KEHADIRAN YESUS KRISTUS SECARA BARU

KEHADIRAN YESUS KRISTUS SECARA BARU

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH VI [Tahun A], 21 Mei 2017)

“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti perintah-perintah-Ku. Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.

Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu. Sesaat lagi dunia tidak akan melihat Aku lagi, tetapi kamu akan melihat Aku, sebab Aku hidup dan kamu pun akan hidup. Pada waktu itulah kamu akan tahu bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.

Siapa saja yang memegang perintah-Ku dan melakukan-Nya, dialah yang mengasihi Aku. Siapa saja yang mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.” (Yoh 14:15-21)

Bacaan Pertama: Kis 8:5-8,14-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 66:1-7,16-20; Bacaan Kedua: 1Ptr 3:15-18

Yohanes Penginjil mempunyai kesukaan khusus untuk memperbandingkan dua hal yang saling berlawanan, misalnya: kegelapan vs terang (Yoh 1:5; 3:19;12:46);  hidup vs mati (Yoh 11:25); daging vs roh (Yoh 3:6). Namun kehebatan Yesus Kristus adalah kenyataan bahwa dalam Dia segala konflik dapat diatasi, dan hal-hal yang saling bertentangan seperti disebutkan diatas dapat direkonsiliasikan.

Jadi, ketika Yohanes menulis tentang Yesus yang akan ditinggikan seperti Musa meninggikan ular di padang gurun (Yoh 3:14-15; bdk. Bil 21:9), sebenarnya pesan yang ingin disampaikannya adalah pesan bahwa Yesus akan ditinggikan di kayu salib untuk mati dan juga untuk kebangkitan-Nya kepada kehidupan baru. Maut (kematian) tidak lagi berkontradiksi dengan kehidupan, akan tetapi membawa kepada suatu kehidupan kekal. Misi yang dilihat mata manusia sebagai suatu “kegagalan” menjadi suatu momen kemenangan. Pohon kejatuhan kita menjadi pohon keselamatan. Dan, perpisahan Yesus dari kehadiran fisik diubah menjadi suatu kedatangan kehadiran-Nya yang lebih besar dan lebih dinamis.

Yesus berbicara mengenai “seorang” Penolong yang lain, seorang Penasihat [Yunani: Parakletos], yang akan tinggal bersama para murid-Nya selama-lamanya. Para murid tidak ditinggalkan tanpa pemimpin, pembimbing atau ayah: “Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu. Sesaat lagi dunia tidak akan melihat Aku lagi, tetapi kamu akan melihat Aku, sebab Aku hidup dan kamu pun akan hidup” (Yoh 14:18-19). Ini adalah janji Yesus yang sangat mengejutkan tentang syering “relasi-Nya sendiri dengan Bapa surgawi” dengan kita. “Pada waktu inilah kamu akan tahu bahwa kamu akan tahu bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu” (Yoh 14:20).

Bacaan-bacaan Misa untuk masa Paskah terus membawa ke hadapan kita perubahan dari cara berpikir lama kepada cara berpikir yang baru: dari hidup lama yang ditinggalkan pada bejana air baptisan (ketika kita dibaptis) kepada hidup baru karena ikut ambil bagian dalam kebangkitan Yesus Kristus. Bagi rasul rasul atau murid-murid yang pertama, hal itu berarti berubah dari kontak mereka yang lama dengan Yesus secara fisik menjadi kontak-iman yang baru: perubahan dari melihat secara eksternal (seperti dunia melihat) kepada percaya dalam iman (jadi bersifat batiniah). Hal itu berarti bahwa mereka harus berubah, harus mengubah paradigma, dari mengikut seorang manusia yang mereka kagumi, kepada posisi sebagai anggota-Nya yang hidup dengan Roh-Nya dan misi-Nya.

Pertanyaan besar di balik cerita-cerita Paskah adalah: “Di mana Yesus dapat ditemukan?” Jawabnya adalah: “Janganlah mencari hal-hal yang eksternal atau tubuh fisik dari kehadiran-Nya. Ia tidak lagi ada di sana untuk dilihat mata kita, melainkan Ia sekarang hadir dalam komunitas umat beriman dan dalam diri setiap orang yang menjadi anggota komunitas tersebut.

Rahasia dari perubahan yang sedemikian adalah Roh Kudus, yaitu Roh Allah atau Roh Yesus sendiri. Kata “roh” berarti nafas (ruah dalam bahasa Ibrani). Udara yang kita hirup tidak dapat dilihat dengan mata, namun mutlak diperlukan. Kita dapat mati bila berada dalam situasi tanpa udara segar. Oleh karena kita selalu mencari ruangan di mana kita tidak akan merasa sesak dan susah-bernafas. Dengan udara segar kita dapat memperbaharui vitalitas kita.

Nah, nafas hidup Allah diberikan kepada kita dalam Roh Kudus. Kita menerima suatu panggilan untuk tidak lagi sekadar menjadi insani, Kita dipanggil untuk memperkenankan Allah hidup dalam diri kita, bekerja dalam diri kita dan mengasihi orang-orang lain lewat diri kita. Seperti kita ketahui, dalam pembaptisan kita memperoleh identitas baru: kita berada dalam relasi mendalam dengan ketiga Pribadi Ilahi dalam Allah Tritunggal Mahakudus.

DOA: Bapa surgawi, aku sangat dikasihi oleh Roh Kudus-Mu yang berdiam dalam diriku sehingga dibawa oleh-Nya ke dalam suatu hidup baru. Aku ikut ambil bagian dalam hidup Yesus Kristus, sabda-Mu sendiri yang sangat Kaukasihi, dengan demikian aku boleh berdoa bersama Dia, sabda-Mu sendiri yang sangat Kaukasihi, kepada Engkau sebagai Bapaku. Terima kasih Bapa, Engkau yang hidup dan berkuasa bersama Yesus Kristus dalam persekutuan Roh Kudus, Allah sepanjang segala masa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 14:15-21), bacalah tulisan yang  berjudul “KETAATAN YESUS KEPADA BAPA DAN KETAATAN KITA KEPADA PERINTAH-PERINTAH YESUS” (bacaan tanggal 21-5-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsada.wordpress.com; kategori: 17-05 BACAAN HARIAN MEI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 25-5-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 18 Mei 2017 {Peringatan S. Feliks dr Cantalice] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

JADILAH SEPERTI YESUS

JADILAH SEPERTI YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah – Sabtu, 20 Mei 2017)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan/Pesta S. Bernadinus dr Siena, Imam

 

“Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku daripada kamu. Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu. Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu; jikalau mereka telah menuruti firman-Ku, mereka juga akan menuruti perkataanmu. Tetapi semuanya itu akan mereka lakukan terhadap kamu karena nama-Ku, sebab mereka tidak mengenal Dia yang telah mengutus Aku.” (Yoh 15:18-21)

Bacaan Pertama: Kis 16:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 100:1-3,5

“Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahuklu membenci Aku daripada kamu.(Yoh 15:18)

Umat Kristiani terus dikejutkan karena dunia membenci mereka. Kita mungkin berpikir bahwa dunia telah berubah sejak dunia menolak dan menyalibkan Yesus. Kita juga mungkin berpikir bahwa kita tidak sebegitu seperti Yesus, sehingga pantas menjadi korban penolakan dan penganiayaan. Namun kita pada dasarnya telah diubah dengan pembaptisan dalam Kristus: “dibaptis dalam kematian-Nya” (lihat Rm 6:3). Kita mempunyai suatu kodrat baru, yaitu sebagai “ciptaan baru” (lihat Gal 6:15), kita telah dipilih dari dunia oleh Kristus (Yoh 15:19). Dunia mengakui bahwa kita bukan lagi miliknya, oleh karena itu dunia membenci, menganiaya, dan mencoba membunuh kita (Yoh 15:19-20), bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kita akan menyangka bahwa ia berbakti kepada Allah (Yoh 16:2).

Walaupun dunia membenci orang-orang Kristiani yang penuh dosa, juga orang-orang Kristiani yang malas, Allah ingin memberikan lebih banyak alasan kepada dunia untuk menganiaya kita. Allah ingin membuat kita kudus, membuat kita seperti diri-Nya sendiri. Kemudian kita bukan hanya merupakan suatu ancaman besar, melainkan nyata-nyata suatu ancaman yang sesungguhnya, untuk mengacaukan atau menjungkir-balikkan seluruh dunia (lihat Kis 17:6). Dengan demikian, dunia merasa “terpaksa” untuk menganiaya kita dengan segera dan dengan penuh nafsu.

Oleh karena itu hayatilah baptis kita (anda dan saya)! Jadilah suatu ancaman bagi dunia. Jadikanlah diri kita korban kebencian dunia sehingga pantas dianiaya. Jadikanlah diri kita kudus! Marilah kita menjadi seperti Yesus!

DOA: Bapa surgawi, buatlah diriku layak menderita penghinaan oleh karena nama Yesus (Kis 5:41; bdk. Mat 5:11-12). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yes 15:18-21), bacalah tulisan yang berjudul “DUNIA MEMBENCI YESUS DAN PARA MURID-NYA” (bacaan tanggal 20-5-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-05 BACAAN HARIAN MEI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 30-4-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 17 Mei 2017 [Peringatan S. Paskalis Baylon] 

Sdr F.X. Indrapradja, OFS 

PERINTAH YESUS KEPADA PARA SAHABAT-NYA

PERINTAH YESUS KEPADA PARA SAHABAT-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah – Jumat, 19 Mei 2017)

Keluarga Fransiskan Kapusin: Peringatan S. Kripinus dr Viterbo, Bruder

Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada ini, yakni seseorang memberikan nyawanya demi sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu melakukan apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku  tidak menyebut  kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku. Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang terhadap yang lain. (Yoh 15:12-17)

Bacaan Pertama: Kis 15:22-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 57:8-12 

“Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.” (Yoh 15:12)

Yesus memerintahkan kita, tidak hanya untuk saling mengasihi satu sama lain, melainkan juga untuk mengasihi sebagao,ama Dia telah mengasihi kita. Hal ini berarti bahwa hendaknya kita memberikan nyawa kita bagi sahabat-sahabat kita (Yoh 15:13), juga kalau perlu bagi musuh-musuh kita (Rm 5:8,10). Dengan cara ini para murid Yesus akan dikenal dan diketahui sebagai sungguh-sungguh murid-Nya, sebab tidak ada seorang pun – kecuali Yesus – yang mengasihi musuh-musuh-Nya dengan memberikan nyawa-Nya bagi mereka (Luk 5:27 dsj.).

Bagaimana kita yang sedemikian penuh cinta-diri ini dapat memiliki kasih yang begitu luhur? Jangan takut, Roh Kudus akan memurnikan kita dengan penuh kepatuhan pada kebenaran, sehingga menghasilkan buah-buah kasih dalam hidup kita (Gal 5:22). Roh Kudus juga akan berseru dalam hati kita, “Abba” (Gal 4:6; Rm 8:15). Kita semua akan mengetahui benar bahwa diri kita itu dikasihi oleh Bapa surgawi secara sempurna. Dengan demikian kita akan mampu mengasihi dengan cara yang menakjubkan. Kita mengasihi, karena “Ia lebih dahulu mengasihi kita (1 Yoh 4:19).

Tepat satu pekan lagi, kita akan memulai Novena kepada Roh Kudus. Selama sembilan hari berturut-turut umat di seluruh dunia akan berdoa, agar Roh Kudus memperbaharui muka bumi: budaya korupsi, cinta-diri diubah menjadi budaya pengabdian, pelayanan dan pekerjaan yang mementingkan budaya pengabdian, pelayanan dan program-program yang mementingkan kesejahteraan umum; mencipta budaya berani berkorban dan mau terlibat dalam kegiatan bagi kepentingan dan kemajuan sesama umat dalam Gereja.

Datanglah, ya Roh Kudus !!!

DOA: Bapa surgawi, Engkau adalah Kasih Sejati. Biarlah Roh Kudus membentuk diriku menjadi murid yang sejati dari Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku. Aku sungguh ingin mengasihi seperti Engkau dalam Kristus mengasihi diriku. Sentuhlah hatiku pada hari ini dan buatlah diriku agar sungguh–sungguh memiliki kehendak untuk mengampuni dengan lebih mendalam. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Allah Tritunggal Mahakudus. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 15:12-17), bacalah tulisan yang berjudul “KITA HARUS SALING MENGASIHI, SEPERTI YESUS TELAH MENGASIHI KITA” (bacaan tanggal 19-5-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-05 BACAAN HARIAN MEI 2017

Cilandak, 17 Mei 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 29-4-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 17 Mei 2017 [Peringatan S. Paskalis Baylon] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PENYELESAIAN KONFLIK DALAM GEREJA PERDANA

PENYELESAIAN KONFLIK DALAM GEREJA PERDANA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah – Kamis, 18 Mei 2017)

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta/Peringatan S. Feliks dr Cantalice, Bruder Kapusin

Sesudah berdebat beberapa waktu lamanya, berdirilah Petrus dan berkata kepada mereka, “Hai Saudara-saudara, kamu tahu bahwa sejak semula Allah memilih aku dari antara kamu, supaya dengan perantaraanku bangsa-bangsa lain mendengar berita Injil dan menjadi percaya. Allah, yang mengenal hati manusia, memberi kesaksian untuk mereka dengan mengaruniakan Roh Kudus kepada mereka sama seperti kepada kita, dan Ia sama sekali tidak membeda-bedakan antara kita dengan mereka, sesudah Ia menyucikan hati mereka oleh iman. Kalau demikian, mengapa kamu mau mencobai Allah dengan meletakkan pada tengkuk murid-murid itu suatu gandar yang tidak dapat dipikul, baik oleh nenek moyang kita maupun oleh kita sendiri? Sebaliknya, kita percaya bahwa melalui anugerah Tuhan Yesus Kristus kita akan diselamatkan sama seperti mereka juga.”

Lalu diamlah seluruh umat itu, lalu mereka mendengarkan Paulus dan Barnabas menceritakan segala tanda dan mukjizat yang dilakukan Allah dengan perantaraan mereka di antara bangsa-bangsa lain. Setelah Paulus dan Barnabas selesai berbicara, berkatalah Yakobus, “Hai Saudara-saudara, dengarkanlah aku: Simon telah menceritakan bahwa pada mulanya Allah menunjukkan rahmat-Nya kepada bangsa-bangsa lain dengan memilih suatu umat dari antara mereka bagi nama-Nya. Hal itu sesuai dengan ucapan-ucapan para nabi seperti yang tertulis: Kemudian aku akan kembali dan membangun kembali pondok Daud yang telah roboh dan reruntuhannya akan Kubangun kembali dan akan Kuteguhkan, supaya semua orang lain mencari Tuhan bahkan segala bangsa yang atasnya nama-Ku disebut, demikianlah firman Tuhan yang melakukan semuanya ini, yang telah diketahui sejak semula. Sebab itu aku berpendapat bahwa kita tidak boleh menimbulkan kesulitan bagi mereka dari bangsa-bangsa lain yang berbalik kepada Allah, tetapi kita harus menulis surat kepada mereka, supaya mereka menjauhkan diri dari hal-hal yang telah dicemarkan berhala-berhala, dari percabulan, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari darah. Sebab sejak zaman dahulu hukum Musa diberitakan di tiap-tiap kota, dan sampai sekarang hukum itu dibacakan tiap-tiap hari Sabat di rumah-rumah ibadat.” (Kis 15:7-21)

Mazmur Tanggapan: Mzm 96:1-3,10; Bacaan Injil: Yoh 15:9-11

Pada waktu orang-orang non-Yahudi mulai menerima Injil, maka Gereja perdana yang semula hanya terdiri dari orang-orang Kristiani Yahudi (baik Yahudi-Palestina maupun Yahudi-Helinis[tis]), harus bergumul dengan suatu isu yang mungkin saja tidak pernah terpikirkan oleh mereka sebelumnya: Apa hubungannya antara mengikuti Hukum Musa dan mengikuti Yesus? Sungguh suatu isu yang pelik. Ada kelompok yang percaya sekali bahwa para pengikut Yesus harus melanjutkan menepati seluruh hukum Allah yang telah diberikan melalui Musa. Mereka bersikukuh bahwa persyaratan ini juga harus diterapkan tidak hanya pada orang Yahudi, tetapi juga pada orang-orang “kafir” yang ingin bergabung ke dalam Gereja/Jemaat.

Orang-orang Yahudi Kristiani ini memang tidak berpandangan bahwa mereka dapat diselamatkan oleh kepatuhan mereka pada Hukum Musa ini. Akan tetapi mereka memandang ketaatan pada hukum itu sebagai jalan untuk menanggapi intervensi Allah dalam kehidupan mereka. Allah telah memberikan kepada mereka suatu relasi dengan diri-Nya, dan memelihara hukum-Nya merupakan jalan sentral bagi mereka untuk memelihara relasi dengan Allah itu. Dengan demikian, orang-orang Yahudi Kristiani ini berpikir bahwa hukum harus tetap berperan sentral dalam tanggapan mereka kepada Allah – bahkan setelah kedatangan Yesus  dan perjanjian baru dalam darah-Nya.

Di lain pihak orang-orang Yahudi Kristiani yang lain, seperti Paulus dan Petrus tidak sependapat dengan kelompok tadi. Bagi kelompok Paulus dkk. hukum Musa seharusnya tidak lagi menempati tempat sentral dalam relasi umat dengan Allah. Sebaliknya, Yesus-lah yang harus menjadi pusat!!! Tentu hukum tetap harus menjadi panduan kita untuk mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, namun tanggapan kita terhadap Allah haruslah difokuskan pada  “mengikuti jejak Kristus”. Konflik ini terangkat ke permukaan sejak adanya beberapa orang Yahudi Kristiani yang datang mengunjungi gereja di Antiokhia. Ketika krisis memuncak, diputuskanlah untuk membawa isu ini ke sidang sebuah konsili di Yerusalem.  Jangan bayangkan Konsili Yerusalem ini diselenggarakan dengan tenang. Perhatikanlah kata “debat” dalam bacaan di atas (Kis 15:7). Ini adalah pertarungan antara para pembela doktrin-doktrin yang berbeda secara prinsipiil.

Pemimpin Gereja di Yerusalem adalah Yakobus saudara Tuhan Yesus (lihat Gal 1:18-19), dan dalam hal ini tugasnya memang tidak mudah. Petrus tidak berbicara lembek dalam konsili ini. Satu kalimatnya yang keras: “Kalau demikian, mengapa kamu mau mencobai Allah dengan meletakkan pada tengkuk murid-murid itu suatu gandar yang tidak dapat dipikul, baik oleh nenek moyang kita maupun oleh kita sendiri?” (Kis 15:10).

Yakobus  adalah seorang Yahudi yang sangat saleh, tetapi dia memiliki satu ciri seorang pemimpin yang baik: dia mempunyai kemauan dan kemampuan untuk mendengarkan! Sikap yang ditunjukkan Yakobus cukup luwes: dia tidak membuang segala tradisi, dan secara hati-hati melalukan discernment apakah yang kiranya cocok untuk gereja “campuran” yang semakin bertumbuh-kembang. Yakobus patuh pada rencana Allah sehingga konflik yang ada pun dapat diselesaikan dengan tetap memelihara kesatuan dan persatuan dalam Gereja perdana.

Lihatlah betapa pentingnya kita saling mendengarkan, bahkan lebih penting lagi mendengarkan “suara” Roh Kudus! Begitu mudah kita jatuh cinta pada ide-ide kita sendiri, lalu kita menutup telinga terhadap suara-suara yang lain. Ingatlah, kalau kita begitu mencintai ide-ide kita sendiri, bisa-bisa kita lupa dan luput mencintai Allah dan saudari-saudara kita. Dalam situasi sedemikian kita menjadi target yang empuk dari tipu-daya si Jahat. Lihatlah sejarah perpecahan dalam Gereja yang sungguh merupakan skandal, dan hal itu jelas tidak sesuai dengan maksud Yesus mendirikan Gereja-Nya. Allah sungguh berhasrat melihat kita mengalami kesatuan dan persatuan yang penuh kasih dan sukacita secara mendalam. Dia sendiri mohon kepada Bapa agar kita menjadi satu (Yoh 17:11). Allah akan melakukan hal itu – hanya kalau kita memperkenankan-Nya membuat diri kita orang-orang yang mau mendengarkan, mau belajar dan mau mengasihi.

DOA: Tuhan Yesus, jadikanlah aku seorang pendengar yang baik! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 15:9-11), bacalah tulisan yang berjudul “TIGA HAL: KASIH, KETAATAN DAN  SUKACITA” (bacaan tanggal 18-5-17 dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-05 BACAAN HARIAN MEI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 28-4-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 15 Mei 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

BERBUAH BANYAK

BERBUAH BANYAK

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah – Rabu, 17 Mei 2017)

Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Paskalis Baylon, Bruder Fransiskan Observanti tak berkasut

“Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu. Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar. Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah Bapa-Ku dimuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.” (Yoh 15:1-8)  

Bacaan Pertama: Kis 15:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 122:1-5

“Dalam hal inilah Bapa-Ku dimuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.” (Yoh 15:8)

Yesus menyatakan bahwa Dia adalah pokok anggur dan Bapa-Nya adalah pengusahanya (Yoh 15:1). Sebelum menyelesaikan gagasan-Nya, yakni memanggil para murid-Nya sebagai ranting-ranting atau cabang-cabang dari pokok anggur (Yoh 15:5), Yesus menyisipkan sejumlah komentar tentang dahan-dahan yang tak berbuah dan yang berbuah (Yoh 15:2-4). Yesus menggaris-bawahi pentingnya tinggal di dalam Dia untuk berbuah banyak (Yoh 15:5). Ia menekankan bahwa kita harus menghasilkan buah Roh Kudus, buah kesucian (Gal 5:22-23).

Yesus sedemikian mengasihi dunia sehingga Dia sama sekali tidak ingin jika kematian-Nya di atas kayu salib guna penebusan kita menjadi sia-sia belaka (lihat 1 Kor 1:17). Yesus ingin menyalakan api di dunia ini (Luk 12:49), agar semua saja akan “diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran (1 Tim 2:4). Yesus membuat kita menjadi saksi-saksi-Nya (Kis 1:8). Dan … kita harus bersedia menjadi hamba-hamba “dari semua orang, supaya (aku) boleh memenangkan sebanyak mungkin orang (1 Kor 9:19).

Kasih Yesus itu sedemikian besar dan penebusan-Nya begitu penting, sampai-sampai Dia mengancam melemparkan kita ke dalam kobaran api dan terbakar untuk selamanya, apabila kita menolak untuk berupaya agar berbuah banyak (Yoh 15:6).

Saudari dan Saudaraku, kita (anda dan saya) belum terlambat dan kesempatan masih tetap terbuka. Oleh karena itu, marilah kita mengasihi Yesus dengan serius dan karenanya berbuah banyak.

DOA: Tuhan Yesus, aku menyerahkan diriku kepada Engkau. Bersihkanlah diriku dengan darah-Mu yang kudus, penuhilah diriku dengan pemikiran-pemikiran dan hasrat-hasrat-Mu. Aku ingin mengalami kehadiran-Mu secara lebih penuh pada hari ini dan berbuah bagi-Mu. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 15:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “JIKA KITA BERBUAH BANYAK, BAPA PUN DIMULIAKAN” (bacaan tanggal 17-5-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-05 BACAAN HARIAN MEI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 27-4-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 15 Mei 2017   

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PEKERJAAN YANG BELUM SELESAI

PEKERJAAN YANG BELUM SELESAI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah – Selasa, 16 Mei 2017)

Keluarga besar Fransiskan: Peringatan S. Margareta dr Cortona, Wanita Kudus (OFS)

Tetapi datanglah orang-orang Yahudi dari Antiokhia dan Ikonium dan mereka mempengaruhi orang banyak itu sehingga berpihak kepada mereka. Lalu mereka melempari Paulus dengan batu dan menyeretnya ke luar kota, karena mereka menyangka bahwa ia telah mati. Akan tetapi ketika murid-murid itu berdiri mengelilingi dia, bangkitlah ia lalu masuk ke dalam kota. Keesokan harinya berangkatlah ia bersama-sama dengan Barnabas ke Derbe.

Paulus dan Barnabas memberitakan Injil di kota itu dan memperoleh banyak murid. Lalu kembalilah mereka ke Listra, Ikonium dan Antiokhia. Di tempat itu mereka menguatkan hati murid-murid itu dan menasihati mereka supaya bertekun di dalam iman, dan mengatakan bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara. Di tiap-tiap jemaat rasul-rasul itu menetapkan penatua-penatua bagi jemaat itu dan setelah berdoa dan berpuasa mereka menyerahkan penatua-penatua itu kepada Tuhan yang kepada-Nya mereka percaya. Mereka menjelajahi seluruh Pisidia dan tiba di Pamfilia. Di situ mereka memberitakan firman di Perga, lalu pergi ke Atalia. Dari situ berlayarlah mereka ke Antiokhia; di tempat itulah mereka dahulu diserahkan kepada anugerah Allah untuk memulai pekerjaan yang telah mereka selesaikan. Setibanya di situ mereka memanggil jemaat berkumpul, lalu mereka menceritakan segala sesuatu yang Allah lakukan dengan perantaraan mereka, dan bahwa Ia telah membuka pintu bagi bangsa-bangsa lain kepada iman. Di situ mereka lama tinggal bersama-sama dengan murid-murid itu. (Kis  14:19-28) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 145:10-13,21; Bacaan Injil: Yoh 14:27-31a.

“Lalu mereka melempari Paulus dengan batu dan menyeretnya ke luar kota, karena mereka menyangka bahwa ia telah mati. Akan tetapi ketika murid-murid itu berdiri mengelilingi dia, bangkitlah ia lalu masuk ke dalam kota. Keesokan harinya berangkatlah ia bersama-sama dengan Barnabas ke Derbe.” (Kis 14:19-20)

Sejak hari pertama pertobatannya dalam perjalanannya ke Damsyik sampai akhir hayatnya, Paulus banyak menanggung penderitaan dalam perjuangannya membangun Kerajaan Allah di atas muka bumi ini. Bagi Paulus yang mantan Farisi ini, salib sempat menjadi batu sandungan, namun sekarang dia mengabdikan dirinya untuk “menguatkan hati murid-murid itu dan menasihati mereka supaya bertekun di dalam iman, dan mengatakan bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara” (Kis 14:22).

Dalam perjalanan misioner mereka yang pertama, Paulus dan Barnabas diusir dari Antiokhia (yang di daerah Pisidia), dari Ikonium dan Listra.  Akan tetapi dengan sesegera mungkin mereka kembali ke tempat itu untuk menyelesaikan tugas mendirikan gereja-gereja (jemaat-jemaat) di tempat tersebut (Kis 14:21). “Di tempat itu mereka menguatkan hati murid-murid itu dan menasihati mereka supaya bertekun di dalam iman, dan mengatakan bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara. Di tiap-tiap jemaat rasul-rasul itu menetapkan penatua-penatua bagi jemaat itu dan setelah berdoa dan berpuasa mereka menyerahkan penatua-penatua itu kepada Tuhan yang kepada-Nya mereka percaya” (Kis 14:22-23). 

Untuk memulai sebuah gereja atau jemaat, kita harus menguatkan hati para murid agar tetap tekun dalam iman meski pun harus menderita banyak pencobaan, dan kita harus berdoa, berpuasa dan menetapkan pemimpin-pemimpin untuk gereja setempat tersebut.

Sekarang, apakah umat paroki kita (anda dan saya), komunitas kita atau keluarga kita pernah didorong dan dikuatkan untuk tabah menahan penderitaan demi penebusan? Apakah diri kita juga ikut berpuasa dan berdoa bagi para pemimpin gereja dan bagi para pemimpin baru dalam Gereja di seluruh dunia?

Apabila kita benar-benar banyak mensyeringkan iman kita dan semuanya itu dilakukan dengan ketulusan hati dan ketaatan pada dan demi perintah Yesus, maka kita pun “berhak” atau “pantas” memperoleh kesempatan untuk dianiaya dan menderita. Dengan demikian Gereja tak mungkin terbagi-bagi, terpecah-pecah, melemah dan loyo! Dan apabila dalam penderitaan kita tetap berdoa dan berpuasa bagi para pimpinan Gereja. Kiranya kita tidak akan mengalami krisis panggilan, melainkan suatu “ledakan” dalam hal jumlah panggilan, pemimpin baru dan kehidupan Gereja yang segar.

Saudari dan Saudaraku, marilah kita melaksanakan Amanat Agung Yesus Kristus untuk mewartakan Kabar Baik-Nya. Kita berdoa, berpuasa dan tetap tabah dalam menanggung derita. Dengan demikian, kita pun dapat menyaksikan bertumbuh-kembangnya Gereja sebagaimana yang dikehendaki Tuhan.

DOA: Bapa surgawi, kadang-kadang aku merasa seperti yang kiranya telah dirasakan Paulus: dipukuli, disiksa, dilempari batu dan sangat lelah. Gunakanlah keadaan-keadaan dalam hidupku seperti ini untuk memuliakan nama-Mu yang kudus dan membawa Yesus kepada semua orang yang kujumpai. Biarlah aku menolong orang-orang lain agar supaya tak terkalahkan dalam pencobaan-pencobaan mereka. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 14:27-31a), bacalah tulisan yang berjudul “DAMAI SEJAHTERA-KU KUBERIKAN KEPADAMU” (bacaan tanggal 16-5-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-05 BACAAN HARIAN MEI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 26-4-16) 

Cilandak, 15 Mei 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

TUGAS SANG PENOLONG: MENGAJARKAN DAN MENGINGATKAN

TUGAS SANG PENOLONG: MENGAJARKAN DAN MENGINGATKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah – Senin, 4 Mei 2015) 

“Siapa saja yang memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Siapa saja yang mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.” Yudas, yang bukan Iskariot, berkata kepada-Nya, “Tuhan, apa sebabnya Engkau hendak menyatakan diri-Mu kepada kami, dan bukan kepada dunia?”Jawab Yesus “Jika seseorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan tinggal bersama-sama dengan dia. Siapa saja yang tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firman-Ku; dan firman yang kamu dengar itu bukanlah dari Aku, melainkan dari Bapa yang mengutus Aku. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, selagi aku berada bersama-sama dengan kamu; tetapi Penolong, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.  (Yoh 14:21-26) 

Bacaan Pertama: Kis 14:5-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 115:1-4,15-16 

“… Penolong, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.”  (Yoh 14:26)

Ini adalah untuk kedua kalinya Yohanes berbicara mengenai sang Penolong (Roh Kebenaran; lihat Yoh 14:16-17). Dalam ayat Yoh 14:26 ini Yohanes mulai mengidentifikasikan sang Penolong dengan Roh Kudus. Sang Penolong (Yunani: Parakletos), seperti juga Anak (Putera) diutus oleh Bapa, namun dalam nama Yesus (lihat petikan ayat di atas). Sang Penolong akan menggantikan peranan Yesus dalam komunitas orang beriman. Sang Penolong inilah yang menjamin perwahyuan yang bersifat permanen di dalam dunia. Sang Penolong atau Roh Kudus ini merupakan satu-satunya jawaban yang tersedia bagi mereka yang ingin tetap berada bersama Yesus dan mau melihat Bapa surgawi.

Sang Penolong diutus oleh Bapa surgawi dalam nama Yesus untuk “mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu” (Yoh 14:26). Dengan demikian, peranan sang Penolong adalah melanjutkan pekerjaan Yesus dengan menjamin adanya perwahyuan yang bersifat permanen di dalam dunia. Namun tugas ini dilaksanakan dalam komunitas orang beriman di mana dan pada saat mana sabda Yesus diproklamasikan dan didengar, di mana dan pada saat mana perintah-perintah-Nya didengar dan ditaati.

Inilah sebabnya mengapa sang Penolong ini diidentifikasikan dengan Roh Kudus. Ia adalah kuasa dari kehadiran Yesus yang bangkit dalam komunitas mereka yang percaya kepada-Nya. Komunitas orang beriman adalah komunitas di mana sabda Yesus diproklamasikan. Proklamasi termaksud adalah pekerjaan sang “Penolong, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku” (Yoh 14: 26).

Jadi, para pembaca Injil tidak dapat mengabaikan fakta bahwa hal ini adalah yang dilakukan oleh Yohanes ketika dia menulis Injilnya. Ini adalah yang dilakukan oleh setiap pewarta Injil. Ini adalah yang dilakukan oleh komunitas orang beriman bilamana mereka mendengar, mendengarkan dan sampai kepada pemahaman Injil. Mengajar dan mengingatkan tidak pernah merupakan suatu tindakan yang berdiri sendiri. Mereka yang diajar, yang diingatkan “akan semua yang telah Kukatakan kepadamu” (Yoh 14:26), adalah bagian dari operasi seperti orang-orang yang mengajar mereka dan mengingatkan mereka apa yang dikatakan oleh Yesus. Itulah sebabnya kita mengacu kepada mereka sebagai “komunitas orang beriman”.

Operasi gabungan dari “mengajarkan dan mengingatkan” adalah pekerjaan “sang Penolong, Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku” (Yoh 14:25). Sang Penolong diutus oleh Bapa “dalam nama-Ku” karena “Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari Aku” (Yoh 16:14). Tugas sang Penolong bukanlah untuk menyingkap sesuatu yang baru, melainkan untuk melestarikan/memelihara kebaharuan dari perwahyuan di dalam komunitas umat beriman.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah mengutus Roh Kudus dalam nama Yesus kepada kami, untuk mengajarkan segala sesuatu kepada kami dan mengingatkan kami kami akan semua yang telah dikatakan Yesus kepada kami semua di sepanjang masa. Terpujilah Allah Tritunggal Mahakudus, Bapa, Putera dan Roh Kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 14:5-18), bacalah tulisan yang berjudul “BUKAN UNTUK MENARIK PERHATIAN ORANG BANYAK KEPADA DIRI MEREKA SENDIRI” (bacaan tanggal 15-5-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-05  BACAAN HARIAN MEI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 4-5-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 12 Mei 2017 [Peringatan S. Leopoldus Mandic, Imam Kapusin) 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS