PEMENUHAN VISI ALLAH TENTANG BAIT-NYA

PEMENUHAN VISI ALLAH TENTANG BAIT-NYA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran – Kamis, 9 November 2017) 

Kemudian ia membawa aku kembali ke pintu Bait Suci, dan sungguh, ada air keluar dari bawah ambang pintu Bait Suci itu dan mengalir menuju ke timur, sebab Bait Suci juga menghadap ke timur; dan air itu mengalir dari bawah bagian samping kanan dari Bait Suci itu, sebelah selatan mezbah. Lalu diiringnya aku ke luar melalui pintu gerbang utara dan dibawanya aku berkeliling dari luar menuju pintu gerbang luar yang menghadap ke timur, sungguh, air itu membual dari sebelah selatan.

Ia berkata kepadaku: “Sungai ini mengalir menuju wilayah timur, dan menurun ke Arab-Yordan, dan bermuara di Laut Asin, air itu menjadi tawar, sehingga ke mana saja sungai itu mengalir, segala makhluk hidup yang berkeriapan di sana akan hidup. Ikan-ikan akan menjadi sangat banyak, sebab ke mana saja air itu sampai, air laut  di situ menjadi tawar dan ke mana saja sungai itu mengalir, semuanya di sana hidup.

Pada kedua tepi sungai itu tumbuh bermacam-macam pohon buah-buahan, yang daunnya tidak layu dan buahnya tidak habis; tiap bulan ada lagi buahnya yang baru, sebab pohon-pohan itu mendapat air dari tempat kudus itu. Buahnya menjadi makanan dan daunnya menjadi obat (Yeh 47:1-2,8-9,12) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 46:2-3,5-6,8-9; Bacaan Kedua: 1Kor 3:9c-11,16-17; Bacaan Injil: Yoh 2:13-22 

Tahun 573 SM. Orang-orang Israel tinggal dalam pengasingan. Bangsa mereka telah diporak-porandakan, kota mereka Yerusalem yang suci praktis telah dihancurkan dan orang-orang Israel dikirim ke tempat-tempat pembuangan sebagai budak-budak di Babel. Empat belas tahun sudah berlalu sejak Bait Suci yang dibangun oleh raja Salomo di Yerusalem dihancurkan. Kita hanya dapat membayangkan kesusahan yang diderita bangsa Israel pada masa-masa itu.

Namun sekarang, baiklah kita membayangkan reaksi orang-orang Israel itu ketika Allah mengutus nabi Yehezkiel dengan sebuah pesan penuh pengharapan. Sebuah Bait Suci yang baru akan muncul, lebih baik daripada yang lama. Dari Bait Suci ini akan mengalir keluar air yang membawa kehidupan dan kesembuhan. Allah mengatakan kepada umat-Nya yang sedang menderita kesusahan itu agar tidak berdiam dalam keadaan yang menekan mereka itu, melainkan untuk memandang kepada-Nya dan percaya kepada janji-janji-Nya.

Kita mengetahui bahwa visi Allah tentang Bait-Nya pada akhirnya dipenuhi dalam diri Yesus Kristus. Tubuh Yesus sendiri adalah Bait Suci yang diruntuhkan, namun dibangkitkan kembali oleh kuasa Allah (Yoh 2:19). Sekarang, sebagai anggota-anggota tubuh Kristus (Gereja), kita adalah bagian dari Bait Suci ini. Yesus adalah sumber dari sungai dari mana kita menerima kehidupan, kuasa dan rahmat. Lewat pembaptisan kita ke dalam kematian Kristus, kita dibenamkan ke dalam sungai kehidupan Allah. Kita sendiri dimaksudkan untuk menjadi saluran rahmat dan kesembuhan. Sebagai Gereja kita dipanggil untuk membawa kehidupan kepada dunia.

Inilah yang sebenarnya kita rayakan pada hari ini dengan memusatkan perhatian kita pada  Gereja Basilik S. Yohanes Lateran di Roma. Basilika ini digambarkan sebagai “ibu dan kepala” dari segala gereja. Gereja yang berfungsi sebagai katedral Sri Paus ini didirikan segera setelah tahun 313, tahun di mana kaisar Roma Konstantinus memberikan kepada semua warganya yang beriman Kristiani kebebasan untuk mempraktekkan iman-kepercayaan mereka tanpa harus merasa takut dikejar-kejar dan dianiaya seperti sebelumnya. Basilika ini mengambil namanya dari Yohanes Pembaptis dan Yohanes Rasul, juga dari Laterani, keluarga dari istri kaisar Konstantinus yang menyumbangkan tanah tempat basilik itu berdiri sekarang.

Gedung basilika S. Yohanes Lateran adalah basilika yang paling tua dan menduduki ranking pertama di antara empat basilik agung di Roma (S. Petrus, S. Paulus dan S. Maria Maggiore). Sampai tahun 1309 basilika ini merupakan tempat kediaman Sri Paus, dan sampai hari ini tetap merupakan gereja katedral Roma. Berabad-abad lamanya basilika S. Yohanes Lateran menderita kerusakan akibat gempa bumi, kebakaran dan invasi. Setiap kali basilika ini dibangun kembali, direstorasi dan diperbaiki. Salah satu relikui yang ada dalam basilika itu adalah sebuah altar yang terbuat dari kayu yang dipercaya sebagai altar yang digunakan S. Petrus pada waktu merayakan Misa.

Mengapa kita harus merayakan pemberkatan sebuah gedung gereja? Tidakkah kita mengetahui bahwa gereja itu lebih daripada sekadar sebuah bangunan, bagaimana pun sudah tua dan kunonya gedung gereja tersebut? Lagipula tetap saja gedung buatan manusia ini berdiri sebagai suatu lambang Gereja, umat Allah. Gereja ini mengingatkan kita semua, bahwa Gereja adalah sebuah Bait Suci, sebuah tempat di mana Allah berdiam dan disembah oleh umat-Nya. Gereja ini tidak akan pernah dapat dihancurkan oleh bencana alam ataupun vandalisme manusia. S. Paulus mengajukan kepada jemaat di Korintus pertanyaan penting ini: “Tidak tahukah kamu bahwa kamu sekalian adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” (1Kor 3:16).

Pada kayu salib, Yesus mendirikan Gereja-Nya selagi darah dan air mengalir dari “bait” tubuh-Nya (lihat Yoh 19:34). Dalam aliran darah dan air yang menyembuhkan ini dipenuhilah visi nabi Yehezkiel tentang Yerusalem baru. Sekarang, melalui Roh Kudus, sebuah sungai besar mengalir dari Gereja – umat Allah – dan membawa kehidupan ke mana saja sungai itu mengalir. Kita adalah Bait Suci, dan dari kita dapatlah mengalir kuasa Roh Kudus yang menyembuhkan dan mentransformasikan.

Perayaan hari ini mengingatkan kita akan kuasa dan hikmat-kebijaksanaan Allah yang mengalir melalui Gereja Kristus ke dalam dunia. Jadi basilika S. Yohanes Lateran bukanlah sekadar sebuah situs bersejarah. Basilika ini adalah sebuah lambang Gereja yang hidup – dinamis, penuh semangat, memancurkan air kehidupan ilahi dan kasih ilahi. Oleh karena itu marilah kita berdoa bagi keseluruhan Gereja, agar kita masing-masing dapat menjadi peka terhadap Roh Allah dan akan bekerja sama dengan hasrat-Nya untuk menyentuh setiap orang di atas muka bumi.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, bawalah sungai air kehidupan kepada kami masing-masing dalam Gereja-Mu. Melalui kami, bawakanlah penyembuhan kepada semua bangsa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Kedua hari ini (1Kor 3:9b-11,16-17), bacalah tulisan yang berjudul “DIRI KITA HARUS MENJADI BAIT ALLAH YANG SEJATI DAN HIDUP” (bacaan tanggal 9-11-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 9-11-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 7 November 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

MENGASIHI DAN MEMBENCI

MENGASIHI DAN MEMBENCI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXI – Rabu, 8 November 2017)

Kongregasi Fransiskanes Sambas (KFS): Peringatan Arwah Semua Anggota Tarekat 

Pada suatu kali ada banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka, “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapaknya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, apakah uangnya cukup untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, dan berkata: Orang ini mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya.

Atau, raja manakah yang kalian mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian. Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.  (Luk 14:25-33) 

Bacaan Pertama: Rm 13:8-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 112:1-2,4-5,9 

Kata-kata yang diucapkan Yesus ini memprovokasi kita untuk berpikir lebih lanjut. Kata-kata ini digunakan Yesus untuk menantang para pendengar-Nya yang mau menjadi murid-murid-Nya! Membenci bapaknya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri! (Luk 14:26). Kata-kata Yesus ini terasa sangat bertentangan dengan perintah yang diberikan oleh-Nya sebelum itu, yaitu perintah untuk mengasihi! Bagaimana dua perintah ini dapat cocok satu sama lain?

Pada titik tengah, perintah Yesus, baik untuk mengasihi maupun untuk membenci, merupakan suatu panggilan untuk mau mengorbankan bagi Yesus hal-hal yang paling disenangi dalam hidup kita. Ini adalah panggilan untuk melakukan subordinasi kasih kita kepada setiap orang dan setiap hal lainnya terhadap kasih kita kepada-Nya, untuk menempatkan hasrat-Nya sebagai yang pertama dan utama dalam hati kita. Yesus memerintahkan ini karena Dia tahu bahwa bila kita mengasihi dan menghormati-Nya di atas setiap hal lainnya, maka kita akan mampu untuk mengasihi orang-orang lain secara lebih mendalam. Dengan kasih ilahi dan hidup ilahi yang aktif di dalam diri kita, maka kita diberdayakan untuk mengasihi dengan cara yang melampaui kemampuan-kemampuan kita sendiri yang bersifat alamiah.

Di manakah atau kapankah kita (anda dan saya) mengalami perintah untuk mengasihi yang membuat seakan hal itu berada di luar batas-batas kemampuan kita? Mungkin kita harus mengucapkan kata-kata yang bersifat menantang dan konfrontatif kepada saudari dan/atau saudara kita dalam Kristus? Barangkali seorang anak kita telah mengikuti jalan yang sesat dan membutuhkan koreksi? Dalam situasi-situasi yang sulit-menegangkan seperti itu, Roh Kudus dapat mengajar kita untuk membenci dosa yang kita lihat namun terus mengasihi para pendosa tersebut. Paling sedikit kita diingatkan bahwa kita pun adalah orang-orang berdosa.

Kita hanya perlu mempertimbangkan pilihan-pilihan sulit yang dihadapi Yesus dalam kehidupan-Nya ketika hidup di atas bumi ini, atau merenungkan kematian-Nya di atas kayu salib guna melihat bahwa “jalan kasih” tidak selalu mudah. Namun kita harus senantiasa mengingat bahwa Yesus memiliki kuat-kuasa untuk membebaskan kita dari cara hidup yang sia-sia yang diwariskan oleh nenek moyang kita (1Ptr 1:18) dan juga dari kodrat kita yang cenderung berdosa. Kita tidak boleh takut terhadap reaksi-reaksi orang-orang jikalau memang kita harus berbicara langsung kepada mereka. Kita harus berketetapan hati untuk tetap setia kepada panggilan Allah bagi kita kepada kekudusan yang meminta kepada kita untuk “membenci” segala hal yang membuat kita dan orang-orang lain tetap terikat pada dosa. Yesus wafat di atas kayu salib untuk memenangkan kasih kita dan kesetiaan kita. Oleh karena itu, marilah kita menyerahkan hati kita kepada-Nya, mengasihi Dia di atas segalanya yang lain dalam hidup kita.

DOA: Bapa surgawi, berdayakanlah diriku agar mau dan mampu menempatkan Engkau di atas segala cintaku yang lain. Ajarlah aku agar mengasihi keluargaku dan para sahabatku serta orang-orang lain dengan kasih-Mu, yaitu kasih yang menyembuhkan segala luka dan perpecahan. Tunjukkanlah kepadaku bagaimana mengucapkan sabda-Mu dalam kasih yang berasal dari Engkau saja, sehingga Engkau dapat dimuliakan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 14:25-33), bacalah tulisan yang berjudul “KEMENANGAN SALIB KRISTUS ADALAH KEMENANGAN KASIH-NYA YANG MAHA-SEMPURNA” (bacaan tanggal 8-11-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 4-11-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 6 November 2017  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MENANGGAPI UNDANGAN ALLAH SECARA POSITIF

MENANGGAPI UNDANGAN ALLAH SECARA POSITIF

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXI – Selasa, 7 November 2017)

Kongregasi FMM: Peringatan B. Assunta Pallota, Pelindung Suster Kaul Sementara 

Mendengar itu berkatalah salah seorang yang sedang makan itu kepada Yesus, “Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Ada seseorang mengadakan perjamuan besar dan ia mengundang banyak orang. Menjelang perjamuan itu dimulai, ia menyuruh hambanya mengatakan kepada para undangan: Marilah, sebab segala sesuatu sudah siap. Tetapi mereka semua, satu demi satu, mulai meminta  maaf. Yang pertama berkata kepadanya: Aku telah membeli ladang dan harus pergi melihatnya, aku minta maaf. Yang lain berkata: Aku telah membeli lima pasang lembu dan harus pergi mencobanya; aku minta maaf. Yang lain lagi berkata: Aku baru kawin dan karena itu aku tidak dapat datang. Lalu kembalilah hamba itu dan menyampaikan semuanya itu kepada tuannya. Tuan rumah itu pun murka dan berkata kepada hambanya: Pergilah dengan segera ke semua jalan dan lorong kota dan bawalah ke mari orang-orang miskin dan orang-orang buta dan orang-orang lumpuh. Kemudian hamba itu melaporkan: Tuan, apa yang tuan perintahkan itu sudah dilaksanakan, sekalipun demikian masih ada tempat. Lalu kata tuan itu kepada hambanya: Pergilah ke semua jalan dan lorong dan paksalah orang-orang yang ada di situ, masuk, supaya rumahku terisi penuh. Sebab Aku berkata kepadamu: Tidak ada seorang pun dari orang-orang yang telah diundang itu akan menikmati jamuan-Ku.” (Luk 14:15-24) 

Bacaan Pertama: Rm 12:5-16a; Mazmur Tanggapan: Mzm 131:1-3 

Yesus mengakhiri pengajaran-Nya pada perjamuan makan di rumah seorang pemimpin orang-orang Farisi dengan sebuah perumpamaan yang merupakan ringkasan-kesimpulan dari apa saja yang telah dikatakan-Nya dalam perjamuan tersebut. Yesus menggunakan imaji tradisional dari perjamuan makan yang terdengar akrab di telinga para pendengar-Nya sebagai suatu gambaran Perjanjian Lama yang menandakan inaugurasi dari zaman mesianis.

Perjamuan makan akan dipersiapkan oleh Allah sendiri, dan yang akan diundang menghadiri perjamuan makan tersebut adalah orang-orang yang masuk kategori umat beriman. Pesta perjamuan ini sudah dinubuatkan oleh nabi Yesaya: “TUHAN semesta alam akan menyediakan di gunung Sion ini bagi segala bangsa-bangsa suatu perjamuan dengan masakan yang bergemuk, suatu perjamuan dengan anggur yang tua benar, masakan yang yang bergemuk dan bersumsum, anggur yang tua yang disaring endapannya. Ia akan meniadakan maut untuk seterusnya; dan Tuhan ALLAH akan mengoyakkan kain perkabungan yang diselubungkan kepada segala suku bangsa dan tudung yang ditudungkan kepada segala bangsa-bangsa” (Yes 25:6,8).

Ini merupakan gambaran penuh sukacita dan penghiburan dari “seorang” Allah yang dengan penuh kemurahan hati mengundang semua orang untuk ikut ambil bagian dalam perjamuan-Nya, di mana akan dihidangkan makanan-minuman lezat dan di mana Allah sendiri akan menjamin bahwa tidak akan ada lagi cucuran air mata, dan rasa malu pun akan hilang dari negeri.

Salah seorang dari para hadirin yang sedang makan bersama Yesus berkata kepada-Nya: “Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah” (Luk 14:15). Jika orang yang bertanya itu membayangkan dirinya sama baiknya dengan orang yang akan dijamu itu, maka dia akan kecewa. Yesus membuat jelas bahwa imaji tentang perjamuan bukanlah suatu gambaran yang dapat diaplikasikan hanya pada akhir zaman; imaji tentang perjamuan berbicara mengenai waktu sekarang. Undangan-undangan telah disampaikan, dan sekarang para hamba memanggil orang-orang yang menerima undangan itu untuk mulai datang dan mengambil tempat mereka masing-masing dalam perjamuan tersebut. Jika mereka sekarang menolak undangan untuk datang ke pesta, maka orang-orang lainlah yang akan mengambil tempat mereka. Undangan tersebut tidak dapat ditunda-tunda; harus dijawab sekarang juga.

Dalam perumpamaan yang diceritakan oleh Yesus ini, seseorang menyelenggarakan pesta perjamuan besar yang diperuntukkan bagi banyak orang. Ini adalah adat kebiasaan timur bagi orang-orang “kelas tinggi” untuk mengirim dua undangan: yang pertama adalah untuk mengumumkan akan diselenggarakannya pesta perjamuan, dan undangan kedua adalah untuk mengabarkan kepada mereka yang telah menerima undangan bahwa perjamuan telah siap diselenggarakan. Menerima undangan pertama dan menolak undangan kedua merupakan suatu tindakan yang tidak sopan (dan kurang ajar), dan hal tersebut tidak dapat diterima karena merupakan penghinaan terhadap orang yang mengundang. Tiga orang yang disebutkan dalam perumpamaan Yesus mengatakan kepada hamba dari orang yang mengundang bahwa mereka tidak dapat menerima undangan kedua karena mereka terlalu sibuk, jadi tidak dapat datang. Ketiga orang tersebut memandang urusan mereka sendiri lebih penting daripada menghormat orang yang mengundang diri mereka.

Hamba tersebut kembali ke tuannya dengan kabar yang mengecewakan itu dan sang tuan menjadi marah. Namun ia tidak mau pestanya sepi dari pengunjung. Oleh karena itu dia memerintahkan hambanya untuk pergi dan menelusuri jalan-jalan dan lorong-lorong kota dan membawa orang-orang miskin, buta, dan lumpuh ke rumahnya. Setelah hal ini dilakukan, masih ada ruang yang tersedia untuk sejumlah orang lagi. Untuk mengisi ruang yang tersedia tersebut, orang yang mengundang itu memerintahkan hambanya untuk “memaksa” orang-orang di jalan-jalan dan lorong-lorong yang masih ada untuk datang ke perjamuannya. “Memaksa” di sini tidak dapat ditafsirkan secara harfiah. Si hamba harus membujuk dengan lemah lembut orang-orang yang tinggal di bawah jembatan dlsb. itu untuk ikut dengan dia karena mereka pun tentunya merasa curiga terhadap undangan ke sebuah perjamuan yang datang dengan mendadak, apalagi dari seseorang yang tak dikenal. Orang yang mengundang tersebut membuat jelas bahwa mereka yang menolak undangannya tidak akan mencicipi jamuannya; mereka menjauhkan diri mereka sendiri dari pesta perjamuan yang sangat berarti itu.

Tanpa banyak kesulitan, di sini kita dapat melihat suatu kesejajaran historis antara orang-orang yang pertama-tama diundang dengan umat Israel, antara orang-orang miskin (dan lumpuh serta buta) dengan orang-orang non-Yahudi (baca: kafir). Namun pokok utama dari perumpamaan Yesus ini bukanlah penolakan dari orang-orang yang pertama kali diundang dan bukan juga orang macam apa yang akhirnya duduk pada meja perjamuan. Fokus atau pusat perhatian dari perumpamaan ini adalah kemurahan hati orang yang mengundang. Imaji yang disajikan oleh Yesus adalah “seorang” Allah yang murah hati yang sangat senang menyelenggarakan pesta guna menjamu orang-orang. Ia adalah “seorang” Allah yang ingin bersekutu dengan orang-orang dan Ia tidak terpengaruh jika orang-orang yang diundang-Nya tidak mau datang dan menikmati jamuan-Nya. Ini adalah imaji dari “seorang” Allah sangat rindu untuk makan bersama, “seorang” Allah yang tidak mau duduk pada meja perjamuan dan memulai pesta perjamuan sampai semua tempat diisi oleh para tamu.

Allah yang kita sembah, bukanlah seperti orang kaya dalam perumpamaan “Orang kaya dan Lazarus yang miskin” (Luk 16:19-31), maka tuan rumah yang mengundang orang-orang dalam perumpamaan Yesus hari ini bukanlah seseorang yang senang berpesta-pora dengan mengabaikan orang seperti Lazarus … pokoknya orang kaya itu tidak peduli terhadap nasib “wong cilik”. Allah tidak mau makan enak sendiri saja; Dia memiliki keprihatinan terhadap persekutuan dalam perjamuan bersama dengan orang-orang, jadi tidak mengherankanlah apabila Dia sangat bermurah hati dalam mengundang orang-orang.

Allah mengundang orang-orang miskin, bahkan mereka yang secara fisik dipandang “tidak bersih”, atau katakanlah mereka yang “najis” karena keadaan fisik mereka, dll. Allah tidak mau sendiri dalam Kerajaan-Nya dan Ia mau makan bersama dalam suatu perjamuan dengan manusia ciptaan-Nya. Dia rela menunda pesta perjamuan-Nya sampai semua tempat diisi, …… “seorang” Allah yang lembah lembut.

Kabar baiknya adalah bahwa tidak seorang pun yang harus menunggu sampai akhir zaman sebelum dapat berelasi dengan Allah sebagai Tuan Rumah yang penuh keprihatinan dan kemurahan-hati.  Yesus meminta setiap orang untuk berelasi dengan Allah dengan imaji seperti di atas, bukan Allah yang kejam dan suka membalas dendam dst. Kita harus menerima undangan Allah, jika kita diundang-Nya untuk ikut serta dalam perjamuan-Nya. Sekarang juga!

DOA: Tuhan Yesus, kami berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena dalam doa kami Engkau telah mengundang kami ke dalam relasi persahabatan dengan diri-Mu. Berbicaralah, ya Tuhan. Kami ada di sini untuk mendengarkan Engkau. Buatlah kami utuh dengan sabda-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 14:15-24), bacalah tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG PERJAMUAN BESAR” dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-11  BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 3-11-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  5 November 2017 [HARI MINGGU BIASA XXXI – TAHUN A] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SIAPA YANG DIUNDANG?

SIAPA YANG DIUNDANG?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXI – Senin, 6 November 2017) 

Lalu Yesus berkata juga kepada orang yang mengundang Dia, “Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau perjamuan malam, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya, karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau lagi dan dengan demikian engkau mendapat balasannya. Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta. Engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasannya pada hari kebangkitan orang-orang benar.” (Luk 14:12-14) 

Bacaan Pertama: Rm 11:29-36; Mazmur Tanggapan: Mzm 69:30-31,33-34,36-37 

Yesus melanjutkan pengajaran-Nya yang berhubungan dengan kehadiran dalam sebuah pesta perjamuan.  Sebelumnya Dia mengajar tentang “tempat yang paling utama dan yang paling rendah”, yang pada intinya adalah mengenai “kerendahan hati” (lihat Luk 14:1,7-11). Sekarang Ia berbicara langsung kepada orang Farisi yang mengundang-Nya. Dalam kesempatan ini Yesus memberikan sejumlah petunjuk dan sebuah peringatan.Yesus berbicara secara umum namun sekali lagi Dia tampil sebagai seorang guru hikmat-kebijaksanaan yang tak tertandingi.

Menurut tradisi Yahudi, makan bersama adalah sebuah tanda kasih persaudaraan. Dalam kerangka itulah Yesus memberikan petunjuk-Nya agar Tuan rumah yang mengundang janganlah hanya mengundang orang-orang yang telah menjalin relasi baik dengannya (misalnya keluarga, para sehabat dan mitra bisnis) yang kaya-kaya. Orang-orang itu kiranya pasti akan mampu membalas dengan undangan serupa. Kita ketahui bahwa memberi demi diberi (Latin: do ut des) bukanlah pernyataan kasih, melainkan bukti adanya pamrih. Pada kesempatan lain Yesus mengajar: “Kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan tanpa mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu murah hati” (Luk 6:35-36). Sejatinya kasih yang mengharapkan balasan bukanlah kasih murni.

Setelah kalimat bernada negatif (Luk 14:12b), Yesus mengucapkan kalimat bernada positif. Menurut Yesus, yang harus diundang adalah orang-orang yang tidak mampu untuk menyampaikan undangan balasan, karena mereka termasuk golongan orang-orang miskin, orang-orang kecil, …… “wong cilik”. Orang-orang Yahudi memandang hina sesama mereka yang buta, pincang/lumpuh atau menderita cacat fisik. Orang-orang ini tidak boleh mengikuti upacara liturgi dalam Bait Suci (lihat Im 21:17-24). Yesus – yang memang adalah “tanda lawan” pada zaman-Nya – justru menaruh perhatian khusus terhadap orang-orang seperti itu. Yesus memiliki keyakinan bahwa semua orang yang menganggap diri tidak layak dan yang dianggap tidak layak oleh masyarakat, justru akan diterima di dalam Kerajaan Allah. Nasib sebaliknya akan menimpa diri orang-orang Farisi yang sombong dan amat yakin akan diri mereka. Itulah sebabnya mengapa Yesus melakukan banyak mukjizat demi kesembuhan orang-orang yang menderita cacat. Dengan begitu kerajaan Allah menjadi sebuah realitas di atas muka bumi ini. Karena orang miskin tidak mampu membalas, maka Allah sendirilah yang akan menggantikan tugas mereka.

Orang-orang yang disebutkan oleh Yesus adalah mereka yang membutuhkan makanan dan minuman karena mereka lapar dan haus; orang-orang yang memerlukan pertemanan karena mereka adalah orang-orang yang tersisihkan dalam masyarakat; orang-orang yang membutuhkan kegembiraan karena telah begitu banyak ditimpa kesedihan; orang-orang yang membutuhkan syering karena selama ini mereka terisolasi dalam penderitaan sakit mereka. Berbagai kebutuhan nyata dari orang-orang miskin-kecil ini biasanya tidak dipenuhi. Nah, Yesus justru minta sang tuan rumah yang mengundang makan itu untuk mengundang orang-orang seperti itu, bebas tanpa biaya.

Mereka yang menawarkan hospitalitas yang tidak dapat dibalas oleh pihak yang dilayani di dunia ini akan memperoleh ganjarannya pada hari kebangkitan orang-orang benar. Apabila seseorang berbaik hati terhadap orang-orang cacat dan “wong cilik” lainnya dengan syering meja makan bersama dengan mereka, maka Tuhan akan mengingat kebaikan hati mereka. Dan, seperti yang akan dikembangkan Yesus dalam perumpamaan berikutnya (Luk 14:15-24), maka justru orang-orang miskin, para pengemis, orang-orang buta dan cacat lainnya yang diberikan kehormatan dalam kerajaan surga. Soalnya bukanlah orang yang bersih mengundang orang yang tidak bersih, orang yang sehat mengundang orang yang cacat, melainkan terlebih-lebih orang-orang cacat syering pada meja perjamuan bersama orang-orang cacat, pengemis dengan pengemis dst. Mengapa? Karena apabila kita sampai pada kerajaan Allah, siapa yang dapat duduk di tempat terhormat pada meja perjamuan: Siapa yang dapat mengandaikan bahwa diri mereka tidak termasuk sekumpulan besar orang buta, lumpuh dan lain sebagainya?

DOA: Tuhan Yesus,  oleh kuasa Roh Kudus-Mu, bentulah aku menjadi seorang murid-Mu yang rendah hati dan tanpa mengenal pamrih dalam melakukan kebaikan bagi orang-orang miskin, orang-orang cacat dan orang-orang kecil pada umumnya. Terpujilah nama-Mu selalu! Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 14:12-14), bacalah tulisan yang berjudul “BELA RASA YESUS” (bacaan tanggal 6-11-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 31-10-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 4 November 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

AKHIRNYA, HANYA ADA SEORANG PRIBADI SAJA YANG PANTAS UNTUK DISAPA SEBAGAI TUHAN DAN GURU

AKHIRNYA, HANYA ADA SEORANG PRIBADI SAJA YANG PANTAS UNTUK DISAPA SEBAGAI TUHAN DAN GURU

 (Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXXI [TAHUN A], 5 November 2017)

 

Lalu berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksudkan untuk dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terbaik di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil orang ‘Rabi.’  Tetapi kamu, janganlah kamu disebut ‘Rabi’; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Janganlah kamu menyebut siapa pun ‘bapak’ di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di surga. Janganlah kamu disebut pemimpin, karena hanya satu pemimpinmu, yaitu Mesias. Siapa saja yang terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan. (Mat 23:1-12) 

Bacaan Pertama: Mal 1:14b-2:2b,8-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 131:1-3; Bacaan Kedua: 1Tes 2:7b-9,13 

Apabila kita mengambil ketiga bacaan Misa Kudus pada hari Minggu ini dan mencoba untuk melihat kesamaan pesan yang ada (tentunya tanpa memaksa-maksa), maka kita dapat merenungkan apa yang harus kelihatan nyata dalam diri seorang pelayan sabda Allah dan kualitas-kualitas pribadi apakah yang tidak boleh ada pada dirinya.

Santo Paulus. Santo Paulus meringkas “kebesaran” seorang pelayan sabda dengan menulis kepada jemaat di Tesalonika sebagai berikut: “Karena itulah kami tidak putus-putusnya mengucap syukur juga kepada Allah, sebab kamu telah menerima firman Allah yang kami beritakan itu, bukan sebagai perkataan manusia, tetap – dan memang sungguh-sungguh demikian – sebagai  firman Allah, yang bekerja juga di dalam kamu yang percaya” (1Tes 2:13). Memang seharusnya sabda Allah-lah yang diwartakan, baik oleh sang rasul, oleh misionaris yang manapun, imam yang manapun, katekis yang manapun (apakah lulusan perguruan tinggi atau pun katekis sukarelawan/sukarelawati), guru mana pun yang diberi otorisasi oleh Gereja, bukannya kata-kata atau sabdanya sendiri. Itulah sebabnya mengapa sehabis pembacaan Kitab Suci dalam Misa atau ibadat lainnya, maka orang yang membaca bacaan Kitab Suci (misalnya, lektor awam, diakon atau imam) selalu mengatakan “Demikianlah sabda Tuhan”, dan dijawab oleh umat yang hadir: “Syukur kepada Allah” atau “Terpujilah Kristus” dalam hal pembacaan Injil.

Dengan demikian, kebesaran seorang pengkhotbah atau pelayan sabda pada umumnya, adalah kemampuannya menjelaskan dan menyingkap sabda Allah ini, membuat orang memahami apa artinya sabda itu bagi orang yang hidup pada zaman Yesus hidup di dunia dan apa artinya semua bagi kita, orang-orang yang hidup pada zaman modern ini. Tidak pernah boleh hasil dari hikmatnya sendiri. Belakangan, Paulus menghimbau jemaat di Korintus untuk tidak mencari apa pun pada diri sang pengkhotbah atau pelayan sabda, selain sabda Allah itu sendiri. Karena itu adalah sabda Allah, maka kesuburannya sepenuhnya tergantung pada Allah sendiri. Apa yang ditambahkan oleh seorang pewarta/pengkhotbah/ pelayan sabda adalah aksesoris belaka, betapapun pentingnya aksesoris tersebut. Paulus menulis, “Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang menumbuhkan” (1Kor 3:6). Sekali pun seorang pewarta bukanlah pewarta yang ideal di mata umat, kata-katanya tetap sabda Allah selama dia mewartakannya dengan benar. Hal ini dibenarkan oleh Yesus bahkan pada kasus pada ahli Taurat dan orang-orang Farisi: “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu” (Mat 23:2-3).

Karena seorang pewarta melakukan pelayanan sabda Allah, ia akan mencoba untuk memberikan dirinya sendiri sejalan dengan pemberitaan kabar baiknya. Inilah yang dilakukan oleh Santo Paulus: (1) Paulus memperhatikan jemaat di Tesalonika dengan lemah lembut seperti seorang ibu yang mengasuh dan merawat anaknya yang masih kecil (1Tes 2:7), dan dengan penuh kebijaksanaan dan pertimbangan seperti seorang ayah yang memelihara anak-anaknya (1Tes 2:11). (2) Sang Rasul malah melangkah lebih jauh lagi. Ia mengetahui bahwa dirinya berhak memperoleh dukungan dari komunitas yang dilayaninya (lihat 1Kor 9:8-10). Akan tetapi dia hidup sebagai seorang pembuat kemah, seringkali di rumah Akwila dan Priskila, yang menjalani profesi sebagai pembuat kemah juga (Kis 18:1-3). Dengan cara demikian, Paulus mempunyai koneksi yang baik dengan para pekerja, memahami cara berpikir dan masalah-masalah mereka. Bahkan banyak dari ide-idenya tercetus di tempatnya berkarya. Ia belajar bagaimana mengkombinasikan kegiatannya dengan kontemplasi, kerja dengan doa. Gereja di negara-negara maju akhir-akhir ini telah bertanya kepada dirinya bagaimana mampu kembali berkontak dengan para pekerja. Imam-iman pekerja yang hidup di tengah-tengah para buruh di Perancis adalah salah satu contoh eksperimen di bidang ini.

Nabi Maleakhi. Maleakhi mengatakan kepada para imam pada zamannya setelah pembuangan, sebenarnya juga kepada para imam kita dewasa ini, bahwa: (1) Seorang imam adalah seseorang yang mempersembahkan kurban, dan dalam melakukan tugasnya ini sang imam tidak boleh “pelit”. Pada zamannya, para imam suka mempersembahkan kurban yang tidak sempurna seperti roti yang sudah cemar, hewan yang buta, timpang dan sakit lainnya (lihat Mal 1:6-8), barangkali karena berpikir tokh semuanya itu masih cukup baik bagi Allah. Dalam kenyataannya, hanya yang terbaiklah yang cukup baik bagi Allah. Hal ini benar teristimewa karena kurban yang murni dipersembahkan kepada Allah di mana-mana (Mal 1:11), yang bagi kita adalah Misa Kudus. Seorang imam dan umat Allah yang hadir dalam Misa, sesungguhnya mempersembahkan Kristus sendiri. Kita juga harus mempersembahkan diri kita bersama-Nya, kalau Misa itu tidak mau dikatakan sebagai lelucon belaka. “Ikut mempersembahkan diri kita” merupakan suatu keharusan yang tidak dapat ditawar-tawar.

(2) Seorang imam adalah juga seorang pengajar (lihat Mal 2:7). Para imam pada zaman Maleakhi juga gagal dalam hal ini. Lewat bibir nabi Maleakhi, Allah bersabda: “Kamu ini menyimpang dari jalan; kamu membuat banyak orang tergelincir dengan pengajaranmu;  kamu merusakkan perjanjian dengan Lewi, firman TUHAN (YHWH) semesta alam” (Mal 2:8). Misa Kudus harus dijelaskan kepada umat kebanyakan, karena kalau tidak demikian halnya perayaan liturgi yang begitu sakral menjadi tetap kabur, tidak ada bedanya dengan ibadat-ibadat lainnya dan sekadar sebuah rutinitas. Di sini tidak dimaksudkan agar Misa Kudus dibuat menjadi rasional. Misa Kudus harus tetap merupakan sebuah misteri dengan segala instruksi dan penjelasannya, namun sebuah misteri yang kita dapat hayati/hidupi. Seorang imam juga harus memiliki karunia untuk memberi nasihat dan membimbing umat dan rekan imam yang membutuhkan: “Bibir seorang imam memelihara pengetahuan dan orang mencari pengajaran dari mulutnya, sebab dia utusan YHWH semesta alam” (Mal 2:7).

Kualitas-kualitas yang tidak boleh terdapat dalam diri seorang pelayan sabda Allah. Kata-kata Yesus yang ditujukan kepada orang-orang Farisi seperti dapat kita baca dalam bacaan Injil hari ini sebenarnya ditujukan kepada Farisi-Farisi segala zaman, bahkan termasuk kita juga. Bukankah kita sedikit banyak adalah juga orang-orang Farisi, atau memiliki potensi untuk menjadi Farisi?

(1) Praktek hidup seorang Farisi pada umumnya tidak sesuai dengan apa yang diajarkan atau dikhotbahkan olehnya. Ia menyuruh orang-orang melakukan hal tertentu, namun dia sendiri melakukan hal yang berbeda. Dia menjalani suatu kehidupan ganda. Tentu saja tidak mudah bagi para imam, katekis dan para pelayan sabda lainnya untuk hidup sempurna sebagai seorang santa atau santo. Namun, di lain pihak Yesus mengajar: “… haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna” (Mat 5:48).

Umat mempunyai hak untuk mempunyai ekspektasi bahwa kehidupan para pemimpin rohani mereka paling sedikit menunjukkan upaya serius menuju kekudusan, tidak terutama untuk dirinya sendiri, melainkan untuk umat yang kesejahteraan rohaninya dipercayakan kepada para pemimpin rohani tersebut. Sangat sulitlah bagi umat untuk membuat komitmen sepenuhnya bagi hal-ikhwal yang menyangkut pelayanan bagi Allah, apabila mereka tidak melihat para pemimpin rohani mereka tidak melakukannya. Leadership by example sangatlah penting peranannya dalam komunitas gerejawi. Karena susahnya, dengan berjalannya waktu, mengkhotbahkan apa yang tidak dilakukannya sendiri, maka seorang pelayan sabda pada titik tertentu akan melepaskan samasekali tugas pewartaannya dan umatpun akan sungguh berjalan dalam kegelapan, karena tidak ada lagi terang sabda Allah. 

(2) Seorang Farisi menghayati sebuah kehidupan yang suka-pamer (a life of ostentation). Dengan niat yang terbaik dia dengan keras mencoba untuk melakukan lebih daripada yang dituntut Allah sendiri secara mutlak. Orang-orang Farisi pada masa Yesus tidak puas kalau sekadar menepati kesepuluh perintah Allah. Mereka menjelaskan dan menyesuaikan perintah-perintah itu terhadap segala situasi kehidupan sehingga pada akhirnya mereka datang dengan 613 perintah-perintah. Apabila agama atau hidup keagamaan hanya terdiri dari tindakan mentaati peraturan-peraturan yang tak terhitung jumlahnya, maka mudahlah bagi seseorang untuk melihat bahwa setiap orang sadar betapa baiknya dia memenuhi peraturan-peraturan dan bagaiman sempurna kesalehannya.

Hal ini dilakukan oleh orang-orang Farisi dengan membuat kotak yang berisikan sabda Allah (phylacteries) dalam ukuran yang lebih besar dan lebih kelihatan (oleh orang lain) untuk mengingatkan mereka akan perintah-perintah Allah, teristimewa sabda sehubungan mengasihi Dia lebih daripada segalanya yang lain (Ul 6:4-5) dan untuk menguduskan anak sulung bagi pelayanan kepada Allah (Kel 13:1-16).

Seorang Farisi ingin diakui untuk kebaikan yang dilakukannya dengan mengambil tempat duduk terhormat, disapa dengan gelar-gelar dan nama-nama besar. Pada masa Yesus ada tiga gelar yang digunakan orang-orang untuk menyapa orang-orang Farisi, yaitu (1) Rabi, artinya guru; (2) Abba, artinya bapak atau ayah; dan (3) Moreh, artinya guru. Ketiga gelar tersebut menekankan kurang lebih martabat seorang guru hukum. Dengan demikian seorang Farisi adalah seorang guru dan ayah yang memberikan kehidupan spiritual bagi para muridnya. Gelar-gelar sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia dan demikian pula di masa depan. Masalahnya bukanlah gelar yang membuat orang sombong dan takabur, melainkan cara orang bersikukuh untuk disapa dengan gelar-gelar itu.

Akhirnya, hanya ada seorang Pribadi saja yang pantas untuk disapa sebagai Tuhan dan Guru, yaitu Yesus. Kita akan selalu menjadi murid-murid yang baru belajar dan yang tidak akan pernah lulus ujian akhir. Juga hanya satu Bapa, Allah Bapa. Setiap ayah, dalam keluarga yang memberikan hidup alamiah, dan seorang bapak yang memberikan kehidupan spiritual dalam pembaptisan, hanya dapat mencoba belajar dari sang Bapa.

(3) Seorang Farisi merendahkan orang-orang lain, bukan meninggikan mereka. Dia membuat takut orang-orang lain, bukan mendorong atau menyemangati mereka. Semua ini dilakukan si Farisi lewat begitu banyak peraturan. Nah, apabila agama menjadi sebuah beban yang dipenuhi dengan banyak sekali larangan, maka “agama” itu sesungguhnya tidak lagi menjadi suatu agama yang benar. Sabda Allah seharusnya memberikan kepada kita sayap-sayap kebebasan dan sukacita, seharusnya menunjukkan kepada kita bagaimana kita dapat melakukan kehendak Allah secara benar.

DOA: Tuhan Yesus, aku berterima kasih penuh syukur kepada-Mu untuk kasih-Mu yang begitu besar kepadaku. Aku berterima kasih karena Engkau sudi wafat di kayu salib agar aku dapat menjadi seperti Engkau. Curahkanlah Roh-Mu atas diriku, sehingga dengan demikian aku dapat menjadi cerminan dari kekudusan dan kerendahan hati-Mu. Amin.

Catatan: Sebagian besar dari tulisan ini adalah saduran bebas dari tulisan dalam P. Herman Mueller SVD, “SPEAK, LORD!” 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 4 November 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

JANGANLAH DUDUK DI TEMPAT KEHORMATAN

JANGANLAH DUDUK DI TEMPAT KEHORMATAN

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Peringatan S. Karolus Borromeus – Sabtu, 4 November 2017)

Kongregasi FMM: Peringatan B. Marie de la Passion, Ibu Pendiri

HARI SABTU IMAM 

Pada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama.

Karena Yesus melihat bagaimana para undangan memilih tempat-tempat kehormatan, Ia menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka, “Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat daripada engkau, supaya orang itu, yang mengundang engkau dan dia, jangan datang dan berkata kepadamu: Berilah tempat ini kepada orang itu. Lalu engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat yang paling rendah. Tetapi, apabila engkau diundang, pergilah duduk di tempat yang paling rendah. Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata kepadamu: Sahabat, silakan duduk di tempat yang lebih terhormat. Dengan demikian, engkau akan menerima hormat di depan mata semua orang yang makan bersamamu. Sebab siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Luk 14:1,7-11) 

Bacaan Pertama: Rm 11:1-2a,11-12,25-29; Mazmur Tanggapan: Mzm 93:12-15 

Kalau ada satu sikap yang secara konsisten dicemoohkan oleh “dunia”, maka sikap itu adalah “kerendahan hati” dan hal itu terutama terjadi karena dunia tidak memahami apa arti sebenarnya dari kerendahan hati. Yang pertama dan utama adalah bahwa kerendahan hati itu menyangkut suatu “ketergantungan penuh kepercayaan” pada Allah. Lawannya adalah “kesombongan”, yang pada hakekatnya adalah suatu penjauhan diri dari Allah (Sir 10:12). Kerendahan hati percaya bahwa Allah adalah baik, maka menemukan kekuatan untuk bertekun di bawah berbagai godaan dan pencobaan. Di sisi lain kesombongan yang melarikan diri dari Allah hanya membimbing kepada sikap mementingkan diri sendiri, dan tidak mempunyai kekuatan untuk menanggung kesulitan-kesulitan – atau memahami arti penderitaan.

Jantungnya kerendahan hati adalah pengetahuan bahwa kita adalah pihak yang menerima kerahiman Allah yang berlimpah, dan yang memiliki kesadaran bahwa kita sebenarnya tak pantas untuk menerima kerahiman Allah tersebut. Ketika kita mengalami kasih Yesus yang murah hati dan penuh pengampunan, kita dibuat menjadi rendah hati dan dalam diri kita mulai berkembanglah suatu kemurahan hati yang bersifat ilahi. Dalam terang pengalaman kita akan kasih Allah, kita sadar bahwa kita sendiri hanyalah para pengemis dan tidak berbeda dengan orang-orang yang dicampakkan oleh dunia. Kita menjadi sadar bahwa siapa saja di muka bumi ini adalah saudari dan saudara kita, dan kita dipanggil untuk berdiri bersama dengan mereka yang berada di “tempat yang paling rendah” (Luk 14:10) dan mensyeringkan dengan mereka kasih yang baru kita terima itu.

Yesus adalah teladan paling sempurna dari kerendahan hati. Dia sangat berendah hati untuk menamakan diri-Nya sebagai saudara kita, untuk mengidentifikasikan diri-Nya dengan kita yang penuh dosa dan kelemahan, dan bahkan sampai menjadi sama seperti kita, agar dapat menyelamatkan kita. Dengan cara yang sama, Yesus minta kepada kita untuk berendah hati agar dapat memandang setiap orang yang membutuhkan di sekeliling kita sebagai saudari atau saudara, dan agar kita pun melayani orang-orang itu.  Seperti Yesus selalu memperhatikan kepentingan kita, Dia memanggil kita juga untuk memperhatikan kepentingan-kepentingan sesama, yaitu saudari dan saudara kita (Flp 2:4).

Pada hari ini, mohonlah kepada Tuhan untuk menunjukkan kepada anda harga yang telah dibayar oleh-Nya untuk membebaskan anda dari dosa dan mengangkatmu – meninggikanmu –  untuk sampai kepada takhta Allah Bapa. Biarlah kasih-Nya menggerakkan anda untuk mensyeringkan kasih itu dengan orang-orang di sekelilingmu. Semoga kita semua membuat komitmen dalam diri kita sendiri untuk mengangkat saudari dan saudara kita, sehingga dengan demikian bersama-sama kita dapat memuliakan Yesus, Penebus kita yang rendah hati!

DOA: Tuhan Yesus, ajarlah aku untuk menaruh kepercayaan pada penyelenggaraan ilahi hari ini dan tolonglah aku untuk mengasihi dan memperhatikan siapa saja yang Kautempatkan pada jalan hidupku hari ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Rm 11:1-2a,11-12,25-29), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH TELAH MENOLAK UMAT-NYA?” (bacaan tanggal 4-11-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 29-10-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 3 November 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

ISTIRAHAT ALLAH

ISTIRAHAT ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXX – Jumat, 3 November 2017)

Ordo-ordo S. Fransiskus: Peringataan Arwah untuk sanak saudara dan para penderma.

 

Pada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama. Datanglah seorang yang sakit busung air berdiri di hadapan-Nya. Lalu Yesus berkata kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu, “Apakah boleh menyembuhkan orang pada hari Sabat atau tidak?” Mereka diam semuanya. Lalu Ia memegang tangan orang sakit itu dan menyembuhkannya serta menyuruhnya pergi. Kemudian Ia berkata kepada mereka, “Siapakah di antara kamu yang tidak segera menarik ke luar anaknya atau lembunya kalau terperosok ke dalam sebuah sumur pada hari Sabat?” Mereka tidak sanggup membantah-Nya. (Luk 14:1-6) 

Bacaan Pertama: Rm 9:1-5; Mazmur Tanggapan: Mzm 147:12-15,19-20 

Sekali lagi, Yesus menemukan diri-Nya di tengah-tengah kontroversi tentang penyembuhan di hari Sabat. Orang-orang Farisi yang berkonfrontasi dengan Yesus berpijak pada tafsir sangat sempit tentang perintah-perintah Allah, yang menggiring mereka pada kecurigaan terhadap diri Yesus dan mencari kesempatan untuk menjebak-Nya. Di lain pihak, Yesus mengambil kesempatan ini untuk mengajar mereka tentang inti pokok dari hukum Allah, yang adalah belas kasih dan penyembuhan.

Ketika Yesus menyembuhkan orang yang sakit busung air – suatu penyakit yang disebabkan oleh banyaknya cairan dalam tubuh yang mungkin berkaitan dengan suatu kondisi jantung – maka Dia sekali lagi mengkonfrontir pemahaman sempit orang-orang Farisi tentang cara-cara atau jalan-jalan Allah. Aplikasi sempit dari hukum Sabat tidak memberi ruang sedikit pun bagi kasih dan belas kasih yang merupakan fondasi dari setiap perintah Allah. Yesus langsung saja mempersoalkan kekakuan tafsir/sikap dari orang-orang Farisi tersebut. Jika orang yang berakal sehat saja akan menyelamatkan anak atau hewan peliharaannya yang terperosok ke dalam sebuah sumur pada hari Sabat, apalagi Allah yang begitu berhasrat untuk menyelamatkan anak-anak-Nya yang membutuhkan pertolongan di mana dan kapan saja? Dari semua hari sepanjang pekan, justru hari Sabat-lah yang paling pas bagi para anak Allah untuk menerima sentuhan penyembuhan-Nya. Lagipula, bukankah Allah selalu menginginkan kita masuk ke dalam istirahat-Nya?

Istirahat Sabat yang diinginkan oleh Allah bagi kita datang dari suatu pengalaman akan kasih-Nya yang intim – suatu keintiman yang menempatkan damai-sejahtera dalam hati kita, apa pun sikon yang kita hadapi. Yesus datang untuk melakukan inaugurasi atas istirahat Sabat ini di atas bumi melalui penderitaan, wafat dan kebangkitan-Nya. Sebagai umat-Nya, Gereja, kita sekarang dapat mengalaminya secara lebih mendalam.  Dalam keintiman ini, kita mengenal Allah sebagai “seorang” Bapa yang sangat mengasihi kita dan Ia juga Mahaperkasa, dan kita tahu bahwa kita adalah milik-Nya. Kita belajar untuk menaruh kepercayaan bahwa Dia akan memenuhi segala kebutuhan kita dan kita menyerahkan hidup kita kepada penyelenggaraan-Nya.

Bagaimana kita mengalami istirahat Allah? Unsur atau elemen yang paling esensial adalah doa, yang menempatkan kita ke dalam kontak dengan realitas-realitas Kerajaan Allah. Selagi kita membuka diri kita bagi Allah melalui doa, pembacaan dan permenungan sabda Allah dalam Kitab Suci, dan hidup sakramental dalam Gereja, maka hidup Allah mampu untuk meresap ke dalam keberadaan kita secara lebih penuh. Dengan beristirahat dalam Kristus melalui doa dan ketaatan yang diungkapkan dengan rendah hati, kita menjadi lebih yakin akan kasih-Nya bagi kita dan kita menerima sentuhan penyembuhan-Nya secara lebih mendalam.

DOA: Tuhan Yesus, aku membuka hatiku bagi-Mu sekarang.  Semoga aku dapat masuk ke dalam istirahat-Mu dan mengalami belas kasih dan kesembuhan daripada-Mu. Tolonglah aku agar supaya dapat melihat bahwa kasih itu berada di jantung setiap hukum-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 14:1-6), bacalah tulisan yang berjudul “LAGI-LAGI PENYEMBUHAN PADA HARI SABAT” (bacaan tanggal 3-11-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-10 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 30-10-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 2 November 2017 [PENGENANGAN ARWAH SEMUA ORNG KUDUS] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS