KEDATANGAN ANAK MANUSIA YANG ADALAH SANG MESIAS

KEDATANGAN ANAK MANUSIA YANG ADALAH SANG MESIAS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV – Kamis, 26 November 2015)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Leonardus dr Porto Mauritio, Imam 

premillennialism-destruction-jerusalem-70ad-titus-arch

“Apabila kamu melihat Yerusalem dikepung oleh tentara-tentara, ketahuilah bahwa keruntuhannya sudah dekat. Pada waktu itu orang-orang yang berada di Yudea harus melarikan diri ke pegunungan, dan orang-orang yang berada di dalam kota harus mengungsi, dan orang-orang yang berada di pedusunan jangan masuk lagi ke dalam kota, sebab itulah masa pembalasan ketika semua yang telah tertulis akan digenapi. Celakalah ibu-ibu yang sedang hamil atau menyusukan bayi pada masa itu! Sebab akan datang kesusahan yang dahsyat atas seluruh negeri dan murka atas bangsa ini, dan mereka akan tewas oleh mata pedang dan dibawa sebagai tawanan ke segala bangsa, dan Yerusalem akan diinjak-injak oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, sampai genaplah zaman bangsa-bangsa itu.”

“Akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang, dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut. Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini, sebab kuasa-kuasa langit akan guncang. Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah kepalamu, sebab pembebasanmu sudah dekat.”  (Luk 21:20-28) 

Bacaan Pertama: Dan 7:2-14; Mazmur Tanggapan: Dan 3:75-81 

Salah satu unsur dari kepercayaan umat Yahudi pada zaman Yesus dahulu adalah bahwa YHWH akan membangkitkan seorang Mesias guna menyelamatkan umat-Nya. Ada orang-orang yang membayangkan sang Mesias sebagai seorang tokoh politik yang akan memerdekakan bangsa Yahudi dari penjajahan bangsa Romawi. Ada orang-orang lain yang mengharapkan agar Musa atau Elia kembali dan memimpin bangsa Yahudi seperti mereka lakukan dalam masa Perjanjian Lama. Ada juga orang-orang yang mengharapkan seorang Mesias imamiyah yang akan membawa umat kembali ke suatu penyembahan kepada YHWH yang benar.

Yesus berbicara kepada orang banyak tentang akhir zaman. Setelah bernubuat mengenai keruntuhan Yerusalem, Yesus mengatakan bahwa akan ada tanda-tanda kosmik, peristiwa-peristiwa besar yang akan membuat orang-orang menjadi takut. Namun tanda yang paling besar akan menyusul: “Pada waktu itu orang akan meihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya” (Luk 21:27).

SON OF MAN IN THE SKYSiapa sebenarnya “Anak Manusia” ini? Dalam penglihatannya tentang akhir zaman, Daniel melihat seorang seperti anak manusia datang dengan awan-awan dari langit. Ia datang kepada Yang Lanjut Usianya, dan ia dibawa ke hadapan-Nya. Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah (Dan 7:13-14).

Anak Manusia adalah Mesias dan pada saat yang sama juga Hakim. Ia berbeda dengan jenis-jenis Mesias yang biasa diharapkan oleh orang-orang Yahudi. Mengapa? Karena Anak Manusia datang dari surga dan tidak hanya seorang manusia, melainkan juga sangat dekat dengan YHWH di surga. Kepada Mesias ini – Anak Manusia ini – diberikan kekuasaan dan wewenang atas seluruh bumi serta isinya, dan segenap ciptaan lainnya, dan kekuasaannya adalah kekal-abadi.

Yesus adalah sang Mesias, Anak Manusia. Bilamana Dia datang, maka Dia sungguh-sungguh akan menghakimi bumi. Dia menyemangati serta mendorong umat yang percaya: “Bangkitlah dan angkatlah kepalamu, sebab pembebasanmu sudah dekat” (Luk 21:28). Oleh karena itu, janganlah kita merasa takut akan akhir zaman dan kedatangan Anak Manusia, Yesus, karena Dia adalah seorang Hakim yang adil (bdk. Mat 25:31-46).

DOA: Tuhan Yesus, segala kuasa di surga dan di bumi telah diberikan kepada-Mu. Datanglah dan dirikanlah kerajaan-Mu secara penuh dengan datang kembali kelak dalam kemuliaan. Tolonglah kami untuk menjadi murid-murid-Mu yang setia dan taat kepada perintah-perintah-Mu, sehingga dengan demikian kami dapat berdiri dengan kepala tegak pada saat kedatangan-Mu kembali pada akhir zaman. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:20-28), bacalah tulisan yang berjudul “SALAH SATU MISTERI IMAN” (bacaan tanggal 26-11-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 27-11-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 24 November 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KALAU KAMU TETAP BERTAHAN ……

KALAU KAMU TETAP BERTAHAN ……

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV – Rabu, 25 November 2015)

OSF Sibolga: Peringatan B. Elisabet dr Reute, Biarawati 

YESUS MENGAJAR DI BAIT ALLAH - MRK 12 A“Tetapi sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku. Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi. Sebab itu tetapkanlah di dalam hatimu, supaya kamu jangan memikirkan lebih dahulu pembelaanmu. Sebab Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawanmu. Kamu akan diserahkan juga oleh orang tuamu, saudara-saudaramu, kaum keluargamu dan sahabat-sahabatmu dan beberapa orang di antara kamu akan dibunuh dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku. Tetapi tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang. Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh kehidupan.” (Luk 21:12-19) 

Bacaan Pertama: Dan 5:1-6,13-14,16-17,23-28; Mazmur Tanggapan: Dan 3:62-67

Tahun 1942. Di negeri Belanda yang ketika itu diduduki oleh pasukan Nazi Jerman, ada seorang biarawati Karmelites yang bernama Edith Stein [1891-1942]. Berulang kali biarawati ini dipanggil ke markas besar Nazi. Dia harus ke luar dari biaranya, padahal dia adalah seorang biarawati kontemplatif. Di dalam markas Nazi tersebut dia mengalami interogasi-interogasi yang lama dan penuh intimidasi,  difitnah dengan tuduhan-tuduhan palsu. Keselamatan dirinya dan orang-orang yang dikasihinya juga diancam, …… karena dia adalah seorang keturunan Yahudi. Semua itu dilakukan pihak Nazi dengan harapan agar dapat menghancurkan semangatnya, namun mereka gagal menaklukkan perempuan tangguh ini.

Suster Edith Stein bukanlah biarawati sembarangan. Sebelum menjadi seorang katolik di tahun 1922, dia adalah seorang dosen di salah satu perguruan tinggi di Jerman, yaitu di Universitas Freiburg dan dia adalah pemegang gelar doktor filsafat dari Universitas Göttingen [1918]. Sebelum itu Edith juga pernah bekerja sebagai perawat rumah sakit. Pada waktu masuk Gereja Katolik, Edith berniat masuk biara Karmelites a.l. karena dipicu oleh bacaannya atas tulisan-tulisan Santa Teresa dari Avila, yang bersama Santo Yohanes dari Salib adalah para pembaharu Ordo Karmelit. Namun para mentor spiritualnya tidak mendorongnya. Kemudian Edith bekerja sebagai guru di sebuah sekolah Katolik di Münster.

Karena kebijakan rasialisme dari pihak Nazi, dia harus meninggalkan pekerjaannya sebagai guru pada tahun 1933 dan bergabung dengan biara suster-suster Karmelites tak berkasut (OCD) di Cologne pada tahun 1934. Nama biaranya adalah Suster Benedikta dari Salib. Demi keamanan mereka, pada tahun 1938 Suster Benedikta dari Salib dan Suster Rosa, saudarinya, dipindahkan ke biara Karmelites di Echt, Belanda.

Pada bulan Agustus tahun 1942, sebagai balasan terhadap pernyataan para uskup Belanda yang memprotes kebijakan Nazi terhadap orang-orang Belanda keturunan Yahudi, maka semua orang Katolik keturunan Yahudi di Belanda ditangkapi dan dideportasi. Ketika pihak Nazi datang ke biara untuk menangkap Edith, dengan tenang dia berkata kepada Suster Rosa yang juga ditangkap: “Mari, kita akan pergi ke umat kita.” Dalam perjalanan penuh penderitaan selama tujuh hari ke Auschwitz, Edith menguatkan dan menghibur semua orang yang ada dalam rombongannya dan mereka semua akan terkejut sekali ketika sampai pada akhir perjalanan.

st-edithsteinEdith Stein wafat di kamar gas di kamp konsentrasi Auschwitz pada tanggal 9 Agustus 1942, dan sisa-sisa jenazahnya dikremasikan bersama sisa-sisa jenazah ribuan orang lainnya yang dibinasakan pada hari itu. Banyak cerita yang belakangan diceritakan oleh orang-orang yang masih hidup ketika perang usai dan menjadi saksi-saksi dari hari-hari terakhir Edith Stein. Damai-sejahtera yang dibawakannya kepada orang-orang tahanan lainnya, bela rasanya bagi mereka yang menderita di sekeliling dirinya, dan kemampuannya untuk menanggung penderitaan adalah hal-hal yang dicatat tentang dirinya.

Cerita tentang Edith Stein melukiskan bagaimana kata-kata Yesus yang disampaikan kepada para murid-Nya tidak terbatas pada umat Kristiani abad pertama. Semua umat beriman yang mencari dan berupaya untuk memajukan rencana Bapa bagi umat-Nya akan mengalami peristiwa-peristiwa serupa dalam hidup mereka. Sesungguhnya, semua pencobaan yang kita alami sebagai umat Kristiani (besar ataupun kecil) adalah tanda-tanda dari sifat dunia ini yang tidak permanen dan juga sifat permanen dari “dunia” yang akan datang – sebuah dunia yang penuh dengan pengharapan, damai sejahtera dan sukacita yang bertentangan dengan rencana-rencana dari orang-orang yang terikat pada dunia yang penuh dengan keterbatasan ini.

Dalam setiap zaman Gereja mengalami pengejaran dan penganiayaan, baik dari dalam maupun dari dalam. Setiap zaman mempunyai cerita-cerita tentang para pahlawan seperti Edith Stein, namun juga tentang peristiwa-peristiwa yang kita semua hadapi setiap hari. Dalam setiap sikon yang kita hadapi, dalam setiap orang yang kita temui, kepada kita diberi kesempatan untuk memancarkan sinar terang benderang seperti yang terjadi dengan Edith Stein, apabila kita memperkenankan Tuhan untuk memperkuat diri kita dan menolong agar kita mengetahui kata-kata apa yang harus kita ucapkan dan bagaimana untuk mengasihi. Dalam setiap peristiwa, kita dapat mengalami janji Yesus yang besar dan sangat berharga: “Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu” (Luk 21:19).

DOA: Tuhan Yesus, buatlah diriku agar menjadi murid-Mu yang setia seperti Edith Stein, sehingga aku dapat bertahan dalam segala pencobaan dan pengejaran. Aku ingin menerima “mahkota kehidupan” yang Kaujanjikan kepada orang-orang yang mengasihi Engkau (Yak 1:12). Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:12-19), bacalah tulisan yang berjudul “KETEKUNAN AKAN MENDATANGKAN BERKAT” (bacaan tanggal 25-11-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 26-11-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 22 November 2015 [HARI RAYA KRISTUS RAJA] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TIDAK BERARTI KESUDAHANNYA AKAN DATANG SEGERA

TIDAK BERARTI KESUDAHANNYA AKAN DATANG SEGERA

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Andreas Dung Lac, Imam dkk. Martir – Selasa, 24 November 2015)

pppas0594Ketika beberapa orang berbicara tentang Bait Allah, betapa bangunan itu dihiasi dengan batu yang indah-indah dan dengan berbagai-bagai barang persembahan, berkatalah Yesus, “Apa yang kamu lihat di situ – akan datang harinya ketika tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan.”

Lalu mereka bertanya kepada Yesus, “Guru, kapan itu akan terjadi? Apa tandanya, kalau itu akan terjadi?” Jawab-Nya, “Waspadalah, supaya kamu jangan disesatkan. Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: ‘Akulah Dia,’ dan: ‘Saatnya sudah dekat.’ Janganlah kamu mengikuti mereka. Apabila kamu mendengar tentang peperangan dan pemberontakan, janganlah kamu takut. Sebab semuanya itu harus terjadi dahulu, tetapi itu tidak berarti kesudahannya akan datang segera.”

Ia berkata kepada mereka, “Bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan, dan akan terjadi gempa bumi yang dahsyat dan di berbagai tempat akan ada penyakit sampar dan kelaparan, dan akan terjadi juga hal-hal yang menakutkan dan tanda-tanda yang dahsyat dari langit. (Luk 21:5-11) 

Bacaan Pertama: Dan 2:31-45; Mazmur Tanggapan: Dan 3:57-61

“Apabila kamu mendengar tentang peperangan dan pemberontakan, janganlah kamu takut. Sebab semuanya itu harus terjadi dahulu, tetapi itu tidak berarti kesudahannya akan datang segera.” (Luk 21:9)

Kata-kata Yesus kepada para murid-Nya dapat terdengar seperti headlines di koran-koran hari ini. Kelihatannya, kemana saja kita melihat, kita akan menemukan laporan-laporan atau reportase tentang peperangan, kelaparan, kebingungan dan gejolak sosial. (Pada detik ini juga – ketika saya sedang mengetik di laptop saya – ada berita CNN tentang terjadinya penyerangan terhadap sebuah hotel di Mali, Afrika Barat oleh teroris.). Apabila kita menempatkan potongan-potongan berita tersebut secara benar, maka kita akan dibimbing dan sampai pada kesimpulan bahwa kita sungguh hidup dalam zaman akhir.

Namun Yesus sangat berhati-hati mengatakan kepada para murid-Nya agar tidak hanya mencari tanda-tanda yang dapat “meramalkan” kapan akhir zaman itu akan tiba. Kita melihat dari sejarah bahwa berabad-abad lalu keadaannya jauh lebih buruk dari zaman sekarang, dan akhir zaman belum tiba juga. Dalam artian tertentu, kita hidup dalam zaman akhir sejak hari Yesus naik ke surga. Yesus dapat kembali setiap saat, dan bagaimana pun kerasnya kita mencoba untuk memprediksi kedatangan-Nya, kita tidak pernah akan tahu.

Jadi, bagaimana kita tetap siap untuk menghadapi suatu peristiwa yang mungkin saja terjadi setelah kita meninggal dunia? Jawabannya sama sederhananya pada hari ini seperti 2000 tahun lalu, yaitu untuk tetap berada dekat dengan Yesus. Saudari dan Saudara yang berstatus menikah tentunya masih ingat saat-saat mereka jatuh cinta untuk pertama kalinya. Ke mana-mana mereka selalu berdua, seakan ada perekat yang menyatukan mereka. Tidak ada sesuatu pun yang dapat menarik perhatian seorang dari mereka berdua selain daripada kekasihnya itu, demikian pula sebaliknya. Jalan Yesus juga dapat dikatakan serupa. Yesus ingin menjadi kekasih kita. Ia ingin memenuhi imajinasi kita sehingga kita tidak menginginkan apa-apa lagi kecuali “beristirahat” dalam kasih-Nya dan menjadi bejana-bejana murni dari kasih-Nya kepada dunia di sekitar kita. Selagi ini terjadi, kita dapat menjadi yakin bahwa apa pun yang terjadi dalam dunia, Allah tetap memegang kendali/kontrol.

AKU MENYEMBAH ENGKAU

AKU MENYEMBAH ENGKAU

Ada contoh dalam sejarah: Fransiskus dari Assisi selalu asyik dengan Yesus karena begitu dekat relasinya dengan Dia: “Ia selalu asyik dengan Yesus: Yesus di dalam hatinya. Yesus di dalam mulutnya, Yesus di dalam telinganya, Yesus di dalam matanya, Yesus di dalam tangannya. Yesus di dalam anggota-anggotanya yang lain. … Seringkali  kalau dia di tengah perjalanan berpikir atau bernyanyi tentang Yesus, ia lupa bahwa dia sedang dalam perjalanan. Lalu dia berhenti dan mengajak orang-orang segala umur untuk memuji Yesus. Dan karena dalam cinta kasihnya yang menakjubkan ia selalu mendukung dan menyimpan Yesus yang tersalib di dalam hatinya, maka di atas semua orang, ia ditandai secara amat mulia dengan tanda-Nya” (2 Celano 115).

Selagi kita berdoa setiap hari dan membaca serta merenungkan sabda Allah dalam Kitab Suci, walaupun hanya untuk lima atau sepuluh menit lamanya, kesulitan-kesulitan kita akan menyusut dan kita akan jatuh cinta dengan Yesus. Lalu, apakah Yesus datang kembali pada hari ini atau dalam sepuluh ribu tahun lagi, kita tetap akan siap untuk bertemu dengan-Nya dengan tangan-tangan terbuka.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau mengenal diriku dan mengasihiku secara total dan lengkap sehingga tidak apa atau siapa pun yang harus kutakuti. Penuhilah diriku dengan diri-Mu sehingga dengan demikian pengharapanku beristirahat dalam damai-Mu, bukan dalam peristiwa-peristiwa dalam dunia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:5-11), bacalah tulisan yang berjudul “GURU, KAPAN ITU AKAN TERJADI?” (bacaan tanggal 24-11-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2015. 

Cilandak, 20 November 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KEMURAHAN HATI JANDA MISKIN YANG PATUT KITA CONTOH

KEMURAHAN HATI JANDA MISKIN YANG PATUT KITA CONTOH

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV – Senin, 23 November 2015)

The_Widows_Mites004Ketika Yesus mengangkat muka-Nya, Ia melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan. Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua uang tembaga, ke dalam peti itu. Lalu Ia berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang itu. Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan seluruh nafkah yang dimilikinya.” (Luk 21:1-4) 

Bacaan Pertama: Dan 1:1-6,8-20; Mazmur Tanggapan: Dan 3:52-56

Marilah kita coba membayangkan apa yang kiranya terjadi. Yesus baru saja masuk ke dalam Bait Allah, dengan pengharapan menemukan sebuah rumah doa dan juga untuk beristirahat sejenak … ke luar sebentar dari kesibukan-Nya yang luar biasa melelahkan untuk mewartakan Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan, dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Namun yang terjadi adalah bahwa Dia berjumpa dengan para penukar uang dan para penjual hewan kurban yang rakus-rakus. Ia juga bertemu dengan para pemuka agama yang tak pernah lelah mau menjebaknya. Dari semua tempat yang ada, bukankah Bait Allah merupakah tempat yang paling cocok bagi Yesus? Tempat di mana Dia akan feel at home dan terhibur. Sayangnya, walaupun dalam Bait Allah Yesus “tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Luk 9:58).

Setelah mengalami serangkaian peristiwa yang tidak menyenangkan itu, pada akhirnya Yesus mengalami penghiburan – dan dengan cara yang cukup mengejutkan, Selagi Yesus memperhatikan orang-orang yang memberikan persembahan mereka ke dalam perbendaharaan Bait Allah, hati-Nya dipenuhi dengan rasa bahagia. Dia melihat seorang janda miskin yang memberikan uang persembahan dari “seluruh nafkah yang dimiliki-Nya” (Luk 21:4). Setelah karya pelayanan yang melelahkan, melihat kemurahan hati janda miskin yang tanpa pamrih ini membuat diri Yesus tersentuh sedalam-dalamnya. Janda miskin ini adalah seorang pribadi manusia yang sungguh menyenangkan Allah lewat sikap dan perilakunya.

Tidak jarang terlintas dalam pikiran kita bahwa kita sebenarnya tidak pernah dapat menyenangkan Yesus. Lagipula Dia adalah Putera Allah, yang duduk di sebelah kanan Allah Bapa Yang Mahakuasa …… dalam kemuliaan surgawi! Selagi Yesus memandang dunia, Ia tentunya melihat segala kerusakan akibat dosa. Peperangan, kemurkaan, kekerasan, kepahitan, kecemburuan dlsb. yang membuat-Nya sedih. Namun jika kita memilih untuk menempatkan orang-orang lain di tempat pertama untuk kita layani, maka hal ini akan mendatangkan sukacita bagi Yesus. Dengan begitu banyak tuntutan yang kita hadapi setiap hari, dan kita masih mau bangun pagi untuk pergi ke Misa harian …… hal seperti ini menyenangkan Yesus. Dalam masyarakat yang materialistis, manakala kita memberi dari kebutuhan kita sendiri, maka Yesus pun terhibur. Jika kita mengambil langkah sulit untuk bertobat – walaupun kita masih mau membenarkan diri kita – Yesus senang.

Diri kita dapat menjadi sebuah tempat kediaman bagi Yesus – sebuah tempat di mana Dia dapat “meletakkan kepala-Nya” di dalam dunia yang telah dirusak oleh dosa! Setiap kali kita merasa bahwa panggilan Kristiani kita menuntut kita untuk “memberi dari kebutuhan kita sendiri”, maka baiklah kita melihat  situasi-situasi sedemikian sebagai peluang-peluang untuk melayani Yesus dan memberikan kepada-Nya kesegaran. Dalam hal itu Dia sungguh senang melihat umat-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, aku ingin melayani Engkau seperti yang dilakukan oleh sang janda miskin dalam bacaan Injil hari ini. Melalui kuasa Roh Kudus-Mu, tolonglah diriku agar bertekun guna memenuhi panggilan Bapa surgawi kepada kekudusan dan juga dalam pelayanan kepada sesama, dengan demikian hatiku dapat menjadi tempat yang cocok bagi-Mu untuk beristirahat. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:1-4), bacalah tulisan yang berjudul “MAKNA SESUNGGUHNYA DARI APA YANG KITA BERIKAN MENGALIR DARI HATI” (bacaan tanggal 23-11-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2015. 

Cilandak, 20 November 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KERAJAAN-KU BUKAN DARI DUNIA INI

KERAJAAN-KU BUKAN DARI DUNIA INI

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA TUHAN KITA YESUS KRISTUS RAJA SEMESTA – Minggu, 22 November 2015)

???????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????

Pilatus masuk kembali ke dalam istana gubernur, lalu memanggil Yesus dan bertanya kepada-Nya, “Apakah Engkau raja orang Yahudi?” Jawab Yesus, “Apakah engkau katakan hal itu dari hatimu sendiri, atau orang lain yang mengatakannya kepadamu tentang aku?” Kata Pilatus, “Apakah aku seorang Yahudi? Bangsa-Mu sendiri dan imam-imam kepala yang telah menyerahkan Engkau kepadaku; apakah yang telah Engkau perbuat?” Jawab Yesus, “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini.” Lalu kata Pilatus kepada-Nya, “Jadi engkau adalah raja?” Jawab Yesus, “Engkau mengatakan bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku bersaksi tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku.” (Yoh 18:33-37) 

Bacaan Pertama: Dan 7:13-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 93:1-2,5; Bacaan Kedua: Why 1:5-8

“TUHAN adalah Raja, Ia berpakaian kemegahan, ……”  (Mzm 93:1)

Pilatus bertanya kepada Yesus: “Apakah Engkau raja orang Yahudi?” Setelah itu terjadilah tanya-jawab singkat antara keduanya, Yesus menyatakan yang berikut ini: “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini: jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini” (Yoh 18:36).

Ketika mengatakan kebenaran ini, Yesus membuat jelas bahwa para warga Kerajaan-Nya – anda dan saya – tidak perlu menyerahkan bagian mana pun dari hidup kita kepada klaim-klaim palsu kerajaan dunia ini. Akan tetapi, seringkali kita dilanda oleh rasa takut terhadap “para tuan tanah palsu” yang ingin merampok kita. Satu-satunya cara untuk keluar dari rasa takut ini adalah melalui persatuan yang lebih erat lagi dengan Raja kita yang sejati, Yesus Kristus. Bagaimana kita dapat mengenal Raja kita yang sejati itu secara lebih dekat lagi? Dengan hidup dalam kebenaran dan dengan melangkah ke luar dan masuk ke tengah dunia, dengan kesadaran penuh bahwa kita adalah milik “dunia” yang lain.

KRISTUS RAJA - 55Ketika Yesus wafat di atas kayu salib, Ia membawa seluruh realitas baru ke dalam dunia: sukacita karena menjadi warga surga dan pewaris Kerajaan Allah. Sekarang, kita masing-masing dipanggil untuk menjadi saksi-saksi dari kasih yang ditawarkan secara gratis kepada setiap orang yang mengakui Yesus sebagai Raja mereka.

Yesus pasti akan kembali lagi dalam kepenuhan kemuliaan Kerajaan-Nya, dan Ia telah mengutus Roh Kudus-Nya guna menolong kita mempersiapkan dunia untuk menyambut-Nya ketika Dia datang kembali kelak. Ketika kita mewartakan Injil Yesus Kristus lewat kata-kata dan perbuatan-perbuatan baik kita, maka sebenarnya kita ikut serta membuat dunia siap untuk menyambut-Nya. Sebuah senyum yang keluar dari hati, atau sapaan “halo, apa kabar” yang tulus, atau kata-kata yang memberi semangat dari Kitab Suci, atau janji yang bukan asal janji untuk mendoakan seseorang – semua ini dapat menyatakan kebenaran kasih Allah kepada orang-orang di sekitar kita.

Roh Kudus ingin bekerja melalui diri kita masing-masing supaya membawa dunia lebih dekat lagi kepada Kerajaan yang telah diaugurasikan oleh Yesus lewat kematian dan kebangkitan-Nya. Ketika kita berdoa, “Datanglah Kerajaan-Mu. Jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga”, sebenarnya kita menggabungkan diri dengan Yesus untuk menghantar orang-orang dan menyatakan kepada mereka Kerajaan yang dimaksudkan sebagai tujuan untuk mana kita semua dilahirkan.

DOA: Yesus, Rajaku, tunjukkanlah kepadaku bagaimana aku dapat ikut ambil bagian dalam membawa Kerajaan-Mu ke tengah dunia secara lebih penuh. Engkau adalah kebenaran yang membuat hidupku lengkap. Perkenankanlah aku menjadi seorang saksi dari kebenaran ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Yoh 18:33-37), bacalah tulisan yang berjudul “BUKAN RAJA DUNIA” (bacaan tanggal 22-11-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM https://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2015] 

Cilandak, 19 November 2015 [Peringatan S. Agnes dari Assisi, Perawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MEREKA TIDAK BERANI LAGI MENANYAKAN APA-APA KEPADA YESUS

MEREKA TIDAK BERANI LAGI MENANYAKAN APA-APA KEPADA YESUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan SP Maria Dipersembahkan kepada Allah – Sabtu, 21 November 2015)

YESUS SANG RABBI DARI NAZARETKemudian datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki yang tidak mengakui adanya kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya, “Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: Jika seseorang yang mempunyai saudara laki-laki, mati, sedangkan istrinya masih ada, tetapi ia tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan istrinya itu dan memberi keturunan bagi saudaranya itu. Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan lalu mati dengan tidak meninggalkan anak. Lalu perempuan itu dikawini oleh yang kedua, dan oleh yang ketiga dan demikianlah berturut-turut oleh ketujuh saudara itu, merekanya semuanya mati tanpa meninggalkan anak. Akhirnya perempuan itu pun mati. Bagaimana sekarang dengan perempuan itu, siapakah di antara orang-orang itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan? Sebab ketujuhnya telah beristrikan dia.” Jawab Yesus kepada mereka, “Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan, tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan. Mereka tidak dapat mati lagi, sebab mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan. Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam cerita tentang semak duri, di mana ia menyebut sebagai Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup.” Mendengar itu beberapa ahli Taurat berkata, “Guru, jawab-Mu itu tepat sekali.” Sebab mereka tidak berani lagi menanyakan apa-apa kepada Yesus. (Luk 20:27-40) 

Bacaan Pertama: 1Mak 6:1-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 9:2-4,6,16,19

Sekali peristiwa, setelah mendengar seorang hamba/pelayan miskin mengumpat dan mengutuk tuannya karena telah memiskinkan dirinya – tidak memiliki apa-apa lagi – Fransiskus dari Assisi memberi nasihat kepadanya: “Saudara, maafkanlah tuanmu demi kasih kepada Allah, dan bebaskanlah jiwamu sendiri. Ada kemungkinan dia akan mengembalikanmu kepada keadaan semula, yaitu sesuai dengan apa saja yang telah diambilnya darimu. Kalau tidak demikian halnya, maka kamu telah kehilangan harta-bendamu dan akan kehilangan jiwamu juga.” Akan tetapi orang itu menjawab bahwa dia tidak akan mengampumi tuannya sampai harta miliknya telah dikembalikan. Mendengar ini, Fransiskus memberikan jubahnya sendiri kepada orang itu dan memohon kepadanya agar dia mengampuni tuannya. Hati orang itu segera meleleh karena tindakan kebaikan dari Fransiskus dan langsung saja dia mengampuni tuannya (Cermin Kesempurnaan, 32).

“Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman …” (Ams 15:1). Dengan berbicara secara lemah lembut dan menunjukkan kebaikan layaknya seorang anak Allah yang sejati, Fransiskus melakukan tindakan seperti yang dilakukan oleh Yesus. Kita pun dipanggil untuk melakukan hal yang sama.

JesandSadducees_1179-48Orang-orang Saduki merasa kesal dengan Yesus dan ingin menyingkirkan diri-Nya karena Dia mengklaim memiliki otoritas yang lebih tinggi daripada otoritas mereka. Guna mencari alasan untuk menjatuhkan Yesus, mereka mengajukan suatu pertanyaan yang bersifat menjebak sehubungan dengan kebangkitan badan (Luk 20:28-33). Apabila Yesus menjawab dengan cara yang membuat kebangkitan badan menjadi sesuatu yang kelihatan konyol, maka sudah barang tentu orang-orang Farisi akan protes keras. Apabila sebaliknya, maka orang-orang Saduki – yang tidak percaya akan kehidupan setelah kematian – juga akan sangat tersinggung. Jadi, bagaimana pun cara Yesus menjawabnya, salah satu pihak – Saduki atau Farisi – akan mengutuknya. Kita harus mengingat bahwa kedua kelompok ini merupakan dua faksi keagamaan dan politik yang sangat besar pengaruhnya di Yerusalem.

Daripada memberikan jawaban yang bersifat konfrontatif dan dapat dengan mudah menyakiti pihak lain, Yesus dengan lemah lembut memberikan tanggapan dengan menggunakan kata-kata penuh pengharapan yang menggambarkan hidup baru yang ditawarkan-Nya. Sambil mengacu kepada Kel 3:6, Yesus memberikan bukti alkitabiah tentang kebangkitan. Di situ YHWH menyatakan diri-Nya kepada Musa sebagai Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Para bapa bangsa ini, yang telah meninggal dunia ratusan tahun sebelum Musa, tetap hidup dalam Allah. Allah adalah “seorang” Allah yang hidup dari sebuah umat yang hidup, dengan demikian kebangkitan setelah kematian adalah sebuah keniscayaan!

Jawaban Yesus – dan lebih penting lagi, cara bertindak-Nya – berhasil membungkam orang-orang Saduki yang bertanya tadi (Luk 20:40). Penuh dengan damai-sejahtera Allah, Yesus menjawab dengan lemah lembut, sabar dan dengan penuh hikmat, dan tidak ada sesuatu pun yang dapat menolak semua itu. Semoga kita pun belajar untuk menjaga agar diri kita berada dalam damai-sejahtera dan selemah lembut Yesus dan Santo Fransiskus!

DOA:  Tuhan Yesus, berkat rahmat-Mu semoga aku dapat memancarkan kebaikan-Mu kepada setiap orang yang aku jumpai. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 20:27-40), bacalah tulisan yang berjudul “MEREKA ADALAH ANAK-ANAK ALLAH, KARENA MEREKA TELAH DIBANGKITKAN” (bacaan tanggal 21-11-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2015. 

Cilandak, 18 November 2015

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENGANDALKAN SABDA ALLAH DALAM KITAB SUCI

MENGANDALKAN SABDA ALLAH DALAM KITAB SUCI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIII – Jumat, 20 November 2015)

YESUS MEMBERSIHKAN BAIT ALLAHLalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ, kata-Nya kepada mereka, “Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.”

Tiap-tiap hari Ia mengajar di dalam Bait Allah. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat serta orang-orang terkemuka dari bangsa itu berusaha untuk membinasakan Dia, tetapi mereka tidak tahu, bagaimana harus melakukannya, sebab semua orang terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia. (Luk 19:45-48) 

Bacaan Pertama: 1Mak  4:36-37,52-59; Mazmur Tanggapan: 1Taw 29:10-12 

Para musuh Yesus terus “memburu” Dia seperti burung-burung nazar yang mengelilingi mangsa mereka, namun mereka tidak dapat menemukan suatu kesempatan untuk menyerang karena begitu banyak orang yang mengikut Yesus. Orang-orang mendengarkan pengajaran Yesus dengan penuh perhatian, dan mereka “terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia” (Luk 19:48).

Orang-orang tidak mendengarkan kata-kata Yesus oleh karena Dia seorang orator hebat atau cerdas secara politis. Daya pikat Yesus adalah justru karena Dia berbicara tentang sabda Allah serta menggunakannya dengan penuh kuasa, sabda yang “hidup dan kuat dan lebih tajam daripada pedang bermata dua mana pun” (Ibr 4:12).

Yesus seringkali mengandalkan sabda Allah dalam Kitab Suci Ibrani (=Perjanjian Lama) untuk melawan para musuh-Nya. Pikirkanlah betapa Dia sering mengatakan: “Ada tertulis”. Misalnya ketika Yesus digoda oleh Iblis di padang gurun (Luk 4:4,80; lihat juga 19:46; Mat 4:4,8,10; Mrk 7:6; Yoh 8:17). Bukankah kita semua juga mempunyai “musuh-musuh” yang terus mengincar hati dan pikiran kita, mencoba untuk mengalahkan, bahkan menghapuskan Yesus dari hidup kita? Tidakkah kita semua mempunyai “lemari” dalam batin kita yang dipenuhi dengan keragu-raguan, penolakan-penolakan, dan godaan-godaan kuat lainnya, sehingga kita lebih menyukai untuk tetap terkunci dalam lemari tersebut daripada berurusan dengan Yesus dan panggilan-Nya?

RABI DARI NAZARET - 1Terpujilah Allah, karena kita memiliki senjata di tangan kita guna mengalahkan musuh-musuh kita. Kitab Suci mengalahkan segala kebohongan Iblis dan roh-roh jahat pengikutnya. Itulah sebabnya mengapa membaca dan merenungkan sabda Allah dalam Kitab Suci secara harian dapat merupakan sesuatu yang sangat berguna dan penuh kekuatan. Jika kita berkomitmen memasukkan beberapa ayat dalam memori kita dan mengingat itu semua pada saat-saat kita mengalami kecemasan, kekhawatiran, kemarahan, atau keragu-raguan, maka hal itu dapat menolong kita dalam berurusan dengan musuh-musuh kita tersebut. Doa-doa yang terdapat dalam Mazmur atau kata-kata penghiburan dalam Injil juga dapat membantu dalam membangun hidup kita atas dasar fondasi-fondasi pengharapan dan rasa percaya sehingga kita tidak akan menjadi begitu rentan terhadap emosi-emosi negatif yang justru disenangi oleh musuh-musuh kita.

Kita memang tidak dapat menyerap seluruh isi Kitab Suci sekaligus, namun sungguh menolong apabila kita mempunyai Kitab Suci yang menggunakan bahasa yang cocok dengan diri kita. Kita dapat memulainya dengan bacaan-bacaan dalam Misa harian atau salah satu kitab Injil. Garis-bawahilah atau tulislah kembali ayat-ayat yang menyentuh hati kita dalam sebuah buku catatan yang khusus diperuntukkan untuk itu. Kita dapat menempatkan petikan-petikan dari Kitab Suci pada suatu tempat khusus di rumah kita guna mengingatkan kita akan kehadiran Allah yang penuh kuat-kuasa. Dengan berjalannya waktu, “musuh-musuh” kita pun akan mengkerut juga.

DOA: Tuhan Yesus, aku merasa takjub terhadap kuat-kuasa sabda-Mu! Oleh kuasa Roh Kudus-Mu, tanamkanlah dalam diriku rasa lapar dan haus yang lebih mendalam lagi akan sabda Allah dalam Kitab Suci, agar dengan demikian aku dapat bertumbuh dalam hikmat ilahi dan berguna dalam keikutsertaanku memajukan Kerajaan Surga. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 19:45-48), bacalah tulisan yang berjudul “ROH KUDUS INGIN MEMBUAT KITA SEMAKIN SERUPA DENGAN YESUS” (bacaan tanggal 20-11-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-11-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 17 November 2015 [Pesta S. Elisabet dr Hungaria, Pelindung OFS] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS