DOSAMU TELAH DIAMPUNI

DOSAMU TELAH DIAMPUNI

 (Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIV – Kamis, 18 September 2014)

Keluarga Fransiskan: Peringatan/Pesta S. Yosef dari Copertino, Imam 

sacramentSeorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan dengannya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan. Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu mendengar bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah botol pualam berisi minyak wangi. Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan airmatanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu. Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya, “Jika Ia ini nabi, tentu ia tahu bahwa perempuan itu seorang berdosa.” Lalu Yesus berkata kepadanya, “Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu.” Sahut Simon, “Katakanlah, Guru.”

“Ada dua orang yang berhutang kepada seorang yang membungakan uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan lebih mengasihi dia?” Jawab Simon, “Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya.” Kata Yesus kepadanya, “Betul pendapatmu itu.” Sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon, “Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasuhi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tidak henti-hentinya mencium kaki-Ku. Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi. Karena itu, Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak mengasihi. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia mengasihi.” Lalu Ia berkata kepada perempuan itu, “Dosamu telah diampuni.” Orang-orang yang duduk makan bersama Dia, berpikir dalam hati mereka, “Siapakah Ia ini, sehingga Ia dapat mengampuni dosa-dosa?” Tetapi Yesus berkata kepada perempuan itu, “Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan damai!” (Luk 7:36-50)

Bacaan Pertama: 1Kor 15:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 118:1-2,16-17,28 

Di mata Yesus, dengan berbuat seperti itu, perempuan berdosa itu sebenarnya mengungkapkan kasihnya yang mendalam kepada diri-Nya. Perempuan ini dikenal di kota itu sebagai seorang pendosa. Ketika dia mendengar bahwa Yesus sedang makan di rumah Simon orang Farisi, maka datanglah perempuan itu tanpa mempedulikan para tamu dan tuan rumah yang ada di situ, kecuali Yesus. Sambil menangis ia langsung mengambil tempat di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya dengan airmatanya dan menyekanya dengan rambutnya. Airmata perempuan itu adalah airmata pertobatan dan tanda terima kasih penuh syukur. Yesus menjadi begitu tersentuh dengan pengungkapan kasih perempuan yang terlihat terbuka dan cukup “ekstrim” itu. Yesus tidak hanya membela perempuan itu, melainkan juga membuat cerita perempuan itu menjadi sebuah contoh utama bagaimana Dia ingin setiap orang menyambut baik keselamatan yang dibawakan oleh-Nya.

Yesus menggunakan episode ini untuk menunjukkan bagaimana orang yang banyak diampuni harus banyak mengasihi (tidak seperti hamba yang jahat dalam “perumpamaan tentang pengampunan”; lihat Mat 18:21-35). Perempuan ini mengalami belas kasih yang mendalam dan penerimaan dari pihak Allah, dan sebagai tanggapan terhadap hal ini, dia memberikan kepada kita ilustrasi dramatis bagaimana kita semua dapat mengasihi Tuhan sebagai balasan. Bayangkanlah betapa senang Yesus ketika Dia melihat kita datang ke perayaan Ekaristi atau mencoba untuk membaca Kitab Suci setiap hari karena kita merasa bersyukur atas kasih-Nya dan penyelamatan-Nya. Sekarang, bayangkanlah betapa tergetar hati-Nya ketika melihat kita meniru “pemborosan” dalam pemberian kasih perempuan itu, walaupun hanya sedikit saja!

Ada banyak cara yang dapat kita gunakan untuk menunjukkan kasih kita kepada Yesus. Satu yang pasti menyenangkan hati-Nya adalah ketika melihat kita “boros” – artinya tidak kikir/pelit – dalam mengasihi orang-orang miskin dan mereka yang membutuhkan pertolongan di sekeliling kita – dan tidak hanya terbatas pada orang-orang yang miskin secara materiil. Barangkali kita dapat menjadi lebih terlibat secara penuh dalam kegiatan-kegiatan paroki kita, misalnya sebagai katekis, prodiakon, anggota seksi sosial dll. Barangkali kita harus menyanyi dengan suara sebaik mungkin dalam Misa, tidak secara setengah hati dan suara tersendat-sendat. Ada begitu banyak cara! Yang kita perlukan adalah sentuhan/jamahan Roh Kudus-Nya, dan kasih kepada Yesus Kristus pun akan mengalir dari hati kita.

Marilah kita berupaya untuk mengenal dan mengalami kasih Yesus yang besar. Di dalam Misa atau ketika membaca serta merenungkan sabda Allah dalam Kitab Suci pada saat-saat privat kita, marilah kita memeditasikan kasih penuh pengorbanan bagi kita masing-masing. Kita harus menyediakan waktu yang cukup bagi sabda Allah yang kita baca untuk tenggelam ke dalam hati kita. Baik juga bagi kita untuk melakukan sesuatu yang “boros”, bahkan yang pada awalnya kelihatan sedikit “tolol” dan “konyol” atau “tidak pantas”. Tindakan kita itu dapat menunjukkan rasa syukur kita kepada Tuhan dengan suatu cara yang indah. Selagi kita memperlihatkan betapa “boros”-nya kita bagi Dia, marilah kita lihat bagaimana Dia mengisi diri kita dengan lebih banyak kasih lagi dan sukacita sebagai akibatnya. Kemurahan hati Allah tidak pernah dapat dikalahkan oleh apa dan siapa pun.

DOA: Tuhan Yesus, aku mengasihi Engkau dan kasihku kepada-Mu tak mampu kuungkapkan dengan kata-kata. Terimalah kasihku kepada-Mu dan ketahuilah bahwa aku sungguh berterima kasih penuh syukur kepada-Mu untuk karunia keselamatan dan pengampunan yang telah anugerahkan kepadaku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 7:36-50), bacalah tulisan yang berjudul “KITA TAK PANTAS MENGHAKIMI ORANG LAIN” (bacaan tanggal 19-9-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2014. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 19-9-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 16 September 2014 [Peringatan S. Kornelius, Paus & S. Siprianus, Uskup-Martir] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MEMBUTUHKAN TANGGAPAN SEORANG DEWASA

MEMBUTUHKAN TANGGAPAN SEORANG DEWASA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIV – Rabu, 17 September 2014)

Keluarga Fransiskan: Pesta Stigmata Bapa Kita Fransiskus 

KONFLIK DGN ORANG FARISI DLL. - YESUS MENGECAM - MAT 23Kata Yesus, “Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang zaman ini dan dengan apakah mereka dapat disamakan? Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan yang saling menyerukan: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis. Karena Yohanes Pembaptis datang, ia tidak makan roti dan tidak minum anggur, dan kamu berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan kamu berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya.” (Luk 7:31-35)

Bacaan Pertama: 1Kor 12:31-13:13; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:2-512,22

Orang-orang Farisi dan para ahli Taurat menolak baptisan-tobat dari Yohanes Pembaptis, dan penolakan mereka terhadap Yohanes Pembaptis itu merupakan antisipasi akan penolakan mereka terhadap Yesus. Baik Yohanes Pembaptis maupun Yesus mengundang para pendengar pewartaan mereka untuk mengubah sikap-sikap dan cara hidup mereka supaya sejalan dengan zaman mesianis yang akan datang. Keduanya ditolak oleh para otoritas keagamaan pada masa itu, namun keduanya justru diterima oleh orang-orang yang tersisihkan dalam masyarakat pada masa itu.

Dalam bacaan Injil hari ini, kita hampir dapat mendengar keluhan Yesus atas sikap dan perilaku tidak memadai dari para pendengar-Nya. Mereka dibandingkan-Nya dengan anak-anak yang bermain-main di pasar (Luk 7:32). Baik Yohanes Pembaptis maupun Yesus tidak bermain-main. Mereka berdua membawa suatu pesan sangat penting yang membutuhkan tanggapan seorang dewasa, dan bukan teriakan ketidakpuasan yang bersifat kekanak-kanakan.

Sebagaimana dikatakan oleh Yesus, Yohanes Pembaptis berasal dari suatu tradisi asketisisme; dia hidup secara keras di padang gurun, namun orang-orang mengatakan bahwa dia kerasukan setan. Kemudian datanglah Yesus; dia bergaul dengan segala macam orang, dia menghadiri pesta perkawinan dan kematian mereka, berbicara mengenai Kerajaan Allah sebagai sebuah perjamuan ilahi dimana makanan dan air anggur mengalir dengan bebas, dan tokh orang-orang menuduh-Nya sebagai seorang pelahap dan peminum (pemabuk). Hidup Yohanes Pembaptis yang menyendiri dinilai sebagai sesuatu yang dipengaruhi Iblis, sedangkan hidup Yesus yang terbuka dikatakan “tidak keruan”. Kelihatannya baik Yohanes Pembaptis maupun Yesus harus kalah.

Sebenarnya pelayanan Yesus sendiri dan pelayanan Yohanes Pembaptis itu  bersifat komplementer, saling mengisi satu sama lain, namun masing-masing dikritik karena tidak melakukan hal yang dilakukan oleh yang lain. Jadi pendekatan apa pun yang diambil oleh mereka, pasti salah. Yesus menjawab bahwa hikmat dibenarkan oleh semua orang yang  menerimanya (Luk 7:35). Putusan terakhir tidaklah terletak pada kritik-kritik yang kekanak-kanakan, melainkan dalam kebaikan yang dilahirkan melalui pelayanan Yohanes Pembaptis dan Yesus. Orang-orang dapat saja mengkritisi Yohanes Pembaptis untuk “isolasi”-nya, namun dia berhasil menggerakkan hati banyak orang dan memimpin mereka ke dalam hadirat Allah dengan cara yang belum pernah dilakukan oleh para nabi sebelumnya. Orang-orang dapat mengkritisi Yesus yang begitu mudah bergaul dengan berbagai macam orang (termasuk orang-orang yang dipandang “berdosa”), namun tidak pernah dalam sejarah mereka ada seorang pun yang telah memanifestasikan wajah Allah seperti yang telah dilakukan oleh Yesus.

Buah-buah dari karya Yesus dan Yohanes Pembaptis berbicara sendiri dalam diri mereka yang memberikan tanggapan terhadap pesan mereka. Yesus dan Yohanes Pembaptis mengetahui sekali bahwa mereka mereka tidak pernah dapat diterima oleh orang-orang yang menginginkan suatu pesan berbeda daripada yang mereka dengar sekarang. Namun baik Yesus maupun Yohanes Pembaptis tidak terpengaruh untuk melayani keinginan mereka. Kiranya Yohanes Pembaptis dan Yesus bukanlah petugas penjualan yang akan menjual barang dan/atau jasa yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan. Drama yang dihadirkan oleh Yesus dan Yohanes Pembaptis adalah drama yang riil, sebuah drama Allah sendiri.

DOA: Yesus, bukalah mata (-hati)ku agar dengan demikian sebagai seorang dewasa aku dapat melihat siapa sesungguhnya Engkau sebagai Tuhan dan Mesias (Kristus). Singkirkanlah setiap rintangan dalam hatiku supaya aku dapat menerima hidup-Mu dalam diriku. Amin.

Catatan: Tulisan ini diinspirasikan oleh tulisan P. Denis McBride, THE GOSPEL OF LUKE – A REFLECTIVE COMMENTARY 3rd Edition, Dublin, Ireland: Dominican Publications, 1991, hal. 99-100. 

Cilandak, 15 September 2014 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PUTERA SANG JANDA DARI NAIN

PUTERA SANG JANDA DARI NAIN

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Kornelius, Paus dan S. Siprianus, Uskup-Martir – Selasa, 16 September 2014)

James_Tissot_The_Resurrection_of_the_Widows_Son_at_Nain_700

Segera setelah itu Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain. Murid-murid-Nya pergi bersama-sama dengan Dia, dan juga orang banyak menyertai-Nya berbondong-bondong. Setelah Ia dekat pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu. Ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya, “Jangan menangis!” Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata, “Hai anak muda, aku berkata kepadamu, bangkitlah!” Orang itu pun bangun dan duduk serta mulai berkata-kata, lalu Yesus menyerahkannya kepada ibunya. Semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata, “Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,” dan “Allah telah datang untuk menyelamatkan umat-Nya.” Lalu tersebarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di seluruh daerah sekitarnya. (Luk 7:11-17)

Bacaan Pertama: 1Kor 12:12-14,27-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 100:2-5

Dua rombongan bertemu di dekat pintu gerbang kota Nain. Rombongan yang pertama adalah Yesus bersama orang banyak yang menyertai-Nya dengan berbondong-bondong menuju Nain. Rombongan yang kedua adalah orang-orang yang mengusung jenazah anak laki-laki tunggal ibunya yang sudah janda dan diiringi banyak orang dari kota. Rombongan pertama mengikuti “kehidupan” (lihat Yoh 14:6), sedangkan rombongan kedua mengikuti “kematian”. Ada dua pribadi yang menjadi pusat perhatian dalam cerita ini: Yesus dari Nazaret, sang rabi-keliling yang sedang naik-daun dan seorang janda yang baru kehilangan anak tunggalnya. Dalam cerita ini tidak terdengar seruan mohon pertolongan, tidak terdengar seruan agar Yesus membuat sebuah mukjizat, tidak ada permohonan agar terjadi tanda-tanda heran.

Cerita ini secara sederhana menggambarkan bahwa hati Yesus tergerak oleh bela rasa penuh belas kasih terhadap sang janda. Yesus merasakan betapa pedihnya penderitaan yang menimpa sang janda. Yesus ikut menderita bersama perempuan malang itu. Yesus berkata kepadanya untuk jangan menangis (Luk 7:13) dan segera membuktikan kepada sang janda alasan dari kata-katanya dengan perbuatan nyata. Yesus menyentuh usungan jenazah, dan lagi-lagi bela-rasa-Nya mengalahkan rituale keagamaan yang berlaku, yang tidak memperbolehkan orang berkontak (bersentuhan) dengan orang mati. Dengan kata-kata-Nya yang penuh dengan kuat-kuasa, Yesus memerintahkan orang mati itu untuk bangkit (Luk 7:14). Anak muda itu pun bangun dan duduk serta mulai berkata-kata. Yesus mengklaim kembali anak muda itu ke dalam alam orang hidup dan Ia mengembalikannya kepada sang ibu. Sang ibu dengan demikian tidak perlu menangis lagi.

Lukas memberikan kepada kita sebuah cerita sederhana yang berbicara mengenai bela rasa Yesus yang tidak mengenal batas. Di sini Yesus tidak digambarkan sebagai seorang penggerak yang tidak bergerak. Bila ada orang yang menderita, hati-Nya tergerak – tidak secara tanpa kuat-kuasa, di mana Dia tak berdaya untuk melakukan apa pun, melainkan dengan cara di mana Dia mampu untuk mentransformir penderitaan menjadi sukacita dan kematian menjadi kehidupan. Mukjizat yang dibuat oleh Yesus ini tidak tergantung pada iman siapa pun. Isu dalam cerita mukjizat ini adalah bela rasa Yesus. Yesus sama sekali tidak menuntut iman sebagai prasyarat; Ia tidak menunggu sampai sang janda mengucapkan permohonan kepada-Nya. Yesus-lah yang bergerak untuk pertama kalinya, karena Dialah yang tergerak untuk pertama kalinya. Yesus tidak membuat mukjizat guna menunjukkan otoritas-Nya yang berada di atas segala otoritas lainnya; Dia juga tidak membuat mukjizat sebagai alat pendidikan untuk membuktikan suatu butir pemahaman; Yesus digerakkan oleh penderitaan yang ada di depan mata-Nya, dan itu sudah cukup bagi-Nya untuk bertindak … melakukan pekerjaan baik bagi manusia!

Inilah pertama kalinya Lukas menggunakan gelar Kyrios, artinya Tuhan, untuk menggambarkan Yesus. Waktunya memang layak dan pantas. Ketika Yesus menunjukkan diri-Nya sebagai Tuhan atas  kehidupan dan kematian, maka kepada-Nya diberikanlah gelar Kyrios.

Dalam bacaan Injil ini, Lukas menyajikan kepada kita imaji Yesus yang sangat menyentuh hati. Yesus-lah yang mengambil inisiatif, yang pertama berbicara, yang melihat adanya penderitaan dan desolasi yang menindih orang-orang, dan yang tidak melewati orang-orang yang menderita tersebut secara begitu saja. Dalam bela rasa-Nya Yesus tidak takut tangan-Nya menjadi kotor, atau diperlakukan sebagai orang yang najis sehingga harus ditahirkan oleh para imam Yahudi. Yesus sama sekali bukanlah seperti imam dan orang Lewi yang  digambarkan dalam “perumpamaan orang Samaria yang murah hati” (Luk 10:25-37). Manakala Yesus berjumpa dengan penderitaan di persimpangan jalan, Ia tidak “menghindar”. Yesus mentransformasikan penderitaan tersebut dengan sentuhan-Nya dan dengan sabda-Nya. Yesus mendatangkan kebahagiaan bagi kehidupan. Yesus meminta kepada orang-orang untuk hidup dalam pengetahuan bahwa Dia mampu untuk melakukan semua tindakan kebaikan, di sini dan sekarang juga. “Yesus Kristus tetap sama,  baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibr 13:8).

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar senantiasa terbuka bagi karya-Mu di dunia pada masa kini juga. Berikanlah kepadaku mata iman agar mampu melihat mukjizat-mukjizat yang Engkau perbuat. Tolonglah aku agar mampu memberikan tanggapan dengan penuh ketakjuban yang murni datang dari hatiku. Amin. 

Catatan: Tulisan ini diinspirasikan oleh tulisan P. Denis McBride, THE GOSPEL OF LUKE – A REFLECTIVE COMMENTARY 3rd Edition, Dublin, Ireland: Dominican Publications, 1991, hal. 95-96. 

Cilandak,  15 September 2014 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DAPATKAH KITA TETAP BERADA DI DEKAT SALIB KRISTUS BERSAMA MARIA DAN MENGAMPUNI?

DAPATKAH KITA TETAP BERADA DI DEKAT SALIB KRISTUS BERSAMA MARIA DAN MENGAMPUNI ?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan SP Maria Berdukacita – Senin, 15 September 2014)

stdas0748Dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, istri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya, “Ibu, inilah anakmu!”  Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya, “Inilah ibumu!”  Sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya (Yoh 19:25-27).

Bacaan Pertama 1Kor 10:14-12 atau Ibr 5:7-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 31:2-6,15-16; Bacaan Injil Alternatif: Luk 2:33-35 

Maria sangat menderita ketika berdiri di dekat salib Yesus di bukit Kalvari selagi dia menyaksikan kematian Anaknya yang mengerikan. Ia menunjukkan kepada Anaknya cintakasih-Nya dengan satu-satunya cara yang ia dapat lakukan, yaitu oleh kehadirannya bersama Anaknya. Oleh rahmat Roh Kudus, Maria memiliki mata iman yang percaya bahwa rencana Allah akan berbuah, walaupun tidak ada tanda-tandanya yang kelihatan. Maria menangisi ketidakadilan yang  berlangsung di depan matanya, namun ia percaya bahwa kuasa Allah akan mengalahkan kematian/maut.

Dikelilingi oleh para penganiaya Yesus, Maria merasa dirinya dipanggil untuk bergabung dengan Yesus dalam doa-Nya; “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34). Seandainya ada rasa marah dan dendam dalam dirinya, Maria tidak akan bersatu dengan Yesus. Hanya dengan berpaling kepada Roh Kudus yang berdiam dalam dirinya, Maria dapat mengampuni dan memberkati dalam menghadapi situasi ketidakadilan, penuh dengan kebencian dan kekerasan.

Kita semua akan mengalami sikap dan perlakuan kasar dari orang-orang lain dalam hidup kita. Dapatkah kita tetap berada di dekat salib Kristus bersama Maria dan mengampuni mereka yang telah menyakiti kita dengan kata-kata maupun perbuatan-perbuatan mereka? Maria menerima undangan Yesus untuk mengambil “murid yang dikasihi-Nya” sebagai anaknya, dan dengan melakukan hal itu, dia menerima semua murid-Nya sebagai anggota-anggota keluarganya. Bahkan pada saat itu, 33 tahun setelah  menerima pemberitahuan dari malaikat agung Gabriel, sekali lagi Maria diminta untuk mengesampingkan ide-idenya sendiri perihal keluarga dan apa yang diinginkannya dalam hidupnya. Dan sekali lagi, ketaatan Maria merupakan buah Roh Kudus yang berdiam dalam dirinya.

OUR LADY OF SORROWKita semua juga dipanggil untuk mengasihi semua orang yang menamakan diri mereka orang Kristiani dan juga mereka yang memiliki iman berbeda. Apakah kita siap untuk mengikuti jejak Maria dan merangkul semua anggota keluarga Allah, dan mengesampingkan  segala rasa praduga dan prasangka?

Banyak orang yang dekat dengan diri kita, bahkan kita sendiri pun, akan menghadapi dan mengalami penderitaan. Kita akan melihat betapa sulit bagi kita untuk memahami mengapa hal-hal yang begitu tidak adil dan menyakitkan terjadi atas diri kita dan juga atas orang-orang yang kita kasihi. Peringatan gerejawi hari ini mengingatkan kita akan rahmat Allah yang bekerja dalam diri Maria selagi dia ikut ambil bagian dalam penderitaan sengsara Yesus. Maria mendorong dan menyemangati kita agar mau dan mampu menghadapi serta menanggung kesedihan kita juga, tentunya dengan pertolongan Roh Kudus.

DOA: Roh Kudus Allah, aku menyerahkan hidupku kepada-Mu. Aku membutuhkan Engkau, seperti juga halnya dengan Maria pada waktu ia berada di dekat Salib Kristus. Aku merindukan penghiburan dari-Mu dan juga kekuatan-Mu. Tolonglah diriku agar dapat memiliki rasa percaya kepada Allah dan tetap mengasihi-Nya dan sesamaku, bahkan di tengah-tengah penderitaanku. Berilah kepadaku keyakinan bahwa Yesus telah mengalahkan kuasa maut. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 19:25-27), bacalah tulisan yang berjudul “TELADAN ABADI YANG DIBERIKAN BUNDA MARIA” (bacaan tanggal 15-9-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2014. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 15-9-12 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 12 September 2014 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

 

PESTA SALIB SUCI (7)

PESTA SALIB SUCI (7)

(Bacaan Kedua Misa Kudus, Pesta Salib Suci – Minggu, 14 September 2014) 

saint-francis-of-assisi-embracing-the-crucified-christ.jpg!BlogKristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku, “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa! (Flp 2:6-11)

Bacaan Pertama: Bil 21:4-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 78:1-2,34-38; Bacaan Injil: Yoh 3:13-17 

Pada Pesta Salib Suci ini, marilah kita bersukacita atas karya salib Kristus dan dengan penuh keyakinan masuk ke dalamnya. Salib Kristus masih memiliki kuat-kuasa bagi kita pada hari ini, dan Allah memaksudkan salib itu agar membawa hidup dan pertolongan bagi kita.

Karya salib Kristus adalah dasar kebenaran di atas mana Gereja dan setiap orang yang dibaptis “dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus” (Mat 28:19) berdiri. Seluruh hidup Yesus diarahkan kepada salib (Mrk 8:31); kematian-Nya pada kayu salib adalah bagian dari rencana Allah bagi umat-Nya (Kis 13:28-30). Salib Kristus membebaskan kita dari dosa (Rm 8:3) dan merekonsiliasikan kita dengan Allah (Kol 1:20). Salib Kristus membangun kembali damai-sejahtera dan merupakan sumber kehidupan kita (Yoh 3:14-15). Efek salib Kristus bersifat abadi dan universal.

SALIB - YESUS DI KAYU SALIBKeajaiban salib Kristus adalah bahwa salib itu juga menjangkau kehidupan kita sehari-hari. Seperti para kudus di surga yang mengenal serta mengalami kemenangan salib Kristus (Why 12:10-11), demikian juga Allah ingin agar kehidupan sehari-hari para anggota Gereja-Nya memanifestasikan kemenangan dan kuat-kuasa salib Kristus. Karena kemenangan salib Kristus, maka segenap ciptaan menjadi subjek dari otoritas Yesus: “Dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku, “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Flp 2:10-11).

Gereja dengan kokoh berdiri dalam suatu posisi mulia penuh kemenangan atas kegelapan yang mengelilinginya karena darah Kristus yang dicurahkan bagi kita di atas kayu salib. Kita perlu percaya akan kebenaran ini dan bertindak dalam iman atasnya. Konflik-konflik dalam hidup perkawinan, perpecahan dalam keluarga, sikap masa bodoh terhadap Kristus dan Gereja-Nya dlsb.: semua ini adalah masalah-masalah yang harus dihadapi oleh keluarga-keluarga Kristiani. Dikumpulkan bersama, masalah-masalah seperti ini bersama-sama dengan banyak masalah lain membentuk apa yang kelihatan hampir seperti kegelapan yang menyelimuti Gereja.

Namun kita tidak boleh bergetar menghadapi semua masalah itu. Sebaliknya, kita harus memproklamasikan kebenaran: Darah Kristus yang tersalib  telah mengalahkan semua kejahatan! Bahaya riil yang dihadapi Gereja adalah bahwa kita tidak lagi percaya bahwa salib Kristus telah berkemenangan. Namun apakah kita mengakuinya atau tidak, kebenarannya adalah bahwa Kristus – melalui salib-Nya – telah mengalahkan kejahatan dan kita perlu memeluk karya salib Kristus dalam iman.

DOA: Kami menyembah Engkau, Tuhan Yesus Kristus, di sini dan di semua gereja-Mu yang ada di seluruh dunia; dan kami memuji Engkau, sebab dengan salib suci-Mu Engkau telah menebus dunia. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 3:13-17), bacalah tulisan yang berjudul “PESTA SALIB SUCI (8) (bacaan tanggal 14-9-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2014.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-9-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 11 September 2014 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

RUMAH YANG DIDIRIKAN DI ATAS DASAR KOKOH

RUMAH YANG DIDIRIKAN DI ATAS DASAR KOKOH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Yohanes Krisostomos, Uskup & Pujangga Gereja – Sabtu, 13 September 2014) 

LECTIO DIVINA“Karena tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik. Sebab setiap pohon dikenal dari buahnya. Karena dari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri tidak memetik buah anggur. Orang yang baik mengeluarkan apa yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan apa yang jahat dari perbendaharaan yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya.”

“Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan? Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya – Aku akan menyatakan kepadamu dengan siapa ia dapat disamakan – ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun. Akan tetapi, siapa saja yang mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melandanya, rumah itu segera rubuh dan hebatlah kerusakannya.” (Luk 6:43-49) 

Bacaan Pertama: 1Kor 10:14-22; Mazmur Tanggapan: Mzm 116:12-13,17-18 

Kita akan menyoroti Luk 6:47-49 saja. Perikop ini mengingatkan kita pada perikop Mat 7:14-27, yang membedakan dua macam orang, yaitu (1) orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya diatas batu dan  (2) orang yang bodoh, yaitu yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Bacaan yang sedang kita soroti ini menunjukkan bahwa fondasi kokoh satu-satunya untuk hidup kita adalah firman (sabda) Allah. Firman Allah ini tersedia secara istimewa bagi kita dalam Kitab Suci. Kitab Suci ini dapat bertahan terhadap segala terpaan hujan-badai dan gangguan-gangguan lain dalam kehidupan kita.

Bagaimana anda memandang Kitab Suci? Apakah di mata anda, Kitab Suci merupakan sekadar sebuah daftar yang memuat hal-hal yang harus dilakukan dan hal-hal yang tidak boleh dilakukan? Apakah Kitab Suci (Alkitab) bagi anda adalah textbook  yang hanya pantas digeluti oleh para pakar dan orang-orang yang berlatar-belakang pendidikan cukup tinggi saja? Apakah bagi anda Kitab Suci adalah semacam buku sejarah? Atau, apakah Kitab Suci ini merupakan perwahyuan hati dan pikiran Allah kepada setiap orang yang mengambil dan membacanya? Bagaimana kita memandang Kitab Suci itu memang penting.

ROH KUDUS MELAYANG-LAYANG - 2Mendengarkan Roh Kudus dalam doa (prayerful listening to the Holy Spirit) adalah kunci dalam upaya membuat Kitab Suci itu menjadi hidup. Roh Kudus ini biasanya berbicara kepada hati kita dan Gereja: dengan lemah-lembut, tidak dengan cara yang sensasional atau pun spektakuler. Tanpa bimbingan Roh Kudus,  Kitab Suci dengan mudah dapat menjadi membosankan dan tidak menarik!

Saudari dan Saudaraku, Roh Kudus ingin membimbing kita masing-masing. Seperti membangun rumah di atas fondasi yang kokoh, kita juga dapat membangun hidup kita sesuai dengan berbagai wawasan yang kita peroleh dari Kitab Suci. Hal seperti ini menyenangkan hati Allah. Hal yang lebih menyemangati kita adalah: selagi kita bertindak atas dasar firman Allah, kita mengetahui bahwa kita bukanlah satu-satunya yang sedang membangun. Allah sendiri juga sedang bekerja membangun hidup-Nya dalam diri kita. Oleh karena itu kita harus percaya bahwa Allah akan menolong kita membangun hidup kita masing-masing di atas batu yang kokoh, yaitu firman-Nya. Dengan demikian kita harus mencari sebuah tempat dan menyediakan waktu yang hening, khusus di tengah rutinitas kita sehari-hari ……… untuk menggumuli firman Allah dalam Kitab Suci itu.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku membangun hidupku di atas batu yang kokoh, yaitu firman-Mu yang terdapat dalam Kitab Suci. Teristimewa dalam bulan Kitab Suci ini,  biarlah Roh-Mu mendorong daku untuk lebih mencintai firman-Mu dalam Kitab Suci. Semoga Roh hikmat-Mu membimbing daku dalam segala hal hari ini. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil  hari ini (Luk 6:43-49), bacalah tulisan yang berjudul “KETAATAN PENUH KERENDAHAN HATI” (bacaan tanggal 13-9-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2014. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-9-11 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak,  11 September 2014 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SATU-SATUNYA ORANG YANG QUALIFIED

SATU-SATUNYA ORANG YANG QUALIFIED

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIII – Jumat, 12 September 2014) 

jesus christ super star

Yesus menyampaikan lagi suatu perumpamaan kepada mereka, “Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lubang? Seorang murid tidak lebih daripada gurunya, tetapi siapa saja yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya. Mengapa engkau melihat serpihan kayu di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Saudara, biarlah aku mengeluarkan serpihan kayu yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan serpihan kayu itu dari mata saudaramu.” (Luk 6:39-42)

Bacaan Pertama: 1Kor 9:16-19,22-27; Mazmur Tanggapan: Mzm 84:3-6,12

Terutama dalam masa ketidakpastian seperti sekarang ini, tidak mengherankanlah apabila jumlah “guru-guru kebijaksanaan”, “guru-guru spiritual” dan teristimewa para “motivator” menjadi semakin banyak saja yang beroperasi dalam masyarakat kita untuk menawarkan jasa-jasa “baik” dan mengajarkan “kiat-kiat” menuju “sukses” kehidupan, menurut versi mereka masing-masing tentunya. Di Pulau Dewata, misalnya, ada seorang guru spiritual yang berasal dari India yang mengajar dan mempunyai sekelompok murid.

Di lain pihak, ada juga iklan-iklan di TV dan media massa lainnya dan tulisan-tulisan dalam berbagai surat-kabar yang mencoba mempengaruhi kita, tidak hanya berkaitan dengan barang/jasa apa yang harus kita beli melainkan juga bagaimana seharusnya kita berpikir, memilih dan berelasi satu sama lain. Dalam keadaan hiruk-pikuk seperti ini siapakah yang dapat kita percayai? Di manakah kita dapat menemukan  bimbingan spiritual yang sejati? Guru manakah yang sungguh qualified? Yesus melontarkan sebuah pertanyaan sangat relevan yang harus membuat kita berpikir dan menanggapinya: “Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lubang?” (Luk 6:39).

Dalam hal ini Santo Paulus memberikan sebuah petunjuk penting. Ia menyebut dirinya sendiri sebagai seorang “rasul Kristus Yesus menurut perintah Allah” (1Tim 1:1), namun kualifikasi dirinya yang ditulisnya untuk pelayanannya sebagai rasul mengejutkan juga. Bukannya suatu “litani” dari berbagai gelar akademis yang berhasil diraihnya dan juga berbagai capaian lainnya selama hidupnya, Paulus memberi gelar kepada dirinya sebagai seorang penghujat, penganiaya dan ganas yang telah menerima belas kasih dan rahmat dari Tuhan (1Tim 1:13-14). Sebagaimana Paulus melihatnya, satu-satunya orang yang qualified sebagai seorang pengurus (steward) dari belas kasih Allah adalah orang yang telah mengalami belas kasih itu. Pengalaman akan Allah/Yesus (experience of God/Jesus) memang merupakan suatu hal yang bersifat hakiki dalam hidup Kekristenan yang sejati. Lihatlah riwayat hidup para kudus seperti S. Augustinus dari Hippo [354-430], S. Fransiskus dari Assisi [1181-1226], S. Bonaventura [1221-1274], S. Thomas More [1478-1535], S. Ignatius dari Loyola [1491-1556], S. Teresa dari Lisieux [1873-1897] dan begitu banyak lagi para kudus lainnya.

Hal-hal yang membuat orang banyak merasa tertarik kepada Paulus adalah dedikasinya, kejujurannya, integritasnya, dan kemampuannya untuk menjadi segalanya bagi semua orang. Bukankah pembimbing spiritual seperti ini yang menarik dan sungguh kita butuhkan? Bukannya mereka yang pergi ke sana ke mari hanya untuk tebar pesona dan membingungkan kita dengan rupa-rupa gelar akademis serta janji-janji yang tidak realistis, atau menyerang orang-orang lain dengan kata-kata tajam yang tidak membangun. Kita ditarik untuk mendekat kepada mereka yang berjalan bersama-sama dalam perjalanan kita, mereka yang menyemangati dan mendorong kita untuk bertekun, dan mengatakan kepada kita bagaimana sang Gembala Baik telah mendampingi mereka melalui “lembah-lembah kekelaman” (lihat Mzm 23). Pemberian semangat dan dorongan positif ini lebih meyakinkan lagi, teristimewa jika Allah juga belum selesai dengan perkara mereka sendiri, namun mereka sangat menyadari bahwa Allah belum menyerah dalam perkara mereka dan terus menyembuhkan, mengampuni dan mentransformasikan mereka dalam Kristus. Inilah orang-orang yang dinamakan oleh P. Henri Nouwen sebagai wounded healer, “penyembuh yang terluka”.

Orang-orang seperti ini tidak akan banyak berbicara mengenai kelemahan-kelemahan kita (“serpihan kayu”; Luk 6:41-42). Sebaliknya, mereka akan banyak syering tentang bagaimana Allah sedang bekerja mengampuni dan mengatasi “balok-balok” dalam hidup mereka. Mereka tidak menunjuk-nunjuk dosa kita, melainkan dengan lemah lembut berbicara berkaitan dengan hal-hal yang berada di bawah permukaan, yaitu rasa haus dan lapar kita akan Allah, kerinduan kita akan kasih-Nya yang tanpa syarat, pengampunan-Nya, serta suatu awal yang baru dan menyegarkan. Orang-orang itu adalah pemimpin-pemimpin sejati dalam Tubuh Kristus, dan pemimpin-pemimpin seperti itulah yang menjadi murid-murid Kristus “yang sama dengan Gurunya” (lihat Luk 6:40).

DOA: Bapa surgawi, Engkau adalah Allah yang berbelas kasih. Kami telah menerima bela-rasa dan pengampunan dari-Mu. Buatlah kami kembali menjadi seturut citra-Mu. Apabila kami tergoda untuk mengkritisi atau menghakimi orang-orang lain, bukalah mata kami agar mampu melihat kedalaman cintakasih-Mu – bagi mereka dan bagi kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 6:39-42), bacalah tulisan yang berjudul “BAHAYA DARI KETIDAKSADARAN AKAN KEANGKUHAN KITA” (bacaan tanggal 12-9-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://seorangsabda.wordpdress.com; kategori: 14-09 BACAAN HARIAN 2014. 

Cilandak, 10 September 2014

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 84 other followers