Posts tagged ‘HARI BIASA PEKAN II PASKAH’

PENUH ROH DAN HIKMAT

PENUH ROH DAN HIKMAT

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Paskah – Sabtu, 4 Mei 2019)

HARI SABTU IMAM

 

Pada masa itu, ketika jumlah murid makin bertambah, timbullah sungut-sungut di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani terhadap orang-orang orang-orang Ibrani, karena pembagian keperluan sehari-hari. Kedua belas rasul itu memanggil semua murid berkumpul dan berkata, “Tidak baik jika kami melalaikan Firman Allah untuk melayani meja. Karena itu, Saudara-saudara, pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik dan penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu, dan supaya kami sendiri dapat memusatkan  pikiran dalam doa dan pelayanan Firman. Usul itu diterima baik oleh seluruh jemaat, lalu mereka memilih Stefanus, seorang yang penuh iman dan Roh Kudus, dan Filipus, Prokhorus, Nikanor, Timon, Parmenas dan Nikolaus, seorang penganut agama Yahudi dari Antiokhia. Mereka dihadapkan kepada rasul-rasul, lalu rasul-rasul itu pun berdoa dan menumpangkan tangan di atas mereka.

Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak; juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya. (Kis 6:1-7) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 33:1-2,4-5,18-19; Bacaan Injil: Yoh 6:16-21 

“Pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik dan penuh Roh dan hikmat.” (Kis 6:3)

Bacaan dari “Kisah para Rasul” hari ini adalah teristimewa tentang pengangkatan 7 (tujuh) orang diakon. Gereja yang masih muda-usia ini menghadapi krisis internal untuk pertama kalinya, yaitu ketimpangan dalam hal pembagian keperluan sehari-hari antara orang Kristiani Yahudi yang berbahasa Yunani (disebut Helenis, lihat ayat 1) dan orang Kristiani Yahudi yang berbahasa Aram dan Ibrani (disebut orang Ibrani).

Yang dimaksudkan dengan “orang Ibrani” adalah penduduk asli Yehuda dan Galilea; sedangkan “orang Helenis” adalah yang “dilahirkan di negeri-negeri lain” (diaspora; bdk. Kis 2:9-11). Kaum Helenis menganggap bahwa terjadi praktek “diskriminasi” dalam hal pembagian keperluan sehari-hari  bagi orang-orang miskin mereka (lihat Kis 6:1). Persoalan ini memang dapat menyakitkan hati mereka karena adalah kenyataan bahwa pimpinan Gereja memang hanya terdiri dari orang-orang Kristiani Yahudi Ibrani, yaitu kedua belas rasul.

Solusi persoalan yang dianjurkan oleh para rasul ialah dengan meminta orang-orang Helenis untuk memilih para pemimpin dari kalangan mereka sendiri (Kis 6:3) yang akan mengurusi keperluan sehari-hari sesame Helenis. Tujuh orang pemimpin yang dipilih ini biasanya dianggap sebagai diakon-diakon (= pelayan) yang pertama, walaupun dalam teks “Kisah para Rasul” tidak disebut sebagai diakon.

Sesungguhnya orang-orang Helenis yang dipilih menjadi para pemimpin Gereja itu juga melakukan hal-hal yang sama seperti para pemimpin dari kalangan Ibrani: mereka – a.l. Stefanus dan Filipus (lihat Kis 6:8-10 dan Kis 8:4-40) – juga mengajar, dan membuat mukjizat dan berbagai tanda heran lainnya.

Satu pelajaran dari kehidupan Gereja masa itu adalah bahwa persatuan/kesatuan Gereja mampu dipertahankan dengan melakukan pembagian tugas-tugas kepemimpnan kepada orang-orang yang berada di dalamnya. Memang pada waktu itu Stefanus diistimewakan karena “penuh iman dan Roh Kudus” (Kis 6:5). Pengajarannya menimbulkan kesulitan baginya, dan pada akhirnya diakon ini mati sebagai seorang martir Kristus (baca kisah indah Santo Stefanus dalam Kis 6:8 – 7:60).

Pada waktu kita merenungkan cara Gereja perdana dalam membuat solusi atas persoalan yang dihadapi pada masa itu, baiklah kita bertanya kepada diri kita sendiri apakah hal itu mempunyai implikasi bagi Gereja di zaman modern dalam menghadapi persoalan persatuan/kesatuan?

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Penuhilah diriku dengan iman dan Roh Kudus. Berilah aku hikmat-kebijaksanaan untuk mengetahui cara terbaik dalam melayani Allah dan sesama serta membantu membawa persatuan/kesatuan dalam Tubuh-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:16-21), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS BERKATA KEPADA PARA MURID-NYA YANG SEDANG KETAKUTAN: INILAH AKU, JANGAN TAKUT!” (bacaan tanggal 4-5-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-05 BACAAN HARIAN MEI 2019.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-4-18 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 1 Mei 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

SIAPA YANG AKAN BEROLEH HIDUP YANG KEKAL?

SIAPA YANG AKAN BEROLEH HIDUP YANG KEKAL?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Atanasius, Uskup Pujangga Gereja – Kamis,  2 Mei 2019)

 

Siapa yang datang dari atas adalah di atas semuanya; siapa yang berasal dari bumi, termasuk pada bumi dan berkata-kata tentang hal-hal di bumi. Siapa yang datang dari surga adalah di atas semuanya. Ia bersaksi tentang apa yang dilihat-Nya dan yang didengar-Nya, tetapi tidak seorang pun yang menerima kesaksian-Nya itu. Siapa yang menerima kesaksian-Nya itu, ia mengaku bahwa Allah adalah benar. Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas. Bapa mengasihi Anak dan telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya. Siapa saja yang percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi siapa saja yang tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap tinggal di atasnya.” (Yoh 3:31-36) 

Bacaan Pertama: Kis 5:27-33; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-9,17-20 

Terang dikontraskan dengan kegelapan, siapa yang percaya kepada sang Putera dikontraskan dengan mereka yang tidak taat kepada-Nya, yang  berasal dari atas dikontraskan dengan mereka yang berasal dari bumi. Yohanes Penginjil menggunakan kata-kata ini untuk memberikan kepada kita suatu pemahaman yang jelas mengenai apa yang dimaksudkan dengan dosa dan hidup sesuai dengan cara-cara atau jalan Allah. Yesus datang dari atas/surga (Yoh 3:31) dan Ia adalah utusan Allah (Yoh 3:34). Jikalau kita menerima Yesus sebagai sang Juruselamat, maka hal ini akan membawa kita kepada Bapa surgawi. Sebaliknya, meninggalkan atau menjauhkan diri dari Yesus akan membawa kita kepada kegelapan dan keterpisahan dari Allah – suatu hidup kegelapan yang bertentangan dengan apa yang Allah inginkan bagi kita sebagai anak-anak-Nya. Apabila kemarin, hari ini, dan hari esok kita tetap memilih untuk hidup dalam kegelapan, maka hal tersebut akan mendatangkan murka Allah.

Apa yang dimaksudkan dengan murka Allah itu? Murka Allah sering digambarkan dalam Perjanjian Lama sebagai kemarahan ilahi terhadap ketidaktaatan manusia. Para nabi menggunakan imaji-imaji (gambaran) yang sangat deskriptif seperti api yang berkobar-kobar untuk murka Allah itu. Kitab Suci memberikan kepada kita banyak contoh pribadi-pribadi, komunitas-komunitas, dan bahkan seluruh bangsa yang berada di bawah murka Allah. Namun demikian, tetap masih ada pengharapan. Kitab Suci senantiasa “melengkapi” murka Allah dengan janji-janji belas kasih. Allah sangat mengasihi umat-Nya. Murka-Nya diperlembut dengan kerahiman-Nya karena Dia sungguh rindu untuk menarik anak-anak-Nya dari dosa agar dapat datang kembali kepada-Nya.

Kematian Yesus di kayu salib adalah contoh yang baik sekali dari murka Allah dan sekaligus belas kasih-Nya (kerahiman-Nya). Ketidaktaatan manusia harus dihukum, namun dalam kasih dan kerahiman-Nya, Allah mengutus Putera-Nya yang tunggal untuk membayar suatu harga yang kita tidak pernah akan mampu membayarnya. Jadi, Allah membuat ketentuan bagi semua orang agar diselamatkan. Jalannya dibuka bagi Roh Kudus untuk dikaruniakan kepada kita tanpa takaran, artinya secara tidak terbatas (Yoh 3:34), dengan demikian memampukan kita untuk taat kepada Allah dan mengalami kepenuhan hidup (Yoh 3:36).

Memang akan ada suatu penghakiman apabila kita semua diperhadapkan dengan dosa-dosa kita. Akan tetapi, kita memegang janji-Nya yang terdapat dalam ayat mazmur berikut ini: “TUHAN (YHWH) membebaskan jiwa hamba-hamba-Nya, dan semua orang yang berlindung pada-Nya tidak akan menanggung hukuman” (Mzm 34:23). Oleh karena itu, marilah kita menempatkan diri kita dalam tangan-tangan Allah yang penuh kasih dan menyelaraskan kehidupan kita dengan pesan Injil berkenan dengan kasih dan ketaatan. Setiap hari, marilah kita mohon agar Roh Kudus selalu bersama kita dalam segala hal yang kita lakukan.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu untuk belas kasih-Mu kepada kami. Dengan mengutus Yesus, Engkau telah menyelamatkan kami. Kirimkanlah terang Roh Kudus-Mu agar hati kami masing-masing dapat dilunakkan, sehingga kami dapat mengikuti jalan-Mu yang dipenuhi kasih, dan kami dapat hidup setiap hari dalam kemenangan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 3:31-36), bacalah tulisan yang berjudul “SIAPA YANG DATANG DARI ATAS ADALAH DI ATAS SEMUANYA” (bacaan tanggal 2-5-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-05 BACAAN HARIAN MEI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-4-18 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 30 April 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DIPENUHI DENGAN ROH KUDUS YANG MEMBERDAYAKAN

DIPENUHI DENGAN ROH KUDUS YANG MEMBERDAYAKAN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Paskah – Rabu, 1 Mei 2019)

Lalu mulailah Imam Besar dan pengikut-pengikutnya, yaitu orang-orang dari aliran Saduki, bertindak sebab mereka sangat iri hati. Mereka menangkap rasul-rasul itu, lalu memasukkan mereka ke dalam penjara umum. Tetapi pada malam hari seorang malaikat Tuhan membuka pintu-pintu penjara itu dan membawa mereka ke luar, katanya, “Pergilah, berdirilah di Bait Allah dan beritakanlah seluruh firman hidup itu kepada orang banyak.”

Setelah mendengar pesan itu, menjelang pagi masuklah mereka ke dalam Bait Allah, lalu mulai mengajar di situ. Sementara itu Imam Besar dan pengikut-pengikutnya menyuruh Mahkamah Agama berkumpul, yaitu seluruh majelis tua-tua bangsa Israel, dan mereka menyuruh mengambil rasul-rasul itu dari penjara. Tetapi ketika pejabat-pejabat itu datang ke penjara, mereka tidak menemukan rasul-rasul itu di situ. Lalu mereka kembali dan memberitahukan, katanya, “Kami mendapati penjara terkunci rapat-rapat dan semua pengawal ada di tempatnya di depan pintu, tetapi setelah kami membukanya, tidak seorang pun kami temukan di dalamnya.”  Ketika kepala pengawal Bait Allah dan imam-imam kepala mendengar laporan itu, mereka bingung tentang rasul-rasul itu dan bertanya-tanya apa yang akan terjadi. Tetapi datanglah seseorang mendapatkan mereka dengan kabar, “Lihat, orang-orang yang telah kamu masukkan ke dalam penjara, ada di dalam Bait Allah dan mereka mengajar orang banyak.” Kemudian pergilah kepala pengawal serta orang-orangnya ke Bait Allah, lalu mengambil rasul-rasul itu, tetapi tidak dengan kekerasan, karena mereka takut, kalau-kalau orang banyak melempari mereka dengan batu. (Kis 5:17-26)

Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-9; Bacaan Injil: Yoh 3:16-21 

Berbagai peristiwa dramatis setelah Pentakosta yang terjadi dalam Gereja yang masih sangat muda itu menarik perhatian setiap orang, baik tua maupun muda, baik kaya maupun miskin, baik orang terkenal maupun orang biasa-biasa saja. Seperti kita dapat menduga sebelumnya, orang-orang yang berbeda-beda bereaksi dengan cara yang berbeda-beda pula.

Laporan-laporan tentang berbagai mukjizat dan penyembuhan serta suasana penuh sukacita yang mencirikan orang-orang Kristiani menimbulkan rasa iri hati Imam Besar  dan para pengikutnya (orang-orang Saduki; lihat Kis 5:17). Mereka mencoba untuk menghalangi semakin luasnya penyebaran “kehebohan” di tengah-tengah rakyat sehubungan dengan mukjizat-mukjizat penyembuhan lewat pelayanan para rasul. Bagaimana? Dengan cara memenjarakan rasul-rasul itu. Mengapa? Karena para pemuka agama itu terperangkap oleh logika mereka sendiri, maka mereka tidak mampu melihat realitas mendasar bahwa semua kuat-kuasa sebenarnya datang dari Allah. Apabila Allah berdiam dalam diri seseorang, maka kuat-kuasa Allah juga berdiam dalam dirinya. Kekuatan manusiawi semata yang ada dalam diri si Imam Besar (yang di mata dunia dipandang sangat berkuasa) tidak mampu apa-apa dalam menghadapi kuat-kuasa Roh Kudus yang berdiam dalam diri para rasul, yang kali ini lagi-lagi tanpa rasa takut sedikit pun mewartakan firman hidup di Bait Allah setelah mukjizat pembebasan mereka dari penjara umum.

Bagaimana episode dalam Gereja yang masih sangat muda ini berbicara kepada hidup kita sendiri hari ini? Hari ini, seperti pada setiap zaman dalam sejarah Gereja, umat beriman mengalami pencobaan dan penderitaan karena iman-kepercayaan mereka. Suriah, Sudan, Nigeria, India, Pakistan, Malaysia dan negara tercinta kita sendiri adalah segelintir bukti sejarah modern, bahwa “pengejaran” terhadap para pengikut Kristus masih terus terjadi, meskipun diejawantahkan dalam wajah, skala dan kedalaman yang berbeda-beda. Patut kita camkan juga, bahwa bukanlah maksud Allah untuk sekadar menyelamatkan kita dari kesusahan/penderitaan yang sedang kita alami. Allah juga memperkenankan hal-hal seperti itu terjadi guna menciptakan karakter-Nya sendiri dalam diri kita masing-masing. Seperti telah dicontohkan oleh negara-negara Eropa Timur pada waktu Uni Soviet sangat berkuasa, ada saat-saat di mana tekanan-tekanan atas Gereja justru menyediakan jalan yang paling pasti menuju kekudusan. Selagi kita mengalami kekuatan, arahan dan damai-sejahtera pemberian Roh Kudus yang hadir dalam diri kita, kita pun dapat bergabung dengan para rasul guna memberi kesaksian tentang kebenaran, bahwa Roh yang ada di dalam diri kita, lebih besar daripada roh yang ada di dalam dunia (lihat 1Yoh 4:4). Seperti ditulis oleh Santo Paulus: “… yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya daripada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat daripada manusia” (1Kor 1:25).

Corrie ten Boom dan Santo Maximillian Kolbe OFMConv. adalah dua orang pahlawan kamp konsentrasi Nazi Jerman pada Perang Dunia ke-II. Apabila kita amati kehidupan kedua orang ini, seorang perempuan Belanda dan seorang imam Fransiskan Conventual Polandia,  maka kita melihat bahwa kekuatan dan keberanian mereka bersumber pada pemahaman mereka akan Injil dan penghayatan hidup Injili, juga cinta mereka yang mendalam kepada Allah serta pengandalan diri semata-mata kepada-Nya. Di tengah-tengah penderitaan mereka sendiri, masih saja mereka mampu untuk menjadi perpanjangan tangan-kasih Allah bagi teman-teman dalam kamp konsentrasi, memanifestasikan iman yang memberi kehidupan dan kemenangan kepada siapa saja yang percaya. Inilah iman yang kita telah warisi, dan iman ini dapat memberdayakan orang-orang yang paling rendah sekali pun dengan kekuatan, pengharapan dan sukacita yang lebih besar.

DOA: Yesus, Tuhanku dan Allahku. Datanglah dan penuhilah diriku dengan Roh Kudus-Mu, agar dalam kelemahanku aku menjadi kuat. Berikanlah kepadaku sukacita dan kemenangan yang menanti-nantikan mereka yang mengikuti jejak-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 3:16-21), bacalah tulisan yang  berjudul “KARENA ALLAH BEGITU MENGASIHI DUNIA INI” (bacaan tanggal 1-5-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-05 BACAAN HARIAN MEI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-4-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 29 April 2019 [Peringatan S. Katarina dr Siena, Perawan Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DEMIKIANLAH HALNYA DENGAN TIAP-TIAP ORANG YANG LAHIR DARI ROH

DEMIKIANLAH HALNYA DENGAN TIAP-TIAP ORANG YANG LAHIR DARI ROH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Paskah – Selasa, 30 April 2019)

Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali. Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh.” Kata Nikodemus kepada-Nya, “Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?” Jawab Yesus, “Engkau guru orang Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal itu? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, kami berkata-kata tentang apa yang kami ketahui dan kami bersaksi tentang apa yang kami lihat, tetapi kamu tidak menerima kesaksian kami. Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata-kata kepadamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya, kalau Aku berkata-kata kepadamu tentang hal-hal surgawi? Tidak ada seorang pun yang telah naik ke surga selain dia yang telah turun dari surga, yaitu Anak Manusia.

Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya beroleh hidup yang kekal. (Yoh 3:7-15) 

Bacaan Pertama: Kis 4:32-37; Mazmur Tanggapan: Mzm 93: 1-2,5 

Apa yang dimaksudkan dengan “lahir dari Roh” (Yoh 3:8)? Barangkali cara terbaik untuk memahami arti ungkapan itu adalah dengan melihat orang-orang yang lahir dari Roh.

Sebelum Yesus naik ke surga, Ia bersabda kepada para rasul/murid, “Kamu akan menerima kuasa-Nya bilamana Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-saksi-Ku” (Kis 1:8). Para murid kepada siapa Yesus membuat janji yang indah ini adalah sekelompok orang-orang yang lemah dan sedang dihinggapi rasa takut. Kelihatannya mereka tidak melakukan pelayanan apa pun sementara mereka menanti-nantikan dipenuhinya janji di atas, di ruang atas di Yerusalem. Akan tetapi, pada waktu Roh Kudus datang ke atas mereka pada hari Pentakosta, mereka pun ditransformasikan menjadi saksi-saksi Kristus yang berani. Akhirnya mereka mewartakan Injil ke seluruh dunia, bahkan dengan risiko dibunuh sebagai martir-martir.

Demikian pula, Saulus dari Tarsus mengejar dan menganiaya umat Kristiani sampai saat Kristus yang bangkit menampakkan diri kepadanya dan seorang Kristiani yang bernama Ananias berdoa baginya “agar dipenuhi dengan Roh Kudus” (Kis 9:17). Hal ini mengubah arah kehidupan Saulus. Berganti nama menjadi Paulus, ia menjadi seorang saksi Kristus yang berani, menderita dan pada akhirnya mati demi iman-kepercayaannya.

Sepanjang sejarah Gereja kita melihat begitu banyak umat (baik orang-orang kudus yang resmi maupun umat biasa) telah ditransformasikan oleh Roh Kudus. Sebagaimana halnya dengan murid-murid Yesus yang awal, kita seringkali merasa tak berdaya apabila berhadapan dengan situasi di mana kita harus mensyeringkan/mewartakan Injil Yesus Kristus. Barangkali hal ini disebabkan karena kita menggantungkan diri pada kekuatan kita sendiri, bukannya mengandalkan diri pada kuasa Roh Kudus.

Berita baiknya adalah, bahwa Roh Kudus yang sekitar 2.000 tahun lalu turun atas para rasul pada hari Pentakosta, dan yang turun atas umat Kristiani pada segala zaman juga tersedia bagi kita masing-masing, hari ini dan di sini juga. Roh Kudus ini ingin memberdayakan kita. Oleh karena itu, marilah kita memohon kepada Roh Kudus setiap hari agar memenuhi diri kita dan membuat kita menjadi pewarta-pewarta yang berani dari Kabar Baik Yesus Kristus.

DOA: Bapa surgawi, aku mengakui kelemahanku apabila terpisah dari-Mu. Aku membutuhkan Roh Kudus-Mu untuk memampukan diriku untuk menjalani kehidupan yang menyenangkan-Mu. Aku ingin dipenuhi lagi dengan Roh Kudus-Mu. Aku ingin diberdayakan oleh Roh-Mu, sehingga dengan demikian aku dapat menjadi lebih serupa dengan Putera-Mu dan menjadi saksi-Nya yang berani. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 3:7-15), bacalah tulisan yang berjudul “ROH KUDUS INILAH YANG AKAN MENYATAKAN SIAPA YESUS SEBENARNYA” (bacaan tanggal 30-4-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM https://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-4-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 29 April 2019 [Peringatan S. Katarina dr Siena]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

 

DILAHIRKAN DARI AIR DAN ROH

DILAHIRKAN DARI AIR DAN ROH

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Peringatan S. Katarina dr Siena, Perawan Pujangga Gereja – Senin, 29 April 2019)

Ada seorang Farisi yang bernama Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi. Ia datang pada waktu malam kepada Yesus dan berkata, “Rabi, kami tahu bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorang pun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya.” Yesus menjawab, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika seseorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Kata Nikodemus kepada-Nya, “Bagaimana mungkin seseorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?” Jawab Yesus, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika seseorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Apa yang dilahirkan secara jasmani bersifat jasmani dan apa yang dilahirkan dari Roh bersifat rohani. Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali. Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh. (Yoh 3:1-8) 

Bacaan Pertama: Kis 4:23-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 2:1-9

Nikodemus, seorang Farisi dan anggota Sanhedrin, datang menemui Yesus di malam hari. Orang Yahudi yang “saleh” ini menyadari bahwa Yesus adalah “seorang guru (rabi) yang diutus Allah” (Yoh 3:2), namun ia datang untuk lebih mengenal Yesus secara lebih mendalam lagi. Yesus menggiring percakapan langsung ke inti masalahnya ketika Dia berkata kepada Nikodemus, “Jika seseorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat kerajaan Allah” (Yoh 3:3). Ketika Nikodemus bertanya bagaimana mungkin seseorang dilahirkan, kalau ia sudah tua; dapatkah ia masuk ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi, maka Yesus menjawab bahwa jika seseorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah (Yoh 3:4-5).

Gereja telah sampai kepada pemahaman atas kata-kata Yesus di atas ini sebagai sebuah refleksi atas baptisan dan iman. Hidup Allah diberikan kepada kita pada waktu baptisan, namun kita tetap perlu memberi tanggapan kepada Allah dalam iman agar supaya kehidupan ini bertumbuh. Yang kita terima sebagai sebutir benih dalam baptisan perlu diberi asupan-bergizi dengan suatu “hidup-iman” sehingga benih itu dapat bertunas, bertumbuh dan berbuah. Tanggapan kita terhadap Allah perlu mencakup upaya-upaya kita untuk menempatkan diri kita dalam suatu posisi yang siap menerima kehidupan yang dianugerahkan Allah sendiri – seperti keiikut-sertaan aktif dan seringkali dalam liturgi dan sakramen-sakramen, doa pribadi dan pembacaan serta permenungan sabda Allah dalam Kitab Suci. Kalau tidak demikian halnya, maka iman kita tidak akan bertumbuh menjadi matang.

Yesus menekankan sifat radikal dari transformasi yang terjadi dalam diri kita sementara hidup-Nya bertumbuh dalam diri kita dengan mengkontraskan antara “jasmani” (“daging”) dan “roh” (Yoh 3:6; 6:63).  Hasrat-hasrat kedosaan dari kedagingan kita dan bujukan memikat dunia ini harus disingkirkan agar hidup Allah dapat bertumbuh dalam diri kita (lihat Rm 6:3-11). Hal ini tidaklah berarti sekadar membuktikan kekuatan kehendak kita untuk melawan dosa, melainkan merangkul Kristus yang ditinggikan di atas kayu salib untuk mengalahkan dosa dan maut (baca Yoh 3:14-15).

Nikodemus mengakui Yesus sebagai seorang guru yang diutus Allah, namun ia tidak dapat memahami kedalaman karya Allah dalam diri Yesus (Yoh 3:2-4). Akan tetapi mereka yang “dilahirkan dari atas” membuka diri mereka bagi karya Allah melalui Roh Kudus yang menyatakan kebenaran Allah. Orang-orang seperti itu memperkenankan karya Allah mulai pada saat baptisan sampai mencapai kematangan sehingga mereka menajdi rohani (spiritual) dan lebih mampu dalam mengenal gerakan Roh dalam rangka mengetahui kehendak Allah. Roh Kudus yang kita terima pada waktu baptisan dan krisma (penguatan) menyatakan pikiran Allah bagi kita dan menolong kita untuk hidup sebagai umat-Nya (1Kor 2:12-16).

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami untuk senantiasa bersyukur atas rahmat baptisan kami. Ajarlah kami untuk menanggapi Engkau dalam iman sehingga hidup baru yang Kauberikan dapat bertumbuh mencapai kepenuhannya dalam diri kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama (Kis 4:23-31), bacalah tulisan dengan judul “KITA PATUT MENELADANI PRAKTEK DOA MEREKA” (bacaan tanggal 29-4-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-04 BACAAN HARIAN APRIL 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 9-4-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 27 April 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

UNDANGLAH YESUS KE DALAM PERAHU KEHIDUPAN KITA

UNDANGLAH YESUS KE DALAM PERAHU KEHIDUPAN KITA

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Paskah – Sabtu, 14 April 2018)

Ketika hari mulai malam, murid-murid Yesus pergi ke danau, lalu naik ke perahu dan menyeberang ke Kapernaum. Hari sudah gelap dan Yesus belum juga datang mendapatkan mereka, sementara laut bergelora karena tiupan angin kencang. Sesudah mereka mendayung kira-kira lima atau enam kilometer jauhnya, mereka melihat Yesus berjalan di atas air mendekati perahu itu. Mereka pun ketakutan. Tetapi Ia berkata kepada mereka, “Inilah Aku, jangan takut!” Karena itu, mereka mau menaikkan Dia ke dalam perahu, dan seketika itu juga perahu itu sampai ke pantai yang mereka tuju. (Yoh 6:16-21) 

Bacaan Pertama: Kis 6:1-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:1-2,4-5,18-19 

Jika kita mengenang suatu peristiwa berbahaya yang pernah kita hadapi di masa lalu, maka kita akan langsung memahami pengalaman para rasul (murid) di atas perahu mereka di tengah-tengah air danau yang bergelora karena tiupan angin kencang. Situasi mencekam ini ditambah lagi dengan suatu pengalaman yang bukan biasa-biasa: “melihat seorang manusia sedang berjalan di atas air” yang sedang diterpa badai itu, dan orang itu sedang mendekati perahu mereka. Bayangkanlah, seandainya apa yang mereka sedang perhatikan itu sekali-kali diterangi oleh cahaya, kemudian gelap lagi seperti yang sering terjadi di atas panggung teater. Maka, tidak mengherankanlah apabila para murid Yesus itu ketakutan (Yoh 6:19). Semua itu seperti adegan dalam film thriller (horror?) saja!

Kita semua tentu mengenal benar rasa takut atau ketakutan itu – dari yang kecil-kecil sampai kepada rasa cemas yang melumpuhkan. Dalam Kitab Suci diungkapkan bahwa Iblis memanipulasi manusia melalui rasa takut kita akan maut. Misalnya, penulis “Surat kepada Orang Ibrani” menyatakan: “Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan turut mengalami keadaan mereka, supaya melalui kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis yang berkuasa atas maut. Dengan demikian, Ia membebaskan pula mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan karena takutnya kepada maut” (Ibr 2:14-15).

Pemikiran bahwa ketakutan kita dapat membuka pintu bagi si Iblis untuk mengikat kita, sesungguhnya dapat lebih mengkhawatirkan kita lagi. Jadi, bagaimana cara yang terbaik bagi kita untuk mengatasi masalah ketakutan ini? Marilah kita kembali kepada Kitab Suci di mana tercatat bahwa Yesus, “model” kita, juga mengalami rasa takut: “Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan air mata kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan” (Ibr 5:7; bdk. Mat 26:36-46; Mrk 14:32-42; Luk 22:39-46). Yesus selalu membiarkan rasa takutnya menggerakkan diri-Nya kepada doa yang lebih mendalam dan iman yang lebih kuat lagi kepada Bapa-Nya (lihat Yoh 12:27-28).

Nah, Yesus menginginkan agar kita pun memiliki iman yang sama kepada kemampuan Bapa surgawi untuk melindungi kita. Tanpa iman ini kita tetap akan tetap terikat oleh ketakutan dan kecemasan. Lebih parah lagi, tanpa iman kepada “seorang” Allah yang mengasihi, maka pada akhirnya kita hanya dapat mengandalkan segalanya kepada diri kita sendiri. Dan semakin lama kita hidup, semakin sadar pula kita akan betapa rentan diri kita ini. Ujung-ujungnya kita dilanda rasa takut terhadap kondisi kesehatan kita, “keamanan” keuangan (financial security) kita, orang-orang dalam kehidupan kita, apa yang dipikirkan orang-orang lain tentang diri kita, dlsb.

Barangkali kita merasa terperangkap dalam suatu situasi tanpa harapan, dan tidak ada seorang pun yang mau dan mampu menolong kita. Bukankah situasi kita yang seperti ini tidak banyak berbeda dengan yang dihadapi oleh para murid Yesus seperti digambarkan dalam bacaan kita hari ini? Barangkali pemikiran bahwa Allah berada di tengah-tengah angin ribut pun menakutkan bagi kita. Apa pun yang ada dalam pikiran kita, marilah kita mencoba menenangkan hati kita dan mendengarkan kata-kata yang diucapkan Yesus: “Inilah Aku, jangan takut!” (Yoh 6:20). Undanglah Yesus ke dalam “perahu kehidupan kita”, maka Ia akan membawa anda ke pantai dengan selamat (lihat Yoh 6:21).

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku yang sedang mengalami badai kehidupan ini. Tolonglah aku agar dapat mendengar suara-Mu. Naiklah masuk ke dalam perahu kehidupanku, tenangkanlah pikiranku dan bawalah aku dengan aman ke pantai yang dipenuhi dengan damai-sejahtera dan sukacita dari-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 6:1-7), bacalah tulisan yang berjudul “PENUH ROH DAN HIKMAT” (bacaan tanggal 14-4-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-04 BACAAN HARIAN APRIL 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 29-4-17 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 11 April 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MUKJIZAT PENGGANDAAN ROTI DAN IKAN

MUKJIZAT PENGGANDAAN ROTI DAN IKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Paskah – Jumat, 13 April 2018)

Sesudah itu Yesus berangkat ke seberang Danau Galilea, yaitu Danau Tiberias. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka melihat mukjizat-mukjizat yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit. Lalu Yesus naik ke atas gunung dan duduk di situ dengan murid-murid-Nya. Dan Paskah, hari raya orang Yahudi, sudah dekat. Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat bahwa orang banhyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus, “Di mana kita dapat membeli roti, supaya mereka dapat makan?” Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu apa yang hendak dilakukan-Nya. Jawab Filipus kepada-Nya, “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.” Salah seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya, Di sini ada seorang anak yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apa artinya itu untuk orang sebanyak ini?” Kata Yesus, “Suruhlah orang-orang itu duduk.” Adapun di tempat itu banyak rumput. Lalu duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya. Sesudah itu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dilakukan-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. Setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang.” Mereka pun mengumpulkannya, dan mengisi dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan. Ketika orang-orang itu melihat tanda mukjizat yang telah diperbuat-Nya, mereka berkata, “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia.”

Karena Yesus tahu bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir lagi ke gunung, seorang diri. (Yoh 6:1-15) 

Bacaan Pertama: Kis 5:34-42; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14 

Ada yang mengatakan, bahwa makan sambil berdiri atau berjalan kian kemari dapat menyebabkan gangguan dalam pencernaan. Oleh karena itu tidak mengherankanlah apabila Yesus memerintahkan para murid-Nya untuk menyuruh orang banyak duduk. Memang demikianlah halnya: tubuh kita harus dalam keadaan duduk dan rileks agar makanan yang masuk dapat dicerna dengan baik. Hal yang sama berlaku untuk pencernaan secara rohaniah (spiritual). Kita harus rileks dan tidak sibuk kesana kemari agar supaya Yesus dapat memberi makanan kepada roh kita. Kita dapat menderita sakit pencernaan spiritual apabila kita hanya berdoa sementara disibukkan dengan pekerjaan kita. Boleh saja kita mengatakan “karyaku adalah doaku”, tetapi doa dalam keheningan di tengah quality time kita harus tetap dilakukan. Mengapa? Karena pengalaman banyak orang mengatakan bahwa betapa sulit jadinya untuk mendengar suara Allah dan beristirahat dalam kasih-Nya apabila setiap saat dari hari-hari kehidupan kita hanya dipenuhi dengan kesibukan.

Orang banyak yang diberi makanan oleh Yesus mengikuti Dia ke atas gunung karena mereka lapar akan jawaban-jawaban Yesus – akan pengharapan, tujuan, dan perjumpaan pribadi dengan kasih Allah. Mereka mempunyai banyak kebutuhan: Ada yang sakit, ada juga yang sedang tertindas. Bagi orang-orang lain, untuk survive dari hari ke hari saja sudah sulit. Akan tetapi, Yesus melihat dan merasakan kebutuhan-kebutuhan mereka semua dan menjawabnya satu persatu pada setiap tingkat. Ia minta agar para murid-Nya menyuruh orang banyak untuk duduk dan beristirahat, sehingga dengan demikian Ia dapat memberi mereka makan. Ia memberi orang banyak itu makan untuk memperkuat mereka dalam perjalanan pulang mereka ke rumah masing-masing. Ia mewartakan kabar baik dari Kerajaan Allah kepada orang banyak itu. Ia bahkan menyembuhkan mereka di bidang fisik, spiritual dan emosional.

Lebih dari dua ribu tahun kemudian, di abad ke-21 ini, kehidupan kita masih banyak menuntut. Penderitaan masih hadir di sekeliling kita dalam berbagai bentuknya. Setiap orang menghadapi berbagai kebutuhan dan tekanan yang harus diatasi. Memang tidak sulit untuk merasakan  bagaimana pikiran kita bergerak dengan cepat, bahkan ketika kita mencoba untuk diam dan berdoa secara hening. Yesus tetap meminta kita untuk duduk, membuat tenang pikiran kita dan menerima dari Dia.

Satu cara yang dapat menolong kita dalam berdoa adalah dengan menggunakan imajinasi. Kita dapat membayangkan berada bersama Yesus, para rasul dan orang banyak di atas gunung itu. Kita dapat membayangkan sedang memperhatikan Yesus yang memandang ke surga selagi Dia memohon kepada Bapa-Nya di surga untuk memberkati lima roti jelai dan dua ekor ikan yang tersedia. Kemudian kita membayangkan didatangi oleh salah seorang rasul yang menawarkan roti dan ikan sesuai dengan keinginan kita. Sekarang, marilah kita mohon agar Yesus memenuhi diri kita dengan damai sejahtera dan sukacita sementara Dia berjanji untuk menolong kita agar setiap kebutuhan kita dipenuhi.

DOA: Tuhan Yesus, aku memberikan kepada-Mu segala keprihatinan yang ada dalam pikiranku sekarang. Tolonglah aku agar dapat membuat tenang hatiku sehingga aku pun dapat duduk di dekat kaki-Mu dan ikut ambil bagian dalam perjamuan-Mu sepanjang hidupku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 5:34-42), bacalah tulisan yang berjudul “SUATU MOMEN PENTING DALAM KEHIDUPAN GEREJA” (bacaan tanggal 13-4-18), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-04 BACAAN HARIAN APRIL 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 28-4-17 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 8 April 2018 [HARI MINGGU PASKAH II – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS