SUPAYA BAPA DIMULIAKAN DI DALAM ANAK

SUPAYA BAPA DIMULIAKAN DI DALAM ANAK

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Paskah – Sabtu, 23 April 2016)

Keluarga Fransiskan: Peringatan B. Egidius dr Assisi, Biarawan

JesusLastSupper-01

“Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.” Kata Filipus kepada-Nya, “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.” Kata Yesus kepadanya, “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Siapa saja yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. Tidak percayakah engkau bahwa aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang tinggal di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya.

Percayalah kepada-Ku bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa; dan apa pun yang kamu minta dalam nama-Ku, aku akan melakukannya, supaya Bapa dimuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya” (Yoh 14:7-14).  

Bacaan Pertama: Kis 13:44-52; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4

“Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu” (Yoh 14:12).

Ini adalah sebuah janji yang luarbiasa mengejutkan! Tidakkah hati kita merasa sungguh tersentuh manakala kita merenungkan dengan mendalam bahwa Bapa surgawi sedemikian mengasihi kita, sehingga Dia mau hidup dalam diri kita dan berkarya lewat diri kita. Inilah pemberian gratis, suatu karunia …… suatu anugerah bagi siapa saja yang percaya.

Yesus menyadari bahwa wafat dan kebangkitan-Nya akan memberikan kepada para rasul/murid akses-penuh kepada  Bapa surgawi, yang memegang segenap ciptaan dalam tangan-Nya. Sekarang, Yesus menginginkan agar para rasul/murid mengetahui “rencana besar” yang tersedia bagi anak-anak Allah, dan peranan yang dapat dimainkan oleh orang-orang sementara mereka membuka hati bagi Roh Kudus.

Para rasul/murid yang telah hidup bersama Yesus, berjalan ke mana-mana bersama dengan-Nya dan belajar dari Dia, menyaksikan begitu banyak penyembuhan fisik yang telah dibuat oleh-Nya, mengusir roh-roh jahat yang tak terbilang banyaknya dari orang-orang yang disentuh oleh-Nya. Yesus bahkan membangkitkan orang mati dan kembali hidup. Dia juga sangat mengasihi orang-orang yang dijumpai-Nya. Namun Yesus, Putera Allah terus-menerus menekankan, “Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diriku sendiri, tetapi Bapa, yang tinggal di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya” (Yoh 14:10).

Janji Yesus bahwa Dia akan membawa kita kepada Bapa tidaklah bertumpu pada kebenaran perilaku manusia, melainkan bertumpu pada kuasa dan kasih Allah yang tinggal dalam diri kita dan yang mengubah hati kita. Apa arti ini semua untuk mereka yang percaya? Bapa surgawi menginginkan kita untuk memiliki otoritas dan kuasa seperti yang dimiliki Yesus!  Dia telah membuatnya tersedia bagi kita melalui wafat dan kebangkitan Yesus dan Roh Kudus yang berdiam dalam diri kita masing-masing. Dia hanya minta agar kita meninggalkan dosa dan merangkul warisan kita dalam Kristus.

Selagi kita memakai waktu kita untuk berada bersama Yesus, hati kita akan dibuat berkobar-kobar untuk membantu orang-orang lain agar mengenal Dia juga. Kita dapat menjadi saksi atas penyembuhan oleh Allah atas sakit-penyakit fisik dan juga sakit-penyakit emosional-psikis, apabila kita mengangkat hati kita dalam doa. Dengan penuh kepercayaan kita dapat menghaturkan permohonan kepada Bapa untuk membebaskan umat-Nya dari berbagai macam keterikatan dan dosa. Kasih Yesus dalam hati kita dapat menyingkirkan segala penyakit atau penderitaan lainnya yang menimpa diri kita.

Saudari-Saudaraku yang terkasih, pekerjaan Bapa yang dapat dan akan dilakukan-Nya sebenarnya tanpa-akhir, apabila kita datang kepada-Nya dengan rendah-hati dan rasa percaya tanpa reserve.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih untuk belas kasih-Mu yang lemah lembut. Kami merasa sangat dihargai dengan rencana-Mu untuk berkarya melalui diri kami. Tuhan Yesus, ajarlah kami bagaimana mendengarkan Bapa surgawi seperti yang Engkau lakukan, dan taat kepada dorongan-dorongan-Nya. Roh Kudus, semoga sungai kehidupan-Mu mengalir dengan bebas di tengah-tengah umat-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 14:7-14), bacalah tulisan yang berjudul “BERDOA DALAM NAMA YESUS” (bacaan tanggal 23-4-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-04 BACAAN HARIAN APRIL 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 2-5-15 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 21 April 2016 [Peringatan S. Anselmus, Uskup-Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS ADALAH JALAN KEPADA BAPA SURGAWI

YESUS ADALAH JALAN KEPADA BAPA SURGAWI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Paskah – Jumat, 22 April 2016)

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

“Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Apabila aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada.

Kemana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ.” Kata Tomas kepada-Nya, “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?” Kata Yesus kepadanya, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yoh 14:1-6) 

Bacaan Pertama: Kis 13:26-33; Mazmur Tanggapan: Mzm 2:6-11

Para rasul semakin gelisah. Yesus berbicara tentang kepergian-Nya ke sebuah tempat – entah di mana – dan mereka tidak dapat mengikuti-Nya. Kemudian Yesus memandang wajah-wajah penuh kecemasan para rasul-Nya di sekeliling-Nya. Mereka telah hidup begitu dekat dengan diri-Nya untuk tiga tahun lamanya. Yesus berkata untuk meyakinkan mereka: “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku”  (Yoh 14:1).

Kemudian Yesus berbicara kepada para rasul tentang rumah Bapa-Nya dan tentang rencana-Nya untuk datang kembali dan membawa mereka pulang ke rumah Bapa bersama-Nya (lihat Yoh 14:2-3). Ketika Yesus mengatakan kepada para rasul bahwa mereka tahu ke mana Dia akan pergi (Yoh 14:4), maka Tomas sudah tidak tahan lagi mendengar pernyataan tersebut. Dengan nada kesal, Tomas melayangkan protesnya kepada Yesus: “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi, jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?” (Yoh 14:5).

GETSEMANI - 30Tidak mengherankanlah apabila Tomas tidak memahami secara penuh pokok permasalahannya. Drama yang akan berlangsung di atas panggung sejarah manusia adalah sesuatu yang samasekali baru. Yesus baru saja mau menunjukkan tidak hanya ke mana Dia akan pergi, melainkan juga ke mana Dia akan memimpin setiap orang yang mau percaya kepada-Nya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku”  (Yoh 14:6).

Dimulai dengan malam yang gelap dan dingin di taman Getsemani, dan diakhiri dengan kematian-Nya yang  mengenaskan di kayu salib, sesungguhnya Yesus menjadi perintis dari sebuah “jalan” yang keseluruhannya baru. Yesus tidak hanya membuka jalan kepada Bapa surgawi, Dia juga menyatakan jalan untuk mana hidup kita dimaksudkan – JALAN SALIB! Yesus memungkinkan kita semua menggemakan kata-kata Santo Paulus dengan penuh keyakinan dan sukacita: “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Hidup yang sekarang aku hidupi secara jasmani adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku”  (Gal 2:19-20). (Catatan: Tidak sedikit pengkhotbah/penginjil yang mengutip ayat 2:20 dari “Surat Santo Paulus kepada jemaat di Galatia, namun tidak jarang mereka lupa sepotong kalimat dari ayat 19 yang berbunyi: “Aku telah disalibkan dengan Kristus”). Ya, Kristus hidup dalam diri kita! “Manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa” (Rm 6:6).

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus. Setelah mati terhadap diri kita yang lama dan penuh dosa melalui pembaptisan, sekarang kita dapat memperkenankan Roh Kudus memenuhi diri kita dengan hidup Kristus sendiri. Roh Kudus itu juga memberdayakan kita agar dapat mengasihi musuh-musuh kita, mengampuni tanpa batas orang-orang yang telah mendzolimi diri kita, dan menjadikan diri kita menjadi bejana-bejana rahmat-Nya di tengah dunia ini. Karena “Jalan Salib”  adalah jalan kepada Bapa surgawi, maka kita masing-masing dapat melangkah di jalan ini dengan penuh keyakinan dan sukacita.

DOA: Tuhan Yesus, aku sungguh ingin mengalami kemulian dalam salib-Mu pada hari ini. Semoga segala sesuatu yang aku pikirkan, lakukan dan katakana mencerminkan hidup baru yang telah Engkau menangkan bagiku. Terima kasih, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 14:1-6), bacalah tulisan yang berjudul “TIDAK ADA SEORANG PUN YANG DATANG KEPADA BAPA, KALAU TIDAK MELALUI AKU” (bacaan tanggal 22-4-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: BACAAN HARIAN APRIL 2016. 

Cilandak, 19 April 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TIDAKLAH LEBIH TINGGI DARIPADA TUANNYA

TIDAKLAH LEBIH TINGGI DARIPADA TUANNYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Paskah – Kamis, 21 April 2016)

washing_of_the_feet_jesus

Sesungguhnya aku berkata kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya, ataupun seorang utusan daripada orang yang mengurusnya. Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya.

Bukan tentang kamu semua Aku berkata. Aku tahu, siapa yang telah Kupilih. Tetapi haruslah digenapi nas ini: Orang yang makan roti-Ku, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku. Aku mengatakannya kepadamu sekarang juga sebelum hal itu terjadi, supaya jika hal itu terjadi, kamu percaya bahwa Akulah Dia. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan siapa saja yang menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku.” (Yoh 13:16-20) 

Bacaan Pertama: Kis 13:13-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 89L2-3,21-22,25,27

“Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya, atau seorang utusan daripada orang yang mengutusnya. Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya” (Yoh 13:16-17).

Manusia tidaklah lebih besar daripada Penciptanya. Bayangkan betapa penuh kebahagiaan seisi dunia, apabila para penghuninya memahami dan menghayati hal ini dalam hati mereka.

Sayang sekali, si “hamba” sudah menilai dirinya sebagai seorang tuan – maka segala sesuatunya mulai berjalan ke arah yang salah. Misalnya, banyak orang yang menganut paham atheisme telah mengalami betapa hidup mereka dapat menjadi begitu salah. Hukum-hukum yang berlaku dalam atheisme telah menjadi jubah penutup bagi berbagai pengkhianatan terhadap martabat dan kebebasan manusia. Tirani adalah akibat dari para hamba yang berpura-pura menjadi tuan. Para hamba yang melupakan kenyataan bahwa tidak ada seorang hamba yang lebih tinggi dari tuan yang mengutusnya.

A BEGGAR - 005Dalam negara-negara yang mengklaim diri sebagai negara-negara demokratis seperti Indonesia, tidak jarang hukum yang bertujuan keadilan di mana diterima prinsip equality before the law justru diselewengkan oleh para petinggi/pejabat yang tidak adil, sehingga penegakan hukum menjadi masalah besar dan rumit: “hukum hanya tajam ke bawah dan tumpul ke atas!” Seorang filsuf dan pencinta lingkungan dari negara Inggris, Edward [Rene David] Goldsmith [1928-2009] pernah mengatakan: “Laws grind the poor, and rich men rule the law.” Para hamba berlagak menjadi tuan-tuan, mereka memandang hukum yang benar sebagai musuh dari kebebasan mereka yang palsu, mereka mengabaikan dan mencemooh keadilan yang sesungguhnya berasal dari Allah demi ketamakan mereka akan uang dan rasa lapar serta haus mereka akan kenikmatan duniawi.

Akan tetapi tatanan ilahi tidak dapat diabaikan tanpa kejatuhan yang tidak dapat dihindari. Manakala hukum Allah tidak lagi terukir dengan mendalam dalam hati mereka, maka orang-orang atau bangsa-bangsa mengalami kemerosotan secara gradual dalam hal tatanan yang baik, keadilan, kedamaian, dan kebebasan sejati.

Bagi seorang hamba tidak ada pengharapan selain dalam hukum sang Tuan. Manusia tidak dapat menjadi Allah. Gambaran yang mengerikan dari jutaan orang korban kekejaman Nazi-Jerman pada Perang Dunia II demi kemurnian ras tertentu, kekejaman ISIS yang memperagakan penyembelihan manusia dalam nama Allah Yang Mahabesar dan penuh belas kasih, perbudakan dan perdagangan manusia yang masih ada pada abad 21 ini, teriakan orang-orang miskin di dunia akan keadilan yang semakin tidak terdengar; semua ini seharusnya membangunkan kita semua agar sungguh-sungguh menaruh hormat pada hukum Allah dan mematuhinya. Sudahkah kita dibangunkan?

Semua kehidupan manusia diresapi dengan suatu kebutuhan mendalam akan hukum ilahi. Banyak negara/bangsa telah membawa kekacauan besar atas diri mereka sendiri karena mengabaikan sabda Allah. Demikian halnya dengan manusia sebagai individu-individu. Jarang ada manusia yang tidak mengalami biaya dari sikap dan perilaku mereka yang melawan hukum Allah.

DOA: Bapa surgawi, selagi kami meninjau kembali sebab-sebab dari ketidakbahagiaan kami, kegelisahan kami, setiap kegagalan yang ingin kami lupakan dan tidak mau mengulanginya lagi, oleh Roh Kudus Engkau mengingatkan kami bahwa kesetiaan kami terhadap hukum-hukum-Mu akan menyelamatkan kami. Dari setiap kekalahan yang kami derita, akhirnya kami disadarkan bahwa perintah-perintah-Mu sesungguhnya dapat menyelamatkan kami. Terima kasih, ya Bapa yang baik, untuk kasih dan belas kasih (kerahiman)-Mu terhadap kami.Terima kasih untuk Yesus Kristus yang Kaukaruniakan kepada kami. Terima kasih untuk segalanya yang telah Kauanugerahkan kepada kami. Terpujilah nama-Mu selalu, Allah Tritunggal Mahakudus, Bapa, Putera dan Roh Kudus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 13:16-20), bacalah tulisan yang berjudul “YANG DIUTUS DAN YANG MENGUTUS” (bacaan tanggal 21-4-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-04 BACAAN HARIAN APRIL 2016.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 30-4-15 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 19 April 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SABDA (FIRMAN) YESUS YANG MENGHAKIMI

SABDA (FIRMAN) YESUS YANG MENGHAKIMI  

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Paskah – Rabu, 20 April 2016)

yesus-4

Lalu Yesus berseru, “Siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia bukan percaya kepada-Ku, tetapi kepada Dia, yang telah mengutus Aku; dan siapa saja yang melihat Aku, ia melihat Dia, yang telah mengutus Aku. Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku jangan tinggal di dalam kegelapan. Jikalau seseorang mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, aku tidak menghakiminya, sebab Aku datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya. Siapa saja yang menolak Aku, dan tidak menerima perkataan-Ku, ia sudah ada hakimnya, yaitu firman yang telah Kukatakan, itulah yang akan menghakiminya pada akhir zaman. Sebab Aku berkata-kata bukan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang mengutus Aku, Dialah yang memerintahkan Aku untuk mengatakan apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan. Aku tahu bahwa perintah-Nya itu adalah hidup yang kekal. Karena itu, apa yang Aku katakan, Aku sampaikan sebagaimana difirmankan oleh Bapa kepada-Ku.” (Yoh 12:44-50)

Bacaan Pertama: Kis 12:24-13:5a;  Mazmur Tanggapan: Mzm  67:2-3,5,6,8

Dalam bacaan Injil hari ini Yesus mengatakan kepada kita bahwa Dia diutus ke dunia untuk menyatakan Allah Bapa kepada kita, sehingga dengan demikian kita dapat berbicara kepada-Nya dan berbicara tentang Dia sebagai seorang Pribadi yang sungguh kita kenal: “Siapa saja yang melihat Aku, ia melihat Dia, yang telah mengutus Aku. Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku jangan tinggal di dalam kegelapan”  (Yoh 12:45). Sebenarnya dalam bacaan ini Yohanes Penginjil menyajikan sebuah ikhtisar atau ringkasan dari ajaran Yesus sebelum dia mulai dengan narasi sengsara Yesus, kematian-Nya dan kebangkitan-Nya. Ikhtisar itu mencakup: (1) persatuan antara Bapa dan Putera (Yoh 12:44-45); (2) Yesus sebagai terang dunia, yang datang untuk menyelamatkan dunia, bukan untuk menghakiminya (Yoh 12:47);  (3) pesan bahwa kata-kata yang diucapkan oleh Yesus akan menjadi hakim di akhir zaman (Yoh 12:48); dan (4) Identifikasi kata-kata Yesus dengan firman Bapa dan kehidupan kekal yang mengalir dari perintah Bapa (Yoh 12:49-50).

Cima_da_Conegliano,_God_the_FatherSecara konsisten Yohanes Penginjil mengulang-ulang semua tema tersebut sepanjang duabelas bab Injilnya karena dia sungguh penuh semangat untuk mengatakan kepada kita siapa sebenarnya Yesus itu, agar dengan mengenal Yesus kita pun dapat mengenal Bapa. Dengan mengenal Bapa, kita akan mengenal terang dan kehidupan. Itulah sebabnya mengapa Yesus menyerukan pesan ini: “Siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia bukan percaya kepada-Ku, tetapi kepada Dia, yang telah mengutus Aku” (Yoh 12:44). Kata-kata ini mengundang kita “memeriksa” diri kita sendiri untuk melihat apakah kita bertumbuh dalam pemahaman dan penerimaan kita akan hidup dan ajaran Yesus. Apakah kita sungguh melihat Dia sebagai terang dunia yang datang untuk menyelamatkan kita? (Yoh 12:46,47). Apakah kita mengakui bahwa kata-kata-Nya akan menghakimi diri kita? (Yoh 12:48). Apakah kita mengenali bahwa kata-kata-Nya adalah sama dengan kata-kata Bapa dan perintah-perintah Bapa merupakan sumber dari kehidupan kekal? (Yoh 12:49-50). Untuk tujuan inilah Allah Bapa telah mengutus Putera-Nya yang tunggal, Yesus. Itulah sebabnya mengapa Yesus berkata: “… Aku berkata-kata bukan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang mengutus Aku, Dialah yang memerintahkan Aku untuk mengatakan apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan” (Yoh 12:49).

Sementara kita (anda dan saya) menerima, merangkul dan menghayati kebenaran-kebenaran yang disebutkan dalam hidup kita, maka kehidupan yang dimaksudkan Allah bagi kita (dan semua orang) dapat menjadi hidup dalam diri kita. Apabila kita sungguh menginginkan hidup ini, kita harus minta kepada Roh Kudus agar menolong kita memahami dan menerima Yesus. Karena kasih yang mengalir dari hati-Nya, Yesus mengundang kita untuk datang kepada-Nya. Apabila kita menerima tawaran-Nya untuk meminum air hidup, maka Yesus akan bekerja di dalam diri kita sebagaimana yang terjadi dalam kehidupan perempuan Samaria (Yoh 4:1-42). Jika kita harus berbicara kepada Allah Bapa, sang Maha Pencipta, dalam doa-doa kita, maka kita harus mengenal Dia, dan juga mengetahui relasi kita dengan diri-Nya. Yesus akan menyatakan hal ini kepada kita. Cukup seringkah kita berterima kasih penuh syukur kepada Yesus untuk pernyataan (pewahyuan) yang indah ini?

DOA: Tuhan Yesus, Putera tunggal Bapa, ajarlah kami agar dapat berdoa dengan benar. Tolonglah kami agar dapat memahami dengan jelas siapakah diri kami, dan tolonglah kami untuk memahami, sebagai manusia dengan segala keterbatasannya, siapakah Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 12:44-50), bacalah tulisan yang berjudul “IA DATANG SEBAGAI TERANG” (bacaan tanggal 20-4-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.worpress.com; kategori 16-04 BACAAN HARIAN APRIL 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 29-4-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 18 April 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

 

SEORANG PUN TIDAK AKAN MEREBUT MEREKA DARI TANGAN-KU

SEORANG PUN TIDAK AKAN MEREBUT MEREKA DARI TANGAN-KU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Paskah – Selasa, 19 April 2016)

Shepherdt5 dari Dian

Tidak lama kemudian tibalah hari raya Penahbisan Bait Allah di Yerusalem; ketika itu musim dingin. Yesus berjalan-jalan di Bait Allah, di serambi Salomo, Lalu orang-orang Yahudi mengelilingi Dia dan berkata kepada-Nya, “Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami dalam kebimbangan? Jikalau Engkau Mesias, katakanlah terus terang kepada kami.” Yesus menjawab mereka, “Aku telah mengatakannya kepada kamu, tetapi kamu tidak percaya; pekerjaan-pekerjaan yang Kulakakukan dalam nama Bapa-Ku, itulah yang memberi kesaksian tentang Aku, tetapi kamu tidak percaya, karena kamu tidak termasuk domba-domba-Ku. Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar daripada siapa pun, dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa. Aku dan Bapa adalah satu.” (Yoh 10:22-30)

Bacaan Pertama: Kis 11:19-26;  Mazmur Tanggapan: Mzm  87:1-7

“… Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku” (Yoh 10:28).

Bayangkanlah begitu terjamin keamanan kita sehingga tidak ada apa atau siapa pun yang mampu untuk menggoncangkan kita, apakah itu bencana alam, wabah penyakit, berbagai krisis, penderitaan, atau bahkan kematian dll. Rasanya sulit untuk dipercaya – too good to be true – namun ini memang janji Yesus kepada kita sebagai domba-domba-Nya. Kita mungkin telah sangat sering mendengar pernyataan-pernyataan seperti ini, sehingga kita tidak memandangnya terlalu serius. Akan tetapi, baiklah kita ingat bahwa implikasi dari sabda Yesus ini menyentuh tidak saja isu-isu kecil, melainan juga isu-isu besar dalam kehidupan kita.

Dengan pernyataan sederhana ini, Yesus mengungkapkan kebesaran Allah. Yesus menunjukkan bahwa Bapa surgawi jauh lebih besar dan agung dari apa saja dan siapa saja. Dia memiliki kuat-kuasa yang tak tertandingi oleh apa saja atau siapa saja. Bencana alam yang paling dahsyat, pergolakan/kegaduhan dalam masyarakat yang disebabkan kondisi “poleksosbud” yang sangat carut marut, wabah penyakit yang sangat serius – semua itu tidak dapat menggoncangkan apalagi mengalahkan kuat-kuasa Allah, karena Dia Mahakuasa, Mahaperkasa. Bapa surgawi juga adalah Allah Yang Mahatahu. Tidak ada yang luput dari pengamatan-Nya yang penuh kasih. Ia ada di mana-mana. Walau pun kita merasakan kesendirian yang mencekam (sunyi sepi sendiri), Dia tidak pernah meninggalkan kita. Masalah kita yang bagaimana pun beratnya senantiasa dapat dipecahkan-Nya. Memang Allah yang kita sembah adalah Allah Yang Mahalain!

SALIB YANG DITINGGIKANYesus Kristus – Gembala kita yang baik – telah memberikan kepada kita hidup kekal melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Dia telah menempatkan kita dalam suatu posisi yang indah dan menakjubkan – dalam tangan-tangan-Nya, dan tidak akan dipindahkan. Realitas dari apa yang dilakukan Yesus di atas kayu salib tidak pernah boleh dianggap remeh. Iblis tentu selalu ingin meyakinkan kita semua bahwa penyaliban Yesus di bukit Kalvari hanyalah merupakan suatu peristiwa simbolis yang tidak relevan dalam hal perjuangan hidup kita sehari-hari dan tentunya tidak mampu mempunyai efek terhadap berbagai situasi kesulitan hidup di mana kita mengalami rasa khawatir, takut dll.

Yesus mengatakan kepada kita bahwa Dia memberikan hidup kekal kepada kita – suatu hidup yang tidak lagi terikat oleh dosa, tidak lagi di bawah dominasi dusta Iblis, tidak lagi subjek dari ketakutan. Melalui pertobatan dan iman-kepercayaan kepada Kristus, kita dapat mengatasi setiap godaan, ketakutan, kekhawatiran yang muncul.

Tentu saja posisi kita dalam tangan-tangan Yesus dapat bergeser kalau kita tidak membuat keputusan-keputusan yang membuat kita senantiasa dekat dengan Dia. Setiap hari, kita harus memohon kepada Yesus untuk meyakinkan kita secara lebih mendalam tentang pengampunan-Nya, kasih-Nya, dan kuat-kuasa-Nya untuk mengalahkan musuh-musuh kita, yaitu Iblis (dan roh-roh jahat pengikutnya) yang senantiasa berniat menjatuhkan kita ke dalam jurang dosa (lihat 1Ptr 5:8-9). Selagi kita melakukan semua itu, maka rasa takut kita, godaan-godaan, dan rasa bersalah kita pun akan menghilang.

DOA: Terpujilah Engkau, ya Tuhan Yesus karena Engkau adalah Gembala yang baik bagi kami domba-domba-Mu. Melalui kematian dan kebangkitan-Mu, kami memperoleh hidup kekal dan diperdamaikan dengan Bapa surgawi. Engkau juga berjanji bahwa tidak ada seorang pun yang dapat merenggut kami dari tangan-tangan kasih-Mu. Terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu, ya Yesus, Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 11:19-26), bacalah tulisan-tulisan yang berjudul “MENJADI KRISTIANI” (bacaan tanggal 19-4-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-04 BACAAN HARIAN APRIL 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 28-4-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 17 April 2016 [HARI MINGGU PASKAH IV – HARI MINGGU PANGGILAN] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MENGENAL DOMBA-DOMBA-NYA, DAN DOMBA-DOMBA-NYA MENGENAL DIA

YESUS MENGENAL DOMBA-DOMBA-NYA, DAN DOMBA-DOMBA-NYA MENGENAL DIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Paskah – Senin, 18 April 2016

ba4b378b9ce2a1cbb70310288dbeee59

“Sesungguhnya aku berkata kepadamu: Siapa yang masuk ke dalam kandang domba tanpa melalui pintu, tetapi dengan memanjat dari tempat lain, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok; tetapi siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba. Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar. Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya. Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka akan lari dari orang itu, karena suara orang-orang asing tidak mereka kenal.”

Yesus mengatakan kiasan ini kepada mereka, tetapi mereka tidak mengerti apa maksudnya Ia berkata demikian kepada mereka.

Karena itu Yesus berkata lagi, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, Akulah pintu bagi domba-domba itu. Semua orang yang datang sebelum Aku, adalah pencuri dan perampok, dan domba-domba itu tidak mendengarkan mereka. Akulah pintu; siapa saja yang masuk melalui Aku, ia akan diselamatkan dan Ia akan masuk dan keluar serta menemukan padang rumput. Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, mempunyainya dengan berlimpah-limpah.  (Yoh 10:1-10)

Bacaan Pertama: Kis 11:1-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 42:2-3;43:3-4

Para bapak bangsa Israel hidup dalam suatu masyarakat yang belum menetap, melainkan sebagai bangsa yang masih hidup berpindah-pindah sebagai pengembara (Ul 26:5), … mereka belum menetap (sedenter) di satu tempat. Habel digambarkan sebagai seorang gembala kambing domba (Kej 4:2). Dengan demikian metafora tentang gembala yang memimpin kawanan dombanya mencerminkan dengan sangat jelas dua aspek otoritas yang biasanya berbeda satu sama lain: Sang gembala adalah seorang pemimpin dan seorang teman dalam arti companion. Ia adalah seorang yang kuat dan siap membela kawanan kambing dombanya terhadap ancaman binatang-binatang liar, sebagaimana dicontohkan oleh Daud yang menghajar singa maupun beruang yang menyerang (lihat 1Sam 17:34-37). Di sisi lain sang gembala menjalin hubungan penuh kasih sayang dengan kawanan dombanya, dia mengenal hewan-hewan peliharaannya satu per satu, mengetahui kondisi hewan-hewan itu dan menyesuaikan dirinya pada berbagai kebutuhan hewan-hewan tersebut, seperti ditunjukkan oleh Yakub ketika melakukan pertemuan rekonsiliasi dengan Esau, saudaranya: “Tuanku maklum, bahwa anak-anak ini masih kurang kuat, dan bahwa beserta aku ada kambing domba dan lembu sapi yang masih menyusui, jika diburu-buru, satu hari saja, maka seluruh kumpulan binatang itu akan mati  …… dan aku mau dengan hati-hati beringsut maju menurut langkah hewan, yang berjalan di depanku …” (Kej 33:13-14). Otoritas dari seorang gembala didasarkan pada pengabdiannya dan cintanya kepada kawanan hewan yang dipimpinnya.

Jesus_147Dalam Perjanjian Lama YHWH adalah Pemimpin dan Bapa dari kawanan/umat-Nya. Julukan “gembala” relatif jarang digunakan, dengan beberapa kekecualian, misalnya:

  1. Yakub memberkati Efraim dan Manasye dengan kata-kata sebagai berikut: “Nenekku dan ayahku, Abraham dan Ishak, telah hidup di hadapan Allah; Allah itu, sebagai Allah yang telah menjadi gembalaku selama hidupku sampai sekarang …… (Kej 48:15-16).
  2. Atau, ketika Yakub memberkati Yusuf: “… oleh pertolongan Yang Mahakuat pelindung Yakub, oleh sebab gembalanya Gunung Batu Israel, …” (Kej 49:24).

Memang relasi antara Allah dan umat-Nya paling baik digambarkan dengan relasi-relasi antara seorang gembala dan kawanan hewan yang dipimpinnya. Kita memulai ibadat harian kita dengan Mazmur 95 di dalam mana ada ayat-ayat untuk mengajak kita menyembah-Nya: “Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan TUHAN (YHWH) yang menjadikan kita. Sebab Dialah Allah kita, dan kitalah umat gembalaan-Nya dan kawanan domba tuntunan tangan-Nya” (Mzm 95:6-7). Ada juga ayat lain dari Mazmur: “… disuruh-Nya umat-Nya berangkat seperti domba-domba, dipimpin-Nya mereka berangkat seperti domba-domba, dipimpin-Nya mereka seperti kawanan hewan di padang gurun” (Mmz 78:52). Satu mazmur yang telah kita kenal dengan baik adalah Mazmur 23: “TUHAN (YHWH) adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang …” Dalam kitab Nabi Yesaya dapat juga kita kutip satu ayat yang menggambarkan YHWH sebagai gembala: “Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya, induk-induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati” (Yes 40:11).

YHWH-Allah mempercayakan umat-Nya/kawanan-Nya kepada para hamba-Nya sebagai gembala-gembala. Musa dan Harun adalah contoh dari gembala-gembala sedemikian: “Engkau telah menuntun umat-Mu seperti kawanan domba dengan perantaraan Musa dan Harun” (Mzm 77:21). Ketika Musa berdoa kepada YHWH menjelang ajalnya agar Dia dapat mengangkat seorang pemimpin pengganti dirinya, dia berkata: “… supaya umat YHWH jangan hendaknya seperti domba-domba yang tidak mempunyai gembala” (Bil 27:17). Kemudian Musa pun diperintahkan untuk menumpangkan tangan-tangan-Nya atas Yosua (Bil 27:18-20). Tentang Allah dan Daud, sang pemazmur berkata: “Ia membangun tempat kudus-Nya setinggi langit, laksana bumi yang didasarkan-Nya untuk selama-lamanya; dipilih-Nya Daud, hamba-Nya, diambil-Nya dia dari antara kandang-kandang kambing domba; dari tempat domba-domba yang menyusui didatangkan-Nya dia, untuk menggembalakan Yakub, umat-Nya, dan Israel, milik-Nya sendiri. Ia menggembalakan mereka dengan ketulusan hatinya, dan menuntun mereka dengan kecakapan tangannya” (Mzm 78:69-72). YHWH bersabda kepada Daud lewat nabi Natan: “Beginilah firman YHWH semesta alam: Akulah yang mengambil engkau dari padang, ketika menggiring kambing domba, untuk menjadi raja atas umat-Ku Israel” (2Sam 7:8).

Para hakim, para pemimpin umat (Yer 2:8; 25:34-38; Yes 44:28) disebut gembala-gembala. Raja-raja tidak secara langsung disebut sebagai gembala, namun mereka memegang peranan sebagai gembala (1Raj 22:17; Yer 23:1-2). Pada umumnya para gembala yang disebutkan ini tidak setia kepada misi mereka. Mereka mencoba untuk memperkaya diri dengan mengorbankan domba-domba mereka, artinya umat Israel. Salah satu dari kata-kata yang keras barangkali kita dapat temukan dalam kitab nabi Yehezkiel: “Hai anak manusia, bernubuatlah melawan gembala-gembala Israel, bernubuatlah dan katakanlah kepada mereka, kepada gembala-gembala itu: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Celakalah gembala-gembala Israel, yang menggembalakan dirinya sendiri! Bukankah domba-domba yang seharusnya digembalakan oleh gembala-gembala itu? Kamu menikmati susunya, dari bulunya kamu buat pakaian, yang gemuk kamu sembelih, tetapi domba-domba itu sendiri tidak kamu gembalakan. Yang lemah tidak kamu kuatkan, yang sakit tidak kamu obati, yang luka tidak kamu balut, yang tersesat tidak kamu bawa pulang, yang hilang tidak kamu cari, melainkan kamu injak-injak mereka dengan kekerasan dan kekejaman. Domba-domba-Ku berserak, tanpa seorang pun yang memperhatikan atau yang mencarinya” (Yeh 34:2-6; bacalah keseluruhan Yeh 34:1-10). Apakah nubuatan ini terasa asing bagi kita yang hidup di Indonesia tercinta dewasa ini?

GEMBALA YANG BAIK - 133YHWH akan mengumpulkan sisa-sisa kambing domba-Nya dari segala negeri (Yer 23:3; Mi 4:6), mengembalikan Israel ke padang rumputnya (Yer 50:19). YHWH akan mengangkat bagi Israel gembala-gembala yang sesuai dengan hati-Nya, yang akan memberi makan kepada umat dengan pengetahuan dan pengertian (Yer 3:15; 23:4). Pada akhirnya hanya akan ada satu gembala, Daud yang baru: “Aku akan mengangkat satu orang gembala atas mereka, yang akan menggembalakannya, yaitu Daud, hamba-Ku; dia akan menggembalakan mereka, dan menjadi gembalanya” (Yeh 34:23).

Yesus adalah sang Gembala Baik. Ada banyak karakteristik pribadi Yesus dalam Perjanjian Baru yang mengantisipasi alegoria Yohanes. Ia mencari domba yang tidak mempunyai gembala (Mat 9:36) dan dengan demikian mengutus para rasul-Nya. Yesus melihat diri-Nya sendiri sebagai diutus oleh Bapa surgawi ke tengah domba-domba yang hilang dari Israel (Mat 15:24; Luk 19:10). Kawanan Yesus adalah “kawanan kecil” (Luk 12:32) yang tidak boleh takut karena Kerajaan Surga telah dijanjikan kepada mereka. Kawanan-Nya akan mengalami penganiayaan oleh serigala-serigala dari luar (Mat 10:16) maupun dari dalam (Mat 7:15). Kawanan-Nya akan dicerai-beraikan, ketika gembalanya dibunuh (Mat 26:31; lihat Za 13:7). Akan tetapi, Dia akan memimpin kembali jiwa-jiwa yang tercerai-berai, disembuhkan lewat kematian-Nya, sehingga dengan demikian kita dapat kembali kepada sang Gembala Baik dan Pemelihara jiwa kita (1Ptr 2:24-25). Yesus adalah sang “Gembala Agung segala domba” (Ibr 13:20).

Yohanes Penginjil mengumpulkan catatan-catatan yang berserakan dalam berbagai tulisan Perjanjian Baru ke dalam suatu gambaran indah sekali dalam Yohanes 10. Pertama-tama Yesus menceritakan dua buah perumpamaan, yaitu tentang pintu kandang domba Yoh 10:1-3a) dan tentang gembala (Yoh 10:3b-5). Kemudian Yesus menjelaskan secara alegoris dua perumpamaan ini: Yesus adalah pintu (Yoh 10:7-10), Dia adalah gembala (Yoh 10:11-18), tidak ada seorangpun dapat mengambil domba dari tangan Kristus (Yoh 10:26-30). Bacaan Injil hari ini membatasi diri pada sepuluh ayat pertama dari Yoh 10.

Hanya ada satu pintu untuk keluar-masuk domba-domba. Seorang penjaga pintu akan menjaga. Dalam hal ada beberapa gembala, maka mereka akan menjaga secara bergiliran. Di malam hari ada binatang-binatang buas yang mencoba untuk memangsa domba-domba yang ada. Ada pula pencuri-pencuri yang akan mencoba untuk mencuri domba-domba itu. Yesus menyamakan diri-Nya dengan pintu bagi domba-domba itu (Yoh 10:7). Pintu adalah satu-satunya jalan masuk ke tempat kawanan domba. Tidak ada seorangpun gembala yang diperkenankan untuk masuk kalau dia bukan gembala yang sungguh-sungguh. Pencuri-pencuri akan mencoba untuk memanjat dari tempat lain. Banyak pemimpin Israel yang datang sebelum Kristus adalah pencuri-pencuri seperti itu. Mereka tidak mempunyai minat sungguhan perihal keberadaan domba-domba, melainkan hanya memikirkan keuntungan saja. Tuduhan ini juga berlaku bagi para pemuka agama dan pemimpin Yahudi lainnya pada masa Kristus.

Banyak orang Yahudi merasakan adanya perbedaan antara Yesus dan para tua-tua Yahudi tersebut. Yesus berkata, “Domba-domba itu tidak mendengarkan mereka” (Yoh 10:8). Ingatlah kembali orang yang buta sejak lahirnya yang disembuhkan oleh Yesus (Yoh 9), Walaupun orang-orang Farisi mencoba dengan keras untuk membuat orang itu berpihak kepada mereka lewat berbagai tipu-daya dan intimidasi, ancaman dan malah mengusirnya keluar dari komunitas Yahudi, dan menyebutnya sebagai seorang pendosa, orang buta yang telah disembuhkan itu hanya berkata: “Jikalau orang ini (Yesus) tidak datang dari Allah, Ia tidak dapat berbuat apa-apa”  (Yoh 9:33).

gb-27Tidak seorang pun dapat masuk ke kandang domba kecuali melalui pintunya, dan tidak ada seorang pun dapat menjadi gembala kawanan Kristus kalau tidak dipanggil dan diberi wewenang oleh Kristus sendiri. Kristus adalah pintu satu-satunya untuk umat Allah, dan hanya Dia sendirilah yang dapat memanggil seseorang untuk mengurusi kawanan-Nya. Tidak ada hasil pekerjaan baik kita sendiri yang dapat membuat kita mempunyai akses kepada umat Allah. Yesus adalah pintu bagi domba-domba-Nya masuk-keluar kandang. Hanya apabila domba-domba telah masuk kandang maka mereka aman selama malam hari. Di tanah Palestina pada masa itu ada banyak binatang buas yang kesana-kemari mencari makan. Seekor domba yang berjalan sendiri di malam hari akan sangat rentan terhadap serangan predator-predator itu. Di samping itu bagaimana seekor domba ke luar untuk mencari makan di padang yang hijau jika tidak melalui pintu kandang dan mengikuti tuntunan sang gembala.

Banyak pemimpin palsu (abal-abal) menjanjikan segala macam hal kepada masyarakat yang seharusnya dipimpinnya dengan baik: kepuasan, kebahagiaan, … pokoknya yang enak-enak dan nikmat-nikmat. Namun hasilnya seringkali berupa kekecewaan masyarakat karena merasa tertipu. Kita akan menemukan damai-sejahtera hanya dalam diri Yesus Kristus, dalam hikmat dan pemahaman sejati. Kehidupan sejati akan menjadi milik kita hanya apabila melalui Yesus, Tuhan dan Juruselamat kita. Kristus adalah pintu bagi kita, domba-domba-Nya.

Yesus juga mengibaratkan diri-Nya sebagai gembala. Kita melihatnya dalam Bacaan Injil Hari Minggu Paskah IV (Tahun B) kemarin. Perumpamaan singkat dalam Yoh 10:3b-5 di atas mengantisipasi suatu penjelasan alegoris dalam Yoh 10:11-18 pada hari Minggu kemarin tersebut. Pada hari ini, yang harus kita camkan adalah, bahwa Yesus mengenal domba-domba-Nya. Dan domba-domba-Nya mengenal Dia. Ini bukanlah sekadar pengetahuan teoritis, melainkan pengetahuan yang berasal dari cintakasih. Kristus mengenal kita lebih baik daripada kita mengenal diri kita sendiri. Apakah kita  sungguh mengenal Dia?

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku mengenal suara-Mu sehingga aku dapat tetap berada dengan aman di tengah kawanan domba-Mu, yaitu umat-Mu sendiri. Terima kasih penuh syukur  kuhaturkan kepada-Mu untuk kasih-Mu yang senantiasa penuh kesetiaan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 10:1-10), bacalah tulisan-tulisan yang berjudul “IA RELA MATI UNTUK KAWANAN DOMBA-NYA” (bacaan tanggal 18-4-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-04 BACAAN HARIAN APRIL 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 27-4-15 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 14 April 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KESATUAN ANTARA BAPA SURGAWI DAN ANAK-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH IV [TAHUN C] – 17 April 2016)

HARI MINGGU PANGGILAN 

visit7

Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar daripada siapa pun, dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa. Aku dan Bapa adalah satu.” (Yoh 10:27-30)

Bacaan Pertama: Kis 13:14.43-52; Mazmur Tanggapan: Mzm 100:2-3,5; Bacaan Kedua: Why 7:9.14-17 

“Aku dan Bapa adalah satu” (Yoh 10:30). Ini adalah sebuah pernyataan yang bukan main-main dan sangat mendalam! Kita dapat membayangkan bagaimana reaksi yang bermunculan di kalangan para pendengar sabda Yesus ini. Bagaimana tanggapan mereka terhadap kebenaran hakiki ini! Sejumlah orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus yang mengklaim diri-Nya setara dengan Allah (Yoh 10:31; bdk. Yoh 5:18). Di lain pihak barangkali ada juga orang-orang yang begitu terkejut sehingga mereka mulai merenungkan apa yang baru saja dikatakan  dan dilakukan oleh Yesus dalam terang klaim tersebut.

Tidak ada seorang pun dari para pendengar Yesus yang dapat membayangkan untuk berjumpa dengan Allah sendiri secara “muka ketemu muka” (face-to-face). Namun Yesus memegang janji akan terjalinnya relasi yang akan berdampak atas kehidupan mereka selamanya. Dia berkata kepada Filipus murid-Nya: “Siapa saja yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” (Yoh 14:9). Dalam setiap hal yang dikatakan-Nya dan dilakukan-Nya, Yesus menyatakan satu lagi dimensi Allah – Bapa yang ada di surga, Bapa kita semua.

Setiap kali Yesus menyembuhkan penyakit seorang manusia, Dia menyatakan/ mengungkapkan bela-rasa Bapa surgawi (Mat 9:2-8; Mrk 10:46-52; Luk 7:11-15). Yesus mengungkapkan belas-kasih atau kerahiman Bapa surgawi yang tak mengenal batas ketika Dia mengampuni perempuan yang tertangkap basah sedang berzinah (Yoh 8:1-11) and menawarkan air hidup kepada seorang perempuan Samaria (Yoh 4:1-42). Yesus menunjukkan kuat-kuat Allah yang mahadahsyat ketika Dia membuat tenang amukan angin topan yang mengancam dan membuat takut para murid-Nya ketika mereka berada dalam perahu (Mrk 4:36-41). Yesus berada di atas hukum alam, ketika dia berjalan di atas air mendekati perahu yang ditumpangi para murid-Nya dan sedang terombang-ambing oleh gelombang karena angin sakal (Mat 14:25-27). Ia juga melewati tembok kokoh ketika menemui para murid setelah kebangkitan-Nya (Yoh 20:19). Yesus menunjukkan kebenaran Allah ketika Dia membalikkan meja-meja para penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati dalam Bait Allah di Yerusalem (Mrk 11:15-17). Yesus juga senantiasa mengungkapkan hikmat Allah selagi Dia menjawab/menanggapi upaya-upaya para pemimpin agama Yahudi untuk menjebak diri-Nya (Mat 22:23-32; Mrk 12:14-17; Luk 5:20-25).

Dengan kebenaran-kebenaran indah demikian di hadapan kita, kita dapat merasa nyaman. Melalui Yesus, tidak hanya kita dapat mengenal Bapa surgawi secara pribadi, kita dapat menjadi milik-Nya pribadi – sekarang dan selamanya. Marilah sekarang kita mendengarkan janji Yesus berikut ini: “Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar daripada siapa pun, dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa” (Yoh 10:29).

DOA: Bapa surgawi, kami membuka hati kami bagi-Mu. Ajarlah kami apa artinya menjadi anak-anak-Mu, yang dilindungi dan dipelihara serta dirawat oleh Putera-Mu terkasih, sang “Gembala yang Baik”. Tolonglah kami agar senantiasa dekat dengan Yesus karena memang Dialah satu-satunya andalan kami. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 10:27-30), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS ADALAH SANG GEMBALA BAIK” (bacaan tanggal 17-4-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-04 BACAAN HARIAN APRIL 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan berjudul sama untuk bacaan tanggal 21-4-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 13 April 2016  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS