Posts tagged ‘ANAK KECIL’

YANG TERKECIL, DIALAH YANG TERBESAR

YANG TERKECIL, DIALAH YANG TERBESAR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Wajib S. Hieronimus, Imam Pujangga Gereja – Senin, 30 September 2019)

Image result for IMAGES OF LUKE 9:46-50

Kemudian timbullah pertengkaran di antara murid-murid Yesus tentang siapakah yang terbesar di antara mereka. Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka. Karena itu Ia mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di samping-Nya , dan berkata kepada mereka, “Siapa saja yang menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar.”

Yohanes berkata, “Guru, kami lihat seseorang mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita.” Yesus berkata kepadanya, “Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu.” (Luk 9:46-50) 

Bacaan Pertama: Za 8:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 102:16-21,29,22-23 

Para murid Yesus telah melihat Ia berkhotbah tentang Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan, menyembuhkan orang-orang sakit, mengusir roh-roh jahat yang merasuki orang-orang, membuat berbagai mukjizat dan tanda heran lainnya. Setelah memberikan kepada mereka otoritas di atas roh-roh jahat dan kuasa untuk menyembuhkan berbagai penyakit, Yesus juga telah mengutus para murid untuk memberitakan Kerajaan Allah dan menyembuhkan orang-orang sakit (Luk 9:1-2). Kecenderungan manusia adalah memperkenankan kuasa masuk ke dalam kepala kita. Dengan demikian, herankah anda kalau membaca bahwa belum apa-apa para murid Yesus sudah saling bertengkar tentang siapa yang paling besar di antara mereka?

Kenyataan bahwa para murid yang sudah begitu dekat dengan Sang Guru, sekarang jatuh ke dalam situasi “persaingan tidak sehat” satu dengan lainnya dapat menyebabkan kita bertanya-tanya apakah mungkin bagi kita bersikap dan berperilaku rendah hati seorang anak dan sepenuhnya tergantung kepada Allah sebagaimana diajarkan oleh Yesus? “Yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar” (Luk 9:48). Namun pengalaman para murid Yesus pertama itu sebenarnya dapat mengajarkan kepada kita pelajaran sebaliknya. Mereka belajar dari kegagalan-kegagalan mereka. Oleh kuasa Roh Kudus, mereka bertumbuh dalam kerendahan hati yang mereka butuhkan untuk peranan pelayanan bagi Kerajaan Allah.

Sejak terkandung-Nya dalam rahim Perawan Maria, Yesus menjalani suatu kehidupan yang rendah hati secara lengkap. Santo Paulus menulis, bahwa Kristus Yesus, “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa  seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Flp 2:6-7). Dengan rendah hati Yesus memperkenankan Bapa menjadi segalanya dalam apa yang dilakukan-nya (lihat Yoh 5:19). Dalam kerendahan hati penuh ketaatan sebagai manusia, Yesus sampai mati di kayu salib (lihat Flp 2:8).

TRahasia untuk menjadi rendah hati terletak pada Yesus sendiri. Kepada siapa di antara kita yang merasa dibebani dengan kesombongan dan sikap serta perilaku mementingkan diri sendiri, Yesus bersabda, “Pikullah gandar yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku” (Mat 11:29). Dengan demikian, kita berada di jalan menuju kerendahan hati sementara kita memeditasikan Yesus dan semakin dekat dengan kasih-Nya kepada kita. Kunci terhadap kerendahan hati terletak pada kehadiran Yesus yang rendah hati untuk diam dalam hati kita. Baiklah kita seringkali berpaling kepada-Nya, terutama pada hari ini dan berkata, “Buatlah diriku menjadi seperti Engkau, ya Yesus.”

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami berdiam  dalam persekutuan dengan Bapa surgawi, hal mana telah hilang melalui dosa kami namun diperbaharui bagi kami melalui kematian-Mu yang penuh kedinaan dan juga kebangkitan-Mu. Melalui persekutuan ini, semoga kami memperoleh kerendahan hati yang Engkau hasrati untuk kami miliki. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 9:46-50), bacalah tulisan yang berjudul “SIAPA YANG TERBESAR DALAM KERAJAAN ALLAH?” (bacaan tanggal 30-9-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 26-9-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 27 September 2019 [Peringatan Wajib S. Vincentius a Paolo, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEPERTI SEORANG ANAK KECIL

SEPERTI SEORANG ANAK KECIL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VII – Sabtu, 25 Februari 2017) 

yesus-dan-anak-anak-7Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia menyentuh mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. Melihat hal itu, Yesus marah dan berkata kepada mereka, “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan halang-halangi mereka, sebab orang-orang seperti inilah yang memiliki Kerajaan Allah. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.” Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tangan-Nya di atas mereka ia memberkati mereka. (Mrk 10:13-16) 

Bacaan Pertama: Sir 17:1-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:13-18 

Yesus mengasihi anak-anak kecil. Ia menjadi marah ketika melihat para murid-Nya memarahi orang-orang yang membawa anak-anak kecil kepada Yesus. Ia tidak setuju apabila para murid menghalang-halangi anak-anak kecil untuk bertemu dengan diri-Nya. Yesus memeluk/merangkul anak-anak itu, memberkati mereka sambil meletakkan tangan-Nya di atas mereka. Inilah justru yang diinginkan oleh para orangtua; mereka ingin melihat Yesus paling sedikit menyentuh anak-anak mereka.

Apakah Yesus tidak lebih daripada seorang politisi, yang mencoba mengumpulkan pengikut melalui keterikatan batin yang erat antara para orangtua dan anak-anak mereka? Para politisi suka membuat foto di mana terlihat dia sedang memegang, memeluk atau mencium seorang anak kecil, lalu foto itu tersebar di berbagaai macam media.

Apabila kita membaca satu/dua kalimat saja dalam Injil, maka kita langsung melihat bahwa mencari popularitas bukanlah niat atau maksud Yesus. Kiranya dalam kasus ini, Yesus menggunakannya sebagai kesempatan untuk mengajar para murid-Nya (termasuk kita juga) sebuah pelajaran penting. Tentunya ada soal sederhana sehubungan dengan cintakasih dan kebaikan hati yang mau ditunjukkan oleh Yesus kepada siapa saja yang dibawa kepada-Nya. Namun melampaui hal itu, Yesus menggunakan anak-anak kecil ini sebagai sebuah lambang/simbol orang-orang yang miskin di dalam roh, orang-orang rendahan, “wong cilik” dalam komunitas Kristiani. Ini adalah kesekian kalinya Yesus menekankan/menggaris-bawahi bahwa Allah mengasihi orang-orang yang sering tidak dipandang mata, miskin dlsb., padahal pandangan keagamaan pada zaman itu adalah bahwa kemiskinan dan penderitaan merupakan penghukuman atas dosa-dosa pribadi.

Yesus seakan berkata bahwa lebih mudahlah bagi orang-orang rendahan, miskin dlsb. itu untuk memahami dan menerima Pemerintahan Allah. Tentu lebih mudahlah bagi seorang anak kecil untuk mengatakan: “Abba, Bapa”. Jadi, apabila kita ingin memiliki sikap seorang anak kecil terhadap Allah, Bapa kita, Yesus mengatakan bahwa kita harus menjadi seperti anak-anak kecil. Ia bersabda: “Sesunggguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya” (Mrk 10:15).

Membaca sabda Yesus di atas, bukanlah berarti bahwa kita harus terus bersikap kekanak-kanakan (childish), tidak pernah matang. Kita harus memiliki sifat keterbukaan, kerendahan-hati, dan ketidakpura-puraan sebagian besar anak-anak kecil. Anak-anak kecil dapat dilatih. Karakter-karakter mereka masih dapat dibentuk. Dengan demikian kita pun harus mencoba menjadi tanah liat di tangan-tangan Allah, sehingga Dia dapat membentuk kita semakin sempurna lagi dalam keserupaan dengan Yesus Kristus. Inilah yang dimaksudkan apabila kita diminta untuk menjadi seperti anak-anak kecil, apabila kita ikut ambil bagian dalam Kerajaan Allah.

DOA: Tuhan Yesus, oleh Roh Kudus, bentuklah aku agar dapat menjadi seperti seorang anak kecil, dengan demikian dapat ikut ambil bagian dalam Kerajaan Allah. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 10:13-16), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS INGIN AGAR ANAK-ANAK ITU DATANG KEPADA-NYA” (bacaan tanggal 25-2-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2017. 

Cilandak, 23 Februari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

ALLAH BUKANLAH SEORANG TIRAN

ALLAH BUKANLAH SEORANG TIRAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan BiasaXIX – Selasa, 13 Agustus 2013)

Keluarga Fransiskan Kapusin: Peringatan B. Markus dr Aviano, Imam 

YESUS DAN ANAK-ANAK - MENGASIHI ANAK-ANAKPada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya, “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?” Lalu Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka dan berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sedangkan siapa saja yang merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Siapa saja yang menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.”

“Ingatlah, jangan menganggap rendah salah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di surga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di surga.”

“Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu daripada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. Demikan juga Bapamu yang di surga tidak menghendaki salah seorang dari anak-anak ini hilang.” (Mat 18:1-5,10,12-14)

Bacaan Pertama: Ul 31:1-8; Mazmur Tanggapan: Ul 32:3-4,7-9,12 

Pada saat anak pertama dari pasutri tertentu itu dikandung, maka secara langsung mereka berdua menjadi orangtua. Namun setiap hari, selagi anak itu bertumbuh, pasutri tersebut belajar lebih banyak dan banyak lagi apa artinya menjadi orangtua. Dengan berjalannya waktu mereka bertumbuh semakin matang dalam menjalani peranan masing-masing sebagai bapak dan ibu.

Ada suatu dinamika serupa dalam proses menjadi anak-anak Allah. Kita menjadi anak-anak Allah karena kehendak-Nya dan rahmat-Nya – karena darah Yesus dan air baptisan. Hal ini adalah suatu karunia, dan kita tetap adalah anak-anak-Nya walaupun suka mbalelo, tidak taat dst. Pada saat yang sama, kita masing-masing harus belajar bagaimana berpikir dan bertindak sebagai anggota keluarga Allah. Kita harus menyesuaikan pandangan dan nilai-nilai kita dengan pandangan dan nilai-nilai Bapa surgawi agar dengan demikian kita memiliki keserupaan sebagai anggota keluarga-Nya. Di sinilah awal keseriusan upaya kita, yaitu ketika kita belajar, bahwa tergantung kita sendirilah, apakah kita mau (atau tidak mau) menempatkan diri kita di bawah otoritas Bapa surgawi.

GEMBALA YANG BAIK - 127Pentinglah bagi kita untuk mengingat bahwa dalam proses formasi ini, Bapa adalah memang untuk kita. Dia berada di pihak kita! Allah bukanlah “seorang tiran”. Ia adalah orangtua yang berbelas-kasih dan penuh pengertian. Seperti orangtua baik lainnya, Allah senang mengambil waktu untuk mengajar dan melatih anak-anak-Nya, bahkan menemukan cara untuk bergembira dengan mereka.

Orangtua mana yang sungguh menyusahkan anak-anak mereka untuk datang kepada mereka? Apakah mereka sungguh mencoba untuk menjadi kejam dan merasa curiga serta menjaga jarak? Tentu saja tidak! Bapa di surga jauh lebih baik dalam melakukian fungsi-Nya sebagai orangtua daripada manusia yang mana saja. Oleh karena itu marilah kita datang ke hadirat Bapa, dan mohon diberikan pengajaran dari Dia. Allah memiliki hikmat dan kuat-kuasa untuk menolong kita menjadi matang, dan Ia mengasihi kita dengan sempurna. Tidak ada urusan/perkara yang terlalu kecil dan juga tidak ada halangan yang terlalu besar bagi Allah!

Allah menciptakan kita karena kasih dan Ia ingin berbagi hidup-Nya sendiri dengan kita. Dia tidak memusatkan perhatian-Nya pada kesalahan-kesalahan kita, dan Ia tidak sekadar berharap bahwa kita akan tetap berjalan di atas rel yang benar sehingga kita tidak akan dilempar ke neraka. Allah ingin melihat kita mengembangkan semua talenta dan keterampilan yang kita miliki. Allah juga sangat senang melatih kita. Bayangkan: Walaupun ketika Allah mendisiplinkan kita, Dia mengasihi kita!

DOA: Bapa surgawi, tidak ada siapa pun yang kukenal seperti Engkau, ya Allahku. Engkau melihat segalanya yang terdapat dalam pikiranku, hatiku dan tindakanku, dan Engkau tetap mengasihiku secara lengkap-total. Aku menyerahkan diriku kepada tangan-tangan-Mu yang penuh kasih. Ajarlah aku hidup sebagai anak-Mu yang taat. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 18:1-5,10,12-14), bacalah tulisan-tulisan yang berjudul “MENJADI INOSENS KEMBALI SEPERTI ANAK KECIL” (bacaan tanggal 14-8-12) dan “MENJADI SEPERTI ANAK KECIL???” (bacaan tanggal 9-8-11), keduanya dalam situs/blog SANG SABDA. 

Cilandak, 5 Agustus 2013 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS