Posts from the ‘19-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2019’ Category

GANDUM DAN LALANG DALAM DIRI KITA

GANDUM DAN LALANG DALAM DIRI KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVII – Selasa, 30 Juli 2019)

Keuskupan Agung Semarang: HR Pemberkatan Katedral Semarang

Peringatan (Fakultatif): S. Petrus Krisologus, Uskup Pujangga Gereja

Sesudah itu Yesus meninggalkan orang banyak itu, lalu pulang. Murid-murid-Nya datang dan berkata kepada-Nya, “Jelaskanlah kepada kami perumpamaan tentang lalang di ladang itu.” Ia menjawab, “Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia; ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan sedangkan lalang anak-anak si jahat. Musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman  dan para penuai itu malaikat. Jadi, seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman. Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyebabkan orang berdosa dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya. Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi. Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa yang bertelinga, hendaklah ia mendengar!” (Mat 13:36-43) 

Bacaan Pertama: Kel 33:7-11;34:5-9,28; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:6-13

Banyak dari perumpamaan-perumpamaan Yesus tentang Kerajaan Surga menyangkut persoalan “kebaikan dan kejahatan”, dan bagaimana Allah ingin agar keduanya (baik dan jahat) ada dalam kehidupan kita, namun pada akhirnya harus dipisahkan. Dalam perumpamaan ini gandum harus diselamatkan karena satu-satunya yang bernilai. Di lain pihak lalang harus dicabut dan dibakar. Waktu panen/tuain adalah waktu untuk mengambil keputusan, waktu penghakiman, pada waktu mana yang baik harus dipisahkan dari yang jahat.

Dapatkah kita memandang masalah ini secara sempit: gandum itu adalah orang-orang baik, sedangkan lalang adalah orang-orang jahat? Apakah pandangan ini sejalan dengan kebanyakan pengalaman kita? Apakah memang kita menemukan orang-orang yang sepenuhnya baik dan di sisi lain orang-orang yang sepenuhnya jahat? Atau, apakah kita melihat dalam diri kita masing-masing, bahwa kita adalah kedua-duanya: gandum dan lalang, baik dan jahat? Kalau memang demikian halnya, maka cepat atau lambat – sebelum kita menikmati kebahagiaan sejati dan ganjaran surgawi – maka semua lalang atau apa saja yang jahat harus dicabut dari diri kita dan kemudian dibakar habis!

Sayangnya, memang kita masing-masing bertumbuh sebagai tumbuhan mendua, tumbuhan ganda yang terdiri dari gandum yang baik yang bercampur dengan lalang yang jahat. Lalang harus dibakar sebelum gandum itu menjadi cukup baik agar dapat disimpan dalam lumbung kebahagiaan di masa mendatang. Itulah sebabnya mengapa Allah memperkenankan kita menderita, itulah sebabnya mengapa kita harus banyak berkorban, menyangkal diri kita, dan memperbaiki diri dari berbagai kesalahan yang kita buat, termasuk kelalaian kita untuk mematuhi perintah-perintah-Nya. Lalang bertumbuh dan berkembang-biak dalam kebun atau ladang yang tak terurus. Jadi, lalang yang dimaksudkan oleh Yesus dalam perumpamaan ini adalah kejahatan-kejahatan yang bertumbuh-kembang dalam sebuah jiwa yang tak terurus, tak karuan arahnya.

Satu lagi realitas yang kita lihat: banyak dari kita, sayangnya tidak menyelesaikan pekerjaan memotong lalang sebelum Allah memanggil kita dan berkata: “Waktumu sudah habis!” Itulah sebabnya kita percaya akan keberadaan purgatorio – api pencucian – sebuah “tempat” pemurnian. Kita berharap akan adanya sebuah cara di mana sisa lalang yang belum dicabut dapat dibakar habis, agar hanya gandum yang baik sajalah yang tertinggal. Kebahagiaan sempurna adalah bagi orang-orang yang sempurna, sehingga dengan demikian tidak tersisa apa pun yang jahat.

Jadi, ada kebutuhan yang mendesak bagi kita untuk melakukan kebaikan; agar kita dapat mengalami proses pemurnian itu sebanyak mungkin selama kita masih hidup di dunia. Allah menciptakan kita untuk saling menolong. Orang-orang lain juga adalah anak-anak Allah, jadi mereka adalah saudari-saudara kita yang harus ditolong ketika mereka mengalami kesusahan.

“Model” sempurna bagaimana caranya melakukan kebaikan adalah Yesus Kristus sendiri, Saudara tua kita semua. Dengan demikian janganlah kita pernah lupa – teristimewa pada waktu kita berada dalam posisi nyaman – untuk bermurah hati, lemah-lembut, dan tidak “mikiran diri sendiri melulu”. Janganlah kita lupa juga untuk mendoakan orang-orang lain …… termasuk mereka yang telah mendzolimi diri kita. Hidup yang terselamatkan lewat perbuatan baik kita boleh jadi adalah hidup kita sendiri!

DOA: Tuhan Yesus, selagi kami berjalan kembali kepada-Mu, sembuhkanlah hati kami dan perbaharuilah hidup kami. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan  Injil hari ini (Mat 13:36-43), bacalah tulisan yang berjudul “JANGAN MENGHAKIMI ORANG LAIN” (bacaan tanggal 30-7-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-07 BACAAN HARIAN JULI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggl 31-7-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 28 Juli 2019 [HARI MINGGU BIASA XVII – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

DUA PERUMPAMAAN YESUS TENTANG KERAJAAN SURGA

DUA PERUMPAMAAN YESUS TENTANG KERAJAAN SURGA

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Peringatan Wajib S. Marta – Senin, 29 Juli 2019)

Yesus menyampaikan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar daripada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.”

Ia menceritakan perumpamaan ini juga kepada mereka, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu sebanyak empat puluh liter sampai mengembang seluruhnya.”

Semuanya itu disampaikan Yesus kepada orang banyak dalam perumpamaan, dan tanpa perumpamaan suatu pun tidak disampaikan-Nya kepada mereka, supaya digenapi firman yang disampaikan oleh nabi, “Aku mau membuka mulut-Ku menyampaikan perumpamaan, Aku mau mengucapkan hal yang tersembunyi sejak dunia dijadikan.” (Mat 13:31-35) 

Bacaan Pertama: Kel 32:15-24,30-34; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:19-23 

“Aku mau membuka mulut-Ku menyampaikan perumpamaan, Aku mau mengucapkan hal yang tersembunyi sejak dunia dijadikan.” (Mat 13:35)

Sabda Yesus ini merupakan pemenuhan dari apa yang ditulis sang pemazmur dalam Mzm 78:2. Yesus mengatakan ini karena Dia tahu bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga  (Kerajaan Allah) dibutuhkan sesuatu yang lebih daripada sekadar pemahaman intelektual. Pewahyuan ilahi juga dibutuhkan.

Yesus seringkali mengajar dengan menggunakan perumpamaan-perumpamaan yang diambil dari kehidupan sehari-hari atau dari alam sekitar. Hal ini dimaksudkan agar dapat menangkap perhatian para pendengar-Nya dan memicu mereka untuk mengajukan lebih banyak lagi pertanyaan tentang pesan Injil dan hidup yang ingin disampaikan-Nya.

Kedua perumpamaan Yesus dalam bacaan Injil hari ini, yaitu “perumpamaan tentang biji sesawi” dan “perumpamaan tentang ragi” akan mempunyai makna apabila kita berpikir tentang dunia di mana Yesus berbicara. Orang-orang seperti raja Herodes Antipas, yang menindas siapa pun yang menghalangi langkah-langkahnya, mulai berkuasa. Di lain pihak banyak orang tidak mau menanggapi panggilan Yesus untuk menjadi murid-murid-Nya.

Pesan Yesus perihal bagaimana orang-orang harus menghayati kehidupan mereka memang seringkali terdengar indah namun seringkali juga tidak realistis, tentunya dari pandangan mata manusia. Akibatnya adalah bahwa apabila kita memandangnya dari satu sisi saja, maka kita hanya melihat sebagian dari gambar yang ada.

Kekuasaan Allah atas manusia mungkin datang dalam berbagai cara yang sederhana, namun demikian merupakan peristiwa yang penuh kuat-kuasa (Mat 13:31-32). Kerajaan-Nya mempunyai kuasa untuk mengubah pribadi-pribadi dan masyarakat (Mat 13:33). Hanya itulah satu-satunya yang bertahan sampai kekal (lihat “perumpamaan tentang lalang di antara gandum” dalam Mat 13:24-30 dan penjelasan atas perumpamaan itu dalam Mat 13:36-43), akan tetapi saatnya akan tiba di mana karya-Nya akan selesai dan akan menjadi terang bercahaya.

“Perumpamaan tentang biji sesawi” mengingatkan bahwa kepada kita masing-masing telah diberikan iman sebesar “biji sesawi” pada saat kita dibaptis. Apa yang akan kita lakukan dengan benih yang kecil ini? Apabila kita membuka hati kita kepada Allah dengan membaca dan merenungkan sabda-Nya dalam Kitab Suci, apabila kita berdoa, dan datang kepada-Nya dalam Ekaristi, maka secara cukup mengejutkan Dia dapat memperbesar benih iman kita yang kecil itu menjadi suatu pemahaman yang mendalam tentang Kerajaan-Nya. Marilah kita berbalik kepada Yesus sehingga Dia dapat membalikkan hati kita menjadi “tanah yang baik” (lihat Mat 13:23), yang dibutuhkan oleh iman kita untuk berakar dan bertumbuh.

“Perumpamaan tentang ragi” mengingatkan kita bahwa walaupun kita telah dicerahkan untuk mengenal mana yang benar ketimbang mana yang salah, kita membutuhkan “adonan rahmat” guna membangkitkan kita agar melakukan hal-hal yang baik. Allah memberikan pertolongan ini, kekuatan ini, dorongan dan hasrat untuk melakukan apa yang dikehendaki-Nya. Kita semua pasti pernah mengalami desakan-desakan dalam batin kita untuk memikirkan, mengambil sikap dan/atau melakukan hal-hal tertentu yang baik, namun seringkali kita tidak mempedulikan desakan-desakan batiniah tersebut.

Saudari dan Saudara yang dikasihi Kristus, Tuhan Yesus ingin mengajar kita. Marilah kita tingkatkan hasrat kita untuk sungguh menjadikan diri kita murid-murid-Nya yang baik dan sungguh berbuah limpah.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Selagi kami datang menghadap Engkau dalam doa dan permenungan, ajarlah kami dan inspirasikanlah kami. Oleh kuat-kuasa Roh Kudus-Mu, buatlah iman kami menjadi iman yang hidup, sehingga dengan demikian kami dapat menjadi perpanjangan tangan-tangan kasih-Mu bagi orang-orang di sekeliling kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:31-35), bacalah tulisan yang berjudul “” (bacaan tanggal 29-7-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-07 BACAAN HARIAN JULI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 30-7-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 26 Juli 2019 [Pesta S. Yoakim dan Anna, Orangtua SP Maria] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DOA YANG DIAJARKAN OLEH YESUS KEPADA KITA SEMUA

DOA YANG DIAJARKAN OLEH YESUS KEPADA KITA SEMUA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XVII [Tahun C] –  28 Juli 2019)

Pada suatu kali Yesus berdoa di suatu tempat. Ketika Ia selesai berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya, “Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya. Jawab Yesus kepada mereka, “Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu. Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan dosa-dosa kami sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan.” Lalu kata-Nya kepada mereka, “Jika seorang di antara kamu mempunyai seorang sahabat dan pada tengah malam pergi kepadanya dan berkata kepadanya: Sahabat, pinjamkanlah kepadaku tiga roti, sebab seorang sahabatku yang sedang berada dalam perjalanan singgah ke rumahku dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk dihidangkan kepadanya; masakan ia yang di dalam rumah itu akan menjawab: Jangan mengganggu aku, pintu sudah tertutup dan aku serta anak-anakku sudah tidur; aku tidak dapat bangun dan memberikannya kepadamu. Aku berkata kepadamu: Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya. Karena itu, Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetuk, baginya pintu dibukakan. Bapak manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan, akan memberikan ular kepada anaknya itu sebagai ganti ikan? Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya  kalajengking? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” (Luk 11:1-13) 

Bacaan Pertama: Kej 18:20-33; Mazmur Tanggapan: Mzm 138:1-3,6-8; Bacaan Kedua: Kol 2:12-14

Yesus berdoa kepada Bapa-Nya dengan keyakinan total bahwa Dia berada dalam kesatuan dengan Bapa. Para murid melihat kenyataan ini, sehingga seorang dari mereka minta kepada Yesus untuk mengajar para murid-Nya berdoa (Luk 11:1-4). Yesus menanggapi permintaan murid itu dengan mengajarkan sebuah doa sederhana, namun disampaikan dengan penuh keyakinan dan secara langsung kepada Allah sebagai Bapa. Doa ini mencerminkan hal-hal yang ada dalam hati Yesus, hal-hal yang dilihat oleh-Nya sebagai penting dalam sebuah doa.

“Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu” (Luk 11:2). Cukup mengagetkan bagi para murid bahwa mereka harus menyapa Allah sebagai Bapa (Bahasa Aram: Abba) secara langsung dan akrab seperti itu. Doa sedemikian didasarkan pada relasi Allah sebagai Bapa bagi semua orang yang sungguh percaya kepada Putera-Nya, karena mereka adalah anak-anak yang dilahirkan dari Allah (Yoh 1:13). Doa Yesus mulai dengan suatu sikap penyembahan yang didasarkan pada kekudusan Allah yang mutlak. Doa ini menyatakan bahwa Allah yang dipanggil dan dikenal secara akrab itu adalah kudus. Kita berdoa agar Kerajaan Allah datang, artinya Allah meraja – bahwa semua kejahatan yang merusak ciptaan itu disingkirkan, teristimewa yang ada dalam hati kita.

Dengan berdoa “Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya” (Luk 11:3), dinyatakanlah kebenaran dari pemeliharaan Allah yang menyangkut kebutuhan-kebutuhan kita dan perlindungan-Nya dari hari ke hari. Kita juga mempunyai kebutuhan yang konsisten akan pengampunan Allah, oleh karena kita berdoa: “ampunilah kami akan dosa-dosa kami” (Luk 11:4). Walaupun dosa-dosa kita diampuni melalui pertobatan, kita secara terus-menerus dipanggil untuk bertumbuh semakin dekat dengan kekudusan Allah. Selagi Roh Kudus mengungkapkan dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan kita, Dia memberikan kepada kita rahmat untuk bertobat dan mencari pengampunan dari Allah. Kata-kata Yesus: “dan ampunilah kami akan dosa-dosa kami, sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami” (Luk 11:4), mengingatkan kita bahwa kita berkewajiban untuk mengampuni setiap orang, sebebas Allah mengampuni diri kita.

Permohonan Yesus yang terakhir, “janganlah membawa kami ke dalam pencobaan” (Luk 11:4), adalah mengenai diri kita yang suka jatuh ke dalam pencobaan, karena “roh memang berniat baik, tetapi tabiat manusia lemah” (Mrk 14:38). Yesus Kristuslah yang  memberikan kepada kita kemenangan atas segala pencobaan dan godaan.

Marilah kita berdoa dengan pikiran Yesus, yang sepenuhnya menundukkan diri terhadap kehendak Bapa surgawi, menempatkan hati kita dalam ketenangan di hadapan hadirat Bapa.  Semoga dalam doa kita, kita menyadari dan mengalami warisan sejati yang kita terima sebagai anak-anak Allah.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih untuk “Doa Bapa Kami” yang Kauajarkan kepada kami semua. Terpujilah nama-Mu selalu! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 11:1-13), bacalah tulisan yang berjudul “DOA BAPA KAMI YANG DIAJARKAN OLEH YESUS SENDIRI” (bacaan tanggal 28-7-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-07 BACAAN HARIAN JULI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 24-7-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 26 Juli 2019 [Pesta S. Yoakim dan Anna, Orangtua SP Maria] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

APAKAH KITA MAU DIUBAH MENJADI GANDUM?

APAKAH KITA MAU DIUBAH MENJADI GANDUM?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVI – Sabtu, 27 Juli 2019)

Keluarga Fransiskan: Peringatan B. Maria Magdalena Martinengo, Perawan (Ordo II)

Yesus menyampaikan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya. Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi. Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu. Lalu datanglah hamba-hamba pemilik ladang itu kepadanya dan berkata: Tuan, bukankah benih baik, yang tuan taburkan di ladang tuan? Jadi, dari manakah lalang itu? Jawab tuan itu: Seorang musuh yang melakukannya. Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: Jadi, maukah Tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu? Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.” (Mat 13:24-30) 

Bacaan Pertama: Kel 24:3-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:1-2,5-6,14-15

Pernahkah anda menanam benih rumput yang bagus untuk taman pekarangan anda, dan belakangan anda menyaksikan ada juga rumput alang-alang perusak halaman yang tumbuh bersama dengan rumput mahal? Jika begitu halnya, maka anda barangkali memahami apa yang dipikirkan oleh para hamba pemilik ladang dalam perumpamaan di atas: cabutlah lalang itu sekarang juga, karena tumbuhan itu hanya merusak tumbuhan gandum! Sebuah keputusan yang memberi kesan cepat-tepat!

Akan tetapi bagaimana dengan orang yang menaburkan benih gandum itu? Apa dan bagaimana reaksinya? Ia langsung mengetahui dari mana lalang itu berasal. Namun tidak seperti para hambanya, dia lambat marah terhadap perbuatan licik musuhnya, dan hal ini memampukannya untuk berpikir secara jernih dan mengambil keputusan yang tepat tentang bagaimana menangani masalahnya. Dengan sabar, bahkan penuh belas kasihan, dia bersedia untuk membiarkan lalang itu bertumbuh, demi hasil gandum yang baik di akhir cerita. Tindakannya juga adil, karena meski dia menanti sampai waktu menuai, dia sungguh-sungguh menyuruh bakar lalang yang sudah diikat berberkas-berkas itu, dan gandum pun dikumpulkan ke dalam lumbungnya.

Perumpamaan ini menunjukkan kepada kita bahwa apabila Allah menyatakan diri-Nya kepada kita, kita dapat merasa bersalah dan bahkan terkutuk, karena rancangan Allah bukanlah rancangan kita, dan jalan-Nya bukanlah jalan kita (lihat Yes 55:8). Kita bertanya: “Mengapa tidak langsung saja mencabut lalang dan biarkan gandum itu bertumbuh?” Respons tergesa-gesa seperti itu menunjukkan bahwa kita perlu merefleksikan lebih lanjut satu hal: Sebagai ‘siapa’ Allah menyatakan diri-Nya? Allah kita bukanlah ‘seorang’ Allah yang langsung menghukum. Ia adalah Allah yang panjang sabar yang menawarkan setiap “lalang” kesempatan untuk diubah menjadi “gandum”. Selagi kita mulai sedikit memahami kerahiman Allah dan kesabaran-Nya, maka hati kita dapat disentuh dengan suatu hasrat untuk ikut ambil bagian dalam misi-Nya mentransformir dunia kita sehingga dapat menjadi lahan yang subur dan menghasilkan buah. Kita semua mengakui bahwa musuh dapat menaburkan benih lalang, namun Allah tetap yakin bahwa Dia dapat membawa kebaikan dan mengalahkan kejahatan.

Santa Katarina dari Siena pernah mengatakan bahwa Allah adalah “lautan yang dalam”: “semakin banyak yang kita cari, semakin banyak pula yang kita temukan, dan semakin banyak yang kita temukan, semakin banyak pula yang kita cari.” Pada waktu kita berdoa, ketika kita membaca Kitab Suci, bahkan perumpamaan-perumpamaan Yesus yang paling sederhana sekali pun, Ia mengejutkan kita dengan pernyataan-Nya yang tak sebagaimana diharap-harapkan sebelumnya: pernyataan kasih-Nya, kerahiman-Nya, kesenangan-Nya serta sayang-Nya akan ciptaan-Nya. Singkat cerita: Allah menjungkirbalikkan asumsi-asumsi kita dan membuktikan bahwa diri-Nya lebih setia dan jauh lebih penuh dengan kuat-kuasa daripada apa yang kita pernah bayangkan!

DOA: Bapa surgawi, selagi aku berdoa dan membaca Kitab Suci pada hari ini, tunjukkanlah kepadaku dengan lebih jelas lagi siapa sebenarnya Engkau. Aku ingin mengenal kuat-kuasa-Mu untuk mengubah hati manusia – bahkan hatiku sendiri juga – agar dapat menjadi gandum yang terbaik. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 13:24-30), bacalah tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN YESUS TENTANG LALANG DI ANTARA GANDUM” (bacaan tanggal 27-7-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-07 BACAAN HARIAN JULI 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 24 Juli 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MEREKA MENGAMBIL TEMPAT YANG LAYAK DALAM SEJARAH KESELAMATAN

MEREKA MENGAMBIL TEMPAT YANG LAYAK DALAM SEJARAH KESELAMATAN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Yoakim dan S. Anna, Orangtua SP Maria – Jumat,  26 Juli 2019)

Dan sekarang kami hendak memuji orang-orang termasyhur, para nenek moyang kita menurut urut-urutannya.

Tetapi yang berikut ini adalah orang kesayangan yang kebajikannya tidak sampai terlupa; semuanya tetap tinggal pada keturunannya sebagai warisan baik yang berasal dari mereka. Keturunannya tetap setia kepada perjanjian-perjanjian, dan anak-anak merekapun demikian pula keadaannya. Keturunan mereka akan tetap tinggal untuk selama-lamanya, dan kemuliaannya tidak akan dihapus. Dengan tenteram jenazah mereka ditanamkan, dan nama mereka hidup terus turun-temurun. Bangsa-bangsa bercerita tentang kebijaksanaannya, dan pujian mereka diwartakan jemaah. (Sir 44:1,10-15) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 132:11,13-14,17-18; Bacaan Injil: Mat 13:16-17 

Pada hari ini Gereja memperingati Santo Yoakim dan Santa Anna, orangtua dari SP Maria, artinya kakek-nenek Yesus dari Nazaret dari pihak ibu. Nama mereka tidak ada dalam daftar nenek-moyang Yesus Kristus, baik dalam Injil Matius maupun Injil Lukas. Dalam kedua silsilah tersebut hanya para leluhur/karuhun dari pihak Yusuf saja yang disebut. Namun dalam tulisan-tulisan yang tidak termasuk kanon, yang kebetulan ada dalam perpustakaan pribadi saya, nama-nama mereka muncul: (1) Dalam “Injil Kelahiran Maria” (Inggris: The Gospel of the Birth of Mary); dan (2)  dalam THE PROTOEVANGELION BY JAMES THE LESSER, COUSIN AND BROTHER OF THE LORD JESUS;  keduanya terdapat dalam THE LOST BOOKS OF THE BIBLE, New York: New American Library, 1974 (asli:1926). Tulisan kedua di atas juga terdapat dalam Ron Cameron (Editor), THE OTHER GOSPELS dengan judul THE PROTEVANGELIUM OF JAMES, Philadelphia: The Westminster Press, 1982.

Dalam Proto-Injil Yakobus (PIY) ini diceritakan kelahiran Maria yang ajaib. Keprihatinan utama dari “legenda”/”tradisi” seperti ini adalah sejalan dengan data Perjanjian Baru, yaitu untuk menunjukkan bahwa Maria mempunyai sebuah tempat istimewa dalam sejarah Allah dengan manusia. “Legenda”/”tradisi” ini menggambarkan Yoakim dan Anna yang saling terikat oleh cinta sejati. Mereka adalah orang-orang yang takut akan Allah dan kaya. Untuk jangka waktu lama mereka tidak dianugerahi anak (seperti kasus Samuel dan Yohanes Pembaptis). Tidak mengherankanlah apabila para tetangga mencurigai bahwa ada yang tidak benar dalam kesalehan hidup mereka. Seperti kita ketahui, dalam Perjanjian Lama, tidak dikaruniai anak dinilai sebagai suatu penghukuman atas dosa-dosa pribadi.

Yoakim dan Anna sangat sedih karena semua itu. Mereka mengaduh di hadapan Allah tentang ketiadaan anak yang mereka alami. Yoakim melakukan “retret” selama 40 hari dan 40 malam di padang gurun, melakukan pertobatan di hadapan Allah melalui puasa dan doa. Yoakim berkata: “Aku tidak akan makan atau minum sampai Tuhan Allahku mengunjungi aku; doa akan menjadi makanan dan minumanku” (PIY 1:4). Di sisi lain Anna meratapi situasi ketiadaan anaknya di hadapan YHWH-Allah seperti yang dilakukan oleh Hana ibu Samuel. Akhirnya, Allah melakukan intervensi.

Lewat malaikat Tuhan, Yoakim dan Anna menerima janji Allah bahwa mereka akan memperoleh seorang anak. Berita tersebut membuat ke dua orang tersebut penuh sukacita dan saling bertemu lagi. “Reuni” pasutri ini digambarkan dengan indah dan mengharukan dalam Proto-Injil Yakobus. Saya mencatat sebagian kecil saja: Anna sudah menunggu di pintu gerbang ketika Yoakim datang dengan kawanan hewan peliharaannya. Anna berlari mendapatkan suaminya itu, merangkulnya dan berkata: “Sekarang aku tahu bahwa Tuhan Allah sangat memberkatiku; karena lihatlah si janda tidak lagi seorang janda, dan aku yang dikatakan seorang mandul, telah mengandung [akan mengandung]” (PIY 4:4). Keesokan harinya Yoakim mempersembahkan kurban kepada Allah di Bait Suci (PIY 5:1). Sembilan bulan setelah Yoakim menghampiri Anna, lahirlah Maria. Maria dilahirkan secara ajaib dari seorang perempuan yang telah dinyatakan mandul, demikian pula dia kelak akan melahirkan secara ajaib ke dalam dunia Putera Allah Yang Mahatinggi, Juruselamat semua bangsa.

Sekali lagi saya kemukakan di sini bahwa keprihatinan utama dari “legenda”/”tradisi” ini adalah jelas untuk menyatakan bahwa Maria dipilih oleh Allah secara istimewa, dan ia mempunyai suatu tugas yang khusus dalam sejarah keselamatan. Yoakim dan Anna hanya sekadar tokoh-tokoh di belakang layar. Namun demikian, pasutri ini tidak begitu saja menghilang karena mereka digambarkan sebagai orang-orang kudus dalam pengertian Perjanjian Lama, seperti digambarkan dalam bacaan pertama hari ini yang diambil dari Kitab Yesus bin Sirakh.

Iman pasutri ini akan Allah juga dinyatakan dalam tindakan mereka menyerahkan Maria ketika berumur tiga tahun ke Bait Suci (PIY 7:2) untuk memenuhi janji yang dibuat Anna sebelum kelahiran Maria (PIY 4:1) dan memperkenankan anak itu tinggal dalam Bait Suci. Pasutri Yoakim dan Anna dengan penuh kemurahan hati mempersembahkan kepada Allah apa yang telah dianugerahkan-Nya kepada mereka. Yoakim dan Anna setia pada Allah bahkan ketika mengalami ujian atas iman-kepercayaan mereka. Mereka mengambil tempat yang layak dalam sejarah keselamatan – sebagai orangtua Maria!

DOA: Bapa surgawi, pada hari peringatan Santo Yoakim dan Santa Anna ini, berkatilah secara khusus para pasutri dalam keluarga-keluarga Kristiani, teristimewa mereka yang tidak/belum dianugerahi anak-anak. Tumbuh-kembangkanlah keutamaan-keutamaan iman, pengharapan dan kasih dalam keluarga-keluarga tersebut. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan hari ini (Sir 44:1,10-15), bacalah tulisan berjudul “CERITA TENTANG IBU DAN AYAH DARI BUNDA MARIA” (bacaan tanggal 26-7-18) dalam situs/blog dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-07 BACAAN HARIAN JULI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 26-7-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 23 Juli 2019 [Peringatan S. Birgitta dr Swedia, Janda (OFS)]  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

CERITA TENTANG SALAH SEORANG BOANERGES

CERITA TENTANG SALAH SEORANG BOANERGES

(Bacaan Pertama  Misa Kudus, Pesta Santo Yakobus, Rasul – Kamis, 25 Juli 2019)

Tetapi harta ini kami miliki dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak hancur terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami. Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini. Dengan demikian, maut giat di dalam diri kami dan hidup giat di dalam kamu.

Namun demikian karena kami memiliki roh iman yang sama, seperti ada tertulis: “Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata”, maka kami juga percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata. Karena kami tahu bahwa Ia, yang telah membangkitkan Tuhan Yesus, akan membangkitkan kami juga bersama-sama dengan Yesus, Ia juga akan menghadapkan kami bersama-sama dengan kamu kepada diri-Nya. Sebab semuanya itu terjadi karena kamu, supaya anugerah yang semakin besar berhubungan dengan semakin banyaknya orang yang menjadi percaya, menyebabkan semakin melimpahnya ucapan syukur bagi kemuliaan Allah. (2Kor 4:7-15) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 126:1-6; Bacaan Injil: Mat 20:20-28 

“Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak hancur terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa.” (2 Korintus 4:8-9)

Pada hari ini kita merayakan pesta Santo Yakobus, saudara dari Yohanes Penginjil dan anak dari Zebedeus. Kedua rasul bersaudara ini diberi oleh Yesus nama Boanerges, yang berarti anak-anak guruh (Mrk 3:17). Atas perintah Raja Herodes Agrippa, Yakobus ditangkap dan dibunuh (Kis 12:1-2). Dengan demikian Yakobus merupakan rasul Kristus pertama yang dibunuh sebagai martir bagi Yesus Kristus.

Yakobus pastilah seorang rasul yang sangat kuat karena dialah yang dipilih oleh Herodes Agrippa untuk yang pertama dipancung, hal mana menyenangkan hati orang Yahudi (Kis 12:3). Oleh karena itu, Herodes Agrippa membuat rasul Petrus menjadi target selanjutnya (Kis 12:3).

Yakobus – rasul Kristus pertama yang mati demi kasih kepada-Nya – kiranya bersama Yohanes pernah merupakan masalah bagi rasul-rasul lain, gara-gara permohonan ibunda mereka yang meminta jabatan istimewa bagi kedua anaknya itu (lihat Mat 20:20-28, khususnya ayat 24; bdk. Mrk 10:35-45). Jabatan Menko-Menko dalam kabinet Kristus? Dengan penuh kesabaran Yesus berkata kepada para murid-Nya bahwa cara untuk mencapai kemuliaan adalah dengan merendahkan diri untuk melayani dengan rendah hati (Mat 20:26-27).

Yakobus pada akhirnya menerima nasihat Yesus dan menyimpannya dalam hatinya. Setelah Pentakosta, Yakobus tidak mencoba untuk menyelamatkan hidupnya sendiri. Bersama para rasul yang lain, Yakobus secara terus-menerus memberitakan Kabar Baik Yesus Kristus kepada orang banyak. “Kisah para Rasul” mencatat: “Setiap hari mereka mengajar di Bait Allah dan di rumah-rumah dan memberitakan Injil tentang Yesus yang adalah Mesias” (Kis 5:42), serta membuat mukjizat-mukjizat dan berbagai tanda heran lainnya (lihat Kis 5:12). Dengan iman yang besar, Yakobus memberikan hidupnya sendiri demi cintakasih kepada Allah dan umat-Nya (bdk. Mat 20:28).

Seperti Yakobus, semoga hidup kita menjadi sedemikian kuatnya dalam Yesus, sehingga dengan demikian kita merupakan seorang “tanda lawan” yang menjadi “masalah” bagi siapa saja yang menentang Yesus dan segala sabda dan perbuatan baik yang dilakukan-Nya.

DOA: Bapa surgawi, Allah Yang Mahalain, kuduslah nama-Mu. Semoga kehadiran Roh-Mu di dalam hati kami masing-masing – seperti halnya dengan Rasul Yakobus, kami tidak mengenal rasa takut dalam mengikuti jejak Putera-Mu terkasih, Tuhan kami Yesus Kristus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (2Kor 4:7-15), bacalah tulisan yang berjudulBIARLAH DIRI KITA JUGA DILUCUTI” (bacaan tanggal 25-7-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-07 BACAAN HARIAN JULI 2019.  

Cilandak, 22 Juli 2019 [Pesta S. Maria Magdalena] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KEMURAHAN HATI ALLAH YANG BERLIMPAH-LIMPAH

KEMURAHAN HATI ALLAH YANG BERLIMPAH-LIMPAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVI – Rabu, 24 Juli 2019)

Pada hari itu keluarlah Yesus dari rumah itu dan duduk di tepi danau. Lalu datanglah orang banyak berbondong-bondong dan mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai. Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Kata-Nya, “Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah tanaman-tanaman itu dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati. Sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat. Siapa yang bertelinga, hendaklah ia mendengar!” (Mat 13:1-9) 

Bacaan Pertama: Kel 16:1-5,9-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 78:18-19,23-28

Coba anda mengingat-ingat guru-guru terbaik di sekolah tempat anda belajar dahulu atau dosen-dosen ketika kuliah dahulu. Pada tahun 1960-an di FEUI ada seorang dosen yang  bernama Drs. Tan Goan Tiang (kelak dikenal sebagai Prof. Nathanael, pendiri Lembaga Demografi FEUI). Saya duduk di kelas beliau ketika belajar “Ilmu Ekonomi Mikro”. Banyak mahasiswa kelas itu merasa tidak sabar menunggu-nunggu pengajaran beliau. Praktis semua mahasiswa dalam kelas itu menaruh respek kepada beliau karena beliau memang pandai namun sederhana dalam penampilan, serius, tidak banyak membual. Kelasnya selalu penuh. Menjadi guru memang panggilannya. Dia pernah menjadi seorang guru SMA Kristen yang hampir setiap tahun menghasilkan bintang pelajar; dan tidak ada yang menyangkal bahwa beliau adalah seorang Kristiani sejati (anggota Gereja GKI Kwitang), yang dihormati tidak hanya oleh mereka yang Kristiani. Pada waktu kematiannya, jenazah Prof. Nathanael di semayamkan di kampus FEUI di Salemba dan banyak sekali para mantan mahasiswanya dari berbagai angkatan datang melayat. Seorang mantan mahasiswanya, Prof. Dr. Dorojatun Kuncorojakti, menulis sebuah artikel di salah satu majalah terkenal pada waktu itu, kalau tidak salah berjudul “Pohon yang berbuah”. Prof. Tan Goan Tiang memang seorang guru sejati dan banyak berbuah.

Saya yakin sekali bahwa Yesus, ketika mengajar tentang Kerajaan Allah, juga pasti sangat memikat para murid dan orang banyak yang mendengar-Nya. Yesus bukanlah seorang guru yang datang dengan berbagai data statistik, diagram dll. Tentunya Dia juga tidak mengajar sampai detil-detil yang harus dihafalkan oleh para pendengar-Nya. Yesus menggunakan perumpamaan-perumpamaan, cerita-cerita mengenai orang-orang dan situasi-situasi yang dengan mudah membuat orang menghubungkan dirinya dengan itu semua. Dia ingin memenangkan hati kita dan juta membentuk pikiran kita. Siapa yang bisa mengajar lebih hebat daripada Yesus, Dia yang menciptakan kita dan “turun ke dunia” sebagai seorang manusia, kemudian mati di kayu salib untuk menyelamatkan kita?

Layaknya seorang guru yang baik, Yesus tidak memberikan jawaban-jawaban standar. Ia mengundang kita untuk terlibat. Ia menantang kita agar membuka hati dan dengan rendah hati menerima sabda-Nya ke dalam jiwa kita. Agar supaya ajaran-Nya berbuah dalam kehidupan kita, maka kita harus “mendengar dengan telinga kita” dan “melihat dengan mata kita” (bdk. Mat 13:15-17). Walaupun kita mempunyai ajaran Gereja, tidak ada pengganti daripada penemuan apa yang dikatakan oleh sabda Allah dalam Kitab Suci bagi kita masing-masing secara pribadi.

Dengan perumpamaan ini, Matius menunjukkan satu pengajaran Yesus yang indah. Melalui perumpamaan ini penulis Injil ini menyoroti cara Yesus mengajar. Yesus menggunakan “perumpamaan tentang seorang penabur” ini untuk mengilustrasikan kemurahan-hati Allah yang berlimpah-limpah. Bapa surgawi selalu menaburkan benih-benih firman-Nya, mengundang kita untuk mengenal dan mengalami kasih dan kerahiman-Nya. Dia selalu mengulurkan tangan-tangan-Nya kepada kita.  Mengetahui bahwa kita memiliki seorang Bapa yang tidak pernah membelakangi atau menolak kita, maka seharusnya hal ini memberikan kepada kita damai-sejahtera dan pengharapan.

Setiap benih yang jatuh pada tanah yang baik akan bertumbuh. Benih yang ditanam oleh Bapa surgawi tentunya akan bertumbuh manakala bertemu dengan hati yang terbuka bagi-Nya. Ini adalah janji Allah. Namun bagaimana kita menentukan apakah hati kita itu baik? Apa beberapa butir acuan:

  • Apakah keragu-raguan dan rasa tidak-percaya langsung mencuri damai-sejahtera yang dibawa oleh firman Allah kepada kita? (lihat Mat 13:19).
  • Apabila kesusahan atau penderitaan datang karena iman kita, apakah kita berdiri dengan kokoh dalam iman kita atau apakah kita jatuh ke dalam kompromi (lihat Mat 13:20-21).
  • Apakah kita terlalu dibebani dengan pengurusan hal-ikhwal dunia? Apakah kesenangan karena harta-kekayaan dan berbagai hasrat akan “kenikmatan-kenikmatan” mengambil tempat yang lebih besar dalam hati kita ketimbang kehadiran Yesus? (lihat Mat 13:22).

Kita seharusnya tidak berputus-asa atas tanah yang berbatu-batu atau semak duri dari ketidak-percayaan, pelanturan-pelanturan atau rasa takut yang menghalangi firman Allah untuk kuat-mengakar dalam hati kita. Yesus senang sekali mengubah hati kita, asal saja dengan tulus-ikhlas kita mohonkan hal itu kepada-Nya. Yesus memiliki kesabaran yang sangat luarbiasa dengan kita masing-masing, seperti apa yang telah dicontohkan-Nya ketika membimbing/mengajar para murid-Nya yang bebal-bebal itu. Dia juga sangat senang untuk menjelaskan kepada kita mengenai “rahasia Kerajaan Allah” selagi kita memperkenankan sabda firman-Nya bertumbuh dalam diri kita.

DOA: Roh Kudus, siapkanlah hati kami untuk menerima firman Allah, lebih dan lebih banyak lagi. Nyatakanlah kepada kami hasrat mendalam dari Yesus untuk mengajar kami tentang “rahasia Kerajaan Allah”, dan juga betapa besar kasih-Nya serta kesabaran-Nya dalam menghadapi segala kelemahan kami. Tolonglah kami agar dapat sungguh berbuah bagi Kerajaan Allah.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yer 1:1,4-10), bacalah tulisan yang berjudul “BAGAIMANA KITA AKAN MENANGGAPI FIRMAN ALLAH YANG DITANAM DALAM HATI KITA?” (bacaan tanggal 24-7-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-07 BACAAN HARIAN JULI 2019. 

(Tulisan ini revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-7-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 22 Juli 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS