WALAUPUN TELAH MENDENGAR SABDA-NYA, HATI MEREKA TETAP TERTUTUP

WALAUPUN TELAH MENDENGAR SABDA-NYA, HATI MEREKA TETAP TERTUTUP

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Elisabet dr Hungaria – Kamis, 17 November 2016)

yesus-menangsisi-yerusalem-003Ketika Ia telah mendekati dan melihat kota itu, Yesus menangisinya, kata-Nya: “Alangkah baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu. Sebab akan datang harinya, ketika musuhmu akan mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan. Mereka akan membinasakan engkau beserta dengan penduduk yang ada padamu, dan mereka tidak akan membiarkan satu batu pun tinggal terletak di atas batu yang lain, karena engkau tidak mengetahui saat ketika Allah datang untuk menyelamatkan engkau.” (Luk 19:41-44) 

Bacaan Pertama: Why 5:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 149:1-6a,9b

Bacaan Injil hari ini barangkali merupakan salah satu bacaan yang paling menyedihkan dalam keseluruhan Injil. Marilah kita (anda dan saya) memejamkan mata kita dan mencoba untuk membayangkan Yesus yang sedang menangisi umat yang dikasihi-Nya. Apakah yang dapat menyebabkan kesedihan lebih besar pada diri-Nya, selain mengetahui bahwa penduduk Yerusalem telah mendengar sabda-Nya – berbagai pengajaran-Nya – namun hati mereka tetap saja tertutup bagi kebenaran-kebenaran penuh kemuliaan dan membawa kebebasan yang diwartakan oleh-Nya?

Pernahkah kita (anda dan saya) merasa diblokir sehingga tidak dapat berhubungan dengan Allah? Kadang-kadang kita merasa bahwa Allah sedang bersembunyi dari kita atau bahwa Dia marah dengan kita karena sesuatu yang telah kita lakukan. Pada saat-saat lain, kita dapat begitu disibukkan oleh hal-ikhwal dunia sehingga kita merasa begitu jauh dari diri-Nya.

Manakala kita merasa terpisahkan dari Allah, maka hal pertama yang harus kita lakukan adalah bertanya “mengapa”. Sangat membantulah jika kita melakukan pemeriksaan batin guna melihat apakah ada dosa yang bisa saja memblokir kita – isu apa saja di mana kita mungkin membutuhkan pengampunan dari Allah.

Kadang-kadang sepatah kata penuh kemarahan yang kita ucapkan atau bahasa tubuh yang menunjukkan ketidaksabaran kita terhadap orang lain akan membuat kita merasa jauh dari Tuhan. Namun Yesus sangat mengasihi kita dan Ia tidak akan pernah meninggalkan kita. Yesus mungkin saja berduka karena terjadinya keretakan antara diri-Nya dan kita disebabkan oleh dosa kita, namun Ia tidak akan pernah menutup pintu bagi kita. Pada kenyataannya, Yesus memiliki pengharapan yang jauh lebih besar pada kita daripada pengharapan kita sendiri.

Allah ingin agar kita mengetahui bahwa apabila kita melakukan pemeriksaan batin dan kemudian bertobat, Ia mendengarkan dan menanggapi kasus kita dengan kasih dan belas kasih (kerahiman) yang berlimpah. Allah senantiasa bekerja, mencari jalan terbaik guna menarik kita kembali ke dalam persatuan dengan diri-Nya. Kita (anda dan saya) memang harus senantiasa mengingat bahwa Dia merindukan kita seperti juga kita merindukan diri-Nya – dan seringkali malah lebih-lebih lagi rindu-Nya kepada kita.

Menjaga alur komunikasi agar tetap terbuka antara kita dan Tuhan tidak selalu mudah. Namun, apabila kita bertekun dalam hal ini, maka kita akan belajar bagaimana menghadapi tantangan-tantangan dan godaan-godaan dengan penuh keyakinan bahwa Allah sungguh ada bersama kita, senantiasa menyemangati kita dan menawarkan kuasa ilahi-Nya. Dia ingin mengajar kita bagaimana memusatkan pandangan kita pada diri-Nya. Itulah sebabnya mengapa Dia selalu mencurahkan Roh-Nya ke atas diri kita, dengan kerinduan agar kita membuka hati kita bagi suara-Nya yang lemah lembut.

DOA: Roh Kudus, tolonglah diriku dalam upaya melakukan pemeriksaan batin. Tunjukkanlah, ya Roh Alllah, jika ada sesuatu yang menghalangi diriku dalam mendengarkan suara-Mu. Kuatkanlah diriku dan berdayakanlah aku agar mampu menyerahkan segala penghalang yang ada kepada Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 19:41-44), bacalah tulisan yang berjudul “MANUSIA YANG HIDUP SECARA PENUH” (bacaan tanggal 17-11-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan yang berjudul sama untuk bacaan tanggal 19-11-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 14 November 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

MASA BAGI KITA UNTUK SETIA DALAM HAL-HAL KECIL

MASA BAGI KITA UNTUK SETIA DALAM HAL-HAL KECIL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIII – Rabu, 16 November 2016)

jesus_christ_picture_013Sementara mereka mendengarkan hal-hal itu, Yesus melanjutkan perkataan-Nya dengan suatu perumpamaan, sebab Ia sudah dekat Yerusalem dan mereka menyangka bahwa Kerajaan Allah akan segera kelihatan. Lalu Ia berkata, “Ada seorang bangsawan berangkat ke sebuah negeri yang jauh untuk dinobatkan menjadi raja di situ dan setelah itu baru kembali. Ia memanggil sepuluh orang hambanya dan memberikan sepuluh mina kepada mereka, katanya: Pakailah ini untuk berdagang sampai aku datang kembali. Akan tetapi, orang-orang sebangsanya membenci dia, lalu mengirimkan utusan menyusul dia untuk mengatakan: Kami tidak mau orang ini menjadi raja atas kami. Setelah dinobatkan menjadi raja, ketika ia kembali ia menyuruh memanggil hamba-hambanya yang telah diberinya uang itu, untuk mengetahui berapa hasil dagang mereka masing-masing. Orang yang pertama datang dan berkata: Tuan, mina tuan yang satu itu telah menghasilkan sepuluh mina. Katanya kepada orang itu: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba yang baik; engkau telah setia dalam hal yang sangat kecil, karena itu terimalah kekuasaan atas sepuluh kota. Datanglah yang kedua dan berkata: Tuan, mina tuan telah menghasilkan lima mina. Katanya kepada orang itu: Dan engkau, kuasailah lima kota. Lalu hamba yang lain datang dan berkata: Tuan, inilah mina tuan, aku telah menyimpannya dalam sapu tangan. Sebab aku takut kepada Tuan, karena Tuan orang yang kejam; Tuan mengambil apa yang tidak pernah Tuan taruh dan Tuan menuai apa yang tidak Tuan tabur. Katanya kepada orang itu: Hai hamba yang jahat, aku akan menghakimi engkau menurut perkataanmu sendiri. Engkau  sudah tahu bahwa  aku orang yang keras yang mengambil apa yang tidak pernah aku taruh dan menuai apa yang tidak aku tabur. Jika demikian, mengapa uangku itu tidak kau kaumasukkan ke bank (catatan: orang yang menjalankan uang)? Jadi, pada waktu aku kembali, aku dapat mengambilnya dengan bunganya. Lalu katanya kepada orang-orang yang berdiri di situ: Ambillah mina yang satu itu dari dia dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh mina itu. Kata mereka kepadanya: Tuan, ia sudah mempunyai supuluh mina. Jawabnya: Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, juga apa yang ada padanya akan diambil. Akan tetapi, semua seteruku ini, yang tidak suka aku menjadi rajanya, bawalah mereka ke mari dan bunuhlah mereka di depan mataku.”

Setelah mengatakan semuanya itu Yesus mendahului mereka dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem. (Luk 19:11-28) 

Bacaan Pertama: Why 4:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 150:1-6

Perayaan Paskah sudah semakin mendekat. Kota Yerikho dipadati oleh kelompok-kelompok peziarah yang sedang menuju ke kota suci Yerusalem untuk merayakan Paskah – peringatan peristiwa pembebasan bangsa Yahudi dari tanah Mesir. Setiap orang berpikir inilah saatnya bagi Yesus untuk berjaya, dan Kerajaan Allah akan segera kelihatan … Dalam waktu singkat, di dekat pintu gerbang Yerusalem, mungkin hanya beberapa jam lagi, mereka akan mengelu-elukan sang “Putera Daud” sambil melambai-lambaikan daun palma (baca Luk 19:28 dsj.).

Sekitar sepuluh hari kemudian, dua orang murid dalam perjalanan menuju Emmaus akan mengungkapkan kekecewaan mereka dengan kata-kata berikut ini: “Padahal kami dahulu mengharapkan bahwa Dialah yang akan membebaskan bangsa Israel” (Luk 24:21), dan lima puluh hari kemudian, para rasul-Nya masih saja bertanya kepada-Nya: “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” (Kis 1:6).

Pada masa itu, sewaktu Santo Lukas menulis Injilnya, banyak peragu masih saja mempertanyakan dengan nada menghina: “Di mana janji tentang kedatangan-Nya itu? Sebab sejak bapak-bapak leluhur kita meninggal, segala sesuatu tetap seperti semula, pada waktu dunia diciptakan” (2Ptr 3:4).

Memang kelihatannya Allah seakan-akan membuat umat-Nya menanti dan menanti. Kita memang tidak banyak menyaksikan kemegahan Kerajaan-Nya! Sebenarnya Yesus telah memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dari mereka yang ragu-ragu itu. Di manakah kita dapat memperoleh jawaban Yesus itu? Dalam “perumpamaan tentang uang mina”! …… “Ada seorang bangsawan berangkat ke sebuah negeri yang jauh untuk dinobatkan menjadi raja di situ dan setelah itu baru kembali. Ia memanggil sepuluh orang hambanya dan memberikan sepuluh mina kepada mereka, katanya: Pakailah ini untuk berdagang sampai aku datang kembali” (Luk 19:12-13).

perumpamaan-tentang-uang-minaOrang-orang Yahudi pada zaman Yesus itu mengharapkan kedatangan sebuah Kerajaan, yang akan langsung diwujudkan di atas bumi ini. Yesus mencoba menjelaskan kepada mereka bahwa sebelum Kerajaan itu diwujudnyatakan, akan akan semacam penundaan, dan selama masa penundaan itu Ia mempercayakan tugas serta tanggung jawab yang menyertai tugas itu kepada kita – para murid-Nya – yang hidup di atas bumi ini. Kurun waktu di dalam mana kita hidup bukanlah untuk “bermimpi”, melainkan untuk “bekerja”, melakukan pekerjaan yang akan “berbuah”. “Akan tetapi, orang-orang sebangsanya membenci dia, lalu mengirimkan utusan menyusul dia untuk mengatakan: Kami tidak mau orang ini menjadi raja atas kami”  (Luk 19:14). Orang-orang yang hidup pada zaman Yesus sebenarnya mengharap-harapkan kedatangan sebuah Kerajaan yang penuh kemuliaan, sebuah Kerajaan yang berjaya dan mampu mengalahkan bangsa-bangsa lain. Yesus ingin para murid-Nya memahami, bahwa peresmian atau inaugurasi dari Kerajaan-Nya akan didahului dengan sebuah pemberontakan – katakanlah “revolusi” – melawan “RAJA” ini. Beribu-ribu tahun telah lewat, namun masih saja terngiang-ngiang di telinga kita (umat Kristiani yang hidup di abad ke-21 ini) apa saja yang diteriakkan dengan penuh kebencian oleh sebagian besar bangsa pilihan Allah: “Enyahkanlah Dia, lepaskanlah Barabas bagi kami! …… Salibkan Dia! Salibkan Dia!” (Luk 23:18,21).

Sengsara Yesus …… Sengsara Allah karena ditolak oleh umat-Nya sendiri, adalah sebuah peristiwa sejarah yang sangat mengganggu nurani setiap insan yang normal. Yesus mempermaklumkan hal tersebut …… Ini adalah sebuah fenomena aktual – sebuah peristiwa dalam setiap zaman.

Di samping itu, Yesus sebenarnya membuat allusi pada suatu peristiwa historis yang baru saja terjadi sebelumnya: Arkhelaus (anak raja Herodes; lihat Mat 2:22) di mana kota Yerikho berada dalam kekuasaannya – pergi ke Roma untuk meminta gelar “Raja” dari Kaisar Agustus – namun sebuah delegasi yang terdiri dari 50 pemimpin Yahudi mengusahakan agar permohonan tersebut ditolak.

“Setelah dinobatkan menjadi raja, ketika ia kembali ia menyuruh memanggil hamba-hambanya yang telah diberinya uang itu, untuk mengetahui berapa hasil dagang mereka masing-masing” (Luk 19:15). Mulai dari titik ini dalam “perumpamaan tentang uang mina” ini, kita dapat merasakan adanya keserupaan narasi antara perumpamaan ini dengan “perumpamaan tentang talenta” yang hanya terdapat dalam Injil Matius (Mat 25:14-30), dan dalam suatu konteks eskatologis yang serupa. Jangka waktu yang mendahului “Kerajaan Allah yang terlihat” adalah suatu masa di mana Allah sudah memerintah/meraja, namun belum kelihatan secara kasat mata. Ini adalah masa pengejaran dan penganiayaan. Ini adalah masa di mana iman umat diuji, …… masa untuk bertekun. Ini adalah masa untuk bekerja bagi Allah: “apa saja yang telah dipercayakan Allah kepada seorang pribadi manusia haruslah berbuah” …… Ini adalah masa bagi kita untuk setia “dalam hal-hal kecil” (Luk 16:10) sampai saat di mana Allah mempercayakan kepada kita masing-masing dengan tugas dan tanggung jawab yang lebih penting: hamba yang berhasil mengelola uang mina diberikan kekuasaan untuk memerintah kota-kota. Ini adalah masa Gereja …… Ini adalah HARI INI. 

DOA: Bapa surgawi, banyak orang di segala zaman mengalami pengejaran dan penganiayaan karena iman mereka kepada-Mu dalam Yesus Kristus. Bila hal sedemikian terjadi atas diri kami, berikanlah kepada kami keberanian untuk tetap berpegang pada kebenaran-Mu – bahkan sampai mati sekali pun. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 19:11-28), bacalah tulisan berjudul “TIGA MACAM TANGGAPAN TERHADAP YESUS” (bacaan tanggal 16-11-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 14 November 2016 [Peringatan S. Nikolaus Tavelic, Imam dkk Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERTOBATAN SEJATI SENANTIASA DIIKUTI DENGAN PERBUATAN BAIK

PERTOBATAN SEJATI SENANTIASA DIIKUTI DENGAN PERBUATAN BAIK

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIII – Selasa, 15 November 2016)

FMM: Pesta Beata Marie de la Passion, Pendiri Kongregasi FMM 

zakheus-004Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu. Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya. Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek. Ia pun berlari mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus yang akan lewat di situ. Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata kepadanya, “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.” Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita. Melihat hal itu, semua orang mulai bersungut-sungut, katanya, “Ia menumpang di rumah orang berdosa.” Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan, “Tuhan, lihatlah, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” Kata Yesus kepadanya, “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada seisi rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham. Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.”  (Luk 19:1-10) 

Bacaan Pertama: Why 3:1-6,14-22; Mazmur Tanggapan: Mzm 15:2-5

Cerita tentang pertobatan Zakheus ini hanya terdapat dalam Injil Lukas dan merupakan salah satu cerita favorit saya pribadi. Dalam setiap Misa pemberkatan rumah, dibacakanlah Injil ini, sejalan dengan ucapan Yesus dalam perikop ini (Luk 19:19). Sebagai seorang pribadi dengan latar belakang ekonomi/akuntasi, ayat Luk 19:8 sungguh menarik dan pada saat sama mengusik hatiku yang terdalam: “Jadi apa kiranya Zakheus setelah pertobatannya?”

Belas kasih (Inggris: mercy) Allah dapat memberikan kepada kita suatu harapan yang dapat mengangkat kita ke hadirat Allah. Walaupun Kitab Suci melihat dosa sebagai sesuatu yang melawan Allah, narasi Lukas tentang pertobatan Zakheus menunjukkan dengan jelas bahwa dalam Kristus Yesus, sikap Allah yang utama terhadap orang-orang yang bertobat dari dosa-dosa mereka adalah belas kasih dan pengampunan.

Zakheus sendiri tidak sampai melihat bahwa keinginan-tahunya tentang Yesus akan memimpinnya kepada suatu perubahan hidup. Yesus “datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” (Luk 19:10). Motif sang kepala pemungut cukai, walaupun belum merupakan pertobatan sejati, merupakan sebuah pintu yang terbuka melalui mana Yesus akan masuk. Yesus mulai mencari orang kaya ini dengan menyatakan kepadanya belas kasih Allah. Orang-orang pada umumnya membenci Zakheus dan orang-orang seperti dirinya karena mereka merupakan para kolaborator dengan pihak bangsa Roma yang menjajah negeri Yahudi itu. Yesus mengejutkan setiap orang dengan mengundang diri-Nya sendiri untuk menginap di rumah orang yang dibenci rakyat itu. Keterbukaan sikap Yesus tidak ragu lagi merupakan daya yang menarik dirinya kepada-Nya, dan Zakheus pun mulai mengalami perubahan. “Orang berdosa” ini menerima Yesus dengan sukacita, sementara banyak orang malah menggerutu (Luk 19:6-7).

Diri Yesus dipenuhi kesabaran penuh pengharapan akan apa yang dapat dilakukan Allah dalam kehidupan seorang pendosa yang bertobat. Yesus tidak menjadi ciut hati dengan kehidupan dosa orang ini, karena Dia mengetahui bahwa “apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah” (Luk 18:27). Dengan kehadiran Yesus Kristus, sesuatu yang terasa sangat tidak mungkin – pertobatan seorang pendosa kelas kakap seperti Zakheus – menjadi kenyataan. Zakheus menunjukkan pertobatannya yang sejati lewat tindakannya; dalam sukacita dia memberikan separuh dari harta-kekayaannya kepada orang miskin (Luk 19:8). Perbuatan/tindakan seperti ini merupakan tanda dari suatu pertobatan batin (conversio) melalui suatu relasi dengan Yesus Kristus.

Bilamana kita melihat dosa dalam diri kita sendiri atau dalam dunia, tanggapan kita dapat berupa keputus-asaan dan ketiadaan pengharapan; bahkan kita dapat tergoda untuk berpikir bahwa tidak ada harapan samasekali. Akan tetapi hati Allah penuh dengan hasrat untuk memberikan pengampunan dan mengubah diri kita.

Pada hari ini kita didesak untuk menerima keselamatan yang dibawa oleh Yesus. Selagi kita menyerahkan diri kepada-Nya dengan penuh sukacita, maka perbuatan-perbuatan belas kasih kita tidak lagi sekadar merupakan tugas-tugas yang dilakukan untuk menyenangkan Allah yang jauh di sana. Sebaliknyalah, tindakan-tindakan kasih ini merupakan kesaksian kepada dunia bahwa Yesus Kristus hadir dalam hati kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku ingin mengenal Engkau lebih mendalam lagi. Datanglah, ya Tuhan, dan penuhilah hidupku dengan Roh Kudus-Mu. Berikanlah aku iman agar sungguh mau dan mampu percaya bahwa Engkau sungguh merupakan Juruselamatku satu-satunya. Jadikanlah hatiku seperti hati-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 19:1-10), bacalah tulisan yang berjudul “MENERIMA YESUS” (bacaan tanggal 15-11-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 17-5-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 14 November 2016 [Peringatan S. Nikolaus Tavelic, Imam dkk. & Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PENYEMBUHAN SEORANG BUTA DEKAT YERIKHO

PENYEMBUHAN SEORANG BUTA DEKAT YERIKHO

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Minggu Biasa XXXIII – Senin, 14 November 2016)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Nikolaus Tavelic, Imam dkk. Martir-martir 

Bartimaeus'_sight_restored_7-109Waktu Yesus hampir tiba di Yerikho, ada seorang buta yang duduk di pinggir jalan dan mengemis. Mendengar orang banyak lewat, ia bertanya, “Apa itu?” Kata orang kepadanya, “Yesus orang Nazaret lewat.” Lalu ia berseru, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Mereka yang berjalan di depan menegur dia supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru, “Anak Daud, kasihanilah aku!” Lalu Yesus berhenti dan menyuruh membawa orang itu kepada-Nya. Ketika ia telah berada di dekat-Nya, Yesus bertanya kepadanya, “Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Jawab orang itu, “Tuhan, supaya aku dapat melihat!” Lalu kata Yesus kepadanya, “Melihatlah sekarang, imanmu telah menyelamatkan engkau!” Seketika itu juga ia dapat melihat, lalu mengikuti Dia sambil memuliakan Allah, Melihat hal itu, seluruh rakyat memuji-muji Allah. (Luk 18:35-43) 

Bacaan Pertama: Why 1:1-4; 2:1-5a; Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-4,6

Apabila Saudari dan Saudara mempunyai satu keinginan, apa yang akan anda minta kepada Yesus? Kesehatan yang baik dan umur panjang? Harta kekayaan? Kekuasaan? Pertobatan dari orang yang anda kasihi? Berbagai penghormatan dan puji-pujian dari orang-orang lain? Bagaimana dengan pekerjaan yang penuh arti, tetapi penuh penderitaan dan dengan imbalan eksternal yang boleh dikatakan sedikit?

Dalam kasus ini Yesus mengajukan pertanyaan sama kepada kita (anda dan saya) masing-masing seperti yang ditanyakan-Nya kepada si orang buta dekat Yerikho: “Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” (Luk 18:41). Orang buta itu  menjawab: “Tuhan, supaya aku dapat melihat” (Luk 18:41). Ini adalah sebuah “doa seorang miskin” yang lugu dan lugas, keluar dari hati yang tulus-penuh harap, seperti doa si penjahat yang bertobat di kayu salib (lihat Luk 23:42). Tanggapan Yesus sangat positif dan mukjizat pun terjadi. Lain halnya dengan dua murid kakak-beradik yang sudah lama mengikuti Yesus. Yakobus dan Yohanes meminta kursi kehormatan dan kewenangan dalam kerajaan Yesus (satu mau jadi Menko Hankam, yang satu lagi mau jadi Menko Ekuin). Sebuah permintaan yang terasa agak “tidak tahu diri”, sehingga Yesus pun menjawab: “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta” (Mrk 10:38). Para murid Yesus yang lainpun menjadi marah, namun bukan berdasarkan alasan yang benar juga. Jelas kelihatan bahwa mereka cemburu karena merasa dilewati. Akan tetapi, di sini kita lihat Yesus dengan lemah lembut minta kepada kedua murid kakak beradik ini, apakah mereka siap untuk mengikuti Dia pada jalan satu-satunya menuju kerajaan-Nya, yaitu JALAN SALIB.

Karena dibaptis ke dalam kematian Yesus, semua orang Kristiani akan memerintah dengan Dia. Akan tetapi bagaimana kita mempraktekkan dalam hidup sehari-hari realitas persatuan kita dengan-Nya itu? Yesus mengatakan kepada kita, bahwa kita tak akan menemukan model-model yang baik dalam masyarakat sekular, di mana para pemimpin bertindak sewenang-wenang atas orang-orang yang mereka harus pimpin. Untuk ini kita harus melihat Yesus, yang datang sebagai “hamba bagi semua orang”, dan juga harus melihat mereka yang sungguh-sungguh  mengikuti jejak-Nya.

mother_teresa_toutSalah seorang dari mereka adalah Ibu Teresa dari Kalkuta yang pada tahun 2003 dibeatifikasikan dan pada tahun 2016 dikanonisasikan di Roma. Untuk kurun  waktu lebih dari 50 tahun, Santa Teresa dari Kalkuta mendedikasikan dirinya untuk pelayanan kepada orang-orang sangat miskin (the poorest of the poor) di seluruh dunia. Bersama dengan para saudari dan saudaranya yang bergabung dengan dia dalam kongregasi religiusnya, Ibu Teresa tidak sekadar menolong orang miskin, melainkan hidup di tengah-tengah mereka, merangkul suatu hidup kemiskinan dalam mengikuti jejak Yesus, yang menjadi miskin supaya kita menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya (2Kor 8:9). Selagi Ibu Teresa menjalani gaya hidup miskin itu, dia menemukan kebenaran yang sama mengenai hal-hal yang Yesus coba ajarkan kepada Yakobus dan Yohanes mengenai prestise dan rasa hormat dunia. “Semakin banyak engkau memiliki, semakin banyak pula engkau disibukkan dengan milikmu itu. Semakin banyak engkau dibuat sibuk dengan milikmu itu, semakin sedikit pula engkau memberi. Akan tetapi semakin sedikit engkau memiliki, engkau pun semakin bebas. Kemiskinan bagi kami adalah sebuah kerajaan”, demikianlah menurut Ibu Teresa.

Karena Dia ingin dirinya dipenuhi hanya dengan Kristus, Ibu Teresa mampu memberi kasih dengan penuh kemurahan hati. Seringkali karya karitatif Ibu Teresa dan para saudari dan saudaranya ini sangat melelahkan dan tanpa menerima ucapan terima kasih dari pihak mana pun, suatu unthankful job. Namun karya termaksud juga menjadi sumber kegembiraan, harapan dan pandangan sekilas tentang kemuliaan Allah. Marilah kita juga berjalan seturut teladan Ibu Teresa ini. Marilah kita memandang Yesus dengan penuh kasih dan mohon Dia menolong kita agar dapat melayani sesama, seperti Dia telah lakukan dan juga seperti telah ditunjukkan oleh Ibu Teresa dari Kalkuta.

DOA: Roh Kudus Allah, Engkau menjunjung tinggi Yesus sepanjang hidup-Nya di muka bumi.  Berikanlah kepadaku mata iman agar dapat memandang Dikau. Berikanlah kepadaku hati yang penuh bela-rasa, untuk dapat mensyeringkan Yesus Kristus dengan orang-orang lain. Buatlah aku menjadi saksi hidup atas Kasih yang dapat mentransformasikan dunia. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 18:35-43] bacalah tulisan yang berjudul “SEORANG BUTA DEKAT YERIKHO DISEMBUHKAN OLEH YESUS” (bacaan tanggal 14-11-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 16-11-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 10 November 2016 [Peringatan S. Leo Agung, Paus Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KALAU TETAP BERTAHAN, KAMU AKAN MEMPEROLEH HIDUPMU

KALAU TETAP BERTAHAN, KAMU AKAN MEMPEROLEH HIDUPMU

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXXIII [Tahun C] – 13 November 2016) 

yesus-mengajar-di-bait-allah-mrk-12-aKetika beberapa orang berbicara tentang Bait Allah, betapa bangunan itu dihiasi dengan batu yang indah-indah dan dengan berbagai-bagai barang persembahan, berkatalah Yesus, “Apa yang kamu lihat di situ – akan datang harinya ketika tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan.”

Lalu mereka bertanya kepada Yesus, “Guru, kapan itu akan terjadi? Apa tandanya, kalau itu akan terjadi?” Jawab-Nya, “Waspadalah, supaya kamu jangan disesatkan. Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: ‘Akulah Dia,’ dan: ‘Saatnya sudah dekat.’ Janganlah kamu mengikuti mereka. Apabila kamu mendengar tentang peperangan dan pemberontakan, janganlah kamu takut. Sebab semuanya itu harus terjadi dahulu, tetapi itu tidak berarti kesudahannya akan datang segera.”

Ia berkata kepada mereka, “Bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan, dan akan terjadi gempa bumi yang dahyat dan di berbagai tempat akan ada penyakit sampar dan kelaparan dan akan terjadi juga hal-hal yang menakutkan dan tanda-tanda yang dahsyat dari langit. Tetapi sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku. Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi. Sebab itu tetapkanlah di dalam hatimu, supaya kamu jangan memikirkan lebih dahulu pembelaanmu. Sebab Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawanmu. Kamu akan diserahkan juga oleh orang tuamu, saudara-saudaramu, kaum keluargamu dan sahabat-sahabatmu dan beberapa orang di antara kamu akan dibunuh dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku. Tetapi tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang. Kalau tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu.”  (Luk 21:5-19)

Bacaan Pertama: Mal 4:1-2a; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:5-9; Bacaan Kedua: 2Tes 3:7-12

“Bahwa sesungguhnya hari itu datang, menyala seperti perapian, maka semua orang gegabah dan setiap orang yang berbuat fasik menjadi seperti jerami dan akan terbakar oleh hari yang datang itu, firman TUHAN (YHWH) semesta alam, sampai tidak ditinggalkannya akar dan cabang mereka. Tetapi kamu yang takut akan nama-Ku, bagimu akan terbit surya kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya” (Mal 4:1-2a).

Peperangan, pemberontakan, huru-hara, gempa bumi, penyakit sampar dan kelaparan serta tanda-tanda dahsyat dari langit: Hal-hal ini jelas hampir tidak menggambarkan suatu masa depan yang indah. Yesus menggunakan imaji-imaji dan bahasa apokaliptik untuk menasihati para pengikut-Nya agar bertekun pada saat-saat sulit. Kata-kata Yesus itu tidaklah merupakan kata-kata yang asing bagi telinga orang-orang Yahudi saleh selagi mereka merefleksikan imaji-imaji serupa yang muncul dalam kitab para nabi belakangan yang sering dinamakan para nabi kecil (lihat Mal 4:1-2a; Yl 1:1-2:27).

Yesus menggunakan ekslamasi/seruan seorang pengamat sehubungan dengan keindahan Bait Allah (Luk 21:5) sebagai awal untuk bernubuat tentang berbagai peristiwa di masa depan dan Ia menginstruksikan orang-orang yang mendengar-Nya bagaimana mereka harus memberi tanggapan. Dari perspektif kemanusiaan, wajarlah bagi kita untuk berupaya memperoleh kenyamanan dan keamanan dalam hidup kita. Keindahan dan stabilitas Bait Allah merepresentasikan rasa aman dari umat Yahudi pada zaman Yesus. Namun Yesus mengatakan bahwa tidak ada satu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain karena semuanya akan diruntuhkan (Luk 21:6). Pernyataan Yesus ini menyarankan bahwa Kerajaan Allah tidaklah sama dengan hidup di bumi yang sudah familiar bagi kita dan yang sering kita lebih sukai. Pada kenyataannya, apa yang kita ketahui tentang dunia ini akan berlalu.

Yesus bersabda, “Apabila kamu mendengar tentang peperangan dan pemberontakan, janganlah kamu takut” (Luk 21:9). Walaupun para pengikut-Nya akan mengalami berbagai kesulitan hidup, termasuk pengejaran/penganiayaan, pengkhianatan, bahkan kematian, tidak sepotong rambutpun di kepala mereka akan hilang: “Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu” (Luk 21:16-19). Kita hidup dalam masa di antara kehidupan yang menebus dari Yesus, kematian dan kebangkitan-Nya dan kedatangan-Nya untuk kedua kalinya dalam kemuliaan (parousia). Dalam “masa-antara” inilah Injil Yesus Kristus harus diwartakan ke tengah dunia oleh para murid-Nya (lihat Mat 28:18-20).

Sebagai orang-orang yang mengaku diri sebagai saksi-saksi Yesus yang setia, maka kita harus senantiasa siap sedia menghadapi berbagai pengejaran/penganiayaan dll. seperti diuraikan di atas. Hal ini bukanlah sesuatu yang harus kita takuti. Sebaliknya, kita dapat bergembira di dalamnya karena kita dapat mengandalkan diri pada Roh Kudus yang berdiam dalam diri kita, Dialah Penghibur, Penasihat kita yang senantiasa memberdayakan kita. Paulus menulis kepada jemaat di Roma: “Aku yakin bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita” (Rm 8:16).

Sang pemazmur menyatakan: “Ia (YHWH) akan menghakimi dunia dengan keadilan, dan bangsa-bangsa dengan kebenaran”  (Mzm 98:9). Iman Kristiani kita menyatakan, bahwa keadilan ini terwujud melalui Yesus Kristus. Ia adalah “surya kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya bagi mereka yang takut akan nama-Nya” (lihat Mal 4:2). Selagi kita memeditasikan janji-janji tentang hidup surgawi ini, hati kita pun akan merasa tenteram dalam pengharapan surgawi.

DOA: Bapa surgawi, Allah yang Mahabaik, sumber segala kebaikan, satu-satunya Kebaikan, terpujilah nama-Mu! Bapa, berikanlah kepadaku keberanian untuk menanggung segala kesulitan yang menimpa diriku. Anugerahkanlah juga kepadaku hasrat yang tulus untuk dapat ikut ambil bagian dalam mewujudkan Kerajaan-Mu di atas muka bumi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:12-19), bacalah tulisan berjudul “KALAU KAMU TETAP BERTAHAN, KAMU AKAN MEMPEROLEH KEHIDUPAN” (bacaan tanggal 13-11-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal  17-11-13 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 9 November 2016 [Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS   

PEREMPUAN YANG PENUH KETEKUNAN

PEREMPUAN YANG PENUH KETEKUNAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Yosafat, Uskup-Martir Sabtu, 12 November 2016) 

hakim-yang-jahat-dan-sang-jandaYesus menyampaikan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan bahwa mereka harus selalu berdoa tanpa jemu-jemu. Kata-Nya, “Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun. Di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku. Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun, namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku.” Kata Tuhan, “Perhatikanlah apa yang dikatakan hakim yang tidak adil itu! Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Apakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, apakah Ia akan mendapati iman di bumi?” (Luk 18:1-8) 

Bacaan Pertama: Keb 18:14-16,19:6-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:2-3,36-37,42-43

Santa Marie Marguerite d’Youville [1701-1771] adalah orang kudus kelahiran Kanada yang pertama. Ia lahir di Varennes, Quebec pada tanggal 15 Oktober 1701. Ia dibeatifikasikan oleh  Paus Yohanes XXIII pada tahun 1959 dan dikanonisasikan oleh Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1990. Orang kudus ini pasti mengetahui bagaimana kiranya “selalu berdoa tanpa jemu-jemu” (Luk 18:1). Seperti sang janda dalam perumpamaan Yesus di atas, Marguerite penuh ketetapan hati dan ketekunan – dan dirinya pun seorang janda.

Ayahnya meninggal dunia ketika Marguerite masih kecil. Walaupun hidup dalam kemiskinan, pada usia 11 tahun dia mampu masuk biara Ursulin selama dua tahun sebelum pulang ke rumah untuk mengajar adik-adiknya. Pada tahun 1722, di Montreal, Marguerite menikah dengan François d’Youville, seorang bootlegger yang bekerja menjual miras secara ilegal kepada orang-orang Indian. Dari perkawinan ini mereka dikaruniai 6 orang anak, namun ternyata perkawinan mereka jauh dari sempurna. Pada tahun 1730, suaminya meninggal dunia. Pada usia 30 tahun, Marguerite telah kehilangan bapaknya, suaminya dan 4 orang anaknya yang meninggal ketika masih kecil-kecil. Marguerite mengalami pembaharuan rohani selama hidup perkawinannya dan hal ini berlanjut setelahnya juga. Dalam penderitaannya, dia bertumbuh dalam kepercayaannya akan kehadiran Allah dalam hidupnya dan akan kasih-Nya yang penuh kelembutan bagi setiap pribadi manusia. Pada gilirannya, Marguerite ingin agar kasih penuh belarasa dari Allah dikenal oleh orang-orang lain. Ia melakukan banyak karya karitatif dengan rasa percaya yang lengkap-total akan Allah yang dikasihinya sebagai “seorang” ayah yang baik.

Rasa percaya Marguerite pada pemeliharaan penuh kasih dari Bapa surgawi dan doa syafaat yang dilakukannya dengan penuh keyakinan adalah hal-hal penting dalam hidupnya. Setelah kematian suaminya, Marguerite melakukan berbagai pekerjaan karitatif dengan menaruh kepercayaan total-lengkap kepada kebaikan Allah. Sementara itu dia membiayai pendidikan dua orang anak laki-lakinya, dua-duanya kemudian menjadi imam. Sementara itu dia menerima seorang perempuan buta ke dalam rumahnya.

Kemudian tiga orang perempuan datang bergabung dengannya dan bersama-sama mereka melakukan pelayanan terhadap orang-orang sakit dan orang-orang yang membutuhkan pertolongan lainnya, … “wong cilik”. Pada tanggal 31 Desember 1737 empat orang perempuan itu berjanji kepada Allah untuk melayani-Nya dalam diri orang-orang miskin, …  dan ini terjadi di kota Montreal pada abad ke-18. Seperti halnya sang janda dalam perumpamaan Yesus di atas yang mencari keadilan dari seorang hakim yang tidak adil … “tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun” (Luk 18:2-5), Marguerite harus tekun dalam mengajukan permohonannya kepada lembaga hukum di Montreal itu – termasuk para pejabat gerejawi – guna membela karya karitatif kelompoknya.

accueil-myouvilleMarguerite dkk. dengan penuh ketekunan terus melayani orang-orang miskin walaupun menghadapi tidak sedikit halangan. Ketika dia berada dalam kondisi kurang sehat dan sedang berduka karena kematian salah seorang rekannya meninggal dunia, rumah mereka terbakar. Peristiwa ini tidak mengecilkan hati Marguerite, melainkan justru memperkuat komitmennya terhadap orang-orang miskin. Pada tanggal 2 Februari 1745, Marguerite dan 2 orang rekannya berikrar untuk mulai kepemilikan bersama agar mampu menolong lebih banyak orang lagi yang membutuhkan pertolongan. Dua tahun kemudian, Marguerite yang sudah dikenal sebagai “Ibunda orang-orang miskin” (mother of the poor), diminta untuk menjadi direktur dari Charon Brothers Hospital di Montreal yang sedang menuju kebangkrutan karena terlalu banyak berutang.

Pada waktu dipercayakan pengelolaan rumah sakit tersebut, Marguerite memohon kepada Allah untuk menyediakan segala sesuatu untuk proyek yang baru ini. Sebagai akibatnya, rumah sakit tersebut bertambah baik. Sekali peristiwa, setelah memeriksa pembukuan rumah sakit tersebut, Marguerite menemukan bahwa dia hanya mempunyai sekeping uang logam perak kecil di dalam sakunya. Pada saat itu seorang perempuan miskin datang untuk mengklaim “upah”-nya merawat seorang bayi yang ditinggal di rumah komunitas mereka – jumlahnya/nilainya tepat sama dengan uang logam perak yang ada dalam sakunya. Ketika Marguerite merogoh sakunya untuk membayar perempuan miskin itu, ternyata ada banyak uang logam dalam sakunya. Marguerite menjadi terkagum-kagum. Ia merogoh kantongnya yang satu lagi, dan sungguh mengagumkan, … ada banyak lagi uang logam!

Dengan pertolongan rahmat Allah, Marguerite dan para saudarinya membangun kembali rumah sakit tersebut dan mereka merawat orang-orang yang sangat menderita. Dengan pertolongan para saudarinya/susternya dan orang-orang yang menjadi kolaborator, Marguerite meletakkan fondasi pelayanan kepada orang-orang miskin dengan segala macam bentuknya.

Rumah sakit yang dikelola oleh Marguerite dan rekan-rekannya menjadi tempat kelahiran sebuah tarekat religius baru, ketika – setelah bertahun-tahun bertekun dalam doa – dia dan rekan-rekannya diakui sebagai sebuah kongregasi religius. Dengan demikian, lahirlah “the Sisters of Charity of Montreal” (Suster-Suster Kharitas dari Montreal), juga dikenal sebagai “the Grey Nuns” (Para biarawati berbaju warna abu-abu).

Pada tahun 1765, rumah sakit tersebut terbakar, namun tidak ada apa atau siapa pun yang dapat merusak iman penuh keberanian dari Marguerite. Pada usia 64 tahun dia memimpin rekonstruksi bangunan untuk orang-orang miskin yang menderita tersebut. Marguerite meninggal dunia pada tanggal 23 Desember 1771, dan senantiasa dikenang sebagai seorang ibu penuh kasih yang melayani Kristus dalam diri orang-orang miskin.

Yesus mengajar kita untuk berdoa dengan penuh ketekunan. Jika seorang hakim yang tidak adil pada akhirnya “menyerah” kepada ketekunan seorang janda miskin, maka tentunya lebih-lebih lagi Bapa surgawi yang penuh belas kasih dalam menanggapi permohonan kita. Kehidupan Santa Marie Marguerite d’Youville menjamin kita bahwa kita sungguh dapat mengandalkan Bapa surgawi yang sangat mengasihi kita untuk memelihara kita selagi kita menyampaikan kepada-Nya berbagai kebutuhan kita dalam doa-doa kita yang penuh iman.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena demikian besar kasih-Mu kepadaku dan orang-orang lain. Tolonglah diriku agar mau dan mampu menaruh kepercayaan kepada-Mu dan dengan penuh keyakinan hidup sebagai seorang pribadi seturut kehendak-Mu pada waktu Engkau menciptakan diriku, yaitu sebagai seorang anak dari “seorang” Allah yang Mahapemurah, yang sangat memperhatikan segala kebutuhan semua anak-Nya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 18:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN YESUS TENTANG SEORANG HAKIM YANG TIDAK TAKUT KEPADA ALLAH” (bacaan tanggal 11-11-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-11-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 8 November 2016 

 Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KETIKA YESUS DATANG KEMBALI KE DUNIA

KETIKA YESUS DATANG KEMBALI KE DUNIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXII – Jumat, 11 November 2016) 

00-the-second-coming-39618-gallerySama seperti yang terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia: Mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai pada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua. Demikian juga seperti yang terjadi di zaman Lot: mereka makan dan minum, mereka berjual beli, mereka menanam dan membangun. Tetapi pada hari Lot pergi keluar dari Sodom turunlah hujan api dan hujan belerang dari langit dan membinasakan mereka semua. Demikianlah halnya kelak pada hari Anak Manusia dinyatakan. Siapa saja yang pada hari itu sedang berada di atas rumah dan barang-barangnya ada di dalam rumah, janganlah ia turun untuk mengambilnya, dan demikian juga orang yang sedang di ladang, janganlah ia kembali. Ingatlah akan istri Lot! Siapa saja yang berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan siapa saja yang kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya. Aku berkata kepadamu: Pada malam itu ada dua orang di atas tempat tidur, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Ada dua orang perempuan bersama-sama menggiling gandum, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.” (Kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.) Kata mereka kepada Yesus, “Di mana, Tuhan?” Kata-Nya kepada mereka, “Di mana ada mayat, di situ berkerumun burung-burung nasar.” (Luk 17:26-37) 

Bacaan Pertama: 2Yoh 1:4-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:1-2,10-11,17-18 

Sungguh tidak mudah untuk memahami kasih Allah bagi kita seperti halnya dalam sejumlah sabda Yesus, teristimewa ketika Dia berbicara mengenai kedatangan-Nya untuk kedua kali. Bahkan barangkali kita memandang kedatangan Kerajaan Allah sebagai saat-saat sulit-menakutkan, ketika keselamatan kita berada di luar jangkauan dan “burung-burung nasar” sudah berterbangan di langit. Namun ini bukanlah gambaran yang Yesus inginkan kita ambil dari bacaan ini. Yesus datang untuk memberikan hidup berkelimpahan kepada kita: “Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dengan berlimpah-limpah” (Yoh 10:10). Yesus tidak datang untuk memberi keselamatan kepada kita yang kita sendiri tidak mampu untuk mencapainya.

Sebagai umat Kristiani, kita telah diangkat dari kematian dan dibawa ke dalam kehidupan oleh  belas kasih (kerahiman) Allah dan cintakasih-Nya. Kita sudah diselamatkan. Sebelum kita menerima Yesus ke dalam hati kita, sesungguhnya kita tidak ubahnya seperti domba tanpa gembala – hilang di hutan belantara, mangsa yang empuk bagi musuh-musuh kita. Namun hal tersebut tidak lagi begitu. Kita adalah anak-anak Allah. Masing-masing kita adalah bait Roh Kudus. Dan …… posisi kita dalam Kristus sudah terjamin!

Jadi, daripada terus-menerus dirundung rasa khawatir dan takut, kita seharusnya dipenuhi dengan sukacita! Kita telah dibawa dekat kepada Allah oleh darah Kristus. Dengan hidup dalam Roh-Nya, kita dapat berjalan dalam terang kasih-Nya dan mengenal serta mengalami kebebasan yang semakin meningkat, …… kebebasan dari dosa dan keterikatan. Kita tidak perlu lagi merasa khawatir dan takut akan hidup kita. Sebaliknya, kita harus merasa khawatir dan takut bagi mereka yang belum percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat – mereka yang hilang di tengah hutan belantara dosa dan ketidakpedulian.

Kita sudah merangkul keselamatan yang diberikan oleh-Nya dan hidup dalam ketaatan dan kasih akan Allah. Oleh karena itu kita dapat bertindak seturut “Amanat Agung” yang diberikan oleh Yesus Kristus sebelum Ia diangkat ke surga (lihat Mat 28:19-20), yaitu menyebarkan Kabar Baik-Nya dalam kata-kata maupun perbuatan/tindakan kita. Kita dapat menjadi seorang pewarta Kabar Baik yang memberi kesaksian atas kasih dan kerahiman Allah. Dalam nama Yesus kita dapat mengundang mereka ke dalam Kerajaan Allah.

Dengan demikian, marilah kita singkirkan segala kekhawatiran dan keraguan kita. Diri kita dapat dipenuhi dengan kuat-kuasa Roh Kudus. Marilah kita menyiapkan diri untuk menyambut kedatangan Yesus Kristus untuk kedua kalinya pada akhir zaman. Bagaimana? Dengan setiap hari hidup dalam keakraban dengan Yesus. Persenjatailah diri anda dengan doa-doa syafaat bagi orang-orang yang tidak/belum percaya kepada Yesus. Mulailah dengan mereka yang anda sudah kenal: para anggota keluarga yang bukan Kristiani, para teman dan sahabat serta kenalan-kenalan lainnya. Baiklah anda melangkah dalam iman, dengan penuh keyakinan bahwa Allah sesungguhnya ingin menyelamatkan setiap orang di atas bumi ini.

Semoga kesaksian kita atas kuat-kuasa Injil akan menarik banyak orang kepada Allah yang adalah kasih, sehingga dengan demikian tidak ada lagi kesempatan bagi “burung-burung nasar” untuk ramai-ramai berkerumun dan memangsa pada saat Tuhan Yesus datang kembali kelak!

DOA: Tuhan Yesus, kami rindu untuk mengenal Engkau lebih dalam lagi. Penuhilah hati kami dan perkenankanlah kami masing-masing mendengar suara-Mu, agar dapat menjadi berkat bagi orang-orang lain. Perkenankanlah kami, para murid-Mu, melihat Engkau datang dalam kemuliaan pada akhir zaman, saat di mana kegelapan pada akhirnya akan disingkirkan dari tengah-tengah kami. Dimuliakanlah nama-Mu senantiasa. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 17:26-37), bacalah tulisan berjudul “KEDATANGAN KEMBALI YESUS KRISTUS PADA AKHIR ZAMAN” (bacaan untuk tanggal 11-11-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2012) 

Cilandak, 8 November 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS