Posts tagged ‘IKUTLAH AKU’

YESUS DATANG JUSTRU UNTUK MEMANGGIL ORANG BERDOSA

YESUS DATANG JUSTRU UNTUK MEMANGGIL ORANG BERDOSA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Sabtu, 13 Januari 2018)

 

Sesudah itu Yesus pergi lagi ke pantai danau, dan seluruh orang banyak datang kepada-Nya, lalu Ia mengajar mereka. Kemudian ketika Ia lewat di situ, Ia melihat Lewi anak Alfeus duduk di tempat pemungutan cukai lalu Ia berkata kepadanya, “Ikutlah Aku!”  Lewi pun bangkit lalu mengikuti Dia.  Kemudian ketika Yesus makan di rumah orang itu, banyak pemungut cukai dan orang berdosa makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya, sebab banyak orang yang mengikuti Dia. Pada waktu ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi melihat bahwa Ia makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa itu, berkatalah mereka kepada murid-murid-Nya, “Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?”  Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”  (Mrk 2:13-17)

Bacaan Pertama: 1Sam 9:1-4,17-19;10:1a; Mazmur Tanggapan: Mzm 21:2-7

Pada saat-saat tertentu di masa lampaunya Lewi telah mengambil langkah yang salah dalam kehidupannya. Dia memilih kekayaan dan kekuasaan, bukannya solidaritas dengan saudari-saudaranya sebangsa, yaitu orang-orang Yahudi. Dia menjadi seorang pemungut cukai untuk kepentingan pihak penguasa Romawi, penjajah yang sangat dibenci oleh rata-rata orang Yahudi. “Biaya sosial” yang harus ditanggung sebagai akibat pilihannya atas pekerjaannya sebagai seorang pemungut cukai memang tidak kecil. Sejak saat dia memutuskan untuk menjadi “antek Romawi”, dia tidak lagi dipandang sebagai one of us oleh masyarakat Yahudi, malah dianggap sebagai seorang pengkhianat bangsa, … seorang musuh. Barangkali teman-temannya hanyalah terdiri dari orang-orang yang berprofesi sama dengan dirinya, sampai Yesus mengundang Lewi untuk menegikuti-Nya (Mrk 2:14).

Yesus mengundang Lewi secara langsung, “Ikutlah Aku”, malah setelah itu “lebih heboh” lagi, karena Dia duduk makan bersama di rumah Lewi, yang dipenuhi juga dengan para undangan yang terdiri dari para pemungut cukai dan orang berdosa (Mrk 2:15). Dalam kebudayaan Yahudi persekutuan pada meja perjamuan melambangkan persahabatan yang intim. Orang-orang Farisi percaya bahwa kekudusan mensyaratkan penghindaran diri seseorang dari kontak dengan orang-orang yang tidak murni-suci. Itulah sebabnya mengapa mereka bertanya kepada para murid Yesus, “Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” (Mrk 2:16). Orang-orang Farisi mempertanyakan solidaritas Yesus dengan “para pendosa”. Yesus sebenarnya tidak sepenuhnya tidak setuju dengan pandangan orang-orang Farisi itu. Dia menerima kenyataan, bahwa Lewi dan orang-orang sejenisnya adalah orang-orang  yang “sakit” di tingkat spiritual, dengan demikian membutuhkan penyembuhan spiritual.

Lewat pekerjaan Roh Kudus dalam hatinya, Lewi juga sampai pada kesimpulan yang sama. Selama itu Dia telah mendengarkan Yesus yang mewartakan sabda rekonsiliasi dan mengakui bahwa dia membenci rasa malu dan isolasi yang ditanggungnya selama itu. Akan tetapi Lewi bukanlah seperti orang-orang Farisi, karena dia tidak berhenti sampai di sana. Dengan menyambut tangan-tangan Yesus dalam persahabatan sejati, Lewi berhasil membuang rasa bersalahnya memerdekaan nuraninya yang sudah lama menderita tekanan. Lewi masuk ke dalam pertukaran ilahi. Artinya dia menyerahkan independensinya dari Allah dan mendirikan suatu hidup ketaatan dengan mengikuti Yesus. Dengan demikian Lewi memperoleh bagian yang lebih baik, pengampunan dari-Nya yang indah.

Kita pun dapat melakukan hal yang sama. Kita tidak perlu merasa kaget apabila kita melihat dosa dalam kehidupan kita. Yang perlu kita lakukan hanyalah berpaling kepada-Nya dan mengakui kebutuhan-kebutuhan kita akan pengampunan dan penyembuhan. Seperti dikatakan oleh P. Raniero Cantalamessa OFMCap., sekarang ini posisi kita secara spiritual tidak ubahnya dengan “roh-roh yang terpenjara di tempat penantian”, yang menanti-nantikan kedatangan sang Juruselamat. Oleh karena itu marilah kita berseru dengan keras dari kedalaman ruang penjara kedosaan kita, dalam tempat mana kita sudah sekian lama terbelenggu sebagai tawanan. Kita sudah tahu bahwa ada pertolongan dan ada obat penyembuh bagi sakit-penyakit kita, karena Allah mengasihi kita (Life in Christ, hal. 33). Marilah kita menyesali dan mengakui dosa-dosa kita kepada Allah yang Maharahim.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah membuang rasa bersalah dan rasa malu kami, dan Engkau telah mewujud-nyatakan kasih Allah ke tengah dunia yang penuh dengan kedosaan ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 2:13-17), bacalah tulisan yang berjudul “MATIUS MENYADARI DAN MENGAKUI BAHWA YESUS DAPAT MENYEMBUHKAN DIRINYA” (bacaan  tanggal 13-1-18), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-1-17 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 10 Januari 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

MATIUS SI PEMUNGUT CUKAI

MATIUS SI PEMUNGUT CUKAI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S. Matius, Rasul Penginjil – Kamis, 21 September 2016) 

Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di tempat pemungutan cukai, lalu Ia berkata kepadanya, “Ikutlah Aku.”  Matius pun bangkit dan mengikut Dia. Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya. Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus, “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Yesus mendengarnya dan berkata, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi, pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (Mat 9:9-13) 

Bacaan Pertama:  Ef 4:1-7,11-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 19: 2-5 

Pajak/cukai dan dan para pemungut/pertugasnya tidak pernah populer di  mata publik. Hal seperti itu terjadi di mana saja, termasuk di negara kita tercinta seperti ini. Bukan sekali dua kali saya pribadi mempunyai pengalaman buruk dalam hal penyelesaian pajak tahunan saya. Laporan yang sudah benar dikatakan salah, pembayaran sudah benar dikatakan kurang-bayar, kelebihan pembayaran pajak dan disumbangkan kepada negara malah dimarahi-marahi oleh petugas pajak, dlsb. Ujung-ujungnya ……? Anda sudah tahu jawabnya, kan? Kalau tidak begitu, apa kata dunia …?

Nah, petugas cukai/pajak pada zaman Romawi juga sama jeleknya, malah dapat dikatakan lebih keterlaluan lagi. Mereka lebih menyerupai para pengusaha kaya daripada PNS. Dalam hal pemungutan pajak/cukai pemerintahan Romawi menerapkan sistem kontrak yang di-‘tender’-kan. Penawar tertinggi akan memenangkan tender dan mendapat kontrak itu (misalnya orang seperti Zakheus; Luk 19:1-10). Pemerintah (penjajah) memperoleh penghasilan dari pihak yang berkontrak, dan dia dapat bebas menetapkan jumlah pajak di mana telah diperhitungkan keuntungan yang diinginkannya. Ini adalah praktek ekonomi bebas dalam artinya yang paling buruk, karena melibatkan pemaksaan, korupsi, penipuan dlsb., dan semuanya itu didukung dengan pembenaran dan perlindungan secara hukum.

Ada tarif pajak pada waktu itu yang sampai mencapai 25%. Pemungutan uang tol dan bea-cukai yang relatif tinggi menyebabkan tidak dimungkinkannya para petani untuk menjual hasil panen mereka di luar daerah pajak mereka. Sebagian terbesar petani itu miskin atau berhutang kepada para pemungut pajak atau rentenir. Ketidakpopuleran pajak/cukai pemerintahan Romawi dibuat menjadi lebih buruk lagi oleh kenyataan bahwa penghasilan pajak/cukai hanya menguntungkan pihak penjajah dan tidak membantu pemenuhan berbagai kebutuhan lokal. Para pemungut pajak/cukai tidak hanya dibenci karena membuat keuntungan dengan merugikan banyak orang lain, melainkan juga karena mereka dipandang sebagai para pengkhianat terhadap identitas dan kebaikan bangsa Yahudi.

Inilah konteks dari segala “kehebohan” yang terjadi di kalangan orang Farisi ketika Yesus memanggil seorang pemungkut cukai yang bernama Lewi (Matius) dan kemudian menghadiri acara makan-minum di rumahnya. Kita dapat menduga bahwa dia adalah seorang “sukses” yang sibuk, tanpa banyak pertimbangan atas implikasi moral dari pekerjaannya. Kita juga dapat menduga bahwa Matius bukanlah seorang Yahudi saleh, karena tidak mungkinlah seorang Yahudi saleh bekerja sebagai seorang pemungkut cukai. Barangkali dia adalah seorang yang bersikap acuh-tak-acuh terhadap Allah dan keberadaan-Nya. Akan tetapi Yesus, sang rabi-keliling dari Nazaret, telah menyentuh hatinya dan mengubah-Nya. Dan, perjumpaannya dengan Yesus yang telah mengubah hidupnya itu mempengaruh Gereja sampai hari ini.

Allah dapat memanggil siapa saja, dapat menggunakan siapa saja, untuk mencapai tujuan-Nya. Para pemungut pajak/cukai dan para pelacur datang kepada Yesus dengan tulus hati sehinga Dia membandingkan mereka dengan para pemuka agama Yahudi: “Sesungguhnya Aku berkata, pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan pelacur akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Mat 21:31). Allah juga dapat melakukan keajaiban-keajaiban dalam kehidupan kita, asal saja kita memperkenankan Dia melakukan hal-hal itu, artinya …… asal saja kita “memberi izin” kepada-Nya. Matius maju terus dan sungguh menjadi seorang Rasul dan ia adalah salah seorang penyusun kitab Injil. Percayalah bahwa hal-hal besar dapat terjadi dengan kita masing-masing, asal saja kita memperkenankan-Nya menyentuh hati kita.

DOA: Bapa surgawi, hari ini kami mendoakan teman-teman kami yang begitu sibuk bekerja sehari-hari sehingga bersikap acuh-tak-acuh terhadap Engkau dan keberadaan-Mu. Kami berdoa agar oleh  kuasa Roh Kudus-Mu hidup mereka disentuh sehingga dengan demikian mereka akan datang melayani Engkau dengan sepenuh hati, pikiran dan tenaga mereka.  Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Ef 4:1-7,11-13), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS DATANG UNTUK MEMANGGIL ORANG BERDOSA” dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-9-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 20 September 2016 [Peringatan S. Andreas Kim Tae-gon, Imam dan Paulus Chong Ha-sang dkk., para martir Korea]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MATIUS PUN BANGKIT DAN MENGIKUT DIA

MATIUS PUN BANGKIT DAN MENGIKUT DIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIII – Jumat, 7 Juli 2017) 

ASetelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di tempat pemungutan cukai, lalu Ia berkata kepadanya, “Ikutlah Aku.”  Matius pun bangkit dan mengikut Dia. Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya. Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus, “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Yesus mendengarnya dan berkata, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi, pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (Mat 9:9-13) 

Bacaan Pertama: Kej 23:1-4,19; 24:1-8,62-67; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:1-5

Pernahkah anda berada dalam posisi membutuhkan seorang dokter, tetapi tidak mengakuinya? Meskipun didesak-desak oleh keluarga dan teman-teman, anda menolak untuk mengunjungi seorang dokter sampai penyakit yang anda derita itu akhirnya menjadi begitu serius sehingga anda pun terpaksa pergi ke dokter. Kita dapat mempunyai kesulitan yang sama, karena kita tidak mau menerima kenyataan bahwa kita menderita penyakit spiritual.

Yesus berkata kepada orang Farisi: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit” (Mat 9:12). Yesus tidak memaksudkan di sini bahwa para pemungut pajak dan orang berdosa menderita sakit secara spiritual sementara orang Farisi sehat-sehat saja. Para pemungut pajak dan orang berdosa dengan jelas dapat melihat dan menerima keadaan mereka. Orang-orang Farisi juga sakit, namun tidak mau mengakuinya, maka  mereka tidak mau pergi ke sang Dokter Agung agar dapat memperoleh kehidupan dan kesehatan yang baru.

Dunia ini tidak terdiri dari dua jenis manusia – para pendosa dan orang-orang benar. Yang benar adalah bahwa semua orang adalah pendosa. Ada orang-orang yang mengetahui dan mengakui kenyataan ini. Dengan segala kebutuhan yang ada mereka datang kepada Yesus. Ada juga orang-orang yang menolak untuk mengakui kenyataan ini, maka mereka tidak datang kepada Yesus guna menerima belaskasihan dan kesembuhan. Matius tahu kebutuhannya, dan dia berpaling kepada Yesus.

Ketika  Paulus menulis tentang keadaan orang-orang di hadapan Allah, maka dia mengambil ucapan sang pemazmur: “Tidak ada yang benar, seorang pun tidak. Tidak ada seorang pun yang berakal budi, tidak ada seorang pun yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak” (Rm 3:10-12; bdk. Mzm 14:1-3). Paulus ingin agar kita semua menyadari bahwa kita tidak dapat mengandalkan pada kebaikan kita sendiri: “Karena semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah” (Rm 3:23).

Selama kita masih merasa bahwa diri kita “tidak terlalu jelek”, maka hal itu berarti bahwa kita masih mencoba mengandalkan diri pada “kebaikan” kita sendiri. Dengan demikian kita tidak dapat mengalami keselamatan yang terwujud hanya melalui Yesus. Marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing: “Apakah aku sungguh memandang diriku sebagai seorang pendosa yang membutuhkan penebusan melalui darah Yesus?” Mungkin kita masih harus membuang kecenderungan untuk berpikir bahwa selama ini kita oke-oke saja. Misalnya kita berkata: “Kita kan cuma manusia biasa, bukan malaikat?” Kita juga dapat memandang enteng arti dosa, misalnya dengan berkata: “Allah kan Mahamengerti?” Matius datang kepada Yesus karena dia mengakui bahwa Yesus dapat menyembuhkannya. Semoga begitu juga halnya dengan kita masing-masing.

DOA: Tuhan Yesus, aku mengakui kedosaanku di hadapan-Mu sekarang ini. Engkau telah membayar harga dosa-dosaku di atas kayu salib sehingga aku dapat diperdamaikan dengan Allah Bapa. Tuhan, aku bersyukur dan berterima kasih kepada-Mu dengan segenap hatiku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:9-13), bacalah tulisan yang berjudul “MATIUS DIPANGGIL UNTUK MENGIKUT YESUS” (bacaan tanggal 7-7-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-07  BACAAN HARIAN JULI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 1-7-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 3 Juli 2017 [PESTA S. TOMAS, RASUL] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PETRUS TIDAK DIUBAH MENJADI SEORANG “MAN OF GOD” DALAM SATU MALAM

PETRUS TIDAK DIUBAH MENJADI SEORANG “MAN OF GOD” DALAM SATU MALAM

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah – Jumat, 2 Juni 2017)

Keluarga Kapusin (OFMCap.): S. Feliks dr Nikosia, Bruder (Saudara Awam)

Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus, “Simon, anak Yohanes (Bar Yona), apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini? Jawab Petrus kepada-Nya, “Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Peliharalah anak-anak domba-Ku.”  Kata Yesus lagi kepadanya untuk kedua kalinya, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Jawab Petrus kepada-Nya, “Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya, “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya, “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Peliharalah domba-domba-Ku. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi kalau engkau sudah tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat tidak kaukehendaki.” Hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus, “Ikutlah Aku.” (Yoh 21: 15-19) 

Bacaan Pertama: Kis 25:13-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-2,11-12,19-20

Semalam-malaman Petrus dan para murid yang lain mencoba menangkap ikan di Danau Tiberias, tanpa hasil sedikit pun. Menjelang pagi, seseorang yang berdiri di pantai yang belum mereka kenali memberi nasihat di mana seharusnya Petrus dan kawan-kawannya menebarkan jala mereka. Sebuah mukjizat lagi terjadi … jala mereka sarat dengan banyaknya ikan, tetapi jalan tidak koyak. Murid yang dikasihi Yesus mengenali bahwa yang berdiri di pantai itu adalah Yesus, lalu berkata kepada Petrus, “Itu Tuhan” (Yoh 21:7). Setelah mengenakan pakaiannya, Petrus pun terjun ke danau dan berenang ke pantai disusul oleh perahu, karena jaraknya ke pantai tidak jauh, cuma sekitar 100 meter saja.

Sesudah sarapan Yesus bertanya kepada Petrus, Apakah engkau mengasihi Aku?” (Yoh 21:15). Kata dalam bahasa Yunani untuk “mengasihi” di sini adalah agapao, yang mengandung arti “cukup untuk menyerahkan nyawamu bagi-Ku?” Petrus menjawab: Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa Aku mengasihi Engkau.”  Di sini Petrus menggunakan kata philio untuk “mengasihi”, artinya afeksi yang menyentuh hati. Yesus bertanya kepada Petrus dengan pertanyaan yang sama. Mengapa? Apakah Yesus mencoba untuk menunjukkan kepada Petrus bahwa kasih Petrus kepada-Nya tidak berada dalam tingkat yang sama dengan kasih-Nya bagi Petrus? Petrus percaya kepada Yesus dan bahkan mengasihi-Nya, namun karena dia juga manusia seperti kita maka kasihnya kepada Yesus juga tumbuh secara bertahap.

Petrus tidak diubah menjadi seorang man of God dalam satu malam. Injil Yohanes menunjukkan bahwa pada hari Jumat Agung pun Petrus masih belajar bagaimana menjadi rendah-hati seperti sang Guru. Meskipun dia mampu untuk mengasihi Yesus secara manusiawi, Petrus masih bisa-bisanya menyangkal Tuhan sebanyak tiga kali. Akan tetapi, setelah kebangkitan Yesus dan pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakosta, Petrus menjadi seorang manusia baru, seseorang yang tidak pernah mau menyangkal Tuhan, meski di bawah ancaman langsung penganiayaan (lihat Kis 5:27-32).

Sekarang marilah kita lebih mendekat lagi kepada Tuhan Yesus dan menanggapi sapaan kasih-Nya agar Ia dapat lebih dalam lagi memenuhi kita dengan kasih-Nya. Ini adalah titik penting dalam kehidupan kita. Yesus bertanya kepada kita apakah kita mengasihi-Nya. Dia tidak bertanya dengan maksud menghukum kita, akan tetapi untuk menunjukkan kepada kita bahwa kasih manusia dapat salah. Dia mengundang kita untuk memperkenankan kasih-Nya mengubah kita sehingga kita dapat lebih mengasihi Dia lagi. Karena Dia mengasihi kita terlebih dahulu maka kita dapat menerima kasih-Nya dan digerakkan untuk membalas mengasihi-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau sudah melihat jauh sebelumnya, bahwa Petrus akan menyerahkan nyawanya demi kawanan domba yang dipimpinnya. Berikanlah kepada kami kasih-Mu agar kami pun mampu menjaga dan memelihara orang-orang lain dan diri kami sendiri, dengan pengharapan akan karya Roh Kudus yang menguduskan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 21:15-19), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS BERSABDA: GEMBALAKANLAH DOMBA-DOMBA-KU”  (bacaan tanggal 2-6-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 BACAAN HARIAN JUNI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-5-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 31 Mei 2017 [Pesta SP Maria Mengunjungi Elisabet] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

UNTUK MEMANGGIL ORANG BERDOSA

UNTUK MEMANGGIL ORANG BERDOSA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIII – Jumat, 1 Juli 2016) 

KEMURIDAN - YESUS MEMANGGIL MATIUS - 1Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di tempat pemungutan cukai, lalu Ia berkata kepadanya, “Ikutlah Aku.”  Matius pun bangkit dan mengikut Dia. Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya. Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus, “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Yesus mendengarnya dan berkata, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi, pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (Mat 9:9-13) 

Bacaan Pertama: Am 8:4-6,9-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:2,10,20.30,40,131 

Bayangkan betapa sulitnya bagi seorang pemungut cukai Yahudi di tanah Palestina (Israel) pada zaman Yesus. Matius telah berkolaborasi dengan pihak penjajah (Romawi) untuk memperoleh keuntungan-keuntungan dalam pemungutan cukai dengan memeras bangsanya sendiri, dan memenuhi kantongnya dengan kelebihan-kelebihan pungutan cukai. Untuk pekerjaannya sebagai antek penjajah dan dimusuhi oleh bangsanya sendiri, sangat mungkinlah bahwa Matius itu menjadi seorang pribadi yang sungguh terisolasi dari masyarakat. Barangkali persahabatannya dengan orang-orang lain hanyalah berdasarkan uang dan kepentingan-diri.

Ke dalam dunia semacam inilah Yesus melangkah masuk. Memandang Matius dengan penuh kasih, Yesus hanya mengatakan kepadanya, “Ikutlah Aku” (Mat 9:9). Apakah yang dilihat Matius dalam diri Yesus sehingga menyebabkan dia sudi meninggalkan segala sesuatu guna mengikut-Nya? Untuk pertama kali dalam hidupnya, Matius bertemu dengan “kasih tanpa syarat” dan “penerimaan lengkap-total” dari Yesus. Matius tidak melakukan apapun untuk memperoleh kebaikan dari Yesus, namun dia tetap dipanggil-Nya.

Kemauan Yesus untuk berpartisipasi dalam acara makan-makan di rumah Matius juga sama-sama luar biasanya – suatu tanda keselamatan bagi sementara orang dan suatu skandal bagi orang-orang yang lain. Pada zaman Yesus, duduk pada meja perjamuan dengan seorang lain merupakan sebuah tanda keakraban (keintiman) dan kesatuan dan persatuan. Bagi orang Farisi, makan dengan seorang pendosa adalah peristiwa yang tak terbayangkan dan tak terpikirkan. Rumah Matius, bagaimana pun juga dilihat sebagai sebuah sarang penyamun.

jesus christ super starDi lain pihak, Yesus bersedia untuk mengambil risiko atas reputasi pribadi-Nya, karena/demi cintakasih-Nya kepada Matius. Jelaslah, bahwa orang-orang Farisi tidak memahami cintakasih sedemikian. Jadi, tanpa sekalipun pernah mengabaikan kesempatan yang ada, Yesus berkata kepada mereka, “Pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa”  (Mat 9:13).

Sebenarnya kita semua tidak pantas untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Kita semua membutuhkan pengampunan. Seringkali orang-orang “benar” di antara kita dapat menjadi keras-hati ketimbang orang-orang “tidak-benar” yang acapkali dihina dan disingkirkan dari masyarakat. Jadi, tidak mengherankanlah apabila Yesus dalam kesempatan lain mengatakan, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan pelacur akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Mat 21:31). Kita harus senantiasa mengingat kebenaran bahwa keselamatan datang kepada siapa saja dengan cara yang sama, yaitu melalui pertobatan dan iman. Sekarang pertanyaannya adalah, apakah kita mau menanggapi undangan Yesus untuk mengikut Dia? Maukah kita menerima undangan-Nya untuk ikut serta dalam persekutuan pada meja perjamuan-Nya? Ataukah kita akan tetap menjauhkan diri karena kita mengukur kepantasan atau ketidakpantasan diri kita sendiri?

DOA: Tuhan Yesus, aku tidak pantas untuk menerima Engkau, namun aku merasa terhormat karena Engkau bersedia untuk meluangkan waktu denganku. Aku membuka hatiku kepada-Mu dan menerima kasih-Mu dan penyembuhan-Mu atas diriku. Terpujilah nama-Mu, ya Yesus, Tuhan dan Juruselamatku, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:9-13), bacalah tulisan yang berjudul “MATIUS PUN BANGKIT DAN MENGIKUT DIA” (bacaan tanggal 1-7-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-07  BACAAN HARIAN JULI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 4-7-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 29 Juli 2016  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PETRUS SEBAGAI MODEL BAGI SEMUA ORANG PERCAYA

PETRUS SEBAGAI MODEL BAGI SEMUA ORANG PERCAYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah – Jumat, 13 Mei 2016)

Peringatan SP Maria dr Fatima 

PETER RESTOREDSesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?” Jawab Petrus kepada-Nya, “Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Peliharalah anak-anak domba-Ku.” Kata Yesus lagi kepadanya untuk kedua kalinya, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku? Jawab Petrus kepada-Nya, “Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Petrus pun merasa sedih karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya, “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya, “Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Peliharalah domba-domba-Ku. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi kalau engkau sudah tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.” Hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus, “Ikutlah Aku”. (Yoh 21:15-19) 

Bacaan Pertama: Kis 25:13-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-2,11-12,19-20 

“Apakah engkau mengasihi Aku?” (Yoh 21:17). Tentu pertanyaan sama yang diajukan Yesus kepadanya sebanyak tiga kali mengingatkan Petrus akan penyangkalannya terhadap sang Guru, sebelum Ia wafat di kayu salib. Kemudian sebanyak tiga kali pula Yesus memerintahkan Petrus untuk menggembalakan domba-domba-Nya, setelah murid itu menyatakan kasihnya kepada sang Guru.

Sekilas lintas memang kelihatan ironis bahwa Yesus memilih murid yang kasar, tidak sabar dan agak “gerabak-gerubuk” ini untuk memelihara domba-domba-Nya (Yoh 21:15-17). Namun demikian, Petrus adalah jelas seorang pribadi yang memiliki iman. Ketika banyak murid meninggalkan Yesus di Galilea karena ajaran-Nya yang sulit tentang tubuh dan darah-Nya, Ia bertanya kepada kedua belas murid-Nya (rasul-rasul), “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” (Yoh 6:67). Atas nama keduabelas murid, Petrus menjawab, “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Engkau memiliki perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu bahwa Engkaulah Yang Kudus dari Allah” (Yoh 6:68-69). Demikian pula dalam peristiwa berbeda yang terjadi di daerah Kaisarea Filipi, yaitu ketika Yesus bertanya kepada para murid-Nya, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?”, Simon Petrus menjawab, “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Mat16:16).

Kelemahan-kelemahan pribadi Petrus – yang didokumentasikan dengan baik teristimewa dalam keempat kitab Injil – seringkali menjadi masalah bagi Yesus. Misalnya, ketika Petrus menarik Yesus ke samping dan mulai menegur Dia dengan keras karena Dia mengatakan bahwa diri-Nya harus menderita dan mati, maka Yesus menegur Petrus dengan keras juga: “Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia” (Mrk 8:31-33). Kelemahan-kelemahan sangat manusiawi dari Petrus mencegah dirinya memberikan pelayanan sepenuhnya kepada Tuhan Yesus justru pada saat-saat yang sangat dibutuhkan oleh-Nya. Petrus tertidur selagi Yesus berdoa di taman Getsemani (Mrk 14:37), dan ia menyangkal mengenal Yesus di depan umum (Mrk 14:66-72).

Melalui pengalaman-pengalaman “pahit” seperti inilah Petrus belajar betapa mendalam kebutuhannya untuk menggantungkan diri sepenuhnya pada rahmat Allah. Sebagai akibatnya, hatinya disiapkan untuk menerima Roh Kudus pada hari Pentakosta Kristiani yang pertama. Pada akhirnya, Petrus mengatur penyebaran Injil kepada orang-orang non-Yahudi (lihat Kis 10:34-48). Sementara kita merenungkan iman-heroik dari Petrus, maka penting dan menghibur hatilah apabila kita mengingat bahwa Petrus bertumbuh sebagai seorang pengikut Yesus. Petrus bukan seorang Kristiani saleh sejak lahir dan kehebatan imannya juga tidak datang secara sekaligus.

Yesus meninggikan Petrus sebagai “model” untuk semua orang percaya. Petrus membiarkan hidupnya mengecil sehingga dengan demikian Yesus dapat menjadi besar. Petrus adalah seorang manusia, seperti kita semua. Pertumbuhan iman Petrus menjadi “model” yang memberi semangat bagi kita yang hidup pada zaman modern. Oleh karena itu, marilah kita memohon kepada Tuhan Allah untuk membentuk karakter dalam diri kita selagi kita mempersiapkan diri kita untuk menerima Roh-Nya pada hari Pentakosta.

DOA: Bapa surgawi, bukalah hati kami bagi Roh-Mu. Kami adalah bejana-bejana yang tidak sempurna, bahkan kami tidak pantas untuk menjadi anak-anak-Mu. Namun demikian, melalui rahmat-Mu Engkau telah menyelamatkan kami dan membuat kami semua menjadi milik-Mu sendiri. Berdayakanlah kami agar dapat menjadi saksi-saksi kasih-Mu kepada dunia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 21:15-19), bacalah tulisan yang berjudul “PETRUS TIDAK DIUBAH MENJADI SEORANG ‘MAN OF GOD’ DALAM SATU MALAM” (bacaan tanggal 13-5-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-05 BACAAN HARIAN MEI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 22-5-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 12 Mei 2016 [Peringatan S. Leopoldus Mandic, Imam Kapusin] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BUKAN ORANG SEHAT YANG MEMERLUKAN TABIB

BUKAN ORANG SEHAT YANG MEMERLUKAN TABIB

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S. Matius, Rasul & Penulis Injil – Senin, 21 September 2015) 

KEMURIDAN - YESUS MEMANGGIL MATIUS - 1Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di tempat pemungutan cukai, lalu Ia berkata kepadanya, “Ikutlah Aku.”  Matius pun bangkit dan mengikut Dia. Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya. Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus, “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Yesus mendengarnya dan berkata, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi, pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (Mat 9:9-13) 

Bacaan Pertama: Ef 4:1-7,11-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:2-5 

Pernahkah Saudari/Saudara merasakan bahwa diri anda yang sedang menderita sakit sungguh membutuhkan seorang dokter namun anda tetap tidak mau, bahkan anda tidak mau mengakui bahwa diri anda sedang mengidap  penyakit serius. Walaupun anggota keluarga anda, para sahabat anda menganjurkan (malah mendesak) anda untuk pergi memeriksakan diri kepada dokter, anda tetapi berkeras kepala dan hati untuk tidak pergi ke dokter, sampai penyakit anda begitu seriusnya sehingga mau-tidak-mau anda dengan terpaksa pergi juga ke dokter. Kita semua dapat mempunyai kesulitan yang sama untuk mengakui bahwa kita menderita penyakit spiritual … penyakit rohani!

Yesus bersabda kepada orang-orang Farisi: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit” (Mat 9:12). Di sini Yesus bukan mengartikan bahwa para pemungut cukai dan orang-orang yang jelas berdosa adalah orang-orang yang sakit rohani, sementara orang-orang Farisi adalah orang-orang sehat secara rohani. Para pemungut cukai dan pendosa dapat dengan jelas melihat dan menerima kondisi mereka. Di sisi lain orang-orang Farisi juga menderita sakit, akan tetapi mereka tidak mau mengakuinya, dengan demikian mereka samasekali tidak berniat untuk datang kepada sang Dokter Agung agar dapat memperoleh hidup dan kesehatan rohani yang baru.

Dunia ini sebenarnya tidaklah terdiri dari dua jenis/macam orang – para pendosa dan orang-orang benar. Sebaliknya, semua orang adalah pendosa-pendosa. Ada yang mengetahui, mengakui kondisi rohani mereka dan kemudian berbalik kembali kepada Yesus dalam kebutuhan mereka, sementara ada juga yang menolak untuk menerima kondisi rohani diri mereka – walaupun sudah parah, jadi mereka tidak menghadap sang Juruselamat untuk menerima belas kasih dan kesembuhan dari-Nya. Matius – si pemungut cukai – tahu akan kebutuhannya dan ia berbalik kepada Yesus.

Ketika Paulus menulis tentang kondisi orang-orang di hadapan Allah, dia memetik dari Mazmur 14: “Tidak ada yang benar, seorang pun tidak. Tidak ada seorang pun yang berakal budi, tidak ada seorang pun yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak” (Rm 3:10-12; bdk. Mzm 14:1-3). Paulus ingin agar kita menyadari bahwa kita tidak dapat mengandalkan diri pada kebaikan kita sendiri, karena “… semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah” (Rm 3:23).

Selama kita merasa bahwa diri kita tidaklah begitu jelek, maka sesungguhnya kita sedang mencoba untuk mengandalkan kebaikan diri kita sendiri. Jadi, kita akan gagal menggantungkan diri kita sepenuhnya kepada Allah atau mengalami penyelamatan-Nya yang akan datang hanya melalui Yesus. Marilah kita menanyakan kepada diri kita sendiri pada hari ini: “Apakah aku melihat diriku sendiri sebagai seorang pendosa yang membutuhkan penebusan melalui darah Yesus?” Kita mungkin membutuhkan untuk let go segala kecenderungan kita untuk berpikir bahwa selama ini kita telah melakukan segala sesuatu dengan cukup baik (Kita mengatakan, “Biar bagaimana pun juga, kita kan manusia biasa?). Matius menanggapi panggilan Yesus secara positif untuk mengikuti-Nya karena dia mengerti kondisi dirinya sendiri dan melihat bahwa Yesus dapat menyembuhkannya.

DOA: Tuhan Yesus, aku mengakui kedosaanku di hadapan hadirat-Mu. Engkau telah membayar biaya untuk dosa-dosaku dan semua orang di atas kayu salib agar aku dan orang-orang lain juga dapat diperdamaikan dengan Bapa di surga. Yesus, Engkaulah andalanku! Aku berterima kasih penuh syukur kepada-Mu, ya Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Pertama hari ini (Ef 4:11-7,11-13), bacalah tulisan yang berjudul “SEORANG SAMPAH MASYARAKAT YANG DIPILIH OLEH YESUS GUNA MENJADI PEWARTA DAN PENULIS INJIL YANG HEBAT” (bacaan tanggal 21-9-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-9-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 18 September 2015 [Peringatan S. Yosef dari Copertino, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS