Posts tagged ‘HARI TUHAN’

KEDATANGAN KEMBALI SANG RAJA DI AKHIR ZAMAN

KEDATANGAN KEMBALI SANG RAJA DI AKHIR ZAMAN

(Bacaan Kedua Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXXII [TAHUN A], 12 November 2017) 

Selanjutnya kami tidak mau, Saudara-saudara bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan. Karena jikalau kita percaya bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa dengan perantaraan Yesus, Allah akan mengumpulkan bersama-sama dengan Dia mereka yang telah meninggal. Hal ini kami katakan kepadamu dengan firman Tuhan: Kita yang hidup, yang masih tinggal sampai kedatangan Tuhan, sekali-kali tidak akan mendahului mereka yang telah meninggal. Sebab pada waktu aba-aba diberi pada waktu pemimpin malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari surga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan. (1Tes 4:13-17) 

Bacaan Pertama: Keb 6:13-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 63:2-8;  Bacaan Injil: Mat 25:1-13 

Tiga hari Minggu terakhir “Masa Biasa” dalam penanggalan liturgi Gereja memusatkan perhatian pada kedatangan kembali Tuhan Yesus pada akhir zaman, jadi berhubungan erat dengan hari-hari pertama Masa Adven yang gagasan utama pada awalnya juga kedatangan eskatologis dari Kristus pada saat Parousia-Nya. Pada hari ini kepada kita akan diingatkan: “Jagalah agar pelitamu tetap bernyala pada saat Tuhan datang” (lihat Injil hari ini) Ini adalah kebijaksanaan yang sejati. Kebijaksanaan yang sejati ditemukan oleh mereka yang mencarinya (lihat Bacaan Pertama). Pada saat Parousia, orang-orang yang telah meninggal dunia tidak akan memiliki disadvantage ketimbang mereka yang masih hidup. Yang telah meninggal dunia dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit, baru setelah itu mereka yang masih hidup; dan bersama-sama mereka akan menyongsong Tuhan Yesus (Bacaan Kedua).

Para raja dan penguasa lainnya dinasihati untuk senantiasa mencari kebijaksanaan (lihat Keb 6:8-11). Kebijaksanaan ini dengan mudah dapat ditemukan oleh mereka yang mencintainya. Sejak pagi hari Tuan Puteri Kebijaksanaan sudah menunggu di depan pintu kita, dengan demikian dapat ditemukan oleh mereka yang mencarinya (Keb 6:12-14). Kebijaksanaan mencari mereka yang menghasratinya (Keb 6:16). Kebijaksanaan akan bertemu dengan orang yang memikirkannya (Keb 6:15).

Paulus telah memberitakan tentang Parousia Kristus. Umat Kristiani perdana memiliki pengharapan bahwa Tuhan Yesus akan datang kembali dalam waktu yang singkat. “Maran atha, datanglah Tuhan Yesus!” adalah doa mereka yang dilakukan dengan sungguh-sungguh. Saat itu adalah klimaks dari sejarah Gereja. Namun demikian, ada sejumlah umat Kristiani di Tesalonika yang telah meninggal dunia. Apakah mereka akan mengalami Parousia juga? Dalam bacaan kedua inilah Paulus memberikan jawaban atas pertanyaan tadi: Umat Kristiani yang masih hidup ketika Tuhan Yesus datang kembali tidak memiliki advantage  ketimbang mereka yang telah meninggal dunia. Bersama-sama mereka akan menyongsong Tuhan Yesus dan akan hidup bersama dengan Dia selama-lamanya.

Bacaan Injil hari ini adalah “‘Perumpamaan tentang Sepuluh Gadis”. Yesus mulai mengajarkan perumpamaan ini dengan berkata: “Pada waktu itu hal Kerajaan Surga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyambut mempela laki-laki” (Mat 25:1). Para pengiring/pendamping mempelai laki-laki ini dapat dan harus mengetahui dari pengalaman bahwa mempelai laki-laki seringkali datang pada larut malam. Dengan demikian mereka harus selalu siap ketika mempelai laki-laki itu datang. Apabila mereka tidak mempunyai cukup minyak, maka mereka tidak akan mampu untuk ikut mengiringi mempelai ke pesta perjamuan. Tidak ada gunanya mencari minyak belakangan. Dengan minyak yang diperoleh terlambat, mereka tidak dapat menerangi jalannya prosesi mempelai dan rombongannya. Terlambatlah sudah! Mereka pun akan kehilangan kesempatan turut serta bergembira dalam pesta perjamuan. Mereka akan tersingkir!

Kita akan melihat bahwa perumpamaan Yesus ini tidak sedikit pun berbicara secara mendetil tentang mempelai laki-laki atau mempelai perempuan. Yang disoroti adalah sepuluh gadis pendamping mempelai. Kita diibaratkan sebagai sepuluh gadis-gadis itu. Kristus diibaratkan sebagai pengantin laki-laki. Surga diibaratkan sebagai pesta perjamuan perkawinan Kristus. Kita akan diterima masuk ke dalam perjamuan kekal apabila pelita-pelita kita menyala pada saat Yesus datang kembali, artinya apabila kita siap mengiringi-Nya ketika Dia datang.

Gadis-gadis yang bijaksana menolak memberikan sebagian dari minyak mereka kepada gadis-gadis yang bodoh (Mat 25:8-9). Hal ini mereka lakukan bukan karena mereka tidak berbelas kasih dan memiliki hati yang telah mengeras seperti batu, melainkan karena itulah satu-satunya sikap dan tindakan yang masuk akal: mereka pun tidak akan mempunyai cukup minyak untuk menerangi prosesi mempelai secara lengkap, jikalau mereka memberikan sebagian dari minyak mereka. Demikian pula, ketika mempelai laki-laki menolak lima orang gadis bodohtersebut untuk memasuki ruangan pesta, hal itu bukanlah berarti bahwa dia menyangkal lima gadis itu telah berbuat sesuatu bagi dirinya, melainkan karena mereka telah gagal dalam tugas mereka yang hakiki: untuk memberi penerangan bagi prosesi mempelai.

Perumpamaan ini ini adalah mengenai titik akhir. Pada saat titik akhir itu datang, entah pada saat kematian individu-individu, atau pada hari penghakiman umat manusia, maka tidak ada waktu lagi. Waktu telah berakhir. Hanya ada dua kondisi yang menentukan “nasib” seseorang: dia siap dengan cukup perlengkapan atau tidak siap. Apa yang telah dilalaikan oleh seseorang, tidak lagi dapat diperbaikinya. Tidak ada waktu lagi untuk membuat kompensasi atas kekurangan seseorang.

Pelajaran yang dapat kita tarik: Siaplah selalu, karena kita dapat terlambat apabila Hari Tuhan tiba! Ada hal-hal tertentu dalam kehidupan yang kita hanya dapat lakukan sekali. Dan dalam artian tertentu kita hanya dapat melakukan segala sesuatu sekali saja. Apa saja yang kita lakukan di mata Allah merupakan pekerjaan kita yang pertama, bahkan semacam sebuah gladi-resik. Gladi yang kedua untuk pekerjaan final yang sama di mata Allah merupakan suatu tindakan baru. Jadi, setiap pekerjaan kita dapat lakukan hanya sekali saja.

Tidak cukuplah apabila kita sekadar melakukan sesuatu, bahkan tidak cukup hanya bekerja keras. Kita harus melakukan pekerjaan yang ditugaskan kepada kita dengan baik. Lima gadis yang bodoh itu sangat tidak dapat mengatakan kepada sang mempelai laki-laki bahwa mereka telah menanti-nantikan dia sepanjang malam, bahwa mereka berminat untuk menghadiri pesta perkawinan, bahwa hanya karena faktor kebetulan sajalah mereka tidak berpikir untuk membawa minyak dalam jumlah cukup. Tugas pekerjaan mereka yang utama adalah mengiringi mempelai dengan pelita/obor yang menyala. Datang terlambat berarti merusak tujuan utama pekerjaan mereka, karena pelayanan mereka tidak lagi dibutuhkan.

Apabila pekerjaan kita adalah sebagai guru tetapi melakukan pekerjaan kita dengan buruk, maka kita tidak dapat menghibur diri kita bahwa kita telah berhasil mendidik murid-murid kita dengan baik. Demikian pula, apabila kita mengklaim diri kita sebagai pendidik namun tak mampu memelihara disiplin, maka kita sebenarnya telah gagal dalam tugas pekerjaan kita yang hakiki, dst.

Tidak cukup apabila kita sekadar mempunyai niat-niat baik, bermaksud baik. Kita harus menghadirkan fakta-fakta yang diperlukan. Kita semua tahu apa artinya apabila seseorang mengecewakan kita. Bayangkanlah betapa kecewanya sang mempelai laki-laki ketika mendapatkah hanya separuh saja dari gadis-gadis pengiring yang muncul menyambutnya. Reliability (sifat dapat diandalkan/dipercaya) adalah satu dari kualitas-kualitas dalam kehidupan manusia yang indah.

Peringatan untuk senantiasa bersiap-siaga berlaku juga bagi umat manusia secara keseluruhan, tidak hanya bagi orang sebagai individu-individu. Umat Kristiani perdana memandang ke depan dengan penuh kerinduan dan pengharapan akan kedatangan kembali (Parousia) Kristus, diiringi doa setiap hari: “Maran atha!” , “O Tuhan, datanglah” (1Kor 16:22; Why 22:20)! Bagi mereka kedatangan Yesus untuk kedua kali ini adalah klimaks dari sejarah Gereja. Sikap ini memampukan mereka untuk menggunakan waktu mereka secara paling baik, yaitu untuk bersiap-siaga setiap saat.

Pada zaman modern ini kita barangkali tidak banyak berpikir tentang kedatangan kembali Yesus ke dunia dalam waktu yang relatif dekat. Hampir tidak ada umat yang memikirkan secara serius tentang akhir zaman, padahal adalah kenyataan bahwa kehancuran dunia dapat begitu mudah terjadi kalau ada orang – di mana saja di dunia ini – yang mulai menekan tombol senjata nuklir. Kedatangan Yesus untuk kedua kalinya sudah menjadi sesuatu yang terasa asing bagi telinga mayoritas umat Kristiani pada zaman ini.

Memang tidak seorang pun dapat berjaga sepanjang waktu, tanpa sekali-kali jatuh tertidur. Bahkan gadis-gadis yang bijaksana sekali pun jatuh tertidur juga. Mereka juga melakukan antisipasi untuk beristirahat agar dapat memulihkan kekuatan fisik mereka untuk malam yang masih sangat panjang. Demikian pula, kita juga tidak dapat berdoa sepanjang waktu agar menjadi siap-siaga apabila Tuhan datang. Namun kita dapat melakukan tugas kita sepanjang waktu dan dengan demikian kita pun akan siap, kapan pun Kristus datang. Kita akan mati seturut cara hidup kita.

DOA: Bapa surgawi, jagalah agar diri kami senantiasa siap-siaga dalam menantikan kedatangan Yesus Kristus ke dunia untuk kedua kalinya. Dengan demikian kami pun dengan penuh sukacita dapat berdoa “Datanglah, Tuhan Yesus”. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 25:1-13), bacalah tulisan berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG GADIS-GADIS BIJAKSANA DAN GADIS-GADIS YANG BODOH” (bacaan untuk tanggal 12-11-17) dalam situs/blog SANG SABDA  http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 6-11-11 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 8 November 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

NASIHAT-NASIHAT YESUS SEHUBUNGAN DENGAN AKHIR ZAMAN

NASIHAT-NASIHAT YESUS SEHUBUNGAN DENGAN AKHIR ZAMAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan B. Dionisius dan Redemptus, Biarawan-Martir Indonesia – Sabtu, 29 November 2014) 

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta Semua Orang Kudus Tarekat

YESUS - SANG GURU“Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan dibebani oleh pesta pora dan kemabukan serta kekhawatiran hidup sehari-hari dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat. Sebab hari itu akan menimpa semua penduduk bumi ini. Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.” (Luk 21:34-36)

Bacaan Pertama: Why 22:1-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 95:1-7 

Yesus baru saja membuat pengumuman tentang “Kedatangan Anak Manusia” dalam awan-awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya (Luk 21:27). Yesus juga baru mengumumkan bahwa “Kerajaan Allah sudah dekat” (Luk 21:31), tidak ubahnya dengan kedatangan musim panas yang ditandai dengan pohon-pohon yang bertunas (Luk 21:30).

Sekarang, dalam bacaan Injil hari ini, Yesus kembali memberikan sejumlah nasihat kepada para sahabat-Nya, nasihat-nasihat yang cocok dengan masa penantian. Ia bersabda: “Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan dibebani ……” (Luk 21:34). Setelah mengundang para sahabat-Nya untuk berharap dan menaruh kepercayaan, Yesus sekarang memperingatkan mereka supaya berjaga-jaga senantiasa. Bagi kita semua yang hidup pada zaman ini, pesan Yesus itu mengajak kita untuk senantiasa berjaga-jaga, teristimewa akan “kedatangan-Nya untuk kedua kalinya”.

Kita harus senantiasa menjaga diri, agar hati kita jangan dibebani oleh pesta pora dan kemabukan serta kekhawatiran hidup sehari-hari (lihat Luk 21:34). Keterlekatan yang berkelebihan pada kenikmatan-kenikmatan jasmani memuat hati kita beku. Bilamana kita membiarkan diri kita dikuasai oleh berbagai benda serta kenikmatan duniawi, maka sangat boleh jadi kita akan lupa akan “Hari Tuhan”, jangan sampai tiba-tiba jatuh ke atas diri kita seperti suatu jerat. Sebab hari itu akan menimpa semua penduduk bumi ini (lihat Luk 21:34-35).

“Hari Penghakiman” memang akan tiba tanpa pengumuman terlebih dahulu. Setiap detik setiap hari, ada ratusan orang mati di seluruh dunia. Kita masing-masing tidak mengetahui tinggal berapa detik lagi yang tersedia bagi kita untuk hidup di atas bumi ini. Keruntuhan Yerusalem (Luk 21:20-24) seharusnya merupakan sebuah peringatan bagi kita semua. Ini adalah suatu tanda penghakiman yang jatuh ke atas seluruh dunia.

Hari ini adalah hari terakhir dari tahun liturgi (Tahun A/II). Apa lagi yang lebih cocok bagi kita daripada membaca dan merenungkan nasihat Yesus untuk “berjaga-jaga senantiasa sambil berdoa”, supaya kita beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kita tahan berdiri di hadapan Anak Manusia (lihat Luk 21:36).

Ya, Yesus menasihati para sahabat-Nya untuk tak henti-hentinya berdoa. Santo Paulus mengulangi nasihat yang sangat urgent ini kepada umat Kristiani perdana, juga lewat contoh dirinya sendiri (bacalah 1Tes 5:17; 2Tes 1:11; Flp 1:4; Rm 1:10; Kol 1:3,9; Flm 1:4). Rangkuman berbagai pesan Paulus: “Kami berdoa terus-menerus …… Dalam doa-doaku pada setiap saat …… Aku selalu bersyukur kepada Allah pada saat aku mengingat kamu dalam doa-doaku ……”

Kita harus senantiasa mengingat nasihat-nasihat Yesus yang sangat menentukan dan menerapkan semuanya pada diri kita sendiri: pengharapan, rasa percaya dan kepastian, kesiap-siagaan, ketenangan hati, kesiap-siagaan penuh kemauan, doa-doa, ……. karena tidak seorang pun tahu kapan “Hari Tuhan” itu. “Berjaga-jaga senantiasa sambil berdoa” dimaksudkan supaya kita beroleh kekuatan untuk ‘luput’ dari semua yang akan terjadi itu ……” (Luk 21:36). “Luput” di sini adalah “luput” dari aspek-aspek yang sangat buruk dan mengerikan dari “Hari Tuhan” itu. Rasa percaya, sukacita, pengharapan, …… tidaklah sama dengan rasa-aman yang salah. Kita harus berjaga-jaga. Kita harus “luput”. Ada bahaya yang mengancam. Kita harus memiliki kekuatan untuk meluputkan diri.

“…… supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia” (Luk 21:36). Ini adalah potongan kalimat terakhir dari sabda Yesus sebelum kisah sengsara-Nya. “Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, …… supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Allah”! Tidak lama setelah itu Yesus sendiri sampai kepada “akhir”-Nya …… melalui penderitaan sengsara-Nya. Namun demikian, Ia telah memandang diri-Nya sebagai “Anak Manusia” yang penuh kemuliaan dan duduk “di sebelah kanan Allah Yang Mahakuasa”, sebagaimana Dia akan mengumumkannya dalam beberapa hari kemudia di hadapan Sanhedrin (lihat Luk 22:69).

DOA: Tuhan Yesus, kami percaya bahwa adalah sang “Anak Manusia” yang mempunyai “kata terakhir”. Dan, apabila kami senantiasa berjaga-jaga sambil berdoa, maka kami pun akan tahan berdiri dihadapan-Mu. Tuhan Yesus, datanglah! Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Pertama hari ini (Why 22:1-7), bacalah tulisan yang berjudul “BELAJAR UNTUK MENERIMA DARI YESUS” (bacaan tanggal 29-11-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2014. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 1-12-12 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 26 November 2014 [Peringatan S. Leonardus dr Porto Mauritio, Imam] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MARILAH KITA MENGHADAP ALLAH

MARILAH KITA MENGHADAP ALLAH

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari biasa Pekan Biasa III – Kamis, 31 Januari 2013) 

REV 5Jadi, Saudara-saudara, kita sekarang dengan penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, oleh darah Yesus, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tirai, yaitu diri-Nya sendiri, dan kita mempunyai seorang imam agung sebagai kepala Rumah Allah. Karena itu, marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni. Marilah kita berpegang teguh pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia. Marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pebuatan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti yang dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, terlebih lagi sementara kamu melihat hari Tuhan semakin mendekat (Ibr 10:19-25).

Mazmur Tanggapan: Mzm 24:1-6; Bacaan Injil: Mrk 4:21-25

Kalau kita mempelajari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru secara serius-menyeluruh, maka akan terungkaplah mercu suar kebenaran yang memancarkan sinar cahaya dari awal sampai akhir, yaitu bahwa Allah mengasihi kita masing-masing dan Ia tidak pernah berhenti memanggil kita untuk datang kepada-Nya. Hal ini adalah kebenaran yang sangat mengejutkan apabila dilihat dalam terang kekudusan Allah dan kedosaan kita.

Allah sepenuhnya sadar akan dosa-dosa kita – bahkan lebih daripada kita sendiri. Namun Ia ingin membersihkan kita, menyembuhkan kita dan menguatkan kita. Dia mengutus Putera-Nya ke tengah-tengah dunia untuk kemudian mencurahkan darah-Nya dari kayu salib bagi kita semua. Inilah contoh betapa dalamnya kasih Bapa surgawi bagi kita.

Melalui kematian Yesus dan kebangkitan-Nya, dosa-dosa kita diampuni dan kita pun menerima kuasa untuk berubah. Sekarang, terbukalah jalan bagi kita untuk “menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh” (Ibr 10: 22) dari hari ke hari. Rasa percaya dan ketaatan kepada Bapa yang telah ditunjukkan oleh Yesus di kayu salib sekarang tersedia bagi kita sehari-hari selagi kita membuka hati kita untuk menerima kasih-Nya.

Sesungguhnya sebelum kita berdosa melawan Dia – bahkan sebelum kita lahir ke dunia – Bapa surgawi sudah berniat untuk mengutus Putera-Nya agar kita dipenuhi dengan kehidupan dan kasih ilahi. Dosa-dosa kita tidak akan menghentikan Allah mengasihi kita atau mengundang kita masuk ke hadapan hadirat-Nya. Paulus menulis: “…… tetapi di mana dosa bertambah banyak, di sana anugerah menjadi berlimpah-limpah, supaya, sama seperti dosa berkuasa dalam alam maut, demikian anugerah akan berkuasa oleh pembenaran untuk hidup yang kekal, melalui Yesus Kristus, Tuhan kita (Rm 5:20-21).

Dengan Allah yang sedemikian penuh empati dan kasih, mengapa kita begitu sering bergumul sendiri dan merasa ragu-ragu menghadap Dia untuk mohon pertolongan dan bimbingan-Nya? Barangkali pandangan kita tentang Allah telah dibuat melenceng oleh suatu ide duniawi: Pandangan bahwa kita harus membuat diri kita pantas dikasihi oleh Allah, telah berhasil menyusup ke dalam hati kita. Hal ini menyebabkan kita meninggalkan Tuhan. Barangkali luka-luka dalam keluarga kita telah membuat kita menjadi enggan untuk mempercayai orang lain. Sesungguhnya realitas yang indah adalah, bahwa Allah dapat menyembuhkan hati kita dan memenuhi diri kita dengan kasih dari hati-Nya. Dia dapat melakukan hal ini setiap kali kita berdoa. Jesus selalu berdoa syafaat bagi kita, melingkupi kita dengan kasih-Nya. Penulis ‘Surat kepada Orang Ibrani’ mengatakan: “Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang melalui Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka” (Ibr 7:25). Oleh karena itu marilah “kita sekarang dengan penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, oleh darah Yesus” (Ibr 10:19). “Marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni” (Ibr 10:22). Kasih-Nya kepada kita tidak pernah luntur!

DOA: Tuhan Yesus, aku memuji-muji Engkau dengan penuh rasa syukur karena Engkau telah mencurahkan darah di kayu salib bagiku dan sesamaku. Aku berterima kasih kepada-Mu karena aku dapat menghadap Engkau setiap saat untuk mohon pertolongan-Mu, penghiburan dari-Mu dan pengampunan-Mu. Aku mengasihi Engkau, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 4:21-25), bacalah tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN-PERUMPAMAAN YESUS” (bacaan tanggal 31-1-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2013. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 27-1-11 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 9 Januari 2013 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS