Posts tagged ‘HARI BIASA PEKAN I ADVEN’

TUAIAN MEMANG BANYAK, TETAPI PEKERJA SEDIKIT

TUAIAN MEMANG BANYAK, TETAPI PEKERJA SEDIKIT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Wajib S. Ambrosius, Uskup Pujangga Gereja – Sabtu, 7 Desember 2019)

Hari Sabtu Imam

Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat mereka dan memberitakan Injil Kerajaan Surga serta menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu kata-Nya kepada murid-murid-Nya, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu, mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.”

Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan.

Ia bersabda: “Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; sembuhkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu  berikanlah pula dengan cuma-Cuma. (Mat 9:35-10:1.6-8)  

Bacaan pertama: Yes 30:19-21.23-26; Mazmur Tanggapan: Mzm 147:1-6 

Hati manusiawi Yesus tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak. Ia memandang orang banyak itu dengan mata seorang Gembala Baik. Di mata-Nya orang banyak itu terlihat sebagai kawanan domba yang tidak mempunyai gembala. Kita tahu bahwa Yesus memang adalah sang Gembala Baik, namun Injil hari ini menunjukkan bahwa Yesus menginginkan agar kedua belas murid-Nya menjadi gembala-gembala juga. Dia memberi amanat kepada kedua belas murid itu dan mengutus mereka untuk mewartakan Kerajaan Allah. Hal ini menandakan sebuah langkah penting dalam rencana Allah bagi umat-Nya. Hal ini membuat kabar baik tersedia bagi orang-orang yang semakin bertambah dalam jumlah. Pada akhirnya Injil dapat diwartakan secara berkesinambungan dari tahun ke tahun, untuk selama 20 abad setelah peristiwa yang diceritakan dalam Injil ini terjadi.

Mereka yang mewartakan Injil dipanggil untuk bekerja melalui kuat-kuasa Roh Kudus yang memberikan arahan bagi kehidupan kita. Hal ini sebenarnya merupakan pemenuhan janji yang dibuat oleh nabi Yesaya: “… dan telingamu akan mendengar perkataan ini dari belakangmu: ‘Inilah jalan, berjalanlah mengikutinya’, entah kamu menganan atau mengiri” (Yes 30:21). Pada waktu Yesus mengutus para rasul, Ia memberikan kepada mereka otoritas yang riil untuk menyembuhkan segala macam penyakit, membangkitkan orang mati, mengusir roh-roh jahat dan lain sebagainya.  Otoritas ini merupakan suatu kesaksian atas kebenaran dari proklamasi Kerajaan Allah. Setelah itu Yesus bersabda: “Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu  berikanlah pula dengan cuma-cuma” (Mat 10:8). Yesus mau agar kita turut ambil bagian dalam tugas kegembalaan dengan memberikan kepada orang-orang lain berbagai karunia yang kita telah terima. Untuk tujuan itulah kita perlu merenungkan berbagai  karunia yang ada pada kita.

Karunia anda bisa saja belarasa, misalnya. Apabila anda melihat seseorang yang membutuhkan pertolongan, katakanlah seorang tetangga yang sakit, hatimu tergerak oleh belas kasihan dan anda pun langsung menolong orang yang sakit itu at all cost  tanpa pamrih. Atau, karunia anda mungkin saja suatu kemauan untuk memperhatikan orang yang memerlukan teman-bicara yang mau mendengarkan curhatnya. Atau, karunia yang ada pada anda adalah mempunyai cukup dana untuk menolong orang miskin dalam bidang keuangan atau memberikan sumbangan untuk kegiatan-kegiatan karitatif. Kita harus sadar, bahwa setiap kali kita menolong orang lain, kita sebenarnya memberikan karunia dari Kristus sendiri. Akhirnya setiap talenta atau apa saja yang kita miliki adalah ikut ambil bagian dalam pribadi Kristus. Oleh karena itu dengan menolong orang-orang lain, kita memberikan karunia dari Kristus sendiri. Dengan mengasihi dan melakukan perbuatan-perbuatan baik kepada orang yang memerlukan bantuan, kita membuat Kristus menjadi hidup. Kita menjadi suatu Adven yang berkesinambungan, sehingga Kristus selalu mempunyai suatu kelahiran baru dalam dunia kita.

Dapat saja orang berpikir, setelah 2.000 tahun melakukan pewartaan seperti digambarkan dalam Injil (artinya dengan penuh kuat-kuasa Roh Kudus yang diiringi oleh banyak mukjizat dan tanda heran lainnya), maka seluruh dunia mestinya sudah berhasil dipertobatkan oleh Gereja! Memang seyogianya begitu. Sayangnya terdapat kekurangan pekerja, seperti Yesus sendiri katakan: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit” (Mat 9:37). Bahkan dari mereka yang jumlahnya relatif sedikit ini pun tidak semua dapat menunaikan tugas sebagai pewarta dari sebuah Gereja yang mewartakan (evangelical Church) karena sebagian besar sibuk bertugas mengurusi/memelihara Gereja yang sudah mapan (jadi lebih menekankan Church maintenance). Namun ketidak-berhasilan itu juga dapat disebabkan oleh para pewarta itu sendiri, misalnya tidak terdapatnya product-market match dalam homili/khotbah dan sejenisnya (misalnya homili/khotbah yang tidak membumi di hadapan umat yang kebanyakan terdiri dari para transmigran dengan tingkat pendidikan yang relatif rendah). Selain itu kegagalan pewartaan dapat juga disebabkan oleh penolakan, sikap apatis, bahkan perlawanan berupa kekerasan atau hostilitas dari pihak-pihak di luar Gereja dll.

Santo Ambrosius [c. 334-397]. Pada hari ini, tanggal 7 Desember, kita memperingati Santo Ambrosius, uskup agung Milano dan salah seorang dari empat orang Bapak Gereja di Barat (Augustinus, Hieronimus, Gregrorius Agung). Sebelum diangkat menjadi uskup, Ambrosius pernah menjadi gubernur provisi Liguria dan Emilia. Ketika dipilih menjadi uskup, Ambrosius belum dibaptis. Namun sejak dia memangku jabatan uskup, seluruh hidupnya diabdikan demi umatnya: Ia tekun mempelajari Kitab Suci; memberikan khotbah setiap hari Minggu dan hari raya gerejawi serta menjaga persatuan dan kemurnian ajaran Katolik. Dengan penuh hikmat-kebijaksanaan dia membimbing kehidupan rohani umat; mengatur ibadah hari Minggu dengan menarik, sehingga umat dapat berpartisipasi secara aktif; mengatur dan mengusahakan bantuan bagi pemeliharaan kaum miskin-papa dan mempertobatkan orang-orang berdosa. Ambrosius adalah seorang uskup yang sangat baik dalam melayani umatnya. Ambrosius memang seorang gembala baik, yang dengan tulus-hati mencoba berusaha meniru sang Gembala Agung, Yesus Kristus. Sebagai seorang pemimpin Gereja, Ambrosius berhasil menyurutkan pengaruh kaum bid’ah Arianisme. Ketika Kaisar Theodosius menumpas pemberontakan dan melakukan pembantaian besar-besaran (genosida), Kaisar dikucilkan dari umat (diekskomunikasikan). Untuk diterima kembali ke dalam Gereja, Kaisar harus bertobat dan mengungkapkan penyesalannya di depan umat.

Ambrosius tak peduli kaisar atau wong cilik, apabila berdosa harus bertobat. “Kalau Yang Mulia meneladan Raja Daud ketika berdosa, maka Yang Mulia harus mencontoh dia pula ketika bertobat!” – “Kepala Negara adalah anggota Gereja, bukan tuannya”, itulah kata-katanya kepada Kaisar.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami untuk merindukan bimbingan-Mu. Buatlah agar telinga kami ingin sekali mendengar firman-Mu dan hati kami haus akan kebenaran, kapan dan di mana saja. Kami mohon agar Roh Kudus-Mu memberdayakan kami lewat karunia-karunia Roh yang diperlukan,  untuk menjadi pewarta Injil yang tangguh ke mana saja kami akan Kaukirim, untuk ikut ambil bagian dalam membangun Kerajaan Allah. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:33-10:1.6-8), bacalah tulisan yang berjudul “DENGAN MEMBERIKAN DIRI KITA KEPADA ORANG-ORANG LAIN”

(bacaan tanggal 7-12-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2019.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama  untuk bacaan tanggal 9-12-17 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 5 Desember 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JADILAH KEPADAMU MENURUT IMANMU

JADILAH KEPADAMU MENURUT IMANMU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Adven – Jumat, 6 Desember 2019)

Peringatan Fakultatif S. Nikolaus, Uskup

Ketika Yesus meneruskan perjalanan-Nya dari sana, dua orang buta mengikuti-Nya sambil berseru-seru dan berkata, “Kasihanilah kami, hai Anak Daud.” Setelah Yesus masuk ke dalam sebuah rumah, datanglah kedua orang buta itu kepada-Nya dan Yesus berkata kepada mereka, “Percayakah kamu bahwa Aku dapat melakukannya?” Mereka menjawab, “Ya Tuhan, kami percaya.” Yesus pun menyentuh mata mereka sambil berkata, “Jadilah kepadamu menurut imanmu.” Lalu meleklah mata mereka. Kemudian Yesus dengan tegas berpesan kepada mereka, “Jagalah supaya jangan seorang pun mengetahui hal ini.” Tetapi mereka keluar dan memasyhurkan Dia ke seluruh daerah itu. (Mat 9:27-31) 

Bacaan Pertama: Yes 29:17-24; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14 

Kasihanilah kami, hai Anak Daud” (Mat 9:27). Dengan kata-kata inilah dua orang buta berseru kepada Yesus. Mereka sadar bahwa mereka terjebak dalam kegelapan, dan mereka mereka memohon dengan sangat kepada sang Rabi dari Nazaret ini – yang mereka rasakan bukan sekadar seorang rabi biasa – untuk mencelikkan mata mereka. Melihat hasrat mereka, Yesus bertanya: “Percayakah kamu bahwa Aku dapat melakukannya?” (Mat 9:28). Ketika mereka menjawab: “Ya Tuhan, kami percaya” (Mat 9:28), Yesus pun menyentuh mata mereka sambil berkata, “Jadilah kepadamu menurut imanmu” (Mat 9:29). Langsung saja mereka meninggalkan kegelapan dan masuk ke dalam terang, semua itu disebabkan iman-kepercayaan mereka bahwa Yesus mampu melakukan sesuatu yang jauh melampaui kemampuan-kemampuan manusiawi.

Dua orang ini adalah sebuah contoh bagi kita, bukan hanya karena iman mereka, melainkan juga karena keterbukaan hati dan fleksibilitas pikiran mereka. Dalam artian tertentu kita semua menderita kebutaan – suatu kebutaan spiritual yang disebabkan tidak mengenal Yesus dan cara-cara-Nya. Kita tidak tahu sampai berapa dalam komitmen Yesus kepada kita, atau sampai berapa kuat Ia dapat bekerja dalam kehidupan kita. Kita semua cenderung untuk mereduksi kehidupan Kristiani kita menjadi seperangkat peraturan “lakukan” dan “jangan lakukan” (do’s and don’ts) sehingga kita luput dari kemungkinan bahwa Yesus mungkin ingin mengejutkan kita dengan sesuatu yang baru dan berbeda. Akan tetapi dua orang buta ini percaya bahwa hanya dengan satu sentuhan saja, Yesus mampu untuk memulihkan penglihatan mereka.

Allah memang ingin mengejutkan kita, membuat kita surprise. Ia ingin menyembuhkan kita dari kebutaan kita dan kekakuan pikiran kita yang terikat pada dunia ini saja. Dia ingin terang-Nya terbit di atas kita sehingga kita dapat diubah dan mulai “melihat” kehidupan tidak seperti sebelumnya, bahkan hal-hal luarbiasa seperti penyembuhan-penyembuhan ajaib – kata kerennya: miraculous healings. Yesus ingin menunjukkan kepada kita bahwa Injil bukanlah seperangkat hukum dan/atau resep, melainkan sebuah undangan kepada suatu relasi pribadi dengan diri-Nya.

Oleh karena itu, marilah kita menyambut Yesus ke dalam tempat-tempat gelap dalam pikiran kita. Marilah kita mohon kepada-Nya untuk menyingkirkan cara-cara kita yang kaku dalam berpikir tentang Dia dan Injil-Nya. Sebagaimana dua orang buta dalam bacaan Injil hari ini, marilah kita berseru kepada Yesus mohon belas kasihan dan mohon kepada-Nya untuk membuka mata kita bagi kasih dan kuasa-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, aku ingin melihat. Bukalah mataku agar dapat melihat Engkau dengan lebih jelas lagi. Bukalah hatiku agar dapat mengasihi-Mu secara lebih mendalam. Berikanlah kepadaku sebuah hati yang luwes-fleksibel, sebuah hati yang selalu siap untuk mengenal Engkau secara baru. Tuhan, kejutkanlah diriku dengan kasih-Mu! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini [Mat 9:27-31], bacalah tulisan yang berjudul “INJIL BUKANLAH SEPERANGKAT HUKUM DAN/ATAU RESEP, MELAINKAN SEBUAH UNDANGAN KEPADA SUATU RELASI PRIBADI DENGAN YESUS” (bacaan tanggal 7-12-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-12 DESEMBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 7-12-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 4 Desember 2019 [Peringatan Fakultatif S. Yohanes dr Damsyik, Imam Pujangga Gereja]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS INGIN AGAR KITA MEMBANGUN KEHIDUPAN KITA DI ATAS SABDA-NYA

YESUS INGIN AGAR KITA MEMBANGUN KEHIDUPAN KITA DI ATAS SABDA-NYA
(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Adven – Kamis, 5 Desember 2019)

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga.
Jadi, setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu bertiuplah angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu bertiuplah angin melanda rumah itu itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya. (Mat 7:21,24-27)

Bacaan Pertama: Yes 26:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 118:1,8-9,19-21,25-27

“Lebih baik berlindung pada TUHAN daripada percaya kepada manusia. Lebih baik berlindung pada TUHAN daripada percaya kepada para bangsawan.” (Mzm 118:8-9)

Ketika mendengar berita bahwa daerah kita akan diterpa angin puting beliung, hujan lebat, banjir dlsb., apakah kita tidak merasa waswas dan khawatir, merasa takut? Apalagi kalau kita tinggal kota pantai yang rawan gempa dan tsunami? Kebanyakan orang yang membangun dan tinggal dalam sebuah rumah di tepi pantai diharapkan untuk mendirikan rumah mereka sesuai standar-standar keamanan yang ditetapkan pemerintah setempat, sehingga apabila akan datang badai mereka tidak perlau terlalu khawatir/takut.

HOUSES ON THE ROCK AND SANDKetika Yesus berbicara mengenai “orang yang mendirikan rumahnya di atas batu”, sebenarnya Dia berbicara mengenai diri kita. Yesus ingin agar kita mendirikan/membangun kehidupan kita di atas sabda-Nya – fondasi yang paling kokoh yang dapat kita miliki. Dan agar hal ini dapat terwujud, maka kita harus bekerja sama dengan Yesus, sang Arsitek Agung. Selagi kita memperkenankan Yesus membangun diri kita sesuai dengan standar-standar-Nya, maka rasa khawatir kita pun akan berkurang apabila badai dunia datang menerpa kita.

Memang tidak mudahlah bagi kita untuk memperkenankan Yesus melakukan “pembangunan” diri kita. Kita dapat saja terdorong agar Ia membangun sesuai standar-standar kita sendiri, bukan standar-standar-Nya. Namun Yesus ingin memulai pembangunan diri kita dari fondasi yang paling bawah. Dia akan membongkar dan mengangkat apa saya yang tidak berkenan di mata-Nya. Yesus tahu bahwa apabila fondasi kita lemah, maka kita menjadi rentan terhadap serangan si Iblis, dunia, dan terhadap kodrat kita sendiri yang cenderung jatuh ke dalam kedosaan.

Walaupun Yesus membongkar dan membangun kembali diri kita, kita senantiasa harus mengingat bahwa Dia beserta kita setiap saat. Kita tidak pernah akan ditinggalkan-Nya. Yesus tidak ingin melihat kita memandang berbagai badai kehidupan seakan-akan sebagai akhir hidup kita. Yesus ingin agar kita menaruh kepercayaan kepada-Nya, sebagai andalan kita satu-satunya sehingga kita senantiasa memilih untuk mentaati perintah-perintah-Nya, betapa pun sulitnya perintah-perintah tersebut. Apabila badai datang menerjang, Yesus ingin agar kita lari kepada Bapa dan membiarkan Bapa menguatkan kita. Yesus ingin melakukan pertempuran yang kita sendiri tidak mampu lakukan dengan kekuatan sendiri. Sungguh merupakan sebuah berkat mengetahui bahwa kita dapat menaruh kepercayaan kita pada sang Juruselamat! Yang harus kita lakukan hanyalah menaruh kepercayaan dan taat kepada-Nya, dan Ia pun akan membangun diri kita masing-masing menjadi pribadi-pribadi tempat tinggal yang kuat dan indah bagi Roh Kudus-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, datanglah dan bangunlah hatiku seturut standar-standar-Mu. Buatlah aku menjadi cukup kuat untuk berdiri kokoh apabila badai datang menerpa. Kasih-Mu cukuplah bagiku. Aku menaruh kepercayaan pada kekuatan-Mu untuk memperbaharui diriku dan untuk menolongku agar mampu mengatasi situasi-situasi yang kuhadapi. Aku sungguh mengasihi-Mu, Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami lagi Bacaan Pertama hari ini [Yes 26:1-6], bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MEMANGGIL KITA UNTUK MEWARTAKAN KABAR BAIK, KAPAN SAJA DAN DI MANA SAJA” (bacaan tanggal 5-12-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2019.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 6-12-18 dala situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 3 Desember 2019 [Pesta S. Fransiskus Xaverius, Imam-Pelindung Misi]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

GUNUNG TEMPAT RUMAH YHWH

GUNUNG TEMPAT RUMAH YHWH

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Adven – Senin,  2 Desember 2019)

Firman yang dinyatakan kepada Yesaya bin Amos tentang Yehuda dan Yerusalem. Akan terjadi pada hari-hari yang terakhir: gunung tempat rumah TUHAN (YHWH) akan berdiri tegak di hulu gunung-gunung dan menjulang tinggi di atas bukit-bukit; segala bangsa akan berduyun-duyun ke sana, dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata: “Mari, kita naik ke gunung YHWH, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya, dan supaya kita berjalan menempuhnya; sebab dari Sion akan keluar pengajaran dan firman YHWH dari Yerusalem. Ia akan menjadi hakim antara bangsa-bangsa dan akan menjadi wasit bagi banyak suku bangsa; maka mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas; bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang. Hai kaum keturunan Yakub, mari kita berjalan di dalam terang YHWH! (Yes 2:1-5) 

Bacaan Pertama alternatif: Yes 4:2-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 122:1-9; Bacaan Injil: Mat 8:5-11 

Seluruh masa Adven adalah perayaan sehubungan dengan pemenuhan janji-janji Allah yang penuh kasih kepada kita. Pemenuhan janji dimulai dengan misteri inkarnasi dan akan dirampungkan dengan kedatangan Yesus untuk kedua kalinya (parousia), pada saat mana “gunung tempat rumah YHWH” akan berdiri tegak di hulu gunung-gunung dan menjulang tinggi di atas bukit-bukit (Yes 2:2). Satu dari janji-janji Allah kepada umat-Nya adalah bahwa Dia akan menciptakan perdamaian di atas bumi: “Ia akan menjadi hakim antara bangsa-bangsa dan akan menjadi wasit bagi banyak suku bangsa; maka mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas; bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang” (Yes 2:4).

Dalam ekspektasi Yahudi, “gunung tempat rumah YHWH” adalah Bait Allah, tempat kediaman YHWH. Dalam inkarnasi Yesus, ekspektasi ini dipenuhi dan dengan mulia ditransformasikan selagi Dia meresmikan Kerajaan-Nya, artinya kehadiran-Nya, di atas bumi, yang memberikan kepada kita kesempatan untuk mencicipi apa yang akan datang.

Sepanjang sejarah, Allah Tritunggal Mahakudus telah bekerja dengan aktif untuk mempersiapkan kita menyambut pernyataan penuh dari Kerajaan Allah, “gunung tempat rumah YHWH”. Oleh kuat-kuasa Roh Kudus yang berdiam dalam diri-Nya, Yesus ingin menyatakan niat-niat Bapa-Nya untuk membangkitkan sebuah umat yang kudus dan mempersatukan mereka dengan diri-Nya sendiri. Lalu, ketika kepenuhan waktu sudah tiba, Allah akan berdiam bersama umat-Nya di gunung ini. “Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu” (Why 21:4).

Allah mempunyai hasrat mendalam untuk mempunyai suatu umat yang dapat diajar oleh-Nya seturut cara-cara atau jalan-jalan-Nya sendiri – anak-anak-Nya yang penuh semangat untuk bergabung dengan Dia di gunung-Nya. Bila kita memperkenankan-Nya menyatakan kebenaran dan kasih-Nya kepada kita, maka hasrat Allah pun menjadi hasrat kita pula. Kita buang agenda kita sendiri – kebencian-kebencian kita, berbagai prasangka dan praduga kita, perpecahan-perpecahan di antara kita – dan kemudian mematuhi rencana-rencana dan tujuan-tujuan Allah saja. Berbagai peperangan dan tindakan kekerasan dan perwujudan konflik lainnya menjadi tidak diperlukan. Selagi kita menyerahkan diri kita kepada Allah, damai-sejahtera-Nya akan memerintah dalam/atas diri kita, dan kita pun akan mengenal serta mengalami sukacita hidup di gunung YHWH.

Dalam masa Adven ini, marilah kita menaiki gunung YHWH dengan membuat komitmen  terhadap empat resolusi spiritual yang akan menolong kita untuk membuka hati kita dengan lebih penuh lagi bagi Kerajaan-Nya di tengah-tengah kita:

  • Kita menyisihkan suatu waktu khusus paling sedikit sepuluh menit lamanya setiap hari untuk doa dan penyembahan kepada Allah, guna mengungkapkan kegembiraan kita berkenan dengan rencana Allah bagi umat-Nya.
  • Kita memeriksa hati nurani kita setiap hari sambil merenungkan bagaimana kita berelasi dengan Allah dan umat-Nya. Kita menyesali dan bertobat atas dosa-dosa kita dan ketidakpercayaan kita kepada Allah dan kebaikan-Nya.
  • Kita memperkenankan Roh Kudus untuk mengajar kita tentang kebenaran-Nya selagi kita membaca dan merenungkan sabda Allah dalam Kitab Suci, paling sedikit sepuluh menit setiap hari.
  • Sebagai tanggapan terhadap karya Allah dalam hati kita, kita menyusun sebuah rencana pertumbuhan rohani yang mencakup pembacaan rohani dan partisipasi aktif dalam kehidupan Getreja.

DOA: Bapa surgawi, nabi Yesaya berseru kepada kepada kaum keturunan Yakub untuk berjalan di dalam terang-Mu (Yes 2:5). Kami percaya bahwa seruan nabi-Mu itu juga ditujukan kepada kami karena kami semua adalah warga Gereja-Mu, Israel yang baru! Oleh kuat-kuasa Roh Kudus-Mu, jagalah kami agar dapat hidup sebagai murid-murid setia Yesus Kristus, Putera-Mu terkasih, Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 8:5-11), bacalah tulisan berjudul “IMAN YANG LUAR BIASA” (bacaan tanggal 4-12-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM https://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 1 Desember 2017 [Peringatan B. Dionisius & Redemptus, Biarawan Martir Indonesia] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ANAK DAUD ADALAH SEBUAH GELAR MESIANIS

ANAK DAUD ADALAH SEBUAH GELAR MESIANIS

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Ambrosius, Uskup Pujangga Gereja – Jumat, 7 Desember 2018)

Ketika Yesus meneruskan perjalanan-Nya dari sana, dua orang buta mengikuti-Nya sambil berseru-seru dan berkata, “Kasihanilah kami, hai Anak Daud.”  Setelah Yesus masuk ke dalam sebuah rumah, datanglah kedua orang buta itu kepada-Nya dan Yesus berkata kepada mereka, “Percayakah kamu bahwa Aku dapat melakukannya?”  Mereka menjawab, “Ya Tuhan, kami percaya.” Yesus pun menyentuh mata mereka sambil berkata, “Jadilah kepadamu menurut imanmu.”  Lalu meleklah mata mereka. Kemudian Yesus dengan tegas berpesan kepada mereka, “Jagalah supaya jangan seorang pun mengetahui hal ini.”  Tetapi mereka keluar dan memasyhurkan Dia ke seluruh daerah itu. (Mat 9:27-31) 

Bacaan Pertama: Yes 29:17-24; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14 

Di bagian lain dari Injil Matius dikisahkan bagaimana beberapa orang murid Yohanes Pembaptis datang menemui Yesus dan bertanya kepada-Nya, “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?” (Mat 11:3). Yesus menjawab mereka, “Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta sembuh, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik” (Mat11:5). Itulah jawaban Yesus mengenai identitas-Nya. Mukjizat pencelikan mata  dua orang buta yang diceritakan dalam bacaan Injil kali ini merupakan satu dari serangkaian tanda yang mengarah kepada identitas Yesus sebagai Mesias.

Dua orang buta mendekat kepada Yesus dengan sebuah permintaan sederhana, “Kasihanilah kami, hai Anak Daud” (Mat 9:27). Dengan mata iman mereka mengenali Yesus sebagai bukan sekadar seorang rabi biasa, namun sebagai Mesias – seorang pewaris takhta Daud – Dia Yang Diurapi –  yang telah datang untuk menggenapi janji Allah kepada umat-Nya. Memang “Anak Daud” adalah sebuah gelar mesianis! “Anak Daud” sama artinya dengan “Dia yang akan datang, Dia yang dijanjikan para nabi”. Kebutaan fisik kedua orang itu tidak memampukan mereka untuk melihat Yesus, namun mereka percaya kepada-Nya. Mereka berseru-seru kepada Yesus karena mereka tahu Yesus dapat menganugerahkan kepada mereka sesuatu yang tak dapat ditolak – kesembuhan dan suatu hidup baru.

Sebelum melakukan mukjizat-Nya, Yesus masih bertanya, “Percayakah kamu bahwa Aku dapat melakukannya?” (Mat 9:28). Yesus menanyakan apakah kedua orang buta itu memiliki iman, karena Dia ingin memurnikan iman mereka. Dia membimbing mereka bergerak dari posisi “memikirkan diri sendiri” ke posisi “memusatkan pikiran pada pribadi Yesus”. Mukjizat yang akan dilakukan-Nya bukanlah sesuatu yang bersifat otomatis dan magic, melainkan membutuhkan iman. “Ya Tuhan, kami percaya” (Mat 9:28),  itulah jawaban mereka. Sebagai tanggapan terhadap iman mereka, Yesus menunjukkan kepada mereka  kedalaman cinta kasih Allah. Tidak saja Yesus menyembuhkan kebutaan fisik kedua orang itu, Dia juga memulihkan kebutaan spiritual mereka.  Dua orang buta itu menghargai apa yang telah dilakukan Yesus atas diri mereka. Dari bacaan Injil ini pun kita percaya bahwa dua orang buta yang disembuhkan itu, dengan dua mata yang terbuka lebar mengenali siapa Yesus sebenarnya, kemudian merangkul Dia sebagai Juruselamat mereka. Meskipun dengan tegas dilarang oleh Yesus, mereka keluar dan memasyhurkan Dia ke seluruh daerah itu ( Mat 9:31).

Nah, Yesus ingin sekali agar kita semua mendekat kepada-Nya dengan penuh kepercayaan seperti ditunjukkan oleh kedua orang buta yang disembuhkan-Nya itu, yaitu mohon belas kasihan dan rahmat-Nya. Apa yang dapat menahan atau menghalangi kita? Mungkin rasa masa bodoh, atau mungkin ketidak-percayaan kita, atau mungkin juga rasa tidak berarti. Ingatlah pesan Santo Paulus, bahwa tidak ada apa pun atau siapa pun yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus, bahkan maut sekali pun (Rm 8:31-39). Memang terkadang kita merasa tidak mempunyai cukup iman kepada Yesus yang mau menjawab seruan kita kepada-Nya.

Kita sering  kali merasa hampir putus-asa ketika berdoa kepada-Nya. Seakan-akan Dia tidak pernah mendengarkan doa-doa kita! Dalam situasi seperti ini, ingatlah akan sebuah kenyataan: Allah mengetahui dan mengenal kelemahan-kelemahan kita lebih daripada kita sendiri. Dia pun selalu siap memberikan rahmat yang kita perlukan untuk menanggapi firman-Nya dengan penuh rasa percaya dan ketaatan. Dia mau memberikan kepada kita jauh lebih banyak daripada yang kita mohonkan atau bayangkan.

Mata kita dibuka pada waktu kita dibaptis. Pada waktu itulah kepada kita diberikan “penglihatan” khusus yang dinamakan iman. Dengan mata iman, kita perlu mengamati dengan seksama segala hal yang dilakukan Yesus bagi diri kita. Melalui baptisan kita pun dibersihkan dari kekustaan dosa. Kita tidak lagi tuli terhadap Kabar Baik yang diberitakan kepada kita, artinya kita mampu mendengar sabda Allah. Kita telah dibangkitkan dari kematian dosa dan diberikan hidup baru dalam Kristus. Kita berjalan dengan gagah dalam terang Kristus. Apakah kita harus mencari pribadi lain selain Yesus? Tentu saja tidak! Dia adalah Tuhan dan Juruselamat kita! Semoga dalam masa Adven ini kita dapat semakin dekat lagi dengan Yesus, berpengharapan teguh bahwa Dia akan memenuhi semua janji-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, kami sangat bersyukur bahwa Engkau mendengarkan doa sederhana yang dipanjatkan dari hati yang tulus. Kami juga sangat terkesan atas kenyataan bahwa Engkau menghargai kebebasan pribadi kedua orang buta itu sebagai anak manusia: Engkau membangkitkan dan meningkatkan pengharapan, hasrat dan iman mereka, namun Engkau tidak memaksa… ; dan mukjizat pun terjadi menurut iman mereka. Tuhan, tingkatkanlah iman dalam diri kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini [Mat 9:27-31],  bacalah  tulisan yang berjudul “JADILAH KEPADAMU MENURUT IMANMU” (bacaan tanggal 7-12-18) dalam situs/blog  SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 2-12-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 5 Desember 2018

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SAKSI-SAKSI HIDUP DARI KUASA DAN RAHMAT ALLAH

SAKSI-SAKSI HIDUP DARI KUASA DAN RAHMAT ALLAH

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Adven – Kamis, 6 Desember 2018)

 

Pada waktu itu nyanyian ini akan dinyanyikan di tanah Yehuda: “Pada kita ada kota yang kuat, untuk keselamatan kita TUHAN (YHWH) telah memasang tembok dan benteng. Bukalah pintu-pintu gerbang, supaya masuk bangsa yang benar dan yang tetap setia! Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya. Percayalah kepada YHWH selama-lamanya, sebab YHWH ALLAH adalah gunung batu yang kekal. Sebab Ia sudah menundukkan penduduk tempat tinggi; kota yang berbenteng telah direndahkan-Nya, direndahkan-Nya sampai ke tanah dan dicampakkan-Nya sampai ke debu. Kaki orang-orang sengsara, telapak kaki orang-orang lemah akan menginjak-injaknya.” (Yes 26:1-6) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 118:1,8-9,19-21,25-27; Bacaan Injil: Mat 7:21,24-27 

Dalam visinya tentang zaman mesianis, Yesaya melihat sebuah kerajaan yang dihuni oleh “bangsa-bangsa yang benar, yang tetap setia pada iman” – orang-orang miskin dan membutuhkan – sementara yang angkuh dan ditinggikan direndahkan-Nya sampai ke tanah dan dicampakkan-Nya sampai ke debu (lihat Yes 26:2-6). Banyak sekali ayat-ayat dalam Kitab Suci yang berbicara mengenai kasih Allah terhadap orang-orang lemah dan rendah hati dan penghakiman-Nya atas orang-orang yang angkuh-sombong, seperti yang ditulis oleh sang pemazmur: “YHWH itu tinggi, namun Ia melihat orang yang hina, dan mengenal orang yang sombong dari jauh” (Mzm 138:6). Seperti yang dikatakan Maria dalam kidungnya: “Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa” (Luk 1:53). Juga seperti yang disabdakan-Nya sendiri: “Siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Mat 23:12).

Allah lebih menyukai orang-orang yang rendah hati, bukannya karena mereka lebih baik, melainkan karena mereka lebih terbuka kepada-Nya. Disposisi hati mereka memperkenankan Allah bekerja dalam diri mereka sebagaimana Dia ingin bekerja dalam diri setiap orang – baik yang angkuh-sombong maupun yang rendah hati. Karena mereka mengetahui bahwa kasih Allah merupakan suatu anugerah yang diberikan secara bebas-gratis, maka orang-orang rendah hati ini tidak merasa terdorong untuk memperoleh kasih Allah melalui capaian-capaian besar berdasarkan upaya mereka sendiri. Sebaliknya, mereka sepenuhnya menggantungkan diri pada Allah untuk segala kebutuhan mereka (dan kebutuhan-kebutuhan itu dipenuhi), dengan demikian secara alamiah mereka pun menjadi saksi-saksi hidup dari kuasa dan rahmat Allah.

Sebuah contoh kerendahan hati (kedinaan) sedemikian adalah Santa Jeanne Jugan [1792-1879] yang melakukan pelayanan kasih terhadap orang-orang miskin dan lansia di Perancis pada masa pasca revolusi. Digerakkan oleh Roh Kudus, Jeanne mendirikan komunitas “Suster-suster Kecil dari Orang Miskin”. Jeanne sering berkata kepada para susternya: “Perkenankanlah dirimu dibentuk oleh ‘Roh kekecilan’ …… Kita tidak memiliki apa pun dan menantikan semuanya dari Allah.” Jeanne memahami bahwa nilai dirinya tidak tergantung kepada seberapa berhasil pekerjaannya, melainkan hanya karena melakukan apa yang diminta Allah dari dirinya.

Sementara komunitas suster-suster kecilnya semakin bertumbuh-kembang dan populer, seorang imam dengan ambisi berlebihan yang berafiliasi dengan mereka mulai mengambil semakin banyak kredit atas karya kasih Jeanne dan para susternya. Pada akhirnya si imam itu berhasil mendesak Jeanne untuk “pensiun dini”, sedangkan dia sendiri bertumbuh menjadi semakin populer. Selama masa susah ini Jeanne tidak pernah protes di muka publik. Ia tahu sekali, bahwa “Suster-suster kecil dari Orang Miskin” adalah karya Allah sendiri – bukan karyanya – sehingga dengan demikian Jeanne mampu menyerahkannya dan melanjutkan pemusatan perhatiannya pada tujuan tertinggi, yaitu mengasihi Tuhan Allah dalam segala situasi. Jeanne Jugan dibeatifikasikan oleh Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 3 Oktober 1982     dan dikanonisasikan sebagai seorang Santa oleh Paus Benediktus XVI pada tanggal 11 Oktober 2009.

DOA: Bapa surgawi, rahmat-Mu cukuplah bagiku dalam segala situasi yang kuhadapi dalam hidup ini. Ajarlah aku untuk tetap berdiri tegak dalam segala kelemahanku dan bergembira untuk rahmat berlimpah dari-Mu yang ada dalam diriku. Bapa, aku sungguh rindu untuk bertemu dengan-Mu – muka ketemu muka – dan melihat sendiri segala kebesaran-Mu. Tolonglah aku agar tetap setia pada hal-hal yang akan membawaku lebih dekat lagi kepada-Mu, sehingga pengenalan dan kasihku kepada-Mu menjadi semakin dalam pula. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:21,24-27),  bacalah  tulisan yang berjudul “YESUS INGIN AGAR KITA MEMBANGUN KEHIDUPAN DI ATAS SABDA-NYA” (bacaan tanggal 6-12-18) dalam situs/blog  SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com;  kategori: 18-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 7-12-17 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 5 Desember 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HATI YESUS TERGERAK OLEH BELAS KASIHAN

HATI YESUS TERGERAK OLEH BELAS KASIHAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Adven – Rabu, 5 Desember 2018)

Setelah meninggalkan daerah itu, Yesus menyusur pantai Danau Galilea dan naik ke atas bukit lalu duduk di situ. Kemudian orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya membawa orang lumpuh, orang buta, orang timpang, orang bisu dan banyak lagi yang lain, lalu meletakkan mereka pada kaki Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya. Orang banyak itu pun takjub melihat orang bisu berkata-kata, orang timpang sembuh, orang lumpuh berjalan, orang buta melihat, dan mereka memuliakan Allah Israel.

Lalu Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata, “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak itu. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Aku tidak mau menyuruh mereka pulang dengan lapar, nanti mereka pingsan di jalan.”  Kata murid-murid-Nya kepada-Nya, “Bagaimana di tempat terpencil  ini kita mendapat roti untuk mengenyangkan orang banyak yang begitu besar jumlahnya?” Kata Yesus kepada mereka, “Kamu punya berapa roti?”  “Tujuh,” jawab mereka, “dan ada lagi beberapa ikan kecil.” Lalu Yesus menyuruh orang banyak itui duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti dan ikan-ikan itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya memberikannya kepada orang banyak. Mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang lebih, sebanyak tujuh bakul penuh. (Mat 15:29-37) 

Bacaan Pertama: Yes 25:6-10a; Mazmur Tanggapan: 23:1-6 

Salah satu kebutuhan pokok manusia adalah makan-minum. Kita praktis tidak dapat bertumbuh dan survive tanpa pangan. Beberapa tanda dari belarasa Yesus terlihat nyata dalam hal kebutuhan manusia akan makan-minum ini. Ketika Yesus melihat keadaan orang-orang yang mengikuti-Nya, Dia berkata, “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak itu. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Aku tidak mau menyuruh mereka pulang dengan lapar, nanti mereka pingsan di jalan” (Mat 15:32). Orang yang kelaparan tidak dapat diharapkan untuk dapat memikirkan apa-apa lagi, kecuali makanan yang dapat dimakannya dan minuman yang dapat diminumnya. [“The stomach cannot wait,” kata Bung Karno.] Ketika Putera Allah menjadi manusia seperti kita, Dia menerima semua aspek kehidupan kita-manusia, termasuk rasa lapar dan haus. Dalam bacaan Injil di atas, jelaslah bahwa Yesus tahu dari pengalaman-Nya sendiri sebagai seorang manusia, apa yang dirasakan orang banyak yang mengikuti-Nya itu. Dengan demikian tidaklah mengejutkan kalau dalam hal ini Yesus menanggapi kebutuhan mendesak orang banyak itu dengan membuat sebuah mukjizat bagi mereka. Yang seharusnya sangat membuat kita kagum adalah bahwa Yesus menanggapi rasa lapar dan haus spiritual kita dengan cara yang lebih besar dan agung daripada sebuah mukjizat. Pada waktu kita menghadap Dia dalam Perayaan Ekaristi, Yesus Kristus juga tidak mau kita pulang dengan rasa lapar. Dia mengenyangkan umat yang hadir dalam Perayaan Ekaristi dengan tubuh dan darah-Nya sendiri. Ekaristi adalah sebuah pemberian gratis yang sangat indah-mulia dari Sang Juruselamat dalam belarasa-Nya kepada kita, dan Dia memberikan itu setiap hari.

Satu hal lagi untuk direnungkan: setiap mukjizat yang dilakukan oleh Yesus merupakan sebuah tanda yang menunjuk kepada Kerajaan Allah, jadi jauh melampaui mukjizat itu sendiri. Setiap mukjizat menunjukkan bahwa Dia adalah Mesias yang dinubuatkan Yesaya: “Ia akan meniadakan maut untuk seterusnya; dan Tuhan ALLAH akan menghapuskan air mata dari pada segala muka” (Yes 25:8). Dengan mempergandakan roti dan ikan, Yesus menunjukkan diri-Nya sebagai Dia yang memuaskan mereka yang lapar dengan suatu perjamuan dengan masakan yang istimewa (lihat Yes 25:6). Itulah mengapa, ketika orang banyak mengenali tanda-tanda ini, mereka takjub dan tergerak untuk memuliakan Allah Israel (lihat Mat 15:31). Kita seharusnya ingat bahwa Yesus sama sekali bukanlah seorang pembuat mukjizat atau tukang sihir yang melakukan perbuatan-perbuatan ajaib untuk pamer atau mencari keuntungan diri sendiri. Jauh dari itu! Mukjizat-mukjizat Yesus menyatakan belas kasihan Bapa-Nya kepada siapa saja yang membutuhkan atau yang berada dalam kesulitan (lihat Mat 15:32). Yesus menyembuhkan orang sakit dan memberi makan kepada orang yang lapar karena Dia mengasihi mereka dan hati-Nya tergerak oleh situasi mereka. Dan, mereka yang mengalami kasih-Nya tergerak untuk berpaling kepada Allah. Sampai hari ini pun Yesus masih membuat mukjizat-mukjizat karena Dia mengasihi kita. Hasrat dan kerinduan Bapa untuk menarik kita semua kepada-Nya dan kuasa Roh Kudus yang terus-menerus mengalir melalui Yesus manakala Dia menjamah hidup kita dengan cara-cara yang ajaib. Selagi kita membuka hati kita bagi kasih Allah dan Roh-Nya, kita pun dapat melakukan hal-hal yang ajaib. Apa maksudnya? Artinya, kita pun dapat membawa orang-orang kepada Allah sendiri, yang akan memenuhi diri mereka dengan kasih dan kesembuhan yang mereka rindukan.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih untuk segala mukjizat yang telah kualami dalam kehidupanku. Buatlah aku menjadi tanda kasih-Mu bagi orang-orang lain. Curahkanlah Roh-Mu ke dalam hatiku, dengan demikian melalui diriku banyak orang akan mengenal dan mengalami kuasa kesembuhan-Mu dan belas kasihan-Mu. Tuhan, aku juga sangat bersyukur karena sampai hari ini Engkau masih terus memberikan tubuh dan darah-Mu sendiri kepada kami dalam Ekaristi, sehingga dengan demikian kami tidak akan pernah kelaparan dan kehausan secara spiritual. Tuhan, bentuklah kami menjadi insan-ekaristik yang tidak hanya senang berkumpul di sekeliling altar-Mu di gedung gereja, tetapi juga di tengah-tengah masyarakat di mana kami tinggal. Buatlah kami mampu melihat diri-Mu di dalam diri siapa saja yang kami temui, baik umat Kristiani maupun saudari-saudara kami yang beriman-kepercayaan lain, teristimewa dalam masa Adven ini. Dimuliakanlah selalu nama-Mu Ya Yesus, Putera Allah yang hidup dan berkuasa bersama Bapa di surga dalam persekutuan Roh Kudus sepanjang segala masa. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 15:29-37), bacalah tulisan yang berjudul “MEREKA SEMUANYA MAKAN SAMPAI KENYANG” (bacaan tanggal 5-12-18) dalam situs/blog SANG SABDA  http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 6-12-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 3 Desember 2018 [Pesta S. Fransiskus Xaverius, Imam – Pelindung Misi] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS