MENGASIHI ANAK-ANAK KITA

MENGASIHI ANAK-ANAK KITA

Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIX – Sabtu, 1 Agustus 2012) 

YESUS DAN ANAK-ANAK - YESUS SAYANG KEPADA ANAK-ANAKLalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia meletakkan tangan-Nya di atas mereka dan mendoakan mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. Tetapi Yesus berkata, “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang punya Kerajaan Surga.” Lalu Ia meletakkan tangan-Nya di atas mereka dan kemudian Ia berangkat dari situ. (Mat 19:13-15)

Bacaan Pertama: Yeh 18:1-10,13,30-32; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:12-15,18-19

Setiap hari, Yesus berseru: “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku”, dan setiap hari pula tangan-tangan-Nya terbuka lebar-lebar siap untuk menyambut mereka. Para orangtua yang baik menyadari bahwa keprihatinan utama mereka haruslah kebahagiaan anak-anak mereka. Oleh karena itulah mereka sangat memperhatikan kesehatan mereka, pendidikan mereka dan kesejahteraan mereka dengan pengharapan bahwa mereka berkembang menjadi orang-orang dewasa yang matang dan bertanggung-jawab. Para orangtua Kristiani juga menyadari bahwa mereka harus membantu anak-anak mereka mencapati kebahagiaan akhir kehidupan kekal. Lebih dari apa pun juga yang lain, mereka ingin membantu anak-anak mereka berjalan bersama Yesus.

Salah satu penghalang terbesar yang dihadapi para orangtua dalam panggilan ini adalah pendefinisian kembali dari kata “kasih”. Apa artinya mengasihi anak-anak kita? Apakah itu sekadar berarti membantu mereka memperoleh hal terbaik yang dapat ditawarkan oleh dunia, atau yakinkah kita bahwa ada suatu “alam surgawi” yang merupakan tujuan akhir dari peziarahan kita di atas bumi? Apakah kita sungguh percaya bahwa anak-anak kita tidak akan selamat sampai mereka mengenal Yesus? Hal inilah yang akan menentukan bagaimana kita akan “mengasihi” anak-anak kita.

Tentu saja kesehatan, reputasi baik, dan stabilitas dalam hal materi semuanya penting, namun Yesus adalah yang paling penting dari apa/siapa saja yang ada karena Dialah tujuan dari setiap kehidupan manusia. Sebagai para orangtua, apakah kita (anda dan saya) menginginkan Yesus menjadi Tuhan, Juruselamat, dan Pelindung semua anak kita? Apakah kita percaya bahwa dalam Sakramen Perkawinan, Allah telah memberikan kepada kita rahmat luarbiasa guna memampukan kita menjadi saksi, berdoa bagi anak-anak kita dan membentuk anak-anak kita sesuai dengan Injil? Apakah kita mengetahui bahwa Yesus berdiri di dekat kita senantiasa dan siap untuk membimbing kita selagi kita mencari hikmat?

Walapun kita sudah lama tidak aktif dalam bisnis, tidak bekerja untuk mencari uang lagi, dan hidup jauh dari anak-anak kita, kita tetap mempunyai kewajiban untuk mendorong serta menyemangati anak-anak kita dan berdoa bagi mereka. Kita tidak boleh sungkan-sungkan atau takut untuk mengatakan kepada mereka agar memusatkan pandangan mata (hati) mereka pada Yesus. Kita juga tidak boleh lupa syering dengan mereka bagaimana Allah bekerja dalam kehidupan kita masing-masing. Selagi anak-anak kita semakin mengenal Allah, maka kita pun akan merasakan bahwa anak-anak kita pun menjadi semakin dekat dengan kita …… karena Yesus memang sungguh senang memberikan berkat-Nya kepada keluarga-keluarga.  Marilah kita membantu semua anak-anak kita agar mengenal kasih Yesus pada setiap saat kehidupan mereka.

DOA: Tuhan Yesus, biarlah Roh-Mu membentuk diri kami masing-masing agar supaya doa-doa kami, teladan hidup kami, apa yang kami katakan dan perbuat, dapat menarik anak-anak lebih dekat kepada-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 19:13-15), bacalah tulisan yang berjudul “YANG PUNYA KERAJAAN SURGA” (bacaan tanggal 16-8-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2014. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 18-8-12 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 14 Agustus 2014 [Peringatan S. Maximilianus Maria Kolbe, Imam-Martir] 

 

 Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

CINTA KASIH KRISTIANI DALAM PERKAWINAN

CINTA KASIH KRISTIANI DALAM PERKAWINAN

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Pekan Biasa XIX  –  Jumat, 15 Agustus 2014) 

Alan-and-Judy-GrossLalu datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya, “Apakah diperbolehkan orang menceraikan istrinya dengan alasan apa saja?” Jawab Yesus, “Tidakkah kamu baca bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Lagi pula Ia berfirman: Karena itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan dua lagi, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Kata mereka kepada-Nya, “Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan istrinya?” Kata Yesus kepada mereka, “Karena kekerasan hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan istrimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian. Tetapi Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang menceraikan istrinya, kecuali karena zina, lalu kawin dengan perempuan, ia berzina.” Murid-murid itu berkata kepada-Nya, “Jika demikian halnya hubungan antara suami dan istri, lebih baik jangan kawin.” Akan tetapi Ia berkata kepada mereka, “Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja.  Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian atas kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Surga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti.” (Mat 19:3-12)

Bacaan Pertama: Yeh 16:1-15,60,63 atau Yeh 16:59-63; Mazmur Tanggapan: Yes 12:2-6 

“Karena itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging” (Mat 19:5).

Setiap persatuan antara dua pribadi manusia hanya dapat tetap begitu berkat kuat-kuasa dari cintakasih Kristiani. Kita tidak pernah dapat begitu sibuknya sehingga tidak ada waktu untuk memperhatikan cintakasih itu dan memperkenankannya bertumbuh-kembang. Persatuan antara seorang suami dan seorang suami secara istimewa membutuhkan cintakasih tersebut.

Seorang istri yang terlalu sibuk dengan begitu banyak hal (kegiatan ini-itu) dapat menjadi istri yang tukang ngomel, yang dapat membuat suaminya menjadi depresi. Demikian pula seorang suami yang begitu sibuk dengan aktivitas di luar rumah dapat menjadi suami yang menelantarkan keluarganya, hal mana dapat membuat istrinya menjadi tidak hepi. Apabila kita terlalu sibuk sehingga tidak ada waktu lagi untuk saling mengasihi, maka kita sudah memasuki zona berbahaya, dan semua pekerjaan kita ujung-ujungnya hanyalah membuang-buang waktu saja.

jesus christ super starKejahatan yang paling buruk dalam hidup perkawinan kiranya adalah bahwa suami dan istri sudah luput melihat kualitas-kualitas baik dari pasangan mereka masing-masing. Begitu kita luput menghargai secara mendalam apa saja yang baik dalam diri pasangan kita, maka sebenarnya kita sudah berada dalam jalan menuju kepahitan, bahkan kebencian. Sebuah definisi yang baik dari neraka adalah sebagai berikut: Hidup bersama tanpa cintakasih!

Jika masalah sedemikian muncul dalam sebuah keluarga Kristiani, maka baiklah kita berharap kepada Allah bahwa paling sedikit seorang dari pasutri, suami atau istri, akan melakukan sesuatu tentang hal itu. Sekali kita sepenuhnya sadar bahwa ada masalah, maka kita telah membuat kemajuan menuju solusi yang diperlukan. Jika keluarga itu tidak mampu memecahkan masalah yang dihadapi secara bersama-sama, maka nasihat dari pihak luar harus dicari. Adalah sesuatu yang bersifat hakiki bahwa masalahnya harus dipecahkan. Sebuah rumahtangga tanpa cintakasih yang sejati sebagai hukum utamanya, tidak ada bedanya dengan sebuah neraka di atas bumi. Rumahtangga seperti itu samasekali tidak dapat disebut sebagai sebuah rumahtangga Kristiani.

Janganlah sampai kita menjadi pihak yang menghancurkan pasangan hidup kita, apa pun penyebabnya. Banyak orang berpikir bahwa unsur-unsur besar dalam perkawinan adalah seks dan anak-anak. Namun suatu unsur yang jauh lebih penting adalah kualitas dari cintakasih dalam perkawinan. Sebuah ikatan perkawinan dapat dihancurkan oleh omelan-omelan, kata-kata yang menyakitkan hati, percekcokan, saling mencari kesalahan, kritik yang berlebihan dlsb.

Untuk bersatu dalam cintakasih, suami dan istri, orangtua dengan anak-anak harus belajar untuk sering bertemu dan berkomunikasi. Masing-masing  harus lebih banyak memberi daripada menerima. Harus ada saling menerima satu sama lain dengan penuh sukacita dan masing-masing harus memiliki hasrat untuk melihat yang lainnya berbahagia.

DOA: Tuhan Yesus, kami percaya bahwa “Allah adalah kasih, dan siapa yang tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia” (1Yoh 4:16). Semoga Roh Kudus-Mu senantiasa menjaga keluarga kami agar tetap di dalam kasih yang sejati. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 19:3-12), bacalah tulisan yang berjudul “KEMBALI KEPADA NIAT ALLAH YANG SEMULA” (bacaan tanggal 15-8-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM https://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2014. 

Cilandak, 13 Agustus 2014

 

 Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HASRAT YESUS HANYALAH AGAR KITA MENERIMA BELAS KASIH BAPA-NYA

HASRAT YESUS HANYALAH AGAR KITA MENERIMA BELAS KASIH BAPA-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Maksimilianus Maria Kolbe – Kamis, 14 Agustus 2014) 

PERUMPAMAAN - PENGAMPUNAN MAT 18 21 DST 001Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus berkata kepadanya, “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Sebab hal Kerajaan Surga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak istrinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. Lalu sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunasi. Tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.

Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! Lalu sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunasi. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai ia melunasi hutangnya.

Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Kemudian raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohon kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Tuannya itu pun marah dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunasi seluruh hutangnya.

Demikian juga yang akan diperbuat oleh Bapa-Ku yang di surga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.”

Setelah Yesus mengakhiri perkataan itu, berangkatlah Ia dari Galilea dan tiba di daerah Yudea yang di seberang Sungai Yordan. (Mat 18:21-19:1)

Bacaan Pertama: Yeh 12:1-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 78:56-59,61-62 

FORGIVENESS AND THE UNMERCIFUL SERVANTKita hampir tidak dapat membayangkan kesedihan yang ditanggung oleh Yesus ketika mengetahui bahwa orang-orang yang membutuhkan-Nya justru adalah orang-orang yang menghukum diri-Nya sampai mati di kayu salib. Namun bukan hanya orang-orang Yahudi dan Romawi zaman dahulu yang bertanggung-jawab terhadap kematian-Nya. Yesus wafat untuk dosa-dosa seluruh umat manusia segala zaman. Selagi Dia memikul salib-Nya menuju bukit Kalvari, Yesus tidak tidak hanya merasakan betapa beratnya kayu salib yang menekan diri-Nya. Selagi diri-Nya tergantung di kayu salib dan kemudian wafat, tidak hanya tusukan paku dan duri di kepala-Nya yang menyebabkan rasa sakit luarbiasa. Yesus merasakan beratnya dosa dari setiap orang orang yang pernah lahir di dunia ini … tanpa kecuali.

Namun demikian, kasih Yesus begitu besar sehingga walaupun pada saat-saat Ia menanggung rasa sakit ini, Dia berdoa untuk pengampunan kita (Luk 23:34). Hasrat Yesus hanyalah agar kita menerima belas kasih Bapa-Nya yang hanya dapat datang kepada kita jika Dia menanggung hukuman yang pantas bagi kita.

Nah, apabila kita menerima belas kasih Allah sedemikian, bukankah kita harus saling menunjukkan belas kasih yang sama kepada sesama kita? Inilah pertanyaan dari perumpamaan tentang hamba yang tidak berterima kasih yang ditujukan kepada kita masing-masing. Untuk menjawab pertanyaan ini kita harus pertama-tama menyadari bahwa Yesus wafat untuk semua orang. Yesus tidak mengenal “anak emas” atau favorit! Kita diampuni secara sama, dikasihi oleh Allah secara sama, dan secara sama pula kita menjadi penerima Roh Kudus-Nya. Selagi kuat-kuasa kebenaran ini masuk menyerap ke dalam hati kita, maka kita akan memahami panggilan Yesus untuk menunjukkan kepada setiap orang bela rasa yang sama dan cintakasih yang sama seperti yang telah ditunjukkan oleh-Nya. Walaupun terdengar sangat menantang, biar bagaimana pun juga adalah suatu kebenaran, bahwa sampai di mana kita bersikap “selektif” (artinya pilih-pilih atau diskriminatif) dalam soal berbelas kasih kepada sesama, sampai di situ pula kita masih membutuhkan pemahaman tentang belas kasih yang kita terima dari diri-Nya.

Begitu banyak yang harus diampuni di mana-mana di seluruh dunia ini. Allah ingin membawa kasih-Nya menjadi sempurna dalam diri kita masing-masing agar kita memperlakukan setiap orang dengan respek dan bela rasa yang sama pula. Allah ingin memampukan kita untuk memandang setiap orang – bagaimana pun jauhnya mereka telah terbuang dari kebaikan – sebagai seorang anak Allah yang sangat dikasihi-Nya, yang dipilih oleh-Nya untuk menerima kasih yang sama seperti yang secara bebas telah diberikan-Nya kepada kita. Semoga Allah membuka mata kita terhadap belas-kasih-Nya agar supaya melalui kasih kita Dia dapat mentransformasikan dunia.

DOA: Ya Tuhanku dan Allahku, Engkau telah menunjukkan kepada diriku belas kasih-Mu. Berdayakanlah diriku agar mau dan mampu berbelas kasih kepada orang-orang lain di sekelilingku. Tolonglah aku agar dapat memandang setiap orang dengan penghargaan yang sama seperti Engkau telah lakukan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 18:21-19:1), bacalah tulisan dengan judul “PENGAMPUNAN TIDAK MENGENAL BATAS” (bacaan tanggal 14-8-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2014. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 15-8-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 11 Agustus 2014 [Pesta S. Klara dari Assisi, Perawan]

 

 Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENDASARKAN SEGALA RELASI KITA PADA BELAS KASIH ALLAH

MENDASARKAN SEGALA RELASI KITA PADA BELAS KASIH ALLAH

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIX – Rabu, 13 Agustus 2014) 

image004 - Yesus“Apabila saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa  yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di surga. Lagi pula Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari antara kamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di surga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” (Mat 18:15-20)

Bacaan Pertama: Yeh 9:1-7;10:18-22; Mazmur Tanggapan: Mzm 113:1-6 

Dalam mengajar para murid-Nya bagaimana memberi tanggapan apabila dicurangi, disakiti, dijahati, didzolimi (dan sejenisnya) oleh seorang anggota lain dari gereja/jemaat, maka keprihatinan utama Yesus adalah untuk tidak menghukum, melainkan “mendapatkan kembali” orang yang berbuat dosa tersebut (Mat 18:15).

Pertama-tama, suatu upaya untuk rekonsiliasi harus dilakukan secara one-to-one, di bawah empat mata dahulu. Jika yang bersangkutan tidak mendengarkan, maka bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan lagi. Lalu, jika orang itu masih tidak mau mendengarkan mereka, maka perkaranya pun disampaikan kepada jemaat. Dalam setiap tahapan, belas kasih lah yang harus menonjol, bukan penghakiman. Juga harus disediakan ruangan bagi pelayanan penyembuhan Tuhan sendiri, “sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Mat 18:20).

Kita semua tahu bahwa ada kuat-kuasa yang besar dalam doa, hikmat-kebijaksanaan yang besar dalam Kitab Suci, dan perlindungan yang kuat dalam ajaran Gereja. Akan tetapi, seringkali kita mengambil jalan rekonsiliasi hanya sebagai pilihan paling akhir. Mengapa harus begitu? Bukankah kita memahami bahwa panggilan Yesus untuk berbelas kasih juga merupakan suatu panggilan guna menyerahkan hasrat kita sendiri untuk membalas dendam dan menghakimi dengan keras?

MEMBACA ALKITAB 101Seluruh pesan Injil didasarkan pada panggilan Allah bagi kita untuk mengasihi setiap orang sepenuhnya seperti Allah telah mengasihi diri kita sendiri – bahkan mengasihi orang-orang yang telah menyakiti kita …… musuh-musuh kita (lihat Mat 5:43-46). Bagian Injil Matius ini (Mat 18:10-19:12) dipenuhi dengan sabda-sabda Yesus yang menekankan kasih radikal yang sedemikian. Yesus memerintahkan kita agar tidak memandang rendah “anak-anak kecil” Allah (Mat 18:10). Yesus kemudian mengajarkan perumpamaan tentang domba yang hilang, di mana seorang gembala melakukan tindakan yang tidak logis namun penuh kasih sayang untuk menyelamatkan seekor dombanya yang hilang walaupun harus meninggalkan 99 ekor lainnya di pegunungan (Mat 18:12:14). Yesus malah mengajarkan mereka perumpamaan tentang pengampunan, bagaimana kita harus mengampuni orang-orang yang bersalah kepada kita sebanyak “tujuh puluh kali tujuh kali” (Mat 18:21-35). Kemudian Yesus memberi ajaran-Nya yang sungguh keras tentang perceraian (Mat 19:1-12). Dalam ajaran-ajaran-Nya ini Yesus seakan meminta-minta kepada kita untuk mendasarkan segala relasi kita pada belas kasih yang dicurahkan Allah ketika Dia mengaruniakan Putera-Nya yang tunggal untuk meresmikan sebuah Kerajaan Kasih yang baru.

Sebagai manusia kita memiliki kodrat yang cenderung untuk berdosa, dan kita tidak kebal terhadap berbagai godaan. Namun Yesus mengingatkan kita untuk menguji cara kita bereaksi dalam menghadapi situasi-situasi sedemikian. Apakah inklinasi kita yang pertama adalah untuk mencari hikmat dari Roh Kudus dan nasihat dari Gereja? Atau, apakah dengan cepat kita “menyerah” terhadap godaan-godaan itu sambil mempersenjatai diri kita dengan berbagai dalih guna membenarkan tindakan kita? Apakah kita membuang segala penghiburan dari doa dan Kitab Suci dan mengandalkan diri sepenuhnya pada trend terakhir dalam psikologi? Kita memang tidak boleh mengabaikan bantuan dari bidang hukum dan psikologi, namun kita tidak pernah boleh memandang rendah kuat-kuasa kasih Allah untuk mentransformasikan tragedi dosa menjadi suatu kesempatan bekerjanya penebusan ilahi.

DOA: Ya Tuhanku dan Allahku, setiap kali aku dikepung oleh banyak masalah, jagalah diriku agar tetap teguh dalam iman selagi aku memandang ke depan pada kepenuhan penyelamatan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 18:15-20), bacalah tulisan yang berjudul “MENJADI SAUDARI-SAUDARA DALAM KRISTUS” (bacaan tanggal 13-8-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2014. 

Cilandak, 10 Agustus 2014 [HARI RAYA SP MARIA DIANGKAT KE SURGA]

 

 Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

RAHASIANYA TERLETAK PADA YESUS SENDIRI

RAHASIANYA TERLETAK PADA YESUS SENDIRI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIX – Selasa, 12 Agustus 2014) 

YESUS DAN ANAK-ANAK - JESUS WITH LITTLE ONEPada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya, “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?” Lalu Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka dan berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sedangkan siapa saja yang merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Siapa saja yang menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.”

“Ingatlah, jangan menganggap rendah salah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di surga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di surga.”

“Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu daripada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. Demikan juga Bapamu yang di surga tidak menghendaki salah seorang dari anak-anak ini hilang.” (Mat 18:1-5,10,12-14)

Bacaan Pertama: Yeh 2:8-3:4; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:14,24,72,103,111,131 

“Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?” (Mat 18:1).

Para murid-Nya telah melihat Yesus berkhotbah tentang Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan, menyembuhkan orang-orang sakit, mengusir roh-roh jahat yang merasuki orang-orang, membuat berbagai mukjizat dan tanda heran lainnya. Setelah memberikan kepada para murid tersebut otoritas di atas roh-roh jahat dan kuat-kuasa untuk menyembuhkan berbagai penyakit, Yesus juga telah mengutus mereka untuk memberitakan Kerajaan Surga, menyembuhkan orang-orang sakit, membangkitkan orang mati, menyembuhkan orang kusta, mengusir roh-roh jahat (lihat Mat 10:5-8). Kecenderungan manusia adalah memperkenankan keangkuhan masuk ke dalam kepala dan hati kita. Dengan demikian, herankah anda kalau membaca bahwa belum apa-apa para murid Yesus sudah saling bertengkar tentang siapa yang paling besar di antara mereka?

Yesus berkata kepada para murid-Nya: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga” (Mat 18:3). Kenyataan bahwa para murid yang sudah begitu dekat dengan Sang Guru, sekarang jatuh ke dalam situasi “persaingan tidak sehat” satu dengan lainnya dapat menyebabkan kita bertanya-tanya apakah mungkin bagi kita bersikap dan berperilaku rendah hati seperti seorang anak dan sepenuhnya tergantung kepada Allah sebagaimana diajarkan oleh Yesus? “Siapa saja yang merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga (Mat 18:4). Namun pengalaman para murid Yesus pertama itu sebenarnya dapat mengajarkan kepada kita pelajaran sebaliknya. Mereka belajar dari kegagalan-kegagalan mereka. Oleh kuasa Roh Kudus, mereka bertumbuh dalam kerendahan hati yang mereka butuhkan untuk peranan pelayanan bagi Kerajaan Allah.

Sejak terkandung-Nya dalam rahim Perawan Maria, Yesus menjalani suatu kehidupan yang rendah hati secara lengkap dan total. Santo Paulus menulis, bahwa Kristus Yesus, “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa  seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Flp 2:6-7). Dengan rendah hati Yesus memperkenankan Bapa menjadi segalanya dalam apa yang dilakukan-nya (lihat Yoh 5:19). Dalam kerendahan hati penuh ketaatan sebagai manusia, Yesus sampai mati di kayu salib (lihat Flp 2:8).

Rahasia untuk menjadi rendah hati sesungguhnya terletak pada Yesus sendiri. Kepada siapa di antara kita yang merasa dibebani dengan kesombongan dan sikap serta perilaku mementingkan diri sendiri, Yesus bersabda, “Pikullah gandar yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku” (Mat 11:29). Dengan demikian, kita berada di jalan menuju kerendahan hati sementara kita memeditasikan Yesus dan semakin dekat dengan kasih-Nya kepada kita. Kunci terhadap kerendahan hati terletak pada kehadiran Yesus yang rendah hati untuk diam dalam hati kita Baiklah kita seringkali berpaling kepada-Nya, terutama pada hari ini dan berkata, “Buatlah diriku menjadi seperti Engkau, ya Yesus.”

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami berdiam  dalam persekutuan dengan Allah, hal mana telah hilang melalui dosa kami namun diperbaharui bagi kami melalui kematian-Mu yang penuh kedinaan dan juga kebangkitan-Mu. Melalui persekutuan ini, semoga kami memperoleh kerendahan hati yang Engkau hasrati untuk kami miliki. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 18:1-5,10,12-14), bacalah tulisan yang berjudul “SYARAT MUTLAK UNTUK MASUK KERAJAAN SURGA” (bacaan tanggal 12-8-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2014.

Cilandak, 10 Agustus 2014 [HARI RAYA SP MARIA DIANGKAT KE SURGA] 

 

 Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HATI MURID-MURID-NYA ITU PUN SEDIH SEKALI

HATI MURID-MURID-NYA ITU PUN SEDIH SEKALI

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Klara, Perawan – Senin, 11 Agustus 2014)

Keluarga Besar Fransiskan: Hari Raya S. Klara dr Assisi 

PETRUS SECARA AJAIB MENEMUKAN KOIN DALAM IKANPada waktu Yesus dan murid-murid-Nya bersama-sama di Galilea, Ia berkata kepada mereka, “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia dan mereka akan membunuh Dia dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan.” Hati murid-murid-Nya itu pun sedih sekali.

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya tiba di Kapernaum datanglah pemungut pajak Bait Allah kepada Petrus dan berkata, “Apakah gurumu tidak membayar pajak sebesar dua dirham itu?” Jawabnya, “Memang membayar.” Ketika Petrus masuk rumah, Yesus mendahuluinya dengan pertanyaan, “Apakah pendapatmu, Simon? Dari siapakah raja-raja dunia ini memungut bea atau pajak? Dari rakyatnya atau dari orang asing?” Jawab Petrus, “Dari orang asing!” Lalu kata Yesus kepadanya, “Jadi, bebaslah rakyatnya. Tetapi supaya jangan kita membuat mereka gusar, pergilah memancing ke danau. Tangkaplah ikan pertama yang kaupancing dan bukalah mulutnya, maka engkau akan menemukan mata uang empat dirham di dalamnya. Ambillah itu dan bayarkanlah kepada mereka, bagi-Ku dan bagimu juga.” (Mat 17:22-27)

Bacaan Pertama: Yeh 1:2-5,24-2:1a; Mazmur Tanggapan: Mzm 148:1-2,11-14 

Hati murid-murid-Nya pun sedih sekali (Mat 17:23). Marilah kita menyoroti bagian pertama saja (Mat 17:22-23) dari Bacaan Injil hari ini.

Para murid Yesus seringkali dikritik sebagai orang-orang yang lamban mengerti. Mereka sudah segalang-segulung dengan Yesus selama tiga tahun. Mereka mendengarkan ajaran-ajaran-Nya, menyaksikan Dia menyembuhkan orang-orang sakit, membangkitkan orang yang sudah mati, mengusir roh-roh jahat, bahkan tiga orang dari para murid menyaksikan transfigurasi-Nya di atas gunung. Akan tetapi kelihatannya semua itu kurang cukup. Yesus telah menjelaskan kepada para murid-Nya bahwa perlulah bagi-Nya untuk menanggung penderitaan yang berat, penolakan dan kematian yang kejam-mengerikan di tangan para musuh-Nya …… menggenapi rencana Allah untuk penebusan kita (Mat 16:21). Akan tetapi Yesus juga mengatakan kepada mereka bahwa Dia tidak akan tetap mati. Dia akan bangkit lagi pada hari ketiga.

YESUS SEORANG PEMIMPIN YANG TEGASDalam Bacaan Injil hari ini, ketika Yesus mengatakan kepada para murid untuk kedua kalinya tentang penderitaan sengsara-Nya yang akan terjadi tidak lama lagi, maka mereka menjadi sedih sekali. Mereka tidak mampu untuk memandang atau membayangkan melampaui prospek kematian Yesus. Janji-Nya akan kebangkitan barangkali tidak sampai ke dalam pikiran mereka, atau tidak terdengar oleh mereka karena sudah “keburu” menjadi sedih sekali. Atau, apakah mereka tidak percaya akan kebangkitan itu?

Memang mudahlah bagi kita untuk mengkritisi para murid untuk ketiadaan pemahaman, namun pikirkanlah mengenai hal-hal yang disampaikan kepada mereka. Apa yang dikatakan Yesus kepada para murid-Nya itu memang sungguh menantang – hampir-hampir tidak logis. Biar bagaimana pun juga Dia mengatakan kepada mereka hal-hal yang bahkan hari ini saja kita masih menyebutnya misteri-misteri iman. Tentu saja mereka membutuhkan waktu untuk melakukan permenungan atas apa yang mereka dengar – atau paling sedikit mengalaminya dan tidak sekadar mendengarnya.

Bahkan hari ini pun rencana Allah seringkali terselubung dalam misteri dan sungguh sulit untuk dipahami. Oleh karena itu bukannya sebagai pemicu kritik-kritik kita, contoh yang diberikan para murid dalam kasus ini seharusnya menjadi suatu sumber penghiburan dan pengharapan besar bagi kita semua. Kita tidak perlu langsung menjadi benar dalam pemahaman kita secara langsung. Kita juga – seperti para murid – padea akhirnya dapat mengatasi ketiadaan iman kita.

Selagi mereka menyaksikan dan mengalami terungkapnya penderitaan sengsara Yesus, para murid mulai memahami rencana Allah. Pada hari Paskah, mereka “bergerak maju” dari “keputusasaan dan kepengecutan” kepada “iman dan keberanian”. Ujung-ujungnya, mereka menjadi mengerti karena mereka bertekun. Oleh karena itu marilah kita melakukan hal yang sama. Marilah kita bertekun dalam iman-kepercayaan kita. Marilah kita mencari jawaban-jawaban dalam Kitab Suci dan ajaran-ajaran Gereja. Walaupun kiranya ada sesuatu yang tidak masuk akal, kita tetap dapat percaya bahwa Yesus mengetahui apa yang kita butuhkan dan Ia akan menyatakan diri-Nya dan kebenaran-kebenaran secara lebih penuh kepada kita – pribadi demi pribadi – selagi kita bertekun.

Saudari-Saudaraku yang terkasih, percayalah bahwa Yesus tidak akan meninggalkan kita!

DOA: Yesus, ada saat-saat di mana sulit bagiku untuk percaya, namun aku tahu bahwa Engkau akan menyatakan diri-Mu dan misteri-misteri kehidupan guna membimbingku. Tuhan Yesus, ajarlah aku agar dapat menjadi murid-Mu yang setia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 17:22-27), bacalah tulisan yang berjudul “TIKET MASUK KE DALAM SURGA” (bacaan tanggal 11-8-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2014. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-8-13 dalam situs/blog SANG SABDA)

 

Cilandak, 8 Agustus 2014 [Hari Raya S. Dominikus, Imam] 

 

 Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MARIA: MODEL KITA DALAM MENUJU KEKUDUSAN

MARIA: MODEL KITA DALAM MENUJU KEKUDUSAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA SP MARIA DIANGKAT KE SURGA – Minggu, 10 Agustus 2014) 

409px-Murillo_immaculate_conception

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan bergegas menuju sebuah kota di pegunungan Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.”

Lalu kata Maria, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan kuduslah nama-Nya. Rahmat-Nya turun-menurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.” Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya. (Luk 1:39-56)

Bacaan Pertama: Why 11:19;12:1,3-6,10; Mazmur Tanggapan: Mzm 45:10-12,16; Bacaan Kedua: 1Kor 15:20-26

Kadang-kadang kita melihat seakan-akan para kudus adalah suci dari “sono”-nya, sejak lahir memang begitu. Kebenarannya adalah bahwa kekudusan bertumbuh dalam diri kita semua sampai seberapa jauh kita mencari Tuhan dalam situasi yang kita hadapi setiap hari, merenungkan sabda-Nya, dan belajar mentaati perintah-perintah-Nya dan kehendak-Nya bagi hidup kita. Ini adalah jenis kekudusan untuk mana Maria adalah “model” yang paling agung.

VISITASI - MARIA MENYAPA ELISABETSelagi dia merefleksikan Kitab Suci dan sejarah karya Allah di tengah umat, Maria menjadi mengerti cara Allah berkarya di dunia. Dia melihat Allah senang memakai orang-orang lemah dan terabaikan untuk “merendahkan” orang-orang berkuasa. Maria melihat bahwa Allah senang sekali memajukan rencana-rencana-Nya dengan cara-cara tidak seperti diharap-harapkan: membelah Laut Merah, menurunkan Saul dan membangkitkan Daud si gembala, bahkan membiarkan orang-orang Yahudi digiring oleh bangsa asing ke tempat pembuangan agar mereka belajar mentaati diri-Nya. Selagi Maria merenungkan cara Allah ini, Allah sendiri sedang menyiapkan dirinya bahwa pada suatu hari dia akan diundang untuk ikut ambil bagian dalam mewujudkan rencana-Nya.

Dengan penuh rasa percaya, Maria menempatkan keseluruhan masa depannya ke dalam tangan-tangan Allah. Setiap peristiwa merupakan suatu kesempatan bagi imannya dan kasihnya kepada Allah untuk menjadi semakin dalam. Ketika Yusuf bergumul dalam batinnya apakah dia akan menceraikannya, Maria tetap yakin bahwa Allah akan menyelesaikan karya-Nya. Pada waktu dia mengunjungi Elisabet, imannya diperdalam ketika dia mendengar saudari sepupunya memuji dan memuliakan Allah. Akhirnya di kaki salib Yesus, pada saat hatinya sendiri tertembus oleh rasa duka yang sangat mendalam, Maria membuat tindakan penyerahan diri yang final dengan menyerahkan Puteranya ke dalam tangan-tangan Allah yang penuh kasih.

Setiap hari kita dipanggil untuk “memasukkan” doa kita ke dalam situasi-situasi yang kita hadapi. Yesus ingin agar kita merenungkan sabda-Nya sehingga dengan demikian Ia dapat membentuk diri kita masing-masing menjadi orang-orang saleh sungguhan, bukan yang berpura-pura saleh seperti kebanyakan orang Farisi dan para pemimpin agama Yahudi lainnya pada masa hidup-Nya. Allah-lah yang membentuk kita menjadi orang-orang kudus, namun adalah pilihan kita untuk membuka hati bagi-Nya atau tidak. Marilah kita membuka pikiran-pikiran dan hasrat-hasrat kita yang terdalam kepada-Nya agar Ia dapat menyentuh dan membimbing kita. Marilah kita bersama Maria pada hari ini merayakan hari raya gerejawi yang sangat istimewa ini dengan penuh keyakinan bahwa Allah akan menyelesaikan karya-Nya dalam diri kita semua.

DOA: Bapa surgawi, Engkau mampu melakukan segala hal. Kasih-Mu sungguh agung dan luhur; rencana-Mu sudah ada sejak kekal; cara-cara-Mu sempurna dan pantas serta layak untuk dipercaya. Aku sungguh merindukan hari di mana aku dapat berjumpa dengan Engkau, muka ketemu muka. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan  kedua hari ini (1Kor 15:20-26), bacalah tulisan dengan judul “MARIA DAN KEBANGKITAN KEPADA HIDUP BARU” (bacaan tanggal 10-8-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2014. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-8-13 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 7 Agustus 2014 

 

 Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 84 other followers