Posts tagged ‘KISAH PARA RASUL’

TETAP KUAT BERAKAR DALAM YESUS

TETAP KUAT BERAKAR DALAM YESUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Bonifasius, Uskup Martir – Rabu, 5 Juni 2019)

“Jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi pengawas untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah-Nya sendiri. Aku tahu bahwa sesudah aku pergi, serigala-serigala yang ganas akan masuk ke tengah-tengah kamu dan tidak akan menyayangkan kawanan itu. Bahkan dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang, yang dengan ajaran palsu berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar supaya mengikut mereka. Sebab itu berjaga-jagalah dan ingatlah bahwa selama tiga tahun, siang malam, aku tanpa henti-hentinya menasihati kamu masing-masing dengan mencucurkan air mata. Sekarang aku menyerahkan kamu kepada Tuhan dan kepada firman anugerah-Nya yang berkuasa membangun kamu dan menganugerahkan kepada kamu warisan yang ditentukan bagi semua orang yang telah dikuduskan-Nya. Perak atau emas atau pakaian tidak pernah aku ingini dari siapa pun juga. Kamu sendiri tahu bahwa dengan tanganku sendiri aku telah bekerja untuk memenuhi keperluanku dan keperluan kawan-kawan seperjalananku. Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Lebih berbahagia memberi daripada menerima.” Sesudah mengucapkan kata-kata itu Paulus berlutut dan berdoa bersama-sama dengan mereka semua. Lalu menangislah mereka semua tersedu-sedu dan sambil memeluk Paulus, mereka berulang-ulang mencium dia. Mereka sangat berdukacita terlebih-lebih karena ia mengatakan bahwa mereka tidak akan melihat mukanya lagi. Kemudian mereka mengantar dia ke kapal. (Kis 20:28-38)

Bacaan Injil: Yoh 17:11b-19; Mazmur Tanggapan:68:29-30.33-36.

Kis 20:28-35 merupakan bagian dari kata-kata perpisahan Paulus dengan para penatua Efesus (Kis 20:18-35). Paulus sedang dalam perjalanannya menuju Yerusalem, meskipun dia tahu sekali bahwa perjalanannya kali ini dapat berakibat pada pemenjaraan dirinya demi pewartaan Kabar Baik Yesus Kristus yang selama ini dilakukannya. Karena perjalanan ini melintas juga ke dekat kota Efesus, maka Paulus memutuskan untuk bertemu dengan para penatua Gereja di sana, agar dia dapat mengucapkan satu-dua patah kata perpisahan kepada mereka. Memang menakjubkanlah untuk melihat Paulus, yang walaupun pada waktu itu sedang menghadapi ancaman riil terhadap hidupnya sendiri, tokh dia masih saja memperhatikan orang-orang yang telah diinjili olehnya daripada kebutuhan dan hasratnya sendiri.

Paulus adalah evangelist sejati! Jelas rasul Kristus ini tidak hanya mengajarkan bahwa lebih berbahagialah memberi daripada menerima, melainkan juga mempraktekkan sendiri apa yang diajarkannya. Inilah leadership by example yang langka terlihat di hampir segala bidang, termasuk bidang keagamaan, dan yang sangat didambakan oleh ‘orang-orang biasa’ di bawah, bahkan pada zaman kita ini. Gaya kepemimpinan ini harus dimiliki oleh setiap pelayan Sabda, tanpa kecuali.

Sejak saat pertobatannya yang dramatis itu, Paulus – tentunya dengan bantuan Roh Kudus yang berdiam dalam dirinya dan selalu bertindak-tanduk di bawah bimbingan-Nya – terus-menerus berupaya  untuk memajukan kerajaan Allah. Cintakasihnya kepada Yesus merupakan motivasinya guna melakukan perjalanan ke banyak tempat untuk mewartakan Kabar Baik, sambil membuat banyak penyembuhan dan mukjizat serta tanda-heran lainnya, dan … membangun jemaat, yaitu Gereja Kristus. Perjalanan-perjalanan misionernya tidaklah selalu mudah. Berbagai kontroversi dan penganiayaan kelihatannya selalu menyertainya ke mana saja dia pergi – namun bukanlah Paulus kalau dia menjadi gentar.

Dengan penuh iman, Paulus pernah menulis: “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesengsaraan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Seperti ada tertulis: ‘Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan’  [Mzm 44:23].

Tetapi dalam semuanya itu kita lebih daripada orang-orang yang menang, melalui Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin bahwa baik maut, maupun hidup, baik melaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Rm 8:35-39). Bagi Santo Paulus, demi pewartaan Kabar Baik Yesus Kristus, segala sakit-penyakit dan penderitaan yang dialaminya memang pantas diterimanya. Bagi Paulus sangat pentinglah dan urgent-lah untuk sharing dengan orang-orang lain perihal kuasa Allah yang telah mengubah hidupnya.

Yesus berjanji bahwa apabila kita melakukan apa saja dalam melayani-Nya, maka kita akan diberikan ganjaran yang luar biasa, baik sekarang maupun di masa depan kelak. Ia malah  telah membangun dalam hati kita suatu hasrat untuk mengasihi dan melayani. Kalau begitu halnya, bagaimana seharusnya kita melayani? Tidak banyak dari kita yang dapat menjadi misionaris-misionaris keliling seperti Paulus. Namun, setiap hari menawarkan kepada kita kesempatan-kesempatan untuk membuang hasrat-hasrat pribadi kita sendiri, dan mulai melayani berbagai kebutuhan orang-orang lain di sekitar kita. Barangkali anda dapat melayani Allah dengan doa-doa syafaat untuk mereka yang sedang sakit, para pemimpin Gereja dlsb.  Mungkin anda dapat menggunakan waktu anda untuk mengunjungi anggota keluarga atau teman yang sedang berbaring sakit di rumah sakit.

Di mana pun – seturut petunjuk Roh-Nya – anda melihat ada suatu kebutuhan, penuhilah kebutuhan itu. Kita harus selalu ingat, bahwa pelayanan dapat merupakan manifestasi kasih Allah sendiri. Itulah sebabnya mengapa sangat vital-lah bagi kita semua untuk tetap kuat-berakar dalam Yesus melalui doa dan liturgi. Yakinlah, bahwa dengan Dia berdiam dalam diri kita, kita sungguh dapat ikut membangun kerajaan-Nya di atas bumi ini!

DOA: Tuhan Yesus, berikanlah kepadaku sebuah hati yang berbela rasa dan penuh kasih untuk melayani orang-orang lain. Terima kasih, ya Tuhan! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 17:11b-19), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MOHON KEPADA BAPA-NYA AGAR SUPAYA PARA MURID-NYA PUN DIKUDUSKAN DALAM KEBENARAN” (bacaan tanggal 5-6-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-06 BACAAN HARIAN JUNI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 15-5-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 3 Juni 2019 [Peringatan S. Karolus Lwanga dkk. Martir]

Sdr. F.X. Indrapradja,

Advertisements

INKARNASI YESUS DAN GEREJA

INKARNASI YESUS DAN GEREJA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI RAYA KENAIKAN TUHAN [Tahun C] – Kamis, 30 Mei 2019)

Hai Teofilus, dalam bukuku yang pertama aku menulis tentang segala sesuatu yang dikerjakan dan diajarkan Yesus, sampai pada hari Ia diangkat ke surga. Sebelum itu Ia telah memberi perintah-Nya melalui Roh Kudus kepada rasul-rasul yang dipilih-Nya. Kepada mereka Ia menunjukkan diri-Nya setelah penderitaan-Nya selesai, dan dengan banyak bukti Ia menunjukkan bahwa Ia hidup. Sebab selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah.

Pada suatu hari ketika Ia makan bersama-sama dengan mereka, Ia melarang mereka meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di situ menantikan janji Bapa, yang sebagaimana dikatakan-Nya, “telah kamu dengar dari Aku. Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus.” 

Lalu ketika berkumpul, mereka bertanya kepada-Nya, “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” Jawab-Nya kepada mereka, “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. Tetapi kamu akan menerima kuasa bilamana Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”

Sesudah Ia mengatakan demikian, Ia diangkat ke surga disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka. Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih di dekat mereka, dan berkata kepada mereka, “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang diangkat ke surga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke surga.” (Kis 1:1-11) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 47:2-3,6-9; Bacaan Kedua: Ef 1:17-23 atau Ibr 9:24-28; 10:19-23; Bacaan Injil: Luk 24:46-53

“Sesudah Ia mengatakan demikian, Ia diangkat ke surga disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya” (Kis 1:9).

Kenaikan Yesus ke surga tampaknya telah mengakhiri saat-saat para murid-Nya untuk mengambil manfaat dari Inkarnasi-Nya. Mereka tidak dapat lagi memandang wajah Allah, mendengarkan-Nya dan menyentuh-Nya. Namun demikian Yesus telah berjanji bahwa Dia tidak akan meninggalkan para murid-Nya di segala zaman sebagai yatim piatu (Yoh 14:8). Ia akan senantiasa menyertai kita (Mat 28:20), dan adalah lebih berguna bagi para murid jika Ia pergi (Yoh 16:7).

Yesus menyadari bahwa para murid-Nya tidak akan mengerti tentang kenaikan-Nya ke surga, maka Dia mengatakan kepada mereka untuk tetap tinggal di Yerusalem. Dalam beberapa hari lagi mereka akan dibaptis dalam Roh Kudus (Kis 1:5). Mereka mematuhi Tuhan setelah kenaikan-Nya ke surga dan kemudian “kembali ke Yerusalem dengan sukacita”. Di Yerusalem mereka senantiasa berada di dalam Bait Allah dan memuliakan Allah (Luk 24:52-53). Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama (Kis 1:14).

Setelah berdoa selama sembilan hari, 120 dari pengikut Tuhan Yesus dipenuhi dengan Roh Kudus (Kis 1:15; 2:4). Pada hari itu juga (hari Pentakosta Kristiani yang pertama) telah dibaptis kira-kira sebanyak 3000 orang (Kis 2:41), dan dengan demikian lahirlah Gereja. Gereja akhirnya menjadi dikenal sebagai Tubuh Kristus, sebagai kelanjutan dan perkembangan dari inkarnasi Tuhan Yesus (lihat misalnya 1 Kor 12:12: Ef 1:23).

Saudari dan Saudaraku, marilah kita berdoa selama sembilan hari (Novena) kepada Roh Kudus agar hadir dan membimbing kita kekpada seluruh kebenaran (Yoh 16:13), khususnya kebenaran tentang Inkarnasi dan Gereja-Nya.

DOA: Datanglah, ya Roh Kudus, dan bersemayamlah di dalam diri kami. Semoga Engkau senantiasa menjadi terang hati kami dan kehidupan jiwa kami. Penuhilah diri kami dengan kekudusan dan hikmat-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Kedua hari ini (Ef 1:17-23), bacalah tulisan yang berjudul “IA NAIK KE SURGA TETAPI MENINGGALKAN ROH KUDUS, PENOLONG BAGI KITA PARA MURID-NYA” (bacaan tanggal 30-5-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-05 BACAAN HARIAN MEI 2019.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 5-5-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 28 Mei 2019 [Peringatan S. Maria Ana dr Paredes, Perawan-OFS] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BELAJAR DARI PAULUS DALAM BER-EVANGELISASI

BELAJAR DARI PAULUS DALAM BER-EVANGELISASI

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI Paskah – Rabu, 29 Mei 2019

Orang-orang yang mengiringi Paulus mengantarnya sampai di Atena, lalu kembali dengan pesan kepada Silas dan Timotius, supaya mereka selekas mungkin datang kepadanya.

Paulus berdiri di hadapan sidang Aeropagus dan berkata, “Hai orang-orang Atena, aku lihat bahwa dalam segala hal kamu sangat beribadah kepada dewa-dewa. Sebab ketika aku berjalan-jalan di kotamu dan melihat-lihat barang-barang pujaanmu, aku menjumpai sebuah mezbah dengan tulisan: Kepada Allah yang tidak dikenal. Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu. Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak tinggal dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan napas dan segala sesuatu kepada semua orang. Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka, supaya mereka mencari Allah dan mudah-mudahan mencari-cari dan menemukan Dia, walaupun Ia tidak jauh dari kita masing-masing. Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada, seperti yang telah juga dikatakan oleh pujangga-pujanggamu: Sebab kita ini keturunan-Nya juga. Karena kita berasal dari keturunan Allah, kita tidak boleh berpikir dalam keadaan ilahi serupa dengan emas atau perak atau batu, ciptaan kesenian dan keahlian manusia. Tanpa memandang lagi zaman kebodohan, sekarang Allah memerintahkan semua orang di mana saja untuk bertobat. Karena Ia telah menetapkan suatu hari ketika Ia dengan adil akan menghakimi dunia oleh seorang yang telah ditentukan-Nya, sesudah Ia memberikan kepada semua orang suatu jaminan tentang hal itu dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati.” Ketika mereka mendengar tentang kebangkitan orang mati, maka ada yang mengejek, dan yang lain berkata, “Lain kali saja kami mendengar engkau berbicara tentang hal itu.” Lalu Paulus meninggalkan mereka. Tetapi beberapa orang menggabungkan diri dengan dia dan menjadi percaya, di antaranya juga Dionidius, anggota majelis Areopagus, dan seorang perempuan bernama Damaris, dan juga orang-orang lain bersama-sama dengan mereka.

Kemudian Paulus meninggalkan Atena, lalu pergi ke Korintus. (Kis 17:15,22-18:1) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 148:1-2,11-14; Bacaan Injil: Yoh 16:12-15

Dalam perjalanan misionernya yang kedua, Paulus pertama-tama sampai di Atena, setelah menghadapi berbagai tantangan dan mengalami berbagai kesulitan/persekusi, termasuk penganiayaan, pemukulan dan bahkan sampai dipenjarakan. Walaupun begitu, pekerjaan evangelisasi Paulus menghasilkan buah yang banyak.

Sebagaimana biasanya, Paulus bekerja di dua front: di rumah-rumah ibadat (sinagoga) dengan orang-orang Yahudi, dan di tengah-tengah tempat ramai dengan siapa saja yang lewat dan mau mendengarkan – “evangelisasi jalanan”. Di Atena, Paulus juga melakukan evangelisasi kepada orang-orang Yunani di tempat pertemuan akademis terbuka yang dinamakan Aeropagus.

Di Aeropagus, Paulus memuji orang-orang Atena untuk kesalehan mereka dalam melaksanakan praktek keagamaan, hal mana kelihatan dalam begitu banyak patung dewa-dewi yang ada. Secara khusus Paulus memperhatikan sebuah mezbah dengan catatan: “Kepada Allah yang tidak dikenal”. Ia menjelaskan kepada mereka, bahwa “Allah yang tidak dikenal” inilah yang diwartakan olehnya. Karena orang-orang non-Yahudi (baca: kafir) itu tidak familiar dengan Kitab Suci Ibrani, maka pendekatan Paulus adalah dengan menggunakan “teologi alamiah”, dengan menggunakan bukti-bukti dari alam ciptaan bahwa Allah itu ada. Paulus menyatakan bahwa pujangga-pujangga mereka sendiri mengatakan bahwa ada “seorang”  di atas dewa-dewi lain, di dalam Dia “kita hidup, kita bergerak, kita ada” (Kis 17:28).

Kata-kata Paulus kepada para filsuf Atena masih relevan sampai hari ini. Alam dan hati nurani kita menggerakkan kita untuk mencari Allah. Dalam kasih-Nya, Allah mengutus seorang Manusia untuk menghakimi dunia dalam kebenaran, dan sekarang Ia memanggil setiap orang untuk melakukan pertobatan. Dengan membangkitkan Yesus dari dunia orang mati, Allah telah memberikan kepada kita jaminan penebusan yang tidak usah diragukan lagi. Mendengar soal “kebangkitan orang mati” dari bibir Paulus sendiri, para filsuf Yunani menginterupsi, ada yang mengejeknya, namun ada juga yang mau mendengar lebih banyak lagi dan menjadi percaya.

Ini adalah tantangan kita pada hari ini. Cara kita menghayati kehidupan kita sungguh akan mempunyai konsekuensi-konsekuensi yang bersifat kekal-abadi. Kita dapat bertanya kepada diri-sendiri: “Apakah pemikiran tentang pengadilan terakhir menakutkan anda? Apakah anda merasa worry bahwa anda akan kedapatan “masih kurang” pada saat kedatangan Yesus untuk kedua kalinya?” Ada dua alasan yang mungkin untuk hal ini: Bisa saja kita masih mempunyai dosa yang belum kita sesali dan mohon pengampunan-Nya atau bisa juga karena visi kita tentang Allah terlalu sempit. Oleh karena itu marilah kita menghadap Allah dan mengakui dosa-dosa kita. Marilah kita mohon pengampunan-Nya, percaya kepada janji-Nya untuk memulihkan kita. Allah tidak pernah berbohong dan Ia tidak akan menolak siapa saja yang datang kepada-Nya dengan hati yang remuk redam mohon pengampunan-Nya.

DOA: Ya Tuhanku dan Allahku, aku percaya bahwa Engkau ingin agar aku mengetahui betapa mendalam Engkau mengasihiku. Engkau menghendaki yang terbaik dari diriku. Aku menyerahkan diriku kepada kuat-kuasa-Mu agar aku dapat tetap melakukan hal-hal yang benar di mata-Mu. Penuhilah diriku dengan jaminan akan kasih-Mu dan gerakkanlah aku agar dapat dengan efektif membagikan kasih-Mu kepada orang-orang lain. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan  Injil hari ini (Yoh16:12-15), bacalah tulisan yang berjudul “TANYALAH KEPADA ROH KUDUS” (bacaan tanggal 29-5-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-05 BACAAN HARIAN MEI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 9-5-18 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 26 Mei 2019 [HARI MINGGU PASKAH VI – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MEMBERITAKAN KABAR BAIK YESUS KRISTUS DI BAWAH PIMPINAN ROH KUDUS

MEMBERITAKAN KABAR BAIK YESUS KRISTUS DI BAWAH PIMPINAN ROH KUDUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah – Sabtu, 25 Mei 2019)

Paulus datang juga ke Derbe dan ke Listra. Di situ ada seorang murid bernama Timotius; ibunya seorang Yahudi dan telah percaya, sedangkan ayahnya seorang Yunani. Timotius ini dikenal baik oleh saudara-saudara seiman di Listra dan di Ikonium, dan Paulus mau, supaya dia menyertainya dalam perjalanan. Paulus menyuruh menyunatkan dia karena orang-orang Yahudi di daerah itu, sebab setiap orang tahu ayahnya orang Yunani.

Dalam perjalanan keliling dari kota ke kota Paulus dan Silas menyampaikan keputusan-keputusan yang diambil para rasul dan para penatua di Yerusalem dengan pesan, supaya jemaat-jemaat menurutinya. Demikianlah jemaat-jemaat diteguhkan dalam iman dan dari hari ke hari bertambah besar jumlahnya.

Mereka melintasi tanah Frigia dan tanah Galatia, karena Roh Kudus mencegah mereka untuk memberitakan Injil di Asia. Setibanya di Misia mereka mencoba masuk ke daerah Bitinia, tetapi Roh Yesus tidak mengizinkan mereka. Setelah melintasi Misia mereka sampai di Troas. Pada malam harinya tampaklah oleh Paulus suatu penglihatan. Ada seorang Makedonia berdiri di situ dan memohon kepadanya, “Menyeberanglah kemari dan tolonglah kami!” Setelah Paulus melihat penglihatan itu, segeralah kami mencari kesempatan untuk berangkat ke Makedonia, karena dari penglihatan kami menarik kesimpulan bahwa Allah telah memanggil kami untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di sana. (Kis 16:1-10)

Mazmur Tanggapan: Mzm 100: 1-3,5; Bacaan Injil: Yoh 15:18-21 

Ketika Paulus dan Barnabas berpisah, masing-masing mengambil jalannya sendiri untuk memperkuat komunitas-komunitas Kristiani yang baru. Barnabas mengajak Yohanes Markus untuk ikut bersamanya dan mereka pergi ke Siprus. Paulus dan Silas pergi ke Siria dan Kilikia (sekarang di Turki), di mana mereka merekruit Timotius. Ini adalah perjalanan misioner Paulus yang kedua. Paulus dan rombongannya mengunjungi berbagai kota mewartakan Kabar Baik sambil menyampaikan keputusan-keputusan yang diambil oleh para rasul dan para panatua di Yerusalem dengan pesan agar jemaat menurutinya. Sementara mereka melakukan perjalanan ke banyak tempat dan mewartakan Kabar Baik, iman jemaat-jemaat di tempat-tempat itu diteguhkan dan jumlahnya pun meningkat dari hari ke hari.

Pimpinan Roh Kudus melalui doa, nubuatan, penglihatan (visi) dan mimpi sering disebut dalam “Kisah para Rasul”. Perjalanan misioner Paulus yang pertama dilakukan sebagai akibat dari sebuah nubuat (lihat Kis 13:1-3); sedangkan perjalanan misionernya yang kedua dikembangkan melalui sebuah mimpi profetis di mana Tuhan memimpin dia dan teman-temannya ke Eropa untuk pertama kalinya. Secara tetap Roh Kudus memperluas Gereja-awal ke teritori-teritori baru, baik secara spiritual maupun secara geografis. Dua kali Roh Kudus mencegah Paulus melaksanakan rencananya sendiri, dan menuntun sang rasul menuju tempat-tempat lain.

Dalam “Kisah para Rasul”, kita membaca apa tujuan Roh Kudus dan melihat contoh-contoh bagaimana semestinya hidup umat beriman itu. Seperti Paulus yang dipimpin ke dalam misi penyebaran Injil, kita pun dimaksudkan untuk diberdayakan dan dipimpin oleh Roh Kudus. Roh Kudus ini membuat hidup kita utuh dan memperkuat kita dalam misi pelayanan kita bagi Yesus.

Setiap hari kita harus memohon bimbingan Roh Kudus. Barangkali kita sudah terbiasa berdoa kepada Yesus atau Allah Bapa dengan demikian merasa nyaman, namun kita belum begitu familiar dengan ide berdoa kepada Roh Kudus. Selagi kita membuka hati kita bagi Roh Kudus, marilah kita mohon kepada-Nya untuk memenuhi diri kita masing-masing dengan hidup dan kasih-Nya, dan menuntun kita dalam kerja pelayanan kita bagi Yesus. Berupaya untuk menjadi lebih peka terhadap karya Roh Kudus pada awalnya dapat merupakan suatu pengalaman baru, namun kita dapat memperkenankan Allah untuk berbicara kepada kita secara lebih mendalam selagi kita melakukan upaya itu.

DOA: Datanglah ya Roh Kudus dan dengarlah doa-doa kami. Jagalah agar Gereja-Mu senantiasa terbuka bagi jalan-jalan-Mu. Tolonglah Gereja untuk terus maju, merambah ke mana-mana, ke teritori-teritori baru di atas bumi, dan menarik kembali mereka yang hilang. Jagalah para pemimpin Kristiani di seluruh dunia agar aman terlindungi, dan membuka hati mereka setiap hari untuk misi-Mu bagi mereka di dunia ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 15:18-21), bacalah tulisan yang berjudul “DUNIA MEMANG MEMBENCI KITA” (bacaan tanggal 25-5-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-05 BACAAN HARIAN MEI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 5-5-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 23 Mei 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEBUAH CONTOH RESOLUSI KONFLIK DALAM GEREJA PERDANA

SEBUAH CONTOH RESOLUSI KONFLIK DALAM GEREJA PERDANA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah – Jumat, 24 Mei 2019)

Keluarga  Besar Fransiskan: Pesta Pemberkatan Basilika S. Fransiskus di Assisi

OFMCap. Provinsi Sibolga: HR S. Fidelis dr Sigmaringen, Imam Martir

Kemudian rasul-rasul dan penatua-penatua beserta seluruh jemaat itu mengambil keputusan untuk memilih dari antara mereka beberapa orang yang akan diutus ke Antiokhia bersama-sama dengan Paulus dan Barnabas, yaitu Yudas yang disebut Barsabas dan Silas. Keduanya adalah orang terpandang di antara saudara-saudara seiman itu. Kepada mereka diserahkan surat yang bunyinya: “Salam dari rasul-rasul dan penatua-penatua, dari saudara-saudaramu kepada saudara-saudara di Antiokhia, Siria dan Kilikia yang berasal dari bangsa-bangsa lain. Kami telah mendengar bahwa ada beberapa orang di antara kami, yang tanpa mendapat pesan dari kami, telah menggelisahkan dan menggoyahkan hatimu dengan ajaran mereka. Sebab itu dengan bulat hati kami telah memutuskan untuk memilih dan mengutus beberapa orang kepada kamu bersama-sama dengan Barnabas dan Paulus yang kami kasihi, yaitu orang yang telah mempertaruhkan nyawanya karena nama Tuhan kita Yesus Kristus. Jadi, kami telah mengutus Yudas dan Silas yang secara lisan akan menyampaikan sendiri hal-hal ini kepada kamu. Sebab adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami, supaya kepada kamu jangan ditanggungkan lebih banyak bebab daripada yang perlu ini: Kamu harus menjauhkan diri makanan yang dipersembahkan kepada berhala, dari darah, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari percabulan. Jikalau kamu menjaga diri terhadap hal-hal ini, kamu berbuat baik. Sekianlah, selamat.”

Setelah berpamitan, Yudas dan Silas berangkat ke Antiokhia. Di situ mereka memanggil seluruh jemaat berkumpul, lalu menyerahkan surat itu kepada mereka. Setelah membaca surat itu, jemaat bersukacita karena isinya yang memberi penghiburan. (Kis 15:22-31)

Mazmur Tanggapan: Mzm 57:8-12; Bacaan Injil: Yoh 15:12-17 

Jikalau kita perhatikan baik-baik, “Kisah Para Rasul” memiliki segala unsur yang dimiliki sebuah novel modern: intrik, skandal, excitement, dll. “Kisah Para Rasul” bukanlah hanya sebuah catatan historis, melainkan juga kisah atau cerita mengenai orang-orang seperti kita sendiri yang memperkenankan Allah untuk bekerja dengan penuh kuat-kuasa melalui diri mereka. Dalam “Kisah Para Rasul” kita melihat kasih Allah bagi Gereja-Nya – suatu kasih yang sampai hari ini terus membawa anak-anak Allah secara aman ke dalam kebebasan Injili.

Dalam perjalanan misioner mereka, Paulus dan Barnabas mulai mendapatkan orang-orang yang menerima menjadi murid Kristus. Ke mana saja mereka pergi, di tempat-tempat itu mereka mendirikan gereja. Kedua rasul ini menyemangati dan memperkuat murid-murid Kristus yang baru itu agar tetap setia kepada Yesus, walau di tengah-tengah kesulitan hidup sekali pun. Dengan penuh kegairahan, dari tempat yang satu ke tempat yang lain, mereka mewartakan KABAR BAIK Yesus Kristus, juga tentang segala mukjizat dan tanda heran yang dilakukan Allah di tengah-tengah orang-orang non-Yahudi (baca: kafir). Kasih mereka yang besar terlihat jelas di mata banyak orang. Namun demikian, pada masa itu mereka pun menghadapi berbagai kesulitan, baik di bidang legalitas (hukum), kekuasaan dan posisi.

Penulis “Kisah Para Rasul” (Lukas) menceritakan tentang suatu kontroversi yang timbul ketika beberapa orang tertentu mulai mengajarkan bahwa sebelum seorang non-Yahudi dapat menjadi seorang Kristiani sejati, maka dia harus disunat terlebih dahulu dan juga mentaati Hukum Musa. Paulus dan Barnabas dengan lantang menyuarakan ketidaksetujuan mereka terhadap ajaran keliru ini. Mereka pergi ke Yerusalem di mana mereka berkumpul dalam sebuah pertemuan (konsili) para rasul dan penatua Gereja. Di situ para pemuka Gereja di Yerusalem itu menulis sepucuk surat yang menjelaskan kebenaran Injil dan kebebasan umat (yang berasal dari orang-orang non-Yahudi) dari legalisme Yahudi. Setelah membaca surat itu umat Kristiani non-Yahudi di Antiokhia bersukacita karena isi surat yang memberikan semangat.

Seperti biasanya, pada hari ini Allah ingin membawa kita ke dalam kebebasan melalui Yesus. Ia tidak mengutus Sabda-Nya (Yesus) kepada kita untuk mengikat kita dengan segala macam peraturan dan hukum. Pada kesempatan ini marilah kita berdoa bagi semua pemimpin dan individu-individu dalam Gereja – yang tertahbis maupun awam kebanyakan – yang melakukan pelayanan pewartaan Injil kepada orang-orang lain. Kita mohon kepada Allah agar melindungi mereka terhadap berbagai godaan akan legalisme, dominansi dan cinta akan kekuasaan. Kita mohon juga agar Bapa surga menyegarkan orang-orang yang kita doakan itu dan memenuhi diri mereka dengan Roh Kudus-Nya, sehingga dengan demikian mereka dapat berjalan dengan sukacita sejati yang datang dari Tuhan sendiri dan mewartakan Kabar Baik Yesus Kristus dengan penuh semangat dan keberanian.

DOA: Bapa surgawi, kami mempersembahkan kepada-Mu semua anak-Mu yang bekerja tanpa mengenal lelah mewartakan Injil Tuhan Yesus Kristus kepada orang-orang lain. Kami mohon, ya Bapa, agar Engkau melindungi mereka dari segala godaan. Berilah mereka penyegaran dalam kasih akan kehadiran-Mu, sehingga setiap orang yang mendengar pewartaan mereka akan memuliakan nama-Mu dengan penuh sukacita. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 15:7-21), silahkan membaca tulisan yang berjudul “KITA HARUS SALING MENGASIHI, SEPERTI YESUS TELAH MENGASIHI KITA” (bacaan tanggal 4-5-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-05 BACAAN HARIAN MEI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 4-5-18 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 22 Mei 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ALLAH BEGITU MENGASIHI KITA DAN INGIN AGAR KITA ADA BERSAMA DIA

ALLAH BEGITU MENGASIHI KITA DAN INGIN AGAR KITA ADA BERSAMA DIA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Paskah – Kamis, 16 Mei 2019)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Margareta dr Cortona, OFS

Lalu Paulus dan kawan-kawannya meninggalkan Pafos dan berlayar ke Perga di Pamfilia; tetapi Yohanes meninggalkan mereka lalu kembali ke Yerusalem. Dari Perga mereka melanjutkan perjalanan mereka, lalu tiba di Antiokhia di Pisidia. Pada hari Sabat mereka pergi ke rumah ibadat, lalu duduk di situ. Setelah selesai pembacaan dari hukum Taurat dan kitab nabi-nabi, pejabat-pejabat rumah ibadat menyuruh bertanya kepada mereka, “Saudara-saudara, jika ada di antara kamu mempunyai pesan untuk menguatkan umat ini, sampaikanlah!” Lalu bangkitlah Paulus. Ia memberi isyarat dengan tangannya, lalu berkata, “Hai orang-orang Israel dan kamu yang takut akan Allah, dengarkanlah! Allah umat Israel ini telah memilih nenek moyang kita dan membuat umat itu menjadi besar, ketika mereka tinggal di Mesir sebagai orang asing. Dengan tangan-Nya yang teracung Ia telah memimpin mereka keluar dari negeri itu. Empat puluh tahun lamanya Ia bersabar terhadap tingkah laku mereka di padang gurun. Setelah membinasakan tujuh bangsa di tanah Kanaan, Ia membagi-bagikan tanah itu kepada mereka untuk menjadi warisan mereka selama kira-kira empat ratus lima puluh tahun. Sesudah itu Ia memberikan mereka hakim-hakim sampai pada zaman Nabi Samuel. Kemudian mereka meminta seorang raja dan Allah memberikan kepada mereka Saul anak Kish dari suku Benyamin, empat puluh tahun lamanya. Setelah Saul disingkirkan, Allah mengangkat Daud menjadi raja mereka. Tentang Daud Allah telah bersaksi, “Aku telah mendapat Daud anak Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku.’ Sesuai dengan yang telah dijanjikan-Nya, dari keturunnyalah Allah telah membangkitkan Juruselamat bagi orang Israel, yaitu Yesus. Menjelang kedatangan-Nya Yohanes telah menyerukan baptisan tobat kepada seluruh bangsa Israel. Ketika Yohanes hampir selesai menunaikan tugasnya, ia berkata, ‘Sangkamu aku ini siapa? Aku bukan Dia. Sesungguhnya Ia akan datang kemudian daripada aku. Membuka kasut dari kaki-Nya pun aku tidak layak.’ (Kis 13:13-25)

Mazmur Tanggapan: Mzm  89:2-3,21-22,25,27; Bacaan Injil: Yoh 13:16-20

Apakah yang anda akan lakukan apabila anda dipanggil untuk memberitakan Injil Yesus Kristus kepada orang-orang yang anda belum pernah temui sebelumnya? Apakah hal paling penting yang anda ingin katakan kepada mereka? Pesan Injil sebenarnya jelas. Allah begitu mengasihi kita dan ingin agar kita ada bersama Dia. Dia selalu setia dengan janji-janji-Nya. Inilah pesan yang diwartakan oleh Paulus kepada orang-orang Yahudi di Antiokhia di Pisidia. Inilah juga pesan yang harus kita beritakan pada zaman modern ini.

Pada waktu Paulus dan Barnabas diutus untuk perjalanan misioner mereka yang pertama, mereka berkhotbah dalam sinagoga. Paulus menggunakan kesempatan ini untuk berbicara kepada orang-orang yang hadir tentang kesetiaan Allah dalam memenuhi janji-janji yang telah dibuat-Nya melalui para nabi. Secara singkat memaparkan jalan sejarah bangsa Yahudi sambil menggambarkan betapa Bapa di surga tetap setia kepada umat-Nya dari zaman ke zaman – bahkan pada saat-saat di mana mereka meninggalkan-Nya. Pada akhirnya, Allah memberikan Yesus kepada mereka, sebagai Dia yang melalui-Nya mereka dapat menerima keselamatan seperti yang dimaksudkan-Nya.

Apabila Allah tetap komit kepada umat-Nya dari abad ke abad, kita dapat mempercayai-Nya untuk kesetiaan-Nya kepada kita juga. Apalagi kita tahu bahwa kita adalah orang-orang pendosa yang sungguh membutuhkan penebusan. Yesus menyerahkan hidup-Nya sendiri agar kita dapat memperoleh suatu kehidupan baru. Yang kita perlukan hanyalah menerima kehidupan baru tersebut. Dalam Yesus kita mempunyai harta kekayaan yang tak terkira nilainya. Suatu jaminan dan pengharapan yang penuh berkat!

Kita dapat bertanya kepada diri kita masing-masing: Apakah aku telah mengalami kebenaran yang indah ini? Kita juga dapat mengambil waktu untuk memandang kehidupan kita di masa lampau dan mohon kepada Roh Kudus untuk menunjukkan kepada kita jalan-jalan yang telah kita tempuh di bawah bimbingan-Nya dan perlindungan-Nya. Kita mohon kepada-Nya agar menunjukkan kepada kita saat-saat di mana tangan-tangan Allah terlihat campur tangan dalam kehidupan kita, bahkan ketika kita sedang berada jauh dari diri-Nya. Baiklah kita mengingat juga kapan saja Dia menjawab doa-doa kita dan setia pada janji-janji-Nya. Marilah kita berterima kasih penuh syukur kepada-Nya untuk saat-saat itu dan biarlah kebenaran-kebenaran-Nya mencairkan hati kita masing-masing. Biarlah Dia merangkul diri kita dengan penuh kasih.

DOA: Terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu, ya Bapa, karena Engkau senantiasa beserta kami dan tidak pernah membuang kami. Terima kasih karena Engkau telah memberikan Putera-Mu yang tunggal kepada kami dan berbagi/syering hidup-Mu dengan kami. Kami juga berterima kasih karena Engkau menginginkan kami agar bersama-Mu sepanjang segala masa dan mengasihi kami dengan suatu kasih yang kekal. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 13:16-20), bacalah tulisan yang berjudul “HANYA APABILA KITA MEMPERKENANKAN YESUS MELAYANI KITA” (bacaan tanggal 16-5-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-05 BACAAN HARIAN MEI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 26-4-18 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 14 Mei 2019 [Pesta S. Matias, Rasul] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ROH KUDUS MASIH BEKERJA DI TENGAH-TENGAH UMAT ALLAH

ROH KUDUS MASIH BEKERJA DI TENGAH-TENGAH UMAT ALLAH

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Paskah – Rabu, 15 Mei 2019)

Sementara itu, firman Allah makin tersebar dan makin banyak didengar orang. Barnabas dan Saulus kembali dari Yerusalem, setelah mereka menyelesaikan tugas pelayanan. Mereka membawa Yohanes, yang disebut juga Markus. Pada waktu itu dalam jemaat di Antiokhia ada beberapa nabi dan pengajar, yaitu: Barnabas dan Simeon yang disebut Niger, dan Lukius orang Kirena, dan Menahem yang diasuh bersama dengan raja wilayah Herodes, dan Saulus.

Pada suatu hari ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus, “Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka. Lalu mereka berpuasa dan berdoa dan setelah meletakkan tangan ke atas kedua orang itu, mereka membiarkan keduanya pergi.

Oleh karena disuruh Roh Kudus, Barnabas dan Saulus berangkat ke Seleukia, dan dari situ mereka berlayar ke Siprus. Setibanya di Salamis mereka memberitakan firman Allah di dalam rumah-rumah ibadat orang Yahudi. Yohanes menyertai mereka sebagai pembantu mereka. (Kis 12:24-13:5)

Mazmur Tanggapan: Mzm 67:2-3,5,6,8; Bacaan Injil: Yoh 12:44-50.

Paulus dan Barnabas. Di bagian pertama “Kisah para Rasul”, nama Saulus/Paulus jarang muncul terlepas dari teman baiknya yang bernama Barnabas. Pada kenyataannya, baik Gereja di Yerusalem  maupun di Antiokhia mengakui berbagai karunia hebat dari kedua orang ini, juga persahabatan erat antara keduanya. Mereka mengutus keduanya untuk berkarya bersama dalam misi-misi yang sensitif.

Meskipun Paulus sudah dikenal sebagai “Rasul kepada orang bukan Yahudi” Barnabas bersatu secara lengkap dengan Paulus dalam visi Gereja yang mendunia. Sampai titik tertentu, sebenarnya Paulus berutang banyak pada Barnabas, karena rasul yang tidak banyak bicara/dikenal inilah yang mencari Paulus, dan dialah yang melicinkan jalan untuk diterimanya Paulus (oleh para rasul) di Yerusalem. Dialah juga yang membawa Paulus ke Antiokhia untuk membantunya memimpin Gereja di sana (Kis 11:21-26).

Gereja Antiokhia. Selagi mereka berpuasa dan berdoa bersama, para tua-tua Gereja Antiokhia mendengar Roh Kudus mengatakan kepada mereka sesuatu yang baru dan berbeda. Mereka harus mengutus beberapa anggota jemaat sebagai misionaris untuk menyebar-luaskan Injil. Ini adalah sebuah arahan baru untuk keseluruhan Gereja. Para tua-tua tidak lagi cukup berharap dan menaruh kepercayaan bahwa Injil akan menyebar sejalan dengan pergerakan orang-orang. Sekarang, mandat untuk mewartakan Injil jauh lebih bertujuan. Bayangkanlah, karena para tua-tua jemaat ini berpuasa dan berdoa, mereka mampu menerima pangarahan dari Roh Kudus. Tetapi, mengapa selagi berpuasa? Mengapa bukan pada waktu-waktu yang lain?

Makna Puasa. Tuhan selalu dapat mencapai umat-Nya. Akan tetapi, kadang-kadang kita menjadi begitu disibukkan dengan tugas-tugas kita sehari-hari dan lupa untuk membuka hati kita terhadap dorongan-dorongan lemah-lembut dari Roh Kudus. Puasa menolong kita untuk menenangkan hati dan pikiran kita. Apakah yang dimaksudkan dengan puasa sebenarnya? Tidak makan dan minum? Kadang-kadang memang itu maksudnya. Namun puasa juga dapat diartikan sebagai berbagai kegiatan untuk mengurangi distraksi (pelanturan), untuk menenangkan hati, misalnya tidak menonton televisi selama satu malam, atau tidak mendengarkan siaran radio favorit kita agar kita dapat merefleksikan kehendak Allah dalam kehidupan kita.

Puasa dan doa tidak dapat dipisahkan. Penting untuk kita ingat-ingat selalu, bahwa puasa harus selalu disertai doa-doa, sebagai suatu cara menyerahkan hati kita kepada Tuhan sehingga Dia dapat membentuk kita dan memberdayakan kita. Doa dan puasa menolong kita untuk memisahkan diri kita dari pemikiran-pemikiran dan tugas-tugas duniawi kita, sehingga kita dapat datang ke hadapan hadirat Allah dengan lebih siap dan mengakui siapa Dia dan siapa kita yang berada di hadapan-Nya.

Selama puasa dan doa kita, kita menjadi lebih terbuka untuk mendengar suara Roh Kudus yang lemah-lembut itu. Barangkali Dia akan membuka diri kita bagi suatu pekerjaan baru dan istimewa yang diinginkannya untuk kita laksanakan. HARI INI PUN ROH KUDUS MASIH BEKERJA DI TENGAH-TENGAH UMAT ALLAH. Selagi kita membuat jiwa kita tenang dan memberikan hati kita lebih banyak lagi kepada Tuhan, maka Dia akan mengisi kehidupan kita dengan karunia-karunia (anugerah-anugerah)-Nya dan buah Roh.

DOA: Roh Kudus, hanya Engkau yang dapat membimbing kami dalam jalan-jalan Allah. Kami ingin membuka diri kami kepada-Mu sehingga rencana Bapa surgawi dapat dicapai lewat diri kami. Berikanlah kepada kami kekuatan untuk melakukan puasa – untuk membuat diri kami tenang sepenuhnya – sehingga kami dapat menjadi instrumen-instrumen kehendak Bapa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 12:44-50), bacalah tulisan yang berjudul “APA YANG AKU KATAKAN, AKU SAMPAIKAN SEBAGAIMANA DIFIRMANKAN OLEH BAPA KEPADA-KU” (bacaan tanggal 15-5-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.worpress.com; kategori: 19-05 BACAAN HARIAN MEI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-5-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 13 Mei 2019 [Peringatan SP Maria dr Fatima] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS