Posts tagged ‘FILIPUS’

AKAN MELIHAT HAL-HAL YANG LEBIH BESAR

AKAN MELIHAT HAL-HAL YANG LEBIH BESAR

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S. Bartolomeus, Rasul – Kamis, 24 Agustus 2017) 

Filipus menemui Natanael dan berkata kepadanya, “Kami telah menemukan Dia yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret.”  Kata Natanael kepadanya, “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?”  Kata Filipus kepadanya, “Mari dan lihatlah!”  Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia, “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!”  Kata Natanael kepada-Nya, “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!”  Yesus berkata, “Apakah karena Aku berkata kepadamu, ‘Aku melihat engkau di bawah pohon ara,’ maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar daripada itu.”  Lalu kata Yesus kepadanya, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah naik turun kepada Anak Manusia.”  (Yoh 1:45-51) 

Bacaan Pertama: Why 21:9b-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:10-13,17-18   

Yesus menjanjikan Natanael (yang dalam tradisi disamakan dengan Bartolomeus), “Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar daripada itu” (Yoh 1:50) setelah ucapan pujian Natanael kepada-Nya, “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!” (Yoh 1:49). Sesungguhnya, sementara dia mengikuti Yesus sampai akhir hidupnya, Natanael memang melihat banyak hal-hal yang lebih besar. Ia melihat Yesus membuat begitu banyak mukjizat dan tanda heran. Ia sendiri bersama para rasul yang lain mempunyai pengalaman menyembuhkan orang-orang sakit, mengusir roh-roh jahat dan berkhotbah di depan orang banyak. Kita dapat mengatakan, bahwa bagi Natanael, bagian dari tindakan mengikuti Yesus berarti pernyataan terus-menerus dari misteri-misteri surgawi dan suatu penyingkapan yang berkesinambungan dari kuasa Allah untuk melepaskan dan memulihkan.

Kata-kata Yesus di sini menunjuk pada suatu dimensi yang sangat penting dalam kehidupan iman kita sendiri. Seperti Natanael, kita juga mampu melihat dan mengalami “hal-hal yang lebih besar” dari tahun ke tahun sejalan dengan pertumbuhan kehidupan Kristiani kita di bawah naungan rahmat Allah.

Teristimewa dalam doa lah – hubungan paling akrab dengan Yesus yang kita dapat ketahui – kita dapat mengharapkan Yesus untuk menunjukkan hal-hal besar kepada kita. Sebuah dunia tanpa batas dari kemuliaan surgawi menantikan kita setiap setiap saat kita mengangkat hati kita ke surga untuk menyembah Yesus dan menerima cintakasih-Nya. dan kemuliaan itu mencakup pemahaman akan kasih dan hikmat Allah serta dalam hasrat-Nya untuk mentransformasikan dunia. Kita dapat “memindahkan gunung” dalam kehidupan orang-orang di sekeliling kita tidak hanya melalui kerja aktif, melainkan juga melalui doa-doa kita. Dan menyaksikan hati orang-orang yang berubah menjadi lebih baik, barangkali merupakan “hal-hal yang lebih besar” yang dapat kita lihat.

Yesus menginginkan diri-Nya dikenal dan dikasihi dalam dunia ini. Dia ingin menunjukkan kepada orang-orang realita siapa sesungguhnya Dia. Seringkali, Dia akan menggunakan kita (anda dan saya) sebagai para pengikut-Nya, untuk melakukan hal ini. Dengan demikian janganlah kaget, apabila hal-hal yang menakjubkan terjadi di sekeliling kita sebagai akibat doa-doa dan ketaatan kita pada Roh Kudus. Yesus mengasihi kita masing-masing dan ingin menggunakan kita untuk menyatakan diri-Nya kepada orang-orang lain. Ia mempunyai suatu masa depan yang direncanakan-Nya bagi kita yang hanya menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Oleh karena itu seharusnyalah kita mengatakan “ya” kepada-Nya, dan kemudian memperhatikan perjalanan masa depan kita masing-masing yang akan dipenuhi dengan “hal-hal yang lebih besar”.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau membukakan surga bagiku melalui doa-doaku dan pernyataan diri-Mu. Tuhan, tolonglah aku agar dapat melihat Engkau melakukan hal-hal yang lebih besar melalui diriku selagi aku tetap dekat pada-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Yoh 1:45-51), bacalah tulisan yang berjudul “SEORANG PRIBADI TANPA KEPALSUAN ” (bacaan tanggal 24-8-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 24-8-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 22 Agustus 2017 [Peringatan SP Maria, Ratu] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

MENGHADAP-NYA DENGAN HATI TERBUKA DAN PENUH RASA PERCAYA

MENGHADAP-NYA DENGAN HATI TERBUKA DAN PENUH RASA PERCAYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH V [Tahun A], 14 Mei 2017)

“Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Apabila aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada.

Kemana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ.” Kata Tomas kepada-Nya, “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?” Kata Yesus kepadanya, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.”

Kata Filipus kepada-Nya, “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.” Kata Yesus kepadanya, “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Siapa saja yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. Tidak percayakah engkau bahwa aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang tinggal di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya.

Percayalah kepada-Ku bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa…” (Yoh 14:1-12) 

Bacaan Pertama: Kis 6:1-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:1-2,4-5,18-19; Bacaan Kedua: 1Ptr 2:4-9

“Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi.” “Tuhan, bagaimana kami tahu jalan ke situ?” “Tuhan , tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.” Kadang-kadang para murid kelihatan terlalu “bodoh” untuk memahami apa yang dikatakan/diajarkan oleh Yesus kepada mereka. Namun, apakah mereka benar-benar tidak memiliki kemampuan untuk memahami kata-kata-Nya? Barangkali, untuk semua ketidakpahaman mereka yang begitu jelas, para murid sebenarnya menunjukkan satu hal yang mungkin kita tidak pernah pikirkan, yaitu kerendahan hati.

Marilah kita pertimbangkan bahwa para murid telah hidup bersama-sama dengan Yesus selama paling sedikit tiga tahun. Mereka telah mendengar pengajaran Yesus di depan umum dan mereka juga telah mendengar penjelasan-penjelasan yang lebih mendalam oleh Yesus secara privat, khusus bagi mereka. Mereka telah diutus oleh Yesus untuk mewartakan Kerajaan Allah dan malah telah membuat mukjizat-mukjizat dalam nama-Nya lihat Luk 9:1-6). Jelas mereka adalah sedikit orang yang dipilih sendiri oleh Tuhan Yesus. Namun demikian, mereka harus mengakui, baik di depan satu sama lain maupun di depan Yesus sendiri, bahwa mereka masih belum mengerti benar segala ajaran Yesus, belum paham sepenuhnya,  … nggak mudeng! Dengan demikian, tidak mengherankanlah jika tersirat dalam tanggapan Yesus terhadap permintaan Filipus adanya rasa dongkol atau kekesalan (lihat Yoh 14:9 dsj.).

Di satu sisi, kelambatan (kebebalan?) para murid dapat saja telah membuat Yesus mendongkol atau kesal, namun di sisi lain hasrat mereka untuk belajar tentunya menghibur Yesus juga. Bagaimana pun juga para murid dapat saja berpura-pura sudah paham. Mereka dapat saja bertindak seolah-olah telah paham semua dan siap untuk menjalankan misi yang dipercayakan kepada mereka. Namun secara positif kita harus melihat bahwa para murid melihat Injil dan pewartaannya sebagai sesuatu yang serius dan memandang serta mempertimbangkan bahwa kasih Yesus dan hidup-Nya sangatlah berharga, sehingga tidak pantaslah untuk main-main dengan itu semua. Para murid ingin semuanya benar sehingga mereka dapat menerima segala yang telah dijanjikan oleh Yesus dan kemudian mensyeringkannya dengan orang-orang lain.

Sekarang, apakah kita (anda dan saya) percaya bahwa Yesus sungguh merasa terhibur dan senang ketika kita mengakui/menerima kelemahan-kelemahan kita di hadapan hadirat-Nya? Apakah kita percaya bahwa Yesus tersenyum ketika kita mengakui kebutuhan-kebutuhan kita kepada-Nya? Yesus ingin agar kita datang menghadap hadirat-Nya dengan hati yang terbuka dan penuh rasa percaya. Bagi kita senantiasa ada sesuatu yang perlu kita pelajari dan alami lagi, karena yang kita telah pahami (atau yang  kita pikir kita telah pahami) senantiasa memerlukan perbaikan. Yesus selalu siap dan penuh gairah untuk membawa kita di bawah sayap-Nya dan terus mengajar kita. Oleh karena itu marilah kita datang ke altar-Nya pada Misa Kudus pada hari ini dengan kerendahan hati dan keterbukaan sebagai para murid-Nya. Marilah dengan mendengar baik-baik sabda-Nya, lalu makan tubuh-Nya (dan minum darah-Nya). Kita semua tidak akan begitu kenyangnya dengan memakan tubuh Kristus (dan meminum darah-Nya); kita akan terus merindukan untuk mengalami-Nya lagi dan lagi.

DOA: Tuhan Yesus, aku ingin melihat kemuliaan-Mu dalam Misa Kudus hari ini – kebesaran-Mu, keindahan-Mu dan kebaikan-Mu. Aku tahu bahwa aku tidak melihat-Mu selama ini secara seharusnya. Oleh karena itu aku mohon agar Engkau membuka mataku. Yesus – Tuhan dan Juruselamatku, perkenankanlah aku melihat Engkau! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 6:1-7), bacalah tulisan yang berjudul “TUJUH DIAKON PERTAMA DALAM GEREJA” (bacaan tanggal 14-5-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-05 BACAAN HARIAN MEI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 18-5-14) 

Cilandak, 15 Mei 2014  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

BERDOA DALAM NAMA YESUS

BERDOA DALAM NAMA YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Paskah – Sabtu, 13 Mei 2017)

“Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.” Kata Filipus kepada-Nya, “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.” Kata Yesus kepadanya, “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Siapa saja yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. Tidak percayakah engkau bahwa aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang tinggal di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya.

Percayalah kepada-Ku bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa; dan apa pun yang kamu minta dalam nama-Ku, aku akan melakukannya, supaya Bapa dimuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.” (Yoh 14:7-14)  

Bacaan Pertama: Kis 13:44-52; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4

“Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.” (Yoh 14:14) 

Apabila kita sungguh percaya akan/kepada Yesus, kita ini akan mampu melakukan hal-hal yang lebih besar daripada yang Yesus sendiri pernah laukan karena kuat-kuasa doa yang Ia berikan kepada kita (Yoh 14:12-13). Yesus pernah berjanji: “… dan apa pun yang kamu minta dalam nama-Ku, aku akan melakukannya, supaya Bapa dimuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya” (Yoh 14:13-14).

Jika Yesus menaruh nama-Nya  dalam doa-doa kita, maka doa-doa kita itu dikabulkan-Nya seperti yang kita mohonkan. Dengan perkataan lain, apabila kita berdoa seturut kehendak-Nya dan bukan kehendak kita, maka apa yang kita doakan itulah yang terjadi. Apabila kita pertama-tama mencari Kerajaan Allah, maka semuanya akan diberikan kepada kita dan juga yang tidak kita minta (lihat Mat 6:33).

Apabila kita berdoa untuk sakit kanker yang kita derita, apakah Yesus akan menaruhkan nama-Nya dalam doa kita dan apakah kita lalu disembuhkan? Pada umumnya Tuhan Yesus menghendaki agar kita disembuhkan, dan malah “Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kita telah sembuh”  (lihat 1 Ptr 2:24).

Namun demikian penyembuhan bukanlah prioritas utama dan pertama bagi Tuhan Yesus. Jadi, dapat saja Tuhan Yesus lalu menaruhkan (atau tidak menaruhkan) nama-Nya dalam doa-doa kita agar kita disembuhkan dari penyakit kanker.  Akan tetapi apabila kesehatan kita yang kita butuhkan itu benar-benar penting untuk kesaksian atas nama-Nya dan guna terbangunnya Kerajaan Allah, maka tentu Tuhan Yesus akan menaruhkan nama-Nya dalam doa kita. Dengan demikian, kita bisa saja menjadi sembuh, atau kita lalu akan dapat melakukan apa yang dikehendaki oleh-Nya, juga apabila kita tidak disembuhkan. Marilah kita selalu berdoa dalam nama-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, ajarlah kami berdoa (Luk 11:1) dengan memberikan kepada kami hati dan pikiran-Mu sendiri (1 Kor 2:16). Terpujilah nama-Mu selalu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 14:7-14), bacalah tulisan yang berjudul “BAHKAN PEKERJAAN-PEKERJAAN YANG LEBIH BESAR” (bacaan tanggal 13-5-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-05 BACAAN HARIAN MEI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 23-4-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 11 Mei 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SATU-SATUNYA CERITA MUKJIZAT YANG TERCATAT DALAM KEEMPAT KITAB INJIL

SATU-SATUNYA CERITA MUKJIZAT YANG TERCATAT DALAM KEEMPAT KITAB INJIL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Paskah – Jumat, 28 April 2017)  

Sesudah itu Yesus berangkat ke seberang Danau Galilea, yaitu Danau Tiberias. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka melihat mukjizat-mukjizat yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit. Lalu Yesus naik ke atas gunung dan duduk di situ dengan murid-murid-Nya. Dan Paskah, hari raya orang Yahudi, sudah dekat. Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus, “Di mana kita dapat membeli roti, supaya mereka dapat makan?” Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu apa yang hendak dilakukan-Nya. Jawab Filipus kepada-Nya, “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.” Salah seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya, Di sini ada seorang anak yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apa artinya itu untuk orang sebanyak ini?” Kata Yesus, “Suruhlah orang-orang itu duduk.” Adapun di tempat itu banyak rumput. Lalu duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya. Sesudah itu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dilakukan-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. Setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang.” Mereka pun mengumpulkannya, dan mengisi dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan. Ketika orang-orang itu melihat tanda mukjizat yang telah diperbuat-Nya, mereka berkata, “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia.”

Karena Yesus tahu bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir lagi ke gunung, seorang diri. (Yoh 6:1-15) 

Bacaan Pertama: Kis 5:34-42; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14 

Bab 6 dalam Injil Yohanes memusatkan perhatiannya pada kebenaran sentral bahwa Yesus adalah “Roti Kehidupan”. Penggandaan roti dan ikan (satu-satunya cerita mukjizat yang tercatat dalam keempat kitab Injil) menolong para pembaca untuk memahami selebihnya dari Bab 6 ini.

Hari Raya Paskah sudah dekat (Yoh 6:4), dengan demikian di sini kita diingatkan akan pekerjaan besar Allah di masa lalu dan roti tak beragi yang dimakan oleh orang Yahudi pada hari raya sangat istimewa ini. Yesus sedang akan menyatakan sesuatu tentang karya-karya baru Allah dan roti Paskah baru yang diberikan-Nya kepada kita. Orang banyak mengikuti Yesus ke sebuah tempat yang terisolasi, ke atas gunung yang hijau menyegarkan. Sebuah tempat kehidupan, bukan tempat kematian, karena ada banyak rumput di mana orang-orang itu dapat duduk (lihat Yoh 6:10). Dalam suatu situasi yang serupa dengan situasi yang dialami Musa di padang gurun, timbullah keprihatinan bagaimana memberi makan kepada begitu banyak orang. Allah memberi makan manna kepada bani Israel yang mengembara di padang gurun; Yesus menggandakan roti dan ikan.

Hal ini memimpin kita kepada isu sentralnya – penggandaan. Seluruh kisah ini disajikan dalam suatu kerangka liturgis atau kerangka rituale. Sebagaimana dilakukan oleh para imam tertahbis dalam perayaan Ekaristi berabad-abad lamanya, Yesus “mengambil” roti, “mengucap syukur” (Yunani: eucharistesas), dan “membagi-bagikannya” kepada mereka yang duduk di situ (lihat Yoh 6:11). Penggandaan roti dilakukan dalam konteks doa syukur kepada Allah untuk segala anugerah, namun teristimewa untuk karunia kehidupan (yang dilambangkan oleh roti) yang datang hanya dari Dia.

Tanggapan orang banyak memiliki signifikansi di sini: “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia” (Yoh 6:14), suatu alusi pada nabi yang akan dibangkitkan oleh Allah dari antara umat (Ul 18,15,18). Sebagaimana Musa – melalui karya Allah) telah memberikan bani Israel dengan manna  di padang gurun, demikian pula Yesus (sang nabi) memberikan anugerah kehidupan yang bahkan lebih besar.

Anugerah yang lebih besar ini adalah Yesus sendiri. Alusi-alusi ke masa lampau ditambah dengan mukjizat hari ini membuat praandaian tentang sesuatu lebih besar yang akan datang: Yesus sebagai “roti kehidupan”.  “Inilah roti yang turun dari surga: Siapa saja yang memakannya, ia tidak akan mati. Akulah roti kehidupan yang telah turun dari surga. Jikalau seseorang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya” (Yoh 6:50-51). Penggandaan ini menunjuk kepada kehidupan kekal. Setelah selesai makan, sisa-sisa makanan yang terkumpul berjumlah dua belas bakul, jauh lebih besar daripada jumlah “modal” pertama sejumlah lima roti jelai dan dua ekor ikan (Yoh 6:13). Yesus memberikan kepada kita hidup-Nya secara berlimpah.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu, karena Engkau memberikan kepada kami anugerah Yesus – roti kehidupan kekal. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:1-15), bacalah tulisan yang berjudul “MUKJIZAT PENGGANDAAN ROTI DAN IKAN” (bacaan tanggal 28-4-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-04 BACAAN HARIAN APRIL 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 8-4-16 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 26 April 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SEORANG ISRAEL SEJATI

SEORANG ISRAEL SEJATI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Masa Natal – Kamis, 5 Januari 2017)

filipus-mengajak-nataniel-untuk-bertemu-dengan-yesusKeesokan harinya Yesus memutuskan untuk berangkat ke Galilea. Ia bertemu dengan Filipus, dan berkata kepadanya, “Ikutlah Aku!” Filipus berasal dari Betsaida, kota Andreas dan Petrus. Filipus menemui Natanael dan berkata kepadanya, “Kami telah menemukan Dia yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret.” Kata Natanael kepadanya, “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” Kata Filipus kepadanya, “Mari dan lihatlah!”  Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia, “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!” Kata Natanael kepada-Nya, “Bagaimana Engkau mengenal aku?” Jawab Yesus kepada kepadanya, “Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara.” Kata Natanael kepada-Nya, “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!” Yesus berkata, “Apakah karena Aku berkata kepadamu, ‘Aku melihat engkau di bawah pohon ara,’ maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar daripada itu.” Lalu kata Yesus kepadanya, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah naik turun kepada Anak Manusia.” (Yoh 1:43-51)

Bacaan Pertama: 1Yoh 3:11-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 100:1-5 

Rasul Bartolomeus – dalam Injil hari ini dipanggil dengan namanya yang lain, Natanael –  memutuskan bahwa dia harus mengikut seorang pribadi yang bernama Yesus dari Nazaret ini karena Dia mengenal dirinya, luar dan dalam. Bagaimana Yesus sampai dapat menunjukkan bahwa diri-Nya mengenal Natanael secara begitu mendalam?

Pada waktu Natanael  duduk bermeditasi, kita dapat membayangkan dirinya mencatat di mana dia sedang berada: di bawah sebatang pohon ara. Terasa bahwa Natanael adalah seorang pribadi yang memahami Kitab Suci dengan baik. Tidak mengherankanlah apabila dia mulai merefleksikan beberapa nubuatan Perjanjian Lama berkaitan dengan pohon ara. Dalam Kitab Zakharia, ada tercatat bahwa Iblis mendakwa imam besar Yosua, akan tetapi Allah memberikan pakaian pesta kepada Yosua. Kepada Yosua juga diberitahukan, bahwa apabila dia berjalan di jalan Allah, maka dia dapat memerintah umat dan mengurus pelataran-Nya. Kemudian YHWH Allah berjanji akan mendatangkan hamba-Nya, yakni SANG TUNAS. YHWH  semesta alam akan menghapuskan kesalahan Israel dalam satu hari saja. Pada hari itu, demikianlah firman YHWH semesta alam, “setiap orang dari padamu akan mengundang temannya duduk di bawah pohon anggur dan di bawah pohon ara” (Za 3:10).

Bagi nabi Mikha pun, pohon ara melambangkan pemulihan (restorasi). Walaupun Ia meratapi tidak adanya buah awal (orang-orang baik dan saleh), Ia juga menjanjikan bahwa Bait Allah akan direstorasi sebagai gunung tertinggi, tempat pengadilan yang adil; perang akan berhenti, dan setiap orang akan duduk tanpa takut di bawah pohon anggur dan pohon ara (Mi 4:1-4; 7:1-2). Kita dapat membayangkan betapa Natanael merindukan saat dipenuhinya nubuatan tersebut.

Maka, ketika Yesus berkata, “Aku melihat engkau di bawah pohon ara” (Yoh 1:48), Natanael tentunya menyadari bahwa semua permenungannya dan kerinduannya ternyata merupakan “sebuah buku yang terbuka” bagi Yesus. Artinya tidak ada rahasia yang tidak diketahui Yesus tentang isi hatinya. Jadi, Yesus mestinya adalah Mesias yang dijanjikan dan dinanti-nantikan itu! Namun kemudian, Yesus dengan lemah lembut mengundang dia untuk memperluas visinya. Ada lebih banyak lagi yang harus diketahui seseorang tentang kerajaan Allah daripada dia sekadar menikmati keteduhan karena berada di bawah pohon aranya. Tangga Yakub (Yoh 1:51; Kej 28:10-17) menunjukkan bahwa rencana Allah itu bersifat kosmik, mampu mengalahkan maut dan kuasa-kuasa kegelapan. Apabila dia memilihnya, maka Bartolomeus (Natanael) pun dapat ikut ambil bagian dalam mendirikan kerajaan Allah.

Sampai seberapa sering kita menyadari bahwa Allah sesungguhnya melihat/membaca segala pikiran kita? Sampai berapa serius kemauan kita mengundang Dia agar mendengarkan pikiran-pikiran kita, menolong kita dalam membuat jelas pikiran-pikiran kita itu, dan membentuk pikiran-pikiran yang benar selagi kita mengenakan pikiran-Nya? Oleh karena itu, baiklah pada hari kita mencoba untuk tidak mendengarkan radio, menonton televisi untuk setengah jam saja dan memakai waktu setengah jam itu untuk bersimpuh di hadapan hadirat-Nya. Selama setengah jam itu, baiklah kita benar-benar membuat suasana menjadi sungguh hening (lahir dan batin) sehingga kita dapat mendengarkan “suara Tuhan”. Insya Allah!

DOA: Tuhan Yesus, Engkau sungguh mengenalku luar-dalam. Aku mengundang Engkau untuk berpikir bersamaku dan menarik aku ke dalam visi-Mu tentang bagaimana seharusnya membangun kerajaan Allah. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 1:43-51), bacalah tulisan yang berjudul “SIKAP SKEPTIS YANG MEMBUKA JALAN KEPADA IMAN” (bacaan tanggal 5-1-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori:  17-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011)

Cilandak, 3 Januari 2017 [Peringatan Nama Yesus Yang Tersuci]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

TIDAK ADA KEPALSUAN

TIDAK ADA KEPALSUAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S. Bartolomeus, Rasul – Senin, 24 Agustus 2015) 

FILIPUS DAN NATANAEL - 001Filipus menemui Natanael dan berkata kepadanya, “Kami telah menemukan Dia yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret.”  Kata Natanael kepadanya, “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?”  Kata Filipus kepadanya, “Mari dan lihatlah!”  Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia, “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!” Kata Natanael kepada-Nya, “Bagaimana Engkau mengenal aku?” Jawab Yesus kepadanya, “Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara.” Kata  Natanael kepada-Nya: “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!”  Yesus berkata, “Apakah karena Aku berkata kepadamu, ‘Aku melihat engkau di bawah pohon ara,’ maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar daripada itu.”  Lalu kata Yesus kepadanya, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah naik turun kepada Anak Manusia”  (Yoh 1:45-51) 

Bacaan Pertama: Why 21:9b-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:10-13,17-18   

Yohanes adalah satu-satunya penulis Injil yang menyebutkan rasul yang bernama Natanael, namun tradisi melihat dia sebagai murid yang bernama Bartolomeus dalam ketiga Injil Sinoptik. Bartolomeus berarti “putera dari Tolmai” dan mungkin saja ini adalah nama keluarga Natanael. Nama Bartolomeus selalu ditempatkan di samping nama Filipus, dia yang menurut Yohanes memperkenalkan Natanael kepada Yesus (Yoh 1:45-46).

Ketika Filipus syering kepercayaannya bahwa Yesus dari Nazaret adalah sang Mesias, maka Natanael menjawab: “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” (Yoh 1:46). Pemikiran di kalangan para rabi Yahudi yang diterima pada zaman itu adalah bahwa Mesias akan datang dari Yudea, tanah Daud – paling sedikit tidak berasal dari daerah seperti Galilea yang didominasi oleh kaum kafir. Sebenarnya tanggapan Natanael itu lebih daripada sekadar komentar sinis atau suatu pernyataan ketidakpercayaan. Reaksi Natanael itu mengungkapkan suatu ketaatan yang kuat-kokoh pada sabda Allah menurut apa yang dipahaminya, dan suatu kemauan untuk melihat asumsi-asumsinya ditantang dengan pandangan lain. Kenyataan bahwa Natanael menerima undangan Filipus untuk bertemu dengan Yesus banyak menggambarkan dia sebagai seorang pribadi yang terbuka bagi kebenaran.

BARTOLOMEWSecara cukup ironis, Yesus yang melihat Natanael yang mendatangi-Nya, membuat semacam deklarasi: “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!” (Yoh 1:47). Keterbukaan Natanael sungguh mengesankan bagi Yesus. Yesus melihat sedikit sekali sinisme, rasa curiga, atau prasangka dalam diri Natanael. Orang yang satu ini tidak bersembunyi di belakang kedok bilamana berurusan dengan orang-orang lain. Sebaliknya, dia berbicara kebenaran secara blak-blakan dan tidak mengharapkan apa-apa sebagai ganjaran. Yesus menjelaskan bahwa Dia melihat Natanael ketika berada di bawah pohon ara. Para rabi diketahui suka berkumpul di bawah pohon-pohon ara untuk mendiskusikan sabda Allah. Keterbukaan hati Natanael tentunya merupakan tanah yang sungguh subur untuk berakarnya sabda Allah.

Allah ingin memberikan kepada kita kebebasan dan keterbukaan sama seperti yang dimiliki oleh Natanael. Tidak ada kepalsuan bukanlah suatu atribut pribadi yang bersifat alamiah, melainkan datang selagi kita memasrahkan keamanan diri kita dalam tangan-tangan kasih Yesus. Karena kita mengetahui pengampunan-Nya dan menaruh kepercayaan pada pemeliharaan Bapa-Nya, maka tidak perlulah bagi kita untuk membentengi diri kita dengan segala macam upaya perlindungan yang bersifat duniawi. Seperi Natanael, marilah kita membenamkan diri ke dalam Kitab Suci dan memperkenankan sabda Allah menyembuhkan diri kita dari segala kepalsuan.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau mengenal diri kami lebih baik daripada kami mengenal diri kami sendiri. Semoga Roh Kudus-Mu membuang segala kepalsuan yang ada pada diri kami masing-masing dan membuat kami “garam bumi” dan “terang dunia” yang dengan jelas mencerminkan kemuliaan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Yoh 1:45-51), bacalah tulisan berjudul “SEPERTI NATANAEL, MARILAH KITA BERBALIK KEPADA YESUS” (bacaan tanggal 24-8-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 24-8-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 21 Agustus 2015 [Peringatan S. Pius X, Paus]  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PENDERITAAN MEMPERSATUKAN KITA DENGAN KEMENANGAN KRISTUS

PENDERITAAN MEMPERSATUKAN KITA DENGAN KEMENANGAN KRISTUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Atanasius, Uskup Pujangga Gereja – Sabtu, 2 Mei 2015)

5bb-institution-of-the-eucharist

“Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.” Kata Filipus kepada-Nya, “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.” Kata Yesus kepadanya, “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Siapa saja yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. Tidak percayakah engkau bahwa aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang tinggal di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya.

Percayalah kepada-Ku bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa; dan apa pun yang kamu minta dalam nama-Ku, aku akan melakukannya, supaya Bapa dimuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.” (Yoh 14:7-14) 

Bacaan Pertama: Kis 13:44-52; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4

Filipus memiliki pikiran yang sangat praktis. Ketika Yesus berada di atas gunung bersama para murid-Nya dan melihat orang banyak, Ia bertanya kepada Filipus di manakah kiranya para murid dapat membeli roti, supaya orang banyak itu dapat makan. Filipus menjawab, bahwa roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk orang banyak itu, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil roti saja (lihat Yoh 6:5-7). Kita tidak pernah boleh merasa ragu, betapa menakjubkan di mata Filipus mukjizat penggandaan roti yang dibuat oleh Yesus beberapa saat setelah itu. Barangkali tidak kurang menakjubkan bagi Filipus ketika pada perjamuan terakhir, dia mengajukan suatu permintaan praktis lain kepada Yesus, “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami” (Yoh 14:8). Tanggapan Yesus terhadap permintaan Filipus itu adalah semacam teguran yang tegas. Tanggapan Yesus itu merupakan suatu tuntutan untuk adanya iman dalam diri para rasul/murid-Nya, dan kita tahu bahwa dengan bantuan Roh Kudus yang berlimpah, Filipus hidup oleh iman itu. Dia juga memberikan hidupnya untuk itu, dan disalibkan di Asia Kecil sebagai seorang martir Kristus.

Bagaimana dengan iman kita, yaitu iman anda dan iman saya? Kita tahu bagaimana Tomas menjadi percaya kepada Yesus yang sudah bangkit (lihat Yoh 20:24-29). Bagaimana dengan kita masing-masing? Doktor Victor Frankl, seorang psikiater (seorang survivor dari kekejaman kamp konsentrasi Nazi Jerman), menulis, “Hidup adalah menderita, menjadi survive adalah menemukan makna dalam penderitaan. Apabila sungguh ada tujuan dalam hidup ini, maka haruslah ada suatu tujuan dalam penderitaan dan kematian.” Dan ini adalah sesuatu yang kita semua pasti mengalaminya.

Jikalau kita tidak melihat adanya hubungan antara penderitaan/sengsara, kematian dan kebangkitan, maka hidup tidak ada artinya. Yesus berkata kepada dua orang murid yang sedang berjalan menuju Emaus: “Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu untuk mempercayai segala sesuatu yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?” (Luk 24:25-26). Apakah ada suatu cara yang lain?

Saudari dan Saudaraku, kita melihat orang-orang menderita di mana-mana – karena kemiskinan, konflik bersenjata, gempa bumi, banjir, kebakaran dlsb., juga begitu banyak penderitaan yang kita rasakan disebabkan oleh orang-orang lain – kebencian, tuduhan-tuduhan palsu atau fitnah, ketidakadilan dalam banyak hal, tidak dihargai dlsb. Namun demikian, semua hal ini mempersatukan kita dengan kemenangan Kristus, jika kita melihat semua itu dengan mata iman. Iman memberikan kepada kita keberanian dan kesadaran akan pentingnya nilai-nilai, dan menaruh makna ilahi ke dalam segala hal.

DOA: Tuhan Yesus, kami melihat penderitaan umat manusia di mana-mana, namun kami juga yakin bahwa Engkau hadir di dalam diri orang-orang yang menderita (Mat 25:31-46). Penderitaan sengsara dan kematian-Mu di atas kayu salib telah membawa Engkau kepada kemuliaan kebangkitan. Dengan demikian, ya Tuhan Yesus, kami percaya bahwa penderitaan manusia di atas bumi ini mempersatukan kami dengan kemenangan-Mu. Terpujilah nama-Mu, selama-lamanya. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 14:7-14), bacalah tulisan yang berjudul “SUPAYA BAPA DIMULIAKAN DI DALAM ANAK” (bacaan tanggal 2-5-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-05 BACAAN HARIAN MEI 2015. 

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 13:44-52), bacalah tulisan yang berjudul “ORANG-ORANG YAHUDI BEREAKSI TERHADAP KHOTBAH PAULUS” (bacaan tanggal 17-5-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 17-5-14 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 28 April 2015 [Peringatan B. Luchesio dr Poggibonsi] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS