PARA MURID YESUS SEBAGAI PEMIMPIN-PEMIMPIN

PARA MURID YESUS SEBAGAI PEMIMPIN-PEMIMPIN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa X – Selasa, 10 Juni 2014) 

KHOTBAH DI BUKIT - 501“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.

Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagi pula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah tempayan, melainkan di atas kaki pelita sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga” (Mat 5:13-16).

Bacaan Pertama: 1Raj 17:7-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 4:2-5,7-8

“Kamu adalah garam bumi …… Kamu adalah terang dunia …… Hendaknya terangmu bercahaya di depan orang ……”  Dengan menggunakan gambaran “garam bumi” dan “terang dunia” ini, Yesus mendorong para pengikut-Nya untuk memainkan peran sebagai pemimpin-pemimpin dalam masyarakat. Dalam ilmu manajemen dan kepemimpinan, daya/kuasa untuk mempengaruhi orang lain adalah hakikat kepemimpinan. Namun kepemimpinan tidak terbatas pada posisi kekuasaan yang secara resmi dipegang seseorang, karena ada juga pemimpin-pemimpin informal (di luar sistem) yang dapat menebarkan pengaruhnya dalam masyarakat (misalnya para nabi Perjanjian Lama atau Yesus dari Nazaret). Sebagai pemimpin, para pengikut/murid Yesus pada segala zaman harus menjadi sumber inspirasi bagi orang-orang lain, artinya mereka dapat melihat kebaikan dalam tindak-tanduk kita.

Akan tetapi, terlalu banyak dari kita yang mengabaikan perintah Yesus ini. “Biarlah orang lain yang melakukannya … bukan urusanku!” “Aku tidak mempunyai talenta untuk itu, juga nggak ada waktu!” Kita pun tidak enggan dan ragu untuk cepat mengkritisi mereka yang sungguh menyediakan waktu mereka, seperti para pastor, para guru agama/katekis, anggota dewan paroki, para prodiakon, anggota paduan suara dlsb. gereja kita. Akan tetapi, bilamana kita diminta untuk berpartisipasi, untuk menyumbangkan talenta kita, kita tiba-tiba menjadi sungguh “miskin” karena tidak ada apa-apa yang dapat kita berikan!

Sesungguhnya setiap dari kita mempunyai lebih banyak untuk diberikan daripada kita sendiri pernah impikan atau menyadarinya. Betapa rendah atau tak bergunanya pun kita menilai diri kita, betapa rendahnya pun para sahabat kita menilai kita, kita sebenarnya menilai terlalu rendah potensial yang kita miliki sendiri. Sebenarnya Allah telah telah memberikan kita energi yang lebih banyak dan keterampilan-keterampilan yang lebih banyak daripada yang kita impikan sendiri. Dan Ia akan memberikan rahmat-Nya, sekali kita melakukan apa yang harus kita lakukan, dan apa yang kita sungguh dapat lakukan.

Ada pepatah lama: “Di mana ada kemauan, di situ ada jalan!” Ini memang suatu kebenaran yang sudah ada sejak zaman kuno. Jadi, apabila kita sungguh ingin menanggapi kebutuhan-kebutuhan Kristus dan Gereja-Nya, apabila kita sungguh ingin mendengarkan panggilan Kristus kepada para pekerja dalam kebun anggur-Nya, apabila kita sungguh ingin melakukan bagian kita dalam penyebaran Kabar Baik, maka kita pun akan menemukan jalannya – bahkan banyak jalan. Sebagai murid-murid Kristus, kita mempengaruhi orang-orang lain dengan sesuatu yang memang baik demi keselamatan mereka, kita menjadi pemimpin-pemimpin!

DOA: Tuhan Yesus, sebagai murid-murid-Mu Engkau tidak ragu sama sekali untuk menyebut kami “garam bumi” dan “terang dunia”, dengan demikian mengingatkan tugas kami sebagai “pemimpin-pemimpin” di tengah dunia, para duta-Mu yang akan membawa pengaruh baik kepada dunia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 5:13-16), bacalah tulisan yang berjudul “KAMU ADALAH GARAM BUMI DAN TERANG DUNIA (2)” (bacaan tanggal 10-6-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-06 BACAAN HARIAN JUNI 2014. 

Bacalah juga tulisan yang berjudul “KAMU ADALAH GARAM BUMI DAN TERANG DUNIA” (bacaan tanggal 12-6-12) dalam situs/blog  PAX ET BONUM. Silahkan membaca juga tulisan berjudul “GARAM BUMI DAN TERANG DUNIA”, dalam situs/blog SANG SABDA; kategori: PERMENUNGAN ALKITABIAH. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-6-12  dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 8 Juni 2014 [HARI RAYA PENTAKOSTA] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

WARISAN YANG KITA TERIMA APABILA KITA BERSATU DENGAN YESUS

WARISAN YANG KITA TERIMA APABILA KITA BERSATU DENGAN YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan  Biasa X – Senin, 9 Juni 2014)

02-sermon-on-the-mount-1800

Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang punya Kerajaan Surga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah-lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan harus akan kehendak Allah, karena akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang berbelaskasihan, karena mereka akan beroleh belas-kasihan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya karena melakukan kehendak Allah, karena merekalah yang punya Kerajaan Surga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di surga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.” (Mat 5:1-12)

Bacaan Pertama: 1Raj 17:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 121:1-8

Yesus memberikan kepada kita “Sabda-sabda Bahagia” sebagai resep-resep untuk memperoleh kebahagiaan sejati. Secara bersama-sama, “Sabda-sabda Bahagia” itu membentuk suatu sketsa karakter dari kehidupan Kristiani – kehidupan yang memimpin kita kepada kebahagiaan karena didasarkan pada Kristus sendiri. Kita salah memahami “Sabda-sabda Bahagia” jikalau kita memandangnya sebagai seperangkat persyaratan. Yesus tidak mengatakan, “Engkau harus miskin, engkau harus lemah-lembut.” Yesus mengatakan, “Engkau akan berbahagia apabila engkau menjadi miskin, berbahagia apabila engkau menjadi lemah-lembut.”

Setiap “Sabda Bahagia” menggambarkan suatu aspek berbeda dari kehidupan Allah. Allah-lah yang bersedih-hati melihat dosa-dosa kita, Allah yang merindukan keadilan, Allah yang membawa damai-sejahtera. Dilihat dengan cara seperti itu, “Sabda-sabda Bahagia” adalah undangan-undangan kepada kita untuk ikut ambil bagian dalam kehidupan Allah. Apabila “Sabda-sabda Bahagia” itu merupakan tuntutan-tuntutan, maka “Sabda-sabda Bahagia” itu akan menciutkan hati saja. Siapa yang dapat memenuhi “tuntutan-tuntutan” seperti itu, siapa yang dapat lulus? Namun sebagai undangan-undangan, maka “Sabda-sabda Bahagia” itu merupakan suatu sumber pengharapan, karena Yesus ingin agar kita ikut ambil bagian dalam kebahagiaan-Nya dan kepenuhan-berkat-Nya. Hasrat utama Yesus adalah agar kita – bersama-Nya – menjadi pewaris-pewaris dari hidup Allah.

220px-Church_of_beatitudes_israel“Sabda-sabda Bahagia” berbicara mengenai warisan yang kita terima apabila kita bersatu dengan Yesus. Selagi kita menyediakan waktu bersama Yesus dalam doa, maka Dia memberikan kepada kita suatu hasrat yang lebih besar terhadap diri-Nya. Hasrat kepada Yesus ini membuat kita lebih berkemauan untuk menjalani suatu kehidupan yang mencerminkan “Sabda-sabda Bahagia”. Kita memulai suatu siklus pertumbuhan, di mana pernyataan diri Yesus membimbing kita kepada pertumbuhan dalam keserupaan dengan Kristus, yang pada gilirannya membuka diri kita bagi pernyataan diri-Nya yang lebih dalam lagi. Semua itu bermula ketika kita mencari wajah Yesus Kristus dalam doa, teristimewa dalam Perayaan Ekaristi. Ketika kita menemukan Dia, maka kita dapat sedikit mencicipi kehidupan-Nya, dan icip-icip itu terasa manis bagi hati kita, sehingga kita pun akan terdorong untuk merasakan lebih lagi. Kita menjadi bersedia menanggung kesusahan, untuk menyingkiran kekayaan-kekayaan palsu, untuk berbelas kasih lewat kata-kata dan tindakan-tindakan baik kita kepada orang-orang lain. Mengapa? Karena kita merasa yakin bahwa tidak ada yang dapat melampaui hidup Yesus Kristus dalam diri kita.

Oleh karena itu, marilah kita berketetapan hati untuk mencari wajah Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita. Marilah kita menyediakan waktu yang cukup untuk ada bersama Dia dalam doa. Sangat tidak salah apabila kita menyediakan satu hari tersendiri untuk melakukan retret pribadi agar dapat berada bersama Yesus. Perkenankanlah Yesus mengajar kita (anda dan saya) tentang siapa sebenarnya Dia. Perkenankanlah Dia memberikan kepada kita lebih lagi dari hidup terberkati – hidup bahagia – yang berasal dari kenyataan bahwa kita dapat memandang wajah-Nya lebih jelas lagi dalam hati kita. Janganlah pernah lupa, Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus, bahwa warisan surgawi itu memang diperuntukkan bagi kita. Oleh karena itu, marilah kita menerimanya – melalui Dia, Tuhan dan Juruselamat kita!

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah memberikan warisan kepada kami melalui Yesus Kristus, Putera-Mu, Tuhan dan Juruselamat kami. Terima kasih untuk segala kebahagiaan yang telah Engkau sediakan bagi kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:1-12), bacalah tulisan dengan judul “UCAPAN-UCAPAN BAHAGIA DARI YESUS” (bacaan tanggal 9-6-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori:  14-06 BACAAN HARIAN JUNI 2014.

Bacalah juta tulisan yang berjudul “SABDA-SABDA BAHAGIA” (bacaan tanggal 10-6-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-6-13) 

Cilandak, 6 Juni 2014 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HARI RAYA PENTAKOSTA

 HARI RAYA PENTAKOSTA

003-pentecost

 

Cilandak, 8 Juni 2014

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KITA SEMUA DIBERI MINUM DARI SATU ROH

KITA SEMUA DIBERI MINUM DARI SATU ROH

(Bacaan Kedua Misa Kudus, HARI RAYA PENTAKOSTA – Minggu, 8 Juni 2014 ) 

ROHHULKUDUSKarena itu, aku mau meyakinkan kamu bahwa tidak ada seorang pun yang berkata-kata- oleh Roh Allah, dapat berkata, “Terkutuklah Yesus!” dan tidak ada seorang pun yang dapat mengaku: “Yesus adalah Tuhan”, selain oleh Roh Kudus.

Ada berbagai karunia, tetapi satu Roh. Ada berbagai pelayanan, tetapi satu Tuhan. Ada pula berbagai perbuatan ajaib, tetapi Allah yang sama juga yang mengerjakan semuanya dalam semua orang.

Kepada tiap-tiap orang dikaruniakan pernyataan Roh untuk kepentingan bersama.

Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan semua  anggota tubuh itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus. Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh. (1Kor 12:3-7,12-13)

Bacaan Pertama: Kis 2:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 104:1,24,29-31,34; Bacaan Injil: Yoh 20:19-23 

“Kita semua diberi minum dari satu Roh” (1Kor 12:13).

Lima puluh hari yang lalu kita merayakan kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati. Namun perbedaan apa yang dibuat oleh kebangkitan ini apabila Yesus tidak mencurahkan Roh Kudus-Nya? Roh Kudus-lah yang menyatakan Yesus kepada kita dan membuat penebusan kita menjadi suatu realitas yang hidup dalam hati kita. Adalah Roh Kudus juga yang membuat kita ikut ambil bagian dalam hidup Allah dan memberdayakan kita untuk hidup sebagai anak-anak-Nya.

Siapa sebenarnya Roh Kudus ini? Sebagian besar kita cukup familiar dengan kata-kata berikut ini: Penasihat, Advokat, Penolong, Penghibur, Pribadi Ketiga dari Tritunggal Mahakudus. Akan tetapi Allah ingin agar kita mengenal “Pribadi” di belakang nama-nama itu. Pada hari raya pencurahan Roh Kudus ini, marilah kita menyoroti cara-cara yang diinginkan Allah agar kita mengalami karya Roh Kudus dalam kehidupan kita.

Ketika Santo Paulus menulis bahwa Roh Kudus mencurahkan kasih Allah ke dalam hati kita (Rm 5:5), maka di sini dia tidak sekadar membuat suatu pernyataan teologis. Paulus menunjuk kepada suatu realitas bahwa kita semua sebenarnya diundang untuk mengalami kasih Allah tersebut. Marilah kita mengingat-ingat kembali perumpamaan Yesus tentang “anak yang hilang”,  bagaimana  ayah dari anak muda itu berlari menyongsong anaknya dan memeluknya ketika anak itu sedang berjalan pulang menuju rumah ayahnya (Luk 15:20). Dengan cara yang sama, Allah – Bapa surgawi – kita juga dengan penuh kerinduan membuka tangan-tangan-Nya lebar-lebar guna menyambut dan memeluk kita. Dan, oleh Roh Kudus-lah kita mengalami pelukan/rangkulan Allah seperti ini.

Roh Kudus ingin membuat hidup segala hal yang diajarkan Yesus tentang kasih Bapa itu; Dia ingin membuat janji-janji Yesus menjadi pembangkit semangat, yang menjiwai dan dengan penuh kuat-kuasa bergerak dalam diri kita. Oleh Roh Kudus, kata-kata dalam Kitab Suci menjadi hidup. “Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku” (Yes 49:16). “Dalam kasih setia abadi Aku telah mengasihani engkau” (Yes 54:8). “Anakku telah mati dan menjadi hidup kembali, Ia telah hilang dan didapat kembali” (Luk 15:24). “Kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat Allah sendiri” (1Ptr 2:9).

St Paul Icon 4000Allah mengasihi kita dengan begitu mendalam sehingga walaupun kita mati dalam dosa-dosa, Dia membuat kita hidup dalam Kristus (Ef 2:4-5). Ini adalah belas kasih-Nya yang tak terbandingkan. Setiap hari kita dapat mengalami hal itu secara baru, yaitu melalui doa-doa kita yang dijawab, penyembuhan batin, perlindungan dari segala hal yang membahayakan, dan pengampunan. Roh Kudus menolong kita untuk mengenali serta mengakui kebaikan Allah, yang mungkin saya luput dari pandangan manusiawi kita. Roh Kudus mengingatkan kita akan saat-saat kita menerima kebaikan dari Allah, bahkan barangkali saat-saat ketika kita masih kecil. Dengan membuka mata kita terhadap rahmat Allah dengan cara-cara ini, maka Roh Kudus meyakinkan kita betapa baik dan murah hati Allah kita itu. Demikian pula, Roh Kudus menggerakkan kita untuk syering/berbagi belas kasih yang sama dengan orang-orang lain. Kita menjadi berbelas kasih karena Allah telah berbelas kasih kepada kita, dan belas kasih ini yang disyeringkan antara kita dan saudari-saudara kita dalam Kristus, menyatukan kita semua dalam satu tubuh dalam Kristus.

Kita pernah mengalami hidup terpisah dari Allah, tanpa pengharapan untuk pernah mengenal Dia dan kasih-Nya yang besar bagi diri kita secara pribadi. Sekarang, karena kita telah menerima Roh Kudus, kasih Allah pun hidup dalam diri kita. Kita pernah terjerat dalam dosa, tak mampu mengalami perubahan, walaupun kita menginginkannya. Sekarang, Roh Kudus memberikan kepada kita kuasa dan bahkan motivasi untuk berubah. Kita pernah tidak mampu melihat bagaimana menjalani kehidupan kita dengan cara yang menyenangkan Allah. Sekarang, Roh Kudus membawa kepada kita pemikiran-pemikiran Allah sendiri. Kita tidak perlu lagi menebak-nebak bagaimana mengasihi dan melayani Allah karena Roh Kudus memberikan kepada kita “pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian” (Flp 1:9).

Sekarang, bayangkanlah: Kita tidak perlu merasa heran apabila kita akan hidup selamanya dengan Yesus di surga; kita dapat mempunyai keyakinan bahwa kita mengalami hal tersebut. Pengharapan ini mentransformasikan segalanya yang menyangkut diri kita: cara kita memandang diri kita sendiri dan orang-orang lain, ekspektasi-ekspektasi kita, relasi-relasi kita. Sikap negatif berubah menjadi rasa penuh percaya. Kejauhan berubah menjadi kedekatan. Semua ini adalah karya Roh Kudus yang diutus Yesus, … Roh Allah sendiri yang kita rayakan pada hari ini.

DOA: Terpujilah Engkau, ya Roh Kudus. Engkau adalah kasih antara Bapa dan Putera. Datanglah, ya Roh Kudus, dan hiduplah dalam diri kami. Tunjukkanlah kepada kami belas kasih Allah. Engkau adalah alasan mengapa hidup kami dipenuhi dengan pengharapan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 2:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “SETIAP SAAT KITA DAPAT BERPALING KEPADA ROH KUDUS” (bacaan tanggal 8-6-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-06 BACAAN HARIAN JUNI 2014.

Bacalah juga tulisan-tulisan yang berjudul “DATANGLAH, ROH KUDUS!” (bacaan tanggal 19-5-13) dan “TUJUH KARUNIA ROH KUDUS” (bacaan tanggal 27-5-12), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 19-5-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 6 Juni 2014 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MASIH BANYAK LAGI HAL-HAL LAIN YANG DIPERBUAT OLEH YESUS

 MASIH BANYAK LAGI HAL-HAL LAIN YANG DIPERBUAT OLEH YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah – Sabtu, 7 Juni 2014) 

Tiberias_from_En_Gev,_tb011700Ketika Petrus berpaling, ia melihat bahwa murid yang dikasihi Yesus sedang mengikuti mereka, yaitu murid yang pada waktu mereka sedang makan bersama duduk dekat Yesus dan yang berkata, “Tuhan, siapakah dia yang akan menyerahkan Engkau?” Ketika Petrus melihat murid itu, ia berkata kepada Yesus, “Tuhan, bagaimana dengan dia ini?” Jawab Yesus, “Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: Ikutlah Aku.” Lalu tersebarlah kabar di antara saudara-saudara itu bahwa murid itu tidak akan mati. Tetapi Yesus tidak mengatakan kepada Petrus bahwa murid itu tidak akan mati, melainkan, “Jikalau Aku menghendaki supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu.”

Dialah murid yang bersaksi tentang semuanya ini dan yang telah menuliskannya dan kita tahu bahwa kesaksiannya itu benar.

Masih banyak lagi hal-hal lain yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, kupikir dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu. (Yoh 21:20-25)

Bacaan Pertama: Kis 28:16-20,30-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 11:4-5,7 

Kitab-kitab Injil adalah anugerah dari Allah bagi kita semua, diinspirasikan oleh Roh Kudus dan ditulis pada masa Gereja awal, agar kita dapat percaya bahwa Yesus adalah Putera Allah dan Juruselamat dunia (Yoh 20:31). Kitab-kitab Injil ini tidak memuat semua mukjizat Yesus, melainkan memberi kesaksian tentang kedatangan Yesus sebagai seorang manusia, tentang ajaran-ajaran-Nya dan mukjizat-mukjizat yang dibuat-Nya, dan akhirnya tentang kematian dan kebangkitan-Nya, semuanya itu dengan satu  tujuan: Agar kita dapat ikut ambil bagian dalam hidup-Nya. Karena itu kita membaca bahwa Yesus melakukan banyak hal lain juga, hal-hal yang tidak termasuk/tercatat dalam kitab-kitab Injil itu (Yoh 21:25).

ROH KUDUS MELAYANG-LAYANG - 2Yesus melakukan banyak lagi hal-hal lain di luar yang diceritakan dalam kitab-kitab Injil, dan oleh Roh Kudus-Nya, Dia terus melakukan banyak hal lagi setelah kematian, kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga. Yesus tidak pernah berhenti bekerja, bahkan sampai sekarang. Umat Kristiani dari abad ke abad – melalui kuat-kuasa Roh Kudus – telah memberi kesaksian tentang kekuatan-Nya, kasih-Nya dan kemuliaan-Nya. Misalnya, khotbah-khotbah Santo Yohanes Krisostomos [c. 345-407] di Konstantinopel menghidupkan kembali isi kitab-kitab Injil, sehingga menarik umat semakin dekat dengan Kristus. Pada saat Santo Fransiskus dari Assisi [1182-1226] merangkul kemiskinan dan menolak potensi warisan besar dari ayahnya, sebenarnya dia mengikuti bimbingan Roh Kudus dan memberi kesaksian tentang kuat-kuasa Allah untuk membawa sukacita, bahkan dalam keadaan yang paling miskin dan sulit sekali pun.

Santa Elizabeth Ann Setton [1774-1821] memberi kesaksian tentang Yesus ketika dia mengajar anak-anak miskin dan mengubah status sosialnya menjadi insan yang hidup dalam kedinaan dan kesederhanaan. Karena karya Roh Kudus dalam dirinya, dia diberdayakan untuk memberikan kesaksian yang dinamis tentang Kristus dalam peranannya sebagai seorang ibu rumah tangga, sebagai seorang ibu, seorang janda dan seorang pendidik di Amerika Serikat yang baru saja merebut kemerdekaannya dari penjajah Inggris.

Setiap hari, selagi kita menyerahkan diri kita kepada pimpinan Roh Kudus, maka kita pun dapat menambah bab-bab baru dalam cerita-cerita Injil. Yesus berjanji bahwa melalui Roh Kudus, kita akan mampu untuk melakukan hal-hal yang bahkan lebih besar daripada yang telah dilakukan oleh-Nya, apabila kita percaya dan mentaati-Nya (Yoh 14:12). Melalui diri kita, Roh Kudus  akan memampukan Yesus untuk melayani dan menyatakan kemuliaan Bapa kepada dunia pada zaman kita ini. Benarlah apa yang ditulis oleh Santo Yohanes Penginjil:“Masih banyak lagi hal-hal lain yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, kupikir dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu” (Yoh 21:25). Memang tidak mungkinlah dunia ini dapat memuat seluruh kitab yang memberi kesaksian tentang karya mulia Allah dalam kehidupan umat-Nya!

DOA: Roh Kudus, hembuskanlah nafas kehidupan-Mu ke dalam diri kami agar kami dapat memberi kesaksian Injil. Berdayakanlah kami agar dapat melakukan karya-karya yang dilakukan oleh Yesus. Semoga hidup kami dapat menjadi bab-bab baru dalam tawarikh keselamatan dari Allah. Terpujilah Allah Tritunggal Mahakudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 21:20-25), bacalah tulisan yang berjudul “BERKONSENTRASI PADA RENCANA-RENCANA ALLAH UNTUK HIDUP KITA” (bacaan tanggal 6-6-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-06 BACAAN HARIAN JUNI 2014.

Bacalah juga tulisan-tulisan yang berjudul “MENGASIHI YESUS SETIAP HARI DAN TETAP SETIA PADA SABDA-NYA” (bacaan tanggal 18-5-13) dan “ITU BUKAN URUSANMU !!!” (bacaan tanggal 26-5-12), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 18-5-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 4 Juni 2014 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TIGA KALI

TIGA KALI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah – Jumat, 6 Juni 2014) 

PETRUS APAKAH ENGKAU MENGASIHI AKU YOHSesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?” Jawab Petrus kepada-Nya, “Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Peliharalah anak-anak domba-Ku.” Kata Yesus lagi kepadanya untuk kedua kalinya, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku? Jawab Petrus kepada-Nya, “Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Petrus pun merasa sedih karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya, “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya, “Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Peliharalah domba-domba-Ku. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi kalau engkau sudah tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.” Hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus, “Ikutlah Aku”. (Yoh 21:15-19)

Bacaan Pertama: Kis 25:13-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-2,11-12,19-20 

Tiga kali Petrus menyangkal bahwa dia mengenal Yesus sebelum kematian-Nya pada kayu salib, dan sekarang tiga kali pula Kristus yang telah bangkit bertanya kepadanya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku? (Yoh 21:15-17). Dalam menarik Petrus guna mengungkapkan pertobatannya dalam term-term kasih, Yesus memperkenankan murid dan sahabat-Nya ini untuk melakukan counter-balance terhadap penyangkalan-penyangkalannya yang dilakukan sebelumnya. Yesus, sang Gembala Baik, dengan lemah lembut membimbing Petrus kembali ke kawanannya – secara definitif menetapkan kembali panggilan Petrus sang “batu karang” sebagai fondasi Gereja-Nya (Mat 16:18).

Percakapan lemah-lembut antara Yesus dan Petrus ini memancarkan kebenaran bahwa kasih adalah jantung, atau sari-pati, atau hakekat Injil. Kasih adalah batu penjuru dari Kerajaan yang diinisiasikan oleh Yesus dalam kematian dan kebangkitan-Nya. Petrus memiliki kerinduan untuk mengenal dan mengalami berkat-berkat dan damai-sejahtera dari Kerajaan itu dan ia pun rindu untuk kembali kepada pelayanan Kristus. Oleh karena itu dia berkata: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau” (Yoh 21:17).

PETER RESTOREDInilah yang diperlukan! Yesus tidak mencari terutama seseorang yang memiliki kepribadian yang lebih stabil, atau seseorang yang dengan loyalitas yang lebih mendalam. Yesus hanya menginginkan kasih Petrus, kasih yang mengalir ke luar kepada orang-orang lain: “Peliharalah anak-anak domba-Ku …… Gembalakanlah domba-domba-Ku …… Peliharalah domba-domba-Ku” (Yoh 21:15:17). Yesus memanggil Petrus untuk meyakinkan kembali pertobatannya dengan meneladan Guru-nya, yang kasih-Nya telah menyentuh hatinya: “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada ini, yakni seseorang memberikan nyawanya demi sahabat-sahabatnya” (Yoh 15:13).

Petrus adalah “model” bagi siapa saja yang telah jatuh ke dalam dosa. Pada saat-saat kita bergelimang dalam dosa, Yesus memanggil kita semua untuk kembali kepada-Nya, menerima kasih-Nya dan diberdayakan untuk melayani orang-orang lain. Kasih Yesus-lah yang mentransformasikan Petrus dan para murid-Nya menjadi pribadi-pribadi yang melayani Allah, dan kasih yang samalah yang dapat mentransformasikan kita juga. Selagi kita semakin dekat dengan hari Pentakosta, marilah kita memohon kepada Tuhan untuk tinggal dalam hati kita seperti yang dilakukan-Nya dengan Petrus dan menggerakkan diri kita masing-masing untuk mencontoh kasih-Nya yang besar.

DOA: Roh Kudus, nyatakanlah kepada kami kedalaman dan kekayaan kasih Allah. Bukalah hati kami masing-masing sebagaimana Engkau membuka hati Petrus, sehingga dengan demikian kami dapat memanifestasikan keindahan dan kemurnian kasih itu kepada setiap orang. Oleh kuat-kuasa-Mu, berdayakanlah kami agar mau dan mampu membangun Gereja Kristus di tengah dunia ini, sampai kedatangan-Nya dalam kemuliaan kelak. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 21:15-19), bacalah tulisan yang berjudul “APAKAH ENGKAU MENGASIHI AKU? [2]” (bacaan tanggal 6-6-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-06 BACAAN HARIAN JUNI 2014.

Bacalah juga tulisan-tulisan yang berjudul “SETIAP HARI YESUS BERTANYA KEPADA KITA MASING-MASING: ‘APAKAH ENGKAU MENGASIHI AKU?’” (bacaan tanggal 17-5-13), “GEMBALAKANLAH DOMBA-DOMBA-KU” (bacaan tanggal 25-5-12) dan   “APAKAH ENGKAU MENGASIHI AKU?” (bacaan tanggal 10-6-11), ketiganya dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 17-5-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 4 Juni 2014 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

GAMBARAN KASIH YESUS DALAM DOA-NYA

GAMBARAN KASIH YESUS DALAM DOA-NYA

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Bonifasius, Uskup-Martir – Kamis, 5 Juni 2014)

the-last-supper

Bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku melalui pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka menjadi satu dengan sempurna, agar dunia tahu bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.

Ya Bapa, Aku mau supaya, di mana pun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan. Ya Bapa yang adil, memang dunia tidak mengenal Engkau, tetapi Aku mengenal Engkau, dan mereka ini tahu bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku; dan Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka.” (Yoh 17:20-26)

Bacaan Pertama: Kis 22:30;23:6-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 16:1-2,5,7-11  

Siapakah yang dapat membayangkan kasih yang sedemikian, seperti diungkapkan dalam doa Yesus ini? Mengetahui bahwa tidak lama lagi diri-Nya akan mengalami kematian yang sangat mengerikan, Yesus – Imam Besar Agung kita – memohon kepada Bapa-Nya agar melimpahkan kepada kita, kasih-Nya sendiri bagi Putera-Nya sejak sebelum dunia dijadikan, kasih Roh Kudus: “Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka” (Yoh 17:26). Hal ini sungguh indah menakjubkan … dalam kasih-Nya, Allah tidak membeda-bedakan!

Marilah kita merenungkan sejenak betapa mendalam Allah mengasihi Putera-Nya, Yesus. Karena kasih-Nya kepada Putera-Nya itu, maka Allah menentukan untuk memberikan segenap ciptaan kepada Yesus: “… di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di surga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia” (Kol 1:16). Allah begitu mengasihi Yesus sehingga pada saat pembaptisan-Nya di sungai Yordan Dia dengan penuh sukacita mendeklarasikan di depan semua orang yang hadir: “Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Mat 3:17).

Jesus_181

Yesus pun mengenal serta mengalami kasih Bapa-Nya secara akrab, dan kasih inilah yang memotivasi setiap tindakan-Nya ketika berada bersama dengan para murid-Nya (termasuk kita): “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau Ia tidak melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak. Sebab Bapa mengasihi Anak dan Ia menunjukkan kepada-Nya segala sesuatu yang dikerjakan-Nya sendiri …” (Yoh 5:19-20). Yesus sedemikian dipenuhi dengan kasih Bapa sehingga Dia mampu menanggung segala kekejaman dan penderitaan salib agar dapat menyelamatkan kita manusia.

Oleh kuat-kuasa salib ini Yesus telah menyalibkan kodrat manusiawi kita yang cenderung berdosa dan membebaskan kita agar dapat dipenuhi dengan kasih Allah sama yang Ia sendiri telah alami. Ini adalah kasih yang penuh gairah, cukup memiliki kuat-kuasa untuk membuat lembut hati yang paling keras sekali pun dan mentransformasikan kita semua menjadi suatu umat yang mampu mengasihi secara mendalam sebagaimana Allah sendiri mengasihi. Ini adalah kasih yang bersifat all-inclusive, kasih yang mampu meruntuhkan segala tembok yang memisahkan kita satu dengan lainnya. Inilah kasih yang tidak pernah gagal, karena Bapa senantiasa memperhatikan kita dalam kasih dan dengan satu kehendak saja: untuk memberkati dan memperkuat kita selagi kita kembali kepada-Nya.

DOA: Roh Kudus Allah, pada hari-hari menjelang Pentakosta ini penuhilah diri kami  masing-masing dengan suatu pengalaman akan kasih Allah sendiri. Bebaskanlah kami dari rasa takut dan sikap serta perilaku yang mementingkan diri sendiri dan gantikanlah semua itu dengan kasih akan Tritunggal Mahakudus (Trinitas), sehingga kami dapat menjadi satu dengan Allah dan satu dengan semua saudari-saudara. Bangkitkanlah kami sebagai saksi-saksi Kristus di tengah dunia ini yang dengan berani mengundang setiap orang yang kami temui untuk menemukan kasih Allah yang mengubah kehidupan melalui Putera-Nya, Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 17:20-26), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS TERUS SAJA BERDOA SYAFAAT BAGI KITA” (bacaan tanggal 5-6-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-06 BACAAN HARIAN JUNI 2014.

Bacalah juga tulisan-tulisan yang berjudul “MERENUNGKAN KASIH YESUS KEPADA KITA LEWAT DOA-NYA” (bacaan tanggal 16-5-13) dan “SUPAYA MEREKA MENJADI SATU” (bacaan tanggal 24-5-12), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 22:30;23:6-11), bacalah tulisan yang berjudul “KUATKANLAH HATIMU” (bacaan tanggal 9-6-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 16-5-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 3 Juni 2014 [Peringatan S. Karolus Lwanga dkk. Martir] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 82 other followers