BIARLAH KEDATANGAN-MU DI TENGAH-TENGAH KAMI PADA HARI NATAL MEMURNIKAN DIRI KAMI

BIARLAH KEDATANGAN-MU DI TENGAH-TENGAH KAMI PADA HARI NATAL MEMURNIKAN DIRI KAMI

 (Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Rabu, 23 Desember 2015) 

family-christmas-pictures-tov57t79

Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku! Dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya! Malaikat Perjanjian yang kamu kehendaki itu, sesungguhnya, Ia datang, firman TUHAN (YHWH) semesta alam. Siapakah yang dapat tahan akan hari kedatangan-Nya? Dan siapakah yang dapat tetap berdiri, apabila Ia menampakkan diri? Sebab Ia seperti api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu. Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak; dan Ia nentahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada YHWH. Maka persembahan Yehuda dan Yerusalem akan menyenangkan hati YHWH seperti pada hari-hari dahulu kala dan seperti tahun-tahun yang sudah-sudah.

Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari YHWH yang besar dan dahsyat itu. Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah. (Mal 3:1-4; 4:5-6) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 25:4-5,8-10,14; Bacaan Injil: Luk 1:57-66

Keluarga-keluarga adalah yang pertama menderita apabila orang berbalik meninggalkan Allah – dan mereka pulalah yang pertama memperoleh manfaat dari kasih Allah yang memurnikan (Mal 3:2-3). Misalnya, ketika seseorang meninggalkan Tuhan dan terjerumus ke dalam kecanduan akan miras, maka istri dan keluarganya menderita. Barangkali dia mulai mencoba miras sebagai suatu cara untuk mengatasi stresnya, namun pada akhirnya kecanduan miras ini menjadi penyebab utama dari stress bagi setiap orang yang terlibat. Akan tetapi, jika orang itu bertobat – kembali kepada Allah dan mengikuti program pemulihan/rehabilitasi – maka seluruh anggota keluarga dapat belajar tentang kuat-kuasa Allah dalam menyembuhan dan memulihkan seseorang.

Hidup keluarga memang dapat dirusak oleh kesalahan yang serius, seperti ketidaksetiaan atau  KDRT dlsb., namun hidup keluarga itu lebih sering “dipreteli” oleh dosa-dosa kecil yang kelihatan biasa-biasa saja namun bersifat kronis. Kemarahan adalah contoh yang klasik. Kita mengetahui bahwa Yesus dapat marah tetapi tidak pernah berdosa (a.l. lihat Mrk 3:5). Namun kita lebih sering mengungkapkan kemarahan kita secara tidak pantas dan berkelebihan, misalnya diungkapkan dalam bentuk sarkasme, murka besar dengan berteriak-teriak, dan malah berupa penolakan. Akan tetapi, jika kita berpaling kepada Tuhan, Ia dapat mengajar kita “cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah” (Yak 1:19). Oleh kuat-kuasa Roh Kudus kita dapat belajar untuk memperlakukan satu sama lain dengan sabar dan kebaikan hati. Pada saat itu kita akan melihat buah damai-sejahtera berkembang dalam keluarga-keluarga kita.

Allah sangat menghargai keluarga-keluarga dan mereka semua dekat di hati-Nya. Dia sangat senang jika melihat sebuah keluarga hidup dengan terang Roh-Nya, menjadi saksi tentang kasih-Nya dan menyalurkan kasih-Nya tersebut kepada orang-orang di sekeliling. Sebaliknya, yang sangat diinginkan oleh Iblis adalah untuk mengacaukan hidup keluarga dan meyakinkan kita-manusia bahwa tidak masuk akallah bahwa orang-orang dapat hidup bersama dalam persatuan dan kasih untuk jangka waktu yang lama.

Natal dapat menjadi suatu waktu yang penuh beban berat dan menyulitkan bagi keluarga-keluarga, atau suatu waktu yang penuh berkat. Selagi kita memasuki waktu yang kudus ini, Allah bertanya kepada kita apakah kita akan memilih menjadi agen-agen Kristus bagi keluarga kita masing-masing. Apakah kita mau berdoa untuk keluarga-keluarga – untuk keluarga kita sendiri dan semua keluarga yang ada di seluruh dunia?

Saudari dan Saudaraku, marilah kita membuat masa Natal ini sebagai suatu masa penyembuhan/kesembuhan yang besar, selagi hati para orangtua dan anak-anak mereka saling bertemu dalam Roh Kristus (Mal 4:6).

DOA: Tuhan Yesus, semoga kedatangan-Mu ke tengah-tengah kami pada Natal ini memurnikan hati kami masing-masing, sehingga dengan demikian kami dapat membuat suatu awal yang baru dalam mengasihi-Mu dan keluarga kami masing-masing. Datanglah ke semua keluarga pada masa Natal ini dengan kuat-kuasa penyembuhan dan damai-sejahtera-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 1:57-66),  bacalah tulisan berjudul  “PESAN YOHANES PEMBAPTIS MASIH AKTUAL HARI INI DAN KESAKSIAN HIDUPNYA MASIH MENJADI CONTOH BAGI KITA” (bacaan tanggal 23-12-15), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 15-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2015. 

Cilandak, 22 Desember 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PEMENUHAN JANJI-JANJI BAPA SURGAWI DALAM DIRI YESUS

PEMENUHAN JANJI-JANJI BAPA SURGAWI DALAM DIRI YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Selasa, 22 Desember 2015)

Acrylic on canvas, 24 x 30"

Acrylic on canvas, 24 x 30″

Lalu kata Maria, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan kuduslah nama-Nya. Rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.”  Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya. (Luk 1:46-56)

Bacaan pertama: 1Sam 1:24-28; Mazmur Tanggapan: 1Sam 2:1.4-8 

Sejak awal mula, Allah telah menyatakan kepada setiap generasi isi hati-Nya yang merindukan suatu relasi yang mendalam dengan umat-Nya. Allah menjanjikan kepada Abraham bahwa turunannya akan banyak sekali seperti bintang-bintang di langit. Allah mendengar keluh kesah dan seruan minta tolong umat-Nya yang hidup dalam perbudakan di Mesir dan kemudian memimpin mereka ke tanah terjanji. Allah mengutus para nabi-Nya guna menyatakan hasrat hati-Nya kepada bangsa Israel. Allah memberkati “wong cilik” yang datang kepada-Nya sambil memohon belas kasih dan kekuatan dari Dia. Pada akhirnya, Bapa surgawi berjanji untuk mengutus Dia yang akan membawa bangsa Israel kembali ke dalam relasi yang akrab/intim dengan diri-Nya. Mengetahui saat pemenuhan janji-janji Allah telah tiba, Maria mendapat privilese untuk memberi kesaksian tentang kulminasi dari semua janji Allah dalam Dia yang telah dikandung dalam rahimnya.

Dalam kidung Magnificat, Maria mengekspresikan kekagumannya atas rencana Allah selagi rencana itu semakin tersingkap di hadapan umat. Sang Mesias yang sudah lama dinanti-nantikan, Dia yang dicari oleh umat Allah sepanjang sejarah, tidak lama lagi akan datang. Walaupun belum hilang rasa herannya mengapa dirinya dipilih Allah, Maria mengingat bagaimana dalam perjalanan sejarah manusia Allah memilih meninggikan orang rendah/lemah untuk merendahkan “orang-orang yang berkuasa” (Luk 1:52), … “Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa” (Luk 1:53), dst.

Selagi kita meninjau kembali hidup kita selama ini, kita dapat melihat banyak cara yang telah ditunjukkan Bapa surgawi kepada kita terkait belas kasih dan bela rasa-Nya. Allah Yang Mahakuasa ingin agar kita masing-masing mengenal-Nya secara pribadi. Kita-manusia yang direndahkan karena dosa-dosa dan Iblis, telah diangkat oleh darah Yesus, Anak Domba Allah yang tak bercacat. Ia telah mengangkat kita sehingga mempunyai martabat sebagai anak-anak-Nya. Dia telah memberikan Roh Kudus kepada kita guna memberdayakan kita untuk melakukan kehendak-Nya. Allah juga sangat menghargai upaya kita untuk menyediakan waktu yang khusus untuk berada bersama-Nya, pada waktu mana Dia dapat berbicara kepada kita dalam doa dan melalui bacaan Kitab Suci. Dia memampukan kita untuk melayani-Nya dan juga melayani satu sama lain antara kita dalam tubuh Kristus, yaitu Gereja. Dia telah memenuhi diri kita masing-masing dengan hal-hal yang baik bagi kehidupan kita.

Kita (anda dan saya) dapat bersukacita dengan Maria dan semua anak Allah karena kita telah melihat terpenuhinya janji-janji Bapa surgawi dalam diri Yesus, sumber kehidupan kita. Selagi kita memandangi imaji Yesus sekarang, baiklah kita membuka hati kita untuk menyembah-Nya. Barangkali kita dapat menyediakan waktu untuk menulis deklarasi kita sendiri terkait denan segala sesuatu yang Tuhan telah lakukan untuk kita. Hal ini sungguh akan membawa sukacita kepada Bapa surgawi dan tentunya kepada kita juga!

DOA: Datanglah ya Tuhan Yesus, Raja segala raja, Raja segala bangsa, sumber persatuan dan iman kami. Selamatkanlah seluruh umat manusia, ciptaan-Mu sendiri. Terpujilah nama-Mu selalu! Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Luk 1:46-56), bacalah tulisan yang berjudul “HIDUP MARIA ADALAH CONTOH KEHIDUPAN YANG INGIN DIBERIKAN ALLAH KEPADA KITA SEMUA” (bacaan tanggal 22-12-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 15-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 22-12-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 19 Desember 2015

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MARIA: PERAWAN DAN IBU

MARIA: PERAWAN DAN IBU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Senin, 21 Desember 2015)

20140531_Magnificat

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan bergegas menuju sebuah kota di pegunungan Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.” (Luk 1:39-45)

Bacaan pertama: Kid 2:8-14 atau Zef 3:14-18a; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:2-3,11-12,20-21

Dalam kedalaman hati setiap perempuan yang baik terdapat suatu hasrat untuk kualitas-kualitas baik sebagai seorang perawan maupun seorang ibu. Dia ingin suatu hidup kemurnian yang bermakna, baik secara fisik maupun spiritual: suatu kemurnian pikiran, hati, dan kehendak. Ia juga memiliki hasrat menjadi seorang ibu, artinya memberikan hidup. Seorang ibu memberikan hidup secara fisik, malah secara spiritual, dengan memberikan nilai kepada kehidupan, dengan memberikan makna dan tujuan  dan dorongan kepada orang-orang lain.

Dua imaji (gambar) atau cita-cita ini, perawan maupun ibu, tidaklah bertentangan satu sama lain, melainkan bersifat komplementer – saling mengisi/melengkapi – dalam karakter perempuan. Kedua hal tersebut memanifestasikan dua kecenderungan pribadi manusia: (1) penahanan/ pengurungan diri – menahan diri kita sendiri untuk menjadi setia terhadap orang lain, dan (2) pengosongan diri (Inggris: self-abandonment) – memberikan diri sendiri kepada banyak orang. Dua kualitas ini bersama-sama membentuk perempuan yang ideal.

Allah menyadari ideal ini secara sempurna terdapat dalam diri seorang pribadi: Ibunda-Nya, Maria.  Maria ini adalah seorang perawan dan seorang ibu dalam artian yang sesungguhnya, baik secara fisik maupun spiritual.  Allah memanggil setiap perempuan untuk secara spiritual menjadi perawan dan seorang ibu, tanpa peduli status kehidupannya: apakah menikah, tidak menikah, atau sebagai religius.

Baiklah kita melihat dua keutamaan indah perempuan ini, baik dalam diri Maria maupun Elisabet selagi mereka berjumpa di tempat kediaman Elisabet dan Zakharia di Ain Karem. Lihatlah bagaimana mereka membuka diri masing-masing bagi Allah. Bagaimana dengan penuh sukacita mereka telah menerima kesempatan-kesempatan dalam hidup mereka. Bagaimana mereka melihat dengan penuh penghargaan inspirasi-inspirasi ilahi dalam keheningan batin mereka dan bagaimana mereka telah memberikan yang terbaik bagi orang-orang lain.

Betapa indahlah seeorang perempuan yang mengkombinasikan dengan baik dan seimbang kedua kualitas berharga ini! Berbahagialah seorang perempuan yang menjaga baik-baik karunia hikmat dan kesehatan rohaninya, rasa percayanya, kemampuannya untuk memahami dan untuk menaruh simpati. Dengan demikian dia siap untuk menaruh hormat/respek kepada orang-orang lain, mendukung mereka, untuk berbela-rasa. Perempuan seperti itu memiliki kecerdikan untuk membawa segala sesuatu kepada tujuannya yang paling berguna, paling berbuah, paling indah dan paling berharga.

DOA: Bapa surgawi, Allah yang baik, sumber segala kebaikan, satu-satunya yang baik. Kata-kata berikut ini diucapkan oleh Elisabet kepada Maria. “Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.” Ya Tuhanku dan Allahku, jadikanlah diriku anak-Mu yang baik dengan meneladan iman-kepercayaan sejati yang telah ditunjukkan oleh Bunda Maria. Terpujilah nama-Mu yang kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:39-45), bacalah tulisan yang berjudul “SEMANGAT NATAL” (bacaan tanggal 21-12-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-12-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 18 Desember 2015

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DALAM DIRI MARIA, ALLAH MEMENUHI JANJI-NYA

DALAM DIRI MARIA, ALLAH MEMENUHI JANJI-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU ADVEN IV [TAHUN C] – 20 Desember 2015)

VISITASI - MARIA BERTEMU DENGAN ELISABET - CURHAT

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan bergegas menuju sebuah kota di pegunungan Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.” (Luk 1:39-45)

Bacaan Pertama: Mi 5:1-4; Mazmur Tanggapan: Mzm 80:2-3,15-16,18-19, Bacaan Kedua: Ibr 10:5-10

Peristiwa “Maria mengunjungi Elisabet” adalah sebuah cerita yang sangat indah. Dalam cerita ini ditunjukkan bagaimana iman akan janji-janji Allah membawa sukacita dan berkat bagi hidup kita. Lukas menggambarkan suatu “reaksi berantai” dari sukacita yang diakibatkan oleh kunjungan Maria kepada Elisabet. Yohanes Pembaptis yang dipenuhi oleh Roh Kudus, bahkan sebelum kelahirannya (Luk 1:15), mengenali kehadiran Yesus dalam sapaan/salam Maria kepada Elisabet, dan ia pun melonjak kegirangan dalam rahim ibunya. Elisabet yang juga dipenuhi oleh Roh Kudus, memaklumkan dengan suara nyaring: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu” (Luk 1:41,42). Melihat Elisabet yang membawa seorang anak dalam rahimnya, Maria pun dipenuhi dengan sukacita. Maria melihat rencana penyelamatan Allah bekerja di hadapan dirinya. Semua ini diungkapkan oleh Maria dalam “Kidung Pujian Magnificat”-nya yang terkenal itu (Luk 1:46-55).

Sebuah pemandangan yang sangat menakjubkan karena Yohanes Pembaptis, Elisabet dan Maria, semua mengungkapkan sukacita mereka yang besar sebagai akibat kepercayaan mereka pada Allah. Dalam diri Maria, Allah memenuhi janji-Nya (Mi 5:1-4). Maria percaya bahwa Allah akan setia pada janji-Nya, baik kepada umat-Nya maupun kepada dirinya sendiri, dengan demikian ia pun dipenuhi dengan sukacita melihat apa yang sedang dilakukan oleh Allah. Karena dia menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada Allah, maka pikiran Maria “diangkat” agar dapat melihat rencana Allah dalam suatu terang ilahi. Dia mengetahui dan memahami bahwa dalam kerja-Nya, Allah “menerobos” masuk ke tengah dunia dengan cara yang sama sekali baru.

VISITATION - 9Allah memang telah “menerobos” ke tengah dunia dan sudah bersama dengan kita dalam diri Yesus Kristus, yang meruntuhkan tembok pemisah dosa yang sudah sedemikian lama memisahkan kita dengan Allah, dan memberikan kembali warisan kita sebagai anak-anak-Nya. Sekarang kita dapat mengenal dan mengalami damai sejahtera, kasih, sukacita dan kehadiran Allah hari demi hari. Kita dapat menaruh kepercayaan bahwa Allah menaruh hidup kita dalam telapak tangan-Nya.

Pada hari-hari menjelang “Hari Raya Natal” ini, marilah kita memohon kepada Allah untuk menolong kita menyadari bahwa dalam Yesus semua yang telah dijanjikan oleh Allah telah tiba dan bahwa janji-janji-Nya itu adalah milik kita. Apabila kita memohon kepada Allah untuk menerangi pikiran kita selagi kita membaca janji-janji-Nya dalam Kitab Suci dan mendengar semua yang diwartakan dalam liturgi, kita akan memahami keagungan dari apa yang telah diperbuat oleh Yesus bagi kita. Seperti Yohanes Pembaptis, kita akan dipenuhi dengan rasa syukur yang begitu mendalam sehingga hati kita pun dapat melonjak kegirangan. Pada hari ini, marilah kita menggabungkan suara kita dengan seluruh Gereja dalam suasana penantian yang penuh pengharapan akan kedatangan sang Juruselamat: “Sungguh layak dan sepantasnya, ya Bapa yang kudus, Allah yang kekal dan kuasa, bahwa di mana pun juga kami senantiasa bersyukur kepada-Mu dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Dialah yang dinubuatkan dalam pewartaan para nabi, dan dengan penuh kasih sayang dikandung oleh Santa Perawan Maria. Dialah yang diwartakan oleh Yohanes Pembaptis ketika Ia akan datang, dan diperkenalkan kepada orang banyak tatkala Ia muncul di hadapan umum. Dialah pula yang sekarang menganugerahi kami kesempatan mempersiapkan diri untuk menyambut misteri agung kelahiran-Nya dengan senang hati, supaya kami nanti didapati-Nya tekun berdoa serta bersukaria memuji Dia” (Prefasi Adven III – Kristus Dinantikan Dahulu dan Sekarang, TATA PERAYAAN EKARISTI, hal. 48).

DOA: Aku bergembira dalam Engkau, ya Yesus Tuhan dan Juruselamatku! Transformasikanlah dan buatlah hatiku menjadi seperti hati Maria, yang rendah hati dan penuh syukur. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:39-45), bacalah tulisan yang berjudul “MARIA DAN ELISABET BERTEMU DI AIN KARIM” (bacaan tanggal 20-12-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-12 BACAAN HARIAN 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 23-12-12 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 17 Desember 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MEMBUAT BANYAK ORANG ISRAEL BERBALIK KEPADA ALLAH

MEMBUAT BANYAK ORANG ISRAEL BERBALIK KEPADA ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Sabtu, 19 Desember 2015)

115zachary6Pada zaman Herodes, raja Yudea, ada seorang imam yang bernama Zakharia dari rombongan Abia. Istrinya juga berasal dari keturunan Harun, namanya Elisabet. Keduanya hidup benar di hadapan Allah dan menuruti segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat. Tetapi mereka tidak mempunyai anak, sebab Elisabet mandul dan keduanya telah lanjut umurnya.

Pada suatu kali, waktu tiba giliran kelompoknya, Zakharia melakukan tugas keimaman di hadapan Tuhan. Sebab ketika diundi, sebagaimana lazimnya, untuk menentukan imam yang bertugas, dialah yang ditunjuk untuk masuk  ke dalam Bait Suci dan membakar dupa di situ. Pada waktu pembakaran dupa, seluruh umat berkumpul di luar dan sembahyang. Lalu tampaklah kepada Zakharia seorang malaikat Tuhan berdiri di sebelah kanan mezbah pembakaran dupa. Melihat hal itu ia terkejut dan menjadi takut. Tetapi malaikat itu berkata kepadanya, “Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan. Elisabet, istrimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes. Engkau akan bersukacita dan bergembira, bahkan banyak orang akan bersukacita atas kelahirannya itu. Sebab ia akan besar di hadapan Tuhan dan dia tidak akan minum anggur atau minuman keras dan ia akan penuh dengan Roh Kudus sejak dari rahim ibunya dan ia akan membuat banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan, Allah mereka. Ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati para bapak berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar. Dengan demikian ia menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya.” Lalu kata Zakharia kepada malaikat itu, “Bagaimanakah aku tahu bahwa hal ini akan terjadi? Sebab aku sudah tua dan istriku sudah lanjut umurnya.” Jawab malaikat itu kepadanya, “Akulah Gabriel yang melayani Allah dan aku telah diutus untuk berbicara kepadamu untuk menyampaikan kabar baik ini kepadamu. Sesungguhnya engkau akan menjadi bisu dan tidak dapat berkata-kata sampai hari ketika semuanya ini terjadi, karena engkau tidak percaya kepada perkataanku yang akan dipenuhi pada waktunya.” Sementara itu orang banyak menanti-nantikan Zakharia. Mereka menjadi heran bahwa ia begitu lama berada dalam Bait Suci. Ketika ia keluar, ia tidak dapat berkata-kata kepada mereka dan mengertilah mereka bahwa ia telah melihat suatu penglihatan di dalam Bait Suci. Lalu ia memberi isyarat kepada mereka, dan ia tetap bisu. Ketika selesai masa pelayanannya, ia pulang ke rumah.

Beberapa lama kemudian Elisabet, istrinya, mengandung dan selama lima bulan ia tidak menampakkan diri, katanya, “Inilah suatu perbuatan Tuhan bagiku, dan sekarang Ia berkenan menghapuskan aibku di depan orang.” (Luk 1:5-25)

Bacaan pertama: Hak 13:2-7.24-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 71:5-6,16-17

“Ia akan membuat banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan, Allah mereka” (Luk 1:16).

Dari sejak kelahirannya, Yohanes Pembaptis sudah dipisahkan untuk menjadi seorang nabi dan bentara sang Mesias. Selagi dia bertumbuh dalam relasinya dengan Tuhan, Yohanes Pembaptis menjadi simbol hidup dari pengharapan bagi semua orang yang berjumpa dengan dirinya. Walaupun dia berbicara secara agresif tentang keadilan dan kekudusan Allah, panggilan Yohanes Pembaptis kepada orang-orang untuk bertobat secara spesifik memusatkan perhatian pada belas kasih Allah. Melalui pertobatan, Yohanes Pembaptis mengajak/mengundang mereka untuk melepaskan beban berat dosa-dosa mereka dan kembali dengan penuh sukacita kepada Tuhan Allah.

Selama pelayanan Yohanes Pembaptis, banyak orang masih belum sadar dan tidak memahami bahwa janji-janji Allah akan segera dipenuhi dan jalan satu-satunya bagi mereka untuk dapat menerima belas kasih Allah adalah melalui pertobatan. Itulah sebabnya mengapa Yohanes mempersiapkan jalan dengan memanggil Israel agar mengakui dosanya dan menerima pengampunan. Allah senantiasa siap untuk membebaskan umat-Nya dari beratnya beban-beban mereka. O betapa Dia rindu melihat kita melepaskan apa saja yang menghalangi kita untuk mendekat kepada-Nya dan menerima berkat-berkat-Nya.

Apakah aneh apabila kita melihat orang-orang menjadi penuh sukacita disebabkan oleh khotbah Yohanes Pembaptis tentang pertobatan? Seringkali tanggapan kita ketika melihat dosa dalam dunia atau dalam kehidupan kita sendiri adalah ketiadaan pengharapan. Namun, apabila diinspirasikan oleh Roh Kudus, maka panggilan untuk melakukan pertobatan menjadi suatu undangan untuk memulihkan relasi kita dengan Bapa surgawi. Kelekatan kita pada dosa-dosa dan kelemahan-kelemahan kita dapat memblokir penerimaan kita akan karunia yang paling berharga, yaitu pengampunan mutlak dari Bapa surgawi yang penuh belas kasih, yang sangat mengasihi kita. Dengan karunia indah ini, kesedihan kita dapat digantikan dengan pengharapan.

Pengakuan dosa lewat sakramen rekonsiliasi adalah suatu cara yang mempunyai kuat-kuasa guna mempersiapkan kedatangan Tuhan dalam masa Adven ini. Ketika kita mengambil keputusan untuk kembali kepada Allah, maka diri kita dibersihkan secara lengkap. Tidak ada sedikit pun noda yang tersisa. Belas kasih Allah hampir tidak berarti apa-apa bagi kita, jika kita tidak mengalaminya secara pribadi. Sekarang, apa lagi yang kita nantikan? Marilah kita mendatangi kamar pengakuan dan berjalan keluar dalam persekutuan dengan Allah. Kita dapat mengandalkan rahmat-Nya selagi kita mencari pengampunan-Nya. Allah dapat menyatakan kasih-Nya yang besar secara paling baik dalam hati yang bertobat.

DOA: Bapa surgawi, Engkau adalah Allah yang berbelas kasih. Aku telah meninggalkan kebaikan-Mu dan sekarang ingin kembali kepada-Mu dengan mengakui segala dosa-dosaku. Aku sungguh rindu agar dapat direkonsiliasikan secara penuh dengan Engkau, dan aku sadar bahwa inilah yang Kaukehendaki dari diriku. Ya Bapa, ampunilah aku orang berdosa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:5-25), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS JUGA INGIN MEMBUAT KITA MENJADI BERBUAH” (bacaan tanggal 19-12-15) dalam situs/blog  SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 15-12  BACAAN HARIAN DESEMBER 2015. 

Cilandak, 17 Desember 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JANGANLAH ENGKAU TAKUT MENGAMBIL MARIA SEBAGAI ISTRIMU

JANGANLAH ENGKAU TAKUT MENGAMBIL MARIA SEBAGAI ISTRIMU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Jumat, 18 Desember 2015) 

YUSUF BERMIMPI BERTEMU DENGAN MALAIKAT TUHANKelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus sebelum mereka hidup sebagai suami istri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama istrinya di depan umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan tampak kepadanya dalam mimpi dan berkata, “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka.” Hal itu terjadi supaya digenapi yang difirmankan Tuhan melalui nabi, “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel.” (Yang berarti: Allah menyertai kita.) Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai istrinya. (Mat 1:18-24) 

Bacaan Pertama: Yer 23:5-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 72:2,12-13,18-19 

Orang kudus mana dari para anggota persekutuan para kudus di surga yang memiliki memori-memori yang dapat dibandingkan dengan cerita-cerita keluarga yang penuh kemuliaan, keintiman, seperti yang dapat diceritakan oleh Santo Yusuf tentang Yesus? Yesus yang masih anak-anak, Yesus remaja, Yesus sebagai orang dewasa muda, Yesus sebagai tukang kayu muda, pekerja keras dan seorang Anak yang taat kepada Bapa-Nya di surga dan ayah dan ibu-Nya di dunia. Santo Yusuf dapat saja berjalan sebagai orang kudus yang paling “top”, dan memandang mereka satu persatu dan berkata: “Anda menjadi ternama karena anda memberikan hidupmu untuk karya Yesus, sang Juruselamat dunia. Namun, ingatkah anda siapa yang melatih Anak itu sehingga tumbuh dewasa? Ingatkah anda, Yesus menjadi asisten siapa ketika menjadi tukang kayu? Ingatkah anda siapa yang menjadi guru Yesus? Siapa yang menjawab semua pertanyaan-pertanyaan sulit Anak yang mahacerdas itu?

Ya, Santo Yusuf dapat mendengarkan segala diskusi besar di bidang teologi antara para uskup dan para pengajar sejarah yang saleh-saleh, dan mengatakan kepada mereka, “Tetapi, akulah guru agama Yesus, Tuhan dan Allahmu. Maria dan aku adalah rumah-Nya dan keluarga-Nya, sekolah-Nya dan instruktur-instruktur-Nya. Apa pendapatmu tentang pekerjaan yang kami lakukan terhadap Anak kami satu-satunya ini? Jadi, manakala kita membicarakan memori-memori dari yang menarik dari  kehidupan di dunia yang membahagiakan, kudus dan bermakna, maka tidak ada seorang pun yang  mempunyai memori-memori seperti Santo Yusuf.

Ah, sebenarnya Santo Yusuf samasekali bukanlah seorang pribadi yang akan “menyombongkan” diri seperti saya tulis di atas. Jauh di belakang layar, Santo Yusuf bekerja menopang keluarganya dan melindungi mereka dari mara-bahaya, terutama pada masa kecil Yesus. Misteri inkarnasi dan Imanuel tidak pernah akan ia pahami sepenuhnya sampai akhir hayatnya, namun hal itu tidak menahan atau menghalanginya untuk melakukan tugasnya sebagai kepala keluarga yang baik. Santo Yusuf adalah seorang man of action yang rendah hati dan sederhana. Dia adalah seorang pemimpin dalam artian sebenarnya!

Sambil memandang lukisan-lukisan indah para kudus dengan pakaian atau jubah mereka yang indah cemerlang, Santo Yusuf dapat berkata: “Kalau anda mau melukis diriku, lukislah aku yang mengenakan jubah berwarna coklat yang kotor penuh debu, atau baju kerja yang kelihatan jorok, sambil memegang gergaji dan palu, berdiri di atas lantai yang penuh debu dan serpihan kayu….” Namun Santo Yusuf mempunyai satu permintaan untuk lukisan tersebut: “Hanya satu permintaanku terkait lukisanku. Dapatkah anda menempatkan istriku dan Anakku yang masih kecil dalam lukisan itu juga? Aku tidak dapat menceritakan tentang hidupku tanpa mereka yang sangat kukasihi: keluargaku – Maria dan Yesus!”

Dalam bacaan hari ini kita belajar bahwa Santo Yusuf sungguh adalah seorang yang benar, yang takut akan Allah. Ia berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai istrinya (Mat 1:24). Santo Yusuf adalah seorang yang dipenuhi semangat dan cintakasih kepada Allah, dengan suatu hasrat mendalam untuk melakukan kehendak-Nya.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah memberikan kepadaku Santo Yusuf sebagai “model iman”. Oleh kuasa Roh Kudus-Mu, ajarlah aku bagaimana bagaimana mendekati man of action yang sederhana ini sebagai satu contoh ketaatan. Berilah kepadaku sebuah hati seperti hati Santo Yusuf – sebuah hati yang sepenuhnya percaya kepada-Mu dan siap melakukan kehendak Bapa di surga. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yer 23:5-8), bacalah tulisan yang berjudul “DEMI TUHAN YANG HIDUP” (bacaan tanggal 18-12-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2015. 

Cilandak, 16 Desember 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SILSILAH YESUS KRISTUS (4)

SILSILAH YESUS KRISTUS (4)

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Kamis, 17 Desember 2015)

 Genealogy_of_Jesus_mosaic_at_Chora_(1)

Inilah daftar nenek moyang Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham. Abraham mempunyai anak, Ishak; Ishak mempunyai anak, Yakub; Yakub mempunyai anak, Yehuda dan saudara-saudaranya, Yehuda mempunyai anak, Peres dan Zerah dari Tamar, Peres mempunyai anak, Hezron; Hezron mempunyai anak, Ram; Ram mempunyai anak, Aminadab; Aminadab mempunyai anak, Nahason; Nahason mempunyai anak, Salmon; Salmon mempunyai anak, Boas dari Rahab, Boas mempunyai anak, Obed dari Rut, Obed mempunyai anak, Isai; Isai mempunyai anak, Raja Daud. Daud mempunyai anak, Salomo dari istri Uria, Salomo mempunyai anak Rehabeam; Rehabeam mempunyai anak, Abia; Abia mempunyai anak, Asa; Asa mempunyai anak, Yosafat; Yosafat mempunyai anak, Yoram; Yoram mempunyai anak, Uzia; Uzia mempunyai anak, Yotam; Yotam mempunyai anak, Ahas; Ahas mempunyai anak, Hizkia; Hiskia mempunyai anak, Manasye; Manasye mempunyai anak, Amon; Amon mempunyai anak, Yosia; Yosia mempunyai anak, Yekhonya dan saudara-saudaranya pada waktu pembuangan ke Babel. Sesudah pembuangan ke Babel, Yekhonya mempunyai anak, Sealtiel; Sealtiel mempunyai anak Zerubabel; Zerubabel mempunyai anak, Abihud; Abihud mempunyai anak, Elyakim; Elyakim mempunyai anak, Azor; Azor mempunyai anak, Zadok; Zadok mempunyai anak, Akhim; Akhim mempunyai anak, Eliud; Eliud mempunyai anak, Eleazar; Eleazar mempunyai anak, Matan; Matan mempunyai anak, Yakub; Yakub mempunyai anak, Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus.

Jadi, seluruhnya ada empat belas keturunan dari Abraham sampai Daud, empat belas keturunan dari Daud sampai pembuangan ke Babel, dan empat belas keturunan dari pembuangan ke Babel sampai Kristus. (Mat 1:1-17) 

Bacaan Pertama: Kej 49:2,8-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 72:3-4,7-8,17 

Mulai tanggal 17 Desember pada masa Adven bacaan-bacaan liturgis dipusatkan pada kedatangan Putera Allah sebagai anak manusia di tengah dunia, …… Natal. Hari ini kita merenungkan silsilah Yesus Kristus.

Pada awal Injil-nya, Matius berupaya untuk menunjukkan bagaimana Allah telah membimbing seluruh sejarah manusia kepada kedatangan Yesus. Dengan menyajikan  silsilah Yesus seperti kita lihat di atas – ada tiga kelompok  besar yang masing-masing terdiri dari 14 generasi – Matius sebenarnya memberi penekanan atas karya Allah yang rumit dari zaman ke zaman guna mempersiapkan kedatangan Putera-Nya. Hanya setelah semua persiapan telah sepenuhnya dijalankan – 14 generasi setelah pembuangan Babel dan 42 generasi setelah Abraham – maka Yesus hadir di atas bumi. Ini bukanlah hal yang kebetulan karena semua itu sesuai dengan rencana Allah dan hikmat-Nya yang tanpa batas.

Sepanjang sejarah manusia, Allah meletakkan pekerjaan dasar bagi inkarnasi. Dari abad ke abad, Ia memberikan kepada umat-Nya perjanjian dan hukum. Ia berbicara melalui para nabi. Ia membentuk mereka menjadi sebuah bangsa yang kudus. Ia melindungi dan menopang umat-Nya, termasuk mereka yang dipanggil untuk menjadi para pendahulu sang Mesias. Dan, melalui itu semua, Dia tidak pernah melupakan janji-Nya untuk menyelamatkan semua orang dari dosa-dosa mereka.

Betapa mengagumkan juga adalah tokoh-tokoh yang dipilih Allah untuk menjadi pribadi-pribadi yang berada dalam garis keluarga Yesus. Ada beberapa orang dari mereka yang pantas diberikan tempat-tempat kehormatan dalam warisan Israel: Abraham, Rut, dan Daud. Banyak di antara mereka adalah orang-orang biasa saja. Ada pula beberapa nama yang memiliki latar belakang dan karakter yang dapat dipertanyakan, misalnya Rahab, Manasye dan Ahas. Ini adalah sebuah daftar nama yang sangat bervariasi, hal mana menunjukkan hikmat Allah yang luarbiasa, bahwa mereka yang dipilih Allah untuk dimasukkan ke dalam daftar nenek-moyang Yesus tidak boleh berbeda dengan mereka yang dipilih Allah untuk menjadi anak-anak angkat-Nya. Untuk berada dalam garis darah Yesus, baik secara fisik maupun secara spiritual, adalah suatu privilese, suatu warisan yang sepenuhnya diberikan dengan bebas oleh Allah kepada kita, jadi bukan karena usaha kita sendiri.

Hikmat Allah sungguh dapat membuat kita terkejut dan merasa terheran-heran disertai rasa kagum. Dengan bebas Ia memanggil orang-orang lemah, orang-orang berdosa, dan orang-orang tidak berpendidikan untuk menjadi instrumen-instrumen-Nya.  Tentu saja banyak dari mereka yang namanya ada dalam daftar itu akan kaget juga jika mengetahui bahwa Putera Allah akan dilahirkan dari salah seorang turunan mereka. Namun begitu, marilah sekarang kita berhati-hati untuk tidak berpikir bahwa kita memahami bagaimana Allah akan bergerak di tengah-tengah umat-Nya. Rencana-rencana Allah dan tindakan-tindakan-Nya selalu mengandung suatu element of surprise. Baiklah kita tetap rendah hati dan terbuka bagi segala cara yang dipilih oleh Allah untuk bekerja dalam diri kita, dan di sekitar kita.

DOA: Datanglah, ya Hikmat dari Allah Allah Yang Mahatinggi, yang memimpin segala ciptaan dengan kuat-kuasa dan kasih. Ajarlah kami untuk melangkah di atas jalan pengetahuan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 1:1-17), bacalah tulisan yang berjudul “SILSILAH YESUS KRISTUS (5)” (bacaan tanggal 17-12-15) dalam situs/blog SANG SABDA http:/sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-12  BACAAN HARIAN DESEMBER 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 17-12-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 16 Desember 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 91 other followers