MARIA BUNDA ALLAH

MARIA BUNDA ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA SP MARIA BUNDA ALLAH – Kamis, 1 Januari 2015)

HARI PERDAMAIAN SEDUNIA

800px-Gerard_van_Honthorst_001

Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan. Ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. Semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka. Tetapi Maria menyimpan segala perkataan itu di dalam hatinya dan merenungkannya. Kemudian kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka. Ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya. (Luk 2: 16-21)

Bacaan Pertama:  Bil 6:22-27; Mazmur Tanggapan: Mzm 67:2-3, 5-6,8; Bacaan Kedua: Gal 4:4-7

Satu pekan telah berlalu sejak perayaan Natal, hari kelahiran Juruselamat kita, Yesus. Liturgi hari ini mengundang kita untuk duduk di samping Maria dan sekali lagi meninjau ulang peristiwa-peristiwa Natal yang diliputi misteri itu. Kita diingatkan akan perjalanan jauh ke wilayah selatan (Yehuda); pintu-pintu rumah penginapan yang tertutup rapat-rapat bagi keluarga kudus, dan kelahiran Yesus di kandang hewan di Betlehem. Di sana, di padang malaikat memberitahukan kepada para gembala tentang  “kabar baik penuh sukacita”; lalu sebuah paduan suara para malaikat menyanyikan “Gloria”. Ini adalah delegasi pribadi dari Allah dari dunia-Nya untuk menyambut kedatangan-Nya ke dalam dunia kita-manusia. Ini dan peristiwa-peristiwa lainnya terjadi begitu cepat sehingga Maria tidak mempunyai cukup waktu untuk menganalisisnya satu persatu; dan pada hari ini dia duduk dan menyimpan serta merenungkan segala perkataan yang dikatakan mereka tentang Anak-nya, Yesus (Luk 2:17-19).

Kita pun dapat berdiam sejenak untuk mempertimbangkan dampak dari kelahiran Yesus atas kehidupan kita masing-masing. Ada beberapa pendekatan yang dapat dilakukan: (1) Saudari-Saudara dapat sekadar menghafal cerita-cerita Natal dan menyampaikannya kepada orang-orang lain – seringkali mencakup semua bab/pasal dan ayat secara lengkap, namun barangkali tanpa menghasilkan pemahaman yang memadai bagi yang mendengarkan. Ini bukanlah pendekatan gaya Maria. (2) Ada orang-orang yang terus-menerus terpesona dan takjub berkenaan dengan kabar baik Yesus Kristus; mereka berlompat-lompatan kegirangan karena excited dan penuh sukacita sampai-sampai seperti kesurupan. Ini pun bukanlah gaya Maria. (3) Tanggapan Maria terhadap kelahiran Yesus diceritakan dalam bacaan Injil hari ini. “Maria menyimpan segala perkataan itu di dalam hatinya dan merenungkannya” (Luk 2:19). “Merenungkan” di sini merupakan “kata kunci”. Kata ini mencakup “mendengarkan” dan “merasa takjub”, namun tetap melampaui kedua kata tersebut. Kelihatannya ini adalah sesuatu yang secara alamiah biasa dilakukan oleh Maria – mengheningkan diri untuk berpikir dan berdoa, menikmati kelemah-lembutan kasih Allah. (4) Langkah terakhir adalah menghayati dalam kehidupan apa yang direnungkan, hal mana juga dilakukan oleh Maria.

Mother-of-God-Assuage-My-Sorrow1Walaupun sejarah tidak dengan mudah dapat menempatkan Maria di samping Yesus,  sesungguhnya tidak sulitlah bagi Maria untuk berdiri sendiri, karena nilai-nilai kehidupan yang dihayatinya dan keutamaan-keutamaan yang dimilikinya tidaklah tergantung kepada posisinya sebagai ibunda Yesus. Hal ini jelas memperkuat kualitas pribadinya, namun tidak membangunnya. Putera-Nya, Yesus, membuktikannya sendiri, yaitu ketika pada suatu hari Dia sedang mengajar, seseorang berseru kepadanya: “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu (catatan: maksudnya buah dada) yang telah menyusui Engkau” (Luk 11:27). Yesus menjawab: “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya” (Luk 11:28). Jadi, kita dapat mengatakan di sini bahwa Maria berbahagia (terberkati)  bukanlah karena menjadi ibunda Yesus, melainkan karena mendengarkan sabda Allah dan melaksanakannya.

Maria banyak mendorong dan menyemangati kita semua. Dia – seperti kita semua – harus berdoa dan merenungkan sabda Allah langkah demi langkah sepanjang perjalanan ziarahnya di dunia. Allah tidak membuat mudah bagi diri Maria untuk menemukan makna kehidupannya sendiri maupun makna kehidupan Allah.

Permenungan-permenungan kita pada masa Natal yang penuh kegembiraan ini seharusnya mendorong kita untuk dengan penuh kepercayaan diri melangkah masuk ke dalam tahun yang baru, karena “hari ini telah lahir bagi kita sang Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan!” (bdk. Luk 2:11). Ibunda Yesus datang dari keluarga manusia kita, yang membuat kita terhubungkan dengan Allah. Ini adalah suatu misteri yang sungguh indah, yang tentunya kita ingin simpan dan merenungkannya dalam hati kita masing-masing.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Putera-Mu telah masuk ke dalam kemanusiaan. Karena Dia menjadi seperti kami, maka Engkau pun memanggil kami sebagai anak-anak-Mu sendiri. Buatlah agar kami menjadi semakin serupa dengan Yesus, sehingga Engkau dapat melihat pencerminan-Nya dalam diri kami masing-masing. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Kedua hari ini (Gal 4:4-7), bacalah tulisan yang berjudul “BUNDA ALLAH [2]” (bacaan untuk tanggal 1-1-15), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 1-1-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  29 Desember 2014  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KOMUNIKASI DENGAN SANG KHALIK DI PENGHUJUNG TAHUN

KOMUNIKASI DENGAN SANG KHALIK DI PENGHUJUNG TAHUN

(Bacaan Kitab Suci dalam Misa, Hari ketujuh dalam Oktaf Natal – Rabu, 31 Desember 2014) 

TRITUNGGAL MAHAKUDUS - 1Pada mulanya ada Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes; ia datang sebagai saksi untuk bersaksi tentang terang itu, supaya melalui dia semua orang menjadi percaya. Ia bukan terang itu, tetapi ia harus bersaksi tentang terang itu. Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia.

Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan melalui Dia, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik-Nya, tetapi orang-orang milik-Nya itu tidak menerima-Nya. Namun semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang dilahirkan bukan dari darah atau dari keinginan jasmani, bukan pula oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.

Firman itu telah menjadi manusia, dan tinggal di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh anugerah dan kebenaran. Yohanes bersaksi tentang Dia dan berseru, “Inilah Dia, yang kumaksudkan ketika aku berkata: Kemudian daripada aku akan datang Dia yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku.”  Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima anugerah demi anugerah; sebab hukum Taurat diberikan melalui Musa, tetapi anugerah dan kebenaran datang melalui Yesus Kristus.

Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya. (Yoh 1:1-18)  

Bacaan Pertama: 1Yoh 2:18-21; Mazmur Tanggapan: 96:1-2,11-13

Allah Yang Mahakuasa, Mahakudus, Mahatinggi dan Mahaluhur, Bapa yang kudus dan adil, Tuhan raja langit dan bumi, kami bersyukur kepada-Mu karena Engkau sendiri, sebab dengan kehendak-Mu yang kudus, dan oleh Putera-Mu yang tunggal bersama Roh Kudus, Engkau telah menciptakan segala sesuatu. Kami telah Kauciptakan menurut gambar dan rupa-Mu sendiri (Kej 1:26,27).

Bapa, Allah yang berbelas kasih, hari ini adalah hari terakhir tahun 2014. Hanya tinggal beberapa jam saja bagi kami semua untuk melangkah ke dalam tahun yang baru, tahun 2014. Kami memandang kembali tahun 2014 dengan segala pengharapan kami yang tulus kepada Engkau saja, baik pengharapan yang telah Kaupenuhi maupun yang tidak/belum Kauprnuhi. Kami berterima kasih penuh syukur untuk pemeliharaan dan perlindungan-Mu yang penuh cintakasih kepada kami semua selama tahun 2013.

A WOMAN PRAYINGBapa, kami berani berdoa kepada-Mu seraya memohon agar Engkau sudi memberikan damai-sejahtera yang Engkau janjikan kepada siapa saja yang mengasihi-Mu – kedamaian yang tidak hanya terbatas pada tingkat pribadi, melainkan juga di dalam dunia. Kemarin perang saudara di Siria, Lebanon dan Sudan Selatan, hari ini pergolakan penuh kekerasan di Ukraina dan Turki. Aksi kekerasan juga masih saja terjadi di negeri kami setiap hari: di lapangan sepak bola, antar-kampung/desa, antar-universitas, antar-fakultas dalam perguruan tinggi yang sama dlsb. Kemiskinan yang semakin mewabah di tengah “wong cilik” di tengah kekayaan alam yang melimpah-ruah; korupsi di segala tingkat pemerintahan (dari atas ke-bawah) dan ketiga cabangnya: eksekutif, legislatif maupun yudikatif; pembohongan publik; ketidakadilan sosial; hukum yang hanya tajam ke bawah namun tumpul ke atas dan bersifat tebang-pilih. dan banyak lagi keluhan kami. Semua itu tentu tidak pernah terjadi di luar pengamatan-Mu, ya Allah yang Mahakuasa, Mahatahu dan Mahamendengar.

Dilahirkan baru sebagai anak-anak-Mu dan diurapi dengan Roh Kebenaran-Mu, kami sungguh rindu untuk melihat melampaui peristiwa-peristiwa; yang bersifat eksternal dan melihat tangan-Mu mengerjakan tujuan eksternal berkaitan dengan restorasi segalanya kepada diri-Mu sendiri. Hanya dalam iman kami dapat diyakinkan bahwa terang-Mu tetap bercahaya dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya” (Yoh 1:5).

O Khalik langit dan bumi yang Mahaperkasa. Dengan penuh rasa takjub, kami memuji-muji-Mu karena Engkau tidak mentolerir adanya jarak antara diri-Mu dan anak-anak-Mu. Sebaliknya, Putera-Mu sendiri – sang Sabda – menjadi manusia (Yoh 1:14) dan tinggal di antara kami, untuk ikut ambil bagian dalam penderitaan kami, kebingungan serta kegamangan kami, kekhawatiran kami dan kesalahpahaman kami.

Yesus, Engkau masuk ke tengah dunia kami dengan kuat-kuasa untuk mengubah segala  sesuatu, namun Engkau memilih untuk bekerja agar transformasi terwujud melalui kemanusiaan kami yang diperbaharui. Dengan rasa takut dan gemetar, kami menerima tantangan untuk ditransformasikan menjadi gambar dan rupa-Mu sendiri, agar dengan demikian kami dapat menjadi agen-agen-Mu di dalam dunia ini, untuk membawa damai-sejahtera-Mu. Karena kami telah mengalami pencurahan rahmat demi rahmat dari-Mu, maka kami pun dapat meneruskan penyampaian kasih-Mu yang sangat dibutuhkan oleh dunia.

MEMBACA ALKITAB 101Dengan datangnya tahun yang baru ini, perkenankalah kami untuk memadahkan kidung pujian baru yang memproklamasikan apa yang telah kami alami berkenaan dengan penyelamatan-Mu dan dengan berani kami memohon kepada-Mu agar memperluas Kerajaan-Mu  dalam diri kami dan melalui kami. Kami bernyanyi, ya Tuhan, karena Engkau akan datang untuk menghakimi bumi dengan kebenaran-Mu. Kami tidak takui akan penghakiman-Mu; sebaliknya kami menyambut pertobatan dari musuh-musuh kami, baik para musuh di sekeliling kami maupun “musuh-musuh” di dalam hati kami.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Kami ingin senantiasa berada dekat dengan diri-Mu dan mengalami kemuliaan-Mu sebagai Putera terkasih dari Bapa surgawi. Semoga tahun 2015 yang tinggal beberapa jam lagi ini merupakan tahun rahmat bagi kami semua, sebuah tahun di mana kami akan melihat Engkau bergerak dengan penuh kuat-kuasa untuk mencapai tujuan-tujuan-Mu di dalam dunia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 1:1-18), bacalah tulisan yang berjudul “DIA ADALAH TERANG KEHIDUPAN KITA” (bacaan tanggal 31-12-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2014. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 31-12-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 28 Desember 2014 [Pesta Keluarga Kudus, Yesus, Maria, Yusuf] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

2014 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2014 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The Louvre Museum has 8.5 million visitors per year. This blog was viewed about 150,000 times in 2014. If it were an exhibit at the Louvre Museum, it would take about 6 days for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

PERTEMPURAN SPIRITUAL MELAWAN SI JAHAT

PERTEMPURAN SPIRITUAL MELAWAN SI JAHAT

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari keenam dalam Oktaf Natal – Selasa, 30 Desember 2014) 

saint-john-the-evangelist-francois-andre-vincentAku menulis kepada kamu, hai anak-anak, sebab dosamu telah diampuni oleh karena nama-Nya. Aku menulis kepada kamu, hai bapak-bapak, karena kamu telah mengenal Dia, yang ada sejak semula. Aku menulis kepada kamu, hai orang-orang muda, karena kamu telah mengalahkan yang jahat. Aku menulis kepada kamu, hai anak-anak, karena kamu mengenal Bapa. Aku menulis kepada kamu, hai bapak-bapak, karena kamu mengenal Dia, yang ada sejak semula. Aku menulis kepada kamu, hai orang-orang muda, karena kamu kuat dan firman Allah tinggal di dalam kamu dan kamu telah mengalahkan yang jahat.

Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih kepada Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, tidak berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya. (1Yoh 2:12-17) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 96:7-10; Bacaan Injil: Luk 2:36-40 

Dunia perwayangan, film-film cerita koboi (western) dan banyak cerita lainnya, bahkan karya J.R.R. Tolkien yang tentunya dikenal banyak orang (The Lord of the Rings) menyuguhkan kepada kita adegan-adegan pertarungan antara kekuatan baik melawan kekuatan jahat di mana pada akhirnya kekuatan baiklah yang menang, walaupun bukan tanpa pengorbanan.

“Surat Yohanes yang Pertama” juga menyuguhkan hal serupa, yaitu pertempuran spiritual. Yohanes memberi jaminan kepada kita bahwa kita dapat bertempur dengan penuh kepercayaan melawan Iblis karena Yesus telah memberdayakan kita dengan sabda-Nya dan Roh-Nya (1Yoh 2:14). Namun Yohanes juga mengingatkan kita akan sebuah kekuatan lainnya yang dapat menjerat hati kita: cinta kepada dunia. Yohanes menulis: “Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih kepada Bapa tidak ada di dalam orang itu” (1Yoh 2:15). Cinta jenis ini memang sangat merugikan, karena hanya akan menodai dan akhirnya memperbudak siapa saja yang memeluknya.

i-8jjkvJT-X2Ketika Yohanes menulis bahwa kita tidak boleh mencintai dunia, sebenarnya dia tidak mengacu kepada dunia ciptaan Allah yang baik. Dengan kata “dunia”, Yohanes memaksudkan segala sesuatu yang teralienasi (terasingkan) dari Allah dan termasuk wilayah pengaruh yang dikendalikan oleh Iblis, sang “penguasa dunia” (lihat Yoh 12:31). Dalam artian seperti ini, “dunia” adalah bagian dari masyarakat manusia yang didorong oleh kesombongan dan hasrat-hasrat tak teratur yang berdiri berhadap-hadapan dengan Allah sendiri sebagai oposisi melawan Dia.

Allah memberikan kepada kita kebebasan untuk memilih apa yang akan kita cintai. Namun kebebasan kita tidaklah lengkap selama kita memperkenankan apa saja yang lain – termasuk hasrat-hasrat atau kecanduan-kecanduan yang merusak – untuk menggeser tempat kasih Allah sebagai sumber dan objek dari hasrat-hasrat kita yang terdalam. Iblis adalah “pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran. … ia adalah pendusta dan bapak pendusta” (Yoh 8:44). Bilamana dia tidak dapat membujuk kita untuk menyangkal Allah/Yesus, maka dia akan mencoba untuk menyeret kita agar menjauh dari Allah/Yesus, sedikit demi sedikit, dengan janji-janji kosong dan rasa aman yang palsu dalam hal-hal yang tidak dapat bertahan lama.

Hanya Yesuslah yang dapat memuaskan kerinduan dan hasrat hati kita yang terdalam. Jika kita membuat Yesus sebagai “Harta Kekayaan” kita, maka kita akan memperoleh kekuatan riil untuk mengalahkan Iblis.

DOA: Tuhan Yesus, buatlah aku kuat dalam pertempuran spiritual melawan si Iblis dan para pengikutnya, juga agar aku mau dan mampu memilih apa yang baik dan menolak yang jahat. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 2:36-40), bacalah tulisan yang berjudul “PENUH HIKMAT DAN KASIH KARUNIA ALLAH ADA PADA-NYA” (bacaan tanggal 30-12-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2014. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 30-12-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 27 Desember 2014 [Pesta S. Yohanes, Rasul & Penulis Injil] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BELAJAR DARI SIMEON

BELAJAR DARI SIMEON

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari kelima dalam Oktaf Natal – Senin, 29 Desember 2014)

 Yegorov-Simeon_the_Righteous

Lalu ketika tiba waktu penyucian menurut hukum Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan, “Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah”, dan untuk mempersembahkan kurban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati.

Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel, dan Roh Kudus ada di atasnya. Kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia Yang Diurapi Tuhan. Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orangtua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, ia menyambut Anak itu dan menggendong-Nya sambil memuji Allah, katanya, “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang daripada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menyatakan kehendak-Mu bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.”

Bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala sesuatu yang dikatakan tentang Dia. Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu, “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan – dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri – supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.”  (Luk 2:22-35)

Bacaan Pertama: 1Yoh 2:3-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 96:1-3,5-6 

Simeon kelihatannya seperti pribadi-pribadi yang agak tidak jelas dalam sebuah novel misteri. Dia muncul entah dari mana, dia mengidentifikasikan Bayi Yesus sebagai sang Mesias, dia mengatakan kepada ibu sang Bayi bahwa dia akan banyak menderita, lalu dia pun “menghilang” tanpa terdengar lagi suaranya, paling sedikit dalam Kitab Suci. Namun, jika melihat secara lebih dekat dan serius, kita akan melihat dalam diri Simeon suatu contoh yang indah dari seorang pribadi yang hidup sehari-harinya senantiasa dihibur dan dipimpin oleh Roh Kudus. Menurut Lukas, Roh Kudus ada di atas Simeon, dan karena karya Roh Kudus itulah Simeon mampu untuk mengenali Yesus sebagai sang Mesias (Luk 1:25-28).

ROHHULKUDUSSekarang, apakah kita (anda dan saya) percaya bahwa Roh Kudus dapat berbicara kepada kita dengan begitu jelas seperti yang telah dilakukan-Nya kepada Simeon? Kehadiran Roh Kudus adalah satu dari janji-janji dalam Kitab Suci yang paling sentral. Setiap pengikut Yesus dapat diarahkan dan dihibur oleh Roh Kudus setiap hari. Kita dapat berpikir dan memandang Simeon sebagai seorang kudus besar, seorang anggota dari kelompok yang dipilih secara istimewa (privileged few). Akan tetapi, kita sudah ketahui bahwa Allah tidak mempunyai favorit-favorit. Allah sangat berkeinginan untuk mencurahkan Roh-Nya kepada setiap orang. Simeon adalah sekadar seorang tua yang menjalankan kehidupan doa dengan setia dan benar, dan ia mencoba untuk taat kepada Allah serta belajar untuk menggantungkan diri kepada kehendak-Nya sepanjang hidupnya.

Allah akan senantiasa memberikan Roh Kudus-Nya kepada mereka yang mengasihi-Nya dengan tulus. Setiap hari, kita dapat memilih untuk menerima-Nya dan menyambut-Nya, atau kita dapat memilih untuk melakukan hal-hal seturut kemauan kita sendiri. Bagaimana dengan Simeon? Setiap hari Simeon memilih untuk mengasihi dan melayani Allah-nya, dengan demikian dia belajar untuk melakukan segala sesuatu seturut jalan Allah sendiri. Itulah sebabnya mengapa Roh Kudus tetap diam dalam dirinya dan bebas menyatakan Yesus kepadanya dengan cara yang begitu indah.

Kita semua (anda dan saya) membutuhkan pengarahan dan penghiburan seperti yang dialami oleh Simeon. Sekarang masalahnya apakah kita yakin dan percaya bahwa kita pun akan memperolehnya jika kita memintanya? Seperti halnya Simeon, kita pun dapat belajar untuk menggantungkan diri pada Roh Kudus. Seperti Simeon, kita pun dapat merangkul Yesus dan memperkenankan damai-sejahtera-Nya membanjiri hati kita. Sekali Simeon menemukan Yesus, dia tahu bahwa dia dapat meninggal dunia dalam kedamaian. …… “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuatu dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang daripada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menyatakan kehendak-Mu bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel” (Luk 2:29-32; LAI-TB II). Tidak ada lagi sesuatu pun dalam dunia yang dapat memuaskan hati Simeon, karena dia telah menemukan Yesus. Inilah “Kidung Simeon” yang kita nyanyikan/daraskan setiap malam ketika kita mendoakan Ibadat Penutup. Kita (anda dan saya) pun dpat dipenuhi dengan kedamaian selagi semakin mengenal dan mengasihi Yesus. Tidak ada siapa pun atau apa pun lagi yang dapat memuaskan hati kita.

DOA: Roh Kudus Allah, aku berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena Engkau sudi hidup di dalam diriku. Tolonglah agar aku setiap hari dapat berpaling kepada-Mu untuk memohon diberikan hikmat dan penghiburan oleh-Mu. Ya Roh Kudus, datanglah dan memerintahlah semakin mendalam di hatiku. Nyatakanlah Yesus kepadaku dan berdayakanlah aku agar mau dan mampu hidup bagi-Nya pada hari ini. Amin.

Cilandak, 27 Desember 2014 [Pesta S. Yohanes, Rasul & Penulis Injil] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KELUARGA KUDUS DAN KELUARGA KRISTIANI

KELUARGA KUDUS DAN KELUARGA KRISTIANI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta Keluarga Kudus, Yesus, Maria, Yusuf, Oktaf Natal – Minggu, 28 Desember 2014) 

Holy-Family (1)

Lalu ketika tiba waktu penyucian menurut hukum Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan. 

Setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediaman mereka, yaitu kota Nazaret di Galilea. Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya. (Luk 2:22,39-40) 

Bacaan Pertama: Kej 15:1-6; 21:1-3; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:1-6,8-9; Bacaan Kedua: Ibr 11:8,11-12,17-19; Bacaan Injil (versi panjang): Luk 2:22-40) 

Bacaan Injil hari ini merupakan penggalan dari sebuah narasi yang lebih panjang, yaitu yang berkenaan dengan peristiwa “Yesus dipersembahkan di Bait Allah”. Dua ayat terakhir (Luk 2:39-40) bercerita sedikit tentang “Keluarga Kudus”, yang terdiri dari Yesus, Maria dan Yusuf.

Keluarga Kudus dari Nazaret ini adalah sebuah tanda dari pengharapan semua orangtua yang berupaya menjadi saksi-saksi dari kasih Allah di dunia ini. Hikmat Yusuf ditunjukkan ketika dia memimpin keluarganya ke Mesir demi keamanan; penundukan diri Maria kepada suaminya dan kepada Allah; kasih dan keprihatinan yang ditunjukkan oleh mereka berdua ketika mereka mencari Yesus yang ternyata sedang berada di tengah-tengah para ahli Kitab Suci di Bait Allah. Pandangan-pandangan sekilas atas kehidupan keluarga ini menunjukkan kepada kita betapa tidak banyak berbedanya mereka dengan kita. Maria dan Yusuf harus taat kepada Allah jika masa depan tidak mempunyai kepastian; mereka merasa susah ketika Anak mereka “hilang” (tidak ada dalam rombongan); bahkan Yesus sendiri pun harus belajar taat kepada kedua orangtua-Nya.

2_holy_familyMaria dan Yusuf harus melakukan hal-hal yang biasa yang harus dikerjakan oleh semua orangtua. Maria harus bangun dari tidurnya di tengah malam untuk menyusui Yesus yang masih kecil dan mengganti popoknya. Yusuf harus bekerja keras guna menopang keluarganya. Tentunya mereka mempunyai banyak keprihatinan yang sama berkenan dengan hidup sehari-hari seperti halnya kita juga. Namun, melalui naik-turunnya kehidupan, mereka terus menjaga diri mereka agar tetap berada dekat dengan Allah. Sebagai konsekuensinya, Yesus siap untuk memenuhi rencana Allah tatkala saatnya tiba bagi Dia untuk memulai pelayanan-Nya.

Sampai di titik ini, kita bisa saja berpikir, “Semua itu bagus, namun mereka kan dipilih oleh Allah untuk tugas ini. Bahkan malaikat-malaikat pun datang dan berbicara kepada mereka?” Akan tetapi, janganlah kita salah; karena pada kenyataannya kita pun dipilih oleh Allah: Kita semua adalah “orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya” (Kol 3:12). Tidak hanya itu, kepada kita telah diberikan Roh Kudus yang dijanjikan untuk mengajar, membimbing, dan menghibur kita. Keluarga-keluarga kita juga istimewa seperti Keluarga Kudus dari Nazaret.

Oleh karena itu, marilah kita mencari hikmat yang terdapat dalam Kitab Suci dan memohon kepada Roh Kudus bagaimana dengan cara terbaik kita dapat memelihara keluarga kita. Marilah kita tidak menyia-nyiakan  rahmat-Nya yang tersedia bagi kita. Allah akan menghargai dan menghormati upaya-upaya kita membuat rumah kita menjadi tempat kediaman bagi Dia. Allah sangat senang untuk memberkati semua keluarga.

DOA: Bapa surgawi, kami sebagai para orangtua dalam keluarga, dengan ini mempersembahkan keluarga kami kepada-Mu dan mohon agar Engkau memberkati rumah kami. Kami menaruh kepercayaan pada kasih-Mu kepada seluruh anggota keluarga kami ini. Berikanlah kepada kami berdua kuat-kuasa dan hikmat melalui Roh Kudus-Mu; dan ajarlah kami untuk mengasihi para anggota keluarga kami, tanpa pamrih. Amin.

Cilandak, 26 Desember 2014 [Pesta S. Stefanus, Martir Pertama] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MURID YANG DIKASIHI YESUS

MURID YANG DIKASIHI YESUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, PESTA YOHANES RASUL-PENULIS INJIL, Oktaf Natal – Sabtu, 27 Desember 2014) 

Saint John-420x429Ia berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus dan berkata kepada mereka, “Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan.”

Lalu berangkatlah Petrus dan murid yang lain itu ke kubur. Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat daripada Petrus sehingga lebih dahulu sampai ke kubur. Ia menjenguk ke dalam, dan melihat kain kafan terletak di tanah; akan tetapi, ia tidak masuk ke dalam. Kemudian datanglah Simon Petrus juga menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kafan terletak di tanah, sedangkan kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kafan itu, tetapi terlipat tersendiri di tempat yang lain. Sesudah itu, masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya. (Yoh 20:2-8)

Bacaan Pertama: 1Yoh 1:1-4; Mazmur Tanggapan: Mzm 97:1-2,5-6.11-12 

Seorang imam muda telah beberapa tahun melayani sebagai pastor pembantu di sebuah paroki. Untuk kurun waktu yang cukup lama, imam yang memang berwajah muda belia (katakanlah, baby face) itu membuat sejumlah warga paroki cenderung untuk “menghakimi” dia sebagai naif dan tidak berpengalaman. Barangkali mis-persepsi serupa mempengaruhi bagaimana sebagian dari kita memandang Santo Yohanes Penginjil yang pestanya dirayakan oleh Gereja pada hari ini.

Menurut tradisi, Yohanes disebut sebagai “murid yang dikasihi Yesus” (lihat Yoh 20:2). Orang kudus ini juga dilukiskan sebagai seorang rasul muda-usia yang menaruh kepalanya di atas punggung Yesus pada waktu Perjamuan Terakhir. Namun gambaran seperti ini tentang Yohanes dapat saja menutupi kekuatan pribadi sang rasul yang datang dari relasi penuh keintiman sedemikian dengan diri Yesus.

PETRUS AND YOHANES BERLARI KE KUBURInjil mencatat, “… ia melihatnya dan percaya” (Yoh 20:8). Ini adalah dasar dari kedekatan Yohanes dengan Yesus, yaitu kasihnya dan imannya bahwa Yesus wafat dan bangkit untuk kita-manusia. Kasih yang ditunjukkan oleh Yohanes di kubur pada hari Minggu Paskah tidak bersifat statis, melainkan terus membawanya sepanjang masa hidupnya yang diperkirakan sangat panjang. Karena Yohanes cukup rendah hati untuk memperkenankan keakrabannya dengan Yesus bertumbuh, maka dikatakan bahwa dia telah menunjukkan kekuatan yang luarbiasa ketika mengalami pencobaan-pencobaan berat dalam hidupnya. Memang kita tidak memiliki kepastian mengenai kehidupan Yohanes, namun beberapa tulisan yang berasal dari abad kedua dan ketiga kelihatannya memberi kesaksian yang mendukung komitmen tak-tergoyahkan dari sang rasul terhadap Yesus walaupun pada saat-saat dia menanggung penderitaan: dipenjara, percobaan pembunuhan atas dirinya dengan memasukkannya ke dalam sebuah ketel yang berisikan minyak mendidih, dan pengasingan sementara dirinya dari kota Efesus. Melalui itu semua, Yohanes memberi contoh tentang iman yang tak tergoyahkan dalam kuat-kuasa Tuhan Yesus yang telah bangkit.

Dari abad ke abad, berbagai tradisi menyangkut Yohanes Penginjil disampaikan dari generasi ke generasi berikutnya: dari Santo Ireneus (c.125-c.201) yang mengenal Santo Polykarpus (c.69-c.155) yang adalah seorang murid dari Santo Yohanes. Inilah bagaimana Injilnya sampai kepada kita juga. Selama 2.000 tahun, umat Kristiani yang setia telah menyampaikan kabar-kabar bahwa Yesus datang  untuk menyatakan kasih Bapa surgawi yang bersifat intim. Sekarang, kita harus mengambil peranan dalam rangkaian komunikasi tersebut. Marilah kita masing-masing meneladan Santo Yohanes dengan bertumbuh dalam keintiman dengan Yesus dan memperkenankan Kabar Baik tentang Kasih Allah disampaikan melalui kita kepada generasi yang akan datang.

DOA: Bapa surgawi, aku ingin terhitung sebagai salah seorang murid Yesus Kristus yang dikasihi oleh-Nya. Aku ingin bertumbuh dalam keintiman relasi dengan Yesus, untuk lebih mengenal lagi Allah Tritunggal Mahakudus, dan dengan kasih dalam hidupku …… untuk syering Injil dengan generasi-generasi yang akan datang. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Yoh 1:1-4), bacalah tulisan berjudul “BELAJAR UNTUK MENGGANTUNGKAN DIRI PADA YESUS” (bacaan tanggal 27-12-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2014 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 26-12-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 26 Desember 2014 [Pesta S. Stefanus, Martir Pertama] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 84 other followers