DIDIMUS YANG PERLU BUKTI

DIDIMUS YANG PERLU BUKTI

 (Bacaan Injil Misa Kudus, PESTA SANTO TOMAS, RASUL – Jumat, 3 Juli 2015) 

KEBANGKITAN - PENAMPAKAN SETELAH KEBANGKITAN - YA TUHANKU DAN ALLAHKUTetapi Tomas, salah seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ. Jadi, kata murid-murid yang lain itu kepadanya, “Kami telah melihat Tuhan!”  Tetapi Tomas berkata kepada mereka, “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku menaruh jariku ke dalam bekas paku itu dan menaruh tanganku ke lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.” Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata, “Damai sejahtera bagi kamu!” Kemudian Ia berkata kepada Tomas, “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan taruhlah ke lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.” Tomas menjawab Dia, “Ya Tuhanku dan Allahku!” Kata Yesus kepadanya, “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” (Yoh 20:24-29) 

Bacaan Pertama: Ef 2:19-22; Mazmur Tanggapan: Mzm 117:1-2 

“Ya Tuhanku dan Allahku” (Yoh 20:28).

Pada hari ini Gereja merayakan pesta Santo Tomas yang disebut juga Didimus, walaupun banyak dari kita menilai orang kudus ini secara kurang/tidak adil. Pikiran pertama yang biasanya muncul ketika kita menyebut namanya adalah “orang yang ragu-ragu”, padahal kita lupa bahwa pada kenyataannya Injil juga berbicara mengenai Tomas sebagai pribadi yang sampai kepada iman-penuh akan Yesus sebagai Tuhan dan Allah.

Ketika murid-murid yang lain berkata kepada Tomas, “Kami telah melihat Tuhan!” (Yoh 20:25), pernyataan mereka itu mengungkapkan bahwa mereka telah menerima karunia iman, suatu pengetahuan yang pasti tentang martabat Yesus sebagai Tuhan. Tomas juga ingin “melihat” Yesus, dan melalui bukti visual ini sampai kepada iman. Yang tidak disadari oleh Tomas adalah bahwa para murid yang lain berbicara tidak hanya mengenai mempersepsikan Yesus yang berwujud, tetapi mengenai melihat Yesus secara batiniah siapa sebenarnya diri-Nya. Ketika Yesus belakangan menampakkan diri kepada Tomas, Yesus menegur dia karena tidak terbuka terhadap iman atas dasar testimoni para murid yang lain. Yesus melanjutkan dengan menyatakan berbahagia (terberkati) semua orang yang tanpa melihat secara fisik, akan percaya seperti para murid yang lain: “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya”  (Yoh 20:29).

rotator-appearing-to-disciplesBeberapa saat sebelumnya Yesus berkata kepada Tomas, “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan taruhlah ke lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah” (Yoh 20:27). Banyak karya seni para pelukis ternama dari zaman ke zaman menunjukkan bagaimana Tomas melakukan apa yang diperintahkan oleh Yesus itu, namun sungguh tidak ada bukti tertulis dalam Injil Yohanes yang mencatat bahwa Tomas sungguh melakukannya. Yang tercatat dalam Injil Yohanes adalah aklamasi pribadi terkenal yang banyak dari kita masih ucapkan sampai hari ini dalam konsekrasi, pada saat hosti dan piala berisikan air anggur diangkat oleh imam selebran: “Ya Tuhanku dan Allahku” (Yoh 20:28).

Pernyataan Tomas ini tidak hanya berasal dari pengalamannya melihat Yesus secara fisik, melainkan juga dari pernyataan batiniah oleh Roh Kudus berkaitan dengan keilahian Kristus. Tomas memang mempunyai keinginan untuk melihat Yesus yang sudah bangkit dengan matanya sendiri, dan keinginan ini memang terwujud. Namun Tomas juga menerima karunia yang jauh lebih besar – yaitu pernyataan/perwahyuan batiniah dari Roh Kudus bahwa Yesus adalah Tuhan dan Allah. Tomas telah mencari hanya beberapa bukti berwujud dari kebangkitan Yesus. Sekarang, sesuatu yang lebih besar telah diberikan kepadanya.

Injil Yohanes mendorong kita kepada suatu iman akan Kristus seperti halnya Tomas, suatu iman yang tidak didasarkan sekadar pada bukti fisik, melainkan pada testimoni batiniah dari Roh Kudus. Sejalan dengan itu, penulis “Surat kepada Orang Ibrani” berbicara mengenai “melihat Yesus” tidak pada waktu melakukan pelayanan-Nya di atas bumi, melainkan di tatanan surgawi: “… yang kita lihat ialah bahwa Yesus untuk waktu yang singkat sedikit lebih rendah daripada malaikat-malaikat, dan karena penderitaan maut, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, supaya oleh anugerah Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia” (Ibr 2:9). Allah sungguh rindu untuk memberikan karunia iman ini kepada kita semua.

DOA: Bapa surgawi, utuslah Roh Kudus-Mu atas diri kami guna menyatakan kepada kami secara lebih mendalam lagi kebenaran tentang Yesus. Kami ingin menggabungkan suara kami dengan suara Tomas dan semua orang kudus di dalam surga selagi mereka semua menyembah Yesus dengan satu suara yang terdengar sangat indah, “Ya Tuhanku dan Allahku.” Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 20:24-29), bacalah tulisan yang berjudul “YA TUHANKU DAN ALLAHKU !!! [2]” (bacaan tanggal 3-7-15 dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-07 BACAAN HARIAN JULI 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tnggal 3-7-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 27 Juni 2015

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YANG DIMINTA OLEH YESUS HANYALAH AGAR KITA PERCAYA KEPADA-NYA

YANG DIMINTA OLEH YESUS HANYALAH AGAR KITA PERCAYA KEPADA-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIII – Kamis, 2 Juli 2015)

YESUS MENYEMBUHKAN - ORANG LUMPUH MRK 2Sesudah itu naiklah Yesus ke dalam perahu lalu menyeberang. Kemudian sampailah Ia ke kota-Nya sendiri. Lalu dibawalah kepada-Nya seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidurnya. Ketika Yesus melihat iman mereka berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu, “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni.” Mendengar itu, berkatalah beberapa orang ahli Taurat dalam hatinya, “Orang ini menghujat Allah.” Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata, “Mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu? Manakah yang lebih mudah, mengatakan: Dosa-dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” – lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu –, “Bangunlah, angkat tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” Orang itu pun bangun lalu pulang. Melihat hal itu, orang banyak itu takut lalu memuliakan Allah yang telah memberikan kuasa seperti itu kepada manusia. (Mat 9:1-8) 

Bacaan Pertama: Kej 22:1-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 116:1-6,8-9

“Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni” (Mat 9:2).

Ketika Yesus sampai ke kota-Nya sendiri, para ahli Taurat mengamati anak Yusuf tukang kayu dari Nazaret yang sederhana ini membuat mukjizat-mukjizat, bahkan mengampuni dosa. Tentunya mereka merasa bingung juga: Siapa sebenarnya orang ini? Melalui sarana apakah Dia menyembuhkan orang sakit? Dengan otoritas dan kuasa siapakah Dia mengampuni dosa. Para ahli Taurat itu tidak dapat memahami otoritas yang dimiliki Yesus; mereka malah menilai-Nya menghujat Allah. Biar bagaimana pun juga Yesus kan hanya seorang anak tukang kayu di sebuah kota kecil? Apalagi orang-orang Yahudi pada umumnya percaya bahwa tidak ada sesuatu yang baik datang dari Nazaret (Yoh 1:46).

Kita percaya bahwa Yesus memiliki kuat-kuasa dan otoritas mutlak atas segala hal di surga dan bumi. Dia datang ke tengah dunia untuk menyelamatkan umat manusia. Sebagai kurban sempurna yang diberikan dengan bebas oleh Allah untuk menebus dosa-dosa kita-manusia, otoritas Yesus datang melalui kematian-Nya di atas kayu salib. Sepanjang Injilnya, Matius mengungkapkan keilahian Yesus: Yesus menyembuhkan orang kusta (Mat 8:1-4), yang sakit demam (Mat 8:14-15), yang lumpuh (Mat 9:1-8) dlsb. Ia memiliki kuasa atas alam seperti ditunjukkan-Nya ketika menenangkan angin ribut yang berkecamuk (Mat 8:23-27). Otoritas-Nya dalam bidang spiritual memanifestasikan dirinya selagi Dia mengusir roh-roh jahat (Mat 8:28-34) dan mengampuni dosa (Mat 9:2).

Bahkan pada hari ini pun Yesus memiliki otoritas atas dosa yang merupakan sebab-musabab penderitaan kita. Yang diminta oleh Yesus hanyalah agar kita percaya kepada-Nya. Kematian-Nya pada kayu salib merupakan pukulan mematikan terhadap dosa. Keporak-porandaan karena dosa tidak perlu mendominasi kehidupan kita. Sebaliknya, dalam Yesus, kepada kita telah diberikan kuasa dan otoritas untuk menjadi bebas-merdeka dari ikatan-ikatan dosa, rasa takut, kemarahan, dan depresi. Oleh kuasa yang kita  peroleh melalui kematian Yesus di kayu salib, kita dapat mengalami kuasa untuk menjadi bebas-merdeka dari berbagai hal yang disebutkan di atas dalam kehidupan kita sehari-hari.

Dengan mengundang Yesus untuk hidup-berdiam dalam diri kita, kita sebenarnya ikut ambil bagian dalam kodrat-Nya. Setiap orang percaya yang dibaptis ke dalam Kristus dapat menjadi seorang pelayan dari rahmat-Nya, penyembuhan-Nya, dan kuat-kuasa-Nya atas dosa. Tentu saja kita sendiri bukanlah pembuat mukjizat. Yesus-lah sang Pembuat mukjizat! Sementara kita memperkenankan Yesus masuk semakin dalam ke dalam hati kita, maka kita mengambil oper karakter-Nya, dengan demikian menjadi “instrumen-instrumen” rahmat-Nya. Seperti ditulis oleh Santo Paulus, “… aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal 2:20).

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus, marilah kita bergantung sepenuhnya pada janji-janji Yesus bagi kita agar dengan demikian kita dapat memanifestasikan kuat-kuasa-Nya dan otoritas-Nya di muka bumi ini.

DOA: Tuhan Yesus, kami ingin mengenal Engkau lebih mendalam lagi dan menjadi lebih dekat lagi dengan diri-Mu. Terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah menyerahkan hidup-Mu sendiri agar kami dapat memperoleh kehidupan bersama Engkau dan Bapa surgawi selama-lamanya. Kami memuliakan Engkau, karena Engkau sendirilah yang dapat membebas-merdekakan kami dari dosa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “KUASA ATAS DOSA” (bacaan tanggal 2-7-15) dalam situs/ blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-07 BACAAN HARIAN JULI 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 4-7-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 27 Juni 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERGILAH! [2]

PERGILAH! [2]

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIII – Rabu, 1 Juli 2015) 

GADARA - 1Ketika Yesus tiba di seberang, yaitu di daerah orang Gadara, datanglah dari pekuburan dua orang yang kerasukan setan menemui-Nya. Mereka sangat berbahaya, sehingga tidak seorang pun yang berani melalui jalan itu. Mereka pun berteriak, “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Anak Allah? Apakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?” Tidak jauh dari mereka itu banyak sekali babi sedang mencari makan. Lalu setan-setan itu meminta kepada-Nya, “Jika Engkau mengusir kami, suruhlah kami pindah ke dalam kawanan babi itu.” Yesus berkata kepada mereka, “Pergilah!” Lalu keluarlah mereka dan masuk ke dalam babi-babi itu. Seluruh kawanan babi itu pun terjun dari tebing yang curam ke dalam danau dan mati di dalam air. Lalu larilah penjaga-penjaga babi itu dan setibanya di kota, mereka menceritakan segala sesuatu, juga tentang orang-orang yang kerasukan setan itu. Seluruh kota itu keluar mendapatkan Yesus dan setelah berjumpa dengan Dia, mereka pun mendesak, supaya Ia meninggalkan daerah mereka. (Mat 8:28-34) 

Bacaan Pertama: Kej 21:5,8-20; Mazmur Tanggapan: Mzm  34:7-8,10-13 

Perjumpaan Yesus dengan dua orang Gadara yang kerasukan roh-roh jahat memang membuat bulu merinding, bukan hanya disebabkan karena peristiwa tenggelamnya babi-babi yang dirasuki roh-roh jahat ke dalam danau, melainkan juga karena kejadian itu membuat terang realitas kerasukan roh-roh jahat. Memang benar bahwa tidak semua godaan datang secara langsung dari Iblis sendiri, namun ada saat-saat – teristimewa di mana kita secara secara khusus sedang berupaya untuk melayani Tuhan – ketika roh-roh jahat pengikut Iblis memainkan peranan aktif dalam menggoda kita supaya tidak taat kepada Allah dan tidak menghormati-Nya.

Santo Ignatius dari Loyola – seorang mantan perwira tentara – menarik pelajaran dari pengalaman masa lalunya sebagai seorang militer untuk menggambarkan kebenaran-kebenaran spiritual. Ignatius mengatakan bahwa Iblis menggunakan rencana yang tersusun rapih dan operasi rahasia, dan dia menyerang ketika kita berada dalam keadaan yang paling rentan. Itulah sebabnya mengapa Kitab Suci mengingatkan kita untuk senantiasa waspada dan tetap berdoa untuk pembebasan dari pengaruh si Jahat. Memang bukanlah sesuatu yang tidak biasa bagi si Jahat untuk menggoda kita dan mencoba menyesatkan kita dari “kesetiaan kita yang sejati kepada Kristus” (lihat 2Kor 11:3). Kalau kita membiarkan godaan-godaan untuk terus berlangsung, maka hal tersebut akan sedikit demi sedikit menumpuk dan menyebabkan terbukanya jalan masuk ke dalam cara kita berpikir yang membiarkan kita terjebak dalam ketiadaan-pengharapan, kemarahan, rasa takut, sinisme, atau sejumlah besar pola-pola negatif lainnya.

Apakah yang menyebabkan tersedianya berbagai jalan masuk sedemikian? Sebagian dari penyebab-penyebab yang paling biasa adalah mentoleransi godaan dalam hidup kita, dosa masa lampau yang belum kita sesali dan bertobat atasnya dan pola-pola dosa yang bersifat kebiasaan, …… pembiaran-pembiaran. Dengan kata lain, bilamana kita memperkenankan (membiarkan) kegelapan masuk ke dalam hati kita, maka sebenarnya kita memberikan suatu kesempatan kepada Iblis untuk mendirikan tempat berpijak dalam diri kita.

Apabila kita mau menyelidiki dengan saksama serta mendalam, kita akan dapat melihat area-area dalam diri kita yang membutuhkan pembebasan. Ini adalah konsekuensi alamiah dari kehidupan dalam sebuah dunia yang gelap, di samping membawa juga berbagai efek dari kodrat manusia kita yang cenderung untuk berdosa. Kabar baiknya adalah bahwa Yesus senantiasa siap untuk melindungi dan membebaskan kita. Yesus tidak pernah ingin meninggalkan/membiarkan kita sebagai bulan-bulanan tipu daya Iblis. Sebagaimana Dia membebaskan dua orang Gadara dengan satu perintah “Pergilah!”, Yesus ingin membawa kita kepada kebebasan dan kemerdekaan dalam artian sesungguhnya. Yang diminta oleh Yesus – seperti halnya dengan dua orang Gadara itu, adalah supaya kita mengabaikan penolakan-penolakan dari sisi kodrat kita yang lebih gelap, dan kemudian membawa diri kita ke hadapan hadirat-Nya. Hanya dengan begitu penyembuhan dan pembebasan akan sungguh terwujud dalam diri kita.

DOA: Yesus, aku mohon kepada-Mu supaya Engkau membebaskan diriku. Oleh iman aku datang menghadap hadirat-Mu yang kudus, di mana kejahatan tidak dapat berdiam, dan aku membawa segala kegelapan dalam diriku ke dalam terang-Mu. Berikanlah kepadaku keberanian untuk menaruh kepercayaan pada sabda-Mu untuk membebaskan aku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 8:28-34), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS SUNGGUH INGIN MEMBEBAS-MERDEKAKAN KITA” (bacaan tanggal 1-7-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-07 BACAAN HARIAN JULI 2015. 

Cilandak, 27 Juni 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TAKUT DAN KURANG PERCAYA

TAKUT DAN KURANG PERCAYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIII – Selasa, 30 Juni 2015)

Keluarga Besar Fransiskan: B. Raymundus Lullus, Martir – OFS 

MUKJIZAT - YESUS MENENANGKAN BADAILalu Yesus naik ke dalam perahu dan murid-murid-Nya pun mengikuti-Nya. Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditelan gelombang, tetapi Yesus tidur. Lalu datanglah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya, “Tuhan, tolonglah, kita binasa.” Ia berkata kepada mereka, “Mengapa kamu takut, hai kamu yang kurang percaya?” Lalu bangunlah Yesus membentak angin dan danau itu, sehingga danau itu menjadi teduh sekali. Orang-orang itu pun heran dan berkata, “Orang seperti apa Dia ini, sehingga angin dan danau pun taat pada-Nya?” (Mat 8:23-27) 

Bacaan Pertama: Kej 19:15-29; Mazmur Tanggapan: Mzm 26:2-3,9-12

“Mengapa kamu takut, hai kamu yang kurang percaya?” (Mat 8:26). Dengan kata-kata ini Yesus menegur para murid-Nya. Akan tetapi, teguran itu pun sebenarnya ditujukan kepada kita juga. Yesus juga menegur kita karena kita merasa takut berkaitan dengan banyak hal. Ini adalah pelajaran yang sangat baik yang Ia ingin ajarkan kepada kita. Seringkali kita merasa khawatir tentang begitu banyak hal tanpa banyak kepercayaan akan kebaikan Allah dan kuat-kuasa-Nya.

Kita tidak membutuhkan bukti bahwa rasa takut itu sangat menyebar-luas. Orang-orang miskin merasa takut bahwa mereka tidak dapat survive dalam kehidupan yang semakin sulit, uang belanja sembako yang semakin meningkat dari tahun ke tahun, uang sekolah anak-anak mereka, kehilangan pekerjaan dlsb. Orang-orang kaya merasa takut kehilangan kekayaan yang mereka telah berhasil timbun selama ini, mungkin karena salah hitung dalam investasi lewat pasar modal. Orang-orang dengan latar belakang pendidikan biasa-biasa saja takut berbincang-bincang dengan mereka yang berpendidikan tinggi karena mereka merasa rendah-diri dan khawatir dipermalukan. Orang-orang yang berpendidikan seringkali merasa takut kehilangan posisi sosial dan prestise mereka. Di sisi lain juga masih ada pengaruh takhyul di sana sini dalam kehidupan manusia. Misalnya orang lebih berani menabrak manusia daripada seekor kucing yang menyeberang jalan.

Orang-orang tanpa agama atau iman merasa takut menghadapi ketidakpastian hidup dan teristimewa terhadap kapan datangnya maut. Akan tetapi, sungguh menyedihkan dan mengejutkanlah untuk melihat orang-orang yang kelihatan beriman justru tidak dapat membebasksn diri dari rasa takut.

Orang-orang yang disebut terakhir ini adalah seperti para murid Yesus dalam bacaan Injil di atas. Walaupun Tuhan Yesus sendiri ada bersama mereka dalam perahu ketika mereka terjebak di tengah amukan angin ribut, mereka masih saja berseru kepada-Nya dalam ketakutan mereka: “Tuhan, tolonglah, kita binasa” (Mat 8:25). Dalam kebaikan-Nya, Yesus membentak angin ribut dan danau sehingga menjadi teduh sekali (Mat 8:26), namun Ia menegur para murid untuk ketiadaan iman dan rasa takut mereka yang tetap ada walaupun Ia berada di TKP bersama mereka. “Mengapa kamu takut, hai kamu yang kurang percaya?” (Mat 8:26).

Yesus juga mengalamatkan teguran yang sama kepada kita sehubungan dengan rasa khawatir dan rasa takut kita akan hal-hal kecil. Kita lupa bahwa Dia senantiasa menyertai kita. Dia adalah Imanuel, yang berarti: Allah menyertai kita. (Mat 1:23; bdk. 28:20). Kita merasa khawatir tentang kesehatan kita yang terus menurun, kita merasa khawatir akan masa depan anak-anak kita, dll.

Tentu saja ada yang dinamakan rasa takut yang sehat atau keprihatinan yang sehat. Kita harus mengambil langkah jaga-jaga yang diperlukan bagi kehidupan kita, keluarga kita, kesejahteraan spiritual kita sekeluarga. Juga pandangan yang sehat tentang dosa dan segala akibatnya.

Ada banyak sekali kekhawatiran bodoh yang menghambat pekerjaan kita, kebahagiaan kita dan kehidupan spiritual kita. Ini adalah rasa takut untuk mana Yesus menegur kita dan meminta kepada kita untuk hanya mengingat bahwa Dia selalu ada bersama kita.

DOA:  Tuhan Yesus, Engkau adalah andalanku, dengan demikian aku tidak akan pernah merasa takut lagi. Terpujilah nama-Mu, ya Tuhan Yesus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 8:23-27), bacalah tulisan yang berjudul “DANAU ITU MENJADI TEDUH SEKALI” (bacaan tanggal 30-6-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-06  BACAAN HARIAN JUNI 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 1-7-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 26 Juni 2015  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MERAYAKAN DUA ORANG RASUL KRISTUS YANG BESAR

MERAYAKAN DUA ORANG RASUL KRISTUS YANG BESAR

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA S. PETRUS DAN S. PAULUS, RASUL – Senin, 29 Juni 2015)

SIAPAKAH AKU INI - MAT 16Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Jawab mereka, “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, yang lain mengatakan: Elia dan yang lain lagi mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Lalu Yesus bertanya kepada mereka, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Jawab Simon Petrus, “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya, “Berbahagialah engkau Simon anak Yunus sebab bukan manusia yang yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga. Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya, kepadamu  akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga. Apa yang kauikat akan terikat di surga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga.” (Mat 16:13-19) 

Bacaan Pertama: Kis 12:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-9; Bacaan Kedua: 2Tim 4:6-8,17-18

Pada hari ini Gereja merayakan HARI RAYA S. PETRUS DAN S. PAULUS, RASUL. Petrus dan Paulus adalah dua orang rasul Kristus yang besar, yang seakan tidak dapat dipisahkan satu sama lain, walaupun misi Kristus yang harus mereka laksanakan berlainan. Latar belakang mereka juga berlainan; Simon Petrus adalah seorang nelayan tanpa pendidikan tinggi asal Galilea sebelum dipanggil oleh Kristus untuk menjadi murid-Nya. Sebaliknya Saulus (kemudian bernama Paulus) adalah seorang Ibrani asal Tarsus, penganut aliran Farisi dan menjadi murid/santri dari Gamaliel, seorang Rabi kondang di Yerusalem. Paulus dipanggil secara istimewa oleh Kristus yang sudah bangkit dalam perjalanannya menuju Damsyik dalam rangka mengejar orang-orang Kristiani. Sekarang, marilah kita mulai dengan bacaan Injil di atas yang menyangkut Santo Petrus.

Di dekat kota Kaisarea Filipi yang terletak di bagian utara sekali dari Israel, Yesus mengajukan sebuah pertanyaan yang bersifat sangat fundamental kepada para murid-Nya sehubungan pendapat orang tentang diri-Nya: “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” (Mat 16:13). Pendapat umum tentang Yesus itu sudah tinggi pada saat itu, namun tidak seorang pun mengakui Dia sebagai sang Mesias. Yesus sudah dikait-kaitkan dengan Yohanes Pembaptis dan para nabi besar Perjanjian Lama, a.l. Elia, Yeremia, dll.

Lalu Yesus bertanya  kepada para murid-Nya: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” (Mat 16:15). Sekarang giliran para muridlah untuk menjawab apa pendapat mereka sendiri tentang Yesus yang telah mereka ikuti untuk kurun waktu yang cukup lama. Seperti biasanya, Petrus mengambil fungsi sebagai “jubir” para murid (rasul), Petrus menjawab: Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Mat 16:16). Jawaban Petrus ini adalah pengakuan penuh akan Yesus sebagai Mesias – utusan Allah yang sudah lama dinanti-nantikan – dan Anak (Putera) Allah yang hidup – artinya seorang Pribadi yang memiliki relasi intim dan istimewa dengan Allah Bapa dan menyatakan kasih Allah kepada orang-orang di dunia.

Pengakuan Petrus ini mempunyai tempat istimewa dalam Injil Matius. Ayat-ayat Mat 16:17-19 hanya terdapat dalam Injil Matius ini. Pengakuan Petrus ini adalah akibat dari pernyataan dari Allah Bapa sendiri (Mat 16:17), dan Yesus menjanjikan kepada sang pemimpin para rasul ini suatu peranan penting dalam pembentukan komunitas Kristiani yang kita sebut Gereja (Mat 16:18). Yesus akan memberikan kepada Petrus kunci Kerajaan Surga: “Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga” (Mat 16:19; suatu kemungkinan alusi dengan Yes 22:15-25). 

St Paul Icon 4000Bagaimana dengan Santo Paulus? Orang biasa mengatakan, bahwa sementara kepada Petrus diberikan kunci-kunci kepada Kerajaan Surga dan otoritas untuk menggembalakan Gereja yang masih muda usia itu, maka Paulus dipanggil untuk mewartakan Injil kepada orang-orang non-Yahudi dan membangun Gereja. Walaupun begitu, kita tidak boleh mengandaikan bahwa Petrus hanyalah seorang administrator atau Paulus hanyalah seorang pengkhotbah. Karya pelayanan yang dilakukan oleh kedua pribadi rasul ini memiliki unsur-unsur, baik dari peranan administrator maupun dari peranan pengkhotbah. Kedua orang itu mewartakan Injil dan dua-duanya juga bekerja untuk memperkuat gereja-gereja lokal. Yang utama dalam hati kedua orang ini adalah keprihatinan pembentukan serta kesejahteraan Tubuh Kristus. Saya juga dapat menambahkan bahwa kedua orang kudus ini adalah pemimpin-pemimpin besar Gereja. Pertumbuhan Gereja perdana yang relatif cepat kiranya tidak mungkin dapat terwujud tanpa pelayanan mereka berdua yang penuh dengan pengorbanan, penuh dengan keberanian dan iman serta cintakasih kepada Yesus Kristus, Guru, Tuhan dan Juruselamat mereka.

Yesus mengatakan kepada Petrus bahwa alam maut tidak akan menguasai Gereja (Mat 16:18). Hal ini telah terbukti kebenarannya. Tidak ada satu kekuatan pun, betapa jahat atau gelapnya, yang pernah berhasil menghancurkan Gereja yang didirikan oleh Kristus. Meskipun begitu, Gereja dapat diperlemah, teristimewa apabila umatnya tidak mengenal kebenaran Injil. Apabila hal ini terjadi, maka orang-orang Kristiani tidak dapat menghayati kehidupan yang sudah menjadi warisan mereka. Dan dunia pun mendapat kesan bahwa Allah itu jauh, mungkin hanya sekadar ide abstrak yang tidak atau sedikit saja mepunyai nilai praktis.

Bilamana orang-orang tidak mengenal kuasa Injil, maka apa yang dapat mereka lakukan adalah meratapi kondisi dunia; mereka tidak dapat datang dengan solusi. Dengan berbicara mengenai dosa-dosa di dunia namun tidak mampu untuk mencerminkan kemuliaan Kristus, maka kita mencabut dunia dari kepenuhan firman Allah. Dengan memberikan solusi-solusi atas penyakit-penyakit sosial tanpa memproklamasikan kebenaran dan kasih Kristus, kita mencabut orang dari solusi-solusi yang berlaku untuk waktu lama. Gereja dimaksudkan sebagai kehadiran Kristus di dalam dunia. Kita semua dipanggil untuk menjadi Tubuh Kristus hari ini; kita melakukannya dengan mewartakan Injil dan menghayati kehidupan yang saleh dan suci. Oleh karena itu baiklah kita mewartakan Kabar Baik Yesus Kristus sedemikian sehingga orang-orang memandang Gereja sebagaimana semula diniatkan oleh Allah.

DOA: Yesus, Engkau mengingatkanku lagi ketika membaca Injil hari ini bahwa Engkau juga mengajukan pertanyaan yang sama kepadaku: “Siapakah Aku ini?” Aku percaya bahwa Engkau adalah Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku. Utuslah Roh Kudus-Mu untuk bekerja di dalam hatiku dan mengubah diriku seperti Engkau telah mengubah Petrus dan Paulus. Bangkitkanlah para pelayan Sabda seperti para rasul agung ini, untuk pergi mewartakan Kabar Baik-Mu dan menjadi saksi-saksi dari kuasa-Mu yang mampu mengubah manusia. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan pertama hari ini [Kis 12:1-11], bacalah tulisan yang berjudul “HIDUP PETRUS DAN PAULUS YANG DITRANSFORMASIKAN” (bacaan tanggal 29-6-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-06 BACAAN HARIAN JUNI 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 29-6-14 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 24 Juni 2015 [HARI RAYA KELAHIRAN S. YOHANES PEMBAPTIS] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KUASA ATAS MAUT

KUASA ATAS MAUT

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XIII – 28 Juni 2015) 

YESUS  DENGAN OFFICIAL YANG ANAKNYA SAKITSesudah Yesus menyeberang lagi dengan perahu, orang banyak berbodong-bondong datang lalu mengerumuni Dia. Sementara Ia berada di tepi danau, datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. Ketika ia melihat Yesus, sujudlah ia di depan kaki-Nya dan memohon dengan sangat kepada-Nya, “Anak perempuanku sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup.” Lalu pergilah Yesus dengan orang itu. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan berdesak-desakan di dekat-Nya.

Adalah di situ seorang perempuan yang sudah dua belas tahun menderita pendarahan. Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama sekali tidak ada faedahnya malah sebaliknya keadaannya makin memburuk. Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menyentuh jubah-Nya. Sebab katanya, “asal kusentuh saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” Seketika itu juga berhentilah pendarahan-Nya dan ia merasa bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya. Pada saat itu juga Yesus mengetahui bahwa ada tenaga yang keluar dari diri-Nya, lalu Ia berbalik di tengah orang banyak dan bertanya, “Siapa yang menyentuh jubah-Ku?” Murid-murid-Nya menjawab, “Engkau melihat bagaimana orang-orang ini berdesak-desakan dekat-Mu, dan Engkau bertanya: Siapa yang menyentuh Aku?” Lalu Ia memandang sekeliling-Nya untuk melihat siapa yang telah melakukan hal itu. Perempuan itu, yang menjadi takut dan gemetar ketika mengetahui apa yang telah terjadi atas dirinya, tampil dan sujud di depan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang terjadi. Lalu kata-Nya kepada perempuan itu, “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan damai dan tetaplah sembuh dari penyakitmu!”

Ketika Yesus masih berbicara datanglah orang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata,”Anakmu sudah meninggal, untuk apa engkau masih menyusahkan Guru?” Tetapi Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan berkata kepada kepala rumah ibadat, “Jangan takut, percaya saja!” Lalu Yesus tidak memperbolehkan seorang pun ikut serta, kecuali Petrus, Yakobuts dan Yohanes, saudara Yakobus. Mereka tiba di rumah kepala rumah ibadat, dan di sana dilihat-Nya orang-orang ribut, menangis dan meratap dengan suara nyaring. Sesudah masuk Ia berkata kepada orang-orang itu, “Mengapa kamu ribut dan menangis? Anak ini tidak mati, tetapi tidur!” Tetapi mereka menertawakan Dia.

Semua orang itu disuruh-Nya keluar, lalu dibawa-Nya ayah dan ibu anak itu serta mereka yang bersama-sama dengan Dia masuk ke kamar anak itu. Lalu dipegang-Nya tangan anak itu, kata-Nya, “Talita kum,” yang berarti, “Hai anak perempuan, Aku berkata kepadamu, bangunlah!” Seketika itu juga anak itu bangkit berdiri dan berjalan, sebab umurnya sudah dua belas tahun. Semua orang yang hadir sangat takjub. Dengan sangat Ia berpesan kepada mereka, supaya jangan seorang pun mengethui hal itu, lalu Ia menyuruh mereka memberi anak itu makan. (Mrk 5:21-43) 

Bacaan Pertama: Keb 1:13-15;2:23-24; Mazmur Tanggapan: Mzm 30:2,4-6,11-13; Bacaan Kedua: 2Kor 8:7,9,13-15 

“TUHAN, Allahku, kepada-Mu aku berteriak minta tolong, dan Engkau telah menyembuhkan aku. TUHAN, Engkau mengangkat aku dari dunia orang mati, Engkau menghidupkan aku di antara mereka yang turun ke liang kubur” (Mzm 30:3-4).

YESUS MENYEMBUHKAN - WANITA YANG KENA PLAGUEDalam perikop Injil ini Markus menyelipkan satu tradisi: “Yesus menyembuhkan seorang perempuan yang sakit pendarahan” (Mrk 5:25-34) dan Yesus membangkitkan anak Yairus (Mrk 5:21-24; 35-43) , seperti sepotong roti sandwich. Hal ini mengingatkan kita akan cara Markus menggabungkan dua tradisi, yaitu menyelibkan satu tradisi: “Yesus menyucikan Bait Allah (Mrk 11:15-19) ke dalam tradisi lain, yaitu “Yesus mengutuk pohon ara” (Mrk 11:12-14,20-25). Jelas di sini Markus ingin agar kita melihat bahwa ke dua bagian itu saling memberi tafsir; dan seluruhnya harus dibaca karena makna cerita yang satu tergantung pada yang lain.

Mula-mula Markus bercerita tentang anak perempuan dari Yairus, sang kepala rumah ibadat, namun kemudian menginterupsi ceritanya itu dengan cerita mengenai seorang perempuan yang menderita sakit pendarahan sebelum membuat tuntas keseluruhan ceritanya.

Ada banyak keserupaan antara dua mukjizat yang terjadi, sehingga cerita yang satu menolong kita untuk memahami kekayaan dari cerita yang lain. Masing-masing mukjizat itu menyangkut seorang perempuan: seorang perempuan yang menderita sakit pendarahan selama 12 tahun dan seorang anak perempuan berumur 12 tahun yang hampir mati dan memang kemudian mati. Angka 12 adalah angka favorit bagi Markus untuk peristiwa-peristiwa yang terjadi di kalangan bangsa Yahudi.

Dalam masing-masing cerita ini pendekatan kepada Yesus dapat dikatakan dilakukan secara tidak langsung, karena kondisi “pasien-pasien” bersangkutan, namun barangkali juga mengungkapkan bahwa pada masa itu posisi perempuan dipandang tidak berarti. Bacaan Injil hari ini dan juga di tempat-tempat yang lain secara implisit menantang ketidakpedulian kultural dan agama yang diterima masyarakat, khususnya mengenai kesetaraan posisi perempuan dalam masyarakat pada waktu itu.

Yairus, ayah dari anak perempuan itu, datang menghadap Yesus atas nama anak perempuan itu. Perempuan yang menderita sakit pendarahan itu datang sendiri, namun secara sembunyi-sembunyi karena seorang perempuan tidak diperkenankan untuk menyapa seorang rabi di depan publik. Lagi pula penyakit pendarahannya membuat dirinya tidak bersih/murni secara ritual dan dengan begitu tidak boleh mengikuti upacara keagamaan. Oleh karena itu apa yang dapat dilakukannya adalah mengikuti Yesus dari belakang dan menyentuh jubah-Nya, bukan Yesus sendiri. Iman-kepercayaannya begitu besar sehingga menyentuh jubah Yesus cukuplah bagi dirinya. Namun kemudian Yesus ingin bertemu dengan dirinya. Yesus ingin agar perempuan itu berdiri dengan martabat penuh sebagai seorang pribadi manusia. Perempuan itu mempunyai kehidupan dan cerita untuk disampaikan, sebagai seorang saksi Kristus, sebagai seseorang yang telah mengalami kasih dan kuasa Yesus Kristus. Yesus menyapanya dengan kata “Anak-Ku”. Memang perempuan itu adalah anggota keluarga Yesus, karena dia percaya kepada Yesus dan seorang murid-Nya yang sejati.

YESUS MENYEMBUHKAN - PUTRI YAIRUSMarkus menunjukkan bahwa dalam kedua cerita itu kebutuhan akan pertolongan Yesus itu sudah mencapai titik puncaknya, karena sudah melampaui kemampuan sesana manusia untuk menolong. Penulis Injil ini mencatat bahwa perempuan itu “telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama sekali tidak ada faedahnya malah sebaliknya keadaannya makin memburuk” (Mrk 5:26). Tentang anak perempuan Yairus, kematiannya telah menempatkannya di luar dan melampaui kemampuan pertolongan manusia, sehingga utusan dari rumah keluarga Yairus mengatakan bahwa hanya akan membuang-buang waktu Yesus saja jika jadi juga pergi ke rumah mereka. Kekuatan manusiawi saja akan membuat setiap orang dalam ketakutan dan penuh ratapan. Yesus memanggil orang-orang untuk meninggalkan rasa takut dan mengambil langkah dalam iman. Perempuan yang menderita sakit pendarahan itu telah membuat langkah iman …… dan ia telah mengalami sendiri apa yang terjadi dengan dirinya.

Yesus berkata kepada orang-orang yang bersedih di rumah itu: “Mengapa kamu ribut dan menangis? Anak ini tidak mati, tetapi tidur!” (Mrk 5:39). Ia yang berkuasa untuk menyelamatkan kehidupan yang terbuang-buang dari seorang perempuan yang menderita sakit pendarahan juga dapat membangkitkan, yaitu mengembalikan kehidupan seorang anak perempuan yang telah meninggal dunia. Namun orang-orang yang tidak percaya menertawakan-Nya (Mrk 5:40). Orang-orang seperti ini berada di luar keluarga umat yang percaya, oleh karena itu disuruh-Nya lah mereka keluar (Mrk 5:40).

Lalu Yesus memegang tangan anak perempuan itu dan berkata: “Talita kum,” artinya “Hai anak perempuan, Aku berkata kepadamu, bangunlah!” Seketika itu juga anak itu bangkit berdiri dan berjalan. Semua orang menjadi sangat takjub. Akhirnya, cerita anak Yairus ini ditutup dengan sebuah ayat yang sangat menyentuh hati, yaitu ketika Yesus  memberi anak itu makan sebelum dia jatuh tidak sadarkan diri karena lapar (lihat Mrk 5:41-43).

Bagi umat Kristiani sepanjang masa, mukjizat-mukjizat ini menunjukkan kuasa ilahi yang dimiliki Yesus sekaligus mengungkapkan siapa diri-Nya. Yesus adalah Dia yang menyelamatkan kehidupan yang terbuang-buang; dan Ia juga adalah Pribadi yang membangkitkan orang mati untuk hidup kembali. Nah, kita dapat menerapkan mukjizat-mukjizat ini pada kondisi moral kita dan/atau kehidupan spiritual kita.

Energi-energi spiritual kita mengalami sakit pendarahan ketika kita membuang-buang tahun-tahun kehidupan kita untuk mengejar-ngejar berbagai tujuan yang kosong-hampa atau jalan-jalan penuh kedosaan; ketika kita menyediakan waktu untuk segalanya kecuali Allah; ketika, seperti juga perempuan itu, keadaan berdosa menyebabkan kita menjadi tidak bersih/murni secara spiritual dan dengan demikian tidak diperkenankan menerima komuni kudus (Ekaristi).

Apabila kehidupan yang sia-sia itu terus dilanjutkan, jiwa itu pada akhirnya mati, sesuatu yang di luar kuasa manusia. Kegagalan-kegagalan yang terus berulang-ulang menghantui upaya apa saja untuk perbaikan. Sekarang, hanya rahmat Allah yang dapat memulihkan hidup jiwa itu.

“Jangan takut, percaya saja!”, itulah yang dikatakan Yesus (Mrk 5:36). Setiba di rumah Yairus, Ia berkata: “Mengapa kamu ribut dan menangis?” Mendengar kata-kata-Nya itu malah Yesus ditertawakan dengan sinis (Mrk 5:36-40). Coba saja ada iman di tengah-tengah mereka, betapa kecil sekali pun iman itu. Iman itu akan menyentuh Tuhan selagi Dia berjalan lewat. Ia mempunyai kuasa untuk menyelamatkan, untuk mempertobatkan, untuk membangkitkan manusia dari kematian.

DOA: Dengarlah,  TUHAN, dan kasihanilah aku, TUHAN, jadilah penolongku! Aku yang meratap telah Kauubah menjadi orang yang menari-nari, kain kabungku telah Kaubuka, pinggangku Kauikat dengan sukacita, supaya jiwaku menyanyikan mazmur bagi-Mu dan jangan berdiam diri. TUHAN, Allahku, untuk selama-lamanya aku mau menyanyikan syukur bagi-Mu (Mzm 30:11-13). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 5:21-43), bacalah tulisan dengan judul “PENYEMBUHAN-PENYEMBUHAN OLEH YESUS”(bacaan tanggal 28-6-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-06 BACAAN HARIAN JUNI 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 1-7-12 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 23 Juni 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KATAKAN SAJA SEPATAH KATA

KATAKAN SAJA SEPATAH KATA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XII – Sabtu, 27 Juni 2015)

YESUS DAN CENTURIONKetika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya, “Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita.” Yesus berkata kepadanya, “Aku akan datang menyembuhkannya.” Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya, “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.” Mendengar hal itu, Yesus pun heran dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel. Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari timur dan barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Surga, sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.” Lalu Yesus berkata kepada perwira itu, “Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya.” Pada saat itu juga sembuhlah hambanya. 

Setibanya di rumah Petrus, Yesus melihat ibu mertua Petrus terbaring karena sakit demam. Dipegang-Nya tangan perempuan itu, lalu lenyaplah demamnya. Ia pun bangun dan melayani Dia. Menjelang malam dibawalah kepada Yesus banyak orang yang kerasukan setan dan dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu dan menyembuhkan semua orang yang menderita sakit. Hal itu terjadi supaya digenapi firman yang disampaikan melalui Nabi Yesaya: “Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.” (Mat 8:5-17) 

Bacaan Pertama: Kej 18:1-15; Mazmur Tanggapan: Luk 1:46-50,53

Kedua bagian dalam bacaan Injil hari ini merupakan cerita-cerita indah sangat relevan dalam proses pematangan iman-kepercayaan kita masing-masing. Yang pertama adalah tentang iman mengagumkan dari seorang perwira (centurion) non-Yahudi yang dipuji oleh Yesus (Mat 8:5-13). Yang kedua adalah tentang penyembuhan ibu mertua Petrus yang sakit demam dan tentang pelayanan Yesus kepada orang banyak (Mat 8:14-17). Saya akan menyoroti bagian pertama, yaitu yang menyangkut sang perwira dan imannya.

Peristiwa yang menyangkut sang perwira itu menunjuk kepada pertobatan kaum non-Yahudi (baca: kafir) di masa setelah Yesus naik ke surga. Yesus dengan jelas mengungkapkan betapa dirinya terkesan sekali dengan iman sang perwira. Bahkan sebelum sang perwira membuktikan imannya, Yesus menunjukkan bahwa Dia bersedia untuk datang dan menyembuhkan hamba sang perwira. Yesus memiliki belarasa terhadap semua orang, apakah mereka Yahudi atau non-Yahudi. Sekarang marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing: “Apakah kebaikan hati kita, kesiap-sediaan kita untuk menolong orang lain juga tidak dipengaruhi oleh berbagai prasangka dan praduga, seperti halnya dengan Yesus?” “Atau, apakah kita mempunyai daftar nama-nama dari mereka yang menurut kita tidak pantas untuk kita kasihi?”

Iman sang perwira tidak terbatas, tanpa syarat. Ia berkata, “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh”  (Mat 8:8).  Perwira ini percaya bahwa Yesus mampu menyembuhkan dari jarak jauh, tanpa harus mengunjungi hambanya di rumah miliknya  atau kontak pribadi yang bagaimana pun juga. Ini adalah inti pokok dari cerita Injil hari ini. Di sini ditunjukkah bahwa sang perwira percaya  bahwa Yesus memiliki kuat-kuasa ilahi atas segenap alam ciptaan.

Bacaan Injil di atas menunjukkan bahwa Yesus takjub pada iman-kepercayaan sang perwira. Yesus menggunakan peristiwa itu untuk memberi pengajaran kepada orang banyak. Pertama-tama Yesus mengatakan  bahwa sang perwira memiliki iman-kepercayaan yang lebih besar daripada yang selama itu dijumpai-Nya di kalangan orang-orang Yahudi, yaitu umat pilihan Allah sendiri (lihat Mat 8:11). Kedua, apabila anak-anak pilihan dari Abraham tidak mengambil langkah awal untuk percaya, maka Kerajaan-Nya akan diambil dari mereka untuk diberikan kepada orang-orang non-Yahudi (baca: kafir) seperti sang perwira.

Kita adalah umat Kristiani. Kita telah dipilih untuk menerima sang Sabda, untuk menerima karunia iman dan kasih. Kita adalah warga umat Allah. Kalau begitu, mengapa kita tidak merupakan saksi-saksi Kristus (dan Kabar Baik-Nya) yang lebih baik? Mengapa orang-orang yang tidak percaya tidak menunjuk kepada kita dan berkata: “Ada yang istimewa tentang orang-orang Kristiani itu, marilah kita melihatnya?” (pelajarilah Kis 2:41-47; 4:32-35). Sekadar menjadi anggota Gereja dan rajin menghadiri Misa Kudus pada hari Minggu bukanlah jaminan atas iman kita, bukan juga jaminan atas keanggotaan kita dalam Kerajaan-Nya. Seseorang – sederhana dan tidak mempunyai latar-belakang pendidikan hebat-hebat – yang baru saja masuk menjadi anggota Gereja, sungguh dapat membuat diri kita malu karena melihat iman orang itu yang murni tanpa syarat apapun. 

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Engkau menanggung segala sakit-penyakitku, memikul segala penderitaanku. Engkau adalah andalanku, ya Yesus. Sembuhkanlah dan kuatkanlah imanku yang lemah ini. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Yesus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 8:5-17), bacalah tulisan yang berjudul “DIALAH YANG MEMIKUL KELEMAHAN KITA DAN  MENANGGUNG PENYAKIT KITA” (bacaan tanggal 27-6-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-06 BACAAN HARIAN JUNI 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 28-6-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 23 Juni 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 91 other followers