Posts tagged ‘BATU PENJURU’

MOVE TERAKHIR SANG PEMILIK KEBUN ANGGUR

MOVE TERAKHIR SANG PEMILIK KEBUN ANGGUR

 (Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXVII-TAHUN A, 8 Oktober 2017)

“Dengarkanlah suatu perumpamaan yang lain. Adalah seorang tuan tanah membuka kebun anggur dan membuat pagar sekelilingnya. Ia menggali lubang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga di dalam kebun itu. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. Ketika hampir tiba musim petik, ia menyuruh hamba-hambanya kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima hasil yang menjadi bagiannya. Tetapi penggarap-penggarap itu menangkap hamba-hambanya itu: mereka memukul yang seorang, membunuh yang lain dan melempari yang lain lagi dengan batu. Kemudian tuan itu menyuruh pula hamba-hamba yang lain, lebih banyak daripada yang semula, tetapi mereka pun diperlakukan sama seperti kawan-kawan mereka. Akhirnya ia menyuruh anaknya kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani. Tetapi ketika penggarap-penggarap itu melihat anaknya itu, mereka berkata seorang kepada yang lain: Inilah ahli warisnya, mari kita bunuh dia, supaya warisannya menjadi milik kita. Mereka menangkapnya dan melemparkannya ke luar kebun anggur itu, lalu membunuhnya. Apabila tuan kebun anggur itu datang, apakah yang akan dilakukannya dengan penggarap-penggarap itu?” Kata mereka kepada-Nya, “Ia akan membinasakan orang-orang jahat itu dan kebun anggurnya akan disewakannya kepada penggarap-penggarap lain, yang akan menyerahkan hasilnya kepadanya pada waktkunya.” Kata Yesus kepada mereka, “Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita. Sebab itu, Aku berkata kepadamu bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari kamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu. (Mat 21:33-43) 

Bacaan Pertama: Yes 5:1-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 80:9,12-16,19-20; Bacaan Kedua: Flp 4:6-9 

Ini adalah perumpamaan Yesus yang sangat kaya makna dengan ajaran-Nya yang bersifat paling komprehensif dalam Injil sinoptik tentang Yesus dan kematian-Nya yang menyelamatkan dalam sejarah keselamatan. Ayat pembukaannya yang  menggambarkan seorang tuan tanah yang memiliki kebun anggur, mengingatkan orang Yahudi yang mana saja akan “Nyanyian tentang kebun anggur” dari kitab Yesaya: “Aku hendak menyanyikan nyanyian tentang kekasihku, nyanyian kekasihku tentang kebun anggurnya: Kekasihku itu mempunyai kebun anggur di lereng bukit yang subur, Ia mencangkulnya dan membuang batu-batunya, dan menanaminya dengan pokok anggur pilihan; ia mendirikan sebuah menara jaga di tengah-tengahnya dan menggali lobang tempat memeras anggur; lalu dinantinya supaya kebun itu menghasilkan buah anggur yang baik, tetapi yang dihasilkannya ialah buah anggur yang asam”  (Yes 5:1-2).

Bacaan dari Kitab Yesaya mengidentifikasikan kebun anggur sebagai “kaum Israel” (rumah Israel). Jadi, kebun anggur di sini melambangkan Israel (Yes 5:7). Namun jika dalam Kitab Yesaya penghakiman Allah dijatuhkan atas kebun anggur karena tidak mampu menghasilkan buah anggur yang baik, maka dalam perumpamaan Yesus hari ini fokus-nya adalah pada para penggarap yang menghalang-halangi sang pemilik kebun anggur untuk memperoleh anggur hasil kebunnya. Yang dimaksudkan sebagai para penggarap jahat ini adalah imam-imam kepala dan orang-orang Farisi. Akhirnya mereka mengerti bahwa diri merekalah yang dimaksud oleh Yesus (Mat 21:45). Hal ini penting karena di bagian lain Injil Matius para pembaca memperoleh kesan bahwa Yesus ditolak oleh seluruh orang Yahudi, padahal pada kenyataannya para pemimpin korup Yahudilah yang menentang-Nya habis-habisan, walaupun sebagaimana sering terjadi dalam sejarah dunia, para pemimpin sedemikian mendatangkan tragedi atas bangsa mereka sendiri.

Pada zaman Yesus adalah hal biasa apabila kita menemukan adanya pemilik kebun anggur yang tidak menilik kebunnya dari hari ke hari (Inggris: absentee landlords). Secara periodik dia akan mengutus “inspektur” dan pada saat panen mengirim agennya untuk mengklaim bagian sang pemilik kebun anggur. Dalam perumpamaan ini, para hamba yang diutus oleh sang pemilik kebun untuk mengklaim bagiannya mengalami pemukulan, dilempari batu, atau dibunuh. Tidak ada manusia yang menjadi pemilik kebun akan dapat bersabar menghadapi kejahatan para penggarap kebunnya seperti ini. Namun apabila yang dimaksudkan dengan “hamba-hamba”-nya adalah para nabi (lihat Am 3:7; Yer 7:25; 25:4; Za 1:6), maka sang pemilik kebun anggur adalah Dia yang kesabaran-Nya dan penderitaan-Nya yang lama sungguh-sungguh ilahi. Artinya, sang pemilik kebun anggur itu adalah Allah sendiri.

Akhirnya sang pemilik kebun anggur melakukan move terakhir, yaitu mengutus anaknya sendiri. Tidak akan ada lagi move lain! Begitu besar hasrat sang pemilik kebun anggur itu untuk memperoleh anggur hasil dari kebun anggurnya sehingga dia bersedia menanggung risiko mengutus anaknya sendiri. Pikirnya, tentu para penggarap akan menghormati sang anak, yang sama baiknya dengan sang pemilik kebun anggur (Mat 21:37). Anaknya itu bukanlah seorang hamba. Dengan demikian, jelaslah bahwa Yesus (Anak Bapa) itu lebih dari sekadar seorang nabi (hamba)! Ketika melihat sang anak, maka para penggarap yang jahat itu jelas berasumsi bahwa sang pemilik kebun anggur sudah meninggal dunia dan sang anak telah mewarisi kebun anggur itu (mereka memanggil sang anak sebagai “ahli waris”; lihat Mat 21:38). Para penggarap itu menangkap sang anak dan melemparkannya ke luar kebun anggur itu, lalu membunuhnya. Yesus juga dibunuh pada kayu salib di luar Yerusalem. Kematian sang anak adalah klimaks dari cerita perumpamaan ini. Yesus “meramalkan” kematian-Nya sendiri di tangan mereka kepada siapa Dia menceritakan perumpamaan ini, walaupun baru pada ayat 45-lah kiranya mereka memahami ceritanya.

Yesus bersabda bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari bangsa Israel dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu (Mat 21:43). “Buah” seringkali digunakan dalam Injil Matius untuk “pekerjaan-pekerjaan baik”, tanda dari kebenaran lebih besar yang diproklamasikan Yesus dan diharapkan oleh-Nya dari para murid-Nya. Yesus bersabda: “Jika kamu tidak melakukan kehendak Allah melebihi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga” (Mat 5:20).

DOA: Bapa surgawi, Allah Yang Maharahim, setiap kali aku hendak menghakimi seseorang yang membalas kebaikanku kepadanya dengan kejahatan, perkenankanlah Roh Kudus-Mu menyadarkan diriku akan kebenaran bahwa apa yang kulakukan kepada Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus, juga tidak lebih baik. Ini kulakukan kepada-Nya – sadar maupun tidak sadar – dari hari ke hari. Inilah balasanku terhadap rahmat yang Kaucurahkan kepadaku. Bapa, ampunilah aku anak-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 21:33-43), bacalah tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG PARA PENGGARAP KEBUN ANGGUR” (bacaan tanggal 8-10-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 5-10-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 6 Oktober 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

BATU YANG DIBUANG TELAH MENJADI BATU PENJURU

BATU YANG DIBUANG TELAH MENJADI BATU PENJURU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Prapaskah – Jumat, 6 Maret 2015) 

PERUMPAMAAN - WICKED HUSBANDMEN“Dengarkanlah suatu perumpamaan yang lain. Adalah seorang tuan tanah membuka kebun anggur dan membuat pagar sekelilingnya. Ia menggali lubang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga di dalam kebun itu. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. Ketika hampir tiba musim petik, ia menyuruh hamba-hambanya kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima hasil yang menjadi bagiannya. Tetapi penggarap-penggarap itu menangkap hamba-hambanya itu: mereka memukul yang seorang, membunuh yang lain dan melempari yang lain lagi dengan batu. Kemudian tuan itu menyuruh pula hamba-hamba yang lain, lebih banyak daripada yang semula, tetapi mereka pun diperlakukan sama seperti kawan-kawan mereka. Akhirnya ia menyuruh anaknya kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani. Tetapi ketika penggarap-penggarap itu melihat anaknya itu, mereka berkata seorang kepada yang lain: Inilah ahli warisnya, mari kita bunuh dia, supaya warisannya menjadi milik kita. Mereka menangkapnya dan melemparkannya ke luar kebun anggur itu, lalu membunuhnya. Apabila tuan kebun anggur itu datang, apakah yang akan dilakukannya dengan penggarap-penggarap itu?” Kata mereka kepada-Nya, “Ia akan membinasakan orang-orang jahat itu dan kebun anggurnya akan disewakannya kepada penggarap-penggarap lain, yang akan menyerahkan hasilnya kepadanya pada waktunya.” Kata Yesus kepada mereka, “Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita. Sebab itu, Aku berkata kepadamu bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari kamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu.

Ketika imam-imam kepala dan orang-orang Farisi mendengar perumpamaan-perumpamaan Yesus, mereka mengerti bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya. Mereka berusaha untuk menangkap Dia, tetapi mereka takut kepada orang banyak, karena orang banyak itu menganggap Dia nabi. (Mat 21:33-43,45-46) 

Bacaan Pertama: Kej 37:3-4,12-13,17-28; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:16-21 

“Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru” (Mzm 118:22).

Para pengkhotbah Kristiani di awal-awal sejarah Gereja kelihatannya suka menggunakan ayat mengenai batu yang dibuang dan telah menjadi batu penjuru ini. Dengarkanlah apa yang dikatakan Petrus (ditemani oleh Yohanes) yang penuh dengan Roh Kudus berbicara di hadapan Mahkamah Agama, a.l sebagai berikut: “Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan – yaitu kamu sendiri – namun ia telah menjadi batu penjuru” (Kis 4:11).

Sebagai “batu yang dibuang”, Yesus masuk ke dalam ikatan solidaritas dengan para korban yang tak bersalah di segala zaman. Perumpamaan tentang kebun anggur adalah cerita mengenai tindakan kekerasan yang kejam dan … berdarah, sampai menghilangkan nyawa orang! Orang-orang yang tidak bersalah dipukuli dan dianiaya oleh mereka yang berambisi buruk. Darah Yesus yang dicurahkan dari atas kayu salib menjadi bagian dari sejarah sekian banyak darah orang-orang tak bersalah dari abad ke abad. Di abad ke-20 saja diperkirakan ada sekitar 100 juta orang yang telah dibunuh dalam perang dunia, perang-perang lainnya, perang gerilya dan perang antara “geng” preman-preman, kamp konsentrasi, “gulag” di Uni Soviet, pembunuhan-pembunuhan tokoh-tokoh, terorisme dlsb.

stdas0748Yesus masuk ke dalam kelompok orang-orang tak bersalah yang menderita sebagai tawanan-tawanan hati nurani, para pengungsi atau korban penindasan HAM. Dunia orang-orang tak bersalah juga mencakup orang-orang yang tidak mendapat bagian yang adil dalam hal distribusi sumber daya dunia, para korban kebijakan-kebijakan fiskal dan moneter dari pemerintah yang lebih mementingkan perlindungan terhadap diri para pengusaha dan orang kaya, juga para korban dari eksploitasi lingkungan hidup yang merusak udara, air dan lapisan ozone yang seyogianya melindungi penduduk bumi.

Setiap hari kita adalah korban-korban dari kesalahpahaman, ketidakhati-hatian, keserakahan. Kita menderita karena ambisi, akal-akalan, ketamakan, ketidakpekaan dlsb. dari orang-orang lain.

Siapa saja yang berada dalam posisi sebagai korban-korban tak bersalah, dapat memandang Yesus di kayu salib, dan Ia siap menyambut mereka dengan tangan terbuka lebar-lebar dan kemudian merangkul mereka: karena Dia adalah “batu yang dibuang”, sama seperti dengan semua orang yang ditolak/dibuang dan korban-korban tak bersalah lainnya.

Di atas kayu salib Yesus adalah suatu tanda bela rasa dan solidaritas. Dan, dalam kebangkitan-Nya Dia adalah suatu tanda pengharapan dan pemulihan nama baik-Nya. Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan malah dipilih untuk berfungsi sebagai batu penjuru yang sangat vital dalam sebuah bangunan. “Hal itu terjadi dari pihak TUHAN (YHWH), suatu perbuatan ajaib di mata kita” (Mat 21:42; bdk. Mzm 118:23).

Yesus adalah suatu tanda untuk menunjukkan bahwa Allah berpihak pada para korban yang tak bersalah. Allah Bapa yang membangkitkan Yesus dari alam maut, akan membersihkan nama baik semua orang tak bersalah yang menderita karena ulah orang lain. Namun mereka harus menunggu dengan sabar sampai tiba waktu (Yunani: Kairos) Allah sendiri. Yesus yang bangkit dari antara orang mati, adalah tanda pengharapan dan pengakuan bahwa diri-Nya adalah Ilahi. Santo Petrus dalam suratnya yang pertama menasihati dan mengajak kita: “Datanglah kepada-Nya, batu yang hidup itu, yang memang dibuang oleh manusia, tetapi dipilih dan dihormati di hadirat Allah. Biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani” (1Ptr 2:4-5).

Guna mengakhiri permenungan kita kali ini, marilah kita mendengar dengan penuh rasa syukur bagian akhir dari “Sabda-sabda Bahagia” yang disabdakan Yesus: “Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersuka cita dan bergembiralah, karena upahmu besar di surga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu” (Mat 5:11-12).

DOA: Bapa surgawi, kuat-kuasa-Mu seringkali terlihat justru di tengah-tengah kegagalan manusia. Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan justru Kaujadikan batu penjuru yang sangat penting demi keselamatan umat manusia, dalam hal ini Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Terpujilah nama-Mu, ya Allah kami, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 21:33-43,45-46), bacalah tulisan yang berjudul “KERENDAHAN HATI, KETEKUNAN DAN KETETAPAN HATI”  dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-03 BACAAN HARIAN MARET 2015.

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kej 37:3-4,12-13,17-28), bacalah tulisan yang berjudul “KISAH YUSUF BIN YAKUB” (bacaan untuk tanggal 9-3-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-3-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 3 Maret 2015  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DIA MEMANGGIL KITA KELUAR DARI KEGELAPAN KEPADA TERANG-NYA YANG AJAIB

DIA MEMANGGIL KITA KELUAR DARI KEGELAPAN KEPADA TERANG-NYA YANG AJAIB

(Bacaan Kedua Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH V [Tahun A], 18 Mei 2014)

PETERDatanglah kepada-Nya, batu yang hidup itu, yang memang dibuang oleh manusia, tetapi dipilih dan dihormati di hadirat Allah. Biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah. Sebab ada tertulis dalam Kitab Suci: “Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu, sebuah batu penjuru yang terpilih dan mahal dan siapa yang percaya kepada-Nya tidak akan dipermalukan” [1]. Karena itu, bagi kamu yang percaya, ia mahal, tetapi bagi mereka yang tidak percaya: “Batu yang telah dibuang oleh tukang-tukang bangunan, telah menjadi batu penjuru, juga telah menjadi batu sentuhan dan suatu batu sandungan” [2]. Mereka tersandung padanya, karena mereka tidak taat kepada Firman Allah; dan mereka juga telah ditentukan untuk itu [3]. Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib [4]. (1Ptr 2:4-9)

Bacaan Pertama: Kis 6:1-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:1-2,4-5,18-19; Bacaan Injil: Yoh 14:1-12 

Catatan: [1] Ayat 6, bdk. Yes 28:16]; [2] Ayat 7, bdk. Mzm 118:22; [3] Ayat 8, bdk. Yes 8:14-15; [4] Ayat 9, bdk. Kel 19:5-6, Ul 4:20, 7-6, 14:2, Yes 9:1, 43:20-21, Tit 2:14 

Bacaan kedua Misa Kudus hari ini diambil dari bagian pertama Surat Pertama Santo Petrus yang berisikan wejangan-wejangan yang bersifat umum. Sebagai orang Kristiani, secara tulus kita harus mempraktekkan kasih persaudaraan yang sejalan dengan kehidupan baru ke dalam mana kita telah dilahirkan kembali, sehingga dengan demikian kita dapat menjadi lebih sempurna lagi dipersatukan ke dalam “rumah rohani” baru yang batu penjurunya adalah Kristus sendiri. Bacaan ini adalah salah satu bacaan dalam Kitab Suci yang terbaik berkaitan dengan “imamat umum”.

Bagi orang Yahudi Kristus adalah batu sandungan yang mereka tolak, namun Ia telah menjadi batu penjuru Gereja melalui penolakan terhadap diri-Nya, yaitu yang diwujudkan dalam kematian dan kebangkitan-Nya. Pada waktu mengajar “perumpamaan tentang penggarap-penggarap kebun anggur” (Mat 21:33-46), Yesus menyebutkan kata-kata “batu penjuru” itu (lihat Mat 21:42). Di sini Yesus menerapkan pada diri-Nya sendiri perumpamaan yang diajarkan-Nya, yaitu sebagai anak tuan tanah pemilik kebun anggur yang dibunuh oleh para penggarap yang jahat. Yesus menggunakan kata-kata yang digunakan oleh sang pemazmur: “Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru. Hal itu terjadi dari pihak TUHAN (YHWH), suatu perbuatan ajaib di mata kita” (Mzm 118:22-23).

YESUS MAU DIJEBAK OLEH ORANG FARISIKita – orang-orang Kristiani – telah menjadi batu-batu penjuru, yang dibangun sebagai sebuah bangunan besar rohani. Kekristenan atau Kristianitas adalah komunitas. Sebuah batu hanya menjadi berguna apabila dibangun menjadi sebuah bangunan. Jadi, kita adalah batu-batu penjuru yang dibangun menjadi Gereja. Seorang Kristiani tidak boleh hidup sendirian atau menyendiri, karena dia harus senantiasa hidup bersekutu dengan saudari dan/atau saudaranya seiman.

Kita adalah sebuah “bangsa terpilih,” suatu “imamat kudus” yang mempersembahkan persembahan rohani yang berkenan kepada Allah melalui Yesus Kristus (lihat 1Ptr 2:5,9). Petrus mengambil oper kata-kata ini dari Kitab Keluaran di mana dalam rangka perjanjian-Nya dengan bangsa Israel YHWH berkata kepada Musa agar disampaikan kepada bangsa Israel yang sedang dalam perjalanan menuju tanah terjanji: “Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus” (Kel 19:6). Melalui perjanjian ini YHWH adalah Allah bangsa Israel dan mereka adalah umat-Nya. Semua ini akan digenapi dalam perjanjian baru, melalui kematian Kristus dan kebangkitan-Nya.

Seorang imam mempunyai akses kepada Allah dan membawa orang-orang lain kepada-Nya. Dahulu hal ini adalah hak istimewa segelintir orang, khususnya Imam Besar yang sekali setahun dapat sendirian memasuki tempat “Yang Kudus dari segala yang kudus” di Bait Allah. Sekarang setiap orang Kristiani mempunyai akses kepada Allah. Dan dia mempersembahkan kurban persembahan kepada Allah. Setiap hal yang dilakukannya, dilakukannya untuk Allah, bahkan tugasnya yang paling kecil sekali pun. Maka orang Kristiani membuat dirinya suatu persembahan bagi Allah. Santo Paulus menulis: “Karena itu, Saudara-saudara, oleh kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: Itulah ibadahmu yang sejati” (Rm 12:1).

Dengan demikian kurban persembahan sebuah komunitas Kristiani bukan bersifat kultis, melainkan bersifat etis: penghayatan suatu hidup Kristiani di dalam dunia. Namun kelihatannya lebih dari itu, tanpa kita harus menyangkal perbedaan yang ada antara imamat khusus bagi para imam tertahbis dan imamat umum dari umat yang percaya. Imam tertahbis mempersembahkan kurban persembahan bersama Kristus, sang Kepala Gereja. Para imam tertahbis ikut ambil bagian dalam imamat-Nya sebagai Kepala. Umat yang sudah dibaptis dan menerima sakramen krisma juga ikut mempersembahkan kurban persembahan yang menghadirkan-Nya, melakukan tugas imamat mereka sebagai anggota-anggota Gereja. Sebagai “imamat rajawi” (lihat 1Ptr 2:9) – komunitas imam-imam dan keturunan raja-raja – kita dipanggil untuk mempersembahkan diri dalam ibadat, dan pelayanan untuk mewartakan Tuhan di dunia.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau telah memanggilku dari kegelapan menuju terang-Mu yang mengagumkan. Biarlah terang-Mu bersinar lebih cerah dalam diriku, mengusir segala kegelapan dan memancarkan kebaikan kepada orang-orang yang Kauberikan kepadaku untuk kukasihi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 14:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “MENGHADAP-NYA DENGAN HATI TERBUKA DAN PENUH RASA PERCAYA” (bacaan tanggal 18-5-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-05 BACAAN HARIAN MEI 2014. 

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 6:1-7), bacalah tulisan yang berjudul “PENGANGKATAN TUJUH ORANG DIAKON YANG PERTAMA” (bacaan tanggal 17-4-10) dalam situs/blog SANG SABDA. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 22-5-11 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 15 Mei 2014 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS