NYANYIAN PERTAMA TENTANG HAMBA YHWH YANG MENDERITA

NYANYIAN PERTAMA TENTANG HAMBA YHWH YANG MENDERITA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI SENIN DALAM PEKAN SUCI – 21 Maret 2016)

YESAYA - 45Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa. Ia tidak akan berteriak atau menyaringkan suara atau memperdengarkan suaranya di jalan. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum. Ia sendiri tidak akan menjadi pudar dan tidak akan patah terkulai, sampai ia menegakkan hukum di bumi; segala pulau mengharapkan pengajarannya.

Beginilah firman Allah, TUHAN (YHWH), yang menciptakan langit dan membentangkannya, yang menghamparkan bumi dengan segala yang tumbuh di atasnya, yang memberikan nafas kepada umat manusia yang mendudukinya dan nyawa kepada mereka yang hidup di atasnya: “Aku ini, YHWH, telah memanggil engkau untuk maksud penyelamatan, telah memegang tanganmu; Aku telah membentuk engkau dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia, menjadi terang untuk bangsa-bangsa, untuk membuka mata yang buta, untuk mengeluarkan orang hukuman dari tempat tahanan dan mengeluarkan orang-orang yang duduk dalam gelap dari rumah penjara. (Yes 42:1-7) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1-3,13-14; Bacaan Injil: Yoh 12:1-11

Barangkali lebih daripada bacaan-bacaan Perjanjian Lama lainnya, bacaan-bacaan tentang nyanyian-nyanyian “Hamba TUHAN (YHWH) yang menderita” memberikan kepada kita gambaran sekilas tentang kepribadian Yesus yang jarang terjadi itu. Pada waktu bacaan-bacaan tersebut untuk pertama kali ditulis, “hamba” diidentifikasikan dengan Israel, yang tertindas dan dalam pembuangan, namun mengantisipasi suatu kepulangan yang penuh dengan kemenangan. Akan tetapi, Gereja membacanya juga sebagai nubuat-nubuat tentang Yesus, hamba Allah yang sempurna.

Dalam “nyanyian Hamba YHWH” yang pertama ini, kita melihat Mesias berkomitmen untuk menegakkan keadilan Allah dalam dunia (Yes 42:3-4). Ini bukanlah tugas yang kecil dan mudah untuk dilakukan, namun Yesus menanggapi panggilan-Nya tidak dengan kemurkaan atau balas dendam yang bersifat destruktif, melainkan dengan kesabaran, kesetiaan, dan kelemah-lembutan.

Ketika menghadapi dosa manusia, Yesus tidak pernah menjadi pudar dan tidak akan dibuat patah terkulai (Yes 42:4) oleh para lawannya – bahkan oleh ketidakpercayaan para murid-Nya. Yesus hanya terus saja mengampuni dan menyembuhkan. Yesus tidak pernah mengintervensi kehendak bebas yang telah dianugerahkan kepada setiap pribadi manusia. Yesus tidak pernah memaksa atau memanipulasi siapa pun. Sebaliknya, Yesus menggunakan masa hidup-Nya untuk mewartakan Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan, menyembuhkan orang-orang sakit, mengusir roh-roh jahat yang merasuki orang-orang, mengajar, dan mengampuni dosa-dosa manusia, sampai saat Ia sendiri mengorbankan diri-Nya di atas kayu salib.

yesus bermahkota duri - 001Yesus senantiasa memegang kendali. Yesus yang tidak pernah gentar dalam melaksanakan misi-Nya ketika berhadapan dengan ketidakpercayaan, kemarahan, bahkan penyangkalan oleh para sahabat-Nya yang terdekat. Yesus inilah yang terus menawarkan kepada kita kasih dan pengampunan-Nya. Rahasia-rahasia kita yang paling gelap pun tidak dapat mengejutkan Yesus, bahkan dosa-dosa kita yang paling “heboh” tidak akan membuat-Nya mundur. Yesus tidak akan menuduh-nuduh atau mengutuk. Seperti dinubuatkan oleh Yesaya, Dia akan mengampuni mereka yang berdosa: “Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba” (Yes 1:18). Sebagaimana telah dilakukan-Nya 2.000 tahun lalu, hari ini pun Yesus masih menawarkan pengampunan dan kebebasan. Dalam hal ini janganlah kita melupakan apa yang dikatakan oleh penulis “Surat kepada orang Ibrani”: “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibr 13:8).

Saudari-Saudara yang terkasih, dalam Pekan Suci ini, marilah kita berketetapan hati untuk menyelesaikan atau katakanlah “membereskan” rekening-rekening utang kita dengan Allah Bapa. Seandainya kita (anda dan saya) sudah cukup lama tidak masuk ke dalam ruang pengakuan, marilah kita gunakan saat-saat rahmat ini guna memperoleh belas kasih Allah. Oleh karena itu marilah kita datang kepada-Nya dan menegakkan keadilan dalam hati kita masing-masing. Seperti sang ayah dalam “perumpamaan anak yang hilang”, saya yakin bahwa Dia akan berlari guna menyambut anda dan saya. Setelah itu dengan sayup-sayup kita akan mendengar suara Yesus Kristus: “… akan ada sukacita di surga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih daripada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan”  (Luk 15:7).

DOA: Tuhan Yesus, aku menyesali dosa-dosaku. Dengan penuh kepercayaan atas kasih-Mu, aku mohon pengampunan dan belas kasih-Mu. Datanglah, ya Tuhanku, dan tegakkanlah keadilan dan damai-Mu dalam diriku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 12:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “PERSEMBAHAN BAGI YESUS” (bacaan tanggal 21-3-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-03 BACAAN HARIAN MARET 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 30-3-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 18 Maret 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TANPA ANUGERAH SALIB, KITA AKAN DIHUKUM

TANPA ANUGERAH SALIB, KITA AKAN DIHUKUM

(Bacaan Kedua Misa Kudus,  HARI MINGGU PALMA MENGENANGKAN SENGSARA TUHAN [TAHUN C] – 20 Maret 2016) 

SANG TERSALIB

SANG TERSALIB

Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku, “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa! (Flp 2:6-11) 

Bacaan Perarakan: Luk 19:28-40; Bacaan Pertama: Yes 50:4-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 22:8-9,17-20,23-24; Bacaan Injil: Luk 22:14-23:56 (Luk 23:1-49)

Seandainya kita berada di ruang atas pada waktu berlangsungnya Perjamuan Terakhir, kita dapat melihat bahwa Yesus mengetahui. Ia mengetahui siapa yang akan mengkhianati diri-Nya. Dia mengetahui bahwa Dia tidak akan minum anggur lagi. Ia mengetahui bahwa Simon Petrus akan menyangkal diri-Nya. Namun demikian, manakala kita membaca kisah sengsara, ada sesuatu dalam diri kita yang selalu menginginkan bahwa semua itu tidak pernah terjadi. Kita berpikir: Andaikan saja Pilatus mengetahui siapa Yesus itu sesungguhnya! Andaikan saja orang-orang Farisi lebih membuka diri!

Apakah kita dapat mencoba menyelamatkan Yesus dari “nasib”-Nya? Walaupun seluruh kebutaan umat manusia dapat dihilangkan, dan kita semua sadar akan kedosaan kita di hadapan Allah, kita akan tetap membutuhkan pengorbanan sempurna dari Yesus demi keselamatan kita. Tanpa anugerah salib, kita akan dihukum. Pembacaan kisah sengsara Yesus Kristus dapat menolong kita untuk mampu melihat betapa menyedihkan kondisi umat manusia pada waktu itu, dan masih begitu juga pada hari ini.

Yesus begitu dekat dengan Bapa-Nya, sehingga sekalipun dihukum berdasarkan tuduhan palsu/tidak benar dan disalibkan, Ia tetap mengampuni orang yang menghukum diri-Nya (Luk 23:34) dan Ia mohon agar orang-orang tidak menangisi diri-Nya (Luk 23:27-28). Kita dapat menolak untuk membayangkan Yesus yang berpeluh seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah ketika mengalami sakratul maut di taman Getsemani (Luk 22:44). Namun pada saat yang sama, kita dapat dipenuhi dengan rasa syukur selagi kita mengingat bahwa Dia mengalami serta menanggung semua penderitaan itu demi dan untuk kita. Selagi Roh Kudus membuka mata (-hati) kita agar dapat menyaksikan penderitaan sengsara Yesus, maka kita pun akan mengalami perubahan dan beralih memusatkan perhatian pada dosa-dosa kita sendiri, mengetahui bahwa karena kegelapan dalam diri kita-lah Yesus menderita sengsara dengan cara yang begitu hebat.

Pada hari ini, marilah kita mengambil waktu untuk membaca kisah sengsara Yesus Kristus, merenungkannya dan memohon kepada Tuhan untuk menunjukkan kasih-Nya kepada kita. Marilah kita menempatkan diri kita di ruang atas, atau di Getsemani, atau di bukit Kalvari. Dalam iman, marilah kita memandang(i) Sang Tersalib yang memberikan hidup-Nya sendiri untuk menyelamatkan kita – manusia berdosa. Dengan menempatkan diri kita bersama Yesus di tengah peristiwa-persitiwa ini, maka kita  dapat mengalami penebusan kita secara penuh kuat-kuasa dan mampu mengubah hidup kita.

DOA: Tuhan Yesus, bukalah bagi kami misteri salib-Mu. Tolonglah kami agar dapat mengosongkan diri kami sendiri dengan rasa percaya bahwa pada suatu hari kelak kami akan ditinggikan bersama-Mu untuk ikut serta dalam kemuliaan-Mu yang tidak akan berakhir. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yes 50:4-7), bacalah tulisan yang berjudul “KARENA KASIH-NYA YANG TOTAL” (bacaan tanggal 20-3-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 16-03 BACAAN HARIAN MARET 2016 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 24-3-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 17 Maret 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TELADAN SANTO YUSUF

TELADAN SANTO YUSUF

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA S. YUSUF, SUAMI SP. MARIA – Kamis, 19 Maret 2016) 

infant-jesus-and-st-josephYakub mempunyai anak, Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus. Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami istri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama istrinya di depan umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan tampak kepadanya dalam mimpi dan berkata, “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau  akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka.” Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. (Mat 1:16.18-21.24a) 

Bacaan Pertama: 2Sam 7:4-5a.12-14a.16; Mazmur Tanggapan: Mzm 89:2-5,27,29; Bacaan Kedua: Rm 4:13.16-18.22. 

Ada dua tokoh Perjanjian Lama yang disoroti dalam bacaan pertama dan bacaan kedua, yaitu Abraham dan Daud. Abraham adalah Bapak iman kita. Daud adalah seorang gembala sederhana yang menjadi raja teragung Israel, juga dikenang sebagai seorang yang beriman. Hal ini sungguh memberi semangat kepada kita karena Daud itu jauh dari sempurna. Dia pernah menjadi seorang pezinah dan otak pembunuhan seseorang yang tidak bersalah. Daud juga mengalami saat-saat kegelapan-pekat dalam kehidupannya dan pemberontakan terhadap Allah. Namun setiap kali dia kembali menyadari segala penyimpangannya, dan Daud juga tidak pernah berlambat untuk merendahkan dirinya dan mengakui  dosa-dosanya. Keterbukaan hatinyalah – tetap setia meskipun penuh kelemahan – kiranya yang memampukan Daud untuk menerima pengampunan dan berkat dari Allah, dan hal ini tidak terjadi hanya sekali.

Santo Yusuf, yang pestanya kita rayakan hari ini, adalah yang terakhir dari sederetan pahlawan (baik perempuan maupun laki-laki) Perjanjian Lama yang spiritualitasnya berakar kuat pada iman radikal dari Abraham dan Daud. Ketika ternyata Maria kedapatan mengandung ketika masih bertunangan dengan dirinya, dia bermaksud menceraikan Maria dengan diam-diam karena tidak mau mencemarkan namanya di depan umum. Namun ketika diberi penjelasan oleh malaikat Tuhan tentang kenyataan sebenarnya dan bahwa dia harus menerima Maria dan sang Bayi Ilahi dalam kandungannya, Yusuf mengambil jalan ketaatan dan iman yang jauh lebih sulit. Sebagai putera sejati Abraham, Yusuf menaruh kepercayaan penuh kepada Allah dan memperoleh ganjaran besar untuk tindakan iman yang luarbiasa itu.

Memang cara kerja Allah selalu indah dan penuh misteri. Dia memilih seorang tukang kayu sederhana dari Nazaret untuk menjadi “ayah angkat” bagi Putera-Nya yang kekal. Bagaimana hal ini sampai  terjadi? Banyak unsur misterinya, akan tetapi kita tahu bahwa apabila Allah memanggil seseorang untuk melakukan suatu tugas, Dia mencurahkan ke atas diri orang itu segala rahmat yang dibutuhkannya untuk pelaksanaan tugas tersebut.

YUSUF BERMIMPI BERTEMU DENGAN MALAIKAT TUHANDari uraian di atas kita dapat mengatakan bahwa Yusuf adalah seorang pribadi yang memiliki iman matang, yang menaruh kepercayaan sepenuhnya pada Allah. Dia memberi kesan sebagai seorang pribadi yang tidak suka “banyak ngomong”, yang jelas dia bukanlah tipe pengkhotbah. Pada awal kehidupan Yesus di dunia, ketika penebusan kita  baru saja akan menjadi kenyataan, kita membaca sedikit catatan dalam Kitab Suci tentang seorang pribadi yang kekuatannya, kepercayaannya dan kerendahan-hatinya berdiri tegak sebagai suatu tanda “ciptaan baru” yang dimungkinkan oleh Yesus bagi kita semua lewat Salib-Nya.

Allah berbicara kepada Yusuf melalui seorang malaikat-Nya dalam mimpi. Lihatlah: Setiap kali mendengarkan pesan malaikat Tuhan, dengan sigap dia mengikuti arahan yang diberikan Allah (lihat Mat 1:20-24; 2:1-23). Situasi-situasi yang dihadapi Yusuf memang sulit. Kunjungan malaikat yang pertama kali telah dijelaskan secara singkat. Tanpa banyak “cingcong” Yusuf mengambil tindakan yang menentukan. Ketika dia mendapat tugas yang teramat berat, yaitu membesarkan seorang anak yang bukan darah-dagingnya sendiri dan mendedikasikannya kepada Allah semata, Yusuf taat kepada sang pemberi tugas. Apakah iman Abraham, Daud dan Yusuf dapat dikatakan “iman buta” atau “iman yang naïve” ? Tentu saja tidak! Pikiran mereka dan rasa takut mereka juga riil seperti yang ada pada kita. Namun para pahlawan ini menyerahkan rasa takut, pikiran-pikiran serta hasrat-hasrat mereka kepada pemeliharaan Allah yang penuh kasih.

Saudari dan Saudaraku yang terkasih, seperti Abraham, Daud dan Yusuf, hidup kita pun adalah milik Allah. Kita semua telah diciptakan oleh-Nya untuk suatu tujuan yang mulia. Allah ingin berbicara dengan kita, memberikan kita segala hikmat-kebijaksanaan, arahan dan pemahaman. Jadi, bagaimana caranya kita dapat memperoleh iman seperti ketiga pahlawan ini? Apabila kita mencari Tuhan dengan tulus, kita dapat belajar mendengar suara-Nya. Lalu, percaya bahwa Allah itu setia pada janji-janji-Nya, kita dapat memilih untuk taat kepada-Nya. Setiap kali kita menuruti suara Allah, kita akan menjadi lebih percaya bahwa Dia memimpin kita, seperti Dia dulu memimpin Abraham, Daud, Yusuf dan semua umat-Nya yang taat.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih untuk teladan yang diberikan Santo Yusuf yang kami rayakan pestanya pada hari ini. Kehidupannya mengungkapkan ampuhnya jalan iman dan kepercayaan. Tolonglah kami agar dalam melangkah di jalan iman itu kami akan tetap rendah hati dan tanggap terhadap segala permintaan-Mu. Amin. 

Catatan: Tulisan ini dipersembahkan kepada Sdr. Yosef Sunarwinto, temanku sejak di SMA Kanisius (1959-1962) dan sekarang sama-sama menjadi warga Lingkungan S. Yudas Tadeus, Gereja S. Stefanus, Cilandak, Jakarta Selatan. 

Untuk mendalami Bacaan Kedua hari ini (Rm 4:13,16-18,22), bacalah tulisan yang berjudul “IMAN ABRAHAM DAN YUSUF” (bacaan tanggal 19-3-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-03 BACAAN HARIAN MARET 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 19-3-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 17 Maret 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS DAN BAPA-NYA

YESUS DAN BAPA-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Prapaskah – Jumat, 18 Maret 2016) 

yesus-4

Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. Kata Yesus kepada mereka, “Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?” Jawab orang-orang Yahudi itu, “Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menjadikan diri-Mu Allah. Kata Yesus kepada mereka, “Bukankah ada tertulis dalam kitab Tauratmu: Aku telah berfirman: Kamu adalah ilah? Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut ilah – sedangkan Kitab Suci tidak dapat dibatalkan – masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah? Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku, tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.” Sekali-kali mereka mencoba menangkap Dia, tetapi Ia luput dari tangan mereka.

Kemudian Yesus pergi lagi ke seberang Yordan, ke tempat Yohanes membaptis dahulu, lalu Ia tinggal di situ. Banyak orang datang kepada-Nya dan berkata, “Yohanes memang tidak membuat satu tanda mukjizat pun, tetapi semua yang pernah dikatakan Yohanes tentang orang ini memang benar.” Lalu banyak orang di situ percaya kepada-Nya. (Yoh 10:31-42) 

Bacaan Pertama: Yer 20:10-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 18:2-7

Ketika Yesus berada di Yerusalem dalam rangka Hari Raya Penahbisan Bait Allah terjadi suatu diskursus antara Dia dengan orang-orang Yahudi yang berkumpul di Serambi Salomo di mana Dia mengklaim bahwa Dia dan Bapa-Nya adalah satu (Yoh 10:30). Orang-orang Yahudi menjadi marah, naik pitam, dan mereka memungut batu-batu untuk dilemparkan kepada-Nya karena menurut mereka Yesus telah menghujat Allah. Namun Yesus menjawab: “Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku, tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa” (Yoh 10:37-38).

Sepanjang sejarah, Allah telah menyatakan (mewahyukan) diri-Nya melalui karya-karya-Nya. Perjanjian Lama dipenuhi dengan catatan-catatan tentang karya-karya Allah yang besar dan agung: pembebasan/pemerdekaan umat Israel dari perbudakan di Mesir, mukjizat-mukjizat yang dilakukan Allah selagi mereka berkelana di padang gurun menuju tanah terjanji, dan juga akhirnya umat mulai menetap di tanah terjanji tersebut. Allah juga senantiasa dipuji untuk karya-Nya: penciptaan alam semesta (langit, bumi dll.) dan segala makhluk. Semua ini menggambarkan kemahakuasaan Allah dan kepantasan-Nya untuk dipuji serta disembah, namun juga menyatakan kasih-Nya yang tak terhingga  bagi segala ciptaan-Nya.

Niat Bapa surgawi adalah senantiasa untuk menjalin suatu relasi yang akrab dengan ciptaan-Nya, termasuk kita masing-masing. Dengan demikian, ketika kita memberontak dan meninggalkan Allah, Dia tidak akan meninggalkan kita, namun karena kasih-Nya Dia  siap untuk menebus kita. Allah mengutus Putera-Nya yang tunggal ke tengah dunia guna menebus dosa-dosa kita dengan menderita hukuman yang sebenarnya pantas untuk kita terima, dengan demikian membebaskan kita dari dosa dan maut.

Misi Yesus adalah untuk memuliakan Bapa dengan menyelesaikan karya penyelamatan Bapa (Yoh 17:4). Semua karya Kristus di atas bumi adalah bagian dari rencana Bapa dan tidak hanya dimeteraikan Allah Bapa (Yoh 6:27), melainkan juga merupakan suatu perwahyuan Bapa (Yoh 14:9-11). Melalui karya-karya-Nya, Yesus membuktikan kenyataan bahwa Dia bukan hanya sang Mesias, namun juga Putera Allah, karena karya-karya-Nya adalah karya-karya Bapa surgawi.

DOA: Bapa surgawi, terangilah hati dan pikiranku agar aku dapat memiliki iman-kepercayaan dalam karya-karya Yesus sebagai sebuah tanda bahwa Engkau dan Yesus adalah satu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 10:31-42), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MEMBERIKAN HIDUP-NYA SENDIRI KEPADA PARA MUSUH-NYA SECARA TOTAL” (bacaan tanggal 18-3-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 16-03 BACAAN HARIAN MARET 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 27-3-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 16 Maret 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SESUNGGUHNYA AKU BERKATA KEPADAMU, SEBELUM ABRAHAM ADA, AKU TELAH ADA

SESUNGGUHNYA AKU BERKATA KEPADAMU, SEBELUM ABRAHAM ADA, AKU TELAH ADA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Prapaskah – Kamis, 17 Maret 2016)

 yesus-4 (1)

Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya.” Kata para pemuka Yahudi kepada-Nya, “Sekarang kami tahu bahwa Engkau kerasukan setan. Sebab Abraham telah mati dan demikian juga nabi-nabi, namun Engkau berkata: Siapa saja yang menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya. Apakah Engkau lebih besar daripada bapak kita Abraham, yang telah mati! Nabi-nabi pun telah mati; dengan siapa Engkau samakan diri-Mu?” Jawab Yesus, “Jikalau Aku memuliakan diri-Ku sendiri, maka kemuliaan-Ku itu sedikit pun tidak ada artinya. Bapa-Kulah yang memuliakan Aku, tentang siapa kamu berkata: Dia adalah Allah kami, padahal kamu tidak mengenal Dia, tetapi Aku mengenal Dia. Dan jika Aku berkata: Aku tidak mengenal Dia, maka Aku adalah pendusta, sama seperti kamu, tetapi Aku mengenal Dia dan aku menuruti firman-Nya. Abraham bapakmu bersukacita bahwa ia akan melihat hari-Ku dan ia telah melihatnya dan ia bersukacita.” Lalu kata para pemuka Yahudi itu kepada-Nya, “Umur-Mu belum lima puluh tahun dan Engkau telah melihat Abraham?” Kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, sebelum Abraham ada, Aku telah ada.” Lalu mereka mengambil batu untuk melempari Dia; tetapi Yesus menghilang dan meninggalkan Bait Allah. (Yoh 8:51-59) 

Bacaan Pertama: Kej 17:3-9, Mazmur Tanggapan: Mzm 105:4-9 

Siapa sih Yesus dari Nazaret ini yang mengklaim bahwa orang-orang yang menuruti sabda-Nya tidak akan mengalami maut (Yoh 8:51)? Ketegangan yang ada antara Yesus dan orang-orang Yahudi semakin meningkat selagi mereka mencoba untuk sungguh mengetahui identitas dan otoritas-Nya sehingga berani-beraninya membuat klaim sedemikian. Yesus memberi perspektif kepada kedua isu tersebut dengan berkata: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, sebelum Abraham ada, Aku telah ada”  (Yoh 8:58). Apakah makna dari frase yang membingungkan dan penuh teka teki ini, dan apakah yang diharapkan oleh Yesus dengan menyatakan hal tersebut.

Di sini, frase “Aku telah ada” merupakan kulminasi dari banyak pernyataan “Aku ada” atau “Aku adalah”, atau “Akulah” yang muncul di sepanjang bacaan Kitab Suci sehubungan Yesus dan keilahian-Nya. Dalam Injil Yohanes, frase ini muncul beberapa kali dan membentuk semacam mosaik yang membentuk identitas Yesus dan otoritas-Nya. “Akulah roti kehidupan”  (Yoh 6:48; 6:51). “Akulah terang dunia” (Yoh 8:12; 9:5). “Akulah pintu bagi domba-domba itu” (Yoh 10:7). “Akulah pintu …” (Yoh 10:9). “Akulah gembala yang baik” (Yoh 10:11). “Akulah kebangkitan dan hidup …” (Yoh 11:25). “Akulah pokok anggur yang benar …” (Yoh 15:1). Aku dan Bapa adalah satu” (Yoh 10:30).

Orang-orang Yahudi yang dihadapi Yesus tidak menganggap remeh Kitab Suci. Mereka berupaya dengan serius mengikuti sabda Allah dengan sedetil-detilnya sampai titik-koma dengan tujuan menyenangkan hati Allah sementara mereka menanti-nantikan kedatangan sang Mesias. Lalu, mengapa mereka tidak mengenali siapa Yesus itu? Karena mereka melihat dengan mata manusia dan berpikir dengan intelek manusia, dan hal ini menghalangi kemampuan mereka untuk percaya. Mereka tidak terbuka terhadap koneksi atau relasi antara Yesus dengan Bapa surgawi ketika Dia mengklaim nama ilahi (Kel 3:14) bagi diri-Nya dengan mendeklarasikan “Akulah”. Mereka merasa bahwa Yesus telah menghujat Allah, yang sekalipun hanya seorang manusia saja, menjadikan diri-Nya Allah (Yoh 10:30-33).

Kita masing-masing harus mempertimbangkan pernyataan Yesus tentang siapa diri-Nya. Suatu pemahaman yang lebih mendalam akan kebenaran Yesus akan kita peroleh selagi kita berdoa bagaimana Dia menyatakan diri-Nya. Titik awal yang baik adalah untuk mempertimbangkan berbagai pernyataan “Akulah …” yang tertera di atas, Marilah kita (anda dan saya) memohon agar Roh Kudus menolong kita untuk memahami secara lebih penuh apa yang dinyatakan oleh Yesus tentang diri-Nya dalam setiap pernyataan-Nya itu.

Saudari dan Saudaraku, dalam suasana doa, pada hari ini marilah kita menyediakan waktu ekstra untuk merenungkan beberapa pernyataan diri Yesus di atas. Berkat doa tentunya kita akan lebih banyak lagi mengenal siapa Yesus itu.

DOA: Roh Kudus Allah, tolonglah aku agar dapat memahami lebih mendalam lagi pernyataan Yesus tentang diri-Nya, ketika Dia berkata tentang diri-Nya “Akulah …” Banyak orang di dunia tidak percaya kepada-Nya. Aku berdoa semoga imanku, kata-kataku, dan hidupku dapat memberi kesaksian tentang kemuliaan-Nya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 8:51-59), bacalah tulisan yang berjudul “FIRMAN ALLAH” (bacaan tanggal 17-3-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-03 BACAAN HARIAN MARET 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 26-3-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 16 Maret 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KAMU PUN BENAR-BENAR MERDEKA

KAMU PUN BENAR-BENAR MERDEKA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Prapaskah – Rabu, 16 Maret 2016) 

YESUS MENGAJAR DI BAIT ALLAH - MRK 12 ALalu kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang telah percaya kepada-Nya, “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” Jawab mereka, “Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapa pun. Bagaimana Engkau dapat berkata: Kamu akan merdeka?” Kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa. Hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tinggal dalam rumah selama-lamanya. Jadi, apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka.” 

“Aku tahu bahwa kamu adalah keturunan Abraham, tetapi kamu berusaha membunuh Aku karena firman-Ku tidak beroleh tempat di dalam kamu. Apa yang Kulihat pada Bapa, itulah yang Kukatakan, dan demikian juga kamu perbuat tentang apa yang kamu dengar dari bapakmu.” Jawab mereka kepada-Nya, “Bapak kami ialah Abraham.” Kata Yesus kepada mereka, “Jikalau sekiranya kamu anak-anak Abraham, tentulah kamu mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan oleh Abraham. Tetapi sekarang kamu berusaha membunuh Aku, seorang yang mengatakan kebenaran kepadamu, yaitu kebenaran yang Kudengar dari Allah; pekerjaan yang demikian tidak dikerjakan oleh Abraham. Kamu mengerjakan pekerjaan bapakmu sendiri.” Jawab mereka, “Kami tidak dilahirkan dari zinah. Bapa kami satu, yaitu Allah.” Kata Yesus kepada mereka, “Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku datang dari Allah dan sekarang Aku ada di sini. Lagi pula Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku. (Yoh 8:31-42) 

Bacaan Pertama: Dan 3:14-20,24-25,28; Mazmur Tanggapan: Dan 3:52-56 

“Jadi, apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka” (Yoh 8:36).

Apakah artinya bila dikatakan bahwa kita adalah orang-orang yang benar-benar merdeka dalam Kristus? Kita mungkin menemukan kesulitan untuk menggambarkannya, namun secara naluriah kita merasakan bahwa hal itu berarti suatu pembebasan batiniah dan adanya potensi tanpa batas untuk hidup bersama Allah. Kita merasakan bahwa kemerdekaan berarti sukacita dan damai-sejahtera secara mendalam, suatu ekspektasi penuh gairah akan segala sesuatu yang dapat diberikan oleh Allah.

Kemerdekaan (kebebasan) adalah sesuatu yang Allah selalu maksudkan untuk kita. Pada kenyataannya, Dia memberikan kepada kita intelek, emosi dan kehendak, agar dengan demikian kita dapat hidup sebagai makhluk-makhluk bebas-merdeka, yang dapat memutuskan bagi diri kita sendiri bagaimana kita menjalani hidup kita. Niat Allah adalah bahwa kita akan menggunakan kebebasan kita untuk berbalik kepada-Nya dan menerima hidup-Nya dalam diri kita. Akan tetapi, bukannya berbalik kepada-Nya, kita malah menggunakan kebebasan kita untuk berbalik meninggalkan-Nya. Akibat yang menyedihkan adalah bahwa kita bukan lagi merupakan pribadi-pribadi yang bebas-merdeka, melainkan orang-orang yang diperbudak oleh kuasa dosa.

Seperti perkiraan kita, upaya kita untuk memperoleh kebebasan kita menyangkut biaya. Namun, kabar baiknya adalah bahwa Yesus-lah yang membayarnya untuk membebaskan kita. Tidak ada biaya yang harus kita keluarkan sedikitpun. Kebebasan kita dari dosa adalah pemberian cuma-cuma dari Allah sendiri. Kita hanya perlu meminta hal itu kepada-Nya. Hampir tidak ada orang yang menyia-nyiakan jika ada promosi barang-barang tertentu yang dijual di supermarket, misalnya membeli produk tertentu sebanyak satu buah akan mendapat dua buah (buy one, get two). Namun sampai berapa seringkah kita memulai hari kita dengan permohonan kepada Allah untuk dibebaskan dari hal-hal yang membelenggu kita, misalnya rasa gundah-gulana, rasa terbebani dengan masalah berat, rasa khawatir, was-was dan takut, bahkan rasa bersalah? Kita sungguh bodoh jika kita terus terbelenggu oleh berbagai hal tersebut, padahal kita dapat memperoleh kemerdekaan dari Allah setiap saat?

Saudari dan Saudariku, Allah yang kita sembah adalah Allah yang penuh kasih, baik hati dan setia. Dia adalah sumber segala kebaikan dan satu-satunya yang baik. Ia hanya menginginkan yang terbaik bagi kita dan Ia sungguh rindu untuk melihat kita datang kepada-Nya setiap hari dengan hati yang terbuka. Allah sangat senang untuk menyatakan diri-Nya kepada kita secara lebih penuh, menyembuhkan segala sakit-penyakit dalam kehidupan kita – baik sakit fisik maupun luka-luka batin – , dan memulihkan kemerdekaan kita sebagai anak-anak-Nya. Di tengah semua tantangan dan pencobaan dalam hidup sehari-hari, janganlah sampai kita luput memandang Dia yang mampu untuk membebaskan kita. Marilah kita datang kepada-Nya dengan penuh kepercayaan-diri bahwa Dia sungguh berhasrat untuk membebas-merdekakan anak-anak-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, kami percaya bahwa Engkau telah membayar segala biaya yang diperlukan agar kami bebas dari dosa dan segala efeknya. Kami ingin menerima kebebasan ini yang menjamin kepada kami akses tanpa batas kepada-Mu dan kerajaan-Mu. Yesus, bebaskanlah kami! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 8:31-42), bacalah tulisan dengan judul “AGAR KITA DAPAT DITRANSFORMASIKAN KE DALAM KESERUPAAN DENGAN ALLAH, BAPA KITA” (bacaan tanggal 16-3-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-03 BACAAN HARIAN MARET 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 9-4-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 13 Maret 2016 [HARI MINGGU PRAPASKAH V – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

AKU BUKAN DARI DUNIA INI

AKU BUKAN DARI DUNIA INI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Prapaskah – Selasa, 15 Maret 2016) 

stdas0730Lalu Yesus berkata lagi kepada mereka, “Aku akan pergi dan kamu akan mencari Aku tetapi kamu akan mati dalam dosamu. Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang.” Karena itu, kata para pemuka Yahudi itu, “Apakah Ia mau bunuh diri maka dikatakan-Nya: Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang?” Lalu Ia berkata kepada mereka, “Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, aku bukan dari dunia ini. Karena itu tadi Aku berkata kepadamu bahwa kamu akan mati dalam dosamu; sebab jikalau kamu tidak percaya bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu.” Lalu kata mereka kepada-Nya, “Siapakah Engkau?” Jawab Yesus kepada mereka, “Apa yang telah Kukatakan kepadamu sejak semula? Banyak yang harus Kukatakan dan Kuhakimi tentang kamu; akan tetapi Dia yang mengutus Aku, adalah benar, dan apa yang Kudengar dari Dia, itulah yang Kukatakan kepada dunia.” Mereka tidak mengerti bahwa Ia berbicara kepada mereka tentang Bapa. Maka kata Yesus, “Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu bahwa Akulah Dia, dan bahwa Aku tidak berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri, tetapi Aku berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa kepada-Ku. Ia, yang telah mengutus Aku, menyertai Aku. Ia tidak membiarkan Aku sendiri, sebab Aku senantiasa melakukan apa yang berkenan kepada-Nya. Setelah Yesus mengatakan semuanya itu, banyak orang percaya kepada-Nya. (Yoh 8:21-30) 

Bacaan Pertama: Bil 21:4-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 102:2-3,16-21 

“Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini” (Yoh 8:23).

Dalam artian tertentu, pernyataan yang dibuat Yesus kepada orang-orang Yahudi yang melawan diri-Nya dapat diterapkan pada kita semua yang hidup pada abad ke-21 ini. Begitu mudah bagi manusia untuk terjebak dalam kesusahan-kesusahan dan hasrat-hasrat dunia ini. Namun kabar baiknya adalah, bahwa Allah memiliki hasrat mendalam untuk mengangkat kita ke alam surgawi – bahkan sekarang juga ketika kita masih hidup di dalam dunia ini.

Kita mengetahui apa yang diungkapkan indra-indra manusiawi kita, and kita biasanya berpikir berdasarkan indra-indra  ini sesuai dengan suatu cara berpikir duniawi yang memiliki keterbatasan. Akan tetapi, semakin banyak kita memperkenankan Roh Kudus menyatakan kebenaran ilahi dan kasih ilahi kepada kita, maka semakin banyak pula pikiran dan pemikiran kita dapat terangkat untuk ditransformasikan oleh Tuhan. Selagi kita  memperkenankan Roh Kudus memimpin kita dan membimbing kita, kita akan mengalami Injil secara pribadi dan dipenuhi dengan kasih kepada Bapa surgawi.

Bagaimana kita dapat melakukan ini? Yesus berjanji, bahwa apabila Dia ditinggikan, maka kita akan mengenal dan mengalami siapa Dia sebenarnya: “Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu bahwa Akulah Dia dan bahwa aku tidak berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri, tetapi Aku berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa kepada-Ku” (Yoh 8:28). Apabila kita meninggikan Yesus dalam doa, maka kita pun akan ditinggikan bersama dengan-Nya. Apabila kita meninggikan Dia melalui ketaatan penuh hormat dan pertobatan yang dilakukan dengan kerendahan hati, maka kita mulai dapat mencicipi alam surgawi. Apabila kita menempatkan kasih kepada Allah dan sesama di atas cinta kepada diri kita sendiri, maka hati kita pun akan diterangi dan mengalami kasih ilahi. Setiap hari Roh Kudus memberikan kepada kita kesempatan atau peluang seperti ini yang tak terbilang banyaknya – kesempatan untuk ditinggikan. Kuncinya adalah untuk mengenali kesempatan-kesempatan ini ketika mendatangi kita.

Yesus tidak menginginkan kita untuk sekadar hidup sebagai warga dunia ini. Dia ingin agar kita mempunyai pengalaman mencicipi kemuliaan surgawi di mana Dia berdiam – hari ini, sekarang juga. Apakah anda ingin mengalami secara lebih lagi kehidupan surgawi pada masa Prapaskah? Kalau begitu halnya, tinggikanlah Yesus dan mohonlah kepada Roh Kudus untuk meninggikan anda bersama dengan Yesus. Berkumpullah, bersekutulah dalam doa-doa bersama umat Kristiani lainnya yang juga ingin mengalami sentuhan kemuliaan surgawi. Kemudian, apabila anda menjadi penuh dengan hidup surgawi, maka anda pun menjadi seorang pribadi yang lebih bebas-merdeka dan diberdayakan  untuk membawa kerajaan surga kepada dunia di sekeliling anda.

DOA: Roh Kudus Allah, datanglah dan tolonglah aku untuk senantiasa meninggikan Yesus, sehingga aku dapat mengalami sentuhan surgawi yang lebih mendalam lagi. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Bil 21:4-9), bacalah tulisan yang berjudul “MENJADI RAKUS ITU BERBAHAYA” (bacaan tanggal 15-3-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 16-03 BACAAN HARIAN MARET 2016. 

Cilandak, 13 Maret 2016 [HARI MINGGU PRAPASKAH V – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS