Posts tagged ‘ANAK MANUSIA’

ROH KUDUS AKAN MENGAJAR KAMU APA YANG HARUS KAMU KATAKAN

ROH KUDUS AKAN MENGAJAR KAMU APA YANG HARUS KAMU KATAKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVIII – Sabtu, 20 Oktober 2018)

Aku berkata kepada-Mu: Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Anak Manusia juga akan mengakui di depan malaikat-malaikat Allah. Tetapi siapa saja yang menyangkal Aku di depan manusia, ia akan disangkal di depan malaikat-malaikat Allah. Setiap orang yang mengatakan sesuatu melawan Anak Manusia, ia akan diampuni; tetapi siapa saja yang menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni. Apabila orang menghadapkan kamu kepada majelis di rumah-rumah ibadat atau kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa, janganlah kamu khawatir bagaimana kamu harus membela diri dan apa yang harus kamu katakan. Sebab pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang harus kamu katakan.” (Luk 12:8-12) 

Bacaan Pertama: Ef 1:15-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 8:2-7 

NYT2010100712284619C

Kebaktian gereja di Munich, Jerman, telah selesai, ketika tiba-tiba perempuan itu melihat laki-laki itu; mantan prajurit SS Nazi yang bertugas menjaga di dekat pintu kamar mandi di kamp konsentrasi Ravensbruck. Banyak tahun telah berlalu, namun memori-memori membanjiri pikiran perempuan itu – ruangan yang penuh berisi laki-laki yang mengolok-olok dirinya, tumpukan baju, rasa takut yang bercampur dengan marah dan malu. Pada suatu hari, setelah baru saja menyelesaikan ceramahnya, seorang laki-laki muncul dari antara orang-orang yang hadir dan mendatanginya dan berkata kepada perempuan itu, “Betapa penuh syukur saya mendengar pesan anda, …… berpikir bahwa Yesus telah membasuh bersih dosa-dosaku!”

Mula-mula perempuan ini, yang sudah begitu sering berceramah tentang betapa perlunya mengampuni, tidak mau mengulurkan tangannya ketika laki-laki itu mengulurkan tangannya untuk menyalaminya. Merasakan keengganan dirinya, kemudian perempuan itu memohon kepada Yesus untuk menolongnya mengampuni laki-laki itu. Tanpa mampu tersenyum sedikit pun, perempuan itu berdoa lagi: “Yesus, aku tidak dapat. Berikanlah pengampunanmu kepadaku.” Pada akhirnya, selagi dia berjabatan tangan dengan laki-laki itu, “terjadilah suatu hal yang luar biasa. Dari pundakku terus melewati lengan dan tanganku, terasa adanya sesuatu yang mengalir dari diriku kepada orang itu, sementara dari kedalaman hatiku mengalirlah keluar cintakasih bagi orang asing ini, hal mana hampir membuat aku ‘kewalahan’ karena karena rasa gembira yang penuh ketakjuban.”

Perempuan itu adalah Corrie ten Boom [1892-1983]. Siapa yang dapat menyalahkan Corrie untuk sikapnya yang tidak mau mengampuni? Keluarganya dihabiskan oleh para penguasa Nazi hanya karena mereka adalah orang-orang Kristiani yang menyembunyikan orang-orang Yahudi dari pengejaran para penguasa Nazi tersebut. Akan tetapi, melalui rahmat Allah yang bersifat supernatural, Corrie dimampukan untuk dapat melihat melampaui rasa sakit hatinya dan berpaling kepada Yesus dalam momen pengambilan keputusan yang krusial.  Sebagai bukti kebenaran-kebenaran dari hal-hal yang telah disyeringkan olehnya kepada orang-orang lain, sikap dan tindakan sederhana Corrie terhadap mantan-penganiayanya menunjukkan, bahwa belas-kasih dapat menang-berjaya atas penghakiman.

Apakah mereka mengetahuinya atau tidak – dan apakah kita mempersepsikannya atau tidak – sebenarnya setiap insan (Nazi, komunis, atheis, agnostik dlsb.) memiliki kerinduan untuk mengenal Injil. Itulah sebabnya, mengapa Allah memanggil kita masing-masing untuk menjadi saksi-saksi-Nya. Itulah sebabnya, mengapa Dia memberikan kepada kita berbagai kesempatan setiap hari untuk menyebarkan Kabar Baik-Nya kepada para anggota keluarga kita, para sahabat kita, para rekan-kerja kita dll. Evangelisasi tidak perlu sulit-sulit amat! Evangelisasi dapat sama sederhananya dengan percakapan sehari-hari. Dengan tetap berada dekat dengan Yesus membuat kita terus terbuka bagi gerakan-gerakan Roh-Nya. Dengan demikian, Injil yang kita hayati dalam kehidupan kita akan menarik banyak orang kepada Allah.

Marilah kita menjaga diri kita agar tetap terbuka bagi Roh Kudus dan senantiasa mengingat kebenaran yang satu ini: yaitu bahwa Roh Kudus inilah yang melakukan evangelisasi, bukan kita. Roh Kudus Allah-lah yang sesungguhnya merupakan SANG PEWARTA, Dia yang senantiasa bekerja di belakang layar.

DOA: Roh Kudus yang penuh kuasa dan kasih, berikanlah kepadaku hati seorang penginjil. Semoga diriku senantiasa mencerminkan kebenaran-kebenaran Injil. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:8-12), bacalah tulisan yang berjudul “MENGAKUI YESUS DI HADAPAN MANUSIA” (bacaan tanggal 20-10-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-10-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 17 Oktober 2018 [Peringatan S. Ignasius dr Antiokhia, Uskup & Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

YANG TERBESAR DALAM KERAJAAN SURGA

YANG TERBESAR DALAM KERAJAAN SURGA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Para Malaikat Pelindung – Selasa, 2 Oktober 2018)

Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya, “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?” Lalu Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka dan berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sedangkan siapa saja yang merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Siapa saja yang menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.”  Ingatlah, jangan menganggap rendah salah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu; Ada malaikat mereka di surga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di surga. Karena Anak Manusia datang untuk menyelamatkan yang hilang.” (Mat 18:1-5,10) 

Bacaan Pertama: Kel 23:20-23a; Mazmur Tanggapan: Mzm 91:1-6,10-11

Seorang anak kecil menaruh kepercayaan penuh pada  perlindungan orangtuanya, dia tidak takut kepada siapa pun atau apa pun manakala berada di bawah perlindungan orangtuanya. Gambaran seperti ini menjadi indah sekali kalau diterapkan pada kita – semua anak-anak Allah – yang dengan penuh sukacita dan penuh kepercayaan menempatkan diri ke dalam perlindungan dan penyelenggaraan Ilahi, penyelenggaran oleh-Nya, Allah yang baik, satu-satunya yang baik.

Ketika Yesus meminta kita untuk menjadi seperti anak kecil, Dia sebenarnya mengungkapkan hasrat-Nya bagi kita untuk memperoleh kembali innocense masa kanak-kanak kita. Ketika kita masih kecil, kita sangat mudah percaya akan seorang Allah yang baik, yang mengawasi dan mengutus para malaikat untuk membimbing kita di dunia ini. Namun hal ini mengalami erosi sejalan dengan meningkatnya usia kita menuju kedewasaan. Berbagai pengalaman hidup kita dalam dunia ini dapat membuat kita lusuh dan letih-lelah, malah dapat membuat kita bersikap sinis atau sarkastis perihal kedekatan Allah dengan diri kita, apalagi bila menyangkut keberadaan para malaikat pelindung. Di bawah berbagai macam tekanan hidup ketika kita sedang susah atau di bawah pengaruh negatif dari berbagai kenikmatan hidup manakala kita sedang berada dalam keadaan oke-oke, kita malah dapat mulai percaya bahwa diri kita sendirilah penentu “nasib” kita: tidak ada seorang pun dapat menolong kita kecuali diri kita sendiri. Saya mempunyai seorang teman baik yang sejak muda-usia mempunyai motto: “God only helps those who help themselves.” Dia sudah sampai kepada suatu kesimpulan sangat berbahaya, yaitu bahwa Yesus bukanlah Tuhan dan Allah seperti kita imani, tetapi sekadar manusia biasa yang baik. Dia begitu berbangga akan kemahirannya dalam bisnis yang ditekuninya, yang menurutnya merupakan pangkal kesuksesannya. Biarpun begitu, masih suka keluar dari mulutnya kata-kata yang mengatakan bahwa Tuhan Allah itu baik, yang memberikan kepadanya talenta dan berbagai peluang positif. Dia banyak berbuat baik, hal mana tidak dapat disangkal. Diiringi doa-doa dari istrinya dan teman-temannya, tentu kawan saya ini pun akan mengalami moment of truth dalam hidupnya, untuk menjadi seorang anak kecil lagi di hadapan Bapa surgawi.

Yesus ingin memerdekakan kita dari isolasi ciptaan kita sendiri atau kemandirian yang malah memenjarakan kita sebagai tawanan. Yesus mau membangkitkan dalam diri kita sukacita dan innocense sejati dan orijinal yang pernah kita alami ketika kita untuk pertama kalinya mengetahui cintakasih pribadi-Nya yang mau tinggal dalam diri kita masing-masing. Kedewasaan Kristiani yang sejati bukanlah berarti peningkatan dalam kebebasan kita dari Allah, melainkan suatu ketergantungan lebih mendalam kepada-Nya. Meskipun sudah dewasa dalam usia, kita tidak mampu bertahan satu hari saja kalau terpisah dari kerahiman dan rahmat Allah. Adalah Allah yang secara tetap menjaga kesehatan kita, relasi kita, keuangan kita, kehidupan kita dan seterusnya. Marilah kita mohon Roh Kudus untuk melakukan karya istimewa dalam diri kita, yaitu menolong kita agar mampu memandang peristiwa-peristiwa kehidupan dewasa ini dengan mata seorang anak kecil yang mengetahui dan mengalami cintakasih yang intim dari Bapa. Kalau pun hal ini susah, kita dapat memohon kesembuhan agar hal yang kita mohonkan tadi dapat terwujud. Bapa surgawi menginginkan kita datang kepada-Nya dengan segala urusan kita – betapa pun kecilnya urusan kita itu sehingga terlihat tidak penting – dan percaya bahwa para malaikat-Nya, teristimewa malaikat pelindung kita masing-masing, juga mengawasi, membimbing dan melindungi kita. 

DOA: Ya Allah Roh Kudus, bebaskanlah aku dari kemandirianku yang palsu. Tolonglah aku agar dapat menjadi seperti seorang anak kecil selagi aku memanjatkan permohonan kepada Allah untuk kekuatan dan kebutuhan-kebutuhanku. Bukalah hatiku untuk menaruh kepercayaan kepada penyelenggaraan Ilahi. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 21:28-32), bacalah tulisan yang berjudul “ADA MALAIKAT MEREKA DI SURGA” (bacaan tanggal 2-10-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2018.

 (Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 2-10-17 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 28 September 2018 [Peringatan B. Inosensius dr Bertio, Imam]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SIAPAKAH YESUS BAGIKU?

SIAPAKAH YESUS BAGIKU?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXV – Jumat, 28 September 2018)

OFMCap.: Peringatan B. Inosensius dr Bertio, Imam

Pada suatu kali ketika Yesus berdoa seorang diri, datanglah  murid-murid-Nya kepada-Nya. Lalu Ia bertanya kepada mereka, “Kata orang banyak, siapakah Aku ini? Jawab mereka, “Yohanes Pembaptis, yang lain mengatakan: Elia, yang lain lagi mengatakan bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit.” Yesus bertanya kepada mereka, “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Jawab Petrus, “Mesias dari Allah.” Lalu Yesus melarang mereka dengan keras, supaya mereka jangan memberitahukan hal itu kepada siapa pun.

Kemudian Yesus berkata, “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.” (Luk 9:18-22) 

Bacaan Pertama: Pkh 3:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 144:1-4 

“Menurut kamu, siapakah Aku ini?” (Luk 9:20)

Siapakah Yesus? Seorang nabikah? Seorang guru moralkah? Pendiri sebuah agama barukah? Jawabannya bervariasi, baik pada zaman Yesus maupun pada zaman modern ini. Bagaimana dengan kita (anda dan saya)? Barangkali pertanyaan tersebut dapat dirumuskan kembali sebagai berikut: “Bagaimana anda tahu bahwa Yesus adalah Dia yang anda katakan sebagai Dia?” 

Petrus berkata kepada Yesus, “Mesias dari Allah” (Luk 9:20). Tetapi bagaimana Petrus mengetahui tentang hal ini? Oleh perwahyuan Allah. Dalam Injil Matius ada catatan bahwa Yesus kemudian berkata kepada Petrus, “Berbahagialah engkau Simon anak Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga” (Mat 16:17). Dalam kasus Yesus, memang manusia dan cara biasa untuk memahami hal-hal tidaklah cukup. Rahmat perwahyuan diperlukan, yang berasal dari Bapa surgawi.

Perwahyuan ilahi dan supernatural bukanlah sesuatu yang diberikan Allah secara sedikit-sedikit, atau hanya sepotong-potong. Allah sangat senang untuk mewahyukan /menyatakan Yesus kepada kita. Bayangkanlah bagaimana para orangtua baru tidak pernah lelah bercerita tentang anak-anak mereka. Sebagai Bapa, Allah tidak banyak berbeda dengan kita. Dia mencurahkan Roh Kudus-Nya pada kita sehingga dengan demikian hasrat kita akan perwahyuan/pernyataan tentang Yesus akan bertumbuh, sampai titik di mana kita akan sungguh mengharapkan dapat melihat tindakan-tindakan Yesus dan mendengar suara-Nya dari hari ke hari. Bahkan jika kita telah mengalami momen-momen perwahyuan di masa lampau, Allah ingin memberikan kepada kita lebih lagi: “pengertian tentang rahasia Kristus” (Ef 3:4), dan keyakinan untuk berjalan dalam kehadiran-Nya sepanjang hari.

Kita semua tidak menjadi putus asa ketika mengetahui bahwa walaupun mengalami momen perwahyuan, sikap dan perilaku Petrus masih saja agak “ngawur” – bahkan tidak sekali saja! Lebih menyemangati kita lagi adalah ketika kita menyadari bahwa kesalahan-kesalahan Petrus membuat dirinya menjadi haus dan lapar akan perwahyuan yang lebih lagi. Seperti Petrus, walaupun ketika kita dengan rasa pedih menyadari akan kelemahan-kelemahan kita, kita tetap dapat memohon lebih lagi perwahyuan tentang Yesus dari Bapa di surga. Kita tidak akan sampai kepada kepenuhan kontemplasi wajah Kristus jika kita mengandalkan upaya kita sendiri. Kita harus memperkenankan rahmat Allah untuk bekerja dalam diri kita.

DOA: Bapa surgawi, nyatakanlah Putera-Mu, Yesus, kepadaku secara lebih lagi. Dengan demikian aku akan lebih mengenal Dia lebih dalam lagi dan mengalami kuasa kehadiran-Nya, dan kemudian dapat mensyeringkan kasih-Nya kepada orang-orang lain. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 9:18-22), bacalah tulisan yang berjudul “SIAPAKAH AKU INI?” (bacaan tanggal 24-9-18) dalam situs/blog  SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 26 September 2018 [Peringatan S. Elzear & Delfina, OFS]

 Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS INGIN MENARIK KITA AGAR LEBIH DEKAT KEPADA BAPA

YESUS INGIN MENARIK KITA AGAR LEBIH DEKAT KEPADA BAPA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXV [TAHUN B] –  23 September 2018)

Yesus dan murid-murid-Nya berangkat dari situ dan melewati Galilea, dan Yesus tidak mau hal itu diketahui orang; sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya. Ia berkata kepada mereka, “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit.” Mereka tidak mengerti perkataan itu, namun segan menanyakannya kepada-Nya.

Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-nya di Kapernaum. Ketika Yesus sudah di rumah, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, “Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?” Tetapi mereka diam, sebab di tengah jalan tadi mereka bertengkar tentang siapa yang terbesar di antara mereka. Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka, “Jika seseorang ingin menjadi yang pertama, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.”  Lalu Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka, “Siapa saja yang menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Siapa yang menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku.” (Mrk 9:30-37) 

Bacaan Pertama: Keb 2:12,17-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 54:3-6,8; Bacaan Kedua: Yak 3:16-4:3

Bayangkan betapa kagetnya dan malunya para murid ketika Yesus bertanya kepada mereka: “Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?” (Mrk 9:33). Tidak mengherankanlah kalau mereka hanya dapat berdiam diri ketika ditanya oleh Yesus. Berdiam diri karena mereka mengakui dalam hati bahwa ketika di tengah jalan mereka bertengkar tentang siapa yang terbesar di antara mereka (Mrk 9:34).

Para murid telah bersama-sama Yesus untuk waktu yang cukup lama. Mereka telah menyaksikan berbagai mukjizat dan tanda heran yang diperbuat oleh-Nya, belum lagi pembebasan orang-orang dari kuasa Iblis dan roh-roh jahat. Orang kusta, lumpuh, bisu, tuli, buta dlsb. disembuhkan. Bahkan seorang muda yang sudah mati telah dibangkitkan-Nya di dekat pintu gerbang kota Nain (Luk 7:11-17); juga anak perempuan Yairus (Mrk 5:21-24,35-43). Jelaslah bahwa Yesus bukanlah tabib atau nabi sembarangan. Ia sungguh yang terbesar! Bahkan Petrus pun telah memproklamasikan bahwa Yesus adalah “Sang Mesias” (Mrk 8:29). Tetapi, … Yesus lebih tertarik untuk mewujudkan apa yang dikatakan “besar” tentang diri-Nya dengan menyerahkan hidup-Nya sendiri bagi semua orang.

Mengawali perjalanan-Nya menuju Yerusalem – di mana Yesus tahu bahwa dirinya akan dihukum mati – Dia membawa para murid-Nya tanpa diketahui orang sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya itu (lihat Mrk 9:30-31). Yesus mengatakan kepada para murid-Nya bahwa Dia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit” (Mrk 9:31). Kepopuleran Yesus yang bertumbuh terus, penderitaan dan sengsara-Nya dan kebangkitan-Nya sungguh sulit dicerna oleh para murid. Bahkan mereka masih mempunyai visi-visi kejayaan di sisi Yesus dalam pemerintahan-Nya! (lihat misalnya, Mrk 10:35-45; bdk. Mat 20:20-28).

Melihat keseriusan masalah para murid ini, maka Yesus memutuskan untuk duduk bersama mereka dan mulai mengajar mereka tentang apa makna sebenarnya dari apa yang dinamakan keagungan, kemuliaan, dan sejenisnya: “Jika seseorang ingin menjadi yang pertama, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya”  (Mrk 9:35). Untuk menjadi yang pertama dan utama seseorang harus menempatkan kebutuhan-kebutuhan orang-orang lain dulu, tanpa memikirkan tentang diri sendiri.

Yesus – sang Hamba yang sempurna – sangat senang dalam memperhatikan orang-orang di sekeliling-Nya. Dipenuhi dengan kasih Bapa, Ia hanya ingin memberi, hanya ingin menganugerahkan karunia-karunia-Nya kepada siapa saja yang dijumpai-Nya. Dengan setiap penyembuhan dan mukjizat yang diperbuat-Nya dan setiap kata yang diucapkan-Nya, Yesus sesungguhnya bermaksud untuk menarik orang-orang agar lebih dekat dengan Bapa surgawi. Bahkan ketika Dia mendekati saat kematian-Nya sendiri, hasrat utama-Nya adalah untuk berada bersama para murid-Nya, mengasihi mereka dan menolong mereka untuk menaruh kepercayaan kepada Bapa. Dengan rendah hati Dia mengetuk pintu hati kita masing-masing. Ia sangat ingin melayani kita dengan memasuki hidup kita yang terluka, guna menyembuhkan kita, untuk membersihkan kita, dan untuk memperbaharui kita. O, betapa dalam kerinduan hati-Nya untuk melihat kita menyambut diri-Nya ke dalam diri kita!

DOA: Yesus, kami ingin menyambut-Mu ke dalam hati kami! Terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau mengasihi kami masing-masing tanpa batas dan syarat. Seringkali tanpa kami sadari, Engkau membanciri kami dengan kebaikan-Mu dan belaskasih-Mu. Penuhi diri kami dan mengalirlah dari kami kepada orang-orang di sekeliling kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 9:30-37), bacalah tulisan yang berjudul “SEORANG PEMIMPIN PERTAMA-TAMA ADALAH SEORANG PELAYAN” (bacaan tanggal 23-9-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-9-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 20 September 2018 [Peringatan S. Andreas Kim Taegon, Imam & Paulus Chong Hasang dkk – Martir-martir Korea] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PENJELASAN YESUS ATAS PERUMPAMAAN TENTANG LALANG DI ANTARA GANDUM [2]

PENJELASAN YESUS ATAS PERUMPAMAAN TENTANG LALANG DI ANTARA GANDUM [2]

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Ignatius dr Loyola – Selasa, 31 Juli 2018)

Sesudah itu Yesus meninggalkan orang banyak itu, lalu pulang. Murid-murid-Nya datang dan berkata kepada-Nya, “Jelaskanlah kepada kami perumpamaan tentang lalang di ladang itu.” Ia menjawab, “Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia; ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan sedangkan lalang anak-anak si jahat. Musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman  dan para penuai itu malaikat. Jadi, seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman. Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyebabkan orang berdosa dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya. Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi. Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa yang bertelinga, hendaklah ia mendengar!” (Mat 13:36-43) 

Bacaan Pertama: Yer 14:17-22; Mazmur Tanggapan: Ul 32:18-21

Bacaan Injil hari ini adalah penjelasan Yesus atas “perumpamaan tentang lalang di antara gandum” (Mat 13:24-30). Perumpamaan ini hanya terdapat dalam Injil Matius. Dalam pelayanan-Nya di tengah masyarakat, Yesus menyerang ekslusivitas yang ditemukan-Nya dalam masyarakat Yahudi, dipromosikan teristimewa oleh orang-orang Farisi, namun dipraktekkan juga oleh kelompok-kelompok lainnya.

Yesus membentuk komunitas-Nya yang terdiri dari para pemungut cukai/pajak, para pendosa, dan juga orang-orang terhormat dalam masyarakat. Praktek ini pada gilirannya berlaku dalam Gereja setelah kebangkitan Kristus, yang sekarang merupakan campuran tidak hanya antara orang-orang yang berbeda-beda kelas sosial melainkan juga antara para kudus dan para pendosa, antara mereka yang terus mencoba untuk hidup seturut ekspektasi Yesus yang tinggi dan orang-orang tidak/kurang peduli terhadap ekspektasi Yesus. Kecenderungan dari orang-orang yang disebutkan belakangan adalah santai dan ikut-angin, sementara orang-orang yang disebutkan duluan dapat menjadi tidak sabar dan ingin melakukan upaya bersih-bersih secepatnya.

Perumpamaan ini seperti sebatang pedang yang bermata dua. Bagi mereka yang santai-malas ada penghakiman yang tidak dapat ditawar-tawar. Bagi mereka yang tergesa-gesa ingin berbenah, perumpamaan ini menganjurkan adanya kesabaran, karena waktu itu sendiri adalah rahmat, dan apa yang dinilai sebagai ilalang pada saat itu dapat saja pada akhirnya sebenarnya adalah gandum, atau sebaliknya.

Seandainya Augustinus dari Hippo dan Charles de Foucauld dihakimi atas dasar peri kehidupan mereka semasa muda, maka mereka tidak pernah akan menjadi orang-orang kudus Gereja. Hal ini bukan berarti bahwa sebuah komunitas tidak berhak untuk menetapkan standar-standar keanggotaan tertentu. Namun memang ada suatu semangat yang tidak sabar untuk mencapai kesempurnaan, hal mana kurang serasi dengan belas kasih dan kesabaran yang ditunjukkan Bapa surgawi (lihat “Perumpamaan tentang anak yang hilang” [Luk 15:11-32]).

Penjelasan atas perumpamaan di atas terdapat dalam Mat 13:36-43, bacaan Injil dalam Misa Kudus hari ini. Di dalam penjelasan ini dilakukan alegori dari unsur-unsurnya dan memperluas ajarannya. Ladang bukan Gereja, melainkan dunia. Pemisahan antara orang-orang yang diselamatkan dan tidak bukanlah antara anggota Jemaat/Gereja dan mereka yang berada di luar Gereja, karena ada orang yang berada di luar Gereja yang akan diselamatkan dan ada yang sekarang berada di dalam Gereja namun tidak diselamatkan. “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! Akan masuk kedalam Kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga” (Mat 7:21; lihat juga 7:22).

(Adaptasi dari George T. Montague, SM, COMPANION GOD – A Cross-Cultural Commentary on the Gospel of Matthew, hal. 157-158)

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami, dan Engkau adalah Guru Agung kami. Terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu pada hari ini, teristimewa untuk penjelasan yang Kauberikan atas “Perumpamaan tentang Lalang di antara Gandum”. Karena belas kasih dan kesabaran-Mu, banyak dari kami yang sebenarnya masih termasuk kategori “lalang” diberi kesempatan untuk pada akhirnya menjadi gandum. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:36-43), bacalah tulisan yang berjudul “GANDUM DAN LALANG DALAM DIRI KITA” (bacaan tanggal 31-7-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-07 BACAAN HARIAN JULI 2018. 

Jakarta, 30 Juli 2018 [Hari Raya Pemberkatan Katedral Semarang] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS ADALAH YANG KUDUS DARI ALLAH

YESUS ADALAH YANG KUDUS DARI ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Sabtu, 21 April 2018)

 

Sesudah mendengar semuanya itu banyak dari murid-murid Yesus yang berkata, “Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?” Yesus yang di dalam hati-Nya tahu bahwa murid-murid-Nya bersungut-sungut tentang hal itu, berkata kepada mereka, “Apakah perkataan itu mengguncangkan kamu? Bagaimana jika kamu melihat Anak Manusia naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada? Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup. Tetapi di antaramu ada yang tidak percaya.” Sebab Yesus tahu dari semula, siapa yang tidak percaya dan siapa yang akan menyerahkan Dia. Lalu Ia berkata, “Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, kalau bapa tidak mengaruniakannya kepadanya.” Mulai saat itu banyak murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia.

Lalu kata Yesus kepada kedua belas murid-Nya, “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” Jawab Simon Petrus kepada-Nya, “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Engkau memiliki perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu bahwa Engkaulah Yang Kudus dari Allah.” (Yoh 6:60-69) 

Bacaan Pertama: Kis 9:31-42; Mazmur Tanggapan: Mzm 116:12-17

TUHAN (YHWH) bersabda lewat mulut sang Nabi: “Rancangan-Ku bukanlah rancanganmu., dan jalanmu bukanlah jalan-Ku … Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu” (Yes 55:8,9). Sepanjang hidup-Nya, Yesus menyatakan beberapa dari pemikiran-pemikiran agung dan tinggi yang diungkapkan-Nya dalam bab 6 Injil Yohanes. Ia berbicara, baik mengenai relasi-Nya dengan Bapa-Nya dan relasi-Nya dengan kita sebagai “roti kehidupan”. Mereka yang mendengar Dia, menerima pandangan sekilas Yesus sebagai “AKU ADALAH AKU” (Kel 3:14), yang mentransenden segala batasan eksistensi yang membatasi dan menentukan kemanusiaan kita.

Kedalaman pengajaran-pengajaran-Nya ini menjadi batu sandungan bagi banyak orang yang mendengar Yesus memproklamasikannya. Mereka mencoba untuk memahami hal-hal ilahi dari Allah hanya dengan intelek manusia. Sebagai akibatnya, tibalah saat yang tidak dapat dicegah lagi ketika kata-kata Yesus (khususnya tentang Ekaristi) menjadi tidak mungkin untuk dicerna otak manusia dan diterima (Yoh 6:66). Banyak yang mengundurkan diri sebagai pengikut-Nya. Sungguh suatu tragedi! Justru ajaran yang ditolak oleh mereka adalah pemberian Yesus mengenai satu cara lain untuk dikuatkan dalam mengikuti Dia.

Dalam awal Injil Yohanes, Yesus digambarkan sebagai Sabda (Firman) Allah (Yoh 1:1). Dalam membawa sabda Allah kepada kita, Yesus memberikan kepada kita hikmat yang kita perlukan untuk menghayati kehidupan seturut niat Allah atas diri kita. Dalam membawa hikmat, Yesus datang dalam sabda dan sakramen; Ia memberikan diri-Nya kepada kita secara lengkap. Dengan memberikan kepada kita sabda dan Ekaristi, Dia memberikan kepada kita “makanan penguat penuh gizi” yang kita perlukan untuk menghayati suatu hidup Kristiani di dunia. Dalam hal ini Yesus sungguh membuat diri-Nya menjadi sumber kehidupan sejati agar kita dapat memperoleh hidup kekal.

Walaupun begitu, ada sejumlah pengikut-Nya yang pergi meninggalkan-Nya karena mereka tidak memperkenankan kebenaran menyentuh hati mereka. Santo Bernardus dari Clairvaux [1090-1153] menulis: “Bagi sebagian orang jelas bahwa kata-kata Yesus adalah roh dan hidup, dengan demikian mereka dapat mengikuti Dia; sedangkan orang-orang yang lain menilai kata-kata-Nya terlalu keras dan mereka mencari penghiburan sial-menyedihkan di tempat lain” (Sermons on Various Occasions, 5). Kita semua dihadapkan pada pilihan yang sama – Yesus atau dunia ini!

Kita mempunyai bukti nyata karya Roh Kudus dalam hati kita, apabila kita dapat berkata bersama Petrus: “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Engkau memiliki perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu bahwa Engkaulah Yang Kudus dari Allah” (Yoh 6:68-69).

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah roti yang turun dari surga untuk mengangkat kami ke surga. Engkau menyisihkan mahkota kemuliaan-Mu di surga dan datang ke tengah-tengah kami di dunia sebagai manusia dina dan miskin, menawarkan kepada kami keikutsertaan dalam kehidupan kekal. Bahkan sekarang pun – setiap hari – Engkau memberikan Ekaristi kepada kami. Engkau datang untuk menemui kami dalam doa dan dalam sabda-Mu dalam Kitab Suci, menguatkan kami dan mencurahkan kasih-Mu ke atas diri kami setiap hari. Tolonglah agar kami dapat memegang segala karunia sangat berharga yang telah Kauberikan kepada kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 9:31-42), bacalah tulisan dengan judul “MELALUI ROH KUDUS, YESUS MENGULURKAN TANGAN-NYA KEPADA KITA” (bacaan tanggal 21-4-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-04 BACAAN HARIAN APRIL 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 6-5-17 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 18 April 2018  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENGIKUT YESUS

MENGIKUT YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Kamis sesudah Rabu Abu – Kamis, 15 Februari 2018)

Kemudian Yesus berkata, “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.” Kata-Nya kepada mereka semua, “Setiap orang yang mau mengikut Aku harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena siapa saja yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi siapa saja yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya. Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri? (Luk 9:22-25) 

Bacaan Pertama: Ul 30:15-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-4,6 

Tidakkah anda merasa takjub penuh kekaguman ketika menyadari bahwa Yesus Kristus – Putera Allah yang tunggal, Pribadi Kedua dari Allah Tritunggal Mahakudus – memberikan kepada kita – manusia biasa yang pada suatu hari akan mati – “sebuah pilihan”? Ia tidak memerintahkan kita untuk mengikuti jejak-Nya; …… Dia mengundang kita.

Apakah pilihan yang ditawarkan oleh Yesus? Apakah ini pilihan untuk menghayati suatu kehidupan yang terus-menerus melibatkan penderitaan: “menyangkal diri dan memikul salib kita” dari hari ke hari, dan secara pasif menerima pencobaan apa saja yang datang menimpa, dengan pengharapan bahwa Allah akan menerima kita? Tidak! Pilihan yang riil adalah untuk mengikuti jejak Yesus dan menerima apa saja yang diminta oleh pilihan itu. Sebuah pilihan untuk memusatkan pandangan mata kita pada Yesus, yang rindu untuk mencurahkan kasih-Nya kedalam hati kita setiap hari. Ini adalah pilihan untuk percaya bahwa dengan Yesus kita dapat mengatasi segala halangan, tantangan, atau kesulitan yang bermunculan – baik secara internal maupun eksternal.

Di sini, pada awal masa Prapaskah, Allah sedang mengajukan sebuah pertanyaan sederhana kepada kita: “Siapa Yesus itu?” Apakah Dia sekadar seorang baik, barangkali bahkan seorang nabi, yang peri kehidupan-Nya harus kita teladani? Atau, Dia adalah Putera Allah yang menjadi manusia agar supaya kita dapat menjadi anak-anak Allah? Apakah Dia seorang hakim yang kaku-keras, yang siap untuk menghukum setiap dosa kita? Ataukah Dia sang “Anak Domba Allah” yang menyerahkan hidup-Nya sendiri agar kita dapat dibebas-merdekakan dari dosa dan ditransformasikan menjadi “gambar dan rupa-Nya” sendiri?

Berabad-abad sebelum kehadiran Yesus di tengah-tengah dunia, Musa mengatakan kepada orang-orang Israel bahwa taat kepada Allah adalah suatu isu hidup-atau-mati: “Ingatlah, aku menghadapkan kepadamu pada hari ini kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan” (Ul 30:15), dan artian tertentu hal ini memang benar. Musa mengetahui perbedaan antara berjalan sehari-hari dengan Tuhan dan berjalan sendiri. Pada hari ini Yesus ingin membuka mata (hati) kita tentang adanya perbedaan itu. Dia ingin mengatakan kepada kita, bahwa apabila kita memilih Dia dari  hari ke hari, kemungkinan-kemungkinan yang tersedia untuk kehidupan kita adalah tidak terbatas. Kita tidak hanya akan hidup sebagai sekadar makhluk insani, melainkan akan memperoleh akses kepada segala rahmat dan kuasa Allah yang Mahakuasa! Kita akan dimampukan untuk mengasihi mereka yang sangat sulit kita kasihi, mengampuni mereka yang sangat sulit untuk kita ampuni dan mengatasi permasalahan yang tak mungkin teratasi apabila kita memakai kekuatan kita sendiri. Memang ada masalah “biaya” di sini. Mungkin dalam bentuk berbagai penderitaan dan kesulitan di sepanjang jalan yang kita tempuh, namun kita dapat merasa yakin bahwa selama kita berada dekat dengan Yesus, maka Dia akan sangat dekat dengan diri kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku memilih untuk mengikuti jejak-Mu pada hari ini dan hari-hari sepanjang hidupku. Aku menerima janji-Mu tentang kehidupan. Tuhan, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena telah mengundang diriku untuk berada bersama dengan-Mu. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku! Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 9:22-25), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MENGUNDANG KITA UNTUK MENGIKUTI JEJAK-NYA” (bacaan tanggal 15-2-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 2-3-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 12 Februari 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS