AKU DAN BAPA ADALAH SATU

AKU DAN BAPA ADALAH SATU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Prapaskah – Jumat, 27 Maret 2015) 

Jesus_w_PharSekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. Kata Yesus kepada mereka, “Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?” Jawab orang-orang Yahudi itu, “Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menjadikan diri-Mu Allah. Kata Yesus kepada mereka, “Bukankah ada tertulis dalam kitab Tauratmu: Aku telah berfirman: Kamu adalah ilah? Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut ilah – sedangkan Kitab Suci tidak dapat dibatalkan – masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah? Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku, tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.” Sekali-kali mereka mencoba menangkap Dia, tetapi Ia luput dari tangan mereka.

Kemudian Yesus pergi lagi ke seberang Yordan, ke tempat Yohanes membaptis dahulu, lalu Ia tinggal di situ. Banyak orang datang kepada-Nya dan berkata, “Yohanes memang tidak membuat satu tanda mukjizat pun, tetapi semua yang pernah dikatakan Yohanes tentang orang ini memang benar.” Lalu banyak orang di situ percaya kepada-Nya. (Yoh 10:31-42) 

Bacaan Pertama: Yer 20:10-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 18:2-7 

Orang-orang Yahudi saleh pada zaman Yesus begitu menghormati Allah sehingga mereka tidak akan memetik atau mengambil kata-kata dari Kitab Suci tanpa berkata, “Demikianlah firman TUHAN.” Mereka begitu berhati-hati untuk tidak mengambil “kredit”  bagi mereka sendiri atas sesuatu yang milik YHWH. Jadi kiranya kita dapat memahami (memaklumi?) bagaimana mereka menjadi begitu kaget ketika mendengar Yesus mengatakan kepada mereka, “Aku dan Bapa adalah satu” (Yoh 10:30). Hujaaaaaaat !!!!!

Dalam menjawab tuduhan mereka bahwa Yesus melakukan hujat, maka Dia menggunakan Kitab Suci untuk menunjukkan bagaimana diri-Nya telah dikuduskan dan diutus oleh Allah untuk melakukan segala pekerjaan yang selama ini telah dilakukan-Nya. Yesus menantang mereka untuk melihat pada berbagai mukjizat dan tanda heran yang diperbuat-Nya sebagai bukti bahwa Allah sungguh ada di dalam Dia dan Dia sungguh ada di dalam Bapa (Yoh 10:38). Ketika orang-orang itu tidak juga mau percaya  kepada-Nya, apa yang dapat dilakukan Yesus adalah kembali pergi ke tempat di mana Yohanes Pembaptis dahulu membaptis; untuk menguatkan diri-Nya dan mengingat kata-kata Allah pada saat pembaptisan-Nya: “Engkaulah Anak-Ku, yang terkasih, kepada-Mulah Aku berkenan” (Luk 3:22).

YESUS DITANYAI OLEH ORANG FARISIWalaupun tidak mudah untuk dicerna, kebenaran bahwa Yesus ada dalam Bapa dan Bapa dalam Dia terletak pada jantung penebusan kita. Hal ini berarti bahwa bilamana kita memandang salib-Nya, kita tidak sekadar memandang seorang pribadi yang bernama Yesus dari Nazaret yang sedang tergantung sekarat di kayu salib. Yang kita lihat adalah Putera Allah yang kekal, Sabda/Firman Bapa yang Mahatinggi dan Mahakuasa, yang menyerahkan hidup-Nya untuk kita – manusia berdosa. Pengorbanan sedemikian membuat penebusan kita lengkap dan abadi. Kita telah ditebus oleh Allah sendiri! Tidak ada pekerjaan lain lagi yang diperlukan, dan tidak ada apa pun dan siapapun yang dapat mengambilnya dari diri kita.

Dengan kebenaran yang besar dan agung ini di dalam pikiran kita, kita dapat memiliki rasa percaya yang tinggi di hadapan hadirat Allah. Bahkan ketika kita berdosa, kita tetap dapat berbalik kepada-Nya dalam pertobatan dan mengalami pengampunan karena hal ini telah diberikan dari atas kayu salib. Kita tidak perlu menyembunyikan diri dari Allah atau merasa takut akan hukuman-Nya. Sejak awal waktu, Ia mengetahui semua pikiran kita dan berbagai kelemahan kita, dan Ia tetap mengutus Putera-Nya. Santo Paulus menulis, “Di dalam Kristus, Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya tanpa memperhitungkan pelanggaran mereka …” (2Kor 5:19). Dengan suatu penebusan yang begitu besar, bagaimana mungkin kita sampai pernah meragukan kebaikan Allah kita? Benarlah kata seorang mistikus, Santo Fransiskus dari Assisi, yang menulis bahwa “Dia adalah satu-satunya Allah yang benar; Dialah kebaikan yang sempurna, segenap kebaikan, seluruhnya baik, kebaikan yang benar dan tertinggi; Dialah satu-satunya yang baik, penyayang, pemurah, manis dan lembut; Dialah satu-satunya yang kudus, adil, benar, suci dan tulus, satu-satunya yang pemurah, tak bersalah dan murni; dari Dia, oleh Dia dan dalam Dialah segala pengampunan, segala rahmat dan kemuliaan untuk semua orang yang bertobat dan yang benar, untuk semua orang kudus yang bersukacita bersama-sama di surga” (AngTBul XXIII:9).

DOA: Terpujilah Engkau, ya Tuhan Yesus Kristus! Engkau adalah Putera Allah yang tunggal dan tanda belas kasih (kerahiman) Allah Bapa. Terpujilah Engkau karena Engkau sudi wafat di kayu salib untuk menyelamatkan kami dan terus saja membebaskan kami dari yang jahat. Terpujilah Engkau karena Engkau telah mengutus Roh Kudus-Mu untuk senantiasa membimbing kami dalam menjalani hidup ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 10:31-42), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS DAN BAPA-NYA” (bacaan tanggal 27-3-15)   dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 15-03 BACAAN HARIAN MARET 2015. 

Bacalah juga tulisan-tulisan yang berjudul “JIKALAU AKU TIDAK MELAKUKAN PEKERJAAN-PEKERJAAN BAPAKU, JANGANLAH PERCAYA KEPADA-KU” (bacaan tanggal 30-3-12), “YESUS MENGHUJAT ALLAH?” (bacaan tanggal 22-3-13) dan “YESUS DAN ORANG-ORANG YAHUDI” (bacaan tanggal 11-4-14) ketiganya dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-4-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 23 Maret 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERJANJIAN YHWH DENGAN ABRAHAM

PERJANJIAN YHWH DENGAN ABRAHAM

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Prapaskah – Kamis, 26 Maret 2015) 

ABRAHAM PERGI KE TANAH YANG DIJANJIKANLalu sujudlah Abram, dan Allah berfirman kepadanya: “Dari pihak-Ku, inilah perjanjian-Ku dengan engkau: Engkau akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa. Karena itu namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham, karena engkau telah Kutetapkan menjadi bapa sejumlah besar bangsa. Aku akan membuat engkau beranak cucu sangat banyak; engkau akan Kubuat menjadi bangsa-bangsa, dan dari padamu akan berasal raja-raja. Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu. Kepadamu dan kepada keturunanmu akan Kuberikan negeri ini yang kaudiami sebagai orang asing, yakni seluruh tanah Kanaan akan Kuberikan menjadi milikmu untuk selama-lamanya; dan Aku akan menjadi Allah mereka.”

Lagi firman Allah kepada Abraham: “Dari pihakmu, engkau harus memegang perjanjian-Ku, engkau dan keturunanmu turun-temurun.” (Kej 17:3-9)

Mazmur Tanggapan: Mzm 105:4-9; Bacaan Injil: Yoh 8:51-59 

Sungguh suatu perjumpaan yang luarbiasa dengan Allah! Tidak saja Allah menampakkan diri kepada Abraham (Kej 17:1); Ia juga membuat sebuah perjanjian dengan Abraham – sebuah perjanjian di dalam mana Dia berjanji untuk memberkati Abraham dan turunannya untuk selama-lamanya.

Sekarang marilah kita pertimbangkan situasi yang dihadapi Abraham. Bertahun-tahun lamanya, Abraham dan istrinya Sarah (yang mandul itu) hidup dengan ayahnya, saudara laki-lakinya, dan semua istri dan anak mereka di tanah Ur. Ia belum pernah mendengar tentang YHWH-Allah. Seperti semua nenek moyangnya sebelum dia, Abraham menyembah dewa-dewa lain. Lalu tiba-tiba saja Allah menyatakan diri-Nya dan memanggil Abraham untuk meninggalkan rumahnya dan melakukan perjalanan ke sebuah tanah asing (Kej 12:1). Inilah yang diketahui oleh Abraham pada awalnya – dia bahkan tidak tahu ke mana Allah menginginkan dia pergi. Namun, dia tetap pergi! Dalam iman dan rasa percayanya yang seperti anak-anak, Abraham menunjukkan ketaatannya, dia berpegang pada janji Allah: Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat” (Kej 12:2).

ABRAHAM - BAPA BANGSASekarang, setelah menjalani 25 tahun masa penantian yang penuh dengan rasa percaya dan pembelajaran tentang cara-cara YHWH bekerja, Dia muncul di hadapannya dan mengatakan kepadanya, “Engkau akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa” (Kej 17:4). Abraham tetap menaruh rasa percayanya pada YHWH, bahkan ketika Dia menjanjikan apa yang kelihatannya tidak mungkin, bahwa Sarah yang telah berumur 90 tahun akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki yang harus dinamai Ishak (Kej 17:15-19).

Ketika akal budi manusia memprotes melawan sabda Allah yang kelihatan absurd, Abraham percaya. Melalui iman dan rasa percayanya, Abraham mengembangkan suatu relasi yang akrab dengan Allah yang Mahatinggi dan Mahakuasa, suatu relasi yang dimeteraikan dalam janji-janji perjanjian. Seperti yang telah dilakukan oleh-Nya dengan Abraham, Allah juga ingin masuk ke dalam relasi perjanjian (covenant relationship) dengan anda dan saya. Allah ingin menunjukkan kepada kita kemuliaan-Nya dan membuat janji-janji-Nya diwujudkan menjadi realitas dalam kehidupan kita. Oleh karena itu marilah kita belajar berjalan bersama Allah sebagai sahabat kita. Dia sungguh ingin memberikan kepada kita suatu masa depan dan suatu pengharapan, janji hidup kekal, sukacita dan hidup yang berbuah, dan jaminan akan kasih-Nya yang tak akan berakhir.

Saudari dan Saudariku, pada hari ini marilah kita (anda dan saya) dengan mata batin masing-masing membaca janji-janji Allah tersebut dari Kitab Suci, dan marilah kita memohon kepada Roh Kudus agar membuat janji-janji itu hidup dalam hati kita masing-masing. Allah sangat mengasihi anda dan saya, dan Ia berdiri dan siap untuk mencurahkan kebaikan tanpa batas kepada kita semua!

DOA: Bapa surgawi, tariklah kami agar semakin dekat dengan Engkau dan tingkatkanlah iman kami kepada-Mu. Kami ingin mengalami persahabatan yang akrab dengan Engkau, sebagai umat-Mu, teristimewa sebagai anak-anak-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 8:51-59), bacalah tulisan berjudul “SESUNGGUHNYA AKU BERKATA KEPADAMU, SEBELUM ABRAHAM ADA, AKU TELAH ADA” (bacaan tanggal 26-3-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.worpress.com; kategori: 15-03 BACAAN HARIAN MARET 2015. 

Bacalah juga tulisan-tulisan dengan judul “SEBELUM ABRAHAM ADA, AKU TELAH ADA” (bacaan tanggal 29-3-12) dan “PADAHAL KAMU TAK MENGENAL DIA” (bacaan tanggal 10-4-14), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kej 17:3-9), bacalah tulisan berjudul “PERJANJIAN ANTARA ALLAH DAN ABRAHAM” (bacaan tanggal 21-3-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-4-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  23 Maret 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEPERTI HALNYA DENGAN MARIA, KITA PUN DIPANGGIL

SEPERTI HALNYA DENGAN MARIA, KITA PUN DIPANGGIL

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA KABAR SUKACITA – Rabu, 25 Maret 2015) 

ANNUNCIATION - MARIA DIBERI KABAR OLEH MALAIKAT TUHAN -1000Dalam bulan yang keenam malaikat Gabriel disuruh Allah pergi ke sebuah kota yang bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu datang kepada Maria, ia berkata, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”  Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya, “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh anugerah di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapak leluhur-Nya, dan Ia akan memerintah atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.”  Kata Maria kepada malaikat itu, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.”  Kata Maria, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia. (Luk 1:26-38) 

Bacaan Pertama: Yes 7:10-14;8:10; Mazmur Tanggapan: Mzm 40:7-11; Bacaan Kedua: Ibr 10:4-10 

Pada saat memberi kabar sukacita, malaikat Gabriel mengundang Maria untuk bekerja-sama dalam rencana penyelamatan Allah. Dalam keterkejutannya, Maria diberitahukan oleh Gabriel bahwa dia akan mengandung, bukan karena pengungkapan cinta seorang laki-laki kepadanya, melainkan oleh Roh Kudus (Luk 1:35).

Bayangkanlah iman yang diperlukan oleh Maria untuk menjawab selagi dia dengan kebebasan penuh menyerahkan dirinya kepada apa yang diminta Allah dari dirinya. Maria berkata, “Ya!” “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38). Rasa percaya, iman, pengharapan, kerendahan-hati, ketaatan, dan kasih, semuanya menyatu-padu dalam kata-kata yang diucapkan Maria, dan sejak saat mahapenting itu, dunia dan sejarah umat manusia pun berubah, … untuk selamanya.

Cerita dari Injil Lukas ini yang memimpin Santo Fransiskus dari Assisi – satu dari banyak orang kudus lainnya dengan pengalaman serupa – untuk menyapa Maria sebagai “mempelai Roh Kudus” (Ibadat Sengsara Tuhan; Antifon Santa Perawan Maria, 2). Akan tetapi kita tidak boleh membatasi gambaran ini sekadar pada saat terkandungnya Yesus. Roh Kudus menaungi Maria tidak hanya pada saat itu, melainkan juga pada setiap langkah yang diambilnya pada perjalanan ziarahnya selama hidup di atas bumi ini. Banyak sekali hidup iman Maria yang patut dicatat disamping saat ia diperkandung oleh Roh Kudus. Sepanjang hidupnya Maria bertumbuh dalam ketergantungannya kepada Roh Kudus dan menjadi seorang saksi yang lebih besar (daripada saksi-saksi lain) terkait dengan hidup baru yang telah dibawa oleh Yesus bagi kita semua.

Seperti juga Maria, kita pun dipanggil untuk mengatakan “ya” kepada Allah, tidak sekali saja, tapi lagi dan lagi. Seperti Maria, kita pun telah diundang ke dalam suatu relasi akrab dengan Roh Kudus – untuk menjadi tempat kediaman-Nya, untuk mendengarkan Dia, untuk bertindak di bawah bimbingan-Nya, untuk membawa Kristus ke tengah dunia. Seperti Maria, kita pun dapat bertanya-tanya dalam hati kita, “Bagaimans hal itu mungkin terjadi?” (bdk. Luk 1:34).

Santo Augustinus dari Hippo [354-430] menulis, “Ibunda Kristus membawa Dia dalam rahimnya. Semoga kita membawa Dia dalam hati kita. Sang perawan menjadi hamil dengan inkarnasi Kristus. Semoga hati kita pun mengandung dengan iman kepada Kristus. Dia (Maria) membawa sang Juruselamat. Semoga jiwa kita membawa keselamatan dan puji-pujian.”

DOA: Bapa surgawi, tolonglah aku agar dapat mendengar panggilan-Mu untuk mengasihi dan melayani. Tolonglah diriku agar dapat mengatakan “ya” kepada Engkau. Utuslah Roh Kudus-Mu kepadaku, sehingga dengan demikian Yesus dapat dilahirkan dalam hatiku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:26-38), bacalah tulisan yang berjudul “KABAR SUKACITA” (bacaan tangggal 25-3-15) dalam situs/blog SANG SABDA  http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-03 BACAAN HARIAN MARET 2015. 

Cilandak, 20 Maret 2015  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SALIB KRISTUS ADALAH TANDA KESELAMATAN BAGI KITA

SALIB KRISTUS ADALAH TANDA KESELAMATAN BAGI KITA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Selasa,  Hari Biasa Pekan V Prapaskah – Selasa, 24 Maret 2015) 

MUSA DENGAN ULAR TEMBAGA - 001Setelah mereka berangkat dari gunung Hor, berjalan ke arah Laut Teberau untuk mengelilingi tanah  Edom, maka bangsa itu tidak dapat lagi menahan hati di tengah jalan. Lalu mereka berkata-kata melawan Allah dan Musa: “Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati di padang gurun ini? Sebab di sini tidak ada roti dan tidak ada air, dan akan makanan hambar ini kami telah muak. Lalu TUHAN menyuruh ular-ular tedung ke antara bangsa itu, yang memagut mereka, sehingga banyak dari orang Israel yang mati. Kemudian datanglah bangsa itu mendapatkan Musa dan berkata: “Kami telah berdosa, sebab kami berkata-kata melawan TUHAN dan engkau; berdoalah kepada TUHAN, supaya dijauhkan-Nya ular-ular ini dari pada kami. Lalu Musa berdoa untuk bangsa itu. Maka berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Buatlah ular tedung dan taruhlah itu pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup.”  Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup. (Bil 21:4-9) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 102:2-3,16-21; Bacaan Injil: Yoh 8:21-30 

Selagi mereka mendekati akhir dari perjalanan panjang mereka menuju “tanah terjanji”, orang-orang Israel – anak-anak dari generasi yang meninggalkan tanah perbudakan Mesir – tergoda untuk mengeluh kepada Musa: “Mengapa kamu memimpin kami kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati di padang gurun ini? …… tidak ada roti dan tidak ada air, dan akan makanan hambar ini kami telah muak” (Bil 21:5). Seperti orangtua mereka, generasi baru ini menjadi tidak sabar waktu yang ditetapkan Allah. Mereka merasa dikhianati, walaupun Allah dengan setia telah menyediakan segala sesuatu yang mereka butuhkan. Sebagai akibat dari gerutu dan omelan mereka, Allah mengirim ular-ular tedung yang beracun itu ke tengah-tengah mereka. Hanya setelah banyak yang mati dipagut ular-ular tedung itu, mereka datang ke Musa mengakui kesalahan/dosa mereka dan memahon kepada Musa untuk berdoa syafaat kepada Allah untuk mereka.

Walaupun umat-Nya tidak menaruh kepercayaan pada-Nya, Allah tetap berkomitmen pada niat-Nya untuk memimpin mereka ke tanah terjanji. Orang-orang Israel itu pantas untuk dihukum dengan berat, namun Allah menolak untuk menyerah …… Dia tidak mau membuang orang-orang Israel! Allah malah mentransformasikan lambang penghukuman mereka (ular tedung) menjadi lambang pelepasan. Jika mereka memandang ular tembaga yang ditaruh pada sebuah tiang, maka orang-orang Israel akan bertumbuh dalam rasa percaya mereka pada TUHAN (YHWH). Lihatlah, bagaimana sabar Allah bekerja dengan mereka.

stdas0748Memang ketika kita berada dalam masa-masa sulit, mudahlah bagi kita untuk melupakan karya Allah dalam kehidupan kita. Seperti juga orang-orang Israel, kita telah berdosa terhadap Allah, dan dengan demikian pantaslah apabila kita dipisahkan dari Allah untuk selama-lamanya. Namun begitu, bahkan ketika kita berada di bawah hukuman maut, Allah mengenal kita dan Dia tetap mengingat janji-janji-Nya kepada kita. Karena kerahiman-Nya, Dia senantiasa “mendengarkan doa orang-orang yang bulus, dan tidak memandang hina doa mereka” (Mzm 102:18).

Sesungguhnya Allah mengasihi kita dengan mendalam – pribadi lepas pribadi. Ia telah menyediakan bagi kita suatu masa depan yang dipenuhi dengan pengharapan! Ular-ular tedung yang pada awalnya berfungsi sebagai penghukuman atas orang-orang Israel menjadi tanda keselamatan mereka. Demikian pula dengan salib Kristus – sebuah instrumen penghukuman – telah menjadi tanda keselamatan bagi kita. Bila kita memandang salib Kristus, maka Allah memberikan penyembuhan dan kerahiman-Nya. Jika kita membuka hati kita dan menyerahkan diri kita kepada kasih-Nya dan berbagai karunia yang disediakan-Nya bagi kita, maka kita pun akan mengalami damai sejahtera-Nya dan dorongan-Nya dalam segala situasi yang kita hadapi.

DOA: Bapa surgawi, salib Putera-Mu adalah sumber kehidupan kami. Tolonglah kami untuk percaya kepada kuat-kuasa salib-Nya agar dengan demikian kami akan menerima berkat melimpah dalam kehidupan kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 8:21-30), bacalah tulisan yang berjudul “AKU BUKAN DARI DUNIA INI” (bacaan tanggal 24-3-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-03 BACAAN HARIAN MARET 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 8-4-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 19 Maret 2015 [HARI RAYA S. YUSUF, SUAMI SP MARIA] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SENIN PEKAN KELIMA PRAPASKA – HENRI J.M. NOUWEN

SENIN PEKAN KELIMA PRAPASKA

(Renungan Harian Dalam Masa Prapaska dari Henri J.M. Nouwen) 

HenriNouwenMaka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?” Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah. Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka, “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu” (Yoh 8:3-7). 

Inti kabar gembira adalah bahwa Allah bukanlah Allah yang jauh, Allah yang harus ditakuti atau dihindari, Allah yang membalas dendam, tetapi Allah yang tergerak oleh penderitaan kita dan ikut merasakan sepenuhnya perjuangan manusia …

Allah adalah Allah yang murah hati. Ini berarti pertama-tama bahwa Ia adalah Allah yang memilih menjadi Allah-beserta-kita …

Begitu kita menyebut Allah sebagai “Allah-beserta-kita”, kita memasuki hubungan intim yang baru dengan-Nya. Dengan menyebut-Nya Immanuel, kita mengakui bahwa Ia melibatkan diri-Nya untuk hidup dalam kesetiakawanan dengan kita, untuk bersama-sama berbagi rasa dalam kegembiraan dan kesakitan kita, untuk membela dan melindungi kita dan untuk menanggung seluruh suka-duka kehidupan bersama kita. Allah-beserta-kita adalah Allah yang dekat, Allah tempat kita mencari perlindungan, pegangan, kebijaksanaan dan bahkan lebih lagi Ia adalah penolong, gembala dan cinta kita. Kita tidak akan pernah sungguh-sungguh mengenal Allah sebagai Allah yang murah hati kalau kita tidak mengerti dengan hati dan budi kita bahwa “Ia tinggal di antara kita” (Yoh 1:14).

+++++++

Bagaimana kita dapat mengetahui bahwa Allah adalah Allah kita dan bukan Allah yang asing, di luar kita atau yang lewat saja?

Kita mengetahuinya karena dalam Yesus kemurahan hati Allah nyata bagi kita. Yesus tidak hanya berkata, “Hendaklah kamu murah hati sama seperti Bapamu murah hati”, tetapi Ia juga mewujudnyatakan kemurahan hati ilahi itu dalam dunia kita. Tanggapan Yesus terhadap orang-orang yang bodoh, yang lapar, yang buta, yang lumpuh, orang-orang kusta, janda-janda dan semua yang datang kepada-Nya dengan penderitaan mereka, mengalir dari kemurahan hati ilahi yang membuat Allah menjadi salah satu dari antara kita. Kita perlu memperhatikan dengan cermat kata-kata dan karya-karya Yesus kalau kita mau memahami rahasia kemurahan hati ilahi itu. Kita dapat salah mengerti kisah-kisah mukjizat yang diceritakan dalam Injil jika kita hanya terkesan oleh yang tampak dari luar saja, yaitu bahwa orang-orang yang sakit tiba-tiba dibebaskan dari penyakit mereka. Seandainya memang inilah yang merupakan inti kisah-kisah itu, orang yang tidak senang dapat mengatakan bahwa sebagian besar orang pada zaman Yesus tidak disembuhkan dan bahwa mereka yang disembuhkan hanya membuat keadaan menjadi lebih jelek bagi mereka yang tidak disembuhkan. Yang penting bukanlah penyembuhan orang-orang sakit, tetapi kemurahan hati Allah yang menggerakkan Yesus untuk menyembuhkan.

DOA: Tuhan, Engkau datang tidak untuk menghakimi dunia tetapi untuk menyelamatkannya: setiap orang yang menolak Engkau dan tidak mau mendengarkan sabda-Mu, sudah ada hakimnya: sabda yang Kauucapkan akan menjadi hakimnya pada akhir zaman (bdk. Yoh 12:47-48).

Diambil dari Henri J.M. Nouwen, TUHAN TUNTUNLAH AKU – Renungan Harian Dalam Masa Prapaska, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1994, hal. 107-109. 

Cilandak, 23 Maret 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERGILAH, DAN MULAI SEKARANG JANGAN BERBUAT DOSA LAGI

PERGILAH, DAN MULAI SEKARANG JANGAN BERBUAT DOSA LAGI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Prapaskah – Senin, 23 Maret 2015) 

PEREMPUAN YANG KEDAPATAN BERZINAH - YOH 8Lalu mereka pulang ke rumah masing-masing, tetapi Yesus pergi ke bukit Zaitun. Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka. Lalu ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berzinah. Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus, “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika dia sedang berzinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian dengan batu. Bagaimana pendapat-Mu tentang hal itu?” Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah. Ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka, “Siapa saja di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Lalu Ia membungkuk lagi dan menulis di  tanah. Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya. Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya, “Hai perempuan, di manakah mereka?” Tidak adakah seorang pun yang menghukum engkau?” Jawabnya, “Tidak ada, Tuan.” Lalu kata Yesus, “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan mulai sekarang, jangan berbuat dosa lagi.” (Yoh 8:1-11) 

Bacaan Pertama: Dan 13:1-9,15-17,19-30,33-62; Mazmur Tanggapan: Mzm 23:1-6 

Pernahkah anda tertangkap basah ketika melakukan perbuatan yang salah? Misalnya pada waktu sekolah dulu, anda tertangkap basah oleh Pak Guru ketika “menyontek” pada waktu ulangan? Masih ingatkah anda bagaimana perasaanmu pada waktu itu? Ya, begitulah kiranya yang dirasakan oleh perempuan itu: rasa bersalah, rasa malu dan takut akan segala konsekuensi dari kejahatan yang telah diperbuatnya. Malah dia dibawa kepada Yesus, sang Rabbi terkenal namun kontroversial itu. Perempuan itu dicap secara publik sebagai seorang pezinah, dan dia diseret ke hadapan sang Rabbi guna menjebak-Nya. (Kita dapat berkata dalam hati kita: “Dasar ahli Taurat dan orang Farisi! Selalu saja berniat buruk”). Peristiwa seperti ini terjadi sampai hari ini dalam masyarakat di mana perempuan masih dinomor-duakan, misalnya di beberapa tempat di Afrika. Hanya ada perempuan  yang berzinah, tidak pernah ada lelaki yang berzinah!

Ini adalah satu-satunya bacaan dalam Injil yang menunjukkan Yesus menulis. Apakah yang ditulis Yesus dengan jari-Nya di tanah itu? Daftar dosa masing-masing orang yang siap merajam perempuan itu dengan batu? Entahlah. Yang jelas, Yesus tidaklah seperti para pemuka agama yang munafik itu. Hati-Nya penuh dengan belas kasih! Dia Mahapengampun! Kata-kata yang diucapkan-Nya mengingatkan para pemuka agama itu akan dosa-dosa mereka. Satu per satu dari mereka meninggalkan TKP, dimulai oleh yang paling tua (paling banyak dosanya?). Apa yang diperagakan oleh Yesus ini adalah sebuah contoh karunia berkata-kata dengan hikmat! Luar biasa efeknya!

Nah, Yesus menawarkan kepada kita semua belas kasih dan pengampunan yang sama! Yesus tidak pernah menuduh-nuduh kita, melainkan menawarkan kepada kita pengharapan akan suatu awal yang baru bersama dan dalam Dia. Sementara kita mulai mengalami belas kasih-Nya kita pun mulai menghargai apa saja yang telah dianugerahkan kepada kita, bukan karena apa yang telah kita perbuat melainkan karena apa yang Yesus telah lakukan bagi kita.  Dengan demikian kita pun akan mampu mengubah hidup kita menilai kembali prioritas-prioritas kita.

JohnNewtonColourJohn Newton (+1779) adalah penulis sebuah lagu terkenal, Amazing Grace (O Rahmat yang Mengagumkan; Puji Syukur # 600), yang sungguh memahami hal yang baru diuraikan di atas. Dia sedang berlayar dalam sebuah kapal di tengah-tengah badai yang ganas. Dalam ketakutannya John Newton berseru kepada Allah mohon belas kasih-Nya. Sebuah mukjizat terjadi: Langsung saja badai mereda! John Newton ketika itu adalah seorang pedagang budak belian, yang hanya mencari keuntungan materiil. Dia tidak peduli akan keadaan dan “nasib” para budak belian yang telah dibelenggunya dengan rantai besi. Setelah mengalami belas kasih Allah secara dramatis seperti itu (badai telah berlalu!), dia pun mempersembahkan dirinya kepada Yesus dan kemudian berkarya sebagai hamba Tuhan yang tidak mengenal lelah.

Seperti juga John Newton, kita akan merasa tergerak untuk mengubah kehidupan kita sesuai dengan pengalaman kita akan belas kasih serta kuat-kuasa Allah. Kita akan mengingat, bahwa seperti perempuan yang kedapatan sedang berzinah itu, kita pun pantas untuk menerima hukuman namun Tuhan Yesus memberikan kepada kita belas kasih dan kehidupan.

DOA: Tuhan Yesus, aku tidak akan mampu memahami kedalaman kasih-Mu kepadaku. Rahmat-Mu sungguh mengagumkan hatiku dan sungguh membuat daku merendahkan hati tanpa dapat dijelaskan dengan kata-kata. Terimalah ucapan syukurku, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil (Yoh 8:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “PENGAMPUNAN SEJATI” (bacaan tanggal 23-3-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-03 BACAAN HARIAN MARET 2015. 

Bacalah juga tulisan-tulisan yang berjudul “AKU PUN TIDAK MENGHUKUM ENGKAU” (bacaan tanggal 17-3-13) dan “MULAI SEKARANG, JANGAN BERBUAT DOSA LAGI” (bacaan tanggal 18-3-13), keduanya dalam situs PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 23-1-10 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  18 Maret 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

 

SEPERTI BIJI GANDUM YANG JATUH KE DALAM TANAH, MATI DAN MENGHASILKAN BANYAK BUAH

SEPERTI BIJI GANDUM YANG JATUH KE DALAM TANAH, MATI DAN MENGHASILKAN BANYAK BUAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PRAPASKAH V [Tahun B], 22 Maret 2015) 

GEMBALA YANG BAIK - 15Di antara mereka yang berangkat untuk beribadah pada hari raya itu, terdapat beberapa orang Yunani. Orang-orang itu pergi kepada Filipus, yang berasal dari Betsaida di Galilea, lalu berkata kepadanya, “Tuan, kami ingin bertemu dengan Yesus.” Filipus pergi memberitahukannya kepada Andreas; lalu Andreas dan Filipus menyampaikannya kepada Yesus. Kata Yesus kepada mereka, “Telah tiba saat Anak Manusia dimuliakan. Sesungguhnya Aku berkata berkata kepadamu: Jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. Siapa saja yang mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi siapa saja yang membenci nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal. Siapa saja yang melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada. Siapa saja yang melayani Aku, ia akan dihormati Bapa. Sekarang jiwa-Ku terharu dan apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini. Bapa, muliakanlah nama-Mu!” Lalu terdengarlah suara dari surga, “Aku telah memuliakannya, dan Aku akan memuliakannya lagi!” Orang banyak yang berdiri di situ dan mendengarkannya berkata bahwa itu bunyi guntur. Ada pula yang berkata, “Seorang malaikat telah berbicara dengan Dia.” Jawab Yesus, “Suara itu telah terdengar bukan oleh karena Aku, melainkan oleh karena kamu. Sekarang berlangsung penghakiman atas dunia ini: Sekarang juga penguasa dunia ini akan dilemparkan ke luar; dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku.” Ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana caranya Ia akan mati.  (Yoh 12:20-33) 

Bacaan Pertama: Yer 31:31-34; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-4,12-15; Bacaan Kedua: Ibr 5:7-9

“Jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah” (Yoh 12:24).

Yesus memilih untuk mati di kayu salib agar supaya kita dapat hidup. Ini adalah hakekat terdalam pesan Injil. Ia adalah sang “biji gandum” yang jatuh ke dalam tanah dan mati, yang menhasilkan banyak buah. Sekarang, kita yang telah dibaptis ke dalam kematian dan kebangkitan-Nya dipanggil untuk menyerahkan hidup kita kepada-Nya – untuk mati terhadap hidup kedosaan – agar supaya kita pun banyak menghasilkan buah.

Pemikiran tentang mati seperti sebutir biji gandum terkadang dapat menjadi menakutkan. Kita takut terhadap “biaya kemuridan/pemuridan” (cost of discipleship). Bahkan Yesus, Putera Bapa sendiri, “Sekarang jiwa-Ku terharu dan apakah yang akan Kukatakan?” (Yoh 12:27 LAI-TB II). Beberapa contoh terjemahan bahasa Inggrisnya adalah: “Now is My soul troubled. And what shall I say?” (RSV); “My soul is troubled now, yet what should I say?” (NAB); “Now My heart is troubled – and what shall I say?” (TEV); “Now My soul is troubled. What I shall I say?” (NJB). Jadi, jiwa Yesus lebih daripada sekadar “terharu” (mungkin kata “galau” atau “merasa susah” lebih tepat), dan ini dikatakan-Nya tidak lama sebelum mengalami sengsara di taman Getsemani. Namun demikian, Yesus mengetahui sekali bahwa kematian dan kebangkitan-Nya akan mampu menarik banyak orang ke dalam kerajaan Bapa-Nya (lihat Yoh 12:32).

Penulis “Surat kepada Orang Ibrani” mengungkapkan pergumulan Yesus dengan  mengatakan: “Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis and air mata kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan. Sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar taat dari apa yang telah diderita-Nya dan sesudah Ia disempurnakan, Ia menjadi sumber keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya” (Ibr 5:7-9).

Ini adalah buah dari penyaliban Yesus, “saat” untuk mana Dia telah datang. Oleh kematian-Nya, Yesus membatalkan hutang dosa kita dan memenangkan kehidupan kekal bagi kita. Allah Bapa menunjukkan kedalaman kasih-Nya bagi kita dalam hasrat-Nya untuk membuat suatu perjanjian baru dengan kita, suatu perjanjian yang ditulis dalam hati kita (lihat Yer 31:33). Tidak seperti perjanjian yang lama, yang dipatahkan oleh orang-orang Israel, perjanjian baru ini tidak dapat dipatahkan karena memang tidak tergantung pada kelemahan hati manusia. Perjanjian yang baru adalah berdasarkan pada kuat-kuasa Roh Kudus, yang akan memberikan rahmat kepada siapa saja yang berbalik kepada-Nya dengan rendah hati dan penuh kepercayaan.

DOA: Tuhan Yesus, oleh Roh Kudus-Mu, mampukanlah kami mengatasi rasa takut kami akan kematian. Seperti sebutir biji gandum, mampukanlah kami untuk mati terhadap diri kami sendiri, sehingga dengan demikian kami dapat menghasilkan banyak buah bagi-Mu selagi kami membangun kerajaan-Mu di atas muka bumi ini.  Seperti Engkau memuliakan Bapa-Mu oleh ketaatan-Mu pada kehendak-Nya, semoga kehendak kami untuk taat kepada-Nya dapat membawa kemuliaan dan kehormatan bagi-Nya. Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Yoh 12:20-33), bacalah tulisan dengan judul “ASAL KITA MAU MATI TERHADAP DIRI KITA SENDIRI” (tulisan  tanggal 22-3-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-03 BACAAN HARIAN MARET 2015. 

Cilandak, 18 Maret 2015

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 87 other followers