UNDANGLAH YESUS KE DALAM PERAHU KEHIDUPAN KITA

UNDANGLAH YESUS KE DALAM PERAHU KEHIDUPAN KITA

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Paskah – Sabtu, 14 April 2018)

Ketika hari mulai malam, murid-murid Yesus pergi ke danau, lalu naik ke perahu dan menyeberang ke Kapernaum. Hari sudah gelap dan Yesus belum juga datang mendapatkan mereka, sementara laut bergelora karena tiupan angin kencang. Sesudah mereka mendayung kira-kira lima atau enam kilometer jauhnya, mereka melihat Yesus berjalan di atas air mendekati perahu itu. Mereka pun ketakutan. Tetapi Ia berkata kepada mereka, “Inilah Aku, jangan takut!” Karena itu, mereka mau menaikkan Dia ke dalam perahu, dan seketika itu juga perahu itu sampai ke pantai yang mereka tuju. (Yoh 6:16-21) 

Bacaan Pertama: Kis 6:1-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:1-2,4-5,18-19 

Jika kita mengenang suatu peristiwa berbahaya yang pernah kita hadapi di masa lalu, maka kita akan langsung memahami pengalaman para rasul (murid) di atas perahu mereka di tengah-tengah air danau yang bergelora karena tiupan angin kencang. Situasi mencekam ini ditambah lagi dengan suatu pengalaman yang bukan biasa-biasa: “melihat seorang manusia sedang berjalan di atas air” yang sedang diterpa badai itu, dan orang itu sedang mendekati perahu mereka. Bayangkanlah, seandainya apa yang mereka sedang perhatikan itu sekali-kali diterangi oleh cahaya, kemudian gelap lagi seperti yang sering terjadi di atas panggung teater. Maka, tidak mengherankanlah apabila para murid Yesus itu ketakutan (Yoh 6:19). Semua itu seperti adegan dalam film thriller (horror?) saja!

Kita semua tentu mengenal benar rasa takut atau ketakutan itu – dari yang kecil-kecil sampai kepada rasa cemas yang melumpuhkan. Dalam Kitab Suci diungkapkan bahwa Iblis memanipulasi manusia melalui rasa takut kita akan maut. Misalnya, penulis “Surat kepada Orang Ibrani” menyatakan: “Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan turut mengalami keadaan mereka, supaya melalui kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis yang berkuasa atas maut. Dengan demikian, Ia membebaskan pula mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan karena takutnya kepada maut” (Ibr 2:14-15).

Pemikiran bahwa ketakutan kita dapat membuka pintu bagi si Iblis untuk mengikat kita, sesungguhnya dapat lebih mengkhawatirkan kita lagi. Jadi, bagaimana cara yang terbaik bagi kita untuk mengatasi masalah ketakutan ini? Marilah kita kembali kepada Kitab Suci di mana tercatat bahwa Yesus, “model” kita, juga mengalami rasa takut: “Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan air mata kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan” (Ibr 5:7; bdk. Mat 26:36-46; Mrk 14:32-42; Luk 22:39-46). Yesus selalu membiarkan rasa takutnya menggerakkan diri-Nya kepada doa yang lebih mendalam dan iman yang lebih kuat lagi kepada Bapa-Nya (lihat Yoh 12:27-28).

Nah, Yesus menginginkan agar kita pun memiliki iman yang sama kepada kemampuan Bapa surgawi untuk melindungi kita. Tanpa iman ini kita tetap akan tetap terikat oleh ketakutan dan kecemasan. Lebih parah lagi, tanpa iman kepada “seorang” Allah yang mengasihi, maka pada akhirnya kita hanya dapat mengandalkan segalanya kepada diri kita sendiri. Dan semakin lama kita hidup, semakin sadar pula kita akan betapa rentan diri kita ini. Ujung-ujungnya kita dilanda rasa takut terhadap kondisi kesehatan kita, “keamanan” keuangan (financial security) kita, orang-orang dalam kehidupan kita, apa yang dipikirkan orang-orang lain tentang diri kita, dlsb.

Barangkali kita merasa terperangkap dalam suatu situasi tanpa harapan, dan tidak ada seorang pun yang mau dan mampu menolong kita. Bukankah situasi kita yang seperti ini tidak banyak berbeda dengan yang dihadapi oleh para murid Yesus seperti digambarkan dalam bacaan kita hari ini? Barangkali pemikiran bahwa Allah berada di tengah-tengah angin ribut pun menakutkan bagi kita. Apa pun yang ada dalam pikiran kita, marilah kita mencoba menenangkan hati kita dan mendengarkan kata-kata yang diucapkan Yesus: “Inilah Aku, jangan takut!” (Yoh 6:20). Undanglah Yesus ke dalam “perahu kehidupan kita”, maka Ia akan membawa anda ke pantai dengan selamat (lihat Yoh 6:21).

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku yang sedang mengalami badai kehidupan ini. Tolonglah aku agar dapat mendengar suara-Mu. Naiklah masuk ke dalam perahu kehidupanku, tenangkanlah pikiranku dan bawalah aku dengan aman ke pantai yang dipenuhi dengan damai-sejahtera dan sukacita dari-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 6:1-7), bacalah tulisan yang berjudul “PENUH ROH DAN HIKMAT” (bacaan tanggal 14-4-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-04 BACAAN HARIAN APRIL 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 29-4-17 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 11 April 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

MUKJIZAT PENGGANDAAN ROTI DAN IKAN

MUKJIZAT PENGGANDAAN ROTI DAN IKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Paskah – Jumat, 13 April 2018)

Sesudah itu Yesus berangkat ke seberang Danau Galilea, yaitu Danau Tiberias. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka melihat mukjizat-mukjizat yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit. Lalu Yesus naik ke atas gunung dan duduk di situ dengan murid-murid-Nya. Dan Paskah, hari raya orang Yahudi, sudah dekat. Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat bahwa orang banhyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus, “Di mana kita dapat membeli roti, supaya mereka dapat makan?” Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu apa yang hendak dilakukan-Nya. Jawab Filipus kepada-Nya, “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.” Salah seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya, Di sini ada seorang anak yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apa artinya itu untuk orang sebanyak ini?” Kata Yesus, “Suruhlah orang-orang itu duduk.” Adapun di tempat itu banyak rumput. Lalu duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya. Sesudah itu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dilakukan-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. Setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang.” Mereka pun mengumpulkannya, dan mengisi dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan. Ketika orang-orang itu melihat tanda mukjizat yang telah diperbuat-Nya, mereka berkata, “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia.”

Karena Yesus tahu bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir lagi ke gunung, seorang diri. (Yoh 6:1-15) 

Bacaan Pertama: Kis 5:34-42; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14 

Ada yang mengatakan, bahwa makan sambil berdiri atau berjalan kian kemari dapat menyebabkan gangguan dalam pencernaan. Oleh karena itu tidak mengherankanlah apabila Yesus memerintahkan para murid-Nya untuk menyuruh orang banyak duduk. Memang demikianlah halnya: tubuh kita harus dalam keadaan duduk dan rileks agar makanan yang masuk dapat dicerna dengan baik. Hal yang sama berlaku untuk pencernaan secara rohaniah (spiritual). Kita harus rileks dan tidak sibuk kesana kemari agar supaya Yesus dapat memberi makanan kepada roh kita. Kita dapat menderita sakit pencernaan spiritual apabila kita hanya berdoa sementara disibukkan dengan pekerjaan kita. Boleh saja kita mengatakan “karyaku adalah doaku”, tetapi doa dalam keheningan di tengah quality time kita harus tetap dilakukan. Mengapa? Karena pengalaman banyak orang mengatakan bahwa betapa sulit jadinya untuk mendengar suara Allah dan beristirahat dalam kasih-Nya apabila setiap saat dari hari-hari kehidupan kita hanya dipenuhi dengan kesibukan.

Orang banyak yang diberi makanan oleh Yesus mengikuti Dia ke atas gunung karena mereka lapar akan jawaban-jawaban Yesus – akan pengharapan, tujuan, dan perjumpaan pribadi dengan kasih Allah. Mereka mempunyai banyak kebutuhan: Ada yang sakit, ada juga yang sedang tertindas. Bagi orang-orang lain, untuk survive dari hari ke hari saja sudah sulit. Akan tetapi, Yesus melihat dan merasakan kebutuhan-kebutuhan mereka semua dan menjawabnya satu persatu pada setiap tingkat. Ia minta agar para murid-Nya menyuruh orang banyak untuk duduk dan beristirahat, sehingga dengan demikian Ia dapat memberi mereka makan. Ia memberi orang banyak itu makan untuk memperkuat mereka dalam perjalanan pulang mereka ke rumah masing-masing. Ia mewartakan kabar baik dari Kerajaan Allah kepada orang banyak itu. Ia bahkan menyembuhkan mereka di bidang fisik, spiritual dan emosional.

Lebih dari dua ribu tahun kemudian, di abad ke-21 ini, kehidupan kita masih banyak menuntut. Penderitaan masih hadir di sekeliling kita dalam berbagai bentuknya. Setiap orang menghadapi berbagai kebutuhan dan tekanan yang harus diatasi. Memang tidak sulit untuk merasakan  bagaimana pikiran kita bergerak dengan cepat, bahkan ketika kita mencoba untuk diam dan berdoa secara hening. Yesus tetap meminta kita untuk duduk, membuat tenang pikiran kita dan menerima dari Dia.

Satu cara yang dapat menolong kita dalam berdoa adalah dengan menggunakan imajinasi. Kita dapat membayangkan berada bersama Yesus, para rasul dan orang banyak di atas gunung itu. Kita dapat membayangkan sedang memperhatikan Yesus yang memandang ke surga selagi Dia memohon kepada Bapa-Nya di surga untuk memberkati lima roti jelai dan dua ekor ikan yang tersedia. Kemudian kita membayangkan didatangi oleh salah seorang rasul yang menawarkan roti dan ikan sesuai dengan keinginan kita. Sekarang, marilah kita mohon agar Yesus memenuhi diri kita dengan damai sejahtera dan sukacita sementara Dia berjanji untuk menolong kita agar setiap kebutuhan kita dipenuhi.

DOA: Tuhan Yesus, aku memberikan kepada-Mu segala keprihatinan yang ada dalam pikiranku sekarang. Tolonglah aku agar dapat membuat tenang hatiku sehingga aku pun dapat duduk di dekat kaki-Mu dan ikut ambil bagian dalam perjamuan-Mu sepanjang hidupku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 5:34-42), bacalah tulisan yang berjudul “SUATU MOMEN PENTING DALAM KEHIDUPAN GEREJA” (bacaan tanggal 13-4-18), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-04 BACAAN HARIAN APRIL 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 28-4-17 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 8 April 2018 [HARI MINGGU PASKAH II – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

TAAT KEPADA ALLAH ATAU TAAT KEPADA MANUSIA?

TAAT KEPADA ALLAH ATAU TAAT KEPADA MANUSIA?

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Paskah – Kamis, 12 April 2018)

Mereka membawa rasul-rasul itu dan menghadapkan mereka kepada Mahkamah Agama. Lalu Imam Besar mulai menanyai mereka, katanya, “Dengan keras kami melarang kamu mengajar dalam Nama itu. Ternyata, kamu telah memenuhi Yerusalem dengan ajaranmu dan kamu hendak menanggungkan darah Orang itu kepada kami.” Tetapi Petrus dan rasul-rasul itu menjawab, “Kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia. Allah nenek moyang kita telah membangkitkan Yesus yang kamu bunuh dengan menggantung-Nya pada kayu salib. Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah dengan tangan kanan-Nya menjadi Perintis dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa. Kamilah saksi dari peristiwa-peristiwa itu, kami dan Roh Kudus yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang menaati Dia.” Mendengar perkataan itu sangatlah tertusuk hati mereka dan mereka bermaksud membunuh rasul-rasul itu. (Kis 5:27-33)

Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2,9,17-20; Bacaan Injil: Yoh 3:31-36

Melalui kematian dan kebangkitan Yesus, belas kasih Allah dibuat tersedia bagi kita dengan berlimpah … tanpa batas. Belas kasih Allah – perlakuan Yesus yang baik dan penuh bela rasa terhadap para pendosa – terus mengalir kepada kita secara berlimpah-limpah, selalu dapat dicapai oleh kita. Belas kasih atau kerahiman ilahi ini membebaskan kita dari belenggu penjara dan mengembalikan kita kepada diri kita sendiri, dari kebohongan-kebohongan Iblis dan dari berbagai filsafat dunia yang berlawanan dengan rencana Allah. Belas kasih-Nya membawa kita kepada kebebasan dari ketakutan, penolakan, kemarahan dan sikap mementingkan diri sendiri – pokoknya apa saja yang menghadang jalan kita untuk menjalin relasi dengan Allah.

Para rasul telah disentuh oleh belas kasih Allah, dengan demikian sudah dibuat menjadi suatu ciptaan baru. Karena para murid begitu diubah oleh kehadiran Roh Kudus “yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang menaati dia” (Kis 5:32), maka mereka mampu untuk memberi kesaksian tentang kebangkitan Yesus dan tentang segala janji Allah yang sekarang dipenuhi dalam Putera-Nya (lihat Kis 5:28). Bagi para rasul, Yesus bukanlah sekadar Allah yang jauh tinggal di surga sana. Dia hidup dan aktif dalam hati mereka, dan kehadiran-Nya dalam diri mereka masing-masing mendesak, katakanlah “memaksa” mereka untuk syering Kabar Baik Yesus Kristus dengan semua orang yang memiliki rasa haus akan firman yang hidup.

Sebagai orang Kristiani yang percaya dan telah dibaptis, kita juga mempunyai akses terhadap kuasa dan kasih Allah melalui Roh Kudus-Nya. Belas kasih yang sama tersedia bagi kita sementara kita mengarahkan hati kita kepada Yesus. Allah minta kepada kita agar menyatukan diri kita dengan Kristus dalam kematian dan kebangkitan-Nya, untuk melakukan pertobatan karena dosa-dosa kita, dan untuk mempersilahkan Dia bekerja dalam diri kita dengan cara-Nya sendiri. Dengan percaya kepada Yesus, menyerahkan hidup kita kepada-Nya dan dipenuhi dengan Roh Kudus, maka kita pun menjadi ciptaan baru.

Yesus taat kepada kehendak Bapa sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib (lihat Flp 2:8). Maka kita pun harus taat kepada Yesus sampai mati, dengan demikian Ia dapat hidup dalam diri kita melalui kuasa Roh Kudus. Bersama Yesus, kita dipanggil untuk berdoa kepada Bapa surgawi, “jangan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu yang jadi” (lihat Luk 22:42).

Apabila Roh Kudus hidup dalam diri kita, maka kita tidak akan mampu menampung dan menahan sendiri sukacita kita. Seperti para rasul di depan orang banyak dan Sanhedrin, kita pun tidak akan mampu berhenti berbicara tentang apa yang telah dikerjakan atas diri kita.

DOA: Bapa surgawi, oleh kuasa Roh Kudus-Mu sentuhlah hatiku dengan kasih-Mu, agar aku dapat “dipaksa” untuk hidup sehari-harinya sebagai saksi-Mu yang penuh keyakinan mewartakan Kabar Baik Yesus Kristus kepada semua orang yang kutemui. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 3:31-36), bacalah tulisan yang berjudul “SIAPA YANG AKAN BEROLEH HIDUP YANG KEKAL?” (bacaan tanggal 12-4-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-04 BACAAN HARIAN APRIL 2018.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 27-4-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 8 April 2018 [HARI MINGGU PASKAH II – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

ALLAH BEGITU MENGASIHI DUNIA INI

ALLAH BEGITU MENGASIHI DUNIA INI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Stanislaus, Uskup Martir – Rabu, 11 April 2018) 

http://thebiblerevival.com/clipart/1908/john3.jpg
Jesus, the Saviour of the world
Artist: UNKNOWN; Illustrator of Bible Card
Date: Published 1904

Karena Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan supaya dunia diselamatkan melalui Dia. Siapa saja yang percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; siapa saja yang tidak percaya, ia telah berada  di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. Inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan daripada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. Sebab siapa saja yang berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatam-perbuatannya yang jahat itu tidak tampak; tetapi siapa saja yang melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah.” (Yoh 3:16-21) 

Bacaan Pertama: Kis 5:17-26; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-9 

“Karena Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yoh 3:16)

Ayat yang relatif singkat ini sebenarnya mencakup hakekat INJIL itu sendiri. Dipenuhi dengan kasih bagi umat-Nya, Allah dengan sukarela mengorbankan Putera-Nya yang tunggal guna menebus kita. Kasih Allah itu menjadi lebih nyata terbukti apabila kita mempertimbangkan kondisi kita yang penuh dosa. Sebagaimana dengan jelas-gamblang dikatakan oleh Yohanes, manusia berdosa telah berada di bawah hukuman, manusia lebih menyukai kegelapan daripada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat (lihat Yoh 3:18-19).

Hakekat KABAR BAIK atau INJIL adalah, bahwa Bapa surgawi sangat mengasihi kita manusia  sehingga rela membayar biaya yang paling tinggi untuk membebas-merdekakan kita. Yesus, sang Terang Dunia, datang untuk menyingkapkan kegelapan dalam hidup kita dan menawarkan suatu jalan menuju penebusan. Ada orang yang menanggapi tawaran Yesus dengan kasih, dan mereka pun dibebas-merdekakan dari dosa dan maut. Ada pula yang menolak Yesus. Namun demikian, terang Yesus terus membawa kehidupan kepada semua orang yang percaya kepada-Nya.

Ada banyak cara atau jalan yang membuat kita menjadi budak kegelapan. Kadang-kadang memori-memori lama masih melekat dalam hati kita dan menciptakan penolakan dan kepahitan. Kata-kata penuh sarkasme dapat begitu mudahnya keluar dari mulut kita, atau kita dapat begitu cepat menyalahkan orang lain. Masalahnya adalah, apakah kita sedang duduk menghakimi kelemahan-kelemahan atau perbedaan-perbedaan orang-orang lain? Apakah kita senantiasa disibukkan dengan kepentingan diri sendiri dan menghabiskan waktu kita untuk itu semua? Apakah sikap kita untuk bersiteguh dengan cara-cara kita sendiri kadang-kadang menyebabkan kita lekas marah dan benci terhadap apa saja yang datang dari orang lain?

Terang yang berasal dari Juruselamat kita menyingkap dosa-dosa yang ada dalam diri kita – bukan untuk menghukum kita, melainkan membimbing kita kepada Tuhan untuk kesembuhan dan pengampunan. Karunia pertobatan dapat mentransformasikan hati kita. Melihat dan menyadari kebutuhan kita akan terang Yesus, maka kita pun menjadi mampu mengenal betapa besar kasih Allah melalui belas kasih-Nya yang tanpa batas itu. Kasih (Allah) ini dapat bertumbuh dalam diri kita. Bapa kita di surga menginginkan agar kasih-Nya mengalir melalui diri kita sehingga kita pun dapat menjadi saluran rahmat-Nya bagi orang-orang lain. Penghukuman tidak memberi jalan kepada belas kasih, dan kebencian tidak memberi peluang kepada bela rasa. Marilah kita sekarang mohon kepada Allah untuk membuka hati kita  bagi kasih-Nya yang menyembuhkan.

DOA: Tuhan Yesus, kami mencari terang-Mu hari ini. Singkapkanlah kegelapan dalam kehidupan kami. Penuhilah diri kami dengan kehadiran-Mu dan ubahlah hati kami. Buatlah kami rendah hati agar kami dapat menerima setiap berkat yang akan Kauberikan kepada kami. Semoga kasih dan hidup-Mu mengalir melalui diri kami kepada para anggota keluarga kami, teman-teman kami, bahkan musuh-musuh kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 5:17-26), bacalah tulisan yang  berjudul “DIPENUHI DENGAN ROH KUDUS YANG MEMBERDAYAKAN” (bacaan tanggal 11-4-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-04 BACAAN HARIAN APRIL 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 26-4-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 7 April 2018 [HARI SABTU DALAM OKTAF PASKAH] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

GEREJA MEMBUTUHKAN BARNABAS-BARNABAS

GEREJA MEMBUTUHKAN BARNABAS-BARNABAS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Paskah – Selasa, 10 April 2018)

Kumpulan orang yang telah percaya itu sehati dan sejiwa, dan tidak seorang pun berkata bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama. Dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam anugerah yang melimpah-limpah. Sebab tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya.

Demikian pula dengan Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya anak penghiburan, seorang Lewi kelahiran Siprus. Ia menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul. (Kis 4:32-37)

Mazmur Tanggapan:  Mzm 93: 1-2,5; Bacaan Injil: Yoh 3:7-15 

“Barnabas, artinya anak penghiburan, seorang Lewi kelahiran Siprus. Ia menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul.” (Kis 4:36-37)

Untuk memberi kesaksian dengan penuh kuat-kuasa atas “Kebangkitan Tuhan Yesus” (Kis 4:33), maka – sebagai Gereja – kita membutuhkan pribadi-pribadi seperti Maria yang tekun berdoa dalam menanti-nantikan kedatangan Roh Kudus (Kis 1:14). Kita juga membutuhkan pribadi yang setia seperti Matias untuk menjadi pengganti dari pemimpin tidak setia seperti Yudas Iskariot. Untuk mewartakan Kabar Baik tentang kebangkitan Kristus, kita membutuhkan pengkhotbah-pengkhotbah atau pewarta-pewarta sabda seperti Petrus, para martir seperti Stefanus, dan para misionaris seperti Paulus. Kita juga sangat membutuhkan orang baik – baik perempuan maupun laki-laki – yang berani berkorban, bermurah hati, bersemangat, yakni anak-anak penghiburan seperti Barnabas (Kis 4:36).

Pribadi-pribadi seperti Barnabas memberi warna tersendiri pada komunitas Kristiani perdana. Umat Allah, sebagaimana juga orang-orang pada umumnya, adalah orang yang cinta-diri, kikir, duniawi dan selalu merasa tidak puas. Kita manusia seringkali bersikap minimalis dalam hal berkorban dan komitmen, namun bersikap maksimalis dalam hal mencari kenikmatan dan keuntungan pribadi. Lewat pribadi-pribadi seperti Barnabas ini, Tuhan ingin menarik hati orang dari batas minimalis dan setengah-setengah hati.

Dengan melakukan pertobatan, maka dorongan-dorongan atau suara-suara dalam hati kita yang mengatakan bahwa lebih baiklah bagi kita untuk memberi daripada meminta, melayani daripada menuntut untuk dilayani, lebih baik mati daripada berdosa, dan melakukan pengorbanan daripada melakukan segala sesuatu “semau gue”.

Gereja tanpa pribadi-pribadi seperti Barnabas hanyalah sekadar Gereja yang suam-suam kuku dan membuat mual Yesus dan Ia akan memuntahkannya dari mulut-Nya (lihat Why 3:16). Gereja yang dipenuhi dengan pribadi-pribadi seperti Barnabas adalah Gereja yang sungguh dapat dikatakan sebagai mempelai Kristus. Sejarah Gereja mencatat bahwa Paus Martinus I (+655) adalah seorang gembala sejati. Beliau memusatkan hati dan pikirannya untuk berdoa, menolong kaum miskin dan mengajar. Ia sendiri hidup dalam keadaan yang serba kekurangan.

DOA: Bapa surgawi, perkenankanlah agar cintakasihku kepada-Mu membakar diriku. Jadikanlah aku “anak penghiburan” seperti Barnabas yang rela berbagi harta miliknya dengan saudari dan saudaranya yang lain. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 3:7-15), bacalah tulisan yang berjudul “DEMIKIANLAH HALNYA DENGAN TIAP-TIAP ORANG YANG LAHIR DARI ROH” (bacaan tanggal 10-4-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-04 BACAAN HARIAN APRIL 2018. 

(Bacaan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 5-4-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 6 April 2018 [HARI JUMAT DALAM OKTAF PASKAH]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SEBUAH DOA JEMAAT PERDANA

SEBUAH DOA JEMAAT PERDANA

(Bacaan Pertama Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan II Paskah – Senin, 9 April 2018)

Sesudah dilepaskan pergilah Petrus dan Yohanes kepada teman-teman mereka, lalu mereka menceritakan segala sesuatu yang dikatakan imam-imam kepala dan tua-tua kepada mereka. Ketika teman-teman mereka mendengar hal itu, berserulah mereka bersama-sama kepada Allah, “Ya Tuhan, Engkaulah yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya. Oleh Roh Kudus dengan perantaraan hamba-Mu Daud, bapak kami, Engkau telah berfirman: Mengapa gusar bangsa-bangsa, mengapa suku-suku bangsa mereka-reka hal yang sia-sia? Raja-raja dunia bersiap-siap dan para pembesar berkumpul untuk melawan Tuhan dan Yang Diurapi-Nya [1]. Sebab sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota ini Herodes dan Pontius Pilatus beserta bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa Israel melawan Yesus, Hamba-Mu yang kudus, yang Engkau urapi, untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan sejak semula oleh kuasa dan kehendak-Mu. Sekarang, ya Tuhan, lihatlah ancaman-ancaman mereka dan berikanlah kepada hamba-hamba-Mu keberanian sepenuhnya untuk memberitakan firman-Mu. Ulurkanlah tangan-Mu untuk menyembuhkan orang, dan adakanlah tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat oleh nama Yesus, Hamba-Mu yang kudus.” Dan ketika mereka sedang berdoa, goyangkanlah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua dipenuhi oleh Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani. (Kis 4:23-31)

[1] Kis 4:25-26 àlihat Mzm 2:1-2 

Mazmur Tanggapan: Mzm 2:1-9; Bacaan Injil: Yoh 3:1-8 

“Sekarang, ya Tuhan, …… berikanlah kepada hamba-hamba-Mu keberanian sepenuhnya untuk memberitakan firman-Mu.” (Kis 4:29)

Beginilah doa dari para murid setelah mereka ditahan dan diancam secara fisik, kalau mereka berani berbicara dalam nama Yesus lagi. Bukannya menjadi ciut-takut, mereka malah berdoa agar diberikan keberanian untuk mewartakan sabda-Nya. Allah menjawab doa mereka dengan memenuhi diri mereka dengan Roh Kudus dan memberikan kepada mereka suatu keberanian untuk memproklamasikan sabda-Nya yang  belum diketahui sebelumnya oleh orang banyak. Coba pikirkan: Apabila mereka menyerah-kalah terhadap ketakutan, maka Injil tidak pernah akan diwartakan. Namun karena ketaatan mereka, maka banyak orang dapat mulai mengalami kehidupan baru.

Para murid mengetahui bahwa Allah ingin mencurahkan Roh-Nya sehingga kerajaan-Nya dapat didirikan di atas bumi ini. Allah tidak hanya ingin mengampuni dosa. Dia ingin membebas-merdekakan orang dari perhambaan dosa dan rasa takut akan kematian. Ia ingin menyembuhkan tubuh dan jiwa manusia. Dia ingin agar keadilan-Nya mengalahkan segala penindasan dan damai-sejahtera-Nya menghancurkan segala bentuk tirani. Respons para murid terhadap penganiayaan atas diri mereka adalah “kasih”, tidak hanya kasih kepada Yesus, melainkan juga kasih kepada semua orang yang masih perlu mendengar tentang segala hal yang Yesus ingin siapkan untuk mereka.

Ini adalah keindahan dari masa Paskah. Yesus telah mengalahkan dosa dan maut sehingga kita dapat ikut ambil bagian dalam kehidupan-Nya. Peranan kita sebagai umat yang telah ditebus-Nya bukanlah sekadar untuk menjadi semakin dekat dengan Yesus, melainkan juga melalui syafaat kita, karya belas kasihan, dan evangelisasi, untuk mendirikan pemerintahan Allah di atas bumi ini.

Lebih dari lima puluh tahun lalu, para Bapak Konsili Vatikan II menulis, “Iman itu harus menampakkan kesuburannya dengan merasuki seluruh hidup kaum beriman, juga hidup mereka yang profan, dan dengan menggerakkan mereka untuk menegakkan keadilan dan mengamalkan cintakasih, terutama terhadap kaum miskin” (Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes tentang Gereja di Dunia Dewasa Ini, 21). Marilah kita berupaya mencapai tujuan atau meraih cita-cita ini dan berdoa dalam semangat para murid-Nya yang pertama.

DOA: Tuhan Yesus, bebaskanlah kami dan orang-orang di sekeliling kami dari segala penindasan. Biarlah kerajaan-Mu datang ke atas bumi ini. Berikanlah kepada kami keberanian untuk memberi kesaksian bahwa Engkau adalah Dia yang membalut luka-luka mereka yang patah hati, menyembuhkan yang sakit dan membawa damai-sejahtera bagi yang tertindas. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 3:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “DILAHIRKAN DARI AIR DAN ROH” (bacaan tanggal 9-4-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-04 BACAAN HARIAN APRIL 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 24-4-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 5 April 2017 [HARI KAMIS DALAM OKTAF PASKAH] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

TOMAS BERKATA: YA TUHANKU DAN ALLAHKU!

TOMAS BERKATA: YA TUHANKU DAN ALLAHKU!

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH II [Tahun B] – 8 APRIL 2018)

MINGGU KERAHIMAN ILAHI

Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada para penguasa Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata, “Damai sejahtera bagi kamu!” Sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan. Lalu kata Yesus sekali lagi, “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” Sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata, “Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.”

Tetapi Tomas, salah seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ. Jadi, kata murid-murid yang lain itu kepadanya, “Kami telah melihat Tuhan!”  Tetapi Tomas berkata kepada mereka, “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku menaruh jariku ke dalam bekas paku itu dan menaruh tanganku ke lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.” Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata, “Damai sejahtera bagi kamu!” Kemudian Ia berkata kepada Tomas, “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan taruhlah ke lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.” Tomas menjawab Dia, “Ya Tuhanku dan Allahku!” Kata Yesus kepadanya, “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”

Memang masih banyak tanda mujizat lain yang diperbuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini, tetapi hal-hal ini telah dicatat, supaya kamu percaya bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya karena percaya, kamu memperoleh hidup dalam nama-Nya. (Yoh 20:19-31) 

Bacaan Pertama: Kis 4:32-35; Mazmur Tanggapan: Mzm 118:2-4,16-18,22-24; Bacaan Kedua 1Yoh 5:1-6 

“Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya” (Yoh 20:29). Di sini Yesus berbicara langsung kepada Tomas, namun kata-kata Yesus ini juga ditujukan kepada setiap orang beriman, termasuk kita. Yesus menegur Tomas yang terkesan “kepala-batu” ini karena dia menolak untuk mempercayai kesaksian para murid lain tentang kebangkitan Kristus. Tomas bersikukuh bahwa iman-kepercayaannya haruslah didasarkan pada bukti-bukti yang kuat. Yesus menegurnya karena tidak mau percaya akan kabar baik yang telah diproklamasikan kepadanya.

Pada saat yang sama, pesan Kristus dimaksudkan untuk membangkitkan kehidupan iman kita. Betapa terberkatinya kita apabila kita percaya kepada Yesus, bahkan ketika kita tidak dapat melihat atau mendengar atau menyentuh-Nya seperti para murid-Nya yang pertama. Sabda Yesus yang ditujukan kepada Tomas ini penting bagi semua orang – umat beriman ataupun bukan – karena kata-kata yang diucapkan-Nya ini dengan indah menggambarkan pentingnya iman-kepercayaan.

Injil Yohanes menekankan pentingnya perkembangan iman-kepercayaan ini: “Memang masih banyak tanda mukjizat lain yang diperbuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini, tetapi hal-hal ini telah dicatat, supaya kamu percaya bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya karena percaya, kamu memperoleh hidup dalam nama-Nya” (Yoh 20:30-31). Catatan-catatan Yohanes dalam Injilnya memberikan sejumlah data historis tentang Yesus. Bagaimana pun kita percaya kepada seorang pribadi yang riil-nyata, bukan seseorang yang fiktif. Kita tidak hidup bersama Tomas dan para rasul, dengan demikian tidak dapat mengetahui pengalaman mereka secara langsung, namun testimoni mereka di lembaran-lembaran Perjanjian Baru menjadi riil-nyata bagi kita melalui Roh Kudus.

Kita juga mempunyai kesaksian Gereja – yang didirikan dalam Yesus dan dimulai oleh para rasul. Pada hari-hari setelah kenaikan Yesus ke surga,  para rasul yang telah dipenuhi Roh Kudus dengan penuh semangat memproklamasikan Injil dan hidup mereka pun diubah. Lukas dalam ‘Kisah para Rasul’ mencatat: “Banyak tanda dan mukjizat dibuat oleh rasul-rasul di antara orang banyak. Semua orang percaya selalu berkumpul di Serambi Salomo dalam persekutuan yang erat. … mereka sangat dihormati orang banyak. Makin lama makin bertambahlah jumlah orang yang percaya kepada Tuhan, baik laki-laki maupun perempuan” (Kis 5:12-14). Orang-orang ini sebenarnya tidak mendapatkan privilese seperti para rasul atau murid pertama. Mereka tidak melihat Yesus dari dekat, namun mereka percaya dalam Kristus yang bangkit. Iman-kepercayaan mereka itu disampaikan dari generasi ke generasi dalam tradisi-tradisi hidup yang membentuk dasar dari kehidupan liturgis kita.

Kesaksian para rasul dan testimoni yang hidup dari Gereja menyediakan titik awal bagi kita untuk menempatkan kepercayaan kita pada Yesus. Warisan harta pusaka mereka menyediakan fondasi bagi iman-kepercayaan kita. Diperhadapkan dengan kabar baik bahwa Yesus itu hidup, kita pun harus mengambil suatu keputusan. Apabila kita merespons dengan iman, maka kita dapat mengenal dan mengalami bahwa Roh Allah telah mulai bekerja dalam diri kita. Kristus yang bangkit akan selalu memimpin kita agar dapat mengalami Dia secara lebih mendalam, sehingga seperti Tomas kita pun dapat berseru kepada Yesus: “Ya Tuhanku dan Allahku” (Yoh 20:28).

DOA: Tuhan Yesus, kami percaya bahwa Engkau selalu memimpin kami agar dapat mengalami-Mu secara lebih mendalam, sehingga kami masing-masingpun dapat berseru kepada-Mu dengan penuh sukacita: “Ya Tuhanku dan Allahku”. Amin.                  

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 20:19-31), bacalah tulisan yang berjudul “PERCAYA, WALAUPUN TIDAK MELIHAT” (bacaan tanggal 8-4-18) situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-04 BACAAN HARIAN APRIL 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 23-4-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 5 April 2018 [HARI KAMIS DALAM OKTAF PASKAH] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS