Posts tagged ‘HARI SABAT’

KUASA ILAHI DAN OTORITAS YESUS UNTUK MELAKUKAN KEHENDAK BAPA SURGAI

KUASA ILAHI DAN OTORITAS YESUS UNTUK MELAKUKAN KEHENDAK BAPA SURGAWI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Prapaskah – Rabu, 14 Maret 2018)

Tetapi Ia berkata kepada mereka, “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga.” Sebab itu, para pemuka Yahudi makin berusaha untuk membunuh-Nya, bukan saja karena Ia melanggar peraturan Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri dan dengan demikian menyamakan diri-Nya dengan Allah.

Lalu Yesus menjawab mereka, “Sesungguhnya Aku berkata, Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau Ia tidak melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak. Sebab Bapa mengasihi Anak dan Ia menunjukkan kepada-Nya segala sesuatu yang dikerjakan-Nya sendiri, bahkan Ia akan menunjukkan kepada-Nya pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar lagi daripada pekerjaan-pekerjaan itu, sehingga kamu menjadi heran. Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan siapa saja yang dikehendaki-Nya. Bapa tidak menghakimi siapa pun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak, supaya semua orang menghormati Allah sama seperti mereka menghormati Bapa. Siapa saja yang tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa yang mengutus Dia.

Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Saatnya akan tiba dan sudah tiba bahwa orang-orang mati akan mendengar suara Anak Allah, dan mereka yang mendengarnya, akan hidup. Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan-Nya Anak mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri. Ia telah memberikan kuasa kepada-Nya untuk menghakimi, karena Ia adalah Anak Manusia. Janganlah kamu heran akan hal itu, sebab saatnya akan tiba bahwa semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya, dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum.

Aku tidak dapat berbuat apa pun dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku. (Yoh 5:17-30) 

Bacaan Pertama: Yes 49:8-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:8-9,13-14,17-18

Ketika Yesus mempermaklumkan, “Bapa-ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga”  (Yoh 5:17), maka sebenarnya Dia membuktikan kuasa ilahi-Nya dan otoritas-Nya untuk melakukan kehendak Bapa surgawi. Yesus bersabda: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup” (Yoh 5:24). Kita dapat mengklaim posisi istimewa ini sebagai milik kita juga selagi mengingat relasi kita dengan Yesus. Melalui iman dalam Yesus, kita telah dibawa dari kematian ke kehidupan. Dosa-dosa kita dihapus, dan kita disatukan lagi dengan Allah Bapa.

“Pindah dari dalam maut ke dalam hidup” berarti bahwa kita tidak lagi menjadi warga dunia di bawah otoritas Iblis. Melalui baptisan ke dalam kematian dan kebangkitan Yesus, kita telah mati terhadap dunia dan menjadi warga Kerajaan Allah. Sekarang kita hidup di bawah otoritas Yesus, Raja segala ciptaan. Kita ikut ambil bagian dalam kemuliaan surgawi dengan para malaikat dan orang kudus. Kita adalah anak-anak Allah yang dipilih dan ditebus.

Sebagai anak-anak Allah, kehidupan kita diberdayakan oleh Roh Kudus yang berdiam dalam diri kita. Setiap hari, Roh Kudus ingin menyatakan hidup baru ini kepada kita secara lebih mendalam sementara kita mengalami damai-sejahtera, sukacita, pengharapan, dan kasih yang mengalir dari relasi pribadi kita dengan Allah. Yesus telah melakukan segalanya yang diperlukan guna memampukan kita menerima hidup baru dalam Dia. Sekarang Ia memanggil kita untuk menanggapi Allah dengan cara-cara yang telah ditunjukkan-Nya kepada kita. Kita dapat memberi tanggapan secara kontinu melalui doa-doa harian kita dan pembacaan Kitab Suci, dengan menghadiri perayaan Ekaristi, dan dalam memberikan diri kita sendiri lewat pelayanan kepada orang-orang lain.

Kita juga bertumbuh dalam hidup baru secara istimewa melalui Sakramen Rekonsiliasi. Allah ingin agar kita memandang “Pengakuan Dosa” lebih daripada sekadar menyebutkan satu-persatu dosa-dosa kita dan suatu harapan agar dosa-dosa itu diampuni. Selagi kita meninggalkan kedosaan kita, Allah “berdiri” menantikan kita membuka hati kita untuk menerima Yesus secara lebih penuh, untuk memohon kepada-Nya agar mencurahkan hidup dan kasih-Nya kepada kita secara lebih mendalam lagi. Sakramen Rekonsiliasi sungguh dapat mengubah diri kita dengan indahnya.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau memperkenankan kami menglami hidup baru yang telah dimenangkan Yesus Kristus bagi kami. Semoga kami dapat terus mengakui bahwa Engkau mengasihi kami dan mempunyai sebuah rencana sempurna bagi kami masing-masing, yaitu sebuah rencana yang mencakup kepenuhan hidup ilahi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 5:17-30), bacalah tulisan yang berjudul “DALAM KEHARMONISAN LENGKAP DENGAN BAPA-NYA” (bacaan tanggal 29-3-17), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-03 BACAAN HARIAN MARET 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 29-3-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 12 Maret 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

ORANG ITU MENCERITAKAN KEPADA PARA PEMUKA YAHUDI BAHWA YESUSLAH YANG TELAH MENYEMBUHKAN DIRINYA

ORANG ITU MENCERITAKAN KEPADA PARA PEMUKA YAHUDI BAHWA YESUSLAH YANG TELAH MENYEMBUHKAN DIRINYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Prapaskah – Selasa, 13 Maret 2018)

Ordo Fratrum Minorum (OFM): Peringatan B. Ludovikus dr Casoria, Imam

Sesudah itu ada hari raya orang Yahudi, dan Yesus berangkat ke Yerusalem. Di Yerusalem dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam, yang dalam bahasa Ibrani disebut Betesda; ada lima serambinya dan di serambi-serambi itu berbaring sejumlah besar orang sakit: orang-orang buta, orang-orang timpang dan orang-orang lumpuh. [Mereka menantikan guncangan air kolam itu. Sebab sewaktu-waktu turun malaikat Tuhan ke kolam itu dan mengguncangkan air itu; siapa saja yang terdahulu masuk ke dalamnya sesudah guncangan air itu, menjadi sembuh, apa pun penyakitnya.] Di situ ada seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit. Ketika Yesus melihat itu berbaring di situ dan karena Ia tahu bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya, “Maukah engkau sembuh?” Jawab orang sakit itu kepada-Nya, “Tuan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu ketika airnya mulai terguncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu orang lain sudah turun mendahului aku.” Kata Yesus kepadanya, “Bangunlah, angkatlah tikarmu dan berjalanlah.” Pada saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tikarnya dan berjalan.

Tetapi hari itu hari Sabat. Karena itu, para pemuka Yahudi berkata kepada orang yang baru sembuh itu, “Hari ini hari Sabat dan engkau tidak boleh mengangkat tikarmu.” Akan tetapi, ia menjawab mereka, “Orang yang telah menyembuhkan aku, dia yang mengatakan kepadaku: Angkatlah tikarmu dan berjalanlah.” Mereka bertanya kepadanya, “Siapakah orang itu yang berkata kepadamu: Angkatlah tikarmu dan berjalanlah?’ Tetapi orang yang baru disembuhkan itu tidak tahu siapa orang itu, sebab Yesus telah menghilang ke tengah-tengah orang banyak di tempat itu. Kemudian Yesus bertemu dengan dia dalam Bait Allah lalu berkata kepadanya, “Ingat, engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya jangan terjadi yang lebih buruk lagi padamu.” Orang itu keluar, lalu menceritakan kepada para pemuka Yahudi bahwa Yesus-lah yang telah menyembuhkan dia. Karena itu, para pemuka Yahudi berusaha menganiaya Yesus, karena Ia melakukan hal-hal itu pada hari Sabat. (Yoh 5:1-3a,5-16) 

Catatan: Dalam bacaan ini, ayat Yoh 3b-4 dimasukkan juga) 

Bacaan Pertama: Yeh 47:1-9,12; Mazmur Tanggapan: Mzm 46:2-3,5-6,8-9 

Bayangkan sudah sudah hampir 4 (empat) dasawarsa lamanya orang ini menderita sakit lumpuh. Dan menurut ceritanya sendiri kepada Yesus, di Betesda (Bethzatha) itu jelas kelihatan tidak ada yang membantunya untuk turun ke kolam pada saat yang penting untuk penyembuhan dirinya. Ia memiliki hasrat yang besar untuk disembuhkan, namun tidak pernah masuk ke kolam itu. Sungguh merupakan suatu situasi yang penuh tekanan baginya, namun ia tidak pernah kehilangan pengharapan.

Kitab Suci mengatakan, “Siapa saja yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan.” Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia? Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus?” (Rm 10:13-14). Orang lumpuh di Betesda tidak akan dapat disembuhkan kalau tidak ada orang yang menolongnya. Demikian pula orang lumpuh di Kapernaum tidak akan mengalami penyembuhan kalau tidak ada 4 (empat) orang yang dalam iman mau bersusah-payah menggotongnya lewat atap rumah untuk sampai kepada Yesus (lihat Mrk 2:1-12). Nah, demikian pula tidak akan ada orang yang mengenal Yesus kalau tidak ada murid Yesus yang sharing Kabar Baik Tuhan Yesus Kristus kepada orang itu.

Memang pertobatan adalah karya Allah, namun tergantung pada kita untuk membawa orang-orang lain kepada Yesus – sang Pemberi  air hidup – (lihat Yoh 4:1 dsj.) sehingga mereka dapat mengalami karunia pertobatan. Kesaksian kita bersifat dua lapis: suatu kesaksian hidup dan kesaksian  kata-kata. Santa Bunda Teresa dari Kalkuta pernah berkata: “Jadilah Yesus, bagikanlah Yesus.” Santo Fransiskus dari Assisi juga berkata: “Beritakanlah Injil setiap saat. Gunakan kata-kata kalau diperlukan.” Hal ini berarti bahwa dalam penghayatan sehari-hari hidup Kristus dalam diri kita-lah, maka kita menjadi saksi-saksi bagi orang-orang di sekeliling kita.

Yesus bersabda: “Kamu adalah garam dunia. …… Kamu adalah terang dunia. …” (Mat 5:13-14), namun semuanya tentulah dalam takaran yang pas dan pada waktu yang pas pula. Garam yang terlalu sedikit membuat orang menjadi haus, tetapi kebanyakan garam akan membuat orang jatuh sakit. Terang yang pas akan membawa kehangatan, namun terang yang berkelebihan malah dapat membakar dan membutakan mata. Demikian pula halnya dengan evangelisasi.

Evangelisasi dimaksudkan untuk mewartakan kebenaran dengan cara yang menarik dan memikat, bebas dari tekanan atau superioritas moral. Seorang pewarta harus membuang jauh-jauh kesombongan rohani dari dirinya. Dalam evangelisasi ini kita mengundang orang-orang untuk berbagi pengalaman kita sendiri yang dibersihkan dan disegarkan kembali oleh Allah. Dan satu-satunya cara untuk melakukan hal ini adalah menjaga diri kita agar tetap “tenggelam” dalam air rahmat-Nya dan kuasa penyembuhan-Nya. Kemudian kita pun dapat mengatakan kepada orang-orang lain: “Masuklah ke dalam air ini juga, air ini terasa nyaman”.

DOA: Tuhan Yesus, bawalah setiap orang ke dalam sungai kehidupan-Mu, teristimewa mereka yang haus cintakasih, lapar akan kebenaran, dan yang dilumpuhkan oleh ketidakpercayaan mereka. Oleh kuasa Roh Kudus-Mu, jadikanlah kami semua saksi-saksi yang berbuah, dalam hidup dan kata-kata. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 5:1-16), bacalah tulisan yang berjudul “AIR YANG MEMBAWA KEHIDUPAN DAN KESEMBUHAN” (bacaan tanggal 13-3-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-03 BACAAN HARIAN MARET 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 28-3-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 11 Maret 2018 [HARI MINGGU PRAPASKAH IV – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SEBUAH KEJUTAN DI KAPERNAUM

SEBUAH KEJUTAN DI KAPERNAUM

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA IV [TAHUN B] – 28 Januari 2018)

 

Yesus dan murid-murid-Nya tiba di Kapernaum. Setelah hari Sabat mulai, Yesus segera masuk ke dalam rumah ibadat dan mengajar. Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat. Pada waktu itu di dalam rumah ibadat mereka, ada seorang yang kerasukan roh jahat. Orang itu berteriak, “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? Apakah Engkau datang untuk membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.”  Tetapi Yesus membentaknya, “Diam, keluarlah dari dia!”  Roh jahat itu mengguncang-guncang orang itu, dan sambil menjerit dengan suara nyaring roh itu keluar dari dia. Mereka semua  takjub, sehingga mereka memperbincangkannya, katanya, “Apa ini? Suatu ajaran baru disertai dengan kuasa! Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka taat kepada-Nya!”  Lalu segera tersebarlah kabar tentang Dia ke segala penjuru di seluruh Galilea. (Mrk 1:21-28)

Bacaan Pertama: Ul 18:15-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 95:1-2,6-9; Bacaan Kedua: 1Kor 7:32-35

Orang-orang yang mendengar pengajaran penuh kuasa dari Yesus dalam sebuah sinagoga di Kapernaum sangat terkesan dan merasa takjub, padahal peristiwa itu terjadi pada awal-awal karya pelayanan sang Rabi dari Nazaret di tengah publik. Tidak pernah kelihatan yang seperti itu sebelumnya. Orang-orang heran dan bertanya-tanya, “Apa ini? Suatu ajaran baru disertai dengan kuasa! Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka taat kepada-Nya!”  (Mrk 1:27).

Dengan kuasa dan kewenangan, Yesus berbicara kepada hati orang-orang dan mengusir roh jahat di depan orang-orang. Semua orang yang menyaksikan peristiwa ini menjadi takjub dan kagum. Ini bukan sekadar khotbah atau homili yang dibawakan dalam “semangat” rutinitas. Ini mengingatkan kita kepada apa yang ditulis oleh Santo Paulus, “Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan bukti bahwa Roh berkuasa”  (1Kor 2:4).

Setiap kebenaran Injil dapat dianalisis dengan kekuatan intelek – katakanlah secara ilmiah – dan hal itu samasekali tidak salah, asal saja tidak jadi membingungkan kita atau malah membuat kita tertipu oleh si Jahat. Tetapi ada sesuatu yang lebih penting dan lebih memiliki kuasa, yang diberikan oleh Yesus kepada kita. Dia datang untuk memproklamasikan kebenaran sedemikian sehingga akan memerdekakan kita. Yesus berfirman: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh 3:31-32). Kata-kata Yesus mempunyai kuasa untuk menghukum kita, menghibur kita, menyembuhkan kita dan bahkan membebas-merdekakan kita. Kata-kata Yesus mencakup pemahaman manusiawi, akan tetapi tidak terbatas sampai di situ saja.

Apakah kita (anda dan saya) mengetahui kebenaran Injil sedemikian rupa sehingga kita dapat mengalami kuasanya untuk memerdekakan diri kita? Apakah kita mengalami kemerdekaan, sukacita dan keakraban dengan Yesus sebagai akibat dari tindakan kita mendengarkan firman-Nya yang diproklamasikan dalam liturgi Gereja, pada pertemuan kelompok doa dan/atau Kitab Suci, pada saat-saat berdoa secara pribadi, atau pada saat-saat pembacaan dan permenungan Kitab Suci secara pribadi? Ini adalah warisan kita sebagai anak-anak Allah yang telah dibaptis.   Selagi kita mengalami kasih ilahi-Nya, kita pun akan menyerahkan diri kita lebih penuh lagi kepada firman-Nya. Kita akan mengenal, mengakui serta mematuhi kewenangan dan kuasa-Nya dalam hidup kita; dan keluarga dan teman-teman kita pun akan mengenali adanya perbedaan dalam diri kita.

Yesus merindukan kita masing-masing untuk mengundang Dia ke dalam hati kita – pusat terdalam dari keberadaan kita – tidak hanya ke dalam pikiran kita. Hati adalah tempat keputusan di mana kita bertemu dengan Allah dan digerakkan secara mendalam oleh kasih-Nya. “Hati adalah ….. pusat kita yang tersembunyi, yang tidak dapat dimengerti baik oleh akal budi kita maupun oleh orang lain”  (Katekismus Gereja Katolik, 2563). Marilah sekarang kita membuka hati kita lebih penuh lagi bagi Yesus dan memperkenankan kuasa-Nya mengubah kita.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau saja yang mengetahui hati kami dan hasrat yang ada dalam hati kami itu. Pada saat ini kami mengundang-Mu untuk memasuki bagian terdalam dari keberadaan kami dan mengikat kami pada hati-Mu. Bebaskanlah kami, ya Tuhan, dari segala kejahatan dan ajarlah kami bagaimana hidup  untuk-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:21-28), bacalah tulisan yang berjudul “PENGAJARAN PENUH KUASA, MUKJIZAT DAN TANDA HERAN DI KAPERNAUM” (bacaan tanggal 28-1-18), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-02 BACAAN HARIAN JANUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 1-2-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 25 Januari 2018 [Pesta  Bertobatnya S. Paulus, Rasul] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YANG DIPERBOLEHKAN PADA HARI SABAT

YANG DIPERBOLEHKAN PADA HARI SABAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Antonius, Abas – Rabu, 17 Januari 2018) 

Kemudian Yesus masuk lagi ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang tangannya mati sebelah. Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia. Kata Yesus kepada orang yang tangannya mati sebelah itu, “Mari, berdirilah di tengah!”  Kemudian kata-Nya kepada mereka, “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya?”  Tetapi mereka diam saja. Ia sangat berduka karena kekerasan hati mereka dan dengan marah Ia memandang orang-orang di sekeliling-Nya lalu Ia berkata kepada orang itu, “Ulurkanlah tanganmu!”  Orang itu mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu. Lalu keluarlah orang-orang Farisi dan segera membuat rencana bersama para pendukung Herodes untuk membunuh Dia. (Mrk 3:1-6)

Bacaan Pertama: 1Sam 17:32-33,37,40-51; Mazmur Tanggapan: Mzm 144:1,2,9-10

Inkarnasi Yesus menandakan: (1) sudah berlalunya hukum dosa serta maut dan (2) datangnya kerajaan Allah. Yesus adalah Anggur yang baru, …. hidup baru. Allah telah lama mempersiapkan umat-Nya untuk menerima hidup baru ini. Akan tetapi, meskipun Yesus memberikan kepada orang banyak kesembuhan, pengampunan dan cintakasih, para pemimpin agama memandang dan memperlakukan Dia sebagai lawan dan obyek cemoohan.

Konflik itu, yang dimulai ketika Yesus menyembuhkan seorang lumpuh (Mrk 2:1-12), malah meningkat ketika Dia menyembuhkan seorang lain yang tangannya mati sebelah (Mrk 3:1-6). Sampai saat ini, orang-orang Farisi selalu melontarkan kritik dan mempertanyakan tindakan-tindakan Yesus. Sekarang, Yesus ganti bertanya kepada mereka: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, yang menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya?” (Mrk 3:4). Orang-orang Farisi diam saja. Mereka tetap mempertahankan kedegilan hati mereka di hadapan kebaikan Allah. Tidak adanya tanggapan dari mereka membuat Yesus marah dan sekaligus sedih. Dalam kerahiman-Nya, Yesus menyembuhkan tangan si sakit, sekali lagi menunjukkan bahwa Dia adalah Tuhan atas hari Sabat (Mrk 2:27-28). Orang-orang Farisi marah sekali karena Yesus telah melanggar pembatasan-pembatasan hari Sabat. Oleh karena itu mereka pun mulai bersekongkol dengan orang-orang Herodian untuk menghancurkan Yesus (Mrk 3:6).

Mengapa sampai ada orang yang mau membunuh Yesus yang justru datang melakukan kebaikan? Sikap mandiri yang salah dan ketergantungan pada pemikiran manusia semata-mata seringkali membutakan kita terhadap kebenaran Allah dan malah menyebabkan kita menentang Dia, bahkan pada saat kita tidak menyadari apa yang kita perbuat. Kodrat manusia yang cenderung jatuh ke dalam dosa selalu menghindari sikap penyerahan diri kepada Allah. Akan tetapi, seperti kita ketahui, untuk menerima keselamatan, kita harus berserah-diri kepada-Nya. Apabila kita menolak kebaikan Allah, maka kita – seperti juga orang-orang Farisi – akan menilai lebih tinggi berbagai aturan, ketimbang kebutuhan-kebutuhan saudari-saudara kita. Sikap mandiri yang keliru akan menghalangi kita untuk mengakui Yesus sebagai Juruselamat dan membatasi pengalaman kita akan kehadiran-Nya.

Sebaliknya, kalau kita bersikap seperti anak-anak, kita akan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah. Dengan demikian kita pun akan mampu menerima kerahiman-Nya dan hidup baru-Nya. Yesus akan mengubah hati dan pikiran kita sehingga hasrat-hasrat-Nya dan pikiran-pikiran-Nya menjadi hasrat-hasrat dan pikiran-pikiran kita. Dia akan mengajarkan kepada kita jalan-Nya dan memberdayakan kita agar supaya taat kepada firman-Nya. Kalau anak-anak Allah terbuka untuk menerima kebaikan dan kerahiman Tuhan, maka Dia dapat menyembuhkan segala perpecahan yang ada di antara mereka, sehingga bersama-sama mereka akan mencerminkan kepenuhan kemuliaan-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, ubahlah hati kami agar dapat semakin serupa dengan hati-Mu. Biarlah kasih-Mu memancar ke dalam hati kami dan melalui hati kami kepada orang-orang di sekeliling kami. Tolonglah kami agar mau dan mampu menyediakan waktu dan energi bagi orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Sam 17:32-33,37,40-51), bacalah tulisan yang berjudul “CERITA TENTANG DAUD BERTARUNG MELAWAN GOLIAT” (bacaan tanggal 17-1-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.worpress.com;  18-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 18-1-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 14 Januari 2018 [HARI MINGGU BIASA II – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

HARI SABAT DIADAKAN UNTUK MANUSIA, BUKAN SEBALIKNYA

HARI SABAT DIADAKAN UNTUK MANUSIA, BUKAN SEBALIKNYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa II – Selasa, 16 Januari 2018)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Berardus, Imam dkk., Martir-martir Pertama Fransiskan

 

Pada suatu hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum. Lalu kata orang-orang Farisi kepada-Nya, “Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?”  Jawab-Nya kepada mereka, “Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan orang-orang yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar lalu makan roti sajian itu – yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam – dan memberinya juga kepada pengikut-pengikutnya?” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat. Karena itu Anak Manusia adalah Tuhan, bahkan atas hari Sabat.”  (Mrk 2:23-28)

Bacaan Pertama: 1 Sam 16:1-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 89:20-22,27-28

“Anak Manusia adalah Tuhan, bahkan atas hari Sabat.” (Mrk 2:28)

Kata-kata Yesus ini merupakan tantangan bagi orang-orang Farisi. Mereka mengajukan pertanyaan yang kelihatan legitim (Inggris: legitimate) berkaitan dengan tindakan-tindakan para murid Yesus yang jelas bertentangan dengan hukum Sabat. Yesus menanggapi pertanyaan orang-orang Farisi itu dengan mengkonfrontir kekerdilan pemikiran mereka tentang diri-Nya dan karya pelayanan-Nya. Yesus juga mengidentifikasikan diri-Nya sebagai Tuhan (Kyrios) atas hari Sabat.

SONY DSC

Tindakan para murid memetik bulir gandum di hari Sabat jelas merupakan suatu pelanggaran peraturan-peraturan Yahudi berkaitan dengan hari Sabat. Ketika orang-orang Farisi itu mempertanyakan tindakan-tindakan para murid-Nya, Yesus menanggapinya dengan menyatakan otoritas-Nya dengan dua cara. Pertama, Ia memberi contoh dari Perjanjian Lama, yaitu pada waktu Daud dan para pengikutnya memakan roti suci yang ada di Rumah Allah. Dalam hal ini Yesus mengidentifikasikan diri-Nya dengan Daud. Sebagaimana Daud mengizinkan para pengikutnya memuaskan rasa lapar mereka dengan mengorbankan kepatuhan yang ketat terhadap hukum, demikian pula Yesus dapat memperkenankan para murid-Nya untuk memuaskan rasa lapar mereka dengan memetik bulir gandum pada hari Sabat. Daud adalah pralambang dari Mesias yang dinanti-nantikan. Sudah diterima secara umum dalam masyarakat Yahudi bahwa sang Mesias yang dinanti-nantikan itu adalah seorang keturunan Daud. Jadi, Yesus mempunyai semacam hak prerogatif untuk mengupayakan agar kebutuhan-kebutuhan para murid-Nya terpenuhi; mereka yang telah meninggalkan segala milik mereka untuk mengikuti sang Rabi dari Nazaret dalam pelayanan-Nya kepada orang banyak.

Cerita tentang konfrontasi ini mengundang kita untuk melihat terobosan dari Kerajaan Allah. Sebagaimana pra-konsepsi orang-orang Farisi tentang karya pelayanan Yesus dan hukum dipertanyakan, maka kita pun ditantang untuk memahami bahwa Yesus jauh lebih daripada sekadar seorang manusia atau seorang guru yang baik. Anak Manusia adalah Tuhan atas segala sesuatu, bahkan atas hari Sabat!

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami agar mampu melihat dengan jelas otoritas dan martabat-Mu sebagai Tuhan. Engkau harus makin besar, tetapi kami harus makin kecil (bdk. Yoh 3:30). Kami ingin hidup seturut hukum kasih-Mu dan di bawah kekuasan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan  Pertama hari ini (1Sam 16:1-13), bacalah tulisan yang berjudul “CERITA TENTANG DAUD YANG DIURAPI MENJADI RAJA ISRAEL” (bacaan tanggal 16-1-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; 18-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaa tanggal 17-1-17 dalam situs/blog SANG  SABDA) 

Cilandak, 14 Januari 2018 [HARI MINGGU BIASA II – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SUATU AJARAN BARU DISERTAI DENGAN KUASA

SUATU AJARAN BARU DISERTAI DENGAN KUASA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Selasa, 9 Januari 2018) 

Yesus dan murid-murid-Nya tiba di Kapernaum. Setelah hari Sabat mulai, Yesus segera masuk ke dalam rumah ibadat dan mengajar. Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat. Pada waktu itu di dalam rumah ibadat mereka, ada seorang yang kerasukan roh jahat. Orang itu berteriak, “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? Apakah Engkau datang untuk membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.”  Tetapi Yesus membentaknya, “Diam, keluarlah dari dia!”  Roh jahat itu mengguncang-guncang orang itu, dan sambil menjerit dengan suara nyaring roh itu keluar dari dia. Mereka semua  takjub, sehingga mereka memperbincangkannya, katanya, “Apa ini? Suatu ajaran baru disertai dengan kuasa! Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka taat kepada-Nya!”  Lalu segera tersebarlah kabar tentang Dia ke segala penjuru di seluruh Galilea. (Mrk 1:21-28)

Bacaan Pertama: 1Sam 1:9-20; Mazmur Tanggapan: 1Sam 2:1,4-7

Pelayanan Yesus di depan publik telah dimulai. Tidak pernah kelihatan yang seperti itu sebelumnya. Orang-orang heran dan bertanya-tanya, “Apa ini? Suatu ajaran baru disertai dengan kuasa! Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka taat kepada-Nya!”  (Mrk 1:27). Dengan kuasa dan kewenangan, Yesus berbicara kepada hati orang-orang dan mengusir roh jahat di depan orang-orang. Semua orang yang menyaksikan peristiwa ini menjadi takjub dan kagum. Ini bukan sekedar khotbah. Ini mengingatkan kita kepada apa yang ditulis oleh Santo Paulus, “Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan bukti bahwa Roh berkuasa” (1 Kor 2:4).

Setiap kebenaran Injil dapat dipilah-pilah dan dianalisis dengan kekuatan intelek dan hal itu samasekali tidak salah, asal saja tidak jadi membingungkan kita atau malah membuat kita tertipu oleh si Jahat. Tetapi ada sesuatu yang lebih penting dan lebih memiliki kuasa, yang diberikan oleh Yesus kepada kita. Dia datang untuk memproklamasikan kebenaran sedemikian sehingga akan memerdekakan kita. Yesus berfirman: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh 3:31-32).

Kata-kata Yesus mempunyai kuasa untuk menghukum kita, menghibur kita, menyembuhkan kita dan bahkan membebaskan kita. Kata-kata Yesus mencakup pemahaman manusiawi, akan tetapi tidak terbatas sampai di situ saja.

Apakah kita mengetahui kebenaran Injil sedemikian rupa sehingga kita dapat mengalami kuasa-Nya untuk memerdekakan diri kita? Apakah kita mengalami kemerdekaan, sukacita dan keakraban dengan Yesus sebagai akibat dari kita mendengarkan firman-Nya yang diproklamasikan dalam liturgi Gereja, pada pertemuan kelompok doa dan/atau Kitab Suci, pada saat-saat berdoa secara pribadi, atau pada saat-saat pembacaan dan permenungan Kitab Suci secara pribadi? Ini adalah warisan kita sebagai anak-anak Allah yang telah dibaptis.   Selagi kita mengalami kasih ilahi-Nya, kita pun akan menyerahkan diri kita lebih penuh lagi kepada firman-Nya. Kita akan mengenal, mengakui serta mematuhi kewenangan dan kuasa-Nya dalam hidup kita; dan keluarga dan teman-teman kita pun akan mengenali adanya perbedaan dalam diri kita.

Yesus merindukan kita masing-masing untuk mengundang Dia ke dalam hati kita – pusat terdalam dari keberadaan kita – tidak hanya ke dalam pikiran kita. Hati adalah tempat keputusan di mana kita bertemu dengan Allah dan digerakkan secara mendalam oleh kasih-Nya. “Hati adalah ….. pusat kita yang tersembunyi, yang tidak dapat dimengerti baik oleh akal budi kita maupun oleh orang lain”  (Katekismus Gereja Katolik, 2563). Marilah sekarang kita membuka hati kita lebih penuh lagi bagi Yesus dan memperkenankan kuasa-Nya mengubah kita.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau saja yang mengetahui hati kami dan hasrat yang ada dalam hati kami itu. Pada saat ini kami mengundang-Mu untuk memasuki bagian terdalam dari keberadaan kami dan mengikat kami pada hati-Mu. Bebaskanlah kami, ya Tuhan, dari segala kejahatan dan ajarlah kami bagaimana hidup untuk-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Sam 1:9-20), bacalah tulisan yang berjudul “KEHIDUPAN ITU ADALAH KARUNIA DARI ALLAH YANG SANGAT BERHARGA” (bacaan tanggal 9-1-18), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; 18-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-1- 17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 7 Januari 2018 [HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ISTIRAHAT ALLAH

ISTIRAHAT ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXX – Jumat, 3 November 2017)

Ordo-ordo S. Fransiskus: Peringataan Arwah untuk sanak saudara dan para penderma.

 

Pada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama. Datanglah seorang yang sakit busung air berdiri di hadapan-Nya. Lalu Yesus berkata kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu, “Apakah boleh menyembuhkan orang pada hari Sabat atau tidak?” Mereka diam semuanya. Lalu Ia memegang tangan orang sakit itu dan menyembuhkannya serta menyuruhnya pergi. Kemudian Ia berkata kepada mereka, “Siapakah di antara kamu yang tidak segera menarik ke luar anaknya atau lembunya kalau terperosok ke dalam sebuah sumur pada hari Sabat?” Mereka tidak sanggup membantah-Nya. (Luk 14:1-6) 

Bacaan Pertama: Rm 9:1-5; Mazmur Tanggapan: Mzm 147:12-15,19-20 

Sekali lagi, Yesus menemukan diri-Nya di tengah-tengah kontroversi tentang penyembuhan di hari Sabat. Orang-orang Farisi yang berkonfrontasi dengan Yesus berpijak pada tafsir sangat sempit tentang perintah-perintah Allah, yang menggiring mereka pada kecurigaan terhadap diri Yesus dan mencari kesempatan untuk menjebak-Nya. Di lain pihak, Yesus mengambil kesempatan ini untuk mengajar mereka tentang inti pokok dari hukum Allah, yang adalah belas kasih dan penyembuhan.

Ketika Yesus menyembuhkan orang yang sakit busung air – suatu penyakit yang disebabkan oleh banyaknya cairan dalam tubuh yang mungkin berkaitan dengan suatu kondisi jantung – maka Dia sekali lagi mengkonfrontir pemahaman sempit orang-orang Farisi tentang cara-cara atau jalan-jalan Allah. Aplikasi sempit dari hukum Sabat tidak memberi ruang sedikit pun bagi kasih dan belas kasih yang merupakan fondasi dari setiap perintah Allah. Yesus langsung saja mempersoalkan kekakuan tafsir/sikap dari orang-orang Farisi tersebut. Jika orang yang berakal sehat saja akan menyelamatkan anak atau hewan peliharaannya yang terperosok ke dalam sebuah sumur pada hari Sabat, apalagi Allah yang begitu berhasrat untuk menyelamatkan anak-anak-Nya yang membutuhkan pertolongan di mana dan kapan saja? Dari semua hari sepanjang pekan, justru hari Sabat-lah yang paling pas bagi para anak Allah untuk menerima sentuhan penyembuhan-Nya. Lagipula, bukankah Allah selalu menginginkan kita masuk ke dalam istirahat-Nya?

Istirahat Sabat yang diinginkan oleh Allah bagi kita datang dari suatu pengalaman akan kasih-Nya yang intim – suatu keintiman yang menempatkan damai-sejahtera dalam hati kita, apa pun sikon yang kita hadapi. Yesus datang untuk melakukan inaugurasi atas istirahat Sabat ini di atas bumi melalui penderitaan, wafat dan kebangkitan-Nya. Sebagai umat-Nya, Gereja, kita sekarang dapat mengalaminya secara lebih mendalam.  Dalam keintiman ini, kita mengenal Allah sebagai “seorang” Bapa yang sangat mengasihi kita dan Ia juga Mahaperkasa, dan kita tahu bahwa kita adalah milik-Nya. Kita belajar untuk menaruh kepercayaan bahwa Dia akan memenuhi segala kebutuhan kita dan kita menyerahkan hidup kita kepada penyelenggaraan-Nya.

Bagaimana kita mengalami istirahat Allah? Unsur atau elemen yang paling esensial adalah doa, yang menempatkan kita ke dalam kontak dengan realitas-realitas Kerajaan Allah. Selagi kita membuka diri kita bagi Allah melalui doa, pembacaan dan permenungan sabda Allah dalam Kitab Suci, dan hidup sakramental dalam Gereja, maka hidup Allah mampu untuk meresap ke dalam keberadaan kita secara lebih penuh. Dengan beristirahat dalam Kristus melalui doa dan ketaatan yang diungkapkan dengan rendah hati, kita menjadi lebih yakin akan kasih-Nya bagi kita dan kita menerima sentuhan penyembuhan-Nya secara lebih mendalam.

DOA: Tuhan Yesus, aku membuka hatiku bagi-Mu sekarang.  Semoga aku dapat masuk ke dalam istirahat-Mu dan mengalami belas kasih dan kesembuhan daripada-Mu. Tolonglah aku agar supaya dapat melihat bahwa kasih itu berada di jantung setiap hukum-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 14:1-6), bacalah tulisan yang berjudul “LAGI-LAGI PENYEMBUHAN PADA HARI SABAT” (bacaan tanggal 3-11-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-10 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 30-10-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 2 November 2017 [PENGENANGAN ARWAH SEMUA ORNG KUDUS] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS