Posts tagged ‘DI JALAN MENUJU EMAUS’

YESUS SIAP UNTUK MENYEMBUHKAN KITA

YESUS SIAP UNTUK MENYEMBUHKAN KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RABU DALAM OKTAF PASKAH, 4 April 2018)

Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah desa bernama Emaus, yang terletak kira-kira sebelas kilometer dari Yerusalem, dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi. Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia. Yesus berkata kepada mereka, “Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?”  Lalu berhentilah mereka dengan muka muram. Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya, “Apakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dialah adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan dan perkataan di hadapan Allah dan seluruh bangsa kami. Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. Padahal kami dahulu mengharapkan bahwa Dialah yang akan membebaskan bangsa Israel. Sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi. Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur, dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat yang mengatakan bahwa Ia hidup. Beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati persis seperti yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat.”  Lalu Ia berkata kepada mereka, “Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu untuk mempercayai segala sesuatu, yang telah para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya”  Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi. Mereka mendekati desa yang mereka tuju, lalu Ia  berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-nya. Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya, “Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam.”  Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka. Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap syukur, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka. Kata mereka seorang kepada yang lain, “Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?”  Lalu bangkitlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu dan orang-orang yang ada bersama mereka, sedang berkumpul. Kata mereka itu, “Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon.”  Lalu kedua orang itu pun menceritakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenali Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti. (Luk 24:13-35) 

Bacaan Pertama: Kis 3:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:1-4,6-9 

Kita hampir dapat mendengar kejengkelan dalam suara dua orang murid Yesus ini. Meskipun sudah ramai juga “gosip” atau “kabar angin” bahwa pahlawan mereka masih hidup, mereka sendiri belum melihat Yesus. Sekarang adalah hari ketiga sejak kematian Yesus di kayu salib yang penuh kehinaan dan kepedihan itu. Oleh karena itu mereka berkesimpulan bahwa sang “nabi” tidak akan kembali untuk membebaskan bangsa Yahudi dari penjajahan bangsa asing. Janji-janji Yesus kedengarannya kosong belaka bagi mereka.

Kita pun terkadang dapat mengalami kekecewaan seperti kedua orang murid ini. Manakala posisi keuangan sedang payah dan tingkat stres tinggi, misalnya, atau ketika kita sedang sakit dan tidak melihat tanda-tanda yang mengarah kepada kesembuhan, harapan dapat menyusut dan godaan untuk tidak menaruh kepercayaan pada Allah pun semakin dekat dan besar. Dalam keadaan penuh frustrasi kita dapat merasa seakan-akan Yesus telah meninggalkan kita atau Dia memang tidak mau memenuhi janji-Nya.

Namun kabar baiknya adalah bahwa Allah akan memenuhi semua janji-Nya – seperti yang telah dijanjikan-Nya bahwa Dia akan bangkit lagi pada hari ketiga (Luk 9:22; 18:33). Sementara kedua orang murid itu merasa sedih dan meratapi harapan-harapan mereka yang tak terpenuhi, Yesus berdiri di hadapan mereka! Coba pikirkan saja: Apabila tidak bertemu dengan Yesus yang sudah bangkit dalam perjalanan menuju Emaus, kemungkinan besar kedua murid itu tidak akan mengalami hari Pentakosta yang bersejarah itu.

Yesus sedang menantikan kita yang gelisah, sedih, kecewa karena harapan-harapan kita yang tak terpenuhi. Dia siap untuk menyembuhkan kita, anda dan saya. Dia ingin agar kita melepaskan beban-beban kita dan percaya bahwa Dia ingin menolong kita dalam pencobaan dan kekecewaan kita. Dia selalu berada dengan kita, seperti yang telah dijanjikan-Nya (Mat 28:20). Kita dapat selalu memanggil-Nya, karena Dia sungguh memperhatikan kita, Dia mengasihi kita! Bahkan begitu mengasihi kita, sehingga Dia masuk kubur dan bangkit kembali untuk kita semua. Semoga Roh-Nya membuka hati kita agar dapat mengenali Yesus yang bangkit, Tuhan segala mukjizat!

DOA: Allah Roh Kudus, tolonglah aku. Aku mau melihat Yesus! Tolonglah agar supaya aku menaruh pengharapan dan kepercayaanku hanya pada-Nya. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 3:1-10), bacalah tulisan yang berjudul “DALAM NAMA YESUS KRISTUS” (bacaan tanggal 4-4-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-04 BACAAN HARIAN APRIL 2018. 

(Tulisan ini revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 19-4-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  2 April 2018 [HARI SENIN DALAM OKTAF PASKAH] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

KEJUTAN-KEJUTAN

KEJUTAN-KEJUTAN

 (Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RABU DALAM OKTAF PASKAH – 23 April 2014) 

EMMAUS - 16Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah desa bernama Emaus, yang terletak kira-kira sebelas kilometer dari Yerusalem, dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi. Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia. Yesus berkata kepada mereka, “Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?”  Lalu berhentilah mereka dengan muka muram. Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya, “Apakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dialah adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan dan perkataan di hadapan Allah dan seluruh bangsa kami. Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. Padahal kami dahulu mengharapkan bahwa Dialah yang akan membebaskan bangsa Israel. Sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi. Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur, dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat yang mengatakan bahwa Ia hidup. Beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati persis seperti yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat.”  Lalu Ia berkata kepada mereka, “Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu untuk mempercayai segala sesuatu, yang telah para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya”  Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi. Mereka mendekati desa yang mereka tuju, lalu Ia  berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-nya. Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya, “Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam.”  Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka. Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap syukur, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka. Kata mereka seorang kepada yang lain, “Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?”  Lalu bangkitlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu dan orang-orang yang ada bersama mereka, sedang berkumpul. Kata mereka itu, “Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon.”  Lalu kedua orang itu pun menceritakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenali Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti. (Luk 24:13-35)

Bacaan Pertama: Kis 3:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:1-4,6-9

EMMAUS - 18Hidup ini penuh dengan kejutan-kejutan. Bacaan Injil hari ini mengingatkan kita bagaimana dua orang murid pulang kembali ke Yerusalem untuk menceritakan kejutan besar yang mereka alami dalam perjalanan ke Emaus dan di Emaus itu sendiri. Kedua orang murid ini telah merasakan kesedihan dan kekecewaan yang mendalam. Mereka berpikir tidak ada lagi pengharapan. Yesus “semestinya” menyelamatkan bangsa mereka dari cengkeraman kekaisaran Roma, namun Ia justru membiarkan Yudas Iskariot dan sepasukan prajurit dan penjaga-penjaga Bait Allah menangkap diri-Nya tanpa perlawanan, dan ujung-ujungnya Dia pun dibunuh – lewat penyaliban di bukit Kalvari.

Pada hari Minggu Paskah itu dua orang murid menempuh jarak lebih dari 11 kilometer dalam perjalanan menuju Emaus. Mereka sedang dilanda kesedihan, kegalauan, malah kebingungan karena apa yang terjadi dengan Yesus yang wafat di kayu salib pada hari Jumat sebelumnya. Tiba-tiba seorang asing bergabung dengan mereka, yang menanyakan mengapa mereka terlihat begitu sedih. Lalu mulailah kejutan pertama: orang asing itu menjelaskan mengapa Kristus harus menderita sengsara dan mati sebelum mencapai kemenangan.

Pada ujung perjalanan orang asing itu menerima undangan untuk makan bersama kedua orang murid itu. Dari orang yang diundang makan fungsinya berubah seakan menjadi tuan rumah. Ia mengambil roti, mengucap syukur, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, tentunya setelah mengatakan: “Inilah Tubuh-Ku yang diberikan kepadamu.”

Kejutan kedua: Orang asing itu telah berjalan bersama mereka sepanjang perjalanan dan mereka samasekali tidak mengenali-Nya. Bukankah hal serupa terjadi dalam kehidupan kita juga? Kita luput mengenali betapa dekat Tuhan berada setiap saat dalam hidup kita. Barangkali kita bahkan tidak mengenali Dia ketika memecah-mecahkan Roti, … Ekaristi. Kita juga gagal mengenali Dia bagaimana Allah senantiasa ada di sana, menolong kita melalui orang-orang lain.

EMMAUS - 20Salah satu dari kejutan-kejutan menyedihkan maupun membahagiakan yang kita alami, adalah ketika menyadari bahwa begitu banyak orang-orang telah berbuat baik kepada kita selama ini tanpa kita sendiri menyadarinya, tanpa kita membalasnya dengan perbuatan baik juga, bahkan tanpa rasa dan ucapan terima kasih dari pihak kita. Betapa banyak orang berdoa untuk diri kita, berapa banyak contoh-contoh baik diberikan kepada kita yang kita abaikan, berapa banyak kebaikan yang diberikan orang-orang – termasuk anggota keluarga kita sendiri – bagi kita dari hari ke hari. Kita memandang semua itu sebagai hal yang biasa-biasa saja, tidak istimewa – taken for granted!, jadi tidak pernah kita hargai …… tidak pernah dibalas dengan kebaikan dari pihak kita.

Kita semua adalah satu dalam Tubuh Kristus. Ada dua kemungkinan: Kita saling menolong sepanjang perjalanan; atau tindakan-tindakan kita menyebabkan orang-orang lain semakin jauh dari Allah. Lihatlah cerita tentang perjalanan ke Emaus ini: Begitu banyak yang telah dilakukan untuk para murid-Nya, namun mereka tidak mampu mengenali-Nya. Itulah sebabnya mengapa mereka dilanda kesedihan dan tidak mampu memahami.

DOA: Tuhan Yesus, dari bacaan Injil-Mu hari ini kami dapat belajar bahwa kesedihan dan kekecewaan dapat memimpin kami kepada sukacita, karena dalam Engkau kami menemukan makna yang sejati. Kami senantiasa memandang ke depan, kepada saat kebangkitan dan reuni kami dengan Engkau. Di sanalah kami akan melihat bahwa Engkau senantiasa memang bersama kami sepanjang perjalanan hidup kami. Terima kasih, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 3:1-10), bacalah tulisan yang berjudul “PETRUS MENYEMBUHKAN SEORANG LUMPUH” dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-04 BACAAN HARIAN APRIL 2014.

Bacalah juga tulisan yang berjudul “NAMA YESUS YANG PENUH KUAT-KUASA” (bacaan tanggal 27-4-11) dalam situs/blog SANG SABDA. 

Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 24:13-35), bacalah tulisan-tulisan yang berjudul “MEREKA MENGENAL DIA DALAM PEMECAHAN ROTI” (bacaan tanggal 3-4-13) dan “EKARISTI ADALAH EMAUS KITA” (bacaan tanggal 11-4-12), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 3-4-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 21 April 2014  

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS