Posts tagged ‘EKARISTI’

TUBUH DAN DARAH-NYA YANG MAHAKUDUS

TUBUH DAN DARAH-NYA YANG MAHAKUDUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS [TAHUN A] – Minggu, 18  Juni 2017)

 

“Akulah roti kehidupan yang telah turun dari surga. Jikalau seseorang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang akan Kuberikan itu ialah daging-Ku yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.”

Orang-orang Yahudi pun bertengkar antara sesama mereka dan berkata, “Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan?” Karena itu, kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku benar-benar makanan dan darah-Ku benar-benar minuman. Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga siapa saja yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku. Inilah roti yang telah turun dari surga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Siapa saja yang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.” (Yoh 6:51-58) 

Bacaan Pertama: Ul 8:2-3,14b-16a; Mazmur Tanggapan: Mzm 147:12-15,19-20; Bacaan Kedua: 1 Kor 10:16-17

“… dengan mata badaniah kita yang kita lihat adalah roti dan anggur; tetapi hendaklah kita melihat dan percaya dengan teguh, bahwa itu adalah tubuh dan darah-Nya yang mahakudus, yang hidup dan benar.” (S. Fransiskus dr Assisi, “Petuah-Petuah” 1:21)

Satu dari alasan-alasan yang paling menyenangkan dan paling natural bagi keluarga-keluarga dan/atau sahabat-sahabat untuk berkumpul bersama adalah untuk berbagi makanan/minuman dalam sebuah perjamuan. Ini adalah suatu kebiasaan yang bersifat universal sejak awal mula sejarah manusia.

Orang-orang Ibrani kuno, dengan adat kebiasaan keluarga dan praktek-praktek keagamaan mereka mempunyai banyak peristiwa/peringatan untuk dijadikan alasan berkumpul di sekeliling meja perjamuan kudus mereka. Satu perjamuan yang sangat signifikan adalah yang dimaksudkan untuk merayakan Paskah, yang memperingati pembebasan bangsa mereka dari perbudakan Mesir.

Yesus dan para murid-Nya (catatan: Yohanes Penginjil tidak menyebut mereka “rasul-rasul”, melainkan “murid-murid”) sungguh setia dalam melaksanakan rituale Paskah setiap tahunnya. Berkaitan dengan Perayaan Paskah ini, Yesus menginisiasi suatu perjamuan kudus lainnya, yaitu Perjamuan Terakhir. Dalam perjamuan malam itu, Yesus bersabda: “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu, perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku! … perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!” (1Kor 11:24,25). “Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku” adalah kata-kata suci yang selalu digunakan oleh umat Kristiani dalam dalam menghormati dan memenuhi perintah dari Sang Juruselamat, yang diberikan pada malam sebelum kematian-Nya di kayu salib. Ketika kita berkumpul dalam Misa Kudus, kita merayakan dan meneruskan serta melanggengkan arahan yang diberikan oleh Yesus ini, yang diucapkan-Nya pada Perjamuan Terakhir.

Hari Raya Corpus Christi (resminya dalam Bahasa Indonesia: “Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus”) yang kita rayakan pada hari ini mengingatkan kita akan martabat dari Perjamuan Terakhir dan warisan berharga berupa kehadiran Tuhan di tengah-tengah kita manakala kita berkumpul dalam iman di sekeliling meja-Nya. Yang kita terima adalah tubuh dari Tuhan yang sudah bangkit, dan dalam hal ini kita juga diingatkan akan kasih-Nya yang kekal-abadi bagi kita masing-masing. Kuat-kuasa-Nya, hikmat-Nya dan persahabatan-Nya datang kepada kita ketika kita menerima sang Roti Kehidupan.

Ekaristi Kudus kiranya serupa dengan syering minum anggur dalam sebuah perjamuan keluarga sambil mengenang kepala keluarga yang sudah almarhum, yaitu sang pembuat air anggur yang tinggi kualitasnya. Ekaristi Kudus serupa, tetapi tidak sama – malah mengandung makna yang lebih lagi – ketimbang apa yang digambarkan tadi. Ekaristi Kudus adalah kehadiran riil dari Tuhan yang telah bangkit yang tinggal dengan umat-Nya dalam tubuh-Nya yang dipermuliakan. Ini adalah cara-Nya yang unik untuk bersama kita selalu.

Hari Raya Corpus Christi menimbulkan memori-memori dari Ruang Atas tempat diselenggarakannya Perjamuan Terakhir, penggandaan roti, manna di padang gurun dll. Hari raya ini adalah sebuah kenangan akan masa lalu.

Hari Raya Corpus Christi berbicara kepada kita hari ini. Yesus bersabda: “Akulah roti kehidupan” (Yoh 6:48,51). Artinya sekarang juga, hari ini, karena diucapkan dengan menggunakan present tense.  Melalui penerimaan kita akan Roti Kehidupan, diri kita diperkuat pada saat ini juga.

Hari Raya Corpus Christi juga sebuah janji masa depan, janji kekal: Siapa saja yang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya” (Yoh 6:58).

DOA: Tuhan Yesus, dalam Ekaristi Kudus yang luhur Kauwariskan kepada kami peringatan akan wafat dan kebangkitan-Mu. Semoga kami menghormati misteri kudus tubuh dan darah-Mu dengan pantas, sehingga kami selalu dapat menikmati hasil penebusan-Mu. Sebab Engkaulah pengantara kami, yang hidup dan berkuasa bersama Bapa, dalam persekutuan Roh Kudus, sepanjang segala masa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:51-58), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS ADALAH ROTI KEHIDUPAN YANG TURUN DARI SURGA” (bacaan tanggal 18-6-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 BACAAN HARIAN JUNI 2017. 

Cilandak, 16 Juni 2017 [Peringatan B. Anisetus Koplin, Imam dkk. Martir Polandia] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

ROTI YANG TURUN DARI SURGA

ROTI YANG TURUN DARI SURGA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Kamis, 4 Mei 2017)

Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman. Ada tertulis dalam kitab nabi-nabi: ‘Mereka semua akan diajar oleh Allah.’ Setiap orang, yang telah mendengar dan belajar dari Bapa, datang kepada-Ku. Hal itu tidak berarti bahwa ada orang yang telah melihat Bapa. Hanya Dia yang datang dari Allah, Dialah yang telah melihat Bapa. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, Siapa saja yang percaya, ia mempunyai hidup yang kekal.

Akulah roti kehidupan. Nenek moyangmu telah makan manna di padang gurun dan mereka telah mati. Inilah roti yang turun dari surga: Siapa saja yang memakannya, ia tidak akan mati. Akulah roti kehidupan yang telah turun dari surga. Jikalau seseorang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang akan Kuberikan itu ialah daging-Ku yang akan Kuberikan untuk hidup dunia. (Yoh 6:44-51)

Bacaan Pertama: Kis 8:26-40; Mazmur Tanggapan: Mzm 66:8-9.16-17,20

Yesus seringkali berbicara dengan para murid/pengikut-Nya tentang janji akan kehidupan kekal. Ajaran-Nya bahwa Dia sendiri adalah roti kehidupan merupakan pernyataan-Nya lebih lanjut tentang rencana Bapa surgawi yang sempurna untuk memenuhi diri kita dengan rahmat dan kuasa kehidupan kekal. Sebagaimana Allah menopang bangsa Israel dengan manna yang turun dari surga selama masa pengembaraan mereka di padang gurun menuju tanah terjanji (Kel 16), Yesus sekarang adalah sang “roti kehidupan” yang diberikan kepada umat-Nya (Yoh 6:51). Yesus adalah pemenuhan/penggenapan rencana Allah bagi kita, yang memberikan hidup-Nya sendiri untuk menopang kita.

Sebagaimana Allah memelihara bangsa Israel dengan penuh kasih, demikian pula Dia memelihara kita, memberikan Yesus kepada kita sebagai “roti kehidupan”. Yesus memberikan makanan kita dengan menyatakan Bapa-Nya  kepada kita, “seorang” Bapa yang mengasihi kita tanpa batas. Ini adalah pernyataan tentang kasih Bapa surgawi yang menggerakkan kita untuk meninggalkan dosa dan berpaling kepada Yesus, menyerahkan diri kita kepada-Nya dalam iman. Kasih Allah begitu besar; Ia telah berjanji bahwa siapa saja yang datang kepada Putera-Nya tidak akan pernah mati, melainkan akan memiliki hidup kekal.

Bagaimana kita (anda dan saya) menerima hidup kekal dari Yesus? Ini adalah sebuah perjalanan iman dan ketaatan yang dimulai pada saat kita dibaptis dan dimaksudkan untuk dilanjutkan terus selama hidup kita di dunia ini. Selagi kita memohon kepada Roh Kudus untuk terus membebaskan diri kita dari dosa dan mengajar kita tentang Yesus, Ia akan menulis kebenaran-Nya dalam hati kita dan menggerakkan kita untuk menjadi semakin serupa dengan Juruselamat kita. Kita mengalami proses transformasi ini selagi kita berdoa, merenungkan sabda Allah dalam Kitab Suci, berupaya untuk sungguh saling mengasihi dengan sesama, dan menerima Yesus dalam Sakramen Ekaristi.

Setiap hari, Yesus ingin menyatakan kasih-Nya dan rahmat-Nya kepada kita secara lebih mendalam lagi. Setiap hari, Dia ingin menyembuhkan kita dan mengubah diri kita untuk menjadi semakin serupa dengan rupa dan gambar-Nya. Sebagaimana kita membutuhkan makanan setiap hari agar dapat survive, demikian pula kita membutuhkan Yesus, sang “roti kehidupan” setiap hari. Kuat-kuasa-Nya yang bekerja dalam diri kita masing-masing dapat membuat kita menjadi “manusia baru” yang memiliki semangat berkobar-kobar untuk mengikuti jalan transformasi-Nya.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah memberikan kepada kami Yesus, sang “roti kehidupan”. Lanjutkanlah pekerjaan-Mu, ya Allah, dalam diri kami, membuka hati dan pikiran kami bagi Roh Kudus. Hari ini dan setiap hari, kami ingin mengalami secara lebih mendalam lagi hidup kekal yang Engkau telah janjikan kepada kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 8:26-40), bacalah tulisan yang berjudul  “FILIPUS MEWARTAKAN INJIL DENGAN KUATKUASA ROH KUDUS” (bacaan tanggal 4-5-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-05 BACAAN HARIAN MEI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-4-16 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 2 Mei 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS JUGA INGIN BERJALAN DENGAN KITA PADA HARI INI

YESUS JUGA INGIN BERJALAN DENGAN KITA PADA HARI INI

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH III [Tahun A], 30 April 2017)

Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah desa bernama Emaus, yang terletak kira-kira sebelas kilometer dari Yerusalem, dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi. Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia. Yesus berkata kepada mereka, “Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?”  Lalu berhentilah mereka dengan muka muram. Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya, “Apakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dialah adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan dan perkataan di hadapan Allah dan seluruh bangsa kami. Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. Padahal kami dahulu mengharapkan bahwa Dialah yang akan membebaskan bangsa Israel. Sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi. Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur, dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat yang mengatakan bahwa Ia hidup. Beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati persis seperti yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat.”  Lalu Ia berkata kepada mereka, “Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu untuk mempercayai segala sesuatu, yang telah para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya”  Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi. Mereka mendekati desa yang mereka tuju, lalu Ia  berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-nya. Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya, “Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam.”  Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka. Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap syukur, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka. Kata mereka seorang kepada yang lain, “Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?”  Lalu bangkitlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu dan orang-orang yang ada bersama mereka, sedang berkumpul. Kata mereka itu, “Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon.”  Lalu kedua orang itu pun menceritakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenali Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti. (Luk 24:13-35)

Bacaan Pertama: Kis 2:14,22-33; Mazmur Tanggapan: Mzm 16:1-2,5,7-11; Bacaan Kedua: 1Ptr 1:17-21

Seperti pada waktu Dia menggabungkan diri dengan dua orang murid di jalan menuju Emaus, Yesus juga ingin berjalan bersama kita pada hari ini. Sebagaimana Dia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci sehingga hati mereka berkobar-kobar, Yesus juga ingin agar Injil-Nya – kebenaran sabda-Nya dan kuat-kuasa kasih-Nya bagi kita – membakar hati kita sehingga berkobar-kobar dengan api kasih-Nya. Dua orang murid itu mendesak Yesus untuk tinggal dan makan bersama mereka, dan Yesus mengikuti permintaan mereka itu. Hal yang serupa akan terjadi apabila kita meminta kepada-Nya, maka Yesus akan berdiam bersama dengan kita juga. Mata mereka terbuka ketika Yesus mengambil roti, mengucap syukur dan memecah-mecahkannya. Dalam Ekaristi, Yesus ingin membuka mata batin kita agar dapat melihat Dia juga. O, betapa sederhana sebenarnya rencana ilahi itu.

Allah tidak meminta atau menuntut kita untuk hidup sempurna sebelum kita dapat memohon kepada-Nya agar dapat bersama kita.  Dua orang murid yang ditemui Yesus di tengah jalan menuju Emaus itu sebenarnya sedang dalam keadaan bingung, hampir putus-asa dan mereka sedang meninggalkan komunitas murid-murid Yesus di Yerusalem – segelintir pengikut-Nya yang masih percaya, meski dengan iman yang belum sempurna. Namun demikian, Yesus menemui dua orang itu, berjalan bersama mereka, dan berbicara kepada mereka tentang rencana Bapa surgawi. Yesus tidak menunggu mereka kembali ke Yerusalem, Ia mencari mereka seperti mencari domba yang hilang, dan mulai menarik mereka kembali.

Selagi dua murid ini mendengarkan kata-kata Yesus, kepada mereka diberikan suatu visi yang baru bagi hidup mereka. Kesedihan yang dirasakan beberapa hari terakhir itu digantikan dengan suatu pengharapan bahwa rencana Allah sedang berjalan dan hal itu saja menunjukkan bahwa kematian Yesus di kayu salib bukanlah sesuatu yang sia-sia. Ketika pada akhirnya mereka mengenali siapa tamu mereka itu, dua orang murid itu dipenuhi dengan sukacita sejati. Mereka bergegas kembali ke Yerusalem pada malam itu juga – tanpa takut dirampok orang jahat – untuk bergabung kembali dengan komunitas mereka dan menceritakan apa yang baru mereka alami.

Allah menginginkan agar kita semua mengalami sukacita-Nya dan pengharapan-Nya setiap saat kita berpartisipasi dalam Misa Kudus, berdoa, atau membaca serta merenungkan sabda-Nya dalam Kitab Suci. Yesus ingin “menangkap” hati kita setiap saat kita merayakan kebangkitan-Nya. Marilah kita menerima jaminan akan kehadiran-Nya selagi kita berpegang teguh pada kuat-kuasa-Nya dalam kehidupan kita sehari-hari. Marilah kita berjalan maju dari gereja-gereja kita dengan hati dan pikiran yang telah ditransformasikan. Dengan melakukannya, kita pun akan diperbaharui dalam sabda-Nya dan penuh harapan dalam iman kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku ingin mengenal-Mu dengan lebih mendalam lagi. Aku ingin mendengar suara-Mu dalam Kitab Suci. Aku ingin memandang wajah-Mu dalam roti dan anggur Ekaristi. Datanglah, ya Tuhan, dan tunjukkanlah kepadaku jalan-jalan-Mu sehingga aku dapat mempunyai hidup, dan mempunyainya dengan berlimpah-limpah (Yoh 10:10). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 24:13-35), bacalah tulisan yang berjudul “PERSEKUTUAN YANG AKRAB DENGAN YESUS(bacaan tanggal 30-4-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-04 BACAAN HARIAN APRIL 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 4-5-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 27 April 2017    

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA MEMBERITAKAN KEMATIAN YESUS SAMPAI IA DATANG

KITA MEMBERITAKAN KEMATIAN YESUS SAMPAI IA DATANG

 (Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS – Minggu, 29 Mei 2016)

197920jesus20basketsgg6Ia menerima mereka dan berkata-kata kepada mereka tentang Kerajaan Allah dan Ia menyembuhkan orang-orang yang memerlukan penyembuhan. Pada waktu hari mulai malam datanglah kedua belas murid-Nya kepada-Nya dan berkata, “Suruhlah orang banyak itu pergi, supaya mereka pergi ke desa-desa dan kampung-kampung sekitar ini untuk mencari tempat penginapan dan makanan, karena di sini kita berada di tempat yang terpencil. Tetapi Ia berkata kepada mereka, “Kamu harus memberi mereka makan!” Mereka menjawab, “Yang ada pada kami tidak lebih daripada lima roti dan dua ikan, kecuali kalau kami pergi membeli makanan untuk semua orang banyak ini.” Sebab di situ ada kira-kira lima ribu orang laki-laki. Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Suruhlah mereka duduk berkelompok-kelompok, kira-kira lima puluh orang sekelompok.” Murid-murid melakukannya dan menyuruh semua orang banyak itu duduk. Setelah Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit, mengucap syukur, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya supaya disajikan kepada orang banyak. Mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian dikumpulkan potongan-potongan roti yang lebih sebanyak dua belas bakul. (Luk 9:11b-17) 

Bacaan Pertama: Kej 14:18-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 110:1-4; Bacaan Kedua: 1 Kor 11:23-26

Kematian Yesus pada kayu salib merupakan suatu tindakan paling signifikan yang pernah terjadi dalam sejarah umat manusia. Walaupun Yesus wafat ketika masih muda usia, Dia telah melakukan segalanya yang harus dikerjakan-Nya. Pada kenyataannya, seluruh makna hidup-Nya mencapai klimaksnya pada zaat akhir hidup-Nya. Pada dasarnya Yesus datang ke tengah dunia sebagai seorang Juruselamat, untuk menghancurkan maut dan dosa lewat kematian-Nya sendiri di kayu salib. Karena kebangkitan-Nya dari antara orang mati kita mengetahui bahwa kematian-Nya bukanlah suatu kekalahan yang disebabkan ulah para musuh-Nya, melainkan sebuah kemenangan yang mulia dan membahagiakan.

Lagipula, kematian Yesus tidak datang tanpa desain dari pihak-Nya sendiri. Kematian-Nya adalah sesuatu yang diterima oleh-Nya dengan kebebasan penuh. Orang-orang biasa, seberapa dalam pun kebencian mereka terhadap diri Yesus atau seberapa kuatnya pun sumber daya dan kekuasaan yang mereka miliki, semuanya tidak akan mampu menyeret-Nya kepada kematian. Dalam beberapa peristiwa para lawan-Nya malah telah mencoba untuk membunuh Yesus, namun karena waktu Allah belum tiba, maka para lawan-Nya pun kehilangan kekuatan mereka (Luk 4:29; Yoh 5:18; Mrk 14:1 dll.).

770295ee - EKARISTIPada hari Kamis Putih, malam sebelum kematian-Nya, Yesus mengetahui dengan pasti bahwa Dia akan mati dalam waktu yang dekat. Ia telah menanti-nantikan dan menyiapkan segala sesuatu dengan baik untuk saat itu. Selama melakukan pelayanan publik, Yesus telah memberikan tanda-tanda berkaitan dengan apa yang akan dilakukan-Nya. Dalam bacaan Injil hari ini, pemberian makanan berupa roti dan ikan yang telah digandakan kepada paling sedikit 5.000 orang merupakan salah satu dari tanda-tanda itu. Pada Perjamuan Terakhir, dengan memikirkan para pengikut-Nya yang akan mendatang, Ia mengambil roti dan cawan berisi anggur dan mengucapkan kata-kata yang mengingatkan kita kepada kata-kata kreatif Allah sendiri pada awal waktu: “Inilah tubuh-Ku … Inilah darah-Ku” Kemudian Ia mengucapkan kata-kata yang kaya dengan makna bagi kita: “Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku” (Luk 22:19).

Yesus telah memberikan kepada para rasul dan kepada semua pengikut-Nya di segala abad, tubuh dan darah-Nya sendiri, sebagai kenangan akan kematian-Nya yang penuh kemenangan. Dalam bacaan kedua hari ini, kita membaca catatan tentang Perjamuan Terakhir yang paling kuno, lebih tua daripada yang terdapat dalam kitab-kitab Injil sinoptik. Setelah memberikan catatan tentang institusi Ekaristi, Santo Paulus menambahkan kata-kata berikut ini: “Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang” (1Kor 11:26). Dalam kenangan akan kematian Yesus dalam Misa Kudus, kita memproklamasikannya, kita menyerukannya, karena kematian-Nya adalah kabar baik dari penyelamatan kita. Ekaristi adalah sarana kita merayakan kematian-Nya dengan penuh sukacita dan rasa bahagia. Kematian Yesus adalah suatu awal, suatu permulaan, bukan suatu akhir. Kehidupan dunia diganti ke dalam hidup mulia melalui kebangkitan-Nya.

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus pada zaman dahulu pernah dirayakan pada hari Kamis, karena Perjamuan Akhir terjadi pada hari Kamis malam. Namun, karena Ekaristi begitu penting bagi kita, maka perayaan ini telah diubah menjadi pada hari Minggu agar lebih banyak orang yang dapat ikut ambil bagian. Setiap Misa Kudus adalah perayaan kematian Yesus Kristus, namun pada hari raya “Corpus Christi” ini secara istimewa kita ingin memproklamasikan, menyerukan dengan penuh sukacita, kematian Yesus – Tuhan dan Juruselamat kita – selagi kita menantikan kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan.

DOA: Bapa surgawi. Kami percaya bahwa Ekaristi adalah cerita bagaimana Sabda Bapa yang kekal diungkapkan dalam kehidupan Yesus dalam daging, terus hadir dan operatif dalam kehidupan kami melalui roti dan anggur yang telah dikonsekrasikan. Jagalah kepercayaan kami ini agar tidak pernah goyah, ya Allah kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 9:11b-17), bacalah tulisan yang berjudul “KEBAIKAN YESUS DALAM MEMBERI MAKAN KEPADA KITA MELALUI EKARISTI” dalam situs/blog SANG SABDA  http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-05 BACAAN HARIAN MEI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 2-6-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 28 Mei 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

IMAN YANG LEBIH KUAT

IMAN YANG LEBIH KUAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Sabtu, 16 April 2016)

christ-teaches-i-am-the-bread-of-life 

Sesudah mendengar semuanya itu banyak dari murid-murid Yesus yang berkata, “Perkataan ini keras, siapakah yang sanggaup mendengarkannya?” Yesus yang di dalam hati-Nya tahu bahwa murid-murid-Nya bersungut-sungut tentang hal itu, berkata kepada mereka, “Apakah perkataan itu mengguncangkan kamu? Bagaimana jika kamu melihat Anak Manusia naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada? Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup. Tetapi di antaramu ada yang tidak percaya.” Sebab Yesus tahu dari semula, siapa yang tidak percaya dan siapa yang akan menyerahkan Dia. Lalu Ia berkata, “Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, kalau bapa tidak mengaruniakannya kepadanya.” Mulai saat itu banyak murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia.

Lalu kata Yesus kepada kedua belas murid-Nya, “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” Jawab Simon Petrus kepada-Nya, “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Engkau memiliki perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu bahwa Engkaulah Yang Kudus dari Allah.” (Yoh 6:60-69) 

Bacaan Pertama: Kis 9:31-42; Mazmur Tanggapan: Mzm 116:12-17

Yesus mengetahui bahwa Ekaristi menuntut iman – iman yang lebih kuat dan kuat lagi. Oleh karena itu Dia bersabda, “Roh-lah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup. Tetapi di antaramu ada yang tidak percaya”  (Yoh 6:63-64a).

Para kudus memiliki rasa lapar yang sehat akan Kristus. Mereka lebih merasa puas dan dikenyangkan dengan Tuhan Ekaristik daripada kita semua. Beberapa dari kita bahkan sudah sangat dekat dengan titik nol … “tidak percaya”, seperti disinyalir oleh Yesus. Jadi, kita sungguh membutuhkan iman yang lebih kuat lagi dan harus berjuang keras untuk mencapainya.

Para pemburu atau orang-orang yang berkemah di hutan, jika tersesat, akan mulai menggunakan kompas untuk mencari arah atau berteriak-teriak kepada teman-teman mereka. Namun semakin lama mereka tersesat dan semakin buruk situasi yang mereka hadapi, maka semakin merasa lapar (dan haus) pula mereka itu. Demikian pula halnya dengan kita: apabila hal-hal menjadi semakin buruk secara spiritual/rohani, maka kita tidak lagi dapat ditolong oleh para sahabat kita, oleh posisi kita, atau oleh harta-milik kita. Kita hanya merasa sangat lapar akan makanan yang bersifat permanen, yaitu Roti Kehidupan.

060715Kita harus memperkenankan rasa lapar-iman agar terus bertumbuh. Apabila kita tidak memiliki selera rohani, maka seperti layaknya seorang sakit, kita tidak akan menemukan Kristus sebagai Pribadi yang menarik. Bagamana caranya agar kita dapat mengembangkan suatu selera rohani yang sehat? Inilah jawaban yang diberikan oleh Santo Paulus, “… kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya” (Ef 4:22-24). Dengan kata lain, kita harus menyusun skala prioritas dengan benar: dengan menempatkan hal-hal yang penting di atas hal-hal yang kurang penting.  Kita percaya bahwa Yesus adalah Dia yang diutus oleh Bapa surgawi. Yesus sendiri bersabda, “Siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia bukan percaya kepada-Ku, tetapi kepada Dia, yang telah mengutus Aku; dan siapa saja yang melihat Aku, ia melihat Dia, yang telah mengutus Aku” (Yoh 12:44-45).

Kita tahu bahwa menaruh kepercayaan pada seorang sahabat bertumbuh lewat pengalaman-pengalaman yang disyeringkan bersama. Kita mulai menggantungkan diri pada sahabat itu untuk dukungan, nasihat dan syering berbagai persoalan, baik yang sulit-menyedihkan maupun yang penuh sukacita. Demikianlah bagaimana selera rohani kita menjadi sehat: dengan kontak yang sering dengan Yesus. Semakin sering kita syering berbagai persoalan dan sukacita kita dengan diri-Nya, semakin kuat pula persahabatan kita jadinya. Semakin sering kita makan sang Roti Kehidupan, semakin besar pula kepenuhan kehadiran-Nya. Persahabatan dan kepenuhan yang semakin intensif akan berakibat pada iman yang semakin kuat dan kesehatan rohani yang seakin bertumbuh.

Maka, sebagai murid-murid-Nya yang setia, kita pun dapat berkata kepada Yesus, “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Engkau memiliki perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu bahwa Engkaulah Yang Kudus dari Allah” (Yoh 6:68-69).

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah roti yang turun dari surga untuk mengangkat kami ke surga. Engkaulah Yang Kudus dari Allah. Engkau memberikan Ekaristi kepada kami. Engkau datang untuk menemui kami dalam doa dan dalam sabda-Mu dalam Kitab Suci, dan Engkau menguatkan kami dan mencurahkan kasih-Mu ke atas diri kami setiap hari. Tolonglah agar kami dapat memegang segala karunia sangat berharga yang telah Kauberikan kepada kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 9:31-42), bacalah tulisan dengan judul “YESUS KRISTUS ADALAH SUMBERNYA” (bacaan tanggal 16-4-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-04 BACAAN HARIAN APRIL 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-5-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 13 April 2016  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KUAT-KUASA UNTUK MENYEMBUHKAN

KUAT-KUASA UNTUK MENYEMBUHKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Rabu, 13 April 2016)

43_i-am-the-bread-of-life_1800x1200_300dpi_2

Kata Yesus kepada mereka, “Akulah roti kehidupan; siapa saja yang datang kepada-Ku, ia tidak akan pernah lapar lagi, dan siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia tidak akan pernah haus lagi. Tetapi Aku telah berkata kepadamu: Sungguh pun kamu telah melihat Aku, kamu tidak percaya. Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. Sebab Aku telah turun dari surga bukan untuk melakukan kehendak-Ku melainkan kehendak Dia yang telah mengutus Aku. Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman. Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.” (Yoh 6:35-40) 

Bacaan Pertama: Kis 8:1b-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 66:1-7

Ketika kita memanggil atau menyapa Yesus sebagai Tuhan kita, Allah kita, Raja kita, maka sebenarnya kita mengacu kepada banyak hal tentang diri-Nya, teristimewa kepada kuasa ilahi-Nya. Yesus menyatakan kuasa-Nya sebagai Tuhan dalam hidup-Nya di tengah publik teristimewa dengan menyembuhkan siapa saja yang menyentuh-Nya atau yang disentuh-Nya. Ada ribuan penyembuhan fisik yang terjadi – orang sakit, orang lumpuh, orang buta, orang kusta dll. – namun juga banyak sekali penyembuhan spiritual atas orang-orang yang sedang dirasuki roh jahat dlsb. Para pendosa dibebaskan dan menjadi para pengikut-Nya yang paling setia.

Pernahkah kita (anda dan saya) mengalami kuat-kuasa Yesus dalam kehidupan kita? Tentu pernah, walaupun barangkali kita kurang menyadarinya. Nah, kita juga menemukan Yesus yang sama dalam segala kuasa-Nya dan kasih-Nya dalam Ekaristi Kudus, Dia tetap bersama kita, Dia masih tetap Tuhan dan Guru kita yang sangat mengasihi kita.

Sekarang – lebih daripada sebelumnya – orang-orang ingin dan butuh mengalami kuasa penyelamatan dari Yesus dalam Ekaristi Kudus. Kita tahu dari kitab-kitab Injil bahwa Yesus memaksudkan Sakramen ini sebagai penyembuhan kita, kebebasan kita untuk hidup sebagai anak-anak Allah. Dalam Ekaristi, Yesus telah memberikan kepada kita diri-Nya sendiri dalam suatu bentuk yang dapat kita sentuh dan alami, seperti dahulu Dia disentuh dan dialami dalam kehidupan-Nya di tengah publik. Karena kita semua adalah manusia, maka kita butuh menyentuh dan disentuh. Seringkali, sentuhan itu menyembuhkan. Yesus, dalam hikmat manusia yang indah, meninggalkan bagi kita Tubuh-Nya dan Darah-Nya sehingga dengan demikian kita dapat menyentuh-Nya dan disembuhkan! Yesus bersabda: “Akulah roti kehidupan; siapa saja yang datang kepada-Ku, ia tidak akan pernah lapar lagi, dan siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia tidak akan pernah haus lagi”  (Yoh 6:35).

Yesus mengingat kata-kata itu pada perjamuan terakhir. Oleh karena itu Dia bersabda: “Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku. …… Minumlah, kamu semua, dari cawan ini. Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa-dosa”  (Mat 26:26,27-28).

Percayakah kita akan ucapan kata-kata Yesus ini sehingga dengan demikian kita berharap agar dosa-dosa kita diampuni? Apakah kita berterima kasih kepada Yesus untuk pengampunan-Nya, karena kita percaya bahwa Dia memegang janji-Nya? Jelaslah bahwa Gereja ingin kita melakukan pendekatan terhadap Yesus dengan iman mendalam yang sungguh mengharapkan kesembuhan dari Dia. Di sinilah letak keseriusan seruan kita sebelum menyambut Komuni Kudus: “Ya Tuhan, saya tidak pantas Engkau datang pada saya, tetapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh”  (Puji Syukur 275; bdk. Mat 8:8).

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah sang Roti Kehidupan, yang  memiliki kuasa ilahi untuk menyembuhkan. Sembuhkanlah kami, ya Tuhan, lewat kehadiran-Mu dalam Ekaristi Kudus. Terpujilah nama-Mu selalu! Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 8:1b-8), bacalah tulisan yang berjudul  “KEBERANIAN SEBAGAI SAKSI-SAKSI KRISTUS” (bacaan tanggal 13-4-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-04 BACAAN HARIAN APRIL 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 22-4-15 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 11 April 2016 [Peringatan S. Stanislaus, Uskup Martir]  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEBUAH PERJAMUAN PERSAHABATAN

SEBUAH PERJAMUAN PERSAHABATAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Selasa, 12 April 2016)

christ-teaches-i-am-the-bread-of-life

Sebab itu, kata mereka kepada-Nya, “Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya kami dapat melihatnya dan percaya kepada-Mu? Apakah yang Engkau kerjakan? Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari surga.”

Lalu kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, bukan Musa yang memberikan kamu roti dari surga, melainkan Bapa-Ku yang  memberikan kamu roti yang  benar dari surga. Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari surga dan yang memberi hidup kepada dunia.” Maka kata mereka kepada-Nya, “Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa.” Kata Yesus kepada mereka, “Akulah roti kehidupan; siapa saja yang datang kepada-Ku, ia tidak akan pernah lapar lagi, dan siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia tidak akan pernah haus lagi. (Yoh 6:30-35)

Bacaan Pertama: Kis 7:51-8:1a; Mazmur Tanggapan: Mzm 31:3-4,6-8,17,21

“Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, bukan Musa yang memberikan kamu roti dari surga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari surga.” …… “Akulah roti kehidupan” (Yoh 6:32,35).

Ketika Allah memanggil kita untuk berkumpul bersama di sekeliling Kristus, maka hal itu tidak hanya berarti Dia ingin berbicara kepada kita, melainkan juga untuk berada bersama dengan kita dalam sebuah perjamuan. Bentuk Liturgi Ekaristi pada dasarnya adalah bentuk sebuah perjamuan, suatu perpanjangan atau kelanjutan dari Makan Malam Paskah dan perjamuan persahabatan orang Ibrani pada hari Sabat. Namun perjamuan ini tidak menghilangkan unsur persembahan kurban dari Misa. Tanda ke dalam mana Yesus memilih untuk menempatkan karya penyelamatan-Nya adalah sebuah perjamuan suci.

I-am-the-Bread-of-LifePerjamuan makan merupakan sebuah bagian yang bersifat hakiki dari liturgi Bait Suci dan pertemuan-pertemuan dalam Perjanjian Lama. Ini adalah suatu tindakan keagamaan. Benda-benda yang dikurbankan dimakan dalam Rumah Allah sebagai sebuah lambang janji Mesianis. “…… tempat yang akan dipilih TUHAN (YHWH), Allahmu, dari segala sukumu sebagai kediaman-Nya untuk menegakkan nama-Nya di sana, tempat itulah yang harus kamu cari dan ke sanalah harus kamu pergi. Ke sanalah harus kamu bawa korban bakaran dan korban sembelihanmu dan persembahan khususmu, korban nazarmu dan korban sukarelamu, anak-anak sulung lembu sapimu dan kambing dombamu. Di sanalah kamu makan di hadapan YHWH, Allahmu, dan bersukaria, kamu dan seisi rumahmu, karena dalam segala usahamu engkau diberkati oleh YHWH, Allahmu”  (Ul 12:5-7). “Orang yang rendah hati akan makan dan kenyang” (Mzm 22:27). “Engkau menyediakan hidangan bagiku”  (Mzm 23:5). Singkatnya, Allah mengundang umat –Nya untuk ikut ambil bagian dalam sebuah perjamuan persahabatan.

Kristus menggunakan simbol-simbol yang sama ini untuk mengantisipasi kedatangan  kerajaan dari para pengikut-Nya di atas bumi dan di surga. Ia berkata, “Aku menganugerahkan kerajaan kepada kamu, sama seperti Bapa-Ku menganugerahkannya kepada-Ku, supaya kelak kamu makan dan minum semeja dengan Aku di dalam Kerajaan-Ku …”  (Luk 22:29-30). Lalu Dia berkata lagi: “Lihat, Aku berdiri di depan pintu dan mengetuk; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk menemui dia dan makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku”  (Why 3:20).

Perjamuan Ekaristi adalah kelanjutan dari pesan Perjanjian Lama. Misa Kudus adalah perjamuan yang mengindikasikan kedatangan sang Juruselamat dan kedatangan Kerajaan-Nya. Dalam rangka pelaksanaan misi-Nya, para rasul membuktikan diri bahwa mereka adalah saksi-saksi dari segala sesuatu yang diperbuat Yesus …… dan saksi-saksi dari penampakan diri Yesus setelah kebangkitan-Nya, …… “yang telah makan dan minum bersama-sama dengan Dia, setelah ia bangkit dari antara orang mati” (Kis 10:41).

DOA: Bapa surgawi, kami percaya bahwa dengan memakan tubuh Kristus dan minum darah-Nya dalam Ekaristi, maka kami akan tinggal di dalam Dia dan Ia dalam kami. Dengan berdiam di dalam Dia, maka kami pun akan tinggal di dalam Engkau, sumber segala kehidupan. Terima kasih Bapa untuk anugerah “perjamuan persahabatan” atau Perayaan Ekaristi bagi umat-Mu. Amin. 

Catatan:  Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 7:51-8:1a), bacalah tulisan yang berjudul  “SANTO STEFANUS, MARTIR KRISTUS” (bacaan tanggal 12-4-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-04 BACAAN HARIAN 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-4-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 10 April 2016 [HARI MINGGU PASKAH III – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS