Posts tagged ‘AIN KARIM’

JIWAKU MEMULIAKAN TUHAN, DAN HATIKU BERGEMBIRA KARENA ALLAH JURUSELAMATKU9

JIWAKU MEMULIAKAN TUHAN, DAN HATIKU BERGEMBIRA KARENA ALLAH JURUSELAMATKU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Jumat, 22 Desember 2017)

Lalu kata Maria, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan kuduslah nama-Nya. Rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.”  Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya. (Luk 1:46-56)

Bacaan pertama: 1Sam 1:24-28; Mazmur Tanggapan: 1Sam 2:1.4-8 

Kidung Maria dalam bacaan Injil hari ini dikenal dalam bahasa Latin dengan nama Magnificat. Kidung Maria ini sangat mirip dengan kidung yang dinyanyikan oleh Hana (1Sam 2:1-10), ibunda dari nabi Samuel. Kidung Maria juga mencerminkan sejumlah nas dalam Perjanjian Lama.

Magnificat sangat indah karena kidung ini mengungkapkan perasaan terdalam Maria, dan pada saat yang sama mencerminkan suatu tradisi lama yang menyangkut praktek hidup saleh dalam Perjanjian Lama. Ketika Elisabet memuji Maria sebagai yang terberkati di antara semua perempuan, Maria menanggapinya sesuai dengan tradisi lama tersebut. Pada hakekatnya Maria berkata kepada Elisabet: “Janganlah memujiku. Akan tetapi bergabunglah dengan aku dalam memproklamasikan keagungan Tuhan; bersama-sama kita dapat menemukan sukacita dalam Allah Penyelamat kita.” Sesungguhnya Maria memang adalah seorang pribadi yang paling diberkati di antara para perempuan karena “Buah Rahimnya”. Bagaimana dengan kita? Kita pun sangat terberkati, karena Anaknya yang adalah Putera ilahi Allah, telah menjadi Juruselamat kita.

Magnificat ini sangat bernilai dalam Gereja, karena didaraskan/dinyanyikan setiap hari sepanjang tahun dalam Ibadat Sore oleh mereka yang secara rutin mendoakan Ibadat Harian (Ofisi Ilahi). Kenyataan ini merupakan suatu undangan kepada kita semua untuk mendoakan Kidung Maria, apakah kita mendoakan Ibadat Harian atau tidak! Maria ingin agar kita semua bergabung dengan dirinya, kemudian bersama-sama berkata: “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku” (Luk 1:46).

Semangat Natal adalah semangat memberi dengan penuh kemurahan hati. Semangat ini mengalir dari Allah sendiri dan dicerminkan dalam bacaan-bacaan liturgi hari ini. Hana sudah lama mandul. Perempuan ini bernazar: “YHWH semesta alam, jika sungguh-sungguh Engkau memperhatikan sengsara hamba-Mu ini dan mengingat kepadaku dan tidak melupakan hamba-Mu ini, tetapi memberikan kepada hamba-Mu ini seorang anak laki-laki, maka aku akan memberikan dia kepada YHWH untuk seumur hidupnya dan pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya” (1Sam 1:11). Anaknya dinamakan Samuel. Hana dan suaminya kemudian membawa anak yang masih kecil sekali itu ke rumah YHWH di Silo untuk dipelihara dan dididik oleh imam Eli.

Kiranya pada waktu Maria mulai hidup menjanda karena kematian Yusuf, ia memperkenankan (= memberi izin) Anaknya yang tunggal itu mulai melakukan karya pelayanan di tengah masyarakat. Tindakan Maria tersebut merupakan contoh tindakan yang tidak mementingkan diri sendiri dan dipenuhi dengan semangat untuk melihat dan mengalami terlaksananya karya penyelamatan Allah bagi umat manusia.

Anak laki-laki Hana, Samuel, yang telah dibina dan ditempa oleh imam Eli menjadi seorang nabi besar yang mengurapi Saul sebagai raja Israel yang pertama, dan kemudian mengurapi Daud sebagai raja Israel yang paling agung. Anak laki-laki Maria, Yesus, Nabi dan Raja, adalah Imam yang mempersembahkan kurban salib bagi keselamatan kita semua. Kedua perempuan itu mencerminkan kebaikan Allah. Kita hanya dapat membayangkan betapa berharganya Samuel di mata Hana dan betapa besar arti Yesus bagi Maria. Kedua perempuan itu menyerahkan/memberikan anak laki-laki mereka untuk kepentingan rencana Allah, bukan untuk kepentingan mereka sendiri. Tindakan mereka itu adalah tindakan yang benar-benar berani dan lepas-total dari motif mementingkan diri sendiri (tanpa pamrih). Memang tidak mudahlah bagi kita untuk merenungkan betapa besar cintakasih Bapa surgawi kepada Putera-Nya. Namun kita telah melihat bahwa Bapa surgawi sangat mengasihi kita manusia, sampai-sampai Dia memberikan kepada kita Putera-Nya yang tunggal itu sebagai Juruselamat kita (lihat Yoh 3:16).

Dengan demikian, Natal bagi kita masing-masing tidaklah lengkap tanpa tindakan kita untuk memberi. Pemberian yang terbaik dan terindah bukanlah sebuah benda, akan tetapi cintakasih yang kita berikan kepada Allah dan juga umat-Nya, artinya sesama kita.

DOA: Roh Kudus Allah, berikanlah kepadaku hikmat agar sungguh dapat memahami makna sejati dari tindakan memberi cintakasih kepada Allah dan juga sesamaku. Bentuklah aku menjadi murid Kristus yang sejati. Tanamkanlah keyakinan dalam diriku, bahwa dengan memberi aku menerima, dengan memberi pengampunan aku diampuni. Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Luk 1:46-56), bacalah tulisan yang berjudul “HANA DAN MARIA” (bacaan tanggal 22-12-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 17-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 22-12-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 19 Desember 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

IA YANG PERCAYA ADALAH YANG BERBAHAGIA

IA YANG PERCAYA ADALAH YANG BERBAHAGIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Kamis, 21 Desember 2017)

Peringatan S. Petrus Kanisius, Imam Pujangga Gereja

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan bergegas menuju sebuah kota di pegunungan Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.” (Luk 1:39-45)

Bacaan pertama: Kid 2:8-14 atau Zef 3:14-18a; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:2-3,11-12,20-21

“Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana” (Luk 1:45).

Apakah sebenarnya yang dipercayai oleh Maria? Tidak meragukan lagi, Maria percaya akan janji-janji khusus Tuhan kepada dirinya. Bahkan, secara lebih luas ia percaya segala hal yang dikatakan Allah mengenai dirinya dan apa yang harus dilakukannya. Pemikiran Maria sederhana, yaitu karena Allah telah terbukti setia di masa lampau, maka Dia akan tetap setia di masa depan juga. Allah tidak berubah, Dia adalah Allah Yang Mahasetia! Inilah yang menjadi fondasi tak tergoyahkan dari kehidupan Maria. Selagi dia percaya pada Allah di atas segalanya, dia pun menerima kekuatan untuk berdiri tegak dalam situasi-situasi sulit yang dihadapinya. Itulah sebabnya, mengapa umat Kristiani (khususnya Katolik) memandang Maria sebagai “model iman” dan “model seorang murid Kristus” yang patut diteladani.

Seperti Maria, kita pun dipanggil untuk untuk membangun kehidupan kita di atas fondasi yang kokoh dari Allah dan janji-janji-Nya. “Aku akan menjadi kota bentengmu”, Tuhan meyakinkan kita. “Taruhlah pengharapanmu dalam Aku.” Inilah yang diproklamasikan oleh sang pemazmur ketika dia berseru: “Jiwa kita menanti-nantikan TUHAN (YHWH), Dialah penolong kita dan perisai kita! Ya, karena Dia hati kita bersukacita, sebab kepada nama-Nya yang kudus kita percaya” (Mzm 33:20-21). Allah kita mahasetia, dan orang-orang yang percaya kepada-Nya sungguh mengenal “kegembiraan hati” yang sejati, yang dapat menggoncang dunia.

Dalam perhatiannya terhadap sabda Allah, Maria itu seperti perempuan dalam kitab “Kidung Agung” yang selalu mendengarkan suara dari kekasihnya (Kid 2:8). Nah, Allah adalah “Kekasih” kita juga. Apakah kita (anda dan saya) melihat-Nya dan percaya bahwa janji-janji-Nya yang terdapat dalam Kitab Suci merupakan janji-janji yang dibuat oleh-Nya bagi kita secara pribadi? Dia yang bersabda bahwa diri-Nya tidak pernah akan membiarkan kita terlantar – Dia itu mahasetia dalam membimbing langkah-langkah kita dan memberikan kekuatan kepada kita. Apakah kita berada dalam situasi yang berkemungkinan besar kehilangan pekerjaan kita, pindah ke rumah baru yang jauh dari tempat kerja dan sekolah yang baik bagi anak-anak, memasuki hidup perkawinan, menderita sakit-penyakit, mengatasi ketidakmampuan, atau berbagai macam kesulitan lainnya, kita tetap dapat mengingat kesetiaan Allah dan mohon pertolongan-Nya, bersama Bunda Maria dan dalam nama Yesus Kristus. Dalam setiap keadaan hidup, kita dapat mempermaklumkan bahwa Allah tidak hanya berada di samping kita, melainkan Dia menggendong kita senantiasa.

Teristimewa dalam masa Adven yang penuh rahmat ini, dalam doa marilah kita memohon kepada Allah untuk meyakinkan diri kita masing-masing tentang kesetiaan-Nya. Dia akan memberikan kepada kita damai-sejahtera yang mampu mengatasi godaan, rasa takut dan cemas kita. Kita harus percaya bahwa Allah akan melakukan segala sesuatu yang dikatakan-Nya akan dilakukan-Nya. Pax et Bonum bagi anda semua!

DOA: Bapa surgawi, Engkau adalah Allah yang Mahasetia. Aku percaya segala janji-Mu karena Engkau memang senantiasa setia pada sabda-Mu. Engkau adalah pengharapanku dan perisaiku. Aku sangat bersukacita karena menaruh kepercayaan pada-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:39-45), bacalah tulisan yang berjudul “TANDA-TANDA ROH KUDUS DI SEKELILING KITA” (bacaan tanggal 21-12-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2017.

(Tulisan  ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-12-16 dalam situs/blog SANG SABDA)

Jakarta, 19 Desember 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

JIWAKU MEMULIAKAN TUHAN

JIWAKU MEMULIAKAN TUHAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA SP MARIA DIANGKAT KE SURGA – Minggu, 13 Agustus 2017)

 

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan bergegas menuju sebuah kota di pegunungan Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.”

Lalu kata Maria, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan kuduslah nama-Nya. Rahmat-Nya turun-menurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.” Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya. (Luk 1:39-56) 

Bacaan Pertama: Why 11:19a;12:1,3-6a. 10ab; Mazmur Tanggapan: Mzm 45:10-12,16; Bacaan Kedua: 1Kor 15:20-26

Dalam peristiwa yang kita rayakan pada hari ini, kita dapat melihat pemenuhan daripada segala janji Allah – pertama-tama kepada Maria dan kemudian kepada segenap umat Allah. Maria ikut ambil bagian dalam kemenangan Yesus atas maut. Dialah yang pertama-tama mengecap apa yang sekarang tersedia bagi kita semua: “Sesudah yang dapat binasa ini mengenakan yang tidak dapat binasa dan yang dapat mati ini mengenakan yang tidak dapat mati, maka akan digenapi firman yang tertulis: ‘Maut telah ditelan dalam kemenangan’” (1Kor 5:54). Maria diangkat ke surga, dijaga oleh Allah dari kerusakan karena kuburan; seperti Yesus, ia mengalahkan kematian dan diangkat tubuh dan jiwanya ke surga.

Allah memberkati Maria secara luarbiasa karena dia telah “percaya bahwa apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan akan terlaksana” (Luk 1:45). Maria percaya sepenuhnya akan janji-janji Allah meskipun untuk itu dia harus hamil sebelum hari pernikahannya; walaupun dia harus melahirkan anaknya di sebuah gua/kandang hewan di Betlehem karena tidak ada tempat bagi mereka; meskipun tidak diinginkan dan ditolak oleh masyarakat; walaupun harus melarikan diri dengan suaminya dan anaknya yang masih sangat kecil ke Mesir; meskipun dia harus menyaksikan kematian Anaknya di kayu salib akibat keputusan “pengadilan” yang samasekali tidak adil. Selama mengalami pencobaan-pencobaan ini, Maria tetap setia terhadap apa yang telah dikatakan Allah kepadanya. Imannya tidak goyah sementara dia menjadi lebih mengenal secara lebih mendalam lagi kasih Allah baginya dan bagi seluruh umat.

Kita dapat bergembira sepenuh hati karena kepercayaan yang sama, ketaatan yang sama dan pengenalan yang sama akan Allah tersedia bagi kita juga. Dalam Magnificat – nya, Maria mengatakan: “Rahmat-Nya turun-menurun atas orang yang takut akan Dia” (Luk 1:50) – sampai pada hari ini. Dalam kasih-Nya, Allah menolong kita agar mau dan mampu menaruh kepercayaan dan mentaati-Nya dalam menghadapi tuntutan-tuntutan kehidupan kita sehari-hari dan dalam pencobaan-pencobaan yang datang tanpa diharapkan dalam kehidupan kita. Setiap hari Dia ingin datang kepada kita, untuk berbicara kepada kita, untuk menolong kita mengenali dan menerima rahmat-Nya.

Marilah kita berterima kasih penuh syukur kepada Allah karena kita dapat mengenal dan mengalami kasih-Nya secara lebih mendalam setiap hari; bahwa Dia akan selalu berbelas-kasihan kepada kita, selalu menolong kita untuk menaruh kepercayaan kepada-Nya. Semoga apa yang telah dilakukan Allah bagi orang-orang yand ina dan rendah di sepanjang sejarah – termasuk hari ini – membangkitan rasa terima kasih dan sukacita di dalam diri kita. Dan semoga kata-kata Elisabet dapat diterapkan bagi kita juga: “Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan akan terlaksana” (Luk 1:45).

DOA: Bapa surgawi, dalam peristiwa Maria diangkat ke surga, Engkau telah menunjukkan pemenuhan akhir dari segala janji-Mu kepada kami. Semoga kami selalu percaya akan sabda-Mu, merangkul dalam setiap situasi kehidupan baru yang dicurahkan kepada kami melalui kematian Yesus di kayu salib. Semoga kami dapat menaruh kepercayaan kepada belas kasihan-Mu dan mengenal serta mengalami kasih-Mu bagi kami secara lebih mendalam lagi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Pertama (Why 11:19a; 12:1,3-6a,10ab) hari ini, silahkan anda membaca tulisan dengan judul “HARUS DILIHAT DARI PERSPEKTIF SURGAWI (bacaan tanggal 13-8-17), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 17-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-8-16 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 11 Agustus 2017 [Peringatan S. Klara dr Assisi, Perawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        

KERINDUAN ALLAH UNTUK MENYATAKAN DIRI DAN RENCANA-NYA

KERINDUAN ALLAH UNTUK MENYATAKAN DIRI DAN RENCANA-NYA

(Bacaan Injil Misa, Pesta SP Maria Mengunjungi Elisabet – Rabu, 31 Mei 2017)

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan bergegas menuju sebuah kota di pegunungan Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.”

Lalu kata Maria, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan kuduslah nama-Nya. Rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.” Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya. (Luk 1:39-56) 

Bacaan Pertama: Zef 3:14-18a atau Rm 12:9-16b; Mazmur Tanggapan: Yes 12:2-6

Maria mengepak barang-barangnya dan kemudian bergegas pergi ke Ain Karem untuk mengunjungi saudaranya, Elisabet. Ia pergi untuk membantu Elisabet menyiapkan kelahiran bayinya justru pada umurnya yang sudah tua. Barangkali Maria juga berniat untuk bertanya-tanya kepada Elisabet tentang kehamilannya yang dipenuhi keajaiban itu.

Pada waktu Maria sampai di tempat tinggal Elisabet, dia memberi salam kepada saudaranya dengan rangkulan tradisional, namun Elisabet merespons dengan cara yang sangat non-tradisional. Bayi dalam rahimnya melonjak kegirangan, dan Elisabet pun kemudian berkata: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu” (Luk 1:42). 

Sedikit banyak, kiranya Elisabet mengetahui apa yang telah terjadi dengan diri Maria yang masih muda usia itu. Barangkali dia mendengar tentang kehamilan Maria dari “kabar burung” atau gosip, atau melalui sepucuk surat dari Maria sendiri. Barangkali juga dia telah mendengar tentang perjumpaan Maria dengan malaikat Gabriel yang penuh misteri itu. Akan tetapi, “pengetahuan” Elisabet tentang situasi yang dihadapi Maria sebenarnya melebihi daripada sekadar sebagai akibat mempelajari berbagai fakta. Lukas menceritakan kepada kita, bahwa ketika Elisabet melihat Maria, dia “penuh dengan Roh Kudus” (Luk 1:41) dan menyerukan dengan suara nyaring kata-kata yang sekarang begitu familiar di telinga kita: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu” (Luk 1:42; dalam doa “Salam Maria”). Mengetahui sesuatu hal/peristiwa secara intelektual dan mengetahuinya oleh kuasa Roh Kudus merupakan dua yang hal berbeda, namun berhubungan.

Cerita ini menunjukkan bagaimana Allah rindu untuk menyatakan diri-Nya dan rencana-Nya kepada umat-Nya. Kemampuan kita untuk memahami kebenaran-kebenaran alkitabiah dan prinsip-prinsip moral adalah sebuah karunia dari Allah yang penting, namun ini hanyalah sebagian dari warisan kita. Kita juga mampu untuk menerima pernyataan spiritual dan penerangan dari Allah mengenai kebenaran-kebenaran dan prinsip-prinsip ini.

Santo Paulus mengatakan kepada jemaat di Korintus, bahwa Allah ingin menyatakan kepada mereka hikmat-Nya yang tersembunyi, “apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia” (1 Kor 2:9-10; ayat 9 bdk. Yes 64:4). Santo Paulus juga berdoa bagi jemaat di Efesus, agar Allah menjadikan mata hati mereka terang, agar mereka mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: Betapa kayanya kemuliaan warisan-Nya kepada orang-orang kudus, dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya yang besar, yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus (Ef 1:18-20).

Demikian pula, Allah ingin berbicara kepada kita. Dia ingin mengatakan kepada kita betapa mendalam Dia mengasihi kita. Dia ingin menyatakan kepada kita rencana penyelamatan-Nya yang mulia dan peranan kita dalam rencana itu. Marilah kita mohon agar Allah menerangi diri kita pada hari ini sehingga kita dapat mengenal Dia dalam hati kita, sehingga dengan demikian kita dapat merangkul rencana-Nya yang agung-mulia itu secara lebih penuh lagi.

DOA: Datanglah, ya Roh Kudus, dan terangilah hatiku pada hari ini. Bukalah Kitab Suci bagiku. Tunjukkanlah kepadaku kasih Bapa. Penuhilah hatiku dengan sukacita-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan  Injil hari ini (Luk 1:39-56), bacalah tulisan yang berjudul “MARIA MEMULIAKAN TUHAN” (bacaan tanggal 31-5-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-05 BACAAN HARIAN MEI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 31-5-16 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 28 Mei 2017 [HARI MINGGU PASKAH VII – TAHUN A] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

HIDUP MARIA ADALAH CONTOH DARI KEHIDUPAN YANG INGIN DIBERIKAN ALLAH KEPADA KITA SEMA

HIDUP MARIA ADALAH CONTOH DARI KEHIDUPAN YANG INGIN DIBERIKAN ALLAH KEPADA KITA SEMUA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Kamis, 22 Desember 2016)

visitationdetailembracemaryandst-annebackgroundelisabethim-1440x900-18279

Lalu kata Maria, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan kuduslah nama-Nya. Rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.”  Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya. (Luk 1:46-56)

Bacaan pertama: 1Sam 1:24-28; Mazmur Tanggapan: 1Sam 2:1.4-8 

Kidung Maria – Magnificat – adalah sebuah kidung pujian yang indah. Kidung ini mencerminkan kontemplasi penuh kerendahan hati tentang belas kasih Allah yang begitu besar bagi dirinya. Maria mengetahui bahwa orang-orang segala zaman akan menyebutnya berbahagia karena perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan-Nya kepadanya. Maria yakin sepenuhnya bahwa dirinya – orang yang rendah dan lemah – akan ditinggikan oleh kuat-kuasa Allah sebagai suatu testimoni, tidak untuk kebaikan dirinya, melainkan untuk kemampuan Bapa surgawi mentransformasikan siapa saja yang membuka hatinya bagi diri-Nya.

Dalam permenungannya tentang peranan Maria dalam sejarah keselamatan, Santo Efrem [306-373], diakon, penyair dan pujangga Gereja di Siria, menulis sebagai berikut: “Sang Mahatinggi [Allah] … telah membuat diri-Nya kecil dalam diri Santa Perawan Maria agar membuat kita besar” (Madah Kelahiran Kristus). Santo Efrem memahami bahwa Allah ingin membuat kita semua menjadi “besar” seperti Maria. Maria itu “penuh rahmat” (“yang dikaruniai”; Luk 1:28); ia adalah pribadi manusia pertama dari orang-orang yang tak terhitung banyaknya, yang ingin dibangkitkan oleh Allah ke dalam suatu hidup yang baru dan penuh kuat-kuasa dalam kehadiran-Nya.

Satu dari berbagai peranan penting yang dimainkan oleh Maria adalah sebagai suatu contoh dari kehidupan yang ingin diberikan Allah kepada kita semua. Maria hanya muncul beberapa kali saja dalam Kitab Suci, namun ia menunjukkan kerendahan hati yang dapat membuka diri kita bagi rahmat-Nya yang mampu mentransformasikan diri kita masing-masing. Dalam kidungnya, Maria mengatakan: “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya” (Luk 1:46-48). Kata-kata Maria dalam kidung tersebut menunjukkan apakah kerendahan hati yang sejati itu. Kerendahan hati yang sejati bukanlah “kelemahan” atau “sifat/sikap takut-takut” atau “mencela diri sendiri”. Kerendahan hati yang sejati adalah kesadaran mengenai kebutuhan kita akan Allah dan suatu pengakuan penuh rasa takjub pada keanggunan-Nya terhadap kita. Kerendahan hati membuat kita cenderung untuk menaruh kepercayaan kepada Dia yang menciptakan kita dan untuk menyerahkan diri kita  kepada-Nya tanpa reserve. 

Saudari dan Saudaraku, Allah ingin mengangkat diri kita jauh melampaui kemampuan-kemampuan manusiawi dan alamiah kita. Ini bukanlah sesuatu yang dapat kita capai dengan kekuatan kita sendiri. Hanya rahmat ilahi dan kuat-kuasa Roh Kudus yang dapat mentransformasikan kita selagi kita bekerja sama dengan Dia. Hanya apabila kita memahami betapa mulia kehidupan yang dimaksudkan Allah bagi kita, maka kita pun – seperti Maria – akan benar-benar menjadi rendah hati, karena diliputi rasa penuh syukur atas kemurahan hati-Nya yang tanpa batas itu. Marilah kita (anda dan saya) memohon kepada Tuhan untuk meluaskan visi kita tentang bagaimana Dia ingin bekerja dalam hidup kita oleh kuasa Roh Kudus-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau datang mengangkat orang yang rendah dan lemah. Angkatlah juga diriku oleh rahmat-Mu. Biarlah aku mengetahui tujuan hidup yang Engkau rencanakan bagiku. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Luk 1:46-56), bacalah tulisan yang berjudul “JIWAKU MEMULIAKAN TUHAN, DAN HATIKU BERGEMBIRA KARENA ALLAH JURUSELAMATKU” (bacaan tanggal 22-12-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 16-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 22-12-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 20 Desember 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEMANGAT NATAL

SEMANGAT NATAL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Senin, 21 Desember 2015)

Peringatan S. Petrus Kanisius, Imam & Pujangga Gereja

Champaigne_visitationBeberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan bergegas menuju sebuah kota di pegunungan Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.” (Luk 1:39-45)

Bacaan pertama: Kid 2:8-14 atau Zef 3:14-18a; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:2-3,11-12,20-21

Apabila salah seorang anak kita menunjukkan wajah yang bersungut-sungut menjelang hari Natal ini, tentu kita akan bertanya: “Ada apa dengan kamu? Tidakkah engkau memiliki semangat Natal?” Kita memang tidak dapat mendefinisikan secara rinci apa yang dimaksudkan dengan “semangat Natal” atau Christmas Spirit itu, namun kita tahu hal itu berarti kita mengesampingkan keserakahan kita, menekan sifat dan sikap “mau menang sendiri” kita, menahan diri dari dorongan-dorongan tidak baik, dan pada saat yang sama kita lebih giat mengulurkan tangan-tangan kita untuk menolong orang-orang lain.

Dalam bacaan Injil hari ini kita melihat sebuah contoh indah dari makna penuh “semangat Natal”, contoh mana diberikan oleh Maria sendiri. Pada waktu dia mendengar bahwa saudaranya yang sudah tua, Elisabet, telah mengandung, maka Maria pun tidak membuang-buang waktu. Langsung saja dia pergi ke tempat tinggal Zakharia dan Elisabet di Ain Karim yang terletak di pegunungan Yehuda. Perjalanan ini cukup jauh (sekitar 112 km) dan juga cukup membahayakan (tidak ada highway patrol pada zaman itu). Mungkin Maria bergabung dengan sebuah rombongan (kafilah) dari Nazaret (Galilea) yang sedang menuju daerah Yudea. Bayangkanlah bagaimana khawatir dan risau hati Yusuf memikirkan perjalanan Maria ini. Mungkin Yusuf mengajukan protes, tetapi Maria maju terus … untuk membantu Elisabet yang sudah tua dan waktu itu adalah bulan keenam dia mengandung (Luk 1:36).

Patut dicatat bahwa pada waktu itu Maria juga sudah mengandung. Ketika Elisabet melihat Maria, kepadanya diberikan rahmat untuk mampu memandang betapa beda dirinya dengan perempuan muda yang datang mengunjunginya itu. Kepada Elisabet diberikan rahmat untuk mampu mengenali Maria sebagai seorang perempuan yang terberkati di antara semua perempuan, karena Bayi yang dikandungnya. Maria datang ke Ain Karim untuk memberikan pelayanan, dan apa yang dilakukannya sesungguhnya adalah membawa Kristus sendiri kepada Elisabet dan kepada Yohanes yang ada dalam kandungannya. Seperti Maria, kita pun dengan penuh kemauan dan tanpa pamrih harus memberikan pelayanan kepada orang-orang lain – dengan membawa Kristus sendiri kepada mereka. Inilah yang dinamakan “semangat Natal”.

zephaniahNabi Zefanya adalah seorang nabi yang dapat disebut pesimis, boleh dikatakan termasuk prophets of doom. Penduduk Yerusalem telah jatuh lagi ke dalam penyembahan berhala. Mereka menyembah matahari, bulan dan bintang-bintang, bukan YHWH sang Pencipta.  Meskipun nabi Zefanya telah mengingatkan tentang suatu hari kemurkaan Allah, imannya kepada Allah tidak membiarkan dirinya tetap bersikap negatif.  Ia berjanji bahwa Allah dalam kerahiman-Nya akan menjaga dan memelihara sisa Israel yang suci. Bacaan dari Kitab Nabi Zefanya hari ini mengungkapkan kesimpulan yang optimistis dari sang nabi. Di sini dia mendorong umat beriman untuk bersukacita karena YHWH, Allah mereka, sang Penyelamat yang mahaperkasa berada di tengah-tengah mereka: “Raja Israel, yakni YHWH, ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan” (Zef 3:15).

Kembali kepada teks Injil di atas, kita lihat Elisabet juga berperan sebagai seorang nabiah yang mengumumkan berita positif yang penuh harapan dan sukacita. Sapaannya kepada Maria menjadi bagian dari sebuah doa favorit umat beriman dalam menghormati Maria: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu” (Luk 1:42). Yesus dinamakan Imanuel – Allah yang menyertai kita. Oleh iman kita percaya bahwa Dia hidup di tengah-tengah kita dan dalam diri kita. Kehadiran Tuhan di tengah-tengah kita dan dalam diri kita inilah yang merupakan penyebab sikap penuh sukacita kita yang kita namakan “semangat Natal”.

DOA: Roh Kudus Allah, jagalah agar kami tetap memiliki “semangat Natal” yang sejati dan – seperti Bunda Maria – membawa Yesus kepada orang-orang lain yang kami jumpai. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:39-45), bacalah tulisan yang berjudul “IA YANG PERCAYA ADALAH YANG BERBAHAGIA” (bacaan tanggal 21-12-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2016.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-12-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 19 Desember 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MARIA: PERAWAN DAN IBU

MARIA: PERAWAN DAN IBU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Senin, 21 Desember 2015)

20140531_Magnificat

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan bergegas menuju sebuah kota di pegunungan Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.” (Luk 1:39-45)

Bacaan pertama: Kid 2:8-14 atau Zef 3:14-18a; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:2-3,11-12,20-21

Dalam kedalaman hati setiap perempuan yang baik terdapat suatu hasrat untuk kualitas-kualitas baik sebagai seorang perawan maupun seorang ibu. Dia ingin suatu hidup kemurnian yang bermakna, baik secara fisik maupun spiritual: suatu kemurnian pikiran, hati, dan kehendak. Ia juga memiliki hasrat menjadi seorang ibu, artinya memberikan hidup. Seorang ibu memberikan hidup secara fisik, malah secara spiritual, dengan memberikan nilai kepada kehidupan, dengan memberikan makna dan tujuan  dan dorongan kepada orang-orang lain.

Dua imaji (gambar) atau cita-cita ini, perawan maupun ibu, tidaklah bertentangan satu sama lain, melainkan bersifat komplementer – saling mengisi/melengkapi – dalam karakter perempuan. Kedua hal tersebut memanifestasikan dua kecenderungan pribadi manusia: (1) penahanan/ pengurungan diri – menahan diri kita sendiri untuk menjadi setia terhadap orang lain, dan (2) pengosongan diri (Inggris: self-abandonment) – memberikan diri sendiri kepada banyak orang. Dua kualitas ini bersama-sama membentuk perempuan yang ideal.

Allah menyadari ideal ini secara sempurna terdapat dalam diri seorang pribadi: Ibunda-Nya, Maria.  Maria ini adalah seorang perawan dan seorang ibu dalam artian yang sesungguhnya, baik secara fisik maupun spiritual.  Allah memanggil setiap perempuan untuk secara spiritual menjadi perawan dan seorang ibu, tanpa peduli status kehidupannya: apakah menikah, tidak menikah, atau sebagai religius.

Baiklah kita melihat dua keutamaan indah perempuan ini, baik dalam diri Maria maupun Elisabet selagi mereka berjumpa di tempat kediaman Elisabet dan Zakharia di Ain Karem. Lihatlah bagaimana mereka membuka diri masing-masing bagi Allah. Bagaimana dengan penuh sukacita mereka telah menerima kesempatan-kesempatan dalam hidup mereka. Bagaimana mereka melihat dengan penuh penghargaan inspirasi-inspirasi ilahi dalam keheningan batin mereka dan bagaimana mereka telah memberikan yang terbaik bagi orang-orang lain.

Betapa indahlah seeorang perempuan yang mengkombinasikan dengan baik dan seimbang kedua kualitas berharga ini! Berbahagialah seorang perempuan yang menjaga baik-baik karunia hikmat dan kesehatan rohaninya, rasa percayanya, kemampuannya untuk memahami dan untuk menaruh simpati. Dengan demikian dia siap untuk menaruh hormat/respek kepada orang-orang lain, mendukung mereka, untuk berbela-rasa. Perempuan seperti itu memiliki kecerdikan untuk membawa segala sesuatu kepada tujuannya yang paling berguna, paling berbuah, paling indah dan paling berharga.

DOA: Bapa surgawi, Allah yang baik, sumber segala kebaikan, satu-satunya yang baik. Kata-kata berikut ini diucapkan oleh Elisabet kepada Maria. “Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.” Ya Tuhanku dan Allahku, jadikanlah diriku anak-Mu yang baik dengan meneladan iman-kepercayaan sejati yang telah ditunjukkan oleh Bunda Maria. Terpujilah nama-Mu yang kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:39-45), bacalah tulisan yang berjudul “SEMANGAT NATAL” (bacaan tanggal 21-12-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-12-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 18 Desember 2015

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS