Posts from the ‘BUNDA MARIA’ Category

MELAKUKAN KEHENDAK ALLAH

MELAKUKAN KEHENDAK ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa III – Selasa, 23 Januari 2018)

Hari Keenam Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani

Lalu datanglah ibu dan saudara-saudara Yesus. Sementara mereka berdiri di luar, mereka menyuruh orang memanggil Dia. Ada orang banyak duduk mengelilingi Dia, mereka berkata kepada-Nya, “Lihat, ibu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau.”  Jawab Yesus kepada mereka, “Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?”  Ia melihat kepada orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya itu dan berkata, “Inilah ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Siapa saja yang melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku perempuan dan ibu-Ku.”  (Mrk 3:31-35)

Bacaan Pertama: 2Sam 6:12b-15,17-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 24:7-10

Apa kiranya yang sampai menyebabkan sanak keluarga Yesus “datang untuk mengambil Dia” dan mengatakan bahwa “Ia tidak waras lagi” (Mrk 3:21)? Agar supaya kita dapat memahami dengan lebih jernih apa yang kiranya ada dalam pikiran sanak saudara-Nya, marilah kita membayangkan diri kita sebagai salah seorang saudara sepupu Yesus. Kita telah melihat terjadinya suatu perubahan signifikan dalam hidup Yesus, ketika pada waktu berusia 30 tahun, Ia menerima pembaptisan tobat dari Yohanes Pembaptis di Sungai Yordan dan setelah itu menjalani puasa selama 40 hari di padang gurun.

Kemudian, ketika kembali dari padang gurun, Yesus mulai mempermaklumkan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat dan Ia menyerukan kepada orang-orang untuk bertobat dan percaya kepada Injil. Ia mulai mengumpulkan sekelompok murid-murid di sekeliling-Nya, selagi Dia berkeliling mengusir roh-roh jahat, mengajar dengan penuh wibawa dan kuasa, menyembuhkan orang-orang sakit dan mengatakan kepada orang-orang bahwa dosa-dosa mereka telah diampuni. Ia banyak “membuang” waktu dengan para pendosa dan pemungut cukai. Banyak orang mulai mengikuti Dia. Orang-orang sakit berdesak-desakan untuk mendekati Dia. Dan, orang-orang yang dirasuki roh jahat berteriak dan sujud menyembah Dia. Kerap terjadi, saking sibuknya Dia sampai tak mempunyai waktu untuk makan.

Dari sini kita dapat sedikit memahami mengapa sanak keluarga Yesus menjadi prihatin perihal kesejahteraan-Nya dan dengan demikian berusaha untuk mengambil Dia dan membawa-Nya pulang. Bagaimana pun juga, mereka tidak tahu secara penuh siapa Yesus ini dan misi apa yang diemban-Nya. Bahkan Maria sendiri, betapa pun kudusnya dia, harus mengalami proses pertumbuhan dalam pemahamannya akan kata-kata malaikat kepada Yusuf, bahwa anaknya “akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka”  (Mat 1:21).

Pada waktu sanak keluarga-Nya datang untuk menemui Yesus, Ia melihat kepada orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya, “Inilah ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Siapa saja yang melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku perempuan dan ibu-Ku” (Mrk 3:34-35). Apa yang terdengar sebagai omelan, sesungguhnya adalah sebuah undangan bagi siapa saja untuk menjadi bagian dari keluarga Yesus – untuk menjadi sedekat mungkin dengan-Nya, seperti ibu-Nya dekat dengan-Nya. Betapa membahagiakan hati  untuk mengetahui bahwa kita semua dapat bertumbuh semakin mendalam dalam pemahaman kita akan Yesus dan dalam kemampuan kita untuk mentaati sabda-Nya. Ini adalah alasan utama mengapa Yesus telah memberikan kepada kita Roh Kudus-Nya – yakni untuk mengajar kita dan memberdayakan kita.

Bapak Serafik kita, Santo Fransiskus dari Assisi, dalam “Surat Pertama kepada Kaum Beriman”, menulis: O betapa bahagia dan terberkatilah mereka itu, pria maupun wanita, apabila hal-hal itu [1] mereka lakukan dengan tekun; karena Roh Tuhan akan tinggal pada mereka dan Tuhan akan memasang tempat tinggal dan kediaman-Nya pada mereka; maka mereka menjadi anak-anak Bapa Surgawi yang karya-Nya mereka laksanakan; dan menjadi mempelai, saudara dan ibu Tuhan kita Yesus Kristus. Kita menjadi mempelai bila jiwa yang setia disatukan dengan Tuhan kita Yesus Kristus oleh Roh Kudus. Kita menjadi saudara bagi-Nya bila kita melaksanakan kehendak Bapa yang ada di surga. Kita menjadi ibu bila kita mengandung Dia di dalam hati dan tubuh kita karena kasih ilahi dan karena suara hati yang murni dan jernih. Kita melahirkan Dia melalui karya yang suci, yang harus bercahaya bagi orang lain sebagai contoh” (1SurBerim 5-10).

[1] 1. mencintai Tuhan; 2. mencintai sesama; 3.membenci tubuh dengan cacat-cela dan dosa-dosanya; 4. menyambut tubuh dan darah Tuhan Yesus Kristus; 5. menghasilkan buah-buah pertobatan yang pantas (1SurBerim 1-4).

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah memberikan kepada kami iman yang hidup dalam Putera-Mu, Yesus Kristus. Oleh Roh Kudus-Mu, buatlah iman-kepercayaan kami menjadi lebih mendalam lagi. Ajarlah kami lebih banyak lagi mengenai Yesus sehingga kami dapat mengasihi-Nya dengan lebih mendalam lagi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 3:31-35), bacalah tulisan yang berjudul “ADA IKATAN KEKELUARGAAN YANG LEBIH AGUNG” (bacaan tanggal 23-1-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: BACAAN HARIAN JANUARI 2018.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 24-1-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 21 Januari 2017 [HARI MINGGU BIASA III – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

MARIA ADALAH THEOTOKOS

MARIA ADALAH THEOTOKOS

(Bacaan Injil Misa Kudus pada Hari Raya S. Maria Bunda Allah, Hari Oktaf Natal Tahun Baru  – Senin, 1 Januari 2018)

HARI PERDAMAIAN SEDUNIA

Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan. Ketika melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. Semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka. Tetapi Maria menyimpan segala perkataan itu di dalam hatinya dan merenungkannya. Kemudian kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.

Ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya. (Luk 2:16-21) 

Bacaan Pertama: Bil 6:22-27; Mazmur Tanggapan: Mzm 67:2-3,5-6,8; Bacaan Kedua: Gal 4:4-7

Selagi masa Natal berjalan dari hari demi hari, Roh Kudus terus mengundang kita untuk merenungkan peristiwa-peristiwa di sekitar kelahiran Yesus. Pesta yang dirayakan Gereja hari ini secara khusus penting karena memusatkan perhatian kita pada kenyataan bahwa Maria mengandung Putera Allah dalam rahimnya. Maria adalah Theotokos atau Bunda Allah (Pembawa Allah = God’s bearer). Sejak saat dikandung, Yesus dari Nazaret – dalam pribadi-Nya – memegang segala kepenuhan kasih Allah, rahmat-Nya dan kuasa-Nya.

Tidak lama setelah melahirkan Yesus, para gembala berdatangan ke tempat di mana Yesus, Maria dan Yusuf berada. Mereka memberikan sebuah laporan (secara lisan tentunya) tentang malaikat yang mengumumkan kelahiran Mesias. Maria mendengarkan dengan penuh perhatian segala yang dikatakan para gembala itu. Bagi dirinya semua ini adalah sebuah misteri tentunya: segala perkataan itu  disimpan Maria di dalam hatinya dan direnungkannya (lihat Luk 2:19). Maria tidak rewel tentang bahaya-bahaya yang akan dihadapi oleh keluarga kecilnya. Dia juga tidak merasa cemas tentang apa yang kiranya akan terjadi di masa depan, atau menyesali apa yang seharusnya terjadi di masa lampau seandainya dia dan Yusuf tidak diminta memelihara Putera Allah. Sebaliknya, Maria dengan penuh perhatian mengamati segala cara kerja Allah sementara dia mengandung, melahirkan Yesus dan membesarkan-Nya. Maria tidak membiarkan firman dan tindakan Allah menjadi sekadar sekumpulan kenangan yang secara perlahan akan hilang; dia menyimpan semua itu tetap hidup dalam hatinya.

Demikian pula, Allah tidak ingin kebenaran-kebenaran-Nya menghilang dari pikiran kita. Allah menginginkan agar kita meniru Maria dengan memegang janji-janji-Nya dalam hati kita masing-masing sepanjang tahun. Sesungguhnya Allah memberikan tahun baru ini sebagai suatu kesempatan bagi kita untuk bertumbuh dalam pengenalan kita akan kasih-Nya. Tentu saja Maria tidak hanya mempunyai kenangan akan peristiwa-peristiwa di masa lalu. Yesus selalu berada bersama Yesus, hari demi hari. Sekarang, lewat kuasa Roh Kudus kita pun dapat mengalami kehadiran Yesus dari hari ke hari. Ini adalah bagian dari janji Injil: Semakin banyak kita merenungkan dalam suasana doa siapa Yesus itu dan apa yang telah dilakukan-Nya, semakin dekat pula Dia menarik kita kepada diri-Nya.

Dalam tahun baru ini, marilah kita membangun niat dalam resolusi khusus, yaitu untuk menyisihkan waktu yang lebih banyak lagi setiap hari untuk kegiatan doa dan pembacaan/renungan Kitab Suci. Selagi anda berupaya dengan serius, anda pun akan mengalami bahwa firman Yesus menjadi firman hidup yang bekerja dalam dirimu dan mentransformasikan dirimu menjadi lebih serupa lagi dengan diri-Nya. Perkenankanlah hal itu terjadi. Biarlah tahun 2017 ini menjadi suatu tahun bagi anda untuk menjadi semakin dekat dengan Yesus, sang Putera Allah.

DOA: Roh Kudus Allah, tolonglah aku agar kudapat memusatkan perhatianku pada Tuhan Yesus pada tahun 2017 ini. Jadikanlah Yesus hidup dalam hatiku sementara aku menyimpan firman-Nya dalam hati dan merenungkannya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Bil 6:22-27), bacalah tulisan yang berjudul “MARIA BUNDA ALLAH DAN BUNDA KITA SEMUA” (bacaan tanggal 1-1-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 1-1-17 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 29 Desember 2017(Peringatan S. Thomas Becket, Uskup-Martir) 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PERENDAHAN DIRI ALLAH DEMI KASIH-NYA KEPADA DUNIA

PERENDAHAN DIRI ALLAH DEMI KASIH-NYA KEPADA DUNIA

(Bacaan Injil Misa Kudus siang, Hari Raya Natal – Senin, 25 Desember 2017)

 

Pada mulanya ada Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes; ia datang sebagai saksi untuk bersaksi tentang terang itu, supaya melalui dia semua orang menjadi percaya. Ia bukan terang itu, tetapi ia harus bersaksi tentang terang itu. Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan melalui Dia, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik-Nya, tetapi orang-orang milik-Nya itu tidak menerima-Nya. Namun semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang dilahirkan bukan dari darah atau dari keinginan jasmani, bukan pula oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah. Firman itu telah menjadi manusia, dan tinggal di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh anugerah dan kebenaran. Yohanes bersaksi tentang Dia dan berseru, “Inilah Dia, yang kumaksudkan ketika aku berkata: Kemudian daripada aku akan datang Dia yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku.”  Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima anugerah demi anugerah; sebab hukum Taurat diberikan melalui Musa, tetapi anugerah dan kebenaran datang melalui Yesus Kristus. Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya. (Yoh 1:1-18)  

Bacaan Pertama: Yes 52:7-10; Mazmur Tanggapan: 98:1-6; Bacaan Kedua: Ibr 1:1-6

Betapa rendah hati Allah kita! Dia datang ke  dalam dunia yang “tidak mengenal-Nya” (Yoh 1:10) untuk menebus umat yang “tidak menerima-Nya” (Yoh 1:11)! Dia datang tidak disambut dengan hadiah-hadiah bagus, atau ditangani oleh para dokter terbaik, dilayani banyak perawat profesional pada saat kelahiran-Nya – atau malah diberi pakaian yang terbuat dari bahan kain yang paling halus. Sebaliknya, …… Yesus dilahirkan miskin, di kandang hewan dalam gua dan dibungkus dengan kain lampin.

Namun, kepada Yesus diberikan satu hal yang paling dihargai oleh Allah, yaitu cintakasih. Dengan memberikan jawaban “ya” kepada Allah, Maria dan Yusuf mengesampingkan rencana-rencana mereka sendiri …… dan mereka pun menyambut kedatangan-Nya ke tengah-tengah dunia. Dia disambut oleh para gembala yang sederhana dan tidak berpendidikan, yang percaya akan kata-kata malaikat sehingga sungguh diistimewakan untuk dapat menjadi orang-orang pertama yang diperkenankan bertemu dengan Sang Mesias.

Mengapa Allah Bapa merencanakan penampilan Sang Sabda (Sang Firman) yang sedemikian rendah, padahal Sang Sabda sudah bersama-Nya sejak pada mulanya (Yoh 1:1)? Tentunya, kegamblangan realitas dan kemiskinan dari keadaan di sekeliling Yesus mengungkapkan sampai seberapa jauh Dia akan melibatkan diri-Nya untuk menyelamatkan umat manusia. Akan tetapi tempat lahir Yesus yang kecil dan nyaris tak dikenal itu juga mengungkapkan sesuatu tentang diri kita: Tanpa Dia, kita adalah orang-orang miskin – dibuang  dan kesasar tanpa arah serta sangat rentan terhadap serangan-serangan dari musuh kita, yaitu Iblis. Yesus dilahirkan dalam gua yang dingin, gelap dan menyedihkan, seperti keadaan hati kita sebelum kita memperkenankan Yesus  lahir dalam diri kita.  MU

“Sabda menjadi daging dan tinggal di antara kita” (“Firman itu telah menjadi manusia, dan tinggal di antara kita”, Yoh 1:14), untuk membawa kita kembali kepada Bapa, guna memenuhi kita dengan rahmat dan kebenaran. Dia datang untuk membersihkan kita dalam darah-Nya dan mengangkat kita ke surga. Kita telah menerima anugerah yang paling agung. Bagaimana kita dapat menghaturkan terima kasih kita kepada Tuhan? Dengan merendahkan hati kita di depan palungan Yesus. Marilah kita menyambut Yesus ke dalam hati kita, seperti yang dilakukan Maria, yaitu dengan menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada Allah. Jadikanlah hati kita masing-masing sebagai sebuah palungan juga. Marilah kita mengundang Roh Kudus untuk mengubah diri kita masing-masing  menjadi tempat kediaman yang cocok bagi “Sang Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal dan Raja Damai” (Yes 9:5).

DOA: Tuhan Yesus, Firman Allah yang kekal, Engkau merendahkan diri-Mu untuk menebus kami, untuk memenuhi diri kami dengan hikmat-Mu, dan untuk memberikan kepada kami hidup abadi. Segala pujian, syukur, kemuliaan dan hormat bagi-Mu, ya Allah kami yang Mahasempurna. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil Misa Kudus (Misa malam) (Luk 2:1-14), bacalah tulisan yang berjudul “” (bacaan tanggal 25-12-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 25-12-16 dalam situs/blog SANG SABDA). 

Cilandak, 22 Desember 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

JIWAKU MEMULIAKAN TUHAN, DAN HATIKU BERGEMBIRA KARENA ALLAH JURUSELAMATKU9

JIWAKU MEMULIAKAN TUHAN, DAN HATIKU BERGEMBIRA KARENA ALLAH JURUSELAMATKU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Jumat, 22 Desember 2017)

Lalu kata Maria, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan kuduslah nama-Nya. Rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.”  Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya. (Luk 1:46-56)

Bacaan pertama: 1Sam 1:24-28; Mazmur Tanggapan: 1Sam 2:1.4-8 

Kidung Maria dalam bacaan Injil hari ini dikenal dalam bahasa Latin dengan nama Magnificat. Kidung Maria ini sangat mirip dengan kidung yang dinyanyikan oleh Hana (1Sam 2:1-10), ibunda dari nabi Samuel. Kidung Maria juga mencerminkan sejumlah nas dalam Perjanjian Lama.

Magnificat sangat indah karena kidung ini mengungkapkan perasaan terdalam Maria, dan pada saat yang sama mencerminkan suatu tradisi lama yang menyangkut praktek hidup saleh dalam Perjanjian Lama. Ketika Elisabet memuji Maria sebagai yang terberkati di antara semua perempuan, Maria menanggapinya sesuai dengan tradisi lama tersebut. Pada hakekatnya Maria berkata kepada Elisabet: “Janganlah memujiku. Akan tetapi bergabunglah dengan aku dalam memproklamasikan keagungan Tuhan; bersama-sama kita dapat menemukan sukacita dalam Allah Penyelamat kita.” Sesungguhnya Maria memang adalah seorang pribadi yang paling diberkati di antara para perempuan karena “Buah Rahimnya”. Bagaimana dengan kita? Kita pun sangat terberkati, karena Anaknya yang adalah Putera ilahi Allah, telah menjadi Juruselamat kita.

Magnificat ini sangat bernilai dalam Gereja, karena didaraskan/dinyanyikan setiap hari sepanjang tahun dalam Ibadat Sore oleh mereka yang secara rutin mendoakan Ibadat Harian (Ofisi Ilahi). Kenyataan ini merupakan suatu undangan kepada kita semua untuk mendoakan Kidung Maria, apakah kita mendoakan Ibadat Harian atau tidak! Maria ingin agar kita semua bergabung dengan dirinya, kemudian bersama-sama berkata: “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku” (Luk 1:46).

Semangat Natal adalah semangat memberi dengan penuh kemurahan hati. Semangat ini mengalir dari Allah sendiri dan dicerminkan dalam bacaan-bacaan liturgi hari ini. Hana sudah lama mandul. Perempuan ini bernazar: “YHWH semesta alam, jika sungguh-sungguh Engkau memperhatikan sengsara hamba-Mu ini dan mengingat kepadaku dan tidak melupakan hamba-Mu ini, tetapi memberikan kepada hamba-Mu ini seorang anak laki-laki, maka aku akan memberikan dia kepada YHWH untuk seumur hidupnya dan pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya” (1Sam 1:11). Anaknya dinamakan Samuel. Hana dan suaminya kemudian membawa anak yang masih kecil sekali itu ke rumah YHWH di Silo untuk dipelihara dan dididik oleh imam Eli.

Kiranya pada waktu Maria mulai hidup menjanda karena kematian Yusuf, ia memperkenankan (= memberi izin) Anaknya yang tunggal itu mulai melakukan karya pelayanan di tengah masyarakat. Tindakan Maria tersebut merupakan contoh tindakan yang tidak mementingkan diri sendiri dan dipenuhi dengan semangat untuk melihat dan mengalami terlaksananya karya penyelamatan Allah bagi umat manusia.

Anak laki-laki Hana, Samuel, yang telah dibina dan ditempa oleh imam Eli menjadi seorang nabi besar yang mengurapi Saul sebagai raja Israel yang pertama, dan kemudian mengurapi Daud sebagai raja Israel yang paling agung. Anak laki-laki Maria, Yesus, Nabi dan Raja, adalah Imam yang mempersembahkan kurban salib bagi keselamatan kita semua. Kedua perempuan itu mencerminkan kebaikan Allah. Kita hanya dapat membayangkan betapa berharganya Samuel di mata Hana dan betapa besar arti Yesus bagi Maria. Kedua perempuan itu menyerahkan/memberikan anak laki-laki mereka untuk kepentingan rencana Allah, bukan untuk kepentingan mereka sendiri. Tindakan mereka itu adalah tindakan yang benar-benar berani dan lepas-total dari motif mementingkan diri sendiri (tanpa pamrih). Memang tidak mudahlah bagi kita untuk merenungkan betapa besar cintakasih Bapa surgawi kepada Putera-Nya. Namun kita telah melihat bahwa Bapa surgawi sangat mengasihi kita manusia, sampai-sampai Dia memberikan kepada kita Putera-Nya yang tunggal itu sebagai Juruselamat kita (lihat Yoh 3:16).

Dengan demikian, Natal bagi kita masing-masing tidaklah lengkap tanpa tindakan kita untuk memberi. Pemberian yang terbaik dan terindah bukanlah sebuah benda, akan tetapi cintakasih yang kita berikan kepada Allah dan juga umat-Nya, artinya sesama kita.

DOA: Roh Kudus Allah, berikanlah kepadaku hikmat agar sungguh dapat memahami makna sejati dari tindakan memberi cintakasih kepada Allah dan juga sesamaku. Bentuklah aku menjadi murid Kristus yang sejati. Tanamkanlah keyakinan dalam diriku, bahwa dengan memberi aku menerima, dengan memberi pengampunan aku diampuni. Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Luk 1:46-56), bacalah tulisan yang berjudul “HANA DAN MARIA” (bacaan tanggal 22-12-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 17-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 22-12-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 19 Desember 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

IA YANG PERCAYA ADALAH YANG BERBAHAGIA

IA YANG PERCAYA ADALAH YANG BERBAHAGIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Kamis, 21 Desember 2017)

Peringatan S. Petrus Kanisius, Imam Pujangga Gereja

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan bergegas menuju sebuah kota di pegunungan Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.” (Luk 1:39-45)

Bacaan pertama: Kid 2:8-14 atau Zef 3:14-18a; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:2-3,11-12,20-21

“Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana” (Luk 1:45).

Apakah sebenarnya yang dipercayai oleh Maria? Tidak meragukan lagi, Maria percaya akan janji-janji khusus Tuhan kepada dirinya. Bahkan, secara lebih luas ia percaya segala hal yang dikatakan Allah mengenai dirinya dan apa yang harus dilakukannya. Pemikiran Maria sederhana, yaitu karena Allah telah terbukti setia di masa lampau, maka Dia akan tetap setia di masa depan juga. Allah tidak berubah, Dia adalah Allah Yang Mahasetia! Inilah yang menjadi fondasi tak tergoyahkan dari kehidupan Maria. Selagi dia percaya pada Allah di atas segalanya, dia pun menerima kekuatan untuk berdiri tegak dalam situasi-situasi sulit yang dihadapinya. Itulah sebabnya, mengapa umat Kristiani (khususnya Katolik) memandang Maria sebagai “model iman” dan “model seorang murid Kristus” yang patut diteladani.

Seperti Maria, kita pun dipanggil untuk untuk membangun kehidupan kita di atas fondasi yang kokoh dari Allah dan janji-janji-Nya. “Aku akan menjadi kota bentengmu”, Tuhan meyakinkan kita. “Taruhlah pengharapanmu dalam Aku.” Inilah yang diproklamasikan oleh sang pemazmur ketika dia berseru: “Jiwa kita menanti-nantikan TUHAN (YHWH), Dialah penolong kita dan perisai kita! Ya, karena Dia hati kita bersukacita, sebab kepada nama-Nya yang kudus kita percaya” (Mzm 33:20-21). Allah kita mahasetia, dan orang-orang yang percaya kepada-Nya sungguh mengenal “kegembiraan hati” yang sejati, yang dapat menggoncang dunia.

Dalam perhatiannya terhadap sabda Allah, Maria itu seperti perempuan dalam kitab “Kidung Agung” yang selalu mendengarkan suara dari kekasihnya (Kid 2:8). Nah, Allah adalah “Kekasih” kita juga. Apakah kita (anda dan saya) melihat-Nya dan percaya bahwa janji-janji-Nya yang terdapat dalam Kitab Suci merupakan janji-janji yang dibuat oleh-Nya bagi kita secara pribadi? Dia yang bersabda bahwa diri-Nya tidak pernah akan membiarkan kita terlantar – Dia itu mahasetia dalam membimbing langkah-langkah kita dan memberikan kekuatan kepada kita. Apakah kita berada dalam situasi yang berkemungkinan besar kehilangan pekerjaan kita, pindah ke rumah baru yang jauh dari tempat kerja dan sekolah yang baik bagi anak-anak, memasuki hidup perkawinan, menderita sakit-penyakit, mengatasi ketidakmampuan, atau berbagai macam kesulitan lainnya, kita tetap dapat mengingat kesetiaan Allah dan mohon pertolongan-Nya, bersama Bunda Maria dan dalam nama Yesus Kristus. Dalam setiap keadaan hidup, kita dapat mempermaklumkan bahwa Allah tidak hanya berada di samping kita, melainkan Dia menggendong kita senantiasa.

Teristimewa dalam masa Adven yang penuh rahmat ini, dalam doa marilah kita memohon kepada Allah untuk meyakinkan diri kita masing-masing tentang kesetiaan-Nya. Dia akan memberikan kepada kita damai-sejahtera yang mampu mengatasi godaan, rasa takut dan cemas kita. Kita harus percaya bahwa Allah akan melakukan segala sesuatu yang dikatakan-Nya akan dilakukan-Nya. Pax et Bonum bagi anda semua!

DOA: Bapa surgawi, Engkau adalah Allah yang Mahasetia. Aku percaya segala janji-Mu karena Engkau memang senantiasa setia pada sabda-Mu. Engkau adalah pengharapanku dan perisaiku. Aku sangat bersukacita karena menaruh kepercayaan pada-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:39-45), bacalah tulisan yang berjudul “TANDA-TANDA ROH KUDUS DI SEKELILING KITA” (bacaan tanggal 21-12-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2017.

(Tulisan  ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-12-16 dalam situs/blog SANG SABDA)

Jakarta, 19 Desember 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

CERITA TENTANG SEORANG PEREMPUAN YAHUDI PILIHAN ALLAH

CERITA TENTANG SEORANG PEREMPUAN YAHUDI PILIHAN ALLAH  

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Rabu, 20 Desember 2017) 

Dalam bulan yang keenam malaikat Gabriel disuruh Allah pergi ke sebuah kota yang bernama Nazaret,kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu datang kepada Maria, ia berkata, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”  Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya, “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh anugerah di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapak leluhur-Nya, dan Ia akan memerintah atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-nya tidak akan berkesudahan.”  Kata Maria kepada malaikat itu, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.”  Kata Maria, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia. (Luk 1:26-38) 

Bacaan Pertama: Yes 7:10-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 24:1-6 

Maria adalah seorang perempuan Yahudi yang setia, salah seorang anggota sejati dari umat Allah, seorang pewaris janji-janji yang telah dibuat Allah dengan umat pilihan-Nya. Allah tidak sekadar memilih sembarang perempuan untuk menjadi ibu Yesus; Ia memilih seorang perempuan muda dari antara orang-orang yang dikasihi-Nya. Jadi, melalui Maria – seorang perwakilan Israel – Allah memenuhi semua janji-Nya yang diberikan di bawah perjanjian (Inggris: covenant), mengutus Yesus ke tengah dunia sebagai sang Mesias dan Pembebas semua orang. Allah menggunakan Maria dalam rencana abadi-Nya untuk mencurahkan kasih-Nya ke dalam diri kita.

Allah membuat banyak janji kepada umat-Nya dalam Perjanjian Lama. Allah memberi sebuah tanda kepada raja Ahas, walaupun Ahas tidak mau karena dia tidak ingin mencobai TUHAN (YHWH): “Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel” (Yes 7:14). Imanuel berarti “Allah beserta/menyertai kita” (lihat Mat 1:23), dan janji ini dipenuhi melalui Maria dalam diri Yesus, Putera Allah yang datang dan “tinggal di antara kita” (Yoh 1:14).

Banyak bacaan Perjanjian Lama pada masa Adven mempermaklumkan kedatangan Mesias sebagai Pribadi yang akan membebaskan umat Allah dari belenggu dosa dan membawa mereka kehidupan dan kedamaian. Walaupun orang-orang Israel berulang-kali memberontak melawan-Nya, YHWH tetap setia kepada  perjanjian-Nya dan berjanji untuk memimpin mereka ke luar dari kegelapan dan penindasan. Melalui kelahiran Yesus, kehidupan, kematian dan kebangkitan-Nya, Allah mencapai pekerjaan pembebasan ini, yakni menyatakan kasih-Nya kepada semua orang.

Marilah kita ingat selalu, bahwa pekerjaan Allah dalam diri Maria-lah yang membawa kita semua kepada peristiwa kelahiran Tuhan Yesus: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau” (Luk 1:35). Mukjizat ini terjadi dalam kerangka rencana kekal-abadi Allah yang lebih besar, yang mulai sebelum penciptaan dan akhirnya akan dipenuhi pada saat kedatangan kembali Yesus kelak. Kita seharusnya bergembira selagi kita menyaksikan rencana agung Allah ini bekerja dalam kehidupan kita, ketika kita mengalami Yesus yang adalah Imanuel.

Kelahiran Yesus dari Bunda Maria membawa kasih Allah ke tengah dunia dengan cara yang baru dan kekal. Marilah kita berdoa agar dapat mengalami kasih dan kuat-kuasa Ilahi ini pada masa Natal ini secara lebih mendalam lagi. Kita juga akan berdoa bagi negeri kita tercinta Indonesia ini, bagi dunia; agar kuasa-kuasa kegelapan dipatahkan dan kasih Allah dalam Kristus Yesus akan mengalir ke dalam hati semua orang.

Bersama seluruh Gereja, baiklah kita berdoa: “Datanglah, hai Kunci Daud, bukalah pintu-pintu gerbang kerajaan Allah yang kekal: Bebaskanlah para tawanan dari kegelapan.” 

DOA: Allah, Bapa kami, kuduslah nama-Mu. Pada waktu menerima pesan-Mu lewat malaikat agung Gabriel, Maria Kaujadikan Bait Suci-Mu, dan dirinya pun dipenuhi dengan terang Roh Kudus. Semoga melalui contoh Maria, dengan kerendahan hati dan kesetiaan, kami dapat mengikuti kehendak-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 1:26-38), bacalah tulisan yang berjudul “ENGKAU BEROLEH ANUGERAH DI HADAPAN ALLAH” (bacaan tanggal 20-12-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori:  17-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-12-16 dalam situs/blog SANG SABDA] 

Cilandak, 18 Desember 2016 [HARI MINGGU ADVEN IV – TAHUN A] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

RENCANA AGUNG DAN MAHASEMPURNA DARI ALLAH

RENCANA AGUNG DAN MAHASEMPURNA DARI ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA SP MARIA DIKANDUNG TANPA DOSA – Jumat, 8 Desember 2017)

Keluarga besar Fransiskan: HARI RAYA PELINDUNG DAN RATU TAREKAT

 

Dalam bulan yang keenam malaikat Gabriel disuruh Allah pergi ke sebuah kota yang bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu datang kepada Maria, ia berkata, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”  Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya, “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh anugerah di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapak leluhur-Nya, dan Ia akan memerintah atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.”  Kata Maria kepada malaikat itu, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.”  Kata Maria, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia. (Luk 1:26-38) 

Bacaan Pertama: Kej 3:9-15,20; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4; Bacaan Kedua: Ef 1:3-6,11-12.

Sejak kekal, Allah telah mempunyai sebuah rencana bagi Putera-Nya – bahwa Dia akan membawa Putera-Nya itu ke tengah dunia melalui seorang perempuan yang akan dijaga oleh-Nya dari dosa asal. Pesta gerejawi yang kita rayakan pada hari ini, tanggal 8 Desember, sebenarnya adalah suatu perayaan tentang rencana agung dan mahasempurna dari Allah Bapa. Hari raya ini adalah sebuah pengakuan, bahwa hal seperti perkandungan Maria pun sudah direncanakan dengan kemahatelitian sehingga perempuan ini kelak menjadi sebuah bejana sempurna bagi Allah Putera. Dengan sekadar pikiran manusia, kita sungguh tidak dapat membayangkan betapa “rumit” karya Allah dalam diri Maria sehingga perempuan dari Nazaret ini dapat memainkan perannya dalam sejarah keselamatan dengan baik. Seperti dengan Maria, Allah juga telah merencanakan setiap detil kehidupan kita. Apakah kita percaya bahwa Allah menciptakan kita dengan perhatian dan kasih kepada kita, tidak bedanya seperti halnya dalam kasus Maria? Apakah kita percaya bahwa Allah bangga kepada kita dan apa yang telah diminta-Nya untuk kita kerjakan, seperti juga dalam kasus Maria?  Memang begitulah! Segala sesuatu tentang kehidupan kita adalah berdasarkan rencana Allah yang mahasempurna sehingga kita dapat menjalani hidup ini seturut “takdir” masing-masing.

Tidak ada seorang pun dari kita “ada” secara kebetulan, dan Allah sang Mahapencipta tidak membiarkan kita sendiri dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Sadar akan hal itu, kita pun dapat belajar mengenai rencana Allah dan mengikuti rencana itu, seperti yang telah dicontohkan Santa Perawan Maria sekitar 2.000 tahun lalu. Kita tahu bahwa dalam Kristus, Allah menginginkan agar kita kudus, tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Dia telah menentukan kita dari semula melalui Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, supaya terpujilah anugerah-Nya yang mulia … (lihat Ef 1:4-6).  Namun agar mampu memainkan peranan spesifik kita masing-masing, kita harus selalu waspada dan responsif terhadap panggilan Allah dalam hidup kita.  Dalam bacaan Injil di atas kita lihat, bahwa Maria telah “ditakdirkan” untuk memainkan peranan khusus dalam sejarah penyelamatan. Hal ini sebenarnya tidak berbeda bagi kita. Kita masing-masing juga diciptakan secara unik untuk memainkan suatu peranan vital dalam kerajaan-Nya. Untuk itu kita harus banyak belajar dari Bunda kita, Maria.

Dalam jawaban “ya” (fiat) Maria kepada Allah (yang diwakili oleh Malaikat Gabriel), Lukas memberikan gambaran sekilas tentang hati Maria yang tanpa noda-dosa (Inggris: Immaculate Heart of Mary). Maria menunjukkan kepada kita sebuah hati yang begitu menaruh kepercayaan pada Allah, mengasihi-Nya, dan yang berkeinginan hanya untuk menyenangkan-Nya dan taat kepada-Nya. Sebagai seorang pribadi “yang dikaruniai Allah” secara istimewa, Maria – atas dasar kehendak bebas – memilih untuk memeluk rencana penyelamatan Allah dan siap sedia untuk berkorban demi memajukan rencana tersebut.

Teristimewa pada hari ini, tidak salahlah kalau kita menghormati serta memuliakan hati Maria yang tak bernoda. Namun juga tidak salah bagi kita hari ini untuk mengingat hal yang sama, yang telah menjaga Maria dari efek-efek dosa pada saat dia dikandung, yaitu segala manfaat serta keuntungan yang disebabkan oleh kematian dan kebangkitan Yesus Kristus yang diberikan kepada kita semua pada waktu pembaptisan. Pada waktu kita dibaptis, kita dicuci bersih dari segala noda dosa, dan pintu surga pun terbuka bagi kita. Roh Kudus menaungi kita dan Yesus datang untuk hidup di dalam hati kita masing-masing. Kita menjadi mampu memiliki disposisi “mempercayai dan mengasihi Allah” seperti telah ditunjukkan oleh Maria. Namun disposisi hati seperti Maria itu harus dibentuk dalam diri kita secara bertahap sementara kita melakukan pertobatan atas dosa-dosa kita dan menempatkan diri kita sepenuhnya sebagai pelayan/hamba Allah. Kita mencari Dia dalam doa,  dalam liturgi (teristimewa Ekaristi), dalam pembacaan Kitab Suci, dalam persekutuan dengan para anggota keluarga kita yang kita yakini sebagai “ecclesia domestica” (gereja domestik), persekutuan dalam komunitas-komunitas teritorial seperti lingkungan/wilayah/paroki.; ataupun persekutuan dalam komunitas-komunitas kategorial. Selagi kita mencari-Nya, Allah pun akan memberi petunjuk peranan apa kiranya yang harus kita mainkan. Kita tidak perlu takut, karena apa yang direncanakan Allah untuk dilakukan oleh kita akan dilengkapi dengan pemberdayaan diri kita oleh-Nya melalui Roh Kudus-Nya. Hanya kita sendirilah yang dapat mengisi peranan yang telah ditentukan bagi kita. Dan dia akan memberikan rahmat-Nya yang diperlukan untuk melaksanakan rencana-Nya itu.

DOA: Allah yang Mahakuasa, rencana dan jalan pikiran-Mu tak mampu ditangkap oleh pikiranku. Dengan rendah hati aku hanya mohon kepada-Mu, ya Allahku, agar Engkau memenuhi rencana-Mu bagi hidupku. Perkenankanlah Roh Kudus-Mu untuk membuat aku lebih menaruh kepercayaan pada-Mu selagi Engkau berkarya membangun kerajaan-Mu melalui diriku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kej 3:9-15,20),  bacalah  tulisan yang berjudul “HAWA YANG BARU” (bacaan tanggal 8-12-17) dalam situs/blog  SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 8-12-16 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 6 Desember 2017 [Peringatan S. Nikolaus, Uskup] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS