Posts tagged ‘KISAH PARA RASUL’

PERPISAHAN DI MILETUS DENGAN PARA PENATUA JEMAAT EFESUS

PERPISAHAN DI MILETUS DENGAN PARA PENATUA JEMAAT EFESUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan Wajib S. Filipus Neri, Imam – Selasa, 26 Mei 2020)

Karena itu ia menyuruh seorang dari Miletus ke Efesus dengan pesan supaya para penatua jemaat datang ke Miletus. Sesudah mereka datang, berkatalah ia kepada mereka, “Kamu tahu, bagaimana aku hidup senantiasa di antara kamu sejak hari pertama aku tiba di Asia ini: Dengan segala kerendahan hati aku melayani Tuhan. Dalam pelayanan itu aku banyak mencucurkan air mata dan banyak mengalami pencobaan dari pihak orang Yahudi yang mau membunuh aku. Sungguh pun demikian aku tidak pernal lalai melakukan apa yang berguna bagi kamu. Semua kuberitakan dan kuajarkan kepada kamu, baik di depan umum maupun dalam perkumpulan di rumah-rumah; aku senantiasa bersaksi kepada orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani, supaya mereka bertobat kepada Allah dan percaya kepada Tuhan kita, Yesus. Tetapi sekarang sebagai tawanan Roh aku pergi ke Yerusalem dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku di situ selain yang dinyatakan Roh Kudus dari kota ke kota kepadaku bahwa penjara dan sengsara menunggu aku. Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikit pun, asalkan aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk bersaksi tentang Injil anugerah Allah. Sekarang aku tahu bahwa kamu tidak akan melihat mukaku lagi, kamu sekalian yang telah kukunjungi untuk memberitakan Kerajaan Allah. Sebab itu pada hari ini aku bersaksi kepadamu bahwa aku bersih dari darah siapa pun juga. Sebab aku tidak lalai memberitakan seluruh maksud Allah kepadamu. (Kis 20:17-27) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 68:10-11,20-21; Bacaan Injil: Yoh 17:1-11a 

Dalam pesan perpisahannya di Miletus dengan para penatua jemaat Efesus , Paulus menunjukkan tiga karakteristik atau ciri pribadi yang dibutuhkan oleh setiap orang Kristiani terbaptis untuk ikut ambil bagian dalam karya Allah memperbaharui muka bumi. Pertama, Paulus adalah seorang yang memiliki keberanian. Ia berkata: “Sebagai tawanan Roh aku pergi ke Yerusalem dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku di situ selain yang dinyatakan Roh Kudus dari kota ke kota kepadaku bahwa penjara dan sengsara menunggu aku” (Kis 20:22-23). Paulus sangat menyadari bahaya apa saja yang menantikan dirinya di Yerusalem, dan ia memang merasa sedikit takut juga bilamana dia memikirkan hal itu. Namun Paulus mengkonfrontir rasa takutnya dan terus bergerak maju dalam iman.

Kedua, Paulus itu fokus. Katanya, “Aku tidak menghiraukan nyawaku sedikit pun, asalkan aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk bersaksi tentang Injil anugerah Allah” (Kis 20:24). Winston Churchill pernah mengatakan, “Seorang fanatik adalah orang yang tidak dapat mengubah pikirannya dan tidak akan mengubah subyeknya.” Berdasarkan definisi ini, Paulus adalah seorang fanatik dalam arti sesungguh-sungguhnya dan pantas ditiru. Dia mengetahui panggilan Allah bagi hidupnya, dan ia ingin memenuhi panggilan Allah dengan setia. Dapatkah anda membayangkan apa yang kiranya yang terjadi apabila Paulus kehilangan fokus? Begitu banyak orang tidak akan merangkul Kabar Baik Yesus Kristus yang diwartakannya!

Akhirnya, Paulus tidak ragu-ragu untuk mewartakan Injil. Dia berkata: “Aku tidak pernah lalai melakukan apa yang berguna bagi kamu. Semua kuberitakan dan kuajarkan kepada kamu, baik di depan umum maupun dalam perkumpulan di rumah-rumah” (Kis 20:20). Paulus mengetahui bahwa dalam Kristus, setiap orang dapat menemukan hidup baru dan suatu relasi dengan Allah yang dipulihkan. Ia juga mengetahui bahwa tidak seorang pun akan mendengar tentang Yesus apabila tidak ada orang yang mau memproklamasikan nama-Nya. Kepada jemaat di Roma, Paulus menulis begini: “Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia? Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: ‘Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!’ Tetapi tidak semua orang telah menerima kabar baik itu. Yesaya sendiri berkata, ‘Tuhan, siapakah yang percaya kepada pemberitaan kami?’ Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus” (Rm 10:10:14-17).

Sudah lebih dari 4 dasawarsa, para pemimpin gereja menyerukan perlunya “Evangelisasi Baru”. Siapa yang akan menjawab panggilan agung ini? Allah tidak membutuhkan orang-orang yang sangat berbakat atau mereka yang memiliki gelar-gelar akademis hebat-hebat. Allah membutuhkan orang-orang yang sungguh mengasihi Yesus! Allah membutuhkan orang-orang yang memiliki keberanian untuk menghadapi rasa takut mereka, mereka yang fokus pada Yesus, dan orang-orang yang tidak malu berbicara tentang Injil Yesus Kristus dan menjadi saksi-saksi-Nya. Allah membutuhkan anda, Saudari dan Saudaraku!

DOA: Tuhan Yesus Kristus, penuhilah diriku dengan semangat penuh gairah seperti telah Kautanamkan ke dalam diri Santo Paulus. Buatlah rasa takutku menjadi tenang dan penuhilah diriku dengan keberanian sejati. Tolonglah aku agar tetap fokus atas kebutuhan-kebutuhan spiritual orang-orang di sekitarku – teristimewa mereka yang dekat padaku. Tuhan Yesus, berikanlah juga kepadaku rahmat untuk berbagi Injil-Mu kepada setiap orang yang kujumpai. Tuhan Yesus, aku sungguh mengasihi-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 17:1-11a), bacalah tulisan yang berjudul “SEBAGIAN DARI DOA YESUS YANG PANJANG” (bacaan tanggal 26-5-20) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-05 BACAAN HARIAN MEI 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 4-6-19 dalam situs/blog SANG SABDA] 

Cilandak, 25 Mei 2020 [Peringatan Fakultatif S. Maria Magdalena de ‘Pazzi, Perawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SUDAHKAH KAMU MENERIMA ROH KUDUS, KETIKA KAMU PERCAYA?

SUDAHKAH KAMU MENERIMA ROH KUDUS, KETIKA KAMU PERCAYA?

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah – Senin, 25 Mei 2020)

Peringatan Fakultatif A. Beda Venerabilis, Imam Pujangga Gereja

Peringatan Fakultatif S. Gregorius VII, Paus

Peringatan Fakultatif S. Maria Magdalena de ‘Pazzi, Perawan

Ketika Apolos masih di Korintus, Paulus sudah menjelajahi daerah-daerah pedalaman dan tiba di Efesus. Di situ didapatinya beberapa orang murid. Katanya kepada mereka, “Sudahkah kamu menerima Roh Kudus, ketika kamu percaya?” Akan tetapi, mereka menjawab dia, “Belum, bahkan kami belum pernah mendengar bahwa ada Roh Kudus.” Lalu kata Paulus kepada mereka, “Kalau begitu, dengan baptisan mana kamu telah dibaptis?” Jawab mereka, “Dengan baptisan Yohanes.” Kata Paulus, “Baptisan Yohanes adalah baptisan tobat dan ia berkata kepada orang banyak bahwa mereka harus percaya kepada Dia yang datang kemudian daripadanya, yaitu Yesus.” Ketika mereka mendengar hal itu mereka dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. Ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa lidah dan bernubuat. Mereka semua berjumlah kira-kira dua belas orang.

Selama tiga bulan Paulus mengunjungi rumah ibadat di situ dan berbicara dengan berani serta berdebat dengan mereka untuk meyakinkan mereka tentang Kerajaan Allah. (Kis 19:1-8)

Mazmur Tanggapan: Mzm 68:2-7; Bacaan Injil: Yoh 16:29-33

Di mata Paulus, ada sesuatu yang kiranya salah dengan umat di Efesus. Mereka memang murid-murid dan ia pun tidak memberi nasihat dan menyapa mereka sebagai para pendosa. Namun ada sesuatu yang hilang! Mungkin mereka sudah kehilangan gairah, kehilangan sukacita dan energi. Barangkali persaingan dan konflik kecil-kecilan antara mereka di sana-sini telah memecah-belah umat. Barangkali mereka telah mencoba dengan segala kekuatan manusiawi mereka untuk menghindari dosa tanpa hasil nyata. Apa pun hasil pengamatan Paulus, pertanyaan yang diajukannya kepada beberapa orang murid yang ditemuinya langsung tertuju kepada inti permasalahannya: “Sudahkah kamu menerima Roh Kudus, ketika kamu percaya?” (Kis 19:2).

Jawaban mereka memberi konfirmasi kepada Paulus apa yang diperkirakan oleh Paulus sebelumnya: “Belum, bahkan kami belum pernah mendengar bahwa ada Roh Kudus” (Kis 19:2). Mereka telah mendengar pesan pertobatan dari Yohanes Pembaptis dan menerima pembaptisan tobat dari nabi besar ini, namun tidak pernah berhubungan dengan Yesus, “Anak Domba Allah” kepada Siapa pelayanan Yohanes Pembaptis sebenarnya ditujukan (Kis 19:3-4).

Begitu Paulus mengatakan kepada mereka tentang tujuan Allah yang lebih besar, maka mereka pun menginginkannya. Dengan demikian, pada saat Paulus berdoa bersama mereka dan membaptis mereka dalam nama Tuhan Yesus, Roh Kudus turun atas diri mereka, dan mereka pun ditransformasikan; mereka berkata-kata dalam bahasa lidah dan bernubuat (Kis 19:5-6). Para murid itu berjumlah kira-kira dua belas orang (Kis 19:7).

Sekarang, bagaimana dengan pengalaman kita masing-masing selama ini? Apakah kita juga telah kehilangan tujuan Allah yang sejati? Bagaimana? Apakah selama ini kita telah mereduksi hidup kita sebagai umat Kristiani sekadar berupa penghindaran diri dari dosa? Allah ada bagi kita untuk hal-hal yang lebih besar daripada sekadar menghindarkan diri dari kedosaan! Andaikanlah Adam dan Hawa hanya mendengar Allah bersabda: “Jangan makan buah dari pohon itu.” Andaikan mereka duduk sepanjang hari, mengumpulkan ketabahan moral mereka untuk menghindari godaan, bukannya melakukan eksplorasi taman firdaus dan belajar memperhatikan dan memelihara serta merawat seluruh ciptaan Allah. Kalau begitu halnya, bayangkan betapa banyak kehilangan mereka!

Allah ingin agar kita menjadi co-creator dengan Dia. Seperti halnya dengan para murid di Efesus, Allah sungguh rindu untuk memenuhi diri kita dengan hidup-Nya sendiri sehingga kita dapat menjadi Yesus di dalam dunia, menyentuh mereka yang kita temui dengan cintakasih tanpa syarat, pengampunan yang membebaskan, penyembuhan yang penuh kuasa, dan pengangkatan pengharapan dan keberanian.

Bilamana kita telah sampai pada suatu akhir hari, pemeriksaan batin adalah praktek yang indah, namun janganlah kita hanya mengingat dosa-dosa kita melalui pikiran, perkataan, perbuatan dan kelalaian pada hari itu, dan merasa lega untuk dosa-dosa yang berhasil kita hindari. Marilah kita juga memeriksa bagaimana Allah mencoba melakukan sesuatu lewat diri kita pada hari itu: Apakah itu dalam rangka memenuhi kebutuhan orang-orang lain? Dalam peristiwa-peristiwa yang tidak diharap-harapkan yang menginterupsi rencana-rencana kita? Dalam inspirasi yang datang melalui sebuah buku, seorang sahabat, sebuah lagu yang penuh kenangan, atau suara seperti angin sepoi-sepoi basa? Dan apakah kita mampu untuk mengatakan, “Ya! Aku melihat bahwa Engkau berniat lebih bagiku, dan aku mengingininya”?

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena rencana-Mu yang besar bagi diriku. Perkenankanlah aku melihat seperti Engkau melihat dan menghasrati sesuatu seperti Engkau hasrati. Tolonglah aku agar mau dan mampu membuka diriku pada hari ini terhadap satu langkah yang Engkau undang aku untuk membuatnya bersama-Mu sambil bergandengan tangan guna mentransformasikan dunia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 16:29-33), bacalah tulisan yang berjudul “KAMI PERCAYA BAHWA ENGKAU DATANG DARI ALLAH” (bacaan tanggal 25-5-20) dalam situs/blog SANG SABDA https://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 20-05 BACAAN HARIAN MEI 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 3-6-19 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 24 Mei 2020 [HARI MINGGU PASKAH VII – TAHUN A] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ALLAH DAPAT MEMILIH SIAPA SAJA YANG DIKEHENDAKI-NYA

ALLAH DAPAT MEMILIH SIAPA SAJA YANG DIKEHENDAKI-NYA

 (Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI Paskah – Senin, 18 Mei 2020)

Lalu kami bertolak dari Troas dan langsung berlayar ke Samotrake, dan keesokan harinya tibalah kami di Neapolis; dari situ kami ke Filipi, kota pertama di bagian Makedonia ini, suatu kota perantauan orang Roma. Di kota itu kami tinggal beberapa hari.

Pada hari Sabat kami ke luar pintu gerbang kota. Kami menyusur tepi sungai dan menemukan tempat sembahyang Yahudi, yang sudah kami duga ada di situ; setelah duduk, kami bebicara kepada perempuan-perempuan yang berkumpul di situ. Salah seorang dari perempuan-perempuan itu yang bernama Lidia turut mendengarkan. Ia berasal dari kota Tiatira dan ia seorang penjual kain ungu yang beribadah kepada Allah. Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus. Sesudah ia dibaptis bersama-sama dengan seisi rumahnya , ia mengajak kami, katanya, “Jika kamu berpendapat bahwa aku sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, marilah menumpang di rumahku.” Ia mendesak sampai kami menerimanya. (Kis 16:11-15) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 149:1-6,9; Bacaan Injil: Yoh 15:26-16:4a

Pertemuan antara Paulus dan Lidia sebagaimana digambarkan oleh Lukas (pengarang “Kisah para Rasul”) mengingatkan kita pada pertemuan antara Yesus dan perempuan Samaria di sumur Yakub (lihat Yoh 4:7-30). Baik Yesus dan Paulus berbicara dengan perempuan – suatu kejadian yang tidak biasa pada masa itu. Apalagi dua orang perempuan tersebut bukanlah orang Yahudi! Hal ini menunjukkan tindakan Allah tidak tergantung pada peraturan-peraturan yang dibuat manusia. Yang jelas kelihatan adalah bahwa perempuan-perempuan ini terbuka bagi sabda Allah dan secara langsung dipengaruhi oleh sabda tersebut.

Kita ingat bahwa perempuan Samaria itu pergi kembali ke kotanya dan menceritakan tentang Yesus kepada setiap orang yang dijumpainya (Yoh 4:28 dsj.). Lidia adalah seorang janda kaya yang berprofesi sebagai pedagang kain ungu dan ia juga seorang kepala rumah tangga.  Lidia ini langsung mengundang Paulus dan Timotius untuk datang dan berdiam di rumahnya. Barangkali rumahnya dipakai oleh para anggota komunitas Kristiani di Filipi sebagai tempat berkumpul dan beribadat bersama. Allah membuka hati Lidia dan juga perempuan Samaria untuk menjadi orang-orang yang percaya kepada Yesus, walaupun kelihatannya (dari mata manusia) mereka bukanlah kandidat-kandidat yang ideal apabila kita melihat latar belakang sosial-budaya mereka masing-masing.

Allah seringkali memilih pribadi-pribadi yang tak disangka-sangka menurut pandangan manusia, untuk melakukan pekerjaan-Nya. Masa lampau kita, keterbatasan-keterbatasan fisik kita, atau tingkat pendidikan formal kita, semua itu tidaklah berarti apa-apa di mata Allah.  Misalnya di abad ke-14 di Italia, para perempuan diharapkan untuk tidak muncul dalam kehidupan publik. Jadi, ketika Tuhan menyatakan diri-Nya kepada Katarina dari Siena [1347-1380] bahwa perempuan ini harus ke luar dari rumahnya bercampur dengan mereka yang berkiprah di tengah dunia, maka Katarina memprotes dengan mengatakan bahwa sebagai seorang perempuan ia tidak akan mampu. Namun Allah mengatakan kepadanya bahwa Dia telah memilih seorang perempuan untuk merendahkan laki-laki yang sombong dan terpelajar.

Allah dapat memilih kita juga, bahkan ketika kita berpikir bahwa kita tidak qualified untuk melakukan pekerjaan-Nya. Apa pun keterbatasan-keterbatasan yang kita pikir dimiliki pribadi kita bukanlah merupakan halangan bagi Allah. Ia sering menggunakan orang-orang yang lemah dan rendah-hati (dina) sebagai bejana-bejana berkat-Nya. Seperti perempuan Samaria, kita harus merasa dahaga akan Allah, dan seperti Lidia, hati kita harus terbuka bagi kebenaran. Kemudian kita pun dapat melakukan apa saja yang diminta/diperintahkan Tuhan kepada kita. Dia adalah sumber dan pemberi semua karunia/anugerah. Dia dapat menganugerahkan kepada kita berkat-berkat-Nya dan talenta-talenta yang tidak pernah kita pikirkan ada dalam diri kita.

DOA: Bapa surgawi, tolonglah kami untuk menjadi terbuka bagi segala sesuatu yang Kauminta dari kami. Kami ingin melakukan pekerjaan yang Kauberikan kepada kami untuk membangun Kerajaan-Mu di atas bumi, sehingga dengan demikian kemuliaan-Mu dapat terlihat oleh semua orang. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 15:26-16:4a), bacalah tulisan yang berjudul “PENOLONG YANG DIUTUS YESUS DARI BAPA SURGAWI(bacaan tanggal 18-5-20) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-05 BACAAN HARIAN MEI 2020.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 27-5-19 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 15 Mei 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

INILAH YANG TERJADI DI LISTRA PADA HARI ITU

INILAH YANG TERJADI DI LISTRA PADA HARI ITU

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah – Senin, 11 Mei 2020

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan Wajib/Peringatan Fakultatif S. Ignatius dr Laconi, Biarawan

2017년 5월 15일

Tetapi orang banyak di kota itu terpecah menjadi dua: Ada yang memihak kepada orang Yahudi, ada pula yang memihak kepada rasul-rasul itu. Lalu mulailah orang-orang bukan Yahudi dan orang-orang Yahudi bersama-sama dengan pemimpin-pemimpin mereka berusaha untuk menyiksa dan melempari mereka dengan batu. Mengetahui hal itu, menyingkirlah rasul-rasul itu ke kota-kota di Likaonia, yaitu Listra dan Derbe dan daerah sekitarnya. Di situ mereka memberitakan Injil.

Di Listra ada seorang laki-laki yang duduk saja, karena kakinya lemah dan lumpuh sejak lahir dan belum pernah dapat berjalan. Ia mendengarkan Paulus yang sedang berbicara. Paulus menatap dia dan melihat bahwa ia beriman dan dapat disembuhkan. Lalu kata Paulus dengan suara nyaring, “Berdirilah tegak!” Orang itu pun melonjak berdiri, lalu mulai berjalan kian ke mari. Ketika orang banyak melihat apa yang telah diperbuat Paulus, mereka itu berteriak dalam bahasa Likaonia, “Dewa-dewa telah turun ke tengah-tengah kita dalam rupa manusia.” Barnabas mereka sebut Zeus dan Paulus mereka sebut Hermes, karena dialah yang berbicara. Lalu datanglah imam dewa Zeus, yang kuilnya terletak di luar kota, membawa lembu-lembu jantan dan karangan-karangan bunga ke pintu gerbang kota untuk mempersembahkan kurban bersama-sama dengan orang banyak kepada rasul-rasul itu. Mendengar itu rasul-rasul itu, yaitu Barnabas dan Paulus, mengoyakkan pakaian mereka, lalu menerobos ke tengah-tengah orang banyak itu sambil berseru, “Hai kamu sekalian, mengapa kamu berbuat demikian? Kami ini manusia biasa sama seperti kamu. Kami ada di sini untuk memberitakan Injil kepada kamu, supaya kamu meninggalkan perbuatan sia-sia ini dan berbalik kepada Allah yang hidup, yang telah menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya. Pada zaman yang lampau Allah membiarkan semua bangsa menuruti jalannya masing-masing, namun Ia bukan tidak menyatakan diri-Nya dengan berbagai-bagai perbuatan baik, yaitu dengan menurunkan hujan dari langit dan dengan memberikan musim-musim subur bagi kamu. Ia memuaskan hatimu dengan makanan dan kegembiraan.” Walaupun rasul-rasul itu berkata demikian, mereka hampir-hampir tidak dapat mencegah orang banyak mempersembahkan kurban kepada mereka. (Kis  14:5-18) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 115:1-4,15-16; Bacaan Injil: Yoh 14:21-26

Bayangkanlah shock yang dialami Paulus ketika orang banyak di Listra berteriak-teriak menyerukan bahwa dirinya adalah dewa Hermes! Pada awalnya semuanya kelihatan begitu inosens. Paulus merasa bahwa orang yang lumpuh sejak lahir itu mempunyai iman untuk dapat disembuhkan, dengan demikian dia berbicara dengan berani dan memerintahkan orang lumpuh itu untuk berdiri tegak. Namun orang banyak yang melihat mukjizat itu tidak memahami bahwa mereka baru saja menyaksikan kuat-kuasa Yesus bekerja melalui diri Paulus. Mereka mengandaikan bahwa dewa-dewi Yunani-lah yang telah membuat mukjizat tersebut – dan bahwa Paulus dan Barnabas adalah dewa-dewa. Dua orang rasul ini pun tidak luput dari rasa heran: kesalahan apa yang kiranya telah mereka lakukan. Melalui situasi yang dapat dikatakan humoristis ini, Lukas menunjukkan kelemahan/kekurangan kita sebagai manusia. Hal yang tak disangka-sangka atau tak diharap-harapkan dapat terjadi, walaupun ketika kita sedang melakukan yang terbaik guna melayani Tuhan.

Paulus dan Barnabas bukanlah yang pertama membuat sebuah mukjizat dan kemudian mengalami diri mereka dipuji-puji secara berlebihan. Ketika Petrus dan Yohanes menyembuhkan seorang lumpuh sebelum masuk ke dalam Bait Allah, mereka juga mengalami hal serupa yang datang dari orang-orang banyak yang menyaksikan mukjizat tersebut. Orang-orang itu mengerumuni mereka di Serambi Salomo (Kis 3:1-11). Yesus juga harus menghindari orang banyak yang ingin membuat diri-Nya menjadi raja karena Dia telah membuat mukjizat penggandaan roti dan ikan untuk makanan bagi ribuan orang (Yoh 6:1-15).

Sekarang, haruskah rasa takut akan hal yang tidak diharap-harapkan menghalangi upaya kita untuk mewartakan Injil? Samasekali tidak! Cerita-cerita di atas justru mengingatkan kita bahwa buah dari upaya-upaya kita senantiasa bersumberkan pada kuat-kuasa Allah sendiri. Ada banyak hal yang dapat kita pelajari dari setiap pengalaman, betapa pun tidak diharap-harapkan. Dari pengalamannya seperti digambarkan dalam bacaan di atas, Paulus jelas belajar secara lebih mendalam lagi bagaimana mewartakan Kabar Baik Tuhan Yesus kepada orang-orang kafir, baik hal-hal yang boleh maupun tidak boleh. Kebaikan datang dari situasi, walaupun tidak tepat sama seperti yang direncanakan oleh Paulus.

Coba-coba (Inggris: trial and error) – bahkan “humor” – mempunyai tempat dalam upaya mengikuti jejak Yesus Kristus. Kita belajar banyak dalam Gereja, melalui pembacaan serta permenungan sabda Tuhan dalam Kitab Suci, dan dalam doa-doa. Namun kita tidak pernah boleh melupakan bahwa kita juga belajar selagi kita mendengarkan Roh Kudus dan mengambil risiko pergi ke luar untuk bertemu dengan orang-orang lain dalam nama Yesus. Allah tidak pernah menghukum kita gara-gara mencoba untuk melaksanakan amanat agung-Nya mewartakan Injil kepada orang-orang yang kita temui.

Yang diminta oleh Allah adalah agar kita tetap mau dan mampu untuk diajar oleh-Nya. Dalam hal ini kita dapat mengandalkan diri pada  janji Yesus sendiri yang sangat menghibur: “Penolong, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu” (Yoh 14:26).

DOA: Bapa surgawi, kami mengetahui bahwa kadang-kadang apa yang kami perkirakan akan terjadi malah tidak terjadi. Oleh kuasa Roh Kudus, buatlah kami agar kami mau dan mampu mendekati situasi-situasi sedemikian dengan keterbukaan hati, dengan demikian kesempatan-kesempatan untuk berbicara mengenai Injil Putera-Mu terkasih – Yesus Kristus – dapat membuat nama Allah – Bapa dan Putera dan Roh Kudus –  dipermuliakan di dalam dunia,. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Yoh 14:21-26), bacalah tulisan yang berjudul “KASIH KITA KEPADA KRISTUS HARUS DIBUKTIKAN DENGAN KETAATAN DALAM MENURUTI FIRMAN-NYA” (bacaan tanggal 11-5-20) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-05 BACAAN HARIAN MEI 2020. 

(Tulisan ini revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-5-19 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 10 Mei 2020 [HARI MINGGU PASKAH V – TAHUN A] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TUJUH DIAKON PERTAMA DALAM GEREJA

TUJUH DIAKON PERTAMA DALAM GEREJA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH V [Tahun A], 10 Mei 2020) 

Pada masa itu, ketika jumlah murid makin bertambah, timbullah sungut-sungut di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani terhadap orang-orang orang-orang Ibrani, karena pembagian keperluan sehari-hari. Kedua belas rasul itu memanggil semua murid berkumpul dan berkata, “Tidak baik jika kami melalaikan Firman Allah untuk melayani meja. Karena itu, Saudara-saudara, pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik dan penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu, dan supaya kami sendiri dapat memusatkan  pikiran dalam doa dan pelayanan Firman. Usul itu diterima baik oleh seluruh jemaat, lalu mereka memilih Stefanus, seorang yang penuh iman dan Roh Kudus, dan Filipus, Prokhorus, Nikanor, Timon, Parmenas dan Nikolaus, seorang penganut agama Yahudi dari Antiokhia. Mereka dihadapkan kepada rasul-rasul, lalu rasul-rasul itu pun berdoa dan menumpangkan tangan di atas mereka. Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak; juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya.  (Kis 6:1-7)

Mazmur Tanggapan: Mzm 33:1-2,4-5,18-19; Bacaan Kedua: 1Ptr 2:4-9; Bacaan Injil: Yoh 14:1-12 

Keduabelas rasul – seperti Yesus juga – semuanya berasal dari Galilea dan sehari-harinya berbicara dalam bahasa Aram. Akan tetapi, di Yerusalem pada abad pertama tahun Masehi, ada dua kelompok orang Yahudi: (1) Mereka yang berbicara dalam bahasa Aram Palestina, dan (2) Para imigran yang berbicara dalam bahasa Yunani yang  datang ke Yerusalem dari Diaspora, untuk tinggal di Tanah Terjanji. Orang-orang Yahudi yang bahasa dasar sehari-harinya bahasa Yunani, dinamakan ‘orang-orang Yahudi helenis(tis)’, dengan demikian mereka dari kelompok ini yang menjadi Kristiani disebut ‘orang-orang Kristiani Yahudi helenis(tis)’.  Orang-orang ini dalam banyak hal memang berbeda dengan saudara-saudari mereka Yahudi Palestina yang berbicara dalam bahasa Aram. Secara sekilas lintas, kita dapat melihat/merasakan adanya perbedaan itu dalam bacaan hari ini.

Panggilan Yesus untuk melakukan evangelisasi (lihat Mat 28:16 dsj.; Mrk 16: 15 dsj.; Luk 24:47 dsj.)  ditanggapi oleh para rasul, pertama-tama kepada bangsa mereka sendiri: bangsa Yahudi, baik yang berbahasa Aram maupun yang berbahasa Yunani, dengan demikian umat Kristiani bertumbuh-kembang secara relatif pesat. Pada saat yang bersamaan semakin bertumbuh juga ketegangan antara kedua kelompok orang Yahudi itu. Dengan berjalannya waktu juga semakin dirasakan perlunya akan tambahan dalam jumlah pemimpin umat yang ada, agar Gereja dapat tetap dapat berfungsi dengan lancar.

Para rasul kemudian memutuskan untuk mengangkat tujuh orang diakon (pelayan) – semuanya orang Kristiani Yahudi Helenis(tis) – karena adanya konflik antara anggota-anggota jemaat yang orang-orang Yahudi Palestina dengan warga jemaat yang Yahudi Helenis(tis).  Para janda Yahudi Helenis(tis) mengeluh bahwa kebutuhan-kebutuhan mereka tidak diperhatikan oleh otoritas Gereja yang adalah orang-orang Yahudi Palestina.

Tentunya tidak sulit bagi kita untuk melihat bagaimana suatu ‘perselisihan’ dapat terjadi apabila kita melihat begitu banyak konflik yang terjadi dalam gereja-gereja kita di seluruh dunia  pada  zaman kita ini, dikarenakan perbedaan dalam bahasa dan budaya. Tantangan yang dihadapi oleh para rasul sebenarnya sama seperti yang kita hadapi pada zaman modern ini,  yaitu bahwa kita harus mencari/memperoleh jalan keluar dari konflik-konflik dalam Gereja seturut rencana Allah bagi umat-Nya. Walau pun permasalahan yang timbul itu disebabkan oleh ‘kekurang-tanggapan’ mereka sendiri, para pemimpin jemaat Kristiani awal kemudian mengakui akan adanya kebutuhan dalam Gereja, dan mereka pun menanggapinya dengan kerendahan hati dan kemudian mengambil keputusan yang efektif.

Para pemimpin jemaat Kristiani awal itu terbuka terhadap Roh Kudus dan mereka memiliki keprihatinan terhadap umat. Oleh karena itu terjadilah perkembangan yang yang sangat penting, yaitu bahwa pada akhirnya tugas orang-orang Kristiani yang berbicara dalam bahasa Yunani tidaklah terbatas pada pelayanan kepada para janda mereka, namun ke luar juga mewartakan Kabar Baik kepada saudari-saudara mereka yang berbahasa Yunani, baik di Palestina maupun di luar Palestina. Contohnya adalah apa yang terjadi dengan Stefanus (lihat Kis 6:8). Mulai dari titik inilah Kabar Baik Tuhan Yesus Kristus tidak lagi terbatas pada ruang lingkup orang-orang Yahudi Palestina, akan tetapi menyebar ke mana-mana … merangkul setiap bangsa, ras, golongan etnik dan bahasa.

DOA: Yesus, Tuhan dan Guru kami. Ajarlah kami untuk menjadi peka terhadap saudari-saudara seiman kami yang berbicara dalam bahasa yang lain atau yang berlatar-belakang budaya lain daripada kami sendiri, agar supaya tubuh Kristus tidak terpecah-belah lebih lanjut. Tolonglah kami agar terbuka terhadap pekerjaan yang ingin Kaulakukan di antara kawanan domba-Mu. Bagaimana pun kami tidak ingin menghalangi rencana-Mu. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya ya Tuhan dan Juruselamat kami! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 14:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “SIAPA SAJA YANG TELAH MELIHAT AKU, IA TELAH MELIHAT BAPA” (bacaan tanggal 10-5-20) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-05 BACAAN HARIAN MEI 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-5-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 9 Mei 2020

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KETIKA PAULUS MENYAMPAIKAN PESAN SENTRAL DARI INJIL

KETIKA PAULUS MENYAMPAIKAN PESAN SENTRAL DARI INJIL

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Paskah – Jumat, 8 Mei 2020)

Keluarga Fransiskan Kapusin (OFMCap.): Peringatan Fakultatif B. Yeremias dr Salakhia

Hai Saudara-saudaraku, kamu yang termasuk keturunan Abraham dan juga kamu yang takut akan Allah, kabar keselamatan itu sudah disampaikan kepada kita. Penduduk Yerusalem dan pemimpin-peimpinnya tidak mengakui Yesus. Dengan menjatuhkan hukuman mati atas Dia, mereka menggenapi perkataan nabi-nabi yang dibacakan setiap hari Sabat. Meskipun mereka tidak menemukan sesuatu yang dapat menjadi alasan untuk hukuman mati itu, namu mereka telah meminta kepada Pilatus supaya Ia dibunuh. Setelah mereka menggenapi segala sesuatu yang tertulis tentang Dia, mereka menurunkan dia dari kayu salib, lalu membaringkan-Nya di dalam kubur. Tetapi Allah membangkitkan Dia dari antara orang mati. Selama beberapa waktu Ia menampakkan diri kepada mereka yang mengikuti Dia dari Galilea ke Yerusalem. Merekalah yang sekarang menjadi saksi-saksi-Nya bagi umat ini. Kami sekarang memberitakan kabar kesukaan kepada kamu bahwa janji yang diberikan kepada nenek moyang kita telah digenapi Allah kepada kita, keturunan mereka, dengan membangkitkan Yesus, seperti yang tertulis dalam mazmur kedua: Engkaulah Anak-Ku! Aku telah menjadi Bapa-Mu pada hari ini. (Kis 13:26-33) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 2:6-11; Bacaan Injil: Yoh 14:1-6 

Khotbah Paulus di sinagoga di Antiokhia di Pisidia (Kis 13:16-41) adalah khotbahnya yang pertama tercatat dalam Kitab Suci, dan merupakan satu-satunya khotbah Paulus yang dilaporkan oleh Lukas secara mendetil. Oleh karena itu, khotbah ini bersifat signifikan karena berisikan pesan sentral dari Injil seperti yang dipahami oleh Paulus dan umat Kristiani perdana. Dengan mempelajari isi khotbah Paulus ini kita dapat sampai pada pemahaman tentang apa artinya bagi kita untuk berbicara mengenai “kabar baik Injil”.

Paulus mengawali khotbahnya dengan mengingatkan para pendengarnya bagaimana Allah memimpin para nenek moyang mereka ke luar dari perbudakan di Mesir untuk menerima Tanah Terjanji sebagai warisan mereka. Paulus juga berbicara mengenai Raja Daud dan janji yang dibuat Allah bahwa seorang Juruselamat akan lahir dari keturunannya. Akhirnya dia menunjukkan bahwa apa yang telah diramalkan dalam Kitab Suci Ibrani (=Kitab Suci Perjanjian Lama) sekarang telah digenapi dalam diri Kristus. Paulus menyimpulkan isi khotbahnya dengan meringkaskan keseluruhan pesannya: “Kami sekarang memberitakan kabar kesukaan kepada kamu bahwa janji yang diberikan kepada nenek moyang kita telah digenapi Allah kepada kita, keturunan mereka, dengan membangkitkan Yesus” (Kis 13:32-33).

Khotbah Paulus mungkin terdengar aneh di telinga mereka yang mendengarkan. Mereka dapat saja merasa terkejut berkaitan dengan kata-katanya tentang kebangkitan Yesus Kristus dan bagaimana peristiwa yang tidak biasa ini mewujudkan kesetiaan Allah pada janji-janji-Nya. Mereka percaya bahwa pada suatu hari Allah akan mengutus seorang Mesias, namun setiap Sabat mereka mendengar janji-janji ini dan tetap saja tidak melihat penggenapannya. Kemudian, ketika mendengar bahwa Mesias telah datang dan mati – hal ini sungguh terlalu berat bagi untuk mempercayainya …… that was too much to swallow! 

Para pendengar khotbah Paulus juga dapat saja menjadi terkejut berkaitan dengan apa yang tidak dikatakan Paulus. Sebagai umat yang tunduk kepada Hukum, mereka tentunya mengharapkan Paulus berbicara tentang dosa-dosa yang spesifik, atau barangkali tentang rituale dan struktur, daripada sekadar memfokuskan perhatian sedemikian banyak atas belas kasih Allah yang begitu penuh kuat-kuasa. Sang Mesias tidak dimaksudkan untuk menghapuskan atau membatalkan Hukum, melainkan untuk menyempurnakannya!

Kabar baik dari Injil sama benarnya pada hari ini seperti ketika diproklamasikan oleh Yesus dan kemudian oleh Petrus, Paulus dan lain-lannya. Ini adalah Injil yang sama, yang telah mengubah hidup jutaan – kalau bukan miliaran – orang dari abad ke abad selama 2.000 tahun sejarah Gereja. Injil yang sama ini pula dapat mengubah hidup kita selagi kita merangkul kebenaran-kebenaran yang menakjubkan bahwa  “KRISTUS TELAH WAFAT, KRISTUS TELAH BANGKIT, KRISTUS AKAN DATANG KEMBALI”.

DOA: Bapa surgawi, banyak orang hari ini tetap melanjutkan pewartaan Injil Yesus Kristus dengan penuh semangat dan kejelasan seperti telah ditunjukkan oleh Santo Paulus. Berkatilah mereka dengan rasa nyaman-aman sejati, hikmat-kebijaksanaan, dan kekuatan, agar mereka dapat tetap setia dalam memproklamasikan kebenaran-kebenaran-Mu dalam nama Putera-Mu terkasih Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 14:1-6), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS BERSABDA: AKULAH JALAN DAN KEBENARAN DAN HIDUP” (bacaan tanggal 8-5-20) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-05 BACAAN HARIAN MEI 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 17-5-19 untuk bacaan tanggal 17-5-19 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 7 Mei 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SUATU MOMEN PENTING DALAM KEHIDUPAN GEREJA

SUATU MOMEN PENTING DALAM KEHIDUPAN GEREJA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Paskah – Jumat, 24 April 2020)

Peringatan Fakultatif S. Fidelis dr Sigmaringen, Imam-Martir

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan Wajib/Pesta/Hari Raya S. Fidelis dr Sigmaringen, Imam-Martir

Tetapi seorang Farisi dalam Mahkamah Agama itu, yang bernama Gamaliel, seorang pengajar hukum Taurat yang sangat dihormati seluruh orang banyak, berdiri dan meminta, supaya orang-orang disuruh keluar sebentar. Sesudah itu ia berkata kepada sidang itu, “Hai orang-orang Israel, pertimbangkanlah baik-baik, apa yang hendak kamu perbuat terhadap orang-orang ini! Sebab dahulu telah muncul si Teudas, yang mengaku dirinya sebagai orang yang istimewa dan ia mempunyai kira-kira empat ratus orang pengikut; tetapi ia dibunuh dan tercerai-berailah seluruh pengikutnya dan lenyap. Sesudah dia, pada waktu sensus penduduk muncullah Yudas, orang Galilea. Ia menyeret banyak orang dalam pemberontakannya, tetapi ia juga tewas dan tercerai-berailah seluruh pengikutnya. Karena itu aku berkata kepadamu: Janganlah bertindak apa-apa terhadap orang-orang ini. Biarkanlah mereka, sebab jika maksud dan perbuatan mereka berasal dari manusia, tentu akan lenyap, tetapi kalau berasal dari Allah, kamu tidak akan dapat melenyapkan orang-orang ini; bahkan mungkin ternyata kamu justru melawan Allah. Nasihat itu diterima. Mereka memanggil rasul-rasul itu, lalu mencambuk mereka dan melarang mereka mengajar dalam nama Yesus. Sesudah itu mereka dilepaskan.

Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan sukacita, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus. Setiap hari mereka mengajar di rumah-rumah dan memberitakan Injil tentang Yesus yang adalah Mesias. (Kis 5:34-42)

Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14; Bacaan Injil: Yoh 6:1-15

“Janganlah bertindak apa-apa terhadap orang-orang ini. Biarkanlah mereka, sebab jika maksud dan perbuatan mereka berasal dari manusia, tentu akan lenyap, tetapi kalau berasal dari Allah, kamu tidak akan dapat melenyapkan orang-orang ini; bahkan mungkin ternyata kamu justru melawan Allah.” (Kis 5:38-39)

Kata-kata ini diucapkan oleh salah seorang anggota Mahkamat Agama Yahudi (Sanherin) – Gamaliel – ketika menutup pemberian nasihatnya yang penuh hikmat dalam sidang Mahkamah Agama sehubungan dengan “ulah” Petrus dan para rasul lainnya dalam pelayanan evangelisasi mereka di tengah masyarakat Yerusalem. Berbagai mukjizat dan tanda heran lainnya terjadi di tengah masyarakat Yahudi ketika Petrus dan para rasul/murid lainnya memberitakan Kabar Baik Yesus Kristus. Orang yang menjadi percaya kepada Tuhan Yesus pun semakin bertambah (lihat Kis 5:14). Karena itu, terdorong oleh rasa iri, Imam Agung dan para pengikutnya (orang Saduki) mulai bertindak dengan melakukan penangkapan para rasul dan menjebloskan mereka ke dalam penjara umum (Kis 5:17-18).

Rasa iri orang-orang yang memegang kekuasaan karena merasa tersaingi dalam kedudukan, pengaruh dll. memang dapat membuat gelap-mata mereka. Jika begitu halnya, maka tindakan untuk melampiaskan dendam dan hal-hal jahat lainnya akan dengan mudah mengalahkan pertimbangan-pertimbangan bijaksana.

Gamaliel adalah seorang Farisi pengajar hukum Taurat yang sangat dihormati. Dia berbicara kepada sidang Sanhedrin mengenai Petrus dan para rasul (Kis 5:34). Gamaliel adalah cucu dari Rabi Hillel yang terkenal. Para rabi kuno mengajarkan bahwa ada seorang dari antara mereka yang pantas menjadi tempat kehadiran Allah seperti yang telah dialami oleh Musa – dan rabi itu adalah Rabi Hillel. Dalam kisah di atas terasa bahwa Gamaliel pun diinspirasikan oleh Yang Ilahi, justru pada saat-saat genting yang sedang dihadapi oleh para rasul. Dia disapa sebagai Rabban (Guru kami) dan dia adalah guru dari Santo Paulus (lihat Kis 22:3).

Bukannya setuju dengan keinginan sejumlah anggota Sanhedrin untuk membunuh Yesus (Kis 5:33), Gamaliel malah memberi nasihat para anggota Sanhedrin untuk menunggu dan melihat apakah para pengikut Yesus berasal dari Allah (Kis 5:35-39). Ini adalah suatu posisi bijaksana mengingat bahwa pada saat itu dia tidak mengetahui apa yang dikehendaki Allah dan dia ingin berhati-hati agar tidak mengambil langkah yang salah, atau bertindak secara sembarangan sehingga bisa-bisa malah melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kehendak Allah. Usul atau nasihat yang dikemukakan Gamaliel kepada sidang sebenarnya untuk mengambil sikap menunggu namun dengan kesiap-siagaan rohani. Hal ini sebenarnya mempunyai preseden dalam Kitab Suci. YHWH berkata kepada nabi Habakuk: “… penglihatan itu masih menanti saatnya ……apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh” (Hab 2:3). Kebijaksanaan para rabi juga memahami apa yang tertulis dalam kitab Ratapan dalam terang yang sama: “YHWH adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia. Adalah baik menanti dengan diam pertolongan YHWH” (Rat 3:25-26). Dengan demikian sikap wait & see yang dianjurkan oleh Rabi Gamaliel adalah sikap yang bijaksana karena berakar kuat pada Kitab Suci Ibrani dan tradisi para rabi.

Gamaliel mengambil sikap wait & see karena dia tidak yakin mengenai rencana Allah. Meskipun dia adalah seorang beriman, dia tidak dapat melihat dengan perspektif yang kita miliki sekarang, yaitu bahwa Roh Kudus telah diutus untuk menolong kita. Oleh kerja Roh Kudus, kita mengetahui bahwa kehendak Allah adalah untuk mengutus Putera-Nya yang tunggal, agar kita memperoleh kehidupan melalui Dia. Kita juga mengetahui bahwa adalah kehendak Allah agar Gereja Kristus didirikan. Dalam terang kebenaran ini, Roh Kudus dapat membimbing kita pada waktu kita melakukan discernment.

Nasihat Gamaliel itu diterima oleh Mahkamah Agama (lihat Kis 5:39). Para rasul disiksa, kemudian disuruh pergi disertai larangan untuk memberitakan Kabar Baik dalam nama Yesus. Mereka rela/ikhlas disiksa dengan penuh sukacita karena diperbolehkan menderita demi Yesus. Mereka tidak takut, malah justru dengan gigih memberitakan Injil ke mana-mana tentang Yesus yang adalah Mesias (Kis 5:41-42).

Sesungguhnya ini adalah suatu momen yang penting dalam kehidupan Gereja. Dalam lima bab pertama dari “Kisah para Rasul” kita telah melihat Petrus dan Yohanes berkhotbah memberitakan Kabar Baik, menyembuhkan orang sakit, menjawab pertanyaan/tuduhan para anggota Mahkamah Agama, melarikan diri dari penjara dengan bantuan “seorang” malaikat Tuhan; hidup bersama dalam komunitas; penjualan tanah miliknya oleh Barnabas; peristiwa Ananias dan Safira. Dalam semua hal ini, Gereja masih merupakan sebuah Gereja Yahudi. Gereja ini seluruhnya terdiri dari orang-orang Yahudi setia yang masih berdoa di Bait Allah dan memandang Yesus sebagai pemenuhan/penggenapan janji-janji Perjanjian Lama.

Bacaan hari ini  adalah tentang peristiwa yang terjadi pada ambang transformasi Gereja dari sebuah Gereja Yahudi di Yerusalem menjadi sebuah Gereja segala bangsa yang mendunia, yang kelak berpusat di kota Roma.

Sisa selanjutnya dari “Kisah para Rasul” bercerita tentang universalisme. Para rasul telah memenuhi perintah Tuhan Yesus. Mereka memberitakan Injil yang dimulai di Yerusalem (Luk 24:47). Para rasul memberitakan Kabar Baik Yesus Kristus kepada masyarakat Yahudi dahulu sebelum bergerak ke luar, yaitu orang-orang non-Yahudi.

DOA: Bapa yang mahakasih, yang oleh terang Roh Kudus-Mu mengajar umat beriman. Semoga melalui Roh Kudus-Mu kami dapat bertumbuh dalam kebijaksanaan dan discernment, agar dapat mengetahui serta mengenali apa sesungguhnya kehendak-Mu dalam situasi tertentu, kemudian melaksanakannya. Amin.  

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 5:34-42), bacalah tulisan yang berjudul “KUAT-KUASA DARI NAMA YESUS” (bacaan tanggal 24-4-20), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-04 BACAAN HARIAN APRIL 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-4-18) dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 22 April 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS