Posts from the ‘18-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2018’ Category

BUKAN UNTUK MENARIK PERHATIAN ORANG BANYAK KEPADA DIRI MEREKA SENDIRI

BUKAN UNTUK MENARIK PERHATIAN ORANG BANYAK KEPADA DIRI MEREKA SENDIRI

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah – Senin, 30 April 2018)

Tetapi orang banyak di kota itu terpecah menjadi dua: Ada yang memihak kepada orang Yahudi, ada pula yang memihak kepada rasul-rasul itu. Lalu mulailah orang-orang bukan Yahudi dan orang-orang Yahudi bersama-sama dengan pemimpin-pemimpin mereka berusaha untuk menyiksa dan melempari mereka dengan batu. Mengetahui hal itu, menyingkirlah rasul-rasul itu ke kota-kota di Likaonia, yaitu Listra dan Derbe dan daerah sekitarnya. Di situ mereka memberitakan Injil.

Di Listra ada seorang laki-laki yang duduk saja, karena kakinya lemah dan lumpuh sejak lahir dan belum pernah dapat berjalan. Ia mendengarkan Paulus yang sedang berbicara. Paulus menatap dia dan melihat bahwa ia beriman dan dapat disembuhkan. Lalu kata Paulus dengan suara nyaring, “Berdirilah tegak!” Orang itu pun melonjak berdiri, lalu mulai berjalan kian ke mari. Ketika orang banyak melihat apa yang telah diperbuat Paulus, mereka itu berteriak dalam bahasa Likaonia, “Dewa-dewa telah turun ke tengah-tengah kita dalam rupa manusia.” Barnabas mereka sebut Zeus dan Paulus mereka sebut Hermes, karena dialah yang berbicara. Lalu datanglah imam dewa Zeus, yang kuilnya terletak di luar kota, membawa lembu-lembu jantan dan karangan-karangan bunga ke pintu gerbang kota untuk mempersembahkan kurban bersama-sama dengan orang banyak kepada rasul-rasul itu. Mendengar itu rasul-rasul itu, yaitu Barnabas dan Paulus, mengoyakkan pakaian mereka, lalu menerobos ke tengah-tengah orang banyak itu sambil berseru, “Hai kamu sekalian, mengapa kamu berbuat demikian? Kami ini manusia biasa sama seperti kamu. Kami ada di sini untuk memberitakan Injil kepada kamu, supaya kamu meninggalkan perbuatan sia-sia ini dan berbalik kepada Allah yang hidup, yang telah menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya. Pada zaman yang lampau Allah membiarkan semua bangsa menuruti jalannya masing-masing, namun Ia bukan tidak menyatakan diri-Nya dengan berbagai-bagai perbuatan baik, yaitu dengan menurunkan hujan dari langit dan dengan memberikan musim-musim subur bagi kamu. Ia memuaskan hatimu dengan makanan dan kegembiraan.” Walaupun rasul-rasul itu berkata demikian, mereka hampir-hampir tidak dapat mencegah orang banyak mempersembahkan kurban kepada mereka. (Kis  14:5-18) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 115:1-4,15-16; Bacaan Injil: Yoh 14:21-26 

Adalah satu hal yang baik bahwa entusiasme Paulus dan Barnabas untuk mewartakan Kabar Baik secara kokoh telah didasarkan pada Kristus sendiri, bukannya tergantung bagaimana pesan mereka itu diterima oleh orang banyak. Bayangkanlah bagaimana perubahan suasana hati yang akan mereka alami, seandainya mereka menaruh kepercayaan serta mengandalkan diri pada opini publik ketika mereka membawa Injil ke Listra (lihat Kis 14:6). Pujian kepada mereka disusul dengan cepat oleh sikap permusuhan yang dipenuhi dengan ide kekerasan. Perpecahan di antara orang banyak di Ikonium karena pewartaan dan berbagai mukjizat dan tanda heran yang mereka lakukan telah mengakibatkan timbulnya usaha untuk menyiksa dan melempari mereka dengan batu (lihat Kis 14:3-6). Dengan demikian kedua rasul itu harus menyingkir ke kota-kota di Likaonia, yaitu Listra dan Derbe dan daerah sekitarnya. Di situ mereka memberitakan Injil (lihat Kis 15:6-7).

Di Listra inilah terjadi sebuah peristiwa yang menarik. Misi Paulus dan Barnabas adalah untuk mendesak orang banyak agar kembali kepada jalan Allah. Kedua rasul itu tidak pernah bermaksud untuk menarik perhatian orang banyak kepada diri mereka sendiri. Suatu sikap yang benar sebagai pewarta! Inilah yang terjadi, meskipun setelah Paulus memandang orang lumpuh yang mendengarkan khotbahnya itu sungguh memiliki iman untuk dapat disembuhkan. Kiranya cukup mengejutkan bagi Paulus dan Barnabas ketika orang banyak memandang kesembuhan orang lumpuh itu bukan sebagai tanda konfirmasi atas kuasa Allah, melainkan bukti bahwa mereka adalah dua sosok dewa yang menjelma menjadi manusia (lihat Kis 14:11-13).

Kita, orang zaman modern ini, mungkin saja tertawa terpingkal-pingkal apabila kita menyaksikan bahwa  imam dewa Zeus pun sampai-sampai mengambil keputusan untuk mempersembahkan kurban persembahan kepada dua orang misionaris perdana ini. Akan tetapi bagi Paulus dan Barnabas hal itu samasekali bukanlah sesuatu yang lucu-menggelikan. Diidolakan (idola=berhala) sangatlah bertentangan dengan yang mereka cari dan cita-citakan. Ingatlah apa yang ditulis sang pemazmur: “Bukan kepada kami, ya TUHAN (YHWH), bukan kepada kami, tetapi kepada nama-Mulah beri kemuliaan, oleh karena kasih-Mu, oleh karena setia-Mu” (Mzm 115:1). Itulah kiranya juga yang menjadi pegangan kedua rasul Yesus Kristus itu.

Tidak lama kemudian, suasana hati orang banyak memang menjadi berubah. Karena dihasut oleh orang-orang Yahudi dari Antiokhia dan Ikonium, maka orang banyak itu pun berpihak kepada para penghasut itu. Lalu mereka melempari Paulus dengan batu dan menyeretnya ke luar kota, karena mereka menyangka dia telah mati. Keesokan harinya Paulus dan Barnabas berangkat ke Derbe (lihat Kis 14:19). Semua itu terjadi hanya dalam satu hari. Pagi hari mereka menerima pujian, siang hari mereka menerima cacian dan siksaan! Bukankah Yesus, Tuhan dan Juruselamat kita, juga telah mengalami hal yang sama? Hari ini “mubarak” (Minggu Palma), besok “salibkan Dia” (Jumat Agung) [Ingat pembelaan Mr. Yap Thiam Hien pada perkara Dr. Soebandrio berkaitan dengan peristiwa Gestapu, di tahun 1966]

Sebagai seorang Kristiani kita masing-masing tentunya juga mengalami naik-turunnya kehidupan, namun tidak sampai begitu ekstrim sebagaimana yang dialami oleh Paulus dan Barnabas. Dua rasul ini memberikan contoh bagus tentang kesetiaan secara “kepala-batu” (keras kepala) terhadap panggilan mereka, yang menurut mata dunia mungkin saja dipandang sebagai suatu kebodohan. Patutlah kita catat bahwa tidak ada seorang pun dari kita yang dapat mengendalikan berbagai macam reaksi yang akan kita terima ketika kita memberi kesaksian tentang Tuhan. Ada yang akan mengasihi kita dan tidak sedikit pula yang akan membenci kita, dan tentunya ada juga yang akan mendewa-dewakan kita. Hal yang disebutkan terakhir ini penting dicamkan oleh setiap orang Kristiani yang melakukan pelayanan dalam bidang pewartaan, apakah imam, pendeta atau kaum awam. Ingatlah bahwa kita hanyalah seperti keledai yang ditunggangi Yesus ketika memasuki kota Yerusalem pada hari Minggu Palma dan mendengar orang banyak mengelu-elukan-Nya. Kalau kita “gila hormat” karena merasakan bahwa kitalah yang dielu-elukan dan tiba-tiba mengangkat kaki depan karena kegirangan, maka Yesus bisa-bisa menjadi terjatuh ke tanah.

Sehubungan dengan naik-turunnya apa yang kita alami sebagai pelayan sabda-Nya, yang penting bagi kita adalah untuk senantiasa berpegang teguh pada panggilan Allah kepada kita. Percayalah, bahwa Allah akan dan dapat membereskan hal-hal lainnya.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar dapat selalu berada pada kaki-kaki-Mu dan secara kokoh-kuat berakar dalam diri-Mu. Kapan pun, ya Tuhan Yesus, semoga aku dapat menerima sabda kehidupan kekal dari-Mu dan menyampaikannya juga kepada orang-orang lain. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Yoh 14:21-26), bacalah tulisan yang berjudul “ROH KUDUS DIANUGERAHKAN KEPADA ORANG-ORANG YANG TAAT KEPADA ALLAH” (bacaan tanggal 30-4-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-04 BACAAN HARIAN APRIL 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 15-5-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 26 April 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

MURID YESUS YANG BERBUAH BANYAK

MURID YESUS YANG BERBUAH BANYAK

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH V [Tahun B], 29 April 2018)

“Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu. Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar. Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah Bapa-Ku dimuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.” (Yoh 15:1-8)  

Bacaan Pertama: Kis 9:26-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 22:26-28,30-32; Bacaan Kedua: 1Yoh 3:18-24

Dalam Perjanjian Lama, Israel seringkali diibaratkan sebagai pohon anggur. Allah menanam pohon anggur itu dan memeliharanya, namun pohon anggur itu menjadi jelek dan akhirnya diinjak-injak: “Aku telah membuat engkau tumbuh sebagai pokok anggur pilihan, sebagai benih yang sungguh murni. Betapa engkau berubah menjadi pohon berbau busuk, pohon anggur liar!” (Yer 2:21). Sebagai perbandingan, bacalah juga Mzm 80:8-15; Yes 5:1-7; Yeh 19:10-14. Pohon anggur liar memang sangat berbeda dengan pohon anggur yang dipelihara dalam kebun anggur. Pohon anggur liar menghasilkan buah-buah anggur berukuran kecil dan pahit sedangkan pohon anggur yang dipelihara dalam kebun anggur menghasilkan buah-buah anggur yang relatif berukuran besar dan terasa manis.

Yesus menyatakan diri-Nya bahwa Dialah “pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya” (Yoh 15:1). Dalam diri Yesus dan para pengikut-Nya, Bapa akan menemukan jenis buah anggur yang dihasrati-Nya. Tugas kita adalah untuk tetap terhubungkan dengan pokok anggur yang merupakan sumber makanan dari Kristus sendiri. Adalah tugas Bapa surgawi untuk memelihara pokok anggur agar dapat berbuah banyak. Pernyataan ini terdengar begitu eksplisit sehingga kita dapat luput melihat kebesaran dari tantangan dan janji yang diberikannya.

Tanaman besar (bukan tanaman perdu) tidak hanya bertunas dan bertumbuh, namun harus menghasilkan buah. Yesus bersabda, “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, ……  Dalam hal inilah Bapa-Ku dimuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku” (Yoh 15:5-8).

Kristianitas/Kekristenan bukanlah sebuah agama negatif yang terdiri dari peraturan-peraturan “jangan ini/itu atau tidak boleh ini/itu” atau sekadar menghindari dosa, melainkan sebuah agama yang berisikan ajaran untuk melakukan hal-hal yang baik dan positif. Yesus dengan jelas menghendaki kita – para pengikut-Nya – untuk menghasilkan buah secara berlimpah, yaitu buah-buah dari pekerjaan-pekerjaan baik kita. Santo Paulus menulis: “… bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mepunyai arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih” (Gal 5:6). Jadi menghasilkan buah dapat disingkat sebagai upaya pelayanan sederhana menolong, memperhatikan, berbagi dengan orang-orang lain.

Dalam “perumpamaan tentang penghakiman terakhir” (Mat 25:31-46), Yesus mengatakan bahwa hanya mereka yang dengan setia menjalankan tugas pelayanan Kristiani mereka dalam menolong, memperhatikan dan berbagi dengan “orang-orang yang hina-dina”, yang akan mengalami “hidup kekal”.

Ketika kita (anda dan saya) menghadapi moment of truth “penghakiman terakhir”, maka kepada kita sang Hakim tidak akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti berikut ini: Berapa kali kamu telah menghadiri Perayaan Ekaristi? Berapa banyak doa yang telah kamu panjatkan ke hadirat Allah? Berapa banyak dosa yang telah kamu berhasil hindari? Sebaliknya, kepada kita akan ditanyakan satu pertanyaan penting dan menentukan: “Apa yang telah kamu lakukan untuk orang-orang yang hina-dina?”

Dengan demikian, apakah kehadiran dalam Misa Kudus, kegiatan doa, dan ketaatan kepada Gereja tidak penting? Penting, namun buah dari doa-doa kita, buah dari keikutsertaan kita dalam liturgi gerejawi, buah dari studi Alkitab kita, pencaharian akan kebenaran yang kita lakukan lewat studi teologi dlsb., di ujung-ujungnya harus terwujud dalam pelayanan kasih kepada sesama.

Ada cerita tentang seorang yang membayangkan dirinya sedang “antri” mau masuk surga. Dia berkata, “Apa yang kutakuti adalah jika aku harus berhadapan face to face dengan Allah dalam kehidupan yang akan datang. Bunda Teresa dari Kalkuta datang melapor dan Allah berkata, ‘Teresa, seharusnya engkau melakukan lebih banyak lagi pekerjaan baik.’ Dan bayangkan, saya berdiri tepat di belakang Bunda Teresa!”

Kita diajar untuk taat kepada kehendak Allah – melakukan apa yang diperintahkan oleh-Nya – yang  adalah jalan satu-satunya untuk berhasil dalam hidup ini. Bibir kita mengucapkan semua ini hari demi hari, namun sampai berapa seringkah kita bertindak seturut apa yang kita ucapkan? Walk the talk! Atau hanya sekadar “nato” atau “omdo”?

Saudari dan Saudaraku terkasih. Kita semua mempunyai niat-niat baik terhadap orang-orang lain. Kita mempunyai niat mengampuni. Kita mempunyai niat untuk berdamai. Kita mempunyai niat untuk memperbaiki komunikasi. Kita mempunyai niat untuk setia kepada pasangan hidup kita. Kita mempunyai niat untuk memberikan donasi kepada sebuah karya karitatif. Kita mempunyai niat untuk mengunjungi anggota keluarga yang sudah lama kita tidak kunjungi. Kita mempunyai niat memberikan sedekah, dlsb. Pada hari Minggu ini, marilah kita lupakan semua niat itu, kecuali satu saja. Lalu kita laksanakan! JUST DO IT!

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau  berbagi kehidupan ilahi-Mu dengan kami masing-masing. Biarlah segala sesuatu yang kami lakukan  dipimpin oleh pengenalan akan kebenaran-Mu. Ingatkanlah kami, ya Tuhan, bahwa sebagai murid-murid-Mu – umat Kristiani – berarti kami harus banyak melakukan pekerjaan baik, teristimewa bagi mereka yang hina-dina.  Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 15:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “KITA DIUNDANG OLEH YESUS UNTUK TINGGAL DALAM DIA” (bacaan tanggal 29-4-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-04 BACAAN HARIAN APRIL 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal  3-5-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 26 April 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BAHKAN PEKERJAAN-PEKERJAAN YANG LEBIH BESAR

BAHKAN PEKERJAAN-PEKERJAAN YANG LEBIH BESAR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Paskah – Sabtu, 28 April 2018)

“Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.” Kata Filipus kepada-Nya, “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.” Kata Yesus kepadanya, “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Siapa saja yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. Tidak percayakah engkau bahwa aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang tinggal di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya.

Percayalah kepada-Ku bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa; dan apa pun yang kamu minta dalam nama-Ku, aku akan melakukannya, supaya Bapa dimuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.” (Yoh 14:7-14)  

Bacaan Pertama: Kis 13:44-52; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4

“Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu.” (Yoh 14:12)

Oh, sebuah janji yang luarbiasa mengejutkan! Memang sungguh mengejutkanlah, apabila kita berpikir bahwa Bapa surgawi begitu mengasihi kita sehingga Dia mau hidup dalam diri kita dan berkarya lewat diri kita. Inilah pemberian gratis, suatu karunia bagi siapa saja yang percaya.

Yesus mengetahui bahwa wafat dan kebangkitan-Nya akan memberikan kepada para rasul akses-penuh kepada  Bapa surgawi, yang memegang segenap ciptaan dalam tangan-Nya. Sekarang, Yesus menginginkan agar para rasul mengetahui ‘rencana besar’ yang tersedia bagi anak-anak Allah, dan peranan yang dapat dimainkan oleh orang-orang sementara mereka membuka hati bagi Roh Kudus.

Para rasul yang telah hidup bersama Yesus, berjalan ke mana-mana bersama dengan-Nya dan belajar dari-Nya, menyaksikan begitu banyak penyembuhan fisik yang telah dibuat oleh Yesus, mengusir roh-roh jahat yang tak terbilang banyaknya dari orang-orang yang disentuh oleh Yesus. Dia bahkan membangkitkan orang mati dan kembali hidup. Dia juga sangat mengasihi orang-orang yang dijumpai-Nya. Namun Yesus, Putera Allah terus-menerus menekankan, “Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diriku sendiri, tetapi Bapa, yang tinggal di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya” (Yoh 14:10).

Janji Yesus bahwa Dia akan membawa kita kepada Bapa tidaklah bertumpu pada kebenaran perilaku manusia, melainkan bertumpu pada kuasa dan kasih Allah yang tinggal dalam diri kita dan yang mengubah hati kita. Apa arti ini semua untuk mereka yang percaya? Bapa menginginkan kita untuk memiliki otoritas dan kuasa seperti yang dimiliki Yesus!  Dia telah membuatnya tersedia bagi kita melalui wafat dan kebangkitan Yesus dan Roh Kudus yang berdiam dalam diri kita masing-masing. Dia hanya minta agar kita meninggalkan dosa dan merangkul warisan kita dalam Kristus.

Selagi kita memakai waktu kita untuk berada bersama Yesus, hati kita akan dibuat berkobar-kobar untuk membantu orang-orang lain agar mengenal Dia juga. Kita dapat menjadi saksi atas penyembuhan oleh Allah atas sakit-penyakit fisik dan juga sakit-penyakit emosional-psikis, apabila kita mengangkat hati kita dalam doa. Dengan penuh kepercayaan kita dapat menghaturkan permohonan kepada Bapa untuk membebaskan umat-Nya dari berbagai macam keterikatan dan dosa. Cintakasih Yesus dalam hati kita dapat menyingkirkan segala sakit-penyakit atau penderitaan lainnya yang ditujukan terhadap diri kita.

Pekerjaan Bapa yang dapat dan akan dilakukan-Nya sebenarnya tanpa-akhir, apabila kita datang kepada-Nya dengan rendah-hati/kedinaan dan rasa percaya tanpa reserve.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih untuk kerahiman-Mu, untuk belas kasih-Mu yang lemah lembut. Kami merasa sangat dihargai dengan rencana-Mu untuk berkarya melalui diri kami. Tuhan Yesus, ajarlah kami bagaimana mendengarkan Bapa surgawi seperti yang Engkau lakukan, dan taat kepada dorongan-dorongan-Nya. Roh Kudus, semoga sungai kehidupan-Mu mengalir dengan bebas kepada semua umat-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 14:7-14), bacalah tulisan yang berjudul “TELAH MELIHAT YESUS BERARTI TELAH MELIHAT BAPA SURGAWI” (bacaan tanggal 28-4-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-04 BACAAN HARIAN APRIL 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-5-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 24 April 2018  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERCAYALAH KEPADA ALLAH, PERCAYALAH JUGA KEPADA-KU

PERCAYALAH KEPADA ALLAH, PERCAYALAH JUGA KEPADA-KU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Paskah – Jumat, 27 April 2018)

Serikat Yesus: Peringatan S. Petrus Kanisius, Imam Pujangga Gereja

 “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Apabila aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada.

Kemana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ.” Kata Tomas kepada-Nya, “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?” Kata Yesus kepadanya, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yoh 14:1-6) 

Bacaan Pertama: Kis 13:26-33; Mazmur Tanggapan: Mzm 2:6-11

“Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.” (Yoh 14:1)

Yesus baru saja mengatakan kepada para murid-Nya, bahwa salah seorang dari mereka akan berkhianat (lihat Yoh 13:21). Disaksikan oleh para murid yang lain, Yesus juga memperingati Petrus, bahwa murid-Nya itu akan menyangkal diri-Nya sampai tiga kali (lihat Yoh 13:38). Sebelumnya, Dia juga mengatakan akan pergi meninggalkan murid-murid-Nya. Sesudah sekian lama segalang-segulung dengan sang Rabi dari Nazaret itu, bagaimana hati para murid-Nya tidak gelisah? Mereka telah menaruh segala pengharapan mereka pada diri Yesus, dan sekarang rasa kepercayaan mereka kepada-Nya serasa salah sasaran, serasa musnah. Kita semua tentunya mempunyai pengalaman yang akan membantu memahami bagaimana kiranya perasaan yang melanda para murid dalam situasi yang mereka sedang hadapi itu. Dalam situasi seperti itu Yesus menyemangati mereka: “Janganlah gelisah hatimu……” (Yoh 14:1).

Untuk memperburuk atau mempersuram gambaran situasi yang dihadapi para murid Yesus, kita dapat mempertimbangkan bahwa mereka hidup di tengah situasi menegangkan di bawah pendudukan Romawi yang kejam di kota Yerusalem. Setiap hari mereka menghadapi ancaman diseret ke dalam penjara oleh para tua-tua dan pemuka agama Israel. Bahkan beberapa dari murid Yesus itu mengharap-harapkan terjadinya suatu revolusi politik yang akan membuat Yesus raja bangsa Israel. Sekarang, Yesus ini, yang telah menjadi pemimpin spiritual mereka dan yang telah sekian lama mereka ikuti, memberitahukan kepada mereka bahwa Dia akan pergi meninggalkan mereka. Mana boleh tahan???

Para murid Yesus yang telah diangkat menjadi rasul itu telah meninggalkan segalanya untuk mengikuti Yesus. Barangkali keluarga-keluarga mereka mempunyai pemikiran lain tentang stabilitas mental mereka. Sekarang mereka mendengar bahwa Yesus akan pergi meninggalkan mereka – bahwa Dia akan dibunuh. Betapa sukar untuk menggambarkan situasi mereka dengan kata-kata kita yang penuh keterbatasan ini! Yesus menceritakan berita yang menghancur-luluhkan hati ini karena Dia mengetahui bahwa di kemudian hari mereka akan sampai kepada pemahaman tentang kepenuhan hidup yang dibawa-Nya ke dalam dunia.

Yesus datang ke dunia untuk “membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis” (lihat 1Yoh 3:8). Orang-orang yang percaya kepada-Nya dan memiliki iman akan diselamatkan. Dengan demikian kita tidak perlu sedemikian tertekannya oleh karena keadaan dunia yang tidak begitu cerah-menggembirakan. Sukacita, damai sejahtera dan kasih yang kita rindukan dalam kita temukan dalam diri Yesus. Jalan ke surga bukanlah suatu metode atau prosedur yang harus dipahami betul-betul dan dijalankan. Bukan begitu, Saudari dan Saudaraku! Jalan ke surga adalah Yesus sendiri, yang akan menolong kita dalam setiap langkah kita. Dia telah menebus kita dan mendirikan sebuah tempat di surga bagi semua orang yang memilih mengikuti-Nya.

Inilah Kabar Baik-Nya. Oleh karena itu janganlah kita sampai kehilangan semangat. Penderitaan hari ini bersifat sementara saja; sukacita dan kemuliaan yang akan datang adalah untuk selama-lamanya! Apapun yang sedang anda derita sekarang, Allah mempunyai komitmen terhadap anda. Jadi, marilah kita menyerahkan diri dengan penuh kasih kepada Allah dan saksikanlah Dia membawa kepada kita hal-hal baik, bahkan dalam situasi yang paling berat sekalipun. Marilah kita memperkenankan Roh-Nya membentuk anda secara lebih lengkap lagi sehingga menjadi semakin serupa dengan Yesus, yang adalah kepenuhan hidup.

DOA: Tuhan Yesus, kami sedang menanti-nantikan kedatangan-Mu kembali. Terangilah pikiran kami agar kami dapat mewartakan Kabar Baik-Mu. Nyalakanlah api cinta-Mu dalam hati kami masing-masing sehingga yang kami ucapkan adalah kata-kata yang menyembuhkan. Berdayakanlah kami juga agar mampu mengusir Iblis dan roh-roh jahat dalam nama-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 14:1-6), bacalah tulisan yang berjudul “TUHAN YESUS ADALAH JALAN DAN KEBENARAN DAN HIDUP” (bacaan tanggal 27-4-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-04 BACAAN HARIAN APRIL 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-5-17 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 24 April 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

TIDAK ADA HAMBA YANG LEBIH DARIPADA TUANNYA

TIDAK ADA HAMBA YANG LEBIH DARIPADA TUANNYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Paskah – Kamis, 26 April 2018)

Sesungguhnya aku berkata kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya, ataupun seorang utusan daripada orang yang mengurusnya. Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya.

Bukan tentang kamu semua Aku berkata. Aku tahu, siapa yang telah Kupilih. Tetapi haruslah digenapi nas ini: Orang yang makan roti-Ku, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku. Aku mengatakannya kepadamu sekarang juga sebelum hal itu terjadi, supaya jika hal itu terjadi, kamu percaya bahwa Akulah Dia. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan siapa saja yang menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku.” (Yoh 13:16-20) 

Bacaan Pertama: Kis 13:13-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 89:2-3,21-22,25,27

Kerendahan-hati atau kedinaan Allah itu begitu besar. Sebagai Trinitas, Allah diam dalam keamanan sempurna kasih ilahi. Dia tidak perlu membangga-banggakan atau mendominasi. Dia juga tidak memerlukan pelayanan kita samasekali. Namun, Dia tetap memilih untuk menciptakan kita dan berbagi kehidupan ilahi-Nya dengan kita manusia.

Allah itu bisa saja rendah hati, tetapi pada awal keberadaan manusia, kita umat-Nya jatuh ke dalam dosa kesombongan dengan memisahkan diri dari Dia. Tanggapan apa yang diberikan oleh Allah terhadap pemberontakan tak-tahu-diri dari manusia itu? Dia mengutus Putera-Nya yang tunggal untuk membasuh kaki kita (Yoh 13:3-15)!  Kita telah menembusi dan melukai kaki-kaki Yesus di kayu salib, namun setiap hari Dia dengan rendah hati menawarkan diri untuk membasuh kaki kita.

Tidak ada hamba yang lebih tinggi daripada tuannya (lihat Yoh 13:16). Apabila kita ingin memberi tanggapan terhadap kasih Allah bagi kita, maka hal terbaik yang kita dapat lakukan adalah untuk meneladan Dia, yaitu dengan rendah-hati melayani orang-orang lain. Apa pun profesi atau pekerjaan kita, kita semua dipanggil untuk membasuh kaki. Kita semua dipanggil untuk merendahkan diri kita agar mengangkat dan menyegarkan kembali orang-orang dengan siapa kita bekerja. Bukankah ini yang dialami para ayah dan ibu dalam menghadapi berbagai tantangan sehari-hari berkaitan dengan pemeliharaan anak-anak mereka? Apakah para imam yang mempunyai kuasa untuk mendengar pengakuan dosa umat dan memberikan pengampunan Allah dikecualikan dari panggilan untuk menjadi serupa dengan Kristus dalam hal kerendahan hati atau kedinaan? Bukankah para suami-istri yang dipanggil untuk saling memelihara satu sama lain diundang juga untuk mengikuti teladan yang diberikan oleh Yesus? Kita dapat merendahkan diri kita dalam banyak sekali situasi, dan dalam setiap kasus Yesus hadir.

Roh Kudus berdiam dalam hati kita dengan kedinaan, selalu berusaha untuk meyakinkan kita bahwa kita ini sangat dikasihi. Dia juga selalu memanggil kita untuk mengasihi dengan sempurna pula. Dia selalu berusaha untuk membimbing tindakan-tindakan kita dan membentuk sikap-sikap kita sehingga kita dapat melaksanakan prioritas-prioritas Kristus sendiri.. Jika kita dapat belajar untuk menyerahkan diri kepada Roh Allah dan mengikuti cara Yesus melayani, maka kita tidak hanya menjadi aman berdiam dalam kasih Allah, tetapi juga dapat pergi keluar untuk melakukan hal-hal yang besar – yaitu tindakan-tindakan pelayanan yang dilakukan dengan rendah hati.

DOA: Roh Kudus, buatlah aku mampu untuk membasuh kaki orang-orang lain dalam hidupku seturut teladan yang diberikan oleh Yesus, Tuhan dan Guru-ku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 13:13-25), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH BEGITU MENGASIHI KITA DAN INGIN AGAR KITA ADA BERSAMA DIA” (bacaan tanggal 11-5-17) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-04 BACAAN HARIAN APRIL 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-5-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 22 April 2018 [HARI MINGGU PASKAH IV – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SANG PENULIS INJIL KEDUA

SANG PENULIS INJIL KEDUA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, PESTA SANTO MARKUS – Rabu, 25 April 2018)

Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: “Allah menentang orang yang congkak, tetapi memberi anugerah kepada orang yang rendah hati.” Karena itu, rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya. Serahkanlah segala kekhawatiranmu kepada-Nya, sebab Ia memelihara kamu. Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu bahwa semua saudara seimanmu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama. Dan Allah, sumber segala anugerah, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya. Dialah yang punya kuasa sampai selama-lamanya! Amin.

Dengan perantaraan Silwanus yang kuanggap sebagai seorang saudara seiman yang dapat dipercayai, aku menulis dengan singkat kepada kamu untuk menasihati dan meyakinkan kamu bahwa ini adalah anugerah yang benar-benar dari Allah. Berdirilah dengan teguh di dalamnya!

Salam kepada kamu sekalian dari kawanmu yang terpilih yang di Babilon dan juga dari Markus, anakku. Berilah salam seorang kepada yang lain dengan ciuman kudus. Damai sejahtera menyertai kamu sekalian yang berada dalam Kristus. Amin. (1Ptr 5:5b-14) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 89:2-3,6-7,16-17; Bacaan Injil: Mrk 16:15-20 

Pada hari istimewa yang didedikasikan kepada Santo Markus, kita dapat tergoda untuk bertanya apa yang kiranya dapat kita pelajari dari seorang “tokoh” zaman kuno. Apabila kita melihat “Kisah para Rasul”, khususnya bab 13 dan 15, kita dapat merasa sedikit terhibur karena mengetahui bahwa ternyata Santo Markus adalah seorang manusia seperti kita juga; bahwa dia juga rentan terhadap kelemahan dan kesalahan-kesalahan. Dan semua itu bukanlah sekadar kesalahan-kesalahan kecil: Di Pamfilia dia melakukan “desersi”, melarikan diri dari tugasnya membantu Paulus dan Barnabas, dan kembali ke Yerusalem, …… semua ini terjadi di tengah sebuah perjalanan misioner untuk mewartakan Kabar Baik Yesus Kristus (Kis 13:13).

“Desersi” Markus begitu serius sehingga menyebabkan timbulnya selisih pendapat apakah masih mau mengambilnya kembali seturut usulan Barnabas atau tidak (Kis 15:35-41). Walaupun Paulus merasa ragu, Markus sungguh pergi melakukan hal-hal besar untuk Kerajaan-Nya, diantaranya menulis sebuah kitab Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah.

Sekarang, apakah yang kita pelajari dari seorang Santo Markus? Bahwa Allah tidak pernah menyerah, lalu membuang kita. Dalam Mazmur secara tetap kita mendengar bagaimana Allah menegakkan orang benar, dan dalam “Surat kepada jemaat di Roma”, Paulus menulis bahwa “tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus” (Rm 8:1). Markus mengalami kebenaran-kebenaran tangan pertama selagi dia bergumul dengan rasa takut yang menimpa dirinya dan juga dosa-dosanya. Dengan rasa percaya yang semakin bertumbuh berkaitan dengan belas kasih Allah dan kuat-kuasa-Nya untuk mentransformasikan diri setiap pribadi, maka Markus belajar untuk tidak memperkenankan masa lalunya mendikte masa depannya. Sebagai akibatnya, Markus mampu menjadi salah seorang tokoh Kristiani awal yang paling penting.

Cerita tentang Markus seharusnya memacu kita untuk terus mengasihi Allah dan sesama serta melakukan pekerjaan-pekerjaan baik. Ketika kita menyadari bahwa Allah telah mengampuni kita dan bahwa Dia akan terus menunjukkan belas kasih-Nya kepada kita, kita pun harus melakukan yang sama. Ketika kita mulai memahami bahwa Allah telah melimpahkan ke atas diri kita rahmat-Nya yang sebenarnya tak pantas kita terima, pandangan kita tentang orang lain akan menjadi seperti pandangan Barnabas tentang Markus:  sangat ingin memberikan kesempatan kedua dan mengisinya dengan harapan akan masa depan. Kita semua – dengan cara kita masing-masing – sebenarnya telah melakukan “desersi” – kita meninggalkan Allah, namun Ia tidak akan meninggalkan kita. Dia akan selalu memberikan kepada kita kesempatan lagi, karena rencana-rencana-Nya dan pengharapan-pengharapan-Nya kepada kita sangatlah besar. Semoga kita tidak berputus-asa pada saat kita jatuh atau dengan cepat menyalahkan orang lain. Rahmat Allah cukup bagi kita semua!

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar mampu melihat seperti Engkau melihat, agar aku tidak menghakimi orang-orang lain atau diriku sendiri. Semoga hatiku dapat menjadi hati-Mu, ya Yesus, hati yang mau mengampuni sampai tujuh puluh kali tujuh kali. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Ptr 5:5b-14), bacalah tulisan yang berjudul “SANTO MARKUS: SEORANG PEWARTA INJIL SEJATI” (bacaan tanggal 25-4-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-04 BACAAN HARIAN APRIL 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 25-4-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 22 April 2018 [HARI MINGGU PASKAH IV – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MENYERAHKAN HIDUP-NYA BAGI KITA

YESUS MENYERAHKAN HIDUP-NYA BAGI KITA  

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Paskah – Selasa, 24 April 2018)

Keluarga Besar Frasiskan: Peringatan S. Fidelis dr Sigmaringen, Imam Martir

OFMCap Provinsi Sibolga: Hari Raya S. Fidelis dr Sigmaringen, Imam Martir

Tidak lama kemudian tibalah hari raya Penahbisan Bait Allah di Yerusalem; ketika itu musim dingin. Yesus berjalan-jalan di Bait Allah, di serambi Salomo, Lalu orang-orang Yahudi mengelilingi Dia dan berkata kepada-Nya, “Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami dalam kebimbangan? Jikalau Engkau Mesias, katakanlah terus terang kepada kami.” Yesus menjawab mereka, “Aku telah mengatakannya kepada kamu, tetapi kamu tidak percaya; pekerjaan-pekerjaan yang Kulakakukan dalam nama Bapa-Ku, itulah yang memberi kesaksian tentang Aku, tetapi kamu tidak percaya, karena kamu tidak termasuk domba-domba-Ku. Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar daripada siapa pun, dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa. Aku dan Bapa adalah satu.” (Yoh 10:22-30)

Bacaan Pertama: Kis 11:19-26;  Mazmur Tanggapan: Mzm  87:1-7

Beberapa hari terakhir ini kita terus membicarakan mengenai perumpamaan Yesus tentang “Gembala yang Baik”, dan pada hari ini pun kita akan membahasnya lagi. Walaupun terasa seakan mengulang-ulang, tetaplah berharga bagi kita untuk merenungkan gambaran-gambaran tentang seorang gembala yang baik karena kemampuan gambaran-gambaran ini mengungkapkan banyak dimensi tentang siapa Yesus itu dan betapa dalam Ia mengasihi kita.

Karena tidak sedikit jumlah waktu yang digunakan oleh para gembala dengan kawanan domba mereka, maka bukanlah hal yang aneh apabila seorang gembala untuk mengenal  setiap detil dari masing-masing domba yang dipelihara olehnya – tanda-tanda khas masing-masing domba, kebiasaan-kebiasaannya, bahkan katakanlah “kepribadian”-nya. Di lain pihak domba-domba peliharaannya juga mengenal sang gembala dan menjadi sangat akrab dengan suaranya. Sedikit saja suara dari seorang yang asing dapat mengejutkan mereka dan membuat mereka berlari-lari kian kemari.

Selama musim semi dan musim panas, pada waktu sebuah kawanan domba dapat digembalakan di daerah luar kota untuk berbulan-bulan lamanya, maka seorang gembala akan mengumpulkan domba-dombanya dalam sebuah “kandang domba” yang terletak di lereng gunung untuk beristirahat di malam hari. “Kandang domba” ini mempunyai “tembok” (biasanya dari bebatuan) namun tidak mempunyai gerbang atau pintu. Yang ada hanyalah suatu bagian yang lowong-terbuka untuk domba-domba itu masuk-keluar. Begitu domba-domba itu sudah terkumpul di dalam “kandang”, maka sang gembala akan menjadi pintu kandang tersebut. Dia merebahkan diri di bagian yang lowong-terbuka itu untuk menjaga kawanan dombanya. Dengan perkataan lain, pada dasarnya dia “memberikan nyawanya untuk domba-dombanya”.

Yesus mengetahui  bahwa perumpamaan-perumpamaan seperti “perumpamaan tentang gembala yang baik” akan menolong para pendengar-Nya (termasuk kita semua pada zaman modern ini) untuk memahami kasih-Nya secara lebih penuh lagi. Yesus mengetahui bahwa imaji-imaji yang hidup akan membantu mentransformir konsep-konsep abstrak ke dalam hal-hal yang konkret yang dapat dipahami orang-orang. Yesus bersabda: “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut dari tangan-Ku” (Yoh 10:27-28). Artinya, Yesus menyerahkan hidup-Nya bagi kita, dan tidak ada seorang pun yang dapat merampas kita dari tangan-Nya. Janji-janji-Nya sama dapat dipercaya seperti komitmen sang gembala baik kepada kawanan dombanya di dalam perumpamaan-Nya. Bilamana kita memasuki “kandang domba”-nya, maka Yesus sang Gembala Baik akan menjaga kita untuk selalu dekat pada-Nya dan Ia akan melindungi kita dari segala macam bahaya.

Lain kali, apabila kita bertemu dengan sebuah perumpamaan Yesus, maka kita harus berketetapan hati mempelajari secara lebih mendalam lagi tentang imaji-imaji yang digunakan oleh Yesus. Sebaiknya kita juga mempelajari beberapa bacaan pengantar atau tafsir yang dapat dimanfaatkan oleh orang awam seperti kita. Kita harus memperkenankan kata-kata Yesus meresap ke dalam hati kita. Kita gunakan imajinasi untuk membuat gambar dalam pikiran kita. Melalui studi seperti ini, doa dan kontemplasi, Roh Kudus dapat membuka jalan-jalan pemahaman yang baru untuk memperkuat iman dan membuat kasih kita kepada Yesus menjadi semakin berkobar-kobar.

DOA: Roh Kudus, Engkau membuat terang hati semua orang beriman. Terangilah imajinasi ku sehingga aku dapat mengalami secara lebih mendalam kasih Allah Tritunggal Mahakudus yang tak terbatas itu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 10:22-30), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS DAN BAPA DI SURGA ADALAH SATU” (bacaan tanggal 24-4-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-04 BACAAN HARIAN APRIL 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 9-5-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 22 April 2018 [HARI MINGGU PASKAH IV – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS