SOGOK MENYOGOK DEMI MELESTARIKAN SEBUAH CERITA BOHONG

SOGOK MENYOGOK DEMI MELESTARIKAN SEBUAH CERITA BOHONG

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI SENIN DALAM OKTAF PASKAH – 17 April 2017) 

Mereka segera pergi dari kubur itu, dengan takut dan dengan sukacita yang besar dan berlari cepat-cepat untuk memberitahukannya kepada murid-murid Yesus. Tiba-tiba Yesus menjumpai mereka dan berkata, “Salam bagimu.” Mereka mendekati-Nya dan memeluk kaki-Nya serta menyembah-Nya. Lalu kata Yesus kepada mereka, “Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku.”

Sementara mereka di tengah jalan, datanglah beberapa orang dari penjaga itu ke kota dan memberitahukan segala yang terjadi itu kepada imam-imam kepala. Sesudah berunding dengan tua-tua, mereka mengambil keputusan lalu memberikan sejumlah besar uang kepada serdadu-serdadu itu dan berkata, “Kamu harus mengatakan bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur. Apabila hal ini terdengar oleh gubernur, kami akan berbicara dengan dia, sehingga kamu tidak beroleh kesulitan apa-apa.” Mereka menerima uang itu dan berbuat seperti yang dipesankan kepada mereka. Cerita ini tersebar di antara orang Yahudi sampai sekarang. (Mat 28:8-15) 

Bacaan Pertama: Kis 2:14,22-32; Mazmur Tanggapan: Mzm 16:1-2,5-7,8-11 

Perempuan-perempuan yang datang ke kubur Yesus adalah mereka yang kenal dekat dengan Dia, yaitu Maria Magdalena dan Maria ibu Yakobus (Mrk 28:1; bdk. Mrk 16:1). Mereka datang ke kubur untuk meminyaki jenazah Yesus dengan rempah-rempah (lihat Mrk 16:1). Dalam situasi yang menakutkan, kedua orang perempuan itu berjumpa dengan seorang malaikat Tuhan, yang berkata kepada mereka: “Janganlah kamu takut; sebab aku tahu kamu mencari Yesus yang disalibkan itu. Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya” (Mat 28:5-6). “Kubur yang kosong” juga bukan hal yang diharapkan oleh para serdadu yang ditugaskan menjaga. Para serdadu Romawi yang dikenal berani dalam medan pertempuran, menjadi gentar ketakutan dan menjadi seperti orang-orang mati, gara-gara berhadapan dengan seorang malaikat Tuhan (lihat Mat 28:4). Para rasul sendiri menolak untuk percaya berita ini (lihat Mrk 16:11), meskipun sebelumnya Yesus telah mengatakan kepada mereka bahwa misi-Nya adalah untuk pergi ke Yerusalem di mana Dia akan dihukum mati dan kemudian dibangkitkan (lihat Mat 16:21).

Misteri kebangkitan memang tidak mungkin ditangkap oleh intelek manusia semata. Para imam kepala dan tua-tua Yahudi merekayasa sebuah cerita bohong dan menyogok para serdadu Romawi agar menyebar-luaskan cerita bohong itu (lihat Mat 28:11-15). Sungguh memalukan bagi para pemuka Yahudi untuk “terpaksa” bersekongkol dengan serdadu-serdadu Romawi yang mereka benci. Sampai sekarang cerita bohong itu masih digunakan oleh pihak-pihak tertentu sebagai argumentasi melawan kepercayaan orang Kristiani.

Bagi orang-orang yang percaya, kabar tentang kebangkitan Yesus telah mengubah segalanya. Pada waktu pergi berjalan menuju kubur Yesus pasti kedua perempuan itu masih dikuasai rasa sedih-mendalam yang disebabkan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada hari-hari sebelumnya, namun kemudian mereka kembali dari kubur dengan penuh sukacita, dengan suatu tujuan baru. Bagi umat Kristiani kebangkitan Yesus mengubah segalanya: kesedihan berubah menjadi sukacita; keputus-asaan berubah menjadi pengharapan; ketiadaan tujuan berganti dengan suatu pengetahuan bahwa kita adalah milik Bapa surgawi melalui Yesus. Sebagai orang-orang Kristiani yang telah dibaptis, dalam iman kita disatukan dengan Kristus dalam kematian dan kebangkitan-Nya. Karena Yesus bangkit dari antara orang mati, mengalahkan dosa dan kematian, maka kita ikut ambil bagian dalam hidup kebangkitan.

Misteri-misteri ini hanya akan membawa dampak yang kecil atas kehidupan kita apabila kita mencoba untuk memahaminya dengan hikmat manusia semata. Kita membutuhkan Roh Kudus untuk menjelaskan semua itu kepada kita. Yesus bersabda: “Roh Kudus akan bersaksi tentang Aku” (Yoh 15:26) dan tentunya akan mengajar kita tentang kematian dan kebangkitan Yesus. Dalam hari-hari pada masa Paskah, marilah kita mohon kepada Roh Kebenaran agar mengungkapkan di kedalaman hati kita, misteri dari Yesus Kristus yang mati kayu salib dan bangkit.

DOA: Datanglah Roh Kudus. Bukalah hati dan pikiran kami kepada kebenaran misteri-misteri yang kami rayakan selama masa Paskah. Semoga kebenaran tentang kemenangan Yesus atas kematian memberikan kepada kami harapan dan kekuatan bagi penghayatan hidup Kristiani kami sehari-hari. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 2:14,22-32), bacalah tulisan yang berjudul “KESAKSIAN PETRUS YANG SUDAH DIPENUHI ROH KUDUS” (bacaan tanggal 17-4-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-04 BACAAN HARIAN APRIL 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 28-3-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 16 April 2017 [HARI RAYA PASKAH KEBANGKITAN TUHAN] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

SELAMAT HARI RAYA PASKAH 2017

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus,

SELAMAT HARI RAYA PASKAH 2017 !!!

Cilandak, 16 April 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERTEMU DENGAN YESUS YANG SUDAH BANGKIT

BERTEMU DENGAN YESUS YANG SUDAH BANGKIT

(Bacaan Injil Misa Kudus – HARI MINGGU PASKAH KEBANGKITAN TUHAN, 16 April 2017) 

Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu penutupnya telah diambil dari kubur. Ia berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka, “Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan.” Lalu berangkatlah Petrus dan murid yang lain itu ke kubur. Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat daripada Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur. Ia menjenguk ke dalam, dan melihat kain kafan terletak di tanah; akan tetapi, ia tidak masuk ke dalam. Kemudian datanglah Simon Petrus yang menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kafan terletak di tanah, sedangkan kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kafan itu, tetapi terlipat tersendiri di tempat yang lain. Sesudah itu, masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya. Sebab selama itu mereka belum mengerti isi Kitab Suci yang mengatakan bahwa Ia harus bangkit dari antara orang mati. (Yoh 20:1-9) 

Bacaan Pertama: Kis 10:34a.37-43; Mazmur Tanggapan: Mzm 118:1-2.16-17.22-23; Bacaan Kedua: Kol 3:1-4 atau 1Kor 5:6-8

Selagi kita merayakan Hari Minggu Paskah, marilah kita menyoroti laki-laki pertama yang memasuki kubur Yesus yang sudah kosong. Petrus tentunya melangkah masuk ke dalam kubur dengan perasaan yang bercampur-baur dan hati yang gundah gulana. Mungkin saja ada secercah harapan dalam dirinya bahwa Yesus masih hidup sehingga  masih ada kesempatan untuk rekonsiliasi setelah dia menyangkal-Nya sampai tiga kali.

Melihat kain kafan yang terletak di tanah dan kain peluh yang terlipat tersendiri di tempat yang lain, membuat Petrus teringat pada tindakan-tindakannya yang menyebabkan “nasib” Yesus yang berakhir secara tragis seperti itu. Ada pergumulan (batin) dalam dirinya: “Mula-mula aku omong besar bagaimana aku setia kepada-Nya, namun kemudian aku mengkhianati Dia: aku menyangkal Dia, bahkan sampai tiga kali. Sekarang, jika benar-benar Yesus telah dibangkitkan, aku harus menghadapi Dia. Yesus mengetahui bahwa aku seorang pengecut dan pengkhianat. Maukah Yesus menerimaku kembali?” Sementara pandangan Petrus begitu negatif, lainlah halnya dengan Yesus. Yesus mempunyai suatu cara pendekatan yang berbeda. Yesus melihat hati Petrus yang terdalam dan melihat bahwa ada cintakasih sang murid kepada diri-Nya walaupun dia memiliki kekurangan dan kelemahan sebagai pribadi.

Mari kita coba membayangkan percakapan pertama antara Petrus dan Tuhan Yesus yang telah bangkit. “Mengapa Engkau masih mau bertemu dengan diriku, Tuhan? Aku telah mengkhianatimu!” “Semua sudah berlalu Petrus, itu masa lalu. Aku mengetahui hatimu dan aku mengetahui juga cintakasihmu kepada-Ku. Bila Roh Kudus datang, kamu akan dikuatkan melampaui apa yang kamu dapat bayangkan. Oleh karena itu, tenanglah dan tetaplah hatimu penuh damai. Aku ingin agar engkau menjaga domba-domba-Ku.”

Seperti Petrus, kita semua pun pernah “omong besar” dan membuat pernyataan-pernyataan “hebat” tentang hidup kita atau tentang iman kita. Kita pun semua pernah merasa malu sendiri pada waktu realitas tidak “pas” dengan klaim-klaim kita tersebut. Pastilah kita semua mempunyai – sedikit banyak – sifat Petrus dalam diri kita masing-masing.

Jadi, apa yang harus kita (anda dan saya) lakukan ketika kita bertemu dengan Yesus yang sudah bangkit pada hari Minggu Paskah ini? Pertama-tama, marilah kita membuang pandangan-pandangan negatif kita atas diri kita sendiri. Bukankah Paulus telah menulis dengan jelas keyakinannya: “Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” (Rm 8:31). Kedua, marilah kita mendengarkan Yesus ketika Dia mengatakan kepada kita bahwa Dia mengetahui betapa dalam kita mengasihi-Nya. Marilah kita memperkenankan kata-kata penuh kasih dari Yesus ini untuk menggerakkan kita melangkah ke tengah dunia untuk ikut serta memelihara domba-domba-Nya. Semoga berkat Allah senantiasa menyertai anda sekalian, teristimewa pada hari Paskah ini.

DOA: Segala puji syukur kuhaturkan kepada-Mu, ya Tuhan Yesus. Engkau telah mengalahkan dosa dan maut. Segala puji syukur bagi-Mu, ya Putera Allah, karena Engkau telah mengangkat diriku untuk berada bersama-Mu sepanjang segala masa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 20:1-9), bacalah tulisan yang berjudul “PASKAH: KEBANGKITAN YESUS KRISTUS” (bacaan tanggal 16-4-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-04 BACAAN HARIAN APRIL 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 27-3-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  15 April 2017 [HARI SABTU SUCI] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFSIT

BERJAGA-JAGA MENANTIKAN PEMBEBASAN KITA

BERJAGA-JAGA MENANTIKAN PEMBEBASAN KITA

(Bacaan Perjanjian Lama Misa Kudus, TRI HARI PASKAH: MALAM PASKAH – Sabtu, 15 April 2017)

Berfirmanlah TUHAN (YHWH) kepada Musa: “Mengapakah engkau berseru-seru demikian kepada-Ku? Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka berangkat. Dan engkau, angkatlah tongkatmu dan ulurkanlah tanganmu ke atas laut dan belahlah airnya, sehingga orang Israel akan berjalan dari tengah-tengah laut di tempat kering. Tetapi sungguh Aku akan mengeraskan hati orang Mesir, sehingga mereka menyusul orang Israel, dan terhadap Firaun dan seluruh pasukannya, keretanya dan orangnya yang berkuda, Aku akan memperlihatkan kemuliaan-Ku terhadap Firaun, keretanya dan orangnya yang berkuda.”

Kemudian bergeraklah Malaikat Allah, yang tadinya berjalan di depan tentara Israel, lalu berjalan di belakang mereka; dan tiang awan itu bergerak dari depan mereka, lalu berdiri di belakang mereka. Demikianlah tiang itu berdiri di antara tentara orang Israel; dan oleh karena awan itu menimbulkan kegelapan, maka malam itu lewat, sehingga yang satu tidak dapat mendekati yang lain, semalam-malaman itu.

Lalu Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, dan semalam-malaman itu YHWH menguakkan air laut dengan perantaraan angin timur yang keras, membuat laut itu menjadi tanah kering; maka terbelahlah air itu. Demikianlah orang Israel berjalan dari tengah-tengah laut di tempat kering; sedang dikiri dan di kanan mereka air itu sebagai tembok bagi mereka.

Orang Mesir mengejar dan menyusul mereka – segala kuda Firaun, keretanya dan orangnya yang berkuda – sampai ke tengah-tengah laut. Dan pada waktu jaga pagi, YHWH yang di dalam tiang api dan awan itu memandang kepada tentara orang Mesir itu. Ia membuat roda keretanya berjalan miring dan maju dengan berat, sehingga orang Mesir berkat: “Marilah kita lari meninggalkan orang Israel, sebab YHWH-lah yang berperang untuk mereka melawan Mesir.”

Berfirmanlah YHWH kepada Musa: “Ulurkanlah tanganmu ke atas laut, supaya air berbalik meliputi orang Mesir, meliputi kereta mereka dan orang-orang mereka yang berkuda.” Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, maka menjelang pagi berbaliklah air laut ke tempatnya, sedang orang Mesir lari menuju air itu; demikianlah YHWH mencampakkan orang Mesir ke tengah-tengah laut. Berbaliklah segala air itu, lalu menutupi kereta dan orang berkuda dari seluruh pasukan Firaun, yang telah menyusul orang Israel itu ke laut; seorang pun tidak ada yang tinggal dari mereka. Tetapi orang Israel berjalan di tempat kering dari tengah-tengah laut, sedang di kiri dan di kanan mereka air itu sebagai tembok bagi mereka. Demikianlah pada hari itu YHWH menyelamatkan orang Israel dari tangan orang Mesir. Dan orang Israel melihat orang Mesir mati terhantar di pantai laut. Ketika dilihat oleh orang Israel, betapa besarnya perbuatan yang dilakukan YHWH terhadap orang Mesir, maka takutlah bangsa itu kepada YHWH dan mereka percaya kepada YHWH dan kepada Musa, hamba-Nya itu.

Pada waktu itu Musa bersama-sama dengan orang Israel menyanyikan nyanyian ini bagi ini bagi YHWH yang berbunyi: “Baiklah aku menyanyi bagi YHWH, sebagai Ia tinggi luhur, kuda dan penunggangnya dilemparkan-Nya ke dalam laut.” (Kel 14:15-15:1) 

Bacaan-bacaan Kitab Suci lainnya tidak disebutkan di sini karena jumlahnya banyak. 

Pada malam hari ini, selagi Gereja melakukan vigili (berjaga-jaga; Inggris: vigil), bacaan Kitab Suci yang banyak dalam Malam Paskah ini mengingatkan kita semua akan perbuatan-perbuatan mulia Allah dan kebaikan-Nya bagi kemanusiaan dari abad ke abad. Kita ingat bahwa pada malam sebelum berangkat ke Laut Merah, Musa dan bangsa Israel juga berjaga-jaga, menantikan pembebasan dari para pengejar mereka seperti telah dijanjikan. Akan tetapi tidak hanya anak-anak Abraham yang berjaga-jaga pada malam itu. YHWH sendiri tetap bersama mereka sepanjang malam itu, melindungi mereka dalam bentuk awan, layaknya seorang ibu melindungi anak-anaknya.

Allah sama yang menjaga bangsa Israel sekarang juga melakukan vigili bersama kita pada hari ini. Apakah kita menyadarinya atau tidak, Allah memperhatikan kita semua sekarang:          Ia ke luar untuk menemui kita, bahkan ketika kita berjuang untuk meluangkan waktu dengan Dia. Kita tidak boleh berpikir bahwa semuanya tergantung pada kita; karunia istimewa apa pun yang kita nantikan, Allah sebenarnya sudah ada di sana bersama kita (anda dan saya) dan kita dapat percaya penuh akan kasih-Nya bagi kita.

Seperti bangsa Israel yang menaruh kepercayaan penuh pada Allah untuk pembebasan mereka dari perbudakan di Mesir, barangkali kita juga sedang menantikan pembebasan kita sendiri. Allah yang membelah Laut Merah dan membangkitkan Yesus dari antara orang mati sungguh mampu untuk melakukan hal-hal yang menakjubkan dan Ia dapat membebaskan atau memerdekakan kita.

Pada saat-saat kekuatan dan keberanian kita terasa mulai lemah, Allah akan mengangkat kita dan menggendong kita. Apabila kita menantikan Allah untuk melakukan sesuatu yang penuh kuasa dalam hidup kita, maka dapat dipastikan bahwa Dia tidak melupakan kita. Sebaliknya, Allah justru menanti-nanti bersama kita, sampai saat yang tepat untuk memberikan kepada kita apa saja yang kita butuhkan. Oleh karena itu kita harus sabar dan penuh pengharapan. Kita harus bergabung dengan bangsa Israel dalam menantikan tiba saatnya dini hari yang akan mengusir kegelapan malam.

Selagi kita mendengar bacaan-bacaan yang begitu banyak pada malam ini, pantaslah kita merenungkan kesetiaan Allah kepada umat-Nya: “Pandanglah segala angkatan yang sudah-sudah dan perhatikanlah: Siapa gerangan percaya pada Tuhan lalu dikecewakan?” (Sir 2:10). Tentu saja tidak! Kita harus menaruh kepercayaan pada belas kasih-Nya (kerahiman-Nya), maka kita pun tidak akan dikecewakan.

DOA: Ya Tuhan Allah, kebaikan-Mu tak terbandingkan. Aku menaruh kepercayaan pada  kasih-Mu dan tidak merasa takut. Berjaga-jagalah bersamaku, ya Tuhan, karena secara bersama-sama kita dapat mengatasi segala macam penghalang. Terpujilah Engkau, sekarang dan selama-lamanya. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Perjanjian Baru hari ini (Rm 6:3-11), bacalah tulisan yang berjudul “MATI TERHADAP DOSA, TETAPI HIDUP BAGI ALLAH DALAM KRISTUS YESUS” (bacaan tanggal 15-4-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-04 BACAAN HARIAN APRIL 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 26-3-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 13 April 2017 [HARI KAMIS PUTIH] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SALIB KRISTUS ADALAH UNGKAPAN KASIH YANG PALING AGUNG

SALIB KRISTUS ADALAH UNGKAPAN KASIH YANG PALING AGUNG

(Bacaan Kedua pada Upacara Sengsara Tuhan – TRI HARI PASKAH: HARI JUMAT AGUNG, 14 April 2017) 

Jadi, karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita berpegang teguh pada pengakuan iman kita. Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita. Sebaliknya sama seperti kita, Ia telah dicobai, hanya saja Ia tidak berbuat dosa. Sebab itu, marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta anugerah, supaya kita menerima rahmat dan menemukan anugerah untuk mendapat pertolongan pada waktunya.

Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan air mata kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan. Sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar taat dari apa yang telah diderita-Nya dan sesudah Ia disempurnakan, Ia menjadi sumber keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya. (Ibr 4:14-16; 5:7-9)

Bacaan Pertama: Yes 52:13-53:12; Mazmur Tanggapan: Mzm 31:2.6.12-13.15-17.25; Bacaan Injil: Yoh 18:1-19:42; versi singkat: Yoh 19:25-30) 

Pada hari ini kita memperingati tindakan-kasih yang paling agung dalam sejarah, yaitu kematian Yesus Kristus di kayu salib. Baiklah bagi anda dan saya untuk mengambil waktu ekstra hari ini guna melakukan meditasi di depan Salib Kristus. Pandanglah Yesus dalam segala kedinaan-Nya – babak belur berdarah-darah karena disiksa. Lihatlah Dia, yang menderita, ditolak dan sendiri tanpa kawan. Dengarlah seruan doa-Nya yang terakhir “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mat 27:46; Mrk 15:34; bdk. Mzm 22:2). Rasakanlah cintakasih-Nya kepada kita semua, bahkan pada saat Ia sekarat tergantung di kayu salib untuk menebus dosa-dosa kita: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34).

Marilah kita memandang Dia yang telanjang di kayu salib dengan tangan dan kaki terpaku, dan lambung-Nya ditikam dengan tombak, sehingga mengalir keluar darah dan air, semua ini untuk menebus ketidak-taatan kita kepada kehendak Allah – dosa-dosa kita yang merusak relasi kita dengan sang Pencipta.

Marilah kita bersembah sujud dengan penuh hormat selagi kita mengkontemplasikan makna lengkap hari yang suci ini, suatu hari di mana Putera Allah merendahkan diri-Nya sedemikian rupa sehingga menjadi begitu miskin dan hina-dina, agar kita semua dapat menjadi kaya secara luarbiasa. Santo Paulus menulis: “Yesus Kristus … sekalipun Ia kaya, oleh karena kamu Ia menjadi miskin, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya” (2Kor 8:9). Terpujilah Dia yang sekarang mengisyaratkan kita untuk “menghampiri takhta anugerah, supaya kita menerima rahmat dan menemukan anugerah untuk mendapat pertolongan pada waktunya (Ibr 4:16).

Salib Kristus mengungkapkan kasih yang agung! Ini adalah kasih perjanjian (Inggris: covenant love), suatu kasih yang bersumberkan pada janji abadi Yesus sendiri untuk mengasihi dan melindungi kita. Kasih perjanjian selalu bersifat setia, siap untuk mati agar orang-orang lain dapat hidup. Suatu kasih abadi, yang ditulis dalam/dengan darah Kristus sendiri.

Pada hari Jumat Agung ini, selagi kita melakukan meditasi di depan anak Domba yang disembelih, renungkanlah “betapa besarnya” Salib Kristus. Bukan dalam arti besarnya ukuran Salib Kristus secara fisik, namun betapa besar dampak kematian Kristus di kayu salib sebagai kurban persembahan sehingga mampu mendatangkan kerahiman dan rahmat Allah yang tidak mampu tertandingi oleh tindakan-kasih yang mana pun. Apakah ada kurban persembahan lain yang mampu mencuci-bersih setiap dosa manusia, baik sudah maupun yang akan datang? Adakah tindakan-kasih lain yang mampu mengalahkan semua kerja Iblis yang penuh kebencian dan kejahatan dalam dunia? Bagaimana kita dapat membuat Salib Kristus menjadi riil dalam kehidupan kita? Tentunya dengan menunjukkan kepada orang-orang yang kita kasihi, kasih perjanjian sama sebagaimana yang telah ditunjukkan Yesus kepada kita. Kiranya Yesus akan sangat bersukacita melihat buah-buah manis keluar dari Salib-Nya. Ada kebenaran tak terbantahkan bagi anda dalam hal ini: “Setiap kali anda mengasihi orang-orang lain seperti Yesus Kristus mengasihi, maka anda menghadirkan Yesus Kristus ke dalam dunia!”

DOA: Yesus, Tuhan dan Juruselamatku. Pada hari Jumat Agung ini aku bergabung dengan para kudus di surga bukan untuk meratapi apa akibat segala dosaku atas diri-Mu, melainkan untuk bersukacita penuh syukur atas apa yang telah dilakukan kasih-Mu atas diriku.  Semoga litani berikut ini selalu ada dalam hatiku, pada hari ini dan seterusnya. Salib Yesus, murnikanlah aku. Darah Yesus, bersihkanlah aku. Luka-luka Yesus, sembuhkanlah aku. Kasih Yesus, bebaskanlah aku. Belas kasih Yesus, ampunilah aku. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya.  Amin.

Catatan: Untuk mendalami  Bacaan Injil hari ini (Yoh 19:25-30; versi singkat), bacalah tulisan yang berjudul “KEMATIAN DAN KEBANGKITAN YESUS ADALAH SUMBER SEGALANYA” (bacaan tanggal 14-4-17) dalam situs/blog http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-04 BACAAN HARIAN APRIL 2017.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 25-3-16 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 11 April 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja. OFS 

YESUS SANG PEMBEBAS

YESUS SANG PEMBEBAS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, TRI HARI PASKAH: KAMIS PUTIH, 13 April 2017) 

Berfirmanlah TUHAN (YHWH) kepada Musa dan Harun di tanah Mesir: “Bulan inilah akan menjadi permulaan segala bulan bagimu; itu akan menjadi bulan pertama bagimu tiap-tiap tahun. Katakanlah kepada segenap jemaah Israel: Pada tanggal sepuluh bulan ini diambillah oleh masing-masing seekor anak domba, menurut kaum keluarga, seekor anak domba untuk tiap-tiap rumah tangga. Tetapi jika rumah tangga itu terlalu kecil jumlahnya untuk mengambil seekor anak domba, maka ia bersama-sama dengan tetangganya yang terdekat ke rumahnya haruslah mengambil seekor, menurut jumlah jiwa; tentang anak domba itu, kamu buatlah perkiraan menurut keperluan tiap-tiap orang. Anak dombamu itu harus jantan, tidak bercela, berumur setahun; kamu boleh ambil domba atau kambing. Kamu harus mengurungnya sampai hari yang keempat belas bulan ini; lalu seluruh jemaat Israel yang berkumpul, harus menyembelihnya pada waktu senja. Kemudian dari darahnya haruslah diambil sedikit dan dibubuhkan pada kedua tiang pintu dan pada ambang atas, pada rumah-rumah di mana orang memakannya. Dagingnya harus dimakan mereka pada malam itu juga; yang dipanggang mereka harus makan dengan roti yang tidak beragi beserta sayur pahit.

Dan beginilah kamu memakannya: pinggangmu berikat, kasut pada kakimu dan tongkat di tanganmu; buru-burulah kamu memakannya; itulah Paskah bagi YHWH.

Sebab pada malam ini Aku akan menjalani tanah Mesir, dan semua anak sulung, dari anak manusia sampai anak binatang, akan Kubunuh, dan kepada semua allah di Mesir akan Kujatuhkan hukuman, Akulah, YHWH. Dan darah itu menjadi tanda bagimu pada rumah-rumah di mana kamu tinggal: Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan lewat daripada kamu. Jadi tidak akan ada tulah kemusnahan di tengah-tengah kamu, apabila Aku menghukum tanah Mesir. Hari ini akan menjadi hari peringatan bagimu. Kamu harus merayakannya sebagai ketetapan untuk selamanya. (Kel 12:1-8,11-14) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 116:12-13,15-18; Bacaan Kedua: 1 Kor 11:23-26; Bacaan Injil: Yoh 13:1-15 

Hari ini, pada awal Tri Hari (Triduum) Paskah yang agung, cocoklah apabila kita membaca narasi tentang orang-orang Israel yang sedang bersiap-siap untuk meninggalkan hidup perbudakan mereka di Mesir. Selama akhir pekan yang penuh kuasa dan rahmat ini, Allah memanggil kita juga untuk mempersiapkan diri untuk “keluaran” (exodus) kita sendiri menuju kebebasan yang telah dimenangkan oleh Putera-Nya yang tunggal, lewat kematian-Nya di kayu salib di Kalvari.

Sepanjang pekan ini, kita telah bertanya terus, “Apakah yang telah dicapai oleh Salib Kristus?” Sore ini, dalam cerita tentang Paskah yang pertama, kita dapat melihat sebuah “pratanda” dari darah yang akan dicurahkan oleh Yesus dari atas kayu salib, dan kuasa dari darah itu untuk mengalahkan dosa dan maut. Pada Paskah pertama, orang-orang Israel harus membubuhkan pada kedua tiang pintu rumah mereka dan juga ambangnya dengan darah anak domba (kambing) jantan yang mereka sembelih, sebagai perlindungan dari malaikat pembunuh. Anak domba itu tidak boleh bercacat, seperti Yesus yang tanpa dosa – suatu kurban persembahan kepada Bapa yang sempurna dan sepenuhnya dapat diterima. Sekarang, karena Dia mencurahkan darah-Nya bagi kita, Yesus juga telah memenangkan bagi kita perlindungan melawan kekuatan-kekuatan jahat.

Ketika Allah melihat darah Yesus, maka maut (kematian) dan dosa melewati kita (Paskah=Dia lewat). Melalui iman akan darah-Nya, kita mengalami “keluaran” kita sendiri dari perbudakan dosa dan dibawa ke hadapan hadirat-Nya. Upaya-upaya kita untuk membebaskan diri kita sendiri, untuk menyenangkan hati Allah, tidak akan berhasil sepenuhnya. Oleh karena itu, daripada mencoba untuk membuat diri kita kudus dengan mengandalkan kekuatan atau kerja keras kita sendiri, kita harus yakin bahwa kita dilindungi oleh darah sang Anak Domba. Dengan demikian barulah kita mengenal dan mengalami perlindungan dari sengat dan tipu-daya si Jahat, juga pembebasan/pelepasan dari kuasa dosa.

YHWH Allah menebus orang-orang Israel dari tanah Mesir, demikian pula Yesus juga menebus kita. Seperti Musa yang telah membebaskan orang-orang Israel dari penindasan Firaun, Yesus juga telah membebaskan kita dari perbudakan dosa/Iblis. Sementara kita memasuki akhir pekan yang penuh rahmat dan kuasa ini, marilah kita menaruh di hadapan-Nya segala hal yang selama ini telah membelenggu kita dengan cara-cara dunia ini. Marilah kita memohon kepada-Nya untuk menunjukkan kepada kita kemuliaan-Nya selagi kita menantikan-Nya pada akhir pekan ini.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah Penebus dan Juruselamatku. Dalam tiga hari ke depan ini aku menanti-nantikan kebangkitan-Mu dengan tongkat di tanganku, dengan kasut pada kakiku, dan pinggang yang terikat, siap untuk mengikuti Engkau menuju kebebasan sejati. Terpujilah Engkau selalu, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan  Injil hari ini (Yoh 13:1-15), bacalah tulisan yang berjudul “PEMBASUHAN KAKI PARA MURID OLEH GURU DAN TUHAN MEREKA” (bacaan tanggal 13-4-17), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-04 BACAAN HARIAN APRIL 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul untuk bacaan tanggal 24-3-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 10 April 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PENGKHIANATAN YUDAS DIUNGKAPKAN OLEH YESUS

PENGKHIANATAN YUDAS DIUNGKAPKAN OLEH YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RABU DALAM PEKAN SUCI – 12 April 2017)

 

Kemudian pergilah seorang dari kedua belas murid itu, yang bernama Yudas Iskariot, kepada imam-imam kepala. Ia berkata, “Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?” Mereka membayar tiga puluh uang perak kepadanya. Mulai saat itu ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus.

Pada hari pertama dari hari raya Roti tidak Beragi datanglah murid-murid Yesus kepada-Nya dan berkata, “Di mana Engkau kehendaki kami mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?” Jawab Yesus, “Pergilah ke kota kepada si Anu dan katakan kepadanya: Pesan Guru: Waktu-Ku hampir tiba; di dalam rumahmulah Aku mau merayakan Paskah bersama-sama dengan murid-murid-Ku.” Lalu murid-murid-Nya melakukan seperti yang ditugaskan Yesus kepada mereka dan mempersiapkan Paskah.

Setelah hari malam Yesus duduk makan bersama-sama dengan keduabelas murid itu. Ketika mereka sedang makan, Ia berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, salah seorang dari antara kamu akan menyerahkan Aku.” Lalu dengan hati yang sangat sedih berkatalah mereka seorang demi seorang kepada-Nya, “Bukan aku, ya Tuhan?” Ia menjawab, “Dia yang  bersama-sama dengan Aku mencelupkan tangannya ke dalam mangkuk ini, dialah yang akan menyerahkan Aku. Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan. Yudas, yang hendak menyerahkan Dia itu berkata, “Bukan aku, ya Rabi?” Kata Yesus kepadanya, “Engkau telah mengatakannya.” (Mat 26:14-25)  

Bacaan Pertama: Yes 50:4-9a; Mazmur Antar-bacaan: Mzm 69:8-10, 21-22,31,33-34 

Mengapa Yudas mengkhianati Yesus? Jawaban terhadap pertanyaan ini terletak dalam konflik antara “daging” dan “roh” yang ada dalam setiap orang. Kehidupan Yudas Iskariot dikemudikan oleh dorongan dalam dirinya yang begitu kuat untuk memuliakan-diri sendiri (Inggris: a strong sense of self-glorification) dan hal ini memungkinkan kedagingannya bergerak  bebas ke sana ke mari.

Hasrat-hasrat kedagingan Yudas (dan para murid lainnya) bertentangan secara tajam dengan hasrat perempuan yang datang ketika Yesus berada dalam rumah Simon si kusta di Betania; dia yang mengurapi Yesus dengan minyak wangi yang mahal (Mat 26:6-7). Dari sudut pandang yang rasional, reaksi mendongkolkan dari Yudas (dan para murid lainnya) terhadap pengurapan perempuan itu atas diri Yesus kiranya mengandung kebenaran juga. Uang sejumlah 300 dinar dari hasil penjualan minyak narwastu yang mahal itu memang dapat menolong banyak orang yang membutuhkan (Mat 26:9). Akan tetapi, sebenarnya “orang miskin” bukanlah keprihatinan si Yudas; dia hanyalah seorang “koruptor” munafik, yang mementingkan kantong sendiri. Hal ini terungkap dalam Injil Yohanes yang mencatat peristiwa serupa, namun terjadi di rumah Lazarus di Betania dan perempuan itu adalah Maria, salah seorang saudara perempuan dari Lazarus (lihat Yoh 12:6). Menurut Yesus perempuan itu justru “telah melakukan perbuatan baik” pada-Nya (Mat 26:10). Dia  sungguh mencari Allah dan dalam rohnya dia melihat Yesus sebagai Pribadi yang datang untuk memberikan kehidupan bagi dunia. Ungkapan cinta-kasih dan syukurnya sungguh memuliakan Yesus, teristimewa sebagai persiapan penguburan-Nya (Mat 26:12; Mrk 14:8).

Di taman Getsemani, Yesus menasihati Petrus: “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang berniat  baik, tetapi tabiat manusia lemah” (Mat 26:41). Yudas tidak dapat bertahan dalam menghadapi dan menanggung “saat-saat pencobaan” karena dia tidak pernah mencari Allah, untuk mengenal-Nya dalam roh. Karena tidak mampu melihat rencana Allah yang lebih besar, nanti kita akan melihat bahwa Yudas menjadi putus-asa dan menggantung dirinya sendiri (Mat 27:3-5). Akan tetapi, Petrus berhasil bertahan pada “saat-sat pencobaan”. Seperti juga halnya dengan Yudas, dia mengalami kegalauan karena telah mengkhianati Yesus (Mat 26:75), namun – tidak seperti Yudas – Petrus juga terbuka bagi Roh Kudus. Pada hari Pentakosta, Petrus dipenuhi dengan Roh Kudus dan dalam rohnya memahami keindahan dari rencana penyelamatan Allah. Kemudian dia bertindak atas dasar pengalaman ini dan mulai mewartakan Injil dengan penuh kuat-kuasa (Kis 2:14-36).

Semakin kita melangkah maju untuk memperoleh penerangan atas roh kita dengan kebenaran-kebenaran ilahi, semakin banyak pula kita akan dituntun oleh Roh Kudus dan semakin sedikit pula kita akan hidup dalam daging. Dengan taat menekuni resolusi-resolusi kita untuk masa Prapaskah, kita bekerja-sama dengan rahmat Allah dan mulai untuk hidup dalam roh secara lebih mendalam.

DOA: Datanglah, Roh Kudus Allah. Ajarlah kami untuk membuka diri bagi kehadiran Allah. Tolonglah kami untuk membuang segala cara kedagingan dan hidup dalam Roh ketika kami memeluk rencana Allah yang penuh kasih bagi kami semua dalam Kristus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 26:14-25), bacalah tulisan yang berjudul “KATA YESUS KEPADA YUDAS: ENGKAU TELAH MENGATAKANNYA” (bacaan tanggal 12-4-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-04 BACAAN HARIAN APRIL 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 23-3-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 10 April 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS