RAHMAT YANG TERSEDIA BAGI KITA DALAM EKARISTI

RAHMAT YANG TERSEDIA BAGI KITA DALAM EKARISTI

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVIII – Senin, 3 Agustus 2015)

YESUS MEMBERI MAKAN 5000 ORANG LAKI-LAKI - 600Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak menyendiri dengan perahu ke tempat yang terpencil. Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka. Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit.

Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata, “Tempat ini terpencil dan hari mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa.” Tetapi Yesus berkata kepada mereka, “Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan.” Jawab mereka, “Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan.” Yesus berkata, “Bawalah kemari kepada-Ku.” Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di rumput. Setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap syukur. Ia memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya memberikannya kepada orang banyak. Mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang lebih, sebanyak dua belas bakul penuh. Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak. (Mat 14:13-21) 

Bacaan Pertama:  Bil 11:4b-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 81:12-17 

Yesus ingin sekali memuaskan rasa lapar (fisik) orang banyak yang berjumlah lebih dari 5.000 orang yang diberi-Nya makan pada hari itu di Galilea, namun terlebih-lebih Ia juga ingin memberi makanan spiritual kepada orang banyak itu. Sejak abad-abad pertama sejarahnya, Gereja telah melihat dan mengartikan penggandaan roti dan ikan itu sebagai peristiwa yang menunjuk kepada sesuatu yang lebih besar: Ekaristi, di mana Yesus memberi makan jutaan manusia setiap hari dengan tubuh dan darah-Nya.

2007_mass_hspiritBayangkanlah rahmat yang tersedia bagi kita pada Misa Kudus, kalau saja kita mau mendengarkan suara-Nya. Apa lagi yang dapat lebih mengubah hidup kita daripada berkumpul bersama sedemikian banyak umat Allah dalam suatu doa pujian dan penyembahan? Apakah yang lebih penuh kuat-kuasa daripada menerima Yesus Kristus sendiri, dan memperkenankan tubuh dan darah-Nya bercampur dengan tubuh dan darah kita sendiri, dan memperkenankan Roh Kudus mengangkat roh kita sampai ke hadapan takhta surgawi? Konsili Vatikan II menyatakan: “Jadi dari Liturgi, terutama dalam Ekaristi, bagaikan dari sumber, mengalirlah rahmat kepada kita, dan dengan hasil guna yang amat besar diperoleh pengudusan manusia dan pemuliaan Allah dalam Kristus, tujuan semua karya Gereja lainnya”  (Konstitusi Sacrosanctum Concilium tentang Liturgi Suci, 10).

Namun demikian, kita semua mengetahui bahwa betapa mudahnya kita pergi ke gereja untuk menghadiri Misa Kudus tanpa mengharapkan diri kita diubah. Kita semua juga mengetahui bagaimana dengan cepatnya doa-doa dan bacaan-bacaan Kitab Suci dalam Misa dapat menduduki tempat terbawah ketimbang pelanturan-pelanturan yang mengganggu kita, misalnya makan bersama keluarga di “Bakmi Gajah Mada” setelah Misa, kekhawatiran tentang masa lalu, mimpi akan masa depan, dst. Bagaimana kita melawan dan membalikkan tendensi ini? Dengan persiapan yang baik sebelum Misa.

431788_10151533453919000_1047050005_nApa yang dimaksudkan dengan persiapan di sini? Kita meluangkan sedikit waktu untuk berada bersama Tuhan sebelum kita berangkat untuk mengikuti Misa. Kita mohon kepada-Nya agar memeriksa hati kita dan menunjukkan kepada kita dalam hal mana saja kita harus bertobat sehingga dalam “ritus tobat” dalam awal Misa kita dapat mengalami pertobatan. Kita juga meluangkan waktu untuk membaca bacaan-bacaan Kitab Suci yang akan dibacakan dalam Misa, sehingga ketika sabda Tuhan diproklamasikan dalam liturgi kita pun akan mendengar Yesus sendiri berbicara kepada kita secara pribadi. Baik sekali juga bagi kita apabila mengambil waktu sejenak untuk mengenang tubuh Kristus yang dipecah-pecahkan untuk kita di atas kayu salib, dan kita berterima-kasih kepada-Nya dengan penuh syukur karena mengasihi kita – manusia – dengan begitu mendalam sampai mati di kayu salib.

Persiapan apa pun yang kita lakukan, kita harus senantiasa menyadari bahwa apabila kita mendatangi meja Tuhan dengan kerendahan hati yang tulus, hati yang bertobat, siap untuk diubah oleh Tuhan, maka Ekaristi dapat menjadi suatu pengalaman yang paling mempunyai kuat-kuasa atas hidup kita. Semoga kita semua datang ke Misa Kudus dan mengalami apa yang dikatakan oleh sang pemazmur: “Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN (YHWH) itu!” (Mzm 34:9).

DOA: Tuhan Yesus, aku sungguh takjub menyaksikan dan mengalami belarasa-Mu dalam hidupku. Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah mengurbankan hidup-Mu sendiri di atas altar salib agar aku mempunyai hidup-Mu dalam diriku. Terima kasih Yesus, Engkau memberi aku makan dengan tubuh-Mu sendiri. Oleh Roh Kudus-Mu sendiri, tolonglah aku membuka diriku bagi kuat-kuasa kasih-Mu yang akan mentransformasikan diriku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 14:13-21), bacalah tulisan yang  berjudul “SEMUANYA MAKAN SAMPAI KENYANG” (bacaan tanggal 3-8-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 5-8-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 31 Juli 2015 [Peringatan S. Ignasius dr Loyola] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MAKANAN BAGI JIWA

MAKANAN BAGI JIWA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XVIII [TAHUN B] – 2 Agustus 2015)

YESUS MENGUTUS 70 ORANG MURID

Ketika orang banyak melihat bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus.

Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya, “Rabi, kapan Engkau tiba di sini?” Yesus menjawab mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang telah dimeteraikan Allah Bapa.” Lalu kata mereka kepada-Nya, “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang dikehendaki Allah?” Jawab Yesus kepada mereka, “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.”

Sebab itu, kata mereka kepada-Nya, “Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya kami dapat melihatnya dan percaya kepada-Mu? Apakah yang Engkau kerjakan? Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari surga.”

Lalu kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, bukan Musa yang memberikan kamu roti dari surga, melainkan Bapa-Ku yang  memberikan kamu roti yang  benar dari surga. Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari surga dan yang memberi hidup kepada dunia.” Maka kata mereka kepada-Nya, “Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa.” Kata Yesus kepada mereka, “Akulah roti kehidupan; siapa saja yang datang kepada-Ku, ia tidak akan pernah lapar lagi, dan siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia tidak akan pernah haus lagi. (Yoh 6:24-35)

Bacaan Pertama: Kel 16:2-4,12-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 78:3-4,23-25,54; Bacaan Kedua: Ef 4:17,20-24

KOMUNI KUDUS - 111Tuhan Yesus memiliki keprihatinan atas berbagai kebutuhan kita yang mendasar dan kesejahteraan kita. Dia tidak hanya menyediakan makanan ketika Dia menggandakan  roti dan ikan yang sedikit untuk orang banyak yang mengikuti-Nya, melainkan juga makanan spiritual. Ia ingin mengingatkan kita bahwa di samping makanan yang kita perlukan guna memenuhi kebutuhan untuk memuaskan tubuh kita, kita juga harus memelihara dan memberi makan jiwa kita. Jadi Yesus memutuskan untuk “bersembunyi” di dalam roti dengan segala kuat-kuasa-Nya guna menjadi makanan bagi jiwa para pengikut-Nya.

Bagaimana Ekaristi dalam Komuni Kudus memberi makanan dan memperkuat kita? Pertama-tama, tubuh dan darah Kristus tidak akan mengubah kodrat manusia kita, yaitu kodrat yang sangat rentan terhadap kejahatan sebagai akibat dari dosa asal. Juga tidak akan mengubah kecenderungan-kecenderungan manusia yang khusus. Ekaristi akan mengangkat kodrat manusiawi kita, namun tidak untuk menggantikannya dengan sejenis kodrat yang berbeda. Dengan menerima Komuni Kudus kita tidak akan berhenti menjadi manusia dengan segala kelemahan dan kekurangannya.

Dengan menerima Komuni Kudus, kita tidak akan secara otomatis menghilangkan kecenderungan-kecenderungan kita akan yang jahat di dalam diri kita. Misalnya orang yang mempunyai suatu kelemahan dalam hal “miras” dapat menerima Komuni Kudus seratus kali namun tetap saja “rindu” untuk menikmati “miras” kesayangannya. Hal ini  bukanlah untuk mengatakan bahwa Allah tidak mampu membuat mukjizat melalui Ekaristi Kudus. Tetapi Dia tidak menjanjikannya, dan itu bukanlah cara Allah bekerja dalam sakramen.

Komuni Kudus tidak diberikan kepada kita untuk membuat hidup kita lebih mudah atau membuat kita seperti bionic women atau bionic men. Karena kasih-Nya kepada kita, Kristus memberikan Ekaristi kepada kita, agar kita menjadi sadar akan kasih-Nya ini dan berjuang untuk mencapai Kerajaan Allah lewat upaya yang konsisten dan tekun.

Jadi, bagaimana sesungguhnya Ekaristi menguatkan kita? Dalam Ekaristi Allah memberikan diri-Nya sebagai makanan yang adalah isyarat dari kasih-Nya. Namun dari diri kita yang lemah dan cenderung berdosa, kita menanggapi dengan membalas mengasihi Dia. Kasih kita kepada-Nya membuat kita merasa malu untuk melakukan hal-hal yang menyakiti hati-Nya. Santo Dominikus Savio [1842-1857] pernah mengatakan, “Aku lebih baik mati daripada menyakiti hati-Nya.” Sesungguhnya kita masih memiliki kodrat yang cenderung berdosa. Kita masih mempunyai “nyali” untuk mencuri, untuk berbohong, untuk tergila-gila main perempuan, untuk sibuk mabuk dengan “miras” atau narkoba, untuk berdosa, melakukan korupsi dlsb. Namun sekarang, memikirkan hal-hal seperti itu menjadi semakin memuakkan bagi kita karena semua itu menyakitkan hati-Nya, Dia yang kita kasihi.

THE BODY OF CHRIST - 001Itulah bagaimana Ekaristi memberi asupan makanan kepada kita dan memperkuat kita. Bukan dengan membuat kita kurang manusiawi, melainkan dengan membuat kita menjadi lebih berani. Tidak dengan menghapuskan godaan, melainkan dengan membuat kita lebih kuat untuk mengatakan “tidak” terhadap godaan tersebut. Bukan dengan membuat hidup menjadi empuk-nyaman, melainkan dengan memberikan kepada kita keberanian untuk dengan gigih berjuang melawan segala godaan tersebut. Tidak dengan memberikan kepada kita kodrat yang lain, melainkan dengan mengangkat kodrat yang kita miliki ke tingkat yang lebih tinggi.

Ketika seorang ibu mencium anaknya yang masih kecil dan memelihara serta menjaganya, ini adalah cara ibu untuk mengatakan: “Aku mencintai engkau.” Karena kasih sang ibu yang besar, anak itu membalasnya dengan melakukan hal-hal yang tidak menyusahkan dan menyakitkan hati sang ibu yang sangat mengasihinya. Anak itu menjadi malu untuk menyakiti hati ibunya. Demikian pula dalam Ekaristi, Yesus menunjukkan kasih-Nya bagi kita dengan memberikan kepada kita karunia kasih-Nya yang tertinggi – tubuh dan darah-Nya sendiri. Menanggapi hal itu, kita mengatakan, “Aku ingin membalas kasih-Mu! Aku tidak akan melakukan apa pun yang akan menyakitkan hati-Mu.”

Di beberapa negara Timur Tengah di mana ada relatif banyak para pekerja yang berasal dari Filipina, mereka secara rahasia menyelenggarakan Misa “bawah tanah” dan menerima Komuni Kudus, pertemuan mana seringkali sangat berisiko tertangkap dan dikenakan hukuman. Mengapa mereka melakukan hal seperti ini? Mungkin karena dirampasnya hak merayakan sakramen oleh pihak berkuasa membuatnya malah menjadi lebih dihasrati dan dirindukan. Namun kita tidak dapat menyangkal kenyataan bahwa dalam diri setiap pribadi terdapat suatu kebutuhan manusiawi untuk memperoleh suatu kepuasan lebih mendalam, untuk makanan yang lebih tahan lama. Dan makanan ini yang telah diberikan oleh Tuhan dalam sakramen Ekaristi

DOA: Tuhan Yesus, kami percaya bahwa Engkau adalah Roti Kehidupan yang turun dari surga. Engkau datang untuk menyelamatkan kami semua dari dosa dan maut. Walaupun iman kami lemah, Engkau datang ke tengah-tengah kami dan memberi makan untuk iman kami yang kecil ini agar bertumbuh terus. Terpujilah nama-Mu selalu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:24-35), bacalah tulisan yang berjudul “ROTI KEHIDUPAN [3]” (bacaan tanggal 2-8-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2015. 

Cilandak, 30 Juli 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DIGONCANG OLEH TIUPAN ANGIN

DIGONCANG OLEH TIUPAN ANGIN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Alfonsus Maria de Liguori, Uskup- Pujangga Gereja – Sabtu, 1 Agustus 2015) 

YESUS SANG RABBI DARI NAZARETPada masa itu sampailah berita-berita tentang Yesus kepada Herodes, raja wilayah. Lalu ia berkata kepada pegawai-pegawainya, “Inilah Yohanes Pembaptis; ia sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam-Nya.” Memang Herodes  telah menyuruh menangkap Yohanes, membelenggunya dan memenjarakannya, berhubung dengan peristiwa Herodias, istri Filipus saudaranya. Karena Yohanes berkali-kali menegurnya, katanya, “Tidak boleh engkau mengambil Herodias!” Walaupun Herodes ingin membunuhnya, ia takut akan orang banyak yang memandang Yohanes sebagai nabi. Tetapi pada hari ulang tahun Herodes, menarilah anak perempuan Herodias di tengah-tengah mereka dan menyenangkan hati Herodes, sehingga Herodes bersumpah akan memberikan kepadanya apa saja yang dimintanya. Setelah dihasut oleh ibunya, anak perempuan itu berkata, “Berikanlah aku di sini kepala Yohanes Pembaptis di atas sebuah piring.” Lalu sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya diperintahkannya juga untuk memberikannya. Disuruhnya memenggal kepala Yohanes di penjara dan kepala itu pun dibawa orang di sebuah piring besar, lalu diberikan kepada gadis itu dan ia membawanya kepada ibunya. Kemudian datanglah murid-murid Yohanes Pembaptis mengambil mayatnya dan menguburkannya. Lalu pergilah mereka memberitahukannya kepada Yesus. (Mat 14:1-12) 

Bacaan Pertama: Im 25:1,8-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 67:2-3,5,7-8

Seperti dalam Injil Markus (Mrk 6:17-29), dalam bacaan Injil hari ini Matius menghubungkan kematian Yohanes Pembaptis sebagai semacam suatu “tanda kurung” (Inggris: parenthesis) dalam keseluruhan cerita tentang Yesus.

Kita mengetahui bahwa Yohanes Pembaptis adalah seorang pribadi yang kuat dalam hal keutamaan-keutamaan. Orang kudus ini tidak takut untuk berkonfrontasi dengan orang-orang berkuasa yang memang mempunyai kesalahan-kesalahan. Karena dituduh oleh Yohanes Pembaptis bahwa dia hidup dalam perzinahan, Herodes Antipas ingin membunuhnya, namun dia merasa takut karena orang banyak menyukai Yohanes Pembaptis dan memandangnya sebagai seorang nabi. Namun, secara sangat tidak adil Herodes memerintahkan orang-orangnya untuk menangkap Yohanes dan memenjarakannya.

John-Baptist-preachingHerodes adalah seorang pribadi yang lemah. Dia takut. Pada titik puncak nafsu badaniah dan kenikmatannya, dia menjadi tidak bijak. Ia menjanjikan kepada anak tirinya (anak perempuan dari Herodias), Salome, apa saja yang ia minta, dan hal ini ditegaskan dengan sumpahnya dan disaksikan oleh semua tamu undangan yang hadir. Kebodohan ini membuat Herodes berada dalam suatu dilema yang mendalam dan menyulitkan. Ia merasa takut dan dihantui oleh perasaan waswas/khawatir. Apa yang akan dikatakan orang-orang? Akan tetapi dia lebih malu lagi untuk membatalkan sikap dan kata-kata bodoh yang diucapkannya, sumpahnya, … karena para tamunya. Hal inilah yang menjadi pemicu peristiwa pemenggalan kepala Yohanes Pembaptis: “ja-im” kelas berat!

Di sini kita melihat contoh-contoh dari seorang kuat yang memiliki karakter lemah. Yohanes Pembaptis berdiri tegak membela apa yang dipercayainya tanpa mempedulikan segala konsekuensinya. Herodes Antipas adalah bagaikan buluh yang digoyang ke kanan dan ke kiri oleh tiupan angin duniawi.

Dunia senantiasa berupaya untuk menggoncang para murid Kristus ke sana ke mari. Hidup seturut moral Kristiani yang sejati sungguh menjadi sangat tidak populer. Sebaliknyalah moralitas kenyamanan serta kenikmatan yang baru. Hanya yang kuatlah yang akan bertahan hidup seturut ajaran-ajaran Kristus. Namun kita tidak boleh berputus asa. Walaupun kita menyadari bahwa kita sebenarnya manusia lemah, kita dapat menjadi kuat dengan kekuatan Kristus dan kuat-kuasa Roh Kudus.

DOA: Ya Tuhan Allah, tolonglah kami agar mau dan mampu mendengarkan dengan penuh perhatian pesan-pesan dari para nabi-Mu pada zaman modern ini juga. Janganlah biarkan kami diombang-ambing oleh tiupan angin dunia ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 14:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “KITA MASING-MASING DICIPTAKAN UNTUK SUATU TUJUAN UNIK” (bacaan tanggal 1-8-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2015.

Cilandak, 30 Juli 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DEKAT DENGAN YESUS

DEKAT DENGAN YESUS

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Ignasius dr Loyola, Imam – Jumat, 31 Juli 2015)

YESUS MENGAJAR DI SINAGOGA DI NAZARET

Setibanya di tempat asal-Nya, Yesus mengajar orang-orang di situ di rumah ibadat mereka. Maka takjublah mereka dan berkata, “Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mukjizat-mukjizat itu? Bukankah ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi, dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?” Lalu mereka menolak Dia. Kemudian Yesus berkata  kepada mereka, “Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya.” Karena mereka tidak percaya, tidak banyak mukjizat diadakan-Nya di situ. (Mat 13:54-58) 

Bacaan Pertama: Im 23:1,4-11,15-16,27,34b-37; Mazmur Tanggapan: Mzm 84:3-6,8,11 

Marilah kita mengawali permenungan bacaan Injil hari ini dengan membaca lagi awal Mat 13: “Pada hari itu keluarlah Yesus dari rumah itu dan duduk di tepi danau. Lalu datanglah orang banyak berbondong-bondong dan mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai” (Mat 13:1-2; bdk. Mrk 3:9). Orang banyak begitu entusias mau mendengar pengajaran-Nya. Bandingkanlah ini dengan penerimaan suam-suam kuku terhadap Yesus dalam sinagoga kampung halamannya sendiri. “Bukankah Ia ini anak tukang kayu? …… Bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi, dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?” (Mat 13:55-56).

Bayangkanlah bagaimana kiranya hal tersebut menyakitkan hati Yesus ketika Dia mendengar bisik-bisik atau kasak-kusuk sedemikian di tengah umat yang hadir. Ini sungguh jauh berbeda dengan berbagai reaksi dari orang banyak pada peristiwa-peristiwa sebelumnya, yang dengan penuh gairah memproklamasikan: “Yang demikian belum pernah dilihat orang di Israel” (Mat 9:33) dan “Ia ini agaknya Anak Daud” (Mat 12:23). Kita mungkin bertanya-tanya berapa banyak orang yang berkumpul dalam sinagoga pada hari itu yang telah mencoba untuk menyelidiki cerita-cerita yang beredar-luas tentang salah seorang warga Nazaret, kampung halaman mereka sendiri. Kita juga dapat berandai-andai berapa banyak dari mereka hanya duduk di rumah saja dan menantikan kedatangan sang “pembuat-mukjizat” di Nazaret, bukannya mencari Yesus di tempat-tempat di mana Dia membuat mukjizat-mukjizat itu.

Inilah yang dialami oleh Yesus selama karya pelayanan-Nya di tengah publik. Ada sejumlah orang dengan tulus mencari dan mengikuti Dia. Mereka disembuhkan dan dibebaskan! Di lain pihak, ada orang-orang yang memperhatikan dan mengawasi Yesus dari kejauhan saja, dan sebagai konsekuensi mereka pun kehilangan kesempatan untuk mengalami perubahan dalam hidup mereka. Yesus tidak ingin kita hanya mengenal-Nya sebagai seorang anak tukang kayu dari Nazaret atau sebagai seseorang yang mati di kayu salib dua ribu tahun lalu. Yesus sungguh ingin agar kita semua mengenal-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat, juga Sahabat kita.

Adakah pelajaran yang kita dapat petik dari bacaan Injil hari ini? Tentu ada! Jadikanlah diri kita (anda dan saya) dekat dengan Yesus! Carilah Dia! Marilah kita bergabung dengan orang-orang yang berbondong-bondong dan mengerumuni Yesus begitu dekatnya di pinggir danau sehingga hampir menjatuhkan-Nya ke dalam air danau. Marilah kita bersama Bartimeus juga berseru kepada-Nya: “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!”  (Mrk 10:47). Kalau kita sedang membaca Kitab Suci dan anda tidak memahami satu dari perumpamaan Yesus, maka tanpa rasa takut dan sungkan, marilah kita memohon kepada-Nya untuk menjelaskan perumpamaan itu kepada kita. Janganlah kita pernah merasa lelah mendengarkan pengajaran-Nya. Janganlah kiranya kita puas dengan apa yang telah kita ketahui tentang Yesus. Berkat-berkat-Nya senantiasa baru setiap pagi.

DOA: Yesus, aku berdoa agar dapat mengenal Engkau dengan lebih mendalam lagi. Aku ingin mengenal Engkau tidak sekadar sebagai seorang Guru Agung atau seorang Pribadi yang patut dibanggakan. Aku ingin mengenal Engkau sebagai Tuhanku dan Allahku (Yoh 20:28). Aku ingin merasakan kehadiran-Mu di dekatku pada hari ini. Ajarlah aku tentang diri-Mu yang tidak pernah aku tahu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:54-58), bacalah tulisan yang berjudul “BUKANKAH IA INI ANAK TUKANG KAYU?” (bacaan tanggal 31-7-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-07 BACAAN HARIAN JULI 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 1-8-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 27 Juli 2015 [Peringatan B. Maria Magdalena Martinengo, Biarawati Klaris] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SUNGGUH RIIL

SUNGGUH RIIL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVII – Kamis, 30  Juli  2015) 

PARABLE OF THE NET - 01“Demikianlah pula hal Kerajaan Surga itu seumpama jala yang ditebarkan di laut lalu mengumpulkan berbagai jenis ikan. Setelah penuh, jala itu diseret orang ke pantai, lalu duduklah mereka dan mengumpulkan ikan yang baik ke dalam tempayan dan ikan yang tidak baik mereka buang. Demikianlah juga pada akhir zaman: Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar, lalu mencampakkan orang jahat ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.

Mengertikan kamu semuanya itu?” Mereka menjawab, “Ya, kami mengerti.” Lalu berkatalah Yesus kepada mereka, “Karena itu, setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran tentang Kerajaan Surga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya.”

Setelah Yesus selesai menceritakan perumpamaan-perumpamaan itu, Ia pun pergi dari situ. (Mat 13:47-53) 

Bacaan Pertama: Kel 40:16-21,34-38; Mazmur Tanggapan: Mzm 84:3-6.8,11

Apakah kematian harus terjadi? Ya! Apakah ada surga dan neraka? Ya! Apakah akan ada suatu penghakiman terakhir, suatu pemisahan antara ikan yang baik dan yang buruk, pemisahan antara domba dan kambing (Mat 25:31-46), pemisahan antara gandum dan lalang (Mat 13:24-30)? Ya! Semua perumpamaan yang mengacu pada akhir zaman ini sungguh riil dan semua itu menenangkan hati. Namun, kita harus berhati-hati agar tidak membiarkan pikiran tentang akhir zaman itu memenuhi diri kita dengan rasa takut yang tak perlu. Sebagai umat Kristiani, kita tahu dan seharusnya yakin bahwa Allah adalah “seorang” Bapa yang sangat mengasihi kita. Dia memberikan kepada kita apa saja yang kita butuhkan agar tetap berdiri tegak penuh keyakinan dalam hari penghakiman terakhir.

Kitab Suci tidak bosan- bosannya mengingatkan kita bahwa mereka yang hidup dalam Kristus adalah “ciptaan baru” (2Kor 5:17) dan mereka yang percaya kepada Yesus telah berpindah dari kematian ke kehidupan dan “tidak turut dihukum” (Yoh 5:24). Kebenaran yang membebaskan dari Injil adalah bahwa apabila kita tetap hidup dalam Kristus, kita menjadi “ikan-ikan yang baik”. Dalam Dia kita adalah “domba-domba” dan bukan “kambing-kambing”, “gandum” dan bukan “lalang”.

PERUMPAMAAN TTG JALA YANG BESAR MAT 13 47-50Apakah keniscayaan akan adanya penghakiman terakhir menakutkan anda? Atau apakah anda menghindarkan diri dari isu atau topik sekitar penghakiman terakhir, dan kemudian menyibukkan diri anda dengan kesibukan sehari-hari? Untuk dua situasi ini, jawabnya terletak pada suatu pernyataan yang lebih dalam dari Yesus. Ia akan menunjukkan kepada anda bahwa anda tidak perlu takut akan penghakiman terakhir. Ia juga akan menolong anda menempatkan hal-hal dalam  kehidupan anda secara teratur sehingga dengan demikian anda dapat memusatkan perhatian anda pada hari di mana anda akan memandangnya muka ketemu muka.

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus, selagi kita (anda dan saya) datang kepada Yesus dalam doa dan pembacaan serta permenungan sabda-Nya dalam Kitab Suci, maka Dia akan menunjukkan kepada kita betapa berharga harta yang kita miliki dalam Dia, dan Ia pun akan menunjukkan kepada kita bagaimana hidup dengan cara-cara yang menyenangkan hati-Nya.

Allah ingin agar kita mengetahui bahwa baptisan hanyalah awal dari relasi kita dengan diri-Nya. Dia ingin menopang kita setiap hari dengan Roh Kudus-Nya. Dia ingin mengajar kita bagaimana hidup “dalam Kristus” setiap hari sehingga dengan demikian apa pun yang kita hadapi dalam perjalanan hidup kita, kita dapat berpegang pada janji-janji keselamatan-Nya dan tetap yakin bahwa kita ditebus dalam Dia. Setiap hari Yesus ingin memberikan diri-Nya kepada kita sehingga kita dapat memberikan diri kita sendiri kepada-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, aku ingin dipersatukan dengan Engkau. Usirlah kekhawatiranku tentang kematian dan penghakiman terakhir. Tolonglah aku untuk memusatkan perhatianku pada tujuan untuk memandang Engkau muka ketemu muka dan hadir dalam pesta perjamuan di dalam kerajaan surga. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:47-53), bacalah tulisan-tulisan yang berjudul  “YANG BERGUNA ATAU YANG TIDAK BERGUNA” (bacaan tanggal 30-7-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-07 BACAAN HARIAN JULI 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 31-7-14 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 27 Juli 2015 [Peringatan B. Maria Magdalena Martinengo, Biarawati Klaris]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

AKU PERCAYA

AKU PERCAYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Marta – Rabu, 29 Juli 2015)

14-03-09-Duccio-di-Buoninsegna-Resurrection-of-Lazarus

Di situ banyak orang Yahudi telah datang kepada Marta dan Maria untuk menghibur mereka berhubung dengan kematian saudaranya. Ketika Marta mendengar bahwa Yesus datang, ia pergi mendapatkan-Nya. Tetapi Maria tinggal di rumah. Lalu kata Marta kepada Yesus, “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati. Tetapi sekarang pun aku tahu bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya.” Kata Yesus kepada Marta, “Saudaramu akan bangkit.”  Kata Marta kepada-Nya, “Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman.” Jawab Yesus kepada, “Akulah kebangkitan dan hidup; siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akah hal ini?” Jawab Marta, “Ya Tuhan, aku percaya bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, yang akan datang ke dalam dunia.” (Yoh 11:19-27) 

Bacaan Pertama: Kel 34:29-35; Mazmur Tanggapan: Mzm 99:5-7,9; Bacaan Injil Alternatif: Yoh 11:19-27

Marta dan saudara-saudarinya – Lazarus dan Maria – adalah sahabat-sahabat dekat Yesus dan juga pengikut-Nya. Dalam bahasa Aram “Marta” berarti “nyonya”. Sifat pribadinya memang cocok dengan perannya sebagai nyonya, karena Marta menyambut Yesus ke dalam rumahnya (Luk 10:38-42), jelas sebagai sang kepala rumah tangga. Lukas menggambarkan Marta sebagai seorang yang sibuk melayani dalam rumah, barangkali dalam mempersiapkan makanan dan minuman dan melihat apa yang dibutuhkan oleh para tamunya.

Bacaan Injil hari ini berlatar-belakang kematian Lazarus. Yohanes menggambarkan Marta pergi mendapatkan Yesus dan menyapa-Nya dengan suatu pernyataan iman (Yoh 11:21-22). Di sini tidak ada kata-kata “menegur” Yesus seperti yang diucapkan kepada-Nya sebelumnya (lihat Luk 10:38-42). Yang ada hanyalah penerimaan kenyataan akan ketidak-hadiran-Nya ditambah dengan suatu kepercayaan akan kuat-kuasa-Nya. Di sini Yohanes Penginjil menggambarkan seorang perempuan yang sudah lebih matang/dewasa dalam imannya ketimbang yang digambarkan oleh Lukas dalam Luk 10:38-42. Yesus telah mengajarkan kepada Marta tentang pentingnya berupaya mengenal hal-hal surgawi.

Martha_03Marta telah sampai kepada pemahaman bahwa Yesus mempunyai suatu relasi istimewa dengan Bapa-Nya di surga. Yesus mencoba untuk mengembangkan iman-kepercayaan perempuan ini dengan berkata: “Saudaramu akan bangkit” (Yoh 11:23). Marta mengetahui tentang hal kebangkitan dari kepercayaan yang meluas di antara orang-orang Yahudi saleh pada zaman itu bahwa akan ada suatu kebangkitan pada akhir zaman: “Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman”  (Yoh 11:24). Namun Yesus menanggapi ucapan Marta tersebut dengan berkata: “Akulah kebangkitan dan hidup, siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya” (Yoh 11:25-26). Mendengar kata-kata Yesus itu, Marta membuat suatu lompatan iman yang besar dengan mengatakan: “Ya, Tuhan, aku percaya bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, yang akan datang ke dalam dunia” (Yoh 11:27).

Kiranya inilah pesan bagi kita pada hari ini. Apabila kita duduk bersimpuh di dekat kaki Yesus dan belajar dari diri-Nya, iman kita akan bertumbuh selagi Dia mengajar kita jalan-jalan-Nya. Waktu yang kita luangkan bersama Yesus dalam doa, pembacaan dan permenungan Sabda-Nya dalam Kitab Suci, dan Ekaristi akan menolong memperdalam iman-kepercayaan kita selagi kita diajar oleh Yesus dan menyimpan sabda-Nya dalam hati kita.

DOA: Tuhan Yesus, kami datang menghadap Engkau dan duduk bersimpuh di dekat kaki-Mu untuk mendapat pengajaran dari-Mu. Semoga kami semua terbuka bagi sabda-Mu yang disampaikan kepada kami dalam doa-doa kami, selagi kami membaca dan merenungkan sabda-Mu dalam Kitab Suci, dan dalam Ekaristi. Tolonglah kami agar dapat merangkul ajaran-Mu sehingga dengan demikian kami dapat percaya bahwa Engkau adalah sungguh kebangkitan dan hidup. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil Alternatif hari ini (Luk 10:38-42), bacalah tulisan yang berjudul “MARTA DARI BETANIA” (bacaan tanggal 29-7-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-07 BACAAN HARIAN JULI 2015.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 29-7-14 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 27 Juli 2015 [B. Maria Magdalena Martinengo, Biarawati Klaris]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA ADALAH KEDUA-DUANYA: GANDUM DAN LALANG

KITA ADALAH KEDUA-DUANYA: GANDUM DAN LALANG

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVII – Selasa, 28 Juli 2015)

jesus christ super starSesudah itu Yesus meninggalkan orang banyak itu, lalu pulang. Murid-murid-Nya datang dan berkata kepada-Nya, “Jelaskanlah kepada kami perumpamaan tentang lalang di ladang itu.” Ia menjawab, “Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia; ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan sedangkan lalang anak-anak si jahat. Musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman  dan para penuai itu malaikat. Jadi, seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman. Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyebabkan orang berdosa dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya. Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi. Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa yang bertelinga, hendaklah ia mendengar!” (Mat 13:36-43) 

Bacaan Pertama: Kel 33:7-11;34:5-9,28; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:6-13

Banyak dari perumpamaan-perumpamaan Yesus tentang Kerajaan Surga menyangkut persoalan “kebaikan dan kejahatan”, dan bagaimana Allah ingin agar keduanya (baik dan jahat) ada dalam kehidupan kita, namun pada akhirnya harus dipisahkan. Dalam perumpamaan ini gandum harus diselamatkan karena satu-satunya yang bernilai. Di lain pihak lalang harus dicabut dan dibakar. Waktu panen/tuain adalah waktu untuk mengambil keputusan, waktu penghakiman, pada waktu mana yang baik harus dipisahkan dari yang jahat.

Dapatkah kita memandang masalah ini secara sempit: gandum itu adalah orang-orang baik, sedangkan lalang adalah orang-orang jahat? Apakah pandangan ini sejalan dengan kebanyakan pengalaman kita? Apakah memang kita menemukan orang-orang yang sepenuhnya baik dan di sisi lain orang-orang yang sepenuhnya jahat? Atau, apakah kita melihat dalam diri kita masing-masing, bahwa kita adalah kedua-duanya: gandum dan lalang, baik dan jahat? Kalau memang demikian halnya, maka cepat atau lambat – sebelum kita menikmati kebahagiaan sejati dan ganjaran surgawi – maka semua lalang atau apa saja yang jahat harus dicabut dari diri kita dan kemudian dibakar habis!

gandum dan ilalang - mat 13 24-43Sayangnya, memang kita masing-masing bertumbuh sebagai tumbuhan mendua, tumbuhan ganda yang terdiri dari gandum yang baik yang bercampur dengan lalang yang jahat. Lalang harus dibakar sebelum gandum itu menjadi cukup baik agar dapat disimpan dalam lumbung kebahagiaan di masa mendatang. Itulah sebabnya mengapa Allah memperkenankan kita menderita, itulah sebabnya mengapa kita harus banyak berkorban, menyangkal diri kita, dan memperbaiki diri dari berbagai kesalahan yang kita buat, termasuk kelalaian kita untuk mematuhi perintah-perintah-Nya. Lalang bertumbuh dan berkembang-biak dalam kebun atau ladang yang tak terurus. Jadi, lalang yang dimaksudkan oleh Yesus dalam perumpamaan ini adalah kejahatan-kejahatan yang bertumbuh-kembang dalam sebuah jiwa yang tak terurus, tak karuan arahnya.

Satu lagi realitas yang kita lihat: banyak dari kita, sayangnya tidak menyelesaikan pekerjaan memotong lalang sebelum Allah memanggil kita dan berkata: “Waktumu sudah habis!” Itulah sebabnya kita percaya akan keberadaan purgatorio – api pencucian – sebuah “tempat” pemurnian. Kita berharap akan adanya sebuah cara di mana sisa lalang yang belum dicabut dapat dibakar habis, agar hanya gandum yang baik sajalah yang tertinggal. Kebahagiaan sempurna adalah bagi orang-orang yang sempurna, sehingga dengan demikian tidak tersisa apa pun yang jahat.

Jadi, ada kebutuhan yang mendesak bagi kita untuk melakukan kebaikan; agar kita dapat mengalami proses pemurnian itu sebanyak mungkin selama kita masih hidup di dunia. Allah menciptakan kita untuk saling menolong. Orang-orang lain juga adalah anak-anak Allah, jadi mereka adalah saudari-saudara kita yang harus ditolong ketika mereka mengalami kesusahan. “Model” sempurna bagaimana caranya melakukan kebaikan adalah Yesus Kristus sendiri, Saudara tua kita semua. Dengan demikian janganlah kita pernah lupa – teristimewa pada waktu kita berada dalam posisi nyaman – untuk bermurah hati, lemah-lembut, dan tidak “mikiran diri sendiri melulu”. Janganlah kita lupa juga untuk mendoakan orang-orang lain …… termasuk mereka yang telah mendzolimi diri kita. Hidup yang terselamatkan lewat perbuatan baik kita boleh jadi adalah hidup kita sendiri!

DOA: Tuhan Yesus, selagi kami berjalan kembali kepada-Mu, sembuhkanlah hati kami dan perbaharuilah hidup kami. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:36-43), bacalah tulisan yang berjudul “PENJELASAN YESUS ATAS PERUMPAMAAN TENTANG LALANG DI ANTARA GANDUM” (bacaan tanggal 28-7-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-07 SANG SABDA JULI 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 30-7-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 25 Juli 2015 [Pesta S. Yakobus, Rasul] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 91 other followers