Posts tagged ‘EKARISTI’

HATI-KU TERGERAK OLEH BELAS KASIHAN

HATI-KU TERGERAK OLEH BELAS KASIHAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Adven – Rabu, 5 Desember 2012) 

Feeding_the_5000006Setelah meninggalkan daerah itu, Yesus menyusur pantai Danau Galilea dan naik ke atas bukit lalu duduk di situ. Kemudian orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya membawa orang lumpuh, orang buta, orang timpang, orang bisu dan banyak lagi yang lain, lalu meletakkan mereka pada kaki Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya. Orang banyak itu pun takjub melihat orang bisu berkata-kata, orang timpang sembuh, orang lumpuh berjalan, orang buta melihat, dan mereka memuliakan Allah Israel.

Lalu Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata, “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak itu. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Aku tidak mau menyuruh mereka pulang dengan lapar, nanti mereka pingsan di jalan.”  Kata murid-murid-Nya kepada-Nya, “Bagaimana di tempat terpencil  ini kita mendapat roti untuk mengenyangkan orang banyak yang begitu besar jumlahnya?” Kata Yesus kepada mereka, “Kamu punya berapa roti?”  “Tujuh,” jawab mereka, “dan ada lagi beberapa ikan kecil.” Lalu Yesus menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti dan ikan-ikan itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya memberikannya kepada orang banyak. Mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang lebih, sebanyak tujuh bakul penuh.  (Mat 15:29-37) 

Salah satu kebutuhan pokok manusia adalah makan-minum. Kita praktis tidak dapat bertumbuh dan survive tanpa pangan. Beberapa tanda dari belarasa Yesus terlihat nyata dalam hal kebutuhan manusia akan makan-minum ini. Ketika Yesus melihat keadaan orang-orang yang mengikuti-Nya, Dia berkata, “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak itu. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Aku tidak mau menyuruh mereka pulang dengan lapar, nanti mereka pingsan di jalan” (Mat 15:32). Orang yang kelaparan tidak dapat diharapkan untuk dapat memikirkan apa-apa lagi, kecuali makanan yang dapat dimakannya dan minuman yang dapat diminumnya. [“The stomach cannot wait,” kata Bung Karno.] Ketika Putera Allah menjadi manusia seperti kita, Dia menerima semua aspek kehidupan kita-manusia, termasuk rasa lapar dan haus. Dalam bacaan Injil di atas, jelaslah bahwa Yesus tahu dari pengalaman-Nya sendiri sebagai seorang manusia, apa yang dirasakan orang banyak yang mengikuti-Nya itu. Dengan demikian tidaklah mengejutkan kalau dalam hal ini Yesus menanggapi kebutuhan mendesak orang banyak itu dengan membuat sebuah mukjizat bagi mereka. Yang seharusnya sangat membuat kita kagum adalah bahwa Yesus menanggapi rasa lapar dan haus spiritual kita dengan cara yang lebih besar dan agung daripada sebuah mukjizat. Pada waktu kita menghadap Dia dalam Perayaan Ekaristi, Yesus Kristus juga tidak mau membiarkan kita pulang dengan rasa lapar. Dia mengenyangkan umat yang hadir dalam Perayaan Ekaristi dengan tubuh dan darah-Nya sendiri. Ekaristi adalah sebuah pemberian gratis yang sangat indah-mulia dari Sang Juruselamat dalam belarasa-Nya kepada kita, dan Dia memberikan itu setiap hari.

YESUS MEMBERI MAKAN 5000 ORANG LAKI-LAKI - 600Satu hal lagi untuk direnungkan: setiap mukjizat yang dilakukan oleh Yesus merupakan sebuah tanda yang menunjuk kepada Kerajaan Allah, jadi jauh melampaui mukjizat itu sendiri. Setiap mukjizat menunjukkan bahwa Dia adalah Mesias yang dinubuatkan nabi Yesaya: “Ia akan meniadakan maut untuk seterusnya; dan Tuhan ALLAH akan menghapuskan air mata dari pada segala muka” (Yes 25:8). Dengan mempergandakan roti dan ikan, Yesus menunjukkan diri-Nya sebagai Dia yang memuaskan mereka yang lapar dengan suatu perjamuan dengan masakan yang istimewa (lihat Yes 25:6). Itulah mengapa, ketika orang banyak mengenali tanda-tanda ini, mereka takjub dan tergerak untuk memuliakan Allah Israel (lihat Mat 15:31). Kita seharusnya ingat bahwa Yesus sama sekali bukanlah seorang pembuat mukjizat atau tukang sihir yang melakukan perbuatan-perbuatan ajaib untuk pamer atau mencari keuntungan diri sendiri. Jauh dari itu! Mukjizat-mukjizat Yesus menyatakan belas kasihan Bapa-Nya untuk siapa saja yang membutuhkan atau yang berada dalam kesulitan (lihat Mat 15:32). Yesus menyembuhkan orang sakit dan memberi makan kepada orang yang lapar karena Dia mengasihi mereka dan hati-Nya tergerak oleh situasi mereka. Dan, mereka yang mengalami kasih-Nya tergerak untuk berpaling kepada Allah. Sampai hari ini pun Yesus masih membuat mukjizat-mukjizat karena Dia mengasihi kita. Hasrat dan kerinduan Bapa untuk menarik kita semua kepada-Nya dan kuasa Roh Kudus yang terus-menerus mengalir melalui Yesus manakala Dia menjamah hidup kita dengan cara-cara yang ajaib. Selagi kita membuka hati kita bagi kasih Allah dan Roh-Nya, kita pun dapat melakukan hal-hal yang ajaib. Apa maksudnya? Artinya, kita pun dapat membawa orang-orang kepada Allah sendiri, yang akan memenuhi diri mereka dengan kasih dan kesembuhan yang mereka rindukan.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih untuk segala mukjizat yang telah kami alami dalam kehidupan kami masing-masing. Buatlah kami menjadi tanda kasih-Mu bagi orang-orang lain. Curahkanlah Roh-Mu ke dalam hati kami, dengan demikian melalui diri kami banyak orang akan mengenal dan mengalami kuasa kesembuhan-Mu dan belas kasihan-Mu. Tuhan, kami juga sangat bersyukur karena sampai hari ini Engkau masih terus memberikan tubuh dan darah-Mu sendiri kepada kami semua dalam Ekaristi, sehingga dengan demikian kami tidak akan pernah kelaparan dan kehausan secara spiritual. Tuhan, bentuklah kami menjadi insan-ekaristik yang tidak hanya senang berkumpul di sekeliling altar-Mu di gedung gereja, tetapi juga di tengah-tengah masyarakat di mana kami tinggal. Buatlah kami mampu melihat diri-Mu di dalam diri siapa saja yang kami temui, baik umat Kristiani maupun saudara-saudari kami yang beriman-kepercayaan lain, teristimewa dalam masa Adven ini. Dimuliakanlah selalu nama-Mu Ya Yesus, Putera Allah yang hidup dan berkuasa bersama Bapa di surga dalam persekutuan Roh Kudus sepanjang segala masa. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 15:29-37), bacalah tulisan yang berjudul “MARILAH KITA MULAI SAJA: SATU, SATU, SATU!” (bacaan tanggal 5-12-12) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 12-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2012.

Bacalah juga tulisan yang berjudul “KEMURAHAN HATI YESUS ITU TANPA BATAS” (bacaan tanggal 1-12-10) dalam situs/blog SANG SABDA. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 2-12-09 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 30 November 2012 [Pesta S. Andreas, Rasul] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

EKARISTI MEMPERSATUKAN KITA SEMUA DALAM KRISTUS

EKARISTI MEMPERSATUKAN KITA SEMUA DALAM KRISTUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIV – Senin, 17 September 2012

Keluarga Fransiskan: Pesta Stigmata Bapa Kita Fransiskus

Dalam petunjuk-petunjuk berikut ini, aku tidak dapat memuji kamu, sebab pertemuan-pertemuanmu tidak mendatangkan kebaikan, tetapi mendatangkan keburukan. Sebab pertama-tama aku mendengar bahwa apabila kamu berkumpul sebagai jemaat, ada perpecahan di antara kamu, dan hal itu sedikit banyak aku percaya. Sebab di antara kamu harus ada perpecahan, supaya nyata nanti siapa di antara kamu yang tahan uji. Apabila kamu berkumpul, kamu bukanlah berkumpul untuk makan perjamuan Tuhan. Sebab pada perjamuan itu tiap-tiap orang memakan dahulu makanannya sendiri, sehingga yang seorang lapar dan yang lain mabuk. Apakah kamu tidak mempunyai rumah sendiri untuk makan dan minum? Atau apakah kamu hendak menghina jemaat Allah dan mempermalukan orang-orang yang tidak mempunyai apa-apa? Apakah yang kukatakan kepada kamu? Memuji kamu? Dalam hal ini aku tidak memuji.

Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!” Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata, “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan dengan darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!” Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang. Jadi, siapa saja dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan. (1Kor 11:17-26)

Mazmur Tanggapan: Mzm 40:7-10,17; Bacaan Injil: Luk 7:1-10 

Paulus telah tinggal bersama umat di Korintus untuk jangka waktu yang cukup lama. Oleh karena itu dia mampu untuk tidak sungkan-sungkan berbicara secara terbuka kepada mereka tentang kesulitan-kesulitan yang mereka sedang alami.

Melalui suratnya ini, Paulus menunjukkan bahwa keprihatinannya yang utama adalah adanya perpecahan dalam Gereja di sana, perpecahan yang termanifestasikan sendiri manakala mereka berkumpul bersama untuk makan dan merayakan Ekaristi.

Pada zaman Paulus, Ekaristi merupakan bagian dari suatu makan bersama secara komunal, yang barangkali saja mengambil tempat di rumah salah seorang anggota jemaat. Pada perjamuan inilah perpecahan antara para anggota jemaat paling nyata terlihat. Ada faksi-faksi (faksionalisme). Orang-orang makan dalam klik-klik yang terpisah-pisah; mereka yang tergolong “the haves” tidak berbagi dengan mereka lapar (teristimewa yang miskin); bahkan ada yang mabuk-mabukan sebelum perayaan Ekaristi! Paulus menantang umat di Korintus untuk melakukan pemeriksaan/pengujian bagaimana relasi mereka satu sama lain sebelum menerima tubuh dan darah Kristus, kalau mereka sungguh-sungguh tidak mau dihukum oleh Allah karena mereka mereka menerima tubuh dan darah Kristus itu secara tidak layak (1Kor 10:27-29).

Dalam Ekaristi kita semua syering dalam satu tubuh Yesus Kristus. Adalah hasrat terdalam Allah bahwa dari Sakramen ini mengalirlah kebersatuan, karena masing-masing pribadi dibersatukan dengan Kristus dalam satu tubuh. Ekaristi tidak hanya membuat kita menjadi satu dalam Kiristus, melainkan juga merupakan suatu sumber kuasa ilahi untuk mengatasi segala perpecahan dan ketidak-akuran antara para warga Gereja Kristus. Kita harus melakukan pemeriksaan atas nurani kita sebelum kita berjalan mendekati altar dan berdoa dengan ketulusan hati untuk persatuan dengan segenap saudari dan saudara dalam Kristus.

Pada waktu mereka merenungkan sifat Gereja dan hubungan eratnya dengan Ekaristi, maka para Bapak Konsili Vatikan II berusaha untuk mengajar  semua umat yang percaya tentang kebersatuan yang harus kita capai sesuai panggilan kita sebagai umat Kristiani: “Setiap kali di altar dirayakan korban salib, tempat ‘Anak Domba Paska kita, yakni Kristus, telah dikorbankan’ (1Kor 5:7), dilaksanakan karya penebusan kita. Dengan sakramen roti ekaristis itu sekaligus dilambangkan dan dilaksanakan kesatuan umat beriman, yang merupakan satu tubuh dalam Kristus (lihat 1Kor 10:17). Semua orang dipanggil ke arah persatuan dengan Kristus itu. Dialah terang dunia. Kita berasal dari pada-Nya, hidup karena-Nya, menuju kepada-Nya (Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium tentang Gereja, 3).

DOA: Bapa surgawi, selagi kami berkumpul bersama untuk merayakan penebusan diri kami dalam Kristus, semoga kami dibersatukan satu sama lain. Tolonglah kami untuk menguji hati kami, untuk bertobat karena perpecahan dan konflik – di atas permukaan maupun tersembunyi rapih di bawah permukaan – yang terjadi dalam jemaat kami, yaitu antara umat awam dengan umat awam, antara klerus dan dan awam, dan antara klerus dan klerus. Tolonglah kami semua untuk sungguh mengasihi semua orang yang turut mengambil bagian dalam makan tubuh dan minum darah Kristus. Oleh Roh Kudus-Mu, buatlah Gereja-Mu sungguh satu melalui korban Kristus, Putera-Mu yang terkasih. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 7:1-10), bacalah tulisan yang berjudul “IMAN SEJATI DI KAPERNAUM” (bacaan tanggal 17-9-12) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 12-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2012. Bacalah juga tulisan dengan judul “IMAN SEBESAR INI TAK PERNAH AKU JUMPAI” (bacaan tanggal 12-9-11) dalam situs/blog SANG SABDA; kategori: 11-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2011. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-9-10 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 5 September 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ROTI KEHIDUPAN YANG TELAH TURUN DARI SURGA

ROTI KEHIDUPAN YANG TELAH TURUN DARI SURGA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XX – Minggu, 19 Agustus 2012) 

“Akulah roti kehidupan yang telah turun dari surga. Jikalau seseorang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang akan Kuberikan itu ialah daging-Ku yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.”

Orang-orang Yahudi pun bertengkar antara sesama mereka dan berkata, “Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan?” Karena itu, kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku benar-benar makanan dan darah-Ku benar-benar minuman. Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga siapa saja yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku. Inilah roti yang telah turun dari surga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Siapa saja yang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.” (Yoh 6:51-58)

Bacaan Pertama: Ams 9:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-3,10-15; Bacaan Kedua Ef 5:15-20

“Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga siapa saja yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku” (Yoh 6:57). Di sini Yesus mengatakan bahwa Bapa surgawi adalah “Bapa yang hidup”, dan diri-Nya sendiri “hidup oleh Bapa”. Allah Bapa adalah sumber segala kehidupan. Itulah sebabnya mengapa Dia dinamakan “Bapa”. Sejak awal mula Allah telah memberikan kehidupan kepada Putera-Nya. Bagi Putera-Nya, untuk menjadi “Putera” berarti Dia memperoleh kehidupan dari Bapa. Kabar Baik di sini adalah bahwa kita dapat ikut ambil bagian dalam hidup kekal yang bersifat ilahi dari Bapa dan Putera secara berwujud. Bagaimana dapat begitu?

Yesus memproklamasikan diri-Nya sebagai “roti kehidupan yang telah turun dari surga” (Yoh 6:51). Perhatikan frase unik “roti kehidupan” ini. Kita berpikir mengenai roti yang memberikan kehidupan bagi kita, namun kita tidak biasa menyebut roti itu hidup. Yesus adalah roti kehidupan berdasarkan dua alasan. Pertama-tama, Yesus memiliki hidup ilahi dari Bapa surgawi. Kedua, Bapa surgawi telah membangkitkan Yesus dan membuat-Nya menjadi Tuhan Kehidupan yang bangkit. Bapa telah memberikan Yesus kehidupan kekal sebagai Allah dan sebagai manusia yang bangkit.

Yesus adalah roti kita yang sejati karena Dia turun dari surga dari Bapa; Dia menjadi manusia. Yesus adalah pemberian kehidupan dari Bapa bagi dunia. Dalam Ekaristi, Bapa melanjutkan memberikan Yesus sebagai roti yang memberikan kehidupan. Dalam Ekaristi, kita makan tubuh dan minum darah Yesus. Putera ilahi, sekarang Tuhan yang bangkit, menjadi makanan kita untuk kehidupan kekal.

Inilah sebabnya mengapa Yesus begitu penuh empati di tengah-tengah keraguan  orang-orang Yahudi. “Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman” (Yoh 6:54). Dengan makan tubuh-Nya dan minum darah-Nya, kita tinggal di dalam Yesus dan Ia dalam kita (lihat Yoh 6:56). Dengan berdiam dalam Yesus kita juga tinggal dalam Bapa, yang merupakan sumber kehidupan.

Ekaristi mempunyai efek yang sangat penuh kuat-kuasa. Ekaristi memberikan kepada kita kehidupan kekal di sini dan sekarang selagi kita ikut ambil bagian dalam keilahian Yesus. Kehidupan kekal bukan saja sesuatu yang kita terima pada saat kematian kita; karena kita telah memilikinya. Lagi pula, tubuh dan darah Yesus membuat diri kita imun terhadap kematian atau maut. Karena kita hidup dalam Yesus sekarang, maka kita akan hidup bersama-Nya untuk kehidupan kekal.

Ekaristi adalah suatu misteri agung karena dengan mengambil bagian di dalamnya kita ditransformasikan ke dalam keserupaan dengan Kristus. Kita menjadi ikut ambil bagian dalam kebangkitan-Nya. Kita menjadi berdiam dalam Putera dan hidup sebagai anak-anak Bapa surgawi, walaupun kita samasekali tidak pantas menerima anugerah yang sedemikian besar dan agung.

DOA: Bapa surgawi, kami percaya bahwa dengan memakan tubuh Kristus dan minum darah-Nya dalam Ekaristi, maka kami akan tinggal di dalam Dia dan Ia dalam kami. Dengan berdiam di dalam Dia, maka kami pun akan tinggal di dalam Engkau, sumber segala kehidupan. Terima kasih Bapa untuk anugerah Ekaristi bagi umat-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:51-58), bacalah tulisan yang berjudul “AKULAH ROTI KEHIDUPAN YANG TELAH TURUN DARI SURGA” (bacaan tanggal 26-6-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM ini; kategori 11-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2011. Untuk pendalaman pribadi atas tema “Roti Kehidupan” ini, saya menganjurkan anda membaca tulisan berjudul “YESUS KRISTUS ADALAH ROTI KEHIDUPAN” tanggal 14 Januari 2010; “CORPUS CHRISTI” tanggal 6 Juni 2010; dan “AKULAH ROTI KEHIDUPAN” tanggal 10 Mei 2011; dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com. Carilah dalam kategori: EKARISTI, IMAM DAN IMAMAT. 

Cilandak, 13 Juni 2012 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ROTI DARI ALLAH IALAH ROTI YANG TURUN DARI SURGA

ROTI DARI ALLAH IALAH ROTI YANG TURUN DARI SURGA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XVIII – 5 Agustus 2012) 

Ketika orang banyak melihat bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus.

Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya, “Rabi, kapan Engkau tiba di sini?” Yesus menjawab mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang telah dimeteraikan Allah Bapa.” Lalu kata mereka kepada-Nya, “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang dikehendaki Allah?” Jawab Yesus kepada mereka, “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.”

Sebab itu, kata mereka kepada-Nya, “Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya kami dapat melihatnya dan percaya kepada-Mu? Apakah yang Engkau kerjakan? Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari surga.”

Lalu kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, bukan Musa yang memberikan kamu roti dari surga, melainkan Bapa-Ku yang  memberikan kamu roti yang  benar dari surga. Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari surga dan yang memberi hidup kepada dunia.” Maka kata mereka kepada-Nya, “Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa.” Kata Yesus kepada mereka, “Akulah roti kehidupan; siapa saja yang datang kepada-Ku, ia tidak akan pernah lapar lagi, dan siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia tidak akan pernah haus lagi. (Yoh 6:24-35)

Bacaan Pertama: Kel 16:2-4,12-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 78:3-4,23-25,54; Bacaan Kedua: Ef 4:17,20-24

Kiranya paling sedikit ada sisi positif dari orang banyak yang mengikuti Yesus seperti diceritakan dalam  bacaan di atas: Orang banyak itu memiliki ketekunan! Banyak dari mereka telah menyaksikan penyembuhan orang buta, orang lumpuh, orang yang menderita berbagai macam sakit-penyakit lainnya, dan mereka sendiri telah diberi makan sampai kenyang secara ajaib sehari sebelumnya. Dan sekarang, ketika Yesus “menghilang” dari pandangan mata mereka, mereka terus saja mencari Dia sampai ketemu di daratan/pantai bagian lain dari danau itu, di Kapernaum.

Ketika orang banyak itu menemukan Yesus, mungkin saja mereka bertanya-tanya dalam hati bagaimana Yesus bisa sampai ke Kapernaum. Naik apa ya, karena semua perahu sudah dihitung!? Mereka bertanya, “Rabi, kapan Engkau tiba di sini?” (Yoh 6:25). Yesus tidak menjawab pertanyaan tersebut secara langsung, karena memang pertanyaan itu tidak penting. Sebaliknya, Dia ingin memperdalam pemahaman mereka tentang siapa diri-Nya sesungguhnya. Sampai saat itu, orang banyak tertarik kepada Yesus karena berbagai mukjizat dan tanda heran lain yang dibuat oleh-Nya.

Sekarang, tibalah waktunya bagi orang banyak itu untuk mulai memandang Yesus melampaui tanda-tanda, yaitu kepada kebenaran-kebenaran yang dimaksudkan oleh tanda-tanda tersebut. Yesus ingin memimpin mereka kepada iman akan diri-Nya sebagai Putra Allah dan Roti Kehidupan. Mukjizat pergandaan roti dan ikan hanyalah suatu “pendahuluan” untuk sampai kepada mukjizat yang lebih mendalam, yaitu pemberian tubuh dan darah-Nya sendiri yang dapat memberikan kehidupan kekal kepada semua orang yang percaya. Yesus bersabda: “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah” (Yoh 6:29). Ini adalah kata-kata keras bagi telinga banyak orang. Tanggapan orang-orang itu terhadap pernyataan Yesus tadi: “Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya kami dapat melihatnya dan percaya kepada-Mu? Apakah yang Engkau kerjakan? (Yoh 6:30).

Orang-orang itu masih tetap menginginkan tanda-tanda dari dunia sehingga mereka tidak perlu menghadapi tantangan iman. Memang tidak susah untuk bersimpati kepada orang banyak itu! Iman-kepercayaan tidak selalu merupakan suatu perjalanan yang mudah. Apabila hidup itu berjalan baik dan kita memperoleh banyak tanda dari kasih Allah kepada kita yang kelihatan di dunia ini, memang tidak sulitlah untuk beriman-kepercayaan. Namun justru dalam badai kehidupanlah iman kita itu dapat bertumbuh. Dalam hal inilah ketekunan mendapat upahnya. Apakah dalam masa-masa baik atau masa-masa yang buruk, “dalam untung dan malang”, kita harus terus berjuang dalam iman! Marilah kita selalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan menggunakan karunia akal-budi yang diberikan Allah untuk melihat kebenaran dari setiap situasi di mana kita berada, sehingga iman kita dapat bertumbuh dan menjadi matang melalui rahmat Allah.

Sesungguhnya Allah sendiri sejak awal telah memiliki kerinduan untuk memberi makan umat-Nya dengan kehadiran-Nya dan memberikan kepada mereka suatu bagian dalam kehidupan ilahi-Nya. Berbicara secara profetis dalam nama Tuhan, sang pemazmur menulis: “Akulah TUHAN (YHWH), Allahmu, yang menuntun engkau keluar dari tanah Mesir: bukalah mulutmu lebar-lebar, maka Aku akan membuatnya penuh. …… umat-Ku akan Kuberi makan gandum yang terbaik dan dengan madu dari gunung batu Aku akan mengenyangkannya” (Mzm 81:11,17). Misalnya, dalam Keluaran (Kel 16:4-5), Allah menurunkan hujan makanan (manna) dari surga ke atas anak-anak-Nya di padang gurun.

Orang-orang itu mengemukakan fakta bahwa pada zaman Musa, Allah mencurahkan manna dari surga kepada nenek moyang mereka sebagai bukti bahwa Dia ada bersama umat-Nya (Yoh 6:31). Itulah sebabnya mengapa mereka juga menginginkan sebuah “tanda” yang dapat memupus ketidakpercayaan mereka. Dalam menanggapi tuntutan tersebut, Yesus mengatakan bahwa Bapa-Nyalah – bukan Musa – yang memberikan roti manna dari surga kepada orang-orang Israel pada waktu berkelana di padang gurun menuju tanah terjanji, untuk menopang kehidupan mereka dan menolong ketiadaan kepercayaan mereka kepada-Nya (Yoh 6:32-33). Kemudian Yesus menjelaskan bahwa Dia sendirilah tanda yang dimaksud: “Akulah roti kehidupan; siapa saja yang datang kepada-Ku, ia tidak akan pernah lapar lagi, dan siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia tidak akan pernah haus lagi” (Yoh 6:35). Di sini Yesus minta kepada orang-orang itu untuk mempraktekkan iman mereka. Sekarang Ia telah datang sebagai roti dari surga yang sesungguhnya, diutus oleh Bapa-Nya untuk memenuhi umat dengan kehidupan ilahi. Yesus mencoba untuk menjelaskan bahwa agar menimba manfaat dari roti kehidupan ini, pada instansi pertama mereka membutuhkan iman. Tanpa iman, mereka tidak akan mampu untuk menerima semua yang ingin diberikan-Nya kepada mereka.

Percayakah kita bahwa Yesus adalah roti dari surga yang sejati? Percayakah kita bahwa Dia adalah Allah yang menjadi manusia, wafat, bangkit dan kemudian mengirimkan Roh Kudus untuk memberi makan kepada kita? Percayakah kita bahwa Yesus dapat membawa kita kepada kehidupan yang dimaksudkan Allah bagi kita sejak dahulu kala? Apabila kita mendekati altar Tuhan dengan iman seperti ini, maka kehidupan kita pun ditransformasikan. Marilah kita secara sadar mengambil keputusan untuk percaya kepada sang Putera Allah. Jika kita melakukannya, maka damai sejahtera dan penjaminan kembali akan memenuhi diri kita. Setiap orang yang percaya – walau pun sedikit saja – akan menerima bukti secara berlimpah.

DOA: Tuhan Yesus, aku percaya bahwa Engkau Roti Kehidupan yang turun dari surga. Engkau datang untuk menyelamatkanku dari dosa dan maut. Walaupun imanku lemah, Engkau datang kepadaku dan memberi makan imanku yang kecil ini sampai menjadi sebuah dasar kepercayaan yang pasti akan segala janji-janji-Mu. Amin.

Cilandak, 22 Juli 2012 [HARI MINGGU BIASA XVI]

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MEMBERI MAKAN LIMA RIBU ORANG

YESUS MEMBERI MAKAN LIMA RIBU ORANG

 (Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XVII – 29 Juli 2012) 

Sesudah itu Yesus berangkat ke seberang Danau Galilea, yaitu Danau Tiberias. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka melihat mukjizat-mukjizat yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit. Lalu Yesus naik ke atas gunung dan duduk di situ dengan murid-murid-Nya. Dan Paskah, hari raya orang Yahudi, sudah dekat. Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat bahwa orang banhyak ber bondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus, “Di mana kita dapat membeli roti, supaya mereka dapat makan?” Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu apa yang hendak dilakukan-Nya. Jawab Filipus kepada-Nya, “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.” Salah seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya, Di sini ada seorang anak yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apa artinya itu untuk orang sebanyak ini?” Kata Yesus, “Suruhlah orang-orang itu duduk.” Adapun di tempat itu banyak rumput. Lalu duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya. Sesudah itu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dilakukan-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. Setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang.” Mereka pun mengumpulkannya, dan mengisi dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan. Ketika orang-orang itu melihat tanda mukjizat yang telah diperbuat-Nya, mereka berkata, “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia.”

Karena Yesus tahu bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir lagi ke gunung, seorang diri. (Yoh 6:1-15)

Bacaan Pertama: 2Raj 4:42-44; Mazmur Tanggapan: Mzm  145:10-11,15-18; Bacaan Kedua: Ef 4:1-6 

Ada yang mengatakan, bahwa makan sambil berdiri atau berjalan kian kemari dapat menyebabkan gangguan dalam pencernaan. Oleh karena itu tidak mengherankanlah apabila Yesus memerintahkan para murid-Nya untuk menyuruh orang banyak duduk. Memang demikianlah halnya: tubuh kita harus dalam keadaan duduk dan rileks agar makanan yang masuk dapat dicerna dengan baik. Hal yang sama berlaku untuk pencernaan secara rohaniah (spiritual). Kita harus rileks dan tidak sibuk kesana kemari agar supaya Yesus dapat memberi makanan kepada roh kita. Kita dapat menderita sakit pencernaan spiritual apabila kita hanya berdoa sementara disibukkan dengan pekerjaan kita. Boleh saja kita mengatakan “karyaku adalah doaku”, tetapi doa dalam keheningan di tengah quality time kita harus tetap dilakukan. Mengapa? Karena pengalaman banyak orang mengatakan bahwa betapa sulit jadinya untuk mendengar suara Allah dan beristirahat dalam kasih-Nya apabila setiap saat dari hari-hari kehidupan kita hanya dipenuhi dengan kesibukan.

Orang banyak yang diberi makanan oleh Yesus mengikuti Dia ke atas gunung karena mereka lapar akan jawaban-jawaban Yesus – akan pengharapan, tujuan, dan perjumpaan pribadi dengan kasih Allah. Mereka mempunyai banyak kebutuhan: Ada yang sakit, ada juga yang sedang tertindas. Bagi orang-orang lain, untuk survive dari hari ke hari saja sudah sulit. Akan tetapi, Yesus melihat dan merasakan kebutuhan-kebutuhan mereka semua dan menjawabnya satu persatu pada setiap tingkat. Ia minta agar para murid-Nya menyuruh orang banyak untuk duduk dan beristirahat, sehingga dengan demikian Ia dapat memberi mereka makan. Ia memberi orang banyak itu makan untuk memperkuat mereka dalam perjalanan pulang mereka ke rumah masing-masing. Ia mewartakan kabar baik dari Kerajaan Allah kepada orang banyak itu. Ia bahkan menyembuhkan mereka di bidang fisik, spiritual dan emosional.

Lebih dari dua ribu tahun kemudian, di abad ke-21 ini, kehidupan kita masih banyak menuntut. Penderitaan masih hadir di sekeliling kita dalam berbagai bentuknya. Setiap orang menghadapi berbagai kebutuhan dan tekanan yang harus diatasi. Memang tidak sulit untuk merasakan  bagaimana pikiran kita bergerak dengan cepat, bahkan ketika kita mencoba untuk diam dan berdoa secara hening. Yesus tetap meminta kita untuk duduk, membuat tenang pikiran kita dan menerima dari Dia.

Satu cara yang dapat menolong kita dalam berdoa adalah dengan menggunakan imajinasi. Kita dapat membayangkan berada bersama Yesus, para rasul dan orang banyak di atas gunung itu. Kita dapat membayangkan sedang memperhatikan Yesus yang memandang ke surga selagi Dia memohon kepada Bapa-Nya di surga untuk memberkati lima roti jelai dan dua ekor ikan yang tersedia. Kemudian kita membayangkan didatangi oleh salah seorang rasul yang menawarkan roti dan ikan sesuai dengan keinginan kita. Sekarang, marilah kita mohon agar Yesus memenuhi diri kita dengan damai sejahtera dan sukacita sementara Dia berjanji untuk menolong kita agar setiap kebutuhan kita dipenuhi.

DOA: Tuhan Yesus, aku memberikan kepada-Mu segala keprihatinan yang ada dalam pikiranku sekarang. Tolonglah aku agar dapat membuat tenang hatiku sehingga aku pun dapat duduk di dekat kaki-Mu dan ikut ambil bagian dalam perjamuan-Mu sepanjang hidupku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:1-15), bacalah tulisan yang berjudul “LIMA ROTI JELAI DAN DUA EKOR IKAN” (bacaan tanggal 29-7-12) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 12-07 BACAAN HARIAN JULI 2012. 

(Tulisan adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 6-5-11) 

Cilandak, 20 Juli 2012 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA PERLU MEMPELAJARI HIKMAT-KEBIJAKSANAAN ALLAH

KITA PERLU MEMPELAJARI HIKMAT-KEBIJAKSANAAN ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XVI – 22 Juli 2012) 

Kemudian rasul-rasul itu kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan. Lalu Ia berkata kepada mereka, “Mari kita menyendiri ke tempat yang terpencil, dan beristirahat sejenak!” Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makan pun mereka tidak sempat. Lalu berangkatlah mereka dengan perahu menyendiri ke tempat yang terpencil. Tetapi pada waktu mereka bertolak banyak orang melihat mereka dan mengetahui tujuan mereka. Dengan mengambil jalan darat bergegas-gegaslah orang dari semua kota ke tempat itu sehingga mendahului mereka. Ketika mendarat, Yesus melihat orang banyak berkerumun, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka (Mrk 6:30-34).

Bacaan Pertama: Yer23:1-6; Mazmur Antar Bacaan: Mzm 23:1-6; Bacaan Kedua: Ef 2:13-18 

Berbagai jenis burung dalam kelompok-kelompok besar bermigrasi ke tempat-tempat tertentu secara rutin musiman, tetapi semua didasarkan naluri saja. Di lain pihak, manusia yang mempunyai hati-nurani berani bertanya, “Mengapa aku hidup dan mengapa aku mati?” Kita – manusia – mempunyai rasa lapar dan haus akan kebenaran yang akan membebaskan diri kita, dan dalam menemukan Yesus, kita  menemukan kebebasan itu. Kebenaran-Nya memuaskan rasa dahaga kita dan membuat kenyang rasa lapar kita, dan kita pun dibebaskan sehingga dapat seperti sebatang anak panah  yang terbang lurus-langsung ke surga.

Yesus datang ke tengah-tengah umat manusia untuk membebaskan kita dari sikap masa bodoh dan dosa-dosa kita. Sepanjang pelayanan-Nya di depan publik, Yesus senantiasa dikelilingi oleh orang banyak, dan dengan bela-rasa dan empati yang besar, Ia mengambil waktu untuk “mengajarkan banyak hal kepada mereka” (Mrk 6:34). Hanya setelah Ia mengenyangkan hati  dan pikiran orang banyak itu dengan pesan Injil, maka Yesus memperhatikan pula kebutuhan-kebutuhan fisik mereka dan memberikan roti dan ikan untuk mengenyangkan mereka, lewat sebuah mukjizat pergandaan roti dan ikan (lihat Mrk 6:30-44). Acara makan roti dan ikan ini  terjadi pada sebuah sesi pengajaran, seakan kedua hal itu tak terpisahkan. Roti dalam peristiwa ini adalah suatu “foretaste” – katakanlah “icip-icip pendahuluan” – dari perjamuan Ekaristi.

Bahkan sekarang pun, dalam perayaan Misa Kudus, “Liturgi Sabda” senantiasa mendahului “Liturgi Ekaristi”. Kita tidak mendekati meja Tuhan sebelum hati dan pikiran kita dipenuhi dengan kebenaran-Nya. Konsili Vatikan II menyatakan: “Misa suci dapat dikatakan terdiri dari dua  bagian, yakni Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi. Keduanya begitu erat berhubungan, sehingga merupakan satu tindakan ibadat” (Konstitusi Sacrosanctum Concilium tentang Liturgi Suci, 56). Dengan demikian, sesungguhnya adalah vital bagi kita untuk menaruh perhatian yang serius pada Sabda Allah dan merefleksikan apa yang dibacakan dari Kitab Suci dalam Misa. Mengalami kasih Allah bersifat vital, namun itu hanya sebagian saja dari “persamaan matematika” yang ada. Kita manusia dikaruniai Allah dengan intelek, emosi dan kehendak. Kalau pikiran kita tidak diberi asupan positif, maka kita tidak akan mengetahui bagaimana cara yang baik untuk melawan kecenderungan kita untuk berdosa. Kita tidak akan mengetahui caranya bagaimana untuk melakukan discernment atas cara-cara Allah bekerja dalam hati kita dan di dalam dunia. Tidak cukuplah bagi kita mengalami sentuhan Allah. Kita juga perlu belajar jalan-jalan-Nya (cara-cara-Nya) dan bagaimana untuk mencocokkan kehidupan kita dengan ajaran-ajaran-Nya.

Apakah anda ingin mengenal dan mengalami damai-sejahtera Kristus? Apakah anda ingin dibebas-merdekakan dari dosa yang membelenggu diri anda selama ini? Upayakanlah diri anda untuk semakin akrab dengan sabda Allah dalam Kitab Suci. Pelajarilah hikmat-kebijaksanaan Allah. Mohonlah kepada  Roh Kudus untuk membuka pikiran anda setiap saat anda menghadiri Misa Kudus. Tempatkanlah Alkitab anda di tempat yang mudah terlihat dan terjangkau (maksudnya jangan ditaruh di rak paling tinggi/atas). Kreatif-lah dalam mencari waktu yang cocok untuk membaca dan merenungkan Kitab Suci dalam keheningan. Dari banyak metode pendalaman Kitab Suci, gunakanlah cara yang paling cocok dengan anda sendiri, misalnya dengan melakukan Lectio Divina. Satu hal yang harus kita sadari: Setiap hari, Yesus sang Guru, berdiri menanti-nanti di depan pintu hati anda!

DOA: Bapa surgawi, aku mohon agar Engkau berkenan untuk mengaruniakan kepadaku lebih dan lebih lagi dari hikmat-Mu. Pada waktu aku mempelajari dan merenungkan sabda-Mu yang ada dalam Kitab Suci, jagalah aku dari segala gangguan dan godaan. Semoga Roh Kudus-Mu senantiasa membimbingku. Aku berdoa demikian, dalam nama Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persekutuan Roh Kudus, Allah sepanjang masa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil  hari ini (Mrk 6:30-34), bacalah tulisan dengan judul “MENGUNDURKAN DIRI KE TEMPAT YANG TERPENCIL” (bacaan untuk tanggal 22-7-12), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 12-07 BACAAN HARIAN JULI 2012. Bacalah juga tulisan yang berjudul “HATI-NYA TERGERAK OLEH BELAS KASIHAN” (bacaan tanggal 6-2-10) dalam situs/blog SANG SABDA; kategori: 10-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2010. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 4-2-12) 

Cilandak,  13 Juli 2012 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

HARI SABAT UMAT KRISTIANI

HARI SABAT UMAT KRISTIANI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV – Jumat, 20 Juli 2012 

Pada waktu itu, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum. Karena lapar, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya. Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepada-Nya, “Lihatlah, murid-murid-Mu melakukan sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat.” Tetapi jawab-Nya kepada mereka, “Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan orang-orang yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan bagaimana mereka makan roti sajian yang tidak boleh dimakan, baik olehnya maupun oleh mereka yang mengikutinya, kecuali oleh imam-imam? Atau tidakkah kamu baca dalam kitab Taurat bahwa pada hari-hari Sabat, imam-imam melanggar hukum Sabat di dalam Bait Allah, namun tidak bersalah? Aku berkata kepadamu: Di sini ada yang melebihi Bait Allah. Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentang kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah. Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” (Mat 12:1-8)

Bacaan Pertama: Yes 38:1-6,21-22,7-8; Mazmur Tanggapan: Yes 38:10-12,16 

Yesus dikritik oleh orang-orang Farisi karena kelihatannya Dia membiarkan para murid-Nya melanggar peraturan hari Sabat (Mat 12:1-2). Menanggapi kritikan kaum Farisi tersebut, Yesus mengemukakan bahwa kebutuhan-kebutuhan manusiawi mengambil preseden di atas peraturan-peraturan Sabat (Mat 12:3-4,7). Dalam bacaan tentang peristiwa ini, Injil Markus menceritakan kepada kita bahwa Yesus melangkah lebih jauh lagi dengan menyatakan: “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat. Karena itu Anak Manusia adalah Tuhan, bahkan atas hari Sabat” (Mrk 2:27-28).

Allah kita mahakasih dan maharahim, Ia bukanlah seorang mandor tanpa perasaan yang membebani kita dengan begitu banyak hukum dan peraturan. Ia memberikan kepada kita “Hari Tuhan” sehingga kita dapat datang menghadap hadirat-Nya dan beristirahat dalam ketenangan (lihat Mat 11:28-30). Bagi kita hari Tuhan itu adalah hari Minggu, hari untuk kita bersimpuh di hadapan hadirat-Nya, agar dapat menerima sentuhan-Nya yang menyembuhkan luka dan sakit-penyakit kita, untuk menerima ajaran-Nya lewat sabda-Nya dalam Kitab Suci, dan secara lebih mendalam lagi menyadari bahwa Kristus – pengharapan kita akan kemuliaan – sungguh berdiam dalam diri kita. Itulah sebabnya mengapa Allah telah memberikan kepada kita Ekaristi Kudus, sehingga Dia dapat menyegarkan diri kita kembali dengan sabda-Nya dan tubuh dan darah Kristus, kemudian mengutus kita agar menghayati suatu kehidupan yang saleh, penuh takwa kepada Allah dalam Yesus Kristus dan dengan setia mewartakan Kabar Baik-Nya kepada dunia di sekeliling kita.

Pada awal perayaan Ekaristi, kita semua – sebagai pribadi-pribadi – mengaku kepada “Allah yang mahakuasa” dan kepada “saudari dan saudara” kita, betapa kita membutuhkan belas-kasihan Allah. Pengakuan sedemikian memperlunak hati kita sehingga sabda Allah – baik yang kita dengar lewat pembacaan Kitab Suci maupun homili – akan masuk ke dalam diri kita. Setelah kita mengucapkan “Pengakuan Iman” (Credo), kita berdoa untuk kebutuhan-kebutuhan dunia dan mengangkat hati kita dalam pujian dan syukur dalam ‘Doa Syukur Agung’. Melalui kata-kata institusi dan tindakan Roh Kudus, roti dan anggur diubah menjadi tubuh dan darah Yesus Kristus, dan kita menerima-Nya dalam Komuni Kudus. Kita memakan daging Yesus (lihat Yoh 6:53-56) dan dalam kesempatan-kesempatan tertentu minum darah-Nya. Ketika kita makan daging Yesus, pada saat yang sama Yesus juga meng-‘konsumsi’ kita, merangkul serta menyelubungi diri kita dengan rahmat-Nya dan memberdayakan kita agar mampu mengikuti-Nya dengan setia.

Ini adalah puncak dari ketenangan hari Sabat kita: bergabung dengan saudari dan saudara kita dalam sembah-bakti kita kepada Tuhan dan menerima-Nya dalam sabda dan sakramen. Ini adalah “istirahat” atau ketenangan yang memberikan kehidupan kepada kita, ketenangan yang memenuhi diri kita dengan Roh Kudus. Kita samasekali tidak diciptakan agar kita dapat mendengar Misa Kudus. Allah menciptakan Misa Kudus agar supaya Dia dapat datang kepada kita, bukankah begitu halnya? 

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar dapat menghargai perayaan Ekaristi, melalui Ekaristi ini Engkau menghadirkan karya penebusan-Mu secara penuh. Tunjukkanlah kepadaku bagaimana caranya menghormati hari Sabat umat-Mu sebagai suatu hari pada saat mana Engkau secara istimewa ingin memberikan kepada semua pengikut-Mu ketenangan yang sejati. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 12:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “DI SINI ADA YANG MELEBIHI BAIT ALLAH” (bacaan tanggal 20-7-12) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 12-07 BACAAN HARIAN JULI 2012.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 15-7-11) 

Cilandak, 10 Juli 2012 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 84 other followers