Posts tagged ‘KAPERNAUM’

KUASA UNTUK MENGAMPUNI DOSA

KUASA UNTUK MENGAMPUNI DOSA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Jumat, 12 Januari 2018)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Bernardus dr Corleone, Biarawan

 

Kemudian, sesudah lewat beberapa hari, waktu Yesus datang lagi ke Kapernaum, tersebarlah kabar bahwa Ia ada di rumah. Lalu datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di depan pintu pun tidak. Sementara Ia memberitakan firman kepada mereka, ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang. Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap di atas Yesus; sesudah terbuka mereka menurunkan tikar, tempat orang lumpuh itu terbaring. Ketika Yesus melihat iman mereka berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu, “Hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni!”  Tetapi beberapa ahli Taurat sedang duduk di situ, dan mereka berpikir dalam hatinya, “Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain Allah sendiri?” Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka, “Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu? Manakah yang lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosa-dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tikarmu dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu bahwa Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa di bumi ini” – berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu –, “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tikarmu dan pulanglah ke rumahmu!” Orang itu pun bangun, segera mengangkat tikarnya dan pergi ke luar dari hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya, “Yang begini belum pernah kita lihat.”  (Mrk 2:1-12)

Bacaan Pertama: 1Sam 8:4-7,10-22a; Mazmur Tanggapan: Mzm 89:16-19 

Narasi Injil yang cukup dramatis ini adalah mengenai bagaimana Yesus menyembuhkan seorang lumpuh yang diturunkan dari atap rumah oleh empat orang yang membawanya ke tempat itu. Cerita tentang penyembuhan orang lumpuh ini adalah yang pertama dari lima cerita konflik dalam Injil Markus (2:1-3:6), yang menyoroti perlawanan para pemuka agama Yahudi terhadap pernyataan siapa diri Yesus itu. Dengan berpegang teguh pada ide-ide kuno mereka sendiri, para ahli Taurat dan orang Farisi gagal mengalami bela rasa dan kasih Allah yang dimanifestasikan dalam diri Yesus.

Ada beberapa pokok konflik yang muncul antara Yesus dan para pemimpin agama Yahudi selama berlangsungnya proses penyembuhan. Yang pertama terjadi ketika Yesus mendeklarasikan bahwa dosa-dosa orang itu diampuni (Mrk 2:5). Dalam Perjanjian Lama, kuasa untuk mengampuni dosa hanya milik Allah saja (Kel 34:6-7; Yes 43:25). Lalu Yesus menyebut diri-Nya sebagai “Anak Manusia” yang memiliki kuasa untuk mengampuni dosa (Mrk 2:10). Tradisi Yahudi pada waktu itu memahami bahwa yang dimaksudkan dengan “anak manusia” (Dan 7:13-14) mengacu kepada sang Mesias yang akan membawa umat ke dalam Kerajaan Allah. Yesus mengidentifikasikan diri-Nya dengan tokoh mesianis ini untuk mulai menyatakan diri-Nya dan mempersiapkan umat bagi pekerjaan yang akan dilaksanakan-Nya melalui sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya.

Tanggapan umat yang hadir terhadap peristiwa penyembuhan orang lumpuh ini merupakan sebuah kontras yang tajam terhadap ketakutan yang melumpuhkan dari para ahli Taurat (Mrk 2:7). Orang banyak takjub dan memuliakan Allah, sambil berkata: “Yang begini belum pernah kita lihat” (Mrk 2:12). Mereka memberi tanggapan positif terhadap kebaikan dan belas kasih Allah. Kiranya tidak sedikit dari orang banyak itu kemudian menjadi murid-murid Yesus.

Sekarang pertanyaannya adalah, mengapa orang banyak  dapat mengenali siapa Yesus itu, sementara para pemimpin agama Yahudi buta sehingga tidak mampu melihat siapa sebenarnya Yesus? Jawabnya terletak pada iman mereka. Yesus melihat iman dari mereka yang membawa orang lumpuh dan juga iman si lumpuh sendiri (Mrk 2:5). Walaupun kuat-kuasa dan belas kasih Yesus begitu terlihat oleh mereka yang percaya (beriman), ketidak-percayaan telah membutakan mata (terutama mata hati) para pemuka agama Yahudi tersebut. Para pemuka agama Yahudi itu tidak mau mengubah mindset  mereka, juga tidak mempunyai keberanian untuk keluar dari comfort zone mereka. Bukankah implisit dalam pengertian apa iman itu, terdapat unsur-unsur keberanian dan perubahan diri?

DOA: Tuhan Yesus, oleh kuasa Roh Kudus-Mu, bukalah mata kami agar mampu melihat karya-Mu dengan lebih jelas dalam hidup kami. Sembuhkanlah kami dari berbagai cara berpikir kami yang membatasi – bahkan menghalangi – pemahaman kami tentang rencana penyelamatan Bapa surgawi atas segenap umat manusia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini, bacalah tulisan yang berjudul “YESUS SUGGUH MEMPUNYAI KUASA UNTUK MENGAMPUNI DOSA” (bacaan tanggal 12-1-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-1-17 dalam situs/blog SANG SABDA] 

Cilandak, 9 Januari 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

MENYERAHKAN HIDUP KITA KEPADA YESUS

MENYERAHKAN HIDUP KITA KEPADA YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Rabu, 10 Januari 2018)

Sekeluarnya dari rumah ibadat itu Yesus bersama Yakobus dan Yohanes pergi ke rumah Simon dan Andreas. Ibu mertua Simon terbaring karena sakit demam. Mereka segera memberitahukan keadaannya kepada Yesus. Ia pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Ia membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka. Menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan. Seluruh penduduk kota itu pun berkerumun di depan pintu. Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan; Ia tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara, sebab mereka mengenal Dia.

Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang terpencil dan berdoa di sana. Tetapi Simon dan kawan-kawannya mencari-cari Dia. Ketika mereka menemukan-Nya, mereka berkata kepada-Nya, “Semua orang mencari Engkau.”  Jawab-Nya, “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota sekitar ini, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.”  Lalu pergilah Ia ke seluruh Galilea memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan-setan.  (Mrk 1:29-39)

Bacaan Pertama: 1Sam 3:1-10,19-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 40:2,5,7-10

Yesus menyembuhkan setiap orang yang datang kepada-Nya di Kapernaum. Dia menerima setiap orang, bahkan orang-orang yang mungkin dipertimbangkan sebagai orang-orang yang tak masuk hitungan. Bagi Yesus, tidak ada orang yang dibuang. Yesus membuat jelas bahwa Dia datang untuk menjungkir-balikkan pekerjaan Iblis serta roh-roh jahat pengikutnya, dan membereskan perusakan/kerusakan akibat dosa. Melalui jamahan penyembuhan-Nya, Yesus mengundang setiap orang untuk mengikuti Dia dan memperkenankan Dia memerintah dalam hati mereka.

Ibu mertua Simon Petrus adalah seorang dari mereka yang menerima undangan Yesus itu. Begitu dia menerima jamahan penyembuhan dari Yesus, dia mulai melayani-Nya dan para murid yang ikut serta dengan-Nya (Mrk 1:31). Kelihatan di sini tidak ada keragu-raguan di pihak sang ibu mertua: Dia begitu bersyukur atas apa yang dilakukan Tuhan Yesus terhadap dirinya, sehingga setelah disembuhkan langsung saja dia bangkit berdiri untuk melayani-Nya.

Melalui Yesus, kerajaan Allah telah datang kepada kita – suatu sentuhan surga pada bumi. Yesus menawarkan penyembuhan kepada masing-masing dari kita – tubuh, pikiran dan roh – sehingga kita pun akan menanggapi dengan penuh sukacita, melayani Dia dan umat-Nya dalam cintakasih. Ibu mertua Simon memberikan kepada kita sebuah contoh cara pelayanan Kristiani. Seandainya dia tidak disembuhkan terlebih dahulu, maka dia pun tidak akan mampu untuk melayani. Tetapi, sekali dia mengalami kerahiman dan penyembuhan ilahi dari Tuhan, dia pun bebas untuk memberikan dirinya sendiri secara penuh bagi Tuhan.

Yesus memanggil kita semua untuk melayani Allah dan sesama. Akan tetapi, sebelum kita menjadi pelayan-Nya, adalah vital bahwa kita mengalami karya penyembuhan-Nya dulu dalam hidup kita. Kita semua telah dilukai oleh efek-efek dosa, dan kita membawa tanda-tandanya dalam tubuh dan hati kita. Sampai berapa jauh kita memperkenankan Tuhan melayani kita dengan menyembuhkan diri kita, sampai sebegitu jauh pula kita akan mampu bergabung dengan-Nya dalam pekerjaan membangun kerajaan-Nya di muka bumi ini. Melayani Tuhan bukanlah sesuatu yang kita kerahkan dari kebaikan kita sendiri. Ini adalah sesuatu yang bertumbuh dalam diri kita selagi kita menyerahkan hidup kita kepada tangan-tangan penyembuhan sang Guru dan Dokter Agung. Marilah kita membawa luka-luka dan sakit-penyakit kita kepada Yesus dan mohon kepada-Nya agar menyembuhkan kita, sehingga kita dapat menjadi pelayan-pelayan-Nya yang penuh sukacita.

DOA: Tuhan Yesus, datanglah dan sembuhkanlah kami sehingga kerajaan-Mu akan datang ke muka bumi ini dalam kepenuhan dan kuat-kuasa. Kami menyerahkan hidup kami kepada-Mu agar supaya kami dapat mengasihi-Mu, melayani-Mu dan bersama dengan-Mu, dengan demikian dapat menjadi perpanjangan tangan-Mu bagi duna di sekeliling kami. Terpujilah Nama-Mu, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:29-39), bacalah tulisan yang berjudul “KITA PUN SEMAKIN SEDIKIT BERBICARA DAN LEBIH BANYAK MEMAKAI WAKTU KITA UNTUK MENDENGARKAN SUARA TUHAN” (bacaan tanggal 10-1-18), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; 18-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-1-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 7 Januari 2018 [HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SUATU AJARAN BARU DISERTAI DENGAN KUASA

SUATU AJARAN BARU DISERTAI DENGAN KUASA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Selasa, 9 Januari 2018) 

Yesus dan murid-murid-Nya tiba di Kapernaum. Setelah hari Sabat mulai, Yesus segera masuk ke dalam rumah ibadat dan mengajar. Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat. Pada waktu itu di dalam rumah ibadat mereka, ada seorang yang kerasukan roh jahat. Orang itu berteriak, “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? Apakah Engkau datang untuk membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.”  Tetapi Yesus membentaknya, “Diam, keluarlah dari dia!”  Roh jahat itu mengguncang-guncang orang itu, dan sambil menjerit dengan suara nyaring roh itu keluar dari dia. Mereka semua  takjub, sehingga mereka memperbincangkannya, katanya, “Apa ini? Suatu ajaran baru disertai dengan kuasa! Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka taat kepada-Nya!”  Lalu segera tersebarlah kabar tentang Dia ke segala penjuru di seluruh Galilea. (Mrk 1:21-28)

Bacaan Pertama: 1Sam 1:9-20; Mazmur Tanggapan: 1Sam 2:1,4-7

Pelayanan Yesus di depan publik telah dimulai. Tidak pernah kelihatan yang seperti itu sebelumnya. Orang-orang heran dan bertanya-tanya, “Apa ini? Suatu ajaran baru disertai dengan kuasa! Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka taat kepada-Nya!”  (Mrk 1:27). Dengan kuasa dan kewenangan, Yesus berbicara kepada hati orang-orang dan mengusir roh jahat di depan orang-orang. Semua orang yang menyaksikan peristiwa ini menjadi takjub dan kagum. Ini bukan sekedar khotbah. Ini mengingatkan kita kepada apa yang ditulis oleh Santo Paulus, “Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan bukti bahwa Roh berkuasa” (1 Kor 2:4).

Setiap kebenaran Injil dapat dipilah-pilah dan dianalisis dengan kekuatan intelek dan hal itu samasekali tidak salah, asal saja tidak jadi membingungkan kita atau malah membuat kita tertipu oleh si Jahat. Tetapi ada sesuatu yang lebih penting dan lebih memiliki kuasa, yang diberikan oleh Yesus kepada kita. Dia datang untuk memproklamasikan kebenaran sedemikian sehingga akan memerdekakan kita. Yesus berfirman: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh 3:31-32).

Kata-kata Yesus mempunyai kuasa untuk menghukum kita, menghibur kita, menyembuhkan kita dan bahkan membebaskan kita. Kata-kata Yesus mencakup pemahaman manusiawi, akan tetapi tidak terbatas sampai di situ saja.

Apakah kita mengetahui kebenaran Injil sedemikian rupa sehingga kita dapat mengalami kuasa-Nya untuk memerdekakan diri kita? Apakah kita mengalami kemerdekaan, sukacita dan keakraban dengan Yesus sebagai akibat dari kita mendengarkan firman-Nya yang diproklamasikan dalam liturgi Gereja, pada pertemuan kelompok doa dan/atau Kitab Suci, pada saat-saat berdoa secara pribadi, atau pada saat-saat pembacaan dan permenungan Kitab Suci secara pribadi? Ini adalah warisan kita sebagai anak-anak Allah yang telah dibaptis.   Selagi kita mengalami kasih ilahi-Nya, kita pun akan menyerahkan diri kita lebih penuh lagi kepada firman-Nya. Kita akan mengenal, mengakui serta mematuhi kewenangan dan kuasa-Nya dalam hidup kita; dan keluarga dan teman-teman kita pun akan mengenali adanya perbedaan dalam diri kita.

Yesus merindukan kita masing-masing untuk mengundang Dia ke dalam hati kita – pusat terdalam dari keberadaan kita – tidak hanya ke dalam pikiran kita. Hati adalah tempat keputusan di mana kita bertemu dengan Allah dan digerakkan secara mendalam oleh kasih-Nya. “Hati adalah ….. pusat kita yang tersembunyi, yang tidak dapat dimengerti baik oleh akal budi kita maupun oleh orang lain”  (Katekismus Gereja Katolik, 2563). Marilah sekarang kita membuka hati kita lebih penuh lagi bagi Yesus dan memperkenankan kuasa-Nya mengubah kita.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau saja yang mengetahui hati kami dan hasrat yang ada dalam hati kami itu. Pada saat ini kami mengundang-Mu untuk memasuki bagian terdalam dari keberadaan kami dan mengikat kami pada hati-Mu. Bebaskanlah kami, ya Tuhan, dari segala kejahatan dan ajarlah kami bagaimana hidup untuk-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Sam 1:9-20), bacalah tulisan yang berjudul “KEHIDUPAN ITU ADALAH KARUNIA DARI ALLAH YANG SANGAT BERHARGA” (bacaan tanggal 9-1-18), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; 18-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-1- 17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 7 Januari 2018 [HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TIDAK PERNAH AKU JUMPAI, SEKALI PUN DI ANTARA ORANG ISRAEL

TIDAK PERNAH AKU JUMPAI, SEKALI PUN DI ANTARA ORANG ISRAEL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIV – Senin, 12 September 2016)

Setelah Yesus selesai berbicara di depan orang banyak, masuklah Ia ke Kapernaum. Di situ ada seorang perwira yang mempunyai seorang hamba, yang sangat dihargainya. Hamba itu sedang sakit keras dan hampir mati. Ketika perwira itu mendengar tentang Yesus, ia menyuruh beberapa orang tua-tua Yahudi kepada-Nya untuk meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan hambanya. Mereka datang kepada Yesus dan dengan sangat mereka meminta pertolongan-Nya, katanya, “Ia layak Engkau tolong, sebab ia mengasihi bangsa kita dan dialah yang membangun rumah ibadat untuk kami.” Lalu Yesus pergi bersama-sama dengan mereka. Ketika Ia tidak jauh lagi dari rumah perwira itu, perwira itu menyuruh sahabat-sahabatnya untuk mengatakan kepada-Nya, “Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku; sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakanlah saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.” Mendengar perkataan itu, Yesus heran akan dia, dan sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata, “Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!” Setelah orang-orang yang disuruh itu kembali ke rumah, mereka dapati hamba itu telah sehat kembali. (Luk 7:1-10) 

Bacaan Pertama: 1Tim 2:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 28:2,7-9 

Para perwira komandan pasukan seratus orang (centurion) rupanya mempunyai catatan baik dalam Kitab Suci. Hari ini kita membaca tentang seorang centurion yang menyampaikan pesan kepada Yesus, “Aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku” (Luk 7:6). Ingatlah juga, sang centurion di bukit Kalvari yang menyaksikan kematian Yesus di kayu salib, yang berkata: “Sungguh, orang ini Anak Allah!”  (Mrk 15:39; bdk. Mat 27:54). Ada juga perwira Kornelius, yang karena keterbukaannya kepada Petrus terjadilah berkat-berkat Pentakosta bagi orang-orang non-Yahudi (Kis 10).

Sebagai perwira-perwira Romawi, dalam menjalankan tugas mereka, para centurion ini tahu bagaimana mengenali dan mengkomit diri mereka kepada otoritas yang berwenang. Maka, ketika mereka berjumpa dengan otoritas puncak dari Allah, beberapa dari mereka siap untuk menaruh iman mereka pada hal itu juga. Hal serupa dapat kita lihat dalam hubungan antara para orangtua dengan anak-anak mereka. Apabila para orangtua menjalankan otoritas mereka dengan layak dan pantas, biasanya anak-anak mereka mengembangkan keterlekatan-keterlekatan dan respek yang sehat dengan para orangtua mereka. Mereka percaya bahwa apabila mereka datang kepada ibu dan/atau ayah mereka dengan masalah mereka, maka mereka akan menemukan bela rasa dan hikmat-kebijaksanaan. Iman yang ada dalam diri para orangtua mereka membuat anak-anak yakin dan stabil, sementara mereka yang memberontak melawan otoritas orangtua mereka pada akhirnya harus belajar tentang kehidupan ini dengan bersusah payah lewat jalan yang sering berliku-liku.

Bapa surgawi, Allah yang Mahakuasa mempunyai otoritas tertinggi atas diri kita. Ia juga adalah Allah yang mahapengasih, yang menginginkan segala sesuatu yang terbaik bagi diri kita masing-masing. Kita mungkin saja adalah serdadu-serdadu Kristus, namun kita juga adalah anak-anak-Nya yang sudah mengantongi undangan-Nya untuk datang menghadap Allah dengan keyakinan akan kasih-Nya.

Sekarang, marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing: “Anak macam apa aku ini? Apakah aku hidup sebagai sang centurion dalam bacaan Injil hari ini, yang percaya bahwa dirinya sepenuhnya berada di bawah otoritas Allah? Atau, apakah aku selalu berjalan kesana-kemari dan mencoba mengatasi masalah-masalah yang sedang kuhadapi dengan mengandalkan kekuatanku sendiri?” Sekarang, apabila Roh Kudus mengingatkan diri kita apa yang seharusnya kita lakukan, maka kita pun harus mengambil langkah maju dengan penuh kepercayaan akan penyelenggaraan ilahi. Kita selalu harus mengingat, bahwa Bapa surgawi adalah Allah yang baik, yang mahapemurah, maharahim dst. Dia adalah Allah yang “Mahalain” yang tidak pernah bisa direka-reka oleh otak kita yang kecil ini. Otoritas-Nya berakar pada kasih, karena Dia adalah kasih itu sendiri (lihat 1Yoh 4:8,16). Yang jelas Allah tidak pernah tidak merasa senang mencurahkan berkat-berkat-Nya kepada semua anak-anak-Nya. Oleh karena itu, marilah kita menghadap-Nya. Kita semestinya percaya bahwa Dia sedang menunggu kita dengan penuh kesabaran.

DOA: Bapa surgawi, kami seringkali menderita karena kami sering tidak taat kepada perintah-perintah-Mu. Kami sadar manakala kami mengatakan bahwa kami percaya kepada-Mu namun tidak sepenuhnya menerima otoritas-Mu atas diri kami, maka hal tersebut berarti kami tidak menaruh kepercayaan kepada-Mu. Ampunilah kami, ya Bapa, dan ajarlah kami untuk menghormati dan mentaati-Mu senantiasa. Terpujilah Engkau selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 7:1-10), bacalah tulisan yang berjudul “IMAN SEJATI SEORANG PERWIRA ROMAWI” (bacaan tanggal 18-9-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-9-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 15 September 2017 [Peringatan SP Maria Berdukacita] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

HARUS TETAP ADA WAKTU UNTUK BERDOA

HARUS TETAP ADA WAKTU UNTUK BERDOA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXII – Rabu, 6 Agustus 2017)S

Kemudian Yesus meninggalkan rumah ibadat itu dan pergi ke rumah Simon. Adapun ibu mertua Simon demam keras dan mereka meminta kepada Yesus supaya menolong dia. Lalu Ia berdiri di sisi perempuan itu dan mengusir demam itu, maka penyakit itu pun meninggalkan dia. Perempuan itu segera bangun dan melayani mereka.

Ketika matahari terbenam, semua orang membawa kepada-Nya orang-orang sakitnya, yang menderita bermacam-macam penyakit. Ia pun meletakkan tangan-Nya ke atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka. Dari banyak orang keluar juga setan-setan sambil berteriak, “Engkaulah Anak Allah.” Lalu Ia dengan keras melarang mereka dan tidak memperbolehkan mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa Dialah Mesias.

Ketika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang terpencil. Tetapi orang banyak mencari Dia, lalu menemukan-Nya dan berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka. Tetapi Ia berkata kepada mereka, “Di kota-kota lain juga Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah, sebab untuk itulah Aku diutus.” Lalu Ia memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat di Yudea. (Luk 4:38-44)

Bacaan Pertama: Kol 1:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 52:10-11

Kita dapat selalu berdalih dan mengemukakan seribu satu macam alasan untuk mempersingkat waktu yang kita sediakan untuk berdoa: “Aduh, saya sangat sibuk nih!”, “Wah, saya sedang lelah sekali setelah seharian macet di jalanan!”, “Anda tahu nggak, saya selalu berdoa kapan saja dan di mana saja. Bukankah, apa yang saya lakukan adalah doa saya? Saya sudah tahu apa yang dikehendaki Allah untuk saya lakukan. Andaikan saja anda tahu betapa sibuknya saya ini!”

Kalau siapa saja berhak untuk mengemukakan berbagai macam alasan seperti di atas, maka orang yang memang sesungguhnya pantas berkata begitu adalah Yesus! Bacaan Injil hari ini menunjukkan kepada kita bahwa Yesus bekerja sampai malam menyembuhkan setiap orang sakit yang datang kepada-Nya, juga mengusir jauh-jauh segala roh jahat yang mengganggu orang-orang. Sungguh suatu pekerjaan yang penuh kesibukan dan melelahkan! Ia telah hidup dalam persatuan yang paripurna dengan Bapa-Nya di surga, sehingga Dia telah memahami dengan jelas kepenuhan rencana ilahi dan peranan sentral yang harus dimainkan oleh diri-Nya. Namun ketika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang terpencil, agar Dia dapat memusatkan segenap perhatian-Nya kepada Allah, untuk berdoa!

Dalam keheningan itu, Yesus mengambil sebuah keputusan penting. Walaupun ada banyak orang di tempat itu yang membutuhkan pelayanan-Nya (catatan: orang-orang mencari Dia terus sampai ditemukan di tempat terpencil itu), Yesus memutuskan bahwa itulah saat bagi-Nya untuk bergerak terus, karena Allah mengutus diri-Nya untuk mewartakan Injil di kota-kota lain juga.

Pada titik ini, Yesus mungkin saja belum memperoleh suatu gambaran jelas tentang bagaimana pelayanan-Nya akan berkembang. Yang diketahui oleh-Nya hanyalah bahwa langkah selanjutnya adalah “meninggalkan Kapernaum”. Di bab/pasal berikutnya dalam Injil Lukas, kita akan melihat Yesus memberikan pengampunan Allah sendiri sebagai suatu saluran kesembuhan, Dia melayani kebutuhan-kebutuhan spiritual dan fisik orang-orang. Ia memanggil para murid-Nya untuk mengikuti jejak-Nya. Memang hal ini merupakan sebuah proses yang lambat dan sering menimbulkan frustrasi, namun bersifat hakiki apabila pesan-Nya sungguh ingin berlanjut setelah kematian-Nya. Konflik dengan para pemuka agama Yahudi pun mulai timbul (lihatlah Mat 5:20-25,30,33-34).

Di tempat kerja, di rumah, di gereja dan di komunitas-komunitas di mana kita adalah anggotanya, kita pun seringkali menghadapi begitu banyak tuntutan untuk melayani berbagai kebutuhan orang-orang lain. Kebutuhan-kebutuhan itu sungguh riil, dan Allah mungkin saja mengundang kita untuk mengambil tindakan guna memenuhi berbagai kebutuhan tersebut. Akan tetapi, kita harus ingat bahwa diri kita mungkin saja bukan jawaban Allah untuk setiap kebutuhan yang ada. Kadang-kadang tuntutan-tuntutan ini merupakan distraksi dari apa yang Allah sungguh inginkan untuk kita lakukan. Nah, di sinilah perlunya proses discernment (membeda-bedakan roh) agar kita mengenal kehendak Allah yang sebenarnya. Dan, discernment dalam suasana doa ini membutuhkan keheningan dan proses mendengarkan dalam kesunyian.

DOA: Bapa surgawi, Engkau adalah Khalik langit dan bumi, Allah yang mahapengasih. Aku mengetahui bahwa Engkau mengundangku untuk datang menghadap hadirat-Mu dalam keheningan, setiap hari. Hal itu adalah panggilan yang sungguh berharga, namun juga sulit untuk dilaksanakan, karena kesibukanku melayani. Tolonglah aku untuk mempercayai bahwa engkau dapat mengurus dunia tanpa aku. Tolonglah aku mendengarkan dengan hatiku mengenai apa yang sesungguhnya Kaukehendaki agar kulakukan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 4:38-44), bacalah tulisan yang berjudul SAMPAI HARI INI PUN YESUS MASIH MELAKUKAN PENYEMBUHAN” (bacaan tanggal 6-9-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-09  BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 31-8-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 2 September 2017 [Peringatan para martir Fransiskan pada masa Revolusi Perancis]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PERINTAH YESUS KEPADA ROH-ROH JAHAT PENUH WIBAWA DAN KUASA

PERINTAH YESUS KEPADA ROH-ROH JAHAT PENUH WIBAWA DAN KUASA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXII – Selasa, 5 September 2017) 

Kemudian Yesus pergi ke Kapernaum, sebuah kota di Galilea, lalu mengajar di situ pada hari-hari Sabat. Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab perkataan-Nya penuh kuasa. Di dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan setan dan ia berteriak dengan suara keras, “Hai Engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu dengan kami? Apakah engkau datang untuk membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.” Tetapi Yesus membentaknya, “Diam, keluarlah dari dia!” Setan itu pun menghempaskan orang itu ke tengah-tengah orang banyak, lalu keluar dari dia dan sama sekali tidak menyakitinya. Semua orang takjub, lalu berkata seorang kepada yang lain, “Alangkah hebatnya perkataan ini! Sebab dengan penuh wibawa dan kuasa Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka pun keluar.” Lalu tersebarlah berita tentang Dia ke mana-mana di daerah itu. (Luk 4:31-37)

Bacaan Pertama: 1Tes 5:1-6,9-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14

Pelayanan Yesus telah dimulai. Tidak pernah kelihatan yang seperti itu sebelumnya. Orang-orang heran dan bertanya-tanya, “Apa ini? Suatu ajaran baru disertai dengan kuasa! Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka taat kepada-Nya!”  (Luk 4:36). Dengan kuasa dan kewenangan, Yesus berbicara kepada hati orang-orang dan mengusir roh jahat di depan orang-orang. Semua orang yang menyaksikan peristiwa ini menjadi takjub dan kagum. Ini bukan sekedar khotbah. Ini mengingatkan kita kepada apa yang ditulis oleh Santo Paulus, “Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan bukti bahwa Roh berkuasa”  (1 Kor 2:4).

Setiap kebenaran Injil dapat dipilah-pilah dan dianalisis dengan kekuatan intelek dan hal itu samasekali tidak salah, asal saja tidak jadi membingungkan kita atau malah membuat kita tertipu oleh si Jahat. Tetapi ada sesuatu yang lebih penting dan lebih memiliki kuasa, yang diberikan oleh Yesus kepada kita. Dia datang untuk memproklamasikan kebenaran sedemikian rupa, sehingga akan memerdekakan kita. Yesus berfirman: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh 3:31-32).

Kata-kata Yesus mempunyai kuasa untuk menghukum kita, menghibur kita, menyembuhkan kita dan bahkan membebaskan kita. Kata-kata Yesus mencakup pemahaman manusiawi, akan tetapi tidak terbatas sampai di situ saja.

Apakah kita mengetahui kebenaran Injil sedemikian rupa, sehingga kita dapat mengalami kuasanya untuk memerdekakan kita? Apakah kita mengalami kemerdekaan, sukacita dan keakraban dengan Yesus sebagai akibat dari tindakan kita mendengarkan firman-Nya yang diproklamasikan dalam liturgi Gereja, pada pertemuan kelompok doa dan/atau kelompok Kitab Suci, pada saat-saat berdoa secara pribadi, atau pada pada pembacaan dan permenungan Kitab Suci secara pribadi? Ini adalah warisan kita sebagai anak-anak Allah yang telah dibaptis. Selagi kita mengalami kasih ilahi-Nya, kita pun akan menyerahkan diri kita lebih penuh lagi kepada firman-Nya. Kita akan mengenal, mengakui serta mematuhi kewenangan dan kuasa-Nya dalam hidup kita; dan keluarga dan teman-teman kita pun akan mengenali adanya perbedaan dalam diri kita.

Yesus merindukan supaya kita mengundang Dia ke dalam hati kita masing-masing – pusat terdalam dari keberadaan kita – tidak hanya ke dalam pikiran kita. Hati adalah tempat keputusan di mana kita bertemu dengan Allah dan digerakkan secara mendalam oleh kasih-Nya. Katekismus Gereja Katolik (KGK) mencatat, “Hati adalah ….. pusat kita yang tersembunyi, yang tidak dapat dimengerti baik oleh akal budi kita maupun oleh orang lain”  (KGK, 2563). Marilah sekarang kita membuka hati kita lebih penuh lagi bagi Yesus dan memperkenankan kuasa-Nya mengubah kita.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau saja yang mengetahui hati kami dan hasrat yang ada dalam hati kami itu. Pada saat ini kami mengundang Engkau untuk memasuki bagian terdalam dari keberadaan kami dan mengikat kami pada hati-Mu. Bebaskanlah kami, ya Tuhan, dari segala kejahatan dan ajarlah kami bagaimana seharusnya hidup untuk-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 4:31-37), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS PENUH WIBAWA DAN KUASA” (bacaan tanggal 5-9-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 30-8-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 2 September 2017 [Peringatan para martir Fransiskan pada masa Revolusi Perancis] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

IMAN-KEPERCAYAAN YANG KUAT

IMAN-KEPERCAYAAN YANG KUAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XII – Sabtu, 1 Juli 2017) 

Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya, “Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita.” Yesus berkata kepadanya, “Aku akan datang menyembuhkannya.” Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya, “Tuhan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.” Mendengar hal itu, Yesus pun heran dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel. Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari timur dan barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Surga, sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.” Lalu Yesus berkata kepada perwira itu, “Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya.” Pada saat itu juga sembuhlah hambanya.

Setibanya di rumah Petrus, Yesus melihat ibu mertua Petrus terbaring karena sakit demam. Dipegang-Nya tangan perempuan itu, lalu lenyaplah demamnya. Ia pun bangun dan melayani Dia. Menjelang malam dibawalah kepada Yesus banyak orang yang kerasukan setan dan dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu dan menyembuhkan semua orang yang menderita sakit. Hal itu terjadi supaya digenapi firman yang disampaikan melalui Nabi Yesaya: “Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.” (Mat 8:5-17) 

Bacaan Pertama: Kej 18:1-15; Mazmur Tanggapan: Luk 1:46-50,53

Memang luarbiasa besar iman yang dimiliki oleh si perwira itu. Rasa percayanya kepada Yesus begitu kuat sehingga Yesus sampai memproklamirkan kepada orang-orang yang di situ: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel” (Mat 8:10). Marilah kita membayangkan bagaimana orang ini menanti dengan penuh hasrat saat di mana dia dapat mendekati Yesus dan mengajukan permohonannya. Ingatlah bahwa perwira dengan pangkat centurion (sekarang: komandan kompi) ini tentulah bukan seorang Yahudi. Oleh rahmat Allah, kita juga telah menerima karunia iman. Kita pun dapat melakukan pendekatan kepada Yesus dengan pengharapan yang sama seperti yang dimiliki si perwira pasukan Romawi itu. Sekarang tergantung kepada kita untuk memutuskan apakah kita akan mempraktekkan iman ini.

Percayakah anda bahwa tidak ada yang terlalu besar bagi Allah? Otoritas-Nya mencakup dunia dari kekal sampai kekal. Ketika Dia berjalan di antara kita manusia, Yesus mengusir roh-roh jahat, menyembuhkan orang-orang yang menderita segala macam sakit-penyakit dan Ia juga mengampuni para pendosa. Sekarang Ia sudah ditinggikan ke sebelah kanan Allah Bapa, Dia siap untuk bertindak dengan kuat-kuasa yang sama, pada hari ini. Benarlah bahwa Yesus telah naik ke surga, namun Ia telah memberikan kepada kita Roh Kudus-Nya – Allah sendiri yang berdiam dalam diri kita masing-masing dan dalam dunia.

Manakala anda berdoa, apakah – seperti si perwira Romawi – anda melakukan terobosan di tengah-tengah kerumunan orang banyak yang mempunyai iman yang kecil, lalu menempatkan kebutuhan-kebutuhan anda langsung di hadapan Yesus? Pertimbangkanlah rasa percaya (trust) dan iman si perwira: dalam upayanya agar kebutuhannya diketahui oleh Yesus, tidak ada yang dapat menghalanginya. Sekarang lihat hasilnya: Si perwira melihat dengan matanya sendiri bahwa tidak ada apa dan siapa pun di atas muka bumi ini yang dapat menyaingi kuat-kuasa dan kasih Kristus. Hambanya yang tadinya lumpuh dan kemudian menjadi sembuh tentunya adalah seorang saksi hidup atas kuasa penyembuhan yang mahadahsyat dari Allah. Seperti Bunda Maria, dia pun kiranya dapat melambungkan kidungnya: “Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan kuduslah nama-Nya” (Luk 1:49).

Kuasa penyembuhan ilahi yang sama juga telah menyembuhkan ibu mertua Petrus yang sakit demam. Setelah disembuhkan dia pun langsung melayani Yesus. Menjelang malam Yesus mengusir roh jahat yang telah merasuki banyak orang. Mereka pun dibebaskan dari pengaruh roh jahat, demikian pula banyak orang sakit yang disembuhkannya semua.

Iblis memang akan senang sekali kalau kita merasa ragu apakah Allah masih ingin bekerja dengan cara ini di dunia. Dalam hal ini baiklah kita yakini bahwa Allah masih sama kuat-kuasa penyembuhan-Nya dan belas kasihan-Nya sekarang seperti 2.000 tahun lalu. Memang susah bagi kita untuk mengerti bagaimana Allah berniat untuk bekerja dalam dan lewat diri kita. Yang kita butuhkan adalah menaruh kepercayaan atas kebaikan-Nya dan mempraktekkan iman yang telah diberikan-Nya kepada kita. Marilah sekarang kita berdoa agar Allah memanifestasikan kasih-Nya dalam sebuah dunia yang begitu membutuhkan-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, kami tak pantas datang ke hadapan-Mu, namun Engkau menerima kami dengan tangan terbuka. Dalam kehidupan semua orang yang paling membutuhkan Engkau, ya Tuhan, sebutkanlah sepatah kata saja, dan biarlah terjadi pada kami semua menurut kehendak-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 8:5-17), bacalah tulisan yang berjudul “IMAN BESAR YANG DIMILIKI SANG PERWIRA” (bacaan tanggal 1-7-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-07 BACAAN HARIAN JULI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 25-6-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 28 Juni 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS