HUKUM TERTINGGI

HUKUM TERTINGGI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa II – Rabu, 20 Januari 2016)

HARI KETIGA PEKAN DOA SEDUNIA 

Keluarga Fransiskan Conventual: Peringatan S. Yohanes Pembaptis dr Triquerie, Imam-Martir

Jesus_hlng_wthrd_hnd_1-115Kemudian Yesus masuk lagi ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang tangannya mati sebelah. Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia. Kata Yesus kepada orang yang tangannya mati sebelah itu, “Mari, berdirilah di tengah!”  Kemudian kata-Nya kepada mereka, “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya?”  Tetapi mereka diam saja. Ia sangat berduka karena kekerasan hati mereka dan dengan marah Ia memandang orang-orang di sekeliling-Nya lalu Ia berkata kepada orang itu, “Ulurkanlah tanganmu!”  Orang itu mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu. Lalu keluarlah orang-orang Farisi dan segera membuat rencana bersama para pendukung Herodes untuk membunuh Dia. (Mrk 3:1-6)

Bacaan Pertama: Ibr 7:1-3,15-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 110:1-4

“Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya?” (Mrk 3:4).

Yesus menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat merupakan peristiwa yang cukup sering terjadi dan merupakan salah satu isu konflik dengan orang-orang Farisi, hal mana kelihatannya telah menyebabkan ketegangan yang serius antara diri-Nya dengan para petinggi agama Yahudi. Di samping tindakan penyembuhan aktual yang memang secara keras dilarang oleh hukum Sabat, penyembuhan-penyembuhan Yesus itu membuat orang berduyun-duyun datang menyaksikan dan juga membawa orang-orang sakit untuk disembuhkan, semua itu sangat mengganggu istirahat Sabat.

Akan tetapi, di sini Yesus mengajar satu pelajaran penting. Hukum itu baik, dalam hal ini hukum Sabat. Namun hukum ini tidak boleh mengobok-obok pelayanan karitatif (Latin: caritas = kasih), artinya melakukan perbuatan baik bagi sesama. Jadi, terkadang Yesus memang dipandang melakukan tindakan melawan hukum Sabat dan menantang para ahli Taurat dan Farisi. Tetapi, di sini hanya ada dua pilihan: mengikuti Hukum cintakasih-Nya atau tidak!

Kita juga harus menentukan sikap tegas berkaitan dengan cintakasih Kristiani. Apakah kita mau mengubah cara-cara kita yang lama, rutinitas yang biasa untuk melakukan suatu tindakan cintakasih? Maukah kita menolong seorang insan yang sungguh membutuhkan pertolongan karena berada dalam situasi kritis pada suatu pagi, walaupun hal ini berarti tidak dapat menghadiri Misa harian yang sudah merupakan kebiasaan kita?

Bagaimana sikap dan tindakan kita dalam menghadapi kelompok-kelompok yang beriman lain. Apakah tindakan cintakasih senantiasa merupakan keharusan bagi kita, walaupun tidak/kurang populer di mata sahabat-sahabat terdekat kita? Bagaimana sikap kita menghadapi orang-orang miskin, apakah miskin dalam hal keuangan, miskin dalam hal latar belakang pendidikan, atau miskin dalam hal personalitas dan penampilan? Apakah kita bersikap baik dan ramah terhadap mereka seperti kita baik dan ramah terhadap orang-orang yang berada, yang berlatar pendidikan baik, dan yang berpenampilan menarik?

Singkatnya, apakah nilai-nilai yang kita anut senantiasa lurus? Hukum-hukum adalah baik. Hukum-hukum itu adalah semacam rambu-rambu bagi kita dalam menjalani jalan kehidupan kita. Namun hukum cintakasih Kristiani berada di atas rambu-rambu jalanan kehidupan kita, artinya di atas hukum apa pun. Hukum cintakasih Kristiani merupakan tolok ukur akhir dari suatu kehidupan Kristiani yang otentik.

DOA: Yesus Kristus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu untuk hukum cintakasih yang Kauberikan kepada kami. Semoga hukum cintakasih-Mu ini senantiasa mengatur hidup kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Ibr 7:1-3,15-17), bacalah tulisan yang berjudul “MENYERAHKAN DIRI SEPENUHNYA KEPADA ALLAH” (bacaan untuk tanggal 20-1-16), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; 16-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 23-1-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 18 Januari 2016

Sdr. Frans Indrapradja, OFS 

HUKUM DI ATAS HUKUM

HUKUM DI ATAS HUKUM

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa II – Selasa, 19 Januari 2016)

HARI KEDUA PEKAN DOA SEDUNIA 

YESUS DI PADANG GANDUM DENGAN PARA MURID-NYAPada suatu hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum. Lalu kata orang-orang Farisi kepada-Nya, “Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?”  Jawab-Nya kepada mereka, “Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan orang-orang yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar lalu makan roti sajian itu – yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam – dan memberinya juga kepada pengikut-pengikutnya?” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat. Karena itu Anak Manusia adalah Tuhan, bahkan atas hari Sabat.”  (Mrk 2:23-28)

Bacaan Pertama: Ibr 6:10-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 111:1-2,4-5,9-10

Narasi tentang Yesus dan para murid-Nya yang memetik bulir gandum pada hari Sabat, selagi mereka berjalan menuju sinagoga terdapat dalam tiga kitab Injil sinoptik hampir sama, kata demi kata. Kita melihat dari bacaan ini bagaimana orang-orang Farisi memprotes tindak-tanduk para murid Yesus, dan mengatakan bahwa mereka melakukan suatu pekerjaan yang terlarang pada hari Sabat. Menyiapkan makanan adalah salah satu dari 39 macam pekerjaan yang termasuk dalam daftar yang disusun oleh para rabi sebagai tindakan-tindakan yang melawan istirahat Sabat. Fakta bahwa para rabi itu memasukkan tindakan memetik bulir gandum atau jagung sebagai pekerjaan menunjukkan betapa keras dan ketat mereka dalam menafsirkan Hukum.

Seorang penganut aliran keras benar-benar ke luar untuk menyalahkan orang-orang yang tidak bersalah guna membuat dirinya sendiri kelihatan baik. Jawaban Yesus menunjukkan keprihatinan-Nya yang mendalam atas kebutuhan-kebutuhan manusia, artinya pendekatan Yesus terhadap Hukum jauh lebih manusiawi.

Yesus bertanya kepada orang-orang Farisi apakah mereka tidak pernah membaca Kitab Suci tentang Raja Daud yang karena kebutuhan fisik/manusiawi dari para bawahannya (lapar) menilai sebagai benar untuk bertindak sesuatu yang dalam keadaan normal dilarang, yaitu masuk ke dalam rumah Allah dan makan roti persembahan yang sebenarnya hanya dapat dimakan oleh imam dalam keadaan normal (lihat 1Sam 21:1-6; Imam Ahimelekh, bukan Abyatar). Apa yang dikatakan Yesus adalah bahwa ada Hukum lain di atas hukum yang tertulis, apakah hukum itu berasal dari Allah atau manusia; sebuah Hukum yang ditempatkan oleh sang Pencipta ke dalam kodrat manusia: kebutuhan-kebutuhan legitim yang bersifat urgent melampaui hukum yang tertulis.

Apabila kita membaca ulang  bacaan Injil hari ini dan merenungkannya, maka secara tahap demi tahap kita akan mengenal Yesus lebih mendalam. Kita melihat Dia secara lebih jelas lagi sebagai Allah dan manusia. Kita akan melihat bahwa Yesus adalah sungguh seorang manusia yang sangat memperhatikan bahkan kebutuhan-kebutuhan kecil dari orang-orang lain. Yesus juga sungguh ilahi, yang dipenuhi dengan hikmat yang benar untuk langsung melihat melalui kelemahan hukum, dipenuhi dengan kasih ilahi, prihatin atas segala hal yang dihadapi orang-orang, seakan Ia berkata: “Bahkan hari yang diperuntukkan untuk menghormati diri-Ku bagaimana pun tidak boleh melukai (hati) umat-Ku yang Kukasihi, teristimewa mereka yang paling dina.

DOA: Yesus Kristus, Engkau adalah Tuhan atas hari Sabat dan kasih-Mu tidak dapat diutarakan dengan kata-kata. Hukum cintakasih-Mu adalah sukacita kami dan keselamatan kami. Terima kasih, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 2:23-28), bacalah tulisan yang berjudul “TUJUAN HARI SABAT: BERADA BERSAMA YESUS” (bacaan tanggal 22-1-13), dalam situs/blog PAX ET BONUM https://catatanseorangofs.wordpress.com; 13-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2012. 

Cilandak, 17 Januari 2016 [HARI MINGGU BIASA II – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ANGGUR BARU DAN KANTONG KULIT YANG BARU

ANGGUR BARU DAN KANTONG KULIT YANG BARU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa II – Senin, 18 Januari 2016)

Pembukaan Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani 

RABI DARI NAZARET - 1Pada suatu kali ketika murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi sedang berpuasa, datanglah orang-orang dan mengatakan kepada Yesus, “Mengapa murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?”   Jawab Yesus kepada mereka, “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berpuasa sementara mempelai itu bersama mereka? Selama mempelai itu bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa. Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabiknya, yang baru mencabik yang tua, lalu makin besarlah koyaknya. Demikian juga tidak seorang pun menuang anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula.”  (Mrk 2:18-22)

Bacaan Pertama: 1 Sam 15:16-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:8-9,16-17,21,23

Suatu perbedaan yang sangat nyata antara kantong kulit untuk anggur yang tua dan yang baru itu tidak hanya dalam umurnya, tetapi ada atau tidak-adanya minyak dalam kulit itu. Adanya unsur minyak dalam kulit kantong anggur yang baru membuatnya menjadi fleksibel dan mampu mengembang. Bilamana anggur baru dituang ke dalam kantong yang baru itu, maka kantong itu beradaptasi dengan tekanan yang ditimbulkan oleh anggur baru tersebut. Sebaliknya kulit yang sudah tua sudah menjadi keras dan kaku – tidak mampu lagi berkembang. Kantong tua yang diisi dengan anggur baru dapat rusak/robek atau malah meletup.

Apabila kita dibaptis dan diurapi dengan minyak keselamatan, kita pun telah diberikan suatu kemampuan baru untuk menanggapi tindakan Roh Kudus yang menggembirakan itu. Hati kita telah diubah, dibuat lembut oleh pengenalan dan pengalaman akan kasih Allah. Sekarang kita mempunyai kemampuan untuk menerima dari Dia suatu fleksibilitas baru yang dapat menjaga kita agar tetap terbuka bagi cara apa saja yang ditentukan oleh-Nya untuk kita kerjakan, walaupun kelihatannya tidak mungkin atau tidak biasa.

ROHHULKUDUSAkan tetapi, pertanyaan yang harus senantiasa kita tanyakan kepada diri kita sendiri, “Apakah aku tetap lembut dan lentur, siap untuk melakukan apa saja yang diminta oleh Roh Kudus dari diriku? Apakah diriku patuh terhadap dorongan Roh Kudus, atau aku semakin mengeraskan diri dan tidak fleksibel? Apakah aku terpaku pada ide-ide yang kaku, atau dapat menanggapi apa yang diinginkan Tuhan dari diriku pada hari ini – di rumah, di tempat kerjaku, di gerejaku, atau ke mana saja Dia memimpin aku?”

Allah memang kadang-kadang menantang ide-ide kita tentang Siapa diri-Nya dan bagaimana Dia bekerja dalam kehidupan kita. Jalan-jalan atau cara-cara-Nya dapat sangat berbeda dengan apa yang dapat kita bayangkan. Apakah kita mau membuka diri kita dan menerima Kerajaan-Nya seturut syarat-syarat yang ditetapkan-Nya? Marilah kita mengingat kembali apa yang telah terjadi dengan Abraham. Allah memanggilnya untuk meninggalkan tempat kediamannya dan pergi ke sebuah tempat yang baru samasekali – dan Abraham mematuhi panggilan Allah itu (lihat Kej 12:1 dsj.). Marilah kita mengingat apa yang terjadi dengan Maria: Perawan dari Nazaret ini sungguh merasa ketakutan ketika dikunjungi malaikat-agung Gabriel, namun ia mengatakan “Ya” kepada Allah, pada saat diminta untuk membawa Kristus ke tengah-tengah dunia (lihat Luk 1:26-38). Kita mengingat pula apa yang terjadi dengan Beata Bunda Teresa dari Kalkuta: Ketika Allah memanggil dirinya untuk melayani orang-orang yang paling miskin (the poorest of the poor), maka dia menukar rencananya sendiri dengan rencana Allah bagi dirinya. Kita pun harus siap untuk mengembang seperti kantong kulit anggur yang baru dan menerima panggilan Allah.

DOA: Roh Kudus Allah, penuhilah hatiku. Lebarkanlah mata hatiku ini agar dapat melihat kehendak-Mu untuk hidupku dan bagi Gereja Kristus di dunia. Ubahlah diriku agar dapat menjadi saksi Kristus yang sejati bagi dunia di sekelilingku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 2:18-22), bacalah tulisan dengan judul “ANGGUR BARU” (bacaan untuk tanggal 18-1-16), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; 16-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 16-1-12 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 15 Januari 2016

Sdr. Frans Indrapradja, OFS

MERAYAKAN KEHIDUPAN KITA

MERAYAKAN KEHIDUPAN KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Minggu Biasa II [Tahun C] – 17 Januari 2016) 

WEDDING AT CANA

Pada hari ketiga ada perkawinan di Kana yang di Galilea, dan ibu Yesus ada di situ; Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga ke perkawinan itu. Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya, “Mereka kehabisan anggur.”  Kata Yesus kepadanya, “Mau apakah engkau dari Aku, ibu? Saat-Ku belum tiba.” Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan, “Apa yang dikatakan-Nya kepadamu, lakukanlah itu!” Di situ ada enam tempayan yang disediakan untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi, masing-masing isinya kira-kira seratus liter. Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu, “Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air.” Mereka pun mengisinya sampai penuh. Sesudah itu, kata Yesus kepada mereka, “Sekarang cedoklah dan bawalah kepada pemimpin pesta.” Lalu mereka pun membawanya. Setelah pemimpin pesta itu mencicipi air yang telah menjadi anggur itu – dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya – ia memanggil mempelai laki-laki, dan berkata kepadanya, “Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang.” Hal itu dilakukan Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya. (Yoh 2:1-11)

Bacaan pertama: Yes 62:1-5; Mazmur Tanggapan: Mzm 96:1-3,7-10; Bacaan Kedua: 1 Kor 12:4-11

Seorang bijak dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, Yesus bin Sirakh, mengajar: “Sahabat setiawan adalah obat kehidupan ……, sebab seperti ia sendiri demikianpun temannya” (Sir 6:16,17). Tidak meragukan lagi, memang ada hubungan antara siapa diri kita dan orang-orang macam apa yang menjadi sahabat-sahabat dekat kita. Ada juga faktor lain yang harus dipertimbangkan, yaitu tempat atau setting-nya.

Kita dapat memperoleh suatu wawasan baik berkaitan dengan karakter orang-orang lain apabila kita mengetahui tempat-tempat yang sering dikunjungi mereka. Ada pepatah Inggris yang telah kita pelajari sejak duduk di bangku SMP dulu:  “Birds of the same feather flock together”, dan tentu berkumpulnya “burung-burung” itu adalah di tempat tertentu. Demikian pula dengan kita, manusia. Kita berkumpul di tempat-tempat yang memberi makna dan arahan pada kehidupan kita. Kita berada dalam keadaan mencari “rumah” di mana kita merasa disambut baik dan dihormati. Kita menghindari tempat-tempat yang mengingatkan kita akan kenangan buruk dan/atau impian yang tak terwujud di masa lampau. Kita bersikap dan bertindak selektif apabila berurusan dengan tempat berkumpul kita. Setting memberikan kepada kita suatu indikasi baik tentang siapa dan apa seseorang itu dan apa yang ingin ditujunya dalam kehidupan ini. 

Dengan semua ini dalam pikiran kita, maka sangat cocoklah bahwa Injil Yohanes mengedepankan Yesus, Maria dan para murid-Nya pada sebuah pesta perkawinan. Pesta perkawinan menyediakan setting yang cocok bagi Yesus untuk membuat “tanda”-Nya yang pertama dari tujuh “tanda”-Nya (catatan: Yohanes tidak menggunakan kata “mukjizat”) dalam Injil Yohanes. Pesta perkawinan adalah peristiwa bagi orang untuk merayakannya dengan penuh sukacita dan cintakasih. Sebuah pesta perkawinan berbicara tentang pengharapan dan janji-janji yang harus ditepati. Yesus, Maria dan para murid kita temui hari ini dalam sebuah pesta perkawinan karena mereka mengetahui bagaimana kita seharusnya merayakan suatu peristiwa penting. “Air menjadi anggur” adalah suatu indikasi tentang apa yang harus terjadi dalam hati kita. Hidup kita yang aman-nyaman harus digantikan dengan suatu kehidupan di mana Roh Kudus memberi kita hidup yang berkelimpahan. Setting pesta perkawinan merupakan sebuah lambang/simbol bagi kedatangan Mesias. Anggur yang berkelimpahan juga merupakan sebuah tanda dari tindakan Allah yang menentukan dalam sejarah umat manusia. Setting ini juga banyak bercerita kepada kita tentang Yesus dan apa yang diharapkan-Nya dari diri kita.

Kita, umat Kristiani, sesungguhnya mempunyai banyak alasan untuk senantiasa merayakan kehidupan kita ini daripada hidup dengan penuh kesedihan. Namun, dosa memang sesuatu yang sungguh riil. Maut senantiasa menanti-nanti saat untuk “menangkap” manusia, misalnya lewat kecanduan miras dan/atau narkoba. Ketidakadilan sosial kita lihat terjadi setiap hari di hampir seluruh penjuru dunia, termasuk di negara kita Indonesia yang tercinta ini. Kita merasa miris melihat anak-anak SD setiap hari harus bersusah payah pergi ke sekolah mereka, lewat jembatan yang reyot hampir ambruk di atas sungai yang mengalir sangat deras. Tidak ada anggaran biaya untuk mengganti jembatan tua itu, padahal di sisi lain para petinggi negeri ini dapat melakukan “perjalanan dinas” atau “studi banding” ke manca negara dengan biaya yang sungguh tidak kecil. Kesamaan di hadapan hukum (Inggris: Equality before the Law) adalah isapan jempol belaka, karena hukum hanya tajam ke bawah namun tumpul ke atas. Wajah-wajah kebencian dapat kita lihat dalam berbagai bentuk kekerasan lewat televisi, kekerasan-kekerasan mana seringkali dilakukan demi nama Allah yang Mahabesar. Lihatlah apa yang sedang terjadi di Siria yang sudah mengakibatkan korban begitu banyak orang – keturunan/bangsa yang sama, agama yang dianut juga sama, dan sama-sama menyerukan “Allah Mahabesar” ketika saling bertempur. Roh Perpecahan yang berasal dari si Jahat terus giat beraksi di mana-mana dan di segala tingkat: Dari para petinggi pemerintahan sampai ke lapangan sepak bola atau desa-desa. Banyak lagi yang dapat membuat kita merasa gelisah, khawatir, cemas dan galau, apabila kita lupa bahwa Yesus telah dibangkitkan dari alam maut.

Kita harus menyadari bahwa rahmat-Nya masih bekerja dalam hati kita dan dalam sejarah manusia – semuanya secara berkelimpahan. Ada terang yang bercahaya dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya (lihat Yoh 1:5). Hidup itu lebih kuat daripada maut. Pengharapan – bukan keputus-asaan – seharusnya berada dalam pusat kehidupan kita sehari-hari. Dalam upaya kita meneladan Yesus, kita dapat – walaupun dengan penuh risiko – memberikan diri kita kepada orang-orang lain dalam kasih. Kita adalah orang-orang yang dibentuk oleh Kabar Baik Yesus Kristus. Allah mengasihi kita masing-masing dengan bebas, penuh pengampunan dan penuh keterbukaan. Jika semua ini tidak membuat kita menjadi penuh sukacita, maka kita sungguh sudah berada di luar pengharapan akan penebusan-Nya.

Keragu-raguan memang selalu ada. Rasa takut dan khawatir terus mengganggu pikiran kita. Luka-luka lama masih ada dalam memori kita, kekecewaan-kekecewaan dan pengkhianatan-pengkhianatan. Namun kita harus tetap memegang kendali/kontrol atas berbagai hal yang kita hadapi. “Merayakan” sesuatu berarti kita bebas menerima hidup dalam segala bentuknya dengan penuh keberanian dan sukacita.

Alasan dari kemampuan Yesus untuk merayakan hidup-Nya di depan wajah kematian yang menanti-nanti adalah rasa percaya diri-Nya kepada Bapa-Nya secara total. Hal ini tidaklah berarti bahwa penolakan, kesepian, penderitaan dan kematian tidak akan datang. Maksudnya semua itu dapat diterima secara bebas dan dipersembahkan kepada Allah. Segala macam kesusahan itu samasekali bukanlah akhir cerita karena masih ada kebangkitan dan kebaharuan hidup yang bersumber pada Yesus Kristus.

Sekarang kita dapat merayakan hidup ini karena kita mendengar sabda Allah: “Engkau akan menjadi mahkota keagungan di tangan TUHAN (YHWH) dan serban kerajaan di tangan Allahmu. Engkau tidak akan akan disebut lagi ‘yang ditinggalkan suami’, dan negerimu tidak akan disebut lagi ‘yang sunyi’, tetapi engkau akan dinamai ‘yang berkenan kepada-Ku’ …… Sebab seperti seorang muda belia menjadi suami seorang anak dara, demikianlah Dia yang membangun engkau akan menjadi suami, dan seperti girang hatinya seorang mempelai melihat pengantin perempuan, demikianlah Allahmu akan girang hati atasmu” (Yes 62:3-5). Bersama sang pemazmur, marilah kita berseru memuji-muji Dia: “Nyanyikanlah nyanyian baru bagi YHWH, menyanyilah bagi YHWH, hai segenap bumi! Menyanyilah bagi YHWH, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari. Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di antara segala suku bangsa” (Mzm 96:1-3).

DOA: Bapa surgawi, pada hari ini Engkau mengingatkan kami kembali bahwa hidup ini haruslah dirayakan sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh Putera-Mu Yesus, karena kami menggantungkan segalanya kepada-Mu saja. Kami percaya bahwa segala kesulitan yang kami alami dalam hidup ini samasekali bukanlah akhir dari cerita karena masih ada kebangkitan dan kebaharuan hidup yang bersumber pada Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Kedua hari ini (1 Kor 12:4-11), bacalah tulisan yang berjudul “INSTRUMEN INJIL-NYA” (bacaan tanggal 17-1-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-1-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 14 Januari 2016 [Peringatan B. Odorikus dr Pordenone, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEORANG PEMUNGUT CUKAI MENJADI MURID YESUS

SEORANG PEMUNGUT CUKAI MENJADI MURID YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Antonius, Abbas – Sabtu, 16 Januari 2016)

Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Berardus, Imam dkk. – Martir-martir Pertama Ordo Santo Fransiskus 

KEMURIDAN - YESUS MEMANGGIL MATIUS - 1Sesudah itu Yesus pergi lagi ke pantai danau, dan seluruh orang banyak datang kepada-Nya, lalu Ia mengajar mereka. Kemudian ketika Ia lewat di situ, Ia melihat Lewi anak Alfeus duduk di tempat pemungutan cukai lalu Ia berkata kepadanya, “Ikutlah Aku!”  Lewi pun bangkit lalu mengikuti Dia.  Kemudian ketika Yesus makan di rumah orang itu, banyak pemungut cukai dan orang berdosa makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya, sebab banyak orang yang mengikuti Dia. Pada waktu ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi melihat bahwa Ia makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa itu, berkatalah mereka kepada murid-murid-Nya, “Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?”  Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”  (Mrk 2:13-17)

Bacaan Pertama: 1 Sam 9:1-4,17-19;10:1a; Mazmur Tanggapan: Mzm 21:2-7

Andaikan anda sedang memulai sesuatu yang baru, barangkali suatu bisnis yang baru (apabila anda seorang pengusaha atau pemimpin di bidang bisnis), bukankah anda ingin memperoleh orang-orang terbaik untuk mengisi posisi-posisi puncak yang ada, misalnya untuk anggota direksi perusahaan anda dan posisi kunci lainnya dalam perusahaan anda? Bukankah anda sebagai seorang pribadi pemimpin yang waras akan mencari orang-orang yang berlatar pendidikan terbaik dan para go-getters yang akan get the job done, bukannya para “yes men” atau para penjilat “ABS” yang oportunis?

Walaupun “waras” dalam artian sesungguhnya, Yesus lain sekali dengan para pemimpin sekular atau keagamaan yang hidup di dunia. Yesus menemukan para rasul-Nya di perahu-perahu nelayan, bahkan di “kantor pajak/cukai”, seperti halnya dengan Lewi anak Alfeus atau Matius ini (Mrk 2:14). Kelihatannya Yesus suka memilih calon-calon yang dapat dijadikan sahabat-sahabat akrab/intim bagi diri-Nya dan kepada mereka Dia akan mempercayakan Gereja-Nya.

Pilihan Yesus atas diri Lewi barangkali membingungkan orang-orang. Sebuah teka-teki pada zaman-Nya. Pada abad pertama di Israel, para pemungut cukai tidak memiliki status dalam masyarakat Yahudi. Mereka dihina karena mereka bekerja untuk kekaisaran Roma dan biasanya mereka memperagakan kekayaan pribadi yang mencolok, tentunya lewat “pemerasan” atas diri anggota masyarakat. Di sisi lain pilihan Matius atas diri Yesus juga sama penuh teka-tekinya. Perubahan dirinya yang secara mendadak, dari seorang pemungut cukai yang tidak patut dipercaya menjadi seorang murid yang penuh gairah tentunya mengejutkan setiap orang yang mengenalnya. Mengapa dia mau melepaskan pekerjaannya yang “basah” itu demi mengikuti seorang tukang kayu dari Nazaret yang menjadi seorang rabi? Tentunya, dalam hal ini “uang” bukanlah motifnya!

Keputusan Lewi untuk meninggalkan segalanya dan langsung mengikut Yesus memberikan petunjuk kepada kita mengapa Yesus memanggil dirinya. Yesus memandang ke dalam hati Lewi dan melihat di hati itu adanya rasa haus, kerinduan akan Allah dan potensi untuk mengenali harta surgawi. Lewi membuktikan Yesus benar ketika Dia menerima undangannya untuk merayakan kehidupan barunya dalam sebuah perjamuan di rumahnya, di mana para pemungut cukai yang lainpun dan orang-orang berdosa dapat bertemu dengan Tuhan (Mrk 2:15).

Sejak saat itu, Lewi tak henti-hentinya menawarkan harta-kekayaan Injil yang tak ternilai harganya itu secara bebas-biaya, semua free-of-charge. Tradisi mengatakan bahwa Lewi atau Matius ini mewartakan Kabar Baik Yesus Kristus di tengah-tengah orang-orang Yahudi selama 15 tahun setelah kebangkitan Yesus, kemudian dia pergi ke Makedonia, Siria dan Persia. Di Persia inilah dikatakan  bahwa Matius mengalami kematian sebagai martir Kristus.

Iman dan devosi yang terbukti nyata dalam diri Matius adalah kualitas-kualitas pribadi yang diinginkan oleh Yesus dari kita juga yang hidup pada zaman modern ini. Jangan ragu-ragu! Apabila Allah dapat mengubah Matius, Petrus dan yang lainnya menjadi rasul-rasul, bayangkanlah apa yang dapat dilakukan-Nya atas diri kita. Yesus dapat mengangkat segala halangan yang merintangi diri kita untuk dipakai oleh-Nya. Yang diminta-Nya hanyalah bahwa kita percaya pada kasih-Nya yang penuh kerahiman dan kita menaruh kepercayaan pada kuat-kuasa dan rahmat-Nya.

DOA:  Tuhan Yesus, di atas segalanya, kuingin mengenal dan mengalami kasih-Mu, yang melampaui segala sesuatu yang ada, seperti yang dialami oleh Matius, rasul-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 2:13-17), bacalah tulisan yang berjudul “IKUTLAH AKU!” (bacaan  tanggal 16-1-16), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 17-1-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 14 Januari 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PENGARUH DOSA ATAS KEHIDUPAN KOMUNITAS

PENGARUH DOSA ATAS KEHIDUPAN KOMUNITAS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Jumat, 15 Januari 2016) 

YESUS MENYEMBUHKAN ORANG LUMPUH YANG DIBAWA DARI ATAS LOTENGKemudian, sesudah lewat beberapa hari, waktu Yesus datang lagi ke Kapernaum, tersebarlah kabar bahwa Ia ada di rumah. Lalu datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di depan pintu pun tidak. Sementara Ia memberitakan firman kepada mereka, ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang. Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap di atas Yesus; sesudah terbuka mereka menurunkan tikar, tempat orang lumpuh itu terbaring. Ketika Yesus melihat iman mereka berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu, “Hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni!”  Tetapi beberapa ahli Taurat sedang duduk di situ, dan mereka berpikir dalam hatinya, “Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain Allah sendiri?” Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka, “Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu? Manakah yang lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosa-dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tikarmu dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu bahwa Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa di bumi ini” – berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu –, “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tikarmu dan pulanglah ke rumahmu!” Orang itu pun bangun, segera mengangkat tikarnya dan pergi ke luar dari hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya, “Yang begini belum pernah kita lihat.”  (Mrk 2:1-12)

Bacaan pertama: 1 Sam 8:4-7,10-22a; Mazmur Tanggapan: Mzm 89:16-19

Kebanyakan dari kita terlalu terbiasa untuk berpikir bahwa pertobatan bersifat sangat privat, suatu masalah pribadi. Dosa, pengampunan dan reparasi diri sesungguhnya merupakan urusan-urusan pribadi (personal affairs), tetapi pada saat yang sama juga merupakan urusan-urusan komunitas (community affairs).   

Bacaan Injil hari ini menceritakan tentang seorang lumpuh yang disembuhkan oleh Yesus dan yang dosa-dosanya diampuni oleh-Nya. Melihat iman orang-orang yang telah bersusah payah menolong si lumpuh, Yesus berkata: “Hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni!” (Mrk 2:5). Orang lumpuh ini telah menjadi beban bagi para tetangganya. Bayangkanlah bagaimana susahnya mereka ketika menurunkan si lumpuh dari atap di atas Yesus untuk disembuhkan oleh-Nya. Mengapa sampai-sampai lewat atap rumah? Karena tidak  mungkin lagi bagi mereka untuk masuk ke rumah itu secara normal melalui pintu.

Penyakit yang diderita orang lumpuh itu jelas merupakan keprihatinan komunitasnya. Yesus menyembuhkan dirinya dan mengirim seorang pribadi yang “normal” kembali ke komunitasnya. Akan tetapi, di tempat itu hadir juga beberapa ahli Taurat. Mereka berpikir dalam hati bahwa Yesus menghujat Allah, karena Allah sendirilah yang dapat mengampuni dosa seorang pribadi (Mrk 2:6-7). Namun Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya pikiran para ahli Taurat tersebut (Mrk 2:8).

Isunya sekarang apakah manusia dapat mengampuni orang lain dalam nama Allah? Yesus mengatakan: “Ya, boleh!” dan Ia menggunakan peristiwa mukjizat penyembuhan orang lumpuh dalam rumah itu untuk menggambarkan pendapat-Nya.

Kita pun dapat menerapkan peristiwa ini terhadap diri kita masing-masing dalam artian bahwa oleh dosa, oleh keadaan penuh dosa kita, kita tidak mampu untuk menolong diri kita sendiri seperti orang lumpuh itu. Tetapi kita adalah anggota sebuah komunitas. Komunitas kita, Gereja yang adalah komunitas spiritual, harus memiliki keprihatinan terhadap kebutuhan-kebutuhan kita. Gereja dalam nama Yesus Kristus seharusnya memiliki keprihatinan terhadap penyembuhan segala penyakit spiritual para anggotanya.

Kita semua adalah anggota atau bagian sebuah bagian dari komunitas Allah, kita semua terlibat dalam pengampunan dosa. Apabila seseorang – walaupun jika dia tidak sadar akan keseriusan dosa-dosanya – mengakui dosa-dosanya di hadapan seorang imam dalam Sakramen Tobat/Rekonsiliasi, sebenarnya dirinya sedang memberikan kesaksian bahwa dia adalah seorang anggota Gereja pertobatan – sebuah Gereja di mana pertobatan adalah  bagiannya yang hakiki.  Orang itu memberi kesaksian bahwa dia sedang melakukan  reparasi diri, melakukan pertobatan, dengan mengakui dosa-dosanya bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga bagi mereka yang gagal memberi tanggapan terhadap undangan Allah.

Sesungguhnya dosa kita adalah suatu serangan terhadap semua anggota Gereja. Dengan berdosa kita telah gagal untuk mempraktekkan kemampuan kita untuk membuat saudari-saudara kita menjadi lebih baik, untuk membawa rahmat dari tindakan-tindakan kita kepada Gereja secara keseluruhan. Jadi, sebenarnya kita menyakiti setiap orang. Dengan demikian dapat dijelaskan adanya kebutuhan akan pertobatan dalam komunitas Kristiani, sebagai suatu cara untuk mengubah sikap kita. Pertobatan harus ditindak-lanjuti: sikap dan perlakuan penuh kebaikan hati terhadap mereka yang telah kita sakiti, koreksi atas kritik-kritik kita yang tidak fair, kerja ekstra untuk melakukan reparasi terhadap waktu yang telah kita buang percuma dan segala jenis reparasi lainnya. Dosa mempunyai segala jenis reaksi dan dampak pada komunitas. Oleh karena itulah maka pertobatan kita harus berorientasi pada komunitas.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah membuat kami sadar akan dimensi komunal dari pertobatan dan pengampunan. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1 Sam 8:4-7,10-22a), bacalah tulisan yang berjudul “ANGKATLAH SEORANG RAJA BAGI MEREKA” (bacaan tanggal 15-1-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 16-1-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 14 Januari  2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TAAT KEPADA ALLAH DAN HIDUP SETURUT KEHENDAK-NYA

TAAT KEPADA ALLAH DAN HIDUP SETURUT KEHENDAK-NYA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Kamis, 14 Januari 2016)

Keluarga Fransiskan: Peringatan B. Odorikus dr Pordenone, Imam Kapusin 

Philistines_capture_ark_1375-152

Orang Israel maju berperang melawan orang Filistin dan berkemah dekat Eben-Haezer, sedang orang Filistin berkemah di Afek. Orang Filistin mengatur barisannya berhadapan dengan orang Israel. Ketika pertempuran menghebat, terpukullah kalah orang Israel oleh orang Filistin, yang menewaskan kira-kira empat ribu orang di medan pertempuran itu. Ketika tentara itu kembali ke perkemahan, berkatalah para tua-tua Israel: “Mengapa  TUHAN (YHWH) membuat kita terpukul kalah oleh orang Filistin pada hari ini? Marilah kita mengambil dari Silo tabut perjanjian YHWH, supaya Ia datang ke tengah-tengah kita dan melepaskan kita dari tangan musuh kita.” Kemudian bangsa itu menyuruh orang ke Silo, lalu mereka mengangkat dari sana tabut perjanjian YHWH semesta alam, yang bersemayam di atas para kerub; kedua anak Eli, Hofni dan Pinehas, ada di sana dekat tabut perjanjian Allah itu. Segera setelah tabut perjanjian YHWH sampai ke perkemahan, bersoraklah seluruh orang Israel dengan nyaring, sehingga bumi bergetar. Dan orang Filistin yang mendengar bunyi sorak itu berkata: “Apakah bunyi sorak yang nyaring di perkemahan orang Ibrani itu?” Ketika diketahui mereka, bahwa tabut YHWH telah sampai ke perkemahan itu, ketakutanlah orang Filistin, sebab kata mereka: “Allah mereka telah datang ke perkemahan itu,” dan mereka berkata: “Celakalah kita, sebab seperti itu belum pernah terjadi dahulu. Celakalah kita! Siapakah yang menolong kita dari tangan Allah yang maha dahsyat ini? Inilah juga Allah, yang telah menghajar orang Mesir dengan berbagai-bagai tulah di padang gurun. Kuatkanlah hatimu dan berlakulah seperti laki-laki, hai orang Filistin, supaya kamu jangan menjadi budak orang Ibrani itu, seperti mereka dahulu menjadi budakmu. Berlakulah seperti laki-laki dan berperanglah!” Lalu berperanglah orang Filistin, sehingga orang Israel terpukul kalah. Mereka melarikan diri masing-masing ke kemahnya. Amatlah besar kekalahan itu: dari pihak Israel gugur tiga puluh ribu orang pasukan berjalan kaki. Lagipula tabut Allah dirampas dan kedua anak Eli, Hofni dan Pinehas, tewas. (1 Sam 4:1-11) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 44:10-11,14-15,24-25; Bacaan Injil: Mrk 1:40-45 

Walaupun YHWH sungguh hadir di tengah-tengah pertempuran antara orang Israel dan orang Filistin, pasukan Israel tetap saja kalah dengan begitu banyak korban jiwa. Mengapa Allah membiarkan hal seperti itu sampai terjadi? Apakah Ia tidak cukup memiliki kuat-kuasa untuk melindungi orang Israel? Apakah Ia tidak lagi peduli pada orang Yahudi yang bertempur dan keluarga-keluarga mereka?

Apabila kita melihat ke belakang dalam Kitab 1Samuel kita akan menemukan sebuah pentunjuk. Bertahun-tahun lamanya, Hofni dan Pinehas – imam-iman yang memainkan suatu peranan utama dalam kekacauan itu – telah menjadikan bait suci YHWH di Silo menjadi sebuah tempat  berbagai tindakan korupsi dan tindakan a susila. Kitab Suci dengan jelas menyebut anak-anak Eli ini sebagai orang-orang dursila (bacalah keseluruhan 1Sam 2:12-36). Mereka menggunakan persembahan kurban kepada YHWH sebagai kesempatan untuk kenikmatan jasmani dlsb. Sebuah petunjuk lainnya terdapat dalam bacaan hari ini. Pada waktu orang Israel kalah dalam pertempuran pertama, mereka bertanya kepada diri sendiri mengapa Allah telah membiarkan hal itu terjadi – namun mereka tidak menanti sampai datang jawaban dari Allah. Barangkali melalui kekalahan mereka Allah mencoba untuk menarik perhatian mereka, untuk menunjukkan sejumlah ketidaksetiaan yang telah merusak hubungan dengan-Nya, seperti halnya yang terjadi dengan Hofni dan Pinehas. Namun, bukannya melakukan pemeriksaan batin, mereka malah menyuruh orang mengambil tabut perjanjian YHWH dari Silo: “Marilah kita mengambil dari Silo tabut perjanjian YHWH, supaya Ia datang ke tengah-tengah kita dan melepaskan kita dari tangan musuh kita” (1Sam 4:3).

Allah tidak akan mau digunakan oleh manusia, apalagi disalahgunakan! Tabut perjanjian bukanlah dimaksudkan sebagai sebuah jimat yang secara otomatis akan mengusir segala kejahatan. Orang Israel percaya akan kehadiran Allah dalam tabut perjanjian tanpa mau memeriksa dan melihat kehadiran Allah dalam hati dan tindakan-tindakan mereka sendiri. Mereka memperlakukan tabut perjanjian seperti sebuah benda magic namun mereka mengabaikan keharusan untuk menyatukan pemikiran-pemikiran dan tindakan-tindakan mereka dengan kehendak Allah. Itulah sebabnya, mengapa mereka dikalahkan oleh orang Filistin.

Inginkah kita menjadi pemenang dalam kehidupan kita? Untuk itu kita harus taat kepada Tuhan! Inginkah kita dibebaskan dari suatu pola dosa atau suatu penolakan yang menyakitkan terhadap seseorang? Untuk itu kita harus menaruh kehidupan kita sejalan dengan kehendak Allah. Dengan demikian kita dapat mengenal dan mengalami perlindungan-Nya dan kuasa-Nya, bukan karena kita melakukan segala sesuatu dengan benar, melainkan karena kita telah menyerahkan kendali atas hidup kita sendiri kepada Bapa surgawi yang sangat mengasihi kita semua. Allah kita itu bukan seperti seorang yang gila hormat, Ia tidak membutuhkan segala empty gestures dari pihak manusia. Allah senantiasa mencari kesempatan untuk mentransformasikan kita menjadi orang-orang yang telah direncanakan-Nya ketika diciptakan. Untuk itu yang diperlukan dari kita adalah hati yang terbuka bagi-Nya. Oleh karena itu marilah kita menghadap Dia dalam ketaatan kepada-Nya, untuk sepenuhnya mengandalkan diri kita pada kuasa Roh-Nya. Inilah jalan menuju kebebasan yang sejati.

DOA: Bapa surgawi, aku menempatkan hidupku dalam tangan-tangan-Mu, percaya sepenuhnya pada kasih-Mu. Semoga kehendak-Mu terjadi atas diriku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:40-45), bacalah tulisan yang berjudul “TETAPI ORANG ITU PERGI MEMBERITAKAN PERISTIWA ITU SERTA MENYEBARKANNYA KE MANA-MANA” (bacaan untuk tanggal 14-1-16), dalam situs/blog SANG SABDA  http://sangsabda.wordpress.com; 16-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-1-12 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 12 Januari  2016 [Peringatan S. Bernardus dr Corleone] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 92 other followers