Posts tagged ‘KHOTBAH DI BUKIT’

YESUS KRISTUS MENGGENAPI HUKUM TAURAT

YESUS KRISTUS MENGGENAPI HUKUM TAURAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA VI [TAHUN A] – 16 Februari 2020)

“Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu huruf kecil atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat,  sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Surga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkannya, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Surga. Aku berkata kepada: Jika kamu tidak melakukan kehendak Allah melebihi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.

Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang mencaci maki saudaranya harus dihadapkan ke Mahkamah Agama, dan siapa yang berkata: Jahil! Harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.

Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pengawal dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Sesungguhnya Aku  berkatamu: Engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.

Kamu telah mendengar yang difirmankan: Jangan berzina. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzina dengan dia di dalam hatinya. Jika matamu yang kanan menyebabkan engkau berdosa, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, daripada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. Jika tanganmu yang kanan menyebabkan engkau berdosa, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa daripada tubuhmu dengan utuh masuk neraka.

Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan istrinya harus memberi surat cerai kepadanya. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan istrinya kecuali karena zina, ia menjadikan istrinya berzina; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berzina.

Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu kepada Tuhan. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun. Jika ya, hendaklah kamu katakan: Ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: Tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal  dari si jahat. (Mat 5:17-37) 

Bacaan Pertama: Sir 15:15-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:1-2,4-5,17-18,33-34; Bacaan Kedua: 1Kor 2:6-10

Taurat (Hukum atau Instruksi) adalah lima kitab pertama yang terdapat dalam Perjanjian Lama. Orang Yahudi mengakui Taurat sebagai perwahyuan Allah. Taurat mengungkapkan pikiran-pikiran Allah yang intim mengenai diri-Nya sendiri dan mengenai jalan hidup suci yang ditawarkan-Nya kepada umat-Nya. Pada zaman lampau, apabila para rabbi Yahudi ditanya: “Apakah yang dilakukan Allah di surga?”; maka para rabbi itu akan menjawab: “Membaca Taurat!” Terdengar lucu sekarang, namun itulah faktanya.

Bagaimana Yesus memandang Taurat? Ia mengatakan kepada para pengikut-Nya bahwa Dia diutus oleh Bapa-Nya di surga untuk menggenapi hukum, agar Taurat menjadi berbuah. Itulah sebabnya mengapa Khotbah Yesus di Bukit memusatkan perhatian pada “hati” atau “niat batin” yang ada di belakang perintah-perintah kuno yang ada dalam Taurat. Misalnya, Yesus menjelaskan bahwa tidak cukuplah untuk menghindari tindakan mencederai orang lain secara fisik. Apabila kita mengasihi dari hati kita, kita harus belajar hidup dengan orang-orang lain dalam damai juga. Juga tidak cukuplah untuk menghindari pencurian dan perzinahan. Kita harus membuang hasrat untuk memiliki sesuatu yang menjadi hak milik orang lain; termasuk istri orang lain.

Meskipun Ia meningkatkan tuntutan perintah-perintah Allah, Yesus tidak menggambarkan Allah sebagai seorang hakim kejam yang siap untuk menghukum kita karena dosa-dosa kita. Allah mengasihi kita dan mengundang kita untuk merangkul kasih-Nya itu. Allah ingin mengubah kita oleh kuasa Roh Kudus-Nya, agar kita dapat mengasihi apa/siapa saja yang dikasihi-Nya, dengan demikian kita dapat meninggalkan kedosaaan kita.

Kasih Allah adalah seperti kobaran api yang menyala-nyala dengan sempurna, karena membakar habis hasrat-hasrat jahat kita dan memenuhi diri kita dengan suatu kerinduan untuk menyenangkan-Nya dan meletakkan hidup kita dalam pelayanan yang rendah hati bagi sesama. Santo Augustinus pernah berkata: “Penuhilah perintah-perintah Allah karena kasih. Dapatkah seseorang menolak untuk mengasihi Allah, yang begitu melimpah belas kasih-Nya, yang begitu adil dalam segala jalan-Nya?  Dapatkah seseorang menolak untuk mengasihi Allah yang telah terlebih dahulu mengasihi kita walaupun kita masih terbelenggu dalam ketidakadilan dan kesombongan?”

Marilah kita mohon kepada Roh Kudus untuk memurnikan pikiran-pikiran kita  dan memenuhi hati kita dengan kasih Allah. Dengan demikian kita akan mulai hanya menghasrati apa yang disenangi Allah.

DOA: Terima kasih Tuhan Yesus Kristus, karena Engkau telah memberikan kepadaku Roh Kudus-Mu. Penuhilah hatiku dengan kasih-Mu yang tak terbatas dan membuat diriku kudus sebagaimana Engkau kudus adanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:17-37), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS KRISTUS DATANG BUKAN UNTUK MENIADAKAN HUKUM TAURAT, MELAINKAN UNTUK MENGGENAPINYA” (bacaan tanggal 16-2-20 dalam situs/blog  SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-2-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 13 Februari 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DUA ARUS UTAMA DALAM KEHIDUPAN MANUSIA

DUA ARUS UTAMA DALAM KEHIDUPAN MANUSIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA V [TAHUN A] – 9 Februari 2020)

“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagi pula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah tempayan, melainkan di atas kaki pelita sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga.” (Mat 5:13-16) 

Bacaan Pertama: Yes 58:7-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 112:4-8a,9; Bacaan Kedua: 1Kor 2:1-5

Silahkan anda hening sejenak dan cobalah melakukan perjalanan ke zaman dahulu, yaitu zaman Yesus hidup di dunia. Pada waktu itu belum ada listrik, belum ada air conditioning, belum ada lemari pendingin. Orang belum ribut-ribut soal air sungai yang terkonteminasi oleh zat-zat kimia yang berasal dari limbah industri. Makanan yang tidak dimakan menjadi basi. Pada malam hari, yang ada hanyalah kegelapan total …gelap pekat sepekat-pekatnya. Dengan demikian, kalau Yesus berbicara tentang “garam” dan “terang”, Ia sebenarnya mengacu kepada dua arus utama dalam kehidupan manusia. Semua itu vital bagi kebaikan dan keutuhan, dan bagi kebebasan dari ketidakjelasan/kekaburan.

Yesus mengatakan bahwa kita  adalah “garam” untuk meningkatkan nilai kehidupan di sekeliling kita, dan untuk menjaganya dari kerusakan. Garam itu membuat makanan tidak hambar (“ada rasa”), dengan demikian sebagai “garam” kita harus meningkatkan kebaikan dan kehidupan Ilahi dalam diri orang-orang lain. Santo Khromatius – seorang uskup di Italia utara sekitar 16 abad yang lalu – menulis sebagai berikut: “Tuhan menamakan para murid-Nya “garam bumi” (salt of the earth) karena mereka menambahkan “bumbu penyedap” pada hati manusia berupa hikmat surgawi,  hati yang telah dibuat hambar oleh Iblis” (Risalat 5,1). Banyak orang benar-benar percaya bahwa Kekristenan (Kristianitas) merupakan hidup keagamaan yang membosankan, lemah dan sungguh hambar menjemukan. Oleh karena itu betapa indahnya kalau orang-orang itu melihat dalam diri kita sukacita Injili yang sejati.

Kehidupan Kristiani yang sejati sebenarnya jauh dari sifat bosan-menjemukan. Allah memanggil kita untuk menunjukkan kebenaran ini agar orang-orang lain akan melihat sukacita, hikmat-kebijaksanaan dan pengendalian-diri yang dihasilkan oleh kehidupan Kristiani itu. Allah minta kepada kita untuk memelihara sabda-Nya, menjaganya dari kerusakan karena sikap acuh-tak-acuh kita. Melalui kata-kata dan perbuatan-perbuatan kita, melalui cintakasih kita kepada Yesus dan tindakan saling mengasihi dengan sesama kita, kita dapat memproklamasikan Injil Tuhan Yesus Kristus oleh kuasa dan otoritas yang berasal dari-Nya – tanpa itu dunia akan menjadi layu dan loyo dalam arti rohani – ramai dan gegap gembita di atas permukaannya namun sesungguhnya hampa-melompong dalam jiwa. Banyak orang yang sudah bosan dengan kenikmatan badani, mulai mencari-cari hal yang “rohani” lewat berbagai praktek dan ajaran dari nabi-nabi palsu yang banyak berkeliaran. Kenikmatan rohani yang diperoleh pun akhirnya hanyalah kenikmatan rohani palsu belaka.

Yesus juga menamakan kita para murid-Nya “terang dunia”. Rencana abadi-Nya adalah agar melalui kita, “seperti melalui pancaran sinar bercahaya, Dia dapat mencurahkan terang-pengetahuan tentang diri-Nya ke seluruh dunia” (Chromatius, Risalat 5,1). Ah, sungguh sebuah panggilan yang indah! Yang menguatkan kita lagi adalah ketika mengetahui, bahwa kuasa untuk tetap setia kepada  panggilan kita tidaklah datang dari diri kita sendiri, melainkan dari Roh Kudus yang berdiam dalam diri kita, seperti yang ditulis oleh Santo Paulus: “… harta ini kami miliki dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami” (2Kor 4:7). Oleh karena itu, setiap hari marilah kita membuka hidup kita lebih-lebih lagi kepada-Nya, sehingga terang-Nya dapat semakin memancar terang-benderang di dalam diri kita dan membuat terang jalan bagi orang-orang lain.

DOA: Roh Kudus Allah, datanglah dan penuhilah hati kami dengan hikmat-Mu dan kasih-Mu. Ajarlah kami, aturlah hidup kami, dan bimbinglah kami. Kuatkanlah kami agar setiap hari kami benar-benar berfungsi sebagai garam bumi dan terang dunia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:13-16), bacalah tulisan yang berjudul “GARAM BUMI DAN TERANG DUNIA” (bacaan tanggal 9-2-20) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 20-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 5-2-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 7 Februari 2020 [Pesta/Peringatan S. Koleta dr  Corbie, Biarawati Klaris] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS INGIN AGAR KITA MEMBANGUN KEHIDUPAN KITA DI ATAS SABDA-NYA

YESUS INGIN AGAR KITA MEMBANGUN KEHIDUPAN KITA DI ATAS SABDA-NYA
(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Adven – Kamis, 5 Desember 2019)

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga.
Jadi, setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu bertiuplah angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu bertiuplah angin melanda rumah itu itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya. (Mat 7:21,24-27)

Bacaan Pertama: Yes 26:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 118:1,8-9,19-21,25-27

“Lebih baik berlindung pada TUHAN daripada percaya kepada manusia. Lebih baik berlindung pada TUHAN daripada percaya kepada para bangsawan.” (Mzm 118:8-9)

Ketika mendengar berita bahwa daerah kita akan diterpa angin puting beliung, hujan lebat, banjir dlsb., apakah kita tidak merasa waswas dan khawatir, merasa takut? Apalagi kalau kita tinggal kota pantai yang rawan gempa dan tsunami? Kebanyakan orang yang membangun dan tinggal dalam sebuah rumah di tepi pantai diharapkan untuk mendirikan rumah mereka sesuai standar-standar keamanan yang ditetapkan pemerintah setempat, sehingga apabila akan datang badai mereka tidak perlau terlalu khawatir/takut.

HOUSES ON THE ROCK AND SANDKetika Yesus berbicara mengenai “orang yang mendirikan rumahnya di atas batu”, sebenarnya Dia berbicara mengenai diri kita. Yesus ingin agar kita mendirikan/membangun kehidupan kita di atas sabda-Nya – fondasi yang paling kokoh yang dapat kita miliki. Dan agar hal ini dapat terwujud, maka kita harus bekerja sama dengan Yesus, sang Arsitek Agung. Selagi kita memperkenankan Yesus membangun diri kita sesuai dengan standar-standar-Nya, maka rasa khawatir kita pun akan berkurang apabila badai dunia datang menerpa kita.

Memang tidak mudahlah bagi kita untuk memperkenankan Yesus melakukan “pembangunan” diri kita. Kita dapat saja terdorong agar Ia membangun sesuai standar-standar kita sendiri, bukan standar-standar-Nya. Namun Yesus ingin memulai pembangunan diri kita dari fondasi yang paling bawah. Dia akan membongkar dan mengangkat apa saya yang tidak berkenan di mata-Nya. Yesus tahu bahwa apabila fondasi kita lemah, maka kita menjadi rentan terhadap serangan si Iblis, dunia, dan terhadap kodrat kita sendiri yang cenderung jatuh ke dalam kedosaan.

Walaupun Yesus membongkar dan membangun kembali diri kita, kita senantiasa harus mengingat bahwa Dia beserta kita setiap saat. Kita tidak pernah akan ditinggalkan-Nya. Yesus tidak ingin melihat kita memandang berbagai badai kehidupan seakan-akan sebagai akhir hidup kita. Yesus ingin agar kita menaruh kepercayaan kepada-Nya, sebagai andalan kita satu-satunya sehingga kita senantiasa memilih untuk mentaati perintah-perintah-Nya, betapa pun sulitnya perintah-perintah tersebut. Apabila badai datang menerjang, Yesus ingin agar kita lari kepada Bapa dan membiarkan Bapa menguatkan kita. Yesus ingin melakukan pertempuran yang kita sendiri tidak mampu lakukan dengan kekuatan sendiri. Sungguh merupakan sebuah berkat mengetahui bahwa kita dapat menaruh kepercayaan kita pada sang Juruselamat! Yang harus kita lakukan hanyalah menaruh kepercayaan dan taat kepada-Nya, dan Ia pun akan membangun diri kita masing-masing menjadi pribadi-pribadi tempat tinggal yang kuat dan indah bagi Roh Kudus-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, datanglah dan bangunlah hatiku seturut standar-standar-Mu. Buatlah aku menjadi cukup kuat untuk berdiri kokoh apabila badai datang menerpa. Kasih-Mu cukuplah bagiku. Aku menaruh kepercayaan pada kekuatan-Mu untuk memperbaharui diriku dan untuk menolongku agar mampu mengatasi situasi-situasi yang kuhadapi. Aku sungguh mengasihi-Mu, Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami lagi Bacaan Pertama hari ini [Yes 26:1-6], bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MEMANGGIL KITA UNTUK MEWARTAKAN KABAR BAIK, KAPAN SAJA DAN DI MANA SAJA” (bacaan tanggal 5-12-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2019.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 6-12-18 dala situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 3 Desember 2019 [Pesta S. Fransiskus Xaverius, Imam-Pelindung Misi]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENARUH KEPERCAYAAN KEPADA YESUS TANPA RESERVE

MENARUH KEPERCAYAAN KEPADA YESUS TANPA RESERVE

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XII – Kamis, 27 Juni 2019)

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga. Pada hari terakhir banyak orang akan  berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mukjizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari hadapan-Ku, kamu sekalian yang melakukan kejahatan!

Jadi, setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu bertiuplah angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu bertiuplah angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.

Setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka. (Mat 7:21-29) 

Bacaan Pertama: Kej 16:1-12,15-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:1-5

Yesus mengakhiri “Khotbah di Bukit”-Nya dengan memberi petuah-petuah kepada para pendengar-Nya agar mereka mencari fondasi yang layak untuk membangun kehidupan mereka. Yesus mengilustrasikan konsekuensi-konsekuensi dari pilihan-pilihan baik atau buruk dengan menceritakan sebuah perumpamaan tentang dua orang yang masing-masing mendirikan rumah. Orang yang bodoh membangun rumahnya di atas pasir, sedangkan yang bijaksana mendirikan rumahnya di atas batu. Pada waktu hujan lebat turun dan datang lah banjir, dengan mudah kita dapat mengira-ngira rumah mana yang survive, yang mampu tetap berdiri, dan rumah mana yang runtuh berkeping-keping. Pesan Yesus jelas: Apabila kamu mendirikan kehidupanmu di atas suatu fondasi berupa asap atau udara, maka bangunanmu akan runtuh.

Yesus sendiri adalah kekal, Sabda Allah yang hidup (Yoh 1:1). Ia adalah sang Sabda yang telah diucapkan oleh Allah sejak awal waktu. Dia adalah “gunung batu yang kekal” (Yes 26:4). Santo Paulus menulis kepada jemaat di Korintus: “Sesuai dengan anugerah Allah, yang diberikan kepadaku, aku sebagai seorang ahli bangunan yang terampil telah meletakkan dasar, dan orang lain membangun terus di atasnya. Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya. Karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain daripada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus” (1Kor 3:10-11). Setiap hal yang ilahi, dan setiap hal yang dihasrati Allah, menjadi masuk akal dalam terang Yesus dan kasih-Nya. Oleh karena itu, apabila kita ingin mengetahui bagaimana caranya membangun kehidupan kita, maka kita tidak dapat melakukannya secara lebih baik selain mengambil waktu bersama Yesus dan menjadi mengenal Dia secara intim.

Itulah sebabnya sangat penting bagi kita untuk menyediakan waktu yang teratur setiap hari untuk membaca dan merenungkan sabda Allah di dalam Kitab Suci – teristimewa kitab-kitab Injil yang adalah “jantung hati” segenap Kitab Suci (lihat “Katekismus Gereja Katolik, 125). Di dalam kitab-kitab Injil ini kita berjumpa dengan Yesus, “sang Sabda yang menjadi daging” (Yoh 1:14). Dalam kitab-kitab Injil inilah Yesus dapat berbicara secara paling langsung kepada hati kita. Dibimbing oleh Roh Kudus selagi kita membaca Kitab Suci, teristimewa kitab-kitab Injil, kurun waktu berabad-abad yang memisahkan kita dengan Yesus dari Nazaret seakan dikompres sampai kita bertemu dengan-Nya secara muka ketemu muka dalam suasana doa.

Kitab Suci jauh lebih luas daripada sekadar kumpulan potongan-potongan informasi. Kitab Suci tidak hanya mengajar kehendak Allah, melainkan juga memberdayakan kita untuk mengikuti jejak Yesus Kristus. Dalam mengikuti jejak-Nya kita akan mengenal dan mengalami kebahagiaan sejati dan pemenuhan hasrat-hasrat kita yang terdalam. Dengan mengenal Yesus secara pribadi dan menyerupakan kehidupan kita dengan kehendak-Nya, kita menjadi seperti orang yang bijaksana yang membangun suatu fondasi yang kokoh. Apapun yang menghalangi jalan kita kita, fondasi ini cukup kuat untuk menangani segala halangan yang menghadang kita. Marilah kita menaruh kepercayaan kepada Yesus, tanpa reserve.  

DOA: Yesus, Putera Bapa, nyatakanlah diri-Mu kepadaku melalui sabda-Mu. Aku ingin mengenal-Mu dan mengasihi-Mu lebih lagi agar dengan demikian aku dapat membangun kehidupanku di atas fondasi kokoh, yang adalah Engkau sendiri. Aku menaruh kepercayaan kepada-Mu tanpa reserve, ya Tuhan dan Juruselamatku. Amin.

Catatan:  Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:21-29), bacalah tulisan yang berjudul “SEMBILAN AYAT TERAKHIR DARI KHOTBAH DI BUKIT” (bacaan tanggal 27-6-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-06 BACAAN HARIAN JUNI 2019.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 28-6-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 24 Juni 2019 [HR KELAHIRAN S. YOHANES PEMBAPTIS]  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SETIAP POHON YANG BAIK MENGHASILKAN BUAH YANG BAIK

SETIAP POHON YANG BAIK MENGHASILKAN BUAH YANG BAIK

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XII – Rabu, 26 Juni 2019)

“Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedangkan pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang baik. Setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Jadi, dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. (Mat 7:15-20) 

Bacaan Pertama: Kej 15:1-12,17-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:1-4,6-9

Siapa sih yang tidak ingin mampu memberikan segalanya kepada Allah sebagai tanda terima kasih penuh syukur untuk segala hal yang dilakukan-Nya bagi kita? Akan tetapi, apabila kita memeriksa hidup kita, kita temukan dalam diri kita kelemahan-kelemahan karakter, pola-pola dosa, ketidakmampuan untuk mengasihi seperti Tuhan mengasihi. Bilamana kita membaca kata-kata dalam Kitab Suci seperti ini,  “Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka” (Mat 7:16), maka mudah bagi kita untuk menjadi ciut-hati atau  berketetapan hati untuk mencoba lebih keras lagi guna menjadi seorang pribadi yang lebih baik. Akan tetapi, kedua pendekatan itu tidak membantu.

Yesus menawarkan sebuah jalan yang lebih baik ketika Dia berkata: “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa”  (Yoh 15:5). Hidup yang penuh kasih dan penuh kemurahan hati tidak datang sekadar dari upaya untuk mencoba lebih keras lagi namun mengalir dari relasi kita dengan Yesus dan keterbukaan kita terhadap karya Roh Kudus. Kita menghasilkan buah ilahi, artinya kita mencerminkan karakter Allah apabila kita bertumpu pada fondasi yang adalah Putera-Nya, Yesus Kristus. Kita menghasilkan buah Roh (Gal 5:22,23) jika kita memberikan ruangan untuk Roh Kudus membangun hidup-Nya dalam diri kita.

Kita tidak dapat membereskan kelemahan-kelemahan kita atau menghasilkan buah-buah kehidupan Allah berdasarkan kekuatan kita sendiri. Apabila kita melihat kelemahan-kelemahan dalam diri kita, maka pertama-tama baiklah kita pergi menghadap Tuhan yang tinggal dalam kita melalui pembaptisan dan memohon kepada-Nya agar kita berakar lebih dalam lagi dalam Dia. Hanya Dia yang berurusan dengan segala dosa dan kelemahan dengan mencurahkan darah-Nya dapat berurusan dengan dosa-dosa dan kelemahan-kelemahan kita. Hanya salib Kristus yang dapat menjadi senjata ampuh untuk mengatasi kegelapan hati kita. Tentu kita harus taat kepada Allah dan mengatakan “tidak” kepada kecenderungan kita untuk berdosa. Kita harus senantiasa melawan berbagai dorongan batiniah yang bersifat negatif, namun kita harus belajar melakukan perlawanan ini dengan kuasa Allah, bukannya dengan menggunakan kekuatan sendiri.

Oleh karena itu, pada awal setiap hari, marilah kita menguduskan hidup kita kepada Allah, menyetujui pekerjaan-Nya dalam diri kita. Jika kita memperkenankan hidup Allah mengalir di dalam dan melalui diri kita, maka sikap-sikap dan tindakan-tindakan kita akan diarahkan kepada jalan yang benar. Lalu, melalui sutu persatuan yang intim dengan Tuhan, kita akan menghasilkan buah sesuai dengan panggilan-Nya kepada kita.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Aku datang kepada-Mu dengan tangan hampa dan penuh kerinduan untuk menerima hidup-Mu sendiri. Aku percaya bahwa Engkau ingin menjadi “pokok anggur” bagi diriku, memegang aku erat-erat, memberi asupan makanan kepadaku, memampukan aku untuk berbuah. Aku ingin berdiam dalam Engkau, karena Aku tahu tanpa Engkau aku tidak dapat berbuat apa-apa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:15-20), bacalah tulisan yang berjudul “BUAH-BUAH YANG BAIK MENGANDAIKAN KEBERADAAN AKAR-AKAR YANG BAIK” (bacaan tanggal 26-6-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-06 BACAAN HARIAN JUNI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 27-6-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 24 Juni 2019 [HR KELAHIRAN S. YOHANES PEMBAPTIS] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MANUSIA MENDAMBAKAN UNTUK DIPERLAKUKAN DENGAN PENUH KASIH

MANUSIA MENDAMBAKAN UNTUK DIPERLAKUKAN DENGAN PENUH KASIH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XII – Selasa, 25 Juni 2019)

“Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.”

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.

Masuklah melalui pintu yang sempit, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sempitlah pintu dan sesaklah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” (Mat 7:6,12-14) 

Bacaan Pertama: Kej 13:2,5-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 15:2-5

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka” (Mat 7:12). Ayat ini dalam dunia manajemen dikenal sebagai THE GOLDEN RULE (bdk. Tob 4:15). Memang itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi, yang digenapi oleh Yesus Kristus lewat ajaran-Nya dan kehidupan-Nya sendiri.

Sekarang, siapakah dari kita yang tidak ingin diperlakukan dengan penuh kasih? Kita semua mendambakannya, teristimewa apabila perlakuan penuh kasih itu adalah dari Allah sendiri. Janji akan hidup dalam Roh adalah, apabila kita menghargai kasih Allah – menjaga saat-saat doa dan pembacaan Kitab Suci serta melakukan yang terbaik untuk mengikuti dorongan-dorongan Roh Kudus – maka Dia akan memberdayakan kita untuk melakukan hal-hal yang bahkan tidak mungkin dilakukan secara “normal”. Dengan demikian “pintu yang sempit” dan “jalan yang sesak” menjadi manageable, dan kita pun akan bergembira menghayati suatu kehidupan yang pada faktanya melawan gelombang dunia. Sepanjang zaman, menjadi murid Kristus adalah menjadi “tanda lawan”, yang tidak ikut-ikutan dengan “dunia”.

Apabila kita ingin mampu memperlakukan orang-orang lain dengan kasih sebagaimana kita sendiri dambakan, maka pertama-tama kita harus mengalami belas kasih Allah dan bela rasa-Nya. Kita perlu sekali mengetahui dan mengenal kasih-Nya yang intim bagi kita masing-masing, yaitu bahwa Dia adalah seorang Bapa penuh kasih, yang sungguh berbahagia untuk menyambut kita apabila kita datang menghadap hadirat-Nya. Selagi kita datang kepada-Nya, kita pun akan mengalami kasih-Nya yang dicurahkan oleh-Nya ke dalam hati kita melalui Roh Kudus-Nya. Pengalaman seperti inilah yang akan memberdayakan kita untuk mengasihi orang-orang di sekeliling kita.

Selagi kita berjalan dengan kasih Allah, maka kasih-Nya itu akan mengalir deras melalui diri kita kepada orang-orang lain. Semakin kita mengenal dan menghargai kasih-Nya, semakin besar pula dorongan yang kita rasakan untuk berbagi kasih-Nya itu dengan siapa saja yang kita temui. Kita akan digerakkan oleh Roh Kudus untuk melakukan tindakan-tindakan kebaikan. Tindakan-tindakan itu tidak perlu mengambil rupa tindakan-tindakan yang spektakular, misalnya “tindakan-tindakan kecil” seperti menjaga dan memelihara seorang anak tetangga, yang ibunya sedang sakit, atau berdoa dengan seorang teman yang kesepian dan baru saja disakiti hatinya; akan tetapi kita harus mencari Tuhan dengan segenap hati kita sehingga Dia dapat menggerakkan kita untuk mengasihi orang lain.

Oleh karena itu, marilah kita mengasihi Tuhan Allah. Baiklah kita berhati-hati untuk tidak melakukan apa saja yang dapat membuat sedih Roh Kudus yang berdiam dalam diri kita. Dengan pertolongan-Nya, kita dapat melakukan hal-hal yang sebelumnya kita pikir tidak mungkin dapat kita lakukan. “Jalan yang sempit” akan menjadi semakin menarik bagi kita, dan kita semakin mempunyai kerinduan untuk melakukan hal-hal yang akan menyenangkan Allah. Marilah sekarang kita memuji-muji Allah untuk semua cara berbeda-beda yang digunakan-Nya untuk menyatakan kasih-Nya kepada kita. Sementara kita semakin dekat kepada Allah dan memperkenankan-Nya menyatakan hati-Nya kepada kita, kita akan menyadari betapa penuh sukacita kita dalam mengikuti jalan kasih-Nya.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu untuk kasih-Mu yang Kaucurahkan ke dalam hati kami masing-masing. Oleh Roh Kudus-Mu ajarlah kami untuk mengikuti jejak Kristus lewat pintu yang sempit dan jalan yang penuh sesak. Penuhilah diri kami masing-masing dengan kasih-Mu sehingga, sebagai murid-murid Kristus yang setia, kami dapat menyalurkan kasih-Mu itu secara berlimpah kepada orang-orang di sekeliling kami. Jagalah diri kami agar selalu menyenangkan-Mu, ya Allah kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:6,12-14), bacalah tulisan yang berjudul “SEMPITLAH PINTU DAN SESAKLAH JALAN YANG MENUJU KEPADA KEHIDUPAN” (bacaan tanggal 25-6-19 dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-06 BACAAN HARIAN JUNI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 26-6-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 24 Juni 2019 [HR KELAHIRAN S. YOHANES PEMBAPTIS] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BAPA SURGAWI YANG SANGAT MENGASIHI ANAK-ANAK-NYA

BAPA SURGAWI YANG SANGAT MENGASIHI ANAK-ANAK-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XI – Sabtu, 22 Juni 2019)

“Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.

Karena itu, Aku berkata kepadamu: Janganlah khawatir tentang hidupmu, mengenai apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah khawatir pula tentang tubuhmu, mengenai apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting daripada makanan dan tubuh itu lebih penting daripada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu di surga. Bukankah kamu jauh lebih berharga daripada burung-burung itu? Siapakah di antara kamu yang karena kekhawatirannya dapat menambah sehasta saja pada jalan hidupnya? Mengapa kamu khawatir mengenai pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi, jika demikian Allah mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? Karena itu, janganlah kamu khawatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di surga tahu bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kehendak-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Karena itu, janganlah kamu khawatir tentang hari esok, karena hari esok mempunyai kekhawatirannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” (Mat 6:24-34) 

Bacaan Pertama: 2Kor 12:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:8-13

Betapa sering Yesus mengatakan kepada para murid-Nya (termasuk kita) bahwa kita mempunyai seorang Bapa yang mahatahu dan mahakasih. Malah Yesus melangkah lebih jauh lagi dengan mengatakan, bahwa kita tidak perlu merasa khawatir tentang apa yang hendak kita makan, minum atau pakai, karena “Bapamu yang di surga tahu bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kehendak-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Mat 6:32-33).

Pada waktu belajar di sekolah dahulu, barangkali kita diajarkan bahwa “Allah adalah Pengada tertinggi” dan “Roh murni” dan “Pencipta yang mahakuasa.” Yang paling sulit dicerna adalah bahwa Allah adalah “Bapa” kita, yang sungguh-sungguh adalah ‘seorang’ ayah dalam artiannya yang paling riil dan indah. Artinya, Dia – yang adalah khalik langit dan bumi itu – mengenal diriku dan mengasihiku secara total-lengkap, setiap aspek keberadaanku dan segalanya yang kubutuhkan, jauh lebih baik daripada yang aku sendiri ketahui serta pahami.

Yesus mendesak terus bahwa Bapa-Nya itu adalah Bapa kita semua, “yang ada di surga”. Yesus ingin meyakinkan kita bahwa Bapa surgawi sangat mengasihi kita, seperti Yesus sendiri mengasihi kita (Yoh 17:23). Putera datang untuk menyatakan Bapa-Nya (Yoh 17:6). Ketika mengajar di Bait Allah, Yesus menanggapi salah satu pertanyaan orang-orang Farisi: “Baik Aku, maupun Bapa-Ku tidak kamu kenal. Sekiranya kamu mengenal Aku, kamu mengenal juga Bapa-Ku” (Yoh 8:19). Dalam salah satu kesempatan Yesus bersabda: “Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya (Mat 11:27). Dalam doa-Nya kepada Bapa surgawi sebelum sengsara dan kematian-Nya, Yesus berkata: “Segala firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar bahwa Aku datang dari Engkau dan mereka percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku” (Yoh 17:8). Kepada para pemuka Yahudi, Yesus bersabda: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup” (Yoh 5:24).

Dalam kasih Bapa dan Yesus bagi kita, kita memang dapat menemukan kehidupan yang sejati. “Bapa mengasihi Anak dan Ia menunjukkan kepada-Nya segala sesuatu yang dikerjakan-Nya sendiri,  bahkan Ia akan menunjukkan kepada-Nya pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar lagi daripada pekerjaan-pekerjaan itu, sehingga kamu menjadi heran. Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan siapa saja yang dikehendaki-Nya” (Yoh 5:20-21). Ke dalam kehidupan dan kasih inilah Yesus telah menerima kita: “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu” (Yoh 15:9).

DOA: Bapa surgawi, kasih dan perhatian-Mu terhadap kami sungguh tak terhingga; sungguh total-lengkap, intim dan mempribadi bagi kami masing-masing – anak-anak-Mu dalam Yesus Kristus. Dosa-dosa kami telah Kaubersihkan, dan Engkau telah melakukan semua dengan kasih-sayang yang hanya dapat diberikan oleh seorang ayah yang sejati. Pulihkanlah kami kepada kehidupan yang sejati – yang benar di mata-Mu, ya Bapa. Jagalah kami agar jangan pernah lupa bahwa dengan kekuatan kami sendiri, kami tidak berarti apa-apa. Kami sungguh membutuhkan tangan-Mu yang kuat untuk menuntun kami berjalan setiap hari. Amin.   

Catatan:  Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 6:24-34), bacalah tulisan yang berjudul “CARILAH DAHULU KERAJAAN ALLAH DAN KEHENDAK-NYA” (bacaan tanggal 22-9-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-06 BACAAN HARIAN JUNI 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 20 Juni 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS