Posts tagged ‘HARI BIASA PEKAN BIASA X’

MENYERAHKAN HATI DAN PIKIRAN KEPADA ROH KUDUS

MENYERAHKAN HATI DAN PIKIRAN KEPADA ROH KUDUS

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan Biasa X – Sabtu, 15 Juni 2019)

Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu kepada Tuhan. Tetapi aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun. Jika ya, hendaklah kamu katakan: Ya, jika tidak hendaklah kamu katakan: Tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat. (Mat 5:33-37) 

Bacaan Pertama: 2Kor 5:14-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-4,8-9,11-12 

“Jika ya, hendaklah kamu katakan: Ya, jika tidak hendaklah kamu katakan: Tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat.(Mat 5:37)

Apakah anda pernah bertanya kepada seseorang dan merasa bahwa anda tidak memperoleh sebuah jawaban yang langsung, yang straight to the point? Barangkali orang itu menjadi defensif dan bahkan mulai “bersumpah” bahwa dia mengatakan yang sebenarnya kepada anda, namun anda tetap tidak yakin. Sebuah contoh yang baik adalah penyangkalan Petrus bahwa dia mengenal Yesus. Ketika kepadanya ditanyakan apakah dia adalah murid Yesus, dia mengatakan, “Aku tidak tahu dan tidak mengerti apa yang engkau maksudkan.” Akhirnya Petrus melarikan diri dari tekanan di sekeliling dirinya, namun dengan sebuah kebohongan: “Aku tidak kenal orang yang kamu sebut-sebut ini!” (Mrk14:66-72).

Mengapa untuk menjadi benar itu dapat begitu susah bagi kita? Apakah karena kita takut atau merasa tidak aman? Apakah karena kita terlalu sombong untuk menerima bahwa diri kita dapat saja salah? Atau barangkali karena kadang-kadang terasa sulit untuk menghadapi konsekuensi-konsekuensi dari kebenaran. Sebagai kontras terhadap penyangkalan Petrus adalah tanggapan Yesus ketika kepada-Nya ditanyakan apakah diri-Nya adalah sang Mesias, Yesus secara sederhana menjawab, “Akulah Dia” (Mrk 14:62), Dengan menjawab jujur seperti itu, sebenarnya Yesus memberi “izin” atas hukuman mati yang akan dijatuhkan atas diri-Nya. Rasa takut tidak menguasai diri Yesus karena Dia menempatkan diri-Nya dalam tangan-tangan penuh kasih dari Bapa dan mengetahui bahwa sabda Allah tidak pernah dapat ditentang.

Pada Perjamuan Terakhir, Petrus mengatakan bahwa dirinya siap mati untuk Yesus, namun semangat berapi-api gaya “bonek” dan entusiasme yang ada dalam dirinya cepat menyusut ketika Dia melihat betapa dengan “lembek” Yesus menyerahkan diri-Nya kepada para lawan yang hendak menangkap-Nya. Petrus menemukan kebenaran yang menyedihkan bahwa dia tidak dapat mengikuti Yesus ke kayu salib hanya dengan mengandalkan kekuatan dirinya sendiri. Hanya setelah Pentakosta Kristiani yang pertama Petrus menerima kuat-kuasa Roh Kudus dan mulai berkhotbah mewartakan Injil dengan penuh keberanian – bahkan di bawah ancaman hukuman dan kematian.

Selagi kita menyerahkan hati dan pikiran kita kepada Roh Kudus, kita pun dapat menguasai hidup emosional kita dan mengalami suatu keutuhan dan integritas yang dapat dikatakan bersifat ilahi. Realitas surga, janji-janji dari Allah yang Mahasetia, dan suatu rasa takut (yang sehat) terhadap dosa akan bekerja sama guna membentuk dalam diri kita komitmen sederhana terhadap kebenaran yang ditunjukkan oleh Yesus. Marilah kita melanjutkan memohon kepada Roh Kudus untuk membentuk diri kita ke dalam keserupaan dengan Kristus. Sesungguhnya, dunia menantikan kesaksian kita.

DOA: Roh Kudus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu untuk karya-Mu di dalam hidupku. Tolonglah aku untuk berbicara dalam kebenaran dan dengan integritas. Aku bertekad untuk senantiasa setia dalam sabda-Mu dan menjadi suatu cerminan kasih-Mu dan belaskasih-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:33-37), bacalah tulisan yang berjudul “JIKA YA KATAKAN YA, JIKA TIDAK KATAKAN TIDAK” (bacaan tanggal 15-6-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-06 BACAAN HARIAN JUNI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 16-6-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 13 Juni 2019 [Peringatan S. Antonius dr Padua, Imam Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

POKOK AJARAN YESUS TENTANG ZINA

POKOK AJARAN YESUS TENTANG ZINA

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan Biasa X – Jumat, 14 Juni 2019)

“Kamu telah mendengar yang difirmankan: Jangan berzina. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzina dengan dia di dalam hatinya. Jika matamu yang kanan menyebabkan engkau berdosa, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, daripada tubuhmu dengan utuh di campakkan ke dalam neraka. Jika tanganmu yang kanan menyebabkan engkau berdosa, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa daripada tubuhmu dengan utuh masuk neraka.

Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan istrinya harus memberi surat cerai kepadanya. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan istrinya kecuali karena zina, ia menjadikan istrinya berzina; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berzina.”  (Mat 5:27-32) 

Bacaan Pertama: 2Kor 4:7-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 116:10-11,15-16 

Dalam bacaan Injil hari ini Yesus menyempurnakan Hukum yang ada dengan menekankan pentingnya sikap batiniah dan kesetiaan kuat dari seorang pribadi, teristimewa yang menyangkut hal-hal seksual.

Yesus mengingatkan kita bahwa walaupun perzinahan/perselingkuhan dapat merusak hidup perkawinan kita, nafsu dalam hati dan pikiran seorang pribadi dapat menjadi sama jahatnya. Mengapa? Karena mempunyai kemampuan untuk merusak relasi dalam hidup perkawinan dengan kekuatan merusak yang sama beratnya. Yesus mengatakan bahwa karena Dia mengetahui sekali bahwa apabila kita memperkenankan pikiran-pikiran yang tidak bersih merasuki diri kita, maka semua itu akan merugikan diri kita sendiri dan mereka yang sungguh kita kasihi (misalnya pasangan hidup dan anggota keluarga kita masing-masing). Yesus memandang pemikiran penuh nafsu dengan sangat serius sehingga Dia mendeklarasikan hal sedemikian sebagai sama seriusnya dengan melakukan perzinahan.

Yesus mengetahui benar bahwa jika kita memperkenankan pemikiran-pemikiran kotor/ penuh nafsu menguasai diri kita, maka kita sebenarnya melibatkan diri dalam penyembahan yang salah arah. Secara salah kita percaya bahwa kita dapat memperoleh kepuasan dalam ketidaksetiaan kita, mencapai kebahagiaan dengan melanggar perjanjian dan relasi cintakasih yang samasekali tidak mencerminkan kasih Allah yang murni. Inilah sebabnya mengapa orang menjadi terluka secara batiniah. Allah sendiri memanggil kita dan meminta kita untuk sepenuhnya puas dengan kasih-Nya karena inilah satu-satunya kasih yang akan membawa kita kepada kepenuhan sejati. Ini adalah kasih yang akan membawa segala relasi kita dalam tatanan yang benar.

Martabat kita sebagai anak-anak Allah paling terlihat nyata dalam kasih yang bersifat pengorbanan diri – tipe cintakasih yang dimaksudkan sebagai tanda hidup perkawinan Kristiani. Cintakasih tipe ini mengungkapkan kemampuan kita untuk berpikir dan memilih dan menjadi satu dengan orang-orang lain. Hal ini berarti memberikan diri kita sendiri demi orang-orang lain. Di lain pihak, nafsu ke luar dari dorongan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan diri kita yang bersifat sesaat. Sebagai suatu sakramen, perkawinan adalah tanda luar dari rahmat yang menunjuk kepada suatu realitas yang jauh lebih mendalam. Allah menciptakan manusia seturut gambar dan rupa-Nya (lihat Kej 1:26,27), dan kita diciptakan untuk mengasihi semurni Allah mengasihi manusia. Jikalau kita berpikir penuh nafsu, maka hal ini berarti kita memperkenankan dosa untuk menggerogoti kasih sejati dari Allah.

Menjaga/memelihara kesetiaan kita terhadap pasangan kita atau Allah bukanlah sekadar masalah apa yang kita lakukan dengan tubuh/fisik kita, melainkan juga menyangkut dengan apa yang kita lakukan dengan pikiran-pikiran kita, perasaan-perasaan kita dan hati kita. Kekuatan untuk menciptakan, menjaga/memelihara atau merusak suatu relasi, semuanya ada dalam diri kita sendiri. Patut diingat bahwa ikatan spiritual dari perkawinan dapat dirusak dengan cara-cara lain di luar perzinahan. Ketidaksetiaan dimulai dari pikiran kita.

Saudari dan Saudari terkasih, marilah kita menanggapi panggilan Yesus kepada kemurnian. Ia sungguh mengasihi kita dan ingin agar kita semua berbahagia. Marilah kita bergegas menghadap hadirat Allah dan memohon kepada-Nya agar memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita. Hanya kasih-Nya saja yang dapat membuat kita puas lahir batin. Marilah kita menghadap Yesus dan memohon kepada-Nya agar kita dapat ikut ambil bagian dalam kasih-Nya sehingga hidup perkawinan kita dapat ditransformasikan secara lebih mendalam lagi ke dalam berbagai pencerminan kemurnian ilahi. Marilah kita membawa kasih murni Kristus kepada orang-orang lain selagi kita menemukan kebenaran siapa sebenarnya kita dalam Dia dan panggilan khusus yang telah diberikan-Nya kepada kita.

DOA: Bapa surgawi, tolonglah aku untuk menata dengan baik segala pemikiranku dan hasratku seturut martabatku dan panggilanku sebagai murid Kristus. Tolonglah aku untuk menjaga pikiranku agar tetap fokus pada-Mu dan untuk selalu menghormat pasangan hidupku, orang-orang di sekelilingku, dan diriku sendiri. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:27-32), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MENYERANG SEGALA MACAM KEMUNAFIKAN” (bacaan tanggal 14-6-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-06 BACAAN HARIAN JUNI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 15-6-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 12 Juni 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERINTAH-NYA UNTUK MENGASIHI

PERINTAH-NYA UNTUK MENGASIHI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Antonius dr Padua, Imam-Pujangga Gereja – Kamis, 13 Juni 2019)

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta S. Antonius dr Padua, Imam Pujangga Gereja

Aku berkata kepadamu: Jika kamu tidak melakukan kehendak Allah melebihi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.

Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang mencaci maki saudaranya harus dihadapkan ke Mahkamah Agama, dan siapa yang berkata: Jahil! Harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.

Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu ini jangan menyerahkan engkau kepada pengawal dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai habis. (Mat 5:20-26) 

Bacaan Pertama: 1Raj 18:41-46; Mazmur Tanggapan: Mzm 65:10-13

Bacaan Injil hari ini diambil dari “Khotbah di Bukit”. Di sini Yesus mengingatkan kita akan tugas kita untuk mengasihi sesama kita.

Ada kebutuhan besar akan kasih yang lebih lagi dalam dunia. Dalam zaman materialisme ada kecenderungan bagi kita masing-masing untuk memperoleh sebanyak-banyaknya dari kehidupan ini: uang, kenikmatan, kehormatan. Kita sudah begitu individualistis dalam berpikir, bersikap dan berperilaku. Kita sudah terlalu serakah dan tamak. Ini adalah halangan terbesar untuk terciptanya persatuan dan kesatuan umat Kristiani. Kita, orang Kristiani yang Katolik, mungkin saja percaya bahwa saudari-saudara kita Kristiani yang terpisah itu salah dalam iman-kepercayaan mereka, namun hal ini tidak boleh menjadi alasan bagi kita untuk tidak mengasihi mereka dengan kasih Kristiani. Kita harus mengasihi semua orang. Kristus wafat di kayu salib untuk semua orang, dan kita harus memiliki kemauan untuk pergi ke tengah-tengah dunia teristimewa dengan kebaikan, bukannya prasangka dan praduga negatif.

Kasih mempunyai banyak efek yang indah. Kasih meningkatkan energi kita untuk melakukan kebaikan. Kasih memberikan kekuatan kepada kita untuk mengatasi halangan-halangan yang merintangi kita, bahkan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang heroik. Kasih membuat kita penuh dengan sukacita, penuh kegembiraan sejati. Tidak ada apa dan/atau siapa pun yang dapat mengganggu atau membuat kita letih-lesu. Segalanya yang kita lakukan karena/demi kasih terasa ringan, karena kasih adalah kekuatan kita, sukacita kita dan damai-sejahtera kita.

Pada hari ini Yesus Kristus menekankan bahwa kita senantiasa harus berada dalam hubungan baik dengan sesama kita, dengan setiap orang. Apabila tidak, maka kita pun tidak dapat berada dalam hubungan baik dengan Allah, dan akibatnya adalah bahwa banyak kebaikan yang kita melakukan dapat menjadi sia-sia.

Marilah kita mengikuti Kristus seturut apa yang dikatakan-Nya kepada kita: “…… jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu” (Mat 5:23-24).

Kesimpulannya di sini adalah bahwa kasih di mata Allah lebih penting daripada doa. Tanpa kasih tidak ada doa yang sejati. Santo Yohanes Penginjil menulis, “Jikalau seseorang berkata, ‘Aku mengasihi Allah,’ tetapi ia membenci saudara seimannya, maka ia adalah pendusta, karena siapa yang tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah yang tidak dilihatnya. Inilah perintah yang kita terima dari Dia: Siapa yang mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudara seimannya” (1Yoh 4:20-21). 

Santo Antonius dari Padua [1195-1231]. Pada hari ini tanggal 13 Juni, Gereja memperingati dan keluarga besar Fransiskan merayakan pesta orang kudus ini yang lahir di Portugal dan meninggal dunia di dekat Padua, Italia. Antonius (nama aslinya adalah Fernandez) adalah seorang anak laki-laki tunggal dari sebuah keluarga bangsawan kaya yang kemudian masuk biara Agustinian di Lisboa dan belajar di Universitas di Coimbra. Sebagai seorang imam Agustinian dia sempat berkenalan dengan beberapa orang Saudara Dina (Fransiskan) yang kemudian menjadi proto-martir Ordo Fransiskan. Mereka mati dibunuh di tangan orang-orang Muslim di Afrika. Menyaksikan semua itu, romo muda itu kemudian bergabung dengan Ordo Saudara Dina yang belum lama didirikan oleh Fransiskus dari Assisi. Niatnya untuk menjadi martir Kristus di Afrika tidak kesampaian karena ternyata kehendak Allah memang lain. Perbedaan antara dirinya dengan sang pendiri ordo, adalah bahwa romo muda ini terdidik dan memang pandai. Bahkan, Fransiskus menyapanya sebagai “Uskup-ku”. Kesamaan yang jelas-nyata antara kedua pribadi orang kudus ini adalah ketaatan mereka pada kehendak Allah dan kasih mereka yang mendalam kepada Allah dan sesama. Mereka adalah orang-orang yang tidak mengenal “kebosanan” dalam mengikuti jejak Kristus. Banyak sekali mukjizat dibuat Santo Antonius dari Padua selama masa hidupnya, demikian pula setelah kematiannya. Tidak jarang orang banyak lebih mengenal Santo Antonius dari Padua daripada Bapak Rohaninya sendiri, Santo Fransiskus dari Assisi. Seperti Yesus, Antonius meninggal dunia dalam usia muda. Dia dinyatakan kudus oleh Gereja hanya satu tahun setelah wafat-Nya. 

DOA: Tuhan Yesus, kami mengakui desakan-Mu agar kami menerima “kasih” sebagai perintah-Mu yang besar dan agung. Kami mohon rahmat-Mu agar kami dapat sungguh menghayatinya dalam kehidupan kami. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:20-26),  bacalah tulisan yang berjudul “SALAH SATU PERINTAH YESUS KRISTUS YANG KERAS” (bacaan tanggal 13-6-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-06 BACAAN HARIAN JUNI 2019.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-6-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  11 Juni 2019 [Peringatan S. Barnabas, Rasul] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS KRISTUS ADALAH PENGGENAPAN HUKUM TAURAT

YESUS KRISTUS ADALAH PENGGENAPAN HUKUM TAURAT

(Bacaan Injil Misa,  Hari Biasa Pekan Biasa X – Rabu, 12 Juni 2019)

Keluarga Fransiskan Kapusin: Peringatan B. Anisetus Koplinski, Imam Martir dkk.

Keluarga Fransiskan Konvetual dan Kapusin: Peringatan B. Yolenta, Florida dkk. Martir Revolusi Komunis Spanyol dan Polandia

“Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu huruf kecil atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat,  sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia dkan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Surga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkannya, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Surga. (Mat 5:17-19) 

Bacaan Pertama: 2Kor 3:4-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 99:5-9 

“Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” (Mat 5:17)

Memang mudahlah bagi kita untuk tidak melihat, malah mengabaikan berkat-berkat Allah yang ditujukan kepada kita. Misalnya, kita dapat memandang hukum Musa/Taurat sebagai aturan yang terlalu banyak menuntut, yang mengarahkan orang kepada suatu jenis “kebenaran” yang tidak seorang pun akan berhasil mencapainya. Akan tetapi sang pemazmur dengan jelas mengatakan: “Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN (YHWH), dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil”  (Mzm 1:1-3).

Jadi, sejatinya Hukum Taurat dimaksudkan sebagai suatu sumber kebahagiaan dan kehidupan, namun seringkali disalahpahami sebagai serangkaian perintah yang membebani kehidupan manusia. Sebenarnya yang ada dalam pikiran Allah jauh lebih besar daripada sekadar perintah-perintah untuk melakukan dan tidak melakukan (Inggris: do’s and don’ts) sesuatu tindakan.

Yesus Kristus, Putera Allah, datang ke tengah dunia untuk mengumumkan bahwa Kerajaan Surga sudah dekat. Kita mengetahui bahwa suatu pesan rahasia dapat dipahami jikalau kita mampu memecahkan kode yang tersembunyi. Demikian pula makna dan tujuan sesungguhnya dari Perjanjian Lama akan terungkap dalam pernyataan Kerajaan Allah. Pesannya adalah berikut ini: Putera Allah yang terkasih  – Yesus Kristus – secara sempurna dan lengkap akan menarik kita kepada Bapa dengan menggenapi tuntutan-tuntutan adil dari hukum Musa.

Yesus bukanlah datang untuk meniadakan hukum Taurat atau melanjutkan mengajar hukum itu dari suatu perspektif yang baru. Samasekali bukan! Ia datang sebagai penggenapan dari setiap pengharapan, perintah dan impian yang diungkapkan dalam hukum Taurat itu. Ajaran Yesus tentang Perjanjian Lama adalah baru secara total, bukan karena dipelintir-pelintir isi hukum itu oleh-Nya, namun karena Dia sendiri dapat melaksanakan hukum itu secara sempurna, taat secara sempurna kepada hukum itu sepanjang hidup-Nya di dunia.

Hidup Yesus yang relatif singkat di muka bumi ini secara penuh memberi pencerahan atas hukum Musa. Semua kebenaran berhasil dicapai oleh-Nya. Secara moral Yesus adalah orang benar – tanpa noda dosa sedikit pun atau tanpa ketidaktaatan kepada Allah. Yesus juga benar secara lengkap dalam relasi-relasi-Nya: Dia mengasihi Allah dengan segenap hati-Nya dan semua orang dengan rasa keadilan dan belas kasih yang lengkap. Akhirnya, melalui kematian-Nya pada kayu salib, Ia menggenapi semua kebenaran dengan mensyeringkan kesempurnaan-Nya dengan kita-manusia, sehingga dengan demikian kita pun dapat dibuat benar di mata Allah. Atas dasar alasan inilah maka hukum Taurat diberikan, dan sekarang, melalui Yesus, kita semua dapat menerima berkat-berkat kebenaran Allah dalam hati kita.

DOA: Tuhan Yesus, kami menyembah Engkau! Kami memuji keindahan-Mu dan cara-Mu yang sempurna, yang telah menggenapi segala kebenaran untuk kami. Kami memuji Engkau dan berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena lewat persatuan dengan diri-Mu kami dapat menikmati buah ketaatan-Mu dengan menjadi semakin serupa dengan Engkau, dengan demikian menyenangkan Bapa surgawi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:17-19), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS ADALAH PENGGENAP TAURAT AGAR MENJADI BERBUAH” (bacaan tanggal 12-6-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2019.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-6-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 10 Juni 2019 [PERINGATAN SP MARIA, BUNDA GEREJA] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MEMBUKA DIRI BAGI KUAT-KUASA ALLAH YANG MENYEMBUHKAN

MEMBUKA DIRI BAGI KUAT-KUASA ALLAH YANG MENYEMBUHKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan Biasa X – Sabtu, 16 Juni 2018)

OFMCap.: Peringatan B. Anicetus Koplin, Imam dkk., Martir Polandia

Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu kepada Tuhan. Tetapi aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun. Jika ya, hendaklah kamu katakan: Ya, jika tidak hendaklah kamu katakan: Tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat. (Mat 5:33-37) 

Bacaan Pertama: 1 Raj 19:19-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 16:1-2,5,7-8 

Standar-standar kebenaran yang ada dalam Injil untuk kita hayati sungguh dapat mengecilkan hati kita! Hal ini benar teristimewa dalam kasus “Khotbah di Bukit”. Ketika kita mendengar sabda Yesus berkaitan dengan memegang sumpah dan melanggar sumpah, kita dapat saja memandangnya sebagai suatu ketidakmungkinan untuk taat kepada apa yang dikatakan Yesus itu – dan hal ini benar jika kita mengandalkan kekuatan dan kebaikan kita sendiri. Akan tetapi, Yesus mengutus Roh Kudus-Nya untuk tinggal dalam diri kita, menguduskan kita, dan membuat kita semakin serupa dengan diri-Nya.

Selagi kita mengasihi Yesus dan tetap berada dekat dengan diri-Nya setiap hari, maka kita akan mengalami kasih Allah yang mempunyai daya untuk mentransformasikan diri kita. Hidup Yesus akan mengalir ke dalam diri kita dan melalui kita, dan “tuntutan-tuntutan” Yesus terhadap kita pun tidaklah akan kelihatan sedemikian tidak mungkinnya. Kita akan sampai pada titik di mana kita akan memahami dan percaya secara mendalam bahwa Yesus akan memberikan kita rahmat yang diperlukan untuk menghadapi segala macam situasi kehidupan. Jadi, kita tidak akan berputus-asa ketika mencoba – dengan jatuh-bangun – mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh Tuhan bagi kita.

Kita dapat menaruh kepercayaan pada kemampuan Roh Kudus untuk memurnikan diri kita dari pikiran mendua, rasa curiga dan tipu-daya. Selagi kita semakin dekat dengan Yesus, kita pun dapat menjadi begitu murni dalam hati sehingga tidak perlu lagi bagi kita untuk bersumpah. Integritas kita akan berbicara sendiri! Dapatkah kita membayangkan seseorang memerintahkan Ibu Teresa dari Kalkuta untuk bersumpah – teristimewa berkaitan dengan integritas karya pelayanannya?

Apakah Saudari-Saudara percaya bahwa hal yang sama dapat terjadi atas diri anda? Apakah anda percaya bahwa Allah dapat bekerja dalam hidup anda dengan tingkat kedalaman yang sama? Bagaimana hal ini dapat terjadi? Seperti dikatakan Yesus kepada para murid-Nya, “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu mungkin bagi Allah” (Mrk 10:27). Jadi, selagi kita melakukan pemeriksaan batin dan bertobat atas dosa-dosa kita, marilah kita membuka diri bagi kuat-kuasa Allah yang menyembuhkan. Hanya Dia yang dapat membentuk nurani kita sampai titik di mana kita secara naluriah dapat menghindarkan diri dari godaan-godaan untuk menipu orang-orang lain. Dan selagi terang kesaksian hidup kita menyinari orang-orang lain, mereka akan memuliakan Allah untuk pekerjaan yang telah dilakukan-Nya dalam diri kita (lihat Mat 5:16).

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah “Amin” dari Allah (2Kor 1:15-22), satu-satunya pengharapan kami untuk kejujuran dan rasa percaya dalam dunia ini. Oleh Roh Kudus-Mu, bersihkanlah kami dari segala pikiran mendua. Buatlah kami menjadi mercu-mercu suar yang terang bercahaya dari kuat-kuasa Injil-Mu sehingga dengan demikian dunia dapat percaya kepada-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:33-37), bacalah tulisan yang  berjudul “MENYERAHKAN HATI DAN PIKIRAN KEPADA ROH KUDUS” (bacaan tanggal 16-6-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-06 BACAAN HARIAN JUNI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 17-6-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 12 Juni 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KATA-KATA KERAS YESUS SEKITAR ZINA

KATA-KATA KERAS YESUS SEKITAR ZINA

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan Biasa X – Jumat, 15 Juni 2018)

“Kamu telah mendengar yang difirmankan: Jangan berzina. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzina dengan dia di dalam hatinya. Jika matamu yang kanan menyebabkan engkau berdosa, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, daripada tubuhmu dengan utuh di campakkan ke dalam neraka. Jika tanganmu yang kanan menyebabkan engkau berdosa, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa daripada tubuhmu dengan utuh masuk neraka.

Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan istrinya harus memberi surat cerai kepadanya. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan istrinya kecuali karena zina, ia menjadikan istrinya berzina; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berzina.”  (Mat 5:27-32) 

Bacaan Pertama: 1Raj 19:9,11-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:7-9,13-14 

Tentunya kata-kata keras Yesus ini sangat mengganggu banyak pendengar-Nya, teristimewa mereka yang membanggakan diri akan kemampuan mereka untuk mentaati hukum Allah. Namun sekarang Yesus membuat hukum itu menjadi lebih keras bagi mereka. Hukum yang berlaku tidak pernah secara khusus melarang seseorang untuk “berfantasi yang bukan-bukan”! Bukankah sudah cukup apabila seseorang tidak sampai melakukan apa yang difantasikannya – tak peduli bagaimana orang itu menikmati fantasinya tersebut?

Pentinglah bagi kita untuk memahami bahwa hukum Musa tidak pernah dimaksudkan untuk membuat orang menjadi benar. Orang-orang Yahudi memahami bahwa relasi mereka dengan YHWH dalam ikatan perjanjian merupakan suatu karunia yang sangat berharga. Dengan demikian, hukum dimaksudkan sebagai tanggapan kasih umat terhadap Allah yang telah memberikan segala berkat dan karunia kepada mereka dengan kemurahan hati. Akan tetapi pada zaman kita – seperti juga pada zaman Yesus masih hidup di atas bumi – banyak orang melakukan pendekatan terhadap “Sepuluh Perintah Allah” seakan peraturan perpajakan: untuk mencari aman kita berlindung di balik kata-kata hukum yang tersurat namun pada saat yang sama mencari “peluang” untuk sedapat mungkin menghindari pajak itu.

Dalam pengajaran-Nya, Yesus menunjukkan hasrat mendalam dari Allah untuk mengubah disposisi-disposisi batiniah kita. Ia ingin menyembuhkan kita dari segala efek dosa dan memenuhi diri kita dengan damai-sejahtera-Nya dan kekuatan-Nya. Inilah alasan kedatangan Yesus ke tengah dunia, yaitu agar Ia dapat menggenapi nubuat nabi Yehezkiel, “Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu; dari segala kenajisanmu dan dari semua berhala-berhalamu Aku akan mentahirkan kamu. Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya” (Yeh 26:25-27).

Janji Injil itu memang luarbiasa indahnya: Kita dapat belajar untuk mengasihi semurni yang dilakukan oleh Yesus! Tidak ada sikap mementingkan diri sendiri atau “pamrih” dalam cintakasih Yesus kepada kita. Apabila kita menerima kemurnian-Nya maka hal tersebut dapat menolong kita memahami secara lebih mendalam kasih Yesus kepada mempelai-Nya, Gereja. Dengan sukacita yang besar, Ia berupaya terus untuk mempersatukan kita dengan diri-Nya sehingga kita dapat ikut ambil bagian dalam kehidupan Tritunggal Mahakudus. Yesus, sang Pencinta jiwa-jiwa manusia, sungguh rindu untuk memberikan kepada kita segala sesuatu yang dimiliki-Nya, bahkan keilahian-Nya. Hari demi hari, Yesus berupaya terus untuk memenuhi diri kita dengan kasih yang lebih mendalam dan juga rasa hormat terhadap segala ciptaan Allah, teristimewa kesucian hidup manusia.

DOA: Bapa surgawi, melalui pembaptisan Engkau telah memberikan kepada kami masing-masing sebuah hati yang baru. Jika kami masih juga jatuh ke dalam dosa, semoga kami dengan cepat berbalik kepada-Mu dalam Sakramen Rekonsiliasi. Pimpinlah kami ke dalam rasa hormat yang penuh dan utuh kepada tubuh kami sendiri dan bebaskanlah dunia ini dari keterikatannya pada nafsu. Semoga kasih-Mu seperti dicontohkan Yesus senantiasa tetap berjaya dalam diri kami masing-masing. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:27-32), bacalah tulisan yang berjudul “POKOK AJARAN YESUS TENTANG ZINA” (bacaan tanggal 15-6-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-06 BACAAN HARIAN JUNI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 16-6-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 12 Juni 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SALING BERSAUDARA SATU SAMA LAIN

SALING BERSAUDARA SATU SAMA LAIN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa X – Kamis, 14 Juni 2018)

Aku berkata kepadamu: Jika kamu tidak melakukan kehendak Allah melebihi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.

Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang mencaci maki saudaranya harus dihadapkan ke Mahkamah Agama, dan siapa yang berkata: Jahil! Harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.

Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu ini jangan menyerahkan engkau kepada pengawal dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai habis. (Mat 5:20-26) 

Bacaan Pertama: 1Raj 18:41-46; Mazmur Tanggapan: Mzm 65:10-13

Tafsir Yesus tentang hukum Musa tentunya telah mengejutkan para pendengar-Nya. Bagi Yesus, kemarahan, caci-maki dan penghinaan dengan mengata-ngatai “jahil” sudah berada di luar batas, sudah kelewatan. Bukan hanya apa yang kita lakukan yang penting, melainkan juga apa yang ada dalam pikiran kita. Sekarang, mengapa Yesus  begitu menekankan pentingnya relasi atau hubungan? Karena kita adalah anak-anak Allah, dengan kita bersaudara satu sama lain. Kita begitu erat diikat bersama, sehingga setiap perpecahan akan merusak seluruh tubuh Kristus.

Sebagai orang-orang Kristiani, kita ditantang untuk memelihara, melestarikan dan membangun persatuan dan kesatuan kita dalam Kristus. Tantangan ini berlaku sampai kepada setiap interaksi dengan orang-orang lain. Misalnya, bagaimana kita berelasi dengan para anggota keluarga kita sendiri, para tetangga, dan para kolega kita di tempat kerja? Apakah kita baik hati? Apakah kita memperlakukan mereka dengan adil? Apakah kita memperhatikan mereka yang mempunyai berbagai kebutuhan, teristimewa saudari dan saudara kita yang miskin dan berada dalam kesendirian.

Kita begitu erat berhubungan satu sama lain dalam tubuh Kristus (Gereja), sehingga dosa apa saja yang kita komit mempunyai konsekuensi-konsekuensi tidak hanya atas diri kita, melainkan terhadap orang-orang lain juga. Persatuan dan kesatuan kita bersifat integral sehubungan dengan kehidupan dalam Kristus! Kita hanya dapat menjadi pihak yang turut ambil bagian dalam kehidupan Tritunggal Mahakudus (Trinitas) sejauh kita terikat satu sama lain. Inilah rencana Bapa surgawi bagi kita semua. Di lain pihak, apa bila kita berdosa melawan sesama kita atau melawan Allah, maka kita mengaburkan relasi kita dengan para anggota tubuh Kristus lainnya. Celakanya, perseteruan kita dengan sesama dan/atau Allah inilah yang diinginkan oleh Iblis. Itulah sebabnya, mengapa pengampunan dan perdamaian (rekonsiliasi) itu penting.

Dengan demikian, marilah kita berpegang teguh pada persatuan dan kesatuan Kristiani, satu-satunya pengharapan kita akan sukacita dan damai-sejahtera. Seringkali kesombongan dan kekerasan kepala dan hati kita menghalangi kita untuk mengakui keikutsertaan atau peranan negatif kita yang telah mengakibatkan suatu relasi menjadi rusak,  bahkan sampai berantakan. Kita harus belajar untuk menggantungkan diri pada Allah guna menolong kita melihat dengan mata yang baru situasi-situasi yang kita hadapi, teristimewa relasi-relasi. Marilah kita mohon kepada-Nya untuk menunjukkan kepada kita apa yang dapat kita lakukan untuk menjadi agen-agen untuk tercapainya rekonsiliasi,  bukan perpecahan.

Bahkan dalam situasi-situasi di mana rekonsiliasi terasa sulit untuk tercapai, kita tetap dapat membuat suatu perbedaan dengan menyerahkan segala perasaan yang mengandung kepahitan dan penolakan kepada Allah, dan mohon kepada-Nya dari kedalaman hati kita agar mengampuni kita.

DOA: Roh Kudus, inspirasikanlah dalam diriku suatu hasrat mendalam untuk bersatu secara dekat serta erat dengan saudari-saudari dan saudara-saudaraku. Persatukanlah semua orang Kristiani ke dalam sebuah keluarga dan ciptakanlah ikatan cintakasih yang tidak dapat dipatahkan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:20-26),  bacalah tulisan yang berjudul “PERINTAH-NYA UNTUK MENGASIHI” (bacaan tanggal 14-6-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com kategori: 18-06 BACAAN HARIAN JUNI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 15-6-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 11 Juni 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS