APAKAH KITA PUN MENCOBA UNTUK MEMBUNGKAM YESUS?

APAKAH KITA PUN MENCOBA UNTUK MEMBUNGKAM YESUS?

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA IV [YEAR C], 31 Januari 2016

JESUS MAU DIBUANG DARI TEBING DI NAZARETLalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya, “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.”  Semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya, lalu kata mereka, “Bukankah Ia ini anak Yusuf?”  Kemudian berkatalah Ia kepada mereka, “Tentu kamu akan mengatakan pepatah ini kepada-Ku: Hai tabib, sembuhkanlah diri-Mu sendiri. Perbuatlah di sini juga, di tempat asal-Mu ini, segala yang kami dengar yang telah terjadi di Kapernaum!”  Kata-Nya lagi, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya. Lagi pula, Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri. Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon. Pada zaman Nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorang pun dari mereka yang disembuhkan selain Naaman, orang Siria itu. Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu. Mereka bangkit, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu. Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi. (Luk 4:21-30)

Bacaan Pertama: Yer 1:4-5,17-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 71:1-6,15,17; Bacaan Kedua: 1 Kor 12:31-13:13

Kita dapat tergoda untuk merasa sedikit marah selagi kita membaca mengenai percobaan orang-orang Nazaret untuk membungkam Yesus. Tidakkah mereka mengenali siapa diri sang Rabi yang berasal dari kota mereka itu? Begitulah orang-orang Nazaret! Sekarang, baiklah kita bertanya kepada diri kita sendiri apakah kita sendiri pun tidak mencoba untuk membungkam Yesus? Apakah ada area-area kegelapan dalam hati kita yang kita pikir tidak dapat disembuhkan oleh Yesus? Apabila kita tidak menyerahkan area-area ini kepada Yesus, sebenarnya hal ini berarti bahwa kita menyangkal kenyataan siapa sebenarnya Dia, menyangkal kuat-kuasa dan hasrat-Nya untuk menyembuhkan kita.

Setiap hari, Yesus menanti-nantikan kita membuka hati kita bagi diri-Nya dan percaya sepenuhnya bahwa Dia akan mengubah tidak hanya kelemahan-kelemahan kita yang kelihatan mudah untuk diperbaiki melainkan juga kelemahan-kelemahan yang lebih rumit. Apakah ada area-area dosa dalam hidup kita yang kita lebih suka untuk berlangsung terus – area-area di mana kita sesungguhnya tidak mau mengubahnya? Kalau demikian halnya, itulah area-area di mana dalam praktek kita menyangkal siapa Yesus itu dengan tidak memperkenankan-Nya menjadi sungguh Tuhan dan Juruselamat kita. Dengan tetap mempertahankan posisi kita terpisah dari Yesus, sebenarnya kita tidak mengakui dia sebagai Dia yang penghakiman-Nya benar dan keadilan-Nya sempurna.

Bahkan ketika para penduduk Nazaret menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung untuk melemparkan Dia dari tebing itu, Yesus memandang dengan penuh belarasa. Mereka adalah para anggota keluarganya dan tetangganya, dan Ia sungguh mengasihi mereka. Yesus mengenal mereka lebih baik daripada mereka mengenal diri mereka sendiri, dan ia menerima mereka. Tentunya Yesus berdoa setiap hari agar orang-orang Nazaret ini membuka hati mereka bagi sabda-Nya.

Yesus juga senantiasa memandang kita dengan penuh belarasa dan penuh pengertian. Apabila kita menyadari bahwa diri kita terbelenggu oleh dosa, Yesus akan minta kepada kita untuk membuka hati kita semampu kita dan memperkenankan Dia mengubah diri kita. Jika kita sedang memikul beban yang begitu berat, Yesus akan minta kepada kita untuk mencoba meletakkan beban itu di kaki-Nya. Dia rindu untuk melihat kita menaruh kepercayaan kepada-Nya secara total.

Dalam pekan ini, baiklah kita memilih satu area saja dalam hidup kita di mana kita akan mendengarkan sabda-Nya dengan hati terbuka dan samasekali tidak membungkam-Nya. Kita terus berkonsentrasi di area ini dan saksikanlah bagaimana Dia bekerja. Perkenankanlah Yesus membuat diri anda menjadi seorang yang kudus.

DOA: Tuhan Yesus, aku menyerahkan hidupku kepada-Mu. Runtuhkanlah tembok yang telah kubangun di sekeliling hatiku. Datanglah dan masuklah ke dalam hatiku, ya Tuhan, dan bawalah kebebasan dan hidup-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 4:21-30), bacalah tulisan yang berjudul “” (bacaan tanggal 31-1-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 16-01  BACAAN HARIAN JANUARI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 3-2-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 28 Januari 2016 [Peringatan S. Tomas Aquino, Imam-Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SIAPA SEBENARNYA ORANG INI?

SIAPA SEBENARNYA ORANG INI?

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan Biasa III – Sabtu, 30 Januari 2016)

Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Yasinta Mareskoti, Perawan-OFS

 800px-Eugène_Delacroix_-_Christ_Endormi_pendant_la_Tempête

Pada hari itu, menjelang malam, Yesus berkata kepada mereka, “Marilah kita bertolak ke seberang.” Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak  dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia. Lalu mengamuklah topan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan memakai bantal. Lalu murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya, “Guru, tidak pedulikah Engkau kalau kita binasa? Ia pun bangun, membentak angin itu dan berkata kepada danau itu, “Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. Lalu Ia berkata kepada mereka, “Mengapa  kamu begitu  takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain, “Siapa sebenarnya orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?” (Mrk 4:35-41) 

Bacaan Pertama: 2 Sam 12:1-7a, 11-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:12-17 

Dalam bacaan Injil hari Jumat kemarin (Mrk 4:26-34; perumpamaan tentang biji sesawi), kita melihat bagaimana kerajaan Allah bertumbuh dari awal yang sederhana dan tak kelihatan. Dalam bacaan hari ini kita melihat bagaimana kerajaan Allah itu memanifestasikan dirinya kepada para murid dengan suatu cara yang dramatis, yaitu dalam kuat-kuasa Yesus dalam menaklukkan badai yang sedang mengamuk. Bagaimana Dia bisa-bisanya tidur dengan tenang dalam cuaca tak bersahabat seperti itu? Karena Yesus menaruh kepercayaan penuh kepada kasih dan pemeliharaan Bapa-Nya. Apa yang ditulis perihal “iman” dalam Ibr 11:1 sungguh menjadi kenyataan dalam diri Yesus.

Para murid memandang situasi yang dihadapi secara berbeda. Sang Guru yang tertidur  di buritan perahu karena kelelahan samasekali tak nampak sebagai seseorang yang memiliki kuat-kuasa untuk membuat tenang gelombang-gelombang ombak yang menerpa sebuah perahu nelayan sederhana. Iman mereka kepada Yesus ternyata berada pada tingkat yang berbeda dengan iman-Nya kepada Bapa surgawi. Namun demikian, para murid memang – tidak bisa tidak –  hanya dapat mohon pertolongan dari sang Guru. Dengan benih iman mereka yang begitu kecil mereka membangunkan Dia dari tidur-Nya sambil mengeluh: “Guru, tidak pedulikah Engkau kalau kita binasa?” (Mrk 4:38). Menanggapi keluhan para murid yang terasa “kurang ajar” dan “egois” itu, Yesus tidak marah dan ngomel-ngomel. Tanpa ucapan kata-kata sedikit pun Ia menanamkan rasa damai-sejahtera ke dalam hati mereka masing-masing. Setelah itu Dia menghardik angin topan dan memerintahkan danau supaya tenang (lihat Mrk 4:39). Damai-sejahtera yang dinikmati-Nya di buritan perahu sekarang diturunkan-Nya kepada para murid yang masih terkagum-kagum, dan juga kepada air danau.

Pesan perikop Injil ini berlaku di segala zaman. Betapa seringnya kita mengucapkan Credo di pagi hari, mengulang-ulang “Aku percaya” dengan begitu sering,  tetapi begitu diterpa sakit-penyakit, kehilangan seseorang yang kita cintai, dibebani masalah keuangan yang menekan, atau masalah-masalah keluarga dll., maka kita menjadi seperti para murid yang memandang Dia sebagai tidak mempedulikan diri kita yang seakan mau mati ini. Bukankah begitu?

Iman bukanlah sesuatu yang kita dapat bangun hanya dengan mengulang-ulang doa-doa atau berupaya lebih keras lagi berdasarkan kekuatan kita sendiri. Iman adalah karunia (anugerah) dari Allah. Apabila iman kita (yang merupakan karunia atau pemberian dari Allah) kelihatan sudah melemah, maka kita senantiasa harus berpaling kepada Dia – sang Pemberi karunia, dengan keyakinan penuh akan kebenaran definisi “iman” seperti tertulis dalam “Surat kepada Orang Ibrani”: “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang diharapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak dilihat” (Ibr 11:1). Kita mohon juga kuat-kuasa-Nya untuk merestorasi damai-sejahtera dalam hati kita dan situasi yang kita hadapi.

Tindakan iman bukanlah melakukan sesuatu yang akan membebaskan kita dari rasa takut dan dosa sekaligus dan untuk seterusnya. Iman adalah sebutir benih yang bertumbuh oleh kuat-kuasa Allah, sampai pada suatu hari kita mencapai titik di mana kita dapat menjadi sama tenangnya dalam krisis seperti Yesus, ketika Dia tidur di buritan perahu meski di tengah badai yang mengamuk di tengah danau.

DOA: Bapa surgawi, jagalah agar kami selalu sadar akan keberadaan karunia-Mu dan tolonglah kami agar dapat bertumbuh dalam iman sehingga dapat menghadapi berbagai pencobaan dengan tenang serta penuh rasa damai-sejahtera. Bukalah mata-hati kami terhadap kehadiran-Mu dan berbicaralah tentang damai-sejahtera ke dalam jiwa kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 4:35-41), bacalah tulisan yang  berjudul “MENGAPA KAMU BEGITU TAKUT? MENGAPA KAMU TIDAK PERCAYA?” (bacaan tanggal 30-1-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-01  BACAAN HARIAN JANUARI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 31-1-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 28 Januari 2016 [Peringatan S. Tomas Aquino, Imam-Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS       

KERAJAAN ALLAH ADALAH UNTUK SETIAP ORANG

KERAJAAN ALLAH ADALAH UNTUK SETIAP ORANG

(Bacaan Injil Misa Kudus – Hari Biasa Pekan Biasa III – Jumat, 29 Januari 2016)

 003-parables-kingdom-heaven

Lalu kata Yesus, “Beginilah hal Kerajaan Allah itu: Seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu bertunas dan tumbuh, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu. Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu. Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai  sudah tiba.”

Kata-Nya lagi, “Dengan apa kita hendak membandingkan Kerajaan Allah itu, atau dengan perumpamaan manakah kita hendak menggambarkannya? Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil daripada segala jenis benih yang ada di bumi. Tetapi apabila ditaburkan,  benih itu tumbuh dan menjadi lebih besar daripada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya.”

Dalam banyak perumpamaan yang semacam itu Ia memberitakan firman kepada mereka sesuai dengan kemampuan mereka untuk mengerti, dan tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka, tetapi kepada murid-murid-Nya Ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri. (Mark 4:26-34) 

Bacaan Pertama: 2 Sam 11:1-4a,5-10a, 13-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-7,10-11

Yesus memilih perumpamaan-perumpamaan-Nya dengan hati-hati sekali. Ia ingin agar orang banyak yang mengikuti-Nya ke mana-mana itu memahami pesan-Nya yang hakiki, yaitu bahwa “Kerajaan Allah adalah untuk setiap orang!” Kerajaan Allah bukanlah hanya untuk orang-orang Farisi atau anggota Sanhedrin, orang-orang berkuasa dalam sistem pemerintahan dan agama Yahudi. Kerajaan Allah yang diinaugurasikan oleh Yesus itu dimaksudkan untuk setiap orang yang ada. Tidak ada seorang pun yang terlalu kecil atau tidak signifikan di mata Allah.

Puncak Injil, kebenaran yang dinyatakan oleh Yesus, bersandar pada satu hal ini, yaitu bahwa Kerajaan Allah terbuka bagi semua orang. Kerajaan itu dimulai di salah sudut dunia yang tidak dikenal, di tengah sebuah bangsa kecil, pada titik waktu dalam sejarah di mana belum dikenal apa yang dinamakan komunikasi global. Ini adalah sebuah misteri, tanda heran dari karya Allah di tengah umat-Nya. Namun apa yang pada awalnya kelihatan tidak berarti dapat memberikan hasil yang besar dan sungguh luar biasa.

Dalam rumah atau  tempat pekerjaan kita yang kadang-kadang terasa sibuk dengan urusan dunia, dalam tugas-tugas rutin kita, kita tidak boleh memandang rendah apa yang dapat dilakukan oleh Tuhan melalui diri kita selagi kita terus menanggapi dengan penuh ketaatan bisikan suara-Nya. Kebanyakan dari kita, dalam hati, memandang diri kita sebagai orang-orang biasa saja, dan apa yang kita lakukan relatif tidak signifikan dalam keseluruhan rancangan besar kekal-abadi dari Allah. Namun bagi Allah kita sangatlah berharga, pribadi lepas pribadi, dan kita masing-masing merupakan bagian hakiki dari tubuh Kristus. Dengan mempersamakan signifikansi dengan pengakuan, kita jatuh ke dalam perangkap pemikiran bahwa apa yang kita lakukan tidaklah begitu penting.

Ini bukanlah cara Allah berpikir! Bayangkan saja bagaimana Dia melayani dalam Kerajaan-Nya di atas bumi, melalui seorang tukang kayu miskin dari sebuah negeri kecil di Timur Tengah. Bayangkanlah juga bagaimana Dia membentuk orang-orang kudus besar, a.l. Santa Teresa dari Lisieux, seorang biarawati kontemplatif yang tersembunyi dalam sebuah biara Karmelites; atau bagaimana Dia membuat mercu suar kasih-Nya menyinari dunia lewat Beata Bunda Teresa dari Kalkuta, seorang biarawati yang berusia tidak muda lagi. Banyak orang kudus pada kenyataannya berasal dari keluarga-keluarga sederhana yang menaruh kepercayaan mereka kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka. Oleh karena itu kita pun harus bertekun dan membiarkan biji sesawi dan ragi dalam dan dari hidup kita bertumbuh dan menjadi daya transformasi yang dahsyat dalam memajukan Kerajaan-Nya.

DOA: Ya Tuhanku dan Allahku, tidak ada pribadi yang terlalu kecil bagi-Mu untuk dibentuk. Pertumbuhan hidup-Mu dalam diriku dan Kerajaan-Mu di atas bumi adalah seluruhnya karya-Mu. Berikanlah rahmat-Mu kepadaku agar aku percaya bahwa Engkau senantiasa bekerja, bahkan pada saat-saat aku tidak dapat melihatnya sendiri. Berikanlah juga kepadaku iman dan visi untuk percaya  bahwa apabila aku senantiasa taat kepada-Mu, maka tidak ada yang tidak dapat Kaulakukan atas diriku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mrk 4:26-34), bacalah tulisan yang berjudul “SATU LAGI PERUMPAMAAN YESUS TENTANG KERAJAAN ALLAH” (bacaan tanggal 29-1-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2016. 

Cilandak, 27 Januari 2016 [Peringatan S. Angela Merici] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KEBOSANAN DAN PRIBADI YANG KOSONG

KEBOSANAN DAN PRIBADI YANG KOSONG

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Tomas Aquino – Kamis, 28 Januari 2016) 

sermon_on_the_mount_carl_bloch-e1296500203637

Lalu Yesus berkata kepada mereka, “Mungkinkah orang membawa pelita supaya ditempatkan di bawah tempayan atau di bawah tempat tidur? Bukankah supaya ditaruh di atas kaki pelita? Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan tersingkap. Siapa yang mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!”

Lalu Ia berkata lagi, “Perhatikanlah apa yang kamu dengar! Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu, dan di samping itu akan ditambah lagi kepadamu. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil. (Mrk 4:21-25) 

Bacaan Pertama: 2 Sam 7:18-19, 24-29; Mazmur Tanggapan: Mzm 132:1-5. 11-14 

Yesus berkata, “Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu”  (Mrk 4:24). Ini merupakan sebuah petunjuk kuat (atau katakanlah: sebuah peringatan) bagi sebagian dari kita yang menderita karena ditimpa rasa bosan. Apakah sebenarnya kebosanan itu? Apakah mengulang-ulangi suatu tindakan sebagai suatu rutinitas? Tidak! Kita makan dan tidur, mandi, mengenakan pakaian dll. dan tidak pernah merasa lelah melakukan hal-hal rutin seperti itu. Ada orang-orang yang mendefinisikan kebosanan sebagai “menjadi muak karena tidak melakukan apa pun”. Atau barangkali lebih baik, kebosanan adalah “letih-lesu karena tidak melakukan apa pun yang berarti”.

Saya tidak dapat benar menjadi bosan apabila saya mengetahui bahwa kerja saya sepanjang hari sesungguhnya telah memberikan puji-pujian kepada Allah dan membawa berkat-berkat bagi saya dan “dunia” di sekitar saya. Namun bila saya mengetahui bahwa saya telah membuang satu hari lainnya dengan mencoba untuk menggelembungkan kebanggaan pribadi saya atau berupaya untuk memenuhi diri saya dengan kenikmatan-kenikmatan duniawi, maka saya bisa saja jatuh ke dalam kedua hal tersebut dan pada akhirnya saya menjadi muak dengan diri saya sendiri dan dengan dunia.

Jika saya menantikan orang-orang lain untuk membuat hidup saya menjadi menarik atau exciting, bila saya dengan kemauan sendiri menjadi merasa bosan, maka saya pantas menerima perasaan kosong yang mengiringi hal tersebut; karena pada kenyataannya saya memang “kosong”. Jika saya tidak dapat memikirkan sesuatu yang lebih baik dalam menggunakan waktu senggang saya kecuali memirsa televisi saja sepanjang hari atau berdiri di persimpangan jalan sambil menantikan datangnya excitement, maka sebenarnya saya adalah “kosong”. Jika saya tidak mampu menyelamatkan diri saya dari kebosanan karena saya adalah semacam kupu-kupu yang senantiasa terbang ke sana ke mari, tidak pernah dalam keadaan tenang lebih dari 5 menit, maka saya perlu sekali mendengarkan suara Allah.

Allah dapat saja hanya berkata: “Anak-Ku, jika saja engkau mulai membuat dirimu menjadi suatu berkat bagi orang-orang lain, maka engkau tidak akan menjadi bosan lagi. Jika saja engkau belajar apa artinya mengasihi Allah dan sesamamu, jika saja engkau mulai berdoa dengan sungguh-sungguh, sehingga engkau menghargai sukacita dari kehidupan, maka kehidupan tidak akan membosankan. Masalah kamu jadinya adalah tidak mempunyai waktu yang cukup setiap hari untuk mencapai hal-hal baik yang engkau hasrati.

Akan tetapi, apabila engkau menggunakan waktu untuk bersantai sambil menantikan kedatangan kenikmatan-kenikmatan, jika engkau tetap melangkah ke sana ke mari tanpa arah, maka kehidupanmu sungguh dapat merupakan kebosanan, dan apabila engkau meninggal dunia tidak ada seorangpun yang mengatakan bahwa mereka merasa kehilangan engkau. Kita merasakan kehilangan orang-orang tertentu pada waktu mereka meninggal dunia. Orang-orang tertentu itu adalah mereka yang dengan kasih mereka kepada Allah dan sesama, dengan kemurahan hati mereka yang penuh ketekunan, telah membuat hidup menjadi lebih berbahagia untuk setiap orang di sekeliling mereka.”

DOA: Bapa surgawi, oleh kuasa Roh Kudus-Mu bentuklah diriku menjadi seorang murid Kristus yang baik, sehingga aku dapat mengasihi Engkau dan sesama seturut kehendak-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 4:21-25), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MENGAJAR JUGA LEWAT PEMBACAAN DAN PERMENUNGAN SABDA ALLAH DALAM KITAB SUCI” (bacaan tanggal 29-1-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 29-1-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 26 Januari 2016 [Peringatan S. Timotius dan Titus, Uskup] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS SANGAT SENANG UNTUK MENGUBAH HIDUP KITA

YESUS SANGAT SENANG UNTUK MENGUBAH HIDUP KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Angela Merici, Perawan (OFS), Pendiri Tarekat OSU  – Rabu, 27 Januari 2016)

 n80

Pada suatu kali Yesus mulai mengajar lagi di tepi danau. Lalu datanglah orang banyak yang sangat besar jumlahnya mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke sebuah perahu yang sedang berlabuh lalu duduk di situ, sedangkan semua orang banyak itu di darat, di tepi danau itu. Ia mengajarkan banyak hal dalam  perumpamaan kepada mereka. Dalam ajaran-Nya itu Ia berkata kepada mereka, “Dengarlah! Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. Pada waktu ia menabur sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah tanam-tanaman itu dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati, sehingga ia tidak berbuah. Sebagian jatuh di tanah yang baik, sehingga tumbuh dengan subur dan berbuah. Hasilnya ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang seratus kali lipat.” Lalu kata-Nya, “Siapa yang mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!”

Ketika Ia sendirian, pengikut-pengikut-Nya dan kedua belas murid itu bertanya kepada-Nya tentang perumpamaan itu. Lalu Ia berkata kepada mereka, “Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan, supaya: Sekalipun memang melihat, mereka tidak memahami, sekalipun memang mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan diberi pengampunan.” Lalu Ia berkata kepada mereka, “Tidakkah kamu mengerti perumpamaan ini? Kalau demikian bagaimana kamu dapat memahami semua perumpamaan yang lain? Penabur itu menaburkan firman. Orang-orang yang di pinggir jalan, tempat firman itu ditaburkan, ialah mereka yang mendengar firman, lalu datanglah Iblis dan mengambil firman yang baru ditaburkan di dalam mereka. Demikian juga yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu, ialah orang-orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira, tetapi mereka tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila kemudian datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu mereka segera murtad. Yang lain ialah yang ditaburkan di tengah semak duri; itulah yang mendengar firman itu, lalu kekhawatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. Akhirnya yang ditaburkan di tanah yang baik, ialah orang yang mendengar dan menyambut firman itu lalu berbuah, ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat.” (Mrk 4:1-20) 

Bacaan Pertama: 2 Sam 7:4-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 89:4-5,27-30

Dengan mengedepankan perumpamaan tentang seorang penabur, Markus memberi kesempatkan kepada kita untuk “icip-icip” sedikit saja dari ajaran Yesus yang indah. Sampai titik ini, Markus fokus pada banyak karya Yesus: penyembuhan dan mukjizat serta tanda heran lainnya. Sekarang, melalui cerita ini Markus mulai menunjukkan cara Yesus mengajar. Yesus menggunakan perumpamaan ini untuk menggambarkan kemurahan hati Allah yang berlimpah. Bapa surgawi selalu menaburkan benih-benih sabda-Nya, mengundang kita agar dapat mengenal kasih dan belas-kasih-Nya. Allah senantiasa mengulurkan tangan-tangan kasih-Nya kepada kita. Dengan mengetahui bahwa kita memiliki seorang Bapa yang tidak pernah meninggalkan kita sebenarnya memberikan kepada kita damai-sejahtera dan pengharapan yang besar.

Setiap benih yang jatuh ke tanah yang baik akan bertumbuh. Benih yang ditanam oleh Bapa surgawi tentunya akan bertumbuh jika bertemu dengan hati yang terbuka bagi-Nya. Ini adalah janji Allah sendiri. Namun, bagaimana kita menentukan bahwa tanah hati kita itu baik? Yesus memberikan beberapa hal untuk kita perhatikan:

  • Apakah keragu-raguan dan ketidakpercayaan langsung mencuri damai-sejahtera yang dibawakan oleh sabda Allah (Mrk 4:15)?
  • Bilamana datang kesulitan atau pengejaran dan penganiayaan karena iman-kepercayaan kita, apakah kita berdiri tegak dalam iman kita, atau iman kita menjadi menyusut, malah sampai hilang (Mrk 4:16-17)?
  • Apakah kita begitu terbebani oleh urusan-urusan dunia ini? Apakah pengejaran harta-kekayaan dan hasrat untuk memperoleh hal-hal duniawi lainnya mengambil tempat yang lebih banyak dalam hati kita daripada kehadiran Yesus (Mrk 4:18-19)?

Kita tidak boleh sampai berputus-asa karena batu-batu dan duri-duri ketidakpercayaan, pelanturan, atau rasa takut yang menghalangi sabda Allah untuk menjadi berakar dalam hati kita. Yesus sangat senang untuk mengubah hati kita jika kita meminta kepada-Nya. Yesus memiliki kesabaran yang luarbiasa dengan diri kita masing-masing, sebagaimana Dia senantiasa bersikap sabar terhadap para murid-Nya yang pertama. Dia senang untuk menjelaskan kepada kita “rahasia Kerajaan Allah” selagi kita memperkenankan benih sabda-Nya bertumbuh dalam diri kita.

DOA: Roh Kudus, siapkanlah hati kami agar dapat menerima sabda Allah lebih dan lebih lagi. Nyatakanlah kepada kami hasrat mendalam dari Yesus untuk mengajar kami hal-hal yang datang dari Allah, dan kasih-Nya yang mendalam serta kesabaran-Nya melihat kami dalam kelemahan-kelemahan kami. Tolonglah kami agar dapat menghasilkan buah berlimpah bagi Kerajaan Allah. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 4:1-20), bacalah tulisan yang berjudul “GAMBARAN YANG INDAH DARI HIDUP KRISTIANI” (bacaan tanggal 27-1-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2016. 

Cilandak, 25 Januari 2016 [Pesta Bertobatnya S. Paulus, Rasul] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SIAPA SAJA YANG MELAKUKAN KEHENDAK ALLAH

SIAPA SAJA YANG MELAKUKAN KEHENDAK ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Timotius dan Titus, Uskup – Selasa, 26 Januari  2016) 

YESUS MENGAJAR - 1000Lalu datanglah ibu dan saudara-saudara Yesus. Sementara mereka berdiri di luar, mereka menyuruh orang memanggil Dia. Ada orang banyak duduk mengelilingi Dia, mereka berkata kepada-Nya, “Lihat, ibu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau.”  Jawab Yesus kepada mereka, “Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?”  Ia melihat kepada orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya itu dan berkata, “Inilah ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Siapa saja yang melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku perempuan dan ibu-Ku.”  (Mrk 3:31-35)

Bacaan Pertama: 2 Sam 6:12b-15,17-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 24:7-10

Apakah kiranya yang menyebabkan keluarga Yesus datang “hendak mengambil Dia” dan mengatakan bahwa “Ia tidak waras lagi” (lihat Mrk 3:21)? Agar supaya kita dapat sedikit merasakan apa kiranya yang mereka lihat dan dengar, bayangkanlah diri kita sebagai sebagai salah satu saudara sepupu Yesus. Kita melihat bagaimana hidup Yesus mengalami suatu perubahan yang signifikan, ketika pada usia 30 tahun, Dia menerima dibaptis oleh Yohanes Pembaptis di Sungai Yordan, lalu pergi berpuasa untuk empat puluh hari lamanya di padang gurun.

Setelah Ia kembali dari retret yang cukup lama dan berat itu, Yesus mulai bertindak-tanduk sebagai seorang pengkhotbah publik. Ia mewartakan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat dan menyerukan orang-orang supaya bertobat. Kemudian, ada sekelompok murid yang berkumpul di sekeliling dirinya dan mengikuti-Nya ke sana ke mari. Mereka mengklaim bahwa Yesus mampu mengusir roh-roh jahat, menyembuhkan berbagai sakit-penyakit, membuat mukjizat dan berbagai tanda heran lainnya. Mereka mensyeringkan cerita-cerita tentang apa yang diajarkan dan dilakukan Yesus kepada orang-orang lain. Banyak waktu Yesus digunakan untuk bergaul dengan orang-orang berdosa, seperti para pemungut cukai, PSK dan pengemis. Banyak orang yang mulai mengikut Dia, orang sakit, orang yang dirasuki roh jahat. Tidak jarang kegiatan Yesus begitu sibuknya sehingga waktu untuk makan saja tidak ada.

Gambaran tentang kegiatan pelayanan Yesus ini kiranya dapat menolong kita memahami mengapa keluarga-Nya mencoba untuk meyakinkan Dia agar pulang ke rumah. Bagaimana pun juga mereka tidak tahu sepenuhnya siapa Yesus ini. Bahkan ibu-Nya sendiri, Maria, walaupun tanpa noda, harus bertumbuh dalam pemahamannya akan kata-kata malaikat Gabriel, bahwa Anaknya akan “menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka” (Mat 1:21).

Ketika kepada Yesus diberitahukan bahwa ibu dan saudara-saudara-Nya ada di luar dan  berusaha untuk menemui diri-Nya, maka jawab Yesus kepada mereka terdengar cukup provokatif: “Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?” (Mrk 3:33). Kemudian, sambil melihat kepada orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya, Yesus berkata lagi: “Inilah ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Siapa saja yang melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku perempuan dan ibu-Ku” (Mrk 3:34-35). Apa yang mula-mula terdengar sebagai sebuah teguran keras ternyata merupakan sebuah undangan kepada siapa saja untuk menjadi bagian dari keluarga Yesus – dan dalam proses untuk mengenal diri-Nya dengan lebih baik. Tidak ada satu pun dari kita – bahkan yang memiliki  beberapa gelar doktor dalam ilmu teologi – yang dapat mengenal secara lengkap siapa Yesus itu. Yesus – Tuhan dan Juruselamat kita semua – tetap masih dapat mengejutkan kita. Namun di tengah-tengah kejutan-kejutan yang dibuat oleh-Nya, ada satu hal yang pasti: Kita dapat bertumbuh semakin dekat dengan Yesus selagi kita memuliakan dan mentaati sabda-Nya. Inilah alasan hakiki mengapa Yesus telah memberikan Roh Kudus-Nya kepada kita – untuk mengajar kita dan memberdayakan kita.

TITUS & TIMOTIUSSanto Timotius dan Santo Titus. Pada hari ini, tanggal 26 Januari, Gereja (anda dan saya) memperingati dua orang uskup dalam Gereja awal, yaitu Santo Timotius dan Santo Titus. Injil (Kabar Baik) Yesus Kristus yang diterima oleh Paulus, disampaikannya kepada kedua orang ini. Mereka adalah para pengikut Paulus yang setia, dan sang Rasul menyapa Timotius dan Titus berturut-turut sebagai “anakku yang terkasih” (2Tit 1:2) dan “anakku yang sah menurut iman kita bersama” (Tit 1:4). Timotius pertama-tama disebut berdiam di Listra, barangkali bertobat dalam masa kunjungan Paulus yang terdahulu ke kota itu, bersama dengan ibundanya, seorang Yahudi yang bernama Eunike dan neneknya yang bernama Lois (Kis 16:1; 2Tim 1:5). Ayah dari Timotius adalah seorang Yunani, campuran dengan Yahudi – semua ini menunjukkan rancangan Roh, mempersiapkan Timotius untuk mewartakan Injil, baik kepada orang-orang Yahudi maupun non-Yahudi (=kafir).

Titus  adalah keturunan non-Yahudi (orang Yunani; lihat Gal 2:1,3). Ia menemani Paulus pergi ke Yerusalem dan merupakan bukti pilihan Allah atas orang non-Yahudi, “dengan mengaruniakan Roh Kudus” (Kis 15:8) sama seperti kepada orang Yahudi. Ia bersama Paulus dalam perjalanan misioner Paulus yang ketiga, diutus dua kali ke Korintus untuk memulihkan orde di sana (2Kor 7:13-15; 8:16-24), dipercayakan dengan organisasi Gereja di Kreta (Tit 1:5), dan akhirnya pergi bertugas di Dalmatia (2Tim 4:10).

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau membawa kepadaku iman kepada Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus. Oleh Roh Kudus, perdalamlah imanku. Ajarlah aku lebih dan lebih lagi tentang Ysus sehingga dengan demikian aku dapat mengasihi-Nya dengan lebih lagi. Terpujilah Engkau, ya Allah Tritunggal Mahakudus, Bapa, Putera dan Roh Kudus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 3:31-35), bacalah tulisan yang berjudul “MENERIMA SEMUA UMAT ALLAH KE DALAM HATI KITA” (bacaan tanggal 26-1-16), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2016.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 27-1-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 24 Januari  2016 [HARI MINGGU BIASA III – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

 

PENGALAMAN TAK TERDUGA-DUGA YANG MENGUBAH PAULUS

PENGALAMAN TAK TERDUGA-DUGA YANG MENGUBAH PAULUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Pesta Bertobatnya Santo Paulus, Rasul – Sabtu, 25 Januari 2016)

PENUTUP PEKAN DOA SEDUNIA UNTUK PERSATUAN UMAT KRISTIANI 

KISAH - PAULUS - PERTOBATANNYA“Aku adalah orang Yahudi, lahir di Tarsus di tanah Kilikia, tetapi dibesarkan di kota ini; dididik dengan teliti di bawah pimpinan Gamaliel dalam hukum nenek moyang kita, sehingga aku menjadi seorang yang giat bekerja bagi Allah sama seperti kamu semua pada waktu ini. Aku telah menganiaya pengikut-pengikut Jalan Tuhan sampai mereka mati; laki-laki dan perempuan kutangkap dan kuserahkan ke dalam penjara. Tentang hal itu baik Imam Besar maupun Majelis Tua-Tua dapat bersaksi. Dari mereka aku telah membawa surat-surat untuk saudara-saudara di Damsyik dan aku telah pergi ke sana untuk menangkap penganut-penganut Jalan Tuhan, yang terdapat juga di situ dan membawa mereka ke Yerusalem untuk dihukum.

Tetapi dalam perjalananku ke sana, ketika aku sudah mendekati Damsyik, kira-kira tengah hari, tiba-tiba memancarlah cahaya yang menyilaukan dari langit mengelilingi aku. Lalu rebahlah aku ke tanah dan aku mendengar suara yang berkata kepadaku: Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku? Jawabku: Siapakah Engkau, Tuan? Kata-Nya: Akulah Yesus, orang Nazaret, yang kauaniaya itu. Orang-orang yang menyertai aku, memang melihat cahaya itu, tetapi suara Dia, yang berkata kepadaku, tidak mereka dengar. Lalu kataku: Tuhan, apakah yang harus kuperbuat? Kata Tuhan kepadaku: Bangkitlah dan pergilah ke Damsyik. Di sana akan diberitahukan kepadamu segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu. Karena aku tidak dapat melihat disebabkan oleh cahaya yang menyilaukan mata itu, maka kawan-kawan seperjalananku memegang tanganku dan menuntun aku ke Damsyik. Di situ ada seorang bernama Ananias, seorang yang saleh menurut hukum Taurat dan terkenal baik di antara semua orang Yahudi yang ada di situ. Ia datang berdiri di dekatku dan berkata: Saulus, saudaraku, hendaklah engkau melihat kembali! Seketika itu juga aku melihat kembali dan menatap dia. Lalu katanya: Allah nenek moyang kita telah menetapkan engkau untuk mengetahui kehendak-Nya, untuk melihat Yang Benar dan untuk mendengar suara yang keluar dari mulut-Nya. Sebab engkau harus menjadi saksi-Nya terhadap semua orang tentang apa yang kaulihat dan yang kaudengar. Sekarang, mengapa engkau masih ragu-ragu? Bangunlah, berilah dirimu dibaptis dan dosa-dosamu disucikan dengan berseru kepada nama Tuhan! (Kis 22:3-16)

Bacaan Pertama alternatif: Kis 9:1-22; Mazmur Tanggapan: Mzm 117:1-2; Bacaan Injil: Mrk 16:15-18

Di jalan-jalan Yerusalem dari waktu ke waktu kelihatan orang yang berlari-lari guna menyelamatkan diri sementara ada sekelompok orang-orang lain yang mengejar-ngejar mereka, lalu menangkap mereka dengan kekerasan dan menganiaya mereka dst. Sumpah serapah, kata-kata menghina, dan ancaman-ancaman bercampur dengan teriakan-teriakan kesakitan dan menyedihkan dari orang-orang yang menjadi korban terror. Pengejaran manusia oleh manusia ini terjadi atas umat Kristiani awal. Tidak ada lagi tempat tersisa bagi para penganut ajaran “bidaah/sekte” baru ini karena pengejaran dan penganiayaan tersebut terjadi siang dan malam untuk kurun waktu yang lama. Detil-detil cerita tentang peristiwa pengejaran yang berlangsung berkepanjangan ini dapat kita lihat dari tulisan-tulisan pemeran utamanya (biang-nya) sendiri: Paulus, yang sebelumnya bernama Saulus.

Saulus dari Tarsus adalah seorang pengejar dan penganiaya orang-orang Kristiani yang tak mengenal lelah. Dan dia memang mempunyai wewenang untuk melakukan pengejaran berdasarkan kuasa dari lembaga keagamaan Yahudi tertinggi di Yerusalem. Semuanya demi Allah yang disembahnya. Lalu, pada suatu hari secara dramatis dia “berjumpa” dengan Tuhan Yesus dan mendengar sendiri Dia berbicara kepadanya di jalan menuju kota Damsyik. Setelah peristiwa itu, tidak ada lagi yang sama bagi/tentang Saulus,  …… dia berubah (diubah). Dia mengalami revolusi batiniah (inner revolution). Sebelum peristiwa itu hatinya dipenuhi kebencian luarbiasa terhadap para pengikut “Jalan Tuhan”, namun setelah peristiwa itu Paulus (nama baru dari Saulus) menjadi pewarta KABAR BAIK YESUS KRISTUS kelas wahid, nyaris tak tertandingi. Seorang penginjil sejati!!!

Ananias yang saleh menjelaskan kepada Saulus tentang apa yang baru saja terjadi atas dirinya dan apa yang harus dilakukannya: “Allah nenek moyang kita telah menetapkan engkau untuk mengetahui kehendak-Nya, untuk melihat Yang Benar dan untuk mendengar suara yang keluar dari mulut-Nya……. Bangunlah, berilah dirimu dibaptis dan dosa-dosamu disucikan dengan berseru kepada nama Tuhan” (Kis 22:14,16).

PAULUS SEDANG KE JALAN DAMSYIKDengan begitu, Paulus menjadi sebuah bejana rahmat yang besar dan merupakan salah satu orang kudus Gereja yang paling mengemuka. Namun demikian, Paulus tidak pernah melupakan “siapa dirinya dulu”, dan  bagaimana Allah telah menyelamatkannya. Bertahun-tahun setelah peristiwa di jalan menuju Damsyik itu, Paulus menulis kepada salah seorang rekan kerjanya: “Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa, dan di antara mereka akulah yang paling berdosa” (1Tim 1:15). Paulus tidak pernah mengedepankan peranan dirinya sendiri dalam transformasi pribadinya. Paulus sangat mengetahui bahwa dia berhutang segalanya kepada belas kasihan dan pengampunan mutlak dari Allah: “… aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang yang ganas tetapi telah dikasihani-Nya, karena semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu di luar iman. Malah anugerah Tuhan kita itu telah dikaruniakan dengan limpahnya kepadaku dengan iman dan kasih dalam Kristus Yesus” (1 Tim 1:13-14).

Rahmat dan belas kasihan yang telah mentransformasikan “Teroris dari Tarsus” menjadi pahlawan agung Gereja yang bernama Santo Paulus masih bekerja, bahkan pada hari ini juga. Hal itu disebabkan karena semua pertobatan – baik yang cepat dan dramatis atau yang bertahap – adalah karya Allah, dan Allah tidak pernah berubah. Nah, apabila Yesus dapat mengubah secara radikal seorang musuh Gereja yang begitu membenci umat-Nya, pikirkanlah apa yang dapat dilakukannya dalam diri kita – orang-orang yang sudah menjadi anggota tubuh-Nya dan telah dibersihkan oleh air baptisan. Allah ingin agar kita sepenuhnya hidup dalam Roh-Nya. Dia ingin memenuhi diri kita dengan kehidupan-Nya sendiri, sehingga secara alami kita dapat memanifestasikan sukacita karena mengenal Yesus secara pribadi dan menunjukkan kepada orang lain vitalitas dari kehidupan-Nya. Dengan demikian kita masing-masing mampu mengenal Yesus, sedalam Paulus mengenal-Nya, dan mengalami kehidupan dan kuasa-Nya. Yesus yang sama, yang telah menyentuh Saulus secara pribadi, pada saat ini pun siap dan mampu mentransformasikan diri kita masing-masing, membakar kita dengan api kasih-Nya.

Kunci untuk menerima lebih mendalam lagi Tuhan Yesus dan kuasa kehidupan-Nya adalah rasa haus serta lapar akan Dia; sederhananya: memohon terus kepada-Nya, lagi dan lagi. Di segala zaman tak terhitung banyaknya orang Kristiani yang dapat memberi kesaksian bahwa mereka pernah berjumpa dengan Yesus dalam suatu cara yang unik, baru dan penuh kuasa, sehingga hidup mereka berubah (diubah) secara dramatis – seperti Saulus yang kemudian menjadi Paulus. Banyak dari mereka, seperti Saulus, ditransformasikan secara radikal dan diberdayakan untuk salah satu peran pelayanan sebagai bagian dari misi tubuh Kristus. Kuasa dari “Tuhan yang bangkit” ini tersedia bagi kita masing-masing. Marilah kita menghaturkan permohonan kepada-Nya agar menyentuh kita secara segar, sehingga dengan demikian kita pun akan berubah menjadi seorang manusia baru. Percayalah, Saudari dan Saudaraku, Yesus dapat melakukannya!

DOA: Tuhan Yesus, aku mohon kepada-Mu agar Engkau sudi memberi sentuhan lebih mendalam dari kuasa-Mu dan kemuliaan-Mu ke dalam diriku. Aku tahu bahwa Engkau tidak pernah mengecewakan diriku. Ubahlah aku secara radikal, ya Tuhan, agar aku dapat mengasihi-Mu dan melayani-Mu sepanjang hidupku. Amin.

Cilandak, 22 Januari 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS