HANYA ORANG RENDAH HATI SAJA YANG TERBUKA BAGI RAHMAT ALLAH

HANYA ORANG RENDAH HATI SAJA YANG TERBUKA BAGI RAHMAT ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIX – Selasa, 15 Agustus 2017)

 

Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya, “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?” Lalu Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka dan berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sedangkan siapa saja yang merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Siapa saja yang menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.”

“Ingatlah, jangan menganggap rendah salah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di surga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di surga.”

“Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu daripada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. Demikan juga Bapamu yang di surga tidak menghendaki salah seorang dari anak-anak ini hilang.” (Mat 18:1-5,10,12-14) 

Bacaan Pertama: Ul 31:1-8; Mazmur Tanggapan: Ul 32:3-4a,7-9,12 

Dalam Injil kita dapat melihat suatu kualitas pribadi yang sangat istimewa dari Yesus, yaitu kelemah-lembutan-Nya terhadap anak-anak, terhadap orang-orang miskin, dan terhadap para pendosa yang bertobat. Ia mengajarkan kepada kita bahwa orang-orang ini secara istimewa dekat pada Allah, dengan demikian Ia mengasihi mereka secara istimewa pula. “Siapa saja yang menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku” (Mat 18:5).

Cara terbaik untuk menguji kualitas cintakasih kita, untuk melihat sampai berapa sejati dan Kristiani-nya cintakasih itu, adalah untuk menguji cintakasih kita bagi “mereka yang kecil-kecil”, bagi anak-anak, bagi orang-orang miskin, bagi mereka yang paling sedikit diberkati dalam artian dunia.

Marilah kita merenungkan bagaimana Putera Allah sendiri memilih untuk datang ke tengah dunia. Dia tidak dilahirkan dalam istana raja, bukan pula di tengah keluarga bangsawan atau keluarga kaya-raya, bukan di atas tempat tidur yang terbuat dari emas dengan kasur dan bantal-bantal yang empuk serta kain mahal sebagai seprei. Tidak ada pelayan-pelayan perempuan yang menjaga, juga tidak ada wartawan yang akan meliput berita tentang diri-Nya. Yesus memilih kemiskinan dan kesederhanaan, sebuah gua/kandang dingin dan gelap yang sebenarnya diperuntukkan bagi hewan-hewan peliharaan. Yesus memilih sepasang orangtua yang tergolong paling miskin, palungan yang sederhana-murahan, makanan yang sederhana, …… tidak ada kenyamanan dan tidak ada publisitas. Yesus tidak memilih kaisar atau gubernur sebagai sahabat-sahabat-Nya yang pertama. Pada kenyataannya, seorang raja – Herodus – adalah musuh-Nya yang paling jahat. Para sahabat Yesus yang pertama adalah gembala-gembala yang bodoh, miskin, dan berbau badan sama seperti domba-domba mereka.

Yesus mengasihi anak-anak karena mereka pada umumnya jujur, inosens, memiliki hati yang terbuka, dan murni. Yesus juga  mengasihi para pelacur dan pemungut cukai yang dijuluki pendosa-pendosa oleh orang-orang Farisi, karena mereka adalah orang-orang sederhana dan sungguh-sungguh bertobat. Mereka memiliki hati yang baik, dan mereka mau kembali menjadi inosens seperti anak kecil. Mereka juga mendengarkan dan dengan penuh kemauan menanggapi belas-kasih Allah.

Inilah orang-orang yang sungguh rendah-hati; mereka yang kecil pada pandangan mata mereka sendiri. Mereka tidak menjadi munafik, tidak adil, sombong, sia-sia, atau tidak jujur. Mereka adalah orang-orang dina atau rendah-hati yang dikasihi oleh Yesus. Yesus bersabda: “Siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Mat 23:12). Hanya orang yang rendah-hati saja yang terbuka untuk menerima rahmat Allah. Hanya orang-orang seperti ini yang memiliki hikmat-spiritual untuk mohon pengampunan dari Allah, dan menghormati orang-orang kecil – wong cilik – yang dikasihi Allah.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Oleh kuasa Roh Kudus-Mu, bentuklah diriku agar menjadi inosens kembali seperti anak kecil, sehingga dengan demikian aku pun dapat masuk ke dalam Kerajaan-Mu. Jadikanlah aku seorang pribadi yang sungguh memiliki kerendahan-hati dan berkenan kepada-Mu. Dengan terang-Mu, pimpinlah jalanku untuk melayani orang-orang lain menjadi murid-murid-Mu juga. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 18:1-5,10,12-14), bacalah tulisan yang berjudul “SEPERTI ANAK KECIL, TETAPI BUKAN KEKANAK-KANAKAN” (bacaan tanggal 15-8-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 14 Agustus 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

SIAPA SEBENARNYA YESUS ITU

SIAPA SEBENARNYA YESUS ITU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Maksimilianus Maria Kolbe, Imam Martir – Senin, 14 Agustus 2017)

OFM Conv.: Pesta S. Maksimilianus Maria Kolbe, Imam Martir  

Pada waktu Yesus dan murid-murid-Nya bersama-sama di Galilea, Ia berkata kepada mereka, “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia dan mereka akan membunuh Dia dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan.” Hati murid-murid-Nya itu pun sedih sekali.

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya tiba di Kapernaum datanglah pemungut pajak Bait Allah kepada Petrus dan berkata, “Apakah gurumu tidak membayar pajak sebesar dua dirham itu?” Jawabnya, “Memang membayar.” Ketika Petrus masuk rumah, Yesus mendahuluinya dengan pertanyaan, “Apakah pendapatmu, Simon? Dari siapakah raja-raja dunia ini memungut bea atau pajak? Dari rakyatnya atau dari orang asing?” Jawab Petrus, “Dari orang asing!” Lalu kata Yesus kepadanya, “Jadi, bebaslah rakyatnya. Tetapi supaya jangan kita membuat mereka gusar, pergilah memancing ke danau. Tangkaplah ikan pertama yang kaupancing dan bukalah mulutnya, maka engkau akan menemukan mata uang empat dirham di dalamnya. Ambillah itu dan bayarkanlah kepada mereka, bagi-Ku dan bagimu juga.” (Mat 17:22-27) 

Bacaan Pertama: Ul 10:12-22; Mazmur Tanggapan: Mzm 147:12-15,19-20 

Dalam sejumlah bacaan Injil Matius selama ini sampai pada hari ini, penulis Injil memusatkan perhatiannya pada proses yang menyangkut para murid Yesus dalam memahami siapa Yesus sesungguhnya (Mat 13:53-17:27). Mereka (para murid) telah menyaksikan dengan mata sendiri bagaimana Yesus memberi makan ribuan orang dengan “modal” lima roti dan dua ekor ikan (Mat 14:13-21); mereka telah melihat sendiri bagaimana Yesus berjalan di atas air (Mat 14:26); mereka telah menyaksikan Yesus menyembuhkan secara fisik orang-orang yang menderita berbagai sakit penyakit (Mat 14:34-36); dan mereka juga telah menyaksikan sendiri bagaimana Yesus mengusir roh-roh jahat yang merasuki orang-orang (Mat 17:14-20).

Seakan semuanya ini tidak cukup, Petrus, Yakobus dan Yohanes menyaksikan transfigurasi Yesus di atas gunung dan mereka mendengar suara Allah yang memproklamasikan: “Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia” (Mat 17:5). Melalui tanda-tanda dan tindakan-tindakan ini, para murid sampai juga percaya bahwa Yesus adalah Mesias, Putera Allah yang telah datang untuk menyelamatkan umat manusia. Yesus meneguhkan realitas siapa diri-Nya lewat kata-kata yang diucapkan-Nya kepada para murid-Nya.

Ramalan akan sengsara dan cerita mengenai pembayaran pajak Bait Allah memberikan dua indikasi jelas kepada para murid Yesus perihat siapa diri-Nya (Mat 17:22-23,24-27). Pertama-tama, Yesus memproklamasikan diri-Nya sebagai “Anak Manusia”. Sebutan “Anak Manusia” ini sebenarnya mengacu kepada penglihatan Daniel tentang ‘seorang’ makhluk surgawi yang telah diberi “kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaanya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah” (Dan 7:14; bdk. Mat 17:22; Mat 28:18).

Kemudian Yesus mengidentifikasikan diri-Nya dengan anak-anak raja yang tidak diwajibkan untuk membayar pajak kepada ayah mereka yang raja (Mat 17:25); maksudnya bahwa Dia tidak perlu membayar pajak keagamaan untuk pemeliharaan rumah ibadat, karena Dia adalah Putera dari sang Pemilik rumah ibadat itu. Jadi, Yesus itu tidak sekadar seorang tabib penyembuh atau seorang pengkhotbah atau rabi; Dia juga jauh lebih daripada sekadar seorang pembuat mukjizat dan tanda heran lainnya. Yesus adalah “Anak Manusia”, yang seturut rancangan ilahi ‘ditakdirkan’ untuk mempunyai kekuasaan atas semua orang selamanya; Dia adalah Putera dari Allah yang mahakuasa, Khalik langit dan bumi.

Kita semua juga dipanggil untuk mengenal secara mendalam siapa Yesus sebenarnya. Oleh karena itu dengan penuh kesadaran baiklah kita mencari Yesus dalam liturgi, dalam doa, dan ketika kita mendengar sabda-Nya dalam kata-kata yang terdapat dalam Kitab Suci. Kita memohon kepada-Nya agar Dia menyatakan diri-Nya kepada kita tentang siapa Dia. Kita harus yakin bahwa Yesus akan menyatakan diri-Nya kepada kita, sebagaimana telah dilakukan-Nya kepada para murid-Nya yang pertama.

DOA: Tuhan Yesus, kami ingin mengenal-Mu lebih baik lagi. Nyatakanlah kepada kami keagungan-Mu dan kemuliaan-Mu sebagai Anak Manusia dan Putera Allah. Kami ingin menjadi murid-murid-Mu yang baik, yang senantiasa setia dalam mengikuti jejak-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 17:22-27), bacalah tulisan yang berjudul “BERMURAH-HATI KEPADA ALLAH DAN SESAMA” (bacaan tanggal 14-8-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 8-8-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 11 Agustus 2017 [Pesta S. Klara dr Assisi, Perawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

JIWAKU MEMULIAKAN TUHAN

JIWAKU MEMULIAKAN TUHAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA SP MARIA DIANGKAT KE SURGA – Minggu, 13 Agustus 2017)

 

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan bergegas menuju sebuah kota di pegunungan Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.”

Lalu kata Maria, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan kuduslah nama-Nya. Rahmat-Nya turun-menurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.” Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya. (Luk 1:39-56) 

Bacaan Pertama: Why 11:19a;12:1,3-6a. 10ab; Mazmur Tanggapan: Mzm 45:10-12,16; Bacaan Kedua: 1Kor 15:20-26

Dalam peristiwa yang kita rayakan pada hari ini, kita dapat melihat pemenuhan daripada segala janji Allah – pertama-tama kepada Maria dan kemudian kepada segenap umat Allah. Maria ikut ambil bagian dalam kemenangan Yesus atas maut. Dialah yang pertama-tama mengecap apa yang sekarang tersedia bagi kita semua: “Sesudah yang dapat binasa ini mengenakan yang tidak dapat binasa dan yang dapat mati ini mengenakan yang tidak dapat mati, maka akan digenapi firman yang tertulis: ‘Maut telah ditelan dalam kemenangan’” (1Kor 5:54). Maria diangkat ke surga, dijaga oleh Allah dari kerusakan karena kuburan; seperti Yesus, ia mengalahkan kematian dan diangkat tubuh dan jiwanya ke surga.

Allah memberkati Maria secara luarbiasa karena dia telah “percaya bahwa apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan akan terlaksana” (Luk 1:45). Maria percaya sepenuhnya akan janji-janji Allah meskipun untuk itu dia harus hamil sebelum hari pernikahannya; walaupun dia harus melahirkan anaknya di sebuah gua/kandang hewan di Betlehem karena tidak ada tempat bagi mereka; meskipun tidak diinginkan dan ditolak oleh masyarakat; walaupun harus melarikan diri dengan suaminya dan anaknya yang masih sangat kecil ke Mesir; meskipun dia harus menyaksikan kematian Anaknya di kayu salib akibat keputusan “pengadilan” yang samasekali tidak adil. Selama mengalami pencobaan-pencobaan ini, Maria tetap setia terhadap apa yang telah dikatakan Allah kepadanya. Imannya tidak goyah sementara dia menjadi lebih mengenal secara lebih mendalam lagi kasih Allah baginya dan bagi seluruh umat.

Kita dapat bergembira sepenuh hati karena kepercayaan yang sama, ketaatan yang sama dan pengenalan yang sama akan Allah tersedia bagi kita juga. Dalam Magnificat – nya, Maria mengatakan: “Rahmat-Nya turun-menurun atas orang yang takut akan Dia” (Luk 1:50) – sampai pada hari ini. Dalam kasih-Nya, Allah menolong kita agar mau dan mampu menaruh kepercayaan dan mentaati-Nya dalam menghadapi tuntutan-tuntutan kehidupan kita sehari-hari dan dalam pencobaan-pencobaan yang datang tanpa diharapkan dalam kehidupan kita. Setiap hari Dia ingin datang kepada kita, untuk berbicara kepada kita, untuk menolong kita mengenali dan menerima rahmat-Nya.

Marilah kita berterima kasih penuh syukur kepada Allah karena kita dapat mengenal dan mengalami kasih-Nya secara lebih mendalam setiap hari; bahwa Dia akan selalu berbelas-kasihan kepada kita, selalu menolong kita untuk menaruh kepercayaan kepada-Nya. Semoga apa yang telah dilakukan Allah bagi orang-orang yand ina dan rendah di sepanjang sejarah – termasuk hari ini – membangkitan rasa terima kasih dan sukacita di dalam diri kita. Dan semoga kata-kata Elisabet dapat diterapkan bagi kita juga: “Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan akan terlaksana” (Luk 1:45).

DOA: Bapa surgawi, dalam peristiwa Maria diangkat ke surga, Engkau telah menunjukkan pemenuhan akhir dari segala janji-Mu kepada kami. Semoga kami selalu percaya akan sabda-Mu, merangkul dalam setiap situasi kehidupan baru yang dicurahkan kepada kami melalui kematian Yesus di kayu salib. Semoga kami dapat menaruh kepercayaan kepada belas kasihan-Mu dan mengenal serta mengalami kasih-Mu bagi kami secara lebih mendalam lagi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Pertama (Why 11:19a; 12:1,3-6a,10ab) hari ini, silahkan anda membaca tulisan dengan judul “HARUS DILIHAT DARI PERSPEKTIF SURGAWI (bacaan tanggal 13-8-17), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 17-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-8-16 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 11 Agustus 2017 [Peringatan S. Klara dr Assisi, Perawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        

IMANLAH YANG DIPERLUKAN

IMANLAH YANG DIPERLUKAN     

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVIII – Sabtu, 12 Agustus 2017) 

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya kembali kepada orang banyak itu, datanglah seseorang mendapatkan Yesus dan menyembah, katanya, “Tuhan, kasihanilah anakku. Ia sakit ayan dan sangat menderita. Ia sering jatuh ke dalam api dan juga sering ke dalam air. Aku sudah membawanya kepada murid-murid-Mu, tetapi mereka tidak dapat menyembuhkannya.” Lalu kata Yesus, “Hai kamu orang-orang yang tidak percaya dan yang sesat, sampai kapan Aku harus tinggal di antara kamu? Sampai kapan Aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!” Dengan keras Yesus menegur dia, lalu keluarlah setan itu dari dia dan anak itu pun sembuh seketika itu juga.

Kemudian murid-murid Yesus datang dan ketika mereka sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka, “Mengapa kami tidak dapat mengusir setan itu?” Ia berkata kepada mereka, “Karena kamu kurang percaya. Sebab sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, – maka gunung ini akan pindah, dan tidak akan ada yang mustahil bagimu.” (Mat 17:14-20) 

Bacaan Pertama: Ul 6:4-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 18:2-4, 47,51

Ketika Petrus, Yakobus, dan Yohanes berada di atas gunung menyaksikan transfigurasi Yesus, ada hal-hal yang tidak beres atau tidak berjalan dengan semestinya yang dihadapi di bawah sana. Seorang laki-laki telah  membawa anaknya kepada para murid itu agar disembuhkan, dan para murid tersebut ternyata tidak mampu menyembuhkan anak laki-laki yang sakit ayan itu (Mat 17:16). Pada saat Yesus sudah kembali ke bawah dan mendengar apa yang telah terjadi, maka Dia menegur pada murid-Nya perihal ketidakpercayaan mereka. Kemudian Yesus mengusir roh jahat yang merasuki anak itu dan menyembuhkannya.

Ketika para murid bertanya kepada Yesus mengapa mereka tidak mampu mengusir roh jahat dari anak itu, kembali Yesus mengemukakan ketiadaan iman-kepercayaan mereka. Yang jelas dan pasti adalah bahwa hari itu bukanlah hari yang baik bagi para rasul!

Namun kemudian Yesus berjanji – sebuah janji yang akan mengangkat para murid dari self-pity mereka – dan Ia juga memberi mereka pengharapan: “Sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sama, – maka gunung ini akan pindah, dan tidak akan ada yang mustahil bagimu”  (Mat 17:20). Janji ini tidak hanya diperuntukkan bagi para murid Yesus yang pertama, melainkan bagi kita juga. Kadang-kadang perhatian dan susah hati kita dapat memperlemah iman kita. Pengharapan kita dapat menyusut dan membuat kita merasa tidak berdaya dalam menghadapi kesulitan. Situasi-situasi yang memberi tantangan semakin menekan kita dan kita merasa jauh dari Tuhan. Ini adalah waktu-waktu dimana kita harus berpegang teguh pada janji Yesus yang tak tergoyahkan bahwa tidak ada yang tidak mungkin jika kita memiliki benih iman yang paling kecil sekalipun.

Bagaimana caranya kita memelihara bahkan sisa-sisa iman? Iman adalah karunia Allah, namun iman membutuhkan tanggapan kita. Dan barangkali tidak ada cara yang lebih efektif untuk membangun iman daripada datang menghadap hadirat-Nya dalam doa.

Walaupun kedengarannya mengecilkan hati – bahkan menakutkan – hal berdoa itu sesungguhnya cukup mudah. Yang harus kita lakukan adalah mencoba sebaik-baiknya untuk menghilangkan distraksi-distraksi (pelanturan-pelanturan) dan berkonsentrasi pada Yesus. Kita hanya perlu memusatkan pandangan kita pada kasih-Nya dan atas hasrat mendalam yang dimiliki-Nya untuk memberikan segalanya yang kita butuhkan untuk hidup dalam kekudusan. Yesus sangat ingin melihat bahwa kita mempunyai iman yang lebih, dan Ia bahkan sangat berhasrat untuk mencurahkan segala rahmat yang kita butuhkan agar bertumbuh dalam iman dan melihat bahwa iman itu bertumbuh dan bertumbuh – seperti pohon sesawi.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah diriku agar dapat memusatkan pandanganku pada-Mu, bukan pada diriku sendiri. Berikanlah kepadaku suatu pemahaman yang segar tentang kasih-Mu bagiku. Penuhilah diriku dengan Roh-Mu sehingga dengan demikian aku akan berjalan dengan/oleh iman dan menjadi saksi-Mu bagi dunia yang sangat membutuhkan kasih-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 17:14-20), bacalah tulisan yang berjudul “IMAN SEBESAR BIJI SESAWI” (bacaan tanggal 12-8-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 8-8-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 10 Agustus 2017 [Pesta S. Laurensius, Diakon Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

BIAYA KEMURIDAN DALAM MENGIKUT YESUS

BIAYA KEMURIDAN DALAM MENGIKUT YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Klara, Perawan – Jumat, 11 Agustus 2017)

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta S. Klara dr Assisi, Perawan – Ordo II

Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Jika seseorang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi siapa yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi mailakat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Di antara orang yang di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya.” (Mat 16:24-28) 

Bacaan Pertama: Ul 4:32-40; Mazmur Tanggapan: Mzm 77:12-16,21

Siapa saja yang ingin menekuni profesi yang membutuhkan keterampilan tertentu, mengakui bahwa ada “biaya” atau “harga” yang harus dibayar untuk memperoleh privilese tersebut. Studi, magang dan ketekunan dibutuhkan untuk mempelajari profesi, dan selama masa tersebut banyak hal lain harus dikesampingkan/dikorbankan.

Dengan cara serupa, Yesus mengajar bahwa ada “biaya” yang harus dibayar untuk mengikut Dia. Yesus mengatakan kepada para murid-Nya bahwa Dia sedang menuju Yerusalem untuk menderita dan mati (Mat 16:21). Mereka yang menjadi murid/pengikut-Nya harus memikul salib karena seorang hamba/pelayan haruslah seperti tuannya (Mat 16:24; 10:24-25).

Memikul salib bukanlah masalah dengan sedih menanggung sengsara atau kesulitan hidup, atau mendisiplinkan diri kita agar dapat melakukan hal-hal yang benar secara moral. Salib seharusnya tidak dipandang sebagai sebuah instrumen kesedihan dan kematian saja, melainkan sebagai instrumen pilihan Allah sendiri untuk mengalahkan kuasa dosa. Melalui salib-lah orang-orang menerima kehidupan dan dengan demikian mampu masuk ke dalam Kerajaan Allah. Memikul salib berarti mengembangkan suatu sikap hati yang …. mengikut Yesus dalam jalan kematian ke dalam kehidupan.

Kata-kata Yesus tentang membuang cara-cara duniawi mungkin terasa keras (Mat 16:25). Bagaimana pun juga kita-manusia adalah pengada spiritual (spiritual being, di samping rational being, emotional being, social being). Sebagai spiritual being, rumah kita yang sesungguhnya adalah di surga dan sekarang kita dipanggil oleh Yesus untuk membuang segala hal yang menjauhkan kita dari kasih Allah dan tujuan kekal kita. Hal-hal yang kita hasrati, paling sering kita pikirkan, dan memakai sebagian waktu kita untuk itu, adalah hal-hal cinta kita yang pertama. Para pengikut/murid Yesus tidak dapat disibukkan dengan hal-hal yang spiritual dan pengejaran hal-hal duniawi. Sang Guru telah mengajarkan kepada kita, bahwa kita tidak dapat melayani dua tuan.

Memang kemuridan/pemuridan menyangkut “biaya”, namun kita juga tidak boleh lupa bahwa dari salib datanglah kehidupan. Salib adalah tanda kematian, pada saat bersamaan salib adalah tanda kemenangan bagi para pengikut/murid Yesus. Salib membuka pintu bagi kita untuk memasuki kehidupan yang sejati – baik sekarang maupun dalam kekekalan. Itulah sebabnya mengapa Yesus mengajar bahwa “siapa yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya” dan bahwa Anak Manusia “… akan membalas setiap orang menurut perbuatannya” (Mat 16:25,27).

DOA: Tuhan Yesus, tanamkanlah dalam hatiku suatu hasrat mendalam untuk memikul salib sehingga dengan demikian aku dapat menerima kehidupan sesuai dengan kehendak Bapa surgawi. Semoga aku dapat seperti Engkau yang dengan bebas memikul salibku dalam kehidupan ini. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 16:24-28), bacalah tulisan yang berjudul “SIAPA YANG MAU MENYELAMATKAN NYAWANYA ……” (bacaan tanggal 11-8-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 5-8-16 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 9 Agustus 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MEMBERI DENGAN SUKACITA

MEMBERI DENGAN SUKACITA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, PESTA S. LAURENSIUS, DIAKON-MARTIR – Kamis, 10 Agustus 2017) 

Perhatikanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. Hendaklah masing-masing memberi menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. Lagi pula, Allah sanggup melimpahkan segala anugerah kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam berbagai perbuatan baik. Seperti ada tertulis: “Ia membagi-bagikan, Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaran-Nya tetap untuk selamanya.” [1]  Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu. (2Kor 9:6-10) 

[1] 2Kor 9-9, lihat Mzm 112:9 

Mazmur Tanggapan: Mzm 112:1-2,5-9; Bacaan Injil: Yoh 12:24-26

“Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita” (2Kor 9:7).

Santo Laurensius [+ 258] adalah seorang diakon gereja di Roma. Kepadanya dipercayakan dua tanggung jawab, yakni melayani orang-orang miskin dan juga menjaga harta-benda gereja. Pada masa pengejaran dan penganiayaan atas umat Kristiani di tahun 258, Cornelius, perfek Roma memerintahkan Laurensius untuk menyerahkan harta-kekayaan gereja kepada Kaisar.

Pada hari yang telah ditetapkan, Laurensius dengan bangga mempresentasikan kepada Cornelius sekumpulan besar orang yang terdiri dari para janda, yatim-piatu, orang buta dan lumpuh – semuanya yang hidup didukung dan donasi umat Kristiani. Cornelius berkata: “Inilah harta-kekayaan Gereja”. Mendengar itu, sang perfek menjadi naik pitam dan memerintahkan agar Laurensius diikat lalu digiring ke sebuah tempat untuk dibakar hidup-hidup. Peristiwa itu sama sekali tidak mengintimidasi gereja, seperti diharapkan Cornelius. Sebaliknya, kemartiran Laurensius malah mendorong banyak orang lain untuk menerima dan merangkul Yesus dan mempraktekkan kasih Kristiani.

Santo Paulus mengingatkan kita bahwa kita tidak dapat mengalahkan Allah dalam hal kemurahan-hati. Sang rasul menulis: “Allah sanggup melimpahkan segala anugerah kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam berbagai perbuatan baik” (2Kor 9:8). Kasih sejati tidak mengenal kalkulasi untung-rugi, kasih sejati memberi dengan bebas. Bilamana Allah memberi, maka Dia memberi dengan berlimpah dari kasih-Nya yang tidak pernah mati, rahmat yang berkelimpahan, dan kerahiman yang tak mengenal batas.

Pada suatu kesempatan, Santo Augustinus [354-430] mengatakan, bahwa Allah senantiasa mencoba memberikan kepada kita segala sesuatu yang baik, namun tangan-tangan kita sudah terlalu penuh dengan yang lain-lain, sehingga tak lagi dapat menerima pemberian Allah itu. Hati kita seringkali tertawan oleh hal-hal yang kita hargai dan puja-puja. Dengan menambatkan diri pada hal-hal tersebut, sebenarnya kita menyediakan sedikit saja ruangan bagi rahmat Allah. Suatu roh yang murah-hati tidak hanya membebaskan kita untuk memberi tanpa rasa enggan, melainkan juga membuat diri kita reseptif terhadap Dia yang dapat memuaskan hasrat terdalam hati kita.

Apabila kita memberi dengan bebas dan dengan kemurahan-hati apa yang kita miliki – waktu, uang, ilmu-pengetahuan dan sumber daya lainnya – kepada mereka yang miskin, cacat atau terabaikan dalam masyarakat, maka sebenarnya kita meneladan Yesus yang mengasihi kita dan memberikan hidup-Nya sendiri untuk keselamatan kita. Santo Augustinus juga mengatakan: “Kasih mempunyai tangan-tangan untuk menolong orang-orang lain. Kasih mempunyai kaki-kaki untuk bergegas kepada orang-orang miskin dan membutuhkan pertolongan. Kasih mempunyai mata untuk melihat kesengsaraan dan kekurangan. Kasih mempunyai telinga untuk mendengar keluhan-keluhan dan duka-cita orang lain.” Marilah kita memohon kepada Allah agar Roh Kudus-Nya membentuk diri kita menjadi pribadi-pribadi yang lebih atentif terhadap kebutuhan-kebutuhan sesama ini, dan untuk menjadikan kita para pemberi yang penuh sukacita, seperti Yesus sendiri.

DOA: Bapa surgawi, semoga kasih-Mu menginspirasikan anak-anak-Mu di mana saja untuk memberi dengan kemurahan-hati kepada orang-orang miskin dan berkekurangan di seluruh dunia, tanpa membedakan agama, kepercayaan, bangsa dan bahasa mereka. Ya Allahku yang Mahabaik, penuhilah diriku dengan kemurahan-hati-Mu. Amin.

CatatanUntuk mendalami bacaan Injil hari ini (Yoh 12-24-26), bacalah juga tulisan yang berjudul “JIKA BIJI GANDUM JATUH KE DALAM TANAH DAN MATI” (bacaan untuk tanggal 10-8-17), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2012) 

Cilandak, 8 Agustus 2017 [Peringatan S. Dominikus, Pendiri OP, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ORANG KRISTIANI YANG POSITIF ATAU NEGATIF?

ORANG KRISTIANI YANG POSITIF ATAU NEGATIF?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVIII – Rabu, 9 Agustus 2017)

 

Kemudian Yesus pergi dari situ dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon. Lalu datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru, “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita.” Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya, “Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita sambil berteriak-teriak.” Jawab Yesus, “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata, “Tuhan tolonglah aku.” Tetapi Yesus menjawab, “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Kata perempuan itu, “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” Lalu Yesus berkata kepadanya, “Hai ibu, karena imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” Seketika itu juga anaknya sembuh.  (Mat 15:21-28) 

Bacaan Pertama: Bil 13:1-2a,25-14:1,26-29,34-35; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:6-7,13-14,21-23 

Pernahkah Saudari-Saudara memikirkan dan bertanya kepada diri sendiri apakah anda seorang Kristiani positif atau seorang Kristiani yang  negatif? Dua hal itu sangat berbeda satu sama lain. Apabila anda adalah seorang Kristiani yang positif, maka anda menjadikan dunia sebuah tempat yang lebih baik karena pengaruh baik dan positif atas diri orang-orang lain. Sebaliknya, jika anda adalah seorang Kristiani yang negatif, maka anda menjadikan dunia ini lebih buruk dan lebih rusak karena dosa daripada sebelum anda datang.

Ada banyak tes dengan mana kita dapat melihat apakah kita adalah orang yang positif/plus atau negatif/minus sebagai seorang Kristiani. Satu cara adalah lewat sikap yang kita ambil terhadap tindakan-tindakan orang lain. Misalnya, apakah sikap yang kita (anda dan saya) ambil terhadap Yesus dalam bacaan Injil hari ini? Apakah kita merasa  negatif terhadap apa yang dilakukan oleh Yesus? Apakah anda kaget dan merasa tidak enak tentang sikap dan kata-kata Yesus yang terasa kasar atau “dingin” terhadap perempuan Kanaan itu?

Atau, apakah kita merasa positif tentang Yesus di sini? Apakah kita bertanya, “Apakah yang Yesus ketahui, sedangkan aku tidak ketahui, sampai-sampai Dia men-tes perempuan kafir ini? Apakah Yesus mengetahui ada sebuah rumah harta iman dan kerendahan hati dalam diri perempuan Kanaan yang hebat ini, sehingga Yesus dapat menyatakan dengan cara terbaik tentang hal itu lewat men-tes perempuan itu? Dalam kenyataannya, itulah tentunya yang terjadi. Yesus men-tes perempuan itu, dan imannya, kerendahan hatinya, dan ketekunannya ternyata indah dan berkenan kepada-Nya.

Ini adalah semuanya kualitas doa dan kualitas hidup yang Yesus ajarkan tanpa bosan-bosan. Adakah cara lain yang lebih baik yang dapat diajarkan-Nya, kecuali dengan menggunakan sebuah contoh hidup kepada kita? Perempuan Kanaan yang beriman  adalah jawaban perempuan kepada orang laki-laki beriman, perwira Romawi. Perwira ini juga dipandang oleh Yesus sebagai contoh dari iman yang besar: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel” (Mat 8:10).

Jadi, apakah sebenarnya yang diajarkan Yesus lewat contoh perempuan Kanaan ini? Ada beberapa hal: (1) Jangan menyerah jika doa kita tidak langsung dijawab. (2) Allah men-tes atau menguji, untuk mendapatkan yang terbaik dari diri kita. (3) Janganlah kita mengancam Allah atau membuat tuntutan-tuntutan dengan doa kita. Kita harus menaruh kepercayaan terhadap kasih-Nya bagi kita, seperti yang ditunjukkan oleh perempuan Kanaan ini. Kita harus menaruh kepercayaan bahwa Allah mengasihi diri kita masing-masing sepenuhnya seperti Dia mengasihi orang-orang yang terjawab doanya. Dapat saja Tuhan melihat bahwa kita membutuhkan pertumbuhan riil dalam iman dan keberanian, dalam hal kesabaran dan ketekunan. Percayalah Allah melihat bahwa kita kiranya membutuhkan keutamaan-keutamaan ini lebih daripada hal-hal lain yang kita mohonkan.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau mengasihi diriku. Perkenankanlah aku mempersembahkan hidupku kepada-Mu dan aku percaya kepada-Mu untuk membuang segala hal yang menghalangi diriku untuk mengenal dan mengalami Engkau. Yesus, Engkau adalah pengharapanku. Terpujilah nama-Mu selalu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 15:21-28), bacalah tulisan yang berjudul “PEREMPUAN KAFIR YANG MEMILIKI IMAN BESAR” (bacaan tanggal 9-8-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-08  BACAAN HARIAN AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 3-8-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 7 Agustus 2017 [Peringatan B. Agatangelus & Kasianus, Imam Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS