Posts from the ‘19-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2019’ Category

YESUS MENGARAHKAN PANDANGAN-NYA KE YERUSALEM

YESUS MENGARAHKAN PANDANGAN-NYA KE YERUSALEM

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XIII [Tahun C] – 30 Juni 2019)

Ketika hampir tiba waktunya Yesus diangkat ke surga, Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem, dan Ia mengirim beberapa utusan mendahului Dia. Mereka itu pergi, lalu masuk ke suatu desa orang Samaria untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi-Nya. Tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem. Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata, “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?” Akan tetapi, Ia berpaling dan menegur mereka. Lalu mereka pergi ke desa yang lain.

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan mereka, berkatalah seseorang di tengah jalan kepada Yesus, “Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Yesus berkata kepadanya, “Rubah mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Lalu Ia berkata kepada seorang yang lain, “Ikutlah Aku!”  Tetapi orang itu berkata, “Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapakku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana.” Lalu seorang yang lain lagi berkata, “Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” (Luk 9:51-62) 

Bacaan Pertama: 1Raj 19:16b,19-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 16:1-2,5,7-11; Bacaan Kedua: Gal 5:1,13-18 

Lukas menggunakan perjalanan Yesus ke Yerusalem untuk mengajar kita tentang jalan Kekristenan. Perjalanan itu merupakan sebuah rute menuju kemuliaan, baik bagi Yesus (yang akan dijemput oleh Bapa-Nya) dan  bagi Gereja yang akan mengikut-Nya. Sejak semula Allah senantiasa berniat agar umat-Nya berpartisipasi dalam kehidupan-Nya sendiri dan dalam kemuliaan surgawi (Ibr 2:10; Yoh 17:22-23). Inilah yang ada dalam pikiran-Nya bagi kita sebagai tujuan dan puncak kehidupan kita.

Manakala kita merenungkan perjalanan Yesus ke Yerusalem, maka kita harus mengingat kemuliaan semua hal yang telah terjadi di sana: Sengsara dan kematian-Nya yang menyatakan kasih-Nya yang sempurna kepada Bapa dan bagi kita, umat-Nya; kebangkitan-Nya dari antara orang mati dan sejumlah penampakan yang menyusul kebangkitan-Nya tersebut; dan kenaikan-Nya ke surga dalam kemuliaan di sebelah kanan Bapa-Nya. Waktu-Nya di Yerusalem yang sudah mendekat adalah waktu untuk pemenuhan rencana Allah demi menyelamatkan umat-Nya dan membawa mereka ke hadirat-Nya yang mulia.

Yesus mengarahkan pandangan-Nya dengan ketetapan hati untuk menyelesaikan perjalanan ini, meskipun hal tersebut mencakup juga penolakan dan penderitaan sengsara. Pada waktu orang-orang Samaria menolak Dia, Yesus tidak membiarkan diri-Nya terbawa kemarahan sehingga dapat menyimpang dari tujuan-Nya yang pokok dan utama, walaupun dua orang murid terdekat-Nya, yaitu Yohanes dan Yakobus menjadi marah dan naik pitam. Kita dapat melihat di sini sebuah “model” bagi kehidupan kita sendiri yang penuh pencobaan dan kekecewaan. Akan tetapi Allah ingin agar kita memusatkan perhatian kita pada kemuliaan yang merupakan tujuan panggilan-Nya kepada kita, sehingga dalam setiap situasi kita dapat tetap bergerak dengan mantap menuju tempat tujuan kita yang mulia.

Perhatikanlah bagaimana Yesus mempraktekkan sendiri apa yang diajarkan-Nya! LEADERSHIP BY EXAMPLE !!! (Sebuah corak atau gaya kepemimpinan yang sangat langka di dunia). Dia telah mengajar para murid untuk mengasihi musuh-musuh mereka, untuk memberkati orang-orang yang mengutuk mereka, mendoakan orang-orang yang berbuat jahat kepada mereka, dan untuk memberi pipi yang lain apabila pipi yang satu ditampar (Luk 6:27-31). Dalam kasus ini, Yesus tidak memperkenankan murid-murid-Nya untuk melepaskan kemarahan mereka terhadap sebuah desa Samaria yang penduduknya tidak mau menerima Yesus dan rombongan-Nya. Memang kadang-kadang kita merasa frustrasi apabila orang-orang lain tidak setuju dengan kita, apabila  mereka menolak kebenaran Allah yang kita imani. Biarpun begitu, Yesus tidak ingin kita memakai kemarahan atau kekuatan kekerasan dalam mencoba “membujuk” orang-orang lain agar menerima Kabar Baik keselamatan yang kita wartakan. Sebagai murid-murid-Nya di abad ke-21 ini, kita pun harus meneladan Yesus yang berbicara kebenaran dalam kasih dan tidak pernah memaksa orang-orang yang tidak mau menerima pesan-Nya.

DOA: Roh Kudus, berikanlah kepada kami suatu visi tentang kemuliaan dari Allah bagi Gereja, dan tolonglah kami untuk mengikuti jejak Yesus Kristus dengan penuh ketetapan hati dan sukacita sejati. Amin.  

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 9:51-62), bacalah tulisan yang berjudul “MENGIKUTI YESUS KRISTUS ITU SAMA SEKALI TIDAK MUDAH” (bacaan tanggal 30-6-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-06 BACAAN HARIAN JUNI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 26-6-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 28 Juni 2019 [HR HATI YESUS YANG MAHAKUDUS] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KARENA CINTA

KARENA CINTA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA HATI YESUS YANG MAHAKUDUS [TAHUN C] – Jumat, 28 Juni 2019)

FSGM: Pelindung Utama Tarekat

SCJ: Pesta Nama Tarekat

Lalu Ia menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka, “Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? Kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab aku telah menemukan dombaku yang hilang itu. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di surga karena satu orang bertobat, lebih daripada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.” (Luk 15:3-7) 

Bacaan Pertama: Yeh 34:11-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 23:1-6; Bacaan Kedua: Rm 5:5b-11 

Pada Hari Raya Hati Yesus Yang Mahakudus ini, kita disuguhkan dengan sebuah perumpamaan Yesus, yaitu “Perumpamaan tentang Domba yang Hilang”.  Dari perumpamaan ini diharapkan kita dapat merasakan bagaimana kiranya Hati Yesus itu, …… penuh cintakasih dan belas kasihan.

Bayangkanlah bahwa ada seorang ayah baru saja pulang ke rumahnya di sebuah desa yang terpencil. Pada saat dia pulang, rumah itu sedang terbakar dan tiga orang anaknya yang masih kecil-kecil terjebak di dalam rumah. Para tetangga yang tidak banyak jumlahnya itu, mengatakan bahwa sudah tidak ada harapan untuk menyelamatkan anak-anaknya. Namun demikian sang bapak keluarga ini – tanpa ragu-ragu – langsung masuk ke dalam kobaran api dan mencari anak-anaknya dari ruangan yang satu ke ruangan yang lain. Satu persatu berhasil diselamatkan olehnya.

Mengapa seseorang melakukan tindakan yang terasa begitu mengabaikan kehati-hatian, tanpa hitung-hitung, malah sembrono, seperti ditunjukkan oleh sang ayah dari tiga orang anak itu? Jawabnya cukup sederhana: Karena cinta! Cintakasih mendorong seseorang untuk melakukan hal-hal yang tak terbayangkan. Cintakasih melindungi; cintakasih bertekun! Cintakasih berarti menanggung risiko ditolak, bahkan cidera pribadi juga, demi kebaikan orang-orang yang kita cintai. Dalam perumpamaan di atas, Yesus menunjukkan bagaimana Bapa surgawi berupaya secara luarbiasa untuk mencari dan menyelamatkan mereka yang hilang. Allah sampai mengutus Putera-Nya yang tunggal ke dunia (lihat Yoh 3:16-17) bahkan sampai menemui ajal di kayu salib. Semua ini agar manusia kembali ke rumah-Nya.

Bagaimana kalau salah seorang anak yang kita cintai mulai menyeleweng dari iman Kristiani? Dalam hal ini, bayangkanlah dia sebagai seekor domba yang hilang. Bapa surgawi tahu bahwa anak itu “hilang”. Maka Dia pun langsung mencari anak yang hilang itu, tanpa hitung-hitung. Seperti sang ayah yang menerobos sebuah rumah yang sedang terbakar hebat, Allah atau Yesus pun tidak akan berhenti untuk mencari pribadi-pribadi yang kita cintai dan membawa mereka ke tempat yang aman. Sementara itu yang dapat kita lakukan adalah berdoa, berdoa dan berdoa. Sedapat mungkin, jadilah Yesus bagi dia. Bersahabatlah dengan dia, menjadi “telinga yang mendengarkan” baginya, dan berilah dorongan-dorongan positif kepadanya, kasihilah mereka tanpa reserve.

Bayangkanlah dia ditemukan oleh Bapa surgawi. Bayangkan juga pesta penuh sukacita yang diadakan di surgawi kalau mereka kembali kepada hidup iman semula. Santa Monika berdoa untuk anaknya, Augustinus, bertahun-tahun lamanya. Saya pun dapat merasakan bagaimana ibuku untuk bertahun-tahun lamanya tanpa banyak omong berdoa rosario (dan doa-doa lain) bagi diri dan keluarga saya ketika saya  cukup lama tidak ke gereja dan agama (Ilah) saya pada waktu itu adalah kerja dan karir belaka. Santa Monika dan ibuku tidak pernah kehilangan harapan. Mereka terus berdoa untuk anak-anak mereka masing-masing sampai Yesus membawa mereka pulang.

DOA: Tuhan Yesus, pada hari ini aku membawa ke hadapan-Mu orang-orang ini yang telah “hilang”. [Sebutkanlah nama-nama orang yang kita kasihi secara spesifik]. Tuhan, meskipun aku tidak dapat melihat bagaimana Engkau akan berkarya dalam kehidupan orang-orang ini, aku tetap percaya bahwa Engkau mendengarkan doa-doaku dan akan menjawab doa-doa itu. Aku membayangkan orang-orang yang kukasihi ini duduk dalam meja perjamuan-Mu di surga, dan aku berjanji untuk mengasihi dan menjaga mereka sampai mereka kembali pulang kepada-Mu. Tuhan Yesus, jadikanlah hatiku seperti hati-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Mazmur Tanggapan (Mzm 23), bacalah tulisan yang berjudul “TUHAN YESUS ADALAH GEMBALA KITA” (bacaan tanggal 28-6-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-06 BACAAN HARIAN JUNI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 3-6-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 25 Juni 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENARUH KEPERCAYAAN KEPADA YESUS TANPA RESERVE

MENARUH KEPERCAYAAN KEPADA YESUS TANPA RESERVE

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XII – Kamis, 27 Juni 2019)

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga. Pada hari terakhir banyak orang akan  berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mukjizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari hadapan-Ku, kamu sekalian yang melakukan kejahatan!

Jadi, setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu bertiuplah angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu bertiuplah angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.

Setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka. (Mat 7:21-29) 

Bacaan Pertama: Kej 16:1-12,15-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:1-5

Yesus mengakhiri “Khotbah di Bukit”-Nya dengan memberi petuah-petuah kepada para pendengar-Nya agar mereka mencari fondasi yang layak untuk membangun kehidupan mereka. Yesus mengilustrasikan konsekuensi-konsekuensi dari pilihan-pilihan baik atau buruk dengan menceritakan sebuah perumpamaan tentang dua orang yang masing-masing mendirikan rumah. Orang yang bodoh membangun rumahnya di atas pasir, sedangkan yang bijaksana mendirikan rumahnya di atas batu. Pada waktu hujan lebat turun dan datang lah banjir, dengan mudah kita dapat mengira-ngira rumah mana yang survive, yang mampu tetap berdiri, dan rumah mana yang runtuh berkeping-keping. Pesan Yesus jelas: Apabila kamu mendirikan kehidupanmu di atas suatu fondasi berupa asap atau udara, maka bangunanmu akan runtuh.

Yesus sendiri adalah kekal, Sabda Allah yang hidup (Yoh 1:1). Ia adalah sang Sabda yang telah diucapkan oleh Allah sejak awal waktu. Dia adalah “gunung batu yang kekal” (Yes 26:4). Santo Paulus menulis kepada jemaat di Korintus: “Sesuai dengan anugerah Allah, yang diberikan kepadaku, aku sebagai seorang ahli bangunan yang terampil telah meletakkan dasar, dan orang lain membangun terus di atasnya. Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya. Karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain daripada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus” (1Kor 3:10-11). Setiap hal yang ilahi, dan setiap hal yang dihasrati Allah, menjadi masuk akal dalam terang Yesus dan kasih-Nya. Oleh karena itu, apabila kita ingin mengetahui bagaimana caranya membangun kehidupan kita, maka kita tidak dapat melakukannya secara lebih baik selain mengambil waktu bersama Yesus dan menjadi mengenal Dia secara intim.

Itulah sebabnya sangat penting bagi kita untuk menyediakan waktu yang teratur setiap hari untuk membaca dan merenungkan sabda Allah di dalam Kitab Suci – teristimewa kitab-kitab Injil yang adalah “jantung hati” segenap Kitab Suci (lihat “Katekismus Gereja Katolik, 125). Di dalam kitab-kitab Injil ini kita berjumpa dengan Yesus, “sang Sabda yang menjadi daging” (Yoh 1:14). Dalam kitab-kitab Injil inilah Yesus dapat berbicara secara paling langsung kepada hati kita. Dibimbing oleh Roh Kudus selagi kita membaca Kitab Suci, teristimewa kitab-kitab Injil, kurun waktu berabad-abad yang memisahkan kita dengan Yesus dari Nazaret seakan dikompres sampai kita bertemu dengan-Nya secara muka ketemu muka dalam suasana doa.

Kitab Suci jauh lebih luas daripada sekadar kumpulan potongan-potongan informasi. Kitab Suci tidak hanya mengajar kehendak Allah, melainkan juga memberdayakan kita untuk mengikuti jejak Yesus Kristus. Dalam mengikuti jejak-Nya kita akan mengenal dan mengalami kebahagiaan sejati dan pemenuhan hasrat-hasrat kita yang terdalam. Dengan mengenal Yesus secara pribadi dan menyerupakan kehidupan kita dengan kehendak-Nya, kita menjadi seperti orang yang bijaksana yang membangun suatu fondasi yang kokoh. Apapun yang menghalangi jalan kita kita, fondasi ini cukup kuat untuk menangani segala halangan yang menghadang kita. Marilah kita menaruh kepercayaan kepada Yesus, tanpa reserve.  

DOA: Yesus, Putera Bapa, nyatakanlah diri-Mu kepadaku melalui sabda-Mu. Aku ingin mengenal-Mu dan mengasihi-Mu lebih lagi agar dengan demikian aku dapat membangun kehidupanku di atas fondasi kokoh, yang adalah Engkau sendiri. Aku menaruh kepercayaan kepada-Mu tanpa reserve, ya Tuhan dan Juruselamatku. Amin.

Catatan:  Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:21-29), bacalah tulisan yang berjudul “SEMBILAN AYAT TERAKHIR DARI KHOTBAH DI BUKIT” (bacaan tanggal 27-6-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-06 BACAAN HARIAN JUNI 2019.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 28-6-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 24 Juni 2019 [HR KELAHIRAN S. YOHANES PEMBAPTIS]  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SETIAP POHON YANG BAIK MENGHASILKAN BUAH YANG BAIK

SETIAP POHON YANG BAIK MENGHASILKAN BUAH YANG BAIK

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XII – Rabu, 26 Juni 2019)

“Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedangkan pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang baik. Setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Jadi, dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. (Mat 7:15-20) 

Bacaan Pertama: Kej 15:1-12,17-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:1-4,6-9

Siapa sih yang tidak ingin mampu memberikan segalanya kepada Allah sebagai tanda terima kasih penuh syukur untuk segala hal yang dilakukan-Nya bagi kita? Akan tetapi, apabila kita memeriksa hidup kita, kita temukan dalam diri kita kelemahan-kelemahan karakter, pola-pola dosa, ketidakmampuan untuk mengasihi seperti Tuhan mengasihi. Bilamana kita membaca kata-kata dalam Kitab Suci seperti ini,  “Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka” (Mat 7:16), maka mudah bagi kita untuk menjadi ciut-hati atau  berketetapan hati untuk mencoba lebih keras lagi guna menjadi seorang pribadi yang lebih baik. Akan tetapi, kedua pendekatan itu tidak membantu.

Yesus menawarkan sebuah jalan yang lebih baik ketika Dia berkata: “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa”  (Yoh 15:5). Hidup yang penuh kasih dan penuh kemurahan hati tidak datang sekadar dari upaya untuk mencoba lebih keras lagi namun mengalir dari relasi kita dengan Yesus dan keterbukaan kita terhadap karya Roh Kudus. Kita menghasilkan buah ilahi, artinya kita mencerminkan karakter Allah apabila kita bertumpu pada fondasi yang adalah Putera-Nya, Yesus Kristus. Kita menghasilkan buah Roh (Gal 5:22,23) jika kita memberikan ruangan untuk Roh Kudus membangun hidup-Nya dalam diri kita.

Kita tidak dapat membereskan kelemahan-kelemahan kita atau menghasilkan buah-buah kehidupan Allah berdasarkan kekuatan kita sendiri. Apabila kita melihat kelemahan-kelemahan dalam diri kita, maka pertama-tama baiklah kita pergi menghadap Tuhan yang tinggal dalam kita melalui pembaptisan dan memohon kepada-Nya agar kita berakar lebih dalam lagi dalam Dia. Hanya Dia yang berurusan dengan segala dosa dan kelemahan dengan mencurahkan darah-Nya dapat berurusan dengan dosa-dosa dan kelemahan-kelemahan kita. Hanya salib Kristus yang dapat menjadi senjata ampuh untuk mengatasi kegelapan hati kita. Tentu kita harus taat kepada Allah dan mengatakan “tidak” kepada kecenderungan kita untuk berdosa. Kita harus senantiasa melawan berbagai dorongan batiniah yang bersifat negatif, namun kita harus belajar melakukan perlawanan ini dengan kuasa Allah, bukannya dengan menggunakan kekuatan sendiri.

Oleh karena itu, pada awal setiap hari, marilah kita menguduskan hidup kita kepada Allah, menyetujui pekerjaan-Nya dalam diri kita. Jika kita memperkenankan hidup Allah mengalir di dalam dan melalui diri kita, maka sikap-sikap dan tindakan-tindakan kita akan diarahkan kepada jalan yang benar. Lalu, melalui sutu persatuan yang intim dengan Tuhan, kita akan menghasilkan buah sesuai dengan panggilan-Nya kepada kita.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Aku datang kepada-Mu dengan tangan hampa dan penuh kerinduan untuk menerima hidup-Mu sendiri. Aku percaya bahwa Engkau ingin menjadi “pokok anggur” bagi diriku, memegang aku erat-erat, memberi asupan makanan kepadaku, memampukan aku untuk berbuah. Aku ingin berdiam dalam Engkau, karena Aku tahu tanpa Engkau aku tidak dapat berbuat apa-apa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:15-20), bacalah tulisan yang berjudul “BUAH-BUAH YANG BAIK MENGANDAIKAN KEBERADAAN AKAR-AKAR YANG BAIK” (bacaan tanggal 26-6-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-06 BACAAN HARIAN JUNI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 27-6-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 24 Juni 2019 [HR KELAHIRAN S. YOHANES PEMBAPTIS] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MANUSIA MENDAMBAKAN UNTUK DIPERLAKUKAN DENGAN PENUH KASIH

MANUSIA MENDAMBAKAN UNTUK DIPERLAKUKAN DENGAN PENUH KASIH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XII – Selasa, 25 Juni 2019)

“Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.”

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.

Masuklah melalui pintu yang sempit, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sempitlah pintu dan sesaklah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” (Mat 7:6,12-14) 

Bacaan Pertama: Kej 13:2,5-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 15:2-5

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka” (Mat 7:12). Ayat ini dalam dunia manajemen dikenal sebagai THE GOLDEN RULE (bdk. Tob 4:15). Memang itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi, yang digenapi oleh Yesus Kristus lewat ajaran-Nya dan kehidupan-Nya sendiri.

Sekarang, siapakah dari kita yang tidak ingin diperlakukan dengan penuh kasih? Kita semua mendambakannya, teristimewa apabila perlakuan penuh kasih itu adalah dari Allah sendiri. Janji akan hidup dalam Roh adalah, apabila kita menghargai kasih Allah – menjaga saat-saat doa dan pembacaan Kitab Suci serta melakukan yang terbaik untuk mengikuti dorongan-dorongan Roh Kudus – maka Dia akan memberdayakan kita untuk melakukan hal-hal yang bahkan tidak mungkin dilakukan secara “normal”. Dengan demikian “pintu yang sempit” dan “jalan yang sesak” menjadi manageable, dan kita pun akan bergembira menghayati suatu kehidupan yang pada faktanya melawan gelombang dunia. Sepanjang zaman, menjadi murid Kristus adalah menjadi “tanda lawan”, yang tidak ikut-ikutan dengan “dunia”.

Apabila kita ingin mampu memperlakukan orang-orang lain dengan kasih sebagaimana kita sendiri dambakan, maka pertama-tama kita harus mengalami belas kasih Allah dan bela rasa-Nya. Kita perlu sekali mengetahui dan mengenal kasih-Nya yang intim bagi kita masing-masing, yaitu bahwa Dia adalah seorang Bapa penuh kasih, yang sungguh berbahagia untuk menyambut kita apabila kita datang menghadap hadirat-Nya. Selagi kita datang kepada-Nya, kita pun akan mengalami kasih-Nya yang dicurahkan oleh-Nya ke dalam hati kita melalui Roh Kudus-Nya. Pengalaman seperti inilah yang akan memberdayakan kita untuk mengasihi orang-orang di sekeliling kita.

Selagi kita berjalan dengan kasih Allah, maka kasih-Nya itu akan mengalir deras melalui diri kita kepada orang-orang lain. Semakin kita mengenal dan menghargai kasih-Nya, semakin besar pula dorongan yang kita rasakan untuk berbagi kasih-Nya itu dengan siapa saja yang kita temui. Kita akan digerakkan oleh Roh Kudus untuk melakukan tindakan-tindakan kebaikan. Tindakan-tindakan itu tidak perlu mengambil rupa tindakan-tindakan yang spektakular, misalnya “tindakan-tindakan kecil” seperti menjaga dan memelihara seorang anak tetangga, yang ibunya sedang sakit, atau berdoa dengan seorang teman yang kesepian dan baru saja disakiti hatinya; akan tetapi kita harus mencari Tuhan dengan segenap hati kita sehingga Dia dapat menggerakkan kita untuk mengasihi orang lain.

Oleh karena itu, marilah kita mengasihi Tuhan Allah. Baiklah kita berhati-hati untuk tidak melakukan apa saja yang dapat membuat sedih Roh Kudus yang berdiam dalam diri kita. Dengan pertolongan-Nya, kita dapat melakukan hal-hal yang sebelumnya kita pikir tidak mungkin dapat kita lakukan. “Jalan yang sempit” akan menjadi semakin menarik bagi kita, dan kita semakin mempunyai kerinduan untuk melakukan hal-hal yang akan menyenangkan Allah. Marilah sekarang kita memuji-muji Allah untuk semua cara berbeda-beda yang digunakan-Nya untuk menyatakan kasih-Nya kepada kita. Sementara kita semakin dekat kepada Allah dan memperkenankan-Nya menyatakan hati-Nya kepada kita, kita akan menyadari betapa penuh sukacita kita dalam mengikuti jalan kasih-Nya.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu untuk kasih-Mu yang Kaucurahkan ke dalam hati kami masing-masing. Oleh Roh Kudus-Mu ajarlah kami untuk mengikuti jejak Kristus lewat pintu yang sempit dan jalan yang penuh sesak. Penuhilah diri kami masing-masing dengan kasih-Mu sehingga, sebagai murid-murid Kristus yang setia, kami dapat menyalurkan kasih-Mu itu secara berlimpah kepada orang-orang di sekeliling kami. Jagalah diri kami agar selalu menyenangkan-Mu, ya Allah kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:6,12-14), bacalah tulisan yang berjudul “SEMPITLAH PINTU DAN SESAKLAH JALAN YANG MENUJU KEPADA KEHIDUPAN” (bacaan tanggal 25-6-19 dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-06 BACAAN HARIAN JUNI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 26-6-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 24 Juni 2019 [HR KELAHIRAN S. YOHANES PEMBAPTIS] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KELAHIRAN BENTARA SANG MESIAS

KELAHIRAN BENTARA SANG MESIAS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA KELAHIRAN S. YOHANES PEMBAPTIS – Senin, 24 Juni 2019)

Kemudian tibalah waktunya bagi Elisabet untuk bersalin dan ia pun melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia. Lalu datanglah mereka pada hari yang ke delapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapaknya, tetapi ibunya berkata, “Jangan, ia harus dinamai Yohanes.” Kata mereka kepadanya, “Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian.” Lalu mereka memberi isyarat kepada bapaknya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu. Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini, “Namanya adalah Yohanes.” Mereka pun heran semuanya. Seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah.

Lalu ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah pembicaraan di seluruh pegunungan Yudea. Semua orang yang mendengarnya, merenungkannya dalam hati dan berkata, “Menjadi apakah anak ini nanti?” Sebab tangan Tuhan menyertai dia.

Adapun anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya. Ia tinggal di padang gurun sampai hari ketika ia harus menampakkan diri kepada Israel. (Luk 1:57-66,80) 

Bacaan pertama: Yes 49:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 139:1-3,13-15; Bacaan Kedua: Kis 13:22-26 

Yohanes Pembaptis adalah yang terbesar dari para nabi yang datang ke dunia sebelum Yesus. Orang ini berkonfrontasi dengan para pemimpin Yahudi, baik yang sekular maupun yang berasal dari lingkup keagamaan. Yohanes juga menghibur serta memberi pengharapan kepada para pemungut cukai dan para PSK, dan ia menghayati suatu kehidupan yang didedikasikan kepada doa dan puasa. Namun yang lebih penting lagi adalah, bahwa Yohanes menjadi bentara sang Mesias dan mengakui dirinya sebagai “sahabat sang mempelai laki-laki” (lihat Yoh 3:29).

Sekarang pertanyaannya adalah apakah Allah mempunyai sebuah rencana bagi kita yang paling sedikit sama indahnya seperti yang dimiliki-Nya bagi Yohanes Pembaptis? Sungguh sulitkah untuk dipercaya bahwa bahkan sebelum kita melihat matahari terbit, Allah sudah menetapkan suatu jalan di mana kita akan turut serta memajukan Kerajaan-Nya? Barangkali kita (anda dan saya) merasa bahwa kita bukanlah orang-orang penting, namun tidak begitulah Allah memandang diri kita. Pernahkah kita membayangkan bahwa doa-doa syafaat kita merupakan kekuatan di belakang sebuah karya besar Allah di bagian lain dunia ini, misalnya membawa perdamaian di Afrika Utara, misalnya di Nigeria atau di Sudan? Bagaimana pula jika kita dipanggil untuk membesarkan anak-anak yang pada suatu hari akan menjadi suara-suara profetis (kenabian) dalam Gereja atau dalam dunia?

Kita harus belajar dan membiasakan diri melihat segala sesuatu dari sudut pandang Allah. Renungkanlah betapa tidak jelasnya atau tidak keruannya kehidupan Yohanes Pembaptis, paling sedikit dari sudut pandang manusia. Sampai saat dia muncul di tengah publik, Yohanes hidup dalam kesendirian di padang gurun. Kita juga dapat berada dalam keadaan menanti-nanti di padang belantara, namun kita tidak boleh berputus-asa. Kita harus menghargai waktu kita dalam ketersembunyian ini sebagai suatu kesempatan bagi Allah untuk mengajar dan membentuk diri kita – suatu masa bagi Dia untuk mengembangkan karunia-karunia dalam diri kita guna melakukan syafaat, evangelisasi, bahkan untuk menyembuhkan segala sakit-penyakit. Pada waktu yang tepat, Allah akan mencapai kedalaman hati orang-orang yang berkenan pada-Nya dan menyentuh mereka melalui diri kita.

Kebanyakan dari kita adalah seperti “anak-anak panah” yang menunggu saat yang tepat untuk dilepaskan dari busur sang pemanah. Kita harus tidak pernah berhenti memohon kepada Tuhan untuk mencapai tujuan-tujuan-Nya melalui diri kita. Bayangkanlah bagaimana hebatnya Gereja kita apabila kita semua memperkenankan Allah bekerja dalam hati kita masing-masing sejauh yang dilakukan-Nya dalam diri Yohanes Pembaptis. Sebagaimana ribuan orang berduyun-duyun datang ke Yohanes untuk dibaptis-tobat olehnya, maka kesaksian kita, doa kita, langkah kita mendekati orang banyak dalam kasih dapat melembutkan dan mengubah hati ribuan orang. Semoga kita tidak pernah menganggap remeh kemampuan Allah atau memandang sebelah mata kuat-kuasa Roh Kudus-Nya yang berdiam dalam diri kita!

DOA: Bapa surgawi, Allah Yang Mahakasih, semoga Engkau menyelesaikan rencana-Mu bagi diriku. Tunjukkanlah kepadaku arah mana yang Engkau inginkan aku ambil dan ajarlah aku untuk menghargai waktu-waktu ketersembunyian yang Kautetapkan bagi diriku. Oleh kuat-kuasa Roh Kudus-Mu, bentuklah diriku untuk menjadi murid-murid Yesus Kristus yang baik, sehingga dengan demikian aku pun pantas untuk dinamakan anak-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:57-66,80), bacalah tulisan yang berjudul “KELAHIRAN SANTO YOHANES PEMBAPTIS” (bacaan tanggal 24-6-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-06 BACAAN HARIAN JUNI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 23-6-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 21 Juni 2019 [Peringatan S. Aloisius Gonzaga, Biarawan Yesuit] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KEBAIKAN YESUS DALAM MEMBERI MAKAN KEPADA KITA MELALUI EKARISTI

KEBAIKAN YESUS DALAM MEMBERI MAKAN KEPADA KITA MELALUI EKARISTI

(Bacaan Injil Misa, HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS [TAHUN C] – Minggu, 23 Juni 2019)

Ia menerima mereka dan berkata-kata kepada mereka tentang Kerajaan Allah dan Ia menyembuhkan orang-orang yang memerlukan penyembuhan. Pada waktu hari mulai malam datanglah kedua belas murid-Nya kepada-Nya dan berkata, “Suruhlah orang banyak itu pergi, supaya mereka pergi ke desa-desa dan kampung-kampung sekitar ini untuk mencari tempat penginapan dan makanan, karena di sini kita berada di tempat yang terpencil. Tetapi Ia berkata kepada mereka, “Kamu harus memberi mereka makan!” Mereka menjawab, “Yang ada pada kami tidak lebih daripada lima roti dan dua ikan, kecuali kalau kami pergi membeli makanan untuk semua orang banyak ini.” Sebab di situ ada kira-kira lima ribu orang laki-laki. Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Suruhlah mereka duduk berkelompok-kelompok, kira-kira lima puluh orang sekelompok.” Murid-murid melakukannya dan menyuruh semua orang banyak itu duduk. Setelah Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit, mengucap syukur, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya supaya disajikan kepada orang banyak. Mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian dikumpulkan potongan-potongan roti yang lebih sebanyak dua belas bakul. (Luk 9:11b-17) 

Bacaan Pertama: Kej 14:18-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 110:1-4; Bacaan Kedua: 1Kor 11:23-26

Hari ini kita merayakan kebaikan Yesus dalam memberi makan kepada kita melalui Ekaristi. Dalam mengisahkan peristiwa pemberian makan kepada orang-orang yang begitu banyak, Lukas menceritakan kepada kita bahwa, sebelumnya Yesus bermaksud pergi menyendiri dengan para rasul untuk beristirahat, namun malah menerima orang banyak yang mengikuti-Nya (lihat Luk 9:10-11a). Seperti seorang gembala yang lemah lembut, Ia mengurusi orang-orang yang sakit, mengajar mereka tentang Kerajaan Allah dan dengan mukjizat memberi makan kepada orang banyak itu. Ia melayani orang banyak itu sampai setiap orang dipuaskan (lihat Luk 9:17).

Sewaktu dia menulis kepada Jemaat (Gereja) di Korintus yang sedang mengalami kesulitan, Santo Paulus menjelaskan bahwa Yesus masih mampu untuk memelihara umat-Nya: “Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang”  (1 Kor 11:26). Setiap kali kita membaca Kitab Suci, kita dapat disegarkan kembali. Setiap kali kita berdoa, kita dapat dipenuhi dengan Roh Kudus. Pengorbanan Yesus yang kita kenang dalam setiap Misa Kudus, masih tetap memiliki kuat-kuasa untuk menghapus dosa-dosa kita dan mengisi diri kita dengan hidup ilahi.

Roti dan anggur yang diubah menjadi tubuh dan darah Yesus sungguh dapat menopang kita selagi kita mendekati altar-Nya dengan kerendahan hati. Pada saat yang sama, setiap kali kita makan dan minum, kita juga memandang hari pada saat mana Yesus akan datang lagi. Mulai saat itu, Yesus sendirilah yang akan memberi kita makan secara langsung, tidak lagi melalui sabda dan sakramen. “Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu”  (Why 21:4).

Pada hari ini, marilah kita makan tubuh dan minum darah Kristus dengan hati yang dipenuhi rasa syukur. Dialah yang memberi kita makan. Dialah yang memenuhi segala kebutuhan fisik dan spiritual kita. Marilah kita memandang hari di mana kita akan bersama-Nya. Segala pengharapan kita berpusat pada hal itu.

DOA: Tuhan Yesus, dalam sabda-sabda-Mu kami menemukan kebenaran. Dalam luka-luka-Mu kami menemukan kehidupan. Dalam darah-Mu yang mulia kami menemukan kekuatan untuk menjadi lebih dekat lagi pada-Mu. Dalam kematian-Mu kami menemukan kehidupan. Dalam kebangkitan-Mu kami menemukan harapan untuk hidup kekal. Datanglah, Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 9:11b-17), bacalah tulisan yang berjudul “TUBUH DAN DARAH KRISTUS DALAM SAKRAMEN EKARISTI” (bacaan tanggal 23-6-19) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-06 BACAAN HARIAN JUNI 2019. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 29-5-16 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 20 Juni 2019

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS