa mereka dan melakukan pertobatan. Seperti halnya dengan Petrus, mereka pun harus bertanggung-jawab atas kematian Yesus. Dengan demikian, Petrus – sebagai rekan-pendosa – berbicara kepada mereka agar mereka melakukan pertobatan yang akan memimpin mereka kepada kehidupan.

Dalam artian tertentu, kita masing-masing turut bertanggung-jawab atas kematian Yesus, karena untuk menebus dosa-dosa kitalah Dia mati di kayu salib. Akan tetapi, seperti juga para anggota Sanhedrin (Kis 5:28), sukarlah bagi kita untuk menerima dosa-dosa kita. Kita cenderung untuk menyalahkan orang-orang lain. Kita ingin melarikan diri. Kita meminimalisir tanggung-jawab kita sendiri. Namun kita harus mengingat bahwa tidak ada satu pun dari “strategi-strategi” tersebut akan membawa kebebasan sejati kepada kita. Jalan keluar satu-satunya bagi kita adalah meneladan Petrus, yaitu dengan mengakui dosa-dosa kita dan berbalik kepada Yesus untuk memperoleh belas kasih-Nya.

Allah sangat berkeinginan untuk mengampuni kita. Ini adalah inti pesan Petrus kepada para anggota Sanhedrin. Petrus berharap bahwa setiap orang – bahkan musuh-musuhnya sekali pun – akan menjadi seperti dirinya, yaitu para pendosa yang dibebaskan oleh belas kasih seorang Juruselamat yang tersalib.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau sudi wafat di kayu salib guna menebus aku dari dosa, rasa bersalah, dan rasa malu yang ada pada diriku. Aku menyadari bahwa adalah dosa-dosaku yang membunuh-Mu, dan dengan rendah hati menerima pengampunan yang telah Kaumenangkan bagiku. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Tuhan Yesus. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 3:31-36), bacalah tulisan yang berjudul “KITA JUGA DIPANGGIL UNTUK MENJADI SAKSI-SAKSI KRISTUS” (bacaan tanggal  16-4-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-04 BACAAN HARIAN APRIL 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 1-5-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 14 April 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TIDAK MUNGKIN BAGI KAMI ……

TIDAK MUNGKIN BAGI KAMI ……

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Sabtu dalam Oktaf Paskah – 11 April 2015) 

pppas0280Ketika sidang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes dan mengetahui bahwa keduanya orang biasa yang tidak terpelajar, heranlah mereka; dan mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus. Tetapi karena mereka melihat orang yang yang disembuhkan itu berdiri di samping kedua rasul itu, mereka tidak dapat mengatakan apa-apa untuk membantahnya. Setelah mereka menyuruh rasul-rasul itu meninggalkan ruang sidang, berundinglah mereka, dan berkata, “Tindakan apakah yang harus kita ambil terhadap orang-orang ini? Sebab telah nyata kepada semua penduduk Yerusalem bahwa mereka telah mengadakan suatu mukjizat yang mencolok dan kita tidak dapat menyangkalnya. Tetapi supaya hal itu jangan makin luas tersebar di antara orang banyak, baiklah kita mengancam dan melarang mereka, supaya mereka jangan berbicara lagi dengan siapa pun dalam nama ini.” Setelah keduanya disuruh masuk, mereka diperintahkan, supaya sama sekali jangan berbicara atau mengajar lagi dalam nama Yesus. Tetapi Petrus  dan Yohanes menjawab mereka, “Silahkan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah. Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan dengar.” Mereka semakin keras mengancam rasul-rasul itu, tetapi akhirnya melepaskan mereka juga, sebab sidang itu tidak melihat jalan untuk menghukum mereka karena orang banyak memuliakan nama Allah berhubung dengan apa yang telah terjadi. (Kis 4:13-21) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 118:1,14-21; Bacaan Injil: Mrk 16:9-15 

“Tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan dengar” (Kis 4:20).

Walaupun mereka telah melihat dan mendengar – dari Yesus sendiri dan sekarang dari para rasul-Nya – para tua-tua Israel (para pemuka agama dlsb.) tetap saja menolak Injil. Mereka memperlakukan Petrus dan Yohanes sebagai orang-orang yang menjijikkan karena mereka tahu bahwa kedua rasul ini tidak pernah sekolah dengan benar, tidak pernah memperoleh pelatihan istimewa di bidang teologi maupun spiritualitas, dan jelas mereka juga tidak memiliki status profesional apa pun. Jelas mereka tidak mempunyai status politik maupun sosial dalam masyarakat …… “wong cilik”. Para rasul Yesus itu hanyalah para nelayan dari Galilea. Bagaimana mungkin mereka dapat berbicara dan bertindak untuk Allah? (Apalagi atas nama Allah!)

Akan tetapi, justru inilah inti persoalannya. Allah dalam hikmat-Nya seringkali memilih orang-orang kecil untuk mengajar orang-orang sombong dan berkuasa agar mau merendahkan diri mereka (termasuk para teolog). Tidak ada seorang pun yang dapat menyangkal bahwa seorang lumpuh yang setiap hari duduk di dekat Gerbang Indah Bait Allah minta dikasihani, telah disembuhkan dalam nama Yesus, namun tetap saja para tua-tua Yahudi itu ingin membungkam dua orang rasul Kristus tersebut.

Di hadapan Mahkamah Agama, Petrus dan Yohanes menjadi semakin berani. Mereka menyatakan ini: “Tidak ada keselamatan di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan” (Kis 4:12). Tindakan dua orang rasul ini bukanlah suatu tindakan pemberontakan terhadap otoritas agama, melainkan suatu tanggapan-iman dan ketaatan kepada Allah. Petrus, yang sebelumnya telah menyangkal Yesus sampai tiga kali karena dilanda rasa takut, sekarang dengan berani memproklamasikan Dia at all costs, artinya tanpa hitung-hitung untung-ruginya atau konsekuensi-konsekuensinya. Keberanian Petrus tidak berasal dari kekuatannya sendiri, melainkan dari kerja Roh Kudus dalam dirinya. Pada hari Pentakosta Kristiani yang pertama, ketika Allah mencurahkan Roh Kudus-Nya, Petrus menjadi sadar bahwa dia pantas menanggung risiko yang betapa besar sekali pun (termasuk kehilangan nyawanya) demi Yesus. Tidak ada ancaman apapun atau penganiayaan apa pun yang dapat membungkam dirinya atau menghancurkan kepercayaannya.

ST. TERESA KECILKita pun dapat menaruh kepercayaan penuh pada kuat-kuasa kasih Allah dan rahmat-Nya yang bekerja dalam kehidupan kita. Yesus ingin memberikan kepada kita Roh-Nya guna menolong kita bertumbuh dalam iman dan berbuah dalam melayani-Nya. Santa Teresia Kecil (Theresia dari Lisieux [1873-1897]) sangat senang menggambarkan cara Allah memanifestasikan kuat-kuasa-Nya. Orang kudus ini berkata: “Yesus tidak membutuhkan siapa pun untuk melakukan pekerjaan-Nya. Namun Ia menggunakan instrumen-instrumen yang paling lemah untuk membuat mukjizat-mukjizat.” Oleh karena itu, mengherankankah apabila Yesus memilih para nelayan untuk menjadi rasul-rasulnya? Mengherankankah apabila Yesus akan terus bekerja dengan cara yang sama juga pada hari ini? Yesus –Tuhan dan Juruselamat kita – sangat senang untuk memanggil pribadi-prabadi yang rendah hati, bejana-bejana yang retak-retak seperti kita, untuk bergabung dalam karya pelayanan-Nya. Melalui Roh Kudus-Nya, Yesus ingin menjadikan kita duta-duta pengharapan dan kasih bagi sebuah dunia yang berada dalam kondisi sangat membutuhkan penebusan.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah batu-karangku dan tempat perlindunganku. Dengan penuh rasa syukur atas kasih-Mu, aku mohon agar – lewat Roh Kudus-Mu – Kaujaga diriku agar tidak pernah berhenti mewartakan Kabar Baik-Mu kepada orang-orang lain dengan keberanian yang berasal dari-Mu. Amin.

Catatan: Saya menganjurkan anda untuk membaca buku tulisan John Wijngaards, I Have No Favorites – Jesus Accepts Followers Unconditionally, New York: 1992, Paulist Press. Pater John Wingaards MHM adalah seorang keturunan Belanda yang tinggal di London dan lahir di Surabaya. 

Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 16:9-15), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MEMBERI HIDUP BARU KEPADA KITA” (bacaan tanggal 11-4-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-04 BACAAN HARIAN APRIL 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 26-4-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 8 April 2015 [HARI RABU DALAM OKTAF PASKAH] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS