SIAPKAN JALAN BAGI TUHAN !!!

SIAPKANLAH JALAN BAGI TUHAN !!!

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI MINGGU ADVEN II (Tahun B) – 7 Desember 2014)

desert2_OPT

Hiburkanlah, hiburkanlah umat-Ku, demikian firman Allahmu, tenangkanlah hati Yerusalem dan serukanlah kepada-Nya, bahwa perhambaannya sudah  berakhir, bahwa kesalahannya telah diampuni, sebab  ia telah menerima hukuman dari tangan TUHAN (YHWH) dua kali lipat karena segala dosanya.

Ada suara yang berseru-seru: “Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk YHWH, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita! Setiap lembah harus ditutup, dan  dan setiap gunung dan bukit diratakan; tanah yang berbukit-bukit harus  menjadi tanah yang rata, dan tanah yang berlekuk-lekuk menjadi dataran; maka kemuliaan YHWH akan dinyatakan dan seluruh umat manusia akan melihatnya bersama-sama; sungguh, YHWH sendiri telah mengatakannya.”

Hai Sion, pembawa kabar baik, naiklah ke atas gunung yang tinggi! Hai Yerusalem, pembawa kabar baik, nyaringkanlah suaramu, jangan takut! Katakanlah kepada kota-kota Yehuda: “Lihat, itu Allahmu!” Lihat, itu Tuhan ALLAH, Ia datang dengan kekuatan dan dengan tangan-Nya Ia berkuasa. Lihat, mereka yang menjadi upah jerih payah-Nya ada bersama-sama Dia, dan mereka yang diperoleh-Nya berjalan di hadapan-Nya. Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya, induk-induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati (Yes 40:1-5,9-11).

Mazmur Tanggapan: Mzm 85:9-14; Bacaan Kedua: 2Ptr 3:8-14; Bacaan Injil: Mrk 1:1-8 

Sekitar 500 tahun sebelum kedatangan Putera Allah sebagai Yesus dari Nazaret, seorang nabi menulis tentang sang Mesias yang diharap-harapkan kedatangan-Nya. Kata-kata yang diucapkannya menceritakan tentang tibanya suatu saat di mana seluruh dosa Israel akan diampuni dan saat di mana kesulitan dan penderitaan bagi Yerusalem akan berlalu. Hal itu adalah sebuah pesan akan datangnya kenyamanan dan damai-sejahtera. Sebuah pesan tentang restorasi dan pengharapan.

john-baptist-lds-art-parson-39541-printYohanes Pembaptis memilih ayat-ayat khusus ini dari Kitab Yesaya untuk menggambarkan panggilan hidupnya sendiri. Sebagaimana juga seorang raja pada zaman kuno didahului oleh para bentaranya untuk mempersiapkan jalan bagi sang raja, maka Yohanes Pembaptis adalah sang bentara yang mempersiapkan jalan bagi Yesus: Ia mempersiapkan jalan di padang gurun untuk Yesus, meluruskan di padang belantara jalan raya bagi-Nya, menutup setiap lembah, meratakan setiap gunung dan bukit agar menjadi tanah yang rata dan dataran, dan mengajak orang-orang Israel untuk memandang surga (Yes 40:3-5; bdk. Mrk 1:1-3). Yohanes mengajak para pendengarnya untuk bertobat dari dosa-dosa dan mempersiapkan diri mereka untuk menyambut kedatangan Dia yang lebih besar daripada dirinya (Mrk 1:7-7).

Yesus memang telah datang ke tengah dunia. Setelah Ia bangkit dari antara orang mati, Yesus berjanji bahwa Dia akan datang kembali, kali ini sebagai seorang Raja. Sementara itu, kita telah melihat berbagai karya Roh Kudus terus berlangsung. Pada setiap zaman, Roh Kudus telah membangkitkan para pelayan/hamba yang akan berseru kepada kita agar kita “menyiapkan jalan” bagi kedatangan Yesus untuk kedua kalinya.

Dari para pelayan/hamba itu ada yang memanggil agar kehidupan doa kita diperdalam. Ada pula pelayan/hamba yang memanggil kita untuk bertobat dan meninggalkan hidup kedosaan kita. Siapa dari kita yang belum disentuh oleh kehidupan orang-orang kudus ini? Melalui para bentara yang mendahului kita ini, Roh Kudus ingin membimbing kita dan melindungi kita. Dia ingin menolong kita agar dapat melihat dosa-dosa kita dan menyemangati kita bilamana kita sedang sedang mengalami keputusasaan. Manakala kita sedang menderita, Roh Kudus sungguh ingin memegang tangan kita dan mendukung kita. Jika kita sedang ngawur kesana kemari, Dia ingin menjaga kita agar tetap berjalan di jalan yang benar.

Lebih dari segalanya, Roh Kudus ingin sekali menolong agar kita senantiasa memiliki pengharapan tinggi. Dia ingin agar kita mengetahui betapa terang benderang dan indahnya surga itu. Dia ingin agar kita bermimpi akan adanya sebuah dunia tanpa kemiskinan, tanpa perang, tanpa kebencian, dan tanpa dosa. Itulah sebabnya mengapa Dia ingin agar kita berdoa: “Datanglah, Tuhan Yesus.” (Why 22:20) Oleh karena itu marilah kita masing-masing mengatakan kepada Yesus, bahwa kita berterima kasih penuh syukur kepada-Nya karena Dia telah mengirimkan kepada kita para nabi-Nya, para kudus pendahulu kita yang memiliki suara-suara profetis, yang berseru, Siapkanlah jalan bagi Tuhan!” 

DOA: Roh Kudus Allah, bekerjalah dalam diriku. Ratakanlah berbagai gunung dan bukit dalam diriku sehingga dapat menjadi jalan rata bagi kedatangan Yesus kembali kelak. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:1-8), bacalah tulisan berjudul “PADANG GURUN” (bacaan untuk tanggal 7-12-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2014. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 4-12-11 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 2 Desember 2014 [Peringatan B. Maria Angela Astorch, Biarawati] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

EVANGELISASI DALAM MASA ADVEN?

EVANGELISASI DALAM MASA ADVEN?

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Adven – Sabtu, 6 Desember 2014)

12 RASUL DIUTUS - MAT 10  5-15Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat mereka dan membertakan Injil Kerajaan Surga serta menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu kata-Nya kepada murid-murid-Nya, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu, mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.”

Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan. (Perintah-Nya:) Pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; sembuhkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kami telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.  (Mat 9:35-10:1,6-8)

Bacaan Pertama: Yes 30:19-21,23-26; Mazmur Tanggapan: Mzm 147:1-6

Apakah Saudari dan Saudara pernah berpikir bahwa masa Adven adalah suatu masa untuk evangelisasi? Biar bagaimana pun juga bacaan Injil hari ini mengingatkan kita akan  kebutuhan yang mendesak (bahasa kerennya: urgent needs) untuk mensyeringkan Kabar Baik Yesus Kristus dengan orang-orang lain – dan Gereja menempatkannya sebagai Bacaan Injil untuk masa Adven. Jelaslah, bahwa masa Adven ini tidak hanya berkaitan dengan urusan menantikan saat kita merayakan kelahiran Yesus pada hari Natal!

Lihatlah apa yang ada di sekeliling anda pada waktu anda jalan-jalan berkeliling di tempat-tempat perbelanjaan. Para penjual tiket parkir dan para petugas penjualan sudah mengenakan topi Santa Klaus yang berwarna merah itu. Kita juga dapat melihat dekorasi yang hanya ada dalam bulan Desember/masa Natal – namun apakah tujuan semua itu, …… apakah yang ingin dicapai? Gejala ini lebih mencolok dalam negeri-negeri maju. Renungkanlah bagaimana berjuta-juta orang yang dibuat tertarik – bahkan dibuat terkecoh – oleh pandangan sekular yang secara eksklusif mendominasi masa Natal? “Perayaan dan lagu-lagu Natal” yang terasa profan, jauh dari yang “sakral”, jauh dari makna sebenarnya dari peristiwa kedatangan bayi Yesus ke tengah dunia. Pernahkah Saudari-Saudara mempertimbangkan kemungkinan bahwa Allah mungkin ingin memakai anda untuk memberikan sesuatu yang dapat membuat seimbang semua ini? Jadi, kita tidak perlu merasa kaget. Allah ingin agar kita semua terlibat dalam kegiatan evangelisasi. Kabar Baik dari Yesus Kristus dan mukjizat kedatangan-Nya di tengah-tengah kita-manusia – misteri inkarnasi – sungguh merupakan sesuatu yang mendesak untuk disyeringkan dengan dunia, dengan cara yang menarik dan inspiratif.

Namun demikian, ada satu hal yang harus kita sadari, yaitu bahwa sebelum kita mensyeringkan Injil, pertama-tama Injil itu harus sudah “merasuki” pikiran dan hati kita.  Dengan kata-kata anda sendiri, bagaimana anda akan menggambarkan Kabar Baik yang kita rayakan selama masa Adven dan Natal? Pada akhir pekan ini, cobalah anda mengambil sedikit waktu untuk menulis jawaban atas pertanyaan ini. Bilamana anda menghadapi kesulitan dalam menuliskan jawaban anda, maka barangkali anda dapat minta kepada seorang saudari/saudara Kristiani yang dapat dipercaya atau pastor anda untuk menolong anda. Sekarang tersedia banyak sekali bahan-bahan bacaan tentang evangelisasi Katolik. Gunakanlah bahan-bahan (tidak usah semuanya) itu apabila anda pikir baik untuk dipakai. Anda mungkin juga ingin mengingat-ingat kembali saat-saat dalam kehidupan anda – barangkali pada masa Adven dan Natal – pada saat-saat mana anda mengalami Allah secara istimewa. Itulah cerita anda – pengalaman anda akan Kabar Baik Yesus Kristus – jadi janganlah berpikir bahwa pengalaman tersebut tidaklah cukup baik untuk disyeringkan dengan orang-orang lain.

Yesus ingin agar semua orang datang kepada-Nya dengan cara yang lebih besar selama masa istimewa ini, oleh karena itu marilah kita bertanya kepada-Nya agar kita masing-masing dapat berfungsi sebagai seorang “Penginjil Masa Adven” yang efektif. Kemudian, kita harus bertanya kepada Roh Kudus untuk menolong kita mengenali situasi yang kita hadapi dan bertindak dalam kesempatan yang terbuka untuk berbicara mengenai Yesus Kristus. Dengan cara begitu, kita pun akan menyadari bahwa kita telah berkontribusi – walaupun kecil – terhadap misi membawa damai ke atas muka bumi dan kehendak baik bagi semua orang.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, utuslah kami dalam masa Adven ini, sebagaimana Engkau dahulu mengutus kedua belas rasul-Mu. Penuhilah diri kami dengan kasih-Mu, dan biarlah kasih-Mu itu mengalir ke luar secara berlimpah kepada orang-orang lain, seperti yang terjadi dengan Santo Ambrosius yang kami peringati hari ini. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari (Mat 9:35-10:1,6-8), bacalah tulisan yang berjudul “MENJADI PEKERJA-PEKERJA UNTUK TUAIAN TUHAN” (bacaan tanggal 6-12-14) dalam situs/blog  SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2014. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 7-12-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 2 Desember 2014  [Peringatan B. Maria Angela Astorch, Biarawati]   

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JADILAH KEPADAMU MENURUT IMANMU

JADILAH KEPADAMU MENURUT IMANMU

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Adven – Jumat, 5 Desember 2014) 

800px-JesusHealsTwo

Ketika Yesus meneruskan perjalanan-Nya dari sana, dua orang buta mengikuti-Nya sambil berseru-seru dan berkata, “Kasihanilah kami, hai Anak Daud.” Setelah Yesus masuk ke dalam sebuah rumah, datanglah kedua orang buta itu kepada-Nya dan Yesus berkata kepada mereka, “Percayakah kamu bahwa Aku dapat melakukannya?” Mereka menjawab, “Ya Tuhan, kami percaya.” Yesus pun menyentuh mata mereka sambil berkata, “Jadilah kepadamu menurut imanmu.” Lalu meleklah mata mereka. Kemudian Yesus dengan tegas berpesan kepada mereka, “Jagalah supaya jangan seorang pun mengetahui hal ini.” Tetapi mereka keluar dan memasyhurkan Dia ke seluruh daerah itu. (Mat 9:27-31)

Bacaan Pertama: Yes 29:17-24; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14 

“Jadilah kepadamu menurut imanmu” (Mat 9:29).

Dua orang buta mendekati Yesus dengan suatu permintaan yang sederhana: “Kasihanilah kami, hai Anak Daud” (Mat 9:27). Dengan mata iman, mereka dapat mengenali bahwa Yesus bukanlah rabi sembarang rabi, melainkan sang Mesias sendiri – ahli waris takhta Daud, Dia Yang Diurapi, yang telah datang untuk memenuhi janji-janji Allah kepada umat-Nya. Walaupun kebutaan fisik mereka telah menghalangi mereka untuk melihat Yesus, mereka biar bagaimana pun juga percaya kepada-Nya dari apa yang mereka dengar. Mereka berseru kepada Yesus karena mereka tahu betul bahwa Dia dapat menawarkan kepada mereka sesuatu yang tak dapat mereka menolaknya – kesembuhan dan suatu hidup baru. Menanggapi iman dua orang buta itu, Yesus menunjukkan kepada mereka kedalaman dari kasih Allah, memulihkan mereka tidak secara fisik saja, melainkan secara spiritual juga.

Yesus ingin kita mendekati diri-Nya dengan keyakinan yang sama seperti dua orang buta dalam bacaan Injil hari ini, yaitu dengan rendah hati memohon belas kasihan dan rahmat kepada-Nya. Apakah yang dapat menghalang-halangi diri kita untuk bertindak seperti dua orang buta tadi? Barangkali kemasabodohan, atau ketidakpercayaan, atau bahkan perasaan bahwa diri kita tidaklah pantas. Namun dalam hal ini Santo Paulus mengingatkan kita bahwa tidak ada sesuatu pun yang  dapat memisahkan kita dari kasih Kristus, bahkan kematian (maut) sekali pun (lihat Rm 8:31-39).

Kadang-kadang kita dapat merasa bahwa kita tidak mempunyai iman yang cukup, iman yang menyebabkan Yesus ingin menjawab ketika kita berseru kepada-Nya. Kita menjadi semakin ciut-hati ketika kita mencoba mengerahkan iman yang lebih dan lebih lagi dengan mencoba berdoa secara lebih keras lagi. Untunglah Allah mengetahui kelemahan-kelemahan diri kita, malah lebih baik daripada kita sendiri mengenal semua itu. Dan, Allah senantiasa siap untuk memberikan kepada kita rahmat yang kita perlukan untuk menanggapi sabda-Nya dengan penuh kepercayaan dan ketaatan.

Bagaimana kita dapat bertumbuh dalam iman? Katekismus Gereja Katolik (KGK) mengatakan kepada kita bahwa iman adalah sepenuhnya satu anugerah rahmat yang diberikan Allah kepada manusia. “Supaya dapat hidup dalam iman, dapat tumbuh dan dapat bertahan sampai akhir, kita harus memupuknya dengan Sabda Allah dan minta kepada Tuhan supaya menumbuhkan iman itu” (KGK, 162). Jadi, iman tidak datang karena kita melihat, melainkan dengan mendengar sabda Allah, dengan dengan percaya bahwa sabda-Nya sungguh dapat diandalkan karena Allah-lah Pengarangnya yang asli.

Yesus ingin memberikan kepada kita jauh lebih banyak daripada yang kita dapat minta atau bayangkan. Yesus menginginkan keakraban atau keintiman dengan kita masing-masing. Ia ingin mencurahkan cintakasih-Nya dan bersahabat dengan kita semua. Santo Augustinus dari Hippo HipHpernah berkata: “Allah mengasihi kita  masing-masing seakan-akan hanya ada seorang saja dari kita untuk dikasihi”. Oleh karena itu, marilah kita semakin mendekat kepada Tuhan dalam masa Adven ini dengan ekspektasi penuh pengharapan bahwa Dia akan memenuhi janji-janji-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, aku mengasihi Engkau dan menyerahkan diriku sepenuhnya kepada-Mu. Jadikanlah hatiku seperti hati-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:27-31), bacalah tulisan yang berjudul “TUHAN YESUS, TINGKATKANLAH IMAN KAMI” (bacaan tanggal 5-12-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2014. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 6-12-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 2 Desember 2014 [Peringatan B. Maria Angela Astorch, Biarawati]

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENDENGAR SABDA YESUS DAN MELAKUKANNYA

MENDENGAR SABDA YESUS DAN MELAKUKANNYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Adven – Kamis, 4 Desember 2014) 

YESUS SANG RABBI DARI NAZARETBukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga. 

Jadi, setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu bertiuplah angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu bertiuplah angin melanda rumah itu itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya. (Mat 7:21,24-27)

Bacaan Pertama: Yes 26:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 118:1,8-9,19-21,25-27 

Sekilas lintas masa Adven ini kelihatannya memusatkan perhatian pada sikap dan tindakan kita “menantikan” dan “berjaga-jaga”, atau menerima bayi Yesus dengan segala kerendahan hati. Semua itu sebenarnya sah-sah saja dan memang baik! Tetapi walaupun  selama masa “persiapan” ini, Injil tetap memanggil orang-orang untuk bertindak. Keberadaan kita sebagai murid-murid Yesus berarti dengan penuh kesadaran mengambil keputusan setiap bangun di pagi hari untuk turut serta membangun Kerajaan Allah di atas muka bumi ini. Jadi, tidak heranlah apabila amanat agung Yesus kepada para murid sebelum kenaikan-Nya ke surga dimulai dengan kata, “Pergilah” (Mat 28:19). Yesus memanggil kita untuk mewartakan Kabar Baik, kapan saja dan di mana saja; apakah pada saat-saat yang menyenangkan atau tidak menyenangkan; apakah ketika menghadapi banyak tantangan dan tentangan atau ketika semuanya lancar-lancar saja; apakah selama masa Adven atau masa-masa lainnya dalam penanggalan liturgi Gereja!

Yesus mengatakan bahwa kita adalah bijaksana bilamana kita tidak sekadar mendengar sabda-Nya, tetapi juga melaksanakannya. Inilah yang dimaksudkan dengan bagaimana kita membangun rumah di atas batu yang kokoh (lihat Mat 7:24-24). Pengalaman akan kasih Yesus bagi kitalah yang akan mendesak kita untuk bertindak. “Mendengar” sabda Yesus berarti memperkenankan ajaran-ajaran-Nya menembus hati kita dan membuat kita bertekuk lutut di hadapan hadirat-Nya dalam pertobatan dan penyembahan. Hal ini berarti memperkenankan sabda-Nya merasuki roh kita dan menyatakan Allah sebagai “seorang” Bapa yang sangat mengasihi kita dan Dia-lah Penguasa dan Hakim – suatu pernyataan yang akan memenuhi diri kita dengan suatu hasrat untuk menceritakan kepada orang-orang lain tentang Allah kita.

ROHHULKUDUSTentu saja di sini ada panggilan untuk bertindak, namun kita tidak ingin memusatkan perhatian pada pekerjaan kita yang akan membuat kita kekurangan asupan makanan secara spiritual. Rahasianya adalah “keseimbangan”. Kita diciptakan untuk keseimbangan (bahasa ekonominya: equilibrium). Kodrat kita menunjuk kepada realitas ini. Diri kita terdiri dari tubuh, jiwa dan roh. Kita dipanggil kepada kekudusan dan juga tindakan/karya kerasulan. Kita masing-masing dipanggil, baik untuk menjadi seorang kontemplatif maupun pejuang lapangan.

Spiritualitas yang seimbang ini diungkapkan pertama-tama oleh  suatu hidup penuh penyerahan diri kepada Roh Yesus (=Roh Kudus). Roh Kudus inilah yang membawa kita lebih dalam lagi ke dalam misteri-misteri suci dengan menghembuskan kehidupan ke dalam meditasi dan doa kita. Roh Kudus yang sama pula yang akan mendorong kita untuk bertindak, menyemangati kita untuk berani melangkah ke luar dari “zona nyaman” (comfort zone) kita, rutinitas kita yang serba nyaman, untuk memproklamasikan Yesus Kristus ke tengah dunia. Paus Yohanes Paulus II pernah mengatakan: “Iman itu dikuatkan ketika disyeringkan!”

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami agar dapat menjadi tangan-tangan dan kaki-kaki-Mu bagi sebuah dunia yang sedang sakit ini. Buatlah diri kami menjadi suara-suara-Mu yang memberi dorongan, yang menyemangati orang-orang yang tersisihkan dalam masyarakat, mereka yang kesepian, dan menjadi kehadiran-Mu yang membawa sukacita bagi mereka yang sedang dirundung malang dan tertimpa kesedihan. Oleh kuat-kuasa Roh Kudus-Mu, bentuklah diri kami menjadi pribadi-pribadi seperti yang Engkau rencanakan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami lagi Bacaan Injil hari ini (Mat 7:21,24-27), bacalah tulisan yang berjudul “MENDENGAR PERKATAAN YESUS” (bacaan tanggal 4-12-14)dalam situs/blog SANG SABDA  http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2014. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 5-12-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 30 September 2014 [HARI MINGGU ADVEN I – TAHUN B]

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MEREKA PUN PERGI MEMBERITAKAN INJIL KE SEGALA PENJURU

MEREKA PUN PERGI MEMBERITAKAN INJIL KE SEGALA PENJURU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta Santo Fransiskus Xaverius, Imam – Pelindung Misi – Rabu, 3 Desember 2014) 

KENAIKAN TUHAN YESUS - 2Lalu Ia berkata kepada mereka, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: Mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam  bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun yang mematikan, mereka tidak akan mendapat celaka; merek akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.”

Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke surga, lalu duduk di sebelah kanan Allah. Mereka pun pergi memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya. (Mrk 16:15-20)

Bacaan Pertama: 1Kor 9:16-19,22-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 117:1-2 

Bacaan hari ini adalah tentang kenaikan Tuhan Yesus. Kita hanya dapat memahami peristiwa kenaikan Tuhan ini jikalau kita melihatnya dalam kaitan dengan peristiwa-peristiwa sentral lainnya dalam kehidupan Yesus Kristus: …… kelahiran-Nya, sengsara dan kematian-Nya, dan kebangkitan-Nya.

Karena kasih Bapa surgawi, Yesus Kristus diutus ke dalam dunia untuk menyelamatkan kita-manusia dari dosa dan kematian kekal. Ia lahir sebagai salah seorang dari kita, umat manusia. Lewat kematian-Nya di kayu salib, Yesus menang-berjaya atas dosa dan kematian kekal, dan kemenangan-Nya itu dimanisfestasikan dalam kebangkitan-Nya yang penuh kemuliaan. Yesus mengalami kegelapan dunia kematian dan pada hari ketiga Dia bangkit dengan jaya. Namun Yesus tidak bangkit hanya untuk mengambil kembali keberadaan-Nya di atas muka bumi yang telah dimulai-Nya pada saat kelahiran-Nya di Betlehem.

Kenaikan Tuhan Yesus menunjukkan, bahwa dia bangkit dari kematian dan masuk ke dalam suatu kehidupan surgawi yang baru. Kenaikan Tuhan Yesus ke surga berarti kembali-Nya kepada Bapa, pemuliaan-Nya di surga di sebelah kanan Bapa, peninggian-Nya sebagai Tuhan Kehidupan. Jadi kenaikan Tuhan Yesus adalah suatu bagian integral dari kebangkitan-Nya, sebagai buah yang adalah bagian dari sebatang pohon. Kenaikan Tuhan Yesus menunjukkan kebaharuan dan kepenuhan dari hidup kebangkitan-Nya. Kita memang tidak dapat membayangkan macam apa hidup kebangkitan itu. Bahkan kita tidak mempunyai kata yang pas untuk menggambarkannya. Namun ada sepatah kata yang kita dengar dan akan dengar lagi dari waktu ke waktu dalam Misa dan doa-doa: KEMULIAAN! Memang kata ini bukanlah kata yang memadai, tetapi inilah kata satu-satunya yang terdapat dalam perbendaharaan kata kita. Yesus naik ke suatu kehidupan yang penuh kemuliaan.

Kenaikan Tuhan Yesus penting bagi kita karena kehidupan ini begitu berharga. Kita berpegang pada kehidupan di dunia ini, meskipun banyak mengalami kesusahan, frustrasi dan bermacam-macam penderitaan lainnya. Kita berpegang pada kehidupan dunia ini karena inilah satu-satunya yang kita ketahui. Di sisi lain kita pun tidak menginginkan kehidupan seperti ini untuk selama-lamanya. Sebenarnya dalam hati setiap insan terdapat kerinduan akan suatu kehidupan sempurna yang tidak mengenal akhir, kehidupan yang penuh kemuliaan.

Di zaman kuno, orang-orang mencari sumber air yang mampu membuat awet muda dan tidak akan mati. Kedengaran agak sedikit naive bagi telinga orang-orang pada zaman modern kita ini. Namun para ilmuwan zaman modern ini pun hampir sama naive-nya ketika mereka mencoba menyelidiki proses penuaan, dengan harapan dapat menemukan suatu cara untuk memperpanjang hidup manusia dan akhirnya dapat mencegah kematian itu sendiri. Kita harus percaya, bahwa kehidupan yang merupakan tujuan dari penciptaan kita tidaklah terdapat dalam dunia ini, tetapi di dalam surga. Kita memang harus menemukan kehidupan surgawi itu. Seperti Kristus, kita juga harus berjalan melalui dunia kematian sehingga kita dapat ikut ambil bagian dalam kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga. Kita telah dipanggil kepada suatu pengharapan besar dalam Kristus. Dalam dia kodrat manusia yang lemah telah dibangkitkan kepada kemuliaan. Pada suatu hari warisan-Nya yang mulia akan menjadi milik kita juga. Kita tidak perlu takut akan proses penuaan secara fisik yang pada satu titik kelak akan membawa kita berjumpa dengan Saudari Maut (badani). Yang perlu kita ketahui dan waspadai adalah kuasa dosa yang sangat merusak dan dapat menghancurkan kita sehabis-habisnya.

Sebelum kenaikan-Nya ke surga, Yesus memberikan Amanat kepada para murid-Nya untuk mewartakan Injil kepada semua makhluk dan menjanjikan segala kuasa serta tanda heran yang akan menyertai mereka. Orang kudus yang pestanya dirayakan oleh Gereja pada hari ini, Santo Fransiskus Xaverius (1506-1552), adalah contoh konkret dari seorang murid yang taat dan patuh kepada amanat Yesus itu. Dia mewartakan Kabar Baik Tuhan kita Yesus Kristus ke banyak penjuru dunia, termasuk Indonesia. Pewartaannya juga disertai dengan berbagai kuasa Roh dan tanda heran. Berikut ini adalah cerita singkat dari orang kudus ini:

XavierFransiskus Xaverius. Bersama-sama dengan S. Teresa dari Lisieux [1873-1897], S. Fransiskus Xaverius adalah orang-orang kudus pelindung Misi. S. Fransiskus Xaverius adalah misionaris terbesar yang dikenal Gereja sejak rasul Paulus. Tidak lama setelah Ignatius dari Loyola mendirikan Serikat Yesus, Fransiskus Xaverius mengikuti jejak kawan sekamarnya, Petrus Faber, bergabung dengan Serikat Yesus. Hatinya digerakkan oleh Roh Kudus untuk bergabung karena pertanyaan penuh tantangan yang diajukan oleh S. Ignatius dari Loyola: “Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?” (Mat 16:26).

Kegiatan misioner S. Fransiskus Xaverius di Asia sudah diketahui dengan baik oleh banyak orang, termasuk kepulauan Maluku di Indonesia. Oleh karena itu tidak mengherankanlah apabila nama baptis Fransiskus Xaverius juga sudah menjadi nama “pasaran” di kalangan umat Katolik di Indonesia.

Sebelum sempat melakukan tugas misionernya di daratan Tiongkok, pada tanggal 21 November 1552 Fransiskus Xaverius jatuh sakit demam serta terkurung di pondok rindangnya di pantai pulau kecil San Jian. Dia dirawat oleh Antonio, seorang pelayan Tionghoa yang beragama Katolik. Beberapa tahun kemudian, Antonio menulis sebuah laporan tentang hari-hari terakhir hidup orang kudus itu di dunia. Fransiskus meninggal dunia pada tanggal 3 Desember dan jenazahnya dikuburkan di pulau itu. Pada musim semi tahun berikutnya, jenazahnya dibawa ke Malaka untuk dimakamkan di sebuah gereja Portugis di sana. Beberapa tahun kemudian sisa-sisa tubuhnya dibawa lagi ke Goa di India untuk dimakamkan di Gereja Bom Jesus.

DOA: Allah, penyelamat umat manusia, berbagai bangsa Kaujadikan milik-Mu berkat pewartaan Santo Fransiskus Xaverius. Semoga semangat kerasulannya berkobar-kobar dalam hati semua orang beriman, sehingga di mana-mana umat-Mu dapat berkembang subur. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil  hari ini (Mrk 16:15-20), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS BEKERJA DALAM DAN MELALUI SEMUA ORANG YANG MENJAWAB PANGGILAN-NYA” (bacaan tanggal 3-12-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2014. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 3-12-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 28 November 2014 [Peringatan S. Yakobus dr Marka, Imam] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MASA ADVEN 2014

MASA ADVEN 2014

Tahun B/Harian Tahun I 

maxresdefault

Dengan tibanya masa Adven, mulailah kita menjalani tahun liturgi yang baru. Secara sepintas lalu, masa Adven kelihatan seperti suatu musim yang mengalami krisis identitas, karena memberi kesan seakan-akan terdapat ketidak-pastian mengenai tema utama dari masa ini. Apakah masa Adven ini merupakan suatu masa persiapan Hari Raya Natal, seperti masa Prapaskah bagi Hari Raya Paskah? Ataukah masa yang menekankan aspek eskatologis, yaitu memfokuskan perhatian umat pada hal-hal yang terakhir, yaitu kematian, penghakiman terakhir, akhir dunia, kebangkitan terakhir? Dalam tulisan ini akan sedikit diuraikan mengenai masa Adven yang perlu kita ketahui. Dengan demikian kita dapat menjalani masa Adven ini dengan benar. Sedikit bahan untuk permenungan pribadi atas bacaan-bacaan Kitab Suci juga diberikan.

MASA ADVEN 

Masa Adven adalah kesempatan bagi kita semua untuk mengintensifkan penghayatan misteri sejarah keselamatan, khususnya sebagai persiapan perayaan Natal yang bermutu dengan mementaskan Adven dan Natal sebagai suatu kesatuan. Namun masa khusus seringkali diganggu oleh Saudara-saudari Kristen yang bukan Katolik, yang mengundang kita merayakan Natal di masa Adven, artinya perayaan tanpa persiapan yang intensif. Sehubungan dengan hal ini, baiklah kita mencamkan apa yang diuraikan oleh seorang ahli liturgi, Pater Bosco Da Cunha, O.Carm berikut ini:

“Perayaan Natal di masa Adven berarti tergesa-gesa menghendaki pestanya tanpa persiapan yang memadai dan mengakibatkan perayaan Adven menyerupai sandiwara. Bila orang merayakan Natal dalam masa Adven, lalu kembali lagi ke masa Adven untuk mempersiapkan diri bagi perayaan Natal, maka orang menjungkirbalikkan urutan logis dan kronologis tahap-tahap sejarah keselamatan yang dipentaskan dalam tahun liturgi. Perayaan demikian itu tak lebih daripada upacara yang dijadwalkan dan harus diselesaikan. Adven dan Natal terlalu sarat makna untuk diperlakukan bagaikan rentetan upacara manasuka. Patut dipertimbangkan apakah kecenderungan untuk menyelenggarakan perayaan Natal di masa Adven tak lebih baik diatasi dengan perayaan Adven yang indah dan bermakna” (Masa Adventus – Siap Menanti Kedatangan Yesus, Almasih, hal. 1-2). 

ARTI MASA ADVEN 

Kata “Adven” berasal dari kata dalam bahasa Latin Adventus yang berarti “kedatangan dengan semarak”. Merayakan masa Adven berarti mengalami sungguh kerinduan akan kedatangan Allah dengan bertobat dan terlibat dalam tindakan nyata, memperhatikan sesama yang membutuhkan pertolongan. “Kedatangan” yang dimaksud dalam masa Adven adalah kedatangan Yesus:

  1. Kedatangan Yesus di masa lampau

Dalam arti ini kita umat Kristiani menyiapkan diri untuk memperingati kedatangan Kristus secara historis pada Hari Raya Natal, ketika Tuhan memasuki dunia ini dengan lahir menjadi manusia. Firman telah menjadi manusia (Yoh 1:14). Hal ini mengingatkan kita semua, bahwa Kekristenan atau Kristianitas adalah agama yang memiliki nilai historis: seperti juga Allah berbicara dalam Sabda dan karya Yesus, maka Allah yang sama juga berbicara dalam sejarah pribadi kita masing-masing dan pengalaman komunal kita. Namun demikian, agama kita bukanlah sekedar agama masa lampau (historis) dan senantiasa diaktualisasikan, melainkan juga agama masa depan. Oleh karena itu “kedatangan” dalam Masa Adven juga berarti kedatangan-Nya di masa depan.

  1. Kedatangan Yesus di masa depan

Dalam arti ini umat Kristiani mengarahkan pandangan penuh harapan ke masa depan: dimensi eskatologis, yang meresapi misteri iman kita. Di sini kita berbicara mengenai kedatangan Kristus untuk ke dua kalinya (artinya Hari Kiamat). Fokusnya di sini adalah harapan yang mengkontekstualisasikan dan memberikan arti bagi semua kehidupan Kristiani. Pada hakekatnya, seorang Kristiani adalah seseorang yang memiliki pengharapan. Harapan ini dibangun atas dasar kepercayaan bahwa Allah akan melengkapi segala sesuatu, bahwa kehidupan manusia bukanlah tanpa makna dan bahwa pada akhirnya Allah akan membangun “surga dan bumi yang baru” (lihat Why 21:1) di mana segala realita kosmik akan diisi dengan kepenuhan Allah. Dimensi pengharapan ini penting sebab ada bahaya bahwa dimensi ini (yang memang sudah terpenuhi sebagian, tetapi belum tuntas) kurang disadari. Dengan demikian masa Adven dapat menghidupkan harapan yang membuka perspektif ke masa depan sebagai salah satu unsur pokok iman Kristiani.

  1. Kedatangan Yesus di masa kini

Dalam arti ini umat Kristiani melihat dan merasakan kedatangan Kristus masa kini ke dalam masyarakat, khususnya kedatangan-Nya dalam diri kaum miskin dan papa, mereka yang menderita dan tersisihkan. Kristus datang sekarang ke dalam seluruh kehidupan. Keberadaan Kristiani berarti memanfaatkan sebaik-baiknya setiap saat, setiap kesempatan serta peluang yang ada dan apa saja yang terjadi pada diri kita. Iman-kepercayaan Kristiani yang sejati tidak akan membawa kita keluar dari kehidupan nyata sehari-hari. Iman-kepercayaan itu akan melebur kita dengan segalanya yang terjadi dan segala sesuatu yang berlangsung di sekeliling kita. Allah selalu berbicara, kalau saja kita mau mendengarkan! Dengan demikian masa Adven menghadapkan kita dengan Kristus yang datang sekarang, hari ini, teristimewa dalam diri saudara-saudari kita yang dina dan kecil (lihat Mat 25:31-46).

BACAAN KITAB SUCI SELAMA MASA ADVEN 

Masa Adven terdiri dari 4 (empat) minggu yang dijalin sebagai satu kesatuan Masa Persiapan melalui berbagai rumusan doa dan terutama lewat struktur bacaan Kitab Suci yang hampir setiap hari diambil dari kita Nabi Yesaya. Masa persiapan ini dibagi ke dalam dua periode yang tidak secara ekstrim terpisah. Periode Pertama, dari Hari Minggu Adven I sampai dengan tanggal 16 Desember; dan Periode Kedua, dari tanggal 17 Desember sampai dengan tanggal 24 Desember. Periode pertama lebih menekankan aspek eskatologis, maksudnya untuk mengajak kita semua mempersiapkan diri dalam rangka menantikan kedatangan Kristus mulia pada akhir zaman. Periode kedua, baik dalam bacaan Misa maupun Ibadat Harian (Ofisi Ilahi), semua teks lebih langsung diarahkan sebagai persiapan Perayaan Natal.  Marilah kita soroti bacaan-bacaan Kitab Suci pada Misa pada Hari Minggu Adven I, II, III dan IV tahun B, demikian pula dengan bacaan-bacaan Kitab Suci pada Misa harian pekan masing-masing.

  1. Hari Minggu Adven I (30 November 2014)

Bacaan: Yes 63:16b-17; 64:1.3b-8; 1Kor 1:3-9 dan Mrk 13:33-37.

“Berjagalah, sebab kamu tidak tahu bilamana tuan rumah itu pulang.” Yesaya dalam bacaan pertama menunjukkan, bahwa tuan rumah itu ialah “Bapa kita”; Ia datang ke milik kepunyaan-Nya karena kasih. Kita memang harus mempersiapkan diri kita bagi berbagai kejutan. Yesus masuk ke dalam kehidupan kita dengan cara-cara yang tidak dapat kita ramalkan. Oleh karena itu bangunlah! Demikianlah Injil hari ini. Santo Paulus dalam 1 Kor 1:3-9 menyatakan bahwa kita menantikan pernyataan dari Tuhan kita Yesus Kristus. Apakah Yesus akan datang kepada kita di rumah kita, di dalam diri orang-orang yang kita cintai atau dalam diri kenalan-kenalan kita atau dalam diri orang asing yang kita tidak kenal? Semuanya! Dalam Pekan I Adven ini perhatikanlah secara khusus mereka yang biasanya terabaikan atau luput dari perhatian anda. Mungkin dia adalah pembantu rumah tangga anda, mungkin dia si bapak pengantar koran, mungkin saja dia itu mertua anda sendiri, dan seterusnya.

  1. Hari-hari biasa dalam Pekan I Adven

Berdoalah agar Allah membuka mata kita. Dalam pekan ini (Hari Jumat,  5 Desember) kita akan mendengar kisah-kisah tentang orang buta yang dicelikkan matanya, yaitu dalam Yes 29:17-24 dan Mat 9:27-31.

  1. Hari Minggu Adven II (7 Desember 2014)

Bacaan: Yes 40:1-5,9-11; 2Ptr 3:8-14 dan Mrk 1:1-8.

“Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya.”  Bacaan Injil untuk hari Minggu mengajak kita untuk mendengarkan para nabi. Pesan yang penuh tantangan dari Yohanes Pembaptis yang mengatakan bahwa Allah itu menyediakan, bahkan memberikan diri-Nya bagi setiap orang, seperti air dalam sungai. Orang-orang yang mapan, yang memiliki privilese dalam masyarakat pasti tidak merasa enak atau merasa risih dalam menghadapi para nabi. Dari bacaan pertama kita mendengar bahwa lewat nabi Yesaya Allah berfirman bahwa pembuangan di Babel adalah siksaan berat atas dosa-dosa bangsa Israel, dan kembalinya umat Israel dari pembuangan dimungkinkan karena pengampunan penuh belaskasih dari pihak Allah. Dengan demikian Allah melunasi janji-Nya. Bacaan kedua mengaitkan masa eskatologis dengan pengampunan dosa yang akan terlaksana apabila orang-orang bertobat.

  1. Hari-hari biasa dalam Pekan II Adven

Pekan ini dapat digunakan untuk menguji hati nurani kita masing-masing. Kita hidup dalam masyarakat dan zaman di mana “rasa bersalah” atau “rasa berdosa” sudah agak memudar. Namun kita memang tidak dapat memasuki kepenuhan perayaan tanpa secara jujur dan terbuka mengakui dan menerima segala kekurangan kita dan mohon kepada Allah yang sungguh baik untuk mengubah hati kita. Baiklah kita mengakhiri setiap hari kita dengan merenungkan dalam suasana doa segala peristiwa, percakapan dan kegiatan kita pada hari itu.

  1. Hari Minggu Adven III (14 Desember 2014)

Bacaan: Yes 61:1-2a, 10-11; 1Tes 5:16-24 dan Yoh 1:6-8,19-28.

Bacaan Injil hari Minggu bercerita mengenai Yohanes Pembaptis yang datang sebagai seseorang yang memberi kesaksian tentang Yesus. Bacaan kedua menasihatkan kita agar supaya roh, jiwa dan tubuh kita hendaknya tak bercela demi menyambut kedatangan Tuhan Yesus. Bacaan kedua ini kaya akan tema khas masa Adven:

  1. Kegembiraan, doa, ucapan syukur karena keselamatan yang dikerjakan Tuhan (bdk bacaan pertama). Tuhan melaksanakan semuanya dalam Kristus.
  2. Desakan supaya tetap bertahan tanpa cacat demi Tuhan kita Yesus Kristus yang akan datang.
  3. Inisiatif ilahi: “Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya (ayat 23a); Ia yang memanggil kamu adalah setia dan Ia juga akan menggenapinya (ayat 24).”
  4. Kesetiaan ilahi (ayat 24).

Bergembiralah dalam Tuhan selalu! Tuhan sudah dekat! Pemerintahan Allah sudah dekat, kita tidak sendiri! Ambillah waktu pada hari ini untuk bergembira dan merayakan kedatangan Tuhan!

  1. Hari-hari biasa dalam Pekan III Adven

Bacaan-bacaan Injil untuk hari-hari biasa Pekan III Adven semakin membawa kita ke dalam suasana persiapan Hari Raya Natal. Baiklah kita mempraktekkan bagaimana mempercayai Allah. Semua orang Kristiani dipanggil untuk berpartisipasi dalam pemerintahan Yesus sebagai penyembah dan pewarta kabar baik keselamatan. Namun kadang-kadang kita lupa siapa yang Tuhan! Kita menggantungkan diri kepada bela rasa kita sendiri, kemampuan-kemampuan kita sendiri, program ini atau obat itu. Bukan pergi menghadap Tuhan Yesus, kita malah pergi ke “orang pintar” untuk memperoleh “solusi” atas masalah-masalah yang kita hadapi. “Yesus Kristus adalah Kyrios, bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Flp 2:11). Yohanes Pembaptis tahu benar, bahwa dia hanya dapat menunjuk kepada seseorang yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Yohanes Pembaptis berkata: “Aku bukan Mesias …… Aku membaptis dengan air; tapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal, yaitu Dia yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak.” (Yoh 1:20,26-27). Ulang-ulangilah pernyataan ini dalam pekan ini: “Engkaulah andalanku, ya Tuhan Yesus. Selamatkanlah aku.”

 

  1. Hari Minggu Adven IV (21 Desember 2014)

Bacaan: 2Sam 7:1:1-5,8b-12,14a-16; Rm 16:25-27 dan Luk 1:26-28.

Pekan ini penuh dengan kegembiraan dalam menyambut kedatangan Tuhan Yesus di Betlehem. Gereja memusatkan perhatiannya pada peringatan kedatangan Yesus Putera Allah dalam daging. YESUS berarti ALLAH YANG MENYELAMATKAN. Bacaan hari Minggu mengingatkan kepada kita, bahwa Allah itu setia dan Dia memenuhi sendiri segala janji-Nya. Janji yang disampaikan kepada Daud (bacaan pertama) direalisasikan dalam Yesus (bacaan Injil). Pewahyuan diri dari atas nampak dalam ketaatan iman (lihat bacaan kedua dan Injil). Bacaan Injil menegaskan, bahwa pemberitaan tentang pemenuhan janji Allah dinyatakan secara langsung kepada Maria. Maria sebagai perawan kita lihat dalam Yes 7:14 dan juga asal-usul Pak Yusuf dari keluarga Daud secara langsung ditemukan di dalam bacaan pertama. Penulis Injil Lukas lebih menekankan inisiatif Allah yang mengaktualisasikan kuat-kuasa Roh Kudus, suatu pernyataan kekuatan ilahi ke dalam sejarah seperti diungkapkan dengan indah dalam bacaan Injil. Jadi, menurut penulis Injil Lukas, inisiatif penyelamatan adalah dari pihak Bapa, yang oleh kuat-kuasa Roh Kudus menjadi nyata dalam Inkarnasi Sang Putera dan kemuliaan-Nya, demi keselamatan manusia sehingga manusia pun membuka diri dalam iman kepada tingkat kehidupan ilahi. Bacaan pertama mengungkapkan bahwa kerajaan Daud akan selama selama-lamanya di hadapan Allah. Teks ini, bersama-sama dengan teks Yes 7 merupakan dua nubuat terpenting mengenai Mesias yang tergolong keturunan Daud, dari mana termuat janji-janji Allah kepada para bapa bangsa. Di lain pihak, bacaan kedua merupakan suatu ungkapan “doksologi”. Di sini dipakai kata “rahasia” (misteri): yang lama tersembunyi namun kini diwahyukan kepada manusia melalui nubuat para nabi demi keselamatan manusia; yang terpenuhi dalam Kristus.

  1. Hari-hari biasa Pekan IV Adven

Hari Raya Natal tinggal beberapa hari lagi saja. Pada hari yang agung itu kita merayakan Sang Firman, Hikmat Kebijaksanaan Allah, menjadi manusia yang dilahirkan dalam keadaan hina di Betlehem. Kelahiran-Nya sebagai seorang bayi manusia adalah “perendahan diri Allah” yang pertama; sedangkan “perendahan diri Allah” yang kedua adalah pada waktu Dia mati di salib demi umat manusia dan “perendahan diri Allah” yang ketiga adalah pada waktu Dia –  melalui tangan seorang imam – sudi dan rela mengambil bentuk roti dan anggur untuk menjadi santapan kita semua. Kadang-kadang Tuhan membuat suatu “move”, suatu gerakan dalam hidup kita, entah kita berada dalam keadaan siap atau tidak. Dia juga ada di tempat dan pada waktu yang kita tidak sangka-sangka. Dengan demikian kita dipanggil untuk senantiasa membuka hati kita dan kehidupan kita. Barangkali pada musim sibuk liburan atau sibuk kegiatan akhir tahun di tempat kerja kita masing-masing, Yesus sampai tak terlihat atau kelewatan. Semoga jangan sampai begitu!

BEBERAPA CONTOH KEGIATAN MASA ADVEN UNTUK KELUARGA 

  1. Membuat Korona (karangan) Adven (Advent Wreath)

Menyalakan lilin pada karangan Adven merupakan salah satu tradisi Adven yang paling populer. Karangan Adven adalah rangkaian daun cemara (atau daun hijau lainnya) yang dibuat dalam bentuk lingkaran. Rangkaian daun ini melambangkan hidup yang berjalinan. Kita sebagai umat Kristiani hidup dalam suatu persekutuan jemaat yang saling berhubungan, tolong-menolong, saling membutuhkan, bahu-membahu. Lilin yang bernyala melambangkan jalan terang yang mengusir segala bentuk kegelapan (resah, gelisah, cemas, dosa dan lain sebagainya). Lilin melambangkan Kristus sendiri, Sang Terang Sejati yang bercahaya dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya (Yoh 1:5). Dari pekan ke pekan dalam masa Adven lilin yang dinyalakan semakin bertambah. Janji akan kedatangan Yesus terasa semakin terpenuhi. Kita turut berharap akan kedatangan Yesus bersama Yesaya, Yohanes Pembaptis dan Bunda Maria. Pengikutsertaan anggota keluarga dapat dimulai sejak pembuatan Karangan Adven itu. Penyalaan lilin Adven dilakukan dalam rangka doa bersama keluarga.

  1. Pembuatan Kandang Natal

Menurut tradisi, Santo Fransiskus dari Assisi adalah yang pertama-tama menciptakan kandang Natal (di Greccio, tahun 1223) dan mempopulerkannya. Dianjurkan untuk mulai menyusun bersama-sama kandang Natal di rumah sejak Pekan I Adven, namun patung bayi Yesus jangan diletakkan dulu sampai malam Natal. Juga patung-patung orang Majus harus menunggu sampai Hari Raya Epifani di hari-hari pertama Januari 2015. Kalau masih ada anak-anak kecil dalam keluarga anda, mereka masing-masing dapat didorong untuk membayangkan bagaimana kalau memainkan peran sebagai Pak Yusuf, sebagai gembala, sebagai Bunda Maria, sebagai orang Majus dan lain-lain. Buatlah mereka menjadi bagian dari kisah Natal dengan menceritakan bagaimana jadinya seorang gembala, seorang Maria atau seorang Pak Yusuf pada waktu peristiwa itu terjadi sekitar 2.000 tahun lalu. 

CATATAN PENUTUP 

Semoga tulisan ini dapat membuat masa Adven 2014 menjadi lebih bermakna bagi anda sekalian, dengan demikian anda menjadi lebih dekat lagi dengan Dia! Allah memberkati anda sekalian!

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan untuk Adven tahun 2008)

Cilandak, 1 Desember 2014 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

[Anggota Dewan Inti Komisi Liturgi KWI untuk masa bakti 2001-2003]

PUJI SYUKUR

PUJI SYUKUR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Adven – Selasa, 2 Desember 2014)

YESUS BERDOA - 1Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata, “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorang pun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu.” Sesudah itu berpalinglah Yesus kepada murid-murid-Nya secara tersendiri dan berkata, “Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat. Karena Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.” (Luk 10:21-24)

Bacaan Pertama: Yes 11:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 72:2,7-8,12-13,17

Yesus dari Nazaret adalah seorang yang senantiasa memuji-muji Allah dan kebesaran-Nya – Dia adalah seorang man of praise. Hal ini ditunjukkan dengan baik dan indah sekali oleh Lukas dalam bacaan Injil hari ini.

Setelah ketujuh puluh murid-Nya kembali dengan gembira menceritakan sukses misi mereka kepada Yesus (lihat Luk 10:17-20), Dia pun bergembira dalam Roh Kudus dan memanjatkan puji syukur-Nya kepada Bapa di surga: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorang pun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu” (Luk 10:21).

Sejatinya doa yang paling benar adalah pengungkapan pujian/syukur, karena doa pujian adalah bentuk komunikasi yang paling berjangkau jauh. Hal ini benar dalam hal relasi antar-pribadi manusia. Suatu sikap memuji, menghargai, memberikan cintakasih adalah yang paling sehat bagi kedua pihak dalam suatu proses komunikasi. Seorang kudus, Santo Fransiskus dari Assisi [1181-1226] mewariskan sejumlah doa-doanya bagi kita. Hanya satu saja dari doa-doanya yang murni merupakan sebuah “doa permohonan”. Renungkanlah salah satu doanya berikut ini: “Allah yang Mahakuasa, Mahakudus, Mahatinggi dan Mahaluhur, Engkaulah segala kebaikan, paling baik, seluruhnya baik, hanya Engkau sendiri yang baik; kepada-Mu kami kembalikan segala pujian (Inggris: praise), segala kemuliaan, segala rahmat, segala kehormatan, segala pujian (Inggris: blessing) serta segalanya yang baik, semoga, semoga, ya amin” (bagian akhir dari “Pujian yang Diucapkan pada Semua Waktu Ibadat” (Karya-karya Fransiskus dari Asisi, hal. 288). Kita memang berkomunikasi dengan cara terbaik apabila kita mengenal siapa orang yang sedang kita hadapi, dan siapa diri kita sendiri sebenarnya.

FA PENYAYANG BINANTANGAllah adalah segalanya yang besar, baik, agung, indah, luhur dlsb. Yesus adalah yang terbesar! Dengan demikian puji-pujian adalah bentuk komunikasi yang paling nyata dan natural dengan diri-Nya. Doa pujian/syukur mengungkapkan secara paling akurat perasaan-perasaan kita yang benar dalam berbicara dengan Dia dan dalam mendengarkan Dia (artinya dalam komunikasi dengan Dia). Kita tidak pernah boleh melupakan bahwa “mendengarkan” adalah paruhan lebih baik dari komunikasi kita dengan diri-Nya, yaitu “mendengarkan dengan sikap syukur penuh terima kasih kepada-Nya”.

Puji syukur dapat mengambil banyak bentuk, bahkan “keheningan” atau “lagu pujian”. Lagu pujian membuka diri kita bagi Allah dan perasaan-perasaan terdalam tentang diri-Nya. Ada banyak doa pujian yang terdapat dalam Kitab Suci, dan banyak dari doa-doa pujian tersebut berupa lagu-lagu.

Adalah baik bagi kita untuk menikmati indahnya lagu-lagu, baik dengan ikut serta bernyanyi atau mendengarkannya, karena nyanyian adalah ciptaan Allah yang indah. Akan tetapi berdoa sambil bernyanyi adalah berkomunikasi dengan Tuhan, kita mengatakan kepada-Nya apa sesungguhnya perasaan kita terhadap diri-Nya, mengatakan kepada-Nya apa yang menyebabkan kita mengasihi diri-Nya dan berterima kasih kepada-Nya, menaruh kepercayaan kepada-Nya dan membuat Dia pusat dari kehidupan kita. Doa yang berupa lagu, apabila kita masuk ke dalamnya dengan sikap seperti ini, akan membuat kita bertumbuh secara spiritual. Juga akan “menyelamatkan” kita dari jenis-jenis doa permohonan yang sempit dan memandang Allah sebagai seorang Sinterklas atau sugar-Daddy yang akan memberikan apa saja yang kita minta dengan merengek-rengek.

Doa permohonan memang samasekali tidak salah, asal saja disampaikan dengan kerendahan hati dan kepercayaan penuh bahwa kehendak-Nyalah yang terjadi, bukan kehendak kita (bdk. Luk 22:42). Namun puji-syukur jauh lebih bijaksana, karena apabila kita senantiasa memuji-muji Allah, maka segalanya dapat menjadi berkat bagi kehidupan kita. Walaupun pada saat mendoakan sebuah “doa permohonan”, kita harus senantiasa menyapa Allah yang langsung disertai dengan pujian, seperti diajarkan oleh Yesus sendiri dalam “DOA BAPA KAMI” (lihat Mat 6:9 dan Luk 11:2).

DOA: Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, menyanyilah bagi TUHAN, hai segenap bumi! Menyanyilah bagi TUHAN, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari. (Mzm 96:1-2)

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yes 11:1-10), bacalah tulisan yang berjudul “HANYA ADA SATU PRIBADI” (bacaan tanggal 2-12-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 14-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2014. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 4-12-12 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 28 November 2014 [Peringatan S. Yakobus dr Marka] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 84 other followers