Posts tagged ‘AKHIR ZAMAN’

PESAN YESUS PADA AKHIR TAHUN GEREJA

PESAN YESUS PADA AKHIR TAHUN GEREJA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV – Sabtu, 2 Desember 2017)

OSCCap.: Peringatan B. Maria Angela Astorch, Biarawati Ordo Klara Kapusin 

“Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan dibebani oleh pesta pora dan kemabukan serta kekhawatiran hidup sehari-hari dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat. Sebab hari itu akan menimpa semua penduduk bumi ini. Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.” (Luk 21:34-36) 

Bacaan Pertama: Dan 7:15-27; Mazmur Tanggapan: Dan 3:82-87 

Kemungkinan  bahwa kita akan berdiri di hadapan Kristus pada pengadilan terakhir janganlah sampai menakutkan kita. Yesus minta kepada kita untuk berjaga-jaga, agar kita melakukan pemeriksaan atas kehidupan kita secara teratur dan selalu siap untuk berjumpa dengan-Nya, muka ketemu muka …  face to face. Praktek pemeriksaan batin dapat menolong kita memperkuat kehidupan spiritual kita. Yesus rindu untuk mencurahkan kita dengan berkat-berkat-Nya, namun Ia menunggu undangan kita untuk masuk ke dalam hati kita (lihat Why 3:20), suatu keputusan dari kehendak bebas kita.  Yesus tidak pernah akan merasa letih-lesu dalam menunggu undangan dari kita.

Orang-orang Kristiani tahu betapa mudahnya untuk terjebak ke dalam rasa puas diri dengan tuntutan-tuntutan rutinitas sehari-hari atas diri kita. Tugas dan tanggung jawab harian kelihatannya lebih kita utamakan daripada cintakasih kepada Yesus. Kita lupa untuk berjaga-jaga, dengan demikian kita menjadi rentan secara spiritual. Niat-niat baik kita untuk membuat diri kita siaga selalu melalui doa-doa, perayaan liturgi dan studi Alkitab menjadi “rusak” oleh kesibukan-kesibukan kita sendiri. Kitab Suci berbicara dengan tajam-tegas kepada kita: “Yang jatuh dalam semak duri ialah orang-orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekhawatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang” (Luk 8:14). Kalau diperiksa, harap saja buah kita kedapatan sudah matang. Kitab Suci dengan tegas menyatakan bahwa pada suatu hari kita akan berjumpa dengan Kristus. Namun pertanyaannya adalah: “Akankah kita siap untuk berdiri di hadapan Anak Manusia?”

Hari ini adalah penutupan tahun Gereja. Oleh karena itu, hari ini merupakan kesempatan bagi kita untuk melakukan suatu “rekoleksi atau retret pribadi” secara kecil-kecilan, misalnya pergi mengunjungi gereja kita dan berdoa di situ secara khusus, atau “mengurung” diri kita secara khusus di rumah untuk melakukan semacam pemeriksaan batin. Dalam suasana doa kita dapat melakukan review atas “kinerja rohani” kita di tahun lalu. Dari review itu kita dapat menilai apakah kita bertumbuh semakin dekat kepada Tuhan Yesus? Berjalan di tempat? Ataukah semakin jauh dari-Nya? Tujuan dari “retret kecil” itu bukanlah untuk membesarkan hati atau menciutkan hati kita, bukan pula untuk membuat kita dihantui dengan rasa bersalah atas keadaan hidup kita, melainkan untuk membuat evaluasi atas masa lalu kita agar dapat merencanakan masa depan kita dengan lebih baik. Dalam kegiatan seperti ini kita mencoba untuk menilai posisi kita di hadapan Allah. Besok kita akan mulai dengan suatu tahun liturgi baru, suatu saat untuk memulai suatu awal yang segar.

DOA: Tuhan Yesus, kami menyerahkan segalanya yang menjauhkan kami dari hubungan akrab dengan-Mu. Ajarlah kami untuk selalu siap berjaga-jaga. Kami mempersembahkan hati kami untuk menjadi tempat kediaman-Mu. Tolonglah kami agar dalam kehidupan ini, kami mau dan mampu menyiapkan diri untuk saat pertemuan kami dengan-Mu kelak, secara muka ketemu muka. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:34-36), bacalah tulisan berjudul “NASIHAT YESUS UNTUK SENANTIASA BERJAGA-JAGA SAMBIL BERDOA” (bacaan tanggal 2-12-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 26-11-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 29 November 2017 [Pesta Semua Orang Kudus Keluarga Besar Fransiskan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

LANGIT DAN BUMI AKAN BERLALU, TETAPI PERKATAAN-KU TIDAK AKAN BERLALU

LANGIT DAN BUMI AKAN BERLALU, TETAPI PERKATAAN-KU TIDAK AKAN BERLALU

(Bacaan Injil Misa,  Peringatan B. Dionisius & Redemptus, Biarawan Martir Indonesia – Jumat, 1 Desember 2017)


Lalu Yesus mengatrakan perumpamaan ini kepada mereka, “Perhatikanlah pohon ara atau pohon apa saja. Apabila kamu melihat pohon-pohon itu sudah bertunas, kamu tahu dengan sendirinya bahwa musim panas sudah dekat. Demikian juga, jika kamu melihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Orang-orang zaman ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya terjadi. Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.” (Luk 21:29-33) 

Bacaan Pertama: Dan 7:2-14; Mazmur Tanggapan: Dan 3:75-81

Semakin dekat saatnya bagi Yesus untuk mempersembahkan hidup-Nya demi keselamatan dunia. Dia hampir menyelesaikan kerja pelayanan-Nya, kematian dan kebangkitan-Nya sudah di depan mata dan hal ini menandakan “peresmian” (inaugurasi) Kerajaan Allah serta kelahiran Gereja. Meskipun menghadapi penolakan, penganiayaan dan oposisi,  Yesus memproklamasikan dengan penuh keyakinan bahwa keselamatan kita sudah dekat. Sementara kita menantikan Yesus datang kembali, kita – sebagai Gereja – harus bertumbuh dalam kedewasaan  dalam kuasa Roh Kudus.

Yesus ingin agar kita memiliki keyakinan penuh, selagi menantikan kedatangan-Nya untuk kedua kalinya. Kita akan mengalami oposisi dan penganiayaan, akan tetapi seperti Yesus telah berjaya, kita pun akan berjaya, kalau kita percaya pada firman-Nya. Kita tidak perlu merasa gundah atau ciut-hati di kala kita mengalami kesengsaraan atau kemalangan. Sebaliknya, kalau kesulitan-kesulitan bertumbuh dalam intensitas, maka semua itu harus dilihat sebagai indikasi-indikasi positif bahwa perwujudan final dan penuh kemuliaan dari keselamatan kita sudah semakin dekat. Yesus mengumpamakan semua itu sebagai pohon ara yang kalau sudah bertunas menjamin bahwa musim panas sudah dekat.

Setiap hari kita menghadapi pilihan-pilihan. Kita dapat mempertimbangkan apa yang telah dilakukan Yesus untuk menebus dan menyembuhkan kita. Kita menaruh kepercayaan pada firman-Nya untuk manifestasi kemuliaan-Nya secara penuh pada saat kedatangan-Nya untuk kedua kali. Atau, kita dapat melihat penderitaan kita di dunia dan dengan cepat menjadi takut dan khawatir. Apabila kita datang menghadap Tuhan dalam doa dan memperkenankan firman-Nya yang memberi pengharapan dan dorongan untuk menyentuh hati kita dan mengarahkan pemikiran-pemikiran kita, maka kita akan diangkat dan dipenuhi dengan sukacita dan damai-sejahtera, dan memampukan kita untuk melihat lebih daripada sekadar keadaan kita sendiri. Firman-Nya menggerakkan batin kita dan kita dapat percaya bahwa dalam Dia semua hal adalah mungkin.

Pada zaman modern ini banyak orang Kristiani masih menderita di bawah rezim-rezim atheis dan totaliter. Terkadang situasi sedemikian memberi kesan bahwa kuasa kegelapan telah menang dan berjaya. Namun munculnya kembali Kristianitas di Eropa Timur misalnya, membuktikan bahwa masih berlakunya kata-kata Yesus bahwa Dia akan melindungi Gereja-Nya. Pada zaman ini orang-orang Kristiani adalah saksi-saksi hidup atas ucapan Yesus ini: “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu” (Luk 21:33).

DOA: Tuhan Yesus, ajarlah kami kuasa dan kebenaran firman-Mu. Biarlah firman-Mu menjadi batu karang dan benteng di tengah-tengah keributan kehidupan. Biarlah firman-Mu menjadi pelita bagi langkah kami, sehingga kami dapat menantikan kedatangan-Mu dengan pengharapan penuh sukacita. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:29-33), bacalah tulisan yang berjudul “PENTINGNYA MEMBACA TANDA-TANDA ZAMAN” (bacaan tanggal 1-12-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan denga judul sama untuk bacaan tanggal 25-11-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 29 November 2017 [Pesta Semua Orang Kudus Tarekat keluarga besar Fransiskan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

TETAP BERTAHAN SUPAYA MEMPEROLEH KEHIDUPAN

TETAP BERTAHAN SUPAYA MEMPEROLEH KEHIDUPAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV – Rabu, 29 November 2017] 

“Tetapi sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku. Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi. Sebab itu tetapkanlah di dalam hatimu, supaya kamu jangan memikirkan lebih dahulu pembelaanmu. Sebab Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawanmu. Kamu akan diserahkan juga oleh orang tuamu, saudara-saudaramu, kaum keluargamu dan sahabat-sahabatmu dan beberapa orang di antara kamu akan dibunuh dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku. Tetapi tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang. Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh kehidupan.” (Luk 21:12-19) 

Bacaan Pertama: Dan 5:1-6,13-14,16-17,23-28 ; Mazmur Tanggapan: Dan 3:52-67

“Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh kehidupan.” (Luk 21:19)

Petikan bacaan Injil di atas adalah sebuah nasihat Yesus yang amat baik bagi kita semua. Kita semua kiranya telah mengalami situasi di mana kesabaran kita sungguh diuji. Misalnya, ketika menyetir mobil di pagi hari menuju tempat kerja, kita dipotong/disalib oleh seorang pengendara sepeda motor sehingga nyaris terjadi tabrakan. Contoh lainnya adalah ketika tingkah laku salah seorang anggota keluarga kita menyebabkan seluruh anggota keluarga terlambat menghadiri Misa Kudus pada suatu Minggu pagi. Tanpa mereka sadari, begitu sering anak-anak sungguh menguji kesabaran para orangtua mereka.

Satu area lagi yang membuat kesabaran kita diuji adalah kelemahan-kelemahan dan kegagalan-kegagalan kita sendiri. Kita kelihatan tidak pernah dapat mengatakan hal yang benar pada saat yang tepat, dlsb. Lagi dan lagi kita membuat resolusi untuk bersikap lebih baik dan santun terhadap seseorang, namun lagi dan lagi kita harus mengakui kegagalan kita. Dosa-dosa yang sama, lagi dan lagi.

Satu tes yang cukup berat atas kesabaran kita – tes yang tidak dapat kita kontrol – adalah penyakit. Bagaimana kita menerima suatu pencobaan sedemikian dari Allah atau tragedi-tragedi lainnya, kematian, berbagai kekecewaan? Kita telah bekerja keras tanpa menghasilkan buah apa pun dari kerja kita. Kita menanam benih-benih, namun curah hujan tidak memadai, bahkan dapat terlalu banyak. Kita bekerja keras di perusahaan dan berharap akan memperoleh promosi jabatan, namun karena sikon yang dihadapi perusahaan, kita harus di-PHK. Semua ini adalah tes sesungguhnya atas kesabaran kita. Hal itu tidak merupakan dosa, namun dapat menyeret kita kepada kesalahan-kesalahan seperti kemarahan, kepahitan, menggerutu terhadap Allah, dslb.

Kita juga harus mengingat bahwa menjadi sabar berarti lebih daripada sekadar menanggung sesuatu beban dan bersikap pasif tentang hal itu. Kesabaran adalah kasih (bdk. 1Kor 13:4), dan kasih menuntut tindakan. Hal ini berarti menyapa orang-orang lain dengan “Selamat Pagi” atau “Aku sungguh senang berjumpa lagi dengan kamu” yang keluar dari hati yang tulus, walaupun kita sedang merasa kecewa terhadap orang yang kita sapa karena sesuatu hal.

Marilah kita bayangkan betapa banyaknya konflik dalam sebuah keluarga dapat diselesaikan apabila terdapat kesabaran penuh kasih. Betapa orang-orang di tempat kerja dapat lebih merasa bahagia apabila mereka dapat bekerja bersama dengan sikap sabar satu terhadap lainnya. Betapa lebih bersatu lagi keluarga-keluarga, paroki-paroki dan komunitas-komunitas apabila terdapat keutamaan yang dinamakan kesabaran itu. Tes selanjutnya atas kesabaran kita sudah di ambang pintu. Sudah siapkah kita untuk menghadapinya?

DOA: Tuhan Yesus, Engkau mengingatkan kami bahwa kami harus senantiasa sabar dan penuh ketekunan dalam menghadapi berbagai pencobaan, di mana kesabaran kami diuji. Kami tidak merasa khawatir, ya Tuhan, karena kami percaya bahwa hidup kami berada sepenuhnya di tangan-tangan kasih-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:12-19), bacalah tulisan yang berjudul “PANGGILAN KEPADA KEKUDUSAN” (bacaan tanggal 29-11-17) dalam situs/bloga PAX ET BONUM https://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 23-11-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 27 November 2017 [Pesta S. Fransiskus-Antonius Pasani, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

TANGGAPAN KITA TERHADAP BERBAGAI NUBUATAN

TANGGAPAN KITA TERHADAP BERBAGAI NUBUATAN TENTANG AKHIR ZAMAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV – Selasa, 28 November 2017)

Keluarga OFM/OFMConv.: Peringatan S. Yakobus dr Marka, Imam

Ketika beberapa orang berbicara tentang Bait Allah, betapa bangunan itu dihiasi dengan batu yang indah-indah dan dengan berbagai-bagai barang persembahan, berkatalah Yesus, “Apa yang kamu lihat di situ – akan datang harinya ketika tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan.”

Lalu mereka bertanya kepada Yesus, “Guru, kapan itu akan terjadi? Apa tandanya, kalau itu akan terjadi?” Jawab-Nya, “Waspadalah, supaya kamu jangan disesatkan. Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: ‘Akulah Dia,’ dan: ‘Saatnya sudah dekat.’ Janganlah kamu mengikuti mereka. Apabila kamu mendengar tentang peperangan dan pemberontakan, janganlah kamu takut. Sebab semuanya itu harus terjadi dahulu, tetapi itu tidak berarti kesudahannya akan datang segera.”

Ia berkata kepada mereka, “Bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan, dan akan terjadi gempa bumi yang dahsyat dan di berbagai tempat akan ada penyakit sampar dan kelaparan, dan akan terjadi juga hal-hal yang menakutkan dan tanda-tanda yang dahsyat dari langit. (Luk 21:5-11)

Bacaan Pertama: Dan 2:31-45; Mazmur Tanggapan: Dan 3:57-61 

“Bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan.(Luk 21:5-10)

Bagaimana kita memberi tanggapan terhadap peringatan-peringatan profetis tentang akhir zaman? Apakah peringatan-peringatan itu menimbulkan rasa takut, kecemasan, atau pengharapan dalam diri kita? Orang-orang dalam setiap zaman sedikit-banyak memiliki semacam perasaan yang terkadang “mengganggu”, apakah achir zaman akan terjadi pada masa hidupnya, khususnya pada saat-saat mereka mengalami peristiwa seperti bencana alam yang sangat mengerikan.

Wabah “Maut Hitam” yang telah membunuh sepertiga penduduk benua Eropa di abad ke-14 dan gempa bumi dahsyat di California yang terjadi di awal abad ke-20 adalah beberapa contoh. Seorang suster Amerika turunan Vietnam yang pada tahun 2011 menginap di rumah kami menceritakan betapa dahsyat bencana yang dialaminya di New Orleans ketika badai Katharina mengamuk di sana. Rumah-rumah dalam sekejab saja dihanyutkan dst. Amerika Serikat yang sangat canggih dalam teknologi dan manajemen pencegahan dan penanggulangan bencana alam seakan tak berdaya menghadapi dahsyatnya alam.

Berbagai peperangan dan skala besar maupun kecil masih berlangsung sampai hari ini.

Saudaraku dan kawan sekamarku, seorang Fransiskan sekular dari Rwandha, pada waktu kapitel umum OFS di Brazil pada tahun 2011, bercerita bagaimana saling bunuh antara suku Hutu dan Tutsi berlangsung beberapa tahun silam di negerinya, dan ia adalah “basteran” antara ayah Hutu dan ibu Tutsi. Orang-orang seperti dia harus lari ke sana ke mari bersama keluarganya karena tidak diterima oleh dua suku yang sedang bertarung itu. Genosida yang terjadi di negara kecil itu memakan korban lebih dari satu juta jiwa orang. Dan menurut dia, ceritanya belum selesai sampai pada malam hari kami berdiskusi di Brazil itu. Hal-hal seperti ini menambah rasa takut dan kekhawatiran kita, apalagi ditambah oleh adanya berbagai ancaman terorisme yang berlatar belakang agama dan ancaman perang nuklir yang menghancurkan.

Sebagai umat Kristiani, kita tidak boleh sampai membiarkan rasa takut menguasai diri kita. Rasa takut dan kekhawatiran berlebihan hanya akan mengakibatkan iman mandul. Mereka yang mengenal kasih Bapa surgawi mengetahui dengan pasti bahwa Dia menginginkan semua orang diselamatkan – sehingga karena kasih-Nya itu Dia mengaruniakan Putera-Nya yang tunggal – Yesus Kristus – untuk menyelamatkan dunia (lihat Yoh 3:16). Oleh karena itu kita harus memandang segala bencana alam, bencana yang disebabkan oleh peperangan dlsb. sebagai kesempatan-kesempatan untuk membangunkan kita agar menjadi sadar, keluar dari comfort zone kita masing-masing dan turut ambil bagian dalam memenuhi kebutuhan dunia di sekeliling kita, kebutuhan akan makan-minum, kebutuhan untuk didengarkan, kebutuhan akan damai-sejahtera dalam keluarga dan lingkungan masyarakat.

Marilah kita memperkenankan “tanda-tanda zaman” mendorong kita kepada hidup pertobatan dan doa pengantaraan (syafaat) bagi orang-orang lain. “Kita harus senantiasa siap-siaga menantikan kedatangan kembali Yesus.” Apakah akhir zaman itu terjadi pada esok hari atau seribu tahun yang akan datang, disposisi hati kita selalu harus sama. Pada suatu hari, ketika Santo Fransiskus dari Assisi sedang bekerja merawat kebunnya, ada orang yang bertanya kepadanya apakah yang akan dilakukannya apabila hari akhir itu tiba. Orang kudus ini begitu yakin akan persiapan yang selama ini dikerjakannya dan dia juga sangat yakin akan kerahiman Allah. Maka, dengan sederhana dia menjawab bahwa dia akan melanjutkan pekerjaannya memotong rumput di kebunnya. Keyakinan seperti itu juga dapat menjadi keyakinan kita!

Yesus pasti akan datang kembali dalam kemuliaan-Nya. Kita memang tidak akan mengetahui kapan Ia akan datang kembali, namun kita mengetahui dari Kitab Suci bahwa pengadilan-Nya yang terakhir akan sangat keras atas orang-orang yang tidak mau bertobat dan pada saat yang sama penuh belas kasihan atas orang-orang yang telah bertobat. Melalui Ekaristi dan Sakramen Rekonsiliasi, baiklah kita memperkenankan darah Yesus membersihkan diri kita, mendoakan keluarga kita, teman-teman kita, kota tempat kita tinggal dan bahkan seluruh dunia. Kita tidak usah merasa takut! Sementara kita semakin dekat dengan Yesus – teristimewa pada masa-masa sulit – kita dapat menjadi duta-duta-Nya ke tengah dunia, memperkenalkan dan menawarkan keyakinan sama yang mengisi hati kita.

DOA: Bapa surgawi, aku menyesal, bertobat dan mohon ampun atas dosa-dosaku dan dosa-dosa orang-orang di sekelilingku. Dalam nama Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus, datangkanlah kesembuhan, bimbingan dan pengarahan bagi kehidupan kami, sehingga kami semua dapat sungguh siap-siaga dalam menyambut kedatangan-Nya kembali kelak. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:5-11), bacalah tulisan berjudul “SESUNGGUHNYA KITA TIDAK PERNAH TAHU PERIHAL KEDATANGAN HARI ISTIMEWA ITU” (bacaan untuk tanggal 28-11-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017.  

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011)

Cilandak, 27 November 2017 [Peringatan S. Fransiskus Antonius Pasani, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KEDATANGAN KEMBALI YESUS KRISTUS PADA AKHIR ZAMAN

KEDATANGAN KEMBALI YESUS KRISTUS PADA AKHIR ZAMAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Elisabet dr Hungaria, yang bersama S. Ludovikus IX adalah Orang-orang Kudus Pelindung OFS – Jumat, 17 November 2017)

 

Sama seperti yang terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia: Mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai pada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua. Demikian juga seperti yang terjadi di zaman Lot: mereka makan dan minum, mereka berjual beli, mereka menanam dan membangun. Tetapi pada hari Lot pergi keluar dari Sodom turunlah hujan api dan hujan belerang dari langit dan membinasakan mereka semua. Demikianlah halnya kelak pada hari Anak Manusia dinyatakan. Siapa saja yang pada hari itu sedang berada di atas rumah dan barang-barangnya ada di dalam rumah, janganlah ia turun untuk mengambilnya, dan demikian juga orang yang sedang di ladang, janganlah ia kembali. Ingatlah akan istri Lot! Siapa saja yang berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan siapa saja yang kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya. Aku berkata kepadamu: Pada malam itu ada dua orang di atas tempat tidur, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Ada dua orang perempuan bersama-sama menggiling gandum, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.” (Kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.) Kata mereka kepada Yesus, “Di mana, Tuhan?” Kata-Nya kepada mereka, “Di mana ada mayat, di situ berkerumun burung-burung nasar.” (Luk 17:26-37) 

Bacaan Pertama: Keb 13:1-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:2-5 

Hampir semua orang merasa tidak enak kalau merenungkan masalah akhir zaman. Namun demikian Yesus membahas hal-ikhwal akhir zaman ini dengan para murid-Nya, dan Gereja mengundang kita semua untuk merenungkan janji-janji-Nya tentang apa yang akan datang kelak. Yesus membuat jelas kepada para murid-Nya bahwa semua pengikut-Nya harus percaya akan kedatangan-Nya untuk kedua kali kelak.

Yesus mengatakan bahwa akhir sejarah umat manusia akan menyangkut suatu “perpisahan”. Ia bersabda, “Aku berkata kepadamu: Pada malam itu ada dua orang di atas satu tempat tidur, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Ada dua orang perempuan bersama-sama menggiling  gandum, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan” (Luk 17:34-35). Kebudayaan modern cenderung untuk mengabaikan “peringatan akan suatu penghakiman”. Banyak orang merasa bahwa Allah yang penuh kasih tidak akan menghukum siapa pun. Namun jelaslah bahwa Yesus mengajarkan bahwa Bapa surgawi telah memberikan kepada-Nya wewenang penuh untuk menghakimi dunia. Dalam kesempatan lain Ia bersabda: “Bapa tidak menghakimi siapa pun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak, supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Siapa saja yang tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa yang mengutus Dia” (Yoh 5:23-24). Akan tetapi hanya Allah sajalah yang menentukan kapan “perpisahan” itu akan terjadi. Situasi umat manusia zaman sekarang tidak ubahnya dengan zaman Nuh (lihat Luk 17:26-27). Manusia akan melanjutkan rutinitas kehidupan mereka sampai kedatangan waktu yang ditentukan Allah itu.

Kita dapat dengan mudah menjadi takut akan hal-hal yang akan terjadi pada hari-hari terakhir bumi ini. Bukanlah maksud Yesus untuk menakut-nakuti kita, melainkan untuk menyiapkan kita akan kedatangan-Nya untuk kedua kalinya kelak. Yesus mengingatkan para murid-Nya: “Ingatlah akan istri Lot!” (Luk 17:32). Kita ketahui bahwa istri Lot menolak pesan dari malaikat: ia menoleh ke belakang, artinya dia mau tetap berpaut pada masa lampaunya; dan dia menjadi tiang garam (lihat Kej 19:26).  Yesus bersabda: “Siapa  saja yang berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan siapa saja yang kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya” (Luk 17:33). Roh Kudus akan mengajarkan kepada kita tentang apa artinya melepaskan diri kita dari keterlekatan pada kehidupan dunia dan mencari dulu Kerajaan Allah (lihat Mat 6:33).

Yesus tidak pernah menyembunyikan apa pun dari para murid-Nya. Bagi mereka yang menolak tawaran Allah untuk hidup dalam Kristus, akan ada penderitaan. Namun demikian, kabar baiknya adalah bahwa bila Yesus datang kembali kelak, Ia akan membawa serta kita kepada suatu hidup penuh kemuliaan. Hidup mulia seperti itu dapat dimulai sekarang, melalui partisipasi kita dalam sakramen-sakramen (teristimewa Ekaristi); kehidupan doa kita; kegiatan membaca serta merenungkan firman Allah dalam Kitab Suci; dan berbagai kegiatan pelayanan-penuh-kasih kita kepada orang-orang lain (termasuk berbagai bentuk  evangelisasi, tentunya). Dengan membuat langkah-langkah sedemikian, kita sebenarnya menyiapkan hati kita untuk kedatangan hari mahapenting itu di mana Allah akan memanggil kita untuk datang menghadap-Nya dan hidup bersama-Nya. Bagi orang-orang yang mengenal Yesus dan menjalani hidup Injili seturut jejak-Nya secara pribadi dan intim, maka kedatangan-Nya kembali akan merupakan suatu peristiwa yang indah-menakjubkan dan penuh sukacita. Kita akan begitu terserap ke dalam kasih-Nya dan tertangkap oleh pemenuhan harapan-harapan dan impian-impian kita, sehingga tentunya akan meninggalkan segalanya yang ada pada kita di belakang kita , dan kita pun akan berlari-lari untuk menyambut kedatangan-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, cepatlah datang. Aku sangat merindukan kedatangan-Mu. Aku tidak dapat menunggu untuk dapat bersama dengan-Mu, dan akhirnya memandang-Mu ‘muka ketemu muka’.  Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 17:26-37), bacalah tulisan yang berjudul “KEDATANGAN KEMBALI YESUS KE DUNIA PADA AKHIR ZAMAN” (bacaan tanggal 17-11-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-11-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 13 November 2017 [Peringatan S. Didakus dr Alkala, Biarawan OFM] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KERAJAAN ALLAH BERARTI ALLAH MERAJA

KERAJAAN ALLAH BERARTI ALLAH MERAJA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXII – Kamis, 16 November 2017)

 

Ketika ditanya oleh orang-orang Farisi kapan Kerajaan Allah akan datang, Yesus menjawab, “Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tangan lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu.”

Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Akan datang waktunya kamu ingin melihat satu dari hari-hari Anak Manusia itu dan kamu tidak akan melihatnya. Orang akan berkata kepadamu: Lihat, ia ada di sana; lihat, ia ada di sini! Jangan kamu pergi ke situ, jangan kamu ikut. Sebab sama seperti kilat memancar dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain, demikian pulalah kelak halnya Anak Manusia pada hari kedatangan-Nya. Tetapi Ia harus menanggung banyak penderitaan dahulu dan ditolak oleh orang-orang zaman ini. (Luk 17:20-25) 

Bacaan Pertama: Keb 7:22-8:1; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:89-90,130,135,175 

Ketika orang-orang Farisi bertanya kepada Yesus tentang waktu kedatangan Kerajaan Allah, sebenarnya mereka menanyakan kapan Mesias datang untuk melakukan restorasi atas takhta Daud. Mereka mengharapkan seorang Mesias-politik yang akan mendepak-keluar penjajah Roma, kemudian mendirikan kembali dinasti Daud. Mereka tidak mampu menangkap makna sesungguhnya dari berbagai mukjizat dan perumpamaan Yesus sebagai “tanda-tanda yang jelas bahwa kerajaan Allah di atas muka bumi telah dimulai”, padahal bukti bahwa kerajaan Allah telah masuk ke dalam dunia sudah ada di sekeliling mereka. Orang-orang Farisi luput melihat tanda-tanda itu karena terlalu sibuk dengan masalah dunia.

Apakah yang dimaksudkan oleh Yesus dengan “Kerajaan Allah”? Di mana lokasinya? Bagaimana kerajaan itu diorganisasikan? Kerajaan Allah berarti “Allah meraja”. Bagi Yesus, Kerajaan Allah adalah kehadiran Allah di tengah-tengah umat-Nya. Dalam artian ini Kerajaan Allah merupakan suatu kerajaan spiritual, bukan kerajaan dalam artian duniawi (lihat Yoh 18:36; Luk 11:20). Keberadaan Kerajaan Allah bersifat batiniah di dalam hati orang-orang yang telah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, dan yang di dieja-wantahkan di dunia oleh mereka dalam kata-kata dan perbuatan-perbuatan sebagai umat beriman. Melalui Yesus, Kerajaan Allah tersedia bagi setiap dan masing-masing kita. Allah beserta kita! Dengan demikian kita tidak usah merasa takut terhadap apa saja yang menghalangi jalan kita. Kalau hati kita berlabuh dan kuat tertambat pada kasih Yesus dan kuasa-Nya, maka kita pun akan mengalami damai-sejahtera yang sejati. Damai-sejahtera itu dapat kita peroleh manakala kita berpaling kepada Allah dalam sakramen-sakramen, dalam doa-doa, dalam Kitab Suci, dan dalam persekutuan dengan orang-orang Kristiani lainnya.

Pada akhir renungan ini kita akan melihat bahwa kedatangan Kerajaan Allah tidak berarti bahwa berbagai pencobaan dan penderitaan telah usai. Sebaliknya, penderitaan masih akan berlangsung bagi para pengikut/murid Yesus. Santo Paulus menulis: “Jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia” (Rm 8:17). Kerajaan Allah hadir sekarang dan di sini – meskipun jauh dari sempurna – dalam Gereja, umat Allah. Kerajaan Allah akan mencapai kesempurnaannya pada akhir zaman, pada waktu Yesus datang kembali dalam kemuliaan.

Ada orang-orang yang selalu menyibukkan diri dengan upaya-upaya untuk menentukan kapan Yesus datang untuk kedua kalinya, agar supaya mereka berada dalam keadaan siap pada waktu hal itu terjadi. Mereka banyak membuang waktu membaca tanda-tanda dan berusaha membuat kalkulasi-kalkulasi yang diperlukan untuk sampai kepada tanggal yang dicari-cari itu. Memang kita dapat berdoa dan dapat merindukan peristiwa kedatangan kembali Yesus pada akhir zaman, namun berkaitan dengan ini Yesus dengan jelas menyatakan: “… tentang hari atau saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di surga tidak dan Anak pun tidak, hanya Bapa saja. Hati-hatilah dan berjaga-jagalah! Sebab kamu tidak tahu kapan saatnya tiba” (Mrk 13:32-33). Yesus juga mengingatkan bahwa kita akan mendengar nubuat-nubuat palsu, namun tidak perlu merasa terganggu kalau saja kita menghayati hidup yang penuh antisipasi akan kedatangan-Nya: “Wafat Kristus kita maklumkan, kebangkitan-Nya kita muliakan, kedatangan-Nya kita rindukan. Amin” (Doa Syukur Agung, Anamnesis 2). Hal yang terpenting adalah, bahwa kita sudah siap menerima Yesus kapan saja Dia datang; dan cara terbaik untuk mewujudkan hal ini adalah dengan tetap setia kepada Injil dan setiap hari menghayati suatu hidup Kristiani sepenuhnya, tanpa “diskon” di sana-sini. Dengan demikian kita akan siap untuk menyambut-Nya kapan saja Dia akan datang kembali. “… kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah melalui imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah siap untuk dinyatakan pada zaman akhir. Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan” (1Ptr 1:5-6).

DOA: Tuhan Yesus, jagalah diriku agar tetap setia dalam menjalani hidup Injili di atas muka bumi ini. Aku sungguh merindukan kedatangan-Mu kembali. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 17:20-25), bacalah tulisan yang berjudul “KAPAN KERAJAAN ALLAH AKAN DATANG?” (bacaan tanggal 16-11-17) dalam situs/blog SANG SABDA http:/sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-11-16 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 12 November 2017 [HARI MINGGU BIASA XXXII – TAHUN A] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KEDATANGAN KEMBALI SANG RAJA DI AKHIR ZAMAN

KEDATANGAN KEMBALI SANG RAJA DI AKHIR ZAMAN

(Bacaan Kedua Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXXII [TAHUN A], 12 November 2017) 

Selanjutnya kami tidak mau, Saudara-saudara bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan. Karena jikalau kita percaya bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa dengan perantaraan Yesus, Allah akan mengumpulkan bersama-sama dengan Dia mereka yang telah meninggal. Hal ini kami katakan kepadamu dengan firman Tuhan: Kita yang hidup, yang masih tinggal sampai kedatangan Tuhan, sekali-kali tidak akan mendahului mereka yang telah meninggal. Sebab pada waktu aba-aba diberi pada waktu pemimpin malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari surga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan. (1Tes 4:13-17) 

Bacaan Pertama: Keb 6:13-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 63:2-8;  Bacaan Injil: Mat 25:1-13 

Tiga hari Minggu terakhir “Masa Biasa” dalam penanggalan liturgi Gereja memusatkan perhatian pada kedatangan kembali Tuhan Yesus pada akhir zaman, jadi berhubungan erat dengan hari-hari pertama Masa Adven yang gagasan utama pada awalnya juga kedatangan eskatologis dari Kristus pada saat Parousia-Nya. Pada hari ini kepada kita akan diingatkan: “Jagalah agar pelitamu tetap bernyala pada saat Tuhan datang” (lihat Injil hari ini) Ini adalah kebijaksanaan yang sejati. Kebijaksanaan yang sejati ditemukan oleh mereka yang mencarinya (lihat Bacaan Pertama). Pada saat Parousia, orang-orang yang telah meninggal dunia tidak akan memiliki disadvantage ketimbang mereka yang masih hidup. Yang telah meninggal dunia dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit, baru setelah itu mereka yang masih hidup; dan bersama-sama mereka akan menyongsong Tuhan Yesus (Bacaan Kedua).

Para raja dan penguasa lainnya dinasihati untuk senantiasa mencari kebijaksanaan (lihat Keb 6:8-11). Kebijaksanaan ini dengan mudah dapat ditemukan oleh mereka yang mencintainya. Sejak pagi hari Tuan Puteri Kebijaksanaan sudah menunggu di depan pintu kita, dengan demikian dapat ditemukan oleh mereka yang mencarinya (Keb 6:12-14). Kebijaksanaan mencari mereka yang menghasratinya (Keb 6:16). Kebijaksanaan akan bertemu dengan orang yang memikirkannya (Keb 6:15).

Paulus telah memberitakan tentang Parousia Kristus. Umat Kristiani perdana memiliki pengharapan bahwa Tuhan Yesus akan datang kembali dalam waktu yang singkat. “Maran atha, datanglah Tuhan Yesus!” adalah doa mereka yang dilakukan dengan sungguh-sungguh. Saat itu adalah klimaks dari sejarah Gereja. Namun demikian, ada sejumlah umat Kristiani di Tesalonika yang telah meninggal dunia. Apakah mereka akan mengalami Parousia juga? Dalam bacaan kedua inilah Paulus memberikan jawaban atas pertanyaan tadi: Umat Kristiani yang masih hidup ketika Tuhan Yesus datang kembali tidak memiliki advantage  ketimbang mereka yang telah meninggal dunia. Bersama-sama mereka akan menyongsong Tuhan Yesus dan akan hidup bersama dengan Dia selama-lamanya.

Bacaan Injil hari ini adalah “‘Perumpamaan tentang Sepuluh Gadis”. Yesus mulai mengajarkan perumpamaan ini dengan berkata: “Pada waktu itu hal Kerajaan Surga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyambut mempela laki-laki” (Mat 25:1). Para pengiring/pendamping mempelai laki-laki ini dapat dan harus mengetahui dari pengalaman bahwa mempelai laki-laki seringkali datang pada larut malam. Dengan demikian mereka harus selalu siap ketika mempelai laki-laki itu datang. Apabila mereka tidak mempunyai cukup minyak, maka mereka tidak akan mampu untuk ikut mengiringi mempelai ke pesta perjamuan. Tidak ada gunanya mencari minyak belakangan. Dengan minyak yang diperoleh terlambat, mereka tidak dapat menerangi jalannya prosesi mempelai dan rombongannya. Terlambatlah sudah! Mereka pun akan kehilangan kesempatan turut serta bergembira dalam pesta perjamuan. Mereka akan tersingkir!

Kita akan melihat bahwa perumpamaan Yesus ini tidak sedikit pun berbicara secara mendetil tentang mempelai laki-laki atau mempelai perempuan. Yang disoroti adalah sepuluh gadis pendamping mempelai. Kita diibaratkan sebagai sepuluh gadis-gadis itu. Kristus diibaratkan sebagai pengantin laki-laki. Surga diibaratkan sebagai pesta perjamuan perkawinan Kristus. Kita akan diterima masuk ke dalam perjamuan kekal apabila pelita-pelita kita menyala pada saat Yesus datang kembali, artinya apabila kita siap mengiringi-Nya ketika Dia datang.

Gadis-gadis yang bijaksana menolak memberikan sebagian dari minyak mereka kepada gadis-gadis yang bodoh (Mat 25:8-9). Hal ini mereka lakukan bukan karena mereka tidak berbelas kasih dan memiliki hati yang telah mengeras seperti batu, melainkan karena itulah satu-satunya sikap dan tindakan yang masuk akal: mereka pun tidak akan mempunyai cukup minyak untuk menerangi prosesi mempelai secara lengkap, jikalau mereka memberikan sebagian dari minyak mereka. Demikian pula, ketika mempelai laki-laki menolak lima orang gadis bodohtersebut untuk memasuki ruangan pesta, hal itu bukanlah berarti bahwa dia menyangkal lima gadis itu telah berbuat sesuatu bagi dirinya, melainkan karena mereka telah gagal dalam tugas mereka yang hakiki: untuk memberi penerangan bagi prosesi mempelai.

Perumpamaan ini ini adalah mengenai titik akhir. Pada saat titik akhir itu datang, entah pada saat kematian individu-individu, atau pada hari penghakiman umat manusia, maka tidak ada waktu lagi. Waktu telah berakhir. Hanya ada dua kondisi yang menentukan “nasib” seseorang: dia siap dengan cukup perlengkapan atau tidak siap. Apa yang telah dilalaikan oleh seseorang, tidak lagi dapat diperbaikinya. Tidak ada waktu lagi untuk membuat kompensasi atas kekurangan seseorang.

Pelajaran yang dapat kita tarik: Siaplah selalu, karena kita dapat terlambat apabila Hari Tuhan tiba! Ada hal-hal tertentu dalam kehidupan yang kita hanya dapat lakukan sekali. Dan dalam artian tertentu kita hanya dapat melakukan segala sesuatu sekali saja. Apa saja yang kita lakukan di mata Allah merupakan pekerjaan kita yang pertama, bahkan semacam sebuah gladi-resik. Gladi yang kedua untuk pekerjaan final yang sama di mata Allah merupakan suatu tindakan baru. Jadi, setiap pekerjaan kita dapat lakukan hanya sekali saja.

Tidak cukuplah apabila kita sekadar melakukan sesuatu, bahkan tidak cukup hanya bekerja keras. Kita harus melakukan pekerjaan yang ditugaskan kepada kita dengan baik. Lima gadis yang bodoh itu sangat tidak dapat mengatakan kepada sang mempelai laki-laki bahwa mereka telah menanti-nantikan dia sepanjang malam, bahwa mereka berminat untuk menghadiri pesta perkawinan, bahwa hanya karena faktor kebetulan sajalah mereka tidak berpikir untuk membawa minyak dalam jumlah cukup. Tugas pekerjaan mereka yang utama adalah mengiringi mempelai dengan pelita/obor yang menyala. Datang terlambat berarti merusak tujuan utama pekerjaan mereka, karena pelayanan mereka tidak lagi dibutuhkan.

Apabila pekerjaan kita adalah sebagai guru tetapi melakukan pekerjaan kita dengan buruk, maka kita tidak dapat menghibur diri kita bahwa kita telah berhasil mendidik murid-murid kita dengan baik. Demikian pula, apabila kita mengklaim diri kita sebagai pendidik namun tak mampu memelihara disiplin, maka kita sebenarnya telah gagal dalam tugas pekerjaan kita yang hakiki, dst.

Tidak cukup apabila kita sekadar mempunyai niat-niat baik, bermaksud baik. Kita harus menghadirkan fakta-fakta yang diperlukan. Kita semua tahu apa artinya apabila seseorang mengecewakan kita. Bayangkanlah betapa kecewanya sang mempelai laki-laki ketika mendapatkah hanya separuh saja dari gadis-gadis pengiring yang muncul menyambutnya. Reliability (sifat dapat diandalkan/dipercaya) adalah satu dari kualitas-kualitas dalam kehidupan manusia yang indah.

Peringatan untuk senantiasa bersiap-siaga berlaku juga bagi umat manusia secara keseluruhan, tidak hanya bagi orang sebagai individu-individu. Umat Kristiani perdana memandang ke depan dengan penuh kerinduan dan pengharapan akan kedatangan kembali (Parousia) Kristus, diiringi doa setiap hari: “Maran atha!” , “O Tuhan, datanglah” (1Kor 16:22; Why 22:20)! Bagi mereka kedatangan Yesus untuk kedua kali ini adalah klimaks dari sejarah Gereja. Sikap ini memampukan mereka untuk menggunakan waktu mereka secara paling baik, yaitu untuk bersiap-siaga setiap saat.

Pada zaman modern ini kita barangkali tidak banyak berpikir tentang kedatangan kembali Yesus ke dunia dalam waktu yang relatif dekat. Hampir tidak ada umat yang memikirkan secara serius tentang akhir zaman, padahal adalah kenyataan bahwa kehancuran dunia dapat begitu mudah terjadi kalau ada orang – di mana saja di dunia ini – yang mulai menekan tombol senjata nuklir. Kedatangan Yesus untuk kedua kalinya sudah menjadi sesuatu yang terasa asing bagi telinga mayoritas umat Kristiani pada zaman ini.

Memang tidak seorang pun dapat berjaga sepanjang waktu, tanpa sekali-kali jatuh tertidur. Bahkan gadis-gadis yang bijaksana sekali pun jatuh tertidur juga. Mereka juga melakukan antisipasi untuk beristirahat agar dapat memulihkan kekuatan fisik mereka untuk malam yang masih sangat panjang. Demikian pula, kita juga tidak dapat berdoa sepanjang waktu agar menjadi siap-siaga apabila Tuhan datang. Namun kita dapat melakukan tugas kita sepanjang waktu dan dengan demikian kita pun akan siap, kapan pun Kristus datang. Kita akan mati seturut cara hidup kita.

DOA: Bapa surgawi, jagalah agar diri kami senantiasa siap-siaga dalam menantikan kedatangan Yesus Kristus ke dunia untuk kedua kalinya. Dengan demikian kami pun dengan penuh sukacita dapat berdoa “Datanglah, Tuhan Yesus”. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 25:1-13), bacalah tulisan berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG GADIS-GADIS BIJAKSANA DAN GADIS-GADIS YANG BODOH” (bacaan untuk tanggal 12-11-17) dalam situs/blog SANG SABDA  http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 6-11-11 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 8 November 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS