TETAPI AKU BERKATA KEPADAMU ……

TETAPI AKU BERKATA KEPADAMU ……

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Antonius dr Padua, Imam Pujangga Gereja – Senin, 13 Juni 2016)

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta S. Antonius dr Padua, Imam Pujangga Gereja

jm_200_NT1.pd-P13.tiff

Kamu telah mendengar yang difirmankan, Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari kamu. (Mat 5:38-42) 

Bacaan Pertama: 1Raj 21:1-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 5:2-3,5-7

Dalam “Khotbah di Bukit”, Yesus mendesak kita untuk mengasihi musuh-musuh kita. Hal ini merupakan suatu “kejutan” yang lengkap selengkap-lengkapnya karena secara total bertentangan dengan dengan “Hukum Pembalasan” yang terdapat dalam Perjanjian Lama (lihat Kel 21:24; Im 24:20: Ul 19:21). Hukum kasih yang diajarkan Yesus ini seharusnya menjadi stempel kita, umat Kristiani.

Beberapa upaya pernah dilakukan untuk menafsirkan ayat Perjanjian Lama ini seakan hanya diberlakukan pada “si Jahat” atau “hal-hal yang jahat” saja, bukannya kepada manusia yang mendzolimi kita. Namun kata-kata Yesus sangatlah jelas. Ia memberikan empat macam peristiwa sebagai contoh bagaimana orang-orang dapat menyakiti kita. Pertama-tama lewat kekerasan secara fisik. Dalam hal ini Yesus mengajar kita untuk tidak membalas, melainkan menanggungnya (Mat 5:39). Kedua, Yesus memberi contoh berkaitan tentang tindakan di bidang hukum: “Kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu” (Mat 5:40). Di mata orang Yahudi, “jubah” mempunyai makna yang sangat penting, yaitu “dirinya sendiri” (lihat Kel 22:26). Lihat pula apa yang dilakukan oleh Bartimeus yang buta ketika para murid Yesus memanggilnya untuk bertemu Yesus: dia melemparkan jubahnya! (Mrk 10:50). Seseorang harus meninggalkan “dirinya sendiri” (egonya dll.) ketika memutuskan untuk menghadap Yesus. Di sini (Mat 5:40) Yesus mengajarkan kepada kita untuk tidak hanya memberikan apa yang secara ilegal telah diambil dari kita, akan tetapi bahkan juga memberikan lebih lagi, yaitu diri kita sendiri, sikap pasrah … ikhlas. Ketiga, dalam hal paksa-memaksa (misalnya dalam hal pekerja paksa): “Siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil” (Mat 5:41). Ajaran Yesus ini kemudian dipakai dalam dunia bisnis: WALKING THE EXTRA MILE  adalah salah satu butir panduan mendasar dalam melakukan adhi-layanan kepada para pelanggan di service industry, misalnya industri perbankan, asuransi dll.). Akhirnya, yang keempat: Yesus mengajarkan bahwa dalam situasi yang masih memungkinkan, janganlah kita menolak orang yang mohon bantuan dan mau meminjam dari kita, apakah kawan ataupun lawan.

Yesus kemudian menjelaskan mengapa “mengasihi musuh-musuh kita” begitu penting. Ia mengatakan, bahwa ini adalah bukti bahwa kita adalah “anak-anak Bapa surgawi, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (Mat 5:45).

Kita harus mengakui bahwa ajaran Yesus dalam bacaan Injil hari ini sungguh merupakan ajaran keras! Namuuuuuuun, hal ini tidak berarti bahwa perintah Yesus ini harus kita abaikan. Apalagi, Yesus sendiri tidak menghindar dari hal seperti ini. Yesus telah menunjukkan bahwa pengampunan yang bersifat radikal tetap mungkin untuk dilakukan. Yesus menunjukkan contoh bagaimana mencapainya, yaitu dengan kasih. Kasihlah yang senantiasa mendorong serta menguatkan Yesus untuk tanpa lelah mewartakan Kerajaan Allah. Kasih juga yang memungkinkan diri-Nya untuk mengampuni, bahkan ketika Dia tergantung pada kayu salib (lihat Luk 23:34). Dan apabila kita memutuskan untuk menerima ajaran keras-Nya, kasih Kristus yang bekerja dalam diri kita akan menolong kita untuk mempraktekkannya juga.

Mengasihi para teman dan sahabat kita, mereka yang bersikap dan memperlakukan kita dengan baik adalah hal yang sangat mudah. Hal tersebut tidak membuktikan apa pun perihal sikap dan perilaku Kristiani kita. Orang-orang yang tidak mengenal Allah juga melakukannya (Mat 5:47). Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita, tidak mengatakan bahwa mengasihi orang-orang yang baik kepada kita bukannya merupakan cintakasih yang sejati. Namun Ia mau mau menandaskan bahwa bukti riil dari cintakasih yang sejati adalah jikalau kita mengasihi dengan setulus-tulusnya mereka yang menyakiti kita, mereka yang tidak menghargai kita dlsb. Di sinilah kita memberi kesaksian bahwa cintakasih kita didasarkan secara kokoh pada kehendak Allah sendiri.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami agar dapat menjadi murid-murid-Mu yang sejati. Biarlah Roh Kudus-Mu membentuk diri kami agar dapat menjadi saksi-saksi hidup baru dari Kerajaan Allah. Terpujilah nama-Mu selalu! Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Mat 5:38-42), bacalah tulisan yang berjudul “BUKTI BAHWA KITA BENAR-BENAR ANAK BAPA SURGAWI” (bacaan tanggal 13-6-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2016.

(Tulisan adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 15-6-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 11 Juni 2016 [Peringatan S. Barnabas, Rasul] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HANYA DIALAH YANG PANTAS MENGHAKIMI

HANYA DIALAH YANG PANTAS MENGHAKIMI

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XI [Tahun C] – 12 Juni 2016)

ANNOINTING THE FEET OF JESUS - 002

Seorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan dengannya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan. Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu mendengar bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah botol pualam berisi minyak wangi. Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus di dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu. Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya. “Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menyentuh-Nya ini; tentu Ia tahu bahwa perempuan itu seorang berdosa. Lalu Yesus berkata kepadanya, “Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu.” Sahut Simon, “Katakanlah, Guru.”

“Ada dua orang yang berhutang kepada seorang yang membungakan uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan lebih mengasihi dia?” Jawab Simon, “Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya.” Kata Yesus kepadanya. “Betul pendapatmu itu.” Sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon, “Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasuhi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tidak henti-hentinya mencium kaki-Ku. Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi. Karena itu, Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak mengasihi. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia mengasihi.” Lalu Ia berkata kepada perempuan itu, “Dosamu telah diampuni.” Orang-orang yang duduk makan bersama Dia, berpikir dalam hati mereka, “Siapakah Ia ini, sehingga Ia dapat mengampuni dosa-dosa?” Tetapi Yesus berkata kepada perempuan itu, “Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan damai!”

Tidak lama sesudah itu Yesus berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Allah. Kedua belas murid-Nya bersama-sama dengan Dia, dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat dan berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana istri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan harta milik mereka. (Luk 7:36-8:3) 

Bacaan Pertama: 2Sam 12:7-10,13; Mazmur Tanggapan: Mzm 32:1-2,5,7,11; Bacaan Kedua: Gal 2:16,19-21

Dalam Injilnya, Lukas menceritakan Yesus yang suka makan bersama di rumah orang yang berbeda-beda, paling sedikit sebanyak tujuh kali. Ada makan-makan di rumah Matius (Lewi) bersama-sama para pemungut cukai; menginap di Yerikho di rumah Zakheus, sekali-sekali makan dengan Maria dan Marta di Betania, dst. Pada bacaan Injil hari ini diceritakan bahwa Yesus diundang makan di rumah seorang Farisi yang bernama Simon. Tidak ada catatan mengenai makanan yang disajikan dalam perjamuan-perjamuan ini, karena fokusnya adalah apa yang terjadi antara Yesus dan tuan rumah yang mengundang-Nya.

ANNOINTING THE FEET OF JESUSPerjamuan makan kali ini mengambil tempat  di Galilea. Kelihatannya Simon si Farisi mempunyai beberapa pertanyaan yang akan ditujukannya kepada Yesus, maka dia mengundang Yesus untuk makan di rumahnya, cukup jauh dari kerumunan orang banyak. Namun  sikap bersahabat dari Simon ternyata cetek-cetek saja …… superfisial! Ini kelihatan jelas dalam hospitalitas dan kesopan-santunannya terhadap Yesus, sang tamu yang diundangnya. Sampai hari ini masih berlaku aturan di Timur Tengah bahwa seorang tamu harus dilayani dengan cara yang paling baik. Bilamana persahabatan itu jujur, maka orang tidak perlu gelisah atau merasa susah tentang hal ini karena semua itu akan datang dengan sendirinya …… secara alamiah. Simon kelihatannya lebih berprihatin terhadap dirinya sendiri daripada terhadap Yesus.

Tanpa ada peringatan atau pengumuman sebelumnya, seorang perempuan tanpa nama dengan reputasi buruk memasuki rumah Simon dan duduk di dekat Yesus. Etiket yang berlaku tidak memperbolehkan Simon untuk mengusir perempuan itu. Demikian pula dengan Yesus, karena perempuan itu telah membawa sebuah hadiah bagi-Nya berupa minyak narwastu mahal dan meminyaki kaki Yesus. Perempuan itu menjadi begitu emosional dalam kehadiran Yesus, sehingga airmatanya berjatuhan di atas kaki Yesus. Dengan hati-hati perempuan itu menyeka air matanya dengan rambutnya dan mencium kaki Yesus. Semua yang terjadi secara tidak seperti biasanya itu menunjukkan afeksi sejati dari si perempuan, suatu ekspresi kasih penuh syukur yang ditujukannya kepada Yesus – berbeda sekali dengan apa yang dapat kita katakan tentang Simon si tuan rumah.

Kita tidak tahu apakah perempuan ini seorang PSK lokal atau hanya seorang perempuan miskin yang berasal dari keluarga miskin, atau bahkan apa sebabnya mengapa dia sampai begitu berterima kasih kepada Yesus dengan rasa penuh syukur. Barangkali Yesus telah membantu perempuan itu dengan pemberian nasihat yang tepat waktu dan tepat sasaran, atau memberikan berkat penuh pengampunan kepadanya. Dalam kerahasiaan pikirannya sendiri, Simon memandang rendah, baik perempuan itu maupun Yesus. Perempuan itu dicapnya sebagai seorang pendosa dan Yesus sebagai seorang nabi palsu. Akan tetapi, Simon secara otomatis menuduh dirinya sendiri – karena begitu dia menuduh Yesus sebagai seorang nabi abal-abal, Tuhan Yesus telah membaca pikiran si Simon yang tidak jernih itu. Kalau saja pikiran si Simon itu lebih positif, maka Yesus akan memberikan penilaian yang lebih baik atas dirinya. Perumpamaan kecil yang dikemukakan oleh Yesus menempatkan diri Simon dalam posisi defensif. Ia harus menerima bahwa dirinya adalah seorang pendosa yang tidak mau mengampuni orang lain. Simon hanya memberikan sepersepuluh dari kasih yang diberikan oleh perempuan itu, dengan demikian hanya menerima sepersepuluh dari pengampunan.

Saudari-Saudara yang dikasihi Kristus, marilah kita (anda dan saya) berhati-hati dalam menghakimi “orang-orang berdosa” dalam lingkungan kita yang kita katakan mereka pasti dihukum oleh Allah. Kita semua menderita penyakit “Simonitis” – yang dapat dikenali lewat gembar-gembor penuh “khidmat” tentang penghakiman Allah sambil mengacung-acungkan Kitab Suci, membuat daftar panjang nama-nama para pendosa di dunia, dan dengan suara nyaring menyatakan dan memuji-muji kebenaran kita. Ingatlah, bahwa karena kita telah banyak diampuni, maka dari kita juga diharapkan kasih yang sepuluh kali lipat banyaknya. Apakah Yesus akan disambut dengan penuh hormat dalam rumah kita masing-masing? Dapatkah Yesus merasa rileks dan penuh damai bila diam dalam hati kita masing-masing?

DOA: Tuhan Yesus, nanti apabila aku ingin menghakimi orang lain, perkenankanlah aku mengingat siapa yang sesungguhnya sedang dicoba – orang itu atau aku sendiri – dan Siapakah Dia, sang Hakim yang benar, pantas dan mahatahu, dan hanya Dialah yang pantas menghakimi. Tuhan Yesus, kasihanilah aku orang berdosa ini! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 7:36-8:3), bacalah tulisan yang berjudul “PANTASKAH KITA MENGHAKIMI SEPERTI SIMON?” (bacaan tanggal 12-6-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-06 BACAAN HARIAN JUNI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 16-6-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 10 Juni 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BARNABAS: SEORANG PEWARTA INJIL YANG BERBUAH

BARNABAS: SEORANG PEWARTA INJIL YANG BERBUAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, PERINGATAN SANTO BARNABAS, RASUL – Sabtu, 11 Juni 2016)

KFS: HARI RAYA S. BARNABAS, RASUL – HARI JADI KONGREGASI

12 RASUL DIUTUS - MAT 10 5-15Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; sembuhkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.

Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu. Janganlah kamu membawa kantong perbekalan dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat nafkahnya. Apabila kamu masuk kota atau desa, carilah di situ seorang yang layak dan tinggallah padanya sampai kamu berangkat. Apabila kamu masuk rumah orang, berilah salam kepada mereka. Jika mereka layak menerimanya, salammu itu turun ke atasnya, jika tidak, salammu itu kembali kepadamu.” (Mat 10:7-13) 

Bacaan Pertama: Kis 11:21b-26;13:1-3; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:2-6 

Injil Matius bukanlah bermaksud menjadi catatan sejarah mengenai peristiwa-peristiwa yang terlah terjadi dan kemudian memberikan tafsir teologis atas peristiwa-peristiwa itu. Penulis Injil Matius memberikan panduan kepada komunitasnya (jemaatnya) dan komunitas-komunitas Kristiani yang lain tentang implikasi dari pemuridan/kemuridan (Inggris: discipleship). Selagi Matius mengingat-ingat berbagai instruksi Yesus kepada 12 orang murid-Nya ketika Dia mengutus mereka dalam perjalanan misioner mereka yang pertama, dia (Matius) sepenuhnya sadar akan “amanat agung” yang berlaku untuk semua umat Kristiani: “… pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku” (Mat 28:19).  Misi yang diberikan oleh Yesus kepada para murid-Nya yang awal bersifat unik, namun sebagai orang-orang Kristiani yang telah dibaptis kita ikut ambil bagian dalam misi tersebut, sebagai peserta dalam amanat agung-Nya.

Apakah sebagian dari berbagai implikasi kemuridan dalam mewartakan Kabar Baik-Nya? Apa yang semestinya menjadi sikap hati dari keduabelas murid pada waktu itu? Untuk percaya dengan penuh keyakinan akan kuasa Injil untuk mengubah hati, untuk menyembuhkan, untuk memurnikan dan membersihkan (Mat 10:8). Tentunya terdapat unsur mendesak, urgency, berkaitan dengan misi ini. Hal ini tidak dapat ditunda-tunda sampai saat tibanya “logistik yang serba mencukupi” (lihat Mat 10:9-10). Tidak ada sesuatu pun yang boleh diperkenankan untuk mengacaukan fokus mereka terhadap misi mereka. Hidup apa adanya, bukan mengambil keuntungan, seharusnya menjadi ekspektasi mereka. Pewartaan Injil Yesus Kristus tidak pernah boleh dijadikan sebagai sebuah proyek bisnis. Apabila ditolak, sikap yang mereka ambil bukanlah mengutuk atau melampiaskan hasrat untuk membalas dendam; maka yang harus dilakukan bersifat simbolis, yaitu mengebaskan debu dari kaki mereka (Mat 10:14).

Jelaslah dari kata-kata yang diucapkan Yesus bahwa ke dua belas rasul itu harus memiliki sikap pribadi yang menggantungkan diri sepenuhnya pada Allah dan kebaikan-Nya dan kemurahan-hati-Nya. Sikap sedemikian mengakui Allah sebagai “seorang” Bapa yang penuh kasih dan Bapa pribadi yang dengan setia akan menyediakan segala sesuatu yang diperlukan oleh umat-Nya dan tidak pernah akan meninggalkan mereka. “Seorang” Bapa yang pengasih seperti itu akan menopang kita juga.

This is a reproduction of an icon of the apostle Barnabas, created by Father Gabriel, who is the abbot of the monastery of the apostle Barnabus in Cyprus, and given to Messiah College professor Dr. Michael Cosby. Cosby traveled to Cyprus in 2011 on a Fulbright Grant to conduct research on the apostle Barnabus. DAILY RECORD/SUNDAY NEWS - CHRIS DUNN

This is a reproduction of an icon of the apostle Barnabas, created by Father Gabriel, who is the abbot of the monastery of the apostle Barnabus in Cyprus, and given to Messiah College professor Dr. Michael Cosby. Cosby traveled to Cyprus in 2011 on a Fulbright Grant to conduct research on the apostle Barnabus. DAILY RECORD/SUNDAY NEWS – CHRIS DUNN

Betapa berbedanya sikap ini dari sikap yang dimiliki banyak dari kita. Kita sering bertindak seakan Allah itu kikir, suka menggerutu atas sikap tak berterima kasih yang sering ditunjukkan oleh anak-anak-Nya walaupun Ia mengasihi kita. Juga seakan Ia tidak begitu mempedulikan kita. Mind-set seperti ini mempengaruhi dan membatasi kuasa dari pesan Injil yang kita wartakan. Kita hanya dapat memiliki hati misioner sejati apabila kita menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada Allah dan yakin seyakin-yakinnya akan kemurahan-hati dan kesetiaan-Nya.

Pada hari ini Gereja memperingati Santo Barnabas, Rasul, mitra kerja Santo Paulus, dua orang pewarta besar dalam sejarah Gereja, teristimewa pada masa Gereja Perdana. Dua orang pewarta besar tersebut melaksanakan Amanat Agung dari Kristus di atas dengan setia, taat dan penuh keberanian. Jerih payah mereka sangat berbuah, sebagaimana dapat kita lihat dalam sejarah Gereja yang sudah berumur 2.000 tahun ini. Penjelasan lebih lengkap tentang orang kudus ini dapat dilihat dalam Bacaan Kedua (Kis 11:21b-26;13:1-3). 

DOA: Bapa surgawi, Allah yang Mahakasih, kuduslah nama-Mu. Kami menyadari bahwa Engkau setia dan senantiasa memegang janji-janji-Mu kepada kami. Kami mengkomit diri kami sendiri untuk menghayati hidup Injili dan melakukan tugas pewartaan keselamatan melalui Putera-Mu terkasih Tuhan Yesus Kristus serta pengudusan melalui Roh Kudus yang berdiam dalam diri kami masing-masing. Jagalah agar kami senantiasa setia pada janji kami sebagaimana Engkau senantiasa setia pada janji-Mu. Amin.  

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 11:21b-26; 13:1-3), bacalah tulisan yang berjudul “SEORANG PEWARTA INJIL DI MASA AWAL GEREJA YANG TIDAK BOLEH KITA LUPAKAN” (bacaan tanggal 11-6-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-06 BACAAN HARIAN JUNI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-6-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 10 Juni 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DI DALAM HATI

DI DALAM HATI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa X – Jumat, 10 Juni 2016)

 

jm_200_NT1.pd-P13.tiff

“Kamu telah mendengar yang difirmankan: Jangan berzina. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzina dengan dia di dalam hatinya. Jika matamu yang kanan menyebabkan engkau berdosa, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, daripada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. Jika tanganmu yang kanan menyebabkan engkau berdosa, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa daripada tubuhmu dengan utuh masuk neraka.

Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan istrinya harus memberi surat cerai kepadanya. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan istrinya kecuali karena zina, ia menjadikan istrinya berzina; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berzina.”  (Mat 5:27-32) 

Bacaan Pertama: 1 Raj 19:9a,11-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:7-9,13-14

Di banyak bagian dari kitab-kitab Injil kita dapat melihat bagaimana Yesus menyerang dengan keras segala macam kemunafikan, persoalan bersih di luar tetapi korup di dalam. Dengan pikiran-Nya yang mampu melakukan discernment dengan tajam, dan pemahaman-Nya yang mendalam tentang psikologi manusia, Yesus selalu mampu melihat inti permasalahan. Ia langsung menuju ke pusat dan penyebab kesusahan-kesusahan kita.

Dalam bacaan Injil hari ini Yesus bersabda, “Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzina dengan dia di dalam hatinya” (Mat 5:28). Jadi, di mana hati kita, itulah yang harus diperhitungkan!

Pada awalnya kelihatan bahwa orang-orang Farisi itu tidak tahu bagaimana menanggapi pernyataan Yesus di atas. Namun Yesus tidak dapat ditipu, Dia memahami benar sikap orang-orang munafik itu. Orang-orang Farisi tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan pikiran mereka secara terbuka, dengan demikian mencoba menutupi rasa iri-cemburu dan kebencian mereka. Dalam peristiwa orang lumpuh yang disembuhkan (Mrk 2:1-12), Yesus berkata kepada orang lumpuh itu, “Hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni!! Beberapa ahli Taurat (biasanya sebagian terdiri orang-orang  Farisi juga) berpikir dalam hati, mengapa Yesus berkata begitu karena berarti Dia menghujat Allah. Prinsip           yang mereka anut adalah, bahwa tidak ada seorang pun dapat mengampuni dosa manusia selain Allah sendiri. Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya bahwa mereka berpikir demikian, lalu Dia berkata kepada mereka, “Mengapa kamu berpikir begitu  dalam hatimu?” (Mrk 2: 5-8).

Pada suatu peristiwa orang-orang Farisi menyuruh murid-murid mereka untuk bersama-sama para pendukung Herodes berkata kepada Yesus, “Guru, kami tahu, Engkau seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” (Mat 22:16-17). Sungguh sebuah pertanyaan jebakan yang bersumber pada hati yang jahat dan dapat menjerumuskan Yesus. Namun Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu, lalu berkata, “Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik?” (Mat 22:18).

Peristiwa lainnya adalah berkaitan dengan orang-orang Farisi yang mengkritisi bahwa para murid-Nya melanggar adat istiadat nenek moyang mereka, dalam hal ini membasuh tangan sebelum makan. Di sini Yesus berkata kepada mereka dengan mengutip kata-kata nubuatan nabi Yesaya yang a.l. berbunyi: “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya padahal hatinya jauh dari Aku” (Mat 15:8; bdk. Yes 29:13). Kemudian Yesus berkata kepada orang banyak: “Dengar dan perhatikanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itu yang menajiskan orang” (Mat 15:11). Yesus melanjutkan: “Mereka (orang Farisi) orang buta yang menuntun orang buta. Jika orang buta menuntun orang buta, pasti keduanya jatuh ke dalam lubang” (Mat 15:14; bacalah penjelasan Yesus dalam Mat 15:20-21).

Dalam “Khotbah di Bukit”, Yesus mengatakan: “Kumpulkan bagimu harta di surga; di surga ngengat dan karat tidak merusaknya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya,.Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Mat 6:20-21). Jadi, dalam inti terdalam jati diri kita, kebaikan dan kebenaran kita sebagai manusia harus berdiam. Yesus ingin meyakinkan kita bahwa diri-Nya tidak dapat tertipu oleh berbagai sikap dan perilaku yang penuh dengan kemunafikan. Yesus melihat ke dalam hati kita dan Ia tahu motif-motif yang mendorong tindakan-tindakan kita. Kita tidak dapat menipu atau membodohi Dia dengan menciptakan alasan-alasan. Yesus berkata, “Jika matamu yang kanan menyebabkan engkau berdosa, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, daripada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka” (Mat 5:29). Dengan kata-kata keras ini, Yesus ingin mengatakan bahwa kita bertanggung-jawab atas apa yang ada dalam pikiran dan hati kita. Kita harus mencabut korupsi sampai kepada akar-akarnya yang terdalam, dan mengarahkan kehendak kita kepada hasrat murni akan Allah.

DOA: Tuhan Yesus, berikanlah kepadaku terang agar dapat mengetahui hatiku yang terdalam, sehingga aku dapat mengarahkannya kepada-Mu. Terpujilah nama-Mu, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:27-32), bacalah tulisan yang berjudul “VISI YESUS MENTRANSENDEN HURUF-HURUF HUKUM TAURAT” (bacaan tanggal 10-6-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-06 BACAAN HARIAN JUNI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-6-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 8 Juni 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MENYAMBUT ROH KUDUS KE DALAM HATI KITA

MENYAMBUT ROH KUDUS KE DALAM HATI KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa X – Kamis, 9 Juni 2016)

 1-sermon-on-the-mount-granger

Aku berkata kepadamu: Jika kamu tidak melakukan kehendak Allah melebihi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.

Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang mencaci maki saudaranya harus dihadapkan ke Mahkamah Agama, dan siapa yang berkata: Jahil! Harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.

Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu ini jangan menyerahkan engkau kepada pengawal dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai habis. (Mat 5:20-26) 

Bacaan Pertama: 1 Raj 18:41-46; Mazmur Tanggapan: Mzm 65:10-13 

“Jika kamu tidak melakukan kehendak Allah melebihi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga” (Mat 5:20).

Sungguh keras dan sulit dilaksanakan perintah Yesus ini. Siapakah yang setara dengan Petrus, Paulus dan para kudus lainnya sehingga dapat melaksanakan perintah ini? Tetapi, sebenarnya para kudus ini pun tidak pernah dapat melaksanakan perintah Yesus ini, jika mereka tidak mengandalkan pertolongan dari Roh Kudus. Santo dan Santa di masa lampau adalah orang-orang seperti kita juga. Mereka tidak memiliki kuasa dahsyat, namun mereka menjadi para pahlawan iman Kristiani melalui kesetiaan mereka kepada Allah dan karya transformasi-Nya. Allah harus melakukan karya kebenaran dalam diri mereka seperti juga yang dilakukan-Nya atas diri kita.

ROHHULKUDUSMarilah kita memusatkan perhatian kita kepada Petrus. Pada Perjamuan Terakhir Petrus berkata bahwa dia bersedia mati bagi Yesus, namun beberapa jam kemudian, dia menyangkal bahwa dirinya mengenal Yesus. Petrus itu keras kepala dan dia mempunyai ide-ide “hebat” bagaimana dia akan melayani Yesus. Namun apabila mengalami pencobaan, Petrus tidak dapat menindak-lanjuti dan mewujudkan ide-idenya tersebut karena semua itu sekadar niat-niat baiknya saja. Tidak ada kuat-kuasa di belakang semua idenya. Akan tetapi, setelah Roh Kudus dicurahkan dan berdiam dalam dirinya, Petrus pun mampu menjadi pewarta Kabar Baik Yesus Kristus yang hebat, bahkan kemudian mati untuk Yesus seperti yang dikatakannya pada Perjamuan Terakhir. Jadi, kita lihat di sini bahwa perubahan dalam diri Petrus bukanlah sebuah proses satu malam langsung jadi. Proses perubahan yang kita namakan conversio ini berjalan bertahun-tahun lamanya, dan selama itu Petrus terus-menerus mengatakan “Tidak” terhadap “daging” dan “Ya” kepada Roh Allah di dalam dirinya.

Situasi yang sama juga dihadapi oleh para kudus pada zaman-zaman setelah itu. Pada abad ke-16, Ignatius dari Loyola mendirikan komunitas Yesuit (Serikat Yesus), tetapi tidak sebelum dia berprofesi sebagai seorang perwira tentara yang muda dan idealistis, yang menyenangi pertempuran-pertempuran. Setelah menderita luka yang hampir melumpuhkan kakinya dan mengalami masa pemulihan kesehatannya yang lama, Allah pun menumbuhkan rasa lapar dalam diri Ignatius akan hal-hal surgawi. Fransiskus dari Assisi, Ignatius dari Loyola, Katarina dari Siena, Teresa dari Avila dlsb. – setiap orang kudus dalam sejarah adalah testimoni dari kemampuan Allah untuk melakukan transformasi atas diri orang-orang, bahkan mereka yang keras kepala, menikmati kenyamanan hidup, untuk kemudian menjadi abdi-abdi Kristus yang penuh sukacita.

Saudari dan Saudaraku. Marilah kita bersukacita bahwa kita memiliki kuat-kuasa Allah yang bekerja dalam diri kita, yang mampu melakukan hal-hal yang jauh lebih besar daripada yang dapat kita minta dalam doa atau pikirkan/bayangkan (lihat Ef 3:20). Sesungguhnya, kita masing-masing dapat menjadi seperti orang-orang kudus, bahkan yang paling besar dari mereka. Oleh karena itu, marilah kita menyambut Roh Kudus ke dalam hati kita sehingga dengan demikian kita dapat ditransformasikan dari hari ke hari dan belajar untuk menyerahkan diri kita kepada Allah dan Sabda-Nya.

DOA: Roh Kudus Allah, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau sudi berdiam dalam diriku. Terima kasih untuk kehadiran-Mu bagi diriku, sehingga aku benar-benar dapat mengandalkan Engkau untuk kekuatan dan rahmat-Mu agar dapat tetap setia sebagai seorang murid Yesus. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:20-26),  bacalah tulisan yang berjudul “AMPUNILAH DAN BERDAMAILAH” (bacaan tanggal 9-6-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com kategori: 16-06 BACAAN HARIAN JUNI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-6-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  7 Juni 2016   

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

AGAR TAURAT MENJADI BERBUAH

AGAR TAURAT MENJADI BERBUAH

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan Biasa X – Rabu, 8 Juni 2016)

Fransiskan Kapusin (OFMCap.): Peringatan B. Nikolaus Gesturi, Imam Biarawan 

KHOTBAH DI BUKIT - 501“Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu huruf kecil atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat,  sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Surga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkannya, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Surga. (Mat 5:17-19) 

Bacaan Pertama: 1 Raj 18:20-39; Mazmur Tanggapan: Mzm 16:1-2,4-5,8,11 

Taurat (Hukum atau Instruksi) adalah lima kitab pertama yang terdapat dalam Perjanjian Lama. Orang Yahudi mengakui Taurat sebagai perwahyuan Allah. Taurat mengungkapkan pikiran-pikiran Allah yang intim mengenai diri-Nya sendiri dan mengenai jalan hidup suci yang ditawarkan-Nya kepada umat-Nya. Pada zaman lampau, apabila para rabi Yahudi ditanya: “Apakah yang dilakukan Allah di surga?”; maka para rabi itu akan menjawab: “Membaca Taurat!” Terdengar lucu sekarang, namun itulah faktanya.

Bagaimana Yesus memandang Taurat? Ia mengatakan kepada para pengikut-Nya bahwa Dia diutus oleh Bapa-Nya di surga untuk menggenapi hukum, agar Taurat menjadi berbuah. Itulah sebabnya mengapa Khotbah Yesus di Bukit memusatkan perhatian pada “hati” atau “niat batin” yang ada di belakang perintah-perintah kuno yang ada dalam Taurat. Misalnya, Yesus menjelaskan bahwa tidak cukuplah untuk menghindari tindakan mencederai orang lain secara fisik. Apabila kita mengasihi dari hati kita, kita harus belajar hidup dengan orang-orang lain dalam suasana damai juga. Juga tidak cukuplah untuk menghindari pencurian dan perzinahan. Kita harus membuang hasrat untuk memiliki sesuatu yang menjadi hak milik orang lain; termasuk istri orang lain.

Meskipun Ia meningkatkan tuntutan perintah-perintah Allah, Yesus tidak menggambarkan Allah sebagai seorang hakim kejam yang siap untuk menghukum kita karena dosa-dosa kita. Allah mengasihi kita dan mengundang kita untuk merangkul kasih-Nya itu. Allah ingin mengubah kita oleh kuasa Roh Kudus-Nya, agar kita dapat mengasihi apa/siapa saja yang dikasihi-Nya, dengan demikian kita dapat meninggalkan kedosaaan kita.

Kasih Allah adalah seperti kobaran api yang menyala-nyala dengan sempurna, karena membakar habis hasrat-hasrat jahat kita dan memenuhi diri kita dengan suatu kerinduan untuk menyenangkan-Nya dan meletakkan hidup kita dalam pelayanan yang rendah hati bagi sesama. Santo Augustinus pernah berkata: “Penuhilah perintah-perintah Allah karena kasih. Dapatkah seseorang menolak untuk mengasihi Allah, yang begitu melimpah belas kasih-Nya, yang begitu adil dalam segala jalan-Nya?  Dapatkah seseorang menolak untuk mengasihi Allah yang telah terlebih dahulu mengasihi kita walaupun kita masih terbelenggu dalam ketidakadilan dan kesombongan?”

Marilah kita mohon kepada Roh Kudus untuk memurnikan pikiran-pikiran kita  dan memenuhi hati kita dengan kasih Allah. Dengan demikian kita akan mulai hanya menghasrati apa yang disenangi Allah.

DOA: Terima kasih Tuhan Yesus, karena Engkau telah memberikan kepadaku Roh Kudus-Mu. Penuhilah hatiku dengan kasih-Mu yang tak terbatas dan membuat diriku kudus sebagaimana Engkau kudus adanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:17-19), bacalah tulisan yang berjudul “MEMUJI DAN MEMULIAKAN ALLAH TANPA HENTI” (bacaan tanggal 8-6-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-06 BACAAN HARIAN JUNI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-6-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 7 Juni 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS MENGUNDANG KITA UNTUK BELAJAR DARI DIRI-NYA

YESUS MENGUNDANG KITA UNTUK BELAJAR DARI DIRI-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa X – Selasa, 7 Juni 2016)

 onpage-2

“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.

Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagi pula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah tempayan, melainkan di atas kaki pelita sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga.” (Mat 5:13-16) 

Bacaan Pertama: 1 Raj 17:7-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 4:2-5,7-8

Dalam tulisan ini, terjemahan yang digunakan oleh LAI “garam dunia”, saya ganti dengan “garam bumi” (salt of the earth) sesuai dengan semua versi terjemahan Alkitab dalam bahasa Inggris.

Salah satu penggunaan utama dari garam pada zaman alkitabiah dulu adalah untuk menjaga (mengawetkan) makanan agar jangan cepat rusak. Ketika Yesus mengatakan kepada para murid-Nya, bahwa mereka adalah garam bumi, maka sebenarnya Dia mengatakan kepada mereka (dan kita sekarang), bahwa mereka akan memainkan suatu peranan yang vital dalam menjaga bumi dari proses pembusukan karena efek-efek dosa. Yesus juga mengatakan, bahwa mereka (dan kita sekarang) adalah terang dunia karena harus menghalau kegelapan maut dan ketidakpercayaan dari orang-orang yang mereka (kita) temui.

Kedengarannya tidak mudah, kan? Bagaimanakah kita dapat menjadi garam bumi dan terang dunia? Apakah kita harus sedemikian impresif atau mengesankan agar “terang kita bercahaya di depan orang …” (lihat Mat 5:16)? Apakah kita harus mendominasi dunia untuk menyelamatkannya? Jawabannya adalah “tidak”, paling sedikit tidak dalam artian duniawinya. Dunia kita seringkali terkesan pada orang-orang yang cantik, kaya-raya, mempunyai kekuasaan, pintar-cerdas, atletis, atau artistik dlsb. Hal-hal ini sampai titik tertentu dapat dicapai dengan upaya pencitraan pribadi. Dalam dunia ini, mereka yang sombong dan self-assertive  adalah orang-orang yang dominan. Akan tetapi, kualitas-kualitas pribadi yang paling penting di mata Allah – kualitas-kualitas yang paling hakiki untuk keberadaan kita sebagai garam dan terang – adalah keutamaan-keutamaan (kebajikan-kebajikan) seperti lemah lembut, kerendahan hati, dan pelayanan penuh kasih kepada orang-orang lain.

Bagaimana orang-orang dengan kualitas pribadi ini dapat memainkan suatu peranan efektif di dalam dunia? Orang-orang yang lemah lembut dan rendah hati seringkali malah diabaikan – atau diinjak-injak. Marilah kita mencamkannya lagi, bahwa hal ini adalah kemuliaan Injil. Justru pada waktu kita rendah hati dan berbelas kasih, maka kuasa penyelamatan Allah bercahaya melalui diri kita, karena ini semua adalah kualitas-kualitas pribadi Yesus sendiri (1Kor 1:26-30). Justru pada saat kita mengampuni dan mengasihi maka kita membawa rasa asinnya garam – artinya vitalitas – Injil kepada teman-teman maupun musuh-musuh kita.

Yesus – yang selalu baik hati dan rendah hati – mengundang kita untuk belajar dari diri-Nya. Sukacita yang telah disediakan di depan kita tidak kurang dari ikut ambil bagian dalam keselamatan dunia. Yesus bersabda: “Akulah terang dunia; siapa saja yang mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang kehidupan” (Yoh 8:12). Nah, Saudari dan Saudaraku, Yesus, sang Terang sejati – ingin membuat diri-Nya dikenal melalui kita, sehingga orang-orang di sekeliling kita akan melihat perbuatan-perbuatan baik kita – yang mencerminkan Dia sendiri – dan memuliakan Bapa di surga (lihat Mat 5:16).

DOA: Bapa surgawi, aku membutuhkan rahmat-Mu untuk membentuk diriku menjadi gambaran Putera-Mu terkasih, Yesus. Kuatkanlah diriku agar iman-kepercayaanku tidak akan goyah. Aku ingin mengenal, mengasihi dan melayani Dikau dengan lebih baik lagi. Semoga aku dapat bersinar terang seperti sebuah bintang demi kemuliaan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 5:13-16), bacalah tulisan yang berjudul “PERANAN KEPEMIMPINAN DARI MURID-MURID YESUS” (bacaan tanggal 7-6-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-06 BACAAN HARIAN JUNI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 9-6-15 dalam situs/blog SANG SABDA). 

Cilandak, 6 Juni 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS