Posts tagged ‘KHOTBAH DI BUKIT’

UNTUK MENGGENAPI HUKUM TAURAT DAN KITAB PARA NABI

UNTUK MENGGENAPI HUKUM TAURAT DAN KITAB PARA NABI

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Prapaskah – Rabu, 7 Maret 2018)

“Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu huruf kecil atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat,  sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Surga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkannya, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Surga. (Mat 5:17-19) 

Bacaan Pertama Ul 4:1,5-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 147:12-13,15-16,19-20

Yesus tidak memperkenankan diri-Nya ditempatkan sebagai oposisi terhadap Hukum Taurat dan kitab para Nabi (Mat 5:17). Melalui sarana-sarana ini, Allah berbicara kepada para kekasih-Nya, umat pilihan. Yesus membuat jelas, bahwa ajaran-ajaran-Nya dan mukjizat-mukjizat-Nya sepenuhnya sejalan dengan Hukum Taurat, dan Ia adalah penggenapannya – Dia yang akan menyempurnakan Hukum Taurat sesempurna-sempurnanya.

Yesus menyempurnakan Hukum Taurat dengan memenuhi tujuan Allah dalam memberikan hukum itu pertama kalinya, yaitu bahwa kita akan mampu untuk berelasi dengan Allah secara murni dan benar, demikian pula halnya dengan relasi dengan sesama. Dengan mendamaikan kita dengan Bapa surgawi lewat kemenangan-Nya di atas kayu salib, Yesus membuat setiap orang dimungkinkan untuk berdiri di hadapan hadirat Allah, bersih dan bebas dari kesalahan. Ditebus oleh darah-Nya dan dibawa ke dalam suatu kehidupan baru dalam air baptis, kita dapat dipenuhi dengan kuasa Roh Kudus-Nya, yang membentuk hati kita serta mengajar kita jalan ketaatan.

Dibebaskan dari rasa takut akan dihukum, semakin yakin akan kasih Allah kepada kita, sekarang kita dapat menerima kehidupan ilahi. Dari kuasa kehidupan itulah, kita dapat menyenangkan Dia lewat/oleh tindakan-tindakan iman kita. Hukum tetap diperlukan karena perjuangan terus menerus berlangsung antara daging dan roh, namun tujuannya telah dinaikkan kepada suatu tingkatan yang jauh lebih tinggi. Kristus telah memberikan kepada kita hidup baru yang mentransformasikan diri kita, menarik kita semakin jauh lagi dari dosa dan semakin dekat kepada Bapa surgawi.

Jika kita ke luar sedikit dari bacaan Injil hari ini (namun masih tetap dalam kerangka “Khotbah di Bukit”), maka dapat kita katakan bahwa ketika Yesus menggemakan dan menggenapi perintah-perintah berkaitan dengan pembunuhan, perzinahan, dan perceraian (lihat Mat 5:21,27,31), Ia tidak hanya memanggil kita untuk menghayati kehidupan moral yang lebih baik, melainkan juga mengundang kita ke dalam inti kehidupan Allah sendiri, yang dimulai sekarang di dunia ini.

DOA: Yesus, Engkaulah pemenuhan segala hukum Allah. Engkau adalah Guru Agung, Tuhan dan Juruselamat kami. Oleh Roh Kudus-Mu, bentuklah diri kami agar tetap menjadi murid-murid-Mu yang setia, dan dari hari ke hari kami dapat menjadi semakin serupa dengan Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:17-19), bacalah tulisan yang berjudul “AKU DATANG BUKAN UNTUK MENIADAKANNYA, MELAINKAN UNTUK MENGGENAPINYA” (bacaan tanggal 7-3-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-03 BACAAN HARIAN MARET 2018. 

 (Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 22-3-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 4 Maret 2018 [HARI MINGGU PRAPASKAH III – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

AJARAN YESUS ADALAH AGAR KITA MENCONTOH SIFAT ALLAH YANG PENUH DENGAN KEMURAHAN HATI

AJARAN YESUS ADALAH AGAR KITA MENCONTOH SIFAT ALLAH YANG PENUH DENGAN KEMURAHAN HATI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Prapaskah – Senin, 26 Februari 2018)

“Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu murah hati.”

“Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni. Berilah dan kamu akan diberi: Suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang diguncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam pangkuanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”  (Luk 6:36-38) 

Bacaan Pertama: Dan 9:4b-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 79:8-9,11,13 

Sepintas lalu kelihatan di sini bahwa Yesus sepertinya memberikan sebuah daftar yang berisikan sederetan hal-hal apa saja yang harus kita lakukan atau tidak boleh kita lakukan (do’s and don’ts). Hendaklah kamu berbela rasa … bermurah hati, jangan menghakimi, jangan menghukum. Karena ajaran-ajaran Yesus seringkali termasuk larangan-larangan terhadap perilaku yang merusak, maka tidak mengherankanlah apabila Yesus sering dipandang tidak lebih dari seorang guru moral. Namun orang-orang yang melihat secara lebih mendalam akan melihat bahwa pusat ajaran Yesus bukanlah perilaku manusia. Ajaran-Nya adalah agar para murid-Nya (umat Kristiani) mencontoh sifat Allah yang penuh dengan kemurahan hati.

Apabila kita hendak bermurah hati sama seperti Bapa bermurah hati, kita harus mengetahui  dan mengenal terlebih dahulu kemurahan hati Allah itu seperti apa. Mempraktekkan kemurahan hati yang mengabaikan aspek kesalahan dan tanpa menghiraukan rasa keadilan sungguh berbeda dengan kemurahan hati Allah. Memang kemurahan hati dicirikan oleh bela rasa dan sikap dan perilkau memaafkan orang-orang lain, namun hal ini tak berarti tidak adanya penghakiman bagi para pendosa. Kalau demikian halnya, maka kematian Yesus di kayu salib merupakan kesia-siaan belaka.

Allah adalah “penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia” (Mzm 103:8), akan tetapi hal ini tidak berarti bahwa Dia menutup mata terhadap ketidakadilan yang terjadi. Itulah sebabnya mengapa Dia mengutus Putera-Nya guna menanggung hukuman adil yang pantas bagi kita. Setiap tipu-menipu, setiap pemikiran jahat dan cabul, setiap pembunuhan, setiap kebencian dll. – hukuman untuk setiap dosa itu ditaruh di atas punggung Yesus selagi bergumul dalam taman Getsemani, pada waktu Dia memanggul salib sampai ke bukit Kalvari, dan kemudian tergantung di kayu salib. Hanya orang-orang yang mengakui dosa-dosa mereka dengan cara ini sampai pada pengenalan akan kemurahan hati penuh kelembutan dari Yesus. Dialah yang akan membuang kesalahan mereka dan membersihkan hati nurani mereka.

Allah ingin memberikan kepada kita banyak karunia (anugerah)-Nya. Apakah kita mengalami berkat-berkat ini dalam “takaran yang baik” (lihat Luk 6:38)? Melalui Yesus, Allah ingin mencurahkan kekuatan, konsolasi dan dorongan positif kepada kita semua dari takhta-Nya. Allah ingin melakukan itu lebih daripada yang kita sering harapkan sendiri. Sebenarnya apa yang kita harapkan? Kadang-kadang kita dapat membuat kabur pengalaman kita sendiri akan kemurahan hati Allah, karena kita masih belum bertobat sepenuhnya.

Kalau kita merasa haus dan lapar akan karunia-karunia dari Allah, kita harus memeriksa hati kita. Apakah masih ada dosa yang belum di bawa ke dalam suatu pengakuan yang serius. Apakah kita tidak memiliki bela rasa terhadap sesama? Apakah kita masih cepat dalam menghakimi dan menghukum orang lain? Apakah nafsu-nafsu, kebencian-kebencian atau kebohongan-kebohongan masih menjadi bagian dari pola hidup kita?

Marilah kita bergegas menghadap Bapa surgawi. Dengan rendah hati kita mohon pertolongan-Nya agar kita dapat menerima karunia-karunia-Nya dalam “takaran yang baik”.

DOA: Bapa surgawi, kasihanilah aku orang berdosa ini. Ajarlah aku bagaimana mengasihi orang lain seperti Engkau mengasihi. Ajarlah aku untuk dapat menunjukkan kepada orang-orang lain bela rasa-Mu. Aku mohon kepada-Mu agar hidupku dapat dipenuhi dengan kebaikan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Dan 9:4b-10) bacalah tulisan yang berjudul “MARILAH KITA BELAJAR DARI DANIEL” (bacaan tanggal 13-3-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-3-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 23 Februari 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

AGAR KITA DAPAT MENCERMINKAN KASIH ALLAH KEPADA MUSUH-MUSUH KITA

AGAR KITA DAPAT MENCERMINKAN KASIH ALLAH KEPADA MUSUH-MUSUH KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Prapaskah – Sabtu, 24 Februari 2018)

Kamu telah mendengar yang difirmankan, Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu: Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga, yang menerbitkan matahari  bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu, haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna.” (Mat 5:43-48) 

Bacaan Pertama: Ul 26:16-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:1-2,4-5,7-8  

Dari berbagai perintah Yesus yang keras-keras, kiranya perintah untuk mengasihi musuh inilah perintah paling keras dan sulit yang harus kita laksanakan. Berapa banyak dari kita telah mendengar perintah Yesus ini memandangnya sebagai “terlalu idealistis”? Berapa banyak dari kita yang telah mendengar sabda Yesus ini dan merasa bersalah karena ketidakmampuan kita selama ini untuk setia pada perintah itu. Biar bagaimana pun, siapakah yang dapat sungguh mengasihi secara sempurna?

Kasih yang sempurna itu murah hati dan konstan. Karena didirikan di atas suatu komitmen interior (yang bersifat batiniah), maka kasih yang sempurna tidak berubah berdasarkan tindakan-tindakan orang yang kita kasihi. Mengasihi musuh-musuh kita juga bukan merupakan hasil dari kalkulasi cost and benefit seperti halnya rata-rata keputusan bisnis. Kalau kita sungguh mengasihi mereka, maka bukan berarti ada jaminan bahwa musuh-musuh kita kemudian menjadi kawan kita.

Tujuan utama dari “mengasihi musuh-musuh” adalah agar kita dapat mencerminkan kasih Allah kepada mereka. Tindakan kita tersebut kita membantu melembutkan hati mereka terhadap Allah. Allah ingin agar kita memandang musuh-musuh kita seperti Dia memandang mereka. Mereka adalah orang-orang yang dikasihi Allah seperti kita juga; orang-orang yang membutuhkan belas kasih Allah, seperti kita juga.

“Kasih sempurna” adalah kasih Allah yang ditunjukkan oleh-Nya pada waktu Dia mengutus Putera-Nya untuk menyelamatkan kita, meskipun kita masih menjadi musuh-musuh-Nya (lihat Rm 5:8-10). Sebagai anak-anak Allah sekarang kita turut serta dalam hidup ilahi-Nya. Ini adalah sumber “kasih sempurna”. Inilah yang akan memampukan kita untuk mengasihi musuh-musuh kita. Yesus tahu bahwa tidak mungkinlah mengasihi musuh kita berdasarkan sumber daya manusiawi yang terpisah dari Allah. Kita hanya dapat mengasihi seperti Yesus sendiri mengasihi, serta juga menanggapi rahmat yang mengalir dari kematian dan kebangkitan-Nya.

Semakin besar kita bertumbuh dalam kesatuan dengan Kristus, semakin besar pula kita akan mencerminkan “kasih sempurna”-Nya kepada setiap orang dalam kehidupan kita – baik musuh-musuh maupun kawan-kawan. Kasih Yesus yang “lebar” akan mengatasi kasih kita yang “sempit”. Hati-Nya yang lemah lembut akan mengalahkan hati kita yang keras. Sebagai akibatnya, kita akan mengalami sukacita besar ketika kita menyadari bahwa kita mengasihi orang-orang melebihi kemampuan alami kita sendiri.

DOA: Roh Kudus Allah, bukalah mataku agar dapat memandang orang-orang lain dengan kasih, dengan kasih mana Yesus sendiri memandang mereka. Perbaikilah kesempitan pandanganku dengan visi Yesus yang jelas mengenai kasih yang kekal-abadi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:43-48), bacalah tulisan yang berjudul “KITA TIDAK AKAN MAMPU MENGASIHI MUSUH KITA APABILA KITA HANYA MENGANDALKAN KEKUATAN KITA SENDIRI” (bacaan tanggal 24-2-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2018.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggL 11-3-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 20 Februari 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MEMERINTAHKAN KITA UNTUK MENGAMPUNI

YESUS MEMERINTAHKAN KITA UNTUK MENGAMPUNI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Prapaskah – Jumat, 23 Februari 2018)

Aku berkata kepadamu: Jika kamu tidak melakukan kehendak Allah melebihi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.

Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang mencaci maki saudaranya harus dihadapkan ke Mahkamah Agama, dan siapa yang berkata: Jahil! Harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.

Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu ini jangan menyerahkan engkau kepada pengawal dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai habis. (Mat 5:20-26) 

Bacaan Pertama: Yeh 18:21-28; Mazmur Tanggapan: Mzm 130:1-8 

Ada orang yang mengibaratkan persahabatan itu seperti porselen yang indah. Sungguh sesuatu yang sangat berharga, yang mudah pecah namun sulit diperbaiki. Kita semua mengetahui betapa sulitnya untuk mengampuni seseorang yang telah menyakiti kita,  menjatuhkan kita, katakanlah mendzalimi kita. Di samping luka yang kita derita  karena pengkhianatan sahabat kita, ada juga luka lain yang disebabkan oleh ketidakmampuan kita untuk mengampuni atau tidak adanya kemauan untuk berdamai dari pihak kita sendiri. Pada kenyataannya, dalam beberapa kasus, tidak mau mengampuni dapat menyebabkan luka yang lebih berat daripada tindakan awal orang lain yang membuat kita geram dan marah. Luka-luka kecil kalau dibiarkan saja dapat bertumbuh menjadi luka-luka yang lebih besar, konsekuensinya lebih sukar untuk disembuhkan.

Itulah sebabnya, mengapa Yesus memerintahkan kita untuk mengampuni. Namun pada saat yang sama baiklah kita ketahui bahwa Dia tidak memandang remeh sulitnya mengampuni orang lain yang telah mendzolimi kita. Bagaimana pun juga Yesus sendiri mengalami pengkhianatan dari seorang murid yang sangat dipercayai oleh-Nya. Sulit bagi kita untuk membayangkan bagaimana Hati Yesus meratapi Yudas Iskariot berkaitan dengan pengkhianatan murid yang satu ini. Meskipun Yesus tahu bahwa mengampuni itu sulit, tokh Ia mengajarkan kepada kita untuk mengampuni, untuk berdamai, untuk let go luka-luka lama. Dalam Doa ‘Bapa Kami’ yang diajarkan oleh Yesus sendiri, kita mendengar potongan kalimat seperti berikut: “Ampunilah kami dari kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami” (Mat 6:12). Doa ‘Bapa Kami’ itu segera disusul oleh dua ayat penting: “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang,  Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu” (Mat 6:14-15). Mengakhiri perumpamaan-Nya tentang pengampunan (Mat 18:21-35), Yesus bersabda: “Demikian juga yang akan diperbuat oleh Bapa-Ku yang di surga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu” (Mat 18:35).

Kita tidak dapat berdalih dalam hal pengampunan ini karena perintah Yesus begitu jelas dan gamblang. Terasa  berat memang, suatu tuntutan yang sulit dipenuhi. Dalam hal ini ingatlah belas kasih Yesus kepada kita sepanjang hidup kita. Tuhan Yesus menyediakan ‘segudang’ cintakasih-Nya bagi kita untuk menutupi kekurangan kita dalam hal mengasihi orang lain. Ia sungguh dapat menolong kita manakala hati kita sedang membeku-keras atau mengalami kepahitan dalam hidup ini.

Yesus tahu bahwa mengampuni itu sulit, tidak terjadi secara instan, seringkali bertahap. Bagi-Nya kurang penting apakah kita telah mengampuni setiap orang secara penuh, daripada kita memelihara hati lembut dan mohon kepada-Nya rahmat agar kita semakin lembut hari lepas hari. Dengan demikian, berdamailah dengan saudarI dan saudara kita! Biarlah kasih Kristus memenuhi diri kita masing-masing, sehingga kita dapat memberikan cintakasih dan belas kasih kepada semua orang dalam kehidupan kita.

DOA: Tuhan Yesus, hanya Engkau yang dapat membetulkan hati yang patah dan menyembuhkan jiwa-jiwa yang terluka. Buatlah aku utuh oleh kuat-kuasa Roh Kudus-Mu. Berikanlah kepadaku rahmat untuk mengampuni. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:20-26), bacalah tulisan yang berjudul “MARILAH KITA BERPEGANG TEGUH PADA PERSATUAN DAN KESATUAN KRISTIANI” (bacaan tanggal 23-2-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2018.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-3-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 19 Februari 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEBUAH DOA YANG DIAJARKAN OLEH YESUS SENDIRI KEPADA PARA MURID-NYA

SEBUAH DOA YANG DIAJARKAN OLEH YESUS SENDIRI KEPADA PARA MURID-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Prapaskah – Selasa,  20 Februari 2018)

Lagi pula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa dengan banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi, janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. Karena itu, berdoalah demikian: Bapa kami yang di surga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami dari kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskankanlah kami daripada yang jahat. [Karena Engkaulah yang punya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.] Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” (Mat 6:7-15) 

Bacaan Pertama: Yes 55:10-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:4-7,16-19

Doa “Bapa Kami” ini, yang diberikan kepada kita oleh Yesus sendiri, tidak hanya merupakan sebuah pernyataan mengenai bagaimana kita seharusnya berdoa, melainkan juga merupakan sebuah refleksi tentang bagaimana Yesus sendiri berdoa (lihat Luk 11:1-4). Sungguh lebih menakjubkan apabila kita mempertimbangkan bagaimana Yesus – yang tanpa dosa – berdoa, “Ampunilah kami dari kesalahan kami”! Inilah contoh bagaimana Yesus secara begitu penuh mengidentifikasikan diri-Nya dengan kita-manusia biasa. Yesus malah melangkah lebih jauh lagi, yaitu menyerahkan hidup-Nya sendiri untuk menjamin pengampunan yang didoakan-Nya.

“…… seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami”! Permohonan pengampunan di atas tidak terbatas pada pengharapan akan belas kasih Allah. Yesus wafat di kayu salib bukan sekadar untuk menebus dosa-dosa kita. Kita juga mati bersama Dia dalam baptisan, seperti telah ditulis Santo Paulus: “Kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus telah dibaptis dalam kematian-Nya” (Rm 6:3; lihat seluruh teks Rm 6:1-4). Sekarang, oleh iman dalam Yesus, kita dapat bangkit bersama-Nya dan mengampuni seperti Dia mengampuni. Janji Injil adalah, bahwa kalau kita memperkenankan Yesus diam dalam diri kita dengan mati terhadap kehidupan lama kita (dosa), kita dapat menjadi lebih berbelas kasih terhadap sesama kita.

Mengampuni orang-orang yang telah menyakiti hati kita memang dapat sangat sulit, bahkan kadang kala terasa tak mungkin. Kita membutuhkan rahmat Allah hanya untuk mengkontemplasikan kemungkinan untuk mengampuni. Namun, inilah jalan yang diminta Yesus untuk kita ikuti dan lalui. Paulus malah menulis, bahwa kita harus mendoakan dan bahkan memberkati para penganiaya kita. Inilah yang ditulis oleh Paulus: “Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengeluh!” (Rm 12:14). Bukankah Yesus juga menyerukan kepada kita untuk mengasihi para musuh kita (lihat Mat 5:44)?

Sekarang, kita harus mengingat satu hal: Kita harus selalu bersikap hati-hati namun juga berbelas kasih pada saat bersamaan. Mengampuni bukan berarti melupakan kewaspadaan kita dan mengabaikan masa lalu. Mengampuni berarti membuang penghukuman dan melepaskan seseorang sehingga dia dapat mengalami belas kasih Allah. Yesus memang sangat berbelas kasih, namun Dia juga realistis tentang keadaan hati seorang insan manusia. Dalam Injil Yohanes kita dapat membaca bagaimana Yesus sangat berhati-hati tentang siapa yang akan dipercayainya (lihat Yoh 2:24-25). Apabila kita dipanggil untuk berbelas kasih seperti Yesus, maka hal ini berarti bahwa kita pun dipanggil untuk menjadi bijak seperti Dia.

Yesus tidak pernah kaget atau terkejut dengan dosa yang dijumpai-Nya, dengan demikian tentunya Dia pun tidak akan terkejut dengan dosa-dosa kita. Kegelapan apa pun yang dilihat-Nya dalam hati kita, Dia tidak pernah akan menyerah untuk mengundang kita kembali ke jalan-Nya. Ia juga tidak akan pernah bersikap sinis dan pesimis terhadap berbagai potensi yang dimiliki kita masing-masing sebagai seorang pribadi. Dia selalu melihat kemungkinan bahwa mereka yang telah diampuni oleh-Nya akan melakukan pertobatan dan bangkit dalam kemuliaan bersama-Nya. Sekarang pertanyaannya adalah: Dapatkah kita mempunyai pandangan yang sama tentang setiap orang di sekeliling kita?

DOA: Tuhan Yesus, Engkau sudi memilih untuk merangkul penderitaan dan dosa kami, sehingga Kaudapat membangkitkan kami untuk menikmati hidup kekal bersama dengan-Mu. Ajarlah kami agar dapat menjadi pribadi-pribadi yang berbelas kasih kepada sesama kami, seperti Engkau sendiri berbelas kasih kepada mereka. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 6:7-15), bacalah tulisan dengan judul “DOA BAPA KAMI YANG DIWARISKAN OLEH YESUS SENDIRI” (bacaan tanggal 28-2-12), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 12-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2012. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak,  18 Februari 2018 [HARI MINGGU PRAPASKAH I – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERBAGAI CARA/JALAN UNTUK MENUNJU KEKUDUSAN

BERBAGAI CARA/JALAN UNTUK MENUJU KEKUDUSAN

(Bacaan Injil Misa Kudus pada HARI RAYA SEMUA ORANG KUDUS – Rabu, 1 November 2017

 

Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang punya Kerajaan Surga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah-lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kehendak Allah, karena akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang berbelaskasihan, karena mereka akan beroleh belas-kasihan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya karena melakukan kehendak Allah, karena merekalah yang punya Kerajaan Surga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di surga. (Mat 5:1-12a)  

Bacaan Pertama: Why 7:2-34, 9-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 24:1-6; Bacaan Kedua: 1Yoh 3:1-3 

Puji Tuhan! Bersukacitalah kita semua dalam Yesus Kristus! Dalam hikmatnya, Gereja telah menetapkan berbagai hari raya, pesta dan peringatan yang memperkenankan kita datang berkumpul bersama-sama sebagai keluarga dan merayakan siapa kita ini sebagai umat Allah. HARI RAYA SEMUA ORANG KUDUS yang kita rayakan pada tanggal 1 November setiap tahun ini adalah salah satu hari di kala mana kita mengenang mereka yang telah mendahului kita dalam iman.

Para kudus yang kita rayakan pada hari ini tidaklah terbatas pada mereka yang secara resmi telah dikanonisasikan oleh Gereja sebagai para martir dan orang-orang yang sangat suci lainnya. Pada hari ini kita merayakan “orang-orang kudus” yang digambarkan dalam Perjanjian Baru sebagai mereka yang percaya kepada Yesus Kristus dan mengikuti jejak-Nya. Misalnya Santo Paulus menyebut orang-orang Kristiani di Korintus sebagai “mereka yang dikuduskan dalam Kristus Yesus dan yang dipanggil menjadi orang-orang kudus” (1Kor 1:2). Demikian pula, dia (Paulus) menamakan umat Kristiani di Efesus sebagai “orang-orang kudus di Efesus, orang-orang percaya dalam Kristus Yesus” (Ef 1:1). Dengan perkataan lain, kita (anda dan saya) merayakan panggilan agung bagi kita semua! Kita semua sesungguhnya diundang oleh-Nya untuk menjadi salah seorang dari 144.000 orang yang disebut dalam Kitab Wahyu (Why 7:4). Tetapi jangan salah, angka 144.000 ini adalah lambang kepenuhan dari semua orang yang dikumpulkan ke dalam kerajaan Allah, jadi bukan angka untuk membatasi.

Dalam sejarahnya yang sudah 2.000 tahun lamanya, Gereja telah menunjukkan bukti-bukti ada begitu banyak umat-Nya yang hidup dalam kasih sejati: sebagai pelayan sesama, sebagai pendoa syafaat dsb. Orang-orang yang tak terbilang banyaknya itu bisa saja seorang Santo Fransiskus dari Assisi, seorang Santa Klara dari Assisi, seorang Santo Antonius dari Padua, seorang Ignatius dari Loyola, seorang Petrus Kanisius, seorang Santa Teresa dari Lisieux, seorang Santa Teresa dari Kalkuta dst., namun bisa juga seorang perempuan tua warga lingkungan kita yang selalu mendoakan orang-orang lain selama berjam-jam setiap harinya. Bisa juga dia adalah seorang “katekis” (tanpa ijazah akademis yang resmi) yang bekerja tanpa bayaran dan tentunya tanpa pamrih serta penuh pengabdian mendidik para katekumen di parokinya. Bisa juga dia adalah seorang biarawati dari sebuah kongregasi  religius yang relatif kecil, yang memberikan diri sepenuhnya bagi orang-orang kusta. Terlalu banyak contohnya untuk disebutkan satu persatu.

Pada “Khotbah di Bukit”, Yesus mengajarkan berbagai cara/jalan untuk menuju kekudusan, yaitu menaruh kepercayaan penuh kepada Allah, memiliki kelemah-lembutan, memiliki rasa lapar dan haus akan kehendak Allah, berbelaskasihan, memiliki hati yang suci,  dan membawa damai. Kita dapat mengalami kehidupan surgawi di atas bumi ini, sementara kita mengikuti jejak Yesus Kristus dari hari ke hari. Mengikuti jejak Kristus seringkali terasa berat dan tidak mudah karena hal itu berarti mengesampingkan hasrat-hasrat pribadi kita sendiri. Namun demikian, manakala Yesus memanggil kita agar mati  terhadap kepentingan diri sendiri, Dia juga memberikan kepada kita kuasa-Nya dan memimpin kita kepada kemenangan-Nya. Percayalah bahwa kita masing-masing juga dapat menjadi orang-orang kudus, karena dia memanggil kita kepada kesucian (baca: Lumen Gentium, Bab V: 39-42).

DOA: Tuhan Yesus. Pada waktu kami dibaptis, Engkau memenuhi diri kami dengan Roh Kudus. Oleh Roh Kudus-Mu ini, ya Tuhan, tolonglah kami agar mau dan mampu mengabdikan hidup kami bagi suatu kehidupan yang menghayati sepenuhnya “Ucapan Bahagia” (Sabda Bahagia) yang kami baca dan renungkan pada hari ini. Kami memuji Engkau, ya Tuhan Yesus. Dengan penuh syukur kami memuliakan nama-Mu senantiasa, karena Engkau telah memanggil kami untuk ikut ambil bagian dalam kehidupan-Mu selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “PARA KUDUS YANG DIRAYAKAN GEREJA PADA HARI INI” (bacaan tanggal 1-11-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 1-11-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 31 Oktober 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

WASPADALAH TERHADAP SERIGALA-SERIGALA BERBULU DOMBA

WASPADALAH TERHADAP SERIGALA-SERIGALA BERBULU DOMBA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Ireneus, Uskup & Martir – Rabu, 28 Juni 2017)

 “Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedangkan pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang baik. Setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Jadi, dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. (Mat 7:15-20) 

Bacaan Pertama: Kej 15:1-12,17-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:1-4,6-9

Setelah mengajar para murid-Nya untuk “masuk melalui pintu yang sempit” (Mat 7:13), Yesus melanjutkan dengan memperingatkan mereka tentang penghalang-penghalang dan kesulitan-kesulitan yang akan dijumpai dan dialami di sepanjang jalan. Dengan jelas Ia menyatakan bahwa akan ada nabi-nabi palsu di sepanjang “jalan sempit” yang sedang di tempuh oleh para pengikut-Nya. Sekilas lintas para nabi palsu itu kelihatannya tidak berbeda dengan domba-domba; namun di dalamnya mereka sebenarnya adalah serigala-serigala yang bertujuan menghancur-leburkan kawanan domba Yesus yang sejati. Yesus ingin agar kita siap-siaga terhadap bahaya ini.

Pembicaraan mengenai nabi-nabi palsu ini dapat membuat kita merasa tidak nyaman. Bagaimana pun juga tidak ada yang lebih harus ditolak daripada seorang pribadi yang selalu mengklaim dirinya benar dan selalu mengatakan bahwa orang lain salah. Bagaimana kita dapat melakukan discernment atas motif-motif orang-orang lain ketika perbedaan yang ada begitu tipisnya? Yesus ingin sekali agar kita memiliki kemampuan untuk mengenali nabi-nabi palsu dan waspada terhadap bahaya-bahaya yang dapat diakibatkan oleh mereka. Akan tetapi bagaimana kita dapat belajar untuk mendeteksi perbedaan-perbedaan antara domba-domba dan serigala-serigala? Bagaimana kita dapat membuat penilaian-penilaian sedemikian tanpa menjadi bersikap menghakimi atau menuduh.

Pada akhirnya karakter sejati seorang pribadi akan dinyatakan: Pohon yang baik tidak akan menghasilkan buah yang buruk; sedangkan pohon yang buruk tidak akan menghasilkan buah yang baik (lihat Mat 7:18). Di lain pihak hal ini tidak berarti bahwa manakala ada buah yang buruk, maka pribadi yang bertanggungjawab harus buruk juga. Nabi-nabi sejati pun dapat membuat kesalahan karena justru dia adalah manusia juga. Di sisi lain, orang-orang yang paling terkenal karena kejahatan/keburukan mereka dalam sejarah mungkin saja mempunyai unsur-unsur kebaikan dalam dirinya. Kalau masih masih berupa benih sulitlah bagi kita untuk membedakan apakah ini benih tanaman pohon A atau pohon B. Namun kita akan mengetahuinya dengan jelas kalau tanaman itu sudah mulai membesar dan berbentuk.

Para pengikut Kristus harus menggantungkan diri pada kesaksian Roh Kudus di dalam diri mereka, karena Dia adalah “Roh Kebenaran” (Yoh 15:26). Apabila kita terus menempatkan Allah sebagai yang pertama, dalam doa dan pembacaan (serta permenungan) sabda-Nya dalam Kitab Suci, maka suara dan pikiran-Nya akan menjadi semakin jelas bagi kita. Kita akan mengetahui apakah harta kita ada di surga atau di dunia (lihat Mat 6:19-21) dan kita akan mampu untuk mengatakan kapan ada perintah-perintah Allah yang telah dikompromikan.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau tidak menginginkan aku menghakimi siapa saja, namun aku tahu bahwa Engkau sungguh mengharapkan aku melakukan discernment agar dapat membuat penilaian yang sehat yang akan melindungi hidup-Mu di dalam diriku. Semoga Roh Kebenaran membimbingku selalu dalam jalan kebenaran. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:15-20), bacalah tulisan yang berjudul “MENGHASILKAN BUAH-BUAH YANG BAIK” dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 BACAAN HARIAN JUNI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 26-6-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 26 Juni 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS