Posts tagged ‘IKUTLAH AKU’

BENTUK PERBUDAKAN TERBURUK

BENTUK PERBUDAKAN TERBURUK

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Minggu Biasa XXVIII [TAHUN B] – 11 Oktober 2015) 

Pada waktu Yesus meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seseorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya, “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus, “Mengapa kaukatakan Aku baik?” Tak seorang pun yang baik selain Allah saja. Engkau tentu mengetahui perintah-perintah ini: Jangan membunuh, jangan berzina, jangan mencuri, jangan memberi kesaksian palsu, jangan menipu orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!” Lalu kata orang itu kepada-Nya, “Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku.” Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya, “Hanya satu lagi kekuranganmu: Pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku.” Mendengar perkataan itu mukanya muram, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya.

Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka, “Alangkah sukarnya orang yang banyak harta masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Murid-murid-Nya tercengang mendengar perkataan-Nya itu. Tetapi Yesus berkata lagi, “Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Lebih mudah seekor unta melewati lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Mereka makin tercengang dan berkata seorang kepada yang lain, “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Yesus memandang mereka dan berkata, “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu mungkin bagi Allah.” (Mrk 10:17-27) 

Bacaan Pertama: Keb 7:7-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 90:12-17; Bacaan Kedua: Ibr 4:12-13

“Lebih mudah seekor unta melewati lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.(Mrk 10:27)

Apakah yang dimaksudkan oleh Yesus dengan pernyataan-Nya yang terdengar mengganggu telinga ini? Apakah saudari dan saudara yang tinggal di Pondok Indah atau di pemukiman-pemukiman mewah dan eksklusif lainnya tidak dapat masuk kedalam Kerajaan Allah? Apakah orang-orang miskin sungguh memiliki privilese untuk masuk ke dalam Kerajaan-Nya?

Ada orang yang berkelakar: “Uang memang merupakan akar segala kejahatan, tetapi aku tidak menolak apabila akar itu ditanam di kebunku.” Kekayaan itu sendiri sebenarnya tidak perlu dicap sebagai kejahatan. Yesus sendiri menikmati makanan, perjamuan dan tempat menginap yang disediakan oleh para sahabat-Nya yang kaya. Dengan uang, kita dapat banyak berbuat baik. Namun, dengan uang kita juga dapat melakukan banyak kejahatan.

Bahaya dari yang dihadapi orang kaya adalah keterikatan berlebihan pada harta-kekayaan dan segala kenikmatan duniawi yang menyertainya. Ini ditunjukkan oleh bacaan Injil hari ini (baca Mrk 10:17-27) di mana diperlihatkan bagaimana orang kaya itu pergi dengan sedih karena dia tidak dapat melepaskan harta-miliknya agar dapat mengikut Yesus. Yang harus kita camkan di sini adalah “pembalikan nilai-nilai”: bukannya orang itu memiliki/menguasai kekayaannya, melainkan dia menjadi dimiliki/dikuasai oleh kekayaannya sendiri, … menjadi budak uang.

Leo Tolstoy, seorang penulis dan pembaharu sosial Rusia ternama yang meninggal dunia pada tahun 1910, pada suatu kesempatan pernah mengatakan bahwa bentuk terburuk dari perbudakan adalah perbudakan oleh uang karena bersifat impersonal. Dalam hubungan perbudakan antara seorang tuan dan hambanya, paling sedikit ada harapan bahwa sang “tuan” pada suatu ketika akan menjadi manusiawi dan berpikiran jernih. Tidak demikianlah dengan uang. Kita begitu sering mendengar tentang orang yang mencintai uang, tetapi tidak pernah mendengar hal yang sebaliknya, yaitu uang yang mencintai orang.

Alkisah ada seorang pebisnis yang mengundurkan diri dari jabatannya ketika dia menduduki kursi presiden direktur sebuah perusahaan. Orang ini menceritakan hasil pengamatannya:  “Ada seorang CEO sebuah perusahaan, seorang hard-worker (kelihatannya bukan smart-worker) yang setiap hari bekerja selama 19-20 jam lamanya. Seluruh hidupnya adalah bisnisnya. Dan CEO (yang juga pemilik perusahaan) itu menuntut hal yang sama dari para eksekutifnya. Baginya tidak ada yang suci atau sakral dalam hidupnya, kecuali bisnisnya. Dia dapat menyelenggarakan rapat kerja pada malam Natal atau pada hari Tahun Baru, pada hari-hari Sabtu atau Minggu. Pada suatu hari orang ini kedapatan mati duduk di kursinya dengan kepala tertelungkup di atas meja kerjanya – korban serangan jantung! Hidup orang itu berakhir sebagai seorang hamba/budak, bukan hamba/budak dari seorang “tuan” melainkan hamba/budak uang.

Di sisi lain, kemiskinan tidak perlu selalu merupakan suatu keutamaan. Seorang miskin yang selalu mengutuk dan memiliki obsesi tunggal dalam hidupnya untuk paling sedikit menjadi sama kayanya dengan orang kaya yang dikenalnya sungguh adalah seorang yang miskin. Akan tetapi, walaupun hidup miskin seseorang dapat berpaling kepada Allah dan menolong sesamanya, maka “kemiskinan” seperti itulah yang dapat dinamakan sebagai “kemiskinan Kristiani”. Dengan tidak memiliki keterikatan pada hal-hal duniawi, seseorang akan lebih mampu untuk terikat pada Allah. Lagipula, kemiskinan yang menyakitkan dapat membuat seorang miskin menaruh simpati terhadap sesamanya yang miskin pula.

Bacaan Injil di atas juga mengingatkan kita akan dimensi sosial dari kekayaan kita: “Pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku” (Mrk 10:21).

Dari tiga kitab Injil sinoptik yang menceritakan kisah ini, kita dapat menarik kesimpulan bahwa orang ini di samping kaya, juga masih muda usia (Mat 19:22) dan berkedudukan penting (Luk 18:18) dan niatnya juga baik sehingga tidak heran jika Yesus menaruh kasih kepadanya (Mrk 10:21). Dengan catatan positif seperti ini, tokh cerita ini adalah salah satu dari cerita-cerita dalam Injil yang paling menyedihkan hati (lihat Mrk 10:22; bdk. cerita tentang Yesus menyembuhkan Bartimeus [Mrk 10:46-52]).

Kadang-kadang kita mendengar orang-orang kaya berkata, “Mengapa kita harus berbagi dengan mereka yang kurang beruntung; aku bekerja keras agar dapat sampai kepada keadaanku sekarang. Berbagi dengan mereka hanya akan meningkatkan kemalasan mereka.”  Dalam hal ini, baiklah saya mengingatkan para Saudari dan Saudara yang relatif berkecukupan/kaya, bahwa dalam upaya anda memperoleh kekayaan, tidak semuanya datang sebagai hasil kerja keras anda, melainkan dari karunia/anugerah yang secara bebas diberikan oleh Allah. Anda mungkin diberikan kepandaian yang lebih, diberikan bakat berbisnis, dan lain-lain talenta yang membuat anda memiliki comparative advantage ketimbang orang-orang lain. Karena anda “diberkati”, bukankah layak dan pantas bagi anda untuk berbagi dengan orang-orang yang kurang beruntung, daripada menikmati semua itu sendiri, apalagi sampai anda terkena serangan jantung?

DOA: Tuhan Yesus, Engkau mengingatkan kami untuk lepas dari keterikatan pada harta kekayaan yang sesungguhnya telah memperbudak kami. Oleh kuat-kuasa Roh-Mu, bentuklah kami agar menjadi murid-murid-Mu yang setia. Jadikanlah kami sebagai perpanjangan tangan-tangan-Mu sendiri, melayani sesama kami yang membutuhkan pertolongan dengan penuh sukacita. Jagalah kami agar tidak meninggalkan-Mu dengan sedih karena karena kami lebih mencintai harta kekayaan kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 10:17-27), bacalah tulisan yang berjudul “JIKA DEMIKIAN, SIAPAKAH YANG DAPAT DISELAMATKAN?” (bacaan tanggal 14-10-18) dalam situs/blog  SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2018 

Cilandak, 11 Oktober 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

KOMITMEN KRISTIANI HARUS BERSIFAT PERMANEN

KOMITMEN KRISTIANI HARUS BERSIFAT PERMANEN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVI – Rabu, 3 Oktober 2018)

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan mereka, berkatalah seseorang di tengah jalan kepada Yesus, “Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Yesus berkata kepadanya, “Rubah mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Lalu Ia berkata kepada seorang yang lain, “Ikutlah Aku!”  Tetapi orang itu berkata, “Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapakku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana.” Lalu seorang yang lain lagi berkata, “Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” (Luk 9:57-62) 

Bacaan Pertama: Ayb 9:1-12,14-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 88:10-15 

Yesus mempunyai cara-Nya sendiri dalam berkomunikasi dengan para murid atau calon murid-Nya, menstimulir mereka untuk berpikir. Di sini Yesus berbicara mengenai persyaratan untuk menjadi murid-Nya dan bahasa yang digunakan cukup keras. Namun terasa bahwa sekali-sekali Yesus berkomunikasi dengan melakukan permainan kata-kata yang sungguh merangsang imajinasi orang yang mendengar pesan-Nya dan membuat orang itu bertanya-tanya tentang makna dari pesan yang disampaikan-Nya. “Biarlah orang mati menguburkan orang mati” (Luk 9:60). Maknanya, tentunya, adalah membiarkan orang-orang yang mati-rohani menguburkan orang mati-fisik. Pekerjaan kita adalah dengan orang-orang yang hidup; pesan kita adalah pesan kehidupan, kehidupan baru. Saya sendiri sekian tahun lalu mengalami betapa berbahayanya sabda Yesus seperti ini apabila ditafsirkan secara harfiah. Pada waktu ayah mertua saya meninggal dunia, seorang anak laki-lakinya yang menganut paham Kristiani yang fundamentalistis, tidak mau hadir ke rumah duka, padahal dia adalah anak laki-laki tertua. Alasan yang dikemukakannya sama dengan ayat tadi. Menyedihkan, memang!

Satu hal lainnya yang ditekankan Yesus adalah “kesulitan” yang dialami seseorang untuk menjadi murid-Nya, ada “biaya”-nya. “Rubah mempunyai liang dan burung mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Luk 9:58). Yesus memang tidak pernah “menipu”/”menjebak” orang dengan janji-janji yang indah-indah dan romantis, agar mau mengikuti diri-Nya. Yesus membeberkan fakta seadanya walaupun terkesan keras didengar.

Satu hal lagi yang disampaikan di sini: Komitmen para murid Yesus harus bersifat permanen: “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah” (Luk 9:62). Yesus mengingatkan kita bahwa kita-manusia mempunyai kecenderungan untuk merasa terlalu risau tentang kerja, kita terlalu banyak memikirkan sukses …… sukses duniawi! Kita menjadi begitu mudah disibukkan dengan urusan pekerjaan dan rekreasi, dan lupa komitmen kita untuk melayani Allah dan sesama (bukan hanya orang Kristiani) sebagai orang-orang Kristiani sejati.

Komitmen Kristiani bukanlah sekadar urusan suci-suci pada hari Minggu saja, doa, bahkan senantiasa hadir dalam Misa Harian. Komitmen Kristiani yang sejati jauh lebih dari itu semua. Komitmen Kristiani sejati menyangkut penghayatan iman dalam tindakan, di tempat kerja, pada waktu berekreasi, dalam bisnis, dalam dunia politik, dalam segala kontak kita dengan sesama manusia tanpa memandang perbedaan agama, bangsa/etnis, status sosial-ekonomi dalam masyarakat. Komitmen Kristiani bukanlah sesuatu yang dapat kita “mati-hidupkan” seenaknya seperti pesawat radio. Komitmen Kristiani yang sejati harus bersifat permanen dan harus meliputi seluruh segi kehidupan kita.

DOA: Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah yang kering dan tandus, tiada berair. Demikianlah aku memandang kepada-Mu di tempat kudus, sambil melihat kekuatan-Mu dan kemuliaan-Mu. Aku mau memuji Engkau seumur hidupku dan menaikkan tanganku demi nama-Mu. Jiwaku melekat kepada-Mu, tangan kanan-Mu menopang aku. Amin. (Mzm 63:2-3,5,9)

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 9:57-62), bacalah tulisan yang berjudul “HAL IKHWAL MENGIKUT YESUS” (bacaan tanggal 3-10-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 4-10-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 29 September 2018 [Pesta S. Mikael, Gabriel dan Rafael, Malaikat Agung] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENGASIHI YESUS DAN TETAP SETIA PADA SABDA-NYA

MENGASIHI YESUS DAN TETAP SETIA PADA SABDA-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah – Sabtu, 18 Mei 2018)

OSCCap and OSCCap: Peringatan S. Krispinus dr Viterbo, Imam Kapusin

 

Ketika Petrus berpaling, ia melihat bahwa murid yang dikasihi Yesus sedang mengikuti mereka, yaitu murid yang pada waktu mereka sedang makan bersama duduk dekat Yesus dan yang berkata, “Tuhan, siapakah dia yang akan menyerahkan Engkau?” Ketika Petrus melihat murid itu, ia berkata kepada Yesus, “Tuhan, bagaimana dengan dia ini?” Jawab Yesus, “Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: Ikutlah Aku.” Lalu tersebarlah kabar di antara saudara-saudara itu bahwa murid itu tidak akan mati. Tetapi Yesus tidak mengatakan kepada Petrus bahwa murid itu tidak akan mati, melainkan, “Jikalau Aku menghendaki supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu.”

Dialah murid yang bersaksi tentang semuanya ini dan yang telah menuliskannya dan kita tahu bahwa kesaksiannya itu benar.

Masih banyak lagi hal-hal lain yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, kupikir dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu. (Yoh 21:20-25) 

Bacaan Pertama: Kis 28:16-20,30-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 11:4-5,7 

Setelah Petrus mengafirmasikan kasihnya kepada Yesus sebanyak tiga kali, hal mana menunjukkan bahwa hatinya berada di tempat yang benar, sang Rasul Kepala ini menunjuk “murid yang dikasihi Yesus” (Yoh 21:20) dan bertanya kepada Yesus, “Tuhan, bagaimana dengan dia ini? Yesus menegur Petrus: “Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: Ikutlah Aku” (Yoh 21:21-22). Dalam artian tertentu, tanggapan Yesus ini adalah suatu “perpanjangan” dari pertanyaan yang diajukan-Nya kepada Petrus sebanyak tiga kali, “Apakah engkau mengasihi Aku?” (Yoh 21:15-17). Mengasihi Allah berarti mengikuti Dia dalam ketaatan, tanpa harus membanding-bandingkan apa yang dilakukan oleh orang-orang lain.

Kita dipanggil untuk mengasihi Yesus dengan ukuran yang sama, namun tidak harus dengan jalan yang sama. Petrus harus memahami bahwa mengikuti Yesus berarti sesuatu yang berbeda bagi dirinya ketimbang “murid yang dikasihi Yesus”. Apabila rasul yang lain itu tidak dipanggil untuk mati sebagai martir Kristus seperti yang dialami oleh Petrus, sudahlah … so be it! Allah mempunyai berbagai karunia dan peranan yang berbeda-beda bagi setiap anggota tubuh Kristus (lihat 1Kor 12:1-31).

Bagaimana halnya dengan kita sendiri? Rasanya, kita juga memiliki “sedikit Petrus” dalam diri kita masing-masing. Tidak pernahkah kita berpikir, “Mengapa orang ini tidak dapat melakukan pekerjaan seperti yang kulakukan?” atau “Mengapa orang itu tidak melakukan pengorbanan-pengorbanan pribadi untuk Tuhan seperti yang kulakukan?” Sebaliknya kalau kita melihat dari suatu perspektif yang lain, apakah kita menjadi ciut-hati karena kita tidak dapat menghayati kehidupan Kristiani – spiritualitas – sehari-hari seperti seorang pribadi lain? Yesus menegaskan di sini, bahwa mengikuti diri-Nya tidaklah berarti harus konform dengan suatu pola atau formula peraturan-peraturan tertentu. Mengikuti jejak Yesus berarti memberikan diri kita sendiri bagi suatu relasi-pribadi yang bersifat batiniah dengan diri-Nya.

Sekarang, marilah kita syeringkan panggilan dan privilese kita untuk boleh mendengar Tuhan Yesus bersabda: “Ikutlah Aku” ini. Yesus dapat memimpin kita ke arah yang baru, bahkan (barangkali) kepada jalan-jalan yang kita sendiri tidak akan pilih. Semua yang diminta adalah bahwa kita mengasihi Kristus setiap hari, tetap setia pada sabda yang telah ditaruh-Nya dalam hati kita masing-masing, dan menyerahkan baik masa lalu maupun masa depan kita kepada penyelenggaraan(-ilahi)-Nya. Hakekat Pentakosta bukanlah membentuk masyarakat yang homogen. Upaya untuk membangun sistem sedemikian akan dapat berujung pada bencana. Allah mencurahkan Roh-Nya untuk mendorong terciptanya persatuan dan kesatuan dan kasih yang riil di tengah berbagai macam ragam perempuan dan laki-laki yang berasal dari berbagai macam bangsa dan budaya. Dia mengumpulkan kita semua yang berasal dari segala macam status kehidupan ke dalam satu umat Allah.

DOA: Tuhan Yesus, aku menyembah-Mu dan memuji-Mu. Engkau menciptakan aku dalam kasih, menyelamatkan aku melalui kasih, dan memenuhi diriku dengan kasih setiap hari. Pada hari ini aku mengkomit diriku kembali untuk senantiasa taat pada panggilan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 21:20-25), bacalah tulisan dengan judul “YESUS MELAKUKAN BANYAK KEBAIKAN LAIN JUGA DI LUAR YANG TERCATAT DALAM INJIL” (bacaan tanggal 19-5-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-05 BACAAN HARIAN MEI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 3-6-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 16 Mei 2018 [Peringatan S. Margareta dr Cortona] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS BERSABDA KEPADA PETRUS: GEMBALAKANLAH DOMBA-DOMBA-KU

YESUS BERSABDA KEPADA PETRUS: GEMBALAKANLAH DOMBA-DOMBA-KU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah – Jumat, 18 Mei 2018)

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta/Peringatan S. Feliks dr Cantalice, Bruder Kapusin

Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?” Jawab Petrus kepada-Nya, “Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Peliharalah anak-anak domba-Ku.” Kata Yesus lagi kepadanya untuk kedua kalinya, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku? Jawab Petrus kepada-Nya, “Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Petrus pun merasa sedih karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya, “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya, “Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Peliharalah domba-domba-Ku. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi kalau engkau sudah tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.” Hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus, “Ikutlah Aku”. (Yoh 21:15-19) 

Bacaan Pertama: Kis 25:13-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-2,11-12,19-20 

Dalam Gereja Perdana, kepada Petrus diberikan kedudukan yang penting, yaitu sebagai fondasi dari Gereja dan pemegang peranan pening dalam pelayanan dan otoritas (lihat Mat 16:18). Paulus menulis bahwa setelah kebangkitan-Nya, Yesus “menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya” (1Kor 15:5). Sementara peranan Petrus itu unik baginya, apa yang pertama-tama diterimanya (misalnya berjumpa dengan Kristus yang bangkit) kemudian dibagikan kepada para murid lainnya. Bacaan Injil hari ini sebenarnya menunjukkan masa depan Gereja dan pembentukan sebuah struktur yang didasarkan pada tatanan Allah sendiri, suatu tatanan yang berkelanjutan sampai hari ini melalui Uskup Roma (Paus).

Panggilan Petrus untuk memimpin mengalir dari pengakuannya akan Yesus yang bangkit sebagai Kepala Gereja. Dialog yang dilakukan oleh Yesus dengan Petrus mencerminkan sikap Yesus sendiri terhadap pemeliharaan pastoral atas kawanan domba, yaitu umat Kristiani. Yesus adalah “gembala yang baik” (Yoh 10:11). Bapa surgawi mempercayakan pemeliharaan umat-Nya kepada Yesus karena kasih yang saling mengikat antara Bapa dan Putera. Yesus bersabda: “Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku agar Aku menerimanya kembali” (Yoh 10:17). Ketika Petrus mendeklarasikan cintakasihnya kepada-Nya sampai tiga kali, maka Yesus memberi amanat kepada-Nya untuk melayani sebagai pemimpin Gereja-Nya.

Yesus menunjuk kepada Gereja-Nya sebagai sebuah komunitas di dunia ini, komunitas mana mempunyai sebuah struktur yang kelihatan. Namun Yesus juga menunjuk lebih jauh lagi, yaitu kepada Roh-Nya sendiri yang memberi kehidupan, akan memenuhi diri semua umat beriman, mempersatukan mereka dengan diri-Nya dan mempersatukan mereka satu sama lain. Roh Kudus datang dengan hikmat-Nya, kuasa-Nya dan kasih-Nya, maka para murid diberdayakan agar dapat mewujudkan kasih yang penuh pengorbanan, suatu sacrificial love. Dinamika pelayanan dan otoritas yang mengalir dari kasih, adalah jantung dari penyertaan kita dalam imamat Kristus (imamat umum).

Kita dapat berpartisipasi dalam “misteri persatuan yang mendalam” ini seperti layaknya relasi  cintakasih antara suami dan istri. Paulus menulis sebagai berikut: “Demikian juga suami harus mengasihi istrinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi istrinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi memelihara dan merawatnya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, karena kita adalah anggota tubuh-Nya. Sebab itu, laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Rahasia itu besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat” (Ef 5:28-32).

Melalui/oleh Roh Kudus kita dapat menjadi lebih serupa lagi dengan Yesus. Kita akan dimampukan untuk menanggung pencobaan-pencobaan yang menimpa diri kita seiring dengan pekerjaan kita mewartakan Injil dan/atau upaya saling memperhatikan penuh kasih dalam keluarga yang merupakan gereja domestik, dan dalam  komunitas Kristiani. Dengan pemikiran dan upaya kita sendiri semata-mata, kita tidak akan mampu memahami panggilan kita ini atau mewujudkan panggilan tersebut ke dalam tindakan nyata.

DOA: Datanglah, ya Roh Pengertian, turunlah atas diri kami dan terangilah pikiran kami sehingga kami dapat mengetahui dan percaya akan semua misteri penyelamatan, memahami ajaran Yesus Kristus, dan melaksanakannya dalam hidup kami sehari-hari. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 21:15-19), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS JUGA MENGAJUKAN PERTANYAAN YANG SAMA KEPADA KITA MASING-MASING” (bacaan tanggal 18-5-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-05 BACAAN HARIAN MEI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 2-6-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 15 Mei 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS DATANG JUSTRU UNTUK MEMANGGIL ORANG BERDOSA

YESUS DATANG JUSTRU UNTUK MEMANGGIL ORANG BERDOSA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Sabtu, 13 Januari 2018)

 

Sesudah itu Yesus pergi lagi ke pantai danau, dan seluruh orang banyak datang kepada-Nya, lalu Ia mengajar mereka. Kemudian ketika Ia lewat di situ, Ia melihat Lewi anak Alfeus duduk di tempat pemungutan cukai lalu Ia berkata kepadanya, “Ikutlah Aku!”  Lewi pun bangkit lalu mengikuti Dia.  Kemudian ketika Yesus makan di rumah orang itu, banyak pemungut cukai dan orang berdosa makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya, sebab banyak orang yang mengikuti Dia. Pada waktu ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi melihat bahwa Ia makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa itu, berkatalah mereka kepada murid-murid-Nya, “Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?”  Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”  (Mrk 2:13-17)

Bacaan Pertama: 1Sam 9:1-4,17-19;10:1a; Mazmur Tanggapan: Mzm 21:2-7

Pada saat-saat tertentu di masa lampaunya Lewi telah mengambil langkah yang salah dalam kehidupannya. Dia memilih kekayaan dan kekuasaan, bukannya solidaritas dengan saudari-saudaranya sebangsa, yaitu orang-orang Yahudi. Dia menjadi seorang pemungut cukai untuk kepentingan pihak penguasa Romawi, penjajah yang sangat dibenci oleh rata-rata orang Yahudi. “Biaya sosial” yang harus ditanggung sebagai akibat pilihannya atas pekerjaannya sebagai seorang pemungut cukai memang tidak kecil. Sejak saat dia memutuskan untuk menjadi “antek Romawi”, dia tidak lagi dipandang sebagai one of us oleh masyarakat Yahudi, malah dianggap sebagai seorang pengkhianat bangsa, … seorang musuh. Barangkali teman-temannya hanyalah terdiri dari orang-orang yang berprofesi sama dengan dirinya, sampai Yesus mengundang Lewi untuk menegikuti-Nya (Mrk 2:14).

Yesus mengundang Lewi secara langsung, “Ikutlah Aku”, malah setelah itu “lebih heboh” lagi, karena Dia duduk makan bersama di rumah Lewi, yang dipenuhi juga dengan para undangan yang terdiri dari para pemungut cukai dan orang berdosa (Mrk 2:15). Dalam kebudayaan Yahudi persekutuan pada meja perjamuan melambangkan persahabatan yang intim. Orang-orang Farisi percaya bahwa kekudusan mensyaratkan penghindaran diri seseorang dari kontak dengan orang-orang yang tidak murni-suci. Itulah sebabnya mengapa mereka bertanya kepada para murid Yesus, “Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” (Mrk 2:16). Orang-orang Farisi mempertanyakan solidaritas Yesus dengan “para pendosa”. Yesus sebenarnya tidak sepenuhnya tidak setuju dengan pandangan orang-orang Farisi itu. Dia menerima kenyataan, bahwa Lewi dan orang-orang sejenisnya adalah orang-orang  yang “sakit” di tingkat spiritual, dengan demikian membutuhkan penyembuhan spiritual.

Lewat pekerjaan Roh Kudus dalam hatinya, Lewi juga sampai pada kesimpulan yang sama. Selama itu Dia telah mendengarkan Yesus yang mewartakan sabda rekonsiliasi dan mengakui bahwa dia membenci rasa malu dan isolasi yang ditanggungnya selama itu. Akan tetapi Lewi bukanlah seperti orang-orang Farisi, karena dia tidak berhenti sampai di sana. Dengan menyambut tangan-tangan Yesus dalam persahabatan sejati, Lewi berhasil membuang rasa bersalahnya memerdekaan nuraninya yang sudah lama menderita tekanan. Lewi masuk ke dalam pertukaran ilahi. Artinya dia menyerahkan independensinya dari Allah dan mendirikan suatu hidup ketaatan dengan mengikuti Yesus. Dengan demikian Lewi memperoleh bagian yang lebih baik, pengampunan dari-Nya yang indah.

Kita pun dapat melakukan hal yang sama. Kita tidak perlu merasa kaget apabila kita melihat dosa dalam kehidupan kita. Yang perlu kita lakukan hanyalah berpaling kepada-Nya dan mengakui kebutuhan-kebutuhan kita akan pengampunan dan penyembuhan. Seperti dikatakan oleh P. Raniero Cantalamessa OFMCap., sekarang ini posisi kita secara spiritual tidak ubahnya dengan “roh-roh yang terpenjara di tempat penantian”, yang menanti-nantikan kedatangan sang Juruselamat. Oleh karena itu marilah kita berseru dengan keras dari kedalaman ruang penjara kedosaan kita, dalam tempat mana kita sudah sekian lama terbelenggu sebagai tawanan. Kita sudah tahu bahwa ada pertolongan dan ada obat penyembuh bagi sakit-penyakit kita, karena Allah mengasihi kita (Life in Christ, hal. 33). Marilah kita menyesali dan mengakui dosa-dosa kita kepada Allah yang Maharahim.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah membuang rasa bersalah dan rasa malu kami, dan Engkau telah mewujud-nyatakan kasih Allah ke tengah dunia yang penuh dengan kedosaan ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 2:13-17), bacalah tulisan yang berjudul “MATIUS MENYADARI DAN MENGAKUI BAHWA YESUS DAPAT MENYEMBUHKAN DIRINYA” (bacaan  tanggal 13-1-18), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-1-17 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 10 Januari 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MATIUS SI PEMUNGUT CUKAI

MATIUS SI PEMUNGUT CUKAI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S. Matius, Rasul Penginjil – Kamis, 21 September 2016) 

Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di tempat pemungutan cukai, lalu Ia berkata kepadanya, “Ikutlah Aku.”  Matius pun bangkit dan mengikut Dia. Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya. Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus, “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Yesus mendengarnya dan berkata, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi, pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (Mat 9:9-13) 

Bacaan Pertama:  Ef 4:1-7,11-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 19: 2-5 

Pajak/cukai dan dan para pemungut/pertugasnya tidak pernah populer di  mata publik. Hal seperti itu terjadi di mana saja, termasuk di negara kita tercinta seperti ini. Bukan sekali dua kali saya pribadi mempunyai pengalaman buruk dalam hal penyelesaian pajak tahunan saya. Laporan yang sudah benar dikatakan salah, pembayaran sudah benar dikatakan kurang-bayar, kelebihan pembayaran pajak dan disumbangkan kepada negara malah dimarahi-marahi oleh petugas pajak, dlsb. Ujung-ujungnya ……? Anda sudah tahu jawabnya, kan? Kalau tidak begitu, apa kata dunia …?

Nah, petugas cukai/pajak pada zaman Romawi juga sama jeleknya, malah dapat dikatakan lebih keterlaluan lagi. Mereka lebih menyerupai para pengusaha kaya daripada PNS. Dalam hal pemungutan pajak/cukai pemerintahan Romawi menerapkan sistem kontrak yang di-‘tender’-kan. Penawar tertinggi akan memenangkan tender dan mendapat kontrak itu (misalnya orang seperti Zakheus; Luk 19:1-10). Pemerintah (penjajah) memperoleh penghasilan dari pihak yang berkontrak, dan dia dapat bebas menetapkan jumlah pajak di mana telah diperhitungkan keuntungan yang diinginkannya. Ini adalah praktek ekonomi bebas dalam artinya yang paling buruk, karena melibatkan pemaksaan, korupsi, penipuan dlsb., dan semuanya itu didukung dengan pembenaran dan perlindungan secara hukum.

Ada tarif pajak pada waktu itu yang sampai mencapai 25%. Pemungutan uang tol dan bea-cukai yang relatif tinggi menyebabkan tidak dimungkinkannya para petani untuk menjual hasil panen mereka di luar daerah pajak mereka. Sebagian terbesar petani itu miskin atau berhutang kepada para pemungut pajak atau rentenir. Ketidakpopuleran pajak/cukai pemerintahan Romawi dibuat menjadi lebih buruk lagi oleh kenyataan bahwa penghasilan pajak/cukai hanya menguntungkan pihak penjajah dan tidak membantu pemenuhan berbagai kebutuhan lokal. Para pemungut pajak/cukai tidak hanya dibenci karena membuat keuntungan dengan merugikan banyak orang lain, melainkan juga karena mereka dipandang sebagai para pengkhianat terhadap identitas dan kebaikan bangsa Yahudi.

Inilah konteks dari segala “kehebohan” yang terjadi di kalangan orang Farisi ketika Yesus memanggil seorang pemungkut cukai yang bernama Lewi (Matius) dan kemudian menghadiri acara makan-minum di rumahnya. Kita dapat menduga bahwa dia adalah seorang “sukses” yang sibuk, tanpa banyak pertimbangan atas implikasi moral dari pekerjaannya. Kita juga dapat menduga bahwa Matius bukanlah seorang Yahudi saleh, karena tidak mungkinlah seorang Yahudi saleh bekerja sebagai seorang pemungkut cukai. Barangkali dia adalah seorang yang bersikap acuh-tak-acuh terhadap Allah dan keberadaan-Nya. Akan tetapi Yesus, sang rabi-keliling dari Nazaret, telah menyentuh hatinya dan mengubah-Nya. Dan, perjumpaannya dengan Yesus yang telah mengubah hidupnya itu mempengaruh Gereja sampai hari ini.

Allah dapat memanggil siapa saja, dapat menggunakan siapa saja, untuk mencapai tujuan-Nya. Para pemungut pajak/cukai dan para pelacur datang kepada Yesus dengan tulus hati sehinga Dia membandingkan mereka dengan para pemuka agama Yahudi: “Sesungguhnya Aku berkata, pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan pelacur akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Mat 21:31). Allah juga dapat melakukan keajaiban-keajaiban dalam kehidupan kita, asal saja kita memperkenankan Dia melakukan hal-hal itu, artinya …… asal saja kita “memberi izin” kepada-Nya. Matius maju terus dan sungguh menjadi seorang Rasul dan ia adalah salah seorang penyusun kitab Injil. Percayalah bahwa hal-hal besar dapat terjadi dengan kita masing-masing, asal saja kita memperkenankan-Nya menyentuh hati kita.

DOA: Bapa surgawi, hari ini kami mendoakan teman-teman kami yang begitu sibuk bekerja sehari-hari sehingga bersikap acuh-tak-acuh terhadap Engkau dan keberadaan-Mu. Kami berdoa agar oleh  kuasa Roh Kudus-Mu hidup mereka disentuh sehingga dengan demikian mereka akan datang melayani Engkau dengan sepenuh hati, pikiran dan tenaga mereka.  Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Ef 4:1-7,11-13), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS DATANG UNTUK MEMANGGIL ORANG BERDOSA” dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-9-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 20 September 2016 [Peringatan S. Andreas Kim Tae-gon, Imam dan Paulus Chong Ha-sang dkk., para martir Korea]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MATIUS PUN BANGKIT DAN MENGIKUT DIA

MATIUS PUN BANGKIT DAN MENGIKUT DIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIII – Jumat, 7 Juli 2017) 

ASetelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di tempat pemungutan cukai, lalu Ia berkata kepadanya, “Ikutlah Aku.”  Matius pun bangkit dan mengikut Dia. Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya. Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus, “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Yesus mendengarnya dan berkata, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi, pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (Mat 9:9-13) 

Bacaan Pertama: Kej 23:1-4,19; 24:1-8,62-67; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:1-5

Pernahkah anda berada dalam posisi membutuhkan seorang dokter, tetapi tidak mengakuinya? Meskipun didesak-desak oleh keluarga dan teman-teman, anda menolak untuk mengunjungi seorang dokter sampai penyakit yang anda derita itu akhirnya menjadi begitu serius sehingga anda pun terpaksa pergi ke dokter. Kita dapat mempunyai kesulitan yang sama, karena kita tidak mau menerima kenyataan bahwa kita menderita penyakit spiritual.

Yesus berkata kepada orang Farisi: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit” (Mat 9:12). Yesus tidak memaksudkan di sini bahwa para pemungut pajak dan orang berdosa menderita sakit secara spiritual sementara orang Farisi sehat-sehat saja. Para pemungut pajak dan orang berdosa dengan jelas dapat melihat dan menerima keadaan mereka. Orang-orang Farisi juga sakit, namun tidak mau mengakuinya, maka  mereka tidak mau pergi ke sang Dokter Agung agar dapat memperoleh kehidupan dan kesehatan yang baru.

Dunia ini tidak terdiri dari dua jenis manusia – para pendosa dan orang-orang benar. Yang benar adalah bahwa semua orang adalah pendosa. Ada orang-orang yang mengetahui dan mengakui kenyataan ini. Dengan segala kebutuhan yang ada mereka datang kepada Yesus. Ada juga orang-orang yang menolak untuk mengakui kenyataan ini, maka mereka tidak datang kepada Yesus guna menerima belaskasihan dan kesembuhan. Matius tahu kebutuhannya, dan dia berpaling kepada Yesus.

Ketika  Paulus menulis tentang keadaan orang-orang di hadapan Allah, maka dia mengambil ucapan sang pemazmur: “Tidak ada yang benar, seorang pun tidak. Tidak ada seorang pun yang berakal budi, tidak ada seorang pun yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak” (Rm 3:10-12; bdk. Mzm 14:1-3). Paulus ingin agar kita semua menyadari bahwa kita tidak dapat mengandalkan pada kebaikan kita sendiri: “Karena semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah” (Rm 3:23).

Selama kita masih merasa bahwa diri kita “tidak terlalu jelek”, maka hal itu berarti bahwa kita masih mencoba mengandalkan diri pada “kebaikan” kita sendiri. Dengan demikian kita tidak dapat mengalami keselamatan yang terwujud hanya melalui Yesus. Marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing: “Apakah aku sungguh memandang diriku sebagai seorang pendosa yang membutuhkan penebusan melalui darah Yesus?” Mungkin kita masih harus membuang kecenderungan untuk berpikir bahwa selama ini kita oke-oke saja. Misalnya kita berkata: “Kita kan cuma manusia biasa, bukan malaikat?” Kita juga dapat memandang enteng arti dosa, misalnya dengan berkata: “Allah kan Mahamengerti?” Matius datang kepada Yesus karena dia mengakui bahwa Yesus dapat menyembuhkannya. Semoga begitu juga halnya dengan kita masing-masing.

DOA: Tuhan Yesus, aku mengakui kedosaanku di hadapan-Mu sekarang ini. Engkau telah membayar harga dosa-dosaku di atas kayu salib sehingga aku dapat diperdamaikan dengan Allah Bapa. Tuhan, aku bersyukur dan berterima kasih kepada-Mu dengan segenap hatiku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:9-13), bacalah tulisan yang berjudul “MATIUS DIPANGGIL UNTUK MENGIKUT YESUS” (bacaan tanggal 7-7-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-07  BACAAN HARIAN JULI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 1-7-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 3 Juli 2017 [PESTA S. TOMAS, RASUL] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS