CATATAN KECIL TENTANG HAMBA ALLAH YANG BERNAMA TOBIT

CATATAN KECIL TENTANG HAMBA ALLAH YANG BERNAMA TOBIT

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa IX – Selasa, 6 Juni 2017)

 

Pada malam itu juga aku membasuh diriku, lalu pergi ke pelataran rumah dan tidur di dekat pagar temboknya.  Mukaku tidak tertudung karena panas. Aku tidak tahu bahwa ada burung pipit di tembok tepat di atas diriku. Maka jatuhlah tahi hangat ke dalam mataku. Muncullah bintik-bintik putih. Akupun lalu pergi kepada tabib untuk berobat. Tetapi semakin aku diolesnya dengan obat, semakin buta mataku karena bintik-bintik putih itu, sampai buta sama sekali. Empat tahun lamanya aku tidak dapat melihat. Semua saudaraku merasa sedih karena aku. Dua tahun lamanya aku dipelihara oleh Ahikar sampai ia pindah ke kota Elumais.

Di masa itu isteriku Hana mulai memborong pekerjaan perempuan. Pekerjaan itupun diantarkannya kepada para pemesan dan ia diberi upahnya. Pada suatu hari, yaitu tanggal tujuh bulan Dustrus, diselesaikannya sepotong kain, lalu diantarkannya kepada pemesan. Seluruh upahnya dibayar kepadanya dan juga seekor anak kambing jantan untuk dimakan. Tetapi setibanya di rumahku maka anak kambing itu mengembik. Lalu istriku kupanggil dan berkata:  “Dari mana anak kambing itu?” Apa itu bukan curian? Kembalikanlah kepada pemiliknya! Sebab kita tidak diperbolehkan makan barang curian!” Sahut isteriku: “Kambing itu diberikan kepadaku sebagai tambahan upahku.” Tetapi aku tidak percaya kepadanya. Maka kusuruh kembalikan kepada pemiliknya – Karena perkara itu aku merah padam karena dia! Tetapi isteriku membantah, katanya: “Di mana gerangan kebajikanmu? Di mana amalmu itu? Betul, sudah ketahuan juga gunanya bagimu!” (Tob 2:9-14) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 112:1-2,7-9; Bacaan Injil: Mrk 12:13-17 

Kitab Tobit adalah sebuah cerita singkat mengenai sebuah keluarga saleh yang selamat dari tragedi melalui belas kasih Allah dan intervensi-Nya. Seperti yang akan dilakukan oleh Yesus sekitar 200 tahun kemudian dalam mengajar lewat perumpamaan-perumpamaan, pengarang kitab Tobit mencoba untuk menyampaikan pesannya dalam bentuk sebuah cerita yang mudah diingat. Selagi anda membaca kitab Tobit ini dalam beberapa hari ke depan, peganglah dua pertanyaan dalam pikiran anda: Bagaimana Allah digambarkan dalam kitab itu? Apakah yang terjadi apabila orang-orang menaruh kepercayaan kepada Dia?

Tobit adalah seorang Yahudi yang murah hati dan benar di mata Allah, dan ia hidup dalam pembuangan di Niniwe. Tobit mengambil risiko kehilangan nyawanya sendiri dengan menguburkan sesama Yahudi secara layak. Di tengah hidupnya yang penuh pengabdian kepada sesama itu, Tobit terkena sakit mata yang membutakan. Kelihatannya semua ini sangat tidak adil! Semakin Tobit berupaya keras untuk melayani Allah dan umat-Nya, semakin banyak pula derita yang harus ditanggungnya. Dalam beberapa hal penderitaan Tobit lebih buruk daripada penderitaan Ayub. Tobit menjadi buta selagi dia mempertaruhkan nyawanya dalam melayani Allah.

Akan tetapi, dengan berjalannya cerita kita melihat bahwa Tobit tidak hanya disembuhkan, melainkan diangkat ke tingkat yang lebih tinggi daripada sebelumnya, dan ia melambungkan puji-pujiannya kepada Allah. Apakah pesan hal itu bagi kita? Allah mempunyai kecenderungan untuk menguji dan membentuk umat-Nya menjadi lebih baik, teristimewa para hamba-Nya yang paling dekat. Jadi, selagi Tobit mencapai suatu titik krisis dalam imannya, dan pada awalnya gagal untuk lolos dari ujian-Nya, Allah tetap berada bersama dia dan menarik dirinya lebih dekat kepada-Nya. Perhatikanlah nyanyian pujian Tobit pada akhir kitab Tobit – betapa banyak yang telah dipelajarinya tentang Allah yang baik, sumber segala kebaikan, satu-satunya yang baik! (lihat Tob 13:1-18). Allah memperkenankan banyak pencobaan menimpa para hamba-Nya yang setia. Dalam proses ini, kesabaran dan iman-kepercayaan Tobit diperkuat dan disempurnakan.

Saudari dan Saudara yang dikasihi Kristus, seperti halnya dengan Tobit, kita juga akan mengalami banyak pencobaan. Tidak seorang pun dari kita yang dapat melihat apa yang akan terjadi di masa depan, juga tidak ada seorang pun yang mempunyai jawaban terhadap berbagai kebutuhan kita. Namun kita mempunyai karunia iman. Di tengah saat-saat penuh kegelapan, misalnya kehilangan anggota keluarga yang kita sangat kasihi, iman-kepercayaan yang goyah, ketidakadilan, atau ketidakpastian total – kita tetap dapat berpegang pada kebenaran-kebenaran yang datang dari Allah. Ia sungguh mengasihi kita dan mempunyai sebuah rencana sempurna bagi kita masing-masing. Mukjizat-mukjizat dapat terjadi ketika kita menaruh kepercayaan pada Bapa surgawi – teristimewa pada saat-saat yang paling gelap dalam kehidupan kita.

DOA: Bapa surgawi, Allah Yang Mahabaik, di tengah-tengah penderitaanku, Engkau menunjukkan belas kasih-Mu dan intervensi yang penuh keajaiban. Engkau senantiasa memberkati anak-anak-Mu yang setia dalam mengikuti jejak Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus. Oleh kuat-kuasa Roh Kudus, tolonglah diriku agar dengan teguh berpegang pada kebenaran-Mu dan merangkul hidup yang Kauberikan kepadaku. Terpujilah Allah Tritunggal Mahakudus, Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil  hari ini (Mrk 12:13-17), bacalah tulisan yang berjudul “KEPADA KAISAR DAN KEPADA ALLAH” (bacaan tanggal 6-6-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 BACAAN HARIAN JUNI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 2-6-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 5 Juni 2017 [Peringatan S. Bonifasius, Uskup Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

PENGGARAP-PENGGARAP KEBUN ANGGURR

PENGGARAP-PENGGARAP KEBUN ANGGUR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Bonifasius, Uskup Martir – Senin, 5 Juni 2017) 

Lalu Yesus mulai berbicara kepada mereka dalam perumpamaan, “Ada seseorang membuka kebun anggur dan membuat pagar sekelilingnya. Ia menggali lubang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga. Kemudian Ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. Ketika sudah tiba musimnya, ia menyuruh seorang hamba kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima sebagian dari hasil kebun itu dari mereka. Tetapi mereka menangkap hamba itu dan memukulnya, lalu menyuruhnya pergi dengan tangan hampa. Kemudian ia menyuruh lagi seorang hamba lain kepada mereka. Orang ini mereka pukul sampai luka kepalanya dan sangat mereka permalukan. Lalu ia menyuruh seorang lagi seorang hamba lain, dan orang ini mereka bunuh. Demikian juga dengan banyak lagi yang lain, ada yang mereka pukul dan ada yang mereka bunuh. Masih ada satu orang lagi padanya, yakni anaknya yang terkasih. Akhirnya ia menyuruh dia kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani. Tetapi penggarap-penggarap itu berkata seorang kepada yang lain: Inilah ahli waris, mari kita bunuh dia, maka warisan ini menjadi milik kita. Mereka menangkapnya dan membunuhnya, lalu melemparkannya ke luar kebun anggur itu. Sekarang apa yang akan dilakukan oleh tuan kebun anggur itu? Ia akan datang dan membinasakan penggarap-penggarap itu, lalu mempercayakan kebun anggur itu kepada orang-orang lain. Tidak pernahkah kamu membaca nas ini: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi baru penjuru: Hal ini terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita.” Lalu mereka berusaha untuk menangkap Yesus, karena tahu bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya dengan perumpamaan itu. Tetapi mereka takut kepada orang banyak. Mereka membiarkan Dia, lalu mereka pergi. (Mrk 12:1-12) 

Bacaan Pertama: Tob 1:1a,2a,3;2:1b-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 112:1-6

Perumpamaan Yesus  tentang penggarap-penggarap kebun anggur ini ditempatkan pada awal pekan terakhir dari pelayanan-Nya di muka umum. Dalam konteks meningkatnya oposisi yang datang dari pihak pembesar-pembesar keagamaan, perumpamaan ini mengantisipasi drama yang memuncak dari keseluruhan Injil. Penolakan terhadap anak dari pemilik kebun anggur merujuk pada penolakan terhadap Yesus yang  kemudian disusul dengan  kematian-Nya di kayu salib.

Yesus mengambil contoh cerita ini dari sebuah perumpamaan serupa yang terdapat  di Yes 5:1-7, dan para pendengar-Nya pasti tahu hubungan antara keduanya. Bayangkan betapa dengan berlimpah-limpahnya Allah memperhatikan dan memelihara Israel! Apa lagi yang dapat dilakukan-Nya bagi Israel? Mengapa Israel gagal  menghasilkan buah yang dihasrati oleh-Nya? Para imam dan ahli Taurat, malah seluruh penguasa Israel adalah para penggarap yang bertanggung jawab untuk bekerja di kebun anggur. Merekalah yang menolak hamba utusan sang pemilik kebun anggur, yaitu Allah sendiri. Yang terakhir adalah Yohanes Pembaptis dan sekarang, seperti disadari sepenuhnya oleh Yesus, mereka akan menolak dan membunuh-Nya, Anak-Nya yang terkasih.

Para pembaca Injil Markus akan melihat diri mereka sendiri sebagai para penggarap yang bekerja di kebun anggur, yakni Gereja yang diperhatikan dan dipelihara oleh Allah sendiri dengan begitu berkelimpahan. Sang pemilik sedang pergi ke tempat jauh, Yesus sudah naik ke surga, namun lewat Gereja-Nya, Dia telah membuat pagar untuk melindungi dan menyegarkan kita. Ia memperhatikan kita dan hadir bagi kita dalam Sabda dan Sakramen, dan Ia minta kepada kita agar berbuah untuk Dia dan memberi kepada Dia bagian-Nya pada waktu-Nya.

Marilah kita bersyukur untuk kasih dan perhatian Allah yang tanpa habis-habisnya bagi Gereja-Nya. Kita semua mempunyai beban-beban dan persoalan-persoalan pada waktu yang berbeda-beda, namun bahkan dalam kesulitan kita dapat menemukan tanda-tanda kasih Allah bagi kita. Barangkali pintu yang tertutup bagi kita pada kenyataannya merupakan perlindungan bagi kita tidak mengambil jalan yang akan menyakitkan kita. Barangkali Allah mempunyai sesuatu yang lebih baik bagi kita, namun pada saat ini kita belum mampu melihatnya. Sementara kita belajar melihat tangan-tangan Allah yang bekerja dalam semua hal, kita akan belajar untuk menaruh kepercayaan dalam kasih dan pemeliharaan-Nya bagi kita dalam setiap situasi. Dengan membuka hati kita kepada Yesus, khususnya dalam doa dan melalui Sakramen-sakramen, kita dapat bertumbuh dalam cintakasih kepada-Nya. Setiap hari kita dapat mengatakan kepada Tuhan Yesus, bahwa kita ingin hidup bagi-Nya dan menyenangkan-Nya, dan Dia akan menolong kita. Semoga, pada saat kedatangan-Nya kembali kelak, kita akan didapati sebagai para penggarap kebun anggur yang baik!

DOA: Tuhan Yesus, aku percaya bahwa Dikau adalah Putera Allah yang terkasih, dan aku mempersembahkan hidupku kepada-Mu. Tolonglah aku untuk tetap setia kepada-Mu dan menghasilkan buah yang menyenangkan Allah. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 12:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “PENGGARAP KEBUN ANGGUR YANG JAHAT” (bacaan tanggal 5-6-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 BACAAN HARIAN JUNI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 30-5-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 2 Juni 2017 [Peringatan S. Feliks dr Nikosia, Bruder] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MENYAMBUT KEDATANGAN ROH KUDUS SECARA SEDERHANA DAN PENUH KERENDAHAN HATI

MENYAMBUT KEDATANGAN ROH KUDUS SECARA SEDERHANA DAN PENUH KERENDAHAN HATI   

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI RAYA PENTAKOSTA – Minggu, 4 Juni 2017)

Ketika tiba hari Pentakosta, mereka semua berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba terdengarlah bunyi dari langit seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti lidah api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Lalu mereka semua dipenuhi dengan Roh Kudus dan mulai berbicara dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk dikatakan. Waktu itu di Yerusalem tinggal orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit. Ketika terdengar bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka terkejut karena mereka masing-masing mendengar orang-orang percaya itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri. Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata, “Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea? Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berbicara dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa tempat kita dilahirkan; kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, Prigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma, baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berbicara dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah.” (Kis 2:1-11) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 104:1,24,29-31,34; Bacaan Kedua: 1 Kor 12:3-7,12-13; Bacaan Injil: Yoh 20:19-23 

“Datanglah, ya Roh Kudus!”  Seringkah anda pernah mendengar doa ini? Barangkali begitu seringnya, sehingga anda tidak merasakan lagi bahwa anda sesungguhnya sedang berbicara kepada Allah. Akan tetapi, pada hari raya yang agung ini, marilah kita berani untuk menemukan kembali betapa beraninya doa permohonan ini!

Apakah ada yang lebih layak dan pantas pada Hari Raya Pentakosta ini daripada menyambut kedatangan Roh Kudus secara sederhana dan penuh kerendahan hati seperti yang dilakukan oleh para rasul sekitar 2.000 tahun lalu di Yerusalem? Apakah ada cara yang lebih layak dan pantas untuk berdoa pada hari ini daripada secara sederhana mengulang-ulang doa singkat tadi: “Datanglah, ya Roh Kudus!”, percaya bahwa Allah mendengar dan menjawab doa kita itu. Walaupun kelihatannya “tolol” dan repetitif, “don’t worry, be happy!” Permohonan-permohonan sederhana seperti ini dapat menjadi sangat penuh kuat-kuasa. Teruslah berdoa, “Datanglah, ya Roh Kudus”, dan lihatlah pemikiran-pemikiran, imaji-imaji, atau emosi-emosi apa yang mengalir ke dalam hati anda. Kita dapat merasa yakin bahwa apabila semua itu adalah pemikiran-pemikiran yang baik dan menyangkut hal-hal yang Ilahi, maka Roh Kudus berada di belakangnya.

Pendekatan Yesus terhadap anak-anak sangatlah sederhana. Dia bersabda: “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan halang-halangi mereka, sebab orang-orang seperti inilah yang memiliki Kerajaan Allah. Siapa saja yang tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.” Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan-Nya di atas mereka Ia memberkati mereka (Mrk 10:14-16). Semua itu jauh dari komplikasi, namun sungguh menyentuh hati – baik bagi anak-anak itu dan para orangtua mereka. Demikian pula, ketika kita berdoa dengan kata-kata sederhana, “Datanglah, ya Roh Kudus!”, kita sebenarnya berperilaku seperti anak-anak kecil. Kita percaya kepada Allah, menaruh pengharapan dalam diri-Nya, dan menghadap hadirat-Nya untuk berkat-berkat-Nya.

Pencurahan Roh seperti apa yang akan Allah berikan kepada kita (anda dan saya) apabila kita menyambut Roh Kudus secara sederhana? Dia dapat memenuhi diri kita dengan pemahaman mendalam tentang kasih Allah sehingga kita mengenal serta mengalami bahwa Dia sungguh nyata dalam suatu cara yang baru. Dia dapat menunjukkan kepada kita belas kasih yang begitu mendalam sehingga kita pun sampai bertelut penuh syukur dan bersembah sujud kepada-Nya. Roh Kudus yang sama dapat membawa kita kepada air mata pertobatan, atau menggerakkan kita untuk menari penuh sukacita dan kebebasan. Roh Kudus juga dapat melakukan sesuatu yang samasekali tidak diharap-harapkan – namun tetap indah-menakjubkan. Oleh karena itu, marilah kita masing-masing pada hari ini datang menghadap Allah sebagai seorang anak kecil: murni, sederhana, dan terbuka. Kita tidak tahu apa yang telah dipersiapkan oleh Allah untuk dilakukan-Nya bagi anak-anak-Nya pada hari yang penuh dengan rahmat dan kuasa surgawi?

DOA: Datanglah, ya Roh Kudus!

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 20:19-23), bacalah tulisan yang berjudul “ROH KUDUS” (bacaan tanggal 4-6-17) dalam situs/blog SANG SABDA  http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 BACAAN HARIAN JUNI 2017. 

(Tulisan ini  adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 15-5-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 2 Juni 2017 [Peringatan S. Feliks dr Nikosia, Bruder] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

ITU BUKAN URUSANMU !!! [2]

ITU BUKAN URUSANMU !!! [2]

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah – Sabtu, 3 Juni 2017) 

Ketika Petrus berpaling, ia melihat bahwa murid yang dikasihi Yesus sedang mengikuti mereka, yaitu murid yang pada waktu mereka sedang makan bersama duduk dekat Yesus dan yang berkata, “Tuhan, siapakah dia yang akan menyerahkan Engkau?” Ketika Petrus melihat murid itu, ia berkata kepada Yesus, “Tuhan, bagaimana dengan dia ini?” Jawab Yesus, “Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: Ikutlah Aku.” Lalu tersebarlah kabar di antara saudara-saudara itu bahwa murid itu tidak akan mati. Tetapi Yesus tidak mengatakan kepada Petrus bahwa murid itu tidak akan mati, melainkan, “Jikalau Aku menghendaki supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu.”

Dialah murid yang bersaksi tentang semuanya ini dan yang telah menuliskannya dan kita tahu bahwa kesaksiannya itu benar.

Masih banyak lagi hal-hal lain yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, kupikir dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu. (Yoh 21:20-25) 

Bacaan Pertama: Kis 28:16-20,30-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 11:4-5,7 

Selagi kita mendekati penghujung Masa Paskah, kita membaca enam ayat terakhir dari Injil Yohanes yang berisikan sebuah pelajaran yang indah bagi kita.

Dalam penampilan-Nya sebagai Tuhan yang bangkit, Yesus baru saja mengatakan kepada Petrus bagaimana rasul-Nya itu akan menderita penganiayaan dan mengalami kematiannya sebagai martir Kristus. Karena Yesus tidak mengatakan apa-apa tentang kematian Yohanes, Petrus menjadi ingin tahu dan bertanya kepada Yesus, “Tuhan, bagaimana dengan dia ini?” (Yoh 21:21).

Yesus tidak pernah memberi jawaban langsung terhadap pertanyaan-pertanyaan “kosong” yang diajukan demi memenuhi rasa ingin tahu seseorang. Dalam Injil Lukas, misalnya, ada seseorang yang tertanya kepada Yesus, “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” Jawab Yesus kepada orang-orang di situ, “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sempit itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat ……” (Luk 13:23 dsj.). Jadi, dalam kasus kita kali ini, Yesus juga memberikan jawaban yang seakan mengandung “teka-teki”, “Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: Ikutlah Aku” (Yoh 21:22). Yesus tidak memberi kepuasan terhadap rasa ingin tahu Petrus. Yesus hanya mengatakan kepada Petrus agar dia benar-benar mengikuti jejak-Nya, sampai kepada penyalibannya. Itulah yang penting!

Mengapa kita begitu ingin tahu tentang perkara-perkara orang-orang lain? Mengapa kita bertanya mengenai cara-cara Allah dalam mengasihi masing-masing kita sebagai individu. Yesus seakan berkata kepada Petrus: “Engkau adalah Petrus dan Yohanes adalah Yohanes. Aku tidak dapat memperlakukan kamu berdua secara sama. Aku harus menghargai individualitasmu masing-masing, karunia-karuniamu yang istimewa.” Patut dicatat bahwa kebenaran ini tidak hanya berlaku di kalangan kaum awam dalam Gereja, melainkan juga berlaku di kalangan para anggota pimpinan Gereja.

Seringkali kita merasa iri hati dan kesal karena Allah kelihatannya memperlakukan orang-orang lain dengan kasih yang melebihi kasih-Nya kepada kita sendiri. Bagaimana hal ini sampai terjadi? Allah adalah kasih. Kasih Allah itu tanpa batas kepada setiap orang tanpa kecuali. Kita harus belajar untuk menerima kasih-Nya bagi kita dan cara Dia mengasihi kita, walaupun kadang-kadang kita tidak memahaminya. Mulai saat ini, janganlah sampai kita merasa kurang dikasihi ketimbang orang-orang lain.

Allah kita adalah “Allah yang cemburu” (lihat Kel 34:14). Ia menginginkan setiap relasi-Nya dengan anak-anak-Nya merupakan relasi yang sepenuhnya personal dan unik.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau mengasihiku secara sangat mempribadi. Aku sungguh berbahagia karena di mata-Mu aku adalah seorang pribadi yang istimewa. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 21:20-25), bacalah tulisan dengan judul “MENGASIHI YESUS DAN TETAP SETIA PADA SABDA-NYA” (bacaan tanggal 3-6-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 BACAAN HARIAN JUNI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 23-5-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 1 Juni 2017 [Peringatan S. Yustinus, Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PETRUS TIDAK DIUBAH MENJADI SEORANG “MAN OF GOD” DALAM SATU MALAM

PETRUS TIDAK DIUBAH MENJADI SEORANG “MAN OF GOD” DALAM SATU MALAM

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah – Jumat, 2 Juni 2017)

Keluarga Kapusin (OFMCap.): S. Feliks dr Nikosia, Bruder (Saudara Awam)

Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus, “Simon, anak Yohanes (Bar Yona), apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini? Jawab Petrus kepada-Nya, “Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Peliharalah anak-anak domba-Ku.”  Kata Yesus lagi kepadanya untuk kedua kalinya, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Jawab Petrus kepada-Nya, “Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya, “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya, “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Peliharalah domba-domba-Ku. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi kalau engkau sudah tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat tidak kaukehendaki.” Hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus, “Ikutlah Aku.” (Yoh 21: 15-19) 

Bacaan Pertama: Kis 25:13-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-2,11-12,19-20

Semalam-malaman Petrus dan para murid yang lain mencoba menangkap ikan di Danau Tiberias, tanpa hasil sedikit pun. Menjelang pagi, seseorang yang berdiri di pantai yang belum mereka kenali memberi nasihat di mana seharusnya Petrus dan kawan-kawannya menebarkan jala mereka. Sebuah mukjizat lagi terjadi … jala mereka sarat dengan banyaknya ikan, tetapi jalan tidak koyak. Murid yang dikasihi Yesus mengenali bahwa yang berdiri di pantai itu adalah Yesus, lalu berkata kepada Petrus, “Itu Tuhan” (Yoh 21:7). Setelah mengenakan pakaiannya, Petrus pun terjun ke danau dan berenang ke pantai disusul oleh perahu, karena jaraknya ke pantai tidak jauh, cuma sekitar 100 meter saja.

Sesudah sarapan Yesus bertanya kepada Petrus, Apakah engkau mengasihi Aku?” (Yoh 21:15). Kata dalam bahasa Yunani untuk “mengasihi” di sini adalah agapao, yang mengandung arti “cukup untuk menyerahkan nyawamu bagi-Ku?” Petrus menjawab: Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa Aku mengasihi Engkau.”  Di sini Petrus menggunakan kata philio untuk “mengasihi”, artinya afeksi yang menyentuh hati. Yesus bertanya kepada Petrus dengan pertanyaan yang sama. Mengapa? Apakah Yesus mencoba untuk menunjukkan kepada Petrus bahwa kasih Petrus kepada-Nya tidak berada dalam tingkat yang sama dengan kasih-Nya bagi Petrus? Petrus percaya kepada Yesus dan bahkan mengasihi-Nya, namun karena dia juga manusia seperti kita maka kasihnya kepada Yesus juga tumbuh secara bertahap.

Petrus tidak diubah menjadi seorang man of God dalam satu malam. Injil Yohanes menunjukkan bahwa pada hari Jumat Agung pun Petrus masih belajar bagaimana menjadi rendah-hati seperti sang Guru. Meskipun dia mampu untuk mengasihi Yesus secara manusiawi, Petrus masih bisa-bisanya menyangkal Tuhan sebanyak tiga kali. Akan tetapi, setelah kebangkitan Yesus dan pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakosta, Petrus menjadi seorang manusia baru, seseorang yang tidak pernah mau menyangkal Tuhan, meski di bawah ancaman langsung penganiayaan (lihat Kis 5:27-32).

Sekarang marilah kita lebih mendekat lagi kepada Tuhan Yesus dan menanggapi sapaan kasih-Nya agar Ia dapat lebih dalam lagi memenuhi kita dengan kasih-Nya. Ini adalah titik penting dalam kehidupan kita. Yesus bertanya kepada kita apakah kita mengasihi-Nya. Dia tidak bertanya dengan maksud menghukum kita, akan tetapi untuk menunjukkan kepada kita bahwa kasih manusia dapat salah. Dia mengundang kita untuk memperkenankan kasih-Nya mengubah kita sehingga kita dapat lebih mengasihi Dia lagi. Karena Dia mengasihi kita terlebih dahulu maka kita dapat menerima kasih-Nya dan digerakkan untuk membalas mengasihi-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau sudah melihat jauh sebelumnya, bahwa Petrus akan menyerahkan nyawanya demi kawanan domba yang dipimpinnya. Berikanlah kepada kami kasih-Mu agar kami pun mampu menjaga dan memelihara orang-orang lain dan diri kami sendiri, dengan pengharapan akan karya Roh Kudus yang menguduskan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 21:15-19), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS BERSABDA: GEMBALAKANLAH DOMBA-DOMBA-KU”  (bacaan tanggal 2-6-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 BACAAN HARIAN JUNI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-5-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 31 Mei 2017 [Pesta SP Maria Mengunjungi Elisabet] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PENTAKOSTA YANG SEJATI

PENTAKOSTA YANG SEJATI

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Peringatan S. Yustinus, Martir – Kamis, 1 Juni 2017

 

Bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku melalui pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka menjadi satu dengan sempurna, agar dunia tahu bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.

Ya Bapa, Aku mau supaya, di mana pun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan. Ya Bapa yang adil, memang dunia tidak mengenal Engkau, tetapi Aku mengenal Engkau, dan mereka ini tahu bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku; dan Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka.” (Yoh 17:20-26)

Bacaan Pertama: Kis 22:30;23:6-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 16:1-2,5,7-11  

“Bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku melalui pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” (Yoh 17:20-21)

Selama Novena Pentakosta ini kita berdoa guna menerima Roh Kudus secara lebih mendalam, yaitu Roh Kesatuan (lihat Ef 4:3), supaya kita dapat bersatu sebagaimana Bapa surgawi dan Yesus satu adanya (Yoh 17:21). Akan tetapi kesatuan yang kita upayakan bukanlah untuk menutupi adanya perpecahan; melainkan justru kita mau mengambil sikap berani untuk mengamati dan menghadapi perpecahan tersebut. Misalnya saja, Paulus mengamati adanya perpecahan yang ada antara orang-orang Farisi dan kaum Saduki (Kis 23:6-7; dalam bacaan pertama hari ini). Oleh karena itu hampir saja Paulus dihajar habis-habisan (dikoyak-koyak) oleh kedua kelompok yang saling bertentangan itu (Kis 23:10). Dengan demikian, dapat kita katakan bahwa jika kita menerima Roh Kudus – Roh persatuan – maka kita akan menghadapi ketidaksatuan itu secara frontal dan tentu saja wajar saja apabila kita menderita karenanya.

Hal ini menimbulkan masalah. Walaupun kita sangat menginginkan persatuan dengan Allah, dalam Gereja, bahkan juga persatuan antar-kelompok yang saling bermusuhan, mungkin saja kita berkeberatan untuk mengorbankan hidup kita “untuk mengumpulkan dan mempersatukan umat Allah yang tercerai berai” (Yoh 11:52). Akan tetapi, apabila kita enggan untuk berkorban – apalagi bersedia mati – bagi persatuan, maka hal ini berarti bahwa kita tidak sudi menerima Roh Kudus (Roh persatuan) tersebut. Maka perlu kita menyadari bahwa Pentakosta, kesatuan, sedia mati berkorban demi persatuan, semuanya menjadi satu dan sejalan.

Kita akan memiliki Pentakosta yang sejati atau Pentakosta yang sebenarnya, apabila cinta kasih kepada Allah dan sesama kita jauh lebih kuat daripada cinta-diri kita dan rasa takut kita terhadap kematian/maut (lihat Kid 8:6). Cinta kasih adalah suatu katalisator yang membimbing kita kita menuju mati terhadap diri sendiri, membangun persatuan dan menerima Pentakosta baru. Cinta kasih yang mendalam akan menuntun kita untuk masuk ke dalam kemartiran, suatu gerak-maju Pentakosta dan Trinitas-kesatuan. Dengan bekal cinta kasih yang memadai, maka kita pun berani untuk berdoa: “Datanglah, ya Roh Kudus!” 

DOA: Bapa surgawi, Yesus Kristus, Roh Kudus, Engkau adalah Allah yang satu dalam cinta kasih. Buatlah kami semua satu dalam iman dan cinta kasih. Jadikanlah diri kami biji-biji gandum yang jatuh ketanah dan mati, lalu akan menghasilkan banyak buah (Yoh 12:24). Terpujilah Allah Tritunggal Mahakudus, sekarang dan selama-lama-Nya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 17:20-26), bacalah tulisan yang berjudul “AGAR SUPAYA MEREKA SEMUA MENJADI SATU” (bacaan tanggal 1-6-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-05 BACAAN HARIAN MEI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-5-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 31 Mei 2016 [Pesta SP Maria Mengunjungi Elisabet] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KERINDUAN ALLAH UNTUK MENYATAKAN DIRI DAN RENCANA-NYA

KERINDUAN ALLAH UNTUK MENYATAKAN DIRI DAN RENCANA-NYA

(Bacaan Injil Misa, Pesta SP Maria Mengunjungi Elisabet – Rabu, 31 Mei 2017)

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan bergegas menuju sebuah kota di pegunungan Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.”

Lalu kata Maria, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan kuduslah nama-Nya. Rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.” Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya. (Luk 1:39-56) 

Bacaan Pertama: Zef 3:14-18a atau Rm 12:9-16b; Mazmur Tanggapan: Yes 12:2-6

Maria mengepak barang-barangnya dan kemudian bergegas pergi ke Ain Karem untuk mengunjungi saudaranya, Elisabet. Ia pergi untuk membantu Elisabet menyiapkan kelahiran bayinya justru pada umurnya yang sudah tua. Barangkali Maria juga berniat untuk bertanya-tanya kepada Elisabet tentang kehamilannya yang dipenuhi keajaiban itu.

Pada waktu Maria sampai di tempat tinggal Elisabet, dia memberi salam kepada saudaranya dengan rangkulan tradisional, namun Elisabet merespons dengan cara yang sangat non-tradisional. Bayi dalam rahimnya melonjak kegirangan, dan Elisabet pun kemudian berkata: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu” (Luk 1:42). 

Sedikit banyak, kiranya Elisabet mengetahui apa yang telah terjadi dengan diri Maria yang masih muda usia itu. Barangkali dia mendengar tentang kehamilan Maria dari “kabar burung” atau gosip, atau melalui sepucuk surat dari Maria sendiri. Barangkali juga dia telah mendengar tentang perjumpaan Maria dengan malaikat Gabriel yang penuh misteri itu. Akan tetapi, “pengetahuan” Elisabet tentang situasi yang dihadapi Maria sebenarnya melebihi daripada sekadar sebagai akibat mempelajari berbagai fakta. Lukas menceritakan kepada kita, bahwa ketika Elisabet melihat Maria, dia “penuh dengan Roh Kudus” (Luk 1:41) dan menyerukan dengan suara nyaring kata-kata yang sekarang begitu familiar di telinga kita: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu” (Luk 1:42; dalam doa “Salam Maria”). Mengetahui sesuatu hal/peristiwa secara intelektual dan mengetahuinya oleh kuasa Roh Kudus merupakan dua yang hal berbeda, namun berhubungan.

Cerita ini menunjukkan bagaimana Allah rindu untuk menyatakan diri-Nya dan rencana-Nya kepada umat-Nya. Kemampuan kita untuk memahami kebenaran-kebenaran alkitabiah dan prinsip-prinsip moral adalah sebuah karunia dari Allah yang penting, namun ini hanyalah sebagian dari warisan kita. Kita juga mampu untuk menerima pernyataan spiritual dan penerangan dari Allah mengenai kebenaran-kebenaran dan prinsip-prinsip ini.

Santo Paulus mengatakan kepada jemaat di Korintus, bahwa Allah ingin menyatakan kepada mereka hikmat-Nya yang tersembunyi, “apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia” (1 Kor 2:9-10; ayat 9 bdk. Yes 64:4). Santo Paulus juga berdoa bagi jemaat di Efesus, agar Allah menjadikan mata hati mereka terang, agar mereka mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: Betapa kayanya kemuliaan warisan-Nya kepada orang-orang kudus, dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya yang besar, yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus (Ef 1:18-20).

Demikian pula, Allah ingin berbicara kepada kita. Dia ingin mengatakan kepada kita betapa mendalam Dia mengasihi kita. Dia ingin menyatakan kepada kita rencana penyelamatan-Nya yang mulia dan peranan kita dalam rencana itu. Marilah kita mohon agar Allah menerangi diri kita pada hari ini sehingga kita dapat mengenal Dia dalam hati kita, sehingga dengan demikian kita dapat merangkul rencana-Nya yang agung-mulia itu secara lebih penuh lagi.

DOA: Datanglah, ya Roh Kudus, dan terangilah hatiku pada hari ini. Bukalah Kitab Suci bagiku. Tunjukkanlah kepadaku kasih Bapa. Penuhilah hatiku dengan sukacita-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan  Injil hari ini (Luk 1:39-56), bacalah tulisan yang berjudul “MARIA MEMULIAKAN TUHAN” (bacaan tanggal 31-5-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-05 BACAAN HARIAN MEI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 31-5-16 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 28 Mei 2017 [HARI MINGGU PASKAH VII – TAHUN A] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS