YESUS MENANGISI KEHANCURAN YERUSALEM

YESUS MENANGISI KEHANCURAN KOTA YERUSALEM

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIII – Kamis, 20 November 2014)

FMM: Peringatan S. Agnes dr Assisi, Pelindung Pra-Novis FMM

YESUS MENANGSISI YERUSALEM - 003Ketika Ia telah mendekati dan melihat kota itu, Yesus menangisinya, kata-Nya: “Alangkah baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu. Sebab akan datang harinya, ketika musuhmu akan mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan. Mereka akan membinasakan engkau beserta dengan penduduk yang ada padamu, dan mereka tidak akan membiarkan satu batu pun tinggal terletak di atas batu yang lain, karena engkau tidak mengetahui saat ketika Allah datang untuk menyelamatkan engkau.” (Luk 19:41-44)

Bacaan Pertama: Why 5:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 149:1-6,9

Laki-laki sejati tidak diharapkan untuk menangis di depan umum – namun Yesus sungguh menangis! Injil mencatat dua peristiwa di mana Yesus menangis: di dekat kubur Lazarus dari Betania (Yoh 11:35) dan pada saat Ia memandang kota suci Yerusalem. Apakah yang menggerakkan Yesus untuk menangisi kota Yerusalem ketika Dia memandang kota itu?

Yesus datang ke kota Yerusalem untuk menawarkan para penduduknya pembebasan yang sejati dan suatu damai-sejahtera yang tidak dapat diberikan oleh penguasa dunia manapun, yaitu pengampunan dosa dan rekonsiliasi dengan Bapa surgawi. Yerusalem mendapat namanya dari sepatah kata Ibrani yang berarti “damai” …… “Salem”. Namun sayangnya, kota Yerusalem belum siap untuk menyambut sang “Raja Damai”. Sabda Yesus: “Engkau tidak mengetahui saat ketika Allah datang untuk menyelamatkan engkau” (Luk 19:44).

Dalam artian tertentu Yesus sebenarnya menghidupkan kembali suatu episode dalam sejarah kota suci ini yang sudah berumur 600 tahun: masa hidup Yeremia, ketika Yerusalem sedang menghadapi sebuah penyerbuan besar-besaran dari pasukan Babel. Nubuatannya yang dibuat-Nya sambil menangis ini terpenuhi ketika pasukan tentara Romawi menghancurkan kota suci Yerusalem dan praktis meratakan Bait Suci pada tahun 70. Patut kita catat, bahwa walaupun ketika Dia meratapi kota Yerusalem bukanlah berarti Dia tidak berpengharapan: “Alangkah baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu  untuk damai sejahteramu!” (Luk 19:42).

Apakah kita (anda dan saya) mengetahui apa saja yang memungkinkan terciptanya damai-sejahtera? Damai-sejahtera yang ditawarkan oleh Yesus lebih daripada sekadar tidak adanya konflik dan peperangan. Damai-sejahtera dari Yesus berarti pembebasan dari keterikatan pada rasa takut, pembebasan dari prasangka, kebencian dan penolakan. Damai-sejahtera dari Yesus adalah kebebasan dari dosa yang datang selagi kita memusatkan pandangan mata kita pada Yesus dan mencoba untuk berjalan mengikuti perintah-perintah-Nya dalam ketaatan. Inilah satu-satunya damai-sejahtera yang membawa kesembuhan, rahmat, serta persatuan dan kesatuan. Keluarga-keluarga, komunitas-komunitas, dan bahkan seluruh negara dan bangsa dapat mengenal damai-sejahtera ini apabila mereka sungguh-sungguh menyingkirkan berbagai halangan yang mencegah mereka merangkul Tuhan.

Damai-sejahtera yang sejati dimungkinkan seturut sampai berapa jauh kita memperkenankan Yesus memerintah hati dan pikiran kita, juga memperhatikan rumahtangga dan relasi-relasi kita. Sabda-Nya dan Roh Kudus-Nya memiliki kuat-kuasa untuk menghancurkan setiap penghalang. Ketika kekhawatiran melanda diri kita, maka Yesus dapat menunjukkan kepada kita bagaimana mengatasi rasa takut kita dengan keberanian dan iman, kepahitan kita dengan cintakasih dan pengampunan, dan intoleransi kita dengan kebaikan hati dan kesabaran.

DOA: Tuhan Yesus, berikanlah damai-sejahtera-Mu kepada semua orang yang sedang dirundung kekhawatiran dan rasa was-was pada hari ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 19:41-44), bacalah tulisan yang berjudul “PENGHARAPAN KITA” (bacaan tanggal 20-11-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM https://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2013. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-11-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 17 November 2014 [Peringatan S. Elisabet dr Hungaria, Ratu & OFS] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SETIAP ORANG YANG MEMPUNYAI, KEPADANYA AKAN DIBERI

SETIAP ORANG YANG MEMPUNYAI, KEPADANYA AKAN DIBERI

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIII – Rabu, 19 November 2014)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Agnes dr Assisi, Perawan 

images (13)Sementara mereka mendengarkan hal-hal itu, Yesus melanjutkan perkataan-Nya dengan suatu perumpamaan, sebab Ia sudah dekat Yerusalem dan mereka menyangka bahwa Kerajaan Allah akan segera kelihatan. Lalu Ia berkata, “Ada seorang bangsawan berangkat ke sebuah negeri yang jauh untuk dinobatkan menjadi raja di situ dan setelah itu baru kembali. Ia memanggil sepuluh orang hambanya dan memberikan sepuluh mina kepada mereka, katanya: Pakailah ini untuk berdagang sampai aku datang kembali. Akan tetapi, orang-orang sebangsanya membenci dia, lalu mengirimkan utusan menyusul dia untuk mengatakan: Kami tidak mau orang ini menjadi raja atas kami. Setelah dinobatkan menjadi raja, ketika ia kembali ia menyuruh memanggil hamba-hambanya yang telah diberinya uang itu, untuk mengetahui berapa hasil dagang mereka masing-masing. Orang yang pertama datang dan berkata: Tuan, mina tuan yang satu itu telah menghasilkan sepuluh mina. Katanya kepada orang itu: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba yang baik; engkau telah setia dalam hal yang sangat kecil, karena itu terimalah kekuasaan atas sepuluh kota. Datanglah yang kedua dan berkata: Tuan, mina tuan telah menghasilkan lima mina. Katanya kepada orang itu: Dan engkau, kuasailah lima kota. Lalu hamba yang lain datang dan berkata: Tuan, inilah mina tuan, aku telah menyimpannya dalam sapu tangan. Sebab aku takut kepada Tuan, karena Tuan orang yang kejam; Tuan mengambil apa yang tidak pernah Tuan taruh dan Tuan menuai apa yang tidak Tuan tabur. Katanya kepada orang itu: Hai hamba yang jahat, aku akan menghakimi engkau menurut perkataanmu sendiri. Engkau  sudah tahu bahwa  aku orang yang keras yang mengambil apa yang tidak pernah aku taruh dan menuai apa yang tidak aku tabur. Jika demikian, mengapa uangku itu tidak kau kaumasukkan ke bank (orang yang menjalankan uang)? Jadi, pada waktu aku kembali, aku dapat mengambilnya dengan bunganya. Lalu katanya kepada orang-orang yang berdiri di situ: Ambillah mina yang satu itu dari dia dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh mina itu. Kata mereka kepadanya: Tuan, ia sudah mempunyai sepuluh mina. Jawabnya: Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, juga apa yang ada padanya akan diambil. Akan tetapi, semua seteruku ini, yang tidak suka aku menjadi rajanya, bawalah mereka ke mari dan bunuhlah mereka di depan mataku.”

Setelah mengatakan semuanya itu Yesus mendahului mereka dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem. (Luk 19:11-28)

Bacaan Pertama: Why 4:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 150:1-6 

Dalam episode sebelum ini, Yesus memproklamasikan keselamatan sebagai suatu realitas hari ini juga, keselamatan yang telah datang ke  rumah Zakheus “hari ini”) karena tanggapan penuh iman dari sang kepala pemungut cukai/pajak. Sekarang, Yesus masih berbicara dengan audiensi yang sama, dan dalam kesempatan itu Dia mengajar dengan menggunakan “perumpamaan tentang uang mina”. Lewat perumpamaan ini, Yesus mengembangkan dua buah pemikiran. Pertama, Yesus berbicara tentang sebuah Kerajaan yang tidak akan muncul dalam waktu dekat, namun yang hanya akan muncul ketika seorang bangsawan bepergian ke sebuah negeri yang jauh untuk menerima peneguhan sebagai raja dan kemudian kembali untuk menghakimi mereka yang telah menolak dirinya. Kedua, selama ketidakhadirannya, bangsawan itu mempercayakan para hambanya untuk mengkapitalisasikan uang mina yang telah mereka terima; mereka yang terbukti produktif akan diberikan imbalan, sedangkan mereka yang tidak berusaha untuk menggunakan dan mengembangkan uang mina yang telah mereka terima akan ditolak.

Dalam introduksi editorialnya terkait perumpamaan ini, Lukas menjelaskan bahwa Yesus memilih untuk menceritakan perumpamaan ini karena Dia sudah dekat Yerusalem, dan karena para pendengar-Nya mempunyai anggapan bahwa Kerajaan Allah akan segera kelihatan. Sesuai dengan ekspektasi-ekspektasi populer, perwujudan Kerajaan Allah akan mengambil tempat di Yerusalem dalam waktu dekat; namun Lukas berargumentasi bahwa Yesus menggunakan perumpamaan ini untuk membaurkan/mengacaukan ekspektasi-ekspektasi akan parousia yang kedatangannya sudah pasti dengan menunjuk kepada suatu “penangguhan”. Yesus justru sedang dalam perjalanan pergi, bukan datang; dan krisis yang akan mengambil tempat dalam waktu dekat adalah kematian Yesus sendiri.

Ayat-ayat 12, 14, 15a, dan 27 dari bacaan Injil kita hari ini berbicara mengenai perpisahan Yesus yang sudah dekat saatnya, yang tidak akan diakui sebagai Raja sampai kedatangan-Nya kembali. Sementara Dia pergi, umat-Nya sendiri akan membuat susah misi-Nya dengan menolak diri-Nya, namun mereka akan menghadapi penghakiman pada saat kedatangan-Nya kembali. Ayat-ayat lainnya dapat membentuk sebuah perumpamaan lengkap yang serupa dengan “perumpamaan tentang talenta” (Mat 25:14-30).

YESUS - SANG GURUPerumpamaan ini dibuka dengan cerita tentang seorang bangsawan yang melakukan perjalanan ke negeri yang jauh untuk menerima kekuasaan sebagai seorang raja. Hal ini menunjukkan kesejajaran mencolok dengan sejarah pada zaman itu. Herodus Agung harus pergi ke Roma sebelum martabatnya sebagai raja dikukuhkan oleh kaisar di Roma. Ketika dia wafat pada tahun 4 SM, kerajaannya dibagi-bagi antara para anggota keluarganya sesuai dengan fatwa warisnya, namun pembagian tersebut tidak diakui sebelum dikukuhkan oleh Kaisar Agustus. Arkhelaus pergi ke Roma untuk menyampaikan klaim dirinya sebagai raja Yudea. Namun sebuah delegasi sebanyak 50 orang Yahudi juga pergi Roma dengan tujuan membujuk Kaisar Agustus untuk menunda pengangkatan Arkhelaus. Delegasi tersebut berhasil sebagian: kepada Arkhelaus diberikan separuh dari kerajaan tetapi kepadanya tidak diberikan gelar raja; sisa kerajaan ex ayah mereka kemudian dibagi dua antara Filipus dan Antipas.

Dalam perumpamaan ini sang bangsawan memanggil 10 orang hambanya dan mempercayakan kepada masing-masing hambanya uang dengan jumlah uang yang sama, yaitu 1 mina – upah seorang pekerja untuk 3 bulan. Sang bangsawan menginstruksikan para hambanya itu untuk menggunakan uang mina tersebut untuk usaha, dan dia percaya kepada cara mereka masing-masing menjalankan uang mina itu. Lalu fokus-nya bergeser dari para hambanya ke orang-orang yang mengutus sebuah delegasi untuk menghentikan kenaikan sang bangsawan ke takhta sebagai raja. Akhirnya sang bangsawan kembali ke negerinya sebagai raja; ternyata para anggota delegasi tidak berhasil melaksanakan misi mereka.

Raja yang baru ini memanggil para hambanya untuk melihat bagaimana mereka telah menjalankan uang mina yang dipercayakan kepada mereka masing-masing. Muncullah 3 orang hambanya. Dua hamba yang pertama telah meresapi semangat sang bangsawan yang biasa mengambil risiko untuk menumbuh-kembangkan uangnya. Mereka berhasil membuat laba sebesar 900% dan 400%, dan mereka pun diberi ganjaran setimpal dengan tanggung jawab lebih lagi. Sekarang hamba yang ketiga …… yang menyimpan uang mina yang dipercayakan kepadanya dalam sapu tangan. Hamba yang ketiga ini mencoba untuk membenarkan apa yang telah dilakukannya dengan fokus pada kekejaman tuannya, bukan kebodohan atau kemalasan dirinya sendiri. Dia menempatkan masalahnya pada sang raja, tidak pada dirinya sendiri. Sang raja kemudian menghukum hamba ketiga ini sesuai dengan pandangan hamba itu sendiri: jika dia memandang tuannya begitu, mengapa dia tidak melakukan hal yang paling mudah, yaitu memperoleh bunga dari rentenir yang menjalankan uang yang dipercayakan kepadanya?

Kemudian Yesus berkata kepada orang-orang yang berdiri di situ: “Ambillah mina yang satu itu dari dia dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh mina itu” (Luk 19:24). Sekilas keputusan sang raja tidak adil. Tidak heranlah apabila mereka memprotes karena yang sudah mempunyai banyak malah ditambahkan dengan jumlah yang sedikit, hal mana akan menyebabkan hamba yang ketiga tidak mempunyai apa-apa lagi. Orang-orang itu berkata: “Tuan, ia sudah mempunyai sepuluh mina” (Luk 19:25). Jawab sang raja: “Setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, juga apa yang ada padanya akan diambil” (Luk 19:26). Pelajaran apa yang kita dapat tarik dari keputusan sang raja ini?

Hamba yang ketiga masih saja tidak mampu melihat bahwa kepadanya telah dipercayakan uang mina milik tuannya, dan bahwa urusan bisnis yang penuh risiko adalah urusan saling percaya (mutual trust). Hamba ketiga ini tidak berjalan di atas azas saling percaya ini; melainkan dia tetap berdiam pada rasa takutnya. Orang-orang yang berjalan berdasarkan kepercayaan yang diberikan kepada mereka akan diberi ganjaran dengan lebih lagi. Sebaliknya mereka yang kejahatan rohnya sedemikian rupa, sehingga mereka menyimpan kepercayaan yang diberikan kepada mereka sungguh tidak pantas menerima ganjaran. Akhirnya, sang raja memindahkan perhatiannya kepada para musuhnya yang menentang pengangkatannya dan memerintahkan orang-orangnya untuk membunuh para musuhnya tersebut di depan matanya (Luk 19:27).

Perumpamaan ini mengindikasikan bahwa perpisahan Yesus dengan para murid-Nya terasa tidak lama lagi, setelah mana para murid-Nya (termasuk kita) akan menjalani masa penantian yang tidak seorang pun tahu panjang atau pendeknya, sebelum kedatangan-Nya untuk kedua kali pada saat mana akan berlangsung penghakiman terakhir atas diri kita semua. Yesus telah mengambil risiko untuk syering dengan para murid-Nya kebaikan-kebaikan-Nya, kehidupan-Nya sendiri, kepercayaan-Nya sendiri, nilai-nilai-Nya sendiri. Apa jadinya apabila para pengikut-Nya tidak mau membuat segala apa yang disyeringkan itu bertumbuh dan bekerja?

DOA: Tuhan Yesus, selagi kami menantikan kedatangan-Mu untuk kedua kali kelak, biarlah Roh Kudus-Mu terus membentuk kami sehingga menjadi mau dan mampu untuk membuat segala kebaikan, hidup, kepercayaan dan nilai-nilai yang Engkau syeringkan dengan kami, menjadi bertumbuh dan bekerja dalam diri kami masing-masing. Dengan demikian kami pun dapat turut ambil bagian dalam memajukan Kerajaan Allah. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Why 4:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “KARENA KEHENDAK-MU, SEMUANYA ITU ADA DAN DICIPTAKAN” (bacaan tanggal 19-11-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2014. 

Cilandak, 16 November 2014 [HARI MINGGU BIASA XXXIII] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS SENANTIASA MENCARI KITA

YESUS SENANTIASA MENCARI KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIII – Selasa, 18 November 2014

OSCCap.: Peringatan B. Salomea, Perawan 

ZAKHEUS - 005Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu. Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya. Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek. Ia pun berlari mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus yang akan lewat di situ. Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata kepadanya, “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.” Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita. Melihat hal itu, semua orang mulai bersungut-sungut, katanya, “Ia menumpang di rumah orang berdosa.” Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan, “Tuhan, lihatlah, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” Kata Yesus kepadanya, “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada seisi rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham. Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.”  (Luk 19:1-10)

Bacaan Pertama: Why 3:1-6,14-22; Mazmur Tanggapan: Mzm 15:2-5 

Sebagai seorang “kepala pemungut cukai” dan “kaya” (Luk 19:2), Zakheus kelihatannya telah sukses besar dalam suatu profesi yang melibatkan penipuan keuangan sekitar pembayaran pajak. Pada waktu itu, sebagai seorang “kepala pemungut cukai”, Zakheus barangkali dipandang sebagai “kepala” pendosa juga (Luk 19:7).

Seperti kebanyakan kita, Zakheus barangkali bukanlah kandidat yang paling jelas-nyata untuk menjadi murid Yesus. Namun Yesus tahu dan mengenal Zakheus dan cukup lama menantikannya sebelum pejabat cukai yang bertubuh pendek ini memanjat pohon ara agar dapat melihat Yesus dengan lebih jelas. Ketika mereka bertemu, muka ketemu muka, maka hati Zakheus menjadi begitu tergerak oleh perjumpaan itu itu sehingga seluruh hidupnya menjadi berubah.

Bagaimana dengan kita? Yesus juga menantikan kita selagi kita mencoba untuk dapat memandangnya dengan lebih baik. Barangkali sesuatu tentang Dia menyentuh hati kita selagi kita sebagai komunitas merayakan Misa Kudus. Barangkali kita bahkan mencoba untuk mencari Dia sepanjang pekan, namun menemui sejumlah hal yang menghalang-halangi perjalanan kita kepada-Nya, seperti orang banyak yang menghalangi Zakheus untuk dapat melihat Yesus, sehingga dia harus memanjat pohon ara yang ada. Namun demikian, Yesus senantiasa ada di sana, menantikan waktu yang tepat di mana Dia dapat menyatakan diri-Nya kepada kita secara lebih mendalam dan mengundang diri-Nya sendiri ke dalam hidup kita.

ZAKHEUS - 006Perjumpaan Zakheus dengan Yesus merupakan suatu pengalaman yang menggerakkan nuraninya sehingga bersedia memberikan separuh dari harta-kekayaannya kepada orang-orang miskin dan mengembalikan empat kali sekiranya ada orang yang telah diperasnya (lihat Luk 19:8). Pada dirinya, deklarasi pribadi Zakheus sungguh menakjubkan, dan hal ini menunjukkan menunjukkan betapa kuatnya hati Zakheus telah disentuh oleh Yesus.

Berjumpa dengan Yesus harus membuat suatu perubahan sungguhan dalam hidup kita. Tidak separuh-separuh, yang ada hanyalah hitam atau putih. Setelah berjumpa dengan Yesus, orang muda pemimpin yang kaya malah meninggalkan-Nya karena banyak hartanya (lihat Luk 18:18-23; bdk. Mat 19:16-22; Mrk 10:17-22). Perjumpaan pribadi dengan Yesus seharusnya menggoncangkan batin kita, menggerakkan hati kita untuk menjadi murah hati dengan orang-orang lain seperti telah ditunjukkan-Nya kepada kita bagaimana Dia bermurah hati kepada kita. Kebanyakan dari kita tidak mengalami pertobatan yang langsung sekaligus pada satu saat yang secara dramatis mengubah hidup kita hanya dalam satu malam. Namun apabila kita sampai mengenal Yesus, pada setiap tahapan yang kita alami, Yesus mengundang kita ke dalam suatu transformasi yang lebih besar untuk mencapai keserupaaan dengan diri-Nya. Ini adalah pertobatan sejati: bukan sekadar menghindarkan diri dari dosa, melainkan bersikap dan bertindak “boros” dalam cintakasih kita kepada Allah dan orang-orang yang dianugerahkan-Nya dalam kehidupan kita.

Yesus senantiasa mencari kita – pribadi demi pribadi – bahkan ketika kita mencari-Nya. Bukankah hal itu kelihatannya tidak mungkin? Mungkin saja! Marilah kita mengingat bagaimana penyelamatan datang kepada Zakheus si raja pendosa dan para kudus yang dahulunya juga para pendosa: Santo Augustinus dari Hippo, Santo Fransiskus dari Assisi dan begitu banyak lagi.

DOA: Tuhan Yesus, aku ingin mengenal siapa Engkau secara lebih mendalam lagi. Datanglah, ya Yesus, dan penuhilah diriku. Berikanlah iman kepadaku agar sungguh percaya Engkau akan melakukan hal itu. Yesus, jadikanlah hatiku seperti hati-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Why 3:1-6,14-22),  bacalah tulisan yang berjudul “KARUNIA PERTOBATAN” (bacaan tanggal 18-11-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2014. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 19-11-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 14 November 2014 [Peringatan S. Nikolaus Tavelic, Imam dkk.-Martir]

 

Sdr. F.X.Indrapradja, OFS

IMANMU TELAH MENYELAMATKAN ENGKAU!

IMANMU TELAH MENYELAMATKAN ENGKAU!

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIII – Senin, 17 November 2014)

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta S. Elisabet dr Hungaria, OFS 

Healing_the_Blind004Waktu Yesus hampir tiba di Yerikho, ada seorang buta yang duduk di pinggir jalan dan mengemis. Mendengar orang banyak lewat, ia bertanya, “Apa itu?” Kata orang kepadanya, “Yesus orang Nazaret lewat.” Lalu ia berseru, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Mereka yang berjalan di depan menegur dia supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru, “Anak Daud, kasihanilah aku!” Lalu Yesus berhenti dan menyuruh membawa orang itu kepada-Nya. Ketika ia telah berada di dekat-Nya, Yesus bertanya kepadanya, “Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Jawab orang itu, “Tuhan, supaya aku dapat melihat!” Lalu kata Yesus kepadanya, “Melihatlah sekarang, imanmu telah menyelamatkan engkau!” Seketika itu juga ia dapat melihat, lalu mengikuti Dia sambil memuliakan Allah, Melihat hal itu, seluruh rakyat memuji-muji Allah. (Luk 18:35-43) 

Bacaan Pertama: Why 1:1-4;2:1-5a; Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-6

“Melihatlah sekarang, imanmu telah menyelamatkan engkau!” (Luk 18:42).

Begitu sering kita membaca, bahwa ketika Dia menyembuhkan seorang buta atau lumpuh, atau  yang menderita sakit-penyakit lainnya, Yesus mengatakan kepada orang itu, “Imanmu telah menyelamatkan engkau” , misalnya kepada seorang dari sepuluh orang kusta yang disembuhkannya (Luk 17:19); kepada perempuan berdosa yang mengurapinya (Luk 7:50).

Iman memberikan kepada kita visi batiniah mendalam, yang lebih penting  daripada karunia kesembuhan itu sendiri, seperti membuat mata orang dapat melihat. Seorang yang memiliki iman memiliki mata terbuka yang dapat melihat jari-jari Allah bergerak menelusuri rencana hidupnya di dunia ini.

Dalam segala hal yang diamatinya, seorang insan beriman senantiasa memandang Allah dulu. Barangkali cara terbaik adalah menggambarkan dengan suatu kontras: seorang pribadi manusia yang mengikuti jalan Allah dan seorang baik, namun dari dunia ini – katakanlah bahwa dia adalah seorang yang percaya pada ilmu pengetahuan semata. Mengapa kita sampai membanding-bandingkan seperti itu. Karena ada kecenderungan di dunia modern untuk mencari kontradiksi-kontradiksi antara ilmu pengetahuan dan Allah, seakan-akan Allah sang Mahapencipta bukanlah penguasa, sumber dan motor dari ilmu pengetahuan itu. Mereka tidak melihat bahwa ilmu pengetahuan pun sebenarnya adalah ciptaan Allah. Mereka berpandangan seakan-akan ilmu pengetahuan dapat menghalangi pancaran dari sumber pengetahuan yang jauh lebih tinggi.

Pada dasarnya  asumsi sedemikian dapat mengerucut pada pandangan bahwa benda-benda bukanlah pribadi-pribadi, maka kita tidak dapat mempunyai pribadi-pribadi; atau apabila kita menerima keberadaan pribadi-pribadi, maka kita tidak dapat percaya kepada benda-benda. Mengapa kita tidak mempunyai dua-duanya? Bukankah kita mempunyai bukti-bukti dari keberadaan pribadi-pribadi dan benda-benda? Apakah tidak mungkin bagi kita untuk mengenal baik ciptaan maupun sang Pencipta?

Bagaimana seorang ilmuwan memandang dunia ini? Ia mempelajari benda-benda dan hubungan antara benda-benda ini dan hukum yang mengatur hal-ikhwal benda-benda. Dunia kita memang terbuat dari benda-benda – unsur-unsur, kombinasi-kombinasi, dan hukum yang mengatur semua itu.

Di lain pihak seorang pendoa, yang melihat dunia yang sama, mencari seorang Pribadi: Orang itu mempelajari tindakan pribadi, tujuan, rencana dengan mana Pribadi termaksud menggerakkan dunia.

Mengapa hal-hal ini harus menjadi kontradiktif? Para ilmuwan mencari hukum, sedangkan seorang beriman berbicara dengan sang Pembuat Hukum itu. Sang ilmuwan mengejar pengetahuan: ia menyelidiki hal-hal yang dapat diamati, ia membuat klasifikasi atas benda-benda yang diselidiki, lalu mencari penyebab sekunder dari semua itu.

Seorang pendoa mencari suatu relasi pribadi, dia menanggapi sang Pribadi yang telah memberikan hukum-hukum dan sebab-sebab dari makna hukum-hukum itu. Dia juga mencari pengetahuan, namun demi Kasih. Inilah pribadi manusia yang dipuji oleh Yesus ketika mengatakan, “Imanmu telah menyelamatkan engkau!” Kita juga kiranya dapat mendengar seakan Yesus berkata: “Engkau telah melangkah melampaui benda-benda, sehingga sampai kepada suatu rasa percaya pada diri sang Pribadi yang sebenarnya adalah sumber dari segala sesuatu yang baik. Dan rasa percayamu, imanmu, kasihmu telah bekerja dengan penuh kuat-kuasa dalam hidupmu.” 

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Kami datang menghadap hadirat-Mu seperti orang buta di dekat Yerikho, tanpa rasa ragu dan tanpa rasa takut. Bukalah mata hati kami sehingga dengan demikian kami dapat memandang diri-Mu dalam segala kemurnian, kasih, dan kesetiaan. Yesus, Putra Daud, kasihanilah kami! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 18:35-43), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH INGIN MEMBERIKAN KEPADA KITA HATI YANG BERBELA RASA” (bacaan tanggal 17-11-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2014. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 18-11-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  13 November 2014 [Peringatan S. Didakus dr Alkala, Biarawan]

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERBUAH UNTUK KERAJAAN ALLAH

BERBUAH UNTUK KERAJAAN ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXXIII – 16 November 2014) 

HAPPY JESUS“Sebab hal Kerajaan Surga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorng lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat. Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta. Hamba yang menerima dua talenta itu pun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta. Tetapi hamba yang menerima satu  talenta itu pergi dan menggali lubang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya. Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka. Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta. Lalu kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam hal kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam hal yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. Sesudah itu, datanglah hamba yang menerima dua talenta itu, katanya: Tuan, dua talenta tuan percayakan; lihat, aku telah beroleh laba dua talenta. Lalu kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam hal yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam hal yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa Tuan adalah orang yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan memungut dari tempat di mana Tuan tidak menanam. Karena itu, aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan! Tuannya itu menjawab, Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam? Karena itu, seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya pada waktu aku kembali, aku menerimanya serta dengan bunganya. Sebab itu, ambillah talenta itu dari dia dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu. Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari dia. Sedangkan hamba yang yang tidak berguna itu, campakkanlah dia ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.”  ( Mat 25:14-30) 

Bacaan Pertama: Ams 31:10-13,19-20,30-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 128:1-5; Bacaan Kedua: 1Tes 5:1-6 

Yesus akan datang kembali. Kita tidak tahu kapan atau bagaimana, namun Yesus telah berjanji bahwa Ia akan kembali dalam kemuliaan untuk mendirikan langit dan bumi yang baru (lihat Yes 65:17; 66:22; Why 21:1). Kita yang hidup pada rentang waktu antara saat kenaikan Yesus ke surga dan saat kembalinya dipanggil untuk senantiasa bersiap-siaga dan penuh daya sementara kita menantikan kedatangan sang Raja.

PERUMPAMAAN TENTANG TALENTAGereja dipanggil untuk mengelola perkara-perkaranya dengan penuh kebijaksanaan, seperti seorang istri yang cakap dan bijaksana dalam mengatur rumah tangganya (Ams 31:10-31). Selama masa antisipasi ini, kita dipanggil untuki menggunakan berbagai sumber daya yang kita miliki untuk menyebar-luaskan Injil dan menjamin kesejahteraan spiritual dari Gereja. Kita dipanggil untuk melayani Tuhan kita dan menyenangkan-Nya dalam segala tindakan kita. Kesiap-siagaan kita mempengaruhi cara kita hidup. Dengan berjalan sebagai “anak-anak terang dan anak-anak siang” – melalui ketaatan kepada perintah-perintah Allah dan kehidupan doa – kita membuktikan iman kita akan kedatangan kembali Kristus (lihat 1Tes 5:5).

Setiap hari, kita mempunyai banyak kesempatan untuk menggunakan berbagai karunia yang telah dianugerahkan Allah kepada kita. Seperti ditunjukkan oleh “perumpamaan tentang talenta”, dua orang hamba mengambil risiko dengan uang (talenta) yang dipercayakan oleh tuan kepada mereka; mereka menginvestasikan uang tersebut dan memperoleh return yang baik. Hamba yang ketiga takut untuk mengambil risiko, dengan demikian ia menyembunyikan uang itu di tempat yang aman dan kemudian mengembalikannya kepada tuannya pada kesempatan pertama (Mat 25:14-30). Sebagaimana halnya dengan kedua hamba yang pertama, kita juga dipanggil untuk mengambil risiko demi pengembangan kerajaan Allah, melangkah keluar dalam iman dan menyaksikan Allah bergerak selagi kita menaruh kepercayaan kepada-Nya.

Allah tidak menganugerahkan kepada kita berbagai karunia dan talenta agar kita dapat menyembunyikan semua atau menyalah-gunakannya untuk tujuan-tujuan yang mementingkan diri sendiri. Setiap dari kita telah dibentuk secara unik oleh Tuhan untuk memainkan suatu peranan dalam memajukan kerajaan Allah, dengan menggunakan segala sumber daya yang telah diberikan oleh-Nya kepada kita. Apakah itu uang, berbagai kemampuan, waktu, pendidikan, latar belakang, tidak ada yang tidak relevant. Kita harus mempunyai keyakinan bahwa initisiatif apa saja yang kita ambil untuk menggunakan berbagai karunia kita, akan diberkati Allah. Ingatlah: Hasrat Allah kepada umat-Nya senantiasa lebih besar dari hasrat kita; Dia akan melakukan segalanya agar Injil disebar-luaskan ke ujung-ujung bumi.

Selagi kita memberikan diri kita, kita akan melihat kuasa Allah dan kemuliaan-Nya dinyatakan. Keterlibatan aktif kita dalam kehidupan ini sungguh merupakan suatu petualangan (adventure), dipenuhi dengan kesempatan-kesempatan untuk menggunakan segalanya yang Allah telah berikan kepada kita dan  melihat Dia membuat keajaiban-keajaiban selagi kita bekerja dalam nama-Nya. Inilah panggilan kita. Marilah kita menanggapi panggilan ini dengan penuh syukur dan sukacita.

Saudari dan Saudaraku, apakah anda percaya bahwa Allah dapat menggunakan anda untuk memajukan kerajaan-Nya? Melangkahlah dalam iman dan lihatlah perbedaan yang dapat anda buat dalam keluargamu, komunitasmu, parokimu dst. Perkenankanlah Roh Kudus memerintah dalam hidup anda, dan lihatlah buah baik yang dihasilkan!

DOA: Roh Kudus Allah, aku memperkenankan Engkau untuk bekerja lebih penuh lagi dalam hidupku. Datanglah dan penuhilah diriku dengan kuat-kuasa dan berbagai karunia yang kubutuhkan agar aku dapat berbuah untuk kerajaan Allah. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 25:14-30), bacalah tulisan berjudul “YESUS DAPAT MEMBERDAYAKAN KITA MASING-MASING” (bacaan tanggal 16-11-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2014. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-11-11 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 12 November 2014 [Peringatan S. Yosafat, Uskup & Martir] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

IMAN SEPERTI IMAN SANG JANDA DAN MARIA

IMAN SEPERTI IMAN SANG JANDA DAN MARIA

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa – Sabtu, 15 November 2014)

FMM: Pesta Wafatnya B. Marie de la Passion, Pendiri Kongregasi FMM 

HAKIM YANG JAHAT DAN SANG JANDAYesus menyampaikan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan bahwa mereka harus selalu berdoa tanpa jemu-jemu. Kata-Nya, “Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun. Di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku. Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun, namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku.” Kata Tuhan, “Perhatikanlah apa yang dikatakan hakim yang tidak adil itu! Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Apakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, apakah Ia akan mendapati iman di bumi?” (Luk 18:1-8) 

Bacaan Pertama: 3Yoh 5-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 112:1-6

Pada pandangan pertama, sang janda dalam perumpamaan Yesus ini kelihatan sebagai seorang perempuan yang keras kepala yang berniat untuk terus “mengganggu” seorang hakim, sampai hakim itu mengabulkan permintaannya. Kita merasa heran mengapa, setelah permintaannya selalu ditolak oleh sang hakim, janda tersebut tetap saja pantang mundur. Apakah janda tersebut sekadar mencoba untuk membuat sang hakim akhirnya berkata, “Capek deh!”, sehingga tercapailah tujuannya. Atau, apakah dia memiliki iman yang sangat kuat sehingga dia mengetahui bahwa Allah berada di pihaknya dan bahwa dia akan melihat keadilan diwujudkan kalau dia bertekun?

stdas0748Memiliki iman terasa mudah apabila hidup kita sedang dalam keadaan baik-baik saja. Namun ada masa-masa di mana kita diganggu oleh berbagai pengalaman yang membuat kita sulit untuk terus percaya. Misalnya, kita dapat mengalami suatu krisis yang di mana kebenaran iman kita dipertanyakan. Kematian mendadak dari seorang pribadi yang kita kasihi, kehilangan pekerjaan, dapat membuat kita bertanya-tanya mengapa Allah memperkenankan hal seperti itu terjadi atas diri kita. Kita merasa ditinggalkan, sunyi sepi sendiri, dan bertanya dalam hati kita apakah Allah memang sungguh masih memperhatikan kita. Orang-orang baik juga mengalami hal-hal yang buruk, dan pada saat-saat inilah kita memerlukan iman yang paling kuat. Pada saat-saat inilah kita perlu menerima kenyataan bahwa kita tak berdaya untuk mengubah hal-hal tertentu, dan bahwa kita hanya dapat menghadapi krisis tersebut dengan menyandarkan diri pada Allah untuk memperoleh penghiburan dan kekuatan.

Maria memberikan kepada kita sebuah contoh yang indah tentang apa artinya untuk bertekun dalam iman. Pikirkan dan bayangkanlah berapa banyak krisis yang harus dialami olehnya, namun tidak ada satu pun dari krisis itu pernah menyebabkan imannya  goyah atau menjadi lemah. Bahkan ketika dia berdiri di dekat salib Kristus, dia sepenuhnya percaya bahwa Allah beserta dia. Secara total Maria menyerahkan dirinya kepada Allah, seperti yang biasa dilakukannya sepanjang hidupnya, dan percaya bahwa Allah akan menolongnya dan menguatkannya.

Yesus menceritakan perumpamaan tentang seorang hakim yang tidak takut akan Allah untuk mengajar kita tentang iman macam apa yang Dia inginkan kita miliki: suatu iman seperti iman sang janda dalam perumpamaan di atas dan iman Maria yang tetap bertahan dalam keadaan macam apa pun. Kita dapat memperkuat iman kita dengan menghidupinya/menghayatinya dalam hidup kita sehari-hari, baik pada masa-masa baik maupun masa-masa buruk. Kita dapat memperkuat iman kita dengan menyerahkan diri kita kepada Allah setiap pagi dan percaya bahwa Dia akan menopang kita, berkaitan dengan tantangan kehidupan apa pun yang kita hadapi.

DOA: Bapa surgawi, aku menyerahkan diriku kepada-Mu. Aku percaya bahwa Engkau akan selalu berada bersamaku. Tolonglah aku agar tidak pernah merasa ragu tentang kasih-Mu kepadaku dan hasrat-Mu bagiku untuk menjadi anak-Mu yang baik. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Injil hari ini (Luk 18:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “IA AKAN MEMBENARKAN ORANG-ORANG PILIHAN-NYA” (bacaan tanggal 15-11-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2014. 

Cilandak, 11 November 2014 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TINGGAL DI DALAM AJARAN KRISTUS

TINGGAL DI DALAM AJARAN KRISTUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXII – Jumat, 14 November 2014)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Nikolaus Tavelic, Imam dkk.- Martir 

St-John-the-Evangelist-from-the-St-Thomas-altarpiece-xx-Pedro-Berruguete1

Aku sangat bersukacita karena mendapati bahwa sebagian dari anak-anakmu hidup dalam kebenaran sesuai dengan perintah yang telah kita terima dari Bapa. Dan sekarang aku minta kepadamu, Ibu – bukan seolah-olah aku menuliskan perintah baru bagimu, tetapi menurut perintah yang sudah ada pada kita sejak semula – supaya kita saling mengasihi. Inilah kasih itu, yaitu kita harus hidup menurut perintah-Nya. Dan inilah perintah itu, yaitu kamu harus hidup di dalam kasih sebagaimana telah kamu dengar sejak semula.

Sebab banyak penyesat telah muncul dan pergi ke seluruh dunia, yang tidak mengaku bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia. Itulah si penyesat dan anti-kristus. Waspadalah, supaya kamu jangan kehilangan apa yang telah kami kerjakan itu, tetapi supaya kamu mendapat upahmu sepenuhnya. Setiap orang yang tidak tinggal di dalam ajaran Kristus, tetapi melangkah keluar dari situ, tidak memiliki Allah. Siapa yang tinggal di dalam ajaran itu, ia memiliki Bapa maupun Anak (2Yoh  4-9).

Mazmur Tanggapan: Mzm 119: 1,2,10-11,17-18; Bacaan Injil: Luk 17:26-37

Kita berkata dalam hati, “Kalau saja aku mempunyai waktu dan energi berlebih! Maka aku dapat lebih banyak berdoa, lebih banyak membaca Kitab Suci, lebih banyak lagi terjun sebagai sukarelawati/sukarelawan dalam berbagai macam pelayanan masyarakat dlsb.” Kelihatannya kita tidak pernah mempunyai cukup waktu, energi, atau sumber daya lainnya untuk terus berjalan maju ke depan. Jikalau kita mendesak terus dan mencoba dengan keras, maka biasanya semua itu berakhir dengan kelelahan.

Yohanes mengedepankan isu ini ketika dia menyatakan: “Setiap orang yang tidak tinggal di dalam ajaran Kristus, tetapi melangkah keluar dari situ, tidak memiliki Allah (2Yoh 9). Sebagai konsekuensinya, orang itu tidak mendapat dukungan damai-sejahtera dan rahmat Allah. Apakah yang dimaksudkan dengan “ajaran Kristus”? Secara sederhana, bahwa “Yesus Kristus telah datang sebagai manusia” (2Yoh 7). Jadi, berdiam atau berpegang teguh pada “ajaran Kristus” berarti percaya – dan menempatkan pengharapan kita – pada kenyataan bahwa Putera Allah mengasihi kita sedemikian rupa sehingga Dia rela menjadi manusia seperti kita, dan mengambil oper seluruh penderitaan dan kekhawatiran kita bersama-Nya ke kayu salib.

Masih ingatkah anda ketika bermain layang-layang dahulu? Sekali kita mendapat  angin, maka layang-layang kita pun akan terbang dengan indahnya, tanpa membutuhkan upaya keras dari diri kita. Hal sedemikian adalah seperti hidup kita dalam Kristus. Yesus telah mengambil tempat kita, dan kita sekarang berada di dalam diri-Nya. Bersama Yesus kita bahkan dapat memindahkan gunung-gunung! Allah mengajar kita untuk belajar bagaimana berdiam dalam “ajaran Kristus” selagi kita beristirahat dalam jaminan kasih dan belas kasih-Nya. Yesus lebih mengetahui daripada kita sendiri tentang betapa besar kita membutuhkan pertolongan-Nya dan rahmat-Nya dan hikmat-Nya. Ini adalah alasan pokok mengapa Yesus menjadi manusia. 

Dengan berdiam atau berpegang teguh pada “ajaran Kristus”, kita dapat memperkenankan rahmat-Nya untuk mengubah kita menjadi semakin serupa dengan diri-Nya.  “Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal” (Flp 4:7) – dapat memenuhi hati kita dan membebaskan kita agar kita dapat mengasihi orang-orang lain dengan sepenuhnya seperti Dia mengasihi kita.

220px-TeresadiLisieuxSanta Teresa dari Lisieux pernah berkata: “Aku merasa bahwa ketika aku mengasihi, maka adalah Yesus sendiri yang bekerja di dalam diriku; semakin aku bersatu dengan-Nya, semakin aku mengasihi semua saudariku [suster-suster dalam komunitasnya].” Karunia paling besar yang kita miliki adalah kasih Allah yang menjadi manusia, dan kebebasan paling besar yang kita miliki adalah mensyeringkan kasih itu dengan orang-orang lain. Kita tidak pernah dapat mengalahkan Allah, yang menjadi salah satu dari kita-manusia …… karena Dia mengasihi kita. Sungguh luarbiasa menakjubkan! 

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu, karena Engkau hadir berdiam dalam diriku, dan untuk sukacita yang dapat kualami selagi aku berdiam dalam Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 17:26-37), bacalah tulisan yang berjudul “KETIKA YESUS DATANG UNTUK KEDUA KALINYA” (bacaan tanggal 14-11-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2014. 

Cilandak, 11 November 2014 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 87 other followers