Posts tagged ‘KEMUNAFIKAN’

KITA HARUS MEYAKINI BAHWA ALLAH TIDAKLAH KIKIR

KITA HARUS MEYAKINI BAHWA ALLAH TIDAKLAH KIKIR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XI – Rabu, 17 Juni 2020)

“Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di surga. Jadi, apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau menggembar-gemborkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

“Apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti seorang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan  berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Dengan demikian, Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

“Apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (Mat 6:1-6.16-18) 

Bacaan Pertama: 2Raj 2:1,6-14 ; Mazmur Tanggapan: Mzm 31:20-21,24 

“…… Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (Mat 6:4)

Allah Bapa bukanlah “seorang” pribadi yang kikir. Kitab Suci dengan tidak lelah-lelahnya menunjukkan bahwa Dia adalah Allah yang sangat bermurah hati tanpa kita-manusia dapat membayangkannya. Kita semua mengetahui bahwa “Allah sanggup melimpahkan segala anugerah kepada kita” (2Kor 9:8), namun apakah kita sungguh percaya bahwa Dia memang ingin memperhatikan dan memelihara kita sebagai anak-anak-Nya? Apakah kita percaya bahwa Allah sungguh mengasihi kita? Dalam hal ini, baiklah kita mengingat bahwa Allah – karena kasih-Nya yang demikian besar – telah mengaruniakan Putera-Nya yang tunggal sebagai penebus umat manusia (lihat Yoh 3:16). Kita harus bersikap jujur kepada diri kita sendiri dan mengakui bahwa tidak ada kasih atau kemurahan-hati yang lebih besar daripada yang telah ditunjukkan oleh Allah – sang Khalik langit dan bumi –  kepada manusia, makhluk ciptaan-Nya.

Namun, walaupun kita telah melihat bukti cintakasih dan kemurahan hati Allah bagi kita, selalu ada saja godaan untuk mengandaikan bahwa kita tidak akan melihat ganjaran atas kesetiaan kita sampai kita masuk ke dalam surga kelak. Memang benar ada harta-kekayaan yang tak terbayangkan sedang menantikan kita di surga, namun hal itu bukanlah berarti bahwa Allah mengabaikan dan tidak menghargai kehendak bebas yang telah dianugerahkan-Nya kepada kita sejak kita diciptakan. Allah tidak ingin melihat kita terus taat kepada-Nya seperti robot, dengan harapan kita akan mendapat ganjaran pada akhirnya. Allah senantiasa melihat serta memperhatikan segala sesuatu yang kita lakukan – baik maupun buruk. Ia melihat setiap tindakan kebaikan kita, setiap kali kita berdoa, dan setiap tindakan pantang dan puasa dan lain-lain bentuk mati-raga yang kita lakukan – dan Ia bersukacita melihat semua itu!

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus berbicara mengenai sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar imbalan-jasa sederhana atas perbuatan baik yang telah dilakukan seseorang. Yesus berbicara tentang suatu pengharapan dan doa bahwa para pendengar-Nya akan mengembangkan suatu relasi yang hidup dengan Bapa-Nya, suatu relasi di mana mereka akan mengetahui kehadiran Allah, mendengar suara-Nya dalam hati mereka, dan mulai mengenali tangan-Nya yang sedang bekerja memberkati mereka karena kesetiaan mereka.

“Ganjaran” macam apa yang dapat kita harapkan? Bagaimana tentang keyakinan yang lebih besar bahwa kita sedang mengikuti kehendak-Nya? Bagaimana tentang suatu visi dan arahan yang lebih kuat bagi kehidupan kita? Bagaimana tentang suatu kemampuan yang lebih besar untuk menghindar dari godaan dan mengampuni orang-orang yang telah bersalah kepada kita? Bagaimana tentang relasi yang lebih kuat dengan anggota keluarga kita? Bagaimana dengan jawaban-jawaban terhadap  doa-doa terdalam dalam hati kita? Kemungkinan-kemungkinan yang ada memang tanpa batas, dan semua itu mengalir dari hati “seorang” Bapa yang senantiasa memperhatikan anak-anak yang sangat dikasihi-Nya.

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus, marilah pada hari ini kita memperbaharui komitmen kita untuk taat kepada Allah, bukan karena takut, melainkan karena rasa syukur kita atas segala sesuatu yang telah dilakukan-Nya bagi kita dan terus akan dilakukan-Nya.

DOA: Bapa surgawi, aku ingin menyenangkan-Mu dalam segala hal yang aku pikirkan, katakan, dan lakukan. Bimbinglah aku dalam jalan-Mu dan lindungilah aku dari segala godaan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 6:1-6.16-18), bacalah tulisan yang berjudul “KEMUNAFIKAN TIDAK DIBENARKAN” (bacaan tanggal 17-6-20) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-06 BACAAN HARIAN JUNI 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 19-6-19 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 15 Juni 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MENYERANG SEGALA MACAM KEMUNAFIKAN

YESUS MENYERANG SEGALA MACAM KEMUNAFIKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan Biasa X – Jumat, 12 Juni 2020)

OFMCap.: Peringatan Fakultatif B. Anisetus Koplinski, Imam Martir

OFMConv/OSC/OFMCap: Peringatan Fakultatif B. Yolenta,  Florida, dkk Martir Revolusi Komunis Spanyol dan Polandia

“Kamu telah mendengar yang difirmankan: Jangan berzina. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzina dengan dia di dalam hatinya. Jika matamu yang kanan menyebabkan engkau berdosa, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, daripada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. Jika tanganmu yang kanan menyebabkan engkau berdosa, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa daripada tubuhmu dengan utuh masuk neraka.

Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan istrinya harus memberi surat cerai kepadanya. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan istrinya kecuali karena zina, ia menjadikan istrinya berzina; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berzina.”  (Mat 5:27-32) 

Bacaan Pertama: 1Raj 19:9a,11-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:7-9,13-14 

Di banyak bagian dari kitab-kitab Injil kita dapat melihat bagaimana Yesus menyerang dengan keras segala macam kemunafikan, persoalan bersih di luar tetapi korup di dalam. Dengan pikiran-Nya yang mampu melakukan discernment dengan tajam, dan pemahaman-Nya yang mendalam tentang psikologi manusia, Yesus selalu mampu melihat inti permasalahan. Ia langsung menuju ke pusat dan penyebab kesusahan-kesusahan kita.

Dalam bacaan Injil hari ini Yesus bersabda, “Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzina dengan dia di dalam hatinya” (Mat 5:28). Jadi, di mana hati kita, itulah yang harus diperhitungkan!

Pada awalnya kelihatan bahwa orang-orang Farisi itu tidak tahu bagaimana menanggapi pernyataan Yesus di atas. Namun Yesus tidak dapat ditipu, Dia memahami benar sikap orang-orang munafik itu. Orang-orang Farisi tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan pikiran mereka secara terbuka, dengan demikian mencoba menutupi rasa iri-cemburu dan kebencian mereka. Dalam peristiwa orang lumpuh yang disembuhkan (Mrk 2:1-12), Yesus berkata kepada orang lumpuh itu, “Hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni!” Beberapa ahli Taurat (biasanya sebagian terdiri orang-orang  Farisi juga) berpikir dalam hati, mengapa Yesus berkata begitu karena berarti Dia menghujat Allah. Prinsip     yang mereka anut adalah, bahwa tidak ada seorang pun dapat mengampuni dosa manusia selain Allah sendiri. Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya bahwa mereka berpikir demikian, lalu Dia berkata kepada mereka, “Mengapa kamu berpikir begitu  dalam hatimu?” (Mrk 2: 5-8).

Pada suatu peristiwa orang-orang Farisi menyuruh murid-murid mereka untuk bersama-sama para pendukung Herodes berkata kepada Yesus, “Guru, kami tahu, Engkau seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” (Mat 22:16-17). Sungguh sebuah pertanyaan jebakan yang bersumber pada hati yang jahat dan dapat menjerumuskan Yesus. Namun Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu, lalu berkata, “Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik?” (Mat 22:18).

Peristiwa lainnya adalah berkaitan dengan orang-orang Farisi yang mengkritisi bahwa para murid-Nya melanggar adat istiadat nenek moyang mereka, dalam hal ini membasuh tangan sebelum makan. Di sini Yesus berkata kepada mereka dengan mengutip kata-kata nubuatan nabi Yesaya yang a.l. berbunyi: “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya padahal hatinya jauh dari Aku” (Mat 15:8; bdk. Yes 29:13). Kemudian Yesus berkata kepada orang banyak: “Dengar dan perhatikanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itu yang menajiskan orang” (Mat 15:11). Yesus melanjutkan: “Mereka (orang Farisi) orang buta yang menuntun orang buta. Jika orang buta menuntun orang buta, pasti keduanya jatuh ke dalam lubang” (Mat 15:14; bacalah penjelasan Yesus dalam Mat 15:20-21).

Dalam “Khotbah di Bukit”, Yesus mengatakan: “Kumpulkan bagimu harta di surga; di surga ngengat dan karat tidak merusaknya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya,.Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Mat 6:20-21). Jadi, dalam inti terdalam jati diri kita, kebaikan dan kebenaran kita sebagai manusia harus berdiam. Yesus ingin meyakinkan kita bahwa diri-Nya tidak dapat tertipu oleh berbagai sikap dan perilaku yang penuh dengan kemunafikan. Yesus melihat ke dalam hati kita dan Ia tahu motif-motif yang mendorong tindakan-tindakan kita. Kita tidak dapat menipu atau membodohi Dia dengan menciptakan alasan-alasan. Yesus berkata, “Jika matamu yang kanan menyebabkan engkau berdosa, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, daripada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka” (Mat 5:29). Dengan kata-kata keras ini, Yesus ingin mengatakan bahwa kita bertanggung-jawab atas apa yang ada dalam pikiran dan hati kita. Kita harus mencabut korupsi sampai kepada akar-akarnya yang terdalam, dan mengarahkan kehendak kita kepada hasrat murni akan Allah.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, berikanlah kepadaku terang agar dapat mengetahui hatiku yang terdalam, sehingga aku dapat mengarahkannya kepada-Mu. Terpujilah nama-Mu, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:27-32), bacalah tulisan yang berjudul “SETIAP ORANG YANG MEMANDANG PEREMPUAN SERTA MENGINGINKANNYA, SUDAH BERZINA DENGAN DIA DALAM HATINYA” (bacaan tanggal 12-6-20) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-06 BACAAN HARIAN JUNI 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-6-19 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 11 Juni 2020 [Peringatan Wajib S. Barnabas, Rasul] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEGEROMBOLAN ORANG-ORANG MUNAFIK

SEGEROMBOLAN ORANG-ORANG MUNAFIK

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan II Prapaskah – Selasa, 10 Maret 2020)

Lalu berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksudkan untuk dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terbaik di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil orang ‘Rabi.’  Tetapi kamu, janganlah kamu disebut ‘Rabi’; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Janganlah kamu menyebut siapa pun ‘bapak’ di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di surga. Janganlah kamu disebut pemimpin, karena hanya satu pemimpinmu, yaitu Mesias. Siapa saja yang terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan. (Mat 23:1-12) 

Bacaan Pertama: Yes 1:10,16-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:8-9,16-17,21,23

Kalau kita renungkan sejenak bacaan Injil hari ini, terasa ada rasa jengkel, mendongkol dan marah yang terkandung dalam kata-kata yang diucapkan Yesus tentang para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Orang-orang itu memegang posisi terpandang dalam masyarakat Yahudi. Mereka dihormati, namun mereka tidak lebih daripada segerombolan orang-orang munafik.

Yesus memang lain.  Ia memperlakukan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi ini secara berbeda, apabila dibandingkan dengan orang banyak. Yesus melihat tindakan-tindakan dan opini-opini mereka, bukan sekadar karena posisi mereka dalam masyarakat. Kita – manusia kebanyakan – sering tergoda untuk menilai bagian luar saja dari diri seseorang, tetapi Yesus melihat bagian dalamnya. Yesus tidak mempunyai masalah dengan fungsi para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Dia bahkan mengajar orang banyak dan murid-murid-Nya untuk mentaati apa yang diajarkan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu. Ucapan Yesus tidak mengagetkan orang banyak yang mendengarkan pengajaran-Nya karena para ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu memang sangat dihormati dalam masyarakat Yahudi. Mereka dikenal untuk pengetahuan mereka dan dalam hal menepati Hukum Musa (Taurat). Yesus sendiri tidak datang ke dunia untuk meniadakan hukum Taurat. Dalam ‘Khotbah di Bukit’, Ia mengatakan,  “Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya” (Mat 5:17). Santo Paulus bahkan menulis: “Kristus adalah tujuan akhir hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya” (Rm 10:4).

Yang diserang oleh Yesus bukanlah posisi terhormat para ahli Taurat dan orang-orang Farisi, bukan juga pengaruh mereka. Ia tidak menyerang para ahli Taurat untuk pengetahuan mereka tentang tradisi, melainkan cara mereka memelintir semua itu untuk keuntungan mereka sendiri dan membangun kesan betapa pentingnya mereka. Yesus juga tidak menyalahkan orang-orang Farisi untuk semangat mereka sehubungan dengan hal-ikwal Allah, melainkan karena fokus mereka terlalu banyak pada hal-hal kecil yang harus ditaati, sehingga tidak cukup banyak perhatian pada Allah dan perintah-Nya untuk mengasihi. Baik para ahli Taurat maupun orang-orang Farisi berada dalam posisi di mana mereka dapat memberikan pelayanan bagi bangsa Yahudi. Mereka sesungguhnya dapat mengabdikan diri mereka untuk mendorong atau menyemangati bangsa Yahudi dalam hal doa, saling mengasihi dan merangkul belas kasihan Allah. Sayangnya semua ini menjadi kabur sebagai akibat dari kesombongan, egoisme dan cinta kehormatan (gila hormat).

Seperti para rasul, kita juga harus menaruh perhatian pada panggilan Yesus agar menjadi rendah hati dan melayani sesama kita. Kadang-kadang garis pemisah antara kekudusan dan ketamakan/ keserakahan dapat menjadi sedemikian tipis. Oleh karena itu, baiklah kita menyadari bahwa semakin dekat kita dengan Yesus, semakin banyak pula kita mendengar suara-Nya, yang mendorong dan menyemangati kita, ajaran-ajaran-Nya, dan bahkan mengoreksi kita apabila diperlukan.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, tolonglah aku menjaga hatiku agar terbuka bagi cara-cara Engkau bekerja di dalam dunia sekarang. Semoga aku tidak terlalu terpaku pada tradisi-tradisi, sehingga luput melihat Engkau dan hati-Mu yang penuh kasih. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat ), silahkan baca tulisan yang berjudul “YESUS TIDAK MAU KITA MENJADI ORANG-ORANG MUNAFIK” (bacaan tanggal 10-3-20) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-03 BACAAN HARIAN MART 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan 27-2-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 9 Maret 2020  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KEMUNAFIKAN PARA PEMUKA AGAMA YAHUDI

KEMUNAFIKAN PARA PEMUKA AGAMA YAHUDI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa V – Selasa, 11 Februari 2020)

HARI ORANG SAKIT SEDUNIA

Peringatan Fakultatif: SP Maria di Lourdes

Bruder-Bruder Budi Mulia: HARI RAYA SP MARIA DI LOURDES, Pelindung Tarekat

Orang-orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus. Mereka melihat bahwa beberapa orang murid-Nya makan dengan tangan yang najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh. Sebab orang-orang Farisi seperti orang-orang Yahudi lainnya tidak makan kalau tidak membasuh tangan dengan cara tertentu, karena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang mereka; dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membasuh dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga serta tempat pembaringan. Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada-Nya, “Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?” Jawab-Nya kepada mereka, “Tepatlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik, seperti ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya tetap jauh dari Aku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, karena ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan dan adat istiadat manusia kamu pegang.” Lalu Yesus berkata kepada mereka, “Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadat sendiri. Karena Musa telah berkata: Hormatilah ayahmu dan ibumu! dan: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati. Tetapi kamu berkata: Kalau seseorang berkata kepada ayahnya atau ibunya: Segala bantuan yang seharusnya engkau terima dariku adalah Kurban, – yaitu persembahan kepada Allah – , maka kamu tidak membiarkannya lagi berbuat sesuatu pun untuk ayahnya atau ibunya. Jadi, dengan adat istiadat yang kamu teruskan itu, firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku. Banyak lagi hal lain seperti itu yang kamu lakukan.” (Mrk 7:1-13)

Bacaan Pertama: 1Raj 8:22-23,27-30; Mazmur Tanggapan: Mzm 84:3-5,10-11

“Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya tetap jauh dari Aku.” (Mrk 7:6)

Para pemuka agama Yahudi dalam bacaan Injil hari ini adalah kaum legalis (penganut legalisme). Mereka menjadikan hubungan dengaan Allah hanya sebagai pelaksanaan tata cara keagamaan saja, dan tidak melakukan perbuatan cintakasih yang sesungguhnya lebih penting daripada peraturan-peraturan keagamaan.

Pada umumnya para pemuka agama tersebut begitu takut dan iri-hati melihat popularitas Yesus sehingga mereka terus saja mencoba menemukan kesalahan Yesus dalam kata-kata maupun tindakan-tindakan-Nya. Dalam bacaan Injil hari ini disoroti “upacara” cuci tangan sebelum makan. Beberapa murid Yesus mengabaikan “upacara” yang tidak kurang/penting ini. Langsung saja orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang datang dari Yerusalem itu melihat hal tersebut. Mereka mengkonfrontir Yesus seakan hal ini merupakan kelalaian yang sangat berat.

Yesus mengkritisi keprihatinan berlebihan para pemuka agama tersebut pada tradisi-tradisi manusia, yang lebih dipentingkan daripada pengabaian perintah-perintah Allah yang terdapat dalam Kitab Suci dengan mengutip dari Kitab nabi Yesaya: “Tepatlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik, seperti ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya tetap jauh dari Aku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, karena ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan dan adat istiadat manusia kamu pegang.” Lalu Yesus berkata kepada mereka, “Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadat sendiri” (Mrk 7:6-9).

Inilah kata-kata keras Yesus yang ditujukan kepada orang-orang Farisi dan beberapa ahli Taurat yang datang dari Yerusalem itu. Pada dasarnya yang dikatakan oleh Yesus ini adalah bahwa mereka adalah orang-orang bodoh, munafik dan tidak jujur. Mereka memelihara tradisi-tradisi mereka bukan disebabkan oleh kasih kepada Allah dan sesama, melainkan untuk melestarikan posisi mereka sebagai para pemuka agama yang kelihatan suci di mata umat Yahudi, kaum elite …… orang-orang terhormat dalam masyarakat.

Namun, sebelum kita menjadi begitu marah dan merasa terdorong untuk menghakimi orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat tersebut, marilah kita melihat diri kita sendiri. Apakah kita selalu bersikap jujur terhadap diri kita sendiri, terhadap Allah dan sesama? Jika kita mematuhi perintah-perintah atau peraturan-peraturan, apakah kita melakukannya karena semua itu adalah kehendak Allah atau agar sekadar kelihatan baik di mata orang-orang lain? Apakah kita sebenarnya hanya ingin agar orang-orang lain memandang kita sebagai orang-orang Kristiani saleh yang mematuhi perintah-perintah agama demi kebanggaan pribadi dan juga pertimbangan dari sudut pandang sosial pada umumnya? Ataukah kita – secara jujur sesungguh-sungguhnya – hendak melaksanakan hukum kasih kepada Allah dan sesama, dan kita memandang dan menyikapi setiap perintah dan mematuhinya sedemikian rupa sehingga tindakan-tindakan kita, kata-kata yang kita ucapkan, pikiran-pikiran kita semuanya sungguh merupakan ungkapan kasih Kristiani kita?

DOA: Tuhan Yesus Kristus, jadikanlah kami murid-murid-Mu yang setia. Jauhkanlah kami dari sikap munafik dan suka membohongi diri sendiri. Terima kasih Tuhan. Terpujilah nama-Mu selalu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 7:1-13), bacalah tulisan yang berjudul “ADAT ISTIADAT LEBIH DISUKAI KETIMBANG KEHENDAK ALLAH” (bacaan tanggal 11-2-20) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; 20kategori: 20-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2020.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-2-19 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 10 Februari 2019 [HARI MINGGU BIASA V – TAHUN A]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KEMUNAFIKAN ITU BAGAIKAN SEBILAH PISAU BERMATA DUA

KEMUNAFIKAN ITU BAGAIKAN SEBILAH PISAU BERMATA DUA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Wajib S. Ignatius dr Antiokhia – Kamis, 17 Oktober 2019)

Celakalah kamu, sebab kamu membangun makam nabi-nabi, padahal nenek moyangmu telah membunuh mereka. Dengan demikian, kamu mengaku bahwa kamu membenarkan perbuatan-perbuatan nenek moyangmu, sebab mereka telah membunuh nabi-nabi itu dan kamu membangun makamnya. Karena itu, hikmat Allah berkata: Aku akan mengutus kepada mereka nabi-nabi dan rasul-rasul dan sebagian dari antara nabi-nabi dan rasul-rasul itu akan mereka bunuh dan mereka aniaya, supaya dari orang-orang zaman ini dituntut darah semua nabi yang telah tertumpah sejak dunia dijadikan, mulai dari darah Habel sampai kepada darah Zakharia yang dibunuh di antara mezbah dan Rumah Allah. Bahkan, Aku berkata kepadamu: Semuanya itu akan dituntut dari orang-orang zaman ini. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu telah mengambil kunci pengetahuan; kamu sendiri tidak masuk ke dalam dan orang yang berusaha untuk masuk ke dalam kamu halang-halangi.”

Setelah Yesus berangkat dari tempat itu, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi terus-menerus mengintai dan membanjiri-Nya dengan berbagai pertanyaan. Mereka berusaha menjebak-Nya, supaya mereka dapat menangkap-Nya berdasarkan sesuatu yang diucapkan-Nya. (Luk 11:47-54) 

Bacaan Pertama Rm 3:21-30; Mazmur Tanggapan: Mzm 130:1-6 

Yesus menuduh orang orang Farisi “telah mengambil kunci pengetahuan” (Luk 11:52). Yesus tidak hanya meyakinkan mereka bahwa mereka sendiri belum masuk ke dalam pengetahuan dan hikmat itu sendiri, namun ajaran mereka telah menghalang-halangi orang lain untuk mengenal kebenaran.

Orang-orang muda dengan cepat dapat mendeteksi adanya kemunafikan dalam diri para orangtua mereka. “Ayahku terus saja melarang-larang aku merokok padahal aku tahu pasti bahwa beliau pun merokok, walaupun secara diam-diam dan sekali-kali saja.” Ada juga yang mengatakan, “Generasi yang lebih tua sungguh tidak memahami kita. Namun aku yakin sekali bahwa mereka tidak lebih baik daripada kita pada waktu mereka cukup muda untuk menikmati hidup ini.”

“Mereka seharusnya tidak marah-marah kepadaku dengan berteriak-teriak seperti itu. Lihatlah kekacau-balauan dunia yang dibuat oleh ulah generasi mereka.” “Mereka terus saja berkhotbah betapa buruknya minuman keras itu, namun setiap kali mereka pulang ke rumah aku dapat mencium bau napas mereka, …… penuh aroma miras.”

Apakah protes-protes ini, keluhan-keluhan ini, sama tuanya dengan sejarah umat manusia? Kita bisa saja bertanya-tanya kepada diri kita sendiri. Setiap generasi baru kaum muda bangkit untuk menuduh kemunafikan generasi yang lebih tua, untuk menuduh masyarakat karena berbagai kejahatan yang dilakukan dalam dunia, dst. – namun tidak ada satu generasi pun yang kelihatan berhasil menuntaskan upaya perbaikan atas “kekeliruan-kekeliruan” yang dibuat di masa lampau oleh mereka yang mendahului. Bayangkanlah bagaimana generasi mendatang (sekarang masih anak-anak kecil) di Indonesia tercinta ini akan memaki-maki generasi di atas mereka yang telah menggiring negeri ini menuju keterpurukan dan harus memikul beban utang negara yang begitu fantastis jumlahnya. Juga bagaimana kekayaan negara berupa berbagai sumber daya alam yang konon berlimpah-ruah sudah menjadi sedemikian menyusut, sebagian besar disebabkan kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh para “pemimpin” yang terdiri dari pribadi-pribadi serakah dan tamak, yang lebih memilih kenyamanan diri mereka daripada kepentingan/kesejahteraan umum. Sekarang, pertanyaannya adalah apakah yang telah kita lakukan berkaitan dengan keluhan-keluhan kita sendiri?

Orang-orang Farisi selama berabad-abad mencoba untuk memecahkan masalah pelik seperti ini dengan melipat-gandakan jumlah hukum/peraturan. Berbagai hukum/ peraturan itu dapat menjadi “benteng kebenaran” yang dengan bebas dapat didengung-dengungkan oleh para pemuka agama setiap saat mereka berkhotbah seturut kebutuhan audiensi yang ada. Berbagai hukum/peraturan ini juga ditaati oleh orang-orang yang “saleh-lugu”, pokoknya mematuhi semua hukum/peraturan yang tersurat (belum tentu yang tersirat). Berbagai hukum/peraturan itu juga dengan mudah dapat diabaikan oleh sebagian lagi orang, yang akan bersikap dan berperilaku seturut “sikon” yang ada.

Kemunafikan itu bagaikan sebilah pisau yang bermata dua. Kita menggunakannya dalam melawan orang-orang lain untuk menutup-nutupi kesalahan-kesalahan atau kegagalan-kegagalan kita sendiri. Mengapa koq selalu begitu mudahnya bagi kita untuk melihat kemunafikan dalam diri orang-orang lain, tetapi tidak dalam diri kita sendiri? Memang kelihatannya seakan-akan tidak ada jalan keluar dari “lingkaran setan”, kecuali jalan kejujuran yang bersifat terbuka.

Sekali peristiwa di dekat pintu gerbang Yerikho, Yesus bertanya kepada seorang buta yang bernama Bartimeus, apakah yang dikehendaki orang buta itu untuk dilakukan Yesus atas dirinya. Bartimeus menjawab dengan jujur penuh keterbukaan, “Rabuni, aku ingin dapat melihat!” (Mrk 10:51). Permohonan atau doa Bartimeus ini adalah sebuah doa yang dibutuhkan oleh kita semua. Kita membutuhkan kejujuran, agar Yesus Kristus  dapat melihat siapa diri kita sebenarnya. Kemunafikan tidak pernah dapat dikalahkan, kecuali kalau kita masing-masing mau belajar untuk mengalahkan kemunafikan kita sendiri. Tidak ada seorang pun yang dapat melakukannya untuk Saudari-Saudara!

DOA:  Tuhan Yesus, bebaskanlah diriku dari pengucapan kata-kata yang mengandung kebencian, dan jagalah aku jangan sampai ketidakbenaran membutakan jalanku. Jagalah agar aku tidak terlibat dalam rancangan-rancangan jahat terhadap orang lain dan buatlah diriku semakin kudus dari hari ke hari. Perkenankanlah aku berdiam di dekat hadirat-Mu selalu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 11:47-54), bacalah tulisan yang berjudul “SERUAN CELAKA YANG DITUJUKAN KEPADA ORANG-ORANG FARISI” (bacaan tanggal 17-10-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2019.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 19-10-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 15 Oktober 2019 [Peringatan Wajib S. Teresia dr Yesus, Perawan Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PARA PEMIMPIN AGAMA YANG MUNAFIK MEMANG BERBEDA SEKALI DENGAN YESUS

PARA PEMIMPIN AGAMA YANG MUNAFIK MEMANG BERBEDA SEKALI DENGAN YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVIII – Rabu, 15 Oktober 2019)

Peringatan Fakultatif S. Hedwig, Biarawati

Peringatan Fakultatif S. Margarita Maria Alacoque, Perawan

“ ……… Tetapi celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih terhadap Allah. Hal-hal tersebut harus dilakukan tanpa mengabaikan yang lainnya. Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu suka duduk di tempat terbaik di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan di pasar. Celakalah kamu, sebab kamu sama seperti kubur yang tidak memakai tanda; orang-orang yang berjalan di atasnya, tidak mengetahuinya.”

Seorang dari antara ahli-ahli Taurat itu menjawab dan berkata kepada-Nya, “Guru, dengan berkata demikian, Engkau menghina kami juga.” Tetapi Ia menjawab, “Celakalah kamu juga, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang, tetapi kamu sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jari pun. ………” (Luk 11:42-46) 

Bacaan Pertama: Rm 2:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 62:2-3,6-7,9 

Bayangkanlah anda mengundang seorang tamu istimewa untuk makan bersama di rumahmu dan kemudian anda malah “dimaki-maki” dan dihina, demikian para tamu lain yang hadir. Tamu macam apa yang akan menyerang tuan rumah dengan kata-kata yang terasa sangat keras itu?

Seperti seekor singa ganas yang menyerang mangsanya, Yesus – singa dari suku Yehuda (Why 5:5) – menyerang sikap negatif yang telah begitu lama mengendap dalam hati orang-orang Farisi. Dalam menafsirkan Hukum Musa, sejumlah orang Farisi menggunakan pendekatan kaku yang mengabaikan panggilan untuk membuat keseimbangan antara keadilan dan belas kasih. Dalam menanggapi hal itu, Yesus berupaya untuk menunjukkan kepada mereka “semangat” atau roh dari hukum tersebut. Orang-orang Farisi dan para ahli Taurat pada acara makan malam tersebut adalah para pakar dalam bidang hukum Musa. Namun Yesus ingin agar mereka melihat bahwa Kerajaan Allah adalah terlebih-lebih mengenai relasi daripada mengenai peraturan-peraturan. Tantangannya bukanlah sekadar kepatuhan-kaku untuk melakukan “persepuluhan” dan/atau kewajiban-kewajiban keagamaan lainnya, melainkan untuk mengasihi Allah dan bersikap serta berlaku adil terhadap umat-Nya. Mematuhi perintah-perintah Allah bukanlah untuk membuktikan kekudusan seorang pribadi, melainkan untuk mengasihi Allah dan tetap bersikap dan berlaku benar terhadap kasih perjanjian-Nya.

Tidak seperti para ahli Taurat yang dikatakan oleh Yesus “tidak menyentuh beban yang diletakkan oleh mereka pada orang dengan satu jari pun” (lihat Luk 11:46), Yesus memikul semua beban dan dosa-dosa kita pada kayu salib. Tidak seperti orang-orang Farisi, yang membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi tidak bagian dalamnya (Luk 11:39), Yesus datang untuk membersihkan kita luar-dalam, guna memurnikan hati kita dan menarik diri kita kepada-Nya. Yesus tidak hanya mengatakan kepada kita bagaimana kita harus bertindak. Ia mempersembahkan diri-Nya sebagai kurban agar dengan demikian kita akan memiliki kuasa untuk mengikuti perintah-perintah-Nya.

Inilah seluruh alasan mengapa Allah menghendaki adanya inkarnasi: “Sabda menjadi daging!” (Yoh 1:14). Yesus datang ke dunia untuk berada bersama kita, untuk menjadi seorang pribadi manusia seperti kita, sehingga dengan demikian kita dapat menjadi seperti Dia dan hidup dengan-Nya untuk selama-lamanya. Setiap hari Yesus berada bersama kita – Dia adalah Imanuel – untuk menolong kita memikul beban-beban kita dan untuk mencurahkan rahmat ilahi secara berlimpah. Yesus tidak meninggalkan kita sendiri ketika Dia kembali kepada Bapa di surga. Yesus meninggalkan Roh Kudus-Nya bagi kita untuk menjadi Penasihat dan Penghibur kita, dan Ia meninggalkan bagi kita tubuh-Nya dan darah-Nya dalam Ekaristi. Bukankah semua ini merupakan bukti betapa besar kasih-Nya kepada kita?

DOA: Tuhan Yesus, Engkau sungguh mengasihi diriku, jiwa dan ragaku! Ini, terimalah hatiku ini! Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah mengambil dosa-dosaku dan memikul beban-bebanku. Aku juga bersyukur sedalam-dalamnya karena kasih-Mu yang tak terkira, Engkau bersedia mati demi aku. Datanglah, ya Tuhan Yesus, dan berilah aku makan “roti kehidupan”. Berilah makanan bagi jiwaku dengan “asupan makanan yang bergizi”. Puaskanlah rasa hausku akan hal-hal rohani. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Rm 2:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “SEBAB ALLAH TIDAK MEMANDANG BULU” (bacaan tanggal 16-10-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori:19-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 17-10-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 14 Oktober 2019

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERIKANLAH ISINYA SEBAGAI SEDEKAH DAN SESUNGGUHNYA SEMUANYA AKAN MENJADI BERSIH BAGIMU

BERIKANLAH ISINYA SEBAGAI SEDEKAH DAN SESUNGGUHNYA SEMUANYA AKAN MENJADI BERSIH BAGIMU

(Bacaan Pertama Misa Kudus,  Peringatan Wajib S. Teresia dr Yesus – Selasa, 15 Oktober 2019)

KSFL: Pesta Tarekat – Hari Jadi Persaudaraan KSFL

Ketika Yesus selesai mengajar, seorang Farisi mengundang Dia untuk makan di rumahnya. Ia masuk ke rumah itu, lalu duduk makan. Orang Farisi itu heran melihat bahwa Yesus tidak mencuci tangan-Nya sebelum makan. Tetapi Tuhan berkata kepadanya, “Hai orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan. Hai orang-orang bodoh, bukankah Dia yang menjadikan bagian luar, Dia juga yang menjadikan bagian dalam? Akan tetapi, berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu.” (Luk 11:37-41) 

Bacaan Pertama: Rm 1:16-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:2-5 

Pada tingkatan tertentu, orang Farisi ini kelihatannya seorang pribadi terhormat. Dengan mengundang Yesus makan malam, dia menunjukkan bahwa dirinya sungguh berminat untuk mengenal rabi yang populer akhir-akhir ini. Dengan mencuci tangannya secara seremonial sebelum makan, orang Farisi ini juga menunjukkan bahwa dia berhati-hati dan taat dalam memenuhi kewajiban-kewajiban keagamaannya. Akhirnya, dengan menahan diri dari tindakan mengkritisi tamunya, orang Farisi ini menunjukkan kesantunannya. Namun demikian Yesus menegur orang ini dan orang-orang Farisi lainnya dengan keras, dengan mengatakan bahwa orang Farisi itu serakah (“bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan”; Luk 11:39). Mengapa Yesus sampai berkata-kata keras seperti itu, apalagi sebagai tamu istimewa dalam suatu acara makan malam? Kiranya bukan karena Yesus tidak mengasihi orang Farisi itu. Yesus senantiasa memandang setiap orang dengan kebaikan hati yang penuh bela-rasa. Jadi, apa yang dilakukan oleh Yesus?

Orang itu mempunyai masalah, yaitu bahwa dia tidak melihat atau tidak mau melihat. Walaupun dari luar kelihatan bahwa perilaku keagamaannya itu nyaris sempurna, hatinya dipenuhi dengan motivasi-motivasi non-religius. Pada dasarnya orang Farisi ini seorang pribadi yang serakah … tamak,  yang menginginkan untuk memperoleh lebih dan lebih lagi bagi dirinya, bukan memberi kepada orang-orang lain. Perilaku keagamaannya hanyalah merupakan tabir yang menghalanginya untuk dapat melihat kebutuhannya sendiri akan suatu perubahan batiniah. Hal paling baik yang dapat dilakukan oleh Yesus bagi diri si Farisi adalah memindahkan tabir itu ke tempat lain dan menunjukkan kepadanya apa saja yang ada di situ setelah tabir itu disingkirkan.

Sekarang, bagaimana dengan diri kita sendiri? Sampai seberapa seringkah kita menghindar, kita tidak mau menghadapi masalah keserakahan/ketamakan  yang ada dalam hati dan pikiran kita? Kita dapat saja berpikir bahwa mengubah diri kita sendiri itu sungguh sulit, bahkan tidak mungkin. Namun Yesus ingin membangunkan kita dari tidur dan mengingatkan akan kebutuhan kita untuk bertobat karena Dia ingin menyembuhkan kita. Yesus ingin membersihkan hati kita – bukan sekadar secara umum: Ia ingin menyembuhkan pikiran dan hati kita yang suka mementingkan diri sendiri, nafsu-nafsu dan kecemburuan serta rasa iri hati kita. Sekarang, maukah kita memperkenankan Yesus menjamah kita, menyentuhkan jari-jari kasih-Nya pada pemikiran-pemikiran dan pola-pola perilaku kita yang membutuhkan perubahan? Tidak ada alasan bagi kita untuk merasa takut. Ia sudah mengetahui dosa-dosa kita, bahkan sebelum kita mengungkapkannya ……, dan bagaimana pun juga Dia tetap mengasihi kita.

Yesus bukanlah Yesus sekiranya Dia tidak memberi solusi atas masalah yang dihadapi seseorang. Yesus tidak hanya mengkritisi orang Farisi itu. Dia menunjukkan kepadanya jalan keluar dari keterikatan pada hal-hal yang buruk itu: “Berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu” (Luk 11:41). Yesus berjanji kepada kita, bahwa apabila kita melangkah keluar dari pemikiran, sikap dan perilaku yang mementingkan diri sendiri, dan mulai menunjukkan perhatian secara konkret-praktis terhadap orang-orang lain, maka kita akan mengalami rahmat-Nya bekerja dalam diri kita dan mengubah hati kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku memang membutuhkan perubahan batiniah. Namun aku tidak dapat melakukannya sendiri, untuk itu tolonglah aku. Sembuhkanlah diriku, agar aku dapat mengasihi sebagaimana Engkau mengasihi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 11:37-41), bacalah tulisan yang berjudul “SIKAP DAN PERILAKU YANG MENCERMINKAN KEMUNAFIKAN” (bacaan tanggal 15-10-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-10  BACAAN HARIAN OKTOBER 2019.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 16-10-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 14 Oktober 2019 [Peringatan Fakultatif S. Kalistus I, Paus Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HUKUM ALLAH TIDAK PERNAH BOLEH DIGUNAKAN SEBAGAI DALIH UNTUK TIDAK MELAKUKAN SUATU KEBAIKAN

HUKUM ALLAH TIDAK PERNAH BOLEH DIGUNAKAN SEBAGAI DALIH UNTUK TIDAK MELAKUKAN SUATU KEBAIKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIII – Senin, 9 September 2019)

Image result for IMAGES OF LUKE 6:6-11 

Pada suatu hari Sabat lain, Yesus masuk ke rumah ibadat, lalu mengajar. Di situ ada seorang yang mati tangan kanannya. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat, supaya mereka mendapat alasan untuk mempersalahkan Dia. Tetapi Ia mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada orang yang mati tangannya itu, “Bangunlah dan berdirilah di tengah!” Orang itu pun bangun dan berdiri. Lalu Yesus berkata kepada mereka, “Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?” Sesudah itu Ia memandang keliling kepada mereka semua, lalu berkata kepada orang sakit itu, “Ulurkanlah tanganmu!” Orang itu berbuat demikian dan sembuhlah tangannya. Kemarahan mereka meluap, lalu mereka berunding, apakah yang akan mereka lakukan terhadap Yesus. (Luk 6:6-11)

Bacaan Pertama: Kol 1:24-2:3; Mazmur Tanggapan: Mzm 62:6-7,9

Bacaan Injil hari ini memberikan kepada kita suatu pelajaran yang baik mengenai semangat sebenarnya yang harus menjiwai pelaksanaan hukum-hukum Allah. Para ahli Taurat dan orang-orang Farisi siap untuk menjebak Yesus, mereka akan menyalahkan-Nya jika Dia menyembuhkan orang yang mati tangan kanannya pada hari Sabat itu. Namun Yesus mengajukan pertanyaan berikut: “Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?” (Luk 6:9). Lalu Yesus menyembuhkan orang itu, walaupun hari itu adalah hari Sabat (Luk 6:10).

Hukum Allah tidak pernah boleh digunakan sebagai dalih untuk tidak melakukan suatu kebaikan. “Patuh pada peraturan” bukanlah alasan bagi seseorang untuk tidak melakukan pelayanan kasih. Pada kesempatan lain orang-orang Farisi tidak memberi penghormatan yang seharusnya kepada para orangtua mereka karena mereka harus memberikan penghormatan kepada Allah. Sejumlah pemuka agama Yahudi pada zaman Yesus menggunakan dasar-dasar teknis di bidang hukum untuk membenarkan seorang anak yang bertumbuh dewasa menetapkan suatu batas tertentu dalam hal mereka memelihara orangtua mereka yang sudah tua usia (lihat Mrk 7:11-12).

Jadi, walaupun mereka menjunjung tinggi hukum Allah dengan seksama, orang-orang Farisi melupakan nilai sentralnya, yaitu cintakasih. Lalu, kalau mereka tak mampu memahami panggilan Allah kepada cintakasih-tanpa-batas dalam keluarga, bagaimana mereka akan mampu memahami cintakasih-Nya bagi seluruh umat manusia? Juga ironislah bahwa orang-orang Farisi menetapkan suatu batas mengenai cintakasih dalam keluarga, karena hubungan antara orangtua dan anak-anak adalah salah satu dari gambaran yang mendalam dari hubungan antara Allah dan umat-Nya. Seperti orangtua yang mengasihi anak-anaknya tak akan merasa ragu sedetik pun untuk mengorbankan segalanya bagi anak-anaknya, demikian pula Bapa surgawi tidak akan meninggalkan kita. Pandangan Yesus terhadap kemunafikan seperti ini: “Tepatlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik, seperti ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya tetap jauh dari Aku” (Mrk 7:6; bdk. Yes 29:13). Ingatlah bahwa kita tidak dapat menghormati Kristus, namun pada saat yang sama kita tidak menghormati orangtua kita.

Kita banyak mendengar pembicaraan mengenai “mengasihi sesama”, ketulusan hati dlsb. Dapatkah Kristus membuat tuduhan yang sama terhadap kita? Tuduhan karena kita hanya dapat berbicara, berbicara, dan berbicara; namun tanpa diikuti dengan cintakasih hidup yang sungguh nyata, tidak ada kejujuran, tidak ada ketulusan hati? Omdo? Nato? Berbicara saja sih murah dan mudah. Tidak ada pengorbanan! Di lain pihak, love-in-action yang riil membutuhkan pengorbanan. Untuk mengasihi, kita harus memberi keseluruhan diri kita. Terkadang sungguh sulitlah bagi kita untuk menyangkal diri kita sendiri, namun itulah jalan satu-satunya utuk sampai kepada kasih yang sejati, yang riil, yang tulus. Kalau tidak demikian halnya, maka kita dapat dipastikan sebagai orang-orang munafik.

Kita (anda dan saya) dapat berbicara berjam-jam lamanya tentang apa yang harus dilakukan guna menolong orang-orang miskin dan yang kelaparan di dunia, namun kita hanya dapat membuktikan kasih Kristiani kita yang sejati dengan memberikannya sampai terasa sakit (“giving/loving till it hurts”, kata Santa Bunda Teresa dari Kalkuta). Dengan demikian kita tidak melakukan penipuan-diri, teristimewa apabila kita melakukan kebaikan tanpa ramai-ramai dan tanpa publisitas. Dalam “Khotbah di Bukit”, Yesus bersabda: “… apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau menggembar-gemborkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik …… Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu”  (lihatlah keseluruhan Mat 6:1-4).

Saudari-Saudara yang terkasih, jika kita sungguh ingin mematuhi hukum-hukum Allah, maka kita harus belajar bahwa cintakasih atau KASIH adalah perintah yang pertama dan utama. Kita harus jujur dan tulus dengan diri kita sendiri. Kita harus mengasihi dan bertindak karena kasih itu, walaupun menyakitkan, barangkali karena tindakan kita tidak populer dengan pihak penguasa, seperti Kristus dengan orang-orang Farisi. Kasih harus merupakah tolok ukur pertama dalam hal kepatuhan kita kepada semua hukum yang berlaku.

DOA: Tuhan Yesus, dalam perjamuan terakhir Engkau bersabda kepada para murid-Mu: “Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu melakukan apa yang Kuperintahkan kepadamu …… Kasihilah seorang terhadap yang lain” (Yoh 15:14,17). Tuhan, jadikanlah aku murid-Mu yang setia mematuhi perintah-Mu ini. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 6:6-11), bacalah tulisan yang berjudul “PADA HARI SABAT YESUS MENYEMBUHKAN ORANG DI RUMAH IBADAT” (bacaan tanggal 9-9-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2019.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-9-18 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 6 September 2019

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

CELAKALAH, HAI KAMU ORANG-ORANG MUNAFIK

CELAKALAH, HAI KAMU ORANG-ORANG MUNAFIK

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Augustinus, Uskup Pujangga Gereja – Rabu, 28 Agustus 2019)

Celakalah kamu, hal ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dicat putih, yang sebelah luarnya memang indah tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan berbagai jenis kotoran. Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kelaliman.

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu membangun makam nabi-nabi dan memperindah tugu orang-orang saleh dan berkata: Jika kami hidup di zaman nenek moyang kita, tentulah kami tidak ikut dengan mereka dalam pembunuhan nabi-nabi itu. Tetapi dengan demikian kamu bersaksi terhadap diri kamu sendiri bahwa kamu adalah keturunan pembunuh nabi-nabi itu. Jadi, lengkapilah juga apa yang sudah dilakukan nenek moyangmu! (Mat 23:27-32) 

Bacaan Pertama: 1Tes 2:9-13;  Mazmur Tanggapan: Mzm 139:7-12 

Bacaan Injil hari ini terdiri dari dua ucapan Yesus yang terakhir dari keseluruhan tujuh “ucapan celaka” yang diucapkan-Nya terhadap para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Dalam ketujuh “ucapan celaka” tersebut, Yesus menamakan mereka sebagai “orang-orang munafik”.

Yesus biasanya bersikap sangat baik hati dan penuh pengampunan terhadap para pendosa. Mengapa sikap ini berubah secara tiba-tiba dalam hal dosa kemunafikan? Yesus jelas melihat para ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu memiliki sedikit sekali niat atau kecenderungan untuk menerima kesalahan mereka, sedikit hasrat untuk melakukan pertobatan sejati. Yesus melihat bahwa satu-satunya pendekatan adalah dengan menggunakan caci-maki yang terasa keras-kuat. Barangkali Yesus telah melihat adanya kebutuhan dalam diri kita dan semua orang yang mengikuti-Nya. Yesus ingin menunjukkan kepada kita  betapa buruknya kemunafikan itu.

Oleh karena itu Tuhan Yesus menjuluki para ahli Taurat dan orang-orang Farisi sama seperti kuburan yang dicat putih, indah dilihat bagian luarnya, namun di dalamnya penuh tulang belulang dan berbagai jenis kotoran. Sampai hari ini pun kuburan di Palestina dicat putih, suatu praktek sejak lebih dari 2.000 tahun lalu. Kuburan yang dicat dengan warna putih akan membantu mengidentifikasi kuburan tersebut.

Dari sinilah muncul istilah white-washing yang berarti menutup-nutupi sesuatu (cover up). Terkait dengan orang-orang Farisi, Yesus mengatakan bahwa kepatuhan pada hukum sebenarnya merupakan cover up untuk sesuatu yang sama sekali tidak sesuai dengan Hukum dan semangatnya.

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIALihatlah, betapa sering kita cenderung untuk melakukan cover up atas kegagalan-kegagalan kita, bahkan dosa-dosa kita. Kita mencoba untuk menyembunyikan kesalahan-kesalahan kita agar kita terlihat sebagai “orang benar” di mata orang-orang lain, padahal selama itu kita sendiri sangat tahu bahwa kita tidak jujur, kita takut ketahuan. Artinya, kita hidup tanpa kedamaian di dalam hati.

Mengakui kesalahan-kesalahan kita adalah jauh lebih baik, demikian pula memohon pengampunan atas dosa-dosa kita, dan kemudian kita pun disembuhkan. Kita membutuhkan penyembuhan dan pengampunan dari Kristus dan juga antara orang satu sama lain. Namun hanya dengan keterbukaan yang jujur kita dapat mengharapkan untuk menerima penyembuhan dan pengampunan.

DOA: Tuhan Yesus, aku mohon belas kasih-Mu dan pengampunan-Mu. Sembuhkanlah aku dari segala ketidakjujuran dan segala kecemasan yang diakibatkannya.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Tes 2:9-13), bacalah tulisan yang berjudul “SANTO PAULUS DIDORONG OLEH KASIH KRISTUS” (bacaan tanggal 28-8-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 30-8-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 26 Agustus 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MARILAH KITA MELIHAT ISI HATI KITA SENDIRI

MARILAH KITA MELIHAT ISI HATI KITA SENDIRI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Wajib S. Monika – Selasa, 27 Agustus 2019)

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu memberi persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. Hai kamu pemimpin pemimpin buta, nyamuk kamu saring dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan.

Celakalah kamu, hai ahli-hali Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan. Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih. (Mat 23:23-26) 

Bacaan Pertama: 1Tes 2:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 139:1-6

Banyak orangtua dengan penuh kesadaran menyediakan sebuah rumah yang nyaman bagi anak-anak mereka dan mereka juga sangat memperhatikan segala kebutuhan anak-anak mereka. Namun apabila para orangtua tersebut membayar les musik bagi anak-anak mereka dan selalu mengadakan perayaan ulang tahun yang mewah bagi anak-anak mereka, sementara mereka gagal mengajar anak-anak mereka tentang integritas, rasa ingin tahu, ambisi, dan bahkan makna kehidupan itu sendiri, apakah mereka merupakan para orangtua yang baik? Apakah mereka setia dengan apa yang diminta oleh Allah dari mereka? Tidak! Adalah suatu ketidakadilan untuk menekankan perilaku eksternal – yang kelihatan orang lain – namun mengabaikan hidup batiniah. Dapat dikatakan bahwa para orangtua yang begini adalah seperti orang-orang Farisi yang diceritakan dalam Injil hari ini.

Orang-orang Farisi itu mengajar orang-orang untuk memberi bobot lebih berat kepada aspek-aspek praktek keagamaan yang kecil dan kurang penting daripada perintah sentral Allah untuk memperlakukan orang-orang lain dengan belas kasih – “nyamuk kamu saring dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan” , seperti digambarkan oleh Yesus (Mat 23:24). Kerasnya teguran Yesus menunjukkan betapa serius Allah menilai hidup batiniah manusia, bukan yang kelihatan dengan mata. Hal ini  juga menunjukkan bahwa Yesus tidak datang sekadar untuk merekonsiliasikan kita dengan Allah, melainkan antara kita (manusia) satu sama lain juga. Oleh salib-Nya, Dia dapat membebaskan kita dari keserakahan/ketamakan yang telah menyebabkan kita mengabaikan kebutuhan-kebutuhan dalam keluarga-keluarga dan komunitas-komunitas kita.

Marilah kita melihat isi hati kita sendiri. Dapatkah kita (anda dan saya) melihat adanya sifat-sifat orang Farisi dalam diri kita? Tentu saja dapat! Kita mungkin saja ingin untuk setia kepada semangat hukum Allah, namun begitu mudah kita menjadi jatuh dan gagal. Dalam kehidupan kita ini begitu menggoda bagi kita untuk kita salah/keliru menilai, hal-hal yang salah malah kita nilai berharga. Kita fokus pada kepatuhan praktek agama yang bersifat eksternal, yang mudah terlihat oleh orang-orang lain, walaupun pada kenyataannya hati kita penuh dengan noda-noda egoisme, ketamakan, kecemburuan, dlsb. yang tak mampu kita atasi sendiri. Hanya apabila Yesus hidup dalam diri kita maka keadilan Allah dan belas kasih-Nya akan datang ke tengah dunia. Hanya pada saat itulah kita akan mampu untuk membuat pilihan-pilihan yang benar dan bertindak-tanduk seperti seharusnya.

  • Kemungkinan besar tindakan-tindakan dan keputusan-keputusan kita tidak akan membenarkan hal-hal yang salah atau ketidakadilan dalam skala besar. Walaupun demikian, apa yang kita lakukan sehari-hari sungguh berarti. Setiap kali kita menunjukkan kebaikan hati kepada para miskin dan “wong cilik” pada umumnya, kita menganggap lunas utang orang kepada kita, tidak menggerutu lagi karena disakiti, maka berkat-berkat besar mengalir ke dalam diri kita. Para malaikat pun bersukacita. Mengapa mereka bersuka-ria? Karena perubahan hati kita tidak hanya menguntungkan kita, melainkan juga sekali lagi secara sekilas menunjukkan kepada dunia  belas kasih, kemuliaan, dan kuasa Allah sendiri.

DOA: Terpujilah Engkau, ya Tuhan Yesus, karena kemenangan-Mu atas ketidakadilan dan kejahatan! Ajarlah kami untuk menimbang-nimbang segala hal seperti yang Kaulakukan, dan untuk mempraktekkan keadilan dengan melayani dan menolong orang-orang lain. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 23:23-26), bacalah tulisan yang berjudul “HAI KAMU ORANG-ORANG MUNAFIK” (bacaan tanggal 27-8-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2019.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 28-8-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 25 Agustus 2019 [HARI MINGGU BIASA XXI – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS