Posts tagged ‘HARI BIASA PEKAN BIASA XVI’

APAKAH KITA MAU DIUBAH MENJADI GANDUM?

APAKAH KITA MAU DIUBAH MENJADI GANDUM?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVI – Sabtu, 27 Juli 2019)

Keluarga Fransiskan: Peringatan B. Maria Magdalena Martinengo, Perawan (Ordo II)

Yesus menyampaikan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya. Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi. Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu. Lalu datanglah hamba-hamba pemilik ladang itu kepadanya dan berkata: Tuan, bukankah benih baik, yang tuan taburkan di ladang tuan? Jadi, dari manakah lalang itu? Jawab tuan itu: Seorang musuh yang melakukannya. Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: Jadi, maukah Tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu? Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.” (Mat 13:24-30) 

Bacaan Pertama: Kel 24:3-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:1-2,5-6,14-15

Pernahkah anda menanam benih rumput yang bagus untuk taman pekarangan anda, dan belakangan anda menyaksikan ada juga rumput alang-alang perusak halaman yang tumbuh bersama dengan rumput mahal? Jika begitu halnya, maka anda barangkali memahami apa yang dipikirkan oleh para hamba pemilik ladang dalam perumpamaan di atas: cabutlah lalang itu sekarang juga, karena tumbuhan itu hanya merusak tumbuhan gandum! Sebuah keputusan yang memberi kesan cepat-tepat!

Akan tetapi bagaimana dengan orang yang menaburkan benih gandum itu? Apa dan bagaimana reaksinya? Ia langsung mengetahui dari mana lalang itu berasal. Namun tidak seperti para hambanya, dia lambat marah terhadap perbuatan licik musuhnya, dan hal ini memampukannya untuk berpikir secara jernih dan mengambil keputusan yang tepat tentang bagaimana menangani masalahnya. Dengan sabar, bahkan penuh belas kasihan, dia bersedia untuk membiarkan lalang itu bertumbuh, demi hasil gandum yang baik di akhir cerita. Tindakannya juga adil, karena meski dia menanti sampai waktu menuai, dia sungguh-sungguh menyuruh bakar lalang yang sudah diikat berberkas-berkas itu, dan gandum pun dikumpulkan ke dalam lumbungnya.

Perumpamaan ini menunjukkan kepada kita bahwa apabila Allah menyatakan diri-Nya kepada kita, kita dapat merasa bersalah dan bahkan terkutuk, karena rancangan Allah bukanlah rancangan kita, dan jalan-Nya bukanlah jalan kita (lihat Yes 55:8). Kita bertanya: “Mengapa tidak langsung saja mencabut lalang dan biarkan gandum itu bertumbuh?” Respons tergesa-gesa seperti itu menunjukkan bahwa kita perlu merefleksikan lebih lanjut satu hal: Sebagai ‘siapa’ Allah menyatakan diri-Nya? Allah kita bukanlah ‘seorang’ Allah yang langsung menghukum. Ia adalah Allah yang panjang sabar yang menawarkan setiap “lalang” kesempatan untuk diubah menjadi “gandum”. Selagi kita mulai sedikit memahami kerahiman Allah dan kesabaran-Nya, maka hati kita dapat disentuh dengan suatu hasrat untuk ikut ambil bagian dalam misi-Nya mentransformir dunia kita sehingga dapat menjadi lahan yang subur dan menghasilkan buah. Kita semua mengakui bahwa musuh dapat menaburkan benih lalang, namun Allah tetap yakin bahwa Dia dapat membawa kebaikan dan mengalahkan kejahatan.

Santa Katarina dari Siena pernah mengatakan bahwa Allah adalah “lautan yang dalam”: “semakin banyak yang kita cari, semakin banyak pula yang kita temukan, dan semakin banyak yang kita temukan, semakin banyak pula yang kita cari.” Pada waktu kita berdoa, ketika kita membaca Kitab Suci, bahkan perumpamaan-perumpamaan Yesus yang paling sederhana sekali pun, Ia mengejutkan kita dengan pernyataan-Nya yang tak sebagaimana diharap-harapkan sebelumnya: pernyataan kasih-Nya, kerahiman-Nya, kesenangan-Nya serta sayang-Nya akan ciptaan-Nya. Singkat cerita: Allah menjungkirbalikkan asumsi-asumsi kita dan membuktikan bahwa diri-Nya lebih setia dan jauh lebih penuh dengan kuat-kuasa daripada apa yang kita pernah bayangkan!

DOA: Bapa surgawi, selagi aku berdoa dan membaca Kitab Suci pada hari ini, tunjukkanlah kepadaku dengan lebih jelas lagi siapa sebenarnya Engkau. Aku ingin mengenal kuat-kuasa-Mu untuk mengubah hati manusia – bahkan hatiku sendiri juga – agar dapat menjadi gandum yang terbaik. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 13:24-30), bacalah tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN YESUS TENTANG LALANG DI ANTARA GANDUM” (bacaan tanggal 27-7-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-07 BACAAN HARIAN JULI 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 24 Juli 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MEREKA MENGAMBIL TEMPAT YANG LAYAK DALAM SEJARAH KESELAMATAN

MEREKA MENGAMBIL TEMPAT YANG LAYAK DALAM SEJARAH KESELAMATAN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Yoakim dan S. Anna, Orangtua SP Maria – Jumat,  26 Juli 2019)

Dan sekarang kami hendak memuji orang-orang termasyhur, para nenek moyang kita menurut urut-urutannya.

Tetapi yang berikut ini adalah orang kesayangan yang kebajikannya tidak sampai terlupa; semuanya tetap tinggal pada keturunannya sebagai warisan baik yang berasal dari mereka. Keturunannya tetap setia kepada perjanjian-perjanjian, dan anak-anak merekapun demikian pula keadaannya. Keturunan mereka akan tetap tinggal untuk selama-lamanya, dan kemuliaannya tidak akan dihapus. Dengan tenteram jenazah mereka ditanamkan, dan nama mereka hidup terus turun-temurun. Bangsa-bangsa bercerita tentang kebijaksanaannya, dan pujian mereka diwartakan jemaah. (Sir 44:1,10-15) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 132:11,13-14,17-18; Bacaan Injil: Mat 13:16-17 

Pada hari ini Gereja memperingati Santo Yoakim dan Santa Anna, orangtua dari SP Maria, artinya kakek-nenek Yesus dari Nazaret dari pihak ibu. Nama mereka tidak ada dalam daftar nenek-moyang Yesus Kristus, baik dalam Injil Matius maupun Injil Lukas. Dalam kedua silsilah tersebut hanya para leluhur/karuhun dari pihak Yusuf saja yang disebut. Namun dalam tulisan-tulisan yang tidak termasuk kanon, yang kebetulan ada dalam perpustakaan pribadi saya, nama-nama mereka muncul: (1) Dalam “Injil Kelahiran Maria” (Inggris: The Gospel of the Birth of Mary); dan (2)  dalam THE PROTOEVANGELION BY JAMES THE LESSER, COUSIN AND BROTHER OF THE LORD JESUS;  keduanya terdapat dalam THE LOST BOOKS OF THE BIBLE, New York: New American Library, 1974 (asli:1926). Tulisan kedua di atas juga terdapat dalam Ron Cameron (Editor), THE OTHER GOSPELS dengan judul THE PROTEVANGELIUM OF JAMES, Philadelphia: The Westminster Press, 1982.

Dalam Proto-Injil Yakobus (PIY) ini diceritakan kelahiran Maria yang ajaib. Keprihatinan utama dari “legenda”/”tradisi” seperti ini adalah sejalan dengan data Perjanjian Baru, yaitu untuk menunjukkan bahwa Maria mempunyai sebuah tempat istimewa dalam sejarah Allah dengan manusia. “Legenda”/”tradisi” ini menggambarkan Yoakim dan Anna yang saling terikat oleh cinta sejati. Mereka adalah orang-orang yang takut akan Allah dan kaya. Untuk jangka waktu lama mereka tidak dianugerahi anak (seperti kasus Samuel dan Yohanes Pembaptis). Tidak mengherankanlah apabila para tetangga mencurigai bahwa ada yang tidak benar dalam kesalehan hidup mereka. Seperti kita ketahui, dalam Perjanjian Lama, tidak dikaruniai anak dinilai sebagai suatu penghukuman atas dosa-dosa pribadi.

Yoakim dan Anna sangat sedih karena semua itu. Mereka mengaduh di hadapan Allah tentang ketiadaan anak yang mereka alami. Yoakim melakukan “retret” selama 40 hari dan 40 malam di padang gurun, melakukan pertobatan di hadapan Allah melalui puasa dan doa. Yoakim berkata: “Aku tidak akan makan atau minum sampai Tuhan Allahku mengunjungi aku; doa akan menjadi makanan dan minumanku” (PIY 1:4). Di sisi lain Anna meratapi situasi ketiadaan anaknya di hadapan YHWH-Allah seperti yang dilakukan oleh Hana ibu Samuel. Akhirnya, Allah melakukan intervensi.

Lewat malaikat Tuhan, Yoakim dan Anna menerima janji Allah bahwa mereka akan memperoleh seorang anak. Berita tersebut membuat ke dua orang tersebut penuh sukacita dan saling bertemu lagi. “Reuni” pasutri ini digambarkan dengan indah dan mengharukan dalam Proto-Injil Yakobus. Saya mencatat sebagian kecil saja: Anna sudah menunggu di pintu gerbang ketika Yoakim datang dengan kawanan hewan peliharaannya. Anna berlari mendapatkan suaminya itu, merangkulnya dan berkata: “Sekarang aku tahu bahwa Tuhan Allah sangat memberkatiku; karena lihatlah si janda tidak lagi seorang janda, dan aku yang dikatakan seorang mandul, telah mengandung [akan mengandung]” (PIY 4:4). Keesokan harinya Yoakim mempersembahkan kurban kepada Allah di Bait Suci (PIY 5:1). Sembilan bulan setelah Yoakim menghampiri Anna, lahirlah Maria. Maria dilahirkan secara ajaib dari seorang perempuan yang telah dinyatakan mandul, demikian pula dia kelak akan melahirkan secara ajaib ke dalam dunia Putera Allah Yang Mahatinggi, Juruselamat semua bangsa.

Sekali lagi saya kemukakan di sini bahwa keprihatinan utama dari “legenda”/”tradisi” ini adalah jelas untuk menyatakan bahwa Maria dipilih oleh Allah secara istimewa, dan ia mempunyai suatu tugas yang khusus dalam sejarah keselamatan. Yoakim dan Anna hanya sekadar tokoh-tokoh di belakang layar. Namun demikian, pasutri ini tidak begitu saja menghilang karena mereka digambarkan sebagai orang-orang kudus dalam pengertian Perjanjian Lama, seperti digambarkan dalam bacaan pertama hari ini yang diambil dari Kitab Yesus bin Sirakh.

Iman pasutri ini akan Allah juga dinyatakan dalam tindakan mereka menyerahkan Maria ketika berumur tiga tahun ke Bait Suci (PIY 7:2) untuk memenuhi janji yang dibuat Anna sebelum kelahiran Maria (PIY 4:1) dan memperkenankan anak itu tinggal dalam Bait Suci. Pasutri Yoakim dan Anna dengan penuh kemurahan hati mempersembahkan kepada Allah apa yang telah dianugerahkan-Nya kepada mereka. Yoakim dan Anna setia pada Allah bahkan ketika mengalami ujian atas iman-kepercayaan mereka. Mereka mengambil tempat yang layak dalam sejarah keselamatan – sebagai orangtua Maria!

DOA: Bapa surgawi, pada hari peringatan Santo Yoakim dan Santa Anna ini, berkatilah secara khusus para pasutri dalam keluarga-keluarga Kristiani, teristimewa mereka yang tidak/belum dianugerahi anak-anak. Tumbuh-kembangkanlah keutamaan-keutamaan iman, pengharapan dan kasih dalam keluarga-keluarga tersebut. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan hari ini (Sir 44:1,10-15), bacalah tulisan berjudul “CERITA TENTANG IBU DAN AYAH DARI BUNDA MARIA” (bacaan tanggal 26-7-18) dalam situs/blog dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-07 BACAAN HARIAN JULI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 26-7-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 23 Juli 2019 [Peringatan S. Birgitta dr Swedia, Janda (OFS)]  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

CERITA TENTANG SALAH SEORANG BOANERGES

CERITA TENTANG SALAH SEORANG BOANERGES

(Bacaan Pertama  Misa Kudus, Pesta Santo Yakobus, Rasul – Kamis, 25 Juli 2019)

Tetapi harta ini kami miliki dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak hancur terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami. Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini. Dengan demikian, maut giat di dalam diri kami dan hidup giat di dalam kamu.

Namun demikian karena kami memiliki roh iman yang sama, seperti ada tertulis: “Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata”, maka kami juga percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata. Karena kami tahu bahwa Ia, yang telah membangkitkan Tuhan Yesus, akan membangkitkan kami juga bersama-sama dengan Yesus, Ia juga akan menghadapkan kami bersama-sama dengan kamu kepada diri-Nya. Sebab semuanya itu terjadi karena kamu, supaya anugerah yang semakin besar berhubungan dengan semakin banyaknya orang yang menjadi percaya, menyebabkan semakin melimpahnya ucapan syukur bagi kemuliaan Allah. (2Kor 4:7-15) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 126:1-6; Bacaan Injil: Mat 20:20-28 

“Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak hancur terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa.” (2 Korintus 4:8-9)

Pada hari ini kita merayakan pesta Santo Yakobus, saudara dari Yohanes Penginjil dan anak dari Zebedeus. Kedua rasul bersaudara ini diberi oleh Yesus nama Boanerges, yang berarti anak-anak guruh (Mrk 3:17). Atas perintah Raja Herodes Agrippa, Yakobus ditangkap dan dibunuh (Kis 12:1-2). Dengan demikian Yakobus merupakan rasul Kristus pertama yang dibunuh sebagai martir bagi Yesus Kristus.

Yakobus pastilah seorang rasul yang sangat kuat karena dialah yang dipilih oleh Herodes Agrippa untuk yang pertama dipancung, hal mana menyenangkan hati orang Yahudi (Kis 12:3). Oleh karena itu, Herodes Agrippa membuat rasul Petrus menjadi target selanjutnya (Kis 12:3).

Yakobus – rasul Kristus pertama yang mati demi kasih kepada-Nya – kiranya bersama Yohanes pernah merupakan masalah bagi rasul-rasul lain, gara-gara permohonan ibunda mereka yang meminta jabatan istimewa bagi kedua anaknya itu (lihat Mat 20:20-28, khususnya ayat 24; bdk. Mrk 10:35-45). Jabatan Menko-Menko dalam kabinet Kristus? Dengan penuh kesabaran Yesus berkata kepada para murid-Nya bahwa cara untuk mencapai kemuliaan adalah dengan merendahkan diri untuk melayani dengan rendah hati (Mat 20:26-27).

Yakobus pada akhirnya menerima nasihat Yesus dan menyimpannya dalam hatinya. Setelah Pentakosta, Yakobus tidak mencoba untuk menyelamatkan hidupnya sendiri. Bersama para rasul yang lain, Yakobus secara terus-menerus memberitakan Kabar Baik Yesus Kristus kepada orang banyak. “Kisah para Rasul” mencatat: “Setiap hari mereka mengajar di Bait Allah dan di rumah-rumah dan memberitakan Injil tentang Yesus yang adalah Mesias” (Kis 5:42), serta membuat mukjizat-mukjizat dan berbagai tanda heran lainnya (lihat Kis 5:12). Dengan iman yang besar, Yakobus memberikan hidupnya sendiri demi cintakasih kepada Allah dan umat-Nya (bdk. Mat 20:28).

Seperti Yakobus, semoga hidup kita menjadi sedemikian kuatnya dalam Yesus, sehingga dengan demikian kita merupakan seorang “tanda lawan” yang menjadi “masalah” bagi siapa saja yang menentang Yesus dan segala sabda dan perbuatan baik yang dilakukan-Nya.

DOA: Bapa surgawi, Allah Yang Mahalain, kuduslah nama-Mu. Semoga kehadiran Roh-Mu di dalam hati kami masing-masing – seperti halnya dengan Rasul Yakobus, kami tidak mengenal rasa takut dalam mengikuti jejak Putera-Mu terkasih, Tuhan kami Yesus Kristus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (2Kor 4:7-15), bacalah tulisan yang berjudulBIARLAH DIRI KITA JUGA DILUCUTI” (bacaan tanggal 25-7-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-07 BACAAN HARIAN JULI 2019.  

Cilandak, 22 Juli 2019 [Pesta S. Maria Magdalena] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KEMURAHAN HATI ALLAH YANG BERLIMPAH-LIMPAH

KEMURAHAN HATI ALLAH YANG BERLIMPAH-LIMPAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVI – Rabu, 24 Juli 2019)

Pada hari itu keluarlah Yesus dari rumah itu dan duduk di tepi danau. Lalu datanglah orang banyak berbondong-bondong dan mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai. Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Kata-Nya, “Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah tanaman-tanaman itu dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati. Sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat. Siapa yang bertelinga, hendaklah ia mendengar!” (Mat 13:1-9) 

Bacaan Pertama: Kel 16:1-5,9-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 78:18-19,23-28

Coba anda mengingat-ingat guru-guru terbaik di sekolah tempat anda belajar dahulu atau dosen-dosen ketika kuliah dahulu. Pada tahun 1960-an di FEUI ada seorang dosen yang  bernama Drs. Tan Goan Tiang (kelak dikenal sebagai Prof. Nathanael, pendiri Lembaga Demografi FEUI). Saya duduk di kelas beliau ketika belajar “Ilmu Ekonomi Mikro”. Banyak mahasiswa kelas itu merasa tidak sabar menunggu-nunggu pengajaran beliau. Praktis semua mahasiswa dalam kelas itu menaruh respek kepada beliau karena beliau memang pandai namun sederhana dalam penampilan, serius, tidak banyak membual. Kelasnya selalu penuh. Menjadi guru memang panggilannya. Dia pernah menjadi seorang guru SMA Kristen yang hampir setiap tahun menghasilkan bintang pelajar; dan tidak ada yang menyangkal bahwa beliau adalah seorang Kristiani sejati (anggota Gereja GKI Kwitang), yang dihormati tidak hanya oleh mereka yang Kristiani. Pada waktu kematiannya, jenazah Prof. Nathanael di semayamkan di kampus FEUI di Salemba dan banyak sekali para mantan mahasiswanya dari berbagai angkatan datang melayat. Seorang mantan mahasiswanya, Prof. Dr. Dorojatun Kuncorojakti, menulis sebuah artikel di salah satu majalah terkenal pada waktu itu, kalau tidak salah berjudul “Pohon yang berbuah”. Prof. Tan Goan Tiang memang seorang guru sejati dan banyak berbuah.

Saya yakin sekali bahwa Yesus, ketika mengajar tentang Kerajaan Allah, juga pasti sangat memikat para murid dan orang banyak yang mendengar-Nya. Yesus bukanlah seorang guru yang datang dengan berbagai data statistik, diagram dll. Tentunya Dia juga tidak mengajar sampai detil-detil yang harus dihafalkan oleh para pendengar-Nya. Yesus menggunakan perumpamaan-perumpamaan, cerita-cerita mengenai orang-orang dan situasi-situasi yang dengan mudah membuat orang menghubungkan dirinya dengan itu semua. Dia ingin memenangkan hati kita dan juta membentuk pikiran kita. Siapa yang bisa mengajar lebih hebat daripada Yesus, Dia yang menciptakan kita dan “turun ke dunia” sebagai seorang manusia, kemudian mati di kayu salib untuk menyelamatkan kita?

Layaknya seorang guru yang baik, Yesus tidak memberikan jawaban-jawaban standar. Ia mengundang kita untuk terlibat. Ia menantang kita agar membuka hati dan dengan rendah hati menerima sabda-Nya ke dalam jiwa kita. Agar supaya ajaran-Nya berbuah dalam kehidupan kita, maka kita harus “mendengar dengan telinga kita” dan “melihat dengan mata kita” (bdk. Mat 13:15-17). Walaupun kita mempunyai ajaran Gereja, tidak ada pengganti daripada penemuan apa yang dikatakan oleh sabda Allah dalam Kitab Suci bagi kita masing-masing secara pribadi.

Dengan perumpamaan ini, Matius menunjukkan satu pengajaran Yesus yang indah. Melalui perumpamaan ini penulis Injil ini menyoroti cara Yesus mengajar. Yesus menggunakan “perumpamaan tentang seorang penabur” ini untuk mengilustrasikan kemurahan-hati Allah yang berlimpah-limpah. Bapa surgawi selalu menaburkan benih-benih firman-Nya, mengundang kita untuk mengenal dan mengalami kasih dan kerahiman-Nya. Dia selalu mengulurkan tangan-tangan-Nya kepada kita.  Mengetahui bahwa kita memiliki seorang Bapa yang tidak pernah membelakangi atau menolak kita, maka seharusnya hal ini memberikan kepada kita damai-sejahtera dan pengharapan.

Setiap benih yang jatuh pada tanah yang baik akan bertumbuh. Benih yang ditanam oleh Bapa surgawi tentunya akan bertumbuh manakala bertemu dengan hati yang terbuka bagi-Nya. Ini adalah janji Allah. Namun bagaimana kita menentukan apakah hati kita itu baik? Apa beberapa butir acuan:

  • Apakah keragu-raguan dan rasa tidak-percaya langsung mencuri damai-sejahtera yang dibawa oleh firman Allah kepada kita? (lihat Mat 13:19).
  • Apabila kesusahan atau penderitaan datang karena iman kita, apakah kita berdiri dengan kokoh dalam iman kita atau apakah kita jatuh ke dalam kompromi (lihat Mat 13:20-21).
  • Apakah kita terlalu dibebani dengan pengurusan hal-ikhwal dunia? Apakah kesenangan karena harta-kekayaan dan berbagai hasrat akan “kenikmatan-kenikmatan” mengambil tempat yang lebih besar dalam hati kita ketimbang kehadiran Yesus? (lihat Mat 13:22).

Kita seharusnya tidak berputus-asa atas tanah yang berbatu-batu atau semak duri dari ketidak-percayaan, pelanturan-pelanturan atau rasa takut yang menghalangi firman Allah untuk kuat-mengakar dalam hati kita. Yesus senang sekali mengubah hati kita, asal saja dengan tulus-ikhlas kita mohonkan hal itu kepada-Nya. Yesus memiliki kesabaran yang sangat luarbiasa dengan kita masing-masing, seperti apa yang telah dicontohkan-Nya ketika membimbing/mengajar para murid-Nya yang bebal-bebal itu. Dia juga sangat senang untuk menjelaskan kepada kita mengenai “rahasia Kerajaan Allah” selagi kita memperkenankan sabda firman-Nya bertumbuh dalam diri kita.

DOA: Roh Kudus, siapkanlah hati kami untuk menerima firman Allah, lebih dan lebih banyak lagi. Nyatakanlah kepada kami hasrat mendalam dari Yesus untuk mengajar kami tentang “rahasia Kerajaan Allah”, dan juga betapa besar kasih-Nya serta kesabaran-Nya dalam menghadapi segala kelemahan kami. Tolonglah kami agar dapat sungguh berbuah bagi Kerajaan Allah.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yer 1:1,4-10), bacalah tulisan yang berjudul “BAGAIMANA KITA AKAN MENANGGAPI FIRMAN ALLAH YANG DITANAM DALAM HATI KITA?” (bacaan tanggal 24-7-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-07 BACAAN HARIAN JULI 2019. 

(Tulisan ini revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-7-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 22 Juli 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENJADI ANGGOTA KELUARGA ALLAH

MENJADI ANGGOTA KELUARGA ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVI – Selasa, 23 Juli 2019)

Peringatan Fakultatif: S. Birgitta dr Swedia, Janda (OFS)

Ketika Yesus masih berbicara dengan orang banyak itu, ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya berdiri di luar dan berusaha menemui Dia. Lalu seorang berkata kepada-Nya, “Lihatlah, ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau.” Tetapi jawab Jesus kepada orang yang menyampaikan berita itu kepada-Nya, “Siapa ibu-Ku? Siapa saudara-saudara-Ku?” Lalu kata-Nya, sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya, “Inilah ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Sebab siapa saja yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga, dialah saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku perempuan dan ibu-Ku.” (Mat 12:46-50) 

Bacaan Pertama: Kel 14:21-15:1; Mazmur Tanggapan: Kel 15:8-10,12,17 

“Siapa ibu-Ku? Siapa saudara-saudara-Ku?” (Mat 12:48). Mengapa Yesus mengajukan pertanyaan seperti ini? Tentu saja Dia mengenal para anggota keluarga-Nya. Namun Ia ingin menyampaikan sebuah pesan penting: Menjadi anggota keluarga Allah tidak ada urusannya dengan hubungan darah dan sepenuhnya berurusan dengan pertobatan, iman, dan ketaatan kepada-Nya dari hari ke hari.

Allah tidak mempunyai cucu. Orang-orang tidak menjadi anggota-anggota keluarga-Nya hanya sekadar karena asosiasi dengan orang-orang Kristiani lainnya. Setiap orang harus menjadi seorang anak Allah melalui tanggapannya sendiri terhadap rahmat Allah. Latar belakang keluarga dan budaya tidak pernah dapat mengambil tempat “iman pribadi kepada Allah”. Kita tidak dapat mengklaim keanggotaan dalam keluarga Yesus karena keluarga kita itu religius, atau karena kita berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan keagamaan, atau karena kita memberi uang untuk gereja. Sama sekali tidak! Yesus menyatakan dengan jelas: “… siapa saja yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga, dialah saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku perempuan dan ibu-Ku” (Mat 12:50).

Memang benar, rahmat Allah diberikan kepada kita secara bebas dan gratis pada waktu kita dibaptis. Namun iman pribadi kepada Kristus, persaudaraan sejati dengan Dia, bersumber pada rahmat itu untuk mengembangkan suatu hidup ketaatan kepada Allah. Yesus mengingatkan  bahwa “bukan setiap orang yang berseru kepada-Nya Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa-Nya yang di surga” (lihat Mat 7:21), artinya hanya mereka yang mengakui-Nya sebagai Tuhan dan taat kepada sabda-Nya. Yesus juga mengatakan bahwa tanda yang membedakan para murid-Nya dengan orang-orang lain adalah saling mengasihi di antara mereka seperti Dia sendiri telah mengasihi mereka (lihat Yoh 13:34-35). Selagi kita hidup di bawah atap rumah Bapa, taat pada “peraturan rumah tangga”-Nya, dan hidup seperti Yesus hidup, maka kita dapat diindentifikasikan sebagai anggota-anggota keluarga-cintakasih-Nya. Yesus adalah Saudara tua kita, dan sebagai anggota keluarga-Nya wajarlah apabila kita memiliki keserupaan dengan diri-Nya.

Hidup sebagai anggota-anggota keluarga Yesus menyangkut tindakan membuang hidup dosa kita yang lama dan secara berkesinambungan mengalami proses pembentukan kembali ke dalam keserupaan dengan Yesus, selagi kita menyerahkan diri kita kepada rahmat-Nya. Hal ini mempunyai implikasi konkret atas cara hidup kita setiap hari. Cukup seringkah kita bertanya kepada Tuhan Yesus, “Apakah yang harus kulakukan dalam situasi ini?” atau “Yesus, bagaimana Engkau akan menangani ini? Ketaatan terkadang dapat terasa sulit, namun ada berkat besar dan kebebasan dalam hal menjadi saudari dan saudara Kristus.

DOA: Tuhan Yesus, berikanlah kepadaku sebuah hati yang taat. Dengan ini aku menyerahkan hati dan pikiranku kepada-Mu. Buanglah segala sesuatu dalam diriku yang bukan berasal dari-Mu, agar dengan demikian hanya Engkaulah yang tetap ada dalam diriku. Yesus, jadikanlah hatiku seperti hati-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 12:46-50), bacalah tulisan yang berjudul “SIAPA SAJA YANG MELAKUKAN KEHENDAK BAPA-KU DI SURGA” (bacaan tanggal 23-7-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-07 BACAAN HARIAN JULI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 24-7-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 20 Juli 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERJUMPAAN DENGAN KRISTUS YANG BANGKIT DALAM SUASANA INTIM

PERJUMPAAN DENGAN KRISTUS YANG BANGKIT DALAM SUASANA INTIM

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S. Maria Magdalena – Senin, 22 Juli 2019)

OSF: Pesta S. Maria Magdalena, nama pendiri tarekat: Sr. Magdalena Daemen

Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu penutupnya telah diambil dari kubur. Ia berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka, “Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan.”

Tetapi Maria berdiri di luar kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu, dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring sebelumnya. Kata malaikat-malaikat itu kepadanya, “Ibu, mengapa engkau menangis?” Jawab Maria kepada mereka, “Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan.” Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepadanya, “Ibu, mengapa engkau menangis? Siapa yang engkau cari?” Maria menyangka orang itu penjaga taman, lalu berkata kepada-Nya, “Tuan, jikalau Tuan yang mengambil Dia katakanlah kepadaku, di mana Tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya.” Kata Yesus kepadanya, “Maria!”  Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani, “Rabuni!”, artinya Guru. Kata Yesus kepadanya, “Janganlah engkau memegang Aku terus, sebab Aku belum naik kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.” Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid, “Aku telah melihat Tuhan!” dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya. (Yoh 20:1-2,11-18) 

Bacaan Pertama: Kid 3:1-4a atau 2Kor 5:14-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 63:2-6,8-9 

“Maria!” (Yoh 20:16). Apabila Allah berbicara, maka surga dan bumi pun bergetar. Bayangkanlah betapa rasa takut mencekam orang-orang Israel yang datang bersama Musa ke gunung Sinai yang dikelilingi oleh awan-awan tebal dan api yang berkobar-kobar, walaupun mereka hanya sampai ke kaki gunung saja (bacalah: Kel 19:1-25). Namun di puncak gunung itulah Allah mewahyukan/menyatakan perjanjian-Nya. dengan umat Israel lewat Musa. Demikian pula, betapa takut kiranya Maria Magdalena ketika dia mendapati kubur yang sudah kosong pada hari Paskah pagi (Yoh 20:1). Namun ia akan berjumpa dengan Kristus yang telah bangkit, Tuhan dan Juruselamat yang akan membawa dirinya ke dalam sebuah perjanjian yang baru dan kekal.

Sekarang, marilah kita merenungkan sejenak perjanjian baru yang telah kita terima dalam darah Yesus. Seluruh alam ciptaan adalah milik Allah, namun Ia memilih Israel, dan kemudian Gereja-Nya (Israel yang baru), untuk dipisahkan tersendiri sebagai suatu testimoni yang memancarkan sinar terang kemuliaan-Nya. Dia datang ke Israel dalam awan tebal dlsb. Ia berbicara kepada mereka melalui Musa, sang mediator. Ia datang kepada kita dalam Ekaristi dan berbicara secara langsung kepada hati kita oleh/melalui Roh Kudus-Nya. Maria berjumpa dengan Tuhan yang bangkit dalam suasana intim. Demikian pula kiranya yang terjadi dengan kita masing-masing setiap kali kita datang menghadap hadirat-Nya dalam doa, teristimewa dalam perayaan Ekaristi.

Ketika berkumpul di kaki gunung Sinai, orang-orang Israel sungguh tidak tahan mendengar suara YHWH-Allah (lihat Ibr 12:19-20). Semuanya begitu dahsyat serta menakutkan. Ketika Yesus menyebut nama “Maria”, maka keseluruhan hidupnya pun ditransformasikan. Kesedihan memberi jalan kepada suka-cita dan keputus-asaan memberi jalan kepada pengharapan. Segalanya yang diharapkan oleh Maria Magdalena adalah untuk mendengar suara Tuhan Yesus sendiri yang berbicara langsung kepadanya. Dan Tuhan yang bangkit memperkenankan hal ini terjadi dengan murid-setia-Nya yang perempuan ini!

Hal ini adalah privilese besar dari hidup kita sebagai anak-anak perjanjian baru. Kita tidak datang kepada kegelapan dan kegalauan, melainkan kepada Tuhan Yesus yang lemah-lembut, sang Anak Domba Allah yang disembelih untuk menebus dosa-dosa kita. Dalam Yesus kita dapat menyentuh takhta Allah dan diangkat dari kematian kepada kehidupan. Setiap hari kita dapat mendengar Tuhan Yesus menyebut nama kita. Setiap hari pula kita dapat diangkat sampai ke hadapan takhta Allah. Oleh karena itu, janganlah kita melarikan diri dari suara-Nya yang menyebut-nyebut nama kita.

DOA: Tuhan Yesus, ketika Maria Magdalena dan Maria yang lain menengok kubur-Mu pada hari Paskah pagi, tiba-tiba terjadilah gempa bumi yang hebat (Mat 28:1-2) yang tidak hanya menggoncangkan bumi, melainkan juga hati para murid-Mu. Engkau juga telah berjanji untuk menggoncangkan alam ciptaan lagi pada saat Engkau kembali dalam kemuliaan kelak. Aku menanti-nanti kedatangan-Mu dengan kerinduan yang besar. Datanglah, Tuhan Yesus! (Why 22:20). Datanglah! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 20:1-2,11-18), bacalah tulisan yang berjudul “AKU TELAH MELIHAT TUHAN!” (bacaan tanggal 22-7-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-07 BACAAN HARIAN JULI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 22-7-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 19 Juli 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KEBERADAAN LALANG DI ANTARA GANDUM

KEBERADAAN LALANG DI ANTARA GANDUM

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVI – Sabtu, 28 Juli 2018)

Yesus menyampaikan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya. Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi. Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu. Lalu datanglah hamba-hamba pemilik ladang itu kepadanya dan berkata: Tuan, bukankah benih baik, yang tuan taburkan di ladang tuan? Jadi, dari manakah lalang itu? Jawab tuan itu: Seorang musuh yang melakukannya. Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: Jadi, maukah Tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu? Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.” (Mat 13:24-30) 

Bacaan Pertama: Yer 7:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 84:3-6,8,11

Dalam “perumpamaan tentang lalang di antara gandum” ini, Yesus tidak hanya berbicara mengenai “orang baik” dan “orang jahat” di dalam dunia ini, melainkan juga mengenai unsur-unsur terang dan gelap yang ada di dalam Gereja kita. Suatu pandangan realistis tentang Kristianitas harus menunjukkan kepada kita bahwa ada orang-orang dalam Gereja yang menjadi begitu akrab dengan irama dosa, keduniawian dan si Jahat sehingga mereka sungguh merupakan ancaman atas kehidupan orang-orang Kristiani lainnya.

Contohnya, antara lain adalah kasus-kasus skandal perilaku seks yang menjijikkan serta memalukan, ulah sejumlah imam gereja Katolik di Amerika Serikat dan juga di Eropa, yang terus menerus dibongkar sejak beberapa tahun lalu. Tuntutan-tuntutan pengadilan dalam uang yang besar jumlahnya sempat membuat keuskupan-keuskupan tertentu di Amerika Serikat menjadi berada di ambang kebangkrutan keuangan. Belum lagi luka-luka batin dan akar kepahitan yang bertumbuh untuk waktu lama dalam diri para korban pelecehan seksual termaksud. Sangat terpujilah kenyataan, bahwa Sri Paus telah minta maaf atas perilaku tak senonoh para imamnya, namun kita semua juga tahu bahwa perkara hukum akan berjalan terus, apalagi kalau yang muncul di atas permukaan dan dihebohkan itu baru puncak dari sebuah gunung es. Seorang imam Indonesia, guru dan teman yang saya hormati, sekian tahun lalu pernah mengirim e-mail kepada saya dengan nada sedih. Beliau menulis a.l. begini: “Saya melihat, kecuali persoalan kelainan seksual, ada soal ketidakadilan yang dibuat oleh para imam yang sakit yang tidak peka itu. Ada suatu kecenderungan bahwa Gereja hancur dari dalam, karena ulah gembala yang memangsa dombanya. Saya yakin, kalau para gembala kehilangan sense of justice dalam pelayanan mereka dan dalam relasi-relasi mereka, risiko yang sama bisa terjadi pula di Indonesia, dalam bentuk yang lain. … Anyway, saya tetap mencintai Gereja Kristus ini dalam segala keterbatasannya.” Sebuah catatan yang mengharukan, yang perlu ditanggapi oleh kita umat awam dalam doa-doa syafaat untuk para imam kita secara konstan.

Yesus mengingatkan para murid-Nya – sampai hari ini pun Ia masih terus mengingatkan – tentang kebutuhan dalam Gereja. Para Bapak Konsili Vatikan II dengan jujur mengakui: “Gereja itu suci, dan sekaligus harus selalu dibersihkan, serta terus-menerus menjalankan pertobatan dan pembaharuan” (Lumen Gentium, 8). Akan tetapi, …… di sinilah justru kita harus berhati-hati. Peranan kita bukanlah untuk mengindentifikasikan lalang-lalang yang ada dalam paroki, atau dalam keuskupan dst. dan lalu mencoba menangani perkara ini sendiri. Menghakimi orang secara semena-mena barangkali juga merupakan suatu bentuk lalang yang sangat merusak dan satu tanda yang paling jelas dari pekerjaan si Jahat, “pendakwa saudara-saudara  seiman kita” (Why 12:10). Yesus mengetahui sekali betapa cepat kita menghakimi orang-orang lain. Oleh karena itu Yesus mengingatkan kita untuk selalu “mengeluarkan dahulu balok dari mata kita, agar kita dapat melihat dengan jelas serpihan kayu dari saudara kita” (lihat Mat 7:1-5). Dalam kenyataannya, kita sesungguhnya tidak ingin “mencabut orang-orang yang tidak baik” – karena kita sendiri pun sebenarnya tidak pantas untuk Kerajaan Surga. Kita menyimpan “benih-benih buruk” dalam hati kita masing-masing. Cara terbaik untuk menjamin adanya perlindungan atas Gereja adalah untuk mohon kepada Roh Kudus agar menolong kita memeriksa batin kita sendiri dan membebaskan diri kita dari dosa. Beginilah firman YHWH semesta alam: “Perbaikilah tingkah lakumu dan perbuatanmu, maka Aku mau diam bersama-sama kamu” (Yer 7:3).

Allah tidak menginginkan kita menghakimi diri kita sendiri dan orang-orang lain tanpa belas kasih. Ia menginginkan kita mendoakan diri kita sendiri dan juga untuk Gereja. Dengan cara ini, secara bertahap kita pun akan menjadi para peniru Yesus, yang selalu berdoa syafaat bagi kita masing-masing di hadapan takhta Allah Bapa, karena Yesus hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara kita (lihat Ibr 7:25). Kita menjadi seperti Anak Domba Allah yang rindu untuk melihat setiap orang dibebaskan dari yang jahat dan dibawa ke dalam Kerajaan Allah.

DOA: Bapa surgawi, Allah khalik langit dan bumi. Selagi Engkau mengamati hati umat-Mu, tentunya Engkau melihat lalang yang tumbuh dalam diri kami semua. Namun Engkau juga melihat bahwa Putera-Mu terkasih juga berdiam dalam diri kami masing-masing. Tolonglah kami untuk menyerahkan diri kami seratus persen kepada Yesus, sehingga Gereja-Mu dapat menjadi terang sejati bagi dunia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yer 7:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “ORANG-ORANG ISRAEL TELAH MEMBUAT SESUATU YANG SUNGGUH KUDUS MENJADI BERHALA” (bacaan tanggal 28-7-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-07 BACAAN HARIAN JULI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 23-7-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 25 Juli 2018 [Pesta S. Yakobus, Rasul] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS