Posts tagged ‘AIN KARIM’

JIWAKU MEMULIAKAN TUHAN

JIWAKU MEMULIAKAN TUHAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA SP MARIA DIANGKAT KE SURGA – Minggu, 13 Agustus 2017)

 

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan bergegas menuju sebuah kota di pegunungan Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.”

Lalu kata Maria, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan kuduslah nama-Nya. Rahmat-Nya turun-menurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.” Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya. (Luk 1:39-56) 

Bacaan Pertama: Why 11:19a;12:1,3-6a. 10ab; Mazmur Tanggapan: Mzm 45:10-12,16; Bacaan Kedua: 1Kor 15:20-26

Dalam peristiwa yang kita rayakan pada hari ini, kita dapat melihat pemenuhan daripada segala janji Allah – pertama-tama kepada Maria dan kemudian kepada segenap umat Allah. Maria ikut ambil bagian dalam kemenangan Yesus atas maut. Dialah yang pertama-tama mengecap apa yang sekarang tersedia bagi kita semua: “Sesudah yang dapat binasa ini mengenakan yang tidak dapat binasa dan yang dapat mati ini mengenakan yang tidak dapat mati, maka akan digenapi firman yang tertulis: ‘Maut telah ditelan dalam kemenangan’” (1Kor 5:54). Maria diangkat ke surga, dijaga oleh Allah dari kerusakan karena kuburan; seperti Yesus, ia mengalahkan kematian dan diangkat tubuh dan jiwanya ke surga.

Allah memberkati Maria secara luarbiasa karena dia telah “percaya bahwa apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan akan terlaksana” (Luk 1:45). Maria percaya sepenuhnya akan janji-janji Allah meskipun untuk itu dia harus hamil sebelum hari pernikahannya; walaupun dia harus melahirkan anaknya di sebuah gua/kandang hewan di Betlehem karena tidak ada tempat bagi mereka; meskipun tidak diinginkan dan ditolak oleh masyarakat; walaupun harus melarikan diri dengan suaminya dan anaknya yang masih sangat kecil ke Mesir; meskipun dia harus menyaksikan kematian Anaknya di kayu salib akibat keputusan “pengadilan” yang samasekali tidak adil. Selama mengalami pencobaan-pencobaan ini, Maria tetap setia terhadap apa yang telah dikatakan Allah kepadanya. Imannya tidak goyah sementara dia menjadi lebih mengenal secara lebih mendalam lagi kasih Allah baginya dan bagi seluruh umat.

Kita dapat bergembira sepenuh hati karena kepercayaan yang sama, ketaatan yang sama dan pengenalan yang sama akan Allah tersedia bagi kita juga. Dalam Magnificat – nya, Maria mengatakan: “Rahmat-Nya turun-menurun atas orang yang takut akan Dia” (Luk 1:50) – sampai pada hari ini. Dalam kasih-Nya, Allah menolong kita agar mau dan mampu menaruh kepercayaan dan mentaati-Nya dalam menghadapi tuntutan-tuntutan kehidupan kita sehari-hari dan dalam pencobaan-pencobaan yang datang tanpa diharapkan dalam kehidupan kita. Setiap hari Dia ingin datang kepada kita, untuk berbicara kepada kita, untuk menolong kita mengenali dan menerima rahmat-Nya.

Marilah kita berterima kasih penuh syukur kepada Allah karena kita dapat mengenal dan mengalami kasih-Nya secara lebih mendalam setiap hari; bahwa Dia akan selalu berbelas-kasihan kepada kita, selalu menolong kita untuk menaruh kepercayaan kepada-Nya. Semoga apa yang telah dilakukan Allah bagi orang-orang yand ina dan rendah di sepanjang sejarah – termasuk hari ini – membangkitan rasa terima kasih dan sukacita di dalam diri kita. Dan semoga kata-kata Elisabet dapat diterapkan bagi kita juga: “Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan akan terlaksana” (Luk 1:45).

DOA: Bapa surgawi, dalam peristiwa Maria diangkat ke surga, Engkau telah menunjukkan pemenuhan akhir dari segala janji-Mu kepada kami. Semoga kami selalu percaya akan sabda-Mu, merangkul dalam setiap situasi kehidupan baru yang dicurahkan kepada kami melalui kematian Yesus di kayu salib. Semoga kami dapat menaruh kepercayaan kepada belas kasihan-Mu dan mengenal serta mengalami kasih-Mu bagi kami secara lebih mendalam lagi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Pertama (Why 11:19a; 12:1,3-6a,10ab) hari ini, silahkan anda membaca tulisan dengan judul “HARUS DILIHAT DARI PERSPEKTIF SURGAWI (bacaan tanggal 13-8-17), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 17-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-8-16 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 11 Agustus 2017 [Peringatan S. Klara dr Assisi, Perawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        

Advertisements

KERINDUAN ALLAH UNTUK MENYATAKAN DIRI DAN RENCANA-NYA

KERINDUAN ALLAH UNTUK MENYATAKAN DIRI DAN RENCANA-NYA

(Bacaan Injil Misa, Pesta SP Maria Mengunjungi Elisabet – Rabu, 31 Mei 2017)

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan bergegas menuju sebuah kota di pegunungan Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.”

Lalu kata Maria, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan kuduslah nama-Nya. Rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.” Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya. (Luk 1:39-56) 

Bacaan Pertama: Zef 3:14-18a atau Rm 12:9-16b; Mazmur Tanggapan: Yes 12:2-6

Maria mengepak barang-barangnya dan kemudian bergegas pergi ke Ain Karem untuk mengunjungi saudaranya, Elisabet. Ia pergi untuk membantu Elisabet menyiapkan kelahiran bayinya justru pada umurnya yang sudah tua. Barangkali Maria juga berniat untuk bertanya-tanya kepada Elisabet tentang kehamilannya yang dipenuhi keajaiban itu.

Pada waktu Maria sampai di tempat tinggal Elisabet, dia memberi salam kepada saudaranya dengan rangkulan tradisional, namun Elisabet merespons dengan cara yang sangat non-tradisional. Bayi dalam rahimnya melonjak kegirangan, dan Elisabet pun kemudian berkata: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu” (Luk 1:42). 

Sedikit banyak, kiranya Elisabet mengetahui apa yang telah terjadi dengan diri Maria yang masih muda usia itu. Barangkali dia mendengar tentang kehamilan Maria dari “kabar burung” atau gosip, atau melalui sepucuk surat dari Maria sendiri. Barangkali juga dia telah mendengar tentang perjumpaan Maria dengan malaikat Gabriel yang penuh misteri itu. Akan tetapi, “pengetahuan” Elisabet tentang situasi yang dihadapi Maria sebenarnya melebihi daripada sekadar sebagai akibat mempelajari berbagai fakta. Lukas menceritakan kepada kita, bahwa ketika Elisabet melihat Maria, dia “penuh dengan Roh Kudus” (Luk 1:41) dan menyerukan dengan suara nyaring kata-kata yang sekarang begitu familiar di telinga kita: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu” (Luk 1:42; dalam doa “Salam Maria”). Mengetahui sesuatu hal/peristiwa secara intelektual dan mengetahuinya oleh kuasa Roh Kudus merupakan dua yang hal berbeda, namun berhubungan.

Cerita ini menunjukkan bagaimana Allah rindu untuk menyatakan diri-Nya dan rencana-Nya kepada umat-Nya. Kemampuan kita untuk memahami kebenaran-kebenaran alkitabiah dan prinsip-prinsip moral adalah sebuah karunia dari Allah yang penting, namun ini hanyalah sebagian dari warisan kita. Kita juga mampu untuk menerima pernyataan spiritual dan penerangan dari Allah mengenai kebenaran-kebenaran dan prinsip-prinsip ini.

Santo Paulus mengatakan kepada jemaat di Korintus, bahwa Allah ingin menyatakan kepada mereka hikmat-Nya yang tersembunyi, “apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia” (1 Kor 2:9-10; ayat 9 bdk. Yes 64:4). Santo Paulus juga berdoa bagi jemaat di Efesus, agar Allah menjadikan mata hati mereka terang, agar mereka mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: Betapa kayanya kemuliaan warisan-Nya kepada orang-orang kudus, dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya yang besar, yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus (Ef 1:18-20).

Demikian pula, Allah ingin berbicara kepada kita. Dia ingin mengatakan kepada kita betapa mendalam Dia mengasihi kita. Dia ingin menyatakan kepada kita rencana penyelamatan-Nya yang mulia dan peranan kita dalam rencana itu. Marilah kita mohon agar Allah menerangi diri kita pada hari ini sehingga kita dapat mengenal Dia dalam hati kita, sehingga dengan demikian kita dapat merangkul rencana-Nya yang agung-mulia itu secara lebih penuh lagi.

DOA: Datanglah, ya Roh Kudus, dan terangilah hatiku pada hari ini. Bukalah Kitab Suci bagiku. Tunjukkanlah kepadaku kasih Bapa. Penuhilah hatiku dengan sukacita-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan  Injil hari ini (Luk 1:39-56), bacalah tulisan yang berjudul “MARIA MEMULIAKAN TUHAN” (bacaan tanggal 31-5-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-05 BACAAN HARIAN MEI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 31-5-16 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 28 Mei 2017 [HARI MINGGU PASKAH VII – TAHUN A] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

HIDUP MARIA ADALAH CONTOH DARI KEHIDUPAN YANG INGIN DIBERIKAN ALLAH KEPADA KITA SEMA

HIDUP MARIA ADALAH CONTOH DARI KEHIDUPAN YANG INGIN DIBERIKAN ALLAH KEPADA KITA SEMUA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Kamis, 22 Desember 2016)

visitationdetailembracemaryandst-annebackgroundelisabethim-1440x900-18279

Lalu kata Maria, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan kuduslah nama-Nya. Rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.”  Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya. (Luk 1:46-56)

Bacaan pertama: 1Sam 1:24-28; Mazmur Tanggapan: 1Sam 2:1.4-8 

Kidung Maria – Magnificat – adalah sebuah kidung pujian yang indah. Kidung ini mencerminkan kontemplasi penuh kerendahan hati tentang belas kasih Allah yang begitu besar bagi dirinya. Maria mengetahui bahwa orang-orang segala zaman akan menyebutnya berbahagia karena perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan-Nya kepadanya. Maria yakin sepenuhnya bahwa dirinya – orang yang rendah dan lemah – akan ditinggikan oleh kuat-kuasa Allah sebagai suatu testimoni, tidak untuk kebaikan dirinya, melainkan untuk kemampuan Bapa surgawi mentransformasikan siapa saja yang membuka hatinya bagi diri-Nya.

Dalam permenungannya tentang peranan Maria dalam sejarah keselamatan, Santo Efrem [306-373], diakon, penyair dan pujangga Gereja di Siria, menulis sebagai berikut: “Sang Mahatinggi [Allah] … telah membuat diri-Nya kecil dalam diri Santa Perawan Maria agar membuat kita besar” (Madah Kelahiran Kristus). Santo Efrem memahami bahwa Allah ingin membuat kita semua menjadi “besar” seperti Maria. Maria itu “penuh rahmat” (“yang dikaruniai”; Luk 1:28); ia adalah pribadi manusia pertama dari orang-orang yang tak terhitung banyaknya, yang ingin dibangkitkan oleh Allah ke dalam suatu hidup yang baru dan penuh kuat-kuasa dalam kehadiran-Nya.

Satu dari berbagai peranan penting yang dimainkan oleh Maria adalah sebagai suatu contoh dari kehidupan yang ingin diberikan Allah kepada kita semua. Maria hanya muncul beberapa kali saja dalam Kitab Suci, namun ia menunjukkan kerendahan hati yang dapat membuka diri kita bagi rahmat-Nya yang mampu mentransformasikan diri kita masing-masing. Dalam kidungnya, Maria mengatakan: “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya” (Luk 1:46-48). Kata-kata Maria dalam kidung tersebut menunjukkan apakah kerendahan hati yang sejati itu. Kerendahan hati yang sejati bukanlah “kelemahan” atau “sifat/sikap takut-takut” atau “mencela diri sendiri”. Kerendahan hati yang sejati adalah kesadaran mengenai kebutuhan kita akan Allah dan suatu pengakuan penuh rasa takjub pada keanggunan-Nya terhadap kita. Kerendahan hati membuat kita cenderung untuk menaruh kepercayaan kepada Dia yang menciptakan kita dan untuk menyerahkan diri kita  kepada-Nya tanpa reserve. 

Saudari dan Saudaraku, Allah ingin mengangkat diri kita jauh melampaui kemampuan-kemampuan manusiawi dan alamiah kita. Ini bukanlah sesuatu yang dapat kita capai dengan kekuatan kita sendiri. Hanya rahmat ilahi dan kuat-kuasa Roh Kudus yang dapat mentransformasikan kita selagi kita bekerja sama dengan Dia. Hanya apabila kita memahami betapa mulia kehidupan yang dimaksudkan Allah bagi kita, maka kita pun – seperti Maria – akan benar-benar menjadi rendah hati, karena diliputi rasa penuh syukur atas kemurahan hati-Nya yang tanpa batas itu. Marilah kita (anda dan saya) memohon kepada Tuhan untuk meluaskan visi kita tentang bagaimana Dia ingin bekerja dalam hidup kita oleh kuasa Roh Kudus-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau datang mengangkat orang yang rendah dan lemah. Angkatlah juga diriku oleh rahmat-Mu. Biarlah aku mengetahui tujuan hidup yang Engkau rencanakan bagiku. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Luk 1:46-56), bacalah tulisan yang berjudul “JIWAKU MEMULIAKAN TUHAN, DAN HATIKU BERGEMBIRA KARENA ALLAH JURUSELAMATKU” (bacaan tanggal 22-12-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 16-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 22-12-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 20 Desember 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEMANGAT NATAL

SEMANGAT NATAL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Senin, 21 Desember 2015)

Peringatan S. Petrus Kanisius, Imam & Pujangga Gereja

Champaigne_visitationBeberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan bergegas menuju sebuah kota di pegunungan Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.” (Luk 1:39-45)

Bacaan pertama: Kid 2:8-14 atau Zef 3:14-18a; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:2-3,11-12,20-21

Apabila salah seorang anak kita menunjukkan wajah yang bersungut-sungut menjelang hari Natal ini, tentu kita akan bertanya: “Ada apa dengan kamu? Tidakkah engkau memiliki semangat Natal?” Kita memang tidak dapat mendefinisikan secara rinci apa yang dimaksudkan dengan “semangat Natal” atau Christmas Spirit itu, namun kita tahu hal itu berarti kita mengesampingkan keserakahan kita, menekan sifat dan sikap “mau menang sendiri” kita, menahan diri dari dorongan-dorongan tidak baik, dan pada saat yang sama kita lebih giat mengulurkan tangan-tangan kita untuk menolong orang-orang lain.

Dalam bacaan Injil hari ini kita melihat sebuah contoh indah dari makna penuh “semangat Natal”, contoh mana diberikan oleh Maria sendiri. Pada waktu dia mendengar bahwa saudaranya yang sudah tua, Elisabet, telah mengandung, maka Maria pun tidak membuang-buang waktu. Langsung saja dia pergi ke tempat tinggal Zakharia dan Elisabet di Ain Karim yang terletak di pegunungan Yehuda. Perjalanan ini cukup jauh (sekitar 112 km) dan juga cukup membahayakan (tidak ada highway patrol pada zaman itu). Mungkin Maria bergabung dengan sebuah rombongan (kafilah) dari Nazaret (Galilea) yang sedang menuju daerah Yudea. Bayangkanlah bagaimana khawatir dan risau hati Yusuf memikirkan perjalanan Maria ini. Mungkin Yusuf mengajukan protes, tetapi Maria maju terus … untuk membantu Elisabet yang sudah tua dan waktu itu adalah bulan keenam dia mengandung (Luk 1:36).

Patut dicatat bahwa pada waktu itu Maria juga sudah mengandung. Ketika Elisabet melihat Maria, kepadanya diberikan rahmat untuk mampu memandang betapa beda dirinya dengan perempuan muda yang datang mengunjunginya itu. Kepada Elisabet diberikan rahmat untuk mampu mengenali Maria sebagai seorang perempuan yang terberkati di antara semua perempuan, karena Bayi yang dikandungnya. Maria datang ke Ain Karim untuk memberikan pelayanan, dan apa yang dilakukannya sesungguhnya adalah membawa Kristus sendiri kepada Elisabet dan kepada Yohanes yang ada dalam kandungannya. Seperti Maria, kita pun dengan penuh kemauan dan tanpa pamrih harus memberikan pelayanan kepada orang-orang lain – dengan membawa Kristus sendiri kepada mereka. Inilah yang dinamakan “semangat Natal”.

zephaniahNabi Zefanya adalah seorang nabi yang dapat disebut pesimis, boleh dikatakan termasuk prophets of doom. Penduduk Yerusalem telah jatuh lagi ke dalam penyembahan berhala. Mereka menyembah matahari, bulan dan bintang-bintang, bukan YHWH sang Pencipta.  Meskipun nabi Zefanya telah mengingatkan tentang suatu hari kemurkaan Allah, imannya kepada Allah tidak membiarkan dirinya tetap bersikap negatif.  Ia berjanji bahwa Allah dalam kerahiman-Nya akan menjaga dan memelihara sisa Israel yang suci. Bacaan dari Kitab Nabi Zefanya hari ini mengungkapkan kesimpulan yang optimistis dari sang nabi. Di sini dia mendorong umat beriman untuk bersukacita karena YHWH, Allah mereka, sang Penyelamat yang mahaperkasa berada di tengah-tengah mereka: “Raja Israel, yakni YHWH, ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan” (Zef 3:15).

Kembali kepada teks Injil di atas, kita lihat Elisabet juga berperan sebagai seorang nabiah yang mengumumkan berita positif yang penuh harapan dan sukacita. Sapaannya kepada Maria menjadi bagian dari sebuah doa favorit umat beriman dalam menghormati Maria: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu” (Luk 1:42). Yesus dinamakan Imanuel – Allah yang menyertai kita. Oleh iman kita percaya bahwa Dia hidup di tengah-tengah kita dan dalam diri kita. Kehadiran Tuhan di tengah-tengah kita dan dalam diri kita inilah yang merupakan penyebab sikap penuh sukacita kita yang kita namakan “semangat Natal”.

DOA: Roh Kudus Allah, jagalah agar kami tetap memiliki “semangat Natal” yang sejati dan – seperti Bunda Maria – membawa Yesus kepada orang-orang lain yang kami jumpai. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:39-45), bacalah tulisan yang berjudul “IA YANG PERCAYA ADALAH YANG BERBAHAGIA” (bacaan tanggal 21-12-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2016.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-12-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 19 Desember 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MARIA: PERAWAN DAN IBU

MARIA: PERAWAN DAN IBU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Senin, 21 Desember 2015)

20140531_Magnificat

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan bergegas menuju sebuah kota di pegunungan Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.” (Luk 1:39-45)

Bacaan pertama: Kid 2:8-14 atau Zef 3:14-18a; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:2-3,11-12,20-21

Dalam kedalaman hati setiap perempuan yang baik terdapat suatu hasrat untuk kualitas-kualitas baik sebagai seorang perawan maupun seorang ibu. Dia ingin suatu hidup kemurnian yang bermakna, baik secara fisik maupun spiritual: suatu kemurnian pikiran, hati, dan kehendak. Ia juga memiliki hasrat menjadi seorang ibu, artinya memberikan hidup. Seorang ibu memberikan hidup secara fisik, malah secara spiritual, dengan memberikan nilai kepada kehidupan, dengan memberikan makna dan tujuan  dan dorongan kepada orang-orang lain.

Dua imaji (gambar) atau cita-cita ini, perawan maupun ibu, tidaklah bertentangan satu sama lain, melainkan bersifat komplementer – saling mengisi/melengkapi – dalam karakter perempuan. Kedua hal tersebut memanifestasikan dua kecenderungan pribadi manusia: (1) penahanan/ pengurungan diri – menahan diri kita sendiri untuk menjadi setia terhadap orang lain, dan (2) pengosongan diri (Inggris: self-abandonment) – memberikan diri sendiri kepada banyak orang. Dua kualitas ini bersama-sama membentuk perempuan yang ideal.

Allah menyadari ideal ini secara sempurna terdapat dalam diri seorang pribadi: Ibunda-Nya, Maria.  Maria ini adalah seorang perawan dan seorang ibu dalam artian yang sesungguhnya, baik secara fisik maupun spiritual.  Allah memanggil setiap perempuan untuk secara spiritual menjadi perawan dan seorang ibu, tanpa peduli status kehidupannya: apakah menikah, tidak menikah, atau sebagai religius.

Baiklah kita melihat dua keutamaan indah perempuan ini, baik dalam diri Maria maupun Elisabet selagi mereka berjumpa di tempat kediaman Elisabet dan Zakharia di Ain Karem. Lihatlah bagaimana mereka membuka diri masing-masing bagi Allah. Bagaimana dengan penuh sukacita mereka telah menerima kesempatan-kesempatan dalam hidup mereka. Bagaimana mereka melihat dengan penuh penghargaan inspirasi-inspirasi ilahi dalam keheningan batin mereka dan bagaimana mereka telah memberikan yang terbaik bagi orang-orang lain.

Betapa indahlah seeorang perempuan yang mengkombinasikan dengan baik dan seimbang kedua kualitas berharga ini! Berbahagialah seorang perempuan yang menjaga baik-baik karunia hikmat dan kesehatan rohaninya, rasa percayanya, kemampuannya untuk memahami dan untuk menaruh simpati. Dengan demikian dia siap untuk menaruh hormat/respek kepada orang-orang lain, mendukung mereka, untuk berbela-rasa. Perempuan seperti itu memiliki kecerdikan untuk membawa segala sesuatu kepada tujuannya yang paling berguna, paling berbuah, paling indah dan paling berharga.

DOA: Bapa surgawi, Allah yang baik, sumber segala kebaikan, satu-satunya yang baik. Kata-kata berikut ini diucapkan oleh Elisabet kepada Maria. “Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.” Ya Tuhanku dan Allahku, jadikanlah diriku anak-Mu yang baik dengan meneladan iman-kepercayaan sejati yang telah ditunjukkan oleh Bunda Maria. Terpujilah nama-Mu yang kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:39-45), bacalah tulisan yang berjudul “SEMANGAT NATAL” (bacaan tanggal 21-12-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-12-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 18 Desember 2015

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DALAM DIRI MARIA, ALLAH MEMENUHI JANJI-NYA

DALAM DIRI MARIA, ALLAH MEMENUHI JANJI-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU ADVEN IV [TAHUN C] – 20 Desember 2015)

VISITASI - MARIA BERTEMU DENGAN ELISABET - CURHAT

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan bergegas menuju sebuah kota di pegunungan Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.” (Luk 1:39-45)

Bacaan Pertama: Mi 5:1-4; Mazmur Tanggapan: Mzm 80:2-3,15-16,18-19, Bacaan Kedua: Ibr 10:5-10

Peristiwa “Maria mengunjungi Elisabet” adalah sebuah cerita yang sangat indah. Dalam cerita ini ditunjukkan bagaimana iman akan janji-janji Allah membawa sukacita dan berkat bagi hidup kita. Lukas menggambarkan suatu “reaksi berantai” dari sukacita yang diakibatkan oleh kunjungan Maria kepada Elisabet. Yohanes Pembaptis yang dipenuhi oleh Roh Kudus, bahkan sebelum kelahirannya (Luk 1:15), mengenali kehadiran Yesus dalam sapaan/salam Maria kepada Elisabet, dan ia pun melonjak kegirangan dalam rahim ibunya. Elisabet yang juga dipenuhi oleh Roh Kudus, memaklumkan dengan suara nyaring: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu” (Luk 1:41,42). Melihat Elisabet yang membawa seorang anak dalam rahimnya, Maria pun dipenuhi dengan sukacita. Maria melihat rencana penyelamatan Allah bekerja di hadapan dirinya. Semua ini diungkapkan oleh Maria dalam “Kidung Pujian Magnificat”-nya yang terkenal itu (Luk 1:46-55).

Sebuah pemandangan yang sangat menakjubkan karena Yohanes Pembaptis, Elisabet dan Maria, semua mengungkapkan sukacita mereka yang besar sebagai akibat kepercayaan mereka pada Allah. Dalam diri Maria, Allah memenuhi janji-Nya (Mi 5:1-4). Maria percaya bahwa Allah akan setia pada janji-Nya, baik kepada umat-Nya maupun kepada dirinya sendiri, dengan demikian ia pun dipenuhi dengan sukacita melihat apa yang sedang dilakukan oleh Allah. Karena dia menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada Allah, maka pikiran Maria “diangkat” agar dapat melihat rencana Allah dalam suatu terang ilahi. Dia mengetahui dan memahami bahwa dalam kerja-Nya, Allah “menerobos” masuk ke tengah dunia dengan cara yang sama sekali baru.

VISITATION - 9Allah memang telah “menerobos” ke tengah dunia dan sudah bersama dengan kita dalam diri Yesus Kristus, yang meruntuhkan tembok pemisah dosa yang sudah sedemikian lama memisahkan kita dengan Allah, dan memberikan kembali warisan kita sebagai anak-anak-Nya. Sekarang kita dapat mengenal dan mengalami damai sejahtera, kasih, sukacita dan kehadiran Allah hari demi hari. Kita dapat menaruh kepercayaan bahwa Allah menaruh hidup kita dalam telapak tangan-Nya.

Pada hari-hari menjelang “Hari Raya Natal” ini, marilah kita memohon kepada Allah untuk menolong kita menyadari bahwa dalam Yesus semua yang telah dijanjikan oleh Allah telah tiba dan bahwa janji-janji-Nya itu adalah milik kita. Apabila kita memohon kepada Allah untuk menerangi pikiran kita selagi kita membaca janji-janji-Nya dalam Kitab Suci dan mendengar semua yang diwartakan dalam liturgi, kita akan memahami keagungan dari apa yang telah diperbuat oleh Yesus bagi kita. Seperti Yohanes Pembaptis, kita akan dipenuhi dengan rasa syukur yang begitu mendalam sehingga hati kita pun dapat melonjak kegirangan. Pada hari ini, marilah kita menggabungkan suara kita dengan seluruh Gereja dalam suasana penantian yang penuh pengharapan akan kedatangan sang Juruselamat: “Sungguh layak dan sepantasnya, ya Bapa yang kudus, Allah yang kekal dan kuasa, bahwa di mana pun juga kami senantiasa bersyukur kepada-Mu dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Dialah yang dinubuatkan dalam pewartaan para nabi, dan dengan penuh kasih sayang dikandung oleh Santa Perawan Maria. Dialah yang diwartakan oleh Yohanes Pembaptis ketika Ia akan datang, dan diperkenalkan kepada orang banyak tatkala Ia muncul di hadapan umum. Dialah pula yang sekarang menganugerahi kami kesempatan mempersiapkan diri untuk menyambut misteri agung kelahiran-Nya dengan senang hati, supaya kami nanti didapati-Nya tekun berdoa serta bersukaria memuji Dia” (Prefasi Adven III – Kristus Dinantikan Dahulu dan Sekarang, TATA PERAYAAN EKARISTI, hal. 48).

DOA: Aku bergembira dalam Engkau, ya Yesus Tuhan dan Juruselamatku! Transformasikanlah dan buatlah hatiku menjadi seperti hati Maria, yang rendah hati dan penuh syukur. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:39-45), bacalah tulisan yang berjudul “MARIA DAN ELISABET BERTEMU DI AIN KARIM” (bacaan tanggal 20-12-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-12 BACAAN HARIAN 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 23-12-12 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 17 Desember 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MELONJAK KEGIRANGAN

MELONJAK KEGIRANGAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Sabtu,  21 Desember 2013)

visitationdetailembracemaryandst-annebackgroundelisabethim-1440x900-18279

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan bergegas menuju sebuah kota di pegunungan Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana” (Luk 1:39-45).

Bacaan pertama: Kid 2:8-14 atau Zef 3:14-18a; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:2-3,11-12,20-21

Tidak sedikit orang yang pada saat menerima hadiah Natal (atau hadiah Ulang Tahun) dari anggota keluarga mereka melakukan – mungkin secara tidak sadar – tindakan-tindakan seperti berikut ini: mula-mula menggoyang-goyangkannya sedikit, merasakan bentuk barang yang di dalamnya, mungkin dengan mencium aroma/baunya, tentunya semuanya untuk memperoleh petunjuk tentang apa kiranya barang yang di dalam bungkusan hadiah itu, hal mana juga meningkatkan antisipasi orang yang melakukannya.

Pada saat Elisabet melihat Maria, karunia-karunia anak-anak dalam rahim mereka masing-masing saling menanggapi kehadiran satu sama lain. Bayi dalam rahim Elisabet melonjak kegirangan, dan Elisabet sendiri juga dipenuhi dengan Roh Kudus. Ini adalah sebuah kasus di mana tidak perlu kita menebak-nebak karunia yang dibawa oleh Maria. Dalam hatinya, Elisabet mengenali bahwa Maria sedang membawa dalam rahimnya sang Mesias sendiri.

ROH KUDUS MELAYANG-LAYANG - 2Inilah cara bekerja Roh Kudus. Ia berjumpa dengan kita di mana kita berada dan – bilamana kita memperkenan-Nya – menarik kita ke dalam hidup ilahi untuk mana kita dilahirkan. Hati kita dapat melonjak dengan penuh sukacita pada saat kita bergerak dari titik mengetahui kebenaran-kebenaran Injil secara intelektual ke mengalaminya sendiri dalam roh kita. Orang-orang yang biasa melayani dengan penuh kasih para lansia atau anak-anak tuna netra dlsb. menyadari berkat-berkat yang mengalir ke dalam diri mereka dari tanggung jawab pelayanan yang mereka rangkul ini. Bilamana mereka berbicara tentang bagaimana kerja mereka mengajar dan memberkati mereka, kita mengetahui bahwa mereka berbicara dari pengalaman, bukan sekadar teori. Hal yang sama dapat terjadi dengan dengan kita apabila kita berupaya terus untuk mengenal Tuhan.

Dalam Perayaan Ekaristi kita dapat mengetahui dalam “kepala/pikiran” kita bahwa roti dan anggur setelah dikonsekrir oleh imam selebran menjadi tubuh dan darah Yesus Kristus. Bukankah itu yang telah diajarkan kepada kita dalam pelajaran agama Katolik, sejak SR/SD sampai dengan SMA/SMU? Namun Allah ingin memberikan kepada kita lebih daripada sekadar suatu pengamatan eksternal dari mukjizat-Nya. Selagi kita memperkenankan Roh Kudus bergerak di dalam diri kita, maka kita dapat mengalami Yesus secara pribadi dalam Komuni Kudus. Kita dapat diliputi dengan kasih berlimpah-limpah dari Allah, yang mengaruniakan Anak-Nya sendiri ke tengah dunia untuk mati dan bangkit demi keselamatan kita. Suatu pengalaman seperti ini akan menggerakkan kita untuk sujud menyembah Allah dengan segala kerendahan hati. Hal yang sama juga akan menggerakkan kita untuk mengasihi Kristus dalam diri orang-orang lain dengan memperlakukan mereka dengan penuh kasih sama yang telah ditujukkan oleh-Nya kepada kita.

Roh Kudus tidak menginginkan kita sekadar menggoyang-goyangkan “hadiah” (karunia) yang kita terima dari Allah. Ia ingin kita mengalami  semua yang disediakan Allah bagi kita. Belajar mengenali gerakan-gerakan-Nya akan memenuhi diri kita dengan sukacita, seperti yang dialami oleh Elisabet. Marilah kita menaruh kepercayaan kepada janji-janji Allah, maka kita pun akan melihat tanda-tanda Roh Kudus di sekeliling kita.

DOA: Bapa surgawi, aku ingin mengenal Engkau lebih dalam lagi. Tolonglah aku untuk mengalami sukacita yang ingin dinyatakan oleh Roh Kudus dalam kehadiran-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:39-45), bacalah tulisan yang berjudul “MARIA: PERAWAN DAN IBU” (bacaan tanggal 21-12-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2013 . 

Cilandak, 16 Desember 2013 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS