DI MANAKAH YANG SEMBILAN ORANG ITU?

DI MANAKAH YANG SEMBILAN ORANG ITU?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXII – Rabu, 13 November 2013)

Keluarga OFM: Peringatan S. Didakus dr Alkala, Biarawan 

SEORANG KUSTA ORANG SAMARIA

Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. Ketika ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui-Nya. Mereka berdiri agak jauh dan berteriak, “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Lalu Ia memandang mereka dan berkata, “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi sembuh. Salah seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu sujud di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu orang Samaria. Lalu Yesus berkata, “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah sembuh? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain orang asing ini?” Lalu Ia berkata kepada orang itu, “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.” (Luk 17:11-19)

Bacaan Pertama: Keb 6:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 82:3-4,6-7 

Bacaan Injil hari ini merupakan sebuah pelajaran tentang pengucapan syukur. Kelihatannya 9 dari 10 orang kusta yang disembuhkan oleh Yesus tidak mempunyai kebiasaan untuk berterima kasih kepada orang lain. Dari cerita Injil ini kita melihat 10 orang kusta itu baru saja menerima satu dari anugerah terbesar yang pernah diterima oleh mereka masing-masing. Barangkali kita dapat “memaafkan” mereka: “Ah, mereka begitu excited atas kesembuhan mereka yang begitu luarbiasa ajaib, sehingga apa yang dapat mereka pikirkan hanyalah melompat-lompat di atas gerobak sapi yang terdekat sambil ikut pulang ke rumah keluarga masing-masing.”

Reaksi Yesus sangatlah berbeda, dan Ia samasekali tidak berpikir seperti diuraikan di atas. Yesus hanya bertanya, “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah sembuh? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain orang asing ini?” (Luk 17:17).

Bagaimana dengan diri kita sendiri? Apakah hanya kalau kita sedang susah saja maka kita berpaling kepada Allah untuk memohon pertolongan-Nya? Apakah kata-kata dalam doa kita kepada-Nya hanya terdiri dari kata-kata permohonan? Lupakah kita bahwa kasih-Nya bagi kita dalam hal-hal “kecil” yang kita alami setiap hari, seperti udara segar, cahaya matahari yang menghangatkan, makanan, para teman dan sahabat, kehidupan itu sendiri?

Kita sebaiknya menyadari bahwa apa yang “hebat” tentang kehidupan kita bukanlah apa yang kita lakukan bagi Allah, melainkan apa yang dilakukan Allah bagi kita. Apabila kita tidak menyadari hal ini, maka tidak mengherankanlah apabila kita luput menikmati kepenuhan sukacita dari rasa syukur. Sesungguhnya Yesus secara pribadi tidak membutuhkan ucapan terima kasih dari 9 orang kusta yang disembuhkan itu. Yesus tetap akan survive tanpa ucapan terima kasih dari mereka. Jadi, ketika Yesus mengungkapkan kesedihan-Nya atas sikap tidak tahu berterima kasih dari 9 orang tersebut, hal itu tidak berarti bahwa Dia bersedih karena tidak ada orang yang menghargai diri-Nya. Yesus sebenarnya merasa sedih dan kasihan kepada mereka, karena mereka adalah para pecundang. Sukacita yang paling besar dari penyembuhan kebutaan mereka sebenarnya adalah terbukanya hati mereka, semakin dalamnya kasih mereka kepada Allah yang telah menyembuhkan mereka.

Jadi, mereka luput memperoleh kesembuhan yang lebih besar dan berkat yang lebih mendalam. Mereka luput memperoleh kedamaian batiniah dan sukacita dari suatu rasa syukur yang sejati.

DOA: Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hatiku, aku mau menceritakan segala perbuatan-Mu yang ajaib; aku mau bersukacita dan bersukaria karena Engkau, bermazmur bagi nama-Mu, ya Mahatinggi (Mzm 9:2-3). Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Keb 6:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “PARA PENGUASA HARUS MENGEJAR HIKMAT-KEBIJAKSANAAN” (bacaan tanggal 13-11-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2013. 

Untuk mendalami Bacaan Injil (Luk 17:11-19), bacalah juga tulisan yang berjudul “SEPULUH ORANG KUSTA” (bacaan tanggal 11-11-09) dalam situs/blog SANG SABDA. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-11-12 dalam situs/blog SANG SABDA 

Cilandak, 9 November 2013 [Pesta Pemberkatan Gereja Basilika Lateran] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

“MUSIK” PELAYANAN

“MUSIK” PELAYANAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Yosafat, Uskup-Martir – Selasa, 12 November 2013) 

A GIRL PLAYING PIANO“Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan! Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Sesudah itu engkau boleh makan dan minum. Apakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan. (Luk 17:7-10)

Bacaan Pertama: Keb 2:23-3:9; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-3,16-19 

Seorang ibu bercerita mengenai pengalamannya berkaitan dengan musik. Sebagai seorang gadis yang masih sangat muda usia, perempuan ini harus berjuang dengan pelajaran pianonya. Baginya penting untuk memainkan nada-nada lagu presis sama seperti tertulis dan untuk mengikuti semua nuansa yang diberikan dalam notasi-notasi. Kesalahan-kesalahan dirasakan olehnya sebagai kegagalan pribadi. Menyadari siapa dirinya, perempuan itu hanya bermain piano secara privat, kecuali kalau diminta untuk resital/pertunjukan.

Pengalaman yang “menyakitkan” dengan piano ini datang kembali ketika anak perempuannya mulai belajar piano juga. Namun tidak seperti sang ibu, puterinya itu maju dengan pesat dalam pelajaran pianonya. Perempuan itu mengatakan, bahwa tidak susah baginya untuk melihat mengapa. Cinta anak perempuannya itu pada musik datang dari kedalaman hatinya, dan walaupun setia dengan komposisi sebuah lagu, anak ini mempunyai bakat untuk memperkenankan musiknya mengalir melalui dirinya. “Hasilnya sungguh jauh lebih manis daripada apapun yang pernah kuhasilkan dengan penuh ketaatan pada setiap nada dan instruksi pada setiap lembaran lagu”, ujar sang ibu.

Sebagai para hamba/pelayan Tuhan, kita diundang untuk bermain “musik” juga – “musik pelayanan penuh kasih bagi orang-orang di sekeliling kita”. Apabila kita melaksanakan tugas-tugas kita hanya berdasarkan kewajiban, maka efeknya dapat seperti sesuatu yang dipaksakan dan tanpa roh. Sebaliknya, apabila kita menyerahkan diri kita sepenuhnya ke dalam tangan-tangan penyelenggaraan Allah dan dipenuhi dengan kasih-Nya, maka Dia akan membebaskan kita dari kesibukan  yang membuat musik kehidupan kita begitu melelahkan. Selagi kita  menyediakan waktu untuk bersama dengan Tuhan dalam doa, maka kehangatan kasih-Nya memperlembut hati kita dan mulai mengalir melalui diri kita.

300A-034-026 - MOTHER TERESA HELPING THE POORPanggilan kita untuk melayani Allah dan umat-Nya bukanlah seperti musik yang harus kita terus praktekkan agar menjadi sempurna. Sebaliknya, kita belajar bagaimana melayani tanpa mengingat kepentingan kita sendiri dengan sekadar melakukannya, yaitu dengan melakukan pelayanan tanpa pamrih itu. Melodinya menjadi lebih baik setiap kali kita menolong keluarga kita, secara bijaksana bekerja sebagai pembawa damai dalam lingkungan di mana kita hidup, atau dengan sabar mendengarkan curhat dari seorang sahabat yang membutuhkan bantuan, dlsb. Apabila kita mendekat pada kasih Tuhan yang begitu menyegarkan, maka pelayanan kita pun akan jauh lebih baik daripada apa saja yang kita lakukan karena melihatnya sebagai sekadar tugas.

Kita semua adalah para musisi yang sebenarnya tak pantas untuk memainkan madah kasih dari Allah. Namun apabila kita menjaga keseimbangan antar doa dan pelayanan dalam hidup kita, maka Dia akan mentransformasikan cara kita yang lemah/buruk dalam membawakan lagu-Nya menjadi sebuah lagu yang membawa sukacita-Nya ke tengah dunia.

DOA: Yesus, Engkau adalah hamba yang taat dari Bapa surgawi melalui kasih yang sempurna. Tolonglah kami agar dapat mengenal kasih-Mu dalam doa-doa kami dan dalam tindakan-tindakan kami. Jadikanlah hati kami seperti hati-Mu, sehingga dengan demikian lewat diri kami orang-orang lain dapat mengenal kasih-Mu juga. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Keb 2:23-3:9), bacalah tulisan yang berjudul “HIDUP YANG MERANGKUL SALIB KRISTUS” (bacaan tanggal 12-11-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2013. 

Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 17:7-10), bacalah tulisan yang berjudul “TUAN DAN HAMBA” (bacaan tanggal 13-11-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-11-12 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 9 November 2013 [Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran]

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEPUCUK SURAT DARI PENGELOLA SITUS/BLOG PAX ET BONUM: KERUSAKAN AKIBAT SUPER TYPHOON HAIYAN DI FILIPINA

SEPUCUK SURAT DARI PENGELOLA SITUS/BLOG PAX ET BONUM: KERUSAKAN AKIBAT SUPER TYPHOON HAIYAN DI FILIPINA 

image(3)

Cilandak, 11 November 2013 

Saudari-Saudara pengunjung situs/blog PAX ET BONUM yang dikasihi Kristus, 

Pada hari peringatan S. Martinus dari Tours ini, saya mengajak anda untuk hening sejenak memikirkan serta merenungkan apa yang telah terjadi di negara tetangga kita, Filipina, dan apa yang dapat kita lakukan sebagai para murid Kristus. 

Negara ini baru saja selesai dilanda oleh super typhoon HAIYAN yang konon adalah typhoon terdahsyat sepanjang masa. Lebih dari 1.000 penduduk meninggal dunia (ini belum angka final), belum lagi kerugian sangat-sangat besar yang diderita. Saya bersama keluarga pernah mengalami typhoon ketika tinggal di negara itu pada waktu bertugas di Citibank N.A. pada tahun 1973-1974; sebuah typhoon yang jauh lebih kecil tentunya dari HAIYAN ini. Namun demikian, beberapa hari kemudian saya dan kawan-kawan pergi makan siang sengaja ke daerah pantai dan melihat betapa typhoon itu mampu “menggiring”/”menyeret”  sebuah kapal yang cukup besar untuk terdampar di pantai kota Manila. Sekarang HAIYAN sudah sampai di Vietnam, dan lima orang korban pertama telah dilaporkan. 

CCN International sampai detik ini masih terus meliput kegiatan super typhoon HAIYAN ini, dan menunjukkan betapa dahsyat bencana alam ini. Filipina dan para korban bencana alam itu membutuhkan berbagai macam bantuan. Bagi kita yang tidak dapat berbuat banyak sebagai individu-individu, maka Allah memberikan kita kesempatan untuk – dalam iman – mendoakan para saudari-saudara kita yang menderita. Pada kesempatan ini saya mengajak anda sekalian untuk mendoakan negeri Filipina dan para korban bencana alam yang diakibatkan oleh super typhoon HAIYAN ini. Kita juga memohon agar Sang Mahakuasa berbelas kasih kepada rakyat Vietnam yang sedang membangun negara mereka dengan rajin dan tulus. 

Terima kasih Saudari-Saudaraku dalam Kristus. Allah yang baik, satu-satunya yang baik, sumber segala kebaikan memberkati anda sekalian. 

Salam persaudaraan, 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HENDAKLAH PIKIRANMU TERTUJU KEPADA TUHAN

HENDAKLAH PIKIRANMU TERTUJU KEPADA TUHAN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Martinus dr Tours, Uskup – Senin, 11 November 2013) 

THE BOOK OF WISDOM - 03Kasihilah kebenaran, hai para penguasa dunia, hendaklah pikiranmu tertuju kepada Tuhan dengan tulus ikhlas, dan carilah Dia dengan tulus hati! Ia membiarkan diri-Nya ditemukan oleh yang tidak mencobai-Nya, dan menampakkan diri kepada semua yang tidak menaruh syak wasangka terhadap-Nya. Pikiran bengkang-bengkung menjauhkan daripada Allah, dan kekuasaan-Nya yang diuji mengenyahkan orang bodoh. Sebab kebijaksanaan tidak masuk ke dalam hati keruh, dan tidak pula tinggal dalam tubuh yang dikuasai oleh dosa. Roh pendidik yang suci menghindarkan tipu daya, dan pikiran pandir dijauhinya. Sebab kebijaksanaan adalah roh yang sayang akan manusia, tetapi orang penghujat tidak dibiarkannya terluput dari hukuman karena ucapan bibirnya. Memang Allah menyaksikan hati sanubarinya, benar-benar mengawasi isi hatinya dan mendengarkan ucapan lidahnya.

Sebab roh Tuhan memenuhi dunia semesta, dan Ia yang merangkum segala-galanya mengetahui apapun yang disuarkan. (Keb 1:1-7)

Mazmur Tanggapan: Mzm 139:1-10; Bacaan Injil: Luk 17:1-6 

Apakah kunci dari “kebijaksanaan”? Toko-toko buku dipenuhi dengan buku-buku motivasional yang berisikan berbagai tulisan kebijaksanaan karangan para motivator ternama. Acara televisi prime-time dari Metro TV pada hari Minggu, misalnya, diisi oleh Motivator Mario Teguh dengan Golden Ways-nya. Talk shows televisi juga menampilkan para selebriti yang telah menemukan “jalan kebenaran”, menemukan damai-sejahtera pribadi melalui praktek-praktek yang diajarkan oleh para “guru” tertentu. Para pakar di berbagai bidang ilmu pengetahuan, filsafat dan psikologi juga tidak mau ketinggalan dengan pendapat masing-masing yang tidak tepat sama satu dengan lainnya.

Di tengah-tengah segala “hiruk pikuk” sedemikian, Kitab Suci meyakinkan kita bahwa Allah memberikan hikmat-kebijaksanaan-Nya kepada siapa saja yang mencintai kebenaran dan menaruh kepercayaan kepada-Nya. Dalam Kitab Suci seringkali kita dapat melihat bahwa Allah ingin melakukan lebih daripada sekadar menjelaskan “doktrin-doktrin”-Nya kepada kita. Ia ingin membimbing kita juga dalam kehidupan kita sehari-hari.

Kitab Kebijaksanaan (Salomo) yang ditulis di sekitar abad pertama SM bertujuan untuk mendorong/menyemangati para pembacanya dalam menjalani kehidupan iman mereka. Pengarang Kitab Kebijaksanaan ini adalah seorang penulis motivasional terampil yang tidak diketahui identitasnya, namun tulisan-tulisan Perjanjian Lama sebelumnya yang digunakan olehnya menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang Yahudi yang saleh, berlatar belakang pendidikan baik dan memiliki dedikasi kepada Hukum Musa. Ia menulis dalam bahasa Yunani dan dia menaruh perhatian istimewa pada orang-orang Mesir (Keb 10-12; 16-19).

Segala petunjuk ini telah membawa para ahli untuk percaya bahwa penulis Kitab Kebijaksanaan tinggal di Aleksandria, Mesir yang merupakan tempat kedudukan dari komunitas Yahudi terbesar di luar Palestina. Dalam kota besar kosmopolitan ini, orang-orang Yahudi sering mengalami diskriminasi dan memerlukan dorongan untuk tetap setia pada tradisi-tradisi keyahudian mereka. Memang ada dari mereka yang terpikat oleh filsafat dan budaya Yunani. Kepada para pembacanya, penulis mengatakan: Jangan tertipu! Apabila anda mencari kebenaran dan keadilan, maka “hendaklah pikiranmu tertuju kepada  Tuhan dengan tulus ikhlas dan carilah Dia dengan tulus hati!” (Keb 1:1).

LECTIO DIVINAIni merupakan pesan Kitab Kebijaksanaan bagi kita juga. Sebagai umat beriman, kita mengetahui bahwa “Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah” (1Kor 1:24). Menjadi milik Yesus dan berjalan pada Jalan-Nya berarti memiliki hikmat-kebijaksanaan. Apabila kita tetap bersatu dengan Yesus, maka Dia akan memberikan kepada kita Hati-Nya dan membentuk pikiran kita agar mampu melihat seperti Dia melihat. Dengan demikian kita pun dapat merangkul apa dirangkul oleh Yesus dan membuang apa saja yang dibuang-Nya.

Sekarang, apakah kita (anda dan saya) sungguh ingin menjadi pribadi-pribadi yang memiliki hikmat-kebijaksanaan? Janganlah kita menjadikan diri kita orang-orang tolol yang terlalu sombong untuk menyerahkan diri kepada Allah dan sabda-Nya. Kesombongan termaksud dapat memanifestasikan diri dalam berbagai cara: Melalui ketidaktulusan hati dan ketidakpercayaan, kita mendirikan berbagai penghalang yang merintangi kita terhadap ajaran-ajaran Allah. Dengan melayani dan menerima pemikiran-pemikiran yang mengandung dosa dan berbagai falsafah hidup yang mementingkan diri sendiri, kita memperbudak pikiran kita dan hati kita pun menjadi keras. Oleh karena itu, kita harus menyaring segala distraksi/pelanturan yang menjauhkan diri kita dari Yesus. Kita harus menolak segala janji kosong dunia dan mengisi pikiran kita dengan hal-hal besar yang dapat diberikan Allah kepada kita melalui iman kita yang “sekecil biji sesawi” (Luk 17:6). Kita juga harus menyingkirkan “pikiran bengkang-bengkung” yang menjauhkan kita daripada Allah (Keb 1:3) dan menerima ajaran-Nya tentang mengasihi orang-orang lain dengan keadilan, belas kasihan dan penuh pengampunan.

Allah memang ingin mentransformasikan diri kita masing-masing dengan memperbaharui  pikiran-pikiran kita (lihat Rm 12:2), dan hal ini hanya akan menjadi kenyataan apabila kita memperkenankan Roh Kudus membebaskan diri kita dari cengkeraman dosa dan ketololan seperti diuraikan di atas. Allah tidak akan memaksa kita menjadi seorang pribadi yang bijaksana, namun Ia juga tidak pernah menarik kembali undangan-Nya bagi kita. Kerendahan hati (kedinaan) dan pertobatan batin adalah langkah-langkah awal dalam perjalanan kita menuju transformasi termaksud. Pertobatan sejati dimulai dalam hati ketika kita mengakui bahwa kita telah berdosa dalam pikiran, kata-kata yang kita ucapkan, perbuatan yang kita lakukan, dan kelalaian kita mematuhi perintah-perintah Allah. Pertobatan itu memanifestasikan diri selagi kita berseru kepada Allah, memohon belas kasihan-Nya dan membuat sebuah resolusi yang mantap untuk mengubah diri. Keterbukaan terhadap perubahan inilah yang merupakan akar dari hikmat-kebijaksanaan, karena melalui pertobatan kita sebenarnya mengundang Allah untuk membentuk diri kita seturut kebenaran-Nya.

YAKOBUS SAUDARA TUHANSurat Yakobus mengatakan kepada kita, bahwa hikmat-kebijaksanaan Allah “adalah pertama-tama murni, selanjutnya suka damai, lembut, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang  baik, tidak memihak dan tidak munafik” (Yak 3:17). Ini bukanlah seperti kilat yang datang dari surga, yang akan langsung membuat diri kita menjadi pribadi-pribadi yang bijaksana. Sebaliknya, kita belajar menjadi bijaksana dari hari ke hari sementara kita berdoa, membaca serta merenungkan sabda Allah dalam Kitab Suci, dan mengabdikan diri kita kepada sesama dalam berbagai bentuknya, teristimewa mereka yang tergolong “wong cilik” yang “ditaruh” Allah pada jalan kehidupan kita di dunia ini. Allah menginginkan kita mengikuti jejak Kristus – artinya menggantungkan diri sepenuhnya kepada Bapa surgawi dan bertujuan hidup untuk menyenangkan-Nya saja, hidup sederhana dan “miskin” dalam Roh. Ini merupakah gaya hidup yang sungguh memberi stimulasi, membebasksn dan bijaksana.

Jadi, ada sisi sangat praktis untuk memperoleh hikmat-kebijaksanaan Ilahi, dan Bapa surgawi sangat rindu untuk mengajar kepada kita tentang hal itu setiap hari. Yang diperlukan dari diri kita ada membuka diri kita, agar Roh Kudus-Nya dapat bekerja dalam diri kita!

DOA: Tuhan Yesus Kristus, Engkau adalah Hikmat Bapa surgawi. Karena kasih, Engkau datang ke dunia untuk menyelamatkan dan membebas-merdekakan kami. Oleh Roh Kudus-Mu, bentuklah hati kami agar dapat menjadi bijaksana seperti hati-Mu sendiri dan yang memusatkan perhatian pada kesederhanaan hidup. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 17:1-6), bacalah tulisan berjudul “TAMBAHKANLAH IMAN KAMI!” (bacaan tanggal 11-11-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2013. 

Bacalah juga tulisan yang berjudul “SEKALI LAGI: MENGAMPUNI !!!” (bacaan untuk tanggal 7-11-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 7-11-11 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 8 November 2013 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

APAKAH SUNGGUH ADA KEBANGKITAN ???

APAKAH SUNGGUH ADA KEBANGKITAN ???

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXXII [Tahun C] – 10 November 2013) 

JesandSadducees_1179-48Kemudian datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki yang tidak mengakui adanya kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya, “Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: Jika seseorang yang mempunyai saudara laki-laki, mati, sedangkan istrinya masih ada, tetapi ia tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan istrinya itu dan memberi keturunan bagi saudaranya itu. Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan lalu mati dengan tidak meninggalkan anak. Lalu perempuan itu dikawini oleh yang kedua, dan oleh yang ketiga dan demikianlah berturut-turut oleh ketujuh saudara itu, mereka semuanya mati tanpa meninggalkan anak. Akhirnya perempuan itu pun mati. Bagaimana sekarang dengan perempuan itu, siapakah di antara orang-orang itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan? Sebab ketujuhnya telah beristrikan dia.” Jawab Yesus kepada mereka, “Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan, tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan. Mereka tidak dapat mati lagi, sebab mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan. Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam cerita tentang semak duri, di mana ia menyebut Tuhan sebagai Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup.” (Luk 20:27-38).

Bacaan Pertama; 2Mak &:1-2,9-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 17:1,5-6,8,15; 2Tes 2:16-3:5 

Kita sudah hampir selesai menjalani tahun liturgi C ini. Setelah hari Minggu ini, masih ada dua hari Minggu lagi. Sejak hari Minggu Pertama Masa Adven, kelihatan adanya penekanan atas persoalan kematian dan solusinya dalam kebangkitan Yesus. Kebangkitan Yesus dari alam maut merupakan suatu tanda dan jaminan berkaitan dengan kebangkitan kita sendiri dari kematian.

Memang pantaslah, bahwa selagi kita mendekati akhir tahun liturgi ini, keseluruhan topik “kematian & kebangkitan” dihadirkan kembali. Orang-orang Saduki – yang melontarkan pertanyaan-pertanyaan kepada Yesus dalam Injil hari ini – memang tidak percaya akan kebangkitan orang mati. Ketika mereka bertanya kepada Yesus istri siapakah perempuan yang telah dikawinkan dengan tujuh orang bersaudara karena kematian (hukum Levirat), maka sebenarnya mereka tidaklah mencari jawaban dari Yesus samasekali. Mereka mencoba untuk mereduksi ide kebangkitan menjadi suatu absurditas, untuk menunjukkan bahwa kebangkitan itu adalah sesuatu yang edan dan mentertawakan.

Pada zaman modern ini masih ada orang-orang seperti orang-orang Saduki itu. Mereka mempertanyakan bagaimana Allah dapat menyatukan kembali sesosok tubuh yang semua bagiannya telah terdisintegrasikan dalam kubur, atau hancur setelah dikremasikan, atau hancur-lebur sebagai akibat ledakan bom nuklir, dlsb.? Orang-orang sedemikian tidak menyadari bahwa tubuh-tubuh (badan-badan) kita yang telah dibangkitkan, meski riil secara fisik, akan eksis secara lebih baru dan lebih baik, jauh melampaui kuasa kita untuk membayangkan. Seperti dikatakan Yesus dalam Injil hari ini: “Mereka tidak dapat mati lagi, sebab mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allahm karena mereka telah dibangkitkan” (Luk 20:36).

Tubuh kita yang dibangkitkan akan berbeda dengan tubuh kita sekarang seperti sebatang pohon juga berbeda dengan benihnya. Tubuh kita yang dibangkitkan akan berada dalam kondisi sempurna oleh kuasa Allah, suatu kuasa yang jauh melampaui apa yang dapat dibayangkan dan dipahami kita. Iman akan kebangkitan kita sendiri dari maut adalah suatu kepercayaan bahwa Allah itu sungguh mahakuasa, dan pada saat yang sama iman ini berarti kepercayaan/keyakinan bahwa dalam kebaikan-Nya Allah akan menggunakan kuasa itu untuk membangkitkan kita dari kematian untuk masuk ke dalam suatu kehidupan baru.

Iman-kepercayaan kita akan kebangkitan seharusnya mempengaruhi hidup kita, dalam arti adanya kemauan untuk menderita sampai mati daripada meninggalkan Allah dalam ketidakpercayaan. Pengharapan penuh sukacita akan kebangkitan dari alam maut berarti pengharapan akan suatu kehidupan baru dengan Allah untuk selama-lamanya. Iman akan kebangkitan seharusnya mewarnai dan mengisi kehidupan kita (yang sering terasa membosankan) dengan sorak-sorai penuh sukacita.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih karena Engkau mengingkatkan kami, bahwa iman kami akan kebangkitan kami dari antara orang mati adalah suatu kepercayaan bahwa Engkau adalah mahakuasa, dan pada saat yang sama, dalam kebaikan-Mu Engkau akan menggunakan kemahakuasaan-Mu itu untuk membangkitkan kami dari kematian, agar kemudian dapat  memasuki suatu kehidupan baru yang kekal bersama Dikau. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 20:27-38), bacalah tulisan yang berjudul “AKU MENANTIKAN KEBANGKITAN ORANG MATI DAN HIDUP DI AKHIRAT” (bacaan tanggal 10-11-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2013. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 7-11-10 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 7 November 2013 [Peringatan B. Assunta Pallota]

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TIDAK TAHUKAH KAMU BAHWA KAMU SEKALIAN ADALAH BAIT ALLAH?

TIDAK TAHUKAH KAMU BAHWA KAMU SEKALIAN ADALAH BAIT ALLAH?

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran – Sabtu, 9 November 2013) 

YOHANES LATERAN

Kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah.

Sesuai dengan anugerah Allah, yang diberikan kepadaku, aku sebagai seorang ahli bangunan yang terampil telah meletakkan dasar, dan orang lain membangun terus di atasnya. Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun diatasnya. Karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain daripada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus.

Tidak tahukah kamu bahwa kamu sekalian adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu? Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu sekalian. (1Kor 3:9b-11,16-17)

Bacaan Pertama alternatif: Yeh 47:1-2,8-9,12; Mazmur Tanggapan: Mzm 46:2-3,5-6,8-9; Bacaan Injil: Yoh 2:13-22 

Setiap  bangunan gereja adalah sebuah simbol, lambang, sebuah pesan yang disusun dalam bentuk batu-batu, yang menunjuk kepada realitas-realitas spiritual. Pada hari ini Gereja Katolik Roma merayakan dedikasi/pemberkatan sebuah bangunan gereja istimewa, gereja basilik Santo Yohanes Lateran, gereja katedral untuk keuskupan Roma.

Gereja ini adalah sumbangan Kaisar Konstantinus Agung dan didedikasikan pada tanggal 9 November 324. Sampai hari ini gereja Yohanes Lateran tetap berfungsi sebagai gereja katedral Paus dalam kapasitasnya sebagai uskup Roma. Gereja ini melambangkan kesatuan Sri Paus dengan umat di sekelilingnya (yang terdekat) dan juga dengan semua orang Kristiani yang berada dalam persekutuan dengan dirinya di seluruh dunia. Dengan demikian, kita (anda dan saya) merayakan pesta ini bukanlah sebagai pengamat dari luar, melainkan sebagai anggota-anggota dari Tubuh yang satu, yang dipersatukan oleh Roh Kudus dan dipanggil kepada suatu hidup kekudusan.

Berkomentar atas peranan kita sebagai anggota-anggota Gereja Kristus, Santo Caesarius dari Arles (c.470-542) mengatakan sebagai berikut:

Kita … harus menjadi bait Allah yang sejati dan hidup … Pada saat kelahiran kita yang pertama, kita adalah bejana-bejana kutukan Allah; dilahirkan kembali, kita menjadi bejana-bejana belas kasih-Nya. Kelahiran kita yang pertama membawa kematian bagi kita, sedangkan kelahiran kita yang kedua memulihkan diri kita kepada kehidupan. 

Saudari-Saudaraku umat Kristiani, apakah kita ingin merayakan dengan penuh sukacita kelahiran bait ini? Maka marilah kita tidak merusak bait Allah yang hidup dalam diri kita oleh kerja kejahatan … Manakala kita datang ke gereja, kita harus menyiapkan hati kita agar menjadi seindah harapan kita atas gereja tersebut. Apakah anda menginginkan agar basilika ini sungguh bersih tanpa noda? Kalau begitu, janganlah mengotori jiwa anda dengan noda-noda dosa. Apakah anda menginginkan basilika dipenuhi terang cahaya? Allah pun menginginkan agar jiwa anda tidak berada dalam kegelapan, tetapi terang pekerjaan-pekerjaan baik bercahaya dalam diri kita, agar dengan demikian Ia yang berdiam dalam surga akan dimuliakan. Sama seperti anda memasuki bangunan gereja ini, demikian pula Allah ingin masuk ke dalam jiwa anda (Sermon, 229).

DOA: Bapa surgawi, Engkau telah mengundang keluarga umat manusia untuk bergabung dalam kawanan-Mu, Gereja. Engkau telah membuat kami masing-masing menjadi bait-Mu dan mengutus Roh Kudus-Mu untuk berdiam dalam diri kami (1Kor 3:16). Kami memuji Engkau untuk semua perbuatan kasih-Mu, dan kami mohon Engkau melanjutkan pencurahan rahmat-Mu ke atas umat-Mu dan memberkati Bapa Suci, yang telah Engkau panggil untuk menjadi pengurus/penjaga “bangunan” (1Kor 3:9). Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yeh 47:1-2,8-9,12), bacalah tulisan yang berjudul “MEMBENAMKAN DIRI KE DALAM SUMBER AIR KEHIDUPAN” (bacaan tanggal 9-11-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2013. 

Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 2:13-22), bacalah tulisan yang berjudul “UNDANGLAH DIA UNTUK MEMURNIKAN HATI DAN PIKIRAN KITA” (bacaan tanggal 9-11-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 9-11-12 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 7 November 2013 [Peringatan B. Assunta Pallota] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PENJELASAN SANTO PAULUS

PENJELASAN SANTO PAULUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXI – Jumat, 8 November 2013)

KFS: Peringatan Arwah Semua Semua Anggota Tarekat 

bible-flowers-rahmenSaudara-saudaraku, aku sendiri memang yakin tentang kamu bahwa kamu juga telah penuh dengan kebaikan dan dengan segala pengetahuan dan sanggup untuk menasihati. Namun, karena anugerah yang telah diberikan Allah kepadaku, aku di sana sini dengan agak berani telah menulis kepadamu untuk mengingatkan kamu, yaitu bahwa aku boleh menjadi pelayan Kristus Yesus bagi bangsa-bangsa lain dapat diterima oleh Allah sebagai persembahan yang berkenan kepada-Nya, yang disucikan oleh Roh Kudus. Jadi, dalam Kristus aku boleh bermegah tentang pelayananku bagi Allah. Sebab aku tidak akan berani berkata-kata tentang sesuatu yang lain, kecuali tentang apa yang telah dikerjakan Kristus melalui aku, yaitu untuk memimpin bangsa-bangsa lain kepada ketaatan, dengan perkataan dan perbuatan, dengan kuasa tanda-tanda ajaib dan mukjizat-mukjizat dan dengan kuasa Roh Allah. Demikianlah dalam perjalanan keliling dari Yerusalem sampai ke Ilirikum aku telah memberitakan sepenuhnya Injil Kristus. Dalam pemberitaan itu aku menganggap sebagai kehormatanku bahwa aku tidak melakukannya di tempat-tempat, di mana nama Kristus telah dikenal orang, supaya aku jangan membangun di atas dasar yang telah diletakkan orang lain, tetapi sesuai dengan yang tertulis: “Mereka, yang belum pernah menerima berita tentang Dia, akan melihat Dia, dan mereka yang belum pernah mendengarnya, akan mengertinya.” (Rm 15:14-21)

Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4;  Bacaan Injil: Luk 16:1-8 

“Aku tidak akan berani berkata-kata tentang sesuatu yang lain, kecuali tentang apa yang telah dikerjakan Kristus melalui aku” (Rm 15:18).

Pemberitaan Injil atau Evangelisasi seringkali membuat banyak dari kita tidak merasa nyaman. Pada dasarnya, sebagai pribadi-pribadi kita ingin agar diri kita disenangi orang-orang yang kita temui dan kita pun tidak ingin dipandang sebagai orang-orang yang suka memaksa-maksa agama kita kepada orang-orang lain. Kita mungkin merasa canggung untuk bercerita kepada orang-orang lain tentang Yesus, karena kita melihat agama sebagai masalah pribadi. Hal ini menjadi lebih rumit lagi apabila kita mempertimbangkan bahwa kedudukan kita dalam masyarakat Indonesia yang plural ini adalah sebagai minoritas. Dengan demikian kita mungkin saja memandang pewartaan/pemberitaan Injil dan orang-orang dengan siapa kita syering Injil sebagai sebuah proyek atau sebuah tugas – sesuatu yang kita lakukan karena harus kita lakukan, bukan karena kita memiliki hasrat untuk melakukannya.

Santo Paulus mempunyai pandangan lain. Setelah mengalami sendiri kasih Allah atas dirinya, secara pribadi dan intim, maka dia ingin menceritakan kepada setiap orang bahwa dia telah berjumpa dengan Yesus. Sang Rasul mengalami sukacita dan pengharapan melalui relasinya dengan Tuhan, dan tidak ada apapun yang mampu menghalangi dorongan dalam dirinya untuk memberitakan Injil kepada setiap orang yang dijumpainya. Oleh karena itu dia menulis kepada jemaat di Korintus bahwa kasih Kristus terus mendorong dirinya dalam karya evangelisasi ini (lihat 2Kor 5:14; Latin: caritas enim Christi urget nos – Vulgata). Inilah juga yang merupakan pegangan Santo Vincentius de Paul dan para anak rohaninya dalam melakukan karya kerasulan mereka yang mendunia itu.

ST. PAUL THE APOSTLE -ORTHODOX CHURCHPaulus menunjukkan kepada kita bahwa semakin dekat kita dengan Yesus, maka semakin efektif pula kita dalam melakukan fungsi kita sebagai saksi-saksi-Nya. Tidak ada yang lebih memikat hati orang-orang daripada pribadi-pribadi yang kehidupannya menunjukkan dampak yang dapat dibuat oleh kasih Allah. Orang-orang (saksi-saksi Kristus) seperti ini tidak sekadar mewartakan Injil dengan kata-kata; kasih Allah sungguh memancar melalui diri mereka masing-masing. Cara mereka melakukan tugas mereka, bahkan tugas sehari-hari yang biasa-biasa sungguh menarik perhatian, katakanlah memikat hati orang-orang yang dijumpai. Orang dapat merasakan bahwa ada sesuatu yang berbeda dalam diri seorang pribadi yang sedang in love dengan Allah. Orang seperti itu menampakkan keseimbangan pribadi, bela rasa dan kasih, bahkan ketika dia sedang mengalami saat-saat sulit dalam kehidupannya.

Di tahun 1980’an, ketika gereja di Megamendung masih kecil, perayaan Ekaristi hari Minggu sering dilayani oleh seorang imam Fransiskan asal Belanda yang sudah tua-usia, yang khusus datang dari Bogor. Homilinya atau khotbahnya kurang menarik, walaupun pokok-pokok penting selalu disinggungnya. Caranya berbicara sudah tidak lancar lagi. Namun demikian, dengan berdiri di depan umat di gereja kecil itu saja, saya melihat bahwa imam itu sungguh memancarkan kasih Kristus. Berpuluh tahun dia meninggalkan negeri asalnya dan bekerja sebagai misionaris di tengah-tengah bangsa Indonesia. Dirinya yang terlihat cukup lemah dan rentan sudah merupakan sebuah kesaksian Injili. Ini memang pandangan pribadi saya, namun inilah yang saya yakini sampai hari ini. Imam itu bersama Paulus dan sang Pemazmur dapat bermadah: “Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN (YHWH), sebab Ia telah melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib” (Mzm 98:1).

Kita semua mempunyai teman, sahabat, anggota keluarga dan rekan-kerja yang membutuhkan Yesus Kristus. Semakin dekat kita dengan Yesus, semakin banyak pula kita memperkenankan Dia memegang kendali atas hati kita, semakin lebih lagi orang-orang melihat Yesus dalam diri kita. Dengan demikian kita akan mendapatkan diri kita dengan lebih banyak kesempatan untuk ikut ambil bagian dalam kasih Yesus dengan cara yang sangat alamiah. Hal ini akan merupakan sesuatu yang sungguh menyenangkan hati bagi kita dan kesembuhan bagi orang-orang yang kita jumpai.

DOA: Tuhan Yesus, perkenankanlah aku untuk lebih mengenal Engkau. Kuingin dipenuhi dengan kasih-Mu yang akan mengalir juga kepada orang-orang lain lewat diriku. Oleh Roh Kudus-Mu, pimpinlah orang-orang di mana  saja kepada diri-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 16:1-8), bacalah tulisan berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG SI BENDAHARA YANG ……” (bacaan tanggal 8-11-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.worpress.com ; kategori: 13-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2013. 

 Bacalah juga tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG BENDAHARA YANG TIDAK JUJUR” (bacaan untuk tanggal 4-11-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 4-11-11 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 7 November 2013 [Peringatan B. Assunta Pallota]

 Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 72 other followers