Posts from the ‘BUNDA MARIA’ Category

SIMEON DAN HANA

SIMEON DAN HANA: DUA ORANG ANAWIM

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah – Minggu, 2 Februari 2020)

Lalu ketika tiba waktu penyucian menurut hukum Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan, “Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah”, dan untuk mempersembahkan kurban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati.

Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel, dan Roh Kudus ada di atasnya. Kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia Yang Diurapi Tuhan. Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orangtua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, ia menyambut Anak itu dan menggendong-Nya sambil memuji Allah, katanya, “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang daripada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menyatakan kehendak-Mu bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.”

Bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala sesuatu yang dikatakan tentang Dia. Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu, “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan – dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri – supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.”

Lagi pula di situ ada Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya bersama suaminya, lalu ia menjadi janda sampai ia berumur delapan puluh empat tahun sekarang. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa. Pada saat itu juga datanglah ia ke situ dan mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada  semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem.

Setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediaman mereka, yaitu kota Nazaret di Galilea. Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya. (Luk 2:22-40) 

Bacaan Pertama: Mal 3:1-4 atau Ibr 2:14-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 24:7-10 

“Dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya.” (Mal 3:1)

Apakah sebenarnya yang diharapkan oleh Simeon dan Hana ketika mereka berdoa dan berpuasa di  Bait Allah dalam rangka kedatangan sang Mesias? Terkejutkah mereka ketika menyaksikan bahwa jawaban atas doa-doa mereka hanyalah seorang Anak kecil, belum berdaya dan masih sangat tergantung pada orangtua-Nya yang tergolong “wong cilik”? Dapatkah Anak yang masih kecil ini sungguh menjadi “Raja Kemuliaan” sebagaimana dinyatakan oleh sang pemazmur. “TUHAN (YHWH), jaya dan perkasa, YHWH, perkasa dalam peperangan……. YHWH semesta alam” (Mzm 24:7-10). Anak yang kecil ini adalah “Firman yang menjadi manusia” (Yoh 1:14), Allah yang merendahkan diri-Nya. Penulis “Surat kepada Orang Ibrani” mengatakan: “Dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa umat” (Ibr 2:17).

Dalam Gereja-gereja Timur, “Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah” dinamakan “Pesta Perjumpaan”. Istilah “perjumpaan” mengindikasikan adanya unsur surprise, seperti kemunculan sang Mesias secara mendadak di Bait Allah (lihat Mal 3:1). Sepanjang hidup mereka. Simeon dan Hana telah mempersiapkan diri mereka masing-masing untuk perjumpaan ini, walaupun mereka sama sekali tidak tahu kapan atau bagaimana perjumpaan ini akan terjadi. Karena doa-doa mereka dan juga perhatian penuh mereka kepada gerak-gerik Roh Kudus, dua orang “anawim” ini dimampukan melihat keagungan Allah dalam diri Anak kecil Maria. Dipenuhi rasa syukur, Simeon “menyambut Anak itu dan menggendong-Nya sambil memuji Allah” (Luk 2:28).  Nanyian pujian (kidung) ini terus terdengar tanpa henti di segenap penjuru dunia dengan berputarnya bumi, ketika umat Allah mendoakan “Ibadat Penutup” setiap malamnya.

Betapa terberkatilah kita bila menyadari, bahwa Tuhan yang bangkit telah datang untuk berdiam dalam bait-Nya. Dalam Ekaristi, dalam rupa roti dan air anggur, Yesus datang untuk menemui kita. Dalam baptisan, Ia telah bertempat tinggal dalam bait/kenisah hati kita juga. Oleh pencurahan  darah-Nya dan Roh-Nya, Dia telah memurnikan kita dan membebaskan kita dari maut (Mal 3:2-3).

Seperti Simeon dan Hana, marilah kita mempersiapkan diri untuk perjumpaan kita dengan Tuhan. Kita dapat saja menjadi terkejut berjumpa dengan-Nya dalam diri orang-orang di sekeliling kita, dalam diri orang-orang sakit dan yang berada dalam sakratul maut, dalam diri “wong cilik” pada umumnya.

Yesus selalu menanti-nantikan kita dalam bait-Nya, dalam Ekaristi; Dia menantikan kita merangkul-Nya dan menempatkan-Nya dekat hati kita. Kasih-Nya – yang lebih kuat ketimbang dosa kita yang mana pun – akan memurnikan diri kita. Kemudian, seperti Simeon juga, diri kita akan dipenuhi dengan damai-sejahtera-Nya (Luk 2:29). Seperti Hana, kita pun akan dimampukan untuk “mengucap syukur kepada Allah” (Luk 2:38).

DOA: Bapa surgawi, terima kasih kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah mengaruniakan Putera-Mu sendiri ke tengah-tengah dunia yang terpecah-belah dan menyedihkan hati. Dengan kedatangan-Nya kami pun menerima sukacita, damai-sejahtera, dan penghiburan. Semoga setiap orang akhirnya menerima kenyamanan lahiriah maupun batiniah, karena mengenal Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 2:22-40), bacalah tulisan dengan judul “PERISTIWA YESUS DIPERSEMBAHKAN DI BAIT ALLAH” (bacaan tanggal 2-2-20), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 2-2-19 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  30 Januari 2020 [Peringatan Wajib S. Yasinta Mareskoti, Perawan OFS] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MARIA TETAP MENGUNDANG KITA SEMUA UNTUK MENJADI SEPERTI DIRINYA

MARIA TETAP MENGUNDANG KITA SEMUA UNTUK MENJADI SEPERTI DIRINYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA SP MARIA BUNDA ALLAH, Hari Oktaf Natal –Selasa, 1 Januari 2020)

Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan. Ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. Semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka. Tetapi Maria menyimpan segala perkataan itu di dalam hatinya dan merenungkannya. Kemudian kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka’ Ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya (Luk 2: 16-21).

Bacaan Pertama:  Bil 6:22-27; Mazmur Tanggapan: Mzm 67:2-3, 5-6,8; Bacaan Kedua: Gal 4:4-7

“Kiranya bangsa-bangsa bersyukur kepada-Mu, ya Allah, kiranya bangsa-bangsa semuanya bersyukur kepada-Mu.” (Mzm 67:6)

Sementara masa Natal berjalan terus, Roh Kudus mengundang kita untuk merenungkan peristiwa-peristiwa di sekitar kelahiran Yesus.  Pada hari pertama tahun yang baru ini, Gereja merayakan HARI RAYA SP MARIA BUNDA ALLAH.  “Bunda Allah” (THEOTOKOS = pembawa Allah) adalah gelar yang diberikan kepada Maria oleh para Bapak Konsili Efesus di tahun 431. Para Bapak Konsili Efesus menyadari bahwa dengan memberi Maria gelar Theotokos ini, mereka memberi pujian tertinggi kepada Puteranya, Yesus Kristus. Pada waktu itu berkembanglah bid’ah Arianisme yang hanya mau menyebut Maria sebagai Christotokos, artinya pembawa/bunda Kristus. Bagi kaum bid’ah ini Yesus Kristus hanyalah manusia yang suci, bukan Allah. Dengan pemberian gelar Theotokos kepada Maria, para Bapak Konsili Efesus sebenarnya memproklamasikan bahwa Yesus Kristus bukanlah sekadar seorang manusia suci atau nabi biasa seperti para nabi yang terdahulu. Yesus adalah sungguh Allah yang kekal dan Pribadi kedua dari Allah Tritunggal Mahakudus, pada saat yang sama Dia adalah seorang manusia sepenuhnya.

Pesta Besar yang kita rayakan pada hari ini secara istimewa memiliki arti penting karena mengajak kita untuk memusatkan perhatian kita pada fakta bahwa Maria mengandung dalam rahimnya dan melahirkan Putera Allah. Sejak saat perkandungan-Nya dalam rahim perawan Maria, Yesus dari Nazaret memiliki segala kepenuhan kasih Allah, rahmat dan kuasa dalam diri-Nya sebagai seorang pribadi manusia. Pada waktu para gembala berdatangan ke tempat bayi Yesus berada, mereka menyampaikan sebuah laporan tentang malaikat yang telah mengumumkan kelahiran sang Mesias. Sementara melakukan tugas-tugas keibuannya, Maria memperhatikan sekali kata-kata para gembala tentang Anak yang baru dilahirkannya.

Inilah misteri yang disimpan dalam hati dan direnungkan oleh Maria, bahkan lama setelah para gembala meninggalkan mereka bertiga (lihat Luk 2:19). Maria tidak ribut-ribut perihal berbagai bahaya yang mengancam keluarganya. Dia tidak merasa khawatir atau cemas mengenai apa yang mungkin terjadi di masa depan, atau merasa menyesal tentang apa yang mungkin telah terjadi di masa lalu apabila dia dan Yosef (Yusuf) tidak diminta untk membesarkan Putera Allah. Sebaliknya, Maria secara hati-hati mengamati segala cara kerja Allah sementara dia melahirkan Yesus dan mulai merawat dan membesarkan Dia. Maria tidak membiarkan sabda Allah dan perbuatan-perbuatan-Nya menjadi sekadar kenangan yang perlahan-perlahan akan hilang lenyap, melainkan memeliharanya hidup dalam hatinya.

Hal ini terjadi 2.000 tahun lalu. Kita dapat membayangkan betapa banyaknya harta-kekayaan rohani yang terdapat dalam hati Maria. Maria telah mensyeringkan harta-kekayaan ini dengan umat manusia dari abad ke abad, teristimewa pada abad-abad terakhir ini lewat penampakan-penampakan yang luarbiasa menakjubkan. Di setiap tempat di mana Maria menampakkan diri, pesannya praktis sama: “Bertobatlah, tinggalkanlah hidup kedosaanmu, dan berikanlah hatimu kepada Yesus.”  Ini adalah pesan yang murni dan jelas. Dari mana Maria dapat begitu penuh kejelasan dan penuh cintakasih dalam menyampaikan pesannya yang sedemikian efektif? Dari hatinya yang selalu merenungkan apa yang dialaminya dan hati yang keras mendorongnya untuk berbagi (sharing) pesan Puteranya sendiri: “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil” (Mrk 1:15).

Maria menyimpan segala sesuatu yang dialaminya dalam hati dan merenungkannya, sambil menyerahkan diri sepenuhnya kepada Roh Kudus. Sekarang dia mengundang kita semua untuk menjadi seperti dirinya. Agar kita berdoa dalam keheningan, mengambil sikap atataat dan patuh terhadap Allah. Dengan demikian kita pun dapat dimampukan untuk menjadi pembawa Kristus ke tengah dunia. Kalau belum tercakup dalam resolusi Tahun Baru yang kita buat kemarin, baiklah kita tambahkan satu lagi, yaitu untuk lebih mendekatkan diri kita lagi kepada Yesus Kristus lewat pembacaan dan permenungan Kitab Suci, teristimewa keempat kitab Injil dan bacaan-bacaan Perjanjian Baru lainnya. Tahun yang baru ini semoga dapat menjadi rahmat besar bagi kita sementara kita menyediakan waktu dan perhatian yang secukupnya guna membaca dan merenungkan sabda-Nya. Renungkanlah dalam batin anda apa yang ditulis dalam Kitab Suci. Perkenankanlah Roh Kudus bekerja secara mendalam dalam kehidupan anda. Insya Allah, dengan demikian, seperti Maria kita pun dapat menjadi bejana Allah yang indah.

DOA: Roh Kudus, datanglah dan masuklah ke dalam hidupku secara mendalam dan penuh kuasa, teristimewa pada tahun yang baru ini. Penuhilah diriku dengan Yesus dan sabda-Nya, seperti Engkau memenuhi diri Maria. Tolonglah aku agar dapat menghayati dan memproklamasikan Injil Yesus Kristus lewat kata-kata dan kesaksian hidupku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 2:16-21), bacalah tulisan yang berjudul “BUNDA ALLAH” (bacaan tanggal 1-1-20) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-01 BACAAN HARIAN  JANUARI 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 1-1-19 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 30 Desember 2019

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENGHORMATI PARA ORANG TUA

MENGHORMATI PARA ORANG TUA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, PESTA KELUARGA KUDUS, YESUS, MARIA DAN YUSUF – Minggu, 29 Desember 2019)

Memang Tuhan telah memuliakan bapa pada anak-anak-Nya, dan hak ibu atas para anaknya diteguhkan-Nya. Barangsiapa menghormati bapanya memulihkan dosa, dan siapa memuliakan ibunya serupa dengan orang yang mengumpulkan harta. Barangsaiapa menghormati bapanya, ia sendiri akan mendapat kesukaan pada anak-anaknya pula, dan apabila bersembahyang, niscaya doanya dikabulkan. Barangsiapa memuliakan bapanya akan panjang umurnya, dan orang yang taat kepada Tuhan menenangkan ibunya serta melayani orang tuanya sebagai majikannya.

Anakku, tolonglah bapamu pada masa tuanya, jangan menyakiti hatinya di masa hidupnya. Pun pula kalau akalnya sudah berkurang hendaklah kaumaafkan, jangan menistakannya sewaktu engkau masih berdaya. Kebaikan yang ditunjukkan kepada bapa tidak sampai terlupa, melainkan dibilang sebagai pemulihan segala dosamu. (Sir 3:2-6,12-14)

Mazmur Tanggapan: Mzm 128:1-5; Bacaan Kedua: Kol 3:12-21; Bacaan Injil: Mat 2:13-15,19-23 

Seturut Kitab Suci, kasih itu mengandung pengorbanan, tanpa kepentingan diri sendiri (=tanpa pamrih), dan bersifat menebus – memiliki makna yang jauh daripada definisi dunia tentang cintakasih! Di dalam keluarga, Allah memanggil kita untuk mengasihi dengan menghormati dan mentaati mereka yang diberi otoritas di atas kita. Allah juga membuat janji-janji yang menakjubkan untuk ketaatan kita. Apabila kita menghormati orang tua kita, maka dosa kita akan dipulihkan, serupa dengan mengumpulkan harta; doa-doa kita didengar (lihat Sir 3:3-5).

Di lain pihak, Allah mengharapkan para orangtua untuk mempraktekkan dengan bijaksana otoritas mereka atas anak-anak mereka. Misalnya pada waktu Maria dan Yosef (Yusuf) pada akhirnya menemukan Yesus di Bait Allah setelah tiga hari lamanya mencari-cari Dia, Maria tidak mempunyai persoalan untuk mengatakan kepada Yesus tentang kecemasan mereka. Maria berkata kepada Yesus yang pada waktu itu baru berumur 12 tahun: “Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Lihat, bapak-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau” (Luk 2:48). Apabila kita membaca nas ini, kita harus berhati-hati agar tidak meromantisir situasi pada waktu itu. Maria sungguh cemas dan gelisah kehilangan Anaknya, dan kata-katanya ini keluar langsung dari hatinya.

Seringkali para orangtua ingin anak-anak mereka untuk sangat mengasihi mereka sehingga mereka ragu-ragu untuk mempraktekkan otoritas yang diberikan Allah kepada mereka. Namun suatu hubungan antara para orangtua dan anak-anak mereka melibatkan suatu pengharapan bahwa anak-anak itu akan menghormati para orangtua mereka. Dalam hal ini, Maria dan Yosef adalah “para orangtua teladan” (model parents). Walaupun mereka tidak dapat memahami sepenuhnya rencana-rencana Allah bagi Yesus, mereka terus mengharapkan Yesus untuk tetap menghormati dan taat kepada mereka, suatu hal yang memang seharusnya begitu.

Secara sangat manusiawi, Yesus “bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya” (lihat Luk 2:52). Tidak ragu-ragu lagi, Maria dan Yosef harus mengajar Yesus bagaimana menghormati apa artinya menghormati kedua “orangtua”-Nya.  Selagi Yesus belajar bagaimana menghormati dan mendengarkan para orangtua-Nya yang di dunia, Dia pun bertumbuh dalam kemampuan untuk mendengarkan Bapa-Nya yang di surga.

Bacaan Injil hari ini menceritakan tentang menyingkirnya keluarga kudus ke Mesir dan kembalinya mereka ke tanah Israel dari pengungsian, begitu suasana dinilai aman. Peristiwa pengungsian ke Mesir dan pulang kembalinya keluarga kudus ke tanah Israel ini adalah cerita yang menunjukkan kesepakatan penuh kasih yang harus ada dalam relasi antara pribadi para anggota keluarga. Pada hari “Pesta Keluarga Kudus” ini, marilah kita mendoakan semua keluarga di seluruh dunia.  Semoga keluarga-keluarga mencerminkan secara lebih penuh relasi cintakasih yang terjalin antara Yesus, Maria dan Yosef.

DOA: Bapa surgawi, semoga semua anak-Mu sepanjang zaman mengenal dan mengalami sukacita menjadi menjadi bagian dari keluarga-Mu. Bimbinglah kami agar selalu menghormati mereka yang diberikan otoritas di atas kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 2:13-15,19-23), bacalah tulisan yang berjudul “BETLEHEM – MESIR – NAZARET” (bacaan tanggal 29-12-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 30-12-16 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 27 Desember 2019 [Pesta S. Yohanes, Rasul Penulis Injil]  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MARILAH KITA MENYAMBUT TUHAN DAN SAUDARA KITA

MARILAH KITA MENYAMBUT TUHAN DAN SAUDARA KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus siang, Hari Raya Natal – Rabu, 25 Desember 2019)

Pada mulanya ada Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes; ia datang sebagai saksi untuk bersaksi tentang terang itu, supaya melalui dia semua orang menjadi percaya. Ia bukan terang itu, tetapi ia harus bersaksi tentang terang itu. Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan melalui Dia, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik-Nya, tetapi orang-orang milik-Nya itu tidak menerima-Nya. Namun semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang dilahirkan bukan dari darah atau dari keinginan jasmani, bukan pula oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah. Firman itu telah menjadi manusia, dan tinggal di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh anugerah dan kebenaran. Yohanes bersaksi tentang Dia dan berseru, “Inilah Dia, yang kumaksudkan ketika aku berkata: Kemudian daripada aku akan datang Dia yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku.”  Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima anugerah demi anugerah; sebab hukum Taurat diberikan melalui Musa, tetapi anugerah dan kebenaran datang melalui Yesus Kristus. Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya. (Yoh 1:1-18)  

Bacaan Pertama: Yes 52:7-10; Mazmur Tanggapan: 98:1-6; Bacaan Kedua: Ibr 1:1-6

Ucapan “Selamat Natal!” terdengar di mana-mana pada hari ini, baik diucapkan keras-keras maupun dengan suara yang lemah lembut disertai cipika-cipiki; dapat juga lewat telpon rumah/HP, lewat WA-WA, FACEBOOK, INSTAGRAM, BBM, SMS, E-MAIL, KARTU NATAL dlsb. dst. Namun demikian, begitu mudahnya kita mengucapkan “Selamat Natal” ini secara rutin, maklum orang-orang kota besar yang selalu sibuk (busy-busy) …… senantiasa on the move!  

Pada hari yang sangat penting seperti Hari Raya Natal ini, Allah ingin agar kita merenungkan “misteri agung” yang kita rayakan ini – sebuah misteri yang kedalamannya sangat mengherankan dan sekaligus membuat kita merasa takjub. Injil Yohanes mengingatkan serta menghibur hati kita yang berbeban berat, bahwa Allah melakukan segalanya yang mungkin agar kita diselamatkan, berapa pun biayanya.

Dalam diri Yesus, Allah Bapa mengutus  “Yang Sulung” dari umat manusia (Rm 8:29; 1Kor 15:20,23; Kol 1:15,18, Ibr 1:6). “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan” (Yoh 1:3). Yesus itu bagaikan tangan Allah guna menyelamatkan manusia dari kedalaman lembah kedosaan kita, sehingga dengan demikian kita dapat masuk ke dalam relasi yang hidup dengan Dia.

Yesus adalah sang Sabda (Firman) yang berkata bahwa Allah rela mengorbankan Putera-Nya yang tunggal daripada tidak dapat mengumpulkan bersama seluruh keluarga-Nya. Yesus adalah sang Sabda yang mengatakan kepada kita, bahwa Bapa di surga tidak ingin kehidupan kekal tanpa keberadaan kita, sebagai anak-anak-Nya. Dia juga berkata, bahwa kita bukanlah sekadar debu dan abu. Kedatangan Yesus ke tengah-tengah kita di dunia mengungkapkan kasih Allah yang tidak menghitung-hitung biaya untuk membawa kita kembali kepada-Nya. Hal itu mengatakan kepada kita, bahwa kita sungguh berarti bagi-Nya, bahwa Allah mengasihi kita dengan sangat mendalam, bahkan kita memberikan sukacita kepada-Nya dengan menjadi anak-anak-Nya yang baik.

Kasih mendalam dari Allah Bapa dinyatakan dalam diri Yesus Kristus – “Sabda yang menjadi daging” atau “Firman yang menjadi manusia” (Yoh 1:14). Oleh karena itu sepantasnyalah apabila kita menyambut Dia dengan penuh hasrat pada hari ini, mengakui diri-Nya sebagai seorang “Saudara” yang menderita karena ditolak oleh ciptaan-Nya sendiri: “Ia datang kepada milik-Nya, tetapi milik-Nya itu tidak menerima-Nya” (Yoh 1:11). Walaupun Saudara kita ini sejak awal ada bersama-sama Allah dan Dia adalah Allah, dan segala sesuatu dijadikan oleh-Nya (Yoh 1:2-3), Dia datang ke tengah dunia untuk hidup bersama-sama dengan kita-manusia, …… ke dalam sejarah kehidupan manusia yang dibatasi ruang dan waktu.

Yesus adalah “Terang yang bercahaya di dalam kegelapan” (Yoh 1:5). Ia datang untuk menghancurkan pekerjaan-pekerjaan si Jahat, yang hanya dapat melawan rancangan-rancangan Allah saja. “Allah telah menciptakan manusia untuk kebakaan, dan dijadikan-Nya gambar hakekat-Nya sendiri. Tetapi karena dengki setan maka maut masuk ke dunia, dan yang menjadi milik setan mencari maut itu” (Keb 2:23-24). Sebagai Allah, dan juga sebagai Dia yang ikut ambil bagian dalam kondisi manusiawi kita yang dina, Yesus bertemu dengan musuh-Nya dan mengalahkan dia dengan biaya darah-Nya sendiri.

Apa tolok ukur dari seorang sahabat yang sejati? Seseorang yang berdiri di samping kita, bahkan ketika kita tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya. Sahabat-sahabat sejati duduk dalam ruangan di rumah sakit menemani kita pada saat-saat kita sakit, menolong kita membangun rumah kita, menghibur kita pada saat-saat kita mengalami kegelapan dan kehilangan. Kita mengetahui bahwa para sahabat ini mengasihi diri kita karena yang mereka lakukan mengandung biaya. Bagi Yesus – Ia yang paling sejati dari para sahabat – biaya mengasihi kita adalah nyawa-Nya sendiri – biaya yang dengan gembira dibayar oleh-Nya.

Memang sulitlah bagi kita untuk membayangkan kenyataan bahwa Allah Bapa dan Putera sangat mengasihi kita. Namun demikian, biarlah kebenaran ini mengendap, dan janganlah sampai dibuang. Apa yang dipikirkan Allah tentang kita lebih penting daripada apa yang dipikirkan oleh orang-orang lain. Jadi, bagaimana pun “tak masuk akal”-nya hal itu di mata kita, Allah mengasihi kita sebagai anak-anak-Nya dan melihat Putera-Nya sendiri, “Terang manusia”, berdiam dalam diri kita masing-masing (Yoh 1:4). Allah adalah bagi kita dan telah merencanakan bahwa kita harus mengenal-Nya. Dia ingin membuat suatu kejutan – surprise –  bagi kita dengan pengetahuan bahwa kita adalah milik-Nya, walaupun kita merasa bukan milik siapa pun dalam dunia ini.

Pada hari ini, biarlah Bapa surgawi mengatakan kepada kita betapa dalam Ia mengasihi kita. Kalau dimungkinkan, baiklah kita menyediakan waktu untuk memandang “kandang Natal” dalam keheningan. Pada saat itu, baiklah kita merenungkan keagungan rancangan Allah untuk menjadi satu dengan kita anak-anak-Nya. Marilah kita menyambut kedatangan Yesus ke tengah dunia dan ke dalam hati kita dengan cara baru pada hari ini, dan berterima kasih penuh syukur kepada-Nya karena sudi menjadi seorang Saudara kita ……, seorang Saudara yang sangat mengasihi kita masing-masing, bagaimana pun tidak sempurnanya kita.

DOA: Yesus, Tuhanku dan Saudaraku, perkenankanlah aku memandang Engkau, teristimewa pandangan mata-Mu. Engkau turun dari tempat yang tinggi untuk menemukan diriku. Engkau membayar biaya yang begitu besar untuk membawa aku kembali kepada Bapa surgawi. Aku sungguh mengasihi Engkau, ya Tuhan dan Juruselamatku. Aku sungguh ingin senantiasa bersama-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil untuk Misa Natal siang (Yoh 1:1-18, bacalah tulisan yang berjudul “PERENDAHAN DIRI ALLAH” (bacaan tanggal 25-12-19), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 25-12-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 23 Desember 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

FIAT SEORANG PERAWAN NAZARET

FIAT SEORANG PERAWAN NAZARET

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Jumat, 20 Desember 2019)

Dalam bulan yang keenam malaikat Gabriel disuruh Allah pergi ke sebuah kota yang bernama Nazaret,kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu datang kepada Maria, ia berkata, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”  Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya, “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh anugerah di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapak leluhur-Nya, dan Ia akan memerintah atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-nya tidak akan berkesudahan.”  Kata Maria kepada malaikat itu, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.”  Kata Maria, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia (Luk 1:26-38). 

Bacaan Pertama: Yes 7:10-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 24:1-6 

“Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Luk 1:38)

Tatkala malaikat agung Gabriel menampakkan diri kepada perawan Maria dan mengungkapkan rencana Allah bagi dirinya, Maria sungguh merasa terkejut. Santo Lukas menceritakan kepada kita bahwa Maria “terkejut”, lalu bertanya di dalam hatinya apakah arti salam itu. Kemudian, setelah memperoleh penjelasan dari Gabriel, ia bertanya:  “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” (Luk 1:29,34). Setelah mendengarkan keterangan/penjelasan dari Gabriel, Maria berkata: “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38). Jawaban “ya” (disebut juga: fiat) dari Maria yang berdasarkan ketaatan mutlak kepada kehendak sang Khalik langit dan bumi, serta kerendahan hati sejati inilah yang memberi jalan kepada kasih Allah untuk mengubah sejarah umat manusia.

Memang Maria tidak dapat sekaligus melihat gambaran sepenuhnya. Akan tetapi, dengan berjalannya waktu, dia mulai memahami hal-hal indah yang sedang dikerjakan Allah atas dirinya. Dia melihat bahwa Yesus “ditakdirkan” untuk memberikan hidup-Nya untuk kita manusia, bahkan ia sendiri akan menanggung penderitaan karena “suatu pedang akan menembus jiwanya sendiri” (lihat Luk 2:35). Maria tentunya telah belajar juga tentang hasrat Allah yang terdalam, bahwa melalui Yesus kita akan dipenuhi dengan hidup ilahi-Nya: Allah ingin “mengilahikan” kita. Bagi Maria, apa yang diawali dengan suatu kunjungan yang “membingungkan” dari “seorang” malaikat berkembang menjadi suatu kehidupan yang dipenuhi dengan rasa takjub atas keluasan rencana Allah bagi umat-Nya.

Banyak Pujangga Gereja juga telah memberi komentar mereka atas rencana Allah untuk memenuhi diri kita dengan hidup ilahi. Santo Thomas Aquinas [1225-1274] menulis: “Sang Anak Tunggal Allah, karena ingin membuat kita ikut ambil bagian dalam keilahian-Nya, mengambil kodrat kita, sehingga Dia yang menjadi manusia, dapat membuat orang-orang semakin menjadi seperti Allah (Tentang Pesta Corpus Christi, 1). Demikian pula, Santo Atanasius [296-373] menulis, bahwa Yesus “sungguh mengambil kemanusiaan sehingga kita dapat menjadi peserta di dalam [hidup] Allah” (Tentang Inkarnasi). Biarpun kedengaran hampir tidak mungkin atau mustahil, inilah yang terjadi dengan kita masing-masing pada saat kita dibaptis dan akan disempurnakan pada saat Yesus datang lagi dalam kemuliaan-Nya kelak.

Pada saat malaikat agung Gabriel minta kepada Maria untuk menerima usulan/undangan Allah, Maria tidak ragu sedikit pun walaupun ia belum memahami segalanya secara langsung. Maria ingin melakukan kehendak Allah, dan pada saat yang sangat penting dalam sejarah manusia, hal itu berarti sepenuhnya menaruh kepercayaan kepada-Nya.

Akan tetapi, rahasia hikmat dan pemahaman Maria jauh melampaui keputusannya untuk menaruh kepercayaan kepada Allah. Maria juga berpaling ke dalam dirinya sendiri untuk merenungkan jabang bayi yang mulai mengambil bentuk dalam rahimnya.

Dalam keheningan dan kejernihan akal budinya, Maria memohon kepada Roh Kudus untuk mengungkapkan misteri-misteri rencana Allah bagi dirinya, dan selagi dia melakukannya, dia pun semakin dipenuhi dengan rahmat Allah.

Marilah kita meneladan Maria, tidak hanya dalam menaruh kepercayaan kepada rencana Allah, melainkan juga dengan menyediakan waktu yang sungguh cukup untuk doa dan permenungan misteri-misteri Allah dalam kehidupan kita.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, tunjukkanlah kepadaku bagaimana merenungkan dan menghargai segala hal yang Engkau sedang lakukan pada zaman ini. Ajarlah aku bagaimana menaruh kepercayaan pada-Mu sepenuhnya seperti yang telah dilakukan oleh Maria sekitar 2.000 tahun lalu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 1:26-38), bacalah tulisan yang berjudul “PILIHAN ALLAH SENDIRI” (bacaan  tanggal 20-12-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori:  19-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-9-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 18 Desember 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENELADAN BUNDA MARIA DALAM PERJALANAN KITA MENUJU KEKUDUSAN

MENELADAN BUNDA MARIA DALAM PERJALANAN KITA MENUJU KEKUDUSAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA SP MARIA DIANGKAT KE SURGA – Minggu, 18 Agustus 2019)

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan bergegas menuju sebuah kota di pegunungan Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.”

Lalu kata Maria, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan kuduslah nama-Nya. Rahmat-Nya turun-menurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.” Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya. (Luk 1:39-56) 

Bacaan Pertama: Why 11:19;12:1,3-6,10; Mazmur Tanggapan: Mzm 45:10-12,16; Bacaan Kedua: 1Kor 15:20-26

Kadang-kadang kita melihat seakan-akan para kudus adalah suci dari “sono”-nya, sejak lahir memang begitu. Kebenarannya adalah bahwa kekudusan bertumbuh dalam diri kita semua sampai seberapa jauh kita mencari Tuhan dalam situasi yang kita hadapi setiap hari, merenungkan sabda-Nya, dan belajar mentaati perintah-perintah-Nya dan kehendak-Nya bagi hidup kita. Ini adalah jenis kekudusan untuk mana Maria adalah “model” yang paling agung.

Selagi dia merefleksikan Kitab Suci dan sejarah karya Allah di tengah umat, Maria menjadi mengerti cara Allah berkarya di dunia. Dia melihat Allah senang memakai orang-orang lemah dan terabaikan untuk “merendahkan” orang-orang berkuasa. Maria melihat bahwa Allah senang sekali memajukan rencana-rencana-Nya dengan cara-cara tidak seperti diharap-harapkan: membelah Laut Merah, menurunkan Saul dan membangkitkan Daud si gembala, bahkan membiarkan orang-orang Yahudi digiring oleh bangsa asing ke tempat pembuangan agar mereka belajar mentaati diri-Nya. Selagi Maria merenungkan cara Allah ini, Allah sendiri sedang menyiapkan dirinya bahwa pada suatu hari dia akan diundang untuk ikut ambil bagian dalam mewujudkan rencana-Nya.

Dengan penuh rasa percaya, Maria menempatkan keseluruhan masa depannya ke dalam tangan-tangan Allah. Setiap peristiwa merupakan suatu kesempatan bagi imannya dan kasihnya kepada Allah untuk menjadi semakin dalam. Ketika Yusuf bergumul dalam batinnya apakah dia akan menceraikannya, Maria tetap yakin bahwa Allah akan menyelesaikan karya-Nya. Pada waktu dia mengunjungi Elisabet, imannya diperdalam ketika dia mendengar saudari sepupunya memuji dan memuliakan Allah. Akhirnya di kaki salib Yesus, pada saat hatinya sendiri tertembus oleh rasa duka yang sangat mendalam, Maria membuat tindakan penyerahan diri yang final dengan menyerahkan Puteranya ke dalam tangan-tangan Allah yang penuh kasih.

Setiap hari kita dipanggil untuk “memasukkan” doa kita ke dalam situasi-situasi yang kita hadapi. Yesus ingin agar kita merenungkan sabda-Nya sehingga dengan demikian Ia dapat membentuk diri kita masing-masing menjadi orang-orang saleh sungguhan, bukan yang berpura-pura saleh seperti kebanyakan orang Farisi dan para pemimpin agama Yahudi lainnya pada masa hidup-Nya. Allah-lah yang membentuk kita menjadi orang-orang kudus, namun adalah pilihan kita untuk membuka hati bagi-Nya atau tidak. Marilah kita membuka pikiran-pikiran dan hasrat-hasrat kita yang terdalam kepada-Nya agar Ia dapat menyentuh dan membimbing kita. Marilah kita bersama Maria pada hari ini merayakan hari raya gerejawi yang sangat istimewa ini dengan penuh keyakinan bahwa Allah akan menyelesaikan karya-Nya dalam diri kita semua.

Catatan tentang Hari Raya ini: Menurut MAWI (sekarang KWI) 1972, “Hari Raya Maria Diangkat ke Surga” (tanggal sebenarnya adalah 15 Agustus) dapat dipindahkan ke Hari Minggu terdekat.

DOA: Bapa surgawi, Engkau mampu melakukan segala hal. Kasih-Mu sungguh agung dan luhur; rencana-Mu sudah ada sejak kekal; cara-cara-Mu sempurna dan pantas serta layak untuk dipercaya. Aku sungguh merindukan hari di mana aku dapat berjumpa dengan Engkau, muka ketemu muka. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Kedua hari ini (1Kor 15:20-26), bacalah tulisan yang berjudul “PESTA KITA HARI INI BUKANLAH SEKADAR TENTANG MARIA” (bacaan tanggal 18-8-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2019.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-8-18 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 14 Agustus 2019 [Peringatan/Pesta S. Maksimilianus Maria Kolbe, Imam –Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MEREKA MENGAMBIL TEMPAT YANG LAYAK DALAM SEJARAH KESELAMATAN

MEREKA MENGAMBIL TEMPAT YANG LAYAK DALAM SEJARAH KESELAMATAN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Yoakim dan S. Anna, Orangtua SP Maria – Jumat,  26 Juli 2019)

Dan sekarang kami hendak memuji orang-orang termasyhur, para nenek moyang kita menurut urut-urutannya.

Tetapi yang berikut ini adalah orang kesayangan yang kebajikannya tidak sampai terlupa; semuanya tetap tinggal pada keturunannya sebagai warisan baik yang berasal dari mereka. Keturunannya tetap setia kepada perjanjian-perjanjian, dan anak-anak merekapun demikian pula keadaannya. Keturunan mereka akan tetap tinggal untuk selama-lamanya, dan kemuliaannya tidak akan dihapus. Dengan tenteram jenazah mereka ditanamkan, dan nama mereka hidup terus turun-temurun. Bangsa-bangsa bercerita tentang kebijaksanaannya, dan pujian mereka diwartakan jemaah. (Sir 44:1,10-15) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 132:11,13-14,17-18; Bacaan Injil: Mat 13:16-17 

Pada hari ini Gereja memperingati Santo Yoakim dan Santa Anna, orangtua dari SP Maria, artinya kakek-nenek Yesus dari Nazaret dari pihak ibu. Nama mereka tidak ada dalam daftar nenek-moyang Yesus Kristus, baik dalam Injil Matius maupun Injil Lukas. Dalam kedua silsilah tersebut hanya para leluhur/karuhun dari pihak Yusuf saja yang disebut. Namun dalam tulisan-tulisan yang tidak termasuk kanon, yang kebetulan ada dalam perpustakaan pribadi saya, nama-nama mereka muncul: (1) Dalam “Injil Kelahiran Maria” (Inggris: The Gospel of the Birth of Mary); dan (2)  dalam THE PROTOEVANGELION BY JAMES THE LESSER, COUSIN AND BROTHER OF THE LORD JESUS;  keduanya terdapat dalam THE LOST BOOKS OF THE BIBLE, New York: New American Library, 1974 (asli:1926). Tulisan kedua di atas juga terdapat dalam Ron Cameron (Editor), THE OTHER GOSPELS dengan judul THE PROTEVANGELIUM OF JAMES, Philadelphia: The Westminster Press, 1982.

Dalam Proto-Injil Yakobus (PIY) ini diceritakan kelahiran Maria yang ajaib. Keprihatinan utama dari “legenda”/”tradisi” seperti ini adalah sejalan dengan data Perjanjian Baru, yaitu untuk menunjukkan bahwa Maria mempunyai sebuah tempat istimewa dalam sejarah Allah dengan manusia. “Legenda”/”tradisi” ini menggambarkan Yoakim dan Anna yang saling terikat oleh cinta sejati. Mereka adalah orang-orang yang takut akan Allah dan kaya. Untuk jangka waktu lama mereka tidak dianugerahi anak (seperti kasus Samuel dan Yohanes Pembaptis). Tidak mengherankanlah apabila para tetangga mencurigai bahwa ada yang tidak benar dalam kesalehan hidup mereka. Seperti kita ketahui, dalam Perjanjian Lama, tidak dikaruniai anak dinilai sebagai suatu penghukuman atas dosa-dosa pribadi.

Yoakim dan Anna sangat sedih karena semua itu. Mereka mengaduh di hadapan Allah tentang ketiadaan anak yang mereka alami. Yoakim melakukan “retret” selama 40 hari dan 40 malam di padang gurun, melakukan pertobatan di hadapan Allah melalui puasa dan doa. Yoakim berkata: “Aku tidak akan makan atau minum sampai Tuhan Allahku mengunjungi aku; doa akan menjadi makanan dan minumanku” (PIY 1:4). Di sisi lain Anna meratapi situasi ketiadaan anaknya di hadapan YHWH-Allah seperti yang dilakukan oleh Hana ibu Samuel. Akhirnya, Allah melakukan intervensi.

Lewat malaikat Tuhan, Yoakim dan Anna menerima janji Allah bahwa mereka akan memperoleh seorang anak. Berita tersebut membuat ke dua orang tersebut penuh sukacita dan saling bertemu lagi. “Reuni” pasutri ini digambarkan dengan indah dan mengharukan dalam Proto-Injil Yakobus. Saya mencatat sebagian kecil saja: Anna sudah menunggu di pintu gerbang ketika Yoakim datang dengan kawanan hewan peliharaannya. Anna berlari mendapatkan suaminya itu, merangkulnya dan berkata: “Sekarang aku tahu bahwa Tuhan Allah sangat memberkatiku; karena lihatlah si janda tidak lagi seorang janda, dan aku yang dikatakan seorang mandul, telah mengandung [akan mengandung]” (PIY 4:4). Keesokan harinya Yoakim mempersembahkan kurban kepada Allah di Bait Suci (PIY 5:1). Sembilan bulan setelah Yoakim menghampiri Anna, lahirlah Maria. Maria dilahirkan secara ajaib dari seorang perempuan yang telah dinyatakan mandul, demikian pula dia kelak akan melahirkan secara ajaib ke dalam dunia Putera Allah Yang Mahatinggi, Juruselamat semua bangsa.

Sekali lagi saya kemukakan di sini bahwa keprihatinan utama dari “legenda”/”tradisi” ini adalah jelas untuk menyatakan bahwa Maria dipilih oleh Allah secara istimewa, dan ia mempunyai suatu tugas yang khusus dalam sejarah keselamatan. Yoakim dan Anna hanya sekadar tokoh-tokoh di belakang layar. Namun demikian, pasutri ini tidak begitu saja menghilang karena mereka digambarkan sebagai orang-orang kudus dalam pengertian Perjanjian Lama, seperti digambarkan dalam bacaan pertama hari ini yang diambil dari Kitab Yesus bin Sirakh.

Iman pasutri ini akan Allah juga dinyatakan dalam tindakan mereka menyerahkan Maria ketika berumur tiga tahun ke Bait Suci (PIY 7:2) untuk memenuhi janji yang dibuat Anna sebelum kelahiran Maria (PIY 4:1) dan memperkenankan anak itu tinggal dalam Bait Suci. Pasutri Yoakim dan Anna dengan penuh kemurahan hati mempersembahkan kepada Allah apa yang telah dianugerahkan-Nya kepada mereka. Yoakim dan Anna setia pada Allah bahkan ketika mengalami ujian atas iman-kepercayaan mereka. Mereka mengambil tempat yang layak dalam sejarah keselamatan – sebagai orangtua Maria!

DOA: Bapa surgawi, pada hari peringatan Santo Yoakim dan Santa Anna ini, berkatilah secara khusus para pasutri dalam keluarga-keluarga Kristiani, teristimewa mereka yang tidak/belum dianugerahi anak-anak. Tumbuh-kembangkanlah keutamaan-keutamaan iman, pengharapan dan kasih dalam keluarga-keluarga tersebut. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan hari ini (Sir 44:1,10-15), bacalah tulisan berjudul “CERITA TENTANG IBU DAN AYAH DARI BUNDA MARIA” (bacaan tanggal 26-7-18) dalam situs/blog dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-07 BACAAN HARIAN JULI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 26-7-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 23 Juli 2019 [Peringatan S. Birgitta dr Swedia, Janda (OFS)]  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS