PERSEMBAHAN ISTIMEWA SEORANG JANDA MISKIN

PERSEMBAHAN ISTIMEWA SEORANG JANDA MISKIN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa IX – Sabtu, 10 Juni 2017) 

Dalam pengajaran-Nya Yesus berkata, “Hati-hatilah terhadap ahli-ahli Taurat yang suka berjalan-jalan memakai jubah panjang dan suka menerima penghormatan di pasar, yang suka duduk di tempat yang terbaik di rumah ibadat dan di tempat terhormat dalam perjamuan, yang menelan rumah janda-janda dan mereka mengelabui mata orang dengan mengucapkan doa yang panjang-panjang. Mereka ini pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.”

Pada suatu kali Yesus duduk menghadapi peti persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar. Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua uang tembaga, yaitu uang receh terkecil. Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya semua yang dimilikinya, yaitu seluruh nafkahnya.” (Mrk 12:38-44) 

Bacaan Pertama: Tob 12:1,5-15,20; Mazmur Tanggapan: Tob 13:2,6-8 

Pada zaman dahulu para janda (teristimewa mereka yang hidup tanpa anak) di tanah Palestina seringkali tertimpa kemalangan dan kemiskinan. Hal seperti itu mungkin sekali masih terjadi di negeri kita tercinta ini. Meskipun para janda seringkali hidup miskin apabila dilihat dari pandangan dunia, Kitab Suci menunjukkan sejumlah janda yang kaya dalam iman. Misalnya, janda dari Sarfat rela berbagi makanannya yang terakhir dengan nabi Elia, seorang asing baginya (lihat 1 Raj 17:10-16). Melalui imannya, Allah membuat mukjizat lewat nabi Elia. Demikian pula dengan janda dalam petikan Injil di atas. Dia memasukkan dua keping uang tembaga ke dalam peti persembahan, milik terakhir yang dimilikinya. Menurut Yesus, persembahan janda miskin itu memang sangat kecil ketimbang persembahan dari orang-orang lain, namun dia “memberi dari kekurangannya semua yang dimilikinya, yaitu seluruh nafkahnya” (Mrk 12:44). Kedermawanan dua janda ini mengalir dari hati yang penuh iman dan menaruh kepercayaan penuh pada Penyelenggaraan Ilahi.

Yesus mengkontraskan ketidak-lekatan sang janda kepada harta-kekayaan yang bersifat materi, dengan kesombongan para pemuka agama dalam masyarakat (Farisi, ahli Taurat dll.). Para pemuka agama itu sibuk dengan kehormatan duniawi dan kekayaan, sampai-sampai “menelan” rumah para janda (lihat Mrk 12:38-40). Janda itu mampu untuk memberikan segala yang dimilikinya karena dia menilai hal-hal ilahi lebih daripada hal-hal dunia. Dia merupakan contoh yang mengambil sikap seperti diajarkan Yesus dalam “Khobah di Bukit”: “…kumpulkanlah bagimu harta di surga; di surga ngengat dan karat tidak merusaknya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Mat 6:20-21).

Semangat pemberian-diri janda itu hanya dimungkinkan lewat suatu transformasi batiniah untuk memilih jalan Allah, karena imannya. Paulus menulis: “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu, sehingga kamu dapat membedakan mana kehendak Allah: Apa yang baik, yang berkenan kepada-Nya dan sempurna” (Rm 12:2). Janda itu mampu membuat suatu kurban-persembahan karena hati dan pikirannya telah ditranformasikan oleh kasih Allah.

Allah berjanji untuk membalas kebaikan seseorang yang mengalir dari iman. “Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu, kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami” (2 Kor 9:10-11).

DOA: Tuhan Yesus, kuatkan imanku dan mampukanlah aku menjadi seseorang yang murah-hati dalam menggunakan harta-milikku dan waktuku, agar aku dapat turut serta membangun Tubuh-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 12:38-40), bacalah tulisan yang berjudul “JANDA MISKIN ITU MENGEMBALIKAN KEPADA ALLAH APA YANG TELAH DILAKUKAN-NYA UNTUK DIRINYA” (bacaan tanggal 10-6-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 BACAAN HARIAN JUNI 2017. 

(Tulisan ini  adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 4-6-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 7 Juni 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

MATA TOBIT DISEMBUHKAN

MATA TOBIT DISEMBUHKAN

 (Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa IX – Jumat, 9 Juni 2017)

 

Dalam pada itu duduklah Hana mengamati jalan yang harus ditempuh anaknya. Ia pun telah mendapat firasat bahwa anaknya tengah datang. Berkatalah Hana kepada ayah Tobia: “Sungguh anakmu tengah datang dan juga orang yang menyertainya.”

Sebelum Tobia mendekati ayahnya berkatalah Rafael kepadanya: “Aku yakin bahwa mata ayahmu akan dibuka. Sapukanlah empedu ikan itu kepada matanya. Obat itu akan memakan dahulu, lalu mengelupaskan bintik-bintik putih itu dari matanya. Maka ayahmu akan melihat lagi dan memandang cahaya.”

Adapun Hana bergegas-gegas mendekap anaknya, lalu berkatalah ia kepadanya: “Setelah engkau kulihat, anakku, maka mulai sekarang aku dapat mati.” Maka ia menangis. Tobitpun berdiri dan meskipun kakinya tersandung namun ia keluar dari pintu pelataran rumah. Tobia menghampiri dengan empedu ikan itu di tangah lalu ditiupinya mata Tobit, ditopangnya ayahnya dan kemudian berkatalah ia kepadanya: “Tetapkanlah hati, pak!” Selanjutnya obat itu dikenakannya padanya dan dibiarkannya sebentar. Lalu dengan kedua tangannya dikelupaskannya sesuatu dari ujung-ujung matanya. Maka Tobit mendekap Tobia sambil menangis. Katanya: “Aku melihat engkau, anakku, cahaya mataku!” Ia menyambung pula: “Terpujilah Allah, terpujilah nama Tuhan yang besar ada di atas kita dan terpujilah hendaknya segala malaikat-Nya yang kudus. Hendaklah nama Tuhan yang besar ada di atas kita dan terpujilah hendaknya segala malaikat untuk selama-lamanya. Sungguh aku telah disiksa oleh Tuhan, tetapi kulihat anakku Tobia!” Kemudian masuklah Tobia ke rumah dengan sukacita sambil memuji Allah dengan segenap hatinya. Diceritakannya kepada ayahnya bahwa perjalanannya berhasil baik; bahwa ia telah uang itu dan sudah mengambil Sara anak perempuan Raguel menjadi isteerinya dan bahwa isterinya masih dalam perjalanan dan sudah dekat pada pintu gerbang kota Niniwe.

Maka keluarlah Tobit menjemput anak menantunya pada pintu gerbang kota Niniwe dengan sukacita seraya memuji Allah. Melihat Tobit berjalan dan maju dengan kekuatannya seperti dahulu tanpa diantar oleh siapapun maka tercengang-cenganglah penduruk kota Niniwe. Tobitpun lalu mengumumkan di hadapan mereka bahwa ia telah dikasihani oleh Allah yang telah mencelikkan matanya. Akhirnya Tobit mendekati Sara, isteri anaknya Tobia, lalu diberkatinya dengan berkata:”Selamat datang, anakku. Terpujilah Allahmu yang mengantar engkau kepada kami, hai anakku! Tuhan memberkati ayahmu, memberkati anakku Tobia dan memberkati engkau sendiri, hai anakku. Masuklah ke rumahmu dengan selamat, dengan berkat dan gembira! Masuklah, hai anakku!” (Tob 11:5-17) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 146:2,7-10; Bacaan Injil: Mrk 12:35-37 

Dari awal sampai akhir, Kitab Tobit adalah sebuah testimoni tentang kesetiaan Allah, kuat-kuasa-Nya, dan belas kasih-Nya. Dengan bantuan Malaikat Agung Rafael dan doa-doa Tobia, Sara dilepaskan/dibebaskan dari kuasa roh jahat dan dibawa ke dalam suatu perkawinan yang penuh berkat. Sekarang, Allah juga mempersiapkan segalanya untuk memulihkan penglihatan Tobit dan harta-kekayaannya – seperti yang telah dijanjikan oleh Rafael.

Marilah kita membaca dengan cepat Kitab Tobit dan juga kitab-kitab lain dalam Kitab Suci – agar dapat memperoleh pandangan sekilas tentang cara Allah menyembuhkan berbagai penyakit. Tobia tidak hanya mendapat seorang isteri, dia juga mendapat separuh harta-kekayaan Raguel dan mendapat tagihan ayahnya dari Gabael dan dapat memulai hidup keluarga dengan isterinya. Tetapi Tobia tidak melakukannya, dia pulang ke rumah ayahnya yang menderita kebutaan dan melakukan pelayanan penyembuhan Allah terhadap diri ayahnya. Marilah kita bayangkan: Tobia, seorang laki-laki muda yang baru saja menikah, sehat wal’afiat dan penuh semangat, dengan segala kehidupan di depannya, memilih untuk mendampingi Tobit yang sudah tua, miskin, buta dan diabaikan. Tobia mau mengotori dirinya sendiri dengan masalah-masalah ayahnya, dan dalam prosesnya membawa kesembuhan. Allah tidak hanya menyembuhkan Tobit begitu saja, melainkan bekerja melalui Tobia.

Kita harus menyadari bahwa kita telah disembuhkan, diselamatkan, dan dibebaskan dari kuasa roh jahat, bukan demi diri kita sendiri, melainkan dengan demikian kita dapat melayani Injil kepada orang-orang lain juga. Tobia telah dipakai Allah untuk menjadi instrumen sentuhan kesembuhan-Nya. Demikian pula Allah ingin menggunakan kita untuk melayani terkait kesetiaan-Nya dan belas kasih-Nya. Kita (anda dan saya) tidak perlu menjadi orang yang sempurna atau berhasil. Yang diperlukan adalah kemauan dan ketersediaan kita. Roh Kudus, yang hidup di dalam diri kita masing-masing, senantiasa siap untuk membimbing dan memberdayakan kita.

Selagi kita menerima keselamatan dan berkat berkesinambungan dari Allah, kita tidak boleh melupakan mereka yang tersisihkan, mereka yang patah hati, mereka yang menderita, karena merekalah orang-orang yang dikasihi Kristus, dan Ia memang mengidentifasikan diri-Nya dengan orang-orang ini (lihat Mat 25:31-46). Tentunya ada banyak orang di sekeliling kita yang hampir berputus asa seperti Sara dan Tobit. Barangkali – seperti Sara dan Tobit – mereka juga telah berseru kepada Allah untuk memperoleh pertolongan. Allah jelas ingin mencurahkan belas kasih-Nya dan kasih-Nya ke tengah dunia, dan kita dapat menjadi orang-orang yang akan dipakai-Nya! Bersediakah kita membawa kesembuhan-Nya dan kebebasan dari Dia kepada orang-orang lain?

DOA: Bapa surgawi, Allah Yang Mahakuasa dan Mahakasih, gunakanlah diriku untuk menolong orang-orang yang merasa kesepian dan tersisihkan. Tolonglah aku agar dapat menjadi lebih sadar akan kesulitan hidup orang-orang lain di sekelilingku, dan berdayakanlah diriku untuk membawa kesembuhan kepada orang-orang lain dan juga pelepasan diri mereka dari kuasa roh jahat. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 11:13-17), bacalah tulisan yang berjudul “MENDENGARKAN YESUS DENGAN SENANG HATI (bacaan tanggal 9-6-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 BACAAN HARIAN JUNI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 5-6-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 7 Juni 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PERINTAH PALING UTAMA DALAM HUKUM TAURAT

PERINTAH PALING UTAMA DALAM HUKUM TAURAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa IX – Kamis, 8 Juni 2017)

OFMCap.: Peringatan B. Nikolaus Gesturi, Imam 

Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya, “Perintah manakah yang paling utama?”  Jawab Yesus, “Perintah yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhanlah Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Perintah yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada perintah lain yang lebih utama daripada kedua perintah ini.”  Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus, “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri jauh lebih utama daripada semua kurban bakaran dan kurban lainnya.”  Yesus melihat bagaimana orang itu menjawab dengan bijaksana, dan Ia berkata kepadanya, “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!”  Sesudah itu, seorang pun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus. (Mrk 12:28-34) 

Bacaan Pertama: Tob 6:10-11; 7:1,6,8-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 128:1-5 

“Perintah manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” (Mrk 12:28). Kelihatannya ahli Taurat yang melontarkan pertanyaan ini ingin mengetahui pendapat Yesus mengenai kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan. Dari 613 perintah yang ada dalam Perjanjian Lama, yang manakah yang pantas untuk ditaati secara paling ketat? Perintah mana, kalau dilanggar, akan membuat sulit orang bersangkutan? Mungkin saja si penanya mencari lubang dari mana dia dapat menjebak Yesus. Mungkin sah-sah saja untuk mengajukan pertanyaan seperti ini dengan pengharapan akan memperoleh jawaban terinci, langkah demi langkah dst. Namun Yesus mempunyai cara yang lebih baik!

Walaupun motif ahli Taurat itu dapat dipertanyakan, mungkin saja dia sesungguhnya ingin mengetahui apakah yang dipikirkan Yesus berada pada jantung Kitab Suci. Ternyata jawaban Yesus mengerucut pada “kasih”.

Jika anda yang ditanya, bagaimana anda akan menanggapi pertanyaan si ahli Taurat? Menurut anda, apa sih jantung Kitab Suci? Bagaimana pun anda mengungkapkannya, jawaban anda seharusnya tidak menunjuk kepada “apa”, melainkan kepada “siapa” – kepada Dia, yang adalah inkarnasi sempurna dari kasih Allah. Mengikuti pemikiran Hugo dari S. Viktor, Katekismus Gereja Katolik (KGK) mengatakan: “Seluruh Kitab Suci adalah satu buku saja dan buku yang satu ini adalah Kristus, karena seluruh Kitab ilahi ini berbicara tentang Kristus, dan seluruh Kitab ilahi terpenuhi dalam Kristus” (KGK, 134). Yesus adalah sang Sabda Allah. Dalam diri Yesus ini, Allah mengekspresikan diri-Nya secara lengkap dan sempurna. Hal ini berarti bahwa kitab-kitab Injil adalah jantung Kitab Suci. Kitab-kitab itu adalah sumber mendasar tentang hidup dan ajaran Yesus. Oleh karena itu, tidak mengherankanlah apabila Santo Hieronimus [340-420] mengatakan, “Tidak kenal Kitab Suci, maka tidak kenal Kristus!” (Ignoratio scripturarum, ignoratio Christi est!).

Apabila anda mengasihi seseorang, tentunya anda ingin mengetahui segala sesuatunya tentang dia. Selagi anda meluangkan waktu bersama orang itu, maka anda pun bahkan mengambil alih beberapa dari karakteristik orang itu. Itulah sebabnya mengapa Allah ingin agar kita membaca kitab-kitab Injil secara teratur. Allah ingin agar kita mendalami relasi kita dengan Yesus sehingga kita dapat menjadi lebih serupa dengan Dia. Pengalaman mengatakan kepada kita bahwa tidak cukuplah untuk mempunyai pengetahuan samar-samar dan umum saja tentang Yesus. Seperti dalam relasi akrab yang mana saja, kita harus menjadi begitu familiar dengan kata-kata-Nya dan tindakan-tindakan-Nya, sehingga semua itu secara alamiah muncul dalam pikiran kita manakala kita menghadap situasi-situasi yang berbeda-beda dalam kehidupan kita. Karena Kitab Suci adalah sabda Allah yang hidup, maka kita selalu dapat mengharapkan bahwa Yesus akan berbicara kepada kita secara langsung melalui Kitab Suci itu – menghibur kita dan mencerahkan kita, namun juga menggerakkan kita untuk kemudian bertindak selagi kita secara serius berupaya turut serta membangun kerajaan-Nya.

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus. Apakah anda melakukan pendekatan terhadap Kitab Suci dengan penuh hasrat dan ekspektasi bahwa anda akan mendengar suara Allah dan berjumpa dengan Yesus? Dalam Misa Kudus hari ini atau dalam doa pribadi anda, perkenankanlah Roh Kudus membuka hati anda bagi kata-kata (sabda) yang Yesus ingin ucapkan kepada anda secara pribadi. Hal-hal yang penuh kuat-kuasa dapat terjadi sebagai akibatnya.

Apabila kita kembali kepada bacaan Injil hari ini, kita dapat  melihat bahwa kesederhanaan tanggapan Yesus kepada si ahli Taurat menunjukkan betapa vitalnya untuk memperkenankan Roh Kudus bekerja dalam diri kita. Roh Kudus tidak hadir untuk menekankan keterbatasan-keterbatasan kita, melainkan untuk membuat kita bebas mengasihi Allah dan sesama secara total-lengkap. Dengan membuka diri bagi kehadiran Roh Kudus, kita dapat menerima kekuatan ilahi, yang memampukan kita untuk bergerak dalam kuasa-Nya. Jiwa kita akan dipenuhi oleh kasih-Nya – sebuah kasih yang mendaging (mewujudkan diri) dalam tindakan-tindakan kita sehari-hari. Bahkan pikiran-pikiran kita akan dilindungi oleh “baju zirah rohani” sebagaimana kulit melindungi organ-organ kita.

Tanpa Roh Kudus, kita hanya mempunyai hukum. Namun dengan Roh Kudus, hukum yang sama dapat membawa kita ke dalam kehidupan yang kekal. Daripada menanggapi pertanyaan-pertanyaan si ahli Taurat dengan memberikan sebuah daftar yang berisikan hal-hal yang bersifat mengikat, harus ini dan harus itu, Yesus justru mengingatkan kita akan keharusan untuk mengantisipasi tindakan cintakasih kepada Allah dan sesama yang bersifat tanpa batas. Dengan Roh Kudus dalam kehidupan kita, tidak perlulah untuk menanyakan berapa banyak yang harus kita lakukan. Roh Kudus ada bersama kita justru untuk menunjukkan kepada kita segalanya yang harus dan dapat kita lakukan. Bersama sang pemazmur kita pun dapat mengatakan: “TUHAN HIDUP! Terpujilah gunung batuku, dan mulialah Allah Penyelamatku” (Mzm 18:47).

DOA: Roh Kudus Allah, hembuskanlah nafas hidup-Mu ke dalam diriku. Ambillah hal-hal yang tidak berkenan kepada-Mu dari diriku dan penuhilah diriku ini dengan hidup-Mu sendiri. Berdayakanlah aku untuk mengasihi-Mu dan sesamaku dengan segenap hatiku, pikiranku dan jiwaku. Datanglah, ya Roh Kudus dan curahkanlah kasih-Mu yang tanpa batas itu ke dalam hatiku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 12:28-34), bacalah tulisan yang berjudul “PERTANYAAN YANG MENCERMINKAN SEBUAH HATI YANG MENCARI” (bacaan tanggal 8-6-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 BACAAN HARIAN JUNI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 2-6-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 5 Juni 2017 [Peringatan S. Bonifasius, Uskup Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

DIMULAI DENGAN BAB TERAKHIR

DIMULAI DENGAN BAB TERAKHIR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa IX – Rabu, 7 Juni 2017)

 

Kemudian datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang berpendapat bahwa tidak ada kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya, “Guru, Musa menuliskan hal ini untuk kita: Jika seorang, yang mempunyai saudara laki-laki, mati dengan meninggalkan seorang istri tetapi tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan istrinya itju dan memberi keturunan bagi saudaranya itu. Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan dan mati dengan tidak meninggalkan keturunan. Lalu yang kedua juga mengawini dia dan mati tanpa meninggalkan keturunan. Demikian juga dengan yang ketiga. Begitulah seterusnya, ketujuhnya tidak meninggalkan keturunan. Akhirnya, sesudah mereka semua, perempuan  itu pun mati. Pada hari kebangkitan, ketika mereka bangkit, siapakah yang menjadi suami perempuan itu? Sebab ketujuhnya telah beristrikan dia.” Jawab Yesus kepada mereka, “Kamu sesat, justru karena kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah. Sebab bilamana mereka bangkit dari antara orang mati, mereka tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di surga. Juga tentang bangkitnya orang-orang mati, tidakkah kamu  baca dalam kitab Musa, dalam cerita tentang semak duri, bagaimana Allah berfirman kepadanya: Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub? Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup. Kamu benar-benar sesat!” (Mrk 12:18-27) 

Bacaan Pertama: Tob 3:111a,1-17a; Mazmur Tanggapan: Mzm 25:2-9

Apakah anda merupakan jenis pribadi yang membeli sebuah buku cerita dan membaca buku itu mulai dengan bab terakhir? Apakah anda adalah jenis pembaca yang berkata, “Saya tidak pernah membaca seluruh isi sebuah buku apabila saya tidak menyukai akhirnya?” Jika demikian halnya, maka ada orang-orang yang mengkritisi anda untuk hal tersebut, namun bagaimana pun juga anda dapat dikatakan cukup bijak.

Yesus kiranya mengatakan kepada kita masing-masing, “Janganlah membuka buku tentang kehidupanmu sebelum merencanakan akhir buku tersebut.”

Marilah kita perhatikanlah bagaimana Yesus menanggapi cerita dan pertanyaan menjebak dari kaum Saduki yang tidak percaya akan kebangkitan badan itu. Orang-orang Saduki itu seakan mengatakan: “Tuan, kami akan menjebak-Mu. Engkau berbicara mengenai kebangkitan. Oke, namun bagaimana dengan tradisi tua untuk seorang perempuan yang tidak/belum memperoleh anak untuk kawin kembali dengan adik laki-laki dari suaminya bilamana suaminya meninggal dunia?” Ini dikenal sebagai Hukum Levirat! Katakanlah perempuan itu harus kawin dengan tujuh laki-laki bersaudara, maka siapakah suaminya dalam hal kebangkitan?

Yesus seakan menjawab, “Masalahnya dengan kamu semua adalah bahwa kamu tidak memahami akhir buku yang kamu baca. Kamu tidak percaya pada happy-ending dari kehidupan, karena pemikiranmu tentang apa artinya kehidupan itu tidak pernah jernih. Namun Aku menjamin, bahwa apakah kamu memahaminya atau tidak, kebangkitan itu adalah riil. Pada kenyataannya, akhir buku yang penuh kemuliaan itulah yang memberikan arti kepada bagian-bagian lainnya. Tanpa kemenangan itu – kemuliaan kebangkitan – apakah ada kebaikan dalam hal penderitaan sengsara dan kematian? Bukankah bab terakhir merupakan bagian yang paling penting dari cerita kehidupanmu? Bukankah hal itu yang membuat perbedaan bagaimana kamu menghayati hidup dalam cerita bab-bab selebihnya?” Sekian puluh tahun kemudian, Santo Paulus menulis kepada jemaat di Korintus: “Bilamana diberitakan bahwa Kristus dibangkitkan dari antara orang mati, bagaimana mungkin ada di antara kamu yang mengatakan bahwa tidak ada kebangkitan orang mati? Seandainya tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. Andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu” (1Kor 15:12-14).

Marilah kita sadari sepenuhnya, bahwa kita bergabung dengan Yesus Kristus dalam kebangkitan-Nya hanya apabila kita bergabung dengan Yesus dalam segala hal lainnya yang dialami-Nya. Kalau begitu halnya, maka semua penderitaan dan kesedihan dan kesulitan hidup yang kita alami menjadi masuk akal. Tidak hanya itu, semua itu mempunyai makna yang besar-agung, mulia dan berkemenangan. Santo Paulus menulis kepada jemaat di Roma, “Jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya” (Rm 6:5).

Seorang Kristiani yang mengetahui akhir buku tentang kehidupannya dapat hidup berkemenangan bersama Yesus …… mengalahkan Iblis dan roh-roh jahatnya …… dan menjalani hidup sedemikian setiap hari.

DOA: Tuhan Yesus, ingatkanlah aku seringkali tentang apa dan bagaimana gambaran yang ada dalam bab terakhir buku tentang hidupku. Semoga dengan demikian aku dapat merencanakan bagian-bagian lain dari hidupku agar dapat sesuai dengan rencana-Mu atas diriku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 12:18-27), bacalah tulisan yang berjudul “PILIHAN-PILIHAN YANG TANPA BATAS” (bacaan tanggal 7-6-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 BACAAN HARIAN JUNI 2017. 

Cilandak, 5 Juni 2017 [Peringatan S. Bonifasius, Uskup Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

CATATAN KECIL TENTANG HAMBA ALLAH YANG BERNAMA TOBIT

CATATAN KECIL TENTANG HAMBA ALLAH YANG BERNAMA TOBIT

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa IX – Selasa, 6 Juni 2017)

 

Pada malam itu juga aku membasuh diriku, lalu pergi ke pelataran rumah dan tidur di dekat pagar temboknya.  Mukaku tidak tertudung karena panas. Aku tidak tahu bahwa ada burung pipit di tembok tepat di atas diriku. Maka jatuhlah tahi hangat ke dalam mataku. Muncullah bintik-bintik putih. Akupun lalu pergi kepada tabib untuk berobat. Tetapi semakin aku diolesnya dengan obat, semakin buta mataku karena bintik-bintik putih itu, sampai buta sama sekali. Empat tahun lamanya aku tidak dapat melihat. Semua saudaraku merasa sedih karena aku. Dua tahun lamanya aku dipelihara oleh Ahikar sampai ia pindah ke kota Elumais.

Di masa itu isteriku Hana mulai memborong pekerjaan perempuan. Pekerjaan itupun diantarkannya kepada para pemesan dan ia diberi upahnya. Pada suatu hari, yaitu tanggal tujuh bulan Dustrus, diselesaikannya sepotong kain, lalu diantarkannya kepada pemesan. Seluruh upahnya dibayar kepadanya dan juga seekor anak kambing jantan untuk dimakan. Tetapi setibanya di rumahku maka anak kambing itu mengembik. Lalu istriku kupanggil dan berkata:  “Dari mana anak kambing itu?” Apa itu bukan curian? Kembalikanlah kepada pemiliknya! Sebab kita tidak diperbolehkan makan barang curian!” Sahut isteriku: “Kambing itu diberikan kepadaku sebagai tambahan upahku.” Tetapi aku tidak percaya kepadanya. Maka kusuruh kembalikan kepada pemiliknya – Karena perkara itu aku merah padam karena dia! Tetapi isteriku membantah, katanya: “Di mana gerangan kebajikanmu? Di mana amalmu itu? Betul, sudah ketahuan juga gunanya bagimu!” (Tob 2:9-14) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 112:1-2,7-9; Bacaan Injil: Mrk 12:13-17 

Kitab Tobit adalah sebuah cerita singkat mengenai sebuah keluarga saleh yang selamat dari tragedi melalui belas kasih Allah dan intervensi-Nya. Seperti yang akan dilakukan oleh Yesus sekitar 200 tahun kemudian dalam mengajar lewat perumpamaan-perumpamaan, pengarang kitab Tobit mencoba untuk menyampaikan pesannya dalam bentuk sebuah cerita yang mudah diingat. Selagi anda membaca kitab Tobit ini dalam beberapa hari ke depan, peganglah dua pertanyaan dalam pikiran anda: Bagaimana Allah digambarkan dalam kitab itu? Apakah yang terjadi apabila orang-orang menaruh kepercayaan kepada Dia?

Tobit adalah seorang Yahudi yang murah hati dan benar di mata Allah, dan ia hidup dalam pembuangan di Niniwe. Tobit mengambil risiko kehilangan nyawanya sendiri dengan menguburkan sesama Yahudi secara layak. Di tengah hidupnya yang penuh pengabdian kepada sesama itu, Tobit terkena sakit mata yang membutakan. Kelihatannya semua ini sangat tidak adil! Semakin Tobit berupaya keras untuk melayani Allah dan umat-Nya, semakin banyak pula derita yang harus ditanggungnya. Dalam beberapa hal penderitaan Tobit lebih buruk daripada penderitaan Ayub. Tobit menjadi buta selagi dia mempertaruhkan nyawanya dalam melayani Allah.

Akan tetapi, dengan berjalannya cerita kita melihat bahwa Tobit tidak hanya disembuhkan, melainkan diangkat ke tingkat yang lebih tinggi daripada sebelumnya, dan ia melambungkan puji-pujiannya kepada Allah. Apakah pesan hal itu bagi kita? Allah mempunyai kecenderungan untuk menguji dan membentuk umat-Nya menjadi lebih baik, teristimewa para hamba-Nya yang paling dekat. Jadi, selagi Tobit mencapai suatu titik krisis dalam imannya, dan pada awalnya gagal untuk lolos dari ujian-Nya, Allah tetap berada bersama dia dan menarik dirinya lebih dekat kepada-Nya. Perhatikanlah nyanyian pujian Tobit pada akhir kitab Tobit – betapa banyak yang telah dipelajarinya tentang Allah yang baik, sumber segala kebaikan, satu-satunya yang baik! (lihat Tob 13:1-18). Allah memperkenankan banyak pencobaan menimpa para hamba-Nya yang setia. Dalam proses ini, kesabaran dan iman-kepercayaan Tobit diperkuat dan disempurnakan.

Saudari dan Saudara yang dikasihi Kristus, seperti halnya dengan Tobit, kita juga akan mengalami banyak pencobaan. Tidak seorang pun dari kita yang dapat melihat apa yang akan terjadi di masa depan, juga tidak ada seorang pun yang mempunyai jawaban terhadap berbagai kebutuhan kita. Namun kita mempunyai karunia iman. Di tengah saat-saat penuh kegelapan, misalnya kehilangan anggota keluarga yang kita sangat kasihi, iman-kepercayaan yang goyah, ketidakadilan, atau ketidakpastian total – kita tetap dapat berpegang pada kebenaran-kebenaran yang datang dari Allah. Ia sungguh mengasihi kita dan mempunyai sebuah rencana sempurna bagi kita masing-masing. Mukjizat-mukjizat dapat terjadi ketika kita menaruh kepercayaan pada Bapa surgawi – teristimewa pada saat-saat yang paling gelap dalam kehidupan kita.

DOA: Bapa surgawi, Allah Yang Mahabaik, di tengah-tengah penderitaanku, Engkau menunjukkan belas kasih-Mu dan intervensi yang penuh keajaiban. Engkau senantiasa memberkati anak-anak-Mu yang setia dalam mengikuti jejak Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus. Oleh kuat-kuasa Roh Kudus, tolonglah diriku agar dengan teguh berpegang pada kebenaran-Mu dan merangkul hidup yang Kauberikan kepadaku. Terpujilah Allah Tritunggal Mahakudus, Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil  hari ini (Mrk 12:13-17), bacalah tulisan yang berjudul “KEPADA KAISAR DAN KEPADA ALLAH” (bacaan tanggal 6-6-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 BACAAN HARIAN JUNI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 2-6-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 5 Juni 2017 [Peringatan S. Bonifasius, Uskup Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PENGGARAP-PENGGARAP KEBUN ANGGURR

PENGGARAP-PENGGARAP KEBUN ANGGUR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Bonifasius, Uskup Martir – Senin, 5 Juni 2017) 

Lalu Yesus mulai berbicara kepada mereka dalam perumpamaan, “Ada seseorang membuka kebun anggur dan membuat pagar sekelilingnya. Ia menggali lubang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga. Kemudian Ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. Ketika sudah tiba musimnya, ia menyuruh seorang hamba kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima sebagian dari hasil kebun itu dari mereka. Tetapi mereka menangkap hamba itu dan memukulnya, lalu menyuruhnya pergi dengan tangan hampa. Kemudian ia menyuruh lagi seorang hamba lain kepada mereka. Orang ini mereka pukul sampai luka kepalanya dan sangat mereka permalukan. Lalu ia menyuruh seorang lagi seorang hamba lain, dan orang ini mereka bunuh. Demikian juga dengan banyak lagi yang lain, ada yang mereka pukul dan ada yang mereka bunuh. Masih ada satu orang lagi padanya, yakni anaknya yang terkasih. Akhirnya ia menyuruh dia kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani. Tetapi penggarap-penggarap itu berkata seorang kepada yang lain: Inilah ahli waris, mari kita bunuh dia, maka warisan ini menjadi milik kita. Mereka menangkapnya dan membunuhnya, lalu melemparkannya ke luar kebun anggur itu. Sekarang apa yang akan dilakukan oleh tuan kebun anggur itu? Ia akan datang dan membinasakan penggarap-penggarap itu, lalu mempercayakan kebun anggur itu kepada orang-orang lain. Tidak pernahkah kamu membaca nas ini: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi baru penjuru: Hal ini terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita.” Lalu mereka berusaha untuk menangkap Yesus, karena tahu bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya dengan perumpamaan itu. Tetapi mereka takut kepada orang banyak. Mereka membiarkan Dia, lalu mereka pergi. (Mrk 12:1-12) 

Bacaan Pertama: Tob 1:1a,2a,3;2:1b-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 112:1-6

Perumpamaan Yesus  tentang penggarap-penggarap kebun anggur ini ditempatkan pada awal pekan terakhir dari pelayanan-Nya di muka umum. Dalam konteks meningkatnya oposisi yang datang dari pihak pembesar-pembesar keagamaan, perumpamaan ini mengantisipasi drama yang memuncak dari keseluruhan Injil. Penolakan terhadap anak dari pemilik kebun anggur merujuk pada penolakan terhadap Yesus yang  kemudian disusul dengan  kematian-Nya di kayu salib.

Yesus mengambil contoh cerita ini dari sebuah perumpamaan serupa yang terdapat  di Yes 5:1-7, dan para pendengar-Nya pasti tahu hubungan antara keduanya. Bayangkan betapa dengan berlimpah-limpahnya Allah memperhatikan dan memelihara Israel! Apa lagi yang dapat dilakukan-Nya bagi Israel? Mengapa Israel gagal  menghasilkan buah yang dihasrati oleh-Nya? Para imam dan ahli Taurat, malah seluruh penguasa Israel adalah para penggarap yang bertanggung jawab untuk bekerja di kebun anggur. Merekalah yang menolak hamba utusan sang pemilik kebun anggur, yaitu Allah sendiri. Yang terakhir adalah Yohanes Pembaptis dan sekarang, seperti disadari sepenuhnya oleh Yesus, mereka akan menolak dan membunuh-Nya, Anak-Nya yang terkasih.

Para pembaca Injil Markus akan melihat diri mereka sendiri sebagai para penggarap yang bekerja di kebun anggur, yakni Gereja yang diperhatikan dan dipelihara oleh Allah sendiri dengan begitu berkelimpahan. Sang pemilik sedang pergi ke tempat jauh, Yesus sudah naik ke surga, namun lewat Gereja-Nya, Dia telah membuat pagar untuk melindungi dan menyegarkan kita. Ia memperhatikan kita dan hadir bagi kita dalam Sabda dan Sakramen, dan Ia minta kepada kita agar berbuah untuk Dia dan memberi kepada Dia bagian-Nya pada waktu-Nya.

Marilah kita bersyukur untuk kasih dan perhatian Allah yang tanpa habis-habisnya bagi Gereja-Nya. Kita semua mempunyai beban-beban dan persoalan-persoalan pada waktu yang berbeda-beda, namun bahkan dalam kesulitan kita dapat menemukan tanda-tanda kasih Allah bagi kita. Barangkali pintu yang tertutup bagi kita pada kenyataannya merupakan perlindungan bagi kita tidak mengambil jalan yang akan menyakitkan kita. Barangkali Allah mempunyai sesuatu yang lebih baik bagi kita, namun pada saat ini kita belum mampu melihatnya. Sementara kita belajar melihat tangan-tangan Allah yang bekerja dalam semua hal, kita akan belajar untuk menaruh kepercayaan dalam kasih dan pemeliharaan-Nya bagi kita dalam setiap situasi. Dengan membuka hati kita kepada Yesus, khususnya dalam doa dan melalui Sakramen-sakramen, kita dapat bertumbuh dalam cintakasih kepada-Nya. Setiap hari kita dapat mengatakan kepada Tuhan Yesus, bahwa kita ingin hidup bagi-Nya dan menyenangkan-Nya, dan Dia akan menolong kita. Semoga, pada saat kedatangan-Nya kembali kelak, kita akan didapati sebagai para penggarap kebun anggur yang baik!

DOA: Tuhan Yesus, aku percaya bahwa Dikau adalah Putera Allah yang terkasih, dan aku mempersembahkan hidupku kepada-Mu. Tolonglah aku untuk tetap setia kepada-Mu dan menghasilkan buah yang menyenangkan Allah. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 12:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “PENGGARAP KEBUN ANGGUR YANG JAHAT” (bacaan tanggal 5-6-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 BACAAN HARIAN JUNI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 30-5-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 2 Juni 2017 [Peringatan S. Feliks dr Nikosia, Bruder] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MENYAMBUT KEDATANGAN ROH KUDUS SECARA SEDERHANA DAN PENUH KERENDAHAN HATI

MENYAMBUT KEDATANGAN ROH KUDUS SECARA SEDERHANA DAN PENUH KERENDAHAN HATI   

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI RAYA PENTAKOSTA – Minggu, 4 Juni 2017)

Ketika tiba hari Pentakosta, mereka semua berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba terdengarlah bunyi dari langit seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti lidah api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Lalu mereka semua dipenuhi dengan Roh Kudus dan mulai berbicara dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk dikatakan. Waktu itu di Yerusalem tinggal orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit. Ketika terdengar bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka terkejut karena mereka masing-masing mendengar orang-orang percaya itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri. Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata, “Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea? Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berbicara dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa tempat kita dilahirkan; kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, Prigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma, baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berbicara dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah.” (Kis 2:1-11) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 104:1,24,29-31,34; Bacaan Kedua: 1 Kor 12:3-7,12-13; Bacaan Injil: Yoh 20:19-23 

“Datanglah, ya Roh Kudus!”  Seringkah anda pernah mendengar doa ini? Barangkali begitu seringnya, sehingga anda tidak merasakan lagi bahwa anda sesungguhnya sedang berbicara kepada Allah. Akan tetapi, pada hari raya yang agung ini, marilah kita berani untuk menemukan kembali betapa beraninya doa permohonan ini!

Apakah ada yang lebih layak dan pantas pada Hari Raya Pentakosta ini daripada menyambut kedatangan Roh Kudus secara sederhana dan penuh kerendahan hati seperti yang dilakukan oleh para rasul sekitar 2.000 tahun lalu di Yerusalem? Apakah ada cara yang lebih layak dan pantas untuk berdoa pada hari ini daripada secara sederhana mengulang-ulang doa singkat tadi: “Datanglah, ya Roh Kudus!”, percaya bahwa Allah mendengar dan menjawab doa kita itu. Walaupun kelihatannya “tolol” dan repetitif, “don’t worry, be happy!” Permohonan-permohonan sederhana seperti ini dapat menjadi sangat penuh kuat-kuasa. Teruslah berdoa, “Datanglah, ya Roh Kudus”, dan lihatlah pemikiran-pemikiran, imaji-imaji, atau emosi-emosi apa yang mengalir ke dalam hati anda. Kita dapat merasa yakin bahwa apabila semua itu adalah pemikiran-pemikiran yang baik dan menyangkut hal-hal yang Ilahi, maka Roh Kudus berada di belakangnya.

Pendekatan Yesus terhadap anak-anak sangatlah sederhana. Dia bersabda: “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan halang-halangi mereka, sebab orang-orang seperti inilah yang memiliki Kerajaan Allah. Siapa saja yang tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.” Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan-Nya di atas mereka Ia memberkati mereka (Mrk 10:14-16). Semua itu jauh dari komplikasi, namun sungguh menyentuh hati – baik bagi anak-anak itu dan para orangtua mereka. Demikian pula, ketika kita berdoa dengan kata-kata sederhana, “Datanglah, ya Roh Kudus!”, kita sebenarnya berperilaku seperti anak-anak kecil. Kita percaya kepada Allah, menaruh pengharapan dalam diri-Nya, dan menghadap hadirat-Nya untuk berkat-berkat-Nya.

Pencurahan Roh seperti apa yang akan Allah berikan kepada kita (anda dan saya) apabila kita menyambut Roh Kudus secara sederhana? Dia dapat memenuhi diri kita dengan pemahaman mendalam tentang kasih Allah sehingga kita mengenal serta mengalami bahwa Dia sungguh nyata dalam suatu cara yang baru. Dia dapat menunjukkan kepada kita belas kasih yang begitu mendalam sehingga kita pun sampai bertelut penuh syukur dan bersembah sujud kepada-Nya. Roh Kudus yang sama dapat membawa kita kepada air mata pertobatan, atau menggerakkan kita untuk menari penuh sukacita dan kebebasan. Roh Kudus juga dapat melakukan sesuatu yang samasekali tidak diharap-harapkan – namun tetap indah-menakjubkan. Oleh karena itu, marilah kita masing-masing pada hari ini datang menghadap Allah sebagai seorang anak kecil: murni, sederhana, dan terbuka. Kita tidak tahu apa yang telah dipersiapkan oleh Allah untuk dilakukan-Nya bagi anak-anak-Nya pada hari yang penuh dengan rahmat dan kuasa surgawi?

DOA: Datanglah, ya Roh Kudus!

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 20:19-23), bacalah tulisan yang berjudul “ROH KUDUS” (bacaan tanggal 4-6-17) dalam situs/blog SANG SABDA  http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 BACAAN HARIAN JUNI 2017. 

(Tulisan ini  adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 15-5-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 2 Juni 2017 [Peringatan S. Feliks dr Nikosia, Bruder] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS