Posts tagged ‘AHLI-AHLI TAURAT’

IBLIS MENGUSIR IBLIS?

IBLIS MENGUSIR IBLIS?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa III – Senin, 22 Januari 2018)

Hari Kelima Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani

Ahli-ahli Taurat yang datang dari Yerusalem berkata, “Ia kerasukan Beelzebul,”  dan, “Dengan pemimpin setan Ia mengusir setan.”  Yesus memanggil mereka, lalu berkata kepada mereka dalam perumpamaan, “Bagaimana Iblis dapat mengusir Iblis? Kalau suatu kerajaan terpecah-pecah, kerajaan itu tidak dapat bertahan, dan jika suatu rumah tangga terpecah-pecah, rumah tangga itu tidak dapat bertahan. Demikianlah juga kalau Iblis berontak melawan dirinya sendiri dan kalau ia terbagi-bagi, ia tidak dapat bertahan, melainkan sudahlah tiba kesudahannya. Tetapi tidak seorang pun dapat memasuki rumah seorang yang kuat untuk merampas harta bendanya apabila tidak diikatnya dahulu orang kuat itu. Sesudah itu barulah dapat ia merampok rumah itu. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Semua dosa dan hujat apa pun yang diucapkan anak-anak manusia akan diampuni. Tetapi siapa saja yang menghujat Roh Kudus tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa yang kekal.”  Ia berkata demikian karena mereka mengatakan bahwa Ia kerasukan roh jahat.  (Mrk 3:22-30)

Bacaan Pertama: 2Sam 5:1-7,10; Mazmur Tanggapan: Mzm 89:20-22,25-26

Injil Markus secara progresif mengungkapkan lebih jauh dan dalam lagi mengenai siapa Yesus sebenarnya. Dalam salah satu kejadian, Yesus menghadapi tuduhan serius dari para ahli Taurat yang mengatakan bahwa Dia kerasukan Beelzebul (gelar roh jahat yang berarti “Tuan dari lalat-lalat”). Mereka menuduh Dia “mengusir setan-setan dengan pemimpin setan” dan “kerasukan roh jahat” (Mrk 3:22, 30).

Yesus membeberkan ketidaklogisan tuduhan-tuduhan tersebut dengan sebuah pertanyaan berdasarkan akal sehat: “Bagaimana Iblis dapat mengusir Iblis?”  (Mrk 3:23). Karena kedengkian dan iri hati atau mungkin sekali karena merasa benar sendiri, para ahli Taurat itu menjadi buta terhadap hal-hal yang begitu jelas: Melalui pengusiran roh-roh jahat dan penyembuhan orang-orang sakit sebenarnya Yesus sedang menghancurkan kerajaan Iblis, bukan membangunnya. Secara implisit Yesus juga memberi indikasi bahwa Dia telah datang untuk membangun kerajaan Allah, pertama-tama dengan menjarah rumah “orang kuat” (Mrk 3:27).

Kepada para pencela yang menuduh-Nya begitu, Yesus dengan sungguh-sungguh mengingatkan: “Tetapi siapa saja yang menghujat Roh Kudus tidak mendapat ampun selama-lamanya”  (Mrk 3:29). Konteksnya di sini bersifat signifikan. Yesus menyampaikan peringatan ini kepada para pemuka agama yang menyatakan bahwa karya penyelamatan Allah sebagai pekerjaan Iblis. Para pemuka agama ini memutar-balikkan kebenaran, mereka menolak anugerah keselamatan dari Allah dan mereka dengan demikian menempatkan orang lain ke dalam risiko juga.

Bagian pertama dari pernyataan Yesus mempermakluman bahwa Allah ingin mengampuni orang-orang untuk “semua dosa dan hujat apa pun”  (Mrk 3:28). Ini menandakan satu langkah lagi dalam pengungkapan progresif perihal Anak Manusia, yakni bahwa Dia-lah yang memiliki kuasa untuk mengampuni.

Markus mengkombinasikan cerita penolakan ini dengan serangkaian tanggapan yang bersifat skeptis. Urut-urutan cerita memberikan suatu efek kumulatif. Identitas Yesus muncul secara lebih jelas karena Dia menolak karikatur negatif yang dilukiskan oleh para lawan-Nya. Pada saat yang sama, Markus memberikan kontradiksi yang mencolok: Para ahli Taurat dan penguasa keagamaan (yang kita harapkan seharusnya menyambut Yesus), malah menolak Dia. Bahkan keluarga-Nya sekali pun mempertanyakan tentang kewarasan-Nya (Mrk 3:21). Sebaliknya para murid Yesus dan orang banyak yang terdiri dari orang-orang sederhana dan miskin – barangkali disebabkan kebutuhan, tetapi pasti karena keterbukaan hati mereka – melihat Yesus sebagai Mesias yang dengan penuh kuasa mulai membangun Kerajaan Allah.

DOA: Tuhan Yesus, seperti mereka yang telah berjumpa dengan Engkau, aku pun seringkali merasa terganggu oleh rasa ragu, takut dan prasangka. Akan tetapi ketika Roh Kudus-Mu menjamahku, aku tahu bahwa Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Tolonglah aku agar dapat mengenal-Mu dengan lebih mendalam lagi, sehingga dengan demikian dapat menyerahkan diriku kepada-Mu secara total. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 3:22-30), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MEMATAHKAN TUDUHAN PARA AHLI TAURAT” (bacaan tanggal 22-1-18), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 23-1-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 19  Januari 2018 [Hari Kedua Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

KUASA UNTUK MENGAMPUNI DOSA

KUASA UNTUK MENGAMPUNI DOSA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Jumat, 12 Januari 2018)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Bernardus dr Corleone, Biarawan

 

Kemudian, sesudah lewat beberapa hari, waktu Yesus datang lagi ke Kapernaum, tersebarlah kabar bahwa Ia ada di rumah. Lalu datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di depan pintu pun tidak. Sementara Ia memberitakan firman kepada mereka, ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang. Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap di atas Yesus; sesudah terbuka mereka menurunkan tikar, tempat orang lumpuh itu terbaring. Ketika Yesus melihat iman mereka berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu, “Hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni!”  Tetapi beberapa ahli Taurat sedang duduk di situ, dan mereka berpikir dalam hatinya, “Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain Allah sendiri?” Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka, “Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu? Manakah yang lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosa-dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tikarmu dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu bahwa Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa di bumi ini” – berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu –, “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tikarmu dan pulanglah ke rumahmu!” Orang itu pun bangun, segera mengangkat tikarnya dan pergi ke luar dari hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya, “Yang begini belum pernah kita lihat.”  (Mrk 2:1-12)

Bacaan Pertama: 1Sam 8:4-7,10-22a; Mazmur Tanggapan: Mzm 89:16-19 

Narasi Injil yang cukup dramatis ini adalah mengenai bagaimana Yesus menyembuhkan seorang lumpuh yang diturunkan dari atap rumah oleh empat orang yang membawanya ke tempat itu. Cerita tentang penyembuhan orang lumpuh ini adalah yang pertama dari lima cerita konflik dalam Injil Markus (2:1-3:6), yang menyoroti perlawanan para pemuka agama Yahudi terhadap pernyataan siapa diri Yesus itu. Dengan berpegang teguh pada ide-ide kuno mereka sendiri, para ahli Taurat dan orang Farisi gagal mengalami bela rasa dan kasih Allah yang dimanifestasikan dalam diri Yesus.

Ada beberapa pokok konflik yang muncul antara Yesus dan para pemimpin agama Yahudi selama berlangsungnya proses penyembuhan. Yang pertama terjadi ketika Yesus mendeklarasikan bahwa dosa-dosa orang itu diampuni (Mrk 2:5). Dalam Perjanjian Lama, kuasa untuk mengampuni dosa hanya milik Allah saja (Kel 34:6-7; Yes 43:25). Lalu Yesus menyebut diri-Nya sebagai “Anak Manusia” yang memiliki kuasa untuk mengampuni dosa (Mrk 2:10). Tradisi Yahudi pada waktu itu memahami bahwa yang dimaksudkan dengan “anak manusia” (Dan 7:13-14) mengacu kepada sang Mesias yang akan membawa umat ke dalam Kerajaan Allah. Yesus mengidentifikasikan diri-Nya dengan tokoh mesianis ini untuk mulai menyatakan diri-Nya dan mempersiapkan umat bagi pekerjaan yang akan dilaksanakan-Nya melalui sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya.

Tanggapan umat yang hadir terhadap peristiwa penyembuhan orang lumpuh ini merupakan sebuah kontras yang tajam terhadap ketakutan yang melumpuhkan dari para ahli Taurat (Mrk 2:7). Orang banyak takjub dan memuliakan Allah, sambil berkata: “Yang begini belum pernah kita lihat” (Mrk 2:12). Mereka memberi tanggapan positif terhadap kebaikan dan belas kasih Allah. Kiranya tidak sedikit dari orang banyak itu kemudian menjadi murid-murid Yesus.

Sekarang pertanyaannya adalah, mengapa orang banyak  dapat mengenali siapa Yesus itu, sementara para pemimpin agama Yahudi buta sehingga tidak mampu melihat siapa sebenarnya Yesus? Jawabnya terletak pada iman mereka. Yesus melihat iman dari mereka yang membawa orang lumpuh dan juga iman si lumpuh sendiri (Mrk 2:5). Walaupun kuat-kuasa dan belas kasih Yesus begitu terlihat oleh mereka yang percaya (beriman), ketidak-percayaan telah membutakan mata (terutama mata hati) para pemuka agama Yahudi tersebut. Para pemuka agama Yahudi itu tidak mau mengubah mindset  mereka, juga tidak mempunyai keberanian untuk keluar dari comfort zone mereka. Bukankah implisit dalam pengertian apa iman itu, terdapat unsur-unsur keberanian dan perubahan diri?

DOA: Tuhan Yesus, oleh kuasa Roh Kudus-Mu, bukalah mata kami agar mampu melihat karya-Mu dengan lebih jelas dalam hidup kami. Sembuhkanlah kami dari berbagai cara berpikir kami yang membatasi – bahkan menghalangi – pemahaman kami tentang rencana penyelamatan Bapa surgawi atas segenap umat manusia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini, bacalah tulisan yang berjudul “YESUS SUGGUH MEMPUNYAI KUASA UNTUK MENGAMPUNI DOSA” (bacaan tanggal 12-1-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-1-17 dalam situs/blog SANG SABDA] 

Cilandak, 9 Januari 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MEMPERKENANKAN YESUS MEMERINTAH DALAM HIDUP KITA

MEMPERKENANKAN YESUS MEMERINTAH DALAM HIDUP KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa III Senin, 23 Januari 2017)

Hari Keenam Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani

konflik-dgn-orang-farisi-dll-dengan-kuasa-mana-engkauAhli-ahli Taurat yang datang dari Yerusalem berkata, “Ia kerasukan Beelzebul,”  dan, “Dengan pemimpin setan Ia mengusir setan.”  Yesus memanggil mereka, lalu berkata kepada mereka dalam perumpamaan, “Bagaimana Iblis dapat mengusir Iblis? Kalau suatu kerajaan terpecah-pecah, kerajaan itu tidak dapat bertahan, dan jika suatu rumah tangga terpecah-pecah, rumah tangga itu tidak dapat bertahan. Demikianlah juga kalau Iblis berontak melawan dirinya sendiri dan kalau ia terbagi-bagi, ia tidak dapat bertahan, melainkan sudahlah tiba kesudahannya. Tetapi tidak seorang pun dapat memasuki rumah seorang yang kuat untuk merampas harta bendanya apabila tidak diikatnya dahulu orang kuat itu. Sesudah itu barulah dapat ia merampok rumah itu. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Semua dosa dan hujat apa pun yang diucapkan anak-anak manusia akan diampuni. Tetapi siapa saja yang menghujat Roh Kudus tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa yang kekal.”  Ia berkata demikian karena mereka mengatakan bahwa Ia kerasukan roh jahat.  (Mrk 3:22-30)

Bacaan Pertama: Ibr 9:15,24-28; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-6

Ketika kita dibaptis, kita sebenarnya ditarik dari cengkeraman Iblis dan dijadikan ciptaan baru melalui darah Yesus. Iblis-lah yang dimaksudkan dengan “orang kuat” dalam bacaan Injil di atas (Mrk 3:27), namun pada kenyataannya Yesus bahkan lebih kuat lagi! Sekarang masalahnya adalah, apakah kita (anda dan saya) percaya bahwa Yesus telah mengikat musuh kita yang paling hebat dan ganas itu? Yang diminta oleh Yesus untuk kita lakukan adalah untuk tetap menjalani hidup kita dalam kemenangan ini. Bagaimana? Dengan memperkenankan-Nya memerintah dalam kehidupan kita. Karena Iblis dan roh-roh jahatnya senantiasa mencari jalan untuk masuk kembali ke dalam diri kita, maka kita harus mengambil langkah-langkah praktis guna melindungi pikiran dan hati kita. Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat kita lakukan.

Pada saat kita bangun tidur di pagi hari, maka baiklah kita mengambil waktu beberapa menit untuk mengkomit hati kita dan masalah dan sikon kita kepada Yesus. Lalu, di siang hari, kita juga tidak boleh lupa menyediakan waktu untuk bersama Yesus. Baiklah kita berbicara kepada-Nya dan mendengarkan apa yang dikatakan-Nya. Walaupun seandainya waktu kita sangat langka (kita semua orang sibuk, bukan?), baiklah kita memohon kepada Roh Kudus untuk menolong kita agar memperoleh kesempatan untuk meluangkan waktu sepuluh menit saja untuk berada di hadapan hadirat-Nya. Inilah yang kita semua perlukan untuk disegarkan kembali dan dikuatkan. Mungkin di sore hari kita dapat mengusahakan waktu selama lima menit sampai sepuluh menit untuk membaca sabda Allah dalam Kitab Suci serta secara singkat merenungkannya, dan memperkenankan sabda Allah tersebut meresap ke dalam hati kita.

Selagi Yesus memenuhi hati kita, Iblis tidak akan menemukan jalan masuk atau titik lemah pada diri kita untuk diganggu dan diobrak-abrik lagi. Bukannya membuat terobosan melalui benteng pertahanan kita, Iblis akan berhadapan dengan Yesus sendiri, sang “orang kuat”, yang menjaga kita dengan penuh siap-siaga.

Pada saat Yesus wafat di kayu salib, Ia mengalahkan Iblis secara lengkap dan total. Musuh kita ini sekarang bagaikan seekor anjing yang keras menyalak tetapi tanpa kemampuan untuk menggigit kita. Iblis tidak dapat “menggigit” kita apabila kita berdiri di atas dasar kemenangan Yesus dan memegang erat-erat segala peralatan dan senjata yang telah diberikan-Nya kepada kita. Kita harus senantiasa mengingat, bahwa “Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam surga” dan memungkinkan kita untuk menjadi “kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya” (Ef 1:3,4).

Dengan demikian Saudari dan Saudaraku, tempatkanlah iman kita dalam kuat kuasa Allah dan rahmat-Nya! Marilah kita berdiri tegak selagi kita membangun suatu pertahanan yang kokoh. Marilah kita memperkenankan Yesus memerintah dalam hidup kita secara lebih penuh lagi dalam hati kita masing-masing, dan dengan demikian Iblis pu akan melarikan diri dari kita.

DOA: Tuhan Yesus, dengan rendah hati aku mengundang Engkau untuk mendirikan takhta-Mu dalam hatiku. Tolonglah aku dalam membangun pertahanan terhadap serangan musuh sehingga dengan demikian aku dapat mengasihi dan menghormati Engkau, sekali lagi mengkonfirmasi janji-janji baptisku.  Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 3:22-30), bacalah tulisan dengan judul “IBLIS MENGUSIR IBLIS?” (bacaan tanggal 23-1-17), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; 17-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 26-1-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 20 Januari 2017 [Hari Ketiga Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YOHANES PEMBAPTIS SEBAGAI NABI ELIA YANG BARU

YOHANES PEMBAPTIS SEBAGAI NABI ELIA YANG BARU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Adven – Sabtu, 10 Desember 2016) 

john-baptist4Lalu murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya, “Kalau demikian, mengapa ahli-ahli Taurat berkata bahwa Elia harus datang dahulu?” Jawab Yesus, “Memang Elia akan datang dan memulihkan segala sesuatu dan Aku berkata kepadamu: Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia, dan memperlakukannya menurut kehendak mereka. Demikian juga Anak Manusia akan menderita oleh mereka.” Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa Ia berbicara tentang Yohanes Pembaptis. (Mat 17:10-13) 

Bacaan pertama: Sir 48:1-4.9-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 80:2-3,15-16,18-19 

Mengapa Yesus mengacu kepada Yohanes Pembaptis sebagi Elia? Terjemahan dalam bahasa Ibrani untuk Elia – “YHWH adalah Allahku” – adalah cara yang mengena untuk menggambarkan kehidupan dari nabi Perjanjian Lama ini, dan juga kehidupan Yohanes Pembaptis.

Pada permukaannya, kedua orang ini saling menyerupai satu sama lain – dua-duanya hidup sendiri di padang gurun dengan mengenakan pakaian kasar (2 Raj 1:8; Mat 3:4). Dua-duanya adalah nabi, yang sungguh berniat untuk memproklamasikan kebenaran. Pada zaman Elia, umat Yahudi (tidak semuanya) melakukan ibadat penyembahan berhala yang dinamakan Baal. Sebagai tanggapan, Elia membuktikan kuat-kuasa YHWH yang jauh mengatasi Baal dengan meminta api turun dari langit untuk menghabiskan  korban bakaran berupa seekor lembu (1 Raj 18:20-40). Dengan jalan serupa, Yohanes Pembaptis “datang sebagai saksi untuk bersaksi tentang terang itu [Yesus], supaya melalui dia semua orang menjadi percaya” (Yoh 1:7). Sebagaimana dikatakan oleh malaikat Tuhan kepada ayahnya – Zakharia – Yohanes “akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia” (Yoh 1:17). Ia akan menyerukan pesan pertobatan guna mempersiapkan hati umat bagi kedatangan Juruselamat mereka. Zakharia sendiri akan menggemakan kembali pernyataan malaikat tadi dalam kidungnya: “Dan engkau, hai anakku, akan disebut nabi Allah Yang Mahatinggi; karena engkau akan berjalan mendahului Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagi-Nya” (Luk 1:76).

Berdasarkan Kitab Suci dan kepercayaan populer, Elia diprakirakan akan kembali ke dunia “menjelang datangnya hari TUHAN (YHWH) yang besar dan dahsyat itu” (Mal 4:5). Bayangkanlah betapa terkejut para murid Yesus ketika Dia berkata, “Elia sudah datang” (Mat 11:12). Elia baru (Yohanes Pembaptis) dibunuh sebagai martir oleh orang-orang yang gagal mengenali siapa dirinya sesungguhnya dan apa perannya dalam sejarah keselamatan (salah seorang dari mereka adalah Herodes Antipas). Demikian pula halnya dengan sang Mesias sendiri yang akan menderita dan pada akhirnya disalibkan dengan keji di bukit Kalvari.

1-0-jesus-christ-super-starBerabad-abad lamanya Allah mengutus para nabi-Nya sebagai pendahulu dari proklamasi-Nya yang final – Yesus Kristus, Sabda yang menjadi daging (Firman yang menjadi manusia; Yoh 1:14). Allah merencanakan kelahiran Yesus secara cermat sekali dengan memperhitungkan segala detil, termasuk “kembalinya” Elia. Karena Yesus mengetahui bahwa Allah bekerja dengan begitu berhati-hati, maka Dia dapat mempercayakan hidup-Nya ke dalam tangan-tangan Bapa-Nya; tidak ada satu pun yang akan luput diperhatikan.

Selama masa Adven ini, kita pun dapat mengingat-ingat kesempurnaan dari rencana keselamatan yang dibuat Allah dan dapat menaruh kepercayaan yang lebih besar lagi pada rencana-Nya bagi hidup kita. Manakala kita mengkomit diri kita sendiri untuk mengikuti panggilan-Nya bagi kita, maka Tuhan akan memperhatikan setiap detil walaupun hal-hal yang tidak signifikan. Dengan demikian kita pun seharusnya lebih percaya lagi pada perhatian-Nya yang penuh kasih atas diri kita semua.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami sampaikan kepada-Mu karena Engkau telah mengutus para nabi untuk memproklamasikan kebenaran-kebenaran-Mu. Kami mengetahui bahwa rencana-Mu bagi hidup kami adalah sempurna. Tolonglah kami agar dapat bertumbuh dalam rasa percaya kami. Bersama ini kami menaruh kebutuhan-kebutuhan kami ke dalam tangan-tangan-Mu, juga kekhawatiran dan rasa takut kami, pengharapan-pengharapan kami, bahkan keseluruhan diri kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 17:10-13), bacalah tulisan yang berjudul “ELIA SUDAH DATANG” (bacaan tanggal 10-12-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-12-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 8 Desember 2016 [HARI RAYA SP MARIA DIKANDUNG TANPA NODA] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KAMU MENGABAIKAN KEADILAN DAN KASIH TERHADAP ALLAH

KAMU MENGABAIKAN KEADILAN DAN KASIH TERHADAP ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVIII – Rabu, 12 Oktober 2016) 

Keluarga OFMCap/OSCCap.: Peringatan S. Serafinus dr Montegranaro, Biarawan

magataganm_20120210015513

“ ……… Tetapi celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih terhadap Allah. Hal-hal tersebut harus dilakukan tanpa mengabaikan yang lainnya. Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu suka duduk di tempat terbaik di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan di pasar. Celakalah kamu, sebab kamu sama seperti kubur yang tidak memakai tanda; orang-orang yang berjalan di atasnya, tidak mengetahuinya.”

Seorang dari antara ahli-ahli Taurat itu menjawab dan berkata kepada-Nya, “Guru, dengan berkata demikian, Engkau menghina kami juga.” Tetapi Ia menjawab, “Celakalah kamu juga, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang, tetapi kamu sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jari pun. ………” (Luk 11:42-46) 

Bacaan Pertama: Gal 5:18-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-4,6 

“Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih terhadap Allah. Hal-hal tersebut harus dilakukan tanpa mengabaikan yang lainnya” (Luk 11:42).

Bayangkanlah kita mengundang seorang tamu istimewa untuk makan bersama di rumah kita dan kemudian kita malah “dimaki-maki” dan dihina, demikian pula para tamu lain yang hadir. Tamu macam apa yang akan menyerang tuan rumah dengan kata-kata yang terasa sangat keras itu? Seperti seekor singa ganas yang menyerang mangsanya, Yesus – singa dari suku Yehuda (Why 5:5) – menyerang sikap negatif yang telah begitu lama mengendap dalam hati orang-orang Farisi.

Itulah yang dengan keras diserukan oleh Yesus, namun pernyataan seperti ini dapat dengan mudah disalah-artikan, maka baik untuk ditelaah lebih lanjut. Di sini Yesus samasekali tidak mengutuk praktek-praktek keagamaan yang melampaui apa yang disyaratkan sebagai tugas-kewajiban. Yang membuat Yesus menyalahkan orang-orang Farisi adalah kenyataan bahwa mereka mengabaikan keadilan dan kasih terhadap Allah. Mereka sebenarnya dapat mematuhi segala persyaratan hukum Musa tanpa harus mengabaikan praktek-praktek keagamaan mendasar lainnya. Keadilan dan kasih terhadap Allah adalah aspek-aspek penting kehidupan rohani yang dipuji oleh Yesus. Kata “keadilan” (Inggris: justice; Yunani: krisis) berarti “hak (teristimewa hak dari mereka yang tertindas) yang dibenarkan oleh Allah”, sang Hakim yang adil. Oleh karena itulah Yesus mencela orang-orang Farisi karena mereka tidak mempedulikan hak-hak “wong cilik”.

c3606b07eb3e0f92bb5bfe8287005989“Kasih kepada/terhadap Allah” di sini dalam Alkitab berbahasa Inggris disebut the love of God (mis. Revised Standard Version (RSV) –Catholic Edition dan The New Jerusalem Bible (NJB), dan juga the love for God (mis. The New American Bible (NAB) dan Good News Bible (TEV). Mungkin seseorang yang ahli/mahir sekali dalam bahasa Yunani dapat menerjemahkan kata aslinya dengan tepat. Dari kedua terjemahan yang berbeda dalam bahasa Inggris tadi, saya dapat mengatakan bahwa ungkapan itu dapat berarti “kasih Allah bagi semua orang” atau “kasih yang harus dirasakan dan ditunjukkan oleh orang-orang kepada Allah” sementara mereka menjadi sadar akan kenyataan betapa besar kasih dan kerahiman-Nya, yang diwujudkan dalam hidup mereka. Perwujudan paling agung dari kasih Allah kepada kita ini adalah kematian yang menyelamatkan dari Yesus Kristus – Putera Allah – serta kebangkitan-Nya. “Telur dulu atau ayam dulu nih?” Oleh karena itu, baiklah kita membuat apa yang ditulis Yohanes berikut ini sebagai pegangan abadi bagi kita: “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita” (1Yoh 4:19). Jadi kalau kita mau ketat dalam terjemahan Inggrisnya, beginilah hasilnya: The love of God bagi kita dari pihak Allah, menyebabkan kita mengungkapkan the love for God. Karena ini bukan pelajaran bahasa Inggris, maka baiklah kita kembali kepada teks yang sedang kita renungkan.

Kata-kata Yesus kepada orang-orang Farisi itu harus mendorong kita untuk melakukan pemeriksaan batin. Kita dapat bertanya kepada diri kita sendiri: Apakah kita cukup bermurah hati dalam hal berbagi uang kita, harta-milik kita lainnya, waktu kita, dan cintakasih kita (bukan dalam arti cinta seksual) kepada orang-orang lain yang membutuhkan? Apakah kita memiliki semangat berapi-api untuk tidak mengabaikan praktek-praktek keagamaan yang telah ditetapkan, sementara masih memendam dalam hati kita rasa-marah, akar-kepahitan atau pikiran-pikiran untuk membalas dendam terhadap anggota-anggota keluarga yang kita rasakan telah men’dzalimi’ diri kita? Apakah kita rajin menghadiri Perayaan Ekaristi dan kegiatan gerejawi lainnya, padahal kita terus melibatkan diri dalam praktek bisnis yang busuk, korup dan tidak etis? Apakah pada hari Minggu kita merupakan SANTA atau SANTO teladan, sedangkan dari hari Senin sampai dengan Sabtu kita sibuk dengan kegiatan/praktek SANTET terhadap para pesaing kita dalam karir atau bisnis? Kita tidak seharusnya menjadi takut kepada implikasi-implikasi dari kata-kata Yesus atas kehidupan kita. Malah kata-kata Yesus itu dapat menolong kita untuk dapat melihat dengan lebih jelas lagi sejumlah unsur sentral dari suatu kehidupan Kristiani yang lebih sehat.

DOA: Tuhan Yesus, semoga Roh Kudus-Mu menyelidiki relung-relung hatiku yang terdalam dan mengajarkan aku kebenaran-kebenaran jalan-Mu. Semoga kehidupanku mencerminkan kepenuhan Injil. Tolonglah aku untuk mempraktekkan keadilan dan cintakasih kepada Allah dengan kesadaran penuh, bahwa Allah telah mengasihiku terlebih dahulu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Gal 5:18-25), bacalah tulisan yang berjudul “SEDIKIT CATATAN MENGENAI BUAH ROH” (bacaan tanggal 12-10-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2016. 

(Tulisan ini merupakan saduran dari sebuah tulisan saya di tahun 2009) 

Jakarta,  10 Oktober 2016 [Peringatan S. Daniel dkk., Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KITA PUN DIPANGGIL UNTUK MEMPROKLAMASIKAN YESUS

KITA PUN DIPANGGIL UNTUK MEMPROKLAMASIKAN YESUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Jumat dalam Oktaf Paskah – 10 April 2015) 

KEBERANIAN PETRUS DAN YOHANES -  KIS 4Ketika Petrus dan Yohanes sedang berbicara kepada orang banyak, imam-imam dan kepala pengawal Bait Allah serta orang-orang Saduki mendatangi mereka. Orang-orang itu sangat marah karena mereka mengajar orang banyak dan memberitakan bahwa dalam Yesus ada kebangkitan dari antara orang mati. Mereka ditangkap dan dimasukkan ke dalam tahanan sampai keesokan harinya, karena hari telah malam. Tetapi di antara orang yang mendengar ajaran itu banyak yang menjadi percaya, sehingga jumlah mereka menjadi kira-kira lima ribu orang laki-laki.

Keesokan harinya pemimpin-pemimpin Yahudi serta tua-tua dan ahli-ahli Taurat mengadakan sidang di Yerusalem dengan Imam Besar Hanas dan Kayafas, Yohanes dari Aleksander dan semua orang lain yang termasuk keturunan Imam Besar. Lalu Petrus dan Yohanes dihadapkan kepada sidang itu dan mulai diperiksa dengan pertanyaan ini, “Dengan kuasa mana atau dalam nama siapa kamu melakukan hal itu?” Lalu Petrus, yang penuh dengan Roh Kudus, menjawab mereka, “Hai pemimpin-pemimpin umat dan tua-tua, jika kami sekarang harus diperiksa karena suatu perbuatan baik kepada seorang sakit dan harus menerangkan dengan kuasa mana orang itu disembuhkan, maka ketahuilah  oleh kamu sekalian dan oleh seluruh umat Israel bahwa dalam nama Yesus Kristus, orang Nazaret, yang telah kamu salibkan, tetapi yang telah dibangkitkan Allah dari antara orang mati – bahwa oleh karena Yesus itulah orang ini berdiri dalam keadaan sehat sekarang di depan kamu. Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan – yaitu kamu sendiri – namun ia telah menjadi batu penjuru. Tidak ada keselamatan di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kis 4:1-12) 

Mazmur Antar-bacaan: Mzm 118:1-2,4,22-27; Bacaan Injil: Yoh 21:1-14 

Petrus dan Yohanes tidak menyia-nyiakan setiap kesempatan untuk berkhotbah dan memproklamasikan kebangkitan Yesus dari alam maut karena mereka mengetahui bahwa pesan ini mengandung kuat-kuasa kehidupan. Kita dapat melihat kuat-kuasa pesan mereka dengan mempertimbangkan jumlah orang yang menjadi percaya setelah mendengar khotbah Petrus. Lukas (pengarang “Kisah Para Rasul”) menceritakan kepada kita bahwa setelah Petrus berkhotbah di Serambi Salomo (Kis 3:11-26), banyak orang yang “menjadi percaya, sehingga jumlah mereka menjadi kira-kira lima ribu orang laki-laki” (Kis 4:4). Ini sungguh merupakan bukti nyata bahwa khotbah Petrus berisikan pesan yang penuh kuat-kuasa.

Sekarang, digiring bersama Yohanes ke hadapan Sanhedrin, Petrus bersikukuh untuk mengumumkan pesan keselamatan yang sama, “kerygma Yesus”, yaitu proklamasi tentang kehidupan, penderitaan sengsara, kematian dan kebangkitan Yesus. Dan kita harus camkan benar-benar bahwa proklamasi oleh Petrus ini tidak bersumber pada kekuatannya atau keyakinannya sendiri, akan tetapi sebagai instrumen Tuhan dia menyampaikan pesan Injil melalui kuat-kuasa Roh Kudus yang bekerja di dalam dirinya (Kis 4:8). Nah, Roh Kudus yang aktif bekerja dalam diri Petrus juga aktif bekerja dalam hati semua orang, yang berdasarkan kekuatan sabda-Nya, mengarahkan hati mereka kepada Kristus pada hari itu dan bergabung dengan umat yang percaya kepada Kristus.

Proklamasi Kristus ini berada pada pusat pesan Injil, dan kita pun dipanggil untuk memproklamasikan Yesus Kristus dengan kata-kata dan juga hidup kita. Adalah Roh Kudus dalam diri kita yang menyatakan Pribadi Yesus dan menyulut pikiran kita, imajinasi kita dan hati kita agar kita dapat berbicara mengenai Yesus dengan penuh kasih dan keyakinan. Selagi kita memperkenankan Roh Kudus menyalakan api cinta-Nya dalam diri kita, maka kita pun akan dimampukan untuk berbicara dengan kuat-kuasa dan otoritas seperti ditunjukkan oleh Petrus dan Yohanes.

Umat Gereja Perdana di Yerusalem dan di tempat-tempat lain sangat menggantungkan diri pada kuat-kuasa Roh Kudus. Oleh karena itu adalah penting bagi kita untuk memahami bahwa kita juga tergantung pada Roh Kudus yang memberdayakan kita dalam aktivitas pelayanan kita bagi Allah. Begitu sering dalam keluarga dan gereja kita menggantungkan diri pada energi kita sendiri dan mencoba untuk mencapai tujuan-tujuan spiritual, terutama dengan menggunakan sumber daya manusia, bertindak sebagai instrumen-instrumen manusia dengan menggunakan kekuatan manusia.

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus, marilah kita – khususnya pada hari ini – membuka diri kita bagi Roh Kudus selagi kita berupaya memproklamasikan dan menghayati sendiri pesan dari Kristus yang bangkit.

DOA: Bapa surgawi, ciptakanlah dalam diri kami semangat berapi-api yang dimiliki para rasul-Mu yang pertama. Penuhilah diri kami masing-masing dengan Roh Kudus sehingga dengan demikian kami pun dapat turut serta mewartakan Kabar Baik Yesus Kristus dan membangun Kerajaan-Mu, bukan dengan kekuatan kami sendiri, melainkan dengan kuat-kuasa dan otoritas-Mu sendiri. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 21:1-14), bacalah tulisan yang berjudul “SUATU HARI DI DANAU TIBERIAS: MEMATUHI SABDA YESUS” (bacaan tanggal 10-4-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-04 BACAAN HARIAN APRIL 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 25-4-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 7 April 2015 [HARI SELASA DALAM OKTAF PASKAH] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JANGANLAH MEMULIAKAN ALLAH HANYA DENGAN BIBIR

JANGANLAH MEMULIAKAN ALLAH HANYA DENGAN BIBIR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa V – Selasa, 11 Februari 2014)

CELAKALAH ENGKAU KATA YESUSOrang-orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus. Mereka melihat bahwa beberapa orang murid-Nya makan dengan tangan yang najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh. Sebab orang-orang Farisi seperti orang-orang Yahudi lainnya tidak makan kalau tidak membasuh tangan dengan cara tertentu, karena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang mereka; dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membasuh dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga serta tempat pembaringan. Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada-Nya, “Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?” Jawab-Nya kepada mereka, “Tepatlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik, seperti ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya tetap jauh dari Aku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, karena ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan dan adat istiadat manusia kamu pegang.” Lalu Yesus berkata kepada mereka, “Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadat sendiri. Karena Musa telah berkata: Hormatilah ayahmu dan ibumu! dan: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati. Tetapi kamu berkata: Kalau seseorang berkata kepada ayahnya atau ibunya: Segala bantuan yang seharusnya engkau terima dariku adalah Kurban, – yaitu persembahan kepada Allah – , maka kamu tidak membiarkannya lagi berbuat sesuatu pun untuk ayahnya atau ibunya. Jadi, dengan adat istiadat yang kamu teruskan itu, firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku. Banyak lagi hal lain seperti itu yang kamu lakukan.” (Mrk 7:1-13)

Bacaan Pertama: 1Raj 8:22-23,27-30; Mazmur Tanggapan: Mzm 84:3-5,10-11

Dosa ketidakpercayaan tidak hanya merupakan penyangkalan terhadap keberadaan Allah atau keilahian Kristus, melainkan juga kegagalan untuk mengenali tanda-tanda yang menunjukkan kepenuhan dari kata-kata seorang nabi atau menunjukkan Allah yang bekerja di tengah-tengah kita. Orang-orang Farisi berupaya untuk setia kepada Allah perjanjian. Akan tetapi, dalam hasrat mereka untuk setia kepada-Nya, mereka menjadi self-focused (memusatkan perhatian pada diri sendiri) dalam hal bagaimana mereka memberi tanggapan kepada-Nya: Mereka membuat upaya menepati tafsir mereka sendiri atas hukum sebagai fokus dari hidup keagamaan mereka, bukannya Allah. Cara orang-orang Farisi menepati hidup keagamaan mereka tidak berakar dari suatu iman pemberian-diri-sendiri kepada Allah.

YESUS MAU DIJEBAK OLEH ORANG FARISIMenanggapi kritikan orang-orang Farisi, Yesus memetik sebuah ayat dari Kitab Yesaya dan menunjukkan kepada orang-orang Farisi itu cara-cara mereka menempatkan hukum di hadapan Allah: “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya tetap jauh dari Aku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, karena ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia” (Mrk 7:6-7; lihat Yes 29:13). Yesus melanjutkan: “Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadat sendiri” (Mrk 7:8).

Memang tidak sulit bagi kita untuk melontarkan kritik-kritik, …… untuk menghakimi orang-orang Farisi; namun kita juga harus menjawab pertanyaan sangat penting ini: “Siapakah Yesus Kristus?” Apabila dihadapkan dengan pertanyaan ini, maka seringkali kita akan menemukan diri kita mempunyai pandangan yang sama sempitnya dengan pandangan orang-orang Farisi, malah sampai membutakan! Sampai seberapa seringkah kita memperkenankan hikmat manusia dan legalisme mendikte keputusan-keputusan kita yang cocok dengan jalan-jalan dunia, bukan cocok dengan jalan-jalan Allah? Sampai seberapa seringkah kita tetap buta terhadap tantangan yang diberikan oleh sabda Allah dalam Kitab Suci, dan lebih menyukai perspektif manusia yang nyaman dan keamanan yang kelihatan diberikan olehnya? Sampai seberapa seringkah kita mengakui Yesus sebagai Mesias dari Allah dan memproklamirkan diri-Nya sebagai Tuhan?

Paus Yohanes Paulus II, ketika berbicara mengenai identitas Kristus, mengatakan hal yang berikut ini: “Kita sering melihat, bahkan di antara umat Kristiani, bayang-bayang kemasa-bodohan, atau … kesalahpahaman atau …ketidakpercayaan yang betul-betul. Selalu ada risiko ketertarikan kepada ‘Injil Yesus’ tanpa sungguh mengenal keagungannya dan sifatnya yang merangkul segalanya, dan tanpa hidup seturut ikrar yang kita buat sendiri. Berapa banyak orang yang mereduksi Injil sesuai ukuran mereka sendiri dan membuat bagi mereka sendiri seorang Yesus yang lebih menyenangkan … tanpa harus memikirkan pengorbanan-Nya di atas kayu Salib yang mendominir hidup-Nya dan doktrin-Nya, atau Gereja yang didirikan-Nya sebagai ‘sakramen’-Nya dalam sejarah.”

DOA: Roh Kudus Allah, tunjukkanlah kepada kami sikap-sikap dan mentalitas-mentalitas kami yang selama ini menghalangi kami untuk mengenal Yesus sebagai “Mesias, Yang Kudus dari Allah”. Semoga oleh kuat-kuasa-Mu kami dapat mengakui Yesus dan hidup sebagai murid-murid-Nya yang sejati. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 7:1-13), bacalah tulisan yang berjudul “LEGALISME YANG MENYESATKAN” (bacaan tanggal 11-2-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2014.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-2-13 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 10 Februari 2014 [Peringatan S. Skolastika, Perawan]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS