Posts tagged ‘HARI SABAT’

YANG DIPERBOLEHKAN PADA HARI SABAT

YANG DIPERBOLEHKAN PADA HARI SABAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Antonius, Abas – Rabu, 17 Januari 2018) 

Kemudian Yesus masuk lagi ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang tangannya mati sebelah. Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia. Kata Yesus kepada orang yang tangannya mati sebelah itu, “Mari, berdirilah di tengah!”  Kemudian kata-Nya kepada mereka, “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya?”  Tetapi mereka diam saja. Ia sangat berduka karena kekerasan hati mereka dan dengan marah Ia memandang orang-orang di sekeliling-Nya lalu Ia berkata kepada orang itu, “Ulurkanlah tanganmu!”  Orang itu mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu. Lalu keluarlah orang-orang Farisi dan segera membuat rencana bersama para pendukung Herodes untuk membunuh Dia. (Mrk 3:1-6)

Bacaan Pertama: 1Sam 17:32-33,37,40-51; Mazmur Tanggapan: Mzm 144:1,2,9-10

Inkarnasi Yesus menandakan: (1) sudah berlalunya hukum dosa serta maut dan (2) datangnya kerajaan Allah. Yesus adalah Anggur yang baru, …. hidup baru. Allah telah lama mempersiapkan umat-Nya untuk menerima hidup baru ini. Akan tetapi, meskipun Yesus memberikan kepada orang banyak kesembuhan, pengampunan dan cintakasih, para pemimpin agama memandang dan memperlakukan Dia sebagai lawan dan obyek cemoohan.

Konflik itu, yang dimulai ketika Yesus menyembuhkan seorang lumpuh (Mrk 2:1-12), malah meningkat ketika Dia menyembuhkan seorang lain yang tangannya mati sebelah (Mrk 3:1-6). Sampai saat ini, orang-orang Farisi selalu melontarkan kritik dan mempertanyakan tindakan-tindakan Yesus. Sekarang, Yesus ganti bertanya kepada mereka: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, yang menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya?” (Mrk 3:4). Orang-orang Farisi diam saja. Mereka tetap mempertahankan kedegilan hati mereka di hadapan kebaikan Allah. Tidak adanya tanggapan dari mereka membuat Yesus marah dan sekaligus sedih. Dalam kerahiman-Nya, Yesus menyembuhkan tangan si sakit, sekali lagi menunjukkan bahwa Dia adalah Tuhan atas hari Sabat (Mrk 2:27-28). Orang-orang Farisi marah sekali karena Yesus telah melanggar pembatasan-pembatasan hari Sabat. Oleh karena itu mereka pun mulai bersekongkol dengan orang-orang Herodian untuk menghancurkan Yesus (Mrk 3:6).

Mengapa sampai ada orang yang mau membunuh Yesus yang justru datang melakukan kebaikan? Sikap mandiri yang salah dan ketergantungan pada pemikiran manusia semata-mata seringkali membutakan kita terhadap kebenaran Allah dan malah menyebabkan kita menentang Dia, bahkan pada saat kita tidak menyadari apa yang kita perbuat. Kodrat manusia yang cenderung jatuh ke dalam dosa selalu menghindari sikap penyerahan diri kepada Allah. Akan tetapi, seperti kita ketahui, untuk menerima keselamatan, kita harus berserah-diri kepada-Nya. Apabila kita menolak kebaikan Allah, maka kita – seperti juga orang-orang Farisi – akan menilai lebih tinggi berbagai aturan, ketimbang kebutuhan-kebutuhan saudari-saudara kita. Sikap mandiri yang keliru akan menghalangi kita untuk mengakui Yesus sebagai Juruselamat dan membatasi pengalaman kita akan kehadiran-Nya.

Sebaliknya, kalau kita bersikap seperti anak-anak, kita akan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah. Dengan demikian kita pun akan mampu menerima kerahiman-Nya dan hidup baru-Nya. Yesus akan mengubah hati dan pikiran kita sehingga hasrat-hasrat-Nya dan pikiran-pikiran-Nya menjadi hasrat-hasrat dan pikiran-pikiran kita. Dia akan mengajarkan kepada kita jalan-Nya dan memberdayakan kita agar supaya taat kepada firman-Nya. Kalau anak-anak Allah terbuka untuk menerima kebaikan dan kerahiman Tuhan, maka Dia dapat menyembuhkan segala perpecahan yang ada di antara mereka, sehingga bersama-sama mereka akan mencerminkan kepenuhan kemuliaan-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, ubahlah hati kami agar dapat semakin serupa dengan hati-Mu. Biarlah kasih-Mu memancar ke dalam hati kami dan melalui hati kami kepada orang-orang di sekeliling kami. Tolonglah kami agar mau dan mampu menyediakan waktu dan energi bagi orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Sam 17:32-33,37,40-51), bacalah tulisan yang berjudul “CERITA TENTANG DAUD BERTARUNG MELAWAN GOLIAT” (bacaan tanggal 17-1-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.worpress.com;  18-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 18-1-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 14 Januari 2018 [HARI MINGGU BIASA II – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

HARI SABAT DIADAKAN UNTUK MANUSIA, BUKAN SEBALIKNYA

HARI SABAT DIADAKAN UNTUK MANUSIA, BUKAN SEBALIKNYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa II – Selasa, 16 Januari 2018)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Berardus, Imam dkk., Martir-martir Pertama Fransiskan

 

Pada suatu hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum. Lalu kata orang-orang Farisi kepada-Nya, “Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?”  Jawab-Nya kepada mereka, “Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan orang-orang yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar lalu makan roti sajian itu – yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam – dan memberinya juga kepada pengikut-pengikutnya?” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat. Karena itu Anak Manusia adalah Tuhan, bahkan atas hari Sabat.”  (Mrk 2:23-28)

Bacaan Pertama: 1 Sam 16:1-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 89:20-22,27-28

“Anak Manusia adalah Tuhan, bahkan atas hari Sabat.” (Mrk 2:28)

Kata-kata Yesus ini merupakan tantangan bagi orang-orang Farisi. Mereka mengajukan pertanyaan yang kelihatan legitim (Inggris: legitimate) berkaitan dengan tindakan-tindakan para murid Yesus yang jelas bertentangan dengan hukum Sabat. Yesus menanggapi pertanyaan orang-orang Farisi itu dengan mengkonfrontir kekerdilan pemikiran mereka tentang diri-Nya dan karya pelayanan-Nya. Yesus juga mengidentifikasikan diri-Nya sebagai Tuhan (Kyrios) atas hari Sabat.

SONY DSC

Tindakan para murid memetik bulir gandum di hari Sabat jelas merupakan suatu pelanggaran peraturan-peraturan Yahudi berkaitan dengan hari Sabat. Ketika orang-orang Farisi itu mempertanyakan tindakan-tindakan para murid-Nya, Yesus menanggapinya dengan menyatakan otoritas-Nya dengan dua cara. Pertama, Ia memberi contoh dari Perjanjian Lama, yaitu pada waktu Daud dan para pengikutnya memakan roti suci yang ada di Rumah Allah. Dalam hal ini Yesus mengidentifikasikan diri-Nya dengan Daud. Sebagaimana Daud mengizinkan para pengikutnya memuaskan rasa lapar mereka dengan mengorbankan kepatuhan yang ketat terhadap hukum, demikian pula Yesus dapat memperkenankan para murid-Nya untuk memuaskan rasa lapar mereka dengan memetik bulir gandum pada hari Sabat. Daud adalah pralambang dari Mesias yang dinanti-nantikan. Sudah diterima secara umum dalam masyarakat Yahudi bahwa sang Mesias yang dinanti-nantikan itu adalah seorang keturunan Daud. Jadi, Yesus mempunyai semacam hak prerogatif untuk mengupayakan agar kebutuhan-kebutuhan para murid-Nya terpenuhi; mereka yang telah meninggalkan segala milik mereka untuk mengikuti sang Rabi dari Nazaret dalam pelayanan-Nya kepada orang banyak.

Cerita tentang konfrontasi ini mengundang kita untuk melihat terobosan dari Kerajaan Allah. Sebagaimana pra-konsepsi orang-orang Farisi tentang karya pelayanan Yesus dan hukum dipertanyakan, maka kita pun ditantang untuk memahami bahwa Yesus jauh lebih daripada sekadar seorang manusia atau seorang guru yang baik. Anak Manusia adalah Tuhan atas segala sesuatu, bahkan atas hari Sabat!

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami agar mampu melihat dengan jelas otoritas dan martabat-Mu sebagai Tuhan. Engkau harus makin besar, tetapi kami harus makin kecil (bdk. Yoh 3:30). Kami ingin hidup seturut hukum kasih-Mu dan di bawah kekuasan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan  Pertama hari ini (1Sam 16:1-13), bacalah tulisan yang berjudul “CERITA TENTANG DAUD YANG DIURAPI MENJADI RAJA ISRAEL” (bacaan tanggal 16-1-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; 18-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaa tanggal 17-1-17 dalam situs/blog SANG  SABDA) 

Cilandak, 14 Januari 2018 [HARI MINGGU BIASA II – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SUATU AJARAN BARU DISERTAI DENGAN KUASA

SUATU AJARAN BARU DISERTAI DENGAN KUASA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Selasa, 9 Januari 2018) 

Yesus dan murid-murid-Nya tiba di Kapernaum. Setelah hari Sabat mulai, Yesus segera masuk ke dalam rumah ibadat dan mengajar. Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat. Pada waktu itu di dalam rumah ibadat mereka, ada seorang yang kerasukan roh jahat. Orang itu berteriak, “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? Apakah Engkau datang untuk membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.”  Tetapi Yesus membentaknya, “Diam, keluarlah dari dia!”  Roh jahat itu mengguncang-guncang orang itu, dan sambil menjerit dengan suara nyaring roh itu keluar dari dia. Mereka semua  takjub, sehingga mereka memperbincangkannya, katanya, “Apa ini? Suatu ajaran baru disertai dengan kuasa! Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka taat kepada-Nya!”  Lalu segera tersebarlah kabar tentang Dia ke segala penjuru di seluruh Galilea. (Mrk 1:21-28)

Bacaan Pertama: 1Sam 1:9-20; Mazmur Tanggapan: 1Sam 2:1,4-7

Pelayanan Yesus di depan publik telah dimulai. Tidak pernah kelihatan yang seperti itu sebelumnya. Orang-orang heran dan bertanya-tanya, “Apa ini? Suatu ajaran baru disertai dengan kuasa! Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka taat kepada-Nya!”  (Mrk 1:27). Dengan kuasa dan kewenangan, Yesus berbicara kepada hati orang-orang dan mengusir roh jahat di depan orang-orang. Semua orang yang menyaksikan peristiwa ini menjadi takjub dan kagum. Ini bukan sekedar khotbah. Ini mengingatkan kita kepada apa yang ditulis oleh Santo Paulus, “Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan bukti bahwa Roh berkuasa” (1 Kor 2:4).

Setiap kebenaran Injil dapat dipilah-pilah dan dianalisis dengan kekuatan intelek dan hal itu samasekali tidak salah, asal saja tidak jadi membingungkan kita atau malah membuat kita tertipu oleh si Jahat. Tetapi ada sesuatu yang lebih penting dan lebih memiliki kuasa, yang diberikan oleh Yesus kepada kita. Dia datang untuk memproklamasikan kebenaran sedemikian sehingga akan memerdekakan kita. Yesus berfirman: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh 3:31-32).

Kata-kata Yesus mempunyai kuasa untuk menghukum kita, menghibur kita, menyembuhkan kita dan bahkan membebaskan kita. Kata-kata Yesus mencakup pemahaman manusiawi, akan tetapi tidak terbatas sampai di situ saja.

Apakah kita mengetahui kebenaran Injil sedemikian rupa sehingga kita dapat mengalami kuasa-Nya untuk memerdekakan diri kita? Apakah kita mengalami kemerdekaan, sukacita dan keakraban dengan Yesus sebagai akibat dari kita mendengarkan firman-Nya yang diproklamasikan dalam liturgi Gereja, pada pertemuan kelompok doa dan/atau Kitab Suci, pada saat-saat berdoa secara pribadi, atau pada saat-saat pembacaan dan permenungan Kitab Suci secara pribadi? Ini adalah warisan kita sebagai anak-anak Allah yang telah dibaptis.   Selagi kita mengalami kasih ilahi-Nya, kita pun akan menyerahkan diri kita lebih penuh lagi kepada firman-Nya. Kita akan mengenal, mengakui serta mematuhi kewenangan dan kuasa-Nya dalam hidup kita; dan keluarga dan teman-teman kita pun akan mengenali adanya perbedaan dalam diri kita.

Yesus merindukan kita masing-masing untuk mengundang Dia ke dalam hati kita – pusat terdalam dari keberadaan kita – tidak hanya ke dalam pikiran kita. Hati adalah tempat keputusan di mana kita bertemu dengan Allah dan digerakkan secara mendalam oleh kasih-Nya. “Hati adalah ….. pusat kita yang tersembunyi, yang tidak dapat dimengerti baik oleh akal budi kita maupun oleh orang lain”  (Katekismus Gereja Katolik, 2563). Marilah sekarang kita membuka hati kita lebih penuh lagi bagi Yesus dan memperkenankan kuasa-Nya mengubah kita.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau saja yang mengetahui hati kami dan hasrat yang ada dalam hati kami itu. Pada saat ini kami mengundang-Mu untuk memasuki bagian terdalam dari keberadaan kami dan mengikat kami pada hati-Mu. Bebaskanlah kami, ya Tuhan, dari segala kejahatan dan ajarlah kami bagaimana hidup untuk-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Sam 1:9-20), bacalah tulisan yang berjudul “KEHIDUPAN ITU ADALAH KARUNIA DARI ALLAH YANG SANGAT BERHARGA” (bacaan tanggal 9-1-18), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; 18-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-1- 17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 7 Januari 2018 [HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ISTIRAHAT ALLAH

ISTIRAHAT ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXX – Jumat, 3 November 2017)

Ordo-ordo S. Fransiskus: Peringataan Arwah untuk sanak saudara dan para penderma.

 

Pada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama. Datanglah seorang yang sakit busung air berdiri di hadapan-Nya. Lalu Yesus berkata kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu, “Apakah boleh menyembuhkan orang pada hari Sabat atau tidak?” Mereka diam semuanya. Lalu Ia memegang tangan orang sakit itu dan menyembuhkannya serta menyuruhnya pergi. Kemudian Ia berkata kepada mereka, “Siapakah di antara kamu yang tidak segera menarik ke luar anaknya atau lembunya kalau terperosok ke dalam sebuah sumur pada hari Sabat?” Mereka tidak sanggup membantah-Nya. (Luk 14:1-6) 

Bacaan Pertama: Rm 9:1-5; Mazmur Tanggapan: Mzm 147:12-15,19-20 

Sekali lagi, Yesus menemukan diri-Nya di tengah-tengah kontroversi tentang penyembuhan di hari Sabat. Orang-orang Farisi yang berkonfrontasi dengan Yesus berpijak pada tafsir sangat sempit tentang perintah-perintah Allah, yang menggiring mereka pada kecurigaan terhadap diri Yesus dan mencari kesempatan untuk menjebak-Nya. Di lain pihak, Yesus mengambil kesempatan ini untuk mengajar mereka tentang inti pokok dari hukum Allah, yang adalah belas kasih dan penyembuhan.

Ketika Yesus menyembuhkan orang yang sakit busung air – suatu penyakit yang disebabkan oleh banyaknya cairan dalam tubuh yang mungkin berkaitan dengan suatu kondisi jantung – maka Dia sekali lagi mengkonfrontir pemahaman sempit orang-orang Farisi tentang cara-cara atau jalan-jalan Allah. Aplikasi sempit dari hukum Sabat tidak memberi ruang sedikit pun bagi kasih dan belas kasih yang merupakan fondasi dari setiap perintah Allah. Yesus langsung saja mempersoalkan kekakuan tafsir/sikap dari orang-orang Farisi tersebut. Jika orang yang berakal sehat saja akan menyelamatkan anak atau hewan peliharaannya yang terperosok ke dalam sebuah sumur pada hari Sabat, apalagi Allah yang begitu berhasrat untuk menyelamatkan anak-anak-Nya yang membutuhkan pertolongan di mana dan kapan saja? Dari semua hari sepanjang pekan, justru hari Sabat-lah yang paling pas bagi para anak Allah untuk menerima sentuhan penyembuhan-Nya. Lagipula, bukankah Allah selalu menginginkan kita masuk ke dalam istirahat-Nya?

Istirahat Sabat yang diinginkan oleh Allah bagi kita datang dari suatu pengalaman akan kasih-Nya yang intim – suatu keintiman yang menempatkan damai-sejahtera dalam hati kita, apa pun sikon yang kita hadapi. Yesus datang untuk melakukan inaugurasi atas istirahat Sabat ini di atas bumi melalui penderitaan, wafat dan kebangkitan-Nya. Sebagai umat-Nya, Gereja, kita sekarang dapat mengalaminya secara lebih mendalam.  Dalam keintiman ini, kita mengenal Allah sebagai “seorang” Bapa yang sangat mengasihi kita dan Ia juga Mahaperkasa, dan kita tahu bahwa kita adalah milik-Nya. Kita belajar untuk menaruh kepercayaan bahwa Dia akan memenuhi segala kebutuhan kita dan kita menyerahkan hidup kita kepada penyelenggaraan-Nya.

Bagaimana kita mengalami istirahat Allah? Unsur atau elemen yang paling esensial adalah doa, yang menempatkan kita ke dalam kontak dengan realitas-realitas Kerajaan Allah. Selagi kita membuka diri kita bagi Allah melalui doa, pembacaan dan permenungan sabda Allah dalam Kitab Suci, dan hidup sakramental dalam Gereja, maka hidup Allah mampu untuk meresap ke dalam keberadaan kita secara lebih penuh. Dengan beristirahat dalam Kristus melalui doa dan ketaatan yang diungkapkan dengan rendah hati, kita menjadi lebih yakin akan kasih-Nya bagi kita dan kita menerima sentuhan penyembuhan-Nya secara lebih mendalam.

DOA: Tuhan Yesus, aku membuka hatiku bagi-Mu sekarang.  Semoga aku dapat masuk ke dalam istirahat-Mu dan mengalami belas kasih dan kesembuhan daripada-Mu. Tolonglah aku agar supaya dapat melihat bahwa kasih itu berada di jantung setiap hukum-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 14:1-6), bacalah tulisan yang berjudul “LAGI-LAGI PENYEMBUHAN PADA HARI SABAT” (bacaan tanggal 3-11-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-10 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 30-10-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 2 November 2017 [PENGENANGAN ARWAH SEMUA ORNG KUDUS] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

LAGI-LAGI YESUS MENYEMBUHKAN ORANG PADA HARI SABAT

LAGI-LAGI YESUS MENYEMBUHKAN ORANG PADA HARI SABAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIII – Senin, 11 September 2017) 

Pada suatu hari Sabat lain, Yesus masuk ke rumah ibadat, lalu mengajar. Di situ ada seorang yang mati tangan kanannya. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat, supaya mereka mendapat alasan untuk mempersalahkan Dia. Tetapi Ia mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada yang mati tangannya itu, “Bangunlah dan berdirilah di tengah!” Orang itu pun bangun dan berdiri. Lalu Yesus berkata kepada mereka, “Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?” Sesudah itu Ia memandang keliling kepada mereka semua, lalu berkata kepada orang sakit itu, “Ulurkanlah tanganmu!” Orang itu berbuat demikian dan sembuhlah tangannya. Kemarahan mereka meluap, lalu mereka berunding, apakah yang akan mereka lakukan terhadap Yesus. (Luk 6:6-11)

Bacaan Pertama: Kol 1:24 – 2:3; Mazmur Tanggapan: Mzm 62:6-7,9

Orang-orang Farisi dan para ahli Taurat dengan ketat memantau setiap gerak-gerik Yesus agar supaya mereka menemukan kesalahan Yesus, dalam hal ini pelanggaran atas Hukum – kkhususnya hukum yang berkaitan dengan Sabat. Banyaknya peraturan yang mereka susun sehubungan dengan Sabat ini memposisikan diri orang-orang Farisi dan para ahli Taurat  sebagai pengendali hari Sabat. Mentalitas seperti ini membatasi praktek penyembahan kepada Allah yang berasal dari hati. Yesus, “Tuhan (Kyrios) atas hari Sabat”, akan menunjukkan apa makna hari Sabat yang sesungguhnya, dan bagaimana menyembah Allah secara benar.

Yesus tidak dapat diintimidasi oleh orang-orang Farisi dan para ahli Taurat itu. Pendekatan Yesus terhadap kepatuhan hari Sabat diatur oleh keyakinan-Nya yang mendalam bahwa kasih kepada Allah tidak dapat dipisahkan dari kasih kepada sesama (lihat Luk 10:25-37). Pandangan-Nya ini mencerminkan kepercayaan bahwa apa/siapa saja yang tidak menghormati sesama tidak dapat menghormati Allah, dan pembiaran apa saja atas terjadinya penderitaan dan sengsara manusia – walaupun sebenarnya dapat diperbaiki (bahkan pada hari Sabat sekali pun) – adalah kejahatan.

Orang-orang Farisi dan para ahli Taurat memposisikan Yesus sebagai seorang “penyembuh” yang harus diamati secara ketat (Luk 6:7). Tafsir mereka atas hukum Sabat adalah, bahwa intervensi medis yang diperbolehkan pada hari suci itu hanyalah yang berkaitan dengan kelahiran, sunat dan penyakit yang mematikan. Melakukan penyembuhan pada hari Sabat seperti yang dilakukan oleh Yesus jelas-jelas merupakan pelanggaran hari Sabat.

Yesus mengetahui bahwa itulah yang ada dalam hati orang-orang Farisi dan para ahli Taurat. Ia memerintahkan kepada orang yang mati tangan kanannya itu untuk maju ke tengah, kemudian secara konfrontatif Ia bertanya kepada orang-orang Farisi dan para ahli Taurat tersebut, manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya? (Luk 6:8-9). Dalam pikiran Yesus, apa saja yang membiarkan seorang insan lain menderita tidaklah menghormati Allah, dan maksud hari Sabat adalah justru untuk menghormati Allah. Kemudian Yesus memerintahkan orang yang mati tangan kanannya untuk mengulurkan tangannya itu. Maka tangan yang mati itu pun disembuhkan oleh-Nya. Orang-orang Farisi dan para ahli Taurat itu pun naik pitam; mereka sangat geram karena sekali lagi peristiwa ini menunjukkan kepada mereka, bahwa “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat” (Luk 6:5).

Sekarang marilah kita lihat diri kita masing-masing. Bukankah hati dan pikiran kita juga sering “terkunci” dalam sikap-sikap terbatas berkaitan dengan Allah, penyembahan, keluarga, pekerjaan dan relasi-relasi dalam komunitas? Apakah selama ini gaya hidup kita mencerminkan bahwa kita sungguh menghormati Allah dan sesama kita? Apakah hidup spiritual kita mati seperti tangan orang yang kemudian disembuhkan oleh Yesus? Dengarlah Ia berkata kepada kita masing-masing: “Ulurkanlah tanganmu.” Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita, minta kepada kita untuk hidup seperti yang dicontohkan-Nya, hidup dalam kasih dan penuh bela rasa. Keputusannya terletak pada diri kita masing-masing!

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami agar dapat melihat kebutuhan kami akan sentuhan kesembuhan dari-Mu dalam kehidupan kami. Semoga terang-Mu menyinari kami sehingga kami dapat mengasihi Allah dan sesama kami. Semoga kami juga dibuat hidup dan bergembira dalam Engkau, Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 6:6-11), bacalah tulisan yang berjudul “MANAKAH YANG DIPERBOLEHKAN PADA HARI SABAT?” (bacaan tanggal 11-9-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2017.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 5-9-16 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 7 September 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS DAN HARI SABAT

YESUS DAN HARI SABAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXII –  Sabtu, 9 September 2017)

Pada suatu hari Sabat, ketika Yesus berjalan di ladang gandum, murid-murid-Nya memetik bulir gandum, menggosoknya dengan tangan mereka dan memakannya. Tetapi beberapa orang Farisi berkata, “Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?” Lalu Yesus menjawab mereka, “Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan oleh Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan mengambil roti sajian, lalu memakannya dan memberikannya kepada pengikut-pengikutnya, padahal roti itu tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam? Kata Yesus lagi kepada mereka, “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” (Luk 6:1-5)

Bacaan Pertama: Kol 1:21-23 Mazmur Tanggapan: Mzm 54:3-4,6,8

Secara teknis, tindakan memetik bulir gandum itu melanggar hukum Musa (lihat Kel 20:8-11). Tentunya berdasarkan apa yang ditulis dalam kitab Keluaran itu, orang-orang Farisi merasa dibenarkan dalam menuduh para murid Yesus melanggar peraturan hari Sabat. Yesus menjawab pertanyaan orang-orang Farisi itu dengan mengacu kepada bacaan Kitab Suci (1Sam 21:1-6) yang menceritakan apa yang dilakukan oleh Raja Daud sendiri dalam situasi yang khusus, agar orang-orang Farisi itu mengerti sedikit apa tujuan sebenarnya dari hukum Sabat.  Orang-orang Farisi ini begitu disibukkan dengan adat-istiadat serta disiplin agama mereka sehingga mereka lupa mendalami tujuan sebenarnya dari hukum itu, yaitu untuk mengasihi Allah dan sesama manusia.

Di lain pihak, kita pun harus berhati-hati untuk tidak cepat-cepat menyalahkan orang-orang Farisi. Mereka sebenarnya mencoba untuk menjaga tradisi-tradisi Yahudi di tengah-tengah suatu krisis nasional pada masa itu. Kekaisaran Romawi menduduki wilayah Palestina untuk waktu yang lama, sehingga tidak sedikit orang Yahudi yang terpengaruh oleh praktek-praktek kekafiran orang Romawi. Mereka menukarkan iman-kepercayaan mereka dengan filsafat-filsafat yang berpusat pada manusia.  Bagi kaum Farisi, satu-satunya batasan dalam rangka memelihara dan menjaga identitas bangsa Yahudi, adalah penerapan hukum Musa secara ketat. Namun  sayang saja jalan yang mereka tempuh di tengah masyarakat keliru, teristimewa dalam pengungkapannya.

Sepanjang sejarah, legislasi moral yang kaku itu bersifat opresif dan ujung-ujungnya membuat orang-orang merasa bersalah dan merasa tidak dikasihi. Dalam kelemahan kita sebagai manusia, praktis kita tidak dapat mentaati hukum Allah yang adil. Mengharapkan diri kita sendiri dan orang-orang lain untuk memperoleh keselamatan melalui tindakan-tindakan sesungguhnya bertentangan dengan pesan Yesus. Dalam upaya mereka untuk mendorong hukum Yahudi, banyak orang Farisi menjadi orang-orang yang bersikap suka menghukum dan menuduh – hal ini sungguh bertentangan dengan tujuan Allah dalam hukum-Nya.

Upaya untuk mengikuti jalan-jalan Allah seturut kekuatan kita sendiri merupakan sebuah beban dan pasti akan menuju kegagalan.Efek-efek dari dosa asal telah melumpuhkan kemampuan kita untuk memenuhi tuntutan-tuntuan hukum. Inilah sebabnya mengapa Yesus datang ke dunia: Demi kasih-Nya Dia ingin menebus kita. Oleh karena itu, marilah kita membuka diri kita bagi Kabar Baik yang diwartakan-Nya. Sadar akan kenyataan bahwa kita tidak mempunyai harapan untuk mampu mengikuti hukum-Nya berdasarkan kekuatan sendiri, maka kita dapat menemukan Dia dalam doa-doa kita, dalam sakramen-sakramen dan dalam pembacaan dan permenungan sabda-Nya yang terdapat dalam Kitab Suci. Dia akan memimpin kita dalam jalan-jalan-Nya dengan hati baru yang mencerminkan hati-Nya.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau menyediakan paling sedikit satu hari setiap pekan agar kami dapat berdiam bersama-Mu. Terima kasih untuk Roh Kudus yang Kauutus, yang memampukan kami untuk menjadi semakin dekat dengan diri-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini, bacalah tulisan yang berjudul “HARI SABAT SESUNGGUHNYA ADALAH HARI KEBEBASAN DAN SUKACITA” (bacaan tanggal 9-9-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 3-9-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 7 September 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MENYERAHKAN DIRI SEPENUHNYA KEPADA ALLAH

MENYERAHKAN DIRI SEPENUHNYA KEPADA ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa II – Rabu, 18 Januari 2017)

Pembukaan Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani 

jesus_hlng_wthrd_hnd_1-115Kemudian Yesus masuk lagi ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang tangannya mati sebelah. Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia. Kata Yesus kepada orang yang tangannya mati sebelah itu, “Mari, berdirilah di tengah!”  Kemudian kata-Nya kepada mereka, “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya?”  Tetapi mereka diam saja. Ia sangat berduka karena kekerasan hati mereka dan dengan marah Ia memandang orang-orang di sekeliling-Nya lalu Ia berkata kepada orang itu, “Ulurkanlah tanganmu!”  Orang itu mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu. Lalu keluarlah orang-orang Farisi dan segera membuat rencana bersama para pendukung Herodes untuk membunuh Dia. (Mrk 3:1-6)

Bacaan Pertama: Ibr 7:1-3,15-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 110:1-4

Inkarnasi Yesus (Firman yang menjadi manusia; Yoh 1:14) menandakan berlalunya “hukum dosa dan maut” dan datangnya “Kerajaan Allah”. Yesus adalah “anggur yang baru”, hidup Allah yang telah dipersiapkan oleh Allah bagi umat-Nya. Namun demikian, walaupun Yesus telah mendatangkan berbagai kesembuhan, pengampunan, dan kasih yang ditawarkan kepada umat-Nya, para pemuka agama Yahudi tetap saja melawan-Nya dan senantiasa ingin menjebak-Nya.

Konflik Yesus dengan para pemuka agama Yahudi tersebut dimulai pada waktu Yesus menyembuhkan seorang lumpuh yang diturunkan dari atap rumah (lihat Mrk 2:1-12), kemudian semakin meningkat pada peristiwa disembuhkannya orang yang tangannya mati sebelah (Mrk 3:1-16). Sampai saat itu, orang-orang Farisi selalu mengkritisi dan mempertanyakan tindakan-tindakan Yesus. Sekarang Yesus bertanya kepada mereka: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya?”  (Mrk 3:4). Orang-orang Farisi itu tetap bungkam, tetap pada kekerasan hati mereka melawan kebaikan Allah. Tidak adanya tanggapan mereka membuat Yesus marah dan sedih. Dalam belas kasih-Nya, Yesus menyembuhkan tangan orang itu, lagi-lagi menunjukkan bahwa Dia adalah Tuhan atas hari Sabat (lihat Mrk 2:27-28).  Karena marah bahwa Yesus telah melanggar berbagai pembatasan yang mereka tetapkan dalam rangka hari Sabat, orang-orang Farisi itu segera membuat rencana untuk membunuh Yesus (lihat Mrk 3:6).

Pertanyaan kita sekarang: Mengapa ada orang yang mau membunuh Yesus, padahal Ia datang untuk melakukan berbagai macam kebaikan? Sikap kemandirian yang salah dan ketergantungan pada pemikiran manusia seringkali membutakan kita terhadap kebenaran Allah dan menyebabkan kita melawan Dia, walaupun barangkali tanpa kita sadari apa yang kita perbuat. Kodrat manusiawi kita yang cenderung berdosa selalu mencegah diri kita untuk melepaskan kendali atas hidup kita dan menyerahkan diri kita kepada Allah. Jikalau kita menolak kebaikan Allah, kita – seperti juga orang-orang Farisi – akan menilai peraturan-peraturan sebagai hal-hal yang lebih penting daripada kebutuhan-kebutuhan para saudari-saudara kita. Sikap kemandirian kita yang salah akan mencegah kita untuk sampai kepada pengakuan bahwa Yesus adalah Juruselamat kita dan membatasi pengalaman kita akan kehadiran-Nya.

Namun, apabila kita – seperti anak-anak – menyerahkan diri kita sepenuhnya kepada Allah, maka kita akan dapat menerima belas kasih dan hidup baru-Nya. Yesus akan mentranformasikan hati dan pikiran kita sehingga dengan demikian segala hasrat dan pemikiran-Nya menjadi hasrat dan pemikiran kita. Dia akan mengajar kita jalan-jalan-Nya dan memberdayakan kita agar taat kepada sabda-Nya. Apabila anak-anak Allah terbuka untuk menerima kebaikan dan belas kasih Allah, maka Dia dapat menyembuhkan segala perpecahan yang ada di antara mereka, dengan demikian secara bersama-sama mereka akan mencerminkan kepenuhan kemuliaan-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, transformasikanlah hati kami dari kantong kulit yang tua dan keras menjadi kantong kulit yang baru dan lembut, sehingga dengan demikian kami dapat menerima anggur hidup baru yang Engkau ingin berikan kepada kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 3:1-6), bacalah tulisan yang berjudul “YANG DIPERBOLEHKAN PADA HARI SABAT” (bacaan tanggal 18-1-17), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; 17-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-1-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 16 Januari 2017 [Peringatan para Protomartir Ordo S. Fransiskus] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS