Posts tagged ‘KERAJAAN SURGA’

KEDATANGAN SANG MESIAS-HAKIM

KEDATANGAN SANG MESIAS-HAKIM

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU ADVEN II (Tahun A), 8 Desember 2019)

Pada waktu itu tampillah Yohanes Pembaptis di padang gurun Yudea dan memberitakan, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” Sesungguhnya dialah yang dimaksudkan Nabi Yesaya ketika ia berkata, “Ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya.”

Yohanes memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makannya belalang dan madu hutan. Lalu datanglah kepadanya penduduk dari Yerusalem, dari seluruh Yudea dan seluruh daerah sekitar Yordan. Sambil mengaku dosanya mereka dibaptis oleh Yohanes di sungai Yordan.

Tetapi waktu ia melihat banyak orang Farisi dan orang Saduki datang untuk dibaptis, berkatalah ia kepada mereka, “Hai kamu keturunan ular berbisa. Siapakah yang mengatakan kepada kamu bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang? Jadi, hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan. Janganlah mengira bahwa kamu dapat berkata dalam hatimu: Abraham adalah bapak leluhur kami! Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini! Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian setelah aku lebih berkuasa daripada aku dan aku tidak layak membawa kasut-Nya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api. Alat penampi sudah di tangan-Nya. Ia akan membersihkan tempat pengirikan-Nya dan mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung, tetapi sekam itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan.” (Mat 3:1-12)

Bacaan Pertama Yes 11:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 72:1-2,7-8,12-13,17; Bacaan Kedua: Rm 15:4-9 

“Pada waktu itu”  adalah kata-kata yang tidak jelas secara kronologis, namun Matius menggunakan ungkapan ini sebagai suatu tanda bahwa dia sedang menarasikan sejarah suci. Yohanes Pembaptis bukanlah seorang  guru (rabi) dan juga bukan seorang guru hikmat. Ia dalah seorang nabi. Yohanes berpakaian seperti Elias (2Raj 1:8) dengan mana Yesus kemudian mengidentifikasikan Yohanes (Luk 11:13), ia mencintai padang gurun sebagai sebuah tempat perjumpaan dengan Tuhan (1Raj 19:1-18). Namun demikian, tidak seperti Elias, Yohanes menjauhi kota-kota dan ia hanya berkhotbah di padang gurun.

Seperti dikatakan oleh Yesus sendiri, Yohanes itu lebih daripada sekadar seorang nabi (Mat 11:9). Yohanes adalah seorang bentara, seseorang yang mengumumkan suatu peristiwa, yaitu masuknya Kerajaan Allah atau Kerajaan Surga. Tidak seperti Injil Markus dan Lukas, Matius menaruh pada bibir Yohanes kata-kata sama yang diucapkan Yesus ketika memulai pelayanan-Nya: “Bertobatlah, sebab Kerajaan surga sudah dekat!” (Mat 4:17). Jadi Kabar Baik sudah dimulai dengan Yohanes Pembaptis.

Dengan demikian segalanya dimulai dengan pertobatan. Tidak ada pengalaman akan Kerajaan Surga tanpa pertobatan. Jikalau bagi banyak orang pada zaman modern ini “Kerajaan Surga” terdengar sebagai suatu konsep yang asing, apakah barangkali karena semua itu sekarang begitu jarang dan sedikit sekali kita dengar tentang penghakiman, dosa dan pertobatan? Jalan kepada kebebasan, sukacita dan hidup baru adalah pertobatan dan menerima pengampunan dari Allah.

Namun, pertobatan termaksud harus tulus (lihat Mat 3:7-10).  Dari semua orang yang datang untuk baptisan Yohanes terdapat dua kelompok yang diragukan ketulusan hatinya oleh Yohanes, yaitu orang-orang Farisi dan orang-orang Saduki. Mereka dijuluki “keturunan ular berbisa” oleh Yohanes.  Mereka mengandalkan garis keturunan mereka dari Bapak Abraham (lihat Yes 51-2), mereka tidak memperhatikan pentingnya melakukan pekerjaan-pekerjaan baik yang akan membuat mereka dapat diterima di mata Allah dan dapat menghadapi penghakiman terakhir dengan baik. Jadi, kita harus menghasilkan buah-buah sesuai dengan pertobatan kita.

Pelayanan Yohanes tidak hanya mempersiapkan masuknya pemerintahan Allah melainkan juga kedatangan “Dia yang lebih berkuasa daripada Yohanes sendiri”, untuk siapa Yohanes tidak layak membawa kasut-Nya sekali pun (lihat Mat 3:11) …… sang Mesias-Hakim.

DOA: Bapa surgawi, belas kasih-Mu adalah tanpa batas. Kami menyembah dan memuji Engkau, karena Engkau mengutus Putera-Mu yang tunggal, Tuhan Yesus Kristus, untuk menebus kami dari semua dosa kami dan juga kematian. Ia-lah juga sang Mesias-Hakim pada pengadilan terakhir kelak. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil  hari ini (Mat 3:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “BERTOBATLAH, SEBAB KERAJAAN SURGA SUDAH DEKAT” (bacaan tanggal 8-12-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2019. 

(Tulisan in adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 4-12-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 5 Desember 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

LIMA GADIS BIJAKSANA DAN LIMA GADIS BODOH

LIMA GADIS BIJAKSANA DAN LIMA GADIS BODOH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXI – Jumat, 30 Agustus 2019

“Pada waktu itu hal Kerajaan Surga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyambut mempela laki-laki. Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana. Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, sedang gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam botol mereka. Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur. Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Sambutlah dia! Gadis-gadis itu pun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka. Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam. Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ. Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup. Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, Tuan, bukakanlah pintu bagi kami! Tetapi ia menjawab: Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, aku tidak mengenal kamu. Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu hari maupun saatnya.” (Mat 25:1-13) 

Bacaan Pertama: 1Tes 4:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 97:1-2,5-6,10-12   

Sebagaimana juga para gadis dalam perumpamaan di atas, kita pun sesungguhnya sedang menanti-nantikan kedatangan sang Mempelai laki-laki yang akan mengundang kita masuk guna turut serta dalam perjamuan nikah-Nya. Dan seperti juga gadis-gadis itu, tidak seorangpun dari kita yang mengetahui kapan Ia akan datang. Namun kita tidak perlu meniru lima orang gadis yang bodoh itu, yang pelitanya padam karena kehabisan minyak. Allah telah memberikan kepada kita pasokan minyak lebih dari cukup agar pelita kita tidak padam – Roh Kudus.

Pada saat kita menerima Sakramen Penguatan, kita diurapi dengan minyak krisma pada saat mana Uskup atau penggantinya mengatakan: “Dimeteraikanlah engkau dengan karunia Roh Kudus”. Hari lepas hari, seberapa lama pun kita harus menantikan kedatangan Yesus untuk kedua kalinya di dunia, setiap saat kita dapat menghubungi Roh Kudus. Paulus menulis bahwa Allah telah “memeteraikan tanda milik-Nya atas kita dan yang memberikan Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan dari semua yang telah disediakan untuk kita” (2Kor 1:22). Jadi, kita sungguh dapat mengandalkan Roh Kudus untuk mendapatkan bantuan-Nya kapan saja dan di mana saja.

Roh Kudus senantiasa hadir bagi kita, dan Ia sungguh rindu untuk bekerja dalam kehidupan kita. Roh Kudus adalah Roh Kebenaran yang akan membuat kita memahami sabda Allah dalam Kitab Suci dll. (lihat Yoh 16:13-15). Roh Kudus adalah sang Penolong, yang akan mengajarkan segala sesuatu kepada kita dan akan mengingatkan kita akan semua yang telah Yesus katakan kepada kita (lihat Yoh 14:26), dan Roh Kudus adalah Roh Kasih yang dicurahkan ke dalam hati kita (lihat Rm 5:5) sehingga dengan demikian kita dapat mengasihi orang-orang lain.

PERUMPAMAAN TTG SEPULUH GADIS - 003Seperti juga minyak mampu melicinkan serta luka-luka di tubuh kita, maka Roh Kudus mampu memulihkan kesehatan kita manakala kita menderita luka-luka karena dosa. Sebagaimana minyak dapat membuat tubuh seorang penggulat menjadi “lentur” sebelum pertandingan, Roh Kudus pun mampu memperkuat kita dalam perjuangan menghadapi berbagai pencobaan dan godaan. Seperti minyak dapat membuat pelita terus menyala, maka Roh Kudus dapat mengobarkan kerinduan kita akan Tuhan.

Selagi kita menantikan sang Mempelai laki-laki, marilah kita mohon kepada Roh Kudus agar Ia menjaga hati kita untuk tetap berkobar-kobar. “Berjaga-jagalah dengan hati, berjaga-jagalah dengan iman, berjaga-jagalah dengan cintakasih”, demikian tulis Santo Augustinus. “Bersiaplah dengan pelita-pelitamu. Maka, sang Mempelai laki-laki akan merangkulmu dengan penuh kasih dan membawamu ke dalam ruangan perjamuan-Nya, di tempat mana pelitamu tidak pernah akan padam.”

DOA: Roh Kudus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau berdiam dalam diriku. Kobarkanlah dalam diriku api cintakasih-Mu. Segarkanlah kembali diriku, sehinga dengan demikian aku sungguh siap untuk bertemu dengan Yesus pada saat Ia kembali ke dunia untuk kedua kalinya, yaitu pada akhir zaman. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 25:1-13), bacalah tulisan yang berjudul “KITA SEMUA JUGA HARUS BERJAGA-JAGA DALAM MENANTIKAN KEDATANGAN KEMBALI YESUS KRISTUS” (bacaan tanggal 30-8-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-08  BACAAN HARIAN AGUSTUS 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2016) 

Cilandak, 28 Agustus 2019 [Peringatan Wajib S. Augustinus, Uskup Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BAGAIMANA HIDUP DALAM KRISTUS SETIAP HARI

BAGAIMANA HIDUP DALAM KRISTUS SETIAP HARI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Alfonsus Maria de Liguori, Uskup Pujangga Gereja  – Kamis, 1 Agustus 2019)

Kongregasi CSsR [Redemptorist]: HR Pendiri Tarekat

“Demikianlah pula hal Kerajaan Surga itu seumpama jala yang ditebarkan di laut lalu mengumpulkan berbagai jenis ikan. Setelah penuh, jala itu diseret orang ke pantai, lalu duduklah mereka dan mengumpulkan ikan yang baik ke dalam tempayan dan ikan yang tidak baik mereka buang. Demikianlah juga pada akhir zaman: Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar, lalu mencampakkan orang jahat ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.

Mengertikan kamu semuanya itu?” Mereka menjawab, “Ya, kami mengerti.” Lalu berkatalah Yesus kepada mereka, “Karena itu, setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran tentang Kerajaan Surga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya.”

Setelah Yesus selesai menceritakan perumpamaan-perumpamaan itu, Ia pun pergi dari situ. (Mat 13:47-53) 

Bacaan Pertama: Kel 40:16-21,34-38; Mazmur Tanggapan: Mzm 84:3-6,8,11

Apakah kematian harus terjadi? Ya! Apakah ada surga dan neraka? Ya! Apakah akan ada suatu penghakiman terakhir, suatu pemisahan antara ikan yang baik dan yang buruk, pemisahan antara domba dan kambing (Mat 25:31-46), pemisahan antara gandum dan lalang (Mat 13:24-30)? Ya! Semua perumpamaan yang mengacu pada akhir zaman ini sungguh riil dan semua itu menenangkan hati. Namun, kita harus berhati-hati agar tidak membiarkan pikiran tentang akhir zaman itu memenuhi diri kita dengan rasa takut yang tak perlu. Sebagai umat Kristiani, kita tahu dan seharusnya yakin bahwa Allah adalah “seorang” Bapa yang sangat mengasihi kita. Dia memberikan kepada kita apa saja yang kita butuhkan agar tetap berdiri tegak penuh keyakinan dalam hari penghakiman terakhir.

Kitab Suci tidak bosan- bosannya mengingatkan kita bahwa mereka yang hidup dalam Kristus adalah “ciptaan baru” (2Kor 5:17) dan mereka yang percaya kepada Yesus telah berpindah dari kematian ke kehidupan dan “tidak turut dihukum” (Yoh 5:24). Kebenaran yang membebaskan dari Injil adalah bahwa apabila kita tetap hidup dalam Kristus, kita menjadi “ikan-ikan yang baik”. Dalam Dia kita adalah “domba-domba” dan bukan “kambing-kambing”, “gandum” dan bukan “lalang”.

Apakah keniscayaan akan adanya penghakiman terakhir menakutkan anda? Atau apakah anda menghindarkan diri dari isu atau topik sekitar penghakiman terakhir, dan kemudian menyibukkan diri anda dengan kesibukan sehari-hari? Untuk dua situasi ini, jawabnya terletak pada suatu pernyataan yang lebih dalam dari Yesus. Ia akan menunjukkan kepada anda bahwa anda tidak perlu takut akan penghakiman terakhir. Ia juga akan menolong anda menempatkan hal-hal dalam  kehidupan anda secara teratur sehingga dengan demikian anda dapat memusatkan perhatian anda pada hari di mana anda akan memandangnya muka ketemu muka.

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus, selagi kita (anda dan saya) datang kepada Yesus dalam doa dan pembacaan serta permenungan sabda-Nya dalam Kitab Suci, maka Dia akan menunjukkan kepada kita betapa berharga harta yang kita miliki dalam Dia, dan Ia pun akan menunjukkan kepada kita bagaimana hidup dengan cara-cara yang menyenangkan hati-Nya.

Allah ingin agar kita mengetahui bahwa baptisan hanyalah awal dari relasi kita dengan diri-Nya. Dia ingin menopang kita setiap hari dengan Roh Kudus-Nya. Dia ingin mengajar kita bagaimana hidup “dalam Kristus” setiap hari sehingga dengan demikian apa pun yang kita hadapi dalam perjalanan hidupkita, kita dapat berpegang pada janji-janji keselamatan-Nya dan tetap yakin bahwa kita ditebus dalam Dia. Setiap hari Yesus ingin memberikan diri-Nya kepada kita sehingga kita dapat memberikan diri kita sendiri kepada-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, aku ingin dipersatukan dengan Engkau. Usirlah kekhawatiranku tentang kematian dan penghakiman terakhir. Tolonglah aku untuk memusatkan perhatianku pada tujuan untuk memandang Engkau muka ketemu muka dan hadir dalam perjamuan di dalam kerajaan surga. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:47-53), bacalah tulisan yang berjudul  “PEMISAHAN ANTARA MEREKA YANG BERGUNA DAN MEREKA YANG TIDAK BERGUNA” (bacaan tanggal 1-8-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 2-8-18 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak,  30 Juli 2019 [Peringatan S. Petrus Krisologus, Uskup Pujangga Gereja]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

GANDUM DAN LALANG DALAM DIRI KITA

GANDUM DAN LALANG DALAM DIRI KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVII – Selasa, 30 Juli 2019)

Keuskupan Agung Semarang: HR Pemberkatan Katedral Semarang

Peringatan (Fakultatif): S. Petrus Krisologus, Uskup Pujangga Gereja

Sesudah itu Yesus meninggalkan orang banyak itu, lalu pulang. Murid-murid-Nya datang dan berkata kepada-Nya, “Jelaskanlah kepada kami perumpamaan tentang lalang di ladang itu.” Ia menjawab, “Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia; ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan sedangkan lalang anak-anak si jahat. Musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman  dan para penuai itu malaikat. Jadi, seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman. Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyebabkan orang berdosa dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya. Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi. Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa yang bertelinga, hendaklah ia mendengar!” (Mat 13:36-43) 

Bacaan Pertama: Kel 33:7-11;34:5-9,28; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:6-13

Banyak dari perumpamaan-perumpamaan Yesus tentang Kerajaan Surga menyangkut persoalan “kebaikan dan kejahatan”, dan bagaimana Allah ingin agar keduanya (baik dan jahat) ada dalam kehidupan kita, namun pada akhirnya harus dipisahkan. Dalam perumpamaan ini gandum harus diselamatkan karena satu-satunya yang bernilai. Di lain pihak lalang harus dicabut dan dibakar. Waktu panen/tuain adalah waktu untuk mengambil keputusan, waktu penghakiman, pada waktu mana yang baik harus dipisahkan dari yang jahat.

Dapatkah kita memandang masalah ini secara sempit: gandum itu adalah orang-orang baik, sedangkan lalang adalah orang-orang jahat? Apakah pandangan ini sejalan dengan kebanyakan pengalaman kita? Apakah memang kita menemukan orang-orang yang sepenuhnya baik dan di sisi lain orang-orang yang sepenuhnya jahat? Atau, apakah kita melihat dalam diri kita masing-masing, bahwa kita adalah kedua-duanya: gandum dan lalang, baik dan jahat? Kalau memang demikian halnya, maka cepat atau lambat – sebelum kita menikmati kebahagiaan sejati dan ganjaran surgawi – maka semua lalang atau apa saja yang jahat harus dicabut dari diri kita dan kemudian dibakar habis!

Sayangnya, memang kita masing-masing bertumbuh sebagai tumbuhan mendua, tumbuhan ganda yang terdiri dari gandum yang baik yang bercampur dengan lalang yang jahat. Lalang harus dibakar sebelum gandum itu menjadi cukup baik agar dapat disimpan dalam lumbung kebahagiaan di masa mendatang. Itulah sebabnya mengapa Allah memperkenankan kita menderita, itulah sebabnya mengapa kita harus banyak berkorban, menyangkal diri kita, dan memperbaiki diri dari berbagai kesalahan yang kita buat, termasuk kelalaian kita untuk mematuhi perintah-perintah-Nya. Lalang bertumbuh dan berkembang-biak dalam kebun atau ladang yang tak terurus. Jadi, lalang yang dimaksudkan oleh Yesus dalam perumpamaan ini adalah kejahatan-kejahatan yang bertumbuh-kembang dalam sebuah jiwa yang tak terurus, tak karuan arahnya.

Satu lagi realitas yang kita lihat: banyak dari kita, sayangnya tidak menyelesaikan pekerjaan memotong lalang sebelum Allah memanggil kita dan berkata: “Waktumu sudah habis!” Itulah sebabnya kita percaya akan keberadaan purgatorio – api pencucian – sebuah “tempat” pemurnian. Kita berharap akan adanya sebuah cara di mana sisa lalang yang belum dicabut dapat dibakar habis, agar hanya gandum yang baik sajalah yang tertinggal. Kebahagiaan sempurna adalah bagi orang-orang yang sempurna, sehingga dengan demikian tidak tersisa apa pun yang jahat.

Jadi, ada kebutuhan yang mendesak bagi kita untuk melakukan kebaikan; agar kita dapat mengalami proses pemurnian itu sebanyak mungkin selama kita masih hidup di dunia. Allah menciptakan kita untuk saling menolong. Orang-orang lain juga adalah anak-anak Allah, jadi mereka adalah saudari-saudara kita yang harus ditolong ketika mereka mengalami kesusahan.

“Model” sempurna bagaimana caranya melakukan kebaikan adalah Yesus Kristus sendiri, Saudara tua kita semua. Dengan demikian janganlah kita pernah lupa – teristimewa pada waktu kita berada dalam posisi nyaman – untuk bermurah hati, lemah-lembut, dan tidak “mikiran diri sendiri melulu”. Janganlah kita lupa juga untuk mendoakan orang-orang lain …… termasuk mereka yang telah mendzolimi diri kita. Hidup yang terselamatkan lewat perbuatan baik kita boleh jadi adalah hidup kita sendiri!

DOA: Tuhan Yesus, selagi kami berjalan kembali kepada-Mu, sembuhkanlah hati kami dan perbaharuilah hidup kami. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan  Injil hari ini (Mat 13:36-43), bacalah tulisan yang berjudul “JANGAN MENGHAKIMI ORANG LAIN” (bacaan tanggal 30-7-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-07 BACAAN HARIAN JULI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggl 31-7-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 28 Juli 2019 [HARI MINGGU BIASA XVII – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DUA PERUMPAMAAN YESUS TENTANG KERAJAAN SURGA

DUA PERUMPAMAAN YESUS TENTANG KERAJAAN SURGA

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Peringatan Wajib S. Marta – Senin, 29 Juli 2019)

Yesus menyampaikan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar daripada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.”

Ia menceritakan perumpamaan ini juga kepada mereka, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu sebanyak empat puluh liter sampai mengembang seluruhnya.”

Semuanya itu disampaikan Yesus kepada orang banyak dalam perumpamaan, dan tanpa perumpamaan suatu pun tidak disampaikan-Nya kepada mereka, supaya digenapi firman yang disampaikan oleh nabi, “Aku mau membuka mulut-Ku menyampaikan perumpamaan, Aku mau mengucapkan hal yang tersembunyi sejak dunia dijadikan.” (Mat 13:31-35) 

Bacaan Pertama: Kel 32:15-24,30-34; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:19-23 

“Aku mau membuka mulut-Ku menyampaikan perumpamaan, Aku mau mengucapkan hal yang tersembunyi sejak dunia dijadikan.” (Mat 13:35)

Sabda Yesus ini merupakan pemenuhan dari apa yang ditulis sang pemazmur dalam Mzm 78:2. Yesus mengatakan ini karena Dia tahu bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga  (Kerajaan Allah) dibutuhkan sesuatu yang lebih daripada sekadar pemahaman intelektual. Pewahyuan ilahi juga dibutuhkan.

Yesus seringkali mengajar dengan menggunakan perumpamaan-perumpamaan yang diambil dari kehidupan sehari-hari atau dari alam sekitar. Hal ini dimaksudkan agar dapat menangkap perhatian para pendengar-Nya dan memicu mereka untuk mengajukan lebih banyak lagi pertanyaan tentang pesan Injil dan hidup yang ingin disampaikan-Nya.

Kedua perumpamaan Yesus dalam bacaan Injil hari ini, yaitu “perumpamaan tentang biji sesawi” dan “perumpamaan tentang ragi” akan mempunyai makna apabila kita berpikir tentang dunia di mana Yesus berbicara. Orang-orang seperti raja Herodes Antipas, yang menindas siapa pun yang menghalangi langkah-langkahnya, mulai berkuasa. Di lain pihak banyak orang tidak mau menanggapi panggilan Yesus untuk menjadi murid-murid-Nya.

Pesan Yesus perihal bagaimana orang-orang harus menghayati kehidupan mereka memang seringkali terdengar indah namun seringkali juga tidak realistis, tentunya dari pandangan mata manusia. Akibatnya adalah bahwa apabila kita memandangnya dari satu sisi saja, maka kita hanya melihat sebagian dari gambar yang ada.

Kekuasaan Allah atas manusia mungkin datang dalam berbagai cara yang sederhana, namun demikian merupakan peristiwa yang penuh kuat-kuasa (Mat 13:31-32). Kerajaan-Nya mempunyai kuasa untuk mengubah pribadi-pribadi dan masyarakat (Mat 13:33). Hanya itulah satu-satunya yang bertahan sampai kekal (lihat “perumpamaan tentang lalang di antara gandum” dalam Mat 13:24-30 dan penjelasan atas perumpamaan itu dalam Mat 13:36-43), akan tetapi saatnya akan tiba di mana karya-Nya akan selesai dan akan menjadi terang bercahaya.

“Perumpamaan tentang biji sesawi” mengingatkan bahwa kepada kita masing-masing telah diberikan iman sebesar “biji sesawi” pada saat kita dibaptis. Apa yang akan kita lakukan dengan benih yang kecil ini? Apabila kita membuka hati kita kepada Allah dengan membaca dan merenungkan sabda-Nya dalam Kitab Suci, apabila kita berdoa, dan datang kepada-Nya dalam Ekaristi, maka secara cukup mengejutkan Dia dapat memperbesar benih iman kita yang kecil itu menjadi suatu pemahaman yang mendalam tentang Kerajaan-Nya. Marilah kita berbalik kepada Yesus sehingga Dia dapat membalikkan hati kita menjadi “tanah yang baik” (lihat Mat 13:23), yang dibutuhkan oleh iman kita untuk berakar dan bertumbuh.

“Perumpamaan tentang ragi” mengingatkan kita bahwa walaupun kita telah dicerahkan untuk mengenal mana yang benar ketimbang mana yang salah, kita membutuhkan “adonan rahmat” guna membangkitkan kita agar melakukan hal-hal yang baik. Allah memberikan pertolongan ini, kekuatan ini, dorongan dan hasrat untuk melakukan apa yang dikehendaki-Nya. Kita semua pasti pernah mengalami desakan-desakan dalam batin kita untuk memikirkan, mengambil sikap dan/atau melakukan hal-hal tertentu yang baik, namun seringkali kita tidak mempedulikan desakan-desakan batiniah tersebut.

Saudari dan Saudara yang dikasihi Kristus, Tuhan Yesus ingin mengajar kita. Marilah kita tingkatkan hasrat kita untuk sungguh menjadikan diri kita murid-murid-Nya yang baik dan sungguh berbuah limpah.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Selagi kami datang menghadap Engkau dalam doa dan permenungan, ajarlah kami dan inspirasikanlah kami. Oleh kuat-kuasa Roh Kudus-Mu, buatlah iman kami menjadi iman yang hidup, sehingga dengan demikian kami dapat menjadi perpanjangan tangan-tangan kasih-Mu bagi orang-orang di sekeliling kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:31-35), bacalah tulisan yang berjudul “” (bacaan tanggal 29-7-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-07 BACAAN HARIAN JULI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 30-7-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 26 Juli 2019 [Pesta S. Yoakim dan Anna, Orangtua SP Maria] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

APAKAH KITA MAU DIUBAH MENJADI GANDUM?

APAKAH KITA MAU DIUBAH MENJADI GANDUM?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVI – Sabtu, 27 Juli 2019)

Keluarga Fransiskan: Peringatan B. Maria Magdalena Martinengo, Perawan (Ordo II)

Yesus menyampaikan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya. Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi. Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu. Lalu datanglah hamba-hamba pemilik ladang itu kepadanya dan berkata: Tuan, bukankah benih baik, yang tuan taburkan di ladang tuan? Jadi, dari manakah lalang itu? Jawab tuan itu: Seorang musuh yang melakukannya. Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: Jadi, maukah Tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu? Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.” (Mat 13:24-30) 

Bacaan Pertama: Kel 24:3-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:1-2,5-6,14-15

Pernahkah anda menanam benih rumput yang bagus untuk taman pekarangan anda, dan belakangan anda menyaksikan ada juga rumput alang-alang perusak halaman yang tumbuh bersama dengan rumput mahal? Jika begitu halnya, maka anda barangkali memahami apa yang dipikirkan oleh para hamba pemilik ladang dalam perumpamaan di atas: cabutlah lalang itu sekarang juga, karena tumbuhan itu hanya merusak tumbuhan gandum! Sebuah keputusan yang memberi kesan cepat-tepat!

Akan tetapi bagaimana dengan orang yang menaburkan benih gandum itu? Apa dan bagaimana reaksinya? Ia langsung mengetahui dari mana lalang itu berasal. Namun tidak seperti para hambanya, dia lambat marah terhadap perbuatan licik musuhnya, dan hal ini memampukannya untuk berpikir secara jernih dan mengambil keputusan yang tepat tentang bagaimana menangani masalahnya. Dengan sabar, bahkan penuh belas kasihan, dia bersedia untuk membiarkan lalang itu bertumbuh, demi hasil gandum yang baik di akhir cerita. Tindakannya juga adil, karena meski dia menanti sampai waktu menuai, dia sungguh-sungguh menyuruh bakar lalang yang sudah diikat berberkas-berkas itu, dan gandum pun dikumpulkan ke dalam lumbungnya.

Perumpamaan ini menunjukkan kepada kita bahwa apabila Allah menyatakan diri-Nya kepada kita, kita dapat merasa bersalah dan bahkan terkutuk, karena rancangan Allah bukanlah rancangan kita, dan jalan-Nya bukanlah jalan kita (lihat Yes 55:8). Kita bertanya: “Mengapa tidak langsung saja mencabut lalang dan biarkan gandum itu bertumbuh?” Respons tergesa-gesa seperti itu menunjukkan bahwa kita perlu merefleksikan lebih lanjut satu hal: Sebagai ‘siapa’ Allah menyatakan diri-Nya? Allah kita bukanlah ‘seorang’ Allah yang langsung menghukum. Ia adalah Allah yang panjang sabar yang menawarkan setiap “lalang” kesempatan untuk diubah menjadi “gandum”. Selagi kita mulai sedikit memahami kerahiman Allah dan kesabaran-Nya, maka hati kita dapat disentuh dengan suatu hasrat untuk ikut ambil bagian dalam misi-Nya mentransformir dunia kita sehingga dapat menjadi lahan yang subur dan menghasilkan buah. Kita semua mengakui bahwa musuh dapat menaburkan benih lalang, namun Allah tetap yakin bahwa Dia dapat membawa kebaikan dan mengalahkan kejahatan.

Santa Katarina dari Siena pernah mengatakan bahwa Allah adalah “lautan yang dalam”: “semakin banyak yang kita cari, semakin banyak pula yang kita temukan, dan semakin banyak yang kita temukan, semakin banyak pula yang kita cari.” Pada waktu kita berdoa, ketika kita membaca Kitab Suci, bahkan perumpamaan-perumpamaan Yesus yang paling sederhana sekali pun, Ia mengejutkan kita dengan pernyataan-Nya yang tak sebagaimana diharap-harapkan sebelumnya: pernyataan kasih-Nya, kerahiman-Nya, kesenangan-Nya serta sayang-Nya akan ciptaan-Nya. Singkat cerita: Allah menjungkirbalikkan asumsi-asumsi kita dan membuktikan bahwa diri-Nya lebih setia dan jauh lebih penuh dengan kuat-kuasa daripada apa yang kita pernah bayangkan!

DOA: Bapa surgawi, selagi aku berdoa dan membaca Kitab Suci pada hari ini, tunjukkanlah kepadaku dengan lebih jelas lagi siapa sebenarnya Engkau. Aku ingin mengenal kuat-kuasa-Mu untuk mengubah hati manusia – bahkan hatiku sendiri juga – agar dapat menjadi gandum yang terbaik. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 13:24-30), bacalah tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN YESUS TENTANG LALANG DI ANTARA GANDUM” (bacaan tanggal 27-7-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-07 BACAAN HARIAN JULI 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 24 Juli 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS KRISTUS ADALAH PENGGENAPAN HUKUM TAURAT

YESUS KRISTUS ADALAH PENGGENAPAN HUKUM TAURAT

(Bacaan Injil Misa,  Hari Biasa Pekan Biasa X – Rabu, 12 Juni 2019)

Keluarga Fransiskan Kapusin: Peringatan B. Anisetus Koplinski, Imam Martir dkk.

Keluarga Fransiskan Konvetual dan Kapusin: Peringatan B. Yolenta, Florida dkk. Martir Revolusi Komunis Spanyol dan Polandia

“Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu huruf kecil atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat,  sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia dkan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Surga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkannya, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Surga. (Mat 5:17-19) 

Bacaan Pertama: 2Kor 3:4-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 99:5-9 

“Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” (Mat 5:17)

Memang mudahlah bagi kita untuk tidak melihat, malah mengabaikan berkat-berkat Allah yang ditujukan kepada kita. Misalnya, kita dapat memandang hukum Musa/Taurat sebagai aturan yang terlalu banyak menuntut, yang mengarahkan orang kepada suatu jenis “kebenaran” yang tidak seorang pun akan berhasil mencapainya. Akan tetapi sang pemazmur dengan jelas mengatakan: “Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN (YHWH), dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil”  (Mzm 1:1-3).

Jadi, sejatinya Hukum Taurat dimaksudkan sebagai suatu sumber kebahagiaan dan kehidupan, namun seringkali disalahpahami sebagai serangkaian perintah yang membebani kehidupan manusia. Sebenarnya yang ada dalam pikiran Allah jauh lebih besar daripada sekadar perintah-perintah untuk melakukan dan tidak melakukan (Inggris: do’s and don’ts) sesuatu tindakan.

Yesus Kristus, Putera Allah, datang ke tengah dunia untuk mengumumkan bahwa Kerajaan Surga sudah dekat. Kita mengetahui bahwa suatu pesan rahasia dapat dipahami jikalau kita mampu memecahkan kode yang tersembunyi. Demikian pula makna dan tujuan sesungguhnya dari Perjanjian Lama akan terungkap dalam pernyataan Kerajaan Allah. Pesannya adalah berikut ini: Putera Allah yang terkasih  – Yesus Kristus – secara sempurna dan lengkap akan menarik kita kepada Bapa dengan menggenapi tuntutan-tuntutan adil dari hukum Musa.

Yesus bukanlah datang untuk meniadakan hukum Taurat atau melanjutkan mengajar hukum itu dari suatu perspektif yang baru. Samasekali bukan! Ia datang sebagai penggenapan dari setiap pengharapan, perintah dan impian yang diungkapkan dalam hukum Taurat itu. Ajaran Yesus tentang Perjanjian Lama adalah baru secara total, bukan karena dipelintir-pelintir isi hukum itu oleh-Nya, namun karena Dia sendiri dapat melaksanakan hukum itu secara sempurna, taat secara sempurna kepada hukum itu sepanjang hidup-Nya di dunia.

Hidup Yesus yang relatif singkat di muka bumi ini secara penuh memberi pencerahan atas hukum Musa. Semua kebenaran berhasil dicapai oleh-Nya. Secara moral Yesus adalah orang benar – tanpa noda dosa sedikit pun atau tanpa ketidaktaatan kepada Allah. Yesus juga benar secara lengkap dalam relasi-relasi-Nya: Dia mengasihi Allah dengan segenap hati-Nya dan semua orang dengan rasa keadilan dan belas kasih yang lengkap. Akhirnya, melalui kematian-Nya pada kayu salib, Ia menggenapi semua kebenaran dengan mensyeringkan kesempurnaan-Nya dengan kita-manusia, sehingga dengan demikian kita pun dapat dibuat benar di mata Allah. Atas dasar alasan inilah maka hukum Taurat diberikan, dan sekarang, melalui Yesus, kita semua dapat menerima berkat-berkat kebenaran Allah dalam hati kita.

DOA: Tuhan Yesus, kami menyembah Engkau! Kami memuji keindahan-Mu dan cara-Mu yang sempurna, yang telah menggenapi segala kebenaran untuk kami. Kami memuji Engkau dan berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena lewat persatuan dengan diri-Mu kami dapat menikmati buah ketaatan-Mu dengan menjadi semakin serupa dengan Engkau, dengan demikian menyenangkan Bapa surgawi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:17-19), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS ADALAH PENGGENAP TAURAT AGAR MENJADI BERBUAH” (bacaan tanggal 12-6-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2019.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-6-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 10 Juni 2019 [PERINGATAN SP MARIA, BUNDA GEREJA] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS