Posts tagged ‘EVANGELISASI’

FILIPUS MEWARTAKAN INJIL DENGAN KUAT-KUASA ROH KUDUS

FILIPUS MEWARTAKAN INJIL DENGAN KUAT-KUASA ROH KUDUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Kamis, 19 April 2018)

Kemudian berkatalah seorang malaikat Tuhan kepada Filipus, “Bangkitlah dan berangkatlah ke sebelah selatan, menurut jalan yang turun dari Yerusalem ke Gaza.” Jalan itu jalan yang sunyi. Lalu Filipus bangkit dan berangkat. Adalah seorang Etiopia, seorang pejabat istana, pembesar dan kepada perbendaharaan Sri Kandake, ratu negeri Etiopia, yang pergi ke Yerusalem untuk beribadah. Orang itu sedang dalam perjalanan pulang dan duduk dalam keretanya sambil membaca kita Nabi Yesaya. Lalu kata Roh kepada Filipus, “Pergilah ke situ dan dekatilah kereta itu!” Filipus bergegas ke situ dan mendengar pejabat istana itu sedang membaca membaca kitab Nabi Yesaya. Kata Filipus, “Mengertikan Tuan apa yang Tuan baca itu?” Jawabnya, “Bagaimana aku dapat mengerti kalau tidak ada yang membimbing aku?” Lalu ia meminta Filipus naik dan duduk di sampingnya. Nas yang dibacanya itu berbunyi sebagai berikut: Seperti seekor domba Ia dibawa ke pembantaian; dan seperti anak domba yang kelu di depan orang yang menggunting bulunya, demikianlah Ia tidak membuka mulut-Nya. Dalam kehinaan-Nya, keadilan tidak diberikan kepada-Nya; siapa yang akan menceritakan asal-usul-Nya? Sebab nyawa-Nya diambil dari bumi.

Lalu kata pejabat istana itu kepada Filipus, “Aku bertanya kepadamu, tentang siapa nabi berkata demikian? Tentang dirinya sendiri atau tentang orang lain?” Filipus pun mulai berbicara dan bertolak dari nas itu ia memberitakan Injil tentang Yesus kepadanya. Mereka melanjutkan perjalanan mereka, dan tiba di suatu tempat yang ada air; apakah ada halangan bagiku untuk dibaptis?” [Sahut Filipus, “Jika Tuan percaya dengan segenap hati, boleh.” Jawabnya, Aku percaya bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah.”] Orang  Etiopia itu menyuruh menghentikan kereta itu, dan keduanya turun ke dalam air, baik Filipus maupun pejabat istana itu, lalu Filipus membaptis dia. Setelah mereka keluar dari air, Roh Tuhan tiba-tiba membawa Filipus pergi dan pegawai istana itu tidak melihatnya lagi. Ia meneruskan perjalanannya dengan sukacita. Ternyata Filipus sudah berada di Asdod. Ia berjalan melalui daerah itu dan memberitakan Injil di semua kota sampai ia tiba di Kaisarea. (Kis 8:26-40)

Mazmur Tanggapan: Mzm 66:8-9,16-17,20; Bacaan Injil: Yoh 6:44-51

Oh, betapa sering sabda Tuhan tersekat di kerongkongan kita! Maksud hati mau syering/ berbagi dengan orang-orang lain tentang Yesus, Tuhan dan Juruselamat kita, namun seakan ada yang menekan sehingga tidak ada sepatah kata pun yang mampu keluar dari mulut kita. Mungkin saja kurang PD karena belum mengikuti KEP di Paroki. Mungkin juga karena kita tidak mau terlihat sebagai seorang yang suka memaksa atau mengganggu, misalnya karena tidak sesuai dengan adat-kebiasaan dan budaya etnis kita. Mungkin saja karena kita tidak mau orang-orang lain memandang kita sebagai orang yang fanatik dalam hal keagamaan, “bonek” rohani? Dengan demikian hilanglah kesempatan-kesempatan untuk berbicara mengenai apa yang telah dilakukan Tuhan dalam kehidupan kita. Namun demikian, di sisi lain ada banyak orang yang hatinya berteriak, “Bagaimana aku dapat mengerti kalau tidak ada yang membimbing aku?” (Kis 8:31).

Dengan penuh ketaatan Filipus mendengar suara Tuhan yang disampaikan oleh seorang malaikat-Nya. Dia langsung pergi dari Jerusalem ke Gaza melalui jalan padang gurun yang sunyi-sepi. Filipus tidak berhenti di tengah jalan, lalu bertanya kepada Tuhan: “Mengapa Tuhan? Untuk apa Tuhan?” Dia hanya menjalankan perintah Tuhan dengan setia, karena dia tahu dan sadar bahwa misi-nya akan jelas pada saat yang ditentukan Tuhan. Memang demikianlah ceritanya. Dalam perjalanannya di jalan padang gurun yang sunyi itu, Filipus bertemu dengan sebuah kafilah dan kemudian bergabung dengan kafilah itu. Di situ dia bertemu dengan seorang pejabat istana Etiopia yang sedang menggumuli sabda Allah yang terdapat dalam Kitab Yesaya. Filipus kemudian mengajukan sebuah pertanyaan yang sederhana: “Mengertikah Tuan apa yang Tuan baca itu?” (Kis 8:30).

Tanggapan pejabat negara Etiopia itu sama dengan yang ada di dunia, bahkan sampai hari ini: “Bagaimana aku dapat mengerti kalau tidak ada yang membimbing aku?” Bagaimana orang dapat memahami kasih Allah dan rahmat penyelamatan Yesus kalau tidak orang yang pergi keluar dari sangkar emasnya dan pergi merebut kesempatan yang ada untuk syering Kabar Baik Tuhan kita Yesus Kristus. Ingatlah, bahwa setiap orang yang mempunyai komitmen kepada Yesus qualified untuk menolong orang-orang lain memahami Injil. Dipenuhi dengan Roh Kudus-Nya kita semua sesungguhnya adalah “duta-duta Kristus” atau “utusan-utusan Kristus” (lihat 2Kor 5:20).

EVANGELISASI bukanlah tanggung-jawab orang lain; EVANGELISASI adalah tanggung-jawab semua/setiap orang yang menamakan diri KRISTIANI, semua yang menjadi anggota TUBUH KRISTUS di atas bumi ini. Allah telah memberikan kepada kita Roh Kudus, yang memberdayakan kita untuk mewartakan Injil. Apabila kita mengalami suatu relasi yang akrab dengan Tuhan Yesus, maka Dia sungguh-sungguh adalah Tuhan (Kyrios) dari kehidupan kita. Maka kita pun dapat berbicara dengan jujur, bebas dan berani tentang diri-Nya kepada orang-orang lain. Oleh karena itu, marilah kita mohon Roh Kudus agar menggerakkan kita supaya mampu mewartakan Injil secara efektif seperti Filipus.

DOA: Datanglah Roh Kudus dan berdayakanlah kami agar mampu berbicara kepada orang-orang lain mengenai Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Tolonglah kami agar mampu melaksanakan perintah-Nya untuk pergi keluar dan mewartakan Kabar Baik kepada orang-orang yang kami temui. Kami, anak-anak-Mu mendambakan kasih-Mu. Tolonglah kami agar dapat berbagi kasih-Mu dengan orang-orang yang kami temui. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:44-51), bacalah tulisan dengan judul “YESUS MENAWARKAN ROTI KEHIDUPAN KEPADA KITA” (bacaan tanggal 19-4-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-04 BACAAN HARIAN APRIL 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 4-5-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 16 April 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

KEBERANIAN SEBAGAI SAKSI-SAKSI KRISTUS

KEBERANIAN SEBAGAI SAKSI-SAKSI KRISTUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Rabu, 18 April 2018)

Pada waktu itu mulailah penganiayaan yang hebat terhadap jemat di Yerusalem. Mereka semua, kecuali rasul-rasul, tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria. Orang-orang saleh menguburkan mayat Stefanus serta meratapinya dengan sangat. Tetapi Saulus berusaha membinasakan jemaat itu dan ia memasuki rumah demi rumah dan menyeret laki-laki dan perempuan ke luar dan menyerahkan mereka untuk dimasukkan ke dalam penjara.

Mereka yang tersebar itu menjelajahi seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil. Filipus pergi ke suatu kota di Samaria dan memberitakan Mesias kepada orang-orang di situ. Ketika orang banyak itu mendengar pemberitaan Filipus dan melihat tanda-tanda yang diadakannya, mereka semua memperhatikan dengan sepenuh hati apa yang diberitahukannya itu. Sebab dari banyak orang yang kerasukan roh jahat keluarlah roh-roh itu sambil berseru dengan suara keras, dan banyak juga orang lumpuh  dan orang timpang disembuhkan. Karena itu, sangatlah besar sukacita dalam kota itu (Kis 8:1b-8)

Mazmur Tanggapan: Mzm 66:1-3a, 4-7a; Bacaan Injil: Yoh 6:30-35

Setelah pembunuhan Stefanus secara brutal, mulailah penganiayaan yang hebat terhadap umat Kristiani di Yerusalem. Kecuali para rasul, umat tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria (lihat Kis 8:1). Mereka yang tersebar itu menjelajahi seluruh negeri itu sambil mewartakan Injil Yesus Kristus (lihat Kis 8:4).

“Yesus telah bangkit, dan kita adalah saksi-saksi-Nya (lihat Kis 1:8; 2:32; 3:15; 4:33; 10:41; 13:31). Dalam Masa Paskah ini, apakah kita (anda dan saya) patuh pada Yesus yang telah bangkit dengan memberikan kesaksian tentang diri-Nya?

Paulus menulis kepada jemaat di Tesalonika: “Janganlah padamkan Roh” (1 Tes 5:19). Jikalau kita (anda dan saya) tidak memberikan kesaksian atau tidak begitu memberikan kesaksian, berarti kita mencekik Roh Kudus, dan kita membiarkan diri kita:

  • direkayasa agar supaya takut ditertawakan orang lain (Kis 2:12-13);
  • ditakut-takuti dengan ancaman (Kis 4:18);
  • sibuk dengan masalah pribadi, keluarga atau komunitas kita sendiri (Kis 6:1 dsj.);
  • mengalami trauma atas kematian dari salah seorang yang kita kasihi (Kis 8:2), atau
  • tergoncang oleh adanya pengejaran dan penganiyaan (Kis 8:1,3).

Adalah suatu kenyataan bahwa Iblis terus-menerus menentang upaya kita untuk bersaksi. Dari kenyataan ini kita dapat menarik kesimpulan bahwa memberi kesaksian tentang Yesus memang mempunyai kuat-kuasa yang sanggup mengubah hidup orang dan mengubah dunia.

Tuhan Yesus telah memberikan kepada kita kuat-kuasa untuk mengalahkan segala gangguan dan upaya perlawanan dari si Jahat. Seperti ditulis oleh penulis surat Yohanes: “Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar daripada roh yang ada di dalam dunia” (1 Yoh 4:4). Rahmat Allah jauh lebih dari cukup! Seperti jawab Tuhan kepada Santo Paulus: “Cukuplah anugerah-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (2 Kor 12:9).

Saudari dan Saudaraku, marilah kita berdoa untuk menerima karunia yang akan membuat kita berani untuk bersaksi tentang Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita.

DOA: Bapa surgawi, aku percaya bahwa Engkau menganugerahkan kepada anak-anak-Mu bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. Dengan demikian aku tidak akan malu bersaksi tentang Tuhan Yesus dan ikut menderita bagi Injil-Nya (2 Tim 1:7-8). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:35-40), bacalah tulisan yang berjudul “ROH KUDUSLAH YANG BEKERJA DALAM DAN LEWAT DIRI DIRI PARA MURID/RASUL” (bacaan tanggal 18-4-18 dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-04 BACAAN HARIAN APRIL 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-4-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 16 April 2018

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KESAKSIAN PETRUS YANG SUDAH DIPENUHI ROH KUDUS

KESAKSIAN PETRUS YANG SUDAH DIPENUHI ROH KUDUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI SENIN DALAM OKTAF PASKAH, 2 April 2018)

Lalu Petrus bangkit berdiri dengan kesebelas rasul itu, dan dengan suara nyaring ia berkata kepada mereka, “Hai orang-orang Yahudi dan semua orang yang tinggal di Yerusalem, perhatikanlah perkataanku ini dan ketahuilah.

Hai orang-orang Israel, dengarlah perkataan ini: Yesus dari Nazaret adalah orang yang telah ditentukan Allah dan dinyatakan kepadamu dengan kekuatan-kekuatan dan mukjizat-mukjizat dan tanda-tanda ajaib yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Dia di tengah-tengah kamu, seperti yang kamu ketahui. Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh melalui tangan bangsa-bangsa durhaka. Tetapi Allah membangkitkan Dia setelah melepaskan Dia dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu. Sebab Daud berkata tentang Dia: Aku memandang Tuhan senantiasa di hadapan-Ku karena Ia berada di sebelah kananku, aku tidak goyah. Sebab itu hatiku bersukacita dan lidahku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dalam pengharapan, sebab Engkau tidak menyerahkan aku kepada dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan. Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; Engkau akan melimpahi aku dengan sukacita di hadapan-Mu [1].

Saudara-saudara, aku dapat berkata-kata dengan terus terang kepadamu tentang Daud, bapak leluhur kita. Ia telah mati dan dikubur, dan kuburannya masih ada pada kita sampai hari ini. Tetapi ia adalah seorang nabi dan ia tahu bahwa Allah telah berjanji kepadanya dengan bersumpah bahwa Ia akan mendudukkan seorang dari keturunan Daud sendiri di atas takhtanya. Karena itu ia telah melihat ke depan dan telah berbicara tentang kebangkitan Mesias, ketika ia mengatakan bahwa Dia tidak ditinggalkan di dalam dunia orang mati, dan bahwa daging-Nya tidak mengalami kebinasaan. Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi. (Kis 2:14, 22-32).

[1] Kis 2:25-28: Mzm 16:8-11 

Mazmur Antar-bacaan: Mzm 16:1-2,5,7-11; Bacaan Injil: Mat 28:8-15S  

Sehari setelah Minggu Paskah, kadang-kadang kita merasa bahwa semuanya selesailah sudah, sekarang tibalah saatnya bagi kita untuk kembali kepada situasi “normal”, keluar dari masa Prapaskah yang cukup lama, disusul dengan kesibukan penuh acara pada hari Minggu Palma, Tri Hari Paskah, yang akhirnya memuncak para hari Minggu Paskah kemarin. Akan tetapi, Lukas mengingatkan kita, bahwa Roh Kudus tidak akan turun ke atas para murid di ruang-atas di Yerusalem itu sampai setelah hari Paskah. Ya, untuk selama 50 hari mendatang seluruh Gereja akan merayakan misteri kasih Allah bagi kita dalam kebangkitan Yesus Kristus.

Untuk mengawali perayaan selama 50 hari ini, Gereja mempersilahkan kita untuk merenungkan kata-kata Petrus kepada orang-orang di Yerusalem, setelah Roh Kudus turun atas dirinya. Patutlah bagi kita untuk mengingat, bahwa beberapa pekan sebelumnya, Petrus telah menyangkal bahwa dirinya mengenal Yesus (lihat Yoh 18:17). Jadi, kata-kata Petrus yang kita dengar pada hari ini adalah kata-kata dari seorang pribadi yang telah diubah. Mengapa Petrus sampai begitu berubah? Karena dia telah berjumpa dengan Yesus Kristus yang telah bangkit dari dunia orang mati! Petrus telah menyaksikan kemenangan Allah atas dosa dan kejahatan. Dia sadar bahwa Allah tidak meninggalkan Yesus. Bapa surgawi tidak meninggalkan Putera-Nya yang tunggal pada saat-saat di mana Dia sangat membutuhkan pendampingan Bapa-Nya. Sebaliknya, Bapa membangkitan Yesus dan melalui Dia mencurahkan Roh Kudus-Nya ke atas siapa saja yang mau percaya. Dalam diri Kristus, Allah menjadi manusia dan mengambil serta menanggung semua dosa dan kelemahan kita-manusia dan mentransformasikannya.

Kabar Baik yang diwartakan oleh Petrus sekitar 2.000 tahun lalu masih memiliki relevansi yang sama bagi kita pada hari ini. Yesus tidak hanya memenangkan keselamatan bagi kita, Dia juga mengalami segala ketakutan dan godaan kita yang paling jelek. Yesus tahu apa artinya digoda agar kita meragukan kasih Bapa surgawi atau berputus-asa pada waktu kita menanggung beban kehidupan yang terasa begitu berat. Yesus menanggung rasa takut karena merasa ditolak atau ditinggalkan, bahkan rasa takut kita terhadap kematian. Yesus merangkul itu semua dan membawanya  semua ke salib-Nya.

Kita mempunyai pengalaman-pengalaman yang terjadi secara berulang-ulang dalam kehidupan ini, namun kematian Yesus adalah peristiwa yang terjadi hanya sekali saja. Dengan berjalannya waktu dan tentunya usia kita juga, menderita penyakit yang sangat serius, atau kehilangan seorang yang sangat dikasihi dapat menyebabkan kita menghadapi isu kematian kita sendiri secara lebih langsung. Mengenal kasih Allah seperti yang dialami Petrus dapat membalikkan pikiran kita, dari rasa ragu-ragu dan takut kepada rasa percaya akan kehidupan yang telah dijanjikan Allah kepada kita semua.

Dengan memusatkan hati kita pada kebangkitan Yesus, maka kita pun akan diberdayakan untuk menanggalkan cara-cara pemikiran kita yang lama, melalui pertobatan dan iman kepada Yesus. Hal ini dapat memenuhi diri kita dengan rasa percaya yang sama seperti yang dahulu kala ada pada Petrus dan para rasul yang lain.

DOA: Bapa surgawi, dengan mengutus Putera-Mu yang tunggal, Yesus Kristus, Engkau telah memberikan kepada kami suatu kehidupan yang tidak akan berakhir. Lewat penebusan Yesus Kristus di kayu salib, Engkau telah mengalahkan maut atas diri kami, dan pada hari ini kami akan membuat diri kami tersalib bersama Kristus. Kami adalah milik-Mu, ya Bapa. Dengan demikian hati kami bergembira dan jiwa kami akan memuji-muji Engkau dalam sukacita yang sejati. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 28:8-15), bacalah tulisan yang berjudul “PERCAYA KEPADA JANJI TUHAN DAN JURUSELAMAT KITA ATAU BERITA HOAX?” (bacaan tanggal 2-4-18) dalam situs/blog SANG SA8DA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-04  BACAAN HARIAN APRIL 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 16-4-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  30 Maret 2018 [HARI JUMAT AGUNG] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MEMPERKENANKAN ALLAH BEKERJA MELALUI DIRI KITA

MEMPERKENANKAN ALLAH BEKERJA MELALUI DIRI KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa IV – Kamis, 1 Februari 2018) 

Ia memanggil kedua belas murid itu dan mulai mengutus mereka berdua-dua. Ia memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat, dan berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan mereka, kecuali tongkat saja, roti pun jangan, kantong perbekalan pun jangan, uang dalam ikat pinggang pun jangan, boleh memakai alas-kaki, tetapi jangan memakai dua baju. Kata-Nya selanjutnya kepada mereka, “Kalau di suatu tempat kamu masuk ke dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari tempat itu. Kalau ada suatu tempat  yang tidak mau menerima kamu dan kalau mereka tidak mau mendengarkan kamu, keluarlah dari situ dan kebaskanlah debu yang di kakimu sebagai peringatan bagi mereka.” Lalu pergilah mereka memberitakan bahwa orang harus bertobat, dan mereka mengusir banyak setan, dan mengoles banyak orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mereka. (Mrk 6:7-13) 

Bacaan Pertama:1 Raj 2:1-4,10-12; Mazmur Tanggapan: 1 Taw 29:10-12 

Kedua belas murid Yesus telah menyaksikan Guru mereka menghadapi berbagai situasi rakyat yang menyedihkan selama kerja pelayanan-Nya, dan dalam banyak kasus para murid melihat Yesus menarik kepada Allah orang-orang dengan bermacam-macam kebutuhan, lewat penyembuhan, pengampunan dan pelepasan yang dilakukan-Nya. Mereka juga telah melihat bagaimana kuasa Yesus dapat terhalang oleh ketidak-percayaan, seperti yang terjadi di “kandang”-Nya sendiri, Nazaret. Sekarang Yesus mengutus mereka melakukan tugas pelayanan kepada orang-orang lain. Mereka sungguh harus melangkah dalam iman dan menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada sang Guru.

Yesus memahami sekali kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh orang-orang yang melakukan perjalanan. Ia sendiri telah berjalan kaki berkilometer-kilometer jauhnya, dari satu tempat ke tempat lainnya untuk mewartakan Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan. Jadi, Yesus tahu benar apa saja yang dibutuhkan bagi seseorang kalau mau melakukan perjalanan jauh. Namun demikian, ketika mengutus para murid-Nya Yesus malah memberi instruksi kepada mereka untuk praktis tidak membawa apa-apa kecuali tongkat, dan seterusnya (Mrk 6:8-9). Bukankah hal-hal tersebut justru dibutuhkan dalam sebuah perjalanan jauh? Memang Ia memberikan kekuatan dan kuasa untuk menguasai roh-roh jahat, untuk menyembuhkan penyakit-penyakit serta untuk mewartakan pertobatan, akan tetapi berbagai kebutuhan sehari-hari yang bersifat praktis kan tetap harus diperhatikan? Sungguh tidak dapat diterima oleh akal-sehat manusia. Namun kenyataannya adalah, bahwa 800 tahun lampau ayat padanan dari Mrk 6:8 (Luk 9:3) ini merupakan salah satu ayat Kitab Suci yang memberi petunjuk kepada Santo Fransiskus dari Assisi di awal-awal pertobatannya, bagaimana dia dan saudara-saudaranya harus melakukan tugas pelayanan mereka. Tidak lama kemudian lahirlah sebuah keluarga rohani yang sekarang merupakan keluarga rohani terbesar dalam Gereja.

Kalau kita merenungkan ini semua, kita pun dapat bertanya dalam hati kita masing-masing: “Apakah perlu Allah yang Mahakuasa membuat mukjizat-mukjizat melalui manusia biasa? Mengapa Yesus harus tergantung kepada manusia untuk mewartakan kerajaan-Nya? Mengapa Dia harus memilih kita untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang bersifat supernatural? Jawabannya adalah bahwa Allah ingin agar kita semua ikut ambil bagian dalam segala aspek kehidupan-Nya. Pada waktu kita dibaptis, setiap kita diberi amanat untuk memproklamasikan Injil-Nya. Berbagai halangan yang ada dalam diri kita atau orang lain bagi Yesus tetap merupakan kesempatan bagi kasih dan kuasa-Nya untuk menang. Bagaimana pun juga Dia datang untuk memanggil para pendosa seperti kita. Allah sangat senang bekerja lewat hati yang merendah dan tunduk, melalui orang-orang yang sadar akan privilese menjadi instrumen-Nya di dunia ini. Allah memang sesungguhnya ingin menunjukkan kuat-kuasa-Nya kepada kita, dan membuat kita menjadi instrumen-instrumen, lewat instrumen-instrumen mana kuasa-Nya dimanifestasikan ke seluruh dunia. Allah menginginkan agar kita, anak-anak-Nya, menjadi saluran berkat-Nya. Doa “Jadikanlah aku pembawa damai” dapat mengajarkan kita sikap macam apa yang patut kita miliki apabila kita sungguh berkehendak untuk menyalurkan belaskasih Allah kepada orang-orang lain: “Tuhan, jadikanlah aku pembawa damai … dst.” Fransiskus tahu, bahwa dia hanya dapat menjadi efektif apabila dia memperkenankan Allah bekerja lewat dirinya. Seperti kedua belas rasul, dia berjalan ke sekeliling Assisi mewartakan kuasa Injil kepada siapa saja yang mau menerima Kabar Baik itu.

Allah menaruh kepercayaan kepada kita karena Dia telah memberikan kepada kita segala rahmat yang kita perlukan guna melaksanakan misi-Nya. Masalahnya sekarang, apakah kita sendiri menaruh kepercayaan kepada Allah? Maka kalau ada seseorang memberitahukan anda tentang sakit-penyakit yang dideritanya, berdoalah dalam iman agar orang itu disembuhkan. Bukan anda yang menyembuhkan, melainkan Allah sendiri. Kita semua hanyalah instrumen-instrumen yang dipakai Allah untuk kebaikan. Kalau terjadi konflik rumah-tangga, berdoalah – dalam nama Yesus – dan berharaplah terjadinya mukjizat. Allah menginginkan agar “tanda-tanda heran”-Nya menjadi suatu bagian normal kehidupan kita. Kalau kita sungguh percaya akan pernyataan ini, maka kita dapat mulai berdoa dan menantikan Allah bekerja dalam diri kita.

DOA: Tuhan Yesus, kami percaya Engkau mendengar setiap doa kami. Buatlah kami agar menjadi bentara-bentara kasih dan damai-sejahtera-Mu kepada orang-orang lain. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 6:7-13), bacalah tulisan yang berjudul “KEDUA BELAS RASUL DIUTUS OLEH YESUS” (bacaan tanggal 1-2-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 4-2-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 28 Januari 2018 [HARI MINGGU BIASA IV – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HANYA LUKAS YANG TINGGAL DENGAN AKU

HANYA LUKAS YANG TINGGAL DENGAN AKU

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Pesta Santo Lukas, Penulis Injil – Rabu, 18 Oktober 2017)

 

…Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku. Ia telah berangkat ke Tesalonika. Kreskes telah pergi ke Galatia dan Titus ke Dalmatia. Hanya Lukas yang tinggal dengan aku. Jemputlah Markus dan bawalah ia kemari, karena pelayanannya berguna bagiku. Tikhikus telah kukirim ke Efesus. Jika engkau kemari bawa juga jubah yang kutinggalkan di Troas di rumah Karpus dan juga kitab-kitabku, terutama yang  terbuat dari kulit.

Aleksander, tukang tembaga itu, telah banyak berbuat jahat terhadap aku. Tuhan akan membalasnya menurut perbuatannya. Hendaklah engkau juga waspada terhadap dia, karena dia sangat menentang ajaran kita. Pada waktu pembelaanku yang pertama tidak seorang pun yang membantu aku, semuanya meninggalkan aku – kiranya hal itu jangan ditanggungkan atas mereka – tetapi Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku, supaya dengan perantaraanku Injil diberitakan dengan sepenuhnya dan semua orang bukan Yahudi mendengarkannya. Dengan demikian aku lepas dari mulut singa. (2Tim 4:10-17) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 145:10-13,17-18; Bacaan Injil: Luk 10:1-9

Kalau seorang nelayan miskin dan tak berpendidikan meninggalkan segalanya demi mengikuti sang Rabi dari Nazaret, pantaslah bagi kita untuk mengagumi keberaniannya. Namun bagaimana dengan seorang dengan latar pendidikan dan profesi sebagai dokter/ tabib yang sukses seperi Lukas? Rasa kagum kita meningkat menjadi terpesona. Kita hanya dapat mengatakan: Puji Tuhan, luar biasa. Apa sih motivasi yang ada dalam diri sang tabib sehingga dia mau membuat pengorbanan sedemikian besar?

Menurut tradisi, Lukas dilihat sebagai penulis “Injil Ketiga” dan “Kisah Para Rasul”. Dia adalah seorang tabib yang berhasil dalam profesinya. Dia bukanlah seorang Yahudi (lihat Kol 4:11,14). Ada tradisi yang mengatakan bahwa Lukas tidak pernah menikah, dan dia meninggal dunia penuh dengan Roh Kudus pada usia 84 tahun. Ada juga tradisi yang mengatakan bahwa Lukas adalah seorang pelukis. Memang dia menulis Injilnya seperti seorang yang orang menyusun album foto (bacalah sebuah buku yang baik karangan almarhum P. Tom Jacobs SJ, LUKAS PELUKIS HIDUP JESUS, 1988).

Tabib yang sangat berbakat ini barangkali juga bukan seorang miskin-uang, dengan demikian dapat mengecap kehidupan penuh kenikmatan sejalan dengan kesuksesan dunia. Namun Pak dokter Lukas ini justru memilih keras dan sulitnya perjalanan bersama Paulus dan mereka menghadapi segala bahaya yang mengancam suatu kehidupan misioner sebagai pewarta Kabar Baik Yesus Kristus. Lukas bahkan menemani Paulus ke Roma dan tinggal bersama Rasul itu selagi dalam tahanan rumah. Kesetiaan luar biasa Lukas kepada Paulus ini tentunya menghibur Paulus. Dalam surat kepada Timotius ini, Paulus mengungkapkan bahwa ada rekannya yang meninggalkan dia, ada  pula yang diutus pergi ke berbagai tempat. Paulus menulis: “Hanya Lukas yang tinggal dengan aku” (2Tim 4:11). Sebuah kalimat yang penuh arti.

Apakah yang menarik Lukas sehingga koq mau pergi “jalan-jalan” ke mana-mana bersama Paulus? Sebuah kehidupan yang penuh bahaya? Jawabnya: YESUS !!! Yesus telah   menangkap hati Lukas, dan dengan begitu sang dokter hanyalah dapat mengikut ke mana Yesus akan memimpinnya.

Kalau Yesus menangkap hati kita, kita juga akan mengalami apa yang dialami oleh Lukas – kasih Allah yang melimpah, dan kasih ini akan mengubah hati kita masing-masing. Kita tidak lagi ingin sekadar hidup untuk diri kita sendiri, tetapi untuk Yesus.  Kita akan berkeinginan keras untuk mengikuti Dia dan menjadi setia kepada sabda-Nya, apa pun yang akan terjadi. Kita akan mempunyai kerinduan mendalam akan Kerajaan-Nya, dan kita pun akan mengabdikan diri kita untuk pelayanan menyebarkan Kabar Baik-Nya.

Lukas dipenuhi dengan cintakasih Yesus dan juga bela rasa-Nya, dan semua ini dicerminkan dalam Injilnya yang indah itu. Misalnya, Injil Lukas adalah kitab Injil satu-satunya yang bercerita mengenai perumpamaan Yesus tentang “Orang Samaria yang murah hati” (Luk 10:25-37). Salah satu perumpamaan yang sulit untuk dilupakan! Hanya dalam Injil Lukas lah kita dapat membaca perumpamaan tentang “Anak yang hilang” (Luk 15:11-32). Ini juga sebuah perumpamaan yang indah. Akhirnya, Injil Lukas adalah kitab Injil satu-satunya yang bercerita tentang belas kasih Yesus kepada seorang kepala pemungut cukai yang bernama Zakheus, yang sangat dibenci oleh masyarakat banyak (lihat Luk 19:1-10). Juga hanya dalam Injil Lukas kita dapat membaca tentang si penjahat yang bertobat di kayu salib  (lihat Luk 24:33-43). Setelah membaca serta merenungkan keempat bacaan dari Injil Lukas ini, kita dapat merasakan betapa kita masing-masing berharga di mata Yesus dan kita sungguh sangat berarti bagi Dia. Kemudian, dengan rendah hati dan rasa syukur mendalam kita dapat berkata: “Tuhan Yesus, engkau adalah segalanya bagiku. Tidak ada pengorbanan yang terlalu besar untuk berada bersama-Mu.”

DOA: Roh Kudus Allah, banjirilah aku dengan suatu pewahyuan pribadi yang lebih mendalam tentang Yesus sebagai Juruselamat, Tuhan, Saudara dan Sahabatku. Bukalah mataku agar dapat melihat Yesus hadir di dekatku, dalam Kitab Suci, dalam Ekaristi dan dalam doa-doaku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 10:1-9), bacalah tulisan yang berjudul “SANG TABIB PENULIS INJIL DAN KISAH PARA RASUL” (bacaan tanggal 18-10-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 18-10-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Bandung, 15 Oktober 2017 [HARI MINGGU BIASA XXVIII – TAHUN A]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MENJADI TANAH YANG BAIK BAGI BENIH SABDA-NYA

MENJADI TANAH YANG BAIK BAGI BENIH SABDA-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Pius dr Pietrelcina [Padre Pio] – Sabtu, 23 September 2017)

Keluarga Fransiskan Kapusin: Pesta S. Pius dr Pietrelcina [Padre Pio] 

Ketika orang banyak berbondong-bondong datang, yaitu orang-orang yang dari kota ke kota menggabungkan diri dengan Yesus, berkatalah Ia dalam suatu perumpamaan, “Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan setelah tumbuh ia menjadi kering karena tidak mendapat air. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, dan semak itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati. Sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat.” Setelah berkata demikian Yesus berseru, “Siapa yang mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!”

Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya tentang maksud perumpamaan itu. Lalu Ia menjawab, “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti. Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah firman Allah. Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang-orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan. Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang-orang yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad. Yang jatuh dalam semak duri ialah orang-orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekhawatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang. Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang-orang yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.” (Luk 8:4-15) 

Bacaan Pertama: 1Tim 6:2c-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 144:1-4 

Terpujilah Allah selama-lamanya! Ia tak henti-hentinya memberikan kepada kita kesempatan demi kesempatan untuk berbalik kepada-Nya dan meninggalkan segala sesuatu yang selama ini menjauhkan diri kita daripada-Nya, dan kemudian menerima berkat-berkat-Nya. Dalam “perumpamaan tentang seorang penabur” ini, Yesus mengajarkan para murid-Nya untuk memeriksa cara mereka hidup sehingga mereka benar-benar dapat berbuah baik dan banyak sementara mereka mengalami hidup dan kasih-Nya.

Pada waktu kita dibaptis, Allah dengan penuh kemurahan hati menganugerahkan kepada kita benih hidup baru-Nya. Namun demikian, karena kegelapan yang dalam dunia di sekeliling kita, dan karena dorongan yang ada dalam diri kita untuk terlibat dalam dosa, maka pertumbuhan benih ini tidak semudah yang kita bayangkan. Si jahat selalu saja mencari jalan untuk mencuri sabda Allah dari diri kita, dengan demikian dapat menghambat pertumbuhan kita dalam Kristus. Kita menjadi korban distraksi-distraksi dalam bentuk berbagai kekhawatiran, kekayaan dan kenikmatan-kenikmatan kehidupan duniawi. Kita mengalami ketakutan dan kegelapan di dalam hati kita.

Kesulitan-kesulitan ini dapat mengecilkan hati kita dan membuat kita merasa waswas dan gelisah penuh kekhawatiran. Yesus mengajarkan perumpamaan ini agar supaya kita dapat memiliki pengharapan. Selagi kita  membuang jauh-jauh segala hasrat kedosaan kita dan menolak dosa yang ada dalam dunia di sekeliling kita, maka benih-hidup-baru yang tidak dapat rusak dapat bertumbuh dan menghasilkan buah yang menyenangkan Allah dan kita semua. Dengan memelihara benih – artinya dengan mempasrahkan diri Allah bekerja dalam diri kita – kita memberikan kesempatan kepada keajaiban hidup ilahi untuk menggantikan kecenderungan-kecenderungan untuk berdosa yang selama ini ada dalam diri kita.

Bagaimana caranya kita mempasrahkan diri kepada Allah? Yesus minta kepada kita untuk berdoa, untuk menyediakan waktu yang cukup guna membaca dan mempelajari sabda-Nya, untuk menguji/memeriksa kehidupan kita dalam terang ajaran-Nya, dan untuk melayani orang-orang lain dalam kasih. Apabila kita taat kepada-Nya, maka kita akan mengalami kasih-Nya bagi kita. Dan pengalaman  ini akan mentransformasikan diri kita sehingga dengan berjalannya waktu, kita menjadi lebih dan lebih serupa lagi dengan Dia. Cintakasih kita kepada Tuhan dan ketaatan kita kepada-Nya – seperti juga cintakasih kita dan pengampunan kita terhadap mereka yang bersalah kepada kita – akan mencabut akar kehidupan kita yang lama dan memberikan ruangan kepada hidup baru untuk bertumbuh dengan baik. Allah hanya meminta kepada kita untuk mengambil beberapa langkah dalam iman setiap harinya. Dia akan memberkati setiap langkah iman kita, meski langkah-langkah yang kecil sekalipun. Dia juga akan memberikan kepada kita suatu rasa haus dan lapar yang semakin mendalam akan kebersatuan kita dengan diri-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, aku sadar sekali bahwa Engkau sangat mengasihiku dan sesamaku. Engkau begitu memperhatikan diriku dan mengajar aku bagaimana caranya menghayati hidup sebagai murid-Mu di dunia ini. Berkatilah langkah-langkahku hari ini selagi aku berupaya menyuburkan benih hidup baru-Mu dalam diriku. Ajarlah aku untuk percaya sepenuhnya kepada rahmat-Mu dalam setiap langkah yang kuambil. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 8:4-15), bacalah tulisan yang  berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG SEORANG PETANI YANG MENABURKAN BENIHNYA” (bacaan tanggal 23-9-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2017. 

Cilandak, 22 September 2017 [Peringatan S. Ignasius dr Santhi] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS  

KITA PERLU MENYEDIAKAN WAKTU UNTUK PENUH PERHATIAN MENDENGARKAN SUARA ROH KUDUS

KITA PERLU MENYEDIAKAN WAKTU UNTUK PENUH PERHATIAN MENDENGARKAN SUARA ROH KUDUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Jumat, 14 Juli 2017)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Fransiskus Solanus, Imam

 

“Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.

Tetapi waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan mencambuk kamu di rumah ibadatnya. Karena Aku, kamu akan digiring ke hadapan penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu khawatir tentang bagaimana dan apa yang kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu.

Seorang saudara akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh, demikian juga seorang ayah terhadap orangtuanya dan akan membunuh mereka. Kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat. Apabila mereka menganiaya mereka kamu dalam kota yang satu, larilah ke kota yang lain; karena sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum kamu selesai mengunjungi kota-kota Israel, Anak Manusia sudah datang. (Mat 10:16-23) 

Bacaan Pertama: Kej 46:1-7,28-30; Mazmur Tanggapan: Mzm 37:3-4,18-19,27-28,39-40 

Yesus melanjutkan pemberian instruksi-instruksi-Nya kepada para rasul/murid dalam rangka mempersiapkan mereka untuk karya misioner di masa depan. Ia menceritakan kepada para murid-Nya itu tentang pengejaran dan penganiayaan serta penderitaan yang dapat/akan menimpa mereka selagi mereka mewartakan Injil kepada dunia. Yesus juga mengintruksikan mereka perihal sikap yang harus mereka ambil terhadap orang-orang yang melawan mereka. Pada saat yang sama, Yesus menjamin lagi kepada mereka tentang kehadiran Roh Kudus untuk menolong mereka menghadapi pencobaan-pencobaan dengan keberanian dan pengharapan (Mat 10:20). Perintah Yesus diikuti dengan sebuah janji: “… orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat” (Mat 10:22).

Barangkali para murid-Nya merasa sangat terkejut ketika Yesus menggambarkan perlawanan yang akan mereka alami – tidak hanya di tangan para penguasa, melainkan juga dari para anggota keluarga mereka sendiri. Setiap murid yang sejati akan ikut ambil bagian dalam penderitaan Kristus dalam kehidupan ini agar supaya ikut serta dalam sukacita keselamatan kekal. Santo Paulus mengalami penderitaan yang berat dan menghadapi oposisi dalam perjalanan-perjalanan misionernya, namun dia menulis: “Aku yakin bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita” (Rm 8:18). Sikap sedemikian hanya dapat dicapai apabila kita mengingat kebenaran bahwa Yesus Kristus telah memberi amanat kepada kita dan berjanji untuk menguatkan kita pada saat kita mengalami penderitaan. Pada malam sebelum sengsara dan wafat-Nya Dia bersabda: “Dalam dunia kamu menderita penganiyaan, tetapi kuatkan hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yoh 16:33).

Melalui Yesus Allah memberikan Roh Kudus kepada kita guna memampukan kita melaksanakan amanat yang telah kita terima untuk mewartakan Injil kepada sebuah dunia yang sangat membutuhkan kasih Kristus. Roh Kudus adalah buah pertama dari Kerajaan yang akan datang, yang berbicara kepada kita kata-kata Kristus sendiri. Santo Augustinus mengatakan bahwa ketika kita menderita, maka Roh Kudus berbicara, “Daging menderita dan Roh berbicara; ketika Roh berbicara, tidak hanya kejahatan terkutuk melainkan juga kelemahan diperkuat” (Sermons, 276).

Kita mendengar kata-kata Roh dalam doa-doa kita, dalam Kitab Suci, dan dalam Misa Kudus, ketika kita mendengar sabda Allah. Pada akhir perjalanan misionernya, Yesus berkata kepada Pilatus: “Setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengar suara-Ku” (Yoh 18:37). Di tengah-tengah kehidupan kita yang penuh kesibukan ini, kita perlu menyediakan waktu untuk penuh perhatian pada Roh Kudus yang dalam diri kita berbicara kepada kita. Hanya dengan demikian kita penuh keyakinan bahwa walaupun kita sedang menghadapi situasi-situasi sulit, Roh Kudus akan memberikan kepada kita kata-kata untuk diucapkan.

DOA: Yesus Kristus, Engkaulah Tuhan dan Juruselamatku. Tolonglah aku agar mau dan mampu mewartakan Injil-Mu tanpa rasa takut, sebagai garam bumi dan terang dunia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:16-23), bacalah tulisan yang berjudul “SEPERTI  DOMBA KE TENGAH-TENGAH SERIGALA” (bacaan tanggal 14-7-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-07 BACAAN HARIAN JULI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 8-7-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 10 Juli 2017 [Peringatan S. Nikolaus Pick, dkk. Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS