BERBAHAGIALAH, HAI KAMU YANG MISKIN

BERBAHAGIALAH, HAI KAMU YANG MISKIN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIII – Rabu, 9 September 2015)

YESUS SANG RABBI DARI NAZARETLalu Yesus memandang murid-murid-Nya dan berkata,

“Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang punya Kerajaan Allah.

Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan.

Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa.

Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat.

Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di surga; karena demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi.

Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu.

Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar.

Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis.

Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu.”  (Luk 6:20-26) 

Bacaan Pertama: Kol 3:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:2-3,10-13

“Khotbah di Tanah Datar” yang ada dalam Injil Lukas dan padanannya dalam Injil Matius yang diberi nama “Khotbah di Bukit”, memuat  sejumlah “kata-kata mutiara” (boleh dikatakan yang terbaik) dari Yesus. Masalahnya sekarang adalah, bahwa familiaritas kita dengan “Sabda-sabda Bahagia” dapat menghalangi kita dari pemahaman menyeluruh atas ajaran Yesus yang bersifat revolusioner itu. Bagaimana Yesus dapat mengatakan bahwa orang-orang miskin itu terberkati (bahagia) dan orang-orang kaya itu celaka atau terkutuk?

Yesus mengatakan bahwa mereka yang kaya itu terberkati bukanlah karena kemiskinan itu baik, melainkan karena orang-orang miskin lebih berkemungkinan untuk dengan rasa haus dan lapar akan Allah yang berada dalam setiap hati manusia. Karena mudahnya menjadi berhala, kekayaan materiil dapat “menguasai” hati kita dan menjauhkan kita dari kerendahan hati dalam menghadap Allah guna menerima rahmat-Nya ( 1Tim 6:10).

Itulah sebabnya mengapa Yesus bersabda, “Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu” (Luk 6:24). Yesus tidak mengutuk orang-orang kaya, Dia hanya berduka terhadap kemiskinan spiritual dari mereka yang puas dengan kekayaan duniawi. Yesus mengetahuki bahwa apabila kita mengeluarkan energy kita secara terpusat guna memperoleh kekayaan duniawi dengan cara yang mengesampingkan Allah dan kebutuhan-kebutuhan orang-orang lain, maka kita dapat merasa nyaman dalam hidup ini, tetapi dengan risiko terlempar dari kekayaan kehidupan kekal bersama Yesus.

Yesus mengundang kita semua untuk merangkul orang-orang miskin, guna membuka mata kita terhadap penderitaan di sekeliling kita, dan untuk memiliki kerinduan agar dunia dibebaskan dari dosa (Mat 6:9-10). Kerinduan kita menjadi kasih pada saat kita digerakkan oleh Roh Kudus untuk mengesampingkan kepentingan-kepentingan kita dan mulai bekerja untuk membawa terang Kristus ke dalam kegelapan di sekeliling kita. Kalau tadinya kita mengejar-ngejar kekayaan dan kenyamanan hidup dengan praktis melupakan hampir segala-galanya yang lain, maka sekarang kita menjadi rela dan ikhlas untuk mengambil jalan lebih sulit yang dapat mencakup penderitaan. Mengapa? Karena kita adalah milik Kristus! 

Kebahagiaan sejati tidak datang dari hidup senyaman mungkin dalam dunia ini, melainkan dari kenyataan bahwa kita sekarang menerima semacam down payment dari kekayaan penuh yang menantikan kita di surge sana – hidup yang dipenuhi dan dibimbing oleh Roh Kudus. Walaupun terkadang kita hanya dapat melihat sekilas saja, jika dengan penuh ketekunan kita memusatkan pandangan kita pada Yesus, maka Dia akan menguatkan kasih kita kepada-Nya dan bagi orang-orang  lain yang membutuhkan.

DOA: Tuhan Yesus, tunjukkanlah belas kasih-Mu kepada mereka yang miskin dan kesepian, dibenci dan lapar. Tolonglah diriku agar dapat menjumpai mereka dengan benda-benda materiil dan dengan kekayaan Injil-Mu. Terpujilah nama-Mu, ya Yesus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 6:6-11), bacalah tulisan yang berjudul “JIKA KITA MENJADI MISKIN DALAM ROH” (bacaan tanggal 9-9-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-9-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 8 September 2015 [Pesta Kelahiran SP Maria] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ALLAH TETAP SETIA PADA JANJI-JANJI-NYA

ALLAH TETAP SETIA PADA JANJI-JANJI-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta Kelahiran SP Maria – Selasa, 8 September 2015) 

Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami istri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama istrinya di depan umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan tampak kepadanya dalam mimpi dan berkata, “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka.” Hal itu terjadi supaya digenapi yang difirmankan Tuhan melalui nabi, “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel.” (Yang berarti: Allah menyertai kita.) (Mat 1:18-23) 

Bacaan Pertama: Mi 5:1-4a atau Rm 8:28-30; Mazmur Tanggapan: Mzm 13:6; Bacaan Injil lebih panjang: Mt 1:1-16,18-23 

Pada hari ini Gereja merayakan kelahiran Santa Perawan Maria. Dalam artian yang sungguh riil, kelahiran Maria sebenarnya mempersiapkan penebusan kita. Dia adalah seorang pribadi manusia yang dipilih sejak sediakala untuk menjadi bejana yang melaluinya Allah akan menjadi manusia. Sebagai seorang pribadi pertama yang dipenuhi Roh Kudus dalam Perjanjian Baru, Maria dipenuhi dengan rahmat sejak dikandung, dan hidupnya membawa kepada kita rahmat inkarnasi dalam pribadi Putranya, Yesus Kristus.

Matius mengawali Injilnya dengan “Daftar Nenek Moyang Yesus Kristus” (Mat 1:1-16), dimulai dengan Abraham, orang pertama yang percaya kepada janji-janji Allah, melalui Daud, raja bangsa Israel yang besar. Mengapa Matius harus bersusah payah menyusun daftar nenek Yesus Kristus ini? Karena dia tidak ingin para pembaca Injilnya luput melihat betapa sabar Allah – dalam kurun waktu yang mencakup banyak sekali generasi –  dalam mempersiapkan umat-Nya bagi kedatangan sang Mesias. Allah itu setia dari satu generasi ke generasi berikutnya! Allah memang senantiasa Mahasetia!

Nenek moyang Yesus termasuk sejumlah orang kudus besar, seperti Boas dan Rut, istrinya; namun juga mencakup sejumlah pendosa besar yang membawa aib bagi umat Allah, misalnya Manasye (2Raj 21:1-17). Biar bagaimana pun juga, Allah tetap setia pada janji-Nya dan terus memberikan kepada umat-Nya pengharapan akan masa depan.

Patut dicatat di sini, bahwa Matius memasukkan juga beberapa nama perempuan dalam daftar nenek moyang Yesus tersebut. Matius menyebutkan empat nama yang memainkan peranan penting dalam sejarah Israel. Kehadiran mereka menunjukkan posisi istimewa dari Maria, ibunda sang Penebus, sang perawan dari Nazaret. Tempat Maria pada bagian akhir daftar nenek moyang merupakan kesaksian penting dan kuat perihal kesetiaan Allah. Maria menanti-nantikan kedatangan sang Mesias dengan pengharapan yang dipenuhi sukacita. Dia tidak pernah meragukan bahwa Allah akan memenuhi janji-janji-Nya kepada dirinya dan kepada umat-Nya.

Pesan bacaan Injil hari ini adalah bahwa Allah ingin agar kita menantikan Dia dengan penuh kepercayaan pada janji-janji-Nya. Walaupun kita bisa saja gagal, Ia tidak pernah gagal. Pada waktu kita belajar untuk menantikan Allah dengan penuh kepercayaan seperti Maria, maka Dia memberikan semua rahmat yang kita perlukan untuk bertekun dalam pengharapan dan antisipasi penuh sukacita akan pemenuhan janji-janji-Nya.

DOA: Tuhan, Engkau adalah Allah Yang Mahasetia, bahkan ketika aku lupa akan janji-janji-Mu atau menjadi tidak sabar dengan cara-cara-Mu yang terasa asing dengan cara-caraku sendiri. Tolonglah aku agar mau dan mampu menaruh kepercayaan pada kasih-Mu yang tidak pernah gagal dan bersukacita dalam penyelamatan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 1:1-16,18-23), bacalah tulisan yang berjudul “SEPERTI HALNYA MARIA, ALLAH JUGA MEMPUNYAI RENCANA BAGI HIDUP KITA MASING-MASING” (bacaan tanggal 8-9-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 8-9-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 7 September 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DI DALAM KRISTUS TERSEMBUNYI SEGALA HARTA HIKMAT DAN PENGETAHUAN

DI DALAM KRISTUS TERSEMBUNYI SEGALA HARTA HIKMAT DAN PENGETAHUAN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIII – Senin, 7 September 2015) 

mosaic-of-st-paul-in-veria-greece2Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam tubuhku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat. Aku telah menyadi pelayan jemaat itu sesuai dengan tugas yang dipercayakan Allah kepadaku untuk meneruskan firman-Nya dengan sepenuhnya kepada kamu, yaitu rahasia yang tersembunyi dari abad ke abad dan dari turunan ke turunan, tetapi yang sekarang dinyatakan kepada orang-orang kudus-Nya. Kepada mereka Allah mau memberitahukan betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di tengah-tengah kamu. Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan! Dialah yang kami beritakan bilamana tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus. Itulah yang kuusahakan dan kupergumulkan dengan segenap tenaga sesuai dengan kuasa-Nya yang bekerja dengan kuat di dalam aku.

Karena aku mau, supaya kamu tahu, betapa beratnya perjuangan yang kulakukan untuk kamu, dan untuk mereka yang di Laodikia dan untuk semuanya, yang belum mengenal aku pribadi, supaya hati mereka terhibur dan mereka bersatu dalam kasih, sehingga mereka memperoleh segala kekayaan dan keyakinan pengertian, dan mengenal rahasia Allah, yaitu Kristus, sebab di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan. (Kol 1:24-2:3)

Mazmur Tanggapan: Mzm 62:6-7,9; Bacaan Injil: Luk 6:6-11

“Kristus ada di tengah-tengah kamu. Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan!” (Kol 1:27).

Ini adalah kebenaran yang sangat menakjubkan! Yesus Kristus, Ia yang menebus kita dengan mencurahkan darah-Nya, tidak hanya memilih untuk membebaskan kita dari belenggu dosa dan kuasa Iblis, melainkan juga untuk hidup di dalam diri kita masing-masing. Ia datang kepada kita dengan penuh belas kasih, hikmat-kebijaksanaan, dan kuat-kuasa Allah yang Mahakuasa. Ini adalah dasar dari pengharapan kita.

Apabila Kristus berdiam dalam diri kita, bukankah kita memiliki kuasa untuk menjalani kehidupan yang kudus dan mengalahkan segala yang jahat? Ya tentunya, walaupun mungkin kita tidak mengalaminya sesering diharapkan. Tentunya, kadang-kadang Allah memperkenankan kita mengalami kelemahan kita sendiri untuk mengajar kita menaruh kepercayaan kepada Dia dengan lebih mendalam. Namun kita juga harus bersikap waspada terhadap kemungkinan bahwa hal-hal duniawi yang membingungkan dan berbagai tipu daya Iblis dapat memperlemah iman kita dan membatasi pengalaman kita akan kuat-kuasa Allah.

COME TO MESekarang, percayakah kita (anda dan saya) bahwa segala kekayaan dan kuat-kuasa Kristus ada dalam diri kita? Percayakah kita bahwa transformasi pribadi adalah suatu kemungkinan yang riil bagi kita? Allah telah memberdayakan kita masing-masing untuk melayani-Nya. Iman-kepercayaan kita dalam hal ini mungkin saja hanya sekecil benih mustar (sesawi); namun selagi kita mengembangkan kebiasaan untuk berpaling kepada Roh Kristus (Roh Allah) yang berdiam di dalam diri kita, maka Dia akan  mengerjakan di dalam diri kita baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya (lihat Flp 2:13). Apabila kita mengambil keputusan untuk bergantung sepenuhnya kepada Allah dalam iman dan pengharapan, maka ketergantungan kita kepada-Nya akan bertumbuh, dan berkat rahmat-Nya kita pun akan diubah.

Sebenarnya tersedia banyak cara-cara praktis di mana kita dapat mengambil langkah iman bahwa Kristus berdiam dalam diri kita. Misalnya kita dapat menaruh kepercayaan bahwa Yesus yang sama, yang menyembuhkan orang yang mati tangan kanannya, juga bersama kita pada hari ini (lihat Luk 6:6-10). Marilah kita mencoba untuk mendoakan seorang tua yang lumpuh, seorang anak yang sakit, seorang istri/suami yang mengalami depresi, atau seorang sahabat yang menderita sakit sangat serius. Tentu saja kita harus melakukan penilaian atas situasinya dengan hati-hati dan tidak serampangan; namun kita tidak pernah boleh merasa takut untuk berdoa, walaupun hanya di dalam hati. Marilah kita berdoa dengan ekspektasi bahwa Kristus dalam diri kita mendengar dan menjawab doa-doa kita.

DOA: Aku memuji Engkau dan berterima kasih penuh syukur kepada-Mu, ya Tuhan, karena Engkau senantiasa hadir dalam diriku. Biarlah realitas kebenaran ini senantiasa bertumbuh di dalam pikiran dan hatiku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 6:6-11), bacalah tulisan yang berjudul “CINTA KASIH ADALAH NILAI SENTRALNYA” (bacaan tanggal 7-9-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 9-9-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 4 September 2015 [Peringatan S. Rosa dr Viterbo, Perawan – OFS]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEKETIKA ITU TERBUKALAH TELINGA ORANG ITU DAN PULIHLAH LIDAHNYA

SEKETIKA ITU TERBUKALAH TELINGA ORANG ITU DAN PULIHLAH LIDAHNYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXIII [TAHUN B]6 September 2015)

HARI MINGGU KITAB SUCI NASIONAL 

ORANG TULI DISEMBUHKAN - 01Kemudian Yesus meninggalkan lagi daerah Tirus dan melalui Sidon pergi ke Danau Galilea, melintasi daerah Dekapolis. Di situ orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan yang gagap dan memohon kepada-Nya, supaya Ia meletakkan tangan-Nya di atas orang itu. Sesudah Yesus memisahkan dia dari orang banyak, sehingga mereka sendirian, Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu. Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus mendesah dan berkata kepadanya, “Efata!”, artinya: Terbukalah! Seketika itu terbukalah telinga orang itu dan pulihlah lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik. Yesus berpesan kepada mereka supaya jangan menceritakannya kepada siapa pun juga. Tetapi makin dilarang-Nya, makin luas mereka memberitakannya. Mereka teramat takjub dan berkata, “Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata.” (Mrk 7:31-37) 

Bacaan Pertama: Yes 35:4-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 146:7-10 

“Haleluya! Pujilah TUHAN (YHWH), hai jiwaku!” (Mzm 146:1).

Yesus menginginkan orang-orang yang menyaksikan penyembuhan-penyembuhan-Nya agar mengingat para nabi dan memahami bahwa Dia berada di tengah-tengah mereka untuk menggenapi apa yang telah dinubuatkan: “Pada waktu itu mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tulis akan dibuka. Pada waktu itu orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai” (Yes 35:5-6). Sesungguhnya, Sang Terurapi (Mesias/Kristus) akan membawa kepenuhan hidup. Dalam terang kematian dan kebangkitan Yesus dan pencurahan Roh Kudus, kita dapat melihat bahwa Yesus pada kenyataan-Nya adalah sang Mesias, karena – seperti dideklarasikan oleh orang banyak, “Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata” (Mrk 7:37).

ORANG TULI DISEMBUHKAN - 02Banyak orang yang menyaksikan berbagai penyembuhan dan mukjizat menjadi percaya. Pekerjaan-pekerjaan-Nya yang kesemuanya membawa kebaikan merupakan sebuah tanda bahwa Mesias telah datang karena semua pekerjaan itu mencerminkan apa yang yang telah dinubuatkan oleh para nabi sehubungan dengan kedatangan sang Mesias. Penyembuhan adalah sebuah tanda kepenuhan hidup yang merupakan milik kita bilamana Kerajaan Allah datang di tengah-tengah kita; itu adalah sebuah tanda bahwa Allah hadir dan sedang bekerja di tengah-tengah umat-Nya. Walaupun tidak sedikit tanda-tanda yang dibuat oleh Yesus, ada saja orang-orang pada masa itu yang tidak percaya sedikitpun kepada-Nya.

Hal yang sama juga benar pada zaman modern ini, bahkan ketika kita juga menerima kebenaran Yesus. Melalui Gereja, Roh Kudus memberikan kesaksian kepada kita tentang Yesus (Yoh 16:13-14); Roh Kudus yang sama berdiam dalam diri kita melalui iman dan baptisan dan Ia berhasrat untuk meyakinkan kita tentang kebenaran. Namun kita harus menyetujui kebenaran itu dengan iman. Kita dapat mendengar tentang Yesus dan bahkan memberi kesaksian tentang karya Allah dalam hidup kita atau kehidupan para kudus, namun tanpa iman, kita tidak akan memperkenankan Roh Kudus untuk membuat kita sungguh percaya kepada Yesus.

Roh Kudus akan mencurahkan rahmat-Nya guna memampukan kita untuk percaya dan menaruh kepercayaan pada Yesus. Keragu-raguan kita akan menghilang selagi kita berjumpa dengan Yesus secara pribadi dan mengalami kehadiran-Nya yang penuh kasih dalam kehidupan kita. Bahkan ketika kita menghadapi situasi-situasi sulit, iman kita kepada Yesus tidak akan menyusut karena dibangun di atas tanah fondasi yang kokoh dan kita pun akan tahu bahwa tidak ada sesuatupun yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah yang kita kenal melalui Kristus Yesus (Rm 8:31-39).

ORANG TULI DISEMBUHKAN - 03Kisah tentang penyembuhan orang yang tuli dan gagap seharusnya memberikan keberanian karena Yesus ingin menyentuh hidup kita dan membuat kehadiran Kerajaan diketahui, dikenal serta dialami oleh kita. Selagi kita merangkul Kristus, kita akan mengetahui, mengenal dan mengalami kehadiran-Nya dan bersama sang pemazmur kita pun akan memproklamasikan: “Haleluya! Pujilah TUHAN (YHWH), hai jiwaku!” (Mzm 146:1).

DOA: Tuhan Yesus, bukalah telingaku agar aku dapat mendengar bilamana Engkau berbicara lewat Gereja-Mu. Buatlah diriku mau dan mampu berbicara untuk-Mu manakala situasi menuntut. Berikanlah kepadaku keberanian, ya Tuhan, untuk mewartakan Kabar Baik dan Nama-Mu yang terkudus kepada saudari dan saudaraku yang beriman lain. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 7:31-37), bacalah tulisan yang berjudul “MELALUI YESUS, SEMUA JANJI ALLAH DIGENAPI” (bacaan tangal 6-9-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 9-9-12 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 3 September 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS, TUHAN ATAS HARI SABAT

YESUS, TUHAN ATAS HARI SABAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXII – Sabtu,  5 September 2015) 

MURID-MURID YESUS MEMETIK GANDUM PADA HARI SABATPada suatu hari Sabat, ketika Yesus berjalan di ladang gandum, murid-murid-Nya memetik bulir gandum, menggosoknya dengan tangan mereka dan memakannya. Tetapi beberapa orang Farisi berkata, “Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?” Lalu Yesus menjawab mereka, “Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan oleh Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan mengambil roti sajian, lalu memakannya dan memberikannya kepada pengikut-pengikutnya, padahal roti itu tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam? Kata Yesus lagi kepada mereka, “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” (Luk 6:1-5)

Bacaan Pertama: Kol 1:21-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 54:3-4,6,8

Pada waktu Lukas menulis Injilnya, umat Kristiani sedang menyebar ke tempat-tempat atau negeri-negeri yang jauh dari Yerusalem. Banyak anggota jemaat yang baru berasal dari kaum non-Yahudi (baca: Kafir) yang tidak familiar dengan berbagai adat-kebiasaan Yahudi. Salah satu tujuan Lukas menulis Injilnya ini adalah untuk mengajar umat Kristiani ex non-Yahudi itu bahwa mereka termasuk dalam rencana Allah untuk membawa semua orang kepada keselamatan dalam Kristus. Lukas berupaya untuk mematahkan halangan-halangan dari peraturan-peraturan Yahudi dan memproklamasikan bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan segenap umat manusia.

Lukas menunjukkan bagaimana Yesus secara gradual – tahap demi tahap – mengungkapakan kebenaran siapa Dia sebenarnya, … Juruselamat dunia. Kemudian Dia mengembangkan lebih lanjut tema, bahwa agar dapat mengikut Kristus kita perlu menolak dan membuang cara-cara berpikir kita yang lama dan menjalankan suatu cara hidup baru yang bersifat radikal. Selagi jalan di jalan antara ladang-ladang gandum, para murid Yesus memetik bulir gandum, menggosok-gosoknya untuk membuang sekamnya, kemudian memakannya. Bagi orang Farisi, tindakan para murid Yesus ini melanggar hukum Sabat Yahudi (lihat Ul 5:14) yang melarang orang untuk bekerja pada hari Sabat. Secara teknis, para murid Yesus telah melakukan suatu pekerjaan (memetik bulir gandum dst.) yang terlarang di hari Sabat.

Yesus menanggapi pertanyaan orang-orang Farisi itu dengan mengingatkan mereka pada waktu di mana Daud memberi makan pasukannya yang lapar dengan roti kudus, yaitu roti sajian yang ditempatkan dalam tabernakel (Luk 6:3-4; 1Sam 21:1-6).  Menurut hukum yang berlaku roti seperti ini hanya dapat dimakan oleh para imam dari Rumah Allah (Im 24:9), akan tetapi diberikan kepada Daud dan pasukannya atas dasar pertimbangan unsur kemanusiaan. Lalu Yesus bersabda, “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat” (Luk 6:5).

Yesus mengungkapkan dua buah kebenaran yang penting dalam pernyataannya ini. Yesus menunjukkan bahwa Dia dan para murid-Nya tidak melanggar hukum Sabat. Sebaliknya, sebagai “Tuhan atas hari Sabat”, Dia sedang mengungkap makna sesungguhnya dari hari Sabat itu. Pertama-tama, hari Sabat ditetapkan sebagai karunia Allah bagi umat manusia, satu hari yang disisihkan bagi orang-orang  agar mereka memalingkan hati dan pikiran mereka kepada Allah. Kedua, Dia menyatakan siapa diri-Nya sebenarnya – Anak Manusia dengan otoritas, bahkan atas hari Sabat juga.

Sekarang marilah kita memusatkan pikiran dan hati kita kepada Anak Manusia, Yesus Kristus, agar Dia sudi mengajar kita dan kita pun dapat semakin mengenal-Nya. Bagaimana? (1) Dengan menyediakan waktu yang cukup setiap hari – paling sedikit 10 menit – untuk berdoa dan memuji-muji Allah sambil membuka hati kita selebar-lebarnya bagi-Nya. (2) Dengan melakukan pemeriksaan batin/nurani kita setiap hari, biasanya sebelum kita pergi tidur di malam hari. Pada kesempatan ini kita dapat bertobat atas pola-pola kebiasaan lama yang selama ini membatasi karya Allah dalam kehidupan kita. (3) Dengan membaca dan merenungkan sabda Allah dalam Kitab Suci sehingga dengan demikian membuka diri kita terhadap sentuhan Roh Kudus yang menyatakan kasih dan kerahiman Allah. (4) Dengan membuat serta bertindak atas rencana-rencana pertumbuhan spiritual yang mencakup pembacaan dan permenungan atas bacaan-bacaan rohani dan keikutsertaan dalam kehidupan Gereja. Hal ini akan menolong terjaminnya keanggotaan kita dalam komunitas iman yang dinamakan Gereja/Tubuh Kristus, di mana Kristus adalah Kepalanya.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau menyediakan satu hari setiap pekan agar kami dapat bersama-Mu. Terima kasih untuk Roh Kudus yang Kauutus, yang memampukan kami untuk menjadi semakin dekat dengan diri-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kol 1:21-23), bacalah tulisan yang berjudul “LEBIH DEKAT LAGI DENGAN YESUS MELALUI SALIB-NYA” (bacaan tanggal 5-9-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2015.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggaal 6-9-14 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 2 September 2015 [Peringatan para Martir Revolusi Perancis] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DAPATKAH SAHABAT MEMPELAI LAKI-LAKI DISURUH BERPUASA PADA WAKTU MEMPELAI ITU BERSAMA MEREKA?

DAPATKAH SAHABAT MEMPELAI LAKI-LAKI DISURUH BERPUASA PADA WAKTU MEMPELAI ITU BERSAMA MEREKA?

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXII – Jumat, 4 September 2015)

Ordo Franciscanus Saecularis: S. Rosa dr Viterbo, Perawan – OFS

YESUS SANG RABBI DARI NAZARETOrang-orang Farisi itu berkata lagi kepada Yesus, “Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang, demikian juga murid-murid orang Farisi, tetapi murid-murid-Mu makan dan minum.” Jawab Yesus kepada mereka, “Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa pada waktu mempelai itu bersama mereka? Tetapi akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa.”

Ia menyampaikan juga suatu perumpamaan kepada mereka, “Tidak seorang pun mengoyakkan secarik kain dari baju yang baru untuk menambalkannya pada baju yang tua. Jika demikian, yang baru itu juga akan koyak dan pada yang tua itu tidak akan cocok kain penambal yang dikoyakkan dari yang baru itu. Demikian juga tidak seorang pun menuang anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian, anggur yang baru itu akan mengoyakkan kantong itu dan anggur itu akan terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula. Tidak seorang pun yang telah minum anggur tua ingin minum anggur yang baru, sebab ia akan berkata: Anggur yang tua itu baik.” (Luk 5:33-39)

Bacaan Pertama: Kol 1:15-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 100:2-5

Ketika beberapa orang Farisi bertanya kepada Yesus tentang “berpuasa dan tidak berpuasa”, Yesus menanggapinya dengan mengumpamakan diri-Nya sendiri sebagai seorang mempelai laki-laki: “Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa pada waktu mempelai itu bersama mereka? (Luk 5:34). Sebagai seorang mempelai laki-laki, Yesus justru adalah Dia untuk siapa mereka mempersiapkan diri menyambut kedatangan-Nya dengan berpuasa. Sekarang, Ia sudah berada di tengah-tengah mereka; Dia yang datang untuk “mengklaim” sang mempelai perempuan sebagai istri-Nya.

Dalam bacaan Injil ini Yesus ingin menekankan kebaharuan dari kehidupan ilahi yang ingin diberikan-Nya kepada umat-Nya. Kehidupan Kristiani bukanlah dimaksudkan untuk sekadar kita tambahkan di atas “kehidupan regular” kita yang sudah ada. Kehidupan Kristiani adalah suatu kehidupan baru yang seluruhnya baru. Kita dengan mudah dapat berpikir bahwa kita mempunyai suatu kehidupan dan apabila kita melakukan hal-hal tertentu dengan setia, maka itu akan menjadi suatu kehidupan yang lebih baik – suatu kehidupan Kristiani. Akan tetapi, ini bukanlah yang dimaksudkan oleh Allah. Yesus tidak menjadi seorang manusia dan menderita serta mati di kayu salib hanya untuk memberikan kepada kita suatu kehidupan yang kiranya lebih baik. Ia melakukan semua itu agar supaya kita menerima suatu kehidupan baru, lengkap dengan seperangkat prinsip-prinsip baru, sebuah pusat yang baru, dan sebuah sumber baru dari pengharapan dan kuasa. Yesus ingin memberikan kita suatu kehidupan ilahi. Yesus ingin membuat kita menjadi suatu ciptaan baru.

church-size-san-damiano-cross-image-on-canvas-with-ornate-gold-frame22859xlUntuk menolong para pengikut-Nya memahami kebenaran fundamental ini, Yesus berbicara mengenai ‘kain penambal untuk baju yang tua’ dan ‘kantong kulit penyimpan anggur yang tua’. Para pendengar-Nya akan memahami bahwa kain penambal dapat mengubah “penampilan” baju yang dikenakan seseorang menjadi lebih baik, mungkin juga memperbaiki kegunaannya, namun baju itu tetaplah sepotong baju tua dan “gampang robek” justru karena tambalan itu. Mereka juga mengetahui bahwa anggur yang baru masih sedang berfermentasi, oleh karena itu kantong kulitnya pun harus cukup fleksibel untuk mengembang seirama dengan gas yang dihasilkan oleh proses fermentasi anggur itu. Kantong kulit yang tua tidak akan dapat “menangani” perubahan-perubahan yang diakibatkan oleh anggur yang baru.

Ketika Yesus wafat di atas kayu salib, Ia membawa serta bersama-Nya kehidupan lama kita. Yang ditawarkan oleh-Nya sekarang adalah kemampuan untuk menjadi suatu ciptaan baru yang dipenuhi dengan hidup-Nya sendiri. Bagaimana kita dapat memperolehnya? Tentunya dengan melakukan “pemeriksaan batin”, setiap hari. Seperti Santo Paulus, pada satu titik di tengah “proses-rutin-harian” itu, kita pun tidak dapat mengelakkan diri untuk mengatakan: “Bukan apa yang aku kehendaki yang aku lakukan, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku lakukan” (Rm 7:15). Inilah salah satu nilai penting dari suatu “pemeriksaan batin”, yaitu kita disadarkan akan masih adanya “kehidupan lama” dalam diri kita.

Oleh karena itu, marilah kita membawa segala kehidupan lama kita kepada Yesus yang tersalib dan mohon kepada-Nya agar kita dapat mati terhadap kehidupan lama kita tersebut. Kita dapat bertobat – artinya berbalik seratus delapan puluh derajat – dari kehidupan lama kita itu. Selagi kita mengakui dosa-dosa kita, kita memperdalam pertobatan kita dan ditransformasikan untuk semakin menjadi serupa dengan Yesus. Marilah kita memperkenankan Roh Kudus untuk bekerja dalam diri kita masing-masing, sehingga dengan demikian kita dapat menjadi kantong anggur yang lunak dan fleksibel, yang siap untuk menerima tuangan lebih banyak lagi anggur yang baru.

DOA: Tuhan Yesus, oleh Roh Kudus-Mu selidikilah hatiku. Tunjukkanlah kepadaku perbedaan antara kehidupan baru yang telah Kauberikan kepadaku dan kehidupan lama yang disalibkan bersama-Mu. Transformasikanlah aku melalui pembaharuan hati dan pikiranku, sehingga aku dapat hidup untuk memuliakan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Pertama hari ini (Kol 1:15-20), bacalah tulisan yang berjudul “DIALAH GAMBAR ALLAH YANG TIDAK KELIHATAN” (bacaan tanggal 4-9-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2015. 

Cilandak, 1 September 2015  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KETAATAN KEPADA YESUS AKAN MENGHASILKAN BUAH

KETAATAN KEPADA YESUS AKAN MENGHASILKAN BUAH

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Gregorius Agung, Paus & Pujangga Gereja – Kamis, 3 September 2015) 

YESUS MENGAJAR DARI DALAM PERAHU - 505

Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai Danau Genesaret, sementara orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah. Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya. Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia mendorong perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon, “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.”  Simon menjawab, “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena perkataan-Mu itu, aku akan menebarkan jala juga.”  Setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Mereka pun datang, lalu bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam. Ketika Simon Petrus melihat hal itu ia pun sujud di depan Yesus dan berkata, “Tuhan, pergilah dari hadapanku, karena aku ini seorang berdosa.”  Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap; demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. Kata Yesus kepada Simon, “Jangan takut, mulai sekarang engkau akan menjala manusia.”  Sesudah menarik perahu-perahunya ke darat, mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus. (Luk 5:1-11)

Bacaan Pertama: Kol 1:9-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:2-6

YESUS MENGAJAR - TENTANG TANDA RAGIBanyak nelayan mengklaim bahwa waktu yang terbaik untuk menjala ikan adalah pada malam hari. Simon Petrus dan para rekan kerjanya kerja sepanjang malam menjala ikan, namun samasekali tidak berhasil. Kalau malam saja tidak berhasil apalagi di siang hari! Inilah pemikiran atau teori para nelayan seperti Petrus. Satu-satunya cara yang dapat dilakukan adalah balik ke pangkalan di pantai dan membersihkan peralatan-peralatan, lalu pulang ke rumah untuk beristirahat dan siapa tahu besok “nasib” lebih baik.

Maka tidak mengherankanlah reaksi Petrus ketika Yesus menyuruhnya untuk bertolak ke tempat yang dalam dan menebarkan jalanya untuk menangkap ikan: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena perkataan-Mu itu, akan menebarkan jala juga” (Luk 5:5). Kata “guru” dalam bahasa Yunani yang digunakan dalam Injil adalah Epistates, terjemahan dari kata dalam bahasa Ibrani Rabi. Ini adalah suatu tanda respek, suatu pengakuan bahwa “guru” berstatus lebih tinggi dari dirinya sebagai “murid”. Melawan logikanya dan pengalaman praktis yang cukup lama, Petrus mematuhi juga perintah sang Guru. Jala yang dipakai barangkali adalah jala yang baru dibasuh.

Karena Petrus mentaati perintah sang Guru, maka dia tidak saja mampu untuk menjala banyak sekali ikan, tetapi juga dia sampai pada titik pengenalan siapa Yesus itu sebenarnya. Petrus akhirnya mampu untuk sujud di hadapan Yesus dan menyapa-Nya sebagai Tuhan (bahasa Yunani: Kyrios; Luk 5:8) sambil mengakui kedosaannya. Kata Kyrios ini adalah terjemahan dari kata Ibrani Adonai, artinya “Tuhanku yang agung”. Dalam Perjanjian Lama ini adalah adalah gelar kehormatan dan penyembahan yang diberikan kepada Allah. Iman Simon Petrus telah bertumbuh! Terpujilah Allah!

Pada awalnya Petrus menyapa Yesus dengan gelar “Guru” karena respeknya dan rasa syukurnya bahwa Yesus telah menyembuhkan ibu mertuanya (Luk 4:38-39). Akan tetapi, sementara Petrus mentaati Yesus, dia melihat bahwa Yesus tidak hanya seorang guru; melainkan juga memiliki otoritas atas segenap alam ciptaan. Satu-satunya cara untuk menyapa seorang manusia sedemikian adalah dengan menggunakan kata Kyrios.

KEMURIDAN - PENJALAN IKAN MENJADI PENJALA MANUSIAKita dapat mengalami peningkatan dalam iman seperti Petrus. Selagi kita mentaati perintah-perintah Tuhan Yesus, ketaatan kita akan menghasilkan buah, kita akan melihat dengan lebih jelas lagi siapa Yesus itu, dan kita pun menanggapinya dengan iman yang lebih mendalam. Ini adalah suatu pola yang kita akan lihat setiap hari selagi iman kita bertumbuh. Simon Petrus masih harus banyak belajar, demikian pula halnya dengan kita semua. Kita akan melihat dalam Injil bagaimana Petrus masih saja bertanya dan malah menyangkal Tuhan-nya. Demikian pula hanya dengan kita! Dalam hal ini ketaatan kita akan menghasilkan buah.

Tuhan Yesus dapat meminta kepada kita untuk melakukan hal-hal tertentu yang kelihatan sulit atau bahkan tidak mungkin – mengampuni seseorang yang telah menyakiti diri kita, merawat orang sakit dan melayani “wong cilik” di dalam dan/atau di luar Gereja, atau melayani “domba yang hilang” dari komunitas kita. Barangkali Dia juga meminta agar kita syering Kabar Baik dengan anggota-anggota keluarga kita atau sejumlah tetangga kita. Bilamana kita mendengarkan Yesus dan mentaati perintah-perintah-Nya, maka kita akan dapat memetik buah-buah dari ketaatan kita dan iman kita pun akan bertumbuh. Seperti juga Simon Petrus, kita pun akan bersembah sujud di hadapan Yesus dan menyapa Dia sebagai “Tuhan”.

DOA: Tuhan Yesus, jagalah diriku agar senantiasa mentaati perintah-perintah-Mu, sehingga dengan demikian, seperti Petrus, akupun dapat memetik buah-buah dari ketaatan tersebut dan imanku kepada-Mu juga akan bertumbuh. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kol 1:9-14), bacalah tulisan yang berjudul “PENTINGNYA DOA” (bacaan tanggal 3-9-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2015.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 4-9-14 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 31 Agustus 2015

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 88 other followers