Posts from the ‘BUNDA MARIA’ Category

JIWAKU MEMULIAKAN TUHAN

JIWAKU MEMULIAKAN TUHAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA SP MARIA DIANGKAT KE SURGA – Minggu, 13 Agustus 2017)

 

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan bergegas menuju sebuah kota di pegunungan Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.”

Lalu kata Maria, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan kuduslah nama-Nya. Rahmat-Nya turun-menurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.” Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya. (Luk 1:39-56) 

Bacaan Pertama: Why 11:19a;12:1,3-6a. 10ab; Mazmur Tanggapan: Mzm 45:10-12,16; Bacaan Kedua: 1Kor 15:20-26

Dalam peristiwa yang kita rayakan pada hari ini, kita dapat melihat pemenuhan daripada segala janji Allah – pertama-tama kepada Maria dan kemudian kepada segenap umat Allah. Maria ikut ambil bagian dalam kemenangan Yesus atas maut. Dialah yang pertama-tama mengecap apa yang sekarang tersedia bagi kita semua: “Sesudah yang dapat binasa ini mengenakan yang tidak dapat binasa dan yang dapat mati ini mengenakan yang tidak dapat mati, maka akan digenapi firman yang tertulis: ‘Maut telah ditelan dalam kemenangan’” (1Kor 5:54). Maria diangkat ke surga, dijaga oleh Allah dari kerusakan karena kuburan; seperti Yesus, ia mengalahkan kematian dan diangkat tubuh dan jiwanya ke surga.

Allah memberkati Maria secara luarbiasa karena dia telah “percaya bahwa apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan akan terlaksana” (Luk 1:45). Maria percaya sepenuhnya akan janji-janji Allah meskipun untuk itu dia harus hamil sebelum hari pernikahannya; walaupun dia harus melahirkan anaknya di sebuah gua/kandang hewan di Betlehem karena tidak ada tempat bagi mereka; meskipun tidak diinginkan dan ditolak oleh masyarakat; walaupun harus melarikan diri dengan suaminya dan anaknya yang masih sangat kecil ke Mesir; meskipun dia harus menyaksikan kematian Anaknya di kayu salib akibat keputusan “pengadilan” yang samasekali tidak adil. Selama mengalami pencobaan-pencobaan ini, Maria tetap setia terhadap apa yang telah dikatakan Allah kepadanya. Imannya tidak goyah sementara dia menjadi lebih mengenal secara lebih mendalam lagi kasih Allah baginya dan bagi seluruh umat.

Kita dapat bergembira sepenuh hati karena kepercayaan yang sama, ketaatan yang sama dan pengenalan yang sama akan Allah tersedia bagi kita juga. Dalam Magnificat – nya, Maria mengatakan: “Rahmat-Nya turun-menurun atas orang yang takut akan Dia” (Luk 1:50) – sampai pada hari ini. Dalam kasih-Nya, Allah menolong kita agar mau dan mampu menaruh kepercayaan dan mentaati-Nya dalam menghadapi tuntutan-tuntutan kehidupan kita sehari-hari dan dalam pencobaan-pencobaan yang datang tanpa diharapkan dalam kehidupan kita. Setiap hari Dia ingin datang kepada kita, untuk berbicara kepada kita, untuk menolong kita mengenali dan menerima rahmat-Nya.

Marilah kita berterima kasih penuh syukur kepada Allah karena kita dapat mengenal dan mengalami kasih-Nya secara lebih mendalam setiap hari; bahwa Dia akan selalu berbelas-kasihan kepada kita, selalu menolong kita untuk menaruh kepercayaan kepada-Nya. Semoga apa yang telah dilakukan Allah bagi orang-orang yand ina dan rendah di sepanjang sejarah – termasuk hari ini – membangkitan rasa terima kasih dan sukacita di dalam diri kita. Dan semoga kata-kata Elisabet dapat diterapkan bagi kita juga: “Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan akan terlaksana” (Luk 1:45).

DOA: Bapa surgawi, dalam peristiwa Maria diangkat ke surga, Engkau telah menunjukkan pemenuhan akhir dari segala janji-Mu kepada kami. Semoga kami selalu percaya akan sabda-Mu, merangkul dalam setiap situasi kehidupan baru yang dicurahkan kepada kami melalui kematian Yesus di kayu salib. Semoga kami dapat menaruh kepercayaan kepada belas kasihan-Mu dan mengenal serta mengalami kasih-Mu bagi kami secara lebih mendalam lagi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Pertama (Why 11:19a; 12:1,3-6a,10ab) hari ini, silahkan anda membaca tulisan dengan judul “HARUS DILIHAT DARI PERSPEKTIF SURGAWI (bacaan tanggal 13-8-17), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 17-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-8-16 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 11 Agustus 2017 [Peringatan S. Klara dr Assisi, Perawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        

BEBERAPA CATATAN UNTUK PARA KAKEK-NENEK

BEBERAPA CATATAN UNTUK PARA KAKEK-NENEK

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Yoakim dan S. Anna, Orangtua SP Maria – Selasa,  26 Juli 2017)

 

Dan sekarang kami hendak memuji orang-orang termasyhur, para nenek moyang kita menurut urut-urutannya.

Tetapi yang berikut ini adalah orang kesayangan yang kebajikannya tidak sampai terlupa; semuanya tetap tinggal pada keturunannya sebagai warisan baik yang berasal dari mereka. Keturunannya tetap setia kepada perjanjian-perjanjian, dan anak-anak merekapun demikian pula keadaannya. Keturunan mereka akan tetap tinggal untuk selama-lamanya, dan kemuliaannya tidak akan dihapus. Dengan tenteram jenazah mereka ditanamkan, dan nama mereka hidup terus turun-temurun. Bangsa-bangsa bercerita tentang kebijaksanaannya, dan pujian mereka diwartakan jemaah. (Sir 44:1,10-15) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 132:11,13-14,17-18; Bacaan Injil: Mat 13:16-17

Oleh karena Yoakim dan Anna adalah kakek dan nenek dari Yesus, maka peringatan hari ini menjadi peringatan istimewa bagi para kakek dan nenek juga. Banyak kakek-nenek kita yang merasa prihatin melihat anak-anak dan cucu-cucu mereka tidak mengenal Allah dan tidak pergi ke Gereja. Hal ini merupakan hal serius kalau kita berbicara teristimewa mengenai negara-negara Eropa Barat dan negara-negara lain yang tergolong maju yang selama berabad-abad dikenal sebagai negara-negara Kristiani. Namun hal ini terjadi di mana-mana, bahkan juga di negeri kita.

Sesungguhnya Allah ingin mendukung para kakek-nenek yang merasa prihatin tersebut. Lewat nabi Yesaya TUHAN (YHWH) berjanji: “Adapun Aku, inilah perjanjian-Ku dengan mereka, firman TUHAN: Roh-Ku yang menghinggapi engkau dan firman-Ku yang Kutaruh dalam mulutmu tidak akan meninggalkan mulutmu dan mulut keturunanmu dan mulut keturunan mereka, dari sekarang sampai selama-lamanya, firman TUHAN” (Yes 59:21).

Allah juga tidak ingin mempermalukan para kakek-nenek mempermalukan diri mereka sendiri karena anak-anak dan cucu-cucu mereka kurang beriman. Adalah kenyataan yang tidak dapat dipungkiri, bahwa karena diciptakan dengan kehendak bebas, maka dapat saja terjadi bahwa orangtua yang baik pun mempunyai anak yang buruk. Walaupun demikian, mereka hendaknya mengakui bahwa  mereka telah membuat masalah-masalah menjadi lebih buruk karena dosa-dosa mereka sendiri. Para kakek-nenek perlu bertobat dan dengan demikian mereka mengeluarkan balok dari mata mereka sendiri (lihat Mat 7:5). Dengan begitu mereka akan mampu melihat untuk dapat mengeluarkan serpihan kayu dari mata anak-anak mereka.

Para kakek-nenek hendaknya memusatkan perhatian mereka untuk mengarahkan anak-anak mereka menuju pertobatan daripada kebanyakan lalu lebih memperhatikan cucu-cucu mereka, karena cucu-cucu itu lebih terbuka menerima kakek-nenek mereka. Hal terbaik yang dapat dilakukan para kakek-nenek bagi cucu-cucu mereka adalah bukannya dengan mengurangi tanggungjawab orangtua mereka, melainkan dengan dukungan doa memberi tantangan terhadap para orangtua cucu-cucu mereka agar mereka berbalik kepada Yesus Kristus dan memberi tanggungjawab mereka untuk mendidik anak-anak mereka (artinya cucu-cucu kakek-nenek tersebut). Yesus Kristus adalah Harapan kita.

DOA: Bapa surgawi, pada hari peringatan S. Yoakim dan S. Anna ini, kami mendoakan agar para kakek-nenek menjadi kakek-nenek yang agung dengan menerima rahmat-Mu guna menjadi para orangtua yang agung. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan hari ini (Sir 44:1,10-15), bacalah tulisan berjudul “KEDUA ORANGTUA SP MARIA” (bacaan tanggal 26-7-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-07 BACAAN HARIAN JULI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 26-7-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 24 Juli 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS  

RENCANA INDAH ALLAH BAGI KITA MASING-MASING

RENCANA INDAH ALLAH BAGI KITA MASING-MASING

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA KELAHIRAN S. YOHANES PEMBAPTIS – Sabtu,  24 Juni 2017) 

Kemudian tibalah waktunya bagi Elisabet untuk bersalin dan ia pun melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia. Lalu datanglah mereka pada hari yang ke delapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapaknya, tetapi ibunya berkata, “Jangan, ia harus dinamai Yohanes.” Kata mereka kepadanya, “Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian.” Lalu mereka memberi isyarat kepada bapaknya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu. Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini, “Namanya adalah Yohanes.” Mereka pun heran semuanya. Seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah.

Lalu ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah pembicaraan di seluruh pegunungan Yudea. Semua orang yang mendengarnya, merenungkannya dalam hati dan berkata, “Menjadi apakah anak ini nanti?” Sebab tangan Tuhan menyertai dia.

Adapun anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya. Ia tinggal di padang gurun sampai hari ketika ia harus menampakkan diri kepada Israel. (Luk 1:57-66,80) 

Bacaan pertama: Yes 49:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 139:1-3,13-15; Bacaan Kedua: Kis 13:22-26

Santo Yohanes Pembaptis adalah yang terbesar dari semua nabi sebelum Yesus. Orang ini berkonfrontasi dengan para pemimpin agama Yahudi, menghibur para pemungut cukai/pajak dan juga para WTS. Ia menjalani suatu kehidupan yang diabdikan kepada doa, puasa dan mati-raga. Namun yang lebih penting lagi adalah, bahwa Yohanes Pembaptis ini adalah seorang bentara yang mengumumkan kedatangan sang Mesias. Yohanes berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya” (Yoh 3:28). Ia bahkan menamakan dirinya “sahabat mempelai laki-laki” (Yoh 3:29).

Apakah kita (anda dan saya) percaya bahwa Allah juga mempunyai sebuah rencana indah bagi kita masing-masing seperti yang dibuatnya bagi Yohanes Pembaptis? Memang sulit untuk dipercaya bahwa bahkan sebelum kita melihat terang suatu hari yang baru, Allah telah menentukan suatu jalan atau cara bagi kita untuk turut memajukan Kerajaan-Nya. Barangkali kita berpikir bahwa diri kita tidak berarti, tidak signifikan ……, namun ingatlah bahwa itu bukanlah cara Allah memandang seorang pribadi. Bagaimana kiranya kalau doa-doa syafaat kita merupakan kekuatan di belakang suatu karya Allah di bagian lain dari dunia ini? Bagaimana kiranya apabila kita dipanggil untuk membesarkan anak-anak untuk menjadi suara-suara profetis di dalam Gereja atau di tengah dunia?

Jadi, kita semua harus belajar untuk memandang segala sesuatu dari sudut pandang Allah sendiri. Lihatlah betapa tidak jelasnya kehidupan Yohanes Pembaptis. Sampai saat ia menampakkan dirinya kepada publik di Israel, Yohanes Pembaptis hidup dalam kesunyian padang gurun. Kita pun bisa saja sedang menunggu di padang gurun, akan tetapi kita tidak boleh berputus asa. Sebaliknya, kita harus menghargai waktu ketersembunyian kita sebagai suatu kesempatan bagi Allah untuk mengajar kita – suatu waktu bagi-Nya untuk mengembangkan dalam diri kita masing-masing karunia-karunia untuk melakukan syafaat, evangelisasi, bahkan penyembuhan. Pada saat-Nya yang tepat, Allah akan mencapai hati orang-orang yang tepat dan menyentuh hati-hati itu melalui diri kita.

Kebanyakan dari kita adalah “anak-anak panah yang tersembunyi”. Kita tidak boleh berhenti memohon kepada Tuhan untuk mencapai tujuan-tujuan-Nya melalui diri kita. Bayangkanlah bagaimana kelihatannya Gereja apabila kita memperkenankan Allah bekerja dalam diri kita sebagaimana yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis. Seperti begitu banyaknya orang datang kepada Yohanes Pembaptis untuk dibaptis-tobat, maka kesaksian kita, doa kita, pendekatan kita yang dipenuhi kasih-Nya dapat melembutkan dan mengubah hati banyak orang. Yang penting kita camkan adalah, bahwa janganlah kita pernah menganggap rendah Allah dan kuat-kuasa Roh-Nya yang berdiam dalam diri kita.

DOA: Bapa surgawi, biarlah rencana-Mu bagi hidupku sungguh terwujud. Tunjukkanlah kepadaku ke mana Engkau ingin membawaku dan mengajarku untuk menghargai waktu ketersembunyianku. Bentuklah diriku, ya Tuhan Allah, dan gunakanlah aku sebagai alat-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:57-66,80), bacalah tulisan yang berjudul “KITA TIDAK PERNAH BOLEH KEHILANGAN PENGHARAPAN” (bacaan tanggal 24-6-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 BACAAN HARIAN JUNI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 24-6-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 21 Juni 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SATU ABAD FATIMA [13 MEI 1917 – 13 MEI 2017]

SATU ABAD FATIMA [13 Mei 1917 – 13 Mei 2017]

Pada hari ini Gereja memperingati penampakan Bunda Maria 100 tahun lalu, yaitu pada tahun 1917 kepada tiga orang anak desa Fatima, Portugal. Nama tiga orang anak itu adalah Lucia dos Santos, dan dua orang sepupunya: Francisco Marto dan Jacinta. Penampakannya sendiri terjadi di dekat Fatima, di dataran yang bernama Cova da Iria.

Saya masih ingat ketika masih sekolah di SR Budi Mulia, Jalan Mangga Besar di tahun 50-an, pada suatu malam banyak sekali anak-anak yang menonton film hitam putih tentang peristiwa Fatima ini di halaman terbuka Gereja Mangga Besar (S. Petrus dan Paulus) yang masih bangunan darurat – dengan menggunakan layar tancap. Sebuah film yang bagus, mengasyikkan dan sungguh membekas.

Selama penampakan-penampakannya, Bunda Maria memberi instruksi kepada anak-anak itu untuk melaksanakan prosesi guna menghormati Maria yang dikandung tanpa noda dan untuk mempromosikan doa Rosario agar sering-sering dilakukan, berdoa untuk pertobatan Rusia, dan beberapa instruksi lainnya. Pada penampakannya yang terakhir, tanggal 13 Oktober, Maria menyatakan dirinya sebagai “Ratu Rosario”: di hadapan 50.000 – 70.000 orang yang hadir, dan sebuah mukjizat yang telah dijanjikannya terjadi, yaitu suatu gejala alam yang dijuluki sebagai matahari yang berputar-putar.

Bunda Maria berjanji, bahwa jika permintaan-permintaannya diikuti, maka Rusia akan bertobat, sebuah peperangan dahsyat akan dapat dihindari, banyak jiwa akan diselamatkan, dan perdamaian dunia dapat tercapai. Francisco meninggal dunia di tahun 1919, disusul oleh Jacinta di tahun 1920. Lucia, yang belakangan masuk Ordo Karmelites, menerima penampakan yang ke tujuh kalinya pada tanggal 18 Juni 1921.

Setelah penyelidikan selama tujuh tahun, pada tahun 1930, para uskup Portugal mendeklarasikan bahwa penampakan-penampakan Bunda Maria di Fatima sebagai otentik. Persetujuan diberikan atas devosi kepada S.P. Maria dari Fatima dengan judul Ratu Rosario.

Sekarang pertanyaannya, “Mengapa Maria justru menampakkan dirinya di Fatima?” Pada awal abad ke-20, Fatima, sebuah desa kecil di negeri Portugal, praktis tidak dikenal oleh dunia. Mengapa? Karena desa itu tidak memiliki signifikansi apa pun bagi dunia luar. Bahkkan desa ini pun tidak ada dalam peta yang biasa digunakan oleh masyarakat Portugis sendiri. Fatima terletak di daerah pegunungan yang bernama Serra de Aire, sebuah desa penuh damai seakan tak tersentuh oleh dunia luar yang hiruk pikuk. Nama Fatima sendiri adalah kenangan akan masa lampau di mana bangsa Moor (Islam) masih berkuasa di negeri itu.

Pada hari ini, apa yang dikatakan di atas semuanya telah berubah. Pada hari ini Fatima tidak mengenal perbatasan. Orang-orang percaya dari seluruh dunia berlutut dan bersembah sujud di sana. Kemasyhurannya dan kemuliaannya dipublikasikan dalam hampir seluruh bahasa nasional yang ada di dunia. Mengapa hal ini sampai terjadi perubahan yang begitu besar? Karena di sana pada tahun 1917, S.P. Maria tak bernoda (Maria Imakulata), Ratu Surga, datang secara pribadi ke tempat terpencil yang miskin ini untuk berbicara dengan manusia yang murni, jiwa-jiwa pilihan, dengan kata-kata penuh afeksi, penuh simpati, memberi nasihat-nasihat dan janji, bahkan juga peringatan. Namun pada dasarnya Bunda Maria mengunjungi Fatima sebagai seorang bentara damai dan kasih.

Gereja di Fatima hanyalah sebuah gereja paroki yang kecil, dan sejak tahun 1920 berada di bawah Keuskupan Leiria yang sangat miskin, kurang lebih 75 mil sebelah utara Lisboa (ibu kota Portugal). Kalau diperhatikan dengan baik, Fatima yang berlokasi di provinsi Estremadura, berada hampir di titik pusat Portugal. Dari semua provinsi di Portugal, provinsi Estremadura menyajikan topografi yang paling luarbiasa. Landskapnya sangat tidak beraturan. Setiap aspek wilayah ini mempunyai karakteristik yang khusus, yang jelas kelihatan berpengaruh atas temperamen dan adat-kebiasaan penduduknya.

Orang yang berangkat dari Lisboa ke arah utara dapat menikmati keindahan panorama sampai ke Alcobaca. Lalu, membentanglah lembah Batalha dan Leiria yang indah. Namun, begitu orang itu memasuki jalan yang langsung menuju Fatima, pemandangan berubah secara drastis menjadi kebalikan dari yang sebelumnya. Tanahnya menjadi semakin tidak rata, lebih gersang dan pemandangan pun tak lagi penuh warna-warni. Serra da Aire mulai terlihat. Pemandangan yang suram, tanah kering dan tidak produktif. Kawanan domba dapat terlihat di sana-sini, namun tak ada banyak tetumbuhan, kecuali kelompok-kelompok tipis pohon ek dan pohon zaitun di sepanjang punggung bukit, hal mana membantu meringankan monotomi yang menekan. Di lereng gunung, di tempat tinggi di Serra, terletak desa kecil yang bernama Fatima diliputi suasana kesendirian yang mendalam, seakan tempat bagi orang-orang yang terbuang. Di dekat situ ada dataran bebatuan yang dikenal sebagai Cova da Iria. Tempat ini dikuduskan oleh kehadiran Ratu Surga dan dipilih oleh Penyelenggaraan Ilahi untuk memancarkan cinta kasih dan berkat ke segala penjuru dunia sebagai balasan terhadap devosi kepada Maria Imakulata.

Penduduk pegunungan yang di tinggal di Fatima berbicara sedikit, terasa dingin tanpa hati. Akan tetapi seluruh hidup mereka berpusat pada tiga cinta kasih yang besar: cinta kasih kepada Allah, keluarga, pekerjaan kasar (bukan pekerjaan di belakang meja). Rumah-rumah mereka kecil dan kasar dengan jendela-jendela yang rendah dan sempit/kecil. Dapur dalam rumah mereka sederhana yang tidak berisikan apa-apa kecuali sebuah meja kayu, tempat untuk menaruh peralatan masak dan perapian. Ruang keluarga dan ruang tidur juga sederhana. Di sebelah luar, tetapi masih berhubungan dengan rumah adalah tempat untuk kawanan domba, barangkali ada juga sebatang pohon ara atau pohon zaitun atau sejumah pohon ek di dekat rumah.

Kehidupan penduduk Fatima itu keras. Mereka bekerja di gunung atau di ladang dengan penghasilan minim. Pakaian mereka layaknya orang miskin, kecuali pada hari pesta di mana mereka memakai topi, jas pendek dengan bordiran, dan celana panjang ketat di pinggang namun semakin lebar ke bawah. Para perempuan bertugas mengatur rumah. Mereka menyiapkan makanan, memintal dan melakukan tugas-tugas rumah tangga dan memperhatikan dengan serius pertumbuhan fisik maupun spiritual dari anak-anak mereka.

Pekerjaan menggembalakan domba dipegang oleh anak-anak. Mereka meninggalkan rumah pagi-pagi sekali sambil membawa makanan siang mereka. Mereka tak akan kembali ke rumah sampai sore ketika lonceng memanggil mereka untuk berdoa Angelus (Malaikat Tuhan). Sedikit dari mereka yang pernah belajar membaca dan menulis. “Sekolah” mereka hanyalah terdiri dari pengetahuan elementer dan kebenaran-kebenaran menyangkut agama, dan keterampilan-keterampilan rumah tanggal yang diturunkan oleh sang ibu rumah tangga.

Hanya untuk waktu singkat di malam hari, setelah makan malam dan pekerjaan yang melelahkan sepanjang hari, semua anggota keluarga menikmati keintiman hidup berkeluarga. Mengapa? Karena mereka harus  tidur cepat agar dapat cukup beristirahat dan disegarkan kembali untuk bekerja di esok hari. Ada adat-kebiasaan umum bahwa sebelum tidur seluruh keluarga bersama-sama berdoa Rosario. Sang ayah memimpin doa dengan perlahan-lahan dan dengan sikap penuh hormat, sementara sang ibu dan anak menanggapi dengan semangat penuh pengabdian yang sama. Doa Rosaria disusul dengan doa-doa memohon berkat Allah atas keluarga. Akhirnya didoakan “De Profundis” (Mzm 130). Kehidupan seperti ini, devosi yang bersifat konstan seperti ini, kemurnian dan kesederhanaan hidup inilah yang kiranya menarik ke bawah afeksi dari Maria, Ratu Rosario dari atas sana.

Bagian dari bumi yang kecil ini, bagian dari Portugal yang tidak signifikan ini, dipisahkan dan dipilih oleh Hikmat ilahi yang tak mungkin kita mengerti berdasarkan akal budi semata, seperti Israel di masa lampau, guna membantu – sebagai sebuah instrumen yang kuat – untuk melanjutkan penebusan Allah dan pengudusan-Nya atas dunia melalui Maria, ibunda-Nya, yang dikandung tanpa noda dosa.

Kardinal Emanuel Goncalves Cerejeira, Patriarkh dari Lisboa pada tahun 1931 mengatakan: “Ratu Surga turun ke tanah yang adalah miliknya sejak awal, suatu negeri yang dikonsekrasikan kepadanya dengan kelahiran bangsa dan dinamakan Terra de Santa Maria, tanah dari Santa Maria.” Bunda Allah bersedia menampakkan dirinya dengan kelemahlembutan yang luarbiasa kepada umat yang cinta pada tugas mereka ini. Bunda Maria berhasrat untuk menempatkan orang-orang seperti itu ke bawah perlindungannya yang penuh kuat-kuasa. Bunda Maria memang senantiasa dekat dengan orang-orang yang tidak pernah lelah menghormatinya dalam doa Rosario yang indah itu.

Bunda Maria berketetapan hati untuk mendirikan takhtanya di Fatima, di dalam teritori yang telah menjadi miliknya sejak berabad-abad. Dari takhta penuh kemuliaan tersebut ia ingin mengirimkan sebuah pesan universal: bahwa tidak hanya Portugal, melainkan semua bangsa harus didekasikan kepadanya; bahwa dia akan mendengarkan seruan-seruan dari dunia yang bertobat dan sudah lelah dengan keributan dan memberikan perdamaian bagi bangsa-bangsa yang saling berperang – suatu perdamaian besar dan tahan lama setelah penghukuman dijatuhkan atas orang karena kekerasan hatinya.

Akan tetapi Bunda Maria juga mengingatkan akan bencana-bencana lebih besar yang  akan menimpa dunia apabila umat manusia terus saja sibuk dengan sensualitas yang semakin merosot, dan juga “nasib” buruk dari para pendosa yang pantas diadili oleh sang Hakim kekal.

Akhirnya, Bunda Maria datang untuk memberitahukan dunia bahwa hatinya yang penuh cintakasih dan tak bernoda senantiasa merupakan tempat perlindungan yang aman bagi jiwa-jiwa yang tersobek-sobek oleh goncangan-goncangan dan kesedihan, dan bahwa dia tidak pernah tidak akan menolong orang-orang yang mencari pertolongannya dengan memanggilnya sebagai “Santa Perawan dari Fatima”, “Hati Maria yang tak bernoda”, dan “Ratu Rosario.”

Sumber: (1) Alphonse M. Cappa, S.S.P, (terjemahan ke dalam bahasa Inggris oleh William H. Lyden), “FATIMA – Cove of Wonders”, Boston, Ma.: St. Paul Editions, 1979, hal. 18-23; (2) Matthew Bunson (Illustrated by Margaret Bunson; foreword by: Archbishop Oscar H. Lipscomb), “Our Sunday Visitor’s Encyclopedia of Catholic History”, Huntington, Indiana: Ou Sunday Visitor, Inc., 1955, hal. 312-313.

(Tulisan ini bersumberkan tulisan saya pada tahun 2016 yang berjudul “FATIMA” dengan beberapa perubahan kecil.)

Jakarta, 13 Mei 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SALAM KEPADA SANTA PERAWAN MARIA

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus, 

Untuk menyambut BULAN MARIA – MEI 2017, marilah kita berdoa bersama S. Fransiskus dari Assisi: 

SALAM KEPADA SANTA PERAWAN MARIA 

Salam, Tuan Puteri, Ratu Suci,

Santa Bunda Allah, Maria;

Engkau adalah perawan yang dijadikan Gereja,

dipilih oleh Bapa Yang Mahakudus di surga, dan

dikuduskan oleh Dia

bersama dengan Putera terkasih-Nya Yang Mahakudus

serta Roh Kudus Penghibur.

Dalam dirimu dahulu dan sekarang

Ada segala kepenuhan rahmat dan segalanya yang baik.

Salam, istana-Nya;

salam, kemah-Nya;

salam, rumah-Nya.

Salam, pakaian-Nya;

salam, hamba-Nya;

salam, bunda-Nya,

serta kamu semua, keutamaan yang suci,

yang oleh rahmat dan penerangan Roh Kudus

dicurahkan ke dalam hati kaum beriman,

untuk membuat mereka yang tidak setia

menjadi setia kepada Allah.  

Catatan: 

  1. Ungkapan “perawan yang dijadikan Gereja” adalah ungkapan yang berakar dalam teologi patristik dan awal abad pertengahan, arus tradisi yang mempengaruhi Fransiskus. Sesudahnya, ungkapan ini jarang dipakai, dan lebih dikenal sebutan “perawan selamanya” (virgo perpetua). Sebutan tentang Maria sebagai “perawan yang dijadikan Gereja” (= virgo ecclesia facta) harus diartikan dalam hubungan dengan ayat berikutnya. 
  1. Maria pastilah orang pertama yang dikuduskan menjadi Gereja oleh Tiga Pribadi Ilahi. Hal itu digarisbawahi oleh ungkapan-ungkapan yang menyusul: istana-Nya, kemah-Nya, rumah-Nya. 
  1. Keutaman-keutamaan diberi salam bersama Maria karena itulah anugerah Roh Kudus yang menghiasi Maria, sehingga menjadi tempat kediaman Allah Tritunggal karena iman dan kesetiaan-Nya. Juga orang beriman dicurahi keutamaan yang sama, agar mereka percaya dan setia kepada Allah seperti Maria, dan dengan demikian juga dalam 1SurBerim 1:10 dan 13; 2 SurBerim 48,53,56. 

(Sumber: KARYA-KARYA FRANSISKUS DARI ASISI, hal. 284-285.)

Cilandak, 1 Mei 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KABAR SUKACITA

KABAR SUKACITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA KABAR SUKACITA – Sabtu, 25 Maret 2017) 

Dalam bulan yang keenam malaikat Gabriel disuruh Allah pergi ke sebuah kota yang bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu datang kepada Maria, ia berkata, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”  Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya, “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh anugerah di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapak leluhur-Nya, dan Ia akan memerintah atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.”  Kata Maria kepada malaikat itu, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.”  Kata Maria, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia. (Luk 1:26-38) 

Bacaan Pertama: Yes 7:10-14;8:10; Mazmur Tanggapan: Mzm 40:7-11; Bacaan Kedua: Ibr 10:4-10 

Pada saat penciptaan, “Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air” (Kej 1:2). Pada saat Inkarnasi, Roh Allah yang sama turun ke atas Maria, dan “kuasa Allah Yang Mahatinggi” menaungi dirinya (lihat Luk 1:35). Kerinduan setiap hati manusia yang berkehendak baik terjawablah pada saat Maria memberikan fiat-nya terhadap kata-kata malaikat agung Gabriel: “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38). Akhirnya, Allah berdiam di tengah umat manusia.

Raja Daud pada suatu ketika berpikir bahwa tangan-tangan manusia dapat membangun sebuah rumah bagi Allah (2Sam 7:1-5), dan Allah menggunakan “niat agung namun salah arah” dari Daud itu dengan memberi pelajaran yang bersisi-dua. Pertama-tama Allah “menolak” tawaran Daud dengan mempertahankan kedaulatan-Nya dalam menentukan bagaimana Dia akan memerintah Israel. Namun pada saat yang sama Allah juga memberikan sebuah janji indah kepada Daud: “Untuk selama-lamanya Aku hendak menegakkan anak cucumu, dan membangun takhtamu turun-temurun” (Mzm 89:5). Sabda Allah terpenuhi sebagian pada saat Salomo membangun rumah TUHAN (YHWH) dan kemuliaan-Nya memenuhi rumah YHWH itu (1Raj 8:10-11). Akan tetapi, pemenuhan total datang ketika Imanuel (Allah beserta kita) masuk ke dalam dunia melalui seorang perawan Nazaret yang bernama Maria.

Maria secara unik dipilih untuk menjadi “hamba Tuhan” (Luk 1:38), dan malaikat agung Gabriel benar ketika menyapa Maria dengan kata kecharitomene – engkau yang dikaruniai – penuh rahmat (Luk 1:28). Kita dapat ikut ambil bagian dalam rahmat tersebut selagi kita membuka hati kita bagi Roh Kudus-Nya, mengakui dosa-dosa kita, dan mohon agar Roh Kudus membuat INJIL menjadi hidup dalam diri kita.

Begitu banyak hal yang dapat kita renungkan selama masa Prapaskah yang penuh rahmat ini dan teristimewa pada hari ini – HARI RAYA KABAR SUKACITA – mengingat begitu banyak dimensi indah dari misteri kasih Allah yang tersedia bagi kita. Nah, bacaan Injil Lukas tentang keajaiban Inkarnasi Tuhan datang justru di tengah-tengah berbagai kegiatan kita dalam mengintensifkan hidup doa, pemberian sedekah dan puasa serta pantang kita … di tengah-tengah permenungan kita tentang sengsara, wafat Yesus sebelum kebangkitan-Nya di hari Paskah yang menyusul, baik yang dilakukan secara pribadi maupun secara komunal dalam pertemuan-pertemuan lingkungan, paroki dll.

Sekarang, masalahnya: Maukah kita menyediakan cukup waktu hening di hadapan Allah sebagaimana telah dicontohkan oleh Santa Perawan Maria? Beranikah kita memilah-milah antara kegiatan persiapan Paskah spiritual dan kegiatan persiapan “Paskah” yang murni merupakan adat-kebiasaan/budaya, misalnya menyiapkan telur-telur untuk dihias dlsb.?

Semoga kita menerima rahmat Allah secara melimpah pada hari-hari menjelang Paskah ini. Hal ini tidak mudah terwujud, bahkan berada di luar kekuatan kita sendiri, namun bagi Allah tidak ada yang mustahil (lihat Luk 1:37). Ia adalah “satu-satunya Allah yang penuh hikmat, yang berkuasa menguatkan kamu …… sesuai dengan penyingkapan rahasia, yang tersembunyi berabad-abad lamanya, tetapi yang sekarang telah dinyatakan” (Rm 16:25-27).

DOA: Bapa surgawi, oleh Roh Kudus-Mu, jagalah diriku agar tidak menaruh imanku di atas pasir perasaan-perasaanku, melainkan ajarlah aku untuk percaya pada kenyataan-kenyataan yang kokoh seperti batu karang perihal kebaikan-Mu dan kasih-Mu bagiku. Bapa, perkenankanlah aku bersama Bunda Maria berkata: “Bagi Allah tidak ada yang mustahil.” Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:26-38), bacalah tulisan yang berjudul “MARIA DIBERI KABAR OLEH MALAIKAT GABRIEL” (bacaan tangggal 25-3-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-03 BACAAN HARIAN MARET 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 25-3-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 22 Maret 2017  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS  

MENERIMA SEMUA UMAT ALLAH KE DALAM HATI KITA

MENERIMA SEMUA UMAT ALLAH KE DALAM HATI KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Fransiskus dari Sales, Uskup & Pujangga Gereja – Selasa, 24 Januari 2017)

Hari Ketujuh Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani 

yesus-mengajar-1000Lalu datanglah ibu dan saudara-saudara Yesus. Sementara mereka berdiri di luar, mereka menyuruh orang memanggil Dia. Ada orang banyak duduk mengelilingi Dia, mereka berkata kepada-Nya, “Lihat, ibu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau.”  Jawab Yesus kepada mereka, “Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?”  Ia melihat kepada orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya itu dan berkata, “Inilah ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Siapa saja yang melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku perempuan dan ibu-Ku.”  (Mrk 3:31-35)

Bacaan Pertama: Ibr 10:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 40:2,4,7-8,10-11 

Barangkali keprihatinannya atas jadual kerja yang sedemikian padat dari Yesus dan efek-efek semua itu atas kesehatan-Nya, dan kekhawatirannya melihat semakin meningkatnya oposisi terhadap karya pelayanan Anaknya, telah mendesak Maria untuk menemukan Yesus, di tengah-tengah desas-desus di kalangan teman bahwa Dia mungkin sudah tidak waras lagi (Mrk 3:20-21). Mungkin Maria berpikir bahwa sudah waktunyalah bagi keluarga untuk ikut terlibat dan meluruskan kembali apa yang berkembang selama itu. Bagaimana pun juga, bukankah dia yang membesarkan Anaknya itu dan tidak pernah berhenti menjadi ibunda-Nya?

Pada saat Maria sampai ke tempat di mana Yesus sedang mengajar, ia memberi pesan melalui orang-orang yang sedang berkerumun bahwa dia dan beberapa anggota keluarganya sedang mencari Dia. Setelah mendengar pesan tersebut Yesus bertanya: “Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?” Kemudian Ia menjawab pertanyaan-Nya sendiri sambil melihat kepada orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya: “Inilah ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Siapa saja yang melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku perempuan dan ibu-Ku” (Mrk 3:33-35). Kata-kata Yesus ini, yang disampaikan kembali melalui kerumunan orang banyak sebenarnya mengingatkan Maria dengan lemah lembut bahwa ruang lingkup pelayanan-Nya dan nasihat penuh kasih kepada-Nya untuk meluaskan pelayanannya agar merangkul setiap orang yang akan dimenangkan Yesus guna menerima Injil-Nya.

Yesus samasekali tidak merasa kesal dengan Maria seperti suka disinyalir oleh sementara juru tafsir. Yesus mengingatkan Maria akan karya pelayanan-Nya dan karya pelayanannya. Selagi Dia berkeliling di Israel dan membawa orang-orang ke dalam Kerajaan Allah, Yesus memberikan lebih banyak orang lagi kepada Maria guna mendapat perhatiannya sebagai seorang ibu. Pada dasarnya, Yesus berkata: “Siapa keluargaku? Semua murid-Ku! Ibu, dapatkah engkau, dengan kasih-sayang seorang ibu, memperhatikan orang-orang ini – yang terluka, berdosa, dan terbuang dari masyarakat dll. – dan menemukan ruangan dalam hatimu bagi mereka? Dapatkah kasihmu seluas dan sedalam seperti kasih-Ku?

Maria perlu bertumbuh dalam pemahamannya tentang panggilan hidupnya. Walaupun begitu pikiran dan hati Maria yang jernih memampukan dirinya untuk memikul salib. Ketika Maria menghadapi tantangan, dengan rendah hati dia menerima kehendak Allah dan memohon rahmat-Nya agar kehendak-Nya itu dapat terpenuhi.

Saudari dan Saudara yang terkasih,  sampai berapa serius kemauan kita untuk merangkul keluarga Allah yang besar ini sebagai keluarga kita sendiri? Apakah kita membatasi diri kita sendiri pada orang-orang dengan ikatan kekeluargaan karena hubungan darah, dan juga para sahabat kita saja? Apakah kita terbuka bagi pengembangan relasi dengan setiap orang yang ingin mengikut Yesus? Marilah kita mengikuti contoh Maria dan menerima semua umat Allah ke dalam hati kita.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah membuat diriku sebagai seorang anggota keluarga-Mu. Terima kasih juga karena Engkau tidak malu untuk menjadi saudara tuaku. Tuhan, tariklah aku dan semua murid-Mu yang lain untuk berada di sekeliling diri-Mu dan ajarlah kami untuk mengasihi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 3:31-35 , bacalah tulisan yang berjudul “MELAKUKAN KEHENDAK ALLAH” (bacaan tanggal 24-1-17), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; 17-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 26-1-16 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 21 Januari 2017 [Hari Keempat  Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS