Posts tagged ‘KEMURIDAN’

RELASI KITA DENGAN YESUS ADALAH YANG UTAMA

RELASI KITA DENGAN YESUS ADALAH YANG UTAMA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XX – Senin, 19 Agustus 2019)

Fransiskan Conventual: Peringatan S. Ludovikus, Uskup

Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata, “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus, “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah.” Kata orang itu kepada-Nya, “Perintah yang mana?” Kata Yesus, “Jangan membunuh, jangan berzina, jangan mencuri, jangan memberi kesaksian palsu, hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kata orang muda itu itu kepada-Nya, “Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?” Kata Yesus kepadanya, “Jikalau engkau hendak hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Mendengar perkataan itu, pergilah orang muda itu dengan sedih, sebab banyak hartanya. (Mat 19:16-22)  

Bacaan Pertama: Hak 2:11-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:34-37,39-40,43-44

Barangkali cerita tentang orang muda yang kaya ini adalah tentang sikap kita terhadap uang. Namun karena ada peristiwa-peristiwa lain yang diceritakan dalam Kitab Suci, misalnya tentang para perempuan yang menggunakan uang/harta-milik mereka untuk mendukung Yesus dan karya pelayanan-Nya (lihat Luk 8:1-3), maka lebih tepatlah apabila kita mengatakan bahwa bacaan Injil hari ini adalah tentang sikap dan disposisi kita yang tidak hanya berkaitan dengan masalah uang.

Ada sesuatu dalam sikap orang muda-kaya ini yang tidak benar. Yesus melihatnya dan berupaya untuk mengangkat masalahnya ke atas permukaan, agar supaya orang muda-kaya ini dapat bebas menerima kasih-Nya. Yesus melihat bahwa orang muda-kaya ini telah memperkenankan harta-kekayaannya menjadi berhala, yang mempunyai suatu posisi yang lebih tinggi daripada Allah sendiri.

Cerita dari Matius ini dapat menggerakkan kita untuk mengajukan suatu pertanyaan yang serupa. Apakah ada sikap kita terhadap uang, pengakuan/penghargaan dari orang lain, kepenuhan-diri, atau kekuasaan – yang menduduki tempat yang lebih tinggi daripada Allah? Apakah disposisi-disposisi ini begitu berarti bagi kita sehingga menyebabkan kita meminimalisir atau malah menghilangkan atau melupakan samasekali cara yang diinginkan Allah bagi kehidupan kita? Apakah semua itu lebih penting bagi kita daripada relasi kita dengan Yesus?

Bagi Yesus, hidup kita dengan-Nya bukanlah berdoa pada waktu-waktu tertentu secara teratur, menghadiri Misa, pekerjaan apa yang kita lakukan, atau cara kita hidup. Memang benar Tuhan Yesus menginginkan kita hidup dengan cara tertentu – dipenuhi dengan tindakan-tindakan positif penuh keutamaan. Akan tetapi mungkinlah untuk melakukan segala hal yang benar dan tetap menjalani kehidupan yang terfokus kepada (kepentingan)diri kita sendiri dan bukan pemberian kemuliaan dan kehormatan bagi Allah.

Saudari-saudara yang dikasihi Kristus, Allah menginginkan hati kita. Dia menginginkan kita menjadi kurban yang hidup bagi-Nya. Kita perlu jelas bahwa Bapa surga lebih menyukai umat yang memiliki komitmen penuh pada Putera-Nya – walaupun umat ini juga bisa saja tidak sempurna, lemah, rentan terhadap godaan dan dosa, dan tidak setia. Bapa surgawi mempunyai kesulitan yang jauh lebih besar dengan umat yang mungkin “nyaris-sempurna” namun yang juga berpegang teguh pada independensi mereka, kemandirian mereka dan pemenuhan-diri. Mereka yang lemah namun mengasihi Yesus lebih menarik bagi Allah daripada orang-orang hebat yang lebih mengasihi diri mereka sendiri ketimbang Putera-Nya, Yesus!

DOA: Tuhan Yesus, aku menyerahkan hatiku kepada-Mu. Anugerahkanlah kepadaku suatu hasrat untuk menyingkirkan setiap halangan yang merintangi diriku dapat berjalan bersama-Mu. Aku mengasihi Engkau, ya Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 19:16-22), bacalah tulisan dengan judul “ALLAH INGIN MEMMBERIKAN KEPADA KITA SUATU KEHIDUPAN YANG LEBIH BAIK” (bacaan tanggal 19-8-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori:  19-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-8-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  16 Agustus 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

YESUS ITU LEBIH BESAR DARIPADA APA SAJA YANG KITA LIHAT ADA DALAM DIRI KITA

YESUS ITU LEBIH BESAR DARIPADA APA SAJA YANG KITA LIHAT ADA DALAM DIRI KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Sabtu, 13 Juli 2019)

“Seorang murid tidak lebih daripada gurunya, atau seorang hamba daripada tuannya. Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya. Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya.

Jadi, janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka, dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas rumah. Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.

Bukankah burung pipit dijual dua ekor seharga satu receh terkecil? Namun, seekor pun tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu, janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit.

Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang disurga. Tetapi siapa saja yang menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di surga.” (Mat 10:24-33) 

Bacaan Pertama: Kej 49:29-32; 50:15-26a; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:1-4,6-7 

“Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang.(Mat 10:27) 

Selagi Dia menyiapkan para murid-Nya untuk pekerjaan misioner, Yesus dengan berhati-hati menguatkan mereka untuk sebuah tugas yang memang mudah terbuka untuk diserang, dikritik, bahkan dijadikan objek kebencian. Apa kiranya strategi Yesus dalam hal ini? Apakah yang dikatakan-Nya kepada mereka? “… apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas rumah” (Mat 10:27). Apa yang diharapkan Yesus dari mereka untuk mendengar “dalam gelap”? Siapakah yang akan membisikkan kata-kata kepada mereka? Bagaimana seharusnya mereka mengatakannya dalam terang?

Ada banyak cara yang berbeda-beda untuk dapat memahami sabda Yesus ini, namun ada satu tafsir yang membawa dampak tidak hanya pada karya misioner melainkan juga pada setiap relasi di mana kita terlibat. Adalah “dalam gelap” – dalam keheningan hati kita –  Yesus menunjukkan kepada kita betapa kuat kodrat manusiawi kita yang cenderung untuk berdosa itu dan betapa dalam kita membutuhkan penyembuhan dan penebusan dari Dia. Kita semua telah mengetahui saat-saat di mana Roh Kudus telah membawa kita berhadapan-hadapan – muka ketemu muka – dengan kegelapan dalam diri kita, dan kita semua juga telah mengetahui saat-saat di mana kita menerima penghiburan dari Roh yang sama – penghiburan dan jaminan akan belas kasih-Nya dan pengampunan-Nya. Hal-hal inilah yang dimaksudkan bagi kita untuk diwartakan dari atas rumah: kasih Bapa yang melimpah-melimpah atas semua pendosa!

Ketika kita berhadapan dengan “Sang Tersalib”, maka pandangan mata kita harus diarahkan ke atas karena posisi salib itu lebih tinggi daripada kita semua yang berdiri di dekat kaki salib. Apabila kita sungguh ingin menjadi saksi Kristus yang memiliki kredibilitas, maka kita harus jujur perihal ketergantungan kita kepada-Nya. Lalu kita dapat menyatakan, “Aku sakit dan Yesus menyembuhkan diriku. Aku tuli dan Ia membuka telingaku. Aku terikat dan Ia membebaskan diriku.” Tidak ada seorang pun ingin mendengar tentang bagaimana menjadi “baik” bilamana mereka mengetahui betapa sulitnya hal itu. Akan tetapi setiap orang ingin mendengar tentang kuat-kuasa Allah untuk menyembuhkan dan mengubah para pendosa. Setiap orang ingin mendengar bahwa mereka juga dapat menjadi pengikut-pengikut Yesus.

Kabar baik dari Injil adalah bahwa Yesus itu lebih besar daripada apa saja yang kita lihat ada di dalam diri kita. Yesus dapat membebaskan, menyembuhkan dan menyelamatkan kita! Ia ingin melakukan hal itu! Oleh karena itu marilah kita memperkenankan Yesus untuk menunjukkan kepada kita segala kegelapan diri/hati kita, bukan hanya untuk kebaikan kita, melainkan demi pemberian kesaksian kita tentang Yesus kepada orang-orang lain.

DOA: Roh Kudus, selidikilah hatiku. Berbisiklah kepadaku tentang kegelapan yang ada di dalam hatiku. Semoga terang-Mu menyinari kegelapan hatiku itu dan membebaskan aku, sehingga dengan demikian aku dapat berbagi dengan orang-orang lain tentang kabar baik rekonsiliasi diriku dengan Bapa surgawi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:24-33), bacalah tulisan yang berjudul “JANGANLAH KAMU TAKUT NAMUN TAKUTLAH KEPADA ……” (bacaan tanggal 13-7-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-07 BACAAN HARIAN JULI 2019.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-7-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 11 Juli  2019 [Peringatan S. Benediktus, Abas] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MEMBERITAKAN BAHWA KERAJAAN SURGA SUDAH DEKAT

MEMBERITAKAN BAHWA KERAJAAN SURGA SUDAH DEKAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Benediktus, Abas – Kamis, 11 Juli 2019)

Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; sembuhkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.

Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu. Janganlah kamu membawa kantong perbekalan dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat nafkahnya. Apabila kamu masuk kota atau desa, carilah di situ seorang yang layak dan tinggallah padanya sampai kamu berangkat. Apabila kamu masuk rumah orang, berilah salam kepada mereka. Jika mereka layak menerimanya, salammu itu turun ke atasnya, jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Apabila seseorang tidak menerima kamu dan tidak mendengar perkataanmu, keluarlah dan tinggalkanlah rumah atau kota itu dan kebaskanlah debunya dari kakimu. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman tanah Sodom dan Gomora akan lebih ringan tanggungannya daripada kota itu.” (Mat 10:7-15) 

Bacaan Pertama: Kej 44:18-21,23b-29,45:1-5; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:16-21 

“Pergilah dan beritakanlah: ‘Kerajaan Surga sudah dekat’.” (Mat 10:7)

Apakah yang dimaksudkan dengan “Kerajaan Surga” atau “Kerajaan Allah” ini, sehingga Yesus mengutus para murid/rasul-Nya untuk mewartakan Kerajaan itu? Banyak orang Yahudi telah lama berharap akan kedatangan sebuah kerajaan dunia, yang akan mengusir orang-orang Romawi yang selama itu menjajah dan menindas mereka. Akan tetapi Kerajaan Surga yang dimaksudkan oleh Yesus bukanlah sebuah kerajaan yang mengikuti norma-norma sebagaimana ditentukan oleh kekuasaan militer atau politik, melainkan ditentukan oleh kasih dan belas-kasih serta bela-rasa terhadap para pendosa yang terluka, mereka yang menderita sakit-penyakit dan hidup tanpa kerabat dan teman, bagi mereka yang tertimpa rasa takut dan tak berdaya karena terbelenggu oleh kuasa si Iblis.

Sebagai pertanda kedatangan Kerajaan Allah, para murid diperintahkan oleh Yesus untuk “menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, menyembuhkan orang kusta, mengusir roh-roh jahat” (Mat 10:8). Bagaimana mungkin mereka akan mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan hebat seperti itu? Bukankah Yesus adalah satu-satunya Pribadi yang memiliki otoritas untuk melakukan segala hal itu? Jawabannya terletak pada satu pernyataan Yesus yang dibuat-Nya kemudian dalam Injil: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga” (Mat 18:3).

Kerajaan Surga dimaksudkan bagi orang-orang sederhana, yang mempunyai rasa percaya seperti anak-anak (child-like trust, bukan childish) terhadap Bapa surgawi. Yesus memanggil para murid-Nya untuk melakukan hal-hal yang tak mungkin dengan pertolongan Allah. Hanya seorang pribadi sederhana saja yang dapat melakukan hal itu, seorang pribadi yang mengetahui dan menyadari bahwa dirinya tidak berarti samasekali, namun tetap percaya akan kemungkinan-kemungkinan tanpa batas dari Allah yang kekal dan Mahakuasa. Jadi, Yesus membawa sebuah Kerajaan yang dapat diakses oleh orang-orang yang memiliki iman dan rasa percaya yang sederhana.

Apa saja yang akan menjadi tanda-tanda Kerajaan  yang baru ini? Orang-orang akan menolak dosa dan mulai melayani mereka yang berada di sekeliling mereka. Ada juga yang dengan jelas berubah dari wajah muram karena tekanan dosa ke wajah cerah berseri-seri karena dosa yang telah diampuni. Karakteristik-karakteristik Yesus sendiri menjadi nyata terlihat dalam diri para pengikut-Nya selagi mereka mulai hidup dalam kasih, belas-kasih, kebaikan, dan kelemah-lembutan (Gal 5:22-23). Kejahatan akan dikalahkan oleh kebaikan, keserakahan oleh pelayanan yang dilakukan dengan kemurahan hati.

Kerajaan Allah tidak kurang riilnya pada hari ini ketimbang pada waktu Yesus untuk pertama kalinya mengutus para murid-Nya. Yesus terus hadir di tengah-tengah kita, Dia rindu untuk memajukan tujuan-tujuan-Nya dalam diri kita dan melalui kita. Apabila kita datang kepada-Nya dengan rasa percaya, seperti anak-anak kecil, Ia akan menggunakan kita untuk membawa pengampunan bagi para pendosa, pengharapan bagi yang letih-lesu dan berbeban berat, dan kesehatan bagi mereka yang menderita sakit-penyakit.

Sekarang, marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing, “Bukankah, sebuah Kerajaan seperti ini sangat pantas bagi seluruh hidupku?”

DOA: Tuhan Yesus, aku adalah murid-Mu. Aku ingin mengalami dan ikut ambil bagian dalam sukacita hidup dalam Kerajaan Surga. Kabulkanlah doaku ini, ya Tuhan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:7-15), bacalah tulisan yang berjudul “SETIAP ORANG KRISTIANI IKUT AMBIL BAGIAN DALAM MISI INI” (bacaan tanggal 11-7-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-07  BACAAN HARIAN JULI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-7-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 9 Juli 2019 [Peringatan S. Gregorius Grassi, Uskup, S. Agustinus Zhao Rong, Imam Martir dkk – Martir-martir Tiongkok] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MEMANGGIL LEWI UNTUK MENJADI MURID-NYA

YESUS MEMANGGIL LEWI UNTUK MENJADI MURID-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIII – Jumat, 5 Juli 2019)

Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di tempat pemungutan cukai, lalu Ia berkata kepadanya, “Ikutlah Aku.”  Matius pun bangkit dan mengikut Dia. Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya. Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus, “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Yesus mendengarnya dan berkata, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi, pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (Mat 9:9-13)

Bacaan Pertama: Kej 23:1-4,19;24:1-8,62-67; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:1-5

“… Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (Mat 9:13)

Ada seorang Kristiani yang sedang melakukan ziarah di Tanah Suci. Pada suatu malam orang itu berada sendirian di taman Getsemani. Ada banyak sekali bintang di langit dan orang itu sungguh menikmati malam yang indah itu. Karena terharu, dia pun mulai berlinang air mata. Dia berlutut dan berdoa dengan suara keras: “Tuhan, janganlah pernah membiarkan aku berdosa terhadap-Mu.” Malam itu sungguh sunyi senyap. Tiba-tiba terdengar suara dari kegelapan yang berkata: “Anak-Ku, Engkau minta kepada-Ku untuk tidak pernah membiarkan Engkau berdosa terhadap-Ku. Apabila Aku memenuhi permintaan doa-Mu bagi semua anak-Ku di dunia, bagaimana Aku dapat menunjukkan belas kasih-Ku kepada mereka?”

Cerita di atas mengingatkan kita bahwa kita semua adalah pendosa-pendosa. Ada saat-saat di mana masing-masing kita – seberapa baiknya pun diri kita – berdosa melawan Allah. Apabila hal seperti ini terjadi dengan diri kita, kita tidak perlu ciut hati – seperti halnya pengalaman Yudas Iskariot. Kita harus menyesali dosa kita dan memohon  pengampunan, seperti yang telah dilakukan oleh Petrus.

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus mengingatkan kita semua bahwa Dia datang untuk orang-orang berdosa. Dia datang untuk orang-orang yang menyadari bahwa selama ini mereka melangkah di jalan yang tidak benar dan ingin mencari rekonsiliasi …… berdamai lagi dengan Allah.

Ada perbedaan antara orang bersalah yang telah kehilangan kemampuan untuk membedakan antara benar dan salah dalam kehidupannya, dan seorang pribadi yang sadar bahwa dia telah berdosa dan sekarang mencari kekuatan untuk mulai melangkah di atas jalan yang benar.

Kasus Lewi (Matius) merupakan contoh dari insiden di atas yang disebut belakangan. Kasus ini mengingatkan kita akan karunia/anugerah hebat yang diberikan oleh Allah kepada manusia, yaitu anugerah yang disebut nurani, dan bagi kita yang telah dibaptis, adalah kehadiran Roh Kudus dalam diri kita masing-masing. Bagi orang Kristiani yang Katolik juga termasuk ajaran Gereja. Ini adalah faktor-faktor yang dapat membantu kita memperbaharui dan mengubah hidup kita, seberat apapun pelanggaran kita terhadap-Nya di masa lalu.

Kita dapat memperlawankan (mengkontraskan) ini dengan kasus seseorang yang kehidupannya – dilihat dari keseriusannya maupun dari sudut moral – sudah dapat dikatakan mengalami kondisi disfungsional, namun celakanya dia bahkan samasekali tidak menyadari kenyataan tersebut. Seorang pribadi seperti itu hidup tanpa menyadari penyakit “kanker” yang selama ini menggerogoti dirinya sampai semuaya sudah terlambat.

Kita semua – masih jauh atau sudah dekat – semua masih berada di bawah garis kemuliaan Allah. Jika kita menyadari kebenaran itu, inilah tanda awal dari pertumbuhan dalam hidup spiritual kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku mengakui kedosaanku di hadapan-Mu sekarang ini. Engkau telah membayar harga dosa-dosaku di atas kayu salib sehingga aku dapat diperdamaikan dengan Allah Bapa. Tuhan, aku bersyukur dan berterima kasih kepada-Mu dengan segenap hatiku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:9-13), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MEMANGGIL SEORANG PEMUNGUT CUKAI UNTUK MENJADI MURID-NYA” (bacaan tanggal 5-7-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-07 BACAAN HARIAN JULI 2019.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 6-7-18 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 3 Juli 2019 [PESTA S. TOMAS, RASUL]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENGIKUT JEJAK KRISTUS

MENGIKUTI JEJAK KRISTUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIII – Senin, 1 Juli 2019)

Ketika Yesus melihat orang banyak mengelilingi-Nya, Ia menyuruh bertolak ke seberang. Lalu datanglah seorang ahli Taurat dan berkata kepada-Nya, “Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Yesus berkata kepadanya, “Rubah mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.”

Seorang lain, yaitu salah seorang murid-Nya, berkata kepada-Nya, “Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku. Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Ikutlah aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka.” (Mat 8:18-22) 

Bacaan Pertama: Kej 18:16-33; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-4,8-11

Sekilas lintas perikop ini seakan “salah tempat” dalam Injil Matius bab 8 yang berisikan serangkaian mukjizat Yesus. Setelah selesai bercerita mengenai penyembuhan ibu mertua Petrus dan banyak mukjizat lainnya (Mat 8:14-17) dan sebelum menarasikan serangkaian mukjizat lagi (Mat 8:23-9:8), maka seperti “sandwich”, Matius menyelipkan dua sabda Yesus mengenai “komitmen” dan “kemuridan” yang sangat penting untuk dihayati. Mengapa Matius menyelipkan ajaran Yesus yang keras ini di tengah-tengah cerita-cerita mengenai mukjizat-mukjizat Yesus?

Ada pakar Kitab Suci yang berpandangan bahwa Matius menyelipkan bagian ini (Mat 8:18-22) karena dia sedang memikirkan Yesus sebagai “Hamba YHWH yang menderita”. Matius baru saja memetik Yes 53:4, “Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita” (Mat 8:17), maka wajarlah apabila gambaran itu memimpin pemikiran Matius pada gambaran Anak Manusia yang tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya (Mat 8:20). Kehidupan Yesus di dunia di mulai dalam kandang hewan pinjaman dan berakhir dalam makam pinjaman pula (Plummer, dalam William Barclay, THE DAILY STUDY BIBLE: The Gospel of Matthew – Volume 1, Chapters 1-10, Edinburgh: The Saint Andrew Press, p. 311).  Jadi “teori” ini mengatakan, bahwa Matius menyelipkan bacaan sebanyak lima ayat ini karena bacaan ini dan ayat-ayat sebelumnya menunjukkan Yesus sebagai Hamba YHWH yang menderita.

“Teori” ini bisa saja benar, namun William Barclay berpendapat lebih berkemungkinanlah apabila penyelipan ini terjadi karena Matius melihat adanya satu mukjizat dalam perikop ini. Yang ingin mengikut Yesus dalam kisah ini adalah seorang ahli Taurat, dan ia menyapa Yesus dengan gelar kehormatan tertinggi, yaitu “Guru” (Yunani: didaskalos; Ibrani: Rabbi). Menurut pandangan si ahli Taurat, Yesus adalah guru terbesar yang pernah dilihatnya, dan ajaran-Nya adalah yang paling  berkesan ketimbang ajaran-ajaran yang pernah didengarkannya. Sungguh sebuah “mukjizat” apabila seorang ahli Taurat memberikan gelar “Guru” kepada Yesus, dan ia sendiri ingin menjadi pengikut sang Guru! Yesus dan ajaran-ajaran-Nya sangat menentang “legalisme” sempit di atas mana dibangun agama yang murni berdasarkan Hukum Taurat. Jadi, ajaran Yesus sangat bertentangan dengan pandangan umum yang ada di kalangan para ahli Taurat. Dengan demikian sungguh sebuah mukjizat-lah apabila seorang ahli Taurat datang kepada Yesus dan melihat ada sesuatu yang indah dalam diri-Nya dan ajaran-ajaran-Nya. Kiranya ini adalah mukjizat berkaitan dengan dampak personalitas Yesus Kristus atas orang-orang lain.

Berikut inilah ceritanya! Seorang ahli Taurat dengan begitu meyakinkan mengatakan bahwa dia akan mengikut Yesus kemana saja Dia pergi. Tentu dalam hati banyak orang yang ada di situ berharap bahwa Yesus akan mempergunakan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya. Akhirnya, Dia akan mempunyai seorang murid yang dapat dijadikan “asisten” yang handal, …… ahli Taurat gitu lho! Sedikitnya dapat meningkatkan “pamor” kolese para murid di mata khalayak ramai. Bukankah para murid-Nya yang awal baru terdiri dari beberapa orang nelayan saja: Simon Petrus, Andreas, Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya?

Namun hal sebaliknyalah yang terjadi. Jawaban Yesus sungguh mengejutkan kita semua. Seakan-akan Yesus berkata, “Sebelum mengikut Aku – pikir dulu apa yang engkau lakukan. Sebelum engkau mengikut Aku, hitunglah dulu ‘biaya’-nya!” Yesus tidak ingin orang mengikuti jejak-Nya karena emosi-sesaat (misalnya karena terbenam dalam “Tabor experience” untuk beberapa saat lamanya. Yesus menginginkan seorang murid atau pengikut yang sungguh menyadari apa  yang dilakukannya. Dalam kitab Injil yang sama tercatat Yesus pernah bersabda: “Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat 10:38; bdk. Mat 16:24; Mrk 8:34;Luk 9:23).

Juga ternyata menjadi murid Yesus tidak hanya berarti mempunyai pikiran dan ide-ide yang sama dengan Dia, tetapi menuntut suatu penyerahan diri yang mutlak. Siapa saja yang mempunyai keinginan untuk masuk ke dalam lingkungan akrab sebagai murid-murid-Nya harus menjadi milik Yesus Kristus, jadi harus membuang segala sesuatu yang bukan Yesus Kristus. Seorang murid Yesus hanya boleh mempertahankan apa yang diketahuinya seturut kehendak Yesus …… kepasrahan diri yang sempurna.

Rubah mempunyai liang tempat tinggal. Apabila ada bahaya, rubah itu dapat melarikan diri ke dalam liangnya. Bilamana udara dingin, liang adalah tempat untuk menghangatkan tubuhnya. Burung mempunyai sarang, tempat mereka beristirahat. Akan tetapi Anak Manusia tidak mempunyai apa-apa untuk meletakkan kepala-Nya. Dia tidak mempunyai rumah, tidak mempunyai tempat berlindung yang aman. Sesungguhnya hidup Anak Manusia tidak tetap dan tidak mempunyai kepastian. Demikian pulalah seharusnya kehidupan para murid-Nya. Menjadi murid Yesus Kristus berarti meninggalkan kepastian, maka merupakan gambaran kehidupan umat Kristiani sepanjang masa. Yesus memperingatkan bahwa kehidupan kita di dunia ini hanyalah merupakan “jalan seberangan” saja, yaitu bertentangan dengan segala keterlekatan pada hal-hal duniawi, segala keinginan untuk tetap tinggal di dunia ini serta tak ingin maju lebih lanjut. Hidup di dunia berarti mengalir terus dalam arus yang tak henti-hentinya menderas menuju samudera keabadian (Richard Gutzwiller, RENUNGAN TENTANG MATEUS I, Ende, Flores: 1968, hal.136-138).

Sekarang, marilah kita soroti seorang pribadi yang lain. Yang menjadi penghalang bagi orang ini bukanlah keterlekatannya pada hal-hal duniawi, melainkan keterlekatan pada keluarganya. Permintaannya kepada Yesus nampaknya wajar karena merupakan kewajiban terhadap orangtua; apalagi kalau kita memahami bahwa mengurus penguburan orangtua merupakan tugas suci dalam Yudaisme. Tetapi dalam kasus ini permohonan si murid berhadap-hadapan dengan tuntutan Yesus sendiri yang tidak dapat ditawar, bahwa Injil, mengikut Yesus, harus ditempatkan di atas segala sesuatu. Yesus adalah the way of life; yang kurang dari itu sama saja bergabung dengan orang mati. Di sini Yesus mengajukan tuntutan-Nya yang ilahi dan segala tuntutan manusia haruslah menyisih …… mengalah! Apabila suara panggilan Allah diarahkan kepada seseorang, maka dia hanya boleh mengarahkan perhatiannya kepada Allah saja dan tidak boleh menoleh ke belakang lagi. Allah yang hidup sedemikian agungnya, sehingga kalau dibandingkan dengan Dia, segala sesuatu tampak bagi mati dan tak berarti sama sekali.

Juga di sini yang menentukan adalah pandangan akan yang kekal-abadi, sebab dalam hidup kekal tak ada hubungan perkawinan. Mereka tidak kawin, tidak pula dikawinkan (lihat Mat 22:30). Dengan demikian hubungan manusiawi dari hubungan cinta yang duniawi belaka, akan lenyap juga. Oleh karena itu, bagi para murid Yesus hubungan tadi sudah harus ditiadakan. Tempat seorang murid Yesus bukan lagi dalam lingkup keluarga yang kecil, sebab dirinya telah ditarik ke dalam pengabdian dalam Keluarga Allah yang besar, yang terdiri dari orang-orang yang sudah ditebus. Sebagaimana Yesus meninggalkan Nazaret untuk berada dalam perkara-perkara Bapa-Nya, demikian pula para murid Yesus harus meninggalkan Nazaret (zona kenyamanan) hidup kekeluargaannya, untuk menemukan hubungan kekeluargaan dalam Allah.

Mengikuti Yesus Kristus bukanlah merupakan sebagian saja dari kehidupan kita, melainkan suatu totalitas, meliputi seluruh hidup kita, jadi merupakan penyerahan diri secara sempurna. Penyerahan diri sempurna ini merupakan jawaban satu-satunya yang mungkin terhadap panggilan istimewa Allah.

Kedua sabda Yesus dalam bacaan Injil di atas merupakan tuntutan dan jelas bernada “perintah”. Di satu pihak karena Yesus memang sesungguhnya Tuhan, satu-satunya Pribadi yang dapat meminta hal yang sedemikian dan juga benar- benar menuntutnya. Dia menguasai manusia sebagai milik-Nya. Di sisi lain tuntutan-Nya bersifat menentukan sekali karena Dia tahu betapa berat bagi manusia untuk melepaskan diri dari segala sesuatu. Oleh karena itu bagi manusia merupakan suatu keringanan apabila tali pengikat diputuskan samasekali oleh tuntutan yang radikal itu. Si murid harus membongkar jembatan yang dilaluinya serta membakar perahu yang telah ditumpanginya, agar pada saat-saat kelemahan ia tidak kembali lagi. Yesus Kristus menghendaki penyelesaian yang nyata dan jelas-tegas.

DOA: Tuhan Yesus, berikanlah kepada kami keikhlasan untuk sungguh-sungguh mengikut Engkau, ke mana pun Engkau akan memimpin kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 8:18-22), bacalah tulisan yang berjudul “BAGAIMANA KITA DAPAT MENJADI SEBUAH TEMPAT TINGGAL YANG COCOK BAGI TUHAN?” (bacaan tanggal 1-7-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-07 BACAAN HARIAN JULI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 2-7-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 28 Juni 2019 [HR HATI YESUS YANG MAHAKUDUS] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ROH KUDUS INILAH YANG AKAN MELANJUTKAN KARYA YANG TELAH DIMULAI OLEH YESUS DALAM DIRI PARA MURID

ROH KUDUS INILAH YANG AKAN MELANJUTKAN KARYA YANG TELAH DIMULAI OLEH YESUS DALAM DIRI PARA MURID

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI Paskah – Selasa, 28 Mei 2019)

OFMConv./OFS: Peringatan S. Maria Ana dr Paredes, Perawan [OFS]

Tetapi sekarang Aku pergi kepada Dia yang telah mengutus Aku, dan tidak ada seorang pun di antara kamu yang bertanya kepada-Ku: Ke mana Engkau pergi? Tetapi karena Aku mengatakan hal itu kepadamu, maka hatimu berdukacita. Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penolong itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, aku akan mengutus Dia kepadamu. Kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman; akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku; akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi; akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum. (Yoh 16:5-11) 

Bacaan Pertama: Kis 16:22-34; Mazmur Tanggapan: Mzm 138:1-3,7-8 

Tiga tahun lamanya para murid mengikuti Yesus ke mana-mana, dan kurun waktu tiga tahun itu bukanlah masa yang mudah bagi mereka. Mula-mula para murid menghadapi tantangan yang sungguh berat untuk mengenal siapa Yesus dan untuk mengikut Yesus mereka harus meninggalkan profesi lama mereka, malah dapat dikatakan segalanya. Lalu datanglah perjuangan pribadi untuk mengimplementasikan ajaran-ajaran Yesus dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sekarang mereka menghadapi tantangan terbesar, yaitu saat perpisahan dengan-Nya. Tidak mempunyai kepastian akan masa depan, mereka dipenuhi dengan dukacita (Yoh 16:6).

Kita dapat membayangkan bahwa ketika mereka duduk mendengarkan pengajaran Yesus pada Perjamuan Terakhir, maka tahun-tahun yang telah mereka jalani bersama selama ini terasa sangat singkat. Kiranya mereka menyayangkan mengapa mereka tidak mengetahuinya atau memahaminya lebih awal. Kalau mereka mengetahuinya, tentunya mereka akan lebih menaruh perhatian pada ajaran-ajaran sang Rabi dari Nazaret itu. Mereka akan mengajukan lebih banyak pertanyaan, dan menyediakan waktu lebih banyak lagi untuk berdoa bersama-Nya. Namun semuanya terasa “terlambatlah” sudah!

Akan tetapi, Yesus mengatakan kepada mereka bahwa hanya apabila Dia pergi maka rencana Allah bagi para murid dapat terpenuhi. Hanya setelah kepergian Yesus maka Roh Kudus akan datang untuk memenuhi diri mereka, dan Roh Kudus inilah yang akan melanjutkan karya yang telah dimulai oleh Yesus dalam diri mereka (Yoh 16:7-8). Melalui Roh Kudus, mereka akan melanjutkan belajar tentang perbedaan antara dosa dan kebenaran; mereka akan terus bertumbuh dalam pengetahuan dan pengenalan akan kasih Bapa; mereka akan menjadi lebih menyerupai Yesus dalam setiap hal. Semua hal yang sungguh terjadi ini dapat kita baca dan renungkan dari Kitab Suci Perjanjian Baru.

Memang tidak mudahlah untuk memahami bahwa kita tidak mengalami kerugian sedikit pun karena tidak mengenal Yesus sebagai seorang manusia yang hidup sekitar 2.000 tahun lalu. Yesus bersabda: “Benar yang Kukatakan ini kepadamu: Lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau aku tidak pergi, Penolong itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu” (Yoh 16:7). Dengan kehadiran Roh Kudus, kita dapat menjalin suatu relasi yang intim dengan Yesus sebagaimana yang dialami para murid-Nya ketika Dia masih hidup di muka bumi.

Sekarang, pertanyaan-pertanyaannya adalah: Apakah Roh Kudus bekerja dalam kehidupan kita (anda dan saya) pada hari ini? Apakah kita telah memperkenankan Dia untuk membawa kita ke dalam persekutuan dengan Yesus, atau apakah kita berdukacita seperti para murid Yesus yang pertama, karena prospek akan semakin jauh jarak antara Allah dan kita-manusia? Marilah kita mempercayai sabda Yesus tentang karunia-Nya bagi kita, yaitu Roh Kudus! Marilah kita percaya akan kehadiran Yesus pada hari ini, dan memperkenankan Roh Kudus-Nya untuk menaungi kita secara lengkap.

DOA: Roh Kudus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu untuk kehadiran-Mu. Penuhilah diriku dan bergeraklah dalam diriku seturut kehendak-Mu. Perkenankanlah diriku mengalami sentuhan-Mu yang penuh kasih sekarang, selagi aku menyerahkan diriku kepada-Mu sekali lagi. Siapkanlah diriku untuk hari di mana aku akhirnya dapat berjumpa dengan Yesus Kristus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 16:5-11), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH MEMBERIKAN ROH KUDUS-NYA” (bacaan tanggal 28-5-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-05 BACAAN HARIAN MEI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 8-5-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 26 Mei 2019 [HARI MINGGU PASKAH VI – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ROH KUDUSLAH YANG MENGUATKAN DAN MENGHIBUR KITA

ROH KUDUSLAH YANG MENGUATKAN DAN MENGHIBUR KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI Paskah – Senin, 27 Mei 2019)

“Jikalau Penolong yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu sejak semula bersama-sama dengan Aku.”

“Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan menolak Aku. Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbakti kepada Allah. Mereka akan berbuat demikian, karena mereka tidak mengenal baik Bapa maupun Aku. Tetapi semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya apabila datang saatnya kamu ingat bahwa Aku telah mengatakannya kepadamu.” (Yoh 15:26-16:4a)

Bacaan Pertama: Kis 16:11-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 149:1-6,9

Kehidupan orang-orang Kristiani yang awal bukanlah suatu kehidupan yang mudah. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang Yahudi yang telah merangkul Yesus sebagai sang Mesias, dan sebagai akibatnya mereka mengalami pengejaran dan penganiayaan dari mayoritas bangsa Yahudi.

“Dikeluarkan dari sinagoga” berarti bahwa para pemimpin Yahudi melarang orang-orang Kristiani untuk melakukan kebaktian dan persekutuan dengan orang-orang Yahudi yang lain. Marilah sekarang kita lihat apa yang tercatat dalam Injil Yohanes: “Para pemuka Yahudi itu telah sepakat bahwa setiap orang yang mengaku Dia sebagai Mesias, akan dikucilkan” (Yoh 9:22). “Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbakti kepada Allah” (Yoh 16:2). Kesadaran berkomunitas orang-orang Yahudi pada abad pertama sangatlah tinggi. Dengan demikian “dikucilkan” dari komunitasnya merupakan suatu pengalaman yang sangat menyedihkan bagi orang-orang Kristiani yang pertama.

Namun demikian, Yesus menjanjikan Roh Kudus kepada para murid-Nya. Roh Kudus inilah yang akan melanjutkan menyatakan kepada mereka perihal kasih Yesus dan perlindungan-Nya (Yoh 15:26). Oleh kuat-kuasa Roh Kudus inilah orang-orang Kristiani yang pertama mampu dengan penuh kesabaran dan secara heroik menanggung penderitaan yang disebabkan oleh pengejaran dan penganiayaan para lawan umat Kristiani.

Ada sepucuk surat yang dinamakan “Surat kepada Diognetus”, sebuah epistola Kristiani kuno namun anonim. Surat ini menggambarkan hati dari umat Kristiani perdana: “Orang-orang Kristiani mengasihi semua orang; namun semua orang menganiaya mereka. Dihukum karena mereka tidak dapat dipahami, mereka dihukum mati, namun dibangkitkan kepada kehidupan lagi. Mereka hidup dalam kemiskinan; akan tetapi mereka memperkaya banyak orang. Mereka miskin-melarat secara total; namun memiliki suatu kelimpahan dari setiap hal. Mereka menderita karena ketiadaan kehormatan; namun itulah kemuliaan mereka. Mereka difitnah, namun nama baik mereka dipulihkan. Suatu berkat adalah jawaban mereka terhadap pelecehan terhadap diri mereka, rasa hormat adalah tanggapan mereka terhadap penghinaan. Sebagai balasan terhadap hal-hal baik yang mereka lakukan, mereka menerima hukuman karena dinilai melakukan tindakan melawan hukum, walaupun begitu mereka bersukacita, seakan menerima karunia kehidupan.” 

Mudahlah bagi orang untuk melupakan bahwa pengejaran dan penganiayaan terhadap umat Kristiani masih berlanjut sampai hari ini. Di banyak tempat di dunia kita mempunyai saudari dan saudara dalam Kristus yang menderita karena cintakasih mereka kepada Tuhan. Ada yang disiksa dan malah dibunuh sebagai martir oleh orang-orang yang pemerintah/penguasa yang anti Kristiani; ada pula yang dibuang dari kelompok etnis mereka sendiri. Ada juga yang menderita karena kesetiaan mereka kepada kebenaran bertentangan dengan ekspektasi dari keluarga atau rekan kerja.

Yesus memang benar ketika mengatakan bahwa siapa saja yang mengikut Dia dapat mengharapkan datangnya kesulitan dan pencobaan-pencobaan selagi mereka menjalani kehidupan seturut Injil Yesus Kristus. Akan tetapi, Yesus juga berjanji bahwa Roh Kudus akan ada bersama kita untuk menguatkan dan menghibur kita.

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus, kita tidak sendiri! Kasih Allah di dalam diri kita dan antara kita satu sama lain adalah suatu sumber sukacita yang besar, suatu sukacita yang mengalahkan kesulitan.

DOA: Datanglah Roh Kudus, jadilah kekuatan kami dan sukacita kami selagi kami memberikan kesaksian tentang Yesus. Kami juga berdoa untuk saudari-saudara kami yang menderita karena mengalami pengejaran dan penganiayaan karena iman mereka kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Hiburlah mereka dalam perjuangan mereka memajukan Kerajaan-Mu di atas bumi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan  Pertama hari ini (Kis 16:11-15) bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH DAPAT MEMILIH SIAPA SAJA YANG DIKEHENDAKI-NYA” (bacaan tanggal 27-5-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-05 BACAAN HARIAN MEI 2019.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 7-5-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 24 Mei 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS