Posts tagged ‘KEMURIDAN’

SIAPA SAJA YANG INGIN MENJADI BESAR DI ANTARA KAMU, …

SIAPA SAJA YANG INGIN MENJADI BESAR DI ANTARA KAMU, …

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Minggu Biasa XXIX [TAHUN B] – 21 Oktober 2018)

HARI MINGGU MISI

Lalu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya, “Guru, kami harap Engkau melakukan apa pun yang kami minta dari Engkau!” Jawab-Nya kepada mereka, “Apa yang kamu kehendaki Kuperbuat bagimu?”  Lalu kata mereka, “Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.”  Tetapi kata Yesus kepada mereka, “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum atau dibaptis dengan baptisan yang harus kuterima?”  Jawab mereka, “Kami dapat.” Yesus berkata kepada mereka, “Memang, kamu akan meminum cawan yang harus Kuminum dan akan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima. Tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang yang baginya hal itu telah disediakan.”  Mendengar itu kesepuluh murid yang lain menjadi marah kepada Yakobus dan Yohanes. Lalu Yesus memanggil mereka dan berkata, “Kamu tahu bahwa mereka yang diakui sebagai pemerintah bangsa-bangsa bertindak sewenang-wenang atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Siapa saja yang ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”   (Mrk 10:35-45) 

Bacaan Pertama: Yes 53:10-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:4-5,18-20,22; Bacaan Kedua: Ibr 4:14-16

Ini adalah perjalanan-Nya untuk terakhir kalinya ke Yerusalem dan Yesus secara terbuka mempersiapkan ke duabelas rasul/murid-Nya untuk peristiwa-peristiwa penting yang menyangkut hari-hari terakhir-Nya di atas bumi. Yesus bernubuat bahwa diri-Nya “akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhkan hukuman mati kepada-Nya. Mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa lain, dan Ia akan diolok-olok, diludahi, dicambuk dan dibunuh, tetapi sesudah tiga hari Ia akan bangkit” (Mrk 10:33-34). Sekarang, Yesus siap untuk menjawab pertanyaan apa saja dari para murid-Nya tentang “nasib”-Nya yang kelihatan tragis ini. Pada momen yang sensitif ini, Yesus juga mencari dukungan dari mereka, yaitu para sahabat terdekat-Nya.

Kemudian, kesunyian penuh ketegangan dirusak oleh dua orang bersaudara anak-anak Zebedeus, yaitu Yakobus dan Yohanes, hal mana menunjukkan bahwa mereka berdua sungguh belum mampu menangkap pesan dari Mesias yang menderita dan hanya memikirkan dan memandang Dia sebagai seorang raja penakluk yang penuh kejayaan.  Mereka berdua meminta tempat-tempat kehormatan (mungkin sebagai “menko bidang perekonomian” dan “menko bidang polhukam”) dalam Kerajaan-Nya yang didirikan tidak lama lagi – yang satu duduk di sebelah kanan-Nya dan yang lain duduk di sebelah kiri-Nya. Permintaan mereka yang diajukan secara mendadak dan didorong oleh ambisi yang tidak sehat tentunya menyedihkan bagi Yesus, yang selama itu telah menempatkan diri-Nya sebagai seorang pelayan/hamba, namun sekarang diminta untuk memberikan posisi kehormatan dan bermartabat kepada para murid-Nya. Sepuluh orang murid yang lain menjadi marah kepada Yakobus dan Yohanes. Tidak mengherankanlah apabila Lukas tidak memasukkan insiden tidak sedap ini dalam Injilnya. Di lain pihak, dalam Injilnya, Matius menyebut bahwa ibunda dari dua bersaudara itulah yang mengajukan “permohonan kurang ajar” tersebut kepada Yesus, jadi bukan mereka berdua (Mat 20:20-28).

Apa pun yang sesungguhnya terjadi, dan siapa pun yang mengajukan permohonan itu kepada Yesus, satu hal yang jelas. Yesus memberitahukan Yakobus dan Yohanes dan para rasul/murid yang lain bahwa mereka dipanggil untuk menderita bersama-Nya.

Yesus mengajarkan bahwa Kerajaan-Nya itu berbeda apabila dibandingkan dengan kerajaan-kerajaan di dunia. Mereka yang diakui sebagai pemerintah bangsa-bangsa bertindak sebagai tuan atas rakyatnya, dan para pembesarnya bertindak sewenang-wenang atas mereka. Namun di dalam Gereja orang-orang besarnya adalah justru mereka yang melayani orang-orang lain. (Mrk 10:42-43). Yesus bersabda: “Siapa saja yang ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan siapa saja yang ingin menjadi yang pertama di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya” (Mrk 10:43-44).  Jadi, satu-satunya cara bagi kita untuk dapat ikut serta dalam kemuliaan Yesus adalah pertama-tama ikut ambil bagian dalam penderitaan sengsara-Nya.

01 Jan 1976 — Mother Teresa Visits Patients At Kalighat Home For The Dying — Image by © JP Laffont/Sygma/CORBIS

Berlawanan dengan beberapa pandangan modern, penderitaan bukanlah hukuman, demikian pula kehormatan bukan selalu merupakan karunia dari Allah. Kita harus secara konstan terus membuat jelas standar-standar yang mana yang kita ikuti. Seperti Yakobus dan Yohanes, kita mungkin menjadi tidak sensitif terhadap jalan-jalan Allah dengan mencoba menjadi sangat penting dalam cara-cara duniawi. Bukankah kita kadang-kadang bersenandung “I’m number one”, paling sedikit secara diam-diam? Di mana kita dapat menemukan “orang-orang nomor satu” dari Tuhan? Tidak perlu mereka duduk dalam posisi-posisi tinggi dan memegang otoritas, tetapi justru mereka adalah para pelayan yang bekerja keras dalam masyarakat. Renungkanlah hidup pribadi-pribadi seperti S. Fransiskus dari Assisi, S. Vincentius a Paolo, S. Damien dari Molokai, S. Ibu Teresia dari Kalkuta dlsb.

DOA: Tuhan Yesus, buatlah hatiku seperti hati-Mu. Anugerahilah aku cintakasih dan keberanian untuk mampu melihat melampaui diriku sendiri dan untuk melayani orang-orang lain dengan penuh kemurahan hati, seperti Engkau sendiri telah lakukan. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 10:35-45), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MENGAJUKAN PERTANYAAN SAMA SEPERTI YANG DITANYAKAN-NYA KEPADA BARTIMEUS” (bacaan tanggal 21-10-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM https://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 18-10-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 17 Oktober 2018 [Peringatan S. Ignasius dr Antiokhia, Uskup & Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

KOMITMEN KRISTIANI HARUS BERSIFAT PERMANEN

KOMITMEN KRISTIANI HARUS BERSIFAT PERMANEN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVI – Rabu, 3 Oktober 2018)

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan mereka, berkatalah seseorang di tengah jalan kepada Yesus, “Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Yesus berkata kepadanya, “Rubah mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Lalu Ia berkata kepada seorang yang lain, “Ikutlah Aku!”  Tetapi orang itu berkata, “Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapakku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana.” Lalu seorang yang lain lagi berkata, “Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” (Luk 9:57-62) 

Bacaan Pertama: Ayb 9:1-12,14-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 88:10-15 

Yesus mempunyai cara-Nya sendiri dalam berkomunikasi dengan para murid atau calon murid-Nya, menstimulir mereka untuk berpikir. Di sini Yesus berbicara mengenai persyaratan untuk menjadi murid-Nya dan bahasa yang digunakan cukup keras. Namun terasa bahwa sekali-sekali Yesus berkomunikasi dengan melakukan permainan kata-kata yang sungguh merangsang imajinasi orang yang mendengar pesan-Nya dan membuat orang itu bertanya-tanya tentang makna dari pesan yang disampaikan-Nya. “Biarlah orang mati menguburkan orang mati” (Luk 9:60). Maknanya, tentunya, adalah membiarkan orang-orang yang mati-rohani menguburkan orang mati-fisik. Pekerjaan kita adalah dengan orang-orang yang hidup; pesan kita adalah pesan kehidupan, kehidupan baru. Saya sendiri sekian tahun lalu mengalami betapa berbahayanya sabda Yesus seperti ini apabila ditafsirkan secara harfiah. Pada waktu ayah mertua saya meninggal dunia, seorang anak laki-lakinya yang menganut paham Kristiani yang fundamentalistis, tidak mau hadir ke rumah duka, padahal dia adalah anak laki-laki tertua. Alasan yang dikemukakannya sama dengan ayat tadi. Menyedihkan, memang!

Satu hal lainnya yang ditekankan Yesus adalah “kesulitan” yang dialami seseorang untuk menjadi murid-Nya, ada “biaya”-nya. “Rubah mempunyai liang dan burung mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Luk 9:58). Yesus memang tidak pernah “menipu”/”menjebak” orang dengan janji-janji yang indah-indah dan romantis, agar mau mengikuti diri-Nya. Yesus membeberkan fakta seadanya walaupun terkesan keras didengar.

Satu hal lagi yang disampaikan di sini: Komitmen para murid Yesus harus bersifat permanen: “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah” (Luk 9:62). Yesus mengingatkan kita bahwa kita-manusia mempunyai kecenderungan untuk merasa terlalu risau tentang kerja, kita terlalu banyak memikirkan sukses …… sukses duniawi! Kita menjadi begitu mudah disibukkan dengan urusan pekerjaan dan rekreasi, dan lupa komitmen kita untuk melayani Allah dan sesama (bukan hanya orang Kristiani) sebagai orang-orang Kristiani sejati.

Komitmen Kristiani bukanlah sekadar urusan suci-suci pada hari Minggu saja, doa, bahkan senantiasa hadir dalam Misa Harian. Komitmen Kristiani yang sejati jauh lebih dari itu semua. Komitmen Kristiani sejati menyangkut penghayatan iman dalam tindakan, di tempat kerja, pada waktu berekreasi, dalam bisnis, dalam dunia politik, dalam segala kontak kita dengan sesama manusia tanpa memandang perbedaan agama, bangsa/etnis, status sosial-ekonomi dalam masyarakat. Komitmen Kristiani bukanlah sesuatu yang dapat kita “mati-hidupkan” seenaknya seperti pesawat radio. Komitmen Kristiani yang sejati harus bersifat permanen dan harus meliputi seluruh segi kehidupan kita.

DOA: Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah yang kering dan tandus, tiada berair. Demikianlah aku memandang kepada-Mu di tempat kudus, sambil melihat kekuatan-Mu dan kemuliaan-Mu. Aku mau memuji Engkau seumur hidupku dan menaikkan tanganku demi nama-Mu. Jiwaku melekat kepada-Mu, tangan kanan-Mu menopang aku. Amin. (Mzm 63:2-3,5,9)

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 9:57-62), bacalah tulisan yang berjudul “HAL IKHWAL MENGIKUT YESUS” (bacaan tanggal 3-10-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 4-10-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 29 September 2018 [Pesta S. Mikael, Gabriel dan Rafael, Malaikat Agung] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENJADI PELAKU FIRMAN ALLAH

MENJADI PELAKU FIRMAN ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXV – Selasa, 25 September 2018)

Ibu dan saudara-saudara Yesus datang kepada-Nya, tetapi mereka tidak dapat mendekati Dia karena orang banyak. Orang memberitahukan kepada-Nya, “Ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan ingin bertemu dengan Engkau.” Tetapi Ia menjawab mereka, “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.” (Luk 8:19-21) 

Bacaan Pertama: Ams 21:1-6,10-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:1,27,30,34-35,44

Dalam bagian Injil Lukas ini tercatat pengajaran Yesus tentang kemuridan/pemuridan. Mengikuti Yesus berarti mendengar sabda Allah dan berbuah (Luk 8:4-15). Murid Yesus yang sejati harus memiliki terang yang bercahaya dan tidak boleh tersembunyi (Luk 8:16). Para murid Yesus dapat mempunyai iman kepada Yesus dan tidak perlu takut terhadap angin ribut dalam kehidupan mereka (Luk 8:22-25). Sekali lagi, Yesus mengusir roh jahat dari seorang laki-laki di Gerasa dan atas dasar perintah Yesus sendiri, orang itu pun dengan penuh sukacita pergi ke seluruh kota dan memberitahukan segala sesuatu yang telah diperbuat Yesus atas dirinya (Luk 8:39).

Sekarang, marilah kita membayangkan sejenak apa yang terjadi seturut bacaan Injil hari ini. Banyak orang berkumpul di sekeliling Yesus untuk mendengar apa yang akan/sedang dikatakan oleh rabi dari Nazaret ini, walaupun mereka tidak selalu memahami perumpamaan-perumpamaan-Nya. Kemudian, muncullah Ibu Maria dan saudara-saudara Yesus, dan karena padatnya orang-orang yang berkumpul di situ, mereka tidak dapat mendekati  Yesus. Jadi, tidak mengherankanlah apabila ada orang yang memberitahukan kepada Yesus: “Ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan ingin bertemu dengan Engkau” (Luk 8:20). Jawab Yesus: “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya” (Luk 8:21).

Apakah kiranya yang dimaksudkan Yesus dengan jawaban-Nya itu? Apakah ini berarti bahwa Yesus tidak merasa peduli pada ibu dan keluarga-Nya? Tentu saja tidak! Siapa yang lebih baik dalam memahami kata-kata Yesus itu selain Maria, yang memiliki hasrat tetap untuk melakukan kehendak Bapa surgawi (Luk 1:38)? Lukas tidak mencatat apa yang dilakukan oleh Yesus selanjutnya, namun akal sehat kita mengatakan bahwa tentulah Dia menyambut ibu dan saudara-saudara-Nya, kalau pun tidak langsung ketika mengajar orang banyak itu. Bagi Yesus, menempatkan orang-orang lain sebagai lebih penting daripada keluarga-Nya sendiri sebenarnya bertentangan dengan yang kita ketahui sebagai benar tentang Allah dan juga melawan seluruh ajaran tentang keluarga yang terdapat dalam Kitab Suci (bacalah “Sepuluh Perintah Allah”, khususnya Kel 20:12).

Dalam tanggapan-Nya, Yesus menyatakan bahwa “mereka yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya” akan menjadi dekat dengan Yesus seperti para anggota keluarga-Nya sendiri. Ini adalah sebuah janji pengharapan dan sukacita. Kita sendiri dapat mempunyai keintiman yang sama dengan Yesus, kedekatan yang sama, dan relasi kasih yang sama seperti yang dimiliki-Nya dengan ibu dan semua anggota keluarga-Nya. Kita bukan hanya akan menjadi dekat dengan Yesus, melainkan juga – seperti halnya dengan setiap keluarga – kita pun mulai kelihatan seperti Dia. Kita akan mengambil oper karakter-Nya dan mulai berpikir dan bertindak seperti Yesus. Ini adalah janji bagi kita yang berdiam dalam sabda Allah dan senantiasa berupaya untuk mewujudkan sabda-Nya menjadi tindakan nyata.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau menjanjikan kepada kami suatu relasi yang intim dan penuh kasih dengan diri-Mu. Tolonglah kami agar dapat mengalami kasih-Mu selagi kami menjalani hari-hari kehidupan kami untuk melakukan kehendak Allah. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 8:19-21), bacalah tulisan yang berjudul “MENDENGARKAN FIRMAN ALLAH DAN MELAKUKANNYA” (bacaan tanggal 25-9-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 26-9-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 23 September 2018 [HARI MINGGU BIASA XXV – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENJADI PENJALA MANUSIA

MENJADI PENJALA MANUSIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXII – Kamis, 6 September 2018)

 

Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai Danau Genesaret, sementara orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah. Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya. Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia mendorong perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon, “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.”  Simon menjawab, “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena perkataan-Mu itu, aku akan menebarkan jala juga.”  Setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Mereka pun datang, lalu bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam. Ketika Simon Petrus melihat hal itu ia pun sujud di depan Yesus dan berkata, “Tuhan, pergilah dari hadapanku, karena aku ini seorang berdosa.”  Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap; demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. Kata Yesus kepada Simon, “Jangan takut, mulai sekarang engkau akan menjala manusia.”  Sesudah menarik perahu-perahunya ke darat, mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus. (Luk 5:1-11)

Bacaan Pertama: 1Kor 3:18-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 24:1-6

Sebelum terjun ke dalam karya pelayanan-Nya di depan publik, Yesus relatif tidak dikenal. Namun setelah Ia kembali dari puasa-Nya di padang gurun, dengan cepat Yesus menarik perhatian orang banyak lewat karya-karya-Nya dalam pengusiran roh-roh jahat, penyembuhan dan mukjizat-mukjizat lainnya. Setelah menentukan misi-Nya, Yesus langsung mulai memanggil beberapa orang untuk menjadi murid-murid-Nya – mereka yang dapat diajar-Nya dan dibentuk-Nya supaya dapat menjadi duta-duta-Nya kelak.

Injil Lukas menceritakan bahwa murid-murid pertama yang dipanggil oleh Yesus adalah Simon Petrus, seorang nelayan yang kelak akan memimpin Gereja-Nya yang kelak berekspansi keluar Israel mencapai dunia yang dikenal pada waktu itu.

Sekarang, marilah kita membayangkan betapa Yesus memiliki wibawa dan kuat-kuasa, seorang yang penuh kharisma. Kitab Suci dan tradisi menggambarkan Simon Petrus sebagai seorang pribadi yang emosional, cepat marah, namun ketika Yesus muncul untuk mengajar orang banyak, Petrus langsung saja mengiyakan permintaan Yesus untuk meminjamkan perahunya sebagai “mimbar khotbah”. Kemudian, setelah selesai berkhotbah, Yesus berkata kepada Petrus untuk bertolak ke tempat yang dalam dan menebarkan jalanya untuk menangkap ikan. Ia berkata: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena perkataan-Mu, aku akan menebarkan jala juga” (Luk 5:5). Tentunya Petrus telah dibuat terpesona/takjub atas pengajaran yang baru saja diberikan oleh Yesus kepada orang banyak, sehingga dia tidak saja mematuhi keinginan Yesus, dia juga menyapa Yesus sebagai GURU, suatu gelar yang mengandung respek mendalam seseorang terhadap wibawa dan kuasa yang dimiliki orang  yang disapanya.

Alhasil, Petrus dkk. di dalam perahunya berhasil menjala ikan-ikan dalam jumlah besar, sehingga jala yang dipakai pun menjadi koyak dan mereka pun harus minta bantuan para nelayan lain yang ada di perahu lain. Bayangkan, kedua perahu itu pun hampir tenggelam karena sarat muatan ikannya. Mukjizat penangkapan ikan ini sungguh membuat Simon Petrus menjadi rendah hati dan melihat dirinya sedemikian kecil di hadapan Yesus. Sesuatu yang penuh kuat-kuasa telah terjadi di dalam dirinya, mendorongnya untuk meninggalkan segalanya di belakang guna mengikuti sang Guru. Sejak saat itu tentunya Petrus tidak lagi memandang Yesus sebagai seorang guru seperti guru-guru yang lain, juga bukan sekadar sebagai seorang bijaksana yang pantas dihargai serta dihormati.

Pernyataan diri (perwahyuan) Yesus lewat mukjizat ini membuat Petrus sujud di depan Yesus dan berkata: “Tuhan, pergilah dari hadapanku, karena aku ini seorang berdosa.” (Luk 5:8). Kata Tuhan ini adalah terjemahan dari kata Yunani Kyrios, adalah kata yang sama yang digunakan dalam menerjemahkan kata YHWH dalam Perjanjian Lama bahasa Yunani, artinya ALLAH sendiri. Lewat perwahyuan, Petrus mampu memandang bahwa Yesus berada di atas segala orang lain.

Nah, pengalaman Petrus ini adalah suatu pengalaman yang Yesus ingin agar kita alami juga: suatu perwahyuan yang tidak hanya membukan pikiran kita, melainkan juga menembus hati kita juga. Yesus ingin menyatakan kemuliaan-Nya kepada kita masing-masing, dengan demikian mendesak kita untuk mengikuti jejak-Nya sama radikalnya dengan apa yang telah dilakukan oleh Petrus. Tuhan berjanji, apabila kita melakukannya, maka kita pun akan mengalami kehidupan-Nya yang sangat indah.

DOA: Roh Kudus Allah, tolonglah kami untuk memandang Yesus tidak hanya sebagai seorang Guru yang pantas dihormati, melainkan teristimewa sebagai Kyrios langit dan bumi, yang pantas kami percayai, kasihi dan taati perintah-perintah-Nya. Roh Allah, tanamkanlah pengetahuan ini ke dalam hati kami masinjg-masing. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 5:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “PENJALA MANUSIA” (bacaan  tanggal 6-9-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2018.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 7-9-17 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 4 September 2018 [Peringatan S. Rosa dr Viterbo, Perawan – Ordo III S. Fransiskus]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SETIAP HARI MANUSIA DIHADAPKAN PADA PILIHAN

SETIAP HARI MANUSIA DIHADAPKAN PADA PILIHAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXI [Tahun B] – 26 Agustus 2018)

 

Sesudah mendengar semuanya itu banyak dari murid-murid Yesus yang berkata, “Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?” Yesus yang di dalam hati-Nya tahu bahwa murid-murid-Nya bersungut-sungut tentang hal itu, berkata kepada mereka, “Apakah perkataan itu mengguncangkan kamu? Bagaimana jika kamu melihat Anak Manusia naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada? Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup. Tetapi di antaramu ada yang tidak percaya.” Sebab Yesus tahu dari semula, siapa yang tidak percaya dan siapa yang akan menyerahkan Dia. Lalu Ia berkata, “Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya.” Mulai saat itu banyak murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia.

Lalu kata Yesus kepada kedua belas murid-Nya, “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” Jawab Simon Petrus kepada-Nya, “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Engkau memiliki perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu bahwa Engkaulah Yang Kudus dari Allah.” (Yoh 6:60-69) 

Bacaan Pertama: Yos 24:1-2,15-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-3,16-23; Bacaan Kedua: Ef 5:21-32

“Inilah roti yang telah turun dari surga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Siapa saja yang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.” (Yoh 6:58)

Petikan sabda Yesus di atas diambil dari bacaan Injil Minggu lalu (Hari Minggu Biasa XX), yaitu dari Yoh 6:51-58. Dalam bacaan Injil Minggu lalu itu diperlihatkan kemutlakan Yesus sebagai sang Pemberi hidup. Dia adalah makanan dan minuman jiwa kita. Memakan Dia berarti hidup dan tidak memakan Dia berarti mati. Siapakah Yesus sebenarnya sampai-sampai mempunyai peranan yang begitu mutlak dalam perkembangan hidup kita sebagai manusia dan sekaligus orang Kristiani? Hanya Allah yang mutlak dan tidak ada seorang pun yang dapat memainkan peranan yang mutlak dalam hidup manusia selain Allah. Bagaimana Yesus dapat mengatakan hal itu? Tidaklah mengherankan jika banyak dari murid-murid Yesus menjadi tidak percaya, dan seperti orang-orang Yahudi mereka juga bersungut-sungut.

Yesus yang mengetahui hal itu tidak menarik kembali kata-kata-Nya. Yesus malah balik menantang para murid-Nya dengan suatu misteri yang lebih besar lagi. Jika kata-kata yang diucapkan-Nya sudah mengguncangkan iman mereka, “bagaimana jika mereka melihat Anak Manusia naik ke tempat di mana sebelumnya Ia berada? (Yoh 6:62). Apakah maksud kata-kata ini dan mengapa hal itu pasti akan lebih mengguncangkan iman mereka lagi? Naik ke tempat di mana sebelumnya Ia berada berarti kembali kepada Bapa dan masuk dalam  kemuliaan-Nya. Lalu mengapa hal ini akan lebih mengguncangkan iman para murid-Nya? Karena naik ini terjadi melalui salib penyerahan diri-Nya.

Kita semua telah melihat betapa salib telah mengguncangkan iman para murid (lihat Mrk 8:31-33 dan Luk 24:13-35) dan akan selalu mengguncangkan iman sepanjang masa. Kata-kata ini tiba-tiba saja diteruskan Yesus dengan pernyataan tentang peredaan antara roh dan daging serta apa sebenarnya  bobot  kata-kata-Nya itu (Yoh 6:63). Di sini Yesus sebenarnya mau menghantar kita semua ke bagian berikutnya. Kata-kata-Nya itu hanya dapat diterima dalam iman karena bobot kata-kata-Nya memang mengatasi apa yang dipikirkan manusia yang dapat dikatakan hanyalah daging. Hanya firman-Nya adalah benar-benar “roh dan hidup” artina yang dapat memberikan semangat dan kehidupan. Kapan hal ini terjadi? Kalau kita percaya, yakni kalau kita menerima Dia sebagai yang berasal dari Allah. Pada waktu itu kata-kata-Nya tidak akan lagi mengguncang iman kita, Kata-kata-Nya menjadi roh dan hidup bagi kita.

Akan tetapi, kita harus ingat bahwa menerima Yesus itu tidak berada dalam kemampuan kita sebagai manusia, melainkan soal Allah, soal keputusan bebas Allah yang memberi anugerah kepada orang yang dikehendaki-Nya (Yoh 6:64-66). Inilah rahasia pilihan Allah, Kehidupan kita dalam Yesus tergantung pada karunia Allah. Kalau demikian halnya, mengapa Yesus menantang para murid-Nya untuk memilih mengikuti Dia atau meninggalkan-Nya? Dapatkah manusia memberi keputusan jika iman kepada Yesus adalah suatu karunia?

Petrus dan para murid yang lain bukanlah pribadi-pribadi yang belum beriman kepada Yesus. Mereka jelas telah beriman kepada Yesus, namun di dalam dunia iman ini selalu mendapat tantangan a.l. karena ada orang yang meninggalkan Yesus. Petrus dan para murid yang lain harus memberi keputusan apakah tetap bertahan atau tidak. Mereka tetap bertahan sebagai para pengikut Yesus karena telah mengalami bahwa Yesus memberi arti pada hidup ereka. Yesus adalah “Yang Kudus dari Allah” (Yoh 6:69; bdk. Mrk 1:24). Yesus telah memasukkan para murid ke dalam persekutuan hidup yang mesra dengan Allah. Tanpa pengalaman ini orang sulit mengambil keputusan seperti yang dilakukan oleh Petrus. Sesungguhnya, Yesus memang berasal dari Allah.

Setiap hari manusia dihadapkan pada pilihan. Ada pilihan yang mungkin teramat biasa, namun kadang-kadang ada pula pilihan yang amat berat. Seringkali kita tidak tahu apa yang harus kita pilih. Baru belakangan kita disadarkan akan baik-buruknya pilihan yang telah kita buat. Injil hari ini menantang kita untuk melakukan pilihan yang amat menentukan dalam kehidupan kita.

(Adaptasi dari P. Berthold Anton Pareira O’Carm, HOMILI Masa Khusus dan Masa Biasa – Tahun B, Malang: Penerbit Dioma, hal 203-206.) 

DOA: Yesus, Engkau adalah Roti Kehidupan yang turun dari surga. Walaupun ajaran-Mu tidak mudah, aku berketetapan hati untuk memilih-Mu. Biarlah Roh-Mu senantiasa membimbing langkah hidupku sehari-hari. Bersama para rasul-Mu yang diwakili Santo Petrus, perkenankanlah aku berseru: “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Engkau memiliki perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu bahwa Engkaulah Yang Kudus dari Allah”. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:60-69), bacalah tulisan berjudul “MENENTUKAN PILIHAN HIDUP KITA” (bacaan tanggal 26-8-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2018. 

Cilandak, 24 Agustus 2018 [Pesta S. Bartolomeus, Rasul] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERGURU PADA SEEKOR UNTA

BERGURU PADA SEEKOR UNTA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Pius X, Paus – Selasa, 21 Agustus 2018)

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sekali lagi Aku berkata, lebih mudah seekor unta masuk melalui lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Ketika murid-murid mendengar itu, sangat tercengang mereka dan berkata, “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Yesus memandang mereka dan berkata, “Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin.”

Lalu Petrus berkata kepada Yesus, “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?” Kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel. Setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki dan saudaranya perempuan, atau bapak atau ibunya, atau anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal.

Tetapi banyak orang yang pertama akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang pertama.” (Mat 19:23-30)  

Bacaan Pertama: Yeh 28:1-10;  Mazmur Tanggapan: Ul 32:26-28,30,35-36 

Mengapa Yesus menasihati orang muda-kaya itu untuk menjual segala harta-miliknya dan memberikan uangnya kepada orang-orang miskin? Apakah Yesus mendorong dia agar lebih banyak beramal agar dapat masuk ke dalam surga? Ataukah Ia meminta orang muda-kaya tersebut untuk mencabut sampai ke akar-akarnya segala “kemandirian”-nya, dalam artian pengandalan pada kemampuannya sendiri. Mengikuti dengan setia hukum-hukum tidak akan membawa anda ke dalam Kerajaan Allah, sebaliknya rasa percaya (trust) dan iman (faith) yang radikal kepada Yesus akan membawa anda ke dalam kerajaan Allah. 

“Lebih mudah seekor unta masuk melalui lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Mat 19:24). Ini adalah kata-kata Yesus yang keras untuk dapat dipahami oleh murid-murid-Nya. Kekayaan dipandang oleh banyak orang sebagai sebuah tanda perolehan berkat dari Allah. Menurut pandangan ini tentunya orang muka-kaya itu adalah seorang yang sangat diberkati oleh Allah. Dengan demikian, apabila orang ini – yang jelas-jelas diberkati secara berlimpah oleh Allah – tidak dapat dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah, maka siapa lagi yang dapat masuk?

Tradisi mengatakan kepada kita bahwa “lubang jarum” adalah pintu gerbang yang sangat kecil-sempit untuk masuk ke dalam kota Yerusalem. Agar unta-unta dapat melewatinya, maka unta-unta itu harus berlutut dan merangkak melaluinya. Semua beban berlebihan harus dilepaskan dulu. Yesus minta orang muda-kaya itu untuk melepaskan kelekatan-kelekatannya pada segala yang bersifat materi, seperti yang diperlukan oleh seekor unta untuk lepas dari bebannya yang berlebihan. Yesus minta  kepada orang muda-kaya itu untuk menaruh kepercayaan pada Allah agar dapat masuk ke dalam Kerajaan-Nya, bukannya menaruh kepercayaan pada berkat-berkat dari harta-kekayaannya.

Sekarang, marilah kita belajar dari hewan yang bernama “unta” itu! Apabila kita ingin masuk ke dalam kehidupan kekal, maka kita perlu menundukkan diri kita dan berlutut dalam doa dan kerendahan-hati. Kita harus mengakui kedaulatan Kristus dan kuat-kuasa penyelamatan-Nya – keselamatan yang hanya datang melalui iman dan baptisan. Hanya Yesus-lah yang dapat menebus kita dan membawa kita ke dalam kekudusan-Nya. Dengan demikian, marilah kita melepaskan diri dari beban-beban dosa yang selama ini telah menghalangi  pertumbuhan spiritual kita. Marilah kita membuat komitmen untuk melakukan pembaharuan hidup kita dengan Yesus setiap hari, mengakui kebutuhan kita akan Dia dan melepaskan segala “kemandirian” kita yang keliru, yaitu mengandalkan kemampuan diri kita sendiri. Marilah kita (anda dan saya) berjuang terus menuju kesempurnaan yang hanya dapat datang dalam iman kepada Yesus dan menyerahkan diri kepada kuasa-Nya untuk menyelamatkan dan menguduskan kita.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah satu-satunya harapanku. Aku mengkomit diriku kepada-Mu sebagai Tuhan dan Juruselamat. Tolonglah aku, ya Tuhan Yesus, agar dapat menjadi seorang pribadi seturut yang Kauinginkan. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 19:23-30), bacalah tulisan yang berjudul “BAHAYA DARI KELIMPAHAN HARTA-KEKAYAAN” (bacaan tanggal 21-8-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 22-8-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 19 Agustus 2018 [HARI MINGGU BIASA XX – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HENDAK SEMPURNA?

HENDAK SEMPURNA?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Bernardus, Abas & Pujangga Gereja – Senin, 20 Agustus 2018)

Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata, “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus, “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah.” Kata orang itu kepada-Nya, “Perintah yang mana?” Kata Yesus, “Jangan membunuh, jangan berzina, jangan mencuri, jangan memberi kesaksian palsu, hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kata orang muda itu itu kepada-Nya, “Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?” Kata Yesus kepadanya, “Jikalau engkau hendak hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Mendengar perkataan itu, pergilah orang muda itu dengan sedih, sebab banyak hartanya. (Mat 19:16-22)  

Bacaan Pertama: Yeh 24:14-24; Mazmur Tanggapan: Ul 32:18-21

Selagi Yesus dan rombongan-Nya berada dalam perjalanan menuju Yerusalem, seorang muda mendatangi Yesus dengan pertanyaan yang tentunya ada dalam hati kita semua: “Perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” (Mat 19:16). Jawaban Yesus cukup sederhana: Kita harus mengenal Dia, satu-satunya yang baik (yakni Allah sendiri), dan kita harus mematuhi segala perintah-Nya, termasuk perintah untuk mengasihi sesama kita. Otoritas perintah-perintah Allah itu jelas – siapa saja yang ingin masuk Kerajaan-Nya wajib untuk mematuhi perintah-perintah-Nya.

Dalam hatinya yang terdalam anak muda ini merasa sangat lapar. Walaupun dia kaya raya dan dengan tulus telah menepati perintah-perintah Allah (hal ini tidak mudah untuk dilakukan oleh siapa saja), tetap saja dia merasakan kekosongan dalam kehidupannya. Hal ini sungguh merupakan suatu blessing in disguise, bahwa boleh menikmati kekayaan dunia atau menghayati suatu kehidupan moral yang baik samasekali tidaklah memuaskan rasa rindu yang ada dalam hati kita. Kita memang diciptakan untuk hal yang jauh lebih besar! Kita diciptakan untuk mengenal dan menikmati suatu persatuan yang erat dengan Allah.  Santo Augustinus mengatakan: “Kaubuat kami mengarah kepadamu. Hati kami tak kunjung tenang sampai tenang di dalam diri-Mu” (Pengakuan-Pengakuan, terjemahan Indonesia terbitan BPK/Kanisius, I.1). Allah begitu mengasihi kita sehingga Dia menaruh dalam diri kita suatu rasa lapar akan kesempurnaan ini.

Yesus berkata kepada anak muda itu: “Jikalau  engkau hendak sempurna” (Mat 19:21). Hal ini harus kita pahami sebagai undangan Allah kepada semua orang. Melebihi upaya yang tulus dalam menepati perintah-perintah Allah, Yesus mengundang kita masing-masing kepada suatu pemuridan yang intim/akrab. Hanya persekutuan yang erat dengan Kristus seperti inilah yang dapat memuaskan rasa lapar yang ada dalam hati kita. Kita masing-masing dapat menjadi seorang murid Yesus, dapat mengikuti jalan kesempurnaan; undangan-Nya adalah untuk kita semua. Marilah kita menjawab dengan berani: “Ya, aku ingin menjadi sempurna,” dan memperkenankan Yesus mengajar kita untuk mengikuti jejak-Nya dalam kehidupan kita sehari-hari.

Episode ini terjadi pada waktu Yesus dengan penuh keyakinan sedang berada dalam perjalanan-Nya menuju sengsara dan kematian-Nya di Yerusalem. Kita semua juga sebenarnya sedang berada dalam suatu perjalanan: suatu perjalanan kemuridan/ pemuridan (a journey of discipleship). Setiap hari kita dapat mendekatkan diri kepada Yesus dalam doa, melalui pembacaan dan permenungan sabda Allah dalam Kitab Suci, dan melalui keikutsertaan kita dalam liturgi, teristimewa dalam Perayaan Ekaristi. Selagi kita melakukan semua itu, kita akan belajar mengikuti-Nya secara dekat. Baiklah kita kesampingkan banyak-banyak hal – apakah yang bernilai atau tidak – yang memenuhi hati dan pikiran kita secara tidak semestinya, dan memusatkan hasrat dan perhatian kita sepenuhnya pada Yesus. Dia adalah sang Guru. Oleh karena itu, marilah kita mendengarkan Dia!

DOA: Roh Kudus Allah, tunjukkanlah kepada kami sukacita yang sempurna dan damai sejahtera yang sejati karena mengikuti jejak Yesus Kristus. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 19:16-22), bacalah tulisan yang berjudul “RELASI KITA DENGAN YESUS ADALAH YANG  UTAMA” (bacaan tanggal 20-8-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori:  18-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-8-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  18 Agustus 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS