DEMIKIAN JUGA AKAN ADA SUKACITA DI SURGA KARENA ADA SATU ORANG BERDOSA YANG BERTOBAT

DEMIKIAN JUGA AKAN ADA SUKACITA DI SURGA KARENA ADA SATU ORANG BERDOSA YANG BERTOBAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXIV [TAHUN C] – 11 September 2016) 

DOMBA YANG HILANG LUK 15Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa, semuanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Lalu bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya, “Orang ini menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.” Lalu Ia menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka, “Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? Kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab aku telah menemukan dombaku yang hilang itu. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di surga karena satu orang bertobat, lebih daripada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.”

“Atau perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan satu dirham, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya? Kalau ia telah menemukannya, ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab aku telah menemukan dirhamku yang hilang itu. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat.” (Luk 15:1-10) 

Bacaan Pertama: Kel 32:7-11,13-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-4,12-13,17,19; Bacaan Kedua: 1Tim 1:12-17; Bacaan Injil (Versi Panjang): Luk 15:1-32

Perumpamaan-perumpamaan yang diajarkan Yesus dalam bacaan Injil hari ini jelas merupakan pelajaran tentang pengharapan dan keyakinan akan belas kasih Allah yang besar. Bukankah kita semua adalah para pendosa? Bukankah kita semua pernah “hilang” seperti domba yang hilang dalam perumpamaan itu?

Apabila kita hanya berurusan dengan keadilan Allah, maka kita dapat menjadi berputus-asa. Kelihatannya tidak ada pengharapan lagi bagi kita semua. Namun dalam sejarah yang menyangkut hubungan Allah dan umat manusia seperti tercatat dalam Perjanjian Lama, kita melihat bahwa keadilan Allah senantiasa dibarengi dengan belas kasih-Nya (kerahiman-Nya).

DIRHAM YANG HILANG - 01Klimaks dan tindakan puncak dari belas kasih Allah adalah Inkarnasi …… “Sabda menjadi daging” …… “Firman telah menjadi manusia, dan tinggal di antara kita” (Yoh 1:14). Putera Allah yang tunggal, Pribadi Kedua dari Allah Tritunggal Mahakudus, Allah sendiri datang ke dunia dan dilahirkan sebagai seorang anak manusia. Sebagai Yesus dari Nazaret, Ia hidup sebagai manusia dari keluarga sederhana dan mengajar umat tentang belas-kasih Allah dan kasih-Nya, mati di kayu salib untuk membuka kembali surga bagi kita dan Ia sendiri yang memimpin kita ke sana. Yesus mengutus Roh Kudus untuk memberdayakan kita serta mewariskan Gereja-Nya untuk mengajar kita. Yesus juga memberikan sakramen-sakramen di mana Dia masih berkarya di tengah kita dan merekonsiliasikan kita dengan Bapa surgawi.

Pikirkanlah para pendosa yang dijumpai Yesus semasa hidup-Nya: para pencuri dan perampok, para pezinah, para pemungut cukai. Bahkan di antara para murid-Nya yang pertama, ada Simon Petrus yang menyangkal diri-Nya dan Yudas Iskariot, si pengkhianat. Namun, dari bacaan Injil, kita melihat bahwa Yesus tidak pernah mengucapkan kata-kata yang menyakitkan kepada para pendosa itu, kecuali para pemuka agama Yahudi yang munafik.

Tidak ada seorang pendosa akan “hilang” hanya karena dosanya. Para pendosa menjadi “hilang” karena mereka tidak mau berbalik kepada Bapa yang berbelas-kasih untuk mohon pengampunan-Nya. Bapa  surgawi senantiasa memanggil para pendosa dengan penuh belas-kasih dan mendesak mereka untuk kembali kepada diri-Nya.

Kita semua sebenarnya adalah para pendosa, tentunya dengan gradasi yang berbeda-beda. Dengan demikian, kita pun harus mencoba untuk mendengar panggilan Allah untuk melakukan pertobatan dan menjalain relasi kasih yang lebih intim dengan diri-Nya. Panggilan Allah ini selalu ada di sana; dalam Kitab Suci, dalam sakrament-sakramen, pada saat-saat kita berdoa.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau mengatakan kepada kami bahwa ada sukacita di dalam surga karena seorang pendosa bertobat. Kami berterima kasih dengan penuh syukur kepada-Mu karena Engkau mengatakan hal itu kepada kami. Kami berterima kasih pula untuk belas-kasih-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 15:1-10), bacalah tulisan yang berjudul “DOMBA YANG HILANG DAN DIRHAM YANG HILANG” (bacaan tanggal 11-9-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan pada sebuah tulisan saya di tahun 2012) 

Cilandak, 7 September 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENGHASILKAN BUAH YANG BAIK

MENGHASILKAN BUAH YANG BAIK

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIII – Sabtu, 10 September 2016)

 jesus_christ_image_219

“Karena tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik. Sebab setiap pohon dikenal dari buahnya. Karena dari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri tidak memetik buah anggur. Orang yang baik mengeluarkan apa yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan apa yang jahat dari perbendaharaan yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya.”

“Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan? Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya – Aku akan menyatakan kepadamu dengan siapa ia dapat disamakan – ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun. Akan tetapi, siapa saja yang mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melandanya, rumah itu segera rubuh dan hebatlah kerusakannya.” (Luk 6:43-49) 

Bacaan Pertama: 1Kor 10:14-22a; Mazmur Tanggapan: Mzm 116:12-13 

Pada hari ini Yesus menyimpulkan sebuah pengajaran panjang yang Ia telah berikan.  Review (peninjauan kembali) atas apa yang telah diceritakan dalam Injil minggu ini menunjukkan hal-hal berikut ini: Setelah berdoa semalam suntuk di atas bukit, Yesus memanggil dua belas orang rasul (Luk 6:12-13). Lalu Yesus menyembuhkan banyak orang dan juga memberi pengajaran atau instruksi istimewa bagi para pengikut-Nya. Pengajaran-Nya dimulai dengan sabda-sabda bahagia (Luk 6:20-23) yang kemudian disusul dengan cercaan-cercaan (Luk 24-26). Sabda-sabda bahagia: Berbahagialah, hai kamu yang miskin …, yang lapar, yang menangis, dan yang dibenci dan dianiaya karena Anak Manusia. Cercaan-cercaan: Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, yang kenyang, yang sekarang tertawa dan hidup mudah, yang populer. Sabda-sabda bahagia dan cercaan-cercaan merupakan pandangan impresif tentang doktrin Kristiani bahwa yang belakangan menjadi yang pertama, dan yang pertama menjadi yang terakhir.

Kemudian Yesus datang dengan ajaran-Nya yang paling sering diulang, yaitu mengasihi musuh-musuh kita (Luk 6:27-36), tidak boleh mau menang sendiri, tidak mengangkat diri kita sebagai hakim atas diri orang-orang lain; bermurah hati dan mengampuni (Luk 6:37-42).

Pada akhir ajaran-Nya (Luk 6:43-49), Yesus berkesimpulan, “Hasilkanlah buah dari ajaran ini! Bila kata-kata-Ku ada dalam hatimu, maka buah yang Kauhasilkan akan baik. Dan ingatlah bahwa tidak cukup untuk mengatakan, “Tuhan, Tuhan.” Engkau perlu membangun hidupmu di atas fondasi ketaatan yang solid-kokoh terhadap sabda Tuhan. Kalau tidak begitu, maka hidupmu sebagai seorang Kristiani akan hanyut dalam banjir hidup keduniaan ini.”

Siapa yang membangun rumah tanpa membuat fondasi? Orang yang mendengar sabda Allah namun tidak melaksanakannya dalam hidupnya! Siapa yang menggali dalam-dalam dan membuat fondasi yang kokoh? Orang yang mendengarkan ajaran Yesus dengan serius dan mentaati sabda-Nya!

DOA: TUHAN, siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu? Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus? Yaitu dia yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya, yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya, yang tidak berbuat jahat terhadap temannya dan yang tidak menimpakan cela kepada tetangganya; yang memandang hina orang yang tersingkir, tetapi memuliakan orang yang takut aan TUHAN; yang berpegang pada sumpah, walaupun rugi; yang tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba dan tidak menerima suap melawan orang yang tak bersalah (Mzm 15:1-5a). Terpujilah nama-Mu, ya Tuhan Allahku, untuk selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 6:43-49), bacalah tulisan yang berjudul “SATU-SATUNYA FONDASI KEHIDUPAN KITA” (bacaan tanggal 10-9-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-09 BACAAN SEPTEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-9-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 7 September 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEGALA REFORMASI HARUS BERAWAL DARI DALAM DIRI SENDIRI

SEGALA REFORMASI HARUS BERAWAL DARI DALAM DIRI SENDIRI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIII – Jumat, 9 September 2016) 

c3606b07eb3e0f92bb5bfe8287005989Yesus menyampaikan lagi suatu perumpamaan kepada mereka, “Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lubang? Seorang murid tidak lebih daripada gurunya, tetapi siapa saja yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya. Mengapa engkau melihat serpihan kayu di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Saudara, biarlah aku mengeluarkan serpihan kayu yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan serpihan kayu itu dari mata saudaramu.” (Luk 6:39-42) 

Bacaan Pertama: 1Kor 9:16-19,22b-27; Mazmur Tanggapan: Mzm 84:3-6,12

“Mengapakah engkau melihat serpihan kayu di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?” (Luk 6:41). Kata-kata ini adalah sebagian dari instruksi-instruksi Yesus tentang perlunya kasih. Dalam berbagai kesempatan, Yesus secara tetap kembali dan kembali lagi kepada tema pengajaran ini.

Yesus tidak memaksudkan bahwa sikap dan perilaku saling menghargai harus buta terhadap dosa atau bahaya-bahaya dosa. Yang dikatakan Yesus kurang lebih adalah seperti berikut: “Marilah kita memandang diri kita sendiri dengan kritis, sebelum kita menilai orang-orang lain.” Pertanyaan-pertanyaan tertentu harus berulang-ulang datang ke dalam pikiran kita: apakah kritik-kritik saya terhadap orang-orang lain sungguh konstruktif dan kreatif, ataukah didasarkan pada iri-hati yang sempit? Apakah ketidaksabaran saya terhadap orang-orang  sungguh melekat  pada sifat pribadi saya? Apakah penilaian saya terhadap orang-orang lain merupakan penilaian yang matang? Apakah semangat saya dan hasil-hasilnya benar-benar superior ketimbang orang-orang lain, ataukah sudah meluntur menjadi konformisme gaya baru yang sudah nyata terlihat? Bukankah saya terlibat dalam kesalahan sama seperti yang saya tuduhkan kepada orang-orang lain?

Kita sekali-kali tidak boleh lupa bahwa ide kita sendiri pun dapat salah. Hasil-hasil terbaik akan senantiasa datang melalui kritik-diri sendiri yang jujur dan tindakan kasih kepada orang-orang lain yang dilatarbelakangi keterbukaan hati dan pikiran. Segala reformasi harus berawal dari dalam diri sendiri. Tanpa pengenalan diri sendiri dan rasa saling  menghormati, maka perubahan besar-besaran akan tanpa makna, malah dapat berakibat dengan hal-hal yang lebih buruk lagi.

Tuhan Yesus sendiri, satu-satunya Pribadi yang boleh berbangga, mengatakan bahwa hanya orang-orang yang rendah hatilah yang akan ditinggikan. Betapa sering kita mendengar orang berkata: “Satu hal yang saya selalu perhatikan tentang orang-orang yang sungguh besar. Mereka selalu kelihatan sangat rendah hati juga. Tidak ada kesombongan, tidak ada rasa superior, tidak ada sikap seakan-akan mengetahui segala sesuatu.” Hal ini dapat dipahami. Mengapa? Karena siapa – selain orang-orang jenius –  yang mampu melihat dengan  lebih baik betapa sedikit yang sesungguhnya kita ketahui sebagai manusia.

Hikmat yang sejati selalu disertai dengan rasa hormat mendalam terhadap Allah, terhadap sesama manusia, terhadap dunia. Orang-orang besar yang sejati telah belajar untuk “takut akan Allah” dan “menghormati semua orang.”

DOA: Bapa surgawi, kasihanilah dan berkatilah kami, anak-anak-Mu. Banjirilah kami dengan kemuliaan wajah-Mu. Semoga seluruh isi bumi mencari rahmat-Mu yang menyelamatkan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 6:39-42), bacalah tulisan yang berjudul “AJARAN AGUNG YESUS TENTANG KASIH” (bacaan tanggal 9-9-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpdress.com; kategori: 16-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-9-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 5 September 2016  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SEPERTI HALNYA DENGAN MARIA, ALLAH JUGA MEMPUNYAI RENCANA BAGI HIDUP KITA MASING-MASING

SEPERTI HALNYA DENGAN MARIA, ALLAH JUGA MEMPUNYAI RENCANA BAGI HIDUP KITA MASING-MASING

(Bacaan Injil Misa Kudus, PESTA KELAHIRAN SP MARIA – Kamis, 8 September 2016)

 mary-14

Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami istri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama istrinya di depan umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan tampak kepadanya dalam mimpi dan berkata, “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka.” Hal itu terjadi supaya digenapi yang difirmankan Tuhan melalui nabi, “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel.” (Yang berarti: Allah menyertai kita.) (Mat 1:18-23) 

Bacaan Pertama: Mi 5:1-4a atau Rm 8:28-30; Mazmur Tanggapan: Mzm 13:6; Bacaan Injil lebih panjang: Mat 1:1-16,18-23 

Daftar keturunan atau “Daftar Nenek Moyang” yang digunakan oleh Matius untuk membuka Injilnya mengingatkan kita  bahwa rencana Allah tentang kedatangan Putera-Nya ke tengah dunia merupakan sesuatu yang telah lama dipersiapkan. Dari generasi yang satu ke generasi berikutnya, Allah bergerak menuju pemenuhan tujuan-Nya guna menarik kita kembali ke dalam kehidupan-Nya sendiri. Dan, sejak awal, Allah memberi tanggung jawab yang paling mendalam dan bersifat intim guna pemenuhan rencana-Nya kepada Maria, sang perawan dari Nazaret. Sejak sediakala, Allah sudah memikirkan untuk membawa Maria masuk ke dalam panggung kehidupan manusia dan mempercayakannya sebagai perempuan yang akan mengandung dan membesarkan Putera-Nya yang kekal-abadi.

Peran yang diberikan Allah kepada Maria begitu mendalam dalam makna sehingga memang tidak mudah untuk dikontemplasikan. Malaikat Agung Gabriel yang mengunjunginya menyapa Maria: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau” (Luk 1:28). Kiranya kemurahan/kebaikan hati Allah yang dicurahkan kepada-Nya jauh melebihi kemurahan/kebaikan yang diberikan-Nya kepada orang-orang lain. Walaupun begitu, janganlah sampai kita salah. Apabila kita berpikir bahwa Maria begitu jauh di atas kita dan pengalamannya tidak berhubungan dengan pengalaman kita, maka kita salah. Untuk segala privilesenya sebagai ibu dari sang Juruselamat, Maria tetap bersatu dengan kita. Maria adalah yang terbaik di antara di antara kita, namun biar bagaimana pun juga dia tetap ada di tengah kita.

Pola yang digunakan oleh Allah dalam berurusan dengan Maria adalah juga pola yang digunakan-Nya dalam berurusan dengan kita. Allah mempunyai sebuah rencana bagi hidup Maria, dan Ia mempunyai rencana-rencana bagi hidup kita juga. Pada pusat rencana-Nya bagi Maria adalah niat-Nya bahwa Putera-Nya akan hidup dalam dirinya, dan ia akan melahirkan-Nya ke dalam dunia. Pada hakekatnya, itu adalah rencana-Nya bagi kita juga.

Setiap orang pada dasarnya bersifat unik dan merupakan karunia Allah yang tidak diulangi, bahkan dalam kelahiran kembar sekali pun. Terkait dengan keunikan kita sebagai pribadi, Allah memberikan kepada kita masing-masing suatu panggilan dan misi yang khusus. Allah membuat rencana-Nya diketahui oleh kita dengan berbagai cara: melalui sikon yang sedang kita hadapi, melalui keluarga kita dan para sahabat kita, melalui berbagai talenta dan kesempatan kita. Allah tidak memaksa kita untuk menerima rencana-Nya bagi hidup kita. Seperti yang diperbuat-Nya dengan Maria, Allah mengundang kita untuk menerima panggilan-Nya dan untuk mengikut-Nya. Sebagaimana Dia menginginkan agar Maria memberi tanggapan terhadap Dia dan melaksanakan misi unik yang diberikan-Nya kepadanya, demikian pula Allah ingin agar kita menerima misi unik kita dan melaksanakannya dengan segenap kekuatan kita. Semoga kita semua menanggapi undangan Allah dengan pengharapan dan kepercayaan yang sama seperti yang dimiliki Maria.

DOA: Bapa surgawi, ini aku anak-Mu. Nyatakanlah lebih banyak lagi rencana-Mu bagiku. Kuatkanlah diriku dalam kuasa Roh Kudus-Mu sehingga dengan demikian aku dapat memenuhi panggilan dan misi yang Kaurencanakan bagi diriku sebagai murid Yesus Kristus, Putera-Mu terkasih, Tuhan dan Juruselamatku. Terpujilah Allah Tritunggal Mahakudus, Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Rm 8:28-30), bacalah tulisan yang berjudul “DIA YANG DITENTUKAN ALLAH SEJAK SEDIAKALA” (bacaan tanggal 8-9-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 8-9-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 5 September 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

JIKA KITA MENJADI MISKIN DALAM ROH

JIKA KITA MENJADI MISKIN DALAM ROH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIII – Rabu, 7 September 2016)

 onpage-2

Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya dan berkata,

“Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang punya Kerajaan Allah.

Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan.

Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa.

Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat.

Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di surga; karena demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi.

Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu.

Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar.

Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis.

Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu.”  (Luk 6:20-26) 

Bacaan Pertama: 1Kor 7:25-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 45:11-12,14-17

Pengajaran Yesus yang dicatat oleh Santo Lukas bacaan dalam Injil hari ini dan bahan selebihnya dalam Luk 6 mencirikan orang Kristiani sebagai orang yang dikenal karena kemiskinannya, untuk kewaspadaannya terhadap bahaya-bahaya dari kekayaan. “Berbahagialah, hai kamu yang miskin, hai kamu yang sekarang ini lapar dan menangis; namun celakalah kamu, hai kamu yang kaya, hai kamu yang kenyang dan sekarang ini tertawa.” 

Dalam berbagai kesempatan Yesus mengucapkan kata-kata keras tentang bagaimana kekayaan atau keterlekatan pada hal-hal duniawi, dapat membuat kita susah. Kepada orang kaya yang ingin menjadi sempurna (memperoleh hidup yang kekal), Yesus mengatakan agar orang itu menjual harta miliknya, memberikannya kepada orang-orang miskin, lalu dapat mengikuti-Nya secara sempurna. Namun orang itu dengan sedih hati meninggalkan Yesus, karena banyak hartanya (lihat Mrk 10:17-22). Pesan yang disampaikan oleh Yesus adalah bahwa kekayaan membuat seseorang sulit untuk bertumbuh dalam keutamaan, Menjadi miskin membuat lebih mudah untuk menjalani hidup yang baik, jika dengan kemiskinan itu kita menjadi miskin dalam roh, dan tidak iri dan cemburu kepada orang-orang kaya. Yesus “menjagokan” kemiskinan bagi setiap orang yang ingin sungguh bertumbuh dalam keutamaan dan kekudusan.

Kita hidup dalam suatu era di mana ditekankan “teologi inkarnasional” (Inggris: incarnational theology) yang mengatakan bahwa karena Kristus menjadi manusia, maka segala sesuatu yang dilakukan manusia, segala sesuatu yang dimiliki manusia tentunya baik adanya. Hal ini benar; kita memandang dunia dan segalanya yang ada pada dasarnya baik pada dirinya sendiri, bahwa dunia dan segala sesuatu dalam dunia harus direstorasikan dalam Kristus.

Semuanya baik, namun apa saja yang telah menarik dan menjauhkan kita dari sikap dan perilaku adil, penuh kebaikan, penuh pertimbangan, hidup doa, maka semuanya itu tidak baik bagi kita. Kita dapat dengan mudah menjadi terlalu menghasrati kemewahan, kemudahan, kenyamanan dan apa saja yang dapat dibeli dengan uang. Kita mulai mempertimbangkan banyak dari hal-hal ini sebagai keperluan hidup, namun pada saat sama kita mengabaikan orang-orang miskin dan sebab-sebab lainya yang seharusnya didukung oleh uang kita.

Yesus dalam keempat Injil mengajar kepada kita bahwa lebih baiklah bagi kita untuk menjadi miskin daripada kaya. Lebih mudahlah bagi kita; kita menjadi lebih bebas-merdeka dengan cara demikian, karena kita menjadi semakin terlepas dari keterlekatan kita. Hal-hal untuk mana kita merasa susah pun akan menjadi lebih sedikit.

DOA: Tuhan Yesus, tunjukkanlah belas kasih-Mu kepada mereka yang miskin dan kesepian, dibenci, lapar; mereka yang termarjinalisasi dalam masyarakat. Tolonglah aku agar dapat menjumpai mereka dengan benda-benda materiil dan dengan kekayaan Injil-Mu. Terpujilah nama-Mu, ya Yesus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 6:20-26), bacalah tulisan yang berjudul “UCAPAN BAHAGIA DAN PERINGATAN DARI YESUS” (bacaan tanggal 7-9-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 9-9-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 5 September 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERADA BERSAMA YESUS

BERADA BERSAMA YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIII – Selasa, 6 September 2016) 

jesus_christ_image_227

Pada hari-hari itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah. Ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul: Simon yang juga diberi-Nya nama Petrus, dan Andreas saudaranya, Yakobus dan Yohanes, Filipus dan Bartolomeus, Matius dan Tomas, Yakobus anak Alfeus, dan Simon yang disebut orang Zelot, Yudas anak Yakobus, dan Yudas Iskariot yang kemudian menjadi pengkhianat.

Lalu Ia turun dengan mereka dan berhenti pada suatu tempat yang datar: Di situ berkumpul sejumlah besar dari murid-murid-Nya dan banyak orang lain yang datang dari seluruh Yudea dan dari Yerusalem dan dari daerah pantai Tirus dan Sidon. Mereka datang untuk mendengarkan Dia dan untuk disembuhkan. Semua orang banyak itu berusaha menyentuh Dia, karena ada kuasa yang keluar dari Dia dan menyembuhkan semua orang itu. (Luk 6:12-19)

Bacaan Pertama: 1Kor 6:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 149:1-6,9

Di bawah panas terik matahari orang banyak berkumpul pada suatu tempat yang datar untuk mendengar pengajaran dari sang rabi-keliling asal Nazaret itu. Waktu berjalan terus, namun orang-orang itu seakan mengabaikan rasa lapar dan lelah mereka. Mereka terus saja mendengarkan  dengan penuh perhatian suara yang lemah lembut namun penuh kuat-kuasa dari sang rabi, menggema dari bukit-bukit yang dekat – dan “berkumandang” di dalam hati mereka.

Apabila anda membayangkan diri anda berada di tengah orang banyak yang berkerumun di sekeliling Yesus, apakah yang akan anda lihat? Apakah yang akan anda lihat, yang anda rasakan? Gambarkanlah tanah dataran di mana anda berada. Gambarkanlah bagaimana Yesus itu. Kelihatan seperti apa dan siapa Yesus itu? Bagaimana anda bereaksi ketika anda melihat Dia turun dari bukit dan berjalan menuju anda? Ketika Dia melewati anda, apakah anda mengatakan sesuatu kepada-Nya? Apakah kedua mata anda bertemu dengan kedua mata-Nya, atau anda menghindari pandangan-Nya?  Apakah anda mencoba untuk menyembunyikan diri di tengah kerumunan orang banyak? Mungkin anda adalah salah seorang dari orang banyak yang mendesak untuk mendekati Yesus, berusaha keras untuk menyentuh-Nya. Apakah yang ada di dalam pikiran anda ketika anda menyaksikan Dia menyembuhkan orang-orang sakit dan mengusir roh-roh jahat yang merasuki orang-orang? 

Melihat berlangsungnya episode Injil ini dalam imajinasi anda dan secara mental menempatkan diri anda ke dalam tindakan dapat menjadi sebuah cara yang sangat menolong anda untuk menjadi dekat dengan Yesus dan memberi tanggapan terhadap sapaan-Nya. Untuk banyak orang yang telah mencoba ini, bentuk meditasi dalam suasana doa seperti ini telah memberikan wawasan-wawasan baru terhadap teks Kitab Suci dan malah memimpin kepada suatu pemahaman baru tentang Yesus sebagai seseorang yang hadir bagi kita masing-masing, di sini dan sekarang. 

Baiklah anda sekarang mencoba untuk melakukan kegiatan ini. Kiranya anda tidak perlu memiliki imajinasi yang paling hidup di dunia ini atau mengetahui banyak hal mendetil tentang kondisi tanah Palestina pada abad pertama. Anda dapat memulainya secara sederhana dengan kerangka dalam bacaan Injil dan mengisinya dengan tambahan anda sendiri. Hal yang penting adalah untuk berada bersama Yesus, mengamati-Nya dan kemudian berinteraksi dengan Dia.

ROH KUDUS MELAYANG-LAYANG - 2Baiklah anda mengambil waktu secukupnya untuk membaca kembali bacaan Injil hari ini, lalu perkenankanlah Roh Kudus dan imajinasi anda membimbing anda sepanjang cerita yang ada dalam bacaan tersebut. Biarkanlah tokoh-tokoh dalam cerita itu menjadi hidup dalam pikiran anda. Perkenankanlah diri anda untuk berjumpa dengan Yesus selagi Dia berjalan ke sana ke mari untuk melayani orang banyak – dan melayani anda! Dengan mata anda yang tertutup untuk dunia dan hati anda yang terbuka bagi Allah, maka anda tidak pernah akan tahu berkat-berkat apa yang dianugerahkan Allah kepada anda.

DOA: Tuhan, utuslah Roh-Mu untuk membimbingku selagi aku berupaya untuk menjadi semakin dekat dengan diri-Mu dalam doa. Penuhilah pikiranku dengan kehadiran-Mu. Segarkanlah kembali imanku dan buatlah sabda agar senantiasa baru dan hidup bagiku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 6:12-19), bacalah tulisan yang berjudul “PERANAN SANGAT PENTING DARI DOA DALAM HIDUP KITA” (bacaan tanggal 6-9-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 9-9-14 dalam situs/blog SANG SABDA] 

Cilandak, 4 September 2014  [KANONISASI BUNDA TERESA DARI KALKUTA] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

CINTA KASIH ADALAH NILAI SENTRALNYA

CINTA KASIH ADALAH NILAI SENTRALNYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIII – Senin, 7 September 2015) 

40_Mt_12_07_RGPada suatu hari Sabat lain, Yesus masuk ke rumah ibadat, lalu mengajar. Di situ ada seorang yang mati tangan kanannya. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat, supaya mereka mendapat alasan untuk mempersalahkan Dia. Tetapi Ia mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada orang yang mati tangannya itu, “Bangunlah dan berdirilah di tengah!” Orang itu pun bangun dan berdiri. Lalu Yesus berkata kepada mereka, “Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?” Sesudah itu Ia memandang keliling kepada mereka semua, lalu berkata kepada orang sakit itu, “Ulurkanlah tanganmu!” Orang itu berbuat demikian dan sembuhlah tangannya. Kemarahan mereka meluap, lalu mereka berunding, apakah yang akan mereka lakukan terhadap Yesus. (Luk 6:6-11)

Bacaan Pertama: 1Kor 5:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 5:5-7,12

Bacaan Injil hari ini memberikan kepada kita suatu pelajaran yang baik mengenai semangat sebenarnya yang harus menjiwai pelaksanaan hukum-hukum Allah. Para ahli Taurat dan orang-orang Farisi siap untuk menjebak Yesus, mereka akan menyalahkan-Nya jika Dia menyembuhkan orang yang mati tangan kanannya pada hari Sabat itu. Namun Yesus mengajukan pertanyaan berikut: “Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?” (Luk 6:9). Lalu Yesus menyembuhkan orang itu, walaupun hari itu adalah hari Sabat (Luk 6:10).

Hukum Allah tidak pernah boleh digunakan sebagai suatu dalih untuk tidak melakukan suatu kebaikan. “Patuh pada peraturan” bukanlah alasan bagi seseorang untuk tidak melakukan pelayanan kasih. Pada kesempatan lain orang-orang Farisi tidak memberi penghormatan yang seharusnya kepada para orangtua mereka karena mereka harus memberikan penghormatan kepada Allah. Sejumlah pemuka agama Yahudi pada zaman Yesus menggunakan dasar-dasar teknis di bidang hukum untuk membenarkan seorang anak yang bertumbuh dewasa menetapkan suatu batas tertentu dalam hal mereka memelihara orangtua mereka yang sudah tua usia (lihat Mrk 7:11-12).

Jadi, walaupun mereka menjunjung tinggi hukum Allah dengan seksama, orang-orang Farisi melupakan nilai sentralnya, yaitu cintakasih. Lalu, kalau mereka tak mampu memahami panggilan Allah kepada cintakasih-tanpa-batas dalam keluarga, bagaimana mereka akan mampu memahami cintakasih-Nya bagi seluruh umat manusia? Juga ironislah bahwa orang-orang Farisi menetapkan suatu batas mengenai cintakasih dalam keluarga, karena hubungan antara orangtua dan anak-anak adalah salah satu dari gambaran yang mendalam dari hubungan antara Allah dan umat-Nya. Seperti orangtua yang mengasihi anak-anaknya tak akan merasa ragu sedetik pun untuk mengorbankan segalanya bagi anak-anaknya, demikian pula Bapa surgawi tidak akan meninggalkan kita. Pandangan Yesus terhadap kemunafikan seperti ini: “Tepatlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik, seperti ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya tetap jauh dari Aku” (Mrk 7:6; bdk. Yes 29:13). Ingatlah bahwa kita tidak dapat menghormati Kristus, namun pada saat yang sama kita tidak menghormati orangtua kita.

Kita banyak mendengar pembicaraan mengenai “mengasihi sesama”, ketulusan hati dlsb. Dapatkah Kristus membuat tuduhan yang sama terhadap kita? Tuduhan karena kita hanya dapat berbicara, berbicara, dan berbicara; namun tanpa diikuti dengan cintakasih hidup yang sungguh nyata, tidak ada kejujuran, tidak ada ketulusan hati? Omdo? Nato? Berbicara saja sih murah dan mudah. Tidak ada pengorbanan! Di lain pihak, love-in-action yang riil membutuhkan pengorbanan. Untuk mengasihi, kita harus memberi keseluruhan diri kita. Terkadang sungguh sulitlah bagi kita untuk menyangkal diri kita sendiri, namun itulah jalan satu-satunya utuk sampai kepada kasih yang sejati, yang riil, yang tulus. Kalau tidak demikian halnya, maka kita dapat dipastikan sebagai orang-orang munafik.

Kita (anda dan saya) dapat berbicara berjam-jam lamanya tentang apa yang harus dilakukan guna menolong orang-orang miskin dan yang kelaparan di dunia, namun kita hanya dapat membuktikan kasih Kristiani kita yang sejati dengan memberikannya sampai terasa sakit (“giving/loving till it hurts”, kata Santa Bunda Teresa dari Kalkuta ). Dengan demikian kita tidak melakukan penipuan-diri, teristimewa apabila kita melakukan kebaikan tanpa ramai-ramai dan tanpa publisitas. Dalam “Khotbah di Bukit”, Yesus bersabda: “… apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau menggembar-gemborkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik …… Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu”  (lihatlah keseluruhan Mat 6:1-4).

Saudari-Saudara yang terkasih, jika kita sungguh ingin mematuhi hukum-hukum Allah, maka kita harus belajar bahwa cintakasih atau KASIH adalah perintah yang pertama dan utama. Kita harus jujur dan tulus dengan diri kita sendiri. Kita harus mengasihi dan bertindak karena kasih itu, walaupun menyakitkan, barangkali karena tindakan kita tidak populer dengan pihak penguasa, seperti Kristus dengan orang-orang Farisi. Kasih harus merupakah tolok ukur pertama dalam hal kepatuhan kita kepada semua hukum yang berlaku.

DOA: Tuhan Yesus, dalam perjamuan terakhir Engkau bersabda kepada para murid-Mu: “Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu melakukan apa yang Kuperintahkan kepadamu …… Kasihilah seorang terhadap yang lain” (Yoh 15:14,17). Tuhan, jadikanlah aku murid-Mu yang setia mematuhi perintah-Mu ini. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 6:6-11), bacalah tulisan yang berjudul “LAGI-LAGI YESUS MENYEMBUHKAN ORANG PADA HARI SABAT” (bacaan tanggal 5-9-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.comkategori: 16-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2016.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 7-9-15 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 1 September 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS