Posts tagged ‘HARI BIASA PEKAN BIASA XIV’

SEORANG MURID MENJADI SAMA SEPERTI GURUNYA, ……

SEORANG MURID MENJADI SAMA SEPERTI GURUNYA, ……

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Sabtu, 14 Juli 2018)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Fransiskus Solanus, Imam

“Seorang murid tidak lebih daripada gurunya, atau seorang hamba daripada tuannya. Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya. Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya.

Jadi, janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka, dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas rumah. Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.

Bukankah burung pipit dijual dua ekor seharga satu receh terkecil? Namun, seekor pun tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu, janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit.

Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang disurga. Tetapi siapa saja yang menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di surga.” (Mat 10:24-33) 

Bacaan Pertama: Yes 6:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 93:1-2,5 

“Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya.” (Mat 10:25) 

Panggilan Yesus kepada para murid-Nya – dari dahulu sampai sekarang – pertama-tama dan terutama adalah sebuah panggilan untuk menjadi seperti diri-Nya. Pada saat Ia memanggil Andreas dan Simon Petrus, Yesus mengatakan kepada mereka bahwa Dia akan menjadikan mereka penjala manusia (Mat 4:19). Dengan mengikuti Dia, para murid akan ditransformasikan menjadi serupa dengan diri-Nya. Hati Yesus akan menjadi hati mereka; seperti Guru mereka pula, mereka akan merindukan hari di mana semua orang akan mendengar Kabar Baik dan menerima pesan Injil.

Yesus juga mengingatkan para murid-Nya bahwa ikut ambil bagian dalam kehidupan sang Guru bukanlah tanpa tantangan-tantangan dan kesulitan-kesulitan: “Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya” (Mat 10:25). Pada saat yang sama, Yesus berulang-ulang kali mengatakan kepada mereka untuk tidak menjadi takut akan apa yang akan terjadi atas diri mereka (Mat 10:26,28,31). Dengan keyakinan seseorang yang diri-Nya sendiri telah menjadi objek kebencian, ancaman, dijadikan korban jebakan oleh komplotan orang jahat, Yesus mengetahui benar apa artinya mengalami situasi-situasi yang menakutkan dan kemudian mengatasinya.

Karena kita adalah anggota-anggota Tubuh Kristus, kita semua ikut ambil bagian dalam kemenangan-Nya atas si Jahat. Hal ini tidak berarti bahwa kita akan secara penuh bebas dari daya-upaya si Iblis, karena semua itu merupakan bagian kehidupan semua murid dalam dunia ini yang masih menjadi subjek kematian. Kita tidak pernah boleh menyerah, bagaimana pun dahsyatnya serangan yang datang atau betapa pun lemahnya kita rasakan diri kita. Guru kita – Tuhan Yesus Kristus – ada dalam diri kita untuk menghibur dan memperkuat diri kita. Dia adalah hikmat kita dan akan memberikan kepada kita segalanya yang kita butuhkan selagi kita menghadap-Nya dalam iman yang rendah hati (Mat 10:19-12).

Pada zaman modern ini, dimana kita melihat bahwa percaya kepada Allah dan ketaatan pada perintah-perintah-Nya semakin menjadi sasaran serangan-serangan gencar, kita dapat memiliki pengharapan dan terus menjalani jalan kemuridan. Kristus ada dalam diri kita dan kasih-Nya melingkupi diri kita, dan Ia tidak akan meninggalkan kita. Dia akan mengakui kita di hadapan Bapa surgawi apabila kita tetap setia kepada-Nya. Oleh karena itu kita tidak boleh berkecil hati, karena Roh yang ada dalam diri kita itu lebih besar daripada roh yang ada dalam dunia (1Yoh 4:4).

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami untuk percaya pada kehadiran-Mu di dalam diri kami masing-masing. Kami ingin menjadi seperti Engkau dan menjadi murid-murid-Mu yang sejati. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:24-33), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS ITU LEBIH BESAR DARIPADA APA SAJA YANG KITA LIHAT ADA DALAM DIRI KITA” (bacaan tanggal 14-7-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-07 BACAAN HARIAN JULI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tnggal 15-7-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 11 Juli  2018 [Peringatan S. Benediktus, Abas] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

SEPERTI DOMBA KE TENGAH-TENGAH SERIGALA

SEPERTI DOMBA KE TENGAH-TENGAH SERIGALA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Jumat, 13 Juli 2018)

 

“Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.

Tetapi waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan mencambuk kamu di rumah ibadatnya. Karena Aku, kamu akan digiring ke hadapan penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu khawatir tentang bagaimana dan apa yang kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu.

Seorang saudara akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh, demikian juga seorang ayah terhadap orangtuanya dan akan membunuh mereka. Kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat. Apabila mereka menganiaya mereka kamu dalam kota yang satu, larilah ke kota yang lain; karena sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum kamu selesai mengunjungi kota-kota Israel, Anak Manusia sudah datang. (Mat 10:16-23) 

Bacaan Pertama: Hos 14:2-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-4,8-9 

Bilamana kita setia melaksanakan hidup Injili sehari-harinya, kita pun boleh memastikan bahwa kita akan menghadapi kesulitan atau oposisi. Dalam situasi pengejaran dan penganiayaan, ke mana kita akan mencari sebuah jangkar atau sauh sebagai pegangan kita? Apa yang dapat menopang kehidupan kita? Jangkar kita adalah keyakinan bahwa Roh Kudus Allah berdiam dalam diri kita dan Ia mau dan mampu untuk membimbing kita dalam segala macam situasi yang kita hadapi.

Ketika Yesus memberikan peringatan-peringatan dan wejangan-wejangan kepada kedua belas rasul (artinya kepada kita juga yang hidup pada zaman sekarang) dalam rangka mengutus mereka sebagai misionaris-misionaris, sebenarnya Yesus berbicara berdasarkan pengalaman-Nya sendiri. Sadar akan tidak dapat dihindarkannya kesalahpahaman dan penganiayaan, Yesus terus-menerus memasrahkan hati-Nya pada kuasa Roh Kudus dan kasih dan perlindungan Bapa-Nya. Demikian pula, para murid tidak perlu merasa gelisah atau khawatir tentang bagaimana dan apa yang mereka harus katakan pada waktu mereka diserahkan kepada para penguasa karena kesaksian mereka tentang Kristus, karena Yesus mengatakan kepada mereka: “Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu” (Mat 10:20).

Yesus dibenci, dikhianati, diadili dalam pengadilan dagelan yang terbesar pada zaman itu, dan akhirnya dijatuhi hukuman mati karena kesaksian-Nya. Akan tetapi, pada setiap saat Yesus mencari kekuatan dan bimbingan dari Roh Kudus. Walaupun pada saat para musuh-Nya berpikir mereka menang atau berada di atas angin, Yesus tetap setia berpegang teguh pada pengetahuan-Nya tentang kasih Allah Bapa bagi diri-Nya. Dia tahu bahwa diri-Nya tidak akan dipermalukan.

Roh Kudus yang sama mencurahkan kasih Allah yang sama ke dalam hati kita masing-masing dan memberikan kepada kita keyakinan ketika kita menghadapi oposisi (lihat Rm 5:1-5). Penganiayaan mungkin tidak dapat dihindari, namun lebih pasti lagi adalah kuasa Roh Kudus yang berdiam dalam diri kita melalui pembaptisan. Ia sangat berhasrat untuk menguatkan diri kita selagi kita melangkah ke luar dalam ketaatan-penuh-setia kepada Allah, dengan penuh kemauan untuk membayar harga kesaksian kita tentang kebesaran Yesus Kristus. Langkah-langkah kecil ketaatan kita dibuat kecil oleh kesetiaan Allah dengan janji-Nya untuk memberikan kita bimbingan dan dorongan oleh Roh-Nya. Tidak ada keyakinan yang lebih besar di sini, karena tidak ada sahabat yang lebih setia menemani kita daripada Roh Kudus sendiri. Oleh karena itu marilah kita mengambil sikap Yesus dan taat kepada Bapa di surga sementara kita dengan penuh keyakinan menanti-nantikan tanggapan penuh setia dari Roh Kudus-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, berikanlah kami keberanian untuk menjadi saksi-saksi-Mu yang berani dan tangguh. Terpujilah nama-Mu selalu! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:16-23), bacalah tulisan yang berjudul “KEHADIRAN ROH KUDUS DALAM DIRI PARA MURID(bacaan tanggal 13-7-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-07 BACAAN HARIAN JULI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-7-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 10 Juli 2018 [Peringatan S. Nikolaus Pick, dkk. Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MENJADI SEPERTI YESUS

MENJADI SEPERTI YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Kamis, 12 Juli 2018)

Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; sembuhkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.

Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu. Janganlah kamu membawa kantong perbekalan dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat nafkahnya. Apabila kamu masuk kota atau desa, carilah di situ seorang yang layak dan tinggallah padanya sampai kamu berangkat. Apabila kamu masuk rumah orang, berilah salam kepada mereka. Jika mereka layak menerimanya, salammu itu turun ke atasnya, jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Apabila seseorang tidak menerima kamu dan tidak mendengar perkataanmu, keluarlah dan tinggalkanlah rumah atau kota itu dan kebaskanlah debunya dari kakimu. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman tanah Sodom dan Gomora akan lebih ringan tanggungannya daripada kota itu.” (Mat 10:7-15) 

Bacaan Pertama: Hos 11:1,3-4,8c-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 80:2-3,15-16 

Pada waktu Yesus mengutus kedua belas rasul-Nya itu untuk memberitakan Injil kepada orang-orang lain, Ia menekankan bahwa mereka harus menjadi seperti diri-Nya sendiri.  Hanya apabila mereka bertumbuh dalam keserupaan dengan diri-Nya maka mereka dapat melakukan pekerjaan pelayanan mereka dengan efektif. Ketika Yesus bersabda: Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma” (Mat 10:8), sebenarnya Dia sedang mengajarkan para murid-Nya (rasul) lebih daripada sekadar bagaimana melayani orang-orang lain.

Yesus sendiri adalah yang paling besar dan paling rendah hati daripada segala hamba. Satu-satunya cara agar para murid Yesus dapat memberi  dengan bebas adalah menjadi seperti Yesus, yang selalu berdoa kepada Bapa-Nya. Karena Dia percaya bahwa Allah akan memenuhi segala kebutuhan-Nya, maka Yesus dengan bebas dan penuh kemurahan hati memberikan semuanya yang telah diterima-Nya dari Bapa-Nya di surga. Atas dasar alasan inilah Yesus mengatakan kepada kedua belas rasul-Nya untuk tidak menerima upah uang atau membawa pakaian ekstra. Allah akan menyediakan apa saja yang mereka butuhkan (Mat 10:9-10).

Karena Yesus begitu pasrah terhadap pemeliharaan Bapa surgawi dan begitu yakin akan kehadiran-Nya, maka Dia bebas untuk datang dan pergi, untuk mengucapkan kata-kata dan berbuat, seturut arahan dari Allah sendiri. Yesus mengetahui bahwa Bapa-Nya akan memperhatikan-Nya, dan Ia mengambil risiko-risiko yang orang-orang lain tidak merasa bebas untuk mengambilnya karena mereka mengandalkan kekuatan manusia semata.

Yesus menginstruksikan para murid-Nya untuk mempraktekkan kebebasan yang sama, yaitu menentukan rumah mana yang “layak” dan mana yang “tidak layak” untuk dihuni oleh mereka dalam rangka melaksanakan pekerjaan misioner mereka (Mat 10:11-12). Mereka hanya dapat membuat pilihan selama mereka tetap rendah hati dan peka terhadap pimpinan Allah.

Kita barangkali merasa kewalahan karena tidak mempunyai waktu yang cukup untuk keluarga, apalagi untuk orang-orang lain. Namun Yesus menginstruksikan para murid-Nya (termasuk kita, bukan?) untuk mewartakan Injil, menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, dan mengusir roh-roh jahat (Mat 10:7-8). Allah telah memilih kita masing-masing untuk melayani-Nya. Apakah kita berfungsi sebagai orangtua, guru, biarawati atau biarawan, klerus, atau awam biasa seperti saya ini; kita semua sebenarnya dipanggil untuk menaruh hidup kita di tangan-tangan Yesus dan menaruh kepercayaan bahwa Dia akan memperhatikan setiap kebutuhan kita.  Semakin kita belajar mengenai kebenaran fundamental ini, semakin efektif kiranya kita dalam melaksanakan panggilan kita untuk mengasihi dan melayani sesama kita.

DOA: Tuhan Yesus, datanglah dan berdiamlah dalam diri kami. Biarlah hidup-Mu dalam diri kami bertumbuh sehingga dengan demikian kami dapat menjadi lebih serupa dengan-Mu. Tolonglah kami mencari Engkau dalam doa agar kami dapat belajar menaruh kepercayaan kepada-Mu untuk segala kebutuhan kami. Tolonglah kami untuk senantiasa mewartakan Kabar Baik-Mu kepada orang-orang lain secara cuma-cuma. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:7-15), bacalah tulisan yang berjudul “MEMBERITAKAN BAHWA KERAJAAN SURGA SUDAH DEKAT(bacaan tanggal 12-7-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabdawordpress.com; kategori: 18-07  BACAAN HARIAN JULI 2018.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-7-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 9 Juli 2018 [Peringatan S. Agustinus Zhao Rong, Imam Martir dkk – Martir Tiongkok] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

CERITA TENTANG DUA ORANG RASUL KRISTUS

CERITA TENTANG DUA ORANG RASUL KRISTUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Benediktus, Abas – Rabu, 11 Juli 2018)

Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan. Inilah nama kedua belas rasul itu: Pertama, Simon yang disebut Petrus dan Andreas saudaranya, dan Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, Filipus dan Bartolomeus, Tomas dan Matius pemungut cukai, Yakobus anak Alfeus, dan Tadeus, Simon orang Zelot dan Yudas Iskariot yang mengkhianati Dia.

Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka, “Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat. (Mat 10:1-7) 

Bacaan Pertama: Hos 10:1-3,7-8,12; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:2-7

Bacaan Injil hari ini adalah tentang panggilan dan perutusan para rasul Yesus yang berjumlah 12 (dua belas) orang itu, namun saya akan menyoroti dua orang saja, yaitu Yudas Iskariot dan Simon Petrus.

Setiap kali Kitab Suci menyajikan daftar para rasul, maka Simon Petrus selalu disebut pertama, sedangkan Yudas Iskariot disebut terakhir dengan ditambah embel-embel “yang mengkhianati Dia” atau “yang kemudian menjadi pengkhianat” (lihat Mat 10:4; bdk. Mrk 3:19; Luk 6:16). Bayangkanlah bagaimana jadinya seorang pribadi manusia jika sepanjang masa dirinya dikenal seorang rasul-pengkhianat.

Kesalahan apa yang mungkin telah terjadi? Biar bagaimana pun juga Yudas Iskariot adalah salah seorang yang diutus oleh Yesus dan telah melakukan pekerjaan-pekerjaan besar besar dan menakjubkan sesuai perintah dari Yesus sendiri. Yudas Iskariot telah melihat dan mendengar sendiri segala hal yang dilihat dan didengar oleh sebelas murid lainnya. Lagipula, Yudas Iskariot bukanlah satu-satunya rasul Yesus yang telah berdosa.

Semua rasul Yesus yang tinggal berjumlah sebelas orang ini melarikan diri ketika Yesus ditangkap di taman Getsemani. Kita juga tahu bagaimana Simon Petrus menyangkal sampai tiga kali bahwa dia mengenal Yesus.

Sekarang pertanyaannya adalah: Mengapa Petrus maju terus sampai dia dipercaya oleh Yesus untuk memimpin keseluruhan Gereja, sedangkan Yudas Iskariot pada akhirnya menggantung dirinya sendiri? Sebagian dari jawabannya datang dari cara Petrus menanggapi dosanya apabila dibandingkan dengan cara Yudas Iskariot menanggapi dosanya. Pada waktu Roh Kudus menunjukkan kepada Petrus kesalahan apa saja yang telah dilakukannya, maka jiwa Petrus menjadi hancur dan hatinya patah dan remuk (lihat Mzm 51:19), dan ia pun menangis penuh dengan air mata pertobatan. Selagi dia berdoa memohon belas kasih Allah, Petrus mulai memahami bahwa begitu mendalam Yesus mengasihi dirinya dan Yesus pun telah mengampuninya.

Sebaliknyalah yang terjadi dengan Yudas Iskariot. Ketika rasul ini menyadari bahwa dia telah mengkhianati seorang yang tidak bersalah, dia tidak dapat melupakan rasa bersalahnya dan kebenciannya pada dirinya sendiri agar dapat merangkul belas kasih Allah. Yudas Iskariot tidak percaya bahwa Allah akan pernah dapat mengampuni dirinya. Dia tidak dapat mengatasi serangan gencar dari rasa bersalahnya yang digunakan Iblis untuk menggodanya agar supaya akhirnya berputus-asa.

Apakah pelajarannya bagi kita semua? Kesadaran bahwa kita semua adalah para pendosa. Kitaa semua telah mengkhianati Tuhan sekian kali dalam hidup kita. Namun rahasianya adalah untuk mampu mengakui dosa kita ketika Roh Kudus memancarkan terang-Nya atas dosa itu dan mendorong kita untuk menyesali serta memohon pengampunan Allah dalam pertobatan. Sekali kita kita mengakukan dosa kita, kita pun diampuni, betapa besar pun dosa kita. Pada kenyataannya tidak ada dalam segenap ciptaan-Nya yang begitu besar atau begitu menakutkan yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah yang tanpa syarat dan belas kasih-Nya yang melimpah-limpah.

Tidak ada gunanya bagi kita untuk menunda-nunda, atau membiarkan rasa bersalah atau rasa malu kita menjadi berlarut-larut. Tentu kita juga tidak boleh berputus-asa. Allah mengetahui dan mengenal kelemahan-kelemahan kita, dan bagaimana pun juga Dia mengasihi kita. Allah yang kita sembah adalah “seorang” Pribadi yang Mahapengampun, Mahakasih, Mahapengampun, …… Mahalain, sehingga tak ada kata-kata yang mampu menggambarkan-Nya.

DOA: Bapa surgawi, aku merasa takjub ketika menyadari bahwa Engkau masih dapat mengasihi diriku. Walaupun aku lemah dan penuh dosa, Engkau telah berbelaskasih dan baik hati terhadapku. Pancarkanlah terang Roh Kudus-Mu atas area-area dalam diriku di mana aku sungguh membutuhkan belas kasih-Mu. Biarlah rasa penyesalanku yang benar di hadapan-Mu menghidupkan aku kembali, sehingga dengan demikian aku dapat melanjutkan hidupku sebagai sebagai murid Yesus Kristus yang setia. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 10:1-7), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MEMANGGIL KEDUA BELAS RASUL DAN MENGUTUS MEREKA” (bacaan tanggal 11-7-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-07 BACAAN HARIAN JULI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-7-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 9 Juli 2018

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TERGERAKLAH HATI YESUS OLEH BELAS KASIHAN

TERGERAKLAH HATI YESUS OLEH BELAS KASIHAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Selasa,  10 Juli 2018)

Keluarga besar Fransiskan: Peringatan S. Nikolaus Pick, dkk Martir

Sementara kedua orang buta itu keluar, dibawalah kepada Yesus seorang bisu yang kerasukan setan. Setelah setan itu diusir, orang bisu itu dapat berkata-kata. Lalu heranlah orang banyak, katanya, “Yang demikian belum pernah dilihat orang di Israel.” Tetapi orang Farisi berkata, “Dengan kuasa pemimpin setan ia mengusir setan.”

Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat mereka dan memberitakan Injil Kerajaan Surga serta menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu kata-Nya kepada murid-murid-Nya, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu, mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” (Mat 9:32-38) 

Bacaan Pertama: Hos 8:4-7,11-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 115:3-10 

“Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak mempunyai gembala.” (Mat 9:36) 

Bayangkanlah kerinduan yang ada dalam hati Yesus agar para murid-Nya dikirim untuk menjadi pekerja-pekerja tuaian di seluruh dunia. Bayangkanlah betapa rindu hati-Nya untuk melihat semua orang menerima dan merangkul Injil-Nya. Ia ingin agar kita (anda dan saya) berdoa kepada Bapa surgawi agar Bapa mengirimkan lebih banyak lagi “pekerja-pekerja untuk tuaian”. Ia juga menginginkan agar kita masing-masing juga siap untuk menjadi salah seorang dari pekerja-pekerja tuaian yang akan dikirim oleh-Nya ke ladang tuaian.

Kebutuhan akan para murid yang akan membuat Yesus dikenal oleh segala bangsa sama besarnya, bahkan jauh lebih besar daripada pada saat ketika Dia memanggil para murid-Nya yang pertama. Sebagamana dinyatakan oleh Paus Yohanes Paulus II (sekarang Santo): “Tugas perutusan Kristus sang Penebus, yang dipercayakan kepada Gereja, masih sangat jauh dari penyelesaian……. suatu pandangan menyeluruh atas umat manusia memperlihatkan bahwa tugas perutusan ini masih saja ditahap awal, dan bahwa kita harus melibatkan diri kita sendiri dengan sepenuh hati untuk melakukan tugas perutusan ini” (Surat Ensiklik REDEMPTORIS MISSIO (Tugas Perutusan Sang Penebus), 7 Desember 1990). Kebutuhannya sangat besar! Yesus memanggil kita semua, anda semua dan saya juga!

Bagaimana kita dapat mempersiapkan diri kita untuk menjadi pekerja-pekerja bagi Kerajaan-Nya? Bagaimanakah kita dapat menjadi lebih efektif dalam panggilan kita masing-masing untuk membawa orang-orang lain kepada Injil Yesus Kristus, agar mengenal Injil itu dan menyambut Yesus ke dalam hati mereka? Ada tiga unsur yang bersifat crucial, yaitu (1) doa; (2) pembacaan dan permenungan sabda Allah dalam Kitab Suci; dan (3) “Eksperimentasi”.

Yang pertama, dan inilah yang paling penting, adalah perlu adanya persekutuan (communio) dengan Allah (Tuan yang empunya tuaian; Mat 9:38) melalui doa. Dengan mempelajari hati Allah dalam doa, maka kita akan lebih lagi dipenuhi dengan kasih-Nya. Kemudian, kita pun akan mampu untuk lebih siap mengasihi orang-orang lain dengan kasih Allah.

Yang kedua, pentinglah untuk mempelajari sabda Allah dalam Kitab Suci. Di dalam Alkitab-lah kita belajar hikmat-kebijaksanaan Allah dan menjadi terilhami dengan pikiran-Nya, sehingga kita sungguh mengenal Pribadi yang akan kita perkenalkan kepada orang-orang lain itu.

Yang ketiga (terakhir), menemukan nilai dari “eksperimentasi” selagi kita melakukan evangelisasi kepada orang-orang lain dan melayani mereka. “Evangelisasi Baru” yang dicanangkan oleh Paus Yohanes Paulus II dimaksudkan agar kita kreatif dalam metode dan pelaksanaan evangelisasi itu. Kita harus mencoba hal-hal yang baru dan berbeda (tidak seperti biasanya). Dalam melakukan evangelisasi – seperti Yesus sendiri – kita harus berani mengambil risiko. Kita harus menaruh kepercayaan kepada Roh Kudus untuk menolong kita selagi kita berupaya membawa orang-orang lain kepada Yesus Kristus. Ingatlah bahwa Yesus senantiasa menyertai kita (Mat 28:20); Dia adalah Imanuel!  Ia akan memurnikan kita selagi kita mengikut Dia, sehingga Dia akan memperoleh banyak pekerja tuaian yang bekerja di ladang tuaian-Nya.

DOA: Bapa surgawi, Engkau adalah Tuhan yang empunya tuaian. Utuslah kami ke tengah-tengah dunia untuk menjadikan bangsa-bangsa murid-murid Putera-Mu, Yesus Kristus. Utuslah dan berdayakanlah kami oleh Roh Kudus-Mu agar dapat bekerja dengan penuh sukacita dan efektif bagi Kerajaan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:32-38), bacalah tulisan yang berjudul “MENJADI BEBAS UNTUK MEWARTAKAN KABAR BAIK” (bacaan tanggal 10-7-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-07 BACAAN HARIAN JULI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-7-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 7 Juli 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DISELAMATKAN KARENA IMAN

 DISELAMATKAN KARENA IMAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV Senin, 9 Juli 2018)

Peringatan/Pesta S. Agustinus Zhao Rong, Imam dkk Martir Tiongkok

Sementara Yesus berbicara demikian kepada mereka, datanglah seorang kepala rumah ibadat, lalu menyembah Dia dan berkata, “Anak perempuanku baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup.” Lalu Yesus pun bangun dan mengikuti orang itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya. Pada waktu itu seorang perempuan yang sudah dua belas tahun menderita pendarahan maju mendekati Yesus dari belakang dan menyentuh jumbai jubah-Nya. Karena katanya dalam hatinya, “Asal kusentuh saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” Tetapi Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata, “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau.” Sejak saat itu sembuhlah perempuan itu.

Ketika Yesus tiba di rumah kepala rumah ibadat itu dan melihat peniup-peniup seruling dan orang banyak ribut, berkatalah Ia, “Pergilah, karena anak ini tidak mati, tetapi tidur.” Tetapi mereka menertawakan Dia. Setelah orang banyak itu disuruh keluar, Yesus masuk dan memegang tangan anak itu, lalu bangkitlah anak itu. Dan tersebarlah kabar tentang hal itu ke seluruh daerah itu. (Mat 9:18-26)

Bacaan Pertama: Hos 2:13-15,18-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:2-9

Pada bacaan Injil yang relatif singkat hari ini, Matius menceritakan dua buah mukjizat yang terjadi berturut-turut dalam kehidupan orang-orang biasa yang mencari pertolongan dari Yesus dengan penuh iman. Satu dari dua mukjizat ini adalah Yesus membangkitkan puteri seorang kepala sinagoga dari kematian, sedangkan mukjizat yang satu lagi adalah penyembuhan-Nya atas seorang perempuan yang sudah dua belas tahun menderita sakit pendarahan. Perempuan ini percaya bahwa dengan menyentuh saja jumbai jubah Yesus, maka dia pun akan sembuh, dan mukjizat penyembuhan pun terjadi, malah disertai sabda Yesus yang sangat menyejukkan: “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau”  (Mat 9:22). Begitu orang melangkah maju menghadap Yesus dan dalam iman memohon pertolongan kepada-Nya, maka mereka pun mengalami kuat-kuasa penyembuhan Allah secara luarbiasa.

Ketika menggambarkan penyembuhan perempuan yang sakit pendarahan itu, Matius menggunakan kata Yunani sozo yang berarti “menyembuhkan”, “menyelamatkan” atau “membebaskan”. Dengan memilih menggunakan kata sozo ini, Matius ingin mengingatkan pembaca Injilnya bahwa penyembuhan yang terjadi atas diri perempuan itu tidaklah terbatas pada kesembuhan fisik, melainkan suatu pekerjaan ilahi yang lebih mendalam lagi telah terjadi. Yesus tidak hanya menyembuhkan perempuan itu dari efek-efek dosa, melainkan juga menyembuhkan dosanya, dengan demikian membawanya kepada suatu relasi yang lebih mendalam dengan Allah. Perempuan itu yang sebelumnya dipandang sebagai sampah masyarakat dan tidak bersih disambut oleh Yesus dan dipulihkan oleh-Nya kepada martabatnya semula. Siapa dia? Namanya adalah Berenike yang dalam tradisi Latin kita kenal sebagai Veronika. Kita akan selalu berjumpa dengan dia pada waktu kita melakukan devosi Jalan Salib (perhentian ke-VI).

Yesus Kristus adalah “Penyelamat Dunia”, yang sama kemarin, hari ini dan selama-lamanya (Ibr 13:8). Hasrat-Nya untuk menyembuhkan kita, baik secara fisik maupun spiritual, tidak pernah berubah. Yesus ingin menyelamatkan kita dari dosa secara harian sehingga dengan demikian kita mempunyai suatu persatuan dengan diri-Nya secara lebih mendalam lagi dan mengenal sukacita karena dipanggil ke dalam Keluarga-Nya. Apabila kita melangkah dalam iman seperti yang telah ditunjukkan oleh perempuan yang sakit pendarahan tadi atau oleh sang kepala sinagoga, maka Allah akan mencurahkan rahmat-Nya ke atas diri kita dan Ia pun akan melipatgandakan iman-kepercayaan kita. Jadi, kita dapat melihat dan/atau mengalami sendiri mukjizat-mukjizat pada zaman modern ini.

Rahmat Allah selalu cukup bagi kita. Yang  diperlukan adalah langkah-iman kita seperti telah ditunjukkan oleh perempuan yang sakit pendarahan itu dan sang kepala sinagoga atas nama puterinya. Bagaimana kita dapat melangkah ke hadapan Yesus? Dengan datang ke hadapan hadirat-Nya dalam doa dan memperkenankan Dia berbicara kepada kita. Semakin dekat kita dengan Yesus, semakin banyak pula kita akan mengalami sentuhan-Nya yang menyembuhkan atas kehidupan kita. Oleh karena itu janganlah kita pernah merasa takut atau malu untuk mengatakan kepada-Nya segala kebutuhan kita. Alasan mengapa Yesus – Putera Bapa surgawi – datang ke dunia dan hidup di tengah-tengah umat manusia adalah karena kasih Allah yang begitu dalam bagi kita. Misi Yesus adalah untuk menyelamatkan kita dan memulihkan kita. Sementara kita mengambil langkah iman, Ia akan membangkitkan kita sebagaimana yang telah dilakukan-Nya atas diri anak perempuan sang kepada sinagoga dari kematiannya.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu untuk hasrat-Mu bekerja dengan penuh kuat-kuasa dalam kehidupan kami dan membawa kami lebih dekat lagi kepada Bapa surgawi. Ajarlah kami, ya Tuhan, untuk mengambil langkah iman dan mengalami sentuhan-Mu yang menyembuhkan. Kuatkanlah iman-kepercayaan kami dengan rahmat-Mu sehingga dengan demikian kami dapat mengenal-Mu dengan lebih mendalam lagi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:18-26), bacalah tulisan yang berjudul “SENTUHAN KRISTUS DAN IMAN AKAN SENTUHAN-NYA” (bacaan tanggal 9-7-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 18-07 BACAAN HARIAN JULI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-7-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 5 Juli 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS