Posts tagged ‘KISAH PARA RASUL’

TAAT KEPADA ALLAH ATAU TAAT KEPADA MANUSIA?

TAAT KEPADA ALLAH ATAU TAAT KEPADA MANUSIA?

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Paskah – Kamis, 12 April 2018)

Mereka membawa rasul-rasul itu dan menghadapkan mereka kepada Mahkamah Agama. Lalu Imam Besar mulai menanyai mereka, katanya, “Dengan keras kami melarang kamu mengajar dalam Nama itu. Ternyata, kamu telah memenuhi Yerusalem dengan ajaranmu dan kamu hendak menanggungkan darah Orang itu kepada kami.” Tetapi Petrus dan rasul-rasul itu menjawab, “Kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia. Allah nenek moyang kita telah membangkitkan Yesus yang kamu bunuh dengan menggantung-Nya pada kayu salib. Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah dengan tangan kanan-Nya menjadi Perintis dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa. Kamilah saksi dari peristiwa-peristiwa itu, kami dan Roh Kudus yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang menaati Dia.” Mendengar perkataan itu sangatlah tertusuk hati mereka dan mereka bermaksud membunuh rasul-rasul itu. (Kis 5:27-33)

Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2,9,17-20; Bacaan Injil: Yoh 3:31-36

Melalui kematian dan kebangkitan Yesus, belas kasih Allah dibuat tersedia bagi kita dengan berlimpah … tanpa batas. Belas kasih Allah – perlakuan Yesus yang baik dan penuh bela rasa terhadap para pendosa – terus mengalir kepada kita secara berlimpah-limpah, selalu dapat dicapai oleh kita. Belas kasih atau kerahiman ilahi ini membebaskan kita dari belenggu penjara dan mengembalikan kita kepada diri kita sendiri, dari kebohongan-kebohongan Iblis dan dari berbagai filsafat dunia yang berlawanan dengan rencana Allah. Belas kasih-Nya membawa kita kepada kebebasan dari ketakutan, penolakan, kemarahan dan sikap mementingkan diri sendiri – pokoknya apa saja yang menghadang jalan kita untuk menjalin relasi dengan Allah.

Para rasul telah disentuh oleh belas kasih Allah, dengan demikian sudah dibuat menjadi suatu ciptaan baru. Karena para murid begitu diubah oleh kehadiran Roh Kudus “yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang menaati dia” (Kis 5:32), maka mereka mampu untuk memberi kesaksian tentang kebangkitan Yesus dan tentang segala janji Allah yang sekarang dipenuhi dalam Putera-Nya (lihat Kis 5:28). Bagi para rasul, Yesus bukanlah sekadar Allah yang jauh tinggal di surga sana. Dia hidup dan aktif dalam hati mereka, dan kehadiran-Nya dalam diri mereka masing-masing mendesak, katakanlah “memaksa” mereka untuk syering Kabar Baik Yesus Kristus dengan semua orang yang memiliki rasa haus akan firman yang hidup.

Sebagai orang Kristiani yang percaya dan telah dibaptis, kita juga mempunyai akses terhadap kuasa dan kasih Allah melalui Roh Kudus-Nya. Belas kasih yang sama tersedia bagi kita sementara kita mengarahkan hati kita kepada Yesus. Allah minta kepada kita agar menyatukan diri kita dengan Kristus dalam kematian dan kebangkitan-Nya, untuk melakukan pertobatan karena dosa-dosa kita, dan untuk mempersilahkan Dia bekerja dalam diri kita dengan cara-Nya sendiri. Dengan percaya kepada Yesus, menyerahkan hidup kita kepada-Nya dan dipenuhi dengan Roh Kudus, maka kita pun menjadi ciptaan baru.

Yesus taat kepada kehendak Bapa sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib (lihat Flp 2:8). Maka kita pun harus taat kepada Yesus sampai mati, dengan demikian Ia dapat hidup dalam diri kita melalui kuasa Roh Kudus. Bersama Yesus, kita dipanggil untuk berdoa kepada Bapa surgawi, “jangan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu yang jadi” (lihat Luk 22:42).

Apabila Roh Kudus hidup dalam diri kita, maka kita tidak akan mampu menampung dan menahan sendiri sukacita kita. Seperti para rasul di depan orang banyak dan Sanhedrin, kita pun tidak akan mampu berhenti berbicara tentang apa yang telah dikerjakan atas diri kita.

DOA: Bapa surgawi, oleh kuasa Roh Kudus-Mu sentuhlah hatiku dengan kasih-Mu, agar aku dapat “dipaksa” untuk hidup sehari-harinya sebagai saksi-Mu yang penuh keyakinan mewartakan Kabar Baik Yesus Kristus kepada semua orang yang kutemui. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 3:31-36), bacalah tulisan yang berjudul “SIAPA YANG AKAN BEROLEH HIDUP YANG KEKAL?” (bacaan tanggal 12-4-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-04 BACAAN HARIAN APRIL 2018.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 27-4-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 8 April 2018 [HARI MINGGU PASKAH II – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

GEREJA MEMBUTUHKAN BARNABAS-BARNABAS

GEREJA MEMBUTUHKAN BARNABAS-BARNABAS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Paskah – Selasa, 10 April 2018)

Kumpulan orang yang telah percaya itu sehati dan sejiwa, dan tidak seorang pun berkata bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama. Dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam anugerah yang melimpah-limpah. Sebab tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya.

Demikian pula dengan Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya anak penghiburan, seorang Lewi kelahiran Siprus. Ia menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul. (Kis 4:32-37)

Mazmur Tanggapan:  Mzm 93: 1-2,5; Bacaan Injil: Yoh 3:7-15 

“Barnabas, artinya anak penghiburan, seorang Lewi kelahiran Siprus. Ia menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul.” (Kis 4:36-37)

Untuk memberi kesaksian dengan penuh kuat-kuasa atas “Kebangkitan Tuhan Yesus” (Kis 4:33), maka – sebagai Gereja – kita membutuhkan pribadi-pribadi seperti Maria yang tekun berdoa dalam menanti-nantikan kedatangan Roh Kudus (Kis 1:14). Kita juga membutuhkan pribadi yang setia seperti Matias untuk menjadi pengganti dari pemimpin tidak setia seperti Yudas Iskariot. Untuk mewartakan Kabar Baik tentang kebangkitan Kristus, kita membutuhkan pengkhotbah-pengkhotbah atau pewarta-pewarta sabda seperti Petrus, para martir seperti Stefanus, dan para misionaris seperti Paulus. Kita juga sangat membutuhkan orang baik – baik perempuan maupun laki-laki – yang berani berkorban, bermurah hati, bersemangat, yakni anak-anak penghiburan seperti Barnabas (Kis 4:36).

Pribadi-pribadi seperti Barnabas memberi warna tersendiri pada komunitas Kristiani perdana. Umat Allah, sebagaimana juga orang-orang pada umumnya, adalah orang yang cinta-diri, kikir, duniawi dan selalu merasa tidak puas. Kita manusia seringkali bersikap minimalis dalam hal berkorban dan komitmen, namun bersikap maksimalis dalam hal mencari kenikmatan dan keuntungan pribadi. Lewat pribadi-pribadi seperti Barnabas ini, Tuhan ingin menarik hati orang dari batas minimalis dan setengah-setengah hati.

Dengan melakukan pertobatan, maka dorongan-dorongan atau suara-suara dalam hati kita yang mengatakan bahwa lebih baiklah bagi kita untuk memberi daripada meminta, melayani daripada menuntut untuk dilayani, lebih baik mati daripada berdosa, dan melakukan pengorbanan daripada melakukan segala sesuatu “semau gue”.

Gereja tanpa pribadi-pribadi seperti Barnabas hanyalah sekadar Gereja yang suam-suam kuku dan membuat mual Yesus dan Ia akan memuntahkannya dari mulut-Nya (lihat Why 3:16). Gereja yang dipenuhi dengan pribadi-pribadi seperti Barnabas adalah Gereja yang sungguh dapat dikatakan sebagai mempelai Kristus. Sejarah Gereja mencatat bahwa Paus Martinus I (+655) adalah seorang gembala sejati. Beliau memusatkan hati dan pikirannya untuk berdoa, menolong kaum miskin dan mengajar. Ia sendiri hidup dalam keadaan yang serba kekurangan.

DOA: Bapa surgawi, perkenankanlah agar cintakasihku kepada-Mu membakar diriku. Jadikanlah aku “anak penghiburan” seperti Barnabas yang rela berbagi harta miliknya dengan saudari dan saudaranya yang lain. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 3:7-15), bacalah tulisan yang berjudul “DEMIKIANLAH HALNYA DENGAN TIAP-TIAP ORANG YANG LAHIR DARI ROH” (bacaan tanggal 10-4-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-04 BACAAN HARIAN APRIL 2018. 

(Bacaan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 5-4-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 6 April 2018 [HARI JUMAT DALAM OKTAF PASKAH]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SEBUAH DOA JEMAAT PERDANA

SEBUAH DOA JEMAAT PERDANA

(Bacaan Pertama Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan II Paskah – Senin, 9 April 2018)

Sesudah dilepaskan pergilah Petrus dan Yohanes kepada teman-teman mereka, lalu mereka menceritakan segala sesuatu yang dikatakan imam-imam kepala dan tua-tua kepada mereka. Ketika teman-teman mereka mendengar hal itu, berserulah mereka bersama-sama kepada Allah, “Ya Tuhan, Engkaulah yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya. Oleh Roh Kudus dengan perantaraan hamba-Mu Daud, bapak kami, Engkau telah berfirman: Mengapa gusar bangsa-bangsa, mengapa suku-suku bangsa mereka-reka hal yang sia-sia? Raja-raja dunia bersiap-siap dan para pembesar berkumpul untuk melawan Tuhan dan Yang Diurapi-Nya [1]. Sebab sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota ini Herodes dan Pontius Pilatus beserta bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa Israel melawan Yesus, Hamba-Mu yang kudus, yang Engkau urapi, untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan sejak semula oleh kuasa dan kehendak-Mu. Sekarang, ya Tuhan, lihatlah ancaman-ancaman mereka dan berikanlah kepada hamba-hamba-Mu keberanian sepenuhnya untuk memberitakan firman-Mu. Ulurkanlah tangan-Mu untuk menyembuhkan orang, dan adakanlah tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat oleh nama Yesus, Hamba-Mu yang kudus.” Dan ketika mereka sedang berdoa, goyangkanlah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua dipenuhi oleh Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani. (Kis 4:23-31)

[1] Kis 4:25-26 àlihat Mzm 2:1-2 

Mazmur Tanggapan: Mzm 2:1-9; Bacaan Injil: Yoh 3:1-8 

“Sekarang, ya Tuhan, …… berikanlah kepada hamba-hamba-Mu keberanian sepenuhnya untuk memberitakan firman-Mu.” (Kis 4:29)

Beginilah doa dari para murid setelah mereka ditahan dan diancam secara fisik, kalau mereka berani berbicara dalam nama Yesus lagi. Bukannya menjadi ciut-takut, mereka malah berdoa agar diberikan keberanian untuk mewartakan sabda-Nya. Allah menjawab doa mereka dengan memenuhi diri mereka dengan Roh Kudus dan memberikan kepada mereka suatu keberanian untuk memproklamasikan sabda-Nya yang  belum diketahui sebelumnya oleh orang banyak. Coba pikirkan: Apabila mereka menyerah-kalah terhadap ketakutan, maka Injil tidak pernah akan diwartakan. Namun karena ketaatan mereka, maka banyak orang dapat mulai mengalami kehidupan baru.

Para murid mengetahui bahwa Allah ingin mencurahkan Roh-Nya sehingga kerajaan-Nya dapat didirikan di atas bumi ini. Allah tidak hanya ingin mengampuni dosa. Dia ingin membebas-merdekakan orang dari perhambaan dosa dan rasa takut akan kematian. Ia ingin menyembuhkan tubuh dan jiwa manusia. Dia ingin agar keadilan-Nya mengalahkan segala penindasan dan damai-sejahtera-Nya menghancurkan segala bentuk tirani. Respons para murid terhadap penganiayaan atas diri mereka adalah “kasih”, tidak hanya kasih kepada Yesus, melainkan juga kasih kepada semua orang yang masih perlu mendengar tentang segala hal yang Yesus ingin siapkan untuk mereka.

Ini adalah keindahan dari masa Paskah. Yesus telah mengalahkan dosa dan maut sehingga kita dapat ikut ambil bagian dalam kehidupan-Nya. Peranan kita sebagai umat yang telah ditebus-Nya bukanlah sekadar untuk menjadi semakin dekat dengan Yesus, melainkan juga melalui syafaat kita, karya belas kasihan, dan evangelisasi, untuk mendirikan pemerintahan Allah di atas bumi ini.

Lebih dari lima puluh tahun lalu, para Bapak Konsili Vatikan II menulis, “Iman itu harus menampakkan kesuburannya dengan merasuki seluruh hidup kaum beriman, juga hidup mereka yang profan, dan dengan menggerakkan mereka untuk menegakkan keadilan dan mengamalkan cintakasih, terutama terhadap kaum miskin” (Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes tentang Gereja di Dunia Dewasa Ini, 21). Marilah kita berupaya mencapai tujuan atau meraih cita-cita ini dan berdoa dalam semangat para murid-Nya yang pertama.

DOA: Tuhan Yesus, bebaskanlah kami dan orang-orang di sekeliling kami dari segala penindasan. Biarlah kerajaan-Mu datang ke atas bumi ini. Berikanlah kepada kami keberanian untuk memberi kesaksian bahwa Engkau adalah Dia yang membalut luka-luka mereka yang patah hati, menyembuhkan yang sakit dan membawa damai-sejahtera bagi yang tertindas. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 3:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “DILAHIRKAN DARI AIR DAN ROH” (bacaan tanggal 9-4-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-04 BACAAN HARIAN APRIL 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 24-4-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 5 April 2017 [HARI KAMIS DALAM OKTAF PASKAH] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

HATI MEREKA TERSAYAT

HATI MEREKA TERSAYAT

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI SELASA DALAM OKTAF PASKAH, 3 April 2018)

Jadi, seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.”

Ketika mereka mendengar hal itu hati mereka tersayat, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain, “Apa yang harus kami perbuat, Saudara-saudara?” Jawab Petrus kepada mereka, “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia, yaitu Roh Kudus. Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita.” Dengan banyak perkataan lain lagi ia bersaksi dan mendesak mereka, katanya, “Berilah dirimu diselamatkan dari orang-orang yang jahat ini.”

Orang-orang yang menerima perkataannya itu dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. (Kis 2:36-41) 

Mazmur Antar-bacaan: Mzm 33:4-5,18-20,22; Bacaan Injil: Yoh 20:11-18 

Allah kita sungguh murah hati! Dia ingin menyelamatkan kita. Dia ingin memenuhi diri kita dengan kehidupan ilahi! Dia telah memanggil kita kepada suatu kehidupan baru dalam Diri-Nya. Dalam khotbah “perdana”-nya, Petrus mengatakan kepada orang-orang yang hadir bahwa Allah telah membuat Yesus, yang mereka salibkan itu, menjadi “Tuhan” dan “Kristus” (Mesias). Dua kata ini begitu akrab bagi telinga kita, namun kita dapat membayangkan, betapa dua kata itu mengagetkan dan menggoncang hati orang-orang pada hari Minggu Pentakosta yang sangat bersejarah itu. Bayangkan, Petrus sang nelayan berbicara di hadapan audiensi yang berciri multi-nasional, mengatakan kepada mereka bahwa Allah telah menganugerahkan dua gelar ini – Tuhan (Yunani: Kyrios) dan Kristus (Mesias) kepada putera seorang tukang kayu sederhana dari Nazaret.

Pada waktu orang-orang mendengar khotbah Petrus ini, “hati mereka tersayat” karena mereka menjadi sadar bahwa pemikiran-pemikiran dan gaya hidup mereka jauh masih sangat jauh dari suatu persekutuan penuh dengan Allah (lihat Kis 2:37). Setelah melakukan pertobatan, mereka pun dibaptis ke dalam suatu kehidupan baru melalui Roh Kudus.

Karunia pertobatan merupakan sebuah langkah indah dalam proses perubahan dan transformasi. Allah mempunyai banyak karunia (anugerah) dan berkat dalam “gudang”-Nya bagi mereka yang berbalik dari kehidupan dosa dan berupaya untuk menghayati suatu kehidupan baru. Dia menyediakan pengampunan, karunia Roh Kudus, dan melalui Yesus, pemenuhan segala janji-Nya. Kita hanya perlu mengambil keputusan untuk mengubah arah hati kita, berbalik kepada Allah dan mohon kepada-Nya agar membebas-merdekakan kita dari setiap dosa yang selama ini telah memisahkan kita dari Allah.

Pada kayu salib, Yesus telah menanggung sendiri segala beban dosa-dosa kita, dan Ia memberdayakan kita agar dapat berjalan dengan penuh martabat sebagai anak-anak Allah. Sebagai tanggapan terhadap pertobatan dan iman kita, Dia memberikan kepada kita Roh Kudus yang akan menyadarkan kita akan dosa kita serta meyakinkan kita akan dahsyatnya karya penebusan Yesus Kristus. Roh Kudus ini juga memberdayakan kita untuk menghayati suatu kehidupan baru. Roh Kudus selalu beserta kita, meyakinkan kita bahwa sementara kita masuk secara lebih mendalam lagi ke dalam kehidupan baru sebagai anak-anak Allah, maka kita dapat menerima kepenuhan janji-janji-Nya.

Pada hari ini, perkenankanlah agar “hati kita tersayat”, dipenuhi hasrat mendalam akan karunia pertobatan. Allah begitu ingin mengampuni kita dan membawa kita ke dalam kerajaan-Nya. Ketika kita bertobat, Ia melakukan suatu karya dahsyat dalam diri kita, menawarkan kepada kita suatu cara hidup yang baru dan berbeda, kaya dengan berkat-berkat-Nya.

Sekarang, apakah anda sedang mengalami kebebasan dari dosa? Apakah anda mengenal karunia-karunia Roh Kudus seperti damai-sejahtera, kesabaran, kebaikan hati dan kasih? Apabila kita tidak melihat kepenuhan kuat-kuasa Allah bekerja dalam kehidupan kita, maka marilah kita memohon kepada-Nya untuk memimpin kita kepada suatu pertobatan yang lebih mendalam dan kepenuhan Roh-Nya. Allah sungguh merindukan untuk memberikan kepada kita segala hal yang kita perlukan untuk hidup dalam iman dan rahmat setiap hari.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih untuk kesetiaan dan berbagai karunia dari-Mu yang sungguh menakjubkan. Penuh tobat aku datang menghadap hadirat-Mu – dalam upayaku untuk menghayati kehidupan dalam Engkau. Tolonglah aku agar dapat mengalami kebaharuan total dalam Roh Kudus-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 20:11-18), bacalah tulisan yang berjudul “MENELADAN MARIA MAGDALENA BAGAIMANA DIA MENGASIHI YESUS KRISTUS” dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-04 BACAAN HARIAN APRIL 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 18-4-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 2 April 2018

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KESAKSIAN PETRUS YANG SUDAH DIPENUHI ROH KUDUS

KESAKSIAN PETRUS YANG SUDAH DIPENUHI ROH KUDUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI SENIN DALAM OKTAF PASKAH, 2 April 2018)

Lalu Petrus bangkit berdiri dengan kesebelas rasul itu, dan dengan suara nyaring ia berkata kepada mereka, “Hai orang-orang Yahudi dan semua orang yang tinggal di Yerusalem, perhatikanlah perkataanku ini dan ketahuilah.

Hai orang-orang Israel, dengarlah perkataan ini: Yesus dari Nazaret adalah orang yang telah ditentukan Allah dan dinyatakan kepadamu dengan kekuatan-kekuatan dan mukjizat-mukjizat dan tanda-tanda ajaib yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Dia di tengah-tengah kamu, seperti yang kamu ketahui. Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh melalui tangan bangsa-bangsa durhaka. Tetapi Allah membangkitkan Dia setelah melepaskan Dia dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu. Sebab Daud berkata tentang Dia: Aku memandang Tuhan senantiasa di hadapan-Ku karena Ia berada di sebelah kananku, aku tidak goyah. Sebab itu hatiku bersukacita dan lidahku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dalam pengharapan, sebab Engkau tidak menyerahkan aku kepada dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan. Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; Engkau akan melimpahi aku dengan sukacita di hadapan-Mu [1].

Saudara-saudara, aku dapat berkata-kata dengan terus terang kepadamu tentang Daud, bapak leluhur kita. Ia telah mati dan dikubur, dan kuburannya masih ada pada kita sampai hari ini. Tetapi ia adalah seorang nabi dan ia tahu bahwa Allah telah berjanji kepadanya dengan bersumpah bahwa Ia akan mendudukkan seorang dari keturunan Daud sendiri di atas takhtanya. Karena itu ia telah melihat ke depan dan telah berbicara tentang kebangkitan Mesias, ketika ia mengatakan bahwa Dia tidak ditinggalkan di dalam dunia orang mati, dan bahwa daging-Nya tidak mengalami kebinasaan. Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi. (Kis 2:14, 22-32).

[1] Kis 2:25-28: Mzm 16:8-11 

Mazmur Antar-bacaan: Mzm 16:1-2,5,7-11; Bacaan Injil: Mat 28:8-15S  

Sehari setelah Minggu Paskah, kadang-kadang kita merasa bahwa semuanya selesailah sudah, sekarang tibalah saatnya bagi kita untuk kembali kepada situasi “normal”, keluar dari masa Prapaskah yang cukup lama, disusul dengan kesibukan penuh acara pada hari Minggu Palma, Tri Hari Paskah, yang akhirnya memuncak para hari Minggu Paskah kemarin. Akan tetapi, Lukas mengingatkan kita, bahwa Roh Kudus tidak akan turun ke atas para murid di ruang-atas di Yerusalem itu sampai setelah hari Paskah. Ya, untuk selama 50 hari mendatang seluruh Gereja akan merayakan misteri kasih Allah bagi kita dalam kebangkitan Yesus Kristus.

Untuk mengawali perayaan selama 50 hari ini, Gereja mempersilahkan kita untuk merenungkan kata-kata Petrus kepada orang-orang di Yerusalem, setelah Roh Kudus turun atas dirinya. Patutlah bagi kita untuk mengingat, bahwa beberapa pekan sebelumnya, Petrus telah menyangkal bahwa dirinya mengenal Yesus (lihat Yoh 18:17). Jadi, kata-kata Petrus yang kita dengar pada hari ini adalah kata-kata dari seorang pribadi yang telah diubah. Mengapa Petrus sampai begitu berubah? Karena dia telah berjumpa dengan Yesus Kristus yang telah bangkit dari dunia orang mati! Petrus telah menyaksikan kemenangan Allah atas dosa dan kejahatan. Dia sadar bahwa Allah tidak meninggalkan Yesus. Bapa surgawi tidak meninggalkan Putera-Nya yang tunggal pada saat-saat di mana Dia sangat membutuhkan pendampingan Bapa-Nya. Sebaliknya, Bapa membangkitan Yesus dan melalui Dia mencurahkan Roh Kudus-Nya ke atas siapa saja yang mau percaya. Dalam diri Kristus, Allah menjadi manusia dan mengambil serta menanggung semua dosa dan kelemahan kita-manusia dan mentransformasikannya.

Kabar Baik yang diwartakan oleh Petrus sekitar 2.000 tahun lalu masih memiliki relevansi yang sama bagi kita pada hari ini. Yesus tidak hanya memenangkan keselamatan bagi kita, Dia juga mengalami segala ketakutan dan godaan kita yang paling jelek. Yesus tahu apa artinya digoda agar kita meragukan kasih Bapa surgawi atau berputus-asa pada waktu kita menanggung beban kehidupan yang terasa begitu berat. Yesus menanggung rasa takut karena merasa ditolak atau ditinggalkan, bahkan rasa takut kita terhadap kematian. Yesus merangkul itu semua dan membawanya  semua ke salib-Nya.

Kita mempunyai pengalaman-pengalaman yang terjadi secara berulang-ulang dalam kehidupan ini, namun kematian Yesus adalah peristiwa yang terjadi hanya sekali saja. Dengan berjalannya waktu dan tentunya usia kita juga, menderita penyakit yang sangat serius, atau kehilangan seorang yang sangat dikasihi dapat menyebabkan kita menghadapi isu kematian kita sendiri secara lebih langsung. Mengenal kasih Allah seperti yang dialami Petrus dapat membalikkan pikiran kita, dari rasa ragu-ragu dan takut kepada rasa percaya akan kehidupan yang telah dijanjikan Allah kepada kita semua.

Dengan memusatkan hati kita pada kebangkitan Yesus, maka kita pun akan diberdayakan untuk menanggalkan cara-cara pemikiran kita yang lama, melalui pertobatan dan iman kepada Yesus. Hal ini dapat memenuhi diri kita dengan rasa percaya yang sama seperti yang dahulu kala ada pada Petrus dan para rasul yang lain.

DOA: Bapa surgawi, dengan mengutus Putera-Mu yang tunggal, Yesus Kristus, Engkau telah memberikan kepada kami suatu kehidupan yang tidak akan berakhir. Lewat penebusan Yesus Kristus di kayu salib, Engkau telah mengalahkan maut atas diri kami, dan pada hari ini kami akan membuat diri kami tersalib bersama Kristus. Kami adalah milik-Mu, ya Bapa. Dengan demikian hati kami bergembira dan jiwa kami akan memuji-muji Engkau dalam sukacita yang sejati. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 28:8-15), bacalah tulisan yang berjudul “PERCAYA KEPADA JANJI TUHAN DAN JURUSELAMAT KITA ATAU BERITA HOAX?” (bacaan tanggal 2-4-18) dalam situs/blog SANG SA8DA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-04  BACAAN HARIAN APRIL 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 16-4-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  30 Maret 2018 [HARI JUMAT AGUNG] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENYAMBUT KEDATANGAN ROH KUDUS SECARA SEDERHANA DAN PENUH KERENDAHAN HATI

MENYAMBUT KEDATANGAN ROH KUDUS SECARA SEDERHANA DAN PENUH KERENDAHAN HATI   

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI RAYA PENTAKOSTA – Minggu, 4 Juni 2017)

Ketika tiba hari Pentakosta, mereka semua berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba terdengarlah bunyi dari langit seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti lidah api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Lalu mereka semua dipenuhi dengan Roh Kudus dan mulai berbicara dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk dikatakan. Waktu itu di Yerusalem tinggal orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit. Ketika terdengar bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka terkejut karena mereka masing-masing mendengar orang-orang percaya itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri. Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata, “Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea? Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berbicara dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa tempat kita dilahirkan; kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, Prigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma, baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berbicara dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah.” (Kis 2:1-11) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 104:1,24,29-31,34; Bacaan Kedua: 1 Kor 12:3-7,12-13; Bacaan Injil: Yoh 20:19-23 

“Datanglah, ya Roh Kudus!”  Seringkah anda pernah mendengar doa ini? Barangkali begitu seringnya, sehingga anda tidak merasakan lagi bahwa anda sesungguhnya sedang berbicara kepada Allah. Akan tetapi, pada hari raya yang agung ini, marilah kita berani untuk menemukan kembali betapa beraninya doa permohonan ini!

Apakah ada yang lebih layak dan pantas pada Hari Raya Pentakosta ini daripada menyambut kedatangan Roh Kudus secara sederhana dan penuh kerendahan hati seperti yang dilakukan oleh para rasul sekitar 2.000 tahun lalu di Yerusalem? Apakah ada cara yang lebih layak dan pantas untuk berdoa pada hari ini daripada secara sederhana mengulang-ulang doa singkat tadi: “Datanglah, ya Roh Kudus!”, percaya bahwa Allah mendengar dan menjawab doa kita itu. Walaupun kelihatannya “tolol” dan repetitif, “don’t worry, be happy!” Permohonan-permohonan sederhana seperti ini dapat menjadi sangat penuh kuat-kuasa. Teruslah berdoa, “Datanglah, ya Roh Kudus”, dan lihatlah pemikiran-pemikiran, imaji-imaji, atau emosi-emosi apa yang mengalir ke dalam hati anda. Kita dapat merasa yakin bahwa apabila semua itu adalah pemikiran-pemikiran yang baik dan menyangkut hal-hal yang Ilahi, maka Roh Kudus berada di belakangnya.

Pendekatan Yesus terhadap anak-anak sangatlah sederhana. Dia bersabda: “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan halang-halangi mereka, sebab orang-orang seperti inilah yang memiliki Kerajaan Allah. Siapa saja yang tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.” Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan-Nya di atas mereka Ia memberkati mereka (Mrk 10:14-16). Semua itu jauh dari komplikasi, namun sungguh menyentuh hati – baik bagi anak-anak itu dan para orangtua mereka. Demikian pula, ketika kita berdoa dengan kata-kata sederhana, “Datanglah, ya Roh Kudus!”, kita sebenarnya berperilaku seperti anak-anak kecil. Kita percaya kepada Allah, menaruh pengharapan dalam diri-Nya, dan menghadap hadirat-Nya untuk berkat-berkat-Nya.

Pencurahan Roh seperti apa yang akan Allah berikan kepada kita (anda dan saya) apabila kita menyambut Roh Kudus secara sederhana? Dia dapat memenuhi diri kita dengan pemahaman mendalam tentang kasih Allah sehingga kita mengenal serta mengalami bahwa Dia sungguh nyata dalam suatu cara yang baru. Dia dapat menunjukkan kepada kita belas kasih yang begitu mendalam sehingga kita pun sampai bertelut penuh syukur dan bersembah sujud kepada-Nya. Roh Kudus yang sama dapat membawa kita kepada air mata pertobatan, atau menggerakkan kita untuk menari penuh sukacita dan kebebasan. Roh Kudus juga dapat melakukan sesuatu yang samasekali tidak diharap-harapkan – namun tetap indah-menakjubkan. Oleh karena itu, marilah kita masing-masing pada hari ini datang menghadap Allah sebagai seorang anak kecil: murni, sederhana, dan terbuka. Kita tidak tahu apa yang telah dipersiapkan oleh Allah untuk dilakukan-Nya bagi anak-anak-Nya pada hari yang penuh dengan rahmat dan kuasa surgawi?

DOA: Datanglah, ya Roh Kudus!

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 20:19-23), bacalah tulisan yang berjudul “ROH KUDUS” (bacaan tanggal 4-6-17) dalam situs/blog SANG SABDA  http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 BACAAN HARIAN JUNI 2017. 

(Tulisan ini  adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 15-5-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 2 Juni 2017 [Peringatan S. Feliks dr Nikosia, Bruder] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SUDAHKAH KAMU MENERIMA ROH KUDUS?

SUDAHKAH KAMU MENERIMA ROH KUDUS?

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah – Senin, 29 Mei 2017)

OFS: Peringatan S. Maria Ana dr Paredes, Perawan Ordo III Sekular 

Ketika Apolos masih di Korintus, Paulus sudah menjelajahi daerah-daerah pedalaman dan tiba di Efesus. Di situ didapatinya beberapa orang murid. Katanya kepada mereka, “Sudahkah kamu menerima Roh Kudus, ketika kamu percaya?” Akan tetapi, mereka menjawab dia, “Belum, bahkan kami belum pernah mendengar bahwa ada Roh Kudus.” Lalu kata Paulus kepada mereka, “Kalau begitu, dengan baptisan mana kamu telah dibaptis?” Jawab mereka, “Dengan baptisan Yohanes.” Kata Paulus, “Baptisan Yohanes adalah baptisan tobat dan ia berkata kepada orang banyak bahwa mereka harus percaya kepada Dia yang datang kemudian daripadanya, yaitu Yesus.” Ketika mereka mendengar hal itu mereka dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. Ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa lidah dan bernubuat. Mereka semua berjumlah kira-kira dua belas orang.

Selama tiga bulan Paulus mengunjungi rumah ibadat di situ dan berbicara dengan berani serta berdebat dengan mereka untuk meyakinkan mereka tentang Kerajaan Allah. (Kis 19:1-8)

Mazmur Tanggapan: Mzm 68:2-7; Bacaan Injil: Yoh 16:29-33 

“Sudahkah kamu menerima Roh Kudus, ketika kamu percaya?”  (Kis 19:2)

Beberapa orang murid dari Efesus menyatakan diri sebagai sudah beriman (Kis 19:2). Paulus mempertanyakan ini karena mereka nampaknya belum pernah menerima Roh Kudus. Ketika diketahui apa yang sesungguhnya terjadi, ternyata mereka bukanlah murid-murid Yesus melainkan murid-murid Yohanes Pembaptis. Memang mereka telah dibaptis, tetapi dengan baptisan Yohanes yang adalah baptisan tobat. Oleh karena itu Paulus menjelaskan kepada mereka tentang perbedaan antara baptisan Yohanes dan baptisan dalam nama Tuhan Yesus. Kemudian Paulus membaptis mereka dalam nama Tuhan Yesus dan meletakkan tangannya atas mereka (Kis 19:5-6).

“Kisah para Rasul” mencatat bahwa ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa lidah dan bernubuat (Kis 19:6). Tak diragukan lagi, sejak saat itu mereka benar-benar dapat dinamakan murid-murid Yesus.

Dari Bacaan Injil hari ini, para murid Yesus percaya bahwa Ia datang dari Allah (Yoh 16:30). Namun demikian Yesus mempertanyakan ini karena Dia tahu bahwa para murid-Nya tersebut akan tercerai-berai dan akan meninggalkan Dia seorang diri (Yoh 16:31-32). Kita – orang-orang yang menamakan diri Kristiani – juga tercerai-berai dan tersebar menjadi begitu banyak golongan, denominasi dan sekte.

Bukankah seharusnya kita bersekutu dalam doa, menyambut tubuh-Nya dalam Komuni Kudus, membaca Kitab Suci, atau bersatu dengan saudari dan saudara kita di dalam Kristus? Benar, namun pada kenyataannya kita meninggalkan Tuhan Yesus seorang diri. Inilah yang menyebabkan iman kita patut dipertanyakan.

Melalui Pentakosta ini marilah kita menerima Roh kesatuan (lihat Ef 4:3) dan Roh Kuasa. Dengan demikian, Yesus tidak perlu lagi meragukan iman-kepercayaan kita dan Dia dapat berkata kepada kita: “Besar imanmu!” (lihat Mat 15:28).

DOA: Datanglah Roh Kudus dan penuhilah diriku dengan kehadiran-Mu. Tolonglah aku agar mau dan mampu membuang berbagai penghalang terhadap karya-Mu dalam hidupku. Aku berketetapan hati untuk mengandalkan kuat-kuasa-Mu dan menggunakan berbagai karunia yang telah Kauberikan kepadaku untuk melakukan kebaikan bagi sesamaku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 16:29-33), bacalah tulisan yang berjudul “AKU TELAH MENGALAHKAN DUNIA” (bacaan tanggal 29-5-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-05 BACAAN HARIAN MEI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 9-5-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 26 Mei 2017 [Peringatan S. Filipus Neri, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS