Posts tagged ‘AHLI TAURAT’

KASIH YANG SEJATI

KASIH YANG SEJATI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Pius X, Paus – Jumat, 21 Agustus 2015)

GEMBALA YANG BAIK - 15Ketika orang-orang Farisi mendengar bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia, “Guru, perintah manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jawab Yesus kepadanya, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah perintah yang terutama dan yang pertama. Perintah yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua perintah inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Mat 22:34-40)

Bacaan Pertama: Rut 2:1-3,8-11; 4:13-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 22:34-40

Yesus berkata kepada ahli Taurat itu, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah perintah yang terutama dan yang pertama. Perintah yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat 22:37-39).

Masyarakat modern yang penuh dengan persaingan di hampir segala bidang terlalu menekankan penggunaan kepala (akal budi) daripada hati. Orang-orang yang menggunakan kepala mereka dengan lihai untuk tujuan-tujuan pemenuhan kepentingan sendiri sehingga sampai menyusahkan, bahkan “mematikan” orang-orang lain, justru merekalah yang dipandang sebagai “orang-orang sukses”. Mereka maju, namun dengan mengabaikan aspek “hati” dan “jiwa”. Ujung-ujungnya mereka tidak akan pernah menemukan kebahagiaan sejati.

Hampir semua dari kita dapat berbicara tentang pentingnya kasih dalam hidup, namun kasih yang sejati begitu sulit ditemukan. Misalnya, sekitar empat dasawarsa lalu di Amerika Serikat sekelompok guru melakukan survei. Kuesioner dikirim kepada lebih dari dua ribu pimpinan perusahaan. Sebagai pelayanan bagi para siswa yang akan segera mencari kerja untuk pertama kalinya, guru-guru itu bertanya: “Lihat tiga orang terakhir yang diberhentikan kerja dari perusahaan anda, dan indikasikanlah mengapa anda membiarkan mereka meninggalkan perusahaan anda?

francis-healingPerusahaan-perusahaan itu memberikan respons dengan jawaban sama dalam dua dari setiap tiga kasus, tidak peduli dengan jenis pekerjaan atau di bagian mana saja di Amerika Serikat perusahaan itu berkedudukan. Alasan pemberhentian: “Mereka tidak dapat berhubungan baik dengan para pekerja lain.” Kelihatannya yang dikatakan oleh mereka adalah, bahwa para pekerja yang diberhentikan itu melanggar perintah, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat 22:39).

Tentu saja Yesus tidak pernah berkata, “Engkau harus mengasihi sesamamu manusia sehingga dengan demikian engkau tidak kehilangan pekerjaanmu.” Namun Yesus mengatakan bahwa kita harus mengampuni dan harus mengasihi bahkan mereka yang membenci kita, jika kita sungguh bertekad untuk menjadi anak-anak Bapa surgawi yang berharga di mata-Nya.

Satu alasan mengapa banyak orang merasa sulit untuk mengasihi sesama mereka adalah karena mereka tidak mengetahui apa kasih yang sejati itu. Mereka tidak pernah mengalaminya. Mereka semakin tenggelam dalam banjir nilai-nilai yang palsu dan iklan-iklan yang palsu juga, sehingga dengan demikian mereka mempunyai gambaran tentang kasih yang sama sekali salah. Mereka mencoba untuk mengisi kekosongan batin mereka dengan hal-hal yang bersifat materiil, namun mereka menderita rasa lapar akan kasih yang sejati.

DOA: Tuhan Yesus, buatlah kami sadar sepenuhnya bahwa rahasia kehidupan bukanlah terletak pada kepemilikan harta-kekayaan. Juga bukan sekadar dengan menggunakan kepala kami, walaupun kami membutuhkan kepala. Hanya Engkaulah, Ya Tuhan, yang dapat memberikan kepada kami “kepala dan hati” dalam keharmonisan, karena “Allah adalah kasih.” Hanya apabila kami menemukan Allah, kami menemukan kasih yang sejati. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini, bacalah tulisan yang  berjudul “” (bacaan tanggal 21-8-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM https://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 22-8-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 19 Agustus 2015 [Peringatan S. Ludovikus, Uskup] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA AKAN DIHAKIMI KELAK ATAS DASAR KASIH KITA

KITA AKAN DIHAKIMI KELAK ATAS DASAR KASIH KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa IX – Kamis, 4 Juni 2015) 

KONFLIK DGN ORANG FARISI DLL. - YESUS MENGECAM - MAT 23Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya, “Perintah manakah yang paling utama?”  Jawab Yesus, “Perintah yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhanlah Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Perintah yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada perintah lain yang lebih utama daripada kedua perintah ini.”  Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus, “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri jauh lebih utama daripada semua kurban bakaran dan kurban lainnya.”  Yesus melihat bagaimana orang itu menjawab dengan bijaksana, dan Ia berkata kepadanya, “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!”  Sesudah itu, seorang pun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus. (Mrk 12:28b-34) 

Bacaan Pertama: Tb 6:10-11’7:1,9-17;8:4-9a; Mazmur Tanggapan: Mzm 128:1-5 

Adakah sesuatu yang lebih penting dalam hidup ini daripada panggilan untuk mengasihi? Tidak ada! Dalam bacaan Injil hari ini kita dapat melihat bahwa Yesus dengan begitu jelas mengatakan bahwa perintah yang terutama adalah “mengasihi” Allah dan sesama. Kasih adalah”jantung” dan fondasi dari kehidupan kita sebagai murid-murid Yesus. Kasih adalah panggilan Allah bagi semua orang, bukan hanya bagi umat Kristiani. Itulah sebabnya mengapa sabda Yesus tentang kasih meresap ke dalam hati si ahli Taurat. Yesus dapat melihat bahwa karena si ahli Taurat mengakui sentralitas kasih dalam rencana Allah, maka dia sudah sangat dekat dengan Kerajaan Allah (lihat Mrk 12:34).

Sebagai umat Kristiani, kita telah seringkali mendengar perintah Yesus untuk mengasihi. Bagaimana dengan kita yang mengklaim diri kita sebagai murid-murid Kristus? Sampai seberapa dalam/serius kita mengasihi dalam tindakan nyata dan kebenaran, dan tidak hanya sebatas ucapan bibir? Marilah kita renungkan apa yang ditulis dalam salah satu surat Yohanes: “Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran” (1Yoh 3:18). Kasih sejati mengandung “biaya”. Terkadang sungguh sulitlah bagi kita untuk mengasihi orang lain, teristimewa musuh-musuh kita, mereka yang iri-hati atau cemburu terhadap diri kita dlsb. Akan tetapi, Yesus dapat membesarkan hati kita; Roh Kudus-Nya dapat menolong kita untuk mengasihi melampaui kapasitas terbatas kita sebagai manusia untuk mengasihi.

Tetapi, ada lagi satu pertanyaan lain: Bagaimana kita melihat orang-orang yang bukan pengikut Yesus namun mereka melakukan upaya-upaya untuk mengasihi? Apakah kita memandang mereka dengan bela-rasa dan bahkan dengan rasa kagum, walaupun mereka bukan umat Kristiani? Orang-orang yang tidak setuju atas kepercayaan kita tentang Allah, malah mereka yang mempunyai beberapa pandangan yang sangat keliru tentang Allah, biar bagaimana pun juga dapat menemukan sebuah tempat dalam hati mereka bagi ajaran Yesus. Seperti si ahli Taurat dalam bacaan Injil hari ini, mereka pun dapat saja tidak jauh dari Kerajaan Allah.

ST. JOHN OF THE CROSS - 03Mengasihi Allah dan sesama kita adalah suatu hal yang paling penting yang dapat kita lakukan. Santo Yohanes dari Salib [1542-1591] pernah berkata, “Pada senja hari kehidupan {kita], kita akan dihakimi atas dasar kasih kita.”  Yesus ingin kehidupan kita ditandai dengan suatu kasih yang mencari kebaikan pada diri orang-orang lain dan berkemauan untuk mengambil posisi pelayanan yang rendah hati. Dari hari ke hari, Yesus memberikan kepada kita berbagai kesempatan untuk mengasihi, dan rahmat untuk mengambil kesempatan-kesempatan ini. Selagi kita mengasihi dengan kasih-Nya, kita tidak mempunyai ide tentang cara-cara mana kita dapat mempengaruhi orang lain di sekeliling kita. Siapa yang tahu? Barangkali upaya-upaya kita untuk mengasihi akan mendorong seorang lain untuk mengambil langkah-langkah yang membawanya secara penuh ke dalam Kerajaan Allah.

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus, marilah kita berdoa untuk setiap orang yang berjuang untuk mengasihi dalam perbuatan dan kebenaran.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Berikanlah kepadaku suatu kapasitas untuk mengasihi. Tolonglah diriku agar mau dan mampu untuk mengasihi sebagaimana Engkau mengasihi. Tolonglah agar mereka yang tidak jauh dari Kerajaan-Mu untuk menanggapi secara lebih penuh lagi panggilan-Mu untuk mengasihi. Terima kasih, ya Tuhan. Terpujilah nama-Mu untuk selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Mrk 12:28-34), bacalah tulisan yang berjudul “TOBIA MENIKAHI SARA” (bacaan tanggal 4-6-15) dalam situs/blog  SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-06 BACAAN HARIAN JUNI 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 6-6-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 1 Juni 2015 [Peringatan S. Yustinus, Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BEDA ANTARA YESUS DAN PARA PEMIMPIN AGAMA YANG MUNAFIK

BEDA ANTARA YESUS DAN PARA PEMIMPIN AGAMA YANG MUNAFIK

(Bacaan Misa Misa Kudus, Peringatan S. Teresia dr Avila – Rabu, 15 Oktober 2014)

Suster Fransiskanes S. Lusia (KSFL): PESTA TAREKAT-HARI JADI PERSAUDARAAN 

KONFLIK DGN ORANG FARISI DLL. - YESUS MENGECAM - MAT 23“ ……… Tetapi celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih terhadap Allah. Hal-hal tersebut harus dilakukan tanpa mengabaikan yang lainnya. Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu suka duduk di tempat terbaik di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan di pasar. Celakalah kamu, sebab kamu sama seperti kubur yang tidak memakai tanda; orang-orang yang berjalan di atasnya, tidak mengetahuinya.”

Seorang dari antara ahli-ahli Taurat itu menjawab dan berkata kepada-Nya, “Guru, dengan berkata demikian, Engkau menghina kami juga.” Tetapi Ia menjawab, “Celakalah kamu juga, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang, tetapi kamu sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jari pun. ………” (Luk 11:42-46).

Bacaan Pertama: Gal 5:18-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-4,6 

Bayangkanlah anda mengundang seorang tamu istimewa untuk makan bersama di rumahmu dan kemudian anda malah “dimaki-maki” dan dihina, demikian pula para tamu lain yang hadir. Tamu macam apa yang akan menyerang tuan rumah dengan kata-kata yang terasa sangat keras itu?

Seperti seekor singa ganas yang menyerang mangsanya, Yesus – singa dari suku Yehuda (Why 5:5) – menyerang sikap negatif yang telah begitu lama mengendap dalam hati orang-orang Farisi. Dalam menafsirkan Hukum Musa, sejumlah orang Farisi menggunakan pendekatan kaku yang mengabaikan panggilan untuk membuat keseimbangan antara keadilan dan belas kasih. Dalam menanggapi hal itu, Yesus berupaya untuk menunjukkan kepada mereka “semangat” atau roh dari hukum tersebut. Orang-orang Farisi dan para ahli Taurat pada acara makan malam tersebut adalah para pakar dalam bidang hukum Musa. Namun Yesus ingin agar mereka melihat bahwa Kerajaan Allah adalah terlebih-lebih mengenai relasi daripada mengenai peraturan-peraturan. Tantangannya bukanlah sekadar kepatuhan-kaku untuk melakukan “persepuluhan” dan/atau kewajiban-kewajiban keagamaan lainnya, melainkan untuk mengasihi Allah dan bersikap serta berlaku adil terhadap umat-Nya. Mematuhi perintah-perintah Allah bukanlah untuk membuktikan kekudusan seorang pribadi, melainkan untuk mengasihi Allah dan tetap bersikap dan berlaku benar terhadap kasih perjanjian-Nya.

Tidak seperti para ahli Taurat yang dikatakan oleh Yesus “tidak menyentuh beban yang diletakkan oleh mereka pada orang dengan satu jari pun” (lihat Luk 11:46), Yesus memikul semua beban dan dosa-dosa kita pada kayu salib. Tidak seperti orang-orang Farisi, yang membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi tidak bagian dalamnya (Luk 11:39), Yesus datang untuk membersihkan kita luar-dalam, guna memurnikan hati kita dan menarik diri kita kepada-Nya. Yesus tidak hanya mengatakan kepada kita bagaimana kita harus bertindak. Ia mempersembahkan diri-Nya sebagai kurban agar dengan demikian kita akan memiliki kuasa untuk mengikuti perintah-perintah-Nya.

Inilah seluruh alasan mengapa Allah menghendaki adanya inkarnasi: “Sabda menjadi daging!” (Yoh 1:14). Yesus datang ke dunia untuk berada bersama kita, untuk menjadi seorang pribadi manusia seperti kita, sehingga dengan demikian kita dapat menjadi seperti Dia dan hidup dengan-Nya untuk selama-lamanya. Setiap hari Yesus berada bersama kita – Dia adalah Imanuel – untuk menolong kita memikul beban-beban kita dan untuk mencurahkan rahmat ilahi secara berlimpah. Yesus tidak meninggalkan kita sendiri ketika Dia kembali kepada Bapa di surga. Yesus meninggalkan Roh Kudus-Nya bagi kita untuk menjadi Penasihat dan Penghibur kita, dan Ia meninggalkan bagi kita tubuh-Nya dan darah-Nya dalam Ekaristi. Bukankah semua ini merupakan bukti betapa besar kasih-Nya kepada kita?

DOA: Tuhan Yesus, Engkau sungguh mengasihi diriku, jiwa dan ragaku! Ini, terimalah hatiku ini! Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah mengambil dosa-dosaku dan memikul beban-bebanku. Aku juga bersyukur sedalam-dalamnya karena kasih-Mu yang tak terkira, Engkau bersedia mati demi aku. Datanglah, ya Tuhan Yesus, dan berilah aku makan “roti kehidupan”. Berilah makanan bagi jiwaku dengan “asupan makanan yang bergizi”. Puaskanlah rasa hausku akan hal-hal rohani. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama  hari ini (Gal 5:18-25), bacalah tulisan yang berjudul “PERBUATAN DAGING DAN BUAH ROH” (bacaan tanggal 15-10-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2014. 

Bacalah juga tulisan yang berjudul “BUAH ROH” (bacaan tanggal 13-10-10) dalam situs/blog SANG SABDA. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 16-10-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Jakarta,  11 Oktober 2014 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENJADI SESAMA DARI ORANG-ORANG YANG MENDERITA

MENJADI SESAMA DARI ORANG-ORANG YANG MENDERITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVII – Senin, 6 Oktober 2014)

Ordo Franciscanus Saecularis: Peringatan S. Maria Fransiska dari ke-5 luka Yesus 

good-samaritan

Kemudian berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya, “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus kepadanya, “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di dalamnya?” Jawab orang itu, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kata Yesus kepadanya, “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.” Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus, “Dan siapakah sesamaku manusia?” Jawab Yesus, “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi juga memukulnya dan sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia mengeluarkan dua dinar dan memberikannya kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun?” Jawab orang itu, “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya, “Pergilah, dan perbuatlah demikian!” (Luk 10:25-37)

Bacaan Pertama: Gal 1:6-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 111:1-2,8-10 

Walaupun niat si ahli Taurat adalah untuk mencobai Yesus, kiranya kita perlu berterima kasih kepadanya, karena dialah yang bertanya kepada Yesus tentang “siapakah sesama kita”, dan jawaban Yesus kepadanya mengambil bentuk sebuah perumpamaan yang sangat menyentuh hati dan sangat instruktif serta jelas-gamblang: “Perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati”. Perumpamaan ini dengan terang-benderang mencerahkan pemikiran kita tentang kasih Kristiani yang sesungguhnya. Perumpamaan Yesus ini mengkonfrontasikan kita dengan pertanyaan apakah kita juga adalah orang-orang Samaria yang baik hati.

jesus christ super starKita tahu tentang hukum kasih. Kita juga mengetahui bahwa vonis yang dijatuhkan sang Hakim Agung pada pengadilan terakhir akan tergantung pada kasih kita kepada sesama kita. Jadi, kita harus bertanya kepada diri kita sendiri: Apakah kita biasanya bersikap dan berperilaku sebagai “orang-orang Samaria yang baik hati” terhadap sesama kita yang sudah lansia, yang sedang sakit, yang miskin? Ataukah kita dengan cepat melewati “orang-orang susah” itu seakan-akan tidak melihat mereka, tidak merasa bahwa mereka membutuhkan pertolongan kita, tentunya dengan dalih-dalih atau alasan-alasan guna mendukung sikap kita yang “tidak mau tahu” dan tentunya perilaku kita sebagai pengungkapan sikap kita. “Biarlah orang lain menolong orang-orang itu. Saya masih sibuk sekarang – Saya masih mempunyai keluarga saya sendiri untuk diperhatikan – Saya akan terlambat sampai ke kantor dan terkena hukuman seandainya saya menolong orang yang terkapar di pinggir jalan itu.” Wah, banyak sekali dalih atau alasan berisikan kebohongan – dari yang berbobot ringan sampai berat – yang dapat dikemukakan.

Banyak orang-orang Kristiani  “baik-baik”, yang ketika mendengarkan khotbah tentang Sengsara dan Salib Kristus, menjadi berbela-rasa dan mengatakan kepada Tuhan Yesus bahwa mereka akan melakukan apa saja untuk meringankan penderitaan-Nya. Tuhan Yesus memberikan kepada mereka tes atas ketulusan mereka ketika Dia mengatakan kepada kita, “Aku berkata kepadamu, segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku” (Mat 25:45).

“Orang-orang yang paling hina” di mata Yesus; mereka yang lapar, yang miskin, dlsb. tidak sulit untuk ditemukan di sekeliling kita dan tidak sulit juga untuk dijangkau oleh setiap orang Kristiani yang berkehendak baik. Masalahnya bukanlah jumlah uang atau waktu yang kita abdikan untuk menolong, menghibur mereka yang sedang mengalami berbagai kesusahan. Pengorbanan yang kita buat dari berbagai berkat yang Allah telah berikan kepada kita, inilah yang penting. Bahkan yang paling miskin ataupun yang paling sibuk sekalipun di antara kita dapat menemukan kesempatan untuk menolong seseorang yang dibutuhkan. Kita semua dapat dan harus menjadi orang-orang Samaria yang baik. Ini tidak dapat ditawar-tawar lagi, karena inilah yang diajarkan oleh Yesus, Tuhan dan Juruselamat kita sendiri. Dari ke waktu Allah akan memberikan kepada kita moments of truth, saat-saat di mana kita dapat membuktikan sendiri siapa diri kita sebenarnya: si imam, si orang Lewi atau “orang Samaria yang baik hati”.

DOA: Tuhan Yesus, kami sungguh berbahagia penuh syukur karena Kaupercayakan sebagai saluran-saluran kasih-Mu dan berkat-berkat-Mu, juga untuk menjadi sentuhan tangan-tangan-Mu yang penuh kasih. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Gal 1:6-12), bacalah tulisan yang berjudul “PESAN PAULUS KEPADA JEMAAT DI GALATIA” (bacaan tanggal  6-10-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2014.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 7-10-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 3 Oktober 2014 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KASIH YANG SEJATI

KASIH YANG SEJATI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Prapaskah – Jumat, 28 Maret 2014) 

jesus christ super starLalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya, “Perintah manakah yang paling utama?”  Jawab Yesus, “Perintah yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhanlah Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Perintah yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada perintah lain yang lebih utama daripada kedua perintah ini.”  Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus, “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri jauh lebih utama daripada semua kurban bakaran dan kurban lainnya.” Yesus melihat bagaimana orang itu menjawab dengan bijaksana, dan Ia berkata kepadanya, “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!”  Sesudah itu, seorang pun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus. (Mrk 12:28-34)

Bacaan Pertama: Hos 14:2-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 81:6-11,14,17 

Kelihatannya ahli Taurat yang bertanya kepada Yesus dalam bacaan Injil kali ini tidak tergolong mayoritas para pemuka agama Yahudi yang ingin mempermalukan, mencelakakan, malah menghabiskan Yesus. Ia melontarkan pertanyaan yang sama (baca Luk 10:25 dsj.), namun terkesan tulus: “Perintah manakah yang paling utama?” (12:28). Kebanyakan ahli Taurat memandang Yesus sebagai sebagai seorang rabbi yang merupakan saingan, … sebagai ancaman! Lain halnya dengan ahli Taurat yang satu ini: dia memandang Yesus sebagai suatu kesempatan untuk belajar. Oleh karena itu secara sopan dia mengajukan sebuah pertanyaan sederhana yang mencerminkan suatu keprihatinan yang tertanam dalam-dalam di setiap hati anak manusia.

YESUS MAU DIJEBAK OLEH ORANG FARISIPertanyaan ahli Taurat ini mencerminkan sebuah hati yang mencari – kalau mungkin, untuk memahaminya – suatu prinsip tunggal sederhana yang mendasari kompleksitas hukum yang berlaku. Jawaban Yesus mengacu pada apa yang tertulis dalam Ul 6:4-5 dan Im 19:18. Dan, ahli Taurat itu menanggapi jawaban Yesus itu dengan positif: “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri jauh lebih utama daripada semua kurban bakaran dan kurban lainnya” (Luk 12:32-33). Yesus memuji ahli Taurat untuk pemahamannya bahwa kasih adalah perintah Allah yang paling penting. Mengasihi Allah dan mengasihi sesama – ini adalah perintah paling utama, kata Yesus kepadanya. Dan orang itu pun setuju sepenuh hatinya dengan jawaban Yesus itu.

Namun mengasihi Allah dan sesama tidaklah semudah kedengarannya. Kasih yang sejati adalah sebuah tantangan bagi orang-orang pada umumnya, teristimewa mereka yang tergolong menengah ke atas dan tinggal di kota-kota besar. Mereka memiliki banyak kenikmatan materiil, dan hal ini cenderung membuat orang menjadi semakin serakah, semakin tamak. Mereka pun tidak secara otomatis merasakan adanya kebutuhan besar akan satu sama lain. Pengaruh iklan-iklan di media massa, misalnya televisi, juga ada (kalau saya tidak katakan banyak) yang bersifat negatif. Ujung-ujungnya membuat orang-orang menjadi ingin mendapat/memperoleh saja daripada memberi. Dengan demikian cinta atau kasih hanya menjadi daya tarik pada tingkat permukaan saja yang tidak ada hubungannya dengan kasih yang sejati.

Sungguh merupakan suatu tragedi, apabila seseorang memiliki sebuah rumah indah yang dilengkapi dengan dengan segala aksesorinya seperti mebel-mebel mahal, televisi dengan layar lebar di ruang keluarga, beberapa buah mobil dlsb., namun rumah itu bukanlah rumah yang membahagiakan para penghuninya …… karena kasih-sejati tidak ada dalam rumah itu. Tidak ada kasih-sejati yang tidak terbuka, penuh kemurahan-hati, penuh pengorbanan dan berdisiplin. Allah adalah kasih (1Yoh 4:8,16), dan hanya mereka yang hidup dalam kasih sejati dapat hidup dalam Allah. Kasih yang sejati mengalir ke luar dari diri seorang pribadi kepada orang-orang lain. Apabila kasih yang sejati tidak bertumbuh secara aktif dan hidup subur dalam keluarga, bagaimana kasih sejati itu dapat mengalir ke luar kepada orang-orang lain? Ini adalah tanggung-jawab pertama dari para orangtua: untuk mengajar kasih sejati kepada anak-anak mereka, dan mereka sendiri harus memiliki kasih sejati tersebut. Para orangtua itu harus belajar mengasihi agar dapat belajar tentang Allah, karena Allah adalah kasih.

DOA: Bapa surgawi, gerakkanlah aku dengan kasih-Mu untuk mengasihi-Mu dan sesamaku dengan kasih-Mu yang sejati. Teristimewa pada masa Prapaskah ini, tolonglah aku agar dapat melihat hidup imanku sebagai suatu relasi, bukan sekadar suatu tugas. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Hos 14:2-10), bacalah tulisan yang berjudul “DIA ADALAH ALLAH YANG MAHASETIA” (bacaan tanggal 28-3-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-03 BACAAN HARIAN MARET 2014.

Bacalah juga tulisan yang berjudul “DIA ADALAH ALLAH YANG MAHAKASIH DAN MAHAPENGAMPUN” (bacaan untuk tanggal 8-3-13)  dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 12:28-34), bacalah tulisan yang berjudul “ENGKAU TIDAK JAUH DARI KERAJAAN ALLAH”  (bacaan tanggal 16-3-12), dalam situs/blog PAX ET BONUM. Juga tulisan yang berjudul “PERINTAH MANAKAH YANG PALING UTAMA?” (bacaan tanggal 16-3-12) dalam situs/blog SANG SABDA. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 8-3-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 25 Maret 2014 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS DAN BEELZEBUL

YESUS DAN BEELZEBUL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Angela Merici – Senin, 27 Januari 2014)

Ordo Santa Ursula: Hari Raya S. Angela Merici, Pendiri (seorang anggota OFS)

KONFLIK DGN ORANG FARISI DLL. - DENGAN KUASA MANA ENGKAU ...Ahli-ahli Taurat yang datang dari Yerusalem berkata, “Ia kerasukan Beelzebul,”  dan, “Dengan pemimpin setan Ia mengusir setan.”  Yesus memanggil mereka, lalu berkata kepada mereka dalam perumpamaan, “Bagaimana Iblis dapat mengusir Iblis? Kalau suatu kerajaan terpecah-pecah, kerajaan itu tidak dapat bertahan, dan jika suatu rumah tangga terpecah-pecah, rumah tangga itu tidak dapat bertahan. Demikianlah juga kalau Iblis berontak melawan dirinya sendiri dan kalau ia terbagi-bagi, ia tidak dapat bertahan, melainkan sudahlah tiba kesudahannya. Tetapi tidak seorang pun dapat memasuki rumah seorang yang kuat untuk merampas harta bendanya apabila tidak diikatnya dahulu orang kuat itu. Sesudah itu barulah dapat ia merampok rumah itu. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Semua dosa dan hujat apa pun yang diucapkan anak-anak manusia akan diampuni. Tetapi siapa saja yang menghujat Roh Kudus tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa yang kekal.” Ia berkata demikian karena mereka mengatakan bahwa Ia kerasukan roh jahat.  (Mrk 3:22-30)

Bacaan Pertama: 2Sam 5:1-7,10; Mazmur Tanggapan: Mzm 89:20-22,25-26 

Injil Markus secara progresif mengungkapkan siapa Yesus itu sebenarnya – dari peristiwa yang satu ke peristiwa selanjutnya. Dalam salah satu peristiwa itu (bacaan Injil hari ini), Yesus menghadapi tuduhan yang serius dari para ahli Taurat yang mengatakan bahwa diri-Nya kerasukan Beelzebul (gelar untuk roh jahat yang berarti “tuan dari lalat-lalat”). Mereka menuduh Yesus mengusir roh-roh jahat dengan menggunakan kuasa dari “penguasa roh-roh jahat” itu, dan mereka juga menuduh Yesus, bahwa Dia “kerasukan roh jahat” (Mrk 3:22,30).

Yesus menyingkapkan tidak masuk akalnya tuduhan para ahli Taurat itu dengan sebuah pertanyaan akal-sehat: “Bagaimana Iblis dapat mengusir Iblis?”  (Mrk 3:23).  Karena kecemburuan atau sikap benar-sendiri, para ahli Taurat itu menjadi buta terhadap hal-hal yang sudah jelas dan gamblang: Melalui pengusiran roh-roh jahat dan penyembuhan orang-orang sakit Yesus sebenarnya sedang melakukan perusakan/ penghancuran Kerajaan Iblis, bukan membangunnya. Secara implisit Yesus sebenarnya mengatakan bahwa Dia telah datang untuk membangun Kerajaan Allah dengan pertama-tama menjarah rumah dari si “orang kuat” (Mrk 3:27).

Kepada para lawan yang menuduhnya, Yesus mengingatkan: “Siapa saja yang menghujat Roh Kudus tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa yang kekal” (Mrk 3:29). Konteksnya di sini bersifat signifikan. Yesus sedang memperingatkan para pemimpin/pemuka agama Yahudi yang menyatakan karya penyelamatan Allah sebagai pekerjaan si Iblis. Mereka memutar-balikkan kebenaran, menolak karunia keselamatan Allah dan menempatkan orang-orang dalam posisi berisiko juga.

Sebelumnya, bagian pertama dari pernyataan Yesus berbunyi sebagai berikut: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Semua dosa dan hujat apa pun yang diucapkan anak-anak manusia akan diampuni” (Mrk 3:28). Hal ini menandai sebuah langkah lagi dalam pernyataan progresif dari Anak Manusia: Dialah yang mempunyai kuasa untuk mengampuni.

Markus mengkombinasikan cerita penolakan ini dengan serangkaian tanggapan-tanggapan yang bersifat skeptis. Urut-urutannya menyediakan suatu efek kumulatif. Identitas Yesus muncul secara lebih jelas karena Dia membuktikan bahwa tuduhan negatif para lawan-Nya itu salah. Pada saat yang bersamaan, Markus menunjukkan kontradiksi yang mencolok: Para ahli Taurat dan otoritas keagamaan Yahudi menolak Dia (padahal ekspektasi kita adalah sebaliknya, yaitu mereka akan menyambut baik diri-Nya). Bahkan keluarga-Nya pun mempertanyakan tindak-tanduk Yesus (Mrk 3:21). Para murid dan orang banyak terdiri dari orang-orang sederhana dan miskin – barangkali karena kebutuhan riil mereka, namun pasti karena keterbukaan mereka – memandang Yesus sebagai sang Mesias yang dengan penuh kuasa meresmikan kedatangan Kerajaan Allah.

DOA: Tuhan Yesus, seperti orang-orang yang telah bertemu dengan Engkau, aku sering disusahkan dengan rasa ragu, rasa takut dan prasangka-prasangka. Namun ketika Roh-Mu menyentuh diriku, aku tahu bahwa Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Tolonglah aku, ya Tuhan Yesus, supaya aku dapat mengenal Engkau secara lebih mendalam lagi, sehingga aku dapat menyerahkan diriku sepenuhnya kepada-Mu. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 3:22-30), bacalah tulisan yang berjudul “TANDA KONTRADIKSI DAN PENGHARAPAN” (bacaan tanggal 27-1-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; 14-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2014. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 28-1-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  23 Januari 2014 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MEMANG ADALAH TUHAN ATAS HARI SABAT

YESUS MEMANG ADALAH TUHAN ATAS HARI SABAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIII – Senin, 9 September 2013) 

YESUS MENYEMBUHKAN ORANG YANG MATI TANGAN KANANNYAPada suatu hari Sabat lain, Yesus masuk ke rumah ibadat, lalu mengajar. Di situ ada seorang yang mati tangan kanannya. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat, supaya mereka mendapat alasan untuk mempersalahkan Dia. Tetapi Ia mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada orang yang mati tangannya itu, “Bangunlah dan berdirilah di tengah!” Orang itu pun bangun dan berdiri. Lalu Yesus berkata kepada mereka, “Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?” Sesudah itu Ia memandang keliling kepada mereka semua, lalu berkata kepada orang sakit itu, “Ulurkanlah tanganmu!” Orang itu berbuat demikian dan sembuhlah tangannya. Kemarahan mereka meluap, lalu mereka berunding, apakah yang akan mereka lakukan terhadap Yesus. (Luk 6:6-11)

Bacaan Pertama: Kol 1:24-2:3; Mazmur Tanggapan: Mzm 62:6-7,9 

Orang-orang Farisi dan para ahli Taurat terus mengamati gerak-gerik Yesus supaya dapat memperoleh tanda-tanda bahwa Dia melanggar hukum, khususnya yang berkaitan dengan hari Sabat. Banyaknya peraturan sehubungan dengan Sabat membuat para pemuka agama Yahudi tersebut memegang kendali sepenuhnya atas hal-ikhwal (pernak-pernik?) hari Sabat. Mentalitas seperti ini membatasi penyembahan kepada Allah yang menyentuh hati. Yesus, “Tuhan atas hari Sabat” (Luk 6:5), akan menunjukkan apa itu sesungguhnya kebaktian/persembahan hari Sabat.

Yesus tidak dapat diintimidasi oleh orang-orang Farisi dan para ahli Taurat. Pendekatan Yesus terhadap upaya memelihara kesucian hari Sabat didasarkan secara kuat pada keyakinan bahwa kasih kepada Allah tidak dapat dipisahkan dari kasih kepada sesama manusia (Luk 10:25-37). Pandangan Yesus ini mencerminkan keyakinan-Nya bahwa ketiadaan hormat kita kepada sesama manusia tidak dapat menghormati Allah.  Juga adalah suatu kejahatan apabila kita membiarkan penderitaan/kesengsaraan berlangsung terus, padahal hal tersebut dapat dihentikan (bahkan pada hari Sabat) dengan suatu perbuatan baik.

Orang-orang Farisi memasukkan Yesus dalam kategori “penyembuh”, dan mereka mengamat-amati Yesus secara ketat, kalau-kalau Dia menyembuhkan pada hari Sabat (Luk 6:7). Tafsir mereka atas hukum memperkenankan intervensi medis pada hari Sabat, hanya untuk kelahiran, penyunatan, dan penyakit mematikan. Melakukan penyembuhan pada hari Sabat untuk alasan apa pun kecuali atas penyakit yang mematikan seperti yang dilakukan oleh Yesus jelas merupakan pelanggaran terang-terangan atas istirahat hari Sabat.

Yesus bukanlah Yesus jika Dia tidak mengetahui isi hati dari orang-orang Farisi dan para ahli Taurat itu. Yesus memerintahkan orang yang mati tangannya itu untuk maju ke depan, jadi sesungguhnya mengkonfrontir para pemuka agama Yahudi itu ketika Dia bertanya kepada mereka: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?” (Luk 6:8-9). Dalam pikiran Yesus, apa saja yang membiarkan seseorang tetap menderita tidaklah menghormati Allah, dan Allah seharusnya dihormati, teristimewa pada hari Sabat. Jadi, Yesus memerintahkan orang itu untuk mengulurkan tangannya yang lumpuh. Ia melakukannya sesuai perintah Yesus itu, dan ia pun disembuhkan. Orang-orang Farisi dan para ahli Taurat menjadi marah besar karena sekali lagi Yesus menunjukkan bahwa “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat” (Luk 6:5).

Sekarang marilah kita (anda dan saya) bertanya kepada diri kita masing-masing, apakah hati dan pikiran kita juga terbelenggu oleh sikap-sikap restriktif menyangkut pokok-pokok berikut ini: Allah, penyembahan kepada-Nya, keluarga, pekerjaan, relasi di dalam komunitas kita? Apakah kita menghayati atau menjalani kehidupan kita dengan cara-cara yang menghormati Allah dan sesama? Ataukah kehidupan spiritual kita sudah menjadi layu seperti tangan orang itu? Yesus, dengan kasih dan bela-rasa, minta kepada kita untuk hidup seperti Dia hidup, … dalam kasih dan bela-rasa.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami agar dapat melihat kebutuhan kami akan penyembuhan-Mu dalam kehidupan kami. Semoga terang-Mu menyinari diri kami sehingga kami dapat mengasihi Allah dan sesama. Semoga kami Kaujadikan hidup dan bergembira dalam Engkau, Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kol 1:24-2:3), bacalah tulisan yang berjudul “DI DALAM KRISTUS TERSEMBUNYI SEGALA HARTA HIKMAT DAN PENGETAHUAN” (bacaan tanggal 9-9-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 12-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2013. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-9-12 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 5 September 2013  

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 87 other followers