IMAN YANG MENYELAMATKAN

IMAN YANG MENYELAMATKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIII – Senin, 18 November 2013)

Keluarga OSCap., (Ordo II/Klaris): Peringatan B. Salomea, Perawan 

Bartimaeus'_sight_restored_7-109Waktu Yesus hampir tiba di Yerikho, ada seorang buta yang duduk di pinggir jalan dan mengemis. Mendengar orang banyak lewat, ia bertanya, “Apa itu?” Kata orang kepadanya, “Yesus orang Nazaret lewat.” Lalu ia berseru, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Mereka yang berjalan di depan menegur dia supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru, “Anak Daud, kasihanilah aku!” Lalu Yesus berhenti dan menyuruh membawa orang itu kepada-Nya. Ketika ia telah berada di dekat-Nya, Yesus bertanya kepadanya, “Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Jawab orang itu, “Tuhan, supaya aku dapat melihat!” Lalu kata Yesus kepadanya, “Melihatlah sekarang, imanmu telah menyelamatkan engkau!” Seketika itu juga ia dapat melihat, lalu mengikuti Dia sambil memuliakan Allah, Melihat hal itu, seluruh rakyat memuji-muji Allah. (Luk 18:35-43)

Bacaan Pertama: 1Mak 1:10-15,41-43,54-57,62-64; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:53,61,134,150,155,158 

Lukas merencanakan Injilnya seperti sebuah perjalanan menuju Yerusalem, kota suci di mana pengorbanan Yesus dan pemuliaan-Nya akan berlangsung. Dari kota inilah Kabar Baik Yesus akan menyebar ke seluruh dunia.

Kita tidak pernah boleh lupa bahwa perjalanan Yesus ke Yerusalem ini bertepatan dengan musim hari raya Paskah: banyak orang berjalan bersama dengan Yesus, para peziarah yang akan merayakan pesta “pembebasan Israel” itu. Malam terakhir untuk berhenti adalah di Yerikho sebuah kota yang jaraknya hanya 20 km dari Yerusalem. Di Yerikho inilah Yesus membuat dua mukjizat, yaitu mencelikkan mata seorang buta (Mrk 18:35-43) dan mempertobatkan seorang kepala pemungut cukai (Mrk 19:1-10).

Waktu Yesus hampir tiba di Yerikho, ada seorang buta yang duduk di pinggir jalan dan mengemis. Cerita selanjutnya anda dapat membacanya sendiri. Sebuah peristiwa yang kelihatan terjadi secara kebetulan, namun peristiwa ini terjadi setelah Yesus mengumumkan sengsara-Nya untuk ketiga kalinya (Luk 18:31-34). Di situ Lukas mencatat dengan cukup tegas: “Akan tetapi, mereka sama sekali tidak mengerti semuanya itu; arti perkataan itu tersembunyi8 bagi mereka dan mereka tidak tahu apa yang dimaksudkan” (Luk 18:34)

Kita juga seperti orang buta yang duduk di pinggir jalan itu. Seperti para murid-Nya, kita “tidak mampu melihat”. Jadi, apabila kita mau memahami benar signifikansi dari “perjalanan ke Yerusalem” ini, maka Tuhan Yesus sendirilah yang harus memberikan kepada kita “mata yang baru”. Seperti si buta di Yerikho, kita pun dapat berseru: “Tuhan berikanlah iman kepada kami … cabutlah selaput di mataku yang menghalang-halangi kami memperoleh penglihatan-Mu atas peristiwa yang terjadi dan segala sesuatu lainnya.

Jesus_109Orang buta itu mendengar para peziarah menyanyikan “Nyanyian Ziarah” (Mzm 120-134) sesuai kebiasaan yang berlaku pada waktu itu. Ia bertanya, “Apa itu?”, artinya orang buta itu yang mengambil inisiatif. Mereka menjawab pertanyaannya: “Yesus orang Nazaret lewat”. Kata-kata sederhana “Yesus orang Nazaret” jarang dipakai para penulis Injil lain, namun Lukas menggunakannya sebanyak 8 kali dalam “Kisah para Rasul”.

Orang buta itu tidak menggunakan nama Yesus yang baru didengarnya, tetapi menggunakan nama “Yesus, Anak Daud” ketika dia berseru minta tolong kepada Yesus. “Anak Daud” adalah gelar mesianis yang diumumkan kepada Maria pada hari Yedus diperkandung oleh Roh Kudus: “Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapak leluhur-Nya” (Luk 1:31-32). Dengan demikian, kita dapat mengatakan bahwa seruan si orang buta itu adalah sebuah “Pernyataan Iman”. Banyak orang telah menyaksikan karya Yesus namun tetap buta sehubungan dengan identitas sesungguhnya dari Yesus. Sang Mesias yang diumumkan oleh nabi Yesaya adalah Dia yang membuat “mata orang-orang buta dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka” (Yes 35:5, Luk 4:18).

Yesus berhenti dan menyuruh membawa orang buta itu kepada-Nya. Nyatalah bahwa sekarang Yesus menerima gelar kerajaan yang sebelum itu dilarang-Nya untuk digunakan (Mat 9:30). Mengapa begitu? Karena sengsara dan kematian-Nya sudah dekat … sudah di depan mata! Segala aspirasi politik dan nasionalisme yang ingin dihubungkan dengan diri Yesus oleh orang-orang di sekeliling-Nya jelas tidak diinginkan-Nya. Dia sedang berada dalam perjalan ke Yerusalem, bukan untuk merebut kekuasaan, melainkan untuk mati bagi kita semua.

Setelah mendengar permintaan si orang buta itu, kalimat terakhir dari Yesus dalam episode ini adalah: “Melihatlah sekarang, imanmu telah menyelamatkan engkau!” (Luk 18:42). Lukas mencatat: “Seketika itu juga ia dapat melihat, lalu mengikuti Dia sambil memuliakan Allah. Melihat hal itu, seluruh rakyat memuji-muji Allah”. Jadi, tidak seperti cerita orang kaya yang “gagal” menjadi pengikut Yesus karena banyak hartanya (lihat Luk 18:18-27), maka cerita si buta ini diakhiri dengan sebuah “happy ending”. 

DOA: Tuhan Yesus, berikanlah kepadaku iman dan celikkanlah mataku juga sehingga – seperti orang buta di Yerikho – aku pun dapat mengikuti Engkau …… ke Salib! …… dan kepada Paskah kebangkitan-Mu. Terpujilah nama-Mu selalu! Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 18:35-43), bacalah tulisan yang berjudul “IMANMU TELAH MENYELAMATKAN ENGKAU!” (bacaan tanggal 18-11-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2013. 

Bacalah juga tulisan yang berjudul “YESUS MENYEMBUHKAN  SEORANG BUTA DEKAT YERIKHO” (bacaan tanggal 14-11-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 19-11-12 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  14 November 2013 [Peringatan S. Nikolaus Tavelik, Imam dkk.-Martir] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEKITAR KEDATANGAN YESUS UNTUK KEDUA KALINYA

SEKITAR KEDATANGAN YESUS UNTUK KEDUA KALINYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXXIII – 17 November 2013)

Hari Raya S. Elisabet dari Hungaria, Pelindung Ordo Fransiskan Sekular 

jesus16_Top

Ketika beberapa orang berbicara tentang Bait Allah, betapa bangunan itu dihiasi dengan batu yang indah-indah dan dengan berbagai-bagai barang persembahan, berkatalah Yesus, “Apa yang kamu lihat di situ – akan datang harinya ketika tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan.”

Lalu mereka bertanya kepada Yesus, “Guru, kapan itu akan terjadi? Apa tandanya, kalau itu akan terjadi?” Jawab-Nya, “Waspadalah, supaya kamu jangan disesatkan. Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: ‘Akulah Dia,’ dan: ‘Saatnya sudah dekat.’ Janganlah kamu mengikuti mereka. Apabila kamu mendengar tentang peperangan dan pemberontakan, janganlah kamu takut. Sebab semuanya itu harus terjadi dahulu, tetapi itu tidak berarti kesudahannya akan datang segera.”

Ia berkata kepada mereka, “Bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan, dan akan terjadi gempa bumi yang dahyat dan di berbagai tempat akan ada penyakit sampar dan kelaparan dan akan terjadi juga hal-hal yang menakutkan dan tanda-tanda yang dahsyat dari langit. Tetapi sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku. Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi. Sebab itu tetapkanlah di dalam hatimu, supaya kamu jangan memikirkan lebih dahulu pembelaanmu. Sebab Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawanmu. Kamu akan diserahkan juga oleh orang tuamu, saudara-saudaramu, kaum keluargamu dan sahabat-sahabatmu dan beberapa orang di antara kamu akan dibunuh dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku. Tetapi tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang. Kalau tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu.”  (Luk 21:5-19)

Bacaan Pertama: Mal 4:1-2a; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:5-9; Bacaan Kedua: 2Tes 3:7-12. 

KEDATANGANNYA UNTUK KEDUA KALINYA - 4Kedatangan Yesus untuk kedua kalinya tidak akan terjadi dalam satu hari, lalu selesai. Konflik antara kerajaan terang dan kerajaan gelap akan terus berlangsung sampai pertempuran terakhir. Kuasa terang dan gelap begitu berlawanan/bertentangan satu sama lain, sehingga pertempuran akan berlangsung terus sampai semuanya yang kita ketahui dibalikkan.

Semuanya, kecuali Allah kita yang mengasihi. Dia tetap sama, Dia yang menciptakan kita karena kasih dan Dia yng senantiasa mengasihi kita. Kesabaran-Nya tidak akan berakhir. Dalam Kristus, Allah menyatakan kesabaran-Nya. Dia selalu baik hati, berbela rasa dan lembah lembut. Allah juga tidak pernah mangkir dalam memelihara dan merawat dunia, apalagi membiarkan dunia ini – cepat atau lambat – untuk mengalami kehancuran sendiri. Dengan sabar Ia menunggu, “karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat” (2Ptr 3:9).

Setiap kali kita merenungkan kedatangan Yesus untuk kedua kalinya, maka kita mempunyai dua pilihan. Pertama, kita dapat menjadi takut dan diliputi rasa cemas. Kedua, kita akan mengingat satu kebenaran, bahwa Allah adalah pengendali segalanya. Dalam Kristus kita aman dan terjamin. Yesus bersabda: “Tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang. Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu” (Luk 21:18-19). Kita mengenal Dia – Yesus yang karena kasih-Nya sampai mati di kayu salib untuk kita. Dia adalah Tuhan dan Juruselamat kita. Dia mampu menjaga kita sampai Dia datang kembali untuk kedua kalinya (lihat Mat 28:20). Dengan demikian kita menaruh kepercayaan dan harapan kita dalam diri-Nya. Kita bahkan tidak perlu merasa khawatir bagaimana membela diri kita, karena Yesus akan memberikan  kepada kita hikmat  guna menanggapi “serangan-serangan” dari para lawan kita. Dalam Kristus, melalui iman dan ketaatan, kita tidak akan ditinggalkan sendirian. Oleh karena itu marilah kita mengangkat hati kita kepada Tuhan dan mempercayakan segalanya – selalu dan sepanjang masa – ke dalam pemeliharaan-Nya yang penuh kasih.

DOA: Tuhan Yesus, aku percaya bahwa kasih-Mu dan pemeliharaan-Mu atas diriku sepanjang masa. Kuatkanlah iman-kepercayaanku dan ketetapan hatiku untuk selalu taat kepada-Mu, sehingga dengan demikian aku dapat dengan sabar menanti-nanti dalam pengharapan sampai hari Engkau datang untuk kedua kalinya. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:5-19), bacalah tulisan yang berjudul “” (bacaan tanggal 17-11-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2013. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-11-10 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 14 November 2013 [Peringatan S. Didakus dr Alkala, Biarawan] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SENANTIASA BERDOA DENGAN PENUH KETEKUNAN

SENANTIASA BERDOA DENGAN PENUH KETEKUNAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa – Sabtu, 16 November 2013) 

HAKIM YANG JAHAT DAN SANG JANDAYesus menyampaikan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan bahwa mereka harus selalu berdoa tanpa jemu-jemu. Kata-Nya, “Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun. Di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku. Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun, namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku.” Kata Tuhan, “Perhatikanlah apa yang dikatakan hakim yang tidak adil itu! Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Apakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, apakah Ia akan mendapati iman di bumi?” (Luk 18:1-8)

Bacaan Pertama: Keb 18:14-16,19:6-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:2-3,36-37,42-43 

Apakah pandangan anda tentang Allah? Apakah anda melihat Dia sebagai seorang hakim yang tidak adil? Apakah anda pikir anda harus membujuk-Nya dulu sebelum Ia benar-benar mau memperhatikan anda? Betapa mudahlah bagi kita untuk menjadi salah paham tentang cara Allah bekerja! Betapa cepatnya kita mengembangkan persepsi-persepsi yang keliru berdasarkan cara kita menafsirkan peristiwa-peristiwa dalam kehidupan kita. Namun kebenaran yang sejati tetap tegak, yaitu bahwa Allah kita adalah Allah yang sangat mengasihi dan adil. Kita dapat mengandalkan Dia untuk memberikan kepada kita apa yang kita butuhkan.

Hakim dalam perumpamaan Yesus dalam bacaan Injil hari ini adalah seorang hakim yang jahat dan tidak mengindahkan moralitas. Menurut Hukum Yahudi (Ul 24:17-22), si janda mempunyai hak untuk memohon pertolongan dari hakim tersebut. Pada kenyataannya, hakim itu harus memberikan prioritas atas permintaan si janda. Namun, sebaliknyalah yang terjadi: Bapak Hakim itu menolak terus permintaan si janda agar hak-haknya dibela olehnya sebagai hakim demi keadilan. Tetapi si janda tidak berputus asa dan ia terus mendatangi Pak Hakim dengan permintaan yang sama, sehingga pada akhirnya pun Pak Hakim membenarkan/meluluskan permintaan si janda.

Berlawanan dengan sikap si hakim yang jahat itu, Allah kita itu mahaadil, mahasetia dan mahapengasih. Ada kemungkinan kita tidak memperoleh jawaban yang langsung atau instan terhadap doa-doa kita, namun kita tidak perlu khawatir dan putus-asa. Ada saat-saat di mana Allah menunda jawaban-Nya terhadap doa kita agar dapat mengajar kita bagaimana menaruh kepercayaan kepada-Nya. Ada kalanya juga jawaban yang kita pikir sebagai jawaban terbaik sebenarnya dapat menyakiti diri kita.

GOD THE FATHER - 01Memang tidak mudahlah untuk mempercayakan segala urusan kita kepada Allah. Kita tidak dapat mengharapkan untuk memahami mengapa dan bagaimana Allah memilih untuk menjawab doa-doa kita – karena kita tidak mengetahui tujuan-tujuan ilahi-Nya. Akan tetapi, kita dapat berpaling kepada Yesus dan memohon kepada-Nya agar menunjukkan cara/jalan untuk menaruh kepercayaan dan jalan ketaatan. Yesus sepenuhnya mempasrahkan hidup-Nya kepada Allah Bapa. Bahkan di tengah penderitaan fisik, emosional dan spiritual, Yesus dengan setia dan taat merangkul kehendak Bapa-Nya. Di taman Getsemani Yesus berdoa kepada Bapa-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau berkenan, ambillah cawan ini dari hadapan-Ku; tetapi jangan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang jadi” (Luk 22:42). Paulus menulis tentang perendahan diri Yesus dan ketaatan-Nya kepada Bapa surgawi sampai mati di kayu salib. Sebagai akibatnya, Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku, “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemulian Allah, Bapa! (Flp 2:6-11).

Kita semua dapat mengenal dan mengalami kasih Allah seperti Yesus. Oleh karena itu, marilah kita senantiasa berdoa dengan penuh ketekunan dan menanti untuk melihat bagaimana Allah akan menanggapi doa-doa kita dalam kasih. Allah sungguh mengasihi kita. Apabila ada sesuatu yang tidak bekerja seperti kita rencanakan, janganlah kita cepat-cepat merasa putus-asa atau mulai menggerutu, bahkan menyalahkan Allah. Marilah kita merenungkan teladan hidup Yesus sendiri  dan menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada Allah. Allah Bapa mempunyai pemikiran terbaik bagi Yesus dan tentu Ia juga mempunyai pemikiran yang terbaik bagi kita – walaupun dalam sikon-sikon paling sulit yang kita hadapi dalam kehidupan ini. Sudah sepantasnyalah bagi kita untuk mempercayai Allah dan cara kerja-Nya. Yang jelas kasih-Nya kepada kita akan tetap ada, karena Allah adalah kasih (1Yoh 4:8,16).

DOA: Bapa surgawi, ampunilah kami apabila kami kadang-kadang berpikir bahwa Engkau telah berlaku tidak adil terhadap kami dan tidak mengasihi kami. Kami ini lemah dan tidak mampu memahami cara-cara atau jalan-jalan-Mu, ya Bapa. Tolonglah kami dalam kelemahan kami ini dan kuatkanlah kami selagi kami bertekun dalam doa kepada-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Keb 18:14-16,19:6-9), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH YANG MEMBEBASKAN ANAK-ANAK-NYA” (bacaan tanggal 16-11-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2013. 

Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 18:1-8), bacalah juga tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG HAKIM YANG TIDAK ADIL” (bacaan tanggal 12-11-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 17-11-12 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 12 November 2013 [Peringatan S. Yosafat, Uskup-Martir] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

APABILA YESUS DATANG KEMBALI KE DUNIA

APABILA YESUS DATANG KEMBALI KE DUNIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXII – Jumat, 15 November 2013) 

The-End-of-The-Spring-Wallpaper-1024x640

Sama seperti yang terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia: Mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai pada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua. Demikian juga seperti yang terjadi di zaman Lot: mereka makan dan minum, mereka berjual beli, mereka menanam dan membangun. Tetapi pada hari Lot pergi keluar dari Sodom turunlah hujan api dan hujan belerang dari langit dan membinasakan mereka semua. Demikianlah halnya kelak pada hari Anak Manusia dinyatakan. Siapa saja yang pada hari itu sedang berada di atas rumah dan barang-barangnya ada di dalam rumah, janganlah ia turun untuk mengambilnya, dan demikian juga orang yang sedang di ladang, janganlah ia kembali. Ingatlah akan istri Lot! Siapa saja yang berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan siapa saja yang kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya. Aku berkata kepadamu: Pada malam itu ada dua orang di atas tempat tidur, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Ada dua orang perempuan bersama-sama menggiling gandum, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.” (Kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.) Kata mereka kepada Yesus, “Di mana, Tuhan?” Kata-Nya kepada mereka, “Di mana ada mayat, di situ berkerumun burung-burung nasar.” (Luk 17:26-37)

Bacaan Pertama: Keb 13:1-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:2-5 

Sungguh tidak mudah untuk memahami kasih Allah bagi kita seperti halnya dalam sejumlah sabda Yesus, teristimewa ketika Dia berbicara mengenai kedatangan-Nya untuk kedua kali. Bahkan barangkali kita memandang kedatangan Kerajaan Allah sebagai saat-saat sulit-menakutkan, ketika keselamatan kita berada di luar jangkauan dan “burung-burung nasar” sudah berterbangan di langit. Namun ini bukanlah gambaran yang Yesus inginkan kita ambil dari bacaan ini. Yesus datang untuk memberikan hidup berkelimpahan kepada kita: “Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dengan berlimpah-limpah” (Yoh 10:10). Yesus tidak datang untuk memberi keselamatan kepada kita yang kita sendiri tidak mampu untuk mencapainya.

Sebagai umat Kristiani, kita telah diangkat dari kematian dan dibawa ke dalam kehidupan oleh  belas kasih (kerahiman) Allah dan cintakasih-Nya. Kita sudah diselamatkan. Sebelum kita menerima Yesus ke dalam hati kita, sesungguhnya kita tidak ubahnya seperti domba tanpa gembala – hilang di hutan belantara, mangsa yang empuk bagi musuh-musuh kita. Namun hal tersebut tidak lagi begitu. Kita adalah anak-anak Allah. Masing-masing kita adalah bait Roh Kudus. Dan …… posisi kita dalam Kristus sudah terjamin!

KRISTUS RAJA - 55Jadi, daripada terus-menerus dirundung rasa khawatir dan takut, kita seharusnya dipenuhi dengan sukacita! Kita telah dibawa dekat kepada Allah oleh darah Kristus. Dengan hidup dalam Roh-Nya, kita dapat berjalan dalam terang kasih-Nya dan mengenal serta mengalami kebebasan yang semakin meningkat, …… kebebasan dari dosa dan keterikatan. Kita tidak perlu lagi merasa khawatir dan takut akan hidup kita. Sebaliknya, kita harus merasa khawatir dan takut bagi mereka yang belum percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat – mereka yang hilang di tengah hutan belantara dosa dan ketidakpedulian.

Kita sudah merangkul keselamatan yang diberikan oleh-Nya dan hidup dalam ketaatan dan kasih akan Allah. Oleh karena itu kita dapat bertindak seturut “Amanat Agung” yang diberikan oleh Yesus Kristus sebelum Ia diangkat ke surga (lihat Mat 28:19-20), yaitu menyebarkan Kabar Baik-Nya dalam kata-kata maupun perbuatan/tindakan kita. Kita dapat menjadi seorang pewarta Kabar Baik yang memberi kesaksian atas kasih dan kerahiman Allah. Dalam nama Yesus kita dapat mengundang mereka ke dalam Kerajaan Allah.

Dengan demikian, marilah kita singkirkan segala kekhawatiran dan keraguan kita. Diri kita dapat dipenuhi dengan kuat-kuasa Roh Kudus. Marilah kita menyiapkan diri untuk menyambut kedatangan Yesus Kristus untuk kedua kalinya pada akhir zaman. Bagaimana? Dengan setiap hari hidup dalam keakraban dengan Yesus. Persenjatailah diri anda dengan doa-doa syafaat bagi orang-orang yang tidak/belum percaya kepada Yesus. Mulailah dengan mereka yang anda sudah kenal: para anggota keluarga yang bukan Kristiani, para teman dan sahabat serta kenalan-kenalan lainnya. Baiklah anda melangkah dalam iman, dengan penuh keyakinan bahwa Allah sesungguhnya ingin menyelamatkan setiap orang di atas bumi ini.

Semoga kesaksian kita atas kuat-kuasa Injil akan menarik banyak orang kepada Allah yang adalah kasih, sehingga dengan demikian tidak ada lagi kesempatan bagi “burung-burung nasar” untuk ramai-ramai berkerumun dan memangsa pada saat Tuhan Yesus datang kembali kelak!

DOA: Tuhan Yesus, kami rindu untuk mengenal Engkau lebih dalam lagi. Penuhilah hati kami dan perkenankanlah kami masing-masing mendengar suara-Mu, agar dapat menjadi berkat bagi orang-orang lain. Perkenankanlah kami, para murid-Mu, melihat Engkau datang dalam kemuliaan pada akhir zaman, saat di mana kegelapan pada akhirnya akan disingkirkan dari tengah-tengah kami. Dimuliakanlah nama-Mu senantiasa. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Keb 13:1-9), bacalah tulisan yang berjudul “MENEMUKAN PENGUASA KESEMUANYA ITU” (bacaan tanggal 15-11-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2013. 

Bacalah juga tulisan yang berjudul “KEDATANGAN ANAK MANUSIA PADA AKHIR ZAMAN” (bacaan tanggal 13-11-09) dalam situs/blog SANG SABDA. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 16-11-12 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 12 November 2013 [Peringatan S. Yosafat, Uskup-Martir] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KERAJAAN ALLAH ADA DI ANTARA KAMU

KERAJAAN ALLAH ADA DI ANTARA KAMU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXII – Kamis, 14 November 2013)

Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Nikolaus Tavelic, Imam dkk.-Martir 

YESUS SEORANG PEMIMPIN YANG TEGASKetika ditanya oleh orang-orang Farisi kapan Kerajaan Allah akan datang, Yesus menjawab, “Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu.”

Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Akan datang waktunya kamu ingin melihat satu dari hari-hari Anak Manusia itu dan kamu tidak akan melihatnya. Orang akan berkata kepadamu: Lihat, ia ada di sana; lihat, ia ada di sini! Jangan kamu pergi ke situ, jangan kamu ikut. Sebab sama seperti kilat memancar dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain, demikian pulalah kelak halnya Anak Manusia pada hari kedatangan-Nya. Tetapi Ia harus menanggung banyak penderitaan dahulu dan ditolak oleh orang-orang zaman ini. (Luk 17:20-25)

Bacaan Pertama: Keb 7:22-8:1; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:89-90,130,135,175 

Yesus sungguh ingin kita mengetahui bahwa Dia adalah Tuhan dan bahwa Kerajaan-Nya ada di sini, ada di antara kita; bahwa Kabar Baik-Nya adalah sekarang. Ia mengatakan kepada orang-orang Farisi yang bersikap skeptis dan tidak percaya, “… sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu” (Luk 17:21).

Susahnya dengan orang-orang Farisi, dan dengan kita juga, adalah mengenalinya, mata kita dibutakan oleh terlalu banyak urusan lain. Orang-orang Farisi dibutakan oleh “legalisme” mereka. Kita dibutakan oleh semua jenis pertimbangan duniawi.

Yesus mengatakan bahwa Kerajaan Allah ada di antara kita. Jelas tidak begitu, bukan? Begitu banyak penderitaan, begitu banyak penindasan dan kekerasan yang kita lihat setiap hari, bukan? Di sisi lain, begitu sedikit cinta kasih yang ada di sekeliling kita.  Apakah Kerajaan Allah cocok (Inggris: compatible) dengan semua penderitaan, kebencian, kemarahan, kekerasan, ketiadaan damai yang kita lihat terus saja berlangsung di sekeliling kita? Tentu saja tidak! Namun ada satu jawaban terhadap segala keburukan yang disebutkan tadi. Kerajaan Allah tidak dipaksakan atas diri siapa saja. Yesus sebagai Tuhan bukanlah seorang diktator, bukan seorang tyrant. Ia tidak akan mengganggu kebebasan kita.

Akan tetapi, apabila kita memperkenankan Dia sebagai Tuhan, kalau kita memperkenankan-pemerintahan-Nya, kerajaan-Nya, mengatur hidup kita, maka damai sejahtera-Nya, kasih-Nya, sukacita-Nya dan segala buah Roh Kudus akan datang ke dalam kehidupan kita.

Apabila semua orang dan semua bangsa mau menerima pemerintahan Allah, menerima kenyataan bahwa Yesus adalah Tuhan atas segalanya, maka kejahatan-kejahatan yang begitu tidak cocok dengan Kerajaan Allah – kemiskinan, penindasan, kekerasan, ketiadaan damai antara bangsa-bangsa, kebencian – semua ini akan menghilang. Paling sedikit semua hal itu akan banyak berkurang dan kita pun akan mampu mengenali pemerintahan Allah di tengah-tengah kita.

Jadi, di mana harus kita mulai? Pertama-tama kita harus mengingat bahwa bangsa-bangsa terdiri dari orang-orang, manusia! Dengan demikian kita harus mulai dengan diri kita sendiri. Hari demi hari kita harus mencoba untuk hidup bersama Yesus sebagai Tuhan. Kehendak-Nya harus menjadi faktor paling penting dalam semua keputusan kita. Maka kita akan melakukan bagian kita untuk membuat pemerintahan Allah menjadi kelihatan.

DOA: Tuhan Yesus, kami sungguh menginginkan agar Engkau menjadi Tuhan dalam hidup kami, sehingga dengan demikian kami dapat menjadi tanda-tanda kecil dari Kerajaan-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Keb 7:22-8:1), bacalah tulisan yang berjudul “KEBIJAKSANAAN ADALAH PERNAFASAN KEKUATAN ALLAH” (bacaan tanggal 14-11-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori:13-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2013. 

Bacalah juga tulisan yang berjudul “KEDATANGAN KERAJAAN ALLAH” (bacaan tanggal 10-11-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM; kategori: 11-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2011. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 15-11-12 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 10 November 2013 [HARI MINGGU BIASA XXXII]

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DI MANAKAH YANG SEMBILAN ORANG ITU?

DI MANAKAH YANG SEMBILAN ORANG ITU?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXII – Rabu, 13 November 2013)

Keluarga OFM: Peringatan S. Didakus dr Alkala, Biarawan 

SEORANG KUSTA ORANG SAMARIA

Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. Ketika ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui-Nya. Mereka berdiri agak jauh dan berteriak, “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Lalu Ia memandang mereka dan berkata, “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi sembuh. Salah seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu sujud di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu orang Samaria. Lalu Yesus berkata, “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah sembuh? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain orang asing ini?” Lalu Ia berkata kepada orang itu, “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.” (Luk 17:11-19)

Bacaan Pertama: Keb 6:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 82:3-4,6-7 

Bacaan Injil hari ini merupakan sebuah pelajaran tentang pengucapan syukur. Kelihatannya 9 dari 10 orang kusta yang disembuhkan oleh Yesus tidak mempunyai kebiasaan untuk berterima kasih kepada orang lain. Dari cerita Injil ini kita melihat 10 orang kusta itu baru saja menerima satu dari anugerah terbesar yang pernah diterima oleh mereka masing-masing. Barangkali kita dapat “memaafkan” mereka: “Ah, mereka begitu excited atas kesembuhan mereka yang begitu luarbiasa ajaib, sehingga apa yang dapat mereka pikirkan hanyalah melompat-lompat di atas gerobak sapi yang terdekat sambil ikut pulang ke rumah keluarga masing-masing.”

Reaksi Yesus sangatlah berbeda, dan Ia samasekali tidak berpikir seperti diuraikan di atas. Yesus hanya bertanya, “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah sembuh? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain orang asing ini?” (Luk 17:17).

Bagaimana dengan diri kita sendiri? Apakah hanya kalau kita sedang susah saja maka kita berpaling kepada Allah untuk memohon pertolongan-Nya? Apakah kata-kata dalam doa kita kepada-Nya hanya terdiri dari kata-kata permohonan? Lupakah kita bahwa kasih-Nya bagi kita dalam hal-hal “kecil” yang kita alami setiap hari, seperti udara segar, cahaya matahari yang menghangatkan, makanan, para teman dan sahabat, kehidupan itu sendiri?

Kita sebaiknya menyadari bahwa apa yang “hebat” tentang kehidupan kita bukanlah apa yang kita lakukan bagi Allah, melainkan apa yang dilakukan Allah bagi kita. Apabila kita tidak menyadari hal ini, maka tidak mengherankanlah apabila kita luput menikmati kepenuhan sukacita dari rasa syukur. Sesungguhnya Yesus secara pribadi tidak membutuhkan ucapan terima kasih dari 9 orang kusta yang disembuhkan itu. Yesus tetap akan survive tanpa ucapan terima kasih dari mereka. Jadi, ketika Yesus mengungkapkan kesedihan-Nya atas sikap tidak tahu berterima kasih dari 9 orang tersebut, hal itu tidak berarti bahwa Dia bersedih karena tidak ada orang yang menghargai diri-Nya. Yesus sebenarnya merasa sedih dan kasihan kepada mereka, karena mereka adalah para pecundang. Sukacita yang paling besar dari penyembuhan kebutaan mereka sebenarnya adalah terbukanya hati mereka, semakin dalamnya kasih mereka kepada Allah yang telah menyembuhkan mereka.

Jadi, mereka luput memperoleh kesembuhan yang lebih besar dan berkat yang lebih mendalam. Mereka luput memperoleh kedamaian batiniah dan sukacita dari suatu rasa syukur yang sejati.

DOA: Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hatiku, aku mau menceritakan segala perbuatan-Mu yang ajaib; aku mau bersukacita dan bersukaria karena Engkau, bermazmur bagi nama-Mu, ya Mahatinggi (Mzm 9:2-3). Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Keb 6:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “PARA PENGUASA HARUS MENGEJAR HIKMAT-KEBIJAKSANAAN” (bacaan tanggal 13-11-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2013. 

Untuk mendalami Bacaan Injil (Luk 17:11-19), bacalah juga tulisan yang berjudul “SEPULUH ORANG KUSTA” (bacaan tanggal 11-11-09) dalam situs/blog SANG SABDA. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-11-12 dalam situs/blog SANG SABDA 

Cilandak, 9 November 2013 [Pesta Pemberkatan Gereja Basilika Lateran] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

“MUSIK” PELAYANAN

“MUSIK” PELAYANAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Yosafat, Uskup-Martir – Selasa, 12 November 2013) 

A GIRL PLAYING PIANO“Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan! Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Sesudah itu engkau boleh makan dan minum. Apakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan. (Luk 17:7-10)

Bacaan Pertama: Keb 2:23-3:9; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-3,16-19 

Seorang ibu bercerita mengenai pengalamannya berkaitan dengan musik. Sebagai seorang gadis yang masih sangat muda usia, perempuan ini harus berjuang dengan pelajaran pianonya. Baginya penting untuk memainkan nada-nada lagu presis sama seperti tertulis dan untuk mengikuti semua nuansa yang diberikan dalam notasi-notasi. Kesalahan-kesalahan dirasakan olehnya sebagai kegagalan pribadi. Menyadari siapa dirinya, perempuan itu hanya bermain piano secara privat, kecuali kalau diminta untuk resital/pertunjukan.

Pengalaman yang “menyakitkan” dengan piano ini datang kembali ketika anak perempuannya mulai belajar piano juga. Namun tidak seperti sang ibu, puterinya itu maju dengan pesat dalam pelajaran pianonya. Perempuan itu mengatakan, bahwa tidak susah baginya untuk melihat mengapa. Cinta anak perempuannya itu pada musik datang dari kedalaman hatinya, dan walaupun setia dengan komposisi sebuah lagu, anak ini mempunyai bakat untuk memperkenankan musiknya mengalir melalui dirinya. “Hasilnya sungguh jauh lebih manis daripada apapun yang pernah kuhasilkan dengan penuh ketaatan pada setiap nada dan instruksi pada setiap lembaran lagu”, ujar sang ibu.

Sebagai para hamba/pelayan Tuhan, kita diundang untuk bermain “musik” juga – “musik pelayanan penuh kasih bagi orang-orang di sekeliling kita”. Apabila kita melaksanakan tugas-tugas kita hanya berdasarkan kewajiban, maka efeknya dapat seperti sesuatu yang dipaksakan dan tanpa roh. Sebaliknya, apabila kita menyerahkan diri kita sepenuhnya ke dalam tangan-tangan penyelenggaraan Allah dan dipenuhi dengan kasih-Nya, maka Dia akan membebaskan kita dari kesibukan  yang membuat musik kehidupan kita begitu melelahkan. Selagi kita  menyediakan waktu untuk bersama dengan Tuhan dalam doa, maka kehangatan kasih-Nya memperlembut hati kita dan mulai mengalir melalui diri kita.

300A-034-026 - MOTHER TERESA HELPING THE POORPanggilan kita untuk melayani Allah dan umat-Nya bukanlah seperti musik yang harus kita terus praktekkan agar menjadi sempurna. Sebaliknya, kita belajar bagaimana melayani tanpa mengingat kepentingan kita sendiri dengan sekadar melakukannya, yaitu dengan melakukan pelayanan tanpa pamrih itu. Melodinya menjadi lebih baik setiap kali kita menolong keluarga kita, secara bijaksana bekerja sebagai pembawa damai dalam lingkungan di mana kita hidup, atau dengan sabar mendengarkan curhat dari seorang sahabat yang membutuhkan bantuan, dlsb. Apabila kita mendekat pada kasih Tuhan yang begitu menyegarkan, maka pelayanan kita pun akan jauh lebih baik daripada apa saja yang kita lakukan karena melihatnya sebagai sekadar tugas.

Kita semua adalah para musisi yang sebenarnya tak pantas untuk memainkan madah kasih dari Allah. Namun apabila kita menjaga keseimbangan antar doa dan pelayanan dalam hidup kita, maka Dia akan mentransformasikan cara kita yang lemah/buruk dalam membawakan lagu-Nya menjadi sebuah lagu yang membawa sukacita-Nya ke tengah dunia.

DOA: Yesus, Engkau adalah hamba yang taat dari Bapa surgawi melalui kasih yang sempurna. Tolonglah kami agar dapat mengenal kasih-Mu dalam doa-doa kami dan dalam tindakan-tindakan kami. Jadikanlah hati kami seperti hati-Mu, sehingga dengan demikian lewat diri kami orang-orang lain dapat mengenal kasih-Mu juga. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Keb 2:23-3:9), bacalah tulisan yang berjudul “HIDUP YANG MERANGKUL SALIB KRISTUS” (bacaan tanggal 12-11-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2013. 

Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 17:7-10), bacalah tulisan yang berjudul “TUAN DAN HAMBA” (bacaan tanggal 13-11-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-11-12 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 9 November 2013 [Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran]

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 72 other followers