JANGAN OMDO

JANGAN OMDO

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa V – Selasa, 7 Februari 2017)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan/Pesta S. Koleta dari Corbie, Ordo II

c3606b07eb3e0f92bb5bfe8287005989Orang-orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus. Mereka melihat bahwa beberapa orang murid-Nya makan dengan tangan yang najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh. Sebab orang-orang Farisi seperti orang-orang Yahudi lainnya tidak makan kalau tidak membasuh tangan dengan cara tertentu, karena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang mereka; dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membasuh dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga serta tempat pembaringan. Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada-Nya, “Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?” Jawab-Nya kepada mereka, “Tepatlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik, seperti ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya tetap jauh dari Aku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, karena ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan dan adat istiadat manusia kamu pegang.” Lalu Yesus berkata kepada mereka, “Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadat sendiri. Karena Musa telah berkata: Hormatilah ayahmu dan ibumu! dan: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati. Tetapi kamu berkata: Kalau seseorang berkata kepada ayahnya atau ibunya: Segala bantuan yang seharusnya engkau terima dariku adalah Kurban, – yaitu persembahan kepada Allah – , maka kamu tidak membiarkannya lagi berbuat sesuatu pun untuk ayahnya atau ibunya. Jadi, dengan adat istiadat yang kamu teruskan itu, firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku. Banyak lagi hal lain seperti itu yang kamu lakukan.” (Mrk 7:1-13)

Bacaan Pertama: Kej 1:20 – 2:4a; Mazmur Tanggapan: Mzm 8:4-9

Orang yang suka berbicara besar tanpa dukungan perbuatan yang sepadan seringkali harus menghadapi kritik-kritik pedas. Apabila “adegan” antara Yesus dan orang-orang Farisi akan dimainkan kembali pada hari ini, maka Yesus dapat saja membuat komentar pedas kepada orang-orang Farisi yang “nyebelin” tersebut.

Orang-orang Farisi yang sedang dihadapi Yesus itu mengetahui semua peraturan untuk menjadi orang-orang Yahudi yang baik, namun mereka “tidaklah baik-baik amat” dalam mempraktekkan sendiri segala peraturan itu sehari-harinya sehingga menyenangkan Allah. Orang-orang Farisi tersebut begitu prihatin dalam menjaga cangkir dan mangkok mereka agar tetap bersih, akibatnya mereka kehilangan jejak dari hasrat lebih mendalam dari Allah bahwa mereka juga harus menjaga hati mereka agar tetap bersih.

Satu contoh yang digunakan Yesus dalam membuat pembedaan ini adalah cara sejumlah orang Yahudi menggunakan aspek-aspek teknis dari hukum guna menghindari kewajiban mereka untuk memelihara atau menjaga para orangtua mereka. Seringkah kita juga terjebak dalam perangkap serupa? Barangkali dalam pikiran dan hati, kita pun telah membuat penilaian-penilaian negatif terhadap para orangtua kita karena beberapa kebiasaan mereka yang tidak kita senangi atau tidak dapat kita terima. Barangkali penilaian-penilaian negatif ini telah menyebabkan kita menahan kasih dan rasa hormat yang  seharusnya diberikan kepada mereka. Dalam bentuknya yang paling murni, kasih mengabaikan kelemahan-kelemahan dan membuat rumah kita menjadi tempat di mana Roh Kudus (Roh Kristus) berdiam dan setiap penghuni rumah itu diangkat ke dalam kehidupan yang lebih baik.

Pada hari ini marilah kita (anda dan saya) membuat pilihan untuk mendukung iman-kepercayaan kita dengan cara/gaya hidup kita. Apakah kita mengatakan bahwa kita mengasihi Yesus? Kalau begitu, kita harus memastikan bahwa kita senantiasa menyediakan quality time untuk berdoa: menyembah dan memuji serta menghormati Dia sesuai dengan apa yang pantas diterima-Nya. Apakah kita mengaku diri kita sebagai seorang eksekutif Kristiani? Kalau begitu bagaimanakah kita memperlakukan para pekerja yang berada di bawah otoritas kita? Dengan penuh respek dan menghormati martabat mereka masing-masing sebagai pribadi-pribadi? Apakah kita mengasihi keluarga kita masing-masing? Kalau begitu, pikirkanlah cara istimewa yang dapat kita tunjukkan kepada mereka bahwa kita mengasihi mereka – teristimewa jika kita baru saja berada dalam situasi konflik dengan salah satu atau beberapa anggota keluarga kita.

Saudari dan Saudaraku, janganlah kita membiarkan diri kita menjadi seperti orang-orang Farisi, yang menghormati Yesus di bibir mereka namun pada saat yang sama hati mereka jauh dari Dia! Janganlah kita menjadi orang-orang yang suka nato (no action, talk only) atau “omdo” (omong doang).

DOA: Yesus, aku sungguh ingin agar kata-kataku sungguh didukung dengan tindakan-tindakanku. Aku ingin mendukung iman-kepercayaanku dengan hal-hal yang kukatakan, kupikirkan, dan kulakukan. Tolonglah aku agar dapat menghormati para orangtuaku dan semua anggota keluargaku, dengan demikian orang-orang akan mengetahui bahwa aku adalah murid-Mu – yaitu oleh kasihku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1 Raj 8:22-23,27-30), bacalah tulisan yang berjudul “ESENSI HUKUM ALLAH ADALAH CINTA KASIH” (bacaan tanggal 7-2-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2017.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 9-2-16 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 3 Februari 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEMUA ORANG YANG MENYENTUH-NYA MENJADI SEMBUH

SEMUA ORANG YANG MENYENTUH-NYA MENJADI SEMBUH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Paulus Miki, Imam dkk. Martir – Senin, 6 Februari 2017)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Petrus Baptista, Paulus Miki, Filipus dr Yesus dkk. Martir 

jesus-healingSetibanya di seberang Yesus dan murid-murid-Nya mendarat di Genesaret dan berlabuh di situ. Ketika mereka keluar dari perahu, orang segera mengenal Yesus. Lalu berlari-larilah mereka ke seluruh daerah itu dan mulai mengusung orang-orang sakit di atas tikarnya kemana saja mereka dengar Yesus berada. Kemana pun Ia pergi, ke desa-desa, ke kota-kota, atau ke kampung-kampung, orang meletakkan orang-orang sakit di pasar dan memohon kepada-Nya, supaya mereka diperkenankan menyentuh walaupun jumbai jubah-Nya saja. Semua orang yang menyentuh-Nya menjadi sembuh. (Mrk 6:53-56) 

Bacaan Pertama: Kej 1:1-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 104:1-2,5-6,10,12,35 

Mukjizat penggandaan roti dan ikan (lihat Mrk 6:30-44) telah berhasil meningkatkan antusiasme orang banyak. Dari bacaan Injil kelihatan seakan-akan Yesus dan para murid-Nya bermain “petak-umpet” dengan orang banyak. Setelah peristiwa penggandaan roti, mereka mencoba “melarikan diri” (menyingkir) dari orang banyak, dengan menyeberangi danau, dari tepi yang satu ke tepi yang lain. Akan tetapi, seperti biasanya setiap kali Yesus dan para murid keluar dari perahu orang banyak mengenali mereka dan harus dilayani. Istirahat soal belakangan, menjadi nomor dua!

Kemana pun Yesus pergi, Dia dihadapkan dengan orang-orang sakit yang memerlukan penyembuhan. Yesus melayani mereka dan mereka pun disembuhkan. Pada zaman modern ini, perawatan dan penyembuhan orang sakit (fisik dan psikis) tergantung pada profesi medis. Namun semua peradaban kuno memberikan suatu arti religius pada sakit-penyakit dan penyembuhan.

Pada zaman modern ini, terutama di kota-kota besar, reaksi pertama orang yang terkena penyakit adalah pergi menemui dokter atau tabib. Tidak demikian halnya pada zaman Yesus. Untuk dapat disembuhkan dari penyakit yang dideritanya, seseorang harus mohon pertolongan Allah. Dengan demikian apakah “Yang Ilahi” tidak terlibat dalam proses penyembuhan modern? Tentu saja tetap terlibat, karena perawatan dan penyembuhan penyakit tetap merupakan “karunia dari Allah”, akan tetapi yang disalurkan melalui tangan-tangan, intelek dan hati manusia. Dengan demikian pelayanan para dokter, perawat dan petugas medis lainnya adalah profesi mulia dan indah ……… guna melayani umat manusia.

Sakit-penyakit dan penderitaan yang menyertainya membuat orang-orang tidak merasa aman. Hal ini melambangkan kerentanan kondisi manusiawi kita, yang begitu terbuka terhadap bahaya yang dapat datang secara tiba-tiba tanpa disangka-sangka. Sakit-penyakit mengkontradiksikan hasrat kita untuk memiliki kekuatan fisik yang kita semua nikmati. Maka sakit-penyakit tetap mempunyai arti religius – bahkan bagi orang-orang modern sekali pun.

Rasa tidak aman yang bersifat radikal tidak dapat disembuhkan oleh para dokter. Hanya Yesus sendirilah yang dapat menyembuhkan “penyakit” seperti itu ……… melalui iman, selagi kita menantikan penyembuhan terakhir di luar dunia yang kita tempati sekarang.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah dokter agung umat manusia. Berkatilah mereka yang melayani sesama di bidang medis, seperti para dokter, perawat, para-medik, dan lain-lainnya. Murnikanlah motif mereka dalam melaksanakan tugas pelayanan mereka itu, sehingga pelayanan mereka demi kesejahteraan masyarakat menjadi optimal. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kej 1:1-19), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH MEMBUAT SEGALANYA INDAH” (bacaan tanggal 6-2-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan yang berjudul sama untuk bacaan tanggal 8-2-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 2 Februari 2017 [Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KITA SEBAGAI GARAM BUMI DAN TERANG DUNIA

KITA SEBAGAI GARAM BUMI DAN TERANG DUNIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA V [TAHUN A] –  5 Februari 2017)

 

jm_200_NT1.pd-P13.tiff

“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.

Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagi pula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah tempayan, melainkan di atas kaki pelita sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga.” (Mat 5:13-16) 

Bacaan Pertama: Yes 58:7-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 112: 4-9; Bacaan Kedua 1Kor 2:1-5

Yesus mengatakan bahwa kita – sebagai para pengikut atau murid-Nya – adalah “garam bumi” [salt of the earth] dan “terang dunia” [light of the world] (Mat 5:13,14). Hidup-Nya dalam diri kita memampukan kita untuk hidup sedemikian rupa sehingga mengubah dunia. Sekarang, karena kita ditransformasikan oleh Kristus yang tinggal dalam diri kita, maka kita dipanggil untuk bertindak. Kita diharapkan untuk mempengaruhi dunia melalui perbuatan-perbuatan baik kita dan melalui pewartaan Injil kita.

Garam adalah bahan pengawet dan juga berfungsi sebagai pemberi rasa. Setelah garam kita awuri ke atas makanan atau kita olesi pada bahan makanan, maka walaupun garam itu sudah meresap dan tidak kelihatan lagi, keberadaannya tetap terasa, misalnya dalam hal ikan asin. Jika kita bertindak dengan cara-cara yang konsisten dengan hidup baru yang telah diberikan oleh Yesus dan apabila kita menanggapi orang-orang di sekeliling kita dengan cintakasih, maka kita mengawetkan dan memberi rasa kepada budaya kita dengan hidup layaknya seorang Kristiani dalam lingkup budaya tersebut.

Ada beberapa cara praktis di mana kita dapat mengejawantahkan keberadaan kita sebagai garam bumi dan terang dunia: “… supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri! Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar” (Yes 58:7-8).

Sejalan dengan pekerjaan-pekerjaan baik kita, kita juga dipanggil untuk memproklamasikan Injil Yesus Kristus (1Kor 2:2). Kristus telah memberikan terang kepada kita dan terang-Nya inilah yang bercahaya di depan orang-orang sehingga mereka dapat melihat perbuatan-perbuatan baik kita dan memuji Bapa kita di surga (lihat Mat 5:16). Selagi kita merefleksikan terang Kristus, orang-orang lain dipimpin untuk memuji-muji kebaikan dan keagungan Bapa surgawi untuk segala sesuatu yang telah dilakukan-Nya.

Sebagai para murid Yesus yang ikut ambil bagian dalam kehidupan-Nya, kita dipanggil untuk hidup dalam jalan kasih. Apabila kita gagal mencerminkan kasih Kristus bagi dunia, maka kita tidak ubahnya seperti garam yang telah menjadi tawar dalam rasa. Jikalau Injil yang kita proklamasikan tidak berpusat pada kematian dan kebangkitan Kristus, maka kita sama tidak efektifnya dengan pelita yang diletakkan di bawah tempayan. Dalam Kristus, kita telah menerima rahmat sebagai garam bumi dan terang dunia – untuk hidup seutuhnya sebagai pribadi-pribadi manusia. Itulah pengharapan dan kemuliaan kita.

DOA: Bapa surgawi, oleh kuasa Roh Kudus-Mu bentuklah diriku agar menjadi semakin serupa dengan Putera-Mu terkasih, Yesus. Kuatkanlah aku agar iman-kepercayaanku tidak akan goyah. Aku ingin mengenal, mengasihi dan melayani Engkau dengan lebih baik lagi, demikian pula orang-orang di sekelilingku, sebagai garam bumi dan terang dunia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:13-16), bacalah tulisan yang berjudul “DUA ARUS UTAMA DALAM KEHIDUPAN MANUSIA” (bacaan tanggal 5-2-17), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 9-2-14 dalam situs SANG SABDA) 

Cilandak, 1 Februari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SEPERTI DOMBA-DOMBA YANG TIDAK MEMPUNYAI GEMBALA

SEPERTI DOMBA-DOMBA YANG TIDAK MEMPUNYAI GEMBALA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa IV – Sabtu, 4 Februari 2017)

Keluarga Fransiskan Kapusin: S. Yosef dari Leonissa, Imam Biarawan

 152

Kemudian rasul-rasul itu kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan. Lalu Ia berkata kepada mereka, “Mari kita menyendiri ke tempat yang terpencil, dan beristirahat sejenak!” Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makan pun mreka tidak sempat. Lalu berangkatlah mereka dengan perahu menyendiri ke tempat yang terpencil. Tetapi pada waktu mereka bertolak banyak orang melihat mereka dan mengetahui tujuan mereka. Dengan mengambil jalan darat bergegas-gegaslah orang dari semua kota ke tempat itu sehingga mendahului mereka. Ketika mendarat, Yesus melihat orang banyak berkerumun, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka. (Mrk 6:30-34) 

Bacaan Pertama: Ibr 13:15-17,20-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 23:1-6

Pernahkah anda bayangkan bagaimana jadinya dengan beribu-ribu ekor domba, apabila secara mendadak tidak ada seorang pun gembala untuk menjaga mereka? Domba-domba itu tidak lagi terlindungi dari kemungkinan bahaya, tidak lagi mempunyai seseorang yang menggiring mereka di jalan yang aman dan yang akan membawa mereka ke arah yang benar. Belarasa Yesus terhadap orang-orang yang mengikuti-Nya mengingatkan kita akan pentingnya memiliki Dia sebagai sang “Gembala Sejati” dalam perjalanan iman kita sehari-hari.

Setelah kedua belas murid Yesus kembali dari tugas pelayanan pewartaan, pengajaran, penyembuhan dan membawa orang kepada pertobatan dan iman, maka Yesus dan para murid-Nya memutuskan untuk menyendiri ke tempat terpencil. Namun, karena terdorong oleh rasa rindu mendalam untuk bersama Yesus dan mendengarkan sabda-Nya, maka beribu-ribu orang dari segala penjuru bergegas-gegas mengikuti Yesus dan para murid-Nya dengan menggunakan rute darat. Orang banyak itu ingin bertemu dengan Yesus, dan keadaan mereka membuat hati-Nya tergerak. Seperti kawanan domba yang baru kehilangan gembala, mereka mengikuti satu Gembala yang sungguh dapat memimpin mereka. Dengan demikian apa yang pada awalnya dimaksudkan sebagai waktu untuk istirahat Yesus dan para murid-Nya menjadi kesempatan baru lagi bagi orang banyak itu untuk bertemu Yesus yang memperhatikan orang-orang yang hilang-tersesat dan mempunyai berbagai kebutuhan. Setiap orang, baik orang banyak maupun kedua belas murid, dilayani oleh sang Gembala.

Yesus memanggil setiap kita untuk “keluar” dari rutinitas kita sehari-hari dan beristirahat di hadapan hadirat-Nya, di mana kita dapat mengalami kebaikan-Nya dan berkat-Nya. Dia ingin mengajar kita dan memenuhi diri kita dengan kuat-kuasa Allah yang ajaib dan memberi hidup. Dia adalah Gembala yang lemah lembut dari jiwa-jiwa kita, Guru dari mereka yang hilang-tersesat, Tuhan yang senang sekali memberi makanan kepada semua orang yang memiliki hasrat untuk berkumpul di sekeliling-Nya.

Sebagai “Gembala Baik”, Yesus ingin mengajar kita bagaimana membuat jiwa kita tenang sehingga kita dapat beristirahat dalam Dia setiap hari. Dalam hati kita yang terdalam, kita semua rindu akan kehadiran Yesus, namun kita masih saja menghadapi kesulitan menyediakan waktu untuk bersama dengan Dia. Dalam doa kita, baiklah kita mohon agar menanamkan dalam diri kita masing-masing suatu hasrat lebih mendalam lagi akan kehadiran-Nya. Kita mohon kepada-Nya guna menolong kita mendapat waktu untuk duduk bersama-Nya dan hanya menerima apa saja yang hendak diberikan-Nya kepada kita. Selagi kita melakukan semua ini, semoga Roh-Nya membuat kita serupa dengan Yesus. Bersama sang pemazmur, baiklah kita memanjatkan doa singkat ini kepada-Nya: “Dengan segenap hatiku aku mencari Engkau, janganlah biarkan aku menyimpang dari perintah-perintah-Mu” (Mzm 119:10).

DOA: Tuhan Yesus, aku datang kepada-Mu sebagai apa adanya diriku, sangat berhasrat untuk mendengarkan sabda-Mu. Ajarlah aku hal-ikhwal yang menyangkut Allah. Sabda-Mu adalah roti bagi jiwaku. Sinarilah terang-cahaya-Mu atas jalanku hari ini, dan perkenankanlah aku berjalan dalam jalan-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 6:30-34), bacalah tulisan yang berjudul “HANYA SETELAH IA MENGENYANGKAN HATI DAN PIKIRAN KITA DENGAN PESAN INJIL” (bacaan tanggal 4-2-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 76-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 6-2-16 dalam situs SANG SABDA) 

Cilandak, 1 Februari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KITA JUGA DIPANGGIL ALLAH SEPERTI YOHANES PEMBAPTIS

KITA JUGA DIPANGGIL ALLAH SEPERTI YOHANES PEMBAPTIS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa IV – Jumat, 3 Februari 2017) 

SALOME SEDANG MENARI DI DEPAN HERODESRaja Herodes juga mendengar tentang Yesus, sebab nama-Nya sudah terkenal dan orang mengatakan, “Yohanes Pembaptis sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam Dia.” Yang lain mengatakan, “Dia itu Elia!” Yang lain lagi mengatakan, “Dia itu seorang nabi sama seperti nabi-nabi yang dahulu.” Waktu Herodes mendengar hal itu, ia berkata, “Bukan, dia itu Yohanes yang sudah kupenggal kepalanya, dan yang bangkit lagi.”

Sebab Herodeslah yang menyuruh orang menangkap Yohanes dan membelenggunya di penjara berhubung dengan peristiwa Herodias, istri Filipus saudaranya, karena Herodes telah mengambilnya sebagai istri. Memang Yohanes berkali-kali menegur Herodes, “Tidak boleh engkau mengambil istri saudaramu!” Karena itu Herodias menaruh dendam pada Yohanes dan bermaksud untuk membunuh dia, tetapi tidak dapat, sebab Herodes segan kepada Yohanes karena ia tahu bahwa Yohanes orang yang benar dan suci, jadi ia melindunginya. Setiap kali ia mendengarkan Yohanes, hatinya selalu terombang-ambing, namun ia merasa senang juga mendengarkan dia.

Akhirnya tiba juga kesempatan yang baik bagi Herodias, ketika Herodes pada ulang tahunnya mengadakan perjamuan untuk pembesar-pembesarnya, perwira-perwiranya dan orang-orang terkemuka Galilea. Pada waktu itu anak perempuan Herodias tampil lalu menari, dan ia menyenangkan hati Herodes dan tamu-tamunya. Raja berkata kepada gadis itu, “Mintalah apa saja yang kauingini, maka akan kuberikan kepadamu!”, lalu bersumpah kepadanya, “Apa saja yang kauminta akan kuberikan kepadamu, sekalipun setengah dari kerajaanku!” Anak itu pergi dan menanyakan ibunya, “Apa yang harus kuminta?” Jawabnya, “Kepala Yohanes Pembaptis!” Lalu ia cepat-cepat masuk menghadap raja dan meminta, “Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku kepala Yohanes Pembaptis di atas piring!” Lalu sangat sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya ia tidak mau menolaknya. Raja segera menyuruh seorang algojo dengan perintah supaya mengambil kepala Yohanes di penjara. Ia membawa kepala itu di sebuah piring besar dan memberikannya kepada gadis itu dan gadis itu memberikannya pula kepada ibunya.

Ketika murid-murid Yohanes mendengar hal itu mereka datang dan mengambil mayatnya, lalu membaringkannya dalam kuburan. (Mrk 6:14-29) 

Bacaan Pertama: Sir 47:2-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 18:31,47,50-51 

Herodes Antipas merasa begitu takjub mendengar kabar tentang Yesus yang ia percaya sebagai Yohanes Pembaptis yang telah dibangkitkan kembali dari antara orang mati (Mrk 6:16). Ini testimoni luarbiasa untuk Yohanes Pembaptis sehingga dirinya salah dikira sebagai sang Juruselamat dunia! Maukah hal seperti itu terjadi dengan diri kita (anda dan saya)? Bukankah kita akan senang untuk begitu serupa dengan Yesus sehingga orang-orang mulai merasa heran jangan-jangan Yesus telah kembali ke dunia?

YOHANES PEMBAPTIS - SALOME RECEIVED THE HEAD OF JOHN THE BAPTISTPertimbangkanlah bagaimana Yohanes Pembaptis menjalani kehidupannya. Lupakanlah jubah bulu unta yang dipakainya dan makanannya yang berupa belalang dan madu hutan (Mat 3:4). Yang penting adalah waktu yang digunakannya untuk berdoa dan memperkenankan sabda Allah yang terdapat dalam Kitab Suci masuk ke dalam hatinya dan dia belajar mengalami kebebasan dan sukacita pertobatan. Bagaimana lagi Yohanes Pembaptis dapat begitu penuh kuat-kuasa untuk memanggil sedemikian banyak orang untuk percaya kepada belas kasih Allah? Karena relasi yang begitu akrab dengan Allah, Yohanes dapat mengenali Yesus sebagai sang Mesias yang dijanjikan dan sebagai Dia yang akan membaptis dengan Roh Kudus (Mrk 1:8; bdk. Luk 3:16). Yohanes Pembaptis mengetahui bahwa baptisan dengan air yang dilakukannya – walaupun penting – hanya merupakan persiapan untuk pembaptisan yang lebih penting dengan Roh Kudus yang akan diberikan oleh Yesus, suatu tindakan “membenamkan” seseorang ke dalam hidup Allah sendiri, suatu “pembenaman” yang membawa dengannya suatu kuasa ilahi untuk hidup sebagaimana Yesus hidup.

Seperti yang terjadi dengan Yohanes Pembaptis, kita masing-masing pun dipanggil oleh  Allah untuk mempersiapkan orang-orang agar mengalami Kristus di dalam hidup mereka. Allah tahu bahwa kita dapat melakukan ini hanya apabila – seperti halnya Yohanes Pembaptis – kita mencerminkan Yesus, yang menggantungkan diri pada kuat-kuasa Roh Kudus untuk mengubah kita. Bagi Yohanes Pembaptis, hal itu berarti “doa” dan “pertobatan”, di samping itu juga determinasi tanpa lelah untuk taat kepada panggilan Allah seturut kemampuan terbaik yang dimilikinya. Hal ini berarti mengesampingkan rencana-rencananya sendiri bagi hidupnya dan memiliki kemauan mantap untuk mengikuti panggilan Allah, bagaimana pun radikalnya panggilan itu.

Semua ini terdengar seperti “berat dan mahal sekali” – sebenarnya tidak – teristimewa apabila dibandingkan dengan segala hal yang kita terima dari Allah. Selagi kita melakukan bagian kita, Roh Kudus akan melakukan bagian-Nya, membuat diri kita semakin serupa dengan Yesus, sehingga – seperti Herodes Antipas – orang-orang akan bertanya kalau-kalau Kristus telah kembali ke atas bumi ini.

DOA: Roh Kudus, datanglah dan tinggallah dalam hatiku. Transformasikanlah diriku dan ajarlah aku bagaimana menjadi serupa dengan Yesus, sehingga orang-orang lain akan mengenal Allah yang begitu mengasihi dan sungguh menakjubkan. Datanglah, ya Roh Kudus, dan tolonglah diriku untuk membawa Kristus ke tengah dunia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Pertama hari ini (Ibr 13:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS KRISTUS TETAP SAMA, BAIK KEMARIN MAUPUN HARI INI DAN SAMPAI SELAMA-LAMANYA” (bacaan tanggal 3-2-17 dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 5-2-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  1 Februari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

APAKAH KITA MENGENALI YESUS SELAGI DIA BERGERAK DALAM KEHIDUPAN KITA?

APAKAH KITA MENGENALI YESUS SELAGI DIA BERGERAK DALAM KEHIDUPAN KITA?

(Bacaan Injil, Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah – Kamis, 2 Februari 2017)

 007-simeon-anna-temple

Lalu ketika tiba waktu penyucian menurut hukum Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan, “Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah”, dan untuk mempersembahkan kurban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati.

Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel, dan Roh Kudus ada di atasnya. Kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia Yang Diurapi Tuhan. Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orangtua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, ia menyambut Anak itu dan menggendong-Nya sambil memuji Allah, katanya, “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang daripada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menyatakan kehendak-Mu bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.”

Bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala sesuatu yang dikatakan tentang Dia. Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu, “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan – dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri – supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.”

Lagi pula di situ ada Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya bersama suaminya, lalu ia menjadi janda sampai ia berumur delapan puluh empat tahun sekarang. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa. Pada saat itu juga datanglah ia ke situ dan mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada  semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem.

Setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediaman mereka, yaitu kota Nazaret di Galilea. Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya. (Luk 2:22-40) 

Bacaan Pertama: Mal 3:1-4 atau Ibr 2:14-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 24:7-10 

Saat yang sudah lama dinanti-nantikan itu telah tiba. Dia yang telah datang untuk memurnikan Israel dan mendamaikan Bapa surgawi dengan umat manusia yang sudah jatuh berantakan, sekarang dipersembahkan di hadapan Allah dan disambut oleh umat-Nya. Dia adalah sang Imam Besar Agung (Ibr 4:14)  yang mempersembahkan kurban yang sempurna dan membuat sebuah perjanjian baru dengan umat Israel. Oleh kurban persembahan-Nya, Dia akan memurnikan kita dari dosa-dosa, dan tubuh-Nya yang bangkit akan menjadi Bait/kenisah yang baru di mana seluruh umat Allah akan berkumpul.

Semuanya terdengar begitu penuh kemuliaan dan menjanjikan. Akan tetapi, seandainya anda adalah seorang Yahudi saleh yang berada dalam Bait Allah pada hari itu, apakah yang akan anda lihat di situ? Pasutri miskin dengan seorang bayi kecil – hanya satu dari sekian banyak kanak-kanak yang dipersembahkan kepada YHWH pada hari itu. Apakah anda akan mengenali anak ini sebagai sang Mesias? Tentunya hanya sedikit sekali orang yang melihatnya begitu! Lukas malah hanya bercerita mengenai dua orang pribadi, yaitu Simeon dan Hana. Bahkan – dalam rutinitas berbagai rituale – imam yang menerima (atas nama YHWH) kurban persembahan kedua orangtua kanak-kanak Yesus tidak mampu mengenali siapa Dia ini. Jelas kelihatan bahwa orang-orang yang mengenali Yesus adalah mereka yang menggunakan banyak sekali waktu mereka setiap sehari untuk merenungkan sabda Allah dalam hati mereka dan selalu mohon hikmat dari Dia agar mampu memahami jalan-Nya. Mereka adalah sisa Israel, kaum anawim (Zef 3:12-13)!

“Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah” menantang kita untuk bertanya kepada diri sendiri, apakah kita mengenali Yesus selagi dia bergerak dalam kehidupan kita. Setiap hari, Yesus ingin datang masuk ke dalam hati kita masing-masing dan menyinari kita dengan terang kasih dan kerahiman Allah. Setiap hari, Dia ingin mengklaim diri kita sebagai tempat kediaman-Nya dan membuat kehadiran-Nya sebagai harta-kekayaan kita yang paling besar dan agung. Sebagaimana Simeon dan Hana, kita akan menjadi peka terhadap gerakan-gerakan-Nya selagi kita menggunakan waktu kita dalam berdoa, membuat hening pikiran kita dan mengasihi Allah dengan hati kita.

Bapa di surga sangat senang kalau berbagi dengan kita segala harta-kekayaan surgawi. Dia hanya minta agar kita datang menghadap hadirat-Nya dengan rendah hati. Dia minta agar kita mengosongkan diri, sehingga ada ruangan dalam kehidupan kita bagi rahmat-Nya. Agar kita dapat menerima hal-hal surgawi, maka kita harus melepaskan diri kita dari hal-hal duniawi. Allah yang kita sembah adalah Allah kebenaran yang tidak akan berbagi kemuliaan-Nya dengan manusia yang merusak keharmonisan kehidupan bermasyarakat, dan melakukan perbuatan merusak itu demi dan atas nama-Nya. Dia akan menyatakan diri-Nya kepada kita, selagi kita membuat hati kita terbuka bagi-Nya

DOA: Bapa surgawi, Allah yang Mahakuasa. Pada hari ini, Putera-Mu yang tunggal dipersembahkan di kenisah, sebagai seorang anak manusia seperti kami. Murnikanlah pikiran dan hati kami, sehingga kami dapat berjumpa dengan Engkau dalam kemuliaan-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil  hari ini (Luk  2:22-40), bacalah tulisan dengan judul “HANA DAN SIMEON DENGAN PENUH SUKACITA MELIHAT BAHWA JANJI ALLAH DIPENUHI DALAM DIRI YESUS” (bacaan tanggal 2-2-17), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 31 Januari 2017 [Peringatan S. Yohanes Bosko, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MARILAH KITA MENGEVALUASI KEDALAMAN IMAN KITA

MARILAH KITA MENGEVALUASI KEDALAMAN IMAN KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa IV – Rabu, 1 Februari 2017) 

yesus-mengajar-dalam-sinagoga-di-nazaretKemudian Yesus berangkat dari situ dan tiba di tempat asal-Nya, sedang murid-murid-Nya mengikuti Dia. Pada hari Sabat Ia mulai mengajar di rumah ibadat dan banyak orang takjub mendengar-Nya dan berkata, “Dari mana diperoleh-Nya hal-hal itu? Hikmat apakah yang diberikan kepada-Nya? Bagaimanakah mukjizat-mukjizat yang demikian dapat diadakan oleh tangan-Nya? Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada di sini bersama kita?”  Lalu mereka menolak Dia. Kemudian Yesus berkata kepada mereka, “Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya.” Ia tidak dapat mengadakan satu mukjizat pun di sana, kecuali menyembuhkan beberapa orang sakit dengan meletakkan tangan-Nya di atas mereka. Ia merasa heran karena mereka tidak percaya. Lalu Yesus berjalan keliling dari desa ke desa sambil mengajar. (Mrk 6:1-6) 

Bacaan Pertama: Ibr 12:4-7,11-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-2,13-14,17-18 

Setelah banyak berkeliling di Galilea, Yesus kembali ke tempat asalnya Nazaret dan pergi ke sinagoga untuk mengajar pada hari Sabat. Seperti yang telah dilakukan-Nya di mana-mana, Yesus mengumumkan kabar baik bahwa Kerajaan Allah akhirnya telah datang ke dalam dunia. Tidak mengherankanlah apabila penduduk Nazaret menjadi kaget mendengar kata-kata hikmat yang diucapkan oleh Yesus. Mereka telah mendengar tentang berbagai mukjizat dan tanda heran yang dibuat-Nya di tempat-tempat lain dan juga tentang kuat-kuasa yang telah ditunjukkan oleh-Nya atas kekuatan-kekuatan dahsyat seperti ombak besar dan angin topan, roh-roh jahat, sakit-penyakit, bahkan kematian/maut itu sendiri.

Mengapa orang-orang Nazaret – yang telah mengenal Yesus untuk kurun waktu yang relatif lama –  tidak mau menerima sentuhan kesembuhan-Nya? Bahkan Yesus sendiri pun “merasa heran karena mereka tidak percaya” (Mrk 6:6). Apakah dilema mereka? Mengapa mereka tidak dapat menerima kenyataan bahwa Allah bekerja dengan penuh kuat-kuasa dalam diri Yesus yang bertumbuh dari anak-anak menjadi dewasa di tengah-tengah mereka?  Seperti juga dalam hal-hal yang lain, jawabannya terletak pada kekerasan hati. Penduduk Nazaret tidak mau mengakui kenyataan dan malah menentang Yesus karena mereka mengenal-Nya hanya sebagai seorang tukang kayu. Bagaimana mereka dapat menerima Dia sebagai seorang nabi, apalagi sebagai Anak (Putera) Allah?

Yesus merasa senang apabila kita mengakui siapa diri-Nya dan siapa kita di hadapan-Nya. Yesus mengambil hukuman yang diperuntukkan bagi kita agar kita dapat hidup bersama-Nya. Yesus juga rindu agar kita merangkul hidup ini. Memang benar bahwa kita dapat hidup tanpa harus berpaling kepada Tuhan, namun kehidupan macam apa yang kita miliki seperti itu? Kehampaan. Mengapa? Karena kita tidak sadar akan Kasih yang menciptakan kita dan menopang kita sampai hari ini. Kita dipisahkan dari sang Kehidupan yang terpaku pada kayu salib guna membebaskan kita dari kuasa kegelapan.

Bacaan Injil hari ini menantang kita semua untuk melakukan evaluasi atas kedalaman iman kita kepada Tuhan. Dapatkah kita memperkenankan Dia menjadi efektif seperti yang diinginkan-Nya dalam kehidupan kita? Yesus mengundang kita untuk beriman sepenuhnya kepada diri-Nya. Sepanjang Kitab Suci kita dapat membaca bagaimana orang-orang yang percaya kepada kasih-Nya yang penuh kuasa menjadi sembuh, bebas dari kuasa roh-roh jahat, dan dilindungi oleh-Nya. Oleh karena itu, marilah kita (anda dan saya) memohon kepada Roh Kudus – yang dapat memimpin kita kepada segenap kebenaran – agar memberikan iman yang sama kepada kita masing-masing.

DOA: Roh Kudus, nyatakanlah kepada kami betapa dalam kami membutuhkan iman yang menaruh kepercayaan, yang berpengharapan, dan mempunyai keyakinan  akan kasih Allah. Ampunilah ketidakpercayaan kami. Oleh rahmat-Mu, berdayakanlah kami agar mau dan mampu merangkul kepenuhan hidup yang telah dimenangkan Yesus bagi kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 6:1-6), bacalah tulisan yang berjudul “PENGALAMAN MENYEDIHKAN BAGI YESUS DI NAZARET” (bacaan untuk tanggal 1-2-17), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 3-2-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  30 Januari 2017 [Peringatan S. Yasinta Mareskoti, Perawan Ordo III S. Fransiskus] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS