PERGUMULAN PRIBADI ANANIAS

PERGUMULAN PRIBADI ANANIAS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Jumat, 15 April 2016)

saint_paul_ananias_sight_restored

Sementara itu hati Saulus masih berkobar-kobar untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan. Ia menghadap Imam Besar, dan meminta surat kuasa untuk dibawa kepada rumah-rumah ibadat Yahudi di Damsyik, supaya, jika ia menemukan laki-laki atau perempuan yang mengikut Jalan Tuhan, ia dapat menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem.

Dalam perjalanan ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia. Ia rebah ke tanah dan mendengar suara yang berkata kepadanya, “Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?” Jawab Saulus, “Siapa Engkau, Tuan?”  Kata-Nya, “Akulah Yesus yang kauaniaya itu. Tetapi bangunlah dan pergilah  ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kauperbuat.” Teman-teman seperjalanannya pun termangu-mangu karena mereka memang mendengar suara itu, tetapi tidak melihat seorang pun. Saulus bangkit berdiri, lalu membuka matanya, tetapi ia tidak dapat melihat apa-apa; mereka harus menuntun dia masuk ke Damsyik. Selama tiga hari ia tidak dapat melihat dan selama itu juga ia tidak makan dan minum.

Di Damsyik ada seorang murid Tuhan bernama Ananias. Tuhan berfirman kepadanya dalam suatu penglihatan, “Ananias!”  Jawabnya, “Ini aku, Tuhan!”  Firman tuhan, “Bangkitlah dan pergilah ke jalan yang bernama Jalan Lurus, dan carilah di rumah Yudas seorang dari Tarsus yang bernama Saulus. Ia sedang berdoa, dan dalam suatu penglihatan ia melihat bahwa seorang yang bernama Ananias masuk ke dalam dan menumpangkan tangannya ke atasnya, supaya ia dapat melihat lagi.” Jawab Ananias, “Tuhan, dari banyak orang telah kudengar banyaknya kejahatan yang dilakukannya terhadap orang-orang kudus-Mu di Yerusalem. Lagi pula di sini dia memperoleh kuasa dari imam-imam kepala untuk menangkap semua orang yang memanggil nama-Mu.”  Tetapi firman Tuhan kepadanya, “Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku di hadapan bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel. Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku.” Lalu pergilah Ananias ke situ dan masuk  ke rumah itu. Ia menumpangkan tangannya ke atas Saulus, katanya, “Saulus, saudaraku, Tuhan Yesus, yang telah menampakkan diri kepadamu di jalan yang engkau lalui, telah menyuruh aku kepadamu, supaya engkau dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus.”  Seketika itu juga seolah-oleh selaput gugur dari matanya, sehingga ia dapat melihat lagi. Ia bangun lalu dibaptis. Setelah ia makan, pulihlah kekuatannya. Saulus tinggal beberapa hari bersama-sama dengan murid-murid di Damsyik. Ketika itu juga ia memberitakan Yesus di rumah-rumah ibadat, dan mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah. (Kis 9:1-20)

Mazmur Tanggapan: Mzm 117:1-2; Bacaan Injil: Yoh 6:52-59

Bacaan yang diambil dari “Kisah para Rasul” ini menceritakan tentang saat-saat pertobatan Paulus. Namun marilah sekarang kita soroti murid Kristus yang bernama Ananias ini.

Pernahkah kita (anda dan saya) merenungkan bagaimana dan apa yang berkecamuk dalam pikiran Ananias ketika dia sedang melangkahkan kaki-kakinya di “Jalan Lurus” menuju rumah Yudas yang menampung Saulus (Paulus) dari Tarsus, untuk berdoa bersamanya? Memang mudah bagi kita untuk berpikir bahwa tidak ada masalah bagi Ananias untuk melakukan tugas yang diberikan Tuhan Yesus kepada-Nya. Namun bisa juga tidak begitu, karena bagaimana pun juga Ananias adalah seorang pribadi yang memiliki sifat-sifat manusiawi seperti kita. Barangkali yang memenuhi pikirannya adalah seperti berikut ini:

“Tuhan, Engkau benar-benar mempunyai suatu sense of humor yang aneh. Tidakkah Engkau tahu bahwa Saulus telah bersumpah untuk menangkap dan bahkan membunuh para pengikut-Mu? Barangkali sekarang aku harus mulai membuat fatwa warisku. Aku, Ananias, sehat dalam pikiran dan secara fisik, memberikan semua milikku di dunia kepada para saudari dan saudaraku dalam Tuhan …… Bapa, aku tahu bahwa rencana-Mu itu sempurna. Namun siapakah aku sehingga Kaupilih menjadi hamba/pelayan-Mu dalam kasus ini? Segala sesuatu dalam diriku menginginkan agar aku lari dan menyembunyikan diri. Aku tidak ingin melayani orang yang terlibat dalam kematian martir-Mu, saudara kami Stefanus. Barangkali Engkau dapat menyembuhkan dia dan mempertobatkan dia dulu, lalu aku akan datang menemuinya dan berbicara dengan dia.

“Yesus, hatiku rindu akan Engkau, namun “dagingku” takut kepada orang ini. Dia sangat berpengaruh dalam sinagoga-sinagoga. Bagaimana aku dapat menghadapinya? Apakah Engkau ingin agar aku mati sebagai martir juga? Apakah hidupku harus berakhir sekarang, setelah baru saja menemukan Engkau? Tuhan, ampunilah diriku karena tidak atau kurang menaruh kepercayaan kepada-Mu. Aku tahu bahwa rencana-Mu sempurna. Aku tahu bahwa Engkau tidak akan pernah meninggalkan diriku seandainya ada hal-hal yang menghalangiku di tengah jalan. Aku yakin, ya Tuhan, bahwa Engkau akan menolongku. Apa pun yang terjadi, Engkau senantiasa ada bersamaku. Ya Roh Kudus, jalanlah di depanku dan persiapkanlah hati Saulus. Tunjukkanlah kepadaku bagaimana berbicara dengan dia, bagaimana mengasihinya, dan bagaimana membawanya kepada-Mu.”

Kita masing-masing kadang kala menghadapi tugas-tugas sulit – tantangan-tantangan yang kita lebih suka untuk hindari. Akan tetapi, seperti akan dialami Ananias, justru ketika kita mengatasi tantangan-tantangan ini melalui iman dan kepercayaan akan Allah maka kita menyaksikan mukjizat-mukjizat. Jadi, apabila kita sedang menghadapi pergumulan seperti itu, bayangkanlah apa yang terjadi dengan Ananias. Bayangkanlah dia memandang ke belakang 10 tahun setelah pertemuannya yang pertama dengan Saulus dan begitu merasa takjub akan transformasi yang terjadi pada orang itu dan juga kesetiaan Allah. Hal yang serupa dapat terjadi pada kita (anda dan saya) juga!

DOA: Tuhan Yesus, aku menaruh kepercayaan kepada-Mu sepenuhnya. Aku percaya bahwa Engkau dapat berbuat segala sesuatu. Aku percaya bahwa Engkau dapat membuat berbagai mukjizat dan tanda heran lainnya, walaupun melalui diriku. Tuhan, pada saat-saat aku merasa tidak pantas, penuhilah diriku dengan keyakinan. Dengan keberadaan Engkau bersamaku, apakah yang harus kutakuti? Terpujilah nama-Mu, sekarang dan selalu! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:52-59), bacalah tulisan yang berjudul “JALAN MENUJU KEHIDUPAN KEKAL-NYA ADALAH MELALUI SALIB” (bacaan tanggal 15-4-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-04 BACAAN HARIAN APRIL 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 24-4-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 12 April 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ALLAH SENANTIASA ADA DI BELAKANG SETIAP TINDAKAN KEBAIKAN

ALLAH SENANTIASA ADA DI BELAKANG SETIAP TINDAKAN KEBAIKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pekan III Paskah, Kamis 14 April 2016)

maxresdefault

Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman. Ada tertulis dalam kitab nabi-nabi: ‘Mereka semua akan diajar oleh Allah.’ Setiap orang, yang telah mendengar dan belajar dari Bapa, datang kepada-Ku. Hal itu tidak berarti bahwa ada orang yang telah melihat Bapa. Hanya Dia yang datang dari Allah, dialah yang telah melihat Bapa. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, Siapa saja yang percaya, ia mempunyai hidup yang kekal.

Akulah roti kehidupan. Nenek moyangmu telah makan manna di padang gurun dan mereka telah mati. Inilah roti yang turun dari surga: Siapa saja yang memakannya, ia tidak akan mati. Akulah roti kehidupan yang telah turun dari surga. Jikalau seseorang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang akan Kuberikan itu ialah daging-Ku yang akan Kuberikan untuk hidup dunia. (Yoh 6:44-51)

Bacaan Pertama: Kis 8:26-40; Mazmur Tanggapan: Mzm 66:8-9.16-17,20

Apakah yang menarik orang datang kepada Yesus? Mukjizat-mukjizat-Nyakah? Pengusiran roh-roh jahat yang dramatiskah? Membangkitkan orang matikah? Barangkali tidak! Orang-orang Yahudi sudah terbiasa dengan konsep mukjizat dan tanda heran lainnya. Pada zaman Musa ada manna yang turun dari surga di tengah-tengah padang gurun. Elia telah menghentikan hujan untuk tidak turun selama tiga tahun dan mendatangkan api dari surga.

Orang-orang berduyun-duyun mendatangi Yesus karena Dia menawarkan kepada mereka sesuatu yang lebih daripada sekadar tanda-tanda ajaib dari surga. Yesus menawarkan kepada mereka “Roti Kehidupan” – makanan spiritual dan relasi pemberian-hidup yang vital dengan Allah. Yesus menunjukkan kepada orang-orang itu bahwa mereka tidak perlu pergi mencari di atas gunung yang sunyi terpencil atau sebuah kuil untuk menemukan kehadiran Allah. Allah selalu ada beserta mereka, bekerja dalam situasi sehari-hari kehidupan mereka. Yang mereka butuhkan adalah mengenali suara-Nya dalam ucapan kata-kata pengampunan, kata-kata pemberian dukungan, kata-kata penghiburan, kata-kata peneguhan dari orang-orang yang penuh perhatian. Juga merasakan sentuhan-Nya dalam sentuhan  tangan-tangan orang yang memperhatikan dengan penuh kasih, dan mengalami kebaikan-Nya dalam karya pelayanan kasih orang-orang yang berprihatin terhadap situasi mereka.

st_francis_leperSanto Martinus dari Tours [316-397] memberi separuh dari jubahnya kepada seorang pengemis yang sedang menggigil kedinginan. Dalam suatu penglihatan, dia disadarkan bahwa pengemis itu adalah Yesus sendiri, yang menjadi miskin demi kita manusia berdosa. Pada waktu Santo Fransiskus dari Assisi [1181-1226] merangkul dan mencium seorang kusta, ternyata dia disadarkan bahwa dia sebenarnya melihat Yesus yang tersalib demi keselamatan kita. Ketika Beata Bunda Teresa dari Kalkuta [1910-1997] membawa seorang tunawisma yang hampir mati di pinggir jalan ke dalam rumah penampungan yang diasuhnya, sebenarnya dia berjumpa dengan Yesus, yang tidak memiliki rumah dan kenyamanan demi meringankan serta menghilangkan penderitaan kita-manusia karena keterpisahan dari Allah.

Apakah kiranya yang menggerakkan hati seorang ibu untuk merawat bayinya sepanjang malam hari dan/atau menghibur seorang anaknya yang sedang sakit? Apakah yang mendesak seorang pekerja tambang yang sudah keletihan untuk menolong sepanjang malam seorang rekan kerjanya yang terjebak karena tanah longsor? Apakah yang membuat orang melawan bahaya yang mengancam dirinya sendiri untuk menyelamatkan seseorang yang terjebak dalam sebuah rumah yang sedang terbakar hebat, atau orang yang hampir tenggelam? Mengapa terdapat begitu banyak sukarelawati-sukarelawan yang bekerja berjam-jam seharinya untuk menolong anak-anak yang mengalami cacat fisik ataupun mental; juga dalam bidang pendidikan, perawatan orang sakit, perumahan yang layak dlsb. Jawaban untuk semua pertanyaan di atas: kasih Allah!

Allah senantiasa ada di  belakang setiap tindakan kebaikan, bahkan ketika tidak seorang pun mengenali kehadiran-Nya. Oleh karena itu dunia ini tidaklah tanpa pengharapan. Kehadiran-Nya yang tidak terlihat diungkapkan dalam setiap senyum penuh persahabatan, setiap pekerjaan baik yang dilakukan, setiap pengampunan atas hutang, setiap relasi-pribadi terluka yang disembuhkan. Allah menggunakan “bejana-bejana tanah liat”, bahkan juga “orang yang tidak percaya”, untuk menunjukkan kemuliaan dan kebaikan-Nya kepada sebuah dunia yang membutuhkan kasih dan belas kasihan.

DOA: Bapa surgawi, kebaikan-Mu memenuhi seluruh bumi. Semoga kebaikan hati-Mu mencairkan hati kami dengan puji-pujian dan ketakjuban. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:44-51), bacalah tulisan yang berjudul “ROTI YANG TURUN DARI SURGA” (bacaan tanggal 14-4-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-04 BACAAN HARIAN APRIL 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 23-4-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 11 April 2016 [Peringatan S. Stanislaus, Uskup-Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MOHON BANTUAN DOA SAUDARI DAN SAUDARA

Saudari dan Saudaraku para pengunjung blog PAX ET BONUM yang dikasihi Kristus,

Dengan rendah hati saya dan keluarga, mohon bantuan Saudari-Saudara sekalian untuk mendoakan anak sulung saya – Maria Carolina Vidya Kusuma Epifani – yang pada hari ini, Rabu tanggal 13 April 2016, akan dioperasi kanker untuk ketiga kalinya. Terima kasih dan semoga berkat Allah Yang Mahakuasa senantiasa menyertai anda dan karya anda sekalian.

Salam persaudaraan,

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KUAT-KUASA UNTUK MENYEMBUHKAN

KUAT-KUASA UNTUK MENYEMBUHKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Rabu, 13 April 2016)

43_i-am-the-bread-of-life_1800x1200_300dpi_2

Kata Yesus kepada mereka, “Akulah roti kehidupan; siapa saja yang datang kepada-Ku, ia tidak akan pernah lapar lagi, dan siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia tidak akan pernah haus lagi. Tetapi Aku telah berkata kepadamu: Sungguh pun kamu telah melihat Aku, kamu tidak percaya. Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. Sebab Aku telah turun dari surga bukan untuk melakukan kehendak-Ku melainkan kehendak Dia yang telah mengutus Aku. Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman. Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.” (Yoh 6:35-40) 

Bacaan Pertama: Kis 8:1b-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 66:1-7

Ketika kita memanggil atau menyapa Yesus sebagai Tuhan kita, Allah kita, Raja kita, maka sebenarnya kita mengacu kepada banyak hal tentang diri-Nya, teristimewa kepada kuasa ilahi-Nya. Yesus menyatakan kuasa-Nya sebagai Tuhan dalam hidup-Nya di tengah publik teristimewa dengan menyembuhkan siapa saja yang menyentuh-Nya atau yang disentuh-Nya. Ada ribuan penyembuhan fisik yang terjadi – orang sakit, orang lumpuh, orang buta, orang kusta dll. – namun juga banyak sekali penyembuhan spiritual atas orang-orang yang sedang dirasuki roh jahat dlsb. Para pendosa dibebaskan dan menjadi para pengikut-Nya yang paling setia.

Pernahkah kita (anda dan saya) mengalami kuat-kuasa Yesus dalam kehidupan kita? Tentu pernah, walaupun barangkali kita kurang menyadarinya. Nah, kita juga menemukan Yesus yang sama dalam segala kuasa-Nya dan kasih-Nya dalam Ekaristi Kudus, Dia tetap bersama kita, Dia masih tetap Tuhan dan Guru kita yang sangat mengasihi kita.

Sekarang – lebih daripada sebelumnya – orang-orang ingin dan butuh mengalami kuasa penyelamatan dari Yesus dalam Ekaristi Kudus. Kita tahu dari kitab-kitab Injil bahwa Yesus memaksudkan Sakramen ini sebagai penyembuhan kita, kebebasan kita untuk hidup sebagai anak-anak Allah. Dalam Ekaristi, Yesus telah memberikan kepada kita diri-Nya sendiri dalam suatu bentuk yang dapat kita sentuh dan alami, seperti dahulu Dia disentuh dan dialami dalam kehidupan-Nya di tengah publik. Karena kita semua adalah manusia, maka kita butuh menyentuh dan disentuh. Seringkali, sentuhan itu menyembuhkan. Yesus, dalam hikmat manusia yang indah, meninggalkan bagi kita Tubuh-Nya dan Darah-Nya sehingga dengan demikian kita dapat menyentuh-Nya dan disembuhkan! Yesus bersabda: “Akulah roti kehidupan; siapa saja yang datang kepada-Ku, ia tidak akan pernah lapar lagi, dan siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia tidak akan pernah haus lagi”  (Yoh 6:35).

Yesus mengingat kata-kata itu pada perjamuan terakhir. Oleh karena itu Dia bersabda: “Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku. …… Minumlah, kamu semua, dari cawan ini. Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa-dosa”  (Mat 26:26,27-28).

Percayakah kita akan ucapan kata-kata Yesus ini sehingga dengan demikian kita berharap agar dosa-dosa kita diampuni? Apakah kita berterima kasih kepada Yesus untuk pengampunan-Nya, karena kita percaya bahwa Dia memegang janji-Nya? Jelaslah bahwa Gereja ingin kita melakukan pendekatan terhadap Yesus dengan iman mendalam yang sungguh mengharapkan kesembuhan dari Dia. Di sinilah letak keseriusan seruan kita sebelum menyambut Komuni Kudus: “Ya Tuhan, saya tidak pantas Engkau datang pada saya, tetapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh”  (Puji Syukur 275; bdk. Mat 8:8).

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah sang Roti Kehidupan, yang  memiliki kuasa ilahi untuk menyembuhkan. Sembuhkanlah kami, ya Tuhan, lewat kehadiran-Mu dalam Ekaristi Kudus. Terpujilah nama-Mu selalu! Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 8:1b-8), bacalah tulisan yang berjudul  “KEBERANIAN SEBAGAI SAKSI-SAKSI KRISTUS” (bacaan tanggal 13-4-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-04 BACAAN HARIAN APRIL 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 22-4-15 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 11 April 2016 [Peringatan S. Stanislaus, Uskup Martir]  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEBUAH PERJAMUAN PERSAHABATAN

SEBUAH PERJAMUAN PERSAHABATAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Selasa, 12 April 2016)

christ-teaches-i-am-the-bread-of-life

Sebab itu, kata mereka kepada-Nya, “Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya kami dapat melihatnya dan percaya kepada-Mu? Apakah yang Engkau kerjakan? Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari surga.”

Lalu kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, bukan Musa yang memberikan kamu roti dari surga, melainkan Bapa-Ku yang  memberikan kamu roti yang  benar dari surga. Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari surga dan yang memberi hidup kepada dunia.” Maka kata mereka kepada-Nya, “Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa.” Kata Yesus kepada mereka, “Akulah roti kehidupan; siapa saja yang datang kepada-Ku, ia tidak akan pernah lapar lagi, dan siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia tidak akan pernah haus lagi. (Yoh 6:30-35)

Bacaan Pertama: Kis 7:51-8:1a; Mazmur Tanggapan: Mzm 31:3-4,6-8,17,21

“Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, bukan Musa yang memberikan kamu roti dari surga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari surga.” …… “Akulah roti kehidupan” (Yoh 6:32,35).

Ketika Allah memanggil kita untuk berkumpul bersama di sekeliling Kristus, maka hal itu tidak hanya berarti Dia ingin berbicara kepada kita, melainkan juga untuk berada bersama dengan kita dalam sebuah perjamuan. Bentuk Liturgi Ekaristi pada dasarnya adalah bentuk sebuah perjamuan, suatu perpanjangan atau kelanjutan dari Makan Malam Paskah dan perjamuan persahabatan orang Ibrani pada hari Sabat. Namun perjamuan ini tidak menghilangkan unsur persembahan kurban dari Misa. Tanda ke dalam mana Yesus memilih untuk menempatkan karya penyelamatan-Nya adalah sebuah perjamuan suci.

I-am-the-Bread-of-LifePerjamuan makan merupakan sebuah bagian yang bersifat hakiki dari liturgi Bait Suci dan pertemuan-pertemuan dalam Perjanjian Lama. Ini adalah suatu tindakan keagamaan. Benda-benda yang dikurbankan dimakan dalam Rumah Allah sebagai sebuah lambang janji Mesianis. “…… tempat yang akan dipilih TUHAN (YHWH), Allahmu, dari segala sukumu sebagai kediaman-Nya untuk menegakkan nama-Nya di sana, tempat itulah yang harus kamu cari dan ke sanalah harus kamu pergi. Ke sanalah harus kamu bawa korban bakaran dan korban sembelihanmu dan persembahan khususmu, korban nazarmu dan korban sukarelamu, anak-anak sulung lembu sapimu dan kambing dombamu. Di sanalah kamu makan di hadapan YHWH, Allahmu, dan bersukaria, kamu dan seisi rumahmu, karena dalam segala usahamu engkau diberkati oleh YHWH, Allahmu”  (Ul 12:5-7). “Orang yang rendah hati akan makan dan kenyang” (Mzm 22:27). “Engkau menyediakan hidangan bagiku”  (Mzm 23:5). Singkatnya, Allah mengundang umat –Nya untuk ikut ambil bagian dalam sebuah perjamuan persahabatan.

Kristus menggunakan simbol-simbol yang sama ini untuk mengantisipasi kedatangan  kerajaan dari para pengikut-Nya di atas bumi dan di surga. Ia berkata, “Aku menganugerahkan kerajaan kepada kamu, sama seperti Bapa-Ku menganugerahkannya kepada-Ku, supaya kelak kamu makan dan minum semeja dengan Aku di dalam Kerajaan-Ku …”  (Luk 22:29-30). Lalu Dia berkata lagi: “Lihat, Aku berdiri di depan pintu dan mengetuk; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk menemui dia dan makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku”  (Why 3:20).

Perjamuan Ekaristi adalah kelanjutan dari pesan Perjanjian Lama. Misa Kudus adalah perjamuan yang mengindikasikan kedatangan sang Juruselamat dan kedatangan Kerajaan-Nya. Dalam rangka pelaksanaan misi-Nya, para rasul membuktikan diri bahwa mereka adalah saksi-saksi dari segala sesuatu yang diperbuat Yesus …… dan saksi-saksi dari penampakan diri Yesus setelah kebangkitan-Nya, …… “yang telah makan dan minum bersama-sama dengan Dia, setelah ia bangkit dari antara orang mati” (Kis 10:41).

DOA: Bapa surgawi, kami percaya bahwa dengan memakan tubuh Kristus dan minum darah-Nya dalam Ekaristi, maka kami akan tinggal di dalam Dia dan Ia dalam kami. Dengan berdiam di dalam Dia, maka kami pun akan tinggal di dalam Engkau, sumber segala kehidupan. Terima kasih Bapa untuk anugerah “perjamuan persahabatan” atau Perayaan Ekaristi bagi umat-Mu. Amin. 

Catatan:  Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 7:51-8:1a), bacalah tulisan yang berjudul  “SANTO STEFANUS, MARTIR KRISTUS” (bacaan tanggal 12-4-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-04 BACAAN HARIAN 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-4-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 10 April 2016 [HARI MINGGU PASKAH III – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MERASA LAPAR AKAN MAKANAN SEJATI YANG DITAWARKAN OLEH ALLAH

MERASA LAPAR AKAN MAKANAN SEJATI YANG DITAWARKAN OLEH ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Stanislaus, Uskup Martir – Senin, 11 April 2016)

maxresdefault

Keesokan harinya orang banyak, yang masih tinggal di seberang, melihat bahwa di situ tidak ada perahu selain yang satu tadi dan bahwa Yesus tidak turut naik ke perahu itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya, dan bahwa murid-murid-Nya saja yang berangkat. Sementara itu beberapa perahu lain datang dari Tiberias dekat ke tempat mereka makan roti, sesudah Tuhan mengucapkan syukur atasnya. Ketika orang banyak melihat bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus.

Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya, “Rabi, kapan Engkau tiba di sini?” Yesus menjawab mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang telah dimeteraikan Allah Bapa.” Lalu kata mereka kepada-Nya, “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang dikehendaki Allah?” Jawab Yesus kepada mereka, “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.” (Yoh 6:22-29)

Bacaan Pertama: Kis 6:8-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:23-24,26-27,29-30

Orang-orang pada umumnya mempertimbangkan selera makan sebagai semacam ukuran dari kondisi kesehatan kita. Apabila kita tidak nafsu makan, maka ada sesuatu yang salah. Apabila selera makan kita berkurang, tentu saja kekuatan fisik kita pun akan berkurang. Di lain pihak para ibu mengetahui bahwa apabila anak-anak mereka menghabiskan semua makanan di atas meja makan, maka kemungkinan besar mereka sangat sehat, paling sedikit pada saat itu.

770295ee - EKARISTIDalam Injil Yohanes kita melihat bahwa orang banyak yang lebih dari 5.000 jumlahnya, yang telah diberi makan oleh Yesus kiranya berada dalam kondisi fisik yang sehat. Walaupun mereka telah dikenyangkan dengan roti yang telah dilipatgandakan oleh Yesus bagi mereka, mereka belum juga merasa puas. Mereka menginginkan lebih. Yesus harus pergi dengan diam-diam, namun mereka mengikuti Dia ke seberang danau ke kota yang bernama Kapernaum.

Di sana Yesus memaparkan kebenaran kepada orang banyak itu. Pada dasarnya apa yang dikatakan Yesus adalah sebagai berikut: “Kamu semua merasa lapar secara fisik, namun kamu sebenarnya tidak sungguh-sungguh lapar. Rasa lapar spiritual-lah yang membuat perbedaan sesungguhnya dalam hidupmu! Kamu tidak boleh bekerja untuk makanan yang dapat binasa, namun untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang telah dimeteraikan Allah Bapa” (lihat Yoh 6:27-28). Ini adalah pernyataan keras yang dibuat oleh Yesus. Apabila kita (anda dan saya) ingin menjadi lebih daripada sekadar “daging”, jika  kita ingin diperhitungkan sebagai seorang pribadi yang sungguh, maka kita harus merasa lapar akan makanan sejati yang ditawarkan oleh Allah.

Sejak saat Yesus membuat pernyataan keras seperti ini dalam Injil, maka anda dan saya mengetahui bagaimana mengukur kondisi kita, kemajuan kita, atau tingkat kesehatan kita masing-masing sebagai seorang pribadi manusia. Kita diukur dengan rasa lapar yang kita miliki akan karunia Allah yang paling pribadi bagi kita, yaitu rasa lapar kita akan Putera-Nya yang tunggal: Yesus. Dalam lingkaran ilahi, keluarga ilahi, semakin kita sungguh-sungguh merasa lapar untuk secara pribadi dipersatukan dengan Yesus, maka semakin efektiflah Roti Ekaristi yang kita terima dalam perayaan Ekaristi. Semakin dalam pengalaman kita akan Tuhan Yesus dalam Komuni Kudus, maka semakin kuat pula iman kita jadinya, dan semakin seringpula kita mencari Yesus sang Roti Kehidupan.

DOA: Bapa surgawi, oleh Roh Kudus-Mu buatlah agar dari hari ke hari kami semakin merasa lapar untuk secara pribadi dipersatukan dengan Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus. Terpujilah Allah Tritunggal Mahakudus, Bapa dan Putera dan Roh Kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:22-29), bacalah tulisan yang berjudul “PERCAYA KEPADA DIA YANG TELAH DIUTUS ALLAH” (bacaan tanggal 11-4-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-04 BACAAN HARIAN APRIL 2016. 

Cilandak, 7 April 2016  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PETRUS SEBAGAI MODEL BAGI SEMUA ORANG PERCAYA

PETRUS SEBAGAI MODEL BAGI SEMUA ORANG PERCAYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH III – 10 April 2016)

153 EKOR IKAN LHOKemudian Yesus menampakkan diri lagi kepada murid-murid-Nya di pantai Danau Tiberias dan Ia menampakkan diri sebagai berikut. Di pantai itu berkumpul Simon Petrus, Tomas yang disebut Didimus, Natanael dari Kana yang di Galilea, anak-anak Zebedeus dan dua orang murid-Nya yang lain. Kata Simon Petrus kepada mereka, “Aku mau pergi menangkap ikan.” Kata mereka kepadanya, “Kami  pergi juga dengan engkau.” Mereka berangkat lalu naik ke perahu, tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa. Ketika hari mulai siang, Yesus berdiri di pantai, akan tetapi murid-murid itu tidak tahu bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepada mereka, “Hai anak-anak, apakah kamu punya ikan?’ Jawab mereka, “Tidak.”  Lalu kata Yesus kepada mereka, “Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka kamu akan mendapatnya.” Mereka pun menebarkannya dan mereka tidak dapat menariknya lagi karena banyaknya ikan. Lalu murid yang dikasihi Yesus itu berkata kepada Petrus, “Itu Tuhan.” Ketika Petrus mendengar bahwa itu adalah Tuhan, maka ia mengenakan pakaiannya, sebab ia tidak berpakaian, lalu terjun ke dalam danau. Kemudian murid-murid yang lain datang dengan perahu karena mereka tidak jauh dari darat, hanya kira-kira seratus meter saja dan mereka menarik jala yang penuh ikan itu. Ketika mereka tiba di darat, mereka melihat api dan arang dan di atasnya ikan dan roti. Kata Yesus kepada mereka, “Bawalah beberapa ikan, yang baru kamu tangkap itu. Simon Petrus naik ke perahu lalu menarik jala itu ke darat, penuh ikan-ikan besar: Seratus lima puluh tiga ekor banyaknya, dan sungguh pun sebanyak itu, jala itu tidak koyak. Kata Yesus kepada mereka, “Marilah dan sarapanlah.” Tidak ada di antara murid-murid itu yang berani bertanya kepada-Nya, “Siapakah Engkau?” Sebab mereka tahu bahwa Ia adalah Tuhan. Yesus maju ke depan, mengambil roti dan memberikannya kepada mereka, demikian juga ikan itu. Itulah ketiga kalinya Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya sesudah Ia dibangkitkan dari antara orang mati.

Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus, “Simon, anak Yohanes (Bar Yona), apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini? Jawab Petrus kepada-Nya, “Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Peliharalah anak-anak domba-Ku.”  Kata Yesus lagi kepadanya untuk kedua kalinya, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Jawab Petrus kepada-Nya, “Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Petrus pun merasa sedih karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya, “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya, “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Peliharalah domba-domba-Ku. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi kalau engkau sudah tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat tidak kaukehendaki.” Hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus, “Ikutlah Aku.” (Yoh 21:1-19)

Bacaan Pertama: Kis 5:27-32,40-41; Mazmur Tanggapan: Mzm 30:2,4-6,11-13; Bacaan Injil Alternatif: Yoh 21:1-14

PETER RESTOREDBacaan Injil di atas mencatat bahwa Petrus merasa sedih karena Yesus berkata  kepadanya untuk ketiga kalinya, “Apakah engkau mengasihi Aku?” (Yoh 21:17). Tentu pertanyaan sama yang diajukan Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya mengingatkan Petrus akan penyangkalannya terhadap sang Guru, sebelum Ia wafat di kayu salib. Sebanyak tiga kali pula Yesus memerintahkan Petrus untuk menggembalakan domba-domba-Nya, setelah murid itu menyatakan kasihnya kepada Yesus. Hal ini memang merupakan suatu kebenaran yang tidak dapat disangkal, karena bagaimana seorang gembala (misalnya Paus, Uskup atau imam paroki) mengasihi umat yang dipercayakan kepadanya apabila pada instansi pertama dia tidak mengasihi Yesus Kristus, sang Gembala Agung?

Sekilas lintas memang kelihatan ironis bahwa Yesus memilih murid yang kasar, tidak sabar dan agak “gerabak-gerubuk” ini untuk memelihara domba-domba-Nya (Yoh 21:15-17). Namun demikian, Petrus adalah jelas seorang pribadi yang memiliki iman. Ketika banyak murid meninggalkan Yesus di Galilea karena ajaran-Nya yang sulit tentang tubuh dan darah-Nya, Ia bertanya kepada kedua belas murid-Nya (rasul-rasul), “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” (Yoh 6:67). Atas nama keduabelas murid, Petrus menjawab, “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Engkau memiliki perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu bahwa Engkaulah Yang Kudus dari Allah” (Yoh 6:68-69). Demikian pula dalam peristiwa berbeda yang terjadi di daerah Kaisarea Filipi, yaitu ketika Yesus bertanya kepada para murid-Nya, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?”, Simon Petrus menjawab, “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Mat16:16).

Kelemahan-kelemahan pribadi Petrus – yang didokumentasikan dengan baik teristimewa dalam keempat kitab Injil – seringkali menjadi masalah bagi Yesus. Misalnya, ketika Petrus menarik Yesus ke samping dan mulai menegur Dia dengan keras karena Dia mengatakan bahwa diri-Nya harus menderita dan mati, maka Yesus menegur Petrus dengan keras juga: “Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia” (Mrk 8:31-33). Kelemahan-kelemahan sangat manusiawi dari Petrus mencegah dirinya memberikan pelayanan sepenuhnya kepada Tuhan Yesus justru pada saat-saat yang sangat dibutuhkan oleh-Nya. Petrus tertidur selagi Yesus berdoa di taman Getsemani (Mrk 14:37), dan ia menyangkal mengenal Yesus di depan umum (Mrk 14:66-72).

Melalui pengalaman-pengalaman “pahit” seperti inilah Petrus belajar betapa mendalam kebutuhannya untuk menggantungkan diri sepenuhnya pada rahmat Allah. Sebagai akibatnya, hatinya disiapkan untuk menerima Roh Kudus pada hari Pentakosta Kristiani yang pertama. Pada akhirnya, Petrus mengatur penyebaran Injil kepada orang-orang non-Yahudi (lihat Kis 10:34-48). Sementara kita merenungkan iman-heroik dari Petrus, maka penting dan menghibur hatilah apabila kita mengingat bahwa Petrus bertumbuh sebagai seorang pengikut Yesus. Petrus bukan seorang Kristiani saleh sejak lahir dan kehebatan imannya juga tidak datang secara sekaligus.

Yesus meninggikan Petrus sebagai “model” untuk semua orang percaya. Petrus membiarkan hidupnya mengecil sehingga dengan demikian Yesus dapat menjadi besar. Petrus adalah seorang manusia, seperti kita semua. Pertumbuhan iman Petrus menjadi “model” yang memberi semangat bagi kita yang hidup pada zaman modern. Oleh karena itu, marilah kita memohon kepada Tuhan Allah untuk membentuk karakter dalam diri kita selagi kita mempersiapkan diri kita untuk menerima Roh-Nya pada hari Pentakosta.

DOA: Bapa surgawi, bukalah hati kami bagi Roh-Mu. Kami adalah bejana-bejana yang tidak sempurna, bahkan kami tidak pantas untuk menjadi anak-anak-Mu. Namun demikian, melalui rahmat-Mu Engkau telah menyelamatkan kami dan membuat kami semua menjadi milik-Mu sendiri. Berdayakanlah kami agar dapat menjadi saksi-saksi kasih-Mu kepada dunia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 21:1-19), bacalah tulisan yang berjudul “KITA JUGA DITRANSFORMASIKAN SECARA BERTAHAP” (bacaan tanggal 10-4-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-04 BACAAN HARIAN APRIL 2016.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-4-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 6 April 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS