JANJI LUARBIASA KEPADA MEREKA YANG PERCAYA KEPADA YESUS

JANJI LUARBIASA KEPADA MEREKA YANG PERCAYA KEPADA YESUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, hari biasa sesudah Penampakan Tuhan, Sabtu 8-1-11)

saint-john-420x429Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya. Dan jikalau kita tahu bahwa Ia mengabulkan apa saja yang kita minta, maka kita juga tahu bahwa kita telah memperoleh segala sesuatu yang telah kita minta kepada-Nya.

Kalau seseorang melihat saudara seimannya berbuat dosa, yaitu dosa yang tidak mendatangkan maut, hendaklah ia berdoa kepada Allah dan Dia akan memberikan hidup kepadanya, yaitu mereka yang berbuat dosa yang tidak mendatangkan maut. Ada dosa yang mendatangkan maut: Tentang itu tidak kukatakan bahwa ia harus berdoa. Semua kejahatan adalah dosa, tetapi ada dosa yang tidak mendatangkan maut. Kita tahu bahwa setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa; tetapi Dia yang lahir dari Allah melindunginya, dan si jahat tidak dapat menyentuhnya. Kita tahu bahwa kita berasal dari Allah dan seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat. Akan tetapi, kita tahu bahwaAnak  Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita mengenai Yang Benar, di dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Dialah Allah yang benar dan hidup yang kekal.

Anak-anakku, waspadalah terhadap segala berhala. (1Yoh 5:14-21)

Mazmur Tanggapan: Mzm 149:1-6,9; Bacaan Injil: Yoh 3:22-30

Allah akan mengabulkan doa kita! Inilah janji luarbiasa kepada semua orang yang percaya kepada Yesus: Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya” (1Yoh 5:14). Bukankah sangat luarbiasa kenyataan ini, bahwa sang  Pencipta alam semesta, Dia yang dipatuhi oleh angin-badai yang dahsyat dan gulungan ombak yang mematikan, sungguh mau mendengarkan doa pribadi kita. Itulah kenyataan indah yang kita percayai! Bapa surgawi tidak hanya mendengarkan setiap doa yang dihaturkan oleh kita kepada-Nya, melainkan juga senang sekali untuk menjawab doa kita masing-masing.

Allah kita adalah satu-satunya Allah yang benar; Dialah kebaikan yang sempurna, segenap kebaikan, seluruhnya baik, kebaikan yang benar dan tertinggi; Dialah satu-satunya yang baik, penyayang, pemurah, manis dan lembut; Dialah satu-satunya yang kudus, adil, benar, suci dan tulus, satu-satunya yang pemurah, tak bersalah dan murni. Dan, Dia hanya menginginkan kebaikan yang kekal bagi kita. Apakah kita kadang-kadang  meragukan hal ini? Apakah kita merasa bahwa doa-doa kita seakan-akan tidak akan dijawab oleh-Nya dan kita merasa, koq Allah tidak bertindak secara lebih cepat?

Jikalau begitu halnya, maka kita harus mempertimbangkan dan merenungkan dengan serius apa yang dikatakan oleh Santo Yohanes Pembaptis: “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (Yoh 3:30). Saat-saat ketika kita merasa sangat yakin tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh Allah, sesungguhnya adalah saat-saat di mana kita harus menjadi semakin kecil. Mengapa demikian? Karena Allah tidak hanya secara tak terbatas lebih mengasihi daripada kita mengasihi, melainkan juga secara tak terbatas Dia jauh lebih bijaksana. Kita percaya kepada-Nya bukan karena Dia terus-menerus memberikan kepada kita apa yang kita inginkan, melainkan karena Dia telah menunjukkan Diri-Nya pantas untuk dipercaya secara mutlak. Oleh karena itu, biarlah Allah semakin besar dalam diri kita masing-nasing; perkenankanlah Dia membentuk pikiran dan hati kita, sampai kepada titik di mana kita mendambakan kehendak-Nya lebih daripada kehendak kita sendiri.

Kita harus mengambil Yesus sebagai “model” kita! “Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan air mata kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan. Sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar taat dari apa yang telah diderita-Nya” (Ibr 5:7-8). Bagi kita, seperti juga bagi Yesus, rencana baik Allah kadang-kadang berbeda dengan keinginan kita yang diungkapkan dalam doa yang kita haturkan kepada-Nya. Bahkan rencana Allah itu dapat menyangkut sakit-penyakit atau penderitaan lain atas diri kita. Namun demikian, kita juga haruslah percaya bahwa rencana Allah selalu demi kebaikan kita,  kebaikan mereka yang dekat dengan kita dan kebaikan di dalam dunia. Selagi kita menjadi semakin kecil dan memperkenankan Yesus memenuhi diri kita, kita pun pada akhirnya akan melihat keindahan dan “kreativitas” dari rencana Allah itu.

Bagaimana kita dapat bertumbuh dalam rasa percaya kita bahwa Allah mendengarkan serta mengabulkan doa kita? Jawabannya: Apabila kita menaruh hidup kita dalam tangan-tangan Bapa surgawi, maka Dia akan memperkuat iman-kepercayaan kita. Allah sangat mengetahui hasrat-hasrat hati kita yang terdalam dan akan memperdalam rasa percaya kita bahwa Dia sedang bekerja untuk membawa segala sesuatu menjadi baik dalam kehidupan kita.

DOA: Bapa surgawi, aku menaruh kepercayaanku secara penuh di dalam Engkau dan rencana-Mu untuk hidupku. Terjadilah kehendak-Mu atas diriku, ya Allahku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 2:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “TANDA-NYA YANG PERTAMA” (bacaan tanggal 7-1-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 5 Januari 2017

 

Advertisements

KETIKA YESUS DIBAPTIS

KETIKA YESUS DIBAPTIS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Masa Natal – Jumat, 6 Januari 2017)

baptisan-yesus-yesus-dipermandikan-oleh-yohanes-pembaptisIa memberitakan demikian, “Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa daripada aku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus.”

Pada waktu itu datanglah Yesus dari Nazaret di tanah Galilea, dan Ia dibaptis di Sungai Yordan oleh Yohanes. Pada saat Ia keluar dari air, langsung Ia melihat langit terkoyak, dan Roh seperti burung merpati turun ke atas-Nya. Lalu terdengarlah suara dari surga, “Engkaulah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Mulah Aku berkenan.”(Mrk 1:7-11)

Bacaan Pertama: 1Yoh 5:5-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 147:12-15,19-20; Bacaan Injil Alternatif: Luk 3:23-38 

Pada waktu Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, Ia melihat langit terkoyak dan misteri “Allah Tritunggal Mahakudus” (Trinitas) dibuat menjadi nyata. Ia mendengar suara Bapa-Nya yang mencurahkan berkat-Nya atas diri-Nya, dan Roh Kudus seperti burung merpati turun ke atas diri-Nya.

Yesus dari Nazaret seorang manusia tanpa dosa (lihat Ibr 4:15), mengidentifikasikan diri-Nya dengan manusia berdosa dengan cara menerima pembaptisan-tobat. Karena ketaatan-Nya kepada kehendak Bapa bagi diri-Nya, karena kemauan-Nya untuk memeluk dosa-dosa kita dan menghancurkan semua itu pada kayu salib, Yesus menunjukkan diri-Nya sebagai Putera Allah yang setia. Yesus menunjukkan bahwa diri-Nya adalah hamba Tuhan yang kematian-Nya akan berakibat terwujudnya pencurahan Roh Kudus atas diri kita semua.

Setelah dibenamkan dalam kehidupan yang telah “ditakdirkan” oleh Allah bagi diri-Nya, Yesus masuk ke tengah dunia memproklamasikan Kerajaan Allah dan membuat banyak mukjizat serta tanda heran lainnya. Karena kelimpahan Roh dalam diri-Nya, Yesus mampu untuk melakukan segala keajaiban ini dan untuk memanifestasikan kasih Allah secara begitu lengkap. Ia menyiapkan para pengikut-Nya untuk menerima Roh Kudus yang sama.

Kita yang telah dibaptis ke dalam Kristus telah menerima Roh Kudus ini. Kita pun dapat mendengar Bapa surgawi berkata tentang diri kita masing-masing: “Ini adalah anak-Ku yang terkasih.” Kita dapat mengenal dan memberi kesaksian tentang kasih dan kuat-kuasa Allah yang aktif dalam kehidupan kita. Pater Raniero Cantalamessa OFMCap., pengkhotbah untuk rumahtangga Kepausan pada masa Paus Yohanes Paulus II menulis dalam sebuah bukunya: “Kita telah diselamatkan sehingga pada gilirannya kita akan mampu untuk melakukan – melalui rahmat dan iman – pekerjaan-pekerjaan baik yang Allah telah persiapkan sebelumnya bagi kita yang adalah buah-buah Roh” (Mary Mirror of the Church, hal. 71). Satu lagi: “Api Roh diberikan kepada kita pada saat Baptisan. Kita harus membuang abu yang telah membuat-Nya kurang dapat bernapas, agar dengan demikian dapat berkobar lagi dan membuat kita mampu mengasihi” (Life in the Lordship of Jesus Christ, hal. 154).

Hari ini, marilah kita memeriksa kembali baptisan kita dalam terang pembaptisan Yesus bagi kita. Kita dibaptis ke dalam kematian Yesus. Apabila kita mati bersama Kristus, maka kita juga bangkit bersama dengan-Nya, diampuni dan dipenuhi dengan kehidupan ilahi. Semuanya telah diberikan kepada kita dalam Kristus! Yang kita harus lakukan hanyalah dari hari ke hari menyerahkan diri kita kepada Tuhan dan mencari pekerjaan Roh dalam kehidupan kita.

DOA: Bapa surgawi, Allah yang Mahakuasa, Engkau telah memaklumkan Kristus sebagai Putera-Mu yang terkasih, pada waktu Dia dibaptis di Sungai Yordan, sementara Roh Kudus turun atas diri-Nya. Kami mohon, semoga kami selalu setia sebagai anak-anak-Mu, karena sudah dilahirkan kembali dalam air dan Roh Kudus. Kami menghaturkan doa ini dalam nama Yesus Kristus, Putera-Mu yang hidup bersama Dikau dalam persekutuan Roh Kudus, Allah sepanjang masa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil Misa hari ini (Mrk 1:7-11), bacalah tulisan dengan judul “PADA SAAT PEMBAPTISAN YESUS” (bacaan untuk tanggal 6-1-17), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; 17-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 4 Januari 2017 [Peringatan S. Angela dr Foligno, Ordo III Sekular] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SEORANG ISRAEL SEJATI

SEORANG ISRAEL SEJATI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Masa Natal – Kamis, 5 Januari 2017)

filipus-mengajak-nataniel-untuk-bertemu-dengan-yesusKeesokan harinya Yesus memutuskan untuk berangkat ke Galilea. Ia bertemu dengan Filipus, dan berkata kepadanya, “Ikutlah Aku!” Filipus berasal dari Betsaida, kota Andreas dan Petrus. Filipus menemui Natanael dan berkata kepadanya, “Kami telah menemukan Dia yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret.” Kata Natanael kepadanya, “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” Kata Filipus kepadanya, “Mari dan lihatlah!”  Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia, “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!” Kata Natanael kepada-Nya, “Bagaimana Engkau mengenal aku?” Jawab Yesus kepada kepadanya, “Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara.” Kata Natanael kepada-Nya, “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!” Yesus berkata, “Apakah karena Aku berkata kepadamu, ‘Aku melihat engkau di bawah pohon ara,’ maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar daripada itu.” Lalu kata Yesus kepadanya, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah naik turun kepada Anak Manusia.” (Yoh 1:43-51)

Bacaan Pertama: 1Yoh 3:11-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 100:1-5 

Rasul Bartolomeus – dalam Injil hari ini dipanggil dengan namanya yang lain, Natanael –  memutuskan bahwa dia harus mengikut seorang pribadi yang bernama Yesus dari Nazaret ini karena Dia mengenal dirinya, luar dan dalam. Bagaimana Yesus sampai dapat menunjukkan bahwa diri-Nya mengenal Natanael secara begitu mendalam?

Pada waktu Natanael  duduk bermeditasi, kita dapat membayangkan dirinya mencatat di mana dia sedang berada: di bawah sebatang pohon ara. Terasa bahwa Natanael adalah seorang pribadi yang memahami Kitab Suci dengan baik. Tidak mengherankanlah apabila dia mulai merefleksikan beberapa nubuatan Perjanjian Lama berkaitan dengan pohon ara. Dalam Kitab Zakharia, ada tercatat bahwa Iblis mendakwa imam besar Yosua, akan tetapi Allah memberikan pakaian pesta kepada Yosua. Kepada Yosua juga diberitahukan, bahwa apabila dia berjalan di jalan Allah, maka dia dapat memerintah umat dan mengurus pelataran-Nya. Kemudian YHWH Allah berjanji akan mendatangkan hamba-Nya, yakni SANG TUNAS. YHWH  semesta alam akan menghapuskan kesalahan Israel dalam satu hari saja. Pada hari itu, demikianlah firman YHWH semesta alam, “setiap orang dari padamu akan mengundang temannya duduk di bawah pohon anggur dan di bawah pohon ara” (Za 3:10).

Bagi nabi Mikha pun, pohon ara melambangkan pemulihan (restorasi). Walaupun Ia meratapi tidak adanya buah awal (orang-orang baik dan saleh), Ia juga menjanjikan bahwa Bait Allah akan direstorasi sebagai gunung tertinggi, tempat pengadilan yang adil; perang akan berhenti, dan setiap orang akan duduk tanpa takut di bawah pohon anggur dan pohon ara (Mi 4:1-4; 7:1-2). Kita dapat membayangkan betapa Natanael merindukan saat dipenuhinya nubuatan tersebut.

Maka, ketika Yesus berkata, “Aku melihat engkau di bawah pohon ara” (Yoh 1:48), Natanael tentunya menyadari bahwa semua permenungannya dan kerinduannya ternyata merupakan “sebuah buku yang terbuka” bagi Yesus. Artinya tidak ada rahasia yang tidak diketahui Yesus tentang isi hatinya. Jadi, Yesus mestinya adalah Mesias yang dijanjikan dan dinanti-nantikan itu! Namun kemudian, Yesus dengan lemah lembut mengundang dia untuk memperluas visinya. Ada lebih banyak lagi yang harus diketahui seseorang tentang kerajaan Allah daripada dia sekadar menikmati keteduhan karena berada di bawah pohon aranya. Tangga Yakub (Yoh 1:51; Kej 28:10-17) menunjukkan bahwa rencana Allah itu bersifat kosmik, mampu mengalahkan maut dan kuasa-kuasa kegelapan. Apabila dia memilihnya, maka Bartolomeus (Natanael) pun dapat ikut ambil bagian dalam mendirikan kerajaan Allah.

Sampai seberapa sering kita menyadari bahwa Allah sesungguhnya melihat/membaca segala pikiran kita? Sampai berapa serius kemauan kita mengundang Dia agar mendengarkan pikiran-pikiran kita, menolong kita dalam membuat jelas pikiran-pikiran kita itu, dan membentuk pikiran-pikiran yang benar selagi kita mengenakan pikiran-Nya? Oleh karena itu, baiklah pada hari kita mencoba untuk tidak mendengarkan radio, menonton televisi untuk setengah jam saja dan memakai waktu setengah jam itu untuk bersimpuh di hadapan hadirat-Nya. Selama setengah jam itu, baiklah kita benar-benar membuat suasana menjadi sungguh hening (lahir dan batin) sehingga kita dapat mendengarkan “suara Tuhan”. Insya Allah!

DOA: Tuhan Yesus, Engkau sungguh mengenalku luar-dalam. Aku mengundang Engkau untuk berpikir bersamaku dan menarik aku ke dalam visi-Mu tentang bagaimana seharusnya membangun kerajaan Allah. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 1:43-51), bacalah tulisan yang berjudul “SIKAP SKEPTIS YANG MEMBUKA JALAN KEPADA IMAN” (bacaan tanggal 5-1-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori:  17-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011)

Cilandak, 3 Januari 2017 [Peringatan Nama Yesus Yang Tersuci]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

APA YANG KAMU CARI?

APA YANG KAMU CARI?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Masa Natal – Rabu, 4 Januari 2017)

Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Angela dari Foligno, Ordo III Sekular 

discipleship-they-follow-jesusKeesokan harinya Yohanes berdiri di situ lagi dengan dua orang muridnya. Ketika ia melihat Yesus lewat, ia berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah!” Kedua murid itu mendengar apa yang dikatakannya itu, lalu mereka pergi mengikut Yesus. Tetapi Yesus menoleh ke belakang. Ia melihat bahwa mereka mengikut Dia lalu berkata kepada mereka, “Apa yang kamu cari?” Kata mereka kepada-Nya, “Rabi (artinya: Guru), di manakah Engkau tinggal?” Ia berkata kepada mereka, “Marilah dan kamu akan melihatnya.” Mereka pun datang dan melihat di mana Ia tinggal, dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan Dia; waktu itu kira-kira pukul empat. Salah seorang dari keduanya yang mendengar perkataan Yohanes lalu mengikut Yesus adalah Andreas, saudara Simon Petrus. Andreas mula-mula menemui Simon, saudaranya, dan ia  berkata kepadanya, “Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus).” Ia membawanya kepada Yesus. Yesus memandang dia dan berkata, “Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus).” (Yoh 1:35-42) 

Bacaan Pertama: 1Yoh 3:7-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1,7-9 

Sungguh menarik bagi kita untuk melihat bagaimana para rasul untuk pertama kalinya mengenal Allah melalui Yesus. Ketika di Betania, Yohanes Pembaptis menunjuk kepada Yesus seraya berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah!” (Yoh 1:36). Dua orang murid Yohanes (Andreas dan seorang lagi) lalu pergi mengikut Yesus. Yesus menoleh ke belakang dan bertanya  kepada mereka berdua: “Apa yang kamu cari?” (Yoh 1:38).

Ini adalah juga pertanyaan Yesus kepada kita masing-masing, “Apakah yang kamu cari? Allah macam apa yang sedang kamu cari?” Ketika kita pergi mencari seseorang yang belum pernah kita lihat, maka kita mempunyai semacam gambaran tentang orang itu dalam pikiran kita. Jadi, kita masing-masing mempunyai semacam pandangan atau gambaran tentang bagaimana kiranya Allah itu – sampai kepada suatu saat di mana kita menyadari bahwa kita telah salah.

Ada yang mengatakan, “Anda akan menemukan Allah melalui agama, oleh karena itu peluklah agama!”  Namun pertanyaan yang harus dijawab sekarang adalah: Apakah yang dimaksud dengan agama? Seperangkat peraturan yang harus diikuti, ditaati, dipatuhi agar dapat masuk ke dalam surga? Apakah hal itu berarti bahwa anda jangan menjadi seorang musuh Allah? Jangan cari urusan yang akan menyusahkan dirimu, jauhi rambut orang lain, jangan lakukan ini, jangan lakukan itu. Semua ini bersifat negatif. Tentu semua ini pasti bukan dari Allah!

Bagaimana Saudari-Saudara akan melukis gambar Allah? Seorang tua dengan jenggot yang panjang berwarna putih, dahi mengkerut dan sepotong tongkat untuk memukul siapa yang saja yang terkikih-kikih ketika berdiri di hadapan hadirat-Nya guna mendisiplinkannya.

Kita masing-masing mempunyai pandangan sendiri-sendiri tentang Allah, berdasarkan pengalaman pribadi kita sendiri, melalui kedua orangtua kita, para guru kita dan peristiwa-peristiwa yang kita alami dalam hidup kita. Banyak dari kita tidak pernah melampaui tahapan “kesan pertama” tentang Allah, sebagaimana yang kita alami dengan orang yang kita tidak/belum kenal benar. Dan kita pun akan sama salahnya tentang Allah seperti tentang orang lain yang tidak/belum kita kenal dengan mendalam.

Jawaban kedua murid Yohanes itu sungguh indah. Ketika Yesus bertanya kepada mereka, “Apakah yang kamu cari?”, maka mereka menjawab dengan balik bertanya: “Rabi (artinya: Guru), di manakah Engkau tinggal?” (Yoh 1:38). Dengan perkataan lain, “Kami ingin mengenal Engkau dengan begitu baik agar dengan demikian kami dapat menjadi sahabat-sahabat pribadi-Mu.”

Lalu Yesus mengundang mereka, sebagaimana Dia selalu mengundang kita: “Marilah dan kamu akan melihatnya” (Yoh 1:39). Lalu Injil Yohanes melanjutkan: Mereka pun datang dan melihat di mana Ia tinggal, dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan Dia. Apakah kita (anda dan saya) pernah melakukan hal seperti itu? Tinggal sepanjang hari bersama dengan Yesus, Tuhan dan Juruselamat kita? Pada kenyataannya kedua murid itu tinggal bersama Yesus sepanjang hidup mereka, karena mereka menemukan Yesus begitu pantas untuk dikasihi. Mereka tidak pernah meninggal Yesus setelah bertemu dengan Dia dan tinggal bersama dengan-Nya di rumah-Nya sepanjang hari. Untuk mengatasi pandangan-pandangan kita yang salah tentang Allah, marilah kita membaca Injil Yohanes. Yesus bersabda bahwa melalui Dia kita akan mengenal Allah, Bapa surgawi yang mengasihi kita semua!

DOA: Tuhan Yesus, seperti para murid-Mu yang pertama, aku pun ingin tinggal bersama dengan Engkau sepanjang hidupku, siap memanggul salibku ke mana saja Engkau memerintahkan aku untuk mewartakan Kabar Baik dari-Mu. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 1:35-42), bacalah tulisan yang berjudul “SANG ANAK DOMBA ALLAH” (bacaan tanggal 4-1-17 dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 4-1-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 2 Januari 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SEPERTI YOHANES PEMBAPTIS, KITA JUGA DIPANGGIL

SEPERTI YOHANES PEMBAPTIS, KITA JUGA DIPANGGIL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Masa Natal – Selasa, 3 Januari 2017)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan Nama Yesus Yang Tersuci 

baptisan-yesus-yesus-dipermandikan-oleh-yohanes-pembaptisKeesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia. Dialah yang kumaksudkan ketika kukatakan: Kemudian daripada aku akan datang seorang yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku. Aku sendiri pun dulu tidak mengenal Dia, tetapi untuk itulah aku datang dan membaptis dengan air, supaya Ia dinyatakan kepada Israel.”

Selanjutnya Yohanes bersaksi, katanya, “Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya. Dan aku pun dulu tidak mengenal-Nya, tetapi dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku. Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah.” (Yoh 1:29-34) 

Bacaan Pertama: 1Yoh 2:29—3:6; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1,3-6 

Bayangkanlah bagaimana Yohanes Pembaptis dipenuhi dengan rasa sukacita ketika dia melihat Roh Kudus turun dari langit seperti merpati dan tinggal di atas-Nya. Janji Allah kepada Yohanes telah dipenuhi, dan ia pun digerakkan untuk membuat pernyataan: “Lihatlah  Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yoh 1:29,33). Panggilan hidup Yohanes, misi yang diberikan kepadanya oleh Bapa surgawi adalah untuk menjadi bentara Kristus, menunjukkan jalan kepada orang-orang untuk sampai kepada Yesus. Kristus telah dinyatakan kepadanya, dengan demikian Yohanes dapat memenuhi panggilan Allah tersebut.

Yohanes membaptis dengan air, dan dia mengetahui bahwa hal itu hanya dapat membersihkan untuk sementara saja. Kita hanya dapat membayangkan bagaimana Yohanes – setiap kali dia membaptis orang dengan air – menantikan dengan penuh pengharapan, Dia yang akan menghapus dosa dunia. Yohanes mengetahui bahwa dirinya memiliki kemampuan terbatas. Di sisi lain, Yesus adalah Putera Allah yang ilahi dan mahakuasa. Yohanes juga mengetahui bahwa Yesus telah datang tidak hanya untuk mengampuni dosa-dosa, melainkan juga untuk membaptis dengan Roh Kudus, sehingga dengan demikian memampukan semua orang untuk ikut ambil bagian dalam kehidupan ilahi.

Sebagaimana halnya dengan Yohanes Pembaptis, kita semua juga dipanggil untuk menjadi pewarta-pewarta Injil Yesus Kristus. Dalam banyak hal, panggilan kita juga serupa dengan panggilan Yohanes. Lewat pewahyuan, kita pun sampai mengenal dan mengalami Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, dan sekarang telah diutus untuk membawa orang-orang kepada Yesus. Seperti Yohanes, kita pun dipanggil untuk menunjukkan orang-orang jalan kepada Yesus, dan untuk dan mengatakan kepada mereka bahwa melalui Dia semua dosa mereka dapat diampuni. Seperti halnya Yohanes, kita pun dipanggil untuk menerangkan tentang kuat-kuasa Roh Kudus untuk mengubah hidup mereka.

Baiklah kita (anda dan saya) menanggapi secara positif panggilan Allah tersebut, namun untuk itu kita membutuhkan rahmat-Nya untuk mengasihi dan memperhatikan dengan penuh bela rasa orang-orang yang kita jumpai, dan menceritakan kepada mereka siapa sebenarnya Yesus itu. Kita dapat memberi kesaksian tentang “seorang” Allah yang berbelas kasih dan mahasetia, dan Dia adalah Allah yang hidup. Kita dapat mendorong dan menyemangati orang-orang untuk mencari Tuhan. Namun kita tidak memiliki kuasa untuk mengampuni dosa-dosa, memberikan hidup baru, atau menyatakan Yesus. Hanya Allah yang dapat melakukan hal-hal ini.

Dengan keyakinan penuh dalam hasrat Allah untuk membawa setiap orang ke dalam Kerajaan-Nya, marilah kita menjadi instrumen-instrumen yang rendah hati melalui siapa Allah dapat bekerja untuk merestorasi anak-anak-Nya yang dikasihi-Nya. Marilah kita mendoakan mereka yang kita Injili dan percaya bahwa Allah dapat bekerja melalui diri kita. Jika kita melakukan hal ini, maka kita akan menolong banyak orang untuk berjalan menuju suatu suatu hidup yang sepenuhnya baru.

DOA: Datanglah, ya Roh Kudus! Ajarlah dan berdayakanlah diriku selagi aku  menunjukkan kepada orang-orang lain jalan untuk bertemu dengan Yesus, sang Anak Domba Allah. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Yoh 2:29-3:6), bacalah tulisan yang berjudul “SUPAYA KITA PERCAYA KEPADA NAMA YESUS KRISTUS” (bacaan tanggal 3-1-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 3 Januari 2015 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 2 Januari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

TINGGAL DI DALAM KRISTUS

TINGGAL DI DALAM KRISTUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Basilius Agung & S. Gregrorius dr Nazianze, Uskup-Pujangga Gereja – Senin, 2 Januari 2017

saint-john-420x429Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Mesias? Inilah antikristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak. Sebab siapa yang menyangkal Anak, ia tidak memiliki Bapa. Siapa yang mengaku Anak, ia juga memiliki Bapa. Dan kamu, apa yang telah kamu dengar sejak semula, itu harus tetap tinggal di dalam kamu. Jika apa yang telah kamu dengar sejak semula itu tetap tinggal di dalam kamu, maka kamu akan tetapi tinggal di dalam Anak dan di dalam Bapa. Dan inilah janji yang telah dijanjikan-Nya sendiri kepada kita, yaitu hidup yang kekal.

Semua itu kutulis kepadamu, yaitu mengenai orang-orang yang berusaha menyesatkan kamu. Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari Dia. Karena itu, kamu tidak perlu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu – dan pengajaran-Nya itu benar, bukan dusta – dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia.

Jadi sekarang, anak-anakku, tinggallah di dalam Kristus, supaya apabila Ia menyatakan diri-Nya, kita beroleh keberanian percaya dan tidak usah malu terhadap Dia pada hari kedatangan-Nya. (1 Yoh 2:22-28).

Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4; Bacaan Injil: Yoh 1:19-28 

Ungkapan “tinggal dalam Kristus” beberapa kali muncul dalam petikan bacaan di atas. Kenyataan ini kiranya merupakan tanda betapa penting arti ungkapan itu. Memang sungguh vital bagi kita untuk mempelajari rahasia dari ungkapan “tinggal dalam Kristus” ini – berada bersama Dia sepanjang masa. Yohanes menjelaskan bahwa “pengurapan” (baptis) kita “terima dari dari Dia tinggal dalam diri kita (1 Yoh 2:27). Kita  dapat mengalami saat-saat berdoa yang terasa manis dan indah selagi kita mulai memahami bahwa Yesus sungguh hidup dalam diri kita! Kita merasakan indahnya kehadiran Yesus apabila kita memahami pernyataan/perwahyuan bahwa kita adalah anak-anak Allah!

Dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab kita sehari-hari, apakah kita (anda dan saya) ingat untuk mencari Juruselamat kita? Apakah kita merasakan betapa hangat kehadiran-Nya pada saat-saat doa yang dipenuhi keheningan? Apakah kita juga merasakan kehangatan kehadiran-Nya itu selagi kita menjalankan tugas-tugas harian kita? Yohanes menjelaskan bahwa Yesus itu begitu riil dan berwujud sehingga hampir dapat merasakan sentuhan-Nya atau mendengar suara-Nya yang lembut. Bisikan kasih-Nya dan bisikan dorongan guna menyemangati kita seharusnya membuat hati kita tenang. Sabda Allah dalam Kitab Suci seharusnya hidup dalam diri kita, memenuhi diri kita dengan sukacita dan pernyataan diri-Nya.

c3606b07eb3e0f92bb5bfe8287005989Kadang-kadang memang kita merasa bahwa hubungan kita dengan Yesus suka keluar dari rel. Barangkali karena kita memperkenankan tekanan/beban kehidupan sehari-hari kita membuat kita hampir berputus-asa dan merampas rasa percaya kita akan kehadiran-Nya. Barangkali, selagi kita menghadapi berbagai kesulitan atau pengejaran serta penganiayaan dalam hidup kita, kita bertanya kepada diri kita: “Di mana Allah dalam setiap peristiwa ini? Dalam hal ini kita harus senantiasa tidak boleh lupa bahwa Yesus tidak pernah meninggalkan kita. Dia memanggil kita kepada suatu iman yang lebih mendalam, suatu pengosongan diri yang lebih mendalam lagi guna memberi ruang yang lebih luas lagi bagi-Nya. Selagi kita bereksperimen dengan iman kita kepada-Nya, kita mulai memahami kasih-Nya dengan lebih mendalam lagi.

“Tinggal di dalam Kristus” berarti kita menerima dalam iman bahwa Yesus telah mencurahkan Roh Kudus-Nya ke dalam diri kita. Tidak pernah ada waktu sedikit pun di mana Dia meninggalkan kita – tidak pernah ada waktu sedikit pun di mana Dia tidak tinggal dalam diri kita. Semakin besar kepercayaan kita pada kebenaran ini, semakin sering pula kita akan mengingat dan menggantungkan hidup kita pada kasih-Nya selagi kita menjalani hidup kita sehari-harinya.

Manakala kita (anda dan saya) merasa terpisah dari Allah, marilah kita memohon kepada-Nya untuk menyatakan kehadiran-Nya dalam hati kita. Marilah kita mengingatkan diri kita bahwa Yesus tidak akan meninggalkan kita. Dia tidak pernah melupakan “kasih setia dan kesetiaan-Nya” (Mzm 98:3).

DOA: Yesus, aku percaya bahwa Engkau ada bersamaku. Dalam iman dan kasih, aku menyerahkan diriku kepada kehendak-Mu. Aku menyatakan dalam iman bahwa Engkau tidak pernah akan meninggalkan diriku. Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku yang sungguh setia, ya Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Yoh 2:22-28), bacalah tulisan yang berjudul “KITA HARUS TETAP TINGGAL DI DALAM KRISTUS” (bacaan tanggal 2-1-17), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dati tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 2-1-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 29 Desember 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SELAMAT TAHUN BARU 2017

0-0-happy-new-year

Jakarta, 1 Januari 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS