Posts from the ‘18-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2018’ Category

BERJUANG UNTUK MASUK LEWAT PINTU YANG SEMPIT

BERJUANG UNTUK MASUK LEWAT PINTU YANG SEMPIT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXX – Rabu, 31 Oktober 2018)

Kemudian Yesus berjalan keliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa sambil mengajar dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem. Lalu ada seseorang yang berkata kepada-Nya, “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” Jawab Yesus kepada orang-orang di situ, “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sempit itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat. Jika tuan rumah telah bangkit dan telah menutup pintu, kamu akan berdiri di luar dan mengetuk-ngetuk pintu sambil berkata, ‘Tuan, bukakanlah pintu bagi kami!’ dan Ia akan menjawab dan berkata kepadamu, ‘Aku tidak tahu dari mana kamu datang.’ Lalu kamu akan berkata: Kami telah makan dan minum di hadapan-Mu dan Engkau  telah mengajar di jalan-jalan kota kami. Tetapi Ia akan berkata kepadamu: Aku tidak tahu dari mana kamu datang, enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu sekalian yang melakukan kejahatan! Di sana akan terdapat ratapan dan kertak gigi, ketika kamu melihat Abraham dan Ishak dan Yakub dan semua nabi di  dalam Kerajaan Allah, tetapi kamu sendiri dicampakkan ke luar. Orang akan datang dari Timur dan Barat dan dari Utara dan Selatan dan mereka akan duduk makan di dalam Kerajaan Allah. Sesungguhnya ada orang yang terakhir yang akan menjadi orang yang pertama dan ada orang yang pertama yang akan menjadi orang yang terakhir. (Luk 13:22-30) 

Bacaan Pertama: Ef 6:1-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:10-14

Bayangkan sebuah pintu kayu yang kasar dan berukuran kecil, hampir tak dapat dikenali sebagai pintu masuk ke dalam sebuah gubuk kecil yang buruk rupa. Kemudian bayangkan sebuah pintu yang berukuran jauh lebih besar dan indah: pintu masuk sebuah istana. Pintu mana yang akan anda pilih? Kebanyakan kita akan tertarik pada pintu yang lebih besar dan lebih indah itu. Namun bagaimana halnya kalau pintu yang lebih kecil itu adalah untuk membuka jalan ke surga, di mana sudah tersedia meja perjamuan yang penuh dengan makanan yang enak-enak. Bagaimana kalau pintu yang jauh lebih besar dan lebih indah itu hanya merupakan jalan masuk ke dalam kegelapan dan kekosongan?

Yesus mendorong para murid-Nya untuk masuk melalui pintu yang kecil-sempit, hal ini mengacu pada kepercayaan dalam diri-Nya sebagai Mesias, dan pada suatu tingkat ketaatan pada Allah yang akan ditolak oleh banyak orang. Dunia, kedagingan, dan Iblis, semua memberi isyarat kepada kita untuk menemukan jalan yang paling mudah, paling enak-nyaman dan paling mengesankan dalam hidup ini. Namun jalan ke surga tidaklah mudah, tidak nyaman dan tidak mengesankan dari sudut mata manusia. Jalan ke surga banyak menuntut dari kita, namun pada saat yang sama memberi ganjaran tanpa batas.

Apabila kita menggantungkan diri pada pemahaman-pemahaman kita sendiri tentang apa-apa yang terbaik bagi kita, maka kita dapat digoda untuk memilih rute yang paling mudah. Namun Yesus mengajarkan kepada kita untuk memilih pintu sempit yang akan membawa kita kepada hidup. Untuk masuk lewat pintu yang sempit ini, Yesus minta kepada kita untuk melakukan pertobatan dan bebas dari dosa yang menyebabkan kita memilih jalan yang lebih lebar. Ia mengundang kita untuk penuh rasa percaya mengambil jalan yang sempit karena sungguh menyakini bahwa jalan kepada-Nya itu sempit, tetapi terbuka bagi semua orang.

Yesus hidup dalam jalan yang sempit itu. Dia bahkan menerima kematian di kayu salib demi keselamatan kita. Melalui salib-Nya, dosa-dosa kita diampuni. Bahkan sampai hari ini darah-Nya memiliki kuasa untuk membersihkan kita. Yesus memberikan Roh Kudus untuk melengkapi kita dengan keberanian, visi dan kasih untuk mengikut Dia sebagai murid-murid-Nya – betapa besar pun biaya kemuridan itu. Roh Kudus akan memberdayakan kita untuk menanggapi secara positif apa saja yang Tuhan minta dari kita, agar kita pun dapat masuk lewat pintu yang sempit itu.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih untuk memilih jalan yang sempit. Kuatkanlah kami dalam pilihan-pilihan yang akan kami buat hari ini, yang akan selalu memilih pintu sempit yang akan membawa kami kepada-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 13:22-30), bacalah tulisan yang berjudul “SALAH SATU DARI KATA-KATA KERAS YESUS” (bacaan tanggal 31-10-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 26-10-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 30 Oktober 2018 [Peringatan B. Angelus dr Acri, Imam Kapusin] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

PERUMPAMAAN YESUS TENTANG BIJI SESAWI DAN RAGI

PERUMPAMAAN YESUS TENTANG BIJI SESAWI DAN RAGI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXX – Selasa, 30 Oktober 2018)

 

Lalu kata Yesus, “Seumpama apakah hal Kerajaan Allah dan dengan apakah Aku akan mengumpamakannya? Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang diambil dan ditaburkan orang di kebunnya; biji itu tumbuh dan menjadi pohon dan burung-burung bersarang pada cabang-cabangnya.”  Ia berkata lagi, “Dengan apakah Aku akan mengumpamakan Kerajaan Allah? Kerajaan itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu sebanyak empat puluh liter sampai mengembang seluruhnya.” (Luk 13:18-21) 

Bacaan Pertama: Ef 5:21-33; Mazmur Tanggapan: Mzm 128:1-5

Biji sesawi kecil yang disebut oleh Yesus dalam perumpamaan-Nya dapat bertumbuh menjadi sebatang pohon. Pohon tersebut dapat menjadi “rumah” bagi semua burung di udara karena dapat menampung burung-burung itu dengan menyediakan tempat berlindung. Dari sebutir benih yang kecil bertumbuhlah suatu kebesaran, kebesaran yang di-sharing-kan dengan mereka yang peduli untuk datang dan menikmatinya.

Sebuah pesan serupa juga dikemukakan oleh Yesus dalam “perumpamaan tentang ragi”.  Dalam waktu semalam saja terjadi transformasi secara diam-diam dalam dapur ketika perempuan itu mencampur dan mengadukkan sedikit ragi ke dalam tepung terigu yang jauh lebih besar ukurannya. Prosesnya tersembunyi dan tidak ramai/heboh. Ini adalah “pekerjaan dalam” (inside job), tetapi efek-efek dari drama domestik ini tetap dalam jangkauan pemahaman siapa saja. Siapa saja yang peduli untuk memperhatikan dengan seksama dapat melihat bahwa sedikit saja ragi telah membuat adonan mengembang.

Jadi,  Kerajaan Allah bertumbuh di tengah berbagai hal yang familiar dan membuat kehadirannya diketahui/dikenal dalam hal-hal yang kecil-sederhana. Kerajaan Allah juga berjalan menurut rute dari awal berupa hal yang tidak memiliki signifikansi ke sesuatu yang besar, suatu pergerakan yang mengambil tempat bahkan pada saat ini.

Dari awal-awal yang kecil-kecil dalam pelayanan Yesus di atas muka bumi – penyembuhan orang-orang yang menderita berbagai sakit-penyakit, pengajaran serta sabda-sabda-Nya, transformasi-transformasi-Nya yang tidak ramai-ramai (jauh dari kegaduhan atau kebisingan), keberadaan para murid-Nya yang pertama/awal yang sungguh “tidak biasa”, orang banyak yang mengikuti-Nya yang juga luarbiasa – terlihatlah kebesaran dari Kerajaan Allah tersebut.

Pergerakan ini mengambil tempat dalam  hal-hal yang familiar: burung-burung di pohon berkicau dengan riang di pagi hari yang indah, mukjizat-mukjizat kecil yang terjadi dalam ruang dapur keluarga dlsb. Ini adalah hal-hal familiar yang menjadi locus dari Kerajaan Allah. Yesus mengundang para pendengar-Nya untuk memperhatikan apa yang terjadi di tengah-tengah mereka. Kerajaan Allah terwujud dalam inti pengalaman mereka sendiri. Biji sesawi (benih mustar) bertumbuh terus; ragi yang dicampurkan ke dalam tepung terigu terus berproses. Semua itu bertumbuh sampai pada zaman NOW, hari ini!

DOA: Ya Tuhan dan Allahku, engkau tidak menetapkan batasan-batasan bagaimana kerajaan-Mu akan bertumbuh-kembang. Melalui ketaatanku, semoga datanglah kerajaan-Mu dalam kehidupanku dan dalam diri mereka yang ada di sekelilingku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 13:18-21)), bacalah tulisan yang berjudul “DUA PERUMPAMAAN YESUS TENTANG KERAJAAN ALLAH” (bacaan tanggal 30-10-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM https://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2016. 

Cilandak, 29 Oktober 2018  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEMANGAT UNTUK MEMUJI DAN MEMULIAKAN ALLAH

SEMANGAT UNTUK MEMUJI DAN MEMULIAKAN ALLAH

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXX – Senin, 29 Oktober 2018)

Pada suatu kali Yesus mengajar dalam salah satu rumah ibadat pada hari Sabat. Di situ ada seorang perempuan yang telah delapan belas tahun dirasuk roh sehingga ia sakit sampai bungkuk punggungnya dan tidak dapat berdiri tegak lagi. Ketika Yesus melihat perempuan itu, Ia memanggil dia dan berkata kepadanya, “Hai ibu, penyakitmu telah sembuh.” Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas perempuan itu, dan seketika itu juga tegaklah perempuan itu, dan memuliakan Allah. Tetapi kepala rumah ibadat gusar karena Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat, lalu ia berkata kepada orang banyak. “Ada enam hari untuk bekerja. Karena itu datanglah pada salah satu hari itu untuk disembuhkan dan jangan pada hari Sabat.”  Tetapi Tuhan berkata kepadanya, “Hai orang-orang munafik, bukankah setiap orang di antaramu melepaskan lembunya atau keledainya pada hari Sabat dari kandangnya dan membawanya ke tempat minuman? Perempuan ini keturunan Abraham dan sudah delapan belas tahun diikat oleh Iblis; bukankah ia harus dilepaskan dari ikatannya itu?”  Waktu ia berkata demikian, semua lawan-Nya merasa malu dan semua orang banyak bersukacita karena segala perbuatan mulia yang telah dilakukan-Nya. (Luk 13:10-17) 

Bacaan Pertama: Ef 4:32-5:8; Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-6 

Melalui bacaan Injil hari ini, Tuhan Yesus mengatakan kepada kita bahwa semangat untuk memuji dan memuliakan Allah tidak boleh dilumpuhkan, melainkan harus didorong dan dipupuk. Bacaan Injil Lukas ini menunjukkan, bahwa ketika Yesus melihat perempuan yang bungkuk itu, Ia memanggil dia dan berkata kepadanya, “Hai ibu, penyakitmu telah sembuh.” Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas perempuan itu, dan seketika itu juga tegaklah perempuan itu, dan memuliakan Allah (Luk 13:12-13). Kepala rumah ibadat gusar karena Yesus menyembuhkan pada hari Sabat, dan ia pun menyampaikan kepada orang banyak apa yang diyakininya berdasarkan hukum Taurat (Luk 13:14). Yesus menanggapi ocehan si kepala rumah ibadat tersebut dengan sangat efektif (Luk 13:15-16). Semua lawan-Nya merasa malu dan “semua orang banyak bersukacita karena segala perbuatan mulia yang telah dilakukan-Nya” (Luk 13:17).

Di atas kita dapat melihat betapa menakjubkan semangat “memuji dan memuliakan Allah” yang ditunjukkan oleh perempuan bungkuk yang disembuhkan oleh Yesus itu. Semangat yang sama juga ditunjukkan oleh seorang pengemis buta di dekat Yerikho yang disembuhkan oleh Yesus (lihat Luk 18:35-43). Injil Lukas mencatat bahwa setelah disembuhkan, pengemis yang disembuhkan dari kebutaannya itu mengikuti Yesus sambil memuliakan Allah. Melihat hal itu, “seluruh rakyat memuji-muji Allah” (Luk 18:43). Ketika Yesus membangkitan putera dari janda di Nain (lihat Luk 7:11-17), semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata, “Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,” dan “Allah telah datang untuk menyelamatkan umat-Nya” (Luk 7:16).

Ketika Yesus mendekati Yerusalem dengan menunggang keledai, di tempat jalan menurun dari Bukit Zaitun, mulailah semua murid yang mengiringi Dia bergembira dan memuji Allah sambil menyanyikan Mzm 118:26 dengan suara nyaring oleh karena segala mukjizat yang telah mereka lihat (Luk 19:36-38). Kemudian beberapa orang Farisi berkata kepada Yesus, “Guru, tegurlah murid-murid-Mu itu.”  Yesus menjawab: “Aku berkata kepadamu: Jika mereka diam, maka batu-batu ini akan berteriak” (Luk 19:39-40).

Apa implikasinya? Implikasinya adalah, bahwa Allah harus dipuji dan dimuliakan! Kita sebagai anak-anak Allah haruslah memuji dan memuliakan Allah. Jika kita menolak atau abai memuji dan memuliakan Allah, maka Allah akan membangkitkan orang-orang lain untuk memuji dan memuliakan-Nya. Dan jika kita mengakui karya-karya indah dan agung dari Yesus dalam hidup kita, maka tanggapan kita secara alamiah akan berupa tindakan memuji dan memuliakan Allah.

DOA: Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, menyanyilah bagi TUHAN, hai segenap bumi! Menyanyilah bagi TUHAN, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari. Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di antara segala suku bangsa. Sebab TUHAN maha besar dan terpuji sangat, Ia lebih dahsyat daripada segala allah. Sebab segala allah bangsa-bangsa adalah hampa, tetapi TUHAN-lah yang menjadikan langit. Keagungan dan semarak ada di hadapan-Nya, kekuatan dan kehormatan ada di tempat kudus-Nya. (Mzm 96:1-6). Kemuliaan kepada Bapa dan Putera dan Roh Kudus, seperti pada permulaan, sekarang, selalu dan sepanjang segala abad. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 13:10-17), bacalah tulisan yang berjudul “MEMBEBASKAN DARI HAL-HAL YANG MENGIKAT KITA” (bacaan  tanggal 29-10-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan pada sebuah tulisan saya pada tahun 2015) 

Cilandak, 25 Oktober 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEMUA ORANG PERLU BERTOBAT

SEMUA ORANG PERLU BERTOBAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIX – Sabtu, 27 Oktober 2018)

 

Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampur Pilatus dengan darah kurban yang mereka persembahkan. Yesus berkata kepada mereka, “Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya daripada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu? “Tidak!”, kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa dengan cara demikian. Atau sangkamu kedelapan belas orang yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya daripada kesalahan semua orang lain yang tinggal di Yerusalem? “Tidak”, kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa dengan cara demikian.”

Kemudian Yesus menyampaikan perumpamaan ini, “Seseorang mempunyai pohon ara yang ditanam di kebun anggurnya, dan ia datang untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi ia tidak menemukannya. Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: Lihatlah, sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan sia-sia! Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!” (Luk 13:1-9) 

Bacaan Pertama: Ef 4:7-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 122:1-5 

Yesus melanjutkan pengajaran kepada para murid-Nya tentang hal-ikhwal mengikuti Dia. Di sini Dia mengajarkan tentang perlunya semua orang untuk bertobat. Orang-orang Yahudi pada zaman Yesus menghubung-hubungkan bencana dengan hukuman karena dosa. Beberapa orang minta kepada Yesus untuk mengomentari dua bencana lokal yang terjadi. Jelas ada sejumlah orang Galilea yang sedang mempersembahkan kurban di Bait Suci di Yerusalem dibunuh oleh serdadu Pilatus. Darah mereka dicampur dengan darah hewan yang sedang dipersembahkan sebagai kurban. Bencana kedua barangkali kecelakaan pada waktu konstruksi di Siloam. Yesus tidak menolak kemungkinan terdapatnya hubungan antara dosa dan malapetaka, namun Dia menolak gagasan bahwa derajat kedosaan dapat dikira-kira dari besar-kecilnya malapetaka.

Nasib baik atau bencana bukanlah indikator-indikator yang layak untuk mengukur spiritualitas seseorang, karena Bapa surgawi “menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (Mat 5:45). Di lain pihak, penghakiman dapat dipastikan akan dijatuhkan atas orang-orang yang belum bertobat dari dosa-dosa mereka (lihat Luk 13:3.5). Yesus akan selalu mengampuni kita, betapa pun beratnya dosa kita. Dia memberikan kepada kita setiap kesempatan untuk datang kepada-Nya dengan jiwa yang hancur serta hati yang patah dan remuk-redam (lihat Mzm 51:19), untuk menerima pengampunan dan pendamaian (rekonsiliasi). Mereka yang tidak bertobat akan mengalami hukuman pada penghakiman terakhir.

Dosa memisahkan kita dari Allah. Dosa itu mempunyai efek yang dahsyat sekali atas kehidupan dan relasi seorang pribadi manusia dengan Allah. Motif Allah mengutus Putera-Nya yang tunggal ke dunia adalah “kasih”, agar setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yoh 3:16). Dia kemudian menderita dan mati di kayu salib sebagai silih atas dosa-dosa kita, manusia. Santo Paulus menulis: “Apakah engkau menganggap sepi kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya dan kelapangan hati-Nya? Tidak tahukah engkau bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan? Tetapi oleh kekerasan hatimu yang tidak mau bertobat, engkau menimbun murka atas dirimu sendiri pada hari murka dan hukuman Allah yang adil akan dinyatakan” (Rm 2:4-5).

Luke 13:6-9.

“Perumpamaan tentang pohon ara” (Luk 13:6-9) menggambarkan belarasa Allah dan penghakiman-Nya yang ditunda, untuk memperkenankan kita melakukan pertobatan dan terhindar dari konsekuensi-konsekuensi serius yang disebabkan dosa-dosa kita. Dengan demikian, kita dapat bersukacita dan memuji-muji Tuhan, karena meskipun dosa-dosa kita itu sungguh parah, Dia akan tetap mengampuni. YHWH memang telah berfirman lewat mulut nabi Yesaya: “Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba” (Yes 1:18). Namun demikian, kita tidak pernah boleh tetap santai-santai saja, berleha-leha atau menunda-nunda keputusan untuk melakukan pertobatan, agar supaya dapat mencapai rekonsiliasi dengan Allah, berdamai kembali dengan Sang Khalik langit dan bumi.

Sebagai seorang insan yang sungguh-sungguh ingin mengikuti jejak Yesus Kristus, marilah kita  memeriksa batin kita masing-masing dan kemudian berbalik kepada Allah dengan “jiwa yang hancur serta hati yang patah dan remuk-redam” (bdk. Mzm 51:19).

DOA: Ya Tuhanku dan Allahku, aku sungguh menyesal karena telah melukai hati-Mu. Aku membenci dan benar-benar merasa jijik terhadap segala dosaku karena semua itu telah menyakiti hati-Mu. Engkau adalah kasih, dan dalam kasih pula Engkau telah mengampuni aku. Engkau adalah Allah yang baik, kebaikan yang sempurna, segenap kebaikan, seluruhnya baik, kebaikan yang benar dan tertinggi. Engkaulah satu-satunya yang baik, satu-satunya yang kudus, adil, benar, suci dan tulus, satu-satunya yang pemurah, tak bersalah dan murni. Dari Engkau, oleh Engkau dan dalam Engkaulah segala pengampunan, segala rahmat dan kemuliaan untuk semua orang yang bertobat.  Hari ini, aku berketetapan hati, dengan pertolongan rahmat-Mu, untuk tidak berdosa lagi, baik dengan pikiran, perkataan, perbuatan maupun kelalaianku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 13:1-9), bacalah tulisan yang berjudul “MARILAH MENINJAU KEMBALI HIDUP PERTOBATAN KITA” (bacaan tanggal 27-10-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 22-10-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 24 Oktober 2018 [Peringatan S. Antonius Maria Claret, Uskup] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

CARA BAGAIMANA ROH KUDUS BEKERJA DI ATAS MUKA BUMI

CARA BAGAIMANA ROH KUDUS BEKERJA DI ATAS MUKA BUMI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIX – Jumat, 26 Oktober 2018)

Yesus berkata lagi kepada orang banyak, “Apabila kamu melihat awan naik di sebelah barat, segera kamu berkata: “Akan datang hujan, dan hal itu memang terjadi. Apabila kamu melihat angin selatan bertiup, kamu berkata: Hari akan panas terik, dan hal itu memang terjadi. Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini?

Mengapa engkau juga tidak memutuskan sendiri apa yang benar? Sebab, jikalau engkau dengan lawanmu pergi menghadap pemerintah, berusahalah berdamai dengan dia selama di tengah jalan, supaya jangan engkau diseretnya kepada hakim dan hakim menyerahkan engkau kepada pembantunya dan pembantu itu melemparkan engkau ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.” (Luk 12:54-59) 

Bacaan Pertama: Ef 4:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 24:1-6 

“Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilai, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini?” (Luk 12:56)

Allah senang sekali mengungkapkan pikiran dan isi hati-Nya kepada kita. Sepintas lalu bacaan di atas memang memberi kesan bahwa Yesus sekadar menegur para murid-Nya – dan kita tentunya – karena tidak menaruh perhatian pada tanda-tanda zaman. Akan tetapi, Dia sebenarnya mendorong kita untuk memandang ke sekeliling kita dan melihat sendiri bagaimana Roh Kudus-Nya bekerja di atas muka bumi. Sepanjang memandang, kita akan melihat bahwa “tuaian memang banyak” (Luk 10:2). Dunia dewasa ini sangat menderita kelaparan dan kehausan. Apa yang diderita umat manusia yang hidup dalam dunia yang materialistik ini – seringkali tanpa menyadarinya – adalah kelaparan dan kehausan berkaitan dengan pengenalan akan kasih Allah. Kita-manusia mencoba untuk mengisi kekosongan dalam hidup kita dengan pengganti-pengganti palsu dari cintakasih yang jujur, misalnya uang, kesuksesan, kenikmatan seksual, hal-hal duniawi, narkoba dan alkohol. Sebagai akibatnya, kita luput melihat keberadaan satu-satunya kasih yang sungguh-sungguh dapat memuaskan rasa lapar dan haus kita: …… kasih Allah sendiri.

Dalam suratnya kepada jemaat di Roma, Santo Paulus menulis bahwa segenap ciptaan menantikan saat anak-anak Allah akan dinyatakan (Rm 8:19). Inilah yang dirindukan oleh Bapa surgawi. Inilah sebabnya mengapa kita diciptakan – adopsi kita sebagai anak-anak Allah. Inilah sebabnya mengapa tidak ada hal lain yang dapat memuaskan kita. Di kedalaman hati kita, sebenarnya kita merindukan untuk dipersatukan dengan Yesus.

Banyak orang memandang akhir dunia dengan rasa takut sebab mereka tidak pernah mengenal dan mengalami sukacita karena menjalin relasi intim dengan Allah sebagai Bapa mereka. Semakin dekat kita dengan Tuhan, semakin jelas pula kita akan mampu untuk membaca tanda-tanda zaman karena kita tidak akan merasa takut akan apa yang kita akan lihat. Kita akan mulai memahami niat-niat Allah dan menaruh kepercayaan bahwa Dia senantiasa bekerja untuk kebaikan segenap ciptaan-Nya. Bersama sang pemazmur kita dapat berdoa: “Biarlah rahmat-Mu sampai kepadaku, supaya aku hidup” (Mzm 119:77).

Kepada kita semua telah diberikan Roh Kudus. Janganlah kita menantikan kedatangan kembali Yesus secara pasif. Sebaliknya, marilah kita berdoa dengan tekun: “Datanglah Kerajaan-Mu; jadilah kehendak-Mu, di atas bumi dan di dalam surga”. Selagi kita menantikan kedatangan kembali sang Kristus Raja, marilah kita memohon kepada Roh Kudus agar Dia memperbaharui pikiran kita dan memampukan kita memahami cara-cara-Nya. Dengan demikian kita akan lebih siap bagi kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan.

DOA: Roh Kudus, perbaharuilah pikiran-pikiran kami. Ajarlah kami untuk menantikan kedatangan kembali Kristus dengan antisipasi yang penuh pengharapan. Siapkanlah diri kami untuk menanggapi – dalam iman dan ketaatan – apa saja yang diminta oleh Bapa surgawi dari diri kami masing-masing untuk kami kerjakan. Bentuklah kami – Gereja – menjadi mempelai perempuan yang murni dan tanpa noda yang dirindukan oleh Bapa untuk diberikan kepada Yesus, Putera Bapa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 12:54-59), bacalah tulisan yang berjudul “HARI LEPAS HARI, YESUS MENAWARKAN PENGAMPUNAN KEPADA KITA MASING-MASING” (bacaan tanggal 26-10-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 27-10-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 24 Oktober 2018 [Peringatan S. Antonius Maria Claret, Uskup] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

UNTUK MELEMPARKAN API KE BUMI

UNTUK MELEMPARKAN API KE BUMI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIX – Kamis, 25 Oktober 2018)

“Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapa Aku harapkan, api itu telah menyala! Aku harus dibaptis dengan suatu baptisan, dan betapa susah hati-Ku, sebelum hal itu terlaksana! Kamu menyangka bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan. Karena mulai sekarang akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga. Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya.”  (Luk 12:49-53) 

Bacaan Pertama: Ef 3:14-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:1-2,4-5,11-12,18-19 

“Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapa Aku harapkan, api itu telah menyala! Aku harus dibaptis dengan suatu baptisan, dan betapa susah hati-Ku, sebelum hal itu terlaksana! Kamu menyangka bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan.” (Luk 12:49-51)

Kita adalah makhluk-makhluk ciptaan yang hidup sesuai adat-kebiasaan. Kita menyukai rutinitas-rutinitas yang sudah familiar dan seringkali mencari keamanan dari hal-hal yang dapat kita kendalikan. Kita suka mendengar ungkapan dalam bahasa Inggris: “Don’t rock the  boat” (jangan menabrakkan kapal pada batu karang; artinya kurang lebih: “jangan mencari gara-gara”) dengan refrennya  yang berbunyi “peace at any price” (damai, berapa pun harganya). Namun Yesus bersabda: “Kamu menyangka bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan” (Luk 12:51).

Kadang-kadang sabda Yesus dapat menjadi sulit. Injil-Nya bukanlah sekadar sebuah pesan damai-sejahtera dan sukacita, melainkan juga mengenai perpecahan dan pertentangan. Hal ini disebabkan kenyataan bahwa Dia datang untuk memisahkan kegelapan dari terang, dan kodrat manusia yang cenderung untuk berdosa menentang pemisahan sedemikian.

Salib Kristus membersihkan diri kita dengan memisahkan unsur kedagingan dari roh. Dengan kematian-Nya di atas kayu salib Yesus telah mengalahkan dosa. Sekarang Ia berupaya untuk membangun kemenangan-Nya di salib itu dalam kehidupan kita masing-masing. Semakin kita memperkenankan api-Nya membersihkan diri kita – walaupun hal itu tidak mudah – semakin besar pula warisan yang kita akan terima pada akhir zaman. Dan ………, semakin besar pula sukacita sejati kita dan damai-sejahtera kita dalam hidup ini.

Yesus Kristus, sang Raja Damai, ingin agar kita memahami bahwa damai-sejahtera-Nya akan memenuhi diri kita apabila kita memutuskan untuk mengikuti Dia dan jalan-Nya. Yesus juga ingin agar kita memahami bahwa kemuridan/pemuridan Kristiani itu tinggi biayanya; malah dapat menyebabkan timbulnya perpecahan serta pertentangan dalam keluarga-keluarga. Walaupun begitu, bahkan dalam keadaan yang paling sulit dan genting sekali pun, Yesus memerintahkan kita – dan memberdayakan kita – untuk mengasihi musuh-musuh kita dan berdoa untuk mereka yang menganiaya kita (lihat Mat 5:44). Inilah pilihan kita dan berkat bagi kita di tengah konflik-konflik keluarga yang terjadi dalam kehidupan kita. Mengasihi musuh-musuh kita memang tidak mudah, namun hal itu akan mengalir secara bebas apabila kita mengingat belas-kasih Allah atas diri kita, dan kita menempatkan iman kita dalam kehadiran Roh-Nya dalam diri kita.

Yesus mengutus Roh Kudus – api cintakasih Allah – untuk mencerahkan pikiran kita agar dapat memahami kebenaran-kebenaran Kerajaan-Nya. Jikalau kita setia kepada Yesus dalam doa-doa harian dan pembacaan serta permenungan Kitab Suci, dan selagi kita berpartisipasi dalam liturgi-liturgi gereja kita dan pelayanan-pelayanan gerejawi lainnya, maka kita akan mengenali dan mengalami kehadiran Roh-Nya dalam diri kita masing-masing. Ia akan memperkuat dan membimbing kita melalui setiap konflik dan perjuangan. Yesus meyakinkan kita: “Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yoh 16:33).

DOA: Tuhan Yesus Kristus, Engkau memang pantas dan layak dikasihi dan senantiasa dimuliakan oleh semua orang. Jadikanlah hati kami seperti Hati-Mu yang kudus, yang bersedia merangkul jalan kehidupan yang telah ditetapkan oleh Bapa surgawi bagi kami masing-masing. Penuhilah pikiran kami dengan kebenaran-kebenaran-Mu agar dengan demikian kami akan mengetahui kapan kami sedang dimurnikan oleh api-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:49-53), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MEMBAWA PEMISAHAN” (bacaan tanggal 25-10-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 26-10-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 23 Oktober 2018 [Peringatan S. Yohanes dr Kapestrano, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TUHAN, KAMIKAH YANG ENGKAU MAKSUDKAN ……?

TUHAN, KAMIKAH YANG ENGKAU MAKSUDKAN ……?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIX – Rabu, 24 Oktober 2018)

Peringatan Santo Antonius Maria Claret, Uskup

Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pukul berapa pencuri akan datang, ia tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.” Kata Petrus, “Tuhan, kamikah yang Engkau maksudkan dengan perumpamaan itu atau juga semua orang?” Jawab Tuhan, “Jadi, siapakah pengurus rumah yang setia dan bijaksana yang akan diangkat oleh tuannya menjadi kepala atas semua hambanya untuk memberikan makanan kepada mereka pada waktunya? Berbahagialah hamba yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya. Akan tetapi, jikalau hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya, ‘Tuanku tidak datang-datang,’ lalu ia mulai memukul hamba-hamba laki-laki dan hamba-hamba perempuan, dan makan minum dan mabuk, maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangkanya, dan pada saat yang tidak diketahuinya, dan akan memenggalnya dan membuatnya senasib dengan orang-orang yang tidak setia. Adapun hamba yang tahu akan kehendak tuannya, tetapi yang tidak mengadakan persiapan atau tidak melakukan apa yang dikehendaki tuannya, ia akan menerima banyak pukulan. Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, akan banyak dituntut dari dirinya, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, akan lebih banyak lagi dituntut dari dirinya.” (Luk 12:39-48) 

Bacaan Pertama: Ef 3:2-12; Mazmur Tanggapan: Yes 12:2-6 

Petrus bertanya kepada Yesus apakah ajaran-Nya tentang pelayanan yang penuh dedikasi dimaksudkan untuk kedua belas murid-Nya saja, atau untuk semua pengikut-Nya (Luk 12:41). Jawaban Yesus bersifat cukup umum sehingga dapat berlaku bagi kedua belas murid-Nya dan juga bagi para pengikut-Nya yang lain; tidak ada seorang pun yang dikecualikan dari panggilan untuk melayani Yesus Kristus dengan perhatian dan kesiap-siagaan total.

Kata dalam bahasa Yunani untuk hamba/pelayan adalah doulos (Luk 12:43,45,46,47). Seorang doulos dalam zaman Yesus lebih merupakan hamba (dalam arti budak belian) daripada seorang pelayan yang dibayar. Kata doulos ini mengandung arti adanya kepemilikan total di pihak sang tuan, dan hal ini menuntut ketaatan total terhadap kehendak sang tuan. Pelayanan seorang hamba bersifat tak bersyarat dan pengabdiannya kepada sang tuan sudah merupakan suatu asumsi. Dengan menggunakan kata doulos ini, Lukas menggambarkan pelayanan seturut panggilan Allah kepada kita. Dalam segala keadaan –  dalam paroki-paroki, dalam hubungan kita di tempat kerja, dalam keluarga-keluarga kita atau kelompok-kelompok lainnya – Allah menginginkan kita untuk mengkontribusikan waktu, energi, dan pengetahuan kita secara tanpa pamrih. Allah memanggil kita untuk melayani tanpa mengeluh dan tanpa reserve, dengan penuh kasih, memandang lebih jauh daripada kenyamanan kita sendiri, kepada kebutuhan-kebutuhan orang-orang lain dan keprihatinan-keprihatinan Gereja. Yesus bersabda: “Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, akan banyak dituntut dari dirinya, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, akan lebih banyak lagi dituntut dari dirinya” (Luk 12:48). 

Kita telah dibaptis ke dalam kekayaan Kristus, ke dalam warisan yang berlimpah, tetapi yang tidak  hanya dimaksudkan untuk keamanan dan kenyamanan kita sendiri. Yesus telah memberikan segalanya kepada kita sehingga kita dapat men-sharing-kan dengan orang-orang lain apa yang kita telah terima itu. Kita dapat saja berpikir bahwa terlalu banyak yang dituntut dari diri kita, namun di sinilah Yesus secara total mentransformasikan konsep pelayanan. Ia memanggil orang-orang untuk memberikan diri mereka sendiri kepada-Nya tanpa syarat, untuk menjadi milik-Nya sebagai umat dan pelayan-pelayan-Nya, hidup guna memenuhi hasrat sang Tuan (Yunani: Kyrios). Namun demikian, pelayanan kepada Kristus tidak bersifat sepihak. Selagi kita memberikan diri kita kepada-Nya, dengan murah-hati Yesus memberikan kepada kita suatu pengetahuan tentang cintakasih dan penyelamatan-Nya. Tuhan Yesus tidak memaksa agar kita bekerja sampai setengah mati karena kelelahan. Yang diminta oleh-Nya adalah agar kita menguduskan hidup kita, seperti yang telah dilakukan-Nya. Dia telah menjanjikan kepada kita, bahwa apabila kita menolak cara-cara kita yang mementingkan diri-sendiri dan kemudian memikul kuk/gandar pelayanan-Nya, maka kita akan mengalami suatu kepenuhan hidup dan damai-sejahtera yang tidak akan pernah kita capai dengan kekuatan sendiri.

DOA:  Tuhan Yesus, perkenankanlah Roh Kudus-Mu membentuk kami menjadi pelayan-pelayan-Mu yang sejati seturut kehendak-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:39-48), bacalah tulisan yang berjudul “ANAK MANUSIA DATANG PADA SAAT YANG TIDAK KAMU DUGA” (bacaan tanggal 24-10-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2018. 

Cilandak, 22 Oktober 2018 [Peringatan S. Yohanes Paulus II, Paus] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS