HATI YESUS TERGERAK OLEH BELAS KASIHAN

HATI YESUS TERGERAK OLEH BELAS KASIHAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Kamis, 11 Januari 2018)

Seseorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya, “Kalau Engkau mau, Engkau dapat menyembuhkan aku.”  Lalu tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan. Ia mengulurkan tangan-Nya, menyentuh orang itu dan berkata kepadanya, “Aku mau, jadilah engkau tahir.”  Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu dan ia sembuh. Segera Ia menyuruh orang ini pergi dengan peringatan keras, “Ingat, jangan katakan sesuatu kepada siapa pun juga, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk upacara penyucianmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka.”  Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu serta menyebarkannya ke mana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang terpencil; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru. (Mrk 1:40-45) 

Bacaan Pertama: 1Sam 4:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 44:10-11,14-15,24-25

Kita dapat saja berspekulasi mengenai apa yang dipikirkan oleh orang kusta itu ketika Yesus menyembuhkannya tetapi memberinya peringatan keras untuk tidak “membocorkan info” sehubungan dengan peristiwa mukjizat ini (lihat Mrk 1:44). Barangkali orang kusta yang baru disembuhkan itu tidak tahan lagi menahan entusiasme yang melanda dirinya, lalu dia pun pergi ke mana-mana menceritakan peristiwa yang baru dialaminya. Mungkin saja dia berpikir, dengan menyebarkan informasi ini ke mana-mana, dia melakukan sesuatu yang baik bagi Yesus. Markus menggunakan kisah ini untuk memperkenalkan dua tema yang akan terlihat sepanjang Injilnya, yakni pertama: Yesus meminta dengan tegas dipegangnya “rahasia mesianis” dan kedua: ketegangan yang segera akan mengelilingi-Nya.

Dalam seluruh Injil-nya, Markus menggambarkan Yesus yang “enggan” menyandang gelar “Mesias” (lihat Mrk 1:34; 3:12; 5:43; 7:36; 8:26; 9:9). Markus menekankan “keengganan” Yesus ini untuk mengajar para pembaca, bahwa bukan segala mukjizat itulah yang menyatakan/mewahyukan diri-Nya sebagai Mesias. Mukjizat-mukjizat itu menunjuk kepada suatu perwahyuan yang lebih penuh, yakni: Dia yang diurapi Allah akan membebaskan kita dari dosa oleh kematian-Nya di kayu salib. Oleh karena itu siapa saja yang mau menjadi murid sang Mesias ini harus memanggul salibnya dan mengikuti-Nya (lihat Luk 9:23; bdk. Mat 10:38; Luk 14:27).

Orang kusta yang disembuhkan itu mengabaikan perintah Yesus, namun – seperti diterangkan di atas – bisa saja atas dasar “maksud baik” manusiawi. Tetapi dengan demikian dia membawa masuk segala ketegangan yang akan mempengaruhi pelayanan-pelayanan Yesus selanjutnya. Sebelum itu semuanya berjalan lancar dan fantastis: mukjizat-mukjizat, pengusiran roh-roh jahat dsb. Akan tetapi tiba-tiba muncul kerumitan: “…Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota”  (Mrk 1:45). Perubahan suasana ini memberi petunjuk mengenai konfrontasi yang akan dialami Yesus dengan orang-orang Farisi dll. – suatu konfrontasi yang akhirnya akan membawanya ke kayu salib (lihat Mrk 2:6-7; 3:6).

Yesus mengetahui benar bahwa pelayanan-Nya akan menyebabkan timbulnya konflik. Orang kusta yang disembuhkan itu tidak kooperatif, dia mengabaikan perintah Yesus atau mungkin juga berpikir untuk “memperbaiki” rencana Allah. Serupa halnya dengan kodrat manusia pada sisi buruknya, mau tidak mau akan berkonflik dengan Kerajaan Allah. Namun Yesus tidak pernah membiarkan konflik ini menjadi penghalang bagi-Nya untuk memanggil orang-orang datang kepada-Nya. Yesus menerima biaya/harga dari konflik, meski maut sekali pun, demi membebaskan kita.

Marilah kita mengikuti Mesias kita yang dengan rendah hati begitu taat kepada Bapa surgawi dalam segala hal. Janganlah kita dengan “seenaknya” mengambil dan memilih yang mau kita taati saja (artinya ada yang kita tidak ambil dan tidak pilih untuk ditaati). Sebaliknya berikanlah kepada Yesus keseluruhan hati kita. Hanya dengan demikian kita akan mengalami sukacita sesungguhnya dari suatu relasi yang lebih mendalam dengan-Nya.

Betapa pun catatan negatif yang ada pada kita tentang orang kusta itu, kita harus sangat menghargai imannya yang begitu kuat (namun tanpa memaksa-maksa Tuhan), seperti tercermin dalam kata-kata permohonannya kepada Yesus: “Kalau Engkau mau, Engkau dapat menyembuhkan aku” (Mrk 1:40). Permohonan penuh iman inilah yang menggerakkan hati Yesus oleh belas kasihan, dan Yesus pun menyembuhkan orang itu (lihat Mrk 1:41-42). Sungguh patut kita teladani!

DOA: Ya Tuhan Yesus, melakukan kehendak-Mu adalah sukacitaku. Terima kasih kasih Tuhan, Engkau membebaskan aku sehingga dapat melayani-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:40-45), bacalah tulisan yang berjudul “HIDUP SETURUT KEHENDAK ALLAH” (bacaan  tanggal 11-1-18), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; 18-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-1-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 8 Januari 2018 [PESTA PEMBAPTISAN TUHAN] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

MENYERAHKAN HIDUP KITA KEPADA YESUS

MENYERAHKAN HIDUP KITA KEPADA YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Rabu, 10 Januari 2018)

Sekeluarnya dari rumah ibadat itu Yesus bersama Yakobus dan Yohanes pergi ke rumah Simon dan Andreas. Ibu mertua Simon terbaring karena sakit demam. Mereka segera memberitahukan keadaannya kepada Yesus. Ia pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Ia membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka. Menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan. Seluruh penduduk kota itu pun berkerumun di depan pintu. Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan; Ia tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara, sebab mereka mengenal Dia.

Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang terpencil dan berdoa di sana. Tetapi Simon dan kawan-kawannya mencari-cari Dia. Ketika mereka menemukan-Nya, mereka berkata kepada-Nya, “Semua orang mencari Engkau.”  Jawab-Nya, “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota sekitar ini, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.”  Lalu pergilah Ia ke seluruh Galilea memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan-setan.  (Mrk 1:29-39)

Bacaan Pertama: 1Sam 3:1-10,19-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 40:2,5,7-10

Yesus menyembuhkan setiap orang yang datang kepada-Nya di Kapernaum. Dia menerima setiap orang, bahkan orang-orang yang mungkin dipertimbangkan sebagai orang-orang yang tak masuk hitungan. Bagi Yesus, tidak ada orang yang dibuang. Yesus membuat jelas bahwa Dia datang untuk menjungkir-balikkan pekerjaan Iblis serta roh-roh jahat pengikutnya, dan membereskan perusakan/kerusakan akibat dosa. Melalui jamahan penyembuhan-Nya, Yesus mengundang setiap orang untuk mengikuti Dia dan memperkenankan Dia memerintah dalam hati mereka.

Ibu mertua Simon Petrus adalah seorang dari mereka yang menerima undangan Yesus itu. Begitu dia menerima jamahan penyembuhan dari Yesus, dia mulai melayani-Nya dan para murid yang ikut serta dengan-Nya (Mrk 1:31). Kelihatan di sini tidak ada keragu-raguan di pihak sang ibu mertua: Dia begitu bersyukur atas apa yang dilakukan Tuhan Yesus terhadap dirinya, sehingga setelah disembuhkan langsung saja dia bangkit berdiri untuk melayani-Nya.

Melalui Yesus, kerajaan Allah telah datang kepada kita – suatu sentuhan surga pada bumi. Yesus menawarkan penyembuhan kepada masing-masing dari kita – tubuh, pikiran dan roh – sehingga kita pun akan menanggapi dengan penuh sukacita, melayani Dia dan umat-Nya dalam cintakasih. Ibu mertua Simon memberikan kepada kita sebuah contoh cara pelayanan Kristiani. Seandainya dia tidak disembuhkan terlebih dahulu, maka dia pun tidak akan mampu untuk melayani. Tetapi, sekali dia mengalami kerahiman dan penyembuhan ilahi dari Tuhan, dia pun bebas untuk memberikan dirinya sendiri secara penuh bagi Tuhan.

Yesus memanggil kita semua untuk melayani Allah dan sesama. Akan tetapi, sebelum kita menjadi pelayan-Nya, adalah vital bahwa kita mengalami karya penyembuhan-Nya dulu dalam hidup kita. Kita semua telah dilukai oleh efek-efek dosa, dan kita membawa tanda-tandanya dalam tubuh dan hati kita. Sampai berapa jauh kita memperkenankan Tuhan melayani kita dengan menyembuhkan diri kita, sampai sebegitu jauh pula kita akan mampu bergabung dengan-Nya dalam pekerjaan membangun kerajaan-Nya di muka bumi ini. Melayani Tuhan bukanlah sesuatu yang kita kerahkan dari kebaikan kita sendiri. Ini adalah sesuatu yang bertumbuh dalam diri kita selagi kita menyerahkan hidup kita kepada tangan-tangan penyembuhan sang Guru dan Dokter Agung. Marilah kita membawa luka-luka dan sakit-penyakit kita kepada Yesus dan mohon kepada-Nya agar menyembuhkan kita, sehingga kita dapat menjadi pelayan-pelayan-Nya yang penuh sukacita.

DOA: Tuhan Yesus, datanglah dan sembuhkanlah kami sehingga kerajaan-Mu akan datang ke muka bumi ini dalam kepenuhan dan kuat-kuasa. Kami menyerahkan hidup kami kepada-Mu agar supaya kami dapat mengasihi-Mu, melayani-Mu dan bersama dengan-Mu, dengan demikian dapat menjadi perpanjangan tangan-Mu bagi duna di sekeliling kami. Terpujilah Nama-Mu, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:29-39), bacalah tulisan yang berjudul “KITA PUN SEMAKIN SEDIKIT BERBICARA DAN LEBIH BANYAK MEMAKAI WAKTU KITA UNTUK MENDENGARKAN SUARA TUHAN” (bacaan tanggal 10-1-18), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; 18-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-1-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 7 Januari 2018 [HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SUATU AJARAN BARU DISERTAI DENGAN KUASA

SUATU AJARAN BARU DISERTAI DENGAN KUASA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Selasa, 9 Januari 2018) 

Yesus dan murid-murid-Nya tiba di Kapernaum. Setelah hari Sabat mulai, Yesus segera masuk ke dalam rumah ibadat dan mengajar. Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat. Pada waktu itu di dalam rumah ibadat mereka, ada seorang yang kerasukan roh jahat. Orang itu berteriak, “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? Apakah Engkau datang untuk membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.”  Tetapi Yesus membentaknya, “Diam, keluarlah dari dia!”  Roh jahat itu mengguncang-guncang orang itu, dan sambil menjerit dengan suara nyaring roh itu keluar dari dia. Mereka semua  takjub, sehingga mereka memperbincangkannya, katanya, “Apa ini? Suatu ajaran baru disertai dengan kuasa! Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka taat kepada-Nya!”  Lalu segera tersebarlah kabar tentang Dia ke segala penjuru di seluruh Galilea. (Mrk 1:21-28)

Bacaan Pertama: 1Sam 1:9-20; Mazmur Tanggapan: 1Sam 2:1,4-7

Pelayanan Yesus di depan publik telah dimulai. Tidak pernah kelihatan yang seperti itu sebelumnya. Orang-orang heran dan bertanya-tanya, “Apa ini? Suatu ajaran baru disertai dengan kuasa! Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka taat kepada-Nya!”  (Mrk 1:27). Dengan kuasa dan kewenangan, Yesus berbicara kepada hati orang-orang dan mengusir roh jahat di depan orang-orang. Semua orang yang menyaksikan peristiwa ini menjadi takjub dan kagum. Ini bukan sekedar khotbah. Ini mengingatkan kita kepada apa yang ditulis oleh Santo Paulus, “Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan bukti bahwa Roh berkuasa” (1 Kor 2:4).

Setiap kebenaran Injil dapat dipilah-pilah dan dianalisis dengan kekuatan intelek dan hal itu samasekali tidak salah, asal saja tidak jadi membingungkan kita atau malah membuat kita tertipu oleh si Jahat. Tetapi ada sesuatu yang lebih penting dan lebih memiliki kuasa, yang diberikan oleh Yesus kepada kita. Dia datang untuk memproklamasikan kebenaran sedemikian sehingga akan memerdekakan kita. Yesus berfirman: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh 3:31-32).

Kata-kata Yesus mempunyai kuasa untuk menghukum kita, menghibur kita, menyembuhkan kita dan bahkan membebaskan kita. Kata-kata Yesus mencakup pemahaman manusiawi, akan tetapi tidak terbatas sampai di situ saja.

Apakah kita mengetahui kebenaran Injil sedemikian rupa sehingga kita dapat mengalami kuasa-Nya untuk memerdekakan diri kita? Apakah kita mengalami kemerdekaan, sukacita dan keakraban dengan Yesus sebagai akibat dari kita mendengarkan firman-Nya yang diproklamasikan dalam liturgi Gereja, pada pertemuan kelompok doa dan/atau Kitab Suci, pada saat-saat berdoa secara pribadi, atau pada saat-saat pembacaan dan permenungan Kitab Suci secara pribadi? Ini adalah warisan kita sebagai anak-anak Allah yang telah dibaptis.   Selagi kita mengalami kasih ilahi-Nya, kita pun akan menyerahkan diri kita lebih penuh lagi kepada firman-Nya. Kita akan mengenal, mengakui serta mematuhi kewenangan dan kuasa-Nya dalam hidup kita; dan keluarga dan teman-teman kita pun akan mengenali adanya perbedaan dalam diri kita.

Yesus merindukan kita masing-masing untuk mengundang Dia ke dalam hati kita – pusat terdalam dari keberadaan kita – tidak hanya ke dalam pikiran kita. Hati adalah tempat keputusan di mana kita bertemu dengan Allah dan digerakkan secara mendalam oleh kasih-Nya. “Hati adalah ….. pusat kita yang tersembunyi, yang tidak dapat dimengerti baik oleh akal budi kita maupun oleh orang lain”  (Katekismus Gereja Katolik, 2563). Marilah sekarang kita membuka hati kita lebih penuh lagi bagi Yesus dan memperkenankan kuasa-Nya mengubah kita.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau saja yang mengetahui hati kami dan hasrat yang ada dalam hati kami itu. Pada saat ini kami mengundang-Mu untuk memasuki bagian terdalam dari keberadaan kami dan mengikat kami pada hati-Mu. Bebaskanlah kami, ya Tuhan, dari segala kejahatan dan ajarlah kami bagaimana hidup untuk-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Sam 1:9-20), bacalah tulisan yang berjudul “KEHIDUPAN ITU ADALAH KARUNIA DARI ALLAH YANG SANGAT BERHARGA” (bacaan tanggal 9-1-18), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; 18-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-1- 17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 7 Januari 2018 [HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PEMBAPTISAN TUHAN YESUS DI SUNGAI YORDAN

PEMBAPTISAN TUHAN YESUS DI SUNGAI YORDAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta Pembaptisan Tuhan – Senin, 8 Januari 2018)

Ia memberitakan demikian, “Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa daripada aku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus.”

Pada waktu itu datanglah Yesus dari Nazaret di tanah Galilea, dan Ia dibaptis di Sungai Yordan oleh Yohanes. Pada saat Ia keluar dari air, langsung Ia melihat langit terkoyak, dan Roh seperti burung merpati turun ke atas-Nya. Lalu terdengarlah suara dari surga, “Engkaulah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Mulah Aku berkenan.”(Mrk 1:7-11) 

Bacaan Pertama: Yes 55:1-11 atau Kis 10:34-38; Mazmur Tanggapan: Yes 12:2-6; Bacaan Kedua: 1Yoh 5:1-9 

Pada hari Minggu kemarin kita merayakan “Hari Raya Penampakan Tuhan” atau “Hari Raya Epifani”. Kita melihat bahwa kata “epifani” berarti “manifestasi”. Sang Bayi Yesus dimanifestasikan sebagai sang Juruselamat, tidak hanya bagi orang-orang Yahudi, melainkan juga untuk segenap umat manusia. Pada hari ini, “Pesta Pembaptisan Tuhan”, juga merupakan suatu “epifani”, suatu pesta yang merupakan manifestasi Tuhan Yesus yang lebih mendalam lagi.

Pada hari ini Gereja minta kepada kita untuk menyingkirkan gambaran kandang Yesus yang manis penuh romantisme. Hari ini kita harus melihat Yesus tidak sebagai seorang bayi kecil yang tak berdaya, melainkan sebagai seorang laki-laki dewasa yang mengambil alih serta menanggung sebuah beban dan tanggung jawab yang sangat berat. Beban ini adalah beratnya dosa-dosa umat manusia, sedangkan tanggung jawab di sini adalah “reparasi” atas dosa-dosa itu.

Kenyataan bahwa Yesus dibaptis oleh Yohanes merupakan sesuatu yang sungguh sulit untuk dicerna oleh Gereja awal. Baptisan Yohanes merupakan baptisan tobat untuk pengampunan dosa-dosa. Gereja awal sangat menyadari kenyataan bahwa Yesus sebagai Yang Ilahi mutlak tanpa dosa. Pertanyaannya adalah mengapa seseorang yang tanpa dosa harus menyerahkan diri untuk dibaptis, yang di dalam rituale-nya termasuk pengakuan dosa. Kenyataan bahwa Tuhan kita dibaptis oleh Yohanes menunjukkan bahwa Dia mengambil alih serta menanggung dosa-dosa seluruh dunia, walaupun Ia sendiri sempurna tanpa dosa.

Yesus menanggung sendiri dosa-dosa dunia untuk menghilangkan rasa bersalah. Seperti yang dikatakan oleh Santo Yohanes Pembaptis: “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yoh 1:29, 36). Baptisan Yesus adalah suatu perendahan diri sendiri, suatu ungkapan kedinaan. Namun dari dalam air sungai Yordan, Yesus muncul sebagai seorang Juruselamat yang dimuliakan.

Sabda atau kata-kata Allah Bapa juga merupakan suatu epifani, suatu manifestasi: “Engkaulah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Mulah Aku berkenan” (Mrk 1:11). Kata-kata ini membuat jelas nas-nas tentang Hamba YHWH yang menderita dalam Perjanjian Lama. Dalam Kitab Yesaya kita membaca: “Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan …” (Yes 42:1). Dalam artian yang paling penuh, ide tentang hamba YHWH yang menderita terwujud dalam diri Yesus, dan Yesus sendirilah yang dengan jelas mengidentifikasikan diri-Nya sebagai Hamba Allah. Jadi, Yesus memang menderita demi dosa-dosa semua orang.

Dengan demikian, pesta hari ini memanifestasikan bahwa Yesus datang ke tengah dunia untuk menjadi Juruselamat kita melalui ketaatan dan penerimaan-Nya yang penuh kasih terhadap penderitaan. Namun pesta ini juga memanifestasikan bagaimana seharusnya kita menjalani hidup kita sebagai umat Kristiani, sebagai para pengikut Kristus, sebagai murid-murid-Nya, sebagai orang-orang yang menghayati hidup-Kristus pada hari ini.

Hidup kita sebagai umat Kristiani dimulai pada saat baptisan kita. Baptisan ini pun merupakan perendahan diri kita, suatu ungkapan kedinaan. Namun kita muncul dari dalam air baptis sebagai manusia baru dengan suatu hidup baru. Baptisan kita merupakan sebuah akhir, namun pada saat yang sama juga merupakan sebuah awal. Baptisan adalah akhir dari hidup dosa dan awal dari hidup baru dalam kebaikan Allah. Baptisan adalah suatu keikutsertaan dalam kematian dan kebangkitan Yesus.

Sebagai orang yang sudah dibaptis, maka setiap kali kita merayakan Misa, kita mengidentifikasikan diri kita dengan Yesus, selagi kematian kurban-Nya di kayu salib dihadirkan kembali. Secara implisit kita mengatakan bahwa kita pun ingin untuk menjadi hamba-hamba Allah yang menderita, dan kita kita pun ingin menerima penderitaan apa pun yang diperlukan untuk memisahkan diri kita dari kedosaan. Kita masing-masing tentunya telah mengalami bahwa penyangkalan diri dan penderitaan seringkali terlibat dalam upaya menghindari dosa. Bahkan lebih penting lagi adalah upaya untuk secara positif menjalani suatu kehidupan yang baik, yaitu suatu kehidupan seperti-Kristus yang penuh pengorbanan dan kemurahan-hati. Dalam Misa Kudus kita tidak hanya mengidentifikasikan diri kita dengan penderitaan dan kemurahan-hati Kristus, melainkan juga kita melihat model dan teladan sempurna berkaitan dengan pertanyaan bagaimana hidup kita seharusnya: suatu pemberian diri kita sendiri kepada Allah dalam ketaatan dan kasih.

Semua pengorbanan dan kemurahan-hati memang bernilai karena semua itu akan memimpin kita kepada kepenuhan hidup yang kita rindukan. Santo Paulus mengingatkan bahwa kita harus menyadari bahwa “Jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya bahwa kita akan hidup juga dengan Dia” (Rm 6:8).

Pada hari ini Gereja memanggil kita agar memindahkan perhatian kita dari sang Bayi yang berbaring dalam palungan kepada SALIB sang Juruselamat. Namun dengan melakukan hal itu Gereja tidak merusak sukacita dan kebahagiaan kita pada hari Natal. Pada hari ini Gereja menunjukkan kepada kita tujuan kelahiran Kristus itu sendiri: kepenuhan hidup yang datang dari penderitaan dan kematian Yesus. Pada hari ini kepenuhan hidup itu adalah pengharapan dan ekspektasi kita.

DOA: Bapa surgawi, Allah yang Mahakuasa, kuduslah nama-Mu. Bapa, aku merasa takjub penuh syukur perihal apa saja yang telah Engkau berikan kepadaku dalam Kristus. Bukalah mata hatiku agar dapat melihat berkat-berkat spiritual dari-Mu. Luaskanlah pengertianku agar dengan demikian aku dapat memahami segala hal yang telah kuterima melalui baptisanku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Midsa Misa hari ini (Mrk 1:7-11), bacalah tulisan dengan judul “ENGKAULAH ANAK-KU YANG TERKASIH” (bacaan tanggal 8-1-18), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; 18-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2018. 

Cilandak, 4 Januari 2018 (Peringatan S. Angela dr Foligno, Ordo III S. Fransiskus) 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HARI RAYA EPIFANI

HARI RAYA EPIFANI

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Raya Penampakan Tuhan – Minggu, 7 Januari 2018

HARI ANAK MISIONER SEDUNIA

 

Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman Raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem dan bertanya-tanya, “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.”  Ketika Raja Herodes mendengar hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem. Lalu dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, kemudian dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan. Mereka berkata kepadanya, “Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi: Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari engkaulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel.” Lalu dengan diam-diam Herodes memanggil orang-orang majus itu dan dengan teliti bertanya kepada mereka kapan bintang itu tampak. Kemudian ia menyuruh mereka ke Betlehem, katanya, “Pergi dan carilah Anak itu dengan teliti dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya aku pun datang menyembah Dia. Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada. Ketika melihat bintang itu, mereka sangat bersukacita. Mereka masuk ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, dupa dan mur. Kemudian karena diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain. (Mat 12:1-12) 

Bacaan Pertama: Yes 60:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 72:1-2,7-8,10-13; Bacaan Kedua: Ef 3:2-3a,5-6 

Begitu agung Inkarnasi dari Putera Allah sehingga bintang-pun menjadi saksi akan kebesaran peristiwa ini. Sebuah bintang baru yang terang-benderang muncul di langit malam, memberi tanda akan pemenuhan janji Allah untuk mengutus seorang Penyelamat yang akan mendirikan kerajaan-Nya di atas bumi.

Pada Hari Raya Penampakan Tuhan (Epifani) ini, kita merayakan suatu momentum yang menentukan dalam sejarah penyelamatan Allah, yakni perwahyuan Putera-Nya kepada orang-orang bukan Yahudi, orang-orang yang berada di luar perjanjian Allah dengan umat Israel. “Orang-orang kafir” itu digerakkan oleh Allah sendiri untuk mencari dan kemudian bertemu dengan raja yang baru ini, Yesus.  Sejak saat itu hak-hak istimewa yang tadinya diperuntukkan hanya bagi umat Israel, menjadi tersedia bagi siapa saja. Melalui bintang istimewa dari Allah itu, terang Kristus memancar ke seluruh penjuru dunia sehingga dapat dilihat oleh semua orang.

Orang-orang majus melihat bintang dari negeri-negeri mereka yang jauh, dan hati mereka begitu tergerak dengan penuh antisipasi sehingga langsung mereka berangkat untuk mengikuti bintang itu. Pada titik ujung perjalanan-pencarian mereka, mereka menemukan manifestasi Allah dalam rupa seorang bayi manusia kecil-mungil. Meskipun mereka belum dapat menangkap secara penuh makna sesungguhnya dari kelahiran Anak Bayi itu di dalam sebuah keluarga Galilea yang sederhana, lewat karunia iman yang penuh misteri orang-orang majus ini mengenali wibawa dan wewenang Anak ini. Tidak saja mereka memberikan persembahan yang mahal-mahal untuk Anak ini, orang-orang majus itu pun langsung sujud menyembah Yesus. Kesederhanaan tempat tinggal keluarga kecil ini dan kerendahan hati yang sederhana kedua orang tua Bayi ini menyelubungi martabat-raja-Nya, namun orang-orang majus ini berhasil “menangkap” kebenaran yang mereka hadapi.

Hari ini adalah suatu kesempatan yang sempurna bagi kita untuk minta kepada Roh Kudus untuk membuka mata kita juga, sehingga kita dapat melihat Yesus dengan cara baru. Dia bukan lagi seorang bayi kecil sederhana. Dia adalah yang telah menjalani hidup di dunia, menderita sengsara, mati, bangkit dan sekarang hidup memerintah di sebelah kanan Allah dalam kemuliaan dan keagungan. Dia adalah Raja segala raja dan Tuhan dari segala tuan, dan Dia telah mencurahkan Roh-Nya untuk memberikan kepada kita suatu perwahyuan mendalam mengenai diri-Nya, sehingga dengan demikian kita pun – seperti para majus – mau sujud menyembah Dia.

Yesus mengajar kepada kita, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu” (Mat 7:7). Para majus ini pasti telah mengalami kebenaran dari sabda Yesus ini. Mereka mencari makna dari bintang di langit itu dan Allah-pun memimpin mereka sampai kepada Yesus. Baiklah kita terus mencari Yesus setiap hari dan mendengarkan bisikan Roh Kudus dengan serius seperti yang telah dilakukan oleh orang-orang majus itu. Dengan demikian, seperti mereka kita pun dapat “sangat bersukacita” (Mat 2:10), karena dapat bertemu dengan Yesus.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah Raja segala raja dan Tuhan segala tuan. Aku meletakkan diriku di bawah wewenang-Mu. Aku sujud menyembah Dikau pada hari ini dan selama-lamanya. Dimuliakanlah Nama-Mu yang kudus, ya Tuhan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 12:1-2), bacalah tulisan yang berjudul “ORANG-ORANG MAJUS DATANG MENGHADAP SANG RAJA SEGALA RAJA” (bacaan tanggal 7-1-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 8-1-17 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 4 Januari 2018 [Peringatan S. Angela dr Foligno, Ordo III S. Fransiskus]   

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PADA SAAT PEMBAPTISAN YESUS

PADA SAAT PEMBAPTISAN YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Masa Natal – Sabtu, 6 Januari 2018

Keluarga OFMCap.: Peringatan B. Didakus Yosef dr Sadiz, Imam

HARI SABTU IMAM

Ia memberitakan demikian, “Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa daripada aku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus.”

Pada waktu itu datanglah Yesus dari Nazaret di tanah Galilea, dan Ia dibaptis di Sungai Yordan oleh Yohanes. Pada saat Ia keluar dari air, langsung Ia melihat langit terkoyak, dan Roh seperti burung merpati turun ke atas-Nya. Lalu terdengarlah suara dari surga, “Engkaulah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Mulah Aku berkenan.”(Mrk 1:7-11)

Bacaan Pertama: 1Yoh 5:5-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 147:12-15,19-20; Bacaan Injil Alternatif: Luk 3:23-38

Mengapa Yesus yang tanpa noda dosa itu “menyerahkan” diri-Nya untuk dibaptis-tobat oleh Yohanes? Karena pada saat baptisan itu Yesus menerima misi/perutusan-Nya sebagai hamba Allah yang menderita atas nama semua orang berdosa. Dengan menyerahkan diri-Nya penuh kerendahan hati untuk menerima pembaptisan oleh Yohanes, sebenarnya Yesus memberikan kepada kita suatu pertanda akan “baptisan” kematian-Nya yang penuh darah di kayu salib kelak, di mana demi cinta kasih-Nya, Dia memberikan hidup-Nya guna menebus dosa-dosa kita (Mrk 10:38,45).

Karena Yesus merendahkan diri-Nya sedemikian totalnya, maka Bapa-Nya mempermaklumkan dengan suara yang dapat didengar manusia, betapa berkenan Dia akan Yesus (Mrk 1:11). Roh Kudus pun hadir dan mengurapi Yesus untuk karya yang akan dimulai-Nya. Pada saat pembaptisan, Yesus menjadi sumber Roh Kudus bagi semua orang yang mau percaya kepada-Nya. Langit terkoyak, Roh Kudus turun dan ciptaan baru pun di-inaugurasi-kan.

Kalau kita ingin mengalami kekuatan dan rahmat ciptaan baru ini dalam kehidupan kita sendiri, maka kita harus mengikuti contoh yang diberikan oleh Yesus. Santo Gregorius dari Nazianzen, seorang Bapa Gereja di abad IV memberikan kepada kita nasihat ini: “Marilah kita dikuburkan bersama Kristus oleh baptisan agar dapat bangkit bersama Dia. Marilah kita bangkit bersama-Nya agar dapat dimuliakan bersama Dia.”  Maka kalau kita ingin diubah, baiklah kita minta Roh Kudus untuk menempa diri kita masing-masing agar dapat terisi dengan kerendahan hati  sama, yang telah ditunjukkan Yesus pada saat pembaptisan-Nya. Kalau kita melakukannya, maka surga pun akan terbuka bagi kita.

Sesungguhnya Yesus selalu siap untuk memperbaharui kita dalam Roh-Nya dan mengurapi kita untuk misi/perutusan-Nya. Dia ingin sekali menjadikan kita “terang” dan “garam” bagi orang-orang di sekeliling kita (Mat 3:13,14). Yesus ingin agar cinta kasih-Nya dan kebenaran-Nya bersinar melalui diri kita sehingga orang-orang lain akan tersentuh oleh kebaikan-Nya. Marilah kita mohon kepada Tuhan agar memenuhi diri kita masing-masing dengan Roh Kudus agar kita dapat memancarkan sinar sukacita Injil kepada orang-orang di sekeliling anda.

DOA: Tuhan Yesus, penuhilah diriku dengan Roh Kudus-Mu. Perkenankanlah aku menemukan sukacita yang sejati selagi bekerja guna menyenangkan-Mu, seperti Engkau menemukan sukacita dalam berusaha menyenangkan Bapa di surga. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:7-11), bacalah tulisan dengan judul “YESUS DIBAPTIS OLEH YOHANES” (bacaan tanggal 6-1-18), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; 18-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2018.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 6-1-17 dalam situs/blog)

Cilandak, 3 Januari 2018 [Peringatan Nama Yesus Yang Tersuci] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SIKAP SKEPTIS YANG MEMBUKA JALAN KEPADA IMAN

SIKAP SKEPTIS YANG MEMBUKA JALAN KEPADA IMAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Masa Natal – Jumat, 5 Januari 2018)

Keesokan harinya Yesus memutuskan untuk berangkat ke Galilea. Ia bertemu dengan Filipus, dan berkata kepadanya, “Ikutlah Aku!” Filipus berasal dari Betsaida, kota Andreas dan Petrus. Filipus menemui Natanael dan berkata kepadanya, “Kami telah menemukan Dia yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret.” Kata Natanael kepadanya, “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” Kata Filipus kepadanya, “Mari dan lihatlah!”  Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia, “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!” Kata Natanael kepada-Nya, “Bagaimana Engkau mengenal aku?” Jawab Yesus kepada kepadanya, “Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara.” Kata Natanael kepada-Nya, “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!” Yesus berkata, “Apakah karena Aku berkata kepadamu, ‘Aku melihat engkau di bawah pohon ara,’ maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar daripada itu.” Lalu kata Yesus kepadanya, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah naik turun kepada Anak Manusia.” (Yoh 1:43-51)

Bacaan Pertama: 1Yoh 3:11-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 100:1-5 

Natanael hanya disebut dalam Injil Yohanes, tetapi banyak ahli percaya bahwa dia adalah Santo Bartolomeus yang disebut dalam Injil-injil sinoptik, salah seorang dari 12 rasul. Sebagai salah satu pilar Gereja, pengalaman Natanael akan Yesus merupakan suatu kesaksian penting mengenai apa artinya perjumpaan dengan Tuhan itu. Kesaksian Natanael menceritakan banyak mengenai bagaimana seharusnya relasi kita dengan Yesus itu.

Yohanes Penginjil menunjukkan kepada kita bagaimana teman Natanael yang bernama Filipus memperkenalkan Yesus kepadanya. Pada waktu Natanael mendengar bahwa Yesus berasal dari Nazaret, dia samasekali tidak terkesan. Bagaimana mungkin Mesias yang sudah lama ditunggu-tunggu kedatangan-Nya justru berasal dari kota kecil tak terkenal di Galilea? Namun untuk menghormati Filipus, Natanael memutuskan untuk melihat sendiri siapa Yesus itu.

Kita lihat dari bacaan di atas, bahwa sikap skeptis Natanael membuka jalan kepada iman dan rasa takjub ketika dirinya bertemu dengan Yesus secara face-to-face. Sang Rabi dari Nazaret ternyata mampu membaca isi hatinya seperti sebuah buku yang terbuka! Yesus melihat bahwa Natanael adalah seorang “Israel sejati” yang tidak mengenal kepalsuan. Yesus juga mengatakan bahwa dia telah melihat Natanael “di bawah pohon ara”. Ini adalah suatu gambaran populer di kalangan para rabi di abad pertama tentang seorang yang dalam suasana doa merenungkan hukum TUHAN (YHWH).

“Di bawah pohon ara” adalah sebuah ungkapan Yahudi untuk menggambarkan seseorang yang mempelajari sabda Allah di Kitab Suci dalam suasana dan semangat doa. Pohon ara adalah lambang berkat Allah dan damai-sejahtera dari-Nya. Pohon ara ini memberikan naungan dari terik sinar matahari di siang hari dan tempat yang sejuk bagi seseorang untuk melakukan “rekoleksi”, “retret”  dan berdoa secara pribadi. Yesus melihat ke dalam hati Natanael dan melihat bahwa dia adalah seorang pendoa. Sebagai konsekuensi, Yesus menjanjikan kepadanya ganjaran bagi seorang pendoa: Natanael akan menerima wahyu tentang surga yang terbuka: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah naik turun kepada Anak Manusia” (Yoh 1:51). Sesuai dengan sabda Yesus itu, Natanael memang juga kemudian diperkenankan melihat hal-hal yang lebih besar. Ia adalah salah seorang murid yang bertemu dengan Yesus yang telah bangkit di pantai Danau Tiberias (lihat Yoh 21:1-14).

Hari ini Yesus juga melihat ke dalam hati kita masing-masing dan memberikan ganjaran yang sama. Dia akan membuka pintu gerbang surga bagi semua orang yang berdoa dengan rendah hati dan memproklamasikan diri-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat. Dia akan mewahyukan/menyatakan misteri-misteri Kerajaan Surga kepada siapa saja yang mencari hadirat-Nya dalam doa. Apabila kita menyediakan waktu untuk berdoa dan melakukan studi atas sabda Allah yang terdapat dalam Kitab Suci, maka kita pun akan diberkati, seperti juga Natanael diberkati. Allah akan mewahyukan/menyatakan kepada kita kebenaran-kebenaran kerajaan-Nya. Dia akan menunjukkan kepada kita bahwa Yesus adalah Putera Allah, “Raja segala bangsa” (Why 15:3), “Tuan di atas segala tuan dan Raja di atas segala raja” (Why 17:14; bdk. 19:16). Kita tidak akan sekadar melihat hal-hal ini secara intelektual. Kita akan sampai pada titik di mana kita dapat melihat hal-hal itu di kedalaman hati kita, dan perwahyuan/pernyataan ilahi itu pun akan mentransformasikan kita.

Marilah kita membuka hati kita terhadap perwahyuan Yesus, seperti yang dilakukan oleh Natanael. Selagi kita melakukannya, kobaran api Roh Kudus akan mulai membakar hati kita bagi Juruselamat kita. Hasrat kita untuk mengenal Tuhan akan lebih berkobar-kobar lagi, akhirnya menyerap ke dalam seluruh kehidupan kita. Kalau kita mencari Allah dengan rendah hati, kita dapat yakin bahwa Dia akan mentransformasikan hati kita, membuat hati itu menjadi lebih murni lagi. Marilah kita menyediakan waktu untuk mempertimbangkan sabda-Nya dalam Kitab Suci dan mendoakannya. Selagi kita semakin dekat dengan Yesus, kita pun akan ditransformasikan, dan surga pun akan dibukakan bagi kita.

DOA: Bapa surgawi, tolonglah aku agar senantiasa berdoa dan mempelajari sabda Allah. Siapkanlah hatiku untuk memahami kehendak-Mu. Murnikanlah hatiku selagi aku mencari jalan-jalan-Mu. Tunjukkanlah kepadaku Yesus. Bukalah surga bagi mata hatiku agar aku dapat melihat-Mu dalam segala kemuliaan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Yoh 3:11-21), bacalah tulisan yang berjudul “KASIH SEJATI DIWUJUDKAN DALAM PERBUATAN” (bacaan tanggal 5-1-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2018.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 5-1-17 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 2 Januari 2018 [Peringatan S. Basilius Agung & Gregorius dr Nazianze, Uskup-Pujangga Gereja]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS