Posts tagged ‘KEMURIDAN’

DIPANGGIL UNTUK MENJADI SAKSI KEHIDUPAN BARU

DIPANGGIL UNTUK MENJADI SAKSI KEHIDUPAN BARU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV – Senin, 16 Juli 2018)

“Jangan kamu menyangka bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.

Siapa saja yang mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada Aku, ia tidak layak bagi-Ku; dan siapa saja yang mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih daripada Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak  bagi-Ku. Siapa saja yang mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan siapa saja yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.

Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku.  Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut  seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar. Siapa saja yang memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Ia tidak akan kehilangan upahnya.”

Setelah Yesus mengakhiri pesan-Nya kepada kedua belas murid-Nya, pergilah Ia dari sana untuk mengajar dan memberitakan Injil di dalam kota-kota mereka. (Mat 10:34-11:1) 

Bacaan Pertama: Yes 1:11-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:8-9,16-17,21,23 

Seorang murid Kristus dipanggil untuk menjadi saksi dari suatu kehidupan baru – untuk memberi kesaksian – baik dengan kata-kata maupun teladan hidup – bahwa Yesus telah mengalahkan dosa dan meresmikan (menginaugurasikan) Kerajaan Allah. Selagi Dia menjelaskan mengenai panggilan ini, Yesus juga mengingatkan para murid-Nya bahwa kehidupan baru yang akan dimanifestasikan oleh para murid-Nya itu secara radikal berbeda dari kehidupan yang terpisah dari Allah. Pemisahan yang dikatakan Yesus bukanlah sebuah agenda radikal di mana segala sesuatu – bahkan yang sedikit saja bertentangan dengan Kristus – harus ditolak. Sebaliknya, pemisahan itu terjadi selagi terang dalam diri kita menjadi semakin bercahaya, dan kegelapan di sekeliling kita dan di dalam diri kita semakin terekspos.

Apabila kita ingin agar terang Kristus bersinar, maka kegelapan harus disingkirkan, dan hal ini kadang-kadang menyakitkan. Akan tetapi, panggilan seorang murid adalah teristimewa untuk mempertahankan relasinya dengan Yesus, dan memperkenankan sabda Kristus – seperti sebilah pedang bermata-dua – memisahkan kegelapan dari terang. Namun pada saat yang sama, Yesus tidak pernah meninggalkan para murid-Nya tanpa penghiburan kasih-Nya dan rasa nyaman,  bahwa dengan ikut ambil bagian dalam salib-Nya kita juga dengan indahnya ikut ambil bagian dalam kebangkitan-Nya – sekarang dan pada akhir zaman.

Dietrich Bonhoeffer [1906-1945] adalah seorang pastor Lutheran berkebangsaan Jerman yang sangat dihargai oleh para teolog Katolik. Dietrich Bonhoeffer menentang kebijakan-kebijakan Jerman Nazi, yang kemudian menjebloskannya ke dalam kamp konsetrasi dan kemudian membunuhnya pada tahun 1945. Berkaitan dengan pokok bahasan kita kali ini, Bonhoeffer mengatakan: “Keputusan terakhir harus dibuat selagi kita masih berada di atas bumi. Damai Yesus adalah salib. Namun salib adalah pedang yang digunakan Allah di atas bumi. Pedang ini menciptakan pemisahan. Anak laki-laki terhadap ayahnya, anak perempuan terhadap ibunya, anggota rumahtangga terhadap kepala rumahtangga – semua ini terjadi dalam nama Kerajaan Allah dan damai-sejahtera-Nya. Inilah karya yang dikerjakan Yesus Kristus di atas bumi.”

“Kasih Allah itu berbeda ketimbang cinta manusia pada tubuh dan darah mereka sendiri. Kasih Allah bagi manusia berarti salib dan jalan kemuridan. Namun salib itu dan jalan itu dua-duanya adalah kehidupan dan kebangkitan. “Ia yang kehilangan nyawanya demi aku akan menemukannya.” Dalam janji ini kita mendengar suara Dia yang memegang kunci-kunci kematian, sang Putera Allah, yang pergi ke salib dan kebangkitan, dan bersama Dia dibawa-Nyalah milik-Nya.” (Biaya Kemuridan; Inggris: The Cost of Discipleship).

DOA: Tuhan Yesus, hidup Kristiani dapat dengan mudah terkesampingkan bagi banyak dari kami. Kami kurang serius, tidak memiliki komitmen! Seperti benih yang jatuh ke atas tanah berbatu, Sabda-Mu menjadi mati karena kebebalan kami. Kami mohon ampun, ya Tuhan, atas segala dosa dan kekurangan kami. Melalui Roh Kudus-Mu, kami diyakinkan bahwa Injil menuntut komitmen total dari kami untuk mengasihi Allah dan sesama kami. Tuhan, ubahlah rasa takut kami menjadi iman yang berani untuk mewartakan Kabar Baik-Mu. Amin.

Catatan:  Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:34-11:1), bacalah tulisan yang berjudul “MENJADI DUTA-DUTA YESUS KRISTUS DI ZAMAN NOW” (bacaan tanggal 16-7-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-07 BACAAN HARIAN JULI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 17-7-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 13 Juli 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

SEORANG MURID MENJADI SAMA SEPERTI GURUNYA, ……

SEORANG MURID MENJADI SAMA SEPERTI GURUNYA, ……

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Sabtu, 14 Juli 2018)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Fransiskus Solanus, Imam

“Seorang murid tidak lebih daripada gurunya, atau seorang hamba daripada tuannya. Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya. Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya.

Jadi, janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka, dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas rumah. Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.

Bukankah burung pipit dijual dua ekor seharga satu receh terkecil? Namun, seekor pun tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu, janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit.

Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang disurga. Tetapi siapa saja yang menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di surga.” (Mat 10:24-33) 

Bacaan Pertama: Yes 6:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 93:1-2,5 

“Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya.” (Mat 10:25) 

Panggilan Yesus kepada para murid-Nya – dari dahulu sampai sekarang – pertama-tama dan terutama adalah sebuah panggilan untuk menjadi seperti diri-Nya. Pada saat Ia memanggil Andreas dan Simon Petrus, Yesus mengatakan kepada mereka bahwa Dia akan menjadikan mereka penjala manusia (Mat 4:19). Dengan mengikuti Dia, para murid akan ditransformasikan menjadi serupa dengan diri-Nya. Hati Yesus akan menjadi hati mereka; seperti Guru mereka pula, mereka akan merindukan hari di mana semua orang akan mendengar Kabar Baik dan menerima pesan Injil.

Yesus juga mengingatkan para murid-Nya bahwa ikut ambil bagian dalam kehidupan sang Guru bukanlah tanpa tantangan-tantangan dan kesulitan-kesulitan: “Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya” (Mat 10:25). Pada saat yang sama, Yesus berulang-ulang kali mengatakan kepada mereka untuk tidak menjadi takut akan apa yang akan terjadi atas diri mereka (Mat 10:26,28,31). Dengan keyakinan seseorang yang diri-Nya sendiri telah menjadi objek kebencian, ancaman, dijadikan korban jebakan oleh komplotan orang jahat, Yesus mengetahui benar apa artinya mengalami situasi-situasi yang menakutkan dan kemudian mengatasinya.

Karena kita adalah anggota-anggota Tubuh Kristus, kita semua ikut ambil bagian dalam kemenangan-Nya atas si Jahat. Hal ini tidak berarti bahwa kita akan secara penuh bebas dari daya-upaya si Iblis, karena semua itu merupakan bagian kehidupan semua murid dalam dunia ini yang masih menjadi subjek kematian. Kita tidak pernah boleh menyerah, bagaimana pun dahsyatnya serangan yang datang atau betapa pun lemahnya kita rasakan diri kita. Guru kita – Tuhan Yesus Kristus – ada dalam diri kita untuk menghibur dan memperkuat diri kita. Dia adalah hikmat kita dan akan memberikan kepada kita segalanya yang kita butuhkan selagi kita menghadap-Nya dalam iman yang rendah hati (Mat 10:19-12).

Pada zaman modern ini, dimana kita melihat bahwa percaya kepada Allah dan ketaatan pada perintah-perintah-Nya semakin menjadi sasaran serangan-serangan gencar, kita dapat memiliki pengharapan dan terus menjalani jalan kemuridan. Kristus ada dalam diri kita dan kasih-Nya melingkupi diri kita, dan Ia tidak akan meninggalkan kita. Dia akan mengakui kita di hadapan Bapa surgawi apabila kita tetap setia kepada-Nya. Oleh karena itu kita tidak boleh berkecil hati, karena Roh yang ada dalam diri kita itu lebih besar daripada roh yang ada dalam dunia (1Yoh 4:4).

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami untuk percaya pada kehadiran-Mu di dalam diri kami masing-masing. Kami ingin menjadi seperti Engkau dan menjadi murid-murid-Mu yang sejati. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:24-33), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS ITU LEBIH BESAR DARIPADA APA SAJA YANG KITA LIHAT ADA DALAM DIRI KITA” (bacaan tanggal 14-7-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-07 BACAAN HARIAN JULI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tnggal 15-7-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 11 Juli  2018 [Peringatan S. Benediktus, Abas] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENJADI MURID YESUS YANG SETIA

MENJADI MURID YESUS YANG SETIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIII – Senin, 2 Juli 2018)

Ketika Yesus melihat orang banyak mengelilingi-Nya, Ia menyuruh bertolak ke seberang. Lalu datanglah seorang ahli Taurat dan berkata kepada-Nya, “Guru, aku mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Yesus berkata kepadanya, “Rubah mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.”

Seorang lain, yaitu salah seorang murid-Nya, berkata kepada-Nya, “Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku. Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Ikutlah aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka.” (Mat 8:18-22) 

Bacaan Pertama: Am 2:6-10,13-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:16-23

Sebagaimana diterangkan dalam bacaan Injil hari ini, Yesus “tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Mat 8:20). Sejak kecil Yesus sudah mengalami dan memahami apa artinya penderitaan. Ia dilahirkan di kandang hewan di sebuah gua, Dia harus dilarikan dari cengkeraman seorang raja kejam sebelum berusia genap dua tahun. Ia menderita apa yang diderita oleh kedua orangtua-Nya di sebuah negeri yang asing bagi mereka, Mesir. Ia tahu, atau paling sedikit Ia merasakan rasa sunyi mereka di sana.

Yesus mengalami apa artinya menjadi orang miskin dan tidak disukai, tanpa kawan, tanpa keamanan dan kenyamanan yang dapat diberikan oleh dunia. Dia kembali ke Galilea bersama kedua orangtuanya sebagai orang miskin, dan mereka tinggal dalam rumah yang miskin juga. Sejak masa muda Ia sudah belajar apa artinya kerja keras dan kasar itu. Sampai berapa sering kita mengheningkan diri untuk berpikir bahwa sebagian besar dari kehidupan Yesus bukanlah membuat mukjizat dan tanda heran lainnya, melainkan dalam melakukan pekerjaan yang tidak ribut-ribut dan tidak diketahui orang, melakukan pekerjaan-Nya dengan jujur namun membosankan?  Lalu kita mengatakan bahwa kita tidak dapat mengikuti jejak-Nya sebagai murid?

Yesus tentunya adalah salah seorang pekerja paling keras di Nazaret, karena pekerjaan tukang kayu adalah pekerjaan sepanjang hari. Setiap saat Ia dapat dipanggil untuk menolong seorang petani membetulkan bajaknya yang rusak, kuk/gandarnya, peralatannya, bangunan rumahnya, kandang hewannya dlsb. Pekerjaan Yesus adalah pekerjaan berat dengan bayaran yang ringan/kecil. Orang-orang Nazaret memandang statusnya dalam masyarakat itu rendah, dan mereka menjadi mendongkol ketika Dia muncul di depan publik sebagai seorang pemimpin. “Bukankah Ia ini anak tukang kayu? (Mat 13:55 bdk. Mrk 6:3;  bacalah Mat 13:53-58).

Yesus tidak tertipu oleh kemuliaan yang diberikan dunia, juga kehormatan yang diberikan manusia terhadap diri-Nya. Secara terus menerus Dia mengalami oposisi dan juga kritik-kritik, demikian pula kebencian dari orang-orang Farisi dan lain-lain pemuka agama yang seharusnya paling menerima Dia. Masihkah kita sekarang mengatakan bahwa Salib-Nya berada di luar lingkup kehidupan kita?

Bagaimana dengan beban-beban-Nya yang lain? Kita mengetahui dari kitab-kitab Injil bahwa Yesus juga menderita kelelahan, malam-malam tanpa tidur, malam hari yang dipakai oleh-Nya untuk berdoa setelah Dia berlelah-lelah sepanjang hari menyembuhkan orang sakit, mengusir roh-roh jahat dan mengajar orang banyak. Ia mengalami apa artinya sikap dan perilaku tidak tahu terima kasih dari banyak orang, juga setiap macam perlakuan yang tidak adil. Sukar bagi kita untuk memikirkan salib manusia yang tidak dipikul-Nya di depan kita.

DOA: Yesus, Tuhan dan Juruselamatku. Apabila aku dapat mengingat bagaimana Engkau menjalani kehidupan-Mu, barangkali beban-bebanku akan terasa jauh lebih ringan, dan hidupku pun akan menjadi lebih suci dan lebih berbahagia. Tuhan, jadikanlah aku murid-Mu yang setia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 8:18-22), bacalah tulisan yang berjudul “MENGIKUTI JEJAK KRISTUS” (bacaan tanggal 2-7-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-07 BACAAN HARIAN JULI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 27-6-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 29 Juni 2018 [HARI RAYA S. PETRUS & PAULUS, RASUL] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PEMIMPIN YANG MELAYANI

PEMIMPIN YANG MELAYANI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VIII – Rabu, 30 Mei 2018) 

Yesus dan murid-murid-Nya sedang dalam perjalanan ke Yerusalem dan Yesus berjalan di depan. Murid-murid merasa cemas dan juga orang-orang yang mengikuti Dia dari belakang merasa takut. Sekali lagi Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan Ia mulai mengatakan kepada mereka apa yang akan terjadi atas diri-Nya. “Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhkan hukuman mati kepada-Nya. Mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa lain, dan Ia akan diolok-olok, diludahi, dicambuk dan dibunuh, tetapi sesudah tiga hari Ia akan bangkit.”  

Lalu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya, “Guru, kami harap Engkau melakukan apa pun yang kami minta dari Engkau!” Jawab-Nya kepada mereka, “Apa yang kamu kehendaki Kuperbuat bagimu?”  Lalu kata mereka, “Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.”  Tetapi kata Yesus kepada mereka, “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum atau dibaptis dengan baptisan yang harus kuterima?”  Jawab mereka, “Kami dapat.” Yesus berkata kepada mereka, “Memang, kamu akan meminum cawan yang harus Kuminum dan akan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima. Tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang yang baginya hal itu telah disediakan.”  Mendengar itu kesepuluh murid yang lain menjadi marah kepada Yakobus dan Yohanes. Lalu Yesus memanggil mereka dan berkata, “Kamu tahu bahwa mereka yang diakui sebagai pemerintah bangsa-bangsa bertindak sewenang-wenang atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Siapa saja yang ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan siapa saja yang ingin menjadi yang pertama di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”   (Mrk 10:32-45) 

Bacaan Pertama: 1 Ptr 1:18-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 147:12-15,19-20 

Dalam nubuatan-Nya yang ketiga perihal kematian dan kebangkitan-Nya (lihat juga Mrk 8:31 dan Mrk 9:31), Yesus menambahkan detil-detil berikut ini; bahwa “bangsa-bangsa lain [orang-orang kafir = Romawi] akan mengolok-olok, meludahi, menyiksa dan membunuh-Nya” (Mrk 10:33-34). Markus juga menambahkan satu detil yang lebih signifikan, ketika dia menggambarkan peristiwa itu: Yesus berjalan di depan, naik menuju Yerusalem penuh kesadaran akan “nasib” yang menantikan-Nya di sana. Para murid “mengikuti Yesus dengan cemas dan orang-orang lain yang mengikuti-Nya merasa takut”. Mereka menuju ke mana? Menuju kematian-Nya! Menuju salib! Salib! Salib! Untuk ketiga kalinya, salib! Pesan itulah yang disampaikan oleh Yesus kepada para murid-Nya. Namun Ia melanjutkan, “….. sesudah tiga hari Ia akan bangkit”  (Mrk 10:34).

Berbagai narasi dalam Kitab Suci menunjukkan bahwa rasa cemas dan takut secara tetap menyertai peristiwa penerimaan pewahyuan ilahi, dan di sini Markus kelihatan ingin menyampaikan pesan bahwa kematian Yesus adalah seturut kehendak Allah. Masalahnya, apakah umat Kristiani perdana dan tentunya kita di zaman serba modern ini menerima apa yang dialami Yesus, serta sebagai murid-murid-Nya kita bersedia menerima “nasib” seperti itu? Bersediakah kita mati dulu, baru kemudian dibangkitkan?

Sekarang marilah kita merenungkan permintaan Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus. Apabila anda mempunyai satu keinginan, apa yang akan anda minta? Kesehatan yang baik dan umur panjang? Harta kekayaan? Kekuasaan? Pertobatan dari orang yang anda kasihi? Berbagai penghormatan dan puji-pujian dari orang-orang lain? Bagaimana dengan pekerjaan yang penuh arti, tetapi penuh penderitaan dan dengan imbalan eksternal yang boleh dikatakan sedikit?

Dalam kasus ini Yesus mengajukan pertanyaan sama seperti yang ditanyakan-Nya kepada Bartimeus: “Apa yang kamu kehendaki Kuperbuat bagimu?” (Mrk 10:36; bdk. Mrk 10:51). Nanti kita lihat Bartimeus menjawab: “Rabuni, aku ingin dapat melihat” (Mrk 10:51). Ini adalah sebuah “doa seorang miskin” yang lugu dan lugas, keluar dari hati yang tulus-penuh harap, seperti doa si penjahat yang bertobat di kayu salib (lihat Luk 23:42). Tanggapan Yesus sangat positif dan mukjizat pun terjadi. Lain halnya dengan dua murid kakak-beradik yang sudah lama mengikuti Yesus. Yakobus dan Yohanes meminta kursi kehormatan dan kewenangan dalam kerajaan Yesus (seakan satu mau jadi Menko Polkam, yang satu lagi mau jadi Menko Ekuin). Sebuah permintaan yang terasa agak “tidak tahu diri”, sehingga Yesus pun menjawab: “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta” (Mrk 10:38). Para murid Yesus yang lain pun menjadi marah, namun bukan berdasarkan alasan yang benar juga. Jelas kelihatan bahwa mereka cemburu karena merasa dilewati. Akan tetapi, di sini kita lihat Yesus dengan lemah lembut minta kepada kedua murid kakak beradik ini, apakah mereka siap untuk mengikuti Dia pada jalan satu-satunya menuju kerajaan-Nya, yaitu JALAN SALIB.

Karena dibaptis ke dalam kematian, semua orang Kristiani akan memerintah dengan Dia. Akan tetapi bagaimana kita dalam kehidupan sehari-hari mempraktekkan realitas persatuan kita dengan-Nya itu? Yesus mengatakan kepada kita, bahwa kita tak akan menemukan model-model yang baik dalam masyarakat sekular, di mana para pemimpin seringkali bertindak sewenang-wenang atas orang-orang yang mereka harus pimpin. Untuk ini kita harus melihat Yesus, yang datang sebagai “hamba bagi semua orang”, dan juga harus melihat mereka yang sungguh-sungguh  mengikuti jejak-Nya.

Salah seorang dari mereka adalah Ibu Teresa dari Kalkuta [1910-1997] yang dibeatifikasikan sebagai seorang beata pada tanggal 19 Oktober 2003 dan dikanonisasikan  sebagai seorang santa pada tanggal 4 September 2016 di Roma. Untuk kurun  waktu lebih dari 50 tahun, Ibu Teresa mengabdikan dirinya untuk pelayanan kepada orang-orang sangat miskin (the poorest of the poor) di seluruh dunia. Bersama dengan para saudari dan saudaranya yang bergabung dengan dia dalam kongregasi religiusnya, Ibu Teresa tidak sekadar menolong orang miskin, melainkan hidup di tengah-tengah mereka, memeluk suatu hidup kemiskinan dalam mengikuti jejak Yesus, yang menjadi miskin supaya kita menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya (lihat 2 Kor 8:9). Selagi Ibu Teresa menjalani gaya hidup miskin itu, dia menemukan kebenaran yang sama mengenai hal-hal yang Yesus coba ajarkan kepada Yakobus dan Yohanes mengenai prestise dan rasa hormat dunia. “Semakin banyak engkau memiliki, semakin banyak pula engkau disibukkan dengan milikmu itu. Semakin banyak engkau dibuat sibuk dengan milikmu itu, semakin sedikit pula engkau memberi. Akan tetapi semakin sedikit engkau memiliki, engkau pun semakin bebas. Kemiskinan bagi kami adalah sebuah kerajaan”, demikianlah menurut Ibu Teresa.

Karena Dia ingin agar dirinya dipenuhi hanya dengan Kristus, Ibu Teresa mampu memberi kasih dengan penuh kemurahan hati. Seringkali karya karitatif Ibu Teresa dan para susternya ini sangat melelahkan dan tanpa menerima ucapan terima kasih dari pihak mana pun, suatu unthankful job. Namun karya termaksud juga menjadi sumber kegembiraan, harapan dan pandangan sekilas tentang kemuliaan Allah. Marilah kita juga berjalan seturut teladan Ibu Teresa ini. Marilah kita memandang Yesus dengan penuh cinta kasih dan mohon Dia menolong kita agar dapat melayani sesama, seperti Dia telah lakukan dan juga seperti telah ditunjukkan oleh Ibu Teresa dari Kalkuta.

DOA: Roh Kudus Allah, Engkau menjunjung tinggi Yesus sepanjang hidup-Nya di muka bumi.  Berikanlah kepadaku mata iman agar dapat memandang Dikau. Berikanlah kepadaku hati yang penuh bela-rasa, untuk dapat mensyeringkan Yesus Kristus dengan orang-orang lain. Buatlah aku menjadi saksi hidup dari Kasih yang dapat mentransformasikan dunia. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 10:32-45), bacalah tulisan yang berjudul “BUKAN UNTUK DILAYANI, MELAINKAN UNTUK MELAYANI” (bacaan tanggal 25-5-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM https://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 25-5-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 27 Mei 2018 [HARI RAYA TRITUNGGAL MAHAKUDUS] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

IA AKAN MENERIMA HIDUP YANG KEKAL

IA AKAN MENERIMA HIDUP YANG KEKAL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VIII – Selasa, 29 Mei 2018)

Lalu Petrus berkata kepada Yesus, “Kami telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!” Jawab Yesus, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, setiap orang yang karena aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, atau saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, atau ibunya atau bapanya, atau anak-anaknya atau ladangnya, orang itu pada zaman ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal. Tetapi banyak orang yang pertama akan menjadi yang terakhir dan yang terakhir akan menjadi yang pertama.” (Mrk 10:28-31) 

Bacaan Pertama: 1Ptr 1:10-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4 

Petrus sungguh merasa prihatin. Ia telah meninggalkan segalanya untuk mengikut Yesus. Apakah yang dapat diharapkannya sebagai “ganjaran” kecuali berkat-berkat materiil? Tidak banyak bedanya dengan kita semua pada hari ini! Kita bertanya, “Apakah upah kita dalam mengikuti jejak Yesus? Apa yang dapat saya peroleh?” Tanggapan Yesus terhadap kita dalam hal ini sama saja dengan tanggapannya terhadap Petrus. Yesus menjanjikan berkat-berkat seratus kali lipat kepada setiap orang yang memberikan hati mereka kepada-Nya – namun Ia juga mengingatkan kepada mereka bahwa akan ada juga pengejaran dan penganiayaan. Yesus tidak pernah mengatakan bahwa semuanya akan mudah, akan tetapi Dia sungguh berjanji bahwa Dia akan menyertai kita selalu, dan pada zaman yang akan datang kita sebagai para pengikut-Nya pun akan menerima hidup yang kekal.

Oleh iman, kita dapat berdiri dengan kokoh, percaya sepenuhnya akan berkat-berkat Allah bagi kita. Dia akan senantiasa mencurahkan berkat-berkat-Nya dengan penuh kemurahan hati apabila kita memberikan hati kita kepada-Nya. Akan tetapi berkat Allah yang paling besar tidaklah berupa hal yang bersifat materiil melainkan kehadiran-Nya yang riil dan berdiam-Nya dalam diri kita. Dia ingin hadir dalam hati kita, sehingga manakala kita mati terhadap kehidupan lama kita, maka Dia dapat mulai hidup dalam diri kita, dan melalui diri kita itu membuat kita sebagai berkat bagi orang-orang lain. Artinya, kita menjadi perpanjangan berkat Allah bagi orang-orang lain. Allah ingin membebaskan hati kita dari kecemasan berkenan dengan urusan atau pernak-pernik dunia ini sehingga dengan demikian kita dapat melayani kebebasan-Nya kepada orang-orang lain.

Dipenuhi dengan kasih yang berkobar-kobar bagi kita, Yesus memanggil kita untuk melepaskan keterlekatan kita dari siapa saja dan apa saja yang selama ini lebih “top” bagi kita daripada diri-Nya. Yang dimaksudkan “apa saja” tadi, misalnya adalah suatu mimpi, cita-cita, sikap, masalah, rasa takut, ide bagaimana seharusnya pasangan hidup atau anak-anak kita jadinya, dlsb. Pokoknya siapa dan apa saja yang kita kasihi lebih daripada kasih kita kepada Yesus (dapat dikatakan sebagai “berhala”), harus kita letakkan pada altar Tuhan. Hanya dengan demikian kita dapat benar-benar bebas dan mengenal damai-sejahtera yang sejati.

Bagaimana dengan pengejaran dan penganiayaan? “Jika di negeri yang damai engkau tidak merasa tenteram, apakah yang akan engkau perbuat di hutan belukar sungai Yordan?” (Yer 12:5). Sikap dan perilaku orang lain yang dipenuhi kebencian terhadap diri kita, godaan-godaan dari Iblis, dan pertempuran kita melawan sikap serta perilaku kita yang mementingkan diri sendiri, semuanya ini merupakan realitas-realitas harian yang bahkan dapat meningkat sementara kita memberikan hati kita secara lebih penuh kepada Yesus. Bagi orang-orang yang sedang terbelenggu dalam kedosaan, realitas-realitas di atas dapat menjadi beban yang sungguh berat. Akan tetapi setiap orang yang hatinya sudah diserahkan kepada Yesus – setiap orang yang sedang mengembangkan suatu perspektif surgawi – dapat sampai memandang penderitaan-penderitaan sebagai berkat-berkat terselubung (blessings in disguise) karena buah yang dihasilkan: integritas, iman, keberanian, dan yang teristimewa adalah keintiman dengan Yesus sendiri.

DOA: Tuhan Yesus, kupersembahkan segala pujian dan kehormatan dan kemuliaan! Tolonglah aku agar mau dan mampu menempatkan hatiku di atas altarmu. Aku percaya akan segala berkat-Mu yang berlimpah atas diriku dan aku pun bersukacita dalam kemanisan kehadiran-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 10:28-31), bacalah tulisan yang berjudul “MEMPERSEMBAHKAN KESELURUHAN HIDUP KITA KEPADA YESUS” (bacaan tanggal 29-5-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-05 BACAAN HARIAN MEI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 28-2-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 27 Mei 2018 [HARI RAYA TRITUNGGAL MAHAKUDUS] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KUNCI MASUK KE DALAM KEBAHAGIAAN KEKAL

KUNCI MASUK KE DALAM KEBAHAGIAAN KEKAL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VIII – Senin, 28 Mei 2018)

OFS: Peringatan S. Maria Ana dr Paredes, Perawan Ordo III S. Fransiskus

Pada waktu Yesus meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seseorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya, “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus, “Mengapa kaukatakan Aku baik?” Tak seorang pun yang baik selain Allah saja. Engkau tentu mengetahui perintah-perintah ini: Jangan membunuh, jangan berzina, jangan mencuri, jangan memberi kesaksian palsu, jangan menipu orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!” Lalu kata orang itu kepada-Nya, “Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku.” Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya, “Hanya satu lagi kekuranganmu: Pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku.” Mendengar perkataan itu mukanya muram, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya.

Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka, “Alangkah sukarnya orang yang banyak harta masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Murid-murid-Nya tercengang mendengar perkataan-Nya itu. Tetapi Yesus berkata lagi, “Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Lebih mudah seekor unta melewati lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Mereka makin tercengang dan berkata seorang kepada yang lain, “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Yesus memandang mereka dan berkata, “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu mungkin bagi Allah.” (Mrk 10:17-27) 

Bacaan Pertama: 1Ptr 1:3-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 111:1-2,5-6.9,10c 

Ini adalah paradoks yang mengambil tempat sentral dalam Kekristenan (Kristianitas): Kita kehilangan yang kita miliki dan malah memperoleh keuntungan dari apa yang kita berikan! Ketika seorang kaya yang sudah memiliki segala kenyamanan materiil bertanya kepada Yesus tentang kunci masuk ke dalam kebahagiaan kekal, inilah kebenaran yang harus dia hadapi. Orang ini memiliki segalanya yang diperlukan, kecuali satu: “kemurahan hati” (lihat Mrk 10:21).

Sayang sekali, orang kaya ini takut melepaskan apa yang dimilikinya. Jelas-nyata di sini, dia belum pernah belajar rahasia besar bahwa memberi itu lebih baik daripada menerima. Dia tidak pernah belajar, bahwa setiap kita bermurah hati, maka kita malah lebih bersyukur untuk berkat-berkat yang telah dicurahkan Allah atas diri kita. Setiap kali kita memberi tanpa pamrih, artinya bersumber dari kebaikan hati, kita pun disadarkan betapa diperkayanya kita dalam hal-hal yang justru patut dimiliki: bela rasa, kerendahanhati (kedinaan), dan kebaikan. Kemurahan hati juga menunjukkan kepada kita bahwa semua orang diciptakan setara, dalam hal martabat dan nilai, tanpa melihat status sosial, latar belakang ras, atau status ekonomi dalam masyrakat. Akhirnya, kalau kita keluar untuk menolong “wong cilik” ciptaan Allah, maka kita menyentuh jantung-hati Allah.

Inilah yang terjadi dengan Santo Martinus dari Tours [316-397], seorang perwira tentara Romawi kelahiran Hungaria yang dibesarkan di Italia. Pada suatu malam dalam musim dingin, Martinus disertai pasukannya sedang dalam perjalanan dinas. Di tengah jalan ia bertemu dengan seorang pengemis yang sedang menggigil kedinginan. Ia tidak membawa uang, lalu dia melepas mantolnya dan dengan pedangnya dibelahnya mantol itu menjadi dua. Yang separuh diberikannya kepada pengemis itu. Martinus sudah lama tertarik untuk menjadi seorang Kristiani, tetapi sampai saat itu dia masih magang (katekumen). Pada malam harinya Martinus – dalam mimpinya – melihat Yesus di surga bersama para malaikat. Yesus mengenakan mantol yang telah diberikannya kepada pengemis tadi. Seorang malaikat bertanya: “Mengapa Engkau mengenakan mantol yang sudah rusak itu?” Yesus berkata kepada malaikat itu: “Dia seorang magang, tetapi sudah memberikan separuh mantolnya kepada-Ku”. Apa yang dilihatnya dalam mimpi membuat sadar Martinus, bahwa dengan memberi mantolnya kepada seorang pengemis yang kedinginan, sebenarnya dia memperhatikan Yesus sendiri (baca: Mat 25:31-46). Niatnya untuk menjadi seorang Kristiani sungguh diteguhkan oleh penglihatan dalam mimpinya. Tak lama kemudian ia pun dibaptis.

Bagaimana kita dapat bertumbuh dalam kemurahan hati? Pertama-tama  berterima kasihlah penuh syukur kepada Allah untuk kemurahan hati-Nya. Kedua, kita senantiasa harus berdoa untuk mereka yang membutuhkan. Ketiga, kita harus jeli melihat kesempatan-kesempatan untuk menolong seseorang yang sedang berjuang; turut serta dalam berbagai kegiatan karitatif dll. Marilah kita mohon kepada Allah agar memenuhi diri kita dengan kemurahan hati dan bela rasa terhadap sesama kita, sehingga dengan demikian kita akan menemukan kekayaan-kekayaan yang tidak dapat dibeli dengan uang.

DOA: Tuhan Yesus, siapa yang dapat mengalahkan kemurahan hati-Mu? Berikanlah kepadaku sebuah hati yang penuh kemurahan dan bela rasa. Terima kasih, ya Tuhan. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 10:17-27), bacalah tulisan yang berjudul “KELEKATAN PADA HAL-HAL DUNIAWI” (bacaan tanggal 28-5-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-05 BACAAN HARIAN MEI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 27-2-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 24 Mei 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KATA-KATA KERAS YESUS

KATA-KATA KERAS YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VII – Kamis, 24  Mei 2018)

Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang memberi kamu minum secangkir air oleh karena kamu adalah pengikut Kristus, ia tidak akan kehilangan upahnya.”

“Siapa saja yang menyebabkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya kepada-Ku ini berbuat dosa, lebih baik baginya jika sebuah batu giling diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut. Jika tanganmu menyebabkan engkau berbuat dosa, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan buntung daripada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan; [di tempat itu ulat-ulatnya tidak mati, dan api tidak terpadamkan.] Jika kakimu menyebabkan engkau berbuat dosa, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan timpang, daripada dengan utuh kedua kakimu dicampakkan ke dalam neraka; [di tempat itu ulat-ulatnya tidak mati, dan api tidak terpadamkan.] Jika matamu menyebabkan engkau berdosa, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu daripada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka, di mana ulat-ulatnya tidak mati dan api tidak terpadamkan.

Karena setiap orang akan digarami dengan api.

Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya?

Hendaklah kamu senantiasa mempunyai garam dalam dirimu dan hidup berdamai seorang dengan yang lain.” (Mrk 9:41-50) 

Bacaan Pertama: Yak 5:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 49:14-20

Dalam bacaan hari ini kita melihat sebuah koleksi dari kata-kata keras Yesus, yang satu sama lain terhubung secara lepas. Sebagian besar kata-kata keras ini merupakan peringatan-peringatan terkait skandal, menyebabkan orang lain berdosa, dan sebab-sebab dari dosa yang melibatkan diri kita. Kelompok ketiga dari kata-kata keras ini mengacu kepada berbagai macam penderitaan dan penganiayaan yang harus dilalui/dialami oleh para murid Yesus dalam hidup mereka di dunia.

Apa yang dikatakan Yesus adalah bahwa kita harus memegang prioritas-prioritas kita dengan tegas. Kita harus mempunyai nilai keselamatan jika kita mau menghindari segala sesuatu yang menyebabkan nilai keselamatan tersebut menjadi berantakan, baik dalam kehidupan orang-orang lain maupun dalam kehidupan kita sendiri.

Untuk menanamkan hal ini dalam diri para murid-Nya (termasuk anda dan saya di abad ke-21 ini), Yesus menggunakan beberapa imaji yang sangat kuat. Misalnya, “Siapa saja yang menyebabkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya kepada-Ku ini berbuat dosa, lebih baik baginya jika sebuah batu giling diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut” (Mrk 9:42). “… setiap orang akan digarami dengan api” (Mrk 9:49). Murid-murid Yesus yang sejati akan ditempa dan dikuatkan melalui pengejaran dan penganiayaan. Ketika Markus mencatat kata-kata Yesus ini, sangat mungkin bahwa umat Kristiani telah mengalami berbagai pengejaran dan penganiayaan. Inilah yang membuat kata-kata Yesus sungguh relevan bagi kita semua, para murid-Nya.

Apakah kita menyadari bahwa ada kemungkinan kata-kata kita atau tindakan-tindakan kita menggiring seseorang ke dalam jurang dosa? Yesus menginginkan agar kita melihat dengan sungguh-sungguh peri kehidupan kita. Apakah kita senantiasa memberikan pengaruh positif atas diri orang-orang lain?

Bagaimana dengan prioritas-prioritas kita? Kita mengetahui bahwa hal-hal tertentu, kegiatan-kegiatan tertentu adalah dosa. Apakah kita cukup memberi nilai atas relasi kita dengan Tuhan guna menghindari hal-hal dan kegiatan-kegiatan dimaksud dengan penuh kesadaran?

Memang kini kita di Indonesia tidak sedang berada di tengah gelombang pengejaran dan penganiayaan seperti yang dialami oleh para Saudari dan Saudara kita di tempat-tempat lain di dunia, namun dalam artian tertentu tanda-tanda yang mengarah ke situ sudah terasa. Walaupun seandainya tidak ada pengejaran dan penganiayaan yang mengancam kita, keselamatan kita berada dalam bahaya disebabkan oleh nilai-nilai duniawi yang terus saja mengganggu kita. Apakah kita sudah cukup ditempa dengan disiplin, dengan Sabda Allah untuk tetap hidup di dunia sebagai murid-murid Yesus yang setia?

DOA: Bapa surgawi, Engkau mengutus Putera-Mu, Yesus, guna menyelamatkan kami semua. Kami mengakui bahwa Ia adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Oleh Roh Kudus, bentuklah kami menjadi murid-murid Yesus yang setia. Buatlah hati kami seperti hati-Nya. Kemuliaan kepada Bapa dan Putera dan Roh Kudus, seperti pada permulaan, sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 9:41-50), bacalah tulisan yang berjudul “MOHON BIMBINGAN ROH KUDUS AGAR KITA DAPAT MENEMUKAN CARA-CARA PRAKTIS MELAWAN DOSA” (bacaan tanggal 24-5-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-05 BACAAN HARIAN MEI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 23-2-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 21 Mei 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS