Posts tagged ‘DI SINAGOGA’

MEMATUHI PERATURAN AGAMA HARUSLAH DENGAN KASIH

MEMATUHI PERATURAN AGAMA HARUSLAH DENGAN KASIH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa II – Rabu, 22 Januari 2020)

HARI KELIMA PEKAN DOA SEDUNIA UNTUK PERSATUAN UMAT KRISTIANI

Peringatan Fakultatif S. Vincentius, Diakon-Martir

Kemudian Yesus masuk lagi ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang tangannya mati sebelah. Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia. Kata Yesus kepada orang yang tangannya mati sebelah itu, “Mari, berdirilah di tengah!” Kemudian kata-Nya kepada mereka, “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya?” Tetapi mereka diam saja. Ia sangat berduka karena kekerasan hati mereka dan dengan marah Ia memandang orang-orang di sekeliling-Nya lalu Ia berkata kepada orang itu, “Ulurkanlah tanganmu!” Orang itu mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu. Lalu keluarlah orang-orang Farisi dan segera membuat rencana bersama para pendukung Herodes untuk membunuh Dia. (Mrk 3:1-6)

Bacaan Pertama: 1Sam 17:32-33,37,40-51; Mazmur Tanggapan: Mzm 144:1-2,9-10

Allah memerintahkan orang-orang Yahudi untuk mengingat dan menguduskan hari
Sabat (Kel 20:8). Untuk menguduskan hari Sabat sesuai perintah Allah itu, orang-orang Yahudi menyusun suatu sistem hukum guna melindungi kesuciannya. Melakukan peraturan tentang hari Sabat penting karena hal itu membedakan mereka dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Yesus menguatkan klaim-Nya sebagai Tuhan (Kyrios) atas hari Sabat (Mrk 2:28) pada saat Ia menyembuhkan seorang yang mati satu tangannya. Yesus mengetahui bahwa orang-orang Farisi berharap akan menjebak diri-Nya sebagai seseorang yang melanggar hukum Sabat jikalau Ia menyembuhkan orang itu. Oleh karena itu Yesus mengkonfrontir orang-orang Farisi itu dengan bertanya: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya?” (Mrk 3:4). Ketika Yesus menyembuhkan orang itu, orang-orang Farisi secara murni legalistis memandang tindakan-Nya sebagai “kejahatan” karena Yesus telah membuat “profan” hari Sabat yang yang semestinya “sakral”, dengan melanggar hukum yang melarang penyembuhan pada hari Sabat, kecuali untuk menyelamatkan nyawa seseorang. Di sisi lain, orang-orang Farisi itu memandang tindakan-tindakan mereka untuk menghancurkan Yesus sebagai hal yang “baik”, karena Yesus merupakan ancaman terhadap pemahaman mereka akan Allah.

Yesus adalah pemenuhan janji-janji Allah, yang menghantar kita ke dalam Kerajaan Allah. Bapa surgawi memberikan kuasa kepada Yesus untuk menyembuhkan, mengajar, dan mengampuni dosa-dosa. Karena Yesus itu memiliki belarasa dan belas kasih (Mrk 3:4-5), Yesus menempatkan martabat dan nilai manusia di atas hukum Sabat. Dalam menyembuhkan orang itu, Yesus menyatakan diri-Nya sendiri sebagai pemberi kehidupan yang sejati – sang Mesias, Putera Allah. Cerita penyembuhan orang lumpuh yang diturunkan dari atas atap rumah (Mrk 2:1-12), panggilan Lewi (Mrk 2:13-17), pertanyaan mengenai puasa (Mrk 2:18-22), dan isu mengenai bekerja di hari Sabat (Mrk 2:23-28), semua menunjuk kepada Yesus sebagai Mesias dari Allah yang menghantar kita menuju Kerajaan Allah.

Karena Yesus memiliki hasrat mendalam agar semua orang mengalami penyelamatan-Nya, maka penolakan orang-orang Farisi atas dirinya sungguh membuat diri-Nya sedih. Jika kita memilih untuk percaya kepada ide-ide kita sendiri dan bukannya percaya kepada kebenaran tentang siapa Yesus ini, maka kita pun membuat hati Yesus sedih. Sebagai seorang gembala yang baik, Yesus sungguh sedih apabila ada domba-Nya yang mengabaikan panggilan-Nya dan berjalan semaunya sendiri. Yesus sungguh menyadari bahwa si Jahat – layaknya seekor serigala – senantiasa menunggu kesempatan untuk menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba gembalaan. Dengan wafat di kayu salib dan bangkit dari antara orang mati, Yesus memberikan hidup-Nya agar kita “mempunyai hidup, dan mempunyainya dengan berlimpah-limpah” (Yoh 10:10).

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Lewat bimbingan Roh Kudus-Mu, buatlah agar kami senantiasa mematuhi hukum kasih-Mu sepanjang hidup kami. Terpujilah nama-Mu yang kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 3:1-6), bacalah tulisan dengan judul “MANAKAH YANG DIPERBOLEHKAN?’” (bacaan tanggal 22-1-20), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; 20-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2020. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 20 Januari 2014 [Peringatan Fakultatif S. Yohanes Pembaptis dr Triquerie, Imam-Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

TINDAKAN BERBICARA LEBIH KERAS DARIPADA SEKADAR UCAPAN KATA-KATA

TINDAKAN BERBICARA LEBIH KERAS DARIPADA SEKADAR UCAPAN KATA-KATA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Gregorius Agung, Paus Pujangga Gereja – Selasa, 3 September 2019)

Kemudian Yesus pergi ke Kapernaum, sebuah kota di Galilea, lalu mengajar di situ pada hari-hari Sabat. Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab perkataan-Nya penuh kuasa. Di dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan setan dan ia berteriak dengan suara keras, “Hai Engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu dengan kami? Apakah engkau datang untuk membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.” Tetapi Yesus membentaknya, “Diam, keluarlah dari dia!” Setan itu pun menghempaskan orang itu ke tengah-tengah orang banyak, lalu keluar dari dia dan sama sekali tidak menyakitinya. Semua orang takjub, lalu berkata seorang kepada yang lain, “Alangkah hebatnya perkataan ini! Sebab dengan penuh wibawa dan kuasa Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka pun keluar.” Lalu tersebarlah berita tentang Dia ke mana-mana di daerah itu. (Luk 4:31-37)

Bacaan Pertama: 1Tes 5:1-6,9-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14

Ada sebuah pepatah dalam bahasa Inggris yang berbunyi: “Actions speak louder than words”, artinya “tindakan itu berbicara lebih keras daripada kata-kata”; jangan hanya omong saja (OMDO = omong doing), buktikanlah dengan tindakan nyata, jangan NATO (=No action, talk only)! Narasi Lukas tentang orang yang kerasukan roh jahat di Kapernaum merupakan ilustrasi bagus sekali atas pepatah dalam bahasa Inggris di atas. Lukas menceritakan kepada kita bahwa ketika Yesus membebaskan orang yang kerasukan roh jahat itu, semua orang takjub, lalu berkata seorang kepada yang lain, “Alangkah hebatnya perkataan ini! Sebab dengan penuh wibawa dan kuasa Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka pun keluar” (Luk 4:36). Dalam peristiwa ini Yesus menunjukkan otoritas (kuasa) kata-kata yang diucapkan-Nya dengan melakukan pekerjaan yang menakjubkan, dan orang-orang pun menjadi terkesan.

Dalam zaman modern ini pun tindakan berbicara lebih keras daripada sekadar ucapan kata-kata. Orang-orang lebih berkemungkinan untuk percaya kepada “seorang” Allah yang penuh kasih jikalau mereka melihat perbedaan yang dibuat-Nya dalam kehidupan orang, khususnya umat-Nya. Edith Stein [1891-1942] adalah seorang berkebangsaan Jerman keturunan Yahudi. Dia adalah seorang filsuf (bergelar doktor) dan kemudian menjadi seorang biarawati Karmelites OCD (Ordo Karmelit tak berkasut) dan meninggal dalam kamar gas Nazi di Kamp Konsentrasi Auschwitz.

S, EDITH STEIN - AASalah satu penyebab mengapa Edith Stein tertarik kepada agama Kristiani adalah contoh yang diberikan oleh seorang temannya yang beragama Kristiani. Temannya itu mengalami kematian suami dan menanggung “musibah” itu dengan penuh kedamaian, bukannya kepahitan, rasa sedih yang begitu menindih, atau self-pity. Temannya ini menunjukkan bahwa dirinya dengan penuh ketenangan memiliki pengharapan. Malah dia memiliki kekuatan batin untuk menghibur teman-temannya yang lain yang sedang mengalami kesedihan. Iman perempuan ini menjadi suatu tanda-yang-menggerakkan bagi Edith Stein tentang kebenaran dan kuasa Kekristenan. Tidak lama kemudian Edith Stein masuk ke dalam Gereja Katolik.

Edith Stein meninggal dalam sebuah kamp konsentrasi di tanah Polandia, yang menjadi salah satu kenangan buruk era Nazi Jerman di sepanjang masa. Akan tetapi sejak kematiannya, cerita tentang Edith Stein membawa dampak besar terhadap banyak orang melalui contoh keberaniannya, imannya dan keyakinannya. Dirinya sendiri menjadi suatu tanda bagi orang-orang lain berkaitan dengan pesan Injil Yesus Kristus.

Allah telah menempatkan kita dalam dunia untuk menjadi duta-duta Kristus (lihat 2Kor 5:20). Ia telah memanggil kita untuk menyebarkan kabar baik Yesus Kristus ke tengah dunia (Mat 28:19-20). Kita semua memiliki potensi untuk mempengaruhi orang-orang lewat cara/gaya hidup kita. Jikalau kita merangkul Yesus yang tersalib, seperti yang dilakukan oleh S. Edith Stein (S. Teresia Benedikta dr Salib, Perawan-Martir – Peringatan tanggal 9 Agustus), S. Fransiskus dari Assisi dan banyak sekali orang kudus lainnya, maka terang Allah akan menjadi terlihat dalam hidup kita. Jadi, dengan pertolongan-Nya, marilah kita siap untuk mengampuni, untuk berbagi dengan orang-orang miskin, untuk bergerak dengan penuh kedamaian melalui berbagai kesulitan hidup ini.  Semoga hidup kita meneguhkan kata-kata yang kita ucapkan tentang Allah dan memberikan bukti kepada orang-orang lain bahwa Yesus adalah sungguh-sungguh Imanuel, “Allah beserta kita” (Mat 1:23; bdk. 28:20).

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah menganugerahkan kepada kami Karunia-Mu yang paling besar dan agung, yaitu Roh Kudus-Mu sendiri, yang mengajar dan melatih kami untuk melaksanakan tugas kami sebagai garam bumi dan terang dunia, agar dengan demikian dunia dapat percaya bahwa Engkau datang ke tengah dunia untuk menyelamatkan kami dan memberikan kepada kami semua di dunia kehidupan kekal. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 4:31-37), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS ADALAH YANG KUDUS DARI ALLAH” (bacaan tanggal 3-9-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2019.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 4-9-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 2 September 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS