Posts tagged ‘KHOTBAH DI BUKIT’

YESUS MENGAJARKAN DOA BAPA KAMI

YESUS MENGAJARKAN DOA BAPA KAMI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIKamis, 22 Juni 2017)

 

Lagi pula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa dengan banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi, janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. Karena itu, berdoalah demikian: Bapa kami yang di surga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami dari kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskankanlah kami daripada yang jahat. [Karena Engkaulah yang punya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.] Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” (Mat 6:7-15) 

Bacaan Pertama: 2Kor 11:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 111:1-4,7-8

Dalam “Khotbah di Bukit”, Yesus mengajarkan kepada para murid-Nya untuk tidak berdoa seperti orang-orang munafik yang suka mengucapkan doa mereka dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang; dan kalau berdoa juga jangan bertele-tele dengan menggunakan banyak kata” (lihat Mat 6:5,7), melainkan berdoa dengan sebuah cara yang baru – dengan kerendahan hati dan iman.

Dengan memberikan “Doa Bapa Kami”, Yesus mendesak kita untuk menyapa Allah sebagai “Bapa kami yang di surga”, yang menunjukkan pentingnya relasi intim/akrab Bapa surgawi dengan kita dalam kuat-kuasa-Nya yang bersifat transenden. Sebagai Bapa yang sangat mengasihi kita anak-anak-Nyak Dia memperhatikan kita dan mengetahui segala kebutuhan kita. Dia tidak lagi berada jauh dan tidak dapat diakses oleh kita (sebagaimana dibayangkan dalam Perjanjian Lama), melainkan sungguh dapat didekati melalui pencurahan darah Kristus pada kayu salib (lihat Ibr 10:19). Melalui doa-doa kita, kita akan bertumbuh dalam relasi yang akrab (yang dimulai pada waktu kita dibaptis) dengan Bapa surgawi.

Walaupun Bapa surgawi mengetahui kebutuhan-kebutuhan kita sebelum kita meminta, Dia sungguh ingin agar kita menghaturkan permohonan kepada-Nya, untuk menyatakan rasa percaya dan iman kita kepada-Nya. Yesus mengedepankan “Doa Bapa kami” sebagai sebuah contoh bagaimana – melalui doa – kita dapat menikmati persekutuan yang akrab dengan Bapa surgawi. “Doa Bapa kami” memusatkan perhatian pada pemenuhan akhir/puncak dari kehendak Allah di atas bumi dan di dalam surga. Kita berdoa agar kehendak Bapa surgawi dipenuhi (Mat 6:10).

Kita yang mendoakan “Doa Bapa kami” dipanggil untuk menghadirkan kedaulatan Allah pada hari ini, untuk menyambut kedatangan Kerajaan Allah, dan untuk berdoa demi terwujudnya secara penuh rencana Allah pada akhir zaman. Manakala kita mendoakan “Doa Bapa kami” ini, kita menyatukan diri kita dengan Yesus dalam hasrat kita untuk melihat terwujudnya rencana kekal-abadi dari Allah.

Kadang-kadang “Doa Bapa kami” mengungkapkan keragu-raguan kita sendiri tentang rahmat Allah yang mampu mentransformasikan hidup kita. Kita dipaksa untuk mengakui bahwa ada keinginan dalam diri kita untuk tidak mau mengubah pola dosa kita, untuk tidak mau mengampuni, atau untuk tidak mau menerima kehendak Allah selain kehendak kita sendiri. “Doa Bapa kami” berisikan apa saja yang Yesus inginkan agar menjadi hasrat sejati hati kita. Karena Yesus telah hidup dalam Roh sepenuhnya, maka Dia lebih memahami tentang rencana penyelamatan Allah yang penuh kemuliaan ketimbang apa yang kita mampu pikirkan.

DOA: Tuhan Yesus, kami berterima kasih penuh syukur karena Engkau telah mengajarkan kepada kami bagaimana berdoa. Dalam iman, kami memberikan hati kami masing-masing kepada-Mu sehingga dengan demikian rahmat-Mu dapat mentransformasikan kami menjadi “ciptaan-ciptaan baru” yang rindu untuk melihat kepenuhan dari rencana kekal-abadi dari Bapa surgawi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 6:7-15), bacalah tulisan yang berjudul “MENGAMPUNI DALAM NAMA YESUS” (bacaan tanggal 22-6-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 BACAAN HARIAN JUNI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 16-6-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 19 Juni 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SADAR AKAN KESATUAN KITA DENGAN YESUS KRISTUS

SADAR AKAN KESATUAN KITA DENGAN YESUS KRISTUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Aloisius Gonzaga, Biarawan Yesuit – Rabu, 21 Juni 2017)

 

“Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di surga. Jadi, apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau menggembar-gemborkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

“Apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti seorang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan  berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Dengan demikian, Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

“Apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (Mat 6:1-6.16-18) 

Bacaan Pertama: 2Kor 9:6-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 112:1-4,9 

Praktek-praktek doa, pemberian sedekah dan puasa, semuanya bertumpu pada tradisi Yahudi. Agar supaya praktek-praktek tersebut dapat dinilai sebagai kebenaran sejati (Inggris: righteousness), maka praktek-praktek itu harus dimotivasikan oleh kasih akan Allah. “Hukum baru dinamakan hukum kasih, sebab hukum itu membuat kita bertindak lebih karena kasih yang Roh Kudus curahkan, daripada karena takut. Ia juga dinamakan hukum rahmat, karena ia memberi rahmat, supaya dapat bertindak berkat kekuatan iman dan Sakramen-sakramen. Ia juga disebut hukum kebebasan (bdk. Yak 1:25; 2:12), karena ia membebaskan kita dari peraturan-peraturan ritual dan legal dari hukum lama …” (Katekismus Gereja Katolik [KGK], 1972).

Yesus mengajar para pengikut-Nya: “Apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa” (Mat 6:16). Kata “hypocrite” atau munafik dalam bahasa Yunani berarti “aktor”, yaitu seseorang yang di hadapan orang-orang lain berpura-pura menjadi orang lain. Seorang munafik adalah seseorang yang motivasinya dalam tindakan kesalehan hanyalah “pemuliaan dirinya sendiri” (Inggris: self-glorification).

Pemberian sedekah berurusan dengan menolong orang-orang – membantu mengerjakan sesuatu, memberi uang dan/atau waktu, atau sumber daya lainnya kepada orang-orang yang membutuhkan. Di lain pihak berpuasa berarti tidak makan atau menghindari makanan tertentu untuk kurun waktu tertentu, biasanya dilakukan berdasarkan alasan-alasan rohani. Praktek-praktek seperti ini – apabila motivasinya bersifat manusiawi – cenderung untuk menarik perhatian pada diri kita sendiri; dan jika dilaksanakan dengan baik, maka praktek-praktek itu akan meningkatkan ego kita. Apabila kita gagal melaksanakan hal-hal ini dengan baik, maka dengan mudah kita diseret ke dalam kekecewaan dan keputus-asaan. Walaupun jika kita gagal, itu sebenarnya merupakan suatu kesempatan untuk bertobat dan berganti haluan: dari “ketergantungan pada diri sendiri (Inggris; self-reliance atau kemandirian) yang salah”, kepada “ketergantungan pada Allah”.

Karya-karya karitatif/kasih kita akan berbuah sampai titik di mana semua itu memampukan kita untuk menjadi tidak/kurang sibuk dengan kepentingan diri kita sendiri. Yesus selalu bersatu dengan Bapa surgawi, melakukan kehendak Bapa-Nya, dan bertindak demi kehormatan dan kemuliaan Bapa surgawi. Yesus tidak pernah mencoba untuk menarik perhatian orang-orang lain dan dihormati di tengah masyarakat. Melalui suatu kehidupan yang diisi dengan relasi pribadi dengan Yesus dan sumber daya tak terbatas dari rahmat ilahi, kita pun dapat mempraktekkan hidup saleh yang sejati.

Bunda Teresa dari Kalkuta berkata: “Kita harus sadar akan kesatuan kita dengan Kristus, seperti Dia sadar akan kesatuan-Nya dengan Bapa-Nya. Kegiatan kita sungguh bersifat apostolik hanya selama kita memperkenankan-Nya bekerja dalam diri kita dan melalui kita dengan kuat-kuasa-Nya, dengan hasrat hati-Nya, dan dengan kasih-Nya” (Gift from God, 74).

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Jauhkanlah aku dari sikap dan perilaku yang munafik dalam kehidupanku. Oleh Roh Kudus-Mu buatlah aku menjadi murid-Mu yang berbuah baik dan banyak, serta senantiasa menyatu dengan diri-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 6:1-6,16-18), bacalah tulisan yang berjudul “MELAWAN KEMUNAFIKAN” (bacaan tanggal 21-6-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 BACAAN HARIAN JUNI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul untuk bacaan tanggal 21-6-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 19 Juni 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MENJADI ANAK-ANAK BAPA SURGAWI

MENJADI ANAK-ANAK BAPA SURGAWI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XI – Selasa, 20 Juni 2017)

 

Kamu telah mendengar yang difirmankan, Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu: Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga, yang menerbitkan matahari  bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu, haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna.” (Mat 5:43-48) 

Bacaan Pertama: 2Kor 8:1-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 146:2,5-9a 

“Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” (Mat 5:44-45)

Ketika Yesus mengajarkan kita untuk mengasihi musuh-musuh kita, paling sedikit dari sudut pemikiran intelektual kita terpikirlah bahwa Dia melakukan analisis  atas masalah manusia ini dengan psikologi yang sangat mendalam. Yesus sendiri tentunya akan “pusing” sendiri seandainya Dia tidak memaafkan dan mengampuni orang-orang Farisi, para ahli Taurat dll. yang terus-menerus mengganggu dirinya. Kaum Farisi dkk. ini adalah orang-orang yang penuh dengan kebencian dan iri-hati terhadap diri-Nya, dan sangat sulit mengubah pemikiran, sikap dan perilaku mereka terhadap Yesus dan kegiatan pewartaan-Nya.

Yesus tentunya tidak luput mempunyai dugaan bahwa kaum Farisi dkk. merencanakan sebuah komplotan untuk membunuhnya agar tidak lagi menjadi “biang kerok” di tanah Israel. Upaya-upaya mereka untuk memojokkan serta menjebak Yesus beberapa kali muncul dalam beberapa narasi Injil. Pada waktu orang-orang anti-Yesus itu pada akhirnya berhasil menyalibkan-Nya di bukit Kalvari, dari atas kayu salib itu Yesus menunjukkan bagaimana seharusnya kita mengasihi dan mengampuni. Dari atas kayu salib itu Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34).

Hati Yesus hanya berisikan cintakasih – tidak ada hal lain – walaupun ketika menanggung penderitaan yang paling buruk yang dapat menghantam seorang pribadi. Cintakasih semacam itu menyembuhkan kita dan membasuh bersih dosa-dosa kita. Penyembuhan penuh pengampunan! Inilah yang diajarkan oleh Yesus dari atas kayu salib-Nya. Cintakasih berlimpah Yesus dari atas kayu salib inilah yang sungguh menyembuhkan luka-luka dunia.

Kita mengetahui bahwa karena dosa Adam hilanglah cintakasih yang sehat, membahagiakan dan menyembuhkan itu. Ada cerita (tidak alkitabiah) begini: Konon pada suatu siang hari yang panas-terik Adam dan kedua anak laki-lakinya yang masih kecil, Kain dan Habel, sedang berjalan di padang gurun dan panasnya pasir “membakar” telapak kaki mereka. Di kejauhan kelihatanlah area yang dipenuhi pepohonan rindang. Habel bertanya kepada ayahnya: “Bapak, mengapa kita tidak boleh tinggal di sana, di oase yang indah dan sejuk itu?” Adam menjawab, “Semua ini gara-gara salah ibumu, anakku! Gara-gara dialah kita tidak boleh lagi tinggal dalam rumah nyaman  yang dahulu.” Apa pesan cerita pendek ini? Adam tidak dapat mengampuni istrinya. Dapatlah kita melihat efek buruk apa yang telah disebabkan dosa? Dosa merampas cintakasih dari diri kita, sehingga kita menyalahkan orang lain dan menolak untuk mengampuni orang lain.

Sebaliknya Allah tidak pernah menyerah karena pemberontakan manusia yang telah diciptakan-Nya menurut gambar dan rupa-Nya sendiri (lihat Kej 1:26,27). Allah mengutus Putera ilahi-Nya, Yesus, untuk memulihkan kasih yang menyembuhkan itu bagi kita. Yesus mengajarkan kita, “Kasihilah dan ampunilah.” Singkatnya, “engkau harus menjadi sempurna seperti Bapamu di surga sempurna adanya” (Mat 5:48).

Yesus datang ke dunia pertama kalinya untuk memulihkan bagi kita cintakasih asli di taman Firdaus, cintakasih Bapa surgawi “yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar”. Yesus memang adalah sang Psikolog Agung yang mempunyai visi baru berkaitan dengan pengharapan untuk dunia.

DOA: Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Oleh Roh Kudus-Mu bentuklah kami sehingga dapat menjadi pribadi-pribadi yang mau dan mampu mengampuni orang-orang yang memusuhi kami dan mendoakan mereka yang menganiaya kami. Terima kasih, ya Tuhan. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:43-48), bacalah tulisan yang berjudul “PERINTAH YESUS UNTUK MENGASIHI MUSUH” (bacaan tanggal 20-6-17) dalam dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 BACAAN HARIAN JUNI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 16-6-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 18 Juni 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

BUKTI BAHWA KITA BENAR-BENAR ANAK BAPA SURGAWI

BUKTI BAHWA KITA BENAR-BENAR ANAK BAPA SURGAWI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XI  – Senin, 19 Juni 2017)

Kamu telah mendengar yang difirmankan, Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari kamu. (Mat 5:38-42)

Bacaan Pertama: 2Kor 6:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4

Dalam “Khotbah di Bukit”, Yesus mendesak kita untuk mengasihi musuh-musuh kita. Hal ini merupakan suatu “kejutan” yang lengkap selengkap-lengkapnya karena secara total bertentangan dengan dengan “Hukum Pembalasan” yang terdapat dalam Perjanjian Lama (lihat Kel 21:24; Im 24:20: Ul 19:21). Hukum kasih yang diajarkan Yesus ini seharusnya menjadi stempel kita, umat Kristiani.

Pernah ada usaha-usaha untuk menafsirkan ayat Perjanjian Lama ini seakan hanya diberlakukan pada “si Jahat” atau “hal-hal yang jahat” saja, bukannya kepada manusia yang mendzolimi kita. Namun kata-kata Yesus sangatlah jelas. Ia memberikan empat macam peristiwa sebagai contoh bagaimana orang-orang dapat menyakiti kita:

  1. Pertama-tama lewat kekerasan secara fisik. Dalam hal ini Yesus mengajar kita untuk tidak membalas, melainkan menanggungnya (Mat 5:39).
  2. Kedua, Yesus memberi contoh berkaitan tentang tindakan di bidang hukum: “Kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu” (Mat 5:40). Di mata orang Yahudi, “jubah” mempunyai makna yang sangat penting, yaitu “dirinya sendiri” (lihat Kel 22:26). Lihat pula apa yang dilakukan oleh Bartimeus yang buta ketika para murid Yesus memanggilnya untuk bertemu Yesus: dia melemparkan jubahnya! (Mrk 10:50). Seseorang harus meninggalkan “dirinya sendiri” (egonya dll.) ketika memutuskan untuk menghadap Yesus. Di sini (Mat 5:40) Yesus mengajarkan kepada kita untuk tidak hanya memberikan apa yang secara ilegal telah diambil dari kita, akan tetapi bahkan juga memberikan lebih lagi, yaitu diri kita sendiri, sikap pasrah … ikhlas.
  3. Ketiga, dalam hal paksa-memaksa (misalnya dalam hal pekerja paksa): “Siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil” (Mat 5:41). Ajaran Yesus ini kemudian dipakai dalam dunia bisnis: WALKING THE EXTRA MILE adalah salah satu butir panduan mendasar dalam melakukan adhi-layanan kepada para pelanggan di service industry, misalnya industri perbankan, asuransi dll.).
  4. Akhirnya, yang keempat: Yesus mengajarkan bahwa dalam situasi yang masih memungkinkan, janganlah kita menolak orang yang mohon bantuan dan mau meminjam dari kita, apakah kawan ataupun lawan (Mat 5:42).

Yesus kemudian menjelaskan mengapa “mengasihi musuh-musuh kita” begitu penting. Ia mengatakan, bahwa ini adalah bukti bahwa kita adalah “anak-anak Bapa surgawi, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (Mat 5:45).

Mengasihi para teman dan sahabat kita, mereka yang bersikap dan memperlakukan kita dengan baik adalah hal yang sangat mudah. Hal tersebut tidak membuktikan apa pun perihal sikap Kristiani kita. Orang-orang yang tidak mengenal Allah juga melakukannya (Mat 5:47). Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita, tidak mengatakan bahwa mengasihi orang-orang yang baik kepada kita bukannya merupakan cintakasih yang sejati. Namun Ia mau menandaskan bahwa bukti riil dari cintakasih yang sejati adalah jikalau kita mengasihi dengan setulus-tulusnya mereka yang selalu menyakiti kita, mereka yang selalu tidak menghargai kita dlsb. Di sinilah kita memberi kesaksian bahwa cintakasih kita didasarkan secara kokoh pada kehendak Allah sendiri.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau memberikan kepada kami contoh terbaik bagaimana kami harus mengasihi musuh-musuh kami: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34). Terima kasih Tuhan. Terpujilah nama-Mu selalu! Amin.  

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini  (Mat 5:38-42), bacalah tulisan yang berjudul “KITA TIDAK MELAWAN KARENA ADA KASIH” (bacaan tanggal 19-6-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 BACAAN HARIAN JUNI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-6-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 16 Juni 2016 [ Peringatan B. Anisetus Koplin, Imam dkk. Martir Polandia]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YA ATAU TIDAK

YA ATAU TIDAK

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan Biasa X – Sabtu, 17 Juni 2017

Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu kepada Tuhan. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun. Jika ya, hendaklah kamu katakan: Ya, jika tidak hendaklah kamu katakan: Tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat. (Mat 5:33-37) 

Bacaan Pertama: 2Kor 5:14-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-4,8-9,11-12

Bagian dari “Khotbah di Bukit” ini diperkenalkan, seperti juga bagian-bagian lainnya, seperti berikut: “Kamu telah mendengar ……, tetapi Aku berkata kepadamu ……” Yesus berkata bahwa Dia tidak datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi, melainkan untuk menggenapinya (Mat 5:17). Dalam begitu banyak kasus, hukum telah dibuat encer (dibuat ringan) atau ditafsirkan secara kaku, jika tindakan itu menolong mereka yang memegang kekuasaan.

Dalam bacaan yang diambil dari “Khotbah di Bukit” ini Yesus mengatakan bahwa hukum lama ditafsirkan sebagai “Jangan bersumpah palsu”. Sebenarnya kita tidak diperkenankan bersumpah sama sekali, walaupun ketika bersumpah kita menggunakan segala macam pengganti/substitut dari Nama Ilahi. Bersumpah demi langit, demi bumi, demi Yerusalem dlsb. tetap merupakan suatu tanda bahwa kita (anda dan saya) menilai diri kita sendiri sebagai orang yang tidak jujur dan tidak dapat dipercaya.

Sebuah sumpah adalah suatu cerminan dari keadaan kedosaan seseorang. Sumpah menunjukkan kecenderungannya untuk berbohong, ketidakjujurannya. Dalam upaya untuk mengatasi ini dan memperkuat “kebenaran”, digunakanlah sumpah. Apabila kita mempunyai kecenderungan untuk menaruh kepercayaan, untuk percaya kepada orang-orang lain, untuk menerima apa yang dikatakan oleh mereka, maka sumpah tidak memiliki tempat sama sekali.

Jadi, sumpah adalah sebuah tanda bahwa kita menerima hal-hal yang buruk ini (kebohongan dlsb.) sebagai hal-hal yang normal-normal saja. Kita tidak memiliki ekspektasi adanya kebenaran atau rasa percaya antara orang-orang. Itulah yang dimaksudkan oleh Yesus ketika Dia berkata bahwa apa pun yang lebih atau kurang daripada YA atau TIDAK berasal dari Iblis.

Yesus membawakan kepada kita Dispensasi Baru. Dia telah menjanjikan kepada kita Roh-Nya dengan segala buah-buah, segala anugerah, segala karunia-Nya. Dalam Kehidupan Kristiani yang sejati haruslah ada kasih, rasa percaya, kebenaran dlsb. Dalam sebuah masyarakat atau komunitas sedemikian tidak ada tempat untuk sumpah. Memperkenalkan sumpah ke dalam hidup kita sebagai umat Kristiani hanya akan mengembalikan kejahatan-kejahatan berupa ketidakpercayaan dan kebohongan-kebohongan.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami agar hidup dalam Kerajaan-Mu dengan kasih dan rasa percaya satu sama lain. Jagalah agar kata-kata yang kami ucapkan senantiasa dapat dipercaya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:33-37), bacalah tulisan yang berjudul “MEMBUKA DIRI BAGI KUAT-KUASA ALLAH YANG MENYEMBUHKAN” (bacaan tanggal 17-6-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 BACAAN HARIAN JUNI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-6-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 13 Juni 2017 [Pesta S. Antonius dr Padua, Imam & Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

VISI YESUS MENTRANSENDEN HURUF-HURUF HUKUM TAURAT

VISI YESUS MENTRANSENDEN HURUF-HURUF HUKUM TAURAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa X – Jumat, 16 Juni 2017)

 

“Kamu telah mendengar yang difirmankan: Jangan berzina. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzina dengan dia di dalam hatinya. Jika matamu yang kanan menyebabkan engkau berdosa, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, daripada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. Jika tanganmu yang kanan menyebabkan engkau berdosa, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa daripada tubuhmu dengan utuh masuk neraka.

Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan istrinya harus memberi surat cerai kepadanya. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan istrinya kecuali karena zina, ia menjadikan istrinya berzina; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berzina.”  (Mat 5:27-32) 

Bacaan Pertama: 2Kor 4:7-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 116:10-11,15-18

Injil Matius dirancang dengan sangat hati-hati guna menggambarkan Yesus sebagai sang Mesias yang menginaugurasikan Kerajaan Allah yang sudah lama ditunggu-tunggu. Dalam pengajaran “Khotbah di Bukit” kali ini, Matius mengedepankan undangan Yesus kepada mereka yang berkeinginan untuk masuk ke dalam Kerajaan ini. Pertama-tama Yesus menggambarkan berkat-berkat unik yang dinamakan “Sabda-sabda Bahagia”. Kemudian, seperti seorang Musa baru, Yesus memperkenalkan serangkaian prinsip-prinsip yang intrinsik tentang pemerintahan mesianis.

Dalam terang Kerajaan yang akan datang, Yesus mengajar para pengikut-Nya bagaimana menghayati hidup sehingga dengan demikian hidup Allah sendiri dapat berakar dan bertumbuh dalam kehidupan mereka. Yesus berbicara mengenai banyak tantangan yang kita harus hadapi dalam kehidupan kita sehari-hari, misalnya kemarahan, bersumpah, balas-dendam, dan mengasihi musuh-musuh. Rumusannya mengikuti suatu pola tertentu: “Kamu telah mendengar yang difirmankan, … Tetapi Aku berkata kepadamu …” Etika baru ini melampaui hukum-hukum Musa dan orang-orang Farisi. Sebagai sang Mesias yang dijanjikan, Yesus “menggenapi Taurat dan kitab para nabi, bukan meniadakan semua itu” (Mat 5:17).

Visi Yesus mentransenden huruf-huruf hukum Taurat: “Jangan berzina”, menjadi: “Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzina dengan dia di dalam hatinya” (Mat 5:27-28). Jadi, Yesus memindahkan fokus kepada “hati”. Dengan menggunakan gaya para rabi Yahudi yang khas, Yesus mengatakan bahwa lebih baik mengorbankan mata atau bagian tubuh lainnya – jikalau memang perlu – supaya dapat masuk ke dalam Kerajaan Surga (Mat 5:29-30). Hal ini menggarisbawahi/menekankan perlunya untuk mencabut sampai ke akar-akarnya segala dorongan terdalam kita untuk berdosa.

Catatan Matius dalam Injilnya mengenai posisi Yesus terkait dengan perceraian menghancurkan prakonsepsi-prakonsepsi natural/alamiah yang ada dalam pikiran mereka yang mendengar pengajaran-Nya. Ada tercatat bahwa para murid-Nya berkata kepada Yesus: “Jika demikian halnya hubungan antara suami dan istri, lebih baik jangan kawin” (Mat 19:10). Kata-kata keras Yesus sehubungan dengan “perceraian” bukanlah dimaksudkan untuk menghukum orang-orang supaya tetap hidup selamanya dalam relasi yang bersifat destruktif, melainkan untuk menunjuk pada rahmat yang diberikan Allah kepada pasutri untuk hidup dengan cara yang memajukan Kerajaan Allah. Seperti juga “Sabda-Sabda Bahagia” dan perintah untuk mengasihi musuh-musuh kita, “kata-kata keras” tadi menyatakan “way of life” yang berbeda secara radikal, yang diaugurasikan oleh Yesus.

Untuk hidup dengan cara baru ini dibutuhkan karya Roh Kudus dalam batin kita. Melalui iman, kita dapat mengalami kuat-kuasa untuk mengasihi orang-orang lain seperti Kristus mengasihi kita. Oleh karena itu marilah kita memohon Tuhan untuk memberikan rahmat kepada kita semua.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Berdayakanlah kami oleh rahmat-Mu agar dapat saling mengasihi dan untuk menjadi murni dalam hati kami masing-masing. Kami mengakui bahwa kami tidak dapat sungguh mengasihi kecuali Engkau sendiri mentransformasikan kami dari dalam. Utuslah Roh-Mu sehingga dengan demikian kami dapat merangkul undangan-Mu yang indah untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:27-32), bacalah tulisan yang berjudul “KATA-KATA KERAS YESUS SEKITAR ZINA” (bacaan tanggal 16-6-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 BACAAN HARIAN JUNI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-6-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 13 Juni 2016 [Pesta S. Antonius dr Padua, Imam & Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

AMPUNILAH DAN BERDAMAILAH !!!

AMPUNILAH DAN BERDAMAILAH !!!

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa X – Kamis, 15 Juni 2017)

Aku berkata kepadamu: Jika kamu tidak melakukan kehendak Allah melebihi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.

Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang mencaci maki saudaranya harus dihadapkan ke Mahkamah Agama, dan siapa yang berkata: Jahil! Harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.

Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu ini jangan menyerahkan engkau kepada pengawal dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai habis. (Mat 5:20-26) 

Bacaan Pertama: 2Kor 3:15-4:1,3-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 85:9-14

Ada orang yang mengibaratkan persahabatan itu seperti porselen yang indah. Sungguh sesuatu yang sangat berharga, yang mudah pecah namun sulit diperbaiki. Kita semua mengetahui betapa sulitnya untuk mengampuni seseorang yang telah menyakiti kita,  menjatuhkan kita, katakanlah mendzolimi kita. Di samping luka yang kita derita  karena pengkhianatan sahabat kita, ada juga luka lain yang disebabkan oleh ketidakmampuan kita untuk mengampuni atau tidak adanya kemauan untuk berdamai dari pihak kita sendiri. Pada kenyataannya, dalam beberapa kasus, tidak mau mengampuni dapat menyebabkan luka yang lebih berat daripada tindakan awal orang lain yang membuat kita geram dan marah. Luka-luka kecil kalau dibiarkan saja dapat bertumbuh menjadi luka-luka yang lebih besar, konsekuensinya lebih sukar untuk disembuhkan.

Itulah sebabnya, mengapa Yesus memerintahkan kita untuk mengampuni. Namun pada saat yang sama baiklah kita ketahui bahwa Dia tidak memandang remeh sulitnya mengampuni orang lain yang telah mendzolimi kita. Bagaimana pun juga Yesus sendiri mengalami pengkhianatan dari seorang murid yang sangat dipercayai oleh-Nya. Sulit bagi kita untuk membayangkan bagaimana Hati Yesus meratapi Yudas Iskariot berkaitan dengan pengkhianatan murid yang satu ini. Meskipun Yesus tahu bahwa mengampuni itu sulit, tokh Ia mengajarkan kepada kita untuk mengampuni, untuk berdamai, untuk let go luka-luka lama.

Dalam Doa “Bapa Kami” yang diajarkan oleh Yesus sendiri, kita mendengar potongan kalimat seperti berikut: “Ampunilah kami dari kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami” (Mat 6:12). Doa “Bapa Kami” itu segera disusul oleh dua ayat penting: “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang,  Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu” (Mat 6:14-15). Mengakhiri perumpamaan-Nya tentang pengampunan (Mat 18:21-35), Yesus bersabda: “Demikian juga yang akan diperbuat oleh Bapa-Ku yang di surga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu” (Mat 18:35).

Kita tidak dapat berdalih dalam hal pengampunan ini karena perintah Yesus begitu jelas dan gamblang. Terasa  berat memang, suatu tuntutan yang sulit dipenuhi. Dalam hal ini ingatlah belas kasih Yesus kepada kita sepanjang hidup kita. Tuhan Yesus menyediakan “segudang” cintakasih-Nya bagi kita untuk menutupi kekurangan kita dalam hal mengasihi orang lain. Ia sungguh dapat menolong kita manakala hati kita sedang membeku-keras atau mengalami kepahitan dalam hidup ini.

Yesus tahu bahwa mengampuni itu sulit, tidak terjadi secara instan, seringkali bertahap. Bagi-Nya kurang penting apakah kita telah mengampuni setiap orang secara penuh. Yang penting di mata Yesus adalah bahwa kita memelihara hati lembut dan mohon kepada-Nya rahmat agar kita semakin lembut hari lepas hari. Dengan demikian, berdamailah dengan saudari dan saudara kita, dan ampunilah apa yang harus diampuni! Biarlah kasih Kristus memenuhi diri kita masing-masing, sehingga kita dapat memberikan cintakasih dan belas kasih kepada semua orang dalam kehidupan kita.

DOA: Tuhan Yesus, hanya Engkau yang dapat membetulkan hati yang patah dan menyembuhkan jiwa-jiwa yang terluka. Buatlah aku utuh oleh kuat-kuasa Roh Kudus-Mu. Berikanlah kepadaku rahmat untuk mengampuni. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:20-26),  bacalah tulisan yang berjudul “SALING BERSAUDARA SATU SAMA LAIN” (bacaan tanggal 15-6-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 BACAAN HARIAN JUNI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 9-6-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 13 Juni 2017 [Peringatan/Pesta S. Antonius dr Padua, Imam Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS