KETIKA YESUS DATANG KEMBALI KE DUNIA

KETIKA YESUS DATANG KEMBALI KE DUNIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXII – Jumat, 11 November 2016) 

00-the-second-coming-39618-gallerySama seperti yang terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia: Mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai pada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua. Demikian juga seperti yang terjadi di zaman Lot: mereka makan dan minum, mereka berjual beli, mereka menanam dan membangun. Tetapi pada hari Lot pergi keluar dari Sodom turunlah hujan api dan hujan belerang dari langit dan membinasakan mereka semua. Demikianlah halnya kelak pada hari Anak Manusia dinyatakan. Siapa saja yang pada hari itu sedang berada di atas rumah dan barang-barangnya ada di dalam rumah, janganlah ia turun untuk mengambilnya, dan demikian juga orang yang sedang di ladang, janganlah ia kembali. Ingatlah akan istri Lot! Siapa saja yang berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan siapa saja yang kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya. Aku berkata kepadamu: Pada malam itu ada dua orang di atas tempat tidur, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Ada dua orang perempuan bersama-sama menggiling gandum, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.” (Kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.) Kata mereka kepada Yesus, “Di mana, Tuhan?” Kata-Nya kepada mereka, “Di mana ada mayat, di situ berkerumun burung-burung nasar.” (Luk 17:26-37) 

Bacaan Pertama: 2Yoh 1:4-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:1-2,10-11,17-18 

Sungguh tidak mudah untuk memahami kasih Allah bagi kita seperti halnya dalam sejumlah sabda Yesus, teristimewa ketika Dia berbicara mengenai kedatangan-Nya untuk kedua kali. Bahkan barangkali kita memandang kedatangan Kerajaan Allah sebagai saat-saat sulit-menakutkan, ketika keselamatan kita berada di luar jangkauan dan “burung-burung nasar” sudah berterbangan di langit. Namun ini bukanlah gambaran yang Yesus inginkan kita ambil dari bacaan ini. Yesus datang untuk memberikan hidup berkelimpahan kepada kita: “Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dengan berlimpah-limpah” (Yoh 10:10). Yesus tidak datang untuk memberi keselamatan kepada kita yang kita sendiri tidak mampu untuk mencapainya.

Sebagai umat Kristiani, kita telah diangkat dari kematian dan dibawa ke dalam kehidupan oleh  belas kasih (kerahiman) Allah dan cintakasih-Nya. Kita sudah diselamatkan. Sebelum kita menerima Yesus ke dalam hati kita, sesungguhnya kita tidak ubahnya seperti domba tanpa gembala – hilang di hutan belantara, mangsa yang empuk bagi musuh-musuh kita. Namun hal tersebut tidak lagi begitu. Kita adalah anak-anak Allah. Masing-masing kita adalah bait Roh Kudus. Dan …… posisi kita dalam Kristus sudah terjamin!

Jadi, daripada terus-menerus dirundung rasa khawatir dan takut, kita seharusnya dipenuhi dengan sukacita! Kita telah dibawa dekat kepada Allah oleh darah Kristus. Dengan hidup dalam Roh-Nya, kita dapat berjalan dalam terang kasih-Nya dan mengenal serta mengalami kebebasan yang semakin meningkat, …… kebebasan dari dosa dan keterikatan. Kita tidak perlu lagi merasa khawatir dan takut akan hidup kita. Sebaliknya, kita harus merasa khawatir dan takut bagi mereka yang belum percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat – mereka yang hilang di tengah hutan belantara dosa dan ketidakpedulian.

Kita sudah merangkul keselamatan yang diberikan oleh-Nya dan hidup dalam ketaatan dan kasih akan Allah. Oleh karena itu kita dapat bertindak seturut “Amanat Agung” yang diberikan oleh Yesus Kristus sebelum Ia diangkat ke surga (lihat Mat 28:19-20), yaitu menyebarkan Kabar Baik-Nya dalam kata-kata maupun perbuatan/tindakan kita. Kita dapat menjadi seorang pewarta Kabar Baik yang memberi kesaksian atas kasih dan kerahiman Allah. Dalam nama Yesus kita dapat mengundang mereka ke dalam Kerajaan Allah.

Dengan demikian, marilah kita singkirkan segala kekhawatiran dan keraguan kita. Diri kita dapat dipenuhi dengan kuat-kuasa Roh Kudus. Marilah kita menyiapkan diri untuk menyambut kedatangan Yesus Kristus untuk kedua kalinya pada akhir zaman. Bagaimana? Dengan setiap hari hidup dalam keakraban dengan Yesus. Persenjatailah diri anda dengan doa-doa syafaat bagi orang-orang yang tidak/belum percaya kepada Yesus. Mulailah dengan mereka yang anda sudah kenal: para anggota keluarga yang bukan Kristiani, para teman dan sahabat serta kenalan-kenalan lainnya. Baiklah anda melangkah dalam iman, dengan penuh keyakinan bahwa Allah sesungguhnya ingin menyelamatkan setiap orang di atas bumi ini.

Semoga kesaksian kita atas kuat-kuasa Injil akan menarik banyak orang kepada Allah yang adalah kasih, sehingga dengan demikian tidak ada lagi kesempatan bagi “burung-burung nasar” untuk ramai-ramai berkerumun dan memangsa pada saat Tuhan Yesus datang kembali kelak!

DOA: Tuhan Yesus, kami rindu untuk mengenal Engkau lebih dalam lagi. Penuhilah hati kami dan perkenankanlah kami masing-masing mendengar suara-Mu, agar dapat menjadi berkat bagi orang-orang lain. Perkenankanlah kami, para murid-Mu, melihat Engkau datang dalam kemuliaan pada akhir zaman, saat di mana kegelapan pada akhirnya akan disingkirkan dari tengah-tengah kami. Dimuliakanlah nama-Mu senantiasa. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 17:26-37), bacalah tulisan berjudul “KEDATANGAN KEMBALI YESUS KRISTUS PADA AKHIR ZAMAN” (bacaan untuk tanggal 11-11-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2012) 

Cilandak, 8 November 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SESUNGGUHNYA KERAJAAN ALLAH ADA DI ANTARA KAMU

SESUNGGUHNYA KERAJAAN ALLAH ADA DI ANTARA KAMU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Santo Leo Agung, Paus Kamis. 10 November 2016) 

jesus_christ_picture_013Ketika ditanya oleh orang-orang Farisi kapan Kerajaan Allah akan datang, Yesus menjawab, “Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu.”

Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Akan datang waktunya kamu ingin melihat satu dari hari-hari Anak Manusia itu dan kamu tidak akan melihatnya. Orang akan berkata kepadamu: Lihat, ia ada di sana; lihat, ia ada di sini! Jangan kamu pergi ke situ, jangan kamu ikut. Sebab sama seperti kilat memancar dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain, demikian pulalah kelak halnya Anak Manusia pada hari kedatangan-Nya. Tetapi Ia harus menanggung banyak penderitaan dahulu dan ditolak oleh orang-orang zaman ini. (Luk 17:20-25) 

Bacaan Pertama: Flm 7-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 146:7-10 

Yesus sungguh ingin kita mengetahui bahwa Dia adalah Tuhan dan bahwa Kerajaan-Nya ada di sini, ada di antara kita; bahwa Kabar Baik-Nya adalah sekarang. Ia mengatakan kepada orang-orang Farisi yang bersikap skeptis dan tidak percaya, “… sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu” (Luk 17:21).

Susahnya dengan orang-orang Farisi, dan dengan kita juga, adalah mengenalinya, mata kita dibutakan oleh terlalu banyak urusan lain. Orang-orang Farisi dibutakan oleh “legalisme” mereka. Kita dibutakan oleh semua jenis pertimbangan duniawi.

Yesus mengatakan bahwa Kerajaan Allah ada di antara kita. Jelas tidak begitu, bukan? Begitu banyak penderitaan, begitu banyak penindasan dan kekerasan yang kita lihat setiap hari, bukan? Di sisi lain, begitu sedikit cinta kasih yang ada di sekeliling kita.  Apakah Kerajaan Allah cocok (Inggris: compatible) dengan semua penderitaan, kebencian, kemarahan, kekerasan, ketiadaan damai yang kita lihat terus saja berlangsung di sekeliling kita? Tentu saja tidak! Namun ada satu jawaban terhadap segala keburukan yang disebutkan tadi. Kerajaan Allah tidak dipaksakan atas diri siapa saja. Yesus sebagai Tuhan bukanlah seorang diktator, bukan seorang tyrant. Ia tidak akan mengganggu kebebasan kita.

CELAKALAH ENGKAU KATA YESUSAkan tetapi, apabila kita memperkenankan Dia sebagai Tuhan, kalau kita memperkenankan-pemerintahan-Nya, kerajaan-Nya, mengatur hidup kita, maka damai sejahtera-Nya, kasih-Nya, sukacita-Nya dan segala buah Roh Kudus akan datang ke dalam kehidupan kita.

Apabila semua orang dan semua bangsa mau menerima pemerintahan Allah, menerima kenyataan bahwa Yesus adalah Tuhan atas segalanya, maka kejahatan-kejahatan yang begitu tidak cocok dengan Kerajaan Allah – kemiskinan, penindasan, kekerasan, ketiadaan damai antara bangsa-bangsa, kebencian – semua ini akan menghilang. Paling sedikit semua hal itu akan banyak berkurang dan kita pun akan mampu mengenali pemerintahan Allah di tengah-tengah kita.

Jadi, di mana harus kita mulai? Pertama-tama kita harus mengingat bahwa bangsa-bangsa terdiri dari orang-orang, manusia! Dengan demikian kita harus mulai dengan diri kita sendiri. Hari demi hari kita harus mencoba untuk hidup bersama Yesus sebagai Tuhan. Kehendak-Nya harus menjadi faktor paling penting dalam semua keputusan kita. Maka kita akan melakukan bagian kita untuk membuat pemerintahan Allah menjadi kelihatan.

DOA: Tuhan Yesus, kami sungguh menginginkan agar Engkau menjadi Tuhan dalam hidup kami, sehingga dengan demikian kami dapat menjadi tanda-tanda kecil dari Kerajaan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 17:20-25), bacalah tulisan berjudul “KERAJAAN ALLAH BERARTI ALLAH MERAJA” (bacaan untuk tanggal 10-11-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2016.

Cilandak, 7 November 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

FONDASI DARI GEREJA ADALAH YESUS KRISTUS

FONDASI DARI GEREJA ADALAH YESUS KRISTUS

(Bacaan Kedua Misa Kudus, Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran – Senin, 9 November 2016)

 kveit1240s

Kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah.  

Sesuai dengan anugerah Allah, yang diberikan kepadaku, aku sebagai seorang ahli bangunan yang terampil telah meletakkan dasar, dan orang lain membangun terus di atasnya. Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun diatasnya. Karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain daripada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus.

Tidak tahukah kamu bahwa kamu sekalian adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu? Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu sekalian. (1Kor 3:9b-11,16-17) 

Bacaan Pertama: Yeh 47:1-2,8-9,12; Mazmur Tanggapan: Mzm 46:2-3,5-6,8-9; Bacaan Injil: Yoh 2:13-22

“Kami adalah kawan sekerja untuk Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah”  (1Kor 3:9).

Dengan kata-kata ini Santo Paulus menasihati jemaat di Korintus supaya memahami bahwa mereka adalah bangunan Allah. Pokok ini harus mengingatkan kita bahwa manakala kita menggunakan kata “Gereja”, maka hal ini berarti melebihi daripada sekadar sebuah struktur bangunan di mana umat Allah berkumpul untuk beribadat dan menyembah-Nya. Kita dapat menamakan bangunan sedemikian sebagai gereja, namun Paulus menginstruksikan umat di Korintus (dan kita sekarang juga) bahwa umat Allah adalah Gereja. Pemahaman seperti ini cocok untuk hari ini ketika kita merayakan dedikasi Gereja Basilik S. Yohanes Lateran, gereja katedral dari Uskup Roma.

c3606b07eb3e0f92bb5bfe8287005989Pesta ini dimaksudkan untuk merayakan dedikasi/pemberkatan Gereja kepala dan induk dari segala gereja dalam persekutuan dengan Roma. Dalam menghormati dedikasi dari gereja katedral S. Yohanes Lateran, pusat perhatian kita adalah pentingnya peranan Sri Paus – pengganti S. Petrus – sebagai guru dan pelayan/hamba dari segala pelayan/hamba Allah. Sesungguhnya kita tidak merayakan sebuah bangunan gereja, melainkan sebuah bangunan gereja sebagai sebuah tanda Gereja di mana Sri Paus adalah guru tertinggi. Ini adalah sebuah tanda dari Yerusalem surgawi yang kita idam-idamkan.

Dalam Gereja ini dibangunlah sebuah bait Allah demi kemuliaan Bapa surgawi melalui karya Roh Kudus. Kita menerima berbagai karunia/anugerah Roh yang dicurahkan kepada kita guna membangun Gereja sehingga Gereja itu akan mencerminkan secara lebih penuh kemuliaan dan kebenaran dari Yerusalem surgawi. Kita melakukan hal ini dengan tetap mengingat bahwa “fondasi dari Gereja adalah Yesus Kristus” (1Kor 3:11).

Pada hari ini sangat baik bagi kita untuk berdoa supaya Allah memperhatikan Bapa Suci dan menguatkan dirinya, sebagai guru tertinggi Gereja di atas bumi, mengajar kita dalam menuju Yerusalem surgawi. Sejalan dengan “doa pembukaan” dalam Misa Kudus hari ini, marilah kita juga berdoa agar kita sebagai umat Allah yang selalu setia akan rahmat Allah berkembang dalam pembangunan Yerusalem baru.

DOA: Bapa surgawi, Engkau memanggil umat-Mu untuk menjadi Gereja-Mu. Tolonglah kami untuk syering visi-Mu bagi Gereja sehingga dengan demikian kami dapat melihat kota suci, Yerusalem Baru, yang turun dari Allah di surga. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yeh 47:1-2,8-9,12), bacalah tulisan yang berjudul “PEMENUHAN VISI ALLAH TENTANG BAIT-NYA” (bacaan tanggal 9-11-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-11  BACAAN HARIAN NOVEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 9-11-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 7 November 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KAMI HAMBA-HAMBA YANG TAK BERGUNA

KAMI HAMBA-HAMBA YANG TAK BERGUNA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXII – Selasa, 8 November 2016)

OP/KFS: Peringatan Arwah Semua Anggota Tarekat 

1-0-jesus-christ-super-star“Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan! Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Sesudah itu engkau boleh makan dan minum. Apakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan. (Luk 17:7-10) 

Bacaan Pertama: Tit 2:1-8,11-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 37:3-4,18,23,27,29

Adalah suatu fakta yang menyedihkan tentang kodrat kita yang cenderung berdosa, bahwa kebanyakan dari kita dapat dengan mudah membayangkan diri kita sebagai sang “tuan” dalam perumpamaan Yesus ini, akan tetapi ide tentang kita sebagai si hamba membuat kita merasa tidak nyaman. Kita sudah terbiasa memegang kendali atas kehidupan orang lain, tidak secara tetap “tersedia” bagi tujuan/kepentingan orang lain. Sifat masyarakat di mana kita hidup membuat kata-kata Yesus di atas terdengar sangat radikal.

Namun, di lain pihak penyerahan diri dengan penuh kemauan kepada kehendak Allah adalah kualitas pribadi yang sangat kita kagumi dari para kudus. Maria dan Yusuf, para martir Kristiani yang awal, para misionaris besar dan para pengkhotbah/pewarta Injil di masa lalu: mereka semua melepaskan hak atas hidup mereka sendiri dan dengan penuh pasrah menyerahkan diri pada kehendak Allah atas pekerjaan apa yang harus mereka lakukan dan juga hidup mereka sendiri. Mereka menjadi para pelayan/hamba, memberikan hidup mereka kepada Allah dengan cara-cara yang sangat praktis. Sebagai milik Yesus mereka tidak hanya menemukan sukacita, melainkan juga energi, kasih dan pemusatan perhatian dan tindakan seperti dicerminkan dalam kehidupan mereka.

5111d23e0ca49a040ccb3a1387dd913bBagi saya, seorang pribadi di abad ke-20 lalu yang memperlihatkan kualitas-kualitas pribadi seperti disebutkan di atas adalah Santa Bunda Teresa dari Kalkuta. Semangat kemiskinan yang dirangkul oleh Bunda Teresa dan para pengikutnya mencakup juga kemiskinan dalam/demi ketaatan, artinya menolak pilihan-pilihan pribadi agar dapat melayani Allah. Bunda Teresa menulis:

“Jika sesuatu merupakan milik saya, maka saya memiliki kekuasaan penuh untuk menggunakannya seturut kehendak saya. Saya ini milik Yesus, artinya Dia dapat melakukan apa saja terhadap diri saya sesuai dengan kehendak-Nya. Karya atau pekerjaan bukanlah panggilan kami. Saya dapat melakukan pekerjaan ini tanpa harus menjadi seorang religius/biarawati. Panggilan kami adalah untuk menjadi milik-Nya. Profesi kami adalah bahwa kami ini milik-Nya. Dengan demikian, saya siap untuk melakukan apa saja, mencuci, menyikat, membersihkan. Saya ini seperti seorang ibu yang mempunyai seorang anak. Anak itu adalah miliknya. Ibu itu melakukan semua pekerjaan cuci-mencuci, tidak tidur di malam hari, dll. untuk membuktikan bahwa anak itu adalah sungguh miliknya. Dia tidak akan melakukan hal ini untuk anak-anak lain, akan tetapi dia akan melakukan apa saja untuk anaknya sendiri. Jadi, jika saya adalah milik Yesus, maka saya akan melakukan apa saja untuk Yesus” (Penyerahan Total – Total Surrender, 123).

Saudari dan Saudaraku, kita semua adalah milik Allah. Kita adalah orang-orang berhutang (para debitur) kepada Allah untuk keberadaan kita. Tidak ada pekerjaan-pekerjaan baik (sebanyak apa pun) yang kita lakukan yang dapat membuat kita menjadi kreditur dan Allah menjadi debitur kita. Apabila tahun-tahun pelayanan kita yang dilakukan dengan penuh kerendahan hati selesai, maka ganjaran yang akan kita terima akan besar seturut belas kasih-Nya. Ingatlah apa yang dikatakan oleh Yesus ketika mengajar dengan sebuah perumpamaan: “Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang” (Luk 12:37). Oleh karena, marilah kita bergabung dalam barisan orang-orang yang menemukan sukacita sejati dalam melayani Tuan mereka, yaitu Yesus Kristus.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Kami adalah hamba-hamba-Mu yang tak berguna. Yang kami telah lakukan tidaklah lebih daripada tugas yang Kauberikan kepada kami. Namun, kami menaruh kepercayaan kepada-Mu untuk meningkatkan iman dan kasih kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 17:1-10), bacalah tulisan berjudul “SIAPAKAH KITA INI, TUAN ATAU HAMBA?” (bacaan untuk tanggal 8-11-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-11-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 6 November 2016 [HARI MINGGU BIASA XXXII – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KASIH PERSAUDARAAN

KASIH PERSAUDARAAN

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan Biasa XXXII – Senin, 7 November 2016)

FMM: Peringatan B. Assunta Pallota, Pelindung Suster Kaul Sementara

 Yesus-7

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Tidak mungkin tidak akan ada hal yang membuat orang berbuat dosa, tetapi celakalah orang yang mengadakannya. Lebih baik baginya jika sebuah batu giling diikatkan pada lehernya, lalu ia dilemparkan ke dalam laut, daripada menyebabkan salah satu dari orang-orang yang kecil ini berbuat dosa. Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia. Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia.”

Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan, “Tambahkanlah iman kami!” Jawab Tuhan, “Sekiranya kamu mempunyai iman sekecil biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Tercabutlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu.” (Luk 17:1-6) 

Bacaan Pertama: Tit 1:1-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 24:1-6 

Bayangkanlah sebuah keluarga yang rukun dalam artian sebenarnya. Dorongan dari anggota keluarga yang satu kepada anggota keluarga yang lain diberikan secara bebas dan keluar dari suatu hasrat tulus untuk melihat adanya keberhasilan dalam diri anggota keluarga yang diberi dorongan tersebut. Koreksi pun ditawarkan demi kebaikan seorang anggota keluarga yang dikoreksi, bukan untuk membuatnya kelihatan bersalah. Dan, ada pengampunan! Ini adalah contoh keluarga gereja, Gereja yang dirindukan oleh Yesus.

Dari awal mula, Allah menempatkan suatu  semangat persaudaraan dalam hati kita. Akan tetapi, dosa asal kemudian merusak secara serius potensi dari jenis relasi yang indah seperti digambarkan secara singkat di atas. Apa yang perlu kita lakukan adalah mengingat kembali cerita tetang Kain dan Habel untuk melihat kenyataan yang menyedihkan tersebut (Kej 4:1-16). Namun sepanjang sejarah Israel, Allah melanjutkan kasih-Nya yang penuh kesetiaan dan terus mengajar umat-Nya bagaimana memperlakukan satu sama lain dengan keadilan, belas kasih, dan kerendahan hati. Kemudian, Yesus, Saudara kita, datang ke tengah umat manusia dan menunjukkan kepada kita-manusia jalan menuju persatuan dengan diri-Nya dan satu dengan lainnya.

Alkisah ada seorang eksekutif muda yang masih bujangan ditugaskan oleh perusahaannya ke sebuah kota lain. Ia sungguh menghadapi kesulitan. Ia meninggalkan sebuah keluarga gereja di mana dia telah mengembangkan suatu sense of belonging yang mendalam. Dia kehilangan para sahabat dan teman dekatnya. Lalu apa yang diperbuatnya? Eksekutif muda itu memohon kepada Bapa di surga agar diberikan seorang saja teman dengan siapa dia dapat syering imannya.

Allah memang baik, karena tidak lama kemudian, pada suatu hari Minggu pagi, eksekutif muda tersebut berjumpa dengan seorang perempuan muda di tangga gereja. Mereka berdua bertumbuh semakin dekat sebagai saudari dan saudara. Mereka saling mendoakan untuk berbagai kebutuhan yang ada. Yang satu bersukacita untuk berkat-berkat atas diri yang lain. Mereka saling mengingatkan akan kenyataan kasih Allah selagi mereka berjuang menghadapi masalah sehari-hari. Mereka bahkan secara bebas saling menegur tanpa mengancam tali persahabatan mereka.

Yesus tidak menginginkan kita menjalani hidup ini sendiri saja. Dia telah memberkati kita dengan keluarga gereja dan dengan Roh Kudus, ikatan dari setiap relasi perjanjian. Jika para saudari dan saudara dalam Kristus syering hidup mereka satu sama lain, maka kuat-kuasa itu begitu menakjubkan, sehingga kita tidak perlu terkejut ketika menyaksikan berbagai mukjizat yang terjadi, seperti halnya pohon ara dalam bacaan Injil di atas (Luk 17:6).

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu untuk kasih persaudaraan dalam relasi antar-pribadi yang telah Kauanugerahkan kepadaku. Ajarlah aku dan sahabatku untuk saling mengasihi secara lebih mendalam selagi aku dan sahabatku itu bertumbuh dalam kasih kepada-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari (Luk 17:1-6), bacalah tulisan yang berjudul “MENJADI BERBELAS KASIH SEPERTI YESUS SENDIRI” (bacaan tanggal 7-11-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-11-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 3 November 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

AKU MENANTIKAN KEBANGKITAN ORANG MATI DAN HIDUP DI AKHIRAT

AKU MENANTIKAN KEBANGKITAN ORANG MATI DAN HIDUP DI AKHIRAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXXII [Tahun C] – 6 November 2016) 

1-1-jesandsadducees_1179-48Kemudian datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki yang tidak mengakui adanya kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya, “Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: Jika seseorang yang mempunyai saudara laki-laki, mati, sedangkan istrinya masih ada, tetapi ia tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan istrinya itu dan memberi keturunan bagi saudaranya itu. Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan lalu mati dengan tidak meninggalkan anak. Lalu perempuan itu dikawini oleh yang kedua, dan oleh yang ketiga dan demikianlah berturut-turut oleh ketujuh saudara itu, mereka semuanya mati tanpa meninggalkan anak. Akhirnya perempuan itu pun mati. Bagaimana sekarang dengan perempuan itu, siapakah di antara orang-orang itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan? Sebab ketujuhnya telah beristrikan dia.” Jawab Yesus kepada mereka, “Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan, tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan. Mereka tidak dapat mati lagi, sebab mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan. Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam cerita tentang semak duri, di mana ia menyebut Tuhan sebagai Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup.” (Luk 20:27-38) 

Bacaan Pertama; 2Mak &:1-2,9-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 17:1,5-6,8,15; Bacaan Kedua: 2Tes 2:16-3:5

“Ingatlah juga saudara-saudari kami yang telah berpulang dalam damai Kristus dan semua orang yang meninggal; hanya Engkaulah yang mengenal iman mereka” (Doa Syukur Agung IV).

Sepanjang bulan November ini, secara istimewa kita mendoakan semua orang yang telah meninggal dunia, khususnya para anggota keluarga kita, para sanak saudara, para sahabat dll. Kita percaya bahwa banyak dari mereka sudah berada bersama Allah, dan yang lainnya tetap hidup karena Allah mengingat mereka – Dia menopang mereka dengan kehidupan selagi Dia menjaga mereka tetap dalam pikiran-Nya. Pada akhirnya mereka pun akan berada bersama Allah di surga. Dalam hal ini kembali kita harus menggaris-bawahi pentingnya peran doa-doa kita.

Dari sejak awal Allah memberi indikasi (secara sedikit terselubung), bahwa kita diciptakan untuk suatu kehidupan kekal-abadi (Kej 2:17). Setelah Adam dan Hawa menyeleweng dari rencana Allah bagi kita-manusia dengan memakan buah dari pohon pengetahuan, Allah bersabda: “Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita, tahu tentang yang baik dan yang jahat; maka sekarang jangan sampai ia mengulurkan tangannya dan mengambil pula dari buah pohon kehidupan itu dan memakannya, sehingga ia hidup untuk selama-lamanya” (Kej 3:22). Sesungguhnya Allah tidak ingin kita memisahkan diri kita secara permanen dari diri-Nya, untuk terus berada dalam posisi sebagai para “pemberontak” melawan-Nya.

Allah menyatakan kebenaran tentang kebangkitan secara bertahap – bahwa Dia mempunyai kuat-kuasa untuk memanggil orang mati dari Sheol (dunia orang mati) dan membangkitkan mereka kembali ke dalam kehidupan (1Raj 17:17-23; 2Raj 4:32-35); bahwa Dia  akan membangkitkan mereka, memulihkan tulang-tulang kering dan mati (Yeh 37:1-14); bahwa Dia tidak akan meninggalkan jiwa-jiwa setia sehingga jatuh ke dalam Sheol atau membiarkan mereka mengalami kerusakan (Mzm 16:10-11; 103:4).

Selama pengejaran dan penganiayaan yang dilakukan oleh raja Antiokhus Epifanes sejumlah orang (tidak semuanya) sampai kepada kepercayaan yang lebih mendalam perihal kebangkitan: Mereka sudah memahami bahwa Allah yang telah menciptakan kehidupan dapat juga memulihkan kehidupan itu – dapat membuat umat-Nya yang setia untuk hidup lagi untuk selama-lamanya (lihat 2Mak 7:9).

Yesus membangun kepercayaan ini ketika Dia mengajar sebagai berikut: “Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup” (Luk 20:38). Melalui dosa Adam dan Hawa kita telah kehilangan kehidupan kekal. Sebagai penebus kita, Kristus dapat memulihkan kita kepada rencana Allah dan menawarkan kembali kepada kita kehidupan kekal tersebut. Yesus bersabda: “Akulah kebangkitan dan hidup; siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya” (Yoh 11:25-26).

Kristus telah bangkit dari antara orang mati dan mengalahkan maut. Ia mati untuk membangkitkan kita dari kematian dan memberikan kehidupan kepada kita, dan melalui diri-Nya kita mengalami kebangkitan dari antara orang mati. Bersama seluruh Gereja, kita mengungkapkan iman-kepercayaan kita akan kehidupan kekal: “Aku menantikan kebangkitan orang mati dan hidup di akhirat” (Pengakuan Iman hasil Konsili Nikea Konstantinopel).

DOA: Tuhan Yesus, aku percaya bahwa Engkau adalah kebangkitan dan hidup; siapa saja yang percaya kepada-Mu, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Mu, tidak akan mati selama-lamanya. Terpujilah nama-Mu yang kudus selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 20:27-38), bacalah tulisan yang berjudul “MASALAH KEBANGKITAN DAN ORANG-ORANG SADUKI” (bacaan tanggal 6-11-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-11-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 3 November 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SEMANGAT UNTUK MEMBERI

SEMANGAT UNTUK MEMBERI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXI – Sabtu, 5 November 2016)

 Yesus-7

Aku berkata kepadamu: “Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi.”

“Siapa saja yang setia dalam hal-hal kecil, ia setia juga dalam hal-hal besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam hal-hal kecil, ia tidak benar juga dalam hal-hal besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? Jikalau kamu tidak setia mengenai harta orang lain, siapakah yang akan memberikan hartamu sendiri kepadamu?

Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”

Orang-orang Farisi, hamba-hamba uang itu, mendengar semua ini, dan mereka mencemoohkan Dia. Lalu Ia berkata kepada mereka, “Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah.” (Luk 16:9-15) 

Bacaan Pertama: Flp 4:10-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 112:1-2,5-6,8-9

“Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan harta-benda dunia ini”, inilah kira-kira yang dikatakan oleh Yesus. Kemudian Ia mengingatkan kita bahwa sesungguhnya kita tidak memiliki harta-benda dunia ini, “Apabila kamu tidak dapat dipercaya dalam dalam hal kekayaan dunia yang sukar dipahami, siapa yang akan menaruh kepercayaan kepadamu dengan kekayaan yang bersifat kekal-abadi?”

Inilah ajaran Tuhan Yesus tentang penggunaan harta-kekayaan, seturut “perumpamaan Yesus tentang bendahara/manajer yang cerdik” (atau: “perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur”; Luk 16:1-8) dalam mengelola uang tuannya. Apa yang dikatakan Yesus kepada kita dalam perumpamaan itu adalah, “Harta-kekayaanmu bukanlah milikmu sendiri sehingga kamu dapat menggunakannya “semau gue”. Harta-kekayaanmu adalah milik Allah, dan kamu diangkat untuk mengurus harta kekayaan itu bagi Dia. Kamu akan dipandang akuntabel oleh Allah untuk apa yang kamu lakukan dengan harta kekayaan tersebut.”

Itulah sebabnya mengapa Yesus mengatakan: “Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Luk 16:13). Memang kita (anda dan saya) tidak dapat menjadi suatu kontradiksi, yang menjalani suatu kehidupan yang mementingkan diri sendiri dan pada saat sama menjalani suatu kehidupan yang tidak mementingkan diri sendiri, bahkan mementingkan orang lain. Kita harus mengambil keputusan yang tegas! Hal ini sungguh merupakan suatu peringatan bagi orang-orang kaya pada zaman modern ini! Yesus berkata, “Allah memandang kamu bertanggung-jawab untuk penderitaan sengsara orang-orang miskin, para korban ketidak-adilan, orang-orang yang tergolong berpendapatan rendah yang membayar pajak yang relatif terlalu banyak sedangkan orang-orang kaya memiliki kuasa untuk menghindar dari beban pajak tersebut.”

Setiap pribadi manusia yang jujur mengetahui apa yang kiranya yang dikatakan oleh Yesus: “Kamu tidak dapat melayani Allah dan uang.” Jikalau kita (anda dan saya) melayani uang, maka kita “mengambil” apa saja yang kita dapat ambil, dan keserakahan ini membuat kita semakin jahat atau semakin tidak mengindahkan moral terkait bagaimana kita memperoleh uang tersebut: upah besar tanpa pertimbangan kinerja; nafsu akan kenikmatan-kenikmatan dengan biaya orang lain yang menderita karena ulah kita; mengabaikan tugas-tugas keluarga dan komunitas karena kita lebih mementingkan pengejaran nafsu.

Akan tetapi, apabila kita melayani Allah, maka kita (anda dan saya) akan memberikan yang terbaik: waktu kita, talenta kita, keprihatinan kita yang penuh kasih, harta-benda kita di dunia. Kita memberi karena kasih.

Dalam perbandingan-perbandingan di atas, Yesus kiranya berkata: “Oleh/lewat tindakan-tindakanmu, dengan harta-benda yang “dipinjamkan” oleh Allah kepada kamu, kamu harus membuat suatu pilihan. Dan pilihan yang kamu buat akan menentukan kehidupan kekalmu. Juga menentukan jenis kebahagiaan yang kamu miliki di atas bumi.”

DOA: Tuhan Yesus, jagalah agar jiwaku tetap hidup dan rohku tetap sehat. Seringkali ingatkanlah diriku akan kata-kata keras-Mu: “Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah” (Luk 16:15). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 16:9-15), bacalah tulisan yang  berjudul “HARTA-KEKAYAAN BERKEMUNGKINAN BESAR MENJADI TUAN KITA” (bacaan tanggal 5-11-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 7-11-15) 

Cilandak, 3 November 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS