KONFLIK TERBUKA YANG BERKELANJUTAN

KONFLIK TERBUKA YANG BERKELANJUTAN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Dominikus, Pendiri Ordo Pengkhotbah, Imam – Selasa, 8 Agustus 2017

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta S. Bapa Dominikus

Ordo Pengkhotbah (OP): Hari Raya S. Dominikus, Pendiri Tarekat, Imam

Kemudian datanglah beberapa orang Farisi dan ahli Taurat dari Yerusalem kepada Yesus dan berkata, “Mengapa murid-murid-Mu melanggar adat istiadat nenek moyang kita? Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan.”

Lalu Yesus memanggil orang banyak dan berkata kepada mereka, “Dengar dan perhatikanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang.”

Kemudian datanglah murid-murid-Nya dan bertanya kepada-Nya, “Tahukah engkau bahwa perkataan-Mu itu telah membuat orang-orang Farisi sakit hati?” Jawab Yesus, “Setiap tanaman yang tidak ditanam oleh Bapa-Ku yang di surga akan dicabut dengan akar-akarnya. Biarkanlah mereka itu. Mereka orang buta yang menuntun orang buta. Jika orang buta menuntun orang buta, pasti keduanya jatuh ke dalam lubang.” (Mat 15:1-2,10-14) 

Bacaan Pertama: Bil 12:1-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-7,12-13

Tidak berkelebihanlah apabila dikatakan dalam kesempatan ini, bahwa betapa pun sulit dan tidak jelas bacaan Mat 15:1-20 kelihatannya bagi kita, pada kenyataannya inilah salah satu dari bacaan paling penting dalam Injil. Mengapa? Karena bacaan ini menunjukkan konflik terbuka atau clash yang berkelanjutan antara Yesus dan para pemuka agama Yahudi yang ortodoks. Dua ayat pertama di atas jelas menggambarkan bahwa orang-orang Farisi dan ahli Taurat jauh-jauh datang dari Yerusalem ke Galilea untuk mengajukan pertanyaan di atas kepada Yesus. Membasuh tangan sebelum makan merupakan suatu tindakan yang melambangkan pembersihan/pemurnian yang menyangkut ritus keagamaan, jadi bukan pertama-tama demi alasan higienis (Donald Senior CP, Gospel of St. Matthew, Chicago, Ill.: Franciscan Herald Press, hal. 52).

Seseorang  dikatakan tahir/bersih dalam arti dirinya berada dalam keadaan di mana dia dapat melakukan ibadat kepada Allah. Dalam keadaan tidak tahir dia dikatakan najis, artinya tidak dapat melakukan ibadatnya guna menyembah Allah. Orang dapat menjadi najis karena melakukan kontak (misalnya menyentuh) dengan perempuan yang menderita sakit pendarahan, walaupun pendarahan untuk jangka waktu tertentu seperti menstruasi, perempuan yang baru melahirkan anak untuk jangka waktu tertentu (Im 12:1-8), para penderita penyakit kusta (Im 13) demikian pula orang kafir (non Yahudi), dsb. Kenajisan ini juga menular dari orang yang satu kepada orang lain karena bersentuhan. (Patut dicatat bahwa hal serupa bukan monopoli agama Yahudi.)

Jadi, kalau kita berbicara mengenai konflik terbuka atau clash di sini, maka ini bukanlah sekadar clash pribadi antara Yesus dan mereka, melainkan jauh melampaui, karena ini merupakan bertabrakannya dua pandangan agama dan tentunya dua pandangan tentang apa yang dituntut oleh Allah yang disembah umat-Nya. Dalam hal ini tidak ada ruang atau kemungkinan untuk suatu kompromi, atau persetujuan-kerja bersama antara dua pandangan agama. Jadi dalam hal ini mau tidak mau pandangan yang satu harus menghancurkan pandangan lainnya (William Barclay, The Daily Study Bible – The Gospel of Matthew, Volume 2, Edinburgh: The Saint Press, hal. 109).[1]

Penerapan “hukum” mengenai ketahiran dan kenajisan meluas, misalnya menentukan apa saja yang dapat dimakan atau tidak dapat dimakan oleh seorang. Pada umumnya semua buah dan sayur-mayur dapat dimakan. Namun berkenan dengan makhluk-makhluk hidup hukumnya ketat seperti termuat dalam Im 11:1-47 dan Ul 14:3-21). Dalam hal ini William Barclay mengemukakan beberapa hal:

  1. Penolakan untuk menyentuh mayat, atau makan daging dari bangkai hewan yang sudah mati (bukan karena disembelih untuk kepentingan manusia), mungkin karena kaitannya dengan kepercayaan dalam hal roh-roh jahat. Lebih mudahlah bagi orang-orang untuk berpikir bahwa roh jahat mendiami tubuh binatang atau orang mati, dengan demikian mudah masuk ke dalam tubuh orang yang memakannya atau menyentuhnya.
  2. Hewan-hewan tertentu dipandang suci dalam agama-agama lain, misalnya kucing dan buaya adalah suci di mata orang Mesir, dengan demikian wajarlah bagi orang-orang Yahudi untuk memandang hewan-hewan yang disembah bangsa lain tersebut sebagai najis (haram). Hewan-hewan itu dicap sebagai berhala dan karenanya sangat najis.
  3. Menurut pengamatan Dr. Rendle Short (The Bible and Modern Medicine), peraturan-peraturan tertentu berkaitan dengan hewan-hewan tertentu yang dipandang najis dapat dinilai bijak dari sudut kesehatan dan higiene, dan hanya aman apabila dimasak sampai matang. Bahaya tersebut bersifat minimal di dunia modern, namun sungguh berbahaya pada zaman Palestina kuno, dan memang lebih baik untuk dihindari.
  4. Tetap ada sejumlah besar kasus di mana ada hal-hal (hewan dll.) yang dipandang najis tanpa alasan yang jelas. Takhyul dapat menyebabkan hewan-hewan tertentu dipandang berhubungan dengan nasib baik atau nasib buruk, dengan ketahiran atau kenajisan.

Hal-hal seperti diuraikan di atas menjadi kesulitan dan bahkan “tragedi” karena bagi para ahli Taurat dan orang-orang Farisi hal-hal tersebut menjadi masalah hidup atau mati. Dalam pikiran seorang Farisi, larangan untuk makan daging kelinci atau babi merupakan perintah Allah yang kiranya sama beratnya dengan larangan untuk berzinah. Agama menjadi semacam ember atau koper yang dipenuhi dengan berbagai aturan yang bersifat eksternal. Karena lebih mudah untuk melaksanakan peraturan dan memeriksa orang lain yang tidak melakukannya, maka segala aturan ini menjadi agama itu sendiri bagi orang-orang Farisi dkk.

Pertanyaan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi kepada Yesus adalah: “Mengapa murid-murid-Mu melanggar adat istiadat nenek moyang kita? Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan” (Mat 15:2). Di sini mereka berbicara mengenai “adat istiadat nenek moyang” mereka. Bagi orang Yahudi, Hukum terbagi menjadi dua bagian. Ada “hukum tertulis” yang termuat dalam Kitab Suci dan ada pula “hukum lisan” seperti yang mengatur soal membasuh tangan yang terus dikembangkan oleh para ahli Taurat dari generasi ke generasi, dan semua itu dipandang sebagai tradisi atau adat-istiadat nenek moyang, yang sayangnya seringkali dipandang lebih mengikat daripada “hukum tertulis”. Semua upacara rituale ini bagi orang Yahudi ortodoks adalah “agama”. 

Yesus tidak secara langsung menjawab pertanyaan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi tersebut. Dalam Mat 15:3-9 yang tidak menjadi bagian bacaan Injil hari ini, Yesus sebenarnya tidak mengedepankan kebenaran yang belum/tidak diketahui oleh orang-orang Yahudi. Yesus mengingatkan para pemuka agama itu tentang hal-hal yang telah Allah telah sabdakan kepada umat Yahudi namun telah mereka lupakan, karena mereka lebih menyukai aturan-aturan ciptaan manusia ketimbang Hukum Allah yang sangat sederhana. Di sinilah letak clash atau tabrakan antara dua jenis agama dan dua jenis penyembahan kepada Allah. Bagi para ahli Kitab dan orang-orang Farisi agama adalah pelaksanaan aturan-aturan yang bersifat eksternal dan rituale, misalnya cara yang benar bagaimana membasuh tangan sebelum makan dlsb. Sebaliknya, bagi Yesus agama adalah sesuatu yang bertempat kedudukan dalam hati; sesuatu yang diungkapkan dengan penuh belarasa dan kebaikan hati, yang semuanya berada di atas dan bahkan melampaui hukum. Bagi orang Yahudi ortodoks penyembahan itu berarti rituale, hukum yang menyangkut upacara lahiriah, sedangkan bagi Yesus penyembahan adalah hati yang bersih dan kehidupan yang penuh kasih. Di sinilah letaknya clash termaksud.

“Dengar dan perhatikanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang” (Mat 15:11). Bagi orang Yahudi ortodoks tersebut, ucapan Yesus itu terdengar sebagai sesuatu yang lebih parah daripada “kurang ajar”. Telinga mereka menjadi panas! Mengapa? Karena dengan mengatakan demikian, Yesus tidak hanya “melanggar” praktek “agama” rituale dan seremonial para ahli Taurat dan orang-orang Farisi, melainkan juga Dia menghapus banyak bagian dalam bacaan Kitab Imamat. Jadi, Yesus tidak hanya menimbulkan kontradiksi dengan tradisi nenek-moyang, melainkan juga berkontradiksi dengan apa yang disabdakan dalam Kitab Suci. Sabda Yesus ini membatalkan hukum tentang apa yang halal dan haram untuk dimakan dalam Perjanjian Lama. Mungkin saja hukum ini masih diindahkan jika menyangkut kesehatan, hygiene, akal sehat dan kebijakan medis; namun tidak pernah boleh diyakini oleh kita sebagai agama. Yesus mau menekankan bahwa yang penting bagi kita bukanlah pelaksanaan rituale yang bersifat eksternal, melainkan disposisi hati kita. Tidak mengherankanlah apabila para ahli Kitab dan orang-orang Farisi menjadi kaget dan geram mendengar sabda Yesus yang revolusioner ini, karena dengan lugas dan gamblang Yesus menyatakan bahwa teori dan praktek agama mereka adalah salah besar.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu untuk pengajaran-Mu bahwa praktek keagamaan sesungguhnya adalah masalah hati, bukan tata-cara atau rituale yang bersifat eksternal. Kami tahu bahwa bagi-Mu dan juga bagi Gereja Perdana, masalah ini adalah masalah hidup atau mati. Teristimewa bagi kami yang hidup sebagai minoritas dalam masyarakat yang sangat plural, anugerahkanlah kepada kami keberanian untuk menyatakan kebenaran yang kami yakini lewat kata-kata dan perbuatan kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Bil 12:1-13), bacalah tulisan yang berjudul “SIKAP DAN PERILAKU MUSA YANG PATUT KITA CONTOH” (bacaan tanggal 8-8-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-08 BACAAN HARIAN 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 7 Agustus 2017 [Peringatan B. Agatangelus & Kasianus, Imam Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

[1] Banyak dari uraian berikut ini diinspirasikan buku William Barclay, hal. 109-120; juga dari buku P.  George T. Montague SM, Companion God – A Cross-Cultural Commentary on the Gospel of Matthew, New York and New Jersey: Paulist Press, 1989, hal. 170-173.

Advertisements

PENYEMBUH YANG TERLUKA

PENYEMBUH YANG TERLUKA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVIII – Senin, 7 Agustus 2017)

Keluarga Kapusin: Peringatan B. Agatangelus dan Kasianus, Imam Martir

Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak menyendiri dengan perahu ke tempat yang terpencil. Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka. Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit.

Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata, “Tempat ini terpencil dan hari mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa.” Tetapi Yesus berkata kepada mereka, “Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan.” Jawab mereka, “Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan.” Yesus berkata, “Bawalah kemari kepada-Ku.” Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di rumput. Setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap syukur. Ia memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya memberikannya kepada orang banyak. Mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang lebih, sebanyak dua belas bakul penuh. Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak. (Mat 14:13-21) 

Bacaan Pertama:  Bil 11:4b-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 81:12-17 

Yesus baru saja menerima berita yang terburuk yang pernah didengar-Nya Mat 14:13). Yohanes Pembaptis, saudara dan sahabat-Nya, baru saja dipancung kepalanya atas perintah Herodes Antipas. Yohanes membaptis Yesus di sungai Yordan (Mat 3:13 dsj.). Yesus memandang Yohanes Pembaptis sebagai orang yang terbesar yang pernah lahir di dunia (Mat 11:11). Sekarang Yohanes Pembaptis telah mati, dibunuh dan menjadi martir.

Tentu saja Yesus sendiri terkejut dan terluka hati-Nya. Lalu Dia menyingkir ke tempat yang sunyi untuk menyendiri (Mat 14:13). Namun gerombolan orang banyak berdatangan mengikuti-Nya (Mat 14:14). Yesus sangat terharu melihat mereka semua dan hati-Nya tergerak oleh belas kasihan. Maka Dia menyembuhkan banyak orang dan membuat mukjizat penggandaan lima roti dan dua ekor ikan guna memberi makan banyak orang (Mat 14:19-21).

Dalam suratnya yang pertama, Petrus menulis tentang Yesus yang dilihatnya sebagai sang hamba YHWH yang menderita seperti digambarkan dalam kitab Yesaya: “Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya. Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkan diri-Nya kepada Dia yang menghakimi dengan adil. Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh. Sebab dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu” (1Ptr 2:22-25; bdk. Yes 53:5-9). Berbagai sumber daya yang kita miliki namun tidak memadai akan dilipatgandakan untuk membaharui muka bumi.

Apabila kita (anda dan saya) menderita luka jasmani ataupun luka batin dan patah semangat, kita tidak hanya butuh disembuhkan, melainkan juga menyembuhkan orang lain. Apabila kita menderita kelaparan di daerah yang tandus, bukan saja kita butuh diberi makan melainkan juga memberi makan. Dalam luka-luka dan kelemahan kita, kuasa penyembuhan ilahi dan kuasa untuk melipatgandakan akan muncul dengan sempurna (2Kor 12:9). Inilah hakekat dari seorang “penyembuh yang terluka” (Inggris: wounded healer).

Jikalau kita (anda dan saya) memanggul salib setiap hari, maka kita tidak hanya menderita karena kelemahan kita melainkan juga kita memerintah dalam kuasa-Nya (2Kor 13:4). Oleh karena itu marilah kita memberikan apa yang kita miliki: roti dan ikan kita (talenta, uang dll.), luka-luka dan kelemahan kita kepada Tuhan. Dia akan melipatgandakan itu semua dan menyediakan bantuan untuk yang mereka menderita, yang terluka serta patah hati, dan juga semangat dari umat kita.

DOA: Bapa surgawi, izinkanlah aku menanggapi kesengsaraanku ini dengan cara keluar menolong orang yang menderita juga.Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 14:13-21), bacalah tulisan yang berjudul “KAMU HARUS MEMBERI MEREKA MAKAN” (bacaan tanggal 7-8-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 1-8-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 4 Agustus 2017 [Peringatan S. Yohanes Maria Vianney, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SEKILAS MENJADI SAKSI KEMULIAAN YESUS

SEKILAS MENJADI SAKSI KEMULIAAN YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta Yesus Menampakkan Kemuliaan-Nya – Minggu, 6 Agustus 2017) 

Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendirian saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang. Lalu tampaklah kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia. Kata Petrus kepada Yesus, ‘Tuhan, alangkah baiknya kita berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia. Tiba-tiba sementara ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata, “Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” Mendengar itu tersungkurlah murid-murid-Nya dan mereka sangat ketakutan. Lalu Yesus datang kepada mereka dan menyentuh mereka sambil berkata, “Berdirilah, jangan takut!” Ketika mereka mengangkat kepala, mereka tidak melihat seorang pun kecuali Yesus seorang diri.

Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka, “Jangan kamu ceritakan penglihatan itu kepada siapa pun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati.” (Mat 17:1-9) 

Bacaan Pertama: Dan 7:9-10,13-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 97:1-2,5-6,9; Bacaan Kedua: 2Ptr 1:16-19

Petrus, Yakobus dan Yohanes (dua bersaudara anak Zebedeus) adalah tiga orang rasul “lingkaran dalam”  Yesus. Mereka hadir ketika ibu mertua Petrus disembuhkan dari sakit demamnya oleh Yesus (Mrk 1:29-31); mereka hadir ketika Yesus membangkitkan puteri Yairus dari kematian (Mrk 5:37); dalam  bacaan Injil hari ini mereka juga menyaksikan transfigurasi Yesus di atas sebuah gunung yang tinggi; dan mereka juga dibawa oleh Yesus dalam taman Getsemani ketika Dia mau berdoa( Mat 26:37).

Di sebuah gunung yang tinggi, ketiga rasul “lingkaran dalam” Yesus ini mengalami suatu penglihatan yang luarbiasa. Yesus, sahabat dan Guru mereka, terlihat sedang berdiri di depan mereka dalam kemuliaan ilahi, dan Ia didampingi oleh dua orang pahlawan terbesar bangsa Israel, yaitu Musa dan Elia. Tidak begitu mengherankanlah kalau dalam situasi seperi itu Petrus menjadi tidak tahu apa yang harus dikatakannya.

Hanya satu pekan sebelum peristiwa transfigurasi yang penuh kemuliaan ini terjadi, Yesus memberitahukan untuk pertama kalinya bahwa Dia harus pergi ke Yerusalem dan di sana menanggung banyak penderitaan dari para pemuka agama Israel, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga (lihat Mat 16:21). Sekarang Yesus mengajak ketiga orang rasul-Nya yang paling dekat untuk naik ke atas gunung dan memberikan kepada mereka bertiga kesempatan mencicipi alasan mengapa Dia harus menanggung penderitaan sedemikian. Untuk sekejab saja Yesus menunjukkan kepada mereka bagaimana kemanusiaan-Nya akan terlihat setelah ditransformasikan dalam kemuliaan.

Seringkali kita cenderung untuk memfokuskan diri pada upaya melakukan pertobatan, puasa, doa, pemberian derma dan sejenisnya. Kita mencoba mengkontemplasikan “Sang Tersalib” sesering mungkin. Kita berbicara mengenai “memikul salib kita” atau “mati terhadap kedosaan manusia kita”. Akan tetapi, sebagaimana Petrus, Yakobus dan Yohanes, yang melihat kemuliaan Yesus sebelum mereka mengalami salib-Nya dan salib mereka sendiri, maka kita pun perlu juga mengarahkan pandangan kita ke surga “di atas sana” agar dapat melihat pancaran cahaya Yesus yang bangkit dalam kemenangan dan ditransformasikan dalam kemuliaan.

Allah ingin agar kita merasa yakin, bahwa tujuan akhir kita bukanlah untuk mati, melainkan untuk hidup! Keberadaan kita bukanlah untuk sekadar menjalani hidup  pertobatan, melainkan juga untuk hidup dengan Yesus dalam suatu ikatan kasih yang tak terpatahkan! Melalui transfigurasi-Nya, Yesus ingin memberikan kepada kita pandangan secara sekilas lintas tentang transfigurasi kita di masa depan, ketika kita akan hidup bersama-Nya dalam kemuliaan, tidak lagi di bawah beban dosa, melainkan ditinggikan oleh Roh Kudus.

Selagi kita mendengarkan pembacaan Kitab Suci dalam Misa Kudus hari ini, baiklah kita memejamkan mata. Bayangkan diri kita bersama ketiga rasul di atas gunung itu. Biarlah Roh Kudus menunjukkan kemuliaan Yesus kepada kita. Cobalah membayangkan apa yang dibicarakan Yesus dengan Musa dan Elia di atas gunung itu. Apakah Yesus sendiri menarik kekuatan dari pengalaman transfigurasi-Nya untuk hari-hari terakhir-Nya di atas bumi? Marilah sekarang kita bertanya kepada Yesus bagaimana seharusnya kita menjaga mata hati  kita agar tetap fokus pada kemuliaan yang dijanjikan-Nya, bukan pada segala kesulitan hari ini. Perkenankanlah Allah untuk syering dengan kita pemikiran surgawi apa saja yang Ia akan masukkan ke dalam pikiran dan hati kita masing-masing. Biarlah kebangkitan-Nya memberdayakan kita pada hari ini.

DOA: Yesus, Engkau adalah bintang terang yang menyinari jalanku. Bukalah mataku agar dapat melihat kemuliaan-Mu. Kuatkanlah imanku dalam kehadiran-Mu. Jagalah diriku agar senantia dekat di samping-Mu, sehingga dengan demikian aku pun dapat menjadi terang yang memberi pengharapan dan penghiburan bagi orang-orang lain yang kujumpai.Segala kemuliaan dan pujian bagi-Mu, ya Yesus! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 17:1-9), bacalah tulisan yang berjudul “TIGA ORANG SAKSI KEMULIAAN YESUS DI ATAS GUNUNG” (bacaan tanggal 6-8-17) dalam situs/blog  SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 6-14-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 3 Agustus 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PERISTIWA TRAGIS PADA HARI ULANG TAHUN PENGUASA

PERISTIWA TRAGIS PADA HARI ULANG TAHUN PENGUASA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVII – Sabtu, 5 Agustus 2017)

Peringatan Pemberkatan Gereja Basilik SP Maria

HARI SABTU IMAM

 

Pada masa itu sampailah berita-berita tentang Yesus kepada Herodes, raja wilayah. Lalu ia berkata kepada pegawai-pegawainya, “Inilah Yohanes Pembaptis; ia sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam-Nya.” Memang Herodes telah menyuruh menangkap Yohanes, membelenggunya dan memenjarakannya, berhubungan dengan peristiwa Herodias, istri Filipus saudaranya. Karena Yohanes berkali-kali menegurnya, katanya, “Tidak boleh engkau mengambil Herodias!” Walaupun Herodes ingin membunuhnya, ia takut akan orang banyak yang memandang Yohanes sebagai nabi. Tetapi pada hari ulang tahun Herodes, menarilah anak perempuan Herodias di tengah-tengah mereka dan menyenangkan hati Herodes, sehingga Herodes bersumpah akan memberikan kepadanya apa saja yang dimintanya. Setelah dihasut oleh ibunya, anak perempuan itu berkata, “Berikanlah aku di sini kepala Yohanes Pembaptis di atas sebuah piring.” Lalu sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya diperintahkannya juga untuk memberikannya. Disuruhnya memenggal kepala Yohanes di penjara dan kepala itu pun dibawa orang di sebuah piring besar, lalu diberikan kepada gadis itu dan ia membawanya kepada ibunya. Kemudian datanglah murid-murid Yohanes Pembaptis mengambil mayatnya dan menguburkannya. Lalu pergilah mereka memberitahukannya kepada Yesus. (Mat 14:1-12) 

Bacaan Pertama: Im 25:1,8-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 67:2-3,5,7-8 

Peristiwa itu sedemikian tragis-mengerikan sehingga seorang penulis drama pun tidak akan mampu melukiskannya dengan lebih dahsyat lagi. Di bagian atas bangunan istana: raja sedang merayakan pesta ultahnya dengan meriah. Di bagian bawah yang gelap sedang meringkuk sang nabi seorang diri. Pesuruh yang datang ruang pesta tidak membawa kabar pembebasan melainkan datang dengan algojo untuk memancung kepala sang nabi untuk dihadiahkan kepada puteri tiri sang raja lalim karena tarian-tariannya telah membuat sang raja lupa daratan.

Dalam hal ini, siapakah yang bertanggung jawab? Pertama-tama adalah raja yang bermulut besar itu, yang dalam kondisi setengah mabuk (atau mabuk kepayang?) memberikan janji yang muluk-muluk dan kemudian sebab takut kehilangan prestise di hadapan para tamu, tega melupakan segala perasaan dan nilai-nilai susila, memerintahkan hukuman mati atas diri sang nabi. Herodes merupakan contoh pribadi yang lemah. Yang kedua adalah pemudi yang menurut tradisi bernama Salome, yang lewat tarian-tariannya telah mengobarkan nafsu para tamu dan memikat hati mereka dan yang juga ingin terasa menawan, baik bagi raja maupun hati ibunya. Yang ketiga adalah Herodias, seorang pezinah seperti raja juga, yang berniat melindungi perzinahan serta rencana ambisiusnya dan karenanya tidak segan-segan membunuh orang yang berani menegurnya, supaya dia disingkirkan. Tidak diceritakan reaksi dari para tamu yang hadir. Logis, karena mereka adalah para undangan sang raja untuk turut merayakan ulang tahunnya di istana.

Di sisi lain ada Yohanes Pembaptis, sebagai kontras dari ke tiga orang yang disebutkan di atas. Tanpa gentar serta tanpa kompromi sedikit pun sang nabi berpegang teguh pada suara hatinya dan juga tuntutan Allah, walaupun di sekap dalam ruang tahanan gelap, rasa lapar dan harus, siksaan, kesunyian dan kematian yang mengincar terus. Pada akhirnya saat kematian itu pun datang.

Mengapa orang yang jahat hampir selalu menang atas orang yang baik? Bahkan Kristus sendiri telah dikalahkan oleh para lawan-Nya. Baru sesudah kematian – dan tidak sebelumnya – datanglah perubahan.

Pembalikan semuanya baru akan terjadi dalam dunia akhirat. Pada saat itu, yang terakhir akan menjadi yang pertama dan yang pertama menjadi yang terakhir. Dan tampak pula kejayaan Kerajaan Allah dengan Roh-Nya beserta segala pengikut-Nya. Barulah pada hari itu Gereja dan para beriman akan mengalami keadilan yang sejati. Oleh karena itu, barangsiapa mengharapkan sesuatu yang lain, maka dia akan mengalami kekecewaan. Memeluk agama Kristiani berarti mengikuti jejak Kristus yang memikul salib dan menaruh suatu pengharapan yang baru akan dipenuhi dalam dunia-baru nanti. Perhitungan tidak diadakan dalam dunia ini, melainkan nanti.

Pemenggalan kepala Yohanes Pembaptis pada hari ulang tahun raja Herodes Antipas merupakan kekecewaan bagi semua orang yang mengharapkan kejayaan agama Kristiani dalam dunia ini. Sikap sedemikian itu terlalu picik dan sempit. Di sisi lain, ketekunan sang nabi dalam ruang tahanan yang sunyi adalah sikap iman yang sejati. Kemenangan mudah Herodias – sang ratu pezinah – adalah semangat dunia ini. Antara kedua hal itu tidak ada jalan tengah/kompromistis. Yang ada hanyalah pilihan (mutually exclusive) ini atau itu !!!

(Catatan: Uraian di atas adalah adaptasi dari tulisan Richard Gutzwiller, RENUNGAN TENTANG MATEUS I, hal. 128-221)

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar memilih Engkau dalam segala keputusanku hari ini dan selamanya. Aku ingin Engkau menjadi pusat kehidupanku. Selamatkanlah aku dari berbagai godaan kenikmatan duniawi yang menghalangi aku untuk memilih-Mu. Bimbinglah aku dalam kebenaran-Mu dan pimpinlah aku di jalan-Mu selamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Mat 14:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “SEDIKIT CATATAN TENTANG YOHANES PEMBAPTIS” (bacaan tanggal 5-8-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2017. 

Cilandak, 3 Agustus 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

BUKANKAH IA INI ANAK TUKANG KAYU?

BUKANKAH IA INI ANAK TUKANG KAYU?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Yohanes Maria Vianney, Imam – Jumat, 4 Agustus 2017)

Setibanya di tempat asal-Nya, Yesus mengajar orang-orang di situ di rumah ibadat mereka. Maka takjublah mereka dan berkata, “Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mukjizat-mukjizat itu? Bukankah ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi, dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?” Lalu mereka menolak Dia. Kemudian Yesus berkata  kepada mereka, “Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya.” Karena mereka tidak percaya, tidak banyak mukjizat diadakan-Nya di situ. (Mat 13:54-58) 

Bacaan Pertama: Im 23:1,4-11,15-16,27,34b-37; Mazmur Tanggapan: Mzm 81:3-6,10-11 

“Dia hanyalah seorang tukang kayu.” “Kita kenal keluarga-Nya; tidak ada yang istimewa tentang diri-Nya!” Dst. Dlsb. 

Dalam bacaan Injil hari ini kita membaca bahwa Yesus “pulang kampung” namun disambut dengan dingin oleh orang-orang tempat kelahiran-Nya setelah Dia berkhotbah di hadapan orang banyak yang pada mulanya membuat mereka takjub. Namun setelah Dia melakukan begitu banyak mukjizat dan tanda heran lainnya di tempat-tempat lain, tidak seorang pun di Nazaret mengelu-elukan Yesus sebagai seorang Raja atau Mesias. Sebaliknya mereka tidak memandang sebelah mata sang Rabi yang datang dari kota mereka sendiri. Yesus berhasil membuat sedikit mukjizat, tetapi tidak seorang pun percaya bahwa Dia adalah seorang nabi, apalagi Putera Allah. 

Mengapa terdapat ketiadaan iman seperti itu? Karena orang-orang Nazaret memilih pemahaman mereka sendiri tentang Yesus, bukannya berpaling kepada Roh Kudus agar diberikan pernyataan/pewahyuan dan wawasan ilahi.  Sekarang, bagaimana dengan kita sendiri? Kita tahu bahwa Yesus adalah Putera Allah. Kita percaya hal itu; kita menyatakannya setiap hari Minggu ketika merayakan Misa Kudus (dalam Credo). Namun demikian, sampai berapa seringkah kita – seperti orang-orang Nazaret dahulu – memperlakukan Yesus hanya sebagai sekadar seorang tukang kayu yang berniat baik? 

Apakah kita berdoa setiap pagi dengan ekspektasi bahwa kita akan diangkat ke surga dan menyentuh hati dan pikiran Allah? Apakah kita datang ke Misa Kudus dengan ekspektasi bahwa kemuliaan-Nya dinyatakan kepada kita melalui Ekaristi? Satu kebenaran yang tidak pernah kita abaikan atau sangkal adalah bahwa kita tidak dapat menaruh kepercayaan pada kemampuan kita sendiri untuk menghadirkan iman yang mentransformasikan hidup kita. Secara sederhana, kita harus mengandalkan Allah untuk memberikan kepada kita pernyataan/perwahyuan ilahi oleh Roh Kudus-Nya. 

Kabar baiknya adalah ketika kita sungguh-sungguh memohon pertolongan Roh Kudus, maka kita disadarkan bahwa Roh Kudus itu sungguh ingin menyatakan Yesus Kristus kepada kita. Roh Kudus sungguh ingin mengubah hati kita, merobek hati kita itu dengan kasih Kristus dengan cara yang mentransformasikan kita untuk semakin serupa dengan diri-Nya. Selagi kita semakin mengenal siapa Yesus ini, maka seperti Petrus, hati kita pun akan terdorong untuk memproklamasikan: “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup” (lihat Mat 16:16). Seperti Tomas kita pun akan bersembah sujud di hadapan-Nya dan berseru: “Ya Tuhanku dan Allahku!” (lihat Yoh 20:28). Dan seperti Yohanes kita akan bertemu dengan realitas yang mengubah hidup, bahwa Allah adalah kasih (lihat 1Yoh 4:8,16). 

Semakin Yesus menyatakan diri-Nya kepada kita, semakin banyak pula kita dapat mulai memahami “betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus” (Ef 3:18). Tidak ada yang lebih penting daripada mengenal Yesus. Pernyataan kasih-Nya dan kuat-kuasa-Nya pantas dan layak untuk diupayakan dengan sangat, sangat serius. 

DOA: Tuhan Yesus, aku ingin sungguh mengenal Engkau. Lebih daripada apa saja, aku mohon kepada-Mu untuk menyatakan  diri-Mu kepadaku dengan lebih mendalam lagi daripada sebelum-sebelumnya. Terpujilah nama-Mu selalu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:54-58), bacalah tulisan yang berjudul “DIHORMATI DI MANA-MANA, TETAPI TIDAK DI KAMPUNG/RUMAH SENDIRI” (bacaan tanggal 48-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 31-7-15) 

Cilandak, 2 Agustus 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PADA AKHIR ZAMAN ORANG JAHAT DIPISAHKAN DARI ORANG BENAR

PADA AKHIR ZAMAN ORANG JAHAT DIPISAHKAN DARI ORANG BENAR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVII – Kamis, 3 Agustus 2017)

 

“Demikianlah pula hal Kerajaan Surga itu seumpama jala yang ditebarkan di laut lalu mengumpulkan berbagai jenis ikan. Setelah penuh, jala itu diseret orang ke pantai, lalu duduklah mereka dan mengumpulkan ikan yang baik ke dalam tempayan dan ikan yang tidak baik mereka buang. Demikianlah juga pada akhir zaman: Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar, lalu mencampakkan orang jahat ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.

Mengertikan kamu semuanya itu?” Mereka menjawab, “Ya, kami mengerti.” Lalu berkatalah Yesus kepada mereka, “Karena itu, setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran tentang Kerajaan Surga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya.”

Setelah Yesus selesai menceritakan perumpamaan-perumpamaan itu, Ia pun pergi dari situ. (Mat 13:47-53) 

Bacaan Pertama: Kel 40:16-21,34-38 atau Rm 8:1-4; Mazmur Tanggapan: Mzm 84:3-6,8,11

Apa kiranya yang akan kita rasakan pada saat ajal kita tiba? Apakah kita dibebani dengan rasa takut tak terhingga berkaitan dengan apa yang akan terjadi dengan diri kita? Atau akankah kita penuh dengan antisipasi pada pemikiran bahwa sebentar lagi kita bertemu dengan Tuhan secara face to face, muka ketemu muka? Nah, jawaban kita akan banyak mengungkapkan status atau kondisi iman kita. Tanpa iman yang kuat pada kasih Allah dan kerahiman-Nya, kita dapat menjadi takut. Kita dapat merasa takut tidak ada apa-apa lagi setelah kematian kita, atau lebih buruk lagi …… akan terjadi penghakiman yang keras atas kehidupan kita.

Yesus mengakhiri rangkaian pengajaran yang terdiri dari tujuh perumpamaan dengan kalimat tentang “akhir zaman” (Mat 13:49-50). Kata-kata Yesus tidak meninggalkan rasa ragu sedikit pun bahwa akan ada pengadilan terakhir kelak, ketika Dia datang kembali dalam kemuliaan. “Katekismus Gereja Katolik” (KGK) mengatakan, bahwa “pengadilan terakhir akan membuka sampai ke akibat-akibat yang paling jauh, kebaikan apa yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh setiap orang selama hidupnya di dunia ini” (KGK, 1039). Walaupun terdengar menakutkan, kita harus ingat juga bahwa “pengadilan terakhir akan membuktikan bahwa keadilan Allah akan menang atas segala ketidakadilan yang dilakukan oleh makhluk ciptaan-Nya, dan bahwa cintakasih-Nya lebih besar daripada kematian” (KGK, 1040).

Kematian dan penghakiman adalah topik-topik yang biasanya dihindari oleh sebagian besar orang. Namun kita pun kiranya memahami bahwa dua hal tersebut akan terjadi atas diri kita masing-masing. Jadi, kembali di sini muncul masalah pilihan. Life is a choice, hidup adalah pilihan! Kita dapat menghayati suatu kehidupan yang mempersiapkan tujuan kekal kita, atau kita dapat memperkenankan tuntutan-tuntutan sehari-hari kehidupan kita menjadi pusat perhatian kita sehingga dengan demikian mengaburkan masa depan kita. Pengadilan/penghakiman terakhir pada hakikatnya adalah suatu panggilan untuk melakukan pertobatan. Allah ingin agar kita termasuk golongan orang-orang benar, dan untuk itu Dia memberikan kepada kita segala kesempatan/peluang untuk datang kepada-Nya dalam doa dan pertobatan. Ia mengutus Putera-Nya yang tunggal untuk mati di kayu salib bagi kita sehingga kita dapat menikmati kehidupan kekal-abadi.

Apabila kita telah mengalami kehadiran Allah dalam kehidupan kita di dunia dan kita sungguh telah bertobat dari dosa-dosa kita, maka kita dapat percaya bahwa kerahiman atau belas-kasih Allah akan membawa kita ke dalam kehadiran-Nya yang abadi di surga. Selagi kita mencari Yesus dalam doa, Dia akan memberikan kepada kita suatu perspektif ilahi dan menolong kita untuk memusatkan pandangan kita pada akhir zaman, pada saat mana kita akan dipersatukan dengan diri-Nya untuk selama-lamanya. Oleh karena itu, marilah kita mohon kepada Tuhan untuk meningkatkan iman kita agar pada saat kematian kita, kita akan sungguh menyadari tanpa ragu sedikit pun, bahwa Tuhan Yesus sedang menanti-nanti untuk menyambut kita.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah jalan, kebenaran dan hidup. Usirlah rasa takut kami akan kematian dan penghakiman/pengadilan terakhir. Kami menyadari bahwa Engkau adalah Tuhan Allah yang penuh kasih dan kami sungguh rindu untuk memandang-Mu muka ketemu muka. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:47-53), bacalah tulisan yang berjudul  “PEMISAHAN PADA AKHIR ZAMAN” (bacaan tanggal 3-8-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 28-7-16 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak,  1 Agustus 2017 [Peringatan S. Alfonsus Maria de Liguori, Uskup Pujangga Gereja]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HARTA TERPENDAM ATAU MUTIARA INDAH ADALAH YESUS SENDIRI

HARTA TERPENDAM ATAU MUTIARA INDAH ADALAH YESUS SENDIRI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVII – Rabu, 2 Agustus 2017)

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta S. Maria Ratu para Malaikat, Portiunkula 

“Hal Kerajaan Surga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamnya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.

Demikian pula halnya Kerajaan Surga itu seumpama seorang seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.” (Mat 13:44-46) 

Bacaan Pertama: Kel 34:29-35; Mazmur Tanggapan: Mzm 99:5-7,9

Dapatkah anda membayangkan menjual segalanya yang anda miliki? Pertukaran macam apa yang mungkin memotivasi  anda untuk membuat transaksi yang begitu drastis dan radikal? Yesus menggambarkan adanya harta terpendam di sebuah ladang, dan sebutir mutiara yang indah. Akan tetapi, apa sebenarnya semua ini? Bagi seorang ahli geologi tentunya nilai sepotong batu permata lain sekali dengan apa yang dilihat oleh seorang arkeolog, atau seorang isteri boss konglomerat yang senang bersolek dan berpesta-pora. Bagaimana pun juga “beauty is in the eye of the beholder, kata orang yang berbahasa Inggris, artinya “keindahan atau kecantikan itu tergantung mata siapa yang memandangnya”. Nah, ngomong-ngomong soal “eye of the beholder” ini, maka di mata para rabi Yahudi, Yesus hanyalah seorang guru agama keliling Yahudi yang menyebabkan kepala para penguasa Romawi di tanah Palestina sedikit pusing.

Akan tetapi tentunya sekarang kita lebih mengetahui daripada para pemuka agama Yahudi itu. Dari abad ke abad banyak sekali orang  meninggalkan segalanya yang mereka miliki untuk dan demi mengikuti Yesus, seperti halnya dengan orang-orang yang diceritakan dalam perumpamaan-perumpamaan singkat di atas, dan mereka pun telah memperoleh ganjaran dari Yang Ilahi, jauh melampaui mimpi mereka yang paling ‘gila’ sekali pun. Kita masing-masing pun tentunya sudah sedikit banyak sempat memandang “batu permata atau mutiara yang sangat indah” yang bernama Yesus ini. Ingat-ingatlah lagi di mana saja, kapan saja, dengan cara yang bagaimana saja hati anda pernah merasa tersentuh dan mata anda pun terbuka bagi hal-hal yang sebelumnya tak terlihat, misalnya ketika menyanyikan doa BAPA KAMI dalam perayaan Ekaristi. Kalau tak bisa mengingatnya, maka renungkanlah betapa jauh langkah yang telah dibuat Yesus untuk menebus anda. Renungkanlah sengsara yang sedemikian dahsyat yang harus diderita-Nya agar supaya dosa-dosa kita dapat diampuni. Biarlah kebenaran-kebenaran ini meyakinkan anda bahwa anda dapat mendengar hikmat yang diucapkan-Nya bagi kehidupan anda. Biarlah semuanya itu membuktikan kepada anda bahwa meskipun dalam kemuliaan-Nya, Yesus ingin merendahkan diri-Nya agar dapat berbicara dengan anda. Dia bahkan ingin memberikan tubuh dan darah-Nya sendiri sebagai asupan makanan bergizi-tinggi bagi kehidupan spiritual anda!

Bagi orang-orang tertentu, Yesus adalah sumber pembebasan/pelepasan dari pola-pola dosa yang telah mereka gumuli bertahun-tahun lamanya. Bagi orang-orang lain, Ia mungkin adalah seorang penyembuh dan penyelamat sebuah perkawinan yang sudah berada di ambang kehancuran, atau pemulih suatu relasi orangtua dan anak yang sudah genting serta berbahaya. Mungkin Ia juga telah menyembuhkan secara fisik seseorang dari penyakit tertentu, atau dari depresi dan lain-lain.

Adakah yang lain lagi, yang lebih menarik daripada Yesus, Juruselamat, Penebus, dan Pembebas kita ini? Cintakasih tanpa syarat yang dilimpah-limpahkan-Nya ke atas diri kita, kebebasan dari dosa, persekutuan dengan Roh-Nya di dalam diri kita, janji akan kehidupan kekal di surga bersama-Nya. Semua hal ini dapat menggerakkan kita setiap hari agar kita dapat memberikan sedikit lebih lagi bagian kehidupan kita, sehingga dengan demikian pada suatu hari kita sudah sepenuhnya menyerahkan diri kepada-Nya. Yesus memang harus menjadi pusat kehidupan kita!

Pengalaman pribadi akan sentuhan-Nya dalam kehidupan seseorang tidak dapat diperdebatkan. Pengalaman akan Yesus itu melampaui segala kemampuan untuk menulisnya sebagai sebuah kisah. Para penulis riwayat hidup Orang Kudus, misalnya Santo Fransiskus dari Assisi, tidak dapat menceritakan bagaimana detilnya pengalaman pribadi orang kudus ini akan Allah/Yesus. Yang jelas, setelah perjumpaan pribadi dengan-Nya, hidupnya pun diubah secara drastis, dan dia pun menghayati hidup Injili secara radikal.

DOA: Tuhan Yesus, aku cinta pada-Mu! Engkau adalah harta paling berharga yang aku dapat miliki, dan Engkau dengan bebas-merdeka telah memberikan diri-Mu sendiri bagiku. Aku menyerahkan diriku kepada-Mu sambil melepas segalanya yang lain, sehingga dengan demikian Engkau dapat hidup di dalam diriku, dan aku dalam Engkau. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:44-46), bacalah tulisan yang berjudul “DI MATA BAPA SURGAWI KITA ADALAH ANAK-ANAK-NYA YANG SANGAT DIKASIHI-NYA” (bacaan tanggal 2-8-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 27-7-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 1 Agustus 2017 [Peringatan S. Alfonsus Maria de Liguori, Uskup Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS