KATAKANLAH ITU DALAM TERANG DAN BERITAKANLAH DARI ATAS RUMAH

KATAKANLAH ITU DALAM TERANG DAN BERITAKANLAH DARI ATAS RUMAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Sabtu, 12 Juli 2014) 

OFM/OFMConv.: Peringatan S. John Jones dan John Wall, Martir

HAPPY JESUS“Seorang murid tidak lebih daripada gurunya, atau seorang hamba daripada tuannya. Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya. Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya.

Jadi, janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka, dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas rumah. Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.

Bukankah burung pipit dijual dua ekor seharga satu receh terkecil? Namun, seekor pun tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu, janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit.

Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang disurga. Tetapi siapa saja yang menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di surga.” (Mat 10:24-33) 

Bacaan Pertama: Yes 6:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 93:1-2,5 

“Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang” (Mat 10:27). 

Selagi Dia menyiapkan para murid-Nya untuk pekerjaan misioner, Yesus dengan berhati-hati menguatkan mereka untuk sebuah tugas yang memang mudah terbuka untuk diserang, dikritik, bahkan dijadikan objek kebencian. Apa kiranya strategi Yesus dalam hal ini? Apakah yang dikatakan-Nya kepada mereka? “… apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas rumah” (Mat 10:27). Apa yang diharapkan Yesus dari mereka untuk mendengar “dalam gelap”? Siapakah yang akan membisikkan kata-kata kepada mereka? Bagaimana seharusnya mereka mengatakannya dalam terang?

Ada banyak cara yang berbeda-beda untuk dapat memahami sabda Yesus ini, namun ada satu tafsir yang membawa dampak tidak hanya pada karya misioner melainkan juga pada setiap relasi di mana kita terlibat. Adalah “dalam gelap” – dalam keheningan hati kita –  Yesus menunjukkan kepada kita betapa kuat kodrat manusiawi kita yang cenderung untuk berdosa itu dan betapa dalam kita membutuhkan penyembuhan dan penebusan dari Dia. Kita semua telah mengetahui saat-saat di mana Roh Kudus telah membawa kita berhadapan-hadapan – muka ketemu muka – dengan kegelapan dalam diri kita, dan kita semua juga telah mengetahui saat-saat di mana kita menerima penghiburan dari Roh yang sama – penghiburan dan jaminan akan belas kasih-Nya dan pengampunan-Nya. Hal-hal inilah yang dimaksudkan bagi kita untuk diwartakan dari atas rumah: kasih Bapa yang melimpah-melimpah atas semua pendosa!

church-size-san-damiano-cross-image-on-canvas-with-ornate-gold-frame22859xlKetika kita berhadapan dengan “Sang Tersalib”, maka pandangan mata kita harus diarahkan ke atas karena posisi salib itu lebih tinggi daripada kita semua yang berdiri di dekat kaki salib. Apabila kita sungguh ingin menjadi saksi Kristus yang memiliki kredibilitas, maka kita harus jujur perihal ketergantungan kita kepada-Nya. Lalu kita dapat menyatakan, “Aku sakit dan Yesus menyembuhkan diriku. Aku tuli dan Ia membuka telingaku. Aku terikat dan Ia membebaskan diriku.” Tidak ada seorang pun ingin mendengar tentang bagaimana menjadi “baik” bilamana mereka mengetahui betapa sulitnya hal itu. Akan tetapi setiap orang ingin mendengar tentang kuat-kuasa Allah untuk menyembuhkan dan mengubah para pendosa. Setiap orang ingin mendengar bahwa mereka juga dapat menjadi pengikut-pengikut Yesus.

Kabar baik dari Injil adalah bahwa Yesus itu lebih besar daripada apa saja yang kita lihat ada di dalam diri kita. Yesus dapat membebaskan, menyembuhkan dan menyelamatkan kita! Ia ingin melakukan hal itu! Oleh karena itu marilah kita memperkenankan Yesus untuk menunjukkan kepada kita segala kegelapan diri/hati kita, bukan hanya untuk kebaikan kita, melainkan demi pemberian kesaksian kita tentang Yesus kepada orang-orang lain.

DOA: Roh Kudus Allah, selidikilah hatiku. Berbisiklah kepadaku tentang kegelapan yang ada di dalam hatiku. Semoga terang-Mu menyinari kegelapan hatiku itu dan membebaskan aku, sehingga dengan demikian aku dapat berbagi dengan orang-orang lain tentang kabar baik rekonsiliasi diriku dengan Bapa surgawi. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:24-33), bacalah tulisan yang berjudul “TAKUT DAN TIDAK TAKUT” (bacaan tanggal 12-7-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; 14-07 BACAAN HARIAN JULI 2014. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-7-13 dalam situs SANG SABDA) 

Cilandak, 10 Juli  2014 [Peringatan S. Veronika Yuliani, Perawan dan S. Nikolaus Pick dkk., Martir]

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENDENGARKAN SUARA ROH KUDUS

MENDENGARKAN SUARA ROH KUDUS

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Benediktus, Abas – Jumat, 11 Juli 2014) 

jesus christ super star“Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.”

Tetapi waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan mencambuk kamu di rumah ibadatnya. Karena Aku, kamu akan digiring ke hadapan penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu khawatir tentang bagaimana dan apa yang kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu.

Seorang saudara akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh, demikian juga seorang ayah terhadap orangtuanya dan akan membunuh mereka. Kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat. Apabila mereka menganiaya mereka kamu dalam kota yang satu, larilah ke kota yang lain; karena sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum kamu selesai mengunjungi kota-kota Israel, Anak Manusia sudah datang. (Mat 10:16-23)

Bacaan Pertama: Hos 14:2-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-4,8-9,12-14,17 

“… bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu” (Mat 10:20).

Seperti yang diingatkan oleh Yesus kepada para murid-Nya 2.000 tahun lalu, maka pada hari ini pun Ia mengingatkan bahwa kita – para murid-Nya pada zaman sekarang – menghadapi risiko penolakan, kesalahpahaman, bahkan pengejaran dan penganiayaan, bilamana kita mencoba untuk mewartakan Injil. Dari zaman ke zaman pesan pertobatan dan ketundukan serta penyerahan diri kepada Allah telah menemui penolakan dari berbagai penjuru.

Walaupun terasa suram, Yesus juga berjanji bahwa Dia tidak akan memberikan kepada kita tugas lebih daripada apa yang dapat kita emban dan Ia akan datang menolong apabila kita mengalami berbagai kesulitan. Ia menjanjikan Roh Kudus yang akan memberikan kepada kita hikmat dan bimbingan agar dengan demikian kita dapat menjawab dengan jelas namun dengan rendah hati, mereka yang menentang kita.

ROH KUDUS MELAYANG-LAYANG - 2Kata-kata Yesus dapat terdengar begitu sederhana, dan dalam artian tertentu memang demikianlah halnya. Kita dapat selalu percaya bahwa apabila Yesus menjanjikan sesuatu, maka Dia akan memenuhinya. Namun kita perlu bertanya bagaimana kita akan mampu mengenali suara Roh Kudus pada waktu kita mengalami kesulitan. Jelaslah bahwa perubahan sedemikian tidak terjadi dalam satu malam. Mendengar suara Roh Kudus bukanlah suatu kemampuan ajaib yang terbuka bagi kita hanya pada saat yang tepat dan kemudian “menghilang” lagi. Mendengarkan suara Roh Kudus adalah suatu keterampilan yang menuntut praktek, eksperimentasi dan ketekunan. Hal ini menuntut kita menghadap hadirat Allah dalam doa setiap hari, menjadi akrab dengan suara-Nya dalam Kitab Suci, dan menjaga hati kita agar tetap terbuka sepanjang hari. Selagi kita mengambil langkah-langkah praktis ini, kita akan menemukan kenyataan bahwa mendengar suara Roh Kudus yang lemah-lembut dan tidak ribut-ribut telah menjadi sesuatu yang alamiah bagi kita.

Praktek dan eksperimentasi secara harian selama saat-saat penuh kedamaian dan menyenangkan adalah kunci untuk melakukan upaya discernment terhadap suara Roh Kudus dalam masa pencobaan dan penganiayaan. Jika kita membuat proses ini menjadi kebiasaan, maka hal ini akan mempersiapkan diri kita dalam menghadapi tekanan-tekanan dan intensitas yang lebih besar, di mana lebih banyak lagi yang dipertaruhkan. Setiap hari, marilah kita  berupaya untuk mentaati Tuhan dan mendengarkan Roh Kudus. Setiap hari, marilah kita menukar “kemandirian” (dalam artinya yang jelek) kita dengan “hikmat dari Allah” yang akan “mengagetkan” dunia dan menghasilkan karya-karya yang akan membuat takjub raja-raja.

DOA: Roh Kudus Allah, datang dan masuklah ke dalam hidupku dan tetaplah berdiam bersamaku selalu. Buatlah aku agar dapat mengenali suara-Mu. Biarlah kata-kata-Mu dapat menjadi penghiburan, sukacita dan kehidupan bagiku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:16-23), bacalah tulisan yang berjudul “JALAN MENUJU KEMULIAAN YANG BERLIKU-LIKU” (bacaan tanggal 11-7-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-07 BACAAN HARIAN JULI 2014. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-7-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 9 Juli 2014 [Peringatan Martir-martir Tiongkok] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MEWARTAKAN KABAR BAIK YESUS KRISTUS

MEWARTAKAN KABAR BAIK YESUS KRISTUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV – Kamis, 10 Juli 2014)

Keluarga Fransiskan: S. Veronika Yuliani, Perawan dan S. Nikolaus Pick, dkk. Martir 

12 RASUL DIUTUS - MAT 10  5-15Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; sembuhkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.

Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu. Janganlah kamu membawa kantong perbekalan dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat nafkahnya. Apabila kamu masuk kota atau desa, carilah di situ seorang yang layak dan tinggallah padanya sampai kamu berangkat. Apabila kamu masuk rumah orang, berilah salam kepada mereka. Jika mereka layak menerimanya, salammu itu turun ke atasnya, jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Apabila seseorang tidak menerima kamu dan tidak mendengar perkataanmu, keluarlah dan tinggalkanlah rumah atau kota itu dan kebaskanlah debunya dari kakimu. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman tanah Sodom dan Gomora akan lebih ringan tanggungannya daripada kota itu.” (Mat 10:7-15)

Bacaan Pertama: Hos 11:1,3-4,8-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 80:2-3,15-16 

Injil Matius bukanlah bermaksud menjadi catatan sejarah mengenai peristiwa-peristiwa yang terlah terjadi dan kemudian memberikan tafsir teologis atas peristiwa-peristiwa itu. Penulis Injil Matius memberikan panduan kepada komunitasnya (jemaatnya) dan komunitas-komunitas Kristiani yang lain tentang implikasi dari pemuridan/kemuridan. Selagi Matius mengingat-ingat berbagai instruksi Yesus kepada 12 orang murid-Nya ketika Dia mengutus mereka dalam perjalanan misioner mereka yang pertama, dia (Matius) sepenuhnya sadar akan “amanat agung” yang berlaku untuk semua umat Kristiani: “… pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku” (Mat 28:19).  Misi yang diberikan oleh Yesus kepada para murid-Nya yang awal bersifat unik, namun sebagai orang-orang Kristiani yang telah dibaptis kita ikut ambil bagian dalam misi tersebut, sebagai peserta dalam amanat agung-Nya.

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIAApakah sebagian dari berbagai implikasi kemuridan dalam mewartakan Kabar Baik-Nya? Apa yang semestinya menjadi sikap hati dari keduabelas murid pada waktu itu? Untuk percaya dengan penuh keyakinan akan kuasa Injil untuk mengubah hati, untuk menyembuhkan, untuk memurnikan dan membersihkan (Mat 10:8). Tentunya terdapat unsur mendesak, urgency, berkaitan dengan misi ini. Hal ini tidak dapat ditunda-tunda sampai saat tibanya “logistik yang serba mencukupi” (lihat Mat 10:9-10). Tidak ada sesuatu pun yang boleh diperkenankan untuk mengacaukan fokus mereka terhadap misi mereka. Hidup apa adanya, bukan mengambil keuntungan, seharusnya menjadi ekspektasi mereka. Pewartaan Injil Yesus Kristus tidak pernah boleh dijadikan sebagai sebuah proyek bisnis. Apabila ditolak, sikap yang mereka ambil bukanlah mengutuk atau melampiaskan hasrat untuk membalas dendam; maka yang harus dilakukan bersifat simbolis, yaitu mengebaskan debu dari kaki mereka (Mat 10:14).

Jelaslah dari kata-kata yang diucapkan Yesus bahwa ke dua belas rasul itu harus memiliki sikap pribadi yang menggantungkan diri sepenuhnya pada Allah dan kebaikan-Nya dan kemurahan-hati-Nya. Sikap sedemikian mengakui Allah sebagai “seorang” Bapa yang penuh kasih dan Bapa pribadi yang dengan setia akan menyediakan segala sesuatu yang diperlukan oleh umat-Nya dan tidak pernah akan meninggalkan mereka. “Seorang” Bapa yang pengasih seperti itu akan menopang kita juga.

Betapa berbedanya sikap ini dari sikap yang dimiliki banyak dari kita. Kita sering bertindak seakan Allah itu kikir, suka menggerutu atas sikap tak berterima kasih yang sering ditunjukkan oleh anak-anak-Nya walaupun Ia mengasihi kita. Juga seakan Ia tidak begitu mempedulikan kita. Mind-set seperti ini mempengaruhi dan membatasi kuasa dari pesan Injil yang kita wartakan. Kita hanya dapat memiliki hati misioner sejati apabila kita menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada Allah dan yakin seyakin-yakinnya akan kemurahan-hati dan kesetiaan-Nya.

DOA: Bapa surgawi, Allah yang Mahakasih, kuduslah nama-Mu. Kami menyadari bahwa Engkau setia dan senantiasa memegang janji-janji-Mu kepada kami. Kami mengkomit diri kami sendiri untuk menghayati hidup Injili dan melakukan tugas pewartaan keselamatan melalui Putera-Mu terkasih Tuhan Yesus Kristus serta pengudusan melalui Roh Kudus yang berdiam dalam diri kami masing-masing. Jagalah agar kami senantiasa setia pada janji kami sebagaimana Engkau senantiasa setia pada janji-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:7-15), bacalah tulisan yang berjudul “MEWARTAKAN INJIL YESUS KRISTUS” (bacaan tanggal 10-7-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-07 BACAAN HARIAN JULI 2014. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-7-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 8 Juli 2014

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENABURLAH BAGIMU SESUAI DENGAN KEADILAN, MENUAILAH MENURUT KASIH SETIA !!!

MENABURLAH BAGIMU SESUAI DENGAN KEADILAN, MENUAILAH MENURUT KASIH SETIA !!!

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Rabu, 9 Juli 2014)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Antonius Fantosat, Gregorius Grassi, S. Hermina, S. Augustinus Zhao Rong dkk., Martir-martir Tiongkok

HOSEA LAGIIsrael adalah pohon anggur yang riap tumbuhnya, yang menghasilkan buah. Makin banyak buahnya, makin banyak dibuatnya mezbah-mezbah. Makin baik tanahnya, makin baik dibuatnya tugu-tugu berhala. Hati mereka licik, sekarang mereka harus menanggung akibat kesalahannya: Dia akan menghancurkan mezbah-mezbah mereka, akan meruntuhkan tugu-tugu berhala mereka. Sungguh, sekarang mereka berkata: “Kita tidak mempunyai raja lagi, sebab kita tidak takut kepada TUHAN (YHWH). Apakah yang dapat dilakukan raja bagi kita?”

Samaria akan dihancurkan; rajanya seperti sepotong ranting yang terapung di air. Bukit-bukit pengorbanan Awen, yakni dosa Israel, akan dimusnahkan. Semak duri dan rumput duri akan tumbuh di atas mezbah-mezbahnya. Dan mereka akan berkata kepada gunung-gunung: “Timbunilah kami!” dan kepada bukit-bukit: “Runtuhlah menimpa kami!”

Menaburlah bagimu sesuai dengan keadilan, menuailah menurut kasih setia! Bukalah bagimu tanah baru, sebab sudah waktunya untuk mencari YHWH, sampai Ia datang dan menghujani kamu dengan keadilan. (Hos 10:1-3,7-8,12)

Mazmur Tanggapan: Mzm 105:2-7; Bacaan Injil: Mat 10:1-7

Nabi Hosea merasa kesal dengan bangsa Israel karena mereka telah merasa enak-nyaman dalam pencaharian mereka akan kemakmuran. Mereka tidak sudi meninggalkan comfort zone mereka ini, maka memalingkan diri dari panggilan YHWH Allah agar mereka memperkenankan sabda-Nya menyentuh dan menusuk hati mereka. Bukankah sabda Allah lebih tajam daripada pedang bermata dua? (lihat Ibr 4:12). Orang-orang Israel telah mulai mengisi pikiran dan hati mereka dengan daya pikat duniawi, dengan demikian mereka menaruh sedikit saja perhatian kepada sabda Tuhan Allah. Bukankah hal ini tidak kedengaran ganjil pada zaman modern kita sekarang ini? Dengan begitu mudahnya manusia menemukan makna kehidupan dalam kenyamanan materiil dan kemakmuran, bukannya dalam Allah dan kerajaan-Nya !!! Kalau pun anda dan/atau saya mengatakan, “Saya tidak begitu!”, tentunya somewhere along the line dalam kehidupan kita, kita pernah begitu!

HOSEA - 555YHWH mengutus nabi Hosea untuk mengguncang umat-Nya dari rasa-nyaman mereka supaya hati mereka kemudian balik kembali kepada-Nya. YHWH memberi peringatan kepada umat-Nya akan penghakiman yang akan datang, apabila mereka tidak berbalik dari dosa-dosa mereka untuk kemudian merangkul dengan penuh kepatuhan perintah-perintah-Nya. Oleh karena banyak bagian dari kerajaan utara itu kaya dan mempunyai tanah yang subur, maka Hosea meminjam gambar-gambar (imaji) dari hidup dalam dunia pertanian untuk melukiskan pokok-pokok yang disampaikannya. Para petani suka membiarkan bidang-bidang tanahnya kosong tidak ditanami untuk selama satu musim dengan tujuan agar lahan bersangkutan menjadi lebih baik untuk musim mendatang. Manakala bidang-bidang tanah itu siap untuk ditanami lagi, maka lahan tersebut harus dibajak lagi. Kekerasan tanah harus dilebur agar benih-benih yang ditaburkan ke atasnya dapat berakar dengan baik.

Hosea menjanjikan “hujan keselamatan” ke atas orang-orang yang berkenan membajak lahan hati mereka agar siap untuk ditaburi dengan benih-benih sabda-Nya. Membajak tanah keras adalah sebuah gambaran dari pertobatan – menyiapkan diri kita untuk mengalami tindakan penyembuhan dan pembersihan dari Roh Kudus. Pertobatan dan pengakuan dosa mempunyai makna yang jauh lebih mendalam daripada sekadar suatu penghapusan dosa-kesalahan kita. Mengapa demikian? Karena pertobatan menyangkut tindakan menaruh jiwa kita di hadapan Tuhan Allah dan mohon kepada-Nya untuk menghancurkan ‘kekerasan’ apa saja yang masih ada dalam diri kita. Sang pemazmur menulis: “Carilah YHWH dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu!” (Mzm 105:4).

Pertobatan sejati mencakup kemauan seseorang untuk sungguh meninggalkan kedosaannya, siap untuk dibajak dan diubah oleh rahmat Allah. Ia selalu siap untuk mentransformasikan diri kita menjadi semakin serupa dengan Yesus. Ia ingin agar hati kita menjadi sebuah lahan baru, tanah yang sudah gembur dan siap untuk ditaburi dengan benih-benih rahmat-Nya. Ia sangat ingin menaburkan benih-benih itu ke dalam hati kita masing-masing. Dalam pertobatan yang tulus, marilah kita mencari Allah. Ia akan memberikan kepada kita kebebasan sejati, sukacita dan kemenangan, setiap hari dalam kehidupan kita.

DOA: Tuhan Yesus, tiliklah hatiku dan ubahlah aku oleh kuat-kuasa Roh Kudus-Mu. Semoga sabda-Mu berurat-akar dalam hatiku, agar dengan demikian aku dapat menghasilkan buah kasih dan kebaikan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:1-7), bacalah tulisan yang berjudul “DIPANGGIL MENJADI MURID YESUS BERARTI JUGA DIPANGGIL SEBAGAI UTUSAN-NYA” (bacaan tanggal 9-7-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-07 BACAAN HARIAN JULI 2014. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 7-7-10 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 8 Juli 2014 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KERINDUAN DALAM HATI YESUS

KERINDUAN DALAM HATI YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Selasa, 8 Juli 2014) 

YESUS MENGAJAR - 1000Sementara kedua orang buta itu keluar, dibawalah kepada Yesus seorang bisu yang kerasukan setan. Setelah setan itu diusir, orang bisu itu dapat berkata-kata. Lalu heranlah orang banyak, katanya, “Yang demikian belum pernah dilihat orang di Israel.” Tetapi orang Farisi berkata, “Dengan kuasa pemimpin setan ia mengusir setan.”

Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat mereka dan memberitakan Injil Kerajaan Surga serta menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu kata-Nya kepada murid-murid-Nya, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu, mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” (Mat 9:32-38)

Bacaan Pertama: Hos 8:4-7,11-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 115:3-10 

“Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak mempunyai gembala” (Mat 9:36). 

Bayangkanlah kerinduan yang ada dalam hati Yesus agar para murid-Nya diutus menjadi pekerja-pekerja tuaian di seluruh dunia. Bayangkanlah betapa rindu hati-Nya untuk melihat semua orang menerima dan merangkul Injil-Nya. Ia ingin agar kita (anda dan saya) berdoa kepada Bapa surgawi agar Bapa mengirimkan lebih banyak lagi “pekerja-pekerja untuk tuaian”. Ia juga menginginkan agar kita masing-masing juga siap untuk menjadi salah seorang dari pekerja-pekerja tuaian yang akan dikirim oleh-Nya ke ladang tuaian.

JP II - 3Kebutuhan akan para murid yang akan membuat Yesus dikenal oleh segala bangsa sama besarnya, bahkan jauh lebih besar daripada pada saat ketika Dia memanggil para murid-Nya yang pertama. Sebagamana dinyatakan oleh Santo Paus Paulus Yohanes II: “Tugas perutusan Kristus sang Penebus, yang dipercayakan kepada Gereja, masih sangat jauh dari penyelesaian……. suatu pandangan menyeluruh atas umat manusia memperlihatkan bahwa tugas perutusan ini masih saja ditahap awal, dan bahwa kita harus melibatkan diri kita sendiri dengan sepenuh hati untuk melakukan tugas perutusan ini” (Surat Ensiklik REDEMPTORIS MISSIO (Tugas Perutusan Sang Penebus), 7 Desember 1990). Kebutuhannya sangat besar! Yesus memanggil kita semua, anda semua dan saya juga!

Bagaimana kita dapat mempersiapkan diri kita untuk menjadi pekerja-pekerja bagi Kerajaan-Nya? Bagaimanakah kita dapat menjadi lebih efektif dalam panggilan kita masing-masing untuk membawa orang-orang lain kepada Injil Yesus Kristus, agar mengenal Injil itu dan menyambut Yesus ke dalam hati mereka? Ada tiga unsur yang bersifat crucial, yaitu (1) doa; (2) pembacaan dan permenungan sabda Allah dalam Kitab Suci; dan (3) “Eksperimentasi”.

Yang pertama, dan inilah yang paling penting, adalah perlu adanya persekutuan (communio) dengan Allah (Tuan yang empunya tuaian; Mat 9:38) melalui doa. Dengan mempelajari hati Allah dalam doa, maka kita akan lebih lagi dipenuhi dengan kasih-Nya. Kemudian, kita pun akan mampu untuk lebih siap mengasihi orang-orang lain dengan kasih Allah.

Yang kedua, pentinglah untuk mempelajari sabda Allah dalam Kitab Suci. Di dalam Alkitab-lah kita belajar hikmat-kebijaksanaan Allah dan menjadi terilhami dengan pikiran-Nya, sehingga kita sungguh mengenal Pribadi yang akan kita perkenalkan kepada orang-orang lain itu.

Yang ketiga (terakhir), menemukan nilai dari “eksperimentasi” selagi kita melakukan evangelisasi kepada orang-orang lain dan melayani mereka. “Evangelisasi Baru” yang dicanangkan oleh Paus Yohanes Paulus II dimaksudkan agar kita kreatif dalam metode dan pelaksanaan evangelisasi itu. Kita harus mencoba hal-hal yang baru dan berbeda (tidak seperti biasanya). Dalam melakukan evangelisasi – seperti Yesus sendiri – kita harus berani mengambil risiko. Kita harus menaruh kepercayaan kepada Roh Kudus untuk menolong kita selagi kita berupaya membawa orang-orang lain kepada Yesus Kristus. Ingatlah bahwa Yesus senantiasa menyertai kita (Mat 28:20); Dia adalah Imanuel!  Ia akan memurnikan kita selagi kita mengikut Dia, sehingga Dia akan memperoleh banyak pekerja tuaian yang bekerja di ladang tuaian-Nya.

DOA: Bapa surgawi, Engkau adalah Tuhan yang empunya tuaian. Utuslah kami ke dalam dunia untuk menjadikan bangsa-bangsa murid-murid Putera-Mu, Yesus Kristus. Utuslah dan berdayakanlah kami oleh Roh Kudus-Mu agar dapat bekerja dengan penuh sukacita dan efektif bagi Kerajaan-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:32-38), bacalah tulisan yang berjudul “TUJUH ROH JAHAT YANG BARU” (bacaan tanggal 8-7-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-07 BACAAN HARIAN JULI 2014. 

Cilandak, 7 Juli 2014 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DIA ADALAH ALLAH YANG MAHAPENGASIH DAN MAHAPENGAMPUN

DIA ADALAH ALLAH YANG MAHAPENGASIH DAN MAHAPENGAMPUN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Senin, 7 Juli 2014)

hosea

Sebab itu, sesungguhnya, Aku ini akan membujuk dia, dan membawa dia ke padang gurun, dan berbicara menenangkan hatinya. Maka dia akan merelakan diri di sana seperti pada masa mudanya, seperti pada waktu dia berangkat keluar dari tanah Mesir. Maka pada waktu itu, demikianlah firman TUHAN (YHWH), engkau akan memanggil Aku: Suamiku, dan tidak lagi memanggil Aku: Baalku! Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam keadilan dan kebenaran, dalam kasih setia dan kasih sayang. Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam kesetiaan, sehingga engkau akan mengenal YHWH. (Hos 2:13.14b-15.18-19)

Mazmur Tanggapan: Mzm 145:2-9; Bacaan Injil: Mat 9:18-26

Krisis kepemimpinan di Israel membuat resah umat. Sebuah pemerintahan yang telah dibuat lemah oleh korupsi dan berbagai macam skandal semakin mengikis standar-standar moral yang ada. Dalam kebingungan dan kecemasan, orang-orang – baik muda maupun tua – mulai berpaling kepada agama-agama yang baru yang mampu memberikan jawaban instan terhadap kebutuhan-kebutuhan mereka. Rakyat pada umumnya sibuk mengurusi kepentingan mereka masing-masing. Bahkan para pemimpin agama pun kelihatannya melakukan berbagai kompromi demi keuntungan pribadi. Inilah Israel yang dilihat oleh nabi Hosea sekitar tahun 750 SM.

Hosea menyaksikan kemerosotan yang cepat dari suku-suku di kerajaan utara yang tidak berhubungan baik dengan kerajaan Yehuda dari Daud di bagian selatan. Setelah melupakan Yerusalem, banyak orang mulai menyembah Baal, dewa lokal dari sekte-sekte orang Kanaan. Isteri Hosea sendiri adalah seorang pezinah, bahkan di depan mata suaminya sendiri. Hosea melihat hidup pribadinya hancur-berantakan oleh karena ketidaksetiaan istrinya, sebagaimana Israel menjadi berantakan melalui ketidaksetiaan kepada YHWH.

images (26)Perwahyuan yang diberikan kepada umat Allah melalui nabi Hosea membandingkan Israel dengan isterinya yang tidak setia itu. Sangat menyedihkan memang, juga bagi kita sekarang, karena banyak hal yang terjadi pada zaman Hosea juga masih ada pada zaman kita sekarang, bahkan dapat dikatakan lebih parah lagi. Tidak sedikit orang-orang zaman sekarang juga menyembah ‘baal-baal’; misalnya mereka diperbudak oleh kultus penumpukan kekayaan atau gelar-gelar akademis sebanyak mungkin, tanpa pernah merasa puas. Banyak orang membuang hubungan jangka panjang suami-istri dan kemudian mencari kesempatan untuk affair-affair baru yang romantis-penuh-dusta. Bukankah ini juga “baal” berupa kenikmatan seksual? Banyak orangtua juga mengorbankan pemeliharaan anak mereka secara normal demi “terbang-pesat” mencapai karir terhormat di mata dunia; kalau otak tidak cukup memadai, santet-pun dihalalkan. Jadi, karir pun dapat menjadi “baal” bagi kita yang tidak waspada dan tidak berjalan seturut bimbingan Roh-Nya. Ada banyak lagi “baal-baal” lainnya dalam kehidupan kita.

Akan tetapi, betapa pun tidak-setianya Israel kepada YHWH, Dia terus mendekatkan diri-Nya kepada umat dengan bela-rasa yang lemah lembut dan penuh pengampunan. Sebenarnya Dia  mempunyai hak untuk menceraikan diri-Nya dari kita, namun Ia tidak melakukan hal itu. Dia adalah Allah yang Mahapengasih dan Mahapengampun. Ia akan memimpin kita ke ‘padang gurun’ kesukaran dan ketiadaan-harapan, namun selalu dengan tujuan untuk menyembuhkan kita. Sebagaimana telah diberitahukan kepadanya oleh YHWH, bagi Hosea, ‘padang gurun’ adalah kelaparan dan serbuan serta pendudukan oleh bangsa asing yang akan terjadi atas bangsa Israel, seandainya mereka tidak melakukan pertobatan.

Sebagaimana halnya pada zaman Hosea, kita juga harus melakukan pertobatan: Meninggalkan kedosaan kita dan berbalik mencari Tuhan Allah …… metanoia! Betapa pun “hebat” dan mendalamnya ketidaksetiaan kita kepada-Nya, YHWH tidak pernah kehilangan cintakasih-Nya kepada umat pilihan-Nya. YHWH berjanji kepada Israel: “Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam keadilan dan kebenaran, dalam kasih setia dan kasih sayang. Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam kesetiaan, sehingga engkau akan mengenal YHWH” (Hos 2:18-19). Gereja (anda dan saya) adalah Israel yang baru. YHWH Allah, juga memanggil kita dengan lemah lembut untuk mengikut Dia, dan Ia juga berjanji dengan meyakinkan, bahwa kita akan menemukan kepenuhan dan sukacita karena mengenal Dia. Melalui ketaatan kita, kita dapat mengalami cintakasih dari Allah yang akan menyegarkan jiwa kita dan menegakkan martabat kita sebagai anak-anak-Nya. Cintakasih-Nya inilah yang akan membebaskan kita dari ilah-ilah  atau baal-baal kekayaan dan pengejaran karir dll. yang sempat memperbudak para pengikut berhala-berhala ini.

DOA: Bapa surgawi, kami adalah anak-anak-Mu. Tariklah kami kembali kepada-Mu, agar kami dapat mengenal-Mu secara lebih akrab lagi seperti anak-anak yang sungguh mengenal ayah mereka. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:18-26), bacalah tulisan yang  berjudul “IMANMU TELAH MENYELAMATKAN ENGKAU” (bacaan tanggal 7-7-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-07 BACAAN HARIAN JULI 2014. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 5-7-10 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 6 Juli 2014 [HARI MINGGU BIASA XIV] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

GANDAR YANG KUPASANG ITU MENYENANGKAN DAN BEBAN-KU PUN RINGAN

GANDAR YANG KUPASANG ITU MENYENANGKAN DAN BEBAN-KU PUN RINGAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI  MINGGU BIASA XIV – 6 Juli 2014)

GANDAR ATAU KUK - MAT 11 25-30Pada waktu itu berkatalah Yesus, “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.

Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah gandar yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab gandar yang Kupasang itu menyenangkan dan beban-Ku pun ringan. (Mat 11:25-30)

Bacaan Pertama: Za 9:9-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:1-2,8-11,13-14; Bacaan Kedua: Rm 8:9,11-13 

Kata-kata Yesus dalam bacaan Injil hari ini kelihatannya cocok dengan “mentalitas kehidupan” kita. Apa maksudnya? Kita senang dengan yang ringan-ringan, bukan? Ada bir ringan, ada rokok yang ringan dan tentunya ada pula pendekatan ringan dalam hal spiritualitas. Dalam pertemuan pendalaman Kitab Suci hampir selalu ada peserta yang berbisik atau setengah berbisik kepada sang pemandu sebelum acara dimulai: “Yang ringan-ringan aja, ya Pak! Kita semua kan orang-orang biasa saja …… orang awam!” Kita memang kelihatannya tidak mau terlibat dalam diskusi tentang hal-hal rohani yang terasa berat, misalnya pembicaraan mengenai dosa, pertobatan dan pengadilan terakhir dan kata-kata Yesus yang keras lainnya. Yang ringan-ringan sajalah!

Dengan mentalitas seperti ini, betapa senangnya hati kita ketika mendengar sabda Yesus dalam bacaan Injil hari ini:“Jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab gandar yang Kupasang itu menyenangkan dan beban-Ku pun ringan” (Mat 11:29-30). Kita mempersepsikannya sebagai “spiritualitas ringan” yang tidak akan terlalu berat membebani diri kita. Bukankah itu yang ada dalam pikiran Yesus? Bukankah Yesus juga tidak ingin kehilangan pengikut? Salah semua!

YESUS BERODA DI TEMPAT SUNYIPopularitas tidak ada dalam kamus Yesus. Ia tidak mengenal politik pencitraan diri. Perjalanan keliling-Nya di Galilea dan tempat-tempat lain di tanah Israel pada waktu itu  adalah untuk mewartakan Kerajaan Surga dan menyerukan pertobatan, sama sekali bukan untuk menebar pesona. Humas jauh dari pikiran Yesus ketika Dia mengatakan kepada orang banyak untuk makan daging-Nya dan minum darah-Nya (baca Yoh 6:32-59; khususnya 6:56). Bahkan para murid-Nya pun harus membuat keputusan. Yesus ingin mengetahui apakah mereka pun akan meninggalkan-Nya (lihat Yoh 6:60-66; khususnya 6:66). Yesus tidak pernah memaksa orang-orang untuk mengikut-Nya, namun di sisi lain Ia juga tidak mau ajaran-Nya dikompromikan. Yesus tidak bergerak di bidang bisnis untuk menyenangkan orang banyak. Nah, kalau begitu halnya, apa yang dimaksudkan oleh-Nya ketika Dia berkata: “Gandar yang Kupasang itu menyenangkan dan beban-Ku pun ringan” (Mat 11:30)?

Sebelum kalimat ini, Yesus mengindikasikan bahwa kehidupan manusia itu dapat membuat orang menjadi letih lesu dan berbeban berat, dapat sangat menggerus semangat hidup kita. Kadang-kadang kehidupan kita dapat membuat kita terhempas tanpa sukacita. Satu hari hidup seorang ibu rumah tangga muda dapat terdiri dari sebuah rentetan tuntutan tanpa henti – baik tuntutan besar maupun kecil -,  menyiapkan sarapan bagi keluarga, mengantar anak ke sekolah, pergi ke pasar dst. Rutinitas sehari-hari sungguh dapat menghilangkan semangat kita. Pada akhir hari, dengan mudah kita dapat merasa lebih sebagai objek yang diombang-ambingkan oleh berbagai unsur eksternal, bukan sebagai subjek yang memegang kendali.

Beban-beban kehidupan dapat datang secara besar-besaran dan berlangsung lama. Kita dapat menderita karena penyakit mematikan yang menimpa salah seorang anggota keluarga kita. Kita dapat merasa tidak diterima dan tidak dicintai oleh orang-orang lain. Barangkali juga kita sedang bergumul dengan sebuah masalah spiritual dan kita merasa sumber-sumber daya yang kita miliki tidak memadai. Kehilangan semangat itu mudah, dan depresi adalah kawan tetap kita. Barangkali kita masih serba kekurangan dalam hal kebutuhan-kebutuhan mendasar. Rumah sendiri masih belum punya (masih kontrakan) dst. Kehidupan ini sungguh mempunyai kekuatan untuk mematahkan, bahkan menghancurkan kita semua. Pertanyaannya sekarang adalah: “Bagaimana kita dapat tetap kuat?” “Bagaimana kita dapat bertahan, apabila kita menyerah dengan begitu mudah?”

MARILAH DATANG KEPADAKUYesus memberikan solusinya kepada kita: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Mat 11:28). Jadi, solusi atas beratnya segala beban kehidupan sehari-hari kita adalah “lebih dekat berjalan dengan Yesus”. Persekutuan dengan Yesus memberdayakan kita untuk menghadapi hari ini, esok dan masa depan. Kasih akan meringankan beban-beban kehidupan kita. Tanpa kasih, setiap onggokan tanah yang dibuat tikus akan kita lihat sebagai sebuah gunung tinggi; setiap ketidaknyamanan kita pandang sebagai suatu penderitaan besar; dan semua masalah kita tetaplah menjadi masalah. Sebaliknya, dengan kasih kita dapat penuh keyakinan menghadapi segala masalah dalam hidup ini. Santo Paulus menulis: “Kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah tinggal di dalam kamu” (Rm 8:9). Berdiamnya Roh Kudus dalam diri kita melalui pembaptisan, membuat kata-kata nabi Zakharia menjadi kata-kata kita sendiri: “Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem!” (Za 9:9). 

Datang kepada Yesus dengan gandar-Nya yang menyenangkan dan beban-Nya yang ringan, janganlah sampai disalah-artikan. Yesus tidak menawarkan kepada kita semacam “karcis bebas masuk” atau suatu pengecualian agar lepas dari beban-beban kehidupan. Yesus datang untuk mewartakan Kabar Baik dan bukan dongeng anak-anak. Ia tidak membuang semua beban dan salib dari kita secara “ajaib” a la tukang sulap. Yang dilakukan Yesus adalah menjanjikan bahwa Dia akan menjadi “kawan seperjalanan dan sependeritaan kita; seseorang yang memahami masalah kita”. Apabila kita menerima Dia,  maka kita pun ditransformasikan oleh kasih dan rahmat-Nya. Pada kenyataannya, Yesus dengan jelas menjanjikan bahwa mereka yang menerima tantangan untuk mengikut-Nya dapat mengharapkan banyak salib, pengejaran, penolakan dan bahkan penganiayaan. Akan tetapi, yang lebih penting adalah bahwa bagi mereka yang tetap setia kepada Yesus Kristus, masih ada pengharapan akan kehidupan kekal dan sukacita abadi.

DOA: Yesus, pada hari ini kami berketetapan hati untuk memegang janji-Mu. Kami memang letih lesu dan berbeban berat dalam menjalani hidup kami sehari-hari. Perkenankanlah kami memperoleh damai sejahtera-Mu dengan mengikuti jejak-Mu, ya Tuhan dan Juruselamat kami. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil pada hari ini (Mat 11:25-30), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MENGUNDANG KITA UNTUK DATANG KEPADA-NYA” (bacaan tanggal 6-7-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-07 BACAAN HARIAN JULI 2014. 

Cilandak, 5 Juli 2014 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 84 other followers