Posts tagged ‘EVANGELISASI’

ROH KUDUS AKAN MENGAJAR KAMU APA YANG HARUS KAMU KATAKAN

ROH KUDUS AKAN MENGAJAR KAMU APA YANG HARUS KAMU KATAKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVIII – Sabtu, 20 Oktober 2018)

Aku berkata kepada-Mu: Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Anak Manusia juga akan mengakui di depan malaikat-malaikat Allah. Tetapi siapa saja yang menyangkal Aku di depan manusia, ia akan disangkal di depan malaikat-malaikat Allah. Setiap orang yang mengatakan sesuatu melawan Anak Manusia, ia akan diampuni; tetapi siapa saja yang menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni. Apabila orang menghadapkan kamu kepada majelis di rumah-rumah ibadat atau kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa, janganlah kamu khawatir bagaimana kamu harus membela diri dan apa yang harus kamu katakan. Sebab pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang harus kamu katakan.” (Luk 12:8-12) 

Bacaan Pertama: Ef 1:15-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 8:2-7 

NYT2010100712284619C

Kebaktian gereja di Munich, Jerman, telah selesai, ketika tiba-tiba perempuan itu melihat laki-laki itu; mantan prajurit SS Nazi yang bertugas menjaga di dekat pintu kamar mandi di kamp konsentrasi Ravensbruck. Banyak tahun telah berlalu, namun memori-memori membanjiri pikiran perempuan itu – ruangan yang penuh berisi laki-laki yang mengolok-olok dirinya, tumpukan baju, rasa takut yang bercampur dengan marah dan malu. Pada suatu hari, setelah baru saja menyelesaikan ceramahnya, seorang laki-laki muncul dari antara orang-orang yang hadir dan mendatanginya dan berkata kepada perempuan itu, “Betapa penuh syukur saya mendengar pesan anda, …… berpikir bahwa Yesus telah membasuh bersih dosa-dosaku!”

Mula-mula perempuan ini, yang sudah begitu sering berceramah tentang betapa perlunya mengampuni, tidak mau mengulurkan tangannya ketika laki-laki itu mengulurkan tangannya untuk menyalaminya. Merasakan keengganan dirinya, kemudian perempuan itu memohon kepada Yesus untuk menolongnya mengampuni laki-laki itu. Tanpa mampu tersenyum sedikit pun, perempuan itu berdoa lagi: “Yesus, aku tidak dapat. Berikanlah pengampunanmu kepadaku.” Pada akhirnya, selagi dia berjabatan tangan dengan laki-laki itu, “terjadilah suatu hal yang luar biasa. Dari pundakku terus melewati lengan dan tanganku, terasa adanya sesuatu yang mengalir dari diriku kepada orang itu, sementara dari kedalaman hatiku mengalirlah keluar cintakasih bagi orang asing ini, hal mana hampir membuat aku ‘kewalahan’ karena karena rasa gembira yang penuh ketakjuban.”

Perempuan itu adalah Corrie ten Boom [1892-1983]. Siapa yang dapat menyalahkan Corrie untuk sikapnya yang tidak mau mengampuni? Keluarganya dihabiskan oleh para penguasa Nazi hanya karena mereka adalah orang-orang Kristiani yang menyembunyikan orang-orang Yahudi dari pengejaran para penguasa Nazi tersebut. Akan tetapi, melalui rahmat Allah yang bersifat supernatural, Corrie dimampukan untuk dapat melihat melampaui rasa sakit hatinya dan berpaling kepada Yesus dalam momen pengambilan keputusan yang krusial.  Sebagai bukti kebenaran-kebenaran dari hal-hal yang telah disyeringkan olehnya kepada orang-orang lain, sikap dan tindakan sederhana Corrie terhadap mantan-penganiayanya menunjukkan, bahwa belas-kasih dapat menang-berjaya atas penghakiman.

Apakah mereka mengetahuinya atau tidak – dan apakah kita mempersepsikannya atau tidak – sebenarnya setiap insan (Nazi, komunis, atheis, agnostik dlsb.) memiliki kerinduan untuk mengenal Injil. Itulah sebabnya, mengapa Allah memanggil kita masing-masing untuk menjadi saksi-saksi-Nya. Itulah sebabnya, mengapa Dia memberikan kepada kita berbagai kesempatan setiap hari untuk menyebarkan Kabar Baik-Nya kepada para anggota keluarga kita, para sahabat kita, para rekan-kerja kita dll. Evangelisasi tidak perlu sulit-sulit amat! Evangelisasi dapat sama sederhananya dengan percakapan sehari-hari. Dengan tetap berada dekat dengan Yesus membuat kita terus terbuka bagi gerakan-gerakan Roh-Nya. Dengan demikian, Injil yang kita hayati dalam kehidupan kita akan menarik banyak orang kepada Allah.

Marilah kita menjaga diri kita agar tetap terbuka bagi Roh Kudus dan senantiasa mengingat kebenaran yang satu ini: yaitu bahwa Roh Kudus inilah yang melakukan evangelisasi, bukan kita. Roh Kudus Allah-lah yang sesungguhnya merupakan SANG PEWARTA, Dia yang senantiasa bekerja di belakang layar.

DOA: Roh Kudus yang penuh kuasa dan kasih, berikanlah kepadaku hati seorang penginjil. Semoga diriku senantiasa mencerminkan kebenaran-kebenaran Injil. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:8-12), bacalah tulisan yang berjudul “MENGAKUI YESUS DI HADAPAN MANUSIA” (bacaan tanggal 20-10-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-10-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 17 Oktober 2018 [Peringatan S. Ignasius dr Antiokhia, Uskup & Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

SANG TABIB PENULIS INJIL DAN KISAH PARA RASUL

SANG TABIB PENULIS INJIL DAN KISAH PARA RASUL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta Santo Lukas, Penulis Injil – Kamis, 18 Oktober 2018)

Setelah itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. Kata-Nya kepada mereka, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan pemilik tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. Janganlah membawa pundi-pundi atau kantong perbekalan atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan. Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. Jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal padanya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah. Jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu, dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu.” (Luk 10:1-9) 

Bacaan Pertama: 2Tim 4:10-17b; Mazmur: Mzm 145:10-13,17-18

Hari ini kita merayakan Pesta Santo Lukas, penulis “Injil Lukas” dan “Kisah para Rasul”. Dari sedikit informasi yang kita miliki tentang Lukas, dapat dikatakan bahwa dia bukanlah seorang Yahudi, dia berpendidikan tinggi dan berlatar-belakang budaya helenis (Yunani), dan seorang dokter/tabib. Ia menanggapi dengan sepenuh hati panggilan Tuhan. Jelas Lukas bukan salah satu dari dua belas rasul, namun dia tabah dan setia dalam mengikuti jejak Tuhan dan dengan berupaya sepenuh hati untuk belajar lebih tentang Tuhan Yesus Kristus dari para saksi mata (lihat Luk 1:1-4). Lukas menjadi seorang beriman Kristiani lewat Kabar Baik yang diberitakan para murid Yesus yang lebih “senior” daripada dirinya sendiri. Kemudian, setelah diberdayakan oleh Roh Kudus, Lukas berpartisipasi dalam pelaksanaan Amanat Agung Kristus yang sudah bangkit (Mat 28:18-20).  Lukas melakukan perjalanan misi bersama Santo Paulus sebagai seorang anggota tim-misionarisnya dan membuat Yesus dikenal di Timur Dekat dan Eropa, dengan biaya yang cukup tinggi, yaitu karirnya sendiri sebagai seorang tabib.

Dalam kehidupan pelayanan-Nya di dunia, Yesus mengutus 70 (tujuh puluh) orang murid-Nya, malah ada manuskrip-manuskrip kuno yang mengatakan 72 [tujuh puluh dua] orang. Mereka diutus untuk apa? Untuk mengumumkan, bahwa: “Kerajaan Allah sudah dekat padamu” (Luk 10:1-9). Lukas menanggapi seruan itu dengan sebuah hati yang terbuka, dia memperkenankan Roh Kudus untuk mengubah hidupnya. Ketika Tabib Lukas menyadari bahwa Kerajaan Allah sudah datang, dia berbalik dari suatu kehidupan nyaman dan sukses sebagai tabib profesional, dan kemudian mengabdikan dirinya kepada karya evangelisasi sesuai dengan panggilan Allah.

Kita semua juga dipanggil oleh Allah. Adalah suatu kepastian bahwa Allah mempunyai sebuah rencana bagi kita masing-masing. Ketika berkhotbah dalam rangka perayaan Santo Lukas pada tahun 1985, almarhum Paus Yohanes Paulus II (sekarang sudah seorang Santo) mengatakan: “Setiap orang Kristiani harus sadar bahwa dia adalah seorang pesuruh dan seorang rasul, seorang yang menyebar-luaskan iman-kepercayaan.” Kepada siapa? Tidak hanya kepada orang-orang lain yang jauh. Di rumah kita masing-masing, di lingkungan gereja kita masing-masing, di tempat kerja kita masing-masing, di tempat kita masing-masing berbelanja: di mana saja dan kapan saja, kita dipanggil untuk menjadi rasul-rasul. Sri Paus mengatakan lagi: “Setiap orang harus sadar bahwa dia adalah seorang pribadi yang di dalam dirinya api iman telah dinyalakan – api yang … di-‘takdir’-kan untuk bersinar sehingga semua orang dapat memperoleh terang cahaya dan panas daripadanya.”

Kita harus ingat selalu, bahwa panggilan kita adalah dari Allah yang mahakuasa. Pada malam sebelum sengsara dan kematian-Nya, Yesus bersabda kepada para murid-Nya: “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu……… , supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap” (Yoh 15:16). Lukas dipanggil untuk melakukan perjalanan jauh bersama Santo Paulus; di bawah naungan Roh Kudus dia membuat catatan yang dapat dipertanggung-jawabkan tentang kelahiran Kekristenan, dan menurut tradisi dia pun mengalami kematian sebagai seorang martir Kristus di Akhaya, tidak lama setelah kemartiran Santo Paulus.

Kita memang sudah tahu bahwa kita dipanggil oleh Allah, namun seringkali kita masih saja mempunyai pikiran yang bernada negatif: “Aku tidak pernah dapat menjadi Santo Lukas. Dia kan lain. Dia hidup pada zaman yang lain samasekali!” Dalam hal ini mungkin kata-kata penuh hikmat yang pernah diucapkan oleh Bunda Teresa dari Kalkuta (sekarang sudah seorang Santa) dapat menolong kita. Seorang pengunjung di Kalkuta berkata kepada Bunda Teresa: “Bunda, engkau telah melakukan sedemikian banyak bagi orang-orang miskin. Engkau membawa Injil cintakasih kepada orang-orang lain dengan begitu banyak cara. Saya tidak pernah akan sanggup melakukan hal-hal seperti yang telah Bunda lakukan.” Bunda Teresa menjawab: “Mungkin saya melakukan apa yang anda tidak dapat lakukan, namun anda dapat melakukan hal-hal yang saya tidak dapat lakukan. Bersama-sama kita dapat melakukan sesuatu yang indah bagi Allah.” Sejalan dengan jawaban Bunda Teresa tadi, almarhum Paus Yohanes Paulus II juga mengatakan: “Kita dipanggil, masing-masing dengan cara yang berlainan, untuk pergi dan menghasilkan buah; untuk masuk ke dalam suatu relasi cintakasih dengan Yesus, sebagai murid yang aktif dan setia.”  Marilah kita menanggapi panggilan Allah itu dengan sepenuh-hati, dengan keikhlasan, dengan ketulusan hati yang tidak perlu diragukan lagi. Sebagai orang Kristiani kita diutus oleh Yesus untuk menyebar-luaskan Kabar Baik, bahwa Kerajaan Allah sudah datang. Allah memiliki hasrat untuk memasukkan kita ke dalam barisan para pekerja ke kebun anggur-Nya. Yang perlu kita lakukan hanyalah membuka hati kita dan berkata: “Ya Tuhan, aku mau melakukan kehendak-Mu.”

Kalau demikian halnya, bagaimana harus kita memulainya? Kita harus mulai bersama Yesus sendiri. Memberitakan kepada orang-orang lain tentang Tuhan berarti bangkit keluar dari relasi kita sendiri dengan Dia. Kalau kita setiap hari menyediakan waktu cukup untuk berdoa kepada-Nya, mendengarkan apa yang dikatakan-Nya kepada kita serta mempraktekkannya, maka upaya kita untuk berbicara tentang Dia kepada orang lain menjadi suatu tindakan yang natural. Dalam kesempatan ini ingatlah bahwa seseorang tidak dapat memberikan “sesuatu” kepada orang-orang lain, kalau dia sendiri tidak memiliki “sesuatu” itu. Kalau kita gantikan kata “sesuatu” itu dengan “Yesus”, maka kita dapat menyadari pentingnya arti “pengalaman akan Allah/Yesus” sebagai syarat awal setiap upaya seseorang untuk mulai melakukan evangelisasi.

Kita tidak perlu melakukan perjalanan jauh-jauh seperti yang telah dilakukan oleh Santo Lukas dan Santo Paulus sekitar 1.900 tahun lalu, karena kita mempunyai banyak sekali peluang untuk memberitakan Injil. Setiap hari kita mempunyai kesempatan untuk memberikan diri kita sendiri, untuk bercerita kepada orang-orang lain bahwa Allah mengasihi mereka,  kita berdoa untuk mereka dan berbagi iman-kepercayaan kita dengan mereka. Romo Gino Henriques CSsR, Director dari Evangelization 2000 untuk Asia-Oceania, yang berkedudukan di Singapura, mempunyai sejumlah cerita aktual tentang upaya umat dalam evangelisasi. Hal-hal kecil yang dilakukan sungguh dapat menghasilkan buah. Satu cerita: ada seorang perempuan setengah baya yang bekerja di dapur pastoran. Pada suatu hari Romo Gino bertemu dengan perempuan itu di halaman Gereja yang kelihatan sedang bergegas mau pergi. “Ketangkap basah”’, perempuan itu mulai “mengaku dosa”. Sebenarnya, dia sedang mau pergi menemui seseorang yang memerlukan pendampingan rohani, karena dalam keadaan sangat sulit. Perempuan itu mengaku, bahwa manakala pelajaran evangelisasi sedang berlangsung di aula paroki, secara diam-diam dia juga mencuri-dengar apa yang diajarkan dan didiskusikan di dalam kelas. Dia juga mencatat apa-apa yang perlu. Ternyata perempuan yang akan dikunjunginya bukanlah “pasiennya” yang pertama. Perempuan petugas dapur pastoran yang tidak berpendidikan tinggi itu ternyata seorang penginjil kaliber jawara. Sungguh agung karya Roh Kudus!

Seperti halnya dengan Santo Lukas dan semua misionaris Gereja Perdana, kita tidak pernah boleh merasa takut dan ciut. Ingatlah bahwa Dia menyertai kita senantiasa sampai akhir zaman (Mat 28:20). Marilah kita terus bertekun dalam upaya kita memberitakan Injil kepada orang-orang di sekeliling kita. Ingatlah yang satu ini, yaitu bahwa Injil atau Kabar Baik adalah “kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya” (Rm 1:16).

DOA: Ya Allah, ya Tuhan kami, Engkau telah memilih Santo Lukas untuk mewartakan dengan lisan dan tulisan rahasia cintakasih-Mu kepada kaum miskin dan papa. Semoga kami pun dapat bermegah dalam nama-Mu dan bertekun sehati dan sejiwa, supaya semua bangsa melihat keselamatan-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk melihat uraian tentang Bacaan Pertama hari ini (2Tim 4:10-17), bacalah tulisan yang berjudul “PENULIS INJIL DAN KISAH PARA RASUL” (bacaan tanggal 18-10-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 18-10-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 15 Oktober 2018 [Peringatan S. Teresia dr Yesus, Perawan Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERSUKACITALAH KARENA NAMAMU ADA TERDAFTAR DI SURGA

BERSUKACITALAH KARENA NAMAMU ADA TERDAFTAR DI SURGA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVI – Sabtu, 6 Oktober 2018)

OFS: Peringatan S. Maria Fransiska dr ke-5 luka Yesus, Perawan

Kemudian ketujuh puluh murid itu kembali dengan gembira dan berkata, “Tuhan, setan-setan pun takluk kepada kami demi nama-Mu.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit. Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa atas segala kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu. Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di surga.”

Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata, “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorang pun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu.” Sesudah itu berpalinglah Yesus kepada murid-murid-Nya secara tersendiri dan berkata, “Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat. Karena Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.”  (Luk 10:17-24) 

Bacaan Pertama: Ayb 42:1-3,5-6,12-17; Mazmur 119:66,71,75,91,125,130 

Baru saja kembali dari misi mereka, para murid Yesus bersukacita karena kuasa luarbiasa yang telah diberikan Yesus kepada mereka untuk menolong orang-orang yang sakit dan tertindas. Namun Yesus dengan cepat mengingatkan para murid-Nya yang terdiri dari 70 orang itu, bahwa janganlah mereka sibuk memikirkan apa yang telah diberikan oleh-Nya untuk memberdayakan mereka. Yang benar adalah, bahwa mereka bersukacita karena Dia, sumber kuat-kuasa yang sekarang ada dalam diri mereka dan juga pencinta jiwa-jiwa mereka.

Yesus ingin agar para misionaris “junior” ini menghargai nilai-tertinggi keberadaan mereka bersama dengan diri-Nya. Para murid ini mempunyai privilese berdiam berjam-jam lamanya mendengarkan pengajaran-Nya dan belajar mengenai cintakasih-Nya. Para murid memiliki sukacita mengetahui bahwa Yesus telah membuka “jalan kepada Bapa” bagi mereka. Nama-nama mereka telah “terdaftar di surga” (Luk 10:20). Bukankah hal ini merupakan sebuah alasan yang jauh lebih besar dan penting untuk kegembiraan mereka?

Santa Bunda Teresa dari Kalkuta pada suatu kesempatan mengatakan, “Panggilanku didasarkan pada fakta bahwa aku milik Yesus. Hal itu berarti mengasihi Dia dengan perhatian dan kesetiaan yang tak terpecah-pecah. Pekerjaan yang kami lakukan tidak lebih daripada suatu sarana untuk mentransformir kasih kami kepada Kristus ke dalam sesuatu yang konkret.”

Sebagaimana para murid Yesus, kita pun seringkali mengalami kesulitan berurusan dengan tegangan antara melaksanakan tugas-tugas yang telah diberikan Allah kepada kita dan mengembangkan relasi kita dengan Yesus. Seringkali kita mengalami tegangan yang sama dalam hal relasi kita dengan orang-orang lain: Kita tergoda untuk menerapkan cara-cara fungsional dalam memecahkan masalah-masalah dengan pasangan hidup kita, anak-anak kita, para sahabat terdekat kita ……; padahal bertumbuh dalam kasih dan persatuan harus menjadi prioritas lebih utama daripada sekadar melaksanakan tugas-tugas kita.

Apabila kita membuka hidup kita bagi Yesus dan memperkenankan pernyataan diri-Nya meresap ke dalam hati dan pikiran kita, maka kita akan mulai mengenal kekayaan hikmat-Nya dan kasih-Nya. Sabda Allah dalam Kitab Suci akan terbuka bagi kita. Pola-pola pemikiran dan tindakan yang keliru akan disembuhkan. Kita akan berpaling kepada Roh-Nya untuk memohon pertolongan-Nya dalam mengambil keputusan-keputusan penting sepanjang hari. Kita yang lemah dapat menjadi kuat melalui relasi kita dengan Yesus. Kita yang miskin dapat menjadi kaya. Kita yang tuli dapat mendengar. Dan kita yang buta dapat melihat.

Marilah kita mulai pada hari ini. Marilah kita membuka hati kita bagi Yesus dalam doa-doa kita dan dalam pembacaan dan permenungan sabda-Nya dalam Kitab Suci. Marilah kita menyambut-Nya ke dalam setiap aspek kehidupan kita dan mohon kepada-Nya untuk mencerminkan kehadiran-Nya kepada setiap orang yang kita jumpai.

DOA: Roh Kudus, bukalah mataku lebih lebar lagi agar dapat melihat Yesus. Tolonglah aku untuk memandang Yesus sebagai Pribadi di atas segala segalanya yang lain. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 10:17-24), bacalah tulisan yang berjudul “BERSUKACITA BERSAMA TUHAN YESUS” (bacaan tanggal 6-10-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 7-10-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 4 Oktober 2018 [HARI RAYA S. FRANSISKUS ASSISI, Pendiri Tarekat] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ROH KUDUS ADALAH SANG AGEN PERTOBATAN

ROH KUDUS ADALAH SANG AGEN PERTOBATAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Fransiskus dr Assisi – Kamis, 4 Oktober 2018)

Keluarga Besar Fransiskan: Hari Raya S. Fransiskus dr Assisi, Pendiri Tarekat

Setelah itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. Kata-Nya kepada mereka, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan pemilik tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. Janganlah membawa pundi-pundi atau kantong perbekalan atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan. Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. Jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal padanya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah. Jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu, dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu. Tetapi jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu tidak tidak diterima di situ, pergilah ke jalan-jalan raya kota itu dan serukanlah: Juga debu kotamu yang melekat pada kaki kami, kami kebaskan di depanmu; tetapi ketahuilah ini: Kerajaan Allah sudah dekat. Aku berkata kepadamu: Pada hari itu Sodom akan lebih ringan tanggungannya daripada kota itu.” (Luk 10:1-12) 

Bacaan Pertama: Ayb 19:21-27; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:7-9,13-14 

Bagi para petani, masa panen adalah kulminasi tidak hanya dari pengharapan dan impian, melainkan juga masalah keuangan, doa-doa dan keringat. Ketika masa panen/tuaian tanaman padi tiba, maka proses tuaian padi dimulai dengan intensitas yang luar biasa karena waktu yang tersedia sangatlah terbatas mengingat akan datangnya waktu untuk membajak lahan dst. untuk menanam benih lagi. Demi hasil tuaian yang baik di masa berikutnya, keluarga mengorbankan waktu istirahat/tidur mereka dlsb. – malah segalanya untuk menjamin tidak ada bulir padi yang menjadi sia-sia karena tidak dipanen.

Seperti seorang petani, Yesus juga memiliki keprihatinan atas hasil tuaian, yaitu hasil tuaian yang berupa jiwa-jiwa. Yesus merasa haus akan semua orang yang diciptakan-Nya. Dia minta kepada kita – yaitu keluarga-Nya – untuk membawa mereka kepada-Nya sekarang dan sampai kekal. Apakah hal ini kelihatannya seperti pekerjaan besar? Yesus mengetahui magnitude dari tugas ini. Itulah sebabnya mengapa Dia tidak hanya mendaftarkan upaya kita, melainkan juga minta kepada kita untuk mendoakan para mitra kerja kita (Luk 10:2). Yesus ingin menyampaikan kepada kita urgency dari misi yang ditetapkan; Dia ingin kita fokus, tidak mengalami pelanturan yang disebabkan urusan duniawi (Luk 10:4,7).

Akan tetapi, kabar baiknya adalah bahwa bagian paling berat/sulit dari pekerjaan itu telah dilakukan. Yesus telah mati dan bangkit. Roh Kudus telah dicurahkan. Gereja didirikan. Buahnya berlimpah. Para tetangga, mitra kerja, keluarga, teman-teman, orang-orang asing – orang-orang di mana saja rindu untuk mendengar pesan dari kasih Allah. Setiap dari jiwa-jiwa itu diciptakan untuk Allah, dan Allah mempunyai hasrat kuat untuk melihat agar tidak seorang pun tertinggal pada waktu tuaian besar didapat ( 1Tim 2:4).

Kita harus menerima kenyataan bahwa tugas tersebut kelihatannya tidak mudah. Namun kita tidak perlu menyerah; sebaliknya marilah kita berdoa. Kita dapat dengan bebas mengakui bahwa sekadar kata-kata tidaklah memiliki daya-kekuatan apa pun guna membawa siapa saja untuk bertobat. Namun Roh Kudus adalah sang agen pertobatan. Marilah kita menaruh kepercayaan kita pada-Nya. Selagi kita membawa buah kasih dan damai sejahtera melalui jalan sehari-hari bersama Allah (Gal 5:22-23), kita akan melihat buah dalam upaya-upaya evangelisasi kita. Apabila kita minta Roh Kudus untuk membuka mata kita bagi kesempatan-kesempatan untuk meng-sharing-kan sabda Allah, kita pun akan terkagum-kagum atas apa yang kita lihat.

DOA: Bapa surgawi, bawalah semua orang pulang kepada-Mu. Kirimlah para pekerja dalam kuasa Roh Kudus-Mu untuk hasil panenan/tuaian-Mu. Biarlah diriku mengatakan: “Di sini aku, ya Tuhan, kirimlah aku!”. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 10:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “KERAJAAN ALLAH SUDAH DEKAT” (bacaan tanggal 4-10-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2018. 

Cilandak, 1 Oktober 2018 [Pesta S. Teresia dr Kanak-kanak Yesus, Perawan & Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA PUN DIUTUS OLEH-NYA PADA HARI INI

KITA PUN DIUTUS OLEH-NYA PADA HARI INI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXV – Rabu, 26 September 2018)

Ordo Fransiskan Sekular [OFS]: Peringatan S. Elzear & Delfina, OFS

Yesus memanggil kedua belas murid-Nya, lalu memberikan tenaga dan kuasa kepada mereka untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit. Ia mengutus mereka untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang-orang sakit, kata-Nya kepada mereka, “Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, jangan membawa tongkat atau kantong perbekalan, roti atau uang, atau dua helai baju. Apabila kamu masuk ke dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari situ. Kalau ada orang yang tidak mau menerima kamu, keluarlah dari kota mereka dan kebaskanlah debunya dari kakimu sebagai peringatan terhadap mereka.” Lalu pergilah mereka dan mereka mengelilingi desa-desa sambil memberitakan Injil dan menyembuhkan orang sakit di segala tempat. (Luk 9:1-6) 

Bacaan Pertama: Ams 30:5-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:29,72,89,101,104,163 

Selagi Yesus mulai bergerak menuju Yerusalem, Ia mengakhiri misi di Galilea dengan mengutus kedua belas murid-Nya untuk mewartakan Injil dan menyembuhkan penyakit-penyakit yang diderita dan juga untuk menguasai roh-roh jahat. Apakah para murid sudah sepenuhnya siap dan memenuhi syarat (qualified) untuk itu?

Menarik bagi kita untuk mencatat bahwa bahkan dalam cerita pengutusan para murid ini, Yesus tetap berada di pusat. Yesus-lah yang memanggil kedua belas murid-Nya (Luk 9:1), seperti Ia pada awalnya telah memanggil masing-masing murid itu untuk datang dan mengikut-Nya. Dengan berjalannya waktu, Yesus telah menyatakan diri-Nya dan mensyeringkan hidup-Nya dengan mereka. Mereka ini bukanlah rasul-rasul yang mengangkat diri mereka sendiri, dan mereka pun bukanlah pribadi-pribadi yang memiliki kharisma dan kemampuan secara alamiah. Satu-satunya hal yang membedakan diri mereka dengan orang-orang lain adalah relasi mereka dengan Yesus.

Sebelum Ia mengutus mereka, Yesus memberikan kepada kedua belas murid-Nya itu kekuasaan dan otoritas atas semua roh jahat dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit (Luk 9:1). Semuanya datang dari dari Yesus. Para murid-Nya tidak pernah pergi ke sekolah teologi dan mereka pun belum mempunyai banyak pengalaman dalam melakukan penyembuhan penyakit dan pengusiran roh-roh jahat. Malah mereka kelihatannya mudah merasa takut dan tidak mempunyai iman yang diperlukan. Namun Yesus memberikan kekuasaan dan otoritas atas realitas-realitas fisik maupun spiritual! Dalam menggambarkan pengutusan Yesus ini, Lukas menggunakan kata Yunani apostello bagi para rasul itu, yang berarti “seorang yang diutus oleh orang lain” (Inggris: apostle). Para rasul tidak menawarkan diri mereka secara sukarela untuk misi yang dipercayakan kepada mereka. Inisiatif ada pada Yesus! Mereka sekadar diutus untuk memberi kesaksian siapa Yesus itu, dan untuk memberikan kesaksian tentang kuasa Allah melalui tindakan-tindakan mereka.

Ternyata tidak ada bedanya pada hari ini. Yesus yang sama, yang memanggil kedua belas murid-Nya sekitar 2.000 tahun lalu, pada hari ini juga memanggil kita masing-masing secara pribadi. Yesus yang sama ini memberikan kepada kita otoritas atas roh-roh jahat dan sakit-penyakit hari ini. Yesus yang sama ini mengutus kita untuk pergi mewartakan Injil Kerajaan Allah secara sederhana, menyembuhkan orang-orang yang sakit, baik fisik maupun spiritual, dan mengasihi tanpa syarat siapa saja yang dijumpai sebagaimana Yesus mengasihi. Kita tidak melangkah maju berdasarkan kemampuan, kesempurnaan kita, atau kuat-kuasa yang kita miliki, melainkan sekadar dalam nama dan kuasa Yesus Kristus. Sang Guru dan Tuhan kita itu telah memilih kita dan memperlengkapi kita agar dapat melakukan kehendak-Nya oleh kuasa Roh Kudus yang hidup di dalam diri kita.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami agar dapat mengenali panggilan-Mu, menerima kuat-kuasa dan otoritas-Mu, dan setia dalam mewartakan Kerajaan Allah seturut kehendak-Mu. Oleh Roh Kudus-Mu, perkenankanlah kami meneruskan anugerah kesembuhan dari-Mu kepada semua orang yang membutuhkannya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 9:1-6), bacalah tulisan yang berjudul “KUASA ATAS ROH-ROH JAHAT” (bacaan tanggal 26-9-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 18-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 27-9-17 salam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 23 September 2018 [HARI MINGGU BIASA XXV – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DIPANGGIL UNTUK MENJADI SAKSI KEHIDUPAN BARU

DIPANGGIL UNTUK MENJADI SAKSI KEHIDUPAN BARU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV – Senin, 16 Juli 2018)

“Jangan kamu menyangka bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.

Siapa saja yang mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada Aku, ia tidak layak bagi-Ku; dan siapa saja yang mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih daripada Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak  bagi-Ku. Siapa saja yang mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan siapa saja yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.

Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku.  Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut  seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar. Siapa saja yang memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Ia tidak akan kehilangan upahnya.”

Setelah Yesus mengakhiri pesan-Nya kepada kedua belas murid-Nya, pergilah Ia dari sana untuk mengajar dan memberitakan Injil di dalam kota-kota mereka. (Mat 10:34-11:1) 

Bacaan Pertama: Yes 1:11-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:8-9,16-17,21,23 

Seorang murid Kristus dipanggil untuk menjadi saksi dari suatu kehidupan baru – untuk memberi kesaksian – baik dengan kata-kata maupun teladan hidup – bahwa Yesus telah mengalahkan dosa dan meresmikan (menginaugurasikan) Kerajaan Allah. Selagi Dia menjelaskan mengenai panggilan ini, Yesus juga mengingatkan para murid-Nya bahwa kehidupan baru yang akan dimanifestasikan oleh para murid-Nya itu secara radikal berbeda dari kehidupan yang terpisah dari Allah. Pemisahan yang dikatakan Yesus bukanlah sebuah agenda radikal di mana segala sesuatu – bahkan yang sedikit saja bertentangan dengan Kristus – harus ditolak. Sebaliknya, pemisahan itu terjadi selagi terang dalam diri kita menjadi semakin bercahaya, dan kegelapan di sekeliling kita dan di dalam diri kita semakin terekspos.

Apabila kita ingin agar terang Kristus bersinar, maka kegelapan harus disingkirkan, dan hal ini kadang-kadang menyakitkan. Akan tetapi, panggilan seorang murid adalah teristimewa untuk mempertahankan relasinya dengan Yesus, dan memperkenankan sabda Kristus – seperti sebilah pedang bermata-dua – memisahkan kegelapan dari terang. Namun pada saat yang sama, Yesus tidak pernah meninggalkan para murid-Nya tanpa penghiburan kasih-Nya dan rasa nyaman,  bahwa dengan ikut ambil bagian dalam salib-Nya kita juga dengan indahnya ikut ambil bagian dalam kebangkitan-Nya – sekarang dan pada akhir zaman.

Dietrich Bonhoeffer [1906-1945] adalah seorang pastor Lutheran berkebangsaan Jerman yang sangat dihargai oleh para teolog Katolik. Dietrich Bonhoeffer menentang kebijakan-kebijakan Jerman Nazi, yang kemudian menjebloskannya ke dalam kamp konsetrasi dan kemudian membunuhnya pada tahun 1945. Berkaitan dengan pokok bahasan kita kali ini, Bonhoeffer mengatakan: “Keputusan terakhir harus dibuat selagi kita masih berada di atas bumi. Damai Yesus adalah salib. Namun salib adalah pedang yang digunakan Allah di atas bumi. Pedang ini menciptakan pemisahan. Anak laki-laki terhadap ayahnya, anak perempuan terhadap ibunya, anggota rumahtangga terhadap kepala rumahtangga – semua ini terjadi dalam nama Kerajaan Allah dan damai-sejahtera-Nya. Inilah karya yang dikerjakan Yesus Kristus di atas bumi.”

“Kasih Allah itu berbeda ketimbang cinta manusia pada tubuh dan darah mereka sendiri. Kasih Allah bagi manusia berarti salib dan jalan kemuridan. Namun salib itu dan jalan itu dua-duanya adalah kehidupan dan kebangkitan. “Ia yang kehilangan nyawanya demi aku akan menemukannya.” Dalam janji ini kita mendengar suara Dia yang memegang kunci-kunci kematian, sang Putera Allah, yang pergi ke salib dan kebangkitan, dan bersama Dia dibawa-Nyalah milik-Nya.” (Biaya Kemuridan; Inggris: The Cost of Discipleship).

DOA: Tuhan Yesus, hidup Kristiani dapat dengan mudah terkesampingkan bagi banyak dari kami. Kami kurang serius, tidak memiliki komitmen! Seperti benih yang jatuh ke atas tanah berbatu, Sabda-Mu menjadi mati karena kebebalan kami. Kami mohon ampun, ya Tuhan, atas segala dosa dan kekurangan kami. Melalui Roh Kudus-Mu, kami diyakinkan bahwa Injil menuntut komitmen total dari kami untuk mengasihi Allah dan sesama kami. Tuhan, ubahlah rasa takut kami menjadi iman yang berani untuk mewartakan Kabar Baik-Mu. Amin.

Catatan:  Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:34-11:1), bacalah tulisan yang berjudul “MENJADI DUTA-DUTA YESUS KRISTUS DI ZAMAN NOW” (bacaan tanggal 16-7-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-07 BACAAN HARIAN JULI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 17-7-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 13 Juli 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TANGAN-TANGAN KRISTUS

TANGAN-TANGAN KRISTUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XV [Tahun B] – 15 Juli 2018)

Ia memanggil kedua belas murid itu dan mulai mengutus mereka berdua-dua. Ia memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat, dan berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan mereka, kecuali tongkat saja, roti pun jangan, kantong perbekalan pun jangan, uang dalam ikat pinggang pun jangan, boleh memakai alas-kaki, tetapi jangan memakai dua baju. Kata-Nya selanjutnya kepada mereka, “Kalau di suatu tempat kamu masuk ke dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari tempat itu. Kalau ada suatu tempat  yang tidak mau menerima kamu dan kalau mereka tidak mau mendengarkan kamu, keluarlah dari situ dan kebaskanlah debu yang di kakimu sebagai peringatan bagi mereka.” Lalu pergilah mereka memberitakan bahwa orang harus bertobat, dan mereka mengusir banyak setan, dan mengoles banyak orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mereka. (Mrk 6:7-13) 

Bacaan Pertama:  Am 7:12-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 85:9-14; Bacaan Kedua: Ef 1:3-14

Ia memanggil kedua belas murid itu dan mulai mengutus mereka berdua-dua. (Mrk 6:7-13)

Sudah cukup banyak umat yang memahami bahwa panggilan Yesus ini ditujukan kepada keseluruhan Gereja: kita semua, yaitu anda dan saya. Sayangnya, tidak sedikit pula umat yang percaya bahwa panggilan Yesus tersebut ditujukan khusus kepada para rasul dan penerus-penerus mereka: para uskup, para imam dan biarawati/biarawan. Pemahaman seperti ini digabung dengan mentalitas manja menggiring mereka untuk bersikap dan berperilaku “romo sentris”: sedikit-sedikit saja romo, apa-apa saja romo. Pokoknya pemegang inisiatif adalah kaum berjubah, umat cukup pasif saja. Masalahnya menjadi bertambah rumit apabila hal yang baru disebutkan di atas bertemu dan bercampur dengan pemikiran kaum berjubah yang tidak memandang diri mereka sebagai pelayan umat, yang menganggap diri mereka lebih berpengetahuan dan berhikmat daripada kaum awam sehingga harus dan pantas disanjung-sanjung, malah yang memandang umat awam sebagai orang-orang bodoh, dlsb. dst.

Pokok persoalan sebenarnya adalah, bahwa semua orang Kristiani – lewat baptisan mereka – dipanggil untuk melaksanakan karya pelayanan kasih dan keadilan di tengah dunia. Salah satu dokumen Konsili Vatikan II, “Dekrit ‘Apostolicam Actuositatem’ (AA) tentang Kerasulan Awam” menyatakan: “Kaum awam menerima tugas serta haknya untuk merasul berdasarkan persatuan mereka dengan Kristus Kepala. Sebab melalui Baptis mereka disaturagakan dalam tubuh mistik Kristus, melalui Penguatan mereka diteguhkan oleh kekuatan Roh Kudus, dan dengan demikian oleh Tuhan sendiri ditetapkan untuk merasul” (AA, 3). Jadi, apakah kita (anda dan saya) adalah seorang ahli hukum, akuntan, dokter dlsb. – kita semua diutus untuk “mewartakan, mengajar, menyembuhkan dan bersaksi terkait Kabar Baik Yesus Kristus”, singkatnya: untuk melakukan evangelisasi.

Bagaimana kaum awam dapat berpartisipasi dalam melanjutkan karya Kristus? Dalam hal ini, dokumen Konsili Vatikan II yang sama mengajar: “Bagi kaum awam terbukalah amat banyak kesempatan untuk melaksanakan kerasulan pewartaan Injil dan pengudusan. Kesaksian hidup Kristiani sendiri beserta amal baik yang dijalankan dengan semangat adikodrati, mempunyai daya-kekuatan untuk menarik orang-orang kepada iman dan kepada Allah” (AA, 6).

Pesan yang disampaikan oleh Dekrit “Apostolicam Actuositatem” adalah, bahwa seorang Kristiani Katolik sejati mempunyai suatu tanggung jawab misioner ke tengah dunia dan bertugas juga untuk memperkuat dan menumbuhkan motivasi saudari-saudaranya yang Kristiani dalam hal penghayatan iman mereka. Tetapi pertanyaannya sekarang, sampai berapa banyak yang telah kita lakukan selama ini? Walaupun kiranya sudah banyak terjadi perbaikan, kita harus akui masih ada banyak orang Katolik yang merasa enggan untuk berbicara mengenai iman mereka dan berbagi pengalaman rohani mereka dengan orang-orang lain. Dalam hal ini tidak ada salahnya kalau kita meminjam sedikit semangat, dedikasi dan entusiasme saudari-saudara Kristiani lainnya dalam mewartakan Injil.

Dalam Perang Dunia II, pasukan Amerika Serikat memasuki sebuah desa Italia yang sudah hancur-hancuran, yang baru saja ditinggalkan oleh pasukan Nazi Jerman yang sedang mundur. Desa ini seperti kebanyakan desa di Italia di bangun di sekeliling sebuah piazza dengan sebuah gereja di satu sisi dan balai desa di sisi lain. Di dalam gereja, umat telah mendirikan sebuah patung Kristus sang Pekerja. Sementara desa itu mengalami penghancuran, patung Kristus ini telah jatuh dari batu penyangganya/tumpuannya, sehingga terpecah-belah menjadi ribuan keping. Untuk meningkatkan semangat penduduk, para serdadu Amerika Serikat melakukan “rekonstruksi” patung Kristus tersebut. Keping demi keping pecahan patung disemen kembali dengan sangat hati-hati, kecuali kedua tangan patung Kristus. Salah seorang serdadu Amerika Serikat tersebut – seorang Katolik yang sungguh beriman Kristiani dengan benar – membuat sebuah plakat di mana dia menulis: “Anda adalah tangan-tangan Kristus.” Siapa saja yang berkesempatan untuk mengunjungi gereja ini masih dapat melihat patung Kristus ini. Plakatnya masih ada dengan kata-kata yang mengingatkan kita apa artinya menjadi orang Kristiani yang Katolik.

Secara fisik Kristus sudah tidak lagi bersama kita. Namun karya evangelisasi-Nya berjalan terus – dalam dan melalui diri kita – karena kita (anda dan saya) sebenarnya adalah “tangan-tangan Kristus”.

DOA: Bapa surgawi, berdayakanlah diriku agar dapat ikut ambil bagian dalam misi Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus. Ajarlah daku agar dapat peka terhadap bimbingan Roh Kudus. Bekerjalah dengan penuh kuasa melalui diriku, ya Allahku, karena bagi-Mu tidak ada yang mustahil. Terpujilah Allah Tritunggal Mahakudus, Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 6:7-13), bacalah tulisan dengan judul “TUGAS PARA MURID YESUS ADALAH MELANJUTKAN KARYA PELAYANAN-NYA” (bacaan tanggal 15-7-18 dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-07 BACAAN HARIAN JULI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-7-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 12 Juli 2018 [Peringatan S. John Jones & John Wall, Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS