Posts tagged ‘AHLI-AHLI TAURAT DAN ORANG FARISI’

AMPUNILAH DAN BERDAMAILAH !!!

AMPUNILAH DAN BERDAMAILAH !!!

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa X – Kamis, 15 Juni 2017)

Aku berkata kepadamu: Jika kamu tidak melakukan kehendak Allah melebihi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.

Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang mencaci maki saudaranya harus dihadapkan ke Mahkamah Agama, dan siapa yang berkata: Jahil! Harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.

Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu ini jangan menyerahkan engkau kepada pengawal dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai habis. (Mat 5:20-26) 

Bacaan Pertama: 2Kor 3:15-4:1,3-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 85:9-14

Ada orang yang mengibaratkan persahabatan itu seperti porselen yang indah. Sungguh sesuatu yang sangat berharga, yang mudah pecah namun sulit diperbaiki. Kita semua mengetahui betapa sulitnya untuk mengampuni seseorang yang telah menyakiti kita,  menjatuhkan kita, katakanlah mendzolimi kita. Di samping luka yang kita derita  karena pengkhianatan sahabat kita, ada juga luka lain yang disebabkan oleh ketidakmampuan kita untuk mengampuni atau tidak adanya kemauan untuk berdamai dari pihak kita sendiri. Pada kenyataannya, dalam beberapa kasus, tidak mau mengampuni dapat menyebabkan luka yang lebih berat daripada tindakan awal orang lain yang membuat kita geram dan marah. Luka-luka kecil kalau dibiarkan saja dapat bertumbuh menjadi luka-luka yang lebih besar, konsekuensinya lebih sukar untuk disembuhkan.

Itulah sebabnya, mengapa Yesus memerintahkan kita untuk mengampuni. Namun pada saat yang sama baiklah kita ketahui bahwa Dia tidak memandang remeh sulitnya mengampuni orang lain yang telah mendzolimi kita. Bagaimana pun juga Yesus sendiri mengalami pengkhianatan dari seorang murid yang sangat dipercayai oleh-Nya. Sulit bagi kita untuk membayangkan bagaimana Hati Yesus meratapi Yudas Iskariot berkaitan dengan pengkhianatan murid yang satu ini. Meskipun Yesus tahu bahwa mengampuni itu sulit, tokh Ia mengajarkan kepada kita untuk mengampuni, untuk berdamai, untuk let go luka-luka lama.

Dalam Doa “Bapa Kami” yang diajarkan oleh Yesus sendiri, kita mendengar potongan kalimat seperti berikut: “Ampunilah kami dari kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami” (Mat 6:12). Doa “Bapa Kami” itu segera disusul oleh dua ayat penting: “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang,  Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu” (Mat 6:14-15). Mengakhiri perumpamaan-Nya tentang pengampunan (Mat 18:21-35), Yesus bersabda: “Demikian juga yang akan diperbuat oleh Bapa-Ku yang di surga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu” (Mat 18:35).

Kita tidak dapat berdalih dalam hal pengampunan ini karena perintah Yesus begitu jelas dan gamblang. Terasa  berat memang, suatu tuntutan yang sulit dipenuhi. Dalam hal ini ingatlah belas kasih Yesus kepada kita sepanjang hidup kita. Tuhan Yesus menyediakan “segudang” cintakasih-Nya bagi kita untuk menutupi kekurangan kita dalam hal mengasihi orang lain. Ia sungguh dapat menolong kita manakala hati kita sedang membeku-keras atau mengalami kepahitan dalam hidup ini.

Yesus tahu bahwa mengampuni itu sulit, tidak terjadi secara instan, seringkali bertahap. Bagi-Nya kurang penting apakah kita telah mengampuni setiap orang secara penuh. Yang penting di mata Yesus adalah bahwa kita memelihara hati lembut dan mohon kepada-Nya rahmat agar kita semakin lembut hari lepas hari. Dengan demikian, berdamailah dengan saudari dan saudara kita, dan ampunilah apa yang harus diampuni! Biarlah kasih Kristus memenuhi diri kita masing-masing, sehingga kita dapat memberikan cintakasih dan belas kasih kepada semua orang dalam kehidupan kita.

DOA: Tuhan Yesus, hanya Engkau yang dapat membetulkan hati yang patah dan menyembuhkan jiwa-jiwa yang terluka. Buatlah aku utuh oleh kuat-kuasa Roh Kudus-Mu. Berikanlah kepadaku rahmat untuk mengampuni. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:20-26),  bacalah tulisan yang berjudul “SALING BERSAUDARA SATU SAMA LAIN” (bacaan tanggal 15-6-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 BACAAN HARIAN JUNI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 9-6-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 13 Juni 2017 [Peringatan/Pesta S. Antonius dr Padua, Imam Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

LAGI, PENYEMBUHAN PADA HARI SABAT

LAGI, PENYEMBUHAN PADA HARI SABAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXX – Jumat, 31 Oktober 2014) 

stdas0161Pada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama. Datanglah seorang yang sakit busung air berdiri di hadapan-Nya. Lalu Yesus berkata kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu, “Apakah boleh menyembuhkan orang pada hari Sabat atau tidak?” Mereka diam semuanya. Lalu Ia memegang tangan orang sakit itu dan menyembuhkannya serta menyuruhnya pergi. Kemudian Ia berkata kepada mereka, “Siapakah di antara kamu yang tidak segera menarik ke luar anaknya atau lembunya kalau terperosok ke dalam sebuah sumur pada hari Sabat?” Mereka tidak sanggup membantah-Nya. (Luk 14:1-6) 

Bacaan Pertama: Flp 1:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 111:1-6 

Pada suatu hari Sabat Yesus diundang makan oleh seorang pemimpin kaum Farisi dan Yesus tidak menolak undangan itu,  meskipun biasanya orang-orang Farisi adalah “lawan”-Nya. Bukankah Yesus datang untuk menyelamatkan semua orang? Rumah sang pemimpin kaum Farisi tersebut tentunya ditandai dengan suatu suasana kepatuhan kepada Hukum yang serius: semua rituale moral dan tradisi ditaati secara ketat. Hari itu adalah hari Sabat, sebuah hari yang teramat suci bagi sang tuan rumah. Gerak-gerik Yesus juga terus diamat-amati (dimata-matai?) dengan saksama oleh mereka yang hadir. Yesus akan dinilai berdasarkan ukuran kesalehan kaum Farisi yang begitu terinci. Mereka yang hadir itu tentunya sangat memperhatikan kesucian hari Sabat. Seringkali memang sikap dan perilaku kaum Farisi suka memberi kesan bahwa mereka lebih tahu dari Allah sendiri dalam  menilai orang-orang lain, apakah benar atau salah.

Tiba-tiba di depan Yesus sudah berdiri seorang laki-laki yang sakit busung air, tentunya bukan salah seorang dari yang diundang-makan. Kiranya dia mengamat-amati dari kejauhan situasi dalam rumah itu, lalu menggunakan kesempatan yang ada secara tepat-waktu. Menurut pandangan kaum Farisi, setiap penyakit merupakan suatu hukuman atas kejahatan yang tersembunyi. Mereka pasti yakin bahwa orang malang ini sedang dihukum Allah karena kehidupannya yang tidak bermoral. Berbeda dengan cerita sebelumnya (Luk 13:10-17), kali ini Yesus yang mengambil inisiatif untuk bertanya: “Apakah boleh menyembuhkan orang pada hari Sabat atau tidak?” (Luk 14:3). Pertanyaan ini terasa sebagai suatu surprise attack, kalau kita mau berbicara mengenai taktik atau strategi perang: suatu serangan tiba-tiba ketika pihak musuh belum menyiapkan diri.

Yesus tentu sudah mengetahui pandangan dari mashab/aliran/sekolah yang ada di kalangan kaum Farisi: Kalau hidup seseorang itu berada dalam bahaya, maka diperkenankan untuk menolongnya, namun kalau tidak ada bahaya yang akan terjadi segera, maka orang harus menunggu sampai hari Sabat lewat, sebelum mengambil tindakan. Orang-orang Farisi itu diam dan tidak menanggapi pertanyaan Yesus yang sederhana (namun mengena) itu. Mereka tidak mau membahas isu itu dengan Yesus, karena menurut pandangan mereka sendiri, merekalah yang memiliki “kebenaran”. Tidak ada kebiasaan yang perlu diubah … Yesus tidak dapat berbicara dalam/atas nama Allah, karena Dia tidak mengikuti ajaran-ajaran tradisional kaum Farisi tersebut. Lalu Yesus memegang tangan orang sakit itu dan menyembuhkannya serta menyuruhnya pergi. Kemudian Ia mengajukan sebuah pertanyaan lagi: “Siapakah di antara kamu yang tidak segera menarik ke luar anaknya atau lembunya kalau terperosok ke dalam sebuah sumur pada hari Sabat?” (Luk 14:5).

Inipun sudah ada jawabannya, namun para Farisi yang kasuistis itu tidak menjawab. Bagi mereka, kalau ada hewan jatuh ke dalam sumur pada hari Sabat, maka orang diperbolehkan memberi makan hewan tersebut, kalau tidak hewan itu akan mati pada keesokan harinya. Juga diperkenankan untuk melemparkan selimut dan bantal/kasur kecil guna memudahkan hewan itu keluar (dikeluarkan) dari sumur. Lebih dari itu tidak ada lagi yang dapat/boleh dilakukan pada hari Sabat, karena sudah dipandang sebagai “bekerja”. Peristiwa ini merupakan sebuah contoh yang menunjukkan kepada kita, dari belenggu macam apa kita dibebaskan oleh Yesus. Ia telah memberikan kepada kita semua suatu cara baru memandang hari Sabat. Kita diajak untuk melihat makna hari Sabat yang melampaui pertimbangan legalisme. Sabat adalah hari “Kebaikan Hati Ilahi”, hari penebusan, hari pembebasan, hari kerahiman Ilahi yang diperuntukkan bagi mereka yang miskin, yang malang dan sial, para pendosa. Pada hari Sabat justru seseorang harus melakukan kebaikan, menyembuhkan, menyelamatkan; lebih dari hari-hari yang lain. Hari Sabat adalah saat kita harus memperkenankan Yesus menyembuhkan diri kita. Dunia kita hari ini menimbulkan banyak masalah baru. Tahukah kita bagaimana menghadapi masalah-masalah tersebut dengan bekal pemahaman yang sama mendalamnya dan penilaian yang benar, seperti telah dicontohkan oleh Yesus?

DOA: Tuhan Yesus, ajarlah kami untuk selalu setia, meskipun dalam perkara-perkara kecil. Pada saat yang sama kami juga mohon agar Kaujauhkan kami dari pemikiran dan sikap yang dipenuhi oleh legalisme dan segalanya yang tidak benar di mata-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk14:1-6), bacalah tulisan yang berjudul “DISEMBUHKAN UNTUK MENJADI PRIBADI-PRIBADI YANG UTUH” (bacaan tanggal 31-10-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2014. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 30-10-09 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 29 Oktober 2014

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

LEBIH BESAR DARIPADA YUNUS DAN SALOMO

LEBIH BESAR DARIPADA YUNUS DAN SALOMO

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVI – Senin, 21 Juli 2014) 

Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Laurensius dari Brindisi, Imam & Pujangga Gereja

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIAPada waktu itu berkatalah bebeberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus, “Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari Engkau.” Tetapi jawab-Nya kepada mereka, “Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Nabi Yunus. Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan besar tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam. Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama orang-orang zaman Ini dan menghukumnya juga. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat setelah mendengar pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus! Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan akan bangkit bersama-sama orang-orang zaman ini dan ia akan menghukumnya juga. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengar hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Salomo!” (Mat 12:38-42)

Bacaan Pertama: Mi 6:1-4,6-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:5-6,8-9,16-17,21,23 

Apakah yang dimaksud oleh Yesus dengan “tanda Nabi Yunus”? Injil Lukas memahami tanda ini sebagai pewartaan atau pemberitaan tentang pertobatan (Mat 12:39.42). Di sini penulis Injil Matius juga membuat allusi kepada Anak Manusia (Yesus) ketika berbicara mengenai Yunus yang tiga hari tiga malam lamanya berada dalam perut ikan paus (lihat Mat 12:40).

Yesus mengatakan kepada orang banyak yang mengikuti-Nya, bahwa tanda satu-satunya yang akan diberikan oleh-Nya adalah tanda Nabi Yunus. Ia sendiri sebenarnya cukup sebagai tanda bagi mereka, seperti Yunus adalah sebuah tanda bagi orang-orang Niniwe. Pada waktu Yunus datang membawakan berita pertobatan yang sederhana kepada penduduk kota kafir ini, maka mereka menanggapi pemberitaannya dengan melakukan pertobatan secara mendalam dan iman yang mendalam kepada Allah. Yesus mewartakan pesan pertobatan yang sama kepada orang banyak yang mengikuti-Nya. Dengan menyebut mereka “angkatan yang  jahat” (lihat Mat 11:39) Yesus mengingatkan mereka, bahwa mereka akan dihakimi untuk kekerasan-kepala dan ketidak-percayaan mereka. Siapa yang menghakimi? Orang-orang Niniwe yang telah bertobat karena pemberitaan Yunus, karena “sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus dan lebih daripada Salomo” (Mat 12:41,42).

YUNUS MINTA ORANG NINIVEH BERTOBATKata “tanda” mengacu pada sebuah peringatan atau petuah, juga dapat berarti suatu tanda atau indikasi tentang “alam surgawi”. Yesus adalah “tanda” untuk generasi-Nya karena Dia membawa Kerajaan Allah, “alam surgawi”, ke tengah-tengah orang banyak. Dalam ajaran-ajaran dan tindakan-tindakan-Nya, Yesus adalah contoh paling sempurna, dia menantang ketidak-kudusan dengan hidup-nya yang murni dan kudus sebagai Putera Allah. Setiap hal yang dilakukan dan dikatakan Yesus menunjuk pada Bapa-Nya. Jauh lebih daripada Yunus, Yesus adalah suatu “tanda” yang mewujudkan Kerajaan Allah dan menyerukan agar orang-orang untuk melakukan pertobatan. Kehadiran-Nya membuat setiap orang berada dalam situasi krisis, karena sebagai Terang Dunia Yesus mengungkap kondisi hatinya yang terdalam. “Tanda” ini dimaksudkan untuk memanggil orang-orang kembali kepada Allah.

Yesus adalah suatu “tanda” bagi kita pada zaman ini juga. Kata-kata-Nya (sabda-Nya; firman-Nya) masih dapat dibaca dalam Kitab Suci. Firman-Nya itu memiliki kuat-kuasa yang sama bagi kita seperti dua ribu tahun lalu, karena diberdayakan oleh Roh Allah yang kekal-abadi. Marilah kita renungkan apa yang ditulis dalam “Surat kepada Orang Ibrani” : “… firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam daripada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk sangat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup menilai pikiran dan niat hati kita” (Ibr 4:12). Marilah kita memperkenankan firman Yesus menjadi pedang ini, yang memotong sampai ke hati-terdalam kita dan mengungkapkan tanggapan terhadap Allah yang seharusnya kita buat.

DOA: Tuhan Yesus, perkenankanlah Roh Kudus-Mu membuat hatiku tidak keras-alot terhadap-Mu. Tembuslah hatiku dengan firman-Mu agar aku dapat menanggapi pesan pertobatan yang Kauberitakan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 12:38-42), bacalah tulisan berjudul “KAMI INGIN MELIHAT SUATU TANDA DARI ENGKAU” (bacaan tanggal 21-7-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-07 BACAAN HARIAN JULI 2014. 

Cilandak, 18 Juli 2014 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

CELAKALAH KAMU, HAI AHLI-AHLI TAURAT DAN ORANG-ORANG FARISI !!!

CELAKALAH KAMU, HAI AHLI-AHLI TAURAT DAN ORANG-ORANG FARISI !!!

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXI – Senin, 26 Agustus 2013) 

CELAKALAH KAMU HATI ORANG FARISI - James_Tissot

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Surga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk.

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu menelan rumah janda-janda dan kamu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Karena itu, kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajahi daratan, untuk membuat satu orang saja menjadi penganut agamamu  dan sesudah hal itu terjadi, kamu menjadikan dia calon penghuni neraka, yang dua kali lebih jahat daripada kamu sendiri.

Celakalah kamu, hai pemimpin-pemimpin buta, yang berkata: Bersumpah demi Bait Suci, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi emas Bait Suci, sumpah itu mengikat. Hai kamu orang-orang bodoh dan orang-orang buta, manakah yang lebih penting, emas atau Bait Suci yang menguduskan emas itu? Bersumpah demi mezbah, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi persembahan yang ada di atasnya, sumpah itu mengikat. Hai kamu orang-orang buta, manakah yang lebih penting, persembahan atau mezbah yang menguduskan persembahan itu? Karena itu, siapa saja yang bersumpah demi mezbah, ia bersumpah demi mezbah dan juga demi segala sesuatu yang terletak di atasnya. Siapa saja yang bersumpah demi Bait Suci, ia bersumpah demi Bait Suci dan juga demi Dia, yang tinggal di situ. Siapa saja yang bersumpah demi surga, ia bersumpah demi takhta Allah dan juga demi Dia, yang bersemayam di atasnya. (Mat 23:13-22)

Bacaan Pertama: 1Tes 1:2b-5. 8b-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 149:1-6,9 

“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi!” (Mat 23:13). Kata-kata Yesus yang ditujukan kepada para ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang menentang diri-Nya barangkali kedengaran  sangat keras bagi telinga kita, meskipun kita dapat saja membayangkan bahwa pantas juga mereka ditegur seperti itu. Kiranya kata “celakalah” yang diserukan oleh Yesus itu bukanlah dimaksudkan untuk “mengutuk”, melainkan pengungkapan keluh kesah hati-Nya, yang terluka karena orang-orang ini telah menolak Dia. Dalam potongan-potongan kalimat yang diulang-ulang ini, kita hampir dapat mendengar suara Yesus yang diwarnai emosi selagi Dia meratapi kekerasan hati orang-orang yang sesungguhnya sangat dikasihi-Nya itu.

jesus christ super starDari kedalaman hati-Nya yang sangat mengasihi kita, Yesus juga meratap sedih, manakala kita – seperti juga para ahli Taurat dan orang-orang Farisi – lebih menyukai tafsir kita sendiri tentang Kristianitas. Apabila kita mendengarkan dengan baik-baik, kita pun dapat mendengar suara-Nya: “Celakalah kamu, yang melihat iman sebagai kewajiban-kewajiban untuk dipenuhi, dan keselamatan sebagai masalah tuntutan yang harus kamu penuhi.” Atau lagi: “Celakalah kamu, yang mengabaikan hukumku, dan membenarkan setiap kesalahanmu dengan memakai kasih-Ku sebagai alasan.”

Hakekat dari kata “celakalah” ini bukanlah bagaimana sempurna atau tidak sempurnanya diri kita. Kita semua telah dan masih suka menyedihkan hati Yesus dengan berbagai cara. Oleh karena itu, sebaiknyalah apabila kita kita memandang atau mengartikan kata “celakalah” Yesus ini sebagai undangan kepada kita semua untuk melakukan pertobatan dan dibebaskan dari hal-hal yang membuat hati-Nya bersedih. Ia ingin melakukan kebaikan yang jauh lebih besar daripada sekadar menyatakan ketidaksempurnaan manusiawi kita, jauh lebih daripada sekadar melepaskan kesedihan-Nya. Dia ingin mengubah kita menjadi serupa dengan diri-Nya sendiri! Dia ingin membuka hati kita bagi kuat-kuasa dan hikmat-Nya. Dia merindukan hari pada saat mana kita akan dipenuhi dengan pengenalan akan kasih-Nya bagi kita dan menjadi pelayan-pelayan kasih-Nya kepada orang-orang di sekeliling kita.

Banyak ahli Taurat  dan orang Farisi menolak undangan Yesus. Akan tetapi, penolakan mereka itu tidak berarti bahwa kita sekarang diabaikan. Kita dapat menerima undangan itu. Apa yang harus kita lakukan adalah mengakui bahwa kita perlu disembuhkan dan dibebaskan (lihat Hos 14:2-4), untuk diajar mengikuti pikiran dan cara-cara Allah (Yes 55:8-9), untuk dipimpin oleh Roh Kudus-Nya (Yoh 16:13).

Saudari dan Saudariku, marilah kita memperkenankan Tuhan menyembuhkan diri kita masing-masing. Biarlah darah-Nya membersihkan diri kita masing-masing. Ingatlah apa yang tertulis dalam Kitab Nabi Zefanya: “TUHAN (YHWH) Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan. Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya” (Zef  3:17).

DOA: Tuhan Yesus, aku menaruh kepercayaan penuh pada-Mu. Tolonglah aku melihat di mana saja aku membenarkan kesalahan-kesalahan dan kelemahan-kelemahanku dengan memakai kasih-Mu sebagai alasan bagiku untuk berdalih. Lunakknlah hatiku dan ampunilah aku. Bersihkanlah diriku dengan darah-Mu, dengan demikian membawa sukacita kepada-Mu pada hari ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Mat 23:13-22), bacalah tulisan yang berjudul “CARA-CARA YANG BARU DAN BERBEDA” (bacaan tanggal 26-8-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2013.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 22-8-11 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 22 Agustus 2013 [Peringatan SP Maria, Ratu] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MULAI SEKARANG, JANGAN BERBUAT DOSA LAGI

MULAI SEKARANG, JANGAN BERBUAT DOSA LAGI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Prapaskah V – Senin, 18 Maret 2013) 

woman caught in adultery (1)

Lalu mereka pulang ke rumah masing-masing, tetapi Yesus pergi ke bukit Zaitun. Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka. Lalu ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berzinah. Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus, “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika dia sedang berzinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian dengan batu. Bagaimana pendapat-Mu tentang hal itu?” Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah. Ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka, “Siapa saja di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Lalu Ia membungkuk lagi dan menulis di  tanah. Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya. Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya, “Hai perempuan, di manakah mereka?” Tidak adakah seorang pun yang menghukum engkau?” Jawabnya, “Tidak ada, Tuan.” Lalu kata Yesus, “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan mulai sekarang, jangan berbuat dosa lagi.” (Yoh 8:1-11)

Bacaan Pertama: Dan 13:1-9,15-17,19-30,33-62 (Dan 13:41c-62); Mazmur Tanggapan: Mzm 23:1-6 

“Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan mulai sekarang, jangan berbuat dosa lagi” (Yoh 8:11).

Setiap hari Yesus mengasihi kita dengan kasih yang sama yang telah ditunjukkan-Nya kepada perempuan yang kedapatan berzinah dalam bacaan Injil hari ini. Maka, sepatutnyalah kita berterima kasih penuh syukur kepada-Nya. Dari antara orang-orang yang hadir pada hari itu, barangkali Yesus sajalah yang dapat melemparkan batu pertama kepada perempuan itu. Namun Yesus tidak memperhitungkan dosa perempuan itu. Kita harus berterima kasih penuh syukur kepada Yesus karena memandang diri kita yang berdosa ini tidak berbeda dengan pada saat Ia memandang perempuan yang kedapatan berzinah itu sekitar 2.000 tahun lalu. Ya, kita harus senantiasa mengingat bahwa Yesus tidak mencintai dosa kita, namun Ia sungguh sangat mengasihi kita. Kasih seperti ini memang tidak mudah untuk dipahami oleh pikiran manusia.

Kasih Yesus penuh dengan bela rasa. Perempuan ini menyadari bahwa dirinya berdosa – barangkali dia pun menyesali dosanya dan bertobat – namun ia tidak menerima apa-apa selain cemoohan dan caci-maki dari para ahli Taurat dan tua-tua Yahudi. Sementara para tokoh agama Yahudi itu menekankan keharusan diterapkannya keadilan tanpa mempertimbangkan belas kasih, Yesus malah melimpahkan belas kasih-Nya kepada perempuan itu.

Ketika Yesus mengatakan kepada perempuan itu, “Pergilah, dan mulai sekarang, jangan berbuat dosa lagi,” sebenarnya Yesus memberikan kepadanya kemampuan untuk melepaskan masa kegelapan dari kehidupannya. Kita juga harus berterima kasih kepada Yesus karena Dia pun melakukan yang sama bagi diri kita masing-masing. Tidak ada dosa sebesar apa pun yang tidak dapat ditaklukkan oleh Yesus! Tidak ada kegelapan yang jatuh di luar kuasa dan terang kasih Yesus. Manakala Yesus menunjukkan dosa-dosa kita, Dia juga menawarkan pengampunan yang lengkap. Kombinasi sedemikian membuat hati kita terbakar dengan sukacita dan memenuhi diri kita dengan suatu hasrat untuk meninggalkan dosa dan melangkah maju mendekati terang kehadiran-Nya.

Teristimewa dalam masa Prapaskah ini, marilah kita memohon agar Tuhan Yesus menguatkan hati dan pikiran kita agar mampu menolak segala godaan dan dakwaan Iblis dan roh-roh jahatnya. Marilah kita mohon kepada Yesus untuk menutup telinga kita terhadap segala ocehan dan gangguan si Jahat dan lari kepada-Nya untuk menerima hikmat dan semangat serta dorongan dari sang Mesias. Memang kasih Yesus menyadarkan kita akan kedosaan kita namun Dia tidak menuduh-nuduh dan menghukum kita. Kasih Yesus memisahkan kita secara khusus dari segalanya yang tidak menghormati diri-Nya. Kasih Yesus meyakinkan diri kita bahwa kita dapat mengalami kehidupan penuh dalam kehadiran-Nya. Kasih Yesus membuktikan kepada kita bahwa kita dapat berjalan bersama-Nya setiap saat dalam kehidupan kita.

DOA: Yesus, aku mengasihi Engkau dengan segenap hatiku. Biarlah api cintakasih-Mu berkobar-kobar dalam diriku. Utuslah Roh Kudus-Mu agar membimbingku di jalan kebenaran-Mu. Aku menyadari bahwa seringkali aku jatuh  ke dalam dosa. Namun bersama saudariku yang dikenal sebagai “perempuan yang berzinah”, Aku bergembira dalam/karena belas kasih-Mu, cintakasih-Mu dan belarasa-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Dan 13:41c-62), bacalah tulisan yang berjudul “KISAH SUSANA DAN DANIEL” (bacaan tanggal 18-3-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-03 BACAAN HARIAN MARET 2013. 

Cilandak,  9 Maret 2013 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS