Posts from the ‘BUNDA MARIA’ Category

SIAPA IBU-KU DAN SIAPA SAUDARA-SAUDARA-KU?

SIAPA IBU-KU DAN SIAPA SAUDARA-SAUDARA-KU?

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA X [Tahun B], 10 Juni 2018)

Kemudian Yesus masuk ke sebuah rumah. Orang banyak datang lagi berkerumun, sehingga makan pun mereka tidak dapat. Waktu keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi. Ahli-ahli Taurat yang datang dari Yerusalem berkata, “Ia kerasukan Beelzebul,” dan, “Dengan pemimpin setan Ia mengusir setan.” Yesus memanggil mereka, lalu berkata kepada mereka dalam perumpamaan, “Bagaimana Iblis dapat mengusir Iblis? Kalau suatu kerajaan terpecah-pecah, kerajaan itu tidak dapat bertahan, dan jika suatu rumah tangga terpecah-pecah, rumah tangga itu tidak dapat bertahan. Demikianlah juga kalau Iblis berontak melawan dirinya endiri dan kalau ia terbagi-bagi, ia tidak dapat bertahan, melainkan sudahlah tiba kesudahannya. Tetapi tidak seorang pun dapat memasuki rumah seorang yang kuat untuk merampas harta bendanya apabila tidak diikatnya dahulu orang kuat itu. Sesudah itu barulah dapat ia merampok rumah itu. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Semua dosa dan hujat  apa pun yang diucapkan anak-anak manusia akan diampuni. Tetapi siapa saja yang menghujat Roh Kudus tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat ldosa yang kekal.” Ia berkata demikian karena mereka mengatakan bahwa Ia kerasukan roh jahat. 

Lalu datanglah ibu dan saudara-saudara Yesus. Sementara mereka berdiri di luar, mereka menyuruh orang memanggil Dia. Ada orang banyak duduk mengelilingi Dia, mereka berkata kepada-Nya, “Lihat, ibu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau.” Jawab Yesus kepada mereka, “Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?” Ia melihat kepada orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya itu dan berkata, “Inilah ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Siapa saja yang melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku perempuan dan ibu-Ku.” (Mrk 3:20-35) 

Bacaan Pertama: Kej 3:9-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 130:1-8; Bacaan Kedua: 2Kor 4:13 – 5:1

Kaum keluarga Yesus menganggap-Nya tidak waras (Mrk 3:21) dan para pemuka/ pemimpin agama Yahudi menuduh-Nya kerasukan Beelzebul (Mrk 3:22). Para pemuka/pemimpin agama tersebut samasekali tidak mampu melihat kebaikan dalam karya pelayanan Yesus, seperti menyembuhkan segala sakit-penyakit dlsb. Bagi mereka yang terpenting bukanlah penderitaan orang lain, melainkan keuntungan diri sendiri. Segala hal yang mendukung posisi/kekuasaan mereka dalam masyarakat adalah baik di mata mereka, sedangkan hal-hal yang merongrong kedudukan mereka adalah buruk. Sang Rabi keliling dari Nazaret sudah semakin diposisikan sebagai lawan Yudaisme oleh mereka.

Karena alasan praktis, marilah sekarang  secara khusus kita menyoroti bagian kedua bacaan Injil hari ini saja, yaitu tentang hubungan Yesus dan ibu serta saudara-saudara-Nya (Mrk 3:31-35).

Ibu Yesus dan saudara-saudara-Nya sedang berada di luar rumah di mana Yesus sedang sibuk melayani banyak orang. Kiranya mereka tidak dapat masuk ke dalam rumah karena orang banyak. Oleh karena itu mereka meminta supaya disampaikan kepada Yesus bahwa mereka sedang menantikan-Nya di luar.

Permintaan tersebut disampaikan oleh orang banyak yang duduk mengelilingi Yesus kepada-Nya: “Lihat, ibu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau” (Mrk 3:32). Reaksi Yesus cukup mengejutkan dan terasa tidak “normal” bagi telinga kita dan tentunya bagi mereka yang hadir di situ. Yesus tidak langsung bangkit  berdiri sebagai seorang anak yang baik untuk menemui ibu-Nya, melainkan balik bertanya kepada mereka yang hadir: “Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?” (Mrk 3:33). Di sini Yesus terlihat seakan-akan menganggap remeh atau menyepelekan keluarga-Nya sendiri, teristimewa ibu-Nya. Kesan itu tidak salah, namun kita harus ingat bahwa peristiwa itu merupakan kesempatan bagi Yesus untuk menyampaikan suatu topik yang penting kepada semua orang yang sedang mendengarkan pengajaran-Nya. Apakah kiranya topik penting yang terkesan begitu urgent itu?

Hubungan Yesus dengan ibu-Nya memang penting, namun ada satu hal yang lebih penting lagi, yakni membangun sebuah keluarga baru. Ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya yang baru adalah “mereka yang duduk di sekeliling-Nya” dan mendengarkan Dia. Siapa saja yang melakukan kehendak Allah adalah saudari-saudara-Nya dan ibu-Nya. “Melakukan kehendak Allah” di sini berarti duduk di sekeliling-Nya sebagai murid, mendengarkan Dia dan kemudian jalan mengikuti jejak-Nya.

Yesus samasekali tidak menolak mereka yang secara “biologis” adalah keluarga-Nya karena – seperti dikatakan oleh-Nya sendiri – sebuah keluarga yang anggota-anggotanya saling bertengkar tidak akan bertahan (bdk. Mrk 3:25). Permasalahan karena kesalahpahaman mengenai “kewarasan” diri-Nya kiranya dapat dibereskan kemudian. Yang penting dan perlu diketahui sekarang adalah bahwa Dia sangat mengasihi mereka yang sedang mendengarkan-Nya sebagaimana Dia mengasihi ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya. Dia mengasihi orang-orang yang mau menjadi murid-murid-Nya. Dia mau membentuk sebuah keluarga baru bersama mereka.

“Ketidakwarasan” Yesus dalam sikap dan perilaku-Nya yang lebih mementingkan perkara Allah daripada perkara manusia terletak dalam keprihatinan-Nya untuk membentuk sebuah keluarga/persaudaraan baru. Keluarga/persaudaraan yang baru ini tidak boleh terbelenggu dalam cinta kasih kekeluargaan yang sempit, tetapi dalam kasih sejati yang bersumber pada Allah saja. Yesus secara radikal menempatkan ikatan kekeluargaan secara biologis (dan kewajiban mengasihi anggota keluarga) “di bawah” suatu ikatan yang lebih tinggi, yaitu ikatan persaudaraan di bawah Allah Bapa: Keluarga Allah. Kerajaan Allah dalam diri kita membuat tuntutan-tuntutan atas komitmen kita  yang kadang-kadang harus melampaui semua ikatan kekeluargaan biologis, bahkan ikatan kebangsaan.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Kami sungguh bahagia, ya Yesus, dan berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena kami Engkau jadikan  saudari dan saudara-Mu sendiri. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 3:20-35), bacalah tulisan yang berjudul “BAGAIMANA IBLIS DAPAT MENGUSIR IBLIS?” (bacaan tanggal 10-6-18) dalam situs/blog SANG SABDA https://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2018. 

Cilandak, 7 Juni 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

MARIA MEMULIAKAN TUHAN

MARIA MEMULIAKAN TUHAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S.P. Maria Mengunjungi Elisabet – Kamis, 31 Mei 2018)

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan bergegas menuju sebuah kota di pegunungan Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.”

Lalu kata Maria, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan kuduslah nama-Nya. Rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.” Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya. (Luk 1:39-56) 

Bacaan Pertama: Zef 3:14-18a atau Rm 12:9-16b; Mazmur Tanggapan: Yes 12:2-6

Ada tiga kidung dari Injil Lukas yang setiap hari kita doakan/daraskan/nyanyikan dalam Ibadat Harian kita, yaitu “Kidung Zakharia” [Benedictus; Luk 1:68-79] untuk Ibadat Pagi, “Kidung Maria” [Magnificat; Luk 1:46-55] untuk Ibadat Sore, dan “Kidung Simeon” [Nunc Dimittis; Luk 2:29-32] untuk Ibadat Penutup. Dalam kesempatan ini marilah kita soroti apa yang termuat dalam “Kidung Maria” itu, sebuah kidung yang dinyanyikan olehnya pada waktu mengunjungi Elisabet, saudaranya.

Kita dapat membayangkan sejenak apa kiranya yang ada dalam hati dan pikiran Maria setelah melakukan perjalanan jauh dari Nazaret, Galilea ke Ain Karem di dataran tinggi Yudea itu. Pikirkan bagaimana dia begitu bersukacita penuh syukur ketika memikirkan kebaikan Allah yang begitu luarbiasa atas dirinya. Dan, ia memang telah mempercayakan affair-nya dengan Roh Kudus sepenuhnya kepada Allah Perjanjian, teristimewa perihal pertumbuhan jabang bayi yang ada dalam rahimnya. Kidung Maria yang indah ini adalah buah dari permenungan Maria sepanjang perjalanan jauh tersebut. Elisabet meneguhkan siapa sesungguhnya Maria ketika dia digerakkan oleh Roh Kudus untuk berseru, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang ada di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana” (Luk 1:42-45). Kidung Maria menunjukkan kepada kita beberapa prinsip bagi doa-doa yang kita panjatkan.

Kidung Maria adalah sebuah “doa iman”, seperti Maria sendiri adalah “model iman” dan juga merupakan doa bagi kita semua. Kidung Maria ini barangkali merupakan doa yang paling dipenuhi kerendahan hati, seperti termuat dalam Kitab Suci. Dalam Magnificat, Maria mengakui kebenaran tentang siapa Allah itu dan siapa dirinya di hadapan Allah. Katekismus Gereja Katolik (KGK) mengajarkan kepada kita bahwa “kerendahan hati adalah dasar doa” (KGK, 2559). Pasti kerendahan hati menjadi fondasi dari Kidung Maria ini, ketika dia mengakui bahwa Allah “telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya … karena yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku” (Luk 1:48,49).

Kidung Maria ini pun merupakan sebuah doa yang mencerminkan iman-kepercayaan seseorang yang sangat mendalam. Maria mempercayai apa yang akan dilakukan oleh Allah atas dirinya. Sepanjang hidupnya Maria tetap penuh percaya pada kerahiman dan kebaikan hati Allah (lihat Luk 1:50). Dia percaya bahwa Allah akan meninggikan orang-orang yang rendah dalam dunia ini dan Dia akan setia pada segala janji-Nya (Luk 1:52-53.55). Kidung Maria merupakan sebuah contoh indah tentang kenyataan bahwa kita tidak perlu melakukan perbuatan-perbuatan besar di mata publik untuk menyenangkan Allah atau menguraikan secara terinci suatu isu teologis yang mendalam. Dengan mengikuti teladan Maria dalam mengasihi Allah, mempercayai Dia dan dengan rendah hati berjalan bersama-Nya, kita semua pun dapat menyenangkan Allah.

Selagi anda datang menghadap sang Mahatinggi setiap hari dalam doa pribadi, cobalah untuk mengingat contoh kerendahan hati dan iman-kepercayaan Bunda Maria. Bersama dia dan dalam kuasa Roh Kudus, kita pun akan mampu mendeklarasikan bahwa, “Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan kuduslah nama-Nya” (Luk 1:49).

DOA: Bapa surgawi, Engkau telah memilih puteri-Mu Maria untuk menjadi Bunda Putera-Mu yang tunggal, Yesus. Tolonglah aku untuk senantiasa menghadap-Mu dalam kerendahan hati dan rasa percaya penuh kasih, seperti telah ditunjukkan oleh Bunda Maria. Oleh kuasa Roh-Mu, penuhilah diriku dengan iman yang mendalam sebagaimana yang dimiliki Bunda Maria. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan  Injil hari ini (Luk 1:39-56), bacalah tulisan yang berjudul “DUA HAL YANG BERBEDA, NAMUN SALING BERHUBUNGAN” (bacaan tanggal 31-5-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-05 BACAAN HARIAN MEI 2018.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 31-5-17 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 27 Mei 2018 [HARI RAYA TRITUNGGAL MAHAKUDUS]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MARIA DIBERI KABAR OLEH MALAIKAT GABRIEL

MARIA DIBERI KABAR OLEH MALAIKAT GABRIEL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Raya Kabar Sukacita – Sabtu, 24 Maret 2018)

Dalam bulan yang keenam malaikat Gabriel disuruh Allah pergi ke sebuah kota yang bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu datang kepada Maria, ia berkata, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”  Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya, “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh anugerah di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapak leluhur-Nya, dan Ia akan memerintah atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.”  Kata Maria kepada malaikat itu, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.”  Kata Maria, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia. (Luk 1:26-38) 

Bacaan Pertama: Yes 7:10-14;8:10; Mazmur Tanggapan: Mzm 40:7-11; Bacaan Kedua: Ibr 10:4-10 

“Maria diberi kabar oleh malaikat Tuhan, bahwa ia akan mengandung dari Roh Kudus. Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu”, demikianlah bunyi sebagian dari doa Malaikat Tuhan (Angelus), yang kita doakan tiga kali setiap hari di luar masa Paskah (lihat Puji Syukur # 15).

Sekarang marilah kita membayangkan apa yang kiranya terjadi dengan seorang gadis desa berusia 14/16 tahun yang bernama Maria itu sekitar 2.000 tahun lalu: Malaikat Gabriel mengunjungi Maria dan memberi kabar kepada gadis itu bahwa dia telah dipilih untuk mengandung dan melahirkan Putera Allah. Tanggapan Maria atas pemberitahuan malaikat tersebut adalah: “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38). Ini adalah tanggapan dari seorang pribadi manusia yang senantiasa siap sedia untuk dipakai Allah. Sikap dan perilaku yang patut kita contoh.

Sejak Maria mengatakan “ECCE ANCILLA DOMINI FIAT MIHI SECUNDUM VERBUM TUUM” (ini versi Latin dalam Vulgata) ini, semua ciptaan tidak akan pernah sama lagi. Pada saat yang sangat penting dalam sejarah penyelamatan umat manusia itu, Allah yang Mahakuasa menyatakan kedalaman kasih-Nya: Putera-Nya merendahkan diri-Nya, menjadi sama dengan manusia. Putera-Nya taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib (lihat Flp 2:7-8). Santo Athanasios Agung (296-373), Uskup dan salah satu dari empat orang Pujangga Gereja Timur, pembela iman yang benar, menulis: “Daripada makhluk ciptaan-Nya hancur-hilang dan karya Bapa bagi kita menjadi sia-sia, Dia mengambil bagi diri-Nya sesosok tubuh manusia seperti kita” (diambil dari tulisannya tentang Inkarnasi).

Yesus berhasrat untuk mengambil kemanusiaan kita bagi diri-Nya agar oleh kematian dan kebangkitan tubuh-Nya, Dia dapat memberikan hidup-Nya sendiri kepada kita. Yesus turut ambil bagian sepenuhnya dalam setiap aspek kemanusiaan kita. Dengan demikian Ia dapat menunjukkan kepada kita bagaimana seharusnya menjalani hidup dalam dunia ini. Sebagai imam besar agung yang penuh belas kasih, yang ‘ditakdirkan’ untuk memikul segala dosa manusia, Yesus menjalani kehidupan manusia sepenuh-penuhnya seperti halnya kita. Ia telah dicobai, hanya saja Ia tidak berbuat dosa (Ibr 4:15). Yesus hidup dalam dunia ini yang sudah dirusak oleh dosa. Oleh karena itu Dia mampu untuk menghibur kita dan mengangkat hati kita kepada Bapa surgawi.

Apakah anda pernah mengalami kehilangan orangtua atau orang yang sangat anda kasihi karena kematian? Sebagai manusia Yesus pun telah mengalami kematian “ayah angkat-Nya” Yusuf. Apakah anda mengalami kesulitan dalam memecahkan masalah relasi tertentu? Sebagai manusia Yesus pun harus belajar bagaimana mengasihi setiap jenis pribadi manusia. Apakah anda merasa terluka pada waktu orang-orang yang dekat padamu justru tidak memahami anda? Sebagai manusia Yesus pun terus menghormati ibu-Nya, bahkan pada saat Maria sang ibu tidak dapat memahami misi-Nya (lihat Luk 2:48-51). Tuhan Yesus mendampingi kita masing-masing dalam setiap situasi, memberikan kepada kita rahmat dan memperkuat kita dengan cintakasih-Nya. Marilah kita mohon kepada-Nya untuk selalu berada di sisi kita setiap saat. Baiklah kita menerima segala berkat yang tersedia bagi kita melalui keikutsertaan-Nya yang penuh kedinaan dalam kemanusiaan kita.

DOA: Aku mengasihi-Mu, Yesus, Tuhan dan Juruselamatku! Perendahan dan kedinaan-Mu untuk  ikut-serta dalam kemanusiaan sungguh tak mampu tertangkap akal budiku. Terima kasih karena Engkau telah mengambil bagian dalam hidup kemanusiaanku. Terima kasih karena Engkau selalu bersamaku dalam setiap situasi. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:26-38), bacalah tulisan yang berjudul “FIAT SP MARIA YANG SANGAT MENENTUKAN DALAM SEJARAH KESELAMATAN UMAT MANUSIA” (bacaan tangggal 24-3-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-03 BACAAN HARIAN MARET 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 25-3-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 21 Maret 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MELAKUKAN KEHENDAK ALLAH

MELAKUKAN KEHENDAK ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa III – Selasa, 23 Januari 2018)

Hari Keenam Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani

Lalu datanglah ibu dan saudara-saudara Yesus. Sementara mereka berdiri di luar, mereka menyuruh orang memanggil Dia. Ada orang banyak duduk mengelilingi Dia, mereka berkata kepada-Nya, “Lihat, ibu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau.”  Jawab Yesus kepada mereka, “Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?”  Ia melihat kepada orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya itu dan berkata, “Inilah ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Siapa saja yang melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku perempuan dan ibu-Ku.”  (Mrk 3:31-35)

Bacaan Pertama: 2Sam 6:12b-15,17-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 24:7-10

Apa kiranya yang sampai menyebabkan sanak keluarga Yesus “datang untuk mengambil Dia” dan mengatakan bahwa “Ia tidak waras lagi” (Mrk 3:21)? Agar supaya kita dapat memahami dengan lebih jernih apa yang kiranya ada dalam pikiran sanak saudara-Nya, marilah kita membayangkan diri kita sebagai salah seorang saudara sepupu Yesus. Kita telah melihat terjadinya suatu perubahan signifikan dalam hidup Yesus, ketika pada waktu berusia 30 tahun, Ia menerima pembaptisan tobat dari Yohanes Pembaptis di Sungai Yordan dan setelah itu menjalani puasa selama 40 hari di padang gurun.

Kemudian, ketika kembali dari padang gurun, Yesus mulai mempermaklumkan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat dan Ia menyerukan kepada orang-orang untuk bertobat dan percaya kepada Injil. Ia mulai mengumpulkan sekelompok murid-murid di sekeliling-Nya, selagi Dia berkeliling mengusir roh-roh jahat, mengajar dengan penuh wibawa dan kuasa, menyembuhkan orang-orang sakit dan mengatakan kepada orang-orang bahwa dosa-dosa mereka telah diampuni. Ia banyak “membuang” waktu dengan para pendosa dan pemungut cukai. Banyak orang mulai mengikuti Dia. Orang-orang sakit berdesak-desakan untuk mendekati Dia. Dan, orang-orang yang dirasuki roh jahat berteriak dan sujud menyembah Dia. Kerap terjadi, saking sibuknya Dia sampai tak mempunyai waktu untuk makan.

Dari sini kita dapat sedikit memahami mengapa sanak keluarga Yesus menjadi prihatin perihal kesejahteraan-Nya dan dengan demikian berusaha untuk mengambil Dia dan membawa-Nya pulang. Bagaimana pun juga, mereka tidak tahu secara penuh siapa Yesus ini dan misi apa yang diemban-Nya. Bahkan Maria sendiri, betapa pun kudusnya dia, harus mengalami proses pertumbuhan dalam pemahamannya akan kata-kata malaikat kepada Yusuf, bahwa anaknya “akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka”  (Mat 1:21).

Pada waktu sanak keluarga-Nya datang untuk menemui Yesus, Ia melihat kepada orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya, “Inilah ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Siapa saja yang melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku perempuan dan ibu-Ku” (Mrk 3:34-35). Apa yang terdengar sebagai omelan, sesungguhnya adalah sebuah undangan bagi siapa saja untuk menjadi bagian dari keluarga Yesus – untuk menjadi sedekat mungkin dengan-Nya, seperti ibu-Nya dekat dengan-Nya. Betapa membahagiakan hati  untuk mengetahui bahwa kita semua dapat bertumbuh semakin mendalam dalam pemahaman kita akan Yesus dan dalam kemampuan kita untuk mentaati sabda-Nya. Ini adalah alasan utama mengapa Yesus telah memberikan kepada kita Roh Kudus-Nya – yakni untuk mengajar kita dan memberdayakan kita.

Bapak Serafik kita, Santo Fransiskus dari Assisi, dalam “Surat Pertama kepada Kaum Beriman”, menulis: O betapa bahagia dan terberkatilah mereka itu, pria maupun wanita, apabila hal-hal itu [1] mereka lakukan dengan tekun; karena Roh Tuhan akan tinggal pada mereka dan Tuhan akan memasang tempat tinggal dan kediaman-Nya pada mereka; maka mereka menjadi anak-anak Bapa Surgawi yang karya-Nya mereka laksanakan; dan menjadi mempelai, saudara dan ibu Tuhan kita Yesus Kristus. Kita menjadi mempelai bila jiwa yang setia disatukan dengan Tuhan kita Yesus Kristus oleh Roh Kudus. Kita menjadi saudara bagi-Nya bila kita melaksanakan kehendak Bapa yang ada di surga. Kita menjadi ibu bila kita mengandung Dia di dalam hati dan tubuh kita karena kasih ilahi dan karena suara hati yang murni dan jernih. Kita melahirkan Dia melalui karya yang suci, yang harus bercahaya bagi orang lain sebagai contoh” (1SurBerim 5-10).

[1] 1. mencintai Tuhan; 2. mencintai sesama; 3.membenci tubuh dengan cacat-cela dan dosa-dosanya; 4. menyambut tubuh dan darah Tuhan Yesus Kristus; 5. menghasilkan buah-buah pertobatan yang pantas (1SurBerim 1-4).

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah memberikan kepada kami iman yang hidup dalam Putera-Mu, Yesus Kristus. Oleh Roh Kudus-Mu, buatlah iman-kepercayaan kami menjadi lebih mendalam lagi. Ajarlah kami lebih banyak lagi mengenai Yesus sehingga kami dapat mengasihi-Nya dengan lebih mendalam lagi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 3:31-35), bacalah tulisan yang berjudul “ADA IKATAN KEKELUARGAAN YANG LEBIH AGUNG” (bacaan tanggal 23-1-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: BACAAN HARIAN JANUARI 2018.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 24-1-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 21 Januari 2017 [HARI MINGGU BIASA III – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MARIA ADALAH THEOTOKOS

MARIA ADALAH THEOTOKOS

(Bacaan Injil Misa Kudus pada Hari Raya S. Maria Bunda Allah, Hari Oktaf Natal Tahun Baru  – Senin, 1 Januari 2018)

HARI PERDAMAIAN SEDUNIA

Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan. Ketika melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. Semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka. Tetapi Maria menyimpan segala perkataan itu di dalam hatinya dan merenungkannya. Kemudian kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.

Ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya. (Luk 2:16-21) 

Bacaan Pertama: Bil 6:22-27; Mazmur Tanggapan: Mzm 67:2-3,5-6,8; Bacaan Kedua: Gal 4:4-7

Selagi masa Natal berjalan dari hari demi hari, Roh Kudus terus mengundang kita untuk merenungkan peristiwa-peristiwa di sekitar kelahiran Yesus. Pesta yang dirayakan Gereja hari ini secara khusus penting karena memusatkan perhatian kita pada kenyataan bahwa Maria mengandung Putera Allah dalam rahimnya. Maria adalah Theotokos atau Bunda Allah (Pembawa Allah = God’s bearer). Sejak saat dikandung, Yesus dari Nazaret – dalam pribadi-Nya – memegang segala kepenuhan kasih Allah, rahmat-Nya dan kuasa-Nya.

Tidak lama setelah melahirkan Yesus, para gembala berdatangan ke tempat di mana Yesus, Maria dan Yusuf berada. Mereka memberikan sebuah laporan (secara lisan tentunya) tentang malaikat yang mengumumkan kelahiran Mesias. Maria mendengarkan dengan penuh perhatian segala yang dikatakan para gembala itu. Bagi dirinya semua ini adalah sebuah misteri tentunya: segala perkataan itu  disimpan Maria di dalam hatinya dan direnungkannya (lihat Luk 2:19). Maria tidak rewel tentang bahaya-bahaya yang akan dihadapi oleh keluarga kecilnya. Dia juga tidak merasa cemas tentang apa yang kiranya akan terjadi di masa depan, atau menyesali apa yang seharusnya terjadi di masa lampau seandainya dia dan Yusuf tidak diminta memelihara Putera Allah. Sebaliknya, Maria dengan penuh perhatian mengamati segala cara kerja Allah sementara dia mengandung, melahirkan Yesus dan membesarkan-Nya. Maria tidak membiarkan firman dan tindakan Allah menjadi sekadar sekumpulan kenangan yang secara perlahan akan hilang; dia menyimpan semua itu tetap hidup dalam hatinya.

Demikian pula, Allah tidak ingin kebenaran-kebenaran-Nya menghilang dari pikiran kita. Allah menginginkan agar kita meniru Maria dengan memegang janji-janji-Nya dalam hati kita masing-masing sepanjang tahun. Sesungguhnya Allah memberikan tahun baru ini sebagai suatu kesempatan bagi kita untuk bertumbuh dalam pengenalan kita akan kasih-Nya. Tentu saja Maria tidak hanya mempunyai kenangan akan peristiwa-peristiwa di masa lalu. Yesus selalu berada bersama Yesus, hari demi hari. Sekarang, lewat kuasa Roh Kudus kita pun dapat mengalami kehadiran Yesus dari hari ke hari. Ini adalah bagian dari janji Injil: Semakin banyak kita merenungkan dalam suasana doa siapa Yesus itu dan apa yang telah dilakukan-Nya, semakin dekat pula Dia menarik kita kepada diri-Nya.

Dalam tahun baru ini, marilah kita membangun niat dalam resolusi khusus, yaitu untuk menyisihkan waktu yang lebih banyak lagi setiap hari untuk kegiatan doa dan pembacaan/renungan Kitab Suci. Selagi anda berupaya dengan serius, anda pun akan mengalami bahwa firman Yesus menjadi firman hidup yang bekerja dalam dirimu dan mentransformasikan dirimu menjadi lebih serupa lagi dengan diri-Nya. Perkenankanlah hal itu terjadi. Biarlah tahun 2017 ini menjadi suatu tahun bagi anda untuk menjadi semakin dekat dengan Yesus, sang Putera Allah.

DOA: Roh Kudus Allah, tolonglah aku agar kudapat memusatkan perhatianku pada Tuhan Yesus pada tahun 2017 ini. Jadikanlah Yesus hidup dalam hatiku sementara aku menyimpan firman-Nya dalam hati dan merenungkannya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Bil 6:22-27), bacalah tulisan yang berjudul “MARIA BUNDA ALLAH DAN BUNDA KITA SEMUA” (bacaan tanggal 1-1-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 1-1-17 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 29 Desember 2017(Peringatan S. Thomas Becket, Uskup-Martir) 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PERENDAHAN DIRI ALLAH DEMI KASIH-NYA KEPADA DUNIA

PERENDAHAN DIRI ALLAH DEMI KASIH-NYA KEPADA DUNIA

(Bacaan Injil Misa Kudus siang, Hari Raya Natal – Senin, 25 Desember 2017)

 

Pada mulanya ada Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes; ia datang sebagai saksi untuk bersaksi tentang terang itu, supaya melalui dia semua orang menjadi percaya. Ia bukan terang itu, tetapi ia harus bersaksi tentang terang itu. Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan melalui Dia, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik-Nya, tetapi orang-orang milik-Nya itu tidak menerima-Nya. Namun semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang dilahirkan bukan dari darah atau dari keinginan jasmani, bukan pula oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah. Firman itu telah menjadi manusia, dan tinggal di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh anugerah dan kebenaran. Yohanes bersaksi tentang Dia dan berseru, “Inilah Dia, yang kumaksudkan ketika aku berkata: Kemudian daripada aku akan datang Dia yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku.”  Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima anugerah demi anugerah; sebab hukum Taurat diberikan melalui Musa, tetapi anugerah dan kebenaran datang melalui Yesus Kristus. Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya. (Yoh 1:1-18)  

Bacaan Pertama: Yes 52:7-10; Mazmur Tanggapan: 98:1-6; Bacaan Kedua: Ibr 1:1-6

Betapa rendah hati Allah kita! Dia datang ke  dalam dunia yang “tidak mengenal-Nya” (Yoh 1:10) untuk menebus umat yang “tidak menerima-Nya” (Yoh 1:11)! Dia datang tidak disambut dengan hadiah-hadiah bagus, atau ditangani oleh para dokter terbaik, dilayani banyak perawat profesional pada saat kelahiran-Nya – atau malah diberi pakaian yang terbuat dari bahan kain yang paling halus. Sebaliknya, …… Yesus dilahirkan miskin, di kandang hewan dalam gua dan dibungkus dengan kain lampin.

Namun, kepada Yesus diberikan satu hal yang paling dihargai oleh Allah, yaitu cintakasih. Dengan memberikan jawaban “ya” kepada Allah, Maria dan Yusuf mengesampingkan rencana-rencana mereka sendiri …… dan mereka pun menyambut kedatangan-Nya ke tengah-tengah dunia. Dia disambut oleh para gembala yang sederhana dan tidak berpendidikan, yang percaya akan kata-kata malaikat sehingga sungguh diistimewakan untuk dapat menjadi orang-orang pertama yang diperkenankan bertemu dengan Sang Mesias.

Mengapa Allah Bapa merencanakan penampilan Sang Sabda (Sang Firman) yang sedemikian rendah, padahal Sang Sabda sudah bersama-Nya sejak pada mulanya (Yoh 1:1)? Tentunya, kegamblangan realitas dan kemiskinan dari keadaan di sekeliling Yesus mengungkapkan sampai seberapa jauh Dia akan melibatkan diri-Nya untuk menyelamatkan umat manusia. Akan tetapi tempat lahir Yesus yang kecil dan nyaris tak dikenal itu juga mengungkapkan sesuatu tentang diri kita: Tanpa Dia, kita adalah orang-orang miskin – dibuang  dan kesasar tanpa arah serta sangat rentan terhadap serangan-serangan dari musuh kita, yaitu Iblis. Yesus dilahirkan dalam gua yang dingin, gelap dan menyedihkan, seperti keadaan hati kita sebelum kita memperkenankan Yesus  lahir dalam diri kita.  MU

“Sabda menjadi daging dan tinggal di antara kita” (“Firman itu telah menjadi manusia, dan tinggal di antara kita”, Yoh 1:14), untuk membawa kita kembali kepada Bapa, guna memenuhi kita dengan rahmat dan kebenaran. Dia datang untuk membersihkan kita dalam darah-Nya dan mengangkat kita ke surga. Kita telah menerima anugerah yang paling agung. Bagaimana kita dapat menghaturkan terima kasih kita kepada Tuhan? Dengan merendahkan hati kita di depan palungan Yesus. Marilah kita menyambut Yesus ke dalam hati kita, seperti yang dilakukan Maria, yaitu dengan menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada Allah. Jadikanlah hati kita masing-masing sebagai sebuah palungan juga. Marilah kita mengundang Roh Kudus untuk mengubah diri kita masing-masing  menjadi tempat kediaman yang cocok bagi “Sang Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal dan Raja Damai” (Yes 9:5).

DOA: Tuhan Yesus, Firman Allah yang kekal, Engkau merendahkan diri-Mu untuk menebus kami, untuk memenuhi diri kami dengan hikmat-Mu, dan untuk memberikan kepada kami hidup abadi. Segala pujian, syukur, kemuliaan dan hormat bagi-Mu, ya Allah kami yang Mahasempurna. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil Misa Kudus (Misa malam) (Luk 2:1-14), bacalah tulisan yang berjudul “” (bacaan tanggal 25-12-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 25-12-16 dalam situs/blog SANG SABDA). 

Cilandak, 22 Desember 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

JIWAKU MEMULIAKAN TUHAN, DAN HATIKU BERGEMBIRA KARENA ALLAH JURUSELAMATKU9

JIWAKU MEMULIAKAN TUHAN, DAN HATIKU BERGEMBIRA KARENA ALLAH JURUSELAMATKU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Jumat, 22 Desember 2017)

Lalu kata Maria, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan kuduslah nama-Nya. Rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.”  Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya. (Luk 1:46-56)

Bacaan pertama: 1Sam 1:24-28; Mazmur Tanggapan: 1Sam 2:1.4-8 

Kidung Maria dalam bacaan Injil hari ini dikenal dalam bahasa Latin dengan nama Magnificat. Kidung Maria ini sangat mirip dengan kidung yang dinyanyikan oleh Hana (1Sam 2:1-10), ibunda dari nabi Samuel. Kidung Maria juga mencerminkan sejumlah nas dalam Perjanjian Lama.

Magnificat sangat indah karena kidung ini mengungkapkan perasaan terdalam Maria, dan pada saat yang sama mencerminkan suatu tradisi lama yang menyangkut praktek hidup saleh dalam Perjanjian Lama. Ketika Elisabet memuji Maria sebagai yang terberkati di antara semua perempuan, Maria menanggapinya sesuai dengan tradisi lama tersebut. Pada hakekatnya Maria berkata kepada Elisabet: “Janganlah memujiku. Akan tetapi bergabunglah dengan aku dalam memproklamasikan keagungan Tuhan; bersama-sama kita dapat menemukan sukacita dalam Allah Penyelamat kita.” Sesungguhnya Maria memang adalah seorang pribadi yang paling diberkati di antara para perempuan karena “Buah Rahimnya”. Bagaimana dengan kita? Kita pun sangat terberkati, karena Anaknya yang adalah Putera ilahi Allah, telah menjadi Juruselamat kita.

Magnificat ini sangat bernilai dalam Gereja, karena didaraskan/dinyanyikan setiap hari sepanjang tahun dalam Ibadat Sore oleh mereka yang secara rutin mendoakan Ibadat Harian (Ofisi Ilahi). Kenyataan ini merupakan suatu undangan kepada kita semua untuk mendoakan Kidung Maria, apakah kita mendoakan Ibadat Harian atau tidak! Maria ingin agar kita semua bergabung dengan dirinya, kemudian bersama-sama berkata: “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku” (Luk 1:46).

Semangat Natal adalah semangat memberi dengan penuh kemurahan hati. Semangat ini mengalir dari Allah sendiri dan dicerminkan dalam bacaan-bacaan liturgi hari ini. Hana sudah lama mandul. Perempuan ini bernazar: “YHWH semesta alam, jika sungguh-sungguh Engkau memperhatikan sengsara hamba-Mu ini dan mengingat kepadaku dan tidak melupakan hamba-Mu ini, tetapi memberikan kepada hamba-Mu ini seorang anak laki-laki, maka aku akan memberikan dia kepada YHWH untuk seumur hidupnya dan pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya” (1Sam 1:11). Anaknya dinamakan Samuel. Hana dan suaminya kemudian membawa anak yang masih kecil sekali itu ke rumah YHWH di Silo untuk dipelihara dan dididik oleh imam Eli.

Kiranya pada waktu Maria mulai hidup menjanda karena kematian Yusuf, ia memperkenankan (= memberi izin) Anaknya yang tunggal itu mulai melakukan karya pelayanan di tengah masyarakat. Tindakan Maria tersebut merupakan contoh tindakan yang tidak mementingkan diri sendiri dan dipenuhi dengan semangat untuk melihat dan mengalami terlaksananya karya penyelamatan Allah bagi umat manusia.

Anak laki-laki Hana, Samuel, yang telah dibina dan ditempa oleh imam Eli menjadi seorang nabi besar yang mengurapi Saul sebagai raja Israel yang pertama, dan kemudian mengurapi Daud sebagai raja Israel yang paling agung. Anak laki-laki Maria, Yesus, Nabi dan Raja, adalah Imam yang mempersembahkan kurban salib bagi keselamatan kita semua. Kedua perempuan itu mencerminkan kebaikan Allah. Kita hanya dapat membayangkan betapa berharganya Samuel di mata Hana dan betapa besar arti Yesus bagi Maria. Kedua perempuan itu menyerahkan/memberikan anak laki-laki mereka untuk kepentingan rencana Allah, bukan untuk kepentingan mereka sendiri. Tindakan mereka itu adalah tindakan yang benar-benar berani dan lepas-total dari motif mementingkan diri sendiri (tanpa pamrih). Memang tidak mudahlah bagi kita untuk merenungkan betapa besar cintakasih Bapa surgawi kepada Putera-Nya. Namun kita telah melihat bahwa Bapa surgawi sangat mengasihi kita manusia, sampai-sampai Dia memberikan kepada kita Putera-Nya yang tunggal itu sebagai Juruselamat kita (lihat Yoh 3:16).

Dengan demikian, Natal bagi kita masing-masing tidaklah lengkap tanpa tindakan kita untuk memberi. Pemberian yang terbaik dan terindah bukanlah sebuah benda, akan tetapi cintakasih yang kita berikan kepada Allah dan juga umat-Nya, artinya sesama kita.

DOA: Roh Kudus Allah, berikanlah kepadaku hikmat agar sungguh dapat memahami makna sejati dari tindakan memberi cintakasih kepada Allah dan juga sesamaku. Bentuklah aku menjadi murid Kristus yang sejati. Tanamkanlah keyakinan dalam diriku, bahwa dengan memberi aku menerima, dengan memberi pengampunan aku diampuni. Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Luk 1:46-56), bacalah tulisan yang berjudul “HANA DAN MARIA” (bacaan tanggal 22-12-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 17-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 22-12-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 19 Desember 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS