Posts tagged ‘HARI BIASA PEKAN VII PASKAH’

YESUS MELAKUKAAN BANYAK KEBAIKAN LAIN JUGA DI LUAR YANG TERCATAT DALAM INJIL

 YESUS MELAKUKAN BANYAK KEBAIKAN LAIN JUGA DI LUAR YANG TERCATAT DALAM INJIL

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah – Sabtu, 8 Juni 2019)

OFMCap. (Kapusin): Peringatan B. Nikolaus Gesturi, Imam Biarawan

Ketika Petrus berpaling, ia melihat bahwa murid yang dikasihi Yesus sedang mengikuti mereka, yaitu murid yang pada waktu mereka sedang makan bersama duduk dekat Yesus dan yang berkata, “Tuhan, siapakah dia yang akan menyerahkan Engkau?” Ketika Petrus melihat murid itu, ia berkata kepada Yesus, “Tuhan, bagaimana dengan dia ini?” Jawab Yesus, “Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: Ikutlah Aku.” Lalu tersebarlah kabar di antara saudara-saudara itu bahwa murid itu tidak akan mati. Tetapi Yesus tidak mengatakan kepada Petrus bahwa murid itu tidak akan mati, melainkan, “Jikalau Aku menghendaki supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu.”

Dialah murid yang bersaksi tentang semuanya ini dan yang telah menuliskannya dan kita tahu bahwa kesaksiannya itu benar.

Masih banyak lagi hal-hal lain yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, kupikir dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu. (Yoh 21:20-25) 

Bacaan Pertama: Kis 28:16-20,30-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 11:4-5,7 

Kitab-kitab Injil adalah anugerah dari Allah bagi kita semua, diinspirasikan oleh Roh   Kudus dan ditulis pada masa Gereja awal, agar kita dapat percaya bahwa Yesus adalah Putera Allah dan Juruselamat dunia (Yoh 20:31). Kitab-kitab Injil ini tidak memuat semua mukjizat Yesus, melainkan memberi kesaksian tentang kedatangan Yesus sebagai seorang manusia, tentang ajaran-ajaran-Nya dan mukjizat-mukjizat yang dibuat-Nya, dan akhirnya tentang kematian dan kebangkitan-Nya, semuanya itu dengan satu  tujuan: Agar kita dapat ikut ambil bagian dalam hidup-Nya. Karena itu kita membaca bahwa Yesus melakukan banyak hal lain juga, hal-hal yang tidak termasuk/tercatat dalam kitab-kitab Injil itu (Yoh 21:25).

Yesus melakukan banyak lagi hal-hal lain di luar yang diceritakan dalam kitab-kitab Injil, dan oleh Roh Kudus-Nya, Dia terus melakukan banyak hal lagi setelah kematian, kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga. Yesus tidak pernah berhenti bekerja, bahkan sampai sekarang. Umat Kristiani dari abad ke abad – melalui kuat-kuasa Roh Kudus – telah memberi kesaksian tentang kekuatan-Nya, kasih-Nya dan kemuliaan-Nya. Misalnya, khotbah-khotbah Santo Yohanes Krisostomos [c. 345-407] di Konstantinopel menghidupkan kembali isi kitab-kitab Injil, sehingga menarik umat semakin dekat dengan Kristus. Pada saat Santo Fransiskus dari Assisi [1182-1226] merangkul kemiskinan dan menolak potensi warisan besar dari ayahnya, sebenarnya dia mengikuti bimbingan Roh Kudus dan memberi kesaksian tentang kuat-kuasa Allah untuk membawa sukacita, bahkan dalam keadaan yang paling miskin dan sulit sekali pun.

Santa Elizabeth Ann Setton [1774-1821] memberi kesaksian tentang Yesus ketika dia mengajar anak-anak miskin dan mengubah status sosialnya menjadi insan yang hidup dalam kedinaan dan kesederhanaan. Karena karya Roh Kudus dalam dirinya, dia diberdayakan untuk memberikan kesaksian yang dinamis tentang Kristus dalam peranannya sebagai seorang ibu rumah tangga, sebagai seorang ibu, seorang janda dan seorang pendidik di Amerika Serikat yang baru saja merebut kemerdekaannya dari penjajah Inggris.

Setiap hari, selagi kita menyerahkan diri kita kepada pimpinan Roh Kudus, maka kita pun dapat menambah bab-bab baru dalam cerita-cerita Injil. Yesus berjanji bahwa melalui Roh Kudus, kita akan mampu untuk melakukan hal-hal yang bahkan lebih besar daripada yang telah dilakukan oleh-Nya, apabila kita percaya dan mentaati-Nya (Yoh 14:12). Melalui diri kita, Roh Kudus  akan memampukan Yesus untuk melayani dan menyatakan kemuliaan Bapa kepada dunia pada zaman kita ini. Benarlah apa yang ditulis oleh Santo Yohanes Penginjil: “Masih banyak lagi hal-hal lain yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, kupikir dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu” (Yoh 21:25). Memang tidak mungkinlah dunia ini dapat memuat seluruh kitab yang memberi kesaksian tentang karya mulia Allah dalam kehidupan umat-Nya!

DOA: Roh Kudus, hembuskanlah nafas kehidupan-Mu ke dalam diri kami agar kami dapat memberi kesaksian Injil. Berdayakanlah kami agar dapat melakukan karya-karya yang dilakukan oleh Yesus. Semoga hidup kami dapat menjadi bab-bab baru dalam tawarikh keselamatan dari Allah. Terpujilah Allah Tritunggal Mahakudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 21:20-25), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS AKAN MEMPERBAIKI KEKURANGAN-KEKURANGAN KITA (bacaan tanggal 8-6-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-06 BACAAN HARIAN JUNI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tangal 19-5-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 6 Juni 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS JUGA MENGAJUKAN PERTANYAAN YANG SAMA KEPADA KITA MASING-MASING

YESUS JUGA MENGAJUKAN PERTANYAAN YANG SAMA KEPADA KITA MASING-MASING

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah – Jumat, 7 Juni 2019)

Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?” Jawab Petrus kepada-Nya, “Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Peliharalah anak-anak domba-Ku.” Kata Yesus lagi kepadanya untuk kedua kalinya, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku? Jawab Petrus kepada-Nya, “Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Petrus pun merasa sedih karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya, “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya, “Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Peliharalah domba-domba-Ku. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi kalau engkau sudah tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.” Hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus, “Ikutlah Aku”. (Yoh 21:15-19) 

Bacaan Pertama: Kis 25:13-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-2,11-12,19-20 

Apabila kita mau berempati dengan Petrus, mencoba untuk menempatkan diri kita dalam posisinya, barangkali kita dapat memahami rasa sedih yang dirasakan olehnya ketika Yesus yang sudah bangkit itu bertanya kepada dirinya sebanyak tiga kali, “Apakah engkau mengasihi Aku?” (Yoh 21:15-17). Pertanyaan yang diajukan Yesus sebanyak tiga kali itu sungguh membuat Petrus merasa kecil dan tentunya pedih-sakit dalam hati, namun pertanyaan-pertanyaan Yesus ini juga memberi sinyal bahwa Yesus menerima Petrus sebagai kepala para rasul (Latin: primus inter pares; yang utama dari yang sama). Afirmasi Petrus sebanyak tiga kali mengimbangi penyangkalannya sebanyak tiga kali pula terhadap Yesus sebelum penyaliban-Nya.

Inilah hasil dari pengamatan kita, namun inti masalahnya adalah bahwa Yesus menginginkan kasih dari Petrus, sebagaimana Dia menginginkan kasih kita. Setiap hari, dengan bela rasa yang sama tulusnya, Yesus bertanya kepada diri kita masing-masing, “Apakah engkau mengasihi Aku?” 

Kehidupan kita dapat dengan mudah menjadi penuh dengan rasa cemas, rasa takut dan kekurangan-kekurangan lainnya. Kita dapat begitu disibukkan dengan upaya-upaya untuk menghadapi tantangan-tantangan hidup sampai-sampai kita kehilangan fokus pada apa yang sesungguhnya merupakan persoalan yang paling penting untuk dipecahkan. Di tengah setiap kegiatan, kita harus mohon kepada Roh Kudus untuk mengingatkan kita, bahwa hal yang paling penting adalah apakah kita sungguh mengasihi Yesus.

“Kasih menutupi banyak sekali dosa” (1Ptr 4:8).  Kata-kata ini dipandang sebagai kata-kata Petrus sendiri, tentunya dengan alasan yang baik. Yesus menantang dan membujuk Petrus kembali ke dalam suatu relasi dengan diri-Nya melalui pertanyaan sederhana, “Apakah engkau mengasihi Aku?” Kasih adalah suatu kharisma ilahi yang memiliki kuasa untuk membuka hati orang-orang agar mampu menerima bahkan kasih yang lebih banyak lagi. Semakin banyak kita mengasihi Allah, semakin banyak pula kita dimurnikan dari kecenderungan-kecenderungan gelap kodrat kedosaan kita. Kasih memperluas perspektif kita dan mengangkat pikiran kita sampai kepada tataran realitas Allah. Kasih bahkan memberikan kepada kita kuasa untuk membebaskan mereka yang diperbudak oleh rasa takut.

Yesus wafat di kayu salib untuk memenangkan kasih kita, bukan ketaatan buta kita. Allah yang sama – yang menciptakan kita masing-masing dengan suatu kehendak bebas – akan mengundang kita menghadap hadirat-Nya dengan suatu pertanyaan yang bersifat terbuka (open-ended question): “Apakah engkau mengasihi Aku?” Jika kita menjawab “ya”, Dia pun mengutus Roh-Nya secara berlimpah. Kita memasuki suatu relasi yang sebenarnya direncanakan Allah sejak awal dunia ini. Jalannya tidak selalu mulus. Pada kenyataannya, Yesus mengingatkan sebelumnya kepada Petrus “bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah” (Yoh 21:19). Namun demikian kita dapat mengenal dan mengalami suatu sukacita yang istimewa kalau tinggal bersama dengan Tuhan sepanjang hidup kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku mengasihi Engkau. Tolonglah aku bertumbuh semakin dekat dengan diri-Mu, sehingga aku dapat menerima apa saja yang Engkau minta untuk kukerjakan. Aku ingin menjadi pelayan-Mu dan sahabat-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 21:15-19), bacalah tulisan yang berjudul “TIGA KALI, TIGA KALI DAN TIGA KALI” (bacaan tanggal 7-6-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-06 BACAAN HARIAN JUNI 2019.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 18-5-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 5 Juni 2019 [PERINGATAN S. BONIFASIUS, USKUP MARTIR] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DOA YANG MENGUNGKAPKAN KASIH YESUS KEPADA PARA MURID-NYA

DOA YANG MENGUNGKAPKAN KASIH YESUS KEPADA PARA MURID-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah – Kamis, 6 Juni 2019)

“Bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku melalui pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka menjadi satu dengan sempurna, agar dunia tahu bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.

Ya Bapa, Aku mau supaya, di mana pun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan. Ya Bapa yang adil, memang dunia tidak mengenal Engkau, tetapi Aku mengenal Engkau, dan mereka ini tahu bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku; dan Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka.” (Yoh 17:20-26)

Bacaan Pertama: Kis 22:30;23:6-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 16:1-2,5,7-11  

Sampai berapa jauh seseorang dapat bersikap tidak mementingkan diri sendiri? Yesus tahu bahwa tidak lama lagi tibalah saat bagi-Nya untuk menderita sengsara dan mengalami kematian yang mengerikan, namun Ia mohon kepada Bapa-Nya untuk mencurahkan kasih ilahi-Nya ke atas diri kita para murid-Nya – kasih sama yang Bapa sendiri yang berikan bagi Yesus dari sejak kekal. Dalam doa-Nya, Yesus berkata: “Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka …… supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka” (Yoh 17:26). Sungguh mengharukan dan membuat diri kita merasa “kecil” tatkala merenungkan bahwa Yesus sungguh mengasihi kita, lebih mementingkan diri kita daripada diri-Nya sendiri pada malam sebelum sengsara dan wafat-Nya itu.

Sekarang, marilah kita mengambil waktu sejenak untuk merenungkan betapa dalam Allah mengasihi Putera-Nya. Karena kasih kepada Putera-Nya itulah Allah menyerahkan seluruh ciptaan kepada Kristus: “segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia” (Kol 1:16). Allah sangat mengasihi-Nya sehingga pada hari baptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis, dengan penuh sukacita Ia membuat pengumuman: “Inilah anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Mat 3:17).

Pengalaman Yesus yang berkelanjutan dan intim akan kasih Bapa yang memotivasi setiap tindakan-Nya selagi Dia berada bersama para murid-Nya: “Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau Ia tidak melihat Bapa mengerjakannya; …… Bapa mengasihi Anak dan Ia menunjukkan kepada-Nya segala sesuatu yang dikerjakan-Nya sendiri” (Yoh 5:19-20). Yesus begitu dipenuhi dengan kasih Bapa sehingga Dia mampu merangkul segala kekejaman dan kepedihan salib untuk memenangkan keselamatan kekal bagi kita.

Oleh kuat-kuasa salib-Nya, Yesus telah menyalibkan kodrat kedosaan kita dan membebaskan kita agar dapat dipenuhi dengan kasih Allah sama yang Dia sendiri alami. Ini adalah suatu kasih yang penuh gairah, yang cukup memiliki kuasa untuk membuat lunak hati yang paling keras sekali pun dan mentransformasikan setiap orang menjadi seorang pencinta Allah. Ini adalah kasih yang bersifat all-inclusive, yang mampu mematahkan setiap penghalang berupa prasangka, penolakan dan rasa curiga yang membuat kita terpisah satu sama lain. Ini adalah kasih yang kekal yang tidak pernah gagal: Allah senantiasa tersenyum memandangi kita, Ia hanya ingin memberkati dan memperkuat diri kita apabila kita kembali kepada-Nya.

DOA: Roh Kudus, pada hari-hari menjelang Hari Raya Pentakosta, penuhilah diri setiap umat Allah dengan pengalaman akan kasih-Nya. Gantikanlah rasa takut dan keserakahan kami dengan kasih kepada Allah Tritunggal Mahakudus, sehingga kami dapat menjadi satu dengan Allah dan satu dengan semua saudari dan saudara kami. Bangkitkanlah kami sebagai saksi-saksi bagi dunia, mengundang setiap orang untuk menemukan kasih yang memiliki daya transformasi dalam diri Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 17:20-26), bacalah tulisan yang berjudul “KASIH YESUS DALAM DOA-NYA” (bacaan tanggal 6-6-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM https://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2019. 

(Tulisan adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 17-5-18 dalam situs/blog SANG SABDA. 

Cilandak, 3 Juni 2019 [PERINGATAN S. KAROLUS LWANGA DKK. MARTIR]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TETAP KUAT BERAKAR DALAM YESUS

TETAP KUAT BERAKAR DALAM YESUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Bonifasius, Uskup Martir – Rabu, 5 Juni 2019)

“Jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi pengawas untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah-Nya sendiri. Aku tahu bahwa sesudah aku pergi, serigala-serigala yang ganas akan masuk ke tengah-tengah kamu dan tidak akan menyayangkan kawanan itu. Bahkan dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang, yang dengan ajaran palsu berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar supaya mengikut mereka. Sebab itu berjaga-jagalah dan ingatlah bahwa selama tiga tahun, siang malam, aku tanpa henti-hentinya menasihati kamu masing-masing dengan mencucurkan air mata. Sekarang aku menyerahkan kamu kepada Tuhan dan kepada firman anugerah-Nya yang berkuasa membangun kamu dan menganugerahkan kepada kamu warisan yang ditentukan bagi semua orang yang telah dikuduskan-Nya. Perak atau emas atau pakaian tidak pernah aku ingini dari siapa pun juga. Kamu sendiri tahu bahwa dengan tanganku sendiri aku telah bekerja untuk memenuhi keperluanku dan keperluan kawan-kawan seperjalananku. Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Lebih berbahagia memberi daripada menerima.” Sesudah mengucapkan kata-kata itu Paulus berlutut dan berdoa bersama-sama dengan mereka semua. Lalu menangislah mereka semua tersedu-sedu dan sambil memeluk Paulus, mereka berulang-ulang mencium dia. Mereka sangat berdukacita terlebih-lebih karena ia mengatakan bahwa mereka tidak akan melihat mukanya lagi. Kemudian mereka mengantar dia ke kapal. (Kis 20:28-38)

Bacaan Injil: Yoh 17:11b-19; Mazmur Tanggapan:68:29-30.33-36.

Kis 20:28-35 merupakan bagian dari kata-kata perpisahan Paulus dengan para penatua Efesus (Kis 20:18-35). Paulus sedang dalam perjalanannya menuju Yerusalem, meskipun dia tahu sekali bahwa perjalanannya kali ini dapat berakibat pada pemenjaraan dirinya demi pewartaan Kabar Baik Yesus Kristus yang selama ini dilakukannya. Karena perjalanan ini melintas juga ke dekat kota Efesus, maka Paulus memutuskan untuk bertemu dengan para penatua Gereja di sana, agar dia dapat mengucapkan satu-dua patah kata perpisahan kepada mereka. Memang menakjubkanlah untuk melihat Paulus, yang walaupun pada waktu itu sedang menghadapi ancaman riil terhadap hidupnya sendiri, tokh dia masih saja memperhatikan orang-orang yang telah diinjili olehnya daripada kebutuhan dan hasratnya sendiri.

Paulus adalah evangelist sejati! Jelas rasul Kristus ini tidak hanya mengajarkan bahwa lebih berbahagialah memberi daripada menerima, melainkan juga mempraktekkan sendiri apa yang diajarkannya. Inilah leadership by example yang langka terlihat di hampir segala bidang, termasuk bidang keagamaan, dan yang sangat didambakan oleh ‘orang-orang biasa’ di bawah, bahkan pada zaman kita ini. Gaya kepemimpinan ini harus dimiliki oleh setiap pelayan Sabda, tanpa kecuali.

Sejak saat pertobatannya yang dramatis itu, Paulus – tentunya dengan bantuan Roh Kudus yang berdiam dalam dirinya dan selalu bertindak-tanduk di bawah bimbingan-Nya – terus-menerus berupaya  untuk memajukan kerajaan Allah. Cintakasihnya kepada Yesus merupakan motivasinya guna melakukan perjalanan ke banyak tempat untuk mewartakan Kabar Baik, sambil membuat banyak penyembuhan dan mukjizat serta tanda-heran lainnya, dan … membangun jemaat, yaitu Gereja Kristus. Perjalanan-perjalanan misionernya tidaklah selalu mudah. Berbagai kontroversi dan penganiayaan kelihatannya selalu menyertainya ke mana saja dia pergi – namun bukanlah Paulus kalau dia menjadi gentar.

Dengan penuh iman, Paulus pernah menulis: “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesengsaraan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Seperti ada tertulis: ‘Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan’  [Mzm 44:23].

Tetapi dalam semuanya itu kita lebih daripada orang-orang yang menang, melalui Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin bahwa baik maut, maupun hidup, baik melaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Rm 8:35-39). Bagi Santo Paulus, demi pewartaan Kabar Baik Yesus Kristus, segala sakit-penyakit dan penderitaan yang dialaminya memang pantas diterimanya. Bagi Paulus sangat pentinglah dan urgent-lah untuk sharing dengan orang-orang lain perihal kuasa Allah yang telah mengubah hidupnya.

Yesus berjanji bahwa apabila kita melakukan apa saja dalam melayani-Nya, maka kita akan diberikan ganjaran yang luar biasa, baik sekarang maupun di masa depan kelak. Ia malah  telah membangun dalam hati kita suatu hasrat untuk mengasihi dan melayani. Kalau begitu halnya, bagaimana seharusnya kita melayani? Tidak banyak dari kita yang dapat menjadi misionaris-misionaris keliling seperti Paulus. Namun, setiap hari menawarkan kepada kita kesempatan-kesempatan untuk membuang hasrat-hasrat pribadi kita sendiri, dan mulai melayani berbagai kebutuhan orang-orang lain di sekitar kita. Barangkali anda dapat melayani Allah dengan doa-doa syafaat untuk mereka yang sedang sakit, para pemimpin Gereja dlsb.  Mungkin anda dapat menggunakan waktu anda untuk mengunjungi anggota keluarga atau teman yang sedang berbaring sakit di rumah sakit.

Di mana pun – seturut petunjuk Roh-Nya – anda melihat ada suatu kebutuhan, penuhilah kebutuhan itu. Kita harus selalu ingat, bahwa pelayanan dapat merupakan manifestasi kasih Allah sendiri. Itulah sebabnya mengapa sangat vital-lah bagi kita semua untuk tetap kuat-berakar dalam Yesus melalui doa dan liturgi. Yakinlah, bahwa dengan Dia berdiam dalam diri kita, kita sungguh dapat ikut membangun kerajaan-Nya di atas bumi ini!

DOA: Tuhan Yesus, berikanlah kepadaku sebuah hati yang berbela rasa dan penuh kasih untuk melayani orang-orang lain. Terima kasih, ya Tuhan! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 17:11b-19), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MOHON KEPADA BAPA-NYA AGAR SUPAYA PARA MURID-NYA PUN DIKUDUSKAN DALAM KEBENARAN” (bacaan tanggal 5-6-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-06 BACAAN HARIAN JUNI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 15-5-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 3 Juni 2019 [Peringatan S. Karolus Lwanga dkk. Martir]

Sdr. F.X. Indrapradja,

DOA YESUS KEPADA BAPA-NYA UNTUK PARA MURID

DOA YESUS KEPADA BAPA-NYA UNTUK PARA MURID

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah – Selasa, 4 Juni 2019)

Demikianlah kata Yesus. Lalu Ia menengadah ke langit dan berkata, “Bapa, telah tiba saatnya; muliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu memuliakan Engkau. Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya. Inilah hidup yang kekal, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenai Yesus Kristus yang  telah Engkau utus. Aku telah memuliakan Engkau di bumi dengan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk Kulakukan. Dan sekarang, ya Bapa, muliakanlah Aku di hadirat-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.

Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia. Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku dan mereka telah menuruti firman-Mu. Sekarang mereka tahu bahwa semua yang Engkau berikan kepada-Ku itu berasal dari Engkau. Sebab segala firman yang Engkau sampaikan  kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar bahwa Aku datang dari Engkau dan mereka percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu dan segala milik-Ku adalah milik-Mu dan milik-Mu adalah milik-Ku, dan Aku telah dimuliakan di dalam mereka. Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan aku datang kepada-Mu. (Yoh 17:1-11a)

Bacaan Pertama: Kis 20:17-27; Mazmur Tanggapan: Mzm 68:10-11.20-21 

Diskursus terakhir dalam Injil Yohanes adalah sebuah doa syafaat. Dalam doa ini Yesus menegaskan bahwa saatnya telah tiba bagi diri-Nya untuk pergi kepada Bapa-Nya di surga. Yesus berdoa mohon agar Bapa memuliakan diri-Nya karena dengan melakukan hal itu Bapa-Nya pun akan dimuliakan oleh-Nya (Yoh 17:1). Bapa surgawi memberikan kepada Yesus kuasa atas segala yang hidup, dengan demikian Yesus akan memberikan hidup kekal kepada semua orang yang telah diberikan Bapa kepada-Nya. Hidup kekal dicapai melalui persatuan dengan Allah dan dengan Putera-Nya (lihat Yoh 17:3).

Yesus mendasarkan doa-Nya untuk kemuliaan ini pada kenyataan bahwa Dia telah menyelesaikan pekerjaan yang telah diberikan Bapa kepada-Nya untuk mana Dia diutus (Yoh 17:4). Jadi, sekarang Yesus sudah berada dalam tahapan memperoleh kembali kemuliaan yang dimiliki-Nya sejak dunia ada, memang hak-Nya sebagai Putera tunggal Allah (lihat Yoh 1:14), sehingga dengan demikian semua umat beriman dapat ikut ambil bagian dalam kemuliaan-Nya itu (lihat Yoh 17:24).

Yesus berdoa syafaat untuk para murid-Nya yang telah diberikan oleh Bapa kepada-Nya. Para murid tahu  benar-benar bahwa Yesus datang dari Bapa dan mereka percaya bahwa Bapa telah mengutus-Nya, dan mereka menerima firman yang disampaikan oleh-Nya kepada mereka, firman yang telah diterima-Nya dari Bapa (lihat Yoh 17:8). Oleh karena itu para murid layak untuk didoakan oleh-Nya serta diperhatikan oleh Bapa surgawi, walaupun belakangan sebagian besar dari mereka pun goyah dan meninggalkan Yesus ketika menanggung sengsara dan wafat di kayu salib. Para murid itu layak didoakan karena pertimbangan iman-kepercayaan mereka, bukan atas dasar kekuatan mereka.

Doa syafaat Yesus ini adalah bagi para murid-Nya (termasuk semua orang yang kemudian menjadi pengikut-Nya di sepanjang masa) karena mereka adalah satu-satunya yang mengenal Allah melalui Dia yang diutus Allah (lihat Yoh 17:25). Sebaliknya, dunia yang tidak mengenal dan percaya kepada Putera tidak mempunyai klaim atas doa syafaat Yesus itu (lihat Yoh 17:9). Selagi Yesus masih berada di dunia, Dia adalah Pribadi yang menjadi pengikat persatuan dan kesatuan para murid. Sekarang, karena Dia sudah mau pergi meninggalkan mereka dan pergi kepada Bapa-Nya, maka para murid harus memelihara persatuan dan kesatuan antara mereka (Yoh 17:11).

Dalam pekan menjelang Pentakosta ini, selagi kita dikonfrontasikan oleh dosa dan kegelapan dunia seperti serentetan terorisme di tanah air, marilah kita ingat-ingat akan doa syafaat Yesus bagi para murid-Nya ini (termasuk kita juga) dan bergembira penuh sukacita atas kenyataan bahwa Yesus masih terus melakukan doa syafaat bagi kita. Dia telah memberikan kepada kita Roh Kudus-Nya untuk mengingatkan kita akan hal-hal tersebut, teristimewa mengingatkan kita bahwa Dia – Tuhan dan Juruselamat kita – telah menang bagi kita semua umat beriman.

DOA: Datanglah, ya Roh Kudus, penuhilah hati umat-Mu dan nyalakanlah api cintakasih-Mu. Baharuilah muka bumi ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 20:17-27), bacalah tulisan yang berjudul “PERPISAHAN DI MILETUS DENGAN PARA PENATUA JEMAAT EFESUS” (bacaan tanggal 4-6-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-06 BACAAN HARIAN JUNI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 15-5-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 2 Juni 2019 [HARI MINGGU PASKAH VII – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

AKU TELAH MENGALAHKAN DUNIA

AKU TELAH MENGALAHKAN DUNIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Karolus Lwanga dkk. Martir – Senin, 3 Juni 2019)

Kata murid-murid-Nya, “Lihat, sekarang Engkau terus terang berkata-kata dan Engkau tidak memakai kiasan. Sekarang kami tahu bahwa Engkau mengetahui segala sesuatu dan tidak perlu orang bertanya kepada-Mu. Karena itu kami percaya bahwa Engkau datang dari Allah.” Jawab Yesus kepada mereka, “Percayakah kamu sekarang? Lihat, saatnya akan datang, bahkan sudah datang, ketika kamu akan diceraiberaikan masing-masing ke tempatnya sendiri dan kamu meninggalkan Aku seorang diri. Namun Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Aku. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.” (Yoh 16:29-33) 

Bacaan Pertama: Kis 19:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 68:2-7

Yesus mencoba mempersiapkan para murid-Nya untuk suatu peristiwa yang akan terjadi tidak lama lagi, yaitu sengsara dan kematian-Nya di atas kayu salib (Yoh 16:4). Para murid mengungkapkan keyakinan mereka bahwa Yesus sungguh datang dari Allah, namun mereka masih belum juga mampu memahami sepenuhnya makna pesan Yesus tentang penderitaan sengsara dan kematian-Nya di atas kayu salib. Yesus mengatakan kepada para murid-Nya bahwa mereka akan menderita karena kesalahpahaman orang-orang, mereka juga akan menderita kepedihan dan penolakan dari banyak orang. Namun demikian, di sisi lain para murid juga akan memperoleh sukacita karena Yesus akan melihat mereka lagi (Yoh 16:22) dan Bapa surgawi akan memberikan apa saja yang diminta para murid dalam nama Yesus (Yoh 16:23). Yesus juga meramalkan tentang “pengkhianatan” para murid terhadap diri-Nya (Yoh 16:32).

Injil Yohanes mempunyai suatu cara yang unik dalam menyampaikan pesan yang memberikan pertanda dan pada saat yang sama mengungkapkan pengharapan. Pengharapan itu mencakup kenyataan bahwa Bapa menyertai Yesus (Yoh 16:32), oleh karena itu Yesus telah mengalahkan dunia: “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yoh 16:33).

Bagaimana kiranya Kristus mengalahkan dunia? Melalui karya salib-Nya. Melalui salib Kristus, dosa, Iblis dan dunia telah dikalahkan. Oleh penderitaan sengsara, kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus telah menundukkan segala kuasa kejahatan dan kegelapan di bawah otoritas-Nya. Allah tidak pernah membuat kita membuang kebebasan kita. Oleh karena itu, walaupun Yesus telah menang, kita masih dapat memilih kejahatan dan kegelapan dalam keputusan-keputusan dan relasi-relasi kita. Akan tetapi, bilamana kita bersatu dengan Yesus – sebuah persatuan yang dimulai sejak saat kita dibaptis dan bertumbuh melalui kehidupan iman – maka kita pun dapat mengenal dan mengalami kemenangan.

Inilah pengharapan kita sebagai umat Kristiani; dalam Kristus kita berkemenangan. Kalau kita bersatu dengan Yesus Kristus, kita dapat mengalahkan rasa takut, penolakan, penganiayaan dan segala hal yang dari dunia ini yang akan merampas dari kita damai sejahtera, sukacita dan cintakasih. Selagi kita memperhatikan dengan penuh kasih segenap anggota keluarga kita, melakukan pekerjaan kita, melayani Tuhan dalam berbagai kegiatan kerasulan, menolong anggota keluarga, teman-sahabat dan komunitas di dalam mana kita adalah anggotanya, maka baiklah kita mohon kepada Roh Kudus untuk memberikan kepada kita karunia ketabahan agar kita dapat dengan tekun dalam iman dan dalam kegiatan pelayanan kita kepada Allah dan sesama kita.

DOA: Datanglah ya Roh Kudus dan berikanlah kepada kami karunia ketabahan. Jagalah jiwa kami pada saat-saat yang sulit dan berbahaya, jagalah juga segala upaya kami dalam mengejar kekudusan serta kuatkanlah kami agar dapat mengatasi kelemahan-kelemahan kami. Berikanlah kepada kami keberanian untuk melawan serangan-serangan dari para musuh kami, yaitu Iblis dan roh-roh jahat pengikutnya, agar kami tidak akan pernah dapat dikalahkan oleh mereka dan dipisahkan dari-Mu, ya Roh Kudus Allah kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 19:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “SUDAHKAH KAMU MENERIMA ROH KUDUS, KETIKA KAMU PERCAYA?” (bacaan tanggal 3-6-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-06 BACAAN HARIAN JUNI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 29-5-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 31 Mei 2019 [PESTA SP MARIA MENGUNJUNGI ELISABET] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MINTALAH MAKA KAMU AKAN MENERIMA

MINTALAH MAKA KAMU AKAN MENERIMA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Yutinus, Martir – Sabtu, 1 Juni 2019)

Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku. Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatu pun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.

Semuanya ini Kukatakan kepadamu dengan kiasan. Akan tiba saatnya Aku tidak lagi berkata-kata kepadamu dengan kiasan, tetapi terus terang memberitakan Bapa kepadamu. Pada hari itu kamu akan berdoa dalam nama-Ku. Tidak Aku katakan kepadamu bahwa Aku meminta bagimu kepada Bapa, sebab Bapa sendiri mengasihi kamu, karena kamu telah mengasihi Aku dan percaya bahwa Aku datang dari Allah. Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa.” (Yoh 16:23b-28) 

Bacaan Pertama: Kis 18:9-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 47:2-3,8-10 

“Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.” (Yoh 16:24)

Yesus, yang adalah satu dengan Bapa; mengenal hati Allah secara intim. Setiap hari, Dia ingin berbicara kepada kita tentang kasih Bapa yang begitu besar bagi kita. Dia ingin mengatakan kepada kita tentang hasrat Bapa untuk memberikan kita rahmat dan kekuatan-Nya, dan memberikan kita kebebasan, sebagai anak-anak-Nya, untuk langsung pergi kepada-Nya dengan segala permintaan kita. Oh, kita sungguh mempunyai Allah yang begitu mengasihi kita dan mahamurah. Allah tidak menempatkan penghalang apa pun bagi orang-orang untuk menemui-Nya. Dia telah melakukan segalanya untuk membuka jalan bagi kita untuk datang menghadap hadirat-Nya. Dia bahkan memberikan Anak-Nya sendiri, Yesus, agar kita dapat direkonsiliasikan dengan diri-Nya.

Walaupun demikian, kadang-kadang sikap skeptis manusiawi kita atau keragu-raguan kita untuk melenturkan sikap siap-siaga kita yang kaku akan menghalang-halangi kemampuan kita untuk menerima kasih-Nya. Kita cenderung berpikir bahwa kita perlu melakukan hal yang benar dan menyenangkan Allah sebelum Ia mengasihi kita. Dalam hal ini kita harus senantiasa mengingat kebenaran sederhana, bahwa Allah mengasihi karena Dia membuat/menciptakan kita dan mempermaklumkan kita sebagai “sangat baik” (Kej 1:31). Barangkali kita berpikir: “Allah tidak mengasihi diriku karena dosa-dosaku yang sudah segudang banyaknya ini.”  Di sini kita harus mempercayai sepenuhnya apa yang ditulis oleh Santo Paulus: “Akan tetapi, Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita dalam hal ini: Ketika kita masih berdosa, Kristus telah mati untuk kita” (Rm 5:8). Kasih-Nya kepada kita tidak pernah luntur, apa pun yang telah kita perbuat.

Thomas Hobbes mengatakan “homo homini lupus”, artinya “manusia adalah serigala bagi manusia lainnya”. Dalam dunia di mana serigala makan serigala seperti ini, maka mengakui kebutuhan kita menunjukkan bahwa kita lemah. Dengan demikian, kita menolak pikiran untuk menceritakan kepada Allah – atau bahkan mengaku kepada diri kita sendiri – betapa banyak kita membutuhkan kasih-Nya. Meskipun begitu, sesungguhnya kita semua lemah dalam banyak hal, maka kita sungguh membutuhkan kasih-Nya.

Allah rindu untuk menarik kita agar berada dekat dengan hati-Nya, untuk mendengar pengakuan kita bahwa kita sungguh membutuhkan Dia. Setiap hari kita dapat berpaling kepada-Nya dalam doa dan mohon kepada-Nya untuk menanamkan realitas kasih-Nya ke dalam hati kita. Kita dapat mendekati Dia setiap saat dan mohon pengampunan-Nya dan sentuhan kesembuhan-Nya. Mengalami kasih-Nya akan mendorong kita untuk mengikuti Dia secara lebih dekat lagi. Marilah kita membuka hati kita bagi Dia pada hari ini dalam doa dan memperkenankan Dia untuk mengisi diri kita dengan kehadiran-Nya.

DOA: Bapa surgawi, lelehkanlah apa saja dalam diri kami yang menghalangi kami menerima kasih-Mu. Kami tidak merasa malu untuk mengakui kebutuhan kami akan Dikau. Datanglah, ya Roh Kudus, dan penuhilah diri kami dengan curahan kasih-Mu pada hari Pentakosta. Semoga kami menjadi sumber air kasih-Mu bagi orang-orang di sekeliling kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 16:23b-28), bacalah tulisan yang berjudul  “MEMAHAMI KASIH ALLAH BAPA KEPADA PARA MURID YESUS” (bacaan tanggal 1-6-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-06 BACAAN HARIAN JUNI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-5-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 30 Mei  2019 [HARI RAYA KENAIKAN TUHAN – TAHUN C]  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS