Posts from the ‘ORANG-ORANG KUDUS FRANSISKAN’ Category

SELAMAT PESTA !!!

Saudari dan Saudara yang dikasihi Kristus,

SELAMAT PESTA SANTO FRANSISKUS DARI ASSISI, BAPAK SERAFIK KITA !!!

Jakarta, 4 Oktober 2017

Salam Persaudaraan.

SANTO PIUS X [1835-1914] – PERINGATAN: 21 AGUSTUS

SANTO PIUS X (1835-1914) – Peringatan: 21 Agustus

Setiap tanggal 21 Agustus,kita memperingati Santo Pius X (1835-1914), seorang Pemimpin Gereja yang besar. Orang kudus ini lahir dengan nama Guiseppe (Yosef) Sarto di desa kecil yang bernama Riese (Venesia, Italia bagian utara). Orangtuanya bukanlah orang penting atau ternama di mata masyarakat, namun mereka adalah orang-orang Katolik yang saleh. Mereka mengasuh dan membesarkan anak-anak mereka yang sepuluh orang itu dalam suatu zaman “susah”.

Pastor paroki sangat tertarik pada diri Guiseppe, sang pemimpin para putera altar yang berperilaku baik itu. Dia membantu Guiseppe dalam pendidikannya. Pada tahun 1858 Guiseppe ditahbiskan sebagai seorang imam praja. Sembilan tahun lamanya dia bertugas sebagai imam tentara di Tombolo. Tombolo terletak di provinsi Padua di kawasan Veneto, 45 km sebelah barat laut Venesia dan sekitar 25 km sebelah utara kota Padua. Atasannya menulis tentang imam muda ini: “Saya yakin bahwa pada suatu hari dia akan mengenakan mitra, setelah itu siapa tahu?” Wah, semacam teka-teki atau nubuat?

Romo Guiseppe mempunyai seorang Fransiskan besar sebagai “idola”-nya, yaitu Santo Leonardus dari Port Maurice (1676-1751). Santo Leonardus ini adalah model bagi Romo Guiseppe dalam hidupnya dan juga pada mimbar ketika berkhotbah. Kesalehan Romo Guiseppe juga patut diteladani. Pada jam 4 pagi, dia sudah kelihatan berlutut di depan tabernakel.

Sembilan tahun lamanya Romo Guiseppe berkarya sebagai pastor paroki di Salzano (sekitar 15 km dari kota Venesia). Pada waktu ditugaskan si Salzano inilah Romo Guiseppe bergabung dengan Ordo Ketiga Santo Fransiskus (sekular) dan kemudian mendirikan dua persaudaraan Ordo Ketiga Sekular. Sejak saat itu Romo Guiseppe berupaya serius agar kata-kata yang diucapkannya serta tulisan-tulisannya diwarnai dengan kesederhanaan dan keugaharian standar-standar kehidupan Fransiskan, semuanya demi pencapaian cita-cita dari Bapak Serafik (Fransiskus).

Seusai penugasan di Salzano – untuk kurun waktu sembilan tahun lamanya – Romo Guiseppe diangkat menjadi Vikjen, kanon dan wali-pengawas seminari di keuskupan Treviso (di kawasan Veneta, dekat Venesia). Banyak orang mengatakan, bahwa Romo Guiseppe tidak akan mati di Treviso. Ternyata memang demikianlah, karena kemudian Romo Guiseppe diangkat menjadi uskup Mantua , sebuah kota di Lombardy, untuk sembilan tahun lamanya. Sebagai seorang uskup, tidak ada perubahan yang terjadi dalam kebiasaan-kebiasaan hidupnya. Uskup Guiseppe tetap tidak menunjukkan toleransi samasekali terhadap pesta-pesta perjamuan yang mewah. Baginya kegiatan kerasulan dalam bidang pers sangatlah penting karena merupakan mimbar zaman modern. Oleh karena itu Uskup Guiseppe mendedikasikan dirinya pada kegiatan kerasulan pers ini. Sementara itu orang-orang miskin adalah favorit-favoritnya.

Uskup Guiseppe kemudian diangkat menjadi seorang kardinal dan Patriark/batrik Venesia, juga untuk sembilan tahun lamanya. Meskipun berada begitu dekat dengan pucuk pimpinan Gereja, Kardinal Guiseppe tetap menjadi anak-rohani yang setia dari bapak-rohaninya, Fransiskus – si kecil miskin dari Assisi.

Kematian Paus Leo XIII pada tahun 1903 membawa Kardinal Guiseppe ke Roma/Vatikan untuk mengikuti pemilihan paus. Siapakah yang akan terpilih? Kardinal Guiseppe Sarto menjawab: “Leo XIII, yang mencerahkan dunia dengan hikmat-kebijaksanaannya akan digantikan oleh seorang paus yang akan membuat dunia terkesan dengan kesucian hidupnya.”  “Nubuat” ini digenapi: ternyata dalam konklaf Kardinal Guiseppe Sarto terpilih sebagai paus yang baru dengan nama Pius X.

Tidak lama setelah dipilih menjadi pemimpin tertinggi Gereja, Paus Pius X mengumumkan program kerjanya, yaitu “memperbaharui semua hal dalam Kristus”. Pius X melakukan banyak hal dalam hal kebangunan-rohani Gereja, misalnya mendorong penyambutan komuni sejak usia muda dan juga komuni harian. Ia menetapkan pokok-pokok yang diperlukan dalam rangka pencapaian kesucian hidup para klerus. Ia mendorong perkembangan Ordo Ketiga. Yang paling penting: Lewat kesucian hidupnya, Paus Pius X membuat dirinya sendiri menjadi contoh bagi orang-orang untuk melakukan pembaharuan hidup rohani mereka. Leaderhip by example! Banyak lagi yang dilakukan oleh Paus ini, namun tidak dapat diceritakan di sini karena waktu dan ruang yang terbatas.

Paus Pius X terkadang dijuluki “Paus Ekaristi”. Beliau tercatat pernah mengucapkan kata-kata sebagai berikut: “Komuni Kudus adalah jalan yang paling singkat dan paling aman untuk menuju surga. Memang ada jalan-jalan lain: keadaan tidak bersalah (innnocence), namun hal ini diperuntukkan bagi anak-anak kecil; pertobatan, namun hal ini menakutkan kita; memikul banyak pencobaan-pencobaan hidup, namun begitu pencobaan-pencobaan itu tiba kita menangis dan mohon dikecualikan/diselamatkan. Jalan yang paling pasti, paling mudah, paling singkat, adalah Ekaristi.” Ucapan beliau ini tentunya mendukung pemberian gelar/ julukan sebagai “Paus Ekaristi”.

Kecintaan Paus Pius X pada Mazmur dalam Ibadat Harian (Ofisi Ilahi) juga mengagumkan, karena baginya Mazmur adalah mengenai Yesus sendiri, dalam Mazmur dia bertemu dengan Yesus. Pada bacaan kedua Ibadat Bacaan (versi Inggris) hari ini, kita dapat membaca tulisannya tentang Mazmur ini. Saya petik sebagian kecil saja:

“Siapa yang dapat tetap tidak tergerak hatinya kalau melihat banyak bagian dalam Mazmur di mana keagungan Allah yang besar sekali, kemahakuasaan-Nya, kekudusan-Nya yang tak-tereskpresikan dengan kata-kata, kebaikan-Nya, kerahiman-Nya, kesempurnaan-kesempurnaan-Nya yang tak terbatas lainnya, diproklamasikan dengan begitu agung dan indah? Siapa pula yang tak tergerak hatinya oleh tindakan-tindakan penuh syukur atas berkat-berkat dari Allah, oleh doa-doa penuh kerendahan-hati dan rasa percaya yang dimohonkan kepada Tuhan untuk hal-hal yang sangat didambakan, oleh seruan-seruan pertobatan jiwa-jiwa berdosa? Siapa yang tidak terbakar dengan cinta oleh gambar Kristus sang Penebus yang setia, yang suara-Nya didengar oleh Santo Augustinus dalam semua mazmur, Dia bernyanyi, Dia meratap, Dia bersukacita dalam harapan, Dia berkeluh-kesah dalam keadaan sulit?” (A Reading from the Apostolic Constitution of Pope Pius X on the Psalter in the Divine Office, The Divine Office III).

Meskipun seorang paus, namun ia tetap romo paroki yang penuh pengertian dan cintakasih. Setiap Minggu ia berkhotbah secara sederhana menjelaskan Injil yang dibacakannya kepada hadirin di halaman Vatikan. Kebaikan hati dan kesederhanaannya sangat menonjol.

Kemudian pecah perang dunia yang pertama. Ketika menderita sakit, dari atas pembaringannya Paus Pius X berkata: “Saya  ingin menderita. Saya ingin mati bagi para serdadu di medan tempur.”  Pada tanggal 20 Agustus 1914 – enam belas hari setelah pecah Perang Dunia I – Paus Pius X dengan penuh kedamaian menghembuskan nafasnya yang terakhir. Wasiatnya mencerminkan jiwa Fransiskannya: “Saya dilahirkan miskin, saya telah hidup miskin, dan saya ingin mati secara miskin pula.”

Semasa hidupnya, Paus Pius X beberapa kali menyembuhkan secara ajaib orang-orang yang sakit jasmani maupun rohani. Setelah kematiannya, banyak terjadi mukjizat pada kuburannya. Proses beatifikasinya dimulai pada tahun 1923. Beatifikasinya dilakukan pada tahun 1951 dan kanonisasinya  dilakukan pada tahun 1954.

Santo Pius X adalah seorang imam sejati, seorang pastor/gembala umat yang patut dicontoh perikehidupannya, baik oleh para klerus maupun umat kebanyakan. Baiklah kita juga selalu berdoa mohon pengantaraannya, terutama untuk kebaikan para imam kita. Santo Pius X, doakanlah kami!

DOA: Bapa surgawi, Engkau memenuhi diri Santo Paus Pius X dengan hikmat-kebijaksanaan dan memberikan kepadanya kekuatan sebagai seorang rasul guna membela iman Kristiani yang katolik, juga untuk memperbaharui segala hal dalam Kristus. Semoga kami dapat mengikuti teladan hidupnya dan ajarannya agar pada suatu hari kelak kami pun dapat berjumpa dengan Engkau di surga. Kami berdoa demikian dalam nama Tuhan Yesus Kristus, Putera-Mu, yang hidup dan berkuasa bersama Engkau dalam persekutuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa. Amin.

Sumber tulisan tentang Paus Pius X: (1) Marion Habig OFM, THE FRANCISCAN BOOK OF SAINTS; (2) A. Heuken  SJ dan Staf Yayasan CLC, ENSIKLOPEDI ORANG KUDUS; (3) Ronda de Sola Chervin: QUOTABLE SAINTS; (4) THE DIVINE OFFICE – THE LITURGY OF THE HOURS ACCORDING TO THE ROMAN RITE III – WEEKS OF THE YEAR 6-34.

Catatan: Tulisan ini bersumberkan tulisan saya tanggal 21 Agustus 2010, yang direvisi pada tanggal 7 Februari 2013.

Jakarta, 21 Agustus 2017 [Peringatan Wajib S. Pius X, Paus]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SALAM KEPADA SANTA PERAWAN MARIA

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus, 

Untuk menyambut BULAN MARIA – MEI 2017, marilah kita berdoa bersama S. Fransiskus dari Assisi: 

SALAM KEPADA SANTA PERAWAN MARIA 

Salam, Tuan Puteri, Ratu Suci,

Santa Bunda Allah, Maria;

Engkau adalah perawan yang dijadikan Gereja,

dipilih oleh Bapa Yang Mahakudus di surga, dan

dikuduskan oleh Dia

bersama dengan Putera terkasih-Nya Yang Mahakudus

serta Roh Kudus Penghibur.

Dalam dirimu dahulu dan sekarang

Ada segala kepenuhan rahmat dan segalanya yang baik.

Salam, istana-Nya;

salam, kemah-Nya;

salam, rumah-Nya.

Salam, pakaian-Nya;

salam, hamba-Nya;

salam, bunda-Nya,

serta kamu semua, keutamaan yang suci,

yang oleh rahmat dan penerangan Roh Kudus

dicurahkan ke dalam hati kaum beriman,

untuk membuat mereka yang tidak setia

menjadi setia kepada Allah.  

Catatan: 

  1. Ungkapan “perawan yang dijadikan Gereja” adalah ungkapan yang berakar dalam teologi patristik dan awal abad pertengahan, arus tradisi yang mempengaruhi Fransiskus. Sesudahnya, ungkapan ini jarang dipakai, dan lebih dikenal sebutan “perawan selamanya” (virgo perpetua). Sebutan tentang Maria sebagai “perawan yang dijadikan Gereja” (= virgo ecclesia facta) harus diartikan dalam hubungan dengan ayat berikutnya. 
  1. Maria pastilah orang pertama yang dikuduskan menjadi Gereja oleh Tiga Pribadi Ilahi. Hal itu digarisbawahi oleh ungkapan-ungkapan yang menyusul: istana-Nya, kemah-Nya, rumah-Nya. 
  1. Keutaman-keutamaan diberi salam bersama Maria karena itulah anugerah Roh Kudus yang menghiasi Maria, sehingga menjadi tempat kediaman Allah Tritunggal karena iman dan kesetiaan-Nya. Juga orang beriman dicurahi keutamaan yang sama, agar mereka percaya dan setia kepada Allah seperti Maria, dan dengan demikian juga dalam 1SurBerim 1:10 dan 13; 2 SurBerim 48,53,56. 

(Sumber: KARYA-KARYA FRANSISKUS DARI ASISI, hal. 284-285.)

Cilandak, 1 Mei 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

AKU DATANG UNTUK MELEMPARKAN API KE BUMI

AKU DATANG UNTUK MELEMPARKAN API KE BUMI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIX – Kamis, 20 Oktober 2016) 

1-0-jesus-christ-super-star“Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapa Aku harapkan, api itu telah menyala! Aku harus dibaptis dengan suatu baptisan, dan betapa susah hati-Ku, sebelum hal itu terlaksana! Kamu menyangka bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan. Karena mulai sekarang akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga. Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya.”  (Luk 12:49-53) 

Bacaan Pertama: Ef 3:14-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:1-2,4-5,11-12,18-19 

Selagi Yesus dengan penuh keyakinan melakukan perjalanan menuju kematian-Nya di Yerusalem, Ia berbicara mengenai “melemparkan api ke bumi”. Dalam pengertian alkitabiah, api dimaknai sebagai “pemurnian dan penghakiman”; membersihkan dan menyiapkan kita untuk membalikkan hati kita sepenuhnya kepada Allah dalam kasih. Api yang dimaksudkan Yesus adalah api yang sama seperti yang dijanjikan oleh Yohanes Pembaptis, ketika dia berkata: “Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa daripada aku akan datang dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api” (Luk 3:16). Gambaran Roh Kudus dan api mengindikasikan bahwa apabila kita mengikuti Allah, maka kita dapat mengharapkan untuk mengalami pembersihan dan penghakiman. Hal ini menyangkut perjuangan, penderitaan, dan bahkan pengejaran serta penganiayaan atas diri mereka yang mencari Allah.

Sepanjang sejarah Gereja, ada banyak sekali orang, baik perempuan maupun laki-laki yang – karena iman-kepercayaan mereka kepada Yesus Kristus – mengalami penderitaan, malah sampai kepada kematian. Seorang  tokoh awam yang patut dicontoh adalah Thomas More. Sebagai seorang anggota Ordo Ketiga Santo Fransiskus di negeri Inggris, Thomas More adalah tanda-lawan pada zamannya. Kehidupan-saleh yang dijalaninya, kesetiaannya kepada Gereja yang tak tergoyahkan; dan semuanya itu dibayar dengan darahnya sendiri. Kehidupannya seharusnya menjadi teladan bagi para awam Kristiani yang berkiprah di dunia sosial-politik. Ia adalah putera dari seorang ksatria dan sejak kecil sudah hidup saleh.

ST. THOMAS MORE OFS [1478-1535]

ST. THOMAS MORE OFS [1478-1535]

Karir Thomas More sebagai negarawan dimulai pada tahun 1510, karir ini terus menanjak dengan pesat sampai mencapai puncaknya pada tahun 1529 ketika dia diangkat menjadi Lord High Chancellor menggantikan Kardinal Wolsey. Meskipun sudah menjadi pejabat negara puncak, dia masih menjalankan hidup rohaninya seperti sediakala. Sementara itu raja Henry VIII sudah merasa bosan dengan permaisurinya yang sah (Katarina dari Aragon) dan dia berahi pada salah seorang dayang-dayang di istana (sudah menikah) yang bernama Anna Boleyn dan ingin menikahinya. Henry VIII sudah mencoba mendapatkan izin dari Sri Paus agar dia boleh menceraikan permaisurinya dan menikah dengan Anna Boleyn. Sri Paus tidak setuju. Takhta Suci dengan benar menghukum Henry VIII itu, namun sang raja malah memperburuk hubungannya dengan Takhta Suci dan mengangkat dirinya menjadi kepala dari Church of England (Gereja Inggris = Anglikan). Persetujuan atas undang-undang yang mengatur pengangkatan raja sebagai kepala Gereja Inggris dimungkinkan karena parlemen yang lemah. Para uskup dan imam harus mengangkat sumpah untuk mengakui sang raja sebagai atasan mereka. Siapa saja yang tidak setuju dengan keputusan raja ini akan dihukum mati. Orang pertama yang menentang raja adalah pejabat tinggi negara yang selama ini sangat setia kepada raja, Thomas More.

Thomas More yakin dan percaya, bahwa tidak seorang pun pemimpin negara yang dapat mempunyai yurisdiksi atas Gereja Kristus. Hal inilah yang menjadi “biaya kemuridan” bagi dirinya dalam mengikuti jejak sang Guru, Yesus Kristus. Meskipun berhadapan dengan raja sebagai penguasa tertinggi negeri Inggris yang juga menguasai parlemen yang lemah, sebagai pejabat tinggi negara Thomas More dengan gigih menolak memberi persetujuannya atas perceraian raja Henry VIII. Ia juga tidak mau mengakui Henry VIII sebagai kepala Gereja Inggris yang memutuskan hubungan dengan Takhta Suci di Roma dan menolak Sri Paus sebagai pemimpin Gereja, padahal banyak sekali uskup dan imam memberi persetujuan mereka …… karena takut mati. Dia setia kepada Kristus lewat kesetiaannya kepada Gereja (lihat Ef 5:25 dsj). Thomas More tidak mau mundur sedikit pun dalam kesetiaannya kepada Kristus; sikap dan perilaku ini membawanya ke dalam kegelapan ruang penjara dan akhirnya kematian. Thomas More adalah contoh dari seseorang yang memperkenankan api Kristus membakar dirinya. Seorang saksi (martir) Kristus yang sejati!

DOA: Tuhan Yesus, ajarlah aku untuk mengasihi-Mu dengan benar, dan untuk berani menyingkirkan segala hasratku akan kenyamanan dan kenikmatan dunia, serta hasrat agar selalu dapat diterima oleh orang-orang lain walaupun dengan mengorbankan prinsip-prinsip kebenaran iman. Ajarlah aku juga untuk dapat tetap sabar dan penuh sukacita dalam menghadapi berbagai tentangan, tantangan dan serangan dari siapa saja yang tidak menyukai aku oleh karena Engkau-lah yang aku imani, sebagai Tuhan dan Juruselamat-ku. Buatlah agar aku dapat berjuang dengan tekun dan berani selagi turut mengambil bagian dalam menegakkan kerajaan-Mu di dunia ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:49-53), bacalah tulisan yang berjudul “BUKAN DAMAI, MELAINKAN PERTENTANGAN” (bacaan tanggal 20-10-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2009) 

Cilandak, 19 Oktober 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SELAMAT PESTA BAPAK FRANSISKUS DARI ASSISI: 4 OKTOBER

8x10-stfrancis-10dogs1

Cilandak, 4 Oktober 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

TRANSITUS BAPAK FRANSISKUS DARI ASSISI: 3 OKTOBER

transitus-of-st-francis

Jakarta, 3 Oktober 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SANTO LAURENSIUS DARI BRINDISI

SANTO LAURENSIUS DARI BRINDISI 

2014072606saint (1)Hari ini, tanggal 21 Juli, Gereja memperingati Santo Laurensius dari Brindisi, Imam dan Pujangga Gereja [1559-1619] dan keluarga besar Fransiskan merayaan pestanya.

Sekilas lintas, barangkali kualitas pribadi yang paling menonjol dari Laurensius adalah karunia khusus untuk menguasai banyak bahasa. Di samping pengetahuan dan penguasaan mendalam atas bahasa ibunya, Italia, orang kudus ini juga menguasai bahasa Latin, Ibrani, Yunani, Jerman, Bohemia, Spanyol dan Perancis.

Laurensius dilahirkan di Brindisi, Italia selatan (Kerajaan Napoli), pada tanggal 22 Juli 1559, dan meninggal dunia tepat 60 tahun kemudian pada hari ulang tahunnya di tahun 1619. Kedua orang tuanya, William dan Elisabet Russo, memberikan nama Julius Caesar (Italia: Giulio Caesare Russo). Kedua orangtuanya meninggal dunia cepat dan setelah itu Julius Caesar dididik oleh pamannya di Kolese S. Markus di Venisia.

Sejak masa kecilnya,  Julius Caesar sudah menunjukkan bakat yang luarbiasa, mengingatkan orang-orang akan Yesus yang masih berumur 12 tahun yang berbincang-bincang serius dengan para ahli Taurat Yahudi di Bait Allah. Di Italia ada adat-kebiasaan yang memperkenankan anak laki-laki untuk berkhotbah pada hari Natal di depan publik. Pada waktu Julius Caesar berumur 6 tahun, dia berkhotbah di katedral kota kelahirannya, dan khotbahnya membuat kesan mendalam di hati banyak orang yang hadir, dan banyak dari mereka mulai memasuki hidup Kristiani yang lebih mendalam.

Ketika berusia 16 tahun, Julius Caesar masuk Ordo Fransiskan Kapusin di Verona dan menerima nama biara Laurensius. Dalam biara, Laurensius sejak awal sudah menonjol sebagai “model kesempurnaan”. Ia selalu tepat waktu dalam menghadiri acara-acara komunitas biara, sempurna dalam ketertundukannya terhadap atasannya, penuh respek dan kasih terhadap para saudara-saudara yang lain.

Ia menyelesaikan studi filsafat dan teologi di Universitas Padua dan ditahbiskan imam ketika berumur 23 tahun. Dengan segala bekal yang dimilikinya, Pater Laurensius mulai kehidupan misionernya. Pertama-tama dia mengunjungi berbagai kota di Italia: Venisia, Pavia, Verona, Padua, Napoli; karya missioner yang sukses. Kemudian dia dipanggil ke Roma oleh Paus Klemens VIII dan diberikan tugas untuk mempertobatkan orang-orang Yahudi. Dengan kemampuannya menguasai beberapa bahasa, Laurensius mampu untuk mempelajari teks-teks Kitab Suci dalam bahasa aslinya. Pengetahuan bahasa Ibrani-nya begitu unggul sehingga para rabi Yahudi yakin sekali bahwa Laurensius adalah seorang Yahudi yang telah murtad menjadi Kristiani. Kelemahlembutan imam yang satu ini membuat banyak orang Yahudi dibaptis menjadi Kristiani.

Laurensius memiliki satu ciri pribadi yang barangkali tidak diharap-harapkan dari seorang terpelajar penuh talenta seperti dirinya, yakni sensitivitas/kepekaan terhadap kebutuhan orang-orang. Ia dipilih menjadi pimpinan Ordo Fransiskan Kapusin untuk Propinsi Tuscany ketika berumur 31 tahun. Ia memiliki perpaduan antara kecemerlangan (Inggris: brilliance), bela rasa manusiawi dan keterampilan administratif yang dibutuhkan guna melakukan tugas-tugasnya.

Pada tahun 1598 Pater Laurensius diutus ke Jerman bersama enam orang saudara Kapusin lainnya untuk mendirikan biara-biara di sana  dan juga untuk menghadapi arus reformasi Martin Luther yang mulai menancapkan kaki di Austria. Banyak orang Kristen Protestan kembali kepada iman Katolik. Kaisar Rudolf II mempercayakan tugas mengorganisasikan gerakan perlawanan melawan tentara Turki Ottoman yang merupakan ancaman besar terhadap dunia Kristiani. Untuk tugas ini, Laurensius berfungsi sebagai seorang diplomat yang mengunjungi kota-kota utama di Jerman guna menjelaskan misinya kepada pangeran-pangeran, bernegosiasi dengan mereka, dan berkhotbah kepada publik.  Upayanya berhasil menggalang persatuan untuk melawan kekuatan Turki Ottoman.

Lawrence_of_BrindisiPater Laurensius diangkat menjadi kepala pendamping rohani pasukan besar dari seorang bangsawan yang bernama Matias yang pergi ke Hungaria pada tahun 1601 untuk berperang melawan pasukan Turki Ottoman. Walaupun penyakit rematiknya sangat serius, Pater Laurensius tetap berkuda, salib Kristus di tangan dan maju di depan para perajurit menuju medan tempur. Pandangan pertama atas lawan sangat menciutkan hati para prajurit Kristiani karena posisi lawan mereka sangat baik. Namun dalam nama Allah Pater Laurensius menjanjikan kemenangan bagi umat Kristiani, hal mana menginspirasikan mereka semua dengan keberanian luarbiasa. Dalam pertempuran itu pihak Turki Ottoman hancur berantakan.

Laurensius kembali ke Italia dan pada tahun 1602 Laurensius dipilih menjadi minister jenderal dari Ordo Fransiskan Kapusin. Dalam posisi ini dia bertanggung jawab untuk membuat agar ordo yang dipimpinnya bertumbuh-kembang dengan pesat, termasuk ekspansi secara geografis.

Laurensius kemudian diangkat menjadi utusan Paus dan pembawa damai, suatu pekerjaan yang membuatnya melakukan perjalanan ke sejumlah negara asing. Guna mencapai perdamaian dalam tempat kelahirannya, Kerajaan Napoli, Laurensius pergi mengunjungi raja Spanyol Philip III. Ternyata sang raja sedang berada di Portugal. Ia melanjutkan perjalanannya ke Portugal. Hasil pertemuan itu: pejabat Spanyol yang dengan kejam memerintah di Kerajaan Napoli dipecat. Misinya lagi-lagi berhasil. Kemudian penyakit serius di Lisboa (Portugal) merenggut nyawanya pada tahun 1619. Saudari Maut (badani) menjemput Pater Laurensius selagi bertugas melayani Allah dan sesama.

Kecintaan Laurensius pada sabda Allah dalam Kitab Suci, ditambah dengan kepekaannya terhadap kebutuhan-kebutuhan orang, menyajikan suatu gaya-hidup yang menarik bagi umat Kristiani zaman modern. Hidupnya menunjukkan keseimbangan antara disiplin-diri (self-dicipline) dan suatu penghargaan yang tekun terhadap kebutuhan-kebutuhan orang-orang untuk siapa dia dipanggil untuk melayani.

Pada tahun 1956 Ordo Fransiskan Kapusin (OFMCap.) berhasil menyelesaikan penyusunan tulisan-tulisan Laurensius yang terdiri dari 15 volume. Sebelas dari 15 volume ini berisikan khotbah-khotbahnya, di mana masing-masing khotbah itu terutama mendasarkan diri pada petikan-petikan dari teks Kitab Suci untuk menggambarkan ajarannya. Satu tulisan adalah sehubungan dengan doktrin dan devosi kepada Bunda Maria.

Pater Laurensius dari Brindisi dibeatifikasikan pada tanggal 1 Juni 1783 dan dikanonisasikan sebagai seorang Santo pada tanggal 8 Desember 1881. Pada tahun 1959 Santo Laurensius dari Brindisi diangkat menjadi Pujangga Gereja.

Sumber: P. Marion A. Habig OFM, “THE FRANCISCAN BOOK OF SAINTS”, hal. 539-543; P. Leonard Foley OFM (Editor), “SAINT OF THE DAY”, hal. 167-169; WIKIPEDIA: “LAWRENCE OF BRINDISI”.

Jakarta, 21 Juli 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS