TAMBAHKANLAH IMAN KAMI!

TAMBAHKANLAH IMAN KAMI!

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Leo Agung, Paus & Pujangga Gereja – Senin, 10 November 2014) 

YESUS - SANG GURUYesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Tidak mungkin tidak akan ada hal yang membuat orang berbuat dosa, tetapi celakalah orang yang mengadakannya. Lebih baik baginya jika sebuah batu giling diikatkan pada lehernya, lalu ia dilemparkan ke dalam laut, daripada menyebabkan salah satu dari orang-orang yang kecil ini berbuat dosa. Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia. Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia.”

Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan, “Tambahkanlah iman kami!” Jawab Tuhan, “Sekiranya kamu mempunyai iman sekecil biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Tercabutlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu.” (Luk 17:1-6)

Bacaan Pertama: Tit 1:1-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 24:1-6 

Menurut standar-standar yang digunakan para rabi Yahudi, apabila seseorang akan mengampuni seorang pribadi sebanyak tiga kali, maka dia akan dipandang sebagai seorang pribadi manusia yang sempurna. Sekarang ada Yesus yang mengajar para murid-Nya bahwa mereka harus mengampuni bukan hanya satu kali, tidak hanya tiga kali, melainkan tujuh kali – yang dapat diartikan senantiasa mengampuni! Di tempat lain, malah Yesus menanggapi pertanyaan Petrus tentang pengampunan: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali” (Mat 18:22). Memang kelihatan tidak mungkin, namun bukankah Yesus telah menunjukkan kepada mereka melalui berbagai mukjizat dan pengajaran-Nya bahwa apa yang kelihatan tidak mungkin bagi manusia sebenarnya mungkin dengan Allah?

Setelah mendengar bahwa mereka harus bertanggung jawab karena tidak mengampuni, para murid pun berseru: “Tambahkanlah iman kami!” (Luk 17:5). Seperti para murid Yesus yang awal tersebut, kita pun tahu betapa berat untuk mengatasi rasa sakit hati dan ketidakadilan yang ditimpakan atas diri kita oleh orang lain.

Kadang-kadang memang kelihatan tidak mungkin, namun di kedalaman hati kita, kita tahu betapa luasnya dampak dari kuat-kuasa pengampunan yang ditunjukkan oleh Yesus. Dan, seperti para murid-Nya dahulu, penambahan imanlah yang kita butuhkan. Panggilan untuk mengampuni mungkin kelihatan sama tidak mungkinnya dengan memindahkan sebatang pohon ara hanya dengan satu-dua patah kata. Namun Yesus mengajarkan kepada kita bahwa dengan iman yang paling kecil pun kita dapat mewujudkan hal-hal besar.

Kita dapat minta kepada Yesus untuk menambahkan iman kita dengan membuka mata kita agar dapat memusatkan pandangan kita pada kuat-kuasa-Nya dan kehadiran-Nya dalam diri kita. Semakin kita menginternalisasi kepercayaan kita bahwa diri kita tidak kurang daripada bait-bait Roh Kudus, maka semakin yakinlah kita bahwa menanggapi panggilan-Nya untuk mengampuni merupakan suatu kemungkinan yang memang riil.

Apakah ada sebuah luka lama dlsb. yang menyebabkan kita belum mampu untuk mengampuni seseorang yang mendzolomi diri kita? Kalau begitu halnya, baiklah kita berkata kepada Yesus, “Ini tidak mungkin bagiku! Namun bagi-Mu, Yesus, semua hal adalah mungkin. Kuserahkan isu ini kepada-Mu dan aku mohon Kauberikan rahmat dan kuat-kuasa untuk mengampuni.” Bisa saja pada tahapan awal kita hanya dapat memohon kepada Allah untuk membuat diri kita bersedia untuk mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Yesus akan menolong kita dalam mengambil langkah selanjutanya dalam perjalanan menuju pengampunan yang lengkap.

DOA: Bapa surgawi, aku berterima kasih penuh syukur kepada-Mu untuk belas-kasih-Mu yang begitu besar kepada umat manusia dengan mengutus Putera-Mu yang tunggal. Melalui pengorbanan-Nya yang besar di atas kayu salib, Ia telah mengampuni dan membersihkan diriku secara lengkap. Sekarang, ya Bapa yang baik, aku memohon agar Engkau sudi menolong diriku untuk mengampuni orang-orang lain sepenuh Engkau telah mengampuni diriku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari (Luk 17:1-6), bacalah tulisan yang berjudul “KASIH PERSAUDARAAN” (bacaan tanggal 10-11-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2014. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-11-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

 Cilandak, 6 November 2014 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MEMBENAMKAN DIRI KITA KE DALAM SUMBER AIR KEHIDUPAN

MEMBENAMKAN DIRI KITA KE DALAM SUMBER AIR KEHIDUPAN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran – Minggu, 9 November 2014)

 Facade_San_Giovanni_in_Laterano_2006-09-07

Kemudian ia membawa aku kembali ke pintu Bait Suci, dan sungguh, ada air keluar dari bawah ambang pintu Bait Suci itu dan mengalir menuju ke timur; sebab Bait Suci juga menghadap ke timur; dan air itu mengalir dari bawah bagian samping kanan dari Bait Suci itu, sebelah selatan mezbah. Lalu diiringnya aku keluar melalui pintu gerbang utara dan dibawanya aku berkeliling dari luar menuju pintu gerbang luar yang menghadap ke timur, sungguh, air itu membual dari sebelah selatan.

Ia berkata kepadaku: “Sungai ini mengalir menuju wilayah timur, dan menurun ke Araba-Yordan, dan bermuara di Laut Asin, air yang mengandung banyak garam dan air itu menjadi tawar, sehingga ke mana saja sungai itu mengalir, segala makhluk hidup yang berkeriapan di sana akan hidup. Ikan-ikan akan menjadi sangat banyak, sebab ke mana saja air itu sampai, air laut di situ menjadi tawar dan ke mana saja sungai itu mengalir, semuanya di sana hidup.

Pada kedua tepi sungai itu tumbuh bermacam-macam pohon buah-buahan, yang daunnya tidak layu dan buahnya tidak habis-habis; tiap bulan ada lagi buahnya yang baru; tiap bulan ada lagi buahnya yang baru, sebab pohon-pohon itu mendapat air dari tempat kudus itu. Buahnya menjadi makanan dan daunnya menjadi obat. (Yeh 47:1-2,8-9,12)

Mazmur Tanggapan: Mzm 46:2-3,5-6,8-9; Bacaan Kedua: 1Kor 3:9b-11,16-17; Bacaan Injil: Yoh 2:13-22

Pada hari ini kita merayakan Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran, yaitu basilik tertua dan salah satu basilika yang paling penting di kota Roma. Pada abad ke-4, Konstantinus yang adalah Kaisar Kristiani pertama, membangun sebuah kapel di atas tanah yang diberikannya kepada istrinya. Berabad-abad lamanya gereja/kapel itu secara berulang-kali telah mengalami penghancuran, pembangunan kembali, perluasan, dan renovasi. Namun gereja itu selalu dipandang dan diakui sebagai gereja katedral dari Uskup Roma (Sri Paus).

Basilika Lateran sangatlah impresif – baik dilihat dengan mata maupun dilihat dari sudut sejarahnya – namun yang paling mengesankan adalah bagaimana basilika ini mengekspresikan tujuan Gereja. Sebuah contoh yang paling mencolok adalah tulisan yang tertera pada bejana pembaptisan.: “Ini adalah mata air kehidupan, yang membersihkan seluruh dunia, yang berasal dari luka-luka Kristus.” Ini adalah pengingat yang penuh kuasa bahwa Gereja ada untuk melanjutkan karya Kristus di dunia!

Dua ribu tahun lalu, kehadiran Yesus secara fisik/badani membawa kebenaran, rahmat, dan kesembuhan kepada dunia. Namun apa yang dilakukan-Nya dalam dan melalui tubuh-Nya yang fisik itu, sekarang dilakukan-Nya melalui tubuh-mistik-Nya, yaitu Gereja, …… tidak hanya melalui struktur-struktur formal dan para pelayannya yang tertahbis (para klerus) melainkan juga melalui diri kita masing-masing para anggota tubuh-Nya yang awam. Kita semua adalah tangan-tangan dan kaki-kaki Yesus. Melalui kitalah – para anggota Tubuh-Nya, klerus maupun awam – Kristus mengkomunikasikan kasih-Nya, penyembuhan-Nya dan kebenaran-Nya. Nabi Yehezkiel melihat air yang menyembuhkan mengalir dari Bait Suci menuju ke segala penjuru. Dalam artian tertentu, itulah kita. Kita masing-masing adalah bait Roh Kudus, dan Yesus ingin memenuhi diri kita secara berlimpah.

Akan tetapi, agar dapat membawa Kristus ke tengah dunia, kita sendiri harus masuk (membenamkan diri) ke dalam sumber air kehidupan sedalam-dalamnya. Doa-doa pribadi, karunia sakramen-sakramen, hikmat sabda Allah dalam Kitab Suci, kasih kepada saudari-saudara dalam Kristus – semua ini adalah sumber-sumber air kehidupan bagi kita. Apabila Konstantinus, orang yang paling berkuasa di dunia barat pada zaman itu dapat bertobat melalui kesaksian umat Kristiani, bayangkanlah betapa kesaksian kita dapat mempengaruhi para tetangga kita, para teman/sahabat kita, para rekan kerja kita. Apabila kita membenamkan diri kita dalam Kristus, maka kita sungguh dapat mengubah dunia.

Dalam hal ini marilah kita mengingat sabda-Nya: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa; dan apa pun yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dimuliakan di dalam Anak” (Yoh 14:12-13).

DOA: Roh Kudus Allah, murnikanlah Gereja-Mu dan penuhilah kami semua dengan hidup-Mu, kasih-Mu, rahmat-Mu dan kebenaran-Mu. Datanglah, ya Roh Kudus, dan tolonglah kami agar mau dan mampu berbela-rasa terhadap orang-orang miskin dan menderita di sekeliling kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama alternatif hari ini (1Kor 3:9-11, 16-17), bacalah tulisan yang berjudul “DIBANGUN ATAS DASAR FONDASI YANG LUAR BIASA” (bacaan tanggal 9-11-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2014. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 9-11-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 5 November 2014

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SIAPA SEBENARNYA YANG KITA LAYANI?

SIAPA SEBENARNYA YANG KITA LAYANI?

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXI – Sabtu, 8 November 2014)

KFS: Peringatan Arwah Semua Anggota Tarekat 

KONFLIK DGN ORANG FARISI DLL. - YESUS MENGECAM - MAT 23Aku berkata kepadamu: “Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi.”

“Siapa saja yang setia dalam hal-hal kecil, ia setia juga dalam hal-hal besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam hal-hal kecil, ia tidak benar juga dalam hal-hal besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? Jikalau kamu tidak setia mengenai harta orang lain, siapakah yang akan memberikan hartamu sendiri kepadamu?

Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”

Orang-orang Farisi, hamba-hamba uang itu, mendengar semua ini, dan mereka mencemoohkan Dia. Lalu Ia berkata kepada mereka, “Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah.” (Luk 16:9-15)

Bacaan Pertama: Flp 4:10-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 112:1-2,5-6,8-9

Yesus mengajarkan bahwa mereka yang tidak menjadi hamba dari sumber daya yang mereka miliki adalah orang-orang yang mengetahui bagaimana menggunakan berbagai sumber daya tersebut dengan bijak. Mereka dapat hidup dengan berkelimpahan atau berkekurangan seturut “sikon” yang mereka hadapi. Namun kemampuan untuk berhenti dari ketergantungan akan hal-hal yang bersifat materiil dan berpaling kepada Allah untuk kebutuhan-kebutuhan kita tidaklah datang secara otomatis. Sifat dari kejatuhan kita ke dalam dosa adalah sedemikian rupa sehingga kita merasa sulit untuk mempercayai keberadaan penyelenggaraan ilahi. Sebaliknya, kita  menggantungkan diri pada dunia ini dan menaruh kenikmatan kita di atas kebutuhan-kebutuhan orang-orang lain.

Satu-satunya jalan keluar dari spiral kejatuhan ini adalah dengan menyerahkan hidup kita kepada Yesus – memutuskan bahwa kita tidak lagi memerintah atas diri kita sendiri, melainkan menempatkan diri kita di bawah otoritas-Nya. Selagi kita memberi kesempatan kepada Yesus untuk menyatakan diri-Nya kepada kita, hati kita pun akan dibakar dengan cintakasih kepada-Nya. Kita akan melihat kemahaunggulan-Nya dan menaruh kepercayaan bahwa Dia akan selalu memperhatikan segala kebutuhan kita.

Melayani Allah bukanlah terutama sebuah isu tentang melakukan segala hal yang diperintahkan-Nya.  Mengasihi Allah adalah sebuah isu yang riil. Ini adalah suatu masalah bagaimana membiarkan diri-Nya menangkap afeksi-afeksi kita. Fondasi lainnya dari kehidupan Kristiani kita (selain mengasihi-Nya) adalah lemah dan pada akhirnya akan hancur berantakan. Bilamana kita melihat kasih-Nya bagi kita, maka secara alami kita pun merasa ditarik untuk ingin mentaati-Nya dan melayani-Nya. Dunia pun tidak lagi menarik kita sebagaimana halnya dahulu.

Bagaimana kita dapat memusatkan pandangan kita kepada Allah? Jenis perubahan ini biasanya tidak terjadi dengan mendadak. Sebaliknya, kita dapat mengambil langkah-langkah kecil setiap hari. Kita dapat menyediakan waktu untuk berdoa setiap pagi, mohon kepada Yesus untuk memenuhi diri kita dengan kasih-Nya. Setiap malam hari, sebelum kita pergi tidur, kita dapat bertanya kepada diri kita sendiri siapa saja yang kita layani pada hari ini dan menyesali serta bertobat apabila kita melihat dosa dan kelemahan. Kita dapat mengunjungi kamar pengakuan secara teratur untuk menerima sakramen rekonsiliasi dan juga menghadiri perayaan Ekaristi guna menerima Tubuh-Nya dalam Komuni Kudus. Dengan demikian kita menerima kekuatan dan rahmat yang dicurahkan oleh-Nya. Allah ingin menunjukkan kepada kita di mana prioritas kita sesungguhnya. Marilah kita pada hari ini menyediakan waktu sejenak untuk memohon kepada Tuhan agar menunjukkan kepada kita siapa sebenarnya yang kita layani: Allah? Diri kita sendiri? Benda-benda materiil?

DOA: Bapa surgawi, apa yang kumiliki adalah segala sesuatu yang telah Engkau berikan kepadaku – kebebasanku, keluargaku, rumahku, seluruh keberadaanku. Tolonglah aku agar mau dan mampu mengembalikan semua itu kepada-Mu. Aku hanyalah memohon kasih dan rahmat-Mu. Dengan kasih dan rahmat-Mu itu, aku akan cukup kaya dan tidak membutuhkan apa-apa lagi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Flp 4:10-19), bacalah tulisan berjudul “SUATU PERSEMBAHAN YANG HARUM” (bacaan tanggal 8-11-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2014. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-11-12 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 5 November 2014 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERUMPAMAAN TENTANG SI BENDAHARA YANG ……

PERUMPAMAAN TENTANG SI BENDAHARA YANG ……

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXI – Jumat, 7 November 2014)

FMM: Peringatan B. Assunta Pallota, Pelindung Suster Kaul Sementara 

YESUS - SANG GURUKemudian Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya. Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: Apa ini yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungjawaban atas apa yang engkau kelola, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara. Kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak kuat, mengemis aku malu. Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka. Lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berhutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama: Berapakah hutangmu kepada tuanku? Jawab orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Terimalah surat hutangmu, duduklah dan tulislah segera: Lima puluh tempayan. Kemudian ia berkata kepada yang kedua: Berapakah hutangmu? Jawab orang itu: Seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu: Terima surat hutangmu, dan tulislah: Delapan puluh pikul. Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya daripada anak-anak terang.”  (Luk 16:1-8)

Bacaan Pertama: Flp 3:17-4:1; Mazmur Tanggapan: Mzm 122:1-5 

Kesan pertama kita setelah membaca perumpamaan ini mungkin saja mengira bahwa bendahara dalam cerita ini adalah seorang “pencuri” (kata indahnya: “maling”) berkaitan dengan caranya dia berhubungan dengan para debitur majikannya. Namun jika dengan berhati-hati kita membaca bahwa sang majikan menuduh si bendahara bersalah dalam hal ketidakberesan dalam hal pengelolaan (mismanagement) dan pemborosan, bukan pencurian: “Kepadanya disampaikan tuduhan bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya” (Luk 16:1). Siapakah yang memberi informasi kepada sang majikan sehingga si bendahara sampai dituduh seperti itu? Mungkin saja salah seorang debitur, yang menjadi geram karena si bendahara membebani bunga terlalu tinggi atas utang yang ada. Upah atau gaji seorang bendahara seringkali dibayarkan dari jumlah hasil pendapatan bunga yang dibebankan atas saldo utang yang ada, dan mungkin sekali si bendahara membebankan bunga secara berlebihan demi kepentingannya sendiri.

THE HOLY BIBLE IN MY LIFEJadi, dengan menceritakan perumpamaan ini Yesus sebenarnya tidak mendorong orang untuk menjadi tidak jujur. Sebaliknya,  Yesus mengkontraskan pemikiran si bendahara yang “energetik” dan “cerdik”. Bagaimana pun juga, ketika si bendahara menyadari bahwa majikannya akan memecatnya, maka dia membangun tali persahabatan dengan para debiturnya – tidak dengan mencuri melainkan dengan menurunkan gajinya untuk keuntungan para debiturnya. Dengan demikian kedua pihak menjadi pemenang (win-win solution); pembayaran debitur-debitur menjadi lebih rendah; sedangkan di sisi lain si bendahara sudah memperoleh tempat yang cukup terjamin di luar rumah tanggal majikannya, dan reputasi sang majikan juga dipulihkan.

Moralitas si bendahara yang patut dipertanyakan di sini bukanlah merupakan inti masalah dari perumpaan Yesus ini. Yang Ia ingin kita soroti adalah prinsip “kelihaian/kelicinan” yang digunakan oleh si bendahara. Seperti si bendahara menggunakan uangnya untuk menyiapkan tempat tinggal bagi dirinya di atas muka bumi, maka kita pun dapat menggunakan uang kita dengan cerdik guna membangun Kerajaan Allah di atas muka bumi. Apa yang kita perbuat bagi orang-orang miskin dan membutuhkan pertolongan di atas muka bumi ini akan membawa ganjaran kekal-abadi bagi kita dan orang-orang lain juga.

Bagaimana? Apabila kita menyerahkan diri kita sendiri dan uang kita, maka orang-orang yang mungkin saja memilih cara-cara yang jahat dan berdosa dapat diselamatkan. Misalnya kemurahan-hati kita dalam mendukung berbagai macam pelayanan gerejawi tidak hanya menyenangkan Bapa surgawi, melainkan juga menolong orang-orang lain menghindarkan diri atau meninggalkan pilihan-pilihan buruk. Kita dapat dengan “lihai” menjalin relasi kita juga, membangun persahabatan dengan para teman/sahabat dan anggota keluarga seturut jalan Allah. Dengan demikian semuanya akan menang! Kita mengembangkan relasi-relasi yang lebih akrab, dan kita menolong orang-orang lain agar semakin dekat dengan Yesus.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, lanjutkanlah mengajar diriku melalui sabda-Mu yang ada dalam Kitab Suci. Lanjutkanlah tindakan-Mu mengubah pikiranku agar dapat cerdik dan licin dalam membangun serta menjalin tali persahabatan dalam jalan Allah – jalan-Mu sendiri –  dengan orang-orang lain dan juga dalam memajukan Kerajaan Surga. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 16:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “SEORANG BENDAHARA YANG CERDIK” (bacaan tanggal 7-11-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2014. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 8-11-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 5 November 2014

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KARENA SATU ORANG BERDOSA YANG BERTOBAT

KARENA SATU ORANG BERDOSA YANG BERTOBAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXI – Kamis, 6 November 2014) 

DOMBA YANG HILANG LUK 15Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa, semuanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Lalu bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya, “Orang ini menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.” Lalu Ia menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka, “Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? Kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab aku telah menemukan dombaku yang hilang itu. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di surga karena satu orang bertobat, lebih daripada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.”

“Atau perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan satu dirham, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya? Kalau ia telah menemukannya, ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab aku telah menemukan dirhamku yang hilang itu. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat.” (Luk 15:1-10) 

Bacaan Pertama: Flp 3:3-8a; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:2-7

Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat menggerutu, bersungut-sungut di antara mereka sendiri melihat bahwa Yesus akrab dengan orang-orang berdosa; bahkan makan bersama-sama dengan mereka. Implikasi dari pandangan seperti ini adalah bahwa apabila Yesus sungguh kudus, maka diri-Nya tidak akan terlihat berada di tengah-tengah orang-orang berdosa tersebut. Sebagai tanggapan terhadap sungut-sungut mereka, Yesus menyampaikan tiga buah perumpamaan; domba yang hilang, dirham yang hilang dan anak yang hilang. Tidak seperti orang-orang Farisi, Yesus tidaklah memandang para pendosa sebagai orang-orang yang berada dalam kedosaan dan tidak dapat ditolong lagi, melainkan sebagai pribadi-pribadi yang hilang, yang perlu ditemukan kembali.

DIRHAM YANG HILANG - 01Yesus bertanya: “Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?” (Luk 15:4). Yesus melontarkan pertanyaan ini dengan pengharapan akan mendatangkan tanggapan positif: “Kita semua akan mencari domba yang hilang itu!” Namun barangkali tidak seorang pun akan melakukannya, karena dari sudut “kalkulasi” manusia, hal sedemikian sungguh tidak masuk akal. “Masa sih yang 99 ekor harus ditinggalkan terlantar hanya untuk mencari seekor yang hilang?” Bukankah lebih baik melindungi yang 99 ekor domba itu dan bukannya menelantarkan mereka?

Lagipula, siapakah yang pernah mendengar tentang seorang gembala yang berpesta-ria karena telah menemukan seekor dombanya yang hilang? Kita akan bereaksi bahwa ini berkelebihan, …… lebai! Demikian pula halnya dengan perempuan yang kehilangan sekeping dirhamnya. Kita tentu memahami bagaimana dia akan berupaya untuk menemukan dirhamnya, namun setelah menemukannya sungguh terasa berlebihanlah apabila dia memanggil tetangga-tetangganya untuk bersama-sama bergemberia-ria.

Pada titik ini kita melihat pengaruh penuh dari apa yang Yesus coba ajarkan kepada orang-orang Farisi dan kita semua. Apa yang kelihatan tidak masuk akal dan bahkan keterlaluan dilihat dari mata manusia tidaklah absurd di mata Allah. Di mata-Nya setiap orang berdosa adalah tetap seorang pribadi yang berharga, begitu berharga sehingga Allah mencari setiap pendosa dengan segenap hati-Nya. Allah Bapa mengutus Yesus – sang Gembala Baik – ke tengah dunia untuk mencari kita. Jika kita memperkenankan Yesus menemukan diri kita melalui pertobatan, maka akan ada sukacita di dalam surga. “Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat” (Luk 15:10). Tidak ada apa pun yang membawa sukacita kepada Bapa surgawi dan sekalian makhluk surgawi daripada kembalinya seorang pendosa yang bertobat.

DOA: Tuhan Yesus, seperti gembala yang menggendong dombanya yang baru ditemukannya, Engkau menarik kami semakin dekat dengan diri-Mu dalam kasih dan afeksi tak terhingga. Kami bertobat atas dosa-dosa kami dan memohon Engkau untuk menemukan kami sekalian. Kami juga berdoa supaya semua orang yang hilang dapat ditemukan kembali oleh-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 15:1-10), bacalah tulisan yang berjudul “SATU EKOR DOMBA DAN UANG LOGAM SENILAI SATU DIRHAM” (bacaan tanggal 6-11-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2014. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 7-11-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 4 November 2014 [Peringatan S. Carolus Borromeus, Uskup] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERCAHAYA SEPERTI BINTANG-BINTANG DI DUNIA

BERCAHAYA SEPERTI BINTANG-BINTANG DI DUNIA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXI – Rabu, 5 November 2014) 

MEMBACA ALKITAB 101Saudara-saudaraku yang terkasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih lagi sekarang waktu aku tidak hadir, karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. Lakukanlah segala sesuatu tanpa bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, supaya kamu tidak beraib dan tidak bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah orang yang jahat dan sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia, sambil berpegang pada firman kehidupan, agar aku dapat bermegah pada hari Kristus bahwa aku tidak percuma berlomba dan tidak percuma bersusah-susah. Tetapi sekalipun darahku dicurahkan pada kurban dan ibadah imanmu, aku bersukacita dan aku bersukacita dengan kamu sekalian. Dan kamu juga harus bersukacita demikian dan bersukacitalah dengan aku. (Flp 2:12-18) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14; Bacaan Injil: Luk 14:25-33

“Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya” (Flp 2:13). Wow, bukan main! Ini adalah pernyataan penuh pengharapan, bahkan bagi hati yang dipenuhi kecemasan. Kita mendapat jaminan, bahwa apabila kita memberikan hidup kita kepada Allah, maka Dia akan memberikan kepada kita hasrat dan energi yang diperlukan untuk memampukan kita (bahkan yang paling lemah sekali pun di antara kita) untuk mengalami suatu kehidupan baru.

Allah Bapa meng-inisiasi iman dalam kehidupan kita dan dengan sabar Ia menanti-nantikan tanggapan dari kita, apakah kita akan menyatakan “ya” kepada Yesus? Akankah kita menjawab panggilan-Nya tanpa bertanya-tanya, tanpa menggerutu, tanpa berargumentasi? Kecenderungan kita untuk berargumentasi dengan Allah berasal-usul pada diri Adam dan Hawa. Untuk memerangi kecenderungan buruk ini, fokus kita haruslah bergeser dari diri kita sendiri kepada Yesus – artinya bagaimana kita mempersepsikan hal-hal di sekeliling kita (dari sudut kita) berpindah kepada bagaimana Allah memandang hal-hal tersebut. Suatu kepercayaan yang teguh akan kasih Allah dan menerima semua yang telah Yesus memangkan bagi kita dapat membantu dalam membangun suatu fondasi bagi kehidupan yang penuh kemenangan. Santo Paulus tahu dan faham benar akan realitas ini. Oleh karena itulah dia dapat mendorong serta menyemangati umat Kristiani di Filipi agar dapat menjadi anak Allah yang setia.

PAULPosisi iman seperti ini berbeda berbeda dengan cara memandang yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari kita. Setiap hari berita-berita dalam media dipenuhi dengan laporan-laporan tentang perang, pembunuhan, aksi kekerasan dlsb. – bukti dari hati orang-orang yang dipenuhi dengan kemarahan, keserakahan, ketamakan dan pemuasan- diri sendiri. Akan tetapi Paulus menulis: “Lakukanlah segala sesuatu tanpa bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, supaya kamu tidak beraib dan tidak bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah orang yang jahat dan sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia” (1Kor 15:14-15). Kehidupan umat Kristiani di Filipi sangat menyenangkan hati Paulus, karena walaupun mereka hidup di tengah-tengah orang-orang yang jahat dan sesat, mereka tetap setia kepada Yesus. Kecondongan-kecondongan terdalam dalam diri mereka kepada Kristus dimanifestasikan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Kesaksian  mereka akan kesucian hidup bersinar terang seperti bintang-bintang di dunia (lihat Luk 15:15).

Mencerminkan kehidupan Allah kepada dunia merupakan privilese semua orang Kristiani. Satu-satunya perbedaan antara orang percaya dan yang tidak percaya adalah bahwa mereka yang percaya itu telah memberikan tanggapan terhadap karya Allah yang telah dimulai dalam diri kita. Kesaksian hidup seperti inilah yang akan membuat orang lain menjadi tertarik untuk menjadi murid Kristus juga.

DOA: Roh Kudus Allah, teruslah menunjukkan kepadaku bahwa kehidupan yang lepas-terpisah dari Yesus adalah kekosongan atau kehampaan belaka. Tolonglah aku menyadari bahwa meskipun aku hidup dalam sebuah dunia yang dipenuhi kegelapan, aku dapat berpegang teguh pada Yesus dalam iman dan taat kepada-Nya dengan sepenuh hati. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 15:1-10), bacalah tulisan yang berjudul “DISIPLIN DIRI DARI HARI KE HARI” (bacaan tanggal 5-11-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2014. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-11-10 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 3 November 2014

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEBUAH DOA SYUKUR KEPADA YESUS KRISTUS

SEBUAH DOA SYUKUR KEPADA YESUS KRISTUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Carolus Borromeus – Selasa, 4 November 2014 

apostole_paul_Hand_Made_Icons__zoomHendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku, “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa! (Flp 2:5-11) 

Mazmur Antar-bacaan: Mzm 22:26-32; Bacaan Injil: Luk 14:15-24

Terima kasih Tuhan Yesus untuk salib-Mu, karena Engkau telah menebus dunia. Terima kasih untuk paku-paku yang menembusi tangan dan kaki-Mu. Koyakkanlah hatiku dengan cintakasih-Mu dan tombak yang menembus lambung-Mu. Kobarkanlah api cintakasih-Mu dan singkirkanlah kegelapan yang masih ada.

Terima kasih Tuhan Yesus untuk mahkota duri-Mu. Aku ingin memahkotai Dikau sebagai Raja segala raja dan Tuhan (Kyrios) alam semesta. Terpaku pada kayu salib, Engkau ditinggikan secara salah. Sekarang aku meninggikan Dikau secara benar disertai dengan seruan puji-pujian sambil bersembah sujud, karena aku percaya sekali akan apa yang ditulis sang pemazmur: “Kamu yang takut akan YHWH, pujilah Dia” (Mzm 22:24).

Terima kasih Tuhan Yesus untuk deraan dan siksaan yang telah Dikau alami. Biarlah aku menanggung segala ketidakadilan yang menimpa diriku dengan penuh kesabaran seturut teladan-Mu. Aku menyadari bahwa dosa-dosaku masih menjadi sebab sakit yang Dikau derita, maka tolonglah aku ‘lari’ dari segala kedosaan, dan lalu hanya mengejar kesucian, hari demi hari sepanjang hidupku.

woman_praying3Terima kasih Tuhan Yesus untuk darah dan air yang mengalir keluar dari lambung-Mu, membersihkan dan melingkupi aku dengan belas kasih-Mu, kerahiman-Mu yang tanpa batas. Tutupilah segala dosaku pada hari ini, Tuhan Yesus. Curahkanlah darah-Mu yang mulia dan kudus ke atas umat-Mu – teristimewa mereka yang tidak mengenal Engkiau, agar mereka pun dapat mengalami kehidupan sejati yang hanya datang daripada-Mu saja.

Terima kasih Tuhan Yesus karena pada kayu salib Engkau telah mematahkan keterikatanku pada dosa. Hari ini aku menolak segala dosa dalam hidupku dan mohon kepada-Mu agar dosa-dosaku disalibkan juga bersama-Mu.

Terima kasih Tuhan Yesus untuk kebangkitan-Mu dari kematian. Engkau telah membangkitkanku bersama-Mu melalui pembaptisan dan telah memenuhi diriku dengan hidup baru oleh Roh Kudus-Mu. Setiap hari aku dapat berpartisipasi, baik dalam kematian-Mu maupun kebangkitan-Mu, dengan mengatakan “tidak” terhadap hal-hal yang dapat menyakiti dan menyedihkan-Mu; sebaliknya akan mengatakan “ya” kepada rahmat dan berkat yang Engkau sediakan bagiku pada hari ini.

DOA PENUTUP: Datanglah Roh Kudus, bukalah mataku agar dapat melihat kemuliaan Salib Kristus. Datanglah dan berdiamlah dalam diriku hari ini dan sepanjang hidupku. Biarlah aku disalibkan bersama Kristus agar mampu berkata seperti Rasul Kristus tercinta, Santo Paulus: “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku’” (Gal 2:19-20).  Dengan demikian aku pun dapat dibangkitkan bersama-Nya kepada suatu kehidupan yang baru dan kekal selamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 14:15-24), bacalah tulisan yang berjudul “PANGGILAN ALLAH UNTUK HIDUP BERSAMA-NYA” (bacaan tanggal 4-11-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2014. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dalam situs/blog SANG SABDA tanggal 28-3-10) 

Cilandak, 3 November 2014 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 82 other followers