SEMUA ORANG ITU KETAKUTAN DAN MEREKA MEMULIAKAN ALLAH

SEMUA ORANG ITU KETAKUTAN DAN MEREKA MEMULIAKAN ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIV – Selasa, 19 September 2017)

Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Fransiskus Maria dr Camporosso, Biarawan

 

Segera setelah itu Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain. Murid-murid-Nya pergi bersama-sama dengan Dia, dan juga orang banyak menyertai-Nya berbondong-bondong. Setelah Ia dekat pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu. Ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya, “jangan menangis!” Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata, “Hai anak muda, aku berkata kepadamu, bangkitlah!” Orang itu pun bangun dan duduk serta mulai berkata-kata, lalu Yesus menyerahkannya kepada ibunya. Semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata, “Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,” dan “Allah telah datang untuk menyelamatkan umat-Nya.” Lalu tersebarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di seluruh daerah sekitarnya. (Luk 7:11-17) 

Bacaan Pertama: 1Tim 3:1-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 101:1-3,5-6 

“Semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah.” (Luk 7:16)

Dalam artian tertentu, reaksi orang-orang terhadap apa yang mereka lihat terjadi atas diri anak muda dari Nain ini sepenuhnya dapat dipahami. Tidakkah anda akan merasa “ngeri” apabila menyaksikan seorang mati hidup kembali, dia duduk dan mulai berbicara? Akan tetapi, tentunya “ketakutan” yang digambarkan oleh Lukas di sini tidaklah seperti yang kita bayangkan terjadi dengan seseorang yang sedang begitu asyik larut dijerat oleh film horor yang sedang ditontonnya.

Yang ingin digambarkan oleh Lukas adalah reaksi orang-orang itu atas mukjizat yang terjadi: mereka begitu terkesima dan takjub atas kuat-kuasa Allah yang bekerja dalam kehidupan seorang pribadi – suatu rasa takjub yang menggerakkan mereka untuk memuliakan Allah dan menjadi percaya kepada Yesus: “Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,” dan “Allah telah datang untuk menyelamatkan umat-Nya” (Luk 7:16).

Sebaliknya, banyak orang Farisi tidak bereaksi terhadap mukjizat-mukjizat Yesus secara positif. Tidak ada luapan rasa takjub atau iman yang lebih mendalam. Sejumlah orang Farisi barangkali menyaksikan lebih banyak mukjizat Yesus daripada orang-orang di Nain pada hari itu. Akan tetapi, karena kecurigaan dan kecemburuan mereka, karya ilahi yang ditunjukkan oleh Yesus malah dituding sebagai karya Iblis. Langkah keliru mereka sampai begitu jauh sampai-sampai menuduh Yesus dirasuki oleh Iblis dan mengusir roh-roh jahat dengan menggunakan kuasa Beelzebul, penghulu/pemimpin setan (lihat Luk 11:14-26).

Sekarang marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing. Bagaimana reaksiku terhadap mukjizat-mukjizat  yang terjadi pada masa kini? Bagaimana aku memberi tanggapan bilamana aku mendengar bahwa seseorang telah disembuhkan secara mengherankan dari penyakitnya yang berat, secara dramatis dan tidak dapat dijelaskan dengan akal-budi – setelah menghadiri sebuah Misa Penyembuhan? Apa yang kupikirkan ketika aku mendengar tentang penampakan-penampakan Bunda Maria? Apakah aku memandangnya tidak lebih dari takhyul, atau aku melakukan “investigasi” dengan rendah hati dalam doa? Apakah aku memperkenankan adanya kemungkinan bahwa sesuatu yang ajaib telah terjadi?

Allah masih bekerja pada hari ini dengan melakukan berbagai mukjizat dan tanda heran yang dimaksudkan untuk memimpin orang-orang untuk melakukan pertobatan dan percaya kepada-Nya. Penulis ‘Surat kepada Orang Ibrani’ mengatakan: “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibr 13:8). Apabila Yesus membuat mukjizat di Nain dan di tempat-tempat lain sekitar 2.000 tahun lalu, maka pada saat ini pun Dia masih membuat mukjizat yang sama menakjubkannya. Ia menyembuhkan orang-orang dari penyakit kanker, HIV dan kebutaan.

Manakala anda mendengar tentang hal-hal seperti itu, janganlah menjadi takut. Janganlah mencoba mencari jawaban yang sepenuhnya berdasarkan akal-budi dan pelajaran-pelajaran yang diperoleh di kelas-kelas teologi. Mukjizat itu memang ada!!! Yang penting adalah, bahwa kita harus membuka hati kita lebar-lebar bagi Roh-Nya untuk bekerja dalam diri kita. Kita harus meluangkan waktu untuk menyimak apa yang kita dengar itu dalam suasana doa yang penuh keheningan. Kita bertanya: Apa buah yang dihasilkan? Apakah hasilnya merupakan suatu peningkatan iman akan Allah dalam diri orang-orang yang memperoleh berkat Tuhan itu? Apakah kesembuhan yang dialami seseorang membuat kasih-Nya kepada Yesus dan sabda-Nya menjadi lebih dalam? Marilah kita mohon kepada Allah agar membuat diri kita terbuka bagi hal-hal yang bersifat supernatural. Selagi kita melakukannya, Dia akan memberikan kepada kita setiap karunia dan berkat indah yang kita perlukan, sehingga kita pun dapat bersukacita atas karya-Nya di dunia ini.

DOA: Roh Kudus Allah, tolonglah aku agar senantiasa terbuka bagi karya-Mu di dunia pada masa kini juga. Berikanlah kepadaku mata iman agar mampu melihat mukjizat-mukjizat yang Kaulakukan. Tolonglah aku agar mampu memberikan tanggapan dengan penuh ketakjuban yang murni datang dari hatiku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 7:11-17), bacalah tulisan yang berjudul “PERWUJUDAN KASIH ALLAH DI DEKAT PINTU GERBANG KOTA NAIN” (bacaan tanggal 19-9-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-9-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 18 September 2017 [Peringatan S. Yosef dr Copertino, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

TIDAK PERNAH AKU JUMPAI, SEKALI PUN DI ANTARA ORANG ISRAEL

TIDAK PERNAH AKU JUMPAI, SEKALI PUN DI ANTARA ORANG ISRAEL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIV – Senin, 12 September 2016)

Setelah Yesus selesai berbicara di depan orang banyak, masuklah Ia ke Kapernaum. Di situ ada seorang perwira yang mempunyai seorang hamba, yang sangat dihargainya. Hamba itu sedang sakit keras dan hampir mati. Ketika perwira itu mendengar tentang Yesus, ia menyuruh beberapa orang tua-tua Yahudi kepada-Nya untuk meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan hambanya. Mereka datang kepada Yesus dan dengan sangat mereka meminta pertolongan-Nya, katanya, “Ia layak Engkau tolong, sebab ia mengasihi bangsa kita dan dialah yang membangun rumah ibadat untuk kami.” Lalu Yesus pergi bersama-sama dengan mereka. Ketika Ia tidak jauh lagi dari rumah perwira itu, perwira itu menyuruh sahabat-sahabatnya untuk mengatakan kepada-Nya, “Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku; sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakanlah saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.” Mendengar perkataan itu, Yesus heran akan dia, dan sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata, “Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!” Setelah orang-orang yang disuruh itu kembali ke rumah, mereka dapati hamba itu telah sehat kembali. (Luk 7:1-10) 

Bacaan Pertama: 1Tim 2:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 28:2,7-9 

Para perwira komandan pasukan seratus orang (centurion) rupanya mempunyai catatan baik dalam Kitab Suci. Hari ini kita membaca tentang seorang centurion yang menyampaikan pesan kepada Yesus, “Aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku” (Luk 7:6). Ingatlah juga, sang centurion di bukit Kalvari yang menyaksikan kematian Yesus di kayu salib, yang berkata: “Sungguh, orang ini Anak Allah!”  (Mrk 15:39; bdk. Mat 27:54). Ada juga perwira Kornelius, yang karena keterbukaannya kepada Petrus terjadilah berkat-berkat Pentakosta bagi orang-orang non-Yahudi (Kis 10).

Sebagai perwira-perwira Romawi, dalam menjalankan tugas mereka, para centurion ini tahu bagaimana mengenali dan mengkomit diri mereka kepada otoritas yang berwenang. Maka, ketika mereka berjumpa dengan otoritas puncak dari Allah, beberapa dari mereka siap untuk menaruh iman mereka pada hal itu juga. Hal serupa dapat kita lihat dalam hubungan antara para orangtua dengan anak-anak mereka. Apabila para orangtua menjalankan otoritas mereka dengan layak dan pantas, biasanya anak-anak mereka mengembangkan keterlekatan-keterlekatan dan respek yang sehat dengan para orangtua mereka. Mereka percaya bahwa apabila mereka datang kepada ibu dan/atau ayah mereka dengan masalah mereka, maka mereka akan menemukan bela rasa dan hikmat-kebijaksanaan. Iman yang ada dalam diri para orangtua mereka membuat anak-anak yakin dan stabil, sementara mereka yang memberontak melawan otoritas orangtua mereka pada akhirnya harus belajar tentang kehidupan ini dengan bersusah payah lewat jalan yang sering berliku-liku.

Bapa surgawi, Allah yang Mahakuasa mempunyai otoritas tertinggi atas diri kita. Ia juga adalah Allah yang mahapengasih, yang menginginkan segala sesuatu yang terbaik bagi diri kita masing-masing. Kita mungkin saja adalah serdadu-serdadu Kristus, namun kita juga adalah anak-anak-Nya yang sudah mengantongi undangan-Nya untuk datang menghadap Allah dengan keyakinan akan kasih-Nya.

Sekarang, marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing: “Anak macam apa aku ini? Apakah aku hidup sebagai sang centurion dalam bacaan Injil hari ini, yang percaya bahwa dirinya sepenuhnya berada di bawah otoritas Allah? Atau, apakah aku selalu berjalan kesana-kemari dan mencoba mengatasi masalah-masalah yang sedang kuhadapi dengan mengandalkan kekuatanku sendiri?” Sekarang, apabila Roh Kudus mengingatkan diri kita apa yang seharusnya kita lakukan, maka kita pun harus mengambil langkah maju dengan penuh kepercayaan akan penyelenggaraan ilahi. Kita selalu harus mengingat, bahwa Bapa surgawi adalah Allah yang baik, yang mahapemurah, maharahim dst. Dia adalah Allah yang “Mahalain” yang tidak pernah bisa direka-reka oleh otak kita yang kecil ini. Otoritas-Nya berakar pada kasih, karena Dia adalah kasih itu sendiri (lihat 1Yoh 4:8,16). Yang jelas Allah tidak pernah tidak merasa senang mencurahkan berkat-berkat-Nya kepada semua anak-anak-Nya. Oleh karena itu, marilah kita menghadap-Nya. Kita semestinya percaya bahwa Dia sedang menunggu kita dengan penuh kesabaran.

DOA: Bapa surgawi, kami seringkali menderita karena kami sering tidak taat kepada perintah-perintah-Mu. Kami sadar manakala kami mengatakan bahwa kami percaya kepada-Mu namun tidak sepenuhnya menerima otoritas-Mu atas diri kami, maka hal tersebut berarti kami tidak menaruh kepercayaan kepada-Mu. Ampunilah kami, ya Bapa, dan ajarlah kami untuk menghormati dan mentaati-Mu senantiasa. Terpujilah Engkau selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 7:1-10), bacalah tulisan yang berjudul “IMAN SEJATI SEORANG PERWIRA ROMAWI” (bacaan tanggal 18-9-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-9-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 15 September 2017 [Peringatan SP Maria Berdukacita] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MENGAMPUNI, MENGAMPUNI LEBIH SUNGGUH !!!

MENGAMPUNI, MENGAMPUNI LEBIH SUNGGUH !!!

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXIV [TAHUN A] 17 September 2017)

 

Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali? Yesus berkata kepadanya, “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Sebab hal Kerajaan Surga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak istrinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. Lalu sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunasi. Tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.

Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! Lalu sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunasi. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai ia melunasi hutangnya.

Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Kemudian raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohon kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Tuannya itu pun marah dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunasi seluruh hutangnya.

Demikian juga yang akan diperbuat oleh Bapa-Ku yang di surga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.” (Mat 18:21-35) 

Bacaan Pertama: Sir 27:30-28:9; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-4,9-12; Bacaan Kedua: Rm 14:7-9 

“Mengampuni, mengampuni lebih sungguh. Mengampuni, mengampuni lebih sungguh. Tuhan lebih dulu mengampuni kepadaku. Mengampuni, mengampuni lebih sungguh!” (teks sebuah lagu rohani sederhana).

Setelah ditusuk berkali-kali dengan “jarum tusuk tukang sepatu” oleh seorang laki-laki yang berniat memperkosanya, seorang anak gadis yang baru berumur sekitar 11/12 tahun kedapatan oleh ibunya tergeletak berlumuran darah karena luka-lukanya dan hampir mati. Dalam keadaan gawat menjelang kematiannya, si anak gadis mengucapkan kata-kata ini tentang penyerangnya: “Demi kasih Yesus saya mengampuni dia … dan aku ingin agar dia nanti bersamaku di firdaus.” Nama anak gadis itu adalah Maria Goretti [1890-1902]. St. Maria Goretti meninggal dunia di rumah sakit, 24 jam setelah peristiwa tersebut, di hadapan seorang imam, beberapa orang suster dan ibunya. Ia mengampuni pembunuhnya dan meninggal dunia dengan perasaan ikhlas.

Sebagai orang-orang dewasa pun, kebanyakan dari kita tidak pernah sampai kepada pemahaman mendalam tentang panggilan untuk mengampuni seperti yang telah dihayati dengan baik sekali oleh St. Maria Goretti. Kita cenderung untuk berpikir bahwa kita hanya dapat mengampuni orang lain yang datang memohon maaf/ampun dari kita atau paling sedikit menunjukkan tanda-tanda penyesalan atas kesalahan mereka. Akan tetapi, Maria Goretti mengampuni laki-laki bahkan sebelum dia menyesali perbuatannya dan bertobat. Selama sidang pengadilan laki-laki itu tidak menyesali perbuatannya dan dia dihukum 27 tahun penjara. Namun hanya setelah 8 tahun meringkuk dalam penjara dia menyesali perbuatannya yang buruk itu dan mulai memperbaiki hidupnya. Laki-laki itu menerima pengampunan Maria Goretti maupun pengampunan dari Allah sendiri. Akhirnya, setelah dibebaskan dari penjara dia mencari ibunda Maria Goretti untuk memohon pengampunannya.

Kita harus jujur mengakui, bahwa mengampuni sebanyak “tujuh puluh kali tujuh kali”, artinya untuk mengampuni dari hati terdalam segala kesalahan seorang lain kepada kita, sungguhlah sulit. Banyak orang kudus malah mengatakan, bahwa hal tersebut memang tidak mungkin, apabila kita tidak menyadari bahwa Allah telah terlebih dahulu mengasihi dan mengampuni diri kita. Sangat perlu kita yakini dalam hati kita yang terdalam, bahwa “ketika kita masih berdosa, Kristus telah mati untuk kita” (Rm 5:8). Kematian Yesus tidak sekadar berurusan dengan dosa-dosa pribadi kita, melainkan juga dengan kecenderungan untuk berdosa dalam diri kita masing-masing, suatu perlawanan terhadap Allah yang kuat berakar dalam diri manusia, yang terus mencari jalan ketidaktaatan terhadap Allah dan jalan mementingkan diri sendiri. Dengan menghancurkan tembok penghalang yang didirikan oleh dosa-dosa kita, Yesus memberikan kita akses kepada segala kuasa penyembuhan dan pemulihan dari Bapa surgawi.

Kesempatan-kesempatan untuk mengampuni dan diampuni datang setiap hari. Selagi kita bertumbuh dalam pemahamam bahwa kita telah diampuni, bukan hanya dosa-dosa kita, kita menjadi semakin memiliki kemauan untuk mengampuni orang-orang lain – bahkan sedramatis seperti yang dilakukan oleh St. Maria Goretti. Hal itu terjadi secara bertahap, sedikit demi sedikit, selagi kita menarik kekuatan Yesus dan terus memilih untuk mengampuni. Jika kita menyadari bahwa kita sebenarnya adalah pribadi-pribadi yang tidak pantas diampuni, maka kita pun dimampukan untuk mengampuni orang-orang lain yang mendzalimi kita. Selagi kita melakukannya, maka kita akan melihat rentetan kepahitan dan kemarahan mulai berjatuhan dan menjauh dari diri kita. Dengan membebaskan orang-orang lain, maka kita pun membebaskan diri kita sendiri!

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena wafat-Mu telah membawa kehidupan bagiku. Semoga semua orang berdosa mengenal dan mengalami belaskasih-Mu dan pengampunan-Mu. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 18:21-35), bacalah tulisan yang berjudul “SAMPAI BERAPA KALI?” (bacaan tanggaal 17-9-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-9-11 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 15 September 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SATU-SATUNYA FONDASI KEHIDUPAN KITA

SATU-SATUNYA FONDASI KEHIDUPAN KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Kornelius, Paus dan S. Siprianus, Uskup, Martir – Sabtu, 16 September 2017)

“Karena tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik. Sebab setiap pohon dikenal dari buahnya. Karena dari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri tidak memetik buah anggur. Orang yang baik mengeluarkan apa yang baik mengeluarkan apa yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan apa yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya.”

“Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan? Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya – Aku akan menyatakan kepadamu dengan siapa ia dapat disamakan – ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun. Akan tetapi, siapa saja yang mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melandanya, rumah itu segera rubuh dan hebatlah kerusakannya.” (Luk 6:43-49) 

Bacaan Pertama: 1Tim 1:15-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 113:1-7

Apakah yang menyebabkan sebatang pohon itu kuat-kokoh? Apakah ada hubungannya dengan kondisi sistem perakarannya? Apabila pohon itu berakar dalam tanah yang baik, menerima cahaya matahari dan air yang cukup, maka pohon itu akan kuat-kokoh, sehat dan menghasilkan buah-buah yang baik pula. Akan tetapi apabila tanah itu buruk dan pohon tidak menerima cahaya matahari dan air secukupnya, maka akar-akarnya pun akan menjadi kurang/tidak sehat dan tidak lagi dapat mendukung/menopang pohon itu. Kalau pun menghasilkan buah, tentunya tidak akan berkualitas baik.

Yesus menggunakan gambaran ini untuk mengajarkan sebuah pelajaran yang sangat fundamental: Kalau kita tidak tetap berakar kuat dalam diri-Nya, sang “pokok anggur yang benar” (Yoh 15:1), maka kita tidak akan mampu menghasilkan buah yang menyenangkan Bapa surgawi. Di lain pihak, kalau kita tetap tinggal di dalam Dia, kita akan terus semakin menjadi seperti Dia dan buah yang kita hasilkan akan terus semakin menjadi seperti Kristus.

Apakah anda pernah mencoba meniru seseorang yang anda kagumi? Anda barangkali memulainya dengan baik, namun kemudian menyerah, sekali anda menyadari betapa sulitnya menjadi seseorang yang bukan dirimu sendiri. Kabar baiknya adalah, bahwa dengan Yesus ceritanya lain sekali. Ia mati di kayu salib dan bangkit, sehingga kita dapat menjadi seperti Dia sendiri, dengan demikian upaya kita akan memberikan hasil yang luarbiasa. Kita dapat menghasilkan buah yang sama dengan buah yang dihasilkan oleh-Nya, karena kita dibaptis ke dalam hidup-Nya sendiri; kita adalah dari pohon yang sama. Dia telah memberikan kepada kita Roh Kudus-Nya untuk mentransformasikan diri kita lebih dan lebih lagi ke dalam gambar dan rupa-Nya. Selagi kita berada dekat dengan Dia dalam doa dan tetap taat kepada perintah-perintah-Nya, kita pun akan mendapati diri kita berubah pada akar keberadaan kita – hati kita – sehingga dengan demikian seluruh pohon akan menyenangkan Bapa surgawi.

Bagian kedua bacaan ini (Luk 6:46-49) dimulai dengan sebuah pertanyaan Yesus yang sangat mengena bagi kita semua dan patut direnungkan dengan serius: “Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?”

Dalam bagian kedua ini sebenarnya Yesus mengajarkan hal yang sama, tetapi dengan memakai gambaran sebuah rumah yang didirikan diatas fondasi yang kokoh. Fondasi di atas mana kita mendirikan rumah haruslah kokoh-kuat. Yesus adalah satu-satunya FONDASI yang kokoh-kuat. Apabila kita mencoba untuk mendirikan rumah di atas sesuatu yang lain, bahkan dalam rangka upaya kita sendiri untuk menyenangkan Allah, maka rumah yang kita bangun itu tetap saja tidak akan mampu menahan beratnya kehidupan dunia ini. Dengan Yesus sebagai fondasi iman kita, maka tidak akan ada kekuatan apa pun yang dapat mengalahkan kita.

DOA: Yesus Kristus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Ubahlah kami masing-masing agar menjadi semakin penuh sebagai gambar dan rupa-Mu. Hanya Engkaulah fondasi hidup kami.Oleh kuasa Roh Kudus-Mu, buatlah agar hidup kami kuat berakar dalam kehidupan-Mu, agar dengan demikian kami dapat menjadi kudus dan menyenangkan Bapa di surga. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil  hari ini (Luk 6:43-49), bacalah tulisan yang berjudul “FONDASI YANG KOKOH(bacaan tanggal 16-9-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-09  BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-9-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 15 September 2017 [Peringatan SP Maria Berdukacita] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

BERDIRI BERSAMA BUNDA MARIA DI DEKAT SALIB YESUS

BERDIRI BERSAMA BUNDA MARIA DI DEKAT SALIB YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan SP Maria Berdukacita – Jumat, 15 September 2017)

Dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, istri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya, “Ibu, inilah anakmu!”  Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya, “Inilah ibumu!”  Sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya. (Yoh 19:25-27) 

Bacaan Pertama: Ibr 5:7-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 31:2-6,15-16,20; Bacaan Injil Alternatif: Luk 2:33-35 

Pada hari ini Gereja memperingati Santa Perawan Maria Berdukacita yang mengungkapkan Maria sebagai teladan sempurna dari seseorang yang tetap setia berdiri di dekat kayu salib sampai saat kematian Puteranya. Tindakan kasih sedemikian mengungkapkan kemauan Maria untuk menanggung pencobaan macam apa pun, kesulitan apa pun, dan penderitaan sengsara yang bagaimana pun beratnya agar dapat tetap bersama dengan Yesus, berdoa untuk-Nya, dan mendukung Dia, walaupun hal itu berarti harus menyaksikan kematian-Nya yang mengenaskan di atas kayu salib.

Bagaimana kita harus berdiri atau menempatkan diri di tengah saat-saat kritis kehidupan kita? Pada saat-saat sulit, pengalaman menunjukkan bahwa sulitlah untuk tetap setia kepada Allah, meskipun kita mengetahui bahwa Dia memahami setiap situasi yang kita hadapi. Kalau begitu, secara praktis bagaimana kita dapat meneladan iman Maria? Bagaimana kita dapat berdiri bersamanya di kaki Salib Yesus?

Dalam hati kita, baiklah kita memproklamasikan beberapa kebenaran tentang siapa sebenarnya Allah kita ini. Misalnya, marilah kita mengingat ayat Kitab Suci yang berikut ini: “Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” (Rm 8:31). Kita juga dapat mengklaim bagi diri kita sendiri janji-janji dalam Kitab Suci: “Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus” (Flp 4:7). Oleh karena itu, marilah kita memproklamasikan rasa percaya kita kepada Tuhan: Ia mengasihi kita dan terus membawa kita semakin dekat lagi kepada diri-Nya !!!

Kita juga dapat membaca dan merenungkan mazmur-mazmur yang berisikan ungkapan dan seruan hati sang pemazmur kepada Allah, mohon pertolongan-Nya di tengah saat-saat dia mengalami pencobaan – semua adalah produk kehidupan riil manusia. Yesus sendiri juga sangat akrab dengan mazmur-mazmur. Kalau kita membaca Mazmur 31, atau Mazmur 73, misalnya, kita akan merasakan bahwa selagi sang pemazmur berseru mohon pertolongan kepada Allah, dia tetap setia dengan imannya pada Dia yang diketahuinya sangat setia, baik hati dan penuh belas kasihan.

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus, apapun keputusan anda untuk menangani kesulitan-kesulitan dan pencobaan-pencobaan hidup yang sedang anda hadapi, yakinlah bahwa Allah adalah Pribadi yang paling baik. “Dialah kebaikan yang sempurna, segenap kebaikan, seluruhnya baik, kebaikan yang benar dan tertinggi; Dialah satu-satunya yang baik, penyayang, pemurah, manis dan lembut; Dialah satu-satunya yang kudus, adil, benar, suci dan tulus, satu-satunya yang pemurah, tak bersalah dan murni; dari Dia, oleh Dia dan dalam Dialah segala pengampunan, segala rahmat dan kemuliaan untuk semua orang yang bertobat dan yang benar” (S. Fransiskus dari Assisi). Apakah anda merasakan bahwa kata-kata dalam doa anda benar atau salah, percayalah bahwa Allah sepenuhnya memahami apa yang keluar dari hati anda itu. Selagi lagi anda berdoa dalam iman, maka Allah pun akan hadir dan menyelamatkan anda.

DOA: Bapa surgawi, kami menyerahkan setiap situasi yang kami hadapi kepada-Mu. Pada jam-jam tergelap dalam hidup kami, kami akan tetap setia kepada-Mu. Kami telah mengenal-Mu pada saat-saat penuh sukacita dan damai-sejahtera, dengan demikian kami percaya bahwa Engkau akan mendengarkan doa kami dan akan berada dekat dengan kami untuk menolong kami pada saat-saat sulit dan penderitaan kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Luk 2:33-35), bacalah tulisan yang berjudul “BERADA DI DEKAT SALIB KRISTUS BERSAMA MARIA DAN MENGAMPUNI” (bacaan  tanggal 15-9-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 15-9-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 13 September 2017 [Peringatan S. Yohanes Krisostomos, Uskup Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SALIB KRISTUS ADALAH SEBUAH MAHKOTA KEMENANGAN ABADI

SALIB KRISTUS ADALAH SEBUAH MAHKOTA KEMENANGAN ABADI

(Bacaan Pertama Misa Kudus, PESTA SALIB SUCIKamis, 14 September 2017)

Setelah mereka berangkat dari gunung Hor, berjalan ke arah Laut Teberau untuk mengelilingi tanah Edom, maka bangsa itu tidak dapat lagi menahan hati di tengah jalan. Lalu mereka berkat-kata melawan Allah dan Musa: “Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati di padang gurun ini? Sebab di sini tidak ada roti dan tidak ada air, dan akan makanan hambar ini kami telah muak. Lalu TUHAN menyuruh ular-ular tedung ke antara bangsa itu, yang memagut mereka, sehingga banyak dari orang Israel yang mati. Kemudian datanglah bangsa itu mendapatkan Musa dan berkata: “Kami telah berdosa, sebab kami berkata-kata melawan TUHAN dan engkau; berdoalah kepada TUHAN, supaya dijauhkan-Nya ular-ular ini dari pada kami. Lalu Musa berdoa untuk bangsa itu. Maka berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Buatlah ular tedung dan taruhlah itu pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup.”  Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup. (Bil 21:4-9) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 78:1-2,34-38; Bacaan Kedua: Flp 2:6-11; Bacaan Injil: Yoh 3:13-17 

“Siapa sih yang sungguh percaya bahwa orang Israel diselamatkan dari pagutan ular-ular berbisa hanya karena memandang seekor ular terbuat dari tembaga yang ditaruh/dipasang pada sebuah tiang? Pastilah itu hanya sebuah simbolisme, atau mitos belaka, atau cerita yang lebay (berlebihan) – bukankah begitu?” Pertanyaan seperti ini mungkin saja adalah pertanyaan dari diri kita sendiri.

Kita memang tidak pernah tahu! Namun kita juga dapat mengatakan, bahwa cerita ini terdapat dalam Alkitab bukan tanpa alasan, dan kita juga harus berhati-hati agar tidak dengan cepat-cepat mengesampingkan penggambaran tentang kuasa Allah yang begitu menakjubkan seperti ini. Biar bagaimana pun juga, Yesus sendiri menggunakannya sebagai suatu gambaran penyelamatan yang akan diberikan-Nya kepada kita dengan kedatangan-Nya ke dunia. Pada suatu malam, dalam salah satu “sesi katekese”-Nya dengan Nikodemus, Yesus menjelaskan: “Sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3:14-15).

Gagasan bahwa orang dapat disembuhkan dari pagutan ular tedung yang sangat berbisa hanya dengan memandang ular yang terbuat dari tembaga memang kedengaran sebagai sesuatu yang penuh magic. Namun begitu, bagaimana dengan gagasan bahwa orang dapat menerima kehidupan kekal-abadi melalui salib Yesus Kristus? Sesuatu yang kedengaran bernuansa “magis” juga, bukan? Tetapi, ada bedanya! Segala sesuatu yang magis menyangkut pembacaan mantera oleh Pak Dukun dan/atau pembekalan jimat-jimat agar si penerima memiliki kekuatan di dalam dunia yang natural ini, sedangkan magic atau keajaiban dari salib Kristus tidak dapat dimanipulasi atau dikendalikan oleh manusia. Daya kekuatan salib Kristus bukanlah suatu kekuatan yang dapat kita gunakan agar segala sesuatu berjalan seturut kehendak kita. Salib Kristus adalah kuasa kasih Allah yang tak tertandingi oleh kuasa atau kekuatan apa pun juga – suatu kuat-kuasa untuk menghancurkan cengkeraman kematian dan membawa umat-Nya ke dalam surga.  Salib Kristus adalah sebuah mahkota kemenangan abadi!

Kematian Yesus di atas kayu salib adalah peristiwa yang paling mempunyai kuat-kuasa antara peristiwa penciptaan dunia dan kedatangan final dari kerajaan Allah! Ular tedung tembaga adalah sebuah saluran yang digunakan Allah untuk menyembuhkan sekelompok kecil umat, akan tetapi salib Kristus adalah sumber kehidupan kekal bagi setiap orang yang berbalik dari kehidupan lama mereka dan mengikuti Dia. Kematian Yesus di kayu salib sekitar 2.000 tahun lalu mempunyai kuat-kuasa untuk mengalahkan setiap dosa dan mengubah (mentransformasikan) setiap pribadi. Jangkauan dari kematian Kristus itu diawali di Kalvari dan terus berjalan menuju masa depan yang kita tahu kapan akan berakhirnya. Oleh karena itu, biarlah kuat-kuasa salib Kristus meyakinkan kita bahwa tidak ada sesuatu pun yang dapat mengalahkan cintakasih Yesus bagi kita masing-masing.

DOA: Yesus Kristus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu untuk salib-Mu, yang berdiri tegak sepanjang masa berhadapan-hadapan dengan segala kegelapan dan setiap bentuk kejahatan, dan mengalahkan semua itu. Selagi aku memandang salib-Mu pada hari ini, aku melihat kemenangan-Mu yang mutlak, dan hatiku pun dipenuhi dengan sukacita. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Tuhanku dan Juruselamatku! Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Kedua hari ini (Flp 2:6-11), bacalah tulisan yang berjudul “TIDAK ADA PENINGGIAN TANPA DIDAHULUI PERENDAHAN DIRI, TIDAK ADA KEBANGKITAN MULIA TANPA DIDAHULUI KEMATIAN PADA KAYU SALIB” (bacaan tanggal 14-9-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com;  kategori: 17-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-9-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 12 September 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

UCAPAN BAHAGIA DAN PERINGATAN DARI YESUS

UCAPAN BAHAGIA DAN PERINGATAN DARI YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Yohanes Krisostomus, Uskup Pujangga Gereeja – Rabu, 13 September 2017)

 

Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya dan berkata,

“Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang punya Kerajaan Allah.

Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan.

Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa.

Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat.

Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di surga; karena demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi.

Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu.

Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar.

Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis.

Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu.”  (Luk 6:20-26) 

Bacaan Pertama: Kol 3:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:2-3,11-13ab 

Apabila seseorang mengatakan, menjadi miskin, lapar atau dibenci orang merupakan suatu berkat, maka kita akan berpikir orang ini sungguh tidak waras. Akan tetapi ini memang kata-kata Yesus sendiri, dan Dia hanya mengatakan kebenaran-kebenaran yang dipelajari-Nya dari pengalaman hidup-Nya sendiri. Yesus sendiri lahir di tengah-tengah sebuah keluarga miskin dan ketika sudah besar Dia bekerja sebagai tukang kayu biasa. Pada waktu Yesus berpuasa, Dia tahu benar apa artinya mengalami kelaparan. Yesus tahu apa artinya rasa duka ketika Dia menangisi kedegilan hati orang-orang terhadap Bapa-Nya. Dan seringkali ketika orang-orang melihat kemurnian hati-Nya, mereka malah membenci-Nya.

Namun di tengah-tengah penderitaan-Nya, Yesus tetap berada di hadirat Bapa-Nya. Dia tidak pernah tanpa penghiburan dari Bapa-Nya. Yesus tetap “diberkati” karena Dia tidak pernah lepas fokus dari sumber damai-Nya. Yesus selalu menatap Bapa-Nya, sebagai sumber hidup-Nya, sukacita-Nya dan harapan-Nya, bukan dengan memandang hal-hal lain yang ada di sekeliling-Nya.

Seruan “celaka” yang diucapkan Yesus tidak terlalu menarik – dan seharusnya memang begitu. Tujuannya adalah agar kita membelokkan hati kita menjauh dari segala hasrat yang penuh kepentingan diri, kemudian hati itu diarahkan kepada Allah sehingga kita dapat menerima damai dan cintakasih yang dimiliki-Nya bagi kita. Allah menginginkan kita semua percaya bahwa kita dapat menjadi seperti Yesus; bahwa kita dapat berjalan dalam perlindungan Bapa seperti Yesus juga. Kalau kita mengakarkan diri dalam Yesus, maka kita pun akan memiliki martabat dan cintakasih yang dimiliki Yesus. Tidak ada yang akan menggoyangkan kita. Apabila hati kita menatap Allah dan kerajaan-Nya, maka semua yang lain menjadi sekunder ….. tidak mungkin menjadi yang paling utama lagi.

Marilah kita tidak merasa susah apakah kita miskin, lapar, sedih atau dibenci orang. Seperti juga Yesus, kita dapat berpaling kepada Allah dan kepada orang-orang lain. Dalam penderitaan bagi Yesus, Bapa akan menjaga kita penuh perhatian. Kita dapat memberikan hati kita kepada Yesus dan menerima damai-sejahtera dan cintakasih-Nya, sehingga tidak ada siapa/apa pun yang dapat menggoncang iman kita. Kalau kita menatap Allah dan kerajaan-Nya, tidak ada siapa/apa pun yang dapat merebut tempat kita dalam Kristus; tidak ada siapa/apa pun yang dapat mencampakkan kita dari pemeliharaan Allah yang penuh cintakasih.

DOA: Roh Kudus Allah, tolonglah aku memusatkan pandanganku pada Yesus. Tolonglah aku agar dapaat melihat berkat-berkat Allah di tengah-tengah perjuangan hidupku, baik perjuangan hidup dalam diriku, perjuangan hidup dalam keluargaku, perjuangan hidup dalam lingkungan dan masyarakatku, serta perjuangan dalam hidup berbangsa dan bernegara; selagi aku berbalik kepada-Nya, semakin dekat dan dekat lagi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 6:6-11), bacalah tulisan yang berjudul “HARTA SESUNGGUHNYA YANG DISEDIAKAN BAGI KITA DALAM KRISTUS” (bacaan tanggal 13-9-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 7-9-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 11 September 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS