PETRUS YANG DIPILIH OLEH YESUS

PETRUS YANG DIPILIH OLEH YESUS

(Bacaan Injil Misa, PESTA TAKHTA SANTO PETRUS, RASUL – Senin, 22 Februari 2016) 

SIAPAKAH AKU INI - MAT 16Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Jawab mereka, “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, yang lain mengatakan: Elia dan yang lain lagi mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Lalu Yesus bertanya kepada mereka, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Jawab Simon Petrus, “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya, “Berbahagialah engkau Simon anak Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga. Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya, kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga.” (Mat 16:13-19) 

Bacaan Pertama: 1 Ptr 5:1-4; Mazmur Tanggapan: Mzm 23:1-6

Di dekat kota Kaisarea Filipi yang terletak di bagian utara sekali dari Israel, Yesus mengajukan sebuah pertanyaan yang bersifat sangat fundamental kepada para murid-Nya sehubungan pendapat orang tentang diri-Nya: “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” (Mat 16:13). Pendapat umum tentang Yesus itu sudah tinggi pada saat itu, namun tidak seorang pun mengakui Dia sebagai sang Mesias. Yesus sudah dikait-kaitkan dengan Yohanes Pembaptis dan para nabi besar Perjanjian Lama, a.l. Elia, Yeremia, dll.

Lalu Yesus bertanya  kepada para murid-Nya: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” (Mat 16:15). Sekarang giliran para muridlah untuk menjawab apa pendapat mereka sendiri tentang Yesus yang telah mereka ikuti untuk kurun waktu yang cukup lama. Seperti biasanya, Petrus mengambil fungsi sebagai “jubir” para murid (rasul), Petrus menjawab: Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Mat 16:16). Jawaban Petrus ini adalah pengakuan penuh akan Yesus sebagai Mesias – utusan Allah yang sudah lama dinanti-nantikan – dan Anak (Putera) Allah yang hidup – artinya seorang Pribadi yang memiliki relasi intim dan istimewa dengan Allah Bapa dan menyatakan kasih Allah kepada orang-orang di dunia.

Pengakuan Petrus ini mempunyai tempat istimewa dalam Injil Matius. Ayat-ayat Mat 16:17-19 hanya terdapat dalam Injil Matius ini. Pengakuan Petrus ini adalah akibat dari pernyataan dari Allah Bapa sendiri (Mat 16:17), dan Yesus menjanjikan kepada sang pemimpin para rasul ini suatu peranan penting dalam pembentukan komunitas Kristiani yang kita sebut Gereja (Mat 16:18). Yesus akan memberikan kepada Petrus kunci Kerajaan Surga: Apa yang kauikat akan terikat di surga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga” (Mat 16:19; suatu kemungkinan alusi dengan Yes 22:15-25).

saint-peter -100Orang biasa mengatakan, bahwa kepada Petrus diberikan kunci-kunci kepada Kerajaan Surga dan otoritas untuk menggembalakan Gereja yang masih muda usia itu. Walaupun begitu, kita tidak boleh mengandaikan bahwa Petrus hanyalah seorang administrator. Petrus juga mewartakan Injil dan bekerja untuk memperkuat gereja-gereja lokal. Yang utama dalam hati Petrus ini adalah keprihatinan pembentukan Tubuh Kristus serta kesejahteraannya.

Yesus mengatakan kepada Petrus bahwa alam maut tidak akan menguasai Gereja (Mat 16:18). Hal ini telah terbukti kebenarannya. Tidak ada satu kekuatan pun, betapa jahat atau gelapnya, yang pernah berhasil menghancurkan Gereja yang didirikan oleh Kristus. Meskipun begitu, Gereja dapat diperlemah, teristimewa apabila umatnya tidak mengenal kebenaran Injil. Apabila hal ini terjadi, maka orang-orang Kristiani tidak dapat menghayati kehidupan yang sudah menjadi warisan mereka. Dan dunia pun mendapat kesan bahwa Allah itu jauh, mungkin hanya sekadar ide abstrak yang tidak atau sedikit saja memiliki nilai praktis.

Bilamana orang-orang tidak mengenal kuasa Injil, maka apa yang dapat mereka lakukan adalah meratapi kondisi dunia; mereka tidak dapat datang dengan solusi. Dengan berbicara mengenai dosa-dosa di dunia namun tidak mampu untuk mencerminkan kemuliaan Kristus, maka kita mencabut dunia dari kepenuhan firman Allah. Dengan memberikan solusi-solusi atas penyakit-penyakit sosial tanpa memproklamasikan kebenaran dan kasih Kristus, kita mencabut orang dari solusi-solusi yang berlaku untuk waktu lama. Gereja dimaksudkan sebagai kehadiran Kristus di dalam dunia. Kita semua dipanggil untuk menjadi Tubuh Kristus hari ini; kita melakukannya dengan mewartakan Injil dan menghayati kehidupan yang saleh dan suci. Oleh karena itu baiklah kita mewartakan Kabar Baik Yesus Kristus sedemikian sehingga orang-orang memandang Gereja sebagaimana semula diniatkan oleh Allah.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau mengingatkanku lagi ketika membaca Injil hari ini bahwa Engkau juga mengajukan pertanyaan yang sama kepadaku: “Siapakah Aku ini?” Aku percaya bahwa Engkau adalah Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku. Utuslah Roh Kudus-Mu untuk bekerja di dalam hatiku dan mengubah diriku seperti Engkau telah mengubah Petrus. Bangkitkanlah para pelayan Sabda seperti rasul agung ini, untuk pergi mewartakan Kabar Baik-Mu dan menjadi saksi-saksi dari kuasa-Mu yang mampu mengubah manusia. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 16:13-19), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MEMILIH SEORANG NELAYAN BIASA-BIASA SAJA” (bacaan tanggal 22-2-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 21 Februari 2016 [HARI MINGGU PRAPASKAH II – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ALLAH YANG SETIA PADA JANJI-NYA

ALLAH YANG SETIA PADA JANJI-NYA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI MINGGU PRAPASKAH II [TAHUN C], 21 Februari 2016) 

abrahamLalu TUHAN (YHWH) membawa Abram ke luar serta berfirman: “Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya.” Maka firman-Nya kepadanya: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.” Lalu percayalah Abraham kepada YHWH, maka YHWH memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.

Lagi firman YHWH kepadanya: “Akulah YHWH, yang membawa engkau keluar dari Ur-Kasdim untuk memberikan negeri ini kepadamu menjadi milikmu.” Kata Abram: “Ya Tuhan ALLAH, dari manakah aku tahu, bahwa aku akan memilikinya?” Firman YHWH kepadanya: “Ambillah bagi-Ku seekor lembu betina berumur tiga tahun, seekor kambing betina berumur tiga tahun, seekor domba jantan berumur tiga tahun, seekor burung tekukur dan seekor anak burung merpati.” Diambilnyalah semuanya itu bagi TUHAN, dipotong dua, lalu diletakkannya bagian-bagian itu yang satu di samping yang lain, tetapi burung-burung itu tidak dipotong dua. Ketika burung-burung buas hinggap pada daging binatang-binatang itu, maka Abram mengusirnya.

Menjelang matahari terbenam, tertidurlah Abram dengan nyenyak. Lalu turunlah meliputinya gelap gulita yang mengerikan.

Ketika matahari telah terbenam, dan hari menjadi gelap, maka kelihatanlah perapian yang berasap beserta suluh yang berapi lewat di antara potongan-potongan daging itu. Pada hari itulah YHWH mengadakan perjanjian dengan Abram serta berfirman: “Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, mulai dari sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, sungai Efrat …” (Kej 15:5-12,17-18) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,7-9,13-14; Bacaan Kedua: Flp 3:17-4:1 (Flp 3:20-4:1); Bacaan Injil: Luk 9:28b-36 

Pada zaman Abraham, perjanjian-perjanjian seringkali disahkan dalam suatu rituale di mana pihak-pihak yang terlibat berjalan di antara paruhan dari hewan kurban yang telah dipisahkan menjadi dua bagian. Dengan mengambil tindakan seperti ini, orang-orang yang membuat traktat berkata, “Semoga aku menjadi seperti hewan ini jika aku melanggar perjanjian ini.” Akan tetapi, dalam membuat perjanjian-Nya dengan Abraham, hanya Allah (dalam bentuk perapian yang berasap beserta suluh yang berapi) lewat di antara potongan-potongan daging itu. Dengan perkataan lain, Allah bertanggung jawab sepenuhnya atas janji-Nya untuk memberikan Abraham keturunan sebanyak bintang di langit.

Cerita ini mengilustrasikan dua pokok penting. Yang pertama, cerita ini menunjukkan betapa lengkap-total komitmen Allah untuk memenuhi janji-Nya. Allah tidak pernah akan mundur dari janji-Nya untuk memberkati dan memelihara anak-anak-Nya. Betapa pun buruknya pelanggaran yang dilakukan kita-manusia tidaklah dapat menghentikan Dia mengasihi kita. Kita dapat mengatakan, bahwa Allah terikat pada perjanjian-Nya sendiri.

Barangkali yang lebih penting adalah, bahwa cerita ini merupakan pratanda dari keselamatan kita dalam Yesus. Karena Allah tidak meminta Abraham untuk berjalan di antara potongan-potongan hewan, maka Abraham – dan semua mereka yang mengikutinya – tidak akan menderita hukuman penuh untuk pelanggaran terhadap perjanjian itu. Allah mengetahui bahwa efek-efek dari dosa asal membuat tidak mungkin bagi kita untuk setia secara lengkap. Itulah sebabnya mengapa selagi sejarah Perjanjian Lama berjalan maju, Allah menjanjikan sebuah perjanjian baru, yang pada akhirnya menuntut kematian Putera-Nya yang tunggal untuk menebus bagian dari perjanjian yang kita-manusia tidak dapat penuhi.

Saudari dan Saudaraku, dapatkah kita membayangkan “seorang” Allah yang lebih setia? Dia tidak hanya memegang teguh perjanjian yang menjadi bagiannya; Dia juga mengutus Putera-Nya yang tunggal untuk memenuhi perjanjian yang menjadi bagian kita-manusia. Melalui Ekaristi, Roh Kudus, dan Gereja, kita memiliki seluruh kekuatan yang kita butuhkan untuk hidup sebagai anak-anak Abraham yang setia. Marilah kita memohon  kekuatan Roh Kudus dari Allah selagi kita berjuang untuk mengasihi, menghormati, dan melayani Dia.

DOA: Bapa surgawi, dengan rendah hati aku berdiri penuh takjub melihat kesetiaan-Mu. Engkau bahkan mengutus Putera-Mu yang tunggal untuk menjamin keselamatan kami dan memenuhi diri kami dengan Roh Kudus-Mu, kuat-kuasa dari perjanjian baru. Dengan ini aku membuat komitment ulang guna melayani-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 9:28-36), bacalah tulisan yang berjudul “INILAH ANAK-KU YANG KUPILIH, DENGARKANLAH DIA !” (bacaan tanggal 21-2-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 24-2-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 16 Februari 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENGAMPUNI, MENGAMPUNI, MENGAMPUNI !!!

MENGAMPUNI, MENGAMPUNI, MENGAMPUNI !!!

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Prapaskah – Sabtu, 20 Februari 2016)

02-sermon-on-the-mount-1800

Kamu telah mendengar yang difirmankan, Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu: Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga, yang menerbitkan matahari  bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu, haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna.” (Mat 5:43-48) 

Bacaan Pertama: Ul 26:16-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:1-2,4-5,7-8  

“Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat 5:44).

Jika mengampuni orang-orang lain begitu penting artinya, mengapa koq begitu sulit untuk dipraktekkan? Sekali-kali kita mendengar cerita berkaitan dengan pengampunan yang mengharukan. Seorang ayah mengampuni seorang laki-laki yang memperkosa anak perempuannya yang masih remaja. Seorang perempuan mengampuni suaminya yang tidak setia. Seorang anak laki-laki remaja mengampuni ayahnya yang pemabuk dan suka melakukan KDRT. Cerita-cerita seperti ini dapat menyentuh hati kita secara mendalam dan dapat memberikan inspirasi kepada kita untuk mengampuni mereka yang telah menyakiti hati kita. Namun di kedalaman hati kita bisa saja kita masih berpikir: “Ya, sedikit penolakan sah-sah saja dan dapat dipahami. Boleh saja untuk memendam rasa dongkol dan kesal kita terhadap seseorang yang menyebabkan sakit mendalam dalam diri kita.” 

Rupanya pada masa Yesus ada pemimpin-pemimpin agama yang mengajarkan bahwa pada sikon-sikon tertentu diperbolehkanlah bagi seseorang untuk menolak pemberian pengampunan kepada orang-orang yang bersalah kepada orang itu. Dengan perkataan lain diperbolehkanlah bagi orang untuk membenci musuhnya. Namun yang menarik adalah bahwa perintah untuk mengasihi sesama kita ditemukan dalam Hukum Musa (Im 19:18), sedangkan “membenci musuh-musuhmu” tidak ada samasekali. Dari sejak awal rencana Allah memang tetaplah pencurahan kasih dan pengampunan-Nya bagi semua orang.

Dalam hal Yesus sendiri sudah jelas, karena Dia adalah seorang pemimpin yang walk the talk, tidak “omdo”. Ketika tergantung di kayu salib, Ia berdoa: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34). Demikian pula dengan kesaksian para kudus. Berikut ini adalah beberapa contoh: Santo Stefanus mendoakan mereka yang menganiaya dirinya dan akhirnya menyebabkan kematiannya. Beberapa saat sebelum kematiannya sebagai martir Kristiani yang pertama, orang kudus ini berdoa: “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!” (Kis 7:60). Santo Yohanes dari Salib [1542-1591], pembaharu ordo Karmelit dijebloskan oleh para biarawan Karmelit ke dalam “penjara biara” dan diperlakukan dengan kejam, namun ia berhasil melarikan diri. Usahanya untuk membaharui ordonya disalahtafsirkan oleh para Karmelit yang lain. Karena itu orang kudus ini diperlakukan dengan semena-mena sampai wafatnya. Orang kudus ini mengampuni para biarawan Karmelit yang mendzoliminya. Karena tulisan-tulisan rohaninya, Santo Yohanes dari Salib dihormati sebagai pujangga Gereja. Santa Maria Goretti [1890-1902] mengampuni seorang laki-laki yang menusuknya hingga mati karena percobaan pemerkosaan atas dirinya. Remaja puteri yang suci ini pernah berkata kepada ibundanya: “Lebih baik mati seribu kali daripada berbuat dosa satu kali.” Pada abad ke-20, Santo Paus Yohanes Paulus II mengampuni orang yang mencoba membunuhnya dan kemudian menerima pengakuan orang itu. 

Saudari dan Saudaraku terkasih. Bilamana kita mengampuni orang yang bersalah kepada kita, maka kita pun bebas untuk mengalami belas kasih Allah, bahkan selagi kita menjadi saluran-saluran hidup dari belas kasih Allah. 

Sekarang, apakah kita (anda dan saya) masih mempunyai ganjalan-ganjalan dalam hati terhadap orang lain? Apakah kita masih saja berulang-ulang “menghidupkan kembali” luka-luka (batin) kita di masa lampau – dengan demikian membangun penolakan yang yang kuat lagi? Apakah kita sungguh ingin menghentikan “lingkaran setan” ini? Barangkali sekarang adalah saatnya untuk memohon kepada Allah untuk menolong kita mengambil satu langkah lagi menuju tindakan mengampuni orang yang telah bersalah kepada kita. Masa Prapaskah adalah suatu masa yang sempurna guna membuat kemajuan-kemajuan! Marilah kita mengambil langkah pada hari ini juga, dengan penuh kepercayaan bahwa Allah akan menolong kita! 

DOA: Bapa surgawi, aku mengaku bahwa diriku masih memendam rasa kesal dan penolakan. Aku ingin bebas dari luka-luka batinku dan lingkaran setan yang disebabkan oleh luka-luka lama. Berikanlah kepadaku rahmat agar mau dan mampu mengampuni orang-orang yang telah mendzolimi diriku. Semoga aku berbelas kasih seperti Engkau senantiasa berbelas kasih kepada umat-Mu. Amin.

 Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil ini (Mat 5:43-48), bacalah tulisan yang berjudul “MENGASIHI MUSUH” (bacaan tanggal 20-2-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 28-2-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 15 Februari 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HIDUP BERSAUDARA DALAM KASIH

HIDUP BERSAUDARA DALAM KASIH

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Prapaskah – Jumat, 19 Februari 2016)

Ordo Franciscanus Saecularis (OFS): Peringatan S. Konradus dr Pieacenza, Ordo III

ONPAGE-2

Aku berkata kepadamu: Jika kamu tidak melakukan kehendak Allah melebihi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.

Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang mencaci-maki saudaranya harus dihadapkan ke Mahkamah Agama, dan siapa yang berkata: Jahil! Harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.

Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu ini jangan menyerahkan engkau kepada pengawal dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai habis. (Mat 5:20-26) 

Bacaan Pertama: Yeh 18:21-28; Mazmur Tanggapan: Mzm 130:1-8 

“Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang mencaci maki saudaranya harus diserahkan ke Mahkamah Agama” (Mat 5:22).

Selagi orang banyak mendengarkan kata-kata yang diucapkan oleh Yesus ini, hati mereka tentunya terasa menciut. Siapa sih di antara mereka yang tidak pernah mempunyai perasaan benci terhadap seseorang, atau memandang orang-orang tertentu sebagai orang-orang bodoh dan tak berguna? Yang lebih parah lagi, mereka yang berbangga sebagai orang-orang yang mematuhi hukum sekarang menghadapi tantangan yang lebih mendalam yang langsung masuk ke hati mereka yang terdalam. Bagaimana mereka akan pernah menjadi kudus apabila standar-standar yang ditetapkan begitu tinggi? Jawabannya berdiri di hadapan mereka dalam wujud diri Yesus sendiri.

Yesus mengingatkan para pendengar-Nya akan hal-hal yang telah menyebabkan rusaknya persaudaraan anak-anak Allah. Sepanjang Perjanjian Lama kita dapat membaca tentang kebencian dan kecemburuan yang telah merusak perdamaian dan persatuan umat Allah. Misalnya, Kain memang telah membunuh Habel, namun dosa sesungguhnya mulai di dalam hatinya yang dipenuhi dengan kecemburuan (lihat Kej 4:6-7).

Akan tetapi semua itu telah berubah sekarang. Yesus datang untuk memungkinkan kita mencabut semua penyebab perseteruan dan perpecahan di antara kita. Yesus mengatakan bahwa kita sungguh dapat mengasihi satu sama lain, bahkan sampai mengampunan tujuh puluh kali tujuh kali (Matius 18:21-22). Yesus bersabda, “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu” (Yoh 15:12).  Dalam suratnya, Paulus menulis sebagai berikut: “Kasih itu sabar; kasih itu baik hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menahan segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu” (1Kor 13:4-7).

Penghayatan dengan setia ajaran ini barangkali merupakan tantangan yang paling besar bagi kehidupan Kristiani kita, namun bersama Kristus semua itu mungkin. Allah ingin agar kita melihat bagaimana banyaknya kebutuhan manusiawi dan kebutuhan spiritual kita dapat dipenuhi selagi kita saling menolong dan saling mendukung satu sama lain dalam kasih. Allah ingin menunjukkan kepada kita bagaimana saling mengasihi adalah  salah satu cara yang paling memiliki kuat-kuasa bagi kita untuk mengalami hati-Nya yang penuh kasih. Kecenderungan untuk marah, bersikap serakah serta mementingkan diri sendiri mungkin masih ada dalam diri kita masing-masing, namun kita mempunyai seorang Juruselamat yang jauh lebih besar! Dengan rahmat-Nya kita dapat mengatasi segala masalah kita.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Berkatilah semua orang yang merasa kesepian di dunia ini. Utuslah kepada mereka masing-masing seorang sahabat sejati. Sembuhkanlah segala luka yang disebabkan oleh kata-kata yang keras- menyakitkan atau penuh kemarahan. Bangunlah dalam diriku rahmat persaudaraan sehingga dengan demikian aku juga dapat menjadi seorang sahabat yang sejati, baik pada masa-masa baik maupun masa-masa buruk. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:20-26), bacalah tulisan yang berjudul “PENTINGNYA REKONSILIASI” (bacaan tanggal 19-2-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 27-2-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 15 Februari 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DATANG KEPADA ALLAH SECARA BEBAS, TERBUKA DAN PENUH KEPERCAYAAN

DATANG KEPADA ALLAH SECARA BEBAS, TERBUKA DAN PENUH KEPERCAYAAN

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari biasa Pekan I Prapaskah – Kamis, 18 Februari 2016)

jm_200_NT1.pd-P13.tiff

 “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetuk, baginya pintu dibukakan. Adakah seorang dari antara kamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan? Jadi, jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Mat 7:7-12) 

Bacaan Pertama: Est 4:10a,10c-12,17-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 138:1-3,7-8

“Ada yang perlu saya tolong?” “Silahkan masuk, anda minum kopi, teh, atau ……?” “Hubungi saya seandainya anda membutuhkan sesuatu.” Betapa mudah kita menerima gestur keprihatinan dari para sahabat atau mereka yang kita kasihi. Di sisi lain, betapa sulit kiranya bagi kita untuk menerima ungkapan kasih dan keprihatinan serupa yang datang dari Allah!

Kontras dengan yang biasanya kita pikirkan, Allah sangat senang sekali apabila kita mensyeringkan keprihatinan-keprihatinan kita dengan Dia dan menceritakan kebutuhan-kebutuhan kita kepada-Nya. Ia mengatakan kepada kita untuk meminta, mencari, dan mengetuk, dan kemudian menyatakan tentang apa yang akan terjadi bilamana kita bergerak mendekati-Nya. Dia berjanji bahwa apa yang kita minta akan diberikan kepada kita. Dia berjanji bahwa jikalau kita mencari Dia, maka kita akan menemukan diri-Nya. Dia berjanji bahwa apabila kita mengetuk, maka pintu pun akan dibuka.

Ini semua bukanlah sekadar janji-janji kosong seorang penipu ulung. Ini adalah janji-janji kesetiaan yang dibuat oleh Allah sendiri yang menciptakan langit dan bumi, dan semua itu menyatakan betapa dalam keinginan Allah agar diri-Nya dikenal oleh kita secara pribadi dan menjalin relasi dengan kita sebagai Bapa dan sahabat karib kita semua. Hal ini sungguh berbeda dengan pemahaman kita tentang doa! Allah ingin melihat kita bergerak dari sikap “memandang doa sebagai saat untuk sekadar minta-minta sesuatu kepada-Nya” kepada sikap “merangkulnya sebagai suatu kesempatan untuk menerima kasih-Nya dan dibentuk oleh hikmat-Nya”. 

“Jadi, jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya” (Mat 7:11). Allah ingin masuk ke dalam hati kita masing-masing untuk berkomunikasi dengan kita pada tingkat yang paling intim/akrab. Ia ingin pergi lebih jauh daripada sekadar mendengar permohonan-permohonan kita, yaitu untuk meyakinkan kita akan kasih-Nya, mengajar kita bagaimana melayani mereka yang ada di sekeliling kita, dan membuka bagi kita pintu masuk ke dalam pewahyuan ilahi.

Dengan keberanian seorang anak dari seorang bapak yang murah hati, kita dapat datang kepada Allah secara bebas, terbuka, dan penuh kepercayaan. Kita tidak perlu dengan rasa khawatir dan takut-takut mengetuk pintu itu. Kita dapat mengetuk dengan penuh kepercayaan bahwa ada “seorang” Pribadi yang sangat ingin menyambut kita, dalam keadaan apa pun kita sedang berada. Apabila kita mencari, kita akan menemukan Bapa surgawi yang telah berada selama ini, yang menanti-nantikan dan menyambut kita dengan tangan-tangan terbuka.

DOA: Bapa surgawi, kasih-Mu kepadaku sungguh tak terukur! Melalui jaminan yang Kauberikan, aku memiliki rasa percaya bahwa Engkau akan dengan penuh gairah akan menyambut bahkan ketika aku membuat langkah yang paling kecil sekalipun dalam berjalan menuju ke tempat Engkau berada. Dalam nama Yesus, aku memohon agar Engkau mentransformasikan hatiku dengan kasih-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Est 4:10a,10c-12,17-19), bacalah tulisan yang berjudul “BERDOALAH DENGAN SERIUS” (bacaan tanggal 18-2-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 26-2-15 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 15 Februari 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SELAIN TANDA NABI YUNUS

SELAIN TANDA NABI YUNUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Prapaskah – Rabu, 17 Februari 2016) 

stdas0730Ketika orang banyak mengerumuni-Nya, berkatalah Yesus, “Orang-orang zaman ini adalah orang jahat. Mereka meminta suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Nabi Yunus. Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk orang-orang zaman ini. Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang-orang zaman ini dan ia akan menghukum mereka. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Salomo! Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama orang-orang zaman ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus!”  (Luk 11:29-32) 

Bacaan Pertama: Yun 3:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-4,12-13,18-19 

“Kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Nabi Yunus” (Luk 11:29).

Sebuah tanda adalah apa saja yang menunjuk atau membimbing seseorang kepada suatu arah atau situasi. Guntur dan kilat adalah tanda-tanda bahwa sebentar lagi hujan deras akan turun; wajah yang dikerutkan menandakan kemarahan atau frustrasi; lampu merah di persimpangan jalan adalah tanda bahwa kendaraan kita harus dihentikan. Jadi, ketika orang-orang banyak meminta kepada Yesus suatu “tanda” yang menunjukkan bahwa Dia adalah sungguh seorang utusan Allah, maka Dia memberikan kepada mereka jawaban seperti sebuah teka-teki yang membingungkan: tanda Yunus!

Tanda yang disebut oleh Yesus itu mengacu kepada efek khotbah Yunus pada penduduk kota Niniwe yang pada awalnya tidak percaya. Yunus – pada awalnya enggan serta ragu-ragu dan mencoba menghindar dari perintah Allah kepadanya – barangkali memberikan khotbah yang paling singkat yang pernah tercatat dalam sejarah: “Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan” (Yun 3:4). Khotbah Yunus ini membuat orang-orang Niniwe yang ribuan jumlahnya (termasuk raja mereka) melakukan pertobatan dan menyerahkan diri mereka sepenuhnya kepada belas kasih Allah. Kuat-kuasa “tanda” ini bagi Yesus adalah bahwa sedikit kata-kata telah menyebabkan begitu banyak hidup yang mengalami perubahan secara begitu radikal (dalam artiannya yang baik).

Sebagaimana Yunus merupakan suatu tanda bagi orang-orang Niniwe, maka Yesus pun adalah suatu tanda bagi orang-orang generasi-Nya dan juga bagi kita semua. Seperti Allah mengutus Yunus dengan pesan-Nya, demikian pula Yesus mengutus kita pada hari ini untuk membawa pesan-Nya kepada semua orang yang kita jumpai. Yesus ingin agar kita menjadi suatu tanda, baik dalam kata-kata maupun hidup kita sehari-hari, bahwa Tuhan adalah “Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta” (Yun 4:2).

Pada awalnya Yunus merasa enggan dan ragu-ragu untuk menjadi utusan Allah. Kita pun dapat seperti Yunus. Barangkali kita merasa takut untuk membuka mulut kita atau merasa tidak memadai/layak untuk berfungsi sebagai seorang utusan Tuhan. Namun pada kenyataannya kita dapat lebih penuh kuat-kuasa dari Yunus. Mengapa? Karena Yesus telah wafat dan bangkit dan Ia telah mencurahkan Roh Kudus-Nya kepada kita. Kita tidak memerlukan gelar akademis dalam bidang teologi atau keberanian yang luarbiasa seperti superman. Dalam situasi-situasi tertentu, kita bahkan tidak perlu mengucapkan sepatah kata pun! Yang kita perlukan adalah hati yang diserahkan kepada Yesus dan suatu hasrat untuk melihat dan mengalami kasih-Nya yang dicurahkan-Nya secara berlimpah. Apa yang dilakukan Yunus di Niniwe masih berlanjut hari ini, namun oleh Dia yang sungguh jauh lebih besar daripada Yunus, yaitu Yesus Kristus yang hidup dalam diri kita masing-masing.

DOA: Tuhan Yesus, penuhilah diriku dengan kuat-kuasa dan Roh-Mu sehingga dengan demikian aku dapat menjadi suatu tanda kasih-Mu yang penuh sukacita dan penuh kuat-kusa bagi orang-orang di sekelilingku. Terpujilah nama-Mu selalu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yun 3:1-10), bacalah tulisan yang berjudul “MENERUSKAN TONGKAT ESTAFET” (bacaan tanggal 17-2-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2016. 

Cilandak, 15 Februari 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MEMBUAT MASA PRAPASKAH INI MENJADI MASA YANG PALING BAIK DALAM HIDUP KITA

MEMBUAT MASA PRAPASKAH INI MENJADI MASA YANG PALING BAIK DALAM HIDUP KITA

 (Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Prapaskah, Selasa 16 Februari 2016) 

Isaiah 009

Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan, demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya. (Yes 55:10-11) 

Mazmur Antar-bacaan: Mzm 34:4-7.16-19; Bacaan Injil: Mat 6:7-15. 

Masa Prapaskah tahun ini sudah berjalan selama tujuh hari Sudahkah kita (anda dan saya) berpuasa dan berdoa mengikuti contoh yang diberikan oleh Yesus selama tujuh hari ini? Apakah kita (anda dan saya) telah mengampuni semua orang yang telah menyakiti hati kita – bahkan semua musuh kita (lihat Mat 6:12)? Apakah kita (anda dan saya) telah “mengosongkan diri” (Flp 2:7) sedemikian rupa sehingga dipenuhi dengan “lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus”? (Ef 3:18).

Masa Prapaskah adalah suatu masa rahmat, suatu anugerah dari sumber hidup bagi hubungan kita dengan Allah. Walaupun demikian, rahmat ini tidak dipaksakan kepada kita, Kita harus menunjukkan bahwa kita mau menerimanya dengan berpuasa, bermati-raga, berdoa, mengampuni orang-orang yang bersalah kepada kita, melakukan pertobatan, dan mempraktekkan ketaatan penuh kasih kepada Allah.

Melalui masa Prapaskah ini, Allah akan membuat padang gurun menjadi “subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan” (Yes 55:10). Di mana tidak ada sesuatu, Allah akan menanam seuatu … “memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan” (Yes 55:10). Jika kita membiarkan atau memperkenankan Allah bertindak dengan cara-Nya, masa Prapaskah ini tidak akan terbuang sia-sia, kosong, atau hampa, melainkan akan terjadilah kehendak-Nya, “dan akan berhasil dalam apa yang Dia suruhkan” (lihat Yes 55:11).

Saudari dan Saudaraku yang terkasih, marilah kita (anda dan saya) membuat masa Prapaskah ini sebagai saat-saat yang paling baik dalam hidup kita masing-masing. Baiklah kita menghayati masa Prapaskah ini  sebagai masa Prapaskah kita yang pertama atau yang terakhir. Semoga masa Prapaskah kali ini memuncak dalam pembaharuan janji-janji baptis kita pada Misa Malam Paskah atau Minggu Paskah. Marilah kita menyerahkan hidup kita kepada Yesus. Semoga masa Prapaskah ini mempersiapkan kita semua untuk berjumpa dengan Yesus Kristus yang wafat dan bangkit pada hari ketiga dari antara orang mati. Semoga masa Prapaskah ini juga mempersiapkan kita  pada akhir zaman, pada saat kedatangan Yesus Kristus untuk kedua kali ke dalam dunia, pada hari penghakiman, dan kebahagiaan abadi di surga.

DOA: Bapa surgawi, bukalah hatiku bagi kuat-kuasa firman-Mu untuk memperbaharui aku. Jadilah pelitaku, jalanku dan hidupku. Ajarlah aku bagaimana berdiam dalam firman-Mu dan mengikuti Yesus, Penebusku dan Guruku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 6:7-15), bacalah tulisan yang berjudul “DOA YANG DIAJARKAN OLEH YESUS SENDIRI” (bacaan tanggal 16-2-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2016. 

Cilandak, 14 Februari 2016 [HARI MINGGU PRAPASKAH I – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 93 other followers