Posts from the ‘19-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 209’ Category

JIKA ALLAH DI PIHAK KITA, SIAPAKAH YANG AKAN MELAWAN KITA?

 JIKA ALLAH DI PIHAK KITA, SIAPAKAH YANG AKAN MELAWAN KITA?

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXX – Kamis, 31 Oktober 2019)

Image result for IMAGES OF SAINT PAUL

Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimana mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia? Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka? Siapakah yang akan menghukum mereka? Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: Yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita? Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesengsaraan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Seperti ada tertulis: “Oleh karena engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap domba-domba sembelihan.” Tetapi dalam semuanya itu kita lebih daripada orang-orang yang menang, melalui Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, atau sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. (Rm 8:31-39) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 109:21-22,26-27,30-31; Bacaan Injil: Luk 13:31-35 

Para pakar Kitab Suci memandang ‘Surat Santo Paulus kepada Jemaat di Roma’ sebagai masterpiece-nya, yang meliput banyak dari pemikiran teologisnya. Bab 8 – yang merupakan klimaks dari suratnya ini – memusatkan perhatiannya pada panggilan akan pertobatan yang berkesinambungan/berkelanjutan (ongoing conversion) selagi kita menghayati kehidupan “dalam Roh”.

Dalam seluruh bab 8 ini, Santo Paulus mengatakan kepada jemaat di Roma bahwa semua orang Kristiani mempunyai Roh Kudus yang hidup dalam hati mereka. Hal itu berarti bahwa kita semua dapat diberdayakan oleh Roh Kudus untuk hidup seturut perintah-perintah Allah dan untuk mengasihi seperti Yesus sendiri mengasihi. Paulus juga menjelaskan bahwa Roh Kudus dapat menolong kita untuk berdoa dan menolong kita mengatasi kelemahan-kelemahan kita selagi Dia membentuk kita masing menjadi anak-anak Allah yang sejati. Pada akhirnya, Paulus menyemangati jemaat di Roma dengan mengatakan bahwa setiap orang yang hidup dalam Roh “ditakdirkan” untuk suastu masa depan yang mulia – kehidupan kekal dengan Allah.

Ayat-ayat terakhir dalam bab 8 ini sungguh menguatkan jemaat Roma atau setiap orang Kristiani yang membaca ayat-ayat itu. Paulus menyimpulkan, bahwa kita yang hidup dalam Roh tidak dapat gagal karena begitu banyak yang dianugerahkan-Nya kepada kita. Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” (Rm 8:31), teristimewa apabila kita mempunyai janji bahwa Allah tidak akan meninggalkan kita. …… “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus?” (Rm 8:35). Bagi anda yang mendoakan Ibadat Harian, tentunya ingat bahwa Rm 8:35,37 merupakan “bacaan singkat” pada Ibadat Pagi pada Hari Rabu II.

Hidup ini penuh dengan banyak godaan, bahaya dan dosa. Kuasa dosa itu ada di sekeliling kita, dan tidak ada seorang pun orang yang hidup di dunia hari ini yang tidak pernah menyerah pada kuasa dosa. Namun yang penting untuk kita ketahui dan camkan adalah, bahwa Yesus akan selalu menarik kita kembali kepada-Nya. Kasih-Nya  seperti magnet yang sangat kuat, yang terus menarik dan menarik orang-orang kepada diri-Nya. Tidak ada sesuatu pun – masa lalu kita, godaan yang paling kuat, atau roh jahat yang paling kuat – yang dapat memisahkan kita dari kasih Yesus bagi kita. Dengan demikian kita menjadi lebih dari sekadar pemenang biasa. Inilah yang ingin Yesus katakan kepada kita setiap hari.

DOA: Tuhan Yesus, kami merasa takjub dan terpesona ketika sadar bahwa kasih-Mu sungguh tak terbatas. Perkenankanlah sekarang kami menyembah-Mu dan berterima kasih penuh syukur karena Engkau sangat mengasihi kami semua. Amin.  

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 13:31-35), bacalah tulisan yang berjudul “TIDAKLAH SEMESTINYA SEORANG NABI DIBUNUH DI LUAR YERUSALEM” (bacaan tanggal 31-10-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak,  29 Oktober 2019 

Sdr.F.X. Indrapradja, OFS

SALAH SATU DARI KATA-KATA KERAS YESUS

SALAH SATU DARI KATA-KATA KERAS YESUS

Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXX – Rabu, 30 Oktober 2019)

OFMCap.: Peringatan Fakultatif B. Angelus dr Acri, Imam Biarawan

Kemudian Yesus berjalan keliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa sambil mengajar dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem. Lalu ada seseorang yang berkata kepada-Nya, “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” Jawab Yesus kepada orang-orang di situ, “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sempit itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat. Jika tuan rumah telah bangkit dan telah menutup pintu, kamu akan berdiri di luar dan mengetuk-ngetuk pintu sambil berkata, ‘Tuan, bukakanlah pintu bagi kami!’ dan Ia akan menjawab dan berkata kepadamu, ‘Aku tidak tahu dari mana kamu datang.’ Lalu kamu akan berkata: Kami telah makan dan minum di hadapan-Mu dan Engkau  telah mengajar di jalan-jalan kota kami. Tetapi Ia akan berkata kepadamu: Aku tidak tahu dari mana kamu datang, enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu sekalian yang melakukan kejahatan! Di sana akan terdapat ratapan dan kertak gigi, ketika kamu melihat Abraham dan Ishak dan Yakub dan semua nabi di  dalam Kerajaan Allah, tetapi kamu sendiri dicampakkan ke luar. Orang akan datang dari Timur dan Barat dan dari Utara dan Selatan dan mereka akan duduk makan di dalam Kerajaan Allah. Sesungguhnya ada orang yang terakhir yang akan menjadi orang yang pertama dan ada orang yang pertama yang akan menjadi orang yang terakhir. (Luk 13:22-30) 

Bacaan Pertama: Rm 8:26-30; Mazmur Tanggapan: Mzm 13:4-6

Tema Injil hari ini memang tidak populer karena termasuk salah satu dari “kata-kata keras Yesus” …… tidak setiap orang dapat berhasil masuk melalui pintu yang sempit itu. Terasa seakan-akan Yesus telah menetapkan standar-standar yang ketat, karena Dia bersabda: “Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat” (Luk 13:24). “Sesungguhnya ada orang yang terakhir yang akan menjadi orang yang pertama dan ada orang yang pertama yang akan menjadi orang yang terakhir” (Luk13:30).

Dengan kata lain, seakan Yesus mengatakan, “Bagaimana pun juga, kami para penghuni surga mempunyai standar-standar kami sendiri! Kami adalah kelompok elit, namun ke-elit-an kami bukanlah berdasarkan standar-standar dunia! Di dunia anda memandang orang menurut tinggi-rendah status sosial-ekonominya dlsb. Di sini kami memandang ukuran kebesaran hati anda, cintakasih anda, kemurahan-hati anda, kualitas karakter anda. Di dalam surga kami tidak memiliki prasangka dan praduga dunia yang memuakkan. Kami di surga akan menerima siapa saja tanpa melihat warna kulitnya, sukubangsanya, kaya-miskinnya dlsb., selama anda lulus melewati standar-standar kami yang telah kami sebutkan tadi. Di sini yang penting adalah apakah yang anda telah lakukan selama hidup di dunia: memberi makan kepada mereka yang lapar, memberi minum kepada yang haus, memberi tumpangan kepada mereka yang tidak mempunyai rumah, memberi baju kepada mereka yang telanjang, mengunjungi mereka yang sakit …… (lihat Mat 25:31-46).

Bagi para orangtua, pendidikan bagi anak-anak mereka berarti membimbing anak-anak di atas jalan yang sempit. Para orangtua harus dapat menunjukkan kepada anak-anak mereka bagaimana agar tetap dapat berjalan di jalan sempit itu sehingga dapat mencapai tujuan yang benar. Pendidikan yang  baik menentukan batas-batas, dan di dalam batas-batas ini para orangtua memberi kesempatan bagi anak-anak mereka menggunakan talenta dan energi mereka, dengan demikian dapat bertumbuh dengan keyakinan-diri. Namun di luar batas-batas yang ditentukan oleh peraturan-peraturan yang bijaksana, anak-anak kita tidak dapat melangkah lagi. Sejumlah anak kecil berkumpul di dapur sambil memukul-mukul pintu dapur, tembok, panci dan alat-alat dapur lainnya … seperti “rock-band” yang penuh hingar-bingar dan kebisingan yang menyakitkan telinga. Akhirnya salah seorang dari mereka berkata, “Saya harap Ibu akan datang dan menghentikan kita! Saya sudah tidak tahan lagi dengan kebisingan ini!” Banyak orang menyadari bahwa suasana yang membingungkan dan ribut-ribut sungguh mematikan, dan bahwa mereka sungguh membutuhkan seseorang untuk membawa keteraturan ke dalam situasi hiruk-pikuk itu.

Kita belajar banyak dari kehidupan Yesus sendiri. Yesus sangat memperhatikan dan patuh pada perintah-perintah Bapa-Nya. “Aku senantiasa melakukan kehendak Bapa-Ku.” Disiplin-diri adalah cara kita mengembangkan karakter agar mampu melalui pintu yang sempit yang memimpin kita ke dalam Kerajaan Allah. Menurut Yesus, orang-orang yang membuat diri mereka yang pertama dengan sikap sombong, “menyelak-nyelak” secara tak terkendali akan menjadi yang terakhir. Dan yang terakhir akan menjadi yang pertama dalam Kerajaan Allah.

DOA: Tuhan Yesus, perkenankanlah aku untuk berdoa seperti Engkau sendiri berdoa kepada Bapa pada saat mengalami penderitaan yang mendalam di taman Getsemani: “… jangan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang jadi” (Luk 22:42). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 13:22-30), bacalah tulisan yang berjudul “BERJUANGLAH UNTUK MASUK LEWAT PINTU YANG SEMPIT ITU!” (bacaan untuk tanggal 30-10-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 31-10-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 28 Oktober 2019 [Pesta S. Simon dan Yudas, Rasul] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DUA PERUMPAMAAN YESUS TENTANG KERAJAAN ALLAH

DUA PERUMPAMAAN YESUS TENTANG KERAJAAN ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXX – Selasa, 29 Oktober 2019)


Lalu kata Yesus, “Seumpama apakah hal Kerajaan Allah dan dengan apakah Aku akan mengumpamakannya? Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang diambil dan ditaburkan orang di kebunnya; biji itu tumbuh dan menjadi pohon dan burung-burung bersarang pada cabang-cabangnya.”  Ia berkata lagi, “Dengan apakah Aku akan mengumpamakan Kerajaan Allah? Kerajaan itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu sebanyak empat puluh liter sampai mengembang seluruhnya.” (Luk 13:18-21)

Bacaan Pertama: Rm 8:18-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 126:1-6 

Bacaan Injil hari ini memuat dua perumpamaan Yesus tentang Kerajaan Allah. Untuk berbicara mengenai suatu realitas yang tidak/kurang familiar di telinga para pendengar-Nya, biasanya Yesus menggunakan imaji-imaji yang familiar. agar para pendengar-Nya dapat berkontak dengan kebenaran dari apa yang dikatakan-Nya. Kali ini Dia menggunakan imaji-imaji lahan tanah dan dapur. Dalam dua perumpamaan ini, Yesus menunjukkan kepada kita bahwa Dia tahu bagaimana berpikir besar (how to think big) – dalam artiannya yang baik. Yesus mengajarkan perumpamaan-perumpamaan ini bukanlah sekadar untuk menarik banyak pendengar. Pada faktanya, Dia mengetahui bahwa tidak lama lagi, pada hari Kamis malam sebelum kematian-Nya, jumlah pengikut-Nya akan menyusut sampai seminimum-minimumnya.

Akan tetapi, Yesus menunjukkan di sini bahwa hati-Nya dipenuhi dengan keyakinan. Dari sebutir biji mustar/sesawi akan tumbuhlah sebuah pohon besar di mana burung-burung bersarang pada cabang-cabangnya. Dari sedikit ragi yang diadukkan ke dalam tepung terigu dalam jumlah tertentu akan mengembanglah adonan yang baik. Itulah gambaran Kerajaan Allah, yang dapat berkembang secara perlahan-lahan namun akan bertumbuh karena dibangun dengan benar seturut kehendak Allah.

Yesus tidak memusingkan diri untuk melihat hasil-hasil besar dalam angka-angka atau pengaruh-Nya dalam dunia politik sebelum Ia meninggalkan dunia ini. Yang diprihatinkan oleh-Nya adalah, bahwa benih-benih benarlah yang ditanam di kebun-Nya. Pada faktanya, dapatkah kita mengatakan bahwa rencana Allah bagi umat-Nya menunjuk pada kerendahan hati dan kepercayaan Yesus yang penuh pada Bapa dan Roh Kudus?

Yesus menanam benih-benihnya, namun Ia membiarkan pertumbuhan fenomenal dari Kerajaan Allah kepada pekerjaan Penerus-Nya, Roh Kudus. Setelah kenaikan Yesus ke surga, pada hari yang kesepuluh, datanglah angin kuat dan kobaran api Pentekosta yang cepat menyebar. Yesus membiarkan pertumbuhan Kerajaan Allah dilakukan oleh Roh Kudus dalam hidup para pengikut-Nya. Sebagai pembawa Kabar Baik, sebagai misionaris, kita membutuhkan keyakinan yang dimiliki Yesus itu, kerendahan hati-Nya dan kepercayaan-Nya yang penuh pada Bapa dan Roh Kudus.

DOA: Bapa surgawi, bimbinglah kami agar dapat menanam benih-benih yang benar, kemudian kami mengandalkan diri pada karya besar Roh Kudus yang akan membuat Kerajaan-Mu sungguh bertumbuh. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 13:18-21), bacalah tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN-PERUMPAMAAN YESUS TENTANG BIJI SESAWI DAN TENTANG RAGI” (bacaan tanggal 29-10-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 30-10-18 dalam situs/blog SANG SABDA)  

Cilandak, 28 Oktober 2019 [Pesta S. Simon dan Yudas, Rasul] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DUA ORANG RASUL KRISTUS: SIMON ZELOTI DAN YUDAS TADEUS

DUA ORANG RASUL KRISTUS: SIMON ZELOTI DAN YUDAS TADEUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Pesta S. Simon dan Yudas, Rasul – Senin, 28 Oktober 2019)

Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Di dalam dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut dibangun menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh. (Ef 2:19-22) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 19:2-5; Bacaan Injil: Luk 6:12-19

“Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah.” (Ef 2:19)

Sungguh sebuah misteri yang indah menakjubkan! Ingat-ingatlah orang-orang kudus, baik perempuan maupun laki-laki – yang kita kenal sebagai para kudus, apakah santa dan santo; beata dan beato; venerabilis, kemudian pikirkanlah kenyataan bahwa kita semua tidaklah kurang dikasihi oleh Allah. Bersama “para kudus” itu kita semua diundang untuk hidup bersama Allah selama-lamanya. Ini kiranya merupakan tema yang cocok untuk melakukan permenungan pada hari ini selagi kita merayakan pesta dua orang kudus – Simon dan Yudas.

Nama kedua orang kudus ini seringkali disebut bersama-sama (lihat Luk 6:15-16; Kis 1:13), namun sebenarnya tidak banyak yang diketahui tentang kedua orang ini. Simon disebut sebagai orang Zelot dan dalam tradisi-tradisi yang lebih tua, kadang-kadang kepadanya diberikan gelar “Simon yang kecil”, untuk membedakan dirinya dengan Simon Petrus. Yudas dihormati sebagai orang kudus pelindung orang-orang yang menanggung beban berat dan nyaris kehilangan pengharapan. Ada spekulasi bahwa hal ini disebabkan karena fakta bahwa umat beriman merasa ragu dan enggan untuk memohon pertolongan (doa syafaat) dari seorang kudus yang mempunyai nama begitu mirip dengan Yudas Iskariot – si pengkhianat; jadi kalau kepepet saja …… only as a last resort ……, hanya apabila yang lain-lain terbukti tidak “berhasil”.

Simon dan Yudas dipilih oleh Yesus sebagai rasul-rasul-Nya untuk suatu tujuan atau misi tertentu. Demikian pula halnya dengan kita. Kita masing-masing telah menjadi seorang anggota Kerajaan Allah. Kita adalah warga-warga Kerajaan bersama-sama dengan para kudus, baik yang diakui oleh Gereja dan jutaan orang-kudus tak dikenal (ingat istilah “pahlawan tak dikenal”) yang cintakasih mereka kepada Allah Tritunggal Mahakudus hanya diketahui oleh Dia saja.

Allah mengasihi kita sama seperti Dia mengasihi para kudus-Nya. Allah tidak memanggil setiap orang untuk menjadi seorang rasul seperti Simon atau Yudas. Atau sebagai seorang imam, seorang rahib dlsb., namun jelas Ia memanggil setiap orang untuk “menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh” (Ef 2:22). Untuk itu, marilah kita memohon kepada Roh Kudus untuk memenuhi diri kita dan menggunakan kita dengan penuh kuat-kuasa sebagaimana telah dilakukan-Nya atas diri para rasul Kristus yang pertama. Kita harus berjuang untuk senantiasa berada bersama dan dalam Allah, agar dapat melihat bahwa keefektifan kita dalam melayani para anggota keluarga, para sahabat, paroki dlsb. akan kian bertumbuh dan menghasilkan buah berlimpah.

DOA: Yesus Kristus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Berkatilah orang-orang yang telah Engkau panggil. Semoga mereka mampu melihat martabat mereka sendiri di mata-Mu. Bukalah hati mereka lebar-lebar bagi harta-kekayaan yang telah Kausediakan bagi mereka. Terima kasih, ya Tuhan Yesus. Terpujilah nama-Mu selalu! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 6:12-19), bacalah tulisan yang berjudul “SEDIKIT CATATAN MENGENAI SANTO SIMON DAN SANTO YUDAS TADEUS” (bacaan tanggal 28-10-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 28-10-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 24 Oktober 2019 [Peringatan Fakultatif S. Antonius Maria Claret, Uskup] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KASIHANILAH AKU ORANG YANG BERDOSA INI

KASIHANILAH AKU ORANG YANG BERDOSA INI

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXX [Tahun C], 27 Oktober 2019)

Kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus menyampaikan perumpamaan. “Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezina dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul dirinya dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah sedangkan orang lain itu tidak. Sebab siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan. (Luk 18:9-14) 

Bacaan Pertama: Sir 35:12-14,16-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-3,17-19,23; Bacaan Kedua: 2Tim 4:6-8,16-18  

harold_copping_the_pharisee_and_the_publican_3001Apakah gambaran anda tentang Allah? Menurut anda, apa kiranya yang ada dalam pikiran Allah ketika Dia memandang anda? Orang Farisi dan si pemungut cukai mempunyai gambaran (imaji) tentang Allah yang sangat berbeda satu sama lain; konsepsi mereka yang berbeda tentang Dia dan cara Dia mempersepsikan mereka menyebabkan mereka berdoa dengan cara yang satu sama lain berbeda.

Bagi si Farisi, hubungannya dengan Allah menuntutnya untuk memaksimalkan perbuatan-perbuatan baiknya dan meminimalkan perbuatan-perbuatan buruknya. Martabatnya dan pembenaran atas dirinya didasarkan kepada apa yang dilakukan olehnya bagi Allah, atau sedikitnya sampai seberapa berhasil dia menghindari penghakiman dari Allah. Allah menentukan standar; dan si Farisi hanyalah harus memenuhi standar itu.

Sebaliknya, bagi si pemungut cukai, Allah itu penuh bela rasa dan belas kasih. Ia juga mengetahui bahwa Allah menetapkan suatu standar, tetapi dia juga menyadari bahwa dengan kekuatannya sendiri dia tidak akan mampu memenuhi standar tersebut. Namun demikian, dia tidak kehilangan pengharapan atau berputus asa, melainkan menaruh dirinya di tangan-tangan Allah. Dia mengakui bahwa segalanya yang dimilikinya adalah karena berhutang kepada Allah – bahkan keberadaannya sendiri. Dia senantiasa harus bergantung kepada Allah dan mengharapkan pertolongan-Nya.

Si pemungut pajak juga secara benar mengidentifikasikan permohonannya. Sementara si Farisi menunjuk kepada perbuatan-perbuatan baik sebagai dasar dari statusnya, si pemungut cukai berdoa: “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini” (Luk 18:13). Dia mengakui bahwa kebutuhannya akan belas kasihan Allah tidak hanya disebabkan oleh dosa-dosanya.

PERUMPAMAAN TENTANG DOA - FARISI DAN PEMUNGUT CUKAIYesus memuji pendekatan terhadap Allah yang dilakukan si pemungut cukai, dan mengatakan: “Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah” (Luk 18:14). Dari pemahamannya yang benar mengenai Allah, dia memohon belas kasih Allah dan pengampunan atas dirinya.

Dalam kasih-Nya, Allah Bapa kita semua ingin sekali menyentuh kita satu per satu. Dia menginginkan ketaatan kita, namun Ia tidak membuat ketaatan sebagai sebuah penghalang terhadap penyembuhan dan pengampunan-Nya. Yakin seyakin-yakinnya bahwa kita adalah anak-anak-Nya dan Ia adalah Bapa kita, marilah kita mohon kepada-Nya untuk melingkupi kita dengan belas kasihan dan kasih-Nya. Allah sungguh ingin menyembuhkan dan mengampuni kita, karena Dia ingin membuat kita masing-masing sebagai seorang pribadi yang utuh.

DOA: Bapa surgawi, kami mengakui bahwa segala sesuatu yang baik berasal dari-Mu. Oleh Roh Kudus-Mu, buatlah agar hati kami masing-masing dapat menjadi serupa dengan Hati Kudus Yesus, Putera-Mu terkasih. Biarlah kemenangan Putera-Mu atas dosa membasuh bersih dosa-dosa kami dan mentransformasikan diri kami menjadi serupa dengan Yesus. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 18:9-14), bacalah tulisan yang berjudul “ORANG INI PULANG KE RUMAHNYA SEBAGAI ORANG YANG DIBENARKAN ALLAH” (bacaan tanggal 27-10-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 23-10-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 24 Oktober 2019 [Peringatan Fakultatif S. Antonius Maria Claret, Uskup] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MARILAH MENINJAU KEMBALI HIDUP PERTOBATAN KITA

MARILAH MENINJAU KEMBALI HIDUP PERTOBATAN KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIX – Sabtu, 26 Oktober 2019)

Image result for IMAGES OF LUKE 13:1-5

Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampur Pilatus dengan darah kurban yang mereka persembahkan. Yesus berkata kepada mereka, “Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya daripada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu? “Tidak!”, kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa dengan cara demikian. Atau sangkamu kedelapan belas orang yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya daripada kesalahan semua orang lain yang tinggal di Yerusalem? “Tidak”, kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa dengan cara demikian.”

Kemudian Yesus menyampaikan perumpamaan ini, “Seseorang mempunyai pohon ara yang ditanam di kebun anggurnya, dan ia datang untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi ia tidak menemukannya. Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: Lihatlah, sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan sia-sia! Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!” (Luk 13:1-9) 

Bacaan Pertama: Rm 8:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 24:1-6 

Dalam bagian pertama bacaan Injil hari ini (Luk 13:1-5) tercatatlah dua peristiwa. Yang pertama adalah sebuah peristiwa berdasarkan kehendak seorang pribadi manusia yang bernama Pilatus. Orang yang satu ini memang seorang manusia yang brutal-kejam dan hal ini diteguhkan oleh tulisan-tulisan sejarawan Yosefus. Gubernur Romawi ini telah menghancurkan sebuah pemberontakan orang-orang Zelot dari Galilea yang bertujuan menumbangkan pemerintahan yang berkuasa. Penindasan politis memang terjadi sepanjang sejarah umat manusia di mana-mana, dan kali ini terjadi di Yerusalem. Peristiwa yang kedua sepenuhnya merupakan kecelakaan: sebuah menara runtuh di Yerusalem.

Setiap peristiwa dapat membawa pesan bagi kita. Sebuah “pesan”, apabila kita tahu bagaimana membacanya dengan/dalam iman. Penderitaan sakit ini, kegagalan itu, sukses ini, masa “sunyi-sepi sendiri” itu, persahabatan itu, tanggung jawab ini, musibah itu, anak itu yang memberikan kepadaku sukacita atau anak ini yang membuatku senantiasa merasa khawatir-cemas, sikap dan perilaku istriku, suamiku, dll. – semua ini sesungguhnya merupakan tanda-tanda. Apakah yang Allah ingin beritahukan kepada kita melalui tanda-tanda ini? Apakah tanda yang ingin disampaikan oleh dua peristiwa itu?

Setelah berbicara mengenai dosa manusia berkaitan dengan dua peristiwa itu, dua kali Yesus berkata, “Jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa dengan cara demikian” (Luk 13:3,5). Pada zaman Yesus – bahkan sampai pada hari ini – korban-korban suatu peristiwa yang menyedihkan dipandang sebagai hukuman atas dosa-dosa mereka. Ini adalah jalan mudah untuk membenarkan diri, dan membuat diri seseorang sebagai pribadi yang memiliki “nurani yang baik”. Namun penafsiran Yesus berbeda: segala musibah, bencana dan peristiwa-peristiwa yang tidak membahagiakan bukanlah hukuman dari Allah. Dalam hal ini Yesus bersikap tegas tanpa ragu sedikit pun.

Pada hakikatnya semua musibah dan sejenisnya itu adalah suatu undangan yang diperuntukkan bagi semua orang untuk bertobat. Semua kejahatan yang menimpa diri kita dan sesama kita adalah tanda-tanda kelemahan kita sebagai manusia. Kita tidak boleh menjadi mangsa dari “rasa aman yang keliru”. Seperti peziarah-peziarah, di atas bumi ini kita semua sedang melakukan perjalanan ziarah menuju rumah Bapa, tujuan akhir kita. Oleh karena itu kita harus mengambil posisi yang tegas, tidak plintat-plintut. Peninjauan kembali atas peristiwa-peristiwa dalam kehidupan kita tidak boleh menggiring kita untuk malah menghakimi orang-orang lain (hal sedemikian terlalu mudah untuk kita lakukan), melainkan untuk melakukan pertobatan pribadi.

Kemudian Yesus menceritakan “perumpamaan tentang pohon ara yang tidak berbuah” (Luk 13:6-9). Dalam perumpamaan ini, seseorang mempunyai pohon ara yang ditanam di kebun anggurnya dan ia datang ke kebunnya untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi tidak menemukannya. Pemilik kebun itu berkata kepada pengurus kebun anggur itu: “Lihatlah, sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan sia-sia! (Luk 13: 7). Sekali lagi, di sini Yesus berbicara mengenai suatu kebutuhan mendesak … Marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing: “Apakah aku ini sebatang pohon ara yang “steril”, mandul – tidak berbuah – bagi Allahku … dan bagi sesamaku?

Menanggapi perintah si pemilik kebun anggur, si pengurus kebun berkata: “Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!” (Luk 13:8). Ini adalah unsur paling penting dalam menafsirkan tanda-tanda zaman, yaitu “kesabaran Allah”! Bagaimana pun perlunya bagi kita untuk tidak kehilangan sesaat pun bagi pertobatan kita, kita tetap harus memiliki kesabaran yang besar terhadap orang-orang lain, juga dalam melakukan doa syafaat bagi mereka.

Kita selalu cenderung untuk menghakimi orang-orang lain dengan cepat, mengorbankan mereka tanpa pikir-pikir panjang lagi. Namun demikian, Yesus memberikan kepada kita sebuah contoh: Ia mencangkul tanah di sekeliling pohon ara yang tidak berbuah, memberikannya pupuk. Ini adalah sebuah tanda dari sikap Allah terhadap kita … Ini adalah sikap Yesus terhadap diriku pada HARI INI … “Jika tidak, tebanglah dia!” “Satu tahun lagi” bagiku untuk berbuah! Akhir zaman sudah dekat … sudah dimulai …

DOA: Yesus Kristus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Biarkanlah aku menggunakan dengan baik waktu yang Kauberikan kepadaku. Terima kasih, ya Tuhan Yesus, Engkau memberikan Roh Kudus untuk menuntun diriku dalam hidup pertobatan ini. Terpujilah nama-Mu selalu! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 13:1-9), bacalah tulisan yang berjudul “JIKALAU KAMU TIDAK BERTOBAT” (bacaan tanggal 26-10-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2019.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 27-10-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 23 Oktober 2019 [Peringatan Fakultatif S. Yohanes dr Kapestrano, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HARI LEPAS HARI, YESUS MENAWARKAN PENGAMPUNAN KEPADA KITA MASING-MASING

HARI LEPAS HARI, YESUS MENAWARKAN PENGAMPUNAN KEPADA KITA MASING-MASING

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIX – Jumat, 25 Oktober 2019)

Yesus berkata lagi kepada orang banyak, “Apabila kamu melihat awan naik di sebelah barat, segera kamu berkata: “Akan datang hujan, dan hal itu memang terjadi. Apabila kamu melihat angin selatan bertiup, kamu berkata: Hari akan panas terik, dan hal itu memang terjadi. Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini?

Mengapa engkau juga tidak memutuskan sendiri apa yang benar? Sebab, jikalau engkau dengan lawanmu pergi menghadap pemerintah, berusahalah berdamai dengan dia selama di tengah jalan, supaya jangan engkau diseretnya kepada hakim dan hakim menyerahkan engkau kepada pembantunya dan pembantu itu melemparkan engkau ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.” (Luk 12:54-59) 

Bacaan Pertama: Rm 7:18-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:66,68,76-77,93-94 

NAMA YESUS YANG KUDUS - 555Yesus menasihati kita untuk menyelesaikan perselisihan-perselisihan kita satu sama lain sebelum perkara-perkara yang ada dibawa ke pengadilan. Pengadilan, hakim dan petugas penjara tidaklah begitu berbelas kasih! Mereka akan menuntut keadilan secara ketat. Di sini Yesus langsung mengacu kepada pengadilan/penghakiman ilahi yang akan datang, karena umat-Nya menolak pengampunan, maka hal itu berarti mereka menolak untuk menyelesaikan urusan mereka dengan sang Mesias dalam perjalanan mereka menuju pengadilan/penghakiman ilahi ini.

Yesus menginginkan agar kita masing-masing mengikuti nasihat yang sama. Segala kesempatan yang diberikan kepada kita harus digunakan sekarang! Hari lepas hari, Yesus menawarkan pengampunan kepada kita masing-masing. Ia mengajar kita untuk berdoa kepada Bapa di surga, memohon kepada-Nya agar mengampuni kita, seperti kita mengampuni mereka yang bersalah kepada kita. Pengampunan setiap hari yang kita lakukan satu sama lain inilah yang mempersiapkan hati kita untuk diampuni oleh Allah. Jadi memang kita harus menyelesaikan perkara kita dalam perjalanan hidup kta dengan semangat kasih dan pengampunan. Kalau tidak demikian halnya, maka Tuhanlah yang akan mengambil alih peran sebagai hakim kita, dan hal ini berarti keadilan yang ketat. Oleh karena itu Yesus mengingatkan kita untuk mencari belas kasih Allah pada waktunya. Yesus bersabda bahwa kita tidak akan keluar dari “penjara” sebelum kita membayar hutang kita sampai lunas (Luk 12:58-59).

Setiap hari, dalam diri setiap pribadi yang kita temui, dalam setiap anggota keluarga kita, dalam RT dan lingkungan kita, Allah memberikan kesempatan-kesempatan kepada kita untuk menyelesaikan masalah-masalah yang menyangkut keadilan dan kasih, sehingga dengan demikian kita pun akan siap untuk menghadapi pengadilan/penghakiman atas diri kita sendiri. Yang ingin dipesankan Yesus kepada kita dalam bacaan Injil hari ini adalah: “Jangan lewatkan kesempatan ini. Aku memberikan kepadamu banyak kesempatan. Akan tetapi setiap kesempatan hanya datang sekali saja. Aku pikir akan jauh lebih baiklah bagi kamu untuk menyelesaikan urusan-urusan spiritual-mu sekarang juga, sebelum kamu datang menghadap ke pengadilan terakhir.”

DOA: Bapa surgawi, oleh kuasa Roh Kudus-Mu bentuklah hatiku menjadi serupa dengan hati Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus, yang penuh kasih dan pengampunan terhadap sesamaku, termasuk yang mendzolimi diriku. Jagalah diriku agar tetap dapat melakukan perjalanan hidupku sebagai seorang murid Kristus yang setia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:54-59), bacalah tulisan yang berjudul “MEMPERLAKUKAN SESAMA KITA DENGAN ADIL” (bacaan tanggal 25-10-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 27-10-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 22 Oktober 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS