Posts tagged ‘AHLI TAURAT’

PERINTAH YANG TERUTAMA DALAM HUKUM TAURAT

PERINTAH YANG TERUTAMA DALAM HUKUM TAURAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XX – Jumat, 25 Agustus 2017)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Ludovikus IX, Raja – Ordo III (Salah satu dari dua orang kudus Pelindung OFS 

Ketika orang-orang Farisi mendengar bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia, “Guru, perintah manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jawab Yesus kepadanya, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah perintah yang terutama dan yang pertama. Perintah yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua perintah inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Mat 22:34-40) 

Bacaan Pertama: Rut 1:1,3-6,14b-16,22; Mazmur Tanggapan: 146:5-10

“Guru, perintah manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” (Mat 22:36)

Kelihatannya ahli Taurat yang melontarkan pertanyaan ini ingin mengetahui pendapat Yesus mengenai kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan. Dari 613 perintah yang ada dalam Perjanjian Lama, yang manakah yang pantas untuk ditaati secara paling ketat? Perintah mana, kalau dilanggar, akan membuat sulit orang bersangkutan? Mungkin saja si penanya mencari lubang dari mana dia dapat menjebak Yesus. Mungkin sah-sah saja untuk mengajukan pertanyaan seperti ini dengan pengharapan akan memperoleh jawaban terinci, langkah demi langkah dst. Namun Yesus mempunyai cara yang lebih baik!

Kesederhanaan tanggapan Yesus menunjukkan betapa vitalnya untuk memperkenankan Roh Kudus menggerakkan “tulang-tulang kering” kita (lihat Yeh 37:1-14) sehingga dengan demikian hukum-hukum Allah dapat menjadi sumber kehidupan bagi kita, bukan suatu sumber frustrasi. Roh Kudus tidak hadir untuk menekankan keterbatasan-keterbatasan kita, melainkan untuk membuat kita bebas mengasihi Allah dan sesama secara total-lengkap. Melalui Roh Kudus inilah kuasa dosa dipatahkan.

Dengan membuka diri kepada kehadiran Roh Kudus, kita dapat menerima urat-urat syaraf dari kekuatan ilahi, yang memampukan kita untuk bergerak dalam kuasa-Nya. Jiwa kita akan dipenuhi dengan kasih-Nya – sebuah kasih yang mendaging (mewujudkan diri) dalam tindakan-tindakan kita sehari-hari. Bahkan pikiran-pikiran kita akan dilindungi oleh “baju zirah rohani” sebagaimana kulit melindungi organ-organ kita.

Tanpa Roh Kudus, kita hanya mempunyai hukum. Namun dengan Roh Kudus, hukum yang sama dapat membawa kita ke dalam kehidupan yang kekal. Daripada menanggapi pertanyaan-pertanyaan si ahli Taurat dengan memberikan sebuah daftar yang berisikan hal-hal yang bersifat mengikat, harus ini dan itu, Yesus justru mengingatkan kita akan keharusan untuk mengantisipasi tindakan cintakasih kepada Allah dan sesama yang bersifat tanpa batas. Dengan Roh Kudus dalam kehidupan kita, tidak perlulah untuk menanyakan berapa banyak yang harus kita lakukan. Roh Kudus ada bersama kita justru untuk menunjukkan kepada kita segalanya yang harus dan dapat kita lakukan. Bersama sang pemazmur kita pun dapat mengatakan: “Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya” (Mzm 107:1).

DOA: Roh Kudus Allah, hembuskanlah nafas hidup-Mu ke dalam diriku. Ambillah tulang-tulangku yang kering dan letih lesu dan penuhilah dengan hidup-Mu sendiri. Berdayakanlah aku untuk mengasihi-Mu dan sesamaku dengan segenap hatiku, pikiranku dan jiwaku. Datanglah, ya Roh Kudus dan curahkanlah kasih-Mu yang tanpa batas itu ke dalam hatiku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini, bacalah tulisan yang  berjudul “PENEKANAN PADA HUKUM KASIH” (bacaan tanggal 25-8-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 19-8-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 23 Agustus 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

KONFLIK TERBUKA YANG BERKELANJUTAN

KONFLIK TERBUKA YANG BERKELANJUTAN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Dominikus, Pendiri Ordo Pengkhotbah, Imam – Selasa, 8 Agustus 2017

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta S. Bapa Dominikus

Ordo Pengkhotbah (OP): Hari Raya S. Dominikus, Pendiri Tarekat, Imam

Kemudian datanglah beberapa orang Farisi dan ahli Taurat dari Yerusalem kepada Yesus dan berkata, “Mengapa murid-murid-Mu melanggar adat istiadat nenek moyang kita? Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan.”

Lalu Yesus memanggil orang banyak dan berkata kepada mereka, “Dengar dan perhatikanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang.”

Kemudian datanglah murid-murid-Nya dan bertanya kepada-Nya, “Tahukah engkau bahwa perkataan-Mu itu telah membuat orang-orang Farisi sakit hati?” Jawab Yesus, “Setiap tanaman yang tidak ditanam oleh Bapa-Ku yang di surga akan dicabut dengan akar-akarnya. Biarkanlah mereka itu. Mereka orang buta yang menuntun orang buta. Jika orang buta menuntun orang buta, pasti keduanya jatuh ke dalam lubang.” (Mat 15:1-2,10-14) 

Bacaan Pertama: Bil 12:1-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-7,12-13

Tidak berkelebihanlah apabila dikatakan dalam kesempatan ini, bahwa betapa pun sulit dan tidak jelas bacaan Mat 15:1-20 kelihatannya bagi kita, pada kenyataannya inilah salah satu dari bacaan paling penting dalam Injil. Mengapa? Karena bacaan ini menunjukkan konflik terbuka atau clash yang berkelanjutan antara Yesus dan para pemuka agama Yahudi yang ortodoks. Dua ayat pertama di atas jelas menggambarkan bahwa orang-orang Farisi dan ahli Taurat jauh-jauh datang dari Yerusalem ke Galilea untuk mengajukan pertanyaan di atas kepada Yesus. Membasuh tangan sebelum makan merupakan suatu tindakan yang melambangkan pembersihan/pemurnian yang menyangkut ritus keagamaan, jadi bukan pertama-tama demi alasan higienis (Donald Senior CP, Gospel of St. Matthew, Chicago, Ill.: Franciscan Herald Press, hal. 52).

Seseorang  dikatakan tahir/bersih dalam arti dirinya berada dalam keadaan di mana dia dapat melakukan ibadat kepada Allah. Dalam keadaan tidak tahir dia dikatakan najis, artinya tidak dapat melakukan ibadatnya guna menyembah Allah. Orang dapat menjadi najis karena melakukan kontak (misalnya menyentuh) dengan perempuan yang menderita sakit pendarahan, walaupun pendarahan untuk jangka waktu tertentu seperti menstruasi, perempuan yang baru melahirkan anak untuk jangka waktu tertentu (Im 12:1-8), para penderita penyakit kusta (Im 13) demikian pula orang kafir (non Yahudi), dsb. Kenajisan ini juga menular dari orang yang satu kepada orang lain karena bersentuhan. (Patut dicatat bahwa hal serupa bukan monopoli agama Yahudi.)

Jadi, kalau kita berbicara mengenai konflik terbuka atau clash di sini, maka ini bukanlah sekadar clash pribadi antara Yesus dan mereka, melainkan jauh melampaui, karena ini merupakan bertabrakannya dua pandangan agama dan tentunya dua pandangan tentang apa yang dituntut oleh Allah yang disembah umat-Nya. Dalam hal ini tidak ada ruang atau kemungkinan untuk suatu kompromi, atau persetujuan-kerja bersama antara dua pandangan agama. Jadi dalam hal ini mau tidak mau pandangan yang satu harus menghancurkan pandangan lainnya (William Barclay, The Daily Study Bible – The Gospel of Matthew, Volume 2, Edinburgh: The Saint Press, hal. 109).[1]

Penerapan “hukum” mengenai ketahiran dan kenajisan meluas, misalnya menentukan apa saja yang dapat dimakan atau tidak dapat dimakan oleh seorang. Pada umumnya semua buah dan sayur-mayur dapat dimakan. Namun berkenan dengan makhluk-makhluk hidup hukumnya ketat seperti termuat dalam Im 11:1-47 dan Ul 14:3-21). Dalam hal ini William Barclay mengemukakan beberapa hal:

  1. Penolakan untuk menyentuh mayat, atau makan daging dari bangkai hewan yang sudah mati (bukan karena disembelih untuk kepentingan manusia), mungkin karena kaitannya dengan kepercayaan dalam hal roh-roh jahat. Lebih mudahlah bagi orang-orang untuk berpikir bahwa roh jahat mendiami tubuh binatang atau orang mati, dengan demikian mudah masuk ke dalam tubuh orang yang memakannya atau menyentuhnya.
  2. Hewan-hewan tertentu dipandang suci dalam agama-agama lain, misalnya kucing dan buaya adalah suci di mata orang Mesir, dengan demikian wajarlah bagi orang-orang Yahudi untuk memandang hewan-hewan yang disembah bangsa lain tersebut sebagai najis (haram). Hewan-hewan itu dicap sebagai berhala dan karenanya sangat najis.
  3. Menurut pengamatan Dr. Rendle Short (The Bible and Modern Medicine), peraturan-peraturan tertentu berkaitan dengan hewan-hewan tertentu yang dipandang najis dapat dinilai bijak dari sudut kesehatan dan higiene, dan hanya aman apabila dimasak sampai matang. Bahaya tersebut bersifat minimal di dunia modern, namun sungguh berbahaya pada zaman Palestina kuno, dan memang lebih baik untuk dihindari.
  4. Tetap ada sejumlah besar kasus di mana ada hal-hal (hewan dll.) yang dipandang najis tanpa alasan yang jelas. Takhyul dapat menyebabkan hewan-hewan tertentu dipandang berhubungan dengan nasib baik atau nasib buruk, dengan ketahiran atau kenajisan.

Hal-hal seperti diuraikan di atas menjadi kesulitan dan bahkan “tragedi” karena bagi para ahli Taurat dan orang-orang Farisi hal-hal tersebut menjadi masalah hidup atau mati. Dalam pikiran seorang Farisi, larangan untuk makan daging kelinci atau babi merupakan perintah Allah yang kiranya sama beratnya dengan larangan untuk berzinah. Agama menjadi semacam ember atau koper yang dipenuhi dengan berbagai aturan yang bersifat eksternal. Karena lebih mudah untuk melaksanakan peraturan dan memeriksa orang lain yang tidak melakukannya, maka segala aturan ini menjadi agama itu sendiri bagi orang-orang Farisi dkk.

Pertanyaan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi kepada Yesus adalah: “Mengapa murid-murid-Mu melanggar adat istiadat nenek moyang kita? Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan” (Mat 15:2). Di sini mereka berbicara mengenai “adat istiadat nenek moyang” mereka. Bagi orang Yahudi, Hukum terbagi menjadi dua bagian. Ada “hukum tertulis” yang termuat dalam Kitab Suci dan ada pula “hukum lisan” seperti yang mengatur soal membasuh tangan yang terus dikembangkan oleh para ahli Taurat dari generasi ke generasi, dan semua itu dipandang sebagai tradisi atau adat-istiadat nenek moyang, yang sayangnya seringkali dipandang lebih mengikat daripada “hukum tertulis”. Semua upacara rituale ini bagi orang Yahudi ortodoks adalah “agama”. 

Yesus tidak secara langsung menjawab pertanyaan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi tersebut. Dalam Mat 15:3-9 yang tidak menjadi bagian bacaan Injil hari ini, Yesus sebenarnya tidak mengedepankan kebenaran yang belum/tidak diketahui oleh orang-orang Yahudi. Yesus mengingatkan para pemuka agama itu tentang hal-hal yang telah Allah telah sabdakan kepada umat Yahudi namun telah mereka lupakan, karena mereka lebih menyukai aturan-aturan ciptaan manusia ketimbang Hukum Allah yang sangat sederhana. Di sinilah letak clash atau tabrakan antara dua jenis agama dan dua jenis penyembahan kepada Allah. Bagi para ahli Kitab dan orang-orang Farisi agama adalah pelaksanaan aturan-aturan yang bersifat eksternal dan rituale, misalnya cara yang benar bagaimana membasuh tangan sebelum makan dlsb. Sebaliknya, bagi Yesus agama adalah sesuatu yang bertempat kedudukan dalam hati; sesuatu yang diungkapkan dengan penuh belarasa dan kebaikan hati, yang semuanya berada di atas dan bahkan melampaui hukum. Bagi orang Yahudi ortodoks penyembahan itu berarti rituale, hukum yang menyangkut upacara lahiriah, sedangkan bagi Yesus penyembahan adalah hati yang bersih dan kehidupan yang penuh kasih. Di sinilah letaknya clash termaksud.

“Dengar dan perhatikanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang” (Mat 15:11). Bagi orang Yahudi ortodoks tersebut, ucapan Yesus itu terdengar sebagai sesuatu yang lebih parah daripada “kurang ajar”. Telinga mereka menjadi panas! Mengapa? Karena dengan mengatakan demikian, Yesus tidak hanya “melanggar” praktek “agama” rituale dan seremonial para ahli Taurat dan orang-orang Farisi, melainkan juga Dia menghapus banyak bagian dalam bacaan Kitab Imamat. Jadi, Yesus tidak hanya menimbulkan kontradiksi dengan tradisi nenek-moyang, melainkan juga berkontradiksi dengan apa yang disabdakan dalam Kitab Suci. Sabda Yesus ini membatalkan hukum tentang apa yang halal dan haram untuk dimakan dalam Perjanjian Lama. Mungkin saja hukum ini masih diindahkan jika menyangkut kesehatan, hygiene, akal sehat dan kebijakan medis; namun tidak pernah boleh diyakini oleh kita sebagai agama. Yesus mau menekankan bahwa yang penting bagi kita bukanlah pelaksanaan rituale yang bersifat eksternal, melainkan disposisi hati kita. Tidak mengherankanlah apabila para ahli Kitab dan orang-orang Farisi menjadi kaget dan geram mendengar sabda Yesus yang revolusioner ini, karena dengan lugas dan gamblang Yesus menyatakan bahwa teori dan praktek agama mereka adalah salah besar.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu untuk pengajaran-Mu bahwa praktek keagamaan sesungguhnya adalah masalah hati, bukan tata-cara atau rituale yang bersifat eksternal. Kami tahu bahwa bagi-Mu dan juga bagi Gereja Perdana, masalah ini adalah masalah hidup atau mati. Teristimewa bagi kami yang hidup sebagai minoritas dalam masyarakat yang sangat plural, anugerahkanlah kepada kami keberanian untuk menyatakan kebenaran yang kami yakini lewat kata-kata dan perbuatan kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Bil 12:1-13), bacalah tulisan yang berjudul “SIKAP DAN PERILAKU MUSA YANG PATUT KITA CONTOH” (bacaan tanggal 8-8-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-08 BACAAN HARIAN 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 7 Agustus 2017 [Peringatan B. Agatangelus & Kasianus, Imam Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

[1] Banyak dari uraian berikut ini diinspirasikan buku William Barclay, hal. 109-120; juga dari buku P.  George T. Montague SM, Companion God – A Cross-Cultural Commentary on the Gospel of Matthew, New York and New Jersey: Paulist Press, 1989, hal. 170-173.

PERINTAH PALING UTAMA DALAM HUKUM TAURAT

PERINTAH PALING UTAMA DALAM HUKUM TAURAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa IX – Kamis, 8 Juni 2017)

OFMCap.: Peringatan B. Nikolaus Gesturi, Imam 

Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya, “Perintah manakah yang paling utama?”  Jawab Yesus, “Perintah yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhanlah Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Perintah yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada perintah lain yang lebih utama daripada kedua perintah ini.”  Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus, “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri jauh lebih utama daripada semua kurban bakaran dan kurban lainnya.”  Yesus melihat bagaimana orang itu menjawab dengan bijaksana, dan Ia berkata kepadanya, “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!”  Sesudah itu, seorang pun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus. (Mrk 12:28-34) 

Bacaan Pertama: Tob 6:10-11; 7:1,6,8-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 128:1-5 

“Perintah manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” (Mrk 12:28). Kelihatannya ahli Taurat yang melontarkan pertanyaan ini ingin mengetahui pendapat Yesus mengenai kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan. Dari 613 perintah yang ada dalam Perjanjian Lama, yang manakah yang pantas untuk ditaati secara paling ketat? Perintah mana, kalau dilanggar, akan membuat sulit orang bersangkutan? Mungkin saja si penanya mencari lubang dari mana dia dapat menjebak Yesus. Mungkin sah-sah saja untuk mengajukan pertanyaan seperti ini dengan pengharapan akan memperoleh jawaban terinci, langkah demi langkah dst. Namun Yesus mempunyai cara yang lebih baik!

Walaupun motif ahli Taurat itu dapat dipertanyakan, mungkin saja dia sesungguhnya ingin mengetahui apakah yang dipikirkan Yesus berada pada jantung Kitab Suci. Ternyata jawaban Yesus mengerucut pada “kasih”.

Jika anda yang ditanya, bagaimana anda akan menanggapi pertanyaan si ahli Taurat? Menurut anda, apa sih jantung Kitab Suci? Bagaimana pun anda mengungkapkannya, jawaban anda seharusnya tidak menunjuk kepada “apa”, melainkan kepada “siapa” – kepada Dia, yang adalah inkarnasi sempurna dari kasih Allah. Mengikuti pemikiran Hugo dari S. Viktor, Katekismus Gereja Katolik (KGK) mengatakan: “Seluruh Kitab Suci adalah satu buku saja dan buku yang satu ini adalah Kristus, karena seluruh Kitab ilahi ini berbicara tentang Kristus, dan seluruh Kitab ilahi terpenuhi dalam Kristus” (KGK, 134). Yesus adalah sang Sabda Allah. Dalam diri Yesus ini, Allah mengekspresikan diri-Nya secara lengkap dan sempurna. Hal ini berarti bahwa kitab-kitab Injil adalah jantung Kitab Suci. Kitab-kitab itu adalah sumber mendasar tentang hidup dan ajaran Yesus. Oleh karena itu, tidak mengherankanlah apabila Santo Hieronimus [340-420] mengatakan, “Tidak kenal Kitab Suci, maka tidak kenal Kristus!” (Ignoratio scripturarum, ignoratio Christi est!).

Apabila anda mengasihi seseorang, tentunya anda ingin mengetahui segala sesuatunya tentang dia. Selagi anda meluangkan waktu bersama orang itu, maka anda pun bahkan mengambil alih beberapa dari karakteristik orang itu. Itulah sebabnya mengapa Allah ingin agar kita membaca kitab-kitab Injil secara teratur. Allah ingin agar kita mendalami relasi kita dengan Yesus sehingga kita dapat menjadi lebih serupa dengan Dia. Pengalaman mengatakan kepada kita bahwa tidak cukuplah untuk mempunyai pengetahuan samar-samar dan umum saja tentang Yesus. Seperti dalam relasi akrab yang mana saja, kita harus menjadi begitu familiar dengan kata-kata-Nya dan tindakan-tindakan-Nya, sehingga semua itu secara alamiah muncul dalam pikiran kita manakala kita menghadap situasi-situasi yang berbeda-beda dalam kehidupan kita. Karena Kitab Suci adalah sabda Allah yang hidup, maka kita selalu dapat mengharapkan bahwa Yesus akan berbicara kepada kita secara langsung melalui Kitab Suci itu – menghibur kita dan mencerahkan kita, namun juga menggerakkan kita untuk kemudian bertindak selagi kita secara serius berupaya turut serta membangun kerajaan-Nya.

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus. Apakah anda melakukan pendekatan terhadap Kitab Suci dengan penuh hasrat dan ekspektasi bahwa anda akan mendengar suara Allah dan berjumpa dengan Yesus? Dalam Misa Kudus hari ini atau dalam doa pribadi anda, perkenankanlah Roh Kudus membuka hati anda bagi kata-kata (sabda) yang Yesus ingin ucapkan kepada anda secara pribadi. Hal-hal yang penuh kuat-kuasa dapat terjadi sebagai akibatnya.

Apabila kita kembali kepada bacaan Injil hari ini, kita dapat  melihat bahwa kesederhanaan tanggapan Yesus kepada si ahli Taurat menunjukkan betapa vitalnya untuk memperkenankan Roh Kudus bekerja dalam diri kita. Roh Kudus tidak hadir untuk menekankan keterbatasan-keterbatasan kita, melainkan untuk membuat kita bebas mengasihi Allah dan sesama secara total-lengkap. Dengan membuka diri bagi kehadiran Roh Kudus, kita dapat menerima kekuatan ilahi, yang memampukan kita untuk bergerak dalam kuasa-Nya. Jiwa kita akan dipenuhi oleh kasih-Nya – sebuah kasih yang mendaging (mewujudkan diri) dalam tindakan-tindakan kita sehari-hari. Bahkan pikiran-pikiran kita akan dilindungi oleh “baju zirah rohani” sebagaimana kulit melindungi organ-organ kita.

Tanpa Roh Kudus, kita hanya mempunyai hukum. Namun dengan Roh Kudus, hukum yang sama dapat membawa kita ke dalam kehidupan yang kekal. Daripada menanggapi pertanyaan-pertanyaan si ahli Taurat dengan memberikan sebuah daftar yang berisikan hal-hal yang bersifat mengikat, harus ini dan harus itu, Yesus justru mengingatkan kita akan keharusan untuk mengantisipasi tindakan cintakasih kepada Allah dan sesama yang bersifat tanpa batas. Dengan Roh Kudus dalam kehidupan kita, tidak perlulah untuk menanyakan berapa banyak yang harus kita lakukan. Roh Kudus ada bersama kita justru untuk menunjukkan kepada kita segalanya yang harus dan dapat kita lakukan. Bersama sang pemazmur kita pun dapat mengatakan: “TUHAN HIDUP! Terpujilah gunung batuku, dan mulialah Allah Penyelamatku” (Mzm 18:47).

DOA: Roh Kudus Allah, hembuskanlah nafas hidup-Mu ke dalam diriku. Ambillah hal-hal yang tidak berkenan kepada-Mu dari diriku dan penuhilah diriku ini dengan hidup-Mu sendiri. Berdayakanlah aku untuk mengasihi-Mu dan sesamaku dengan segenap hatiku, pikiranku dan jiwaku. Datanglah, ya Roh Kudus dan curahkanlah kasih-Mu yang tanpa batas itu ke dalam hatiku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 12:28-34), bacalah tulisan yang berjudul “PERTANYAAN YANG MENCERMINKAN SEBUAH HATI YANG MENCARI” (bacaan tanggal 8-6-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 BACAAN HARIAN JUNI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 2-6-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 5 Juni 2017 [Peringatan S. Bonifasius, Uskup Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MENGASIHI ALLAH DAN SESAMA

MENGASIHI ALLAH DAN SESAMA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Prapaskah – Jumat, Maret 2017) 

Lalu seorang  ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya, “Perintah manakah yang paling utama?”  Jawab Yesus, “Perintah yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhanlah Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Perintah yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada perintah lain yang lebih utama daripada kedua perintah ini.”  Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus, “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri jauh lebih utama daripada semua kurban bakaran dan kurban lainnya.” Yesus melihat bagaimana orang itu menjawab dengan bijaksana, dan Ia berkata kepadanya, “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!”  Sesudah itu, seorang pun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus. (Mrk 12:28-34) 

Bacaan Pertama: Hos 14:2-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 81:6-11,14,17 

Ahli Taurat ini datang kepada Yesus dengan sebuah pertanyaan yang seringkali merupakan topik perdebatan dalam sekolah-sekolah para rabi. Dalam Yudaisme terdapat kecenderungan ganda. Ada kecenderungan untuk meluaskan hukum secara tanpa batas ke dalam ratusan dan bahkan ribuan peraturan. Di sisi lain ada juga kecenderungan untuk mencoba merumuskan hukum itu ke dalam satu kalimat, sebuah pernyataan umum yang akan menjadi ringkasan dari keseluruhan pesan. Hillel sekali diminta oleh seorang pengikut baru untuk mengajarkan kepadanya seluruh hukum sementara dia berdiri dengan satu kaki saja. Jawaban Hillel: “Apa yang kamu benci bagi dirimu sendiri, janganlah lakukan pada sesama. Ini adalah seluruh hukum, selebihnya adalah tafsiran. Pergilah dan belajarlah.” Simon sang Budiman telah berkata, “Dunia berdiri di atas tiga hal – atas hukum, atas penyembahan, dan atas karya-karya kasih.”

Sammlai telah mengajarkan bahwa Musa menerima 613 aturan/ajaran di Gunung Sinai, 365 sesuai dengan jumlah hari dalam satu tahun matahari, dan 248 sesuai dengan jumlah generasi manusia. Daud mengurangi jumlah 613 itu menjadi 11 saja dalam Mazmur 15:

TUHAN (YHWH), siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu?

  1. Dia yang berlaku tidak bercela,
  2. yang melakukan apa yang adil,
  3. dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya,
  4. yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya,
  5. yang tidak berbuat jahat terhadap temannya,
  6. yang tidak menimpakan cela kepada tetangganya,
  7. yang memandang hina (terjemahan LAI: orang yang tersingkir) bajingan (Inggris RSV: reprobate),
  8. tetapi memuliakan orang yang takut akan TUHAN,
  9. yang berpegang teguh pada sumpah, walaupun rugi;
  10. yang tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba,
  11. dan tidak menerima suap melawan orang yang tak bersalah.

Yesaya mengurangi semua itu menjadi 6 aturan/ajaran (baca sendiri: Yes 33:15); Mikha mengurangi 6 aturan/ajaran ini menjadi 3 (baca sendiri: Mi 6:8); sekali lagi Yesaya mengurangi 3 aturan/ajaran menjadi 2 (baca sendiri: Yes 56:1); dan akhirnya Habakuk datang dengan satu saja aturan/ajaran: “Orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya” (Hab 2:4).

Di sini kita dapat melihat kecerdikan/kelihayan dari sekolah atau tradisi para rabi. Dalam hal ini ada dua arus pemikiran, yang pertama adalah mereka yang percaya adanya hal-ikhwal hukum yang lebih ringan dan ada pula hal-ikhwal hukum lebih berat yang sangat-sangat penting untuk dipahami. Di lain pihak ada yang berpandangan bahwa setiap

Hal baru yang dilakukan Yesus adalah untuk menaruh dua perintah secara bersama-sama. Tidak pernah ada rabi mana pun yang pernah melakukan hal seperti yang dilakukan Yesus ini. Memang sekitar tahun 100 SM, pernah disusun serangkaian traktat (risalat) yang dinamakan “Warisan 12 Bapa bangsa” di dalam mana seorang penulis tak dikenal menaruh ke dalam mulut para bapa bangsa tersebut beberapa ajaran yang sangat baik. Dalam “Warisan Isakhar” (5:2) kita membaca: “Kasihilah Tuhan dan kasihilah sesamamu, berbela-rasalah terhadap orang-orang miskin dan lemah.” Dalam warisan yang sama (7:6) kita membaca: “Aku mengasihi Tuhan, demikian pula setiap orang dengan segenap hatiku.”  Dalam “Warisan Dan” (5:3) kita membaca: “Kasihilah Tuhan sepanjang hidupmu, dan kasihilah satu sama lain dengan suatu hati yang benar.”

Namun demikian, tidak ada seorang pun kecuali Yesus yang menempatkan kedua perintah secara bersama-sama dan membuat dua perintah itu menjadi satu. Agama menurut Yesus adalah mengasihi Allah dan mengasihi manusia. Menurut Dia jalan satu-satunya seseorang dapat membuktikan bahwa dia mengasihi Allah ialah dengan menunjukkan bahwa dia mengasihi manusia sesamanya.

Ahli Taurat menerima dengan baik jawaban Yesus itu dan dia juga mengatakan bahwa mengasihi Allah dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri jauh lebih utama daripada semua kurban bakaran dan kurban lainnya (Mrk 12:32-33). Dalam hal ini ahli Taurat itu berada dalam tingkat tertinggi pemikiran umat Yahudi. Berabad-abad sebelumnya Samuel berkata, “Apakah TUHAN itu berkenan kepada kurban bakaran dan kurban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik daripada daripada kurban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan” (1Sam 15:22). Hosea telah mendengar Allah bersabda: “… Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan” (Hos 6:6).

Namun demikian, adalah kenyataan bahwa senantiasa lebih mudahlah untuk membiarkan segala macam rituale lahiriah menggantikan kasih yang sejati. Selalu lebih mudahlah membuat penyembahan sejati menjadi soal membangun Gereja daripada kehidupan secara menyeluruh. Dalam perumpamaan “Orang Samaria yang murah hati” (Luk 10:25-37), imam dan orang Lewi dapat melewati seorang Yahudi yang babak belur terkapar di jalan karena kedua “pejabat” agama itu berpandangan bahwa menjalankan “rituale keagamaan” di Bait Allah adalah jauh lebih penting daripada memikirkan “nasib” sesamanya yang baru “dikerjain”  oleh para pembegal di jalan antara Yerusalem dan Yerikho. Nah ahli Taurat yang bertanya kepada Yesus dalam bacaan Injil hari ini sudah melampaui para rekan sezamannya. Itulah sebabnya mengapa dia bersikap positif penuh simpati terhadap sang Rabi dari Nazaret.

Kita dapat membayangkan adanya pandangan penuh kasih pada mata Yesus ketika Dia berkata kepada ahli Taurat itu: “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!” (Mrk 12:34). 

Sumber: William Barclay, THE DAILY STUDY BIBLE – THE GOSPEL OF MARK, Edinburgh: The Saint Andrew Press, 1975 (Revised Edition), pages 292-297.

DOA: Bapa surgawi, jikalau aku pada saat ini mengatakan bahwa aku mengasihi Engkau, tetapi aku membenci saudaraku, maka aku adalah seorang pendusta. Karena jika aku tidak mengasihi saudaraku yang kelihatan tak mungkinlah bagiku untuk mengasihi Engkau yang tidak kelihatan (1Yoh 4:20). Biarlah Roh-Mu menggerakkan hatiku untuk mengasihi-Mu dan sesamaku dengan kasih-Mu yang sejati. Teristimewa pada masa Prapaskah ini, tolonglah aku agar dapat semakin serupa dengan Guruku – Yesus Kristus – sehingga mampu melihat hidup imanku sebagai suatu relasi, bukan sekadar suatu tugas. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 12:28-34)), bacalah tulisan yang berjudul “PERINTAH UNTUK MENGASIHI ALLAH DAN SESAMA” (bacaan tanggal 24-3-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-03 BACAAN HARIAN MARET 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-3-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 21 Maret 201 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

JANGAN OMDO

JANGAN OMDO

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa V – Selasa, 7 Februari 2017)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan/Pesta S. Koleta dari Corbie, Ordo II

c3606b07eb3e0f92bb5bfe8287005989Orang-orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus. Mereka melihat bahwa beberapa orang murid-Nya makan dengan tangan yang najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh. Sebab orang-orang Farisi seperti orang-orang Yahudi lainnya tidak makan kalau tidak membasuh tangan dengan cara tertentu, karena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang mereka; dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membasuh dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga serta tempat pembaringan. Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada-Nya, “Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?” Jawab-Nya kepada mereka, “Tepatlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik, seperti ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya tetap jauh dari Aku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, karena ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan dan adat istiadat manusia kamu pegang.” Lalu Yesus berkata kepada mereka, “Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadat sendiri. Karena Musa telah berkata: Hormatilah ayahmu dan ibumu! dan: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati. Tetapi kamu berkata: Kalau seseorang berkata kepada ayahnya atau ibunya: Segala bantuan yang seharusnya engkau terima dariku adalah Kurban, – yaitu persembahan kepada Allah – , maka kamu tidak membiarkannya lagi berbuat sesuatu pun untuk ayahnya atau ibunya. Jadi, dengan adat istiadat yang kamu teruskan itu, firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku. Banyak lagi hal lain seperti itu yang kamu lakukan.” (Mrk 7:1-13)

Bacaan Pertama: Kej 1:20 – 2:4a; Mazmur Tanggapan: Mzm 8:4-9

Orang yang suka berbicara besar tanpa dukungan perbuatan yang sepadan seringkali harus menghadapi kritik-kritik pedas. Apabila “adegan” antara Yesus dan orang-orang Farisi akan dimainkan kembali pada hari ini, maka Yesus dapat saja membuat komentar pedas kepada orang-orang Farisi yang “nyebelin” tersebut.

Orang-orang Farisi yang sedang dihadapi Yesus itu mengetahui semua peraturan untuk menjadi orang-orang Yahudi yang baik, namun mereka “tidaklah baik-baik amat” dalam mempraktekkan sendiri segala peraturan itu sehari-harinya sehingga menyenangkan Allah. Orang-orang Farisi tersebut begitu prihatin dalam menjaga cangkir dan mangkok mereka agar tetap bersih, akibatnya mereka kehilangan jejak dari hasrat lebih mendalam dari Allah bahwa mereka juga harus menjaga hati mereka agar tetap bersih.

Satu contoh yang digunakan Yesus dalam membuat pembedaan ini adalah cara sejumlah orang Yahudi menggunakan aspek-aspek teknis dari hukum guna menghindari kewajiban mereka untuk memelihara atau menjaga para orangtua mereka. Seringkah kita juga terjebak dalam perangkap serupa? Barangkali dalam pikiran dan hati, kita pun telah membuat penilaian-penilaian negatif terhadap para orangtua kita karena beberapa kebiasaan mereka yang tidak kita senangi atau tidak dapat kita terima. Barangkali penilaian-penilaian negatif ini telah menyebabkan kita menahan kasih dan rasa hormat yang  seharusnya diberikan kepada mereka. Dalam bentuknya yang paling murni, kasih mengabaikan kelemahan-kelemahan dan membuat rumah kita menjadi tempat di mana Roh Kudus (Roh Kristus) berdiam dan setiap penghuni rumah itu diangkat ke dalam kehidupan yang lebih baik.

Pada hari ini marilah kita (anda dan saya) membuat pilihan untuk mendukung iman-kepercayaan kita dengan cara/gaya hidup kita. Apakah kita mengatakan bahwa kita mengasihi Yesus? Kalau begitu, kita harus memastikan bahwa kita senantiasa menyediakan quality time untuk berdoa: menyembah dan memuji serta menghormati Dia sesuai dengan apa yang pantas diterima-Nya. Apakah kita mengaku diri kita sebagai seorang eksekutif Kristiani? Kalau begitu bagaimanakah kita memperlakukan para pekerja yang berada di bawah otoritas kita? Dengan penuh respek dan menghormati martabat mereka masing-masing sebagai pribadi-pribadi? Apakah kita mengasihi keluarga kita masing-masing? Kalau begitu, pikirkanlah cara istimewa yang dapat kita tunjukkan kepada mereka bahwa kita mengasihi mereka – teristimewa jika kita baru saja berada dalam situasi konflik dengan salah satu atau beberapa anggota keluarga kita.

Saudari dan Saudaraku, janganlah kita membiarkan diri kita menjadi seperti orang-orang Farisi, yang menghormati Yesus di bibir mereka namun pada saat yang sama hati mereka jauh dari Dia! Janganlah kita menjadi orang-orang yang suka nato (no action, talk only) atau “omdo” (omong doang).

DOA: Yesus, aku sungguh ingin agar kata-kataku sungguh didukung dengan tindakan-tindakanku. Aku ingin mendukung iman-kepercayaanku dengan hal-hal yang kukatakan, kupikirkan, dan kulakukan. Tolonglah aku agar dapat menghormati para orangtuaku dan semua anggota keluargaku, dengan demikian orang-orang akan mengetahui bahwa aku adalah murid-Mu – yaitu oleh kasihku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1 Raj 8:22-23,27-30), bacalah tulisan yang berjudul “ESENSI HUKUM ALLAH ADALAH CINTA KASIH” (bacaan tanggal 7-2-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2017.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 9-2-16 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 3 Februari 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERINTAH MANAKAH YANG TERUTAMA DALAM HUKUM TAURAT?

PERINTAH MANAKAH YANG TERUTAMA DALAM HUKUM TAURAT?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa IX – Kamis, 2 Juni 2016)

OFMCap.: Peringatan S. Feliks dr Nikosia, Biarawan

 jesus_christ_picture_013

Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya, “Perintah manakah yang paling utama?”  Jawab Yesus, “Perintah yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhanlah Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Perintah yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada perintah lain yang lebih utama daripada kedua perintah ini.”  Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus, “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri jauh lebih utama daripada semua kurban bakaran dan kurban lainnya.”  Yesus melihat bagaimana orang itu menjawab dengan bijaksana, dan Ia berkata kepadanya, “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!”  Sesudah itu, seorang pun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus. (Mrk 12:28-34) 

Bacaan Pertama: 2 Tim 2:8-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 25:4-5,8-10,14 

“Perintah manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” (Mrk 12:28). Kelihatannya ahli Taurat yang melontarkan pertanyaan ini ingin mengetahui pendapat Yesus mengenai kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan. Dari 613 perintah yang ada dalam Perjanjian Lama, yang manakah yang pantas untuk ditaati secara paling ketat? Perintah mana, kalau dilanggar, akan membuat sulit orang bersangkutan? Mungkin saja si penanya mencari lubang dari mana dia dapat menjebak Yesus. Mungkin sah-sah saja untuk mengajukan pertanyaan seperti ini dengan pengharapan akan memperoleh jawaban terinci, langkah demi langkah dst. Namun Yesus mempunyai cara yang lebih baik! Ia menjawab pertanyaan ahli Taurat dengan singkat-jelas: “Perintah yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhanlah Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Perintah yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada perintah lain yang lebih utama daripada kedua perintah ini” (Mrk 12:29-31).

Ahli Taurat itu lalu berkata kepada Yesus: “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri jauh lebih utama daripada semua kurban bakaran dan kurban lainnya” (Mrk 12:32-33). Yesus memuji ahli Taurat itu untuk pemahamannya atas apa yang dikatakan-Nya, bahwa “mengasihi” adalah perintah Allah yang paling penting. Mengasihi Allah dan mengasihi sesama kita – ini adalah perintah-perintah besar dan agung; dan ahli Taurat itu setuju dengan sepenuh hatinya.

Mengasihi tidaklah semudah diucapkan bibir atau semudah kedengarannya. Kasih yang sejati adalah suatu tantangan besar bagi orang-orang yang sudah tergolong mapan, teristimewa mereka yang hidup di kota-kota besar. Mereka telah mempunyai begitu banyak kenikmatan materiil, dan hal itu cenderung membuat mereka menjadi serakah dan tamak. Sebaliknyalah dengan orang-orang kecil yang di kota-kota kecil atau pedesaan. Anak-anak harus bekerja membantu di sawah atau ladang untuk menunjang kebutuhan keluarga; keluarga-keluarga juga harus memberi dengan penuh kemurahan-hati tidak sedikit waktu, tenaga dan sumber daya lainnya guna membangun gereja-gereja dan pusat-pusat komunitas. Memang tidak selalu berjalan lancar dan cukup “memakan waktu”, namun hal seperti ini adalah pemberian-diri yang asli, suatu tanggapan manusia, kerja-sama demi pemenuhan kebutuhan bersama. Hal seperti itu juga mengembangkan suatu rasa tanggung-jawab.

Sekarang kita tidak otomatis merasakan adanya kebutuhan satu sama lain. Namun sesungguhnya begitu banyak orang yang mengalami kesendirian dan sangat merindukan kasih sejati. Serbuan bertubi-tubi dalam rupa berbagai tulisan (termasuk lewat internet) yang menyesatkan memberikan sebuah gambaran yang salah tentang apa cintakasih manusiawi itu. Misalnya, apabila anda tidak memiliki gigi yang putih berkilau-kilauan dan rambut yang lembut dan parfum  tertentu, maka tidak ada seorang pun yang akan mencintai anda. Kita memang suka tertawa dalam menanggapi iklan-iklan itu, namun tak terasa semua itu memasuki dan malah merasuki pikiran kita. Iklan-iklan seperti itu membuat kita ingin “memperoleh” sesuatu, bukan “memberi”. Jika demikian halnya, maka cintakasih hanyalah suatu daya tarik di permukaan saja yang tidak ada urusannya samasekali dengan kasih yang sejati.

Adalah suatu tragedi apabila sebuah rumah yang indah dengan segala macam perlengkapannya, misalnya dua buah mobil mewah, sebuah kolam renang, taman yang luas-indah, beberapa televisi besar, kamar-kamar mandi yang mewah dlsb., namun bukan merupakan rumah yang membahagiakan bagi para penghuninya, karena kasih yang sejati tidak ada. Tidak ada cintakasih sejati yang tidak terbuka, tidak dipenuhi kemurahan-hati, tidak memiliki unsur pengorbanan dan disiplin yang baik. Allah adalah kasih (1 Yoh 4:8,16), dan hanya mereka yang hidup dalam kasih sejati dapat hidup dalam Allah. Cintakasih yang sejati mengalir ke luar dari diri sendiri kepada orang-orang lain. Apabila cintakasih yang asli tidak secara aktif bertumbuh dengan subur dalam keluarga, maka bagaimana hal itu dapat mengalir ke luar kepada orang-orang lain? Di sinilah letak tanggung jawab pertama dari para orangtua: untuk mengajar cintakasih yang sejati kepada anak-anak mereka, agar mereka masing-masing memilikinya sendiri juga. Mereka harus belajar mengasihi agar dapat belajar tentang Allah, karena Allah adalah kasih.

DOA: Bapa surgawi, Engkau adalah kasih. Ajarlah kami untuk mengasihi-Mu dan sesama kami manusia dengan benar, seturut kehendak-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Mrk 12:28-34), bacalah tulisan yang berjudul “PERINTAH PALING UTAMA DALAM HUKUM TAURAT” (bacaan tanggal 2-6-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-06 BACAAN HARIAN JUNI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 7-6-12 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 1 Juni 2016 [Peringatan S. Yustinus Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENGASIHI ALLAH DAN SESAMA

MENGASIHI ALLAH DAN SESAMA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Prapaskah – Jumat, 4 Maret 2016) 

Jesus_109Lalu seorang  ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya, “Perintah manakah yang paling utama?”  Jawab Yesus, “Perintah yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhanlah Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Perintah yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada perintah lain yang lebih utama daripada kedua perintah ini.”  Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus, “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri jauh lebih utama daripada semua kurban bakaran dan kurban lainnya.” Yesus melihat bagaimana orang itu menjawab dengan bijaksana, dan Ia berkata kepadanya, “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!”  Sesudah itu, seorang pun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus. (Mrk 12:28-34) 

Bacaan Pertama: Hos 14:2-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 81:6-11,14,17 

Ahli Taurat ini datang kepada Yesus dengan sebuah pertanyaan yang seringkali merupakan topik perdebatan dalam sekolah-sekolah para rabi. Dalam Yudaisme terdapat kecenderungan ganda. Ada kecenderungan untuk meluaskan hukum secara tanpa batas ke dalam ratusan dan bahkan ribuan peraturan. Di sisi lain ada juga kecenderungan untuk mencoba merumuskan hukum itu ke dalam satu kalimat, sebuah pernyataan umum yang akan menjadi ringkasan dari keseluruhan pesan. Hillel sekali diminta oleh seorang pengikut baru untuk mengajarkan kepadanya seluruh hukum sementara dia berdiri dengan satu kaki saja. Jawaban Hillel: “Apa yang kamu benci bagi dirimu sendiri, janganlah lakukan pada sesama. Ini adalah seluruh hukum, selebihnya adalah tafsiran. Pergilah dan belajarlah.” Simon sang Budiman telah berkata, “Dunia berdiri di atas tiga hal – atas hukum, atas penyembahan, dan atas karya-karya kasih.”

Sammlai telah mengajarkan bahwa Musa menerima 613 aturan/ajaran di Gunung Sinai, 365 sesuai dengan jumlah hari dalam satu tahun matahari, dan 248 sesuai dengan jumlah generasi manusia. Daud mengurangi jumlah 613 itu menjadi 11 saja dalam Mazmur 15:

TUHAN (YHWH), siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu?

  1. Dia yang berlaku tidak bercela,
  2. yang melakukan apa yang adil,
  3. dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya,
  4. yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya,
  5. yang tidak berbuat jahat terhadap temannya,
  6. yang tidak menimpakan cela kepada tetangganya,
  7. yang memandang hina (terjemahan LAI: orang yang tersingkir) bajingan (Inggris RSV: reprobate),
  8. tetapi memuliakan orang yang takut akan TUHAN,
  9. yang berpegang teguh pada sumpah, walaupun rugi;
  10. yang tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba,
  11. dan tidak menerima suap melawan orang yang tak bersalah.

Yesaya mengurangi semua itu menjadi 6 aturan/ajaran (baca sendiri: Yes 33:15); Mikha mengurangi 6 aturan/ajaran ini menjadi 3 (baca sendiri: Mi 6:8); sekali lagi Yesaya mengurangi 3 aturan/ajaran menjadi 2 (baca sendiri: Yes 56:1); dan akhirnya Habakuk datang dengan satu saja aturan/ajaran: “Orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya” (Hab 2:4).

Di sini kita dapat melihat kecerdikan/kelihayan dari sekolah atau tradisi para rabi. Dalam hal ini ada dua arus pemikiran, yang pertama adalah mereka yang percaya adanya hal-ikhwal hukum yang lebih ringan dan ada pula hal-ikhwal hukum lebih berat yang sangat-sangat penting untuk dipahami. Di lain pihak ada yang berpandangan bahwa setiap prinsip – betapa kecil sekalipun – sama-sama mengikatnya, dan percobaan untuk menimbang-nimbang pentingnya prinsip-prinsip itu secara relatif sungguh berbahaya. Nah, ahli Taurat yang bertanya kepada Yesus sesungguhnya mengajukan pertanyaan tentang suatu isu yang hidup dalam pemikiran di kalangan Yahudi dan diskusi yang terkait.

Untuk menjawab pertanyaan ahli Taurat itu, Yesus mengambil dua perintah besar dan menggabungkan kedua perintah itu.

  • “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN (YHWH) itu Allah kita, TUHAN itu esa! (Ul 6:4).

Kalimat ini adalah kredo nyata dari Yudaisme dan dinamakan syema (shema), kata kerja dalam bahasa Ibrani yang berarti mendengar. Keseluruhan kalimat disebut syema, diambil dari kata pertama dalam kalimat. Kalimat ini digunakan dalam tiga hal.

  1. Setiap kebaktian di sinagoga senantiasa dimulai dengan kalimat syema ini. Syema yang lengkap terdapat dalam Ul 6:4-9, 11:13-21; Bil 15:37-41. Ini adalah deklarasi bahwa Allah adalah satu-satunya Allah, dasar dari monotheisme Yahudi.
  2. Teks syema dimasukkan ke dalam kotak-kotak kecil yang terbuat dari kulit (phylacteries) yang dikenakan oleh orang Yahudi saleh pada dahinya dan pergelangan tangannya pada saat dia berdoa. Selagi dia berdoa, dia mengingatkan dirinya akan kredonya. Kewajiban untuk mengenakan kotak-kotak kecil kulit itu dapat dilihat dalam Ul 6:8.
  3. Teks syema juga dimasukkan ke dalam sebuah kotak kecil berbentuk silindris yang dinamakan Mezuzah yang dipasang pada pintu setiap rumah orang Yahudi dan juga pada pintu setiap ruangan yang ada dalam rumah itu, guna mengingatkan orang Yahudi akan Allah ketika dia ke luar dan pada waktu dia masuk.
  • “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Im 19:18). Dalam hal ini Yesus melakukan sesuatu yang inovatif. Dalam konteksnya yang asli, yang dimaksudkan dengan “sesama manusia” adalah sesama Yahudi. Jadi samasekali tidak ada urusannya dengan orang non-Yahudi (baca: kafir), yang malah boleh-boleh saja dibenci. Yesus mengartikan “sesama” tanpa kualifikasi dan tanpa batas-batas tertentu. Jadi, Yesus mengambil hukum lama dan mengisinya dengan suatu makna baru.

Hal baru yang dilakukan Yesus adalah untuk menaruh dua perintah secara bersama-sama. Tidak pernah ada rabi mana pun yang pernah melakukan hal seperti yang dilakukan Yesus ini. Memang sekitar tahun 100 SM, pernah disusun serangkaian traktat (risalat) yang dinamakan “Warisan 12 Bapa bangsa” di dalam mana seorang penulis tak dikenal menaruh ke dalam mulut para bapa bangsa tersebut beberapa ajaran yang sangat baik. Dalam “Warisan Isakhar” (5:2) kita membaca: “Kasihilah Tuhan dan kasihilah sesamamu, berbela-rasalah terhadap orang-orang miskin dan lemah.” Dalam warisan yang sama (7:6) kita membaca: “Aku mengasihi Tuhan, demikian pula setiap orang dengan segenap hatiku.”  Dalam “Warisan Dan” (5:3) kita membaca: “Kasihilah Tuhan sepanjang hidupmu, dan kasihilah satu sama lain dengan suatu hati yang benar.”

Namun demikian, tidak ada seorang pun kecuali Yesus yang menempatkan kedua perintah secara bersama-sama dan membuat dua perintah itu menjadi satu. Agama menurut Yesus adalah mengasihi Allah dan mengasihi manusia. Menurut Dia jalan satu-satunya seseorang dapat membuktikan bahwa dia mengasihi Allah ialah dengan menunjukkan bahwa dia mengasihi manusia sesamanya.

Ahli Taurat menerima dengan baik jawaban Yesus itu dan dia juga mengatakan bahwa mengasihi Allah dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri jauh lebih utama daripada semua kurban bakaran dan kurban lainnya (Mrk 12:32-33). Dalam hal ini ahli Taurat itu berada dalam tingkat tertinggi pemikiran umat Yahudi. Berabad-abad sebelumnya Samuel berkata, “Apakah TUHAN itu berkenan kepada kurban bakaran dan kurban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik daripada daripada kurban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan” (1 Sam 15:22). Hosea telah mendengar Allah bersabda: “… Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan” (Hos 6:6).

Namun demikian, adalah kenyataan bahwa senantiasa lebih mudahlah untuk membiarkan segala macam rituale lahiriah menggantikan kasih yang sejati. Selalu lebih mudahlah membuat penyembahan sejati menjadi soal membangun Gereja daripada kehidupan secara menyeluruh. Dalam perumpamaan “Orang Samaria yang murah hati” (Luk 10:25-37), imam dan orang Lewi dapat melewati seorang Yahudi yang babak belur terkapar di jalan karena kedua “pejabat” agama itu berpandangan bahwa menjalankan “rituale keagamaan” di Bait Allah adalah jauh lebih penting daripada memikirkan “nasib” sesamanya yang baru “dikerjain”  oleh para pembegal di jalan antara Yerusalem dan Yerikho. Nah ahli Taurat yang bertanya kepada Yesus dalam bacaan Injil hari ini sudah melampaui para rekan sezamannya. Itulah sebabnya mengapa dia bersikap positif penuh simpati terhadap sang Rabi dari Nazaret.

Kita dapat membayangkan adanya pandangan penuh kasih pada mata Yesus ketika Dia berkata kepada ahli Taurat itu: “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!” (Mrk 12:34).

Sumber: William Barclay, THE DAILY STUDY BIBLE – THE GOSPEL OF MARK, Edinburgh: The Saint Andrew Press, 1975 (Revised Edition), pages 292-297.

DOA: Bapa surgawi, jikalau aku pada saat ini mengatakan bahwa aku mengasihi Engkau, tetapi aku membenci saudaraku, maka aku adalah seorang pendusta. Karena jika aku tidak mengasihi saudaraku yang kelihatan tak mungkinlah bagiku untuk mengasihi Engkau yang tidak kelihatan (1Yoh 4:20). Biarlah Roh-Mu menggerakkan hatiku untuk mengasihi-Mu dan sesamaku dengan kasih-Mu yang sejati. Teristimewa pada masa Prapaskah ini, tolonglah aku agar dapat semakin serupa dengan Guruku – Yesus Kristus – sehingga mampu melihat hidup imanku sebagai suatu relasi, bukan sekadar suatu tugas. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Hos 14:2-10), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH, BUKAN BERHALA-BERHALA” (bacaan tanggal 4-3-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-03 BACAAN HARIAN MARET 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-3-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 1 Maret 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS