SANTO LAURENSIUS DARI BRINDISI

SANTO LAURENSIUS DARI BRINDISI 

2014072606saint (1)Hari ini, tanggal 21 Juli, Gereja memperingati Santo Laurensius dari Brindisi, Imam dan Pujangga Gereja [1559-1619] dan keluarga besar Fransiskan merayaan pestanya.

Sekilas lintas, barangkali kualitas pribadi yang paling menonjol dari Laurensius adalah karunia khusus untuk menguasai banyak bahasa. Di samping pengetahuan dan penguasaan mendalam atas bahasa ibunya, Italia, orang kudus ini juga menguasai bahasa Latin, Ibrani, Yunani, Jerman, Bohemia, Spanyol dan Perancis.

Laurensius dilahirkan di Brindisi, Italia selatan (Kerajaan Napoli), pada tanggal 22 Juli 1559, dan meninggal dunia tepat 60 tahun kemudian pada hari ulang tahunnya di tahun 1619. Kedua orang tuanya, William dan Elisabet Russo, memberikan nama Julius Caesar (Italia: Giulio Caesare Russo). Kedua orangtuanya meninggal dunia cepat dan setelah itu Julius Caesar dididik oleh pamannya di Kolese S. Markus di Venisia.

Sejak masa kecilnya,  Julius Caesar sudah menunjukkan bakat yang luarbiasa, mengingatkan orang-orang akan Yesus yang masih berumur 12 tahun yang berbincang-bincang serius dengan para ahli Taurat Yahudi di Bait Allah. Di Italia ada adat-kebiasaan yang memperkenankan anak laki-laki untuk berkhotbah pada hari Natal di depan publik. Pada waktu Julius Caesar berumur 6 tahun, dia berkhotbah di katedral kota kelahirannya, dan khotbahnya membuat kesan mendalam di hati banyak orang yang hadir, dan banyak dari mereka mulai memasuki hidup Kristiani yang lebih mendalam.

Ketika berusia 16 tahun, Julius Caesar masuk Ordo Fransiskan Kapusin di Verona dan menerima nama biara Laurensius. Dalam biara, Laurensius sejak awal sudah menonjol sebagai “model kesempurnaan”. Ia selalu tepat waktu dalam menghadiri acara-acara komunitas biara, sempurna dalam ketertundukannya terhadap atasannya, penuh respek dan kasih terhadap para saudara-saudara yang lain.

Ia menyelesaikan studi filsafat dan teologi di Universitas Padua dan ditahbiskan imam ketika berumur 23 tahun. Dengan segala bekal yang dimilikinya, Pater Laurensius mulai kehidupan misionernya. Pertama-tama dia mengunjungi berbagai kota di Italia: Venisia, Pavia, Verona, Padua, Napoli; karya missioner yang sukses. Kemudian dia dipanggil ke Roma oleh Paus Klemens VIII dan diberikan tugas untuk mempertobatkan orang-orang Yahudi. Dengan kemampuannya menguasai beberapa bahasa, Laurensius mampu untuk mempelajari teks-teks Kitab Suci dalam bahasa aslinya. Pengetahuan bahasa Ibrani-nya begitu unggul sehingga para rabi Yahudi yakin sekali bahwa Laurensius adalah seorang Yahudi yang telah murtad menjadi Kristiani. Kelemahlembutan imam yang satu ini membuat banyak orang Yahudi dibaptis menjadi Kristiani.

Laurensius memiliki satu ciri pribadi yang barangkali tidak diharap-harapkan dari seorang terpelajar penuh talenta seperti dirinya, yakni sensitivitas/kepekaan terhadap kebutuhan orang-orang. Ia dipilih menjadi pimpinan Ordo Fransiskan Kapusin untuk Propinsi Tuscany ketika berumur 31 tahun. Ia memiliki perpaduan antara kecemerlangan (Inggris: brilliance), bela rasa manusiawi dan keterampilan administratif yang dibutuhkan guna melakukan tugas-tugasnya.

Pada tahun 1598 Pater Laurensius diutus ke Jerman bersama enam orang saudara Kapusin lainnya untuk mendirikan biara-biara di sana  dan juga untuk menghadapi arus reformasi Martin Luther yang mulai menancapkan kaki di Austria. Banyak orang Kristen Protestan kembali kepada iman Katolik. Kaisar Rudolf II mempercayakan tugas mengorganisasikan gerakan perlawanan melawan tentara Turki Ottoman yang merupakan ancaman besar terhadap dunia Kristiani. Untuk tugas ini, Laurensius berfungsi sebagai seorang diplomat yang mengunjungi kota-kota utama di Jerman guna menjelaskan misinya kepada pangeran-pangeran, bernegosiasi dengan mereka, dan berkhotbah kepada publik.  Upayanya berhasil menggalang persatuan untuk melawan kekuatan Turki Ottoman.

Lawrence_of_BrindisiPater Laurensius diangkat menjadi kepala pendamping rohani pasukan besar dari seorang bangsawan yang bernama Matias yang pergi ke Hungaria pada tahun 1601 untuk berperang melawan pasukan Turki Ottoman. Walaupun penyakit rematiknya sangat serius, Pater Laurensius tetap berkuda, salib Kristus di tangan dan maju di depan para perajurit menuju medan tempur. Pandangan pertama atas lawan sangat menciutkan hati para prajurit Kristiani karena posisi lawan mereka sangat baik. Namun dalam nama Allah Pater Laurensius menjanjikan kemenangan bagi umat Kristiani, hal mana menginspirasikan mereka semua dengan keberanian luarbiasa. Dalam pertempuran itu pihak Turki Ottoman hancur berantakan.

Laurensius kembali ke Italia dan pada tahun 1602 Laurensius dipilih menjadi minister jenderal dari Ordo Fransiskan Kapusin. Dalam posisi ini dia bertanggung jawab untuk membuat agar ordo yang dipimpinnya bertumbuh-kembang dengan pesat, termasuk ekspansi secara geografis.

Laurensius kemudian diangkat menjadi utusan Paus dan pembawa damai, suatu pekerjaan yang membuatnya melakukan perjalanan ke sejumlah negara asing. Guna mencapai perdamaian dalam tempat kelahirannya, Kerajaan Napoli, Laurensius pergi mengunjungi raja Spanyol Philip III. Ternyata sang raja sedang berada di Portugal. Ia melanjutkan perjalanannya ke Portugal. Hasil pertemuan itu: pejabat Spanyol yang dengan kejam memerintah di Kerajaan Napoli dipecat. Misinya lagi-lagi berhasil. Kemudian penyakit serius di Lisboa (Portugal) merenggut nyawanya pada tahun 1619. Saudari Maut (badani) menjemput Pater Laurensius selagi bertugas melayani Allah dan sesama.

Kecintaan Laurensius pada sabda Allah dalam Kitab Suci, ditambah dengan kepekaannya terhadap kebutuhan-kebutuhan orang, menyajikan suatu gaya-hidup yang menarik bagi umat Kristiani zaman modern. Hidupnya menunjukkan keseimbangan antara disiplin-diri (self-dicipline) dan suatu penghargaan yang tekun terhadap kebutuhan-kebutuhan orang-orang untuk siapa dia dipanggil untuk melayani.

Pada tahun 1956 Ordo Fransiskan Kapusin (OFMCap.) berhasil menyelesaikan penyusunan tulisan-tulisan Laurensius yang terdiri dari 15 volume. Sebelas dari 15 volume ini berisikan khotbah-khotbahnya, di mana masing-masing khotbah itu terutama mendasarkan diri pada petikan-petikan dari teks Kitab Suci untuk menggambarkan ajarannya. Satu tulisan adalah sehubungan dengan doktrin dan devosi kepada Bunda Maria.

Pater Laurensius dari Brindisi dibeatifikasikan pada tanggal 1 Juni 1783 dan dikanonisasikan sebagai seorang Santo pada tanggal 8 Desember 1881. Pada tahun 1959 Santo Laurensius dari Brindisi diangkat menjadi Pujangga Gereja.

Sumber: P. Marion A. Habig OFM, “THE FRANCISCAN BOOK OF SAINTS”, hal. 539-543; P. Leonard Foley OFM (Editor), “SAINT OF THE DAY”, hal. 167-169; WIKIPEDIA: “LAWRENCE OF BRINDISI”.

Jakarta, 21 Juli 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TUJUAN PERUMPAMAAN YESUS

TUJUAN PERUMPAMAAN YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVI – Kamis, 21 Juli 2016)

Keluarga Fransiskan: Pesta S. Laurensius dr Brindisi, Imam Pujangga Gereja 

Stained Glass Depicting Jesus Christ March 4, 2004

Stained Glass Depicting Jesus Christ March 4, 2004

Kemudian datanglah murid-murid-Nya dan bertanya kepada-Nya, “Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan? Jawab Yesus, “kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Surga, tetapi kepada mereka tidak. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia  berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil daripadanya. Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti. Jadi, pada mereka genaplah nubuat Yesaya, yang berbunyi: Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak memahami. Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar dan matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka. Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar. Sebab sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya. (Mat 13:10-17) 

Bacaan Pertama: Yer 2:1-3,7-8,12-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 36:6-11

Yesus adalah seorang pengkhotbah yang sungguh hebat. Ia berbicara dengan menggunakan bahasa orang kebanyakan. Ia memakai cerita-cerita, membuat perbandingan-perbandingan, menggunakan contoh-contoh, yang semua diambil dari hidup sehari-hari orang-orang kepada siapa Dia berbicara. Namun, kadang-kadang Yesus menggunakan perumpamaan-perumpamaan yang sedikit membingungkan seperti suatu teka-teki. Sang Rabi dari Nazaret suka menggunakan bahasa yang membuat seorang pendengar yang baik menjadi berpikir.

Jadi, ketika para murid-Nya bertanya mengapa Yesus berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan, maka jawaban Yesus menunjukkan bahwa Dia menginginkan para pendengar-Nya untuk mendengar pengajaran-Nya dengan hati yang terbuka. Perumpamaan-perumpamaan membuka misteri-misteri Kerajaan Allah bagi orang-orang yang percaya, … yang membuka hati mereka. Akan tetapi, kepada mereka yang tidak terbuka terhadap pesan Yesus, maka perumpamaan-perumpamaan tersebut menjadi semacam “omong kosong” tanpa makna. Yesus sendiri mengatakan bahwa mereka yang memiliki hati tertutup tidak akan mengerti perumpamaan-perumpamaan-Nya – “melihat tetapi tidak melihat, mendengar tetapi tidak mendengar dan tidak mengerti” (lihat Mat 13:13).

Yang penting dalam hal ini adalah suatu tanggapan pribadi. Apabila tidak ada keterbukaan terhadap pesan Yesus, maka sama saja dengan “tidak mendengar apa-apa”. Jikalau tidak ada tanggapan terhadap pesan Yesus yang kita dengar, misalnya melalui homili di perayaan Ekaristi atau pembacaan dan permenungan bacaan Kitab Suci, maka akan begitu saja, … tidak akan tinggal lama dalam pikiran dan hati kita. Iman-kepercayaan sesungguhnya adalah suatu karunia, namun tidak melepaskan tanggung jawab kita untuk membuka hati terhadap Sabda dan memberi tanggapan terhadap Sabda ketika kita mendengarnya.

Kitab Suci memang dapat menjadi seperti teka-teki, samar-samar tidak jelas, jika kita membacanya dengan pikiran dan hati yang dangkal. Kitab Suci harus dibaca dalam suasana doa, dengan keterbukaan yang dapat menerima apa saja yang ingin dinyatakan Roh Kudus kepada kita.

Makanan rohani, pengetahuan rohani, bukanlah seperti makanan fisik. Dalam hal makanan rohani, semakin banyak kita ambil bagian, semakin lapar kita jadinya. Semakin kita membuka diri, semakin banyak wawasan rohani yang kita terima. Di lain pihak. Membaca Kitab Suci seperti sebuah novel ringan akan membuat kita tetap “dingin” dan tanpa sukacita.

Sementara kita membaca Kitab Suci, selagi kita mendengar Sabda Allah,kita harus membuka hati terhadap apa saja yang ingin dikatakan-Nya kepada kita. Dan begitu kita mendengar, apabila pesan-Nya jelas, kita pun harus bertindak. Kalau tidak demikian halnya, maka hal tersebut akan diambil dari kita. Pesan hidup Kristiani hanya akan berdiam dalam diri kita apabila kita menjalani hidup itu sepenuh-penuhnya. Kepada kita telah diberikan pesan itu, jelas, seperti juga dalam perumpamaan-perumpamaan-Nya. Sekarang, bagaimana dengan tanggapan kita?

DOA: Tuhan Yesus, aku membuka hatiku bagi Sabda-Mu, untuk mendengarkannya dan juga menjalani kehidupan sebagai murid-Mu yang setia pada ajaran-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:10-17), bacalah tulisan yang berjudul “MENGAPA YESUS MENGAJAR DENGAN PERUMPAMAAN?” (bacaan tanggal 21-7-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-07 BACAAN HARIAN JULI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 23-7-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 18 Juli 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MENDUKUNG RENCANA ALLAH BAGI KELUARGA KITA

MENDUKUNG RENCANA ALLAH BAGI KELUARGA KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVI – Rabu, 20 Juli 2016) 

YEREMIA

Inilah perkataan-perkataan Yeremia bin Hilkia, dari keturunan imam yang ada di Anatot di tanah Benyamin.

Firman TUHAN (YHWH) datang kepadaku, bunyinya: “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.” Maka aku menjawab: “Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda.” Tetapi YHWH berfirman kepadaku: “Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan. Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman YHWH.”

Lalu YHWH mengulurkan tangan-Nya dan menjamah mulutku; “YHWH berfirman kepadaku: “Sesungguhnya, Aku menaruh perkataan-perkataanku ke dalam mulutmu. Ketahuilah, pada hari ini Aku mengangkat engkau atas bangsa-bangsa dan atas kerajaan-kerajaan juntuk mencabut dan merobohkan, untuk membinasakan dan meruntuhkan, untuk membangun dan menanam.” (Yer 1:1,4-10) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 71:1-6,15,17; bacaan Injil: Mat 13:1-9 

Sabda Allah kepada nabi Yeremia adalah sabda sama dengan yang Ia katakan kepada kita masing-masing: “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau” (Yer 1:5). Allah sungguh mengenal diri kita – baik kekuatan-kekuatan maupun kelemahan-kelemahan kita, disposisi-disposisi hati kita, preferensi-preferensi kita dll. – lebih baik daripada kita mengenal diri kita sendiri. Allah bahkan mengetahui apa saja yang dengan bebas kita akan pilih untuk dilakukan dalam kehidupan kita. Allah mempunyai sebuah rencana bagi kita, namun setiap saat kita dapat pergi dengan bebas memilih jalan hidup kita sendiri atau merangkul rahmat-Nya dan karya indah yang telah dipersiapkan-Nya untuk kita lakukan.

Dalam kasus Yeremia, rencana Allah adalah menjadikannya seorang nabi. Yeremia dapat saja mengabaikan panggilan tersebut dan menolak rahmat Allah. Apa yang mendorongnya untuk menanggapi panggilan Allah tersebut secara positif? Walaupun Kitab Suci tidak menjelaskannya, kita dapat membayangkan bahwa “formasi” yang dilakukan oleh para orangtuanya atas diri Yeremia memainkan peran yang cukup signifikan dalam penerimaan Yeremia atas tantangan-tantangan hidup seorang nabi.

Seperti Yeremia, kita (anda dan saya) pun dipanggil untuk menerima panggilan Allah bagi kita masing-masing untuk memproklamasikan Injil-Nya kepada generasi selanjutnya, sehingga dengan demikian mereka pun akan terbuka bagi panggilan Allah. Teristimewa jika kita adalah orangtua, nenek-kakek, atau seorang pendidik, maka kita mempunyai suatu peranan istimewa dalam hal ini. Allah menginginkan kita untuk menghormati orang-orang muda dalam kehidupan kita. Allah ingin agar kita mengakui karunia-karunia yang dimiliki orang-orang muda itu, juga untuk menghargai kebenaran bahwa mereka diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya (lihat Kej 1:26,27). Allah tahu bahwa semakin banyak yang kita lakukan, semakin serius pula orang-orang muda itu akan berpikir tentang apa yang diinginkan Allah untuk mereka lakukan dengan hidup mereka.

Jika kita adalah para orangtua yang mempunyai anak-anak, maka pikirkanlah tentang bagaimana kehidupan rumah tangga kita dapat mencerminkan dan mendukung rencana Allah bagi keluarga kita. Rumah tangga atau keluarga kita adalah semacam “gereja mini”; gereja domestik atau ecclesia domestica. Para orangtua dikuduskan untuk membawa Kabar Baik Keselamatan kepada anak-anak mereka. Tanyalah kepada diri kita masing-masing: Apakah aku berbicara kepada anak-anakku tentang Allah dan bercerita kepada mereka tentang Yesus, Putera-Nya yang tunggal, Tuhan kita? Apakah selama ini aku berupaya untuk mencari petunjuk berkaitan dengan apa yang dilakukan Allah dalam hati mereka?

Saudari dan Saudaraku terkasih. Allah ingin melakukan hal-hal besar melalui dan dalam diri anak-anak kita (anda dan saya). Oleh karena itu marilah kita upayakan suatu suasana yang kondusif bagi keterbukaan spiritual dalam rumah tangga kita masing-masing. Semoga hal tersebut akan memampukan anak-anak kita mendengar dan menanggapi panggilan Allah kapan saja hal itu datang.

DOA: Bapa surgawi, Allah yang Mahabaik. Memang mudahlah bagiku untuk merasa tidak layak dan pantas jika hal itu menyangkut mensyeringkan sabda-Mu dengan orang-orang muda dalam hidupku. Namun aku percaya bahwa rahmat-Mu dapat memberdayakan diriku untuk bertekun dan berhasil pada akhirnya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:1-9), bacalah tulisan yang berjudul “KEMURAHAN HATI ALLAH YANG BERLIMPAH-LIMPAH” (bacaan tanggal 20-7-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-07 BACAAN HARIAN JULI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 23-7-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 18 Juli 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YANG MELAKUKAN KEHENDAK BAPA SURGAWI

YANG MELAKUKAN KEHENDAK BAPA SURGAWI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVI – Selasa, 19 Juli 2016) 

YESUS MENGAJAR - 1000Ketika Yesus masih berbicara dengan orang banyak itu, ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya berdiri di luar dan berusaha menemui Dia. Lalu seorang berkata kepada-Nya, “Lihatlah, ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau.” Tetapi jawab Jesus kepada orang yang menyampaikan berita itu kepada-Nya, “Siapa ibu-Ku? Siapa saudara-saudara-Ku?” Lalu kata-Nya, sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya, “Inilah ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Sebab siapa saja yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga, dialah saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku perempuan dan ibu-Ku.” (Mat 12:46-50) 

Bacaan Pertama: Mi 7:14-15,18-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 84:2-8 

Marilah kita membayangkan sejenak apa yang terjadi seturut bacaan Injil hari ini. Banyak orang berkumpul di sekeliling Yesus untuk mendengar apa yang akan/sedang dikatakan oleh rabi dari Nazaret ini, walaupun mereka tidak selalu memahami perumpamaan-perumpamaan-Nya. Kemudian, muncullah Ibu Maria dan saudara-saudara Yesus, dan karena padatnya orang-orang yang berkumpul di situ, mereka tidak dapat mendekati  Yesus. Jadi, tidak mengherankanlah apabila ada orang yang memberitahukan kepada Yesus: “Lihatlah, ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau” (Mat 12:47). Jawab Yesus: “Siapa ibu-Ku? Siapa saudara-saudara-Ku?” (Mat 12:48). Lalu kata-Nya, sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya, “Inilah ibu-ku dan saudara-saudara-Ku! Sebab siapa saja yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga, dialah saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku perempuan dan ibu-Ku” (Mat 12:49).

Itulah jawaban Yesus ketika Dia mendengar bahwa ibu-Nya dan para anggota keluarga-Nya yang lain mencoba untuk datang kepada-Nya melalui kerumunan orang banyak. Apakah kiranya yang dimaksudkan Yesus dengan jawaban-Nya itu? Apakah ini berarti bahwa Yesus tidak merasa peduli pada ibu dan keluarga-Nya? Tentu saja tidak! Siapa yang lebih baik dalam memahami kata-kata Yesus itu selain Maria, yang memiliki hasrat tetap untuk melakukan kehendak Bapa surgawi (lihat Luk 1:38)?

Memang pada awalnya kita dapat memperoleh kesan bahwa kata-kata Yesus itu “keras” dan bernada “merendahkan”, Namun Yesus sama sekali tidak bermaksud untuk merendahkan ikatan kekeluargaan-Nya atau mengkritisi ibunda-Nya. Pada kenyataannya, Yesus memuji Maria tidak hanya sebagai ibu yang melahirkan-Nya, melainkan juga sebagai seseorang yang sungguh-sungguh telah mendengarkan sabda Allah dan melakukan kehendak-Nya (lihat Luk 1:38; bdk. Mat 12:50).

Matius tidak mencatat apa yang dilakukan oleh Yesus selanjutnya, namun akal sehat kita mengatakan bahwa tentulah Dia menyambut ibu dan saudara-saudara-Nya, kalau pun tidak langsung pada saat mengajar orang banyak itu. Bagi Yesus, menempatkan orang-orang lain sebagai lebih penting daripada keluarga-Nya sendiri sebenarnya bertentangan dengan yang kita ketahui sebagai benar tentang Allah dan juga melawan seluruh ajaran tentang keluarga yang terdapat dalam Kitab Suci (bacalah “Sepuluh Perintah Allah”, khususnya Kel 20:12).

Dalam tanggapan-Nya, Yesus menyatakan bahwa “mereka yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya” akan menjadi dekat dengan Yesus seperti para anggota keluarga-Nya sendiri. Ini adalah sebuah janji pengharapan dan sukacita. Kita sendiri dapat mempunyai keintiman yang sama dengan Yesus, kedekatan yang sama, dan relasi kasih yang sama seperti yang dimiliki-Nya dengan ibu dan semua anggota keluarga-Nya. Kita bukan hanya akan menjadi dekat dengan Yesus, melainkan juga – seperti halnya dengan setiap keluarga – kita pun mulai semakin serupa dengan Dia. Kita akan mengambil oper karakter-Nya dan mulai berpikir dan bertindak seperti Yesus. Ini adalah janji bagi kita yang berdiam dalam sabda Allah dan senantiasa berupaya untuk mewujudkan sabda-Nya menjadi tindakan nyata.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau menjanjikan kepada kami suatu relasi yang intim dan penuh kasih dengan diri-Mu. Tolonglah kami agar dapat mengalami kasih-Mu selagi kami menjalani hari-hari kehidupan kami untuk melakukan kehendak Allah. Yesus, jadikanlah hatiku seperti hati-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 12:46-50), bacalah tulisan yang berjudul “IBU DAN SAUDARI-SAUDARA YESUS” (bacaan tanggal 19-7-16) dalam situs /blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-07 BACAAN HARIAN JULI 2016 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-7-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 17 Juli 2016 [HARI MINGGU BIASA XVI – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

TIDAK ADA TANDA YANG LEBIH BESAR

TIDAK ADA TANDA YANG LEBIH BESAR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVI – Senin, 18 Juli 2016) 

c3606b07eb3e0f92bb5bfe8287005989Pada waktu itu berkatalah bebeberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus, “Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari Engkau.” Tetapi jawab-Nya kepada mereka, “Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Nabi Yunus. Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan besar tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam. Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama orang-orang zaman Ini dan menghukumnya juga. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat setelah mendengar pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus! Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan akan bangkit bersama-sama orang-orang zaman ini dan ia akan menghukumnya juga. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengar hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Salomo!” (Mat 12:38-42) 

Bacaan Pertama: Mi 6:1-4,6-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:5-6,8-9,16bc-17,21,23

“Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari Engkau”  (Mat 12:38).

Ini adalah sebuah pertanyaan yang “cetek” (dangkal), produk dari pemikiran yang “cetek”. Menanggapi suatu permintaan yang bersifat superfisial seperti itu, jawaban Yesus jauh daripada sekadar jawaban superfisial. Umat yang dilayani-Nya mengabaikan misi sesungguhnya dari Yesus Kristus, namun Ia sendiri samasekali tidak melupakannya. Yesus tidak ingin rasa ingin tahu mereka yang “cetek” itu terpuaskan. Akan tetapi siapa saja yang secara serius mencari suatu tanda dari Allah, maka mereka akan memperoleh tanda itu yang malah akan mengejutkan dunia dan menggoncang seluruh sejarah manusia. Itu adalah tanda dari nabi Yunus, seorang yang bertobat bukan karena bangsanya sendiri, melainkan oleh orang asing (baca: kafir) – orang-orang tulus hati yang menerima iman ketika diberikan kepada mereka.

Dalam “tanda Yunus” ini Yesus bernubuat tentang dua peristiwa: (1) Kebangkitan-Nya sendiri, dan (2) pertobatan dari suatu umat yang baru, yang akan mendengarkan-Nya walaupun umat/bangsa-Nya sendiri (Yahudi) telah menutup telinga mereka. Orang-orang asing (kafir) ini, yang menerima sang Juruselamat dengan penuh sukacita, akan turut melakukan penghakiman umat terpilih yang telah menolak Dia. Apakah ada “tanda” yang lebih besar yang dapat diinginkan oleh orang-orang Farisi?

jesus tersalibTanda lebih besar yang bagaimana lagi yang dibutuhkan oleh orang-orang Farisi? Bukankah ini suatu tanda bahwa Yesus adalah seorang nabi Allah yang sejati? Karena demikian pula umat pilihan Allah memperlakukan semua nabi yang diutus ke tengah-tengah mereka. Yesaya dan Yeremia, nabi-nabi yang terbesar dibunuh oleh umat mereka sendiri, umat pilihan Allah.

Kepada mereka akan diberikan suatu tanda agar dapat dilihat dunia: mereka akan menggiring Yesus kepada suatu kematian yang paling keji dan memalukan, dan para sahabat-Nya akan menguburkan Dia. Mereka berpikir bahwa itulah akhir dari sang Nabi, salah satu peristiwa perpisahan yang menyedihkan dengan seorang Nabi besar.

Pada hari ketiga Yunus muncul kembali dari perut ikan besar yang menelannya, demikian pula Yesus akan bangkit dalam kemuliaan pada hari ketiga setelah kematian-Nya di atas kayu salib. Dalam kematian dan kebangkitan-Nya ini umat manusia dapat memperoleh keselamatan. Tanda lebih besar apa lagi dari kebaikan Allah, belas-kasih-Nya, kasih-Nya yang dapat kita cari?

DOA: Tuhan Yesus, seperti orang-orang Niniwe yang mendengarkan pesan pertobatan yang diserukan nabi Yunus, maka aku berketetapan hati mendengarkan panggilan-Mu kepadaku untuk melakukan pertobatan dan mencari hikmat-kebijaksanaan-Mu dalam hidupku. Semoga berkat rahmat-Mu aku mampu meninggalkan dosa-dosaku dan berbalik kembali kepada-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 12:38-42), bacalah tulisan berjudul “SALIB KRISTUS SEBAGAI SATU-SATUNYA TANDA” (bacaan tanggal 18-7-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-07 BACAAN HARIAN JULI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-7-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 15 Juli 2016 [Pesta S. Bonaventura, Uskup Pujangga Gereja]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MEMILIH BAGIAN TERBAIK

MEMILIH BAGIAN TERBAIK

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XVI [TAHUN C] – 17 Juli 2016) 

www-st-takla-org--jesus-and-mary-and-martha

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah desa. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, sedangkan Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata, “Tuhan, tidakkah Engkau peduli bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.” Tetapi Tuhan menjawabnya, “Marta, Marta, engkau khawatir dan menyusahkan diri dengan banyak hal, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian terbaik yang tidak akan diambil dari dia.” (Luk 10:38-42)

Bacaan Pertama: Kej 18:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 15:2-5; Bacaan Kedua: Kol 1:24-28 

Injil hari ini bercerita mengenai kunjungan Yesus dan para murid-Nya ke rumah Lazarus dan kedua adik perempuannya, Marta dan Maria, di Betania. Betania adalah sebuah kota kecil (desa) yang terletak di lembah yang tidak jauh dari Yerusalem. Pada hari ini ada sebuah gereja yang didirikan di atas tanah yang menurut tradisi adalah rumah dari ketiga orang sahabat Yesus itu.

Injil Yohanes mencatat bahwa “Yesus memang mengasihi Marta dan saudaranya dan Lazarus” (Yoh 11:5). Namun tepatnya bagaimana dan mengapa Dia sampai mengembangkan suatu relasi personal yang begitu erat dengan ketiga orang bersaudara itu, kita tidak pernah mengetahuinya. Memang keluarga Betania ini bukanlah keluarga yang biasa kita lihat, karena terdiri dari dua orang perempuan yang tidak menikah dan seorang saudara laki-laki yang juga lajang. Mungkin saja Lazarus seorang yang pendiam dan menderita penyakit menahun sehingga perlu dirawat oleh kedua orang saudara perempuannya. Maria kelihatannya agak pemalu dan introspektif, sementara Marta itu agresif, berani berbicara lantang, dan tidak meragukan lagi bahwa dialah yang memegang tampuk pimpinan rumah tangga (bdk. Luk 10:38). Namun, walaupun mereka memiliki temperamen yang berbeda dan kepribadian masing-masing yang khas, mereka semua mengasihi Yesus.

Layaknya antara para sahabat dekat, tanpa sungkan-sungkan Marta mengomentari Yesus dan Maria yang sedang duduk dekat kaki-Nya dan terus mendengarkan perkataan-Nya, sedang dia harus sibuk-sibuk sendiri: menyiapkan perapian untuk memasak, membersihkan piring mangkuk, mengaduk sup, dlsb. Dengan kata lain Marta menyampaikan pesan berikut ini: “Apa yang kulakukan ini jauh lebih penting daripada apa yang Engkau katakan.” Yesus membela hak Maria untuk duduk di dekat-Nya dan mendengarkan pengajaran-Nya. Dia malah secara tidak langsung mengundang Marta yang “energetik” itu untuk bergabung dan meninggalkan kesibukan pekerjaannya, karena masih ada waktu untuk itu. Kita dapat membayangkan bagaimana Yesus tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala-Nya ketika Dia menyebut nama Marta sampai dua kali dengan usulan agar Marta duduk rileks di dekatnya seperti yang dilakukan Maria. Ada waktu untuk bekerja dan ada waktu untuk berada bersama Tuhan seperti dilakukan Maria ketika itu. Yesus tidak meminta Marta untuk membersihkan rumah atau mempersiapkan perjamuan makan.

Apakah dengan tidak membantu kakaknya, Maria itu seorang pemalas? Menurut Yesus, sama sekali tidak! Maria hidup dalam Roh, dan menurut Yesus inilah yang paling penting. Di sisi lain, Yesus juga tidak mencela hospitalitas yang ditunjukkan oleh Marta. Apa yang dilakukan Marta itu baik dan keluar dari hatinya, dan Yesus mengetahui benar iman Marta. Akan tetapi ada hospitalitas yang lebih besar dan Maria telah berhasil menemukannya, yaitu “mendengarkan Tuhan”, tidak hanya dengan membuka pintu rumah kita bagi Yesus, tetapi juga pintu hati dan pikiran kita.

Kita harus akui bahwa sebagian besar dari kita adalah seperti Marta – atau pernah seperti dia – , dikenal sebagai “seksi sibuk”, berjalan hilir-mudik, kian-kemari, ke sana ke sini dan penuh dengan ketegangan, namun seringkali dengan motif yang jauh lebih tidak murni daripada motif Marta. Paling sedikit Marta bekerja untuk menyenangkan Yesus, memperhatikan kebutuhan-Nya, menghormati-Nya. Bagaimana dengan motif kita? Menghasilkan uang sebanyak-banyaknya, memiliki rumah yang sebesar dan senyaman mungkin, padahal tidak dapat dibawa mati. Mengapa kita harus sibuk tak keruan sehingga tidak ada waktu untuk berpikir? Banyak kesalahan tidak perlu terjadi apabila orang menyediakan waktu untuk berpikir, untuk berdoa, untuk bermeditasi, untuk berkomunikasi dengan Allah dan menimba hikmat-Nya. Saat-saat kita duduk di kaki Yesus bukanlah waktu yang terbuang sia-sia, karena paling sedikit berdua bersama Dia dalam pikiran dan doa dapat mencairkan segala ketegangan dalam hidup ini. Semakin kita memandangi wajah-Nya yang lemah lembut, semakin pula kita dapat mulai tersenyum karena kita disadarkan bahwa Dia-lah yang sebenarnya memegang kendali atas kehidupan ini, termasuk hidup kita sendiri.

Dalam Injil ini, Marta lupa bahwa bukan dia sendirilah yang mengundang Yesus datang ke rumahnya. Sesungguhnya Yesus-lah yang mengundang dirinya, dan inilah undangan yang paling penting, yaitu untuk memilih “bagian terbaik” seperti dikatakan Yesus (Luk 10:42). Apa artinya hospitalitas di mana kita meninggalkan sang tamu kehormatan untuk berada sendiri di ruang tamu, sedangkan kita sibuk terus di dapur? Jadi, apabila kita (anda dan saya) ingin dekat dengan Tuhan, maka janganlah kita sibuk terus di dapur dan meninggalkan Allah entah di mana di luar sana. Kita harus menyediakan waktu untuk berada bersama-Nya, duduk di dekat kaki-Nya dan mendengarkan sabda-Nya. Inilah yang diinginkan oleh Yesus untuk kita lakukan!

DOA: Tuhan Yesus, aku menyambut Engkau ke dalam hatiku. Penuhilah diriku dengan sukacita kehadiran-Mu. Bebaskanlah aku dari rasa susah hati dan kekhawatiran, agar dengan demikian aku dapat memberikan kepada-Mu perhatian dan kasihku yang tak terpecah-belah. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 10:38-42), bacalah tulisan yang berjudul “CERITA TENTANG MARIA DAN MARTA” (bacaan tanggal 17-7-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-07 BACAAN HARIAN JULI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-7-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 12 Juli 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

 

CIRI-CIRI PRIBADI SEORANG HAMBA TUHAN

CIRI-CIRI PRIBADI SEORANG HAMBA TUHAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV – Sabtu, 16 Juli 2016) 

jesus_christ_image_219

Lalu keluarlah orang-orang Farisi itu dan membuat rencana untuk membunuh Dia. Tetapi Yesus mengetahui maksud mereka lalu menyingkir dari sana.

Banyak orang mengikuti Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya. Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia, supaya digenapi firman yang disampaikan oleh Nabi Yesaya, “Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan; Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya dan Ia akan menyatakan keadilan kepada bangsa-bangsa. Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak dan orang tidak akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang. Dan pada-Nyalah bangsa-bangsa akan berharap.” (Mat 12:14-21) 

Bacaan Pertama: Mi 2:1-5; Mazmur Tanggapan: Mzm 10:1-4,7-8,14 

Ada dua hal tentang Yesus di sini yang menunjukkan bahwa Dia tidak pernah mencampur-adukkan kenekatan dengan keberanian. Pertama-tama, untuk sementara waktu Yesus mengundurkan diri karena belum saatnya untuk berhadap-hadapan dengan para lawan-Nya dalam suatu konflik terbuka. Yesus masih mempunyai pekerjaan untuk dilakukan-Nya sebelum Ia ditarik oleh Salib. Kedua, Yesus melarang orang-orang untuk membuat publisitas tentang diri-Nya. Yesus sangat mengetahui bahwa banyak Mesias palsu yang bermunculan dan Ia mengetahui bahwa orang kebanyakan mudah dipengaruhi oleh Mesias-Mesias palsu tersebut.

Apabila mulai tersebar desas-desus bahwa telah muncul seseorang yang memiliki kuat-kuasa menakjubkan, maka hal tersebut akan memicu timbulnya suatu pemberontakan politis dan akan memakan banyak korban jiwa yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Yesus sangat menyadari bahwa Dia harus mengajar orang-orang bahwa kemesiasan bukanlah berarti menunjukkan kekuatan untuk gontok-gontokan melainkan melakukan pelayanan penuh pengorbanan, bukan sebuah takhta melainkan sebuah salib, sebelum mereka dapat menyebarkan cerita tentang diri-Nya ke seluruh dunia.

Pertanyaan yang digunakan Matius untuk meringkas pekerjaan Yesus (Mat 12:18-21) adalah dari Yes 42:1-4. Dalam artian tertentu ini merupakan petikan nas yang dapat mengundang perasaan ingin tahu atau pertanyaan, karena dalam instansi pertama nas itu mengacu kepada Sirus (Koresy), raja Persia (lihat Yes 45:1). Koresy naik takhta pada tahun 559 SM dan sejak itu maju terus dalam menaklukkan bangsa-bangsa di sekitar negerinya. Pada tahun 549 SM dia telah menaklukkan Media. Pada tahun 539 SM, Koresy mengalahkan pasukan Babel dan dengan demikian menjadi penguasa kerajaan yang terbesar yang pernah dilihat dunia sampai saat itu. Sang Nabi (Yesaya) melihat kemenangan-kemenangan penuh kejayaan dari Koresy atas bangsa-bangsa lain itu sebagai berada dalam rangka rencana pasti dari Allah. Walau pun dia sendiri tidak mengetahuinya, Koresy adalah instrumen Allah. Di samping itu Yesaya melihat bahwa Koresy adalah penakluk non-Yahudi. Akan tetapi, walaupun aslinya nas tersebut mengacu kepada Koresy, pemenuhan yang lengkap dari nubuatan itu tidak meragukan lagi terwujud dalam diri Yesus Kristus. Pada zamannya, raja Persia tersebut menguasai dunia sebelah timur, namun Raja sejati seluruh dunia adalah Yesus Kristus. Dengan demikian, marilah kita lihat betapa indahnya Yesus memuaskan nubuatan Yesaya.

Pertama-tama: Ia akan memberitahukan bangsa-bangsa, apa sebenarnya “keadilan” (Inggris: justice) itu. Keadilan dalam bahasa Yunani berarti memberi kepada Allah dan kepada orang-orang apa yang menjadi bagian mereka. Yesus menunjukkan kepada orang-orang bagaimana hidup sedemikian sehingga baik Allah maupun orang-orang memperoleh tempat mereka yang layak dalam hidup kita. Yesus menunjukkan kepada kita bagaimana berperilaku terhadap Allah dan sesama manusia.

Kedua: Yesus tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak dengan suara seperti anjing yang menyalak, bunyi burung gagak atau seperti suara yang dikeluarkan para penonton pertunjukan sandiwara di teater yang kecewa. Apa arti semua ini? Yesus tidak akan cekcok dengan orang-orang lain. Jadi bukan seperti pertengkaran antara partai-partai politik yang bertentangan, di mana yang satu mencoba untuk menjatuhkan yang lain. Ada juga ideologi-ideologi yang saling berlawanan. Dalam Yesus ada keheningan mendalam seorang Pribadi yang berusaha untuk mengalahkan pihak lain dengan/oleh cintakasih, bukan dengan kata-kata yang sering menyakiti.

Ketiga: Yesus tidak akan memutuskan buluh yang patah terkulai dan juga tdak akan memadamkan sumbu yang pudar nyalanya. Kesaksian seseorang bisa saja tidak teguh dan lemah, terang hidupnya mungkin bukan seperti api yang menyala-nyala; tetapi Yesus tidak datang untuk menghilangkan semangat orang itu, melainkan untuk mendorong dan menyemangatinya. Yesus tidak datang untuk memperlakukan orang lemah dengan memandang rendah/hina orang itu, melainkan datang dengan penuh pengertian; Ia tidak datang untuk memadamkan sumbu yang pudar nyalanya, melainkan memulihkankannya sehingga memancarkan terang yang lebih jelas dan lebih kuat. Hal paling berharga tentang Yesus adalah kenyataan bahwa Dia bukanlah Pribadi yang membuat orang menjadi ciut, melainkan mendorong dan menyemangati orang tersebut.

Keempat: Dalam Yesus, orang-orang non-Yahudi akan berpengharapan. Dengan kedatangan Yesus ke tengah dunia datang juga undangan kepada dunia sebuah undangan, bukan saja kepada satu bangsa, melainkan kepada seluruh umat manusia, untuk ikut ambil bagian dalam dan menerima kasih Allah. Dalam Yesus, Allah bertemu dengan setiap orang guna menawarkan kasih-Nya.

Catatan: Uraian di atas merupakan adaptasi dari buku William Barclay, THE DAILY STUDY BILE – The Gospel of Matthew – Volume 2, hal. 32-34.

DOA: Tuhan Yesus, kami percaya bahwa Engkau adalah Putera Bapa yang datang ke tengah dunia untuk menyatakan keadilan kepada bangsa-bangsa dengan kasih sebagai motif dasar. Dengan kedatangan-Mu ke dunia seluruh umat manusia diundang untuk ikut ambil bagian dalam dan menerima kasih Allah. Engkau adalah Imanuel, Allah yang beserta kami semua. Terpujilah nama-Mu, ya Tuhan Yesus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 12:14-21), bacalah tulisan yang berjudul “MOTIF YESUS ITU SEDERHANA: KASIH!” (bacaan tanggal 16-7-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-07 BACAAN HARIAN JULI 2016. 

Cilandak, 12 Juli 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS