Posts tagged ‘HARI BIASA PEKAN I PRAPASKAH’

KITA TIDAK AKAN MAMPU MENGASIHI MUSUH KITA APABILA KITA HANYA MENGANDALKAN KEKUATAN KITA SENDIRI

KITA TIDAK AKAN MAMPU MENGASIHI MUSUH KITA APABILA KITA HANYA MENGANDALKAN KEKUATAN KITA SENDIRI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Prapaskah – Sabtu, 16 Maret 2019)

Kamu telah mendengar yang difirmankan, Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu: Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga, yang menerbitkan matahari  bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu, haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna.” (Mat 5:43-48) 

Bacaan Pertama: Ul 26:16-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:1-2,4-5,7-8  

“Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” (Mat 5:44)

Apakah yang dimaksudkan oleh Yesus di sini? Tidak peduli apakah yang dilakukan seseorang atas diri kita, tidak peduli bagaimana orang itu memperlakukan kita, tidak peduli sampai berapa dalam dia telah menghina kita, melukai hati kita dan/atau membuat kita sedih, kita tidak pernah boleh memperkenankan setiap macam kepahitan terhadap orang itu melanda hati kita, melainkan memandang orang itu dengan kemauan baik dan mendoakan yang terbaik bagi orang itu. Yesus mengajarkan/memerintahkan kepada para murid-Nya untuk mengasihi siapa saja, kasih yang bersifat praktis dan asli yang keluar dari dalam hati (misalnya ungkapan seperti ini: “berdoalah bagi mereka”). Dengan cintakasih sedemikian, seorang pengikut/murid Yesus menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang anak sejati dari Allah, Allah yang tidak pandang bulu dalam mencurahkan berbagai kebaikan kepada umat manusia, orang baik ataupun jahat. Yang dimaksudkan sebagai “musuh Allah” pada zaman Yesus adalah orang-orang non Yahudi (baca: kafir) atau orang-orang Yahudi yang tidak menepati hukum Taurat, dengan demikian dinilai pantas untuk diasingkan dari urusan orang Yahudi yang setia.

Bacaan ini menunjukkan kepada kita ajaran Yesus yang sungguh revolusioner: mengasihi musuh-musuh kita! Ini adalah puncak (antitesis keenam) dari serangkaian antitesis sebelumnya yang dimulai pada Mat 5:21. Apakah Yesus memaksudkan agar kita  mengasihi musuh-musuh kita dengan cara yang sama kita mengasihi para anggota keluarga kita atau sahabat-sahabat kita? Cintakasih kita kepada para sahabat kita adalah sesuatu yang lahir dari emosi-emosi hati kita. Secara normal kita memiliki perasaan cintakasih di bagian terdalam diri kita, namun mengasihi seorang musuh adalah sesuatu yang menyangkut hati. Jadi, lebih daripada sekadar masalah kehendak. Ini adalah sesuatu di mana kehendak kita harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Ini adalah suatu determinasi pikiran kita untuk mengasihi mereka yang sebenarnya kita tidak sukai dan yang mungkin juga tidak menyukai kita.

Sesungguhnya kita tidak akan pernah dapat mengembangkan cintakasih seperti ini apabila kita hanya mengandalkan kekuatan kita sendiri. Kita perlu minta kepada Yesus untuk memberikan kepada kita rahmat yang akan memampukan kita untuk mengatasi kecenderungan alami kita untuk marah dan memendam kepahitan, dan menumbuhkan kemauan baik terhadap musuh-musuh kita. Hanya apabila Kristus hidup dalam hati kita, maka kepahitan akan mati dan cintakasih ini bersemi dalam kehidupan kita.

Walaupun kita tidak boleh membiarkan kepahitan dan kemarahan melanda hati kita, cintakasih Kristiani menuntut kita untuk memperkenankan orang-orang (musuh-musuh kita) melihat dan menyadari kesalahan-kesalahan mereka. Tidak seorang pun dapat mengatakan bahwa orangtua tertentu sungguh mengasihi anaknya apabila dia membiarkan anaknya melakukan apa saja yang dikehendakinya. Apabila kita memandang seorang pribadi dengan cintakasih Kristiani, hal itu berarti bahwa kita memperkenankan dia menyadari akan kesalahan-kesalahannya, dan kita melakukannya dengan pasti, bukan untuk membalas dendam melainkan untuk membantu membuat dirinya menjadi seorang pribadi yang lebih baik.

Bacaan Injil hari ini berurusan dengan relasi pribadi kita dengan keluarga kita, dengan para sahabat kita, para tetangga kita dan orang-orang yang kita temui setiap hari. Tentu saja hal ini jauh lebih mudah untuk diucapkan mulut/bibir kita daripada diwujud-nyatakan dalam perbuatan. Bukankah jauh lebih mudah bagi kita untuk mengatakan bahwa tidak boleh ada peperangan antara bangsa-bangsa daripada duduk bersama seorang musuh lama kita yang telah begitu menyakiti hati kita?

Pesan Injil bagi kita semua adalah: cintakasih kita kepada anggota keluarga yang paling dekat adalah sesuatu yang natural dalam diri kita, tertanam dalam perasaan/emosi kita. Namun untuk mengarahkan pikiran kita sampai mengasihi seseorang – apalagi seorang musuh – sungguh sulit, dan menjadi lebih sulit lagi apabila mencapai tingkatan/tataran hati.

Antitesis terakhir – mengasihi musuh kita – menunjukkan kepada kita bahwa prinsip fundamental yang mendasari tuntutan-tuntutan Yesus adalah cintakasih: suatu cintakasih kepada Allah yang diterjemahkan ke dalam suatu ketaatan penuh kesetiaan kepada kehendak-Nya, cintakasih kepada sesama yang tidak mengenal diskriminasi. Singkatnya, seorang murid Yesus dipanggil untuk meneladan Kristus Yesus: menjadi alter Christus! 

Keseluruhan bacaan Injil yang berisikan 6 (enam) antitesis ini (Mat 5:21-48) ditutup dengan sabda Yesus yang kiranya merupakan tuntutan-Nya yang paling tinggi, yaitu untuk menjadi “sempurna sama seperti Bapa yang di surga sempurna” (lihat Mat 5:48). “Sempurna” di sini bukanlah berarti suatu status kemurnian moral, melainkan berorientasi pada tindakan. Seorang murid Yesus “sempurna” apabila dia memberikan segalanya untuk tetap setia pada apa yang diminta Allah dari dirinya (lihat Mat 19:21).

DOA: Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Tolonglah kami agar mau dan mampu mengasihi orang-orang yang kami pandang sebagai musuh. Oleh Roh Kudus-Mu bentuklah kami sehingga dapat menjadi pribadi-pribadi yang  pantas untuk menyapa Allah sebagai Bapa kami. Amin.  

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 5:43-48), bacalah tulisan yang berjudul “HANYA PARA PEMBAWA DAMAI YANG DAPAT DINAMAKAN ANAK-ANAK ALLAH” (bacaan tanggal 16-3-19) dalam situs/blog  SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-03 BACAAN HARIAN MARET 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 24-2-18 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 13 Maret 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MARILAH KITA BERPEGANG TEGUH PADA PERSATUAN DAN KESATUAN KRISTIANI

MARILAH KITA BERPEGANG TEGUH PADA PERSATUAN DAN KESATUAN KRISTIANI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari biasa Pekan I Prapaskah – Jumat, 15 Maret 2019)

Aku berkata kepadamu: Jika kamu tidak melakukan kehendak Allah melebihi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.

Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang mencaci maki saudaranya harus dihadapkan ke Mahkamah Agama, dan siapa yang berkata: Jahil! Harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.

Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu ini jangan menyerahkan engkau kepada pengawal dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai habis. (Mat 5:20-26) 

Bacaan Pertama: Yeh 18:21-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 130:1-8

Tafsir Yesus tentang hukum Musa tentunya telah mengejutkan para pendengar-Nya. Bagi Yesus, kemarahan, caci-maki dan penghinaan dengan mengata-ngatai “jahil” sudah berada di luar batas, sudah kelewatan. Bukan hanya apa yang kita lakukan yang penting, melainkan juga apa yang ada dalam pikiran kita. Sekarang, mengapa Yesus  begitu menekankan pentingnya relasi atau hubungan? Karena kita adalah anak-anak Allah, dengan kita bersaudara satu sama lain. Kita begitu erat diikat bersama, sehingga setiap perpecahan akan merusak seluruh tubuh Kristus.

Sebagai orang-orang Kristiani, kita ditantang untuk memelihara, melestarikan dan membangun persatuan dan kesatuan kita dalam Kristus. Tantangan ini berlaku sampai kepada setiap interaksi dengan orang-orang lain. Misalnya, bagaimana kita berelasi dengan para anggota keluarga kita sendiri, para tetangga, dan para kolega kita di tempat kerja? Apakah kita baik hati? Apakah kita memperlakukan mereka dengan adil? Apakah kita memperhatikan mereka yang mempunyai berbagai kebutuhan, teristimewa saudari dan saudara kita yang miskin dan berada dalam kesendirian.

Kita begitu erat berhubungan satu sama lain dalam tubuh Kristus (Gereja), sehingga dosa apa saja yang kita komit mempunyai konsekuensi-konsekuensi tidak hanya atas diri kita, melainkan terhadap orang-orang lain juga. Persatuan dan kesatuan kita bersifat integral sehubungan dengan kehidupan dalam Kristus! Kita hanya dapat menjadi pihak yang turut ambil bagian dalam kehidupan Tritunggal Mahakudus (Trinitas) sejauh kita terikat satu sama lain. Inilah rencana Bapa surgawi bagi kita semua. Di lain pihak, apa bila kita berdosa melawan sesama kita atau melawan Allah, maka kita mengaburkan relasi kita dengan para anggota tubuh Kristus lainnya. Celakanya, perseteruan kita dengan sesama dan/atau Allah inilah yang diinginkan oleh Iblis. Itulah sebabnya, mengapa pengampunan dan perdamaian (rekonsiliasi) itu penting.

Dengan demikian, marilah kita berpegang teguh pada persatuan dan kesatuan Kristiani, satu-satunya pengharapan kita akan sukacita dan damai-sejahtera. Seringkali kesombongan dan kekerasan kepala dan hati kita menghalangi kita untuk mengakui keikutsertaan atau peranan negatif kita yang telah mengakibatkan suatu relasi menjadi rusak,  bahkan sampai berantakan. Kita harus belajar untuk menggantungkan diri pada Allah guna menolong kita melihat dengan mata yang baru situasi-situasi yang kita hadapi, teristimewa relasi-relasi. Marilah kita mohon kepada-Nya untuk menunjukkan kepada kita apa yang dapat kita lakukan untuk menjadi agen-agen guna tercapainya rekonsiliasi,  bukan perpecahan.

Bahkan dalam situasi-situasi di mana rekonsiliasi terasa sulit untuk tercapai, kita tetap dapat membuat suatu perbedaan dengan menyerahkan segala perasaan yang mengandung kepahitan dan penolakan kepada Allah, dan mohon kepada-Nya dari kedalaman hati kita agar mengampuni kita.

DOA: Roh Kudus, inspirasikanlah dalam diriku suatu hasrat mendalam untuk bersatu secara dekat serta erat dengan saudari-saudari dan saudara-saudaraku. Persatukanlah semua orang Kristiani ke dalam sebuah keluarga dan ciptakanlah ikatan cintakasih yang tidak dapat dipatahkan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini, bacalah tulisan yang berjudul “JIKA KITA MARAH TERHADAP SAUDARI-SAUDARA KITA” (bacaan  tanggal 15-3-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 19-03 BACAAN HARIAN MARET 2019). 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 23-2-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 12 Maret 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MINTALAH, MAKA AKAN DIBERIKAN KEPADAMU

MINTALAH, MAKA AKAN DIBERIKAN KEPADAMU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari biasa Pekan I Prapaskah – Kamis, 14 Maret 2019)

“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetuk, baginya pintu dibukakan. Adakah seorang dari antara kamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan? Jadi, jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Mat 7:7-12) 

Bacaan Pertama: Est 4:10a,10c-12,17-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 138:1-3,7-8

“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu” (Mat 7:7). Sungguh, ini adalah sebuah janji besar! Tanpa syarat ini atau itu yang tidak mengandung kepastian, Yesus mengatakan kepada kita bahwa Allah Bapa akan memberikan kepada kita apa saja yang kita minta dalam doa, apabila kita bertekun dalam doa permohonan kita. Allah kita adalah Allah yang Mahamurah. Kemurahan hati-Nya tak terbatas. Ia memberi, memberi dan memberi. Namun pada saat yang bersamaan, Ia ingin agar kita belajar bagaimana seharusnya meminta, mencari dan mengetuk. Mengapa? Apakah karena Dia ingin menonton kita berjuang dan bergumul untuk memperoleh rahmat-Nya? Samasekali tidak! Sebaliknya, Yesus tahu bahwa dalam proses permohonan yang dilakukan dalam ketekunan dan penuh kepercayaan, kita mampu mendobrak halangan-halangan berupa ketidakpercayaan, keragu-raguan, ketidakpedulian dlsb.

Sekarang masalahnya, apakah kita bertekun dalam menghaturkan doa-doa permohonan kita kepada Allah, atau kadangkala kita menyerah dan berkata “cape deh!”, karena merasa doa-doa kita tidak didengarkan oleh-Nya. Apakah anda merasa seakan-akan Allah tidak mau menjawab doa-doamu? Hal seperti ini sebenarnya normal-normal saja. Kadang-kadang kita semua merasa Allah tidak membuat respons terhadap kebutuhan-kebutuhan kita secepat yang kita inginkan. Akan tetapi, apabila jawaban dari Allah seakan datang begitu lambat, kita harus ingat bahwa jangkauan pandangan Allah itu tanpa batas, sedangkan kita hanya dapat melihat di sini dan sekarang.

Setiap orangtua yang baik tahu betapa  baik bagi anak-anaknya apabila mereka harus berpikir keras dan panjang mengenai apa yang sesungguhnya mereka inginkan dan butuhkan, atau kapan saja mereka harus menghadapi situasi-situasi yang penuh tantangan. Orangtua yang baik, bukanlah orangtua yang suka memanjakan anak-anaknya. Demikian pula halnya dengan Bapa surgawi. Dia tidak mempunyai niat untuk memanjakan kita dengan memberikan kepada kita hal-hal yang akan “merusak” kita dalam jangka panjang.

Marilah kita mempercayai 100% sabda Yesus dalam bacaan Injil hari ini. Kalau kita bertekun, Allah akan menjawab setiap doa kita. Jawab-Nya mungkin saja baru dapat dipahami oleh kita dengan berjalannya waktu. Jawaban-Nya juga dapat datang secara tak terduga, ketika tidak diharap-harapkan. Bagaimana cara datangnya jawaban dari Allah itu, kita dapat merasa pasti bahwa kalau kita menghaturkan kebutuhan-kebutuhan dan hasrat-hasrat kita kepada Allah, maka Dia memberi respons kepada kita – tetapi hanya sebagai ‘seorang’ ayah yang sungguh mengasihi anak-anaknya, artinya Dia tidak akan memberikan kepada kita segala hal yang kita pandang sebagai kebutuhan prioritas kita. Bagaimana pun cara memberkati kita, berkat-berkat-Nya itu akan jauh lebih besar daripada apa saja yang pernah harapkan.

Ayat terakhir dalam  bacaan Injil hari ini (Mat 7:12) dalam dunia manajemen dikenal sebagai THE GOLDEN RULE (bdk. Tob 4:15). Memang itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi, yang digenapi oleh Yesus Kristus lewat ajaran-Nya dan kehidupan-Nya sendiri.

DOA: Bapa surgawi, Engkau selalu mencurahkan berkat-berkat yang berlimpah bagi anak-anak-Mu. Kerajaan-Mu adalah milik kami juga kalau kami memintanya, namun hanya apabila kita mencari Engkau dengan hati penuh iman. Terpujilah Engkau selalu, ya Allah Bapa kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:7-12), bacalah tulisan yang berjudul “IA HANYA AKAN MEMBERIKAN HAL-HAL YANG BAIK KEPADA KITA” (bacaan tanggal 14-3-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-03 BACAAN HARIAN MARET 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 9-3-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 11 Maret 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TANDA NABI YUNUS ???

TANDA NABI YUNUS ???

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Prapaskah – Rabu, 13 Maret 2019)

Ketika orang banyak mengerumuni-Nya, berkatalah Yesus, “Orang-orang zaman ini adalah orang jahat. Mereka meminta suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Nabi Yunus. Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk orang-orang zaman ini. Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang-orang zaman ini dan ia akan menghukum mereka. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Salomo! Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama orang-orang zaman ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus!”  (Luk 11:29-32) 

Bacaan Pertama: Yun 3:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-4,12-13,18-19 

Apakah yang dimaksudkan oleh Yesus dengan “tanda Nabi Yunus”? Injil Lukas memahami tanda ini sebagai pewartaan atau pemberitaan tentang pertobatan (Luk 11:29,32). Tidak seperti penulis Injil Matius, dia tidak membuat allusi kepada Yunus yang tiga hari tiga malam lamanya berada dalam perut ikan paus (lihat Mat 12:40).

Yesus mengatakan kepada orang banyak yang mengikuti-Nya, bahwa tanda satu-satunya yang akan diberikan oleh-Nya adalah tanda Nabi Yunus. Ia sendiri sebenarnya cukup sebagai tanda bagi mereka, seperti Yunus adalah sebuah tanda bagi orang-orang Niniwe. Pada waktu Yunus datang membawakan berita pertobatan yang sederhana kepada penduduk kota kafir ini, maka mereka menanggapi pemberitaannya dengan melakukan pertobatan secara mendalam dan iman yang mendalam kepada Allah. Yesus mewartakan pesan pertobatan yang sama kepada orang banyak yang mengikuti-Nya. Dengan menyebut mereka “generasi jahat” (lihat Luk 11:29) Yesus mengingatkan mereka, bahwa mereka akan dihakimi untuk kekerasan-kepala dan ketidak-percayaan mereka. Siapa yang menghakimi? Orang-orang Niniwe yang telah bertobat karena pemberitaan Yunus, karena “sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus” (Luk 11:32).

Kata “tanda” mengacu pada sebuah peringatan atau petuah, juga dapat berarti suatu tanda atau indikasi tentang “alam surgawi”. Yesus adalah “tanda” untuk generasi-Nya karena Dia membawa Kerajaan Allah, “alam surgawi”, ke tengah-tengah orang banyak. Dalam ajaran-ajaran dan tindakan-tindakan-Nya, Yesus adalah contoh paling sempurna, dia menantang ketidak-kudusan dengan hidup-nya yang murni dan kudus sebagai Putera Allah. Setiap hal yang dilakukan dan dikatakan Yesus menunjuk pada Bapa-Nya. Jauh lebih daripada Yunus, Yesus adalah suatu “tanda” yang mewujudkan Kerajaan Allah dan menyerukan agar orang-orang untuk melakukan pertobatan. Kehadiran-Nya membuat setiap orang berada dalam situasi krisis, karena sebagai Terang Dunia Yesus mengungkap kondisi hatinya yang terdalam. “Tanda” ini dimaksudkan untuk memanggil orang-orang kembali kepada Allah.

Yesus adalah suatu “tanda” bagi kita pada zaman ini juga. Kata-kata-Nya (sabda-Nya; firman-Nya) masih dapat dibaca dalam Kitab Suci. Firman-Nya itu memiliki kuat-kuasa yang sama bagi kita seperti dua ribu tahun lalu, karena diberdayakan oleh Roh Allah yang kekal-abadi. Marilah kita renungkan apa yang ditulis dalam “Surat kepada Orang Ibrani” : “… firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam daripada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk sangat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup menilai pikiran dan niat hati kita” (Ibr 4:12). Marilah kita memperkenankan firman Yesus menjadi pedang ini, yang memotong sampai ke hati-terdalam kita dan mengungkapkan tanggapan terhadap Allah yang seharusnya kita buat.

DOA: Tuhan Yesus, perkenankanlah Roh Kudus-Mu membuat hatiku tidak keras-alot terhadap-Mu. Tembuslah hatiku dengan firman-Mu agar aku dapat menanggapi pesan pertobatan yang Kauberitakan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yun 3:1-10), bacalah tulisan yang berjudul “YUNUS DAN PERTOBATAN KOTA NINIWE” (bacaan tanggal 13-3-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-03 BACAAN HARIAN MARET 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-2-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 12 Maret 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFSS

DOA BAPA KAMI YANG DIWARISKAN OLEH YESUS SENDIRI

DOA BAPA KAMI YANG DIWARISKAN OLEH YESUS SENDIRI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Prapaskah – Selasa, 12 Maret 2019)

Lagi pula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa dengan banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi, janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. Karena itu, berdoalah demikian: Bapa kami yang di surga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami daripada yang jahat. [Karena Engkaulah yang punya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.]

Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” (Mat 6:7-15) 

Bacaan Pertama: Yes 55:10-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:4-7,16-19

Kadang-kadang kita dibuat sadar bahwa kata-kata Yesus yang paling sederhana juga berisikan jawaban terhadap keadaan-keadaan kehidupan kita yang paling menantang. Demikian pula dengan doa “Bapa Kami” ini. Karena sedemikian seringnya kita mendoakan doa yang diajarkan oleh Yesus sendiri ini, maka kita dapat saja luput menangkap maknanya yang begitu kaya.

Mendoakan doa “Bapa Kami” dapat membawa pengharapan kepada kita dan juga kesembuhan  Doa ini juga dapat membuka pintu bagi suatu relasi yang lebih mendalam dengan Allah, suatu relasi yang dapat menjadi begitu mendalam sehingga mencerminkan kasih dan keintiman antara Yesus dan Bapa-Nya. Melalui doa ini, kita semua dapat mengalami berkat yang indah: Allah menawarkan kepada kita kasih-Nya, yaitu kasih sama dengan yang diberikan-Nya kepada Yesus, Putera-Nya yang terkasih (lihat Yoh 17:26).

Kata-kata pertama dari doa ini, “Bapa kami”, memperkenalkan kita kepada kasih Allah bagi kita. Dapatkah kita membayangkan seorang pribadi yang begitu berkuasa di dunia ini menawarkan diri untuk memelihara serta memperhatikan segala kebutuhan kita, sebagai anak-anaknya? Namun TUHAN semesta alam, yang kilat-kilat-Nya menerangi dunia dan yang keadilan-Nya diberitakan oleh surga/ langit (Mzm 97:4-6), …… Ia mengundang kita semua untuk memanggil diri-Nya “Bapa”. Betapa kecil pun kita merasakan diri kita di hadapan-Nya, betapa tidak berartinya kita, betapa tidak berharganya, faktanya adalah bahwa kita adalah anak-anak-Nya yang sungguh sangat berharga di mata Dia, sangat dikasihi-Nya, sejak permulaan waktu.

Manakala kita mengatakan “jadilah kehendak-Mu”, kita tidak sekadar menyerahkan diri kita kepada “seorang” Allah yang suka mengambil keputusan dengan sewenang-wenang. Sebaliknyalah, dengan mengatakan “jadilah kehendak-Mu” kita secara aktif merangkul segalanya yang telah disediakan oleh Bapa untuk kita. Kita menaruh kepercayaan kita dalam diri seorang pribadi yang rencana-Nya bagi kita jauh melampaui harapan kita yang seringkali terbatas. Selagi kita mengalami iman seperti ini, kita pun belajar tentang kebenaran janji-janji Allah. Ia menunjukkan kepada kita, hari lepas hari, bahwa rencana-rencana-Nya bagi kita adalah untuk/demi kebaikan kita, “yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepada kita hari depan yang penuh harapan” (lihat Yer 29:11).

Allah, Bapa surgawi, tidak pernah meninggalkan kita dan tidak pernah Dia merencanakan sesuatu yang jahat atas diri kita, sesuatu yang akan mencelakakan diri kita. Kasih-Nya sempurna. Oleh karena itu, hari ini selagi kita berdoa “Bapa kami”, baiklah kita mohon kepada Roh Kudus untuk membawa kita kepada suatu relasi yang lebih mendalam lagi dengan Allah. Kita adalah anak-anak-Nya yang sangat dikasihi-Nya, dan hanya Dialah yang dapat memenuhi semua kebutuhan dan harapan kita. Daripada percaya kepada segala sumber daya  kita sendiri yang serba terbatas, marilah kita mencari pertolongan-Nya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita hari ini. Pada waktu kita berdoa, baiklah kita mohon agar diberikan hati seperti Hati Yesus, selagi kita mengatakan “jadilah kehendak-Mu”.

DOA: Roh Kudus, ajarlah kami untuk berdoa seperti yang diajarkan Yesus kepada kami. Bukalah diri kami agar dapat sampai pada suatu relasi yang lebih mendalam dengan Bapa surgawi. Penuhilah diri kami dengan pengetahuan akan martabat kami sebagai anak-anak-Nya yang sangat dikasihi-Nya. Oleh kuasa-Mu, mampukanlah kami untuk menyerahkan hidup kami ke dalam pemeliharaan-Nya yang penuh kasih. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yes 55:10-11), bacalah tulisan yang berjudul “BEBERAPA BUTIR PERMENUNGAN TENTANG SABDA ALLAH” (bacaan tanggal 12-3-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-03 BACAAN HARIAN MARET 2019.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-2-18 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 11 Maret 2019

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MELIHAT YESUS DALAM DIRI ORANG-ORANG KECIL DAN MENDERITA

MELIHAT YESUS DALAM DIRI ORANG-ORANG KECIL DAN MENDERITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari biasa Pekan I Prapaskah – Senin, 11  Maret 2019)

“Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari yang lain, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya. Lalu Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu menjenguk aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. Lalu orang-orang benar itu akan menjawab Dia, Tuhan, kapan kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Kapan kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Kapan kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? Raja itu akan menjawab mereka: Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah disediakan untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya. Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; ketika Aku seorang seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak menjenguk Aku. Lalu mereka pun akan menjawab Dia, Tuhan, kapan kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau? Ia akan menjawab mereka: Sesungguhnya Aku berkata, segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. Orang-orang ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.” (Mat 25:31-46) 

Bacaan Pertama: Im 19:1-2,11-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:8-10,15

Adalah seorang eksekutif muda di Jakarta – katakanlah namanya Budiono yang sering dipanggil Budi – yang sudah  cukup lama merasa gelisah karena kehidupan spiritualnya. Budi merasa bahwa dirinya selama beberapa bulan belakangan ini sering diingatkan bahwa dia hanya “baik” pada hari Minggu saja, yaitu ketika menghadiri Misa Kudus, padahal di hari-hari lainnya dirinya tidaklah demikian. Kemudian Budi memutuskan bahwa sudah tibalah saat baginya untuk membuat perubahan. Pada suatu pagi hari dia berdoa yang intinya adalah sebagai berikut: “Tuhan Yesus, nyatakanlah kehadiran-Mu kepadaku secara ajaib pada hari ini.” Doanya sangat intens dan dipenuhi pengharapan, dan dia juga merasakan bahwa sesuatu yang penting akan terjadi dengan berjalannya waktu pada hari itu. Dengan demikian, Budi pun menyiapkan hari itu dengan ekspektasi yang besar.

Benar saja, sesuatu pun terjadi! Pada waktu Budi ke luar dari mobilnya di tempat parkir dekat kantornya, seorang laki-laki tua mendekatinya dan berkata, “Pak, saya orang baru di kota Jakarta. Dapatkah Bapak menunjukkan kepada saya di manakah apotik yang terdekat?” Tugas itu tidak susah, sehingga permintaan orang itu pun dikabulkan oleh Budi dengan baik. Ia menghantarkan orang tua itu sampai ke pinggir jalan besar dan menunjukkan apotik yang memang terletak tidak jauh dari tempat itu. Kemudian, pada jam makan siang, seorang rekan kerjanya (perempuan) mengatakan kepada Budi bahwa dia “merasa tidak enak badan” dan berencana untuk pergi ke dokter setelah makan siang. Rekan kerjanya itu berkata kepada Budi: “Mas Bud, doakan aku, ya!” Budi pun meyakinkan rekan-kerjanya itu bahwa dia akan mendoakannya. Dan ia memang kemudian berdoa untuk pemulihan kesehatan teman perempuannya itu. Pada sore harinya ketika menuju tempat parkir, Budi bertemu dengan seorang teman sekolahnya di SMA Kanisius dulu yang sudah kehilangan pekerjaannya sejak tiga bulan lalu. Budi mengajak temannya itu ke ATM yang tidak jauh dari situ dan “meminjamkan sejumlah uang” sesuai permintaan temannya itu. Pada malam harinya Budi merenungkan apa saja yang telah terjadi dengan dirinya. Kelihatan seakan doanya belum dikabulkan, namun kegalauan spiritualnya sudah terasa terobati.

Yesus mengatakan kepada kita, bahwa Dia hadir manakala kita menyambut orang-orang asing, manakala kita membantu serta merawat orang-orang sakit, manakala kita membantu mereka yang membutuhkan pertolongan. Akan tetapi Budi percaya bahwa doanya untuk mengalami kehadiran Yesus pada hari itu tidak memperoleh jawaban. Barangkali doanya dijawab, namun dengan cara-cara yang begitu biasa sehingga luput dari persepsi si Budi yang memegang ijazah S2 bidang administrasi bisnis dari NYU ini. Maklum kehidupan spiritualnya belumlah seperti kehidupan spiritual orang kudus seperti Santa Teresa dari Lisieux [1873-1897] yang dianugerahi kemampuan untuk melihat karya kasih Allah dalam hal-hal yang kecil sekali pun.

Nah, Saudari dan Saudaraku! Kita mungkin tergoda untuk memandang diri kita sebagai seorang kudus yang super, padahal yang diminta Allah adalah, bahwa kita menjadi orang Kristiani yang lebih baik dari hari ke hari. Hal ini justru terjadi melalui/pada peristiwa-peristiwa yang terasa sepele dalam kehidupan kita. Justru dalam hal-hal yang kelihatan/terasa sepele itulah – dengan bantuan rahmat Allah – kita diberi kesempatan untuk menikmati betapa baik Allah itu…… sungguh menakjubkan! Tindakan kasih Allah lewat para saksi-Nya di tengah-tengah umat-Nya seringkali luput dari pandangan mata hati kita karena kita cenderung mengagumi hal-hal yang bersifat spektakuler, bukan hal-hal yang sepele tanpa arti. Kita tidak jarang berkata, “Wah hebat sekali Romo A atau Pendeta B itu, begitu banyak orang sakit yang disembuhkannya”. Tak sengaja kita pun cukup sering mengagung-agungkan Romo atau Pak Pendeta, bukan Yesus!

Di lain pihak kita memandang remeh atau biasa-biasa saja seorang imam cukup tua-usia yang  khotbah-khotbahnya tidak “jos”, namun begitu setia setiap hari melayani umat, bepergian dengan mengendara sepeda ontelnya, dan dia melayani umat yang menderita sakit-penyakit tanpa banyak mengeluh. Dia  bukan doktor teologi lulusan Jerman atau Roma, namun sangat menghayati tugasnya sebagai pelayan Kristus – sang Gembala Baik. Tanpa banyak kesempatan untuk membaca buku-buku, Romo ini memahami betul arti sejati dari SERVANTHOOD. Boro-boro memiliki smart-phone android atau akrab dengan istilah-istilah jejaring sosial seperti WA, Instagram face-book atau twitter; selain “gaptek”,  yang ada dalam hati dan pikirannya hanyalah melayani Kristus dalam diri orang-orang kecil dan menderita dalam masyarakat yang semrawut  dan penuh penderitaan ini. Dari wajahnya terpancarlah kasih Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita! Dengan demikian, ia adalah seorang alter Christus, seperti yang diinginkan Yesus sendiri.

Memang Yesus seringkali adalah tamu yang terkamuflase. Santo Fransiskus dari Assisi, misalnya, berjumpa dengan Kristus dalam diri seorang kusta di tengan jalan. Kita seringkali berdoa agar terjadi mukjizat-mukjizat, namun sebenarnya yang perlu kita minta dalam doa kita adalah agar diberikan KASIH itu sendiri – suatu mukjizat tanpa tandingan!

DOA: Tuhan Yesus yang baik, Engkau yang tersembunyi dalam diri orang-orang kecil dan menderita dalam masyarakat. Engkau senantiasa membuat diri-Mu miskin sehingga kami menjadi kaya. Tolonglah kami agar pada hari ini, kami dapat mengenali-Mu. Terima kasih Tuhan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Im 19:1-2,11-18), bacalah tulisan yang berjudul “MENJADI KUDUS DALAM RELASI VERTIKAL DENGAN ALLAH DAN JUGA DALAM RELASI HORIZONTAL DENGAN SESAMA” (bacaan tanggal 11-3-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-03 BACAAN HARIAN MARET 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 19-2-18 dalam situ/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  8 Maret 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS