Posts tagged ‘KEMURIDAN’

BAPA SENDIRI MENGASIHI KAMU

BAPA SENDIRI MENGASIHI KAMU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI Paskah – Sabtu, 27 Mei 2017)

Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku. Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatu pun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.

Semuanya ini Kukatakan kepadamu dengan kiasan. Akan tiba saatnya Aku tidak lagi berkata-kata kepadamu dengan kiasan, tetapi terus terang memberitakan Bapa kepadamu. Pada hari itu kamu akan berdoa dalam nama-Ku. Tidak Aku katakan kepadamu bahwa Aku meminta bagimu kepada Bapa, sebab Bapa sendiri mengasihi kamu, karena kamu telah mengasihi Aku dan percaya bahwa Aku datang dari Allah. Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa.” (Yoh 16:23b-28) 

Bacaan Pertama: Kis 18:23-28; Mazmur Tanggapan: Mzm 47:2-3,8-10 

“Bapa sendiri mengasihi kamu.” (Yoh 16:27)

Oh betapa beruntungnya kita semua sebagai anak-anak dari “seorang” Allah yang begitu mengasihi kita! Yesus bersabda kepada para murid-Nya – dan tentunya kepada kita semua – bahwa segala sesuatu yang kita minta kepada Bapa dalam nama-Nya, akan diberikan oleh Bapa kepada kita. Mengapa? Karena Bapa mengasihi kita semua. Sebagai “seorang” pemasok segala kebutuhan kita, Bapa surgawi sungguh  berhasrat untuk memberikan kepada kita pemberian-pemberian yang baik. Ia ingin menyembuhkan hati kita yang meradang kesakitan, memegang kita dengan tangan-Nya sendiri dan menuntun kita di jalan yang lurus, juga memberikan segala berkat-Nya kepada kita. Bagi Allah, mengasihi adalah suatu prioritas. Pater Henri Nouwen pernah menulis: “Allah mengasihi kita sebelum manusia mana pun dapat menunjukkan cintakasih kepada kita. Dia mengasihi kita dengan ‘cinta pertama’, suatu cintakasih yang tanpa batas dan tanpa syarat.”

Membangun dan mengembangkan suatu relasi cintakasih dengan Allah adalah hal terpenting yang kita dapat lakukan dalam hidup kita. Namun demikian, berapa banyak dari kita ini yang masih berpikir bahwa kita harus melakukan sesuatu dulu agar pantas menerima kasih Allah? Berapa banyak dari kita menyamakan tindakan “melayani Allah” dengan “mengasihi Allah”? Dunia kita sangat berorientasi pada tujuan. Dalam dunia manajemen, misalnya kita diajar dan mengajar tentang management by objectives, goals program dst., hal mana juga biasanya diintegrasikan ke dalam proses penilaian prestasi kerja (performance appraisal) orang-orang yang bekerja untuk kita. Semua itu baik! Namun salah satu pengaruhnya adalah, bahwa dengan demikian mudah sekali kita berpikir bahwa Allah juga (seperti para atasan dalam perusahaan) menghendaki kita menunjukkan prestasi yang memuaskan sebelum memberikan imbalan (reward), seakan Dia berkata, “Performance dulu, baru dapat reward; menangkan pertandingan dulu, baru dapat piala.”

Ingatlah bahwa tidak demikianlah halnya dengan Allah kita. Ingatlah apa yang disabdakan oleh Yesus sendiri: “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat …” (Yoh 15:15). Ia ingin agar Gereja-Nya dipenuhi dengan orang-orang yang mengasihi-Nya dengan penuh gairah, sama seperti Dia mengasihi mereka. Seperti seorang mempelai perempuan yang menyenangkan hati mempelai laki-laki, kita dipanggil untuk melakukan hal-hal bagi Yesus karena kita mengasihi Dia, bukan karena kita ingin membuktikan diri kita  kepada-Nya atau membuat diri kita “pantas” menerima cintakasih-Nya.

Bagaimana kiranya kasih Allah ini? Kelihatannya seperti apa? Bagaimana rasanya? Pada waktu-waktu tertentu kasih Allah itu mungkin saja mengambil bentuk rasa sukacita yang berlimpah, meski di tengah keadaan yang sulit. Pada waktu-waktu yang lain, mungkin mengambil bentuk suatu rasa damai yang mendalam dalam hati kita. Dapat juga mengambil bentuk keyakinan yang datang dari pengetahuan bahwa kita tidak pernah ditinggal sendirian.

Kalau kita ingin mengalami kasih Allah ini, maka kita harus mulai dengan menjadi riil dengan Dia. Akuilah kepada Allah dan kepada diri kita sendiri bahwa sebenarnya kita sangat, dan sangat membutuhkan Dia. Kita mohon kepada-Nya agar memenuhi diri kita dengan Roh-Nya dan untuk menyatakan kasih-Nya kepada kita. Allah Bapa memiliki kerinduan yang lebih besar untuk bertemu dengan kita daripada keinginan kita untuk bertemu dengan Dia.

DOA: Bapa di surga, Allah yang Mahapengasih dan Maharahim. Terima kasih penuh syukur kupanjatkan ke hadirat-Mu karena Engkau mengasihiku dengan suatu kegairahan tanpa batas. Aku sendiri malah tidak dapat memperkirakan sampai berapa dalam kasih-Mu bagi diriku. Terima kasih, ya Bapa, Engkau telah menyerahkan Putera-Mu yang tunggal sampai wafat di kayu salib, demi keselamatan kami, anak-anak-Mu. Kasih-Mu seperti sungai yang mengalir tanpa henti. Terpujilah Engkau selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Yoh 16:23b-28), bacalah tulisan yang berjudul  “MINTA KEPADA BAPA DALAM NAMA YESUS” (bacaan tanggal 27-5-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-05 BACAAN HARIAN MEI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 7-5-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 24 Mei 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

AKU AKAN MELIHAT KAMU LAGI

AKU AKAN MELIHAT KAMU LAGI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Filipus Neri, Imam – Jumat, 26 Mei 2017)

HARI PERTAMA NOVENA PENTAKOSTA

 

Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita. Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia. Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorang pun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari kamu. Pada hari itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa kepada-Ku. (Yoh 16:20-23a) 

Bacaan Pertama: Kis 18:9-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 47:2-7

Sementara Yesus sudah semakin dekat dengan saat kematian-Nya, Dia masih terus mempersiapkan para murid-Nya agar dapat menghadapi saat perpisahan dengan-Nya dan untuk mensyeringkan pengharapan besar yang tersimpan dalam hati-Nya. Sebagaimana seorang perempuan yang menanggung rasa sakit demi melahirkan bayinya ke tengah dunia, Yesus pun mengetahui bahwa penderitaan sengsara-Nya dan kematian-Nya akan membawa kehidupan baru ke tengah dunia. Ketika seorang perempuan memandang anak yang baru dilahirkannya, maka rasa sakit karena melahirkan itu pun menjadi tidak signifikan. Hati sang ibu dipenuhi dengan ketakjuban ketika memandangi bayi yang baru dilahirkannya itu. Hal serupa – namun tak sama tentunya – terjadi dengan Yesus. Yesus menyadari bahwa salib-Nya akan membawa karunia kehidupan baru yang penuh keajaiban, maka dengan cintakasih-Nya dan antisipasi-Nya yang besarlah Ia bergerak maju untuk wafat di kayu salib.

Para murid sungguh menanggung rasa sedih luarbiasa yang disertai dengan kebingungan selagi mereka menyaksikan Yesus ditangkap, diadili dalam pengadilan “dagelan”, dijatuhi hukuman mati dan mati di kayu salib di bukit Kalvari. Namun Yesus telah berjanji kepada mereka: “Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorang pun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari kamu” (Yoh 16:22). Yesus berjanji kepada para murid-Nya bahwa Ia akan bertemu dengan mereka lagi; dan para murid akan bergembira karena mereka akan mengenal pandangan penuh kasih dari Yesus kepada mereka. Mereka akan mengenal dan mengalami damai-sejahtera dan aman bilamana terus berada di bawah pandangan penuh siaga dari Yesus, tidak pernah dilupakan atau dibuang. Pengetahuan seperti ini sungguh membawa sukacita besar kepada para murid.

Yesus sangat mengetahui berbagai pergumulan dan pencobaan yang kita alami dan hadapi. Dia mengetahui rasa takut yang sudah cukup lama merasuki diri kita, kekhawatiran yang sudah sekian lama menindih kita, namun juga segala pengharapan dan impian yang selama ini kita simpan sendiri dalam hati. Tidak ada yang luput dari pandangan Yesus. Ia berjanji kepada para murid-Nya bahwa Ia akan bertemu dengan mereka lagi, demikian pula mata-Nya yang memancarkan kasih akan terus memperhatikan kita. Selagi Dia berdiri di hadapan Bapa untuk melakukan syafaat bagi kita, Dia mampu untuk memenuhi diri kita dengan sukacita akan kehadiran-Nya, membalikkan rasa sedih kita menjadi sukacita karena kita mengenal bela-rasa dan kekuatan-Nya.

Yesus senantiasa siap untuk memberikan hikmat-Nya yang kita memang perlukan untuk menghadapi situasi apa saja. Yang harus kita lakukan adalah dengan rendah hati memanjatkan permohonan kita dan mentaati perintah-perintah-Nya. Kuat-kuasa-Nya yang mahadahsyat dapat membuat keajaiban-keajaiban dalam hati kita yang jauh lebih besar daripada yang kita pernah bayangkan!

DOA: Datanglah, ya Roh Kudus, berikanlah kepada kami mata-iman agar dapat melihat karya Bapa dan Putera dalam kehidupan kami. Lahirkanlah dalam diri kami suatu pengalaman lebih mendalam akan kasih-Mu dan kemauan yang lebih besar untuk dibentuk lke dalam keserupaan dengan Yesus, Tuhan dan Juruselamat kami. Kami bersukacita dalam hidup baru yang telah Kau berikan kepada kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 16:20-23a), bacalah tulisan yang berjudul “KAMU AKAN BERDUKACITA, TETAPI DUKACITAMU AKAN BERUBAH MENJADI SUKACITA” (bacaan tanggal 26-5-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-05 BACAAN HARIAN MEI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 6-5-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 24 Mei 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SANG PARAKLETOS

SANG PARAKLETOS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI Paskah – Selasa, 23 Mei 2017)

 

Tetapi sekarang Aku pergi kepada Dia yang telah mengutus Aku, dan tidak ada seorang pun di antara kamu yang bertanya kepada-Ku: Ke mana Engkau pergi? Tetapi karena Aku mengatakan hal itu kepadamu, maka hatimu berdukacita. Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penolong itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, aku akan mengutus Dia kepadamu. Kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman; akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku; akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi; akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum. (Yoh 16:5-11) 

Bacaan Pertama: Kis 16:22-34; Mazmur Tanggapan: Mzm 138:1-3,7-8 

Sementara Yesus terus berbicara dengan para murid (rasul)-Nya tentang diri-Nya yang akan  meninggalkan mereka untuk pergi kepada Bapa surgawi yang mengutus-Nya, Dia melihat bahwa mereka dikuasai oleh kesedihan. Mereka kelihatannya tidak memahami mengapa Yesus harus pergi. Yesus juga dengan terus terang berbicara kepada mereka tentang kebenaran. Apabila Dia tidak pergi, maka Parakletos, Roh Kudus, tidak akan datang kepada para murid. Jadi, Dia akan pergi dan mengutus Roh Kudus kepada mereka.

Apakah yang akan dilakukan oleh Roh Kudus apabila Dia datang? Ia akan menjadi penasihat mereka, penghibur mereka. Dia akan membimbing dan memberdayakan  mereka dalam relasi mereka, dalam perjumpaan mereka dengan dunia.

Roh Kudus akan membuktikan bahwa dunia salah tentang dosa, tentang keadilan, tentang penghukuman. Ia (Roh Kudus) akan menunjukkan lewat kehidupan Gereja yang ilahi, adil dan kudus yang akan dibimbingnya, Kristus yang tanpa dosa, bahwa Dia adil, bahwa Dia tidak pantas dihukum. Orang-orang yang menolak untuk percaya kepada-Nya, untuk mentaati perintah-perintah-Nya, adalah mereka yang salah. Merekalah yang tidak adil dan patut dihukum.

Sekarang, kita berada di pihak yang mana? Apakah kita orang-orang yang ikut ambil bagian dalam kehidupan ilahi dengan iman, ketaatan dan cinta kasih kita? Apakah kita termasuk orang-orang adil dan benar dari Kristus? Apakah kehidupan kita memberi kesaksian tentang kekudusan Kristus, tubuh-Nya (Gereja), di mana kita semua adalah para anggotanya?

Ketika dibaptis, kita telah menerima Roh Kudus seperti yang telah dialami oleh para rasul. Ia adalah penasihat kita juga. Dia adalah pembimbing dan penghibur kita. Dia memberikan kepada kita berbagai instruksi, bimbingan dan kekuatan, keberanian untuk hidup dengan/bersama Kristus, dengan/dalam Gereja-Nya. Kita tidak perlu menderita penghukuman. Dunialah yang dihukum setiap kali kita bersaksi – oleh/dengan kuasa Roh Kudus tentang Kristus sebagai Tuhan kehidupan kita.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau mengutus Roh Kudus-Mu kepada kami. Semoga Dia menolong kami untuk hidup kudus dan dan benar dalam kehadiran-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 16:5-11), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS PERGI KEPADA BAPA YANG TELAH MENGUTUS-NYA” (bacaan tanggal 23-5-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-05  BACAAN HARIAN MEI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-5-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 22 Mei 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KEHADIRAN YESUS KRISTUS SECARA BARU

KEHADIRAN YESUS KRISTUS SECARA BARU

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH VI [Tahun A], 21 Mei 2017)

“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti perintah-perintah-Ku. Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.

Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu. Sesaat lagi dunia tidak akan melihat Aku lagi, tetapi kamu akan melihat Aku, sebab Aku hidup dan kamu pun akan hidup. Pada waktu itulah kamu akan tahu bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.

Siapa saja yang memegang perintah-Ku dan melakukan-Nya, dialah yang mengasihi Aku. Siapa saja yang mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.” (Yoh 14:15-21)

Bacaan Pertama: Kis 8:5-8,14-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 66:1-7,16-20; Bacaan Kedua: 1Ptr 3:15-18

Yohanes Penginjil mempunyai kesukaan khusus untuk memperbandingkan dua hal yang saling berlawanan, misalnya: kegelapan vs terang (Yoh 1:5; 3:19;12:46);  hidup vs mati (Yoh 11:25); daging vs roh (Yoh 3:6). Namun kehebatan Yesus Kristus adalah kenyataan bahwa dalam Dia segala konflik dapat diatasi, dan hal-hal yang saling bertentangan seperti disebutkan diatas dapat direkonsiliasikan.

Jadi, ketika Yohanes menulis tentang Yesus yang akan ditinggikan seperti Musa meninggikan ular di padang gurun (Yoh 3:14-15; bdk. Bil 21:9), sebenarnya pesan yang ingin disampaikannya adalah pesan bahwa Yesus akan ditinggikan di kayu salib untuk mati dan juga untuk kebangkitan-Nya kepada kehidupan baru. Maut (kematian) tidak lagi berkontradiksi dengan kehidupan, akan tetapi membawa kepada suatu kehidupan kekal. Misi yang dilihat mata manusia sebagai suatu “kegagalan” menjadi suatu momen kemenangan. Pohon kejatuhan kita menjadi pohon keselamatan. Dan, perpisahan Yesus dari kehadiran fisik diubah menjadi suatu kedatangan kehadiran-Nya yang lebih besar dan lebih dinamis.

Yesus berbicara mengenai “seorang” Penolong yang lain, seorang Penasihat [Yunani: Parakletos], yang akan tinggal bersama para murid-Nya selama-lamanya. Para murid tidak ditinggalkan tanpa pemimpin, pembimbing atau ayah: “Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu. Sesaat lagi dunia tidak akan melihat Aku lagi, tetapi kamu akan melihat Aku, sebab Aku hidup dan kamu pun akan hidup” (Yoh 14:18-19). Ini adalah janji Yesus yang sangat mengejutkan tentang syering “relasi-Nya sendiri dengan Bapa surgawi” dengan kita. “Pada waktu inilah kamu akan tahu bahwa kamu akan tahu bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu” (Yoh 14:20).

Bacaan-bacaan Misa untuk masa Paskah terus membawa ke hadapan kita perubahan dari cara berpikir lama kepada cara berpikir yang baru: dari hidup lama yang ditinggalkan pada bejana air baptisan (ketika kita dibaptis) kepada hidup baru karena ikut ambil bagian dalam kebangkitan Yesus Kristus. Bagi rasul rasul atau murid-murid yang pertama, hal itu berarti berubah dari kontak mereka yang lama dengan Yesus secara fisik menjadi kontak-iman yang baru: perubahan dari melihat secara eksternal (seperti dunia melihat) kepada percaya dalam iman (jadi bersifat batiniah). Hal itu berarti bahwa mereka harus berubah, harus mengubah paradigma, dari mengikut seorang manusia yang mereka kagumi, kepada posisi sebagai anggota-Nya yang hidup dengan Roh-Nya dan misi-Nya.

Pertanyaan besar di balik cerita-cerita Paskah adalah: “Di mana Yesus dapat ditemukan?” Jawabnya adalah: “Janganlah mencari hal-hal yang eksternal atau tubuh fisik dari kehadiran-Nya. Ia tidak lagi ada di sana untuk dilihat mata kita, melainkan Ia sekarang hadir dalam komunitas umat beriman dan dalam diri setiap orang yang menjadi anggota komunitas tersebut.

Rahasia dari perubahan yang sedemikian adalah Roh Kudus, yaitu Roh Allah atau Roh Yesus sendiri. Kata “roh” berarti nafas (ruah dalam bahasa Ibrani). Udara yang kita hirup tidak dapat dilihat dengan mata, namun mutlak diperlukan. Kita dapat mati bila berada dalam situasi tanpa udara segar. Oleh karena kita selalu mencari ruangan di mana kita tidak akan merasa sesak dan susah-bernafas. Dengan udara segar kita dapat memperbaharui vitalitas kita.

Nah, nafas hidup Allah diberikan kepada kita dalam Roh Kudus. Kita menerima suatu panggilan untuk tidak lagi sekadar menjadi insani, Kita dipanggil untuk memperkenankan Allah hidup dalam diri kita, bekerja dalam diri kita dan mengasihi orang-orang lain lewat diri kita. Seperti kita ketahui, dalam pembaptisan kita memperoleh identitas baru: kita berada dalam relasi mendalam dengan ketiga Pribadi Ilahi dalam Allah Tritunggal Mahakudus.

DOA: Bapa surgawi, aku sangat dikasihi oleh Roh Kudus-Mu yang berdiam dalam diriku sehingga dibawa oleh-Nya ke dalam suatu hidup baru. Aku ikut ambil bagian dalam hidup Yesus Kristus, sabda-Mu sendiri yang sangat Kaukasihi, dengan demikian aku boleh berdoa bersama Dia, sabda-Mu sendiri yang sangat Kaukasihi, kepada Engkau sebagai Bapaku. Terima kasih Bapa, Engkau yang hidup dan berkuasa bersama Yesus Kristus dalam persekutuan Roh Kudus, Allah sepanjang segala masa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 14:15-21), bacalah tulisan yang  berjudul “KETAATAN YESUS KEPADA BAPA DAN KETAATAN KITA KEPADA PERINTAH-PERINTAH YESUS” (bacaan tanggal 21-5-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsada.wordpress.com; kategori: 17-05 BACAAN HARIAN MEI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 25-5-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 18 Mei 2017 {Peringatan S. Feliks dr Cantalice] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

JADILAH SEPERTI YESUS

JADILAH SEPERTI YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah – Sabtu, 20 Mei 2017)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan/Pesta S. Bernadinus dr Siena, Imam

 

“Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku daripada kamu. Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu. Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu; jikalau mereka telah menuruti firman-Ku, mereka juga akan menuruti perkataanmu. Tetapi semuanya itu akan mereka lakukan terhadap kamu karena nama-Ku, sebab mereka tidak mengenal Dia yang telah mengutus Aku.” (Yoh 15:18-21)

Bacaan Pertama: Kis 16:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 100:1-3,5

“Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahuklu membenci Aku daripada kamu.(Yoh 15:18)

Umat Kristiani terus dikejutkan karena dunia membenci mereka. Kita mungkin berpikir bahwa dunia telah berubah sejak dunia menolak dan menyalibkan Yesus. Kita juga mungkin berpikir bahwa kita tidak sebegitu seperti Yesus, sehingga pantas menjadi korban penolakan dan penganiayaan. Namun kita pada dasarnya telah diubah dengan pembaptisan dalam Kristus: “dibaptis dalam kematian-Nya” (lihat Rm 6:3). Kita mempunyai suatu kodrat baru, yaitu sebagai “ciptaan baru” (lihat Gal 6:15), kita telah dipilih dari dunia oleh Kristus (Yoh 15:19). Dunia mengakui bahwa kita bukan lagi miliknya, oleh karena itu dunia membenci, menganiaya, dan mencoba membunuh kita (Yoh 15:19-20), bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kita akan menyangka bahwa ia berbakti kepada Allah (Yoh 16:2).

Walaupun dunia membenci orang-orang Kristiani yang penuh dosa, juga orang-orang Kristiani yang malas, Allah ingin memberikan lebih banyak alasan kepada dunia untuk menganiaya kita. Allah ingin membuat kita kudus, membuat kita seperti diri-Nya sendiri. Kemudian kita bukan hanya merupakan suatu ancaman besar, melainkan nyata-nyata suatu ancaman yang sesungguhnya, untuk mengacaukan atau menjungkir-balikkan seluruh dunia (lihat Kis 17:6). Dengan demikian, dunia merasa “terpaksa” untuk menganiaya kita dengan segera dan dengan penuh nafsu.

Oleh karena itu hayatilah baptis kita (anda dan saya)! Jadilah suatu ancaman bagi dunia. Jadikanlah diri kita korban kebencian dunia sehingga pantas dianiaya. Jadikanlah diri kita kudus! Marilah kita menjadi seperti Yesus!

DOA: Bapa surgawi, buatlah diriku layak menderita penghinaan oleh karena nama Yesus (Kis 5:41; bdk. Mat 5:11-12). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yes 15:18-21), bacalah tulisan yang berjudul “DUNIA MEMBENCI YESUS DAN PARA MURID-NYA” (bacaan tanggal 20-5-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-05 BACAAN HARIAN MEI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 30-4-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 17 Mei 2017 [Peringatan S. Paskalis Baylon] 

Sdr F.X. Indrapradja, OFS 

BERBUAH BANYAK

BERBUAH BANYAK

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah – Rabu, 17 Mei 2017)

Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Paskalis Baylon, Bruder Fransiskan Observanti tak berkasut

“Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu. Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar. Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah Bapa-Ku dimuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.” (Yoh 15:1-8)  

Bacaan Pertama: Kis 15:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 122:1-5

“Dalam hal inilah Bapa-Ku dimuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.” (Yoh 15:8)

Yesus menyatakan bahwa Dia adalah pokok anggur dan Bapa-Nya adalah pengusahanya (Yoh 15:1). Sebelum menyelesaikan gagasan-Nya, yakni memanggil para murid-Nya sebagai ranting-ranting atau cabang-cabang dari pokok anggur (Yoh 15:5), Yesus menyisipkan sejumlah komentar tentang dahan-dahan yang tak berbuah dan yang berbuah (Yoh 15:2-4). Yesus menggaris-bawahi pentingnya tinggal di dalam Dia untuk berbuah banyak (Yoh 15:5). Ia menekankan bahwa kita harus menghasilkan buah Roh Kudus, buah kesucian (Gal 5:22-23).

Yesus sedemikian mengasihi dunia sehingga Dia sama sekali tidak ingin jika kematian-Nya di atas kayu salib guna penebusan kita menjadi sia-sia belaka (lihat 1 Kor 1:17). Yesus ingin menyalakan api di dunia ini (Luk 12:49), agar semua saja akan “diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran (1 Tim 2:4). Yesus membuat kita menjadi saksi-saksi-Nya (Kis 1:8). Dan … kita harus bersedia menjadi hamba-hamba “dari semua orang, supaya (aku) boleh memenangkan sebanyak mungkin orang (1 Kor 9:19).

Kasih Yesus itu sedemikian besar dan penebusan-Nya begitu penting, sampai-sampai Dia mengancam melemparkan kita ke dalam kobaran api dan terbakar untuk selamanya, apabila kita menolak untuk berupaya agar berbuah banyak (Yoh 15:6).

Saudari dan Saudaraku, kita (anda dan saya) belum terlambat dan kesempatan masih tetap terbuka. Oleh karena itu, marilah kita mengasihi Yesus dengan serius dan karenanya berbuah banyak.

DOA: Tuhan Yesus, aku menyerahkan diriku kepada Engkau. Bersihkanlah diriku dengan darah-Mu yang kudus, penuhilah diriku dengan pemikiran-pemikiran dan hasrat-hasrat-Mu. Aku ingin mengalami kehadiran-Mu secara lebih penuh pada hari ini dan berbuah bagi-Mu. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 15:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “JIKA KITA BERBUAH BANYAK, BAPA PUN DIMULIAKAN” (bacaan tanggal 17-5-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-05 BACAAN HARIAN MEI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 27-4-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 15 Mei 2017   

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

RASUL FILIPUS DAN RASUL YAKOBUS

RASUL FILIPUS DAN RASUL YAKOBUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Pesta S. Filipus dan Yakobus, Rasul – Rabu, 3 Mei 2017)

 

Dan sekarang, Saudara-saudara, aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, dan yang di dalamnya kamu teguh berdiri. Melalui Injil itu kamu diselamatkan, seperti yang telah kuberitakan kepadamu, asal kamu teguh berpegang padanya, kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya. Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya. Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal. Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul. Yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya. (1 Kor 15:1-8) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 19:2-5; Bacaan Injil: Yoh 14:6-14

Filipus dan Yakobus (bukan anak Pak Zebedeus) bukanlah rasul-rasul yang menonjol sekali, namun kuasa kebangkitan Yesus telah mengubah mereka menjadi rasul-rasul yang penuh semangat, keberanian dan iman yang hidup akan Kristus. Pada akhirnya mereka menjadi begitu yakin siapa Yesus itu sebenarnya sehingga dua-duanya mengalami kematian sebagai martir-martir Yesus yang sejati. Mengapa? Memang benar tidak ada  banyak bukti kuat tentang kedua orang ini, namun ada satu hal yang pasti: Selama tiga tahun mereka mengikuti sang Rabi dari Nazaret yang bernama Yesus, yang berkeliling dari satu tempat ke tempat lain mewartakan kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan. Mereka belajar banyak dari sang Guru, mereka menjadi saksi mata dari banyak penyembuhan, mukjizat dan tanda heran lain yang dibuat Yesus. Hidup dekat dengan Yesus selama tiga tahun tentunya mengubah hidup mereka secara luarbiasa. Mereka belajar dari tangan pertama tentang kebenaran-kebenaran yang tersembunyi dalam Kitab Suci. Hidup bersama Yesus mengakibatkan asumsi-asumsi awal mereka tentang banyak hal kehidupan ini menjadi tertantang dan mimpi-mimpi mereka pun tentang kehidupan surgawi yang kekal-abadi dan lain-lain hal yang ilahi menjadi terwujud dalam kenyataan.

Tadi saya katakan, bahwa mereka hidup bersama Yesus untuk kurun waktu yang cukup lama, namun semua itu belumlah cukup. Filipus dan Yakobus – bersama para rasul lain tentunya – masih tetap harus melakukan PR mereka dengan tekun dan serius. Bahkan setelah kenaikan Yesus ke surga dan mengutus Roh Kudus-Nya, para murid-Nya yang pertama ini tetap menggunakan waktu mereka  – entah berapa lama – untuk membanding-bandingkan pengalaman mereka dengan pengajaran Yesus. Mereka mempelajari Kitab Suci Ibrani (= Perjanjian Lama = Perjanjian Pertama), dan memohon agar diberikan perwahyuan lebih lanjut dari Allah. Dan hasil dari semua kerja keras yang penuh ketekunan ini adalah bacaan di atas. Yang ditulis Paulus di sini adalah pengungkapan paling awal dari ajaran dasar Gereja, yaitu credo atau pernyataan iman pertama yang sampai hari ini diketahui: “Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya….” (1 Kor 15:3 dsj.).

Filipus dan Yakobus mengetahui sekali, bahwa dalam hidup ini tidak dimungkinkanlah untuk mempelajari dan mengetahui segalanya tentang Allah dan Yesus Kristus. Kebenaran ini juga berlaku bagi kita – manusia zaman modern ini. Oleh karena itu kita harus terus bersimpuh pada kaki Tuhan Yesus dan belajar dari Dia. Hanya Yesus-lah yang dapat memimpin kita kepada Bapa surgawi. Hanya Roh Kudus-Nya yang dapat menanamkan misteri-misteri iman yang besar dan agung ke dalam diri kita. Jadi, selalu ada saja yang harus kita pelajari, karena memang tidak ada akhir dari “eksperimen-eksperimen dalam iman” yang dapat kita lakukan. Para kudus Gereja – orang-orang yang disebut Santo atau Santa – pun mengalami hal yang sama dalam perkembangan iman-kepercayaan mereka masing-masing.

Marilah setiap hari kita terus menggumuli sabda Allah yang terdapat dalam Kitab Suci. Marilah kita memohon kepada Roh Kudus agar membuka “kekayaan” Injil secara lebih penuh lagi. Selagi kita melakukan ini, maka kita pun akan bertumbuh dalam pemahaman kita, dan seperti kepada Filipus dahulu kita pun dapat mendengar Ia bersabda kepada kita masing-masing: “Tidak percayakah engkau bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang tinggal di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya. Percayalah kepada-Ku bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu” (Yoh 14:10-12). Dengan demikian keefektifan kita di dalam dunia pun akan meningkat.

DOA: Terima kasih Tuhan Yesus untuk kehadiran-Mu yang terus-menerus tanpa henti. Pimpinlah aku agar menjadi lebih dekat lagi dengan Bapa surgawi. Biarlah Roh Kudus-Mu membentuk diriku senantiasa agar dapat mengalami dengan lebih mendalam segala perwahyuan, kebenaran dan pemahaman akan segalanya yang ilahi. Terima kasih, ya Tuhan Yesus. Terpujilah nama-Mu selalu! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 14:6-14), bacalah tulisan yang berjudul “FILIPUS DAN YAKOBUS: DUA RASUL YANG KURANG DIKENAL” (bacaan tanggal 3-5-17), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-05 BACAAN HARIAN MEI 2017) 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 3-5-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  1 Mei 2017 [Peringatan S. Yusuf Pekerja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS