PERLUNYA SEMUA ORANG UNTUK BERTOBAT

PERLUNYA SEMUA ORANG UNTUK BERTOBAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIX – Sabtu, 24 Oktober 2015) 

jesus christ super starPada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampur Pilatus dengan darah kurban yang mereka persembahkan. Yesus berkata kepada mereka, “Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya daripada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu? “Tidak!”, kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa dengan cara demikian. Atau sangkamu kedelapan belas orang yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya daripada kesalahan semua orang lain yang tinggal di Yerusalem? “Tidak”, kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa dengan cara demikian.”

Kemudian Yesus menyampaikan perumpamaan ini, “Seseorang mempunyai pohon ara yang ditanam di kebun anggurnya, dan ia datang untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi ia tidak menemukannya. Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: Lihatlah, sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan sia-sia! Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!” (Luk 13:1-9). 

Bacaan Pertama: Rm 18:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 24:1-6 

Yesus melanjutkan pengajaran kepada para murid-Nya tentang hal-ikhwal mengikuti Dia. Di sini Dia mengajarkan tentang perlunya semua orang untuk bertobat. Orang-orang Yahudi pada zaman Yesus menghubung-hubungkan bencana dengan hukuman karena dosa. Beberapa orang minta kepada Yesus untuk mengomentari dua bencana lokal yang terjadi. Jelas ada sejumlah orang Galilea yang sedang mempersembahkan kurban di Bait Suci Yerusalem dibunuh oleh serdadu Pilatus. Darah mereka dicampur dengan darah hewan yang sedang dipersembahkan sebagai kurban. Bencana kedua barangkali kecelakaan pada waktu konstruksi di Siloam. Yesus tidak menolak kemungkinan terdapatnya hubungan antara dosa dan malapetaka, namun Dia menolak gagasan bahwa derajat kedosaan dapat dikira-kira dari besar-kecilnya malapetaka.

Nasib baik atau bencana bukanlah indikator-indikator yang layak untuk mengukur spiritualitas seseorang, karena Bapa surgawi “menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (Mat 5:45). Di lain pihak, penghakiman dapat dipastikan akan dijatuhkan atas orang-orang yang belum bertobat dari dosa-dosa mereka (lihat Luk 13:3.5). Yesus akan selalu mengampuni kita, betapa pun beratnya dosa kita. Dia memberikan kepada kita setiap kesempatan untuk datang kepada-Nya dengan jiwa yang hancur serta hati yang patah dan remuk-redam (lihat Mzm 51:19), untuk menerima pengampunan dan pendamaian (rekonsiliasi). Mereka yang tidak bertobat akan mengalami hukuman pada penghakiman terakhir.

Dosa memisahkan kita dari Allah. Dosa itu mempunyai efek yang dahsyat sekali atas kehidupan dan relasi seorang pribadi manusia dengan Allah. Motif Allah mengutus Putera-Nya yang tunggal ke dunia adalah “kasih” semata, agar setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yoh 3:16). Dia kemudian menderita dan mati di kayu salib sebagai silih atas dosa-dosa kita, manusia. Santo Paulus menulis: “Apakah engkau menganggap sepi kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya dan kelapangan hati-Nya? Tidak tahukah engkau bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan? Tetapi oleh kekerasan hatimu yang tidak mau bertobat, engkau menimbun murka atas dirimu sendiri pada hari murka dan hukuman Allah yang adil akan dinyatakan (Rm 2:4-5).

“Perumpamaan tentang pohon ara yang tidak berbuah” (Luk 13:6-9) menggambarkan belarasa Allah dan penghakiman-Nya yang ditunda, untuk memperkenankan kita melakukan pertobatan dan terhindar dari konsekuensi-konsekuensi serius yang disebabkan dosa-dosa kita. Dengan demikian, kita dapat bersukacita dan memuji-muji Tuhan, karena meskipun dosa-dosa kita itu sungguh parah, Dia akan tetap mengampuni. YHWH memang telah berfirman lewat mulut nabi Yesaya: “Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba” (Yes 1:18). Namun demikian, kita tidak pernah boleh tetap santai-santai saja, berleha-leha atau menunda-nunda keputusan untuk melakukan pertobatan, agar supaya dapat mencapai rekonsiliasi dengan Allah, berdamai kembali dengan Sang Khalik langit dan bumi.

Sebagai seorang insan yang sungguh-sungguh ingin mengikuti jejak Yesus Kristus, marilah kita  memeriksa batin kita masing-masing dan kemudian berbalik kepada Allah dengan “jiwa yang hancur serta hati yang patah dan remuk-redam” (bdk. Mzm 51:19).

DOA: Bapa surgawi, Engkau adalah yang Mahapengampun. Terimalah pengakuan dosa-dosa kami yang tulus dan tegakkanlah kami yang selama ini tertindih oleh beban-beban dosa kami. Kami berdoa demikian, dalam nama Yesus, Tuhan dan Juruselamat kami, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persekutuan Roh Kudus, Allah sepanjang segala abad. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 13:1-9), bacalah tulisan yang berjudul “PERTOBATAN” (bacaan tanggal 24-10-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2015. 

Cilandak, 20 Oktober 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SELESAIKANLAH HAL ITU SEKARANG

SELESAIKANLAH HAL ITU SEKARANG

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIX – Jumat, 23 Oktober 2015)

Peringatan S. Yohanes dr Capistrano

Keuskupan TNI-POLRI: Pesta S. Yohanes dr Capistrano 

YESUS SANG RABBI DARI NAZARETYesus berkata lagi kepada orang banyak, “Apabila kamu melihat awan naik di sebelah barat, segera kamu berkata: “Akan datang hujan, dan hal itu memang terjadi. Apabila kamu melihat angin selatan bertiup, kamu berkata: Hari akan panas terik, dan hal itu memang terjadi. Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini?

Mengapa engkau juga tidak memutuskan sendiri apa yang benar? Sebab, jikalau engkau dengan lawanmu pergi menghadap pemerintah, berusahalah berdamai dengan dia selama di tengah jalan, supaya jangan engkau diseretnya kepada hakim dan hakim menyerahkan engkau kepada pembantunya dan pembantu itu melemparkan engkau ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.” (Luk 12:54-59) 

Bacaan Pertama: Rm 7:18-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:66,68,76-77,93-94 

Yesus menasihati kita untuk menyelesaikan perselisihan-perselisihan kita satu sama lain sebelum perkara-perkara yang ada dibawa ke pengadilan. Pengadilan, hakim dan petugas penjara tidaklah begitu berbelas kasih! Mereka akan menuntut keadilan secara ketat. Di sini Yesus langsung mengacu kepada pengadilan/penghakiman ilahi yang akan datang, karena umat-Nya menolak pengampunan, maka hal itu berarti mereka menolak untuk menyelesaikan urusan mereka dengan sang Mesias dalam perjalanan mereka menuju pengadilan/penghakiman ilahi ini.

Yesus menginginkan agar kita masing-masing mengikuti nasihat yang sama. Segala kesempatan yang diberikan kepada kita harus digunakan sekarang! Hari demi hari, Yesus menawarkan pengampunan kepada kita masing-masing. Ia mengajar kita untuk berdoa kepada Bapa di surga, memohon kepada-Nya agar mengampuni kita, seperti kita mengampuni mereka yang bersalah kepada kita. Pengampunan setiap hari yang kita lakukan satu sama lain inilah yang mempersiapkan hati kita untuk diampuni oleh Allah. Jadi memang kita harus menyelesaikan perkara kita dalam perjalanan hidup kta dengan semangat kasih dan pengampunan. Kalau tidak demikian halnya, maka Tuhanlah yang akan mengambil alih peran sebagai hakim kita, dan hal ini berarti keadilan yang ketat. Oleh karena itu Yesus mengingatkan kita untuk mencari belas kasih Allah pada waktunya. Yesus bersabda bahwa kita tidak akan keluar dari “penjara” sebelum kita membayar hutang kita sampai lunas (Luk 12:58-59).

Setiap hari, dalam diri setiap pribadi yang kita temui, dalam setiap anggota keluarga kita, dalam RT dan lingkungan kita, Allah memberikan kesempatan-kesempatan kepada kita untuk menyelesaikan masalah-masalah yang menyangkut keadilan dan kasih, sehingga dengan demikian kita pun akan siap untuk menghadapi pengadilan/penghakiman atas diri kita sendiri. Yang ingin dipesankan Yesus kepada kita dalam bacaan Injil hari ini adalah: “Jangan lewatkan kesempatan ini. Aku memberikan kepadamu banyak kesempatan. Akan tetapi setiap kesempatan hanya datang sekali saja. Aku pikir akan jauh lebih baiklah bagi kamu untuk menyelesaikan urusan-urusan spiritual-mu sekarang juga, sebelum kamu datang menghadap ke pengadilan terakhir.”

DOA: Bapa surgawi, oleh kuasa Roh Kudus-Mu bentuklah hatiku menjadi serupa dengan hati Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus, yang penuh kasih dan pengampunan terhadap sesamaku, termasuk yang mendzolimi diriku. Jagalah diriku agar tetap dapat melakukan perjalanan hidupku sebagai seorang murid Kristus yang setia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:54-59), bacalah tulisan yang berjudul “ASAL SAJA KITA MAU MEMBUKA MATA HATI KITA” (bacaan tanggal 23-10-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 24-10-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 19 Oktober 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SUATU BAPTISAN

SUATU BAPTISAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIX – Kamis, 22 Oktober 2015)

Peringatan S. Yohanes Paulus II, Paus 

stdas0730“Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapa Aku harapkan, api itu telah menyala! Aku harus dibaptis dengan suatu baptisan, dan betapa susah hati-Ku, sebelum hal itu terlaksana! Kamu menyangka bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan. Karena mulai sekarang akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga. Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya.”  (Luk 12:49-53) 

Bacaan Pertama: Rm 6:19-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-4,6 

Kata-kata Yesus dalam Bacaan Injil hari ini sungguh keras. “Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapa Aku harapkan, api itu telah menyala!” (Luk 12:49). Yesus berkata bahwa Dia datang untuk membakar kita, agar kita masuk ke dalam hidup bagi Allah; bahwa kita itu seperti api, seperti suatu nyala api yang hampir habis. Iman kita masih menyala namun sangat kecil. Kita secara tetap disibukkan dengan hal-ikhwal dunia ini, dan kita mempunyai sedikit waktu saja untuk menyiram “bensin” ke dalam nyala api kecil dari iman dalam diri kita.

Yesus seakan berkata, “Jangan salah. Aku tidak datang sekadar untuk memasukkan kamu ke dalam surga, untuk membuat dirimu menjadi ‘Orang Kristiani Hari Minggu’. Aku datang untuk membakar kamu dengan kasih Kristiani, untuk menjadi orang yang penuh hasrat untuk menjadi saksi-saksi-Ku lewat kesaksian hidupmu; juga untuk mati terhadap dirimu sendiri sehingga orang-orang lain dapat hidup. Mengapa kamu tidak membiarkan dirimu dibakar? Inilah hasrat-Ku terhadap dirimu.”

Api ini akan memurnikan kita, jika kita memperkenankannya. Hal itu akan membuat diri kita menjadi murid-murid Kristus sejati, yang siap untuk pergi bersama-Nya ke mana saja Dia memimpin kita. Yesus juga berkata: “Aku harus dibaptis dengan suatu baptisan, dan betapa susah hatiku, sebelum hal itu terlaksana!” (Luk 12:50). Tentu saja di sini Yesus berbicara mengenai sengsara dan wafat-Nya. Salib-Nya! Hanya melalui penderitaan sengsara dan wafat-Nyalah kita dapat sampai kepada sukacita kebangkitan-Nya yang penuh kemuliaan. Kita pun harus dibaptis dalam Kristus yang tersalib, dalam penderitaan sengsara-Nya. Kita harus mati terhadap diri kita dan bangkit dengan Kristus Yesus. Kita harus menyangkal diri kita dan hidup untuk orang-orang lain. Dan … kita akan terus bersusah hati, … sampai kita tiba di sana.

Banyak orang ingin disembuhkan; mereka ingin bebas dari rantai dalam diri mereka yang erat-erat mengikat mereka: rasa takut, rasa susah, kemarahan, rasa cemas, beberapa di antaranya malah menyebabkan sakit badani (fisik). Akan tetapi mereka tidak mau melalui proses kematian terhadap diri sendiri, yang harus mereka lalui terlebih dahulu. Dengan demikian mereka merasa susah-hati, sampai mereka benar-benar mau melalui proses pembaptisan itu, Selama kepentingan-diri kita memegang kendali atas hidup kita, maka kita akan terus merasa susah-hati, terus berada dalam kesusahan. Namun apabila kita telah mati terhadap diri kita sendiri, maka perkenankanlah Yesus untuk memegang kendali, maka susah-hati kita akan lenyap dan kita pun akan mengalami sukacita penuh kasih, sukacita karena hidup bagi Allah, dan bagi orang-orang lain.

Sebagaimana dikatakan oleh Yesus, api ini, susah-hati ini, baptisan ini, pemurnian ini tidaklah harus membentuk damai yang bersifat duniawi. Hal itu bahkan dapat memisahkan kita dari orang-orang yang kita kasihi. Kesetiaan kepada Kristus akan berarti bahwa kita harus menempatkan kesetiaan-kesetiaan lainnya dalam kehidupan kita menjadi nomor dua. Apabila keputusan kita itu menciptakan pemisahan, biarlah begitu. Yesus harus senantiasa menjadi yang pertama dan utama dalam hidup kita jika kita sungguh ingin memiliki damai-sejahtera yang tahan banting. Lebih baik mengalami suatu damai-sejahtera yang sejati disertai perpecahan-perpecahan daripada suatu damai sejahtera palsu, yang tidak memberikan tempat yang pertama dan utama kepada Kristus dalam hidup kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku ingin berjalan melalui baptisan dalam salib bersama Engkau. Aku ingin menjadi murid-Mu yang setia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:49-53), bacalah tulisan yang berjudul “AKU DATANG UNTUK MELEMPARKAN API KE BUMI” (bacaan tanggal 22-10-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 23-10-14 dalam situs SANG SABDA) 

Cilandak, 19 Oktober 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BANYAK DIBERI, BANYAK DITUNTUT

BANYAK DIBERI, BANYAK DITUNTUT

(Bacaan Injil Misa Kudus,Hari Biasa Pekan Biasa XXIX – Rabu, 24 Oktober 2012) 

YESUS SANG RABBI DARI NAZARETTetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pukul berapa pencuri akan datang, ia tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.” Kata Petrus, “Tuhan, kamikah yang Engkau maksudkan dengan perumpamaan itu atau juga semua orang?” Jawab Tuhan, “Jadi, siapakah pengurus rumah yang setia dan bijaksana yang akan diangkat oleh tuannya menjadi kepala atas semua hambanya untuk memberikan makanan kepada mereka pada waktunya? Berbahagialah hamba yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya. Akan tetapi, jikalau hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya, ‘Tuanku tidak datang-datang,’ lalu ia mulai memukul hamba-hamba laki-laki dan hamba-hamba perempuan, dan makan minum dan mabuk, maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangkanya, dan pada saat yang tidak diketahuinya, dan akan memenggalnya dan membuatnya senasib dengan orang-orang yang tidak setia. Adapun hamba yang tahu akan kehendak tuannya, tetapi yang tidak mengadakan persiapan atau tidak melakukan apa yang dikehendaki tuannya, ia akan menerima banyak pukulan. Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, akan banyak dituntut dari dirinya, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, akan lebih banyak lagi dituntut dari dirinya.” (Luk 12:39-48) 

Bacaan Pertama: Rm 6:12-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 124:1-8 

“Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, akan banyak dituntut dari dirinya, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, akan lebih banyak lagi dituntut dari dirinya” (Luk 12:48).

Inilah ayat terakhir dari bacaan Injil hari ini. Aplikasinya yang paling langsung adalah terhadap tanggung jawab para pemimpin agama kepada siapa Kristus memberikan lebih banyak rahmat, namun pada saat yang sama mengharapkan lebih banyak dari mereka daripada dari orang-orang lain.

Kita dapat dan harus senantiasa menerapkan kata-kata ini pada banyak karunia yang diberikan Allah kepada kita. Lihatlah, misalnya negara kita yang diberkati oleh Allah dengan kekayaan alam yang berlimpah. Kristus ingin agar kita menggunakan kekayaan alam ini, karena Allah menciptakan semua itu dan semua itu sesungguhnya baik. Akan tetapi, kita semua harus menggunakan hal-hal yang baik tersebut dengan penuh tanggung jawab. Cara kita menggunakan anugerah Allah ditentukan oleh komitmen dan sikap kita yang mendasar terhadap Allah dan sesama manusia.

MOTHER TERESA - 05Sikap mendasar ini harus dihayati dalam hidup kita sehari-hari. Kalau tidak demikian halnya, maka semuanya menjadi tidak riil. Di sini tidak menyangkut soal doa. Sebagian dari jalan menuju Allah adalah melalui dunia, dunia kerja/karya, kehidupan keluarga, RT/RW. Mengapa jalan menuju Allah? Karena dalam area-area inilah kita menggunakan karunia-karunia Allah dan mengembalikan semua kepada-Nya seperti yang diminta oleh-Nya.

Harta kekayaan kita, talenta-talenta kita, energi dan upaya-upaya kita adalah karunia dari Allah. Dan seturut apa yang telah diberikan kepada kitalah kita harus memberi. Sesama kita membutuhkan kita. Apabila kita memiliki lebih daripada yang kita butuhkan menurut akal sehat, maka orang-orang miskin mempunyai hak atas “surplus” yang kita miliki. Apabila kita memiliki talenta-talenta di bidang kepemimpinan, komunitas kita harus menikmati manfaat dari kualitas-kualitas kepemimpinan tersebut. Kita harus mengkontribusikan kepada perkembangan dunia ciptaan melalui kerja yang energetik dan yang penuh antusiasme. Ini adalah bagian dari rencana Allah.

Kita harus mewujudkan roh Injil hari ini dalam praktek kehidupan sehari-hari. Marilah kita menanggapi pesan Kristus dan memberi seturut ukuran yang telah kita terima.

DOA: Bapa surgawi, Engkau telah memenuhi diri kami masing-masing dengan rupa-rupa anugerah dan talenta. Semua kerja kami adalah untuk kemuliaan dan pujian bagi-Mu, dan untuk pembangunan umat-Mu di dunia ini. Sungguh, Engkau adalah keselamatanku (Mzm 12:2). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:39-48), bacalah tulisan yang berjudul “HAMBA YANG SETIA DAN BIJAKSANA ATAU HAMBA YANG JAHAT” (bacaan tanggal 21-10-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2015 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 24-10-12 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 19 Oktober 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

AGAR SELALU BERSIAP-SIAGA

AGAR SELALU BERSIAP-SIAGA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIX – Selasa, 20 Oktober 2015) 

KESIAPSIAGAAN - LUK 12 35-40“Hendaklah pinggangmu tetap terikat dan pelitamu tetap menyala. Hendaklah kamu sama seperti orang-orang yang menanti-nantikan tuannya yang pulang dari perkawinan, supaya jika ia datang dan mengetuk pintu, segera dibuka pintu baginya. Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Ia akan mengikat pinggangnya dan mempersilakan mereka duduk makan, dan ia akan datang melayani mereka. Apabila ia datang pada tengah malam atau pada dini hari dan mendapati mereka berbuat demikian, maka berbahagialah mereka.” (Luk 12:35-38) 

Bacaan Pertama: Rm 5:12,15b,17-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 40:7-10,17 

Yesus mengingatkan kita semua agar selalu bersiap-siaga, untuk menyambut kedatangan-Nya.

Jika setiap pencinta sejati di dunia telah menyadari betapa tidak berarti dirinya di hadapan sang kekasih, maka tentunya lebih mendalam lagi keyakinan para kudus akan kebenaran hal itu! Kita diingatkan akan cerita tentang Santa Perpetua, martir [+203]. Ia dilempar dan dibanting oleh seekor binatang buas di tengah arena, dia bangkit berdiri lagi, menyisir rambutnya, dan membereskan pakaiannya, karena dia tidak ingin pergi masuk ke dalam kemuliaan ilahi dalam keadaan tidak rapih.

Jiwa-jiwa yang telah berpisah dari kita mengetahui bahwa mereka telah sampai ke hadapan hadirat Allah dengan banyak urusan dunia yang masih melekat pada diri mereka. Mereka sepenuhnya menyadari bahwa mereka tidak dapat tetap berada di dekat Allah tanpa harus melewati proses pemurnian. Santa Katarina dari Genoa [1447-1510] menjelaskan bagaimana jiwa-jiwa yang telah berpisah dari kita dengan gembira menyambut kesempatan untuk dibersihkan. Orang kudus ini menulis bahwa jiwa di Api Pencucian, adalah seperti sebutir berlian yang baru saja dipotong. Jiwa tersebut sungguh merupakan satu dari makhluk-makhluk ciptaan Allah yang indah, dan ketika diarahkan kepada Allah tidak kehilangan keindahannya yang utama. Namun tetap saja jiwa itu masih jauh dari sempurna. Sang ahli pekerjaan-tangan Ilahi (=Allah) harus terus melakukan pekerjaan membersihkan jiwa itu seperti menggosok dan memoles berlian sehingga mencapai potensinya yang penuh. Inilah proses pemurnian.

Pengalaman kita semua belum sampai melampaui batas dunia ini. Kita pun mengetahui bahwa kita sendiri tidak akan datang menghadap seorang tokoh besar dunia – raja, pangeran, atau presiden – tanpa mandi dulu, atau tanpa mengenakan pakaian yang pantas dan bersih. Kalau pun secara tidak sengaja kita menghadap seorang tokoh seperti itu dalam kondisi yang tak pantas (berpakaian kotor dlsb.), maka kita akan mencari sebuah tempat di mana kita dapat membersihkan diri dan menyiapkan diri kita sendiri untuk peristiwa penting tersebut.

Kalau begitu halnya, bagaimana kita akan menyiapkan diri kita untuk menghadap Tuhan, Dia yang mengetahui setiap sudut pikiran dan hati kita? Ke mana kita harus pergi untuk membakar dan membersihkan semua noda serta berbagai kekotoran dalam diri kita? Ingatlah “perumpamaan Yesus tentang perjamuan kawin”, ketika  sang raja bertanya kepada seorang tamu yang tidak mengenakan pakaian pesta: “Hai Saudara, bagaimana engkau masuk ke mari tanpa mengenakan pakaian pesta?” (Mat 22:12). Namun kematian “yang datang seperti seorang pencuri di malam hari” (bdk. 1Tes 5:2), memang merupakan sesuatu yang tak di sangka-sangka dan mungkin saja datang pada saat di mana kita tidak siap.

DOA: Tuhanku dan Allahku, jika para kudus-Mu yang terbaik pun harus menderita banyak hal agar berharga bagi-Mu, berapa jauhkah perjalanan yang masih harus kami lakukan? Ya Tuhan, kasihanilah kami sepanjang perjalanan ziarah kami di dunia, sehingga dengan demikian kami dapat sampai ke surga kelak dalam keadaan selamat. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:35-38), bacalah tulisan yang berjudul “DENGAN PINGGANG TETAP TERIKAT DAN PELITA TETAP MENYALA” (bacaan tanggal 20-10-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-10-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 19 Oktober 2015

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BELAS KASIH ALLAH YANG DIBALAS DENGAN RASA TAK TAHU TERIMA KASIH

BELAS KASIH ALLAH YANG DIBALAS DENGAN RASA TAK TAHU TERIMA KASIH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIX – Senin, 19 Oktober 2015) 

PERUMPAMAAN TTG ORANG KAYA YANG BODOHSeorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus, “Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?” Kata-Nya lagi kepada mereka, “Berjaga-jagalah dan waspadalah  terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung pada kekayaannya itu.” Kemudian Ia menyampaikan kepada mereka suatu perumpamaan, “Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya. Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku. Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan akan menyimpan di dalamnya semua gandum dan barang-barangku. Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, engkau memiliki banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau yang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil daripadamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.” (Luk 12:13-21)

Bacaan Pertama: Rm 4:20-25; Mazmur Tanggapan: Luk 1:69-75 

Pesan Yesus dalam bacaan Injil hari ini jelas: “Hindarilah ketamakan/keserakahan dalam segala bentuknya. Seseorang dapat saja kaya dengan harta-benda duniawi, namun miliknya itu tidak dapat memberi kehidupan kekal baginya.”

Seorang pribadi yang rendah hati dan memiliki kemurahan hati, yang hidupnya berpusat pada Allah dan menanggapi dengan baik karunia iman yang dianugerahkan-Nya kepada dirinya akan melihat kehampaan dari segala keuntungan materiil. Memang kesombongan kita senantiasa menyebabkan rasa haus akan keuntungan materiil tersebut, tambah ini dan tambah itu. Namun kiranya rasa haus tersebut adalah sesuatu yang sia-sia tanpa kesudahan. Bahkan seorang yang tidak memiliki iman kepada/akan Yesus akan melihat kehampaan yang dihasilkan oleh sekadar harta kekayaan yang bersifat materiil. Ia akan belajar dari pengalamannya betapa tak berharganya dan penuh frustrasi-nya “kebahagiaan” (palsu) yang diperolehnya dari penyembahannya kepada “mamon” dalam upaya pengejarannya akan kepuasan/kenikmatan dalam harta benda dll. yang bersifat duniawi.

THE FOOLISH RICH MANJika kita terus saja berputar-putar di sekeliling upaya pencarian harta kekayaan, maka imajinasi kita dapat disesatkan dan kita pun dapat dibuat yakin bahwa Allah itu berada jauh di sana, bahkan keberadaan-Nya itu jauh dari riil. Tujuan-tujuan materiil yang jauh dan tak dapat dicapai itu sungguh dapat menyesatkan karena terasa dekat dan mudah dicapai. Kita menjadi semakin ngotot dalam mengejar kekayaan duniawi! Mengejar dan terus mengejar! Akhirnya, seperti orang kaya yang bodoh dalam perumpamaan Yesus, kita berkata: “Jiwaku, engkau memiliki banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!” (Luk 12:19).

Jadi, ketamakan akhirnya menguasai diri kIta. Allah sesungguhnya dekat dengan kita, namun imajinasi yang penuh beban hampir tidak dapat melihat Dia dari kejauhan. Harta-kekayaan dan kenikmatan hidup menjadi realitas kita dan kelihatannya senantiasa berada dalam jangkauan kita. Kita berkata kepada diri kita sendiri: “Satu lagi saja keuntungan yang kuperoleh, maka aku pun memperoleh apa yang kukehendaki.” Jika aku cukup beruntung untuk memperolehnya, maka api keserakahan pun berkobar lagi. “Satu lagi! Satu lagi! Satu lagi!, tetapi tanpa henti. Setiap sukses baru menjadi lebih pahit daripada sukses sebelumnya, sampai akhirnya kita sampai kepada tingkat keserakahan yang  sudah gila-gilaan. Benarlah pepatah Inggris yang berbunyi: Greed begets greed! 

Sementara kita melanjutkan mengundang hukuman dan penghancuran atas diri kita yang disebabkan oleh sikap kita yang tidak tahu terima kasih dan juga ketamakan, belas kasih Allah terus berlanjut. Kesabaran Allah yang tak mengenal batas itu senantiasa mengejar kita.

DOA: Tuhan Yesus, semoga belas kasih-Mu pada akhirnya mengalahkan sikap kami yang tidak tahu berterima kasih kepada-Mu, walaupun tidak mudah kami bagi kami untuk mengubah sikap buruk kami itu. Kami juga ingat, Tuhan, bahwa penderitaan karena lapar si “anak hilang” (Luk 15:11-32) bukanlah suatu pengalaman yang mudah baginya, namun hal itu membawanya balik pulang ke rumah ayahnya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:13-21), bacalah tulisan yang berjudul “” (bacaan tanggal 19-10-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2015. 

Catatan tambahan: Bagi anda yang cermat dalam membaca teks Kitab Suci, maka ungkapan ‘kaya di hadapan Allah’ (Luk 12:21) yang dinilai baik ini akan sedikit membingungkan, karena dalam ‘Sabda Bahagia’ terdapat ayat: “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah” (Mat 5:3). Terasa ada kontradiksi di sini. Saya menganjurkan untuk membaca ayat Mat 5:3 ini begini: “Berbahagialah orang yang miskin dalam roh” (Inggris: poor in spirit atau spiritually poor) agar tidak bingung berkepanjangan. Dengan demikian, juga tidak akan ada masalah dengan ungkapan ‘kaya di hadapan Allah’ di atas.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-10-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 15 Oktober 2015 [Peringatan S. Teresia dr Avila, Perawan & Pujangga Gereja]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DAPATKAH KAMU MEMINUM CAWAN YANG HARUS KUMINUM?

DAPATKAH KAMU MEMINUM CAWAN YANG HARUS KUMINUM?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Minggu Biasa XXIX [TAHUN B] – 18 Oktober 2015)

Hari Minggu Evangelisasi 

stdas0730Lalu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya, “Guru, kami harap Engkau melakukan apa pun yang kami minta dari Engkau!” Jawab-Nya kepada mereka, “Apa yang kamu kehendaki Kuperbuat bagimu?”  Lalu kata mereka, “Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.”  Tetapi kata Yesus kepada mereka, “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum atau dibaptis dengan baptisan yang harus kuterima?”  Jawab mereka, “Kami dapat.” Yesus berkata kepada mereka, “Memang, kamu akan meminum cawan yang harus Kuminum dan akan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima. Tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang yang baginya hal itu telah disediakan.”  Mendengar itu kesepuluh murid yang lain menjadi marah kepada Yakobus dan Yohanes. Lalu Yesus memanggil mereka dan berkata, “Kamu tahu bahwa mereka yang diakui sebagai pemerintah bangsa-bangsa bertindak sewenang-wenang atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Siapa saja yang ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”   (Mrk 10:35-45) 

Bacaan Pertama: Yes 53:10-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:4-5,18-20,22; Bacaan Kedua: Ibr 4:14-16 

Yesus sama sekali tidak menegur dengan keras Yakobus dan Yohanes ketika mereka minta kepada-Nya untuk menjadi tokoh-tokoh penting yang masing-masing akan duduk di sisi kanan dan kiri Yesus dalam kemuliaan-Nya. Yesus hanya mengatakan bahwa kedua orang murid-Nya itu tidak tahu apa yang mereka minta. Kemudian, Yesus menantang mereka: “Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum atau dibaptis dengan baptisan yang harus kuterima?” (Mrk 10:38). Dengan mensejajarkan ambisi dua orang murid-Nya dengan kerendahan hati-Nya sendiri, Yesus mengoreksi semangat bergebu-gebu mereka untuk memperoleh kemuliaan dengan mengajar mereka untuk mengindahkan panggilan Allah kepada pelayanan yang dilakukan dengan kerendahan hati.

Kerendahan hati Yesus berasal dari cintakasih-Nya kepada Bapa dan dunia. Yesus mau menanggung apa saja – malah kematian sekali pun – guna menyelamatkan umat manusia. Kerendahan hati macam inilah yang melepaskan kasih Allah bagi dunia dan memajukan Kerajaan-Nya. Kerendahan hati macam inilah yang diajarkan Yesus kepada para murid-Nya, ketika Dia berkata: “Siapa saja yang menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan siapa saja yang ingin menjadi yang pertama di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya” (Mrk 10:43-44).

Jangan salah! Yesus tidak mencari murid-murid yang seperti tanaman “puteri malu”. Itu bukanlah macam kerendahan hati yang dicari oleh-Nya. Dia mencari orang-orang seperti diri-Nya sendiri yang akan menanggung kesedihan Bapa atas penderitaan dalam dunia. Dia mencari orang-orang yang akan bekerja dengan diri-Nya agar dunia dapat dibebas-merdekakan dari dosa. Jadi, Yesus tidak menegur dan memarahi Yakobus dan Yohanes untuk ambisi mereka yang salah-arah. Sebaliknya, Yesus justru menyalurkan ambisi mereka sehingga mau merangkul kehendak Bapa: “Kamu akan meminum cawan yang harus Kuminum dan akan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima” (Mrk 10:39).

Jika kita tidak sampai menciut, pentinglah untuk memahami bahwa cawan pengorbanan ini juga merupakan suatu keintiman dengan Allah. Setiap tindakan kematian terhadap diri sendiri demi Kerajaan Allah akan membawa kita lebih dekat lagi dengan Yesus. Semakin penuh kita minum dari cawan ini, semakin penuh pula kita belajar bahwa Yesus tidak pernah meminta atau menuntut lebih dari diri kita daripada pemberdayaan yang telah dilakukan-Nya atas diri kita untuk mampu memberikan sesuatu. Yesus selalu mengundang kita untuk “dengan penuh keberanian menghampiri takhta anugerah, supaya kita menerima rahmat dan menemukan anugerah untuk mendapat pertolongan pada waktunya” (Ibr 4:16).

DOA: Tuhan Yesus, kami mengkomit diri kami kepada-Mu untuk saling melayani dengan kerendahan hati, sebagaimana Engkau telah mengasihi dan melayani kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 10:35-45), bacalah tulisan yang berjudul “SIAPA SAJA YANG INGIN MENJADI BESAR DI ANTARA KAMU, …” (bacaan tanggal 18-10-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-10-12 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  15 Oktober 2015 [Peringatan S. Teresia dr Avila, Perawan & Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 93 other followers