Posts tagged ‘KISAH PARA RASUL’

MENYAMBUT KEDATANGAN ROH KUDUS SECARA SEDERHANA DAN PENUH KERENDAHAN HATI

MENYAMBUT KEDATANGAN ROH KUDUS SECARA SEDERHANA DAN PENUH KERENDAHAN HATI   

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI RAYA PENTAKOSTA – Minggu, 4 Juni 2017)

Ketika tiba hari Pentakosta, mereka semua berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba terdengarlah bunyi dari langit seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti lidah api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Lalu mereka semua dipenuhi dengan Roh Kudus dan mulai berbicara dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk dikatakan. Waktu itu di Yerusalem tinggal orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit. Ketika terdengar bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka terkejut karena mereka masing-masing mendengar orang-orang percaya itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri. Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata, “Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea? Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berbicara dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa tempat kita dilahirkan; kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, Prigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma, baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berbicara dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah.” (Kis 2:1-11) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 104:1,24,29-31,34; Bacaan Kedua: 1 Kor 12:3-7,12-13; Bacaan Injil: Yoh 20:19-23 

“Datanglah, ya Roh Kudus!”  Seringkah anda pernah mendengar doa ini? Barangkali begitu seringnya, sehingga anda tidak merasakan lagi bahwa anda sesungguhnya sedang berbicara kepada Allah. Akan tetapi, pada hari raya yang agung ini, marilah kita berani untuk menemukan kembali betapa beraninya doa permohonan ini!

Apakah ada yang lebih layak dan pantas pada Hari Raya Pentakosta ini daripada menyambut kedatangan Roh Kudus secara sederhana dan penuh kerendahan hati seperti yang dilakukan oleh para rasul sekitar 2.000 tahun lalu di Yerusalem? Apakah ada cara yang lebih layak dan pantas untuk berdoa pada hari ini daripada secara sederhana mengulang-ulang doa singkat tadi: “Datanglah, ya Roh Kudus!”, percaya bahwa Allah mendengar dan menjawab doa kita itu. Walaupun kelihatannya “tolol” dan repetitif, “don’t worry, be happy!” Permohonan-permohonan sederhana seperti ini dapat menjadi sangat penuh kuat-kuasa. Teruslah berdoa, “Datanglah, ya Roh Kudus”, dan lihatlah pemikiran-pemikiran, imaji-imaji, atau emosi-emosi apa yang mengalir ke dalam hati anda. Kita dapat merasa yakin bahwa apabila semua itu adalah pemikiran-pemikiran yang baik dan menyangkut hal-hal yang Ilahi, maka Roh Kudus berada di belakangnya.

Pendekatan Yesus terhadap anak-anak sangatlah sederhana. Dia bersabda: “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan halang-halangi mereka, sebab orang-orang seperti inilah yang memiliki Kerajaan Allah. Siapa saja yang tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.” Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan-Nya di atas mereka Ia memberkati mereka (Mrk 10:14-16). Semua itu jauh dari komplikasi, namun sungguh menyentuh hati – baik bagi anak-anak itu dan para orangtua mereka. Demikian pula, ketika kita berdoa dengan kata-kata sederhana, “Datanglah, ya Roh Kudus!”, kita sebenarnya berperilaku seperti anak-anak kecil. Kita percaya kepada Allah, menaruh pengharapan dalam diri-Nya, dan menghadap hadirat-Nya untuk berkat-berkat-Nya.

Pencurahan Roh seperti apa yang akan Allah berikan kepada kita (anda dan saya) apabila kita menyambut Roh Kudus secara sederhana? Dia dapat memenuhi diri kita dengan pemahaman mendalam tentang kasih Allah sehingga kita mengenal serta mengalami bahwa Dia sungguh nyata dalam suatu cara yang baru. Dia dapat menunjukkan kepada kita belas kasih yang begitu mendalam sehingga kita pun sampai bertelut penuh syukur dan bersembah sujud kepada-Nya. Roh Kudus yang sama dapat membawa kita kepada air mata pertobatan, atau menggerakkan kita untuk menari penuh sukacita dan kebebasan. Roh Kudus juga dapat melakukan sesuatu yang samasekali tidak diharap-harapkan – namun tetap indah-menakjubkan. Oleh karena itu, marilah kita masing-masing pada hari ini datang menghadap Allah sebagai seorang anak kecil: murni, sederhana, dan terbuka. Kita tidak tahu apa yang telah dipersiapkan oleh Allah untuk dilakukan-Nya bagi anak-anak-Nya pada hari yang penuh dengan rahmat dan kuasa surgawi?

DOA: Datanglah, ya Roh Kudus!

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 20:19-23), bacalah tulisan yang berjudul “ROH KUDUS” (bacaan tanggal 4-6-17) dalam situs/blog SANG SABDA  http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 BACAAN HARIAN JUNI 2017. 

(Tulisan ini  adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 15-5-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 2 Juni 2017 [Peringatan S. Feliks dr Nikosia, Bruder] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

SUDAHKAH KAMU MENERIMA ROH KUDUS?

SUDAHKAH KAMU MENERIMA ROH KUDUS?

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah – Senin, 29 Mei 2017)

OFS: Peringatan S. Maria Ana dr Paredes, Perawan Ordo III Sekular 

Ketika Apolos masih di Korintus, Paulus sudah menjelajahi daerah-daerah pedalaman dan tiba di Efesus. Di situ didapatinya beberapa orang murid. Katanya kepada mereka, “Sudahkah kamu menerima Roh Kudus, ketika kamu percaya?” Akan tetapi, mereka menjawab dia, “Belum, bahkan kami belum pernah mendengar bahwa ada Roh Kudus.” Lalu kata Paulus kepada mereka, “Kalau begitu, dengan baptisan mana kamu telah dibaptis?” Jawab mereka, “Dengan baptisan Yohanes.” Kata Paulus, “Baptisan Yohanes adalah baptisan tobat dan ia berkata kepada orang banyak bahwa mereka harus percaya kepada Dia yang datang kemudian daripadanya, yaitu Yesus.” Ketika mereka mendengar hal itu mereka dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. Ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa lidah dan bernubuat. Mereka semua berjumlah kira-kira dua belas orang.

Selama tiga bulan Paulus mengunjungi rumah ibadat di situ dan berbicara dengan berani serta berdebat dengan mereka untuk meyakinkan mereka tentang Kerajaan Allah. (Kis 19:1-8)

Mazmur Tanggapan: Mzm 68:2-7; Bacaan Injil: Yoh 16:29-33 

“Sudahkah kamu menerima Roh Kudus, ketika kamu percaya?”  (Kis 19:2)

Beberapa orang murid dari Efesus menyatakan diri sebagai sudah beriman (Kis 19:2). Paulus mempertanyakan ini karena mereka nampaknya belum pernah menerima Roh Kudus. Ketika diketahui apa yang sesungguhnya terjadi, ternyata mereka bukanlah murid-murid Yesus melainkan murid-murid Yohanes Pembaptis. Memang mereka telah dibaptis, tetapi dengan baptisan Yohanes yang adalah baptisan tobat. Oleh karena itu Paulus menjelaskan kepada mereka tentang perbedaan antara baptisan Yohanes dan baptisan dalam nama Tuhan Yesus. Kemudian Paulus membaptis mereka dalam nama Tuhan Yesus dan meletakkan tangannya atas mereka (Kis 19:5-6).

“Kisah para Rasul” mencatat bahwa ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa lidah dan bernubuat (Kis 19:6). Tak diragukan lagi, sejak saat itu mereka benar-benar dapat dinamakan murid-murid Yesus.

Dari Bacaan Injil hari ini, para murid Yesus percaya bahwa Ia datang dari Allah (Yoh 16:30). Namun demikian Yesus mempertanyakan ini karena Dia tahu bahwa para murid-Nya tersebut akan tercerai-berai dan akan meninggalkan Dia seorang diri (Yoh 16:31-32). Kita – orang-orang yang menamakan diri Kristiani – juga tercerai-berai dan tersebar menjadi begitu banyak golongan, denominasi dan sekte.

Bukankah seharusnya kita bersekutu dalam doa, menyambut tubuh-Nya dalam Komuni Kudus, membaca Kitab Suci, atau bersatu dengan saudari dan saudara kita di dalam Kristus? Benar, namun pada kenyataannya kita meninggalkan Tuhan Yesus seorang diri. Inilah yang menyebabkan iman kita patut dipertanyakan.

Melalui Pentakosta ini marilah kita menerima Roh kesatuan (lihat Ef 4:3) dan Roh Kuasa. Dengan demikian, Yesus tidak perlu lagi meragukan iman-kepercayaan kita dan Dia dapat berkata kepada kita: “Besar imanmu!” (lihat Mat 15:28).

DOA: Datanglah Roh Kudus dan penuhilah diriku dengan kehadiran-Mu. Tolonglah aku agar mau dan mampu membuang berbagai penghalang terhadap karya-Mu dalam hidupku. Aku berketetapan hati untuk mengandalkan kuat-kuasa-Mu dan menggunakan berbagai karunia yang telah Kauberikan kepadaku untuk melakukan kebaikan bagi sesamaku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 16:29-33), bacalah tulisan yang berjudul “AKU TELAH MENGALAHKAN DUNIA” (bacaan tanggal 29-5-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-05 BACAAN HARIAN MEI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 9-5-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 26 Mei 2017 [Peringatan S. Filipus Neri, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS  

INKARNASI YESUS DAN GEREJA

INKARNASI YESUS DAN GEREJA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI RAYA KENAIKAN TUHAN [Tahun A] – Kamis, 25 Mei 2017)

 

Hai Teofilus, dalam bukuku yang pertama aku menulis tentang segala sesuatu yang dikerjakan dan diajarkan Yesus, sampai pada hari Ia diangkat ke surga. Sebelum itu Ia telah memberi perintah-Nya melalui Roh Kudus kepada rasul-rasul yang dipilih-Nya. Kepada mereka Ia menunjukkan diri-Nya setelah penderitaan-Nya selesai, dan dengan banyak bukti Ia menunjukkan bahwa Ia hidup. Sebab selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah.

Pada suatu hari ketika Ia makan bersama-sama dengan mereka, Ia melarang mereka meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di situ menantikan janji Bapa, yang sebagaimana dikatakan-Nya, “telah kamu dengar dari Aku. Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus.” 

Lalu ketika berkumpul, mereka bertanya kepada-Nya, “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” Jawab-Nya kepada mereka, “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. Tetapi kamu akan menerima kuasa bilamana Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”

Sesudah Ia mengatakan demikian, Ia diangkat ke surga disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka. Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih di dekat mereka, dan berkata kepada mereka, “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang diangkat ke surga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke surga.” (Kis 1:1-11) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 47:2-3,6-9; Bacaan Kedua: Ef 1:17-23; Bacaan Injil: Mat 28:16-20

“Sesudah Ia mengatakan demikian, Ia diangkat ke surga disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya” (Kis 1:9).

Kenaikan Yesus ke surga tampaknya telah mengakhiri saat-saat para murid-Nya untuk mengambil manfaat dari Inkarnasi-Nya. Mereka tidak dapat lagi memandang wajah Allah, mendengarkan-Nya dan menyentuh-Nya. Namun demikian Yesus telah berjanji bahwa Dia tidak akan meninggalkan para murid-Nya di segala zaman sebagai yatim piatu (Yoh 14:8). Ia akan senantiasa menyertai kita (Mat 28:20), dan adalah lebih berguna bagi para murid jika Ia pergi (Yoh 16:7).

Yesus menyadari bahwa para murid-Nya tidak akan mengerti tentang kenaikan-Nya ke surga, maka Dia mengatakan kepada mereka untuk tetap tinggal di Yerusalem. Dalam beberapa hari lagi mereka akan dibaptis dalam Roh Kudus (Kis 1:5). Mereka mematuhi Tuhan setelah kenaikan-Nya ke surga dan kemudian “kembali ke Yerusalem dengan sukacita”. Di Yerusalem mereka senantiasa berada di dalam Bait Allah dan memuliakan Allah (Luk 24:52-53). Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama (Kis 1:14).

Setelah berdoa selama sembilan hari, 120 dari pengikut Tuhan Yesus dipenuhi dengan Roh Kudus (Kis 1:15; 2:4). Pada hari itu juga (hari Pentakosta Kristiani yang pertama) telah dibaptis kira-kira sebanyak 3000 orang (Kis 2:41), dan dengan demikian lahirlah Gereja. Gereja akhirnya menjadi dikenal sebagai Tubuh Kristus, sebagai kelanjutan dan perkembangan dari inkarnasi Tuhan Yesus (lihat misalnya 1 Kor 12:12: Ef 1:23).

Saudari dan Saudaraku, marilah kita berdoa selama sembilan hari (Novena) kepada Roh Kudus agar hadir dan membimbing kita kekpada seluruh kebenaran (Yoh 16:13), khususnya kebenaran tentang Inkarnasi dan Gereja-Nya.

DOA: Datanglah, ya Roh Kudus, dan bersemayamlah di dalam diri kami. Semoga Engkau senantiasa menjadi terang hati kami dan kehidupan jiwa kami. Penuhilah diri kami dengan kekudusan dan hikmat-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan  Injil hari ini (Mat 28:16-20), bacalah tulisan yang berjudul “KUNCI BAGI PEMAHAMAN INJIL MATIUS” (bacaan tanggal 25-5-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-05 BACAAN HARIAN MEI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 5-5-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 22 Mei 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

JANGAN LUPA PERANAN SALIB

JANGAN LUPA PERANAN SALIB

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI Paskah – Rabu, 4 Mei 2016)

Orang-orang yang mengiringi Paulus mengantarnya sampai di Atena, lalu kembali dengan pesan kepada Silas dan Timotius, supaya mereka selekas mungkin datang kepadanya.

Paulus berdiri di hadapan sidang Aeropagus dan berkata, “Hai orang-orang Atena, aku lihat bahwa dalam segala hal kamu sangat beribadah kepada dewa-dewa. Sebab ketika aku berjalan-jalan di kotamu dan melihat-lihat barang-barang pujaanmu, aku menjumpai sebuah mezbah dengan tulisan: Kepada Allah yang tidak dikenal. Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu. Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak tinggal dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan napas dan segala sesuatu kepada semua orang. Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka, supaya mereka mencari Allah dan mudah-mudahan mencari-cari dan menemukan Dia, walaupun Ia tidak jauh dari kita masing-masing. Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada, seperti yang telah juga dikatakan oleh pujangga-pujanggamu: Sebab kita ini keturunan-Nya juga. Karena kita berasal dari keturunan Allah, kita tidak boleh berpikir dalam keadaan ilahi serupa dengan emas atau perak atau batu, ciptaan kesenian dan keahlian manusia. Tanpa memandang lagi zaman kebodohan, sekarang Allah memerintahkan semua orang di mana saja untuk bertobat. Karena Ia telah menetapkan suatu hari ketika Ia dengan adil akan menghakimi dunia oleh seorang yang telah ditentukan-Nya, sesudah Ia memberikan kepada semua orang suatu jaminan tentang hal itu dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati.” Ketika mereka mendengar tentang kebangkitan orang mati, maka ada yang mengejek, dan yang lain berkata, “Lain kali saja kami mendengar engkau berbicara tentang hal itu.” Lalu Paulus meninggalkan mereka. Tetapi beberapa orang menggabungkan diri dengan dia dan menjadi percaya, di antaranya juga Dionidius, anggota majelis Areopagus, dan seorang perempuan bernama Damaris, dan juga orang-orang lain bersama-sama dengan mereka.

Kemudian Paulus meninggalkan Atena, lalu pergi ke Korintus. (Kis 17:15,22-18:1) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 148:1-2,11-14; Bacaan Injil: Yoh 16:12-15

Pada waktu Paulus berbicara tentang Yesus dan tentang kebangkitan-Nya kepada orang-orang Atena, mereka mengejeknya sebagai “si pembual” (Kis 17:18), malah mengusirnya (Kis 17:32). Namun demikian ada beberapa orang yang menjadi percaya (Kis 17:34).

Ketika kita membaca “Kisah para Rasul” pada masa Paskah ini, banyak orang Kristiani lebih mudah memahami kesulitan-kesultan Paulus di Atena daripada bagian-bagian lain dalam Kisah tersebut. Budaya “kematian” pada zaman modern ini sama saja dengan yang terdapat di Atena pada masa itu. Di sini juga kita dapat mengenali kelemahan-kelemahan Paus di Atena. Sang Rasul ingin memulai tugas misinya di Atena sendirian karena ketidaksabarannya menunggu kedatangan Silas dan Timotius (Kis 17:15-16).

Individualisme kita yang keterlaluan dan kurangnya rasa kebersamaan dalam komunitas sangatlah melemahkan karya pewartaan kita. Di Atena, Paulus juga tidak berkeliling untuk mewartakan Yesus yang tersalib. Kita sering gagal dalam pewartaan kita karena lupa menggarisbawahi peranan salib dalam karya keselamatan Allah. Oleh karena itu janganlah terkejut apabila kita gagal – seperti halnya Paulus di Atena – untuk menarik orang-orang kepada Yesus.

Akan tetapi Paulus belajar dari pengalaman di Atena tersebut. Sewaktu dia pergi dalam perjalanan missioner berikutnya di Korintus, Paulus bertekad untuk tidak mewartakan apa-apa, “selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan” (1 Kor 2:2). Dengan demikian marilah kita mengikuti contoh yang telah diberikan oleh Paulus. Marilah kita mencoba, walaupun kita mungkin gagal. Marilah kita belajar dari kesalahan-kesalahan kita dan akhirnya kita tentu membawa banyak orang kepada Yesus.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku, aku bersedia menjadi saksi-Mu (Kis 1:8). Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan  Injil hari ini (Yoh 16:12-15), bacalah tulisan yang berjudul “IA AKAN MEMBERITAKAN KEPADAMU APA YANG DITERIMA-NYA DARI AKU” (bacaan tanggal 24-5-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-05 BACAAN HARIAN MEI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 4-5-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 22 Mei 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MEMBUKA HATI KITA BAGI SEMUA ANGGOTA TUBUH KRISTUS

MEMBUKA HATI KITA BAGI SEMUA ANGGOTA TUBUH KRISTUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI Paskah – Senin, 22 Mei 2017)

Lalu kami bertolak dari Troas dan langsung berlayar ke Samotrake, dan keesokan harinya tibalah kami di Neapolis; dari situ kami ke Filipi, kota pertama di bagian Makedonia ini, suatu kota perantauan orang Roma. Di kota itu kami tinggal beberapa hari.

Pada hari Sabat kami ke luar pintu gerbang kota. Kami menyusur tepi sungai dan menemukan tempat sembahyang Yahudi, yang sudah kami duga ada di situ; setelah duduk, kami bebicara kepada perempuan-perempuan yang berkumpul di situ. Salah seorang dari perempuan-perempuan itu yang bernama Lidia turut mendengarkan. Ia berasal dari kota Tiatira dan ia seorang penjual kain ungu yang beribadah kepada Allah. Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus. Sesudah ia dibaptis bersama-sama dengan seisi rumahnya , ia mengajak kami, katanya, “Jika kamu berpendapat bahwa aku sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, marilah menumpang di rumahku.” Ia mendesak sampai kami menerimanya. (Kis 16:11-15) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 149:1-6,9; Bacaan Injil: Yoh 15:26-16:4a

“Sesudah ia dibaptis bersama-sama dengan seisi rumahnya , ia mengajak kami, katanya, ‘Jika kamu berpendapat bahwa aku sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, marilah menumpang di rumahku.’ Ia mendesak sampai kami menerimanya.” (Kis 16:15)

Sebagai seorang Yahudi yang baik – apalagi dirinya adalah seorang mantan Farisi – Paulus selama hidupnya tidak pernah tinggal/menginap/menumpang di rumah seorang kafir. Namun Yesus membimbing Paulus untuk mengajarkan “bahwa orang-orang bukan Yahudi, karena Injil, turut menjadi ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus,  dan turut menerima apa yang dijanjikan Allah melalui Kristus Yesus” (Ef 3:6).

Pesan ajaran Paulus itu membangkitkan oposisi keras dari kalangan orang Yahudi, sehingga rasul ex Farisi ini berulang-kali diserang dan dipenjara karena menghayati ajarannya sendiri dengan memperlakukan orang Kristiani bukan Yahudi (atau “kafir” di mata orang Yahudi) sebagai saudari dan saudaranya sendiri – bahkan menumpang di rumah mereka.

Apa yang dilakukan Paulus itu justru membuat orang Kristiani ex Yahudi merasa lebih tidak enak lagi. Mengapa? Karena hal ini dapat menimbulkan pengejaran dan penganiayaan berat dari pihak orang Yahudi lainnya. Orang-orang Kristiani ex Yahudi menghadapi risiko yang berat jika mereka berani tinggal di rumah-rumah saudari-saudara mereka walaupun sama-sama Kristiani tetapi berasal dari orang-orang non-Yahudi. Maka sewaktu Paulus dan teman-teman seperjalanannya tinggal di rumah Lidia dan makan-minum di rumah penjaga penjara (Kis 16:15,34), benar-benar mereka menderita dan hampir kehilangan nyawa mereka (lihat Luk 9:23-24).

Sekarang, marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing: “Siapa-siapa sajakah anggota masyarakat yang tersisih yang harus kita (anda dan saya) dekati dan tolong, karena kita menamakan diri kita orang Kristiani? Siapa-siapa saja yang seharusnya kita undang ke rumah kita dan ke komunitas kita sebab kita adalah saudari-saudara mereka dalam Kristus?

DOA: Bapa surgawi, tolonglah kami untuk menjadi terbuka bagi segala sesuatu yang Kauminta dari kami. Kami ingin melakukan pekerjaan yang Kauberikan kepada kami untuk membangun Kerajaan-Mu di atas bumi, sehingga dengan demikian kemuliaan-Mu dapat terlihat oleh semua orang. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 15:26-16:4a), bacalah tulisan yang berjudul “PARACLETOS ATAU SANG PENOLONG” (bacaan tanggal 22-5-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-05 BACAAN HARIAN MEI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 2-5-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 18 Mei 2017 [Peringatan S. Feliks dr Cantalice]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PENYELESAIAN KONFLIK DALAM GEREJA PERDANA

PENYELESAIAN KONFLIK DALAM GEREJA PERDANA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah – Kamis, 18 Mei 2017)

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta/Peringatan S. Feliks dr Cantalice, Bruder Kapusin

Sesudah berdebat beberapa waktu lamanya, berdirilah Petrus dan berkata kepada mereka, “Hai Saudara-saudara, kamu tahu bahwa sejak semula Allah memilih aku dari antara kamu, supaya dengan perantaraanku bangsa-bangsa lain mendengar berita Injil dan menjadi percaya. Allah, yang mengenal hati manusia, memberi kesaksian untuk mereka dengan mengaruniakan Roh Kudus kepada mereka sama seperti kepada kita, dan Ia sama sekali tidak membeda-bedakan antara kita dengan mereka, sesudah Ia menyucikan hati mereka oleh iman. Kalau demikian, mengapa kamu mau mencobai Allah dengan meletakkan pada tengkuk murid-murid itu suatu gandar yang tidak dapat dipikul, baik oleh nenek moyang kita maupun oleh kita sendiri? Sebaliknya, kita percaya bahwa melalui anugerah Tuhan Yesus Kristus kita akan diselamatkan sama seperti mereka juga.”

Lalu diamlah seluruh umat itu, lalu mereka mendengarkan Paulus dan Barnabas menceritakan segala tanda dan mukjizat yang dilakukan Allah dengan perantaraan mereka di antara bangsa-bangsa lain. Setelah Paulus dan Barnabas selesai berbicara, berkatalah Yakobus, “Hai Saudara-saudara, dengarkanlah aku: Simon telah menceritakan bahwa pada mulanya Allah menunjukkan rahmat-Nya kepada bangsa-bangsa lain dengan memilih suatu umat dari antara mereka bagi nama-Nya. Hal itu sesuai dengan ucapan-ucapan para nabi seperti yang tertulis: Kemudian aku akan kembali dan membangun kembali pondok Daud yang telah roboh dan reruntuhannya akan Kubangun kembali dan akan Kuteguhkan, supaya semua orang lain mencari Tuhan bahkan segala bangsa yang atasnya nama-Ku disebut, demikianlah firman Tuhan yang melakukan semuanya ini, yang telah diketahui sejak semula. Sebab itu aku berpendapat bahwa kita tidak boleh menimbulkan kesulitan bagi mereka dari bangsa-bangsa lain yang berbalik kepada Allah, tetapi kita harus menulis surat kepada mereka, supaya mereka menjauhkan diri dari hal-hal yang telah dicemarkan berhala-berhala, dari percabulan, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari darah. Sebab sejak zaman dahulu hukum Musa diberitakan di tiap-tiap kota, dan sampai sekarang hukum itu dibacakan tiap-tiap hari Sabat di rumah-rumah ibadat.” (Kis 15:7-21)

Mazmur Tanggapan: Mzm 96:1-3,10; Bacaan Injil: Yoh 15:9-11

Pada waktu orang-orang non-Yahudi mulai menerima Injil, maka Gereja perdana yang semula hanya terdiri dari orang-orang Kristiani Yahudi (baik Yahudi-Palestina maupun Yahudi-Helinis[tis]), harus bergumul dengan suatu isu yang mungkin saja tidak pernah terpikirkan oleh mereka sebelumnya: Apa hubungannya antara mengikuti Hukum Musa dan mengikuti Yesus? Sungguh suatu isu yang pelik. Ada kelompok yang percaya sekali bahwa para pengikut Yesus harus melanjutkan menepati seluruh hukum Allah yang telah diberikan melalui Musa. Mereka bersikukuh bahwa persyaratan ini juga harus diterapkan tidak hanya pada orang Yahudi, tetapi juga pada orang-orang “kafir” yang ingin bergabung ke dalam Gereja/Jemaat.

Orang-orang Yahudi Kristiani ini memang tidak berpandangan bahwa mereka dapat diselamatkan oleh kepatuhan mereka pada Hukum Musa ini. Akan tetapi mereka memandang ketaatan pada hukum itu sebagai jalan untuk menanggapi intervensi Allah dalam kehidupan mereka. Allah telah memberikan kepada mereka suatu relasi dengan diri-Nya, dan memelihara hukum-Nya merupakan jalan sentral bagi mereka untuk memelihara relasi dengan Allah itu. Dengan demikian, orang-orang Yahudi Kristiani ini berpikir bahwa hukum harus tetap berperan sentral dalam tanggapan mereka kepada Allah – bahkan setelah kedatangan Yesus  dan perjanjian baru dalam darah-Nya.

Di lain pihak orang-orang Yahudi Kristiani yang lain, seperti Paulus dan Petrus tidak sependapat dengan kelompok tadi. Bagi kelompok Paulus dkk. hukum Musa seharusnya tidak lagi menempati tempat sentral dalam relasi umat dengan Allah. Sebaliknya, Yesus-lah yang harus menjadi pusat!!! Tentu hukum tetap harus menjadi panduan kita untuk mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, namun tanggapan kita terhadap Allah haruslah difokuskan pada  “mengikuti jejak Kristus”. Konflik ini terangkat ke permukaan sejak adanya beberapa orang Yahudi Kristiani yang datang mengunjungi gereja di Antiokhia. Ketika krisis memuncak, diputuskanlah untuk membawa isu ini ke sidang sebuah konsili di Yerusalem.  Jangan bayangkan Konsili Yerusalem ini diselenggarakan dengan tenang. Perhatikanlah kata “debat” dalam bacaan di atas (Kis 15:7). Ini adalah pertarungan antara para pembela doktrin-doktrin yang berbeda secara prinsipiil.

Pemimpin Gereja di Yerusalem adalah Yakobus saudara Tuhan Yesus (lihat Gal 1:18-19), dan dalam hal ini tugasnya memang tidak mudah. Petrus tidak berbicara lembek dalam konsili ini. Satu kalimatnya yang keras: “Kalau demikian, mengapa kamu mau mencobai Allah dengan meletakkan pada tengkuk murid-murid itu suatu gandar yang tidak dapat dipikul, baik oleh nenek moyang kita maupun oleh kita sendiri?” (Kis 15:10).

Yakobus  adalah seorang Yahudi yang sangat saleh, tetapi dia memiliki satu ciri seorang pemimpin yang baik: dia mempunyai kemauan dan kemampuan untuk mendengarkan! Sikap yang ditunjukkan Yakobus cukup luwes: dia tidak membuang segala tradisi, dan secara hati-hati melalukan discernment apakah yang kiranya cocok untuk gereja “campuran” yang semakin bertumbuh-kembang. Yakobus patuh pada rencana Allah sehingga konflik yang ada pun dapat diselesaikan dengan tetap memelihara kesatuan dan persatuan dalam Gereja perdana.

Lihatlah betapa pentingnya kita saling mendengarkan, bahkan lebih penting lagi mendengarkan “suara” Roh Kudus! Begitu mudah kita jatuh cinta pada ide-ide kita sendiri, lalu kita menutup telinga terhadap suara-suara yang lain. Ingatlah, kalau kita begitu mencintai ide-ide kita sendiri, bisa-bisa kita lupa dan luput mencintai Allah dan saudari-saudara kita. Dalam situasi sedemikian kita menjadi target yang empuk dari tipu-daya si Jahat. Lihatlah sejarah perpecahan dalam Gereja yang sungguh merupakan skandal, dan hal itu jelas tidak sesuai dengan maksud Yesus mendirikan Gereja-Nya. Allah sungguh berhasrat melihat kita mengalami kesatuan dan persatuan yang penuh kasih dan sukacita secara mendalam. Dia sendiri mohon kepada Bapa agar kita menjadi satu (Yoh 17:11). Allah akan melakukan hal itu – hanya kalau kita memperkenankan-Nya membuat diri kita orang-orang yang mau mendengarkan, mau belajar dan mau mengasihi.

DOA: Tuhan Yesus, jadikanlah aku seorang pendengar yang baik! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 15:9-11), bacalah tulisan yang berjudul “TIGA HAL: KASIH, KETAATAN DAN  SUKACITA” (bacaan tanggal 18-5-17 dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-05 BACAAN HARIAN MEI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 28-4-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 15 Mei 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PEKERJAAN YANG BELUM SELESAI

PEKERJAAN YANG BELUM SELESAI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah – Selasa, 16 Mei 2017)

Keluarga besar Fransiskan: Peringatan S. Margareta dr Cortona, Wanita Kudus (OFS)

Tetapi datanglah orang-orang Yahudi dari Antiokhia dan Ikonium dan mereka mempengaruhi orang banyak itu sehingga berpihak kepada mereka. Lalu mereka melempari Paulus dengan batu dan menyeretnya ke luar kota, karena mereka menyangka bahwa ia telah mati. Akan tetapi ketika murid-murid itu berdiri mengelilingi dia, bangkitlah ia lalu masuk ke dalam kota. Keesokan harinya berangkatlah ia bersama-sama dengan Barnabas ke Derbe.

Paulus dan Barnabas memberitakan Injil di kota itu dan memperoleh banyak murid. Lalu kembalilah mereka ke Listra, Ikonium dan Antiokhia. Di tempat itu mereka menguatkan hati murid-murid itu dan menasihati mereka supaya bertekun di dalam iman, dan mengatakan bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara. Di tiap-tiap jemaat rasul-rasul itu menetapkan penatua-penatua bagi jemaat itu dan setelah berdoa dan berpuasa mereka menyerahkan penatua-penatua itu kepada Tuhan yang kepada-Nya mereka percaya. Mereka menjelajahi seluruh Pisidia dan tiba di Pamfilia. Di situ mereka memberitakan firman di Perga, lalu pergi ke Atalia. Dari situ berlayarlah mereka ke Antiokhia; di tempat itulah mereka dahulu diserahkan kepada anugerah Allah untuk memulai pekerjaan yang telah mereka selesaikan. Setibanya di situ mereka memanggil jemaat berkumpul, lalu mereka menceritakan segala sesuatu yang Allah lakukan dengan perantaraan mereka, dan bahwa Ia telah membuka pintu bagi bangsa-bangsa lain kepada iman. Di situ mereka lama tinggal bersama-sama dengan murid-murid itu. (Kis  14:19-28) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 145:10-13,21; Bacaan Injil: Yoh 14:27-31a.

“Lalu mereka melempari Paulus dengan batu dan menyeretnya ke luar kota, karena mereka menyangka bahwa ia telah mati. Akan tetapi ketika murid-murid itu berdiri mengelilingi dia, bangkitlah ia lalu masuk ke dalam kota. Keesokan harinya berangkatlah ia bersama-sama dengan Barnabas ke Derbe.” (Kis 14:19-20)

Sejak hari pertama pertobatannya dalam perjalanannya ke Damsyik sampai akhir hayatnya, Paulus banyak menanggung penderitaan dalam perjuangannya membangun Kerajaan Allah di atas muka bumi ini. Bagi Paulus yang mantan Farisi ini, salib sempat menjadi batu sandungan, namun sekarang dia mengabdikan dirinya untuk “menguatkan hati murid-murid itu dan menasihati mereka supaya bertekun di dalam iman, dan mengatakan bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara” (Kis 14:22).

Dalam perjalanan misioner mereka yang pertama, Paulus dan Barnabas diusir dari Antiokhia (yang di daerah Pisidia), dari Ikonium dan Listra.  Akan tetapi dengan sesegera mungkin mereka kembali ke tempat itu untuk menyelesaikan tugas mendirikan gereja-gereja (jemaat-jemaat) di tempat tersebut (Kis 14:21). “Di tempat itu mereka menguatkan hati murid-murid itu dan menasihati mereka supaya bertekun di dalam iman, dan mengatakan bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara. Di tiap-tiap jemaat rasul-rasul itu menetapkan penatua-penatua bagi jemaat itu dan setelah berdoa dan berpuasa mereka menyerahkan penatua-penatua itu kepada Tuhan yang kepada-Nya mereka percaya” (Kis 14:22-23). 

Untuk memulai sebuah gereja atau jemaat, kita harus menguatkan hati para murid agar tetap tekun dalam iman meski pun harus menderita banyak pencobaan, dan kita harus berdoa, berpuasa dan menetapkan pemimpin-pemimpin untuk gereja setempat tersebut.

Sekarang, apakah umat paroki kita (anda dan saya), komunitas kita atau keluarga kita pernah didorong dan dikuatkan untuk tabah menahan penderitaan demi penebusan? Apakah diri kita juga ikut berpuasa dan berdoa bagi para pemimpin gereja dan bagi para pemimpin baru dalam Gereja di seluruh dunia?

Apabila kita benar-benar banyak mensyeringkan iman kita dan semuanya itu dilakukan dengan ketulusan hati dan ketaatan pada dan demi perintah Yesus, maka kita pun “berhak” atau “pantas” memperoleh kesempatan untuk dianiaya dan menderita. Dengan demikian Gereja tak mungkin terbagi-bagi, terpecah-pecah, melemah dan loyo! Dan apabila dalam penderitaan kita tetap berdoa dan berpuasa bagi para pimpinan Gereja. Kiranya kita tidak akan mengalami krisis panggilan, melainkan suatu “ledakan” dalam hal jumlah panggilan, pemimpin baru dan kehidupan Gereja yang segar.

Saudari dan Saudaraku, marilah kita melaksanakan Amanat Agung Yesus Kristus untuk mewartakan Kabar Baik-Nya. Kita berdoa, berpuasa dan tetap tabah dalam menanggung derita. Dengan demikian, kita pun dapat menyaksikan bertumbuh-kembangnya Gereja sebagaimana yang dikehendaki Tuhan.

DOA: Bapa surgawi, kadang-kadang aku merasa seperti yang kiranya telah dirasakan Paulus: dipukuli, disiksa, dilempari batu dan sangat lelah. Gunakanlah keadaan-keadaan dalam hidupku seperti ini untuk memuliakan nama-Mu yang kudus dan membawa Yesus kepada semua orang yang kujumpai. Biarlah aku menolong orang-orang lain agar supaya tak terkalahkan dalam pencobaan-pencobaan mereka. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 14:27-31a), bacalah tulisan yang berjudul “DAMAI SEJAHTERA-KU KUBERIKAN KEPADAMU” (bacaan tanggal 16-5-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-05 BACAAN HARIAN MEI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 26-4-16) 

Cilandak, 15 Mei 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS