HANYA ADA SATU PRIBADI

HANYA ADA SATU PRIBADI

(Bacaan Pertama, Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Adven – Selasa, 1 Desember 2015)

childlead1Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai, dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah. Roh TUHAN (YHWH) akan ada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan YHWH; ya, kesenangannya ialah takut akan YHWH. Ia tidak akan menghakimi dengan sekilas pandang saja atau menjatuhkan keputusan menurut kata orang. Tetapi ia akan menghakimi orang-orang lemah dengan keadilan, dan akan menjatuhkan keputusan terhadap orang-orang yang tertindas di  negeri dengan kejujuran; ia akan menghajar bumi dengan perkataannya seperti dengan tongkat, dan dengan nafas mulutnya ia akan membunuh orang fasik. Ia tidak akan menyimpang dari kebenaran dan kesetiaan, seperti ikat pinggang tetap terikat pada pinggang.

Serigala akan tinggal bersama domba dan macan tutul akan berbaring di samping kambing. Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama, dan seorang anak kecil akan menggiringnya. Lembu dan beruang akan sama-sama makan rumput dan anaknya akan sama-sama berbaring, sedang singa akan makan jerami seperti lembu. Anak yang menyusu akan bermain-main dekat liang ular tedung dan anak yang cerai susu akan mengulurkan tangannya ke sarang ular berludak. Tidak ada yang akan berbuat jahat atau yang berlaku busuk di seluruh gunung-Ku yang kudus, sebab seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan YHWH, seperti air laut yang menutupi dasarnya. Maka pada waktu itu taruk dari pangkal Isai akan berdiri sebagai panji-panji bagi bangsa-bangsa; dia akan dicari oleh suku-suku bangsa dan tempat kediamannya akan menjadi mulia (Yes 11:1-10) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 72:2,7-8,12-13,17; Bacaan Injil: Luk 10:21-24 

Kapankah kiranya kita (anda dan saya) terakhir kali menilai/menghakimi seseorang seturut penampilannya? Tentu kita semua telah melakukan hal ini dalam perjalanan hidup kita. Walaupun begitu, Yesaya telah menubuatkan bahwa seseorang akan datang dan dia akan mengevaluasi orang-orang seturut apa yang adil, tidak pernah sekadar menurut penampilan. Mazmur 72 berbicara mengenai pribadi yang sama. Dia akan mengejar keadilan. Pada zamannya, kebenaran akan tumbuh dengan subur. Ia akan memiliki keprihatinan yang sama atas orang miskin maupun kaya.

Jesus_109Hanya ada satu pribadi sepanjang sejarah manusia yang secara sempurna memenuhi gambaran ini: Yesus Kristus. Yesus mengasihi setiap orang sebagaimana apa adanya orang itu, bukan karena penampilannya yang baik atau wajah yang cantik dll. Yesus melihat ke dalam hati mereka, bukan busana yang mereka kenakan, dan Ia berelasi dengan mereka atas dasar kasih Allah. Kita pun harus melakukan seperti yang dicontohkan oleh Yesus.

Bagaimana kita menghindari penilaian-penilaian yang keliru atau favoritisme? Bagaimana kita dapat menghargai setiap orang seperti yang dilakukan Allah dan melayani orang-orang dengan kasih Allah? Memang benar bahwa kita harus mencari Allah melalui doa sehingga dengan demikian Ia akan menyatakan pikiran-Nya kepada kita. Namun kita juga harus bertindak atas dasar apa yang telah kita ketahui sebagai benar. Hanya apabila kita mengambil tindakan maka hati kita dapat ditransformasikan.

Proses perubahan dapat menjadi sulit. Namun apabila kita memusatkan perhatian kita pada kasih Allah berlimpah yang telah ditunjukkan-Nya kepada kita, maka kita pun disiapkan untuk membuka hati kita bagi orang-orang lain. Walaupun pikiran kita dengan cepat berbalik ingin menilai/menghakimi orang-orang lain dengan mempertimbangkan tingkat penghasilannya, latar belakang pendidikannya atau kelompok etnisnya, Roh Kudus akan menolong kita untuk secara bertahap mampu mengatasi kesempitan pandangan kita dan mengajar kita untuk berurusan secara fair dengan orang-orang lain.

Barangkali di tempat anda bekerja, Ali adalah seorang OB sementara seorang lain yang bernama Rudy adalah seorang eksekutif dengan gaji besar. Dalam situasi sedemikian, mudahlah untuk menganggap sepi Ali si OB dan memandang Rudy si eksekutif seperti “dewa matahari”. Akan tetapi, Yesus ingin agar kita semua memperlakukan setiap orang dengan respek dan penuh pertimbangan. Barangkali anak-anak kita sedang bertengkar karena sesuatu hal, dan begitu mudah bagi kita untuk berasumsi bahwa “anak yang satu” atau “si biang kerok” inilah yang selalu bertanggung-jawab atas timbulnya masalah. Namun Yesus menginginkan agar kita mendengarkan dengan hati-hati keterangan yang disampaikan oleh masing-masing anak kita, bukannya langsung mengambil kesimpulan terkait perilaku mereka.

Macam apa pun situasi yang kita hadapi, Yesus mengundang kita untuk menjadi seperti diri-Nya, dibimbing oleh keadilan Allah dan belas kasih-Nya serta respek terhadap setiap pribadi manusia.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku untuk menjadi serupa dengan Engkau yang tidak menilai siapa pun berdasarkan prasangka, melainkan menunjukkan kasih Allah dan belas kasih-Nya kepada semua orang. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 10:21-24), bacalah tulisan berjudul  “YESUS AKAN MENYATAKAN DIRI-NYA KEPADA KITA, APABILA …” (bacaan tanggal 1-12-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 2-12-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 27 November 2015 [Pesta S. Fransiskus-Antonius Pasani, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ANDREAS: SEORANG RASUL KRISTUS YANG SEJATI

ANDREAS: SEORANG RASUL KRISTUS YANG SEJATI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S. Andreas, Rasul – Senin, 30 November 2015) 

st-andreas-rasul-100Ketika Yesus sedang berjalan menyusur Danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka, “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya dua orang bersaudara yang lain lagi, yaitu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus memanggil mereka dan mereka segera meninggalkan perahu ayahnya, lalu mengikuti Dia. (Mat 4:18-22) 

Bacaan Pertama: Rm 10:9-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:2-5 

Barangkali Santo Andreas lebih dikenal sebagai saudara laki-laki dari Simon Petrus, dan ia adalah salah satu murid yang pertama-tama dipanggil oleh Yesus (Mat 4:18-20). Seperti saudaranya – Simon Petrus – dan sahabat-sahabatnya Yakobus dan Yohanes (anak-anak Pak Zebedeus), Andreas, tanpa banyak tanya-tanya, menanggapi secara positif panggilan Yesus. Ia meninggalkan segalanya di belakang, untuk merangkul cara hidup yang ditawarkan Yesus. Injil Yohanes menceritakan kepada kita bahwa setelah berada bersama Yesus tidak sampai satu hari penuh, Andreas merasa tergerak untuk menyampaikan kabar baik kepada Petrus, “Kami telah menemukan Mesias [artinya Kristus]”  (Yoh 1:41). Di sini Andreas sudah berkarya sebagai seorang rasul Kristus. Ia tidak membuang-buang waktu untuk memberitakan Kabar Baik dan membawa orang-orang lain kepada Yesus.

Kata rasul (Inggris: apostle; Yunani: apostolos yang berasal dari kata apostellô: mengutus, menguasakan) berarti suruhan, wakil resmi yang diserahi misi tertentu, bukan hanya seorang penyebar suatu ajaran ataupun pengurus suatu perkara saja (Xavier Léon – Dufour, ENSIKLOPEDIA PERJANJIAN BARU). Seorang rasul ditunjuk dan dipisahkan sendiri oleh Yesus Kristus dan diutus ke tengah dunia untuk memproklamasikan Kabar Baik tentang Kerajaan Allah, membawa orang-orang untuk berjumpa dengan Yesus dan sejumlah orang mengikuti jejak para rasul awal dalam Gereja Perdana, seperti Paulus (Rm 1:1). Dalam artian tertentu, karena kita semua telah dibaptis ke dalam Kristus, maka kita pun ikut ambil bagian dalam panggilan kerasulan dan diberi amanat untuk membawa Injil Yesus Kristus ke tengah dunia (Mat 28:19-20).

andreas-11Karena kita disatukan ke dalam Kristus, maka kita masing-masing dipanggil untuk memainkan suatu peran vital dalam melakukan pelayanan Kristus sebagai imam, nabi dan raja. Baik di dalam kegiatan-kegiatan kita setiap hari dan keikutsertaan kita dalam Perayaan Ekaristi, kita dipanggil untuk mempersembahkan kurban spiritual berupa puji-pujian dan adorasi kepada Bapa surgawi. Di rumah-rumah kita, di ruang-ruang kelas sekolah, di tempat kerja, di RT/RW, komunitas basis kita seperti lingkungan dlsb., kita sebenarnya memiliki privilese untuk memberitakan Injil Yesus Kristus kepada orang-orang lain, lewat kata-kata yang kita ucapkan dan melalui kesaksian hidup kita selagi kita hidup dalam kasih-Nya. Sebagai pewaris berama Kristus Raja, kita dipanggil untuk membawa terang-Nya ke dalam kehidupan kita sehari-hari, turut serta bersama-Nya mentransformasikan dunia di sekeliling kita agar semakin mencerminkan Kerajaan Allah.

Pada hari ini, baiklah kita berdoa memohon agar dianugerahkan rahmat untuk menghayati suatu kehidupan sebagai rasul yang sederhana namun memiliki semangat yang berkobar-kobar seperti Santo Andreas.

DOA: Bapa surgawi, Santo Paulus bertanya bagaimana orang-orang dapat mendengar Injil apabila tidak ada orang yang mewartakannya (Rm 10:14). Oleh Roh Kudus-Mu, pisahkanlah diri kami dan ajarlah kami bagaimana menjadi saksi-saksi hidup keselamatan-Mu. Tolonglah kami agar dapat menjadi duta-duta besar Kristus yang sejati. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 4:18-22), bacalah tulisan yang berjudul “ANDREAS: SEORANG PENJALA MANUSIA” (bacaan tanggal 30-11-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 30-11-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 26 November 2015 [Peringatan S. Leonardus dr Porto Mauritio, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KEDATANGAN SANG ANAK MANUSIA

KEDATANGAN SANG ANAK MANUSIA

(Bacaan Injil Misa Kudus – HARI MINGGU ADVEN I [TAHUN C] – 29 November 2015

2ndcoming2

“Akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang, dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut. Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini, sebab kuasa-kuasa langit akan guncang. Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah kepalamu, sebab pembebasanmu sudah dekat.”

“Jagalah  dirimu, supaya hatimu jangan dibebani oleh pesta pora dan kemabukan serta kekhawatiran hidup sehari-hari dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat. Sebab hari itu akan menimpa semua penduduk bumi ini. Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.” (Luk 21:25-28.34-36)

Bacaan Pertama: Yer 33:14-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 25:4-5,8-10,14; Bacaan Kedua: 1Tes 3:12-4:2 

“Kiranya Tuhan menjadikan kamu bertambah-tambah dan berkelimpahan dalam kasih seorang terhadap yang lain dan terhadap semua orang sama seperti kami juga mengasihi kamu.” (1Tes 3:12).

Santo Lukas memberikan sebuah gambaran yang hidup tentang kedatangan sang Anak Manusia dalam kemuliaan-Nya. Walaupun ia menyinggung juga teror yang akan berkemacuk di hati orang-orang pada saat itu, Lukas lebih memfokuskan perhatiannya pada kemuliaan kedatangan sang Anak Manusia (Luk 21:25-27). Sekarang pertanyaannya adalah: dalam konteks apa kiranya kita harus memahami refleksi Lukas atas kedatangan Yesus untuk kedua kalinya selagi kita memulai masa Adven ini?

Walaupun masa Adven menyiapkan kita untuk merayakan kedatangan Kristus yang pertama, perhatian kita juga diarahkan kepada kedatangan-Nya untuk kedua kalinya. Hal ini memang layak karena kita perlu untuk senantiasa sadar akan “nasib” yang menantikan kita pada saat kedatangan Kristus untuk kedua kalinya, apabila kita merayakan dengan layak dan pantas kedatangan-Nya yang pertama kali.

Apakah kita menerimanya atau tidak, kedatangan Kristus dalam kemuliaan mengkonfrontasikan hidup kita. Dengan mempertimbangkan kedatangan-Nya kembali kelak, maka kita dapat menghindari membuat masa Adven dan Natal menjadi peringatan yang dipenuhi sentimentalitas belaka. Semoga, kita dapat memperkenankan sabda Allah dalam Kitab Suci memberi tantangan kepada kita dan mereformasi kehidupan kita. Selama masa Adven ini kita akan berjumpa dengan banyak orang yang kata-kata serta hidup mereka seharusnya membuat kita melakukan refleksi atas diri kita sendiri dan tentunya cara kita menjalani kehidupan ini.

Pada hari Minggu Adven Pertama ini, misalnya, kita dibantu oleh sabda Tuhan yang kita dengar untuk menempatkan bacaan dari Bacaan Injil Lukas dalam perspektif yang layak. Nabi Yeremia bernubuat bahwa pada masa Mesias, “Yehuda akan dibebaskan, dan Yerusalem akan hidup dengan tenteram. Dan dengan nama inilah mereka akan dipanggil: TUHAN keadilan kita” (Yer 33:16). Kita akan siap berjumpa dengan Tuhan pada hari kedatangan-Nya kelak selagi kita berdoa bersama sang pemazmur, yang menyatakan bahwa TUHAN adalah penyelamat kita dan segala jalan-Nya adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya” (Mzm 25:25:4-5,8-9). Lagipula, kita pun dapat berdoa bersama Santo Paulus bahwa kiranya Tuhan menjadikan kita semua bertambah-tambah dan berkelimpahan dalam kasih seorang terhadap yang lain dan terhadap semua orang, …… dan menguatkan hati kita, supaya tak bercacat dan kudus di hadapan Allah Bapa pada saat kedatangan Yesus kelak (1Tes 3:12-13).

Dengan cara-cara ini, hati kita dapat diubah dan kita akan dimampukan untuk hidup dalam kasih dan berkeadilan satu sama lain sebagaimana sangat dihasrati oleh Allah sendiri. Hanya dengan begitulah kita akan siap menyambut Yesus pada kedatangan-Nya untuk kedua kalinya. Kita pun akan mampu merayakan kedatangan-Nya untuk pertama kali sekitar 2000 tahun lalu dengan cara yang terbuka bagi kehidupan baru yang akan diberikan-Nya dengan kedatangan-Nya ke tengah dunia.

DOA: Bapa surgawi, karuniakanlah kepada kami anak-anak-Mu kehendak yang ikhlas dalam menyambut kedatangan Kristus untuk kedua kalinya kelak. Semoga kami dapat bersama Kristus mewarisi Kerajaan Surga. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:25-28,34-36), bacalah tulisan yang berjudul “MARI KITA SAMBUT KEDATANGAN ANAK MANUSIA” (bacaan tanggal 29-11-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-11 BACAAN HARIAN DESEMBER 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 2-12-12 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 26 November 2015 [Peringatan S. Leonardus dr Porto Mauritio] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERJAGA-JAGALAH SENANTIASA SAMBIL BERDOA

BERJAGA-JAGALAH SENANTIASA SAMBIL BERDOA

(Bacaan Injil Misa, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV, Sabtu, 28-11-15)

Keluarga Fransiskan OFM dan OFMConv.: Peringatan S. Yakobus dr Marka, Imam 

YESUS SANG RABBI DARI NAZARET“Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan dibebani oleh pesta pora dan kemabukan serta kekhawatiran hidup sehari-hari dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat. Sebab hari itu akan menimpa semua penduduk bumi ini. Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.” (Luk 21:34-36) 

Bacaan Pertama: Dan 7:15-27; Mazmur Tanggapan: Dan 3:82-87 

Hari ini adalah hari terakhir dari tahun liturgi (Tahun B/1). Apa lagi yang lebih cocok bagi kita daripada membaca dan merenungkan nasihat Yesus untuk berjaga-jaga senantiasa sambil berdoa, supaya kita beroleh kekuatan agar luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kita tahan berdiri di hadapan Anak Manusia (lihat Luk 21:36).

Kita sekarang sudah berada pada tahun kelima dekade kedua dari milenium ketiga. Bagaimana kita dapat lebih menyerupai “bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat Allah sendiri” (1Ptr 2:9) yang dikatakan Kitab Suci kepada kita tentang jati diri kita yang sesungguhnya dan seharusnya? Masih jauhkah posisi kita dari apa yang digambarkan dalam surat Santo Petrus itu?

Barangkali yang muncul pertama dalam pikiran kita adalah untuk melakukan latihan rohani yang akan menjamin pertumbuhan spiritual kita. Sesungguhnya, Allah dapat memimpin kita untuk mengambil beberapa langkah praktis. Akan tetapi, janganlah sampai kita melupakan tujuan dari latihan rohani sedemikian, yaitu agar melalui latihan-latihan tersebut kita akan memperkenankan kasih Allah untuk meresapi kegelapan hati kita dan kegelapan dunia ini. Di atas segalanya, Dia ingin mengutus Roh Kudus-Nya untuk mengajar kita dan membentuk kita agar semakin seturut gambar dan rupa Kristus.

ROH KUDUS MELAYANG-LAYANG - 2Setiap hari, Roh Kudus ingin membimbing kita satu langkah lebih dekat lagi kepada kekudusan. Setiap hari, sesuatu hal lain akan terjadi – apakah dalam hati kita, atau dalam keadaan-keadaan hari itu – itu adalah sebuah undangan lain lagi dari Roh Kudus agar kita menerima rahmat Allah. Selagi kita memperkenankan Yesus membebas-merdekakan kita dari dorongan-dorongan yang berasal dari kecenderungan kita untuk berdosa, sementara kita menyambut Roh Kudus masuk ke dalam kehidupan kita melalui doa-doa dan ketaatan, maka sedikit demi sedikit kita pun akan ditransformasikan. Pada akhirnya kita dapat mempersiapkan diri kita untuk hari di mana kita akhirnya akan “berdiri di hadapan Anak Manusia” (Luk 21:36).

Marilah sekarang kita bergegas menghadap Yesus dan menaruh hidup kita di hadapan-Nya. Hanya melalui bimbingan Roh Kudus kita dapat sungguh membuat diri kita siap bagi pencurahan rahmat ilahi. Oleh karena itu, marilah kita memohon kepada Roh Kudus untuk membimbing kita. Semoga kita semua akan berdiri di hadapan Putera Allah dan mempermaklumkan dengan penuh iman bahwa “Yesus adalah Tuhan!”

DOA: Tuhan Yesus, kerajaan-Mu dipenuhi dengan segala kekayaan surgawi – jauh lebih daripada yang dapat kubayangkan. Buatlah hatiku terbakar berkobar-kobar dengan realitas kasih dan kuasa-Mu! Biarlah kasih-Mu mengalir masuk ke dalam diriku. Siapkanlah aku untuk semua hal yang Engkau inginkan untuk kulakukan dalam hidupku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:34-36), bacalah tulisan berjudul “BERJAGA-JAGA DAN BERDOA” (bacaan untuk tanggal 28-11-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 26-11-11 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 25 November 2015 [Peringatan B. Elisabet dr Reute, Biarawati] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KERAJAAN ALLAH SUDAH DEKAT

KERAJAAN ALLAH SUDAH DEKAT

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV – Jumat, 27 November 2015) 

stdas0730Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini kepada mereka, “Perhatikanlah pohon ara atau pohon apa saja. Apabila kamu melihat pohon-pohon itu sudah bertunas, kamu tahu dengan sendirinya bahwa musim panas sudah dekat. Demikian juga, jika kamu melihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Orang-orang zaman ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya terjadi. Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.” (Luk 21:29-33) 

Bacaan Pertama: Dan 7:2-14; Mazmur Tanggapan: Dan 3:75-81 

Ketika Yesus mengajar perumpamaan ini, dalam waktu yang relatif tidak lama lagi Dia akan mempersembahkan hidup-Nya demi keselamatan dunia. Yesus hampir sampai ke titik akhir dari pelayanan-Nya di muka bumi, dan kematian-Nya serta kebangkitan-Nya akan menjadi tanda inaugurasi dari Kerajaan Allah dan kelahiran Gereja. Walaupun menghadapi penolakan dan oposisi, Yesus dengan penuh keyakinan memproklamirkan bahwa keselamatan kita sudah mendekat. Selagi kita menantikan kedatangan kembali Yesus, kita – sebagai Gereja – harus bertumbuh dan semakin matang dalam kuasa Roh Kudus.

Yesus menginginkan agar kita menantikan kedatangan-Nya untuk kedua kalinya dengan penuh keyakinan. Kita akan mengalami oposisi, pengejaran dan penganiayaan, namun sebagaimana Yesus berkemenangan, kita pun akan meraih kemenangan, selagi kita menaruh kepercayaan pada sabda-Nya. Kita tidak boleh merasa susah dan ciut hati pada masa-masa penderitaan. Sebaliknya, selagi kesulitan-kesulitan semakin bertumbuh dalam intensitas, semua itu harus dilihat sebagai indikasi-indikasi positif bahwa manifestasi final dan penuh kemuliaan dari keselamatan kita sudah semakin dekat. Yesus mengumpamakan semua itu dengan pohon ara yang bertunas di musim semi,  yang memberi jaminan kepada kita bahwa musim panas sudah dekat.

Kita menghadapi pilihan setiap hari. Kita dapat mempertimbangkan apa yang telah dilakukan oleh Yesus untuk menebus dan menyembuhkan kita serta menaruh kepercayaan pada kata-kata-Nya sehubungan dengan manifestasi kemuliaan-Nya secara penuh pada saat kedatangan-Nya untuk kedua kali pada akhir zaman. Atau, kita dapat melihat berbagai penderitaan di bumi yang terasa tidak habis-habisnya, sehingga kita dengan cepat jatuh ke dalam jurang penuh rasa takut dan cemas. Manakala kita menghadap Tuhan dalam doa dan memperkenankan sabda-Nya yang penuh pengharapan dan memberi semangat untuk menyentuh hati kita dan mengarahkan pemikiran kita, maka diri kita akan diangkat, dipenuhi dengan sukacita dan damai-sejahtera, dan dimampukan untuk melihat melampaui sikon yang kita hadapi. Sabda-Nya menggerakkan kita secara batiniah dan kita pun dapat percaya bahwa dalam Dia semua hal menjadi mungkin.

Pada zaman modern ini banyak umat Kristiani menderita di bawah rezim-rezim totaliter, anti-Kristiani, korup dlsb. Sekilas lintas memang kelihatan bahwa kegelapan telah menang. Namun dari pengalaman di Eropa Timur beberapa dasawarsa lalu, kita diyakinkan bahwa tangan-tangan Allah selalu bekerja, dan Ia senantiasa melindungi Gereja-Nya. Pada hari ini umat Kristiani adalah saksi-saksi hidup dari sabda Yesus: “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu” (Luk 21:33).

DOA: Tuhan Yesus, ajarlah kami agar mau dan mampu mengenal kuat-kuasa dan kebenaran sabda-Mu. Biarlah sabda-Mu menjadi batu karang dan benteng pelindung di tengah-tengah hiruk-pikuk kehidupan ini. Biarlah sabda-Mu menjadi pelita yang menerangi jalan kami, sehingga dengan demikian kami dapat menantikan kedatangan-Mu pada akhir zaman dengan ekspektasi penuh hasrat dan pengharapan penuh sukacita. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:29-33), bacalah tulisan yang berjudul “MELIHAT KE DEPAN” (bacaan tanggal 27-11-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 28-11-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 25 November 2015 [Peringatan B. Elisabet dr Reute, Biarawati]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KEDATANGAN ANAK MANUSIA YANG ADALAH SANG MESIAS

KEDATANGAN ANAK MANUSIA YANG ADALAH SANG MESIAS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV – Kamis, 26 November 2015)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Leonardus dr Porto Mauritio, Imam 

premillennialism-destruction-jerusalem-70ad-titus-arch

“Apabila kamu melihat Yerusalem dikepung oleh tentara-tentara, ketahuilah bahwa keruntuhannya sudah dekat. Pada waktu itu orang-orang yang berada di Yudea harus melarikan diri ke pegunungan, dan orang-orang yang berada di dalam kota harus mengungsi, dan orang-orang yang berada di pedusunan jangan masuk lagi ke dalam kota, sebab itulah masa pembalasan ketika semua yang telah tertulis akan digenapi. Celakalah ibu-ibu yang sedang hamil atau menyusukan bayi pada masa itu! Sebab akan datang kesusahan yang dahsyat atas seluruh negeri dan murka atas bangsa ini, dan mereka akan tewas oleh mata pedang dan dibawa sebagai tawanan ke segala bangsa, dan Yerusalem akan diinjak-injak oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, sampai genaplah zaman bangsa-bangsa itu.”

“Akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang, dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut. Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini, sebab kuasa-kuasa langit akan guncang. Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah kepalamu, sebab pembebasanmu sudah dekat.”  (Luk 21:20-28) 

Bacaan Pertama: Dan 7:2-14; Mazmur Tanggapan: Dan 3:75-81 

Salah satu unsur dari kepercayaan umat Yahudi pada zaman Yesus dahulu adalah bahwa YHWH akan membangkitkan seorang Mesias guna menyelamatkan umat-Nya. Ada orang-orang yang membayangkan sang Mesias sebagai seorang tokoh politik yang akan memerdekakan bangsa Yahudi dari penjajahan bangsa Romawi. Ada orang-orang lain yang mengharapkan agar Musa atau Elia kembali dan memimpin bangsa Yahudi seperti mereka lakukan dalam masa Perjanjian Lama. Ada juga orang-orang yang mengharapkan seorang Mesias imamiyah yang akan membawa umat kembali ke suatu penyembahan kepada YHWH yang benar.

Yesus berbicara kepada orang banyak tentang akhir zaman. Setelah bernubuat mengenai keruntuhan Yerusalem, Yesus mengatakan bahwa akan ada tanda-tanda kosmik, peristiwa-peristiwa besar yang akan membuat orang-orang menjadi takut. Namun tanda yang paling besar akan menyusul: “Pada waktu itu orang akan meihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya” (Luk 21:27).

SON OF MAN IN THE SKYSiapa sebenarnya “Anak Manusia” ini? Dalam penglihatannya tentang akhir zaman, Daniel melihat seorang seperti anak manusia datang dengan awan-awan dari langit. Ia datang kepada Yang Lanjut Usianya, dan ia dibawa ke hadapan-Nya. Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah (Dan 7:13-14).

Anak Manusia adalah Mesias dan pada saat yang sama juga Hakim. Ia berbeda dengan jenis-jenis Mesias yang biasa diharapkan oleh orang-orang Yahudi. Mengapa? Karena Anak Manusia datang dari surga dan tidak hanya seorang manusia, melainkan juga sangat dekat dengan YHWH di surga. Kepada Mesias ini – Anak Manusia ini – diberikan kekuasaan dan wewenang atas seluruh bumi serta isinya, dan segenap ciptaan lainnya, dan kekuasaannya adalah kekal-abadi.

Yesus adalah sang Mesias, Anak Manusia. Bilamana Dia datang, maka Dia sungguh-sungguh akan menghakimi bumi. Dia menyemangati serta mendorong umat yang percaya: “Bangkitlah dan angkatlah kepalamu, sebab pembebasanmu sudah dekat” (Luk 21:28). Oleh karena itu, janganlah kita merasa takut akan akhir zaman dan kedatangan Anak Manusia, Yesus, karena Dia adalah seorang Hakim yang adil (bdk. Mat 25:31-46).

DOA: Tuhan Yesus, segala kuasa di surga dan di bumi telah diberikan kepada-Mu. Datanglah dan dirikanlah kerajaan-Mu secara penuh dengan datang kembali kelak dalam kemuliaan. Tolonglah kami untuk menjadi murid-murid-Mu yang setia dan taat kepada perintah-perintah-Mu, sehingga dengan demikian kami dapat berdiri dengan kepala tegak pada saat kedatangan-Mu kembali pada akhir zaman. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:20-28), bacalah tulisan yang berjudul “SALAH SATU MISTERI IMAN” (bacaan tanggal 26-11-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 27-11-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 24 November 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KALAU KAMU TETAP BERTAHAN ……

KALAU KAMU TETAP BERTAHAN ……

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV – Rabu, 25 November 2015)

OSF Sibolga: Peringatan B. Elisabet dr Reute, Biarawati 

YESUS MENGAJAR DI BAIT ALLAH - MRK 12 A“Tetapi sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku. Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi. Sebab itu tetapkanlah di dalam hatimu, supaya kamu jangan memikirkan lebih dahulu pembelaanmu. Sebab Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawanmu. Kamu akan diserahkan juga oleh orang tuamu, saudara-saudaramu, kaum keluargamu dan sahabat-sahabatmu dan beberapa orang di antara kamu akan dibunuh dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku. Tetapi tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang. Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh kehidupan.” (Luk 21:12-19) 

Bacaan Pertama: Dan 5:1-6,13-14,16-17,23-28; Mazmur Tanggapan: Dan 3:62-67

Tahun 1942. Di negeri Belanda yang ketika itu diduduki oleh pasukan Nazi Jerman, ada seorang biarawati Karmelites yang bernama Edith Stein [1891-1942]. Berulang kali biarawati ini dipanggil ke markas besar Nazi. Dia harus ke luar dari biaranya, padahal dia adalah seorang biarawati kontemplatif. Di dalam markas Nazi tersebut dia mengalami interogasi-interogasi yang lama dan penuh intimidasi,  difitnah dengan tuduhan-tuduhan palsu. Keselamatan dirinya dan orang-orang yang dikasihinya juga diancam, …… karena dia adalah seorang keturunan Yahudi. Semua itu dilakukan pihak Nazi dengan harapan agar dapat menghancurkan semangatnya, namun mereka gagal menaklukkan perempuan tangguh ini.

Suster Edith Stein bukanlah biarawati sembarangan. Sebelum menjadi seorang katolik di tahun 1922, dia adalah seorang dosen di salah satu perguruan tinggi di Jerman, yaitu di Universitas Freiburg dan dia adalah pemegang gelar doktor filsafat dari Universitas Göttingen [1918]. Sebelum itu Edith juga pernah bekerja sebagai perawat rumah sakit. Pada waktu masuk Gereja Katolik, Edith berniat masuk biara Karmelites a.l. karena dipicu oleh bacaannya atas tulisan-tulisan Santa Teresa dari Avila, yang bersama Santo Yohanes dari Salib adalah para pembaharu Ordo Karmelit. Namun para mentor spiritualnya tidak mendorongnya. Kemudian Edith bekerja sebagai guru di sebuah sekolah Katolik di Münster.

Karena kebijakan rasialisme dari pihak Nazi, dia harus meninggalkan pekerjaannya sebagai guru pada tahun 1933 dan bergabung dengan biara suster-suster Karmelites tak berkasut (OCD) di Cologne pada tahun 1934. Nama biaranya adalah Suster Benedikta dari Salib. Demi keamanan mereka, pada tahun 1938 Suster Benedikta dari Salib dan Suster Rosa, saudarinya, dipindahkan ke biara Karmelites di Echt, Belanda.

Pada bulan Agustus tahun 1942, sebagai balasan terhadap pernyataan para uskup Belanda yang memprotes kebijakan Nazi terhadap orang-orang Belanda keturunan Yahudi, maka semua orang Katolik keturunan Yahudi di Belanda ditangkapi dan dideportasi. Ketika pihak Nazi datang ke biara untuk menangkap Edith, dengan tenang dia berkata kepada Suster Rosa yang juga ditangkap: “Mari, kita akan pergi ke umat kita.” Dalam perjalanan penuh penderitaan selama tujuh hari ke Auschwitz, Edith menguatkan dan menghibur semua orang yang ada dalam rombongannya dan mereka semua akan terkejut sekali ketika sampai pada akhir perjalanan.

st-edithsteinEdith Stein wafat di kamar gas di kamp konsentrasi Auschwitz pada tanggal 9 Agustus 1942, dan sisa-sisa jenazahnya dikremasikan bersama sisa-sisa jenazah ribuan orang lainnya yang dibinasakan pada hari itu. Banyak cerita yang belakangan diceritakan oleh orang-orang yang masih hidup ketika perang usai dan menjadi saksi-saksi dari hari-hari terakhir Edith Stein. Damai-sejahtera yang dibawakannya kepada orang-orang tahanan lainnya, bela rasanya bagi mereka yang menderita di sekeliling dirinya, dan kemampuannya untuk menanggung penderitaan adalah hal-hal yang dicatat tentang dirinya.

Cerita tentang Edith Stein melukiskan bagaimana kata-kata Yesus yang disampaikan kepada para murid-Nya tidak terbatas pada umat Kristiani abad pertama. Semua umat beriman yang mencari dan berupaya untuk memajukan rencana Bapa bagi umat-Nya akan mengalami peristiwa-peristiwa serupa dalam hidup mereka. Sesungguhnya, semua pencobaan yang kita alami sebagai umat Kristiani (besar ataupun kecil) adalah tanda-tanda dari sifat dunia ini yang tidak permanen dan juga sifat permanen dari “dunia” yang akan datang – sebuah dunia yang penuh dengan pengharapan, damai sejahtera dan sukacita yang bertentangan dengan rencana-rencana dari orang-orang yang terikat pada dunia yang penuh dengan keterbatasan ini.

Dalam setiap zaman Gereja mengalami pengejaran dan penganiayaan, baik dari dalam maupun dari dalam. Setiap zaman mempunyai cerita-cerita tentang para pahlawan seperti Edith Stein, namun juga tentang peristiwa-peristiwa yang kita semua hadapi setiap hari. Dalam setiap sikon yang kita hadapi, dalam setiap orang yang kita temui, kepada kita diberi kesempatan untuk memancarkan sinar terang benderang seperti yang terjadi dengan Edith Stein, apabila kita memperkenankan Tuhan untuk memperkuat diri kita dan menolong agar kita mengetahui kata-kata apa yang harus kita ucapkan dan bagaimana untuk mengasihi. Dalam setiap peristiwa, kita dapat mengalami janji Yesus yang besar dan sangat berharga: “Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu” (Luk 21:19).

DOA: Tuhan Yesus, buatlah diriku agar menjadi murid-Mu yang setia seperti Edith Stein, sehingga aku dapat bertahan dalam segala pencobaan dan pengejaran. Aku ingin menerima “mahkota kehidupan” yang Kaujanjikan kepada orang-orang yang mengasihi Engkau (Yak 1:12). Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:12-19), bacalah tulisan yang berjudul “KETEKUNAN AKAN MENDATANGKAN BERKAT” (bacaan tanggal 25-11-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 26-11-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 22 November 2015 [HARI RAYA KRISTUS RAJA] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 91 other followers