KITA TIDAK PERNAH BOLEH MENYERAH

KITA TIDAK PERNAH BOLEH MENYERAH

 (Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Rabu, 7 Mei 2014) 

St_Stephen_MartyrdomPada waktu itu mulailah penganiayaan yang hebat terhadap jemat di Yerusalem. Mereka semua, kecuali rasul-rasul, tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria. Orang-orang saleh menguburkan mayat Stefanus serta meratapinya dengan sangat. Tetapi Saulus berusaha membinasakan jemaat itu dan ia memasuki rumah demi rumah dan menyeret laki-laki dan perempuan ke luar dan menyerahkan mereka untuk dimasukkan ke dalam penjara.

Mereka yang tersebar itu menjelajahi seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil. Filipus pergi ke suatu kota di Samaria dan memberitakan Mesias kepada orang-orang di situ. Ketika orang banyak itu mendengar pemberitaan Filipus dan melihat tanda-tanda yang diadakannya, mereka semua memperhatikan dengan sepenuh hati apa yang diberitahukannya itu. Sebab dari banyak orang yang kerasukan roh jahat keluarlah roh-roh itu sambil berseru dengan suara keras, dan banyak juga orang lumpuh  dan orang timpang disembuhkan. Karena itu, sangatlah besar sukacita dalam kota itu. (Kis 8:1b-8)

Mazmur Tanggapan: Mzm 66:1-7; Bacaan Injil: Yoh 6:35-40

Bacaan hari ini menggambarkan masa/zaman di mana Gereja Kristus mengalami pengejaran dan penganiayaan disertai berbagai bentuk kekerasan pada usianya yang masih sangat muda. Para anggota Gereja yang saleh baru saja menguburkan martirnya yang pertama, Diakon Stefanus. Sekarang, muncullah seorang Farisi yang bernama Saulus dari Tarsus yang dengan semangat berapi-api bertekad untuk menghancurkan “sekte” keagamaan yang baru berkembang tersebut. Hal ini merupakan ancaman terhadap umat Kristiani di mana-mana.

Segalanya kelihatan gelap. Namun demikian, walaupun di tengah-tengah masa-masa sulit sedemikian, Gereja bertumbuh-kembang secara relatif cepat, dan tanpa menggunakan kekerasan tentunya. Pengejaran, penganiayaan dan kemartiran kelihatannya malah memperkokoh iman umat Kristiani perdana. Allah membuat mukjizat-mukjizat lewat umat-Nya. Kelihatannya tidak ada sesuatu pun yang dapat dilakukan dunia untuk menghentikan pertumbuhan Gereja yang cepat itu.

DIAKON FILIPUS SEDANG BERJALAN KE SAMARIADalam artian tertentu, Gereja di Indonesia tercinta ini juga mengalami penganiayaan, walaupun masih jauh lebih ringan daripada yang pernah dialami umat di negara-negara lain, misalnya negara-negara Komunis. Namun demikian, kita terkadang memandang kehidupan kita dan melihat tidak ada apa-apa selain suatu horison yang gelap. Barangkali kita sedang menderita karena adanya skandal dalam paroki atau keuskupan kita. Kehilangan pekerjaan, penyakit yang serius dan mematikan, atau relasi yang patah – semua ini dan banyak lagi – dapat merampas pengharapan yang kita perlukan. Akan tetapi, seperti ditunjukkan oleh bacaan di atas, walau pun dalam saat-saat kegelapan, terang Kristus dapat tetap terang bercahaya dalam hati kita. Kita masih aman di tangan-tangan “seorang” Allah Mahakuasa yang mengasihi kita dengan lemah lembut, kasih yang tak mengenal akhir.

Kita harus mengingat bahwa Allah senantiasa lebih besar secara tak terhingga ketimbang kejahatan sebesar apa pun yang mau ditimpakan kepada kita, umat-Nya dan …… anak-anak-Nya sendiri. Memang kita terkadang merasa “sunyi-sepi-sendiri” dan tertekan dalam kesendirian kita itu, namun kenyataannya adalah bahwa Allah tidak akan pernah meninggalkan kita atau Gereja-Nya. Kita merasa ditinggalkan apabila kita menaruh seluruh pengharapan kita pada manusia, apakah mereka dokter, imam, orangtua, atau bahkan pasangan hidup kita. Tidak ada seorang pun yang tidak rentan terhadap dosa atau kelemahan dalam berbagai bentuknya. Sebaliknya, Allah itu sempurna, dan Ia mengikat diri-Nya sendiri kepada kita dalam suatu ikatan-kasih yang bersifat kekal abadi.

Marilah kita mendorong satu sama lain untuk tetap mengarahkan pandangan kita ke surga pada hari ini. Bapa surgawi senantiasa ada bersama kita untuk melindungi dan membimbing kita. Marilah kita mendorong dan menguatkan satu sama lain untuk menaruh kepercayaan kepada janji-janji yang telah dibuat-Nya. Allah sepenuhnya dapat dipercaya. Dia bahkan akan menggunakan saat-saat kita mengalami pencobaan untuk membuktikan kekuatan-Nya dan membuat kokoh iman kita kepada-Nya. Oleh karena itu, kita tidak pernah boleh menyerah, karena Allah ada di pihak kita!

DOA: Tuhan Yesus, aku memberikan hatiku kepada-Mu dan meletakkan segala ketidakpercayaanku di dekat kaki-kaki-Mu. Engkau adalah Allahku, dan aku tidak akan merasa takut karena Engkau selalu ada bersamaku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:35-40), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH JAUH LEBIH BESAR DAN LEBIH BAIK” (bacaan tanggal 7-5-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-05 BACAAN HARIAN MEI 2014.

Bacalah juga tulisan yang berjudul  “HANYA YESUS, HANYA YESUS, HANYA YESUS ……” (bacaan tanggal 17-4-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 8:1b-8), bacalah tulisan yang berjudul “ROH KUDUS BEKERJA DALAM DAN LEWAT DIRI ORANG-ORANG BIASA” (bacaan tanggal 11-5-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 17-4-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 2 Mei 2014 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ROTI HIDUP KITA YANG SEJATI

ROTI HIDUP KITA YANG SEJATI

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Selasa, 6 Mei 2014)

jesus christ super starSebab itu, kata mereka kepada-Nya, “Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya kami dapat melihatnya dan percaya kepada-Mu? Apakah yang Engkau kerjakan? Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari surga.”

Lalu kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, bukan Musa yang memberikan kamu roti dari surga, melainkan Bapa-Ku yang  memberikan kamu roti yang  benar dari surga. Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari surga dan yang memberi hidup kepada dunia.” Maka kata mereka kepada-Nya, “Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa.” Kata Yesus kepada mereka, “Akulah roti kehidupan; siapa saja yang datang kepada-Ku, ia tidak akan pernah lapar lagi, dan siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia tidak akan pernah haus lagi. (Yoh 6:30-35)

Bacaan Pertama: Kis 7:51-8:1a; Mazmur Tanggapan: Mzm 31:3-4,6-8,17,21

Yesus adalah Roti Kehidupan. Ia adalah makanan kita, yang memenuhi setiap kebutuhan kita dan menyembuhkan setiap luka kita. Santo Stefanus – yang kemartirannya kita baca dalam bacaan pertama hari ini – adalah contoh indah dari kebenaran ini. Menurut anda, sampai berapa seringkah diakon Stefanus pergi tanpa makanan atau tanpa kenyamanan rumahnya dan keluarganya sendiri, selagi dia melayani orang-orang miskin dalam Gereja? Bagaimana dengan Santo Paulus yang telah belajar menjadi seorang “minimalis” dalam hal pemuasan kebutuhannya sendiri? Bagaimana dengan Santo Fransiskus dari Assisi sebagai pewarta Injil keliling, baik di Italia maupun di tempat-tempat lain, seperti Tanah Suci? Bagaimana dengan Santo Fransiskus Xaverius yang melanglang buana bertahun-tahun lamanya untuk mewartakan Injil Yesus Kristus? Bagaimana dengan Beata Bunda Teresa dari Kalkuta dan para anggota kongregasinya yang hidup melayani orang-orang paling kecil-miskin di India dan di tempat-tempat lain? Kehidupan orang-orang kudus ini dan orang-orang kudus yang tidak disebutkan namanya memberikan kesaksian tentang apa artinya sukacita besar yang dapat dialami oleh orang-orang yang sudah berjumpa dan mengalami (kasih) Yesus.

Yesus adalah sang Sabda yang menjadi daging atau “Firman yang menjadi manusia” (lihat Yoh 1:14) yang datang dari mulut Allah sendiri. Dia adalah “roti hidup” yang memberi makan, memelihara dan memperkuat kita (Yoh 6:29-33). Selagi kita melakukan perjalanan menuju surga, Yesus adalah pemberian Allah yang istimewa bagi kita: “roti yang turun dari surga; Siapa saja yang memakannya, ia tidak akan mati” (Yoh 6:50). Jelaslah, bahwa “manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN (YHWH)” (Ul 8:3).

Betapa sering kita dapat melupakan segalanya yang telah dilakukan Allah bagi kita, padahal Dia-lah yang menyediakan segala sesuatu bagi kita dan melindungi kita. Sebagai “roti kehidupan” yang turun dari surga (Yoh 6:51), Yesus dapat menanamkan dalam diri kita kuat-kuasa Allah dan memampukan kita menunjukkan kasih dan belas-kasih-Nya kepada setiap orang yang kita jumpai. Inilah yang kita terima selagi kita menyambut Yesus dalam Ekaristi. Kita mengkonsumsi tubuh dan darah-Nya, dan Ia memberikan kepada kita jiwa dan keilahian-Nya. Cara apa lagi yang lebih baik bagi Allah untuk mem berikan hidup-Nya kepada kita?

Marilah kita mengakui Yesus sebagai roti hidup kita yang sejati. Dia akan memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita dan menyembuhkan luka-luka kita. Dia tidak akan menolak atau membuang siapa pun. Ingatlah iman Santo Stefanus dan Santo Paulus di masa-masa awal Gereja. Tanpa Yesus, mereka tidak dapat survive dari pencobaan-pencobaan yang mereka hadapi. Karena Yesus adalah “roti hidup”, maka kita dapat menggantungkan diri kita sepenuhnya kepada Yesus ini ketimbang sekadar kenyamanan-kenyamanan duniawi. Yesus adalah pemberian Allah bagi kita. Oleh karena itu, marilah kita membuka hati kita untuk mendengar Yesus berbicara kepada kita dalam doa kita, dalam Misa Kudus, dan dalam pembacaan serta permenungan sabda-Nya dalam Kitab Suci. Marilah kita turut ambil bagian dalam keilahian Allah.

DOA: Bapa surgawi, Santo Stefanus ada dalam Yesus. Dalam penderitaannya dia menyatukan dirinya kepada Yesus. Persatukanlah kami semua kepada Putera-Mu  sehingga kami pun dapat meletakkan hidup kami bagi-Mu dan memandang surga seperti Santo Stefanus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:30-35), bacalah tulisan yang berjudul “ROTI KEHIDUPAN” (bacaan tangggal 6-5-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-05 BACAAN HARIAN MEI 2014.

Bacalah juga tulisan-tulisan yang berjudul “ROTI KEHIDUPAN YANG TURUN DARI SURGA” (bacaan tanggal 16-4-13) dan “AKULAH ROTI KEHIDUPAN” (bacaan tanggal 24-4-12), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 7:51-8:1a), bacalah tulisan yang berjudul  “SANTO STEFANUS, MARTIR PERTAMA” (bacaan tanggal 10-5-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 16-4-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 2 Mei 2014 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENGENAL YESUS DAN KUASA KEBANGKITAN-NYA

MENGENAL YESUS DAN KUASA KEBANGKITAN-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Senin, 5 Mei 2014)

jesus-resurrection-easter-02Keesokan harinya orang banyak, yang masih tinggal di seberang, melihat bahwa di situ tidak ada perahu selain yang satu tadi dan bahwa Yesus tidak turut naik ke perahu itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya, dan bahwa murid-murid-Nya saja yang berangkat. Sementara itu beberapa perahu lain datang dari Tiberias dekat ke tempat mereka makan roti, sesudah Tuhan mengucapkan syukur atasnya. Ketika orang banyak melihat bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus.

Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya, “Rabi, kapan Engkau tiba di sini?” Yesus menjawab mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang telah dimeteraikan Allah Bapa.” Lalu kata mereka kepada-Nya, “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang dikehendaki Allah?” Jawab Yesus kepada mereka, “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.” (Yoh 6:22-29)

Bacaan Pertama: Kis 6:8-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:23-24,26-27,29-30 

“Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah” (Yoh 6:29).

Pemahaman kita tentang Allah sedemikian berbeda dengan Injil yang diwartakan oleh Yesus sendiri. Begitu mudahnya bagi kita untuk percaya bahwa kita menyenangkan Allah apabila kita dengan teliti mematuhi perintah-perintah-Nya. Jadi, tidak mengherankanlah jika kita sering terkejut ketika membaca sabda Yesus yang menyatakan bahwa yang dikehendaki Allah adalah untuk kita percaya kepada-Nya, Tuhan dan Juruselamat kita (lihat Yoh 6:29).

Yesus ingin agar kita sampai kepada suatu kepercayaan yang mendalam dan menetap pada diri-Nya. Ia ingin agar kita memiliki iman yang berdiam dalam hati dan pikiran kita, suatu iman yang memampukan kita untuk “mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya” (Flp 3:10). Itulah “pekerjaan” kita yang utama. Yesus bersabda, “Bekerjalah, bukan untuk makanan yang dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang telah dimeteraikan Allah Bapa” (Yoh 6:27). Melalui kematian-Nya di kayu salib, kepada kita diberikanlah janji kebangkitan ke dalam hidup baru – sesuatu yang tidak dapat kita peroleh apabila mengandalkan upaya kita sendiri.

ROHHULKUDUSKita seringkali menyibukkan diri dengan segala hal dalam upaya untuk memperoleh atau mempertahankan berkat-berkat surgawi yang ada pada kita. Akan tetapi Allah tidak menginginkan orang-orang yang menyibukkan diri sedemikian untuk dapat sampai ke dalam surga. Allah menginginkan para pencinta Kristus dan pada saat bersamaan juga saling mengasihi satu sama lain antara mereka. “Kuasa kebangkitan Yesus” bukanlah sesuatu yang dapat kita peroleh dengan menggunakan kekuatan kita sendiri. “Kuasa kebangkitan Yesus” hanya dapat kita peroleh selagi kita berada bersama Yesus dalam doa dan memperkenankan hidup Roh-Nya menggantikan hidup dari kodrat kita-manusia yang cenderung berdosa. Dengan hidup dalam/oleh iman, kita akan mampu untuk mencapai lebih banyak daripada sekadar hidup mengandalkan diri pada upaya-upaya kita sendiri.

Marilah kita menyediakan waktu yang cukup untuk berada bersama Yesus dalam doa. Selagi kita melakukan hal itu, maka pemikiran kita untuk memperoleh berkat-berkat surgawi lewat berbagai upaya akan menyusut dan kemudian menghilang. Kita dapat duduk bersama Yesus, “dibenamkan” dalam sabda-Nya, dan memperkenankan rasa percaya kita kepada-Nya semakin bertumbuh. Lalu, Roh Kudus akan mengisi diri kita dan membimbing kita dalam semua hal untuk mana kita dipanggil untuk melakukannya. Melalui dorongan-dorongan Roh Kudus, kita akan memahami bahwa lebih dari segalanya yang lain, hal itu berarti suatu hidup dalam kebersatuan dengan Allah yang mengalahkan dosa, dunia, dan sikap serta perilaku mementingkan diri sendiri yang kita miliki. Jadi, marilah kita mencari Yesus dan mengenakan hidup-Nya ke dalam hidup kita setiap hari  (bdk. Flp 2:5).

DOA: Tuhan Yesus, ampunilah diriku karena di masa lalu aku seringkali mencoba untuk mendapatkan kasih-Mu dan memperoleh berbagai berkat surgawi dengan menggunakan kekuatanku sendiri. Ajarlah aku, ya Tuhan Yesus, untuk berdoa dan menjadi satu dengan Engkau. Tariklah aku agar dapat menjadi lebih dekat dengan Engkau dan kuatkanlah diriku dalam seturut kehendak-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:22-29), bacalah tulisan yang berjudul “MENUNTUT UPAYA YANG RIIL DAN SERIUS DARI KITA” (bacaan tanggal 5-5-14 dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.wom; kategori: 14-05 BACAAN HARIAN MEI 2014. 

Bacalah juga tulisan-tulisan yang berjudul “MAKANAN YANG BERTAHAN SAMPAI KEPADA HIDUP YANG KEKAL” (bacaan tanggal 15-4-13) dan “HENDAKLAH KAMU PERCAYA KEPADA DIA YANG TELAH DIUTUS ALLAH” (bacaan tanggal 23-4-12), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 6:8-15), bacalah tulisan yang berjudul  “TUDUHAN TERHADAP STEFANUS” (bacaan tanggal 9-5-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 15-4-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Megamendung,  1 Mei 2014 [Peringatan S. Yusuf Pekerja] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERSEKUTUAN YANG AKRAB DENGAN YESUS

PERSEKUTUAN YANG AKRAB DENGAN YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH III, 4 Mei 2014) 

Emmaus

Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah desa bernama Emaus, yang terletak kira-kira sebelas kilometer dari Yerusalem, dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi. Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia. Yesus berkata kepada mereka, “Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?”  Lalu berhentilah mereka dengan muka muram. Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya, “Apakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dialah adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan dan perkataan di hadapan Allah dan seluruh bangsa kami. Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. Padahal kami dahulu mengharapkan bahwa Dialah yang akan membebaskan bangsa Israel. Sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi. Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur, dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat yang mengatakan bahwa Ia hidup. Beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati persis seperti yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat.”  Lalu Ia berkata kepada mereka, “Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu untuk mempercayai segala sesuatu, yang telah para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya”  Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi. Mereka mendekati desa yang mereka tuju, lalu Ia  berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-nya. Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya, “Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam.”  Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka. Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap syukur, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka. Kata mereka seorang kepada yang lain, “Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?”  Lalu bangkitlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu dan orang-orang yang ada bersama mereka, sedang berkumpul. Kata mereka itu, “Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon.”  Lalu kedua orang itu pun menceritakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenali Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti. (Luk 24:13-35)

Bacaan Pertama: Kis 2:14,22-33; Mazmur Tanggapan: Mzm 16:1-2,5,7-11; Bacaan Kedua: 1Ptr 1:17-21

Stom,_Matthias_-_Le_repas_d'EmmaüsDua orang murid yang melakukan perjalanan menuju Emaus adalah orang-orang yang sedang dirundung rasa sedih yang mendalam. Mereka sungguh mengharapkan segala sesuatunya masih sama seperti pada waktu sebelum Yesus ditangkap. Mereka masih ingat bagaimana kata-kata Yesus – perumpamaan-perumpamaan-Nya, janji-janji-Nya, seluruh ajaran-Nya – telah menembus hati mereka, menyembuhkan mereka dan memenuhi diri mereka dengan kasih Allah. Apa yang akan mereka lakukan sekarang?

Lalu, di tengah-tengah diskusi mereka, seorang asing bergabung dengan mereka. Mereka tidak mengenali diri-Nya, namun ketika Dia berbicara, hati mereka lagi-lagi menjadi berkobar-kobar. Ada pengharapan dan tujuan yang mereka tidak begitu pahami yang mulai terbangun dalam diri mereka. Mereka begitu tersentuh oleh kata-kata “orang asing” itu sehingga mereka mendesak Dia untuk tinggal bersama mereka. Rencana Allah mulai menjadi masuk akal bagi mereka sementara hati mereka terbakar di dalam diri mereka. Pada akhirnya, karena kata-kata orang asing itu telah membuka hati mereka, maka mereka mampu untuk mengenali Dia ketika Dia memecah-mecahkan roti. Dia adalah Yesus sendiri!

Setiap kali kita membaca dan merenungkan sabda Allah, kita diundang ke dalam suatu persekutuan yang akrab dengan Yesus. Ia ingin menyalakan dalam hati kita suatu rasa haus yang semakin mendalam untuk mengenal diri-Nya. Pada hari Pentakosta Kristiani yang pertama, ketika Petrus berkhotbah kepada orang banyak, hati mereka tersayat, dan berkata, “Apa yang harus kami perbuat?” (Kis 2:37). Ini adalah hasrat Allah bagi kita juga. Yesus rindu untuk menyayat melalui kabut dalam hati kita dan menggerakkan kita untuk memberikan tanggapan kepada-Nya.

Allah berbicara kepada kita dalam Misa Kudus, dalam Liturgi Sabda. Selagi sabda Allah dalam Kitab Suci diproklamasikan, Yesus sedang mengajar serta menggugah kita, mengoreksi kita, mengingatkan kita akan kesetiaan-Nya, dan mengatakan kepada kita betapa dalam Dia mengasihi kita. Maukah kita memperkenankan Kitab Suci untuk meyakinkan kita akan kasih Bapa surgawi? Melalui pembacaan dan permenungan Kitab Suci, ada banyak yang dihasrati oleh Yesus untuk dikatakan-Nya kepada kita. Ia akan menempatkan api kasih-Nya dalam hati kita. Ia telah memberikan suatu karunia sangat berharga dalam sabda-Nya yang hidup dan penuh kuat-kuasa. Apabila kita sungguh mendengarkan, maka pikiran dan hati kita akan diperbaharui. Kemudian kita akan mampu untuk menyembut Dia sepenuhnya dalam Ekaristi.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami agar dapat melihat dan mendengar Engkau dalam Kitab Suci yang telah Kauberikan kepada kami. Kami juga berkeinginan agar hati kami berkobar-kobar dengan api kasih-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 24:13-35), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS JUGA INGIN BERJALAN DENGAN KITA PADA HARI INI” (bacaan tanggal 4-5-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-05 BACAAN HARIAN MEI 2014. 

Cilandak, 30 April 2014   

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SANTO FILIPUS DAN YAKOBUS, RASUL [4]

SANTO FILIPUS DAN YAKOBUS, RASUL [4]

(Bacaan  Injil Misa Kudus, Pesta S. Filipus dan Yakobus – Sabtu, 3 Mei 2014) 

5_3_philip_jamesKata Yesus kepadanya, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Sekiranya kamu mengenal aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.”

Kata Filipus kepada-Nya, “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.” Kata Yesus kepadanya, “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Siapa saja yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. Tidak percayakah engkau bahwa aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang tinggal di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya.

Percayalah kepada-Ku bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa; dan apa pun yang kamu minta dalam nama-Ku, aku akan melakukannya, supaya Bapa dimuliakan di dalam anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.” (Yoh 14:6-14)

Bacaan Pertama: 1Kor 15:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:2-5 

Dalam “Kisah para Rasul”, Lukas menceritakan kepada kita bagaimana Filipus dan Yakobus dan para rasul lainnya mampu untuk mewartakan Kabar Baik Yesus Kristus dengan berani, membuat mukjizat-mukjizat, dan memajukan Kerajaan Allah di atas bumi dengan entusiasme dan dedikasi yang besar. Apakah yang membuat sekelompok kecil orang-orang biasa-biasa saja ini berubah menjadi orang-orang (perempuan dan laki-laki) yang kuat dan mampu menanggung derita di bawah pengejaran dan penganiayaan selagi mereka mewartakan Kabar Baik Yesus Kristus ke tengah dunia? Sebagian dari jawaban terhadap pertanyaan ini terdapat dalam Injil Yohanes.

stphilip-341Yesus sedikit “terkejut” ketika Filipus meminta kepada-Nya untuk menunjukkan Bapa kepada para murid (Yoh 14:8). Kiranya Filipus tidak menyadari bahwa Yesus hanya dapat melakukan apa yang selama itu dilakukan-Nya dengan kasih sebagaimana Dia dikasihi oleh Allah Bapa. Manusia yang mana pun tidak akan mempunyai kuat-kuasa atas berbagai sakit-penyakit dan kematian, atau memiliki kesabaran, kasih dan bela rasa Yesus, apabila Yesus tidak satu dengan Bapa-Nya. Banyak dari ajaran Yesus berpusat di sekitar kebenaran yang mengejutkan ini, yaitu bahwa Dia dan Bapa surgawi adalah satu.

Yesus melontarkan sebuah tantangan ke hadapan para murid/rasul-Nya ketika Ia mengatakan bahwa apabila mereka percaya kepada diri-Nya, maka mereka juga akan mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan yang telah Ia lakukan – bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar lagi (Yoh 14:12). Tantangan itu dimaksudkan agar para murid dapat melampaui batasan-batasan manusiawi melalui iman mereka akan kuat-kuasa Allah yang berdiam dalam diri mereka. Sebagaimana Roh Kudus turun atas para rasul pada hari Pentakosta dan memenuhi diri mereka dengan kehadiran Kristus Yesus, maka Roh Kudus yang sama juga turun atas diri kita masing-masing pada saat kita dibaptis dan memenuhi diri kita dengan kehadiran yang sama dari Kristus Yesus. Kristus ada di dalam diri kita! Tidak ada halangan yang terlalu besar, tidak ada kelemahan yang terlalu mengecilkan hati! Kita dapat melakukan segala hal melalui Kristus yang menguatkan kita (lihat Flp 4:13)!

Yesus berjanji bahwa Dia tidak akan membuang kita atau meninggalkan kita sebagai anak yatim-piatu. Yesus senantiasa setia pada kata-kata-Nya. Dengan demikian, marilah kita mohon kepada-Nya suatu pencurahan Roh Kudus atas diri kita secara lebih berlimpah lagi, dan juga untuk realisasi kehadiran Kristus dalam diri kita yang lebih besar lagi. Kita mungkin hanya orang biasa-biasa saja, namun dengan dan bersama Kristus kita dapat menjadi bejana-bejana luarbiasa dari kasih Allah di dalam dunia ini.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau mengutus Roh Kudus untuk tinggal dalam diri kami masing-masing, untuk membimbing kami, dan memberdayakan kami guna menjadi saksi-saksi-Mu. Kehadiran-Mu adalah penghiburan bagi kami, inspirasi kami dan kuat-kuasa kami. Kami mengasihi-Mu dan ingin bersama-Mu selalu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 14:6-14), bacalah tulisan yang berjudul “SANTO FILIPUS DAN YAKOBUS, RASUL [3]” (bacaan tanggal 3-5-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM https://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2013. 

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Kor 15:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “SANTO FILIPUS DAN YAKOBUS, RASUL [2]” (bacaan tanggal 3-5-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 3-5-13 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 30 April 2014  

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MEMPERHATIKAN UMAT-NYA

YESUS MEMPERHATIKAN UMAT-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Atanasius, Uskup Pujangga Gereja – Jumat, 2 Mei 2014) 

MUKJIZAT - YESUS MEMBERI MAKAN 5000 ORANG - 2Sesudah itu Yesus berangkat ke seberang Danau Galilea, yaitu Danau Tiberias. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka melihat mukjizat-mukjizat yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit. Lalu Yesus naik ke atas gunung dan duduk di situ dengan murid-murid-Nya. Dan Paskah, hari raya orang Yahudi, sudah dekat. Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus, “Di mana kita dapat membeli roti, supaya mereka dapat makan?” Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu apa yang hendak dilakukan-Nya. Jawab Filipus kepada-Nya, “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.” Salah seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya, Di sini ada seorang anak yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apa artinya itu untuk orang sebanyak ini?” Kata Yesus, “Suruhlah orang-orang itu duduk.” Adapun di tempat itu banyak rumput. Lalu duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya. Sesudah itu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dilakukan-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. Setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang.” Mereka pun mengumpulkannya, dan mengisi dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan. Ketika orang-orang itu melihat tanda mukjizat yang telah diperbuat-Nya, mereka berkata, “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia.”

Karena Yesus tahu bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir lagi ke gunung, seorang diri. (Yoh 6:1-15)

Bacaan Pertama: Kis 5:34-42; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14 

Bab 6 dalam Injil Yohanes memusatkan perhatiannya pada Yesus sebagai “Roti Kehidupan”. Ada empat bagian mendasar dari bab 6 ini: (1) penggandaan roti dan ikan (Yoh 6:1-15); (2) Yesus berjalan di atas air (Yoh 6:16-21); (3) Ajaran Yesus bahwa Dia adalah Roti Kehidupan (Yoh 6:22-59); dan (4) bermacam-macam reaksi (baik negatif maupun positif) terhadap ajaran Yesus (Yoh 6:60-71).

Feeding_the_5000006Mukjizat penggandaan roti dan ikan adalah satu-satunya mukjizat yang dapat ditemukan dalam keempat kitab Injil – mengisyaratkan pentingnya peristiwa itu bagi Gereja. Di kitab Injil yang mana saja kita membaca cerita tentang penggandaan roti dan ikan ini, maka salah satu dari unsur cerita yang paling mencolok adalah orang banyak yang sudah lapar dan kesiapan Yesus untuk memberi makan orang banyak itu. Akan tetapi, dalam Injil Yohanes yang kita baca pada hari ini, fokusnya adalah pertama-tama pada rasa lapar orang banyak untuk mendengar sabda Yesus dan melihat Dia (Yoh 6:1-2) – alasan mengapa mereka mengikuti-Nya sampai ke seberang Danau Galilea, yaitu Danau Tiberias. Mereka merasa tertarik kepada Yesus karena mereka merasa bahwa Dia menawarkan kepada mereka sesuatu yang mereka butuhkan guna membuat hidup mereka menjadi lengkap.

Ketika mereka sampai, mereka juga merasa lapar secara fisik – dan inilah rasa lapar yang pertama-tama dipuaskan oleh Yesus. Dalam mengisahkan cerita mukjizat penggandaan roti dan ikan ini, Yohanes Penginjil mengedepankan Yesus. Yesus-lah pribadi yang pertama kali melihat adanya kebutuhan orang banyak. Yesus pulalah yang mengambil inisiatif untuk memberi makan orang banyak itu. Yesus melihat kebutuhan orang banyak dan memulai percakapan-Nya dengan Filipus, hal mana menghasilkan suatu mukjizat penggandaan roti dan ikan dan ajaran mengenai Roti Kehidupan. Selagi Yesus mempersembahkannya, Dia “mengucap syukur” (Yunani: eucharisto) atas roti dan ikan-ikan itu (Yoh 6:11).

Yesus memperhatikan umat-Nya – baik secara fisik maupun secara spiritual – bahkan orang-orang yang akhirnya akan menolak diri-Nya (Yoh 6:66). Yesus tidak ingin melihat siapa saja menjadi musnah, oleh karena itu Dia terus menawarkan kasih-Nya dan penyembuhan-Nya kepada orang-orang. Yesus mengetahui benar rasa lapar kita dan Ia mampu untuk memuaskan setiap kebutuhan kita. Sekarang, apakah kita (anda dan saya) merasa lapar? Apakah kita merasakan adanya kekosongan dalam diri kita masing-masing? Apakah kita merasa bingung atau terluka? Marilah kita berpaling kepada Yesus, sang Roti Kehidupan, dan memperkenankan Dia memberi makan kepada kita.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah Roti Kehidupan, yang diberikan untuk kehidupan dunia. Datanglah untuk mengisi diri kami dengan damai sejahtera dan cintakasih. Dalam sabda-Mu dan sakramen-sakramen, puaskanlah rasa lapar kami dan sembuhkanlah semua luka kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 5:34-42), bacalah tulisan yang berjudul “KUAT-KUASA NAMA YESUS” (bacaan tanggal 2-5-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-05 BACAAN HARIAN 2014.

Bacalah juga tulisan yang berjudul “JANGANLAH BERTINDAK APA-APA TERHADAP ORANG-ORANG INI” (bacaan tanggal 6-5-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:1-15), bacalah tulisan-tulisan yang berjudul “YESUS MENGAMBIL ROTI ITU, MENGUCAP SYUKUR DAN MEMBAGI-BAGIKANNYA KEPADA MEREKA” (bacaan tanggal 12-4-13) dan “YESUS MEMBERI MAKAN LIMA RIBU ORANG” (bacaan tanggal 20-4-12), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-4-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 30 April 2014 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENERIMA KESAKSIAN YESUS

MENERIMA KESAKSIAN YESUS

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Paskah – Kamis, 1 Mei 2014) 

YESUS KRISTUS - 13 I AM THE WAY THE TRUTH AND LIFESiapa yang datang dari atas adalah di atas semuanya; siapa yang berasal dari bumi, termasuk pada bumi dan berkata-kata tentang hal-hal di bumi. Siapa yang datang dari surga adalah di atas semuanya. Ia bersaksi tentang apa yang dilihat-Nya dan yang didengar-Nya, tetapi tidak seorang pun yang menerima kesaksian-Nya itu. Siapa yang menerima kesaksian-Nya itu, ia mengaku bahwa Allah adalah benar. Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas. Bapa mengasihi Anak dan telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya. Siapa saja yang percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi siapa saja yang tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap tinggal di atasnya.” (Yoh 3:31-36).

Bacaan Pertama: Kis 5:27-33; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-9,17-20 

Injil Yohanes diisi dengan pernyataan-pernyataan tentang perbedaan antara “atas” dan “bawah/bumi” (Yoh 3:31; 8:23), antara “kegelapan” dan “terang” (Yoh 3:19; 8:12; 12:35,46), antara “daging/jasmani” dan “roh” (Yoh 3:6;6:63). Seperti para orangtua yang mengingatkan anak-anak mereka tentang bahaya riil kehidupan – dan konsekuensi-konsekuensi dari pengambilan keputusan yang buruk – demikian pula Allah, Bapa kita di surga, mengingatkan kita tentang realitas surga dan neraka. Ada suatu perbedaan yang dapat dibeda-bedakan antara dua “jalan” ini, dan Allah senantiasa memanggil kita untuk mengikuti jalan-Nya.

Bagaimana kita dapat mengetahui apakah kita sedang mengikuti “jalan kehidupan” atau “jalan kematian”? Jaminan apakah yang kita dapatkan bahwa kita kita sedang berada dalam jalan yang benar? Sebelum segalanya yang lain, kita perlu menyandarkan diri pada kasih Allah, Bapa kita di surga. Dia memberikan Roh-Nya tanpa ditahan-tahan lagi, apabila kita meminta kepada-Nya (Yoh 3:34; Luk 11:13). Allah ingin agar kita ada bersama diri-Nya; Dia menginginkan memenuhi diri kita dengan kasih-Nya dan perlindungan-Nya. Melalui Kitab Suci, Dia telah memberikan kepada kita perintah-perintah-Nya untuk menjaga kita tetap dalam jalan kehidupan; Dia tidak akan membuang mereka yang mengandalkan diri kepada bimbingan-Nya.

ROHHULKUDUSKita telah ditebus oleh darah Yesus, dan dosa serta kesalahan kita telah dicuci-bersih dalam air baptisan. Kita telah menerima Roh Kudus yang telah dijanjikan, yang dicurahkan secara berlimpah. Kita adalah anak-anak Allah, dan Bapa ingin mengajar kita dan melindungi kita. Selagi kita terus menerima kesaksian Yesus, kita akan mampu untuk mengatakan, “Allah adalah benar!” (Yoh 3:33). Kita akan dipenuhi dengan keyakinan akan kuasa Allah, dan dan penuh kemauan untuk mengikuti Yesus …… ke mana saja Dia memimpin kita. Bahkan ketika sulit bagi kita untuk mentaati-Nya, kita akan mengetahui bahwa Allah sungguh dapat dipercaya, dan kita akan mencari kekuatan Roh agar tetap setia.

Pada masa Paskah yang penuh sukacita ini, marilah kita memohon kepada Roh Kudus agar membuka hati kita masing-masing lebih lebar lagi bagi kesaksian Yesus. Marilah kita datang ke dalam terang kasih Allah dan mohon kerendahan-hati dan kekuatan yang diperlukan untuk mengikuti “jalan kehidupan”. Kita melayani ‘seorang’ Allah yang berbelas-kasih dan murah-hati. Dia tidak akan mengecewakan orang-orang yang menaruh kepercayaan kepada-Nya.

DOA: Bapa surgawi, kami mohon kepada-Mu pencurahan rahmat yang lebih besar lagi bagi seluruh Gereja-Mu. Semoga setiap langkah yang kami buat akan membawa kami menjadi lebih dekat kepada Kerajaan-Mu, di mana kami akan dipersatukan secara kekal dengan Engkau melalui Putera-Mu, Yesus Kristus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 5:27-33), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH SANGAT BERKEINGINAN UNTUK MENGAMPUNI KITA” (bacaan tanggal 1-5-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-05 BACAAN HARIAN MEI 2014.

Bacalah juga tulisan yang berjudul “HARUS LEBIH TAAT KEPADA ALLAH DARIPADA KEPADA MANUSIA” (bacaan tanggal 5-5-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 3:31-36), bacalah tulisan-tulisan yang berjudul “SIAPA SAJA YANG PERCAYA KEPADA ANAK, IA BEROLEH HIDUP YANG KEKAL” (bacaan tanggal 11-4-13) dan “SIAPA YANG PERCAYA KEPADA KRISTUS, DIA BEROLEH HIDUP YANG KEKAL” (bacaan tanggal 19-4-12), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-4-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 29 April 2014 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 82 other followers