Posts tagged ‘KAPERNAUM’

YESUS INGIN MENARIK KITA AGAR LEBIH DEKAT KEPADA BAPA

YESUS INGIN MENARIK KITA AGAR LEBIH DEKAT KEPADA BAPA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXV [TAHUN B] –  23 September 2018)

Yesus dan murid-murid-Nya berangkat dari situ dan melewati Galilea, dan Yesus tidak mau hal itu diketahui orang; sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya. Ia berkata kepada mereka, “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit.” Mereka tidak mengerti perkataan itu, namun segan menanyakannya kepada-Nya.

Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-nya di Kapernaum. Ketika Yesus sudah di rumah, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, “Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?” Tetapi mereka diam, sebab di tengah jalan tadi mereka bertengkar tentang siapa yang terbesar di antara mereka. Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka, “Jika seseorang ingin menjadi yang pertama, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.”  Lalu Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka, “Siapa saja yang menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Siapa yang menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku.” (Mrk 9:30-37) 

Bacaan Pertama: Keb 2:12,17-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 54:3-6,8; Bacaan Kedua: Yak 3:16-4:3

Bayangkan betapa kagetnya dan malunya para murid ketika Yesus bertanya kepada mereka: “Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?” (Mrk 9:33). Tidak mengherankanlah kalau mereka hanya dapat berdiam diri ketika ditanya oleh Yesus. Berdiam diri karena mereka mengakui dalam hati bahwa ketika di tengah jalan mereka bertengkar tentang siapa yang terbesar di antara mereka (Mrk 9:34).

Para murid telah bersama-sama Yesus untuk waktu yang cukup lama. Mereka telah menyaksikan berbagai mukjizat dan tanda heran yang diperbuat oleh-Nya, belum lagi pembebasan orang-orang dari kuasa Iblis dan roh-roh jahat. Orang kusta, lumpuh, bisu, tuli, buta dlsb. disembuhkan. Bahkan seorang muda yang sudah mati telah dibangkitkan-Nya di dekat pintu gerbang kota Nain (Luk 7:11-17); juga anak perempuan Yairus (Mrk 5:21-24,35-43). Jelaslah bahwa Yesus bukanlah tabib atau nabi sembarangan. Ia sungguh yang terbesar! Bahkan Petrus pun telah memproklamasikan bahwa Yesus adalah “Sang Mesias” (Mrk 8:29). Tetapi, … Yesus lebih tertarik untuk mewujudkan apa yang dikatakan “besar” tentang diri-Nya dengan menyerahkan hidup-Nya sendiri bagi semua orang.

Mengawali perjalanan-Nya menuju Yerusalem – di mana Yesus tahu bahwa dirinya akan dihukum mati – Dia membawa para murid-Nya tanpa diketahui orang sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya itu (lihat Mrk 9:30-31). Yesus mengatakan kepada para murid-Nya bahwa Dia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit” (Mrk 9:31). Kepopuleran Yesus yang bertumbuh terus, penderitaan dan sengsara-Nya dan kebangkitan-Nya sungguh sulit dicerna oleh para murid. Bahkan mereka masih mempunyai visi-visi kejayaan di sisi Yesus dalam pemerintahan-Nya! (lihat misalnya, Mrk 10:35-45; bdk. Mat 20:20-28).

Melihat keseriusan masalah para murid ini, maka Yesus memutuskan untuk duduk bersama mereka dan mulai mengajar mereka tentang apa makna sebenarnya dari apa yang dinamakan keagungan, kemuliaan, dan sejenisnya: “Jika seseorang ingin menjadi yang pertama, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya”  (Mrk 9:35). Untuk menjadi yang pertama dan utama seseorang harus menempatkan kebutuhan-kebutuhan orang-orang lain dulu, tanpa memikirkan tentang diri sendiri.

Yesus – sang Hamba yang sempurna – sangat senang dalam memperhatikan orang-orang di sekeliling-Nya. Dipenuhi dengan kasih Bapa, Ia hanya ingin memberi, hanya ingin menganugerahkan karunia-karunia-Nya kepada siapa saja yang dijumpai-Nya. Dengan setiap penyembuhan dan mukjizat yang diperbuat-Nya dan setiap kata yang diucapkan-Nya, Yesus sesungguhnya bermaksud untuk menarik orang-orang agar lebih dekat dengan Bapa surgawi. Bahkan ketika Dia mendekati saat kematian-Nya sendiri, hasrat utama-Nya adalah untuk berada bersama para murid-Nya, mengasihi mereka dan menolong mereka untuk menaruh kepercayaan kepada Bapa. Dengan rendah hati Dia mengetuk pintu hati kita masing-masing. Ia sangat ingin melayani kita dengan memasuki hidup kita yang terluka, guna menyembuhkan kita, untuk membersihkan kita, dan untuk memperbaharui kita. O, betapa dalam kerinduan hati-Nya untuk melihat kita menyambut diri-Nya ke dalam diri kita!

DOA: Yesus, kami ingin menyambut-Mu ke dalam hati kami! Terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau mengasihi kami masing-masing tanpa batas dan syarat. Seringkali tanpa kami sadari, Engkau membanciri kami dengan kebaikan-Mu dan belaskasih-Mu. Penuhi diri kami dan mengalirlah dari kami kepada orang-orang di sekeliling kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 9:30-37), bacalah tulisan yang berjudul “SEORANG PEMIMPIN PERTAMA-TAMA ADALAH SEORANG PELAYAN” (bacaan tanggal 23-9-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-9-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 20 September 2018 [Peringatan S. Andreas Kim Taegon, Imam & Paulus Chong Hasang dkk – Martir-martir Korea] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

SAMPAI HARI INI PUN YESUS MASIH MELAKUKAN PENYEMBUHAN

SAMPAI HARI INI PUN YESUS MASIH MELAKUKAN PENYEMBUHAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXII – Rabu, 5 September 2018)

Kemudian Yesus meninggalkan rumah ibadat itu dan pergi ke rumah Simon. Adapun ibu mertua Simon demam keras dan mereka meminta kepada Yesus supaya menolong dia. Lalu Ia berdiri di sisi perempuan itu dan mengusir demam itu, maka penyakit itu pun meninggalkan dia. Perempuan itu segera bangun dan melayani mereka.

Ketika matahari terbenam, semua orang membawa kepada-Nya orang-orang sakitnya, yang menderita bermacam-macam penyakit. Ia pun meletakkan tangan-Nya ke atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka. Dari banyak orang keluar juga setan-setan sambil berteriak, “Engkaulah Anak Allah.” Lalu Ia dengan keras melarang mereka dan tidak memperbolehkan mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa Dialah Mesias.

Ketika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang terpencil. Tetapi orang banyak mencari Dia, lalu menemukan-Nya dan berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka. Tetapi Ia berkata kepada mereka, “Di kota-kota lain juga Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah, sebab untuk itulah Aku diutus.” Lalu Ia memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat di Yudea. (Luk 4:38-44)

Bacaan Pertama: 1Kor 3:1-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:12-15,20-21 

Ibu mertua Simon sedang sakit demam keras. Pada saat Ia datang ke rumah Simon, mereka meminta kepada Yesus supaya Dia menolong perempuan itu. Yesus mengusir demam itu dan penyakit itu pun meninggalkan dia (Luk 4:39). Bayangkan bagaimana terkejut dan terkesimanya Simon ketika dia melihat ibu mertuanya bangkit dan malah mulai melayani para tamu yang datang, padahal beberapa menit sebelumnya dia masih tergeletak sakit. Walaupun reaksi atau tanggapan Simon terhadap penyembuhan ini tidak dicatat oleh Lukas dalam Injilnya, reaksi sang murid terhadap mukjizat penangkapan ikan – yang terjadi tidak lama setelah peristiwa penyembuhan sang ibu mertua – jelas dan malah bersifat dramatis, … dia menyapa Yesus sebagai “Tuhan” (Kyrios), meninggalkan segala sesuatu lalu mengikut Yesus (Luk 5:8,11).

Di Kapernaum, Yesus menunjukkan bela rasa-Nya terhadap semua orang sakit dan Ia pun menyembuhkan mereka. Namun, lebih daripada itu, Yesus ingin membuka mata (hati) orang-orang agar dapat melihat kerajaan Allah yang datang ke tengah dunia melalui berbagai mukjizat yang dibuat-Nya; Dia ingin setiap orang menerima diri-Nya sebagai Tuhan dan Mesias. Inilah yang terjadi dengan Simon: Ia melihat ibu mertuanya disembuhkan; ia melihat mukjizat penangkapan ikan; dengan demikian ia pun sujud di depan Yesus dan berkata, “Tuhan, pergilah dari hadapanku, karena aku ini seorang berdosa”  (Luk 5:8).

Sampai pada hari inipun Yesus masih melakukan penyembuhan-penyembuhan. Apabila kita mengalami penyembuhan-penyembuhan dalam kehidupan kita sendiri atau dalam kehidupan orang-orang lain, kita juga harus melihat semua itu sebagai sebuah tanda bahwa Yesus adalah Tuhan dan bahwa Kerajaan-Nya datang kepada kita. Setiap penyembuhan adalah sebuah tanda rahmat berkaitan dengan kebangkitan orang mati yang akan datang.

Akan tetapi, banyak orang – barangkali termasuk diri kita sendiri – yang berdoa untuk kesembuhan dan tidak juga disembuhkan. Banyak orang yang kita doakan untuk kesembuhan tetap saja menderita sakit dan kemudian mati. Mengapa? Jawabnya adalah bahwa Kerajaan Allah telah datang ke tengah dunia, namun belum sepenuhnya didirikan. Hanya pada saat Yesus datang kembali dalam kemuliaan-Nya pada akhir zaman, maka semua itu dipenuhi dan Kerajaan Allah pun didirikan sepenuhnya.

Ketika hal ini terjadi, nubuatan-nubuatan Perjanjian Lama tentang penyembuhan akan sepenuhnya digenapi (Yes 35:5-6). Lalu semua orang percaya akan dibuat utuh dalam Kristus, dan “Tuhan ALLAH akan menghapuskan air mata dari pada segala muka” (Yes 25:8). Oleh karena itu, marilah kita menantikan dengan penuh pengharapan akan saat Kerajaan Allah datang sepenuhnya dan setiap hal dibuat lengkap dalam Kristus.

DOA: Tuhan Yesus, tingkatkanlah iman kami melalui karya penyembuhan yang Engkau lakukan di tengah-tengah kami. Semoga tanda-tanda sedemikian dari kasih-setia-Mu menolong membuat kami senantiasa bersiap-siaga akan saat kedatangan-Mu kembali pada akhir zaman. Tolonglah kami agar mempunyai kerinduan akan kedatangan-Mu kembali pada saat mana semua air mata akan terhapuskan. Maranatha, datanglah Tuhan Yesus! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 4:38-44), bacalah tulisan yang berjudul “KARYA-NYA MASIH BERKELANJUTAN SAMPAI HARI INI” (bacaan tanggal 5-9-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM https://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 6-9-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 4 September 2018 [Peringatan S. Rosa dr Viterbo, Perawan – Ordo III S. Fransiskus] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERMURAH-HATI KEPADA ALLAH DAN SESAMA

BERMURAH-HATI KEPADA ALLAH DAN SESAMA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIX – Senin, 13 Agustus 2018)

Keluarga Kapusin (OFMCap.): Peringatan B. Markus dr Aviano, Imam 

Pada waktu Yesus dan murid-murid-Nya bersama-sama di Galilea, Ia berkata kepada mereka, “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia dan mereka akan membunuh Dia dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan.” Hati murid-murid-Nya itu pun sedih sekali.

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya tiba di Kapernaum datanglah pemungut pajak Bait Allah kepada Petrus dan berkata, “Apakah gurumu tidak membayar pajak sebesar dua dirham itu?” Jawabnya, “Memang membayar.” Ketika Petrus masuk rumah, Yesus mendahuluinya dengan pertanyaan, “Apakah pendapatmu, Simon? Dari siapakah raja-raja dunia ini memungut bea atau pajak? Dari rakyatnya atau dari orang asing?” Jawab Petrus, “Dari orang asing!” Lalu kata Yesus kepadanya, “Jadi, bebaslah rakyatnya. Tetapi supaya jangan kita membuat mereka gusar, pergilah memancing ke danau. Tangkaplah ikan pertama yang kaupancing dan bukalah mulutnya, maka engkau akan menemukan mata uang empat dirham di dalamnya. Ambillah itu dan bayarkanlah kepada mereka, bagi-Ku dan bagimu juga.” (Mat 17:22-27) 

Bacaan Pertama: Yeh 1:2-5,24-2:1a; Mazmur Tanggapan: Mzm 148:1-2,11-12-14 

Dua ayat pertama dari bacaan Injil hari ini (Mat 17:22-23) adalah tentang pemberitahuan oleh Yesus untuk kedua kalinya kepada para murid-Nya tentang sengsara, kematian dan kebangkitan-Nya. Namun karena alasan praktis, kali ini baiklah kita menyoroti ayat-ayat selanjutnya dari bacaan Injil hari ini saja (Mat 17:24-27).

Pada waktu orang-orang Yahudi mulai kembali ke Yerusalem dari tanah pembuangan di Babel, mereka setuju untuk hidup dengan penuh tanggung jawab, sesuai dengan hukum Allah. Jika sebelumnya para raja Persia memberikan tunjangan dana untuk terselenggaranya kebaktian di Bait Allah, maka sekarang komunitas Yahudi berjanji untuk memberi sumbangan guna menunjang upacara kebaktian regular dari sumber daya mereka sendiri. Baik warga yang kaya maupun yang miskin, setiap laki-laki yang sudah berumur 20 tahun atau lebih mulai membayar dua dirham setiap tahunnya. Uang perak Yunani (8.60 g) yang senilai dua dirham sama besarnya  dengan upah dua hari kerja seorang buruh biasa. Memang jumlah yang relatif kecil namun signifikan bagi orang-orang lebih miskin yang harus berjuang dari hari ke hari untuk survive. 

Instruksi Yesus untuk menemukan sekeping uang logam senilai 4 dirham dalam mulut seekor ikan mungkin tidak masuk akal bagi Petrus. Pada titik ini, Petrus telah mendengar pengajaran Yesus dan menyaksikan banyak mukjizat-Nya. Petrus sendiri pun telah memproklamasikan Yesus sebagai “Anak Allah yang hidup” (Mat 16:16). Namun demikian, seperti kita, Petrus masih harus belajar lebih lagi tentang siapa Yesus sebenarnya dan juga tentang kebebasan yang diberikan-Nya kepada semua anak-anak Allah. Melakukan seperti apa yang diinstruksikan Yesus tentunya membawa Petrus kepada  suatu tingkatan yang baru dalam upaya memahami Juruselamatnya.

Kemudian Yesus mengidentifikasikan diri-Nya dengan anak-anak raja yang tidak diwajibkan untuk membayar pajak kepada ayah mereka yang raja (Mat 17:25); maksudnya bahwa Dia tidak perlu membayar pajak keagamaan untuk pemeliharaan rumah ibadat, karena Dia adalah Putera dari sang Pemilik rumah ibadat itu. Yesus juga meng-cover kewajiban Petrus, artinya termasuk kita juga. Allah telah memanggil kita semua untuk menjadi pewaris-pewaris Kerajaan-Nya, dan melalui darah Kristus martabat kita dipulihkan. Yesus telah memberikan lebih daripada sekadar membayar jalan kita menuju Kerajaan. Masuk ke dalam hadirat-Nya dan kemampuan untuk mendengar suara-Nya sekarang adalah anugerah-Nya bagi kita, seperti dibayarkan pajak Bait Allah oleh Yesus merupakan anugerah bagi Petrus. Sekarang, Yesus minta agar persembahan kita di gereja datang dari sebuah hati yang penuh rasa syukur dan suatu hasrat untuk ikut ambil bagian dalam karya-Nya.

Kita harus bermurah-hati baik kepada Allah maupun kepada sesama kita. Oleh karena itu marilah kita bersahabat dengan para saudari dan saudara kita yang masih hidup sebagai orang-orang asing bagi Kerajaan-Nya. Marilah kita mengasihi mereka sepenuh hati agar supaya mereka dapat mengalami sentuhan Yesus dan menerima anugerah-anugerah (karunia-karunia) yang diberikan-Nya dengan penuh kemurahan-hati.

DOA: Bapa surgawi, Engkau telah begitu baik kepadaku dengan membuat diriku sebagai anak-Mu. Aku sungguh mengasihi-Mu, ya Allahku. Penuhilah diriku dengan Roh-Mu, agar supaya aku dapat mengasihi semua anak-anak-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 17:22-27), bacalah tulisan yang berjudul “PEMBERITAHUAN KEDUA TENTANG SENGSARA DAN KEMATIAN-NYA” (bacaan tanggal 13-8-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-8-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 10 Agustus 2018 [Pesta S. Laurensius, Diakon-Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KUASA UNTUK MENGAMPUNI DOSA

KUASA UNTUK MENGAMPUNI DOSA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Jumat, 12 Januari 2018)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Bernardus dr Corleone, Biarawan

 

Kemudian, sesudah lewat beberapa hari, waktu Yesus datang lagi ke Kapernaum, tersebarlah kabar bahwa Ia ada di rumah. Lalu datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di depan pintu pun tidak. Sementara Ia memberitakan firman kepada mereka, ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang. Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap di atas Yesus; sesudah terbuka mereka menurunkan tikar, tempat orang lumpuh itu terbaring. Ketika Yesus melihat iman mereka berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu, “Hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni!”  Tetapi beberapa ahli Taurat sedang duduk di situ, dan mereka berpikir dalam hatinya, “Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain Allah sendiri?” Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka, “Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu? Manakah yang lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosa-dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tikarmu dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu bahwa Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa di bumi ini” – berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu –, “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tikarmu dan pulanglah ke rumahmu!” Orang itu pun bangun, segera mengangkat tikarnya dan pergi ke luar dari hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya, “Yang begini belum pernah kita lihat.”  (Mrk 2:1-12)

Bacaan Pertama: 1Sam 8:4-7,10-22a; Mazmur Tanggapan: Mzm 89:16-19 

Narasi Injil yang cukup dramatis ini adalah mengenai bagaimana Yesus menyembuhkan seorang lumpuh yang diturunkan dari atap rumah oleh empat orang yang membawanya ke tempat itu. Cerita tentang penyembuhan orang lumpuh ini adalah yang pertama dari lima cerita konflik dalam Injil Markus (2:1-3:6), yang menyoroti perlawanan para pemuka agama Yahudi terhadap pernyataan siapa diri Yesus itu. Dengan berpegang teguh pada ide-ide kuno mereka sendiri, para ahli Taurat dan orang Farisi gagal mengalami bela rasa dan kasih Allah yang dimanifestasikan dalam diri Yesus.

Ada beberapa pokok konflik yang muncul antara Yesus dan para pemimpin agama Yahudi selama berlangsungnya proses penyembuhan. Yang pertama terjadi ketika Yesus mendeklarasikan bahwa dosa-dosa orang itu diampuni (Mrk 2:5). Dalam Perjanjian Lama, kuasa untuk mengampuni dosa hanya milik Allah saja (Kel 34:6-7; Yes 43:25). Lalu Yesus menyebut diri-Nya sebagai “Anak Manusia” yang memiliki kuasa untuk mengampuni dosa (Mrk 2:10). Tradisi Yahudi pada waktu itu memahami bahwa yang dimaksudkan dengan “anak manusia” (Dan 7:13-14) mengacu kepada sang Mesias yang akan membawa umat ke dalam Kerajaan Allah. Yesus mengidentifikasikan diri-Nya dengan tokoh mesianis ini untuk mulai menyatakan diri-Nya dan mempersiapkan umat bagi pekerjaan yang akan dilaksanakan-Nya melalui sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya.

Tanggapan umat yang hadir terhadap peristiwa penyembuhan orang lumpuh ini merupakan sebuah kontras yang tajam terhadap ketakutan yang melumpuhkan dari para ahli Taurat (Mrk 2:7). Orang banyak takjub dan memuliakan Allah, sambil berkata: “Yang begini belum pernah kita lihat” (Mrk 2:12). Mereka memberi tanggapan positif terhadap kebaikan dan belas kasih Allah. Kiranya tidak sedikit dari orang banyak itu kemudian menjadi murid-murid Yesus.

Sekarang pertanyaannya adalah, mengapa orang banyak  dapat mengenali siapa Yesus itu, sementara para pemimpin agama Yahudi buta sehingga tidak mampu melihat siapa sebenarnya Yesus? Jawabnya terletak pada iman mereka. Yesus melihat iman dari mereka yang membawa orang lumpuh dan juga iman si lumpuh sendiri (Mrk 2:5). Walaupun kuat-kuasa dan belas kasih Yesus begitu terlihat oleh mereka yang percaya (beriman), ketidak-percayaan telah membutakan mata (terutama mata hati) para pemuka agama Yahudi tersebut. Para pemuka agama Yahudi itu tidak mau mengubah mindset  mereka, juga tidak mempunyai keberanian untuk keluar dari comfort zone mereka. Bukankah implisit dalam pengertian apa iman itu, terdapat unsur-unsur keberanian dan perubahan diri?

DOA: Tuhan Yesus, oleh kuasa Roh Kudus-Mu, bukalah mata kami agar mampu melihat karya-Mu dengan lebih jelas dalam hidup kami. Sembuhkanlah kami dari berbagai cara berpikir kami yang membatasi – bahkan menghalangi – pemahaman kami tentang rencana penyelamatan Bapa surgawi atas segenap umat manusia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini, bacalah tulisan yang berjudul “YESUS SUGGUH MEMPUNYAI KUASA UNTUK MENGAMPUNI DOSA” (bacaan tanggal 12-1-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-1-17 dalam situs/blog SANG SABDA] 

Cilandak, 9 Januari 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MENYERAHKAN HIDUP KITA KEPADA YESUS

MENYERAHKAN HIDUP KITA KEPADA YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Rabu, 10 Januari 2018)

Sekeluarnya dari rumah ibadat itu Yesus bersama Yakobus dan Yohanes pergi ke rumah Simon dan Andreas. Ibu mertua Simon terbaring karena sakit demam. Mereka segera memberitahukan keadaannya kepada Yesus. Ia pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Ia membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka. Menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan. Seluruh penduduk kota itu pun berkerumun di depan pintu. Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan; Ia tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara, sebab mereka mengenal Dia.

Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang terpencil dan berdoa di sana. Tetapi Simon dan kawan-kawannya mencari-cari Dia. Ketika mereka menemukan-Nya, mereka berkata kepada-Nya, “Semua orang mencari Engkau.”  Jawab-Nya, “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota sekitar ini, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.”  Lalu pergilah Ia ke seluruh Galilea memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan-setan.  (Mrk 1:29-39)

Bacaan Pertama: 1Sam 3:1-10,19-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 40:2,5,7-10

Yesus menyembuhkan setiap orang yang datang kepada-Nya di Kapernaum. Dia menerima setiap orang, bahkan orang-orang yang mungkin dipertimbangkan sebagai orang-orang yang tak masuk hitungan. Bagi Yesus, tidak ada orang yang dibuang. Yesus membuat jelas bahwa Dia datang untuk menjungkir-balikkan pekerjaan Iblis serta roh-roh jahat pengikutnya, dan membereskan perusakan/kerusakan akibat dosa. Melalui jamahan penyembuhan-Nya, Yesus mengundang setiap orang untuk mengikuti Dia dan memperkenankan Dia memerintah dalam hati mereka.

Ibu mertua Simon Petrus adalah seorang dari mereka yang menerima undangan Yesus itu. Begitu dia menerima jamahan penyembuhan dari Yesus, dia mulai melayani-Nya dan para murid yang ikut serta dengan-Nya (Mrk 1:31). Kelihatan di sini tidak ada keragu-raguan di pihak sang ibu mertua: Dia begitu bersyukur atas apa yang dilakukan Tuhan Yesus terhadap dirinya, sehingga setelah disembuhkan langsung saja dia bangkit berdiri untuk melayani-Nya.

Melalui Yesus, kerajaan Allah telah datang kepada kita – suatu sentuhan surga pada bumi. Yesus menawarkan penyembuhan kepada masing-masing dari kita – tubuh, pikiran dan roh – sehingga kita pun akan menanggapi dengan penuh sukacita, melayani Dia dan umat-Nya dalam cintakasih. Ibu mertua Simon memberikan kepada kita sebuah contoh cara pelayanan Kristiani. Seandainya dia tidak disembuhkan terlebih dahulu, maka dia pun tidak akan mampu untuk melayani. Tetapi, sekali dia mengalami kerahiman dan penyembuhan ilahi dari Tuhan, dia pun bebas untuk memberikan dirinya sendiri secara penuh bagi Tuhan.

Yesus memanggil kita semua untuk melayani Allah dan sesama. Akan tetapi, sebelum kita menjadi pelayan-Nya, adalah vital bahwa kita mengalami karya penyembuhan-Nya dulu dalam hidup kita. Kita semua telah dilukai oleh efek-efek dosa, dan kita membawa tanda-tandanya dalam tubuh dan hati kita. Sampai berapa jauh kita memperkenankan Tuhan melayani kita dengan menyembuhkan diri kita, sampai sebegitu jauh pula kita akan mampu bergabung dengan-Nya dalam pekerjaan membangun kerajaan-Nya di muka bumi ini. Melayani Tuhan bukanlah sesuatu yang kita kerahkan dari kebaikan kita sendiri. Ini adalah sesuatu yang bertumbuh dalam diri kita selagi kita menyerahkan hidup kita kepada tangan-tangan penyembuhan sang Guru dan Dokter Agung. Marilah kita membawa luka-luka dan sakit-penyakit kita kepada Yesus dan mohon kepada-Nya agar menyembuhkan kita, sehingga kita dapat menjadi pelayan-pelayan-Nya yang penuh sukacita.

DOA: Tuhan Yesus, datanglah dan sembuhkanlah kami sehingga kerajaan-Mu akan datang ke muka bumi ini dalam kepenuhan dan kuat-kuasa. Kami menyerahkan hidup kami kepada-Mu agar supaya kami dapat mengasihi-Mu, melayani-Mu dan bersama dengan-Mu, dengan demikian dapat menjadi perpanjangan tangan-Mu bagi duna di sekeliling kami. Terpujilah Nama-Mu, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:29-39), bacalah tulisan yang berjudul “KITA PUN SEMAKIN SEDIKIT BERBICARA DAN LEBIH BANYAK MEMAKAI WAKTU KITA UNTUK MENDENGARKAN SUARA TUHAN” (bacaan tanggal 10-1-18), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; 18-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-1-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 7 Januari 2018 [HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SUATU AJARAN BARU DISERTAI DENGAN KUASA

SUATU AJARAN BARU DISERTAI DENGAN KUASA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Selasa, 9 Januari 2018) 

Yesus dan murid-murid-Nya tiba di Kapernaum. Setelah hari Sabat mulai, Yesus segera masuk ke dalam rumah ibadat dan mengajar. Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat. Pada waktu itu di dalam rumah ibadat mereka, ada seorang yang kerasukan roh jahat. Orang itu berteriak, “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? Apakah Engkau datang untuk membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.”  Tetapi Yesus membentaknya, “Diam, keluarlah dari dia!”  Roh jahat itu mengguncang-guncang orang itu, dan sambil menjerit dengan suara nyaring roh itu keluar dari dia. Mereka semua  takjub, sehingga mereka memperbincangkannya, katanya, “Apa ini? Suatu ajaran baru disertai dengan kuasa! Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka taat kepada-Nya!”  Lalu segera tersebarlah kabar tentang Dia ke segala penjuru di seluruh Galilea. (Mrk 1:21-28)

Bacaan Pertama: 1Sam 1:9-20; Mazmur Tanggapan: 1Sam 2:1,4-7

Pelayanan Yesus di depan publik telah dimulai. Tidak pernah kelihatan yang seperti itu sebelumnya. Orang-orang heran dan bertanya-tanya, “Apa ini? Suatu ajaran baru disertai dengan kuasa! Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka taat kepada-Nya!”  (Mrk 1:27). Dengan kuasa dan kewenangan, Yesus berbicara kepada hati orang-orang dan mengusir roh jahat di depan orang-orang. Semua orang yang menyaksikan peristiwa ini menjadi takjub dan kagum. Ini bukan sekedar khotbah. Ini mengingatkan kita kepada apa yang ditulis oleh Santo Paulus, “Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan bukti bahwa Roh berkuasa” (1 Kor 2:4).

Setiap kebenaran Injil dapat dipilah-pilah dan dianalisis dengan kekuatan intelek dan hal itu samasekali tidak salah, asal saja tidak jadi membingungkan kita atau malah membuat kita tertipu oleh si Jahat. Tetapi ada sesuatu yang lebih penting dan lebih memiliki kuasa, yang diberikan oleh Yesus kepada kita. Dia datang untuk memproklamasikan kebenaran sedemikian sehingga akan memerdekakan kita. Yesus berfirman: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh 3:31-32).

Kata-kata Yesus mempunyai kuasa untuk menghukum kita, menghibur kita, menyembuhkan kita dan bahkan membebaskan kita. Kata-kata Yesus mencakup pemahaman manusiawi, akan tetapi tidak terbatas sampai di situ saja.

Apakah kita mengetahui kebenaran Injil sedemikian rupa sehingga kita dapat mengalami kuasa-Nya untuk memerdekakan diri kita? Apakah kita mengalami kemerdekaan, sukacita dan keakraban dengan Yesus sebagai akibat dari kita mendengarkan firman-Nya yang diproklamasikan dalam liturgi Gereja, pada pertemuan kelompok doa dan/atau Kitab Suci, pada saat-saat berdoa secara pribadi, atau pada saat-saat pembacaan dan permenungan Kitab Suci secara pribadi? Ini adalah warisan kita sebagai anak-anak Allah yang telah dibaptis.   Selagi kita mengalami kasih ilahi-Nya, kita pun akan menyerahkan diri kita lebih penuh lagi kepada firman-Nya. Kita akan mengenal, mengakui serta mematuhi kewenangan dan kuasa-Nya dalam hidup kita; dan keluarga dan teman-teman kita pun akan mengenali adanya perbedaan dalam diri kita.

Yesus merindukan kita masing-masing untuk mengundang Dia ke dalam hati kita – pusat terdalam dari keberadaan kita – tidak hanya ke dalam pikiran kita. Hati adalah tempat keputusan di mana kita bertemu dengan Allah dan digerakkan secara mendalam oleh kasih-Nya. “Hati adalah ….. pusat kita yang tersembunyi, yang tidak dapat dimengerti baik oleh akal budi kita maupun oleh orang lain”  (Katekismus Gereja Katolik, 2563). Marilah sekarang kita membuka hati kita lebih penuh lagi bagi Yesus dan memperkenankan kuasa-Nya mengubah kita.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau saja yang mengetahui hati kami dan hasrat yang ada dalam hati kami itu. Pada saat ini kami mengundang-Mu untuk memasuki bagian terdalam dari keberadaan kami dan mengikat kami pada hati-Mu. Bebaskanlah kami, ya Tuhan, dari segala kejahatan dan ajarlah kami bagaimana hidup untuk-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Sam 1:9-20), bacalah tulisan yang berjudul “KEHIDUPAN ITU ADALAH KARUNIA DARI ALLAH YANG SANGAT BERHARGA” (bacaan tanggal 9-1-18), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; 18-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-1- 17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 7 Januari 2018 [HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TIDAK PERNAH AKU JUMPAI, SEKALI PUN DI ANTARA ORANG ISRAEL

TIDAK PERNAH AKU JUMPAI, SEKALI PUN DI ANTARA ORANG ISRAEL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIV – Senin, 12 September 2016)

Setelah Yesus selesai berbicara di depan orang banyak, masuklah Ia ke Kapernaum. Di situ ada seorang perwira yang mempunyai seorang hamba, yang sangat dihargainya. Hamba itu sedang sakit keras dan hampir mati. Ketika perwira itu mendengar tentang Yesus, ia menyuruh beberapa orang tua-tua Yahudi kepada-Nya untuk meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan hambanya. Mereka datang kepada Yesus dan dengan sangat mereka meminta pertolongan-Nya, katanya, “Ia layak Engkau tolong, sebab ia mengasihi bangsa kita dan dialah yang membangun rumah ibadat untuk kami.” Lalu Yesus pergi bersama-sama dengan mereka. Ketika Ia tidak jauh lagi dari rumah perwira itu, perwira itu menyuruh sahabat-sahabatnya untuk mengatakan kepada-Nya, “Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku; sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakanlah saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.” Mendengar perkataan itu, Yesus heran akan dia, dan sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata, “Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!” Setelah orang-orang yang disuruh itu kembali ke rumah, mereka dapati hamba itu telah sehat kembali. (Luk 7:1-10) 

Bacaan Pertama: 1Tim 2:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 28:2,7-9 

Para perwira komandan pasukan seratus orang (centurion) rupanya mempunyai catatan baik dalam Kitab Suci. Hari ini kita membaca tentang seorang centurion yang menyampaikan pesan kepada Yesus, “Aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku” (Luk 7:6). Ingatlah juga, sang centurion di bukit Kalvari yang menyaksikan kematian Yesus di kayu salib, yang berkata: “Sungguh, orang ini Anak Allah!”  (Mrk 15:39; bdk. Mat 27:54). Ada juga perwira Kornelius, yang karena keterbukaannya kepada Petrus terjadilah berkat-berkat Pentakosta bagi orang-orang non-Yahudi (Kis 10).

Sebagai perwira-perwira Romawi, dalam menjalankan tugas mereka, para centurion ini tahu bagaimana mengenali dan mengkomit diri mereka kepada otoritas yang berwenang. Maka, ketika mereka berjumpa dengan otoritas puncak dari Allah, beberapa dari mereka siap untuk menaruh iman mereka pada hal itu juga. Hal serupa dapat kita lihat dalam hubungan antara para orangtua dengan anak-anak mereka. Apabila para orangtua menjalankan otoritas mereka dengan layak dan pantas, biasanya anak-anak mereka mengembangkan keterlekatan-keterlekatan dan respek yang sehat dengan para orangtua mereka. Mereka percaya bahwa apabila mereka datang kepada ibu dan/atau ayah mereka dengan masalah mereka, maka mereka akan menemukan bela rasa dan hikmat-kebijaksanaan. Iman yang ada dalam diri para orangtua mereka membuat anak-anak yakin dan stabil, sementara mereka yang memberontak melawan otoritas orangtua mereka pada akhirnya harus belajar tentang kehidupan ini dengan bersusah payah lewat jalan yang sering berliku-liku.

Bapa surgawi, Allah yang Mahakuasa mempunyai otoritas tertinggi atas diri kita. Ia juga adalah Allah yang mahapengasih, yang menginginkan segala sesuatu yang terbaik bagi diri kita masing-masing. Kita mungkin saja adalah serdadu-serdadu Kristus, namun kita juga adalah anak-anak-Nya yang sudah mengantongi undangan-Nya untuk datang menghadap Allah dengan keyakinan akan kasih-Nya.

Sekarang, marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing: “Anak macam apa aku ini? Apakah aku hidup sebagai sang centurion dalam bacaan Injil hari ini, yang percaya bahwa dirinya sepenuhnya berada di bawah otoritas Allah? Atau, apakah aku selalu berjalan kesana-kemari dan mencoba mengatasi masalah-masalah yang sedang kuhadapi dengan mengandalkan kekuatanku sendiri?” Sekarang, apabila Roh Kudus mengingatkan diri kita apa yang seharusnya kita lakukan, maka kita pun harus mengambil langkah maju dengan penuh kepercayaan akan penyelenggaraan ilahi. Kita selalu harus mengingat, bahwa Bapa surgawi adalah Allah yang baik, yang mahapemurah, maharahim dst. Dia adalah Allah yang “Mahalain” yang tidak pernah bisa direka-reka oleh otak kita yang kecil ini. Otoritas-Nya berakar pada kasih, karena Dia adalah kasih itu sendiri (lihat 1Yoh 4:8,16). Yang jelas Allah tidak pernah tidak merasa senang mencurahkan berkat-berkat-Nya kepada semua anak-anak-Nya. Oleh karena itu, marilah kita menghadap-Nya. Kita semestinya percaya bahwa Dia sedang menunggu kita dengan penuh kesabaran.

DOA: Bapa surgawi, kami seringkali menderita karena kami sering tidak taat kepada perintah-perintah-Mu. Kami sadar manakala kami mengatakan bahwa kami percaya kepada-Mu namun tidak sepenuhnya menerima otoritas-Mu atas diri kami, maka hal tersebut berarti kami tidak menaruh kepercayaan kepada-Mu. Ampunilah kami, ya Bapa, dan ajarlah kami untuk menghormati dan mentaati-Mu senantiasa. Terpujilah Engkau selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 7:1-10), bacalah tulisan yang berjudul “IMAN SEJATI SEORANG PERWIRA ROMAWI” (bacaan tanggal 18-9-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-9-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 15 September 2017 [Peringatan SP Maria Berdukacita] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS