Posts tagged ‘KEMURIDAN’

YESUS ADALAH YANG PERTAMA DAN UTAMA

YESUS ADALAH YANG PERTAMA DAN UTAMA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV – Senin, 17 Juli 2017

FSGM: Peringatan wafat Pendiri Kongregasi

“Jangan kamu menyangka bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.

Siapa saja yang mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada Aku, ia tidak layak bagi-Ku; dan siapa saja yang mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih daripada Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak  bagi-Ku. Siapa saja yang mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan siapa saja yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.

Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku.  Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut  seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar. Siapa saja yang memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Ia tidak akan kehilangan upahnya.”

Setelah Yesus mengakhiri pesan-Nya kepada kedua belas murid-Nya, pergilah Ia dari sana untuk mengajar dan memberitakan Injil di dalam kota-kota mereka. (Mat 10:34-11:1) 

Bacaan Pertama: Kel 1:8-14,22; Mazmur Tanggapan: Mzm 124:1-8  

Siapa saja yang mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada Aku, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat 10:37).

Bagi banyak dari kita yang mendengar sabda Yesus ini tentunya mudah sekali membayangkan seakan-akan kata ini diucapkan oleh pemimpin yang sangat egoistis, “mau menang sendiri” dst. Bukankah hubungan kekeluargaan – teristimewa relasi antara orangtua dan anak mereka – hampir selalu merupakan hubungan yang paling penting dalam hidup kita? Bukankah salah satu dari “Sepuluh Perintah Allah” berbunyi: “Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN (YHWH), Allahmu kepadamu” (Kel 20:12; bdk. Ul 5:16, Mat 15:4, Mrk 7:10, Ef 6:2-3)? Apalagi pada masa kehidupan Yesus di bumi, hubungan kekeluargaan bagi umat Israel sangat dijunjung tinggi ketimbang pada masa modern ini.

Maka sabda Yesus dalam bacaan Injil hari ini secara istimewa memberi kesan bahwa pesan yang disampaikan-Nya sungguh keras dan tajam, namun tidak boleh dibaca dan ditafsirkan secara harfiah. Di sini Yesus menggunakan hiperbola klasik orang Yahudi – yaitu  suatu pengungkapan berlebihan secara luarbiasa, dengan tujuan menyampaikan sebuah pokok pemikiran yang penting. Demi Injil, hubungan keluarga harus ditempatkan bukan sebagai prioritas utama. Relasi kita dengan diri-Nya seharusnya merupakan relasi yang paling penting dalam kehidupan kita. Tidak ada relasi apa pun (mana pun) – bahkan juga relasi dengan anggota keluarga yang terdekat –  yang harus menjadi lebih penting daripada relasi  kita dengan Yesus. Tentu saja Yesus tidak memaksudkan agar kita  berhenti mencintai/mengasihi para anggota keluarga kita atau pun orang-orang lain, melainkan menantang prioritas-prioritas yang kita tetapkan, dan Ia minta kepada kita untuk menempatkan diri-Nya dalam hati kita sebagai yang pertama dan utama.

Banyak orang mempunyai keprihatinan yang besar terhadap keluarga mereka masing-masing. Hal ini memang baik dan terpuji! Akan tetapi, kadang-kadang terjadi bahwa keprihatinan ini sangatlah menyita segala waktu, pikiran, tenaga dll. yang ada pada kita sehingga relasi kita dengan Yesus menjadi menyusut, bahkan sampai tingkat yang seminum-minimumnya. Masalah-masalah keluarga dapat mendominansi diri kita sampai begitu dalamnya, sehingga praktis kita memakai hampir seluruh waktu kita dalam mencoba menyelesaikan masalah-masalah keluarga itu dan luput menyediakan waktu bagi kehadiran Yesus. Apabila hal ini terjadi, ada risiko bahwa sesungguhnya kita mencari sumber kepenuhan dan kebahagiaan yang salah.

Menempatkan diri Yesus sebagai yang pertama dan utama dalam skala prioritas kita adalah tindakan yang sangat bijaksana dalam menjalin relasi dengan orang-orang kita kasihi. Pada kenyataannya, suatu hubungan yang penuh kasih dan kuat dengan Yesus sesungguhnya akan meningkatkan segala hubungan kita yang lain. Mengapa sampai begitu? Karena dengan semakin dekatnya diri kita dengan Yesus, kita pun menjadi semakin mengalami damai-sejahtera, memiliki bela rasa dan kemurahan hati. Damai-sejahtera, bela rasa dan kemurahan hati sesungguhnya adalah unsur-unsur utama yang harus senantiasa ada dalam suatu relasi yang sehat dan penuh kasih.

Bahkan dalam kasus-kasus di mana suatu komitmen radikal kepada Yesus terlihat akan menghalangi relasi-relasi yang lain – hal ini memang biasa, teristimewa bagi orang-orang dewasa yang baru menjadi murid Kristus – maka Yesus pada akhirnya akan membuat segala hal menjadi yang terbaik bagi mereka yang pertama-tama mencari diri-Nya dan terus berjuang untuk mengikuti jejak-Nya dengan lebih baik setiap hari.

DOA: Yesus Kristus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Ampunilah aku untuk saat-saat di mana aku gagal menempatkan diri-Mu sebagai yang pertama dan utama di antara sekian banyak relasiku dengan berbagai pihak. Pada hari ini, sekali lagi aku membuat komitmen untuk mengasihi-Mu dan mengikuti jejak-Mu sebagai seorang murid yang setia, sebelum segalanya yang lain. Amin. 

Catatan:  Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 10:34-11:1), bacalah tulisan yang berjudul “DIPANGGIL UNTUK MENJADI SAKSI KEHIDUPAN BARU” (bacaan tanggal 17-7-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-07 BACAAN HARIAN JULI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-7-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 14 Juli 2017 [Peringatan S. Fransiskus Solanus, Imam Fransiskan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS  

JANGANLAH KAMU TAKUT, KARENA KAMU LEBIH BERHARGA DARIPADA BANYAK BURUNG PIPIT

JANGANLAH KAMU TAKUT, KARENA KAMU LEBIH BERHARGA DARIPADA BANYAK BURUNG PIPIT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan/Pesta S. Bonaventura, Uskup Pujangga Gereja – Sabtu, 15 Juli 2017) 

“Seorang murid tidak lebih daripada gurunya, atau seorang hamba daripada tuannya. Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya. Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya.

Jadi, janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka, dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas rumah. Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.

Bukankah burung pipit dijual dua ekor seharga satu receh terkecil? Namun, seekor pun tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu, janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit.

Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang disurga. Tetapi siapa saja yang menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di surga.” (Mat 10:24-33) 

Bacaan Pertama: Kej 49:29-32; 50:15-26a; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:1-4,6-7 

Adalah sebuah kebenaran yang tidak dapat disangkal, bahwa apabila kita berpaling kepada Tuhan Yesus, maka Dia akan menunjukkan kepada kita siapa diri-Nya dan siapa kita sesungguhnya di hadapan hadirat-Nya. Dengan demikian betapa pentinglah kita mengangkat pikiran kita kepada Allah, mohon kepada-Nya agar membentuk prioritas-prioritas kita sesuai dengan kebenaran-kebenaran iman kita.

Misalnya, selagi Dia mempersiapkan kedua belas rasul untuk melakukan perjalanan misioner mereka, Yesus bersabda kepada mereka: “Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya” (Mat 10:25). Kata-kata Yesus ini tidak hanya berlaku bagi pekerjaan misioner, melainkan juga bagi seluruh kehidupan Kristiani. Sebagai murid-murid-Nya, panggilan utama kita adalah menjadi seperti Yesus Kristus. Kemudian, selagi kita merefleksikan kebaikan Yesus, kita pun akan mampu mengundang orang-orang lain untuk mengalami kasih-Nya dan kuasa-Nya.

Dalam 7 (tujuh) ayat bacaan Injil hari ini, kata-kata “Janganlah kamu takut” muncul sebanyak 3 (tiga) kali (ayat 26, 28 dan 31). Pada kenyataannya ungkapan “jangan takut” yang diucapkan Yesus ada cukup banyak dalam keempat kitab Injil, misalnya: “Tenanglah! Inilah Aku, jangan takut!” (Mat 14:27); “Jangan takut, percaya saja!” (Mrk 5:36); “Janganlah gelisah dan  gentar hatimu” (Yoh 14:27). Yesus mengetahui bahwa betapa mudah rasa takut itu dapat “mengalahkan” iman pada saat-saat konflik, saat-saat pengejaran serta penganiayaan, saat-saat bahaya, dan dengan konsisten Dia mendorong serta menyemangati para pengikut-Nya untuk tidak menyerah pada rasa takut itu.

Apakah Yesus sendiri pernah dilanda rasa takut? Untuk mengetahuinya kita hanya perlu mengingat kata-kata yang diucapkan-Nya di taman Getsemani: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari hadapan-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” (Mat 26:39).  Yesus mengetahui bahwa para lawan-Nya sedang datang untuk menyalibkan-Nya dan semua sahabat-Nya akan meninggalkan diri-Nya.  Selagi Dia menghadapi prospek menanggung hukuman untuk semua dosa dunia, Yesus mengalami rasa takut yang paling mengerikan, yang paling gelap. Akan tetapi Yesus menyerahkan hidup-Nya kepada Bapa-Nya dengan sepenuh-penuhnya sehingga Dia pun dapat mengalahkan segala rasa takut yang menimpa diri-Nya, sehingga kita pun dapat mengetahui dan mengalami pula bahwa Allah selalu menyertai kita.

Iman kita kepada Yesus – cepat atau lambat – akan bertabrakan dengan “jalan dunia”, namun kita tidak perlu merasa takut. Allah memiliki segala keprihatinan seorang Bapa yang baik, Ia memiliki pengetahuan dan kuasa untuk melindungi semua murid Yesus. Ia yang bahkan memelihara dan menjaga burung-burung pipit tentunya akan memperhatikan dan menjaga kita. Dia telah memanggil kita dan kita adalah milik-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau mengasihi kami dan karenanya memandang kami pantas untuk diselamatkan. Kami pun seharusnya senantiasa mentaati segala perintah dan ajaran-Mu, karena kami sungguh berniat untuk menjadi murid-murid-Mu yang sejati. Ampunilah kami untuk cara-cara kami memperkenankan rasa takut menggeser ke samping iman kami kepada-Mu. Terima kasih, ya Tuhan dan Juruselamat kami, karena Engkau senantiasa berjalan di depan kami untuk menunjukkan jalan yang benar menuju Bapa surgawi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 10:24-33), bacalah tulisan yang  berjudul “SEORANG MURID MENJADI SAMA SEPERTI GURUNYA, ……” (bacaan tanggal 15-7-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-07 BACAAN HARIAN JULI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 9-7-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 12 Juli 2017 [Peringatan S. John Jones & John Wall, Martir)

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS  

MATIUS PUN BANGKIT DAN MENGIKUT DIA

MATIUS PUN BANGKIT DAN MENGIKUT DIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIII – Jumat, 7 Juli 2017) 

ASetelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di tempat pemungutan cukai, lalu Ia berkata kepadanya, “Ikutlah Aku.”  Matius pun bangkit dan mengikut Dia. Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya. Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus, “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Yesus mendengarnya dan berkata, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi, pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (Mat 9:9-13) 

Bacaan Pertama: Kej 23:1-4,19; 24:1-8,62-67; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:1-5

Pernahkah anda berada dalam posisi membutuhkan seorang dokter, tetapi tidak mengakuinya? Meskipun didesak-desak oleh keluarga dan teman-teman, anda menolak untuk mengunjungi seorang dokter sampai penyakit yang anda derita itu akhirnya menjadi begitu serius sehingga anda pun terpaksa pergi ke dokter. Kita dapat mempunyai kesulitan yang sama, karena kita tidak mau menerima kenyataan bahwa kita menderita penyakit spiritual.

Yesus berkata kepada orang Farisi: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit” (Mat 9:12). Yesus tidak memaksudkan di sini bahwa para pemungut pajak dan orang berdosa menderita sakit secara spiritual sementara orang Farisi sehat-sehat saja. Para pemungut pajak dan orang berdosa dengan jelas dapat melihat dan menerima keadaan mereka. Orang-orang Farisi juga sakit, namun tidak mau mengakuinya, maka  mereka tidak mau pergi ke sang Dokter Agung agar dapat memperoleh kehidupan dan kesehatan yang baru.

Dunia ini tidak terdiri dari dua jenis manusia – para pendosa dan orang-orang benar. Yang benar adalah bahwa semua orang adalah pendosa. Ada orang-orang yang mengetahui dan mengakui kenyataan ini. Dengan segala kebutuhan yang ada mereka datang kepada Yesus. Ada juga orang-orang yang menolak untuk mengakui kenyataan ini, maka mereka tidak datang kepada Yesus guna menerima belaskasihan dan kesembuhan. Matius tahu kebutuhannya, dan dia berpaling kepada Yesus.

Ketika  Paulus menulis tentang keadaan orang-orang di hadapan Allah, maka dia mengambil ucapan sang pemazmur: “Tidak ada yang benar, seorang pun tidak. Tidak ada seorang pun yang berakal budi, tidak ada seorang pun yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak” (Rm 3:10-12; bdk. Mzm 14:1-3). Paulus ingin agar kita semua menyadari bahwa kita tidak dapat mengandalkan pada kebaikan kita sendiri: “Karena semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah” (Rm 3:23).

Selama kita masih merasa bahwa diri kita “tidak terlalu jelek”, maka hal itu berarti bahwa kita masih mencoba mengandalkan diri pada “kebaikan” kita sendiri. Dengan demikian kita tidak dapat mengalami keselamatan yang terwujud hanya melalui Yesus. Marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing: “Apakah aku sungguh memandang diriku sebagai seorang pendosa yang membutuhkan penebusan melalui darah Yesus?” Mungkin kita masih harus membuang kecenderungan untuk berpikir bahwa selama ini kita oke-oke saja. Misalnya kita berkata: “Kita kan cuma manusia biasa, bukan malaikat?” Kita juga dapat memandang enteng arti dosa, misalnya dengan berkata: “Allah kan Mahamengerti?” Matius datang kepada Yesus karena dia mengakui bahwa Yesus dapat menyembuhkannya. Semoga begitu juga halnya dengan kita masing-masing.

DOA: Tuhan Yesus, aku mengakui kedosaanku di hadapan-Mu sekarang ini. Engkau telah membayar harga dosa-dosaku di atas kayu salib sehingga aku dapat diperdamaikan dengan Allah Bapa. Tuhan, aku bersyukur dan berterima kasih kepada-Mu dengan segenap hatiku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:9-13), bacalah tulisan yang berjudul “MATIUS DIPANGGIL UNTUK MENGIKUT YESUS” (bacaan tanggal 7-7-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-07  BACAAN HARIAN JULI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 1-7-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 3 Juli 2017 [PESTA S. TOMAS, RASUL] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

WASPADALAH TERHADAP SERIGALA-SERIGALA BERBULU DOMBA

WASPADALAH TERHADAP SERIGALA-SERIGALA BERBULU DOMBA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Ireneus, Uskup & Martir – Rabu, 28 Juni 2017)

 “Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedangkan pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang baik. Setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Jadi, dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. (Mat 7:15-20) 

Bacaan Pertama: Kej 15:1-12,17-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:1-4,6-9

Setelah mengajar para murid-Nya untuk “masuk melalui pintu yang sempit” (Mat 7:13), Yesus melanjutkan dengan memperingatkan mereka tentang penghalang-penghalang dan kesulitan-kesulitan yang akan dijumpai dan dialami di sepanjang jalan. Dengan jelas Ia menyatakan bahwa akan ada nabi-nabi palsu di sepanjang “jalan sempit” yang sedang di tempuh oleh para pengikut-Nya. Sekilas lintas para nabi palsu itu kelihatannya tidak berbeda dengan domba-domba; namun di dalamnya mereka sebenarnya adalah serigala-serigala yang bertujuan menghancur-leburkan kawanan domba Yesus yang sejati. Yesus ingin agar kita siap-siaga terhadap bahaya ini.

Pembicaraan mengenai nabi-nabi palsu ini dapat membuat kita merasa tidak nyaman. Bagaimana pun juga tidak ada yang lebih harus ditolak daripada seorang pribadi yang selalu mengklaim dirinya benar dan selalu mengatakan bahwa orang lain salah. Bagaimana kita dapat melakukan discernment atas motif-motif orang-orang lain ketika perbedaan yang ada begitu tipisnya? Yesus ingin sekali agar kita memiliki kemampuan untuk mengenali nabi-nabi palsu dan waspada terhadap bahaya-bahaya yang dapat diakibatkan oleh mereka. Akan tetapi bagaimana kita dapat belajar untuk mendeteksi perbedaan-perbedaan antara domba-domba dan serigala-serigala? Bagaimana kita dapat membuat penilaian-penilaian sedemikian tanpa menjadi bersikap menghakimi atau menuduh.

Pada akhirnya karakter sejati seorang pribadi akan dinyatakan: Pohon yang baik tidak akan menghasilkan buah yang buruk; sedangkan pohon yang buruk tidak akan menghasilkan buah yang baik (lihat Mat 7:18). Di lain pihak hal ini tidak berarti bahwa manakala ada buah yang buruk, maka pribadi yang bertanggungjawab harus buruk juga. Nabi-nabi sejati pun dapat membuat kesalahan karena justru dia adalah manusia juga. Di sisi lain, orang-orang yang paling terkenal karena kejahatan/keburukan mereka dalam sejarah mungkin saja mempunyai unsur-unsur kebaikan dalam dirinya. Kalau masih masih berupa benih sulitlah bagi kita untuk membedakan apakah ini benih tanaman pohon A atau pohon B. Namun kita akan mengetahuinya dengan jelas kalau tanaman itu sudah mulai membesar dan berbentuk.

Para pengikut Kristus harus menggantungkan diri pada kesaksian Roh Kudus di dalam diri mereka, karena Dia adalah “Roh Kebenaran” (Yoh 15:26). Apabila kita terus menempatkan Allah sebagai yang pertama, dalam doa dan pembacaan (serta permenungan) sabda-Nya dalam Kitab Suci, maka suara dan pikiran-Nya akan menjadi semakin jelas bagi kita. Kita akan mengetahui apakah harta kita ada di surga atau di dunia (lihat Mat 6:19-21) dan kita akan mampu untuk mengatakan kapan ada perintah-perintah Allah yang telah dikompromikan.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau tidak menginginkan aku menghakimi siapa saja, namun aku tahu bahwa Engkau sungguh mengharapkan aku melakukan discernment agar dapat membuat penilaian yang sehat yang akan melindungi hidup-Mu di dalam diriku. Semoga Roh Kebenaran membimbingku selalu dalam jalan kebenaran. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:15-20), bacalah tulisan yang berjudul “MENGHASILKAN BUAH-BUAH YANG BAIK” dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 BACAAN HARIAN JUNI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 26-6-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 26 Juni 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

APAKAH PENGORBANAN YESUS MEMPUNYAI ARTI?

APAKAH PENGORBANAN YESUS MEMPUNYAI ARTI?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XII – Selasa, 27 Juni 2017)

“Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.”

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.

Masuklah melalui pintu yang sempit, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sempitlah pintu dan sesaklah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” (Mat 7:6,12-14) 

Bacaan Pertama: Kej 13:2,5-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 15:2-5

“Sempitlah pintu dan sesaklah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya” (Mat 7:14).

Yesus Kristus – Tuhan dan Juruselamat kita – tidak pernah berjanji bahwa kehidupan Kristiani akan mudah. Ia tidak pernah mengatakan bahwa keberadaan kita akan bebas dari masalah, bilamana kita memilih untuk mengikut Dia melalui pintu yang sempit dan jalan yang sesak. Memang kita memakluminya. Setiap hari kita menghadapi godaan-godaan yang beraneka-ragam: mengasihi atau membenci sesama kita, menolong seseorang yang memerlukan bantuan atau mengabaikannya, mentaati perintah-perintah Allah atau mengabaikan perintah-perintah itu, menjadi instrumen-instrumen perdamaian atau aktif dalam provokasi serta mendorong terjadinya perpecahan. Bahkan sebagian orang akan menghadapi pengejaran serta penganiayaan secara langsung karena telah memilih “pintu yang sempit dan jalan yang sesak” dari Kristus.

Apakah yang harus kita lakukan? Bagaimana seharusnya kita berpikir mengenai Yesus dan hidup-Nya sendiri yang telah diberikan-Nya kepada kita? Apakah pengorbanan Yesus mempunyai arti, jadi tidak sia-sia? Apabila kita harus melontarkan pertanyaan ini kepada semua generasi umat Kristiani yang mendahului kita, maka mereka akan menanggapi pertanyaan kita itu dengan suara yang nyaring dan penuh syukur: “Ya!” Banyak dari mereka telah menjalani jalan yang sesak dan bertekun melalui penderitaan-penderitaan yang jauh lebih berat dan menyakitkan daripada apa yang kita alami pada zaman modern ini.

Mengapa mereka tetap bertahan dengan penuh iman? Karena mereka tahu bahwa Yesus berjalan bersama mereka. Kenyataan yang satu inilah yang membuat perbedaan antara frustrasi tanpa harapan dan kenyamanan, antara kekalahan dan kemenangan.

Baiklah kita bersama-sama menyadari, bahwa setiap langkah yang kita ambil berarti kita berjalan bersama Yesus. Kita harus percaya bahwa Putera Allah sendiri telah membuka jalan bagi kita dan memberikan kepada kita segalanya yang kita perlukan untuk mengikuti Dia. Selagi kita berjalan di jalan yang telah dibuka oleh Allah bagi kita, maka hidup kita dapat dipenuhi dengan makna dan tujuan – hanya apabila karena kita menjadi menjadi duta-duta Yesus dan bejana-bejana Roh Kudus yang semakin dipenuhi dengan kuasa-Nya. Manakala kita mencoba untuk hidup tanpa Yesus, maka martabat dan nilai-nilai baik yang kita anut tidak akan bertambah besar, melainkan menyusut.

Yesus telah berjanji kepada semua murid-Nya di segala zaman bahwa Dia tidak akan meninggalkan mereka. Tidak pernah! Walaupun kita terlibat dalam kedosaan serius sekali, Yesus tetap berada bersama kita. Kerahiman-Nya akan meliputi diri kita, dan kekuatan-Nya akan memberdayakan kita. Oleh karena itu, marilah pada hari ini kita mengambil keputusan definitif untuk menaruh kepercayaan kepada kuat-kuasa Yesus untuk tetap mentransformasikan diri kita menjadi hamba-hamba atau pelayan-pelayan penuh kuasa dari Injil-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah berjanji untuk senantiasa ada bersamaku sampai akhir zaman. Terima kasih untuk menyerahkan hidup-Mu sendiri bagiku. Tolonglah aku agar tetap setia kepada-Mu, seperti Engkau setia kepadaku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:6,12-14), bacalah tulisan yang berjudul “PINTU YANG SEMPIT DAN JALAN YANG SESAK” (bacaan tanggal 27-6-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 BACAAN HARIAN JUNI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-6-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 26 Juni 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

UNDANGAN YESUS KEPADA KEBEBASAN SEJATI

UNDANGAN YESUS KEPADA KEBEBASAN SEJATI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XII – Senin, 20 Juni 2016)

 

“Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. Mengapakah engkau melihat serpihan kayu di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan serpihan kayu itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan serpihan kayu itu dari mata saudaramu.” (Mat 7:1-5) 

Bacaan Pertama: Kej 12:1-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:12-13,18-20,22

Sepintas lalu, kata-kata Yesus dalam bacaan Injil hari ini terasa ditujukan kepada orang-orang Farisi, para dogmatis dan ekstrimis – bukan ditujukan pada diri kita sendiri. Namun kita harus ingat bahwa ini adalah bagian dari “Khotbah di Bukit” (Mat 5-7), artinya di sini Yesus bersabda kepada para murid-Nya sendiri. “Jangan kamu menghakimi” dan “Hai orang munafik” yang terasa keras-keras itu sungguh diperuntukkan bagi mereka yang mengasihi dan sudah menerima kepemimpinan Yesus. Jadi, kata-kata Yesus ini sungguh ditujukan kepada kita (anda dan saya)!

Apakah kata-kata Yesus ini kedengaran keras? Mengutuk? Bukan itu maksud Yesus. Sabda-Nya di sini memang merupakan “kata-kata keras”: sulit dan tidak mengenakkan untuk didengar, namun sesungguhnya merupakan suatu undangan kepada kebebasan/ kemerdekaan sejati. Di sini, Yesus – sang Gembala Baik – seakan berseru: “Mari, datanglah kepada-Ku. Biarlah Engkau dikuatkan, kesehatan rohanimu dipulihkan, dan dibebaskan dari beban rasa bersalah dan rasa khawatir serta takut!”

Sementara kita mencari-cari “balok” di dalam mata kita, perkenanlah Roh Kudus untuk membimbing kita. Biarlah Dia dengan halus namun tegas serta pasti menunjukkan dosa-dosa yang selama ini menghalang-halangi upaya kita untuk mengikuti Tuhan Yesus. Di bawah pengawasan mata-Nya yang begitu tajam-menyelidik, mungkin saja kita menjadi merasa gelisah, namun semua ini hanyalah bersifat sementara. Kebebasan/kemerdekaan sejati yang akan dikecap jauh lebih membawa “nikmat” daripada ketidaknyamanan/kesusahan yang dialami sebelumnya. Allah yang kita sembah adalah Allah yang baik, sungguh baik, satu-satunya yang baik; Ia tidak akan meninggalkan kita dalam keadaan frustrasi tanpa henti atau merasa bersalah secara terus menerus: terjebak  dalam situasi penuh masalah tanpa bayangan akan adanya solusi. Ketika Roh Kudus mengingatkan kita akan dosa-dosa kita, pada saat bersamaan Ia juga mengangkat hati kita dengan pengharapan akan kesembuhan dan pengampunan.

Mengapa “pemeriksaan batin” ini diperlukan? Karena panggilan untuk mengasihi sesama! Seringkali, dalam upaya kita untuk mengasihi sesama kita, niat baik kita itu terhalang oleh luka-luka kita sendiri. Misalnya, sebagai seorang anak kecil kita mengalami KDRT yang dilakukan orangtua kita sendiri. Dalam situasi-situasi sedemikian kita mengembangkan pola-pola tertentu: cepat-cepat melarikan diri dari konflik; emosi yang diungkapkan secara meledak-ledak, bahkan seakan-akan ingin berkelahi. Apabila tidak ditangani, respons-respons sedemikian akan muncul setiap saat kita menghadapi kemarahan orang lain, walaupun tidak ditujukan kepada diri kita. Hasil dari suatu kerja pelayanan yang terganggu di sana-sini oleh pola-pola yang sedemikian tidak akan dihargai atau sangat efektif!

Oleh karena itu marilah kita memperkenankan Roh Kudus untuk menyembuhkan diri kita. Dia dapat menunjukkan kepada kita di mana kita harus melakukan pertobatan, mencari kesembuhan, atau mengampuni. Kita tidak akan mampu melakukan hal ini apabila kita mengandalkan pemikiran dan kemampuan kita sendiri. Akan tetapi, dengan ajaran Yesus, penyembuhan-Nya dan pengampunan-Nya dalam kehidupan kita, maka kita memiliki sesuatu yang indah untuk diberikan kepada orang-orang lain – sesuatu yang telah kita terima dari Yesus Kristus sendiri, yang adalah Tuhan dan Juruselamat kita. Kita harus senantiasa mengingat bahwa kita dapat menjadi instrumen-instrumen penyembuhan dan kehidupan bagi orang-orang di sekeliling kita!

DOA: Tuhan Yesus, bukalah telingaku agar mampu mendengarkan sabda-Mu. Utuslah Roh Kudus-Mu untuk menunjukkan kepadaku apa saja dalam diriku yang sesungguhnya Engkau inginkan untuk disembuhkan dan dipulihkan, sehingga dengan demikian aku dapat menjadi sebuah instrumen penyembuhan dan pemulihan bagi orang-orang lain. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:1-5), bacalah tulisan dengan judul “JANGAN KAMU MENGHAKIMI, ……” (bacaan tanggal 20-6-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 BACAAN HARIAN JUNI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-6-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 24 Juni 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HANYA DIALAH YANG HARUS DITAKUTI

HANYA DIALAH YANG HARUS DITAKUTI

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XII [TAHUN A], 25 Juni 2017)

“Jadi, janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka, dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas rumah. Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.

Bukankah burung pipit dijual dua ekor seharga satu receh terkecil? Namun, seekor pun tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu, janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit.

Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang disurga. Tetapi siapa saja yang menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di surga.” (Mat 10:26-33) 

Bacaan Pertama: Yer 20:10-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 69:8-10,14,7,33-35; Bacaan Kedua: Rm 5:12-15 

Dalam ajaran-Nya, Yesus mengemukakan banyak paradoks yang menarik. Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus berkata, “Janganlah kamu takut” (Mat 10:26,28), lalu Dia berkata, “Takutlah” (Mat 10:28). Janganlah takut menghadapi para pendengarmu; janganlah takut akan apa yang akan dikatakan orang-orang; janganlah takut bahkan kepada orang-orang yang akan membunuh kamu, kata Yesus. Namun takutlah kepada Dia yang dapat mengirim jiwamu ke dalam api! Takutlah kepada apa yang bergerak dalam hatimu: takutlah akan bagian dari dirimu sendiri yang lebih lemah, dan takutlah kepada si Jahat yang bekerja sama dengan bagian dirimu yang lebih lemah tadi untuk menghancurkanmu.

Pernahkah anda memperhatikan bagaimana orang-orang dapat menjadi besar dan mulia justru pada saat-saat mereka menghadapi situasi hidup atau mati; pada saat-saat terjadinya tragedi secara mendadak misalnya bencana alam, seperti halnya ketika banjir besar menghantam dan orang-orang menghadapi bahaya kematian? Banyak orang, baik tua maupun muda sedang berlari demi keselamatan diri mereka, namun mereka memutuskan untuk kembali guna menolong orang-orang lain. Banyak orang mati pada saat mereka berupaya menyelamatkan orang-orang lain. Dalam menghadapi maut, ketika menghadap hadirat Allah, secara tiba-tiba semua kebencian dan prasangka serta praduga menghilang, dan orang-orang menjadi tidak mementingkan diri sendiri, menjadi lebih bijaksana, menjadi lebih mengasihi dan siap untuk memberikan dirinya sendiri. Semakin kita merasa dekat dengan Allah, semakin baiklah kita. Hal tersebut mengubah kita menjadi seorang pribadi yang lebih baik.

Yesus berkata: “… takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka” (Mat 10:28), artinya takut kepada Allah. Kita harus memiliki keprihatinan atas apa yang dipikirkan Allah tentang diri kita, namun kita tidak perlu merasa susah tentang gosip-gosip karena mereka tokh berbicara tanpa berpikir terlebih dahulu.

Namun ketika Yesus bahwa kita harus takut kepada Allah, Dia juga mengatakan bahwa kita tidak usah takut kepada Bapa surgawi karena Dia adalah “seorang” Bapa yang sangat mengasihi kita anak-anak-Nya. Dia akan memperhatikan kita secara lengkap dan total, begitu lengkapnya seperti Dia menghitung semua rambut kepala kita.

Dengan demikian kita harus menarik suatu garis keseimbangan yang baik antara rasa takut dan cintakasih. Apabila cintakasih itu riil, maka jelas hal itu berarti kurangnya hal-hal yang ditakuti, kita tidak merasa takut ketahuan dan tertangkap basah,  kita jujur dengan dengan pribadi yang sungguh kita kasihi. Namun kita juga takut: takut untuk menyakiti orang yang kita kasihi, takut untuk menjadi egois atau tidak jujur atau tidak setia. Cintakasih yang sejati mengandung suatu rasa takut di dalamnya: rasa takut bahwa pada suatu hari saya dapat mengabaikan orang yang sangat saya kasihi.

DOA: Tuhan Yesus, biarlah kami merasa prihatin, bahkan takut akan apa yang terjadi dalam hati kami yang terdalam karena dalam hati kamilah cintakasih harus nyata, bukan sekadar dalam ucapan kata kami. Jadikanlah hati kami seperti hati-Mu, ya Tuhan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:24-33), bacalah tulisan yang berjudul “MEMPERKENANKAN YESUS MENGUNGKAPKAN KEGELAPAN DIRI KITA” (bacaan tanggal 25-6-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 BACAAN HARIAN JUNI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 22 Juni 2017 [Peringatan S. John Fisher, Uskup & S. Thomas More, Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS