MEMBERIKAN SELURUH KEBERADAAN KITA KEPADA-NYA

MEMBERIKAN SELURUH KEBERADAAN KITA KEPADA-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXIX [Tahun A], 19 Oktober 2014) 

YESUS SANG RABBI DARI NAZARETKemudian pergilah orang-orang Farisi dan membuat rencana bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan. Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama para pendukung Herodes bertanya kepada-Nya, “Guru, kami tahu, Engkau seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata, “Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik? Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu.” Mereka membawa satu dinar kepada-Nya. Lalu Ia bertanya kepada mereka, “Gambar dan tulisan siapakah ini?” Jawab mereka, “Gambar dan tulisan Kaisar.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” (Mat 22:15-21)

Bacaan Pertama: Yes 45:1,4-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 96:1,3-5,7-10; Bacaan Kedua: 1Tes 1:1-5b 

“Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah” (Mat 22:21).

Ketika para murid orang-orang Farisi dan para pendukung raja Herodes melontarkan pertanyaan kepada Yesus tentang “apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak”, Yesus tahu bahwa diri-Nya sedang berada di depan pintu perangkap orang itu. Isu perpajakan memang merupakan sesuatu yang sangat riil bagi rakyat Yahudi pada zaman itu: “Apakah dibenarkan untuk membayar pajak kepada penjajah, yaitu kekaisaran Roma? Namun demikian, Yesus bukanlah Yesus apabila tidak mampu melihat melampaui kata-kata yang terangkai dalam sebuah kalimat-tanya. Yesus tidak berhenti pada apa yang tersurat, melainkan meneropong apa yang tersirat dalam kalimat-tanya orang-orang itu. Dengan demikian, Yesus sangat mengetahui maksud terselubung dari pertanyaan itu. Apabila Dia mengatakan “ya”, maka diri-Nya dapat dituduh sebagai pengkhianat yang bekerja sama dengan pihak musuh (baca: penjajah). Namun apabila Ia mengatakan “tidak” maka para pendukung raja Herodes dapat dengan menuduhnya sebagai seorang pemberontak. Serba salah, jadinya!

Dipenuhi oleh hikmat ilahi, Yesus menghindar dari jebakan yang menganga itu dengan balik bertanya kepada orang-orang itu untuk menunjukkan uang logam kekaisaran Roma kepada-Nya. Ia menunjuk kepada gambar kaisar pada uang logam itu dan mengatakan kepada mereka untuk memberikan kepada kaisar yang menjadi hak kaisar dan kepada Allah apa yang menjadi hak Allah (lihat Mat 22:21).

ROMAN COIN - 002Kebanyakan kita membayar pajak dalam salah satu atau beberapa bentuknya, memberikan kepada pemerintah negara kita apa yang menjadi haknya sebagai pemelihara kesejahteraan rakyat. Dengan cara serupa, kita pun dipanggil untuk memberikan kepada Allah hal-hal yang adalah hak-Nya – hati kita, pikiran kita, kehendak kita, kehidupan kita. Karena kita adalah anak-anak Bapa yang sangat dikasihi, maka pernyataan Yesus tadi (Mat 2:21) janganlah kita pandang sebagai suatu tantangan, melainkan sebagai suatu tantangan untuk memberikan seluruh keberadaan kita kepada-Nya. Kehidupan kita sendiri sesungguhnya adalah sebuah karunia dari Tuhan, dan dalam kasih kita dapat mempersembahkan karunia ini kembali kepada Pencipta kita.

Kalau kita ingin berbicara tentang kebenaran secara blak-blakan sekarang, bahkan harta milik kita (termasuk uang) pun sesungguhnya diberikan kepada kita oleh Allah sendiri. Sementara kita memberikan hati kita kepada-Nya, Dia pun memimpin kita – melalui Roh Kudus-Nya, melalui hikmat Kitab Suci, dan melalui ajaran-ajaran Gereja – untuk hidup secara benar dalam setiap detil kehidupan kita. Hikmat-kebijaksanaan Allah bagi hidup kita dapat bersifat sangat praktis, termasuk bahkan keputusan-keputusan yang mungkin kita buat dalam bidang politik, sosial dan keuangan.

Seperti juga uang-logam kekaisaran Roma, kita pun telah “diberi cap” dengan suatu gambar – yaitu gambar Allah sendiri (lihat Kej 1:27). Allah begitu mengasihi kita sehingga Dia menciptakan kita-manusia menurut gambar dan rupa-Nya, untuk dipenuhi dengan “kekuatan dan keindahan-Nya” (lihat Mzm 96:6). Karena kita adalah citra Allah, maka kita mempunyai privilese untuk mendengar Dia memanggil kita dengan nama kita masing-masing (lihat Yes 45:4).

DOA: Bapa surgawi, oleh Roh Kudus-Mu, perkenankanlah kami untuk melihat kekuatan dan keindahan-Mu di dalam diri orang-orang lain. Buanglah apa saya yang dapat menghalangi kami dari tindakan memberikan diri kami kepada-Mu dalam kemurnian dan kasih. Tolonglah kami, ya Bapa, agar kami dapat mencerminkan kasih-Mu secara lebih penuh lagi setiap harinya. Amin.

Catatan: Bacalah tulisan berjudul “MENGAPA KAMU MENCOBAI AKU, HAI ORANG-ORANG MUNAFIK?” (bacaan Injil untuk tanggal 19-10-14), dalam situs/blog SANG SABDA  http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2014. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 16-10-11 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 14 October 2014 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA JUGA DIPANGGIL UNTUK MELAKUKAN EVANGELISASI

KITA JUGA DIPANGGIL UNTUK MELAKUKAN EVANGELISASI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta Santo Lukas, Penginjil – Sabtu, 18 Oktober 2014) 

LUKAS DAN LEMBU LAMBANGNYASetelah itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. Kata-Nya kepada mereka, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan pemilik tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. Janganlah membawa pundi-pundi atau kantong perbekalan atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan. Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. Jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal padanya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah. Jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu, dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu.” (Luk 10:1-9)

Bacaan Pertama: 2Tim 4:10-17b; Mazmur: Mzm 145:10-13,17-18 

Pada hari Pesta Santo Lukas, Penginjil, baiklah kita soroti orang kudus ini dan sedikit mengulas mengenai karya evangelisasinya. 

Santo Lukas bukanlah seorang saksi langsung dari kehidupan Yesus. Ia tidak menjadi seorang yang percaya akan keselamatan yang datang dari Yesus Kristus sampai dia mendengar pewartaan Injil dari seorang lain. Tetapi setelah itu, karena diberdayakan oleh Roh Kudus, Lukas berpartisipasi dalam pewartaan Injil seturut amanat agung Yesus (the great commission) yang tercatat dalam Injil Matius (Mat 28:18-20). Lukas melakukan perjalanan bersama Paulus sebagai seorang anggota tim misioner sang Rasul, dan membuat Yesus Kristus dikenal di Timur Dekat dan Eropa, barangkali dengan “biaya” yang harus ditanggungnya, dalam hal ini karirnya sebagai seorang tabib.

Kita semua telah dipanggil oleh Allah untuk melakukan evangelisasi, namun seringkali kita masih saja mempunyai pikiran yang bernada negatif: “Aku tidak pernah dapat menjadi Santo Lukas”. Dalam hal ini mungkin kata-kata penuh hikmat yang pernah diucapkan oleh Beata Bunda Teresa dari Kalkuta dapat menolong kita. Seorang pengunjung di Kalkuta berkata kepada Bunda Teresa: “Bunda, engkau telah melakukan sedemikian banyak bagi orang-orang miskin. Engkau membawa Injil cintakasih kepada orang-orang lain dengan begitu banyak cara. Saya tidak pernah akan sanggup melakukan hal-hal seperti yang telah Bunda lakukan.” Bunda Teresa menjawab: “Mungkin saya melakukan apa yang anda tidak dapat lakukan, namun anda dapat melakukan hal-hal yang saya tidak dapat lakukan. Bersama-sama kita dapat melakukan sesuatu yang indah bagi Allah.” 

12 RASUL DIUTUS - MAT 10  5-15Namun demikian, di mana kita harus memulainya? Bersama Yesus sendiri! Memberitakan kepada orang-orang lain tentang Tuhan Yesus berarti bersumber dari relasi kita sendiri dengan Dia. Kalau kita setiap hari menyediakan waktu cukup untuk berdoa kepada-Nya, mendengarkan apa yang dikatakan-Nya kepada kita lewat pembacaan dan permenungan Kitab Suci serta mempraktekkannya, maka upaya kita untuk mewartakan Kabar Baik tentang Dia kepada orang lain menjadi suatu tindakan yang alamiah, karena Roh Kudus-Nyalah yang sebenarnya bekerja. 

Tanpa harus melakukan perjalanan jauh-jauh seperti yang telah dilakukan oleh Santo Lukas dan Santo Paulus, kita mempunyai banyak sekali peluang untuk memberitakan Injil. Setiap hari kita mempunyai kesempatan untuk memberikan diri kita sendiri kepada orang-orang lain yang kita temui, untuk bercerita kepada orang-orang itu bahwa Allah mengasihi mereka,  kita berdoa untuk mereka dan berbagi iman-kepercayaan kita dengan mereka. Semua tentunya harus dilakukan berdasarkan inspirasi dari Roh Kudus, karena kalau tidak demikian halnya kita dapat saja merasa dan/atau berpikir bahwa kitalah aktor utama dalam setiap karya evangelisasi.

Seperti halnya dengan Santo Lukas dan semua misionaris Gereja Perdana, kita tidak pernah boleh merasa takut dan ciut. Ingatlah bahwa Dia menyertai kita senantiasa sampai akhir zaman (Mat 28:20). Marilah kita terus bertekun dalam upaya kita memberitakan Injil kepada orang-orang di sekeliling kita. Ingatlah yang satu ini, yaitu bahwa Injil atau Kabar Baik adalah “kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya” (Rm 1:16).

DOA: Bapa surgawi, Putera-Mu terkasih mengajarkan kepadaku bahwa cintakasih yang sejati adalah memberikan nyawaku demi sahabat-sahabatku (Yoh 15:13). Oleh Roh Kudus-Mu bentuklah diriku menjadi seperti Santo Lukas yang dengan penuh dedikasi melaksanakan kehendak-Mu dan membangun Tubuh Kristus di dunia. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 10:1-9), bacalah tulisan yang berjudul “SANTO LUKAS SANG PENGINJIL” (bacaan tanggal 18-10-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2014. 

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (2Tim 4:10-17), bacalah tulisan yang berjudul “HANYA LUKAS YANG TINGGAL DENGAN AKU” (bacaan tanggal 18-10-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM https://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 13-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2013. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 18-10-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 14 Oktober 2014

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JANGANLAH KAMU TAKUT

JANGANLAH KAMU TAKUT

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Ignatius dr Antiokhia, Uskup & Martir – Jumat, 17 Oktober 2014) 

Jesus_109Sementara itu beribu-ribu orang banyak telah berkerumun, sehingga mereka berdesak-desakan. Lalu Yesus mulai mengajar, pertama-tama kepada murid-murid-Nya, kata-Nya, “Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi. Tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Karena itu apa yang kamu katakan dalam gelap akan kedengaran dalam terang, dan apa yang kamu bisikkan ke telinga di dalam kamar akan diberitakan dari atas rumah. Aku berkata kepadamu, hai sahabat-sahabat-Ku, janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Tetapi Aku akan menunjukkan kepada kamu siapa yang harus kamu takuti. Takutilah Dia, yang  setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang  ke dalam neraka. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, takutilah Dia! Bukankah lima ekor burung pipit dijual seharga dua receh terkecil? Sungguh pun demikian tidak seekor pun yang dilupakan Allah, bahkan rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu, jangan takut, karena kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit. (Luk 12:1-7)

Bacaan Pertama: Ef 1:11-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-9 

“Aku berkata kepadamu, hai sahabat-sahabat-Ku, janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi” (Luk 12:4).

Pada tahun 1933, pada puncaknya masa susah “Great Depression”, presiden Franklin Roosevelt membuat pengumuman sebagai berikut: “Kita tidak perlu takut kepada apa pun kecuali ketakutan itu sendiri.”  Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus berkata kepada para murid-Nya, “Hai sahabat-sahabat-Ku, janganlah kamu takut ……” (Luk 12:4). Presiden Roosevelt berbicara mengenai suatu krisis politik dan ekonomi, sedangkan Yesus berbicara mengenai suatu krisis yang jauh lebih penting, yaitu krisis spiritual.

Ketakutan dapat melumpuhkan jiwa, dapat melemahkan tekad kita untuk menghindari godaan dan bekerja sama dengan rahmat Allah. Ketakutan dapat menggantikan keberanian  dengan kepengecutan, dan menggantikan pengharapan dengan keputusasaan. Namun dalam segala hal ini, kita masing-masing menunjukkan diri kita sebagai seorang pribadi yang manusiawi. Bahkan Yesus sendiri mengalami rasa takut yang luar biasa di taman Getsemani.

THE POPE WAS SHOT 13 MAY 1981Kabar baiknya adalah bahwa dengan pertolongan Allah kita dapat mengatasi rasa takut kita.  Keberanian yang sejati bukan berarti tanpa rasa takut samasekali, melainkan bertindak berdasarkan kehendak Allah walaupun ketika kita merasa takut. Sejak beliau nyaris tertembak mati oleh seorang pembunuh pada tahun 1981, pastilah Paus Yohanes Paulus II [sekarang seorang santo] masih dihinggapi rasa takut setiap kali beliau harus tampil di depan publik. Namun beliau terus melakukannya.

Demikian pula halnya dengan kita, walaupun dalam skala kecil-kecilan. Melalui doa, penghiburan yang kita terima dari orang-orang lain, dan kekuatan batiniah yang disediakan oleh rahmat Allah, maka kita semua dapat menerima rasa takut kita dan memperoleh pertolongan yang kita perlukan untuk mengubah pikiran dan motif kita. Lalu, kita akan melihat bahwa rasa takut kita semakin menyusut dan kita akan semakin berakar dalam kasih.

Menjadi manusiawi berarti menjadi lemah dalam diri kita sendiri namun kuat dalam Kristus, berdosa dalam diri kita sendiri namun kudus di dalam Dia, merasa takut dalam diri kita naum berani melalui Roh-Nya. Santa Teresia dari Lisieux pernah berkata bahwa bahkan tindakan-tindakan kita yang paling mulia sekali pun tetap dinodai oleh berbagai kelemahan. Namun demikian, selagi kita dengan cara yang jauh dari sempurna berjalan tertatih-tatih menuju Allah, kita tetap dapat memberikan kemuliaan kepada-Nya. Pertimbangkanlah kelemahan-kelemahan yang berbeda dari para rasul Yesus dan yakinlah bahwa pada akhirnya yang menang-berjaya adalah kuat-kuasa yang dari atas itu. Semoga Yesus memberikan kepada kita damai-sejahtera yang melampaui segala pengertian kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku memuji Engkau dan aku meninggikan Engkau. Engkau adalah batu karangku dan tempat pengungsianku. Semoga aku senantiasa berpegang erat-erat pada-Mu sebagai seorang anak yang senantiasa berpegang erat-erat pada bapanya. Aku mengasihi Engkau, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Ef 1:11-14), bacalah tulisan yang berjudul “CICILAN PERTAMA” (bacaan tanggal 17-10-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2014. 

Bacalah juga tulisan yang berjudul “ROH KUDUS ITULAH JAMINAN WARISAN KITA” (bacaan tanggal 19-10-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 19-10-12 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 12 Oktober 2014 [HARI MINGGU BIASA XXVIII] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KEJUJURAN VS KEMUNAFIKAN

KEJUJURAN VS KEMUNAFIKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVIII – Kamis, 16 Oktober 2013) 

YESUS KRISTUS - 13 I AM THE WAY THE TRUTH AND LIFECelakalah kamu, sebab kamu membangun makam nabi-nabi, padahal nenek moyangmu telah membunuh mereka. Dengan demikian, kamu mengaku bahwa kamu membenarkan perbuatan-perbuatan nenek moyangmu, sebab mereka telah membunuh nabi-nabi itu dan kamu membangun makamnya. Karena itu, hikmat Allah berkata: Aku akan mengutus kepada mereka nabi-nabi dan rasul-rasul dan sebagian dari antara nabi-nabi dan rasul-rasul itu akan mereka bunuh dan mereka aniaya, supaya dari orang-orang zaman ini dituntut darah semua nabi yang telah tertumpah sejak dunia dijadikan, mulai dari darah Habel sampai kepada darah Zakharia yang dibunuh di antara mezbah dan Rumah Allah. Bahkan, Aku berkata kepadamu: Semuanya itu akan dituntut dari orang-orang zaman ini. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu telah mengambil kunci pengetahuan; kamu sendiri tidak masuk ke dalam dan orang yang berusaha untuk masuk ke dalam kamu halang-halangi.”

Setelah Yesus berangkat dari tempat itu, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi terus-menerus mengintai dan membanjiri-Nya dengan berbagai pertanyaan. Mereka berusaha menjebak-Nya, supaya mereka dapat menangkap-Nya berdasarkan sesuatu yang diucapkan-Nya. (Luk 11:47-54)

Bacaan Pertama: Ef 1:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-6 

Yesus menuduh orang orang Farisi “telah mengambil kunci pengetahuan” (Luk 11:52). Yesus tidak hanya meyakinkan mereka bahwa mereka sendiri belum masuk ke dalam pengetahuan dan hikmat itu sendiri, namun ajaran mereka telah menghalang-halangi orang lain untuk mengenal kebenaran.

Orang-orang muda dengan cepat dapat mendeteksi adanya kemunafikan dalam diri para orangtua mereka. “Ayahku terus saja melarang-larang aku merokok padahal aku tahu pasti bahwa beliau pun merokok, walaupun secara diam-diam dan sekali-kali saja.” Ada juga yang mengatakan, “Generasi yang lebih tua sungguh tidak memahami kita. Namun aku yakin sekali bahwa mereka tidak lebih baik daripada kita pada waktu mereka cukup muda untuk menikmati hidup ini.”

“Mereka seharusnya tidak marah-marah kepadaku dengan berteriak-teriak seperti itu. Lihatlah kekacau-balauan dunia yang dibuat oleh ulah generasi mereka.” “Mereka terus saja berkhotbah betapa buruknya minuman keras itu, namun setiap kali mereka pulang ke rumah aku dapat mencium bau napas mereka, …… penuh aroma miras.

Apakah protes-protes ini, keluhan-keluhan ini, sama tuanya dengan sejarah umat manusia? Kita bisa saja bertanya-tanya kepada diri kita sendiri. Setiap generasi baru kaum muda bangkit untuk menuduh kemunafikan generasi yang lebih tua, untuk menuduh masyarakat karena berbagai kejahatan yang dilakukan dalam dunia, dst. – namun tidak ada satu generasi pun yang kelihatan berhasil menuntaskan upaya perbaikan atas “kekeliruan-kekeliruan” yang dibuat di masa lampau oleh mereka yang mendahului. Bayangkanlah bagaimana generasi mendatang (sekarang masih anak-anak kecil) di Indonesia tercinta ini akan memaki-maki generasi di atas mereka yang telah menggiring negeri ini menuju keterpurukan dan harus memikul beban utang negara yang begitu fantastis jumlahnya. Juga bagaimana kekayaan negara berupa berbagai sumber daya alam yang konon berlimpah-ruah sudah menjadi sedemikian menyusut, sebagian besar disebabkan kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh para “pemimpin” yang terdiri dari pribadi-pribadi serakah dan tamak, yang lebih memilih kenyamanan diri mereka daripada kepentingan/kesejahteraan umum. Sekarang, pertanyaannya adalah apakah yang telah kita lakukan berkaitan dengan keluhan-keluhan kita sendiri?

Orang-orang Farisi selama berabad-abad mencoba untuk memecahkan masalah pelik seperti ini dengan melipat-gandakan jumlah hukum/peraturan. Berbagai hukum/ peraturan itu dapat menjadi “benteng kebenaran” yang dengan bebas dapat didengung-dengungkan oleh para pemuka agama setiap saat mereka berkhotbah seturut kebutuhan audiensi yang ada. Berbagai hukum/peraturan ini juga ditaati oleh orang-orang yang “saleh-lugu”, pokoknya mematuhi semua hukum/peraturan yang tersurat (belum tentu yang tersirat). Berbagai hukum/peraturan itu juga dengan mudah dapat diabaikan oleh sebagian lagi orang, yang akan bersikap dan berperilaku seturut “sikon” yang ada.

Kemunafikan itu bagaikan sebilah pisau yang bermata dua. Kita menggunakannya dalam melawan orang-orang lain untuk menutup-nutupi kesalahan-kesalahan atau kegagalan-kegagalan kita sendiri. Mengapa koq selalu begitu mudahnya bagi kita untuk melihat kemunafikan dalam diri orang-orang lain, tetapi tidak dalam diri kita sendiri? Memang kelihatannya seakan-akan tidak ada jalan keluar dari “lingkaran setan”, kecuali jalan kejujuran yang bersifat terbuka.

Sekali peristiwa di dekat pintu gerbang Yerikho, Yesus bertanya kepada seorang buta yang bernama Bartimeus, apakah yang dikehendaki orang buta itu untuk dilakukan Yesus atas dirinya. Bartimeus menjawab dengan jujur penuh keterbukaan, “Rabuni, aku ingin dapat melihat!” (Mrk 10:51). Permohonan atau doa Bartimeus ini adalah sebuah doa yang dibutuhkan oleh kita semua. Kita membutuhkan kejujuran, agar Yesus Kristus  dapat melihat siapa diri kita sebenarnya. Kemunafikan tidak pernah dapat dikalahkan, kecuali kalau kita masing-masing mau belajar untuk mengalahkan kemunafikan kita sendiri. Tidak ada seorang pun yang dapat melakukannya untuk Saudari-Saudara!

DOA:  Tuhan Yesus, bebaskanlah diriku dari pengucapan kata-kata yang mengandung kebencian, dan jagalah aku jangan sampai ketidakbenaran membutakan jalanku. Jagalah agar aku tidak terlibat dalam rancangan-rancangan jahat terhadap orang lain dan buatlah diriku semakin kudus dari hari ke hari. Perkenankanlah aku berdiam di dekat hadirat-Mu selalu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama  hari ini (Ef 1:1-10), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH SENANTIASA HADIR BAGI KITA” (bacaan tanggal 16-10-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2014. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 17-10-13 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 12 Oktober 2014 [HARI MINGGU BIASA XXVIII] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BEDA ANTARA YESUS DAN PARA PEMIMPIN AGAMA YANG MUNAFIK

BEDA ANTARA YESUS DAN PARA PEMIMPIN AGAMA YANG MUNAFIK

(Bacaan Misa Misa Kudus, Peringatan S. Teresia dr Avila – Rabu, 15 Oktober 2014)

Suster Fransiskanes S. Lusia (KSFL): PESTA TAREKAT-HARI JADI PERSAUDARAAN 

KONFLIK DGN ORANG FARISI DLL. - YESUS MENGECAM - MAT 23“ ……… Tetapi celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih terhadap Allah. Hal-hal tersebut harus dilakukan tanpa mengabaikan yang lainnya. Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu suka duduk di tempat terbaik di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan di pasar. Celakalah kamu, sebab kamu sama seperti kubur yang tidak memakai tanda; orang-orang yang berjalan di atasnya, tidak mengetahuinya.”

Seorang dari antara ahli-ahli Taurat itu menjawab dan berkata kepada-Nya, “Guru, dengan berkata demikian, Engkau menghina kami juga.” Tetapi Ia menjawab, “Celakalah kamu juga, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang, tetapi kamu sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jari pun. ………” (Luk 11:42-46).

Bacaan Pertama: Gal 5:18-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-4,6 

Bayangkanlah anda mengundang seorang tamu istimewa untuk makan bersama di rumahmu dan kemudian anda malah “dimaki-maki” dan dihina, demikian pula para tamu lain yang hadir. Tamu macam apa yang akan menyerang tuan rumah dengan kata-kata yang terasa sangat keras itu?

Seperti seekor singa ganas yang menyerang mangsanya, Yesus – singa dari suku Yehuda (Why 5:5) – menyerang sikap negatif yang telah begitu lama mengendap dalam hati orang-orang Farisi. Dalam menafsirkan Hukum Musa, sejumlah orang Farisi menggunakan pendekatan kaku yang mengabaikan panggilan untuk membuat keseimbangan antara keadilan dan belas kasih. Dalam menanggapi hal itu, Yesus berupaya untuk menunjukkan kepada mereka “semangat” atau roh dari hukum tersebut. Orang-orang Farisi dan para ahli Taurat pada acara makan malam tersebut adalah para pakar dalam bidang hukum Musa. Namun Yesus ingin agar mereka melihat bahwa Kerajaan Allah adalah terlebih-lebih mengenai relasi daripada mengenai peraturan-peraturan. Tantangannya bukanlah sekadar kepatuhan-kaku untuk melakukan “persepuluhan” dan/atau kewajiban-kewajiban keagamaan lainnya, melainkan untuk mengasihi Allah dan bersikap serta berlaku adil terhadap umat-Nya. Mematuhi perintah-perintah Allah bukanlah untuk membuktikan kekudusan seorang pribadi, melainkan untuk mengasihi Allah dan tetap bersikap dan berlaku benar terhadap kasih perjanjian-Nya.

Tidak seperti para ahli Taurat yang dikatakan oleh Yesus “tidak menyentuh beban yang diletakkan oleh mereka pada orang dengan satu jari pun” (lihat Luk 11:46), Yesus memikul semua beban dan dosa-dosa kita pada kayu salib. Tidak seperti orang-orang Farisi, yang membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi tidak bagian dalamnya (Luk 11:39), Yesus datang untuk membersihkan kita luar-dalam, guna memurnikan hati kita dan menarik diri kita kepada-Nya. Yesus tidak hanya mengatakan kepada kita bagaimana kita harus bertindak. Ia mempersembahkan diri-Nya sebagai kurban agar dengan demikian kita akan memiliki kuasa untuk mengikuti perintah-perintah-Nya.

Inilah seluruh alasan mengapa Allah menghendaki adanya inkarnasi: “Sabda menjadi daging!” (Yoh 1:14). Yesus datang ke dunia untuk berada bersama kita, untuk menjadi seorang pribadi manusia seperti kita, sehingga dengan demikian kita dapat menjadi seperti Dia dan hidup dengan-Nya untuk selama-lamanya. Setiap hari Yesus berada bersama kita – Dia adalah Imanuel – untuk menolong kita memikul beban-beban kita dan untuk mencurahkan rahmat ilahi secara berlimpah. Yesus tidak meninggalkan kita sendiri ketika Dia kembali kepada Bapa di surga. Yesus meninggalkan Roh Kudus-Nya bagi kita untuk menjadi Penasihat dan Penghibur kita, dan Ia meninggalkan bagi kita tubuh-Nya dan darah-Nya dalam Ekaristi. Bukankah semua ini merupakan bukti betapa besar kasih-Nya kepada kita?

DOA: Tuhan Yesus, Engkau sungguh mengasihi diriku, jiwa dan ragaku! Ini, terimalah hatiku ini! Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah mengambil dosa-dosaku dan memikul beban-bebanku. Aku juga bersyukur sedalam-dalamnya karena kasih-Mu yang tak terkira, Engkau bersedia mati demi aku. Datanglah, ya Tuhan Yesus, dan berilah aku makan “roti kehidupan”. Berilah makanan bagi jiwaku dengan “asupan makanan yang bergizi”. Puaskanlah rasa hausku akan hal-hal rohani. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama  hari ini (Gal 5:18-25), bacalah tulisan yang berjudul “PERBUATAN DAGING DAN BUAH ROH” (bacaan tanggal 15-10-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2014. 

Bacalah juga tulisan yang berjudul “BUAH ROH” (bacaan tanggal 13-10-10) dalam situs/blog SANG SABDA. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 16-10-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Jakarta,  11 Oktober 2014 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERIKANLAH ISINYA SEBAGAI SEDEKAH

BERIKANLAH ISINYA SEBAGAI SEDEKAH

(Bacaan  Injil  Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVIII – Selasa, 14 Oktober 2014) 

YESUS MAKAN BERSAMA OARANG FARISI - LUK 14Ketika Yesus selesai mengajar, seorang Farisi mengundang Dia untuk makan di rumahnya. Ia masuk ke rumah itu, lalu duduk makan. Orang Farisi itu heran melihat bahwa Yesus tidak mencuci tangan-Nya sebelum makan. Tetapi Tuhan berkata kepadanya, “Hai orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan. Hai orang-orang bodoh, bukankah Dia yang menjadikan bagian luar, Dia juga yang menjadikan bagian dalam? Akan tetapi, berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu.” (Luk 11:37-41)

Bacaan Pertama: Gal 5:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:41,43-45,47-48 

Pada tingkatan tertentu, orang Farisi ini kelihatannya seorang pribadi terhormat. Dengan mengundang Yesus makan malam, dia menunjukkan bahwa dirinya sungguh berminat untuk mengenal rabi yang populer akhir-akhir ini. Dengan mencuci tangannya secara seremonial sebelum makan, orang Farisi ini juga menunjukkan bahwa dia berhati-hati dan taat dalam memenuhi kewajiban-kewajiban keagamaannya. Akhirnya, dengan menahan diri dari tindakan mengkritisi tamunya, orang Farisi ini menunjukkan kesantunannya. Namun demikian Yesus menegur orang ini dan orang-orang Farisi lainnya dengan keras, dengan mengatakan bahwa orang Farisi itu serakah (“bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan”; Luk 11:39). Mengapa Yesus sampai berkata-kata keras seperti itu, apalagi sebagai tamu istimewa dalam suatu acara makan malam? Kiranya bukan karena Yesus tidak mengasihi orang Farisi itu. Yesus senantiasa memandang setiap orang dengan kebaikan hati yang penuh bela-rasa. Jadi, apa yang dilakukan oleh Yesus?

Orang itu mempunyai masalah, yaitu bahwa dia tidak melihat atau tidak mau melihat. Walaupun dari luar kelihatan bahwa perilaku keagamaannya itu nyaris sempurna, hatinya dipenuhi dengan motivasi-motivasi non-religius. Pada dasarnya orang Farisi ini seorang pribadi yang serakah … tamak,  yang menginginkan untuk memperoleh lebih dan lebih lagi bagi dirinya, bukan memberi kepada orang-orang lain. Perilaku keagamaannya hanyalah merupakan tabir yang menghalanginya untuk dapat melihat kebutuhannya sendiri akan suatu perubahan batiniah. Hal paling baik yang dapat dilakukan oleh Yesus bagi diri si Farisi adalah memindahkan tabir itu ke tempat lain dan menunjukkan kepadanya apa saja yang ada di situ setelah tabir itu disingkirkan.

Sekarang, bagaimana dengan diri kita sendiri? Sampai seberapa seringkah kita menghindar, kita tidak mau menghadapi masalah keserakahan/ketamakan  yang ada dalam hati dan pikiran kita? Kita dapat saja berpikir bahwa mengubah diri kita sendiri itu sungguh sulit, bahkan tidak mungkin. Namun Yesus ingin membangunkan kita dari tidur dan mengingatkan akan kebutuhan kita untuk bertobat karena Dia ingin menyembuhkan kita. Yesus ingin membersihkan hati kita – bukan sekadar secara umum: Ia ingin menyembuhkan pikiran dan hati kita yang suka mementingkan diri sendiri, nafsu-nafsu dan kecemburuan serta rasa iri hati kita. Sekarang, maukah kita memperkenankan Yesus menjamah kita, menyentuhkan jari-jari kasih-Nya pada pemikiran-pemikiran dan pola-pola perilaku kita yang membutuhkan perubahan? Tidak ada alasan bagi kita untuk merasa takut. Ia sudah mengetahui dosa-dosa kita, bahkan sebelum kita mengungkapkannya ……, dan bagaimana pun juga Dia tetap mengasihi kita.

Yesus bukanlah Yesus sekiranya Dia tidak memberi solusi atas masalah yang dihadapi seseorang. Yesus tidak hanya mengkritisi orang Farisi itu. Dia menunjukkan kepadanya jalan keluar dari keterikatan pada hal-hal yang buruk itu: “Berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu” (Luk 11:41). Yesus berjanji kepada kita, bahwa apabila kita melangkah keluar dari pemikiran, sikap dan perilaku yang mementingkan diri sendiri, dan mulai menunjukkan perhatian secara konkret-praktis terhadap orang-orang lain, maka kita akan mengalami rahmat-Nya bekerja dalam diri kita dan mengubah hati kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku memang membutuhkan perubahan batiniah. Namun aku tidak dapat melakukannya sendiri, untuk itu tolonglah aku. Sembuhkanlah diriku, agar aku dapat mengasihi sebagaimana Engkau mengasihi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Gal 5:1-6), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH SENANTIASA SIAP UNTUK MENERIMA KITA KEMBALI” (bacaan tanggal 14-10-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2014. 

Bacalah juga tulisan yang berjudul “IMAN YANG BEKERJA OLEH KASIH” (bacaan tanggal 16-10-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Cilandak, 11 Oktober 2014

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENJADI TANDA BAGI DUNIA INI

MENJADI TANDA BAGI DUNIA INI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVIII – Senin, 13 Oktober 2014)

OFMCap.: Peringatan B. Honoratus Kosminski, Biarawan 

Jesus_109Ketika orang banyak mengerumuni-Nya, berkatalah Yesus, “Orang-orang zaman ini adalah orang jahat. Mereka meminta suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Nabi Yunus. Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk orang-orang zaman ini. Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang-orang zaman ini dan ia akan menghukum mereka. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Salomo! Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama orang-orang zaman ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus!”  (Luk 11:29-32)

Bacaan Pertama: Gal 4:22-24,26-27,31 – 5:1; Mazmur Tanggapan: Mzm 113:1-7 

“Orang-orang zaman ini adalah orang jahat. Mereka meminta suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Nabi Yunus” (Luk 11:29).

Banyak orang menyaksikan sendiri berbagai mukjizat dan tanda heran lainnya yang dibuat oleh Yesus. Segala mukjizat dan tanda heran itu tidak dapat disangkal kebenarannya: penyembuhan-penyembuhan, pengusiran roh-roh jahat, penggandaan makanan dlsb. Sekarang masalahnya adalah, mengapa mereka meminta tanda lagi? Mereka ternyata mencari makna, bukan mencari tanda-tanda itu sendiri. Walaupun mereka telah menyaksikan sendiri berbagai mukjizat dan tanda heran yang dibuat oleh Yesus, mereka luput memperoleh pesan sesungguhnya yang disampaikan lewat mukjizat-mukjizat dan tanda-tanda tersebut, yaitu bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan.

Membaca kata-kata Yesus, kita dapat mulai bertanya-tanya apakah kita sungguh perlu memusingkan diri mencoba untuk menjadi sebuah “tanda”. Tentu saja kita harus menjadi “tanda”. Semoga saja kita tidak pernah membiarkan orang-orang yang tidak percaya merusak kesempatan bagi orang-orang lain untuk percaya. Dari sekian ratus orang yang tidak percaya kepada Yesus, tentunya ada satu-dua yang percaya. Pada abad pertama ada nama-nama seperti Simon Petrus, Yohanes, Yakobus, Maria Magdalena, Saulus dlsb. Apakah kita tidak ingin memberi kesempatan kepada orang-orang seperti mereka yang hidup pada zaman modern ini?

Yang perlu kita ketahui dan yakini adalah bahwa Yesus Kristus ada dalam diri kita masing-masing. Kehadiran kita dalam sebuah pertemuan, misalnya, dapat membawa efek yang langsung terlihat. Ingatlah bahwa kita adalah “garam bumi” dan “terang dunia” (Mat 5:13-16). Semakin dekat kita dengan Yesus, maka diri kita pun menjadi semakin terasa “asin”. Orang-orang akan melihat Kristus dalam diri kita dan semakin merasa haus akan kehadiran-Nya. Dan semakin dekat kita kepada Yesus, semakin bercahaya pula terang kita ke tengah dunia yang sudah sekian lama terjebak dalam kegelapan dan dosa. Selagi terang kita semakin bercahaya, maka terang kita itu dapat menarik banyak orang kepada Yesus: para anggota keluarga, para sahabat, dan bahkan orang-orang yang tidak kita kenal. Kesaksian kita tidak perlu bersifat dramatis atau diikuti dengan perbuatan ajaib atau mukjizat, namun dapat menjadi sangat efektif.

Setiap hari dalam doa, perkenankanlah Allah menstransformasikan diri kita untuk menjadi semakin serupa dengan Putera-Nya. Dengan berjalannya hari, biarlah Dia berbicara melalui kata-kata dan tindakan-tindakan kita. Kita (anda dan saya) dapat menjadi sebuah “tanda” bagi dunia ini. Hayatilah dan jalanilah dengan tekun hidup Injili, maka dalam artian tertentu Saudari-Saudara juga mewartakan Injil. Didorong oleh kasih Kristus, bersahabatlah dengan orang-orang, maka Roh Kudus dapat mempertobatkan orang-orang itu lewat “pewartaan Injil” Saudari-Saudara. Percayalah bahwa Saudari-Saudara senantiasa diberi kesempatan untuk menjadi Yesus bagi orang-orang dalam hidup Saudari-Saudara, dan syering Yesus dengan mereka.

DOA: Bapa surgawi, penuhilah diriku dengan kasih tanpa syarat kepada sesamaku. Yesus, transformasikanlah hati dan pikiranku. Roh Kudus, biarlah terang-Mu bercahaya melalui diriku. Allah Tritunggal Mahakudus, buatlah diriku menjadi pribadi seturut rencana-Mu waktu aku diciptakan. Terpujilah Allah, Bapa, Putera dan Roh Kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Gal 4:22-24,26-27,31 – 5:1), bacalah tulisan yang berjudul “JANGANLAH KITA MAU LAGI DIKENAKAN KUK PERHAMBAAN” dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2014. 

Bacalah juga tulisan yang berjudul “KITA BUKANLAH ANAK-ANAK HAMBA PEREMPUAN, MELAINKAN ANAK-ANAK PEREMPUAN MERDEKA” (bacaan tanggal 15-10-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-10-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 10 Oktober 2014 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 87 other followers