Posts from the ‘18-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2018’ Category

IA MEMBERIKAN NYAWA-NYA BAGI DOMBA-DOMBA-NYA

IA MEMBERIKAN NYAWA-NYA BAGI DOMBA-DOMBA-NYA

 (Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH IV [TAHUN B], 22 April 2018)

HARI MINGGU PANGGILAN

Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan menceraiberaikan domba-domba itu. Ia lari karena ia seorang upahan dan tidak memperhatikan domba-domba itu. Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku. Tetapi Aku juga mempunyai domba-domba lain yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala. Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku agar Aku menerimanya kembali. Tidak seorang pun mengambilnya dari Aku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah perintah yang Kuterima dari Bapa-Ku.” (Yoh 10:11-18)

Bacaan Pertama: Kis 4:8-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 118:1,8-9,21-23,26,28-29; Bacaan Kedua: 1Yoh 3:1-2 

“Akulah gembala yang baik.Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya.”  (Yoh 10:11) 

Lagi-lagi Yesus ingin menggugah hati orang-orang, yang karena alasan (atau alasan-alasan) tertentu, masih saja lamban untuk percaya kepada-Nya. Untuk menetralkan ketakutan dan keragu-raguan yang mungkin ditimbulkan oleh klaim-Nya atas keilahian-Nya, Yesus meneguhkan bahwa Dia memang datang untuk menolong, bukan membawa  bencana; untuk memberi, bukan menuntut; untuk mengorbankan diri-Nya sendiri bagi mereka, jauh lebih daripada mereka harus berkorban demi diri-Nya. Semua ini akan dilakukan-Nya dalam rangka pemenuhan rencana penebusan dari Bapa surgawi.

Yesus menyadari betapa mudahnya bagi orang untuk mendengar kata-kata-Nya tanpa menghargai pesan yang ingin disampaikan oleh-Nya. Ia mengetahui pula bahwa kebenaran-Nya akan mempengaruhi kehidupan orang-orang secara korelatif-proporsional dengan upaya mereka mencoba untuk memahami kebenaran-Nya itu dengan lebih penuh lagi, menghargainya dengan lebih mendalam dan menerapkannya dengan lebih setia dalam kehidupan sehari-hari. Yesus mengulang-ulang pesan-Nya yang memberi hidup itu, dengan menambah wawasan yang lebih luas setiap kali Dia melakukan pengulangan termaksud. Bagi para pendengar pesan-Nya, semua ini membutuhkan waktu untuk mengingat yang lama, memahami yang baru dan mengintegrasikan keduanya ke dalam kebiasaan-kebiasaan  baru dalam berpikir dan menjalani kehidupan.

Siapakah – yang memiliki hati terbuka – yang tidak terkesan melihat desakan Yesus yang terus-menerus itu, bahwa Dia mengasihi kita dan sangat prihatin dengan segala urusan kita? Di sini Yesus menamakan diri-Nya “Gembala yang baik”, yang mengenal diri kita – domba-domba-Nya – sampai sedalam-dalamnya. Dia mengetahui kecenderungan spontan kita, setiap perasaan dan niat kita, setiap kelemahan dan upaya kita. Dia menyatakan diri-Nya siap untuk mengorbankan nyawa-Nya bagi kita, dan Ia akan melakukannya manakala Bapa meminta hal ini sebagai tebusan atas dosa-dosa kita. Betapa berharga diri kita ini bagi-Nya, karena Ia sungguh mengasihi kita. Akan tetapi, kita tidak pernah akan sepenuhnya memahami dan menghargai ketinggian, kedalaman, lebar dan intensitas dari kasih-Nya itu, apabila kita hanya mendengar atau membaca buku/tulisan tentang hal itu. Dengan demikian, kita harus melakukan permenungan atas hal tersebut secara terus menerus di bawah bimbingan Roh Kudus-Nya.

Pengorbanan Yesus bagi kita-manusia sungguh sangat besar dan tak terukur dengan ukuran manusia macam apa pun, teristimewa karena Dia melakukan pengorbanan itu dengan bebas. Yesus jelas mengatakan, bahwa tidak seorang pun akan mengambil nyawa-Nya dari Dia: “Tidak  seorang pun mengambilnya dari Aku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali” (Yoh 10:18).

Unsur kehendak bebas ini digambarkan oleh Santo Paulus sebagai berikut: “Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama” (Flp 2:5-9). Kalau kita mengandalkan akal budi manusia semata-mata, maka pemikiran bahwa Allah – sang pencipta alam semesta – memilih untuk menjadi salah “seorang” dari kita-manusia, lalu mati secara memalukan dan dalam kedinaan di kayu salib demi kita-manusia, memang sangat sukarlah untuk dipahami.

Sungguh menghiburlah untuk mengetahui bahwa Allah Bapa tidak hanya mengutus Yesus turun ke bumi dan mengharapkan hasil yang terbaik. Bapa surgawi sesungguhnya merencanakan segala sesuatu dari awal. Yesus sendiri memahami pengorbanan-Nya di atas kayu salib sebagai “perintah yang Kuterima dari Bapa-Ku” (Yoh 10:18). Dalam deskripsinya tentang hari-hari terakhir Yesus di atas bumi ini, seringkali Yohanes Penginjil menulis bahwa Tuhan melakukan perjalanan ke Kalvari guna memenuhi kata-kata nubuatan para nabi. Dengan perkataan lain, penderitaan sengsara, kematian dan kebangkitan Yesus sudah ada dalam pikiran Allah, bahkan sebelum Kitab Suci ditulis! Adakah rancangan lain yang lebih menakjubkan dari kenyataan ini?

Kejeniusan di belakang karya-karya musik, lukisan dlsb. yang paling besar di dunia ini tidak ada artinya apabila dibandingkan dengan rancangan Allah berkenan dengan kematian dan kebangkitan Putera-Nya yang tunggal, Yesus Kristus. Bahkan kehidupan kita sendiri pun merupakan bagian dari masterpiece agung ini, karena nama kita tertulis dalam Kitab Allah (bdk. Mzm 139:16)! Sekarang, renungkanlah sejenak betapa dalam diri kita dikasihi oleh-Nya! Marilah kita bersukacita dan merasa terjamin, karena mengetahui dan percaya bahwa kita juga adalah bagian dari rencana agung Allah.

DOA: Bapa surgawi, Engkau menyerahkan Putera-Mu sendiri untuk menebus kami semua. Oleh karena itu kami pun yakin, bahwa Engkau akan memberikan segalanya yang kami butuhkan dalam kehidupan di dunia ini. Engkaulah andalan kami, ya Allah. Amin.  

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 4:8-12), bacalah tulisan yang berjudul “HANYA YESUS YANG DAPAT MENYELAMATKAN KITA” (bacaan tanggal 22-4-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-04 BACAAN HARIAN APRIL 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 26-4-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 18 April 2018  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

YESUS ADALAH YANG KUDUS DARI ALLAH

YESUS ADALAH YANG KUDUS DARI ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Sabtu, 21 April 2018)

 

Sesudah mendengar semuanya itu banyak dari murid-murid Yesus yang berkata, “Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?” Yesus yang di dalam hati-Nya tahu bahwa murid-murid-Nya bersungut-sungut tentang hal itu, berkata kepada mereka, “Apakah perkataan itu mengguncangkan kamu? Bagaimana jika kamu melihat Anak Manusia naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada? Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup. Tetapi di antaramu ada yang tidak percaya.” Sebab Yesus tahu dari semula, siapa yang tidak percaya dan siapa yang akan menyerahkan Dia. Lalu Ia berkata, “Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, kalau bapa tidak mengaruniakannya kepadanya.” Mulai saat itu banyak murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia.

Lalu kata Yesus kepada kedua belas murid-Nya, “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” Jawab Simon Petrus kepada-Nya, “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Engkau memiliki perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu bahwa Engkaulah Yang Kudus dari Allah.” (Yoh 6:60-69) 

Bacaan Pertama: Kis 9:31-42; Mazmur Tanggapan: Mzm 116:12-17

TUHAN (YHWH) bersabda lewat mulut sang Nabi: “Rancangan-Ku bukanlah rancanganmu., dan jalanmu bukanlah jalan-Ku … Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu” (Yes 55:8,9). Sepanjang hidup-Nya, Yesus menyatakan beberapa dari pemikiran-pemikiran agung dan tinggi yang diungkapkan-Nya dalam bab 6 Injil Yohanes. Ia berbicara, baik mengenai relasi-Nya dengan Bapa-Nya dan relasi-Nya dengan kita sebagai “roti kehidupan”. Mereka yang mendengar Dia, menerima pandangan sekilas Yesus sebagai “AKU ADALAH AKU” (Kel 3:14), yang mentransenden segala batasan eksistensi yang membatasi dan menentukan kemanusiaan kita.

Kedalaman pengajaran-pengajaran-Nya ini menjadi batu sandungan bagi banyak orang yang mendengar Yesus memproklamasikannya. Mereka mencoba untuk memahami hal-hal ilahi dari Allah hanya dengan intelek manusia. Sebagai akibatnya, tibalah saat yang tidak dapat dicegah lagi ketika kata-kata Yesus (khususnya tentang Ekaristi) menjadi tidak mungkin untuk dicerna otak manusia dan diterima (Yoh 6:66). Banyak yang mengundurkan diri sebagai pengikut-Nya. Sungguh suatu tragedi! Justru ajaran yang ditolak oleh mereka adalah pemberian Yesus mengenai satu cara lain untuk dikuatkan dalam mengikuti Dia.

Dalam awal Injil Yohanes, Yesus digambarkan sebagai Sabda (Firman) Allah (Yoh 1:1). Dalam membawa sabda Allah kepada kita, Yesus memberikan kepada kita hikmat yang kita perlukan untuk menghayati kehidupan seturut niat Allah atas diri kita. Dalam membawa hikmat, Yesus datang dalam sabda dan sakramen; Ia memberikan diri-Nya kepada kita secara lengkap. Dengan memberikan kepada kita sabda dan Ekaristi, Dia memberikan kepada kita “makanan penguat penuh gizi” yang kita perlukan untuk menghayati suatu hidup Kristiani di dunia. Dalam hal ini Yesus sungguh membuat diri-Nya menjadi sumber kehidupan sejati agar kita dapat memperoleh hidup kekal.

Walaupun begitu, ada sejumlah pengikut-Nya yang pergi meninggalkan-Nya karena mereka tidak memperkenankan kebenaran menyentuh hati mereka. Santo Bernardus dari Clairvaux [1090-1153] menulis: “Bagi sebagian orang jelas bahwa kata-kata Yesus adalah roh dan hidup, dengan demikian mereka dapat mengikuti Dia; sedangkan orang-orang yang lain menilai kata-kata-Nya terlalu keras dan mereka mencari penghiburan sial-menyedihkan di tempat lain” (Sermons on Various Occasions, 5). Kita semua dihadapkan pada pilihan yang sama – Yesus atau dunia ini!

Kita mempunyai bukti nyata karya Roh Kudus dalam hati kita, apabila kita dapat berkata bersama Petrus: “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Engkau memiliki perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu bahwa Engkaulah Yang Kudus dari Allah” (Yoh 6:68-69).

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah roti yang turun dari surga untuk mengangkat kami ke surga. Engkau menyisihkan mahkota kemuliaan-Mu di surga dan datang ke tengah-tengah kami di dunia sebagai manusia dina dan miskin, menawarkan kepada kami keikutsertaan dalam kehidupan kekal. Bahkan sekarang pun – setiap hari – Engkau memberikan Ekaristi kepada kami. Engkau datang untuk menemui kami dalam doa dan dalam sabda-Mu dalam Kitab Suci, menguatkan kami dan mencurahkan kasih-Mu ke atas diri kami setiap hari. Tolonglah agar kami dapat memegang segala karunia sangat berharga yang telah Kauberikan kepada kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 9:31-42), bacalah tulisan dengan judul “MELALUI ROH KUDUS, YESUS MENGULURKAN TANGAN-NYA KEPADA KITA” (bacaan tanggal 21-4-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-04 BACAAN HARIAN APRIL 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 6-5-17 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 18 April 2018  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ROTI KEHIDUPAN

ROTI KEHIDUPAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Jumat, 20 April 2018)

Orang-orang Yahudi pun bertengkar antara sesama mereka dan berkata, “Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan?” Karena itu, kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku benar-benar makanan dan darah-Ku benar-benar minuman. Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan aku hidup oleh Bapa, demikian juga siapa saja yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku. Inilah roti yang telah turun dari surga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Siapa saja yang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.”

Semuanya ini dikatakan Yesus di Kapernaum ketika Ia mengajar di rumah ibadat. (Yoh 6:52-59)

Bacaan Pertama: Kis 9:1-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 117:1-2

Selagi Yesus mengajar orang banyak tentang roti kehidupan, Ia mengatakan kepada mereka bahwa diri-Nya lah roti yang memberi-hidup dan dikirim oleh Bapa di surga. Di bagian akhir pengajaran-Nya, Yesus menantang mereka yang datang kepada-Nya: “Akulah roti kehidupan yang telah turun dari surga. Jikalau seseorang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang akan Kuberikan itu ialah daging-Ku yang akan Kuberikan untuk hidup dunia” (Yoh 6:51). Menanggapi pertengkaran antara orang-orang Yahudi sendiri, dengan sederhana Yesus mengulangi: “Jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman” (Yoh 6:53-54).  Bagi para pembaca Injil Yohanes yang awal, “litani” terus-menerus dari kata-kata – “makan”, “minum”, “daging”, “darah” – mengingatkan mereka akan Sakramen Ekaristi. Demikian pula kiranya dengan kita, bukan?

Dalam Sakramen Ekaristi, kita dihubungkan dengan kurban di mana Yesus mempersembsahkan diri-Nya sendiri “untuk hidup dunia” (Yoh 6:51). Setiap kali kita merayakan misteri ini, kurban yang sama dihadirkan kembali kepada kita. Menurut “Katekismus Gereja Katolik” (KGK), Ekaristi adalah suatu “kenangan” dalam pengertian alkitabiah: “tidak hanya berarti mengenangkan peristiwa-peristiwa di masa lampau, tetapi mewartakan karya-karya agung yang telah dilakukan Allah untuk umat manusia (bdk. Kel 13:3). Dalam perayaan liturgi peristiwa-peristiwa itu dihadirkan dan menjadi hidup lagi” (KGK, 1363). Hal ini tidak bertentangan samasekali dengan pernyataan dalam ‘Surat kepada Orang Ibrani: “Sebab oleh satu kurban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang dikuduskan” (Ibr 10:14).

Ekaristi bukan sekadar suatu peringatan; Ekaristi adalah juga suatu kurban atau pemberian-diri yang riil: “Dalam Ekaristi, Kristus mengaruniakan tubuh ini, yang telah Ia serahkan di kayu salib untuk kita, dan darah ini, ‘yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa’ (Mat 26:28)” (KGK. 1365). Setiap kali kita merayakan Misa, kita turut mengambil bagian dalam penghadiran-kembali kematian dan kebangkitan Kristus. Ketika kita menerima Dia dengan suatu disposisi iman dan kasih, maka kita masuk ke dalam peristiwa-peristiwa aktual persembahan kurban berupa pemberian-diri-Nya sendiri. Kita tidak hanya menerima roti dan anggur, atau daging dan darah. Kita menerima keselamatan. Oleh karena itu marilah kita bersukacita bahwa Yesus telah memberikan karunia  ini kepada segenap generasi sampai saat kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan kelak.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih untuk pengorbanan-Mu di kayu salib dan kebangkitan-Mu kepada hidup baru. Terima kasih, Engkau membuat tindakan penebusan-Mu itu hadir setiap kali kami merayakan Ekaristi. Dengan rendah hati kami menerima kehadiran-Mu di tengah-tengah kami, dan kami percaya akan janji-Mu yang besar bahwa siapa saja yang makan tubuh-Mu dan minum darah-Mu akan tetapi tinggal dalam Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 9:1-20), bacalah tulisan yang berjudul “SAULUS BERTOBAT (bacaan tanggal 20-4-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-04 BACAAN HARIAN APRIL 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 5-5-17 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 19 April 2018

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

FILIPUS MEWARTAKAN INJIL DENGAN KUAT-KUASA ROH KUDUS

FILIPUS MEWARTAKAN INJIL DENGAN KUAT-KUASA ROH KUDUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Kamis, 19 April 2018)

Kemudian berkatalah seorang malaikat Tuhan kepada Filipus, “Bangkitlah dan berangkatlah ke sebelah selatan, menurut jalan yang turun dari Yerusalem ke Gaza.” Jalan itu jalan yang sunyi. Lalu Filipus bangkit dan berangkat. Adalah seorang Etiopia, seorang pejabat istana, pembesar dan kepada perbendaharaan Sri Kandake, ratu negeri Etiopia, yang pergi ke Yerusalem untuk beribadah. Orang itu sedang dalam perjalanan pulang dan duduk dalam keretanya sambil membaca kita Nabi Yesaya. Lalu kata Roh kepada Filipus, “Pergilah ke situ dan dekatilah kereta itu!” Filipus bergegas ke situ dan mendengar pejabat istana itu sedang membaca membaca kitab Nabi Yesaya. Kata Filipus, “Mengertikan Tuan apa yang Tuan baca itu?” Jawabnya, “Bagaimana aku dapat mengerti kalau tidak ada yang membimbing aku?” Lalu ia meminta Filipus naik dan duduk di sampingnya. Nas yang dibacanya itu berbunyi sebagai berikut: Seperti seekor domba Ia dibawa ke pembantaian; dan seperti anak domba yang kelu di depan orang yang menggunting bulunya, demikianlah Ia tidak membuka mulut-Nya. Dalam kehinaan-Nya, keadilan tidak diberikan kepada-Nya; siapa yang akan menceritakan asal-usul-Nya? Sebab nyawa-Nya diambil dari bumi.

Lalu kata pejabat istana itu kepada Filipus, “Aku bertanya kepadamu, tentang siapa nabi berkata demikian? Tentang dirinya sendiri atau tentang orang lain?” Filipus pun mulai berbicara dan bertolak dari nas itu ia memberitakan Injil tentang Yesus kepadanya. Mereka melanjutkan perjalanan mereka, dan tiba di suatu tempat yang ada air; apakah ada halangan bagiku untuk dibaptis?” [Sahut Filipus, “Jika Tuan percaya dengan segenap hati, boleh.” Jawabnya, Aku percaya bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah.”] Orang  Etiopia itu menyuruh menghentikan kereta itu, dan keduanya turun ke dalam air, baik Filipus maupun pejabat istana itu, lalu Filipus membaptis dia. Setelah mereka keluar dari air, Roh Tuhan tiba-tiba membawa Filipus pergi dan pegawai istana itu tidak melihatnya lagi. Ia meneruskan perjalanannya dengan sukacita. Ternyata Filipus sudah berada di Asdod. Ia berjalan melalui daerah itu dan memberitakan Injil di semua kota sampai ia tiba di Kaisarea. (Kis 8:26-40)

Mazmur Tanggapan: Mzm 66:8-9,16-17,20; Bacaan Injil: Yoh 6:44-51

Oh, betapa sering sabda Tuhan tersekat di kerongkongan kita! Maksud hati mau syering/ berbagi dengan orang-orang lain tentang Yesus, Tuhan dan Juruselamat kita, namun seakan ada yang menekan sehingga tidak ada sepatah kata pun yang mampu keluar dari mulut kita. Mungkin saja kurang PD karena belum mengikuti KEP di Paroki. Mungkin juga karena kita tidak mau terlihat sebagai seorang yang suka memaksa atau mengganggu, misalnya karena tidak sesuai dengan adat-kebiasaan dan budaya etnis kita. Mungkin saja karena kita tidak mau orang-orang lain memandang kita sebagai orang yang fanatik dalam hal keagamaan, “bonek” rohani? Dengan demikian hilanglah kesempatan-kesempatan untuk berbicara mengenai apa yang telah dilakukan Tuhan dalam kehidupan kita. Namun demikian, di sisi lain ada banyak orang yang hatinya berteriak, “Bagaimana aku dapat mengerti kalau tidak ada yang membimbing aku?” (Kis 8:31).

Dengan penuh ketaatan Filipus mendengar suara Tuhan yang disampaikan oleh seorang malaikat-Nya. Dia langsung pergi dari Jerusalem ke Gaza melalui jalan padang gurun yang sunyi-sepi. Filipus tidak berhenti di tengah jalan, lalu bertanya kepada Tuhan: “Mengapa Tuhan? Untuk apa Tuhan?” Dia hanya menjalankan perintah Tuhan dengan setia, karena dia tahu dan sadar bahwa misi-nya akan jelas pada saat yang ditentukan Tuhan. Memang demikianlah ceritanya. Dalam perjalanannya di jalan padang gurun yang sunyi itu, Filipus bertemu dengan sebuah kafilah dan kemudian bergabung dengan kafilah itu. Di situ dia bertemu dengan seorang pejabat istana Etiopia yang sedang menggumuli sabda Allah yang terdapat dalam Kitab Yesaya. Filipus kemudian mengajukan sebuah pertanyaan yang sederhana: “Mengertikah Tuan apa yang Tuan baca itu?” (Kis 8:30).

Tanggapan pejabat negara Etiopia itu sama dengan yang ada di dunia, bahkan sampai hari ini: “Bagaimana aku dapat mengerti kalau tidak ada yang membimbing aku?” Bagaimana orang dapat memahami kasih Allah dan rahmat penyelamatan Yesus kalau tidak orang yang pergi keluar dari sangkar emasnya dan pergi merebut kesempatan yang ada untuk syering Kabar Baik Tuhan kita Yesus Kristus. Ingatlah, bahwa setiap orang yang mempunyai komitmen kepada Yesus qualified untuk menolong orang-orang lain memahami Injil. Dipenuhi dengan Roh Kudus-Nya kita semua sesungguhnya adalah “duta-duta Kristus” atau “utusan-utusan Kristus” (lihat 2Kor 5:20).

EVANGELISASI bukanlah tanggung-jawab orang lain; EVANGELISASI adalah tanggung-jawab semua/setiap orang yang menamakan diri KRISTIANI, semua yang menjadi anggota TUBUH KRISTUS di atas bumi ini. Allah telah memberikan kepada kita Roh Kudus, yang memberdayakan kita untuk mewartakan Injil. Apabila kita mengalami suatu relasi yang akrab dengan Tuhan Yesus, maka Dia sungguh-sungguh adalah Tuhan (Kyrios) dari kehidupan kita. Maka kita pun dapat berbicara dengan jujur, bebas dan berani tentang diri-Nya kepada orang-orang lain. Oleh karena itu, marilah kita mohon Roh Kudus agar menggerakkan kita supaya mampu mewartakan Injil secara efektif seperti Filipus.

DOA: Datanglah Roh Kudus dan berdayakanlah kami agar mampu berbicara kepada orang-orang lain mengenai Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Tolonglah kami agar mampu melaksanakan perintah-Nya untuk pergi keluar dan mewartakan Kabar Baik kepada orang-orang yang kami temui. Kami, anak-anak-Mu mendambakan kasih-Mu. Tolonglah kami agar dapat berbagi kasih-Mu dengan orang-orang yang kami temui. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:44-51), bacalah tulisan dengan judul “YESUS MENAWARKAN ROTI KEHIDUPAN KEPADA KITA” (bacaan tanggal 19-4-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-04 BACAAN HARIAN APRIL 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 4-5-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 16 April 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KEBERANIAN SEBAGAI SAKSI-SAKSI KRISTUS

KEBERANIAN SEBAGAI SAKSI-SAKSI KRISTUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Rabu, 18 April 2018)

Pada waktu itu mulailah penganiayaan yang hebat terhadap jemat di Yerusalem. Mereka semua, kecuali rasul-rasul, tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria. Orang-orang saleh menguburkan mayat Stefanus serta meratapinya dengan sangat. Tetapi Saulus berusaha membinasakan jemaat itu dan ia memasuki rumah demi rumah dan menyeret laki-laki dan perempuan ke luar dan menyerahkan mereka untuk dimasukkan ke dalam penjara.

Mereka yang tersebar itu menjelajahi seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil. Filipus pergi ke suatu kota di Samaria dan memberitakan Mesias kepada orang-orang di situ. Ketika orang banyak itu mendengar pemberitaan Filipus dan melihat tanda-tanda yang diadakannya, mereka semua memperhatikan dengan sepenuh hati apa yang diberitahukannya itu. Sebab dari banyak orang yang kerasukan roh jahat keluarlah roh-roh itu sambil berseru dengan suara keras, dan banyak juga orang lumpuh  dan orang timpang disembuhkan. Karena itu, sangatlah besar sukacita dalam kota itu (Kis 8:1b-8)

Mazmur Tanggapan: Mzm 66:1-3a, 4-7a; Bacaan Injil: Yoh 6:30-35

Setelah pembunuhan Stefanus secara brutal, mulailah penganiayaan yang hebat terhadap umat Kristiani di Yerusalem. Kecuali para rasul, umat tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria (lihat Kis 8:1). Mereka yang tersebar itu menjelajahi seluruh negeri itu sambil mewartakan Injil Yesus Kristus (lihat Kis 8:4).

“Yesus telah bangkit, dan kita adalah saksi-saksi-Nya (lihat Kis 1:8; 2:32; 3:15; 4:33; 10:41; 13:31). Dalam Masa Paskah ini, apakah kita (anda dan saya) patuh pada Yesus yang telah bangkit dengan memberikan kesaksian tentang diri-Nya?

Paulus menulis kepada jemaat di Tesalonika: “Janganlah padamkan Roh” (1 Tes 5:19). Jikalau kita (anda dan saya) tidak memberikan kesaksian atau tidak begitu memberikan kesaksian, berarti kita mencekik Roh Kudus, dan kita membiarkan diri kita:

  • direkayasa agar supaya takut ditertawakan orang lain (Kis 2:12-13);
  • ditakut-takuti dengan ancaman (Kis 4:18);
  • sibuk dengan masalah pribadi, keluarga atau komunitas kita sendiri (Kis 6:1 dsj.);
  • mengalami trauma atas kematian dari salah seorang yang kita kasihi (Kis 8:2), atau
  • tergoncang oleh adanya pengejaran dan penganiyaan (Kis 8:1,3).

Adalah suatu kenyataan bahwa Iblis terus-menerus menentang upaya kita untuk bersaksi. Dari kenyataan ini kita dapat menarik kesimpulan bahwa memberi kesaksian tentang Yesus memang mempunyai kuat-kuasa yang sanggup mengubah hidup orang dan mengubah dunia.

Tuhan Yesus telah memberikan kepada kita kuat-kuasa untuk mengalahkan segala gangguan dan upaya perlawanan dari si Jahat. Seperti ditulis oleh penulis surat Yohanes: “Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar daripada roh yang ada di dalam dunia” (1 Yoh 4:4). Rahmat Allah jauh lebih dari cukup! Seperti jawab Tuhan kepada Santo Paulus: “Cukuplah anugerah-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (2 Kor 12:9).

Saudari dan Saudaraku, marilah kita berdoa untuk menerima karunia yang akan membuat kita berani untuk bersaksi tentang Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita.

DOA: Bapa surgawi, aku percaya bahwa Engkau menganugerahkan kepada anak-anak-Mu bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. Dengan demikian aku tidak akan malu bersaksi tentang Tuhan Yesus dan ikut menderita bagi Injil-Nya (2 Tim 1:7-8). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:35-40), bacalah tulisan yang berjudul “ROH KUDUSLAH YANG BEKERJA DALAM DAN LEWAT DIRI DIRI PARA MURID/RASUL” (bacaan tanggal 18-4-18 dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-04 BACAAN HARIAN APRIL 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-4-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 16 April 2018

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS ADALAH SANG ROTI KEHIDUPAN

YESUS ADALAH SANG ROTI KEHIDUPAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Selasa, 17 April 2018)

Sebab itu, kata mereka kepada-Nya, “Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya kami dapat melihatnya dan percaya kepada-Mu? Apakah yang Engkau kerjakan? Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari surga.”

Lalu kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, bukan Musa yang memberikan kamu roti dari surga, melainkan Bapa-Ku yang  memberikan kamu roti yang  benar dari surga. Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari surga dan yang memberi hidup kepada dunia.” Maka kata mereka kepada-Nya, “Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa.” Kata Yesus kepada mereka, “Akulah roti kehidupan; siapa saja yang datang kepada-Ku, ia tidak akan pernah lapar lagi, dan siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia tidak akan pernah haus lagi. (Yoh 6:30-35)

Bacaan Pertama: Kis 7:51-8:1a; Mazmur Tanggapan: Mzm 31:3-4,6-8,17,21

Sejak awal Allah telah memiliki kerinduan untuk memberi makan umat-Nya dengan kehadiran-Nya dan memberikan kepada mereka suatu bagian dalam kehidupan ilahi-Nya. Berbicara secara profetis dalam nama Tuhan, sang pemazmur menulis: “Akulah TUHAN (YHWH), Allahmu, yang menuntun engkau keluar dari tanah Mesir: bukalah mulutmu lebar-lebar, maka Aku akan membuatnya penuh. …… umat-Ku akan Kuberi makan gandum yang terbaik dan dengan madu dari gunung batu Aku akan mengenyangkannya” (Mzm 81:11,17). Misalnya, dalam Keluaran (Kel 16:4-5), Allah menurunkan hujan makanan (manna) dari surga ke atas anak-anak-Nya di padang gurun.

Yohanes bercerita di sini tentang sekelompok orang yang berkumpul di sekeliling Yesus untuk meminta bukti nyata siapa diri-Nya sebenarnya. Mereka mengemukakan fakta bahwa pada zaman Musa, Allah mencurahkan mana dari surga kepada nenek moyang mereka sebagai bukti bahwa Dia ada bersama umat-Nya. Itulah sebabnya mengapa mereka juga menginginkan sebuah “tanda” yang dapat memupus ketidakpercayaan mereka. Dalam menanggapi tuntutan tersebut, Yesus menjelaskan bahwa Dia sendiri adalah tanda yang dimaksud: “Akulah roti kehidupan; siapa saja yang datang kepada-Ku, ia tidak akan pernah lapar lagi, dan siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia tidak akan pernah haus lagi” (Yoh 6:35). Di sini Yesus minta kepada orang-orang itu untuk mempraktekkan iman mereka.

Yesus mengatakan bahwa Bapa-Nyalah – bukan Musa – yang memberikan roti manna dari surga kepada orang-orang Israel pada waktu berkelana di padang gurun menuju tanah terjanji, untuk menopang kehidupan mereka dan menolong ketiadaan kepercayaan mereka kepada-Nya. Sekarang Ia telah datang sebagai roti dari surga yang sesungguhnya, diutus oleh Bapa-Nya untuk memenuhi umat dengan kehidupan ilahi. Yesus mencoba untuk menjelaskan bahwa agar menimba manfaat dari roti kehidupan ini, pada instansi pertama mereka membutuhkan iman. Tanpa iman, mereka tidak akan mampu untuk menerima semua yang ingin diberikan-Nya kepada mereka.

Percayakah kita bahwa Yesus adalah roti dari surga yang sejati? Percayakah kita bahwa Dia adalah Allah yang menjadi manusia, wafat, bangkit dan kemudian mengirimkan Roh Kudus untuk memberi makan kepada kita? Percayakah kita bahwa Yesus dapat membawa kita kepada kehidupan yang dimaksudkan Allah bagi kita sejak dahulu kala? Apabila kita mendekati altar Tuhan dengan iman seperti ini, maka kehidupan kita pun ditransformasikan. Marilah kita secara sadar mengambil keputusan untuk percaya kepada sang Putera Allah. Jika kita melakukannya, maka damai sejahtera dan penjaminan kembali akan memenuhi diri kita. Setiap orang yang percaya – walau pun sedikit saja – akan menerima bukti secara berlimpah.

DOA: Tuhan Yesus, aku percaya bahwa Engkau datang untuk menyelamatkanku dari dosa dan maut. Walaupun imanku lemah, Engkau datang kepadaku dan memberi makan imanku yang kecil ini sampai menjadi sebuah dasar kepercayaan yang pasti akan segala janji-janji-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:30-35), bacalah tulisan yang berjudul  “ROTI KEHIDUPAN: MAKANAN YANG MAMPU MENGENYANGKAN JIWA DAN RAGA KITA” (bacaan tanggal 17-4-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-04 BACAAN HARIAN APRIL 2018) 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 2-5-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 16 April 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PERCAYA KEPADA DIA YANG TELAH DIUTUS ALLAH [2]

PERCAYA KEPADA DIA YANG TELAH DIUTUS ALLAH [2]

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Senin, 16 April 2018)

Keesokan harinya orang banyak, yang masih tinggal di seberang, melihat bahwa di situ tidak ada perahu selain yang satu tadi dan bahwa Yesus tidak turut naik ke perahu itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya, dan bahwa murid-murid-Nya saja yang berangkat. Sementara itu beberapa perahu lain datang dari Tiberias dekat ke tempat mereka makan roti, sesudah Tuhan mengucapkan syukur atasnya. Ketika orang banyak melihat bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus.

Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya, “Rabi, kapan Engkau tiba di sini?” Yesus menjawab mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang telah dimeteraikan Allah Bapa.” Lalu kata mereka kepada-Nya, “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang dikehendaki Allah?” Jawab Yesus kepada mereka, “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.” (Yoh 6:22-29)

Bacaan Pertama: Kis 6:8-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:23-24,26-27,29-30

Pikir-pikir, paling sedikit ada satu hal yang baik (sisi positif) dari orang banyak yang mengikuti Yesus seperti diceritakan dalam  bacaan Injil di atas: Orang banyak itu memiliki ketekunan! Banyak dari mereka telah menyaksikan penyembuhan orang buta, orang lumpuh, orang yang menderita berbagai macam sakit-penyakit lainnya, dan mereka sendiri telah diberi makan sampai kenyang secara ajaib sehari sebelumnya. Dan sekarang, ketika Yesus “menghilang” dari pandangan mata mereka, mereka terus saja mencari Dia sampai ketemu di daratan/pantai bagian lain dari danau itu, di Kapernaum. Seperti akan kita lihat dalam bacaan beberapa hari ke depan, ketekunan mereka membawa hasil, hasil yang jauh lebih besar dan agung daripada yang mereka harap-harapkan.

Ketika orang banyak itu menemukan Yesus, kiranya mereka bertanya-tanya dalam hati bagaimana Yesus bisa sampai ke Kapernaum. Naik apa, karena semua perahu sudah dihitung! Mereka bertanya, “Rabi, kapan Engkau tiba di sini?” (Yoh 6:25). Yesus tidak menjawab pertanyaan tersebut secara langsung. Sebaliknya, Dia ingin memperdalam pemahaman mereka tentang siapa diri-Nya sesungguhnya. Sampai saat itu, orang banyak tertarik kepada Yesus karena berbagai mukjizat dan tanda heran lain yang dibuat oleh-Nya.

Sekarang, tibalah waktunya bagi orang banyak itu untuk mulai memandang Yesus melampaui tanda-tanda, yaitu kepada kebenaran-kebenaran yang dimaksudkan oleh tanda-tanda tersebut. Yesus ingin memimpin mereka kepada iman akan diri-Nya sebagai Putera Allah dan Roti Kehidupan. Mukjizat pergandaan roti dan ikan hanyalah suatu “pendahuluan” untuk sampai kepada mukjizat yang lebih mendalam, yaitu pemberian tubuh dan darah-Nya sendiri yang dapat memberikan kehidupan kekal kepada semua orang yang percaya. Yesus bersabda: “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah” (Yoh 6:29).

Ini adalah kata-kata keras bagi telinga banyak orang. Mereka masih tetap menginginkan tanda-tanda dari dunia sehingga mereka tidak perlu menghadapi tantangan iman. Memang tidak susah untuk bersimpati kepada orang banyak itu! Iman-kepercayaan tidak selalu merupakan suatu perjalanan yang mudah. Apabila hidup itu berjalan baik dan kita memperoleh banyak tanda dari kasih Allah kepada kita yang kelihatan di dunia ini, memang tidak sulitlah untuk beriman-kepercayaan. Namun justru dalam badai kehidupanlah iman kita itu dapat bertumbuh.

Dalam hal inilah ketekunan mendapat upahnya. Apakah dalam masa-masa baik atau masa-masa yang buruk, “dalam untung dan malang”, kita harus terus berjuang dalam iman! Marilah kita selalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan menggunakan karunia akal-budi yang diberikan Allah untuk melihat kebenaran dari setiap situasi di mana kita berada, sehingga iman kita dapat bertumbuh dan menjadi matang melalui rahmat Allah.

DOA: Tuhan Yesus, kuatkanlah karunia iman yang telah Kauanugerahkan kepadaku. Tolonglah aku untuk selalu bertekun mencari-Mu di dalam segala hal. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:22-29), bacalah tulisan yang berjudul “IMAN-KEPERAYAAN KEPADA SEORANG PRIBADI YANG TELAH DIUTUS ALLAH” (bacaan tanggal 16-4-18) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-04 BACAAN HARIAN APRIL 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 1-5-17 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 13 April 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS