Posts tagged ‘KEMURIDAN’

MATIUS SI PEMUNGUT CUKAI

MATIUS SI PEMUNGUT CUKAI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S. Matius, Rasul Penginjil – Kamis, 21 September 2016) 

Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di tempat pemungutan cukai, lalu Ia berkata kepadanya, “Ikutlah Aku.”  Matius pun bangkit dan mengikut Dia. Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya. Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus, “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Yesus mendengarnya dan berkata, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi, pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (Mat 9:9-13) 

Bacaan Pertama:  Ef 4:1-7,11-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 19: 2-5 

Pajak/cukai dan dan para pemungut/pertugasnya tidak pernah populer di  mata publik. Hal seperti itu terjadi di mana saja, termasuk di negara kita tercinta seperti ini. Bukan sekali dua kali saya pribadi mempunyai pengalaman buruk dalam hal penyelesaian pajak tahunan saya. Laporan yang sudah benar dikatakan salah, pembayaran sudah benar dikatakan kurang-bayar, kelebihan pembayaran pajak dan disumbangkan kepada negara malah dimarahi-marahi oleh petugas pajak, dlsb. Ujung-ujungnya ……? Anda sudah tahu jawabnya, kan? Kalau tidak begitu, apa kata dunia …?

Nah, petugas cukai/pajak pada zaman Romawi juga sama jeleknya, malah dapat dikatakan lebih keterlaluan lagi. Mereka lebih menyerupai para pengusaha kaya daripada PNS. Dalam hal pemungutan pajak/cukai pemerintahan Romawi menerapkan sistem kontrak yang di-‘tender’-kan. Penawar tertinggi akan memenangkan tender dan mendapat kontrak itu (misalnya orang seperti Zakheus; Luk 19:1-10). Pemerintah (penjajah) memperoleh penghasilan dari pihak yang berkontrak, dan dia dapat bebas menetapkan jumlah pajak di mana telah diperhitungkan keuntungan yang diinginkannya. Ini adalah praktek ekonomi bebas dalam artinya yang paling buruk, karena melibatkan pemaksaan, korupsi, penipuan dlsb., dan semuanya itu didukung dengan pembenaran dan perlindungan secara hukum.

Ada tarif pajak pada waktu itu yang sampai mencapai 25%. Pemungutan uang tol dan bea-cukai yang relatif tinggi menyebabkan tidak dimungkinkannya para petani untuk menjual hasil panen mereka di luar daerah pajak mereka. Sebagian terbesar petani itu miskin atau berhutang kepada para pemungut pajak atau rentenir. Ketidakpopuleran pajak/cukai pemerintahan Romawi dibuat menjadi lebih buruk lagi oleh kenyataan bahwa penghasilan pajak/cukai hanya menguntungkan pihak penjajah dan tidak membantu pemenuhan berbagai kebutuhan lokal. Para pemungut pajak/cukai tidak hanya dibenci karena membuat keuntungan dengan merugikan banyak orang lain, melainkan juga karena mereka dipandang sebagai para pengkhianat terhadap identitas dan kebaikan bangsa Yahudi.

Inilah konteks dari segala “kehebohan” yang terjadi di kalangan orang Farisi ketika Yesus memanggil seorang pemungkut cukai yang bernama Lewi (Matius) dan kemudian menghadiri acara makan-minum di rumahnya. Kita dapat menduga bahwa dia adalah seorang “sukses” yang sibuk, tanpa banyak pertimbangan atas implikasi moral dari pekerjaannya. Kita juga dapat menduga bahwa Matius bukanlah seorang Yahudi saleh, karena tidak mungkinlah seorang Yahudi saleh bekerja sebagai seorang pemungkut cukai. Barangkali dia adalah seorang yang bersikap acuh-tak-acuh terhadap Allah dan keberadaan-Nya. Akan tetapi Yesus, sang rabi-keliling dari Nazaret, telah menyentuh hatinya dan mengubah-Nya. Dan, perjumpaannya dengan Yesus yang telah mengubah hidupnya itu mempengaruh Gereja sampai hari ini.

Allah dapat memanggil siapa saja, dapat menggunakan siapa saja, untuk mencapai tujuan-Nya. Para pemungut pajak/cukai dan para pelacur datang kepada Yesus dengan tulus hati sehinga Dia membandingkan mereka dengan para pemuka agama Yahudi: “Sesungguhnya Aku berkata, pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan pelacur akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Mat 21:31). Allah juga dapat melakukan keajaiban-keajaiban dalam kehidupan kita, asal saja kita memperkenankan Dia melakukan hal-hal itu, artinya …… asal saja kita “memberi izin” kepada-Nya. Matius maju terus dan sungguh menjadi seorang Rasul dan ia adalah salah seorang penyusun kitab Injil. Percayalah bahwa hal-hal besar dapat terjadi dengan kita masing-masing, asal saja kita memperkenankan-Nya menyentuh hati kita.

DOA: Bapa surgawi, hari ini kami mendoakan teman-teman kami yang begitu sibuk bekerja sehari-hari sehingga bersikap acuh-tak-acuh terhadap Engkau dan keberadaan-Mu. Kami berdoa agar oleh  kuasa Roh Kudus-Mu hidup mereka disentuh sehingga dengan demikian mereka akan datang melayani Engkau dengan sepenuh hati, pikiran dan tenaga mereka.  Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Ef 4:1-7,11-13), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS DATANG UNTUK MEMANGGIL ORANG BERDOSA” dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-9-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 20 September 2016 [Peringatan S. Andreas Kim Tae-gon, Imam dan Paulus Chong Ha-sang dkk., para martir Korea]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

AKAN MELIHAT HAL-HAL YANG LEBIH BESAR

AKAN MELIHAT HAL-HAL YANG LEBIH BESAR

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S. Bartolomeus, Rasul – Kamis, 24 Agustus 2017) 

Filipus menemui Natanael dan berkata kepadanya, “Kami telah menemukan Dia yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret.”  Kata Natanael kepadanya, “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?”  Kata Filipus kepadanya, “Mari dan lihatlah!”  Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia, “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!”  Kata Natanael kepada-Nya, “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!”  Yesus berkata, “Apakah karena Aku berkata kepadamu, ‘Aku melihat engkau di bawah pohon ara,’ maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar daripada itu.”  Lalu kata Yesus kepadanya, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah naik turun kepada Anak Manusia.”  (Yoh 1:45-51) 

Bacaan Pertama: Why 21:9b-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:10-13,17-18   

Yesus menjanjikan Natanael (yang dalam tradisi disamakan dengan Bartolomeus), “Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar daripada itu” (Yoh 1:50) setelah ucapan pujian Natanael kepada-Nya, “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!” (Yoh 1:49). Sesungguhnya, sementara dia mengikuti Yesus sampai akhir hidupnya, Natanael memang melihat banyak hal-hal yang lebih besar. Ia melihat Yesus membuat begitu banyak mukjizat dan tanda heran. Ia sendiri bersama para rasul yang lain mempunyai pengalaman menyembuhkan orang-orang sakit, mengusir roh-roh jahat dan berkhotbah di depan orang banyak. Kita dapat mengatakan, bahwa bagi Natanael, bagian dari tindakan mengikuti Yesus berarti pernyataan terus-menerus dari misteri-misteri surgawi dan suatu penyingkapan yang berkesinambungan dari kuasa Allah untuk melepaskan dan memulihkan.

Kata-kata Yesus di sini menunjuk pada suatu dimensi yang sangat penting dalam kehidupan iman kita sendiri. Seperti Natanael, kita juga mampu melihat dan mengalami “hal-hal yang lebih besar” dari tahun ke tahun sejalan dengan pertumbuhan kehidupan Kristiani kita di bawah naungan rahmat Allah.

Teristimewa dalam doa lah – hubungan paling akrab dengan Yesus yang kita dapat ketahui – kita dapat mengharapkan Yesus untuk menunjukkan hal-hal besar kepada kita. Sebuah dunia tanpa batas dari kemuliaan surgawi menantikan kita setiap setiap saat kita mengangkat hati kita ke surga untuk menyembah Yesus dan menerima cintakasih-Nya. dan kemuliaan itu mencakup pemahaman akan kasih dan hikmat Allah serta dalam hasrat-Nya untuk mentransformasikan dunia. Kita dapat “memindahkan gunung” dalam kehidupan orang-orang di sekeliling kita tidak hanya melalui kerja aktif, melainkan juga melalui doa-doa kita. Dan menyaksikan hati orang-orang yang berubah menjadi lebih baik, barangkali merupakan “hal-hal yang lebih besar” yang dapat kita lihat.

Yesus menginginkan diri-Nya dikenal dan dikasihi dalam dunia ini. Dia ingin menunjukkan kepada orang-orang realita siapa sesungguhnya Dia. Seringkali, Dia akan menggunakan kita (anda dan saya) sebagai para pengikut-Nya, untuk melakukan hal ini. Dengan demikian janganlah kaget, apabila hal-hal yang menakjubkan terjadi di sekeliling kita sebagai akibat doa-doa dan ketaatan kita pada Roh Kudus. Yesus mengasihi kita masing-masing dan ingin menggunakan kita untuk menyatakan diri-Nya kepada orang-orang lain. Ia mempunyai suatu masa depan yang direncanakan-Nya bagi kita yang hanya menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Oleh karena itu seharusnyalah kita mengatakan “ya” kepada-Nya, dan kemudian memperhatikan perjalanan masa depan kita masing-masing yang akan dipenuhi dengan “hal-hal yang lebih besar”.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau membukakan surga bagiku melalui doa-doaku dan pernyataan diri-Mu. Tuhan, tolonglah aku agar dapat melihat Engkau melakukan hal-hal yang lebih besar melalui diriku selagi aku tetap dekat pada-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Yoh 1:45-51), bacalah tulisan yang berjudul “SEORANG PRIBADI TANPA KEPALSUAN ” (bacaan tanggal 24-8-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 24-8-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 22 Agustus 2017 [Peringatan SP Maria, Ratu] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

DAN AKAN MEMPEROLEH HIDUP YANG KEKAL

DAN AKAN MEMPEROLEH HIDUP YANG KEKAL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XX – Selasa, 16 Agustus 2016)

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sekali lagi Aku berkata, lebih mudah seekor unta masuk melalui lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Ketika murid-murid mendengar itu, sangat tercengang mereka dan berkata, “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Yesus memandang mereka dan berkata, “Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin.”

Lalu Petrus berkata kepada Yesus, “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?” Kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel. Setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki dan saudaranya perempuan, atau bapak atau ibunya, atau anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal.

Tetapi banyak orang yang pertama akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang pertama.” (Mat 19:23-30)  

Bacaan Pertama: Hak 6:11-2a; Mazmur Tanggapan: Mzm 85:9,11-14 

Dalam bacaan Injil sebelum ini (Mat 19:16-22), terlihat bahwa sukar dan tidak mungkinlah bagi si orang muda kaya itu untuk menerima undangan Yesus, karena keterlekatannya pada harta miliknya. Ada kalimat yang terasa sangat menyedihkan dalam bacaan Injil itu: “Mendengar perkataan itu, pergilah orang muda itu dengan sedih, sebab banyak hartanya” (Mat 19:22).  Orang muda kaya itu tidak mampu mengambil jalan yang disediakan Yesus menuju kehidupan kekal karena kekayaannya yang berlimpah tegak berdiri sebagai penghalang di tengah-tengah antara dirinya dan Yesus serta kehidupan kekal yang dijanjikan-Nya kepada setiap murid-Nya.

Kejadian ini memberi kesempatan bagi Yesus untuk mengajar bagaimana harta kekayaan dapat sungguh menjadi suatu penghalang terhadap kemuridan. Akhirnya, Yesus mengatakan kepada para murid-Nya, bahwa semakin banyak harta kekayaan yang kita miliki, semakin susah pula bagi kita untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Kerajaan Allah adalah karunia dari Allah yang tidak bisa dibeli dengan uang.

Harta kekayaan tentu saja dapat menjauhkan kita dari Kerajaan Allah, teristimewa  harta kekayaan yang diperoleh melalui kecurangan atau kegiatan yang tidak etis. Lagipula, sekali kita memiliki harta kekayaan yang banyak, hal itu dapat mengisolir kita dari orang-orang lain dan malah dapat membawa kita kepada kegiatan eksploitasi dan opresi terhadap orang-orang lain. Katekismus Gereja Katolik (KGK) mengingatkan kita tentang bahaya-bahaya dari suatu hasrat akan uang (cinta uang) yang tidak teratur:

“Satu teori, yang menjadikan keuntungan sebagai patokan yang satu-satunya dan sebagai tujuan terakhir dari segala kegiatan ekonomi tidak dapat diterima secara moral. Kerasukan akan uang yang tidak terkendalikan menimbulkan akibat-akibat buruk. Ia adalah salah satu sebab dari banyak konflik yang mengganggu tata masyarakat. Sistem-sistem, yang ‘mengorbankan hak-hak azasi perorangan serta kelompok-kelompok demi organisasi kolektif penyelenggara produksi’, bertentangan dengan martabat pribadi manusia (Gaudium et Spes 65,2). Segala sesuatu yang merendahkan manusia menjadi sarana guna memperoleh keuntungan, memperhamba manusia, mengantar ke pendewaan uang dan menambah penyebarluasan ateisme. ‘Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon’ (Mat 6:24; Luk 16:13)” (KGK 2424).

Setelah Yesus memberi pengajaran-Nya mengenai harta kekayaan, Ia berjanji kepada para murid-Nya yang sedang merasa bingung, bahwa mereka yang telah meninggalkan keluarga dan harta milik mereka demi mengikuti jejak-Nya sebagai murid-murid-Nya akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal. Pada akhirnya, Anak Manusia akan bersemayam di takhta kemuliaan-Nya (Mat 19:28-29). Kemudian segala peristiwa itu akan menjadi lengkap dalam Yesus. Peristiwa-peristiwa yang kelihatannya membingungkan sekarang akan menjadi masuk akal pada masa mendatang. Pengharapan kita berakar pada kenyataan bahwa melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Tuhan Yesus telah membuat mungkin bagi kita untuk hidup di jalan sebagaimana yang telah diajarkan-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, curahkanlah kepadaku rahmat untuk mencari terlebih dahulu Kerajaan Allah dan untuk menaruh kepercayaan pada kasih-Mu yang berkelimpahan kepadaku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 19:23-30), bacalah tulisan yang berjudul “BERGURU PADA SEEKOR UNTA” (bacaan tanggal 22-8-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 16-8-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  21 Agustus 2017 [Peringatan S. Pius X, Paus] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

ADA YANG MASIH KURANG PADA DIRI ANAK MUDA INI

ADA YANG MASIH KURANG PADA DIRI ANAK MUDA INI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Pius X, Paus – Senin, 21 Agustus 2017)

Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata, “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus, “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah.” Kata orang itu kepada-Nya, “Perintah yang mana?” Kata Yesus, “Jangan membunuh, jangan berzina, jangan mencuri, jangan memberi kesaksian palsu, hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kata orang muda itu itu kepada-Nya, “Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?” Kata Yesus kepadanya, “Jikalau engkau hendak hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Mendengar perkataan itu, pergilah orang muda itu dengan sedih, sebab banyak hartanya. (Mat 19:16-22)  

Bacaan Pertama: Hak 2:11-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:34-37,39-40,43-44

“Apa lagi yang masih kurang?” (Mat 19:20). Orang muda yang bertanya kepada Yesus ini tahu bahwa masih ada sesuatu yang kurang pada dirinya. Dapat kita rasakan bahwa sebenarnya dia mendatangi Yesus dan bertanya kepada Yesus karena dengan tulus hati berhasrat untuk menyenangkan Allah, karena bukankah dia sudah mematuhi perintah-perintah Allah yang disebutkan oleh Yesus? Di sisi lain Yesus tahu benar bahwa orang muda ini tidak akan mampu menemukan “harta kekayaan rohani” yang dicarinya, kalau dia tidak belajar melepaskan diri dari kelekatan-kelekatan pada harta benda duniawi. Oleh karena itu Yesus melanjutkan dengan sebuah pengajaran singkat: “Jikalau engkau hendak hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku” (Mat 19:21). Kalau “perintah” Yesus ini dilaksanakan oleh orang muda kaya ini, maka mungkin sekali dia akan menjadi salah seorang murid-Nya yang terbaik. Namun kenyataan menyatakan lain: dia “ngeloyor”pergi dengan sedih. Teks Injil melanjutkan alasannya: “karena banyak hartanya” (Mat 19:22).

Panggilan Yesus kepada pemuridan/kemuridan adalah sebuah panggilan untuk meninggalkan diri kita sendiri di belakang sehingga dengan demikian kita dapat mengasihi Allah dan sesama kita. Panggilan kepada pemuridan ini pada awal-awalnya dapat menjadi semacam ancaman, dalam arti sampai berapa jauh kita dapat tergoda untuk menetapkan batas berapa jauh kita mau maju dalam mematuhi dua perintah terutama ini: MENGASIHI ALLAH DAN MENGASIHI SESAMA (lihat Mrk 12:28-34). Bahkan kita barangkali mencoba untuk ‘menyibukkan-diri’ dengan berbagai devosi rohani yang dapat melindungi kita dari kebutuhan akan penyerahan-diri yang aktif dan sejati.

Yesus mengundang orang muda kaya ini untuk menjual segala miliknya dan memberikannya kepada orang-orang miskin (Mat 19:21). Apakah hal ini tidak menunjukkan adanya hubungan antara mengasihi Allah dan mengasihi sesama? Sesungguhnya dua “tindakan mengasihi” itu tergabung dan bercampur dengan indahnya dalam suatu cara yang akrab penuh keintiman: Ketika kita memenuhi “perintah baru” Yesus untuk saling mengasihi, maka sesungguhya kita mengasihi Allah. “Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita” (1Yoh 1:12).

Setiap hari dalam kehidupan kita, kita diberkati dengan begitu banyak kesempatan untuk mewujudkan cintakasih radikal ini ke dalam tindakan-tindakan nyata. Misalnya ketika kita mengunjungi orang yang paling “nyebelin”, atau “menyusahkan” kita; ketika kita menunjukkan sikap sabar terhadap seorang anak dalam keluarga yang terasa selalu mencoba kesabaran kita; semua ini sebenarnya dapat diartikan bahwa kita sedang “menjual” apa yang kita miliki, lalu mengikuti Yesus. Apabila kita menggunakan waktu kita yang sangat berharga atau talenta kita untuk menjadi “Kristus-Kristus kecil” bagi orang-orang yang membutuhkan pertolongan dan/atau kehadiran kita, sebenarnya di sini kita sedang mengasihi Allah. Ini adalah jalan menuju kesempurnaan yang diajarkan oleh Yesus kepada para murid-Nya sepanjang zaman. Bukankah jalan ini yang diambil oleh St. Fransiskus dari Assisi, St. Klara dari Assisi dan para kudus lainnya? Jadi apakah tanggapan anda terhadap “undangan” Yesus pada hari ini?

DOA: Tuhan Yesus, semua jaminan-keamanan hidupku terletak di tangan-Mu. Bimbinglah tindakan-tindakanku, ya Tuhan, dan utuslah aku untuk bekerja di ladang-Mu dengan cintakasih-Mu. Semoga aku mengenal dan mengalami kuasa Roh Kudus-Mu yang mampu mengubah apa pun juga. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 19:16-22), bacalah tulisan yang berjudul “HENDAK SEMPURNA?” (bacaan tanggal 21-8-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 15-8-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  18 Agustus 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

HANYA ORANG RENDAH HATI SAJA YANG TERBUKA BAGI RAHMAT ALLAH

HANYA ORANG RENDAH HATI SAJA YANG TERBUKA BAGI RAHMAT ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIX – Selasa, 15 Agustus 2017)

 

Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya, “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?” Lalu Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka dan berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sedangkan siapa saja yang merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Siapa saja yang menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.”

“Ingatlah, jangan menganggap rendah salah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di surga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di surga.”

“Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu daripada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. Demikan juga Bapamu yang di surga tidak menghendaki salah seorang dari anak-anak ini hilang.” (Mat 18:1-5,10,12-14) 

Bacaan Pertama: Ul 31:1-8; Mazmur Tanggapan: Ul 32:3-4a,7-9,12 

Dalam Injil kita dapat melihat suatu kualitas pribadi yang sangat istimewa dari Yesus, yaitu kelemah-lembutan-Nya terhadap anak-anak, terhadap orang-orang miskin, dan terhadap para pendosa yang bertobat. Ia mengajarkan kepada kita bahwa orang-orang ini secara istimewa dekat pada Allah, dengan demikian Ia mengasihi mereka secara istimewa pula. “Siapa saja yang menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku” (Mat 18:5).

Cara terbaik untuk menguji kualitas cintakasih kita, untuk melihat sampai berapa sejati dan Kristiani-nya cintakasih itu, adalah untuk menguji cintakasih kita bagi “mereka yang kecil-kecil”, bagi anak-anak, bagi orang-orang miskin, bagi mereka yang paling sedikit diberkati dalam artian dunia.

Marilah kita merenungkan bagaimana Putera Allah sendiri memilih untuk datang ke tengah dunia. Dia tidak dilahirkan dalam istana raja, bukan pula di tengah keluarga bangsawan atau keluarga kaya-raya, bukan di atas tempat tidur yang terbuat dari emas dengan kasur dan bantal-bantal yang empuk serta kain mahal sebagai seprei. Tidak ada pelayan-pelayan perempuan yang menjaga, juga tidak ada wartawan yang akan meliput berita tentang diri-Nya. Yesus memilih kemiskinan dan kesederhanaan, sebuah gua/kandang dingin dan gelap yang sebenarnya diperuntukkan bagi hewan-hewan peliharaan. Yesus memilih sepasang orangtua yang tergolong paling miskin, palungan yang sederhana-murahan, makanan yang sederhana, …… tidak ada kenyamanan dan tidak ada publisitas. Yesus tidak memilih kaisar atau gubernur sebagai sahabat-sahabat-Nya yang pertama. Pada kenyataannya, seorang raja – Herodus – adalah musuh-Nya yang paling jahat. Para sahabat Yesus yang pertama adalah gembala-gembala yang bodoh, miskin, dan berbau badan sama seperti domba-domba mereka.

Yesus mengasihi anak-anak karena mereka pada umumnya jujur, inosens, memiliki hati yang terbuka, dan murni. Yesus juga  mengasihi para pelacur dan pemungut cukai yang dijuluki pendosa-pendosa oleh orang-orang Farisi, karena mereka adalah orang-orang sederhana dan sungguh-sungguh bertobat. Mereka memiliki hati yang baik, dan mereka mau kembali menjadi inosens seperti anak kecil. Mereka juga mendengarkan dan dengan penuh kemauan menanggapi belas-kasih Allah.

Inilah orang-orang yang sungguh rendah-hati; mereka yang kecil pada pandangan mata mereka sendiri. Mereka tidak menjadi munafik, tidak adil, sombong, sia-sia, atau tidak jujur. Mereka adalah orang-orang dina atau rendah-hati yang dikasihi oleh Yesus. Yesus bersabda: “Siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Mat 23:12). Hanya orang yang rendah-hati saja yang terbuka untuk menerima rahmat Allah. Hanya orang-orang seperti ini yang memiliki hikmat-spiritual untuk mohon pengampunan dari Allah, dan menghormati orang-orang kecil – wong cilik – yang dikasihi Allah.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Oleh kuasa Roh Kudus-Mu, bentuklah diriku agar menjadi inosens kembali seperti anak kecil, sehingga dengan demikian aku pun dapat masuk ke dalam Kerajaan-Mu. Jadikanlah aku seorang pribadi yang sungguh memiliki kerendahan-hati dan berkenan kepada-Mu. Dengan terang-Mu, pimpinlah jalanku untuk melayani orang-orang lain menjadi murid-murid-Mu juga. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 18:1-5,10,12-14), bacalah tulisan yang berjudul “SEPERTI ANAK KECIL, TETAPI BUKAN KEKANAK-KANAKAN” (bacaan tanggal 15-8-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 14 Agustus 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SIAPA SEBENARNYA YESUS ITU

SIAPA SEBENARNYA YESUS ITU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Maksimilianus Maria Kolbe, Imam Martir – Senin, 14 Agustus 2017)

OFM Conv.: Pesta S. Maksimilianus Maria Kolbe, Imam Martir  

Pada waktu Yesus dan murid-murid-Nya bersama-sama di Galilea, Ia berkata kepada mereka, “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia dan mereka akan membunuh Dia dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan.” Hati murid-murid-Nya itu pun sedih sekali.

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya tiba di Kapernaum datanglah pemungut pajak Bait Allah kepada Petrus dan berkata, “Apakah gurumu tidak membayar pajak sebesar dua dirham itu?” Jawabnya, “Memang membayar.” Ketika Petrus masuk rumah, Yesus mendahuluinya dengan pertanyaan, “Apakah pendapatmu, Simon? Dari siapakah raja-raja dunia ini memungut bea atau pajak? Dari rakyatnya atau dari orang asing?” Jawab Petrus, “Dari orang asing!” Lalu kata Yesus kepadanya, “Jadi, bebaslah rakyatnya. Tetapi supaya jangan kita membuat mereka gusar, pergilah memancing ke danau. Tangkaplah ikan pertama yang kaupancing dan bukalah mulutnya, maka engkau akan menemukan mata uang empat dirham di dalamnya. Ambillah itu dan bayarkanlah kepada mereka, bagi-Ku dan bagimu juga.” (Mat 17:22-27) 

Bacaan Pertama: Ul 10:12-22; Mazmur Tanggapan: Mzm 147:12-15,19-20 

Dalam sejumlah bacaan Injil Matius selama ini sampai pada hari ini, penulis Injil memusatkan perhatiannya pada proses yang menyangkut para murid Yesus dalam memahami siapa Yesus sesungguhnya (Mat 13:53-17:27). Mereka (para murid) telah menyaksikan dengan mata sendiri bagaimana Yesus memberi makan ribuan orang dengan “modal” lima roti dan dua ekor ikan (Mat 14:13-21); mereka telah melihat sendiri bagaimana Yesus berjalan di atas air (Mat 14:26); mereka telah menyaksikan Yesus menyembuhkan secara fisik orang-orang yang menderita berbagai sakit penyakit (Mat 14:34-36); dan mereka juga telah menyaksikan sendiri bagaimana Yesus mengusir roh-roh jahat yang merasuki orang-orang (Mat 17:14-20).

Seakan semuanya ini tidak cukup, Petrus, Yakobus dan Yohanes menyaksikan transfigurasi Yesus di atas gunung dan mereka mendengar suara Allah yang memproklamasikan: “Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia” (Mat 17:5). Melalui tanda-tanda dan tindakan-tindakan ini, para murid sampai juga percaya bahwa Yesus adalah Mesias, Putera Allah yang telah datang untuk menyelamatkan umat manusia. Yesus meneguhkan realitas siapa diri-Nya lewat kata-kata yang diucapkan-Nya kepada para murid-Nya.

Ramalan akan sengsara dan cerita mengenai pembayaran pajak Bait Allah memberikan dua indikasi jelas kepada para murid Yesus perihat siapa diri-Nya (Mat 17:22-23,24-27). Pertama-tama, Yesus memproklamasikan diri-Nya sebagai “Anak Manusia”. Sebutan “Anak Manusia” ini sebenarnya mengacu kepada penglihatan Daniel tentang ‘seorang’ makhluk surgawi yang telah diberi “kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaanya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah” (Dan 7:14; bdk. Mat 17:22; Mat 28:18).

Kemudian Yesus mengidentifikasikan diri-Nya dengan anak-anak raja yang tidak diwajibkan untuk membayar pajak kepada ayah mereka yang raja (Mat 17:25); maksudnya bahwa Dia tidak perlu membayar pajak keagamaan untuk pemeliharaan rumah ibadat, karena Dia adalah Putera dari sang Pemilik rumah ibadat itu. Jadi, Yesus itu tidak sekadar seorang tabib penyembuh atau seorang pengkhotbah atau rabi; Dia juga jauh lebih daripada sekadar seorang pembuat mukjizat dan tanda heran lainnya. Yesus adalah “Anak Manusia”, yang seturut rancangan ilahi ‘ditakdirkan’ untuk mempunyai kekuasaan atas semua orang selamanya; Dia adalah Putera dari Allah yang mahakuasa, Khalik langit dan bumi.

Kita semua juga dipanggil untuk mengenal secara mendalam siapa Yesus sebenarnya. Oleh karena itu dengan penuh kesadaran baiklah kita mencari Yesus dalam liturgi, dalam doa, dan ketika kita mendengar sabda-Nya dalam kata-kata yang terdapat dalam Kitab Suci. Kita memohon kepada-Nya agar Dia menyatakan diri-Nya kepada kita tentang siapa Dia. Kita harus yakin bahwa Yesus akan menyatakan diri-Nya kepada kita, sebagaimana telah dilakukan-Nya kepada para murid-Nya yang pertama.

DOA: Tuhan Yesus, kami ingin mengenal-Mu lebih baik lagi. Nyatakanlah kepada kami keagungan-Mu dan kemuliaan-Mu sebagai Anak Manusia dan Putera Allah. Kami ingin menjadi murid-murid-Mu yang baik, yang senantiasa setia dalam mengikuti jejak-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 17:22-27), bacalah tulisan yang berjudul “BERMURAH-HATI KEPADA ALLAH DAN SESAMA” (bacaan tanggal 14-8-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 8-8-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 11 Agustus 2017 [Pesta S. Klara dr Assisi, Perawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

BIAYA KEMURIDAN DALAM MENGIKUT YESUS

BIAYA KEMURIDAN DALAM MENGIKUT YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Klara, Perawan – Jumat, 11 Agustus 2017)

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta S. Klara dr Assisi, Perawan – Ordo II

Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Jika seseorang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi siapa yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi mailakat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Di antara orang yang di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya.” (Mat 16:24-28) 

Bacaan Pertama: Ul 4:32-40; Mazmur Tanggapan: Mzm 77:12-16,21

Siapa saja yang ingin menekuni profesi yang membutuhkan keterampilan tertentu, mengakui bahwa ada “biaya” atau “harga” yang harus dibayar untuk memperoleh privilese tersebut. Studi, magang dan ketekunan dibutuhkan untuk mempelajari profesi, dan selama masa tersebut banyak hal lain harus dikesampingkan/dikorbankan.

Dengan cara serupa, Yesus mengajar bahwa ada “biaya” yang harus dibayar untuk mengikut Dia. Yesus mengatakan kepada para murid-Nya bahwa Dia sedang menuju Yerusalem untuk menderita dan mati (Mat 16:21). Mereka yang menjadi murid/pengikut-Nya harus memikul salib karena seorang hamba/pelayan haruslah seperti tuannya (Mat 16:24; 10:24-25).

Memikul salib bukanlah masalah dengan sedih menanggung sengsara atau kesulitan hidup, atau mendisiplinkan diri kita agar dapat melakukan hal-hal yang benar secara moral. Salib seharusnya tidak dipandang sebagai sebuah instrumen kesedihan dan kematian saja, melainkan sebagai instrumen pilihan Allah sendiri untuk mengalahkan kuasa dosa. Melalui salib-lah orang-orang menerima kehidupan dan dengan demikian mampu masuk ke dalam Kerajaan Allah. Memikul salib berarti mengembangkan suatu sikap hati yang …. mengikut Yesus dalam jalan kematian ke dalam kehidupan.

Kata-kata Yesus tentang membuang cara-cara duniawi mungkin terasa keras (Mat 16:25). Bagaimana pun juga kita-manusia adalah pengada spiritual (spiritual being, di samping rational being, emotional being, social being). Sebagai spiritual being, rumah kita yang sesungguhnya adalah di surga dan sekarang kita dipanggil oleh Yesus untuk membuang segala hal yang menjauhkan kita dari kasih Allah dan tujuan kekal kita. Hal-hal yang kita hasrati, paling sering kita pikirkan, dan memakai sebagian waktu kita untuk itu, adalah hal-hal cinta kita yang pertama. Para pengikut/murid Yesus tidak dapat disibukkan dengan hal-hal yang spiritual dan pengejaran hal-hal duniawi. Sang Guru telah mengajarkan kepada kita, bahwa kita tidak dapat melayani dua tuan.

Memang kemuridan/pemuridan menyangkut “biaya”, namun kita juga tidak boleh lupa bahwa dari salib datanglah kehidupan. Salib adalah tanda kematian, pada saat bersamaan salib adalah tanda kemenangan bagi para pengikut/murid Yesus. Salib membuka pintu bagi kita untuk memasuki kehidupan yang sejati – baik sekarang maupun dalam kekekalan. Itulah sebabnya mengapa Yesus mengajar bahwa “siapa yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya” dan bahwa Anak Manusia “… akan membalas setiap orang menurut perbuatannya” (Mat 16:25,27).

DOA: Tuhan Yesus, tanamkanlah dalam hatiku suatu hasrat mendalam untuk memikul salib sehingga dengan demikian aku dapat menerima kehidupan sesuai dengan kehendak Bapa surgawi. Semoga aku dapat seperti Engkau yang dengan bebas memikul salibku dalam kehidupan ini. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 16:24-28), bacalah tulisan yang berjudul “SIAPA YANG MAU MENYELAMATKAN NYAWANYA ……” (bacaan tanggal 11-8-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 5-8-16 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 9 Agustus 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS