Posts tagged ‘ANAK MANUSIA’

NASIHAT YESUS UNTUK SENANTIASA BERJAGA-JAGA SAMBIL BERDOA

NASIHAT YESUS UNTUK SENANTIASA BERJAGA-JAGA SAMBIL BERDOA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan B. Dionisius dan Redemptus, Biarawan-Martir Indonesia – Sabtu, 1 Desember 2018)

Hari Sabtu Imam

“Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan dibebani oleh pesta pora dan kemabukan serta kekhawatiran hidup sehari-hari dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat. Sebab hari itu akan menimpa semua penduduk bumi ini. Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.” (Luk 21:34-36) 

Bacaan Pertama: Why 22:1-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 95:1-7 

Hari ini adalah hari terakhir dari tahun liturgi (Tahun B/II). Apa lagi yang lebih cocok bagi kita daripada membaca dan merenungkan nasihat Yesus untuk berjaga-jaga senantiasa sambil berdoa, supaya kita beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kita tahan berdiri di hadapan Anak Manusia (lihat Luk 21:36).

Kita sekarang sudah berada pada tahun kedelapan dekade kedua dari milenium ketiga. Bagaimana kita dapat lebih menyerupai “bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat Allah sendiri” (1Ptr 2:9) yang dikatakan Kitab Suci kepada kita tentang jati diri kita yang sesungguhnya dan seharusnya? Masih jauhkah posisi kita dari apa yang digambarkan dalam surat Santo Petrus itu?

Barangkali yang muncul pertama dalam pikiran kita adalah untuk melakukan latihan rohani yang akan menjamin pertumbuhan spiritual kita. Sesungguhnya, Allah dapat memimpin kita untuk mengambil beberapa langkah praktis. Akan tetapi, janganlah sampai kita melupakan tujuan dari latihan rohani sedemikian, yaitu agar melalui latihan-latihan tersebut kita akan memperkenankan kasih Allah untuk meresapi kegelapan hati kita dan kegelapan dunia ini. Di atas segalanya, Dia ingin mengutus Roh Kudus-Nya untuk mengajar kita dan membentuk kita agar semakin seturut gambar dan rupa Kristus.

Setiap hari, Roh Kudus ingin membimbing kita satu langkah lebih dekat lagi kepada kekudusan. Setiap hari, sesuatu hal lain akan terjadi – apakah dalam hati kita, atau dalam keadaan-keadaan hari itu – itu adalah sebuah undangan lain lagi dari Roh Kudus agar kita menerima rahmat Allah. Selagi kita memperkenankan Yesus membebas-merdekakan kita dari dorongan-dorongan yang berasal dari kecenderungan kita untuk berdosa, sementara kita menyambut Roh Kudus masuk ke dalam kehidupan kita melalui doa-doa dan ketaatan, maka sedikit demi sedikit kita pun akan ditransformasikan. Pada akhirnya kita dapat mempersiapkan diri kita untuk hari di mana kita akhirnya akan “berdiri di hadapan Anak Manusia” (Luk 21:36).

Marilah sekarang kita bergegas menghadap Yesus dan menaruh hidup kita di hadapan-Nya. Hanya melalui bimbingan Roh Kudus kita dapat sungguh membuat diri kita siap bagi pencurahan rahmat ilahi. Oleh karena itu, marilah kita memohon kepada Roh Kudus untuk membimbing kita. Semoga kita semua akan berdiri di hadapan Putera Allah dan mempermaklumkan dengan penuh iman bahwa “Yesus adalah Tuhan!”

DOA: Tuhan Yesus, kerajaan-Mu dipenuhi dengan segala kekayaan surgawi – jauh lebih daripada yang dapat kubayangkan. Buatlah hatiku terbakar berkobar-kobar dengan realitas kasih dan kuasa-Mu! Biarlah kasih-Mu mengalir masuk ke dalam diriku. Siapkanlah aku untuk semua hal yang Engkau inginkan untuk kulakukan dalam hidupku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:34-36), bacalah tulisan berjudul “NASIHAT YESUS UNTUK BERJAGA-JADA PADA AKHIR ZAMAN” (bacaan tanggal 1-12-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 2-12-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 30 November 2018 [Pesta S. Andreas, Rasul] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

UMAT PEZIARAH YANG SEDANG MENUJU RUMAH BAPA

UMAT PEZIARAH YANG SEDANG MENUJU RUMAH BAPA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXXIII [TAHUN B] – 18 November 2018)

“Tetapi pada masa itu, sesudah siksaan itu, matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak bercahaya dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit, dan kuasa-kuasa langit akan guncang. Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan-awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Pada waktu itu juga Ia akan menyuruh keluar malaikat-malaikat dan akan mengumpulkan orang-orang pilihan-Nya dari keempat penjuru bumi, dari ujung bumi sampai ke ujung langit.

Tariklah pelajaran dari perumpamaan tentang pohon ara. Apabila ranting-rantingnya melembut dan mulai bertunas, kamu tahu bahwa musim panas sudah dekat. Demikian juga, jika kamu lihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah bahwa waktunya sudah dekat, sudah di ambang pintu. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Orang-orang zaman ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya itu terjadi. Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.

Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di surga tidak dan Anak pun tidak, hanya Bapa saja.” (Mrk 13:24-32) 

Bacaan Pertama: Dan 12:1-3; Mazmur Tanggapan: Mzm 16:5-11; Bacaan Kedua: Ibr 10:11-14,18

Walaupun kita sekarang masih berada pada pertengahan bulan November, Gereja pada Misa Kudus hari ini menatap ke akhir dari tahun liturgi, yang jatuh pada hari Minggu yang akan datang, dan tentunya menatap ke akhir zaman di mana Yesus akan datang kembali dalam kemuliaan-Nya. Apakah hari yang mahapenting itu sudah dekat atau masih jauh di masa depan, kita tidak tahu. Sekali lagi: kita tidak tahu! Walaupun demikian, hari itu penting sekali bagi kita semua, dan kita harus mengakui bahwa dengan berjalannya waktu – hari lepas hari – kita terus melangkah maju dan menjadi semakin dekat dengan hari itu.

Bacaan pertama hari ini yang diambil dari Kitab Daniel, dan juga bacaan Injil mengajar kita – walaupun dengan menggunakan imaji-imaji yang sangat kompleks – tentang kedatangan Yesus untuk kedua kalinya. Kedatangan kedua kali dari Yesus yang bersifat final ini adalah keprihatinan setiap Misa Kudus yang kita rayakan. Lagu Aklamasi Anamnesis dalam Doa Syukur Agung dengan jelas merujuk kepada kedatangan Yesus untuk kedua kalinya. Imam mengajak umat: “Marilah menyatakan misteri iman kita.” Umat menjawab: “Wafat Kristus kita maklumkan, kebangkitan-Nya kita muliakan, kedatangan-Nya kita rindukan.” Lihatlah beberapa alternatif Aklamasi Anamnesis lainnya. Setelah doa “Bapa Kami”, ada doa sisipan atau Embolisme yang diucapkan oleh Imam Selebran. Salah satu contohnya: “Ya Bapa, bebaskanlah kami dari segala yang jahat dan berilah kami damai-Mu. Kasihanilah dan bantulah kami supaya selalu bersih dari noda dosa dan terhindar dari segala gangguan, sehingga kami dapat hidup dengan tenteram, sambil mengharapkan kedatangan Penyelamat kami Yesus Kristus.” Umat yang hadir menjawab: “Sebab Engkaulah Raja yang mulia dan berkuasa untuk selama-lamanya.” Bukankah ini juga merujuk kepada kedatangan Yesus untuk kedua kalinya?

Jadi, sebagai umat yang sudah lama berada dalam perjalanan ziarah untuk kembali ke rumah Bapa – kita harus senantiasa menatap ke depan, yaitu kepada Yesus yang akan datang ke dunia untuk kedua kalinya. Rumah berarti tempat untuk beristirahat dan juga tempat yang nyaman, dan suatu akhir dari segala beban yang kita pikul dan juga ketidaknyamanan selama perjalanan ziarah kita. Rumah Bapa, yang juga merupakan rumah kita bersama, adalah akhir dari perjalanan kita, namun itu adalah awal dari hidup kekal yang sungguh membahagiakan.

Selagi kita melakukan perjalanan ziarah dalam hidup ini, kita perlu memiliki suatu sikap yang seimbang (a balanced attitude). Kita tidak dapat hanya memikirkan surga saja seakan hidup di dunia ini tidak bernilai dan tanpa tujuan sama sekali, namun di lain pihak kita sangat bodoh kalau menjalani hidup dengan hanya memikirkan eksistensi kita di dunia. Karena kita begitu disibukkan dengan pemenuhan berbagai kebutuhan hidup di dunia guna menopang hidup keluarga, kenikmatan hidup duniawi, barangkali kebanyakan dari kita perlu mengingat bahwa ada hal yang jauh lebih besar terkait eksistensi kita daripada sekadar yang kita alami sekarang.

Ada dua titik ekstrim dalam hidup kita di mana kita harus mengingat bahwa ada banyak hal lagi yang akan datang. Pertama-tama adalah ketika kita mengalami penderitaan pada titiknya yang tertinggi, pada waktu kita menderita frustrasi total dan hampir mengalami keputusasaan; segalanya terasa gelap. Memang cukup pantas bagi seorang beriman untuk mencari penghiburan dan pengharapan bahwa Allah merencanakan  sesuatu yang lebih baik bagi kita, bahwa kita harus menderita dan bahkan mati seperti Yesus sendiri, sehingga dengan demikian kita dapat masuk ke dalam kebahagian tanpa akhir yang telah dipersiapkan Allah bagi mereka yang mengasihi-Nya.

Titik kedua adalah ketika hidup kita terasa paling nikmat, ketika semua berjalan dengan baik bagi kita dsb.; di sini barangkali kita luput untuk memikirkan Allah dan kebaikan-Nya, … kita lupa. Mengapa? Karena pikiran kita mengatakan bahwa kita tidak membutuhkan Allah, puas dengan segala yang kita miliki dan terjadi dengan diri kita. Memang bukan hal yang aneh bagi orang-orang tertentu untuk berpaling kepada Allah dan berdoa kepada-Nya hanya jika adalah kebutuhan yang besar, yang mendesak, masalah hidup atau mati, misalnya dalam suasana perang atau setelah mengalami bencana hebat seperti gempa bumi, gunung meletus, tanah longsor, tsunami dlsb. Kita harus memandang saat-saat baik sebagai “icip-icip” dari apa yang akan datang, dengan demikian memuji dan bersyukur kepada Allah selagi mengalami semua itu karena kebaikan-Nya kepada kita.

Secara sederhana, baik pada saat-saat semua baik atau pun buruk, layaklah bagi seseorang beriman untuk hidup dengan mata yang memusatkan perhatian pada surga. Kita adalah umat yang sedang berziarah, dan kita tidak pernah boleh luput melihat tujuan perjalanan ziarah kita. Di lain pihak, kita tidak boleh memusatkan perhatian kita pada surga dengan menggunakan kedua biji mata kita. Hidup ini dan dunia ini mempunyai makna dan tujuan. Kita semua adalah anak-anak Allah dan kepada kitalah Dia mempercayakan dunia ciptaan-Nya ini. Rencana-Nya adalah bahwa segenap ciptaan akan secara perlahan-lahan menuju suatu saat penyempurnaan, dan kita adalah bagian dari rencana itu. Apakah yang kita lakukan – melalui bantuan rahmat Allah – untuk berkontribusi terhadap pembangunan ciptaan, sampai Yesus Kristus menyelesaikan pekerjaan-Nya melalui kuat-kuasa penebusan kematian dan kebangkitan-Nya.

Dengarlah ajaran Konsili Vatikan II yang indah ini: “… pria maupun wanita, yang – sementara mencari nafkah bagi diri maupun keluarga mereka – melakukan pekerjaan mereka sedemikian rupa sehingga sekaligus berjasa-bakti bagi masyarakat, memang dengan tepat dapat berpandangan, bahwa dengan jerih-payah itu mereka mengembangkan karya Sang Pencipta” (Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes tentang Gereja di Dunia Dewasa Ini, 34). Hidup ini bermakna sebagai bagian dari rencana Allah.

Dalam setiap Perayaan Ekaristi, kita diingatkan bahwa kita adalah umat yang sedang berziarah. Berjalan dalam prosesi untuk menyambut Komuni Kudus adalah sebuah tanda liturgis berkenan dengan perjalanan spiritual kita. Dan sebagai suatu umat peziarah kita mempunyai makanan untuk menopang hidup kita, Ekaristi. Kitab berdiri untuk menerima Komuni Kudus, karena berdiri adalah tanda kuno dalam Gereja dari kebangkitan Kristus. Makanan ini adalah jaminan, janji sehubungan dengan keikutsertaan kita dengan kebangkitan Kristus, yang telah berjanji, “Siapa saja yang makan daging-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman” (Yoh 6:54). Kita berasal dari Allah dan berada dalam perjalanan ziarah ke suatu tujuan – karunia hidup kekal-abadi melalui keikutsertaan kita dalam kebangkitan Kristus.

Kita harus menjalani kehidupan di dunia ini, namun marilah kita melaksanakannya  tanpa rasa cemas dan kekhawatiran, karena kita percaya bahwa dengan ketaatan penuh rendah hati kepada Yesus kita akan sampai pada tujuan kita, rumah Bapa.

DOA:  Tuhan Yesus, Engkau adalah andalanku. Aku menyerahkan hidupku sepenuhnya kepada-Mu, ya Tuhan. Aku memohon pertolongan-Mu agar aku selalu sanggup menanggung beban-beban dalam perjalanan ziarahku di dunia. Ajarlah aku agar senantiasa penuh keyakinan akan kehadiran-Mu. Datanglah, Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 13:24-32), bacalah tulisan yang berjudul “KEDATANGAN-NYA KEMBALI PADA AKHIR ZAMAN ADALAH SEBUAH PERISTIWA PENUH SUKACITA” (bacaan tanggal 18-11-8) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2018. 

Cilandak, 14 November 2018 [Peringatan S. Nikolaus Tavelic, Imam dkk. – Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KEDATANGAN KEMBALI YESUS KE DUNIA PADA AKHIR ZAMAN

KEDATANGAN KEMBALI YESUS KE DUNIA PADA AKHIR ZAMAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXII – Jumat, 16 November 2018)

 

Sama seperti yang terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia: Mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai pada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua. Demikian juga seperti yang terjadi di zaman Lot: mereka makan dan minum, mereka berjual beli, mereka menanam dan membangun. Tetapi pada hari Lot pergi keluar dari Sodom turunlah hujan api dan hujan belerang dari langit dan membinasakan mereka semua. Demikianlah halnya kelak pada hari Anak Manusia dinyatakan. Siapa saja yang pada hari itu sedang berada di atas rumah dan barang-barangnya ada di dalam rumah, janganlah ia turun untuk mengambilnya, dan demikian juga orang yang sedang di ladang, janganlah ia kembali. Ingatlah akan istri Lot! Siapa saja yang berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan siapa saja yang kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya. Aku berkata kepadamu: Pada malam itu ada dua orang di atas tempat tidur, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Ada dua orang perempuan bersama-sama menggiling gandum, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.” (Kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.) Kata mereka kepada Yesus, “Di mana, Tuhan?” Kata-Nya kepada mereka, “Di mana ada mayat, di situ berkerumun burung-burung nasar.” (Luk 17:26-37) 

Bacaan Pertama: 2Yoh 4-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:1,2,10-11,17-18 

Sungguh tidak mudah untuk memahami kasih Allah bagi kita seperti halnya dalam sejumlah sabda Yesus, teristimewa ketika Dia berbicara mengenai kedatangan-Nya untuk kedua kali. Bahkan barangkali kita memandang kedatangan Kerajaan Allah sebagai saat-saat sulit-menakutkan, ketika keselamatan kita berada di luar jangkauan dan “burung-burung nasar” sudah berterbangan di langit. Namun ini bukanlah gambaran yang Yesus inginkan kita ambil dari bacaan ini. Yesus datang untuk memberikan hidup berkelimpahan kepada kita: “Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dengan berlimpah-limpah” (Yoh 10:10). Yesus tidak datang untuk memberi keselamatan kepada kita yang kita sendiri tidak mampu untuk mencapainya.

Sebagai umat Kristiani, kita telah diangkat dari kematian dan dibawa ke dalam kehidupan oleh  belas kasih (kerahiman) Allah dan cintakasih-Nya. Kita sudah diselamatkan. Sebelum kita menerima Yesus ke dalam hati kita, sesungguhnya kita tidak ubahnya seperti domba tanpa gembala – hilang di hutan belantara, mangsa yang empuk bagi musuh-musuh kita. Namun hal tersebut tidak lagi begitu. Kita adalah anak-anak Allah. Masing-masing kita adalah bait Roh Kudus. Dan …… posisi kita dalam Kristus sudah terjamin!

Jadi, daripada terus-menerus dirundung rasa khawatir dan takut, kita seharusnya dipenuhi dengan sukacita! Kita telah dibawa dekat kepada Allah oleh darah Kristus. Dengan hidup dalam Roh-Nya, kita dapat berjalan dalam terang kasih-Nya dan mengenal serta mengalami kebebasan yang semakin meningkat, …… kebebasan dari dosa dan keterikatan. Kita tidak perlu lagi merasa khawatir dan takut akan hidup kita. Sebaliknya, kita harus merasa khawatir dan takut bagi mereka yang belum percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat – mereka yang hilang di tengah hutan belantara dosa dan ketidakpedulian.

Kita sudah merangkul keselamatan yang diberikan oleh-Nya dan hidup dalam ketaatan dan kasih akan Allah. Oleh karena itu kita dapat bertindak seturut “Amanat Agung” yang diberikan oleh Yesus Kristus sebelum Ia diangkat ke surga (lihat Mat 28:19-20), yaitu menyebarkan Kabar Baik-Nya dalam kata-kata maupun perbuatan/tindakan kita. Kita dapat menjadi seorang pewarta Kabar Baik yang memberi kesaksian atas kasih dan kerahiman Allah. Dalam nama Yesus kita dapat mengundang mereka ke dalam Kerajaan Allah.

Dengan demikian, marilah kita singkirkan segala kekhawatiran dan keraguan kita. Diri kita dapat dipenuhi dengan kuat-kuasa Roh Kudus. Marilah kita menyiapkan diri untuk menyambut kedatangan Yesus Kristus untuk kedua kalinya pada akhir zaman. Bagaimana? Dengan setiap hari hidup dalam keakraban dengan Yesus. Persenjatailah diri anda dengan doa-doa syafaat bagi orang-orang yang tidak/belum percaya kepada Yesus. Mulailah dengan mereka yang anda sudah kenal: para anggota keluarga yang bukan Kristiani, para teman dan sahabat serta kenalan-kenalan lainnya. Baiklah anda melangkah dalam iman, dengan penuh keyakinan bahwa Allah sesungguhnya ingin menyelamatkan setiap orang di atas bumi ini.

Semoga kesaksian kita atas kuat-kuasa Injil akan menarik banyak orang kepada Allah yang adalah kasih, sehingga dengan demikian tidak ada lagi kesempatan bagi “burung-burung nasar” untuk ramai-ramai berkerumun dan memangsa pada saat Tuhan Yesus datang kembali kelak!

DOA: Tuhan Yesus, kami rindu untuk mengenal Engkau lebih dalam lagi. Penuhilah hati kami dan perkenankanlah kami masing-masing mendengar suara-Mu, agar dapat menjadi berkat bagi orang-orang lain. Perkenankanlah kami, para murid-Mu, melihat Engkau datang dalam kemuliaan pada akhir zaman, saat di mana kegelapan pada akhirnya akan disingkirkan dari tengah-tengah kami. Dimuliakanlah nama-Mu senantiasa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 17:26-37), bacalah tulisan yang berjudul “PADA HARI ANAK MANUSIA DINYATAKAN” (bacaan tanggal 16-11-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 17-11-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 14 November 2018 [Peringatan S. Nikolaus Tavelic, Imam dkk. Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ROH KUDUS AKAN MENGAJAR KAMU APA YANG HARUS KAMU KATAKAN

ROH KUDUS AKAN MENGAJAR KAMU APA YANG HARUS KAMU KATAKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVIII – Sabtu, 20 Oktober 2018)

Aku berkata kepada-Mu: Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Anak Manusia juga akan mengakui di depan malaikat-malaikat Allah. Tetapi siapa saja yang menyangkal Aku di depan manusia, ia akan disangkal di depan malaikat-malaikat Allah. Setiap orang yang mengatakan sesuatu melawan Anak Manusia, ia akan diampuni; tetapi siapa saja yang menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni. Apabila orang menghadapkan kamu kepada majelis di rumah-rumah ibadat atau kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa, janganlah kamu khawatir bagaimana kamu harus membela diri dan apa yang harus kamu katakan. Sebab pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang harus kamu katakan.” (Luk 12:8-12) 

Bacaan Pertama: Ef 1:15-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 8:2-7 

NYT2010100712284619C

Kebaktian gereja di Munich, Jerman, telah selesai, ketika tiba-tiba perempuan itu melihat laki-laki itu; mantan prajurit SS Nazi yang bertugas menjaga di dekat pintu kamar mandi di kamp konsentrasi Ravensbruck. Banyak tahun telah berlalu, namun memori-memori membanjiri pikiran perempuan itu – ruangan yang penuh berisi laki-laki yang mengolok-olok dirinya, tumpukan baju, rasa takut yang bercampur dengan marah dan malu. Pada suatu hari, setelah baru saja menyelesaikan ceramahnya, seorang laki-laki muncul dari antara orang-orang yang hadir dan mendatanginya dan berkata kepada perempuan itu, “Betapa penuh syukur saya mendengar pesan anda, …… berpikir bahwa Yesus telah membasuh bersih dosa-dosaku!”

Mula-mula perempuan ini, yang sudah begitu sering berceramah tentang betapa perlunya mengampuni, tidak mau mengulurkan tangannya ketika laki-laki itu mengulurkan tangannya untuk menyalaminya. Merasakan keengganan dirinya, kemudian perempuan itu memohon kepada Yesus untuk menolongnya mengampuni laki-laki itu. Tanpa mampu tersenyum sedikit pun, perempuan itu berdoa lagi: “Yesus, aku tidak dapat. Berikanlah pengampunanmu kepadaku.” Pada akhirnya, selagi dia berjabatan tangan dengan laki-laki itu, “terjadilah suatu hal yang luar biasa. Dari pundakku terus melewati lengan dan tanganku, terasa adanya sesuatu yang mengalir dari diriku kepada orang itu, sementara dari kedalaman hatiku mengalirlah keluar cintakasih bagi orang asing ini, hal mana hampir membuat aku ‘kewalahan’ karena karena rasa gembira yang penuh ketakjuban.”

Perempuan itu adalah Corrie ten Boom [1892-1983]. Siapa yang dapat menyalahkan Corrie untuk sikapnya yang tidak mau mengampuni? Keluarganya dihabiskan oleh para penguasa Nazi hanya karena mereka adalah orang-orang Kristiani yang menyembunyikan orang-orang Yahudi dari pengejaran para penguasa Nazi tersebut. Akan tetapi, melalui rahmat Allah yang bersifat supernatural, Corrie dimampukan untuk dapat melihat melampaui rasa sakit hatinya dan berpaling kepada Yesus dalam momen pengambilan keputusan yang krusial.  Sebagai bukti kebenaran-kebenaran dari hal-hal yang telah disyeringkan olehnya kepada orang-orang lain, sikap dan tindakan sederhana Corrie terhadap mantan-penganiayanya menunjukkan, bahwa belas-kasih dapat menang-berjaya atas penghakiman.

Apakah mereka mengetahuinya atau tidak – dan apakah kita mempersepsikannya atau tidak – sebenarnya setiap insan (Nazi, komunis, atheis, agnostik dlsb.) memiliki kerinduan untuk mengenal Injil. Itulah sebabnya, mengapa Allah memanggil kita masing-masing untuk menjadi saksi-saksi-Nya. Itulah sebabnya, mengapa Dia memberikan kepada kita berbagai kesempatan setiap hari untuk menyebarkan Kabar Baik-Nya kepada para anggota keluarga kita, para sahabat kita, para rekan-kerja kita dll. Evangelisasi tidak perlu sulit-sulit amat! Evangelisasi dapat sama sederhananya dengan percakapan sehari-hari. Dengan tetap berada dekat dengan Yesus membuat kita terus terbuka bagi gerakan-gerakan Roh-Nya. Dengan demikian, Injil yang kita hayati dalam kehidupan kita akan menarik banyak orang kepada Allah.

Marilah kita menjaga diri kita agar tetap terbuka bagi Roh Kudus dan senantiasa mengingat kebenaran yang satu ini: yaitu bahwa Roh Kudus inilah yang melakukan evangelisasi, bukan kita. Roh Kudus Allah-lah yang sesungguhnya merupakan SANG PEWARTA, Dia yang senantiasa bekerja di belakang layar.

DOA: Roh Kudus yang penuh kuasa dan kasih, berikanlah kepadaku hati seorang penginjil. Semoga diriku senantiasa mencerminkan kebenaran-kebenaran Injil. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:8-12), bacalah tulisan yang berjudul “MENGAKUI YESUS DI HADAPAN MANUSIA” (bacaan tanggal 20-10-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-10-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 17 Oktober 2018 [Peringatan S. Ignasius dr Antiokhia, Uskup & Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YANG TERBESAR DALAM KERAJAAN SURGA

YANG TERBESAR DALAM KERAJAAN SURGA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Para Malaikat Pelindung – Selasa, 2 Oktober 2018)

Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya, “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?” Lalu Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka dan berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sedangkan siapa saja yang merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Siapa saja yang menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.”  Ingatlah, jangan menganggap rendah salah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu; Ada malaikat mereka di surga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di surga. Karena Anak Manusia datang untuk menyelamatkan yang hilang.” (Mat 18:1-5,10) 

Bacaan Pertama: Kel 23:20-23a; Mazmur Tanggapan: Mzm 91:1-6,10-11

Seorang anak kecil menaruh kepercayaan penuh pada  perlindungan orangtuanya, dia tidak takut kepada siapa pun atau apa pun manakala berada di bawah perlindungan orangtuanya. Gambaran seperti ini menjadi indah sekali kalau diterapkan pada kita – semua anak-anak Allah – yang dengan penuh sukacita dan penuh kepercayaan menempatkan diri ke dalam perlindungan dan penyelenggaraan Ilahi, penyelenggaran oleh-Nya, Allah yang baik, satu-satunya yang baik.

Ketika Yesus meminta kita untuk menjadi seperti anak kecil, Dia sebenarnya mengungkapkan hasrat-Nya bagi kita untuk memperoleh kembali innocense masa kanak-kanak kita. Ketika kita masih kecil, kita sangat mudah percaya akan seorang Allah yang baik, yang mengawasi dan mengutus para malaikat untuk membimbing kita di dunia ini. Namun hal ini mengalami erosi sejalan dengan meningkatnya usia kita menuju kedewasaan. Berbagai pengalaman hidup kita dalam dunia ini dapat membuat kita lusuh dan letih-lelah, malah dapat membuat kita bersikap sinis atau sarkastis perihal kedekatan Allah dengan diri kita, apalagi bila menyangkut keberadaan para malaikat pelindung. Di bawah berbagai macam tekanan hidup ketika kita sedang susah atau di bawah pengaruh negatif dari berbagai kenikmatan hidup manakala kita sedang berada dalam keadaan oke-oke, kita malah dapat mulai percaya bahwa diri kita sendirilah penentu “nasib” kita: tidak ada seorang pun dapat menolong kita kecuali diri kita sendiri. Saya mempunyai seorang teman baik yang sejak muda-usia mempunyai motto: “God only helps those who help themselves.” Dia sudah sampai kepada suatu kesimpulan sangat berbahaya, yaitu bahwa Yesus bukanlah Tuhan dan Allah seperti kita imani, tetapi sekadar manusia biasa yang baik. Dia begitu berbangga akan kemahirannya dalam bisnis yang ditekuninya, yang menurutnya merupakan pangkal kesuksesannya. Biarpun begitu, masih suka keluar dari mulutnya kata-kata yang mengatakan bahwa Tuhan Allah itu baik, yang memberikan kepadanya talenta dan berbagai peluang positif. Dia banyak berbuat baik, hal mana tidak dapat disangkal. Diiringi doa-doa dari istrinya dan teman-temannya, tentu kawan saya ini pun akan mengalami moment of truth dalam hidupnya, untuk menjadi seorang anak kecil lagi di hadapan Bapa surgawi.

Yesus ingin memerdekakan kita dari isolasi ciptaan kita sendiri atau kemandirian yang malah memenjarakan kita sebagai tawanan. Yesus mau membangkitkan dalam diri kita sukacita dan innocense sejati dan orijinal yang pernah kita alami ketika kita untuk pertama kalinya mengetahui cintakasih pribadi-Nya yang mau tinggal dalam diri kita masing-masing. Kedewasaan Kristiani yang sejati bukanlah berarti peningkatan dalam kebebasan kita dari Allah, melainkan suatu ketergantungan lebih mendalam kepada-Nya. Meskipun sudah dewasa dalam usia, kita tidak mampu bertahan satu hari saja kalau terpisah dari kerahiman dan rahmat Allah. Adalah Allah yang secara tetap menjaga kesehatan kita, relasi kita, keuangan kita, kehidupan kita dan seterusnya. Marilah kita mohon Roh Kudus untuk melakukan karya istimewa dalam diri kita, yaitu menolong kita agar mampu memandang peristiwa-peristiwa kehidupan dewasa ini dengan mata seorang anak kecil yang mengetahui dan mengalami cintakasih yang intim dari Bapa. Kalau pun hal ini susah, kita dapat memohon kesembuhan agar hal yang kita mohonkan tadi dapat terwujud. Bapa surgawi menginginkan kita datang kepada-Nya dengan segala urusan kita – betapa pun kecilnya urusan kita itu sehingga terlihat tidak penting – dan percaya bahwa para malaikat-Nya, teristimewa malaikat pelindung kita masing-masing, juga mengawasi, membimbing dan melindungi kita. 

DOA: Ya Allah Roh Kudus, bebaskanlah aku dari kemandirianku yang palsu. Tolonglah aku agar dapat menjadi seperti seorang anak kecil selagi aku memanjatkan permohonan kepada Allah untuk kekuatan dan kebutuhan-kebutuhanku. Bukalah hatiku untuk menaruh kepercayaan kepada penyelenggaraan Ilahi. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 21:28-32), bacalah tulisan yang berjudul “ADA MALAIKAT MEREKA DI SURGA” (bacaan tanggal 2-10-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2018.

 (Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 2-10-17 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 28 September 2018 [Peringatan B. Inosensius dr Bertio, Imam]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SIAPAKAH YESUS BAGIKU?

SIAPAKAH YESUS BAGIKU?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXV – Jumat, 28 September 2018)

OFMCap.: Peringatan B. Inosensius dr Bertio, Imam

Pada suatu kali ketika Yesus berdoa seorang diri, datanglah  murid-murid-Nya kepada-Nya. Lalu Ia bertanya kepada mereka, “Kata orang banyak, siapakah Aku ini? Jawab mereka, “Yohanes Pembaptis, yang lain mengatakan: Elia, yang lain lagi mengatakan bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit.” Yesus bertanya kepada mereka, “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Jawab Petrus, “Mesias dari Allah.” Lalu Yesus melarang mereka dengan keras, supaya mereka jangan memberitahukan hal itu kepada siapa pun.

Kemudian Yesus berkata, “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.” (Luk 9:18-22) 

Bacaan Pertama: Pkh 3:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 144:1-4 

“Menurut kamu, siapakah Aku ini?” (Luk 9:20)

Siapakah Yesus? Seorang nabikah? Seorang guru moralkah? Pendiri sebuah agama barukah? Jawabannya bervariasi, baik pada zaman Yesus maupun pada zaman modern ini. Bagaimana dengan kita (anda dan saya)? Barangkali pertanyaan tersebut dapat dirumuskan kembali sebagai berikut: “Bagaimana anda tahu bahwa Yesus adalah Dia yang anda katakan sebagai Dia?” 

Petrus berkata kepada Yesus, “Mesias dari Allah” (Luk 9:20). Tetapi bagaimana Petrus mengetahui tentang hal ini? Oleh perwahyuan Allah. Dalam Injil Matius ada catatan bahwa Yesus kemudian berkata kepada Petrus, “Berbahagialah engkau Simon anak Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga” (Mat 16:17). Dalam kasus Yesus, memang manusia dan cara biasa untuk memahami hal-hal tidaklah cukup. Rahmat perwahyuan diperlukan, yang berasal dari Bapa surgawi.

Perwahyuan ilahi dan supernatural bukanlah sesuatu yang diberikan Allah secara sedikit-sedikit, atau hanya sepotong-potong. Allah sangat senang untuk mewahyukan /menyatakan Yesus kepada kita. Bayangkanlah bagaimana para orangtua baru tidak pernah lelah bercerita tentang anak-anak mereka. Sebagai Bapa, Allah tidak banyak berbeda dengan kita. Dia mencurahkan Roh Kudus-Nya pada kita sehingga dengan demikian hasrat kita akan perwahyuan/pernyataan tentang Yesus akan bertumbuh, sampai titik di mana kita akan sungguh mengharapkan dapat melihat tindakan-tindakan Yesus dan mendengar suara-Nya dari hari ke hari. Bahkan jika kita telah mengalami momen-momen perwahyuan di masa lampau, Allah ingin memberikan kepada kita lebih lagi: “pengertian tentang rahasia Kristus” (Ef 3:4), dan keyakinan untuk berjalan dalam kehadiran-Nya sepanjang hari.

Kita semua tidak menjadi putus asa ketika mengetahui bahwa walaupun mengalami momen perwahyuan, sikap dan perilaku Petrus masih saja agak “ngawur” – bahkan tidak sekali saja! Lebih menyemangati kita lagi adalah ketika kita menyadari bahwa kesalahan-kesalahan Petrus membuat dirinya menjadi haus dan lapar akan perwahyuan yang lebih lagi. Seperti Petrus, walaupun ketika kita dengan rasa pedih menyadari akan kelemahan-kelemahan kita, kita tetap dapat memohon lebih lagi perwahyuan tentang Yesus dari Bapa di surga. Kita tidak akan sampai kepada kepenuhan kontemplasi wajah Kristus jika kita mengandalkan upaya kita sendiri. Kita harus memperkenankan rahmat Allah untuk bekerja dalam diri kita.

DOA: Bapa surgawi, nyatakanlah Putera-Mu, Yesus, kepadaku secara lebih lagi. Dengan demikian aku akan lebih mengenal Dia lebih dalam lagi dan mengalami kuasa kehadiran-Nya, dan kemudian dapat mensyeringkan kasih-Nya kepada orang-orang lain. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 9:18-22), bacalah tulisan yang berjudul “SIAPAKAH AKU INI?” (bacaan tanggal 24-9-18) dalam situs/blog  SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 26 September 2018 [Peringatan S. Elzear & Delfina, OFS]

 Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS INGIN MENARIK KITA AGAR LEBIH DEKAT KEPADA BAPA

YESUS INGIN MENARIK KITA AGAR LEBIH DEKAT KEPADA BAPA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXV [TAHUN B] –  23 September 2018)

Yesus dan murid-murid-Nya berangkat dari situ dan melewati Galilea, dan Yesus tidak mau hal itu diketahui orang; sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya. Ia berkata kepada mereka, “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit.” Mereka tidak mengerti perkataan itu, namun segan menanyakannya kepada-Nya.

Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-nya di Kapernaum. Ketika Yesus sudah di rumah, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, “Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?” Tetapi mereka diam, sebab di tengah jalan tadi mereka bertengkar tentang siapa yang terbesar di antara mereka. Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka, “Jika seseorang ingin menjadi yang pertama, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.”  Lalu Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka, “Siapa saja yang menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Siapa yang menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku.” (Mrk 9:30-37) 

Bacaan Pertama: Keb 2:12,17-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 54:3-6,8; Bacaan Kedua: Yak 3:16-4:3

Bayangkan betapa kagetnya dan malunya para murid ketika Yesus bertanya kepada mereka: “Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?” (Mrk 9:33). Tidak mengherankanlah kalau mereka hanya dapat berdiam diri ketika ditanya oleh Yesus. Berdiam diri karena mereka mengakui dalam hati bahwa ketika di tengah jalan mereka bertengkar tentang siapa yang terbesar di antara mereka (Mrk 9:34).

Para murid telah bersama-sama Yesus untuk waktu yang cukup lama. Mereka telah menyaksikan berbagai mukjizat dan tanda heran yang diperbuat oleh-Nya, belum lagi pembebasan orang-orang dari kuasa Iblis dan roh-roh jahat. Orang kusta, lumpuh, bisu, tuli, buta dlsb. disembuhkan. Bahkan seorang muda yang sudah mati telah dibangkitkan-Nya di dekat pintu gerbang kota Nain (Luk 7:11-17); juga anak perempuan Yairus (Mrk 5:21-24,35-43). Jelaslah bahwa Yesus bukanlah tabib atau nabi sembarangan. Ia sungguh yang terbesar! Bahkan Petrus pun telah memproklamasikan bahwa Yesus adalah “Sang Mesias” (Mrk 8:29). Tetapi, … Yesus lebih tertarik untuk mewujudkan apa yang dikatakan “besar” tentang diri-Nya dengan menyerahkan hidup-Nya sendiri bagi semua orang.

Mengawali perjalanan-Nya menuju Yerusalem – di mana Yesus tahu bahwa dirinya akan dihukum mati – Dia membawa para murid-Nya tanpa diketahui orang sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya itu (lihat Mrk 9:30-31). Yesus mengatakan kepada para murid-Nya bahwa Dia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit” (Mrk 9:31). Kepopuleran Yesus yang bertumbuh terus, penderitaan dan sengsara-Nya dan kebangkitan-Nya sungguh sulit dicerna oleh para murid. Bahkan mereka masih mempunyai visi-visi kejayaan di sisi Yesus dalam pemerintahan-Nya! (lihat misalnya, Mrk 10:35-45; bdk. Mat 20:20-28).

Melihat keseriusan masalah para murid ini, maka Yesus memutuskan untuk duduk bersama mereka dan mulai mengajar mereka tentang apa makna sebenarnya dari apa yang dinamakan keagungan, kemuliaan, dan sejenisnya: “Jika seseorang ingin menjadi yang pertama, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya”  (Mrk 9:35). Untuk menjadi yang pertama dan utama seseorang harus menempatkan kebutuhan-kebutuhan orang-orang lain dulu, tanpa memikirkan tentang diri sendiri.

Yesus – sang Hamba yang sempurna – sangat senang dalam memperhatikan orang-orang di sekeliling-Nya. Dipenuhi dengan kasih Bapa, Ia hanya ingin memberi, hanya ingin menganugerahkan karunia-karunia-Nya kepada siapa saja yang dijumpai-Nya. Dengan setiap penyembuhan dan mukjizat yang diperbuat-Nya dan setiap kata yang diucapkan-Nya, Yesus sesungguhnya bermaksud untuk menarik orang-orang agar lebih dekat dengan Bapa surgawi. Bahkan ketika Dia mendekati saat kematian-Nya sendiri, hasrat utama-Nya adalah untuk berada bersama para murid-Nya, mengasihi mereka dan menolong mereka untuk menaruh kepercayaan kepada Bapa. Dengan rendah hati Dia mengetuk pintu hati kita masing-masing. Ia sangat ingin melayani kita dengan memasuki hidup kita yang terluka, guna menyembuhkan kita, untuk membersihkan kita, dan untuk memperbaharui kita. O, betapa dalam kerinduan hati-Nya untuk melihat kita menyambut diri-Nya ke dalam diri kita!

DOA: Yesus, kami ingin menyambut-Mu ke dalam hati kami! Terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau mengasihi kami masing-masing tanpa batas dan syarat. Seringkali tanpa kami sadari, Engkau membanciri kami dengan kebaikan-Mu dan belaskasih-Mu. Penuhi diri kami dan mengalirlah dari kami kepada orang-orang di sekeliling kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 9:30-37), bacalah tulisan yang berjudul “SEORANG PEMIMPIN PERTAMA-TAMA ADALAH SEORANG PELAYAN” (bacaan tanggal 23-9-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-9-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 20 September 2018 [Peringatan S. Andreas Kim Taegon, Imam & Paulus Chong Hasang dkk – Martir-martir Korea] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS