Posts tagged ‘KEMURIDAN’

ANDREAS: SEORANG MURID YOHANES PEMBAPTIS YANG MENJADI SALAH SATU MURID YESUS YANG PERTAMA

ANDREAS: SEORANG MURID YOHANES PEMBAPTIS YANG MENJADI SALAH SATU MURID YESUS YANG PERTAMA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S. Andreas, Rasul – Sabtu, 30 November 2019)

Ketika Yesus sedang berjalan menyusur Danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka, “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya dua orang bersaudara yang lain lagi, yaitu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus memanggil mereka dan mereka segera meninggalkan perahu ayahnya, lalu mengikuti Dia. (Mat 4:18-22) 

Bacaan Pertama: Rm 10:9-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:2-5 

Santo Andreas adalah salah seorang murid Yesus yang pertama. Sebagai seorang murid dari Yohanes Pembaptis yang dekat dengan gurunya, Andreas sungguh serius dalam memandang hal-hal yang berhubungan dengan Allah. Pengabdiannya yang sedemikian menunjukkan bahwa untuk waktu yang lama dia barangkali telah memiliki hasrat mendalam untuk mengenal Allah secara pribadi. Kita dapat membayangkan betapa penuh sukacita yang dialami Andreas ketika dia berjumpa dengan Yesus untuk pertama kalinya.

Ketika Yesus menyaksikan Andreas bersama saudaranya – Simon Petrus – menebarkan jala di danau Galilea, Ia mengundang mereka menjadi “penjala manusia”, artinya menarik orang-orang ke dalam kerajaan dengan menggunakan jala Injil (lihat Mat 4:19). Andreas langsung saja menunjukkan ketaatannya, dengan senang hati dia menukar keuntungan materiil dengan ganjaran spiritual. Kisah panggilan Andreas di atas memang agak berbeda dengan penuturan yang terdapat dalam Injil Yohanes, namun perbedaan tersebut tidaklah bersifat hakiki. Injil Yohanes mengungkapkan bahwa Andreas adalah satu dari dua orang murid Yohanes Pembaptis yang mengikut Yesus, menjadi dua orang murid pertama yang menanggapi panggilan Yesus. Kedua murid itu berdiam bersama-sama dengan Yesus pada hari pertama perjumpamaan mereka. Keyakinan Andreas kepada diri Yesus bertumbuh dengan cepat. Hal ini dapat kita rasakan ketika dia bertemu dengan Simon, saudaranya: “Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus)”, lalu Andreas membawa saudaranya itu kepada Yesus (lihat Yoh 1:35-42). Jadi, kelihatannya Andreas lah yang memperkenalkan Simon Petrus, Yakobus, Yohanes (entah berapa banyak lagi) kepada Yesus.

Pada waktu Yesus memanggil para murid-Nya, Ia memilih orang-orang biasa seperti Andreas, orang-orang yang tidak memiliki kekayaan berlebih, tidak memiliki status, latar belakang pendidikan, apalagi status sosial. Yesus tidak memilih karya-karya mereka atau berbagai karunia atau talenta yang mereka miliki. Yesus memilih hati mereka! Yesus tidak memilih para murid-Nya siapa dan apa mereka dulunya, melainkan akan menjadi apa mereka di bawah pengarahan dan kuasa-Nya. Hal yang sama berlaku untuk kita. Yesus terus memanggil setiap dan masing-masing kita untuk masuk ke dalam suatu relasi yang intim dengan diri-Nya dan Ia mengundang kita untuk ke dalam jalan kekudusan-Nya. Yesus ingin mentransformasikan diri kita melalui kuasa Roh Kudus agar kita dapat meniru Andreas dan orang-orang sepanjang segala masa yang dengan penuh dedikasi mengikuti jejak-Nya. Mereka yang memberikan segalanya demi cintakasih mereka kepada Kristus. Banyak dari orang kudus ini hidup tersembunyi dan sehari-harinya membuat mukjizat-mukjizat lewat cintakasih mereka yang penuh pengorbanan. Yesus mengundang kita untuk menjadi seperti mereka, selagi kita mengikuti-nya semakin dekat dan dekat lagi.

Apakah ada biayanya dalam upaya kita mengikuti jejak Tuhan Yesus? Kalau ada, berapa besar biayanya? Santo Gregorius Agung pernah berkata: “Kerajaan Surga tidak mempunyai tanda harga. Nilai atau harganya adalah sebanyak apa yang anda miliki. Bagi Zakheus harganya adalah separuh dari harta miliknya, karena separuhnya lagi yang telah diperolehnya lewat praktek “haram” yang tidak adil akan diganti olehnya empat kali lipat. Hal ini membuat Zakheus jatuh miskin (dalam hal harta kekayaan). Bagi Simon dan Andreas harganya adalah jala-jala dan perahu yang mereka tinggalkan; bagi si janda miskin dua keping uang tembaga, bagi orang lain mungkin segelas air putih.” Bagaimana dengan kita masing-masing? Mungkin posisi top management, mungkin ejekan,cercaan dan caci-maki dari orang-orang yang mengenal anda.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu untuk kasih-Mu yang tanpa batas kepadaku. Penuhilah hatiku dengan rasa syukur dan sukacita karena menjadi murid-Mu. Amin.

Catatan: Untul mendalami bacaan Pertama hari ini (Rm 10:9-18),  bacalah  tulisan yang berjudul “ROH KUDUS TELAH MEMBIMBING ANDREAS KEPADA IMAN YANG HIDUP” (bacaan tanggal 30-11-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2019.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 30-11-18 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 29 November 2019 [Pesta Semua Orang Kudus Keluarga Besar Fransiskan]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SALIB KRISTUS YANG AGUNG

SALIB KRISTUS YANG AGUNG

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXI – Rabu, 6 November 2019)

Pada suatu kali ada banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka, “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapaknya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, apakah uangnya cukup untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, dan berkata: Orang ini mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya.

Atau, raja manakah yang kalian mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian. Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.  (Luk 14:25-33) 

Bacaan Pertama: Rm 13:8-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 112:1-2,4-5,9 

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus mengatakan, “Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku” (Luk 14:27). Seorang penyair pernah menulis, bahwa “dia yang ingin sesuatu yang berharga haruslah menyerahkan/ mengorbankan sesuatu yang berharga pula.” Hal itu berarti, bahwa kita tidak dapat memiliki kasih yang sejati tanpa disiplin-diri yang sama riilnya. Para dokter, musisi, artis, ilmuwan, pengarang, guru, inventor, dlsb. – semua telah menyadari bahwa kebesaran (Inggris: greatness) hanya datang dengan disiplin-diri. Pekerjaan jujur adalah sebuah salib yang berat, namun hal itu diterima dengan penuh sukacita demi cinta akan tujuan yang ingin dicapai. Spiritualisasikanlah kebenaran ini, dan kita pun akan mempunyai salib sehari-hari yang dibicarakan Yesus. Yesus menyerahkan segalanya untuk mengejar kasih-Nya yang besar dan agung, rencana Bapa perihal penebusan. Santo Paulus menulis: “ (Yesus) ……telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Flp 2:7-8).

Salib sehari-hari adalah ungkapan kasih. Kasih yang sejati membuat seseorang “menyangkal dirinya” dan mengikut Kristus (lihat Luk 9:23), karena kasih membuat dirinya menyerahkan/melepaskan segalanya yang mengganggu upayanya untuk mengejar orang yang dikasihi. Cinta-diri membuat seseorang memandang segala gangguan – betapa kecilnya sekalipun gangguan itu – sebagai “salib sehari-hari”. Pandangan salah sedemikian hanyalah membuat orang “termanja” dalam self-pity. Sesungguhnya sebagian besar dari kesulitan-kesulitan kecil yang kita pertimbangkan sebagai pengorbanan besar adalah ungkapan dari sikap kita yang mementingkan-diri sendiri. Kita membesar-besarkan perasaan tidak enak yang kecil-kecil dan memproyeksikan semua itu menjadi salib-salib yang bersifat artifisial. Jika kita mau berpegang teguh pada kebenaran, maka seharusnya kita memandang semua kesulitan kecil itu sebagai sekadar keratan-keratan kayu yang kecil atau serbuk gergaji yang jatuh di sana-sini dari kayu salib. Tetapi semua itu bukanlah salib itu sendiri, melainkan tanda-tanda kasar-sederhana dari kelemahan kita.

Salib yang dipikul oleh Yesus dan yang diminta-Nya untuk kita pikul adalah hidup dari kasih Kristiani itu sendiri, “baptisan” besar/agung ke mana keseluruhan hidup-Nya diarahkan. Salib adalah status kehidupan kita: kerasulan kita, tugas-tugas harian kita, perkawinan kita, keluarga kita, tugas mengajar kita (kalau kita guru), tugas perawatan kita (kalau kita perawat), studi kita, pekerjaan kita – apa pun kerja kasih yang tidak mementingkan-diri dan pengabdian  yang telah diberikan Allah kepada kita. Kejengkelan hati sehari-hari yang kecil-kecil hanyalah bayangan dari salib yang besar, karena salib itu bagaikan sebatang pohon tinggi, dari pohon mana kasih Allah dicurahkan secara berkelimpahan. Salib agung itulah “hal berharga” untuknya segala “hal berharga” lainnya akan kita serahkan/lepaskan dengan penuh sukacita.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, kemenangan Salib-Mu adalah kemenangan kasih-Mu yang maha-sempurna. Jagalah kami agar dapat tetap menjadi murid-murid-Mu yang baik, yang senantiasa mau dan mampu memikul salib kami masing-masing dan mengikut Engkau dengan setia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 14:25-33), bacalah tulisan yang berjudul “SEGALA SESUATU HARUS DILEPASKAN UNTUK MENGIKUT YESUS (bacaan tanggal 6-11-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2019. 

(Tulisan ini besumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 5 November 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

IKUTLAH AKU!

IKUTLAH AKU!

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S. Matius, Rasul & Penulis Injil – Sabtu, 21 September 2019)

Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di tempat pemungutan cukai, lalu Ia berkata kepadanya, “Ikutlah Aku.”  Matius pun bangkit dan mengikut Dia. Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya. Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus, “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Yesus mendengarnya dan berkata, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi, pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (Mat 9:9-13) 

Bacaan Pertama: Ef 4:1-7,11-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:2-5

KEMURIDAN - YESUS MEMANGGIL MATIUSSejak pertama kali bertemu dengan Yesus selagi dia sedang bekerja di tempat pemungutan cukai, Matius memberi tanggapan penuh sukacita terhadap undangan Yesus kepadanya untuk berbalik dari cara hidupnya yang lama dan kemudian menggunakan seluruh sisa hidupnya sebagai seorang murid Kristus, misionaris dan penginjil. Ada tradisi yang mengatakan bahwa Matius mewartakan Injil di tengah-tengah orang-orang Yahudi untuk selama 15 tahun setelah kebangkitan Kristus, lalu melanjutkan pelayanan evangelisasinya di Persia, Makedonia dan Syria.

Cerita tentang panggilan Matius seharusnya memberikan kepada kita dorongan yang kuat. Yesus tidak datang untuk mencari orang-orang yang telah sempurna. Dia datang mencari yang hilang …… orang berdosa! Ingatlah bagaimana orang-orang Farisi menggerutu ketika Yesus duduk pada meja makan bersama Matius dkk. Orang-orang Farisi itu mengatakan, bahwa tidak pantaslah bagi seorang rabi berhubungan dengan para pemungut cukai dan pendosa. Namun Yesus menandaskan bahwa justru orang-orang berdosalah yang mau diundangnya ke dalam kerajaan-Nya. Dalam hal ini Yesus mengutip sebuah ayat Perjanjian Lama (Mat 9:13; bdk. Hos 6:6; Mat 12:7).

Maka, jangan pikir bahwa kita harus suci-suci dulu sebelum menyerahkan hidup kita kepada Yesus. Matius adalah contohnya. Kita dapat menyerahkan hidup kita kepada Kristus sekarang juga. Tidak ada masalah bagi Yesus Kristus untuk menerima kita (anda dan saya) sebagai milik-Nya. Juga janganlah kita merasa risau kalau merasakan diri kita tidak memiliki karunia atau talenta yang khusus. Yesus akan memberikan kepda kita segala rahmat yang kita butuhkan untuk hidup pelayanan kita bagi Dia.

Yesus mungkin saja tidak memanggil kita untuk menjadi seorang penginjil purnawaktu seperti yang dibuat-Nya atas diri Matius – atau mungkin juga memanggil kita untuk menjadi seorang full-timer sebagai seorang penginjil. Apa pun panggilan-Nya kepada kita, panggilan itu tentunya menyangkut peranan kita masing-masing sebagai seorang saksi-Nya dalam keluarga, para sahabat kita, para kerabat kerja kita, untuk menolong mereka menerima Yesus dalam hidup mereka. Marilah kita mengingat, bahwa justru dalam tindakan sehari-hari kita yang penuh ketaatan – menghadiri Misa Harian, membaca dan merenungkan sabda Allah dalam Kitab Suci untuk beberapa menit lamanya setiap hari, melakukan pemeriksaan batin dan mohon pengampunan Tuhan atas dosa-dosa kita – maka kita sebenarnya mengatakan “ya” terhadap panggilan Yesus. Oleh karena itu, marilah kita mulai dengan langkah-langkah kecil ini, dan kita pun akan menemukan kuat-kuasa Allah bekerja melalui diri kita dengan cara-cara yang tidak pernah kita harapkan atau bayangkan sebelumnya.

Selagi anda menanggapi panggilan Yesus untuk menjalani suatu kehidupan yang baru, ingatlah bahwa Yesus ada di samping anda di setiap langkah yang anda buat. Oleh karena itu, janganlah menunda-nunda untuk mengatakan “ya” kepada-Nya. Jika anda mengatakan “ya” kepada-Nya, maka “ya” anda itu akan membuat diri anda seorang pencinta yang penuh gairah kepada Tuhan dan terang yang sungguh memancarkan cahaya di tengah dunia ini.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena engkau memanggilku keluar dari kegelapan untuk masuk ke dalam terang-Mu. Aku ingin hidup bagi-Mu. Tolonglah aku menemukan seorang pribadi pada hari ini, kepada siapa aku dapat men-sharing-kan kasih-Mu. Terpujilah nama-Mu selalu! Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 9:9-13), bacalah tulisan yang berjudul “AKU DATANG BUKAN UNTUK MEMANGGIL ORANG BENAR, MELAINKAN ORANG BERDOSA” (bacaan tanggal 21-9-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-9-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 19 September 2019 [Peringatan S. Fransiskus Maria dr Camporosso, Biarawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ADA KONSEKUENSI-KONSEKUENSI JIKA MAU MENGIKUT YESUS

ADA KONSEKUENSI-KONSEKUENSI JIKA MAU MENGIKUT YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXIII [Tahun C] – 8 September 2019)

Image result for IMAGES OF LUKE 14:25-33

Pada suatu kali ada banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka, “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapaknya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, apakah uangnya cukup untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, dan berkata: Orang ini mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya.

Atau, raja manakah yang kalian mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian. Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.  (Luk 14:25-33) 

Bacaan Pertama: KebSal 9:13-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 90:3-6.12-14.17; Bacaan Kedua: Flm 9b-10.12-17 

Penyembuhan-penyembuhan yang dilakukan Yesus, pengusiran-pengusiran roh jahat oleh-Nya dan ajaran-ajaran yang telah diberikan-Nya, telah menarik banyak orang untuk mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya (Luk 14:25). Namun ketika Yesus melihat entusiasme mereka, Dia justru mengingatkan mereka mengenai apa artinya menjadi murid-murid-Nya. Mereka harus siap untuk meninggalkan segalanya – bahkan keluarga dan harta milik mereka (Luk 14:26,33).

Kiranya pengajaran seperti ini sungguh kedengaran ganjil dalam sebuah masyarakat yang kebudayaannya terstruktur atas dasar keluarga, sebuah masyarakat yang percaya bahwa kebaikan-kebaikan Allah diturunkan dalam bentuk berkat-berkat di atas muka bumi ini. Pada zaman kita ini pun kata-kata yang diucapkan Yesus ini tidak lebih mudah untuk dicerna. Meskipun kita mungkin saja ingin menempatkan hidup kita sepenuhnya di bawah otoritas Yesus, kita sering merasa takut akan konsekuensi-konsekuensi sebuah keputusan seperti itu. Apa yang akan diminta-Nya dari kita? Apakah kita akan rela mengorbankan hidup kita bagi-Nya, pada waktu kita lihat orang-orang di sekeliling kita menyibukkan diri dalam kenikmatan-kenikmatan dunia ini?

Yesus menginginkan para pengikut/murid yang memahami apa konsekuensi-konsekuensi dari pilihan untuk mengikuti diri-Nya. Namun Ia selalu memberikan kepada mereka motivasi untuk tetap setia, yaitu sukacita karena mengenal dan mengalami kerahiman-Nya dan keyakinan bahwa Dia tidak akan meninggalkan mereka. Melalui relasi mereka dengan Dia, Yesus secara sekilas memperlihatkan berkat-berkat yang menantikan mereka. Pandangan sekilas ini cukup untuk mendukung keputusan mereka untuk mengikuti Yesus, meskipun pada saat-saat mereka harus membayar harga yang tidak kecil sebagai murid-Nya. Inilah yang dinamakan “biaya/harga pemuridan” atau cost of discipleship.

Bagaimana kita dapat mengikuti Yesus secara tanpa syarat? Dalam hal ini marilah kita teladani apa yang telah dilakukan oleh para murid Yesus yang pertama: melalui suatu relasi yang akrab dengan Dia. Janganlah pernah merasa ragu atau takut untuk meminta lebih dari Yesus. Ketahuilah bahwa Yesus memiliki hasrat mendalam untuk menganugerahkan kepada kita masing-masing lebih banyak lagi rahmat dan kuasa-Nya, selagi kita bergumul terus untuk semakin mengenal-Nya, semakin akrab dengan-Nya secara pribadi. Janganlah kuatir apabila Dia minta kepada kita untuk melakukan sesuatu yang kita sendiri tidak ingin lakukan. Ingatlah bahwa Yesus memanggil kita, namun di sisi lain Ia juga menumbuhkan hasrat dalam diri kita masing-masing. Bahkan seandainya hasrat tersebut belum kita rasakan, kita harus – dalam iman – mengambil langkah-langkah yang diperlukan. Kita akan merasa takjub penuh sukacita ketika mengetahui bagaimana Roh Kudus menanggapi langkah-langkah iman kita dengan afirmasi dan harapan.

DOA: Tuhan Yesus, perkenankanlah aku melihat Engkau dalam diri setiap orang yang kujumpai. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 14:25-33), bacalah tulisan yang berjudul “APAKAH KITA HARI INI SUDAH SIAP MENGHADAPI TANTANGAN PANGGILAN KRISTUS?” (bacaan tanggal 8-9-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 4-9-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 5 September 2019  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PENJALA MANUSIA

PENJALA MANUSIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXII – Kamis, 5 September 2019)

Related image

Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai Danau Genesaret, sementara orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah. Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya. Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia mendorong perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon, “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.”  Simon menjawab, “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena perkataan-Mu itu, aku akan menebarkan jala juga.”  Setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Mereka pun datang, lalu bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam. Ketika Simon Petrus melihat hal itu ia pun sujud di depan Yesus dan berkata, “Tuhan, pergilah dari hadapanku, karena aku ini seorang berdosa.”  Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap; demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. Kata Yesus kepada Simon, “Jangan takut, mulai sekarang engkau akan menjala manusia.”  Sesudah menarik perahu-perahunya ke darat, mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus. (Luk 5:1-11)

Bacaan Pertama: Kol 1:9-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:2-6

Jangan takut, mulai sekarang engkau akan menjala manusia.” (Luk 5:10)

Banyak nelayan mengklaim bahwa waktu yang terbaik untuk menjala ikan adalah pada malam hari. Simon Petrus dan para rekan kerjanya kerja sepanjang malam menjala ikan, namun samasekali tidak berhasil. Kalau malam saja tidak berhasil apalagi di siang hari! Inilah pemikiran atau teori para nelayan seperti Petrus. Maka tidak mengherankanlah reaksi Petrus ketika Yesus menyuruhnya untuk bertolak ke tempat yang dalam dan menebarkan jalanya untuk menangkap ikan: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena perkataan-Mu itu, akan menebarkan jala juga” (Luk 5:5). Ketika melihat hasil tangkapan ikan yang berlimpah itu, Petrus sadar bahwa dirinya berada di hadapan hadirat Allah. Petrus pun sujud di depan Yesus sambil mengakui kedosaannya.

Kita juga dapat sampai kepada pengalaman serupa di mana kita mengakui kekudusan Allah, dan pada saat yang sama mengakui dosa-dosa kita. Berhadapan dengan tindakan Allah dalam kehidupan kita, kita dapat sampai kepada kesadaran akan ketidakpantasan kita. Sayangnya ada dari kita yang mempunyai kecenderungan untuk tetap berdiam dalam kedosaan kita. Rasa bersalah, rasa malu, berbagai emosi negatif dlsb. mengalir masuk layaknya terjangan ombak. Kalau saja semua itu dapat mengalir keluar sama cepatnya!

Perhatikanlah tanggapan Yesus kepada Petrus. Ia tidak menanggapi pengakuan Petrus secara langsung, melainkan mengatakan kepada Petrus tentang peranan baru Petrus yang besar yang ada dalam pikiran-Nya. Terhadap seruan pertobatan Petrus – “Tuhan, pergilah dari hadapanku, karena aku ini seorang berdosa” – Yesus menjawab dengan sebuah janji: “Jangan takut, mulai sekarang engkau akan menjala manusia” (Luk 5:8-10).

Inilah cara bagaimana Allah memandang kita: tidak sebagai para pendosa melainkan sebagai para hamba yang dipanggil-Nya untuk melakukan tugas pekerjaan yang penting. Allah mengetahui semua dosa kita. Namun apabila kita sungguh bertobat, maka Dia pun langsung mengampuni kita dan memanggil kita untuk bergerak maju lagi untuk memajukan Kerajaan-Nya. Dalam artian tertentu, kita sesungguhnya tidak berhak untuk tetap berdiam dalam kedosaan yang telah disingkirkan oleh Allah.

Saudari dan Saudaraku, belas kasih Allah tidak mengenal batas! Allah sangat senang untuk menunjukkan kebaikan hati-Nya kepada kita semua. Allah tidak menahan kasih dan kerahiman-Nya bagi kita sebelum kita mengasihi-Nya. Dia tidak akan menolak kita! Santo Paulus menulis, “Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita dalam hal ini: Ketika kita masih berdosa, Kristus telah mati untuk kita” (Rm 5:8). Oleh karena itu, marilah kita terus maju dalam melayani Tuhan, penuh keyakinan bahwa belas kasih-Nya lebih besar daripada dosa kita, dan bahwa Dia akan membawa kita sampai ke surga kelak.

DOA: Tuhan Yesus, sungguh menakjubkan kasih-Mu kepadaku. Seperti Petrus, aku suka bekerja keras tanpa hasil, sampai Engkau memenuhi diriku secara berlimpah dengan hidup-Mu sendiri. Dalam kasih, Engkau tidak memandang kesalahan dan kegagalanku di masa lampau, melainkan menunjuk aku untuk melakukan tugas seturut rencana-Mu yang sempurna. Terima kasih, Tuhan Yesus, untuk belas kasih-Mu yang tanpa batas. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 5:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MENGINGINKAN KITA MENJADI SAKSI-SAKSI-NYA” (bacaan tanggal 5-9-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2019.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 6-9-18 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 3 September 2019 [Peringatan Wajib S. Gregorius Agung, Paus Pujangga Gereja]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

RELASI KITA DENGAN YESUS ADALAH YANG UTAMA

RELASI KITA DENGAN YESUS ADALAH YANG UTAMA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XX – Senin, 19 Agustus 2019)

Fransiskan Conventual: Peringatan S. Ludovikus, Uskup

Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata, “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus, “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah.” Kata orang itu kepada-Nya, “Perintah yang mana?” Kata Yesus, “Jangan membunuh, jangan berzina, jangan mencuri, jangan memberi kesaksian palsu, hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kata orang muda itu itu kepada-Nya, “Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?” Kata Yesus kepadanya, “Jikalau engkau hendak hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Mendengar perkataan itu, pergilah orang muda itu dengan sedih, sebab banyak hartanya. (Mat 19:16-22)  

Bacaan Pertama: Hak 2:11-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:34-37,39-40,43-44

Barangkali cerita tentang orang muda yang kaya ini adalah tentang sikap kita terhadap uang. Namun karena ada peristiwa-peristiwa lain yang diceritakan dalam Kitab Suci, misalnya tentang para perempuan yang menggunakan uang/harta-milik mereka untuk mendukung Yesus dan karya pelayanan-Nya (lihat Luk 8:1-3), maka lebih tepatlah apabila kita mengatakan bahwa bacaan Injil hari ini adalah tentang sikap dan disposisi kita yang tidak hanya berkaitan dengan masalah uang.

Ada sesuatu dalam sikap orang muda-kaya ini yang tidak benar. Yesus melihatnya dan berupaya untuk mengangkat masalahnya ke atas permukaan, agar supaya orang muda-kaya ini dapat bebas menerima kasih-Nya. Yesus melihat bahwa orang muda-kaya ini telah memperkenankan harta-kekayaannya menjadi berhala, yang mempunyai suatu posisi yang lebih tinggi daripada Allah sendiri.

Cerita dari Matius ini dapat menggerakkan kita untuk mengajukan suatu pertanyaan yang serupa. Apakah ada sikap kita terhadap uang, pengakuan/penghargaan dari orang lain, kepenuhan-diri, atau kekuasaan – yang menduduki tempat yang lebih tinggi daripada Allah? Apakah disposisi-disposisi ini begitu berarti bagi kita sehingga menyebabkan kita meminimalisir atau malah menghilangkan atau melupakan samasekali cara yang diinginkan Allah bagi kehidupan kita? Apakah semua itu lebih penting bagi kita daripada relasi kita dengan Yesus?

Bagi Yesus, hidup kita dengan-Nya bukanlah berdoa pada waktu-waktu tertentu secara teratur, menghadiri Misa, pekerjaan apa yang kita lakukan, atau cara kita hidup. Memang benar Tuhan Yesus menginginkan kita hidup dengan cara tertentu – dipenuhi dengan tindakan-tindakan positif penuh keutamaan. Akan tetapi mungkinlah untuk melakukan segala hal yang benar dan tetap menjalani kehidupan yang terfokus kepada (kepentingan)diri kita sendiri dan bukan pemberian kemuliaan dan kehormatan bagi Allah.

Saudari-saudara yang dikasihi Kristus, Allah menginginkan hati kita. Dia menginginkan kita menjadi kurban yang hidup bagi-Nya. Kita perlu jelas bahwa Bapa surga lebih menyukai umat yang memiliki komitmen penuh pada Putera-Nya – walaupun umat ini juga bisa saja tidak sempurna, lemah, rentan terhadap godaan dan dosa, dan tidak setia. Bapa surgawi mempunyai kesulitan yang jauh lebih besar dengan umat yang mungkin “nyaris-sempurna” namun yang juga berpegang teguh pada independensi mereka, kemandirian mereka dan pemenuhan-diri. Mereka yang lemah namun mengasihi Yesus lebih menarik bagi Allah daripada orang-orang hebat yang lebih mengasihi diri mereka sendiri ketimbang Putera-Nya, Yesus!

DOA: Tuhan Yesus, aku menyerahkan hatiku kepada-Mu. Anugerahkanlah kepadaku suatu hasrat untuk menyingkirkan setiap halangan yang merintangi diriku dapat berjalan bersama-Mu. Aku mengasihi Engkau, ya Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 19:16-22), bacalah tulisan dengan judul “ALLAH INGIN MEMMBERIKAN KEPADA KITA SUATU KEHIDUPAN YANG LEBIH BAIK” (bacaan tanggal 19-8-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori:  19-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-8-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  16 Agustus 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS ITU LEBIH BESAR DARIPADA APA SAJA YANG KITA LIHAT ADA DALAM DIRI KITA

YESUS ITU LEBIH BESAR DARIPADA APA SAJA YANG KITA LIHAT ADA DALAM DIRI KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Sabtu, 13 Juli 2019)

“Seorang murid tidak lebih daripada gurunya, atau seorang hamba daripada tuannya. Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya. Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya.

Jadi, janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka, dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas rumah. Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.

Bukankah burung pipit dijual dua ekor seharga satu receh terkecil? Namun, seekor pun tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu, janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit.

Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang disurga. Tetapi siapa saja yang menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di surga.” (Mat 10:24-33) 

Bacaan Pertama: Kej 49:29-32; 50:15-26a; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:1-4,6-7 

“Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang.(Mat 10:27) 

Selagi Dia menyiapkan para murid-Nya untuk pekerjaan misioner, Yesus dengan berhati-hati menguatkan mereka untuk sebuah tugas yang memang mudah terbuka untuk diserang, dikritik, bahkan dijadikan objek kebencian. Apa kiranya strategi Yesus dalam hal ini? Apakah yang dikatakan-Nya kepada mereka? “… apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas rumah” (Mat 10:27). Apa yang diharapkan Yesus dari mereka untuk mendengar “dalam gelap”? Siapakah yang akan membisikkan kata-kata kepada mereka? Bagaimana seharusnya mereka mengatakannya dalam terang?

Ada banyak cara yang berbeda-beda untuk dapat memahami sabda Yesus ini, namun ada satu tafsir yang membawa dampak tidak hanya pada karya misioner melainkan juga pada setiap relasi di mana kita terlibat. Adalah “dalam gelap” – dalam keheningan hati kita –  Yesus menunjukkan kepada kita betapa kuat kodrat manusiawi kita yang cenderung untuk berdosa itu dan betapa dalam kita membutuhkan penyembuhan dan penebusan dari Dia. Kita semua telah mengetahui saat-saat di mana Roh Kudus telah membawa kita berhadapan-hadapan – muka ketemu muka – dengan kegelapan dalam diri kita, dan kita semua juga telah mengetahui saat-saat di mana kita menerima penghiburan dari Roh yang sama – penghiburan dan jaminan akan belas kasih-Nya dan pengampunan-Nya. Hal-hal inilah yang dimaksudkan bagi kita untuk diwartakan dari atas rumah: kasih Bapa yang melimpah-melimpah atas semua pendosa!

Ketika kita berhadapan dengan “Sang Tersalib”, maka pandangan mata kita harus diarahkan ke atas karena posisi salib itu lebih tinggi daripada kita semua yang berdiri di dekat kaki salib. Apabila kita sungguh ingin menjadi saksi Kristus yang memiliki kredibilitas, maka kita harus jujur perihal ketergantungan kita kepada-Nya. Lalu kita dapat menyatakan, “Aku sakit dan Yesus menyembuhkan diriku. Aku tuli dan Ia membuka telingaku. Aku terikat dan Ia membebaskan diriku.” Tidak ada seorang pun ingin mendengar tentang bagaimana menjadi “baik” bilamana mereka mengetahui betapa sulitnya hal itu. Akan tetapi setiap orang ingin mendengar tentang kuat-kuasa Allah untuk menyembuhkan dan mengubah para pendosa. Setiap orang ingin mendengar bahwa mereka juga dapat menjadi pengikut-pengikut Yesus.

Kabar baik dari Injil adalah bahwa Yesus itu lebih besar daripada apa saja yang kita lihat ada di dalam diri kita. Yesus dapat membebaskan, menyembuhkan dan menyelamatkan kita! Ia ingin melakukan hal itu! Oleh karena itu marilah kita memperkenankan Yesus untuk menunjukkan kepada kita segala kegelapan diri/hati kita, bukan hanya untuk kebaikan kita, melainkan demi pemberian kesaksian kita tentang Yesus kepada orang-orang lain.

DOA: Roh Kudus, selidikilah hatiku. Berbisiklah kepadaku tentang kegelapan yang ada di dalam hatiku. Semoga terang-Mu menyinari kegelapan hatiku itu dan membebaskan aku, sehingga dengan demikian aku dapat berbagi dengan orang-orang lain tentang kabar baik rekonsiliasi diriku dengan Bapa surgawi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:24-33), bacalah tulisan yang berjudul “JANGANLAH KAMU TAKUT NAMUN TAKUTLAH KEPADA ……” (bacaan tanggal 13-7-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-07 BACAAN HARIAN JULI 2019.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-7-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 11 Juli  2019 [Peringatan S. Benediktus, Abas] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS