Posts tagged ‘AKHIR ZAMAN’

MARI KITA SAMBUT KEDATANGAN ANAK MANUSIA

MARI KITA SAMBUT KEDATANGAN ANAK MANUSIA

(Bacaan Injil Misa Kudus – HARI MINGGU ADVEN I [Tahun C] – 2 Desember 2018

“Akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang, dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut. Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini, sebab kuasa-kuasa langit akan guncang. Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah kepalamu, sebab pembebasanmu sudah dekat.”

“Jagalah  dirimu, supaya hatimu jangan dibebani oleh pesta pora dan kemabukan serta kekhawatiran hidup sehari-hari dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat. Sebab hari itu akan menimpa semua penduduk bumi ini. Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.” (Luk 21:25-28.34-36) 

Bacaan Pertama: Yer 33:14-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 25:4-5,8-10,14; Bacaan Kedua: 1Tes 3:12-4:2

Sekali lagi, kita memulai Masa Adven ini dengan kata-kata yang memperingatkan dan juga janji dari Tuhan Yesus. Yesus menginginkan agar kita memandang dan mempertimbangkan Adven tidak sekadar sebagai suatu masa untuk menantikan kedatangan Hari Natal, melainkan juga untuk melihatnya sebagai suatu masa transformasi dan mukjizat-mukjizat.

Ada begitu banyak yang dapat terjadi dalam beberapa pekan mendatang, asal saja kita tetap peka dan waspada terhadap gerakan-gerakan Roh Kudus. Allah mungkin mau membuang sebuah fondasi khusus yang dinodai doa dalam kehidupan kita. Atau, Dia ingin menunjukkan kepada kita betapa amannya kita apabila berada di tangan-Nya. Allah mungkin ingin menyembuhkan relasi yang telah rusak, membalikkan kepedihan kita menjadi kegembiraan, atau menjawab doa dalam hati kita yang sudah lama terpendam. Apa pun yang ingin dilakukan oleh Allah, kita memiliki kesempatan yang lebih besar untuk menerimanya apabila kita mengambil beberapa langkah sederhana setiap hari yang akan membantu kita berjaga-jaga dan menunggu:

  • Sediakanlah paling sedikit sepuluh menit setiap hari untuk doa pribadi di mana kita memuji dan bersyukur kepada Allah karena Dia telah mengutus Yesus untuk mengampuni diri kita dan membawa kita ke hadapan hadirat-Nya.
  • Sediakanlah sepuluh menit atau lebih untuk kegiatan membaca sabda Allah dalam Kitab Suci dan merenungkannya. Kita mohon agar Roh Kudus menulis Sabda Allah dalam hati kita.
  • Kita melakukan pemeriksaan batin setiap hari dan menyesali serta bertobat untuk apa pun yang telah menjauhkan diri kita dari pengenalan dan pengalaman akan kasih Allah serta mencerminkan kasih itu kepada orang-orang lain.
  • Mempersiapkan sebuah rencana untuk pertumbuhan rohani yang mencakup pembacaan rohani dan partisipasi dalam kehidupan gereja.

Seperti juga ketika Dia memperingatkan para pengikut-Nya yang pertama, Yesus memperingatkan kita untuk tidak terlampau menyibukkan diri dengan hidup ini. Sesungguhnya, mempersiapkan segala sesuatu untuk Natal dapat menjadi sebuah full-time job kalau kita tidak berhati-hati. Kita harus memastikan diri bahwa kita memberikan kesempatan kepada Yesus untuk membuat kita surprise dengan  rahmat dan kuasa-Nya. Marilah kita semua berjaga-jaga penuh kewaspadaan sambil menunggu, karena kita tahu bahwa Allah kita akan datang untuk menyelamatkan kita masing-masing: anda dan saya.

DOA: Bapa surgawi, tolonglah aku mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk kedatangan Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus. Aku ingin menerima rahmat yang telah dimenangkan-Nya bagiku. Dalam masa Adven yang penuh ekspektasi ini, penuhilah hatiku dengan kasih-Mu dan pikiranku dengan kebenaran-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:25-28,34-36), bacalah tulisan yang berjudul “KEDATANGAN KEMBALI TUHAN YESUS KRISTUS PADA AKHIR ZAMAN” (bacaan tanggal 2-12-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-12 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 29-11-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 1 Desember 2018 [Peringatan B. Dionisius dan Redemptus, Biarawan Martir Indonesia] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

NASIHAT YESUS UNTUK SENANTIASA BERJAGA-JAGA SAMBIL BERDOA

NASIHAT YESUS UNTUK SENANTIASA BERJAGA-JAGA SAMBIL BERDOA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan B. Dionisius dan Redemptus, Biarawan-Martir Indonesia – Sabtu, 1 Desember 2018)

Hari Sabtu Imam

“Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan dibebani oleh pesta pora dan kemabukan serta kekhawatiran hidup sehari-hari dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat. Sebab hari itu akan menimpa semua penduduk bumi ini. Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.” (Luk 21:34-36) 

Bacaan Pertama: Why 22:1-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 95:1-7 

Hari ini adalah hari terakhir dari tahun liturgi (Tahun B/II). Apa lagi yang lebih cocok bagi kita daripada membaca dan merenungkan nasihat Yesus untuk berjaga-jaga senantiasa sambil berdoa, supaya kita beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kita tahan berdiri di hadapan Anak Manusia (lihat Luk 21:36).

Kita sekarang sudah berada pada tahun kedelapan dekade kedua dari milenium ketiga. Bagaimana kita dapat lebih menyerupai “bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat Allah sendiri” (1Ptr 2:9) yang dikatakan Kitab Suci kepada kita tentang jati diri kita yang sesungguhnya dan seharusnya? Masih jauhkah posisi kita dari apa yang digambarkan dalam surat Santo Petrus itu?

Barangkali yang muncul pertama dalam pikiran kita adalah untuk melakukan latihan rohani yang akan menjamin pertumbuhan spiritual kita. Sesungguhnya, Allah dapat memimpin kita untuk mengambil beberapa langkah praktis. Akan tetapi, janganlah sampai kita melupakan tujuan dari latihan rohani sedemikian, yaitu agar melalui latihan-latihan tersebut kita akan memperkenankan kasih Allah untuk meresapi kegelapan hati kita dan kegelapan dunia ini. Di atas segalanya, Dia ingin mengutus Roh Kudus-Nya untuk mengajar kita dan membentuk kita agar semakin seturut gambar dan rupa Kristus.

Setiap hari, Roh Kudus ingin membimbing kita satu langkah lebih dekat lagi kepada kekudusan. Setiap hari, sesuatu hal lain akan terjadi – apakah dalam hati kita, atau dalam keadaan-keadaan hari itu – itu adalah sebuah undangan lain lagi dari Roh Kudus agar kita menerima rahmat Allah. Selagi kita memperkenankan Yesus membebas-merdekakan kita dari dorongan-dorongan yang berasal dari kecenderungan kita untuk berdosa, sementara kita menyambut Roh Kudus masuk ke dalam kehidupan kita melalui doa-doa dan ketaatan, maka sedikit demi sedikit kita pun akan ditransformasikan. Pada akhirnya kita dapat mempersiapkan diri kita untuk hari di mana kita akhirnya akan “berdiri di hadapan Anak Manusia” (Luk 21:36).

Marilah sekarang kita bergegas menghadap Yesus dan menaruh hidup kita di hadapan-Nya. Hanya melalui bimbingan Roh Kudus kita dapat sungguh membuat diri kita siap bagi pencurahan rahmat ilahi. Oleh karena itu, marilah kita memohon kepada Roh Kudus untuk membimbing kita. Semoga kita semua akan berdiri di hadapan Putera Allah dan mempermaklumkan dengan penuh iman bahwa “Yesus adalah Tuhan!”

DOA: Tuhan Yesus, kerajaan-Mu dipenuhi dengan segala kekayaan surgawi – jauh lebih daripada yang dapat kubayangkan. Buatlah hatiku terbakar berkobar-kobar dengan realitas kasih dan kuasa-Mu! Biarlah kasih-Mu mengalir masuk ke dalam diriku. Siapkanlah aku untuk semua hal yang Engkau inginkan untuk kulakukan dalam hidupku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:34-36), bacalah tulisan berjudul “NASIHAT YESUS UNTUK BERJAGA-JADA PADA AKHIR ZAMAN” (bacaan tanggal 1-12-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 2-12-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 30 November 2018 [Pesta S. Andreas, Rasul] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ANAK MANUSIA DATANG DALAM KEMULIAAN-NYA

ANAK MANUSIA DATANG DALAM KEMULIAAN-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV – Kamis, 29 November 2018)

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta Semua Orang Kudus Tarekat

“Apabila kamu melihat Yerusalem dikepung oleh tentara-tentara, ketahuilah bahwa keruntuhannya sudah dekat. Pada waktu itu orang-orang yang berada di Yudea harus melarikan diri ke pegunungan, dan orang-orang yang berada di dalam kota harus mengungsi, dan orang-orang yang berada di pedusunan jangan masuk lagi ke dalam kota, sebab itulah masa pembalasan ketika semua yang telah tertulis akan digenapi. Celakalah ibu-ibu yang sedang hamil atau menyusukan bayi pada masa itu! Sebab akan datang kesusahan yang dahsyat atas seluruh negeri dan murka atas bangsa ini, dan mereka akan tewas oleh mata pedang dan dibawa sebagai tawanan ke segala bangsa, dan Yerusalem akan diinjak-injak oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, sampai genaplah zaman bangsa-bangsa itu.”

“Akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang, dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut. Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini, sebab kuasa-kuasa langit akan guncang. Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah kepalamu, sebab pembebasanmu sudah dekat.”  (Luk 21:20-28)

Bacaan Pertama: Why 18:1-2,21-23;19:1-3,9a; Mazmur Tanggapan: Mzm 100:2-5  

“Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah kepalamu, sebab pembebasanmu sudah dekat.”  (Luk 21:28)

The remains of destroyed houses at sunset. Apocalyptic landscape; Shutterstock ID 343138097

Bagaimana Yesus dapat mengharapkan kita untuk memberi tanggapan terhadap pergolakan di akhir zaman dengan penuh keyakinan dan pengharapan? Dalam menghadapi penderitaan, peperangan, dan berbagai bencana alam yang digambarkan oleh Yesus, penarikan/pengunduran diri dengan penuh yang diliputi ketakutan kelihatannya merupakan suatu reaksi yang lebih cocok! Bagaimana pun juga, di manakah adanya pengharapan dalam segala kesusahan yang dinubuatkan oleh-Nya?

Yesus mengatakan kepada kita bahwa kita dapat mempunyai pengharapan pada waktu kita melihat tanda-tanda akhir ini karena tanda-tanda tersebut juga merupakan tanda-tanda dari penebusan yang telah lama kita nanti-nantikan. Kita akan melihat “Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya” (Luk 21:27)! Kita dapat yakin dan mempunyai pengharapan, karena kita tahu kita aman dalam Kristus. Darah-Nya adalah perlindungan kita terhadap si Jahat, dan Roh Kudus-Nya adalah down payment kita untuk tempat kita di surga kelak.

Kita harus mengetahui kebenaran ini sedalam-dalamnya sehingga hidup kita tidak dapat digoncangkan oleh berbagai gejolak yang berlangsung pada akhir zaman. Setiap hari Allah memberikan kepada kita kesempatan-kesempatan untuk “bereksperimen” dengan iman kita, situasi-situasi di mana kita dapat memegang sabda Allah seperti apa adanya dan memperhatikan Dia mengerjakan keajaiban-keajaiban bagi kita. Misalnya iman kita mengatakan, bahwa baptisan kita ke dalam Kristus telah membebaskan kita dari keterikatan pada dosa. Ketika godaan-godaan datang, kepada kita diberi kesempatan untuk datang ke kaki salib Yesus di Kalvari dan mempersatukan diri kita dengan Sang Tersalib sambil berkata “tidak” terhadap godaan-godaan tersebut. Apabila kita tidak tahu bagaimana seharusnya bereaksi dalam suatu situasi tertentu, kita dapat mencoba untuk memandang hal-hal yang kita hadapi dari perspektif surgawi dan memperkenankan Roh Kudus memberikan bimbingan serta hikmat-Nya kepada kita. Semakin sering kita melakukan praktek-praktek seperti ini, semakin yakin dan berpengharapan pula kita jadinya, apa pun situasi yang kita hadapi.

Pada saat Yesus datang kembali kelak, setiap hal akan diserahkan kepada-Nya sebagai Tuhan. Dalam doa-doa kita pada hari ini, marilah kita merenungkan karunia keselamatan yang telah kita terima dalam Kristus. Kita dapat memohon kepada Roh Kudus agar Ia meningkatkan kerinduan kita masing-masing untuk memandang Yesus muka-ketemu-muka. Semakin “aman” kita dalam rangkulan belas kasihan Allah, semakin keras pula kita akan berseru, “Datanglah, Tuhan Yesus!” (Why 22:20).

DOA: Bapa surgawi, Allah yang Mahabesar, Khalik langit dan bumi! Aku berterima kasih penuh syukur kepada-Mu untuk karunia keselamatan yang Kauanugerahkan kepadaku. Apa yang tidak dapat kulakukan sendiri bagi diriku, telah dilakukan oleh Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus. Buanglah segala rasa takut dan kekhawatiran yang masih ada dalam diriku. Tidak ada keyakinan dan pengharapan lebih besar yang kumiliki daripada fakta bahwa aku tersalib bersama Yesus dan akan bangkit bersama Dia pula. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:20-28), bacalah tulisan berjudul “PENDERITAAN UMAT KRISTIANI SEBELUM KEDATANGAN-NYA KEMBALI” (bacaan tanggal 29-11-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 24-11-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 28 November 2018 [Peringatan S. Yakobus dr Marka, Imam]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PANGGILAN KEPADA KEKUDUSAN

PANGGILAN KEPADA KEKUDUSAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV – Rabu, 28 November 2018]

OFM/OFMConv.: Pesta S. Yakobus dr Marka, Imam 

“Tetapi sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku. Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi. Sebab itu tetapkanlah di dalam hatimu, supaya kamu jangan memikirkan lebih dahulu pembelaanmu. Sebab Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawanmu. Kamu akan diserahkan juga oleh orang tuamu, saudara-saudaramu, kaum keluargamu dan sahabat-sahabatmu dan beberapa orang di antara kamu akan dibunuh dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku. Tetapi tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang. Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh kehidupan.” (Luk 21:12-19) 

Bacaan Pertama: Why 15:1-4; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-3,7-9

Masih ingatkah Saudari dan Saudara betapa ramainya nubuatan-nubuatan tentang akhir zaman pada saat-saat menjelang tahun 2000? Prediksi-prediksi tentang perubahan besar yang akan terjadi menimbulkan reaksi-reaksi yang beraneka ragam, dari excitement, rasa takut, bahkan sampai tidak peduli sama sekali, … Don’t worry. Be happy! 

Orang-orang di Yerusalem yang mendengar nubuatan-nubuatan Yesus tentang akhir zaman, penghancuran kota Yerusalem, dan pengejaran serta penganiayaan yang akan menimpa para murid-Nya barangkali bereaksi lebih-lebih dengan rasa takut daripada excitement. Memang tidak salahlah begitu! Pada tahun 70, pemberontakan orang-orang Yahudi yang gagal melawan pemerintahan Roma mengakibatkan kematian beribu-ribu orang yang tidak bersalah, kelaparan yang berskala luas, dan penghancuran Bait Suci. Hanya setelah Ia menggambarkan segala kesengsaraan yang akan menimpa, Yesus mengingatkan para pengikut-Nya bahwa bahkan sebelum peristiwa-peristiwa mengerikan itu terjadi, mereka akan menderita karena pengejaran dan penganiayaan.

Jadi, di manakah “kabar baiknya” kalau di sana-sini yang ada hanyalah bencana, kesedihan, penganiayaan dlsb.? Di sinilah pentingnya sabda Yesus: Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh kehidupan” (Luk 21:19). Yang dapat dilakukan oleh manusia – bertekun – akan membawa berkat yang jauh lebih melampaui kemampuan-kemampuan manusiawi kita: keselamatan penuh dan hidup kekal di hadapan hadirat Allah Yang Mahakuasa.

Sebagaimana orang-orang Yahudi pada abad pertama, kita – umat Kristiani yang hidup dalam milenium ketiga – tidak dijanjikan suatu kehidupan yang nyaman-menyenangkan. Sebaliknya, Yesus menawarkan kepada kita sesuatu yang lebih besar. Ia berjanji untuk membawa mereka yang tetap setia kepada-Nya kembali pulang dengan aman ke Kerajaan-Nya yang tidak dapat dihancurkan oleh kekuatan jahat manapun. Namun untuk itu kita dituntut untuk bertekun. Katekismus Gereja Katolik (KGK) mengatakan: “Jadi jelaslah bagi semua, bahwa semua orang Kristiani, dari status atau jajaran apa pun dipanggil kepada kepenuhan hidup Kristiani dan kesempurnaan cintakasih” (Lumen Gentium 40). Semua orang dipanggil kepada kekudusan: Karena itu haruslah kamu sempurna, seperti Bapa-Mu yang di surga adalah sempurna” (Mat 5:48). “Untuk memperoleh kesempurnaan itu hendaklah kaum beriman mengerahkan tenaga yang mereka terima menurut ukuran yang dikaruniakan oleh Kristus, supaya …… mereka melaksanakan kehendak Bapa dalam segalanya, mereka dengan segenap jiwa membaktikan diri kepada kemuliaan Allah dan pengabdian terhadap sesama. Begitulah kesucian umat Allah akan bertumbuh dan menghasilkan buah berlimpah, seperti dalam sejarah Gereja telah terbukti dengan cemerlang melalui hidup sekian banyak orang kudus” (Lumen Gentium 40) (KGK, 2013).

Panggilan Allah kepada kekudusan sungguh bukan hal yang main-main. Untuk itu kita akan melangkah di jalan yang benar dengan tetap menaruh kepercayaan kepada Dia yang begitu mengasihi kita sehingga rela mati untuk kita semua. Marilah kita dengan penuh perhatian mendengarkan nasihat-nasihat yang diberikan oleh Roh Kudus dan melatih mata kita agar mampu melihat “hadiah” berupa Yerusalem surgawi yang sedang menantikan kita.

DOA: Tuhan Yesus, melalui badai-badai yang mengamuk di dalam kehidupan ini, aku ingin berpegang teguh pada janji-janji-Mu tentang kehidupan kekal, Dengan pertolongan Roh Kudus-Mu, aku berjanji untuk mengikuti-Mu ke mana saja Engkau memimpin aku. Terpujilah nama-Mu yang kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:12-19), bacalah tulisan yang berjudul “MEREKA MENYANYIKAN NYANYIAN MUSA DAN NYANYIAN ANAK DOMBA” (bacaan tanggal 28-11-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 29-11-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 25 November 2018 [HARI RAYA  TUHAN KITA YESUS KRISTUS RAJA SEMESTA ALAM – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SESUNGGUHNYA KITA TIDAK PERNAH TAHU PERIHAL KEDATANGAN HARI ISTIMEWA ITU

SESUNGGUHNYA KITA TIDAK PERNAH TAHU PERIHAL KEDATANGAN HARI ISTIMEWA ITU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV – Selasa, 27 November 2018)

OFMConv.: Peringatan S. Fransiskus Fransiskus Fasani, Imam

Ketika beberapa orang berbicara tentang Bait Allah, betapa bangunan itu dihiasi dengan batu yang indah-indah dan dengan berbagai-bagai barang persembahan, berkatalah Yesus, “Apa yang kamu lihat di situ – akan datang harinya ketika tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan.”

Lalu mereka bertanya kepada Yesus, “Guru, kapan itu akan terjadi? Apa tandanya, kalau itu akan terjadi?” Jawab-Nya, “Waspadalah, supaya kamu jangan disesatkan. Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: ‘Akulah Dia,’ dan: ‘Saatnya sudah dekat.’ Janganlah kamu mengikuti mereka. Apabila kamu mendengar tentang peperangan dan pemberontakan, janganlah kamu takut. Sebab semuanya itu harus terjadi dahulu, tetapi itu tidak berarti kesudahannya akan datang segera.”

Ia berkata kepada mereka, “Bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan, dan akan terjadi gempa bumi yang dahsyat dan di berbagai tempat akan ada penyakit sampar dan kelaparan, dan akan terjadi juga hal-hal yang menakutkan dan tanda-tanda yang dahsyat dari langit. (Luk 21:5-11)

Bacaan Pertama: Why 14:14-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 96:10-13 

Sampai berapa sering kita memikirkan tentang akhir zaman? Seringkalikah? Yang penting untuk kita imani sebagai orang Kristiani adalah, bahwa  kita sesungguhnya tidak pernah tahu kapan datangnya hari “istimewa” itu. Mengapa istimewa? Bagi kita akhir zaman adalah kedatangan Yesus ke dalam dunia untuk kedua kalinya, tetapi kali ini dalam kemuliaan dan keagungan. Jadi, tidak ada yang perlu ditakuti, kalau kita tetap setia dalam iman Kristiani kita.

Pertanyaan yang perlu kita jawab adalah: Apakah kita memiliki hasrat sejati untuk menyambut kedatangan kembali Yesus ini dan percaya bahwa kedatangan-Nya ini berarti penyelesaian rencana Bapa surgawi? Memang mudah bagi kita untuk luput melihat gambar yang lebih besar, yaitu puncak rencana Allah itu sendiri. Kita bisa saja terjebak dalam rutinitas sehari-hari kita, di lingkungan kerja kita,  lingkungan keluarga kita, segala kesukaran serta kesulitan kita, dan kemudian lupa bahwa pada suatu hari Yesus akan datang kembali dalam kemuliaan-Nya. Oleh karena itu marilah kita setiap hari menanti-nantikan kedatangan-Nya dengan penuh harapan dan kesetiaan.

Prediksi tentang akhir zaman yang dikemukakan oleh Yesus dalam bacaan hari ini memiliki dua tingkatan pemahaman. Pada tingkatan yang pertama, Yesus bernubuat tentang penghancuran Yerusalem dan Bait Allah di sana oleh pasukan Romawi pada tahun 70. Hal ini serupa dengan nubuatan nabi Yeremia yang menyatakan bahwa Bait Salomo akan dihancurkan karena ketidaksetiaan umat kepada Allah (Yer 7). Ini terjadi pada tahun 586 SM, ketika orang-orang Babel memporak-porandakan Yerusalem. Pada tingkatan yang kedua, Yesus berbicara mengenai akhir dunia: “Apabila kamu mendengar tentang peperangan dan pemberontakan, janganlah kamu takut. Sebab semuanya itu harus terjadi dahulu, tetapi itu tidak berarti kesudahannya akan datang segera” (Luk 21:9).

Yesus tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh para murid-Nya tentang kapan akhir zaman itu akan terjadi. Ia hanya mengatakan, bahwa peperangan dan berbagai bencana akan terjadi lebih dahulu sebelum hari H itu. Kita sendiri tidak mengetahui kapan akhir zaman itu, harinya maupun jamnya. Kita pun tidak dapat mencegah terjadinya berbagai peristiwa yang harus terjadi sebelumnya, karena semua merupakan bagian dari rencana Allah, bukan rencana manusia yang mana pun.

Yang kita dapat lakukan hanyalah satu, yaitu untuk tetap setia kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita. Kalau kita tetap kokoh dalam iman kita, maka kata-kata yang diucapkan Yesus dalam bacaan hari ini merupakan kata-kata yang memberi pengharapan bagi kita semua. Hal ini disebabkan karena kedatangan kembali Yesus dan peristiwa-peristiwa yang harus mendahuluinya adalah bagian dari rencana-kekal Allah sendiri. Mereka yang tetap setia kepada Yesus dan percaya kepada-Nya dengan sepenuh hati akan mengalami kehidupan kekal bilamana Dia datang, sebuah kehidupan penuh sukacita yang jauh melampaui apa yang kita ketahui sepanjang keberadaan kita di dunia ini. Akan tetapi …… bagi mereka yang tidak percaya, kata-kata Yesus adalah sesuatu yang menyedihkan, bahkan menakutkan. Marilah kita berdoa agar kita akan tetap setia kepada Yesus sementara kita menantikan kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan. Amin, datanglah, Tuhan Yesus! (Why 22:20).

DOA: Bapa surgawi, kami menaruh kepercayaan pada rencana-Mu, bahwa Yesus Kristus akan kembali dalam kemuliaan-Nya. Tolonglah kami agar tetap setia kepada-Nya, tanpa dipengaruhi secara negatif oleh apa saja yang terjadi dengan diri kami dan di sekeliling kami. Curahkanlah rahmat-Mu ke dalam dunia sehingga semua orang akan siap juga untuk menyambut kedatangan Yesus pada waktu kedatangan-Nya kembali kelak. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:5-11), bacalah tulisan berjudul “TANGGAPAN KITA TERHADAP BERBAGAI NUBUATAN TENTANG AKHIR ZAMAN” (bacaan untuk tanggal 27-11-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 28-11-17 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 25 November 2018 [HARI RAYA TUHAN KITA YESUS KRISTUS RAJA SEMESTA ALAM – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

UMAT PEZIARAH YANG SEDANG MENUJU RUMAH BAPA

UMAT PEZIARAH YANG SEDANG MENUJU RUMAH BAPA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXXIII [TAHUN B] – 18 November 2018)

“Tetapi pada masa itu, sesudah siksaan itu, matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak bercahaya dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit, dan kuasa-kuasa langit akan guncang. Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan-awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Pada waktu itu juga Ia akan menyuruh keluar malaikat-malaikat dan akan mengumpulkan orang-orang pilihan-Nya dari keempat penjuru bumi, dari ujung bumi sampai ke ujung langit.

Tariklah pelajaran dari perumpamaan tentang pohon ara. Apabila ranting-rantingnya melembut dan mulai bertunas, kamu tahu bahwa musim panas sudah dekat. Demikian juga, jika kamu lihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah bahwa waktunya sudah dekat, sudah di ambang pintu. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Orang-orang zaman ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya itu terjadi. Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.

Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di surga tidak dan Anak pun tidak, hanya Bapa saja.” (Mrk 13:24-32) 

Bacaan Pertama: Dan 12:1-3; Mazmur Tanggapan: Mzm 16:5-11; Bacaan Kedua: Ibr 10:11-14,18

Walaupun kita sekarang masih berada pada pertengahan bulan November, Gereja pada Misa Kudus hari ini menatap ke akhir dari tahun liturgi, yang jatuh pada hari Minggu yang akan datang, dan tentunya menatap ke akhir zaman di mana Yesus akan datang kembali dalam kemuliaan-Nya. Apakah hari yang mahapenting itu sudah dekat atau masih jauh di masa depan, kita tidak tahu. Sekali lagi: kita tidak tahu! Walaupun demikian, hari itu penting sekali bagi kita semua, dan kita harus mengakui bahwa dengan berjalannya waktu – hari lepas hari – kita terus melangkah maju dan menjadi semakin dekat dengan hari itu.

Bacaan pertama hari ini yang diambil dari Kitab Daniel, dan juga bacaan Injil mengajar kita – walaupun dengan menggunakan imaji-imaji yang sangat kompleks – tentang kedatangan Yesus untuk kedua kalinya. Kedatangan kedua kali dari Yesus yang bersifat final ini adalah keprihatinan setiap Misa Kudus yang kita rayakan. Lagu Aklamasi Anamnesis dalam Doa Syukur Agung dengan jelas merujuk kepada kedatangan Yesus untuk kedua kalinya. Imam mengajak umat: “Marilah menyatakan misteri iman kita.” Umat menjawab: “Wafat Kristus kita maklumkan, kebangkitan-Nya kita muliakan, kedatangan-Nya kita rindukan.” Lihatlah beberapa alternatif Aklamasi Anamnesis lainnya. Setelah doa “Bapa Kami”, ada doa sisipan atau Embolisme yang diucapkan oleh Imam Selebran. Salah satu contohnya: “Ya Bapa, bebaskanlah kami dari segala yang jahat dan berilah kami damai-Mu. Kasihanilah dan bantulah kami supaya selalu bersih dari noda dosa dan terhindar dari segala gangguan, sehingga kami dapat hidup dengan tenteram, sambil mengharapkan kedatangan Penyelamat kami Yesus Kristus.” Umat yang hadir menjawab: “Sebab Engkaulah Raja yang mulia dan berkuasa untuk selama-lamanya.” Bukankah ini juga merujuk kepada kedatangan Yesus untuk kedua kalinya?

Jadi, sebagai umat yang sudah lama berada dalam perjalanan ziarah untuk kembali ke rumah Bapa – kita harus senantiasa menatap ke depan, yaitu kepada Yesus yang akan datang ke dunia untuk kedua kalinya. Rumah berarti tempat untuk beristirahat dan juga tempat yang nyaman, dan suatu akhir dari segala beban yang kita pikul dan juga ketidaknyamanan selama perjalanan ziarah kita. Rumah Bapa, yang juga merupakan rumah kita bersama, adalah akhir dari perjalanan kita, namun itu adalah awal dari hidup kekal yang sungguh membahagiakan.

Selagi kita melakukan perjalanan ziarah dalam hidup ini, kita perlu memiliki suatu sikap yang seimbang (a balanced attitude). Kita tidak dapat hanya memikirkan surga saja seakan hidup di dunia ini tidak bernilai dan tanpa tujuan sama sekali, namun di lain pihak kita sangat bodoh kalau menjalani hidup dengan hanya memikirkan eksistensi kita di dunia. Karena kita begitu disibukkan dengan pemenuhan berbagai kebutuhan hidup di dunia guna menopang hidup keluarga, kenikmatan hidup duniawi, barangkali kebanyakan dari kita perlu mengingat bahwa ada hal yang jauh lebih besar terkait eksistensi kita daripada sekadar yang kita alami sekarang.

Ada dua titik ekstrim dalam hidup kita di mana kita harus mengingat bahwa ada banyak hal lagi yang akan datang. Pertama-tama adalah ketika kita mengalami penderitaan pada titiknya yang tertinggi, pada waktu kita menderita frustrasi total dan hampir mengalami keputusasaan; segalanya terasa gelap. Memang cukup pantas bagi seorang beriman untuk mencari penghiburan dan pengharapan bahwa Allah merencanakan  sesuatu yang lebih baik bagi kita, bahwa kita harus menderita dan bahkan mati seperti Yesus sendiri, sehingga dengan demikian kita dapat masuk ke dalam kebahagian tanpa akhir yang telah dipersiapkan Allah bagi mereka yang mengasihi-Nya.

Titik kedua adalah ketika hidup kita terasa paling nikmat, ketika semua berjalan dengan baik bagi kita dsb.; di sini barangkali kita luput untuk memikirkan Allah dan kebaikan-Nya, … kita lupa. Mengapa? Karena pikiran kita mengatakan bahwa kita tidak membutuhkan Allah, puas dengan segala yang kita miliki dan terjadi dengan diri kita. Memang bukan hal yang aneh bagi orang-orang tertentu untuk berpaling kepada Allah dan berdoa kepada-Nya hanya jika adalah kebutuhan yang besar, yang mendesak, masalah hidup atau mati, misalnya dalam suasana perang atau setelah mengalami bencana hebat seperti gempa bumi, gunung meletus, tanah longsor, tsunami dlsb. Kita harus memandang saat-saat baik sebagai “icip-icip” dari apa yang akan datang, dengan demikian memuji dan bersyukur kepada Allah selagi mengalami semua itu karena kebaikan-Nya kepada kita.

Secara sederhana, baik pada saat-saat semua baik atau pun buruk, layaklah bagi seseorang beriman untuk hidup dengan mata yang memusatkan perhatian pada surga. Kita adalah umat yang sedang berziarah, dan kita tidak pernah boleh luput melihat tujuan perjalanan ziarah kita. Di lain pihak, kita tidak boleh memusatkan perhatian kita pada surga dengan menggunakan kedua biji mata kita. Hidup ini dan dunia ini mempunyai makna dan tujuan. Kita semua adalah anak-anak Allah dan kepada kitalah Dia mempercayakan dunia ciptaan-Nya ini. Rencana-Nya adalah bahwa segenap ciptaan akan secara perlahan-lahan menuju suatu saat penyempurnaan, dan kita adalah bagian dari rencana itu. Apakah yang kita lakukan – melalui bantuan rahmat Allah – untuk berkontribusi terhadap pembangunan ciptaan, sampai Yesus Kristus menyelesaikan pekerjaan-Nya melalui kuat-kuasa penebusan kematian dan kebangkitan-Nya.

Dengarlah ajaran Konsili Vatikan II yang indah ini: “… pria maupun wanita, yang – sementara mencari nafkah bagi diri maupun keluarga mereka – melakukan pekerjaan mereka sedemikian rupa sehingga sekaligus berjasa-bakti bagi masyarakat, memang dengan tepat dapat berpandangan, bahwa dengan jerih-payah itu mereka mengembangkan karya Sang Pencipta” (Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes tentang Gereja di Dunia Dewasa Ini, 34). Hidup ini bermakna sebagai bagian dari rencana Allah.

Dalam setiap Perayaan Ekaristi, kita diingatkan bahwa kita adalah umat yang sedang berziarah. Berjalan dalam prosesi untuk menyambut Komuni Kudus adalah sebuah tanda liturgis berkenan dengan perjalanan spiritual kita. Dan sebagai suatu umat peziarah kita mempunyai makanan untuk menopang hidup kita, Ekaristi. Kitab berdiri untuk menerima Komuni Kudus, karena berdiri adalah tanda kuno dalam Gereja dari kebangkitan Kristus. Makanan ini adalah jaminan, janji sehubungan dengan keikutsertaan kita dengan kebangkitan Kristus, yang telah berjanji, “Siapa saja yang makan daging-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman” (Yoh 6:54). Kita berasal dari Allah dan berada dalam perjalanan ziarah ke suatu tujuan – karunia hidup kekal-abadi melalui keikutsertaan kita dalam kebangkitan Kristus.

Kita harus menjalani kehidupan di dunia ini, namun marilah kita melaksanakannya  tanpa rasa cemas dan kekhawatiran, karena kita percaya bahwa dengan ketaatan penuh rendah hati kepada Yesus kita akan sampai pada tujuan kita, rumah Bapa.

DOA:  Tuhan Yesus, Engkau adalah andalanku. Aku menyerahkan hidupku sepenuhnya kepada-Mu, ya Tuhan. Aku memohon pertolongan-Mu agar aku selalu sanggup menanggung beban-beban dalam perjalanan ziarahku di dunia. Ajarlah aku agar senantiasa penuh keyakinan akan kehadiran-Mu. Datanglah, Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 13:24-32), bacalah tulisan yang berjudul “KEDATANGAN-NYA KEMBALI PADA AKHIR ZAMAN ADALAH SEBUAH PERISTIWA PENUH SUKACITA” (bacaan tanggal 18-11-8) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2018. 

Cilandak, 14 November 2018 [Peringatan S. Nikolaus Tavelic, Imam dkk. – Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KEDATANGAN KEMBALI YESUS KE DUNIA PADA AKHIR ZAMAN

KEDATANGAN KEMBALI YESUS KE DUNIA PADA AKHIR ZAMAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXII – Jumat, 16 November 2018)

 

Sama seperti yang terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia: Mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai pada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua. Demikian juga seperti yang terjadi di zaman Lot: mereka makan dan minum, mereka berjual beli, mereka menanam dan membangun. Tetapi pada hari Lot pergi keluar dari Sodom turunlah hujan api dan hujan belerang dari langit dan membinasakan mereka semua. Demikianlah halnya kelak pada hari Anak Manusia dinyatakan. Siapa saja yang pada hari itu sedang berada di atas rumah dan barang-barangnya ada di dalam rumah, janganlah ia turun untuk mengambilnya, dan demikian juga orang yang sedang di ladang, janganlah ia kembali. Ingatlah akan istri Lot! Siapa saja yang berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan siapa saja yang kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya. Aku berkata kepadamu: Pada malam itu ada dua orang di atas tempat tidur, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Ada dua orang perempuan bersama-sama menggiling gandum, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.” (Kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.) Kata mereka kepada Yesus, “Di mana, Tuhan?” Kata-Nya kepada mereka, “Di mana ada mayat, di situ berkerumun burung-burung nasar.” (Luk 17:26-37) 

Bacaan Pertama: 2Yoh 4-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:1,2,10-11,17-18 

Sungguh tidak mudah untuk memahami kasih Allah bagi kita seperti halnya dalam sejumlah sabda Yesus, teristimewa ketika Dia berbicara mengenai kedatangan-Nya untuk kedua kali. Bahkan barangkali kita memandang kedatangan Kerajaan Allah sebagai saat-saat sulit-menakutkan, ketika keselamatan kita berada di luar jangkauan dan “burung-burung nasar” sudah berterbangan di langit. Namun ini bukanlah gambaran yang Yesus inginkan kita ambil dari bacaan ini. Yesus datang untuk memberikan hidup berkelimpahan kepada kita: “Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dengan berlimpah-limpah” (Yoh 10:10). Yesus tidak datang untuk memberi keselamatan kepada kita yang kita sendiri tidak mampu untuk mencapainya.

Sebagai umat Kristiani, kita telah diangkat dari kematian dan dibawa ke dalam kehidupan oleh  belas kasih (kerahiman) Allah dan cintakasih-Nya. Kita sudah diselamatkan. Sebelum kita menerima Yesus ke dalam hati kita, sesungguhnya kita tidak ubahnya seperti domba tanpa gembala – hilang di hutan belantara, mangsa yang empuk bagi musuh-musuh kita. Namun hal tersebut tidak lagi begitu. Kita adalah anak-anak Allah. Masing-masing kita adalah bait Roh Kudus. Dan …… posisi kita dalam Kristus sudah terjamin!

Jadi, daripada terus-menerus dirundung rasa khawatir dan takut, kita seharusnya dipenuhi dengan sukacita! Kita telah dibawa dekat kepada Allah oleh darah Kristus. Dengan hidup dalam Roh-Nya, kita dapat berjalan dalam terang kasih-Nya dan mengenal serta mengalami kebebasan yang semakin meningkat, …… kebebasan dari dosa dan keterikatan. Kita tidak perlu lagi merasa khawatir dan takut akan hidup kita. Sebaliknya, kita harus merasa khawatir dan takut bagi mereka yang belum percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat – mereka yang hilang di tengah hutan belantara dosa dan ketidakpedulian.

Kita sudah merangkul keselamatan yang diberikan oleh-Nya dan hidup dalam ketaatan dan kasih akan Allah. Oleh karena itu kita dapat bertindak seturut “Amanat Agung” yang diberikan oleh Yesus Kristus sebelum Ia diangkat ke surga (lihat Mat 28:19-20), yaitu menyebarkan Kabar Baik-Nya dalam kata-kata maupun perbuatan/tindakan kita. Kita dapat menjadi seorang pewarta Kabar Baik yang memberi kesaksian atas kasih dan kerahiman Allah. Dalam nama Yesus kita dapat mengundang mereka ke dalam Kerajaan Allah.

Dengan demikian, marilah kita singkirkan segala kekhawatiran dan keraguan kita. Diri kita dapat dipenuhi dengan kuat-kuasa Roh Kudus. Marilah kita menyiapkan diri untuk menyambut kedatangan Yesus Kristus untuk kedua kalinya pada akhir zaman. Bagaimana? Dengan setiap hari hidup dalam keakraban dengan Yesus. Persenjatailah diri anda dengan doa-doa syafaat bagi orang-orang yang tidak/belum percaya kepada Yesus. Mulailah dengan mereka yang anda sudah kenal: para anggota keluarga yang bukan Kristiani, para teman dan sahabat serta kenalan-kenalan lainnya. Baiklah anda melangkah dalam iman, dengan penuh keyakinan bahwa Allah sesungguhnya ingin menyelamatkan setiap orang di atas bumi ini.

Semoga kesaksian kita atas kuat-kuasa Injil akan menarik banyak orang kepada Allah yang adalah kasih, sehingga dengan demikian tidak ada lagi kesempatan bagi “burung-burung nasar” untuk ramai-ramai berkerumun dan memangsa pada saat Tuhan Yesus datang kembali kelak!

DOA: Tuhan Yesus, kami rindu untuk mengenal Engkau lebih dalam lagi. Penuhilah hati kami dan perkenankanlah kami masing-masing mendengar suara-Mu, agar dapat menjadi berkat bagi orang-orang lain. Perkenankanlah kami, para murid-Mu, melihat Engkau datang dalam kemuliaan pada akhir zaman, saat di mana kegelapan pada akhirnya akan disingkirkan dari tengah-tengah kami. Dimuliakanlah nama-Mu senantiasa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 17:26-37), bacalah tulisan yang berjudul “PADA HARI ANAK MANUSIA DINYATAKAN” (bacaan tanggal 16-11-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 17-11-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 14 November 2018 [Peringatan S. Nikolaus Tavelic, Imam dkk. Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS