HARTA-KEKAYAAN BERKEMUNGKINAN BESAR MENJADI TUAN KITA

HARTA-KEKAYAAN BERKEMUNGKINAN BESAR MENJADI TUAN KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Martinus dr Tours – Sabtu, 11 November 2017) 

Aku berkata kepadamu: “Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi.”

“Siapa saja yang setia dalam hal-hal kecil, ia setia juga dalam hal-hal besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam hal-hal kecil, ia tidak benar juga dalam hal-hal besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? Jikalau kamu tidak setia mengenai harta orang lain, siapakah yang akan memberikan hartamu sendiri kepadamu?

Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”

Orang-orang Farisi, hamba-hamba uang itu, mendengar semua ini, dan mereka mencemoohkan Dia. Lalu Ia berkata kepada mereka, “Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah.” (Luk 16:9-15) 

Bacaan Pertama: Rm 16:3-9,16,22-27; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:2-5,10-11

Yesus mempunyai cara-Nya sendiri untuk mengkaitkan prinsip-prinsip teoritis dengan hidup-praktis, hal mana terkadang membuat orang merasa tidak nyaman. Pada zaman kita sekarang, misalnya, banyak orang merasa tidak nyaman kalau masalah keuangan dimunculkan berbareng dengan hal-ikhwal hidup rohani. Hidup Kristiani menuntut bagaimana kita harus berurusan dengan uang dan selalu memeriksa batin kita apakah ada keserakahan dalam keputusan yang kita ambil dalam bidang keuangan.

Ada hal-hal yang kita tidak ingin periksa karena bersifat terlalu pribadi; hal-hal tersebut menyentuh kita dengan begitu mendalam. Sebagian besar dari kita sebenarnya memiliki sifat self-focuced, self-centered, berpusat pada diri sendiri; berpikir, bersikap dan bertindak-tanduk demi kepentingan pribadi. Hal seperti ini jelas akan membatasi kemampuan kita untuk melihat diri kita sebagai anggota-anggota dari sebuah komunitas yang lebih besar, sebuah komunitas yang mencakup baik orang-orang miskin maupun kaya. Kata-kata Yesus di atas sungguh relevan untuk para murid-Nya yang dapat digolongkan sebagai kaum miskin, demikian pula untuk mereka yang kaya. Kata-kata-Nya tetap berlaku pada zaman kita ini, berlaku bagi setiap orang.

Yesus memberi peringatan, bahwa harta-kekayaan berkemungkinan besar menjadi tuan kita. Kebanyakan orang mau berpikir bahwa mereka memiliki sikap rasional terhadap peranan harta-kekayaan. Namun pada kenyataannya kuasa uang lebih kuat, sehingga menjadi tuan. Kita tidak dapat menyangkal bahwa uang memiliki kuasa yang begitu kuat, sehingga secara relatif mudah dapat memperbudak orang-orang. Ingatlah rekaman pembicaraan telepon-tersadap yang masih menjadi isu hangat pada hari-hari ini. Lihat bagaimana para pejabat negara yang biasanya tampak angker-menakutkan di depan rakyat kebanyakan, terasa tidak lebih dari budak-budak di hadapan seorang pengusaha-gelap yang mempunyai uang.

Tanyakanlah kepada siapa saja yang anda temui, siapa yang merasa sudah cukup mempunyai uang? Yesus mengatakan bahwa orang-orang Farisi itu adalah hamba-hamba uang (Luk 16:14), meskipun mereka menyangkal kenyataan itu. Nah, pertanyaan yang pantas kita tanyakan kepada diri kita masing-masing sekarang: “Apakah aku lebih baik dari orang-orang Farisi?” Sampai hari ini peringatan dari Yesus tentang kenyataan bahwa uang itu berkompetisi dengan Allah untuk menjadi tuan kita, tetap menggelisahkan banyak orang. Tidak sedikit orang merasa terganggu karena pernyataan Yesus ini, oleh karena itu diam-diam berpindah ke agama/kepercayaan yang lebih dapat mengakomodir keyakinannya tentang fungsi harta-kekayaan dalam kehidupan seseorang.

Sebagai seorang Kristiani kita harus menghadapi isu ini dengan berdiri-tegak. Apakah harta-kekayaan yang sesungguhnya menjadi tuan kita, dan bukannya Allah? Apakah tidak adanya uang menjadi suatu halangan bagi kita dalam menghayati hidup Kristiani? Tidak ada jawaban yang sama untuk setiap situasi. Dari waktu ke waktu kita dapat memiliki sikap yang mendua. Oleh karena itu perlulah untuk kita melakukan pemeriksaan batin di hadapan Allah setiap hari, teristimewa dalam Ibadat Penutup di malam hari, mohon ampun atas dosa-dosa kita dan berketetapan hati untuk kembali kepada-Nya.

DOA: Roh Kudus Allah, terangilah kegelapan hatiku, ubahlah hatiku dan berikanlah kepadaku hati dan pikiran Kristus. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 16:9-15), bacalah tulisan berjudul “BEBERAPA CATATAN DARI BAB [PASAL] TERAKHIR SURAT PAULUS KEPADA JEMAAT DI ROMA” (bacaan tanggal 11-11-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-11  BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 5-11-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 7 November 2017 [Peringatan B. Assunta Pallota, FMM] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

PERUMPAMAAN YESUS TENTANG SEORANG BENDAHARA

PERUMPAMAAN YESUS TENTANG SEORANG BENDAHARA

Bacaan Injil Misa Kudus – Peringatan S. Leo Agung, Paus Pujangga Gereja – Jumat, 10 November 2017 

Kemudian Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya. Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: Apa ini yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungjawaban atas apa yang engkau kelola, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara. Kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak kuat, mengemis aku malu. Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka. Lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berhutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama: Berapakah hutangmu kepada tuanku? Jawab orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Terimalah surat hutangmu, duduklah dan tulislah segera: Lima puluh tempayan. Kemudian ia berkata kepada yang kedua: Berapakah hutangmu? Jawab orang itu: Seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu: Terima surat hutangmu, dan tulislah: Delapan puluh pikul. Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya daripada anak-anak terang.”  (Luk 16:1-8) 

Bacaan Pertama: Rm 15:14-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4 

Kesan pertama kita setelah membaca perumpamaan ini mungkin saja mengira bahwa bendahara dalam cerita ini adalah seorang “pencuri” (kata indahnya: “maling”) berkaitan dengan caranya dia berhubungan dengan para debitur majikannya. Namun jika dengan berhati-hati kita membaca bahwa sang majikan menuduh si bendahara bersalah dalam hal ketidakberesan dalam hal pengelolaan (mismanagement) dan pemborosan, bukan pencurian: “Kepadanya disampaikan tuduhan bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya” (Luk 16:1). Siapakah yang memberi informasi kepada sang majikan sehingga si bendahara sampai dituduh seperti itu? Mungkin saja salah seorang debitur, yang menjadi geram karena si bendahara membebani bunga terlalu tinggi atas utang yang ada. Upah atau gaji seorang bendahara seringkali dibayarkan dari jumlah hasil pendapatan bunga yang dibebankan atas saldo utang yang ada, dan mungkin sekali si bendahara membebankan bunga secara berlebihan demi kepentingannya sendiri.

Jadi, dengan menceritakan perumpamaan ini Yesus sebenarnya tidak mendorong orang untuk menjadi tidak jujur. Sebaliknya,  Yesus mengkontraskan pemikiran si bendahara yang “energetik” dan “cerdik”. Bagaimana pun juga, ketika si bendahara menyadari bahwa majikannya akan memecatnya, maka dia membangun tali persahabatan dengan para debiturnya – tidak dengan mencuri melainkan dengan menurunkan gajinya untuk keuntungan para debiturnya. Dengan demikian kedua pihak menjadi pemenang (win-win solution); pembayaran debitur-debitur menjadi lebih rendah; sedangkan di sisi lain si bendahara sudah memperoleh tempat yang cukup terjamin di luar rumah tanggal majikannya, dan reputasi sang majikan juga dipulihkan.

Moralitas si bendahara yang patut dipertanyakan di sini bukanlah merupakan inti masalah dari perumpaan Yesus ini. Yang Ia ingin kita soroti adalah prinsip “kelihaian/kelicinan” yang digunakan oleh si bendahara. Seperti si bendahara menggunakan uangnya untuk menyiapkan tempat tinggal bagi dirinya di atas muka bumi, maka kita pun dapat menggunakan uang kita dengan cerdik guna membangun Kerajaan Allah di atas muka bumi. Apa yang kita perbuat bagi orang-orang miskin dan membutuhkan pertolongan di atas muka bumi ini akan membawa ganjaran kekal-abadi bagi kita dan orang-orang lain juga.

Bagaimana? Apabila kita menyerahkan diri kita sendiri dan uang kita, maka orang-orang yang mungkin saja memilih cara-cara yang jahat dan berdosa dapat diselamatkan. Misalnya kemurahan-hati kita dalam mendukung berbagai macam pelayanan gerejawi tidak hanya menyenangkan Bapa surgawi, melainkan juga menolong orang-orang lain menghindarkan diri atau meninggalkan pilihan-pilihan buruk. Kita dapat dengan “lihai” menjalin relasi kita juga, membangun persahabatan dengan para teman/sahabat dan anggota keluarga seturut jalan Allah. Dengan demikian semuanya akan menang! Kita mengembangkan relasi-relasi yang lebih akrab, dan kita menolong orang-orang lain agar semakin dekat dengan Yesus.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, lanjutkanlah mengajar diriku melalui sabda-Mu yang ada dalam Kitab Suci. Lanjutkanlah tindakan-Mu mengubah pikiranku agar dapat cerdik dan licin dalam membangun serta menjalin tali persahabatan dalam jalan Allah – jalan-Mu sendiri –  dengan orang-orang lain dan juga dalam memajukan Kerajaan Surga. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 16:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “SEORANG BENDAHARA YANG TIDAK JUJUR” (bacaan tanggal 10-11-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 4-11-16 alam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 7 November 2017 [Peringatan B. Assunta Pallota FMM] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PEMENUHAN VISI ALLAH TENTANG BAIT-NYA

PEMENUHAN VISI ALLAH TENTANG BAIT-NYA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran – Kamis, 9 November 2017) 

Kemudian ia membawa aku kembali ke pintu Bait Suci, dan sungguh, ada air keluar dari bawah ambang pintu Bait Suci itu dan mengalir menuju ke timur, sebab Bait Suci juga menghadap ke timur; dan air itu mengalir dari bawah bagian samping kanan dari Bait Suci itu, sebelah selatan mezbah. Lalu diiringnya aku ke luar melalui pintu gerbang utara dan dibawanya aku berkeliling dari luar menuju pintu gerbang luar yang menghadap ke timur, sungguh, air itu membual dari sebelah selatan.

Ia berkata kepadaku: “Sungai ini mengalir menuju wilayah timur, dan menurun ke Arab-Yordan, dan bermuara di Laut Asin, air itu menjadi tawar, sehingga ke mana saja sungai itu mengalir, segala makhluk hidup yang berkeriapan di sana akan hidup. Ikan-ikan akan menjadi sangat banyak, sebab ke mana saja air itu sampai, air laut  di situ menjadi tawar dan ke mana saja sungai itu mengalir, semuanya di sana hidup.

Pada kedua tepi sungai itu tumbuh bermacam-macam pohon buah-buahan, yang daunnya tidak layu dan buahnya tidak habis; tiap bulan ada lagi buahnya yang baru, sebab pohon-pohan itu mendapat air dari tempat kudus itu. Buahnya menjadi makanan dan daunnya menjadi obat (Yeh 47:1-2,8-9,12) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 46:2-3,5-6,8-9; Bacaan Kedua: 1Kor 3:9c-11,16-17; Bacaan Injil: Yoh 2:13-22 

Tahun 573 SM. Orang-orang Israel tinggal dalam pengasingan. Bangsa mereka telah diporak-porandakan, kota mereka Yerusalem yang suci praktis telah dihancurkan dan orang-orang Israel dikirim ke tempat-tempat pembuangan sebagai budak-budak di Babel. Empat belas tahun sudah berlalu sejak Bait Suci yang dibangun oleh raja Salomo di Yerusalem dihancurkan. Kita hanya dapat membayangkan kesusahan yang diderita bangsa Israel pada masa-masa itu.

Namun sekarang, baiklah kita membayangkan reaksi orang-orang Israel itu ketika Allah mengutus nabi Yehezkiel dengan sebuah pesan penuh pengharapan. Sebuah Bait Suci yang baru akan muncul, lebih baik daripada yang lama. Dari Bait Suci ini akan mengalir keluar air yang membawa kehidupan dan kesembuhan. Allah mengatakan kepada umat-Nya yang sedang menderita kesusahan itu agar tidak berdiam dalam keadaan yang menekan mereka itu, melainkan untuk memandang kepada-Nya dan percaya kepada janji-janji-Nya.

Kita mengetahui bahwa visi Allah tentang Bait-Nya pada akhirnya dipenuhi dalam diri Yesus Kristus. Tubuh Yesus sendiri adalah Bait Suci yang diruntuhkan, namun dibangkitkan kembali oleh kuasa Allah (Yoh 2:19). Sekarang, sebagai anggota-anggota tubuh Kristus (Gereja), kita adalah bagian dari Bait Suci ini. Yesus adalah sumber dari sungai dari mana kita menerima kehidupan, kuasa dan rahmat. Lewat pembaptisan kita ke dalam kematian Kristus, kita dibenamkan ke dalam sungai kehidupan Allah. Kita sendiri dimaksudkan untuk menjadi saluran rahmat dan kesembuhan. Sebagai Gereja kita dipanggil untuk membawa kehidupan kepada dunia.

Inilah yang sebenarnya kita rayakan pada hari ini dengan memusatkan perhatian kita pada  Gereja Basilik S. Yohanes Lateran di Roma. Basilika ini digambarkan sebagai “ibu dan kepala” dari segala gereja. Gereja yang berfungsi sebagai katedral Sri Paus ini didirikan segera setelah tahun 313, tahun di mana kaisar Roma Konstantinus memberikan kepada semua warganya yang beriman Kristiani kebebasan untuk mempraktekkan iman-kepercayaan mereka tanpa harus merasa takut dikejar-kejar dan dianiaya seperti sebelumnya. Basilika ini mengambil namanya dari Yohanes Pembaptis dan Yohanes Rasul, juga dari Laterani, keluarga dari istri kaisar Konstantinus yang menyumbangkan tanah tempat basilik itu berdiri sekarang.

Gedung basilika S. Yohanes Lateran adalah basilika yang paling tua dan menduduki ranking pertama di antara empat basilik agung di Roma (S. Petrus, S. Paulus dan S. Maria Maggiore). Sampai tahun 1309 basilika ini merupakan tempat kediaman Sri Paus, dan sampai hari ini tetap merupakan gereja katedral Roma. Berabad-abad lamanya basilika S. Yohanes Lateran menderita kerusakan akibat gempa bumi, kebakaran dan invasi. Setiap kali basilika ini dibangun kembali, direstorasi dan diperbaiki. Salah satu relikui yang ada dalam basilika itu adalah sebuah altar yang terbuat dari kayu yang dipercaya sebagai altar yang digunakan S. Petrus pada waktu merayakan Misa.

Mengapa kita harus merayakan pemberkatan sebuah gedung gereja? Tidakkah kita mengetahui bahwa gereja itu lebih daripada sekadar sebuah bangunan, bagaimana pun sudah tua dan kunonya gedung gereja tersebut? Lagipula tetap saja gedung buatan manusia ini berdiri sebagai suatu lambang Gereja, umat Allah. Gereja ini mengingatkan kita semua, bahwa Gereja adalah sebuah Bait Suci, sebuah tempat di mana Allah berdiam dan disembah oleh umat-Nya. Gereja ini tidak akan pernah dapat dihancurkan oleh bencana alam ataupun vandalisme manusia. S. Paulus mengajukan kepada jemaat di Korintus pertanyaan penting ini: “Tidak tahukah kamu bahwa kamu sekalian adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” (1Kor 3:16).

Pada kayu salib, Yesus mendirikan Gereja-Nya selagi darah dan air mengalir dari “bait” tubuh-Nya (lihat Yoh 19:34). Dalam aliran darah dan air yang menyembuhkan ini dipenuhilah visi nabi Yehezkiel tentang Yerusalem baru. Sekarang, melalui Roh Kudus, sebuah sungai besar mengalir dari Gereja – umat Allah – dan membawa kehidupan ke mana saja sungai itu mengalir. Kita adalah Bait Suci, dan dari kita dapatlah mengalir kuasa Roh Kudus yang menyembuhkan dan mentransformasikan.

Perayaan hari ini mengingatkan kita akan kuasa dan hikmat-kebijaksanaan Allah yang mengalir melalui Gereja Kristus ke dalam dunia. Jadi basilika S. Yohanes Lateran bukanlah sekadar sebuah situs bersejarah. Basilika ini adalah sebuah lambang Gereja yang hidup – dinamis, penuh semangat, memancurkan air kehidupan ilahi dan kasih ilahi. Oleh karena itu marilah kita berdoa bagi keseluruhan Gereja, agar kita masing-masing dapat menjadi peka terhadap Roh Allah dan akan bekerja sama dengan hasrat-Nya untuk menyentuh setiap orang di atas muka bumi.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, bawalah sungai air kehidupan kepada kami masing-masing dalam Gereja-Mu. Melalui kami, bawakanlah penyembuhan kepada semua bangsa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Kedua hari ini (1Kor 3:9b-11,16-17), bacalah tulisan yang berjudul “DIRI KITA HARUS MENJADI BAIT ALLAH YANG SEJATI DAN HIDUP” (bacaan tanggal 9-11-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 9-11-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 7 November 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MENGASIHI DAN MEMBENCI

MENGASIHI DAN MEMBENCI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXI – Rabu, 8 November 2017)

Kongregasi Fransiskanes Sambas (KFS): Peringatan Arwah Semua Anggota Tarekat 

Pada suatu kali ada banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka, “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapaknya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, apakah uangnya cukup untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, dan berkata: Orang ini mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya.

Atau, raja manakah yang kalian mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian. Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.  (Luk 14:25-33) 

Bacaan Pertama: Rm 13:8-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 112:1-2,4-5,9 

Kata-kata yang diucapkan Yesus ini memprovokasi kita untuk berpikir lebih lanjut. Kata-kata ini digunakan Yesus untuk menantang para pendengar-Nya yang mau menjadi murid-murid-Nya! Membenci bapaknya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri! (Luk 14:26). Kata-kata Yesus ini terasa sangat bertentangan dengan perintah yang diberikan oleh-Nya sebelum itu, yaitu perintah untuk mengasihi! Bagaimana dua perintah ini dapat cocok satu sama lain?

Pada titik tengah, perintah Yesus, baik untuk mengasihi maupun untuk membenci, merupakan suatu panggilan untuk mau mengorbankan bagi Yesus hal-hal yang paling disenangi dalam hidup kita. Ini adalah panggilan untuk melakukan subordinasi kasih kita kepada setiap orang dan setiap hal lainnya terhadap kasih kita kepada-Nya, untuk menempatkan hasrat-Nya sebagai yang pertama dan utama dalam hati kita. Yesus memerintahkan ini karena Dia tahu bahwa bila kita mengasihi dan menghormati-Nya di atas setiap hal lainnya, maka kita akan mampu untuk mengasihi orang-orang lain secara lebih mendalam. Dengan kasih ilahi dan hidup ilahi yang aktif di dalam diri kita, maka kita diberdayakan untuk mengasihi dengan cara yang melampaui kemampuan-kemampuan kita sendiri yang bersifat alamiah.

Di manakah atau kapankah kita (anda dan saya) mengalami perintah untuk mengasihi yang membuat seakan hal itu berada di luar batas-batas kemampuan kita? Mungkin kita harus mengucapkan kata-kata yang bersifat menantang dan konfrontatif kepada saudari dan/atau saudara kita dalam Kristus? Barangkali seorang anak kita telah mengikuti jalan yang sesat dan membutuhkan koreksi? Dalam situasi-situasi yang sulit-menegangkan seperti itu, Roh Kudus dapat mengajar kita untuk membenci dosa yang kita lihat namun terus mengasihi para pendosa tersebut. Paling sedikit kita diingatkan bahwa kita pun adalah orang-orang berdosa.

Kita hanya perlu mempertimbangkan pilihan-pilihan sulit yang dihadapi Yesus dalam kehidupan-Nya ketika hidup di atas bumi ini, atau merenungkan kematian-Nya di atas kayu salib guna melihat bahwa “jalan kasih” tidak selalu mudah. Namun kita harus senantiasa mengingat bahwa Yesus memiliki kuat-kuasa untuk membebaskan kita dari cara hidup yang sia-sia yang diwariskan oleh nenek moyang kita (1Ptr 1:18) dan juga dari kodrat kita yang cenderung berdosa. Kita tidak boleh takut terhadap reaksi-reaksi orang-orang jikalau memang kita harus berbicara langsung kepada mereka. Kita harus berketetapan hati untuk tetap setia kepada panggilan Allah bagi kita kepada kekudusan yang meminta kepada kita untuk “membenci” segala hal yang membuat kita dan orang-orang lain tetap terikat pada dosa. Yesus wafat di atas kayu salib untuk memenangkan kasih kita dan kesetiaan kita. Oleh karena itu, marilah kita menyerahkan hati kita kepada-Nya, mengasihi Dia di atas segalanya yang lain dalam hidup kita.

DOA: Bapa surgawi, berdayakanlah diriku agar mau dan mampu menempatkan Engkau di atas segala cintaku yang lain. Ajarlah aku agar mengasihi keluargaku dan para sahabatku serta orang-orang lain dengan kasih-Mu, yaitu kasih yang menyembuhkan segala luka dan perpecahan. Tunjukkanlah kepadaku bagaimana mengucapkan sabda-Mu dalam kasih yang berasal dari Engkau saja, sehingga Engkau dapat dimuliakan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 14:25-33), bacalah tulisan yang berjudul “KEMENANGAN SALIB KRISTUS ADALAH KEMENANGAN KASIH-NYA YANG MAHA-SEMPURNA” (bacaan tanggal 8-11-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 4-11-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 6 November 2017  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MENANGGAPI UNDANGAN ALLAH SECARA POSITIF

MENANGGAPI UNDANGAN ALLAH SECARA POSITIF

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXI – Selasa, 7 November 2017)

Kongregasi FMM: Peringatan B. Assunta Pallota, Pelindung Suster Kaul Sementara 

Mendengar itu berkatalah salah seorang yang sedang makan itu kepada Yesus, “Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Ada seseorang mengadakan perjamuan besar dan ia mengundang banyak orang. Menjelang perjamuan itu dimulai, ia menyuruh hambanya mengatakan kepada para undangan: Marilah, sebab segala sesuatu sudah siap. Tetapi mereka semua, satu demi satu, mulai meminta  maaf. Yang pertama berkata kepadanya: Aku telah membeli ladang dan harus pergi melihatnya, aku minta maaf. Yang lain berkata: Aku telah membeli lima pasang lembu dan harus pergi mencobanya; aku minta maaf. Yang lain lagi berkata: Aku baru kawin dan karena itu aku tidak dapat datang. Lalu kembalilah hamba itu dan menyampaikan semuanya itu kepada tuannya. Tuan rumah itu pun murka dan berkata kepada hambanya: Pergilah dengan segera ke semua jalan dan lorong kota dan bawalah ke mari orang-orang miskin dan orang-orang buta dan orang-orang lumpuh. Kemudian hamba itu melaporkan: Tuan, apa yang tuan perintahkan itu sudah dilaksanakan, sekalipun demikian masih ada tempat. Lalu kata tuan itu kepada hambanya: Pergilah ke semua jalan dan lorong dan paksalah orang-orang yang ada di situ, masuk, supaya rumahku terisi penuh. Sebab Aku berkata kepadamu: Tidak ada seorang pun dari orang-orang yang telah diundang itu akan menikmati jamuan-Ku.” (Luk 14:15-24) 

Bacaan Pertama: Rm 12:5-16a; Mazmur Tanggapan: Mzm 131:1-3 

Yesus mengakhiri pengajaran-Nya pada perjamuan makan di rumah seorang pemimpin orang-orang Farisi dengan sebuah perumpamaan yang merupakan ringkasan-kesimpulan dari apa saja yang telah dikatakan-Nya dalam perjamuan tersebut. Yesus menggunakan imaji tradisional dari perjamuan makan yang terdengar akrab di telinga para pendengar-Nya sebagai suatu gambaran Perjanjian Lama yang menandakan inaugurasi dari zaman mesianis.

Perjamuan makan akan dipersiapkan oleh Allah sendiri, dan yang akan diundang menghadiri perjamuan makan tersebut adalah orang-orang yang masuk kategori umat beriman. Pesta perjamuan ini sudah dinubuatkan oleh nabi Yesaya: “TUHAN semesta alam akan menyediakan di gunung Sion ini bagi segala bangsa-bangsa suatu perjamuan dengan masakan yang bergemuk, suatu perjamuan dengan anggur yang tua benar, masakan yang yang bergemuk dan bersumsum, anggur yang tua yang disaring endapannya. Ia akan meniadakan maut untuk seterusnya; dan Tuhan ALLAH akan mengoyakkan kain perkabungan yang diselubungkan kepada segala suku bangsa dan tudung yang ditudungkan kepada segala bangsa-bangsa” (Yes 25:6,8).

Ini merupakan gambaran penuh sukacita dan penghiburan dari “seorang” Allah yang dengan penuh kemurahan hati mengundang semua orang untuk ikut ambil bagian dalam perjamuan-Nya, di mana akan dihidangkan makanan-minuman lezat dan di mana Allah sendiri akan menjamin bahwa tidak akan ada lagi cucuran air mata, dan rasa malu pun akan hilang dari negeri.

Salah seorang dari para hadirin yang sedang makan bersama Yesus berkata kepada-Nya: “Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah” (Luk 14:15). Jika orang yang bertanya itu membayangkan dirinya sama baiknya dengan orang yang akan dijamu itu, maka dia akan kecewa. Yesus membuat jelas bahwa imaji tentang perjamuan bukanlah suatu gambaran yang dapat diaplikasikan hanya pada akhir zaman; imaji tentang perjamuan berbicara mengenai waktu sekarang. Undangan-undangan telah disampaikan, dan sekarang para hamba memanggil orang-orang yang menerima undangan itu untuk mulai datang dan mengambil tempat mereka masing-masing dalam perjamuan tersebut. Jika mereka sekarang menolak undangan untuk datang ke pesta, maka orang-orang lainlah yang akan mengambil tempat mereka. Undangan tersebut tidak dapat ditunda-tunda; harus dijawab sekarang juga.

Dalam perumpamaan yang diceritakan oleh Yesus ini, seseorang menyelenggarakan pesta perjamuan besar yang diperuntukkan bagi banyak orang. Ini adalah adat kebiasaan timur bagi orang-orang “kelas tinggi” untuk mengirim dua undangan: yang pertama adalah untuk mengumumkan akan diselenggarakannya pesta perjamuan, dan undangan kedua adalah untuk mengabarkan kepada mereka yang telah menerima undangan bahwa perjamuan telah siap diselenggarakan. Menerima undangan pertama dan menolak undangan kedua merupakan suatu tindakan yang tidak sopan (dan kurang ajar), dan hal tersebut tidak dapat diterima karena merupakan penghinaan terhadap orang yang mengundang. Tiga orang yang disebutkan dalam perumpamaan Yesus mengatakan kepada hamba dari orang yang mengundang bahwa mereka tidak dapat menerima undangan kedua karena mereka terlalu sibuk, jadi tidak dapat datang. Ketiga orang tersebut memandang urusan mereka sendiri lebih penting daripada menghormat orang yang mengundang diri mereka.

Hamba tersebut kembali ke tuannya dengan kabar yang mengecewakan itu dan sang tuan menjadi marah. Namun ia tidak mau pestanya sepi dari pengunjung. Oleh karena itu dia memerintahkan hambanya untuk pergi dan menelusuri jalan-jalan dan lorong-lorong kota dan membawa orang-orang miskin, buta, dan lumpuh ke rumahnya. Setelah hal ini dilakukan, masih ada ruang yang tersedia untuk sejumlah orang lagi. Untuk mengisi ruang yang tersedia tersebut, orang yang mengundang itu memerintahkan hambanya untuk “memaksa” orang-orang di jalan-jalan dan lorong-lorong yang masih ada untuk datang ke perjamuannya. “Memaksa” di sini tidak dapat ditafsirkan secara harfiah. Si hamba harus membujuk dengan lemah lembut orang-orang yang tinggal di bawah jembatan dlsb. itu untuk ikut dengan dia karena mereka pun tentunya merasa curiga terhadap undangan ke sebuah perjamuan yang datang dengan mendadak, apalagi dari seseorang yang tak dikenal. Orang yang mengundang tersebut membuat jelas bahwa mereka yang menolak undangannya tidak akan mencicipi jamuannya; mereka menjauhkan diri mereka sendiri dari pesta perjamuan yang sangat berarti itu.

Tanpa banyak kesulitan, di sini kita dapat melihat suatu kesejajaran historis antara orang-orang yang pertama-tama diundang dengan umat Israel, antara orang-orang miskin (dan lumpuh serta buta) dengan orang-orang non-Yahudi (baca: kafir). Namun pokok utama dari perumpamaan Yesus ini bukanlah penolakan dari orang-orang yang pertama kali diundang dan bukan juga orang macam apa yang akhirnya duduk pada meja perjamuan. Fokus atau pusat perhatian dari perumpamaan ini adalah kemurahan hati orang yang mengundang. Imaji yang disajikan oleh Yesus adalah “seorang” Allah yang murah hati yang sangat senang menyelenggarakan pesta guna menjamu orang-orang. Ia adalah “seorang” Allah yang ingin bersekutu dengan orang-orang dan Ia tidak terpengaruh jika orang-orang yang diundang-Nya tidak mau datang dan menikmati jamuan-Nya. Ini adalah imaji dari “seorang” Allah sangat rindu untuk makan bersama, “seorang” Allah yang tidak mau duduk pada meja perjamuan dan memulai pesta perjamuan sampai semua tempat diisi oleh para tamu.

Allah yang kita sembah, bukanlah seperti orang kaya dalam perumpamaan “Orang kaya dan Lazarus yang miskin” (Luk 16:19-31), maka tuan rumah yang mengundang orang-orang dalam perumpamaan Yesus hari ini bukanlah seseorang yang senang berpesta-pora dengan mengabaikan orang seperti Lazarus … pokoknya orang kaya itu tidak peduli terhadap nasib “wong cilik”. Allah tidak mau makan enak sendiri saja; Dia memiliki keprihatinan terhadap persekutuan dalam perjamuan bersama dengan orang-orang, jadi tidak mengherankanlah apabila Dia sangat bermurah hati dalam mengundang orang-orang.

Allah mengundang orang-orang miskin, bahkan mereka yang secara fisik dipandang “tidak bersih”, atau katakanlah mereka yang “najis” karena keadaan fisik mereka, dll. Allah tidak mau sendiri dalam Kerajaan-Nya dan Ia mau makan bersama dalam suatu perjamuan dengan manusia ciptaan-Nya. Dia rela menunda pesta perjamuan-Nya sampai semua tempat diisi, …… “seorang” Allah yang lembah lembut.

Kabar baiknya adalah bahwa tidak seorang pun yang harus menunggu sampai akhir zaman sebelum dapat berelasi dengan Allah sebagai Tuan Rumah yang penuh keprihatinan dan kemurahan-hati.  Yesus meminta setiap orang untuk berelasi dengan Allah dengan imaji seperti di atas, bukan Allah yang kejam dan suka membalas dendam dst. Kita harus menerima undangan Allah, jika kita diundang-Nya untuk ikut serta dalam perjamuan-Nya. Sekarang juga!

DOA: Tuhan Yesus, kami berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena dalam doa kami Engkau telah mengundang kami ke dalam relasi persahabatan dengan diri-Mu. Berbicaralah, ya Tuhan. Kami ada di sini untuk mendengarkan Engkau. Buatlah kami utuh dengan sabda-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 14:15-24), bacalah tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG PERJAMUAN BESAR” dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-11  BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 3-11-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  5 November 2017 [HARI MINGGU BIASA XXXI – TAHUN A] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SIAPA YANG DIUNDANG?

SIAPA YANG DIUNDANG?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXI – Senin, 6 November 2017) 

Lalu Yesus berkata juga kepada orang yang mengundang Dia, “Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau perjamuan malam, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya, karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau lagi dan dengan demikian engkau mendapat balasannya. Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta. Engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasannya pada hari kebangkitan orang-orang benar.” (Luk 14:12-14) 

Bacaan Pertama: Rm 11:29-36; Mazmur Tanggapan: Mzm 69:30-31,33-34,36-37 

Yesus melanjutkan pengajaran-Nya yang berhubungan dengan kehadiran dalam sebuah pesta perjamuan.  Sebelumnya Dia mengajar tentang “tempat yang paling utama dan yang paling rendah”, yang pada intinya adalah mengenai “kerendahan hati” (lihat Luk 14:1,7-11). Sekarang Ia berbicara langsung kepada orang Farisi yang mengundang-Nya. Dalam kesempatan ini Yesus memberikan sejumlah petunjuk dan sebuah peringatan.Yesus berbicara secara umum namun sekali lagi Dia tampil sebagai seorang guru hikmat-kebijaksanaan yang tak tertandingi.

Menurut tradisi Yahudi, makan bersama adalah sebuah tanda kasih persaudaraan. Dalam kerangka itulah Yesus memberikan petunjuk-Nya agar Tuan rumah yang mengundang janganlah hanya mengundang orang-orang yang telah menjalin relasi baik dengannya (misalnya keluarga, para sehabat dan mitra bisnis) yang kaya-kaya. Orang-orang itu kiranya pasti akan mampu membalas dengan undangan serupa. Kita ketahui bahwa memberi demi diberi (Latin: do ut des) bukanlah pernyataan kasih, melainkan bukti adanya pamrih. Pada kesempatan lain Yesus mengajar: “Kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan tanpa mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu murah hati” (Luk 6:35-36). Sejatinya kasih yang mengharapkan balasan bukanlah kasih murni.

Setelah kalimat bernada negatif (Luk 14:12b), Yesus mengucapkan kalimat bernada positif. Menurut Yesus, yang harus diundang adalah orang-orang yang tidak mampu untuk menyampaikan undangan balasan, karena mereka termasuk golongan orang-orang miskin, orang-orang kecil, …… “wong cilik”. Orang-orang Yahudi memandang hina sesama mereka yang buta, pincang/lumpuh atau menderita cacat fisik. Orang-orang ini tidak boleh mengikuti upacara liturgi dalam Bait Suci (lihat Im 21:17-24). Yesus – yang memang adalah “tanda lawan” pada zaman-Nya – justru menaruh perhatian khusus terhadap orang-orang seperti itu. Yesus memiliki keyakinan bahwa semua orang yang menganggap diri tidak layak dan yang dianggap tidak layak oleh masyarakat, justru akan diterima di dalam Kerajaan Allah. Nasib sebaliknya akan menimpa diri orang-orang Farisi yang sombong dan amat yakin akan diri mereka. Itulah sebabnya mengapa Yesus melakukan banyak mukjizat demi kesembuhan orang-orang yang menderita cacat. Dengan begitu kerajaan Allah menjadi sebuah realitas di atas muka bumi ini. Karena orang miskin tidak mampu membalas, maka Allah sendirilah yang akan menggantikan tugas mereka.

Orang-orang yang disebutkan oleh Yesus adalah mereka yang membutuhkan makanan dan minuman karena mereka lapar dan haus; orang-orang yang memerlukan pertemanan karena mereka adalah orang-orang yang tersisihkan dalam masyarakat; orang-orang yang membutuhkan kegembiraan karena telah begitu banyak ditimpa kesedihan; orang-orang yang membutuhkan syering karena selama ini mereka terisolasi dalam penderitaan sakit mereka. Berbagai kebutuhan nyata dari orang-orang miskin-kecil ini biasanya tidak dipenuhi. Nah, Yesus justru minta sang tuan rumah yang mengundang makan itu untuk mengundang orang-orang seperti itu, bebas tanpa biaya.

Mereka yang menawarkan hospitalitas yang tidak dapat dibalas oleh pihak yang dilayani di dunia ini akan memperoleh ganjarannya pada hari kebangkitan orang-orang benar. Apabila seseorang berbaik hati terhadap orang-orang cacat dan “wong cilik” lainnya dengan syering meja makan bersama dengan mereka, maka Tuhan akan mengingat kebaikan hati mereka. Dan, seperti yang akan dikembangkan Yesus dalam perumpamaan berikutnya (Luk 14:15-24), maka justru orang-orang miskin, para pengemis, orang-orang buta dan cacat lainnya yang diberikan kehormatan dalam kerajaan surga. Soalnya bukanlah orang yang bersih mengundang orang yang tidak bersih, orang yang sehat mengundang orang yang cacat, melainkan terlebih-lebih orang-orang cacat syering pada meja perjamuan bersama orang-orang cacat, pengemis dengan pengemis dst. Mengapa? Karena apabila kita sampai pada kerajaan Allah, siapa yang dapat duduk di tempat terhormat pada meja perjamuan: Siapa yang dapat mengandaikan bahwa diri mereka tidak termasuk sekumpulan besar orang buta, lumpuh dan lain sebagainya?

DOA: Tuhan Yesus,  oleh kuasa Roh Kudus-Mu, bentulah aku menjadi seorang murid-Mu yang rendah hati dan tanpa mengenal pamrih dalam melakukan kebaikan bagi orang-orang miskin, orang-orang cacat dan orang-orang kecil pada umumnya. Terpujilah nama-Mu selalu! Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 14:12-14), bacalah tulisan yang berjudul “BELA RASA YESUS” (bacaan tanggal 6-11-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 31-10-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 4 November 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

AKHIRNYA, HANYA ADA SEORANG PRIBADI SAJA YANG PANTAS UNTUK DISAPA SEBAGAI TUHAN DAN GURU

AKHIRNYA, HANYA ADA SEORANG PRIBADI SAJA YANG PANTAS UNTUK DISAPA SEBAGAI TUHAN DAN GURU

 (Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXXI [TAHUN A], 5 November 2017)

 

Lalu berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksudkan untuk dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terbaik di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil orang ‘Rabi.’  Tetapi kamu, janganlah kamu disebut ‘Rabi’; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Janganlah kamu menyebut siapa pun ‘bapak’ di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di surga. Janganlah kamu disebut pemimpin, karena hanya satu pemimpinmu, yaitu Mesias. Siapa saja yang terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan. (Mat 23:1-12) 

Bacaan Pertama: Mal 1:14b-2:2b,8-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 131:1-3; Bacaan Kedua: 1Tes 2:7b-9,13 

Apabila kita mengambil ketiga bacaan Misa Kudus pada hari Minggu ini dan mencoba untuk melihat kesamaan pesan yang ada (tentunya tanpa memaksa-maksa), maka kita dapat merenungkan apa yang harus kelihatan nyata dalam diri seorang pelayan sabda Allah dan kualitas-kualitas pribadi apakah yang tidak boleh ada pada dirinya.

Santo Paulus. Santo Paulus meringkas “kebesaran” seorang pelayan sabda dengan menulis kepada jemaat di Tesalonika sebagai berikut: “Karena itulah kami tidak putus-putusnya mengucap syukur juga kepada Allah, sebab kamu telah menerima firman Allah yang kami beritakan itu, bukan sebagai perkataan manusia, tetap – dan memang sungguh-sungguh demikian – sebagai  firman Allah, yang bekerja juga di dalam kamu yang percaya” (1Tes 2:13). Memang seharusnya sabda Allah-lah yang diwartakan, baik oleh sang rasul, oleh misionaris yang manapun, imam yang manapun, katekis yang manapun (apakah lulusan perguruan tinggi atau pun katekis sukarelawan/sukarelawati), guru mana pun yang diberi otorisasi oleh Gereja, bukannya kata-kata atau sabdanya sendiri. Itulah sebabnya mengapa sehabis pembacaan Kitab Suci dalam Misa atau ibadat lainnya, maka orang yang membaca bacaan Kitab Suci (misalnya, lektor awam, diakon atau imam) selalu mengatakan “Demikianlah sabda Tuhan”, dan dijawab oleh umat yang hadir: “Syukur kepada Allah” atau “Terpujilah Kristus” dalam hal pembacaan Injil.

Dengan demikian, kebesaran seorang pengkhotbah atau pelayan sabda pada umumnya, adalah kemampuannya menjelaskan dan menyingkap sabda Allah ini, membuat orang memahami apa artinya sabda itu bagi orang yang hidup pada zaman Yesus hidup di dunia dan apa artinya semua bagi kita, orang-orang yang hidup pada zaman modern ini. Tidak pernah boleh hasil dari hikmatnya sendiri. Belakangan, Paulus menghimbau jemaat di Korintus untuk tidak mencari apa pun pada diri sang pengkhotbah atau pelayan sabda, selain sabda Allah itu sendiri. Karena itu adalah sabda Allah, maka kesuburannya sepenuhnya tergantung pada Allah sendiri. Apa yang ditambahkan oleh seorang pewarta/pengkhotbah/ pelayan sabda adalah aksesoris belaka, betapapun pentingnya aksesoris tersebut. Paulus menulis, “Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang menumbuhkan” (1Kor 3:6). Sekali pun seorang pewarta bukanlah pewarta yang ideal di mata umat, kata-katanya tetap sabda Allah selama dia mewartakannya dengan benar. Hal ini dibenarkan oleh Yesus bahkan pada kasus pada ahli Taurat dan orang-orang Farisi: “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu” (Mat 23:2-3).

Karena seorang pewarta melakukan pelayanan sabda Allah, ia akan mencoba untuk memberikan dirinya sendiri sejalan dengan pemberitaan kabar baiknya. Inilah yang dilakukan oleh Santo Paulus: (1) Paulus memperhatikan jemaat di Tesalonika dengan lemah lembut seperti seorang ibu yang mengasuh dan merawat anaknya yang masih kecil (1Tes 2:7), dan dengan penuh kebijaksanaan dan pertimbangan seperti seorang ayah yang memelihara anak-anaknya (1Tes 2:11). (2) Sang Rasul malah melangkah lebih jauh lagi. Ia mengetahui bahwa dirinya berhak memperoleh dukungan dari komunitas yang dilayaninya (lihat 1Kor 9:8-10). Akan tetapi dia hidup sebagai seorang pembuat kemah, seringkali di rumah Akwila dan Priskila, yang menjalani profesi sebagai pembuat kemah juga (Kis 18:1-3). Dengan cara demikian, Paulus mempunyai koneksi yang baik dengan para pekerja, memahami cara berpikir dan masalah-masalah mereka. Bahkan banyak dari ide-idenya tercetus di tempatnya berkarya. Ia belajar bagaimana mengkombinasikan kegiatannya dengan kontemplasi, kerja dengan doa. Gereja di negara-negara maju akhir-akhir ini telah bertanya kepada dirinya bagaimana mampu kembali berkontak dengan para pekerja. Imam-iman pekerja yang hidup di tengah-tengah para buruh di Perancis adalah salah satu contoh eksperimen di bidang ini.

Nabi Maleakhi. Maleakhi mengatakan kepada para imam pada zamannya setelah pembuangan, sebenarnya juga kepada para imam kita dewasa ini, bahwa: (1) Seorang imam adalah seseorang yang mempersembahkan kurban, dan dalam melakukan tugasnya ini sang imam tidak boleh “pelit”. Pada zamannya, para imam suka mempersembahkan kurban yang tidak sempurna seperti roti yang sudah cemar, hewan yang buta, timpang dan sakit lainnya (lihat Mal 1:6-8), barangkali karena berpikir tokh semuanya itu masih cukup baik bagi Allah. Dalam kenyataannya, hanya yang terbaiklah yang cukup baik bagi Allah. Hal ini benar teristimewa karena kurban yang murni dipersembahkan kepada Allah di mana-mana (Mal 1:11), yang bagi kita adalah Misa Kudus. Seorang imam dan umat Allah yang hadir dalam Misa, sesungguhnya mempersembahkan Kristus sendiri. Kita juga harus mempersembahkan diri kita bersama-Nya, kalau Misa itu tidak mau dikatakan sebagai lelucon belaka. “Ikut mempersembahkan diri kita” merupakan suatu keharusan yang tidak dapat ditawar-tawar.

(2) Seorang imam adalah juga seorang pengajar (lihat Mal 2:7). Para imam pada zaman Maleakhi juga gagal dalam hal ini. Lewat bibir nabi Maleakhi, Allah bersabda: “Kamu ini menyimpang dari jalan; kamu membuat banyak orang tergelincir dengan pengajaranmu;  kamu merusakkan perjanjian dengan Lewi, firman TUHAN (YHWH) semesta alam” (Mal 2:8). Misa Kudus harus dijelaskan kepada umat kebanyakan, karena kalau tidak demikian halnya perayaan liturgi yang begitu sakral menjadi tetap kabur, tidak ada bedanya dengan ibadat-ibadat lainnya dan sekadar sebuah rutinitas. Di sini tidak dimaksudkan agar Misa Kudus dibuat menjadi rasional. Misa Kudus harus tetap merupakan sebuah misteri dengan segala instruksi dan penjelasannya, namun sebuah misteri yang kita dapat hayati/hidupi. Seorang imam juga harus memiliki karunia untuk memberi nasihat dan membimbing umat dan rekan imam yang membutuhkan: “Bibir seorang imam memelihara pengetahuan dan orang mencari pengajaran dari mulutnya, sebab dia utusan YHWH semesta alam” (Mal 2:7).

Kualitas-kualitas yang tidak boleh terdapat dalam diri seorang pelayan sabda Allah. Kata-kata Yesus yang ditujukan kepada orang-orang Farisi seperti dapat kita baca dalam bacaan Injil hari ini sebenarnya ditujukan kepada Farisi-Farisi segala zaman, bahkan termasuk kita juga. Bukankah kita sedikit banyak adalah juga orang-orang Farisi, atau memiliki potensi untuk menjadi Farisi?

(1) Praktek hidup seorang Farisi pada umumnya tidak sesuai dengan apa yang diajarkan atau dikhotbahkan olehnya. Ia menyuruh orang-orang melakukan hal tertentu, namun dia sendiri melakukan hal yang berbeda. Dia menjalani suatu kehidupan ganda. Tentu saja tidak mudah bagi para imam, katekis dan para pelayan sabda lainnya untuk hidup sempurna sebagai seorang santa atau santo. Namun, di lain pihak Yesus mengajar: “… haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna” (Mat 5:48).

Umat mempunyai hak untuk mempunyai ekspektasi bahwa kehidupan para pemimpin rohani mereka paling sedikit menunjukkan upaya serius menuju kekudusan, tidak terutama untuk dirinya sendiri, melainkan untuk umat yang kesejahteraan rohaninya dipercayakan kepada para pemimpin rohani tersebut. Sangat sulitlah bagi umat untuk membuat komitmen sepenuhnya bagi hal-ikhwal yang menyangkut pelayanan bagi Allah, apabila mereka tidak melihat para pemimpin rohani mereka tidak melakukannya. Leadership by example sangatlah penting peranannya dalam komunitas gerejawi. Karena susahnya, dengan berjalannya waktu, mengkhotbahkan apa yang tidak dilakukannya sendiri, maka seorang pelayan sabda pada titik tertentu akan melepaskan samasekali tugas pewartaannya dan umatpun akan sungguh berjalan dalam kegelapan, karena tidak ada lagi terang sabda Allah. 

(2) Seorang Farisi menghayati sebuah kehidupan yang suka-pamer (a life of ostentation). Dengan niat yang terbaik dia dengan keras mencoba untuk melakukan lebih daripada yang dituntut Allah sendiri secara mutlak. Orang-orang Farisi pada masa Yesus tidak puas kalau sekadar menepati kesepuluh perintah Allah. Mereka menjelaskan dan menyesuaikan perintah-perintah itu terhadap segala situasi kehidupan sehingga pada akhirnya mereka datang dengan 613 perintah-perintah. Apabila agama atau hidup keagamaan hanya terdiri dari tindakan mentaati peraturan-peraturan yang tak terhitung jumlahnya, maka mudahlah bagi seseorang untuk melihat bahwa setiap orang sadar betapa baiknya dia memenuhi peraturan-peraturan dan bagaiman sempurna kesalehannya.

Hal ini dilakukan oleh orang-orang Farisi dengan membuat kotak yang berisikan sabda Allah (phylacteries) dalam ukuran yang lebih besar dan lebih kelihatan (oleh orang lain) untuk mengingatkan mereka akan perintah-perintah Allah, teristimewa sabda sehubungan mengasihi Dia lebih daripada segalanya yang lain (Ul 6:4-5) dan untuk menguduskan anak sulung bagi pelayanan kepada Allah (Kel 13:1-16).

Seorang Farisi ingin diakui untuk kebaikan yang dilakukannya dengan mengambil tempat duduk terhormat, disapa dengan gelar-gelar dan nama-nama besar. Pada masa Yesus ada tiga gelar yang digunakan orang-orang untuk menyapa orang-orang Farisi, yaitu (1) Rabi, artinya guru; (2) Abba, artinya bapak atau ayah; dan (3) Moreh, artinya guru. Ketiga gelar tersebut menekankan kurang lebih martabat seorang guru hukum. Dengan demikian seorang Farisi adalah seorang guru dan ayah yang memberikan kehidupan spiritual bagi para muridnya. Gelar-gelar sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia dan demikian pula di masa depan. Masalahnya bukanlah gelar yang membuat orang sombong dan takabur, melainkan cara orang bersikukuh untuk disapa dengan gelar-gelar itu.

Akhirnya, hanya ada seorang Pribadi saja yang pantas untuk disapa sebagai Tuhan dan Guru, yaitu Yesus. Kita akan selalu menjadi murid-murid yang baru belajar dan yang tidak akan pernah lulus ujian akhir. Juga hanya satu Bapa, Allah Bapa. Setiap ayah, dalam keluarga yang memberikan hidup alamiah, dan seorang bapak yang memberikan kehidupan spiritual dalam pembaptisan, hanya dapat mencoba belajar dari sang Bapa.

(3) Seorang Farisi merendahkan orang-orang lain, bukan meninggikan mereka. Dia membuat takut orang-orang lain, bukan mendorong atau menyemangati mereka. Semua ini dilakukan si Farisi lewat begitu banyak peraturan. Nah, apabila agama menjadi sebuah beban yang dipenuhi dengan banyak sekali larangan, maka “agama” itu sesungguhnya tidak lagi menjadi suatu agama yang benar. Sabda Allah seharusnya memberikan kepada kita sayap-sayap kebebasan dan sukacita, seharusnya menunjukkan kepada kita bagaimana kita dapat melakukan kehendak Allah secara benar.

DOA: Tuhan Yesus, aku berterima kasih penuh syukur kepada-Mu untuk kasih-Mu yang begitu besar kepadaku. Aku berterima kasih karena Engkau sudi wafat di kayu salib agar aku dapat menjadi seperti Engkau. Curahkanlah Roh-Mu atas diriku, sehingga dengan demikian aku dapat menjadi cerminan dari kekudusan dan kerendahan hati-Mu. Amin.

Catatan: Sebagian besar dari tulisan ini adalah saduran bebas dari tulisan dalam P. Herman Mueller SVD, “SPEAK, LORD!” 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 4 November 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS