IA MEMBERI PERINTAH KEPADA ROH-ROH JAHAT DAN MEREKA TAAT KEPADA-NYA

IA MEMBERI PERINTAH KEPADA ROH-ROH JAHAT DAN MEREKA TAAT KEPADA-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Selasa, 15 Januari 2019) 

Yesus dan murid-murid-Nya tiba di Kapernaum. Setelah hari Sabat mulai, Yesus segera masuk ke dalam rumah ibadat dan mengajar. Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat. Pada waktu itu di dalam rumah ibadat mereka, ada seorang yang kerasukan roh jahat. Orang itu berteriak, “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? Apakah Engkau datang untuk membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.”  Tetapi Yesus membentaknya, “Diam, keluarlah dari dia!”  Roh jahat itu mengguncang-guncang orang itu, dan sambil menjerit dengan suara nyaring roh itu keluar dari dia. Mereka semua  takjub, sehingga mereka memperbincangkannya, katanya, “Apa ini? Suatu ajaran baru disertai dengan kuasa! Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka taat kepada-Nya!”  Lalu segera tersebarlah kabar tentang Dia ke segala penjuru di seluruh Galilea. (Mrk 1:21-28)

Bacaan Pertama: Ibr 2:5-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 8:2,5-9

Pelayanan Yesus di depan publik telah dimulai. Tidak pernah kelihatan yang seperti itu sebelumnya. Orang-orang heran dan bertanya-tanya, “Apa ini? Suatu ajaran baru disertai dengan kuasa! Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka taat kepada-Nya!”  (Mrk 1:27). Dengan kuasa dan kewenangan, Yesus berbicara kepada hati orang-orang dan mengusir roh jahat di depan orang-orang. Semua orang yang menyaksikan peristiwa ini menjadi takjub dan kagum. Ini bukan sekedar khotbah. Ini mengingatkan kita kepada apa yang ditulis oleh Santo Paulus, “Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan bukti bahwa Roh berkuasa” (1Kor 2:4).

Setiap kebenaran Injil dapat dipilah-pilah dan dianalisis dengan kekuatan intelek dan hal itu samasekali tidak salah, asal saja tidak jadi membingungkan kita atau malah membuat kita tertipu oleh si Jahat. Tetapi ada sesuatu yang lebih penting dan lebih memiliki kuasa, yang diberikan oleh Yesus kepada kita. Dia datang untuk memproklamasikan kebenaran sedemikian sehingga akan memerdekakan kita. Yesus berfirman: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh 3:31-32).

Kata-kata Yesus mempunyai kuasa untuk menghukum kita, menghibur kita, menyembuhkan kita dan bahkan membebaskan kita. Kata-kata Yesus mencakup pemahaman manusiawi, akan tetapi tidak terbatas sampai di situ saja.

Apakah kita mengetahui kebenaran Injil sedemikian rupa sehingga kita dapat mengalami kuasa-Nya untuk memerdekakan diri kita? Apakah kita mengalami kemerdekaan, sukacita dan keakraban dengan Yesus sebagai akibat dari kita mendengarkan firman-Nya yang diproklamasikan dalam liturgi Gereja, pada pertemuan kelompok doa dan/atau Kitab Suci, pada saat-saat berdoa secara pribadi, atau pada saat-saat pembacaan dan permenungan Kitab Suci secara pribadi? Ini adalah warisan kita sebagai anak-anak Allah yang telah dibaptis.   Selagi kita mengalami kasih ilahi-Nya, kita pun akan menyerahkan diri kita lebih penuh lagi kepada firman-Nya. Kita akan mengenal, mengakui serta mematuhi kewenangan dan kuasa-Nya dalam hidup kita; dan keluarga dan teman-teman kita pun akan mengenali adanya perbedaan dalam diri kita.

Yesus merindukan kita masing-masing untuk mengundang Dia ke dalam hati kita – pusat terdalam dari keberadaan kita – tidak hanya ke dalam pikiran kita. Hati adalah tempat keputusan di mana kita bertemu dengan Allah dan digerakkan secara mendalam oleh kasih-Nya. “Hati adalah ….. pusat kita yang tersembunyi, yang tidak dapat dimengerti baik oleh akal budi kita maupun oleh orang lain”  (Katekismus Gereja Katolik, 2563). Marilah sekarang kita membuka hati kita lebih penuh lagi bagi Yesus dan memperkenankan kuasa-Nya mengubah kita.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau saja yang mengetahui isi hati kami dan hasrat terdalam dalam hati kami itu. Pada saat ini kami mengundang-Mu untuk memasuki bagian terdalam dari keberadaan kami dan mengikat kami pada hati-Mu. Bebaskanlah kami, ya Tuhan, dari segala kejahatan dan ajarlah kami bagaimana hidup untuk-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:21-28), bacalah tulisan yang berjudul “MEMAHAMI KEBERADAAN IBLIS DAN ROH-ROH JAHAT” (bacaan tanggal 15-1-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; 19-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2019. 

Cilandak, 13 Januari 2019 [PESTA PEMBAPTISAN TUHAN] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

KERAJAAN ALLAH SUDAH DEKAT

KERAJAAN ALLAH SUDAH DEKAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Senin, 14 Januari 2019)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan B. Odorikus dari Pordenone, Imam

Sesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah, kata-Nya, “Saatnya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!”

Ketika Yesus sedang berjalan menyusur Danau Galilea, Ia melihat Simon dan Andreas, saudara Simon. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka, “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Lalu mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Setelah Yesus meneruskan perjalanan-Nya sedikit lagi, Ia melihat Yakobus, anak Zebedeus, dan Yohanes, saudaranya, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus segera memanggil mereka dan mereka meninggalkan ayahnya, Zebedeus, di dalam perahu bersama orang-orang upahannya lalu mengikuti Dia. (Mrk 1:14-20) 

Bacaan Pertama: Ibr 1:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 97:1-2,6-7,9

Seorang nelayan yang berpengalaman mengetahui di mana dia harus menebarkan jalanya. Dia tahu di mana ikan-ikan cenderung untuk berkumpul, dan dengan demikian dia dapat menebarkan jalanya di lokasi yang benar agar dapat menangkap ikan dalam jumlah yang besar. Demikian pula halnya dengan Yesus, yang menebarkan “jala”-Nya kepada orang-orang yang siap untuk menerima pesan-Nya: “Kerajaan Allah sudah dekat” (Mrk 1:15).

Yesus menemukan orang-orang yang rindu untuk dibebaskan tidak hanya dari cengkeraman dan penindasan Kekaisaran Romawi, melainkan juga dari pengaruh dosa dan kematian. Selagi Dia berbicara, Yesus memberikan suatu gambaran kepada para pendengar-Nya tentang peranan mereka sebagai anggota-anggota Kerajaan ini: “Kamu akan Kujadikan penjala manusia” (Mrk 1:17).

 

Yesus ingin mengajar kita semua untuk melakukan evangelisasi kepada para sahabat dan anggota keluarga kita sama efektifnya seperti ketika Dia melakukan evangelisasi di tanah Palestina dua ribu tahun lalu. Yesus berbicara mengenai Kerajaan sebagai sebuah tempat yang diperintah oleh “seorang” Allah penuh kuasa, namun mempribadi. Kemudian Yesus menindak-lanjuti kata-kata yang diucapkan-Nya dengan karya belas kasih yang disertai juga dengan tanda-tanda heran. Orang-orang lapar diberi makan, orang-orang sakit disembuhkan, kepada para pendosa diberikan jaminan belas kasih ilahi, orang-orang benar ditantang, dan orang-orang yang galau diberikan pengharapan. Sekarang Yesus ingin mengatakan kepada kita bahwa kita adalah para anggota/warga yang sangat berharga dari Kerajaan-Nya, dipenuhi dengan Roh-Nya dengan kapasitas untuk menggerakkan hati dan pikiran manusia, dengan kuat-kuasa yang sama seperti yang dilakukan-Nya dua ribu tahun lalu.

Sekarang, apakah kita (anda dan saya) percaya kepada janji Yesus bahwa kita dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada yang telah dilakukan oleh Yesus sendiri (Yoh 14:12)?  Periksalah periode satu pekan yang baru lalu. Apa saja jalan-jalan yang kita dengar dari Allah? Dalam situasi-situasi apa saja kita menerima kekuatan untuk menghadapi kesulitan-kesulitan? Kapan kita berseru kepada-Nya dan kemudian menerima hikmat ilahi? Kapan kita merasa bersalah karena sesuatu yang kita pikirkan, katakan, lakukan dan lalai untuk lakukan, kemudian mengalami pembersihan melalui pertobatan?

Setiap contoh di atas menunjukkan kuat-kuasa Allah yang aktif dalam hidup kita – suatu kuasa untuk menjadi saksi dari kasih-Nya dan kehadiran-Nya. Dalam pekan ini, marilah kita memperhatikan dengan seksama jalan-jalan yang digunakan Allah dalam hal Ia akan memberikan hikmat untuk mengetahui kapan saatnya berbicara dan kapan saatnya untuk diam, kapan saatnya untuk melibatkan diri dalam suatu perkara dan kapan saatnya untuk menarik diri, kapan saatnya untuk merangkul seorang pendosa dan kapan saatnya untuk memberikan waktu kepadanya untuk berpikir dan berefleksi.

Saudari dan Saudara terkasih, sebagai para pengikut Kristus yang setia sebenarnya kita masing-masing dapat menjadi seorang pewarta Kabar Baik Kerajaan Allah seperti Yesus sendiri, menunjukkan kepada orang-orang apa artinya pribadi yang sudah ditransformasikan oleh Allah Yang Mahakuasa.

DOA: Yesus, berikanlah kepadaku rasa percaya untuk ikut ambil bagian bersama saudari dan saudaraku yang lain dalam kehidupan yang Engkau telah berikan kepadaku. Kobarkanlah semangatku untuk mengasihi dengan penuh bela rasa dan untuk sepenuhnya menggantungkan diri pada kuat-kuasa-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:14-20), bacalah tulisan yang  berjudul “KAMU AKAN KUJADIKAN PENJALA MANUSIA” (bacaan tanggal 14-1-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-1-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 11 Januari 2019

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ROH KUDUS SAMA YANG MENGALIR DALAM DIRI YESUS SEKARANG MENGALIR DALAM DIRI KITA MASING-MASING

ROH KUDUS SAMA YANG MENGALIR DALAM DIRI YESUS SEKARANG MENGALIR DALAM DIRI KITA MASING-MASING

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta Pembaptisan Tuhan – Minggu, 13 Januari 2019)

Tetapi karena orang banyak sedang menanti dan berharap, dan semuanya bertanya dalam hatinya tentang Yohanes, kalau-kalau ia adalah Mesias, Yohanes menjawab dan berkata kepada semua orang itu, “Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa daripada aku akan datang dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api.

Ketika seluruh orang banyak itu telah dibaptis dan ketika Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya. Dan terdengarlah suara dari langit, “Engkaulah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Mulah Aku berkenan.”  (Luk 3:15-16,21-22)

Bacaan Pertama: Yes 42:1-4,6-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 29:1–4,9-10; Bacaan Kedua: Kis 10:34-38

Ajaran Yesus kepada para murid-Nya berasal dari pengetahuan ilahi yang disaring melalui pengalaman manusia. Dia dapat berbicara mengenai mengampuni orang-orang lain karena Dia telah belajar untuk mengampuni para musuh-Nya. Yesus dapat berkata bahwa memberi itu lebih baik daripada menerima, karena dia telah memberi diri-Nya sendiri secara total-lengkap dan menerima banyak pula dari Bapa surgawi. Yesus juga dapat berbicara tentang kuat-kuasa Roh Kudus untuk mengubah hidup orang, karena sebagai seorang manusia Dia sendiri telah dipenuhi oleh Roh Kudus.

Baptism of Jesus Christ

Pada waktu Yesus dibaptis, “terbukalah langit dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya” (Luk 3:21-22). Pembaptisan ini mengawali suatu tahapan baru dalam kehidupan Yesus. Karya pelayanan-Nya di tengah masyarakat mencakup juga pembuatan mukjizat dan tanda heran lainnya, suatu kemampuan berkhotbah dengan kuat-kuasa, kemenangan atas roh-roh jahat, dan banyak lagi. Tidak ada keraguan sedikit pun bahwa sesuatu yang dramatis diperkenalkan oleh-Nya ke tengah dunia pada hari itu, dan Yesus sendiri mengetahui tentang hal itu (Luk 4:18-19; bdk. Yes 61:1-2).

Sesungguhnya, tahukah kita (anda dan saya) apa yang terjadi ada waktu kita dibaptis? Seperti Yesus, baptisan kita juga mencakup kuasa untuk melayani dengan “bonus” tambahan dan menakjubkan. Ketika kita dibaptis, kita (atau diwakili oleh bapa/ibu permandian jika kita masih bayi/anak-anak kecil sekali) tidak hanya memberikan hidup kita kepada Allah. Allah juga memberikan hidup kekal-Nya kepada kita.

 

 

Seiring dengan kuasa untuk membawa Injil ke tengah dunia, kita pun telah menerima suatu perubahan fundamental dalam batin kita.  Roh Kudus sama yang mengalir dalam diri Yesus sekarang mengalir dalam diri kita masing-masing, memberikan kepada kita suatu bagian dalam kodrat ilahi. Keikutsertaan dalam hidup Yesus inilah yang memampukan kita menjadi/berfungsi sebagai instrumen-instrumen-Nya di dunia. Marilah kita menyediakan waktu pada hari ini untuk membaca nas-nas Kitab Suci yang berhubungan dengan pembaptisan: Kis 2:38-39; 2 Kor 1:21-22; Tit 3:4-7; dan 1 Ptr 1:3-4. Marilah kita merenungkan nas-nas ini dan biarlah Allah membangunkan imajinasi kita dan memenuhi diri kita dengan ekspektasi besar akan semua hal yang dapat kita lakukan dalam Kristus.

DOA: Alah Yang Mahakuasa, aku merasa takjub dan penuh syukur atas segala hal yang Kauberikan kepadaku dalam Kristus. Bukalah lebar-lebar mata hatiku agar dapat melihat berkat-berkat rohani yang Kauberikan kepadaku. Luaskanlah pemahamanku sehingga aku dapat benar-benar sadar apa saja yang menjadi milikku lewat pembaptisan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 3:15-16,21-22), bacalah tulisan yang berjudul ‘ENGKAULAH ANAK-KU YANG TERKASIH, KEPADA-MULAH AKU BERKENAN” (bacaan tanggal 13-1-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2019.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-1-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 10 Januari 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JIKA KITA MERENDAHKAN DIRI KITA, MAKA ALLAH AKAN MENINGGIKAN KITA

JIKA KITA MERENDAHKAN DIRI KITA, MAKA ALLAH AKAN MENINGGIKAN KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa sesudah Penampakan Tuhan – Sabtu, 12 Januari 2019)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Bernardus dr Corleone, Biarawan Kapusin

Sesudah itu Yesus pergi dengan murid-murid-Nya ke tanah Yudea dan Ia tinggal di sana bersama-sama mereka dan membaptis. Akan tetapi, Yohanes pun membaptis juga di Ainon, dekat Salim, sebab di situ banyak air. Orang-orang datang ke situ untuk dibaptis, sebab pada waktu itu Yohanes belum dimasukkan ke dalam penjara.

Lalu timbullah perselisihan di antara murid-murid Yohanes dengan seorang Yahudi tentang penyucian. Mereka datang kepada Yohanes dan berkata kepadanya, “Rabi, orang yang bersama dengan engkau di seberang Sungai Yordan dan yang tentang Dia engkau telah bersaksi, Dia membaptis juga dan semua orang pergi kepada-Nya.” Jawab Yohanes, “Tidak ada seorang pun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari surga. Kamu sendiri dapat bersaksi bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya. Yang punya mempelai perempuan, ialah mempelai laki-laki; tetapi sahabat mempelai laki-laki, yang berdiri dekat dia dan yang mendengarkannya, sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu. Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh. Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil. (Yoh 3:22-30) 

Bacaan Pertama: 1 Yoh 5:14-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 149:1-6,9 

“… dan sekarang sukacitaku itu penuh.” (Yoh 3:29)

Pada waktu para muridnya bertanya kepada Yohanes Pembaptis tentang seorang pengkhotbah lain yang menjadi “pesaing” baginya, Yohanes memberi tanggapan yang tidak seperti biasanya, yaitu bahwa dirinya sangat bergembira melihat pengkhotbah lainnya tersebut menarik banyak orang kepada-Nya. Yohanes mengetahui bahwa Yesus bukanlah sekadar seorang pengkhotbah, melainkan Ia adalah sang Mempelai Laki-laki dari umat-Nya dan pemenuhan dari janji-janji Allah.

Sebagai seorang yang mendengarkan suara sang Mempelai Laki-laki, Yohanes bersukacita melihat bahwa mempelai perempuan – Umat Allah atau Gereja – pada akhirnya datang kepada sang Mempelai Laki-laki. Kerajaan Allah menerobos masuk ke tengah dunia dengan suatu cara yang baru dan menentukan!

Apakah kita sungguh mengetahui bahwa Yesus adalah sang Mempelai Laki-laki bagi kita – kekasih dari jiwa kita dan Pemberi semua hal yang baik? Melalui hidup-Nya, kematian-Nya dan kebangkitan-Nya, Yesus telah membuat harta-kekayaan hidup surgawi menjadi tersedia bagi kita sekarang.

Pertanyaannya sekarang: Apakah kita mempunyai kebutuhan akan Yesus? Dalam “Khotbah di Bukit” Yesus telah memberi jaminan kepada kita bahwa apabila kita mencari Kerajaan Allah dan kehendak-Nya, maka Dia akan memenuhi segala kebutuhan kita: “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kehendak-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Mat 6:33). Apakah kita merasa khawatir atau takut? Yesus berjanji bahwa tidak ada sesuatu pun terjadi tanpa sepengetahuan Bapa surgawi. Sabda Yesus yang berikut ini sangat menghibur: “Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka. Bukankah burung pipit dijual dua ekor seharga satu receh terkecil? Namun, seekor pun tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu” (Mat 10:28-29). Apakah kita sedang sakit atau menderita? Yesus selalu ada bersama kita, menawarkan kepada kita kesembuhan dan kekuatan (lihat Mrk 1:41).

Semua janji ini dan juga banyak lagi kebaikan tersedia bagi kita dalam Kristus. Ini adalah sebuah Kabar Baik yang sungguh menakjubkan. Allah sang Mahapencipta segenap alam semesta, telah merendahkan diri-Nya untuk bergabung dengan umat manusia dalam suatu persatuan intim yang memungkinkan kita masuk ke dalam surga. Akan tetapi, bagaimana kita menerima harta-kekayaan ini dan mengalami kuat-kuasa Kerajaan Allah? Jawabnya: Kita harus mengikuti contoh yang telah diberikan oleh Yohanes: “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (Yoh 3:30).

Yohanes Pembaptis tidak mencari nama atau ketenaran yang bukan miliknya. Sebaliknya, dia menunjuk kepada Yesus. Jika kita merendahkan diri kita, maka Allah akan meninggikan kita. Apabila kita memutuskan untuk kehilangan nyawa kita, maka kita akan dipenuhi dengan hidup dari sang Mempelai Laki-laki sendiri. Apakah hidup kita terpuruk dalam kedosaan? Dengan bebas Yesus membebaskan bahkan orang-orang yang mendzolimi-Nya (lihat Luk 23:34). Tentu saja Dia akan mengampuni dan mengasihi orang-orang yang mengikuti jejak-Nya berdasarkan kehendak bebas dan para pendosa yang berbalik kepada-Nya dengan hati yang penuh dengan pertobatan. Selagi kita pergi menghadap Yesus dan membuang dosa-dosa yang selama ini menghalangi kita, maka awan yang selama ini mengaburkan pandangan kita terhadap Yesus akan menghilang.

DOA: Yesus, bagaimana aku dapat mengungkapkah kasihku kepada-Mu? Engkau telah memberikan begitu banyak hal kepadaku, malah jauh lebih banyak daripada yang pantas kuterima. Engkau adalah sang Putera Allah, namun pada saat yang sama Engkau adalah teman seperjalananku yang akrab. Aku mengasihi-Mu dengan sepenuh hatiku, ya Yesus, Tuhan dan Juruselamatku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 3:22-30), bacalah tulisan yang berjudul “KESAKSIAN SANG BENTARA TENTANG YESUS” (bacaan tanggal 12-1-19) dalam  situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 9-1-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 9 Januari 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DOA YESUS KEPADA BAPA ADALAH FONDASI DARI SEMUA YANG DILAKUKANNYA

DOA YESUS KEPADA BAPA ADALAH FONDASI DARI SEMUA YANG DILAKUKANNYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa sesudah Penampakan Tuhan – Jumat, 11 Januari 2019)

Pada suatu kali Yesus berada dalam sebuah kota. Di situ ada seorang yang penuh kusta. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia dan memohon, “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menyentuh orang itu, dan berkata, “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga lenyaplah penyakit kustanya. Yesus melarang orang itu memberitahukannya kepada siapa pun juga dan berkata, “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk penyucianmu persembahan seperti yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka.” Tetapi kabar tentang Yesus makin jauh tersebar dan datanglah orang banyak berbondong-bondong kepada-Nya untuk mendengar Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka. Akan tetapi, Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang terpencil dan berdoa. (Luk 5:12-16) 

Bacaan Pertama: 1 Yoh 5:5-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 147:12-15,19-20

Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang terpencil dan berdoa. (Luk 5:16)

Bilamana Sri Paus mengunjungi suatu negara, banyak sekali orang berkumpul di lokasi kedatangannya, berjam-jam lamanya, bahkan berhari-hari sebelum ia sampai di tempat itu. Beribu-ribu orang memenuhi pinggiran jalan yang akan dilalui dan mereka mencoba mendekati kendaraan Sri Paus untuk dapat melihat sendiri pemimpin Gereja itu, walaupun hanya sekilas lintas saja. Jadi, ketika kita membaca dari Kitab Suci bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada Yesus untuk mendengar Dia berkhotbah dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka (Luk 5:15), kita mempunyai gambaran bagaimana sulitnya bagi Yesus untuk bergerak di tengah kerumunan orang banyak itu, apalagi mendengar dengan jelas dari Bapa-Nya di surga. Jadi, bagaimana Yesus dapat tetap berada dalam keadaan damai, tenteram, dan yakin pada kehendak Allah di tengah banyaknya orang yang berkumpul itu?

Jawabnya adalah doa! Ketika tersebar kabar bahwa Yesus telah menyembuhkan seorang kusta, dan orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya untuk mendengar khotbah-Nya dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka, Yesus malah “mengundurkan diri ke tempat-tempat yang terpencil dan berdoa” (Luk 5:16).

Doa yang bersifat intim, menyegarkan dan menguatkan adalah fondasi dari semua yang dilakukan oleh Yesus. Doa tersebut memampukan Dia untuk mengetahui kapan kiranya Dia harus melayani, dan kapan untuk menarik diri ke tempat sunyi penuh keheningan, kapan untuk menegur dan dan kapan untuk menghibur. Doa memperbaharui kekuatan Yesus, menyegarkan semangat-Nya, dan memenuhi hati-Nya dengan keyakinan. Di atas segalanya, doa memberi keyakinan kepada-Nya secara mendalam dan pribadi tentang kasih tak tergoyahkan dari Bapa surgawi kepada-Nya.

Suatu kebenaran yang menakjubkan dari hidup seorang Kristiani adalah bahwa doa pribadi yang memberi-hidup seperti dialami Yesus adalah dimungkinkan bagi setiap kita yang menjadi murid-Nya. Lagipula, Allah sangat berhasrat untuk melihat kita datang kepada-Nya dengan berbagai kebutuhan kita. Allah sangat rindu untuk berbicara secara pribadi kepada kita, memberi bimbingan kepada kita, mengajar kita tentang Yesus, atau menggerakkan kita ke dalam cara-cara baru dalam melayani diri-Nya. Dalam saat-saat duka maupun suka, saat yang diliputi rasa takut maupun penuh syukur, rasa bersalah atau ketidakpastian, kita hanya perlu berpaling kepada Bapa surgawi untuk diberi kesempatan beraudiensi dalam suasana penuh kasih dengan Dia.

Saudari dan Saudaraku, doa dimaksudkan untuk sama mudahnya seperti berbicara dengan seorang sahabat. Bilamana kita berbicara kepada Allah, Dia senantiasa siap untuk menanggapi kita. Barangkali kita akan diingatkan kepada sebuah potongan ayat dari Kitab Suci, atau kita dimampukan untuk memandang suatu situasi dalam terang yang baru, atau kita hanya merasakan damai-sejahtera dalam keheningan hati kita. Selagi kita beristirahat dalam Tuhan dalam doa, rahmat-Nya memenuhi diri kita, memberi kekuatan kepada kita untuk mengikuti Dia dalam hidup kita sehari-hari. Apapun situasi yang kita hadapi, kita dapat mengharapkan untuk diisi dan dibuat baru, seperti Yesus sendiri pada saat Ia menarik diri dari keramaian untuk berdoa.

DOA: Roh Kudus, bawalah aku dengan lebih mendalam ke dalam hidup Yesus dan kasih-Nya. Aku ingin mengetahui dan mengenal hati Bapa dan jalan-jalan-Nya dan mengalami hidup-Nya selagi aku berdoa hari ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 5:12-16), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS DATANG KE TENGAH DUNIA DENGAN BELARASA DAN KASIH YANG BESAR” (bacaan tanggal 11-1-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 8-1-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 8 Januari 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ROH TUHAN ADA PADA-KU

ROH TUHAN ADA PADA-KU

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa sesudah Penampakan Tuhan – Kamis, 10 Januari 2019)

Dalam kuasa Roh kembalilah Yesus ke Galilea. Lalu tersebarlah kabar tentang Dia di seluruh daerah itu. Sementara itu Ia mengajar di rumah-rumah ibadat di situ dan semua orang memuji Dia.

Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Kitab Suci. Kepada-Nya diberikan kitab Nabi Yesaya dan setelah membuka kitab itu, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis: “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.”

Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya. Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya, “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.” Semua orang itu membenarkan dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya. (Luk 4:14-22a) 

Bacaan Pertama: 1 Yoh 4:19-5:4; Mazmur Tanggapan: Mzm 72:1-2,14-15,17

“Roh Tuhan ada pada-Ku” (Luk 4:18)

Jelaslah bahwa Yesus mengucapkan kata-kata ini untuk menjelaskan tentang diri-Nya sendiri. Namun dapatkah kita (anda dan saya) percaya bahwa kita dapat mengatakan hal yang sama tentang diri kita? Bukankah setiap orang yang telah dibaptis ke dalam Kristus telah menerima Roh Kudus? Apakah kita merasa suka atau tidak – sesungguhnya, apakah pengalaman kita mengatakan kepada kita begitu atau tidak – Roh Kudus memang ada pada kita!

Kalau begitu halnya, apakah yang harus kita lakukan dengan sepotong informasi penting ini? Apakah setelah kita mendengar kebenaran ini dengan rasa takjub, kemudian kita duduk-duduk saja sambil menikmati rasa nyaman karena telah “bernasib” sedemikian baik? Tentu tidak!

Yesus datang ke tengah-tengah dunia untuk melakukan inaugurasi dari Kerajaan Allah, di mana setiap tetes air mata dihapus dan setiap keterikatan dilepaskan. Orang-orang pinggiran dan tertindas akan mendengar Kabar Baik tentang kasih Allah, dan orang-orang buta terhadap diri-Nya akan diberikan penglihatan. Orang-orang yang berada di bawah perbudakan dosa dibebaskan, agar dapat menikmati kebaikan-kebaikan Tuhan. Semua ini terdengar begitu baik, namun harus jelas bagi kita bahwa hal-hal tersebut tidak terjadi secara magic, secara ajaib! Kerajaan Allah hanya bertumbuh selagi kita – para pembawa Roh-Nya – saling mengasihi seperti Dia mengasihi kita (lihat Yoh 15:12). Dengan demikian, Kerajaan-Nya akan maju, baik dalam hidup kita maupun di dalam dunia.

Kita mungkin saja berpikir bahwa kita sangat tidak memadai atau tidak pantas untuk melakukan tugas sedemikian, namun selagi kita memperkenankan Roh Kudus membentuk kita dan menggerakkan kita, maka kita akan melihat bahwa kuat-kuasa ilahi bergerak dalam diri kita dan melalui kita. Selagi kita belajar bagaimana menyerahkan diri kepada Roh Kudus, kita akan mengatasi keterbatasan-keterbatasan yang disebabkan oleh kodrat manusiawi kita yang cenderung untuk berdosa. Dengan berjalannya waktu, Allah akan mampu menggunakan kita untuk mewujudkan hal-hal yang lebih besar dan lebih besar lagi.

Barangkali Roh Kudus menggerakkan hati kita untuk mengunjungi seorang sahabat yang sudah sekian lama tidak ke gereja. Barangkali kita ingin memulai sebuah kelompok “studi Alkitab” dengan rekan-rekan kerja kita atau “teman-teman satu kelas sewaktu di SMA dahulu”. Roh Kudus juga dapat saja mendorong kita untuk melakukan hal sederhana seperti mengirim kartu Natal atau mengunjungi seorang tetangga yang hidup sendiri. Selagi kita memohon kepada Roh Kudus untuk menolong kita dan melangkah ke luar dalam iman, maka kita akan melihat berkat-berkat besar. Dan jangan salah, kita pun dapat mengalami sesuatu yang menyenangkan hati!

DOA: Tuhan Yesus, aku merasa sangat gembira karena Engkau memanggil diriku untuk ikut ambil bagian dalam pembangunan Kerajaan Allah. Setiap hari diisi dengan excitement selagi aku melihat bagaimana Engkau memimpin diriku untuk mengasihi orang-orang yang kujumpai. Aku berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena Engkau memilih diriku untuk melayani Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 4:14-22a), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS DIUTUS UNTUK MENGGENAPI JANJI-JANJI ALLAH” (bacaan tanggal 10-1-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 19-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 7-1-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 8 Januari 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SALING MENGASIHI

SALING MENGASIHI

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa sesudah Penampakan Tuhan – Rabu, 9 Januari 2019)

Saudara-saudaraku yang terkasih, jikalau Allah demikian mengasihi kita, maka kita juga harus saling mengasihi. Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita.

Demikianlah kita ketahui bahwa kita tetap berada di dalam Allah dan dia di dalam kita, karena Ia telah mengaruniakan Roh-Nya kepada kita. Dan kami telah melihat dan bersaksi bahwa Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia. Siapa yang mengaku bahwa Yesus adalah Anak Allah, Allah tetap berada di dalam dia dan dia di dalam Allah. Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan siapa yang tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.

Dalam hal inilah kasih Allah sempurna di dalam kita, yaitu kalau kita mempunyai keberanian percaya pada hari penghakiman, karena sama seperti Dia, kita juga ada di dunia ini. Di dalam kasih tidak ada ketakutan: Kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan siapa yang takut, ia tidak sempurna di dalam kasih. (1Yoh 4:11-18)

Mazmur Tanggapan: Mzm 72:1-2,10-13; Bacaan Injil: Mrk 6:45-52

“Siapa yang tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.” (1 Yoh 4:16)

Dengan menggunakan beberapa patah kata sederhana, Yohanes mengungkap jantung kehidupan dalam Kerajaan Allah: “saling mengasihi”  (1 Yoh 4:12). Kelihatannya cukup straightforward dan langsung. Kita semua mengetahui apa yang dimaksudkan dengan “kasih”. Di sini Kitab Suci menceritakan kepada kita bahwa kita cukup mengambil langkah ke luar dan melakukannya.  Jadi bagaimana sesuatu yang terdengar begitu sederhana namun begitu sulit untuk diwujudkan dalam praktek?

Jawabnya tidak terletak pada ketidakadilan dalam perintah-perintah Allah, juga tidak pada ketidakmauan-Nya untuk mengubah kita menjadi umat yang mengasihi. Jawabnya terletak dalam hati kita sendiri. Pengalaman mengatakan kepada kita bahwa siapa saja yang mencoba untuk mengasihi akan berhadap-hadapan dengan kodrat manusiawinya yang cenderung berdosa.  Pengalaman upaya untuk mengasihi itu membuat kita menjadi merasa rendah – namun perlu – untuk menyadari bahwa kita tidak mempunyai berbagai sumber daya sendiri untuk mengasihi sepenuh dan benar-benar seperti Yesus mengasihi. Kesadaran diri yang sedemikian membuat kita bertekuk lutut dan berseru: “Tuhan, aku tidak dapat mengasihi berdasarkan kekuatanku sendiri. Aku membutuhkan kasih-Mu. Berdayakanlah diriku agar dapat mengasihi tanpa pamrih.”

Sebuah doa seperti itu menandakan awal dari suatu pertobatan yang tahan lama – bahkan sampai akhir hidup kita – selagi diri kita dikosongkan dari cinta-diri dan dipenuhi dengan kasih kepada Yesus. Manakala kita sadar bahwa kita tidak mampu untuk mengasihi atau tidak mampu untuk mengampuni, maka kita dapat merasa terhibur karena kita mengetahui bahwa Allah mengundang kita untuk masuk lebih dalam lagi ke dalam hati-Nya. Melalui pertobatan yang tulus, kita belajar bagaimana untuk mengosongkan diri kita dan menyambut Roh Kudus ke dalam hati kita. Kemudian, dipenuhi dengan kasih ilahi, kita melihat diri kita diberdayakan untuk menunjukkan kasih di mana kita pernah mundur dengan penuh rasa penolakan, rasa takut, kesombongan, atau keserakahan.

Kita masih berada di bawah rahmat masa Natal, suatu masa di mana Allah mengundang kita untuk merangkul secara lebih penuh terang Kristus yang telah terbit dalam dunia. Waktu atau masa apa lagi yang lebih baik untuk memohon kepada-Nya agar diri kita diisi dengan kasih ilahi yang lebih mendalam lagi? Waktu atau masa apa lagi yang lebih baik untuk menyingkirkan cinta-diri sehingga dengan demikian Yesus dapat mengisi diri kita lagi dan lagi?

Saudari dan Saudaraku, marilah kita melangkah ke luar dalam iman dan mengkomit diri kita untuk mengasihi orang-orang di sekeliling kita dengan kasih yang mengalir dari Bapa surgawi.

DOA: Yesus, Engkau adalah kasih Allah yang dicurahkan ke dalam hatiku. Berlimpah-limpahlah dalam diriku sehingga dengan demikian dunia akan melihat kasih dan rahmat yang sangat dibutuhkannya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 6:45-52), bacalah tulisan yang berjudul “HAI UMAT KRISTIANI, MENGAPA HARUS TAKUT?” (bacaan tanggal 9-1-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 6-1-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 7 Januari 2019

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS