Posts tagged ‘DISKURSUS DENGAN LATAR BELAKANG PERJAMUAN TERAKHIR’

DOA YESUS BAGI PARA MURID-NYA

DOA YESUS BAGI PARA MURID-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH VII [Tahun A], 28 Mei 2017)

HARI MINGGU KOMUNIKASI SEDUNIA

 

Lalu Ia menengadah ke langit dan berkata, “Bapa, telah tiba saatnya; muliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu memuliakan Engkau. Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah
Engkau berikan kepada-Nya. Inilah hidup yang kekal, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. Aku telah memuliakan Engkau di bumi dengan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk Kulakukan. Dan sekarang, ya Bapa, muliakanlah Aku di hadirat-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.

Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia. Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku dan mereka telah menuruti firman-Mu. Sekarang mereka tahu bahwa semua yang Engkau berikan kepada-Ku itu berasal dari Engkau. Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar bahwa Aku datang dari Engkau dan mereka percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu dan segala milik-Ku adalah milik-Mu dan milik-Mu adalah milik-Ku, dan Aku telah dimuliakan di dalam mereka. Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. (Yoh 17:1-11a) 

Bacaan Pertama: Kis 1:12-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,7-8; Bacaan Kedua: 1Ptr 4:13-16

Doa Yesus bagi para murid-Nya pada perjamuan terakhir dikenal sebagai doa-Nya sebagai imam (Imam Besar Agung), atau doa pengudusan-Nya, atau sebagai “prakata” dari pengorbanan-Nya di kayu salib. Nada doa yang bernuansa kesucian ini dan juga berisikan tema kontemplatif pasti akan menyarankan judul liturgis tertentu. Namun begitu, doa ini dapat juga dinilai sebagai versi yang lebih menekankan kekudusan dari doa “Bapa Kami”.

Seorang pemimpin religius pantas diharapkan untuk mengajarkan kepada para murid-Nya sebuah doa yang menjadi ikhtisar dari ajaran-Nya bagi mereka. Jadi tidak mengherankanlah jika salah seorang murid-Nya berkata kepada Yesus, “Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya” (Luk 11:1).

Doa “Bapa Kami” sebenarnya mengungkapkan dengan kata-kata sederhana hakihat dari ajaran Yesus mengenai Allah dan tujuan sentral dari misi-Nya. Relasi-Nya dengan Allah diungkapkan dalam nama “Bapa” yang berdiam di tempat sejauh surga, namun sedekat jarak antara  Bapa dan Anak, yang nama-Nya harus dihormati dan penyelenggaraan-Nya harus dipercaya.

Pekerjaan sentral dari Yesus adalah membangun Kerajaan Allah di dalam dunia. Kerajaan itu berarti sebuah masyarakat di mana kehendak Allah adalah aturan hidup yang berlaku. Artinya ada roti setiap hari bagi semua orang: tidak ada lagi ketidakadilan, diskriminasi atau ketamakan, melainkan ikut ambil bagian secara fair dalam segala sumber daya yang ada di bumi. Di dalam Kerajaan Allah ada pengampunan penuh dan rekonsiliasi sempurna: tidak ada lagi saling cakar atau hantam-menghantam antara para warganya.

Para warga Kerajaan Allah dengan setia bertekun selagi godaan ditolak dan kejahatan dikalahkan secara total. Doa Yesus dalam ruang atas ini mengulangi tema-tema besar dari doa “Bapa Kami”, walaupun dalam siklus-siklus pemikiran Yohanes yang kesana-kemari atau berputar-putar daripada ungkapan yang sederhana dan jelas dalam Injil Lukas dan Injil Matius. Nama yang mendominasi doa ini lagi-lagi adalah “Bapa”. Allah yang Mahalain diungkapkan oleh Yohanes dalam tema-tema pemuliaan yang diulang-ulangi olehnya.

Jika doa “Bapa Kami” menjadi sebuah doa untuk Kerajaan Allah di atas bumi, maka doa Yesus di ruang atas dimaksudkan sebagai syafaat untuk para murid-Nya di seluruh dunia. Yesus telah memuliakan Bapa di atas bumi dengan melakukan kehendak-Nya dan membuat nama-Nya dikenal. Sekarang, pada saat-saat terakhir-Nya di atas bumi telah selesai, Dia menyerahkan misi-Nya kepada para murid-Nya. Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia” (Yoh 17:11).

Sekarang instrumen Kerajaan Allah adalah Gereja di atas bumi. Kemuliaan Yesus sendiri sekarang dicerminkan dalam karya Gereja … “Aku telah dimuliakan di dalam mereka” (Yoh 17:10). Dalam banyak bentuk dan cara kerjanya, karya-karya pelayanan karitatif Gereja memberikan “roti” bagi orang yang lapar, mendirikan berbagai klinik dan rumah sakit bagi orang-orang sakit, menjalankan rumah singgah dll.

Gereja mengalami pengampunan Allah secara begitu mendalam, sehingga terdapat satu “sakramen rekonsiliasi” untuk merayakan pengampunan Allah itu. Dengan penuh hasrat untuk mensyeringkan sukacita rekonsiliasi, Gereja mewartakan damai-sejahtera dan mendorong terciptanya suatu pemahaman yang lebih besar daripada rasa sakit, suatu kondisi terberkati yang mengatasi sikap dan tindakan mengutuk. Melalui berbagai praktek asketisme Gereja menolong orang-orang untuk melawan godaan dan dilepaskan/dibebaskan dari cengkeraman si Jahat.

Doa Yesus di ruang atas adalah spiral besar dari pemikiran kontemplatif Yohanes, yang mengembang dari kata-kata sederhana dalam doa “Bapa Kami”.

Tulisan ini adalah saduran bebas dari bacaan yang terdapat dalam P. Silvester O’Flynn, THE GOOD NEWS OF MATTHEW’S YEAR, Dublin, Ireland: Cathedral Books,  1989 (1992 reprinting), hal. 114-115.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu, karena Engkau telah mendoakan kami – bukan dunia – kehadapan hadirat Bapa. Dalam doa-Mu, Engkau mengatakan bahwa bukan untuk dunia Engkau berdoa, tetapi untuk kami semua, yang telah diberikan Bapa kepada-Mu, sebab kami adalah milik Bapa dan segala milik-Mu adalah milik Bapa dan milik Bapa adalah milik-Mu, dan Engkau telah dimuliakan di dalam kami semua. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Yesus, Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 17:1-11a), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MENDOAKAN PARA MURID-NYA DI HADAPAN BAPA-NYA” dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-05 BACAAN HARIAN MEI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 1-6-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 25 Mei 2017 [HARI RAYA KENAIKAN TUHAN]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

BAPA SENDIRI MENGASIHI KAMU

BAPA SENDIRI MENGASIHI KAMU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI Paskah – Sabtu, 27 Mei 2017)

Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku. Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatu pun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.

Semuanya ini Kukatakan kepadamu dengan kiasan. Akan tiba saatnya Aku tidak lagi berkata-kata kepadamu dengan kiasan, tetapi terus terang memberitakan Bapa kepadamu. Pada hari itu kamu akan berdoa dalam nama-Ku. Tidak Aku katakan kepadamu bahwa Aku meminta bagimu kepada Bapa, sebab Bapa sendiri mengasihi kamu, karena kamu telah mengasihi Aku dan percaya bahwa Aku datang dari Allah. Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa.” (Yoh 16:23b-28) 

Bacaan Pertama: Kis 18:23-28; Mazmur Tanggapan: Mzm 47:2-3,8-10 

“Bapa sendiri mengasihi kamu.” (Yoh 16:27)

Oh betapa beruntungnya kita semua sebagai anak-anak dari “seorang” Allah yang begitu mengasihi kita! Yesus bersabda kepada para murid-Nya – dan tentunya kepada kita semua – bahwa segala sesuatu yang kita minta kepada Bapa dalam nama-Nya, akan diberikan oleh Bapa kepada kita. Mengapa? Karena Bapa mengasihi kita semua. Sebagai “seorang” pemasok segala kebutuhan kita, Bapa surgawi sungguh  berhasrat untuk memberikan kepada kita pemberian-pemberian yang baik. Ia ingin menyembuhkan hati kita yang meradang kesakitan, memegang kita dengan tangan-Nya sendiri dan menuntun kita di jalan yang lurus, juga memberikan segala berkat-Nya kepada kita. Bagi Allah, mengasihi adalah suatu prioritas. Pater Henri Nouwen pernah menulis: “Allah mengasihi kita sebelum manusia mana pun dapat menunjukkan cintakasih kepada kita. Dia mengasihi kita dengan ‘cinta pertama’, suatu cintakasih yang tanpa batas dan tanpa syarat.”

Membangun dan mengembangkan suatu relasi cintakasih dengan Allah adalah hal terpenting yang kita dapat lakukan dalam hidup kita. Namun demikian, berapa banyak dari kita ini yang masih berpikir bahwa kita harus melakukan sesuatu dulu agar pantas menerima kasih Allah? Berapa banyak dari kita menyamakan tindakan “melayani Allah” dengan “mengasihi Allah”? Dunia kita sangat berorientasi pada tujuan. Dalam dunia manajemen, misalnya kita diajar dan mengajar tentang management by objectives, goals program dst., hal mana juga biasanya diintegrasikan ke dalam proses penilaian prestasi kerja (performance appraisal) orang-orang yang bekerja untuk kita. Semua itu baik! Namun salah satu pengaruhnya adalah, bahwa dengan demikian mudah sekali kita berpikir bahwa Allah juga (seperti para atasan dalam perusahaan) menghendaki kita menunjukkan prestasi yang memuaskan sebelum memberikan imbalan (reward), seakan Dia berkata, “Performance dulu, baru dapat reward; menangkan pertandingan dulu, baru dapat piala.”

Ingatlah bahwa tidak demikianlah halnya dengan Allah kita. Ingatlah apa yang disabdakan oleh Yesus sendiri: “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat …” (Yoh 15:15). Ia ingin agar Gereja-Nya dipenuhi dengan orang-orang yang mengasihi-Nya dengan penuh gairah, sama seperti Dia mengasihi mereka. Seperti seorang mempelai perempuan yang menyenangkan hati mempelai laki-laki, kita dipanggil untuk melakukan hal-hal bagi Yesus karena kita mengasihi Dia, bukan karena kita ingin membuktikan diri kita  kepada-Nya atau membuat diri kita “pantas” menerima cintakasih-Nya.

Bagaimana kiranya kasih Allah ini? Kelihatannya seperti apa? Bagaimana rasanya? Pada waktu-waktu tertentu kasih Allah itu mungkin saja mengambil bentuk rasa sukacita yang berlimpah, meski di tengah keadaan yang sulit. Pada waktu-waktu yang lain, mungkin mengambil bentuk suatu rasa damai yang mendalam dalam hati kita. Dapat juga mengambil bentuk keyakinan yang datang dari pengetahuan bahwa kita tidak pernah ditinggal sendirian.

Kalau kita ingin mengalami kasih Allah ini, maka kita harus mulai dengan menjadi riil dengan Dia. Akuilah kepada Allah dan kepada diri kita sendiri bahwa sebenarnya kita sangat, dan sangat membutuhkan Dia. Kita mohon kepada-Nya agar memenuhi diri kita dengan Roh-Nya dan untuk menyatakan kasih-Nya kepada kita. Allah Bapa memiliki kerinduan yang lebih besar untuk bertemu dengan kita daripada keinginan kita untuk bertemu dengan Dia.

DOA: Bapa di surga, Allah yang Mahapengasih dan Maharahim. Terima kasih penuh syukur kupanjatkan ke hadirat-Mu karena Engkau mengasihiku dengan suatu kegairahan tanpa batas. Aku sendiri malah tidak dapat memperkirakan sampai berapa dalam kasih-Mu bagi diriku. Terima kasih, ya Bapa, Engkau telah menyerahkan Putera-Mu yang tunggal sampai wafat di kayu salib, demi keselamatan kami, anak-anak-Mu. Kasih-Mu seperti sungai yang mengalir tanpa henti. Terpujilah Engkau selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Yoh 16:23b-28), bacalah tulisan yang berjudul  “MINTA KEPADA BAPA DALAM NAMA YESUS” (bacaan tanggal 27-5-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-05 BACAAN HARIAN MEI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 7-5-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 24 Mei 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

AKU AKAN MELIHAT KAMU LAGI

AKU AKAN MELIHAT KAMU LAGI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Filipus Neri, Imam – Jumat, 26 Mei 2017)

HARI PERTAMA NOVENA PENTAKOSTA

 

Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita. Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia. Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorang pun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari kamu. Pada hari itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa kepada-Ku. (Yoh 16:20-23a) 

Bacaan Pertama: Kis 18:9-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 47:2-7

Sementara Yesus sudah semakin dekat dengan saat kematian-Nya, Dia masih terus mempersiapkan para murid-Nya agar dapat menghadapi saat perpisahan dengan-Nya dan untuk mensyeringkan pengharapan besar yang tersimpan dalam hati-Nya. Sebagaimana seorang perempuan yang menanggung rasa sakit demi melahirkan bayinya ke tengah dunia, Yesus pun mengetahui bahwa penderitaan sengsara-Nya dan kematian-Nya akan membawa kehidupan baru ke tengah dunia. Ketika seorang perempuan memandang anak yang baru dilahirkannya, maka rasa sakit karena melahirkan itu pun menjadi tidak signifikan. Hati sang ibu dipenuhi dengan ketakjuban ketika memandangi bayi yang baru dilahirkannya itu. Hal serupa – namun tak sama tentunya – terjadi dengan Yesus. Yesus menyadari bahwa salib-Nya akan membawa karunia kehidupan baru yang penuh keajaiban, maka dengan cintakasih-Nya dan antisipasi-Nya yang besarlah Ia bergerak maju untuk wafat di kayu salib.

Para murid sungguh menanggung rasa sedih luarbiasa yang disertai dengan kebingungan selagi mereka menyaksikan Yesus ditangkap, diadili dalam pengadilan “dagelan”, dijatuhi hukuman mati dan mati di kayu salib di bukit Kalvari. Namun Yesus telah berjanji kepada mereka: “Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorang pun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari kamu” (Yoh 16:22). Yesus berjanji kepada para murid-Nya bahwa Ia akan bertemu dengan mereka lagi; dan para murid akan bergembira karena mereka akan mengenal pandangan penuh kasih dari Yesus kepada mereka. Mereka akan mengenal dan mengalami damai-sejahtera dan aman bilamana terus berada di bawah pandangan penuh siaga dari Yesus, tidak pernah dilupakan atau dibuang. Pengetahuan seperti ini sungguh membawa sukacita besar kepada para murid.

Yesus sangat mengetahui berbagai pergumulan dan pencobaan yang kita alami dan hadapi. Dia mengetahui rasa takut yang sudah cukup lama merasuki diri kita, kekhawatiran yang sudah sekian lama menindih kita, namun juga segala pengharapan dan impian yang selama ini kita simpan sendiri dalam hati. Tidak ada yang luput dari pandangan Yesus. Ia berjanji kepada para murid-Nya bahwa Ia akan bertemu dengan mereka lagi, demikian pula mata-Nya yang memancarkan kasih akan terus memperhatikan kita. Selagi Dia berdiri di hadapan Bapa untuk melakukan syafaat bagi kita, Dia mampu untuk memenuhi diri kita dengan sukacita akan kehadiran-Nya, membalikkan rasa sedih kita menjadi sukacita karena kita mengenal bela-rasa dan kekuatan-Nya.

Yesus senantiasa siap untuk memberikan hikmat-Nya yang kita memang perlukan untuk menghadapi situasi apa saja. Yang harus kita lakukan adalah dengan rendah hati memanjatkan permohonan kita dan mentaati perintah-perintah-Nya. Kuat-kuasa-Nya yang mahadahsyat dapat membuat keajaiban-keajaiban dalam hati kita yang jauh lebih besar daripada yang kita pernah bayangkan!

DOA: Datanglah, ya Roh Kudus, berikanlah kepada kami mata-iman agar dapat melihat karya Bapa dan Putera dalam kehidupan kami. Lahirkanlah dalam diri kami suatu pengalaman lebih mendalam akan kasih-Mu dan kemauan yang lebih besar untuk dibentuk lke dalam keserupaan dengan Yesus, Tuhan dan Juruselamat kami. Kami bersukacita dalam hidup baru yang telah Kau berikan kepada kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 16:20-23a), bacalah tulisan yang berjudul “KAMU AKAN BERDUKACITA, TETAPI DUKACITAMU AKAN BERUBAH MENJADI SUKACITA” (bacaan tanggal 26-5-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-05 BACAAN HARIAN MEI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 6-5-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 24 Mei 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SANG PARAKLETOS

SANG PARAKLETOS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI Paskah – Selasa, 23 Mei 2017)

 

Tetapi sekarang Aku pergi kepada Dia yang telah mengutus Aku, dan tidak ada seorang pun di antara kamu yang bertanya kepada-Ku: Ke mana Engkau pergi? Tetapi karena Aku mengatakan hal itu kepadamu, maka hatimu berdukacita. Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penolong itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, aku akan mengutus Dia kepadamu. Kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman; akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku; akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi; akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum. (Yoh 16:5-11) 

Bacaan Pertama: Kis 16:22-34; Mazmur Tanggapan: Mzm 138:1-3,7-8 

Sementara Yesus terus berbicara dengan para murid (rasul)-Nya tentang diri-Nya yang akan  meninggalkan mereka untuk pergi kepada Bapa surgawi yang mengutus-Nya, Dia melihat bahwa mereka dikuasai oleh kesedihan. Mereka kelihatannya tidak memahami mengapa Yesus harus pergi. Yesus juga dengan terus terang berbicara kepada mereka tentang kebenaran. Apabila Dia tidak pergi, maka Parakletos, Roh Kudus, tidak akan datang kepada para murid. Jadi, Dia akan pergi dan mengutus Roh Kudus kepada mereka.

Apakah yang akan dilakukan oleh Roh Kudus apabila Dia datang? Ia akan menjadi penasihat mereka, penghibur mereka. Dia akan membimbing dan memberdayakan  mereka dalam relasi mereka, dalam perjumpaan mereka dengan dunia.

Roh Kudus akan membuktikan bahwa dunia salah tentang dosa, tentang keadilan, tentang penghukuman. Ia (Roh Kudus) akan menunjukkan lewat kehidupan Gereja yang ilahi, adil dan kudus yang akan dibimbingnya, Kristus yang tanpa dosa, bahwa Dia adil, bahwa Dia tidak pantas dihukum. Orang-orang yang menolak untuk percaya kepada-Nya, untuk mentaati perintah-perintah-Nya, adalah mereka yang salah. Merekalah yang tidak adil dan patut dihukum.

Sekarang, kita berada di pihak yang mana? Apakah kita orang-orang yang ikut ambil bagian dalam kehidupan ilahi dengan iman, ketaatan dan cinta kasih kita? Apakah kita termasuk orang-orang adil dan benar dari Kristus? Apakah kehidupan kita memberi kesaksian tentang kekudusan Kristus, tubuh-Nya (Gereja), di mana kita semua adalah para anggotanya?

Ketika dibaptis, kita telah menerima Roh Kudus seperti yang telah dialami oleh para rasul. Ia adalah penasihat kita juga. Dia adalah pembimbing dan penghibur kita. Dia memberikan kepada kita berbagai instruksi, bimbingan dan kekuatan, keberanian untuk hidup dengan/bersama Kristus, dengan/dalam Gereja-Nya. Kita tidak perlu menderita penghukuman. Dunialah yang dihukum setiap kali kita bersaksi – oleh/dengan kuasa Roh Kudus tentang Kristus sebagai Tuhan kehidupan kita.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau mengutus Roh Kudus-Mu kepada kami. Semoga Dia menolong kami untuk hidup kudus dan dan benar dalam kehadiran-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 16:5-11), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS PERGI KEPADA BAPA YANG TELAH MENGUTUS-NYA” (bacaan tanggal 23-5-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-05  BACAAN HARIAN MEI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-5-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 22 Mei 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KEHADIRAN YESUS KRISTUS SECARA BARU

KEHADIRAN YESUS KRISTUS SECARA BARU

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH VI [Tahun A], 21 Mei 2017)

“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti perintah-perintah-Ku. Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.

Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu. Sesaat lagi dunia tidak akan melihat Aku lagi, tetapi kamu akan melihat Aku, sebab Aku hidup dan kamu pun akan hidup. Pada waktu itulah kamu akan tahu bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.

Siapa saja yang memegang perintah-Ku dan melakukan-Nya, dialah yang mengasihi Aku. Siapa saja yang mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.” (Yoh 14:15-21)

Bacaan Pertama: Kis 8:5-8,14-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 66:1-7,16-20; Bacaan Kedua: 1Ptr 3:15-18

Yohanes Penginjil mempunyai kesukaan khusus untuk memperbandingkan dua hal yang saling berlawanan, misalnya: kegelapan vs terang (Yoh 1:5; 3:19;12:46);  hidup vs mati (Yoh 11:25); daging vs roh (Yoh 3:6). Namun kehebatan Yesus Kristus adalah kenyataan bahwa dalam Dia segala konflik dapat diatasi, dan hal-hal yang saling bertentangan seperti disebutkan diatas dapat direkonsiliasikan.

Jadi, ketika Yohanes menulis tentang Yesus yang akan ditinggikan seperti Musa meninggikan ular di padang gurun (Yoh 3:14-15; bdk. Bil 21:9), sebenarnya pesan yang ingin disampaikannya adalah pesan bahwa Yesus akan ditinggikan di kayu salib untuk mati dan juga untuk kebangkitan-Nya kepada kehidupan baru. Maut (kematian) tidak lagi berkontradiksi dengan kehidupan, akan tetapi membawa kepada suatu kehidupan kekal. Misi yang dilihat mata manusia sebagai suatu “kegagalan” menjadi suatu momen kemenangan. Pohon kejatuhan kita menjadi pohon keselamatan. Dan, perpisahan Yesus dari kehadiran fisik diubah menjadi suatu kedatangan kehadiran-Nya yang lebih besar dan lebih dinamis.

Yesus berbicara mengenai “seorang” Penolong yang lain, seorang Penasihat [Yunani: Parakletos], yang akan tinggal bersama para murid-Nya selama-lamanya. Para murid tidak ditinggalkan tanpa pemimpin, pembimbing atau ayah: “Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu. Sesaat lagi dunia tidak akan melihat Aku lagi, tetapi kamu akan melihat Aku, sebab Aku hidup dan kamu pun akan hidup” (Yoh 14:18-19). Ini adalah janji Yesus yang sangat mengejutkan tentang syering “relasi-Nya sendiri dengan Bapa surgawi” dengan kita. “Pada waktu inilah kamu akan tahu bahwa kamu akan tahu bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu” (Yoh 14:20).

Bacaan-bacaan Misa untuk masa Paskah terus membawa ke hadapan kita perubahan dari cara berpikir lama kepada cara berpikir yang baru: dari hidup lama yang ditinggalkan pada bejana air baptisan (ketika kita dibaptis) kepada hidup baru karena ikut ambil bagian dalam kebangkitan Yesus Kristus. Bagi rasul rasul atau murid-murid yang pertama, hal itu berarti berubah dari kontak mereka yang lama dengan Yesus secara fisik menjadi kontak-iman yang baru: perubahan dari melihat secara eksternal (seperti dunia melihat) kepada percaya dalam iman (jadi bersifat batiniah). Hal itu berarti bahwa mereka harus berubah, harus mengubah paradigma, dari mengikut seorang manusia yang mereka kagumi, kepada posisi sebagai anggota-Nya yang hidup dengan Roh-Nya dan misi-Nya.

Pertanyaan besar di balik cerita-cerita Paskah adalah: “Di mana Yesus dapat ditemukan?” Jawabnya adalah: “Janganlah mencari hal-hal yang eksternal atau tubuh fisik dari kehadiran-Nya. Ia tidak lagi ada di sana untuk dilihat mata kita, melainkan Ia sekarang hadir dalam komunitas umat beriman dan dalam diri setiap orang yang menjadi anggota komunitas tersebut.

Rahasia dari perubahan yang sedemikian adalah Roh Kudus, yaitu Roh Allah atau Roh Yesus sendiri. Kata “roh” berarti nafas (ruah dalam bahasa Ibrani). Udara yang kita hirup tidak dapat dilihat dengan mata, namun mutlak diperlukan. Kita dapat mati bila berada dalam situasi tanpa udara segar. Oleh karena kita selalu mencari ruangan di mana kita tidak akan merasa sesak dan susah-bernafas. Dengan udara segar kita dapat memperbaharui vitalitas kita.

Nah, nafas hidup Allah diberikan kepada kita dalam Roh Kudus. Kita menerima suatu panggilan untuk tidak lagi sekadar menjadi insani, Kita dipanggil untuk memperkenankan Allah hidup dalam diri kita, bekerja dalam diri kita dan mengasihi orang-orang lain lewat diri kita. Seperti kita ketahui, dalam pembaptisan kita memperoleh identitas baru: kita berada dalam relasi mendalam dengan ketiga Pribadi Ilahi dalam Allah Tritunggal Mahakudus.

DOA: Bapa surgawi, aku sangat dikasihi oleh Roh Kudus-Mu yang berdiam dalam diriku sehingga dibawa oleh-Nya ke dalam suatu hidup baru. Aku ikut ambil bagian dalam hidup Yesus Kristus, sabda-Mu sendiri yang sangat Kaukasihi, dengan demikian aku boleh berdoa bersama Dia, sabda-Mu sendiri yang sangat Kaukasihi, kepada Engkau sebagai Bapaku. Terima kasih Bapa, Engkau yang hidup dan berkuasa bersama Yesus Kristus dalam persekutuan Roh Kudus, Allah sepanjang segala masa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 14:15-21), bacalah tulisan yang  berjudul “KETAATAN YESUS KEPADA BAPA DAN KETAATAN KITA KEPADA PERINTAH-PERINTAH YESUS” (bacaan tanggal 21-5-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsada.wordpress.com; kategori: 17-05 BACAAN HARIAN MEI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 25-5-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 18 Mei 2017 {Peringatan S. Feliks dr Cantalice] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

JADILAH SEPERTI YESUS

JADILAH SEPERTI YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah – Sabtu, 20 Mei 2017)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan/Pesta S. Bernadinus dr Siena, Imam

 

“Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku daripada kamu. Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu. Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu; jikalau mereka telah menuruti firman-Ku, mereka juga akan menuruti perkataanmu. Tetapi semuanya itu akan mereka lakukan terhadap kamu karena nama-Ku, sebab mereka tidak mengenal Dia yang telah mengutus Aku.” (Yoh 15:18-21)

Bacaan Pertama: Kis 16:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 100:1-3,5

“Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahuklu membenci Aku daripada kamu.(Yoh 15:18)

Umat Kristiani terus dikejutkan karena dunia membenci mereka. Kita mungkin berpikir bahwa dunia telah berubah sejak dunia menolak dan menyalibkan Yesus. Kita juga mungkin berpikir bahwa kita tidak sebegitu seperti Yesus, sehingga pantas menjadi korban penolakan dan penganiayaan. Namun kita pada dasarnya telah diubah dengan pembaptisan dalam Kristus: “dibaptis dalam kematian-Nya” (lihat Rm 6:3). Kita mempunyai suatu kodrat baru, yaitu sebagai “ciptaan baru” (lihat Gal 6:15), kita telah dipilih dari dunia oleh Kristus (Yoh 15:19). Dunia mengakui bahwa kita bukan lagi miliknya, oleh karena itu dunia membenci, menganiaya, dan mencoba membunuh kita (Yoh 15:19-20), bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kita akan menyangka bahwa ia berbakti kepada Allah (Yoh 16:2).

Walaupun dunia membenci orang-orang Kristiani yang penuh dosa, juga orang-orang Kristiani yang malas, Allah ingin memberikan lebih banyak alasan kepada dunia untuk menganiaya kita. Allah ingin membuat kita kudus, membuat kita seperti diri-Nya sendiri. Kemudian kita bukan hanya merupakan suatu ancaman besar, melainkan nyata-nyata suatu ancaman yang sesungguhnya, untuk mengacaukan atau menjungkir-balikkan seluruh dunia (lihat Kis 17:6). Dengan demikian, dunia merasa “terpaksa” untuk menganiaya kita dengan segera dan dengan penuh nafsu.

Oleh karena itu hayatilah baptis kita (anda dan saya)! Jadilah suatu ancaman bagi dunia. Jadikanlah diri kita korban kebencian dunia sehingga pantas dianiaya. Jadikanlah diri kita kudus! Marilah kita menjadi seperti Yesus!

DOA: Bapa surgawi, buatlah diriku layak menderita penghinaan oleh karena nama Yesus (Kis 5:41; bdk. Mat 5:11-12). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yes 15:18-21), bacalah tulisan yang berjudul “DUNIA MEMBENCI YESUS DAN PARA MURID-NYA” (bacaan tanggal 20-5-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-05 BACAAN HARIAN MEI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 30-4-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 17 Mei 2017 [Peringatan S. Paskalis Baylon] 

Sdr F.X. Indrapradja, OFS 

PERINTAH YESUS KEPADA PARA SAHABAT-NYA

PERINTAH YESUS KEPADA PARA SAHABAT-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah – Jumat, 19 Mei 2017)

Keluarga Fransiskan Kapusin: Peringatan S. Kripinus dr Viterbo, Bruder

Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada ini, yakni seseorang memberikan nyawanya demi sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu melakukan apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku  tidak menyebut  kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku. Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang terhadap yang lain. (Yoh 15:12-17)

Bacaan Pertama: Kis 15:22-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 57:8-12 

“Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.” (Yoh 15:12)

Yesus memerintahkan kita, tidak hanya untuk saling mengasihi satu sama lain, melainkan juga untuk mengasihi sebagao,ama Dia telah mengasihi kita. Hal ini berarti bahwa hendaknya kita memberikan nyawa kita bagi sahabat-sahabat kita (Yoh 15:13), juga kalau perlu bagi musuh-musuh kita (Rm 5:8,10). Dengan cara ini para murid Yesus akan dikenal dan diketahui sebagai sungguh-sungguh murid-Nya, sebab tidak ada seorang pun – kecuali Yesus – yang mengasihi musuh-musuh-Nya dengan memberikan nyawa-Nya bagi mereka (Luk 5:27 dsj.).

Bagaimana kita yang sedemikian penuh cinta-diri ini dapat memiliki kasih yang begitu luhur? Jangan takut, Roh Kudus akan memurnikan kita dengan penuh kepatuhan pada kebenaran, sehingga menghasilkan buah-buah kasih dalam hidup kita (Gal 5:22). Roh Kudus juga akan berseru dalam hati kita, “Abba” (Gal 4:6; Rm 8:15). Kita semua akan mengetahui benar bahwa diri kita itu dikasihi oleh Bapa surgawi secara sempurna. Dengan demikian kita akan mampu mengasihi dengan cara yang menakjubkan. Kita mengasihi, karena “Ia lebih dahulu mengasihi kita (1 Yoh 4:19).

Tepat satu pekan lagi, kita akan memulai Novena kepada Roh Kudus. Selama sembilan hari berturut-turut umat di seluruh dunia akan berdoa, agar Roh Kudus memperbaharui muka bumi: budaya korupsi, cinta-diri diubah menjadi budaya pengabdian, pelayanan dan pekerjaan yang mementingkan budaya pengabdian, pelayanan dan program-program yang mementingkan kesejahteraan umum; mencipta budaya berani berkorban dan mau terlibat dalam kegiatan bagi kepentingan dan kemajuan sesama umat dalam Gereja.

Datanglah, ya Roh Kudus !!!

DOA: Bapa surgawi, Engkau adalah Kasih Sejati. Biarlah Roh Kudus membentuk diriku menjadi murid yang sejati dari Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku. Aku sungguh ingin mengasihi seperti Engkau dalam Kristus mengasihi diriku. Sentuhlah hatiku pada hari ini dan buatlah diriku agar sungguh–sungguh memiliki kehendak untuk mengampuni dengan lebih mendalam. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Allah Tritunggal Mahakudus. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 15:12-17), bacalah tulisan yang berjudul “KITA HARUS SALING MENGASIHI, SEPERTI YESUS TELAH MENGASIHI KITA” (bacaan tanggal 19-5-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-05 BACAAN HARIAN MEI 2017

Cilandak, 17 Mei 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 29-4-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 17 Mei 2017 [Peringatan S. Paskalis Baylon] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS