SIAPA YANG BERBAHAGIA?

SIAPA YANG BERBAHAGIA?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVII – Sabtu, 8 Oktober 2016) 

jesus_christ_picture_013Ketika Yesus masih berbicara tentang hal-hal itu, berserulah seorang perempuan dari antara orang banyak dan berkata kepada-Nya, “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau.” Tetapi Ia berkata, “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.” (Luk 11:27-28) 

Bacaan Pertama: Gal 3:22-29; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:2-7

Pada suatu hari, ketika Yesus sedang mengajar, seorang perempuan dari antara orang banyak berseru: “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau” (Luk 11:27). Kata-kata yang dilontarkan oleh perempuan ini adalah cara orang Semit (antara lain Yahudi) untuk mengatakan sesuatu seperti ini: “O, menjadi ibu dari seorang anak yang sedemikian besar!”  Perempuan itu jelas terkesan dengan Yesus dan dia mengucapkan kata-kata itu sebagai suatu penghargaan yang tulus terhadap Yesus (dan ibu-Nya). Namun demikian Yesus menggunakan kata-kata yang diucapkan perempuan itu sebagai suatu kesempatan  menantang siapa saja agar supaya mau mendengarkan fiman Allah dan mematuhinya (Luk 11:28).

Kita semua tahu bahwa peristiwa ini terjadi dalam perjalanan Yesus menuju Yerusalem. Satu pelajaran yang diinginkan Yesus untuk kita pelajari dalam perjalanan ke Yerusalem ini adalah apa artinya menjadi seorang murid Yesus. Tanggapan Yesus terhadap seruan-pujian perempuan itu merupakan inti makna kemuridan (pemuridan): Seorang murid adalah seseorang yang mendengar firman Allah dan memeliharanya. Sebelumnya Yesus telah mengindikasikan bahwa kebundaan-biologis harus diletakkan di bawah relasi yang terbuka terhadap semua orang yang mendengar dan mematuhi firman-Nya (lihat Luk 8:19-21).

Kita harus menyadari bahwa Yesus samasekali tidak bermaksud untuk menyepelekan ibu-Nya dengan kata-kata yang diucapkan-Nya tentang mendengarkan dan melaksanakan firman Allah itu. Pada kenyataannya Maria adalah seorang murid par excellence, ‘model’ seorang murid Yesus. Lukas mengindikasikan hal ini dalam lebih dari satu peristiwa. Dalam peristiwa-peristiwa itu Lukas menggambarkan bagaimana Maria menyimpan segala sesuatu dalam hatinya dan merenungkannya (lihat Luk 2:19.51) – sikap dan perilaku yang harus ditunjukkan oleh setiap murid Yesus yang sejati. Kita juga diingatkan kepada sebuah peristiwa yang digambarkan dalam Injil Yohanes, yaitu ‘Perkawinan di Kana’ (Yoh 2:1-11), di mana Maria mohon pertolongan bagi keluarga yang mempunyai hajat, karena ada urgensi kehabisan anggur. Tanggapan Yesus terhadap permintaan tolong Maria terkesan keras dan menolak, “Mau apakah engkau dari Aku, perempuan? Saat-Ku belum tiba” (Yoh 2:4), namun dengan penuh keyakinan Maria berkata kepada para pelayan: “Apa yang dikatakan-Nya kepadamu, lakukanlah itu!” (Yoh 2:5). Ini adalah sikap dan perilaku seorang murid sejati!

DOA: Tuhan Yesus,  tolonglah aku agar dapat menjadi seorang murid-Mu yang sejati. Kutahu bahwa hal ini berarti bahwa aku harus mendengarkan apa yang Kauperintahkan dan mematuhinya dengan hati yang terbuka dan penuh kemauan. Aku mau melakukan apa saja yang Kauminta dari diriku, dengan cara seturut permintaan-Mu, untuk kurun waktu seturut permintaan-Mu juga, justru karena Dikaulah yang meminta. Aku berdoa agar Roh Kudus-Mu memampukanku untuk meneladan Bunda Maria, ibu-Mu dan ibuku: menyimpan dalam hatiku segala hal yang Kaukatakan dan Kaulakukan, apa pun yang Kauperintahkan untuk aku lakukan. Tuhan Yesus, terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 11:27-28), silahkan membaca juga tulisan yang berjudul “TINDAKAN-TINDAKAN KETAATAN” (bacaan tanggal 8-10-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2009) 

Cilandak, 5 Oktober 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

JIKA AKU MENGUSIR SETAN DENGAN KUASA ALLAH, MAKA …

JIKA AKU MENGUSIR SETAN DENGAN KUASA ALLAH, MAKA …

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan SP Maria, Ratu Rosario – Jumat, 7 Oktober 2016) 

Jesus_w_PharTetapi ada di antara mereka yang berkata, “Ia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, pemimpin setan.” Ada pula yang meminta suatu tanda dari surga kepada-Nya, untuk mencobai Dia. Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata, “Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa, dan setiap rumah tangga yang terpecah-pecah, pasti runtuh. Jikalau Iblis itu juga terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri, bagaimanakah kerajaannya dapat bertahan? Sebab kamu berkata bahwa Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul. Jadi, jika aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, dengan kuasa apakah pengikut-pengikutmu mengusirnya? Karena itu, merekalah yang akan menjadi hakimmu. Tetapi jika aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu. Apabila seorang yang kuat dan bersenjata lengkap menjaga rumahnya sendiri, maka amanlah segala miliknya. Tetapi jika seorang yang lebih kuat daripadanya menyerang dan mengalahkannya, maka orang itu akan merampas perlengkapan senjata yang diandalkannya, dan akan membagi-bagikan rampasannya. Siapa yang tidak bersama Aku, ia melawan aku dan siapa yang tidak mengumpulkan bersama Aku, ia menceraiberaikan.”  Apabila roh jahat keluar dari seseorang, ia mengembara ke tempat-tempat yang tandus mencari perhentian, dan karena ia tidak mendapatnya, ia berkata: Aku akan kembali ke rumah yang telah kutinggalkan itu. Ia pun pergi dan mendapati rumah itu bersih tersapu dan rapi teratur. Lalu ia keluar dan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat daripadanya, dan mereka masuk dan berdiam di situ. Akhirnya keadaan orang itu lebih buruk daripada keadaannya semula.” (Luk 11:15-26) 

Bacaan Pertama: Gal 3:22-29; Mazmur Tanggapan: Mzm 111:1-6

“Tetapi jika aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu” (Luk 11:20).

Sepanjang Injilnya, Santo Lukas melukiskan gambaran-gambaran yang hidup tentang realitas Iblis dan kuat-kuasanya, namun dengan cepat sang penulis Injil menunjukkan pula bahwa roh-roh jahat gemetar dalam kehadiran Yesus, dan mohon belas kasih-Nya. Dengan kata lain, walaupun kuat-kuasa Iblis begitu hebat, kuat-kuasa yang dimiliki Yesus itu jauh, jauh, jauh lebih hebat.

Seperti yang telah dilakukannya sejak untuk pertama kalinya dia memberontak melawan Allah, Iblis terus menjelajahi bumi, mencari kesempatan untuk merampas dari Allah cintakasih dan rasa percaya dari anak-anak-Nya (bdk. 1Ptr 5:8-9). Kita semua mengalami ini dalam berbagai pencobaan yang kita hadapi setiap hari. Dengan cara yang licin maupun yang tidak begitu licin, Iblis mencoba untuk merusak kebenaran-kebenaran yang telah kita terima dalam Kitab Suci dalam kasih Allah.

Yesus sendiri juga mengalami godaan-godaan Iblis yang mencoba untuk membuat-Nya tidak menaruh kepercayaan kepada Bapa-Nya, untuk menghasrati kekuasaan, untuk mengejar hal-hal duniawi, atau untuk tenggelam dalam ambisi-ambisi yang dipenuhi dengan keserakahan (lihat Luk 4:1-13). Namun karena kasih-setia-Nya kepada Allah Bapa, Yesus menang berjaya atas Iblis. Sekarang, oleh darah-Nya yang dicurahkan dari atas kayu salib, Yesus menyediakan pelepasan dan kebebasan bagi kita semua selagi kita belajar untuk menggantungkan diri pada-Nya.

Yesus sangat senang untuk melepaskan/membebaskan kita dari yang jahat. Namun itu tidaklah mencukupi bagi Yesus. Bagi-Nya pelepasan dari si Jahat hanyalah sebuah pintu masuk untuk sampai kepada berkat yang bahkan lebih besar. Yesus ingin membebasan kita agar dengan demikian Ia dapat memenuhi diri kita dengan hidup-Nya sendiri. Yesus ingin membebaskan kita dari keterikatan kita pada dosa, dengan demiian kita akan menjadi lebih terbuka bagi hidup, kasih, dan kuat-kuasa Allah Tritunggal Mahakudus.

Hari ini adalah suatu hari yang baik untuk bertanya kepada diri kita masing-masing, “Bagaimana aku memandang hidupku sendiri? Apakah batasan-batasan dari horizon-ku? Apakah aku memandang diriku sebagai seorang pendosa yang berjuang untuk mengasihi Allah? Atau, apakah diriku seorang pencinta Allah yang membutuhkan pelepasan dari dosa-dosaku? Sampai berapa besar pengharapanku akan suatu masa depan yang berkenan kepada Allah? Apakah aku melihat begitu banyak potensi untuk menjadi kudus dan melakukan pelayanan yang telah dianugerahkan Allah kepadaku? Atau, apakah aku pernah berpikir begitu sulitnya dan hampir tidak mungkin bagiku untuk masuk ke dalam surga?

Saudari dan Saudaraku terkasih, dalam doa-doa kita hari ini, marilah kita memperkenankan Yesus untuk memperbaiki daya-lihat kita dan cara kita memandang segala sesuatu. Marilah kita memperkenankan Yesus  meyakinkan diri kita tentang kemenangan-Nya yang bersifat mutlak atas diri Iblis, dengan demikian kita dapat dengan penuh percaya-diri memanfaatkan berkat-berkat yang telah dimenangkan oleh sang Penebus bagi kita masing-masing.

DOA: Bapa surgawi, Allah Yang Baik, kuduslah nama-Mu. Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau mengutus Yesus ke tengah dunia untuk menghancurkan kuat-kuasa Iblis. Lewat bimbingan Roh Kudus-Mu, jagalah diriku agar tetap menjadi murid Yesus yang setia, dan biarlah Dia memenuhi setiap sudut kehidupanku. Semoga bersama Yesus diriku dapat menjadi pemenang atas Iblis dan roh-roh jahatnya. Terpujilah Allah Tritunggal Mahakudus, Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, sepanjang segala masa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 11:15-26), bacalah tulisan yang berjudul “ROH KUDUS MEMPERSATUKAN TUBUH KRISTUS” (bacaan tanggal 7-10-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 9-10-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 5 Oktober 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MENGENAL KASIH ALLAH SECARA PRIBADI DAN AKRAB ADALAH DASAR DARI PENGHARAPAN KITA

MENGENAL KASIH ALLAH SECARA PRIBADI DAN AKRAB ADALAH DASAR DARI PENGHARAPAN KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVII – Kamis, 6 Oktober 2016)

OFS: Peringatan S. Maria Fransiska dr ke-5 Luka Yesus

LUKE 11 5-13Keluarga Fransiskan: Peringatan Arwah Semua saudara, sanak saudara dan penderma 

Lalu kata-Nya kepada mereka, “Jika seorang di antara kamu mempunyai seorang sahabat dan pada tengah malam pergi kepadanya dan berkata kepadanya: Sahabat, pinjamkanlah kepadaku tiga roti, sebab seorang sahabatku yang sedang berada dalam perjalanan singgah ke rumahku dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk dihidangkan kepadanya; masakan ia yang di dalam rumah itu akan menjawab: Jangan mengganggu aku, pintu sudah tertutup dan aku serta anak-anakku sudah tidur; aku tidak dapat bangun dan memberikannya kepadamu. Aku berkata kepadamu: Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya. Karena itu, Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetuk, baginya pintu dibukakan. Bapak manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan, akan memberikan ular kepada anaknya itu sebagai ganti ikan? Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya  kalajengking? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” (Luk 11:5-13) 

Bacaan Pertama: Gal 3:1-5; Mazmur Tanggapan: Luk 1:69-75

Memang dapat membuat diri kita menjadi ciut hati jika kita meminta sesuatu secara berulang-ulang. Dari lepas hari, bulan lepas bulan, tahun lepas tahun, dan kita pun menjadi kehilangan semangat. Dan ketika kita membaca kata-kata Yesus dalam Injil: “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat, ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu”  (Luk 11:9), maka kita hampir samasekali tidak bereaksi. Kita mungkin berpikir, Bukankah sungguh-sungguh hebat jika kata-kata itu sungguh-sungguh benar?” Atau, “Ah, aku telah meminta, mencari, dan mengetuk. Ternyata tidak ada sesuatu pun yang terjadi.”

Tidak ada yang terjadi? Bagaimana mungkin? Kita mempunyai sabda Yesus sendiri dalam Kitab Suci bahwa setiap orang yang meminta, maka akan diberikan kepadanya. Setiap orang. Tidak terbatas pada orang-orang yang sangat kudus, tidak hanya orang-orang yang sangat terberkati atau orang-orang yang “pantas dan layak”, juga bukan saja orang-orang yang telah belajar mengajukan permintaan yang benar. Kita masing-masing –tanpa kecuali –  telah dijanjikan oleh Yesus sendiri. Siapa saja yang meminta, maka dia akan menerima, titik. Sabda Allah adalah benar. Kita harus bergantung pada fakta ini, teristimewa ketika pengalaman kita tidak cocok dengan apa yang dikatakan dalam Kitab Suci.

Perspektif kita tentang jawaban-jawaban Allah kepada kita, ekspektasi kita  bahwa kita akan menerima dari Tuhan, bahkan kepercayaan kita sendiri, tergantung pada penerimaan akan fakta ini. Apa yang memampukan kita untuk berpegang erat-erat pada kepercayaan ini? Pengetahuan dan pengalaman akan kasih Allah, yang dicurahkan ke dalam hati kita (Rm 5:5). Mengenal kasih itu secara pribadi dan akrab adalah dasar dari pengharapan kita. Ini bukanlah sesuatu yang kita dapat kumpulkan sendiri. Ini adalah suatu karunia yang dianugerahkan secara bebas oleh Pencipta yang tak diciptakan (Inggris: the uncreated Creator) dan Sang Pencinta jiwa-jiwa kita. Apabila kita mencari Yesus – bahkan jika kita hanya menginginkan Dia untuk memecahkan sebuah masalah, mengampuni dosa, atau memuaskan suatu kerinduan dalam hati kita – maka kita akan menemukan Dia. Dia akan menjawab ketukan kita pada pintu-Nya.

Saudari dan Saudaraku yang terkasih, pada hari ini, marilah kita mengetuk pintu Yesus dalam doa kita. Marilah kita menyediakan waktu ekstra guna memohon rahmat agar kita mau dan mampu percaya kepada apa yang dikatakan di dalam Kitab Suci. Mintalah lagi agar ada hasrat dalam hati kita masing-masing, dan dalam keheningan dengarkanlah tanggapan-Nya. Dia akan menjawab. Apabila bukan hari ini, barangkali besok atau hari berikutnya. Dalam hikmat-Nya dan saat-Nya, Dia akan menjawab semua kebutuhan kita, membuat diri kita seperti pohon-pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya (Mzm 1:3).

DOA: Bapa surgawi, ini aku lagi yang sedang mengetuk pintu-Mu. Tolonglah aku untuk mau dan mampu percaya bahwa sabda-Mu adalah benar. Penuhilah diriku dengan Roh-Mu dan pengenalan akan kasih-Mu. Segarkanlah kembali dan hidupkanlah kembali diriku selagi aku berupaya untuk mengenal Engkau, mengasihi Engkau dan melayani Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:69-75), bacalah tulisan yang berjudul “MEMPERKENANKAN ALLAH UNTUK MEMBENTUK KITA MENJADI BEJANA-BEJANA BAGI KEMULIAAN-NYA” (bacaan tanggal 6-10-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-10 BACAAN HARIAN 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 8-10-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 3 Oktober 2016  [Transitus Bapak Fransiskus dr Assisi] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

HUBUNGAN ANTARA DUA ORANG RASUL BESAR

HUBUNGAN ANTARA DUA ORANG RASUL BESAR

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVII – Rabu, 5 Oktober 2016) 

konsili-di-yerusalem-kis-15Empat tahun kemudian, aku pergi lagi ke Yerusalem dengan Barnabas dan Titus pun kubawa juga. Aku pergi berdasarkan suatu pernyataan Allah. Kepada mereka kubentangkan Injil yang kuberitakan di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi – dalam percakapan tersendiri kepada mereka yang terpandang – supaya jangan dengan percuma aku berusaha atau telah berusaha.

Sebaliknya mereka melihat bahwa kepadaku telah dipercayakan pemberitaan Injil untuk orang-orang tak bersunat, sama seperti kepada Petrus untuk orang-orang bersunat – karena Ia yang telah memberikan kekuatan kepada Petrus untuk menjadi rasul bagi orang-orang bersunat, Ia juga yang telah memberikan kekuatan kepadaku untuk orang-orang yang tidak bersunat. Setelah melihat anugerah yang diberikan kepadaku, maka Yakobus, Kefas dan Yohanes, yang dipandang sebagai tiang utama jemaat, berjabat tangan dengan aku dan dengan Barnabas sebagai tanda persekutuan, supaya kami pergi kepada orang-orang yang tidak bersunat dan mereka kepada orang-orang yang bersunat; hanya kami harus tetap mengingat orang-orang miskin dan memang itulah yang sungguh-sungguh hendak kulakukan.

Tetapi waktu Kefas datang ke Antiokhia, aku dengan terang-terangan menentangnya, sebab ia salah. Karena sebelum beberapa  orang dari kalangan Yakobus datang, ia makan sehidangan dengan saudara-saudara seiman yang tidak bersunat, tetapi setelah mereka datang, ia mengundurkan diri dan menjauhi mereka karena takut terhadap saudara-saudara yang bersunat. Orang-orang Yahudi yang lain pun turut berlaku munafik dengan dia, sehingga Barnabas sendiri turut terseret oleh kemunafikan mereka. Tetapi waktu kulihat bahwa kelakuan mereka itu tidak sesuai dengan kebenaran Injil, aku berkata kepada Kefas di hadapan mereka semua, “Jika engkau, seorang Yahudi, hidup seperti orang bukan Yahudi dan tidak seperti orang Yahudi, bagaimana engkau dapat memaksa saudara-saudara yang tidak bersunat untuk hidup seperti orang Yahudi?”  (Gal 2:1-2, 7-14)

Mazmur Tanggapan: Mzm 117:1-2; Bacaan Injil: Luk 11:1-4

Bayangkanlah energi, excitement, dan komitmen Gereja Perdana. Bayangkan para anggota jemaat yang bersemangat berapi-api karena karunia Roh Kudus pada hari Pentakosta Kristiani yang pertama, membangun dan melakukan evangelisasi dengan para raksasa seperti Petrus, Yakobus dan Paulus. Hei, ‘ntar dulu! Telitilah bacaan di atas sekali lagi untuk suatu reality check. Dalam bacaan ini kita dapat melihat bahwa Santo Paulus secara terbuka melontarkan kritik-kritiknya terhadap Santo Petrus.

ic-ma100-icon-holy-apostles-peter-and-paulSungguh sulit untuk membayangkan Petrus dan Paulus di lukisan kaca sebuah gereja yang kelihatan berdiri berdampingan dengan tegak sebagai pahlawan-pahlawan Gereja Kristiani. Mereka pun dirayakan bersama dalam Hari Raya khusus bagi mereka berdua yang jatuh pada tanggal 29 Juni setiap tahun. Mereka tidak berbeda berselisih pendapat tentang  hal-hal pribadi atau tetek bengek yang tidak signifikan. Perbedaan pendapat mereka berdua adalah terkait sebuah isu sental tentang iman Kristiani. Sebagaimana dilihat oleh Paulus, Petrus menyesatkan orang-orang non-Yahudi (baca: kafir) sehingga percaya bahwa mereka harus mengikuti hukum-hukum Perjanjian Lama tertentu sebelum mereka dapat mempertimbangkan diri mereka sendiri sepenuhnya diselamatkan oleh Allah. Hal ini berarti bahwa pengorbanan Yesus di atas kayu salib tidaklah cukup bagi mereka. Perilaku Petrus mendistorsi kebenaran Kristiani, sehingga dengan demikian Paulus mengedepankan isu ini. Iman kepada (akan; dalam) Yesus sudah cukup untuk memperoleh keselamatan.

Setelah konfrontasi di Antiokhia, Petrus dan Paulus masing-masing bergerak maju dalam pelayanan mereka yang terpisah, Petrus kepada kaum bersunat (Yahudi) dan Paulus kepada orang-orang tak bersunat. Apakah mereka pernah melakukan upaya rekonsiliasi setelah terjadinya perbedaan pendapat seperti diceritakan dalam bacaan di atas? Tidak ada catatan dalam Perjanjian Baru. Hanya satu hal yang pasti: Tulisan-tulisan mereka menunjukkan bahwa mereka melihat dengan serius relasi dekat-akrab yang harus eksis  di antara umat Kristiani, yang disyeringkan satu sama lain dalam Kristus. Petrus dan Paulus bukanlah macam orang yang memperkenankan agenda-agenda pribadi atau pertentangan-pertentangan pribadi mengganggu misi untuk membuat Kristus dikenal dalam dunia.. Masuk akallah apabila kita percaya bahwa dua orang rasul ini secara tulus-ikhlas mencoba untuk memperbaiki relasi mereka satu sama lain. Secara pribadi saya percaya bahwa tentunya terjadi happy ending. [Tambahan: Ada satu acuan kepada Paulus dalam Surat Petrus yang kedua yang baik untuk kita baca dan renungkan (2Ptr 3:14-16)].

Cerita mengenai Petrus dan Paulus menggambarkan betapa penuh tantangan yang kita hadapi untuk memelihara tali persahabatan yang erat dan langgeng. Biar bagaimana pun juga dua orang kudus besar ini mengalami betapa beratnya hal ini. Namun tulisan-tulisan mereka juga menceritakan kepada kita bahwa Allah sangat menghargai kesatuan dan persatuan eksis di antara umat-Nya, dan Ia akan mencurahkan setiap rahmat yang diperlukan untuk menjaga dan memperdalam persahabatan kita sampai titik di mana tidak ada sesuatu pun yang dapat mematahkannya. Dengan tetap membuka hati kita bagi Roh Kudus apabila terjadi ketidaksetujuan, konfrontasi dapat menjadi kesempatan guna memperkuat ikatan-ikatan persahabatan, bukan untuk memecah-belah ikatan-ikatan tersebut.

DOA: Tuhan Yesus, berkatilah para sahabatku. Berikanlah kepadaku cintakasih yang lebih mendalam kepada mereka selagi mereka menunjukkan kepadaku bagaimana mengasihi-Mu dengan lebih baik. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 11:1-4), bacalah tulisan yang berjudul “DOA YANG DIAJARKAN YESUS KEPADA KITA” (bacaan tanggal 5-10-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2016. 

(Bacaan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 8-10-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 3 Oktober 2016 [Transitus Bapak Fransiskus dari Assisi] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SELAMAT PESTA BAPAK FRANSISKUS DARI ASSISI: 4 OKTOBER

8x10-stfrancis-10dogs1

Cilandak, 4 Oktober 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MEMPERKENANKAN KEHADIRAN ALLAH MEMPEROLEH TEMPAT PERTAMA DALAM HATI KITA

MEMPERKENANKAN KEHADIRAN ALLAH MEMPEROLEH TEMPAT PERTAMA DALAM HATI KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Fransiskus dr Assisi, Selasa, 4 Oktober 2016)

Keluarga Besar Fransiskan: Hari Raya S. Fransiskus dr Assisi, Pendiri Tarekat  

jesus-mary-martha-396319-print-do-not-copy-noticeKetika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah desa. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, sedangkan Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata, “Tuhan, tidakkah Engkau peduli bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.” Tetapi Tuhan menjawabnya, “Marta, Marta, engkau khawatir dan menyusahkan diri dengan banyak hal, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian terbaik yang tidak akan diambil dari dia.” (Luk 10:38-42) 

Bacaan Pertama: Gal 1:13-24; Mazmur Tanggapan: Mzm 139:1-3,13-15

“Tidakkah dia melihat betapa sibuknya diriku? Kami perlu memperhatikan para tamu kami secara istimewa, tetapi Maria hanya duduk-duduk di sana. Mengapa segalanya selalu tergantung pada diriku? Inilah kiranya yang ada dalam pikiran Marta.

Memang tidak sulitlah bagi kita untuk membayangkan pemikiran seperti di atas timbul dalam benak kita, jika kita berada dalam posisi Marta. Namun apabila kita mau lebih teliti lagi memperhatikan kata-kata Marta kepada Yesus, maka kita dapat mengenali bahwa keprihatinan utama dari Marta adalah apakah dirinya diperlakukan adil atau tidak. Marta berpikir bahwa solusi atas masalah-masalah yang dihadapinya terletak pada orang-orang lain. Merekalah yang harus berubah, bukan dirinya.

Rasanya kita masing-masing tidak perlu berlama-lama untuk mengingat kembali bahwa kita pun pernah berpikir atau mempunyai perasaan seperti Marta. Jika hal-hal yang berkembang tidak sesuai dengan kemauan kita, maka tanggapan kita yang pertama sangat mungkin berupa pikiran bahwa hak-hak kita telah diabaikan atau bahwa “kebaikan” diri kita telah dimanfaatkan oleh orang lain. Justru pada saat kita merasa teragitasi, maka kita harus berpaling kepada Roh Kudus guna memperoleh hikmat dan kebebas-merdekaan yang sejati. Barangkali kita berdoa: “Roh Kudus Allah, bagaimana aku dapat memperkenankan rahmat-Mu memenuhi diriku pada saat ini? Aku ingin meninggalkan kemarahanku. Tunjukkanlah kepadaku bagaimana aku dapat memberi tanggapan secara berbeda di sini.” Begitu banyak yang dapat terjadi dalam situasi menegangkan, apabila kita mau mencoba untuk mengubah diri kita sebelum mencoba untuk mengubah orang lain – teristimewa apabila kita memohon diberikan rahmat ilahi guna membuat perubahan-perubahan ini.

roh-kudus-melayang-layang-2Jika kita memperkenankan kehadiran Allah memperoleh tempat pertama dalam hati kita, maka hal-hal yang sungguh menakjubkan dapat terjadi. Allah – sang Pencipta alam semesta dan segala isinya – adalah begitu kreatif sehingga sangatlah mampu untuk memimpin kita kepada pemikiran-pemikiran, keputusan-keputusan dan tindakan-tindakan yang dapat mewujudkan hal-hal yang lebih daripada sekadar pemecahan masalah; hal-hal yang mendatangkan kesembuhan, kebebasan/kemerdekaan, bahkan pelepasan dari kuasa-kuasa jahat. Cintakasih dan belarasa terhadap orang-orang lain dapat menggantikan rasa geram kita terhadap ketidakadilan yang terasa menimpa diri kita. Hikmat ilahi Allah sendiri dapat membimbing kita guna membuat perubahan-perubahan yang mungkin sekali juga mengejutkan diri kita sendiri di samping mengejutkan orang-orang lain. Allah bahkan dapat menunjukkan kepada kita bagaimana diri kita mungkin menjadi penyebab masalah juga – bersama-sama dengan faktor luar.

Apa pun yang ditunjukkan oleh Roh Kudus, kita akan menemukan iman dan kepercayaan kita kepada Yesus menjadi semakin mendalam. Selagi kita mengalami kuat-kuasa-Nya guna mengubah hati kita, rahmat-Nya akan mengalir ke luar dari diri kita, …… menolong setiap orang yang terlibat untuk mengenal dan mengalami kesembuhan, kebebasan dan sukacita yang tak berkesudahan.

DOA: Yesus Kristus, bersama ini aku mempersembahkan kepada-Mu, ya Tuhan, segala relasiku dengan sesamaku yang telah “rusak” dan yang sedang memburuk. Curahkanlah damai-sejahtera-Mu ke atas diri masing-masing pribadi yang terlibat. Perkenankanlah belas kasih-Mu menang berjaya atas setiap perpecahan. Tuhan Yesus, aku dan sesamaku sungguh membutuhkan Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 10:38-42), bacalah tulisan yang berjudul “CERITA TENTANG MARIA DAN MARTA” (bacaan tanggal 4-10-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 6-10-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 3 Oktober 2016 [Transitus Bapak Fransiskus dr Assisi] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

TRANSITUS BAPAK FRANSISKUS DARI ASSISI: 3 OKTOBER

transitus-of-st-francis

Jakarta, 3 Oktober 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS