Posts from the ‘BUNDA MARIA’ Category

RENCANA AGUNG DAN MAHASEMPURNA DARI ALLAH

RENCANA AGUNG DAN MAHASEMPURNA DARI ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA SP MARIA DIKANDUNG TANPA DOSA – Jumat, 8 Desember 2017)

Keluarga besar Fransiskan: HARI RAYA PELINDUNG DAN RATU TAREKAT

 

Dalam bulan yang keenam malaikat Gabriel disuruh Allah pergi ke sebuah kota yang bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu datang kepada Maria, ia berkata, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”  Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya, “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh anugerah di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapak leluhur-Nya, dan Ia akan memerintah atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.”  Kata Maria kepada malaikat itu, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.”  Kata Maria, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia. (Luk 1:26-38) 

Bacaan Pertama: Kej 3:9-15,20; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4; Bacaan Kedua: Ef 1:3-6,11-12.

Sejak kekal, Allah telah mempunyai sebuah rencana bagi Putera-Nya – bahwa Dia akan membawa Putera-Nya itu ke tengah dunia melalui seorang perempuan yang akan dijaga oleh-Nya dari dosa asal. Pesta gerejawi yang kita rayakan pada hari ini, tanggal 8 Desember, sebenarnya adalah suatu perayaan tentang rencana agung dan mahasempurna dari Allah Bapa. Hari raya ini adalah sebuah pengakuan, bahwa hal seperti perkandungan Maria pun sudah direncanakan dengan kemahatelitian sehingga perempuan ini kelak menjadi sebuah bejana sempurna bagi Allah Putera. Dengan sekadar pikiran manusia, kita sungguh tidak dapat membayangkan betapa “rumit” karya Allah dalam diri Maria sehingga perempuan dari Nazaret ini dapat memainkan perannya dalam sejarah keselamatan dengan baik. Seperti dengan Maria, Allah juga telah merencanakan setiap detil kehidupan kita. Apakah kita percaya bahwa Allah menciptakan kita dengan perhatian dan kasih kepada kita, tidak bedanya seperti halnya dalam kasus Maria? Apakah kita percaya bahwa Allah bangga kepada kita dan apa yang telah diminta-Nya untuk kita kerjakan, seperti juga dalam kasus Maria?  Memang begitulah! Segala sesuatu tentang kehidupan kita adalah berdasarkan rencana Allah yang mahasempurna sehingga kita dapat menjalani hidup ini seturut “takdir” masing-masing.

Tidak ada seorang pun dari kita “ada” secara kebetulan, dan Allah sang Mahapencipta tidak membiarkan kita sendiri dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Sadar akan hal itu, kita pun dapat belajar mengenai rencana Allah dan mengikuti rencana itu, seperti yang telah dicontohkan Santa Perawan Maria sekitar 2.000 tahun lalu. Kita tahu bahwa dalam Kristus, Allah menginginkan agar kita kudus, tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Dia telah menentukan kita dari semula melalui Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, supaya terpujilah anugerah-Nya yang mulia … (lihat Ef 1:4-6).  Namun agar mampu memainkan peranan spesifik kita masing-masing, kita harus selalu waspada dan responsif terhadap panggilan Allah dalam hidup kita.  Dalam bacaan Injil di atas kita lihat, bahwa Maria telah “ditakdirkan” untuk memainkan peranan khusus dalam sejarah penyelamatan. Hal ini sebenarnya tidak berbeda bagi kita. Kita masing-masing juga diciptakan secara unik untuk memainkan suatu peranan vital dalam kerajaan-Nya. Untuk itu kita harus banyak belajar dari Bunda kita, Maria.

Dalam jawaban “ya” (fiat) Maria kepada Allah (yang diwakili oleh Malaikat Gabriel), Lukas memberikan gambaran sekilas tentang hati Maria yang tanpa noda-dosa (Inggris: Immaculate Heart of Mary). Maria menunjukkan kepada kita sebuah hati yang begitu menaruh kepercayaan pada Allah, mengasihi-Nya, dan yang berkeinginan hanya untuk menyenangkan-Nya dan taat kepada-Nya. Sebagai seorang pribadi “yang dikaruniai Allah” secara istimewa, Maria – atas dasar kehendak bebas – memilih untuk memeluk rencana penyelamatan Allah dan siap sedia untuk berkorban demi memajukan rencana tersebut.

Teristimewa pada hari ini, tidak salahlah kalau kita menghormati serta memuliakan hati Maria yang tak bernoda. Namun juga tidak salah bagi kita hari ini untuk mengingat hal yang sama, yang telah menjaga Maria dari efek-efek dosa pada saat dia dikandung, yaitu segala manfaat serta keuntungan yang disebabkan oleh kematian dan kebangkitan Yesus Kristus yang diberikan kepada kita semua pada waktu pembaptisan. Pada waktu kita dibaptis, kita dicuci bersih dari segala noda dosa, dan pintu surga pun terbuka bagi kita. Roh Kudus menaungi kita dan Yesus datang untuk hidup di dalam hati kita masing-masing. Kita menjadi mampu memiliki disposisi “mempercayai dan mengasihi Allah” seperti telah ditunjukkan oleh Maria. Namun disposisi hati seperti Maria itu harus dibentuk dalam diri kita secara bertahap sementara kita melakukan pertobatan atas dosa-dosa kita dan menempatkan diri kita sepenuhnya sebagai pelayan/hamba Allah. Kita mencari Dia dalam doa,  dalam liturgi (teristimewa Ekaristi), dalam pembacaan Kitab Suci, dalam persekutuan dengan para anggota keluarga kita yang kita yakini sebagai “ecclesia domestica” (gereja domestik), persekutuan dalam komunitas-komunitas teritorial seperti lingkungan/wilayah/paroki.; ataupun persekutuan dalam komunitas-komunitas kategorial. Selagi kita mencari-Nya, Allah pun akan memberi petunjuk peranan apa kiranya yang harus kita mainkan. Kita tidak perlu takut, karena apa yang direncanakan Allah untuk dilakukan oleh kita akan dilengkapi dengan pemberdayaan diri kita oleh-Nya melalui Roh Kudus-Nya. Hanya kita sendirilah yang dapat mengisi peranan yang telah ditentukan bagi kita. Dan dia akan memberikan rahmat-Nya yang diperlukan untuk melaksanakan rencana-Nya itu.

DOA: Allah yang Mahakuasa, rencana dan jalan pikiran-Mu tak mampu ditangkap oleh pikiranku. Dengan rendah hati aku hanya mohon kepada-Mu, ya Allahku, agar Engkau memenuhi rencana-Mu bagi hidupku. Perkenankanlah Roh Kudus-Mu untuk membuat aku lebih menaruh kepercayaan pada-Mu selagi Engkau berkarya membangun kerajaan-Mu melalui diriku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kej 3:9-15,20),  bacalah  tulisan yang berjudul “HAWA YANG BARU” (bacaan tanggal 8-12-17) dalam situs/blog  SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 8-12-16 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 6 Desember 2017 [Peringatan S. Nikolaus, Uskup] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

BERDIRI BERSAMA BUNDA MARIA DI DEKAT SALIB YESUS

BERDIRI BERSAMA BUNDA MARIA DI DEKAT SALIB YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan SP Maria Berdukacita – Jumat, 15 September 2017)

Dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, istri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya, “Ibu, inilah anakmu!”  Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya, “Inilah ibumu!”  Sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya. (Yoh 19:25-27) 

Bacaan Pertama: Ibr 5:7-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 31:2-6,15-16,20; Bacaan Injil Alternatif: Luk 2:33-35 

Pada hari ini Gereja memperingati Santa Perawan Maria Berdukacita yang mengungkapkan Maria sebagai teladan sempurna dari seseorang yang tetap setia berdiri di dekat kayu salib sampai saat kematian Puteranya. Tindakan kasih sedemikian mengungkapkan kemauan Maria untuk menanggung pencobaan macam apa pun, kesulitan apa pun, dan penderitaan sengsara yang bagaimana pun beratnya agar dapat tetap bersama dengan Yesus, berdoa untuk-Nya, dan mendukung Dia, walaupun hal itu berarti harus menyaksikan kematian-Nya yang mengenaskan di atas kayu salib.

Bagaimana kita harus berdiri atau menempatkan diri di tengah saat-saat kritis kehidupan kita? Pada saat-saat sulit, pengalaman menunjukkan bahwa sulitlah untuk tetap setia kepada Allah, meskipun kita mengetahui bahwa Dia memahami setiap situasi yang kita hadapi. Kalau begitu, secara praktis bagaimana kita dapat meneladan iman Maria? Bagaimana kita dapat berdiri bersamanya di kaki Salib Yesus?

Dalam hati kita, baiklah kita memproklamasikan beberapa kebenaran tentang siapa sebenarnya Allah kita ini. Misalnya, marilah kita mengingat ayat Kitab Suci yang berikut ini: “Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” (Rm 8:31). Kita juga dapat mengklaim bagi diri kita sendiri janji-janji dalam Kitab Suci: “Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus” (Flp 4:7). Oleh karena itu, marilah kita memproklamasikan rasa percaya kita kepada Tuhan: Ia mengasihi kita dan terus membawa kita semakin dekat lagi kepada diri-Nya !!!

Kita juga dapat membaca dan merenungkan mazmur-mazmur yang berisikan ungkapan dan seruan hati sang pemazmur kepada Allah, mohon pertolongan-Nya di tengah saat-saat dia mengalami pencobaan – semua adalah produk kehidupan riil manusia. Yesus sendiri juga sangat akrab dengan mazmur-mazmur. Kalau kita membaca Mazmur 31, atau Mazmur 73, misalnya, kita akan merasakan bahwa selagi sang pemazmur berseru mohon pertolongan kepada Allah, dia tetap setia dengan imannya pada Dia yang diketahuinya sangat setia, baik hati dan penuh belas kasihan.

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus, apapun keputusan anda untuk menangani kesulitan-kesulitan dan pencobaan-pencobaan hidup yang sedang anda hadapi, yakinlah bahwa Allah adalah Pribadi yang paling baik. “Dialah kebaikan yang sempurna, segenap kebaikan, seluruhnya baik, kebaikan yang benar dan tertinggi; Dialah satu-satunya yang baik, penyayang, pemurah, manis dan lembut; Dialah satu-satunya yang kudus, adil, benar, suci dan tulus, satu-satunya yang pemurah, tak bersalah dan murni; dari Dia, oleh Dia dan dalam Dialah segala pengampunan, segala rahmat dan kemuliaan untuk semua orang yang bertobat dan yang benar” (S. Fransiskus dari Assisi). Apakah anda merasakan bahwa kata-kata dalam doa anda benar atau salah, percayalah bahwa Allah sepenuhnya memahami apa yang keluar dari hati anda itu. Selagi lagi anda berdoa dalam iman, maka Allah pun akan hadir dan menyelamatkan anda.

DOA: Bapa surgawi, kami menyerahkan setiap situasi yang kami hadapi kepada-Mu. Pada jam-jam tergelap dalam hidup kami, kami akan tetap setia kepada-Mu. Kami telah mengenal-Mu pada saat-saat penuh sukacita dan damai-sejahtera, dengan demikian kami percaya bahwa Engkau akan mendengarkan doa kami dan akan berada dekat dengan kami untuk menolong kami pada saat-saat sulit dan penderitaan kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Luk 2:33-35), bacalah tulisan yang berjudul “BERADA DI DEKAT SALIB KRISTUS BERSAMA MARIA DAN MENGAMPUNI” (bacaan  tanggal 15-9-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 15-9-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 13 September 2017 [Peringatan S. Yohanes Krisostomos, Uskup Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

DIA YANG DITENTUKAN ALLAH SEJAK SEDIAKALA

DIA YANG DITENTUKAN ALLAH SEJAK SEDIAKALA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, PESTA KELAHIRAN SP MARIA – Kamis, 8 September 2016)

Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Mereka yang dibenarkan-Nya mereka itu juga dimuliakan-Nya. (Rm 8:28-30)  

Bacaan Pertama Alternatif: Mi 5:1-4a; Mazmur Tanggapan: Mzm 13:6; Bacaan Injil: Mat 1:1-16,18-23 (Mat 1:18-23)

Tujuan Allah adalah memanggil sebuah umat ke dalam rencana penebusan-Nya, untuk membebaskan mereka dari jeratan dosa dan hukuman, dan untuk memulihkan mereka kepada gambaran-Nya melalui kematian dan kebangkitan Putera-Nya. Umat seharusnya menjadi bejana-bejana guna menampung rencana Allah agar dapat mencapai kepenuhannya, dengan demikian di segala zaman selalu ada orang-orang yang menanggapi panggilan Allah dan memperkenankan Dia mewujudkan kehendak-Nya melalui diri mereka. Dalam Kitab Suci kita bertemu dengan para bapa bangsa seperti Abraham, para nabi seperti Yesaya, dan segenap umat beriman – baik perempuan maupun laki-laki – termasuk Maria, yang pestanya dirayakan Gereja pada hari ini. Sebuah tradisi dalam Gereja yang sudah berumur lebih dari 1.500 tahun !

Apa yang ditulis oleh Santo Paulus dalam bacaan hari ini berlaku untuk Maria  (lihat Rm 8:29-30). Sebagai bagian dari umat Allah, Maria – lebih daripada manusia-manusia lain – telah dipanggil oleh Allah kepada diri-Nya dan yang dibuat-Nya siap untuk diselamatkan oleh Putera-Nya, dipersiapkan, bahkan sebelum kelahirannya, untuk menjadi “pembawa” Kristus ke tengah dunia. Maria yang harus “membawa” Dia yang tanpa noda dosa juga harus sendiri tanpa noda dosa, berkat rahmat dari Dia yang akan di-“bawa” olehnya.

Sebagai seorang puteri Sion yang sejati dan rendah hati, Maria menjalani kehidupan dengan penuh kepatuhan pada Hukum (lihat Luk 2:22-24). Hanya dia sendiri, seorang perawan yang rendah hati, yang akan menerima pemberitahuan dari malaikat agung Gabriel tentang penyelamatan umat manusia. Dengan menerima panggilan Allah baginya kepada kebundaan ilahi (divine motherhood), Maria membuat mungkin bagi Allah menggunakan dirinya untuk menjadi “pembawa”  Putera-Nya.

Panggilan Maria ini dan rencana Allah yang mulia bagi kehidupannya sungguh bersifat unik dalam sejarah umat Allah, dan kita tidak dapat menyangkal kebenaran hal ini. Namun demikian, Allah juga mempunyai rencana untuk kehidupan kita masing-masing yang akan terpenuhi, apabila kita – seperti Maria – menanggapi panggilan-Nya dengan sepenuh hati. Pemberian tanggapan positif terhadap panggilan Allah tersebut mensyaratkan kita untuk bertemu dengan Allah dalam doa-doa harian kita, dalam pembacaan serta permenungan sabda-Nya dalam Kitab Suci setiap hari, dan tentunya dalam penerimaan penuh iman terhadap berbagai sakramen, teristimewa Sakramen Mahakudus.

Allah akan datang kepada kita dan memuaskan hasrat untuk mengenal-Nya dalam pribadi Putera-Nya, Yesus Kristus, … untuk mengasihi diri-Nya dan kehendak-Nya di atas segalanya, dan untuk hidup demi kehormatan dan kemuliaan-Nya.

Karena kita mengetahui bahwa “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Rm 8:28), maka kesaksian hidup kita dan pewartaan Kabar Baik keselamatan dalam Yesus Kristus yang kita lakukan juga akan menjadikan diri kita – seperti Maria – para pembawa Kristus ke tengah-tengah dunia.

DOA: Bapa surgawi, Allah yang berbelas kasih, berikanlah kepada umat-Mu pertolongan dan kekuatan dari surga. Kelahiran Putera Santa Perawan Maria adalah awal terbitnya fajar dari keselamatan kami. Semoga perayaan pesta kelahiran Maria pada hari ini membawa kami semua lebih dekat lagi kepada damai-sejahtera yang abadi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Rm 8:28-30), bacalah tulisan yang berjudul “PESTA KELAHIRAN BUNDA YESUS KRISTUS” (bacaan tanggal 8-9-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 8-9-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 6 September 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

JIWAKU MEMULIAKAN TUHAN

JIWAKU MEMULIAKAN TUHAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA SP MARIA DIANGKAT KE SURGA – Minggu, 13 Agustus 2017)

 

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan bergegas menuju sebuah kota di pegunungan Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.”

Lalu kata Maria, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan kuduslah nama-Nya. Rahmat-Nya turun-menurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.” Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya. (Luk 1:39-56) 

Bacaan Pertama: Why 11:19a;12:1,3-6a. 10ab; Mazmur Tanggapan: Mzm 45:10-12,16; Bacaan Kedua: 1Kor 15:20-26

Dalam peristiwa yang kita rayakan pada hari ini, kita dapat melihat pemenuhan daripada segala janji Allah – pertama-tama kepada Maria dan kemudian kepada segenap umat Allah. Maria ikut ambil bagian dalam kemenangan Yesus atas maut. Dialah yang pertama-tama mengecap apa yang sekarang tersedia bagi kita semua: “Sesudah yang dapat binasa ini mengenakan yang tidak dapat binasa dan yang dapat mati ini mengenakan yang tidak dapat mati, maka akan digenapi firman yang tertulis: ‘Maut telah ditelan dalam kemenangan’” (1Kor 5:54). Maria diangkat ke surga, dijaga oleh Allah dari kerusakan karena kuburan; seperti Yesus, ia mengalahkan kematian dan diangkat tubuh dan jiwanya ke surga.

Allah memberkati Maria secara luarbiasa karena dia telah “percaya bahwa apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan akan terlaksana” (Luk 1:45). Maria percaya sepenuhnya akan janji-janji Allah meskipun untuk itu dia harus hamil sebelum hari pernikahannya; walaupun dia harus melahirkan anaknya di sebuah gua/kandang hewan di Betlehem karena tidak ada tempat bagi mereka; meskipun tidak diinginkan dan ditolak oleh masyarakat; walaupun harus melarikan diri dengan suaminya dan anaknya yang masih sangat kecil ke Mesir; meskipun dia harus menyaksikan kematian Anaknya di kayu salib akibat keputusan “pengadilan” yang samasekali tidak adil. Selama mengalami pencobaan-pencobaan ini, Maria tetap setia terhadap apa yang telah dikatakan Allah kepadanya. Imannya tidak goyah sementara dia menjadi lebih mengenal secara lebih mendalam lagi kasih Allah baginya dan bagi seluruh umat.

Kita dapat bergembira sepenuh hati karena kepercayaan yang sama, ketaatan yang sama dan pengenalan yang sama akan Allah tersedia bagi kita juga. Dalam Magnificat – nya, Maria mengatakan: “Rahmat-Nya turun-menurun atas orang yang takut akan Dia” (Luk 1:50) – sampai pada hari ini. Dalam kasih-Nya, Allah menolong kita agar mau dan mampu menaruh kepercayaan dan mentaati-Nya dalam menghadapi tuntutan-tuntutan kehidupan kita sehari-hari dan dalam pencobaan-pencobaan yang datang tanpa diharapkan dalam kehidupan kita. Setiap hari Dia ingin datang kepada kita, untuk berbicara kepada kita, untuk menolong kita mengenali dan menerima rahmat-Nya.

Marilah kita berterima kasih penuh syukur kepada Allah karena kita dapat mengenal dan mengalami kasih-Nya secara lebih mendalam setiap hari; bahwa Dia akan selalu berbelas-kasihan kepada kita, selalu menolong kita untuk menaruh kepercayaan kepada-Nya. Semoga apa yang telah dilakukan Allah bagi orang-orang yand ina dan rendah di sepanjang sejarah – termasuk hari ini – membangkitan rasa terima kasih dan sukacita di dalam diri kita. Dan semoga kata-kata Elisabet dapat diterapkan bagi kita juga: “Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan akan terlaksana” (Luk 1:45).

DOA: Bapa surgawi, dalam peristiwa Maria diangkat ke surga, Engkau telah menunjukkan pemenuhan akhir dari segala janji-Mu kepada kami. Semoga kami selalu percaya akan sabda-Mu, merangkul dalam setiap situasi kehidupan baru yang dicurahkan kepada kami melalui kematian Yesus di kayu salib. Semoga kami dapat menaruh kepercayaan kepada belas kasihan-Mu dan mengenal serta mengalami kasih-Mu bagi kami secara lebih mendalam lagi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Pertama (Why 11:19a; 12:1,3-6a,10ab) hari ini, silahkan anda membaca tulisan dengan judul “HARUS DILIHAT DARI PERSPEKTIF SURGAWI (bacaan tanggal 13-8-17), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 17-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-8-16 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 11 Agustus 2017 [Peringatan S. Klara dr Assisi, Perawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        

BEBERAPA CATATAN UNTUK PARA KAKEK-NENEK

BEBERAPA CATATAN UNTUK PARA KAKEK-NENEK

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Yoakim dan S. Anna, Orangtua SP Maria – Selasa,  26 Juli 2017)

 

Dan sekarang kami hendak memuji orang-orang termasyhur, para nenek moyang kita menurut urut-urutannya.

Tetapi yang berikut ini adalah orang kesayangan yang kebajikannya tidak sampai terlupa; semuanya tetap tinggal pada keturunannya sebagai warisan baik yang berasal dari mereka. Keturunannya tetap setia kepada perjanjian-perjanjian, dan anak-anak merekapun demikian pula keadaannya. Keturunan mereka akan tetap tinggal untuk selama-lamanya, dan kemuliaannya tidak akan dihapus. Dengan tenteram jenazah mereka ditanamkan, dan nama mereka hidup terus turun-temurun. Bangsa-bangsa bercerita tentang kebijaksanaannya, dan pujian mereka diwartakan jemaah. (Sir 44:1,10-15) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 132:11,13-14,17-18; Bacaan Injil: Mat 13:16-17

Oleh karena Yoakim dan Anna adalah kakek dan nenek dari Yesus, maka peringatan hari ini menjadi peringatan istimewa bagi para kakek dan nenek juga. Banyak kakek-nenek kita yang merasa prihatin melihat anak-anak dan cucu-cucu mereka tidak mengenal Allah dan tidak pergi ke Gereja. Hal ini merupakan hal serius kalau kita berbicara teristimewa mengenai negara-negara Eropa Barat dan negara-negara lain yang tergolong maju yang selama berabad-abad dikenal sebagai negara-negara Kristiani. Namun hal ini terjadi di mana-mana, bahkan juga di negeri kita.

Sesungguhnya Allah ingin mendukung para kakek-nenek yang merasa prihatin tersebut. Lewat nabi Yesaya TUHAN (YHWH) berjanji: “Adapun Aku, inilah perjanjian-Ku dengan mereka, firman TUHAN: Roh-Ku yang menghinggapi engkau dan firman-Ku yang Kutaruh dalam mulutmu tidak akan meninggalkan mulutmu dan mulut keturunanmu dan mulut keturunan mereka, dari sekarang sampai selama-lamanya, firman TUHAN” (Yes 59:21).

Allah juga tidak ingin mempermalukan para kakek-nenek mempermalukan diri mereka sendiri karena anak-anak dan cucu-cucu mereka kurang beriman. Adalah kenyataan yang tidak dapat dipungkiri, bahwa karena diciptakan dengan kehendak bebas, maka dapat saja terjadi bahwa orangtua yang baik pun mempunyai anak yang buruk. Walaupun demikian, mereka hendaknya mengakui bahwa  mereka telah membuat masalah-masalah menjadi lebih buruk karena dosa-dosa mereka sendiri. Para kakek-nenek perlu bertobat dan dengan demikian mereka mengeluarkan balok dari mata mereka sendiri (lihat Mat 7:5). Dengan begitu mereka akan mampu melihat untuk dapat mengeluarkan serpihan kayu dari mata anak-anak mereka.

Para kakek-nenek hendaknya memusatkan perhatian mereka untuk mengarahkan anak-anak mereka menuju pertobatan daripada kebanyakan lalu lebih memperhatikan cucu-cucu mereka, karena cucu-cucu itu lebih terbuka menerima kakek-nenek mereka. Hal terbaik yang dapat dilakukan para kakek-nenek bagi cucu-cucu mereka adalah bukannya dengan mengurangi tanggungjawab orangtua mereka, melainkan dengan dukungan doa memberi tantangan terhadap para orangtua cucu-cucu mereka agar mereka berbalik kepada Yesus Kristus dan memberi tanggungjawab mereka untuk mendidik anak-anak mereka (artinya cucu-cucu kakek-nenek tersebut). Yesus Kristus adalah Harapan kita.

DOA: Bapa surgawi, pada hari peringatan S. Yoakim dan S. Anna ini, kami mendoakan agar para kakek-nenek menjadi kakek-nenek yang agung dengan menerima rahmat-Mu guna menjadi para orangtua yang agung. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan hari ini (Sir 44:1,10-15), bacalah tulisan berjudul “KEDUA ORANGTUA SP MARIA” (bacaan tanggal 26-7-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-07 BACAAN HARIAN JULI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 26-7-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 24 Juli 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS  

RENCANA INDAH ALLAH BAGI KITA MASING-MASING

RENCANA INDAH ALLAH BAGI KITA MASING-MASING

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA KELAHIRAN S. YOHANES PEMBAPTIS – Sabtu,  24 Juni 2017) 

Kemudian tibalah waktunya bagi Elisabet untuk bersalin dan ia pun melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia. Lalu datanglah mereka pada hari yang ke delapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapaknya, tetapi ibunya berkata, “Jangan, ia harus dinamai Yohanes.” Kata mereka kepadanya, “Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian.” Lalu mereka memberi isyarat kepada bapaknya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu. Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini, “Namanya adalah Yohanes.” Mereka pun heran semuanya. Seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah.

Lalu ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah pembicaraan di seluruh pegunungan Yudea. Semua orang yang mendengarnya, merenungkannya dalam hati dan berkata, “Menjadi apakah anak ini nanti?” Sebab tangan Tuhan menyertai dia.

Adapun anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya. Ia tinggal di padang gurun sampai hari ketika ia harus menampakkan diri kepada Israel. (Luk 1:57-66,80) 

Bacaan pertama: Yes 49:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 139:1-3,13-15; Bacaan Kedua: Kis 13:22-26

Santo Yohanes Pembaptis adalah yang terbesar dari semua nabi sebelum Yesus. Orang ini berkonfrontasi dengan para pemimpin agama Yahudi, menghibur para pemungut cukai/pajak dan juga para WTS. Ia menjalani suatu kehidupan yang diabdikan kepada doa, puasa dan mati-raga. Namun yang lebih penting lagi adalah, bahwa Yohanes Pembaptis ini adalah seorang bentara yang mengumumkan kedatangan sang Mesias. Yohanes berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya” (Yoh 3:28). Ia bahkan menamakan dirinya “sahabat mempelai laki-laki” (Yoh 3:29).

Apakah kita (anda dan saya) percaya bahwa Allah juga mempunyai sebuah rencana indah bagi kita masing-masing seperti yang dibuatnya bagi Yohanes Pembaptis? Memang sulit untuk dipercaya bahwa bahkan sebelum kita melihat terang suatu hari yang baru, Allah telah menentukan suatu jalan atau cara bagi kita untuk turut memajukan Kerajaan-Nya. Barangkali kita berpikir bahwa diri kita tidak berarti, tidak signifikan ……, namun ingatlah bahwa itu bukanlah cara Allah memandang seorang pribadi. Bagaimana kiranya kalau doa-doa syafaat kita merupakan kekuatan di belakang suatu karya Allah di bagian lain dari dunia ini? Bagaimana kiranya apabila kita dipanggil untuk membesarkan anak-anak untuk menjadi suara-suara profetis di dalam Gereja atau di tengah dunia?

Jadi, kita semua harus belajar untuk memandang segala sesuatu dari sudut pandang Allah sendiri. Lihatlah betapa tidak jelasnya kehidupan Yohanes Pembaptis. Sampai saat ia menampakkan dirinya kepada publik di Israel, Yohanes Pembaptis hidup dalam kesunyian padang gurun. Kita pun bisa saja sedang menunggu di padang gurun, akan tetapi kita tidak boleh berputus asa. Sebaliknya, kita harus menghargai waktu ketersembunyian kita sebagai suatu kesempatan bagi Allah untuk mengajar kita – suatu waktu bagi-Nya untuk mengembangkan dalam diri kita masing-masing karunia-karunia untuk melakukan syafaat, evangelisasi, bahkan penyembuhan. Pada saat-Nya yang tepat, Allah akan mencapai hati orang-orang yang tepat dan menyentuh hati-hati itu melalui diri kita.

Kebanyakan dari kita adalah “anak-anak panah yang tersembunyi”. Kita tidak boleh berhenti memohon kepada Tuhan untuk mencapai tujuan-tujuan-Nya melalui diri kita. Bayangkanlah bagaimana kelihatannya Gereja apabila kita memperkenankan Allah bekerja dalam diri kita sebagaimana yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis. Seperti begitu banyaknya orang datang kepada Yohanes Pembaptis untuk dibaptis-tobat, maka kesaksian kita, doa kita, pendekatan kita yang dipenuhi kasih-Nya dapat melembutkan dan mengubah hati banyak orang. Yang penting kita camkan adalah, bahwa janganlah kita pernah menganggap rendah Allah dan kuat-kuasa Roh-Nya yang berdiam dalam diri kita.

DOA: Bapa surgawi, biarlah rencana-Mu bagi hidupku sungguh terwujud. Tunjukkanlah kepadaku ke mana Engkau ingin membawaku dan mengajarku untuk menghargai waktu ketersembunyianku. Bentuklah diriku, ya Tuhan Allah, dan gunakanlah aku sebagai alat-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:57-66,80), bacalah tulisan yang berjudul “KITA TIDAK PERNAH BOLEH KEHILANGAN PENGHARAPAN” (bacaan tanggal 24-6-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-06 BACAAN HARIAN JUNI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 24-6-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 21 Juni 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SATU ABAD FATIMA [13 MEI 1917 – 13 MEI 2017]

SATU ABAD FATIMA [13 Mei 1917 – 13 Mei 2017]

Pada hari ini Gereja memperingati penampakan Bunda Maria 100 tahun lalu, yaitu pada tahun 1917 kepada tiga orang anak desa Fatima, Portugal. Nama tiga orang anak itu adalah Lucia dos Santos, dan dua orang sepupunya: Francisco Marto dan Jacinta. Penampakannya sendiri terjadi di dekat Fatima, di dataran yang bernama Cova da Iria.

Saya masih ingat ketika masih sekolah di SR Budi Mulia, Jalan Mangga Besar di tahun 50-an, pada suatu malam banyak sekali anak-anak yang menonton film hitam putih tentang peristiwa Fatima ini di halaman terbuka Gereja Mangga Besar (S. Petrus dan Paulus) yang masih bangunan darurat – dengan menggunakan layar tancap. Sebuah film yang bagus, mengasyikkan dan sungguh membekas.

Selama penampakan-penampakannya, Bunda Maria memberi instruksi kepada anak-anak itu untuk melaksanakan prosesi guna menghormati Maria yang dikandung tanpa noda dan untuk mempromosikan doa Rosario agar sering-sering dilakukan, berdoa untuk pertobatan Rusia, dan beberapa instruksi lainnya. Pada penampakannya yang terakhir, tanggal 13 Oktober, Maria menyatakan dirinya sebagai “Ratu Rosario”: di hadapan 50.000 – 70.000 orang yang hadir, dan sebuah mukjizat yang telah dijanjikannya terjadi, yaitu suatu gejala alam yang dijuluki sebagai matahari yang berputar-putar.

Bunda Maria berjanji, bahwa jika permintaan-permintaannya diikuti, maka Rusia akan bertobat, sebuah peperangan dahsyat akan dapat dihindari, banyak jiwa akan diselamatkan, dan perdamaian dunia dapat tercapai. Francisco meninggal dunia di tahun 1919, disusul oleh Jacinta di tahun 1920. Lucia, yang belakangan masuk Ordo Karmelites, menerima penampakan yang ke tujuh kalinya pada tanggal 18 Juni 1921.

Setelah penyelidikan selama tujuh tahun, pada tahun 1930, para uskup Portugal mendeklarasikan bahwa penampakan-penampakan Bunda Maria di Fatima sebagai otentik. Persetujuan diberikan atas devosi kepada S.P. Maria dari Fatima dengan judul Ratu Rosario.

Sekarang pertanyaannya, “Mengapa Maria justru menampakkan dirinya di Fatima?” Pada awal abad ke-20, Fatima, sebuah desa kecil di negeri Portugal, praktis tidak dikenal oleh dunia. Mengapa? Karena desa itu tidak memiliki signifikansi apa pun bagi dunia luar. Bahkkan desa ini pun tidak ada dalam peta yang biasa digunakan oleh masyarakat Portugis sendiri. Fatima terletak di daerah pegunungan yang bernama Serra de Aire, sebuah desa penuh damai seakan tak tersentuh oleh dunia luar yang hiruk pikuk. Nama Fatima sendiri adalah kenangan akan masa lampau di mana bangsa Moor (Islam) masih berkuasa di negeri itu.

Pada hari ini, apa yang dikatakan di atas semuanya telah berubah. Pada hari ini Fatima tidak mengenal perbatasan. Orang-orang percaya dari seluruh dunia berlutut dan bersembah sujud di sana. Kemasyhurannya dan kemuliaannya dipublikasikan dalam hampir seluruh bahasa nasional yang ada di dunia. Mengapa hal ini sampai terjadi perubahan yang begitu besar? Karena di sana pada tahun 1917, S.P. Maria tak bernoda (Maria Imakulata), Ratu Surga, datang secara pribadi ke tempat terpencil yang miskin ini untuk berbicara dengan manusia yang murni, jiwa-jiwa pilihan, dengan kata-kata penuh afeksi, penuh simpati, memberi nasihat-nasihat dan janji, bahkan juga peringatan. Namun pada dasarnya Bunda Maria mengunjungi Fatima sebagai seorang bentara damai dan kasih.

Gereja di Fatima hanyalah sebuah gereja paroki yang kecil, dan sejak tahun 1920 berada di bawah Keuskupan Leiria yang sangat miskin, kurang lebih 75 mil sebelah utara Lisboa (ibu kota Portugal). Kalau diperhatikan dengan baik, Fatima yang berlokasi di provinsi Estremadura, berada hampir di titik pusat Portugal. Dari semua provinsi di Portugal, provinsi Estremadura menyajikan topografi yang paling luarbiasa. Landskapnya sangat tidak beraturan. Setiap aspek wilayah ini mempunyai karakteristik yang khusus, yang jelas kelihatan berpengaruh atas temperamen dan adat-kebiasaan penduduknya.

Orang yang berangkat dari Lisboa ke arah utara dapat menikmati keindahan panorama sampai ke Alcobaca. Lalu, membentanglah lembah Batalha dan Leiria yang indah. Namun, begitu orang itu memasuki jalan yang langsung menuju Fatima, pemandangan berubah secara drastis menjadi kebalikan dari yang sebelumnya. Tanahnya menjadi semakin tidak rata, lebih gersang dan pemandangan pun tak lagi penuh warna-warni. Serra da Aire mulai terlihat. Pemandangan yang suram, tanah kering dan tidak produktif. Kawanan domba dapat terlihat di sana-sini, namun tak ada banyak tetumbuhan, kecuali kelompok-kelompok tipis pohon ek dan pohon zaitun di sepanjang punggung bukit, hal mana membantu meringankan monotomi yang menekan. Di lereng gunung, di tempat tinggi di Serra, terletak desa kecil yang bernama Fatima diliputi suasana kesendirian yang mendalam, seakan tempat bagi orang-orang yang terbuang. Di dekat situ ada dataran bebatuan yang dikenal sebagai Cova da Iria. Tempat ini dikuduskan oleh kehadiran Ratu Surga dan dipilih oleh Penyelenggaraan Ilahi untuk memancarkan cinta kasih dan berkat ke segala penjuru dunia sebagai balasan terhadap devosi kepada Maria Imakulata.

Penduduk pegunungan yang di tinggal di Fatima berbicara sedikit, terasa dingin tanpa hati. Akan tetapi seluruh hidup mereka berpusat pada tiga cinta kasih yang besar: cinta kasih kepada Allah, keluarga, pekerjaan kasar (bukan pekerjaan di belakang meja). Rumah-rumah mereka kecil dan kasar dengan jendela-jendela yang rendah dan sempit/kecil. Dapur dalam rumah mereka sederhana yang tidak berisikan apa-apa kecuali sebuah meja kayu, tempat untuk menaruh peralatan masak dan perapian. Ruang keluarga dan ruang tidur juga sederhana. Di sebelah luar, tetapi masih berhubungan dengan rumah adalah tempat untuk kawanan domba, barangkali ada juga sebatang pohon ara atau pohon zaitun atau sejumah pohon ek di dekat rumah.

Kehidupan penduduk Fatima itu keras. Mereka bekerja di gunung atau di ladang dengan penghasilan minim. Pakaian mereka layaknya orang miskin, kecuali pada hari pesta di mana mereka memakai topi, jas pendek dengan bordiran, dan celana panjang ketat di pinggang namun semakin lebar ke bawah. Para perempuan bertugas mengatur rumah. Mereka menyiapkan makanan, memintal dan melakukan tugas-tugas rumah tangga dan memperhatikan dengan serius pertumbuhan fisik maupun spiritual dari anak-anak mereka.

Pekerjaan menggembalakan domba dipegang oleh anak-anak. Mereka meninggalkan rumah pagi-pagi sekali sambil membawa makanan siang mereka. Mereka tak akan kembali ke rumah sampai sore ketika lonceng memanggil mereka untuk berdoa Angelus (Malaikat Tuhan). Sedikit dari mereka yang pernah belajar membaca dan menulis. “Sekolah” mereka hanyalah terdiri dari pengetahuan elementer dan kebenaran-kebenaran menyangkut agama, dan keterampilan-keterampilan rumah tanggal yang diturunkan oleh sang ibu rumah tangga.

Hanya untuk waktu singkat di malam hari, setelah makan malam dan pekerjaan yang melelahkan sepanjang hari, semua anggota keluarga menikmati keintiman hidup berkeluarga. Mengapa? Karena mereka harus  tidur cepat agar dapat cukup beristirahat dan disegarkan kembali untuk bekerja di esok hari. Ada adat-kebiasaan umum bahwa sebelum tidur seluruh keluarga bersama-sama berdoa Rosario. Sang ayah memimpin doa dengan perlahan-lahan dan dengan sikap penuh hormat, sementara sang ibu dan anak menanggapi dengan semangat penuh pengabdian yang sama. Doa Rosaria disusul dengan doa-doa memohon berkat Allah atas keluarga. Akhirnya didoakan “De Profundis” (Mzm 130). Kehidupan seperti ini, devosi yang bersifat konstan seperti ini, kemurnian dan kesederhanaan hidup inilah yang kiranya menarik ke bawah afeksi dari Maria, Ratu Rosario dari atas sana.

Bagian dari bumi yang kecil ini, bagian dari Portugal yang tidak signifikan ini, dipisahkan dan dipilih oleh Hikmat ilahi yang tak mungkin kita mengerti berdasarkan akal budi semata, seperti Israel di masa lampau, guna membantu – sebagai sebuah instrumen yang kuat – untuk melanjutkan penebusan Allah dan pengudusan-Nya atas dunia melalui Maria, ibunda-Nya, yang dikandung tanpa noda dosa.

Kardinal Emanuel Goncalves Cerejeira, Patriarkh dari Lisboa pada tahun 1931 mengatakan: “Ratu Surga turun ke tanah yang adalah miliknya sejak awal, suatu negeri yang dikonsekrasikan kepadanya dengan kelahiran bangsa dan dinamakan Terra de Santa Maria, tanah dari Santa Maria.” Bunda Allah bersedia menampakkan dirinya dengan kelemahlembutan yang luarbiasa kepada umat yang cinta pada tugas mereka ini. Bunda Maria berhasrat untuk menempatkan orang-orang seperti itu ke bawah perlindungannya yang penuh kuat-kuasa. Bunda Maria memang senantiasa dekat dengan orang-orang yang tidak pernah lelah menghormatinya dalam doa Rosario yang indah itu.

Bunda Maria berketetapan hati untuk mendirikan takhtanya di Fatima, di dalam teritori yang telah menjadi miliknya sejak berabad-abad. Dari takhta penuh kemuliaan tersebut ia ingin mengirimkan sebuah pesan universal: bahwa tidak hanya Portugal, melainkan semua bangsa harus didekasikan kepadanya; bahwa dia akan mendengarkan seruan-seruan dari dunia yang bertobat dan sudah lelah dengan keributan dan memberikan perdamaian bagi bangsa-bangsa yang saling berperang – suatu perdamaian besar dan tahan lama setelah penghukuman dijatuhkan atas orang karena kekerasan hatinya.

Akan tetapi Bunda Maria juga mengingatkan akan bencana-bencana lebih besar yang  akan menimpa dunia apabila umat manusia terus saja sibuk dengan sensualitas yang semakin merosot, dan juga “nasib” buruk dari para pendosa yang pantas diadili oleh sang Hakim kekal.

Akhirnya, Bunda Maria datang untuk memberitahukan dunia bahwa hatinya yang penuh cintakasih dan tak bernoda senantiasa merupakan tempat perlindungan yang aman bagi jiwa-jiwa yang tersobek-sobek oleh goncangan-goncangan dan kesedihan, dan bahwa dia tidak pernah tidak akan menolong orang-orang yang mencari pertolongannya dengan memanggilnya sebagai “Santa Perawan dari Fatima”, “Hati Maria yang tak bernoda”, dan “Ratu Rosario.”

Sumber: (1) Alphonse M. Cappa, S.S.P, (terjemahan ke dalam bahasa Inggris oleh William H. Lyden), “FATIMA – Cove of Wonders”, Boston, Ma.: St. Paul Editions, 1979, hal. 18-23; (2) Matthew Bunson (Illustrated by Margaret Bunson; foreword by: Archbishop Oscar H. Lipscomb), “Our Sunday Visitor’s Encyclopedia of Catholic History”, Huntington, Indiana: Ou Sunday Visitor, Inc., 1955, hal. 312-313.

(Tulisan ini bersumberkan tulisan saya pada tahun 2016 yang berjudul “FATIMA” dengan beberapa perubahan kecil.)

Jakarta, 13 Mei 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS