MENJADI SESAMA DARI ORANG-ORANG YANG MENDERITA

MENJADI SESAMA DARI ORANG-ORANG YANG MENDERITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVII – Senin, 6 Oktober 2014)

Ordo Franciscanus Saecularis: Peringatan S. Maria Fransiska dari ke-5 luka Yesus 

good-samaritan

Kemudian berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya, “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus kepadanya, “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di dalamnya?” Jawab orang itu, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kata Yesus kepadanya, “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.” Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus, “Dan siapakah sesamaku manusia?” Jawab Yesus, “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi juga memukulnya dan sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia mengeluarkan dua dinar dan memberikannya kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun?” Jawab orang itu, “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya, “Pergilah, dan perbuatlah demikian!” (Luk 10:25-37)

Bacaan Pertama: Gal 1:6-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 111:1-2,8-10 

Walaupun niat si ahli Taurat adalah untuk mencobai Yesus, kiranya kita perlu berterima kasih kepadanya, karena dialah yang bertanya kepada Yesus tentang “siapakah sesama kita”, dan jawaban Yesus kepadanya mengambil bentuk sebuah perumpamaan yang sangat menyentuh hati dan sangat instruktif serta jelas-gamblang: “Perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati”. Perumpamaan ini dengan terang-benderang mencerahkan pemikiran kita tentang kasih Kristiani yang sesungguhnya. Perumpamaan Yesus ini mengkonfrontasikan kita dengan pertanyaan apakah kita juga adalah orang-orang Samaria yang baik hati.

jesus christ super starKita tahu tentang hukum kasih. Kita juga mengetahui bahwa vonis yang dijatuhkan sang Hakim Agung pada pengadilan terakhir akan tergantung pada kasih kita kepada sesama kita. Jadi, kita harus bertanya kepada diri kita sendiri: Apakah kita biasanya bersikap dan berperilaku sebagai “orang-orang Samaria yang baik hati” terhadap sesama kita yang sudah lansia, yang sedang sakit, yang miskin? Ataukah kita dengan cepat melewati “orang-orang susah” itu seakan-akan tidak melihat mereka, tidak merasa bahwa mereka membutuhkan pertolongan kita, tentunya dengan dalih-dalih atau alasan-alasan guna mendukung sikap kita yang “tidak mau tahu” dan tentunya perilaku kita sebagai pengungkapan sikap kita. “Biarlah orang lain menolong orang-orang itu. Saya masih sibuk sekarang – Saya masih mempunyai keluarga saya sendiri untuk diperhatikan – Saya akan terlambat sampai ke kantor dan terkena hukuman seandainya saya menolong orang yang terkapar di pinggir jalan itu.” Wah, banyak sekali dalih atau alasan berisikan kebohongan – dari yang berbobot ringan sampai berat – yang dapat dikemukakan.

Banyak orang-orang Kristiani  “baik-baik”, yang ketika mendengarkan khotbah tentang Sengsara dan Salib Kristus, menjadi berbela-rasa dan mengatakan kepada Tuhan Yesus bahwa mereka akan melakukan apa saja untuk meringankan penderitaan-Nya. Tuhan Yesus memberikan kepada mereka tes atas ketulusan mereka ketika Dia mengatakan kepada kita, “Aku berkata kepadamu, segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku” (Mat 25:45).

“Orang-orang yang paling hina” di mata Yesus; mereka yang lapar, yang miskin, dlsb. tidak sulit untuk ditemukan di sekeliling kita dan tidak sulit juga untuk dijangkau oleh setiap orang Kristiani yang berkehendak baik. Masalahnya bukanlah jumlah uang atau waktu yang kita abdikan untuk menolong, menghibur mereka yang sedang mengalami berbagai kesusahan. Pengorbanan yang kita buat dari berbagai berkat yang Allah telah berikan kepada kita, inilah yang penting. Bahkan yang paling miskin ataupun yang paling sibuk sekalipun di antara kita dapat menemukan kesempatan untuk menolong seseorang yang dibutuhkan. Kita semua dapat dan harus menjadi orang-orang Samaria yang baik. Ini tidak dapat ditawar-tawar lagi, karena inilah yang diajarkan oleh Yesus, Tuhan dan Juruselamat kita sendiri. Dari ke waktu Allah akan memberikan kepada kita moments of truth, saat-saat di mana kita dapat membuktikan sendiri siapa diri kita sebenarnya: si imam, si orang Lewi atau “orang Samaria yang baik hati”.

DOA: Tuhan Yesus, kami sungguh berbahagia penuh syukur karena Kaupercayakan sebagai saluran-saluran kasih-Mu dan berkat-berkat-Mu, juga untuk menjadi sentuhan tangan-tangan-Mu yang penuh kasih. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Gal 1:6-12), bacalah tulisan yang berjudul “PESAN PAULUS KEPADA JEMAAT DI GALATIA” (bacaan tanggal  6-10-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2014.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 7-10-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 3 Oktober 2014 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERUMPAMAAN TENTANG PENGGARAP-PENGGARAP KEBUN ANGGUR

PERUMPAMAAN TENTANG PENGGARAP-PENGGARAP KEBUN ANGGUR

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXVII, 5 Oktober 2014)

Vineyard Shot #2 Sept 20102

“Dengarkanlah suatu perumpamaan yang lain. Adalah seorang tuan tanah membuka kebun anggur dan membuat pagar sekelilingnya. Ia menggali lubang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga di dalam kebun itu. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. Ketika hampir tiba musim petik, ia menyuruh hamba-hambanya kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima hasil yang menjadi bagiannya. Tetapi penggarap-penggarap itu menangkap hamba-hambanya itu: mereka memukul yang seorang, membunuh yang lain dan melempari yang lain lagi dengan batu. Kemudian tuan itu menyuruh pula hamba-hamba yang lain, lebih banyak daripada yang semula, tetapi mereka pun diperlakukan sama seperti kawan-kawan mereka. Akhirnya ia menyuruh anaknya kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani. Tetapi ketika penggarap-penggarap itu melihat anaknya itu, mereka berkata seorang kepada yang lain: Inilah ahli warisnya, mari kita bunuh dia, supaya warisannya menjadi milik kita. Mereka menangkapnya dan melemparkannya ke luar kebun anggur itu, lalu membunuhnya. Apabila tuan kebun anggur itu datang, apakah yang akan dilakukannya dengan penggarap-penggarap itu?” Kata mereka kepada-Nya, “Ia akan membinasakan orang-orang jahat itu dan kebun anggurnya akan disewakannya kepada penggarap-penggarap lain, yang akan menyerahkan hasilnya kepadanya pada waktkunya.” Kata Yesus kepada mereka, “Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita. Sebab itu, Aku berkata kepadamu bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari kamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu. (Mat 21:33-43)

Bacaan Pertama: Yes 5:1-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 80:9,12-16,19-20; Bacaan Kedua: Flp 4:6-9 

PERUMPAMAAN - WICKED HUSBANDMENDalam perumpamaan ini Yesus menggunakan gambaran kebun anggur seperti yang digunakan oleh Yesaya sebelumnya (Yes 5:1-7). Sasaran Yesus dengan perumpamaan ini adalah para pemimpin atau pemuka agama Yahudi. Mereka membimbing umat Allah (kebun anggur) untuk keuntungan mereka sendiri, bukan untuk Allah (pemilik kebun anggur). Dengan demikian Allah tidak menerima tanggapan (buah) yang diharap-harapkannya. Yang lebih “parah” lagi adalah, bahwa mereka menutup umat dari Yesus, sang Putera Allah.

Kita dapat menggunakan gambaran (imaji) kebun anggur ini untuk mencerminkan cara sikap-sikap yang keliru dapat menguasai pikiran kita dan mencegah kita menghasilkan buah baik berupa kasih dan belas kasihan. Harapan-harapan sang tuan tanah pemilik kebun anggur hancur  karena kebun anggur miliknya itu dikuasai oleh para penggarap yang bersikap memusuhi. Sesuatu yang serupa terjadi dalam relasi kita dengan Allah ketika kita memperkenankan filsafat-filsafat (katakanlah dalam hal ini falsafah-falsafah) dunia mengkontaminasi pemikiran kita. Barangkali kita telah mengambil oper relativisme moral atau “yang buruk-buruk di bidang seks” dari film, buku atau dari “dunia maya” (internet). Barangkali kita telah melibatkan diri dalam praktek-praktek okultisme atau “new age”. Sebagai akibatnya, kehidupan rahmat dalam diri kita menjadi rusak.

Kabar baiknya adalah bahwa Allah itu tanpa reserve dan tidak menghitung-hitung biaya dalam upaya-Nya untuk membebaskan diri kita dari pengaruh-pengaruh yang tidak baik seperti disebut di atas. Yesus datang untuk membuang segala hal yang mengganggu membawa dampak buruk atas pikiran kita, kemudian mendirikan kerajaan-Nya di dalam diri kita – namun Ia tidak akan melakukan hal tersebut sendiri. Setiap hari, Dia memanggil kita untuk menaruh iman kita dalam kemenangan-Nya atas dosa dan kematian dan taat kepada perintah-perintah-Nya. Tindakan menyerahkan diri kita kepada kita bukanlah suatu kehilangan kendali yang tidak sehat, melainkan memperoleh kembali kendali kita. Mengapa? Karena dengan demikian kita dipulihkan kepada pikiran kita yang benar. Selagi sabda Allah meresap dalam kehidupan kita, kita pun dibebaskan dari tirani dosa dan pikiran kita dipenuhi dengan “semua yang benar, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedang didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji” (Flp 4:8).

DOA: Yesus Kristus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Aku menyerahkan diriku sepenuhnya ke bawah pengendalian kasih-Mu. Tuhan, usirlah apa saja dalam diriku yang bertentangan dengan Engkau dan nilai-nilai kerajaan-Mu. Aku sungguh ingin berbuah seturut rencana-Mu menciptakanku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 21:33-43), bacalah tulisan yang berjudul “MOVE TERAKHIR SANG PEMILIK KEBUN ANGGUR” (bacaan tanggal 5-10-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2014. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 2-10-11 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 2 Oktober 2014 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SELAMAT PESTA SANTO FRANSISKUS DARI ASSISI

StFrancisforWeb

Cilandak, 4 Oktober 2014

Saudari dan Saudara yang dikasihi Kristus,

Hal: Selamat Pesta Santo Fransiskus dari Assisi

Pada hari ini, Gereja merayakan pesta S. Fransiskus dari Assisi [1181-1226]. Berabad-abad lamanya umat Kristiani dan non-Kristiani telah melakukan penghormatan kepada orang kudus ini sebagai seorang manusia sederhana dan penuh kedamaian. Namun demikian, Fransiskus bukanlah sekadar seorang pembawa damai berhati lembut yang merangkul gaya hidup penuh kesederhanaan. Jauh dari itu, Fransiskus adalah seorang manusia yang penuh gairah, yang mengasihi Allah secara luarbiasa dan senantiasa berupaya untuk menghayati Injil secara radikal. Berbalik dari kehidupan sebelumnya yang dipenuhi kegiatan pemuasan-diri sendiri, Fransiskus kemudian memusatkan energinya untuk mengikuti jejak Yesus Kristus. Seluruh kehidupan Fransiskus adalah sebuah kisah pertobatan – sebuah cerita yang menunjukkan betapa dalam Allah dapat mengubah seorang pribadi yang menanggapi panggilan-Nya.

Pertobatan adalah suatu perubahan hati, suatu pembalikan batiniah yang memampukan Roh Kudus membawa suatu orientasi baru bagi kehidupan kita. Pada saat kita menerima undangan Yesus untuk merangkul kebebasan yang ditawarkan-Nya melalui ketaatan, Dia mentransformasikan kita. Kita cenderung untuk berpikir bahwa pertobatan berarti berbalik dari sesuatu yang salah atau pertobatan dari dosa. Tentu saja ini adalah sebuah aspek yang perlu dalam pertobatan, namun apabila kita hanya fokus pada pertobatan, maka kita menghadapi risiko luput melihat arah positif yang kita ambil ketika kita bertobat. Kita dapat saja berpikir bahwa hidup kita tidak akan senikmat dahulu apabila kita  melepaskan cara-cara kita yang lama. Akan tetapi, justru sebaliknyalah yang terjadi. Pikirkanlah semua orang kudus – seperti Fransiskus – yang menggambarkan bagaimana hidup dapat menjadi semakin kaya apabila kita berbalik kembali kepada Yesus.

Saudari dan Saudaraku, marilah kita membuka hati kita masing-masing bagi Yesus dan bagi segala sesuatu yang ditawarkan oleh-Nya setiap hari. Setiap kali kita berbalik kepada-Nya, maka sesungguhnya kita meninggalkan kegelapan dosa semakin jauh di belakang kita dan kita pun masuk semakin penuh ke dalam terang-Nya dan kebebasan-Nya yang sejati.

SELAMAT PESTA SANTO FRANSISKUS DARI ASSISI !!!

Salam persaudaraan,

 

Frans Indrapradja, OFS

 

 

BERSUKACITALAH KARENA NAMAMU ADA TERDAFTAR DI SURGA

BERSUKACITALAH KARENA NAMAMU ADA TERDAFTAR DI SURGA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Fransiskus dr Assisi – Sabtu, 4 Oktober 2014)

Keluarga Fransiskan: Hari Raya Santo Fransiskus dari Assisi 

YESUS - SANG GURUKemudian ketujuh puluh murid itu kembali dengan gembira dan berkata, “Tuhan, setan-setan pun takluk kepada kami demi nama-Mu.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit. Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa atas segala kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu. Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di surga.”

Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata, “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorang pun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu.” Sesudah itu berpalinglah Yesus kepada murid-murid-Nya secara tersendiri dan berkata, “Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat. Karena Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.”  (Luk 10:17-24)

Bacaan Pertama: Ayb 42:1-3,5-6,12-16; Mazmur 119:66,71,75,91,125,130 

Baik Yesus maupun para murid-Nya bergembira ketika mereka (para murid) kembali dari perjalanan misioner mereka, namun berdasarkan alasan-alasan yang berbeda. Para murid Yesus merasa gembira penuh sukacita karena mengalami kuat-kuasa Allah yang bekerja melalui diri mereka (Luk 10:17). Mereka telah berhasil menyembuhkan orang-orang sakit dan membebaskan mereka yang dirasuki roh-roh jahat. Kita dapat membayangkan para murid yang merasa takjub atas keberhasilan “mereka” sendiri dan saling berkata satu sama lain: “Hei, Injil ini sungguh manjur!”

Karena hal inilah yang dikehendaki oleh Yesus untuk dilakukan oleh para murid-Nya dalam misi mereka, maka tentunya Dia juga bergembira mendengar “cerita sukses” para murid-Nya itu. Namun Yesus melihat bahwa perlulah untuk membuat suatu penyesuaian, kasarnya suatu perubahan, dalam sikap-sikap para murid-Nya. Para murid tersebut menghadapi bahaya “luput melihat” alasan yang paling penting untuk bergembira, yaitu  bahwa mereka telah menjadi warga-warga Kerajaan-Nya dan akan berada bersama Dia selama-lamanya (Luk 10:20). Peragaan kuat-kuasa ilahi yang mereka alami dan dapat dikatakan bersifat sensasional sebenarnya merupakan sebagian saja dari kehidupan dalam Kerajaan Allah. Mukjizat-mukjizat dan berbagai tanda heran lainnya bukanlah Kerajaan itu sendiri!

KEMURIDAN - YESUS MEMANGGIL PARA MURIDNYACukup kontras dengan sikap-sikap yang ditunjukkan para murid-Nya, Yesus berterima kasih penuh syukur kepada Bapa di surga untuk hal terpenting yang dicapai melalui misi para murid-Nya: Kebenaran Injil telah dinyatakan kepada orang-orang, baik dengan kata-kata maupun perbuatan nyata. Kata-kata Yesus yang bersifat koreksi dan doa syukur-Nya menunjukkan apa yang sesungguhnya ada dalam jantung kekristenan (Kristianitas). Secara fundamental, Kristianitas adalah masalah “pernyataan/perwahyuan oleh Roh Kudus” dan “kewargaan di dalam Kerajaan Surga”. Segala hal lainnya adalah pertumbuhan selanjutnya dari dua karunia yang indah ini.

Saudari dan Saudara yang dikasihi Kristus, sadarkah kita (anda dan saya) bahwa Allah telah memilih kita masing-masing untuk menjadi seorang warga Kerajaan-Nya? Dapatkah kita melihat bahwa ada privilese yang tersedia bagi kita – untuk menerima perwahyuan Roh Kudus dan mengenal sentuhan Allah pada hati kita? Kita masing-masing sebenarnya tidak diundang untuk sekadar menjadi seorang hamba Allah, yang menerima kuat-kuasa dari-Nya demi Kerajaan-Nya. Allah ingin membuat diri kita masing-masing menjadi anak-Nya. Allah ingin mencurahkan afeksi-Nya atas diri kita masing-masing, seperti setiap ayah akan memperhatikan anak-anaknya. Menjalin suatu relasi pribadi dengan Allah sekarang dan janji untuk berada bersama-Nya selama-lamanya: Inilah warisan kita masing-masing sebagai seorang murid Yesus. Semoga realisasi dari karunia-karunia Allah membuat kita pantang mundur dalam mengasihi dan melayani Dia.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah mendaftarkan namaku di dalam kitab kehidupan. Aku menyembah Engkau dan memuji Engkau karena Engkau telah menyatakan diri-Mu kepadaku. Aku bergembira penuh sukacita dalam karunia Roh Kudus-Mu. Terima kasih, ya Bapa, untuk belas kasih dan rahmat-Mu yang telah Kautunjukkan lewat diri Putera-Mu terkasih, Tuhan dan Juruselamatku, Yesus Kristus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 10:17-24), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH MENYATAKAN SEMUA ITU KEPADA ORANG KECIL” (bacaan tanggal 4-10-14) dalam situs SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2014. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 5-10-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 2 Oktober 2014 [Peringatan Para Malaikat Pelindung] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MENGUTUK BEBERAPA KOTA

YESUS MENGUTUK BEBERAPA KOTA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVI – Jumat, 3 Oktober 2014) 

YESUS SEORANG PEMIMPIN YANG TEGAS“Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mukjizat-mukjizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung. Akan tetapi pada waktu penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan daripada tanggunganmu. Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati!

Siapa saja yang mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan siapa saja yang menolak kamu, ia menolak Aku; dan siapa saja yang menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku.” (Luk 10:13-16)

Bacaan Pertama: Ayb 38:1,12-21; 39:36-38;  Mazmur Tanggapan: Mzm 139:1-3,7-10,13-14 

Dalam Bacaan Injil hari ini kita mendengar Yesus mengutuk beberapa kota di Galilea. Tidak kagetkah kita mendengar kecaman atau kutukan seperti ini keluar dari mulut Yesus? Rasa-rasanya ini bukanlah Yesus yang menegur dua bersaudara anak Zebedeus (Yakobus dan Yohanes) ketika mereka menyarankan kepada Yesus untuk membinasakan penduduk sebuah desa Samaria yang tidak mau menerima Dia (lihat Luk 9:51-55). Yesus ini mengajar kita untuk “mengasihi musuh-musuh kita” dan “mendoakan orang-orang yang berbuat jahat terhadap diri kita” (Luk 6:27).

Dengan Yesus dan semua nabi kita menyadari bahwa segala bahaya dan tragedi berasal dari dosa. Kita berharap bahwa kita akan memberikan hidup kita dan menjauhkan skandal dari orang-orang kecil, “anak-anak muda, mereka yang murni, mereka yang inosen (Inggris: innocent). Kita berharap bahwa kita akan marah ketika orang-orang yang inosen tadi dijahati. Kita akan setuju dengan Kitab Suci bahwa kebencian terhadap kejahatan adalah awal dari hikmat-kebijaksanaan.

Lalu, dapatkah kita sekarang melihat suatu paradoks dalam kutukan-kutukan Yesus? Kata-kata “kutukan” yang diucapkan Yesus itu seperti suatu nubuat yang mengingatkan para pendosa akan konsekuensi-konsekuensi dosa apabila tidak disusul dengan pertobatan. Kata-kata “kutukan” Yesus itu merupakan suatu peringatan kepada kita, yang bisa saja berpikir bahwa diri kita adalah “orang bener” dan/atau “orang yang paling bener”. Kalau begitu halnya, maka apabila kita jatuh ke dalam dosa, kita tidak memiliki kerendahan-hati yang diperlukan agar dapat mengakui kelemahan-kelemahan kita sendiri. Kata-kata “kutukan” Yesus ini juga berfungsi untuk mengingatkan kita bagaimana belas-kasih (kerahiman) Allah yang tak terbatas itu membawa kebaikan berlimpah sehingga kejahatan pun dikalahkan.

Santo Paulus menulis, “Seluruh Kitab Suci diilhamkan Allah dan bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” (2Tim 3:16). Jadi, Kitab Suci ditulis a.l. untuk melakukan koreksi. Dengan demikian kita dapat mengatakan bahwa kata-kata “kutukan” yang diucapkan oleh Yesus itu juga ditulis dalam rangka “koreksi” atas diri kita.

Walaupun kita tidak ingin bahwa para pendosa akan “dihabiskan” (secara literer/harfiah), kita tentunya boleh saja menginginkan agar kemakmuran duniawi merekalah yang “dihabiskan”. Jika diri kita sendiri yang harus dihukum sebagai koreksi atas dosa/kesalahan kita; jika kita menanggung penderitaan sebagai konsekuensi dari dosa-dosa kita dan hal tersebut telah mencerahkan kita serta membawa hikmat-kebijaksanaan dan pertobatan; bukankah kita juga dapat menghasrati rahmat yang sama bagi mereka yang telah mendzolimi kita?

Jadi di sinilah misterinya dan instruksi yang termuat dalam kata-kata “kutukan” Yesus: bukan hanya berkat-berkat dari Allah, namun juga “kutukan-kutukan” yang terinspirasikan tersebut akan menyelamatkan kita, jika kita memiliki hikmat-kebijaksanaan untuk mengacuhkan pesan-pesan yang termuat dalam kata-kata “kutukan” Yesus itu. Semoga kutukan terhadap dosa pada saat ini juga didengar oleh para pendosa, sementara mereka masih mempunyai waktu untuk belajar dan mengambil hikmat daripadanya, dan kemudian melakukan pertobatan.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, Putera Allah, kasihanilah aku, seorang pendosa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 10:13-15), bacalah tulisan yang berjudul “TIGA KOTA DIKUTUK OLEH YESUS” (bacaan tanggal 3-10-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2014. 

Cilandak, 1 Oktober 2014 [Pesta S. Teresia dr Kanak-kanak Yesus, Perawan & Pujangga Gereja, Pelindung Misi]

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SATU BUKTI LAGI TENTANG KASIH ALLAH BAGI KITA

SATU BUKTI LAGI TENTANG KASIH ALLAH BAGI KITA

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta Para Malaikat Pelindung – Kamis, 2 Oktober 2014)

shutterstock_40089

Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya, “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?” Lalu Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka dan berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sedangkan siapa saja yang merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Siapa saja yang menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.”  Ingatlah, jangan menganggap rendah salah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu; Ada malaikat mereka di surga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di surga. Karena Anak Manusia datang untuk menyelamatkan yang hilang.” (Mat 18:1-5,10)

Bacaan Pertama: Kel 23:20-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 91:1-6,10-11

Pada hari ini kita menghormati para malaikat pelindung kita, yaitu makhluk-makhluk spiritual yang memperoleh privilese untuk memandangi Allah dan menyembah-Nya, selagi mereka sedang bertugas memperhatikan dan menjaga keselamatan kita. Gereja menghormati para malaikat yang mendampingi Gereja dalam ziarah duniawinya dan melindungi setiap manusia (Katekismus Gereja Katolik [KGK] 352).

Gereja mengajar: “Sejak masa anak-anak sampai pada kematiannya malaikat-malaikat mengelilingi kehidupan manusia dengan perlindungan dan doa permohonan. ‘Seorang malaikat mendampingi setiap orang beriman sebagai pelindung dan gembala, supaya menghantarnya kepada kehidupan’ (Basilius, Eun. 3,1). Sejak di dunia ini, dalam iman, kehidupan Kristiani mengambil bagian di dalam kebahagiaan persekutuan para malaikat dan manusia yang bersatu dalam Allah” (KGK 336).

images (8)Sementara kita seringkali memandang pembicaraan mengenai para malaikat pelindung sebagai mitos dan khayalan belaka, kebenaran atas eksistensi mereka adalah satu bukti lagi tentang kasih Allah bagi kita. Allah telah memberikan kepada kita masing-masing “seorang” malaikat – makhluk yang murni roh – untuk memperhatikan dan menjaga kita. Tentu kita akan merasa nyaman dan aman bila mengetahui bahwa tidak ada satu rambut pun jatuh dari kepala kita di luar kehendak Allah (lihat Mat 10:30).

Begitu mudah bagi kita untuk terjebak dalam “keprihatinan” dan kecemasan dari hari ke hari, dan kita luput melihat kasih besar dan agung yang mengelilingi diri kita. Seringkali kita cepat melupakan warisan kita sebagai anak-anak Allah, “seorang” Allah yang telah mengikat diri-Nya dalam perjanjian dengan kita. Allah tetap setia dan selalu menimbang dan mengukur segala sesuatu yang akan diberikan-Nya seturut kebutuhan-kebutuhan kita.

Dengan penuh syukur mengingat-ingat berbagai berkat yang dianugerahkan Allah kepada kita dapat membangun keyakinan kita kepada-Nya dan menjaga diri kita dari kemerosotan rasa percaya kita pada-Nya pada saat-saat kita mengalami kesulitan dalam hidup. Mengingat-ingat bagaimana Allah telah begitu banyak memperhatikan diri kita akan menolong kita untuk hidup “seperti anak-anak” (Matius 18:3) – yang senantiasa percaya pada pemeliharaan Bapa, mencari kehendak-Nya, dan berterima kasih penuh syukur untuk belas kasih-Nya. Tentu saja tidak dilarang apabila kita mendoakan “litani” susunan kita sendiri yang isinya memuji-muji kebaikan Allah atas diri kita masing-masing sepanjang hidup kita. Ingatkanlah diri kita sendiri dengan banyak hal baik yang telah dilakukan Allah atas diri kita. Perkenankanlah memori kita dan imajinasi kita bekerja bersama guna “mengangkat” diri kita ke takhta Allah.

DOA: Bapa surgawi, Engkau telah begitu banyak memberkati diriku, dan aku tidak akan mampu menghitung segala rahmat yang telah Kaucurahkan ke dalam diriku. Aku berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena Engkau telah memperhatikan aku dan karena Engkau telah mengutus malaikat-Mu untuk menjaga diriku. Semoga aku dapat ikut ambil bagian dalam hidup-Mu bersama para malaikat, melambungkan puji-pujian surgawi selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan  Mazmur hari ini (Mzm 91:1-6,10-11), bacalah tulisan yang berjudul “UNTUK MENJAGA ENGKAU DI SEGALA JALANMU” (bacaan tanggal 2-10-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2014. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 2-10-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 1 Oktober 2014 [Pests S. Teresia dr Kanak-kanak Yesus, Perawan-Pujangga Gereja, Pelindung Misi]

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YANG TERBESAR DALAM KERAJAAN SURGA

YANG TERBESAR DALAM KERAJAAN SURGA

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S. Teresia dr Kanak-kanak Yesus, Perawan & Pujangga Gereja – Selasa, 1 Oktober 2014)

YESUS DAN ANAK-ANAK - JESUS WITH LITTLE ONEPada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya, “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?” Lalu Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka dan berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sedangkan siapa saja yang merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Siapa saja yang menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.”  (Mat 18:1-5)

Bacaan Pertama: Yes 66:10-14b atau 1Kor 12:31-13:13; Mazmur Tanggapan: Mzm 131:1-3 

“Siapa saja yang merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga” (Mat 18:4). 

Ketika Yesus meminta kita untuk menjadi seperti anak kecil, Dia sebenarnya mengungkapkan hasrat-Nya bagi kita untuk memperoleh kembali innocence masa kanak-kanak kita. Ketika kita masih kecil, kita sangat mudah percaya akan “seorang”  Allah yang baik, yang mengawasi dan mengutus para malaikat untuk membimbing kita di dunia ini. Renungkanlah sebuah doa yang disampaikan oleh seorang Teresia Martin yang baru berusia 7 (tujuh) tahun kepada Kanak-kanak Yesus yang sangat dirindukannya, namun belum boleh disambutnya: “Yesus, tentu Engkau senang mempunyai mainan. Biarlah aku menjadi mainan-Mu! Anggap saja aku ini bola-Mu. Bila akan Kauangkat, betapa senang hatiku. Jika hendak Kausepak kian kemari, silahkan! Dan kalau hendak Kautinggalkan di sudut kamar karena bosan, boleh saja. Aku akan menunggu dengan sabar dan setia. Tetapi kalau bola-Mu ini hendak Kautusuk. … O Yesus, tentu itu sakit sekali, namun terjadilah kehendak-Mu!”  Ini adalah sebuah doa anak kecil yang sejati, yang keluar dari innocense masa kanak-kanak!

Innocence ini mengalami erosi sejalan dengan meningkatnya usia kita menuju kedewasaan. Berbagai pengalaman hidup kita dalam dunia ini dapat membuat kita lusuh dan letih-lelah, malah dapat membuat kita bersikap sinis atau sarkastis kalau berbicara mengenai kedekatan Allah dengan diri kita, apalagi bila menyangkut keberadaan para malaikat pelindung. Di bawah berbagai macam tekanan hidup, ketika kita sedang susah atau di bawah pengaruh negatif dari berbagai kenikmatan hidup, manakala kita sedang berada dalam keadaan oke-oke, kita malah dapat saja mulai percaya bahwa diri kita sendirilah penentu “nasib” kita: tidak ada seorang pun dapat menolong diri kita kecuali kita sendiri! Berkaitan dengan hal ini ingatlah sebuah “pepatah” dalam bahasa Inggris: “God only helps those (people) who help themselves!” Sungguh merupakan ungkapan kesombongan manusia!

Yesus ingin memerdekakan kita dari isolasi bikinan kita sendiri atau kemandirian keliru yang malah memenjarakan kita sebagai tawanan. Yesus mau membangkitkan dalam diri kita sukacita dan innocence sejati dan orijinal yang pernah kita miliki/alami ketika kita untuk pertama kalinya mengetahui cintakasih pribadi-Nya yang mau tinggal dalam diri kita masing-masing. Kedewasaan Kristiani yang sejati bukanlah berarti peningkatan dalam kebebasan kita dari Allah, melainkan suatu ketergantungan lebih mendalam kepada-Nya.

220px-TeresadiLisieuxInilah pengalaman rohani yang telah terbukti benar dalam kehidupan Santa Teresia dari Kanak-kanak Yesus atau Santa Teresia dari Lisieux, orang kudus yang dikenal sebagai “Santa Teresia Kecil” [1873-1897], yang kita rayakan pestanya pada hari ini. Ketika baru berumur 15 tahun, dengan izin khusus Sri Paus, Teresia masuk sebuah biara Karmel di Lisieux, Perancis. Hanya delapan tahun kemudian, suster muda usia ini meninggal dunia karena penyakit TBC yang dideritanya. Kalau hanya sampai di situ ceritanya, maka tidak ada yang istimewa dari kehidupan suster ini yang memang hidup di dalam tembok biara yang ketat. Namun apa yang diwariskannya meninggalkan rekam jejak yang sangat berpengaruh atas kehidupan Gereja, bahkan sampai hari ini. Teresia adalah contoh baik untuk ditiru kalau kita ingin mengikuti perintah Yesus dalam Bacaan Injil hari ini.

Walaupun sudah dewasa dalam usia, kita tidak akan mampu bertahan satu hari saja jika terpisah dari kerahiman dan rahmat Allah. Adalah Allah sendiri yang secara tetap menjaga kesehatan kita, relasi kita, keuangan kita, kehidupan kita dan seterusnya. Oleh karena itu – seperti halnya Santa Teresia Kecil – marilah kita mohon Roh Kudus untuk melakukan karya istimewa dalam diri kita, yaitu menolong kita agar mampu memandang peristiwa-peristiwa kehidupan dewasa ini dengan mata seorang anak kecil yang mengetahui dan mengalami cintakasih yang intim dari Bapa. Kalau pun hal ini susah, kita dapat memohon kesembuhan agar hal yang kita mohonkan tadi dapat terwujud. Bapa surgawi menginginkan kita datang kepada-Nya dengan segala urusan kita – betapa kecilnya pun urusan kita itu sehingga terlihat tidak penting di mata manusia. Santa Teresia Kecil adalah seorang pribadi yang mampu melihat kuat-kuasa dari kasih Allah yang dapat mengubah segalanya.

DOA: Bapa surgawi, Engkau menjanjikan Kerajaan-Mu kepada orang-orang yang bertobat dan menjadi seperti anak-anak kecil. Berikanlah rahmat-Mu kepada kami agar dapat berjalan dengan penuh keyakinan seturut teladan hidup Santa Teresia Kecil, dengan demikian memampukan kami melihat kemuliaan-Mu yang kekal. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 18:1-5), bacalah tulisan yang berjudul MENJADI SEPERTI ANAK-ANAK KECIL” (bacaan tanggal 1-10-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2014.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk  bacaan tanggal 1-10-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 27 September 2014 [Peringatan S. Vicentius a Paulo, Imam] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 82 other followers