Posts tagged ‘EKARISTI’

PERSEMBAHAN “KECIL” SEORANG JANDA MISKIN

PERSEMBAHAN “KECIL” SEORANG JANDA MISKIN

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXXII [TAHUN B] – 8 November 2015) 

PERSEMBAHAN JANDA MISKIN - AADalam pengajaran-Nya Yesus berkata, “Hati-hatilah terhadap ahli-ahli Taurat yang suka berjalan-jalan memakai jubah panjang dan suka menerima penghormatan di pasar, yang suka duduk di tempat yang terbaik di rumah ibadat dan di tempat terhormat dalam perjamuan, yang menelan rumah janda-janda dan mereka mengelabui mata orang dengan mengucapkan doa yang panjang-panjang. Mereka ini pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.”

Pada suatu kali Yesus duduk menghadapi peti persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar. Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua uang tembaga, yaitu uang receh terkecil. Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya semua yang dimilikinya, yaitu seluruh nafkahnya.” (Mrk 12:38-44) 

Bacaan Pertama: 1Raj 17:10-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 146:7-10; Bacaan Kedua: Ibr 9:24-28 

Yesus memuji janda miskin yang memasukkan dua keping uang tembaga ke dalam peti persembahan di Bait Suci, karena janda itu memberikan segala apa yang dimilikinya. Kebanyakan dari kita tentunya telah pernah menerima hadiah atau sepotong kalimat yang berisikan kata-kata pujian, kecil dan tidak signifikan dalam dirinya sendiri, namun mempunyai suatu arti yang istimewa di mata kita atau terdengar istimewa di telinga kita. Nilai istimewa tersebut bukanlah disebabkan oleh apa yang diberikan, melainkan karena ketulusan hati si pemberi hadiah atau orang yang mengucapkan kata-kata pujian dimaksud.

Pada hari ini baiklah kita merenungkan apakah selama ini diri kita seperti sang janda miskin dalam relasinya dengan Allah. Saya tidak maksudkan masalah substansi kolekte yang kita berikan, walaupun hal itu penting. Uang memang diperlukan untuk mendukung Gereja dan begitu banyak kegiatannya, namun ada sesuatu yang lebih vital. Allah tidak hanya menginginkan kemurahan-hati dalam memberikan uang sumbangan. Allah juga menginginkan kemurahan-hati kita dalam pemberian-diri kita sendiri.

Sebagai umat Kristiani yang Katolik kita tentunya sering mendengar ide bahwa kita harus mempersembahkan diri kita sendiri kepada Allah dalam Misa Kudus, bahwa kita harus memberikan hasil dari segala sesuatu yang telah kita lakukan, termasuk semua sukacita dan kesusahan kita, seraya berjanji untuk mencoba menghayati suatu kehidupan di masa depan yang pantas untuk dipersembahkan kepada Allah. Pemberian diri kita sendiri adalah suatu tindakan kasih dan puji-pujian bagi Allah. Sekarang, sampai berapa bernilainya persembahan kita itu? Kita dapat berpikir bahwa nilai intrinsiknya tidak lebih tinggi dari sekuntum bunga mawar yang dihadiahkan seorang anak kepada ibundanya pada hari ulang tahunnya, atau kata-kata pujian seorang anak kepada ayahnya. Kita tahu bahwa ketulusan hati sangatlah penting, namun apakah hal itu cukup untuk mentransformasikan persembahan kita menjadi sesuatu yang sungguh signifikan bagi Allah?

KOMUNI KUDUS - 111Doktrin Katolik mengajarkan kepada kita, bahwa dalam Misa Kudus, Yesus memperbaharui persembahan diri-Nya di atas kayu salib, pemberian diri-Nya kepada Bapa surgawi. Kematian Yesus adalah tindakan kasih yang tiada taranya, sepanjang sejarah umat manusia. Hal itu merupakan suatu tindakan yang benar-benar pantas dan layak di mata Allah Bapa. Tidak ada sesuatupun yang pernah lebih menyenangkan dan memuaskan Allah daripada kematian Yesus di kayu salib. Akan tetapi, di mana kita masuk? Melalui Misa Kudus, Yesus membuat persembahan diri-Nya kepada Bapa menjadi kurban yang hidup, sehingga persembahan-Nya menjadi persembahan Gereja, persembahan kita. Perhatikanlah apa yang terjadi pada Misa Kudus: selama berlangsungnya Persiapan Persembahan di altar, satu tetes air dimasukkan ke dalam piala berisikan anggur. Tetesan air itu bercampur dengan anggur dan menjadi bagiannya. Tetesan air yang hampir tidak berarti samasekali itu sekarang ikut ambil bagian dalam sifat anggur, selagi setetes air itu mengambil warna dan ciri rasa anggur. Dengan cara yang kurang lebih sama, Yesus mengambil hidup kita dan mentrasformasikannya dalam Misa Kudus agar dengan demikian menjadi sebagian dari kurban-Nya. Yesus memperbaharui persembahan diri-Nya dalam Misa Kudus, bukan untuk diri-Nya sendiri, melainkan bagi kita – agar dengan demikian Ia dapat mengejar sukacita dan kesusahan manusiawi yang biasa, pekerjaan kita dan waktu santai kita, dan memberikan semua itu suatu makna baru yang luar biasa.

Keseluruhan “Doa Syukur Agung” adalah sebuah tindakan penyembahan kepada Allah, namun secara khusus pada saat konsekrasi-lah Yesus membuat diri-Nya hadir sebagai kurban persembahan. Pada momen-momen ini, kita tidak boleh menjadi sekadar penonton yang pasif. Kita harus menyadari fakta bahwa sesuatu sedang terjadi – bahwa Yesus sedang memperbaharui persembahan diri-Nya bagi Allah dan Ia juga sedang mengundang kita untuk mempersembahkan diri kita bersama diri-Nya.

Dalam “Doa Syukur Agung IV” kita mendengar imam selebran berkata: “Perkenankanlah agar semua orang, yang mengambil bagian dari roti dan piala yang satu dan sama ini, dihimpun oleh Roh Kudus menjadi satu tubuh, dan disempurnakan dalam Kristus menjadi kurban yang hidup, sebagai pujian bagi-Mu.” Ungkapan persembahan tersebut mencapai puncaknya dalam “doksologi”: “Dengan perantaraan Kristus dan bersama Dia serta bersatu dalam Roh Kudus, kami menyampaikan kepada-Mu, Allah Bapa yang mahakuasa, segala hormat dan pujian, kini dan sepanjang masa.” “Amin” kita yang kita ucapkan/nyanyikan dengan mantap adalah cara kita memproklamasikan dalam satu patah kata, bahwa kita ikut ambil bagian dengan Kristus yang mempersembahkan diri-Nya dalam puji-pujian dan kasih bagi Allah Bapa.

Pokok yang saya ingin kemukakan di sini adalah, bahwa kita dapat melakukan sesuatu yang berarti dalam Misa Kudus. Dua keping uang tembaga yang dimasukkan sang janda miskin ke dalam peti kolekte di Bait Suci menyenangkan Allah karena ketulusan dan kemurahan hati sang janda miskin, namun segala ketulusan dan kemurahan hati dalam dunia tidak dapat membuat dua keping uang tembaga secara aktual lebih bernilai daripada nilai nominalnya. Persembahan kita dalam Misa Kudus membutuhkan ketulusan dan kemurahan hati diri kita agar dapat membuat persembahan itu menyenangkan Allah, namun Yesus sendirilah yang memberikan suatu nilai yang riil atas persembahan kita karena persembahan kita itu tidak pernah akan mempunyai nilai dari dirinya sendiri.

DOA: Bapa surgawi, perkenankanlah agar kami yang mengambil bagian dalam Ekaristi dihimpun oleh Roh Kudus menjadi satu tubuh, dan disempurnakan dalam Kristus menjadi kurban yang hidup, sebagai pujian bagi-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 12:38-44), bacalah tulisan yang berjudul “MARILAH KITA BELAJAR DARI JANDA-JANDA MISKIN YANG SANGAT KAYA DALAM IMAN” (bacaan tanggal 8-11-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-11-12 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 5 November 2015

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

RAHMAT YANG TERSEDIA BAGI KITA DALAM EKARISTI

RAHMAT YANG TERSEDIA BAGI KITA DALAM EKARISTI

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVIII – Senin, 3 Agustus 2015)

YESUS MEMBERI MAKAN 5000 ORANG LAKI-LAKI - 600Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak menyendiri dengan perahu ke tempat yang terpencil. Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka. Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit.

Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata, “Tempat ini terpencil dan hari mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa.” Tetapi Yesus berkata kepada mereka, “Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan.” Jawab mereka, “Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan.” Yesus berkata, “Bawalah kemari kepada-Ku.” Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di rumput. Setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap syukur. Ia memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya memberikannya kepada orang banyak. Mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang lebih, sebanyak dua belas bakul penuh. Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak. (Mat 14:13-21) 

Bacaan Pertama:  Bil 11:4b-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 81:12-17 

Yesus ingin sekali memuaskan rasa lapar (fisik) orang banyak yang berjumlah lebih dari 5.000 orang yang diberi-Nya makan pada hari itu di Galilea, namun terlebih-lebih Ia juga ingin memberi makanan spiritual kepada orang banyak itu. Sejak abad-abad pertama sejarahnya, Gereja telah melihat dan mengartikan penggandaan roti dan ikan itu sebagai peristiwa yang menunjuk kepada sesuatu yang lebih besar: Ekaristi, di mana Yesus memberi makan jutaan manusia setiap hari dengan tubuh dan darah-Nya.

2007_mass_hspiritBayangkanlah rahmat yang tersedia bagi kita pada Misa Kudus, kalau saja kita mau mendengarkan suara-Nya. Apa lagi yang dapat lebih mengubah hidup kita daripada berkumpul bersama sedemikian banyak umat Allah dalam suatu doa pujian dan penyembahan? Apakah yang lebih penuh kuat-kuasa daripada menerima Yesus Kristus sendiri, dan memperkenankan tubuh dan darah-Nya bercampur dengan tubuh dan darah kita sendiri, dan memperkenankan Roh Kudus mengangkat roh kita sampai ke hadapan takhta surgawi? Konsili Vatikan II menyatakan: “Jadi dari Liturgi, terutama dalam Ekaristi, bagaikan dari sumber, mengalirlah rahmat kepada kita, dan dengan hasil guna yang amat besar diperoleh pengudusan manusia dan pemuliaan Allah dalam Kristus, tujuan semua karya Gereja lainnya”  (Konstitusi Sacrosanctum Concilium tentang Liturgi Suci, 10).

Namun demikian, kita semua mengetahui bahwa betapa mudahnya kita pergi ke gereja untuk menghadiri Misa Kudus tanpa mengharapkan diri kita diubah. Kita semua juga mengetahui bagaimana dengan cepatnya doa-doa dan bacaan-bacaan Kitab Suci dalam Misa dapat menduduki tempat terbawah ketimbang pelanturan-pelanturan yang mengganggu kita, misalnya makan bersama keluarga di “Bakmi Gajah Mada” setelah Misa, kekhawatiran tentang masa lalu, mimpi akan masa depan, dst. Bagaimana kita melawan dan membalikkan tendensi ini? Dengan persiapan yang baik sebelum Misa.

431788_10151533453919000_1047050005_nApa yang dimaksudkan dengan persiapan di sini? Kita meluangkan sedikit waktu untuk berada bersama Tuhan sebelum kita berangkat untuk mengikuti Misa. Kita mohon kepada-Nya agar memeriksa hati kita dan menunjukkan kepada kita dalam hal mana saja kita harus bertobat sehingga dalam “ritus tobat” dalam awal Misa kita dapat mengalami pertobatan. Kita juga meluangkan waktu untuk membaca bacaan-bacaan Kitab Suci yang akan dibacakan dalam Misa, sehingga ketika sabda Tuhan diproklamasikan dalam liturgi kita pun akan mendengar Yesus sendiri berbicara kepada kita secara pribadi. Baik sekali juga bagi kita apabila mengambil waktu sejenak untuk mengenang tubuh Kristus yang dipecah-pecahkan untuk kita di atas kayu salib, dan kita berterima-kasih kepada-Nya dengan penuh syukur karena mengasihi kita – manusia – dengan begitu mendalam sampai mati di kayu salib.

Persiapan apa pun yang kita lakukan, kita harus senantiasa menyadari bahwa apabila kita mendatangi meja Tuhan dengan kerendahan hati yang tulus, hati yang bertobat, siap untuk diubah oleh Tuhan, maka Ekaristi dapat menjadi suatu pengalaman yang paling mempunyai kuat-kuasa atas hidup kita. Semoga kita semua datang ke Misa Kudus dan mengalami apa yang dikatakan oleh sang pemazmur: “Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN (YHWH) itu!” (Mzm 34:9).

DOA: Tuhan Yesus, aku sungguh takjub menyaksikan dan mengalami belarasa-Mu dalam hidupku. Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah mengurbankan hidup-Mu sendiri di atas altar salib agar aku mempunyai hidup-Mu dalam diriku. Terima kasih Yesus, Engkau memberi aku makan dengan tubuh-Mu sendiri. Oleh Roh Kudus-Mu sendiri, tolonglah aku membuka diriku bagi kuat-kuasa kasih-Mu yang akan mentransformasikan diriku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 14:13-21), bacalah tulisan yang  berjudul “SEMUANYA MAKAN SAMPAI KENYANG” (bacaan tanggal 3-8-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 5-8-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 31 Juli 2015 [Peringatan S. Ignasius dr Loyola] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MAKANAN BAGI JIWA

MAKANAN BAGI JIWA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XVIII [TAHUN B] – 2 Agustus 2015)

YESUS MENGUTUS 70 ORANG MURID

Ketika orang banyak melihat bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus.

Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya, “Rabi, kapan Engkau tiba di sini?” Yesus menjawab mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang telah dimeteraikan Allah Bapa.” Lalu kata mereka kepada-Nya, “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang dikehendaki Allah?” Jawab Yesus kepada mereka, “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.”

Sebab itu, kata mereka kepada-Nya, “Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya kami dapat melihatnya dan percaya kepada-Mu? Apakah yang Engkau kerjakan? Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari surga.”

Lalu kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, bukan Musa yang memberikan kamu roti dari surga, melainkan Bapa-Ku yang  memberikan kamu roti yang  benar dari surga. Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari surga dan yang memberi hidup kepada dunia.” Maka kata mereka kepada-Nya, “Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa.” Kata Yesus kepada mereka, “Akulah roti kehidupan; siapa saja yang datang kepada-Ku, ia tidak akan pernah lapar lagi, dan siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia tidak akan pernah haus lagi. (Yoh 6:24-35)

Bacaan Pertama: Kel 16:2-4,12-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 78:3-4,23-25,54; Bacaan Kedua: Ef 4:17,20-24

KOMUNI KUDUS - 111Tuhan Yesus memiliki keprihatinan atas berbagai kebutuhan kita yang mendasar dan kesejahteraan kita. Dia tidak hanya menyediakan makanan ketika Dia menggandakan  roti dan ikan yang sedikit untuk orang banyak yang mengikuti-Nya, melainkan juga makanan spiritual. Ia ingin mengingatkan kita bahwa di samping makanan yang kita perlukan guna memenuhi kebutuhan untuk memuaskan tubuh kita, kita juga harus memelihara dan memberi makan jiwa kita. Jadi Yesus memutuskan untuk “bersembunyi” di dalam roti dengan segala kuat-kuasa-Nya guna menjadi makanan bagi jiwa para pengikut-Nya.

Bagaimana Ekaristi dalam Komuni Kudus memberi makanan dan memperkuat kita? Pertama-tama, tubuh dan darah Kristus tidak akan mengubah kodrat manusia kita, yaitu kodrat yang sangat rentan terhadap kejahatan sebagai akibat dari dosa asal. Juga tidak akan mengubah kecenderungan-kecenderungan manusia yang khusus. Ekaristi akan mengangkat kodrat manusiawi kita, namun tidak untuk menggantikannya dengan sejenis kodrat yang berbeda. Dengan menerima Komuni Kudus kita tidak akan berhenti menjadi manusia dengan segala kelemahan dan kekurangannya.

Dengan menerima Komuni Kudus, kita tidak akan secara otomatis menghilangkan kecenderungan-kecenderungan kita akan yang jahat di dalam diri kita. Misalnya orang yang mempunyai suatu kelemahan dalam hal “miras” dapat menerima Komuni Kudus seratus kali namun tetap saja “rindu” untuk menikmati “miras” kesayangannya. Hal ini  bukanlah untuk mengatakan bahwa Allah tidak mampu membuat mukjizat melalui Ekaristi Kudus. Tetapi Dia tidak menjanjikannya, dan itu bukanlah cara Allah bekerja dalam sakramen.

Komuni Kudus tidak diberikan kepada kita untuk membuat hidup kita lebih mudah atau membuat kita seperti bionic women atau bionic men. Karena kasih-Nya kepada kita, Kristus memberikan Ekaristi kepada kita, agar kita menjadi sadar akan kasih-Nya ini dan berjuang untuk mencapai Kerajaan Allah lewat upaya yang konsisten dan tekun.

Jadi, bagaimana sesungguhnya Ekaristi menguatkan kita? Dalam Ekaristi Allah memberikan diri-Nya sebagai makanan yang adalah isyarat dari kasih-Nya. Namun dari diri kita yang lemah dan cenderung berdosa, kita menanggapi dengan membalas mengasihi Dia. Kasih kita kepada-Nya membuat kita merasa malu untuk melakukan hal-hal yang menyakiti hati-Nya. Santo Dominikus Savio [1842-1857] pernah mengatakan, “Aku lebih baik mati daripada menyakiti hati-Nya.” Sesungguhnya kita masih memiliki kodrat yang cenderung berdosa. Kita masih mempunyai “nyali” untuk mencuri, untuk berbohong, untuk tergila-gila main perempuan, untuk sibuk mabuk dengan “miras” atau narkoba, untuk berdosa, melakukan korupsi dlsb. Namun sekarang, memikirkan hal-hal seperti itu menjadi semakin memuakkan bagi kita karena semua itu menyakitkan hati-Nya, Dia yang kita kasihi.

THE BODY OF CHRIST - 001Itulah bagaimana Ekaristi memberi asupan makanan kepada kita dan memperkuat kita. Bukan dengan membuat kita kurang manusiawi, melainkan dengan membuat kita menjadi lebih berani. Tidak dengan menghapuskan godaan, melainkan dengan membuat kita lebih kuat untuk mengatakan “tidak” terhadap godaan tersebut. Bukan dengan membuat hidup menjadi empuk-nyaman, melainkan dengan memberikan kepada kita keberanian untuk dengan gigih berjuang melawan segala godaan tersebut. Tidak dengan memberikan kepada kita kodrat yang lain, melainkan dengan mengangkat kodrat yang kita miliki ke tingkat yang lebih tinggi.

Ketika seorang ibu mencium anaknya yang masih kecil dan memelihara serta menjaganya, ini adalah cara ibu untuk mengatakan: “Aku mencintai engkau.” Karena kasih sang ibu yang besar, anak itu membalasnya dengan melakukan hal-hal yang tidak menyusahkan dan menyakitkan hati sang ibu yang sangat mengasihinya. Anak itu menjadi malu untuk menyakiti hati ibunya. Demikian pula dalam Ekaristi, Yesus menunjukkan kasih-Nya bagi kita dengan memberikan kepada kita karunia kasih-Nya yang tertinggi – tubuh dan darah-Nya sendiri. Menanggapi hal itu, kita mengatakan, “Aku ingin membalas kasih-Mu! Aku tidak akan melakukan apa pun yang akan menyakitkan hati-Mu.”

Di beberapa negara Timur Tengah di mana ada relatif banyak para pekerja yang berasal dari Filipina, mereka secara rahasia menyelenggarakan Misa “bawah tanah” dan menerima Komuni Kudus, pertemuan mana seringkali sangat berisiko tertangkap dan dikenakan hukuman. Mengapa mereka melakukan hal seperti ini? Mungkin karena dirampasnya hak merayakan sakramen oleh pihak berkuasa membuatnya malah menjadi lebih dihasrati dan dirindukan. Namun kita tidak dapat menyangkal kenyataan bahwa dalam diri setiap pribadi terdapat suatu kebutuhan manusiawi untuk memperoleh suatu kepuasan lebih mendalam, untuk makanan yang lebih tahan lama. Dan makanan ini yang telah diberikan oleh Tuhan dalam sakramen Ekaristi

DOA: Tuhan Yesus, kami percaya bahwa Engkau adalah Roti Kehidupan yang turun dari surga. Engkau datang untuk menyelamatkan kami semua dari dosa dan maut. Walaupun iman kami lemah, Engkau datang ke tengah-tengah kami dan memberi makan untuk iman kami yang kecil ini agar bertumbuh terus. Terpujilah nama-Mu selalu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:24-35), bacalah tulisan yang berjudul “ROTI KEHIDUPAN [3]” (bacaan tanggal 2-8-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2015. 

Cilandak, 30 Juli 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERBAHAGIALAH KITA YANG DIUNDANG KE PERJAMUAN-NYA

BERBAHAGIALAH KITA YANG DIUNDANG KE PERJAMUAN-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS – Minggu, 7 Juni 2015)

 last-supper

Pada hari pertama dari hari raya Roti Tidak Beragi, pada waktu orang menyembelih domba Paskah, murid-murid Yesus berkata kepada-Nya, “Ke mana Engkau kehendaki kami pergi untuk mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?” Lalu Ia menyuruh dua orang murid-Nya dengan pesan, “Pergilah ke kota; di sana seorang yang membawa kendi berisi air akan menemui kamu. Ikutilah dia dan katakanlah kepada pemilik rumah yang dimasukinya: Pesan Guru: Di manakah ruangan tempat Aku akan makan Paskah bersama-sama dengan murid-murid-Ku? Lalu orang itu akan menunjukkan kamu sebuah ruangan atas yang besar, yang sudah lengkap dan tersedia. Di situlah kamu harus mempersiapkan perjamuan Paskah untuk kita!” Kedua murid itu pun berangkat dan setibanya di kota, mereka dapati semua seperti yang dikatakan Yesus kepada mereka. Lalu mereka mempersiapkan Paskah.

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada mereka dan berkata, “Ambillah, inilah tubuh-Ku.” Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka, “Inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, dalam Kerajaan Allah.” (Mrk 14:12-16,22-26) 

Bacaan Pertama:: Kel 24:3-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 116:12-13,15-18; Bacaan Kedua: Ibr 9:11-15 

Pater Brennan Manning adalah seorang imam Fransiskan berkebangsaan Amerika. Pada suatu hari romo ini berkisah mengenai ibunya, pada waktu itu sudah berumur sekitar 70 tahun, yang tinggal di Brooklyn, New York City. Kehidupan Nyonya Manning berpusat pada Ekaristi secara harian. Karena ibu tua itu menjadi seorang sukarelawati pada sebuah “drug detoxification center” yang bertugas setiap hari mulai jam 7.30, maka satu-satunya Misa yang dapat didengarnya setiap hari adalah Misa jam 5.30 pagi.

Di seberang rumahnya tinggallah seorang ahli hukum (lawyer) yang sangat sukses, yang berumur sekitar 30 tahun; dia menikah dan mempunyai dua orang anak. Ahli hukum itu tidak beragama dan secara khusus suka mengkritisi orang-orang yang suka mendengar/mengikuti Misa Harian. Pada suatu pagi  di bulan Januari, jam 5, ketika mengendara mobil pulang ke rumahnya dari sebuah pesta, dan jalan sangat licin karena es, ia berkata kepada istrinya: “Taruhan yu, nenek tua itu pasti tidak keluar rumah pagi ini”, maksudnya Nyonya Manning. Namun alangkah terkejutnya sang ahli hukum, ketika kelihatan dari kejauhan Ibu Manning sedang tertatih-tatih berjuang menghadapi jalan licin yang menanjak menuju gereja. Tangan-tangannya pun digunakan untuk bergerak maju.

Sesampainya di rumah Bapak Pengacara itu mencoba untuk tidur, namun tidak dapat. Sekitar jam 9 pagi dia bangkit, pergi ke pastoran di sana dan minta bertemu dengan seorang imam. Ia berkata kepada imam di hadapannya: “Padre, aku bukan anggota umatmu. Aku tidak beragama. Akan tetapi, dapatkah kiranya anda menceritakan kepadaku apa yang anda miliki di dalam sana yang mampu membuat seorang perempuan tua merangkak dengan tangan dan lutut pada suatu pagi yang begitu dingin dan jalan begitu licin.” Inilah awal dari pertobatan sang ahli hukum, bersama istri dan anak-anaknya.

Padre Pio Receiving CommunionSeperti ibuku sendiri dahulu, Nyonya Manning adalah salah seorang umat kebanyakan di Gereja yang tidak pernah mempelajari buku-buku keagamaan/rohani yang dalam-dalam. Ia juga tidak pernah mengetahui serta mengenal istilah-istilah teologis yang keren-keren, namun ia mengetahui apa artinya berjumpa dengan Yesus Kristus dalam Komuni Kudus.

Kita mempunyai segalanya yang kita butuhkan dalam Komuni Kudus. Yesus Kristus adalah roti kehidupan kita. Apa lagi yang kita inginkan? Kita tidak membutuhkan sistem-sistem yang rumit, kata-kata atau istilah-istilah mentereng, tempat-tempat ziarah yang jauh-jauh, program-program psikologis atau sejenisnya apabila kita memiliki suatu iman yang sederhana namun kuat dalam Ekaristi Kudus. Ekaristi adalah Yesus sendiri: Ekaristi adalah segalanya!

Dalam Liturgi Ekaristi ada dua kalimat yang pantas untuk direnungkan. Kalimat pertama adalah: “Berbahagialah kita yang diundang ke perjamuan-Nya” yang diucapkan imam selebran (Persiapan Komuni). Sungguh bahagialah, sungguh terberkatilah siapa saja yang diundang ke perjamuan Tuhan dan menerima tubuh-Nya (dan darah-Nya). Kalimat kedua adalah tanggapan umat: “Ya Tuhan, saya tidak pantas Engkau datang pada saya, tetapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh” (Persiapan Komuni). Komuni Kudus bukanlah sebuah hadiah karena seseorang itu baik hidupnya. Kita juga tidak berpura-pura untuk menjadi pantas. Kita datang ke Misa karena kita adalah para pendosa yang terus berjuang untuk memperbaiki diri. Kita datang ke meja perjamuan bukan karena kita sudah kenyang, melainkan sesungguhnya karena kita merasa lapar dan lemah. Yesus tidak mengambil sekeping medali emas sebagai tempat persembunyiannya melainkan roti dan anggur … makanan dan minuman … makanan dan perayaan.

Berbahagialah kita yang mempunyai segalanya di sana …… Yesus Kristus …… Roti Kehidupan kita.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, dalam Ekaristi Kudus Engkau datang kepadaku dalam rupa roti untuk menjadi makananku hari ini, sebagai seorang Sahabat yang akan mendampingiku, sebagai Terang yang akan membimbingku. Engkau adalah kekuatanku melawan godaan, energiku untuk bekerja dalam nama-Mu, dan tantanganku untuk membawa kasih-Mu kepada orang-orang yang akan kujumpai pada hari ini dan hari-hari selanjutnya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 14:12-16,22-26), bacalah tulisan yang berjudul “MISA KUDUS TELAH DATANG KEPADA ANDA” (bacaan tanggal 10-6-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM https://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2012. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-6-12 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 3 Juni 2015 [Peringatan S. Karolus Lwanga dkk.-Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MENINGGALKAN BAGI KITA DIRI-NYA SENDIRI

YESUS MENINGGALKAN BAGI KITA DIRI-NYA SENDIRI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Jumat, 24 April 2015)

Keluarga Besar Fransiskan: Hari Raya/Pesta/Peringatan S. Fidelis dr Sigmaringen, Imam-Martir

jesus_the_christ_detail_bloch__93932_zoomOrang-orang Yahudi pun bertengkar antara sesama mereka dan berkata, “Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan?” Karena itu, kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku benar-benar makanan dan darah-Ku benar-benar minuman. Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan aku hidup oleh Bapa, demikian juga siapa saja yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku. Inilah roti yang telah turun dari surga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Siapa saja yang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.”

Semuanya ini dikatakan Yesus di Kapernaum ketika Ia mengajar di rumah ibadat. (Yoh 6:52-59) 

Bacaan Pertama: Kis 9:1-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 117:1-2

ST. THOMAS MORE - 33Santo Thomas More [1480-1535] adalah salah seorang yang paling dianugerahi berbagai karunia dan talenta dalam sejarah. Ia adalah seorang filsuf brilian, penulis buku yang brilian, dan negarawan yang brilian juga. Raja Inggris, Henry VIII, mempromosikan Thomas More untuk menduduki posisi tinggi sebagai Lord Chancellor, semacam “Hakim Agung” untuk negara dan bangsa Inggris. Karena pekerjaannya, Thomas More adalah seorang pribadi yang sangat sibuk.

Namun, sebagai seorang anggota Ordo Fransiskan Sekular pada masa itu, Thomas More tidak pernah lalai mengikuti Misa Kudus harian dan menerima Komuni Kudus. Tidak sekali saja dia ditanya bagaimana dia dapat meluangkan waktu untuk menghadiri Misa, padahal jadual-kerjanya sangatlah ketat. Thomas selalu menjawab: “Justru karena saya mempunyai begitu banyak tanggung-jawab. Hal-hal ini dapat sangat mengakibatkan pelanturan, oleh karena itu saya membutuhkan Misa Kudus dan Komuni Kudus, guna membuat diri saya utuh dan fokus. Ada banyak godaan dalam jenis pekerjaan yang saya lakukan, namun Komuni Kudus dapat menjernihkan pandangan saya. Saya menghadapi banyak urusan yang sulit untuk dikelola, namun lewat Komuni Kudus saya menemukan terang dan kekuatan untuk melakukan pekerjaan saya dengan baik.”

Jawaban Thomas More ini adalah satu dari sekian banyak jawaban dari banyak orang besar dalam sejarah. Mereka semua langsung menjawab dengan spontan, “Kami tidak akan pernah dapat melakukan pekerjaan kami sendiri saja. Dalam Kristus kami menemukan kekuatan untuk melakukan hal-hal yang anda sebut capaian-capaian besar.”

ptg01200187 - KOMUNI KUDUSNah, Saudari dan Saudaraku, Yesus meninggalkan bagi kita diri-Nya sendiri dalam Roti hidup guna menjadi makanan spiritual bagi diri kita, pilar kekuatan kita, penyembuhan dan penghiburan harian kita. Yesus ingin syering kehadiran-Nya dengan kita, dalam suatu cara yang mudah dan dapat diakses oleh kita masing-masing. Tokoh besar yang mana dalam sejarah yang mampu menjadi seorang pribadi yang begitu mudah didekati sebagaimana Yesus sendiri, ketika Dia memilih untuk tinggal dalam Roti hidup? Dalam gereja-gereja yang lebih dari setengah juta banyaknya di seluruh dunia pada zaman ini, Dia hadir, Dia telah menawarkan diri-Nya bagi kita, Dia telah bergabung sebagai seorang sahabat dengan umat beriman para pengikut-Nya.

Orang-orang Yahudi yang mendengar ajaran Yesus tentang Ekaristi ini menanggapinya sebagai suatu kata keras (Inggris: a hard saying), karena mereka tidak pernah menduga sampai begitu dalam kasih-Nya, Mereka tidak pernah mengira betapa luas cakupan universal dari keterbukaan-Nya kepada semua orang. Mereka tidak pernah menyangka betapa besar kuat-kuasa-Nya, atau kemuliaan dari kebangkitan-Nya yang akan datang.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih untuk pengorbanan-Mu di kayu salib dan kebangkitan-Mu kepada hidup baru. Terima kasih, Engkau membuat tindakan penebusan-Mu itu hadir setiap kali kami merayakan Ekaristi. Dengan rendah hati kami menyambut kehadiran-Mu di tengah-tengah kami, dan kami percaya akan janji-Mu yang besar bahwa siapa saja yang makan tubuh-Mu dan minum darah-Mu akan tetapi tinggal dalam Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 9:1-20) bacalah tulisan yang berjudul “PERGUMULAN PRIBADI ANANIAS” (bacaan tanggal 24-4-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-04 BACAAN HARIAN APRIL 2015. 

Bacalah juga tulisan-tulisan yang berjudul “SAULUS BERTOBAT DAN MENJADI PAULUS” (bacaan tanggal 13-5-11) dan “PERTOBATAN PAULUS” (bacaan tanggal 9-5-14), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 9-5-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 18 April 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ROTI HIDUP KITA YANG SEJATI

ROTI HIDUP KITA YANG SEJATI

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Selasa, 6 Mei 2014)

jesus christ super starSebab itu, kata mereka kepada-Nya, “Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya kami dapat melihatnya dan percaya kepada-Mu? Apakah yang Engkau kerjakan? Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari surga.”

Lalu kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, bukan Musa yang memberikan kamu roti dari surga, melainkan Bapa-Ku yang  memberikan kamu roti yang  benar dari surga. Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari surga dan yang memberi hidup kepada dunia.” Maka kata mereka kepada-Nya, “Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa.” Kata Yesus kepada mereka, “Akulah roti kehidupan; siapa saja yang datang kepada-Ku, ia tidak akan pernah lapar lagi, dan siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia tidak akan pernah haus lagi. (Yoh 6:30-35)

Bacaan Pertama: Kis 7:51-8:1a; Mazmur Tanggapan: Mzm 31:3-4,6-8,17,21

Yesus adalah Roti Kehidupan. Ia adalah makanan kita, yang memenuhi setiap kebutuhan kita dan menyembuhkan setiap luka kita. Santo Stefanus – yang kemartirannya kita baca dalam bacaan pertama hari ini – adalah contoh indah dari kebenaran ini. Menurut anda, sampai berapa seringkah diakon Stefanus pergi tanpa makanan atau tanpa kenyamanan rumahnya dan keluarganya sendiri, selagi dia melayani orang-orang miskin dalam Gereja? Bagaimana dengan Santo Paulus yang telah belajar menjadi seorang “minimalis” dalam hal pemuasan kebutuhannya sendiri? Bagaimana dengan Santo Fransiskus dari Assisi sebagai pewarta Injil keliling, baik di Italia maupun di tempat-tempat lain, seperti Tanah Suci? Bagaimana dengan Santo Fransiskus Xaverius yang melanglang buana bertahun-tahun lamanya untuk mewartakan Injil Yesus Kristus? Bagaimana dengan Beata Bunda Teresa dari Kalkuta dan para anggota kongregasinya yang hidup melayani orang-orang paling kecil-miskin di India dan di tempat-tempat lain? Kehidupan orang-orang kudus ini dan orang-orang kudus yang tidak disebutkan namanya memberikan kesaksian tentang apa artinya sukacita besar yang dapat dialami oleh orang-orang yang sudah berjumpa dan mengalami (kasih) Yesus.

Yesus adalah sang Sabda yang menjadi daging atau “Firman yang menjadi manusia” (lihat Yoh 1:14) yang datang dari mulut Allah sendiri. Dia adalah “roti hidup” yang memberi makan, memelihara dan memperkuat kita (Yoh 6:29-33). Selagi kita melakukan perjalanan menuju surga, Yesus adalah pemberian Allah yang istimewa bagi kita: “roti yang turun dari surga; Siapa saja yang memakannya, ia tidak akan mati” (Yoh 6:50). Jelaslah, bahwa “manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN (YHWH)” (Ul 8:3).

Betapa sering kita dapat melupakan segalanya yang telah dilakukan Allah bagi kita, padahal Dia-lah yang menyediakan segala sesuatu bagi kita dan melindungi kita. Sebagai “roti kehidupan” yang turun dari surga (Yoh 6:51), Yesus dapat menanamkan dalam diri kita kuat-kuasa Allah dan memampukan kita menunjukkan kasih dan belas-kasih-Nya kepada setiap orang yang kita jumpai. Inilah yang kita terima selagi kita menyambut Yesus dalam Ekaristi. Kita mengkonsumsi tubuh dan darah-Nya, dan Ia memberikan kepada kita jiwa dan keilahian-Nya. Cara apa lagi yang lebih baik bagi Allah untuk mem berikan hidup-Nya kepada kita?

Marilah kita mengakui Yesus sebagai roti hidup kita yang sejati. Dia akan memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita dan menyembuhkan luka-luka kita. Dia tidak akan menolak atau membuang siapa pun. Ingatlah iman Santo Stefanus dan Santo Paulus di masa-masa awal Gereja. Tanpa Yesus, mereka tidak dapat survive dari pencobaan-pencobaan yang mereka hadapi. Karena Yesus adalah “roti hidup”, maka kita dapat menggantungkan diri kita sepenuhnya kepada Yesus ini ketimbang sekadar kenyamanan-kenyamanan duniawi. Yesus adalah pemberian Allah bagi kita. Oleh karena itu, marilah kita membuka hati kita untuk mendengar Yesus berbicara kepada kita dalam doa kita, dalam Misa Kudus, dan dalam pembacaan serta permenungan sabda-Nya dalam Kitab Suci. Marilah kita turut ambil bagian dalam keilahian Allah.

DOA: Bapa surgawi, Santo Stefanus ada dalam Yesus. Dalam penderitaannya dia menyatukan dirinya kepada Yesus. Persatukanlah kami semua kepada Putera-Mu  sehingga kami pun dapat meletakkan hidup kami bagi-Mu dan memandang surga seperti Santo Stefanus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:30-35), bacalah tulisan yang berjudul “ROTI KEHIDUPAN” (bacaan tangggal 6-5-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-05 BACAAN HARIAN MEI 2014.

Bacalah juga tulisan-tulisan yang berjudul “ROTI KEHIDUPAN YANG TURUN DARI SURGA” (bacaan tanggal 16-4-13) dan “AKULAH ROTI KEHIDUPAN” (bacaan tanggal 24-4-12), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 7:51-8:1a), bacalah tulisan yang berjudul  “SANTO STEFANUS, MARTIR PERTAMA” (bacaan tanggal 10-5-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 16-4-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 2 Mei 2014 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERSEKUTUAN YANG AKRAB DENGAN YESUS

PERSEKUTUAN YANG AKRAB DENGAN YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH III, 4 Mei 2014) 

Emmaus

Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah desa bernama Emaus, yang terletak kira-kira sebelas kilometer dari Yerusalem, dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi. Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia. Yesus berkata kepada mereka, “Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?”  Lalu berhentilah mereka dengan muka muram. Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya, “Apakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dialah adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan dan perkataan di hadapan Allah dan seluruh bangsa kami. Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. Padahal kami dahulu mengharapkan bahwa Dialah yang akan membebaskan bangsa Israel. Sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi. Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur, dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat yang mengatakan bahwa Ia hidup. Beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati persis seperti yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat.”  Lalu Ia berkata kepada mereka, “Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu untuk mempercayai segala sesuatu, yang telah para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya”  Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi. Mereka mendekati desa yang mereka tuju, lalu Ia  berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-nya. Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya, “Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam.”  Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka. Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap syukur, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka. Kata mereka seorang kepada yang lain, “Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?”  Lalu bangkitlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu dan orang-orang yang ada bersama mereka, sedang berkumpul. Kata mereka itu, “Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon.”  Lalu kedua orang itu pun menceritakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenali Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti. (Luk 24:13-35)

Bacaan Pertama: Kis 2:14,22-33; Mazmur Tanggapan: Mzm 16:1-2,5,7-11; Bacaan Kedua: 1Ptr 1:17-21

Stom,_Matthias_-_Le_repas_d'EmmaüsDua orang murid yang melakukan perjalanan menuju Emaus adalah orang-orang yang sedang dirundung rasa sedih yang mendalam. Mereka sungguh mengharapkan segala sesuatunya masih sama seperti pada waktu sebelum Yesus ditangkap. Mereka masih ingat bagaimana kata-kata Yesus – perumpamaan-perumpamaan-Nya, janji-janji-Nya, seluruh ajaran-Nya – telah menembus hati mereka, menyembuhkan mereka dan memenuhi diri mereka dengan kasih Allah. Apa yang akan mereka lakukan sekarang?

Lalu, di tengah-tengah diskusi mereka, seorang asing bergabung dengan mereka. Mereka tidak mengenali diri-Nya, namun ketika Dia berbicara, hati mereka lagi-lagi menjadi berkobar-kobar. Ada pengharapan dan tujuan yang mereka tidak begitu pahami yang mulai terbangun dalam diri mereka. Mereka begitu tersentuh oleh kata-kata “orang asing” itu sehingga mereka mendesak Dia untuk tinggal bersama mereka. Rencana Allah mulai menjadi masuk akal bagi mereka sementara hati mereka terbakar di dalam diri mereka. Pada akhirnya, karena kata-kata orang asing itu telah membuka hati mereka, maka mereka mampu untuk mengenali Dia ketika Dia memecah-mecahkan roti. Dia adalah Yesus sendiri!

Setiap kali kita membaca dan merenungkan sabda Allah, kita diundang ke dalam suatu persekutuan yang akrab dengan Yesus. Ia ingin menyalakan dalam hati kita suatu rasa haus yang semakin mendalam untuk mengenal diri-Nya. Pada hari Pentakosta Kristiani yang pertama, ketika Petrus berkhotbah kepada orang banyak, hati mereka tersayat, dan berkata, “Apa yang harus kami perbuat?” (Kis 2:37). Ini adalah hasrat Allah bagi kita juga. Yesus rindu untuk menyayat melalui kabut dalam hati kita dan menggerakkan kita untuk memberikan tanggapan kepada-Nya.

Allah berbicara kepada kita dalam Misa Kudus, dalam Liturgi Sabda. Selagi sabda Allah dalam Kitab Suci diproklamasikan, Yesus sedang mengajar serta menggugah kita, mengoreksi kita, mengingatkan kita akan kesetiaan-Nya, dan mengatakan kepada kita betapa dalam Dia mengasihi kita. Maukah kita memperkenankan Kitab Suci untuk meyakinkan kita akan kasih Bapa surgawi? Melalui pembacaan dan permenungan Kitab Suci, ada banyak yang dihasrati oleh Yesus untuk dikatakan-Nya kepada kita. Ia akan menempatkan api kasih-Nya dalam hati kita. Ia telah memberikan suatu karunia sangat berharga dalam sabda-Nya yang hidup dan penuh kuat-kuasa. Apabila kita sungguh mendengarkan, maka pikiran dan hati kita akan diperbaharui. Kemudian kita akan mampu untuk menyembut Dia sepenuhnya dalam Ekaristi.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami agar dapat melihat dan mendengar Engkau dalam Kitab Suci yang telah Kauberikan kepada kami. Kami juga berkeinginan agar hati kami berkobar-kobar dengan api kasih-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 24:13-35), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS JUGA INGIN BERJALAN DENGAN KITA PADA HARI INI” (bacaan tanggal 4-5-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-05 BACAAN HARIAN MEI 2014. 

Cilandak, 30 April 2014   

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 93 other followers