Posts tagged ‘BIAYA KEMURIDAN’

BIAYA KEMURIDAN DALAM MENGIKUT YESUS

BIAYA KEMURIDAN DALAM MENGIKUT YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Klara, Perawan – Jumat, 11 Agustus 2017)

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta S. Klara dr Assisi, Perawan – Ordo II

Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Jika seseorang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi siapa yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi mailakat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Di antara orang yang di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya.” (Mat 16:24-28) 

Bacaan Pertama: Ul 4:32-40; Mazmur Tanggapan: Mzm 77:12-16,21

Siapa saja yang ingin menekuni profesi yang membutuhkan keterampilan tertentu, mengakui bahwa ada “biaya” atau “harga” yang harus dibayar untuk memperoleh privilese tersebut. Studi, magang dan ketekunan dibutuhkan untuk mempelajari profesi, dan selama masa tersebut banyak hal lain harus dikesampingkan/dikorbankan.

Dengan cara serupa, Yesus mengajar bahwa ada “biaya” yang harus dibayar untuk mengikut Dia. Yesus mengatakan kepada para murid-Nya bahwa Dia sedang menuju Yerusalem untuk menderita dan mati (Mat 16:21). Mereka yang menjadi murid/pengikut-Nya harus memikul salib karena seorang hamba/pelayan haruslah seperti tuannya (Mat 16:24; 10:24-25).

Memikul salib bukanlah masalah dengan sedih menanggung sengsara atau kesulitan hidup, atau mendisiplinkan diri kita agar dapat melakukan hal-hal yang benar secara moral. Salib seharusnya tidak dipandang sebagai sebuah instrumen kesedihan dan kematian saja, melainkan sebagai instrumen pilihan Allah sendiri untuk mengalahkan kuasa dosa. Melalui salib-lah orang-orang menerima kehidupan dan dengan demikian mampu masuk ke dalam Kerajaan Allah. Memikul salib berarti mengembangkan suatu sikap hati yang …. mengikut Yesus dalam jalan kematian ke dalam kehidupan.

Kata-kata Yesus tentang membuang cara-cara duniawi mungkin terasa keras (Mat 16:25). Bagaimana pun juga kita-manusia adalah pengada spiritual (spiritual being, di samping rational being, emotional being, social being). Sebagai spiritual being, rumah kita yang sesungguhnya adalah di surga dan sekarang kita dipanggil oleh Yesus untuk membuang segala hal yang menjauhkan kita dari kasih Allah dan tujuan kekal kita. Hal-hal yang kita hasrati, paling sering kita pikirkan, dan memakai sebagian waktu kita untuk itu, adalah hal-hal cinta kita yang pertama. Para pengikut/murid Yesus tidak dapat disibukkan dengan hal-hal yang spiritual dan pengejaran hal-hal duniawi. Sang Guru telah mengajarkan kepada kita, bahwa kita tidak dapat melayani dua tuan.

Memang kemuridan/pemuridan menyangkut “biaya”, namun kita juga tidak boleh lupa bahwa dari salib datanglah kehidupan. Salib adalah tanda kematian, pada saat bersamaan salib adalah tanda kemenangan bagi para pengikut/murid Yesus. Salib membuka pintu bagi kita untuk memasuki kehidupan yang sejati – baik sekarang maupun dalam kekekalan. Itulah sebabnya mengapa Yesus mengajar bahwa “siapa yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya” dan bahwa Anak Manusia “… akan membalas setiap orang menurut perbuatannya” (Mat 16:25,27).

DOA: Tuhan Yesus, tanamkanlah dalam hatiku suatu hasrat mendalam untuk memikul salib sehingga dengan demikian aku dapat menerima kehidupan sesuai dengan kehendak Bapa surgawi. Semoga aku dapat seperti Engkau yang dengan bebas memikul salibku dalam kehidupan ini. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 16:24-28), bacalah tulisan yang berjudul “SIAPA YANG MAU MENYELAMATKAN NYAWANYA ……” (bacaan tanggal 11-8-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 5-8-16 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 9 Agustus 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

YESUS ADALAH YANG PERTAMA DAN UTAMA

YESUS ADALAH YANG PERTAMA DAN UTAMA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV – Senin, 17 Juli 2017

FSGM: Peringatan wafat Pendiri Kongregasi

“Jangan kamu menyangka bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.

Siapa saja yang mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada Aku, ia tidak layak bagi-Ku; dan siapa saja yang mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih daripada Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak  bagi-Ku. Siapa saja yang mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan siapa saja yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.

Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku.  Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut  seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar. Siapa saja yang memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Ia tidak akan kehilangan upahnya.”

Setelah Yesus mengakhiri pesan-Nya kepada kedua belas murid-Nya, pergilah Ia dari sana untuk mengajar dan memberitakan Injil di dalam kota-kota mereka. (Mat 10:34-11:1) 

Bacaan Pertama: Kel 1:8-14,22; Mazmur Tanggapan: Mzm 124:1-8  

Siapa saja yang mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada Aku, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat 10:37).

Bagi banyak dari kita yang mendengar sabda Yesus ini tentunya mudah sekali membayangkan seakan-akan kata ini diucapkan oleh pemimpin yang sangat egoistis, “mau menang sendiri” dst. Bukankah hubungan kekeluargaan – teristimewa relasi antara orangtua dan anak mereka – hampir selalu merupakan hubungan yang paling penting dalam hidup kita? Bukankah salah satu dari “Sepuluh Perintah Allah” berbunyi: “Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN (YHWH), Allahmu kepadamu” (Kel 20:12; bdk. Ul 5:16, Mat 15:4, Mrk 7:10, Ef 6:2-3)? Apalagi pada masa kehidupan Yesus di bumi, hubungan kekeluargaan bagi umat Israel sangat dijunjung tinggi ketimbang pada masa modern ini.

Maka sabda Yesus dalam bacaan Injil hari ini secara istimewa memberi kesan bahwa pesan yang disampaikan-Nya sungguh keras dan tajam, namun tidak boleh dibaca dan ditafsirkan secara harfiah. Di sini Yesus menggunakan hiperbola klasik orang Yahudi – yaitu  suatu pengungkapan berlebihan secara luarbiasa, dengan tujuan menyampaikan sebuah pokok pemikiran yang penting. Demi Injil, hubungan keluarga harus ditempatkan bukan sebagai prioritas utama. Relasi kita dengan diri-Nya seharusnya merupakan relasi yang paling penting dalam kehidupan kita. Tidak ada relasi apa pun (mana pun) – bahkan juga relasi dengan anggota keluarga yang terdekat –  yang harus menjadi lebih penting daripada relasi  kita dengan Yesus. Tentu saja Yesus tidak memaksudkan agar kita  berhenti mencintai/mengasihi para anggota keluarga kita atau pun orang-orang lain, melainkan menantang prioritas-prioritas yang kita tetapkan, dan Ia minta kepada kita untuk menempatkan diri-Nya dalam hati kita sebagai yang pertama dan utama.

Banyak orang mempunyai keprihatinan yang besar terhadap keluarga mereka masing-masing. Hal ini memang baik dan terpuji! Akan tetapi, kadang-kadang terjadi bahwa keprihatinan ini sangatlah menyita segala waktu, pikiran, tenaga dll. yang ada pada kita sehingga relasi kita dengan Yesus menjadi menyusut, bahkan sampai tingkat yang seminum-minimumnya. Masalah-masalah keluarga dapat mendominansi diri kita sampai begitu dalamnya, sehingga praktis kita memakai hampir seluruh waktu kita dalam mencoba menyelesaikan masalah-masalah keluarga itu dan luput menyediakan waktu bagi kehadiran Yesus. Apabila hal ini terjadi, ada risiko bahwa sesungguhnya kita mencari sumber kepenuhan dan kebahagiaan yang salah.

Menempatkan diri Yesus sebagai yang pertama dan utama dalam skala prioritas kita adalah tindakan yang sangat bijaksana dalam menjalin relasi dengan orang-orang kita kasihi. Pada kenyataannya, suatu hubungan yang penuh kasih dan kuat dengan Yesus sesungguhnya akan meningkatkan segala hubungan kita yang lain. Mengapa sampai begitu? Karena dengan semakin dekatnya diri kita dengan Yesus, kita pun menjadi semakin mengalami damai-sejahtera, memiliki bela rasa dan kemurahan hati. Damai-sejahtera, bela rasa dan kemurahan hati sesungguhnya adalah unsur-unsur utama yang harus senantiasa ada dalam suatu relasi yang sehat dan penuh kasih.

Bahkan dalam kasus-kasus di mana suatu komitmen radikal kepada Yesus terlihat akan menghalangi relasi-relasi yang lain – hal ini memang biasa, teristimewa bagi orang-orang dewasa yang baru menjadi murid Kristus – maka Yesus pada akhirnya akan membuat segala hal menjadi yang terbaik bagi mereka yang pertama-tama mencari diri-Nya dan terus berjuang untuk mengikuti jejak-Nya dengan lebih baik setiap hari.

DOA: Yesus Kristus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Ampunilah aku untuk saat-saat di mana aku gagal menempatkan diri-Mu sebagai yang pertama dan utama di antara sekian banyak relasiku dengan berbagai pihak. Pada hari ini, sekali lagi aku membuat komitmen untuk mengasihi-Mu dan mengikuti jejak-Mu sebagai seorang murid yang setia, sebelum segalanya yang lain. Amin. 

Catatan:  Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 10:34-11:1), bacalah tulisan yang berjudul “DIPANGGIL UNTUK MENJADI SAKSI KEHIDUPAN BARU” (bacaan tanggal 17-7-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-07 BACAAN HARIAN JULI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-7-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 14 Juli 2017 [Peringatan S. Fransiskus Solanus, Imam Fransiskan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS  

ADA BIAYA YANG HARUS DIPERHITUNGKAN

ADA BIAYA YANG HARUS DIPERHITUNGKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXIII [Tahun C] – 4 September 2016)

HARI MINGGU KITAB SUCI NATIONAL

jesus_christ_picture_013Pada suatu kali ada banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka, “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapaknya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, apakah uangnya cukup untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, dan berkata: Orang ini mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya.

Atau, raja manakah yang kalian mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian. Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.  (Luk 14:25-33).

Bacaan Pertama: KebSal 9:13-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 90:3-6.12-14.17; Bacaan Kedua: Flm 9b-10.12-17

Membenci bapaknya dan ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan (Luk 14:26)? Bukankah Yesus mewartakan tentang kasih, bukan kebencian?

Tentu saja, Yesus memanggil kita untuk mengasihi setiap orang seperti dilakukan-Nya, termasuk keluarga kita sendiri. Namun Yesus juga dengan jelas menyatakan bahwa “keterikatan atau kelekatan” – walaupun pada keluarga sendiri – tidak dapat menjadi preseden terhadap pengabdian penuh kepada diri-Nya. Seperti telah dicontohkan oleh kehidupan banyak orang kudus, menjadi murid Yesus kadang kala menghadapi oposisi dari seorang atau lebih anggota keluarga. Apabila hal seperti  ini terjadi, kita harus menolak tekanan-tekanan dari pihak yang menentang, walaupun kita harus terus mengasihi mereka.

Yesus menjanjikan kehidupan kekal dalam kerajaan-Nya bagi mereka yang mengikuti-Nya. Namun apabila kita ingin berhasil dalam mengikuti Yesus sampai akhir, kita harus secara realistis melakukan “kalkulasi biaya”. Bayangkanlah kita sedang membangun sebuah rumah idaman. Berapa biaya konstruksinya? Apakah kita memiliki berbagai sumber daya yang diperlukan? Kemungkinan besar kita harus mengorbankan pengeluaran-pengeluaran uang untuk keperluan lain, agar tersedia cukup dana untuk pembangunan rumah idaman kita ini. Penyusunan anggaran dan pengawasannya menjadi hakiki dalam hal ini, kalau kita tidak ingin keteteran dalam hal keuangan sehingga jangan-jangan memaksa kita untuk menjual rumah yang baru setengah jadi, dengan merugi lagi!

Kita mengetahui pentingnya perencanaan untuk masa depan kita di dunia ini. Ada beberapa ungkapan dalam dunia bisnis yang menekankan pentingnya perencanaan,  misalnya “Failing to plan, you are planning to fail!” dan “Plan ahead, it wasn’t raining when Noah built the Ark”. Sekarang masalahnya adalah, apakah kita melakukan perencanaan masa depan kita di dalam Kerajaan Allah? Apakah kita melakukan investasi dalam surga atau hanya dalam hal-hal yang bersifat sementara saja? Kita harus mempertimbangkan faktor waktu, berbagai karunia dan talenta, serta segala sesuatu yang lain yang telah diberikan Allah kepada kita. Apakah kita (anda dan saya) menggunakan semua hadiah “gratis” dari Allah itu untuk melayani-Nya, …… untuk mengumpulkan bagi kita harta di surga (Mat 6:19-20)? Apakah kita (anda dan saya) bersedia menyerahkan/melepaskan apa saja yang diminta Allah dari kita demi cintakasih kita kepada-Nya?

Jikalau menjadi seorang murid Kristus mendatangkan kesusahan bagi kita dari waktu ke waktu, barangkali hal itu justru mengindikasikan bahwa kita berada di jalan yang benar. Ini adalah jalan yang sama yang dijalani oleh Yesus ketika menuju bukit Kalvari. Seperti juga Kristus, kita tidak perlu takut. Kita sungguh tidak memerlukan suatu polis asuransi atau “Plan B” atau suatu “exit strategy” apabila urusan pemuridan/kemuridan ini gagal di tengah jalan. Kita harus senantiasa ingat bahwa Allah kita adalah Allah yang Mahasetia. Dia tidak pernah akan meninggalkan kita sendiri selagi kita menghadapi tantangan-tantangan hidup sebagai pengikut Kristus. Bahkan ketika mengikuti Kristus ini menjadi “mahal”, kita tetap harus mengingat bahwa Yesus adalah “Imanuel” yang senantiasa menyertai kita (Mat 1:23; 28:20). Kita dibantu oleh Roh Kudus-Nya, dan segala sumber daya yang dimiliki-Nya tidak akan pernah habis.

DOA: Bapa surgawi, tolonglah aku agar menjadi murid Kristus yang sejati, walaupun pada saat-saat biayanya kelihatan mahal. Melalui pertolongan Roh Kudus-Mu, aku memilih untuk mengikuti Kristus setiap hari dalam hidupku di dunia ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 14:25-33), bacalah tulisan yang berjudul “ADA KONSEKUENSI-KONSEKUENSI JIKA MAU MENGIKUT YESUS” (bacaan tanggal 4-9-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 8-9-13) 

Cilandak, 31 Agustus 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HIDUP MISKIN DALAM ROH

HIDUP MISKIN DALAM ROH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XX – Senin, 15 Agustus 2016)

KEMURIDAN - RICH YOUNG MAN AND CHRIST - 02Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata, “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus, “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah.” Kata orang itu kepada-Nya, “Perintah yang mana?” Kata Yesus, “Jangan membunuh, jangan berzina, jangan mencuri, jangan memberi kesaksian palsu, hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kata orang muda itu itu kepada-Nya, “Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?” Kata Yesus kepadanya, “Jikalau engkau hendak hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Mendengar perkataan itu, pergilah orang muda itu dengan sedih, sebab banyak hartanya. (Mat 19:16-22)  

Bacaan Pertama: Yeh 24:15-24; Mazmur Tanggapan: Ul 32:18-21

Betapa sering dalam Injil kita membaca peringatan Yesus tentang bahaya dari kekayaan. Untuk tujuan yang sama, Yesus menggunakan peristiwa kedatangan seorang laki-laki kepada-Nya dan bertanya kepada-Nya apakah yang harus dilakukannya untuk memperoleh hidup yang kekal. Yesus mengatakan kepada orang itu dengan gamblang bahwa di samping kepatuhan terhadap perintah-perintah Allah ada satu hal lagi yang harus dilakukannya, yaitu menjual segala harta miliknya, memberikannya kepada orang-orang miskin dan kemudian mengikut Dia. Untuk itu Yesus menjanjikan kepada orang itu bahwa dia akan beroleh harta di surga.

Orang-orang pada zaman Yesus mempertimbangkan kekayaan sebagai suatu tanda kebaikan ilahi, tanda diberkati oleh Allah. Namun Yesus menolak pandangan ini dan menunjukkan bahwa harta kekayaan bahkan dapat menjadi penghalang bagi seseorang untuk menerima pesan Injil. Karena ide Yesus ini merupakan sesuatu yang sangat baru pada masa itu, maka tidak heranlah apabila hal tersebut membuat para murid-Nya kaget juga (lihat Mat 19:23-30 untuk bacaan Injil besok). Jika para murid-Nya kaget, bagaimana dengan kita? Bagi para murid, pernyataan Yesus itu berarti bahwa apabila orang kaya tidak dapat diselamatkan, maka siapakah yang mungkin dapat diselamatkan? Namun Yesus mengatakan bahwa bagi manusia hal ini tidak mungkin, artinya manusia tidak dapat memahaminya dengan sekadar menggunakan pikirannya, tetapi tidak demikian halnya bagi Allah. Nilai-nilai Allah berbeda dengan nilai-nilai yang dianut manusia. Kekayaan, sedikit saja artinya bagi Allah. Bukan apa yang dimiliki manusia (Inggris: what man has) yang berarti di mata Allah, melainkan siapa dia sebenarnya di mata-Nya, jadi keberadaannya sebagai seorang pribadi (Inggris: what he is).

Yang diuraikan di atas tidak berarti bahwa hal-hal yang bersifat materiil – dalam arti kekayaan – adalah kejahatan pada dirinya. Semua itu adalah hal baik yang diciptakan oleh Allah untuk tujuan-tujuan baik. Yesus hanya mengajar kita bahwa kita harus “miskin dalam roh” (terjemahan LAI: “miskin di hadapan Allah”; lihat Mat 5:3), artinya tidak melekat pada kekayaan, jika kita sungguh berniat mengikuti jejak-Nya. Uang, harta-benda, kekuasaan – semua ini – harus berada di tempat kedua setelah Kristus. Semua itu harus disubordinasikan terhadap persekutuan kita dengan Kristus: semua itu harus digunakan untuk tujuan-tujuan baik, untuk disyeringkan dengan orang-orang kurang beruntung (wong cilik), untuk menyebarkan Kerajaan Allah di atas bumi, untuk mengangkat penderitaan-penderitaan yang menyengsarakan umat manusia.

Sampai hari ini memang benar pernyataan bahwa lebih sulitlah bagi orang kaya untuk menjadi “miskin dalam roh” daripada “orang kebanyakan” atau mereka yang disebut “wong cilik”. Menjadi kaya merupakan suatu berkat yang sangat bercampur-makna (Inggris: mixed blessing). Menjadi miskin dapat menjadi suatu berkat yang besar. Semua itu tergantung pada sikap kita terhadap kekayaan dan tempatnya serta penggunaannya yang layak dalam Kerajaan Allah di dunia.

DOA: Tuhan Yesus, ajarlah kami bagaimana hidup “miskin dalam roh” di tengah-tengah kekayaan dunia ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 19:16-22), bacalah tulisan yang berjudul “ADA YANG MASIH KURANG DALAM DIRI ORANG MUDA INI” (bacaan tanggal 15-8-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori:  16-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 18-8-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  12 Agustus 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MATI TERHADAP HIDUP LAMA

MATI TERHADAP HIDUP LAMA KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVIII – Jumat, 5 Agustus 2016)

c3606b07eb3e0f92bb5bfe8287005989Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Jika seseorang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi siapa yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Di antara orang yang di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya.” (Mat 16:24-28) 

Bacaan Pertama: Ul 4:32-40; Mazmur Tanggapan: Mzm 77:12-16,21

“Siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi siapa yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya”  (Mat 16:25).

Mendengar kata-kata Yesus ini dapat menggiring kita untuk berpikir: “Kiranya aku tidak akan dapat masuk ke dalam surga. Hanya orang-orang yang sungguh suci sajalah yang bersedia untuk mati demi iman mereka, dan jelas aku bukan salah seorang dari mereka.” Namun apakah ini yang Yesus sungguh katakan di sini? Apakah kehilangan nyawa kita selalu harus diartikan mati sebagai martir?

Ada sejumlah orang yang memang dipanggil untuk menyerahkan hidup fisik mereka bagi Yesus. Akan tetapi banyak orang lain dipanggil untuk menyerahkan kehendak mereka, hasrat mereka akan hal-hal duniawi, atau senantiasa melakukan segala sesuatu seturut kehendak sendiri – ini semua ada dalam inti pokok kemartiran. Teristimewa dalam keluarga, setiap hari kepada kita diberi banyak kesempatan untuk mati terhadap diri kita sendiri agar orang-orang lain dapat hidup.  Sebuah dokumen Konsili Vatikan II – “Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes tentang Gereja di Dunia Dewasa Ini” mengatakan: “Keluarga merupakan suatu pendidikan untuk memperkaya kemanusiaan. Supaya keluarga mampu mencapai kepenuhan hidup dan misinya, diperlukan komunikasi hati penuh kebaikan, kesepakatan suami-istri, dan kerja sama orang tua yang tekun dalam pendidikan anak-anak” (Gaudium et Spes, 52).

KEMURIDAN - SIAPA YANG MAU MENJADI MURIDKUSelagi kita belajar menyalibkan hasrat batiniah kita untuk mengendalikan hidup kita dan hidup untuk kepentingan diri kita sendiri saja, maka kita sungguh dapat menghormati para orang tua kita. Manakala satu hari panjang yang melelahkan membuat suami atau istri kita menjadi uring-uringan dan marah-marah, kita dapat berpaling kepada Yesus dan memohon kepada-Nya untuk memenuhi diri kita dengan kasih-Nya sehingga dengan demikian kita dapat menunjukkan bela rasa-Nya dan belas kasih-Nya. Konflik-konflik dapat dipecahkan jika kita memohon Roh Kudus untuk menunjukkan kepada kita hal-hal yang belum terpecahkan dalam hati kita, dan memenuhi diri kita dengan pengampunan yang diberikan Yesus selagi Dia tergantung pada kayu salib (Luk 23:34).

Kita semua dipanggil untuk saling mengasihi, saling menerima, dan saling mengampuni. Hal ini hanya dapat terwujud apabila kita mati terhadap “hidup lama” kita melalui iman dalam kematian Yesus dan kebangkitan-Nya. Janganlah kita menahan apa-apa lagi, melainkan memohon kepada Yesus untuk menyalibkan setiap sisa keserakahan kita, sikap mau-menang sendiri, dan hal-hal lain yang dimaksudkan untuk menggelembungkan ego kita, sehingga dengan demikian kita dapat bergerak melampaui rencana-rencana kita sendiri dan sampai kepada jalan yang sesuai dengan cara-cara hidup sempurna dari Allah.

DOA: Bapa surgawi, sebagai anggota-anggota keluarga umat yang percaya kepada-Mu, kami mohon berkat-Mu dan kesatuan serta persatuan dalam keluarga kami masing-masing. Kami berdoa teristimewa bagi mereka yang sedang mengalami tantangan hidup. Semoga kasih dan kemurahan hati-Mu yang tak mengenal batas memerintah dalam hati kami semua, memenuhi keluarga-keluarga kami dengan damai sejahtera dan hidup-Mu sendiri. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 16:24-28), bacalah tulisan yang berjudul “BIAYA KEMURIDAN DALAM MENGIKUT YESUS” (bacaan tanggal 5-8-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 7-8-15 dalam situs SANG SABDA) 

Cilandak, 3 Agustus 2016  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PANGGILAN KEPADA KEMURIDAN

PANGGILAN KEPADA KEMURIDAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIII – Senin, 27 Juni 2016)

Peringatan S. Sirilus dr Aleksandria, Uskup Pujangga Gereja 

jesus_christ_picture_013Ketika Yesus melihat orang banyak mengelilingi-Nya, Ia menyuruh bertolak ke seberang. Lalu datanglah seorang ahli Taurat dan berkata kepada-Nya, “Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Yesus berkata kepadanya, “Rubah mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” 

Seorang lain, yaitu salah seorang murid-Nya, berkata kepada-Nya, “Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku. Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Ikutlah aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka.” (Mat 8:18-22) 

Bacaan Pertama: Am 2:6-10,13-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:16-23

Jawaban Yesus kepada si ahli Taurat yang berikrar untuk mengikuti-Nya ke mana saja Dia pergi terdengar tidak begitu memberi semangat: “Rubah mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Mat 8:20). Yesus malah kelihatannya seperti semakin kurang berbelarasa ketika Dia mengatakan kepada seorang murid lain yang ingin menguburkan ayahnya: “Ikutlah aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka”  (Mat 8:22).

Dua tanggapan Yesus menyentuh suatu tema yang terus terasa dalam Injil Matius. Apa artinya menjadi seorang murid? Dalam “Khotbah di Bukit” (Mat 5-7), Yesus mengajar tentang hidup batiniah seorang murid. Langsung setelah pengajaran-pengajaran ini, Matius menggambarkan tiga mukjizat penyembuhan yang menyangkut macam iman dan ketaatan yang harus mencirikan setiap murid (Mat 8:1-17). Mukjizat-mukjizat penyembuhan tersebut adalah (1) Yesus menyembuhkan seorang yang sakit kusta (Mat 8:1-4); (2) Yesus menyembuhkan hamba seorang perwira di Kapernaum (Mat 8:5-13); (3) Yesus menyembuhkan ibu mertua Petrus dan orang-orang lain (Mat 8:14-17). Dalam dua perjumpaan selanjutnya, Matius mengedepankan satu facet lagi dari panggilan kepada kemuridan.

29333Dietrich Bonhoeffer [1906-1945] adalah seorang pendeta-teolog Kristen Lutheran Jerman yang sangat dihargai oleh Gereja Katolik. Menurut Dietrich Bonhoeffer, Yesus menantang para calon murid dengan undangan sama yang diberikan-Nya kepada Lewi (Mrk 2:14) dan Petrus (Mat 4:18-20) – untuk meninggalkan segalanya dan mengikut Dia.

Panggilan ini membebaskan mereka dari segala keterikatan dunia dan mengikat mereka hanya pada Yesus Kristus … Seandainya Lewi tetap tidak beranjak dari pos pemungutan cukainya, Yesus bisa saja menjadi penolong atas segala kesusahannya, namun bukan sebagai Tuhan dari keseluruhan hidupnya. Dengan kata lain, Lewi tidak akan pernah belajar untuk percaya …… Petrus harus meninggalkan perahunya dan risiko kehidupannya sebagai seorang nelayan, agar dengan demikian dia dapat mempelajari baik kelemahan-kelemahannya dan juga kuat-kuasa mahadahsyat dari Tuhan …… Kemuridan atau kadang-kadang juga disebut pemuridan (discipleship) tidak dapat mentolerir kondisi-kondisi yang dapat menjadi penghalang antara Yesus dan ketaatan kita kepada-Nya ……

Dietrich Bonhoeffer mengetahui pengorbanan yang dituntut guna mengikut Yesus. Ia dijebloskan ke dalam kamp konsentrasi oleh pemerintahan Nazi berkaitan dengan oposisinya terhadap agenda anti-Kristiani dari pemerintahan Nazi tersebut. Namun sang pendeta juga diberi rahmat untuk dapat memahami ganjaran hidup baru yang menantikan setiap murid yang sejati. Dietrich Bonhoeffer menulis, “Sabda-Nya bukanlah sebuah doktrin yang abstrak, melainkan penciptaan kembali keseluruhan hidup manusia. Satu-satunya jalan yang benar dan pantas adalah secara literer pergi bersama dengan Yesus” (The Cost of Discipleship, hal. 66-69).

DOA: Tuhan Yesus, ajarlah aku bagaimana meninggalkan kebencian, rasa takut dan dosa. Penuhilah diriku dengan cintakasih sejati bagi orang-orang lain sehingga dengan demikian aku dapat membawa mereka kepada persatuan dengan Engkau yang lebih erat lagi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 8:18-22), bacalah tulisan yang berjudul “MENJADI MURID YESUS YANG SETIA(bacaan tanggal 27-6-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-06 BACAAN HARIAN JUNI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 30-6-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 24 Juni 2016 [HARI RAYA KELAHIRAN S. YOHANES PEMBAPTIS] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

APA GUNANYA SESEORANG MEMPEROLEH SELURUH DUNIA?

APAKAH GUNANYA SESEORANG MEMPEROLEH SELURUH DUNIA?

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Dominikus, Pendiri Ordo Pengkhotbah, Imam – Jumat, 8 Agustus 2014)

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta S. Bapa Dominikus

Keluarga Dominikan: Hari Raya S. Dominikus, Pendiri Tarekat, Imam 

jesus christ super starLalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Jika seseorang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi siapa yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Di antara orang yang di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya.” (Mat 16:24-28)

Bacaan Pertama: Nah 1:15;2:2;3:1-3,6-7; Mazmur Tanggapan: Ul 32:35-36,39,41

“Siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi siapa yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya” (Mat 16:25). Pernyataan Yesus ini dapat menimbulkan rasa takut kita atau dapat juga menimbulkan penyangkalan, bahwa Yesus dalam hal ini tidak memaksudkan “kehilangan nyawa” secara harfiah. Hal itu cukup radikal dan kebanyakan dari kita telah bekerja keras untuk apa yang kita miliki sekarang. Rumah, kendaraan roda empat maupun roda dua, pendidikan yang baik, pekerjaan/karir yang baik, dan makanan-minuman lezat yang dihidangkan di atas meja makan setiap hari. Sedikit saja dari kita yang memperoleh ini semua tanpa upaya, dan kebanyakan dari kita ingin “bertahan” pada apa yang kita telah miliki, lakukan dan kasihi.

Namun inilah justru apa yang dimaksudkan oleh Yesus. “Siapa yang mau menyelamatkan nyawanya” berarti “siapa saja menghasrati pembebasan – materiil, pembebasan dunia ini – dari bahaya, penderitaan, sakit-penyakit, dlsb., akan kehilangan semua itu. Hal itu berarti bahwa siapa saja yang hidup demi kenyamanan hidup, kepemilikan, dan capaian-capaian duniawi akan berakhir dengan kehilangan semua itu.

DominicIntAkan tetapi … bukankah tidak salah untuk menginginkan hal-hal tersebut? Apakah salahnya dengan hidup yang nyaman, makmur-sejahtera, dan “sukses”? Sama sekali tidak salah! Pertanyaan yang harus ditimbulkan oleh kata-kata Yesus dalam diri kita adalah, apakah itu saja yang kita ingin capai secara mati-matian? Apakah kegairahan hidup kita? Allah menginginkan banyak lagi dari diri kita masing-masing daripada sekadar mempertahankan status quo atau membuat sedikit perbaikan di sana-sini dalam kehidupan kita. Allah mengetahui sekali apa yang kita butuhkan dan Dia akan memperhatikan serta memenuhi kebutuhan kita itu (Luk 12:22-34), dengan demikian membebaskan diri kita agar dapat mengurus diri kita sendiri dengan apa yang diinginkan-Nya – hidup untuk Kerajaan-Nya.

Bagaimana kita dapat sampai ke sana? Pertama-tama kita dapat menggunakan pikiran kita. Marilah kita membuat daftar dari segala hal yang kita ketahui tentang Bapa surgawi, yang mahapengasih, mahatahu, mahakuasa, mahabijaksana, penuh bela rasa, penuh belas kasih dan mahapengampun. Apabila ingatan kita sudah mulai memudar, marilah kita membuka Kitab Suci untuk menemukan lebih banyak lagi. Kemudian, baiklah kita membuat daftar dari apa saja yang telah dilakukan oleh-Nya, misalnya menciptakan dunia dari ketiadaan, membebaskan bangsa Yahudi dari perbudakan Mesir dan membangkitkan Yesus dari alam maut. Lalu, marilah kita menggunakan hati kita. Kita menyediakan saat-saat tenang untuk mengingat-ingat apa yang telah dilakukan Allah bagi kita secara pribadi, dan kita mohon kepada Roh Kudus untuk memberikan kepada kita rasa syukur yang mendalam untuk semua itu. Kita harus seringkali mengingat-ingat tindakan-tindakan Allah yang penuh kuasa dalam kehidupan kita dan perkenankanlah semua itu menggerakan hati kita dengan kasih. Kita sungguh tidak dapat mengatakan bahwa terlalu seringlah kita mengingat-ingat apa yang telah dilakukan oleh Allah atas diri kita, dan marilah kita masing-masing sekarang juga mengatakan bahwa “untuk Dialah aku rela kehilangan nyawaku!”

DOA: Tuhan Yesus, aku percaya pada kasih-Mu, kebaikan hati-Mu, dan hikmat-Mu bagiku. Ingatkanlah aku senantiasa siapa Engkau sebenarnya dan apa yang telah Kaulakukan untuk umat manusia. Aku ingin memberikan hidupku kepada-Mu, agar aku dapat memperoleh hidup kekal bersama-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 16:24-28), bacalah tulisan yang berjudul “SALIB ADALAH SARANA MENUJU HIDUP BARU” (bacaan tanggal 8-8-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-08  BACAAN HARIAN AGUSTUS 2014. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 9-8-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 6 Agustus 2014 [Pesta Yesus Menampakkan Kemuliaan-Nya]

 

 Sdr. F.X. Indrapradja, OFS