YANG TULI DIJADIKAN-NYA MENDENGAR, YANG BISU DIJADIKAN-NYA BERKATA-KATA


YANG TULI DIJADIKAN-NYA MENDENGAR, YANG BISU DIJADIKAN-NYA BERKATA-KATA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa V –  Jumat, 13 Februari 2015) 

ORANG TULI DISEMBUHKAN - 01Kemudian Yesus meninggalkan lagi daerah Tirus dan melalui Sidon pergi ke Danau Galilea, melintasi daerah Dekapolis. Di situ orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan yang gagap dan memohon kepada-Nya, supaya Ia meletakkan tangan-Nya di atas orang itu. Sesudah Yesus memisahkan dia dari orang orang banyak, sehingga mereka sendirian, Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu. Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus mendesah dan berkata kepadanya, “Efata!”, artinya: Terbukalah! Seketika itu terbukalah telinga orang itu dan pulihlah lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik. Yesus berpesan kepada mereka supaya jangan menceritakannya kepada siapa pun juga. Tetapi makin dilarang-Nya, makin luas mereka memberitakannya. Mereka teramat takjub dan berkata, “Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata.” (Mrk 7:31-37) 

Bacaan Pertama: Kej 3:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 32:1-2,5-7 

“Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata” (Mrk 7:37).

Marilah kita menerapkan ayat Kitab Suci ini kepada diri kita sendiri. Kita akan menjadi tuli secara spiritual dan bisu secara spiritual, kecuali untuk Kristus. Bayangkan apa jadinya dunia pada hari ini tanpa Kristus, tanpa iman Kristiani kita, tanpa pengaruh kekristenan dalam dunia. Bayangkan apa jadinya hidup tanpa sakramen-sakramen, tanpa perayaan Ekaristi, tanpa rahmat Kristus.

ORANG TULI DISEMBUHKAN - 02Namun demikian, syukur kepada Allah, Kristus sang Putera Allah, telah datang ke tengah umat manusia, dan Ia telah menebus kita dan membawa kita semua ke dalam sebuah persaudaraan di bawah pemeliharaan penuh kasih Bapa surgawi. Kristus telah menyediakan jalan kebenaran bagi kita di bawah bimbingan Gereja yang didirikan-Nya sendiri. Kita tidak lagi tuli dan bisu. Kita mendengar suara Allah lewat Kitab Suci dan kita dapat menanggapinya. Kepada kita diberikan karunia iman melalui sakramen-sakramen. Kita mendengarkan sabda Allah dan percaya. Kita membuka mulut kita dan menggunakan suara kita untuk memuji-muji Allah, tidak hanya dengan kata-kata, melainkan juga dengan mematuhi perintah-perintah-Nya.

Namun kita suka dengan sengaja menutup telinga terhadap ajaran Gereja. Gereja adalah Tubuh Kristus dengan Yesus sendiri sebagai Kepalanya (lihat Kol 1:18). Jadi, dapat dikatakan Gereja adalah Kristus yang berbicara kepada kita di muka bumi pada hari ini. Kita juga suka tidak memanfaatkan dengan baik atau mengabaikan sakramen-sakramen, melalui sakramen-sakramen itu Kristus masih bekerja di tengah-tengah kita, berbicara kepada kita, dan menguatkan iman kita.

ORANG TULI DISEMBUHKAN - 03Kita seharusnya selalu mendengarkan dengan aktif ketika Kristus berbicara kepada kita melalui Gereja-Nya.  Kita juga seharusnya memiliki kehendak baik untuk berbicara untuk dan tentang Kristus pada saat kesempatan datang. Manakala Allah atau Kristus diserang, kita harus berbicara. Kita mempunyai Allah di pihak kita dan tidak ada alasan bagi kita untuk merasa takut menghadapi mereka yang menentang kita terkait dengan iman Kristiani dan kehidupan sehari-hari kita sebagai pengungkapan iman Kristiani tersebut. Kita bukanlah orang tuli atau bisu.

DOA: Tuhan Yesus, bukalah telingaku agar aku dapat mendengar panggilan-Mu dengan jelas. Bukalah hatiku agar aku dapat menanggapi panggilan-Mu dalam iman, meletakkan hidupku demi mereka yang hilang-tersesat dan mereka yang dicampakkan oleh masyarakat. Dalam pelayananku kepada orang-orang lain, tolonglah aku agar dapat memproklamasikan keselamatan yang Kauberikan kepada orang-orang di sekelilingku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 7:31-37), bacalah tulisan yang berjudul “EFATA, TERBUKALAH!” (bacaan tanggal 13-2-15), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-02  BACAAN HARIAN FEBRUARI 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-2-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  6 Februari 2015 [Peringatan S. Petrus Baptista, Paulus Miki, Filipus dr Yesus dkk-Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEORANG PEREMPUAN BERIMAN

SEORANG PEREMPUAN BERIMAN

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan Biasa V – Kamis, 12 Februari 2015) 

crumbs - THE SYRO-PHOENICIAN WOMANLalu Yesus berangkat dari situ dan pergi ke daerah Tirus. Ia masuk ke sebuah rumah dan tidak ingin seorang pun mengetahuinya, tetapi kedatangan-Nya tidak dapat dirahasiakan. Malah seorang ibu, yang anak perempuannya kerasukan roh jahat, segera mendengar tentang Dia, lalu datang dan sujud di depan kaki-nya. Perempuan itu seorang Yunani keturunan Siro-Fenisia. Ia memohon kepada Yesus untuk mengusir setan itu dari anak perempuannya. Lalu Yesus berkata kepadanya, “Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak itu dan melemparkannya kepada anjing.” Tetapi perempuan itu menjawab, “Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak.” Lalu kata Yesus kepada perempuan itu, “Karena kata-katamu itu, pergilah, setan itu sudah keluar dari anakmu.” Perempuan itu pulang ke rumahnya, lalu didapatinya anak itu berbaring di tempat tidur dan  setan itu sudah keluar. (Mrk 7:24-30) 

Bacaan Pertama: Kej 2:18-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 128:1-5

“Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak itu dan melemparkannya kepada anjing” (Mrk 7:27).

Apakah tanggapan anda jika mendengar sendiri kata-kata Yesus kepada perempuan ini? Apakah anda berpikir bahwa Yesus – dengan nada menghina – menolak orang yang datang kepada-Nya memohon-mohon pertolongan-Nya, bahkan bukan untuk dirinya sendiri melainkan untuk anak perempuannya? Yesus samasekali tidak menolak permohonan perempuan Siro-Fenisia itu. Yesus menguji iman-kepercayaan perempuan itu, untuk mengajar kita kuasa dari iman. Yesus meminta iman-kepercayaan setiap kali kita memohon kepada-Nya untuk disembuhkan Perempuan itu telah mengajukan permohonannya kepada Yesus agar anak perempuannya yang dirasuki roh jahat itu disembuhkan. Namun sampai detik itu perempuan itu belum mengungkapkan iman-kepercayaannya. Kita hanya dapat sampai ke hadapan Allah melalui iman.

Sebelum peristiwa ini, Yesus telah menyembuhkan hamba seorang perwira di Kapernaum, seorang “kafir” juga (Mat 8:5-13; Luk 7:1-10). Sang perwira telah mengungkapkan imannya dengan kata-kata yang dapat kita dengar setiap hari dalam perayaan Ekaristi, “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh” (Mat 8:8). Kemudian Yesus berkata: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel” Mat 8:10). Sekarang, Yesus ingin menunjukkan lagi kepada para pengikut-Nya betapa besarnya iman seseorang, walaupun dia adalah seorang “kafir”. Yesus menguji iman dan ketekunan perempuan ini dengan berkata: “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel” (Mat 15:24). Bukankah kepada umat Israel saja Allah telah menganugerahkan karunia iman, karunia berkenan dengan kebenaran-Nya yang diwahyukan dalam Kitab Suci? Kepada umat Yahudilah Allah telah menjanjikan sang Juruselamat.

stdas0076 - CHRIST AND THE SYROPHOENICIAN WOMANDengan indah sekali perempuan Siro-Fenisia mengungkapkan iman dan ketekunan yang telah direkomendasikan oleh Yesus dalam beberapa perumpamaan tentang doa. Perempuan itu berkata: “Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak” (Mrk 7:28). Kerendahan hatinya dan rasa percayanya kepada kebaikan Yesus sungguh indah.

Yesus menjawab, “Karena kata-katamu itu, pergilah, setan itu sudah keluar dari anakmu” (Mrk 7:29). Iman adalah kuasa dengan mana kita menyentuh Yesus, kuasa dengan mana kita dapat menanggapi tindakan Allah dalam diri kita. Selama masa hidup-Nya di muka bumi, Yesus berkontak dengan banyak umat beriman dengan kehadiran-Nya yang bersifat fisik: Kata-kata-Nya, sentuhan-Nya, tindakan penuh kuasa-Nya dalam menyembuhkan orang-orang sakit. Dan, Yesus hendak melanjutkan kehadiran-Nya di tengah-tengah kita lewat kata-kata-Nya, sentuhan-Nya dan tindakan-tindakan-Nya. Ini semua dilakukan-Nya lewat Sakramen-sakramen: di sini Dia menyentuh kita dengan sabda dan tindakan-Nya, sesering kita datang menghadap-Nya dengan iman.

DOA: Tuhan Yesus, aku percaya bahwa hanya dengan iman yang kuat, sehat dan hidup aku dapat datang menhadap hadirat-Mu dan menyentuh-Mu. Iman adalah karunia istimewa yang Kauanugerahkan kepadaku dan saudari-saudaraku seiman, namun aku harus terus memelihara iman itu, merawatnya, menumbuh-kembangkannya dan memperhatikannya dengan penuh kasih. Hanya dengan cara begitulah kuat-kuasa penyembuhan-Mu dapat bekerja dalam diriku secara efektif. Terima kasih, ya Tuhan Yesus. Terpujilah nama-Mu selalu, Engkau yang hidup berkuasa bersama Bapa surgawi dalam persekutuan Roh Kudus, Allah sepanjang segala masa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil  hari ini (Mrk 7:24-30), bacalah tulisan dengan judul “MELALUI YESUS KITA MEMPUNYAI AKSES KEPADA TAKHTA ALLAH” (bacaan tanggal 12-2-15), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-2-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 6 Februari 2015 [Peringatan S. Petrus Baptista, Paulus Miki, Filius dr Yesus dkk-Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

BUKAN YANG EKSTERNAL

BUKAN YANG EKSTERNAL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa V – Rabu, 11 Februari 2015

HARI ORANG SAKIT SEDUNIA 

YESUS SANG RABBI DARI NAZARETLalu Yesus memanggil lagi orang banyak dan berkata kepada mereka, “Kamu semua, dengarkanlah Aku dan perhatikanlah. Tidak ada sesuatu pun dari luar, yang masuk ke dalam diri seseorang, dapat menajiskannya; tetapi hal-hal yang keluar dari dalam diri seseorang, itulah yang menajiskannya. Siapa saja yang bertelinga untuk mendengar hendaklah ia mendengar! Sesudah Ia masuk ke sebuah rumah untuk menyingkir dari orang banyak, murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya tentang arti perumpamaan itu. Lalu jawab-Nya, “Apakah kamu juga tidak dapat memahaminya? Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu dari luar yang masuk ke dalam diri seseorang tidak dapat menajiskannya, karena bukan masuk ke dalam hati tetapi ke dalam perutnya, lalu keluar ke jamban?” Dengan demikian Ia menyatakan semua makanan halal. Kata-Nya lagi, “Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya, sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinaan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, perbuatan tidak senonoh, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang.”  (Mrk 7:14-23) 

Bacaan Pertama: Kej 2:4b-9,15-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 8:4-9

Agama bukanlah terdiri hanya dari regulasi-regulasi eksternal dan bagaimana umat mematuhi segala regulasi yang ada. Kalau demikian halnya, maka penghayatan ajaran agama menuju kekudusan menjadi sangat mudah. Jauh lebih mudahlah untuk menahan diri tidak memakan dan/atau meminum makanan/minuman tertentu dan mencuci tangan dengan cara-cara tertentu daripada tindakan nyata mengasihi orang-orang yang tidak mengasihi kita, bahkan membenci kita, juga orang-orang yang “tak pantas” untuk dikasihi menurut pandangan masyarakat pada umumnya, dan/atau menolong orang-orang yang memerlukan bantuan dengan pengorbanan (katakanlah “biaya”) berupa waktu kita, uang kita, kenyamanan serta kesenangan kita.

Memang terasa mengagetkan bila kita menyadari bahwa diri kita sendiri pun belum memahami sepenuhnya tujuan hidup kita sebagai orang yang “beragama” atau lebih tepatnya “beriman” Kristiani. Kita pergi ke gereja untuk mengikuti Misa Kudus atau Kebaktian secara teratur, mengikuti acara paroki/wilayah dan lingkungan secara teratur pula. Namun segala hal itu adalah hal-hal yang bersifat eksternal. Semua itu hanyalah sarana guna mencapai tujuan kita, yaitu memenuhi panggilan Allah kepada kekudusan lewat proses kemuridan yang berkesinambungan, artinya juga melakukan pertobatan terus-menerus. Hidup beriman sebagai seorang Kristiani menyangkut relasi dan suatu sikap dalam menghadapi Allah dan sesama kita.

Jesus-in-the-SynagogueApabila kehidupan beragama hanya terdiri dari praktek-praktek guna mematuhi peraturan-peraturan eksternal, maka kenyataan tersebut dapat menyesatkan (misleading). Banyak orang menghayati/menjalani kehidupan yang nyaris tanpa cela dilihat dari hal-hal eksternal, namun orang-orang itu menyimpan hal-hal yang paling buruk dan jahat dalam hati dan pikiran mereka. Yesus mengajar bahwa apa yang dilakukan seseorang secara eksternal tidaklah dapat menghapuskan segala yang kotor dan jahat dalam hati dan pikirannya. Yesus mengajarkan: “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah” (Mat 5:8).

Yang penting di mata Allah bukanlah “bagaimana” kita bertindak, melainkan “mengapa” kita melakukan tindakan tertentu; bukan pula apa “yang sesungguhnya” kita lakukan, melainkan apa “yang menurut hati kita ingin lakukan”. Menurut Thomas Aquinas: “Manusia melihat tindakan, namun Allah melihat niat/intensi.”

Inilah ajaran Yesus bagi kita semua. Janganlah kita menamakan diri kita “baik” karena kita mematuhi segala peraturan agama yang berlaku. Dalam sebuah doanya, Santo Fransiskus dari Assisi mengatakan bahwa Allah-lah segala kebaikan, paling baik, seluruhnya baik, hanya Allah sendiri yang baik (Pujian yang Diucapkan pada Semua Waktu Ibadat, 11).

Namun dengan rendah-hati kita dapat mengatakan diri kita baik, “hanya” apabila kita yakin benar bahwa hati kita suci-murni sebagaimana dikatakan oleh Yesus dalam “Khotbah di Bukit” seperti dipetik di atas (Mat 5:8). Hal ini berarti akhir dari kesombongan, yang seringkali masih melekat pada diri banyak umat beriman karena kecenderungan manusia untuk berdosa. Inilah juga alasan sangat mendasar, mengapa kita masing-masing layak dan pantas untuk berdoa kepada-Nya: “Tuhan, kasihanilah aku orang yang berdosa! (bdk. Mrk 10:47,49).

DOA: Bapa surgawi, Allah Pencipta langit dan bumi, kuduslah nama-Mu. Bapa, seturut ajaran Yesus dan oleh kuasa Roh Kudus-Mu, jagalah agar hati kami senantiasa suci-murni agar supaya kelak kami dapat melihat Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 7:14-23), bacalah tulisan yang  berjudul “SEMUA MAKANAN HALAL” (bacaan tanggal 11-2-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2015.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-2-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 5 Februari 2015 [Peringatan S. Agata, Perawan-Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

LEGALISME YANG MENYESATKKAN

LEGALISME YANG MENYESATKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Skolastika, Perawan – Selasa, 10 Februari 2015)

Jesus_vs_Phar_1100-6-10 - YOH 7Orang-orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus. Mereka melihat bahwa beberapa orang murid-Nya makan dengan tangan yang najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh. Sebab orang-orang Farisi seperti orang-orang Yahudi lainnya tidak makan kalau tidak membasuh tangan dengan cara tertentu, karena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang mereka; dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membasuh dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga serta tempat pembaringan. Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada-Nya, “Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?” Jawab-Nya kepada mereka, “Tepatlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik, seperti ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya tetap jauh dari Aku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, karena ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan dan adat istiadat manusia kamu pegang.” Lalu Yesus berkata kepada mereka, “Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadat sendiri. Karena Musa telah berkata: Hormatilah ayahmu dan ibumu! dan: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati. Tetapi kamu berkata: Kalau seseorang berkata kepada ayahnya atau ibunya: Segala bantuan yang seharusnya engkau terima dariku adalah Kurban, – yaitu persembahan kepada Allah – , maka kamu tidak membiarkannya lagi berbuat sesuatu pun untuk ayahnya atau ibunya. Jadi, dengan adat istiadat yang kamu teruskan itu, firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku. Banyak lagi hal lain seperti itu yang kamu lakukan.” (Mrk 7:1-13)

Bacaan Pertama: Kej 1:20-2:4a; Mazmur Tanggapan: Mzm 8:4-9

Orang-orang Farisi dan para pemuka agama Yahudi pada umumnya begitu takut dan iri-hati melihat popularitas Yesus sehingga mereka terus saja mencoba menemukan kesalahan Yesus dalam kata-kata maupun tindakan-tindakan-Nya. Dalam bacaan Injil hari ini disoroti “upacara” cuci tangan sebelum makan. Beberapa murid Yesus mengabaikan “upacara” yang tidak kurang/penting ini. Langsung saja orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang datang dari Yerusalem itu melihat hal tersebut. Mereka mengkonfrontir Yesus seakan hal ini merupakan kelalaian yang sangat berat.

KONFLIK DGN ORANG FARISI DLL. - YESUS MENGECAM - MAT 23Yesus mengkritisi keprihatinan berlebihan mereka pada tradisi-tradisi manusia yang lebih dipentingkan daripada pengabaian perintah-perintah Allah yang terdapat dalam Kitab Suci dengan mengutip dari Kitab nabi Yesaya: “Tepatlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik, seperti ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya tetap jauh dari Aku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, karena ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan dan adat istiadat manusia kamu pegang.” Lalu Yesus berkata kepada mereka, “Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadat sendiri” (Mrk 7:6-9).

Inilah kata-kata keras Yesus yang ditujukan kepada orang-orang Farisi dan beberapa ahli Taurat yang datang dari Yerusalem itu. Pada dasarnya yang dikatakan oleh Yesus ini adalah bahwa mereka adalah orang-orang bodoh, munafik dan tidak jujur. Mereka memelihara tradisi-tradisi mereka bukan disebabkan oleh kasih kepada Allah dan sesama, melainkan untuk melestarikan posisi mereka sebagai para pemuka agama yang kelihatan suci di mata umat Yahudi, kaum elite …… orang-orang terhormat dalam masyarakat.

Namun, sebelum kita menjadi begitu marah dan merasa terdorong untuk menghakimi orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu, marilah kita melihat diri kita sendiri. Apakah kita selalu bersikap jujur terhadap diri kita sendiri, terhadap Allah dan sesama? Jika kita mematuhi perintah-perintah atau peraturan-peraturan, apakah kita melakukannya karena semua itu adalah kehendak Allah atau agar sekadar kelihatan baik di mata orang-orang lain? Apakah kita sebenarnya hanya ingin agar orang-orang lain memandang kita sebagai orang-orang Kristiani saleh yang mematuhi perintah-perintah agama demi kebanggaan pribadi dan juga pertimbangan dari sudut pandang sosial pada umumnya? Ataukah kita – secara jujur sesungguh-sungguhnya – hendak melaksanakan hukum kasih kepada Allah dan sesama, dan kita memandang dan menyikapi setiap perintah dan mematuhinya sedemikian rupa sehingga tindakan-tindakan kita, kata-kata yang kita ucapkan, pikiran-pikiran kita semuanya sungguh merupakan ungkapan kasih Kristiani kita?

DOA: Tuhan Yesus, jadikanlah kami murid-murid-Mu yang setia. Jauhkanlah kami dari sikap munafik dan suka membohongi diri sendiri. Terima kasih Tuhan. Terpujilah nama-Mu selalu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kej 1:20-2:4a), bacalah tulisan yang berjudul “KITA DICIPTAKAN MENURUT GAMBAR DAN RUPA ALLAH” (bacaan tanggal 10-2-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan 11-2-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 5 Februari 2015 [Peringatan S. Agata, Perawan-Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERBAGAI PENYEMBUHAN OLEH YESUS DI GENESARET

BERBAGAI PENYEMBUHAN OLEH YESUS DI GENESARET

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa V – Senin, 9 Februari 2015) 

YESUS MENYEMBUHKAN - ORANG LUMPUH DAN BUTASetibanya di seberang Yesus dan murid-murid-Nya mendarat di Genesaret dan berlabuh di situ. Ketika mereka keluar dari perahu, orang segera mengenal Yesus. Lalu berlari-larilah mereka ke seluruh daerah itu dan mulai mengusung orang-orang sakit di atas tikarnya kemana saja mereka dengar Yesus berada. Kemana pun Ia pergi, ke desa-desa, ke kota-kota, atau ke kampung-kampung, orang meletakkan orang-orang sakit di pasar dan memohon kepada-Nya, supaya mereka diperkenankan menyentuh walaupun jumbai jubah-Nya saja. Semua orang yang menyentuh-Nya menjadi sembuh. (Mrk 6:53-56) 

Bacaan Pertama: Kej 1:1-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 104:1-2,5-6,10,12,24,35 

Yesus senantiasa memiliki kerinduan untuk menyentuh dan menyelamatkan umat-Nya! Kita dapat membayangkan bagaimana Yesus berjalan berkeliling dari kota kecil atau kampung yang satu ke kota kecil atau kampung yang lain di Galilea. Pada saat Ia datang ke sebuah kota kecil, maka orang-orang akan mengenali-Nya dan langsung saja orang banyak berduyun-duyun berkumpul dengan membawa orang-orang sakit, orang lumpuh dlsb. untuk disembuhkan. Mereka “memohon kepada-Nya, supaya mereka diperkenankan menyentuh walaupun jumbai jubah-Nya saja. Semua orang yang menyentuh-Nya menjadi sembuh” (Mrk 6:56). Orang-orang ini mengetahui bahwa Yesus adalah sumber segala kesembuhan tersebut.

Kata dalam bahasa Yunani esozonto (Mrk 6:56) dapat berarti “menyembuhkan” atau “menyelamatkan”. Dalam bacaan hari ini kata ini digunakan dalam artian literalnya; orang sakit yang menyentuh Yesus menjadi sembuh. Kata yang sama dipakai dalam cerita tentang perempuan yang menderita penyakit pendarahan yang menjadi sembuh ketika dia menyentuh Yesus (lihat Mrk 5:34).

Yesus datang untuk membebaskan orang-orang dari segala kejahatan. Penyembuhan-penyembuhan fisik yang dilakukan-Nya harus dilihat dalam konteks hasrat-Nya untuk membawa keselamatan kepada semua orang. Hal ini jelas kelihatan dari pesan Injil secara keseluruhan. Pelayanan Yesus dipusatkan pada sengsara dan kematian-Nya pada kayu salib, di mana Dia menyerahkan hidup-Nya sendiri – demi kasih-Nya – guna menyelamatkan kita. Keselamatan bagi semua orang yang percaya adalah karya terbesar Yesus, dan banyak penyembuhan fisik yang dilakukan-Nya dalam pelayanan-Nya adalah tanda-tanda keselamatan.

YESUS SANG RABBI DARI NAZARETPesan hari ini adalah bagaimana cara-Nya Yesus bekerja dalam kehidupan kita, kita harus datang kepada-Nya seperti orang banyak di Genesaret. Kita harus memohon kepada Yesus agar supaya menyembuhkan kita dan menyelamatkan kita, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang mencari sentuhan kesembuhan-Nya. Kita juga harus melangkah ke luar untuk menerima sentuhan-Nya. Selagi kita datang kepada Yesus dengan segala kerendahan hati, maka Dia akan bekerja dengan penuh kuat-kuasa dalam hidup kita. Sentuhan Yesus adalah sentuhan yang menyembuhkan dan menyelamatkan.

Kadang-kadang kita dapat saja berpikir bahwa kita tidak boleh “mengganggu” Yesus dengan kebutuhan-kebutuhan kita, atau bahwa Yesus sudah mengetahui apa saja yang kita butuhkan. Namun apabila kita meneliti hati kita dengan cukup serius, maka kita akan menemukan bahwa sikap-sikap kita ini menunjukkan ketiadaan iman akan Yesus dan ketiadaan rasa percaya bahwa Dia sungguh mengasihi kita dan memiliki hasrat mendalam untuk menyelamatkan kita. Bukankah Ia sudah mengingatkan kita semua akan pentingnya “ketekunan” lewat pengajaran-Nya dalam “perumpamaan tentang hakim yang tidak adil” (Luk 18:1-8)? Yesus juga mengajarkan kepada kita: “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu” (Luk 11:9).

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan yang menyembuhkan dan menyelamatkan kami, umat manusia. Datanglah dan sentuhlah hidup kami. Tunjukkan kepada kami hasrat-Mu untuk menyelamatkan kami selagi kami memusatkan pandangan kami pada diri-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 6:53-56), bacalah tulisan yang berjudul “BERLARI-LARI KEPADA YESUS” (bacaan tanggal 9-2-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-2-14 dalam situs/local SANG SABDA) 

Cilandak, 2 Februari 2015 [Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MENGGUNAKAN OTORITAS-NYA DENGAN PENUH KASIH

YESUS MENGGUNAKAN OTORITAS-NYA DENGAN PENUH KASIH

 (Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA V [Tahun B],  8 Februari 2015) 

IBU MERTUA PETRUS DISEMBUHKANSekeluarnya dari rumah ibadat itu Yesus bersama Yakobus dan Yohanes pergi ke rumah Simon dan Andreas. Ibu mertua Simon terbaring karena sakit demam. Mereka segera memberitahukan keadaannya kepada Yesus. Ia pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Ia membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka. Menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan. Seluruh penduduk kota itu pun berkerumun di depan pintu. Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan; Ia tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara, sebab mereka mengenal Dia.

Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang terpencil dan berdoa di sana. Tetapi Simon dan kawan-kawannya mencari-cari Dia. Ketika mereka menemukan-Nya, mereka berkata kepada-Nya, “Semua orang mencari Engkau.”  Jawab-Nya, “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota sekitar ini, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.”  Lalu pergilah Ia ke seluruh Galilea memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan-setan.  (Mrk 1:29-39) 

Bacaan Pertama: Ayb 7:1-4,6-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 147:1-6; Bacaan Kedua: 1Kor 9:16-19,22-23

Pernahkah anda merasa pada suatu pagi hari, bahwa anda sungguh merasa tidak mampu bangkit dari tempat tidurmu? Barangkali sesuatu yang anda tidak/kurang senangi masuk dalam jadual  hari itu; misalnya pertemuan dengan para wakil serikat sekerja dalam rangka PHK puluhan orang buruh pabrik karena kebijakan reduksi biaya perusahaan, mengunjungi ibu mertua yang sedang diopname di rumah sakit, atau karena anda memang sedang tidak enak badan, dlsb.

Seperti ibu mertua Simon Petrus yang sedang menderita sakit demam, kita juga dapat dibuat tertekan oleh beban-beban yang bersifat fisik, emosional atau spiritual. Selama masa-masa “penderitaan” seperti itu, kita dapat mengalami depresi, sehingga hampir tidak dimungkinkanlah bagi kita untuk mengasihi dan memperhatikan orang-orang lain. Bahkan pada saat-saat seperti itu tidak mudahlah bagi kita untuk percaya bahwa Allah (atau siapa saja) sungguh memperhatikan diri kita.

Ketika Yesus mendengar tentang ibu mertua Simon Petrus, langsung Ia pergi ke tempat tinggal perempuan itu. Yesus memegang tangan perempuan itu dan membangunkannya, lalu lenyaplah demamnya. Singkatnya, Yesus menyembuhkan ibu Simon Petrus, dan perempuan itu mulai melayani Yesus dan para murid yang hadir di tempat itu. Kuat-kuasa, otoritas dan kasih yang sungguh luarbiasa, dimanifestasikan dalam kehadiran Yesus. Tidak sesuatu pun – penyakit, dosa, roh jahat – yang dapat melawan Dia.

BANYAK ORANG DISEMBUHKANMarkus menyajikan cerita ini dalam Injilnya untuk menunjukkan bagaimana Yesus menggunakan otoritas-Nya dengan penuh kasih. Ia sedemikian mengasihi kita sehingga Dia menjadi seorang manusia dan masuk ke dalam kondisi kita-manusia yang lemah dan terluka, lalu Dia berjaya lewat penyerahan hidup-Nya sendiri di atas kayu salib. Ia mengambil segala penderitaan kita dan memikul sendiri sakit-penyakit kita. Sekarang Ia mengundang kita menerima kasih-Nya dan kuasa penyembuhan-Nya. Sang pemazmur menulis: “Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka” (Mzm 147:3). Yesus sungguh ingin menyembuhkan kita sedalam mungkin – dengan meningkatkan kapasitas kita untuk menerima dalam iman segala sesuatu yang dilakukan-Nya bagi kita di atas kayu salib, dengan menarik kita lebih dekat lagi kepada diri-Nya.

Karena senantiasa berjuang untuk menjadi serupa dengan Gurunya, Santo Paulus dengan tulus dan berani menulis kepada jemaat di Korintus seperti berikut: “Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat memenangkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin menyelamatkan beberapa orang dari antara mereka. Semuanya ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian di dalamnya” (1Kor 9:22-23). Apabila kita sungguh percaya kepada Yesus Kristus, maka harus turut ambil bagian dalam misteri-misteri-Nya di atas altar, dan senantiasa patuh serta taat kepada perintah-perintah-Nya. Dengan demikian, Roh Kudus akan masuk ke dalam diri kita dengan lebih mendalam lagi dan memberikan kepada kita kuasa untuk mencerminkan kasih Kristus dengan lebih penuh lagi. Yesus ingin memerintah atas segala kegiatan kita melalui Roh-Nya, untuk membuat kita mengasihi Tuhan dan melayani umat-Nya dengan kerendahan hati dan bela-rasa.

Karena diperkuat oleh kehadiran Roh Kudus dalam diri kita, marilah kita berjalan dalam otoritas dan bela-rasa Yesus. Selagi kita melakukannya, maka – berkat rahmat Tuhan – kita pun akan menerima kemampuan seperti Paulus, yaitu untuk menjadi segalanya bagi semua orang, melayani mereka dalam kasih.

DOA: Tuhan Yesus, memerintahlah atas segala kegiatan kami melalui Roh Kudus-Mu, agar kami dapat mengasihi-Mu secara total, dengan demikian mampu melayani umat-Mu dengan kerendahan hati dan bela-rasa. Oleh Roh Kudus-Mu, bentuklah diriku menjadi murid-Mu yang baik, sehingga – seperti Paulus dan Engkau sendiri – aku dapat menjadi segalanya bagi semua orang.  Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil Misa hari ini (Mrk 1:29-39), bacalah tulisan dengan judul “YESUS MEMBAWA KESELAMATAN YANG PENUH” (bacaan untuk tanggal 8-2-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 5-2-12 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 2 Februari 2015 [Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERISTIRAHAT SEJENAK

BERISTIRAHAT SEJENAK

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa IV – Sabtu, 7 Februari 2015)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Koleta dr Corbie, Biarawati Klaris 

KHOTBAH DI BUKIT - 501Kemudian rasul-rasul itu kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan. Lalu Ia berkata kepada mereka, “Mari kita menyendiri ke tempat yang terpencil, dan beristirahat sejenak!” Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makan pun mereka tidak sempat. Lalu berangkatlah mereka dengan perahu menyendiri ke tempat yang terpencil. Tetapi pada waktu mereka bertolak banyak orang melihat mereka dan mengetahui tujuan mereka. Dengan mengambil jalan darat bergegas-gegaslah orang dari semua kota ke tempat itu sehingga mendahului mereka. Ketika mendarat, Yesus melihat orang banyak berkerumun, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka. (Mrk 6:30-34) 

Bacaan Pertama: Ibr 13:15-17,20-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 23:1-6

Yesus telah mengutus para murid-Nya yang dua belas orang itu (para rasul) untuk berkhotbah/mengajar, menyembuhkan orang sakit dan mengusir roh-roh jahat. (Mrk 6:7-13). Pada waktu mereka datang kembali, Yesus mengatakan kepada mereka: “Mari kita menyendiri ke tempat yang terpencil, dan beristirahat sejenak!” (Mrk 6:31). Yesus menyadari adanya kebutuhan para murid-Nya untuk pulih kembali dari rasa lelah karena melakukan misi mereka secara terus-menerus. Namun kata “beristirahat” dalam artian biblis mempunyai konotasi-konotasi spiritual yang lebih mendalam. Sejak awalnya, orang-orang Israel diwajibkan untuk menguduskan hari Sabat (Kel 20:8) guna mengingatkan orang-orang akan pembebasan mereka dari perbudakan di Mesir (Ul 5:12-15) dan untuk berpartisipasi dalam istirahat sang Pencipta. Mampu untuk beristirahat adalah suatu tanda kebebasan. Menurut tradisi Imam (priestly tradition), orang yang mematuhi “istirahat” Sabat, sebenarnya meniru/mencontoh Allah, yang setelah menciptakan surga dan bumi, beristirahat pada hari ketujuh (Kel 31:17; Kej 2:2-3).

GEMBALA YANG BAIK - 15Beristirahat adalah menyatakan imaji Allah yang ada dalam diri kita; hal ini tidak hanya membuat kita bebas, melainkan membuat kita menjadi anak-anak Allah. Istirahat Allah bukanlah sekadar berhenti bekerja, melainkan membalikkan energi seseorang kepada pujian penuh sukacita bagi sang Pencipta dan Penebus. Pada zaman Yesus, Kerajaan Allah mengacu pada peragaan Allah sebagai penguasa pada akhir sejarah dan diakuinya hal itu oleh segenap ciptaan. Markus berpendapat bahwa siapa saja yang hendak memahami Kerajaan Allah harus melihat Yesus – sang Penyembuh, sang Guru, sang Tersalib dan Ia yang telah bangkit dari antara orang mati. Yesus mencapai apa yang dilambangkan oleh  hari Sabat sebelumnya, yaitu surga, supaya mereka yang mati dalam Tuhan boleh beristirahat dari jerih lelah mereka (Why 14:13).

Yesus melihat orang banyak menanti-nantikan-Nya dan Ia memiliki belarasa. Mereka seperti domba-domba tanpa gembala (Mrk 6:34). Yesus – sang Gembala Baik – ingin agar kita beristirahat setelah melakukan pekerjaan-Nya. Agar kita dapat melanjutkan pekerjaan-Nya, maka kita perlu ditopang dan diberi “makanan” (dalam artiannya yang luas). Istirahat Allah adalah istirahat untuk tubuh, pikiran dan roh. Ini adalah istirahat yang memampukan kita untuk melanjutkan karya pelayanan sebagai murid-murid-Nya seturut panggilan-Nya.

Selagi kita mengkontemplasikan apa artinya beristirahat dalam Tuhan, marilah kita merenungkan nas-nas dari Mazmur 23, dan kita memakai nas-nas itu sebagai doa kita.

DOA: TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau. Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. …… Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa (Mzm 23:1-3, 6). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 6:30-34), bacalah tulisan dengan judul “WAKTU BERSAMA YESUS” (bacaan tanggal 7-2-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 8-2-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 2 Februari 2015 [Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 85 other followers