Posts tagged ‘AKHIR ZAMAN’

KEDATANGAN KEMBALI YESUS KRISTUS PADA AKHIR ZAMAN

KEDATANGAN KEMBALI YESUS KRISTUS PADA AKHIR ZAMAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Elisabet dr Hungaria, yang bersama S. Ludovikus IX adalah Orang-orang Kudus Pelindung OFS – Jumat, 17 November 2017)

 

Sama seperti yang terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia: Mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai pada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua. Demikian juga seperti yang terjadi di zaman Lot: mereka makan dan minum, mereka berjual beli, mereka menanam dan membangun. Tetapi pada hari Lot pergi keluar dari Sodom turunlah hujan api dan hujan belerang dari langit dan membinasakan mereka semua. Demikianlah halnya kelak pada hari Anak Manusia dinyatakan. Siapa saja yang pada hari itu sedang berada di atas rumah dan barang-barangnya ada di dalam rumah, janganlah ia turun untuk mengambilnya, dan demikian juga orang yang sedang di ladang, janganlah ia kembali. Ingatlah akan istri Lot! Siapa saja yang berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan siapa saja yang kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya. Aku berkata kepadamu: Pada malam itu ada dua orang di atas tempat tidur, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Ada dua orang perempuan bersama-sama menggiling gandum, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.” (Kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.) Kata mereka kepada Yesus, “Di mana, Tuhan?” Kata-Nya kepada mereka, “Di mana ada mayat, di situ berkerumun burung-burung nasar.” (Luk 17:26-37) 

Bacaan Pertama: Keb 13:1-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:2-5 

Hampir semua orang merasa tidak enak kalau merenungkan masalah akhir zaman. Namun demikian Yesus membahas hal-ikhwal akhir zaman ini dengan para murid-Nya, dan Gereja mengundang kita semua untuk merenungkan janji-janji-Nya tentang apa yang akan datang kelak. Yesus membuat jelas kepada para murid-Nya bahwa semua pengikut-Nya harus percaya akan kedatangan-Nya untuk kedua kali kelak.

Yesus mengatakan bahwa akhir sejarah umat manusia akan menyangkut suatu “perpisahan”. Ia bersabda, “Aku berkata kepadamu: Pada malam itu ada dua orang di atas satu tempat tidur, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Ada dua orang perempuan bersama-sama menggiling  gandum, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan” (Luk 17:34-35). Kebudayaan modern cenderung untuk mengabaikan “peringatan akan suatu penghakiman”. Banyak orang merasa bahwa Allah yang penuh kasih tidak akan menghukum siapa pun. Namun jelaslah bahwa Yesus mengajarkan bahwa Bapa surgawi telah memberikan kepada-Nya wewenang penuh untuk menghakimi dunia. Dalam kesempatan lain Ia bersabda: “Bapa tidak menghakimi siapa pun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak, supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Siapa saja yang tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa yang mengutus Dia” (Yoh 5:23-24). Akan tetapi hanya Allah sajalah yang menentukan kapan “perpisahan” itu akan terjadi. Situasi umat manusia zaman sekarang tidak ubahnya dengan zaman Nuh (lihat Luk 17:26-27). Manusia akan melanjutkan rutinitas kehidupan mereka sampai kedatangan waktu yang ditentukan Allah itu.

Kita dapat dengan mudah menjadi takut akan hal-hal yang akan terjadi pada hari-hari terakhir bumi ini. Bukanlah maksud Yesus untuk menakut-nakuti kita, melainkan untuk menyiapkan kita akan kedatangan-Nya untuk kedua kalinya kelak. Yesus mengingatkan para murid-Nya: “Ingatlah akan istri Lot!” (Luk 17:32). Kita ketahui bahwa istri Lot menolak pesan dari malaikat: ia menoleh ke belakang, artinya dia mau tetap berpaut pada masa lampaunya; dan dia menjadi tiang garam (lihat Kej 19:26).  Yesus bersabda: “Siapa  saja yang berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan siapa saja yang kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya” (Luk 17:33). Roh Kudus akan mengajarkan kepada kita tentang apa artinya melepaskan diri kita dari keterlekatan pada kehidupan dunia dan mencari dulu Kerajaan Allah (lihat Mat 6:33).

Yesus tidak pernah menyembunyikan apa pun dari para murid-Nya. Bagi mereka yang menolak tawaran Allah untuk hidup dalam Kristus, akan ada penderitaan. Namun demikian, kabar baiknya adalah bahwa bila Yesus datang kembali kelak, Ia akan membawa serta kita kepada suatu hidup penuh kemuliaan. Hidup mulia seperti itu dapat dimulai sekarang, melalui partisipasi kita dalam sakramen-sakramen (teristimewa Ekaristi); kehidupan doa kita; kegiatan membaca serta merenungkan firman Allah dalam Kitab Suci; dan berbagai kegiatan pelayanan-penuh-kasih kita kepada orang-orang lain (termasuk berbagai bentuk  evangelisasi, tentunya). Dengan membuat langkah-langkah sedemikian, kita sebenarnya menyiapkan hati kita untuk kedatangan hari mahapenting itu di mana Allah akan memanggil kita untuk datang menghadap-Nya dan hidup bersama-Nya. Bagi orang-orang yang mengenal Yesus dan menjalani hidup Injili seturut jejak-Nya secara pribadi dan intim, maka kedatangan-Nya kembali akan merupakan suatu peristiwa yang indah-menakjubkan dan penuh sukacita. Kita akan begitu terserap ke dalam kasih-Nya dan tertangkap oleh pemenuhan harapan-harapan dan impian-impian kita, sehingga tentunya akan meninggalkan segalanya yang ada pada kita di belakang kita , dan kita pun akan berlari-lari untuk menyambut kedatangan-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, cepatlah datang. Aku sangat merindukan kedatangan-Mu. Aku tidak dapat menunggu untuk dapat bersama dengan-Mu, dan akhirnya memandang-Mu ‘muka ketemu muka’.  Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 17:26-37), bacalah tulisan yang berjudul “KEDATANGAN KEMBALI YESUS KE DUNIA PADA AKHIR ZAMAN” (bacaan tanggal 17-11-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-11-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 13 November 2017 [Peringatan S. Didakus dr Alkala, Biarawan OFM] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

KERAJAAN ALLAH BERARTI ALLAH MERAJA

KERAJAAN ALLAH BERARTI ALLAH MERAJA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXII – Kamis, 16 November 2017)

 

Ketika ditanya oleh orang-orang Farisi kapan Kerajaan Allah akan datang, Yesus menjawab, “Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tangan lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu.”

Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Akan datang waktunya kamu ingin melihat satu dari hari-hari Anak Manusia itu dan kamu tidak akan melihatnya. Orang akan berkata kepadamu: Lihat, ia ada di sana; lihat, ia ada di sini! Jangan kamu pergi ke situ, jangan kamu ikut. Sebab sama seperti kilat memancar dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain, demikian pulalah kelak halnya Anak Manusia pada hari kedatangan-Nya. Tetapi Ia harus menanggung banyak penderitaan dahulu dan ditolak oleh orang-orang zaman ini. (Luk 17:20-25) 

Bacaan Pertama: Keb 7:22-8:1; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:89-90,130,135,175 

Ketika orang-orang Farisi bertanya kepada Yesus tentang waktu kedatangan Kerajaan Allah, sebenarnya mereka menanyakan kapan Mesias datang untuk melakukan restorasi atas takhta Daud. Mereka mengharapkan seorang Mesias-politik yang akan mendepak-keluar penjajah Roma, kemudian mendirikan kembali dinasti Daud. Mereka tidak mampu menangkap makna sesungguhnya dari berbagai mukjizat dan perumpamaan Yesus sebagai “tanda-tanda yang jelas bahwa kerajaan Allah di atas muka bumi telah dimulai”, padahal bukti bahwa kerajaan Allah telah masuk ke dalam dunia sudah ada di sekeliling mereka. Orang-orang Farisi luput melihat tanda-tanda itu karena terlalu sibuk dengan masalah dunia.

Apakah yang dimaksudkan oleh Yesus dengan “Kerajaan Allah”? Di mana lokasinya? Bagaimana kerajaan itu diorganisasikan? Kerajaan Allah berarti “Allah meraja”. Bagi Yesus, Kerajaan Allah adalah kehadiran Allah di tengah-tengah umat-Nya. Dalam artian ini Kerajaan Allah merupakan suatu kerajaan spiritual, bukan kerajaan dalam artian duniawi (lihat Yoh 18:36; Luk 11:20). Keberadaan Kerajaan Allah bersifat batiniah di dalam hati orang-orang yang telah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, dan yang di dieja-wantahkan di dunia oleh mereka dalam kata-kata dan perbuatan-perbuatan sebagai umat beriman. Melalui Yesus, Kerajaan Allah tersedia bagi setiap dan masing-masing kita. Allah beserta kita! Dengan demikian kita tidak usah merasa takut terhadap apa saja yang menghalangi jalan kita. Kalau hati kita berlabuh dan kuat tertambat pada kasih Yesus dan kuasa-Nya, maka kita pun akan mengalami damai-sejahtera yang sejati. Damai-sejahtera itu dapat kita peroleh manakala kita berpaling kepada Allah dalam sakramen-sakramen, dalam doa-doa, dalam Kitab Suci, dan dalam persekutuan dengan orang-orang Kristiani lainnya.

Pada akhir renungan ini kita akan melihat bahwa kedatangan Kerajaan Allah tidak berarti bahwa berbagai pencobaan dan penderitaan telah usai. Sebaliknya, penderitaan masih akan berlangsung bagi para pengikut/murid Yesus. Santo Paulus menulis: “Jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia” (Rm 8:17). Kerajaan Allah hadir sekarang dan di sini – meskipun jauh dari sempurna – dalam Gereja, umat Allah. Kerajaan Allah akan mencapai kesempurnaannya pada akhir zaman, pada waktu Yesus datang kembali dalam kemuliaan.

Ada orang-orang yang selalu menyibukkan diri dengan upaya-upaya untuk menentukan kapan Yesus datang untuk kedua kalinya, agar supaya mereka berada dalam keadaan siap pada waktu hal itu terjadi. Mereka banyak membuang waktu membaca tanda-tanda dan berusaha membuat kalkulasi-kalkulasi yang diperlukan untuk sampai kepada tanggal yang dicari-cari itu. Memang kita dapat berdoa dan dapat merindukan peristiwa kedatangan kembali Yesus pada akhir zaman, namun berkaitan dengan ini Yesus dengan jelas menyatakan: “… tentang hari atau saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di surga tidak dan Anak pun tidak, hanya Bapa saja. Hati-hatilah dan berjaga-jagalah! Sebab kamu tidak tahu kapan saatnya tiba” (Mrk 13:32-33). Yesus juga mengingatkan bahwa kita akan mendengar nubuat-nubuat palsu, namun tidak perlu merasa terganggu kalau saja kita menghayati hidup yang penuh antisipasi akan kedatangan-Nya: “Wafat Kristus kita maklumkan, kebangkitan-Nya kita muliakan, kedatangan-Nya kita rindukan. Amin” (Doa Syukur Agung, Anamnesis 2). Hal yang terpenting adalah, bahwa kita sudah siap menerima Yesus kapan saja Dia datang; dan cara terbaik untuk mewujudkan hal ini adalah dengan tetap setia kepada Injil dan setiap hari menghayati suatu hidup Kristiani sepenuhnya, tanpa “diskon” di sana-sini. Dengan demikian kita akan siap untuk menyambut-Nya kapan saja Dia akan datang kembali. “… kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah melalui imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah siap untuk dinyatakan pada zaman akhir. Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan” (1Ptr 1:5-6).

DOA: Tuhan Yesus, jagalah diriku agar tetap setia dalam menjalani hidup Injili di atas muka bumi ini. Aku sungguh merindukan kedatangan-Mu kembali. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 17:20-25), bacalah tulisan yang berjudul “KAPAN KERAJAAN ALLAH AKAN DATANG?” (bacaan tanggal 16-11-17) dalam situs/blog SANG SABDA http:/sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-11-16 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 12 November 2017 [HARI MINGGU BIASA XXXII – TAHUN A] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KEDATANGAN KEMBALI SANG RAJA DI AKHIR ZAMAN

KEDATANGAN KEMBALI SANG RAJA DI AKHIR ZAMAN

(Bacaan Kedua Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXXII [TAHUN A], 12 November 2017) 

Selanjutnya kami tidak mau, Saudara-saudara bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan. Karena jikalau kita percaya bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa dengan perantaraan Yesus, Allah akan mengumpulkan bersama-sama dengan Dia mereka yang telah meninggal. Hal ini kami katakan kepadamu dengan firman Tuhan: Kita yang hidup, yang masih tinggal sampai kedatangan Tuhan, sekali-kali tidak akan mendahului mereka yang telah meninggal. Sebab pada waktu aba-aba diberi pada waktu pemimpin malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari surga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan. (1Tes 4:13-17) 

Bacaan Pertama: Keb 6:13-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 63:2-8;  Bacaan Injil: Mat 25:1-13 

Tiga hari Minggu terakhir “Masa Biasa” dalam penanggalan liturgi Gereja memusatkan perhatian pada kedatangan kembali Tuhan Yesus pada akhir zaman, jadi berhubungan erat dengan hari-hari pertama Masa Adven yang gagasan utama pada awalnya juga kedatangan eskatologis dari Kristus pada saat Parousia-Nya. Pada hari ini kepada kita akan diingatkan: “Jagalah agar pelitamu tetap bernyala pada saat Tuhan datang” (lihat Injil hari ini) Ini adalah kebijaksanaan yang sejati. Kebijaksanaan yang sejati ditemukan oleh mereka yang mencarinya (lihat Bacaan Pertama). Pada saat Parousia, orang-orang yang telah meninggal dunia tidak akan memiliki disadvantage ketimbang mereka yang masih hidup. Yang telah meninggal dunia dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit, baru setelah itu mereka yang masih hidup; dan bersama-sama mereka akan menyongsong Tuhan Yesus (Bacaan Kedua).

Para raja dan penguasa lainnya dinasihati untuk senantiasa mencari kebijaksanaan (lihat Keb 6:8-11). Kebijaksanaan ini dengan mudah dapat ditemukan oleh mereka yang mencintainya. Sejak pagi hari Tuan Puteri Kebijaksanaan sudah menunggu di depan pintu kita, dengan demikian dapat ditemukan oleh mereka yang mencarinya (Keb 6:12-14). Kebijaksanaan mencari mereka yang menghasratinya (Keb 6:16). Kebijaksanaan akan bertemu dengan orang yang memikirkannya (Keb 6:15).

Paulus telah memberitakan tentang Parousia Kristus. Umat Kristiani perdana memiliki pengharapan bahwa Tuhan Yesus akan datang kembali dalam waktu yang singkat. “Maran atha, datanglah Tuhan Yesus!” adalah doa mereka yang dilakukan dengan sungguh-sungguh. Saat itu adalah klimaks dari sejarah Gereja. Namun demikian, ada sejumlah umat Kristiani di Tesalonika yang telah meninggal dunia. Apakah mereka akan mengalami Parousia juga? Dalam bacaan kedua inilah Paulus memberikan jawaban atas pertanyaan tadi: Umat Kristiani yang masih hidup ketika Tuhan Yesus datang kembali tidak memiliki advantage  ketimbang mereka yang telah meninggal dunia. Bersama-sama mereka akan menyongsong Tuhan Yesus dan akan hidup bersama dengan Dia selama-lamanya.

Bacaan Injil hari ini adalah “‘Perumpamaan tentang Sepuluh Gadis”. Yesus mulai mengajarkan perumpamaan ini dengan berkata: “Pada waktu itu hal Kerajaan Surga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyambut mempela laki-laki” (Mat 25:1). Para pengiring/pendamping mempelai laki-laki ini dapat dan harus mengetahui dari pengalaman bahwa mempelai laki-laki seringkali datang pada larut malam. Dengan demikian mereka harus selalu siap ketika mempelai laki-laki itu datang. Apabila mereka tidak mempunyai cukup minyak, maka mereka tidak akan mampu untuk ikut mengiringi mempelai ke pesta perjamuan. Tidak ada gunanya mencari minyak belakangan. Dengan minyak yang diperoleh terlambat, mereka tidak dapat menerangi jalannya prosesi mempelai dan rombongannya. Terlambatlah sudah! Mereka pun akan kehilangan kesempatan turut serta bergembira dalam pesta perjamuan. Mereka akan tersingkir!

Kita akan melihat bahwa perumpamaan Yesus ini tidak sedikit pun berbicara secara mendetil tentang mempelai laki-laki atau mempelai perempuan. Yang disoroti adalah sepuluh gadis pendamping mempelai. Kita diibaratkan sebagai sepuluh gadis-gadis itu. Kristus diibaratkan sebagai pengantin laki-laki. Surga diibaratkan sebagai pesta perjamuan perkawinan Kristus. Kita akan diterima masuk ke dalam perjamuan kekal apabila pelita-pelita kita menyala pada saat Yesus datang kembali, artinya apabila kita siap mengiringi-Nya ketika Dia datang.

Gadis-gadis yang bijaksana menolak memberikan sebagian dari minyak mereka kepada gadis-gadis yang bodoh (Mat 25:8-9). Hal ini mereka lakukan bukan karena mereka tidak berbelas kasih dan memiliki hati yang telah mengeras seperti batu, melainkan karena itulah satu-satunya sikap dan tindakan yang masuk akal: mereka pun tidak akan mempunyai cukup minyak untuk menerangi prosesi mempelai secara lengkap, jikalau mereka memberikan sebagian dari minyak mereka. Demikian pula, ketika mempelai laki-laki menolak lima orang gadis bodohtersebut untuk memasuki ruangan pesta, hal itu bukanlah berarti bahwa dia menyangkal lima gadis itu telah berbuat sesuatu bagi dirinya, melainkan karena mereka telah gagal dalam tugas mereka yang hakiki: untuk memberi penerangan bagi prosesi mempelai.

Perumpamaan ini ini adalah mengenai titik akhir. Pada saat titik akhir itu datang, entah pada saat kematian individu-individu, atau pada hari penghakiman umat manusia, maka tidak ada waktu lagi. Waktu telah berakhir. Hanya ada dua kondisi yang menentukan “nasib” seseorang: dia siap dengan cukup perlengkapan atau tidak siap. Apa yang telah dilalaikan oleh seseorang, tidak lagi dapat diperbaikinya. Tidak ada waktu lagi untuk membuat kompensasi atas kekurangan seseorang.

Pelajaran yang dapat kita tarik: Siaplah selalu, karena kita dapat terlambat apabila Hari Tuhan tiba! Ada hal-hal tertentu dalam kehidupan yang kita hanya dapat lakukan sekali. Dan dalam artian tertentu kita hanya dapat melakukan segala sesuatu sekali saja. Apa saja yang kita lakukan di mata Allah merupakan pekerjaan kita yang pertama, bahkan semacam sebuah gladi-resik. Gladi yang kedua untuk pekerjaan final yang sama di mata Allah merupakan suatu tindakan baru. Jadi, setiap pekerjaan kita dapat lakukan hanya sekali saja.

Tidak cukuplah apabila kita sekadar melakukan sesuatu, bahkan tidak cukup hanya bekerja keras. Kita harus melakukan pekerjaan yang ditugaskan kepada kita dengan baik. Lima gadis yang bodoh itu sangat tidak dapat mengatakan kepada sang mempelai laki-laki bahwa mereka telah menanti-nantikan dia sepanjang malam, bahwa mereka berminat untuk menghadiri pesta perkawinan, bahwa hanya karena faktor kebetulan sajalah mereka tidak berpikir untuk membawa minyak dalam jumlah cukup. Tugas pekerjaan mereka yang utama adalah mengiringi mempelai dengan pelita/obor yang menyala. Datang terlambat berarti merusak tujuan utama pekerjaan mereka, karena pelayanan mereka tidak lagi dibutuhkan.

Apabila pekerjaan kita adalah sebagai guru tetapi melakukan pekerjaan kita dengan buruk, maka kita tidak dapat menghibur diri kita bahwa kita telah berhasil mendidik murid-murid kita dengan baik. Demikian pula, apabila kita mengklaim diri kita sebagai pendidik namun tak mampu memelihara disiplin, maka kita sebenarnya telah gagal dalam tugas pekerjaan kita yang hakiki, dst.

Tidak cukup apabila kita sekadar mempunyai niat-niat baik, bermaksud baik. Kita harus menghadirkan fakta-fakta yang diperlukan. Kita semua tahu apa artinya apabila seseorang mengecewakan kita. Bayangkanlah betapa kecewanya sang mempelai laki-laki ketika mendapatkah hanya separuh saja dari gadis-gadis pengiring yang muncul menyambutnya. Reliability (sifat dapat diandalkan/dipercaya) adalah satu dari kualitas-kualitas dalam kehidupan manusia yang indah.

Peringatan untuk senantiasa bersiap-siaga berlaku juga bagi umat manusia secara keseluruhan, tidak hanya bagi orang sebagai individu-individu. Umat Kristiani perdana memandang ke depan dengan penuh kerinduan dan pengharapan akan kedatangan kembali (Parousia) Kristus, diiringi doa setiap hari: “Maran atha!” , “O Tuhan, datanglah” (1Kor 16:22; Why 22:20)! Bagi mereka kedatangan Yesus untuk kedua kali ini adalah klimaks dari sejarah Gereja. Sikap ini memampukan mereka untuk menggunakan waktu mereka secara paling baik, yaitu untuk bersiap-siaga setiap saat.

Pada zaman modern ini kita barangkali tidak banyak berpikir tentang kedatangan kembali Yesus ke dunia dalam waktu yang relatif dekat. Hampir tidak ada umat yang memikirkan secara serius tentang akhir zaman, padahal adalah kenyataan bahwa kehancuran dunia dapat begitu mudah terjadi kalau ada orang – di mana saja di dunia ini – yang mulai menekan tombol senjata nuklir. Kedatangan Yesus untuk kedua kalinya sudah menjadi sesuatu yang terasa asing bagi telinga mayoritas umat Kristiani pada zaman ini.

Memang tidak seorang pun dapat berjaga sepanjang waktu, tanpa sekali-kali jatuh tertidur. Bahkan gadis-gadis yang bijaksana sekali pun jatuh tertidur juga. Mereka juga melakukan antisipasi untuk beristirahat agar dapat memulihkan kekuatan fisik mereka untuk malam yang masih sangat panjang. Demikian pula, kita juga tidak dapat berdoa sepanjang waktu agar menjadi siap-siaga apabila Tuhan datang. Namun kita dapat melakukan tugas kita sepanjang waktu dan dengan demikian kita pun akan siap, kapan pun Kristus datang. Kita akan mati seturut cara hidup kita.

DOA: Bapa surgawi, jagalah agar diri kami senantiasa siap-siaga dalam menantikan kedatangan Yesus Kristus ke dunia untuk kedua kalinya. Dengan demikian kami pun dengan penuh sukacita dapat berdoa “Datanglah, Tuhan Yesus”. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 25:1-13), bacalah tulisan berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG GADIS-GADIS BIJAKSANA DAN GADIS-GADIS YANG BODOH” (bacaan untuk tanggal 12-11-17) dalam situs/blog SANG SABDA  http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 6-11-11 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 8 November 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS MEMINTA AGAR KITA TERUS BERJAGA-JAGA

YESUS MEMINTA AGAR KITA TERUS BERJAGA-JAGA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXI – Kamis, 31 Agustus 2017) 

“Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang.

Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Karena itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.”

“Siapakah hamba yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh tuannya atas orang-orangnya untuk memberikan mereka makanan pada waktunya? Berbahagialah hamba yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu ketika tuannya itu datang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu Tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya. Akan tetapi, apabila hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya: Tuanku tidak datang-datang, lalu ia mulai memukul hamba-hamba lain, dan makan minum bersama-sama pemabuk-pemabuk, maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangkanya, dan pada saat yang tidak diketahuinya, dan akan membunuh dia dan membuat dia senasib dengan orang-orang munafik. Di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.” (Mat 24:42-51) 

Bacaan Pertama: 1Tes 3:7-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 90:3-4,12-14,7 

Yesus meminta kita terus berjaga-jaga dan siap sedia karena kita sungguh tidak akan mengetahui saat kedatangan-Nya dalam kemuliaan kelak. (Mat 24:42-44). Yesus juga mendorong kita semua untuk terus melayani-Nya, meski dihadapkan dengan berbagai kesulitan dan godaan yang seberat apa pun juga. Dia mengatakan: “Berbahagialah hamba yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu ketika tuannya itu datang” (Mat 24:46). Memang perintah Yesus ini tidaklah mudah untuk dilaksanakan. Seperti hal-hal lainnya dalam kehidupan kita, kita pun dapat merasa lelah, kita ingin agar ada orang-orang lain yang menggantikan kita, atau hati kita menjadi ciut manakala hasil kerja itu tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Namun Yesus berjanji, apabila kita terus menekuni pekerjaan kita sebagai pelayan-Nya, maka kita semua akan diberkati.

Yesus tergantung kepada kita masing-masing untuk melanjutkan misi-Nya. Dia tidak lagi hadir di tengah-tengah kita secara fisik dan harus menggantungkan diri pada kita sebagai perpanjangan kaki dan tangan-Nya dalam dunia. Bukankah kita disebut ‘tubuh Kristus’? Tanpa keterlibatan kita yang aktif, kerajaan-Nya tidak akan bertumbuh-kembang secara optimal. Allah telah menganugerahkan kepada kita masing-masing seperangkat karunia dan talenta untuk kita gunakan dalam melakukan tugas pelayanan kita, namun kita tetap masih dapat memilih sendiri bagaimana akan menggunakan berbagai karunia dan talenta tersebut. Kita dapat saja menggunakan karunia dan talenta yang dianugerahkan kepada kita itu sebagaimana yang dilakukan “hamba yang jahat” (lihat Mat 24:48), yaitu untuk memuaskan diri-sendiri, atau kita dapat seperti “hamba yang setia dan bijaksana” (lihat Mat 24:45), yang bekerja sama dengan Roh Kudus dalam tugas besar membuat dunia ini siap untuk kedatangan kembali Yesus dalam kemuliaan-Nya pada akhir zaman.

Allah memanggil kita kepada suatu cara atau gaya hidup yang unik. Dunia mengagung-agungkan sukses dan kenikmatan duniawi tentunya, sehingga fokus perhatian orang-orang adalah pada sukses dan kenikmatan duniawi itu. Akan tetapi, Dia memanggil kita untuk memfokuskan perhatian kita kepada keberadaan kita sebagai “garam bumi” dan “terang dunia”. Yesus mengingatkan kita untuk tetap berjaga-jaga dan siap sedia untuk melayani, menghayati kehidupan kita seakan inilah hari terakhir, bukan karena rasa takut kita sedang tidak siap pada waktu Dia datang kembali, melainkan karena cintakasih kita dan hasrat mendalam untuk mengalami hidup kekal bersama Dia. Selama hidup-Nya di dunia Yesus banyak sekali membuat mukjizat dan tanda heran dan Ia mengatakan bahwa kita akan mampu melakukan bahkan hal-hal yang lebih besar daripada apa yang dilakukan-Nya (lihat Yoh 14:12). Yang harus kita lakukan cukup sederhana, yaitu belajar untuk bekerja sama dengan Roh Kudus dan memperkenankan-Nya membimbing kita dalam perjalanan hidup sehari-hari.

Anda mau pilih menjadi hamba yang seperti apa? Menjadi “hamba yang setia dan bijaksana” atau “hamba yang jahat”? Menjadi “hamba yang setia dan bijaksana” berarti menjadi seorang pribadi yang menyebarkan kebaikan Yesus kepada orang-orang lain. Anda telah dianugerahi kehendak bebas oleh Allah, sehingga sungguh bebas untuk memilih. Namun, ingatlah kata-kata Yesus, bahwa hamba yang didapatinya sedang melakukan pekerjaannya pada waktu Dia datang kembali, akan diberkati-Nya. Oleh karena itu, berjaga-jagalah selalu dan siap sedia. Carilah selalu kesempatan-kesempatan untuk melayani Tuhan kita!

DOA: Tuhan Yesus, aku telah mendengar seruan-Mu untuk tetap berjaga-jaga dan menjadi hamba yang baik dan bijaksana. Dengan pertolongan Roh Kudus-Mu, aku percaya bahwa aku tidak akan mengecewakan Engkau. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 24:42-51), bacalah tulisan yang berjudul “SENANTIASA BERJAGA-JAGA” (bacaan tanggal 31-8-17), dalam situs/blog blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 25-8-16 dalam situs/blog SANG SABDA] 

Cilandak, 29 Agustus 2017 [Peringatan Wafatnya S. Yohanes Pembaptis, Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PADA AKHIR ZAMAN ORANG JAHAT DIPISAHKAN DARI ORANG BENAR

PADA AKHIR ZAMAN ORANG JAHAT DIPISAHKAN DARI ORANG BENAR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVII – Kamis, 3 Agustus 2017)

 

“Demikianlah pula hal Kerajaan Surga itu seumpama jala yang ditebarkan di laut lalu mengumpulkan berbagai jenis ikan. Setelah penuh, jala itu diseret orang ke pantai, lalu duduklah mereka dan mengumpulkan ikan yang baik ke dalam tempayan dan ikan yang tidak baik mereka buang. Demikianlah juga pada akhir zaman: Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar, lalu mencampakkan orang jahat ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.

Mengertikan kamu semuanya itu?” Mereka menjawab, “Ya, kami mengerti.” Lalu berkatalah Yesus kepada mereka, “Karena itu, setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran tentang Kerajaan Surga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya.”

Setelah Yesus selesai menceritakan perumpamaan-perumpamaan itu, Ia pun pergi dari situ. (Mat 13:47-53) 

Bacaan Pertama: Kel 40:16-21,34-38 atau Rm 8:1-4; Mazmur Tanggapan: Mzm 84:3-6,8,11

Apa kiranya yang akan kita rasakan pada saat ajal kita tiba? Apakah kita dibebani dengan rasa takut tak terhingga berkaitan dengan apa yang akan terjadi dengan diri kita? Atau akankah kita penuh dengan antisipasi pada pemikiran bahwa sebentar lagi kita bertemu dengan Tuhan secara face to face, muka ketemu muka? Nah, jawaban kita akan banyak mengungkapkan status atau kondisi iman kita. Tanpa iman yang kuat pada kasih Allah dan kerahiman-Nya, kita dapat menjadi takut. Kita dapat merasa takut tidak ada apa-apa lagi setelah kematian kita, atau lebih buruk lagi …… akan terjadi penghakiman yang keras atas kehidupan kita.

Yesus mengakhiri rangkaian pengajaran yang terdiri dari tujuh perumpamaan dengan kalimat tentang “akhir zaman” (Mat 13:49-50). Kata-kata Yesus tidak meninggalkan rasa ragu sedikit pun bahwa akan ada pengadilan terakhir kelak, ketika Dia datang kembali dalam kemuliaan. “Katekismus Gereja Katolik” (KGK) mengatakan, bahwa “pengadilan terakhir akan membuka sampai ke akibat-akibat yang paling jauh, kebaikan apa yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh setiap orang selama hidupnya di dunia ini” (KGK, 1039). Walaupun terdengar menakutkan, kita harus ingat juga bahwa “pengadilan terakhir akan membuktikan bahwa keadilan Allah akan menang atas segala ketidakadilan yang dilakukan oleh makhluk ciptaan-Nya, dan bahwa cintakasih-Nya lebih besar daripada kematian” (KGK, 1040).

Kematian dan penghakiman adalah topik-topik yang biasanya dihindari oleh sebagian besar orang. Namun kita pun kiranya memahami bahwa dua hal tersebut akan terjadi atas diri kita masing-masing. Jadi, kembali di sini muncul masalah pilihan. Life is a choice, hidup adalah pilihan! Kita dapat menghayati suatu kehidupan yang mempersiapkan tujuan kekal kita, atau kita dapat memperkenankan tuntutan-tuntutan sehari-hari kehidupan kita menjadi pusat perhatian kita sehingga dengan demikian mengaburkan masa depan kita. Pengadilan/penghakiman terakhir pada hakikatnya adalah suatu panggilan untuk melakukan pertobatan. Allah ingin agar kita termasuk golongan orang-orang benar, dan untuk itu Dia memberikan kepada kita segala kesempatan/peluang untuk datang kepada-Nya dalam doa dan pertobatan. Ia mengutus Putera-Nya yang tunggal untuk mati di kayu salib bagi kita sehingga kita dapat menikmati kehidupan kekal-abadi.

Apabila kita telah mengalami kehadiran Allah dalam kehidupan kita di dunia dan kita sungguh telah bertobat dari dosa-dosa kita, maka kita dapat percaya bahwa kerahiman atau belas-kasih Allah akan membawa kita ke dalam kehadiran-Nya yang abadi di surga. Selagi kita mencari Yesus dalam doa, Dia akan memberikan kepada kita suatu perspektif ilahi dan menolong kita untuk memusatkan pandangan kita pada akhir zaman, pada saat mana kita akan dipersatukan dengan diri-Nya untuk selama-lamanya. Oleh karena itu, marilah kita mohon kepada Tuhan untuk meningkatkan iman kita agar pada saat kematian kita, kita akan sungguh menyadari tanpa ragu sedikit pun, bahwa Tuhan Yesus sedang menanti-nanti untuk menyambut kita.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah jalan, kebenaran dan hidup. Usirlah rasa takut kami akan kematian dan penghakiman/pengadilan terakhir. Kami menyadari bahwa Engkau adalah Tuhan Allah yang penuh kasih dan kami sungguh rindu untuk memandang-Mu muka ketemu muka. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:47-53), bacalah tulisan yang berjudul  “PEMISAHAN PADA AKHIR ZAMAN” (bacaan tanggal 3-8-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 28-7-16 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak,  1 Agustus 2017 [Peringatan S. Alfonsus Maria de Liguori, Uskup Pujangga Gereja]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MEMPERSIAPKAN HATI UMAT ALLAH AKAN KEDATANGAN SANG MESIAS

MEMPERSIAPKAN HATI UMAT ALLAH AKAN KEDATANGAN SANG MESIAS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU ADVEN II (Th. A), 4 Desember 2016)

john-baptist-lds-art-parson-39541-printPada waktu itu tampillah Yohanes Pembaptis di padang gurun Yudea dan memberitakan, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” Sesungguhnya dialah yang dimaksudkan Nabi Yesaya ketika ia berkata, “Ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya.”

Yohanes memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makannya belalang dan madu hutan. Lalu datanglah kepadanya penduduk dari Yerusalem, dari seluruh Yudea dan seluruh daerah sekitar Yordan. Sambil mengaku dosanya mereka dibaptis oleh Yohanes di sungai Yordan.

Tetapi waktu ia melihat banyak orang Farisi dan orang Saduki datang untuk dibaptis, berkatalah ia kepada mereka, “Hai kamu keturunan ular berbisa. Siapakah yang mengatakan kepada kamu bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang? Jadi, hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan. Janganlah mengira bahwa kamu dapat berkata dalam hatimu: Abraham adalah bapak leluhur kami! Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini! Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian setelah aku lebih berkuasa daripada aku dan aku tidak layak membawa kasut-Nya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api. Alat penampi sudah di tangan-Nya. Ia akan membersihkan tempat pengirikan-Nya dan mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung, tetapi sekam itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan.” (Mat 3:1-12)

Bacaan Pertama: Yes 11:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 72:1-2,7-8,12-13,17; Bacaan Kedua: Rm 15:4-9 

Santo Yohanes Pembaptis adalah seorang nabi di Israel yang tersohor, nomor dua saja sesudah Elias, seorang nabi besar yang hidup sembilan abad sebelumnya. Apakah yang menyebabkan begitu banyak orang datang kepada seorang nabi yang suka menunjuk-nunjuk kesalahan orang dan mengenakan baju dari kulit binatang? Jawabnya: Panggilannya agar supaya orang-orang bertobat! Ketika Yohanes Pembaptis mengatakan kepada para pendengarnya supaya meninggalkan hidup dosa, dia juga menawarkan kepada mereka pengharapan segar dengan janji-janji pemulihan. Allah ingin melakukan sesuatu yang lebih daripada sekadar mengampuni dosa-dosa kita-manusia. Allah ingin membuka pintu gerbang surga dan mencurahkan orang-orang dengan Roh Kudus-Nya. Oleh Roh ini, Allah ingin membawa orang-orang ke suatu tingkat baru penyembuhan, rekonsiliasi, dan damai-sejahtera.

Tugas Yohanes Pembaptis adalah untuk mempersiapkan hati umat Allah akan kedatangan sang Mesias. Dengan kata-kata yang keras dan seruan agar orang-orang bertobat, dia mendorong para pendengarnya untuk menyambut sang Mesias dengan iman dan ketaatan.

stjohnMasa Adven dimaksudkan untuk menjadi suatu masa bagi kita guna mendengar kata-kata Yohanes Pembaptis dan untuk mempersiapkan hati kita sendiri bagi Yesus juga. Setiap hari Yesus mengundang kita untuk semakin dekat dengan diri-Nya, sehingga dengan demikian kita dapat mengembangkan suatu persahabatan yang akrab dengan Dia dan menjadi kudus, seperti diri-Nya adalah kudus. Nah, apakah yang dapat menghalang-halangi keakraban ini? Jawabannya: Dosa, rasa takut, sikap masa bodoh terhadap Allah, ketiadaan bela-rasa terhadap orang-orang lain – inilah beberapa penghalang yang lebih besar. Itulah sebabnya mengapa seruan Yohanes Pembaptis agar orang-orang bertobat menjadi begitu penting.

Allah ingin membebas-merdekakan kita dari segala sesuatu yang menghalangi kita dari tindakan berupa penyerahan diri kita secara total kepada kasih-Nya dan kehendak-Nya. Melalui pertobatan, Ia ingin memimpin kita ke luar dari rasa bersalah kita, alienasi, dan rasa malu kita, dan masuk ke dalam sukacita dan kemerdekaan. Apabila kita menyesali dosa-dosa kita dan bertobat, maka pintu gerbang surga akan dibuka bagi kita, dan relasi kita dengan Yesus dipulihkan dan diperdalam. Dalam pertobatan, kita membuang selubung kebingungan dan desepsi yang telah dirajut oleh dosa dalam hati kita dan kita pun dimampukan untuk melihat keindahan kebenaran dan kebaikan Allah. Hati dan pikiran kita diangkat ke surga, dan kita dapat melihat sekilas lintas Kerajaan Allah. Visi itu memenuhi hati kita dengan pengharapan.

Pada masa Adven ini, marilah kita ambil sedikit waktu untuk memeriksa hidup kita dalam terang kebenaran Allah dan kasih-Nya. Janganlah kita menghindari Sakramen Rekonsiliasi, melainkan rangkullah sakramen itu demi segala rahmat dan kuat-kuasa yang ditawarkan sakramen itu kepada kita.

DOA: Bapa surgawi, belas kasih-Mu adalah tanpa batas. Kami menyembah dan memuji Engkau, karena Engkau mengutus Putera-Mu yang tunggal, Tuhan Yesus Kristus, untuk menebus kami dari semua dosa kami dan juga kematian. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil  hari ini (Mat 3:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “KEDATANGAN SANG MESIAS-HAKIM” (bacaan tanggal 4-12-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 8-12-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 2 Desember 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

NASIHAT SUPAYA BERJAGA-JAGA

NASIHAT SUPAYA BERJAGA-JAGA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU ADVEN I [TAHUN A] – 27 November 2016)

 54

“Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia. Sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah itu makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai pada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, dan mereka tidak tahu apa-apa, sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua, demikian pulalah halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia. Pada waktu itu kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan; kalau ada dua orang perempuan sedang memutar batu giling, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang. 

Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Karena itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.” (Mat 24:37-44) 

Bacaan Pertama Yes 2:1-5; Mazmur Tanggapan: Mzm 122:1-9; Bacaan Kedua : Rm 13:11-14 

Kata-kata Yesus dapat terdengar tidak menyenangkan: air bah datang dan melenyapkan orang-orang; orang-orang yang sedang melakukan pekerjaan sehari-hari ketika secara tiba-tiba yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan; seorang pencuri datang untuk membongkar rumah. Namun pesan Yesus sebenarnya untuk mendorong dan menyemangati orang-orang yang mendengar, malah cukup exciting. Kita sebenarnya berdiri di ambang batas hidup baru yang sedang mendatang. Suatu rahmat yang indah sedang menantikan kita. Oleh karena itu, bersiaplah!

Walaupun Yesus telah menjanjikan hidup baru manakala Dia datang kembali, pada akhir zaman banyak orang yang hidup tanpa pengharapan, seolah-olah tidak ada sesuatu yang baru akan terjadi. Akan tetapi,  orang-orang lain yang merindukan kedatangan-Nya, akan mempersiapkan hati mereka. Inilah yang terjadi juga 2.000 tahun lalu, Hanya sedikit orang yang menantikan kemunculan sang Mesias. Namun mereka yang sungguh menanti-nantikan kedatangan-Nya – Maria, Elisabet, Yusuf, Hana dan Simeon, misalnya – mampu untuk menerima Yesus ketika Dia datang dan mereka pun memperoleh ganjaran yang melampaui ekspektasi mereka sendiri.

Sebuah gelombang rahmat yang dahsyat juga menantikan Gereja pada milenium ketiga ini. Masa Adven yang dimulai pada hari ini adalah waktu yang sempurna bagi kita untuk menyiapkan diri guna menyambut rahmat yang akan dicurahkan oleh Allah pada hari Natal dan untuk rahmat berlimpah bagi kita manakala Yesus datang kembali pada akhir zaman.

Bagaimana seharusnya kita melakukan persiapan dimaksud? Kesiap-siagaan  dan sikap berjaga-jaga macam apa yang kita perlukan pada masa Adven ini? Bukan rasa siap yang tidak jelas, melainkan suatu penghayatan eksplisit dari hidup kita bagi Allah. Setiap hari, selagi  kita berdoa, membaca dan merenungkan sabda Allah dalam Kitab Suci, dan menyesali dan bertobat atas dosa-dosa kita, maka kita membuka pintu bagi rahmat-Nya. Selagi kita mengosongkan diri kita dari berbagai motif yang mementingkan diri-sendiri dan berupaya untuk memberikan cintakasih lebih daripada cintakasih yang kita sendiri terima, maka Bapa surgawi akan menyiapkan diri kita untuk menerima seluruh hidup yang telah dijanjikan-Nya kepada kita. Pada kenyataannya, dalam tindakan-tindakan ini, Bapa surgawi yang sangat menghasihi kita akan memenuhi diri kita, lebih dan lebih lagi.

DOA: Bapa surgawi, aku menyerahkan hidupku kepada-Mu. Bukalah hatiku bagi rahmat-Mu, sehingga dengan demikian aku akan siap menerima segala sesuatu yang Yesus ingin berikan kepada para murid-Nya pada hari Natal tahun ini. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 24:37-44), bacalah tulisan yang berjudul “HENDAKLAH KAMU JUGA SIAP SEDIA” (bacaan tanggal 27-11-16), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 1-12-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 24 November 2016 [Peringatan S. Andreas Dung Lac, Imam dkk. Martir-martir Vietnam) 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS