Posts tagged ‘BIAYA KEMURIDAN’

KAMU AKAN KUJADIKAN PENJALA MANUSIA

KAMU AKAN KUJADIKAN PENJALA MANUSIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Senin, 13 Januari 2020)

Peringatan Fakultatif S. Hilarius, Uskup Pujangga Gereja

Sesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah, kata-Nya, “Saatnya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!”

Ketika Yesus sedang berjalan menyusur Danau Galilea, Ia melihat Simon dan Andreas, saudara Simon. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka, “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Lalu mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Setelah Yesus meneruskan perjalanan-Nya sedikit lagi, Ia melihat Yakobus, anak Zebedeus, dan Yohanes, saudaranya, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus segera memanggil mereka dan mereka meninggalkan ayahnya, Zebedeus, di dalam perahu bersama orang-orang upahannya lalu mengikuti Dia. (Mrk 1:14-20) 

Bacaan Pertama: 1Sam 1:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 116:12-14,17-19

“Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia” (Mrk 1:17)

Yesus yang datang ke Galilea memberitakan Injil Allah, kata-Nya: “Saatnya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” (Mrk 1:14-15). Yesus menemukan orang-orang yang rindu untuk dibebaskan, tidak hanya dari cengkeraman penjajah Roma, melainkan juga dari jeratan dosa dan maut. Kepada Simon dan saudaranya, Andreas yang sedang menebarkan jala di danau, Yesus berkata: “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia” (Mrk 1:17).

Unsur penentu dalam bacaan ini adalah panggilan Yesus itu sendiri, bukannya tanggapan yang diberikan oleh kedua pasang bersaudara itu. Tidak ada sedikit pun catatan mengenai kualitas ke empat orang yang dipanggil-Nya itu, juga tidak disinggung cocok-tidak-cocoknya mereka untuk menjadi pengikut-Nya dan terlibat aktif dalam misi-Nya. Yesus memanggil empat orang nelayan ini untuk mengikut Dia, mengamati pekerjaan-Nya, mendengarkan pengajaran-Nya dan mulai tertantang oleh-Nya.

Yesus juga ingin mengajar kita semua untuk menginjili teman-teman dan para anggota keluarga kita sama efektifnya sebagaimana Dia menginjili para pengikut-Nya. Yesus berbicara mengenai Kerajaan Allah sebagai sebuah “tempat” yang diperintah oleh Allah yang mahakuasa, namun juga “seorang” Allah yang mempribadi. Allah-lah yang meraja, Allah-lah yang memerintah! Lalu Yesus menindak-lanjuti kata-kata-Nya dengan karya belas-kasih dan membuat banyak mukjizat dan tanda-heran lainnya. Orang-orang yang lapar diberi makan, orang-orang sakit disembuhkan, para pendosa diyakinkan bahwa dosa mereka diampuni karena belas kasih Allah, orang-orang yang memandang diri “benar” ditantang-Nya, dan kepada orang-orang yang sedang merasa cemas, galau, bingung, diberikan-Nya pengharapan. Sekarang Yesus ingin mengatakan kepada kita, bahwa kita semua adalah para anggota kerajaan-Nya yang sangat berharga, yang dipenuhi oleh Roh Kudus-Nya dengan kapasitas untuk menggerakkan hati dan pikiran orang-orang sebagaimana telah dilakukan-Nya dengan penuh kuat-kuasa.

Sekarang, percayakah Saudari/Saudara kepada janji Yesus, bahwa anda dan saya akan dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan-Nya (Yoh 14:12)? Apakah anda mendengar Allah berbicara kepada anda? Dalam situasi-situasi yang mana saja anda menerima kekuatan untuk menghadapi kesulitan-kesulitan? Kapan anda sungguh berseru kepada-Nya mohon pertolongan, dan anda menerima hikmat-kebijaksanaan? Bilamana anda merasa bersalah karena kata-kata yang anda ucapkan, lakukan, atau pikirkan, dan mengalami pembersihan melalui pertobatan?

Masing-masing contoh di atas menunjukkan kuat-kuasa Allah yang aktif dalam kehidupan anda – suatu kuat-kuasa untuk memberi kesaksian tentang kasih-Nya dan kehadiran-Nya. Oleh karena itu, marilah kita semua membuka mata hati kita bagi cara-cara atau jalan-jalan Allah memberikan kepada kita masing-masing hikmat-kebijaksanaan kapan harus berbicara, kapan harus diam, kapan untuk melakukan intervensi, kapan untuk mengundurkan diri, kapan untuk merangkul seorang pendosa dan kapan untuk memberikan waktu kepadanya guna berpikir dan melakukan refleksi.

Percayalah Saudari-Saudaraku, kita semua dapat menjadi pewarta Kabar Baik seperti Yesus sendiri, menunjukkan kepada orang-orang yang kita temui bagaimana kiranya kalau sudah mengalami transformasi oleh Allah Yang Mahakuasa sendiri.

DOA: Tuhan Yesus, berikanlah kepadaku keyakinan untuk men-sharing-kan dengan orang-orang lain kehidupan yang telah Kauberikan kepadaku. Bentuklah aku menjadi seorang pribadi yang mau dan mampu mengasihi dengan bela rasa dan hanya mengandalkan pada kuat-kuasa-Mu semata. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:14-20), bacalah tulisan dengan judul “MENJADI PENJALA MANUSIA” (bacaan untuk tanggal 13-1-20), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2020.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-1-19 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 10 Januari 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ANDREAS: SEORANG MURID YOHANES PEMBAPTIS YANG MENJADI SALAH SATU MURID YESUS YANG PERTAMA

ANDREAS: SEORANG MURID YOHANES PEMBAPTIS YANG MENJADI SALAH SATU MURID YESUS YANG PERTAMA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S. Andreas, Rasul – Sabtu, 30 November 2019)

Ketika Yesus sedang berjalan menyusur Danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka, “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya dua orang bersaudara yang lain lagi, yaitu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus memanggil mereka dan mereka segera meninggalkan perahu ayahnya, lalu mengikuti Dia. (Mat 4:18-22) 

Bacaan Pertama: Rm 10:9-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:2-5 

Santo Andreas adalah salah seorang murid Yesus yang pertama. Sebagai seorang murid dari Yohanes Pembaptis yang dekat dengan gurunya, Andreas sungguh serius dalam memandang hal-hal yang berhubungan dengan Allah. Pengabdiannya yang sedemikian menunjukkan bahwa untuk waktu yang lama dia barangkali telah memiliki hasrat mendalam untuk mengenal Allah secara pribadi. Kita dapat membayangkan betapa penuh sukacita yang dialami Andreas ketika dia berjumpa dengan Yesus untuk pertama kalinya.

Ketika Yesus menyaksikan Andreas bersama saudaranya – Simon Petrus – menebarkan jala di danau Galilea, Ia mengundang mereka menjadi “penjala manusia”, artinya menarik orang-orang ke dalam kerajaan dengan menggunakan jala Injil (lihat Mat 4:19). Andreas langsung saja menunjukkan ketaatannya, dengan senang hati dia menukar keuntungan materiil dengan ganjaran spiritual. Kisah panggilan Andreas di atas memang agak berbeda dengan penuturan yang terdapat dalam Injil Yohanes, namun perbedaan tersebut tidaklah bersifat hakiki. Injil Yohanes mengungkapkan bahwa Andreas adalah satu dari dua orang murid Yohanes Pembaptis yang mengikut Yesus, menjadi dua orang murid pertama yang menanggapi panggilan Yesus. Kedua murid itu berdiam bersama-sama dengan Yesus pada hari pertama perjumpamaan mereka. Keyakinan Andreas kepada diri Yesus bertumbuh dengan cepat. Hal ini dapat kita rasakan ketika dia bertemu dengan Simon, saudaranya: “Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus)”, lalu Andreas membawa saudaranya itu kepada Yesus (lihat Yoh 1:35-42). Jadi, kelihatannya Andreas lah yang memperkenalkan Simon Petrus, Yakobus, Yohanes (entah berapa banyak lagi) kepada Yesus.

Pada waktu Yesus memanggil para murid-Nya, Ia memilih orang-orang biasa seperti Andreas, orang-orang yang tidak memiliki kekayaan berlebih, tidak memiliki status, latar belakang pendidikan, apalagi status sosial. Yesus tidak memilih karya-karya mereka atau berbagai karunia atau talenta yang mereka miliki. Yesus memilih hati mereka! Yesus tidak memilih para murid-Nya siapa dan apa mereka dulunya, melainkan akan menjadi apa mereka di bawah pengarahan dan kuasa-Nya. Hal yang sama berlaku untuk kita. Yesus terus memanggil setiap dan masing-masing kita untuk masuk ke dalam suatu relasi yang intim dengan diri-Nya dan Ia mengundang kita untuk ke dalam jalan kekudusan-Nya. Yesus ingin mentransformasikan diri kita melalui kuasa Roh Kudus agar kita dapat meniru Andreas dan orang-orang sepanjang segala masa yang dengan penuh dedikasi mengikuti jejak-Nya. Mereka yang memberikan segalanya demi cintakasih mereka kepada Kristus. Banyak dari orang kudus ini hidup tersembunyi dan sehari-harinya membuat mukjizat-mukjizat lewat cintakasih mereka yang penuh pengorbanan. Yesus mengundang kita untuk menjadi seperti mereka, selagi kita mengikuti-nya semakin dekat dan dekat lagi.

Apakah ada biayanya dalam upaya kita mengikuti jejak Tuhan Yesus? Kalau ada, berapa besar biayanya? Santo Gregorius Agung pernah berkata: “Kerajaan Surga tidak mempunyai tanda harga. Nilai atau harganya adalah sebanyak apa yang anda miliki. Bagi Zakheus harganya adalah separuh dari harta miliknya, karena separuhnya lagi yang telah diperolehnya lewat praktek “haram” yang tidak adil akan diganti olehnya empat kali lipat. Hal ini membuat Zakheus jatuh miskin (dalam hal harta kekayaan). Bagi Simon dan Andreas harganya adalah jala-jala dan perahu yang mereka tinggalkan; bagi si janda miskin dua keping uang tembaga, bagi orang lain mungkin segelas air putih.” Bagaimana dengan kita masing-masing? Mungkin posisi top management, mungkin ejekan,cercaan dan caci-maki dari orang-orang yang mengenal anda.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu untuk kasih-Mu yang tanpa batas kepadaku. Penuhilah hatiku dengan rasa syukur dan sukacita karena menjadi murid-Mu. Amin.

Catatan: Untul mendalami bacaan Pertama hari ini (Rm 10:9-18),  bacalah  tulisan yang berjudul “ROH KUDUS TELAH MEMBIMBING ANDREAS KEPADA IMAN YANG HIDUP” (bacaan tanggal 30-11-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2019.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 30-11-18 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 29 November 2019 [Pesta Semua Orang Kudus Keluarga Besar Fransiskan]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SALIB KRISTUS YANG AGUNG

SALIB KRISTUS YANG AGUNG

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXI – Rabu, 6 November 2019)

Pada suatu kali ada banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka, “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapaknya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, apakah uangnya cukup untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, dan berkata: Orang ini mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya.

Atau, raja manakah yang kalian mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian. Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.  (Luk 14:25-33) 

Bacaan Pertama: Rm 13:8-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 112:1-2,4-5,9 

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus mengatakan, “Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku” (Luk 14:27). Seorang penyair pernah menulis, bahwa “dia yang ingin sesuatu yang berharga haruslah menyerahkan/ mengorbankan sesuatu yang berharga pula.” Hal itu berarti, bahwa kita tidak dapat memiliki kasih yang sejati tanpa disiplin-diri yang sama riilnya. Para dokter, musisi, artis, ilmuwan, pengarang, guru, inventor, dlsb. – semua telah menyadari bahwa kebesaran (Inggris: greatness) hanya datang dengan disiplin-diri. Pekerjaan jujur adalah sebuah salib yang berat, namun hal itu diterima dengan penuh sukacita demi cinta akan tujuan yang ingin dicapai. Spiritualisasikanlah kebenaran ini, dan kita pun akan mempunyai salib sehari-hari yang dibicarakan Yesus. Yesus menyerahkan segalanya untuk mengejar kasih-Nya yang besar dan agung, rencana Bapa perihal penebusan. Santo Paulus menulis: “ (Yesus) ……telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Flp 2:7-8).

Salib sehari-hari adalah ungkapan kasih. Kasih yang sejati membuat seseorang “menyangkal dirinya” dan mengikut Kristus (lihat Luk 9:23), karena kasih membuat dirinya menyerahkan/melepaskan segalanya yang mengganggu upayanya untuk mengejar orang yang dikasihi. Cinta-diri membuat seseorang memandang segala gangguan – betapa kecilnya sekalipun gangguan itu – sebagai “salib sehari-hari”. Pandangan salah sedemikian hanyalah membuat orang “termanja” dalam self-pity. Sesungguhnya sebagian besar dari kesulitan-kesulitan kecil yang kita pertimbangkan sebagai pengorbanan besar adalah ungkapan dari sikap kita yang mementingkan-diri sendiri. Kita membesar-besarkan perasaan tidak enak yang kecil-kecil dan memproyeksikan semua itu menjadi salib-salib yang bersifat artifisial. Jika kita mau berpegang teguh pada kebenaran, maka seharusnya kita memandang semua kesulitan kecil itu sebagai sekadar keratan-keratan kayu yang kecil atau serbuk gergaji yang jatuh di sana-sini dari kayu salib. Tetapi semua itu bukanlah salib itu sendiri, melainkan tanda-tanda kasar-sederhana dari kelemahan kita.

Salib yang dipikul oleh Yesus dan yang diminta-Nya untuk kita pikul adalah hidup dari kasih Kristiani itu sendiri, “baptisan” besar/agung ke mana keseluruhan hidup-Nya diarahkan. Salib adalah status kehidupan kita: kerasulan kita, tugas-tugas harian kita, perkawinan kita, keluarga kita, tugas mengajar kita (kalau kita guru), tugas perawatan kita (kalau kita perawat), studi kita, pekerjaan kita – apa pun kerja kasih yang tidak mementingkan-diri dan pengabdian  yang telah diberikan Allah kepada kita. Kejengkelan hati sehari-hari yang kecil-kecil hanyalah bayangan dari salib yang besar, karena salib itu bagaikan sebatang pohon tinggi, dari pohon mana kasih Allah dicurahkan secara berkelimpahan. Salib agung itulah “hal berharga” untuknya segala “hal berharga” lainnya akan kita serahkan/lepaskan dengan penuh sukacita.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, kemenangan Salib-Mu adalah kemenangan kasih-Mu yang maha-sempurna. Jagalah kami agar dapat tetap menjadi murid-murid-Mu yang baik, yang senantiasa mau dan mampu memikul salib kami masing-masing dan mengikut Engkau dengan setia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 14:25-33), bacalah tulisan yang berjudul “SEGALA SESUATU HARUS DILEPASKAN UNTUK MENGIKUT YESUS (bacaan tanggal 6-11-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2019. 

(Tulisan ini besumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 5 November 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ADA KONSEKUENSI-KONSEKUENSI JIKA MAU MENGIKUT YESUS

ADA KONSEKUENSI-KONSEKUENSI JIKA MAU MENGIKUT YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXIII [Tahun C] – 8 September 2019)

Image result for IMAGES OF LUKE 14:25-33

Pada suatu kali ada banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka, “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapaknya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, apakah uangnya cukup untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, dan berkata: Orang ini mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya.

Atau, raja manakah yang kalian mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian. Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.  (Luk 14:25-33) 

Bacaan Pertama: KebSal 9:13-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 90:3-6.12-14.17; Bacaan Kedua: Flm 9b-10.12-17 

Penyembuhan-penyembuhan yang dilakukan Yesus, pengusiran-pengusiran roh jahat oleh-Nya dan ajaran-ajaran yang telah diberikan-Nya, telah menarik banyak orang untuk mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya (Luk 14:25). Namun ketika Yesus melihat entusiasme mereka, Dia justru mengingatkan mereka mengenai apa artinya menjadi murid-murid-Nya. Mereka harus siap untuk meninggalkan segalanya – bahkan keluarga dan harta milik mereka (Luk 14:26,33).

Kiranya pengajaran seperti ini sungguh kedengaran ganjil dalam sebuah masyarakat yang kebudayaannya terstruktur atas dasar keluarga, sebuah masyarakat yang percaya bahwa kebaikan-kebaikan Allah diturunkan dalam bentuk berkat-berkat di atas muka bumi ini. Pada zaman kita ini pun kata-kata yang diucapkan Yesus ini tidak lebih mudah untuk dicerna. Meskipun kita mungkin saja ingin menempatkan hidup kita sepenuhnya di bawah otoritas Yesus, kita sering merasa takut akan konsekuensi-konsekuensi sebuah keputusan seperti itu. Apa yang akan diminta-Nya dari kita? Apakah kita akan rela mengorbankan hidup kita bagi-Nya, pada waktu kita lihat orang-orang di sekeliling kita menyibukkan diri dalam kenikmatan-kenikmatan dunia ini?

Yesus menginginkan para pengikut/murid yang memahami apa konsekuensi-konsekuensi dari pilihan untuk mengikuti diri-Nya. Namun Ia selalu memberikan kepada mereka motivasi untuk tetap setia, yaitu sukacita karena mengenal dan mengalami kerahiman-Nya dan keyakinan bahwa Dia tidak akan meninggalkan mereka. Melalui relasi mereka dengan Dia, Yesus secara sekilas memperlihatkan berkat-berkat yang menantikan mereka. Pandangan sekilas ini cukup untuk mendukung keputusan mereka untuk mengikuti Yesus, meskipun pada saat-saat mereka harus membayar harga yang tidak kecil sebagai murid-Nya. Inilah yang dinamakan “biaya/harga pemuridan” atau cost of discipleship.

Bagaimana kita dapat mengikuti Yesus secara tanpa syarat? Dalam hal ini marilah kita teladani apa yang telah dilakukan oleh para murid Yesus yang pertama: melalui suatu relasi yang akrab dengan Dia. Janganlah pernah merasa ragu atau takut untuk meminta lebih dari Yesus. Ketahuilah bahwa Yesus memiliki hasrat mendalam untuk menganugerahkan kepada kita masing-masing lebih banyak lagi rahmat dan kuasa-Nya, selagi kita bergumul terus untuk semakin mengenal-Nya, semakin akrab dengan-Nya secara pribadi. Janganlah kuatir apabila Dia minta kepada kita untuk melakukan sesuatu yang kita sendiri tidak ingin lakukan. Ingatlah bahwa Yesus memanggil kita, namun di sisi lain Ia juga menumbuhkan hasrat dalam diri kita masing-masing. Bahkan seandainya hasrat tersebut belum kita rasakan, kita harus – dalam iman – mengambil langkah-langkah yang diperlukan. Kita akan merasa takjub penuh sukacita ketika mengetahui bagaimana Roh Kudus menanggapi langkah-langkah iman kita dengan afirmasi dan harapan.

DOA: Tuhan Yesus, perkenankanlah aku melihat Engkau dalam diri setiap orang yang kujumpai. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 14:25-33), bacalah tulisan yang berjudul “APAKAH KITA HARI INI SUDAH SIAP MENGHADAPI TANTANGAN PANGGILAN KRISTUS?” (bacaan tanggal 8-9-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 4-9-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 5 September 2019  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

RELASI KITA DENGAN YESUS ADALAH YANG UTAMA

RELASI KITA DENGAN YESUS ADALAH YANG UTAMA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XX – Senin, 19 Agustus 2019)

Fransiskan Conventual: Peringatan S. Ludovikus, Uskup

Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata, “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus, “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah.” Kata orang itu kepada-Nya, “Perintah yang mana?” Kata Yesus, “Jangan membunuh, jangan berzina, jangan mencuri, jangan memberi kesaksian palsu, hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kata orang muda itu itu kepada-Nya, “Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?” Kata Yesus kepadanya, “Jikalau engkau hendak hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Mendengar perkataan itu, pergilah orang muda itu dengan sedih, sebab banyak hartanya. (Mat 19:16-22)  

Bacaan Pertama: Hak 2:11-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:34-37,39-40,43-44

Barangkali cerita tentang orang muda yang kaya ini adalah tentang sikap kita terhadap uang. Namun karena ada peristiwa-peristiwa lain yang diceritakan dalam Kitab Suci, misalnya tentang para perempuan yang menggunakan uang/harta-milik mereka untuk mendukung Yesus dan karya pelayanan-Nya (lihat Luk 8:1-3), maka lebih tepatlah apabila kita mengatakan bahwa bacaan Injil hari ini adalah tentang sikap dan disposisi kita yang tidak hanya berkaitan dengan masalah uang.

Ada sesuatu dalam sikap orang muda-kaya ini yang tidak benar. Yesus melihatnya dan berupaya untuk mengangkat masalahnya ke atas permukaan, agar supaya orang muda-kaya ini dapat bebas menerima kasih-Nya. Yesus melihat bahwa orang muda-kaya ini telah memperkenankan harta-kekayaannya menjadi berhala, yang mempunyai suatu posisi yang lebih tinggi daripada Allah sendiri.

Cerita dari Matius ini dapat menggerakkan kita untuk mengajukan suatu pertanyaan yang serupa. Apakah ada sikap kita terhadap uang, pengakuan/penghargaan dari orang lain, kepenuhan-diri, atau kekuasaan – yang menduduki tempat yang lebih tinggi daripada Allah? Apakah disposisi-disposisi ini begitu berarti bagi kita sehingga menyebabkan kita meminimalisir atau malah menghilangkan atau melupakan samasekali cara yang diinginkan Allah bagi kehidupan kita? Apakah semua itu lebih penting bagi kita daripada relasi kita dengan Yesus?

Bagi Yesus, hidup kita dengan-Nya bukanlah berdoa pada waktu-waktu tertentu secara teratur, menghadiri Misa, pekerjaan apa yang kita lakukan, atau cara kita hidup. Memang benar Tuhan Yesus menginginkan kita hidup dengan cara tertentu – dipenuhi dengan tindakan-tindakan positif penuh keutamaan. Akan tetapi mungkinlah untuk melakukan segala hal yang benar dan tetap menjalani kehidupan yang terfokus kepada (kepentingan)diri kita sendiri dan bukan pemberian kemuliaan dan kehormatan bagi Allah.

Saudari-saudara yang dikasihi Kristus, Allah menginginkan hati kita. Dia menginginkan kita menjadi kurban yang hidup bagi-Nya. Kita perlu jelas bahwa Bapa surga lebih menyukai umat yang memiliki komitmen penuh pada Putera-Nya – walaupun umat ini juga bisa saja tidak sempurna, lemah, rentan terhadap godaan dan dosa, dan tidak setia. Bapa surgawi mempunyai kesulitan yang jauh lebih besar dengan umat yang mungkin “nyaris-sempurna” namun yang juga berpegang teguh pada independensi mereka, kemandirian mereka dan pemenuhan-diri. Mereka yang lemah namun mengasihi Yesus lebih menarik bagi Allah daripada orang-orang hebat yang lebih mengasihi diri mereka sendiri ketimbang Putera-Nya, Yesus!

DOA: Tuhan Yesus, aku menyerahkan hatiku kepada-Mu. Anugerahkanlah kepadaku suatu hasrat untuk menyingkirkan setiap halangan yang merintangi diriku dapat berjalan bersama-Mu. Aku mengasihi Engkau, ya Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 19:16-22), bacalah tulisan dengan judul “ALLAH INGIN MEMMBERIKAN KEPADA KITA SUATU KEHIDUPAN YANG LEBIH BAIK” (bacaan tanggal 19-8-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori:  19-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-8-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  16 Agustus 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENGIKUT JEJAK KRISTUS

MENGIKUTI JEJAK KRISTUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIII – Senin, 1 Juli 2019)

Ketika Yesus melihat orang banyak mengelilingi-Nya, Ia menyuruh bertolak ke seberang. Lalu datanglah seorang ahli Taurat dan berkata kepada-Nya, “Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Yesus berkata kepadanya, “Rubah mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.”

Seorang lain, yaitu salah seorang murid-Nya, berkata kepada-Nya, “Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku. Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Ikutlah aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka.” (Mat 8:18-22) 

Bacaan Pertama: Kej 18:16-33; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-4,8-11

Sekilas lintas perikop ini seakan “salah tempat” dalam Injil Matius bab 8 yang berisikan serangkaian mukjizat Yesus. Setelah selesai bercerita mengenai penyembuhan ibu mertua Petrus dan banyak mukjizat lainnya (Mat 8:14-17) dan sebelum menarasikan serangkaian mukjizat lagi (Mat 8:23-9:8), maka seperti “sandwich”, Matius menyelipkan dua sabda Yesus mengenai “komitmen” dan “kemuridan” yang sangat penting untuk dihayati. Mengapa Matius menyelipkan ajaran Yesus yang keras ini di tengah-tengah cerita-cerita mengenai mukjizat-mukjizat Yesus?

Ada pakar Kitab Suci yang berpandangan bahwa Matius menyelipkan bagian ini (Mat 8:18-22) karena dia sedang memikirkan Yesus sebagai “Hamba YHWH yang menderita”. Matius baru saja memetik Yes 53:4, “Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita” (Mat 8:17), maka wajarlah apabila gambaran itu memimpin pemikiran Matius pada gambaran Anak Manusia yang tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya (Mat 8:20). Kehidupan Yesus di dunia di mulai dalam kandang hewan pinjaman dan berakhir dalam makam pinjaman pula (Plummer, dalam William Barclay, THE DAILY STUDY BIBLE: The Gospel of Matthew – Volume 1, Chapters 1-10, Edinburgh: The Saint Andrew Press, p. 311).  Jadi “teori” ini mengatakan, bahwa Matius menyelipkan bacaan sebanyak lima ayat ini karena bacaan ini dan ayat-ayat sebelumnya menunjukkan Yesus sebagai Hamba YHWH yang menderita.

“Teori” ini bisa saja benar, namun William Barclay berpendapat lebih berkemungkinanlah apabila penyelipan ini terjadi karena Matius melihat adanya satu mukjizat dalam perikop ini. Yang ingin mengikut Yesus dalam kisah ini adalah seorang ahli Taurat, dan ia menyapa Yesus dengan gelar kehormatan tertinggi, yaitu “Guru” (Yunani: didaskalos; Ibrani: Rabbi). Menurut pandangan si ahli Taurat, Yesus adalah guru terbesar yang pernah dilihatnya, dan ajaran-Nya adalah yang paling  berkesan ketimbang ajaran-ajaran yang pernah didengarkannya. Sungguh sebuah “mukjizat” apabila seorang ahli Taurat memberikan gelar “Guru” kepada Yesus, dan ia sendiri ingin menjadi pengikut sang Guru! Yesus dan ajaran-ajaran-Nya sangat menentang “legalisme” sempit di atas mana dibangun agama yang murni berdasarkan Hukum Taurat. Jadi, ajaran Yesus sangat bertentangan dengan pandangan umum yang ada di kalangan para ahli Taurat. Dengan demikian sungguh sebuah mukjizat-lah apabila seorang ahli Taurat datang kepada Yesus dan melihat ada sesuatu yang indah dalam diri-Nya dan ajaran-ajaran-Nya. Kiranya ini adalah mukjizat berkaitan dengan dampak personalitas Yesus Kristus atas orang-orang lain.

Berikut inilah ceritanya! Seorang ahli Taurat dengan begitu meyakinkan mengatakan bahwa dia akan mengikut Yesus kemana saja Dia pergi. Tentu dalam hati banyak orang yang ada di situ berharap bahwa Yesus akan mempergunakan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya. Akhirnya, Dia akan mempunyai seorang murid yang dapat dijadikan “asisten” yang handal, …… ahli Taurat gitu lho! Sedikitnya dapat meningkatkan “pamor” kolese para murid di mata khalayak ramai. Bukankah para murid-Nya yang awal baru terdiri dari beberapa orang nelayan saja: Simon Petrus, Andreas, Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya?

Namun hal sebaliknyalah yang terjadi. Jawaban Yesus sungguh mengejutkan kita semua. Seakan-akan Yesus berkata, “Sebelum mengikut Aku – pikir dulu apa yang engkau lakukan. Sebelum engkau mengikut Aku, hitunglah dulu ‘biaya’-nya!” Yesus tidak ingin orang mengikuti jejak-Nya karena emosi-sesaat (misalnya karena terbenam dalam “Tabor experience” untuk beberapa saat lamanya. Yesus menginginkan seorang murid atau pengikut yang sungguh menyadari apa  yang dilakukannya. Dalam kitab Injil yang sama tercatat Yesus pernah bersabda: “Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat 10:38; bdk. Mat 16:24; Mrk 8:34;Luk 9:23).

Juga ternyata menjadi murid Yesus tidak hanya berarti mempunyai pikiran dan ide-ide yang sama dengan Dia, tetapi menuntut suatu penyerahan diri yang mutlak. Siapa saja yang mempunyai keinginan untuk masuk ke dalam lingkungan akrab sebagai murid-murid-Nya harus menjadi milik Yesus Kristus, jadi harus membuang segala sesuatu yang bukan Yesus Kristus. Seorang murid Yesus hanya boleh mempertahankan apa yang diketahuinya seturut kehendak Yesus …… kepasrahan diri yang sempurna.

Rubah mempunyai liang tempat tinggal. Apabila ada bahaya, rubah itu dapat melarikan diri ke dalam liangnya. Bilamana udara dingin, liang adalah tempat untuk menghangatkan tubuhnya. Burung mempunyai sarang, tempat mereka beristirahat. Akan tetapi Anak Manusia tidak mempunyai apa-apa untuk meletakkan kepala-Nya. Dia tidak mempunyai rumah, tidak mempunyai tempat berlindung yang aman. Sesungguhnya hidup Anak Manusia tidak tetap dan tidak mempunyai kepastian. Demikian pulalah seharusnya kehidupan para murid-Nya. Menjadi murid Yesus Kristus berarti meninggalkan kepastian, maka merupakan gambaran kehidupan umat Kristiani sepanjang masa. Yesus memperingatkan bahwa kehidupan kita di dunia ini hanyalah merupakan “jalan seberangan” saja, yaitu bertentangan dengan segala keterlekatan pada hal-hal duniawi, segala keinginan untuk tetap tinggal di dunia ini serta tak ingin maju lebih lanjut. Hidup di dunia berarti mengalir terus dalam arus yang tak henti-hentinya menderas menuju samudera keabadian (Richard Gutzwiller, RENUNGAN TENTANG MATEUS I, Ende, Flores: 1968, hal.136-138).

Sekarang, marilah kita soroti seorang pribadi yang lain. Yang menjadi penghalang bagi orang ini bukanlah keterlekatannya pada hal-hal duniawi, melainkan keterlekatan pada keluarganya. Permintaannya kepada Yesus nampaknya wajar karena merupakan kewajiban terhadap orangtua; apalagi kalau kita memahami bahwa mengurus penguburan orangtua merupakan tugas suci dalam Yudaisme. Tetapi dalam kasus ini permohonan si murid berhadap-hadapan dengan tuntutan Yesus sendiri yang tidak dapat ditawar, bahwa Injil, mengikut Yesus, harus ditempatkan di atas segala sesuatu. Yesus adalah the way of life; yang kurang dari itu sama saja bergabung dengan orang mati. Di sini Yesus mengajukan tuntutan-Nya yang ilahi dan segala tuntutan manusia haruslah menyisih …… mengalah! Apabila suara panggilan Allah diarahkan kepada seseorang, maka dia hanya boleh mengarahkan perhatiannya kepada Allah saja dan tidak boleh menoleh ke belakang lagi. Allah yang hidup sedemikian agungnya, sehingga kalau dibandingkan dengan Dia, segala sesuatu tampak bagi mati dan tak berarti sama sekali.

Juga di sini yang menentukan adalah pandangan akan yang kekal-abadi, sebab dalam hidup kekal tak ada hubungan perkawinan. Mereka tidak kawin, tidak pula dikawinkan (lihat Mat 22:30). Dengan demikian hubungan manusiawi dari hubungan cinta yang duniawi belaka, akan lenyap juga. Oleh karena itu, bagi para murid Yesus hubungan tadi sudah harus ditiadakan. Tempat seorang murid Yesus bukan lagi dalam lingkup keluarga yang kecil, sebab dirinya telah ditarik ke dalam pengabdian dalam Keluarga Allah yang besar, yang terdiri dari orang-orang yang sudah ditebus. Sebagaimana Yesus meninggalkan Nazaret untuk berada dalam perkara-perkara Bapa-Nya, demikian pula para murid Yesus harus meninggalkan Nazaret (zona kenyamanan) hidup kekeluargaannya, untuk menemukan hubungan kekeluargaan dalam Allah.

Mengikuti Yesus Kristus bukanlah merupakan sebagian saja dari kehidupan kita, melainkan suatu totalitas, meliputi seluruh hidup kita, jadi merupakan penyerahan diri secara sempurna. Penyerahan diri sempurna ini merupakan jawaban satu-satunya yang mungkin terhadap panggilan istimewa Allah.

Kedua sabda Yesus dalam bacaan Injil di atas merupakan tuntutan dan jelas bernada “perintah”. Di satu pihak karena Yesus memang sesungguhnya Tuhan, satu-satunya Pribadi yang dapat meminta hal yang sedemikian dan juga benar- benar menuntutnya. Dia menguasai manusia sebagai milik-Nya. Di sisi lain tuntutan-Nya bersifat menentukan sekali karena Dia tahu betapa berat bagi manusia untuk melepaskan diri dari segala sesuatu. Oleh karena itu bagi manusia merupakan suatu keringanan apabila tali pengikat diputuskan samasekali oleh tuntutan yang radikal itu. Si murid harus membongkar jembatan yang dilaluinya serta membakar perahu yang telah ditumpanginya, agar pada saat-saat kelemahan ia tidak kembali lagi. Yesus Kristus menghendaki penyelesaian yang nyata dan jelas-tegas.

DOA: Tuhan Yesus, berikanlah kepada kami keikhlasan untuk sungguh-sungguh mengikut Engkau, ke mana pun Engkau akan memimpin kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 8:18-22), bacalah tulisan yang berjudul “BAGAIMANA KITA DAPAT MENJADI SEBUAH TEMPAT TINGGAL YANG COCOK BAGI TUHAN?” (bacaan tanggal 1-7-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-07 BACAAN HARIAN JULI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 2-7-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 28 Juni 2019 [HR HATI YESUS YANG MAHAKUDUS] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MEMPERSEMBAHKAN KESELURUHAN HIDUP KITA KEPADA YESUS

MEMPERSEMBAHKAN KESELURUHAN HIDUP KITA KEPADA YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VIII – Selasa, 5 Maret 2019)

Lalu Petrus berkata kepada Yesus, “Kami telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!” Jawab Yesus, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, setiap orang yang karena aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, atau saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, atau ibunya atau bapanya, atau anak-anaknya atau ladangnya, orang itu pada zaman ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal. Tetapi banyak orang yang pertama akan menjadi yang terakhir dan yang terakhir akan menjadi yang pertama.” (Mrk 10:28-31) 

Bacaan Pertama: Sir 35:1-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:5-8,14,13 

Ketika orang kaya itu – setelah mendengar nasihat Yesus – pergi dengan kecewa karena banyak hartanya (Mrk 10:21-22), para murid-Nya tentu merasa terheran-heran, apa saja lagi yang harus mereka lakukan untuk dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Bukankah, anak muda yang kaya itu kelihatannya telah melakukan segala hal yang baik, namun Yesus tetap menuntut lebih, yaitu untuk menjual harta miliknya dan memberikan hasilnya kepada orang-orang miskin, lalu mengikut Dia. Setelah mendengar semua itu, para murid tentunya bertanya-tanya apakah yang mereka lakukan selama ini sudah cukup baik?

Yesus menenangkan para murid-Nya dengan mengatakan bahwa berbagai pengorbanan yang telah mereka lakukan tentu akan memperoleh ganjaran yang setimpal. Yesus mengetahui segalanya yang dikorbankan oleh para murid-Nya, dan Ia juga tahu berapa jauh lagi mereka masih dapat melakukan pengorbanan-pengorbanan itu. Berapa pun besarnya lagi yang dituntut dari para murid, Yesus ingin menjelaskan bahwa Dia tidak akan meninggalkan para murid-Nya. Namun begitu, Dia mengundang para murid untuk memberikan kepada-Nya setiap situasi, setiap detil, setiap aspek dari kehidupan mereka.

Yesus juga mengetahui setiap pengorbanan yang telah kita buat. Setiap saat kita memutuskan untuk mentaati perintah-perintah-Nya, maka kita  memampukan Dia untuk hidup dalam diri kita dan melalui kita sedikit lebih dalam lagi. Setiap perhatian dan keprihatinan yang kita tunjukkan satu sama lain merupakan suatu berkat bagi Tuhan dan suatu berkat atas diri kita. Semua pertempuran dan perjuangan kita melawan kodrat kita yang cenderung berdosa – bahkan di mana kita kalah – dapat diberikan kepada Tuhan untuk kemuliaan kekal. Yesus senantiasa bersama kita, dan Ia menyiapkan kita untuk Kerajaan-Nya.

Oleh karena itu, marilah kita mempersembahkan keseluruhan hidup kita kepada Yesus. Dalam hal ini janganlah kita menyembunyikan sesuatu pun. Yesus melihat setiap hal yang kita lakukan. Ia menghargai setiap keputusan yang kita ambil untuk meninggalkan kehidupan lama kita dan kemudian mengikuti Dia. Yesus melihat setiap saat kita berkata “tidak” terhadap godaan dan setiap saat kita pergi ke luar guna menolong orang lain. Ia mendengar setiap doa yang kita haturkan kepada Allah dan melihat juga setiap saat kita menghadapi pertempuran antara daging dan roh. Tidak ada yang berlangsung tanpa diketahui oleh Yesus dan tidak ada yang tak diberkati-Nya. Oleh karena itu marilah kita menghadap hadirat Allah yang Mahabaik ini dan mempersembahkan keseluruh hidup kita kepada-Nya – bukan hanya sebagian dari diri kita – melainkan seluruh keberadaan kita.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena kasih-Mu yang sempurna yang telah mengusir rasa takut dari diriku. Terima kasih untuk kesetiaan-Mu kepadaku walaupun ketika aku tidak setia kepada-Mu. Kasih-Mu dan kesetiaan-Mu itu memampukan diriku untuk berdiri dengan teguh di tengah godaan dan tragedi. Tolonglah aku untuk memberikan kepada-Mu setiap situasi agar dengan demikian Engkau dapat tinggal dalam diriku semakin penuh lagi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 10:28-31); bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MEMANG SEORANG PEMIMPIN YANG RADIKAL” (bacaan tanggal 5-3-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-03 BACAAN HARIAN MARET 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 29-5-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 3 Maret 2019 [HARI MINGGU BIASA VIII – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS