BATU YANG DIBUANG TELAH MENJADI BATU PENJURU

BATU YANG DIBUANG TELAH MENJADI BATU PENJURU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Prapaskah – Jumat, 6 Maret 2015) 

PERUMPAMAAN - WICKED HUSBANDMEN“Dengarkanlah suatu perumpamaan yang lain. Adalah seorang tuan tanah membuka kebun anggur dan membuat pagar sekelilingnya. Ia menggali lubang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga di dalam kebun itu. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. Ketika hampir tiba musim petik, ia menyuruh hamba-hambanya kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima hasil yang menjadi bagiannya. Tetapi penggarap-penggarap itu menangkap hamba-hambanya itu: mereka memukul yang seorang, membunuh yang lain dan melempari yang lain lagi dengan batu. Kemudian tuan itu menyuruh pula hamba-hamba yang lain, lebih banyak daripada yang semula, tetapi mereka pun diperlakukan sama seperti kawan-kawan mereka. Akhirnya ia menyuruh anaknya kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani. Tetapi ketika penggarap-penggarap itu melihat anaknya itu, mereka berkata seorang kepada yang lain: Inilah ahli warisnya, mari kita bunuh dia, supaya warisannya menjadi milik kita. Mereka menangkapnya dan melemparkannya ke luar kebun anggur itu, lalu membunuhnya. Apabila tuan kebun anggur itu datang, apakah yang akan dilakukannya dengan penggarap-penggarap itu?” Kata mereka kepada-Nya, “Ia akan membinasakan orang-orang jahat itu dan kebun anggurnya akan disewakannya kepada penggarap-penggarap lain, yang akan menyerahkan hasilnya kepadanya pada waktunya.” Kata Yesus kepada mereka, “Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita. Sebab itu, Aku berkata kepadamu bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari kamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu.

Ketika imam-imam kepala dan orang-orang Farisi mendengar perumpamaan-perumpamaan Yesus, mereka mengerti bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya. Mereka berusaha untuk menangkap Dia, tetapi mereka takut kepada orang banyak, karena orang banyak itu menganggap Dia nabi. (Mat 21:33-43,45-46) 

Bacaan Pertama: Kej 37:3-4,12-13,17-28; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:16-21 

“Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru” (Mzm 118:22).

Para pengkhotbah Kristiani di awal-awal sejarah Gereja kelihatannya suka menggunakan ayat mengenai batu yang dibuang dan telah menjadi batu penjuru ini. Dengarkanlah apa yang dikatakan Petrus (ditemani oleh Yohanes) yang penuh dengan Roh Kudus berbicara di hadapan Mahkamah Agama, a.l sebagai berikut: “Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan – yaitu kamu sendiri – namun ia telah menjadi batu penjuru” (Kis 4:11).

Sebagai “batu yang dibuang”, Yesus masuk ke dalam ikatan solidaritas dengan para korban yang tak bersalah di segala zaman. Perumpamaan tentang kebun anggur adalah cerita mengenai tindakan kekerasan yang kejam dan … berdarah, sampai menghilangkan nyawa orang! Orang-orang yang tidak bersalah dipukuli dan dianiaya oleh mereka yang berambisi buruk. Darah Yesus yang dicurahkan dari atas kayu salib menjadi bagian dari sejarah sekian banyak darah orang-orang tak bersalah dari abad ke abad. Di abad ke-20 saja diperkirakan ada sekitar 100 juta orang yang telah dibunuh dalam perang dunia, perang-perang lainnya, perang gerilya dan perang antara “geng” preman-preman, kamp konsentrasi, “gulag” di Uni Soviet, pembunuhan-pembunuhan tokoh-tokoh, terorisme dlsb.

stdas0748Yesus masuk ke dalam kelompok orang-orang tak bersalah yang menderita sebagai tawanan-tawanan hati nurani, para pengungsi atau korban penindasan HAM. Dunia orang-orang tak bersalah juga mencakup orang-orang yang tidak mendapat bagian yang adil dalam hal distribusi sumber daya dunia, para korban kebijakan-kebijakan fiskal dan moneter dari pemerintah yang lebih mementingkan perlindungan terhadap diri para pengusaha dan orang kaya, juga para korban dari eksploitasi lingkungan hidup yang merusak udara, air dan lapisan ozone yang seyogianya melindungi penduduk bumi.

Setiap hari kita adalah korban-korban dari kesalahpahaman, ketidakhati-hatian, keserakahan. Kita menderita karena ambisi, akal-akalan, ketamakan, ketidakpekaan dlsb. dari orang-orang lain.

Siapa saja yang berada dalam posisi sebagai korban-korban tak bersalah, dapat memandang Yesus di kayu salib, dan Ia siap menyambut mereka dengan tangan terbuka lebar-lebar dan kemudian merangkul mereka: karena Dia adalah “batu yang dibuang”, sama seperti dengan semua orang yang ditolak/dibuang dan korban-korban tak bersalah lainnya.

Di atas kayu salib Yesus adalah suatu tanda bela rasa dan solidaritas. Dan, dalam kebangkitan-Nya Dia adalah suatu tanda pengharapan dan pemulihan nama baik-Nya. Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan malah dipilih untuk berfungsi sebagai batu penjuru yang sangat vital dalam sebuah bangunan. “Hal itu terjadi dari pihak TUHAN (YHWH), suatu perbuatan ajaib di mata kita” (Mat 21:42; bdk. Mzm 118:23).

Yesus adalah suatu tanda untuk menunjukkan bahwa Allah berpihak pada para korban yang tak bersalah. Allah Bapa yang membangkitkan Yesus dari alam maut, akan membersihkan nama baik semua orang tak bersalah yang menderita karena ulah orang lain. Namun mereka harus menunggu dengan sabar sampai tiba waktu (Yunani: Kairos) Allah sendiri. Yesus yang bangkit dari antara orang mati, adalah tanda pengharapan dan pengakuan bahwa diri-Nya adalah Ilahi. Santo Petrus dalam suratnya yang pertama menasihati dan mengajak kita: “Datanglah kepada-Nya, batu yang hidup itu, yang memang dibuang oleh manusia, tetapi dipilih dan dihormati di hadirat Allah. Biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani” (1Ptr 2:4-5).

Guna mengakhiri permenungan kita kali ini, marilah kita mendengar dengan penuh rasa syukur bagian akhir dari “Sabda-sabda Bahagia” yang disabdakan Yesus: “Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersuka cita dan bergembiralah, karena upahmu besar di surga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu” (Mat 5:11-12).

DOA: Bapa surgawi, kuat-kuasa-Mu seringkali terlihat justru di tengah-tengah kegagalan manusia. Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan justru Kaujadikan batu penjuru yang sangat penting demi keselamatan umat manusia, dalam hal ini Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Terpujilah nama-Mu, ya Allah kami, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 21:33-43,45-46), bacalah tulisan yang berjudul “KERENDAHAN HATI, KETEKUNAN DAN KETETAPAN HATI”  dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-03 BACAAN HARIAN MARET 2015.

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kej 37:3-4,12-13,17-28), bacalah tulisan yang berjudul “KISAH YUSUF BIN YAKUB” (bacaan untuk tanggal 9-3-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-3-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 3 Maret 2015  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KAMIS PEKAN KEDUA PRAPASKA – HENRI J.M. NOUWEN

KAMIS PEKAN KEDUA PRAPASKA

(Renungan Harian Dalam Masa Prapaska dari Henri J.M. Nouwen) 

HENRI J.M. NOUWEN - 05“Aku, Tuhan yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan langkah-langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya” (Yer 17:10)

Tidak sulit untuk melihat bahwa kita semua mempunyai keinginan untuk menghasilkan sesuatu dalam dunia kita masing-masing. Ada yang berpikir dalam kerangka besar seperti misalnya mencita-citakan perubahan dalam tata susunan masyarakat. Yang lain sekurang-kurangnya ingin mendirikan rumah, menulis buku atau memenangkan suatu perlombaan. Ada pula yang merasa sudah cukup puas kalau dapat melakukan sesuatu yang berguna bagi seseorang. Namun pada dasarnya kita semua menilai diri kita dengan ukuran sumbangan yang dapat kita berikan kepada kehidupan ini. Dan kalau kita sudah menjadi tua, kebahagiaan atau kesedihan kita ditentukan oleh banyak atau sedikitnya sumbangan yang kita berikan dalam membangun dunia kita dan sejarahnya …

Kalau kita mulai terlalu terikat oleh hasil-hasil pekerjaan kita, sedikit demi sedikit kita akan sampai pada pendapat yang keliru bahwa hidup adalah suatu papan tulis. Di situ orang mencatat prestasi yang kita hasilkan untuk mengukur nilai pribadi kita. Dan sebelum kita sadar sepenuhnya akan hal itu, kita sudah menjual diri kita kepada orang-orang yang memberikan gelar. Ini berarti bahwa kita bukan hanya di dunia, tetapi juga dari dunia. Lalu kita menjadi orang seperti yang dikehendaki oleh dunia. Kita disebut pandai karena orang memberikan gelar tinggi kepada kita. Kita disebut orang suka membantu karena orang lain berterima kasih kepada kita. Kita adalah orang yang baik, karena orang lain menyukai kita. Dan kita adalah orang penting karena orang lain sangat memperhitungkan kita. Pendek kata, kita berharga karena kita berhasil.

+++++++

Menghayati hidup Kristiani berarti hidup di dunia tetapi tidak dari dunia. Kebebasan batin seperti ini dapat berkembang dalam keheningan …

Hidup tanpa tempat hening, artinya hidup yang tidak terbangun di atas batin yang hening, dengan mudah dapat runtuh. Kalau kita terlalu mengandalkan hasil-hasil pekerjaan kita sebagai satu-satunya jalan untuk menampilkan jati-diri kita, kita akan menjadi sangat posesif dan defensif dan cenderung untuk melihat orang lain lebih sebagai musuh yang harus dijauhi daripada kawan yang dapat saling berbagi kehidupan.

Dalam keheningan, sedikit demi sedikit kita dapat melepaskan mimpi-mimpi yang menjadikan kita orang yang selalu siap dengan kuda-kuda, dan menyadari dalam pusat batin kita bahwa yang menentukan jati-diri kita bukanlah hasil-hasil yang dapat kita rebut, tetapi anugerah-anugerah yang telah kita terima. Dalam keheningan, kita dapat mendengarkan suara Dia yang sudah berbicara kepada kita sebelum kita dapat mengucapkan apa pun; yang sudah menyembuhkan kita sebelum kita dapat menawarkan pertolongan; yang sudah membebaskan kita sebelum kita dapat membebaskan orang lain; yang sudah mencintai kita sebelum kita dapat menyatakan cinta kita kepada orang lain. Dalam keheningan itulah kita menemukan bahwa berada (catatan penyalin: keberadaan) kita lebih penting daripada memiliki, dan bahwa diri kita mempunyai nilai jauh lebih tinggi daripada hasil-hasil yang dapat kita capai. Dalam keheningan, kita melihat bahwa hidup kita bukanlah milik yang harus kita pertahankan, melainkan anugerah yang harus kita bagikan. Di situ pulalah kita dapat melihat bahwa kata-kata penghiburan yang kita ucapkan adalah anugerah yang diberikan kepada kita; bahwa kasih yang dapat kita nyatakan adalah bagian dari kasih yang jauh lebih agung; dan bahwa hidup baru yang dapat kita lahirkan bukanlah milik yang harus kita pertahankan melainkan anugerah yang harus kita terima dengan tangan terbuka.

Dalam keheningan kita menjadi sadar bahwa nilai hidup kita tidak sama dengan kebergunaan kita.

DOA: Tuhan, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan atau berbaring, segala jalanku Kaumaklumi. Selidikilah aku ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku dan tuntunlah aku di jalan yang kekal. (Mzm 139:1-3,23-24) 

Diambil dari Henri J.M. Nouwen, TUHAN TUNTUNLAH AKU – Renungan Harian Dalam Masa Prapaska, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1994, hal. 53-55. 

Cilandak, 5 Maret 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERBELA RASA TERHADAP LAZARUS-LAZARUS YANG KITA JUMPAI

BERBELA RASA TERHADAP LAZARUS-LAZARUS YANG KITA JUMPAI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Prapaskah – Kamis, 5 Maret 2015) 

PERUMPAMAAN - LAZARUS DAN ORANG KAYA - 3“Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. Ada pula seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya. Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya. Lalu ia berseru, Bapak Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini. Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang di sini ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita. Selain itu, di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang. Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, Bapak, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk ke dalam tempat penderitaan ini. Tetapi kata Abraham: Mereka memiliki kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkannya. Jawab orang itu: Tidak, Bapak Abraham, tetapi jika seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat. Kata Abraham kepada-Nya Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.” (Luk 16:19-31) 

Bacaan Pertama: Yer 17:5-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-4,6 

Memang tidak enaklah rasanya bila kita untuk pertama kalinya berjumpa dengan seorang pengemis yang meminta-minta sedekah di sebuah sudut jalan. Kita mungkin saja merasa heran apakah yang telah terjadi sehingga menyeret dirinya ke dalam situasi yang samasekali tidak manusiawi. Namun, dengan berjalannya waktu, kita mungkin menjadi terbiasa dengan pemandangan seperti itu, sampai akhirnya kita samasekali tidak memperhatikan orang-orang seperti itu. Cuwek saja! EGP! Pada saat-saat seperti itulah pengemis miskin itu menjadi seperti Lazarus bagi kita.

Orang kaya dalam perumpamaan Yesus hari ini tidak masuk neraka karena dia kaya atau karena dia menikmati hidupnya. Sebaliknya, justru karena si kaya ini begitu disibukkan dengan kepentingan dan kenikmatan dirinya sendiri, sampai-sampai dia mengabaikan keberadaan Lazarus. Si kaya membuat dirinya sebagai pusat dunianya. Hanya di dalam nerakalah dia menyadari bahwa dia harus menggunakan berbagai karunia dan sumber daya yang dimilikinya untuk membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongannya. Kesadaran dirinya bahwa dia sudah terlambat untuk melakukan apa pun guna memperbaiki posisinya tentunya merupakan tambahan penderitaan atas dirinya.

300A-034-026 - MOTHER TERESA HELPING THE POORTerima kasih penuh syukur kita panjatkan kepada Allah karena kita belum terlambat! Pada penghakiman terakhir kita tidak akan diinterogasi perihal sampai seberapa kaya atau miskin diri kita. Tingkat pendidikan kita juga tidak memiliki signifikansi. Banyak dari hal yang kita lakukan dan memakan waktu kita tidak penting ketika Allah menguji kehidupan kita pada akhirnya. Akan tetapi, kita dapat memastikan diri bahwa Dia akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada kita berkaitan dengan penggunaan sumber-sumber daya yang kita miliki (baca Mat 25:31-46). Dalam perumpamaan hari ini, Yesus mengajar kita bahwa jikalau kita menggunakan harta benda dunia ini hanya untuk kepentingan diri kita sendiri, tanpa ada bela rasa terhadap Lazarus-Lazarus dalam kehidupan kita, maka kita mengambil risiko yang ujung-ujungnya sama dengan yang dialami oleh si orang kaya dalam perumpamaan ini.

Dengan hati yang difokuskan pada apa yang penting bagi Allah, marilah kita menggunakan waktu dan kesempatan-kesempatan yang kita miliki untuk mengasihi sesama kita seperti kita mengasihi diri kita sendiri. Oleh karena itu, pada hari ini marilah kita memperhatikan secara istimewa seseorang yang  biasanya kita tidak perhatikan – barangkali seorang pribadi sunyi-sepi-sendiri yang membutuhkan senyum kita, atau seorang anggota keluarga kita yang membutuhkan pertolongan kita. Bela rasa akan bertumbuh dalam hati kita jika kita bertindak atas bela rasa yang kita rasakan terhadap orang lain. Selagi kita belajar menggunakan berbagai karunia yang kita miliki untuk menolong Lazarus-Lazarus yang berdiri di depan pintu rumah kita, maka kita akan lebih mengenal lagi kasih Allah bagi kita.

DOA: Tuhan Yesus, penuhilah hatiku dengan bela rasa-Mu bagi orang-orang yang membutuhkan pertolongan, termasuk mereka yang sakit. Gunakanlah diriku sebagai instrumen-Mu guna menghibur dan menolong mereka. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 16:19-31), bacalah tulisan yang berjudul “ORANG KAYA DAN ORANG MISKIN” (bacaan tanggal 5-3-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-03 BACAAN HARIAN MARET 2015. 

Bacalah juga tulisan-tulisan yang berjudul “ORANG KAYA DAN LAZARUS YANG MISKIN” (bacaan tanggal 8-3-12) dan “KEBERADAAN LAZARUS-LAZARUS DALAM KEHIDUPAN KITA” (bacaan tanggal 20-3-14), keduanya dalam situs PAX ET BONUM. 

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yer 17:5-10), bacalah tulisan yang berjudul “DIBERKATILAH ORANG YANG MENGANDALKAN ALLAH” (bacaan tanggal 28-2-13), dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-3-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 2 Maret 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

RABU PEKAN KEDUA PRAPRASKA – HENRI J.M. NOUWEN

RABU PEKAN KEDUA PRAPASKA

(Renungan Harian Dalam Masa Prapaska dari Henri J.M. Nouwen) 

HENRI J.M. NOUWEN - 01“Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mat 26-28).

Rahasia agung kemurahan hati Allah adalah bahwa dalam kemurahan hati-Nya, dalam tindakan-Nya mengambil rupa seorang hamba bersama-sama kita, Ia mewahyukan diri-Nya sebagai Allah. Perendahan diri-Nya menjadi hamba bukanlah kekecualian dari keallahan-Nya. Pengosongan diri-Nya bukanlah langkah meninggalkan kodrat-Nya yang sejati. Tindakan-Nya menjadi sama seperti kita dan kematian-Nya di salib bukanlah suatu “selingan” dari keberadaan ilahi-Nya. Sebaliknya dalam Kristus yang kosong dan rendah, kita berjumpa dengan Allah, kita melihat siapakah Allah sebenarnya, kita mengenal keilahian-Nya yang sejati.

Dalam kehambaan-Nya Allah tidak mengingkari diri-Nya sendiri, Ia tidak mengenakan sesuatu yang asing, Ia tidak bertindak melawan diri ilahi-Nya. Sebaliknya dalam kehambaan-Nyalah Allah memilih untuk mewahyukan diri sebagai Allah kepada kita. Karena itu, kita dapat berkata bahwa gerak turun seperti yang kita lihat pada Yesus Kristus bukanlah suatu gerakan meninggalkan Allah, namun suatu gerak menuju kepada-Nya sebagai Allah: Allah datang bagi kita tidak untuk memerintah tetapi untuk melayani. Akibatnya, Allah tidak ingin dikenal kecuali melalui perhambaan dan oleh karena itu perhambaan adalah perwahyuan diri Allah.

Penghambaan yang radikal tidak berarti, kecuali kalau kita memperhitungkan tingkat pengertian yang baru dan melihatnya sebagai jalan untuk bertemu dengan Allah sendiri. Menjadi rendah dan dianiaya tidak dapat dijadikan cita-cita, kecuali kalau kita dapat menemukan Allah dalam kerendahan hati dan penganiayaan. Kalau kita mulai melihat Allah sendiri, sumber segala kebahagiaan dan penghiburan di tengah-tengah penghambaan, murah hati menjadi jauh lebih daripada sekedar berbuat baik kepada orang-orang yang tidak beruntung. Penghambaan yang radikal, sebagai tempat pertemuan dengan Allah yang murah hati, membuat kita mampu mengatasi perbedaan-perbedaan antara kaya dan miskin, berhasil dan gagal, beruntung dan bernasib buruk. Penghambaan yang radikal bukanlah usaha untuk mencoba mengurung diri kita sebanyak mungkin, melainkan cara hidup yang penuh kegembiraan. Di dalamnya mata kita terbuka terhadap penglihatan akan Allah yang benar, yang telah memilih jalan penghambaan untuk membuat diri-Nya dikenal. Yang miskin disebut berbahagia bukan karena kemiskinan itu baik, melainkan karena milik merekalah Kerajaan Surga. Yang berduka dikatakan berbahagia bukan karena dukacita itu baik, melainkan karena mereka akan dihibur.

Di sini kita menyentuh kebenaran rohani yang mendalam, yaitu bahwa pelayanan adalah wujud usaha mencari Allah, bukan hanya usaha yang dilandaskan pada keinginan untuk mengadakan perubahan sosial atau pribadi.

+++++++

Kegembiraan dan rasa syukur adalah kualitas batin. Lewat kualitas batin tersebut kita mengenal orang-orang yang melibatkan diri demi pelayanan pada jalan Yesus Kristus … Di manapun kita melihat pelayanan yang sejati, kita menemukan kegembiraan, karena di tengah-tengah pelayanan itu kehadiran ilahi menjadi tampak dan rahmat dianugerahkan. Oleh karena itu orang-orang yang memberikan pelayanan sebagai pengikut-pengikut Yesus, menjadi sadar bahwa mereka menerima lebih banyak daripada yang mereka berikan. Sama seperti seorang ibu tidak perlu diberi balas jasa untuk perhatian yang diberikan kepada anaknya, karena anaknya adalah kegembiraannya, demikian mereka yang melayani sesamanya akan menemukan pahala dalam diri orang-orang yang mereka layani. Kegembiraan orang-orang yang mengikuti jalan pengosongan dan perendahan diri Tuhan, memperlihatkan bahwa yang mereka cari bukanlah kesengsaraan dan penderitaan melainkan Allah yang kemurahan hati-Nya mereka rasakan dalam kehidupan mereka sendiri; mata mereka tidak terpusat pada kemiskinan dan kemalangan, melainkan pada wajah Allah yang mencintai.

DOA: Tuhan, Engkaulah Jalan, Kebenaran dan Hidup. Tidak ada seorang pun yang dapat sampai kepada Bapa selain melalui diri-Mu. (bdk. Yoh 14:6) 

Diambil dari Henri J.M. Nouwen, TUHAN TUNTUNLAH AKU – Renungan Harian Dalam Masa Prapaska, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1994, hal. 50-52. 

Cilandak, 4 Maret 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

UNTUK MELAYANI, BUKAN UNTUK DILAYANI

UNTUK MELAYANI, BUKAN UNTUK DILAYANI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Prapaskah – Rabu, 4 Maret 2015) 

YESUS SANG RABBI DARI NAZARETKetika Yesus akan pergi ke Yerusalem, Ia memanggil kedua belas murid-Nya tersendiri dan berkata kepada mereka di tengah jalan, “Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Mereka akan menyerahkan dia kepada bangsa-bangsa lain, supaya diolok-olokkan, dicambuk dan disalibkan, tetapi pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan.”

Kemudian datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya. Kata Yesus, “Apa yang kaukehendaki?” Jawabnya, “Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.” Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya, “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum? Kata mereka kepada-Nya, “Kami dapat.” Yesus berkata kepada mereka, “Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang yang baginya Bapa-Ku telah menyediakannya.” Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu. Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata, “Kamu tahu bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa bertindak sebagai tuan atas rakyatnya, dan para pembesarnya bertindak sewenang-wenang atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Siapa saja yang ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan siapa saja yang ingin menjadi yang pertama di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Mat 20:17-28) 

Bacaan Pertama: Yer 18:18-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 31:5-6,14-16 

Dalam ilmu management ada tipe pribadi yang diberi julukan “gung ho, take-charge kind of person”. Gambaran apa yang ada dalam pikiran anda seandainya anda diperkenalkan dengan orang tipe ini? Bagi banyak dari kita, kata-kata gung ho dst. ini menggambarkan seseorang yang ambisius – dan barangkali bahkan suka mendesak-desak dan mendorong-dorong agar keinginannya tercapai (Inggris: pushy). “Pukul/lakukan saja dulu, urusan belakangan!” Orang seperti ini dapat sangat baik dalam mengendalikan suatu situasi dan mewujudkan rencana/agendanya, apakah untuk kebaikan atau pun sesuatu yang buruk. Tidak meragukan lagi, pribadi seperti ini juga adalah seorang real doer dapat bergerak leluasa di lapangan, bukan sekadar seorang pemikir yang lebih banyak berada di belakang meja kerjanya. Orang seperti itu juga berkemungkinan besar untuk menjadi pemimpin yang alami (Inggris: natural).

KEMURIDAN - IBU YAKOBUS MINTA KPD YESUSYakobus dan Yohanes bersaudara (anak Zebedeus sang juragan ikan) cocok sekali dengan gambaran seperti ini. Misalnya, ketika Yesus tidak diterima dengan baik di sebuah desa Samaria, dua orang bersaudara ini ingin agar para penduduk desa itu disambar api/kilat yang turun dari langit (lihat Luk 9:51-56). Markus juga menceritakan kepada kita bahwa Yesus menamakan dua orang bersaudara itu “Boanerges”, artinya: anak-anak guruh (Mrk 3:17), barangkali karena entusiasme dan sifat agresif yang mereka miliki. Sekarang, dalam bacaan Injil hari ini, kita memperoleh sedikit kesan dari mana kedua orang bersaudara itu memperoleh sifat mereka yang suka take-charge itu: dari ibunda mereka sendiri. Nyonya Zebedeus kelihatannya tanpa rasa ragu dan malu-malu melakukan pendekatan kepada Yesus dengan suatu permintaan yang “berani” menyangkut dua orang anaknya.

Dapatkah anda membayangkan betapa penuh tantangan tentunya bagi Yakobus dan Yohanes untuk mengikuti Yesus? Mereka harus mendengarkan Dia dengan penuh perhatian, bukannya memegang sendiri kendali atas situasi/orang-orang lain. Mereka juga harus belajar bersikap diam dan membuka hati mereka bagi hikmat Allah, bukan seenaknya mengikuti dorongan hati sendiri, atau ide-ide sendiri. Akhirnya, mereka harus belajar betapa pentingnya menjadi para pelayan/hamba/abdi yang rendah-hati bagi orang-orang lain – bukannya menjadi penguasa atas orang-orang lain. Hal ini sungguh tidak mudah, teristimewa bagi orang-orang yang dididik dan dibesarkan untuk menjadi pemimpin dalam artiannya yang kita kenal secara umum.

Dengan berjalannya waktu, Yesus mentransformir Yakobus dan Yohanes menjadi para pelayan/hamba/abdi sejati, yang memahami kebutuhan untuk mengheningkan hati mereka dan mendengarkan arahan dari Allah sendiri. Apabila Yesus dapat melakukan “mukjizat” perubahan atas dua orang bersaudara ini, maka tentunya Dia dapat melakukannya juga atas diri kita masing-masing. Satu hal bersifat kunci yang dimiliki Yakobus dan Yohanes adalah bahwa mereka tidak menjadi ciut-hati ketika Yesus mengoreksi mereka. Mereka hanya mengikuti terus Yesus, dengan penuh semangat belajar bagaimana  menjadi rendah-hati – oleh karena itu menjadi efektif – seperti Yesus sendiri.

Saudari-saudaraku yang dikasihi Kristus, marilah kita mengikuti contoh yang diberikan oleh dua orang bersaudara – Yakobus dan Yohanes – itu dan belajar betapa pentingnya bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani.

DOA: Tuhan Yesus, aku ingin menjadi seorang pelayan seperti Engkau. Tolonglah aku untuk cukup mengerem diriku agar dapat berdiam dalam kasih-Mu dan kerahiman (belaskasih)-Mu, sehingga dengan demikian aku pun dapat berbagi kasih-Mu dan  kerahiman (belaskasih)-Mu itu dengan orang-orang lain. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 20:17-28), bacalah tulisan yang berjudul “MELAYANI ORANG-ORANG LAIN” (bacaan tanggal 4-3-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-03 BACAAN HARIAN MARET 2015. 

Bacalah juga tulisan-tulisan yang berjudul “MENJADI BESAR DALAM KERAJAAN ALLAH” (bacaan tanggal 27-2-13) dan “DAPATKAH KAMU MEMINUM CAWAN YANG HARUS KUMINUM?” (bacaan tanggal 7-3-12), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 27-2-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 2 Maret 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MENGAJAR KITA AGAR TIDAK MENJADI ORANG MUNAFIK

YESUS MENGAJAR KITA AGAR TIDAK MENJADI ORANG MUNAFIK

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan II Prapaskah – Selasa, 3 Maret 2015) 

YESUS SEORANG PEMIMPIN YANG TEGASLalu berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksudkan untuk dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terbaik di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil orang ‘Rabi.’  Tetapi kamu, janganlah kamu disebut ‘Rabi’; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Janganlah kamu menyebut siapa pun ‘bapak’ di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di surga. Janganlah kamu disebut pemimpin, karena hanya satu pemimpinmu, yaitu Mesias. Siapa saja yang terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan. (Mat 23:1-12) 

Bacaan Pertama: Yes 1:10,16-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:8-9,16-17,21,23 

Para ahli Taurat dan orang-orang Farisi duduk di atas kursi Musa dan memandang diri mereka sebagai para pewaris ajaran-ajarannya dan mengklaim diri mereka sebagai pelestari ajaran-ajaran Musa tersebut. Memang banyak ajaran mereka adalah demi kemuliaan Allah dan seturut semangat Perjanjian Lama, namun sayangnya (celakanya?) tidak ditunjukkan dalam praktek kehidupan mereka.

Yesus mengkritisi hasrat mereka akan kehormatan, seperti gelar “rabi” atau “guru”, juga kecintaan mereka untuk “pamer diri” (pencitraan diri?) di pasar dan di tempat-tempat umum lainnya. Salah satu praktek “gila hormat” atau “pamer diri” orang-orang munafik ini adalah memperbesar kotak yang berisikan ayat-ayat suci yang digunakan selagi mereka berdoa (diikatkan pada kepala dan kotaknya ditaruh di dahi). Mereka juga biasa saling berebut tempat kehormatan pada pertemuan-pertemuan sosial dan keagamaan. Yesus “mengutuk” kemunafikan seperti itu dan mengkontraskannya dengan ideal kepemimpinan Kristiani yang tidak lain tidak bukan adalah untuk melayani. Pada suatu hari Yesus bersabda kepada para murid-Nya: “Kamu tahu bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa bertindak sebagai tuan atas rakyatnya, dan para pembesarnya bertindak sewenang-wenang atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Siapa saja yang ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani …” (Mat 20:25-28; bdk. Mat 23:11).

KONFLIK DGN ORANG FARISI DLL. - ORANG FARISI YANG SOMBONGYesus samasekali bukanlah seperti seorang “rabi” atau “guru” yang tidak mempraktekkan apa yang diajarkannya (lihat Mat 23:3). Yesus mempraktekkan apa yang diajarkan-Nya secara sempurna. Tidak ada contoh nyata yang lebih jelas daripada contoh yang ditunjukkan oleh Yesus dalam hal ini, yaitu ketika merendahkan diri-Nya di atas kayu salib (Flp 2:6-11). “Pelayan-Raja” kita ini sekarang sudah ditinggikan di surga, dan Dia sendiri memang telah mengatakan, “Siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Mat 23:12).

Dari hidup-Nya, Yesus menunjukkan diri-Nya sebagai seorang servant-leader (pemimpin yang melayani) yang sempurna. Oleh karena itu, pantaslah bahwa kita menyapa-Nya sebagai Guru. Yesus tidaklah seperti mereka yang mengklaim berbagai gelar agar mendapat pujian, penghormatan dlsb. yang bersifat keduniaan. Lewat peri kehidupan-Nya Yesus memimpin kita semua menuju Surga, dan kita adalah murid-murid yang baik jika kita mendengarkan dan mematuhi perintah-perintah-Nya dan mengikut Dia. Untuk melakukan hal ini kita dapat memohon kepada Yesus agar Dia memimpin kita. Kita dapat mendengarkan sabda-Nya melalui bacaan dan permenungan Kitab Suci, menerima tubuh-Nya (dan darah-Nya) dalam Ekaristi dan mengikuti ajaran-Nya dengan menaruh kepercayaan kepada-Nya dalam kasih yang sejati.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami agar dapat menyediakan waktu yang cukup setiap harinya guna mendengarkan sabda-Mu. Kuatkanlah kami agar mampu mempraktekkan sabda-Mu dalam kehidupan kami sehari-hari. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 23:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “KITA MEMPUNYAI ROH KUDUS DALAM DIRI KITA” (bacaan tanggal 3-3-15) dalam dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-03 BACAAN HARIAN MARET 2015. 

Bacalah juga tulisan yang berjudul “SEBUAH PERINGATAN KERAS” (bacaan tanggal 26-2-13) dan “YESUS SANG MESIAS ADALAH GURU KITA YANG SEJATI” (bacaan tanggal 18-3-14), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yes 1:10,16-20), bacalah tulisan yang berjudul “BASUHLAH, BERSIHKANLAH DIRIMU” (bacaan tanggal 6-3-12), dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 18-3-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 1 Maret 2015 [HARI MINGGU PRAPASKAH II] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SENIN PEKAN KEDUA PRAPASKA

SENIN PEKAN KEDUA PRAPASKA

(Renungan Harian Dalam Masa Prapaska dari Henri J.M. Nouwen) 

HENRI J.M. NOUWEN - 003“Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati. Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni”  (Luk 6:36-37).

Perintah Yesus, “Hendaklah kamu murah hati, seperti Bapamu murah hati” adalah suatu perintah untuk ambil bagian dalam kemurahan hati Allah sendiri. (Kemurahan hati, menerjemahkan kata compassion, yang berasal dari dua kata Latin pati dan cum yang berarti menderita bersama, berbela rasa, murah hati). Ia menuntut kita untuk membuka topeng ilusi pribadi kita yang diwarnai persaingan, untuk melepaskan cengkeraman kita terhadap keistimewaan-keistimewaan semu yang kita pakai untuk membangun jati-diri kita, dan untuk dimasukkan ke dalam persekutuan hidup dengan Allah yang hanya Ia kenal sendiri. Inilah rahasia kehidupan Kristen: menerima pribadi yang baru, identitas baru, yang tidak tergantung pada apa yang dapat kita capai, tetapi pada apa yang kita terima dengan rendah hati. Pribadi baru ini adalah buah dari keikutsertaan kita dalam kehidupan ilahi, dalam dan melalui Kristus. Yesus menghendaki agar kita menjadi milik Allah seperti Ia adalah milik Allah. Ia ingin agar kita menjadi anak-anak Allah seperti Ia adalah milik Allah. Ia ingin agar kita menjadi anak-anak Allah seperti Ia sendiri adalah Anak Allah. Ia ingin agar kita meninggalkan kehidupan yang lama, yang begitu penuh dengan ketakutan dan keraguan, serta menerima kehidupan baru, kehidupan dari Allah sendiri. Dalam dan melalui Kristus kita menerima identitas baru yang memungkinkan kita berkata, “Aku tidak sama dengan penghargaan yang dapat kukumpulkan melalui persaingan. Diriku adalah cinta yang telah kuterima dengan bebas dari Allah”. Ini membuat kita dapat berkata bersama Santo Paulus, “Aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal 2:20). 

Pribadi yang baru ini, yaitu pribadi Yesus Kristus, memungkinkan kita untuk bermurah hati seperti Bapa. Melalui kesatuan dengan-Nya, kita diangkat keluar dari suasana dan semangat bersaing dan dimasukkan ke dalam keutuhan ilahi. Dengan ikut ambil bagian dalam keutuhan pribadi yang tidak mengenal persaingan, kita dapat masuk ke dalam hubungan-hubungan yang baru dan penuh hati dengan sesama. Dengan menerima identitas dari Dia yang adalah pemberi segala kehidupan, kita dapat berada bersama dengan yang lain tanpa jarak atau ketakutan. Identitas yang baru ini, yang bebas dari keserakahan dan keinginan berkuasa, memungkinkan kita untuk masuk sepenuhnya dan tanpa syarat ke dalam penderitaan orang-orang lain sehingga kita dapat menyembuhkan orang sakit dan membawa yang mati kepada kehidupan. Kalau kita ambil bagian dalam kemurahan hati Allah, suatu cara hidup yang sama sekali baru terbuka bagi kita, yaitu cara hidup yang dapat kita lihat dalam kehidupan para rasul dan orang-orang Kristen yang terkenal, yang telah memberi kesaksian tentang Kristus selama berabad-abad. Kemurahan hati bukanlah bagian dari persaingan, seperti kemurahan hati yang kita ciptakan sendiri. Kemurahan hati adalah wujud dari suatu cara hidup baru, di mana membanding-bandingkan pribadi, permusuhan dan persaingan ditinggalkan secara bertahap.

+++++++

Kemurahan hati menuntut kita untuk pergi ke tempat ada luka, masuk ke tempat-tempat ada penderitaan, ikut serta dalam keterpecahan, ketakutan, kebingungan dan kecemasan. Kemurahan hati menantang kita untuk berteriak bersama mereka yang berada dalam penderitaan, berkabung bersama mereka yang kesepian, menangis bersama mereka yang mencucurkan air mata. Kemurahan hati menuntut kita untuk menjadi lemah bersama yang lemah, ringkih bersama dengan yang ringkih, tak berdaya bersama dengan yang tak berdaya. Murah hati berarti terlibat penuh dalam keadaan hidup manusia. Kalau kita memandang kemurahan hati dengan cara ini, menjadi jelas bahwa di dalamnya terkandung lebih daripada sekedar keramahan atau kelemah-lembutan yang biasa. Tidak mengherankan bahwa kemurahan hati yang dimengerti sebagai menderita bersama, seringkali menimbulkan penolakan yang mendalam atau bahkan protes dalam diri kita. Kita cenderung untuk mengatakan: Ini adalah penyiksaan diri, ini masokisme, ini kesenangan yang tidak wajar akan rasa sakit, ini keinginan yang tidak sehat. Kita perlu mengakui penolakan ini untuk menyadari bahwa penderitaan bukanlah sesuatu yang kita inginkan atau menarik bagi kita. Sebaliknya penderitaan adalah hal yang ingin kita hindari. Karena itu, kemurahan hati tidak terdapat di antara jawaban-jawaban kita yang paling wajar. Kita adalah orang-orang yang menghindari penderitaan dan kita memandang orang yang merasa tertarik akan penderitaan sebagai orang yang tidak normal, atau paling sedikit tidak biasa.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, Engkau datang kepada kami untuk menyatakan kemurahan hati dan kasih Bapa-Mu. Buatlah kami umat-Mu mampu memahaminya dengan seluruh hati, budi dan jiwa kami. Dan kepadaku ya Tuhan, hamba-Mu yang tiap-tiap kali jatuh, tunjukkanlah belas-kasihan-Mu yang tanpa batas. Amin.

Diambil dari Henri J.M. Nouwen, TUHAN TUNTUNLAH AKU – Renungan Harian Dalam Masa Prapaska, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1994, hal. 44-46. 

Cilandak, 2 Maret 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 87 other followers