PENGURUS HARTA KEKAYAAN KERAJAAN ALLAH

PENGURUS HARTA KEKAYAAN KERAJAAN ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus – HARI MINGGU BIASA XXV [TAHUN C], 18 September 2016)

jesus_christ_picture_013Kemudian Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya. Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: Apa ini yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungjawaban atas apa yang engkau kelola, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara. Kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak kuat, mengemis aku malu. Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka. Lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berhutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama: Berapakah hutangmu kepada tuanku? Jawab orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Terimalah surat hutangmu, duduklah dan tulislah segera: Lima puluh tempayan. Kemudian ia berkata kepada yang kedua: Berapakah hutangmu? Jawab orang itu: Seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu: Terima surat hutangmu, dan tulislah: Delapan puluh pikul. Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya daripada anak-anak terang. Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi.”

“Siapa saja yang setia dalam hal-hal kecil, ia setia juga dalam hal-hal besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam hal-hal kecil, ia tidak benar juga dalam hal-hal besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? Jikalau kamu tidak setia mengenai harta orang lain, siapakah yang akan memberikan hartamu sendiri kepadamu?

Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Luk 16:1-13) 

Bacaan Pertama: Am 8:4-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 113:1-2,4-8; Bacaan Kedua: 1Tim 2:1-8;  Bacaan Injil (versi singkat): Luk 16:10-13

Yesus tidak membenarkan praktek-praktek yang tidak tidak jujur. Kendati demikian – barangkali juga mengagetkan para pendengar-Nya – Yesus membuat seorang bendahara yang tidak jujur sebagai sebuah contoh kelicinan/kelihaian yang patut dikagumi. Dapatkah pemikiran “sedemikian rendah” yang telah digunakan oleh banyak orang untuk memperoleh yang mereka inginkan dalam dunia, digunakan oleh kita dalam pelayanan kepada Allah? Jawabnya: dalam suatu cara tertentu, ya.

Allah ingin agar kita mempertimbangkan diri kita sebagai bendahara (sebenarnya yang lebih cocok: steward, pengelola, pengurus) dan mengharapkan dapat diterima ke dalam kerajaan-Nya yang kekal-abadi. Akan tetapi tidak ada seorang pun yang tahu saat kedatangan Yesus datang kemuliaan-Nya (lihat Mrk 13:32). Maka kita harus bertanya kepada diri kita sendiri, “Apakah yang harus aku lakukan – dan apakah yang dapat lakukan dengan cepat?” Dengan menggunakan sumber daya apa saja yang dapat kita miliki – uang kita, waktu kita, relasi kita, energi kita – kita semua dinasihati-Nya untuk membuktikan diri kita sebagai pengurus/pengelola yang bertanggung-jawab atas harta kekayaan kerajaan Allah.

Uang tidak dapat menolong kita untuk selamanya (lihat Luk 16:9) karena kita tidak dapat membawanya masuk ke dalam kerajaan Allah. Namun selama kita berada di atas bumi, kita dapat menggunakannya dengan bijaksana, untuk menopang kebutuhan-kebutuhan kita dan kebutuhan-kebutuhan keluarga kita, dan membantu orang-orang lain yang kurang beruntung ketimbang diri kita. Memperhatikan kebutuhan-kebutuhan seperti itu akan mengajar kita tentang Yesus yang bermurah-hati, Yesus yang memiliki hati-pelayan. Dengan demikian, uang hanyalah suatu sumber daya. Kita juga mempunyai doa dan hikmat-kebijaksanaan yang kita peroleh dari pengalaman. Sebagaimana si pengelola atau steward atau manager yang tidak jujur, kita dapat mengandalkan ketiga sumber daya ini untuk membawa orang kepada Yesus. Apabila kita menyusun rencana-rencana, Allah pasti akan membimbing langkah-langkah kita.  Ingatlah apa yang dikatakan penulis Amsal: “Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi TUHAN (YHWH)-lah yang menentukan  arah langkahnya (Ams 16:9).

Menjadi seorang Kristiani dan melayani kerajaan Allah adalah suatu urusan yang praktis dan  sederhana (down-to-earth). Namun memerlukan pemikiran strategis (strategic thinking). Allah bukan mencari pelayan-pelayan yang kekanak-kanakan (naïve) yang tidak tahu bagaimana bekerja keras dan melakukan hal yang baik. Allah menginginkan orang-orang yang dapat datang dengan strategi-strategi yang efektif agar dapat mengatasi kegelapan di dalam maupun di sekeliling mereka. Marilah kita menjadi bijak dalam cara-cara Kerajaan Allah.

DOA: Bapa surgawi, berkatilah kami dengan hikmat-kebijaksanaan serta kreativitas, sehingga dengan demikian kami dapat menggunakan berbagai sumber daya yang kami miliki untuk kemajuan kerajaan-Mu. Terpunjilah nama-Mu sekalu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari (versi singkat: Luk 16:10-13), bacalah tulisan yang berjudul “KAMU TIDAK DAPAT MENGABDI KEPADA ALLAH DAN KEPADA MAMON” (bacaan tanggal 18-9-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 13 September 2016 [Peringatan S. Yohanes Krisostomus, Uskup Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

HANYA KARENA WAFAT DAN KEBANGKITAN-NYA

HANYA KARENA WAFAT DAN KEBANGKITAN-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIV – Sabtu, 17 September 2016)

Keluarga Fransiskan: Pesta Stigmata Bapa kita Fransiskus

 003-parable-sower

Ketika orang banyak berbondong-bondong datang, yaitu orang-orang yang dari kota ke kota menggabungkan diri dengan Yesus, berkatalah Ia dalam suatu perumpamaan, “Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan setelah tumbuh ia menjadi kering karena tidak mendapat air. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, dan semak itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati. Sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat.” Setelah berkata demikian Yesus berseru, “Siapa yang mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!” 

Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya tentang maksud perumpamaan itu. Lalu Ia menjawab, “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti. Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah firman Allah. Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang-orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan. Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang-orang yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad. Yang jatuh dalam semak duri ialah orang-orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekhawatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang. Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang-orang yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.” (Luk 8:4-15) 

Bacaan Pertama: 1Kor 15:35-37,42-49; Mazmur Tanggapan: Mzm 56:10-14 

Petani macam apa yang membiarkan benih yang ditaburkan olehnya jatuh di pinggir jalan atau di tanah yang berbatu-batu, atau di tengah semak duri? Para petani mengetahui bahwa hasil tuaian dari benih yang ditaburkan di tanah yang baik memiliki kemungkinan lebih besar untuk tumbuh berbuah, daripada benih yang jatuh di pinggir jalan, tanah yang berbatu-batu, atau di tengah semak duri. Sementara selalu ada saja sedikit harapan bahwa benih yang jatuh di tanah yang “tidak baik” paling sedikit dapat tumbuh berbuah (meskipun jauh kurang dari “tanah yang baik”), seorang petani yang menggarap “tanah yang tidak baik” itu harus memiliki keyakinan besar dan benih yang banyak agar mampu menuai dengan berkelimpahan.

Perumpamaan ini mengajar kita tentang bagaimana Yesus dengan penuh kemurahan hati melimpahkan rahmat dan kehidupan. Lukas menulis Injilnya untuk orang-orang Kristiani dengan latar belakang non-Yahudi (baca: Yunani), jadi bukan untuk orang-orang Kristiani Yahudi. Dalam perumpamaan ini dan juga dalam perumpamaan-perumpamaan-Nya yang lain, Yesus mengajar bahwa pesan dan kuasa Injil bukanlah hanya bagi orang-orang Yahudi, melainkan juga bagi orang-orang non-Yahudi (kafir). Yesus mencurahkan rahmat dan kehidupan-Nya kepada semua orang dalam segala situasi. Yesus itu murah hati dan tidak mengenal diskriminasi.

Hasil benih yang ditabur di tanah yang baik biasanya berkisar dari tujuh sampai sepuluh kali lipat; namun dalam perumpamaan ini benih yang ditabur di tanah yang baik itu menghasilkan buah seratus kali lipat! Ini adalah hasil tuaian yang sungguh luarbiasa, berdasarkan standar apa pun yang kita gunakan. Hasil berlimpah ini datang ke tengah kehidupan kita sendiri hanya karena kematian dan kebangkitan Yesus. Karya Yesus menata kembali dunia sehingga sekarang kita dapat mengharapkan adanya panen yang berlimpah. Semua pembatasan dan rintangan yang menghalangi kita untuk menghasilkan buah telah diatasi, misalnya dosa dan kematian. Lebih lagi, kita dapat yakin bahwa Yesus sangat berhasrat untuk bekerja dengan kita agar kita dapat memberikan hasil yang melimpah bagi kerajaan-Nya.

Marilah kita berpaling kepada Yesus dan meyakini bahwa kematian dan kebangkitan-Nya telah mengubah tatanan dunia. Kita harus penuh harap bahwa selagi kita menaruh iman kita pada-Nya, maka kita akan mengalami kuat-kuasa dari kematian dan kebangkitan-Nya dalam kehidupan kita dan kehidupan orang-orang di sekeliling kita. Apabila kita menaruh rasa percaya pada kuat-kuasa ini dan mempercayainya, maka akan ada buah spiritual bahkan apabila kita tidak melihatnya secara langsung.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau menghancurkan kuasa kematian dan dosa dan memberikan kepada kami kehidupan baru melalui kemenangan-Mu di atas kayu salib. Segalanya menjadi baru sekarang. Kami berdoa agar kami juga dapat menghasilkan buah yang berlimpah bagi-Mu dan bahwa rahmat dan kehidupan-Mu akan dialami oleh semua orang. Amin. 

Catatan: Bacalah tulisan yang berjudul “MENJADI TANAH YANG BAIK BAGI BENIH SABDA-NYA” (bacaan Injil untuk tanggal 17-9-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011)

Cilandak, 13 September 2016 [Peringatan S. Yohanes Krisostomus, Uskup Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PEREMPUAN-PEREMPUAN YANG MELAYANI YESUS DAN ROMBONGAN-NYA

PEREMPUAN-PEREMPUAN YANG MELAYANI YESUS DAN ROMBONGAN-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Kornelius, Paus dan S. Siprianus, Uskup & Martir – Jumat, 16 September 2016) 

faithful-women-who-served-jesus-001Tidak lama sesudah itu Yesus berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Allah. Kedua belas murid-Nya bersama-sama dengan Dia, dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat dan berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana istri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan harta milik mereka. (Luk 8:1-3) 

Bacaan Pertama:  1Kor 15:12-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 17:1,6-8,15 

Kemurahan-hati yang sejati mengalir dari hati yang penuh rasa syukur. Dalam catatan singkatnya tentang perempuan-perempuan yang mengikuti Yesus dan rombongan-Nya serta melayani mereka semua dengan menggunakan sumber daya yang mereka miliki, Santo Lukas memberikan kepada kita sebuah gambaran tentang kemurahan-hati yang luarbiasa. Siapakah sebenarnya perempuan-perempuan itu? Kitab Suci hanya memberikan kepada kita sedikit informasi. Maria Magdalena – yang hidup di bawah pengaruh roh-roh jahat sebelum Yesus membebaskan dirinya (Luk 8:2). Perempuan yang satu ini mendapat privilese sebagai orang pertama yang melihat Yesus yang sudah bangkit (bacalah Yoh 20:11-18). Sebagai istri dari bendahara raja Herodes Antipas, Yohana adalah seorang tuan puteri yang kaya (Luk 8:3). Tentu saja dua perempuan itu tidak akan pernah bertemu satu sama lain dalam keadaan yang berbeda.

Apa yang menyebabkan perempuan-perempuan yang berlatar-belakang berlainan ini sampai berkumpul bersama dalam satu kelompok yang menyatukan mereka, sebuah kelompok dengan ikatan persahabatan, pelayanan bersama dan kesetiaan kepada Yesus? Tentunya Yesus dan pesan-Nya tentang Kerajaan Allah telah mentransformasikan mereka. Tidak seperti para rasul yang duabelas orang itu, yang terkadang masih saja mencari prestise, perempuan-perempuan ini tidak mencari posisi atau menuntut pengakuan status. Yesus telah menyentuh hati mereka dengan begitu mendalam sehingga mereka bersedia untuk melakukan pekerjaan bagi-Nya, bahkan pekerjaan yang kelihatan tak berarti: mereka ada demi pelayanan kepada-Nya.

Sekarang, apakah kita lebih menyerupai para rasul – yang masih memiliki minat dalam hal status – ataukah seperti para perempuan itu, yang puas melayani Yesus walaupun tidak kelihatan orang-orang lain dan dengan penuh kemurahan-hati? Karena dosa Adam dan Hawa kita memiliki kodrat yang cenderung berdosa, dan kecenderungan kita adalah ingin dilayani dan ditempatkan dalam posisi nomor satu dan menghindar dari pemberian-diri kita sendiri. Kita harus mengakui bahwa kebanyakan dari kita lebih suka untuk tidak mengambil tempat rendah sebagai pelayan-pelayan yang mendahulukan pemenuhan kebutuhan orang-orang lain daripada kebutuhan mereka sendiri. Perempuan-perempuan ini yang berkorban begitu banyak untuk/demi melayani Yesus, adalah sebuah contoh indah bagi kita tentang transformasi yang Allah ingin lakukan dalam hati kita masing-masing.

Sementara bukanlah kodrat kita untuk menyerahkan hidup kita guna melayani dengan rendah hati, kita semua dipanggil untuk melayani Yesus seturut contoh yang diberikan oleh perempuan-perempuan itu. Hal ini benar, teristimewa dalam kehidupan keluarga kita. Para pasutri, orangtua, anak-anak – kita semua dipanggil untuk saling melayani. Dalam artian yang lebih luas, kita juga dipanggil untuk melayani orang-orang dalam lingkungan kita,di paroki kita, di tempat kerja kita, dan di komunitas-komunitas lainnya di mana kita adalah anggota.

Saudari dan Saudari yang terkasih, marilah kita meminta kepada Yesus agar supaya menunjukkan kepada kita bagaimana kita masing-masing dapat melayani orang-orang lain. Selagi kita melangkah dalam iman dan rasa percaya, maka Dia akan memberikan kepada kita hati yang benar, yaitu hati yang dipenuhi dengan cintakasih kepada orang-orang lain.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah “seorang” Pelayan/Hamba yang tidak banyak omong. Kasih-Mu kepada diriku tidak mengenal batas. Bagaimana aku dapat membalas segala sesuatu yang telah Engkau lakukan bagi diriku? Tunjukkanlah kepadaku bagaimana caranya untuk menyenangkan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 8:1-3), bacalah tulisan yang berjudul “TIDAK ADA YANG BERADA DI LUAR JANGKAUAN KASIH-NYA” (bacaan tanggal 16-9-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 18-9-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 13 September 2016 [Peringatan S. Yohanes Krisostomus, Uskup Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SUATU PEDANG YANG MENEMBUS JIWA MARIA

SUATU PEDANG YANG MENEMBUS JIWA MARIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan SP Maria Berdukacita – Kamis, 15 September 2016)

pppas0189Bapak serta ibu-Nya amat heran akan segala sesuatu yang dikatakan tentang Dia. Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu, “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan – dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri – supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.” (Luk 2:33-35) 

Bacaan Pertama 1Kor 15:1-11 atau Ibr 5:7-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 31:2-6,15-16,20; Bacaan Injil Alternatif: Yoh 19:25-27 

Sungguh  luarbiasa nubuatan dari Simeon ini. Bayangkan dan renungkanlah berbagai penderitaan yang dialami Maria sepanjang hidupnya. Sudah hampir dipastikan ia mengalami cemoohan, ejekan, penghinaan, dan rasa curiga orang-orang berkaitan dengan kehamilannya. Maria melahirkan bayinya tidak dalam suasana hangat di tengah keluarganya, namun dalam sebuah gua yang jauh dari tempat asalnya. Kemudian, tidak lama setelah melahirkan, ia dipaksa untuk melarikan diri dari Israel dengan Yusuf dan bayinya, karena raja Herodes Agung ingin membunuh-Nya.

Maria adalah seorang ibu yang sesungguhnya, yang menghadapi berbagai tantangan hidup dalam dunia nyata. Dia melakukan tugas masak-memasak, mencuci, mengganti popok bayinya, mengajar dan mendidik Anak-nya, mengurus suaminya, mengasihi para tetangganya, memberi sedekah kepada para pengemis, dan pergi tidur pada saat ia sudah lelah sekali karena kegiatannya sepanjang hari. Pagi-pagi sekali dia bangun tidur dan mengulangi lagi rutinitas hariannya. Namun justru dalam suasana seperti itulah, dalam sebuah rumah tangga yang tidak menonjol dalam kampungnya, Maria bertumbuh dalam kekudusan. Maria kehilangan suaminya pada saat ia belum tua-tua amat. Ia telah menjadi perempuan yang “tahan banting” ketika Anak-nya memulai  pelayanan-Nya di depan publik. Jadi, sungguh sulitlah baginya sebagai seorang ibu untuk melepaskan Anak-Nya. Dia mengamati tindak-tanduk Yesus dari kejauhan selagi Anak-Nya itu mencurahkan kasih-Nya tanpa batas kepada orang-orang tak dikenal, bahkan menghadapi penolakan, menerima cercaan dlsb. dari orang-orang yang melawan-Nya. Ibu mana pun yang mengamati anak-anaknya yang pergi meninggalkan rumah dan merasa susah tentang masa depan mereka dapat memahami keprihatinan Maria.

Hati Maria ditembus pada kali terakhir di bukit Kalvari, ketika dia menyaksikan Anak-Nya mengalami kematian yang kejam dan mengenaskan. Kepedihan hati mana yang lebih besar daripada kepedihan hati Maria ketika menerima jenazah Anak-Nya yang baru diturunkan dari atas kayu salib. Siapa yang dapat ikut ambil bagian secara lebih penuh daripada Maria dalam hal persembahan kurban Yesus di kayu salib guna menebus dunia yang  penuh dosa dan sungguh sakit?

michelangelos_pieta_st_peters_basilica_1498-99Patung karya Michelangelo yang terkenal, Pieta, menunjukkan Maria memegang tubuh Yesus yang diletakkan di pangkuannya setelah Ia diturunkan dari atas kayu salib. Jenazah Yesus tidak dipeluk olehnya seakan untuk dirinya sendiri, melainkan di atas pangkuannya, artinya mengundang kita semua untuk bergabung dengan dirinya, baik dalam dukacitanya maupun dalam penghiburan yang akan dialaminya ketika Yesus bangkit pada hari ketiga untuk kita semua.

Bagi kita semua yang telah kehilangan seorang anak atau menderita karena terpisah dari orang yang kita kasihi, Maria terus memberikan kepada kita Anak-nya, Yesus Kristus. Maria terus mengajar kita untuk menyerahkan anak-anak kita ke tangan-tangan Allah, karena dia mengetahui benar bahwa Dia yang membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, tentunya pasti mampu memberikan hidup kepada kita dan anak-anak kita.

DOA: Bapa surgawi, kami berterima kasih penuh syukur karena kasih-Mu yang begitu besar kepada kami, Engkau memberikan Bunda Maria kepada kami semua – yang oleh kuasa Roh Kudus menjadi ibunda Anak-Mu Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Bunda Maria adalah sungguh seorang ibu bagi siapa saja yang berpaling dan datang kepadanya, seorang ibu yang menjaga anak-anak kami dan anak-anak di seluruh dunia. Biarlah nama Bunda Maria selalu ada dalam hati kami, anak-anak-Mu. Terpujilah Allah Tritunggal Mahakudus, Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil Alternatif hari ini (Yoh 19:25-27), bacalah tulisan yang berjudul “BERDIRI BERSAMA BUNDA MARIA DI DEKAT SALIB KRISTUS” (bacaan tanggal 15-9-16) dalam situs/blog  SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 15-9-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 13 September 2016 [Peringatan S. Yohanes Krisostomos, Uskup Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SALIB KRISTUS YANG BERKEMENANGAN

SALIB KRISTUS YANG BERKEMENANGAN

(Bacaan Kedua Misa Kudus, Pesta Salib Suci – Rabu, 14 September 2016) 

artbook__057_057__thecrucifixion_sm___

Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku, “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa! (Flp 2:6-11) 

Bacaan Pertama: Bil 21:4-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 78:1-2,34-38; Bacaan Injil: Yoh 3:13-17 

Pesta gerejawi yang kita rayakan pada hari ini mempunyai sebuah sejarah yang panjang. Penemuan salib Kristus di tanah suci oleh Santa Helena, untuk pertama kali dirayakan dalam Gereja pada tanggal 14 September 365. Perayaan itu diselenggarakan dalam gereja yang dibangun atas perintah putera Helena, Kaisar Roma Konstantinus, di situs Golgota dan makam Yesus. Perayaan untuk memperingati ini menyebar luas dengan cepat di tengah umat Kristiani di seluruh dunia, dan pada abad ke-7, pesta ini digabungkan dengan pesta  berkenaan dengan restorasi dari relikwi salib itu yang direbut dari orang-orang Persia – lalu dinamakan “Pesta Kemenangan Salib” (Inggris: “Feast of the Triumph of the Cross”) atau “Pesta Peninggian Salib” (Inggris: Feast of the Exaltation of the Cross) dalam kalender liturgi Gereja Roma.

Dunia kuno sungguh merasa ngeri menyaksikan kematian lewat penyaliban – sebuah praktek pemberian hukuman mati yang mengerikan dan memalukan. Akan tetapi, orang-orang Kristiani menghormati salib, baik sebagai tanda penderitaan Yesus maupun piala kemenangan-Nya atas Iblis, dosa dan maut. Kita menghormati salib Kristus karena melalui salib-Nya kita sampai pada pengenalan dan pengalaman akan kasih Yesus kepada kita yang begitu besar dan agung, dan melalui bilur-bilur-Nya kita telah diselamatkan dan disembuhkan (Yes 53:5; bdk. 1Ptr 2:24). Rupert dari Dreutz, seorang rahib dan abas Benediktin pada abad ke-12 mempermaklumkan dengan mengharukan:

“Kita menghormati salib sebagai penjaga iman, penguat harapan, dan takhta kasih. Salib adalah tanda belas kasih, bukti pengampunan, sarana rahmat, dan pataka damai-sejahtera. Kita menghormati salib (Kristus) karena salib itu telah mematahkan kesombongan kita, mencerai-beraikan rasa iri kita, menebus dosa-dosa kita dan menjadi silih terhadap hukuman atas diri kita…….

“Salib Kristus adalah pintu ke surga, kunci masuk ke dalam firdaus, kejatuhan Iblis, pengangkatan umat manusia, konsolasi/penghiburan atas keberadaan kita dalam penjara, hadiah bagu kebebasan kita …… Para tiran dihukum oleh salib (Kristus) dan orang-orang berkuasa dikalahkan oleh salib (Kristus) itu. Salib mengangkat orang-orang susah dan menghormati orang-orang miskin. Salib adalah akhir dari kegelapan, penyebaran terang, kaburnya maut, kapal kehidupan dan kerajaan keselamatan…….

“Apa pun yang kita capai bagi Allah, apa pun yang berhasil kita capai dan harapkan, adalah buah dari penghormatan kita terhadap salib (Kristus). Oleh Salib, Kristus menarik segala sesuatu kepada diri-Nya. Itu adalah kerajaan Bapa, tongkat lambang kekuasaan dari sang Putera, dan meterai Roh Kudus, suatu saksi bagi Tritunggal Mahakudus secara total.”

DOA: Kami menyembah Engkau, Tuhan Yesus Kristus, di sini dan di semua gereja-Mu yang ada di seluruh dunia; dan kami memuji Engkau, sebab dengan salib suci-Mu Engkau telah menebus dunia. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini, bacalah tulisan yang berjudul “SALIB KRISTUS ADALAH SEBUAH MAHKOTA KEMENANGAN ABADI” (bacaan tanggal 14-9-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com;  kategori: 16-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-9-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 11 September 2016 [HARI MINGGU BIASA XXIV – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PUTERA SANG JANDA DARI NAIN

PUTERA SANG JANDA DARI NAIN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Yohanes Krisostomos, Uskup Pujangga Gereja – Selasa, 13 September 2016)

jesus-raises-widow-of-nains-son

Segera setelah itu Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain. Murid-murid-Nya pergi bersama-sama dengan Dia, dan juga orang banyak menyertai-Nya berbondong-bondong. Setelah Ia dekat pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu. Ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya, “Jangan menangis!” Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata, “Hai anak muda, aku berkata kepadamu, bangkitlah!” Orang itu pun bangun dan duduk serta mulai berkata-kata, lalu Yesus menyerahkannya kepada ibunya. Semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata, “Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,” dan “Allah telah datang untuk menyelamatkan umat-Nya.” Lalu tersebarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di seluruh daerah sekitarnya. (Luk 7:11-17) 

Bacaan Pertama: 1Kor 12:12-14,27-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 100:2-5

Dua rombongan bertemu di dekat pintu gerbang kota Nain. Rombongan yang pertama adalah Yesus bersama orang banyak yang menyertai-Nya dengan berbondong-bondong menuju Nain. Rombongan yang kedua adalah orang-orang yang mengusung jenazah anak laki-laki tunggal ibunya yang sudah janda dan diiringi banyak orang dari kota. Rombongan pertama mengikuti “kehidupan” (lihat Yoh 14:6), sedangkan rombongan kedua mengikuti “kematian”. Ada dua pribadi yang menjadi pusat perhatian dalam cerita ini: Yesus dari Nazaret, sang rabi-keliling yang sedang naik-daun dan seorang janda yang baru kehilangan anak tunggalnya. Dalam cerita ini tidak terdengar seruan mohon pertolongan, tidak terdengar seruan agar Yesus membuat sebuah mukjizat, tidak ada permohonan agar terjadi tanda-tanda heran.

Cerita ini secara sederhana menggambarkan bahwa hati Yesus tergerak oleh bela rasa penuh belas kasih terhadap sang janda. Yesus merasakan betapa pedihnya penderitaan yang menimpa sang janda. Yesus ikut menderita bersama perempuan malang itu. Yesus berkata kepadanya untuk jangan menangis (Luk 7:13) dan segera membuktikan kepada sang janda alasan dari kata-katanya dengan perbuatan nyata. Yesus menyentuh usungan jenazah, dan lagi-lagi bela-rasa-Nya mengalahkan rituale keagamaan yang berlaku, yang tidak memperbolehkan orang berkontak (bersentuhan) dengan orang mati. Dengan kata-kata-Nya yang penuh dengan kuat-kuasa, Yesus memerintahkan orang mati itu untuk bangkit (Luk 7:14). Anak muda itu pun bangun dan duduk serta mulai berkata-kata. Yesus mengklaim kembali anak muda itu ke dalam alam orang hidup dan Ia mengembalikannya kepada sang ibu. Sang ibu dengan demikian tidak perlu menangis lagi.

Lukas memberikan kepada kita sebuah cerita sederhana yang berbicara mengenai bela rasa Yesus yang tidak mengenal batas. Di sini Yesus tidak digambarkan sebagai seorang penggerak yang tidak bergerak. Bila ada orang yang menderita, hati-Nya tergerak – tidak secara tanpa kuat-kuasa, di mana Dia tak berdaya untuk melakukan apa pun, melainkan dengan cara di mana Dia mampu untuk mentransformir penderitaan menjadi sukacita dan kematian menjadi kehidupan. Mukjizat yang dibuat oleh Yesus ini tidak tergantung pada iman siapa pun. Isu dalam cerita mukjizat ini adalah bela rasa Yesus. Yesus sama sekali tidak menuntut iman sebagai prasyarat; Ia tidak menunggu sampai sang janda mengucapkan permohonan kepada-Nya. Yesus-lah yang bergerak untuk pertama kalinya, karena Dalah yang tergerak untuk pertama kalinya. Yesus tidak membuat mukjizat guna menunjukkan otoritas-Nya yang berada di atas segala otoritas lainnya; Dia juga tidak membuat mukjizat sebagai alat pendidikan untuk membuktikan suatu butir pemahaman; Yesus digerakkan oleh penderitaan yang ada di depan mata-Nya, dan itu sudah cukup bagi-Nya untuk bertindak … melakukan pekerjaan baik bagi manusia!

Inilah pertama kalinya Lukas menggunakan gelar Kyrios, artinya Tuhan, untuk menggambarkan Yesus. Waktunya memang layak dan pantas. Ketika Yesus menunjukkan diri-Nya sebagai Tuhan atas  kehidupan dan kematian, maka kepada-Nya diberikanlah gelar Kyrios.

Dalam bacaan Injil ini, Lukas menyajikan kepada kita imaji Yesus yang sangat menyentuh hati. Yesus-lah yang mengambil inisiatif, yang pertama berbicara, yang melihat adanya penderitaan dan desolasi yang menindih orang-orang, dan yang tidak melewati orang-orang yang menderita tersebut secara begitu saja. Dalam bela rasa-Nya Yesus tidak takut tangan-Nya menjadi kotor, atau diperlakukan sebagai orang yang najis sehingga harus ditahirkan oleh para imam Yahudi. Yesus sama sekali bukanlah seperti imam dan orang Lewi yang  digambarkan dalam “perumpamaan orang Samaria yang murah hati” (Luk 10:25-37). Manakala Yesus berjumpa dengan penderitaan di persimpangan jalan, Ia tidak “menghindar”. Yesus mentransformasikan penderitaan tersebut dengan sentuhan-Nya dan dengan sabda-Nya. Yesus mendatangkan kebahagiaan bagi kehidupan. Yesus meminta kepada orang-orang untuk hidup dalam pengetahuan bahwa Dia mampu untuk melakukan semua tindakan kebaikan, di sini dan sekarang juga. “Yesus Kristus tetap sama,  baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibr 13:8).

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar senantiasa terbuka bagi karya-Mu di dunia pada masa kini juga. Berikanlah kepadaku mata iman agar mampu melihat mukjizat-mukjizat yang Engkau perbuat. Tolonglah aku agar mampu memberikan tanggapan dengan penuh ketakjuban yang murni datang dari hatiku. Amin. 

Catatan: Tulisan ini diinspirasikan oleh tulisan P. Denis McBride, THE GOSPEL OF LUKE – A REFLECTIVE COMMENTARY 3rd Edition, Dublin, Ireland: Dominican Publications, 1991, hal. 95-96. 

Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 7:11-17), bacalah tulisan yang berjudul “SEMUA ORANG ITU KETAKUTAN DAN MEREKA MEMULIAKAN ALLAH” (bacaan tanggal 13-9-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 16-9-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  10 September 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

AKU TIDAK LAYAK MENERIMA TUAN DI DALAM RUMAHKU

AKU TIDAK LAYAK MENERIMA TUAN DI DALAM RUMAHKU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIV – Senin, 12 September 2016) 

centurion-looking-rightSetelah Yesus selesai berbicara di depan orang banyak, masuklah Ia ke Kapernaum. Di situ ada seorang perwira yang mempunyai seorang hamba, yang sangat dihargainya. Hamba itu sedang sakit keras dan hampir mati. Ketika perwira itu mendengar tentang Yesus, ia menyuruh beberapa orang tua-tua Yahudi kepada-Nya untuk meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan hambanya. Mereka datang kepada Yesus dan dengan sangat mereka meminta pertolongan-Nya, katanya, “Ia layak Engkau tolong, sebab ia mengasihi bangsa kita dan dialah yang membangun rumah ibadat untuk kami.” Lalu Yesus pergi bersama-sama dengan mereka. Ketika Ia tidak jauh lagi dari rumah perwira itu, perwira itu menyuruh sahabat-sahabatnya untuk mengatakan kepada-Nya, “Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku; sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakanlah saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.” Mendengar perkataan itu, Yesus heran akan dia, dan sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata, “Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!” Setelah orang-orang yang disuruh itu kembali ke rumah, mereka dapati hamba itu telah sehat kembali. (Luk 7:1-10) 

Bacaan Pertama: 1Kor 11:17-26; Mazmur Tanggapan: Mzm 40:7-10,17 

“Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku; sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakanlah saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh” (Luk 7: 6-7).

Kata-kata indah yang diucapkan oleh perwira (centurion) ini banyak mengungkapkan pergolakan apa yang terjadi dalam batinnya. Hal ini tidak hanya banyak menunjukkan keadaan dirinya, melainkan juga menolong kita untuk memahami bagaimana mengalami kuat-kuasa penyembuhan dari Yesus dalam hidup kita dan kehidupan orang-orang lain yang kita kasihi.

Pokok pertama yang harus kita catat adalah bahwa sang perwira – seorang kafir di mata orang Yahudi dan seorang serdadu – menunjukkan penghargaan dan kekaguman terhadap orang Yahudi dengan membangun sebuah sinagoga untuk mereka beribadat. Walaupun dia bukanlah seorang Yahudi, perwira ini menghargai umat Yahudi sebagai kelompok orang yang istimewa di mata Allah. Bukannya tidak mungkin bahwa dia pun mendambakan suatu relasi yang lebih mendalam dengan Allah Israel.

Kedua, setelah mempelajari tentang Yesus, perwira ini langsung memberi tanggapan dengan mengirimkan pesan memohon kepada Yesus untuk datang dan menyembuhkan seorang hambanya yang dikasihinya. Sekali lagi, sang perwira memiliki keterbukaan yang besar – dan hasrat – untuk mengalami kuat-kuasa Allah yang senantiasa terbukti setiap kali Yesus berjumpa dengan orang-orang yang sakit atau menderita kesusahan hidup.

Ketiga, barangkali yang paling penting adalah bahwa kita dapat melihat hati sang perwira ketika dia mengatakan kepada Yesus lewat perantaraan sahabat-sahabatnya: “…aku tidak layak menerima tuan di dalam rumahku” (Luk 7:6). Pernyataan ini menunjukkan bahwa sang perwira adalah seorang pribadi yang sangat rendah hati, juga imannya dan rasa percayanya kepada Dia yang memang pantas: Yesus! Kerendahan hati sang perwira dan  rasa percayanya kepada Tuhan Yesus juga diungkapkan oleh tindakan-tindakannya. Ia tidak pernah muncul sendiri di depan Yesus, melainkan dua kali mengirim utusan-utusannya untuk bertemu dengan Dia, dengan penuh kepercayaan bahwa Yesus tidak hanya dapat menyembuhkan hambanya melainkan akan menyembuhkan hambanya itu juga. Jadi, dia sepenuhnya percaya akan kemampuan dan kemauan Yesus untuk menyembuhkan hambanya. Dengan sebuah hati sedemikian, maka kuat-kuasa penyembuhan dari Yesus akan mengalir dengan mudah.

Hasrat kita untuk menerima pertolongan dari Yesus bagi orang-orang yang kita kasihi maupun untuk diri kita sendiri, plus kerendahan hati kita, dan rasa percaya yang besar kepada-Nya dan kuat-kuasa Allah dalam diri-Nya, adalah kunci-kunci yang diperlukan agar kita dapat menerima kesembuhan yang Ia ingin berikan kepada kita. Hati sang perwira dan tindakan-tindakannya membawa kesembuhan ilahi bagi hambanya. Oleh karena itu, pada hari ini kita juga harus melakukan yang terbaik untuk mendapatkan sebuah hati seperti yang dimiliki sang perwira. Marilah kita mengambil langkah-langkah yang konkret dan berdiri dalam iman selagi kita menerima jamahan kesembuhan dari Yesus.

DOA: Tuhan Yesus, aku sungguh tak pantas menerima cintakasih-Mu yang sedemikian besar. Namun, aku tahu bahwa Engkau pantas dan layak untuk cintakasihku. Dengan penuh kepercayaan dan dengan segala kerendahan hati, aku mohon agar Engkau sudi mencurahkan kuat-kuasa penyembuhan-Mu ke dalam hidupku. Aku percaya Engkau akan mendengarkan doaku ini, karena Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 7:1-10), bacalah tulisan yang berjudul “TIDAK PERNAH AKU JUMPAI, SEKALI PUN DI ANTARA ORANG ISRAEL” (bacaan tanggal 12-9-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 16-9-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 7 September 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS