YESUS MENAWARKAN HIDUP BARU KEPADA SETIAP ORANG

YESUS MENAWARKAN HIDUP BARU KEPADA SETIAP ORANG

 (Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XIII [Tahun C] – 26 Juni 2016)  

c3606b07eb3e0f92bb5bfe8287005989

Ketika hampir tiba waktunya Yesus diangkat ke surga, Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem, dan Ia mengirim beberapa utusan mendahului Dia. Mereka itu pergi, lalu masuk ke suatu desa orang Samaria untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi-Nya. Tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem. Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata, “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?” Akan tetapi, Ia berpaling dan menegur mereka. Lalu mereka pergi ke desa yang lain.

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan mereka, berkatalah seseorang di tengah jalan kepada Yesus, “Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Yesus berkata kepadanya, “Rubah mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Lalu Ia berkata kepada seorang yang lain, “Ikutlah Aku!”  Tetapi orang itu berkata, “Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapakku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana.” Lalu seorang yang lain lagi berkata, “Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” (Luk 9:51-62)

Bacaan Pertama: 1Raj 19:16b,19-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 16:1-2,5,7-11; Bacaan Kedua: Gal 5:1,13-18 

Yesus “mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem”  (Luk 9:51)! Yesus tahu jalan ke sana akan menyakiti, namun Dia juga tahu bahwa Dia akan pulang dan akan membuka rumah-Nya bagi kita semua, para murid-Nya. Ketika Yesus mengarahkan pandangan-Nya ke Yerusalem, Ia tidak hanya melihat kematian dan kebangkitan. Ia juga melihat kenaikan-Nya ke surga dan kita yang bergabung dengan-Nya di sana.

Itulah sebabnya mengapa Yesus menyerukan kepada para murid-Nya untuk meninggalkan segala sesuatu di belakang dan mengikut Dia. Dia ingin membakar hati kita dengan hasrat akan “hadiah panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus” (Flp 3:14). Kita bukanlah sekadar warga dunia ini. “… kewargaan kita terdapat di dalam surga dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia”  (Flp 3:20-21). Dengan surga dalam hati kita, kita pun dapat mengarahkan pandangan kita kepada Allah dengan penuh pengharapan. Yesus tahu bahwa sebagai para murid-Nya yang mengemban misi-Nya, kita menghadapi berbagai macam halangan dalam hidup kita, oleh karena itu Dia ingin membuka mata hati kita terhadap pancaran warisan kekal yang disediakan bagi kita dan membuatnya menjadi kekuatan pendorong di belakang ketetapan hati kita. Allah selalu siap untuk menunjukkan kepada kita bahwa kita sangat berharga di mata-Nya, sudah ditentukan (“ditakdirkan”) untuk mengambil bagian dalam kemuliaan kerajaan-Nya.

Memang perjalanan Yesus ke Yerusalem akan “berakhir” dengan kematian-Nya. Dia selalu mengajarkan kepada para murid, bahwa mengikut Dia melibatkan suatu “biaya” yang sangat besar. Dia menggunakan tiga macam “ibarat” untuk membantu para pendengar-Nya melihat kerajaan Allah dari sudut-pandang yang baru. Pertama-tama Yesus mengatakan: “Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Luk 9:58). Pernyataan Yesus ini janganlah diartikan secara harfiah karena Yesus cukup sering diundang orang-orang berada dan menikmati hospitalitas mereka. Pernyataan Yesus di sini ditujukan kepada sesuatu yang lebih mendalam, yaitu masyarakat manusia (pemerintah dan orang-orang seiman dengan-Nya) yang akan menolak-Nya dan pada akhirnya membunuh Dia. Penggunaan “ibarat” yang kedua adalah ketika Yesus mengatakan: “Biarlah orang mati menguburkan orang mati” (Luk 9:60). Penguburan orang mati merupakan suatu kewajiban sakral dalam agama Yahudi, namun yang dimaksudkan Yesus adalah supaya orang-orang mempertimbangkan hal-hal dari sudut pandang yang berbeda. Yesus tidak bermaksud untuk membebaskan seseorang dari kewajiban menguburkan orang-orang yang dikasihinya. Yang mau ditekankan Yesus adalah, bahwa hal mengikut Dia itu lebih fundamental daripada kewajiban keagamaan lainnya. “Ibarat” yang ketiga memberi kesan seakan-akan para pengikut-Nya tidak diperbolehkan untuk say goodbye secara formal kepada anggota keluarga mereka (Luk 9:61). Dalam hal ini, semoga kita tidak lupa bahwa nabi Elisa saja diperkenankan untuk say goodbye kepada ayah-ibunya sebelum mengikuti nabi Elia (1Raj 19:19-21).

Ketiga macam “ibarat” ini sebenarnya mengajak kita semua untuk memusatkan perhatian kita pada kenyataan betapa agungnya panggilan Kristus dan bagaimana kita harus menanggapi panggilan tersebut tanpa syarat apa pun. Dalam kondisi kita sebagai turunan Adam, kita memang suka tergoda untuk menghitung-hitung berbagai kemungkinan untung-rugi pengambilan keputusan kita ……, dalam hal ini kita sering memandang “biaya pemuridan” yang ada di depan mata dan dibuat “jeri” olehnya. Sebagai murid Yesus, begitu banyak rintangan – besar dan kecil – yang harus kita hadapi. Sesungguhnya Yesus menawarkan kepada setiap orang suatu hidup baru yang penuh sukacita dan lengkap, tetapi terwujud dalam suatu ‘pemisahan total’ dari keberadaan orang itu sebelumnya. Jadi para murid meninggalkan segalanya untuk mengikut Yesus atas dasar satu alasan, yaitu bahwa yang ditawarkan-Nya jauh lebih baik daripada yang mereka miliki (lihat Yoh 6:68).

DOA: Bapa surgawi, Allah sumber pengetahuan dan kebenaran, dalam hati para kudus-Mu telah Kautanamkan cinta mesra terhadap Kitab Suci. Semoga Roh Kudus-Mu senantiasa mendorong kami, umat-Mu, untuk semakin menimba kekuatan dari firman-Mu dalam Kitab Suci dan memperoleh sumber kehidupan di dalamnya. Bukalah mata hati kami terhadap kemuliaan rumah surgawi yang disediakan bagi kami. Semoga visi ini mendorong kami untuk tetap melangkah maju dalam perjalanan ziarah kami di dunia ini. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 9:51-62), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MENGARAHKAN PANDANGAN-NYA KE YERUSALEM” (bacaan tanggal 26-6-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-06 BACAAN HARIAN JUNI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 30-6-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 23 Juni 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DIALAH YANG MEMIKUL KELEMAHAN KITA DAN MENANGGUNG PENYAKIT KITA

DIALAH YANG MEMIKUL KELEMAHAN KITA DAN MENANGGUNG PENYAKIT KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XII – Sabtu, 25 Juni 2016)

YESUS DAN CENTURIONKetika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya, “Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita.” Yesus berkata kepadanya, “Aku akan datang menyembuhkannya.” Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya, “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.” Mendengar hal itu, Yesus pun heran dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel. Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari timur dan barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Surga, sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.” Lalu Yesus berkata kepada perwira itu, “Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya.” Pada saat itu juga sembuhlah hambanya. 

Setibanya di rumah Petrus, Yesus melihat ibu mertua Petrus terbaring karena sakit demam. Dipegang-Nya tangan perempuan itu, lalu lenyaplah demamnya. Ia pun bangun dan melayani Dia. Menjelang malam dibawalah kepada Yesus banyak orang yang kerasukan setan dan dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu dan menyembuhkan semua orang yang menderita sakit. Hal itu terjadi supaya digenapi firman yang disampaikan melalui Nabi Yesaya: “Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.” (Mat 8:5-17) 

Bacaan Pertama: Kej 18:1-15; Mazmur Tanggapan: Luk 1:46-50,53

Tiga cerita pertama tentang penyembuhan Yesus (seorang kusta [Mat 8:1-4; hamba seorang perwira di Kapernaum [Mat 8:5-13]; dan ibu-mertua Petrus [Mat 8;14-15]) terikat satu sama lain dengan eratnya dan menggambarkan apa yang dikatakan oleh Yesaya mengenai Hamba YHWH dalam Mat 8:17. Semua mukjizat tersebut terjadi dalam satu hari. Orang kusta dan ibu-mertua Petrus disembuhkan lewat sentuhan. Hal ini penting karena pada umumnya Matius lebih menyukai untuk menunjukkan Yesus yang menyembuhkan hanya dengan mengucapkan kata-kata, seperti dilakukannya kepada sang perwira Romawi dalam antisipasi terhadap apa yang digambarkan dalam Mat 8:16, di mana Yesus mengusir roh-roh jahat dengan sepatah kata.

Perhatikanlah kontras antara permohonan sungguh-sungguh dari sang perwira dan orang kusta tersebut dengan absennya hal serupa dalam hal ibu-mertua Petrus. Apa yang mau dikatakan di sini? Yesus memberkati iman yang diwujudkan dalam  permohonan yang sungguh-sungguh dari dalam hati, namun belarasa-Nya tidak dibatasi oleh ada atau tidaknya permohonan termaksud. Yesus senantiasa mengambil inisiatif dalam hal adanya kebutuhan nyata.

Ketiga orang yang menerima kesembuhan dari Yesus adalah orang-orang yang termarjinalisasi dalam masyarakat. Lihatlah si orang kusta. Dia adalah orang buangan secara hukum. Ia dituntut untuk hidup di luar kota/tempat berkumpulnya orang-orang, dan setiap kali ada orang berjalan mendekatinya dia harus berseru-seru: “Najis! Najis!”, sambil menutupi mukanya (lihat Im 13:45-46). Di dunia yang masih terkebelakang pada zaman modern ini, keluarga-keluarga seringkali menolak orang kusta sebagai orang yang dikutuk Allah karena dosa. Dan penderitaan orang kusta yang paling berat adalah bahwa dirinya diasingkan oleh keluarganya sendiri dan masyarakatnya sendiri. Jadi, sungguh lebih mengejutkan kitalah bahwa Yesus menyentuh orang kusta dalam menyembuhkannya. Yesus tidak takut kepada hal-hal yang ditakuti orang-orang lain. Yesus hanya menginginkan bahwa kasih Allah menyentuh siapa saja, termasuk mereka yang tidak dapat disentuh (the untouchables).

IBU MERTUA PETRUSSang perwira Romawi adalah seorang “kafir” menurut standar Yahudi yang berlaku, malah dipandang seperti “anjing-anjing”. Walaupun demikian dia menunjukkan iman yang lebih besar daripada yang ditemukan Yesus di antara orang-orang Israel. Ia adalah macam orang kafir yang membawa ke dalam komunitas Matius – yang awal mulanya melulu terdiri dari orang-orang Yahudi – lebih banyak kegairahan dan semangat daripada mereka yang berasal dari agama Yahudi. Akhirnya, ibu-mertua Petrus adalah seorang perempuan, warga masyarakat kelas dua seturut standar Yahudi yang berlaku pada saat itu. Namun setelah disembuhkan oleh Yesus dari demamnya, dia bangkit dan langsung saja melayani Dia. Ibu-mertua Petrus adalah suatu tipe murid Kristus yang melayani dan menunjukkan sikap yang bahkan pada waktu itu belum dimiliki oleh dua belas murid yang dipilih sendiri oleh Yesus: tidak berambisi untuk menjadi yang bukan-bukan (bdk. Mat 20:20-28).

Ketika Matius membuat klimaks bacaan Injil ini dengan petikan dari Yesaya 53:4, “Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita” (Mat 8:17), yang dimaksudkannya adalah bahwa Yesus memenuhi janji Perjanjian Lama ini bukan dengan menjadi sakit sendiri, melainkan dengan penuh belarasa mengidentifikasikan dirinya dengan orang yang sakit dan kemudian mengusir penyakit yang dideritanya untuk pergi dari orang bersangkutan. Akan tetapi beban-beban yang diangkat-Nya dari orang-orang yang ditolong-Nya adalah lebih daripada itu, yaitu beban-beban karena ditolak oleh masyarakat, beban-beban karena penindasan oleh mereka yang memegang kekuasaan, dlsb. Di atas bahu Yesus, beban-beban ini akan dialami bukan sebagai penyakit, melainkan penganiayaan dan akhirnya penyaliban, karena itulah “harga” yang harus dibayar oleh-Nya karena berpihak dan membela orang-orang yang tersingkirkan serta tertindas dan kemudian membuat komunitas dengan mereka. Dalam hal ini Yesus mewujudkan keyakinan-Nya bahwa semua orang adalah anak-anak dari “seorang” Bapa di surga.

Bacaan hari ini menantang kita untuk memeriksa hidup kita sendiri siapa saja yang termasuk dalam bilangan orang-orang buangan, orang-orang tersisihkan dan orang-orang tertindas. Para penderita HIV-Aids dapat dikatakan adalah orang-orang kusta zaman modern. Namun kita masing-masing perlu bertanya kepada diri kita sendiri apakah ada orang-orang yang kita sudah “hapus” dari buku kita, secara sadar maupun tidak sadar, sebagai orang-orang di luar lingkaran “orang-orang terhormat” yang kita kenal? Siapa saja yang selama ini kita pandang sebagai “orang-orang kafir”? Apakah saudari-saudara kita yang beragama Hindu, Buddha, Muslim? Apakah orang-orang yang berasal dari suku atau etnis lain dari kita? Dan bagaimana dengan orang Kristiani lain yang pelayanannya kepada kita sukar untuk diterima? Dst. Dlsb. Barangkali rahmat terbesar kita terima jika kita menerima “orang-orang lain” itu sebagai saluran kasih Allah kepada kita. Setiap komunitas Kristiani perlu/harus mempertanyakan apakah komunitas tersebut merupakan sekelompok orang yang puas-diri dengan yang apa mereka miliki, ataukah komunitas itu setia kepada tantangan yang diberikan Yesus untuk membuka pintu dan melangkah ke luar guna berkomunitas dengan orang-orang “lain” tersebut. 

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Engkau menanggung segala sakit-penyakitku, memikul segala penderitaanku. Engkau adalah andalanku, ya Yesus. Oleh kuasa Roh Kudus, bentuklah aku menjadi murid-Mu yang setia. Sembuhkanlah dan kuatkanlah imanku yang lemah ini. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Yesus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 8:5-17), bacalah tulisan yang berjudul “IMAN-KEPERCAYAAN YANG KUAT” (bacaan tanggal 25-6-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-06 BACAAN HARIAN JUNI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 27-6-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 22 Juni 2016 [Peringatan S. Yohanes Fisher, Uskup & S. Tomas More, Mrt] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEDIKIT CATATAN TENTANG YOHANES PEMBAPTIS

SEDIKIT CATATAN TENTANG YOHANES PEMBAPTIS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA KELAHIRAN S. YOHANES PEMBAPTIS – Jumat, 24 Juni 2016) 

YOHANES PEMBAPTIS DIBERI NAMAKemudian tibalah waktunya bagi Elisabet untuk bersalin dan ia pun melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia. Lalu datanglah mereka pada hari yang ke delapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapaknya, tetapi ibunya berkata, “Jangan, ia harus dinamai Yohanes.” Kata mereka kepadanya, “Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian.” Lalu mereka memberi isyarat kepada bapaknya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu. Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini, “Namanya adalah Yohanes.” Mereka pun heran semuanya. Seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah.

Lalu ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah pembicaraan di seluruh pegunungan Yudea. Semua orang yang mendengarnya, merenungkannya dalam hati dan berkata, “Menjadi apakah anak ini nanti?” Sebab tangan Tuhan menyertai dia.

Adapun anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya. Ia tinggal di padang gurun sampai hari ketika ia harus menampakkan diri kepada Israel. (Luk 1:57-66,80) 

Bacaan pertama: Yes 49:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 139:1-3,13-15; Bacaan Kedua: Kis 13:22-26 

Allah memilih Zakharia dan Elisabet sebagai pribadi-pribadi yang melalui diri mereka itu Dia akan mengerjakan rencana penyelamatan-Nya, padahal di Israel pada waktu itu terdapat orang-orang yang jauh lebih muda, lebih kuat, atau lebih terpelajar dari kedua orang tersebut. Ini adalah sebuah misteri ilahi: Allah memilih menggunakan seorang imam tua dan istrinya yang mandul. Allah melihat sesuatu yang bernilai tinggi dalam kedua orang Yahudi yang saleh dan taat ini: “Keduanya hidup benar di hadapan Allah dan menuruti segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat” (lihat Luk 1:6). Mereka terbilang dalam sisa-sisa Israel yang tetap tak bercacat dan setia pada hukum perjanjian dengan YHWH Allah (kaum Anawim).

Melalui kerja sama sedemikian ini, Bapa surgawi akan memulai pemenuhan janji-Nya yang sudah lama dinanti-nantikan, bekerja melalui anak laki-laki yang dilahirkan dari pasangan  pasutri lansia ini. Jikalau para orangtua menggunakan disiplin untuk melatih/menggembleng anak-anak mereka dan mempersiapkan mereka bagi kehidupan orang dewasa, maka YHWH (melalui hukum) mempersiapkan umat-Nya yang setia (sisa-sisa Israel) untuk menerima rahmat melalui Kristus.

Anak laki-laki yang akan dilahirkan oleh Elisabet itu dinamakan Yohanes seturut perintah malaikat kepada Zakharia. Ketika sudah berkarya di depan publik dia dikenal sebagai Yohanes Pembaptis. Yohanes Pembaptis ini adalah yang terbesar dari para nabi yang datang ke dunia sebelum Yesus. Orang kudus ini berkonfrontasi dengan para pemimpin Yahudi, baik yang sekular maupun yang berasal dari kalangan agama. Yohanes juga menghibur serta memberi pengharapan kepada para pemungut cukai dan para PSK, dan ia menghayati suatu kehidupan yang didedikasikan kepada doa dan puasa. Namun yang lebih penting lagi adalah, bahwa Yohanes menjadi bentara sang Mesias dan mengakui dirinya sebagai “sahabat sang mempelai laki-laki” (lihat Yoh 3:29).

Dalam membesarkan anak mereka, Zakharia dan Elisabet mendidik agar supaya anak itu menjadi seorang yang sangat menghormati dan taat kepada YHWH. Sejak masa kecilnya, Allah telah memisahkan Yohanes untuk membentuknya menjadi bentara Kabar Baik. Allah telah mempercayakan anak ini kepada kedua orangtuanya yang saleh, kemudian memenuhi dirinya dengan Roh Kudus “sejak dari rahim ibunya” (Luk 1:15). Sang Pemazmur telah mengantisipasikan bagaimana kiranya kehidupan Yohanes kelak: “Mulutku akan menceritakan keadilan-Mu dan keselamatan yang dari pada-Mu sepanjang hari, sebab aku tidak dapat menghitungnya…… Ya Allah, Engkau telah mengajar aku sejak kecilku, dan sampai sekarang aku memberitakan perbuatan-Mu yang ajaib”  (Mzm 71:15,17).

Selama hidupnya Yohanes Pembaptis sungguh menghayati apa yang yang ditulis sang Pemazmur ini dan juga selalu bekerja sama penuh taat dengan rencana Allah. Karena Yohanes memperkenankan Allah untuk membentuk dan memakai dirinya, maka dia mampu mengumumkan dengan jelas kedatangan sang Mesias, dan mempersiapkan orang-orang Israel untuk menerima Juruselamat mereka. Memang mudah untuk melupakan Yohanes selagi kita memusatkan segalanya pada Yesus Kristus, akan tetapi kita perlu melihat apa yang direncanakan Allah untuk dicapai melalui Yohanes dan bagaimana Yohanes bekerja sama dengan Allah sehingga rencana itu pun terpenuhi. Sementara karya Kristus akan membawa umat-Nya kepada kepenuhan rahmat, hukum mempersiapkan mereka dengan mengajar mereka jalan Allah dan membawa mereka kepada ambang pintu rahmat.

Dengan membicarakan rencana Allah pada tataran praktis, kita dapat mempersiapkan diri untuk suatu kedatangan Kristus ke dalam kehidupan kita secara lebih mendalam lagi. Apakah kita mengambil tanggungjawab di hadapan Allah untuk kebenaran yang telah dinyatakan kepada kita? Apabila kita adalah orangtua, apakah kita mengasihi dan penuh perhatian kepada anak-anak kita (bahkan setelah mereka beranjak dewasa) dengan mengajar mereka cara-cara (jalan-jalan) Allah? Pertanyaan-pertanyaan sedemikian dapat menolong kita untuk fokus pada rencana Allah. Semoga sementara kita menggumuli pertanyaan-pertanyaan itu, hati kita dapat menjadi lebih terbuka  bagi ajaran Allah dan sentuhan penuh kasih dari Roh Kudus-Nya. 

DOA: Bapa surgawi, kami tahu bahwa rencana-Mu bagi kami adalah indah dan demi kebaikan kami semata. Oleh Roh Kudus-Mu – sebagaimana yang terjadi dengan Yohanes Pembaptis – bentuklah kami menjadi seorang insan yang selalu mau dan mampu bekerja sama dan taat kepada segala rencana-Mu atas diri kami. Kami sungguh ingin menjadi murid-murid Yesus Kristus yang baik, Ya Allahku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:57-66,80), bacalah tulisan yang berjudul “RENCANA INDAH ALLAH BAGI KITA MASING-MASING” (bacaan tanggal 24-6-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-06 SANG SABDA JUNI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 24-6-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 22 Juni 2016 [Peringatan S. Yohanes Fisher, Uskup dan S. Tomas More, Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BAGAIMANA KITA DAPAT MENJADI LEBIH DEKAT DENGAN ALLAH?

BAGAIMANA KITA DAPAT MENJADI LEBIH DEKAT DENGAN ALLAH?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XII – Kamis, 23 Juni 2016)

B02

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga. Pada hari terakhir banyak orang akan  berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mukjizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari hadapan-Ku, kamu sekalian yang melakukan kejahatan!

Jadi, setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu bertiuplah angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu bertiuplah angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.

Setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka. (Mat 7:21-29) 

Bacaan Pertama: 2Raj 24:8-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 79:1-5,8-9

Apakah kehendak Allah bagi kita? Seringkali ketika kita mengajukan pertanyaan ini kepada diri kita sendiri, kita berpikir dalam pengertian apa yang harus kita kerjakan. Kita mungkin berdoa sehubungan dengan perubahan karir atau pindah pekerjaan. Kita mungkin berdoa apakah kita akan masuk tarekat religius atau masuk dalam hidup perkawinan. Sudah barang tentu pentinglah bagi kita untuk berdoa dalam rangka mengambil keputusan-keputusan ini, karena Bapa surgawi telah memanggil kita masing-masing untuk menjadi murid Yesus dan Bapa mempunyai sebuah frencana sempurna bagi kehidupan kita.

Namun demikian, dasar dari discernment yang dilakukan dalam suasana doa haruslah relasi kita dengan Tuhan Allah. Kehendak Bapa bagi kita terlebih-lebih menyangkut keberadaan (being) kita daripada apa yang kita lakukan (doing). Bapa menginginkan agar kita hidup dalam suatu relasi vital dan penuh sukacita dengan diri-Nya. Karena kasih-Nya yang begitu besar, Ia mengutus Putera-Nya yang tunggal agar kita dapat memperoleh kebebasan untuk datang kepada-Nya, membersihkan dosa-dosa kita dan mampu untuk berdiri di hadapan hadirat-Nya. Sekarang Ia menginginkan kita agar hidup di hadapan hadirat-Nya sepanjang masa. Selagi kita tinggal dalam Dia yang adalah kasih itu, kita akan ditransformasikan dari posisi budak menjadi anak-anak angkat Allah.

Bagaimana kita dapat menjadi lebih dekat kepada Allah? Sebagaimana diajarkan Yesus, kita dapat mendirikan rumah kita di atas “batu” (Mat 7:24). Kita tidak pernah boleh luput melihat tujuan dari penciptaan kita. Apabila kita “membuang” waktu dan tenaga kita dalam menumpuk harta kekayaan, mencari kehormatan, dan mati-matian mengejar kenikmatan, maka kita seperti orang bodoh yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Seperti pasir, harta kekayaan, kenikmatan dunia dll. itu tidak dapat menopang kita bila terjadi badai dalam kehidupan kita. Sebaliknya apabila kita memakai waktu kita untuk mengenal Tuhan lebih dekat lagi dan ikut membangun kerajaan-Nya di atas muka bumi ini, maka fondasi-fondasi kita akan kokoh.

Kehidupan kita tentu mempunyai makna. Badai macam apa pun datang melanda, kita dapat selalu berpaling kepada Tuhan kita. Oleh Roh-Nya kita akan diberdayakan agar dapat hidup dalam pengharapan dan damai-sejahtera di tengah-tengah berbagai pencobaan dan kesulitan yang dapat kita alami. Hari ini, baiklah kita mengambil waktu untuk berdoa secara khusus untuk meninjau kembali prioritas-prioritas kita. Apakah kita begitu menyibukkan diri atas hal-hal yang tidak mempunyai signifikansi yang kekal? Kehendak Bapa surgawi adalah agar kita masuk ke dalam Kerajaan Surga, menikmati hadirat-Nya.

DOA: Bapa surgawi, tingkatkanlah karunia-karunia iman, pengharapan dan kasih dalam diri kami. Berikanlah kepada kami rahmat untuk membangun kehidupan kami yang didasarkan pada kebenaran-Mu. Kami menyerahkan kepada-Mu segala keberadaan kami dan segala sesuatu yang kami miliki. Amin.

Catatan:  Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:21-29), bacalah tulisan yang berjudul “MELAKUKAN KEHENDAK BAPA SURGAWI” dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 16-06 BACAAN HARIAN JUNI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 25-6-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 21 Juni 2016 [Peringatan S. Aloisius Gonzaga, Biarawan Yesuit] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

NABI-NABI PALSU

NABI-NABI PALSU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XII – Rabu, 22 Juni 2016)

Peringatan S. John Fisher, Uskup dan S. Thomas More, OFS

 152

“Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedangkan pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang baik. Setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Jadi, dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. (Mat 7:15-20) 

Bacaan Pertama: 2Raj 22:8-13; 23:1-3; Mazmur Tanggapan: Mzm 139:1-3,33-37,40

Pada waktu Yohanes Pembaptis mengirimkan sebuah pesan lewat murid-muridnya untuk menanyakan kepada Yesus, apakah Dia adalah sang Mesias yang dinantikan, Yesus sebenarnya dapat saja menjawab “ya”. Namun pada kenyataannya Dia mengatakan kepada para murid Yohanes untuk mempertimbangkan bukti-bukti yang ada: “Pergilah, dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu dengar: Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi sembuh, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik” (Luk 7:22) Dengan kata lain, Yohanes diminta untuk menerapkan pada diri Yesus tolok ukur yang diajarkan Yesus untuk membedakan nabi-nabi yang baik-benar dari nabi-nabi palsu.

Sepanjang sejarah selalu ada saja nabi-nabi palsu. Bagaimana mereka pada hari ini? Bagaimana kita dapat mengenali mereka? Bagaimana kita mengetahui perbedaan antara nabi-nabi palsu dan nabi-nabi yang benar? Dari perbuatan-perbuatan mereka, dari buah-buah yang mereka hasilkan! Yesus bersabda: “Dari buah-buahnyalah kamu akan mengenal mereka” (Mat 7:16). Apakah yang dimaksudkan “dari perbuatan-perbuatan mereka?” Maksudnya, dari kesetiaan mereka mendengarkan dan melaksanakan ajaran-ajaran Yesus Kristus dalam kitab-kitab Injil, karena Allah dinyatakan kepada kita dalam Kristus dan hanya dalam Dia kita mempunyai jalan yang pasti kepada Bapa surgawi.

Apabila kita mencoba untuk memiliki mata dan telinga yang sehat untuk Injil, mengenalnya melalui pembacaan dan doa, dengan pertolongan Roh Kudus kita akan bertumbuh dalam kemampuan kita untuk melakukan discernment terhadap sentimentalitas yang menyelewengkan ajaran-ajaran Kristus menjadi semacam etika cintakasih yang mudah tanpa disiplin atau pengorbanan. Kita akan mampu untuk mengenali sikap permisif yang  mengaburkan antara benar dan salah, juga legalisme yang seringkali lebih menaruh respek pada huruf-huruf hukum daripada roh suatu peraturan.

Tidak ada sesuatu pun yang lebih baik daripada mencari bimbingan dari Roh Kudus. Bilamana kita berada dalam tekanan untuk menemukan keamanan dan kepastian yang sedang kita cari-cari, marilah kita menggantungkan diri sepenuhnya pada Roh Allah untuk membawa kepada kita buah-buah-Nya. Tentang buah-buah Roh ini, Santo Paulus menulis, “… buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (Gal 5:22-23). Kita dapat memastikan diri bahwa nabi palsu tidak ada, jika kita menemukan hal-hal yang disebutkan di atas.

Buah-buah yang baik mengandaikan keberadaan akar-akar yang baik. Yesus ingin agar kita berakar-kuat dalam diri-Nya setiap hari, tidak hanya melalui doa dan Kitab Suci, melainkan juga dengan memperkenankan diri-Nya membersihkan kita (bdk. Yoh 15:2). Lewat upaya mendengarkan yang serius dan aktif, berkat rahmat Allah kita dapat menangkap bisikan suara Roh Kudus yang lemah-lembut. Janganlah kita mengabaikan suara lembut Roh Kudus ketika Dia berbicara mengenai hal-hal yang perlu kita ubah atau singkirkan. Marilah kita hidup dengan cara yang akan membuat kita menjadi saksi-saksi profetis dalam dunia ini. Dengan demikian kita  semua akan menghasilkan buah yang berlimpah – buah yang tetap (lihat Yoh 15:16).

DOA: Bapa surgawi, Allah Yang Mahatahu, selidikilah hatiku. Tolonglah aku mencabut sampai ke akar-akarnya segala dosa yang Kaunyatakan. Pimpinlah aku dalam jalan hidup yang berbuah, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:15-20), bacalah tulisan yang berjudul “WASPADALAH TERHADAP SERIGALA-SERIGALA BERBULU DOMBA” (bacaan tanggal 22-6-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-06 BACAAN HARIAN JUNI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 25-6-14 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 20 Juni 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ROH KUDUS AKAN MEMBERDAYAKAN KITA

ROH KUDUS AKAN MEMBERDAYAKAN KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Aloisius Gonzaga, Biarawan Yesuit – Selasa, 21 Juni 2016)

 1-sermon-on-the-mount-granger

“Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.”

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.

Masuklah melalui pintu yang sempit, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sempitlah pintu dan sesaklah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” (Mat 7:6,12-14) 

Bacaan Pertama: 2Raj 19:9b-11,14-21,31-35a,36; Mazmur Tanggapan: Mzm 48:2-4,10-11

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka” (Mat 7:12). Ayat ini dalam dunia manajemen dikenal sebagai THE GOLDEN RULE (bdk. Tob 4:15). Memang itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi, yang digenapi oleh Yesus Kristus lewat ajaran-Nya dan kehidupan-Nya sendiri.

Siapakah dari kita yang tidak ingin diperlakukan dengan penuh kasih? Kita semua mendambakannya, teristimewa apabila perlakuan penuh kasih itu adalah dari Allah sendiri. Janji akan “hidup dalam Roh” adalah, apabila kita menghargai kasih Allah – menjaga saat-saat doa dan pembacaan Kitab Suci serta melakukan yang terbaik untuk mengikuti dorongan-dorongan Roh Kudus – maka Dia akan memberdayakan kita untuk melakukan hal-hal yang bahkan tidak mungkin dilakukan secara “normal”. Dengan demikian “pintu yang sempit” dan “jalan yang sesak” menjadi manageable, dan kita pun akan bergembira menghayati suatu kehidupan yang pada faktanya melawan gelombang dunia. Sepanjang zaman, menjadi murid Kristus adalah menjadi “tanda lawan”, yang tidak ikut-ikutan dengan “dunia”.

Apabila kita ingin mampu memperlakukan orang-orang lain dengan kasih sebagaimana kita sendiri dambakan, maka pertama-tama kita harus mengalami belas kasihan Allah dan bela rasa-Nya. Kita perlu sekali mengetahui dan mengenal kasih-Nya yang intim bagi kita masing-masing, yaitu bahwa Dia adalah seorang Bapa penuh kasih, yang sungguh berbahagia untuk menyambut kita apabila kita datang kepada-Nya. Selagi kita datang kepada-Nya, kita pun akan mengalami kasih-Nya yang dicurahkan oleh-Nya ke dalam hati kita melalui Roh Kudus-Nya. Pengalaman seperti inilah yang akan memberdayakan kita untuk mengasihi orang-orang di sekeliling kita.

Selagi kita berjalan dengan kasih Allah, maka kasih-Nya itu akan mengalir deras melalui diri kita kepada orang-orang lain. Semakin kita mengenal dan menghargai kasih-Nya, semakin besar pula dorongan yang kita rasakan untuk mensyeringkan kasih-Nya itu dengan siapa saja yang kita temui. Kita akan digerakkan oleh Roh Kudus untuk melakukan tindakan-tindakan kebaikan. Tindakan-tindakan itu tidak perlu mengambil rupa tindakan-tindakan yang spektakular, misalnya “tindakan-tindakan kecil” seperti menjaga dan memelihara seorang anak tetangga, yang ibunya sedang sakit, atau berdoa dengan seorang teman yang kesepian dan baru saja disakiti hatinya; akan tetapi kita harus mencari Tuhan dengan segenap hati kita sehingga Dia dapat menggerakkan kita untuk mengasihi orang lain.

Oleh karena itu, marilah kita mengasihi Tuhan Allah. Baiklah kita berhati-hati untuk tidak melakukan apa saja yang dapat membuat sedih Roh Kudus yang berdiam dalam diri kita. Dengan pertolongan-Nya, kita dapat melakukan hal-hal yang sebelumnya kita pikir tidak mungkin dapat kita lakukan. “Jalan yang sempit” akan menjadi semakin menarik bagi kita, dan kita semakin mempunyai kerinduan untuk melakukan hal-hal yang akan menyenangkan Allah. Marilah sekarang kita memuji-muji Allah untuk semua cara berbeda-beda yang digunakan-Nya untuk menyatakan kasih-Nya kepada kita. Sementara kita semakin dekat kepada Allah dan memperkenankan-Nya menyatakan hati-Nya kepada kita, kita akan menyadari betapa penuh sukacita kita dalam mengikuti jalan kasih-Nya.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu untuk kasih-Mu yang Kaucurahkan ke dalam hati kami masing-masing. Oleh kuasa Roh Kudus-Mu, ajarlah kami menjadi murid-murid Yesus Kristus yang setia, untuk mengikuti jejak-Nya di jalan yang sempit. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:6,12-14), bacalah tulisan yang berjudul “APAKAH PENGORBANAN YESUS MEMPUNYAI ARTI?” (bacaan tanggal 21-6-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-06 BACAAN HARIAN JUNI 2016.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 23-6-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 19 Juni 2016 [HARI MINGGU BIASA XII – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MENCARI BALOK DI DALAM MATA KITA SENDIRI

MENCARI BALOK DI DALAM MATA KITA SENDIRI

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari biasa Pekan Biasa XII – Senin, 20 Juni 2016)

 

jm_200_NT1.pd-P13.tiff

“Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. Mengapakah engkau melihat serpihan kayu di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan serpihan kayu itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan serpihan kayu itu dari mata saudaramu.” (Mat 7:1-5) 

Bacaan Pertama: 2Raj 17:5-8,13-15a,18; Mazmur Tanggapan: Mzm 60:3-5,12-13

Setiap kali kita membaca sabda Yesus seperti ini, kita harus tetap mengingat dan meyakini bahwa Allah sungguh mengasihi kita. Bahkan sebelum kita dilahirkan, Ia mengetahui segala sesuatu tentang diri kita (Mzm 139:16) – termasuk dosa-dosa kita – namun bagaimana pun juga, Dia tetap mengasihi kita masing-masing. Ia inilah yang berbicara kepada kita, dan Roh-Nyalah yang menerangi kegelapan hati kita. Hasrat satu-satu-Nya dalam mengungkapkan dosa kita bukanlah untuk menuduh kita, melainkan “untuk melepaskan jiwa kita dari pada maut” (lihat Mzm 33:19). Ke luar dari kedalaman kasih ilahi, Roh Kudus senantiasa mencari jalan untuk membawa kita kepada kebebasan yang besar dan lebih besar lagi.

Yesus ingin agar kita berjalan dalam kasih-Nya dari hari ke hari, artinya setiap waktu. Namun Ia mengetahui benar bahwa penghakiman-penghakiman kita atas diri orang-orang lain dapat merintangi aliran kasih-Nya kepada kita. Penolakan-penolakan, pemikiran-pemikiran yang penuh kepahitan, kata-kata yang menusuk hati, dan tuduhan-tuduhan kiranya seperti batu-batu yang menumpuk dan membentuk sebuah penghalang antara sumber mata air dari kasih ilahi dan diri kita sendiri. Memang benar bahwa kesibukan kita dengan dosa-dosa orang lain tidak akan membuat mereka menjadi dirugikan, namun hal tersebut justru melukai diri kita sendiri. Itulah sebabnya mengapa Yesus menginginkan agar kita menjadi bebas – bukan sekadar demi orang-orang lain, melainkan karena kita melukai diri kita sendiri!

Itulah sebabnya mengapa kita harus mencari “balok” dalam mata kita sendiri, selalu dibimbing oleh hikmat yang lemah lembut dari Roh Kudus. Namun demikian, dalam pencarian kita itu, kita harus senantiasa mengingat bahwa kita ditebus dalam/oleh Kristus, dan Ia selalu hadir untuk menopang kita. Apa pun dosa kita, betapa berat sekali pun dosa kita itu, hal tersebut tidak akan mampu menghalangi atau menghentikan kasih Allah kepada kita dan juga tawaran-Nya akan janji kehidupan dengan Putera-Nya. Yang diminta oleh Allah hanyalah bahwa kita mengakui dosa-dosa kita. Lalu Dia akan membersihkan kita secara sempurna.

Apabila kita membuka diri kita bagi kasih Allah, maka kita dapat merasa yakin bahwa keputusan Allah atas diri kita adalah keputusan untuk berbelas kasih dan mengampuni. Mengetahui dan menyadari rahmat Allah yang dicurahkan atas diri kita, maka diri kita pun akan mencerminkan belas kasih terhadap orang-orang lain.

DOA:  Tuhan Yesus, biarlah terang Roh-Mu bercahaya dalam kegelapan hatiku sehingga dengan demikian belas kasih-Mu akan berkemenangan atas penghakiman, baik dalam diriku maupun relasiku dengan orang-orang lain. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:1-5), bacalah tulisan dengan judul “UNDANGAN YESUS KEPADA KEBEBASAN SEJATI” (bacaan tanggal 20-6-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-06 BACAAN HARIAN JUNI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 22-6-15) 

Cilandak, 19 Juni 2016 [HARI MINGGU BIASA XII – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS