Posts tagged ‘MAGNIFICAT’

JIWAKU MEMULIAKAN TUHAN

JIWAKU MEMULIAKAN TUHAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA SP MARIA DIANGKAT KE SURGA – Minggu, 13 Agustus 2017)

 

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan bergegas menuju sebuah kota di pegunungan Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.”

Lalu kata Maria, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan kuduslah nama-Nya. Rahmat-Nya turun-menurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.” Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya. (Luk 1:39-56) 

Bacaan Pertama: Why 11:19a;12:1,3-6a. 10ab; Mazmur Tanggapan: Mzm 45:10-12,16; Bacaan Kedua: 1Kor 15:20-26

Dalam peristiwa yang kita rayakan pada hari ini, kita dapat melihat pemenuhan daripada segala janji Allah – pertama-tama kepada Maria dan kemudian kepada segenap umat Allah. Maria ikut ambil bagian dalam kemenangan Yesus atas maut. Dialah yang pertama-tama mengecap apa yang sekarang tersedia bagi kita semua: “Sesudah yang dapat binasa ini mengenakan yang tidak dapat binasa dan yang dapat mati ini mengenakan yang tidak dapat mati, maka akan digenapi firman yang tertulis: ‘Maut telah ditelan dalam kemenangan’” (1Kor 5:54). Maria diangkat ke surga, dijaga oleh Allah dari kerusakan karena kuburan; seperti Yesus, ia mengalahkan kematian dan diangkat tubuh dan jiwanya ke surga.

Allah memberkati Maria secara luarbiasa karena dia telah “percaya bahwa apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan akan terlaksana” (Luk 1:45). Maria percaya sepenuhnya akan janji-janji Allah meskipun untuk itu dia harus hamil sebelum hari pernikahannya; walaupun dia harus melahirkan anaknya di sebuah gua/kandang hewan di Betlehem karena tidak ada tempat bagi mereka; meskipun tidak diinginkan dan ditolak oleh masyarakat; walaupun harus melarikan diri dengan suaminya dan anaknya yang masih sangat kecil ke Mesir; meskipun dia harus menyaksikan kematian Anaknya di kayu salib akibat keputusan “pengadilan” yang samasekali tidak adil. Selama mengalami pencobaan-pencobaan ini, Maria tetap setia terhadap apa yang telah dikatakan Allah kepadanya. Imannya tidak goyah sementara dia menjadi lebih mengenal secara lebih mendalam lagi kasih Allah baginya dan bagi seluruh umat.

Kita dapat bergembira sepenuh hati karena kepercayaan yang sama, ketaatan yang sama dan pengenalan yang sama akan Allah tersedia bagi kita juga. Dalam Magnificat – nya, Maria mengatakan: “Rahmat-Nya turun-menurun atas orang yang takut akan Dia” (Luk 1:50) – sampai pada hari ini. Dalam kasih-Nya, Allah menolong kita agar mau dan mampu menaruh kepercayaan dan mentaati-Nya dalam menghadapi tuntutan-tuntutan kehidupan kita sehari-hari dan dalam pencobaan-pencobaan yang datang tanpa diharapkan dalam kehidupan kita. Setiap hari Dia ingin datang kepada kita, untuk berbicara kepada kita, untuk menolong kita mengenali dan menerima rahmat-Nya.

Marilah kita berterima kasih penuh syukur kepada Allah karena kita dapat mengenal dan mengalami kasih-Nya secara lebih mendalam setiap hari; bahwa Dia akan selalu berbelas-kasihan kepada kita, selalu menolong kita untuk menaruh kepercayaan kepada-Nya. Semoga apa yang telah dilakukan Allah bagi orang-orang yand ina dan rendah di sepanjang sejarah – termasuk hari ini – membangkitan rasa terima kasih dan sukacita di dalam diri kita. Dan semoga kata-kata Elisabet dapat diterapkan bagi kita juga: “Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan akan terlaksana” (Luk 1:45).

DOA: Bapa surgawi, dalam peristiwa Maria diangkat ke surga, Engkau telah menunjukkan pemenuhan akhir dari segala janji-Mu kepada kami. Semoga kami selalu percaya akan sabda-Mu, merangkul dalam setiap situasi kehidupan baru yang dicurahkan kepada kami melalui kematian Yesus di kayu salib. Semoga kami dapat menaruh kepercayaan kepada belas kasihan-Mu dan mengenal serta mengalami kasih-Mu bagi kami secara lebih mendalam lagi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Pertama (Why 11:19a; 12:1,3-6a,10ab) hari ini, silahkan anda membaca tulisan dengan judul “HARUS DILIHAT DARI PERSPEKTIF SURGAWI (bacaan tanggal 13-8-17), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 17-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-8-16 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 11 Agustus 2017 [Peringatan S. Klara dr Assisi, Perawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        

Advertisements

KERINDUAN ALLAH UNTUK MENYATAKAN DIRI DAN RENCANA-NYA

KERINDUAN ALLAH UNTUK MENYATAKAN DIRI DAN RENCANA-NYA

(Bacaan Injil Misa, Pesta SP Maria Mengunjungi Elisabet – Rabu, 31 Mei 2017)

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan bergegas menuju sebuah kota di pegunungan Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.”

Lalu kata Maria, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan kuduslah nama-Nya. Rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.” Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya. (Luk 1:39-56) 

Bacaan Pertama: Zef 3:14-18a atau Rm 12:9-16b; Mazmur Tanggapan: Yes 12:2-6

Maria mengepak barang-barangnya dan kemudian bergegas pergi ke Ain Karem untuk mengunjungi saudaranya, Elisabet. Ia pergi untuk membantu Elisabet menyiapkan kelahiran bayinya justru pada umurnya yang sudah tua. Barangkali Maria juga berniat untuk bertanya-tanya kepada Elisabet tentang kehamilannya yang dipenuhi keajaiban itu.

Pada waktu Maria sampai di tempat tinggal Elisabet, dia memberi salam kepada saudaranya dengan rangkulan tradisional, namun Elisabet merespons dengan cara yang sangat non-tradisional. Bayi dalam rahimnya melonjak kegirangan, dan Elisabet pun kemudian berkata: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu” (Luk 1:42). 

Sedikit banyak, kiranya Elisabet mengetahui apa yang telah terjadi dengan diri Maria yang masih muda usia itu. Barangkali dia mendengar tentang kehamilan Maria dari “kabar burung” atau gosip, atau melalui sepucuk surat dari Maria sendiri. Barangkali juga dia telah mendengar tentang perjumpaan Maria dengan malaikat Gabriel yang penuh misteri itu. Akan tetapi, “pengetahuan” Elisabet tentang situasi yang dihadapi Maria sebenarnya melebihi daripada sekadar sebagai akibat mempelajari berbagai fakta. Lukas menceritakan kepada kita, bahwa ketika Elisabet melihat Maria, dia “penuh dengan Roh Kudus” (Luk 1:41) dan menyerukan dengan suara nyaring kata-kata yang sekarang begitu familiar di telinga kita: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu” (Luk 1:42; dalam doa “Salam Maria”). Mengetahui sesuatu hal/peristiwa secara intelektual dan mengetahuinya oleh kuasa Roh Kudus merupakan dua yang hal berbeda, namun berhubungan.

Cerita ini menunjukkan bagaimana Allah rindu untuk menyatakan diri-Nya dan rencana-Nya kepada umat-Nya. Kemampuan kita untuk memahami kebenaran-kebenaran alkitabiah dan prinsip-prinsip moral adalah sebuah karunia dari Allah yang penting, namun ini hanyalah sebagian dari warisan kita. Kita juga mampu untuk menerima pernyataan spiritual dan penerangan dari Allah mengenai kebenaran-kebenaran dan prinsip-prinsip ini.

Santo Paulus mengatakan kepada jemaat di Korintus, bahwa Allah ingin menyatakan kepada mereka hikmat-Nya yang tersembunyi, “apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia” (1 Kor 2:9-10; ayat 9 bdk. Yes 64:4). Santo Paulus juga berdoa bagi jemaat di Efesus, agar Allah menjadikan mata hati mereka terang, agar mereka mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: Betapa kayanya kemuliaan warisan-Nya kepada orang-orang kudus, dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya yang besar, yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus (Ef 1:18-20).

Demikian pula, Allah ingin berbicara kepada kita. Dia ingin mengatakan kepada kita betapa mendalam Dia mengasihi kita. Dia ingin menyatakan kepada kita rencana penyelamatan-Nya yang mulia dan peranan kita dalam rencana itu. Marilah kita mohon agar Allah menerangi diri kita pada hari ini sehingga kita dapat mengenal Dia dalam hati kita, sehingga dengan demikian kita dapat merangkul rencana-Nya yang agung-mulia itu secara lebih penuh lagi.

DOA: Datanglah, ya Roh Kudus, dan terangilah hatiku pada hari ini. Bukalah Kitab Suci bagiku. Tunjukkanlah kepadaku kasih Bapa. Penuhilah hatiku dengan sukacita-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan  Injil hari ini (Luk 1:39-56), bacalah tulisan yang berjudul “MARIA MEMULIAKAN TUHAN” (bacaan tanggal 31-5-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-05 BACAAN HARIAN MEI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 31-5-16 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 28 Mei 2017 [HARI MINGGU PASKAH VII – TAHUN A] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

HIDUP MARIA ADALAH CONTOH DARI KEHIDUPAN YANG INGIN DIBERIKAN ALLAH KEPADA KITA SEMA

HIDUP MARIA ADALAH CONTOH DARI KEHIDUPAN YANG INGIN DIBERIKAN ALLAH KEPADA KITA SEMUA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Kamis, 22 Desember 2016)

visitationdetailembracemaryandst-annebackgroundelisabethim-1440x900-18279

Lalu kata Maria, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan kuduslah nama-Nya. Rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.”  Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya. (Luk 1:46-56)

Bacaan pertama: 1Sam 1:24-28; Mazmur Tanggapan: 1Sam 2:1.4-8 

Kidung Maria – Magnificat – adalah sebuah kidung pujian yang indah. Kidung ini mencerminkan kontemplasi penuh kerendahan hati tentang belas kasih Allah yang begitu besar bagi dirinya. Maria mengetahui bahwa orang-orang segala zaman akan menyebutnya berbahagia karena perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan-Nya kepadanya. Maria yakin sepenuhnya bahwa dirinya – orang yang rendah dan lemah – akan ditinggikan oleh kuat-kuasa Allah sebagai suatu testimoni, tidak untuk kebaikan dirinya, melainkan untuk kemampuan Bapa surgawi mentransformasikan siapa saja yang membuka hatinya bagi diri-Nya.

Dalam permenungannya tentang peranan Maria dalam sejarah keselamatan, Santo Efrem [306-373], diakon, penyair dan pujangga Gereja di Siria, menulis sebagai berikut: “Sang Mahatinggi [Allah] … telah membuat diri-Nya kecil dalam diri Santa Perawan Maria agar membuat kita besar” (Madah Kelahiran Kristus). Santo Efrem memahami bahwa Allah ingin membuat kita semua menjadi “besar” seperti Maria. Maria itu “penuh rahmat” (“yang dikaruniai”; Luk 1:28); ia adalah pribadi manusia pertama dari orang-orang yang tak terhitung banyaknya, yang ingin dibangkitkan oleh Allah ke dalam suatu hidup yang baru dan penuh kuat-kuasa dalam kehadiran-Nya.

Satu dari berbagai peranan penting yang dimainkan oleh Maria adalah sebagai suatu contoh dari kehidupan yang ingin diberikan Allah kepada kita semua. Maria hanya muncul beberapa kali saja dalam Kitab Suci, namun ia menunjukkan kerendahan hati yang dapat membuka diri kita bagi rahmat-Nya yang mampu mentransformasikan diri kita masing-masing. Dalam kidungnya, Maria mengatakan: “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya” (Luk 1:46-48). Kata-kata Maria dalam kidung tersebut menunjukkan apakah kerendahan hati yang sejati itu. Kerendahan hati yang sejati bukanlah “kelemahan” atau “sifat/sikap takut-takut” atau “mencela diri sendiri”. Kerendahan hati yang sejati adalah kesadaran mengenai kebutuhan kita akan Allah dan suatu pengakuan penuh rasa takjub pada keanggunan-Nya terhadap kita. Kerendahan hati membuat kita cenderung untuk menaruh kepercayaan kepada Dia yang menciptakan kita dan untuk menyerahkan diri kita  kepada-Nya tanpa reserve. 

Saudari dan Saudaraku, Allah ingin mengangkat diri kita jauh melampaui kemampuan-kemampuan manusiawi dan alamiah kita. Ini bukanlah sesuatu yang dapat kita capai dengan kekuatan kita sendiri. Hanya rahmat ilahi dan kuat-kuasa Roh Kudus yang dapat mentransformasikan kita selagi kita bekerja sama dengan Dia. Hanya apabila kita memahami betapa mulia kehidupan yang dimaksudkan Allah bagi kita, maka kita pun – seperti Maria – akan benar-benar menjadi rendah hati, karena diliputi rasa penuh syukur atas kemurahan hati-Nya yang tanpa batas itu. Marilah kita (anda dan saya) memohon kepada Tuhan untuk meluaskan visi kita tentang bagaimana Dia ingin bekerja dalam hidup kita oleh kuasa Roh Kudus-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau datang mengangkat orang yang rendah dan lemah. Angkatlah juga diriku oleh rahmat-Mu. Biarlah aku mengetahui tujuan hidup yang Engkau rencanakan bagiku. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Luk 1:46-56), bacalah tulisan yang berjudul “JIWAKU MEMULIAKAN TUHAN, DAN HATIKU BERGEMBIRA KARENA ALLAH JURUSELAMATKU” (bacaan tanggal 22-12-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 16-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 22-12-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 20 Desember 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MARIA SADAR BAHWA DIRINYA HANYALAH SEORANG HAMBA

MARIA SADAR BAHWA DIRINYA HANYALAH SEORANG HAMBA

(Bacaan Injil Misa, Pesta SP Maria Mengunjungi Elisabet – Selasa, 31 Mei 2016)

visitationdetailembracemaryandst-annebackgroundelisabethim-1440x900-18279

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan bergegas menuju sebuah kota di pegunungan Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.”

Lalu kata Maria, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan kuduslah nama-Nya. Rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.” Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya. (Luk 1:39-56) 

Bacaan Pertama: Zef 3:14-18 atau Rm 12:9-16b; Mazmur Tanggapan: Yes 12:2-6

Dalam Injil Lukas kita dapat membaca, bahwa setelah ia menjawab “ya” terhadap undangan malaikat Gabriel untuk menjadi ibunda dari Putera Allah, maka “berangkatlah Maria dan bergegas menuju sebuah kota di pegunungan Yehuda” (Luk 1:39). Apakah kiranya yang ada dalam pikiran Maria ketika dia melakukan perjalanan panjang dari Nazaret di Galilea ke Ain Karem di pegunungan Yehuda? Tentu Maria penuh dengan sukacita karena apa yang dikerjakan Allah atas dirinya, walaupun di sisi lain dia juga mempercayakan secara total kepada Allah segala keprihatinan pribadinya atau rasa khawatir dan takutnya terkait dengan sang jabang bayi yang secara ajaib bertumbuh dalam rahimnya.

Kita sekarang dapat melihat “Magnificat” atau “Kidung Maria” – madah pujian kepada Allah Perjanjian (Luk 1:46-55) yang kita nyanyikan setiap kali kita berdoa Ibadat Sore – sebagai buah dari refleksinya sepanjang perjalanan. Selagi dia merenungkan apa yang sedang terjadi, Maria sampai kepada kesadaran bahwa segala sukacita yang telah dinubuatkan oleh para nabi Perjanjian Lama terealisir dalam dirinya, semua pengharapan dan hasrat terdalam dari Israel (Luk 1:54-55). Maria merasa takjub bahwa apa yang sedang dilakukan Allah melalui dirinya dimaksudkan bagi semua orang, tidak hanya Israel (Luk 1:48). Keseluruhan pribadinya “tertangkap” dalam Allah yang kebesaran-Nya diperbesar olehnya yang tidak ubahnya seperti  bejana kecil-tak-berarti yang telah dipilih-Allah untuk mencapati tujuan-tujuan-Nya (Luk 1:47-48). Maria tahu bahwa dirinya adalah sekadar hamba, dan dalam kerendahannya-lah kuat-kuasa Allah justru dimanifestasikan dengan cemerlang.

Selagi Maria berdoa, dirinya diangkat ke atas sehingga dapat melihat rahmat Allah secara baru samasekali. Roh Kudus mencerahkan hati dan pikiran perempuan muda ini, sehingga dapat memahami bahwa Allah datang untuk menolong “wong cilik” seperti dirinya (Luk 1:52-53). Melihat karakter Allah walaupun dalam sekejab, menyebabkan hati Maria tergetar dan memenuhi dirinya dengan pengharapan, karena dalam iman Maria dapat melihat bahwa Allah yang berbelas-kasih sungguh telah memenuhi janji-janji-Nya kepada Israel, umat pilihan-Nya sendiri (Luk 1:54-55).

Selagi kita merenungkan karya Allah dalam sejarah dan kehidupan kita, maka marilah kita masing-masing menulis “Magnificat” – pujian kepada Allah – kita sendiri. Marilah sekarang kita memohon kepada Roh Kudus untuk memenuhi diri kita dengan kasih yang sama dan penyembahan kepada Allah yang sama pula, seperti yang terdapat dalam hati Maria, sehingga dengan demikian seluruh Gereja akan menggemakan pujian-pujian kepada Allah dan Raja kita yang Mahaagung.

DOA: Roh Kudus Allah, kami berterima kasih penuh syukur kepada-Mu untuk kesetiaan-Mu kepada Bunda Maria dan seluruh Gereja, yaitu Tubuh Kristus di dunia. Kuatkanlah kami agar kami mau dan mampu mempercayakan segala urusan kami kepada-Mu, selagi kami memusatkan perhatian dan pemikiran kami atas kasih-Mu yang agung bagi kami. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan  Injil hari ini (Luk 1:39-56), bacalah tulisan yang berjudul “KERINDUAN ALLAH UNTUK MENYATAKAN DIRI DAN RENCANA-NYA” (bacaan tanggal 31-5-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-05 BACAAN HARIAN MEI 2016. 

Cilandak, 30 Mei 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PEMENUHAN JANJI-JANJI BAPA SURGAWI DALAM DIRI YESUS

PEMENUHAN JANJI-JANJI BAPA SURGAWI DALAM DIRI YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Selasa, 22 Desember 2015)

Acrylic on canvas, 24 x 30"

Acrylic on canvas, 24 x 30″

Lalu kata Maria, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan kuduslah nama-Nya. Rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.”  Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya. (Luk 1:46-56)

Bacaan pertama: 1Sam 1:24-28; Mazmur Tanggapan: 1Sam 2:1.4-8 

Sejak awal mula, Allah telah menyatakan kepada setiap generasi isi hati-Nya yang merindukan suatu relasi yang mendalam dengan umat-Nya. Allah menjanjikan kepada Abraham bahwa turunannya akan banyak sekali seperti bintang-bintang di langit. Allah mendengar keluh kesah dan seruan minta tolong umat-Nya yang hidup dalam perbudakan di Mesir dan kemudian memimpin mereka ke tanah terjanji. Allah mengutus para nabi-Nya guna menyatakan hasrat hati-Nya kepada bangsa Israel. Allah memberkati “wong cilik” yang datang kepada-Nya sambil memohon belas kasih dan kekuatan dari Dia. Pada akhirnya, Bapa surgawi berjanji untuk mengutus Dia yang akan membawa bangsa Israel kembali ke dalam relasi yang akrab/intim dengan diri-Nya. Mengetahui saat pemenuhan janji-janji Allah telah tiba, Maria mendapat privilese untuk memberi kesaksian tentang kulminasi dari semua janji Allah dalam Dia yang telah dikandung dalam rahimnya.

Dalam kidung Magnificat, Maria mengekspresikan kekagumannya atas rencana Allah selagi rencana itu semakin tersingkap di hadapan umat. Sang Mesias yang sudah lama dinanti-nantikan, Dia yang dicari oleh umat Allah sepanjang sejarah, tidak lama lagi akan datang. Walaupun belum hilang rasa herannya mengapa dirinya dipilih Allah, Maria mengingat bagaimana dalam perjalanan sejarah manusia Allah memilih meninggikan orang rendah/lemah untuk merendahkan “orang-orang yang berkuasa” (Luk 1:52), … “Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa” (Luk 1:53), dst.

Selagi kita meninjau kembali hidup kita selama ini, kita dapat melihat banyak cara yang telah ditunjukkan Bapa surgawi kepada kita terkait belas kasih dan bela rasa-Nya. Allah Yang Mahakuasa ingin agar kita masing-masing mengenal-Nya secara pribadi. Kita-manusia yang direndahkan karena dosa-dosa dan Iblis, telah diangkat oleh darah Yesus, Anak Domba Allah yang tak bercacat. Ia telah mengangkat kita sehingga mempunyai martabat sebagai anak-anak-Nya. Dia telah memberikan Roh Kudus kepada kita guna memberdayakan kita untuk melakukan kehendak-Nya. Allah juga sangat menghargai upaya kita untuk menyediakan waktu yang khusus untuk berada bersama-Nya, pada waktu mana Dia dapat berbicara kepada kita dalam doa dan melalui bacaan Kitab Suci. Dia memampukan kita untuk melayani-Nya dan juga melayani satu sama lain antara kita dalam tubuh Kristus, yaitu Gereja. Dia telah memenuhi diri kita masing-masing dengan hal-hal yang baik bagi kehidupan kita.

Kita (anda dan saya) dapat bersukacita dengan Maria dan semua anak Allah karena kita telah melihat terpenuhinya janji-janji Bapa surgawi dalam diri Yesus, sumber kehidupan kita. Selagi kita memandangi imaji Yesus sekarang, baiklah kita membuka hati kita untuk menyembah-Nya. Barangkali kita dapat menyediakan waktu untuk menulis deklarasi kita sendiri terkait denan segala sesuatu yang Tuhan telah lakukan untuk kita. Hal ini sungguh akan membawa sukacita kepada Bapa surgawi dan tentunya kepada kita juga!

DOA: Datanglah ya Tuhan Yesus, Raja segala raja, Raja segala bangsa, sumber persatuan dan iman kami. Selamatkanlah seluruh umat manusia, ciptaan-Mu sendiri. Terpujilah nama-Mu selalu! Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Luk 1:46-56), bacalah tulisan yang berjudul “HIDUP MARIA ADALAH CONTOH KEHIDUPAN YANG INGIN DIBERIKAN ALLAH KEPADA KITA SEMUA” (bacaan tanggal 22-12-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 15-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 22-12-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 19 Desember 2015

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ORANG KRISTIANI YANG PERTAMA

ORANG KRISTIANI YANG PERTAMA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Senin, 22 Desember 2014)

20140531_Magnificat

Lalu kata Maria, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan kuduslah nama-Nya. Rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.”  Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya. (Luk 1:46-56)

Bacaan pertama: 1Sam 1:24-28; Mazmur Tanggapan: 1Sam 2:1.4-8 

Dua orang imam bersaudara anggota Ordo Salib Suci (OSC), P. Bernard C. Mischke OSC dan P. Fritz Mischke OSC (dalam Pray today’s Gospel, hal. 25),  benar sekali ketika mengatakan bahwa Maria, Ibunda Kristus, adalah yang pertama dan terbaik dari orang-orang Kristiani. Maria adalah orang pertama yang menerima panggilan Allah berkaitan dengan penebusan umat manusia dalam Putera-Nya, dan tanggapannya terhadap panggilan itu dipenuhi sukacita dan lengkap. Bahkan Maria menghayati panggilan Allah sepanjang hidupnya di dunia.

Maria adalah model Kristiani berkaitan dengan tanggapannya yang sepenuh hati terhadap sabda Allah. Itulah sebabnya mengapa kita memohon pertolongannya dan menjawab panggilan untuk hidup dalam Kristus. Karena kemauan Maria untuk menjawab panggilan Allah, maka kita pun sekarang memperoleh privilese diundang untuk ikut ambil bagian dalam kekayaan Allah.

magnificat1Maria menjawab panggilan Allah dengan penuh sukacita: dia menyanyikan kidung pujian dan syukurnya yang dikenal sebagai MAGNIFICAT (Luk 1:46-55), “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku.” Sepantasnyalah apabila kita memohon kepada Allah agar dapat ikut ambil bagian dalam “optimisme” Maria, sukacitanya yang seharusnya merupakan sukacita semua orang yang percaya kepada Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita semua. Setiap hari di seluruh dunia, dalam Ibadat Sore, para puteri dan puteranya dalam Gereja menyanyikan “Kidung Maria” ini. Dengan berputarnya bumi ini, praktis kidung pujian dan syukur Maria berkumandang dari tempat yang satu ke tempat yang lain, dari biara yang satu ke biara yang lain, dari komunitas yang satu ke komunitas yang lain, dari keluarga yang satu ke keluarga yang lain……. tanpa henti sampai akhir zaman.

Maria adalah pribadi Kristiani pertama yang menerima Kristus. Tidak seorang pun telah mengenal dan mengasihi sang Juruselamat seperti Maria. Peranannya adalah menuntun kita kepada Kasih yang sama; teladannya memberi inspirasi kepada kita untuk memiliki hasrat yang sama untuk mendengarkan, dan mentaati, dan mengasihi. Ketika seorang perempuan yang sedang mendengarkan khotbah Yesus berkata kepada-Nya, “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau” (Luk 11:27), maka Yesus menjawab, “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya” (Luk 11:28). Kata-kata ini melipatgandakan pujian perempuan itu bagi Maria. Mengapa? Karena bagi semua orang yang pernah mendengar atau akan mendengar sabda/firman Allah dan memeliharanya, Maria adalah yang terbesar.

Maria adalah guru Kristiani besar yang pertama. Dalam kehidupan bangsa Yahudi, orangtua lah yang menjadi guru-guru utama. Jadi, Maria dan Yusuf adalah guru-guru dari siapa Yesus menerima hikmat manusia dan pembelajaran awal. Anak laki-laki Yahudi dianggap dewasa secara keagamaan pada usia 13 tahun. Mulai usia itu ia harus hidup penuh tanggung jawab. Setelah mencapai usia 12 tahun, remaja pria dididik langsung oleh ayahnya, agar setahun kemudian ia mampu tampil sebagai orang dewasa (Stefan Leks, Tafsir Injil Lukas, hal. 101). Ketika Maria berkata “Ya” terhadap rencana Allah, sesungguhnya dia setuju untuk menjadi ibu dan guru dari Yesus Kristus, sang Juruselamat. Itulah pentingnya peranan Maria dalam sejarah penyelamatan Allah.

Bersama Elisabet, marilah kita menyambut Maria dengan berkata: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. …… Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana” (Luk 1:42, 45).

DOA: Tuhan Yesus, beberapa hari lagi kami akan merayakan kelahiran-Mu di Betlehem. Kami percaya bahwa Engkau samasekali tidak berkeberatan apabila pada saat-saat ini kami mengenang jasa bunda-Mu dan bunda kami semua, Maria, sebagai guru-Mu tatkala masih seorang anak dan pada saat yang sama juga murid-Mu yang paling setia, yang senantiasa patut kami teladani. Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Luk 1:46-56), bacalah tulisan yang berjudul “PEMENUHAN JANJI-JANJI BAPA SURGAWI DALAM DIRI YESUS” (bacaan tanggal 22-12-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 14-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2014. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 22-12-12  dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 18 Desember 2014 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MARIA: MODEL KITA DALAM MENUJU KEKUDUSAN

MARIA: MODEL KITA DALAM MENUJU KEKUDUSAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA SP MARIA DIANGKAT KE SURGA – Minggu, 10 Agustus 2014) 

409px-Murillo_immaculate_conception

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan bergegas menuju sebuah kota di pegunungan Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.”

Lalu kata Maria, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan kuduslah nama-Nya. Rahmat-Nya turun-menurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.” Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya. (Luk 1:39-56)

Bacaan Pertama: Why 11:19;12:1,3-6,10; Mazmur Tanggapan: Mzm 45:10-12,16; Bacaan Kedua: 1Kor 15:20-26

Kadang-kadang kita melihat seakan-akan para kudus adalah suci dari “sono”-nya, sejak lahir memang begitu. Kebenarannya adalah bahwa kekudusan bertumbuh dalam diri kita semua sampai seberapa jauh kita mencari Tuhan dalam situasi yang kita hadapi setiap hari, merenungkan sabda-Nya, dan belajar mentaati perintah-perintah-Nya dan kehendak-Nya bagi hidup kita. Ini adalah jenis kekudusan untuk mana Maria adalah “model” yang paling agung.

VISITASI - MARIA MENYAPA ELISABETSelagi dia merefleksikan Kitab Suci dan sejarah karya Allah di tengah umat, Maria menjadi mengerti cara Allah berkarya di dunia. Dia melihat Allah senang memakai orang-orang lemah dan terabaikan untuk “merendahkan” orang-orang berkuasa. Maria melihat bahwa Allah senang sekali memajukan rencana-rencana-Nya dengan cara-cara tidak seperti diharap-harapkan: membelah Laut Merah, menurunkan Saul dan membangkitkan Daud si gembala, bahkan membiarkan orang-orang Yahudi digiring oleh bangsa asing ke tempat pembuangan agar mereka belajar mentaati diri-Nya. Selagi Maria merenungkan cara Allah ini, Allah sendiri sedang menyiapkan dirinya bahwa pada suatu hari dia akan diundang untuk ikut ambil bagian dalam mewujudkan rencana-Nya.

Dengan penuh rasa percaya, Maria menempatkan keseluruhan masa depannya ke dalam tangan-tangan Allah. Setiap peristiwa merupakan suatu kesempatan bagi imannya dan kasihnya kepada Allah untuk menjadi semakin dalam. Ketika Yusuf bergumul dalam batinnya apakah dia akan menceraikannya, Maria tetap yakin bahwa Allah akan menyelesaikan karya-Nya. Pada waktu dia mengunjungi Elisabet, imannya diperdalam ketika dia mendengar saudari sepupunya memuji dan memuliakan Allah. Akhirnya di kaki salib Yesus, pada saat hatinya sendiri tertembus oleh rasa duka yang sangat mendalam, Maria membuat tindakan penyerahan diri yang final dengan menyerahkan Puteranya ke dalam tangan-tangan Allah yang penuh kasih.

Setiap hari kita dipanggil untuk “memasukkan” doa kita ke dalam situasi-situasi yang kita hadapi. Yesus ingin agar kita merenungkan sabda-Nya sehingga dengan demikian Ia dapat membentuk diri kita masing-masing menjadi orang-orang saleh sungguhan, bukan yang berpura-pura saleh seperti kebanyakan orang Farisi dan para pemimpin agama Yahudi lainnya pada masa hidup-Nya. Allah-lah yang membentuk kita menjadi orang-orang kudus, namun adalah pilihan kita untuk membuka hati bagi-Nya atau tidak. Marilah kita membuka pikiran-pikiran dan hasrat-hasrat kita yang terdalam kepada-Nya agar Ia dapat menyentuh dan membimbing kita. Marilah kita bersama Maria pada hari ini merayakan hari raya gerejawi yang sangat istimewa ini dengan penuh keyakinan bahwa Allah akan menyelesaikan karya-Nya dalam diri kita semua.

DOA: Bapa surgawi, Engkau mampu melakukan segala hal. Kasih-Mu sungguh agung dan luhur; rencana-Mu sudah ada sejak kekal; cara-cara-Mu sempurna dan pantas serta layak untuk dipercaya. Aku sungguh merindukan hari di mana aku dapat berjumpa dengan Engkau, muka ketemu muka. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan  kedua hari ini (1Kor 15:20-26), bacalah tulisan dengan judul “MARIA DAN KEBANGKITAN KEPADA HIDUP BARU” (bacaan tanggal 10-8-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2014. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-8-13 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 7 Agustus 2014 

 

 Sdr. F.X. Indrapradja, OFS