MELEBIHI TANDA YUNUS

MELEBIHI TANDA NABI YUNUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Teresia dr Yesus, Perawan & Pujangga Gereja – Senin, 15 Oktober 2018)

 Suster Fransiskanes S. Lusia (KSFL): Pesta Hari Jadi Persaudaraan KSFL

Ketika orang banyak mengerumuni-Nya, berkatalah Yesus, “Orang-orang zaman ini adalah orang jahat. Mereka meminta suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Nabi Yunus. Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk orang-orang zaman ini. Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang-orang zaman ini dan ia akan menghukum mereka. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Salomo! Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama orang-orang zaman ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus!”  (Luk 11:29-32) 

Bacaan Pertama: Gal 4:22-24,26-27,31 – 5:1; Mazmur Tanggapan: Mzm 113:1-7 

Pernahkan Saudari-Saudara berpikir tentang bagaimana pentingnya tanda-tanda bagi hidup kita? Rambu-rambu lalu-lintas memperlihatkan kepada kita berapa km/jam kita dapat berkendara mobil dan kapan kita harus berhenti dst. Kata-kata yang kita ucapkan adalah tanda-tanda dari realitas-realitas yang lebih mendalam yang sedang kita coba ungkapkan. Cara kita berjalan, atau ekspresi wajah kita, dapat memberi sinyal apa yang kita sedang rasakan. Kita memang membutuhkan tanda-tanda dan simbol-simbol. Itulah cara Allah menciptakan kita.

Dengan cara serupa, tanda-tanda yang diinspirasikan menceritakan kepada kita tentang kehadiran Allah dan mengungkapkan kebenaran-Nya. Dalam Kitab Suci, Yunus merupakan suatu tanda pertobatan dan belas kasih (Luk 11:30; Yun 3). Paulus memahami bahwa dua orang perempuan yang melahirkan dua orang anak Abraham sebagai tanda-tanda dari perjanjian lama dan perjanjian baru (Gal 4:22-27). Bahkan Yesus adalah tanda yang paling besar (Luk 2:34).

Apakah anda percaya, bahwa karena Roh yang hidup dalam dirimu, hidupmu dapat menjadi sebuah tanda yang menunjuk pada kemenangan salib? Sebuah tanda yang memimpin orang-orang lain untuk mencari Tuhan dalam doa? Sebuah tanda bahwa Kerajaan Allah adalah di sini? Lagi, apakah anda percaya bahwa cinta kita satu sama lain – dalam keluarga-keluarga dan gereja-gereja – dapat menjadi satu dari tanda-tanda kehadiran Yesus yang paling besar (Yoh 13:34-35)? Dan apabila satu badan lokal umat Kristiani merupakan sebuah tanda, bagaimana dengan gereja universal? Potensinya sangat besar! Apabila kita semua bergabung bersama, lalu mendedikasikan hati kita sepenuhnya bagi Yesus, dan berdoa syafaat bagi dunia, maka kuasa yang bersifat monumental dapat dilepaskan untuk menghancurkan ketidakpercayaan, kebencian yang sudah turun temurun dan prasangka yang sudah lama terpendam.

Pada Minggu pertama masa Prapaskah tahun 2.000, Almarhum Paus Yohanes Paulus II (sekarang sudah Santo) bersama tujuh orang kardinal dan uskup agung, mendoakan “doa mohon pengampunan”. Mereka mengakui tujuh area dosa – seperti dosa-dosa terhadap kesatuan tubuh Kristus, terhadap orang-orang Yahudi, dan terhadap kaum perempuan – atas nama anak-anak Gereja. Bayangkan kuasa yang dilepaskan oleh pertobatan ini, dan makna tanda ini bagi seluruh dunia. Sekarang, bayangkan apa yang dapat terjadi apabila seluruh Gereja secara harian berdoa dengan cara begini. Perpecahan yang ada di antara umat Kristiani dapat disembuhkan, permusuhan antara bangsa-bangsa dapat menjadi surut atau mereda, dan orang-orang yang tidak percaya dapat berbalik menjadi percaya kepada Allah!

DOA: Bapa surgawi, banyak anak-anak-Mu yang tertindih oleh penderitaan hidup. Ampunilah semua prasangka dan persatukanlah umat beriman yang masih terpecah-belah, agar dengan demikian kasih kami satu sama lain dapat menjadi sebuah tanda bagi dunia tentang kuasa dan kasih-Mu. Amin.  

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 11:29-32), bacalah tulisan yang berjudul “” (bacaan tanggal 15-10-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 16-10-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 11 Oktober 2018  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

BENTUK PERBUDAKAN TERBURUK

BENTUK PERBUDAKAN TERBURUK

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Minggu Biasa XXVIII [TAHUN B] – 11 Oktober 2015) 

Pada waktu Yesus meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seseorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya, “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus, “Mengapa kaukatakan Aku baik?” Tak seorang pun yang baik selain Allah saja. Engkau tentu mengetahui perintah-perintah ini: Jangan membunuh, jangan berzina, jangan mencuri, jangan memberi kesaksian palsu, jangan menipu orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!” Lalu kata orang itu kepada-Nya, “Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku.” Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya, “Hanya satu lagi kekuranganmu: Pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku.” Mendengar perkataan itu mukanya muram, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya.

Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka, “Alangkah sukarnya orang yang banyak harta masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Murid-murid-Nya tercengang mendengar perkataan-Nya itu. Tetapi Yesus berkata lagi, “Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Lebih mudah seekor unta melewati lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Mereka makin tercengang dan berkata seorang kepada yang lain, “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Yesus memandang mereka dan berkata, “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu mungkin bagi Allah.” (Mrk 10:17-27) 

Bacaan Pertama: Keb 7:7-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 90:12-17; Bacaan Kedua: Ibr 4:12-13

“Lebih mudah seekor unta melewati lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.(Mrk 10:27)

Apakah yang dimaksudkan oleh Yesus dengan pernyataan-Nya yang terdengar mengganggu telinga ini? Apakah saudari dan saudara yang tinggal di Pondok Indah atau di pemukiman-pemukiman mewah dan eksklusif lainnya tidak dapat masuk kedalam Kerajaan Allah? Apakah orang-orang miskin sungguh memiliki privilese untuk masuk ke dalam Kerajaan-Nya?

Ada orang yang berkelakar: “Uang memang merupakan akar segala kejahatan, tetapi aku tidak menolak apabila akar itu ditanam di kebunku.” Kekayaan itu sendiri sebenarnya tidak perlu dicap sebagai kejahatan. Yesus sendiri menikmati makanan, perjamuan dan tempat menginap yang disediakan oleh para sahabat-Nya yang kaya. Dengan uang, kita dapat banyak berbuat baik. Namun, dengan uang kita juga dapat melakukan banyak kejahatan.

Bahaya dari yang dihadapi orang kaya adalah keterikatan berlebihan pada harta-kekayaan dan segala kenikmatan duniawi yang menyertainya. Ini ditunjukkan oleh bacaan Injil hari ini (baca Mrk 10:17-27) di mana diperlihatkan bagaimana orang kaya itu pergi dengan sedih karena dia tidak dapat melepaskan harta-miliknya agar dapat mengikut Yesus. Yang harus kita camkan di sini adalah “pembalikan nilai-nilai”: bukannya orang itu memiliki/menguasai kekayaannya, melainkan dia menjadi dimiliki/dikuasai oleh kekayaannya sendiri, … menjadi budak uang.

Leo Tolstoy, seorang penulis dan pembaharu sosial Rusia ternama yang meninggal dunia pada tahun 1910, pada suatu kesempatan pernah mengatakan bahwa bentuk terburuk dari perbudakan adalah perbudakan oleh uang karena bersifat impersonal. Dalam hubungan perbudakan antara seorang tuan dan hambanya, paling sedikit ada harapan bahwa sang “tuan” pada suatu ketika akan menjadi manusiawi dan berpikiran jernih. Tidak demikianlah dengan uang. Kita begitu sering mendengar tentang orang yang mencintai uang, tetapi tidak pernah mendengar hal yang sebaliknya, yaitu uang yang mencintai orang.

Alkisah ada seorang pebisnis yang mengundurkan diri dari jabatannya ketika dia menduduki kursi presiden direktur sebuah perusahaan. Orang ini menceritakan hasil pengamatannya:  “Ada seorang CEO sebuah perusahaan, seorang hard-worker (kelihatannya bukan smart-worker) yang setiap hari bekerja selama 19-20 jam lamanya. Seluruh hidupnya adalah bisnisnya. Dan CEO (yang juga pemilik perusahaan) itu menuntut hal yang sama dari para eksekutifnya. Baginya tidak ada yang suci atau sakral dalam hidupnya, kecuali bisnisnya. Dia dapat menyelenggarakan rapat kerja pada malam Natal atau pada hari Tahun Baru, pada hari-hari Sabtu atau Minggu. Pada suatu hari orang ini kedapatan mati duduk di kursinya dengan kepala tertelungkup di atas meja kerjanya – korban serangan jantung! Hidup orang itu berakhir sebagai seorang hamba/budak, bukan hamba/budak dari seorang “tuan” melainkan hamba/budak uang.

Di sisi lain, kemiskinan tidak perlu selalu merupakan suatu keutamaan. Seorang miskin yang selalu mengutuk dan memiliki obsesi tunggal dalam hidupnya untuk paling sedikit menjadi sama kayanya dengan orang kaya yang dikenalnya sungguh adalah seorang yang miskin. Akan tetapi, walaupun hidup miskin seseorang dapat berpaling kepada Allah dan menolong sesamanya, maka “kemiskinan” seperti itulah yang dapat dinamakan sebagai “kemiskinan Kristiani”. Dengan tidak memiliki keterikatan pada hal-hal duniawi, seseorang akan lebih mampu untuk terikat pada Allah. Lagipula, kemiskinan yang menyakitkan dapat membuat seorang miskin menaruh simpati terhadap sesamanya yang miskin pula.

Bacaan Injil di atas juga mengingatkan kita akan dimensi sosial dari kekayaan kita: “Pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku” (Mrk 10:21).

Dari tiga kitab Injil sinoptik yang menceritakan kisah ini, kita dapat menarik kesimpulan bahwa orang ini di samping kaya, juga masih muda usia (Mat 19:22) dan berkedudukan penting (Luk 18:18) dan niatnya juga baik sehingga tidak heran jika Yesus menaruh kasih kepadanya (Mrk 10:21). Dengan catatan positif seperti ini, tokh cerita ini adalah salah satu dari cerita-cerita dalam Injil yang paling menyedihkan hati (lihat Mrk 10:22; bdk. cerita tentang Yesus menyembuhkan Bartimeus [Mrk 10:46-52]).

Kadang-kadang kita mendengar orang-orang kaya berkata, “Mengapa kita harus berbagi dengan mereka yang kurang beruntung; aku bekerja keras agar dapat sampai kepada keadaanku sekarang. Berbagi dengan mereka hanya akan meningkatkan kemalasan mereka.”  Dalam hal ini, baiklah saya mengingatkan para Saudari dan Saudara yang relatif berkecukupan/kaya, bahwa dalam upaya anda memperoleh kekayaan, tidak semuanya datang sebagai hasil kerja keras anda, melainkan dari karunia/anugerah yang secara bebas diberikan oleh Allah. Anda mungkin diberikan kepandaian yang lebih, diberikan bakat berbisnis, dan lain-lain talenta yang membuat anda memiliki comparative advantage ketimbang orang-orang lain. Karena anda “diberkati”, bukankah layak dan pantas bagi anda untuk berbagi dengan orang-orang yang kurang beruntung, daripada menikmati semua itu sendiri, apalagi sampai anda terkena serangan jantung?

DOA: Tuhan Yesus, Engkau mengingatkan kami untuk lepas dari keterikatan pada harta kekayaan yang sesungguhnya telah memperbudak kami. Oleh kuat-kuasa Roh-Mu, bentuklah kami agar menjadi murid-murid-Mu yang setia. Jadikanlah kami sebagai perpanjangan tangan-tangan-Mu sendiri, melayani sesama kami yang membutuhkan pertolongan dengan penuh sukacita. Jagalah kami agar tidak meninggalkan-Mu dengan sedih karena karena kami lebih mencintai harta kekayaan kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 10:17-27), bacalah tulisan yang berjudul “JIKA DEMIKIAN, SIAPAKAH YANG DAPAT DISELAMATKAN?” (bacaan tanggal 14-10-18) dalam situs/blog  SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2018 

Cilandak, 11 Oktober 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MURID-MURID YESUS YANG BERBAHAGIA

MURID-MURID YESUS YANG BERBAHAGIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVII – Sabtu, 13 Oktober 2018)

Keluarga Kapusin (OFMCap.): Peringatan B. Honoratus Kosminski, Biarawan

Ketika Yesus masih berbicara tentang hal-hal itu, berserulah seorang perempuan dari antara orang banyak dan berkata kepada-Nya, “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau.” Tetapi Ia berkata, “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.” (Luk 11:27-28) 

Bacaan Pertama: Gal 3:22-29; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:2-7

“Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharnya.” (Luk 11:28)

Dari Kidung Maria (Magnificat) kita mendengar Maria bernubuat “Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia” (Luk 1:48). Nubuatan Maria itu menggema sebagai kenyataan sewaktu ada seorang perempuan berseru kepada Yesus: “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau” (Luk 11:27).

Yesus menanggapi kata-kata yang diucapkan oleh perempuan itu dengan gamblang: Maria dan kita semua ini berbahagia, karena kita menjadi murid-murid Yesus, yakni orang-orang “yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya” (Luk 11:28).

Menjadi murid Yesus berarti menjadi berbahagia sebagaimana dialami oleh Bunda Maria dan seperti dia, kita masing-masing  juga dapat berkata: “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38).

Menjadi murid Yesus berarti memiliki kehormatan atau “privilese” untuk menyangkal diri kita sendiri dan memanggul salib kita sehari-hari (lihat Luk 9:23). Menjadi murid Yesus berarti menjadi berkat bagi semua bangsa (Kej 12:2-3), dengan menjadikan semua bangsa murid-murid Yesus (Mat 28:19).

Kepada para murid-Nya, Yesus bersabda: “Berbahagialah matamu, karena melihat dan telingamu karena mendengar” (Mat 13:16). Semua bangsa sekarang dan pada masa-masa yang akan datang akan menyebut Maria  dan semua murid Yesus sebagai orang-orang yang berbahagia atau terberkati.

Dalam suratnya kepada jemaat di Galatia, Paulus menulis: “… kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus” (Gal 3:27). Dengan demikian, berbahagialah kita semua (anda dan saya) yang mengikuti jejak Yesus Kristus dengan setia.

DOA: Bapa surgawi, tolonglah diriku agar lebih waspada dan peka terhadap suara Roh Kudus-Mu. Aku sungguh ingin mendengarkan dan mentaati suara-Nya sehingga dengan demikian aku dapat mengetahui berkat-berkat-Mu yang mendalam dalam hidupku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 11:27-28), bacalah tulisan yang berjudul “BERIKANLAH PUJIAN KEPADA ALLAH” (bacaan tanggal 13-10-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catataanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2018. 

Cilandak, 11 Oktober 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MELAWAN KUASA KEGELAPAN DENGAN KUASA ALLAH

YESUS MELAWAN KUASA KEGELAPAN DENGAN KUASA ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVII – Jumat, 12 Oktober 2018)

Kel. Kapusin (OFMCap.): Peringatan S. Serafinus dari Montegranaro, Biarawan

Tetapi ada di antara mereka yang berkata, “Ia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, pemimpin setan.” Ada pula yang meminta suatu tanda dari surga kepada-Nya, untuk mencobai Dia. Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata, “Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa, dan setiap rumah tangga yang terpecah-pecah, pasti runtuh. Jikalau Iblis itu juga terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri, bagaimanakah kerajaannya dapat bertahan? Sebab kamu berkata bahwa Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul. Jadi, jika aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, dengan kuasa apakah pengikut-pengikutmu mengusirnya? Karena itu, merekalah yang akan menjadi hakimmu. Tetapi jika aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu. Apabila seorang yang kuat dan bersenjata lengkap menjaga rumahnya sendiri, maka amanlah segala miliknya. Tetapi jika seorang yang lebih kuat daripadanya menyerang dan mengalahkannya, maka orang itu akan merampas perlengkapan senjata yang diandalkannya, dan akan membagi-bagikan rampasannya. Siapa yang tidak bersama Aku, ia melawan aku dan siapa yang tidak mengumpulkan bersama Aku, ia menceraiberaikan.”  Apabila roh jahat keluar dari seseorang, ia mengembara ke tempat-tempat yang tandus mencari perhentian, dan karena ia tidak mendapatnya, ia berkata: Aku akan kembali ke rumah yang telah kutinggalkan itu. Ia pun pergi dan mendapati rumah itu bersih tersapu dan rapi teratur. Lalu ia keluar dan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat daripadanya, dan mereka masuk dan berdiam di situ. Akhirnya keadaan orang itu lebih buruk daripada keadaannya semula.” (Luk 11:15-26) 

Bacaan Pertama: Gal 3:7-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 111:1-6

Dalam Injilnya, Santo Lukas melukiskan gambaran-gambaran jelas tentang realitas dan kuasa Iblis dan roh-roh jahat pengikutnya, namun dia juga dengan cepat menunjukkan bahwa mereka bergetar ketakutan di hadapan hadirat Yesus, bermohon-mohon untuk dikasihani. Dengan kata lain, sejago-jagonya Iblis, jauh lebih hebat dan penuh kuasalah Yesus kita.

Seperti yang telah dilakukannya ketika pertama kali memberontak melawan Allah (lihat Why 12:7 dsj.), Iblis dan begundal-begundalnya terus saja ber-adventure (melakukan “petualangan”) di atas muka bumi ini, dengan mencoba merampas dari Allah sebanyak mungkin anak-anak-Nya. Kalau saya mengatakan anak-anak-Nya, hal ini berarti termasuk juga para rohaniwan, biarawan dan biarawati, karena secara jujur tidak ada yang kebal terhadap serangan dari si “pangeran kegelapan” dan pasukannya. Jubah religius warna apa pun yang dipakai sungguh tidak akan menjamin. Dengan berbagai cara, halus maupun kasar, Iblis dan roh-roh jahat pendukungnya akan mengganggu serta menggoda agar kita ragu-ragu atau berpikiran lain atas berbagai  butir kebenaran yang selama ini kita telah terima dari Kitab Suci dan Gereja. Rasa percaya kita pada cintakasih Bapa surgawi serta pemeliharaan-Nya atas diri kita semua, terus saja digerogoti dengan berbagai macam cara oleh si Jahat dan kawan-kawannya.

Yesus sendiri telah mengalami cobaan dan godaan agar Ia tidak percaya pada kuasa Bapa-Nya, menaruh hasrat pada kekuasaan, mengejar hal-hal duniawi dan mempunyai ambisi untuk kepentingan diri-sendiri (lihat Luk 4:1-13). Namun karena kasih-setia-Nya kepada Allah, Yesus memenangkan “pertempuran”-Nya dengan Iblis pada waktu itu. Oleh nama, darah dan salib-Nya, Yesus menyediakan pembebasan dan kemerdekaan bagi kita semua, hanya kalau kita mau dan mampu belajar terus untuk menggantungkan diri kepada-Nya. Yesus tentu sangat senang untuk membebaskan kita dari yang jahat (ingat: Doa Bapa Kami). Ia sangat senang untuk membuat kita semua menjadi orang-orang merdeka dalam arti kata sesungguhnya. Namun bagi Yesus pembebasan dari yang jahat – meski penuh kuasa sekali pun – hanyalah sekadar sebuah pintu masuk kepada suatu rahmat yang lebih besar. Yesus ingin membebaskan diri kita, sehingga Dia dapat mengisi hidup kita dengan hidup-Nya sendiri. Dia ingin memerdekakan kita dari keterikatan pada dosa, sehingga kita akan menjadi lebih terbuka bagi kehidupan, cintakasih dan kuasa Allah Tritunggal.

Hari ini tanyakanlah pada diri anda sendiri, “Bagaimana aku memandang kehidupanku? Apakah aku memandang diriku sebagai seorang pendosa yang masih berjuang terus untuk sungguh mengasihi Allah? Apakah aku seorang pencinta Allah yang masih memerlukan pembebasan dari dosa-dosaku yang serius? Apakah aku masih memiliki harapan di masa depan?  Apakah aku melihat potensi kekudusan dan pelayanan yang telah ditaruh Allah dalam diriku? Apakah ada harapan bagiku untuk menyelusup ke dalam surga kelak? Dalam doa-doa kita mohonlah agar Yesus membuka mata kita lebih lebar lagi. Biarlah Dia meyakinkan kita masing-masing tentang kemenangan-mutlak-Nya atas Iblis dan roh-roh jahat, agar kita dengan penuh percaya-diri menerima semua berkat yang telah dimenangkan sang Juruselamat bagi kita semua.

DOA: Bapa surgawi, aku berterima-kasih kepada-Mu karena Engkau telah mengutus Yesus untuk menghancurkan kuasa Iblis. Datanglah, ya Tuhan Yesus, dan penuhilah setiap sudut kehidupanku. Aku ingin menjadi pemenang bersama-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 11:15-26), bacalah tulisan yang berjudul “APAKAH KITA BERSAMA YESUS DAN MENGUMPULKAN BERSAMA DIA” (bacaan tanggal 12-10-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-10-17 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 10 Oktober 2018 [Peringatan S. Daniel dkk., Martir]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DENGAN RENDAH HATI DAN TEKUN BEDOA KEPADA BAPA DALAM NAMA YESUS

DENGAN RENDAH HATI DAN TEKUN BERDOA KEPADA BAPA DALAM NAMA YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVII – Kamis, 11 Oktober 2018)

Lalu kata-Nya kepada mereka, “Jika seorang di antara kamu mempunyai seorang sahabat dan pada tengah malam pergi kepadanya dan berkata kepadanya: Sahabat, pinjamkanlah kepadaku tiga roti, sebab seorang sahabatku yang sedang berada dalam perjalanan singgah ke rumahku dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk dihidangkan kepadanya; masakan ia yang di dalam rumah itu akan menjawab: Jangan mengganggu aku, pintu sudah tertutup dan aku serta anak-anakku sudah tidur; aku tidak dapat bangun dan memberikannya kepadamu. Aku berkata kepadamu: Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya. Karena itu, Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetuk, baginya pintu dibukakan. Bapak manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan, akan memberikan ular kepada anaknya itu sebagai ganti ikan? Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya  kalajengking? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” (Luk 11:5-13) 

Bacaan Pertama: Gal 3:1-5; Mazmur Tanggapan: 1:69-75 

Perumpamaan Yesus tentang sahabat yang tekun ini menunjukkan kepada kita betapa Dia berkeinginan untuk menjawab doa-doa kita. Kita adalah anak-anak Allah, dan seperti orangtua mana saja yang baik, Bapa surgawi mau memberikan kepada kita. Apabila kita dengan setia dan rendah hati mengikuti Tuhan Yesus, maka Bapa surgawi akan memberikan kepada kita segalanya yang kita minta dalam nama-Yesus. Hati yang rendah dan penuh ketekunanlah yang mengenal hiburan Tuhan.

Ketika Abraham berdoa syafaat untuk Sodom (lihat Kej 18:20-32), dia cukup rendah hati untuk mengetahui bahwa hanya Allah sajalah yang dapat menyelamatkan orang-orang di Sodom itu. Dia tahu bahwa situasi mereka sudah sangat susah. Dia tidak tahan lagi melihat mereka dihukum, maka dia pun memanjatkan doa permohonan kepada Allah bagi orang-orang itu. Hati yang rendah dan penuh semangat seperti hati Abraham menyenangkan Allah.  Karena doa syafaat Abraham yang tekun itu, maka sepupunya Lot dan dua orang anak perempuannya dibebaskan dari penghakiman yang ditimpakan atas penduduk Sodom. Bayangkan sekarang, apa yang akan terjadi apabila kita berdoa kepada Bapa surgawi dalam nama Yesus!

Yesus berkata kepada para murid-Nya, “… jika kamu … tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya”  (Luk 11:13). Selagi kita memasuki hadirat Tuhan dalam doa, kita mendapat kesempatan untuk mengatakan: “Tuhan, aku tahu bahwa aku tidak mempunyai semuanya yang kubutuhkan untuk menyenangkan-Mu hari ini. Aku membutuhkan rahmat-Mu. Aku perlu menerima hidup dari-Mu. Penuhilah aku dengan Roh-Mu.” Kemudian, dipenuhi dengan rahmat, kita pun dapat bergerak terus dengan berdoa bagi orang-orang lain – sesempurna seperti yang telah dilakukan oleh Abraham.

Marilah kita sekarang berseru kepada Allah agar dia memberkati setiap orang di muka bumi ini. Marilah kita berdoa agar semua orang dapat mengenal Tuhan Yesus. Selagi kita membuka diri kita bagi Roh Kudus, Ia akan mengajar kita bagaimana berdoa. Dia akan mengajar kita untuk menjadi seperti sang sahabat yang penuh ketekunan itu, yang tak pernah malu dan kendur-semangat mengajukan permintaan-permintaannya di hadapan Dia yang dapat memenuhi segala kebutuhan kita.

DOA: Bapa surgawi, berikanlah kepada kami hati yang merindukan berkat-berkat-Mu atas segala sesuatu. Curahkanlah Roh-Mu ke atas bangsa-bangsa, ya Tuhan, sehingga semua orang dapat mengenal Engkau dan hidup untuk-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 11:5-13), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH TIDAK PERNAH DAPAT DIKALAHKAN DALAM HAL KEMURAHAN HATI” (bacaan tanggal 11-10-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-10-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 9 Oktober 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MENGAJAR DOA BAPA KAMI

YESUS MENGAJAR DOA BAPA KAMI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVII – Rabu, 10 Oktober 2018)

Ordo Fratrum Minorum (OFM): Peringatan S. Daniel dkk. Martir

Pada suatu kali Yesus berdoa di suatu tempat. Ketika Ia selesai berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya, “Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya. Jawab Yesus kepada mereka, “Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu. Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan dosa-dosa kami sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan.”  (Luk 11:1-4) 

Bacaan Pertama: Gal 2:1-2.7-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 117:1-2                                                                    

Yesus berdoa kepada Bapa-Nya dengan keyakinan total bahwa Dia berada dalam kesatuan dengan Bapa. Para murid melihat kenyataan ini, sehingga seorang dari mereka minta kepada Yesus untuk mengajar para murid-Nya berdoa (Luk 11:1-4). Yesus menanggapi permintaan murid itu dengan mengajarkan sebuah doa sederhana, namun disampaikan dengan penuh keyakinan dan secara langsung kepada Allah sebagai Bapa. Doa ini mencerminkan hal-hal yang ada dalam hati Yesus, hal-hal yang dilihat oleh-Nya sebagai penting dalam sebuah doa.

“Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu” (Luk 11:2). Cukup mengagetkan bagi para murid bahwa mereka harus menyapa Allah sebagai Bapa (Bahasa Aram: Abba) secara langsung dan akrab seperti itu. Doa sedemikian didasarkan pada relasi Allah sebagai Bapa bagi semua orang yang sungguh percaya kepada Putera-Nya, karena mereka adalah anak-anak yang dilahirkan dari Allah (Yoh 1:13). Doa Yesus mulai dengan suatu sikap penyembahan yang didasarkan pada kekudusan Allah yang mutlak. Doa ini menyatakan bahwa Allah yang dipanggil dan dikenal secara akrab itu adalah kudus. Kita berdoa agar Kerajaan Allah datang, artinya Allah yang meraja – bahwa semua kejahatan yang merusak ciptaan itu disingkirkan, teristimewa yang ada dalam hati kita.

Dengan berdoa “Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya” (Luk 11:3), dinyatakanlah kebenaran dari pemeliharaan Allah yang menyangkut kebutuhan-kebutuhan kita dan perlindungan-Nya dari hari ke hari. Kita juga mempunyai kebutuhan yang konsisten akan pengampunan Allah, oleh karena kita berdoa: “ampunilah kami akan dosa-dosa kami” (Luk 11:4). Walaupun dosa-dosa kita diampuni melalui pertobatan, kita secara terus-menerus dipanggil untuk bertumbuh semakin dekat dengan kekudusan Allah. Selagi Roh Kudus mengungkapkan dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan kita, Dia memberikan kepada kita rahmat untuk bertobat dan mencari pengampunan dari Allah. Kata-kata Yesus: “dan ampunilah kami akan dosa-dosa kami, sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami” (Luk 11:4), mengingatkan kita bahwa kita berkewajiban untuk mengampuni setiap orang, sebebas Allah mengampuni diri kita.

Permohonan Yesus yang terakhir, “janganlah membawa kami ke dalam pencobaan” (Luk 11:4), adalah mengenai diri kita yang suka jatuh ke dalam pencobaan, karena “roh memang berniat baik, tetapi tabiat manusia lemah” (Mrk 14:38). Yesus Kristuslah yang  memberikan kepada kita kemenangan atas segala pencobaan dan godaan.

Marilah kita berdoa seperti Yesus, yang sepenuhnya menundukkan diri terhadap kehendak Bapa surgawi, menempatkan hati kita dalam ketenangan di hadapan hadirat Bapa.  Semoga dalam doa kita, kita menyadari dan mengalami warisan sejati yang kita terima sebagai anak-anak Allah.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih untuk ‘Doa Bapa Kami’ yang Kauajarkan kepada kami semua. Terpujilah nama-Mu selalu! Amin. 

Catatan: Bacalah juga tulisan yang berjudul “DOA KEPADA BAPA SURGAWI SEPERTI DIAJARKAN OLEH YESUS” (bacaan tanggal 10-10-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-10-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 7 Oktober 2018 [HARI MINGGU BIASA XXVII – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KESEIMBANGAN ANTARA DOA DAN PELAYANAN

KESEIMBANGAN ANTARA DOA DAN PELAYANAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVII – Selasa, 9 Oktober 2018)

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah desa. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, sedangkan Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata, “Tuhan, tidakkah Engkau peduli bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.” Tetapi Tuhan menjawabnya, “Marta, Marta, engkau khawatir dan menyusahkan diri dengan banyak hal, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian terbaik yang tidak akan diambil dari dia.” (Luk 10:38-42) 

Bacaan Pertama: Gal 1:13-24; Mazmur Tanggapan: Mzm 139: 1-3,13-15 

Cerita pertemuan Yesus dengan Maria dan Marta seringkali diambil sebagai sebuah contoh dari adanya semacam ketegangan yang ada di dalam Gereja. Seperti Maria, ada sejumlah orang yang menekankan pentingnya menyediakan waktu dengan Tuhan dalam kegiatan doa. Seperti Marta, golongan yang yang lain menekankan pentingnya  melayani dalam paroki dan bekerja untuk keadilan sosial dlsb. Sering kali, ketegangan tersebut menyebabkan konflik karena golongan Maria menuduh golongan Marta sebagai penganut idealisme “melayani diri sendiri”.

Yesus sebenarnya tidak pernah bermaksud bahwa “mengasihi Allah” dan “mengasihi sesama” membuat kita terpecah-belah. Malah sebaliknya! Yesus ingin agar kedua tindakan mengasihi ini tumbuh-subur dalam diri kita masing-masing. Lukas menunjukkan hal ini dengan menempatkan cerita tentang “Maria dan Marta” ini langsung setelah perumpamaan “Orang Samaria yang murah hati” (Luk 10:25-37). Sementara Yesus memanggil kita untuk “pergi dan melakukan” apa yang dilakukan oleh orang Samaria itu (Luk 10:37), Dia juga memanggil kita untuk memfokuskan hati kita pada tindakan mengasihi Dia dan mendengarkan suara-Nya (Luk 10:41-42).

Bukankah kita semua telah mengalami betapa sulitnya mengasihi orang-orang tertentu, teristimewa mereka yang sangat berbeda dengan kita? Tanpa pengalaman akan kasih Yesus secara berkesinambungan, maka saling mengasihi antara pribadi yang satu dengan pribadi yang lain sungguh menjadi semakin sulit dan sulit. Hanya kasih Yesus saja yang dapat memberikan asupan “makanan bernutrisi”. Menyegarkan dan memperkuat kita sehingga dengan demikian kita juga dapat memberikan “makanan bernutrisi”, menyegarkan dan memperkuat orang-orang lain. Hanya apabila dalam diri kita mengalir kasih Kristus, maka kita memiliki kasih yang dapat kita syeringkan dengan orang-orang untuk siapa kita dipanggil untuk melayani.

Dengan duduk di dekat kaki Tuhan, kita dapat mulai untuk mendengar panggilan-Nya dan mengetahui bagaimana apa permintaan-Nya agar kita mengasihi orang-orang di sekeliling kita. Kemudian, penuh keyakinan akan panggilan kita dan dipenuhi oleh Roh-Nya hari demi hari melalui doa-doa yang teratur, kita pun dapat pergi ke luar dan turut membangun Kerajaan-Nya dengan cara-cara yang sebelumnya kita sendiri tidak percaya bahwa hal itu mungkin.

Sekarang, apakah Saudari-Saudara mengalami ketegangan “Maria-Marta” dalam hati anda masing-masing? Apakah sekali-sekali anda  tergoda untuk membiarkan apa yang “baik” menaungi atau menutupi apa yang “terbaik”? Marilah kita (anda dan saya) senantiasa berhati-hati menjaga keseimbangan yang benar antara doa dan pelayanan. Perkenankanlah terang Kristus menerangi hati kita masing-masing sampai diri kita dibuat hangat oleh kasih ilahi. Lalu, seperti Yesus, kita pun akan berjalan dalam kuasa Roh Kudus-Nya dan menjadi instrumen-instrumen untuk mewujudkan transformasi dunia.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah sumber segala berkat. Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu untuk kasih-setia-Mu. Terima kasih Tuhan, Engkau senantiasa tak pernah luput memperhatikan diriku. Tolonglah aku juga agar senantiasa dapat menatap wajah-Mu dan siap melaksanakan perintah-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 10:38-42), bacalah tulisan yang berjudul “BERSIMPUH DI DEKAT KAKI YESUS” (bacaan tanggal 9-10-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategrori: 18-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-10-17 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 7 Oktober 2018 [HARI MINGGU BIASA XXVII – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS