Posts tagged ‘ANAK MANUSIA’

MENGIKUT YESUS

MENGIKUT YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Kamis sesudah Rabu Abu – Kamis, 15 Februari 2018)

Kemudian Yesus berkata, “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.” Kata-Nya kepada mereka semua, “Setiap orang yang mau mengikut Aku harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena siapa saja yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi siapa saja yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya. Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri? (Luk 9:22-25) 

Bacaan Pertama: Ul 30:15-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-4,6 

Tidakkah anda merasa takjub penuh kekaguman ketika menyadari bahwa Yesus Kristus – Putera Allah yang tunggal, Pribadi Kedua dari Allah Tritunggal Mahakudus – memberikan kepada kita – manusia biasa yang pada suatu hari akan mati – “sebuah pilihan”? Ia tidak memerintahkan kita untuk mengikuti jejak-Nya; …… Dia mengundang kita.

Apakah pilihan yang ditawarkan oleh Yesus? Apakah ini pilihan untuk menghayati suatu kehidupan yang terus-menerus melibatkan penderitaan: “menyangkal diri dan memikul salib kita” dari hari ke hari, dan secara pasif menerima pencobaan apa saja yang datang menimpa, dengan pengharapan bahwa Allah akan menerima kita? Tidak! Pilihan yang riil adalah untuk mengikuti jejak Yesus dan menerima apa saja yang diminta oleh pilihan itu. Sebuah pilihan untuk memusatkan pandangan mata kita pada Yesus, yang rindu untuk mencurahkan kasih-Nya kedalam hati kita setiap hari. Ini adalah pilihan untuk percaya bahwa dengan Yesus kita dapat mengatasi segala halangan, tantangan, atau kesulitan yang bermunculan – baik secara internal maupun eksternal.

Di sini, pada awal masa Prapaskah, Allah sedang mengajukan sebuah pertanyaan sederhana kepada kita: “Siapa Yesus itu?” Apakah Dia sekadar seorang baik, barangkali bahkan seorang nabi, yang peri kehidupan-Nya harus kita teladani? Atau, Dia adalah Putera Allah yang menjadi manusia agar supaya kita dapat menjadi anak-anak Allah? Apakah Dia seorang hakim yang kaku-keras, yang siap untuk menghukum setiap dosa kita? Ataukah Dia sang “Anak Domba Allah” yang menyerahkan hidup-Nya sendiri agar kita dapat dibebas-merdekakan dari dosa dan ditransformasikan menjadi “gambar dan rupa-Nya” sendiri?

Berabad-abad sebelum kehadiran Yesus di tengah-tengah dunia, Musa mengatakan kepada orang-orang Israel bahwa taat kepada Allah adalah suatu isu hidup-atau-mati: “Ingatlah, aku menghadapkan kepadamu pada hari ini kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan” (Ul 30:15), dan artian tertentu hal ini memang benar. Musa mengetahui perbedaan antara berjalan sehari-hari dengan Tuhan dan berjalan sendiri. Pada hari ini Yesus ingin membuka mata (hati) kita tentang adanya perbedaan itu. Dia ingin mengatakan kepada kita, bahwa apabila kita memilih Dia dari  hari ke hari, kemungkinan-kemungkinan yang tersedia untuk kehidupan kita adalah tidak terbatas. Kita tidak hanya akan hidup sebagai sekadar makhluk insani, melainkan akan memperoleh akses kepada segala rahmat dan kuasa Allah yang Mahakuasa! Kita akan dimampukan untuk mengasihi mereka yang sangat sulit kita kasihi, mengampuni mereka yang sangat sulit untuk kita ampuni dan mengatasi permasalahan yang tak mungkin teratasi apabila kita memakai kekuatan kita sendiri. Memang ada masalah “biaya” di sini. Mungkin dalam bentuk berbagai penderitaan dan kesulitan di sepanjang jalan yang kita tempuh, namun kita dapat merasa yakin bahwa selama kita berada dekat dengan Yesus, maka Dia akan sangat dekat dengan diri kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku memilih untuk mengikuti jejak-Mu pada hari ini dan hari-hari sepanjang hidupku. Aku menerima janji-Mu tentang kehidupan. Tuhan, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena telah mengundang diriku untuk berada bersama dengan-Mu. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku! Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 9:22-25), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MENGUNDANG KITA UNTUK MENGIKUTI JEJAK-NYA” (bacaan tanggal 15-2-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 2-3-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 12 Februari 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

KASIH YANG SEJATI

KASIH YANG SEJATI

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA TUHAN KITA YESUS KRISTUS RAJA SEMESTA ALAM [TAHUN A] – Minggu, 26 November 2017)

 

“Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari yang lain, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya. Lalu Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu menjenguk aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. Lalu orang-orang benar itu akan menjawab Dia, Tuhan, kapan kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Kapan kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Kapan kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? Raja itu akan menjawab mereka: Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah disediakan untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya. Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; ketika Aku seorang seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak menjenguk Aku. Lalu mereka pun akan menjawab Dia, Tuhan, kapan kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau? Ia akan menjawab mereka: Sesungguhnya Aku berkata, segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. Orang-orang ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.” (Mat 25:31-46) 

Bacaan Pertama: Yeh 34:11-12,15-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 23:1-3,5-6; Bacaan Kedua: 1Kor 15:20-26,28

Sebagai umat Kristiani kita seringkali berbicara mengenai kasih, dan hal itu tidaklah salah. Tidak diragukan lagi bahwa kasih bersifat hakiki. Baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, berbagai tulisan  orang-orang kudus, teologi pada zaman dahulu maupun modern, umat Kristiani maupun bukan, semua setuju tentang keutamaan kasih. Namun orang-orang seringkali berbicara begitu entengnya tentang kasih ini, seakan-akan topic tentang kasih ini sangat sederhana, seakan-akan tidak ada tuntutan-tuntutan selain membuang segalanya yang lain, seakan-akan itu merupakan obat penyembuh segalanya dan langsung.

Kasih adalah memang obat penyembuh segalanya, apabila kasih itu kasih yang sejati. Masalahnya adalah bahwa kita tidak dapat melepaskan diri kita dari pandangan kekanak-kanakan bahwa kasih adalah sekadar masalah emosi sesaat. Pandangan ini dapat dibenarkan dan didukung oleh cerpen-cerpen “romantis” dalam majalah-majalah, film-film, novel-novel, dan apa saja yang menjadi bagian dari sebuah budaya yang tergila-gila pada kenikmatan badani.

Sekarang ada pertanyaan yang harus kita jawab. Bukankah keutamaan atau kebajikan seharusnya menyenangkan? Jawabnya dapat “ya” dan dapat juga “tidak”. Dengan kecenderungan-kecenderungan dari segenap kedagingan manusia, maka kasih sejati dapat menyakitkan dan dapat pula menyenangkan. Tuntutan dari kasih yang sejati banyak menuntut dan terasa menakutkan: pemberian-diri secara total menuntut kesabaran yang luarbiasa, kerendahan hati yang tidak main-main dalam hal keputusan-keputusan yang sulit, dan seringkali dalam mengambil tindakan yang bertentangan dengan hasrat-hasrat kita yang mementingkan diri sendiri.

Tidakkah setiap pasutri pasti mempunyai “catatan” tentang pengalaman selama satu pekan setelah honeymoon? Jika sungguh ada kasih yang sejati dan kebahagiaan yang sesungguhnya, maka salah satu dari pasutri memberikan-dirinya. Tentunya, pemberian-diri menjadi sukacita dari kasih, namun siapakah yang menyangkal bahwa hal itu juga menyakitkan? Perhatian dan minat yang serius atas seorang pribadi yang lain seperti dituntut oleh kasih menyebabkan suatu keprihatin yang mendatangkan kecemasan. Namun hal ini bukanlah kecemburuan atau self-pity, melankan merupakan bentuk penderitaan yang riil. Kasih yang sejati mengalami/merasakan penderitaan yang diderita oleh dia yang kita kasihi.

DOA: Tuhan Yesus, Engkaulah Raja dan Hakim yang akan menghakimi kami masing-masing pada akhir zaman.  Jika kami sungguh menanggapi kasih-Mu dengan saling mengasihi antara kami, sekarang dan di dunia ini, maka kami percaya bahwa kamipun akan menerima berkat dari-Mu seperti ada tertulis dalam Injil: “Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan”. Terima kasih, Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 25:31-46), bacalah tulisan yang berjudul “PENGHAKIMAN TERAKHIR OLEH SANG RAJA” (bacaan tanggal 26-11-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 23-11-14  dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 23 November 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KEDATANGAN KEMBALI YESUS KRISTUS PADA AKHIR ZAMAN

KEDATANGAN KEMBALI YESUS KRISTUS PADA AKHIR ZAMAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Elisabet dr Hungaria, yang bersama S. Ludovikus IX adalah Orang-orang Kudus Pelindung OFS – Jumat, 17 November 2017)

 

Sama seperti yang terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia: Mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai pada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua. Demikian juga seperti yang terjadi di zaman Lot: mereka makan dan minum, mereka berjual beli, mereka menanam dan membangun. Tetapi pada hari Lot pergi keluar dari Sodom turunlah hujan api dan hujan belerang dari langit dan membinasakan mereka semua. Demikianlah halnya kelak pada hari Anak Manusia dinyatakan. Siapa saja yang pada hari itu sedang berada di atas rumah dan barang-barangnya ada di dalam rumah, janganlah ia turun untuk mengambilnya, dan demikian juga orang yang sedang di ladang, janganlah ia kembali. Ingatlah akan istri Lot! Siapa saja yang berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan siapa saja yang kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya. Aku berkata kepadamu: Pada malam itu ada dua orang di atas tempat tidur, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Ada dua orang perempuan bersama-sama menggiling gandum, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.” (Kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.) Kata mereka kepada Yesus, “Di mana, Tuhan?” Kata-Nya kepada mereka, “Di mana ada mayat, di situ berkerumun burung-burung nasar.” (Luk 17:26-37) 

Bacaan Pertama: Keb 13:1-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:2-5 

Hampir semua orang merasa tidak enak kalau merenungkan masalah akhir zaman. Namun demikian Yesus membahas hal-ikhwal akhir zaman ini dengan para murid-Nya, dan Gereja mengundang kita semua untuk merenungkan janji-janji-Nya tentang apa yang akan datang kelak. Yesus membuat jelas kepada para murid-Nya bahwa semua pengikut-Nya harus percaya akan kedatangan-Nya untuk kedua kali kelak.

Yesus mengatakan bahwa akhir sejarah umat manusia akan menyangkut suatu “perpisahan”. Ia bersabda, “Aku berkata kepadamu: Pada malam itu ada dua orang di atas satu tempat tidur, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Ada dua orang perempuan bersama-sama menggiling  gandum, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan” (Luk 17:34-35). Kebudayaan modern cenderung untuk mengabaikan “peringatan akan suatu penghakiman”. Banyak orang merasa bahwa Allah yang penuh kasih tidak akan menghukum siapa pun. Namun jelaslah bahwa Yesus mengajarkan bahwa Bapa surgawi telah memberikan kepada-Nya wewenang penuh untuk menghakimi dunia. Dalam kesempatan lain Ia bersabda: “Bapa tidak menghakimi siapa pun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak, supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Siapa saja yang tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa yang mengutus Dia” (Yoh 5:23-24). Akan tetapi hanya Allah sajalah yang menentukan kapan “perpisahan” itu akan terjadi. Situasi umat manusia zaman sekarang tidak ubahnya dengan zaman Nuh (lihat Luk 17:26-27). Manusia akan melanjutkan rutinitas kehidupan mereka sampai kedatangan waktu yang ditentukan Allah itu.

Kita dapat dengan mudah menjadi takut akan hal-hal yang akan terjadi pada hari-hari terakhir bumi ini. Bukanlah maksud Yesus untuk menakut-nakuti kita, melainkan untuk menyiapkan kita akan kedatangan-Nya untuk kedua kalinya kelak. Yesus mengingatkan para murid-Nya: “Ingatlah akan istri Lot!” (Luk 17:32). Kita ketahui bahwa istri Lot menolak pesan dari malaikat: ia menoleh ke belakang, artinya dia mau tetap berpaut pada masa lampaunya; dan dia menjadi tiang garam (lihat Kej 19:26).  Yesus bersabda: “Siapa  saja yang berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan siapa saja yang kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya” (Luk 17:33). Roh Kudus akan mengajarkan kepada kita tentang apa artinya melepaskan diri kita dari keterlekatan pada kehidupan dunia dan mencari dulu Kerajaan Allah (lihat Mat 6:33).

Yesus tidak pernah menyembunyikan apa pun dari para murid-Nya. Bagi mereka yang menolak tawaran Allah untuk hidup dalam Kristus, akan ada penderitaan. Namun demikian, kabar baiknya adalah bahwa bila Yesus datang kembali kelak, Ia akan membawa serta kita kepada suatu hidup penuh kemuliaan. Hidup mulia seperti itu dapat dimulai sekarang, melalui partisipasi kita dalam sakramen-sakramen (teristimewa Ekaristi); kehidupan doa kita; kegiatan membaca serta merenungkan firman Allah dalam Kitab Suci; dan berbagai kegiatan pelayanan-penuh-kasih kita kepada orang-orang lain (termasuk berbagai bentuk  evangelisasi, tentunya). Dengan membuat langkah-langkah sedemikian, kita sebenarnya menyiapkan hati kita untuk kedatangan hari mahapenting itu di mana Allah akan memanggil kita untuk datang menghadap-Nya dan hidup bersama-Nya. Bagi orang-orang yang mengenal Yesus dan menjalani hidup Injili seturut jejak-Nya secara pribadi dan intim, maka kedatangan-Nya kembali akan merupakan suatu peristiwa yang indah-menakjubkan dan penuh sukacita. Kita akan begitu terserap ke dalam kasih-Nya dan tertangkap oleh pemenuhan harapan-harapan dan impian-impian kita, sehingga tentunya akan meninggalkan segalanya yang ada pada kita di belakang kita , dan kita pun akan berlari-lari untuk menyambut kedatangan-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, cepatlah datang. Aku sangat merindukan kedatangan-Mu. Aku tidak dapat menunggu untuk dapat bersama dengan-Mu, dan akhirnya memandang-Mu ‘muka ketemu muka’.  Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 17:26-37), bacalah tulisan yang berjudul “KEDATANGAN KEMBALI YESUS KE DUNIA PADA AKHIR ZAMAN” (bacaan tanggal 17-11-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-11-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 13 November 2017 [Peringatan S. Didakus dr Alkala, Biarawan OFM] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

NASIHAT SUPAYA BERJAGA-JAGA

NASIHAT SUPAYA BERJAGA-JAGA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU ADVEN I [TAHUN A] – 27 November 2016)

 54

“Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia. Sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah itu makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai pada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, dan mereka tidak tahu apa-apa, sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua, demikian pulalah halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia. Pada waktu itu kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan; kalau ada dua orang perempuan sedang memutar batu giling, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang. 

Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Karena itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.” (Mat 24:37-44) 

Bacaan Pertama Yes 2:1-5; Mazmur Tanggapan: Mzm 122:1-9; Bacaan Kedua : Rm 13:11-14 

Kata-kata Yesus dapat terdengar tidak menyenangkan: air bah datang dan melenyapkan orang-orang; orang-orang yang sedang melakukan pekerjaan sehari-hari ketika secara tiba-tiba yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan; seorang pencuri datang untuk membongkar rumah. Namun pesan Yesus sebenarnya untuk mendorong dan menyemangati orang-orang yang mendengar, malah cukup exciting. Kita sebenarnya berdiri di ambang batas hidup baru yang sedang mendatang. Suatu rahmat yang indah sedang menantikan kita. Oleh karena itu, bersiaplah!

Walaupun Yesus telah menjanjikan hidup baru manakala Dia datang kembali, pada akhir zaman banyak orang yang hidup tanpa pengharapan, seolah-olah tidak ada sesuatu yang baru akan terjadi. Akan tetapi,  orang-orang lain yang merindukan kedatangan-Nya, akan mempersiapkan hati mereka. Inilah yang terjadi juga 2.000 tahun lalu, Hanya sedikit orang yang menantikan kemunculan sang Mesias. Namun mereka yang sungguh menanti-nantikan kedatangan-Nya – Maria, Elisabet, Yusuf, Hana dan Simeon, misalnya – mampu untuk menerima Yesus ketika Dia datang dan mereka pun memperoleh ganjaran yang melampaui ekspektasi mereka sendiri.

Sebuah gelombang rahmat yang dahsyat juga menantikan Gereja pada milenium ketiga ini. Masa Adven yang dimulai pada hari ini adalah waktu yang sempurna bagi kita untuk menyiapkan diri guna menyambut rahmat yang akan dicurahkan oleh Allah pada hari Natal dan untuk rahmat berlimpah bagi kita manakala Yesus datang kembali pada akhir zaman.

Bagaimana seharusnya kita melakukan persiapan dimaksud? Kesiap-siagaan  dan sikap berjaga-jaga macam apa yang kita perlukan pada masa Adven ini? Bukan rasa siap yang tidak jelas, melainkan suatu penghayatan eksplisit dari hidup kita bagi Allah. Setiap hari, selagi  kita berdoa, membaca dan merenungkan sabda Allah dalam Kitab Suci, dan menyesali dan bertobat atas dosa-dosa kita, maka kita membuka pintu bagi rahmat-Nya. Selagi kita mengosongkan diri kita dari berbagai motif yang mementingkan diri-sendiri dan berupaya untuk memberikan cintakasih lebih daripada cintakasih yang kita sendiri terima, maka Bapa surgawi akan menyiapkan diri kita untuk menerima seluruh hidup yang telah dijanjikan-Nya kepada kita. Pada kenyataannya, dalam tindakan-tindakan ini, Bapa surgawi yang sangat menghasihi kita akan memenuhi diri kita, lebih dan lebih lagi.

DOA: Bapa surgawi, aku menyerahkan hidupku kepada-Mu. Bukalah hatiku bagi rahmat-Mu, sehingga dengan demikian aku akan siap menerima segala sesuatu yang Yesus ingin berikan kepada para murid-Nya pada hari Natal tahun ini. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 24:37-44), bacalah tulisan yang berjudul “HENDAKLAH KAMU JUGA SIAP SEDIA” (bacaan tanggal 27-11-16), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 1-12-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 24 November 2016 [Peringatan S. Andreas Dung Lac, Imam dkk. Martir-martir Vietnam) 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

BERJAGA-JAGA DAN BERDOA

BERJAGA-JAGA DAN BERDOA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV – Sabtu, 26 November 2016)

Keluarga Besar Fransiskan: S. Leonardus dr Porto Mauritio, Imam 

c3606b07eb3e0f92bb5bfe8287005989“Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan dibebani oleh pesta pora dan kemabukan serta kekhawatiran hidup sehari-hari dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat. Sebab hari itu akan menimpa semua penduduk bumi ini. Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.” (Luk 21:34-36) 

Bacaan Pertama: Why 22:1-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 95:1-7

Yesus mendesak para murid-Nya supaya menjaga diri agar hati mereka masing-masing tidak dibebani oleh berbagai kenikmatan duniawi dan kekhawatiran hidup sehari-hari, melainkan supaya “berjaga-jaga senantiasa sambil berdoa” (Luk 21:36). Yesus mengetahui bahwa mereka perlu berjaga-jaga dan dipenuhi dengan Roh Kudus agar supaya siap menghadapi apa yang akan datang. Yesus juga mengetahui bahwa kesibukan kita dengan tanggung jawab kehidupan sehari-hari dapat menumpulkan kepekaan kita terhadap realitas-realitas rohani. Dan Ia mengetahui bahwa apabila beban menumpuk dalam hidup kita, kita dapat tergoda untuk mencari cara-cara yang tidak sehat untuk “menenangkan” hidup kita.

Nasihat Yesus pada hari terakhir dari tahun Gereja ini sungguh tepat waktu! Walaupun peringatan Yesus tentang akhir zaman ini terkait kedatangan-Nya kembali ke dunia, peringatan itu cocok juga bagi kita selagi kita mendekati Masa Adven. Gereja telah menetapkan Adven sebagai suatu masa bagi kita mempersiapkan perayaan berkaitan dengan dengan kelahiran Kristus. Pesan peringatan Yesus yang sama juga berlaku: berjaga-jaga senantiasa sambil berdoa. Kita tentunya ingin sampai pada hari Natal dengan hati yang dipenuhi Roh Kudus, dengan kebenaran dan dengan kasih Allah yang dibawa kepada kita oleh kelahiran Yesus.

Hari ini adalah hari yang tepat untuk meluncurkan rencana-rencana kita untuk Adven sehingga dengan demikian kita dapat memulai dengan benar pada esok hari. Oleh karena itu, marilah kita bertanya kepada Roh Kudus agar menunjukkan kepada kita apa dan bagaimana cara yang terbaik untuk Hari Raya Natal mendatang. Mempersiapkan “rangkaian adven” dengan empat batang lilin? Membuat rencana waktu-waktu untuk berdoa secara pribadi atau bersama keluarga? Membuat rencana makan-minum yang akan disediakan dalam pesta Natal keluarga? Mempersiapkan kartu-kartu ucapan selamat Natal? Dll. Dlsb. Marilah kita juga tidak melupakan hal-hal yang menghalangi persiapan-persiapan di bidang rohani atau mengganggu damai-sejahtera kita selama masa Adven ini dan menentukan bagaimana caranya untuk menetralkan semua itu, sehingga dengan demikian kita tetap dapat mengalami saat keheningan selama empat pekan mendatang.

Yesus memperingatkan kita akan segala hal yang ada di depan kita: kesibukan, kekhawatiran/kecemasan dan kegiatan-kegiatan yang dapat menumpulkan dorongan  dalam hati kita untuk melakukan apa yang diinginkan-Nya untuk kita lakukan. Karena telah diingatkan terlebih dahulu oleh-Nya, maka kita dapat menyediakan waktu untuk berdoa dalam keheningan, dan memohon kepada-Nya agar menyatakan diri-Nya kepada kita. Kita dapat melihat kemuliaan-Nya dan kita pun diubah. Dalam masa Adven ini, kita juga harus mengambil sikap berjaga-jaga. Kita harus membuat diri kita siap menyambut Yesus, maka kita pun melihat diri kita dipenuhi Roh Kudus pada hari Natal.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Penuhilah diriku dengan hidup-Mu sendiri. Tolonglah aku untuk senantiasa berjaga-jaga dan berdoa. Berikanlah kepadaku hikmat dan energi guna mempersiapkan segala sesuatu, sehingga ketika Adven dimulai, aku akan siap bersama-Mu dan menerima apa saja yang Engkau ingin tunjukkan kepadaku. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:34-36), bacalah tulisan berjudul “PESAN YESUS PADA AKHIR TAHUN GEREJA” (bacaan tanggal 26-11-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tangal 28-11-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 24 November 2016 [Peringatan S. Andreas Dung Lac, Imam dkk. Martir-martir Vietnam) 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SALAH SATU MISTERI IMAN

SALAH SATU MISTERI IMAN

(Bacaan Injil Misa, Peringatan S. Andreas Dung Lac, Imam dkk. Martir-martir Vietnam – Kamis, 24 November 2016) 

00-the-second-coming-39618-gallery“Apabila kamu melihat Yerusalem dikepung oleh tentara-tentara, ketahuilah bahwa keruntuhannya sudah dekat. Pada waktu itu orang-orang yang berada di Yudea harus melarikan diri ke pegunungan, dan orang-orang yang berada di dalam kota harus mengungsi, dan orang-orang yang berada di pedusunan jangan masuk lagi ke dalam kota, sebab itulah masa pembalasan ketika semua yang telah tertulis akan digenapi. Celakalah ibu-ibu yang sedang hamil atau menyusukan bayi pada masa itu! Sebab akan datang kesusahan yang dahsyat atas seluruh negeri dan murka atas bangsa ini, dan mereka akan tewas oleh mata pedang dan dibawa sebagai tawanan ke segala bangsa, dan Yerusalem akan diinjak-injak oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, sampai genaplah zaman bangsa-bangsa itu.”

“Akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang, dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut. Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini, sebab kuasa-kuasa langit akan guncang. Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah kepalamu, sebab pembebasanmu sudah dekat.”  (Luk 21:20-28) 

Bacaan Pertama: Why 18:1-2,21-23;19:1-3,9a; Mazmur Tanggapan: Mzm 100:2-5  

Seorang murid muda yang memiliki keinginan tahu yang besar bertanya kepada guru agamanya tentang suatu topik/isu yang sulit. Karena guru agama tersebut tidak mampu menjawab pertanyaan murid tersebut, maka dia menjawab: “Itu adalah misteri iman.” Nah, apa sih sesungguhnya “misteri” itu? Sebuah misteri bukanlah berarti kita tidak mengetahui apa-apa tentang sesuatu hal. Sesuatu hal dikatakan sebagai misteri apabila kita tidak dapat mengetahui segalanya tentang hal tersebut.

Kedatangan Yesus Kristus untuk kedua kalinya – seperti yang kita baca dalam Injil hari ini – adalah satu satu misteri tersebut. Kita tidak dapat – malah tidak akan pernah dapat – mengetahui segalanya tentang kedatangan kembali Yesus tersebut, seperti hari dan jamnya, peristiwa-peristiwa aktual yang mendahului kedatangan-Nya, dan bagaimana penghakiman terakhir akan berlangsung.

Akan tetapi kita dapat mengetahui beberapa hal, dan salah satunya cukup “mengganggu” perasaan dan pikiran kita: “Kerajaan Kristus baru akan menang sesudah serangan terakhir kekuatan-kekuatan jahat” (Katekismus Gereja Katolik, 680). Kitab Suci mengatakan kepada kita kedatangan kembali Yesus akan didahului oleh suatu masa pergolakan dan kekacauan yang dramatis, baik di dunia maupun dalam Gereja sendiri. Bangsa akan bangkit melawan bangsa dalam peperangan. Kita akan mengalami masa kelaparan, wabah penyakit, dan pengejaran serta penganiayaan. Pada akhirnya, orang-orang tidak akan mentaati kebenaran, tetapi mulai merangkul cerita-cerita dongeng yang dibuat-buat dan kebohongan-kebohongan dalam tingkat yang mengagetkan dan mengkhawatirkan.

Peringatan-peringatan Yesus bukanlah dimaksudkan untuk menakut-nakuti kita. Semua itu dimaksudkan guna mempersiapkan diri kita. Yesus datang dengan sebuah pesan kasih dan belaskasih, bukannya kutuk dan sejenisnya yang menakutkan. Yesus datang untuk menolong kita siap dalam menghadapi akhir zaman. Ia tidak pernah mengatakan bahwa semuanya akan mudah. Kita tidak akan berpindah dari kerajaan yang satu (dunia) ke Kerajaan lainnya (Kerajaan Allah) dengan begitu saja. Namun apabila kita melakukan persiapan baik-baik dengan mengambil langkah-langkah untuk menolong diri kita bertumbuh dalam kasih dan pelayanan bagi Allah dan sesama, maka kita dapat mengantisipasi sesuatu yang indah dengan Allah sepanjang masa. Santo Paulus mengutip dari Yes 64:4, “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: Semua yang yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia” (1Kor 2:9).

Sekarang, marilah kita tidak fokus pada persiapan penuh ketakutan akan akhir dunia yang penuh dengan kegemparan dan keributan. Sebaliknya, dengan penuh keyakinan akan kemenangan Yesus, marilah kita mempersiapkan diri untuk menyambut awal penuh kemuliaan dari kehidupan kekal yang akan kita nikmati. Yang dimaksudkan adalah berjalan dalam iman, bukan keragu-raguan; dipenuhi pengharapan, bukan kecemasan; bertumbuh dalam iman, bukan ketakutan. Yesus telah memenangkan dunia. Dia telah mengalahkan dosa dan maut. Sekarang Ia sedang menantikan saat yang tepat untuk datang kembali ke dunia dan membawa kita pulang ke rumah Bapa!

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku melakukan persiapan untuk hidup kekal dengan antisipasi yang besar. Aku ingin hidup kekal bersama-Mu dan semua keluarga yang telah Kaukumpulkan bersama. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:20-28), bacalah tulisan yang berjudul “ANAK MANUSIA DATANG DALAM KEMULIAAN-NYA” (bacaan tanggal 24-11-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 26-11-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 22 November 2016 [Peringatan S. Sesilia, Perawan Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KETIKA YESUS DATANG KEMBALI KE DUNIA

KETIKA YESUS DATANG KEMBALI KE DUNIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXII – Jumat, 11 November 2016) 

00-the-second-coming-39618-gallerySama seperti yang terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia: Mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai pada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua. Demikian juga seperti yang terjadi di zaman Lot: mereka makan dan minum, mereka berjual beli, mereka menanam dan membangun. Tetapi pada hari Lot pergi keluar dari Sodom turunlah hujan api dan hujan belerang dari langit dan membinasakan mereka semua. Demikianlah halnya kelak pada hari Anak Manusia dinyatakan. Siapa saja yang pada hari itu sedang berada di atas rumah dan barang-barangnya ada di dalam rumah, janganlah ia turun untuk mengambilnya, dan demikian juga orang yang sedang di ladang, janganlah ia kembali. Ingatlah akan istri Lot! Siapa saja yang berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan siapa saja yang kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya. Aku berkata kepadamu: Pada malam itu ada dua orang di atas tempat tidur, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Ada dua orang perempuan bersama-sama menggiling gandum, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.” (Kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.) Kata mereka kepada Yesus, “Di mana, Tuhan?” Kata-Nya kepada mereka, “Di mana ada mayat, di situ berkerumun burung-burung nasar.” (Luk 17:26-37) 

Bacaan Pertama: 2Yoh 1:4-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:1-2,10-11,17-18 

Sungguh tidak mudah untuk memahami kasih Allah bagi kita seperti halnya dalam sejumlah sabda Yesus, teristimewa ketika Dia berbicara mengenai kedatangan-Nya untuk kedua kali. Bahkan barangkali kita memandang kedatangan Kerajaan Allah sebagai saat-saat sulit-menakutkan, ketika keselamatan kita berada di luar jangkauan dan “burung-burung nasar” sudah berterbangan di langit. Namun ini bukanlah gambaran yang Yesus inginkan kita ambil dari bacaan ini. Yesus datang untuk memberikan hidup berkelimpahan kepada kita: “Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dengan berlimpah-limpah” (Yoh 10:10). Yesus tidak datang untuk memberi keselamatan kepada kita yang kita sendiri tidak mampu untuk mencapainya.

Sebagai umat Kristiani, kita telah diangkat dari kematian dan dibawa ke dalam kehidupan oleh  belas kasih (kerahiman) Allah dan cintakasih-Nya. Kita sudah diselamatkan. Sebelum kita menerima Yesus ke dalam hati kita, sesungguhnya kita tidak ubahnya seperti domba tanpa gembala – hilang di hutan belantara, mangsa yang empuk bagi musuh-musuh kita. Namun hal tersebut tidak lagi begitu. Kita adalah anak-anak Allah. Masing-masing kita adalah bait Roh Kudus. Dan …… posisi kita dalam Kristus sudah terjamin!

Jadi, daripada terus-menerus dirundung rasa khawatir dan takut, kita seharusnya dipenuhi dengan sukacita! Kita telah dibawa dekat kepada Allah oleh darah Kristus. Dengan hidup dalam Roh-Nya, kita dapat berjalan dalam terang kasih-Nya dan mengenal serta mengalami kebebasan yang semakin meningkat, …… kebebasan dari dosa dan keterikatan. Kita tidak perlu lagi merasa khawatir dan takut akan hidup kita. Sebaliknya, kita harus merasa khawatir dan takut bagi mereka yang belum percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat – mereka yang hilang di tengah hutan belantara dosa dan ketidakpedulian.

Kita sudah merangkul keselamatan yang diberikan oleh-Nya dan hidup dalam ketaatan dan kasih akan Allah. Oleh karena itu kita dapat bertindak seturut “Amanat Agung” yang diberikan oleh Yesus Kristus sebelum Ia diangkat ke surga (lihat Mat 28:19-20), yaitu menyebarkan Kabar Baik-Nya dalam kata-kata maupun perbuatan/tindakan kita. Kita dapat menjadi seorang pewarta Kabar Baik yang memberi kesaksian atas kasih dan kerahiman Allah. Dalam nama Yesus kita dapat mengundang mereka ke dalam Kerajaan Allah.

Dengan demikian, marilah kita singkirkan segala kekhawatiran dan keraguan kita. Diri kita dapat dipenuhi dengan kuat-kuasa Roh Kudus. Marilah kita menyiapkan diri untuk menyambut kedatangan Yesus Kristus untuk kedua kalinya pada akhir zaman. Bagaimana? Dengan setiap hari hidup dalam keakraban dengan Yesus. Persenjatailah diri anda dengan doa-doa syafaat bagi orang-orang yang tidak/belum percaya kepada Yesus. Mulailah dengan mereka yang anda sudah kenal: para anggota keluarga yang bukan Kristiani, para teman dan sahabat serta kenalan-kenalan lainnya. Baiklah anda melangkah dalam iman, dengan penuh keyakinan bahwa Allah sesungguhnya ingin menyelamatkan setiap orang di atas bumi ini.

Semoga kesaksian kita atas kuat-kuasa Injil akan menarik banyak orang kepada Allah yang adalah kasih, sehingga dengan demikian tidak ada lagi kesempatan bagi “burung-burung nasar” untuk ramai-ramai berkerumun dan memangsa pada saat Tuhan Yesus datang kembali kelak!

DOA: Tuhan Yesus, kami rindu untuk mengenal Engkau lebih dalam lagi. Penuhilah hati kami dan perkenankanlah kami masing-masing mendengar suara-Mu, agar dapat menjadi berkat bagi orang-orang lain. Perkenankanlah kami, para murid-Mu, melihat Engkau datang dalam kemuliaan pada akhir zaman, saat di mana kegelapan pada akhirnya akan disingkirkan dari tengah-tengah kami. Dimuliakanlah nama-Mu senantiasa. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 17:26-37), bacalah tulisan berjudul “KEDATANGAN KEMBALI YESUS KRISTUS PADA AKHIR ZAMAN” (bacaan untuk tanggal 11-11-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2012) 

Cilandak, 8 November 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS