Posts tagged ‘KEMURIDAN’

HANYA MELALUI KASIH DAN KESETIAAN ALLAH

HANYA MELALUI KASIH DAN KESETIAAN ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Sabtu sesudah Rabu Abu – 17 Februari 2018)

Kemudian, ketika Yesus pergi ke luar, Ia melihat seorang pemimpin cukai, yang  bernama Lewi, sedang duduk di tempat pemungutan cukai. Yesus berkata kepadanya, “Ikutlah Aku!” Lewi pun bangkit dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Dia.

Kemudian Lewi mengadakan perjamuan besar untuk Dia di rumahnya dan sejumlah besar pemungut cukai dan orang-orang lain turut makan bersama-sama dengan Dia. Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut kepada murid-murid Yesus, katanya, “Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Lalu jawab Yesus kepada mereka, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.” (Luk 5:27-32) 

Bacaan Pertama: Yes 58:9b-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 86:1-6

Tak peduli dengan latar belakang kita masing-masing, kita semua memiliki kemampuan untuk memberikan diri kita sendiri secara total-lengkap kepada Allah. Bahkan seorang pendosa kelas berat pun dapat ditransformasikan oleh kasih dan kebaikan hati-Nya. Ini adalah pelajaran di belakang perjumpaan Yesus dengan Lewi dan semua teman-teman Lewi yang dicap sebagai orang-orang berdosa oleh orang-orang Farisi dan para ahli Taurat. Setiap hari dalam kehidupan-Nya di dunia, Yesus sungguh mempraktekkan petuah nabi, yaitu menjauhkan diri dari “menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah” (Yes 58:9). Ia menolak untuk menuduh atau menyalahkan siapa pun. Sebaliknya, Yesus menerima orang-orang berdosa dan berusaha untuk membawa rahmat pengampunan dan sentuhan penyembuhan dari Bapa surgawi ke dalam kehidupan para pendosa itu.

Kedosaan Lewi sebagai pemungut cukai tidak membuat Yesus menjauhinya. Keprihatinan utama Yesus adalah apakah si Lewi ini akan bertobat, meninggalkan dosa-dosanya dan menerima sebuah hati yang baru. Yesus memang tidak pernah menghindar dari orang-orang yang “tidak bersih” alias “para pendosa”. Yesus tidak pernah takut bahwa kemurnian diri-Nya akan terancam. Yesus juga tidak pernah berusaha untuk membuat diri-Nya kelihatan lebih baik dengan menuding-nuding orang lain atau menunjuk-nunjuk kesalahan orang lain. Sebaliknya, Yesus malah meruntuhkan tembok-tembok pemisah yang ada, agar dapat membawa kemurnian Injil kepada setiap orang yang dijumpainya.

Bagaimana dengan kita sendiri? Seringkali, apabila kita berhadapan dengan perilaku dosa dari orang lain, tanggapan kita malah berwujud menjauhkan diri daripadanya. Tidak jarang pula kita menjadi terlibat dalam gosip-gosipan tentang orang itu. Berapa banyak dari kita yang tidak mau mengundang ke rumah kita para kerabat atau teman yang perilaku tak bermoralnya sungguh mengganggu kita? Banyak dari kita juga tetap merasa marah dan menolak orang-orang yang telah bersalah terhadap diri kita. Sekarang saatnya kita bertanya kepada diri sendiri, apakah sikap dan perilaku kita itu efektif dalam usaha membantu “para pendosa” itu menyesali dosa-dosa mereka dan melakukan pertobatan …… kembali ke jalan Allah?

Yesus menunjukkan kepada kita bagaimana mendekati orang-orang lain. Walaupun Yesus tidak pernah berkompromi dengan kebenaran atau menyarankan agar orang mengabaikan hukum Allah, Ia memperlakukan setiap orang dengan rasa hormat dan belas kasihan, apa pun dosa mereka.

Oleh karena itu, marilah kita belajar untuk pergi menemui dan mengasihi orang-orang seperti yang dilakukan Yesus. Janganlah kita menghakimi orang-orang yang berlabel “pendosa”. Yang penting adalah kita mengasihi mereka dengan kasih Kristus, dan kita boleh merasa yakin betapa besar dampak dari tindakan kita itu. Setiap orang dapat dipimpin kepada kebenaran hanya melalui kasih dan kesetiaan Allah.

DOA: Roh Kudus Allah, buatlah hatiku menjadi seperti hati Yesus pada masa Prapaskah ini. Biarlah kasih yang kuat dan penuh bela rasa membimbingku selagi aku mendekati orang-orang lain, teristimewa mereka yang telah meninggalkan Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 5:27-32), bacalah tulisan dengan judul “YESUS DATANG UNTUK MENGUBAH HATI PARA PENDOSA” (bacaan tanggal 17-2-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 4-3-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 13 Februari 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

FAVORITISME TIDAK DIKENAL OLEH YESUS

FAVORITISME TIDAK DIKENAL OLEH YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa II – Jumat, 19 Januari 2018)

Hari Kedua Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani

Kemudian naiklah Yesus ke atas bukit. Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya dan mereka pun datang kepada-Nya. Ia menetapkan dua belas orang, yang juga disebut-Nya rasul-rasul, untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan. Kedua belas orang yang ditetapkan-Nya itu ialah: Simon, yang diberi-Nya nama Petrus, Yakobus anak Zebedeus, dan Yohanes saudara Yakobus, yang keduanya diberi-Nya nama Boanerges, yang berarti anak-anak guruh, selanjutnya Andreas, Filipus, Bartolomeus, Matius, Tomas, Yakobus anak Alfeus, Tadeus, Simon orang Zelot, dan Yudas Iskariot, yang mengkhianati Dia. (Mrk 3:13-19)

Bacaan Pertama: 1Sam 24:3-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 57:2-4,6,11

Kita dapat membayangkan betapa hati kedua belas murid yang dipanggil oleh Yesus itu terbakar oleh kegembiraan penuh gairah. Belum lama mereka bersama Yesus, namun Yesus telah memanggil nama mereka satu per satu, “… untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan”  (Mrk 3:14-15). Sungguh suatu keistimewaan luar biasa untuk diberikan peranan sedemikian. Akan tetapi, masih banyak yang mereka harus pelajari mengenai arti sesungguhnya menjadi murid Yesus.

Kita lihat juga bahwa Yesus sungguh tidak mengenal favoritisme; para rasul yang dipanggil-Nya berasal dari berbagai macam segmen masyarakat, ada nelayan, ada pemungut pajak, ada (mantan) anggota gerakan revolusioner  (Zeloti) dari Galilea, dan lain-lain. Pokoknya Dia tidak pandang bulu!

Di bagian kemudian Injil ini, Markus menceritakan suatu diskusi yang terjadi di antara para murid, yakni mengenai siapa di antara mereka yang paling besar (Mrk 9:33). Yesus mengetahui perdebatan yang terjadi di antara para murid dan Dia pun sadar akan konsekuensi perpecahan di antara mereka. Oleh karena itu Yesus mengajarkan kepada mereka suatu pelajaran yang fundamental tentang apa artinya menjadi murid-murid-Nya. Kedua belas murid ini telah saling membandingkan diri satu sama lain, barangkali didasarkan atas gagasan mengenai kekudusan/kesucian diri: berapa banyak mukjizat yang dilakukan, perbuatan baik apa saja yang dilakukan dan seterusnya. Yesus menghalau perbandingan-perbandingan seperti itu dengan mengatakan kepada mereka, “Jika seseorang ingin menjadi yang pertama, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya”  (Mrk 9:35). Ini adalah hakekat dari SERVANT LEADERSHIP.

Teguran halus dari Yesus itu dimaksudkan untuk mengingatkan para murid-Nya agar tidak mencari-cari kemuliaan menurut standar atau ukuran dunia ini, tetapi agar menjadi seperti anak-anak kecil, yang penuh keinginan untuk menerima rahmat dan berkat dari Allah yang mahamurah. Menimba dari Bapa surgawi dalam segala hal akan mengajar kedua belas murid itu bahwa pada dasarnya, “kemuridan” (discipleship) adalah mengakui Yesus sebagai pokok anggur, dalam Dia-lah para murid menimba kehidupan (lihat Yoh 15:5). Segala mukjizat dan tanda heran yang dilakukan mereka sesungguhnya hanyalah buah dari hubungan mereka dengan Yesus. Jadi jangan sampai para murid-Nya mencuri kemuliaan Allah, sehingga “bernasib” sama seperti Musa yang karena kesalahannya sampai dihukum tak dapat masuk ke tanah terjanji (baca: Bil 20:2-13, teristimewa 20:10-12). Bukan kuasa Musa yang berhasil mengeluarkan pancaran air dari bukit batu, melainkan kuasa YHWH sendiri. Peristiwa  di Masa dan Meriba ini (lihat Kel 17:1-7) sepantasnya diingat terus oleh para hamba Allah sepanjang masa, para pelayan Sabda atau para pewarta mimbar yang “hebat-hebat”, yang nyaris disanjung-sanjung oleh umat, jangan  sampai mereka sendiri tidak diperkenankan untuk sampai ke tanah terjanji surgawi. Oleh karena itu, jangan sampai seorang pun dari kita ini mencuri kemuliaan Yesus!

Yesus telah membuka jalan bagi kita dan telah memanggil kita masing-masing untuk menjadi murid-murid-Nya. Yesus tidak lagi menyapa kita sebagai orang asing, akan tetapi sahabat dan saudari-saudara. Kepada kita masing-masing Yesus telah memberikan hak istimewa untuk mengenal Dia secara pribadi. Kepada kita masing-masing Ia telah memberikan anugerah-anugerah unik untuk membangun Gereja-Nya di atas muka bumi ini. Marilah kita tetap waspada agar jangan sampai tergoda untuk membandingkan diri kita dan berbagai bagai karunia atau anugerah yang ada pada kita dengan orang-orang lain. Marilah kita tolak kesombongan yang meletakkan diri kita pada tempat yang lebih tinggi daripada saudari-saudara kita yang berlainan gereja (bahkan mereka yang beriman-kepercayaan lain), yang hanya akan menyebabkan timbulnya kecurigaan dan perpecahan.

Martabat kita tidak terletak pada berbagai kemampuan kita, tetapi dalam kenyataan bahwa Yesus telah memanggil kita dengan nama kita masing-masing. Secara khusus, “Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani” yang sedang kita jalani ini adalah saat yang cocok  untuk merenungkan hal yang baru saja disebutkan tadi, dan merenungkannya secara sangat-sangat serius.

DOA: Bapa surgawi, kami menghadap-Mu hari ini sebagai anak-anak kecil, yang perlu dipenuhi dengan hidup-Mu sendiri. Oleh Roh-Mu, ajarlah kami untuk bekerja sama membawa terang-Mu ke dalam dunia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Sam 24:3-12), bacalah tulisan yang berjudul “MENGHORMATI DAN MENDOAKAN PARA PEMIMPIN” (bacaan tanggal 19-1-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-1-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 17 Januari  2018 [Peringatan S. Antonius, Abas] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS DATANG JUSTRU UNTUK MEMANGGIL ORANG BERDOSA

YESUS DATANG JUSTRU UNTUK MEMANGGIL ORANG BERDOSA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Sabtu, 13 Januari 2018)

 

Sesudah itu Yesus pergi lagi ke pantai danau, dan seluruh orang banyak datang kepada-Nya, lalu Ia mengajar mereka. Kemudian ketika Ia lewat di situ, Ia melihat Lewi anak Alfeus duduk di tempat pemungutan cukai lalu Ia berkata kepadanya, “Ikutlah Aku!”  Lewi pun bangkit lalu mengikuti Dia.  Kemudian ketika Yesus makan di rumah orang itu, banyak pemungut cukai dan orang berdosa makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya, sebab banyak orang yang mengikuti Dia. Pada waktu ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi melihat bahwa Ia makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa itu, berkatalah mereka kepada murid-murid-Nya, “Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?”  Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”  (Mrk 2:13-17)

Bacaan Pertama: 1Sam 9:1-4,17-19;10:1a; Mazmur Tanggapan: Mzm 21:2-7

Pada saat-saat tertentu di masa lampaunya Lewi telah mengambil langkah yang salah dalam kehidupannya. Dia memilih kekayaan dan kekuasaan, bukannya solidaritas dengan saudari-saudaranya sebangsa, yaitu orang-orang Yahudi. Dia menjadi seorang pemungut cukai untuk kepentingan pihak penguasa Romawi, penjajah yang sangat dibenci oleh rata-rata orang Yahudi. “Biaya sosial” yang harus ditanggung sebagai akibat pilihannya atas pekerjaannya sebagai seorang pemungut cukai memang tidak kecil. Sejak saat dia memutuskan untuk menjadi “antek Romawi”, dia tidak lagi dipandang sebagai one of us oleh masyarakat Yahudi, malah dianggap sebagai seorang pengkhianat bangsa, … seorang musuh. Barangkali teman-temannya hanyalah terdiri dari orang-orang yang berprofesi sama dengan dirinya, sampai Yesus mengundang Lewi untuk menegikuti-Nya (Mrk 2:14).

Yesus mengundang Lewi secara langsung, “Ikutlah Aku”, malah setelah itu “lebih heboh” lagi, karena Dia duduk makan bersama di rumah Lewi, yang dipenuhi juga dengan para undangan yang terdiri dari para pemungut cukai dan orang berdosa (Mrk 2:15). Dalam kebudayaan Yahudi persekutuan pada meja perjamuan melambangkan persahabatan yang intim. Orang-orang Farisi percaya bahwa kekudusan mensyaratkan penghindaran diri seseorang dari kontak dengan orang-orang yang tidak murni-suci. Itulah sebabnya mengapa mereka bertanya kepada para murid Yesus, “Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” (Mrk 2:16). Orang-orang Farisi mempertanyakan solidaritas Yesus dengan “para pendosa”. Yesus sebenarnya tidak sepenuhnya tidak setuju dengan pandangan orang-orang Farisi itu. Dia menerima kenyataan, bahwa Lewi dan orang-orang sejenisnya adalah orang-orang  yang “sakit” di tingkat spiritual, dengan demikian membutuhkan penyembuhan spiritual.

Lewat pekerjaan Roh Kudus dalam hatinya, Lewi juga sampai pada kesimpulan yang sama. Selama itu Dia telah mendengarkan Yesus yang mewartakan sabda rekonsiliasi dan mengakui bahwa dia membenci rasa malu dan isolasi yang ditanggungnya selama itu. Akan tetapi Lewi bukanlah seperti orang-orang Farisi, karena dia tidak berhenti sampai di sana. Dengan menyambut tangan-tangan Yesus dalam persahabatan sejati, Lewi berhasil membuang rasa bersalahnya memerdekaan nuraninya yang sudah lama menderita tekanan. Lewi masuk ke dalam pertukaran ilahi. Artinya dia menyerahkan independensinya dari Allah dan mendirikan suatu hidup ketaatan dengan mengikuti Yesus. Dengan demikian Lewi memperoleh bagian yang lebih baik, pengampunan dari-Nya yang indah.

Kita pun dapat melakukan hal yang sama. Kita tidak perlu merasa kaget apabila kita melihat dosa dalam kehidupan kita. Yang perlu kita lakukan hanyalah berpaling kepada-Nya dan mengakui kebutuhan-kebutuhan kita akan pengampunan dan penyembuhan. Seperti dikatakan oleh P. Raniero Cantalamessa OFMCap., sekarang ini posisi kita secara spiritual tidak ubahnya dengan “roh-roh yang terpenjara di tempat penantian”, yang menanti-nantikan kedatangan sang Juruselamat. Oleh karena itu marilah kita berseru dengan keras dari kedalaman ruang penjara kedosaan kita, dalam tempat mana kita sudah sekian lama terbelenggu sebagai tawanan. Kita sudah tahu bahwa ada pertolongan dan ada obat penyembuh bagi sakit-penyakit kita, karena Allah mengasihi kita (Life in Christ, hal. 33). Marilah kita menyesali dan mengakui dosa-dosa kita kepada Allah yang Maharahim.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah membuang rasa bersalah dan rasa malu kami, dan Engkau telah mewujud-nyatakan kasih Allah ke tengah dunia yang penuh dengan kedosaan ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 2:13-17), bacalah tulisan yang berjudul “MATIUS MENYADARI DAN MENGAKUI BAHWA YESUS DAPAT MENYEMBUHKAN DIRINYA” (bacaan  tanggal 13-1-18), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-1-17 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 10 Januari 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

STEFANUS: SEORANG SAKSI KRISTUS SEJATI

STEFANUS: SEORANG SAKSI KRISTUS SEJATI

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Pesta Santo Stefanus, Martir Pertama, Hari Kedua dalam Oktaf Natal – Selasa, 26 Desember 2017)

 

Stefanus, yang penuh dengan anugerah dan kuasa, mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda di antara orang banyak. Tetapi tampillah beberapa orang dari jemaat Yahudi yang disebut Orang-orang Merdeka – mereka berasal dari Kirene dan Aleksandria – bersama dengan beberapa orang Yahudi dari Kilikia dan dari Asia. Mereka berdebat dengan Stefanus, tetapi mereka tidak sanggup melawan hikmatnya dan Roh yang mendorong dia berbicara. Ketika anggota-anggota Mahkamah Agama itu mendengar semuanya itu, hati mereka sangat tertusuk. Mereka menyambutnya dengan kertak gigi. Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. Lalu katanya, “Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah.”  Tetapi berteriak-teriaklah mereka dan sambil menutup telinga, mereka menyerbu dia. Mereka menyeret dia ke luar kota, lalu melemparinya dengan batu. Saksi-saksi meletakkan jubah mereka di depan kaki seorang pemuda yang bernama Saulus. Sementara mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya, “Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku.” (Kis 6:8-10; 7:54-59) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 31:3-4,6,8,16-17; Bacaan Injil: Mat 10:17-22

Baru saja kita selesai merayakan kedatangan Sang Raja Damai, pada hari ini kita sudah menghadapi cerita tentang martir Kristiani yang pertama. Sungguh suatu perubahan sebagaimana apa adanya. Kita dipanggil untuk mengakui bahwa damai-sejahtera yang diberikan oleh Yesus kepada kita itu dimenangkan dengan harga yang sangat mahal: Darah-Nya dan darah semua martir dari abad ke abad. Dari sejak awal kita telah belajar bahwa damai sejati hanya dapat datang kalau kita merangkul Dia yang mati untuk kita dan memperkenankan salib-Nya merasuki kehidupan kita.

Mengikuti jejak Kristus bukan perkara lenggang-lenggang kangkung. Yesus sendiri telah mengingatkan para murid-Nya: “…waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan mencambuk kamu di rumah ibadatnya. Karena Aku, kamu akan digiring ke hadapan penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah” (Mat 10:17-18).

Betapa indahnya Santo Stefanus merefleksikan kebenaran-kebenaran ini! Selagi dia menceritakan kisah Stefanus ini, Lukas secara istimewa memberi penekanan atas kemiripan Stefanus dengan Yesus. Stefanus penuh dengan rahmat dan kuasa; dia mengadakan mukjizat-mukjizat dan tanda-tanda heran; dia berbicara dengan hikmat dari Roh Kudus (Kis 6:8,10). Selagi dia dianiaya, dia berdoa: “Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku” (Kis 7:59) dan sesaat sebelum meninggal dia juga mengampuni para penganiayanya: “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!” (Kis 7:60; bdk. Luk 23:34).

Inilah alasannya mengapa Yesus datang ke dunia: untuk membuat kita menjadi anak-anak Allah yang penuh dengan kuasa Roh Kudus. Ketika kita bertobat dan dibaptis, kita juga menerima Roh Kudus. Akan tetapi selagi kita menjalani hidup kita sehari-hari, bukanlah sesuatu yang tidak biasa kalau terjadi berbagai gangguan dan bermunculannya urusan-urusan duniawi yang mempengaruhi kita secara negatif. Dosa, yaitu pengaruh-pengaruh dari Iblis dan hasrat-hasrat akan hal-hal duniawi dapat mengisi hati kita dengan begitu cepat. Itulah sebabnya mengapa kita harus berdoa setiap hari: “Datanglah Roh Kudus. Penuhi diri kami, ubahlah kami, buatlah agar kami lebih serupa lagi dengan Yesus.” 

Segala hal yang dialami oleh Santo Stefanus dan para murid awal juga tersedia bagi kita. Pada Masa Natal ini, marilah kita mengundang Tuhan untuk berkarya lebih dalam lagi dalam kehidupan kita. Biarlah Dia membebaskan anda dari dosa; berilah kepadanya ruangan yang lebih lagi dalam hatimu; sediakanlah waktu yang lebih banyak lagi untuk merenungkan firman-Nya; bukalah hatimu lebih lagi pada saat anda menerima Dia dalam Ekaristi Kudus. Ini semua adalah cara-cara dengan mana kita menempatkan diri kita siap dibentuk oleh Roh Kudus dan dipenuhi dengan kelimpahan hidup dan cintakasih Allah. Dipenuhi Roh seperti yang dialami oleh Stefanus, kita pun dapat mencerminkan kemuliaan Allah dan menjadi pewarta Injil yang berani.

DOA: Roh Kudus Allah, penuhilah diri kami seperti Engkau memenuhi para murid Yesus Kristus yang awal. Buatlah agar kami dapat lebih menyerupai Yesus. Berdayakanlah kami agar dapat melakukan pekerjaan baik yang Kaurencanakan untuk kami lakukan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 6:8-10; 7:54-59), bacalah tulisan yang berjudul “YANG  BERTAHAN SAMPAI KESUDAHANNYA AKAN SELAMAT” (bacaan tanggal 26-12-17) dalam situs/blog  SANG SABDA http://sangsabada.wordpress.com; kategori: 17-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 26-12-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  26 Desember 2017         

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

p.s. Mohon maaf, kami baru dapat menyusun tulisan ini pada hari ini karena pada hari Natal kemarin harus pergi ke Tigaraksa (Tangerang). Ada kerabat kami (seorang Muslim) yang mendadak wafat pada pagi hari Natal dan dimakamkan pada hari yang sama.

MENGASIHI DAN MEMBENCI

MENGASIHI DAN MEMBENCI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXI – Rabu, 8 November 2017)

Kongregasi Fransiskanes Sambas (KFS): Peringatan Arwah Semua Anggota Tarekat 

Pada suatu kali ada banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka, “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapaknya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, apakah uangnya cukup untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, dan berkata: Orang ini mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya.

Atau, raja manakah yang kalian mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian. Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.  (Luk 14:25-33) 

Bacaan Pertama: Rm 13:8-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 112:1-2,4-5,9 

Kata-kata yang diucapkan Yesus ini memprovokasi kita untuk berpikir lebih lanjut. Kata-kata ini digunakan Yesus untuk menantang para pendengar-Nya yang mau menjadi murid-murid-Nya! Membenci bapaknya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri! (Luk 14:26). Kata-kata Yesus ini terasa sangat bertentangan dengan perintah yang diberikan oleh-Nya sebelum itu, yaitu perintah untuk mengasihi! Bagaimana dua perintah ini dapat cocok satu sama lain?

Pada titik tengah, perintah Yesus, baik untuk mengasihi maupun untuk membenci, merupakan suatu panggilan untuk mau mengorbankan bagi Yesus hal-hal yang paling disenangi dalam hidup kita. Ini adalah panggilan untuk melakukan subordinasi kasih kita kepada setiap orang dan setiap hal lainnya terhadap kasih kita kepada-Nya, untuk menempatkan hasrat-Nya sebagai yang pertama dan utama dalam hati kita. Yesus memerintahkan ini karena Dia tahu bahwa bila kita mengasihi dan menghormati-Nya di atas setiap hal lainnya, maka kita akan mampu untuk mengasihi orang-orang lain secara lebih mendalam. Dengan kasih ilahi dan hidup ilahi yang aktif di dalam diri kita, maka kita diberdayakan untuk mengasihi dengan cara yang melampaui kemampuan-kemampuan kita sendiri yang bersifat alamiah.

Di manakah atau kapankah kita (anda dan saya) mengalami perintah untuk mengasihi yang membuat seakan hal itu berada di luar batas-batas kemampuan kita? Mungkin kita harus mengucapkan kata-kata yang bersifat menantang dan konfrontatif kepada saudari dan/atau saudara kita dalam Kristus? Barangkali seorang anak kita telah mengikuti jalan yang sesat dan membutuhkan koreksi? Dalam situasi-situasi yang sulit-menegangkan seperti itu, Roh Kudus dapat mengajar kita untuk membenci dosa yang kita lihat namun terus mengasihi para pendosa tersebut. Paling sedikit kita diingatkan bahwa kita pun adalah orang-orang berdosa.

Kita hanya perlu mempertimbangkan pilihan-pilihan sulit yang dihadapi Yesus dalam kehidupan-Nya ketika hidup di atas bumi ini, atau merenungkan kematian-Nya di atas kayu salib guna melihat bahwa “jalan kasih” tidak selalu mudah. Namun kita harus senantiasa mengingat bahwa Yesus memiliki kuat-kuasa untuk membebaskan kita dari cara hidup yang sia-sia yang diwariskan oleh nenek moyang kita (1Ptr 1:18) dan juga dari kodrat kita yang cenderung berdosa. Kita tidak boleh takut terhadap reaksi-reaksi orang-orang jikalau memang kita harus berbicara langsung kepada mereka. Kita harus berketetapan hati untuk tetap setia kepada panggilan Allah bagi kita kepada kekudusan yang meminta kepada kita untuk “membenci” segala hal yang membuat kita dan orang-orang lain tetap terikat pada dosa. Yesus wafat di atas kayu salib untuk memenangkan kasih kita dan kesetiaan kita. Oleh karena itu, marilah kita menyerahkan hati kita kepada-Nya, mengasihi Dia di atas segalanya yang lain dalam hidup kita.

DOA: Bapa surgawi, berdayakanlah diriku agar mau dan mampu menempatkan Engkau di atas segala cintaku yang lain. Ajarlah aku agar mengasihi keluargaku dan para sahabatku serta orang-orang lain dengan kasih-Mu, yaitu kasih yang menyembuhkan segala luka dan perpecahan. Tunjukkanlah kepadaku bagaimana mengucapkan sabda-Mu dalam kasih yang berasal dari Engkau saja, sehingga Engkau dapat dimuliakan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 14:25-33), bacalah tulisan yang berjudul “KEMENANGAN SALIB KRISTUS ADALAH KEMENANGAN KASIH-NYA YANG MAHA-SEMPURNA” (bacaan tanggal 8-11-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 4-11-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 6 November 2017  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

AKU BERSYUKUR KEPADA-MU, BAPA, TUHAN LANGIT DAN BUMI

AKU BERSYUKUR KEPADA-MU, BAPA, TUHAN LANGIT DAN BUMI

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVI – Sabtu, 7 Oktober 2017)

 

Kemudian ketujuh puluh murid itu kembali dengan gembira dan berkata, “Tuhan, setan-setan pun takluk kepada kami demi nama-Mu.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit. Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa atas segala kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu. Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di surga.”

Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata, “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorang pun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu.” Sesudah itu berpalinglah Yesus kepada murid-murid-Nya secara tersendiri dan berkata, “Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat. Karena Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.”  (Luk 10:17-24) 

Bacaan Pertama: Bar 4:5-12,27-29; Mazmur Tanggapan: Mzm 69:33-37

Lukas menggambarkan kegembiraan Yesus pada waktu para murid-Nya kembali dari misi  mereka mewartakan Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan. Yesus menunjukkan kepada para murid-Nya bagaimana seharusnya mereka memuji-muji Bapa-Nya di surga. Lalu kita pun dapat melihat sekilas lintas gaya doa Yesus: pujian penuh sukacita dalam Roh Kudus kepada Bapa: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, ……” (Luk 10:21).

Doa yang paling sejati adalah doa pujian dan syukur; ini adalah bentuk komunikasi yang paling meluas. Hal ini benar dalam relasi kita satu sama lain. Suatu sikap memuji, sikap menghargai, sikap mengasihi yang ditujukan kepada orang lain, adalah yang paling sehat bagi ke dua belah pihak dalam berkomunikasi. Lebih benar lagi adalah sikap kita terhadap Allah. Kita berkomunikasi secara paling baik jika kita mengenal orang lain dengan siapa kita berkomunikasi dan juga siapa kita ini. Allah adalah segalanya yang besar, agung dan indah. Yesus adalah yang paling besar dan agung! Dengan demikian puji-pujian adalah bentuk komunikasi dengan Dia yang paling nyata dan alamiah.  Puji-pujian mengungkapkan secara paling akurat perasaan-perasaan kita yang benar dalam berbicara dengan Dia dan juga dalam mendengarkan Dia. Kita tidak boleh lupa bahwa “mendengarkan” sudah merupakan separuh (yang lebih baik) dari komunikasi yang kita lakukan. Mendengarkan dengan puji-pujian dan rasa syukur kepada Tuhan!

Puji-pujian dapat mengambil banyak bentuk, bahkan dalam keheningan maupun lagu pujian. Lagu pujian membuka diri kita terhadap Allah dan juga perasaan-perasaan kita yang paling dalam tentang diri-Nya. Ada banyak doa pujian dalam Kitab Suci, Buku Doa Allah, dan banyak dari doa-doa itu adalah dalam bentuk lagu.

Baiklah bagi kita kalau sungguh menikmati lagu-lagu pujian dan menyanyikan lagu-lagu itu juga. Berdoa dengan menyanyikan lagu pujian adalah berkomunikasi dengan Tuhan, mengatakan kepada-Nya apa yang kita rasakan tentang diri-Nya, mengatakan kepada-Nya apa yang membuat kita mengasihi Dia dan berterima kasih penuh syukur kepada-Nya dan menaruh kepercayaan kepada-Nya, serta membuat Dia sebagai pusat kehidupan kita. Doa yang berbentuk lagu, jika kita masuk ke dalamnya dengan sikap ini, meluaskan kita dan membuat kita bertumbuh secara spiritual. Doa-lagu seperti ini menyelamatkan kita dari bentuk doa yang sempit dan terasa sekadar mohon ini-itu, menggunakan Allah sebagai seorang sugar-Daddy atau Sinterklas yang harus memberikan kepada kita apa saja yang kita minta. Dengan doa permohonan yang terlalu bersifat sepihak, sepertinya kita bertransaksi dengan Allah. Kita melakukan tawar-menawar yang sungguh tidak sehat. Doa yang jauh lebih bijak adalah doa pujian. “Biar bagaimana pun juga, puji Tuhan! Apapun yang terjadi, marilah kita memuji Tuhan” adalah motto yang hebat. Motto ini mengajar kita bagaimana membalikkan setiap hal menjadi suatu berkat bagi hidup kita.

DOA: Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, menyanyilah bagi TUHAN, hai segenap bumi! Menyanyilah bagi TUHAN, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 10:17-24), bacalah tulisan yang berjudul “BERSUKACITALAH KARENA NAMAMU ADA TERDAFTAR DI SURGA” (bacaan tanggal 7-10-17) dalam situs SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 3-10-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  5 Oktober 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MENJADI PEKERJA-PEKERJA UNTUK TUAIAN ITU

MENJADI PEKERJA-PEKERJA UNTUK TUAIAN ITU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVI – Kamis, 5 Oktober 2017)

 

Setelah itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. Kata-Nya kepada mereka, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan pemilik tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. Janganlah membawa pundi-pundi atau kantong perbekalan atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan. Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. Jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal padanya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah. Jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu, dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu. Tetapi jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu tidak tidak diterima di situ, pergilah ke jalan-jalan raya kota itu dan serukanlah: Juga debu kotamu yang melekat pada kaki kami, kami kebaskan di depanmu; tetapi ketahuilah ini: Kerajaan Allah sudah dekat. Aku berkata kepadamu: Pada hari itu Sodom akan lebih ringan tanggungannya daripada kota itu.” (Luk 10:1-12) 

Bacaan Pertama: Neh 8:1-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:8-11 

Yesus menginginkan agar semua orang diselamatkan. Ini senantiasa menjadi hasrat hati-Nya yang terdalam, dan inilah alasan mengapa Dia mengutus para murid-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem. Lukas merupakan satu-satunya pengarang Injil yang mencatat perjalanan misioner 70 (atau 72) orang murid Yesus ini. Kelihatannya Lukas ingin mengingatkan para pembaca Injilnya akan sifat misioner dari Gereja yang akan digambarkannya secara lebih lengkap dalam “Kisah Para Rasul”.

Malah ada sejumlah pakar Kitab Suci yang melihat adanya suatu keterkaitan antara jumlah murid yang diutus dan jumlah bangsa yang ada dalam dunia seturut ajaran para rabi abad pertama. Dalam “Kisah Para Rasul” tercatat bahwa sesaat sebelum Yesus diangkat ke surga, Dia mengatakan bahwa dengan kuasa Roh Kudus para murid-Nya akan menjadi saksi-saksi-Nya di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan ‘sampai ke ujung bumi’” (Kis 1:8). Dengan demikian para murid akan mewartakan Injil kepada suatu perwakilan dari seluruh dunia.

Dalam hati-Nya, Yesus sangat mengetahui bahwa tuaian memang banyak, akan tetapi waktunya sangatlah singkat. Ada begitu banyak orang yang harus diperhatikan, begitu banyak yang perlu melihat tanda-tanda Kerajaan yang akan datang, sehingga Yesus mengutus para “duta”-Nya untuk mempersiapkan orang-orang agar dapat menerima karunia salib.  Mereka tidak perlu meyakinkan orang-orang dengan berbagai argumen yang rumit-jelimet atau spekulasi yang tinggi-tinggi. Sebaliknya, mereka diminta untuk – dalam nama-Nya – menyembuhkan orang sakit, mengusir roh-roh jahat yang merasuki orang-orang (Luk 10:17), dan mewartakan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat (Luk 10:9). Dengan demikian, tergantung pada setiap orang untuk memutuskan apakah menerima Yesus atau menolak-Nya.

Yesus mengingatkan para murid-Nya bahwa dalam menjalankan misi mereka, mereka akan menghadapi perlawanan secara diam-diam dan/atau terang-terangan. Yesus mengutus mereka seperti “anak-anak domba ke tengah-tengah serigala” (lihat Luk 10:3). Akan tetapi, walaupun di tengah-tengah oposisi, pengejaran dan penganiayaan, mereka harus mendekati orang-orang dengan sebuah pengharapan yang didasarkan pada iman akan kebesaran tak-tertandingi dari kuat-kuasa Allah.

 

Bahkan pada hari ini, sementara kita menantikan tuaian akhir, Yesus masih saja memanggil kita untuk mewartakan Injil ke tengah-tengah dunia. Dengan kasih kita satu sama lain, dengan ketaatan penuh kerendahan hati kepada Allah, dan dengan kata-kata yang kita ucapkan, kita dapat ikut ambil bagian dalam peranan murid-murid Yesus yang pertama sebagai duta-duta-Nya. Kita juga merupakan “pekerja-pekerja” yang ingin diutus oleh Yesus untuk menuai. Karena Kerajaan-Nya sedemikian berharga, marilah kita mengkomit diri kita untuk bekerja bagi Tuhan seturut panggilan-Nya kepada kita.

DOA: Tuhan Yesus, bukalah mata (hati) kami agar dapat melihat bahwa tuaian memang banyak. Utuslah kami, ya Tuhan, sebagai pekerja-pekerja-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 10-1-12), bacalah tulisan yang berjudul “MEMUSATKAN PERHATIAN KITA PADA YESUS” (bacaan tanggal 5-10-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 3-10-13 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 3 Oktober 2017 [Transitus Bapak Fransiskus] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS