Posts tagged ‘GURU – PERBUATAN BAIK APAKAH YANG HARUS KUPERBUAT UNTUK MEMPEROLEH HIDUP YANG KEKAL?’

RELASI KITA DENGAN YESUS ADALAH YANG UTAMA

RELASI KITA DENGAN YESUS ADALAH YANG UTAMA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XX – Senin, 19 Agustus 2019)

Fransiskan Conventual: Peringatan S. Ludovikus, Uskup

Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata, “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus, “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah.” Kata orang itu kepada-Nya, “Perintah yang mana?” Kata Yesus, “Jangan membunuh, jangan berzina, jangan mencuri, jangan memberi kesaksian palsu, hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kata orang muda itu itu kepada-Nya, “Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?” Kata Yesus kepadanya, “Jikalau engkau hendak hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Mendengar perkataan itu, pergilah orang muda itu dengan sedih, sebab banyak hartanya. (Mat 19:16-22)  

Bacaan Pertama: Hak 2:11-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:34-37,39-40,43-44

Barangkali cerita tentang orang muda yang kaya ini adalah tentang sikap kita terhadap uang. Namun karena ada peristiwa-peristiwa lain yang diceritakan dalam Kitab Suci, misalnya tentang para perempuan yang menggunakan uang/harta-milik mereka untuk mendukung Yesus dan karya pelayanan-Nya (lihat Luk 8:1-3), maka lebih tepatlah apabila kita mengatakan bahwa bacaan Injil hari ini adalah tentang sikap dan disposisi kita yang tidak hanya berkaitan dengan masalah uang.

Ada sesuatu dalam sikap orang muda-kaya ini yang tidak benar. Yesus melihatnya dan berupaya untuk mengangkat masalahnya ke atas permukaan, agar supaya orang muda-kaya ini dapat bebas menerima kasih-Nya. Yesus melihat bahwa orang muda-kaya ini telah memperkenankan harta-kekayaannya menjadi berhala, yang mempunyai suatu posisi yang lebih tinggi daripada Allah sendiri.

Cerita dari Matius ini dapat menggerakkan kita untuk mengajukan suatu pertanyaan yang serupa. Apakah ada sikap kita terhadap uang, pengakuan/penghargaan dari orang lain, kepenuhan-diri, atau kekuasaan – yang menduduki tempat yang lebih tinggi daripada Allah? Apakah disposisi-disposisi ini begitu berarti bagi kita sehingga menyebabkan kita meminimalisir atau malah menghilangkan atau melupakan samasekali cara yang diinginkan Allah bagi kehidupan kita? Apakah semua itu lebih penting bagi kita daripada relasi kita dengan Yesus?

Bagi Yesus, hidup kita dengan-Nya bukanlah berdoa pada waktu-waktu tertentu secara teratur, menghadiri Misa, pekerjaan apa yang kita lakukan, atau cara kita hidup. Memang benar Tuhan Yesus menginginkan kita hidup dengan cara tertentu – dipenuhi dengan tindakan-tindakan positif penuh keutamaan. Akan tetapi mungkinlah untuk melakukan segala hal yang benar dan tetap menjalani kehidupan yang terfokus kepada (kepentingan)diri kita sendiri dan bukan pemberian kemuliaan dan kehormatan bagi Allah.

Saudari-saudara yang dikasihi Kristus, Allah menginginkan hati kita. Dia menginginkan kita menjadi kurban yang hidup bagi-Nya. Kita perlu jelas bahwa Bapa surga lebih menyukai umat yang memiliki komitmen penuh pada Putera-Nya – walaupun umat ini juga bisa saja tidak sempurna, lemah, rentan terhadap godaan dan dosa, dan tidak setia. Bapa surgawi mempunyai kesulitan yang jauh lebih besar dengan umat yang mungkin “nyaris-sempurna” namun yang juga berpegang teguh pada independensi mereka, kemandirian mereka dan pemenuhan-diri. Mereka yang lemah namun mengasihi Yesus lebih menarik bagi Allah daripada orang-orang hebat yang lebih mengasihi diri mereka sendiri ketimbang Putera-Nya, Yesus!

DOA: Tuhan Yesus, aku menyerahkan hatiku kepada-Mu. Anugerahkanlah kepadaku suatu hasrat untuk menyingkirkan setiap halangan yang merintangi diriku dapat berjalan bersama-Mu. Aku mengasihi Engkau, ya Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 19:16-22), bacalah tulisan dengan judul “ALLAH INGIN MEMMBERIKAN KEPADA KITA SUATU KEHIDUPAN YANG LEBIH BAIK” (bacaan tanggal 19-8-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori:  19-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-8-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  16 Agustus 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HENDAK SEMPURNA?

HENDAK SEMPURNA?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Bernardus, Abas & Pujangga Gereja – Senin, 20 Agustus 2018)

Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata, “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus, “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah.” Kata orang itu kepada-Nya, “Perintah yang mana?” Kata Yesus, “Jangan membunuh, jangan berzina, jangan mencuri, jangan memberi kesaksian palsu, hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kata orang muda itu itu kepada-Nya, “Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?” Kata Yesus kepadanya, “Jikalau engkau hendak hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Mendengar perkataan itu, pergilah orang muda itu dengan sedih, sebab banyak hartanya. (Mat 19:16-22)  

Bacaan Pertama: Yeh 24:14-24; Mazmur Tanggapan: Ul 32:18-21

Selagi Yesus dan rombongan-Nya berada dalam perjalanan menuju Yerusalem, seorang muda mendatangi Yesus dengan pertanyaan yang tentunya ada dalam hati kita semua: “Perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” (Mat 19:16). Jawaban Yesus cukup sederhana: Kita harus mengenal Dia, satu-satunya yang baik (yakni Allah sendiri), dan kita harus mematuhi segala perintah-Nya, termasuk perintah untuk mengasihi sesama kita. Otoritas perintah-perintah Allah itu jelas – siapa saja yang ingin masuk Kerajaan-Nya wajib untuk mematuhi perintah-perintah-Nya.

Dalam hatinya yang terdalam anak muda ini merasa sangat lapar. Walaupun dia kaya raya dan dengan tulus telah menepati perintah-perintah Allah (hal ini tidak mudah untuk dilakukan oleh siapa saja), tetap saja dia merasakan kekosongan dalam kehidupannya. Hal ini sungguh merupakan suatu blessing in disguise, bahwa boleh menikmati kekayaan dunia atau menghayati suatu kehidupan moral yang baik samasekali tidaklah memuaskan rasa rindu yang ada dalam hati kita. Kita memang diciptakan untuk hal yang jauh lebih besar! Kita diciptakan untuk mengenal dan menikmati suatu persatuan yang erat dengan Allah.  Santo Augustinus mengatakan: “Kaubuat kami mengarah kepadamu. Hati kami tak kunjung tenang sampai tenang di dalam diri-Mu” (Pengakuan-Pengakuan, terjemahan Indonesia terbitan BPK/Kanisius, I.1). Allah begitu mengasihi kita sehingga Dia menaruh dalam diri kita suatu rasa lapar akan kesempurnaan ini.

Yesus berkata kepada anak muda itu: “Jikalau  engkau hendak sempurna” (Mat 19:21). Hal ini harus kita pahami sebagai undangan Allah kepada semua orang. Melebihi upaya yang tulus dalam menepati perintah-perintah Allah, Yesus mengundang kita masing-masing kepada suatu pemuridan yang intim/akrab. Hanya persekutuan yang erat dengan Kristus seperti inilah yang dapat memuaskan rasa lapar yang ada dalam hati kita. Kita masing-masing dapat menjadi seorang murid Yesus, dapat mengikuti jalan kesempurnaan; undangan-Nya adalah untuk kita semua. Marilah kita menjawab dengan berani: “Ya, aku ingin menjadi sempurna,” dan memperkenankan Yesus mengajar kita untuk mengikuti jejak-Nya dalam kehidupan kita sehari-hari.

Episode ini terjadi pada waktu Yesus dengan penuh keyakinan sedang berada dalam perjalanan-Nya menuju sengsara dan kematian-Nya di Yerusalem. Kita semua juga sebenarnya sedang berada dalam suatu perjalanan: suatu perjalanan kemuridan/ pemuridan (a journey of discipleship). Setiap hari kita dapat mendekatkan diri kepada Yesus dalam doa, melalui pembacaan dan permenungan sabda Allah dalam Kitab Suci, dan melalui keikutsertaan kita dalam liturgi, teristimewa dalam Perayaan Ekaristi. Selagi kita melakukan semua itu, kita akan belajar mengikuti-Nya secara dekat. Baiklah kita kesampingkan banyak-banyak hal – apakah yang bernilai atau tidak – yang memenuhi hati dan pikiran kita secara tidak semestinya, dan memusatkan hasrat dan perhatian kita sepenuhnya pada Yesus. Dia adalah sang Guru. Oleh karena itu, marilah kita mendengarkan Dia!

DOA: Roh Kudus Allah, tunjukkanlah kepada kami sukacita yang sempurna dan damai sejahtera yang sejati karena mengikuti jejak Yesus Kristus. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 19:16-22), bacalah tulisan yang berjudul “RELASI KITA DENGAN YESUS ADALAH YANG  UTAMA” (bacaan tanggal 20-8-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori:  18-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-8-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  18 Agustus 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

ADA YANG MASIH KURANG PADA DIRI ANAK MUDA INI

ADA YANG MASIH KURANG PADA DIRI ANAK MUDA INI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Pius X, Paus – Senin, 21 Agustus 2017)

Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata, “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus, “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah.” Kata orang itu kepada-Nya, “Perintah yang mana?” Kata Yesus, “Jangan membunuh, jangan berzina, jangan mencuri, jangan memberi kesaksian palsu, hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kata orang muda itu itu kepada-Nya, “Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?” Kata Yesus kepadanya, “Jikalau engkau hendak hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Mendengar perkataan itu, pergilah orang muda itu dengan sedih, sebab banyak hartanya. (Mat 19:16-22)  

Bacaan Pertama: Hak 2:11-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:34-37,39-40,43-44

“Apa lagi yang masih kurang?” (Mat 19:20). Orang muda yang bertanya kepada Yesus ini tahu bahwa masih ada sesuatu yang kurang pada dirinya. Dapat kita rasakan bahwa sebenarnya dia mendatangi Yesus dan bertanya kepada Yesus karena dengan tulus hati berhasrat untuk menyenangkan Allah, karena bukankah dia sudah mematuhi perintah-perintah Allah yang disebutkan oleh Yesus? Di sisi lain Yesus tahu benar bahwa orang muda ini tidak akan mampu menemukan “harta kekayaan rohani” yang dicarinya, kalau dia tidak belajar melepaskan diri dari kelekatan-kelekatan pada harta benda duniawi. Oleh karena itu Yesus melanjutkan dengan sebuah pengajaran singkat: “Jikalau engkau hendak hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku” (Mat 19:21). Kalau “perintah” Yesus ini dilaksanakan oleh orang muda kaya ini, maka mungkin sekali dia akan menjadi salah seorang murid-Nya yang terbaik. Namun kenyataan menyatakan lain: dia “ngeloyor”pergi dengan sedih. Teks Injil melanjutkan alasannya: “karena banyak hartanya” (Mat 19:22).

Panggilan Yesus kepada pemuridan/kemuridan adalah sebuah panggilan untuk meninggalkan diri kita sendiri di belakang sehingga dengan demikian kita dapat mengasihi Allah dan sesama kita. Panggilan kepada pemuridan ini pada awal-awalnya dapat menjadi semacam ancaman, dalam arti sampai berapa jauh kita dapat tergoda untuk menetapkan batas berapa jauh kita mau maju dalam mematuhi dua perintah terutama ini: MENGASIHI ALLAH DAN MENGASIHI SESAMA (lihat Mrk 12:28-34). Bahkan kita barangkali mencoba untuk ‘menyibukkan-diri’ dengan berbagai devosi rohani yang dapat melindungi kita dari kebutuhan akan penyerahan-diri yang aktif dan sejati.

Yesus mengundang orang muda kaya ini untuk menjual segala miliknya dan memberikannya kepada orang-orang miskin (Mat 19:21). Apakah hal ini tidak menunjukkan adanya hubungan antara mengasihi Allah dan mengasihi sesama? Sesungguhnya dua “tindakan mengasihi” itu tergabung dan bercampur dengan indahnya dalam suatu cara yang akrab penuh keintiman: Ketika kita memenuhi “perintah baru” Yesus untuk saling mengasihi, maka sesungguhya kita mengasihi Allah. “Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita” (1Yoh 1:12).

Setiap hari dalam kehidupan kita, kita diberkati dengan begitu banyak kesempatan untuk mewujudkan cintakasih radikal ini ke dalam tindakan-tindakan nyata. Misalnya ketika kita mengunjungi orang yang paling “nyebelin”, atau “menyusahkan” kita; ketika kita menunjukkan sikap sabar terhadap seorang anak dalam keluarga yang terasa selalu mencoba kesabaran kita; semua ini sebenarnya dapat diartikan bahwa kita sedang “menjual” apa yang kita miliki, lalu mengikuti Yesus. Apabila kita menggunakan waktu kita yang sangat berharga atau talenta kita untuk menjadi “Kristus-Kristus kecil” bagi orang-orang yang membutuhkan pertolongan dan/atau kehadiran kita, sebenarnya di sini kita sedang mengasihi Allah. Ini adalah jalan menuju kesempurnaan yang diajarkan oleh Yesus kepada para murid-Nya sepanjang zaman. Bukankah jalan ini yang diambil oleh St. Fransiskus dari Assisi, St. Klara dari Assisi dan para kudus lainnya? Jadi apakah tanggapan anda terhadap “undangan” Yesus pada hari ini?

DOA: Tuhan Yesus, semua jaminan-keamanan hidupku terletak di tangan-Mu. Bimbinglah tindakan-tindakanku, ya Tuhan, dan utuslah aku untuk bekerja di ladang-Mu dengan cintakasih-Mu. Semoga aku mengenal dan mengalami kuasa Roh Kudus-Mu yang mampu mengubah apa pun juga. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 19:16-22), bacalah tulisan yang berjudul “HENDAK SEMPURNA?” (bacaan tanggal 21-8-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 15-8-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  18 Agustus 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS