DI KALA ROH-ROH JAHAT PEMBOHONG MENGATAKAN KEBENARAN

DI KALA ROH-ROH JAHAT PEMBOHONG MENGATAKAN KEBENARAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa II – Kamis, 18 Januari 2017)

Pembukaan Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani

 

Kemudian Yesus dengan murid-murid-Nya menyingkir ke danau, dan banyak orang dari Galilea mengikuti-Nya, juga dari Yudea, dari Yerusalem, dari Idumea, dari seberang Yordan, dan dari daerah Tirus dan Sidon. Mereka semua datang kepada-Nya, karena mendengar segala hal yang dilakukan-Nya. Ia menyuruh murid-murid-Nya menyediakan sebuah perahu bagi-Nya karena orang banyak itu, supaya mereka jangan sampai menghimpit-Nya. Sebab Ia menyembuhkan banyak orang, sehingga semua penderita penyakit berdesak-desakan kepada-Nya hendak menyentuh-Nya. Setiap kali roh-roh jahat melihat Dia, mereka sujud di hadapan-Nya dan berteriak, “Engkaulah Anak Allah.” Tetapi Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia.  (Mrk 3:7-12)

Bacaan Pertama: 1Sam 18:6-9;19:1-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 56:2-3,9-13

Roh-roh jahat tersungkur sujud di hadapan Yesus dan berseru, “Engkaulah Anak Allah” (Mrk 3:11). Yesus menyuruh mereka diam. Apa salahnya menyatakan Yesus Anak Allah? Kedudukan Yesus sebagai Anak Allah adalah titik puncak Injil Markus. Injil ini diawali  dengan pernyataan sebagai berikut: “Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah” (Mrk 1:1). Sekarang, baiklah kita baca kata-kata kepala pasukan di dekat salib Yesus yang ada pada bagian akhir Injil itu: “Sungguh, orang ini Anak Allah” (Mrk 15:39).

Pemberian kesaksian bahwa  Yesus adalah Anak Allah juga adalah salah satu dari butir-butir terpenting dalam Syahadat (Credo). Roh jahat yang diusir oleh Yesus telah membeberkan kebenaran, kebenaran Injil. Bahkan roh jahat itu mengatakan inti sari Credo yang dirumuskan di kemudian hari. Lalu apa sebab Yesus tetap “melarang mereka dengan keras agar tidak mewartakan siapakah Dia?” (Mrk 3:12).

Iblis adalah “pembunuh manusia sejak semua dan tidak hidup dalam kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata dari diri sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa pendusta” (Yoh 8:44). Bala tentara si Iblis adalah roh-roh jahat. Mereka juga adalah pembohong-pembohong. Dengan demikian, mudah saja untuk Iblis dan roh-roh jahatnya membuat kebohongan dengan menceritakan kebenaran pada saat dan situasi ketika kebenaran itu mudah disalahartikan. Iblis senantiasa mencoba untuk mengkaitkan antara ke-Allahan Yesus dengan penyembuhan dan mukjizt. Dengan cara ini akan terjadi penyesatan yang sungguh berbahaya.

Yesus menghendaki agar kedudukan-Nya sebagai Anak Allah selalu dikaitkan dengan SALIB (Mrk 15:39). Hanya di kayu saliblah pribadi dan karya Yesus dapat dipahami dengan benar. Kita semua jangan sampai percaya akan kebohongan Iblis tentang Yesus, walaupun kebohongan itu terasa nyata dan benar. Dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus, Paulus menulis: “… aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan” (1Kor 2:2). Yesus tidak pernah dapat dipisahkan dari salib-Nya.

DOA: Bapa surgawi, berikanlah kepadaku keberanian untuk mengatakan kebenaran, terutama pada waktu dan situasi yang tepat. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Saam 18:6-9;19:1-7), bacalah tulisan yang berjudul “KECEMBURUAN RAJA SAUL MENCERMINKAN KETIDAKPERCAYAANNYA KEPADA ALLAH” (bacaan tanggal 18-1-18), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; 18-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2018.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 19-1-17 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 16 Januari 2018 [Peringatan S. Berardus, Imam dkk. para Protomartir Ordo S. Fransiskus] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

 

Advertisements

YANG DIPERBOLEHKAN PADA HARI SABAT

YANG DIPERBOLEHKAN PADA HARI SABAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Antonius, Abas – Rabu, 17 Januari 2018) 

Kemudian Yesus masuk lagi ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang tangannya mati sebelah. Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia. Kata Yesus kepada orang yang tangannya mati sebelah itu, “Mari, berdirilah di tengah!”  Kemudian kata-Nya kepada mereka, “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya?”  Tetapi mereka diam saja. Ia sangat berduka karena kekerasan hati mereka dan dengan marah Ia memandang orang-orang di sekeliling-Nya lalu Ia berkata kepada orang itu, “Ulurkanlah tanganmu!”  Orang itu mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu. Lalu keluarlah orang-orang Farisi dan segera membuat rencana bersama para pendukung Herodes untuk membunuh Dia. (Mrk 3:1-6)

Bacaan Pertama: 1Sam 17:32-33,37,40-51; Mazmur Tanggapan: Mzm 144:1,2,9-10

Inkarnasi Yesus menandakan: (1) sudah berlalunya hukum dosa serta maut dan (2) datangnya kerajaan Allah. Yesus adalah Anggur yang baru, …. hidup baru. Allah telah lama mempersiapkan umat-Nya untuk menerima hidup baru ini. Akan tetapi, meskipun Yesus memberikan kepada orang banyak kesembuhan, pengampunan dan cintakasih, para pemimpin agama memandang dan memperlakukan Dia sebagai lawan dan obyek cemoohan.

Konflik itu, yang dimulai ketika Yesus menyembuhkan seorang lumpuh (Mrk 2:1-12), malah meningkat ketika Dia menyembuhkan seorang lain yang tangannya mati sebelah (Mrk 3:1-6). Sampai saat ini, orang-orang Farisi selalu melontarkan kritik dan mempertanyakan tindakan-tindakan Yesus. Sekarang, Yesus ganti bertanya kepada mereka: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, yang menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya?” (Mrk 3:4). Orang-orang Farisi diam saja. Mereka tetap mempertahankan kedegilan hati mereka di hadapan kebaikan Allah. Tidak adanya tanggapan dari mereka membuat Yesus marah dan sekaligus sedih. Dalam kerahiman-Nya, Yesus menyembuhkan tangan si sakit, sekali lagi menunjukkan bahwa Dia adalah Tuhan atas hari Sabat (Mrk 2:27-28). Orang-orang Farisi marah sekali karena Yesus telah melanggar pembatasan-pembatasan hari Sabat. Oleh karena itu mereka pun mulai bersekongkol dengan orang-orang Herodian untuk menghancurkan Yesus (Mrk 3:6).

Mengapa sampai ada orang yang mau membunuh Yesus yang justru datang melakukan kebaikan? Sikap mandiri yang salah dan ketergantungan pada pemikiran manusia semata-mata seringkali membutakan kita terhadap kebenaran Allah dan malah menyebabkan kita menentang Dia, bahkan pada saat kita tidak menyadari apa yang kita perbuat. Kodrat manusia yang cenderung jatuh ke dalam dosa selalu menghindari sikap penyerahan diri kepada Allah. Akan tetapi, seperti kita ketahui, untuk menerima keselamatan, kita harus berserah-diri kepada-Nya. Apabila kita menolak kebaikan Allah, maka kita – seperti juga orang-orang Farisi – akan menilai lebih tinggi berbagai aturan, ketimbang kebutuhan-kebutuhan saudari-saudara kita. Sikap mandiri yang keliru akan menghalangi kita untuk mengakui Yesus sebagai Juruselamat dan membatasi pengalaman kita akan kehadiran-Nya.

Sebaliknya, kalau kita bersikap seperti anak-anak, kita akan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah. Dengan demikian kita pun akan mampu menerima kerahiman-Nya dan hidup baru-Nya. Yesus akan mengubah hati dan pikiran kita sehingga hasrat-hasrat-Nya dan pikiran-pikiran-Nya menjadi hasrat-hasrat dan pikiran-pikiran kita. Dia akan mengajarkan kepada kita jalan-Nya dan memberdayakan kita agar supaya taat kepada firman-Nya. Kalau anak-anak Allah terbuka untuk menerima kebaikan dan kerahiman Tuhan, maka Dia dapat menyembuhkan segala perpecahan yang ada di antara mereka, sehingga bersama-sama mereka akan mencerminkan kepenuhan kemuliaan-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, ubahlah hati kami agar dapat semakin serupa dengan hati-Mu. Biarlah kasih-Mu memancar ke dalam hati kami dan melalui hati kami kepada orang-orang di sekeliling kami. Tolonglah kami agar mau dan mampu menyediakan waktu dan energi bagi orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Sam 17:32-33,37,40-51), bacalah tulisan yang berjudul “CERITA TENTANG DAUD BERTARUNG MELAWAN GOLIAT” (bacaan tanggal 17-1-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.worpress.com;  18-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 18-1-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 14 Januari 2018 [HARI MINGGU BIASA II – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

HARI SABAT DIADAKAN UNTUK MANUSIA, BUKAN SEBALIKNYA

HARI SABAT DIADAKAN UNTUK MANUSIA, BUKAN SEBALIKNYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa II – Selasa, 16 Januari 2018)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Berardus, Imam dkk., Martir-martir Pertama Fransiskan

 

Pada suatu hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum. Lalu kata orang-orang Farisi kepada-Nya, “Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?”  Jawab-Nya kepada mereka, “Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan orang-orang yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar lalu makan roti sajian itu – yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam – dan memberinya juga kepada pengikut-pengikutnya?” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat. Karena itu Anak Manusia adalah Tuhan, bahkan atas hari Sabat.”  (Mrk 2:23-28)

Bacaan Pertama: 1 Sam 16:1-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 89:20-22,27-28

“Anak Manusia adalah Tuhan, bahkan atas hari Sabat.” (Mrk 2:28)

Kata-kata Yesus ini merupakan tantangan bagi orang-orang Farisi. Mereka mengajukan pertanyaan yang kelihatan legitim (Inggris: legitimate) berkaitan dengan tindakan-tindakan para murid Yesus yang jelas bertentangan dengan hukum Sabat. Yesus menanggapi pertanyaan orang-orang Farisi itu dengan mengkonfrontir kekerdilan pemikiran mereka tentang diri-Nya dan karya pelayanan-Nya. Yesus juga mengidentifikasikan diri-Nya sebagai Tuhan (Kyrios) atas hari Sabat.

SONY DSC

Tindakan para murid memetik bulir gandum di hari Sabat jelas merupakan suatu pelanggaran peraturan-peraturan Yahudi berkaitan dengan hari Sabat. Ketika orang-orang Farisi itu mempertanyakan tindakan-tindakan para murid-Nya, Yesus menanggapinya dengan menyatakan otoritas-Nya dengan dua cara. Pertama, Ia memberi contoh dari Perjanjian Lama, yaitu pada waktu Daud dan para pengikutnya memakan roti suci yang ada di Rumah Allah. Dalam hal ini Yesus mengidentifikasikan diri-Nya dengan Daud. Sebagaimana Daud mengizinkan para pengikutnya memuaskan rasa lapar mereka dengan mengorbankan kepatuhan yang ketat terhadap hukum, demikian pula Yesus dapat memperkenankan para murid-Nya untuk memuaskan rasa lapar mereka dengan memetik bulir gandum pada hari Sabat. Daud adalah pralambang dari Mesias yang dinanti-nantikan. Sudah diterima secara umum dalam masyarakat Yahudi bahwa sang Mesias yang dinanti-nantikan itu adalah seorang keturunan Daud. Jadi, Yesus mempunyai semacam hak prerogatif untuk mengupayakan agar kebutuhan-kebutuhan para murid-Nya terpenuhi; mereka yang telah meninggalkan segala milik mereka untuk mengikuti sang Rabi dari Nazaret dalam pelayanan-Nya kepada orang banyak.

Cerita tentang konfrontasi ini mengundang kita untuk melihat terobosan dari Kerajaan Allah. Sebagaimana pra-konsepsi orang-orang Farisi tentang karya pelayanan Yesus dan hukum dipertanyakan, maka kita pun ditantang untuk memahami bahwa Yesus jauh lebih daripada sekadar seorang manusia atau seorang guru yang baik. Anak Manusia adalah Tuhan atas segala sesuatu, bahkan atas hari Sabat!

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami agar mampu melihat dengan jelas otoritas dan martabat-Mu sebagai Tuhan. Engkau harus makin besar, tetapi kami harus makin kecil (bdk. Yoh 3:30). Kami ingin hidup seturut hukum kasih-Mu dan di bawah kekuasan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan  Pertama hari ini (1Sam 16:1-13), bacalah tulisan yang berjudul “CERITA TENTANG DAUD YANG DIURAPI MENJADI RAJA ISRAEL” (bacaan tanggal 16-1-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; 18-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaa tanggal 17-1-17 dalam situs/blog SANG  SABDA) 

Cilandak, 14 Januari 2018 [HARI MINGGU BIASA II – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ANGGUR BARU SEHARUSNYA DISIMPAN DALAM KANTONG KULIT BARU

ANGGUR BARU SEHARUSNYA DISIMPAN DALAM KANTONG KULIT BARU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa II – Senin, 15 Januari 2018)

Pada suatu kali ketika murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi sedang berpuasa, datanglah orang-orang dan mengatakan kepada Yesus, “Mengapa murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?”   Jawab Yesus kepada mereka, “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berpuasa sementara mempelai itu bersama mereka? Selama mempelai itu bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa. Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabiknya, yang baru mencabik yang tua, lalu makin besarlah koyaknya. Demikian juga tidak seorang pun menuang anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula.”  (Mrk 2:18-22) 

Bacaan Pertama: 1Sam 15:16-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:8-9,16-17,21,23

Puasa, latar belakang pesta perkawinan, kain penambal dan baju tua, anggur dan kantong kulit penyimpan anggur, semua ini dirajut dengan indahnya. Inilah contoh betapa kreatif cara mengajar Yesus, Sang Guru. Bagi para murid, bersama Yesus, sang mempelai laki-laki yang sudah sekian lama dinanti-nantikan, sudah barang tentu tidak seperti pengalaman-pengalaman mereka sebelumnya. Menerima Yesus, bagi para murid juga samasekali tidak seperti yang selama itu mereka tahu. Semua kategori yang lama, aturan-aturan yang lama, dan bahkan harapan-harapan yang lama tidak berlaku lagi.

Kita semua diciptakan dengan kapasitas – dan kebutuhan – yang luarbiasa untuk menerima cintakasih, terutama sekali kasih Allah. Namun karena efek-efek dosa dalam hidup kita, kapasitas kita untuk menerima kasih Allah menjadi banyak terhalang, dengan kata lain menjadi semakin menciut. Karenanya kita mungkin berupaya memenuhi kebutuhan kita akan afeksi ilahi dengan mencari kepuasan-diri, dengan mencoba agar kita dapat diterima oleh orang-orang lain, dengan mencoba melakukan pekerjaan-pekerjaan yang baik, atau dengan mengumpulkan harta benda kekayaan. Akan tetapi dalam hati, kita merasa bahwa tidak ada satu pun dari upaya yang disebutkan tadi, yang sungguh dapat mengisi kehampaan diri kita, meski kita telah menaruh harapan pada berbagai upaya tersebut. HANYA ALLAH YANG DAPAT MEMENUHI KEBUTUHAN-KEBUTUHAN KITA YANG PALING DALAM.

Dalam perumpamaan-Nya tentang anggur yang baru dan kantong kulit yang baru, Yesus seakan-akan mengatakan kepada orang-orang, “Aku adalah Anggur yang baru untuk-Nya kamu semua merasa haus. Bapa-Ku menciptakan kamu dengan rasa haus akan Daku ini. Rayakanlah kehadiran-Ku di tengah-tengah kamu, karena Akulah Mempelai laki-laki yang telah lama dinanti-nantikan. Makanlah tubuh-Ku, minumlah darah-Ku, terimalah cintakasih-Ku bagimu. Kalau Aku pergi, apabila kamu berpuasa dan berdoa dan meminta kepada Bapa, maka Dia akan mengutus Roh Kudus yang dijanjikan, yang akan memperbaiki kapasitasmu yang indah untuk menerima Aku dengan lebih lagi. Dia akan membuat kamu menjadi bejana-bejana yang dapat berisikan hidup-Ku sendiri. Kamu akan sungguh menjadi kantong kulit anggur baru yang dipenuhi Aku, Anggur yang baru.”

Yesus, sang Mempelai laki-laki, telah datang. Dia adalah Anggur yang baru, bukan seperti anggur manapun yang pernah kita cicipi. Yesus minta agar kita membuka diri kita bagi suatu cara hidup yang samasekali baru dalam Dia. Kini kita masih berpuasa, akan tetapi sekarang dengan hasrat untuk membuang jauh-jauh hidup dosa lama kita, kategori-kategori hidup yang lama dalam dunia ini, untuk menyiapkan diri kita bagi hari pada saat mana Yesus akan datang kembali untuk mengambil kita kepada diri-Nya sendiri dan mempersatukan kita sebagai satu umat dalam hadirat-Nya.

DOA: Bapa surgawi, oleh kuasa Roh-Mu, tingkatkanlah kapasitas kami untuk menerima Yesus, mempelai laki-laki kami. Semoga darah-Nya menyembuhkan luka-luka kami dan menyatukan Gereja-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 2:18-22), bacalah tulisan yang berjudul “ANGGUR BARU DALAM KANTONG KULIT YANG BARU” (bacaan tanggal 15-1-18), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; 18-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2018.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 16-1-17 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 11 Januari 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

LIHATLAH ANAK DOMBA ALLAH!

LIHATLAH ANAK DOMBA ALLAH!

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA II [Tahun B], 14 Januari 2018)

Keesokan harinya Yohanes berdiri di situ lagi dengan dua orang muridnya. Ketika ia melihat Yesus lewat, ia berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah!” Kedua murid itu mendengar apa yang dikatakannya itu, lalu mereka pergi mengikut Yesus. Tetapi Yesus menoleh ke belakang. Ia melihat bahwa mereka mengikut Dia lalu berkata kepada mereka, “Apa yang kamu cari?” Kata mereka kepada-Nya, “Rabi (artinya: Guru), di manakah Engkau tinggal?” Ia berkata kepada mereka, “Marilah dan kamu akan melihatnya.” Mereka pun datang dan melihat di mana Ia tinggal, dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan dia, waktu itu kira-kira pukul empat. Salah seorang dari keduanya yang mendengar perkataan Yohanes lalu mengikut Yesus adalah Andreas, saudara Simon Petrus. Andreas mula-mula menemui Simon, saudaranya, dan ia berkata kepadanya, “Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus).” Ia membawanya kepada Yesus. Yesus memandang dia dan berkata, “Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus).” (Yoh 1:35-42) 

Bacaan Pertama: 1Sam 3:3b-10,19; Mazmur Tanggapan: Mzm 40:2,4,7-10; Bacaan Kedua: 1Kor 6:13-15,17-20 

Marilah kita mencoba suatu pendekatan yang berbeda terhadap bacaan Injil hari ini. Marilah kita memohon Roh Kudus untuk membimbing kita (anda dan saya) selagi kita membayangkan ceritanya seakan terjadi di depan kita. Bayangkanlah Andreas. Dia adalah seorang murid dari Yohanes Pembaptis, namun dia juga adalah seorang nelayan. Kiranya Andreas adalah seorang yang sangat sibuk, namun dia masih menyediakan waktu untuk memelihara kehidupan spiritualnya karena dia dengan penuh semangat menanti-nantikan kedatangan sang Mesias. Itulah sebabnya mengapa Andreas begitu tertarik kepada Yohanes Pembaptis. Walaupun untuk itu dibutuhkan pengorbanan waktu dan juga upaya-upaya, Andreas merangkul ajaran Yohanes Pembaptis tentang pertobatan dalam rangka mempersiapkan suatu kunjungan istimewa dari Allah.

Sekarang, apa yang dikejarnya sudah semakin terasa dekat selagi Yohanes mendeklarasikan: “Lihatlah Anak Domba Allah!”  (Yoh 1:36). Dengan seorang murid Yohanes lainnya, Andreas lalu pergi mengikut Yesus (Yoh 1:37). Ia ingin menyediakan waktu bersama Yesus sehingga dengan demikian ia dapat mengkonfirmasikan dalam pikirannya apa yang telah dideklarasikan oleh Yohanes.

Marilah kita melanjutkan imajinasi kita selagi kita membayangkan Yesus berbincang-bincang sampai larut malam dengan Andreas dan murid Yohanes yang lainnya itu tentang ajaran Yohanes Pembaptis. Bayangkanlah Yesus mengkonfirmasi kata-kata yang disampaikan oleh Yohanes Pembaptis, namun Ia juga menyatakan kepada mereka berdua secara mendalam dan dengan kuasa, hal-hal yang belum pernah dipahami oleh mereka. Andreas dan kawannya kelihatannya telah diyakinkan oleh kata-kata Yesus, oleh sikap-Nya, dan oleh kehadiran-Nya. Barangkali masih banyak lagi yang harus dipelajari oleh Andreas dan kawannya, namun kiranya sudah cukuplah bagi mereka untuk diyakinkan bahwa Yesus memang layak dan pantas untuk diikuti.

Sekarang, marilah kita membayangkan diri kita (anda dan saya) sedang berbicara dengan Yesus. Baiklah kita memformulasikan beberapa pertanyaan kita sendiri dan menuliskan pertanyaan-pertanyaan tersebut dalam buku catatan kita, lalu membayangkan Yesus menjawab pertanyaan-pertanyaan kita itu. Marilah kita menggunakan Kitab Suci untuk menambah “panas” imajinasi kita. Misalnya, bayangkanlah bahwa Yesus mengatakan kepada kita tentang segala janji Allah yang ada dalam Kitab Suci; tentang pembebasan dari dosa; atau tentang karunia Roh Kudus. Agar dapat mendengarkan kata-kata-Nya kita harus membuat hening pikiran kita. Segala sesuatu yang dialami oleh Andreas dan kawannya pada saat-saat mereka bersama Yesus dapat kita alami juga bila kita “datang dan melihat” (Yoh 1:39) dalam Perayaan Ekaristi dan dalam doa kita.

Allah sungguh ingin membuka hati kita bagi kasih-Nya sehingga dengan demikian kita – seperti Andreas dan kawannya – akan didorong untuk menemui para saudari-saudara kita lainnya dan berkata: “Kami telah menemukan Mesias” (Yoh 1:41), kemudian membawa mereka yang kita temui itu kepada Yesus. Untuk perbandingan, baiklah saudari-saudara mengingat apa yang dilakukan oleh perempuan Samaria setelah bertemu dengan Kristus di dekat sumur Yakub (Yoh 4:28-29). Allah dapat memberdayakan kita menjadi pewarta-pewarta Kabar Baik, asal saja hati kita terbuka bagi sentuhan-Nya yang penuh kasih.

DOA: Yesus, Engkau bertanya kepadaku mengapa aku mencari-Mu. Curahkanlah rahmat-Mu ke dalam diriku sekarang dan tunjukkanlah kepadaku jawaban dari jiwaku. Sembuhkanlah aku di mana saja aku perlu disembuhkan sehingga aku dapat mengikut Engkau dengan segenap hati, segenap jiwa, dan segenap kekuatanku, kemudian membawa orang-orang lain kepada-Mu. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Yesus, Tuhan dan Juruselamatku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 1:35-42), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS BERTANYA: APA YANG KAMU CARI?” (bacaan tanggal 14-1-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 18-1-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 10 Januari 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS DATANG JUSTRU UNTUK MEMANGGIL ORANG BERDOSA

YESUS DATANG JUSTRU UNTUK MEMANGGIL ORANG BERDOSA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Sabtu, 13 Januari 2018)

 

Sesudah itu Yesus pergi lagi ke pantai danau, dan seluruh orang banyak datang kepada-Nya, lalu Ia mengajar mereka. Kemudian ketika Ia lewat di situ, Ia melihat Lewi anak Alfeus duduk di tempat pemungutan cukai lalu Ia berkata kepadanya, “Ikutlah Aku!”  Lewi pun bangkit lalu mengikuti Dia.  Kemudian ketika Yesus makan di rumah orang itu, banyak pemungut cukai dan orang berdosa makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya, sebab banyak orang yang mengikuti Dia. Pada waktu ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi melihat bahwa Ia makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa itu, berkatalah mereka kepada murid-murid-Nya, “Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?”  Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”  (Mrk 2:13-17)

Bacaan Pertama: 1Sam 9:1-4,17-19;10:1a; Mazmur Tanggapan: Mzm 21:2-7

Pada saat-saat tertentu di masa lampaunya Lewi telah mengambil langkah yang salah dalam kehidupannya. Dia memilih kekayaan dan kekuasaan, bukannya solidaritas dengan saudari-saudaranya sebangsa, yaitu orang-orang Yahudi. Dia menjadi seorang pemungut cukai untuk kepentingan pihak penguasa Romawi, penjajah yang sangat dibenci oleh rata-rata orang Yahudi. “Biaya sosial” yang harus ditanggung sebagai akibat pilihannya atas pekerjaannya sebagai seorang pemungut cukai memang tidak kecil. Sejak saat dia memutuskan untuk menjadi “antek Romawi”, dia tidak lagi dipandang sebagai one of us oleh masyarakat Yahudi, malah dianggap sebagai seorang pengkhianat bangsa, … seorang musuh. Barangkali teman-temannya hanyalah terdiri dari orang-orang yang berprofesi sama dengan dirinya, sampai Yesus mengundang Lewi untuk menegikuti-Nya (Mrk 2:14).

Yesus mengundang Lewi secara langsung, “Ikutlah Aku”, malah setelah itu “lebih heboh” lagi, karena Dia duduk makan bersama di rumah Lewi, yang dipenuhi juga dengan para undangan yang terdiri dari para pemungut cukai dan orang berdosa (Mrk 2:15). Dalam kebudayaan Yahudi persekutuan pada meja perjamuan melambangkan persahabatan yang intim. Orang-orang Farisi percaya bahwa kekudusan mensyaratkan penghindaran diri seseorang dari kontak dengan orang-orang yang tidak murni-suci. Itulah sebabnya mengapa mereka bertanya kepada para murid Yesus, “Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” (Mrk 2:16). Orang-orang Farisi mempertanyakan solidaritas Yesus dengan “para pendosa”. Yesus sebenarnya tidak sepenuhnya tidak setuju dengan pandangan orang-orang Farisi itu. Dia menerima kenyataan, bahwa Lewi dan orang-orang sejenisnya adalah orang-orang  yang “sakit” di tingkat spiritual, dengan demikian membutuhkan penyembuhan spiritual.

Lewat pekerjaan Roh Kudus dalam hatinya, Lewi juga sampai pada kesimpulan yang sama. Selama itu Dia telah mendengarkan Yesus yang mewartakan sabda rekonsiliasi dan mengakui bahwa dia membenci rasa malu dan isolasi yang ditanggungnya selama itu. Akan tetapi Lewi bukanlah seperti orang-orang Farisi, karena dia tidak berhenti sampai di sana. Dengan menyambut tangan-tangan Yesus dalam persahabatan sejati, Lewi berhasil membuang rasa bersalahnya memerdekaan nuraninya yang sudah lama menderita tekanan. Lewi masuk ke dalam pertukaran ilahi. Artinya dia menyerahkan independensinya dari Allah dan mendirikan suatu hidup ketaatan dengan mengikuti Yesus. Dengan demikian Lewi memperoleh bagian yang lebih baik, pengampunan dari-Nya yang indah.

Kita pun dapat melakukan hal yang sama. Kita tidak perlu merasa kaget apabila kita melihat dosa dalam kehidupan kita. Yang perlu kita lakukan hanyalah berpaling kepada-Nya dan mengakui kebutuhan-kebutuhan kita akan pengampunan dan penyembuhan. Seperti dikatakan oleh P. Raniero Cantalamessa OFMCap., sekarang ini posisi kita secara spiritual tidak ubahnya dengan “roh-roh yang terpenjara di tempat penantian”, yang menanti-nantikan kedatangan sang Juruselamat. Oleh karena itu marilah kita berseru dengan keras dari kedalaman ruang penjara kedosaan kita, dalam tempat mana kita sudah sekian lama terbelenggu sebagai tawanan. Kita sudah tahu bahwa ada pertolongan dan ada obat penyembuh bagi sakit-penyakit kita, karena Allah mengasihi kita (Life in Christ, hal. 33). Marilah kita menyesali dan mengakui dosa-dosa kita kepada Allah yang Maharahim.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah membuang rasa bersalah dan rasa malu kami, dan Engkau telah mewujud-nyatakan kasih Allah ke tengah dunia yang penuh dengan kedosaan ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 2:13-17), bacalah tulisan yang berjudul “MATIUS MENYADARI DAN MENGAKUI BAHWA YESUS DAPAT MENYEMBUHKAN DIRINYA” (bacaan  tanggal 13-1-18), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-1-17 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 10 Januari 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KUASA UNTUK MENGAMPUNI DOSA

KUASA UNTUK MENGAMPUNI DOSA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Jumat, 12 Januari 2018)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Bernardus dr Corleone, Biarawan

 

Kemudian, sesudah lewat beberapa hari, waktu Yesus datang lagi ke Kapernaum, tersebarlah kabar bahwa Ia ada di rumah. Lalu datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di depan pintu pun tidak. Sementara Ia memberitakan firman kepada mereka, ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang. Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap di atas Yesus; sesudah terbuka mereka menurunkan tikar, tempat orang lumpuh itu terbaring. Ketika Yesus melihat iman mereka berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu, “Hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni!”  Tetapi beberapa ahli Taurat sedang duduk di situ, dan mereka berpikir dalam hatinya, “Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain Allah sendiri?” Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka, “Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu? Manakah yang lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosa-dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tikarmu dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu bahwa Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa di bumi ini” – berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu –, “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tikarmu dan pulanglah ke rumahmu!” Orang itu pun bangun, segera mengangkat tikarnya dan pergi ke luar dari hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya, “Yang begini belum pernah kita lihat.”  (Mrk 2:1-12)

Bacaan Pertama: 1Sam 8:4-7,10-22a; Mazmur Tanggapan: Mzm 89:16-19 

Narasi Injil yang cukup dramatis ini adalah mengenai bagaimana Yesus menyembuhkan seorang lumpuh yang diturunkan dari atap rumah oleh empat orang yang membawanya ke tempat itu. Cerita tentang penyembuhan orang lumpuh ini adalah yang pertama dari lima cerita konflik dalam Injil Markus (2:1-3:6), yang menyoroti perlawanan para pemuka agama Yahudi terhadap pernyataan siapa diri Yesus itu. Dengan berpegang teguh pada ide-ide kuno mereka sendiri, para ahli Taurat dan orang Farisi gagal mengalami bela rasa dan kasih Allah yang dimanifestasikan dalam diri Yesus.

Ada beberapa pokok konflik yang muncul antara Yesus dan para pemimpin agama Yahudi selama berlangsungnya proses penyembuhan. Yang pertama terjadi ketika Yesus mendeklarasikan bahwa dosa-dosa orang itu diampuni (Mrk 2:5). Dalam Perjanjian Lama, kuasa untuk mengampuni dosa hanya milik Allah saja (Kel 34:6-7; Yes 43:25). Lalu Yesus menyebut diri-Nya sebagai “Anak Manusia” yang memiliki kuasa untuk mengampuni dosa (Mrk 2:10). Tradisi Yahudi pada waktu itu memahami bahwa yang dimaksudkan dengan “anak manusia” (Dan 7:13-14) mengacu kepada sang Mesias yang akan membawa umat ke dalam Kerajaan Allah. Yesus mengidentifikasikan diri-Nya dengan tokoh mesianis ini untuk mulai menyatakan diri-Nya dan mempersiapkan umat bagi pekerjaan yang akan dilaksanakan-Nya melalui sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya.

Tanggapan umat yang hadir terhadap peristiwa penyembuhan orang lumpuh ini merupakan sebuah kontras yang tajam terhadap ketakutan yang melumpuhkan dari para ahli Taurat (Mrk 2:7). Orang banyak takjub dan memuliakan Allah, sambil berkata: “Yang begini belum pernah kita lihat” (Mrk 2:12). Mereka memberi tanggapan positif terhadap kebaikan dan belas kasih Allah. Kiranya tidak sedikit dari orang banyak itu kemudian menjadi murid-murid Yesus.

Sekarang pertanyaannya adalah, mengapa orang banyak  dapat mengenali siapa Yesus itu, sementara para pemimpin agama Yahudi buta sehingga tidak mampu melihat siapa sebenarnya Yesus? Jawabnya terletak pada iman mereka. Yesus melihat iman dari mereka yang membawa orang lumpuh dan juga iman si lumpuh sendiri (Mrk 2:5). Walaupun kuat-kuasa dan belas kasih Yesus begitu terlihat oleh mereka yang percaya (beriman), ketidak-percayaan telah membutakan mata (terutama mata hati) para pemuka agama Yahudi tersebut. Para pemuka agama Yahudi itu tidak mau mengubah mindset  mereka, juga tidak mempunyai keberanian untuk keluar dari comfort zone mereka. Bukankah implisit dalam pengertian apa iman itu, terdapat unsur-unsur keberanian dan perubahan diri?

DOA: Tuhan Yesus, oleh kuasa Roh Kudus-Mu, bukalah mata kami agar mampu melihat karya-Mu dengan lebih jelas dalam hidup kami. Sembuhkanlah kami dari berbagai cara berpikir kami yang membatasi – bahkan menghalangi – pemahaman kami tentang rencana penyelamatan Bapa surgawi atas segenap umat manusia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini, bacalah tulisan yang berjudul “YESUS SUGGUH MEMPUNYAI KUASA UNTUK MENGAMPUNI DOSA” (bacaan tanggal 12-1-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-1-17 dalam situs/blog SANG SABDA] 

Cilandak, 9 Januari 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS