YANG MELEBIHI BAIT ALLAH

YANG MELEBIHI BAIT ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV – Jumat, 21 Juli 2017

 

Pada waktu itu, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum. Karena lapar, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya. Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepada-Nya, “Lihatlah, murid-murid-Mu melakukan sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat.” Tetapi jawab-Nya kepada mereka, “Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan orang-orang yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan bagaimana mereka makan roti sajian yang tidak boleh dimakan, baik olehnya maupun oleh mereka yang mengikutinya, kecuali oleh imam-imam? Atau tidakkah kamu baca dalam kitab Taurat bahwa pada hari-hari Sabat, imam-imam melanggar hukum Sabat di dalam Bait Allah, namun tidak bersalah? Aku berkata kepadamu: Di sini ada yang melebihi Bait Allah. Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentang kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah. Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” (Mat 12:1-8) 

Bacaan Pertama: Kel 11:10-12:14; Mazmur Tanggapan: Yes 116:12-13,15-18 

Yesus adalah Tuhan atas hari Sabat dan Tuhan dari Bait Allah. Orang-orang Farisi telah mengembangkan peraturan-peraturan yang ekstensif berkaitan dengan hari Sabat dan upacaya penyembahan di Bait Allah. Semua ini berasal dari hasrat yang tulus untuk melindungi apa saja yang kudus …… apa saja yang suci. Dengan memperkenankan para murid-Nya untuk melanggar peraturan-peraturan itu, sebenarnya Yesus menantang orang-orang Farisi dan semua orang untuk memandang diri-Nya sebagai Pribadi yang memegang otoritas tertinggi/final atas hari Sabat dan Bait Allah. Injil Matius mengajak kita untuk memandang Yesus, dan melihat bahwa Dia adalah pencerminan Allah sendiri, bahkan ketika Dia ditolak oleh para pemimpin agama pada zaman itu.

Yesus melihat bagaimana orang-orang Farisi melihat hukum. Bagi mereka Hukum Taurat adalah pemberian dari Allah sendiri, lalu mereka membangun di atasnya suatu sistem yang terdiri dari peraturan-peraturan dan regulasi-regulasi yang digunakan untuk mengukur orang-orang lain dan memisahkan diri mereka dari para “pendosa”. Dengan cara begini mereka tidak akan “terpolusi” oleh dosa orang-orang lain. Ini adalah cara yang samasekali berlawanan dengan cara Yesus. Ia mengasosiasikan diri-Nya dengan para pendosa dan pelanggar hukum, bahkan makan bersama dengan mereka (Mat 9:9-10). Yesus, yang adalah manisfestasi kasih dan kerahiman Allah, selalu menunjukkan kasih dan belas-kasihan kepada mereka yang berada di sekeliling-Nya. Yesus tidak akan membiarkan huruf-huruf hukum membenarkan pengabaian kebutuhan manusia dan menghalang-halangi aliran cintakasih-Nya.

Dengan memperkenankan para murid untuk memetik bulir gandum pada hari Sabat dan dalam mempermaklumkan bahwa “Di sini ada yang melebihi Bait Allah” (Mat 12:6), Yesus bertindak sebagai penafsir final dari hukum yang dikirim oleh Allah. Ia menyatakan identitas-Nya sebagai Tuhan dan Mesias yang mengajar dan menghayati jalan cintakasih yang bersifat sentral bagi Kerajaan Allah.

Teladan yang diberikan Yesus dapat menolong kita memandang hidup kita sendiri untuk melihat apakah kita berjalan dalam jalan cintakasih-Nya? Apakah kita cepat mencari kesalahan  dalam diri orang-orang yang tidak memenuhi standar-standar kita sendiri? Apakah kita menarik garis perbedaan antara diri kita dan orang-orang lain berdasarkan sikap-sikap kita yang mencerminkan superioritas? Apakah kita sungguh berupaya untuk mencerminkan kasih Allah dalam kata-kata yang kita ucapkan dan tindakan-tindakan yang kita lakukan?

DOA: Tuhan Yesus, bahkan sekarang pun Engkau hadir di tengah-tengah kami, ya Tuhan, sebagai Pribadi yang adalah Tuhan atas hari Sabat dan lebih besar dari Bait Allah. Semoga kami mau dan mampu menaruh kepercayaan pada-Mu dan mengikuti Engkau dalam jalan cintakasih. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 12:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “HARI SABAT DIADAKAN UNTUK MANUSIA” (bacaan tanggal 21-7-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangssabda.wordpress.com; kategori: 17-07 BACAAN HARIAN JULI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 19 Juli 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

GANDAR YANG MENYENANGKAN DAN BEBAN YANG RINGAN

GANDAR YANG MENYENANGKAN DAN BEBAN YANG RINGAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV – Kamis, 20 Juli 2017)

 

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah gandar yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab gandar yang Kupasang itu menyenangkan dan beban-Ku pun ringan.” (Mat 11:28-30) 

Bacaan Pertama: Kel 3:13-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:1,5,8-9,24-27 

“Pikullah gandar yang Kupasang …… sebab gandar yang Kupasang itu menyenangkan dan beban-Ku pun ringan” (Mat 11:29,30).

Mengapa gandar (kuk) Yesus itu menyenangkan dan beban-Nya ringan? Apakah karena Dia mempunyai standar yang rendah bagi kita? Sama sekali tidak! Ingatlah sabda-Nya sebelum itu: “Haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna” (Mat 5:48). Apakah karena Dia menuntut sedikit saja komitmen dari diri kita masing-masing? Tidak juga! Ingatlah sabda-Nya: “Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat 10:38). Jadi, bagaimana Yesus dapat mengatakan bahwa gandar-Nya menyenangkan dan beban-Nya ringan?

Banyak jawabannya terletak dalam penggambaran yang digunakan oleh Yesus. Sebuah gandar atau kuk adalah sepotong kayu yang dibuat sedemikian rupa untuk kemudian dipasang pada leher-leher dua ekor hewan agar membuat hewan-hewan itu dapat menjadi bersama-sama berjalan dengan memberikan keuntungan berupa kekuatan gabungan selagi mereka menarik kereta atau beban lainnya. Di mana Yesus dalam imaji ini? Apakah Dia berjalan di depan kita? Di belakang kita? Apakah dia duduk di dalam kereta yang kita tarik? Samasekali tidak, karena Dia ada di samping kita: Dia menarik kereta bersama kita. Dengan perkataan lain, Yesus mengundang kita untuk menyerahkan sikap “kemandirian” kita (yang keliru) dan memperkenankan kekuatan-Nya menjadi kekuatan kita sendiri. Yesus sangat mengetahui bahwa kita tidak dapat menjadi seperti Dia berdasarkan kekuatan kita sendiri, maka Dia menawarkan kuat-kuasa-Nya kepada kita sehingga dengan demikian kita dapat melakukan segala sesuatu melalui dan bersama Dia.

Kehadiran Yesuslah yang membuat tindakan mengikuti-Nya menjadi menyenangkan dan ringan. Keberadaan Yesus sebagai manusia seperti kita membuat diri-Nya sungguh mengetahui bahwa kehidupan itu dapat menjadi sedemikian sulitnya. Yesus juga mengetahui apa artinya mengalami godaan dan Ia memahami kelemahan-kelemahan manusia. Akan tetapi, karena Dia juga memiliki kodrat ilahi, Yesus adalah sumber segala rahmat dan kekuatan. Ia mengetahui kebutuhan-kebutuhan kita, dan Ia menyediakan segala kebutuhan kita itu. Dia merasakan sakitnya luka-luka kita, dan Ia berjalan bersama kita langkah demi langkah sepanjang jalan, sambil menawarkan kepada kita kesembuhan dan penghiburan. Sungguh suatu sukacita apabila kepada kita dipasangkan gandar dengan Yesus sebagai kawan seperjalanan dalam kehidupan ini.

Apakah anda membutuhkan ketenangan dan kelegaan? Apakah anda membutuhkan kekuatan? Apakah anda membutuhkan seorang kawan yang setia? Ambillah tempatmu di samping Yesus dan dipasangkan gandar (kuk) bersama Dia. Percayalah kepada Yesus dan timbalah kekuatan dari Dia. Dia sangat ingin menolong anda! Percayalah!

DOA: Tuhan Yesus, aku memuji Engkau untuk kelemah-lembutan-Mu. Aku berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena kehadiran-Mu. Aku memilih gandar-Mu untuk dipasang di atas punggungku.  Aku percaya akan janji-Mu bahwa Engkau akan berada di sampingku pada waktu aku membutuhkan pertolongan. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 11:28-30), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MENGUNDANG KITA” (bacaan tanggal 20-7-17) dalam situs/blog SANG SABDA  http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-07 BACAAN HARIAN JULI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-7-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 18 Juli 2017 [Hari Raya S. Odilia, Perawan Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

DOA YESUS DAN PERWAHYUAN DIRI-NYA

DOA YESUS DAN PERWAHYUAN DIRI-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV – Rabu,  19 Juli 2017)

Pada waktu itu berkatalah Yesus, “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.” (Mat 11:25-27) 

Bacaan Pertama: Kel 3:1-6,9-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-4,6-7 

Bacaan Injil hari ini hanya terdiri dari tiga ayat namun sarat makna. Marilah kita soroti ketiga ayat tersebut dan membaginya menjadi dua pokok, yaitu (1) Doa Tuhan Yesus kepada Bapa surgawi, dan (2) perwahyuan/pernyataan diri Yesus.

Pokok yang pertama: Doa Tuhan Yesus. Doa ini merupakan pujian kepada Bapa surgawi, yang mewahyukan rahasia-Nya kepada orang-orang kecil dan menyembunyikannya bagi orang bijak dan orang pandai.

Orang-orang bijak memandang diri mereka bijaksana. Mereka mengira bahwa diri mereka mengetahui segala-galanya dan dalam kegelapan perkiraan mereka inilah mereka menjadi tidak sanggup menerima sabda Allah. Di lain pihak, orang-orang pandai (berilmu) mengira diri mereka mampu mengerjakan segala sesuatu, sehingga sampai pada keyakinan bahwa mereka tidak membutuhkan bantuan Allah. Sebaliknya orang-orang kecil sangat menyadari bahwa dalam hal-hal yang penting mereka tidak mengetahui apa-apa. Mereka berhadapan dengan kebesaran Allah dan justru karena itu insyaf sedalam-dalamnya akan kekecilan dan kelemahan mereka sendiri, dengan demikian siap menerima kuat-kuasa yang datang dari atas dengan penuh syukur.

Kebanggaan palsu serta kecongkakan menyebabkan orang menutup diri terhadap rahmat. Maka syarat mutlak bagi iman ialah kerendahan hati. Hanya orang-orang yang sadar akan keterbatasan pengetahuan dan kemampuannya, mampu menerima sabda dan karya Allah. Di lain pihak, mereka yang mengira dapat menolong diri sendiri tanpa bantuan dari pihak Allah ujung-ujungnya akan mengalami kebinasaan, ketiadaan.

Pokok yang kedua: perwahyuan/pernyataan diri Yesus. Kata-kata Yesus: “… tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak” (Mat 11:27) menyatakan kesamaan hakekat-Nya dengan Bapa surgawi. Hanya “seorang” Pribadi saja yang mengenal Anak dengan sepenuh-penuhnya: Dia, yang karena pengenalan akan kesempurnaan-Nya sendiri melahirkan gambar-Nya, Sang Anak (Sang Putera). Dan hanya seorang pula yang mengenal Bapa surgawi sepenuh-penuhnya: Dia, citra/gambaran Bapa dan karenanya memiliki segala sesuatu yang dimiliki Bapa surgawi. Maka Anaklah yang bersabda: “Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku” (Mat 11:27).

Inilah kesamaan dan kesatuan mutlak antara Bapa dan Anak (Putera), sedangkan semua yang lain hanya mengenal Bapa sekadar karena diwahyukan kepadanya oleh Anak: “… dan orang yang kepada-Nya Anak itu berkenan menyatakannya” (Mat 11:27). Sabda Kristus ini laksana halilintar yang membelah awan-awan karena menyatakan Kristus pada bidang yang berbeda, yang berlainan sama sekali dengan manusia. Walau pun demikian, Kristus bersabda dengan kata-kata insani. Inilah perwahyuan/pernyataan diri Allah Putera sendiri, Allah-manusia.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena pada saat membaca dan merenungkan Injil-Mu hari ini, Roh Kudus mengingatkan diriku bahwa Engkau adalah Putera Allah yang tunggal. Engkau lahir  dari Bapa sebelum segala abad, Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah benar dari Allah benar. Engkau dilahirkan, bukan dijadikan, sehakikat dengan Bapa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 11:25-27), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH TIDAK DAPAT DIPAHAMI BERDASARKAN UKURAN-UKURAN MANUSIA” (bacaan tanggal 19-7-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-07 BACAAN HARIAN JULI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-7-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 17 Juli 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS  

MELUPAKAN TANGGUNG JAWAB, BERSIKAP MASA BODOH DAN TIDAK MELAKUKAN APA-APA

MELUPAKAN TANGGUNG  JAWAB, BERSIKAP MASA BODOH DAN TIDAK MELAKUKAN APA-APA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV – Selasa, 18 Juli 2017)

 

Lalu Yesus mulai mengecam kota-kota yang tidak bertobat, sekalipun di sini Ia paling banyak melakukan mukjizat-mukjizat-Nya, “Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mukjizat-mukjizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung. Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan daripada tanggunganmu. Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati! Karena jika di Sodom terjadi mukjizat-mukjizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, kota itu tentu masih berdiri sampai hari ini. Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan negeri Sodom akan lebih ringan daripada tanggunganmu.” (Mat 11:20-24) 

Bacaan Pertama: Kel 2:1-15a; Mazmur Tanggapan: Mzm 69:3,14,30-31,33-34 

Ketika Yohanes sampai pada akhir Injilnya, dia menulis sepotong kalimat di mana dia mengindikasikan betapa tidak mungkin menulis suatu catatan tentang hidup Yesus yang lengkap: “Masih banyak lagi hal-hal lain yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, kupikir dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu” (Yoh 21:25). Bacaan hari dari Injil Matius adalah salah satu bukti dari apa yang dikatakan oleh Yohanes dalam ayat terakhir Injilnya tadi.

Khorazim barangkali adalah sebuah kota yang terletak satu jam perjalanan dari Kapernaum ke sebelah utara; Betsaida adalah sebuah kota/desa nelayan/perikanan yang terletak di tepi barat sungai Yordan, di tempat di mana sungai itu memasuki bagian utara dari danau. Jelas hal-hal yang paling hebat terjadi di dua kota ini, namun tidak ada catatan dalam kitab-kitab Injil tentang hal-hal tersebut. Tidak ada catatan tentang karya Yesus serta berbagai mukjizat dan tanda heran yang dibuat-Nya di tempat-tempat ini, walaupun kita dapat menduga banyak dari pekerjaan yang paling menakjubkan terjadi di tempat-tempat ini. Bacaan Injil hari ini menunjukkan betapa sedikit yang kita ketahui tentang Yesus. Bacaan Injil ini menunjukkan kepada kita – dan kita harus selalu mengingatnya – bahwa dalam kitab-kitab Injil kita hanya mempunyai pilihan dari karya-karya Yesus yang sangat sedikit. Hal-hal yang kita tidak ketahui tentang Yesus jauh lebih banyak daripada yang kita ketahui.

Kita harus sungguh berhati-hati untuk menangkap aksen dalam suara Yesus selagi Dia mengucapkan kata-kata kecaman-Nya. Kata Yunani dari kata “celakalah” yang digunakan oleh LAI adalah ouai yang mengungkapkan rasa kasihan penuh kesedihan dan juga kemarahan. Ini bukanlah aksen seseorang yang sedang penuh emosi karena rasa harga dirinya telah tersinggung; bukan juga aksen seseorang yang sedang marah besar karena telah dihina. Ini adalah aksen kesedihan, aksen dari seseorang yang menawarkan kepada manusia hal yang paling berharga dalam dunia, namun dia melihat apa yang ditawarkannya itu diabaikan (Jakarta: dicuekin). Kecaman Yesus terhadap dosa adalah kemarahan suci, namun kemarahan itu datang bukan karena kesombongan diri, melainkan dari sebuah hati yang patah.

Jadi, apa sebenarnya dosa Khorazim, dosa Betsaida, dosa Kapernaum; dosa yang lebih buruk daripada dosa Tirus dan Sidon, dan dosa Sodom dan Gomora? Tentunya dosa yang sangat serius, karena Tirus dan Sidon dikecam beberapa kali untuk kejahatan mereka (lihat Yes 23; Yer 25:22; 47:4; Yeh 26:3-7; 28:12-22), dan Sodom dan Gomora adalah kata lain dari ketidakadilan.

Yang pertama, ini adalah dosa orang-orang yang melupakan tanggung jawab mereka sebagai orang-orang yang memperoleh privilese. Kota-kota Galilea telah diberikan suatu privilese yang tidak pernah diberikan kepada Tirus dan Sidon, atau kepada Sodom dan Gomora, karena kota-kota Galilea tersebut telah secara aktual melihat dan mendengar Yesus. Kita tidak dapat menghukum seseorang yang belum pernah mempunyai kesempatan untuk mengetahui dengan lebih baik; namun apabila seseorang yang telah mempunyai kesempatan untuk mengetahui hal yang benar tapi melakukan hal yang salah, maka dia patut dihukum.  Semakin besar privilese yang kita peroleh, semakin besar pula hukumannya jika kita gagal untuk memikul tanggung jawab dan menerima kewajiban-kewajiban yang melekat pada privilese yang kita peroleh itu.

Yang kedua, ini adalah dosa kemasabodohan. Kota-kota Galilea ini tidak menyerang Yesus Kristus; mereka tidak mengusir-Nya agar ke luar gerbang kota; mereka tidak berupaya untuk menyalibkan Dia; mereka hanya mengabaikan Dia. Mengabaikan seseorang dapat membunuh seperti juga pengejaran dan penganiayaan. Seorang pengarang menulis sebuah buku; buku itu dikirim untuk di-review. Beberapa orang yang bertugas melakukan review dapat memuji buku itu, yang lain menilai buku itu tidak baik; semua itu tidak apa-apa bagi si pengarang asal memang diperhatikan. Satu hal yang dapat membunuh sebuah buku adalah situasi di mana buku itu diabaikan, tidak diperhatikan sama sekali untuk dipuji ataupun dikritik habis-habis. Banyak negara barat mengalami situasi di mana tidak ada kekerasan atau sikap bermusuhan terhadap Kristianitas atau Kekristenan; tidak ada hasrat untuk menghancurkannya, yang ada hanyalah sikap masa bodoh Kemasabodohan juga merupakan suatu dosa karena kemasabodohan membunuh. Kemasabodohan tidak membakar habis sebuah agama sampai mati, melainkan membekukannya sampai mati.

Yang ketiga, kita sekarang secara face-to-face berhadapan dengan kebenaran besar yang mengancam – adalah juga sebuah dosa apabila kita tidak melakukan apa-apa. Ada dosa-dosa karena tindakan, dosa-dosa karena perbuatan, namun ada juga dosa karena tidak melakukan apa-apa. Dosa Khorazim, dosa Betsaida, dan dosa Kapernaum adalah dosa tidak melakukan apa-apa.

Catatan: Uraian di atas merupakan adaptasi dari tulisan William Barclay, THE DAILY STUDY BIBLE – The Gospel of Matthew – Volume 2, hal. 11-13.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah mengutus Putera-Mu, Yesus Kristus, untuk menyelamatkan dunia. Semoga Roh Kudus-Mu senantiasa mengingatkan kami tentang apa saja yang telah dilakukan oleh Yesus bagi kami. Semoga kami selalu terbuka bagi sabda kebenaran-Nya. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 11:20-24), bacalah tulisan yang berjudul “TIGA KOTA DI GALILEA YANG DIKECAM YESUS” (bacaan tanggal 18-7-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-07 BACAAN HARIAN JULI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-7-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 16 Juli 2017 [HARI MINGGU BIASA XV – TAHUN A] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS ADALAH YANG PERTAMA DAN UTAMA

YESUS ADALAH YANG PERTAMA DAN UTAMA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV – Senin, 17 Juli 2017

FSGM: Peringatan wafat Pendiri Kongregasi

“Jangan kamu menyangka bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.

Siapa saja yang mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada Aku, ia tidak layak bagi-Ku; dan siapa saja yang mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih daripada Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak  bagi-Ku. Siapa saja yang mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan siapa saja yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.

Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku.  Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut  seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar. Siapa saja yang memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Ia tidak akan kehilangan upahnya.”

Setelah Yesus mengakhiri pesan-Nya kepada kedua belas murid-Nya, pergilah Ia dari sana untuk mengajar dan memberitakan Injil di dalam kota-kota mereka. (Mat 10:34-11:1) 

Bacaan Pertama: Kel 1:8-14,22; Mazmur Tanggapan: Mzm 124:1-8  

Siapa saja yang mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada Aku, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat 10:37).

Bagi banyak dari kita yang mendengar sabda Yesus ini tentunya mudah sekali membayangkan seakan-akan kata ini diucapkan oleh pemimpin yang sangat egoistis, “mau menang sendiri” dst. Bukankah hubungan kekeluargaan – teristimewa relasi antara orangtua dan anak mereka – hampir selalu merupakan hubungan yang paling penting dalam hidup kita? Bukankah salah satu dari “Sepuluh Perintah Allah” berbunyi: “Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN (YHWH), Allahmu kepadamu” (Kel 20:12; bdk. Ul 5:16, Mat 15:4, Mrk 7:10, Ef 6:2-3)? Apalagi pada masa kehidupan Yesus di bumi, hubungan kekeluargaan bagi umat Israel sangat dijunjung tinggi ketimbang pada masa modern ini.

Maka sabda Yesus dalam bacaan Injil hari ini secara istimewa memberi kesan bahwa pesan yang disampaikan-Nya sungguh keras dan tajam, namun tidak boleh dibaca dan ditafsirkan secara harfiah. Di sini Yesus menggunakan hiperbola klasik orang Yahudi – yaitu  suatu pengungkapan berlebihan secara luarbiasa, dengan tujuan menyampaikan sebuah pokok pemikiran yang penting. Demi Injil, hubungan keluarga harus ditempatkan bukan sebagai prioritas utama. Relasi kita dengan diri-Nya seharusnya merupakan relasi yang paling penting dalam kehidupan kita. Tidak ada relasi apa pun (mana pun) – bahkan juga relasi dengan anggota keluarga yang terdekat –  yang harus menjadi lebih penting daripada relasi  kita dengan Yesus. Tentu saja Yesus tidak memaksudkan agar kita  berhenti mencintai/mengasihi para anggota keluarga kita atau pun orang-orang lain, melainkan menantang prioritas-prioritas yang kita tetapkan, dan Ia minta kepada kita untuk menempatkan diri-Nya dalam hati kita sebagai yang pertama dan utama.

Banyak orang mempunyai keprihatinan yang besar terhadap keluarga mereka masing-masing. Hal ini memang baik dan terpuji! Akan tetapi, kadang-kadang terjadi bahwa keprihatinan ini sangatlah menyita segala waktu, pikiran, tenaga dll. yang ada pada kita sehingga relasi kita dengan Yesus menjadi menyusut, bahkan sampai tingkat yang seminum-minimumnya. Masalah-masalah keluarga dapat mendominansi diri kita sampai begitu dalamnya, sehingga praktis kita memakai hampir seluruh waktu kita dalam mencoba menyelesaikan masalah-masalah keluarga itu dan luput menyediakan waktu bagi kehadiran Yesus. Apabila hal ini terjadi, ada risiko bahwa sesungguhnya kita mencari sumber kepenuhan dan kebahagiaan yang salah.

Menempatkan diri Yesus sebagai yang pertama dan utama dalam skala prioritas kita adalah tindakan yang sangat bijaksana dalam menjalin relasi dengan orang-orang kita kasihi. Pada kenyataannya, suatu hubungan yang penuh kasih dan kuat dengan Yesus sesungguhnya akan meningkatkan segala hubungan kita yang lain. Mengapa sampai begitu? Karena dengan semakin dekatnya diri kita dengan Yesus, kita pun menjadi semakin mengalami damai-sejahtera, memiliki bela rasa dan kemurahan hati. Damai-sejahtera, bela rasa dan kemurahan hati sesungguhnya adalah unsur-unsur utama yang harus senantiasa ada dalam suatu relasi yang sehat dan penuh kasih.

Bahkan dalam kasus-kasus di mana suatu komitmen radikal kepada Yesus terlihat akan menghalangi relasi-relasi yang lain – hal ini memang biasa, teristimewa bagi orang-orang dewasa yang baru menjadi murid Kristus – maka Yesus pada akhirnya akan membuat segala hal menjadi yang terbaik bagi mereka yang pertama-tama mencari diri-Nya dan terus berjuang untuk mengikuti jejak-Nya dengan lebih baik setiap hari.

DOA: Yesus Kristus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Ampunilah aku untuk saat-saat di mana aku gagal menempatkan diri-Mu sebagai yang pertama dan utama di antara sekian banyak relasiku dengan berbagai pihak. Pada hari ini, sekali lagi aku membuat komitmen untuk mengasihi-Mu dan mengikuti jejak-Mu sebagai seorang murid yang setia, sebelum segalanya yang lain. Amin. 

Catatan:  Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 10:34-11:1), bacalah tulisan yang berjudul “DIPANGGIL UNTUK MENJADI SAKSI KEHIDUPAN BARU” (bacaan tanggal 17-7-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-07 BACAAN HARIAN JULI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-7-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 14 Juli 2017 [Peringatan S. Fransiskus Solanus, Imam Fransiskan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS  

TANAH MACAM APA KITA INI?

TANAH MACAM APA KITA INI?

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI  MINGGU BIASA XV [TAHUN A] – 16 Juli 2017)

Pada hari itu keluarlah Yesus dari rumah itu dan duduk di tepi danau. Lalu datanglah orang banyak berbondong-bondong dan mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai. Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Kata-Nya, “Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah tanaman-tanaman itu dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati. Sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat. Siapa yang bertelinga, hendaklah ia mendengar!” (Mat 13:1-9; versi panjang: 13:1-23) 

Bacaan Pertama:  Yes 55:10-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 65:10-14; Bacaan Kedua: Rm 8:18-23

Benih yang ditaburkan adalah sabda Allah, kata Yesus. Benih-benih itu jatuh di atas tanah yang berbeda-beda. Ada benih yang jatuh di tanah yang baik. Ada pula benih yang jatuh di atas tanah yang berbatu-batu. Malah ada benih-benih yang jatuh di tengah semak duri. Jadi, benih-benih yang tidak jatuh di atas tanah yang baik tidak diberi kesempatan untuk bertumbuh.

Allah berbicara kepada kita dengan berbagai cara. Benih itu (sabda Allah) jatuh ke atas diri kita setiap hari, apa pun yang terjadi dengan diri kita. Kita tahu bahwa niat Allah hanyalah kebaikan bagi kita. Namun tanah macam apa yang kita berikan bagi benih tersebut?

Alkisah ada pasutri muda yang baru dikaruniai seorang anak (anak pertama). Sayangnya, bayi itu dilahirkan cacat, tanpa lengan sama sekali. Ayah anak itu mulai frustrasi, dia mengutuk Allah dan nasibnya sendiri, juga dokter karena membiarkan anaknya hidup. Sang ayah hanya melihat sisi gelapnya saja.

Tentu saja optimisme berkelebihan juga tidak pada tempatnya. Kita hampir tidak dapat mengharapkan kedua orangtua anak tersenyum bahagia dan berkata, “Ah paling sedikit ia tidak akan pernah menjadi seorang pencopet.”

Di sisi lain kita sikap sang ibu patut dicatat. Ia memandang anaknya dan berkata, “Kasihan anakku yang masih kecil ini. Ia sungguh membutuhkan banyak pertolongan. Terima kasih penuh syukur kepada Allah karena kami mampu memberikan pertolongan kepadanya.” Ini adalah sikap Kristiani: menghadapi realitas dengan pengharapan, dengan keberanian dan dengan iman. Sang ibu memperkenankan benih jatuh di atas tanah yang baik.

Apabila sang  ayah mempunyai sedikit saja iman, kalau ada sedikit kasih Kristus dalam dirinya, maka dia akan mengasihi anaknya sebagaimana apa adanya anak itu. Sang ayah akan sangat menyesal pernah mengharapkan agar anaknya mati karena cacat fisiknya.

Kristus mengasihi kita walaupun kita tidak sempurna, betapa pun kecilnya kita ini. Allah tidak buta terhadap kedosaan dan kelemahan kita, akan tetapi Dia terus saja memberikan kesempatan kepada kita untuk melakukan pertobatan. Allah terus membiarkan benih surgawi jatuh atas diri kita sambil menunggu dan berharap bahwa kita akan belajar menyiapkan tanah yang baik untuk benih tersebut.

DOA: Roh Kudus Allah, terangilah pikiran dan hatiku agar supaya terbuka terhadap keindahan dan kebenaran yang ada di sekelilingku. Dengan demikian aku pun dapat mendengarkan Sabda Allah dengan penuh perhatian. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:1-23), bacalah tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN YESUS YANG MERUPAKAN SEBUAH TANTANGAN BESAR” (bacaan tanggal 16-7-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-07 BACAAN HARIAN JULI 2017.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-7-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 12 Juli 2017 [Peringatan S. John Jones & John Wall, Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JANGANLAH KAMU TAKUT, KARENA KAMU LEBIH BERHARGA DARIPADA BANYAK BURUNG PIPIT

JANGANLAH KAMU TAKUT, KARENA KAMU LEBIH BERHARGA DARIPADA BANYAK BURUNG PIPIT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan/Pesta S. Bonaventura, Uskup Pujangga Gereja – Sabtu, 15 Juli 2017) 

“Seorang murid tidak lebih daripada gurunya, atau seorang hamba daripada tuannya. Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya. Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya.

Jadi, janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka, dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas rumah. Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.

Bukankah burung pipit dijual dua ekor seharga satu receh terkecil? Namun, seekor pun tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu, janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit.

Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang disurga. Tetapi siapa saja yang menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di surga.” (Mat 10:24-33) 

Bacaan Pertama: Kej 49:29-32; 50:15-26a; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:1-4,6-7 

Adalah sebuah kebenaran yang tidak dapat disangkal, bahwa apabila kita berpaling kepada Tuhan Yesus, maka Dia akan menunjukkan kepada kita siapa diri-Nya dan siapa kita sesungguhnya di hadapan hadirat-Nya. Dengan demikian betapa pentinglah kita mengangkat pikiran kita kepada Allah, mohon kepada-Nya agar membentuk prioritas-prioritas kita sesuai dengan kebenaran-kebenaran iman kita.

Misalnya, selagi Dia mempersiapkan kedua belas rasul untuk melakukan perjalanan misioner mereka, Yesus bersabda kepada mereka: “Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya” (Mat 10:25). Kata-kata Yesus ini tidak hanya berlaku bagi pekerjaan misioner, melainkan juga bagi seluruh kehidupan Kristiani. Sebagai murid-murid-Nya, panggilan utama kita adalah menjadi seperti Yesus Kristus. Kemudian, selagi kita merefleksikan kebaikan Yesus, kita pun akan mampu mengundang orang-orang lain untuk mengalami kasih-Nya dan kuasa-Nya.

Dalam 7 (tujuh) ayat bacaan Injil hari ini, kata-kata “Janganlah kamu takut” muncul sebanyak 3 (tiga) kali (ayat 26, 28 dan 31). Pada kenyataannya ungkapan “jangan takut” yang diucapkan Yesus ada cukup banyak dalam keempat kitab Injil, misalnya: “Tenanglah! Inilah Aku, jangan takut!” (Mat 14:27); “Jangan takut, percaya saja!” (Mrk 5:36); “Janganlah gelisah dan  gentar hatimu” (Yoh 14:27). Yesus mengetahui bahwa betapa mudah rasa takut itu dapat “mengalahkan” iman pada saat-saat konflik, saat-saat pengejaran serta penganiayaan, saat-saat bahaya, dan dengan konsisten Dia mendorong serta menyemangati para pengikut-Nya untuk tidak menyerah pada rasa takut itu.

Apakah Yesus sendiri pernah dilanda rasa takut? Untuk mengetahuinya kita hanya perlu mengingat kata-kata yang diucapkan-Nya di taman Getsemani: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari hadapan-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” (Mat 26:39).  Yesus mengetahui bahwa para lawan-Nya sedang datang untuk menyalibkan-Nya dan semua sahabat-Nya akan meninggalkan diri-Nya.  Selagi Dia menghadapi prospek menanggung hukuman untuk semua dosa dunia, Yesus mengalami rasa takut yang paling mengerikan, yang paling gelap. Akan tetapi Yesus menyerahkan hidup-Nya kepada Bapa-Nya dengan sepenuh-penuhnya sehingga Dia pun dapat mengalahkan segala rasa takut yang menimpa diri-Nya, sehingga kita pun dapat mengetahui dan mengalami pula bahwa Allah selalu menyertai kita.

Iman kita kepada Yesus – cepat atau lambat – akan bertabrakan dengan “jalan dunia”, namun kita tidak perlu merasa takut. Allah memiliki segala keprihatinan seorang Bapa yang baik, Ia memiliki pengetahuan dan kuasa untuk melindungi semua murid Yesus. Ia yang bahkan memelihara dan menjaga burung-burung pipit tentunya akan memperhatikan dan menjaga kita. Dia telah memanggil kita dan kita adalah milik-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau mengasihi kami dan karenanya memandang kami pantas untuk diselamatkan. Kami pun seharusnya senantiasa mentaati segala perintah dan ajaran-Mu, karena kami sungguh berniat untuk menjadi murid-murid-Mu yang sejati. Ampunilah kami untuk cara-cara kami memperkenankan rasa takut menggeser ke samping iman kami kepada-Mu. Terima kasih, ya Tuhan dan Juruselamat kami, karena Engkau senantiasa berjalan di depan kami untuk menunjukkan jalan yang benar menuju Bapa surgawi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 10:24-33), bacalah tulisan yang  berjudul “SEORANG MURID MENJADI SAMA SEPERTI GURUNYA, ……” (bacaan tanggal 15-7-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-07 BACAAN HARIAN JULI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 9-7-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 12 Juli 2017 [Peringatan S. John Jones & John Wall, Martir)

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS