Posts tagged ‘HERODES ANTIPAS-SALOME-HERODIAS’

IA AKAN SENANTIASA BERADA BERSAMA KITA DAN IA AKAN MEMPERKUAT KITA

IA AKAN SENANTIASA BERADA BERSAMA KITA DAN IA AKAN MEMPERKUAT KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Wafatnya S. Yohanes Pembaptis, Martir – Kamis, 29 Agustus 2019)

Sebab Herodeslah yang menyuruh orang menangkap Yohanes dan membelenggunya di penjara berhubung dengan peristiwa Herodias, istri Filipus saudaranya, karena Herodes telah mengambilnya sebagai istri. Memang Yohanes berkali-kali menegur Herodes, “Tidak boleh engkau mengambil istri saudaramu!” Karena itu Herodias menaruh dendam pada Yohanes dan bermaksud untuk membunuh dia, tetapi tidak dapat, sebab Herodes segan kepada Yohanes karena ia tahu bahwa Yohanes orang yang benar dan suci, jadi ia melindunginya. Setiap kali ia mendengarkan Yohanes, hatinya selalu terombang-ambing, namun ia merasa senang juga mendengarkan dia.

Akhirnya tiba juga kesempatan yang baik bagi Herodias, ketika Herodes pada ulang tahunnya mengadakan perjamuan untuk pembesar-pembesarnya, perwira-perwiranya dan orang-orang terkemuka Galilea. Pada waktu itu anak perempuan Herodias tampil lalu menari, dan ia menyenangkan hati Herodes dan tamu-tamunya. Raja berkata kepada gadis itu, “Mintalah apa saja yang kauingini, maka akan kuberikan kepadamu!”, lalu bersumpah kepadanya, “Apa saja yang kauminta akan kuberikan kepadamu, sekalipun setengah dari kerajaanku!” Anak itu pergi dan menanyakan ibunya, “Apa yang harus kuminta?” Jawabnya, “Kepala Yohanes Pembaptis!” Lalu ia cepat-cepat masuk menghadap raja dan meminta, “Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku kepala Yohanes Pembaptis di atas piring!” Lalu sangat sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya ia tidak mau menolaknya. Raja segera menyuruh seorang algojo dengan perintah supaya mengambil kepala Yohanes di penjara. Ia membawa kepala itu di sebuah piring besar dan memberikannya kepada gadis itu dan gadis itu memberikannya pula kepada ibunya.

Ketika murid-murid Yohanes mendengar hal itu mereka datang dan mengambil mayatnya, lalu membaringkannya dalam kuburan. (Mrk 6:17-29) 

Bacaan Pertama: Yer 1:17-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 71:1-6,15,17 

Yohanes Pembaptis mewartakan sabda Allah kepada segala lapisan dalam masyarakat: kepada para pangeran dan raja, kepada para imam dan orang biasa, dengan cara yang sama tanpa banyak memperhatikan konsekuensi-konsekuensinya. Seperti juga nabi Yeremia, Yohanes Pembaptis berkhotbah melawan arus deras tsunami korupsi moral dan apatisme spiritual yang mencirikan para pemimpin Israel pada zaman mereka masing-masing (lihat bacaan pertama Yer 1:17-19). Yohanes Pembaptis berdiri tegak membela kebenaran Allah dan berbicara tanpa rasa takut sedikit pun pada saat mereka yang berada di puncak pimpinan negeri menghina hukum Tuhan. Pada akhirnya, Yohanes Pembaptis harus membayar harga/biaya yang tinggi untuk kesetiaannya kepada Allah – yaitu kepalanya sendiri.

Semua orang Kristiani menghadapi tantangan-tantangan serupa dengan tantangan-tantangan yang dihadapi oleh Yohanes Pembaptis. Siapakah di antara kita yang tidak harus berenang melawan arus budaya yang berlaku … menjadi “tanda lawan” dan membayar biayanya – ketika mencoba untuk mempertahankan komitmen kita kepada Yesus? Walaupun belum mengambil bentuk pengejaran serta penganiayaan dalam skala besar, siapakah di antara kita yang tidak pernah mengalami salah satu bentuk penghinaan, ejekan, olok-olok karena iman-kepercayaan Kristiani kita? Ada yang mengatakan bahwa Yesus tidak hanya datang untuk menolong dan menghibur mereka yang mengalami kesusahan, melainkan juga untuk mendatangkan kesusahan bagi mereka yang hidup nyaman. Bukankah pernyataan ini sedikit banyak menggambarkan kehadiran kita sebagai orang-orang Kristiani di tengah dunia?

Dalam prakteknya, hal ini dapat berarti memegang posisi-posisi yang tidak populer di sekolah atau tempat kerja. Karena iman-kepercayaan kita atau  gaya hidup kita, kita dapat diberi gelar “kuno”, tidak “trendy” dslb. Ketika anda hendak berbagi pesan Injil, anda dapat ditolak atau dituduh melakukan intervensi ke dalam hidup seseorang atau memaksakan kepercayaan anda kepada orang lain. Ini selalu menjadi pengalaman para hamba Allah. Kesetiaan kepada Allah dan menjadi murid Tuhan Yesus yang setia memang mengandung biaya. Inilah biaya kemuridan …… cost of discipleship!

YOHANES PEMBAPTIS DI PENJARAWalaupun ditolak,  bahkan dianiaya – seperti Yeremia dan Yohanes Pembaptis – kita dapat berpegang teguh pada janji Allah, bahwa Dia akan senantiasa berada bersama kita dan Ia akan memperkuat kita. Dia akan menderita dengan mereka yang menderita dan Ia menawarkan penghiburan dan dorongan pemberian semangat tanpa batas. Ia akan terus membentuk diri kita dan mengajar kita bagaimana melayani kebenaran-Nya dengan kasih dan bela rasa, dan Ia terus menguatkan kita untuk apa pun bentuk perjuangan di masa depan. Jika Yohanes Pembaptis dapat bertahan berbulan-bulan lamanya dalam penjara Herodus Antipas, bahkan mengalami kematian sebagai seorang martir, maka kita pun dapat menangani apa saja bentuk pencobaan yang menimpa diri kita – tidak dengan menggunakan kekuatan kita sendiri atau lewat daya tahan kita secara fisik, melainkan dengan berlindung pada Allah yang senantiasa hadir.

DOA: Tuhan Yesus, dengarkanlah doa kami bagi semua orang Kristiani di mana saja mereka berada – di Timur Tengah, di Indonesia, di beberapa negara Afrika dan di banyak tempat lain di dunia yang sedang menghadapi pengejaran dan penganiayaan yang disertai dengan kekerasan maupun tersembunyi. Hiburlah mereka oleh kuat-kuasa Roh Kudus-Mu. Tuhan, biarlah diri-Mu menjadi kekuatan dan penghiburan bagi mereka. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 6:17-29), bacalah tulisan berjudul “YOHANES PEMBAPTIS BERDIRI SEBAGAI PENDAHULU YESUS KRISTUS” (bacaan tanggal 29-8-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2019.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 29-8-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 27 Agustus 2019 [Peringatan Wajib S. Monika] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YOHANES PEMBAPTIS: SANG BENTARA KRISTUS YANG RENDAH HATI

YOHANES PEMBAPTIS: SANG BENTARA KRISTUS YANG RENDAH HATI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Wafatnya S. Yohanes Pembaptis, Martir – Rabu, 29 Agustus 2018)

Sebab Herodeslah yang menyuruh orang menangkap Yohanes dan membelenggunya di penjara berhubung dengan peristiwa Herodias, istri Filipus saudaranya, karena Herodes telah mengambilnya sebagai istri. Memang Yohanes berkali-kali menegur Herodes, “Tidak boleh engkau mengambil istri saudaramu!” Karena itu Herodias menaruh dendam pada Yohanes dan bermaksud untuk membunuh dia, tetapi tidak dapat, sebab Herodes segan kepada Yohanes karena ia tahu bahwa Yohanes orang yang benar dan suci, jadi ia melindunginya. Setiap kali ia mendengarkan Yohanes, hatinya selalu terombang-ambing, namun ia merasa senang juga mendengarkan dia.

Akhirnya tiba juga kesempatan yang baik bagi Herodias, ketika Herodes pada ulang tahunnya mengadakan perjamuan untuk pembesar-pembesarnya, perwira-perwiranya dan orang-orang terkemuka Galilea. Pada waktu itu anak perempuan Herodias tampil lalu menari, dan ia menyenangkan hati Herodes dan tamu-tamunya. Raja berkata kepada gadis itu, “Mintalah apa saja yang kauingini, maka akan kuberikan kepadamu!”, lalu bersumpah kepadanya, “Apa saja yang kauminta akan kuberikan kepadamu, sekalipun setengah dari kerajaanku!” Anak itu pergi dan menanyakan ibunya, “Apa yang harus kuminta?” Jawabnya, “Kepala Yohanes Pembaptis!” Lalu ia cepat-cepat masuk menghadap raja dan meminta, “Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku kepala Yohanes Pembaptis di atas piring!” Lalu sangat sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya ia tidak mau menolaknya. Raja segera menyuruh seorang algojo dengan perintah supaya mengambil kepala Yohanes di penjara. Ia membawa kepala itu di sebuah piring besar dan memberikannya kepada gadis itu dan gadis itu memberikannya pula kepada ibunya.

Ketika murid-murid Yohanes mendengar hal itu mereka datang dan mengambil mayatnya, lalu membaringkannya dalam kuburan. (Mrk 6:17-29) 

Bacaan Pertama: Yer 1:17-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 71:1-6,15,17 

Pada hari ini Gereja dengan penuh hormat memperingati kemartiran Santo Yohanes Pembaptis, sang bentara Kristus. Allah telah memanggil orang ini untuk memproklamasikan sabda-Nya dengan penuh keberanian, dan Ia berjanji bahwa walaupun para pemimpin dan/atau pemuka agama di Yerusalem akan melawannya, mereka tidak akan dapat menaklukkannya. Sekarang marilah kita mengamati karakter Yohanes Pembaptis guna menemukan apa saja yang memampukan dirinya taat pada panggilan Allah, bahkan dengan harga yang sangat mahal … hidupnya sendiri.

Sejak saat sebelum kelahirannya, Yohanes sudah dipenuhi dengan Roh Kudus (lihat Luk 1:15). Roh Kudus-lah yang mengajar-Nya untuk mendengar suara Tuhan dan taat kepada-Nya. Selagi Yohanes bertumbuh dewasa, Roh Kudus memimpinnya kepada suatu kehidupan doa dan puasa serta mati-raga …… mencari kepuasan hanya dalam relasi yang intim/akrab dengan Allah. Pengenalan akan Allah ini menghasilkan kerendahan-hati yang penuh kuasa dalam diri Yohanes. Ketika ditanyakan kepadanya apakah dirinya sang Kristus (Mesias), Yohanes menjawab bahwa membuka tali kasut-Nya pun dia tidak layak (lihat Yoh 1:27).

Thomas à Kempis, pengarang buku kecil terkenal “Mengikuti Jejak Kristus” menulis berkaitan dengan kerendahan hati seperti yang diperlihatkan oleh Yohanes Pembaptis sebagai berikut: “Tuhan melindungi dan membebaskan orang yang rendah hati. Tuhan melimpahkan cinta-Nya dan memberi hiburan kepadanya. Orang yang rendah hati sungguh dekat pada Tuhan dan diberi rahmat banyak, dan setelah menderita penindasan ia dimuliakan Tuhan” (Buku Kedua, Pasal II, 2; terjemahan alm. Mgr. J.O.H. Padmasepoetra, Pr.).

Karena berkat-berkat seperti inilah maka Yohanes Pembaptis mampu bertahan dalam penjara Herodes Antipas dan kemudian dihukum pancung demi Tuhan Allah yang disembah-Nya. Sepanjang hidupnya, keprihatinan utama Yohanes adalah mencari kehadiran Allah dan bukan sibuk melihat siapa yang “pro” kepadanya atau “anti” terhadap dirinya. Tuhan Allah dan sabda-Nya kepada umat-Nya, adalah pokok yang paling penting dalam pikirannya, sehingga Yohanes dapat berbicara kebenaran dengan berani, bebas dari urusan hidup-matinya sendiri.

Thomas à Kempis melanjutkan: “Bila kita berusaha agar kita memperoleh damai dalam hati kita, maka barulah kita dapat memberi damai kepada orang lain” (Buku Kedua, Pasal III, 1). Karena kedamaian yang ada antara Yohanes dan Allah, maka dia mampu mengenali Yesus (Yoh 1:29) dan dengan efektif memimpin orang-orang kepada-Nya, tanpa peduli bahwa jumlah para pengikutnya sendiri akan menyusut sebagai akibatnya (Yoh 3:28-30).  Sungguh merupakan suatu testimoni indah bagi Yohanes Pembaptis, bahwa beberapa rasul Yesus yang paling setia pada awalnya dibina oleh nabi rendah-hati dan martir ini, yang ambisinya hanyalah menyiapkan jalan bagi Tuhan Yesus.

DOA: Bapa surgawi, buatlah kami rendah hati dan perkenankanlah kami mengalami kasih-Mu yang penuh kerahiman. Penuhilah diri kami dengan damai-Mu, sehingga seperti Yohanes Pembaptis, kami pun dapat memproklamasikan kemuliaan-Mu dan memimpin orang-orang lain kepada Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 6:17-29), bacalah tulisan berjudul “IA AKAN SENANTIASA BERADA BERSAMA KITA DAN IA AKAN MEMPERKUAT KITA” (bacaan tanggal 29-8-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 29-8-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 26 Agustus 2018 [HARI MINGGU BIASA XXI – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BENTARA KRISTUS DAN MARTIR

BENTARA KRISTUS DAN MARTIR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Wafatnya S. Yohanes Pembaptis, Martir – Sabtu, 29 Agustus 2016) 

SALOME SEDANG MENARI DI DEPAN HERODESSebab Herodeslah yang menyuruh orang menangkap Yohanes dan membelenggunya di penjara berhubung dengan peristiwa Herodias, istri Filipus saudaranya, karena Herodes telah mengambilnya sebagai istri. Memang Yohanes berkali-kali menegur Herodes, “Tidak boleh engkau mengambil istri saudaramu!” Karena itu Herodias menaruh dendam pada Yohanes dan bermaksud untuk membunuh dia, tetapi tidak dapat, sebab Herodes segan kepada Yohanes karena ia tahu bahwa Yohanes orang yang benar dan suci, jadi ia melindunginya. Setiap kali ia mendengarkan Yohanes, hatinya selalu terombang-ambing, namun ia merasa senang juga mendengarkan dia.

Akhirnya tiba juga kesempatan yang baik bagi Herodias, ketika Herodes pada ulang tahunnya mengadakan perjamuan untuk pembesar-pembesarnya, perwira-perwiranya dan orang-orang terkemuka Galilea. Pada waktu itu anak perempuan Herodias tampil lalu menari, dan ia menyenangkan hati Herodes dan tamu-tamunya. Raja berkata kepada gadis itu, “Mintalah apa saja yang kauingini, maka akan kuberikan kepadamu!”, lalu bersumpah kepadanya, “Apa saja yang kauminta akan kuberikan kepadamu, sekalipun setengah dari kerajaanku!” Anak itu pergi dan menanyakan ibunya, “Apa yang harus kuminta?” Jawabnya, “Kepala Yohanes Pembaptis!” Lalu ia cepat-cepat masuk menghadap raja dan meminta, “Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku kepala Yohanes Pembaptis di atas piring!” Lalu sangat sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya ia tidak mau menolaknya. Raja segera menyuruh seorang algojo dengan perintah supaya mengambil kepala Yohanes di penjara. Ia membawa kepala itu di sebuah piring besar dan memberikannya kepada gadis itu dan gadis itu memberikannya pula kepada ibunya.

Ketika murid-murid Yohanes mendengar hal itu mereka datang dan mengambil mayatnya, lalu membaringkannya dalam kuburan. (Mrk 6:17-29) 

Bacaan Pertama: Yer 1:17-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 71:1-6,15,17 

Pada hari ini Gereja memperingati pemenggalan kepala Santo Yohanes Pembaptis (The Beheading of Saint John the Baptist); secara lebih halus dan sopan tentunya diungkapkan sebagai “Peringatan Wafatnya S. Yohanes Pembaptis”.

Dari bacaan Kitab Suci, tulisan-tulisan rohani, lukisan-lukisan, film-film, banyak orang mempunyai persepsi tertentu tentang sosok orang kudus ini yang tampil “aneh” dan khotbah-khotbahnya yang penuh kuasa. Yohanes Pembaptis yang muncul di padang gurun Yudea dan memakai jubah bulu unta, mengingatkan orang kepada nabi Elia. Dia memberitakan baptisan tobat untuk pengampunan dosa (baca Mrk 1:1-8). Cara pewartaan yang ditunjukkan oleh Yohanes Pembaptis memberi kesan kuat adanya urgency, karena dia tahu benar bahwa dirinya diutus oleh Allah sendiri untuk menjadi saksi mengenai TERANG sesungguhnya yang sedang datang ke dalam dunia (Yoh 1:9).

Dengan banyak nasihat lain Yohanes memberitakan Injil kepada orang banyak. Namun setelah raja Herodes Antipas ditegur olehnya karena perselingkuhannya dengan Herodias, istri saudaranya, dan karena segala kejahatan lain yang dilakukannya, maka raja Herodes Antipas menambah kejahatannya dengan menjebloskan Yohanes Pembaptis ke dalam penjara (Luk 3:18-19). Pada dasarnya, Herodes Antipas mengagumi Yohanes Pembaptis. Raja ini merasa tertarik pada kesucian Yohanes dan dia senang juga mendengarkan dia. Namun demikian, Herodes Antipas tidak pernah menanggapi seruan Yohanes Pembaptis agar dia bertobat.

Kelekatan kuat Herodes Antipas pada harta-kekayaan, kekuasaan dan status mematahkan setiap hasrat yang muncul dalam dirinya untuk meluruskan hubungannya dengan Allah. Akhirnya, pada pesta perjamuan ulang tahunnya dia terjebak oleh nafsunya sendiri yang menggelora karena tarian eksotis puteri tirinya. Gengsinya mencegahnya untuk melanggar sumpahnya di depan puteri tirinya seusai melakukan suatu tarian erotis, sebuah ucapan sumpah yang memang terasa bodoh itu: “Apa saja yang kauminta akan kuberikan kepadamu, sekalipun setengah dari kerajaanku!” (Mrk 6:23). Dengan demikian Herodes Antipas pun dengan terpaksa memerintahkan algojo untuk memenggal kepala Yohanes Pembaptis, sesuai permintaan puteri tirinya, yang dalam tradisi dikenal dengan nama Salome itu.  Sebagai catatan, “sumpah bodoh” sedemikian bukanlah monopoli Herodes Antipas, karena setiap orang yang “lupa-daratan” dapat saja dengan mudah mengucapkan “sumpah” seperti itu.

YOHANES PEMBAPTIS - SALOME RECEIVED THE HEAD OF JOHN THE BAPTISTDalam banyak hal, tanggapan Herodes Antipas terhadap seruan Yohanes Pembaptis mencirikan reaksi sejumlah orang terhadap seruan Yesus. Mereka tertarik pada Yesus dan menemukan bagian-bagian dari ajaran-Nya atau berbagai mukjizat dan tanda-heran yang diperbuat-Nya sebagai hal-hal yang menarik sekali. Namun seruan Yesus agar mereka meninggalkan kehidupan dosa, dan menyerahkan hidup mereka kepada Allah masih terasa sangat berat untuk diikuti. Jadi, mereka tidak pernah menerima “undangan Yesus kepada pemuridan”. Bahkan kita yang telah memutuskan untuk mengikuti-Nya pun masih mengalami pergolakan dan konflik batin. Kita ingin menjadi murid-murid-Nya, namun kadang-kadang terasa seakan Dia menuntut terlalu banyak dari kita. Seperti Herodes Antipas, kita pun menjadi objek dari dua kekuatan yang saling tarik-menarik. Kita pun seringkali tidak dapat lepas dari pergumulan pribadi yang melibatkan pertempuran spiritual.

Apa yang dapat kita lakukan bilamana kita mengalami konflik dalam hati kita (Inggris: intra-personal conflict)? Langkah pertama adalah membuat telinga rohani kita jernih dalam mendengarkan suara-suara dalam batin kita. Suara si Jahat itu licin terselubung, namun dapat dikenali. Dia memunculkan dengan jelas perintah-perintah Allah ketika perintah-perintah tersebut terasa tidak menyenangkan kita; dia memberikan pembenaran-pembenaran yang diperlukan bagi kita untuk membuat suatu kekecualian terhadap kehendak Allah dalam kasus kita (Misalnya: “Kamu sesungguhnya tidak perlu mengampuni saudaramu yang telah membuatmu susah itu”). Akan tetapi suara Roh Kudus selalu mendorong kita untuk memilih jalan yang menuju perdamaian (rekonsiliasi) dan penyembuhan dan mendorong terciptanya kesejahteraan orang-orang lain, meskipun pada awalnya menyakitkan kita.

Kita dapat memproklamasikan kebenaran-kebenaran iman untuk melawan kebohongan-kebohongan Iblis (Misalnya: “Aku tahu bahwa kalau aku mengampuni, maka dosa-dosaku pun akan diampuni. Aku mungkin tidak mempunyai kuasa untuk mengampuni, tetapi Kristus dalam diriku cukup berkuasa untuk mengampuniku sekarang juga!”). Kebenaran-kebenaran iman itu juga dapat kita ungkapkan seturut teladan Yesus pada waktu dicoba oleh Iblis di padang gurun, khususnya seperti yang terdapat dalam Injil Lukas (Luk 4:1-13). Setiap cobaan dari si Jahat kita patahkan dengan dengan ayat-ayat Kitab Suci: “Ada tertulis: Jika jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu” (Mat 6:14-15).

Herodes Antipas adalah seorang pengagum-jarak-jauh Yohanes Pembaptis yang akhirnya bertanggung jawab atas kematian orang yang dikaguminya. Kita tidak perlu seperti Herodes Antipas: kita mengagumi Yesus dari kejauhan juga, karena tidak sanggup mengambil sikap positif terhadap panggilan Yesus kepada kita untuk menjadi murid-murid-Nya yang “beneran”. Kita perlu mendengarkan Roh Kudus selagi Dia berbicara melalui batin kita, agar kita dapat mengetahui jalan mana yang harus kita tempuh. Oleh karena itu marilah kita mohon kepada Roh Kudus untuk membimbing kita dan memberdayakan kita untuk merangkul sepenuhnya kehendak Allah.

DOA: Allah, Bapa kami. Engkau mengutus Santo Yohanes Pembaptis sebagai bentara kelahiran dan kematian Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus. Semoga berkat kematiannya sebagai martir dalam membela keadilan dan kebenaran, kami dapat menjadi pribadi-pribadi yang berani sebagai pelayan-pelayan sabda-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 6:17-29), bacalah tulisan yang berjudul “YOHANES PEMBAPTIS WAFAT” (bacaan tanggal 29-8-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 29-8-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 26 Agustus 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS