KIDUNG MARIA

KIDUNG MARIA

(Bacaan Injil Misa Kudus – HARI RAYA SP MARIA DIANGKAT KE SURGA – Minggu, 14 Agustus 2016)

Assumption-of-Mary

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan bergegas menuju sebuah kota di pegunungan Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.”

Lalu kata Maria, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan kuduslah nama-Nya. Rahmat-Nya turun-menurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.” Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya. (Luk 1:39-56) 

Bacaan Pertama: Why 11:19;12:1,3-6,10; Mazmur Tanggapan: Mzm 45:10-12,16; Bacaan Kedua: 1Kor 15:20-26

Pada hari ini Gereja merayakan HARI RAYA SP MARIA DIANGKAT KE SURGA. Perayaan ini sudah ada dalam Gereja sejak abad ke-6; barangkali dibawa masuk ke Roma oleh pada rahib Timur yang melarikan diri dari penyerbuan Persia. Di Gereja Timur perayaan ini didahului oleh puasa selama dua pekan (Untuk uraian lengkap, lihat: Christopher O’Donnell, O.Carm., AT WORSHIP WITH MARY – A Pastoral and Theological Study, Wilmington, Delaware: Michael Glazier, 1988, hal. 129-147). Bacaan Injil untuk perayaan ini adalah cerita tentang kunjungan Maria kepada Elisabet, termasuk Kidung Maria.

Champaigne_visitationKidung Maria adalah sebuah doa iman, seperti Maria sendiri adalah “model iman dan doa” bagi kita semua. Elisabet meneguhkan ini ketika dia digerakkan oleh Roh Kudus untuk berseru, “Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana” (Luk 1:45). Kepercayaan Maria pada Allah akhirnya dipenuhi dalam peristiwa yang kita rayakan pada hari ini. Peristiwa Maria diangkat ke surga merupakan peristiwa agung dalam kehidupan perempuan yang rendah hati, penuh kepercayaan dan seorang pendoa itu.

Magnificat – kidung pujian Maria dalam menanggapi sapaan Elisabet – menunjukkan kepada kita beberapa prinsip bagi doa-doa yang kita panjatkan. Doa Maria ini barangkali merupakan doa yang paling dipenuhi kerendahan hati, seperti termuat dalam Kitab Suci. Dalam Magnificat, Maria mengakui kebenaran tentang siapa Allah itu dan siapa Maria di hadapan Allah. Katekismus Gereja Katolik mengajarkan kepada kita bahwa “kerendahan hati adalah dasar doa” (KGK, 2559). Pasti kerendahan hati menjadi fondasi dari Kidung Maria ini, ketika dia mengakui bahwa Allah “telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya … karena yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku”  (Luk 1:48.49).

Doa Maria ini pun merupakan sebuah doa yang mencerminkan iman-kepercayaan seseorang yang sangat mendalam. Maria mempercayai apa yang akan dilakukan oleh Allah baginya. Sepanjang hidupnya Maria tetap penuh percaya pada kerahiman dan kebaikan hati Allah (lihat Luk 1:50). Dia percaya bahwa Allah akan meninggikan orang-orang yang rendah dalam dunia ini dan Dia akan setia pada segala janji-Nya (Luk 1:52-53.55). Kidung Maria merupakan sebuah contoh indah tentang kenyataan bahwa kita tidak perlu melakukan perbuatan-perbuatan besar di mata publik untuk menyenangkan Allah atau menguraikan secara terinci suatu isu teologis yang mendalam. Dengan mengikuti teladan Maria dalam mengasihi Allah, mempercayai Dia dan dengan rendah hati berjalan dalam kehadiran-Nya, kita semua pun dapat menyenangkan Allah.

Selagi anda datang menghadap Tuhan setiap hari dalam doa pribadi, cobalah untuk mengingat contoh kerendahan hati dan iman-kepercayaan Bunda Maria. Bersama dia dan dalam kuasa Roh Kudus, kita pun akan mampu mendeklarasikan bahwa, “Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan kuduslah nama-Nya” (Luk 1:49).

DOA: Bapa surgawi, Engkau telah mengangkat puteri-Mu Maria ke surga. Tolonglah aku untuk menghadap-Mu dalam kerendahan hati dan rasa percaya yang penuh cintakasih, seperti yang telah ditunjukkan oleh Bunda Maria. Oleh kuasa Roh-Mu, penuhi diriku dengan kedalaman iman sebagaimana dimiliki Bunda Maria. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 1:39-56),  bacalah tulisan yang berjudul “JIWAKU MEMULIAKAN TUHAN” (bacaan tanggal 14-8-16), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2016.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 16-8-15 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 11 Agustus 2016 [Pesta S. Klara dr Assisi, Perawan]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

IA ADALAH BAPA KITA

IA ADALAH BAPA KITA

Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIX – Sabtu, 13 Agustus 2016) 

YESUS DAN ANAK-ANAK - MENGASIHI ANAK-ANAKLalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia meletakkan tangan-Nya di atas mereka dan mendoakan mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. Tetapi Yesus berkata, “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang punya Kerajaan Surga.” Lalu Ia meletakkan tangan-Nya di atas mereka dan kemudian Ia berangkat dari situ. (Mat 19:13-15) 

Bacaan Pertama: Yeh 18:1-10,13b,30-32; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:12-15,18-19

Secara universal, anak-anak kecil senang sekali kalau dipeluk, digendong dll. Mereka senang disentuh dengan penuh kasih sayang. Menarik, para ilmuwan mengatakan, adalah sesuatu yang penting sekali bagi pengembangan kognitif dan emosional seorang anak untuk menyentuh dan membuat kontak-mata dengan orang-orang lain – untuk menerima afirmasi dari orang lain di dalam hidup mereka.

Jika sebuah gambar atau foto dapat berbicara seribu kata, maka bayangkanlah berapa banyak pesan yang disampaikan oleh satu pandangan sederhana orangtua kepada seorang anak yang sedang memandang mata orangtuanya. Bayangkanlah semua persetujuan, rasa memiliki, bimbingan, afeksi, dan pujian yang dapat dilihat seorang anak selagi ayah atau ibunya memandang dirinya. Seorang anak kecil merasakan kehangatan bahwa dirinya bagian dari orangtuanya bukan karena akte kelahiran atau hasil pencocokan DNA. Semua ini adalah masalah cintakasih, afeksi, dan perlindungan yang diberikan orangtuanya kepada dirinya.

Pengamatan-pengamatan atas cara bekerja suatu “relasi orangtua & anak yang sehat” ini dapat banyak mengajar kita tentang relasi kita dengan Allah. Allah, sang Khalik langit dan bumi, adalah Bapa kita … bukan saja karena Dia menciptakan kita menurut gambar dan rupa-Nya, melainkan juga karena Dia begitu mengasihi kita memutuskan untuk menebus kita dalam Kristus. Ia adalah Bapa surgawi dari kita semua karena Dia sangat senang memandang kita dengan penuh cintakasih. Ini adalah salah satu alasan mengapa Yesus mendorong kita untuk datang kepada Bapa-Nya sebagai anak-anak kecil. Yesus ingin agar kita dapat mengalami martabat, kasih, dan janji dengan mana Allah memandang kita hari lepas hari.

Yesus meletakkan tangan-Nya di atas anak-anak itu (Mat 19:15). Demikian pula halnya dengan Bapa surgawi; Dia ingin menyentuh kita di bagian terdalam hati kita. Oleh karena itu dalam doa kita pada hari ini, marilah kita bertanya bagaimana Allah bergerak  dalam hati kita, menghangatkan kita dan meyakinkan kita tentang segalanya yang disediakan-Nya bagi kita. Marilah kita membayangkan Allah memandang mata kita dan berkata bahwa Dia sungguh sangat mengasihi kita dan bahwa kita (anda dan saya) adalah milik-Nya. Marilah kita membayangkan Bapa surgawi memeluk kita dan memberkati kita, mendorong kita untuk melayani dengan penuh kasih orang-orang yang ada di sekeliling kita. Marilah kita merentangkan tangan dan membuka hati kita bagi Bapa surgawi pada hari ini. Perkenankanlah Dia melayani kita dengan kasih sejati dan afeksi-Nya.

DOA: Bapa, ini aku. Aku mengasihi-Mu dan aku sangat membutuhkan Engkau. Bersediakah Engkau diam bersamaku sepanjang hari ini? Aku sungguh ingin bersama-Mu pada hari ini, dan hari-hari selanjutnya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 19:13-15), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS DAN ANAK-ANAK” (bacaan tanggal 13-8-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 15-8-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 11 Agustus 2016 [Pesta S. Klara dr Assisi, Perawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MENGASIHI ANDA

YESUS MENGASIHI ANDA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIX – Jumat, 12 Agustus 2016) 

stdas0730Lalu datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya, “Apakah diperbolehkan orang menceraikan istrinya dengan alasan apa saja?” Jawab Yesus, “Tidakkah kamu baca bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Lagi pula Ia berfirman: Karena itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan dua lagi, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Kata mereka kepada-Nya, “Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan istrinya?” Kata Yesus kepada mereka, “Karena kekerasan hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan istrimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian. Tetapi Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang menceraikan istrinya, kecuali karena zina, lalu kawin dengan perempuan, ia berzina.” Murid-murid itu berkata kepada-Nya, “Jika demikian halnya hubungan antara suami dan istri, lebih baik jangan kawin.” Akan tetapi Ia berkata kepada mereka, “Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja.  Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian atas kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Surga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti.” (Mat 19:3-12) 

Bacaan Pertama: Yeh 16:1-15,60,63 atau Yeh 16:59-63; Mazmur Tanggapan: Yes 12:2-6

“Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Mat 19:6).

Kata-kata yang diucapkan Yesus ini dapat terdengar cukup keras bagi kita, teristimewa bila kita telah mengalami perceraian dengan pasangan hidup kita, atau jika hidup perkawinan seorang anggota keluarga kita atau sahabat kita telah berantakan. Di satu sisi, kita dapat mengatakan bahwa Yesus mengetahui apa yang dikatakan-Nya dan Ia yakin bahwa dalam kuat-kuasa Allah, Ia dapat menyembuhkan, bahkan menyembuhkan perkawinan yang separah apapun juga. Di sisi lain, pengalaman mengatakan kepada kita bahwa perceraian adalah suatu realitas traumatis yang dapat meninggalkan luka-luka mendalam dan tahan lama, … kepedihan batin yang bersifat menahun.

Pikirkanlah rasa sakit – luka batin – yang diderita oleh pasutri yang bercerai. Suatu relasi yang dimulai dengan cita-cita tinggi, sukacita, dan optimism telah merosot sampai terjerumus ke dalam penolakan, ketidakpercayaan, kemarahan, dan self-pity. Apa yang dahulu merupakan “satu daging” telah dicabik-cabik, dan hanya meninggalkan luka-luka mendalam tidak hanya dalam diri mantan pasutri tersebut, melainkan juga para anggota yang lain juga. Mereka dapat saja bertanya, bagaimana Yesus tega-teganya “menghukum” mereka tanpa belas kasih?  Jangan salah! Allah tidak mengutus Anak-Nya yang tunggal ke tengah dunia untuk menghukum, melainkan untuk menyelamatkan (lihat Yoh 3:17). Yesus tidak ingin menghancurkan orang-orang dengan sekadar mengatakan kepada mereka apa saja kesalahan mereka.  Yesus ingin bertemu dengan kita di titik mana saja kita sedang berada dalam perjalanan hidup kita dan Ia menawarkan kesembuhan dan pemulihan kepada kita.

Jika anda telah bercerai, ketahuilah bahwa Yesus mengasihi anda, sama seperti sebelumnya. Yesus ikut ambil bagian dalam rasa sakit anda dan menderita bersama anda. Pikirkanlah pertemuannya dengan perempuan Samaria di dekat sumur (Yoh 4:4-42). Yesus tidak menghukum perempuan itu, walaupun ia telah kawin lima kali dan pada waktu itu sedang “hidup bersama” (kumpul kebo) dengan seorang laki-laki yang bukan suaminya. Sebaliknya, Yesus malah menggiring perempuan itu kepada suatu pertobatan sejati, menyembuhkannya, dan mengutusnya kembai ke kampungnya untuk memberitakan kepada orang-orang lain tentang diri-Nya.

Apakah kita berstatus menikah, bercerai atau belum/tidak menikah, kita semua perlu mengenal penyembuhan dari Allah. Bapa surgawi sungguh ingin menyembuhkan luka-luka dalam setiap perkawinan dan juga luka-luka mereka yang terkena dampak perceraian. Yesus ingin memperdamaikan kita, mentransformasikan kita, dan mengguanaan kita untuk memproklamasikan Kerajaan-Nya – siapa pun diri kita atau apa pun kesalahan yang telah kita perbuat di masa lalu. Yesus ingin sekali merangkul kita dan memberikan berkat-Nya kepada kita (lihat Mrk 10:16).

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Tolonglah kami agar dapat mengatasi semua perpecahan dalam keluarga kami masing-masing. Curahkanlah rahmat-Mu kepada setiap keluarga yang telah mengalami perceraian. Sembuhkanlah mereka dan pulihkanlah pengharapan mereka. Biarlah kasih-Mu mengalir ke dalam diri kami semua dan kemudian mengalir ke luar dari diri kami sehingga kami pun dapat menjadi saksi-saksi-Mu kepada dunia di sekeliling kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 19:3-12), bacalah tulisan yang berjudul “HUBUNGAN PERJANJIAN ANTARA ALLAH DAN UMAT-NYA ADALAH CERMINAN PERKAWINAN” (bacaan tanggal 12-8-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2016. 

Cilandak, 11 Agustus 2016 [Peringatan S. Klara dr Assisi, Perawan]  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TUJUH PULUH KALI TUJUH KALI

TUJUH PULUH KALI TUJUH KALI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Klara, Perawan – Kamis, 11 Agustus 2016)

Keluarga Fransiskan: Pesta S. Klara dari Assisi, Perawan 

PERUMPAMAAN - PENGAMPUNAN MAT 18 21 DST 001Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus berkata kepadanya, “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Sebab hal Kerajaan Surga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak istrinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. Lalu sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunasi. Tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.

Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! Lalu sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunasi. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai ia melunasi hutangnya.

Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Kemudian raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohon kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Tuannya itu pun marah dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunasi seluruh hutangnya.

Demikian juga yang akan diperbuat oleh Bapa-Ku yang di surga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.”

Setelah Yesus mengakhiri perkataan itu, berangkatlah Ia dari Galilea dan tiba di daerah Yudea yang di seberang Sungai Yordan. (Mat 18:21-19:1) 

Bacaan Pertama: Yeh 12:1-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 78:56-59,61-62

“Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali”  (Mat 18:22).

Karena Allah itu Mahasempurna, maka pengampunan-Nya bersifat langsung dan permanen. Sayangnya, tidak demikian halnya dengan kita! Karena kita adalah manusia dan jauh dari sempurna, maka pengampunan dapat menjadi sangat sulit bagi kita. Barangkali itulah sebabnya mengapa Yesus mengatakan kepada Petrus bahwa dia harus mengampuni sebanyak tujuh puluh kali tujuh kali.

Pikirkanlah hal berikut ini: Jika dapat mencapai rekonsiliasi dengan orang yang bersalah kepada kita setelah dua atau tiga kali bertemu, maka relasi-relasi dengan sesame kita akan jauh lebih mudah dipelihara. Bukankah begitu?

Mengampuni seseorang yang telah melukai hati kita seringkali merupakan sebuah proses yang berjalan secara bertahap. Misalnya, kita dapat saja mengampuni seseorang pada awalnya, namun beberapa hari kemudian kita menjadi marah dan kesal lagi. Dalam hal ini kita harus “mendirikan kembali bangunan” pengampunan kita. Ada juga kasus-kasus lain di mana kita sudah mengampuni, namun kita tidak mau lagi berada dekat orang itu. Akan tetapi, dengan berjalannya waktu (dalam bilangan jam, hari, atau pekan) kita secara perlahan-lahan mampu untuk let go sakit hati kita sehingga kita pun dapat berinteraksi lagi dengan orang tersebut. Situasi apapun yang kita hadapi, hal yang terpenting adalah senantiasa mengambil langkah maju, bukan menjauhi pengampunan yang lengkap dalam setiap situasi.

Apakah kiranya hal-hal yang perlu kita (anda dan saya) lalukan untuk mengambil langkah selanjutnya dalam mengupayakan rekonsiliasi dengan orang lain? Yang pertama, berdoalah untuk orang itu. Marilah kita membayangkan bahwa kita sudah berdamai dengan orang itu. Kedua, marilah kita mengambil keputusan untuk mengampuni, dan terus membuat keputusan itu jika memang diperlukan. Kita harus ingat –seturut sabda Yesus – karena mungkin saja kita benar-benar butuh melakukan ini sebanyak 30, 50 atau 70 kali; dan hal itu oke, oke saja. Ketiga, marilah kita melihat bahwa Yesus mengasihi orang itu seperti Dia juga mengasihi kita masing-masing. Jika kita menjadi lebih merasa pahit atau marah, hal itu berarti bahwa kita membutuhkan waktu yang lebih banyak/lama lagi. Yang penting, kita harus terus mengampuni dalam hati kita sebaik-baiknya seturut kemampuan kita, dan memohon kepada Yesus untuk menolong kita.

Saudari dan Saudaraku, apapun yang kita lakukan, kita tidak boleh menyerah. Yesus pasti akan memberkati sekecil apapun langkah yang kita ambil menuju rekonsiliasi. Di atas segalanya, kita harus ingat bahwa pengampunan bukan tindakan manusiawi semata. Kita membutuhkan rahmat Roh Kudus untuk menolong kita mengampuni orang yang bersalah kepada kita.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau mengampuni setiap dosaku. Sekarang, ya Tuhan, tolonglah diriku agar mau dan mampu mengampuni mereka yang bersalah kepadaku. Dari DOA BAPA KAMI yang Kauajarkan, aku menyadari bahwa bagian dari pertukaran agar dosa-dosaku diampuni adalah persyaratan bahwa aku pun harus mengampuni orang yang bersalah kepadaku (Mat 6:12; lihat juga Mat 6:14-15). Tolonglah agar aku mempraktekkan salah satu Sabda Bahagia yang Kaudeklarasikan: “Berbahagialah orang yang berbelaskasihan, karena mereka akan beroleh belas kasihan” (Mat 5:7). Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 18:21-19:1), bacalah tulisan dengan judul “MENGAMPUNI DENGAN SEGENAP HATI” (bacaan tanggal 11-8-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-8-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 8 Agustus 2015 [Peringatan S. Dominikus] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DISALIBKAN DENGAN KRISTUS

DISALIBKAN DENGAN KRISTUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, PESTA S. LAURENSIUS, DIAKON-MARTIR – Rabu, 10 Agustus 2016)

 martyrdom-of-st-lawrence

Sesungguhnya Aku berkata berkata kepadamu: Jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. Siapa saja yang mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi siapa saja yang membenci nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal. Siapa saja yang melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada. Siapa saja yang melayani Aku, ia akan dihormati Bapa. (Yoh 12:24-26) 

Bacaan Pertama: 2Kor 9:6-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 112:1-2,5-9

Pada hari ini Gereja merayakan pesta Santo Laurensius, seorang diakon Gereja Roma yang mati sebagai martir pada masa penindasan Kaisar Valerian. Pada waktu pejabat bawahan Valerian menuntut agar Laurensius menyerahkan kepadanya harta kekayaan, Laurensius malah mengumpulkan banyak sekali orang miskin yang didukung oleh Gereja. Laurensius berkata: “Inilah harta kekayaan dari Gereja.” Pejabat tersebut menjadi marah sekali, lalu menangkapnya. Laurensius diikat pada alat pemanggang, kemudian dibakar hidup-hidup.

Cerita yang menyentuh dari para martir Gereja di segala zaman adalah contoh dari sabda Yesus: “Jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah” (Yoh 12:24). Di satu sisi Yesus membuat acuan terselubung kepada kematian dan kebangkitan-Nya, akan tetapi Dia juga berbicara  untuk kematian macam apa sebenarnya Dia memanggil semua pengikut-Nya – suatu kematian yang memampukan Laurensius untuk mempersembahkan hidupnya secara penuh bagi/demi umat Allah.

Jika kita sungguh ingin berbuah untuk Tuhan, maka “kulit luar” dari kodrat kita yang cenderung berdosa harus dibuat menjadi mati. Syukurlah, hal ini terjadi pada saat kita dibaptis (lihat Rm 6:4). Kodrat kita yang lama, yang diperbudak oleh dosa, disalibkan bersama Kristus, dan kita menerima  benih dari suatu hidup yang keseluruhannya baru. Kita menjadi “ciptaan baru”! Sekarang, setiap hari, kita dapat mengidentifikasikan diri kita sebagai mati terhadap dosa dan hidup bagi Allah. Setiap hari kita dapat “mati” dengan Yesus dan diberdayakan untuk menghasilkan buah Kerajaan-Nya: “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (Gal 5:22-23).

Selagi kita mendeklarasikan: “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal 2:19-20), maka kita akan mulai mengambil oper secara sedikit demi sedikit karakter Yesus sendiri. Kita akan memiliki bela rasa terhadap orang-orang miskin di sekeliling kita dan membutuhkan pertolongan karena kita memahami bela rasa Yesus bagi kita. Kita akan menginginkan memberikan hidup kita untuk melayani orang-orang yang menanggung beban hidup dan menderita, sebagaimana Yesus menyerahkan diri-Nya sendiri sebagai kurban persembahan guna menebus dosa-dosa dan membebaskan kita dari maut.

Saudari dan Saudaraku, pada hari ini – malah setiap hari – marilah kita memohon kepada Roh Kudus untuk menunjukkan kepada kita kuat-kuasa dari salib Kristus, sehingga dengan demikian kita dapat menjadi pelayan-pelayan yang rendah hati dari pencurahan rahmat-Nya bagi dunia.

DOA: Tuhan Yesus, biarlah diriku ditanam ke dalam kematian-Mu, sehingga dengan demikian aku dapat menghasilkan buah bagi-Mu. Buatlah aku menjadi alat rahmat-Mu, agar semua orang yang miskin – baik secara spiritual maupun fisik – dapat menemukan hidup baru dalam Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 12:24-26), bacalah tulisan yang berjudul “BIJI GANDUM YANG JATUH KE DALAM TANAH DAN MATI” (bacaan tanggal 10-8-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-8-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 8 Agustus 2016 [Peringatan S. Dominikus, Imam]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KERENDAHAN HATI, KETERGANTUNGAN DAN KEPERCAYAAN

KERENDAHAN HATI, KETERGANTUNGAN DAN KEPERCAYAAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIX – Selasa, 9 Agustus 2016) 

YESUS DAN ANAK-ANAK - JESUS WITH LITTLE ONEPada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya, “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?” Lalu Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka dan berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sedangkan siapa saja yang merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Siapa saja yang menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.”

“Ingatlah, jangan menganggap rendah salah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di surga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di surga.”

“Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu daripada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. Demikan juga Bapamu yang di surga tidak menghendaki salah seorang dari anak-anak ini hilang.” (Mat 18:1-5,10,12-14) 

Bacaan Pertama: Yeh 2:8-3:4; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:14,24,72,103,111,131

Para murid bertanya kepada Yesus, siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga? Lalu Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka dan berkata: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga” (Mat 18:3).

Pertanyaan para murid tadi adalah: “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?” (Mat 18:1), dan pertanyaan yang diajukan oleh mereka ini kepada Yesus menunjukkan bahwa para murid tersebut tidak tahu apa sesungguhnya Kerajaan Surga itu. Yesus berkata: “Jika kamu tidak …” Di sini Yesus memperingatkan para murid bahwa mereka sedang menuju arah yang sepenuhnya salah, semakin jauh dari Kerajaan Surga dan bukan semakin dekat dalam perjalanan menuju Kerajaan Surga.

Dalam kehidupan seorang manusia, ini semua adalah pertanyaan mengenai apa sasaran yang ingin dicapai olehnya. Jika dia bertujuan untuk memenuhi/memuaskan ambisi pribadi, perolehan kekuasaan pribadi, kenikmatan prestise pribadi, peninggian diri, maka sebenarnya dia sedang menuju sasaran yang justru berlawanan dengan Kerajaan Surga. Mengapa? Karena untuk menjadi seorang warga Kerajaan Surga berarti seseorang harus secara lengkap melupakan kepentingan dirinya sendiri, “kehilangan” diri sendiri, menjalani hidup pelayanan bagi orang-orang lain yang membutuhkan pertolongan, dan bukan hidup yang mengejar-ngejar kekuasaan, status sosial dan sejenisnya. Selama seseorang masih mempertimbangkan dirinya sendiri dengan segala kepentingannya sebagai hal yang paling penting dalam dunia, maka sebenarnya dia membelakangi Kerajaan Surga. Jikalau dia sungguh ingin sampai ke dalam Kerajaan Surga, maka dia harus berbalik ke arah yang berlawanan.

Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka (Mat 18:2). Ada tradisi dalam Gereja bahwa anak kecil itu kelak dikenal sebagai Ignasius dari Antiokia [+110; uskup], seorang pelayan Gereja yang besar, seorang penulis besar, dan akhirnya seorang martir Kristus. Ignasius dinamakan juga Theophoros, yang berarti dibawa/dipangku oleh Allah, dan tradisi itu bertumbuh bahwa dia menerima nama itu karena Yesus memangkunya. Kita memang tidak pernah tahu kejadian sebenarnya.

Pada dasarnya Yesus mengatakan bahwa dalam diri seorang anak kita melihat karakteristik-karakteristik yang harus menandakan seorang warga Kerajaan Surga. Ada banyak karakteristik yang indah dalam diri seorang anak – kepolosan dirinya, kemampuannya untuk mengampuni dan melupakan walaupun diperlakukan dengan tidak adil oleh orang-orang dewasa (termasuk orangtuanya sendiri) dlsb. Yesus tentu memikirkan hal-hal baik dari anak-anak kecil ini, namun semua itu bukanlah yang utama dalam pikiran-Nya. Seorang anak memiliki tiga kualitas hebat yang membuatnya menjadi simbol dari orang-orang yang menjadi warga Kerajaan Surga.

Pertama-tama, kualitas yang merupakan kunci dari seluruh bacaan Injil hari ini, yaitu kerendahan hati atau humilitas (Inggris: humility). Seorang anak tidak mempunyai keinginan untuk mendorong dirinya ke depan, sebaliknya dia ingin agar “menghilang” ke latar belakang. Ia tidak berkeinginan untuk menjadi orang terkenal, ia lebih berkeinginan untuk ditinggalkan dalam keadaan yang samar-samar saja. Hanya apabila dia bertumbuh menjadi besar dan mulai memasuki dunia penuh persaingan yang hampir selalu tidak sehat – semua berlomba ingin menjadi nomor satu dengan saling menyenggol, saling menjebak dlsb., maka humilitas yang secara instinktual ada pada dirinya ditinggalkan di belakang.

Kedua, adalah ketergantungan si anak. Bagi seorang anak, suatu keadaan ketergantungan sangatlah alamiah. Anak itu tidak pernah berpikir bahwa dia dapat menghadapi hidup ini seorang diri saja. Dia merasa puas bahwa dirinya tergantung pada orang-orang yang mengasihinya, memperhatikannya, dan merawatnya. Apabila seorang manusia dewasa menerima fakta mengenai ketergantungan dirinya akan Allah, maka suatu kekuatan baru dan suatu damai sejahtera baru akan memasuki kehidupannya.

Ketiga, adalah kepercayaan (Inggris: trust) si anak. Anak itu secara instinktual bergantung pada orangtuanya, dan secara instinktual pula dia menaruh kepercayaan pada orangtuanya bahwa kebutuhan-kebutuhannya akan dipenuhi. Ketika kita (anda dan saya) masih menjadi anak-anak kecil, kita tidak dapat membeli makanan dan minuman kita sendiri, atau pakaian kita sendiri, atau memelihara rumah sendiri, namun kita tidak pernah ragu bahwa kita akan diberikan pakaian dan mainan, dan kita dapat tidur di dalam rumah yang hangat-ramah jika kita pulang dari sekolah. Ketika kita masih anak-anak kita melakukan perjalanan jauh tanpa pusing-pusing tentang biayanya dlsb., dan kita tidak pernah ragu bahwa ayah dan ibu kita akan membawa kita ke tempat tujuan dengan aman.

Kerendahan hati (humilitas) seorang anak adalah pola perilaku (Inggris: behavior) seorang Kristiani terhadap sesamanya, dan ketergantungan dan kepercayaannya adalah pola sikap (Inggris: attitude) seorang Kristiani terhadap Allah, Bapa semua orang.

Catatan: Saduran bebas dari William Barclay, THE DAILY STUDY BIBLE – The Gospel of Matthew – Volume 2, Chapters 11-28, hal. 174-176.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami berdiam  dalam persekutuan dengan Allah, hal mana telah hilang karena dosa kami namun kemudian diperbaharui bagi kami melalui kematian-Mu yang penuh kedinaan dan juga kebangkitan-Mu. Melalui persekutuan ini, semoga kami memperoleh kerendahan hati yang Engkau hasrati untuk kami miliki. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 18:1-5,10,12-14), bacalah tulisan yang berjudul “RAHASIANYA TERLETAK PADA YESUS SENDIRI” (bacaan tanggal 9-8-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-8-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 6 Agustus 2016 [Pesta Yesus Menampakkan Kemuliaan-Nya] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TIKET MASUK KE DALAM SURGA

TIKET MASUK KE DALAM SURGA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Dominikus, Pendiri Ordo Pengkhotbah, Imam – Senin, 8 Agustus 2016) 

PETRUS SECARA AJAIB MENEMUKAN KOIN DALAM IKANPada waktu Yesus dan murid-murid-Nya bersama-sama di Galilea, Ia berkata kepada mereka, “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia dan mereka akan membunuh Dia dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan.” Hati murid-murid-Nya itu pun sedih sekali.

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya tiba di Kapernaum datanglah pemungut pajak Bait Allah kepada Petrus dan berkata, “Apakah gurumu tidak membayar pajak sebesar dua dirham itu?” Jawabnya, “Memang membayar.” Ketika Petrus masuk rumah, Yesus mendahuluinya dengan pertanyaan, “Apakah pendapatmu, Simon? Dari siapakah raja-raja dunia ini memungut bea atau pajak? Dari rakyatnya atau dari orang asing?” Jawab Petrus, “Dari orang asing!” Lalu kata Yesus kepadanya, “Jadi, bebaslah rakyatnya. Tetapi supaya jangan kita membuat mereka gusar, pergilah memancing ke danau. Tangkaplah ikan pertama yang kaupancing dan bukalah mulutnya, maka engkau akan menemukan mata uang empat dirham di dalamnya. Ambillah itu dan bayarkanlah kepada mereka, bagi-Ku dan bagimu juga.” (Mat 17:22-27) 

Bacaan Pertama: Yeh 1:2-5,24-2:1a; Mazmur Tanggapan: Mzm 148:1-2,11-14 

Pada zaman Yesus, orang laki-laki di seluruh “dunia” mendukung Bait Suci di Yerusalem dengan cara setiap tahun membayar pajak yang relatif tidak besar jumlahnya (Mat 17:24). Dengan membayar pajak termaksud seseorang diidentifikasikan sebagai seorang anggota dari komunitas Yahudi, walaupun orang itu tidak berpartisipasi dalam ibadat penyembahan di dalam Bait Allah. Jadi, tidak mengherankanlah jika Yesus dan para murid-Nya diharapkan untuk membayar pajak termaksud.

Namun Yesus mempertanyakan asumsi ini. Karena para penguasa dunia tidak membebankan pajak atas diri para sanak-saudaranya, apakah Allah menuntut pembayaran pajak dari anak-anak-Nya? Petrus mempunyai ekspektasi bahwa Yesus – yang telah diakuinya sebagai Anak Allah – akan membayar pajak itu (Mat 16:16). Akan tetapi Petrus sesungguhnya belum memahami sepenuhnya kebebasan yang diberikan oleh Yesus kepada mereka yang ikut ambil bagian dalam martabat-Nya yang bersifat ilahi  sebagai Anak Allah.

Seperti Petrus, sampai berapa sering kita luput melihat keuntungan-keuntungan yang sebenarnya kita dapat peroleh karena posisi kita sebagai anak-anak Allah? Yesus telah membuat diri kita menjadi para pewaris surga bersama diri-Nya. Melalui Yesus kita mempunyai akses kepada Bapa surgawi. Allah sangat senang meluangkan waktu dengan anak-anak-Nya dan melimpah-limpahkan kasih-Nya kepada anak-anak-Nya. Kita tidak perlu membayar apa-apa lagi agar dapat dengan bebas menyembah Dia atau mendengar suara-Nya.

Kontribusi keuangan yang kita buat untuk gereja-gereja bukanlah dimaksudkan sebagai “tiket” tanda masuk kita ke surga. Seharusnya itu mencerminkan rasa syukur kita atas rahmat Allah dan hasrat kita untuk mendukung Gereja dalam karya evangelisasi, pelayanan bagi orang-orang yang membutuhkan, menolong penegakan damai dan keadilan bagi orang-orang yang kurang beruntung (bdk. Ul 10:18).

Sebagaimana Yesus memperhatikan pembayaran pajak Bait Suci a.n. Petrus dan diri-Nya sendiri dengan mukjizat penangkapan seekor ikan (Mat 17:27), Dia juga telah memperhatikan “tiket masuk” kita ke dalam bait surgawi Allah melalui penderitaan sengsara, kematian dan kebangkitan Yesus. Pintu-pintu masuk Kerajaan Allah telah dibuka bagi semua orang oleh Kristus, dan Bapa surgawi sekarang menyambut kita dengan tangan-tangan terbuka.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu untuk kebebasan yang telah Kauberikan kepadaku menghadap hadirat-Mu. Aku mengasihi Engkau, ya Allahku dan aku menggantungkan diri sepenuhnya pada kasih-Mu padaku. Tidak ada seautu pun lainnya yang kuinginkan, selain duduk bersimpuh di hadirat-Mu dan dalam kasih mencurahkan hati kepada-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 17:22-27), bacalah tulisan yang berjudul “SIAPA SEBENARNYA YESUS ITU” (bacaan tanggal 8-8-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-8-14) 

Cilandak, 5 Agustus 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS